Pedang Penakluk Iblis Jilid 31

Pedang Penakluk Iblis Jilid 31

DILAIN pihak, Sin Hong dapat mengimbangi kecepatan Kong Ji dan tidak terdesak oleh lawannya. Akan tetapi tidak berani mengadu pedang, karena maklum bahwa betapapun baik pedangnya takkan kuat bertahan menghadapi ketajaman dan keampuhan Pak-kek Sin kiam. Ia selalu mempergunakan kehebatan ilmu pedangnya untuk menghindarkan bertemunya kedua pedang, dan berusaha untuk merobohkan Kong Ji dengan serangan balasan.

Namun ternyata bahwa Kong Ji juga bertempur amat hati-hati. Pemuda ini maklum akan kehebatan yang biarpun hanya memegang pedang biasa, namun sekali terkena serangan Sin Hong berarti ia akan kalah.

Oleh karena itu, ia tidak berani memandang rendah dan berkelahi penuh perhatian dan amat teliti menjaga diri sehingga tiap kali pedang Sin Hong berkelebat membalas serangannya, ia sudah siap untuk membabat pedang lawan itu. Tentu saja setiap kali Sin Hong menarik kembali serangannya, karena kalau dilanjutkan ada bahaya pedangnya terbabat putus.

Seratus jurus lebih telah lewat dan pertempuran ini menjadi makin seru. Semua orang dari kedua pihak menonton dengan hati berdebar. Beberapa kali terdengar Hui-eng Niocu Siok Li Hwa mencela Sin Hong sebagai seorang “terlalu sabar”, terlalu mengalah dan sebagainya.

Tentu saja nona ini berpendapat demikian karena dia sendiri memiliki pedang pusaka Cheng-liong kiam yang tidak takut menghadapi Pak-kek Sin-kiam. Akan tetapi Ciang Le berpendapat lain. Pendekar besar ini maklum mengapa Sin Hong seakan-akan mengalah dalam pertempuran itu, akan tetapi diam-diam ia harus mengakui bahwa Kong Ji lihai bukan main dan merupakan lawan yang sulit dikalahkan.

Tiba-tiba terdengar suara keras disusul oleh suara ketawa menyeramkan dari Liok Kong Ji. Gerakan dua orang muda itu terlalu cepat hingga amat sukar diikuti oleh pandangan mata. Ketika semua orang memperhatikan, ternyata bahwa pedang di tangan Sin Hong tinggal gagangnya saja, pedang itu sendiri sudah terbabat putus oleh Pak kek Sin-kiam yang ampuh dan tajam!

“Ha ha ha, Wan Sin Hong! Bersiaplah kau untuk menjadi setan neraka. Ha ha ha!“ Kong Ji tertawa bergelak dan pedangnya kini makin cepat menyambar dengan serangan bertubi-tubi sehingga Sin Hong terpaksa harus melompat ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari pedang yang tajam itu.

Sementara itu, Siok Li Hwa Ketua Hui-eng pai membanting-banting kakinya, mencabut Cheng-liong-kiam, menggerak-gerakkan pedangnya itu sambil berseru. “Wan Sin Hong! Kalau kau tidak bisa bertempur, mundurlah, biar aku menghadapi Siauw-koai (Setan Cilik) itu!“

Sin Hong kelihatannya gugup dan bingung menghadapi desakan pedang Pak kek Sin-kiam, gerakannya kacau balau dan ia melompat ke sana ke mari tanpa berdaya membalas. Selalu terancam oleh sinar pedang. Akan tetapi ia masih sempat menjawab. “Biarlah Hui-eng Niocu, aku masih penasaran!“

Kong Ji tertawa lagi, pedangnya digerak-gerakkan seperti seorang dewasa mengancam dan menakut-nakuti seorang anak kecil, sikapnya memandang rendah sekali. Kemudian ia menoleh ke arah Siok Li Hwa. “Hui-eng Niocu, Nona manis. Kau bersabarlah. Biar aku menyembelih anjing kurus ini dulu, nanti kita bermain-main sepuasnya ha ha ha!“

Li Hwa mendongkol dun gemas seperti cacing terkena abu panas. Ta membanting-banting kaki, menyabet-nyabetkan pedang di tengah udara sambil memaki-maki Sin Hong sebagai seorang tolol, bodoh dan tidak tahu bagaimana harus berkelahi. Sebaliknya memaki-maki Kong Ji sebagai seorang sombong, kepala batu, menjemukan dan lain-lain. tentu saja dua orang muda yang sedang bertempur mati-matian itu tidak menghiraukannya.

Tidak seorang pun tahu, juga Kong Ji sendiri tidak, bahwa Sin Hong telah mengatur siasat. Ta maklum bahwa kepandaian Kong Ji benar-benar lihai sekali, ditambah dengan pedang Pak-kek Sin-kiam, kiranya tidak mudah baginya untuk merobohkannya. Apalagi kalau Kong Ji bertempur demikian hati-hati menjaga dirinya dengan pedang pusaka itu.

Maka Sin Hong lalu mencari akal. Ta harus membikin besar hati Kong Ji, menimbulkan kesombongan lawan ini sehingga memandang rendah kepadanya. Hanya kalau dia berhasil dalam hal ini baru Kong Ji akan kurang waspada, akan kurang kuat penjagaannya dan hanya akan mengerahkan tenaga dan perhatian dalam serangan-serangannya.

