Pedang Penakluk Iblis Jilid 30

Pedang Penakluk Iblis Jilid 30

SEPERTI telah dituturkan di bagian depan, Hui-eng Niocu Siok Li Hwa yang merasa penasaran karena belum dapat membunuh Wan Sin Hong yang mencemarkan nama baik perkumpulannya, ketika melihat tubuh Sin Hong dibawa lari oleh orang yang bermuka merah, lalu mengejar terus bersama rombongannya.

Belum lama ia mengejar dan tiba di sebuah hutan di lereng Bukit Ngo-heng-san itu, ia melihat orang yang dikejarnya tadi sedang berlutut. Wan Sin Hong direbahkan di atas tanah dan orang itu kelihatan sedang merawat luka-luka yang diakibatkan oleh jarum-jarum rahasia. Orang itu sedang asyik menusuk-nusuk bagian terluka tadi dengan jarum-jarum emas dan perak, sedangkan jarum Hek-tok-ciam dan jarum hijau yang tadi melukai Wan Sin Hong telah dicabuti dan kini diletakkan di atas sehelai kain putih.

Orang demikian asyiknya mengobati luka-luka dan duduknya membelakangi Li Hwa sehingga tidak mendengar atau melihat datangan Siok Li Hwa dan anak buahnya. Siok Li Hwa ragu-ragu. Pedangnya sudah siap di tangan, akan tetapi ia termangu-mangu ketika menyaksikan betapa orang yang menolong Wan Sin Hong itu tengah mengobati luka-luka yang ditimbulkan antara lain oleh jarum-jarum hijaunya.

“Serahkan penjahat Wan Sin Hong kepadaku!“ akhirnya ia membentak dengan suara keras.

Orang yang disangkanya orang aneh bermuka merah itu menoleh dan melihat wajah orang ini, Li liwa mengeluarkan jerit ngeri dan takut demikian pula para anak buahnya mengeluarkan jerit kaget dan muka mereka pucat. Pandang mata mereka sebentar ditujukan kepada Wan Sin Hong yang menggeletak di atas bumi, kemudian dialihkan kepada orang yang berlutut dan yang tadinya disangka orang bermuka merah. Memang aneh sekali dan bagi para gadis ini tentu saja merupakan hal yang aneh dan mengerikan karena baik bentuk badan maupun wajah kedua orang pemuda itu, baik yang berbaring maupun yang berlutut merawat, bagaikan tangan kanan dan tangan kiri. Serupa benar!

Saking bingung dan gugupnya, Li Hwa lalu melontarkan sebatung jarum hijau kepada pemuda yang sedang berlutut dan sedang mengobati luka-luka di tubuh pemuda yang rebah itu. Pemuda yang berlutut itu tengah memegangi jarum emas dan perak yang dipergunakan untuk menusuk-nusuk bagian yang terkena jarum beracun, maka ia tidak keburu nienangkis atau mengelak. Dengan tenang ia lalu melembungkan kedua pipinya dan sekali meniup jarum hijau itu runtuh ke tanah!

Mata Li Hwa yang tajam dan bening itu terbelalak kaget. Mana mungkin orang meniup runtuh jarum hijaunya? Memang benar jaram itu kecil dan ringan saja akan tetapi telah disambitkan dengan penggunaan tenaga lweekang istimewa. Seorang dengan tenaga lweekang biasa saja jangan harap akan dapat melontarkan jarum itu demikian cepat dan kuatnya. Akan tetapi bagaimanakah tenaga yang mendorong jarum itu menjadi punah begitu terkena angin tiupan pemuda itu? Setankah dia?

“Nona, tenanglah dan jangan galak-galak dulu. Tidakkah kau melihat betapa hebat luka saudara ini? Biarkan aku mengobatinya lebih dulu baru kita bicara. Pengaruh jarum hijaumu tidak berbahaya akan tetapi Hek-tok-ciam benar-benar merupakan senjata rahasia beracun keji sekali!“ Kembali pemuda itu tekun merawat yang luka dan sama sekali tidak mempedulikan Li Hwa.

Ketua Hui-eng-pai ini berdiri bengong dan merasa malu kepada diri sendiri. Tidak ada muka untuk menyerang lagi dan akhirnya ia malah melangkah mendekati dan dengan para anak buahnya berdiri di belakangnya, dia menonton cara pengobatan itu. Kagum ia melihat betapa cekatan jari-jari tangan pemuda yang mengobati.

Setelah menusuk-nusuk dengan enam jarum emas dan perak, lalu menggunakan pisau tajam untuk melakukan operasi dan mengeluarkan darah yang hitam dan kehijauan dari luka-luka akibat jarum rahasia tadi. Setelah membersihkan luka-luka, ia lalu menempelkan obat di atas bekas luka, dan dengan secawan arak ia memberi minum obat kepada Si sakit mg masih pingsan. Akhirnya ia membereskan baju si sakit yang tadi dibukanya dan sambil tersenyum ia memandang kepada Li Hwa.

“Sudah beres, nyawanya tertolong, biarpun ia harus beristirahat sedikitnya seratus hari.“

Siok Li Hwa memandang tajam dan ia merasa bulu tengkuknya berdiri melihat persamaan yang luar biasa antara dua orang pemuda itu. “Siapa kau?“ tanyanya, mengharap akan mendapat jawaban bahwa pemuda ini adalah saudara kembar dari Wan Sin Hong yang menggeletak pingsan di atas tanah. Akan tetapi jawaban pemuda yang tersenyum-senyum tenang ini membuat bulu-bulu tengkuknya berdiri lagi, juga para pengikutnya mengeluarkan seruan tertahan sambil menutup mulut yang berbibir merah dengan jari-jari tangan ketika pemuda itu menjawab.

“Namaku Wan Sin Hong.“

“Kau... Wan Sin Hong...? Kalau begitu... siapa... siapakah orang... itu...?“ Li Hwa menunjuk ke arah pemuda yang terluka tadi.

Sin Hong tersenyum duka. “Dia ini siapa aku sendiri pun belum tahu, akan tetapi biarpun ia agaknya serupa benar dengan aku, aku berani pastikan bahwa dia bukan Wan Sin Hong.“

“Kalau begitu kaulah orangnya yang berbuat jahat kepada Cun Eng. Jahanam, bersiaplah kau untuk mampus!“ Li Hwa lalu bersikap hendak menyerang dengan pedangnya, juga tiga puluh sembilan orang gadis rombongannya mencabut pedang masing-masing sehingga terdengar suara “Sraatt!“ yang nyaring.

Sin Hong menggeleng-gelengkan kepalanya, kecewa dan berduka. “Nasibku yang buruk. Nona, sebelum kau membunuhku, maukah kau memberi tahu kepadaku apa sebabnya kau dan kawan-kawanmu ini begitu membenci Wan Sin Hong?“

“Bangsat besar jangan coba berpura-pura! Kau telah mengganggu Cun Eng dan…“

“Nanti dulu...! Siapa itu Cun Eng...?”

Siok Li Hwa marah bukan main, pedang hijaunya berkelebat menyerang. Sin Hong tidak bergerak hanya berkata. “Kau ini seorang nona cantik jelita yang lancang dan ceroboh!“ Pedang hijau itu terhenti di tengah udara tidak jadi menusuk dada.

“Kau… kau setan... kau berani bilang aku lancang dan ceroboh?“ bentak Hui eng Nio-cu Siok Li Hwa saking marahnya mendengar makian ini, sampai tadi ia menunda gerakan pedangnya dan lupa untuk menyerang lagi.

Sin Hong mengangguk. “Memang kau lancang dan ceroboh, dia inilah buktinya! Kalau kau tidak lancang dan ceroboh dan kau mau mempergunakan sedikit pertimbangan dan akal budi, masa kau sampai salah tangan melukai orang yang tidak berdosa? Sekarang tanpa penyelidikan lagi, kau sudah memastikan harus membunuhku, yakin betulkah kau bahwa aku benar-benar orang berdosa terhadap orang yang kau namakan Cun Eng? Bagaimana kalau sampai kau salah tangan lagi?“

Li Hwa nampak ragu-ragu. “Habis kau... kau bernama Wan Sin Hong, dan kami memang mencari penjahat Wan Sin Hong“

Kini Sin Hong menarik napas panjang “Sudah terlampau banyak perbuatan-perbuatan keji dan jahat dilakukan oleh seorang bernama Wan Sin Hong. Aku yang bernama Wan Sin Hong sama sekali tidak tahu-menahu tentang kejahatan-kejahatan itu. Hal ini mempunyai dua kemungkinan. Pertama, ada seorang penjahat yang namanya betul-betul sama dengan namaku dan kemungkinan kedua, ada seorang jahat yang sengaja memakai namaku dengan maksud memburukkan namaku. Kemungkinan kedua inilah yang kurasa tepat dan sekarang sedang kuselidiki. Sekarang, melihat wajah orang ini yang serupa betul dengan aku, dan yang juga diserang orang karena disangka Wan Sin Hong, aku sengaja merampasnya dan mengobatinya karena siapa tahu kalau-kalau benar orang ini yang selama ini memakai nama Wan Sin Hong dan membikin cemar namaku. Kalau betul demikian, dia harus hidup dulu untuk membuka semua rahasia dan untuk mengaku mengapa ia begitu benci kepadaku dan melakukan segala macam kejahatan atas namaku. Akan tetapi, aku masih ragu-ragu. Orang dengan wajah seperti ini tak mungkin jadi penjahat!“

Tiba tiba muka Sin Hong menjadi merah, ketika ia melihat pandang mata Li Hwa. Gadis ini memandang kepadanya dengan mata berseri dan mulut tersenyum. Semua ucapan Sin Hong termakan betul oleh hatinya dan dianggap penuh cengli. Akan tetapi kata-kata terakhir tadi mendatangkan geli pada hatinya, tak tertahan lagi gadis ini tertawa. Karena semenjak kecil ia hidup di tempat terasing, ketawanya tidak seperti gadis-gadis lain yang selalu malu-malu dan bersopan-sopan dengan menutupi mulut dengan tangan. Gadis ini tertawa dengan bebas, memperlihatkan gigi yang putih dan berbaris rapi.