Oleh karena itu, dengan gerakan indah tidak kentara seakan-akan ia terdesak dan tidak ada jalan lain untuk menghindarkan sebuah sabetan pedang Kong Ji kecuali menangkis, ia lalu menangkis yang mengakibatkan pedangnya terbabat putus. Gerakan ini sewajarnya, membuat Kong Ji tertawa bergelak saking girangnya, dan membuat Ciang Le mengerutkan keningnya. Biarpun pendekar ahli pedang ini sendiri pun tidak tahu akan siasat Sin Hong dan mengira bahwa Sin Hong memang kalah karena Kong Ji berpedang pusaka.

Memang siasat Sin Hong berhasil baik. Apalagi ketika ia mengambil sikap bingung dan sengaja mengacaukan gerakannya ketika ia mengelak dan berloncat-loncatan menghindarkan serangan Kong Ji seakan-akan ia sudah terdesak betul-betul. Kong Ji makin memandang rendah kepadanya. Kong Ji terlalu menyombongkan kepandaian sendiri dan ia memastikan bahwa kali ini Sin Hong akan mati di tangannya, maka ia memperhebat serangannya dan tak lama kemudian ia telah mengeluarkan seluruh kepandaian mengerahkan seluruh tenaga dan perhatian dalam menyerang Sin Hong.

Inilah saat yang dinanti-nanti oleh Sin Hong setelah bertempur selama seratus tiga puluh jurus lebih. Setelah yakin Bahwa seluruh perhatian Kong Ji mulai ditujukan untuk menyerang, ia memanaskan hati lawannya dengan cara berloncatan ke kanan kiri membuat pedang lawan hanya menyerempet sedikit saja ujung bajunya.

Kong Ji gemas, berseru keras dan tiba-tiba sinar hitam meluncur ke arah leher Sin Hong, disusul oleh pukulan Tin-san-kang dan dibarengi dengan sebuah tusukan pedang ke arah lambung. Inilah serangan tiga jurusan yang hebat bukan main. Sinar hitam itu adalah jarum-jarum Hek-tok-ciam yang dilepas oleh Kong Ji dalam saat Sin Hong sudah amat terdesak.

Jarum-jarum Hek-tok-ciam itu sudah lihai, akan tetapi pukulan tangan kirinya ke arah dada lebih berbahaya, karena pukulan Tin-san-kang ini dapat menghancurkan isi dada Sin Hong. Akan tetapi yang paling hebat adalah tusukan pedang itu, sebuah gerak tipu dari Ilmu Pedang Pak-kek-sin-kiam-sut yang dicuri oleh Kong Ji dari Ciang Le melalui tipuannya kepada Hui Lian.

Semua orang terkejut, juga Ciang Le berdebar karena ia sendiri tak dapat melihat jalan keluar dari tiga serangan sekaligus ini. Akan tetapi Sin Hong tenang-tenang saja. Ia hendak mencari keuntungan dari keadaan bahaya ini. Tanpa melepaskan perhatiannya kepada kedua tangan lawan, ia hanya miringkan kepala dan leher sedikit saja agar jalan darah di lehernya jangan sampai terkena Hek-tok ciam. Akan tetapi tetap saja pundak dan kulit lehernya tergores dua batang Hek tok-ciam yang amat berbisa itu. Memang Sin Hong sengaja membiarkan dirinya terserang Hek-tok-ciam agar tidak membuang waktu.

Pada saat yang sama, dua tangannya bergerak cepat, yang kanan menyambut pukulan Tin-san-kang, yang kiri mencengkeram pergelangan tangan kanan lawan yang memegang pedang. Gerakan Sin Hong ini cepat bukan main dan dilakukan dengan pengorbanan pundak dan leher jadi sasaran Hek-tok-ciam sehingga Kong Ji menjadi lalai karena tidak menduga sebelumnya. Di lain saat, dua pasang tangan telah bertemu.

Kong Ji kaget sekali dan ia mengerahkan seluruh tenaga sinkang yang disalurkan pada dua lengannya untuk melukai lawan dan terutama sekali untuk merampas kembali pedangnya. Namun, alangkah kagetnya ketika ia merasa kedua pergelangan tangannya seperti patah-patah, sakitnya terasa sampai di ulu hatinya. Akan tetapi Kong Ji tetap berkeras, tidak mau melepaskan Pak-kek Sin-kiam, bahkan sekali lagi ia mengerahkan tenaga berbisa, yakni Hek-tok-ciang.

Ia melihat wajah Sin Hong menjadi pucat dan lehernya kehitaman akibat serangan jarum berbisa tadi, akan tetapi tenaga yang keluar dari sepasang tangan Sin Hong makin besar saja. lnilah kehebatan sinkang dalam tubuh Sin Hong yang dapat menampung tenaga lawan dan mengembalikannya sebagai senjata makan tuan.

Adu tenaga ini memakan waktu lama sampai keduanya kelihatan menggigil seluruh tubuhnya dan akhirnya Kong Ji tidak dapat menahan lagi dan harus mengaku bahwa Sin Hong lebih unggul dari padanya. Sambil mengeluarkan pekik mengerikan Kong Ji terlempar tiga tombak ke belakang, jatuh berguling dan pedang Pak-kek Sin-kiam kini telah berada tangan Sin Hong!

Akan tetapi Sin Hong sendiri juga payah keadaannya karena dalam pengerahan tenaga tadi, racun Hek-tok-ciam dari lehernya menjalar ke bagian lain. Ta tidak mengejar Kong Ji, melainkan cepat-cepat mengambil obat dari sakunya dan menelan beberapa butir pel biru, kemudian dengan jarum perak ia menusuk beberapa bagian jalan darah di leher dan pundaknya.

Barulah keadaannya tidak mengkhawatirkan dan ia memandang ke arah Kong Ji yang sementara itu sudah bangun kembali. Kong ji menyeringai, rambutnya awut-awutan, mukanya sebentar pucat sebentar merah, matanya merah dan melotot akan tetapi agak basah. Seperti anak kecil yang kehilangan barang kesayangannya, ia hampir menangis dan marah-marah, kemudian ia melompat lagi menghadapi Sin Hong, mengirim pukulan Tin-san-kang dengan tangan kanan dan pukulan Hek-tok-Ciang dengan tangan kiri.

Akan tetapi dengan kebutan ujung lengan baju, kedua pukulan ini dapat dipunahkan oleh Sin Hong dan sekali kaki Sin Hong bergerak kembali tubuh Kong Ji melayang sampai empat tombak jauhnya.

“Binasakan saja iblis itu'“ terdengar teriakan-teriakan dari pihak yang pernah dirugikan oleh Kong Ji dengan menggunakan nama Wan Sin Hong.

“Kong Ji, bersiaplah untuk mati oleh Pak-kek-sin-kiam!“ Sin Hong berseru dan kini dia yang mengejar.

“Wan Sin Hong, biar aku yang menamatkan riwayatnya!“ dari lain jurusan datang Li Hwa mengejar dengan pedang pusaka Cheng liong-kiam di tangannya.

Dengan demikian dua orang mengejar dan seakan-akan berlumba untuk membunuh Kong Ji. Liok Kong Ji melihat datangnya dua orang yang sama-sama lihainya itu dari kanan kiri dengan pedang-pedang pusaka di tangan, timbul takutnya. Ia lalu melompat bangun dan berlari cepat menghampiri Ciang Le yang berdiri, didampingi oleh Bi Lan, Hui Lian, Lie Bu Tek, Coa Hong Kin dan Cam-kauw Sin-kai yang masih bersila di atas tanah.

“Suhu... mohon pertolongan Suhu... tolonglah nyawa teecu!“ ia meratap dengan wajah pucat, takut setengah mati.

Ciang Le merasa muak perutnya menyaksikan sikap pengecut pemuda ini “Aku tidak mempunyai murid macam kau!“ bentaknya marah.

“Suhu, lupakah kau bahwa tadi aku telah menyelamatkan nyawa Sumoi Go Hui Lian?“ Suara Kong Ji makin ketakutan karena Sin Hong dan Li Hwa sudah mengejar dekat.

“Apa kau bilang...?“ Ciang Le membentak lagi sambil mengerutkan kening mukanya berubah marah.

“Suhu dan Subo, apakah kalian begitu tak kenal budi? Tidak mau membayar kembali hutang nyawa anakmu?“ Kong Ji mendesak.

Ciang Le bergerak maju dan berhasil menangkis pedang di tangan Sin Hong yang menyerang Kong Ji dari belakang. Di saat berikutnya, Bi Lan juga memutar pedangnya menangkis serangan pedang Li Hwa yang kalah dulu oleh Sin Hong.

“Kami membayar hutang nyawa. Larilah, lain kali kami akan bantu membinasakan kau!“ Cing Le membentak kepada Kong Ji yang sudah bersembunyi di belakangnya.

Pemuda ini melihat siasatnya berhasil, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu terus melarikan diri turun gunung dengan cepat sekali. Ta tidak takut dikejar orang. Terhadap orang lain ia tidak usah takut, sedangkan orang yang ia takuti, yakni Sin Hong dan Li Hwa, sudah dihadang oleh Ciang Le dan Bi Lan.

Sin Hong marah sekali, demikian pula Li Hwa. “Kong Ji jangan lari“ seru Sin Hong.

“Bangsat, kau hendak lari ke mana?” seru Li Hwa. Dua orang muda ini hendak mengejar, akan tetapi Ciang Le da Bi Lan dengan pedang di tangan menghadang mereka.

“Apa artinya ini? Apakah Suheng hendak melindungi iblis jahat itu?“ tanya Sin Hong, sepasang matanya memandang tajam kepada Ciang Le.

Ciang Le tidak dapat menahan pandang mata pemuda ini, teringat betapa ia dahulu pernah menghajar pemuda yang ternyata tidak berdosa dan kini bahkan ia sendiri melindungi bekas muridnya yang jahat dari kejaran Sin Hong. “Untuk saat ini dia berada dalam perlindungan kami.“ jawab Ciang Le tenang, “setelah ia pergi dari gunung ini, terserah kau mau kejar dan bunuh dia.“

“Dia muridnya, tentu saja dilindungi!“ kata Li Hwa mengejek dan gadis ini mempedulikan hadangan Bi Lan, sudah hendak lari melanjutkan pengejaran. Juga Sin Hong mendengar ini hendak melanjutkan pengejaran.