“Kenapa kau mentertawaiku?“ Sin Hong mengerutkan alisnya.

“Kau manusia sombong, memuji-muji diri sendiri. Kiranya di dunia ini tidak pernah ada orang memujimu, maka memuji diri sendiri“

“Aku? Memuji diri sendiri? Bagaimana maksudmu?“

“Bukankah kau tadi bilang bahwa orang dengan wajah seperti dia itu tidak mungkin jadi penjahat?“

Tiba-tiba Sin Hong tertawa. Kini mengertilah dia. Memang, dengan mengatakan demikian, karena wajah orang itu serupa benar dengan wajahnya, sama artinya dengan menyatakan bahwa orang dengan wajah seperti wajahnya sendiri, tak mungkin jadi penjahat!

“Nona, ketahuilah. Di dunia ini terdapat seorang iblis jahat yang sepak terjangnya selain keji sekali, juga ia licin dan berbahaya. Salah satu di antara kecurangannya adalah penggunaan namaku untuk perbuatan-perbuatan jahatnya. Aku sedang mengumpulkan keterangan dan bukti-bukti dan sekarang tiba saatnya aku membuka kedoknya. Nona siapakah dan coba kauceritakan perbuatan apakah yang dilakukan oleh penjahat yang mempergunakan namaku itu?“

Sekarang Siok Li Hwa mulai percaya kepada pemuda ini. Memang ia pikir tidak mungkin pemuda yang bersikap seperti ini seorang penjahat keji. Ia menceritakan peristiwa yang terjadi atas diri Cun Eng itu dan memperkenalkan diri.

Sin Hong mengerutkan alisnya. “Hemm, keparat jahanam betul iblis itu. Di mana sekarang Nona Cun Eng?“

“Dia sudah meninggal dunia, membunuh diri.“ Li Hwa lalu menuturkan bagai-mana Cun Eng telah membunuh diri di puncak Ngo-heng-san.

“Apakah dia tidak mengenal muka penjahat itu?“

“Tidak, karena di dalam gelap, hanya penjahat itu mengaku bernama Wan Sin Hong.“

“Hemmm, seperti yang sudah-sudah juga begitu. Dan di antara kalian adakah yang sudah pernah melihat si penjahat itu?“

Li Hwa menggelengkan kepala.

“Kalau begitu lebih-lebih lagi kau tidak boleh sembarangan menyerangku, Nona. Masih baik kalau benar-benar dugaanmu bahwa akulah orang jahat itu. Akan tetapi kalau keliru, bagaimana? Seorang gagah tidak berlaku sewenang-wenang, apalagi merupakan pantangan besar bagi seorang gagah untuk mencelakai orang yang tidak berdosa.“

“Wan Sin Hong, kalau benar kau bernama Wan Sin Hong dan tidak merasa berdosa, kau sendiri yang harus dapat mencuci namamu yang sudah dikotori orang. Kalau memang kau tidak melakukan perbuatan-perbuatan jahat, kau harus dapat menangkap orang yang memalsukan namamu. Setelah penjahatnya tertangkap baru aku dapat percaya bahwa kau tidak berdosa. Kalau tidak ada bukti itu, bagaimana aku bisa percaya?“

“Kau kira aku enak-enak saja? Berbulan-bulan aku sudah menyelidiki dan mengikuti jejak penjahat itu dan kiranya sekarang sudah dekat. Aku minta pertolongan beberapa orang anak buahmu untuk menjaga saudara ini di sini dan marilah kita naik ke puncak. Kiranya, kalau tidak meleset perhitunganku, di puncak itulah akan dapat kubongkar semua rahasia ini.“

Demikianlah Sin Hong dan Li Hwa lari menuju ke Puncak Ngo-heng-san pada saat Liok Kong Ji sedang berhadapan dengan Go Ciang Le dan pemuda itu telah mendesak Ciang Le dengan kata-kata. Di sepanjang jalan menuju ke puncak, Sin Hong minta keterangan dan Li Hwa tentang keadaan dipuncak. Gadis itu yang makin lama makin tertarik dan suka kepada Sin Hong, menceritakan semua dengan jelas, betapa Cam-kauw Sin-kai terluka hebat dan lain lain.

“Kau pun dipilih oleh Cam-kauw Sin-kai menjadi seorang calon bengcu.“ katanya sebagai penutup penuturannya, “dan aku pun masuk mencalonkan diri!“ Kata-kata ini diiringi suara ketawanya yang merdu.

Sin Hong memandang kepadanya sambil tersenyum. "Gadis ini luar biasa dan amat menarik hati", pikir Sin Hong. Akan tetapi ia merasa khawatir mendengar betapa Cum-kauw Sin-kai terluka oleh Ngo-tok Mo-jiauw, juga mendengar pengemis tua itu memilihnya sebagai calon bengcu. "Agaknya di antara semua tokoh itu, hanya kakek pengemis ini yang masih menaruh kepercayaan padaku", pikir Sin Hong. Ia lalu mengajak Li Hwa mempercepat perjalanan ke puncak.

Setelah tiba di puncak, tanpa memperdulikan semua orang yang memandang kepadanya, ada yang terheran heran, yang kaget, dan ada yang marah-marah. Ia langsung berlari mendekati Cam-kau Sinkai yang masih rebah dan dirawat oleh Hui Lian, Bi Lan dan Hong Kin. Bi Lan melompat dan memandang kepada Sin Hong dengan mata penuh selidik. Hui Lian mukanya berubah sebentar pucat sebentar merah ketika melihat pemuda, sedangkan Hong Kin menjadi bengong dan mukanya pucat sekali. Mimpikah dia Pemuda yang baru datang yang dipanggil Wan Sin Hong ini, mengapa begitu serupa dengan Pangeran Wanyen Ci Lun?

Hong Kin amat setia dan mencinta Pangeran Wanyen Ci Lun, maka begitu melihat Wan Sin Hong ia bertanya. “Di mana Wanyen Siauw-ongya?“

Sin Hong menoleh kepadanya, tak mengerti apa yang dimaksudkan. “Siapa?“

“Pangeran Wanyen Ci Lun, yang tadi dibawa pergi oleh orang muka merah, dia… serupa benar dengan engkau...“

“Ah... jadi dia itu pangeran?“ Hanya ini saja yang diucapkan oleh Sin Hong dan dadanya berdebar, apalagi ia mendengar bahwa pangeran itu mempunyai nama keturunan Wanyen, yakni nama keturunan ayahnya, "Wanyen Kan! Dia masih saudaraku" pikirnya. Akan tetapi pada saat itu seluruh perhatiannya dicurahkan kepada Cam- kauw Sin-kai dan tanpa mempedulian yang lain-lain, ia cepat berlutut dan memeriksa keadaan Cam-kauw Sin-kai.

“Kau...?“ Kakek itu berkata lemah. Napasnya sudah empas-empis dan mukanya tidak karuan, ada tanda tanda warna hitam, merah, hijau dan warna lain lagi. Inilah kehebatan racun dari Ngo-tok Mo-jiauw.