Melihat ini Ciang Le menjadi bingung. Apakah dan isterinya harus menyerang dua orang muda itu? Kalau sampai terjadi demikian, dia akan ditertawai oleh seluruh orang gagah di dunia ini. Sebaliknya kalau sampai dua orang muda ini dibiarkan saja mengejar Kong Ji sampai tersusul lalu terbunuh di daerah Ngo-heng-san berarti ia tidak dapat memegang janjinya untuk membayar hutang nyawa kepada Kong Ji.

“Nanti dulu!” serunya dan tubuhnya sudah bergerak dan menghadang. “Kalian berdua adalah calon-calon bengcu, demikian pula aku. Karena sekarang calon-calon bengcu hanya tinggal kita bertiga, aku tantang kalian untuk mengadu ilmu dan menentukan siapa yang berhak menjadi bengcu“

Sin Hong yang cerdik maklum bahwa ini hanya alasan untuk memberi waktu dan kesempatan kepada Kong Ji agar dapat melarikan diri. “Aku tidak ingin menjadi bengcu, kalau Suheng mau, silakan menjadi bengcu, tak usah berpibu dengan aku.“ Kembali ia hendak lari, akan tetapi tiba-tiba Ciang Le menyerangnya dan berkata. “Apa kau menjadi takut karena harus melawanku? Pengecut, lihat pedang!“

Bagi orang gagah, biar bagaimana sabar dan mengalah sekalipun, sebutan “takut“ adalah pantangan besar dan merupakan penghinaan, maka Sin Hong tanpa banyak bicara lalu menyambut serangan itu dan di lain saat Sin Hong sudah bertempur hebat melawan Ciang Le. Li Hwa yang hendak melanjutkan pengejarannya kepada Kong Ji juga disambut oleh Bi Lan yang berkata,

“Biar aku mewakili suamiku mencoba kepandaianmu, Hui-eng Niocu!“

Li Hwa mengeluarkan suara ketawa mengejek dan di lain saat dua orang wanita itu pun bertempur hebat. Pertempuran kali ini benar-benar hebat, sama seru dan tegangnya dengan pertempuran antara Sin Hong dan Kong Ji tadi.

Ciang Le yang menghadapi Sin Hong mengeluarkan pedangnya Pak-kek Sin-kiam-hwat yang luar biasa lihainya. Tidak saja ia harus melindungi Kong Ji seperti yang sudah ia janjikan, akan tetapi juga ia harus melindungi nama besarnya. Soal pemilihan bengcu baginya bukan soal besar, karena Ciang Le juga tidak ingin menjadi bengcu, akan tetapi sebagai seorang pendekar pedang yang sudah terkenal di seluruh dunia kangouw, tentu saja ia tidak mau menyerah kalah menghadapi bocah yang masih terhitung sutenya sendiri ini.

Pedang di tangan Ciang Le biarpun bukan pedang pusaka, akan tetapi cukup kuat dan kalau tidak terkena secara tertindih, belum tentu dapat terbabat putus oleh Pak-kek Sin-kiam. Apalagi karena ia mengerahkan tenaga lweekangnya. tersalurkan pada, pedang sehingga tiap serangan maupun tangkisan mengandung tenaga yang dahsyat sekali. Akan tetapi. segera jago pedang ini terheran-heran dan kagum bukan main.

Biarpun di tangannya terdapat pedang Pak-kek Sin-kiam sehingga kalau diumpamakan scekor harimau ia telah mendapat sepasang sayap, namun Sin Hong terang-terangan tidak mau mempergunakan keuntungan ini untuk merusak pedang Iawannya. Semua serangan jurus Ilmu Pedang Pak-kek Sin-kiam hwat disambutnya dengan baik sekali membuat Ciang Le kadang-kadang terbelalak heran, apalagi ketika pemuda itupun menghadapinya dengan ilmu pedang yang sama, namun yang lebih Iengkap. Percayalah Ciang Le bahwa pemuda ini tentulah ahli waris dari suhunya, Pak Kek Siansu dan diam-diam ia merasa makin kagum.

Setelah beberapa kali mengukur tenaga dan ilmu pedang, Ciang Le tahu bahwa kalau Sin Hong menghendaki, pemuda itu akan dapat merobohkannya tanpa banyak kesulitan. Akan tetapi pemuda ini tidak mau melakukan hal ini, dan membuktikan bahwa pemuda ini menjaga nama baik suhengnya. Teringat akan ini Ciang Le menjadi makin terharu dan suka kepada Sin Hong.

Di lain pihak, pertandingan antara Li Hwa dan Bi Lan juga hebat sekali. Bahkan pertandingan antara wanita ini jauh lebih indah ditonton. Orang-orang kagum bukan main melihat gerakan-gerakan Sian-li Eng-cu Liang Bi Lan, yang masih tangkas dan lincah sekali tiada bedanya dengan ketika ia masih muda. Gerakan-gerakannya cepat dan ilmu pedangnya mempunyai banyak perubahan dan banyak perkembangan sehingga kadang-kadang Li Hwa menjadi agak bingung karenanya.