“Locianpwe, aku tidak berani mendahului kehendak Thian. Akan tetapi menurut pendapatku yang bodoh, lukamu tak dapat disembuhkan lagi. Racun yang mengandung hawa Im dan racun lain yang mengandung hawa Yang sudah memasuki darah. Kalau tidak kuobati, dalam waktu sehari semalam kau akan tewas. Dengan pengobatanku juga hanya dapat memperpanjang waktu sampai tiga hari tiga malam. Bagaimana? Apakah aku harus mengobatimu?“

Kakek pengemis itu menggeleng kepalanya. “Tak usah... sehari semalam sudah cukup lama... kau bereskan saja urusan ini… jaga baik-baik jangan sampai orang lain menjadi bengcu... Wan-sicu maukah kau bersumpah bahwa penjahat Wan Sin Hong itu bukan kau orangnya?“

Sin Hong cepat mengeluarkan pisau perak kecil dan mulai memotong urat-urat yang akan menghambat perjalanan racun ke jantung. Juga ia menotok sana sini sehingga akhirnya kakek itu tidak merasa sakit sama sekali. Kemudian baru ia menjawab. “Tak perlu bersumpah, Locianpwe. Apa artinya sumpah kalau tidak ada bukti-bukti? Tetap saja tidak dipercaya orang. Biarlah, sekarang juga aku hendak membongkar bukti-buktinya!“ Sambil berkata begitu ia masih asyik menotok dan memijit tubuh kakek pengemis itu.

“Wan Sin Hong penjahat terkutuk. Menyerahlah untuk kubelenggu, jangan menanti aku menurunkan tenaga besi!“

Bentakan ini diucapkan oleh Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai yang sudah berada di situ bersama Leng Hoat Taisu. Akan tetapi Wan Sin Hong yang asyik merawat Cam-kauw Sin-kai itu tidak peduli sekali atas bentakan Bu Kek Siansu, melirik pun tidak. Bu Kek Siansu melangkah maju dan menggunakan dua jarinya menotok pundak Sin Hong, dengan maksud membuat pemuda itu tidak berdaya. Juga Sin Hong tidak peduli, melirik pun tidak. Pundaknya terkena totokan jago tua dari Bu tong-pai itu.

“Duk!“

“Ayaaa...!“ Bukan Sin Hong yang terguling, melainkan tosu berjenggot panjang yang bertubuh tinggi kurus itu yang melompat ke belakang dan cepat ia mengurut-urut dua batang jari tangannya yang tadi dipakai menotok karena dua jari tangan itu telah menjadi salah urat. Bagaimana bisa begini?

Tak lain karena Bu Kek Siansu berlaku ceroboh dan tadi melihat pemuda itu tidak melakukan perlawanan, lalu berlaku sembarangan karena ia pun tidak mau melukai pemuda yang tidak melawan. Maksudnya hanya akan membikin pemuda itu tak berdaya. Akan tetapi siapa kira setelah dua batang jari tangannya menyentuh kulit pundak, pundak ini dari sebelah dalam mengeluarkan hawa panas dan agak di goyang sedikit sehingga jari tangan kakek itu terserang tenaga yang luar biasa membuat tenaga totokan membalik dan membuat urat-urat dalam jari tangan itu terpukul sendiri! Inilah kelihaian hawa sinkang yang sudah tinggi sekali.

Tadinya Bu Kek Siansu dan Leng Hoat Taisu yang duduknya di bagian lain, melihat munculnya Wan Sin Hong, menjadi marah karena mengira bahwa penjahat muda yang lihai ini tentu akan membikin onar. Maka tanpa berpikir panjang mereka lalu mendatangi tempat itu dan Bu Kek Siansu lalu menyerangnya. Akan tetapi ketika Leng Hoat Taisu melihat bahwa pemuda yang berlutut itu sebetulnya sedang mengobati suhengnya, Cam-kauw Sin-kai, menjadi tercengang dan tidak bergerak, terpaku di situ saking herannya.

Sebaliknya Bu Kek Siansu yang merasa ia dibikin malu, tidak melihat hal ini saking malu dan marahnya. Tangan kirinya sudah memegang pedang dan sambil membentak, “Penjahat keji lihat pedangku!“ ia lalu menyerang

“Trangg...!“

Pedangnya tertangkis oleh sinar hijau yang ternyata adalah pedang hijau yang dipegang oleh Siok Li Hwa. Gadis ini tadi melihat segala yang terjadi dan merasa penasaran menyaksikan kakek Ketua Bu-tong pai yang bertindak sembrono saja itu.

“Kau membela penjahat ini?“ bentak Bu Kek Siansu marah, juga kaget dan heran karena tadi ia saksikan sendiri betapa Ketua Hui-eng-pai ini amat benci kepada Wan Sin Hong dan mencarinya untuk dibunuh.

“Sabarlah kakek tua. Kalau kau tidak sabaran dan mudah marah-marah usia tak dapat panjang!“ jawab Li Hwa. “Memang betul dia ini Wan Sin Hong, akan tetapi tunggu sampai dia membuktikan bahwa dia tidak berdosa dan bahwa namanya dipergunakan oleh orang lain. Aku sendiri pun sedang menunggu pembuktian ini. Selain itu, tidakkah kaulihat, bahwa dia tengah mengobati Cam-kau Sin-kai yang terluka berat“

Sementara itu, Cam-kauw Sin-kai yang sudah tidak merasa sakit lagi, cepat bangkit dan duduk bersila, lalu berkata kepada Sin Hong. “Wan-sicu, lekas kau bereskan semua ini!“

Sin Hong kini membungkus alat-alat pengobatannya, kemudian perlahan bangkit berdiri. Matanya menyapu orang-orang yang berada di situ dan melihat Lie Bu Tek berdiri di dekat Ciang Le, ia lalu menghampiri pendekar buntung itu dan menjatuhkan diri berlutut di depan Lie Bu Tek.

“Gihu, harap selama ini kau dalam sehat saja,“ kata-katanya amat mengharukan hati Lie Bu Tek.

Ingin sekali pendekar buntung ini memeluk anak angkatnya yang amat dikasihinya akan tetapi ia menahan perasaan hatinya dan hanya kedua matanya dikejap-kejapkan menahan runtuhnya air mata. Akhirnya ia dapat juga mengeluarkan kata-kata yang terdengar berat dan serak. “Buktikan dulu kebersihanmu, baru kau datang kepadaku.“

Wan Sin Hong memberi hormat lalu berdiri, untuk sejenak berpandangan dengan ayah angkatnya, dua pasang mata memandang penuh rindu dan akhirnya Sin Hong memeluk ayah angkatnya. “Mohon berkahmu, Gihu...“ ia melepaskan pelukannya dan berjalan dengan langkah tenang dan lambat ke tengah lapangan. matanya selalu ditujukan kepada Kong Ji. Lie Bu Tek mengikuti putera angkatnya dengan mata digenangi butir air mata, mengikutinya dengan pandang mata penuh kasih sayang.

“Benar-benarkah dia tidak berdosa?” kata-kata ini terlepas dan mulut Ciang Le yang terharu juga menyaksikan sikap Sin Hong terhadap Lie Bu Tek.

Lie Bu Tek menggerakkan pundaknya. “Kita sama-sama lihat saja!“ Juga Bi Lan berbisik di dekat puterinya. “Pemuda itu aneh sekali. Benar-benarkah dia seorang penjahat besar dan keji?“

Tak terasa Hui Lian mengepal tangannya dan berkata, “Entahlah, Ibu, akan tetapi aku pernah melihat dia mengejar dan mencoba menculik seorang gadis cantik.“ Terdengar suara menggetar penuh kekecewaan dan kegetiran dalam suara ini dan terbayanglah semua pengalamannya dengan Wan Sin Hong.

Sementara itu, Cam-kauw Sin-kai memanggil Go Ciang Le dan isterinya. Tentu saja Ciang Le merasa heran dan cepat-cepat bersama Bi Lan ia mendekati kakek yang bersila itu, lalu berlutut dan duduk bersila pula. “Go-taihiap dan Lihiap, tak lama lagi aku mati. Sebelum itu, aku hanya ingin bicara sedikit untuk penghabisan kali karena kalau pembicaraan ini selesai, aku hendak menghabiskan sisa hidupku menikmati cara bagaimana pemuda she Wan itu menyelesaikan semua perkara ini. Go-taihiap, kau dan isterimu sudah melihat muridku, Coa Hong Kin. Dia seorang yang baik dan melihat hubungannya dengan puterimu, biarpun sekarang bukan saat yang tepat dan bukan di tempat sang patut, mengingat usiaku tak panjang lagi, aku mengajukan lamaran kepada putrimu agar menjadi calon jodoh murindku Hong Kin.“

Ciang Le dan isterinya saling pandang, sukar untuk memutuskan perkara yang muncul tiba-tiba ini. Sebagai suami isteri yang saling mencinta, kedua orang ini saling dapat mengerti perasaan hati masing-masing hanya dengan saling pandang saja, tadi mereka sudah menyaksikan ketulusan dan kebaikan hati Hong Kin yang tidak segan-segan mengakui Soan Li sebagai isterinya hanya untuk memberikan muka keluarga Go Ciang Le, maka di dalam hati kedua suami istri ini memang sudah ada perasaan suka kepada Hong Kin.

Apalagi Hong Kin adalah murid terkasih dari Cam kauw Sin-kai dan pemuda itu selain memiliki pribadi baik juga wajahnya tampan dan kepandaian silatnya lumayan. Apalagi yang menjadi halangan? Ciang Le dan Bi Lan saling memberi tanda dengan mata. Mereka harus memberi keputusan sekarang karena usia kakek pengemis itu takkan lama lagi.

Ciang Le menoleh kepada Cam kau Sin-kai dan berkata, “Pinanganmu kami terima, Lo-enghiong. Semoga muridmu dapat membahagiakan hidup puteri kami.“

Cam-kauw Sin-kai berseri wajahnya dan dengan tangannya ia melambai kepada Hong Kin, pemuda ini cepat menghampiri suhunya dan alangkah kagetnya ketika suhunya berkata, “Lekas kau memberi hormat kepada calon gakhu (ayah mertua) dan gakbo-mu mertua)!“

Karena suhunya menudingkan jari kepada Ciang Le dan Bi Lan, maka dengan hati berdebar girang Hong Kin lalu menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Ciang Le dan Bi Lan sebagai calon-calon ayah dan ibu mertuanya!

Saking girangnya dan ingin menikmati saat yang terakhir, Cam-kauw Sin-kai timbul kegembiraannya dan dipanggilnya Hui Lian. “Nona mantuku, lekas kau mendekat. Aku ingin memberi berkah kepadamu dalam saat terakhir ini!“

Tentu saja Hui Lian yang sejak tadi miemperhatikan Wan Sin Hong, tidak mengerti maksudnya dan mengira kakek yang menderita luka berat ini sudah berubah ingatannya. Akan tetapi Bi Lan membantunya dan berkata. “Mendekatlah, Lian-ji, dan lakukan permintaan Cam-kauw Lo-enghiong. Ketahuilah, bahwa telah diikat tali perjodohan antara kau dan Coa Hong Kin.“

Merah sekali wajah Hut Lian mendegar ini dan ia memandang kepada Hong Kin dengan lirikan matanya, kemudian pandang matanya menyapu wajah ayah bundanya dan Cam-kauw Sin-kai. Dan dibayangkan betapa hati dan perasaan gadis ini tergoncang hebat dan pikirannya menjadi bingung. Seperti kilat cepatnya pikirannya melayang dan terbayanglah wajah Sin Hong wajah Pangeran Wanyen Ci Lun dan wajah Hong Ki Kemudian teringat pula akan semua kebaikan yang telah dilakukan oleh Hong Kin.

Ketika matanya melirik kepada wajah ayah bundanya, ia dapat membayangkan kepastian yang tak dapat dibantah lagi. Tak terasa lagi dua butir air mata menggenangi sepasang mata yang jeli itu dan dengan kedua kaki gemetar Hui Lian lalu berlutut di depan Cam-kauw Sin kai. Kakek pengemis ini lalu meletakkan ke dua tangan ke atas kepala Hui Lian, mulutnya berkemak kemik membaca doa.

Sementara itu, di lereng Bukit Ngo heng-san terjadi hal lain yang hebat juga. Orang muda yang terluka oleh jarum-jarum beracun, dan yang menggeletak di dalam hutan dan ditolong orang bermuka merah, sebetulnya adalah Pangeran Wanyen Ci Lun. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Wan-yen Ci Lun berpamit kepada kaisar untuk pergi sendiri menyelidiki keadaan pemilihan bengcu di puncak Ngo-heng- san. Dengan menyamar sebagai orang biasa, Pangeran Wanyen Ci Lun pergi ke Ngo heng-san.

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Pangeran ini sebetulnya juga bukan seorang yang lemah. Sejak kecil, di samping pelajaran ilmu sastera yang tinggi, dia juga mempelajari ilmu silat dari para busu yang tinggi kepandaiannya sehingga pangeran ini memiliki ilmu yang lumayan juga. Karena ia melakukan perjalanan cepat ia dapat selalu mengamat-amati perajalanan See-thian Tok-ong dan juga dapat mengawasi Hui Lian dan Hong Kin. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat betapa Hui Lian dan Hong Kin tertawan oleh Kong Ji dan kawan-kawannya.

Dengan amat cerdik, Wanyen Ci Lun dapat menyelundup ke dalam rombongan orang-orang Kwan-cin -pai yang pakaiannya macam-macam itu setelah mereka tiba di puncak Ngo-heng san. Dengan hati-hati ia lalu berusaha untuk menolong dan membebaskan Hui Lian dan Hong Kin dan seperti telah dituturkan di bagian depan, usaha ini berhasil setelah diam-diam mendapat bantuan orang yang tidak memperlihatkan diri. Sebetulnya, seperti pembaca telah dapat menduga, penolong tersembunyi itu adalah Wan Sin Hong sendiri.

Kemudian setelah Wanyen Ci Lun keluar dari rombongan orang-orang Kwan-cin pai bersama Hui Lian dan Hong Kin, dan terkena jarum beracun, muncullah orang tersembunyi atau Wan Sin Hong itu yang ternyata telah mengenakan obat pengganti warna muka sehingga mukanya menjadi merah sekali. Wan Sin Hong menolong Wanyen Ci Lun dan membawanya lari sampai kemudian meninggalkan pangeran itu setelah mengobatinya, di bawah penjagaan sepuluh orang anggauta Hui eng-pai.

Pangeran Wanyen Ci Lun tidak begitu sembrono dan bodoh untuk melakukan perjalanan yang berbahaya dan jauh itu seorang diri saja tanpa kawan. Sebetulnya, diam-diam ia pun telah mengerahkan pasukan kepercayaannya yang terdiri dari tiga puluh orang, untuk menyusul perjalanannya dan menjaga di lereng Ngo-heng-san, menjaga kalau-kalau ada terjadi sesuatu yang memerlukan bantuan mereka. Sungguh tidak tersangka sama sekali bahwa ia baru menyelundup ke dalam pasukan Kwan-cin-pai dan akhirnya terluka, maka hal ini tidak ketahuan oleh pasukan pengawalnya yang datang belakangan.

Demikianlah, setelah ia diobati oleh Wan Sin Hong dan ditinggalkan di dalam hutan, akhirnya ia siuman dan alangkah herannya ketika ia mendapatkan dirinya berbaring di atas rumput dan dijaga oleh sepuluh orang gadis yang cantik-cantik dan kelihatan gagah-gagah.

“Mimpikah aku...?“ bisiknya, kemudian ia teringat bahwa ia telah terluka dan pundaknya terasa sakit bukan main.

“Ah... tentu aku sudah mati dan kalian ini bidadari-bidadari sorga...“

Karena Pangeran Wanyen Ci lun memang tampan wajahnya, mendengar kata-kata ini para gadis penjaga itu saling pandang dan tertawa cekikikan.

“Nona-nona manis, jangan ganggu aku. Ceritakanlah di mana aku berada. Benar-benar matikah aku?“

Seorang di antara para gadis itu menjawab. “Belum, kau belum mati, baru hampir. Apakah namamu Wan Si Hong?“

“Bukan, namaku Wanyen Ci Lun.“ meraba pundaknya yang sakit dan melihat obat yang tertempel di situ ia segera bertanya. “Siapakah yang menolongku? Apakah kalian yang mengobati luka-lukaku ini?“

Gadis-gadis itu menggeleng kepala mereka yang cantik. “Kau ditolong oleh seorang bernama Wan Sin Hong, dan yang mukanya sama benar denganmu..."

“Ke mana dia sekarang“

“Ke puncak sana bersama Niocu.“

“Siapakah itu Niocu?“

“Ketua kami, sudahlah, kau harus istirahat di sini dan kami ditugaskan menjagamu.“

Karena memang tubuhnya masih lemas dan pundaknya masih amat sakit rasanya, Wanyen Ci Lun tidak banyak membantah. Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring. “Lepaskan Siauw-ongya...!“

Muncullah tiga puluh orang pengawal yang baru sekarang tiba di situ dan melihat pangeran itu dijaga oleh sepuluh orang gadis, mengira bahwa majikan mereka ditawan. Sebaliknya sepuluh orang gadis itu tentu saja tidak membiarkan orang mendekati pemuda yang diserahkan penjagaan mereka. Cepat mereka mencabut pedang dan segera meyerang! Memang gadis-gadis ini boleh dibilang setengah liar, hidup di dalam hutan di puncak gunung, tak pernah bergaul dengan dunia ramai, maka watak mereka keras sekali.

Sebaliknya, para pengawal yang menduga bahwa gadis-gadis ini tentulah sebangsa penjahat wanita, lalu melakukan perlawanan, maka terjadilah pertempuran hebat. Para pengawal adalah orang-orang pilihan yang berkepandaian tinggi akan tetapi di lain pihak para gadis pun merupakan orang-orang kepercayaan Siok Li Hwa, merupakan anggauta anggauta Hui-eng-pai yang sudah tinggi ilmunya, maka pertempuran itu bukan main serunya.