Akan tetapi ternyata bahwa Li Hwa juga memiliki ilmu pedang yang lihai, sifatnya garang dan ganas, apalagi ilmu pedang ini dimainkan dengan pedang Cheng-liong-kiam, dahsyatnya bukan main, dan setelah lima puluh jurus telah lewat, Bi Lan mulai terdesak. Sementara itu Cam-kauw Sin-kai sudah membuka matanya dan sambil bersila ia menonton pertempuran itu. Matanya berseri gembira dan berkali-kali ia ber kata,

“Hebat! Sebelum mati menyaksikan Pak-kek Kiam-hoat dimainkan sedemikian rupa, benar-benar mati pun tidak penasaran!“

Kemudian melihat betapa Ciang Le terdesak, Lie Bu Tek lalu melompat maju dan membentak Sin Hong. “Bocah lancang! Apakah kau tidak lekas menghentikan kekurangajaranmu terhadap Go-taihiap?“

Mendengar ini, Sin Hong melompat mundur dan Ciang Le sambil tersenyum memperlihatkan bagian bajunya di dekat dada yang bolong sambil berkata kepada Lie Bu Tek. “Aku mengaku kalah. Kalau menghendaki apa sukarnya membunuhku?“

Sementara itu melihat suaminya berhenti bertempur. Bi Lan yang sudah terdesak pun tidak malu mengaku kalah. Ia melompat mundur dan memuji. “Hui -eng Niocu, kepandaianmu tinggi sekali. Aku tidak kuat melawanmu!“

Melihat betapa Ciang Le dan Bi Lan mengaku kalah, Lie Bu Tek menjadi makin marah kepada Sin Hong. “Bocah tak tahu diri! Kau begitu sombong menjatuhkan nama Go-taihiap. Kalau begitu coba kau melawanku!“

Pendekar bertangan buntung ini dengan tangan kirinya lalu mencabut pedang menghadapi Sin Hong. Sin Hong kaget melihat sikap gihunya, tidak hanya kaget akan tetapi juga girang sekali karena dengan sikapnya ini berarti bahwa Lie Bu Tek sudah mau mengaku ia sebagai anak lagi!! Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Li Bu Tek dan berkata,

“Gihu, anak mengaku salah dan menanti hukuman.“

Ciang Le dengan muka merah lalu memegang lengan kiri Lie Bu Tek dan berkata “Lie-twako, sudahlah, jangan kau terlalu menekan Sin Hong.“

“Sin Hong, hayo kau cepat mohon ampun kepada mereka“ Lie Bu Tek berkata lagi kepada Sin Hong sambil menunjuk ke arah Ciang Le dan Bi Lan. Sin Hong hendak berlutut kepada dua orang ini, akan tetapi Ciang Le cepat mencegahnya dan berkata.

“Lie-twako, jangan begitu, bukan dia yang harus mohon ampun, sebaliknya akulah yang harus minta maaf karena pernah memukulnya tanpa dosa. Aku merasa menyesal sekali... lebih-lebih karena muridku pernah ditolongnya...“

Setelah pendekar besar itu mengakui kesalahannya, baru legalah hati Lie Bu Tek. Memang tadi ia berpura-pura marah kepada Sin Hong dan memperlihatkan sikap kasar menyuruh pemuda itu minta ampun kepada Ciang Le adalah suatu sikap yang mengandung sindirin kepada Hwa I Enghiong berhubung dengan perbuatannya dahulu terhadap anak angkatnya itu. Sekarang Bu Tek menyimpan pedangnya memandang kepada putera angkatnya dengan mata basah, penuh perasaan girang, bangga, dan terharu.

Sin Hong adalah seorang yang sangat cerdik sekali, maka yang mengerti akan maksud sikap Lie Bu Tek tadi selain Ciang Le dan Bi Lan, juga pemuda ini mengerti baik. Maka lalu memeluk ayah angkatnya dan kedua orang ini saling peluk, penuh perasaan girang dan terharu.

“Bagus, Sin Hong, kau telah membersihkan namamu, juga sekaligus menghidupkan api hidupku, terima kasih anakku...“ bisik Lie Bu dekat telinga anak angkatnya yang hanya terdengar oleh Sin Hong sendiri.

Pada saat itu terdengar suara ribut ribut ternyata bahwa pasukan Kong Ji telah bergerak dengan tiba-tiba menyerang rombongan yang memusuhi Kong Ji. Seperti diketahui, rombongan yang mendukung Kong Ji amat banyak jumlahnya. Mereka ini adalah pasukan- pasukan dan perkumpulan-perkumpulan lm-yang bu-pai, Bu-cin-pang, Kwan-cin-pai, Shan Si Kai-pang, Twa-to Bu-pai dan lain-lain. Melihat ini, Sin Hong melompat ke depan dan dengan suara yang amat nyaring berpengaruh ia membentak.

“Kalian ini orang-orang gagah di dunia kang-ouw mengapa berlaku demikian memalukan? Apa artinya semua keroyokan ini? Tahan senjata dan biar para ketua rombongan bicara dengan aku!“

Sambil berkata demikian, beberapa kali Sin Hong mendorong dengan kedua tangan ke arah gelombang manusia itu dan bagaikan terbawa angin, belasan orang yang menyerang di depan telah terlempar ke belakang menimpa kawan-kawan sendiri. Kehebatan gerakan pemuda ini menggentarkan hati para penyerbu dan ia memperkuat teriakannya sehingga ribut-ribut itu berhenti.

Berlompatan keluarlah tokoh-tokoh kang-ouw yang menjadi ketua perkumpulan-perkumpulan itu, mereka yang mendukung Kong Ji, antaranya Giam-ong Ma Ek ketua Bu- cin-pang, seorang kakek tinggi kurus yang terkenal lihai karena siang-pian, yakni senjata berupa sepasang ruyung sehingga ia dijuluki Siang-plan Giam-ong (Raja Maut Bersenjata Sepasang Ruyung).

Orang kedua yang termasuk orang lihai adalah ketua Kwan-cin-pai, yakni Mo-kiam Siangkoan Bu, akan tetapi kakek ahli pedang ini, sudah terluka oleh Tai Wi Siansu sehingga ia tidak begitu menakutkan lagi ketiga adalah Sin-houw Lo Bong ketua dari perkumpulan pengemis di Shansi, yakni Shansi Kai-pang.

Lo Bong amat lihai dengan ilmu silatnya Hauw-jiauwkun-hwat (Ilmu Silat Cakar Harimau) merupakan orang terkuat di Shansi, bahkan nama besarnya setingkat dengan pengemis sakti Cam-kauw Sin-kai. Orang keempat adalah Twa-to Kwa Seng (Si Golok Besar Kwa Seng) ketua dari Twa-to Bu-pai, yakni Perkumpulan Golok Besar yang amat ditakuti karena pasukan ini memang selain amat kuat juga pengaruhnya besar sekali.

Sin-houw Lo Bong mewakili kawan-kawannya menghadapi Sin Hong dan berkata. “Sudah kami lihat tadi bahwa Hwa I Enghiong juga sudah kalah sehingga kini tinggal dua orang lagi calon bengcu. Kami hendak mempergunakan hak sebagai orang kang-ouw untuk menguji sampai di mana kepandaian bengcu yang terpilih. Di antara kau dan Hui eng Niocu, siapah yang terpilih?“

Nama Sin-houw Lo Bong bukan tidak terkenal. Dia seorang ciangbunjin partai persilatan besar, sungguhpun perkumpulannya itu hanya perkumpulan pengemis, maka Sin Hong tidak mau memandang rendah, lalu menjura ia dan berkata.

“Tentu saja semua orang berhak menguji, akan tetapi tidak secara keroyokan seperti tadi! Semua pibu yang diadakan bersifat mencoba kepandaian, bukan bermusuhan. Tentang siapa yang menjadi bengcu, hal itu aku sendiri tidak tahu-menahu dan boleh ditanyakan kepada yang bertanggung jawab dalam hal ini.“

Tai Wi Siansu melangkah maju. “Seperti sudah diketahui oleh semua orang, calon bengcu yang masih saling mengadu kepandaian adalah Wan Sin Hong Sicu, Lihiap Hui-eng Niocu dan ke tiga Hwa I Enghiong Go Ciang Le. Pertempuran yang tadi terjadi, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pibu pemilihan beng-cu...“

Tiba-tiba Ciang Le berkata nyaring. “Tidak demikian! Biarpun tadinya pertempuran itu tidak bermaksud untuk memilih calon bengcu, akan tetapi tetap saja berlaku, Aku sudah gugur sebagai calon bengcu, dan kedudukan ini kuserahkan kepada orang yang muda-muda. Selain itu, harap Cuwi Enghiong suka maafkan, aku tidak mempunyai waktu untuk menghadiri pertemuan ini lebih lama lagi. Hanya diminta menggunakan kesempatan selagi Cuwi berkumpul, kami mengundang kepada Cuwi untuk menghadiri perayaan pernikahan puteri kami dengan Coa Hong Kin yang perjodohannya ditentukan di tempat ini oleh kami dan Cam kauw Sin-kai. Kami menanti kedatangan Cuwi di Pulau Kim-bun-tho pada hari kelima belas bulan depan.“

Setelah berkata demikian, Ciang Le menjura ke empat penjuru, lalu meninggalkan Puncak Ngo-heng-san, diikuti oleh Liang Bi Lan dan Go Hui Lian dan serta mengajak Lie Bu Tek. Lie Bu Tek nampak ragu-ragu dan memandang kepada Sin Hong, akan tetapi tahu bahwa putera angkatnya itu masih menghadapi banyak urusan, ia lalu berkata Iirih.