Tiba-tiba di antara gerombolan pohon berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu seorang gadis cantik yang berwajah pucat menerobos masuk memandang wajah Pangeran Wanyen Ci Lun yang menggeletak di atas tanah, kemudian secepat kilat ia menyambar tubuh itu dipondongnya dan dibawa lari!

“Lepaskan Siauw-ongya...!“ lima orang pemimpin pasukan pengawal itu membentak dan cepat mengejar, sedangkan pengawal-pengawal yang lain masih ramai bertempur melawan gadis Hui-eng-pai.

Akan tetapi gadis bermuka pucat yang membawa lari tubuh Wanyen Ci Lun itu memiliki ginkang yang luar biasa. Biarpun ia memondong tubuh seorang muda, akan tetapi para pengejarnya ia dapat menyusulnya. Makin lama makin jauh dan akhirnya lenyap dari pandangan mata para pengejarnya!

Demikianlah peristiwa yang terjadi di lereng gunung dan biarlah kita meningalkan pertempuran antara gadis-gadis Hui-eng-pai melawan para pengawal pribadi Pangeran itu, dan mari kita menengok lagi ke atas, ke puncak Gunung Ngo-heng-san di mana terjadi peristiwa yang lebih hebat.

Di puncak bukit, Wan Sin Hong berjalan perlahan ke tengah lapangan. Semua mata memandang ke arahnya. Tiba-tiba didahului oleh Liok Kong Ji, orang-orang di situ berseru. “Tangkap penjahat Wan Sin Hong! Bunuh penjahat Wan Sin Hong!“

“Bu Kek Siansu, kau sebagai pemimpin pertemuan ini, apakah tidak bisa menenteramkan mereka? Wan Sin Hong seorang calon, dia berhak bicara!“ kata Cam-kauw Sin-kai.

Terpaksa Bu Kek Siansu berlari ke tengah lapangan dan dengan kedua tangan diangkat ke atas ia berseru mengerahkan lweekangnya. “Cuwa-enghiong, bukan begitu caranya membereskan perkara. Andaikata benar Wan Sin Hong seorang penjahat keji yang harus dibasmi, akan tetapi pada saat ini dia adalah calon bengcu yang di pilih oleh Cam-kauw Sin-kai. Oleh karena itu, dia berhak bicara sebagai calon bengcu untuk membela diri“

Keadaan menjadi reda dan Wan Sin Hong menjura kepada Bu Kek Siansu selaku ucapan terima kasih. Akan tetapi Bu Kek Siansu tidak mempedulikan, bahkan lalu meninggalkan tempat itu. Wan Sin Hong tidak merasa sakit hati karena maklum bahwa kakek Ketua Bu-tong- pai itu tentu masih menganggap ia seorang penjahat besar. Ta tersenyum pahit, kemudian ia memandang kepada Liok Kong Ji dengan sinar mata menyala nyala. Lalu disapunya semua hadirin dengan pandang matanya sebelum ia bicara. Suaranya tenang dan lantang.

“Cuwi-enghiong yang mulia. Memang benar bahwa aku adalah Wan Sin Hong dan aku mengaku pula bahwa selama beberapa bulan ini, di dunia muncul seorang penjahat yang melakukan segala macam perbuatan kotor dan keji dan penjahat itu mengaku bernama Wan Sin Hong!”

“Sudah terang dosa-dosamu, penjahat besar, masih banyak omong lagi?“ Kong Ji berteriak. “Manusia macam kau harus dibunuh!”

Teriakan ini disambut oleh anak buahnya, “Bunuh...! Bikin mampus penjahat Wan Sin Hong!“

Sin Hong tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. “Pernahkah di antara para hadirin melihat sendiri penjahat ini? Bukankah aneh sekali bahwa setiap kali penjahat itu melakukan kejahatannya ia sengaja meninggalkan nama Wan Sin Hong tanpa berani memperlihatkan mukanya? Di antara yang hadir, tadinya ada dua saksi yang pernah bertemu muka dengan penjahat itu, yang pertama adalah Nona Cun Eng anggauta Hui-eng-pai. Sayang dia sudah membunuh diri karena tidak tahan mendengar penghinaan yang diucapkan oleh seorang yang hadir di sini“ Setelah berkata demikian Sin Hong menatap wajah Kong Ji dengan tajam.

Akan tetapi Kong Ji hanya menyeringai dan membalas pandangan dengan penuh ejekan. “Orang ke dua adalah Nona Gak Soan Li murid dari pendekar besar Hwa I Enghiong. Akan tetapi sayang Nona Gak Soan Li juga sudah turun gunung, sama saja halnya, tidak tahan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut busuk seorang yang hadir di sini!“

“Bohong...! Penjahat Wan Sin Hong mencari alasan kosong untuk membersihkan diri. Serbu dan bunuh saja!“ Kong Ji berteriak.

Sin Hong mengangkat tangan. “Tahan...!“

Orang-orang yang tadinya sudah siap menyerbu, tertegun karena suara itu mengandung pengaruh yang luar biasa sehingga Ciang Le sendiri diam-diam terkejut sekali.

“Semua keributan dipelopori oleh Liok Kong Ji. Eh, Kong Ji, apakah kau sekarang sudah menjadi seorang pengecut besar? Kalau kau memang berani, tunggulah, nanti akan tiba saatnya kita berhadapan satu sama lain tanpa tangan kaki-tanganmu! Cuwi enghiong, aku adalah seorang calon bengcu, aku berhak memberi keterangan sejelasnya!”

Keadaan menjadi tenang kembali dan pada wajah Kong Ji terbayang kecemasan.

”Aku ulangi lagi, kalau saja Nona Gak Soan Li tidak terpengaruh oleh racun berbahaya, tentu dia akan menjadi saksi utama akan kebinatangan seorang yang selalu menggunakan nama Wan Sin Hong untuk mengelabuhi mata orang lain dan sekalian untuk merusak namaku. Kalau saja Nona Soan Li berada di sini, kiranya aku akan dapat mencoba menyembuhkannya agar ia dapat membuat pengakuan sejujurnya. Kalau sudah terjadi demikian, dunia akan terbuka matanya dan akan mengalihkan pandangan menuntut dari aku kepada orang itu!” Dengan telunjuknya Sin Hong menuding ke arah Liok Kong Ji yang menjadi pucat sekali.

”Bohong! Omong kosong!” katanya gagap.

Giok Seng Cu tampil ke depan. ”Wan Sin Hong, bisa saja kau mempengaruhi orang-orang di sini dengan lidahmu yang berbisa. Aku sendiri menjadi saksi dan mau bersumpah bahwa aku pernah melihatmu bersama Nona Gak Soan Li. Kau hendak menggunakan Nona itu sebagai saksi? Ha ha ha, tentu saja akan membelamu. Pernah aku melihatmu betapa engkau memijat-mijat kedua pahanya. Ha ha ha, aku masih merasa muak dan malu sekali kalau teringat akan pemandangan itu!”

Hui Lian dan Bi Lan mengeluarkan suara tertahan. Sebagai wanita-wanita sopan mereka merasa tertusuk sekali mendengar kata-kata ini. Sebaliknya, Li Hwa hanya memandang kepada Wan Sin Hong saja, penuh perhatian karena hendak melihat bagaimana pemuda itu membela diri terhadap tuduhan yang amat memalukan ini.

Akan tetapi Wan Sin Hong hanya tersenyum, tetap tenang. Hanya suaranya saja terdengar menggeledek ketika menjawab. “Giok Seng Cu, setelah menjadi anjing dari Liok Kong Ji, kau ternyata pandai sekali bicara. Di waktu aku masih kecil kau mencoba membunuhku di puncak Luliang-san. Kemudian ketika kau bertemu dengan Nona Gak Soan Li kau telah memukul kedua pahanya dengan pukulan Tin-san-kang sehingga dua paha nona itu remuk tulang-tulangnya. Baiknya aku keburu datang dan menolong mengobati kedua pahanya yang kau katakan memijit-mijit itu. Hemm, semua orang yang mengerti ilmu pengobatan tentu akan tahu bahwa menyambung tulang patah masih mudah, akan tetapi membenarkan tulang-tulang yang remuk akibat pukulanmu tidaklah mudah. Aku memijit-mijit pahanya untuk mengobati, apakah salahnya? Kemudian kau pula menculiknya dan tentu kau telah bersekongkol dengan Liok Kong Ji. Kau ini orang tua yang sudah bejat batinmu, sungguh memalukan sekali kalau mendiang Pak Hong Siansu mendengar tentang sifat pengecut dari muridnya.“

Belum habis Sin Hong bicara, Giok Seng Cu sudah mengeluarkan suara geraman seperti singa dan tiba-tiba ia menerkam dengan pukulan Tin-san-kang kearah dada Sin Hong. Pemuda ini tidak berkisar dari tempatnya melainkan menggerakkan kedua tangan yang kiri dari atas yang kanan dari bawah. Aneh sekali, hawa pukulan Tin-san-kang yang biasanya membunuh orang dari jauh tanpa tangan yang memukul menyentuh kulit, kini musnah kekuatannya bahkan nampak kakek itu seperti dibetot ke depan dan tahu-tahu lehernya telah dicekal oleh tangan kiri Sin Hong dan tangan kanan pemuda itu sudah memegang ikat pinggangnya. Kemudian dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, tanpa menggerakkan kedua kaki, tubuh kakek itu sudah diangkat ke atas dibanting ke bawah.