“Sin Hong, aku menanti kau di Kim-bu-tho. Harap tak lama lagi kita dapat bertemu di sana.“

Sin Hong mengangguk seperti orang kehilangan semangat. Kemudian ia menghampiri Cam-kauw Sin-kai yang sudah dipondong oleh muridnya, Coa Hong Kin, menyerahkan sebungkus obat sambil berkata, “Cam-kauw Sin-kai Locianpwe, harap kau sudi menggunakan obat ini untuk menahan sakit.“

Pengemis tua itu tersenyum dan menerima bungkusan itu. “Wan-sicu, biarpun aku sebentar lagi akan mampus, akan tetapi aku merasa puas dan girang bahwa hanya aku seorang yang mengangkatmu menjadi calon bengcu. Demi keselamatan persaudaraan kang-ouw, harap kau terima kedudukan itu. Sicu. Terima kasih atas usahamu menyelamatkan nyawaku, akan tetapi, andaikata kau dewa sekalipun, siapa dapat membantah kehendak Thian?“

Kakek itu lalu tertawa bergelak dan memberi isyarat kepada Hong Kin untuk berangkat menyusul rombongan Ciang Le. Suara ketawanya masih bergema dari lereng bukit setelah rombongan itu lenyap. Semua orang kagum melihat kakek gagah yang menghadapi maut dengan ketawa-ketawa gembira.

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Ciang Le sebetulnya merasa malu sekali sehingga ia mengambil keputusan untuk segera pergi saja. Ia malu dan merasa tidak enak hati terhadap Sin Hong. Kekalahannya terhadap Sin Hong tidak begitu hebat baginya, sudah jamak dalam dunia persilatan orang suka kalah atau menang, juga tidak aneh karena setelah bertempur melawan pemuda itu, ia tahu bahwa Sin Hong telah mewarisi seluruh ilmu silat peninggalan Pak Kek Siansu.

Yang membuat ia merasa tidak enak hati adalah karena dahulu ia telah menuduh Sin Hong berbuat yang tidak patut, bahkan ia telah menurunkan tangan maut, menghajar Sin Hong. Kalau pemuda itu tidak memiliki kepandaian tinggi, hajaran-hajarannya dahulu itu tentu sudah merenggut nyawa pemuda itu. Kalau sampai terjadi demikian, berarti membunuh orang yang bukan saja tidak berdosa, bahkan yang telah berjasa dengan menolong Soan Li. Inilah yang membuat Ciang Le merasa amat tidak enak hati dan begitu mendapat kesempatan, ia lalu meninggalkan tempat itu.

Adapun Sin Hong, ketika mendengar bahwa Hui Lian telah ditunangkan dengan Coa Hong Kin dan akan menikah sebulan lagi, tiba-tiba menjadi pucat mukanya dan bibirnya tersenyum pahit. Akan tetapi ia dapat menekan perasaannya dan memindahkan perhatiannya kepada Cam-kauw Sin-kai yang masih terdengar suara ketawanya.

“Kasihan orang tua itu, nyawanya hanya dapat ditolong dengan sehelai daun dewata berwarna merah. Akan tetapi di dunia ini, siapakah yang memiliki daun itu?“

Kata-kata Sin Hong ini diucapkan sebagai keluhan sebagian untuk memberi kesempatan kepada dirinya untuk mengeIuh akibat penyesalan mendengar tentang pernikahan Hum Lian, kedua kalinya untuk maksud tertentu, karena sambil berkata demikian ia memandang tajam kepada See-thian Tok-ong yang masih berada di situ pula.

See-thian Tok-ong yang sudah terluka karena tendangan Ciang Le, masih asyik duduk bersila mengobati diri sendiri. Ia tertawa tanpa mengeluarkan suara karena tidak mau membuang-buang tenaga dalamnya ketika ia mendengar keluhan Sin Hong ini.

“Wan Sin Hong, kalau hatimu demikian penuh welas asih, bagaimana kalau kau menukar sehelai daun yang kaumaksudkan itu dengan kedudukan bengcu kepadaku.”

Sin Hong tersenyum biarpun hatinya mendongkol sekali. ia mengerti baik akan maksud kakek gundul ini, akan tetapi ia pura-pura bertanya. “See Chian Tok-ong, apakah kata katamu tadi?“

“Yang menjadi calon bengcu tinggal kau dan ketua Hui-eng-pai. Kalau kau mengalahkan dia, berarti kau yang menang. Aku sanggup memberi sehelai daun yang kau butuhkan tadi kalau kau mau menyerahkan kedudukan bengcu kepadaku.”

”Itu tidak mungkin!” Tai Wi Siansu membentak. ”Kedudukan bengcu tak mungkin diberikan seperti hadiah! Tak mungkin pula bengcu ditukar-tukar seperti orang menukar baju! Kalau Wan sicu yang menang, harus dia yang menjadi bengcu, bagaimana bisa diganti oleh orang lain?”

See-thian Tok-ong tersenyum mengejek. ”Tat-wi Siansu, kalau Wan Sin Hong sudah memberikan kedudukan itu kepadaku, yang penasaran boleh maju dan kalau aku kalah tentu saja aku dengan sendirinya akan mengundurkan diri”

Kata-kata ini beralasan juga, karena kalau Wan Sin Hong, Siok Li Hwa, Liok Kong Ji dan Go Ciang Le tidak menjadi bengcu, kiranya yang paling kuat diantara lain-lain calon hanyalah See-thian lok-ong seorang!

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan merdu. Siok Li Hwa yang tertawa ini, tertawa dengan bebasnya memperlihatkan deretan gigi yang putih berkilau seperti mutiara. Semua orang memandang dan melihat gadis ini mengeluarkan tiga helai daun merah dari saku bajunya, memberikan itu kepada seorang gadis anggauta perkumpulannya dan memberi perintah. Gadis itu menganguk angguk dan di lain saat gadis itu sudah berkelebat dan cepat sekali mengejar rombongan Cam-kau Sin-kai!

Kembali Li Hwa tersenyum mengejek kepada See-thian Tok-ong. ”Setan gundul, kau kira hanya kau saja yang memiliki daun dewa? Tangan sudah melukai orang dan kau memiliki alat penawarnya, akan tetapi tidak mau menolong. Sungguh kau kejam sekali dan lebih kejam dari serigala-serigala yang berkeliaran di gunungku. Ingin aku diberi kesempatan membuntungi dua tanganmu dengan pedangku!” Sambil berkata demikian Li Hwa mencabut pedang hijaunya dan berdiri dengan sikap menantang sekali.

Kalau saja See-thian Tok-ong dan anak isterinya belum terluka dan belum kalah di tempat itu, tentu akan bangkit dan menyambut tantangan gadis itu. Kini ia hanya mengeluarkan suara menggereng seperti harimau kejepit, merasa kecewa dan malu dan di lain saat ia telah berlalu pergi diikuti oleh Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun. Para pengikutrya menjadi bingung karena tidak mungkin mereka dapat menyusul tiga orang yang berlari seperti terbang menuruni puncak itu. Terpaksa mereka lalu turun gunung pula untuk kembali ke kota raja dan membuat laporan.

Sin Hong dan Li Hwa saling pandang. tinggal mereka berdua saja calon bengcu. “Hui-eng Niocu, banyak terima kasih. Kau benar-benar seorang yang berhati mulia. Mudah-mudahan lain kali aku akan membalas budimu tadi.“

Hui-eng Niocu Siok Li Hwa memandang kepada Sin Hong dengan senyum lucu dan sepasang matanya yang tajam bersinar. “Wan Sin Hong, kau memang orang aneh. Aku memberi daun kepada Cam kauw Sin-kai, mengapa kau yang berterima kasih? Laginya, daun itu bukan aku yang menanam, hanya tumbuh sendiri di hutan dan aku cuma memetiknya maka jangan bicara tentang budi.“

Dari gerak-gerik dan kata-kata Siok Li Hwa, Sin Hong mengerti bahwa gadis ini amat terbuka hatinya dan jujur serta masih bersih daripada adat istiadat sehingga nampaknya agak kasar, seakan-akan sebuah bunga mawar tumbuh di hutan, bebas dan belum tersentuh oleh siapapun juga.

Sementara itu, Sin-houw Lo Bong menjadi tidak sabar. “Wan Sin Hong den Hui-eng Niocu. Kalian ini anak kecil, tak tahu aturan hayo sambut tantangan kami. Tai Wi Siansu, kau ini yang menjadi pemimpin pertemuan ini bagaimana?”

Tai Wi Siansu menjawabnya karena baik Sin Hong maupun Li Hwa kelihatan tidak mau mempedulikan ketua Shansi Kai-pang itu. ”Shansi Kai-pangcu, memang menurut aturan sekarang yang menjadi calon bengcu tinggal dua orang, yakni Wan sicu dan Siok-Lihiap. Untuk menentukan siapa bengcu yang menang, keduanya tentu akan menguji kepandaian. Adapun kau dan kawan-kawanmu kalau masih penasaran, tentu saja kalian boleh menguji mereka, pilih saja yang mana!”

Tai Wi Siansu memang maklum dan percaya penuh akan kepandaian Sin Hong dan Li Hwa, maka ia tidak khawatir akan ancaman orang-orang bekas pendukung Kong Ji ini. Yang ia khawatirkan hanya mengenai diri Hui-eng Niocu Siok-Li Hwa. Sudah tentu saja Tai Wi Siansu, juga tokoh- tokoh lain, mengharapkan Sin Hong yang menjadi bengcu, karena sudah terbukti bahwa pemuda ini selain kepandaian yang tinggi, juga berhati bersih dan membuktikan kecerdikannya dalam hal membongkar rahasia Kong Ji.

Akan tetapi, Li Hwa seorang gadis yang kelihatan berilmu tinggi juga, apalagi kalau diingat bahwa gadis ini murid tunggal mendiang Pat-jiu Nio-nio yang dahulu terkenal ganas dan galak. Bagaimana kalau Sin Hong kalah oleh Nona ini?

Sementaia itu Sin-houw Lo Beng yang datang ke puncak itu selaln mendukung Kong Ji, juga hendak menguji kepandaian sendiri di gelanggang pertemuan orang-orang gagah. Tadi memang ia gentar menghadapi tokoh-tokoh besar perti Hwa l Enghiong, Cam-kauw Sin kai dan See- thian Tok-ong dan mereka ragu-ragu untuk mengajukan diri mencoba kepandaian.

Akan tetapi sekarang, melihat bahwa sisa bengcu hanya tinggal dua orang muda itu, biarpun ia tahu bahwa mereka berdua adalah orang-orang muda dengan kepandaian tinggi, namun ia merasa penasaran dan di dalam hatinya sanggup menangkan mereka. Mustahil dia yang sudah mempunyai pengalaman puluhan tahun, akan kalah oleh bocah yang baru muncul?

“