“Brukkk...!“ Saking kerasnya bantingan dan saking kuatnya tubuh Giok Seng Cu, tubuh bagian bawah dari kaki sampai ke paha amblas ke dalam tanah!

Wan Sin Hong tersenyum. “Itu tadi adalah pukulan Tin-san-kang yang sudah mematahkan kedua paha Nona Gak Soan Li. Dan beginilah nasib orang jahat, Giok Seng Cu, aku masih belum begitu tega untuk menewaskanmu, mengingat bahwa kau masih terhitung murid keponakan dari Suhu Pak Kek Siansu. Pergilah!”

Kembali tangan kiri pemuda itu bergerak dan tahu-tahu tubuh Giok Seng Cu telah “tercabut“ dari tanah dan kini dilemparkan ke arah Liok Kong Ji. Kong Ji menerima tubuh Giok Seng Cu yang pingsan dan sekali melihat ia tahu bahwa kakek itu telah patah kedua tulang kakinya! Wan Sin Hong kembali bicara kepada orang banyak seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu.

"Setelah berbulan-bulan melakukan penyelidikan dengan susah payah, bahkan telah mengalami usaha-usaha membunuhku yang dilakukan oleh penjahat yang merusak namaku, di antaranya aku dicoba untuk dikubur hidup-hidup di lereng gunung Luliang-san, akhirnya berhasil jugalah usahaku dan ternyata bahwa iblis jahat yang selama ini merusak namaku bukan lain adalah Liok Kong Ji!“

“Jahanam bermulut jahat!“ Kong Ji membentak dan di lain saat pedang Pak kek Sin-kiam sudah berada di tangannya.

Akan tetapi ia didahului oleh Bu Kek Siansu yang diiringi oleh Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai dan Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai yang kini sudah dapat memulihkan kekuatannya. Tadi Tai Wi Siansu telah terluka hebat oleh Kong Ji, akan tetapi berkat obat dari Kun-lun-pai dan tenaga lweekangnya yang tinggi, biarpun lukanya belum sembuh betul, akan tetapi tenaganya sudah pulih. Kini mendengar ucapan Wan Sin Hong, tiga orang tua tokoh besar kang-ouw ini cepat datang karena menganggap keterangan itu amat penting dan perlu dibuktikan kebenarannya.

“Wan Sin Hong bukti-bukti bahwa kau tidak berdosa belum ada, mengapa kau bahkan menimpakan semua kesalahan kepada Liok Kong Ji. Apakah bukti dari tuduhanmu ini,” tanya Tai Wi Siansu.

Pertanyaan ini kalau didengar begitu saja seakan-akan Tai Wi Siansu membela Liok Kong Ji. Akan tetupi sebetulnya dia dan dua orang kawannya cepat bertindak untuk mencegah Kong Ji menyerang Wan Sin Hong sebelum rahasia dibuka, dan untuk memberi kesempatan kepada Sin Hong menjelaskan tuduhannya.

“Sam-wi Locianpwe, apakah Sam-wi masih belum tahu bahwa di dalam permilihan bengcu ini pun, jahanam Kong Ji telah mempergunakan siasat busuk? Apakah di sini terdapat tokoh-tokoh semua partai? Apakah semua ketua partai belum hadir di samping Sam wi Locianpwe?“

“Semua hadir, biarpun bukan ketuanya, akan tetapi partai-partai lain mengirimkan wakil masing-masing.“

“Betulkah itu? Adakah wakil dari partai Teng-san-pai di sini?“

Kong Ji yang tidak mengira bahwa Sin Hong sudah tahu akan pemalsuan wakil ini, berkata keras, “Tentu saja ada! Mereka inilah wakilnya dengan membawa surat kuasa. Partai-partai besar, termasuk Teng-san-pai telah memilihku!“ Kong Ji berkata demikian untuk menjatuhkan Sin Hong atau untuk membuat pemuda itu kecele.

Akan tetapi, Sin Hong bergerak cepat dan sekali berkelebat ia telah dapat menangkap seorang di antara wakil-wakil Teng-san-pai itu. Ia mengangkat orang itu tinggi-tinggi dan biarpun orang itu hendak memukul, namun ia tidak bergeming di dalam cengkeraman tangan kiri Sin Hong yang amat kuat.

“Sam-wi Locianpwe, lihatlah baik-baik. Dia ini bukan wakil dari Teng-san-pai Wakil dari Teng-san-pai telah dibunuh di tengah perjalanan, surat kuasanya dirampas dan diganti oleh anjing-anjing ini. Semua ini tentu pekerjaan orang she Liok si iblis jahat!“

Mendengar ini, Kong Ji menjadi makin pucat dan diam-diam ia telah memberi isyarat kepada anak buahnya untuk bersiap sedia menyerbu. Adapun Tai Siansu dan kawan-kawannya menjadi kaget setengah mati. Bu Kek Siansu merampas orang itu dari tangan Sin Hong, membantingnya ke bawah lalu mengancamnya.

“Betulkah itu? Hayo kau mengaku terus terang sebelum kuhancurkan kepalamu!“

Tiba-tiba orang itu menjerit dan roboh terguling dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Dia telah terkena pukulan Tin-san-kang dari jauh yang dilakukan oleh Kong Ji.

Sin Hong tertawa. “Tentu orang lain tidak tahu bahwa kau yang membunuhnya, akan tetapi aku tahu bahwa orang itu terbunuh oleh pukulan Tin-san-kang, pukulan yang telah meremukkan tulang paha Nona Soan Li, yang sudah melukai Tai Wi Siansu Locianpwe!“

Tai Wi Siansu kaget sekali akan ketajaman mata Sin Hong yang sekali pandang saja sudah tahu bahwa ia terluka oleh Pukulan Tin-san-kang.

“Sam-wi sekarang tentu tahu dan dapat menduga bahwa partai-partai lain yang menyokong Kong Ji, bukanlah wakil-wakil yang sesungguhnya, melainkan orang-orang palsu yang merampas surat kuasa!“

Semua orang kini memandang kepada Kong Ji. Pemuda ini membusungkan dada dan berkata lantang, “Kalian orang-orang bodoh, mudah saja ditipu oleh penjahat besar Wan Sin Hong. Mana buktinya semua tuduhannya kepadaku itu. Kalau aku yang menjadi penjahatnya, apa buktinya dan siapa saksinya? Kalau dia sudah banyak bukti perbuatannya yang terkutuk. Apakah kalian buta dan tidak dapat melihat bahwa hal itu menipu?”

Tai Wi Siansu, Bu Kek Siansu, Leng Hoat Taisu adalah tokoh-tokoh besar yang tidak mau bertindak sembarangan dan tidak mau mereka begitu saja percaya kepada Sin Hong. Teringat akan pertemuan mereka dahulu dengan Sin Hong, Tai Wi Siansu berkata pada pemuda ini.

“Wan Sin Hong, tentang keadaan Liok Kong Ji bisa kami selidiki nanti, akan tetapi tentang kau sendiri yang hendak membebaskan diri dari tuduhan. Apa jawabanmu tentang gadis yang mengaku telah kau ganggu dan yang dahulu membunuh diri dengan melempar diri ke dalam jurang?“

Sin Hong tersenyum. “Bagus, Tai Wi Siansu, memang segala apa harus secara terang-terangan, adil dan tidak berat sebelah. Tentang itu tentu saja aku sudah menyelidiki dan ketahuilah bahwa aku dapat membongkar rahasia ini, sebagian adalah karena gadis itu. Aku sudah bertemu dengan dia dan sebentar Sam-wi ini semua Enghiong yang berada di sini akan mendengar sendiri keterangan dari mulutnya.“

Kong Ji terkejut bukan main dan pada saat itu terdengar pekik yang nyaring pekik yang sudah didengar oleh semua orang yang berada di situ, yakni pekik seperti suara burung garuda, tanda dari Hui-eng-pai. Mendengar pekik ini dari lereng gunung, Siok Li Hwa lalu membalas dengan pekiknya yang lebih nyaring dan gadis ini lalu berlari cepat sekali. Sin Hong mengerutkan kening dan setelah berpikir sejenak ia berkata,

“Sam-wi Locianpwe, aku harus pergi sebentar!“ Baru saja kata-katanya habis diucapkan, tubuhnya sudah berkelebat lenyap menyusul Li Hwa.

Ternyata bahwa yang mengeluarkan pekik tadi adalah para anggauta Hui-eng-pai yang sedang bertanding melawan para pengawal pribadi Pangeran Wanyen Ci Lun. Melihat betapa seorang gadis pucat yang cantik dan cepat gerakannya, telah memondong dan melarikan Wanyen Ci Lun dan mereka sendiri tidak berdaya, mengejar, para gadis Hui-eng-pai ini lalu memberi tanda kepada ketua mereka.

Sebaliknya, para pengawal pangeran itu mengira bahwa gadis cantik yang melarikan Pangeran Wanyen Ci Lun adalah kawan dari para gadis yang bertempur dengan mereka maka mereka terus mendesak dan menyerang dengan hebat. Para gadis Hui eng-pai itu benar-benar lihai karena sebentar saja sudah ada beberapa orang lawan yang roboh terkena pedang. Akan tetapi mereka terdesak dan terkurung karena kalah banyak.

Ketika Li Hwa tiba di situ, ia masih marah sekali melihat anak buahnya dikeroyok. Sekali pedang hijau berkelebat, robohlah dua orang pengawal. Li Hwa hendak mengamuk terus, tiba-tiba lengan kanannya ada yang memegang dan terdengar suara Sin Hong,

“Nona, perlahan dulu. Lebih baik kita kita selidiki siapa mereka ini.“

Li Hwa mencoba untuk mengerahkan tenaga, meronta dan melepaskan lengannya, akan tetapi sia-sia saja sehingga diam-diam ia kagum bukan main akan kelihaian pemuda ini. Adapun Sin Hong setelah melepaskan lengan Li Hwa, lalu menghadapi orang-orang itu yang kini berdiri bengong dan memandangnya seperti orang melihat setan. Bagaimana mereka tidak terheran-heran kalau kini tiba-tiba saja melihat Pangeran Wanyen Ci Lun yang tadi terluka dan dibawa lari gadis pucat itu kini tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka dengan pakaian berbeda?

Melihat betapa pangeran ini mempunyai hubungan baik dengan para gadis cantik, para pengawal menjadi ketakutan, takut kalau dimarahi karena penyerangan mereka tadi. Maka cepat-cepat mereka lalu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka berkata,

“Siauw-ong-ya mohon ampun atas kelancangan hamba sekallan karena sesungguhnya hamba tadi melihat Siauw-ongya terluka... hamba kira Siauw-ong-ya perlu bantuan...“

Sin Hong bertukar pandang dengar Li Hwa dan pemuda itu menarik napas, “Sudah nasibku selalu ditukar dengan lain orang...“ Kemudian dengan gemas membentak orang-orang itu.

“Cukup ini semua! Aku bukan Pangeran Wanyen Ci Lun!“ Para pengawal terkejut dan seorang demi seorang berdiri. Setelah memandang tegas, baru mereka melihat perbedaan antara majikan mereka dengan pemuda ini.

“Kau... kau siapa?“ tanya seorang pemimpin mereka.

“Aku siapa bukan soal,“ jawab Sin Hong, “yang penting sekali, Pangeran Wanyen Ci Lun tadi terluka dan dijaga oleh Nona-nona ini. Mengapa kalian datang menyerbu? Kalian ini siapa?“

“Kami adalah pengawal-pengawal pribadi Pangeran Wanyen, dan kami kira bahwa dia tadi...“

“Celaka, kalian ceroboh sekali! Dimana Pangeran Wanyen Ci Lun sekarang?“

Dengan suara riuh para gadis dan para pengawal itu menuturkan bagaimana seorang gadis cantik yang berwajah pucat membawa lari pangeran itu. Seorang di antara gadis Hui-eng-pai berkata kepada ketuanya.

“Kami sedang sibuk mengalami pengeoyokan orang-orang tolol ini, maka tidak sempat memperhatikan dan tidak sempat melihat siapa adanya gadis yang membawa lari pangeran itu.“

“Sudahlah, kita selidiki hal itu nanti,“ kata Sin Hong, “Kalian para pengawal boleh mencoba untuk mengejar dan mencari majikan kalian di sekitar gunung ini. Kami hendak kembali ke puncak.“ Setelah berkata demikian, Sin Hong meagajak Li Hwa dan anak buahnya kembali ke puncak di mana orang-orang sedang menantinya.

Orang-orang yang berada di puncak Gunung Ngo-heng- san sudah ramai membicarakan tentang munculnya Wan Sin Hong. Keadaan sekarang jauh berbeda dengan tadi, kini penuh ketegangan. Tanpa diketahui oleh orang-orang lain, secara diam-diam Liok Kong Ji sudah berunding dengan kawan-kawannya dan mengatur siasat. Gentar juga hati pemuda yang biasanya tabah dan penuh akal ini, terutama sekali karena melihat pembantunya yang paling boleh diandalkan, yakni Giok Seng Cu, sudah tak berdaya sama sekali. Juga See-thian Tok-ong yang tadinya diharapkan untuk menjadi kawan dan pembantu, kini sudah bersila dalam keadaan terluka oleh tendangan Hwa T Enghiong Go Ciang Le tadi.

Akan tetapi Kong Ji berbesar hati. Pembantu-pembantunya banyak sekali jumlahnya, merupakan pasukan-pasukan besar yang akan membelanya dengan setia. Apalagi semua tuduhan Wan Sin Hong tadi tak dapat dibuktikan sama sekali. Ia takut apakah? Kata-kata Sin Hong tadi seakan-akan membayangkan bahwa Sin Hong sudah bertemu dengan Nalumei. Tak mungkin, pikirnya. Bukankah Nalumei sedang ke utara dan mungkin waktu ini sudah berada di sekitar Ngo-heng-san bersama pasukannya?

Dia dahulu menyuruh Nalumei kembali ke utara dengan alasan mengumpulkan pasukan untuk membantunya, sebetulnya hanya mengandung maksud untuk menyingkirkan Nalumei saja. Nalumei sudah cukup membantunya, bahkan Nalumei sekarang merupakan bahaya karena pernah menjadi saksi atas semua perbuatannya, di samping ini, sekarang Nalumei mulai rewel dan sering cemburu. Lebih-lebih lagi, karena ia memang sudah bosan dan jemu dekat dengan wanita suku bangsa Naiman itu.

Ia mengirim Nalumei ke utara seperti menyuruh kelinci memasuki hutan sarang harimau karena ia maklum bahwa di utara, pengaruh dan kekuasaan Temu Cin sudah demikian meluas sehingga tak mungkin lagi Nalumei dapat mencari sisa suku bangsanya yang tidak takluk kepada Temu Cin. Andaikata benar Sin Hong telah bertemu dengan wanita itu, tak mungkin Nalumei mau mengkhianatinya, demikian pikir Kong Ji.

Akan tetapi, semangatnya sudah terbang rasanya ketika ia melihat Sin Hong muncul lagi bersama Li Hwa dan anak buah Hui-eng-pai dan di sebelah kiri Sin Hong berjalan seorang perempuan cantik yang pakalannya menunjukkan bahwa dia itu bukanlah seorang wanita Han.

“Nalumei...!“ Kong Ji berseru perlahan demi melihat wanita ini dan wajahnya berubah pucat.

Sin Hong tersenyum dan menghadap Tai Wi Siansu dan tokoh lain. “Tai Wi Siansu, kenalkah Locianpwe kepada wanita ini?“

Tentu saja tokoh-tokoh besar yang berada di situ mengenalnya, yakni mereka yang dahulu mendengar pengakuan nona ini dan kemudian melihat sendiri betapa gadis itu membuang diri ke dalam jurang. Akan tetapt bagaimana gadis ini masih hidup dan berpakaian seperti orang asing?

“Bukankah dia ini nona yang dulu menuduhmu, kemudian membuang diri ke dalam jurang?“ kata Tat Wi Siansu.

Hui Lian yang melihat gadis itu pun berbisik kepada ibunya. “Ibu gadis itulah yang dulu kulihat diserang dan dikejar oleh Wan Sin Hong dan aku bersama Tang Hwesio membantunya sehingga ia dapat melarikan diri“ Gadis ini benar-benar merasa heran dan ingin sekali melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Benar, Locianpwe, dia inilah nona yang dulu membuang diri dan nona ini pula yang bernama Nona Nalumei, puteri kepala suku bangsa Naiman di utara yang telah menjadi korban Liok Kong Ji, kemudian bahkan dipergunakan untuk membantunya dalam siasat memburukkan namaku.“

Kong Ji melangkah maju, memandang kepada Nalumei dengan mata tajam lalu berkata, “Nalumei apakah yang telah dilakukan oleh penjahat Wan Sin Hong ini kepadamu?“

Kong Ji sama sekali tidak tahu bahwa telah terjadi perubahan hebat dalam pikiran Nalumei. Seperti telah diceritakan di bagian depan, nona ini menuju ke utara untuk mengumpulkan pasukan seperti yang diminta oleh Kong Ji. Akan tetapi setelah tiba di utara, ia melihat bahwa semua suku bangsanya telah menjadi pembantu setia dari Temu Cin. Bahkan Nalumei bertemu dengan paman-pamannya, dan dengan seorang pemuda Naiman bekas kekasihnya sebelum menjadi kekasih paksaan dari Kong Ji, dan oleh mereka inilah Nalumei dicuci otaknya. Baru ia merasa betapa ia selama ini menjadi permainan Kong Ji, bahwa sebetulnya Kong Ji adalah seorang manusia berhati iblis yang amat keji.

Mendengar penuturan Nalumei tentu semua pengalamannya dengan terus terang, paman paman dan bekas kekasih Nalumei, juga suku bangsanya, menjadi kecewa dan memandang rendah bekas puteri kepala ini. Bahkan paman-paman Nalumei mengusir gadis yang mereka anggap telah mengotori nama baik bangsa Naiman sebagai bangsa yang gagah berani.

Dengan hati hancur Nalumei kembali ke selatan tanpa membawa seorang pun kawan. Timbul marah dan sakit hatinya, kepada Kong Ji, apalagi kalau ia teringat akan kebiadaban Kong Ji terhadap gadis-gadis lain seperti Gak Soan Li dan banyak lagi gadis muda yang menjadi korbannya. Ia akan ke Ngo-heng-san sesuai dengan kehendak dan pesan Kong Ji, akan tetapi sama sekali bukan untuk membantunya, melainkan untuk membalas dendam untuk membunuhnya!

Kebetulan sekali, ketika ia tiba dekat Gunung Ngo-heng san, ia bertemu dengan Wan Sin Hong. Pemuda ini cepat memegang pergelangan lengannya, dan berbeda dengan dahulu, Nalumei tidak melawan, tidak memberontak, bahkan tersenyum duka sambil berkata,

”Wan Sin Hong, aku memang sudah berdosa terhadapmu. Akan tetapi kau dan aku ini hanya menjadi korban orang lain. Kau lihai, kalau kau sakit hati terhadap aku bunuhlah, aku tidak penasaran. Hanya aku tidak akan mati meram sebelum dapat membelek dada iblis Liok Kong Ji” Setelah berkata demikian Nalumei menangis terisak-isak. Sin Hong melepaskan pegangannya dan dari gadis ini ia mendengar semua rahasia tentang cara-cara Kong Ji merusak namanya.

Gadis itu mengaku pula betapa atas perintah Kong Ji, ia pernah mengadakan pengakuan palsu di hadapan para tokoh kang-ouw bahwa ia telah menjadi korban kekejian penjahat Wan Sin Hong. Kemudian, atas siasat yang diatur oleh Kong Ji pula, ia melompat dan melempar diri dari atas jurang. Tentu saja ia tidak menghadapi bahaya karena di bawah telah menanti Kong Ji yang siap membantunya. Inilah sebabnya maka Sin Hong tidak dapat menemukan gadis itu di bawah jurang.

Sin Hong berterima kasih sekali dan berjanji akan membawa Nalumei ke atas puncak setelah selesai urusannya dengan Kong Ji. Ketika ia kembali ke puncak bersama Li Hwa, ia sengaja menjemput Nalumei yang dibuat tak berdaya oleh sikap lemah lembut pemuda ini, dan bersama gadis Naiman itu ia kembali ke puncak seperti telah dituturkan di bagian depan.

Nalumei mengangkat muka memandang kepada Kong Ji dengan mata penuh kebencian, kemudian ia mengangkat dada mengumpulkan keberanian dan menghadapi Tat Wi Siansu dan yang lain-lain sambil berkata nyaring.

"Tidak salah apa yang dikatakan oleh Wan Sin Hong. Semua perbuatan keji yang selama ini dilakukan atas nama Wan Sin Hong, sebetulnya adalah perbuatan jahanam Liok Kong Ji yang mengunakan nama Wan Sin Hong!”

“Bohong’ Nalumei, kau sudah gila...“ Kong Ji berseru marah dan heran sambil melangkah maju.

“Memang aku telah gila semenjak aku percaya omonganmu. Aku lebih dari gila, mempercayai seorang iblis seperti engkau dan meninggalkan suku bangsaku. Kau keji dan buas menyuruh aku pura-pura membuat pengakuan telah diperkosa oleh Wan Sin Hong, padahal kau sendiri yang merusak hidupku! Biarpun aku tidak menyaksikan sendiri apa yang kau perbuat terhadap diri Gak Soan Li dan banyak pula gadis lain, aku dapat menduganya kau... kau... jahanam...“ Setelah berkata demikian tiba-tiba Nalumei melompat dan menerkam Kong Ji dalam usahanya menyerang hebat.

Sin Hong kaget sekali, namun ia terlambat. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Nalumei akan melakukan serangan nekad. Sejak tadi hanya memperhatikan Kong Ji, sehingga kalau andaikata Kong Ji menyerang Nalumei biar secara menggelap sekalipun, pasti Sin Hong akan melihatnya dan dapat melindungi Nalumei. Akan tetapi sekarang terjadi sebaliknya daripada yang ia khawatirkan, bukan Kong Ji menyerang Nalumei, bahkan gadis bangsa Naiman itu yang menyerang Kong Ji. Ia menjadi tertegun sejenak, dan waktu yang amat singkat ini sudah cukup bagi Kong Ji untuk bertindak. Pedang Pak-kek Sin-kiam berkelebat dan Nalumei menjerit roboh dengan mandi darah yang mengucur keluar dari dadanya yang tadi ditembus pedang Pak kek Sin-kiam.

Tai Wi Siansu dan tokoh-tokoh lain menjadi marah sekali. Mereka sudah siap menyerbu pemuda iblis itu, akan tetapi Sin Hong mendahului mereka sambil berseru,

“Cuwi Locianpwe, serahkan saja jahanam ini kepadaku!“ Dengan gerakan lincah Sin Hong sudah melompat dan menghadapi Kong Ji dengan pedang di tangan. Dua orang pemuda ini, sekarang berhadapan satu lawan satu. Kong Ji memandang penuh kebencian kepada Sin Hong, sebaliknya Sin Hong hanya tersenyum mengejek. Kong Ji marah bukan main, sepasang matanya mengeluarkan cahaya berapi-api, giginya berkerot-kerot. Dalam diri Kong Ji ia melihat seorang musuh besar yang menjadi penghalang cita-citanya, maka kini nafsu membunuh memenuhi dadanya.

“Sin Hong...“ dengusnya dengan suara mendesis melalui celah bibirnya, “Alangkah bencinya melihatmu... lihat, sebentar lagi akan kupenggal lehermu, kuminum darahmu, kucincang hancur tubuhmu!“

“Kong Ji semenjak kecil kau sudah jahat, sekarang kau menjadi iblis. Sudah menjadi tugasku membasmi seorang iblis jahat.”

Dengan mata marah Kong Ji menyapu para tokoh kang-ouw yang kiranya tidak akan membantunya, lalu berkata suaranya menyeramkan. “Aku Tung-nam Tai bengcu Liok Kong Ji, sekarang sebagai calon bengcu besar hendak mengadu kepandaian dengan seorang calon lain, siapakah ada maksud hendak mengeroyokku? Awas, kalau ada yang membantu lawanku secara sembunyi aku pun mempunyai banyak sekali kawan berkumpul di sini yang akan sanggup membasmi kalian!“

Kini semua orang tersenyum mengejek mendengar kata-kata ini bahkan Hui-eng Niocu Siok Li Hwa berkata setelah tertawa nyaring.

”Wan Sin Hong, jangan bunuh dia dulu, biarkan aku yang membunuhnya! Atau, kalau kau bunuh juga, jangan diganggu lehernya ingin aku memenggal batang lehernya dan mengambil kepalanya untuk menyembahyangi roh dari Cun Eng!”

Sin Hong tersenyum, lalu menantang. “Kong Ji, sudah cukupkah kau mengobrol?”

Kong Ji tidak menanti sampai Sin Hong menghabiskan kata katanya. Cepat sekali dia menyerang dengan Pak-kek Sin-kiam yang diputar cepat dan beberapa serangan secara bertubi-tubi telah menyambar ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya dari Sin Hong. Sin Hong maklum bahwa ilmu silat dari Kong Ji memang amat lihai ditambah lagi dengan Pak-kek Sin-kiam di tangan, pemuda itu merupakan lawan yang amat berbahaya.

Cepat ia mengelak dan di lain saat dua orang pemuda itu sudah bertempur hebat. Kong Ji berlaku nekad, mendesak terus sambil mengeluarkan segala kepandaiannya. Tidak hanya pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam yang menyambar-nyambar sebagai tangan maut, juga tangan kirinya tiada hentinya mengirim pukulan Tin-san-kang sehingga debu berhamburan terkena sambaran hawa pukulan yang dahsyat ini...

Thanks for reading Pedang Penakluk Iblis Jilid 30 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »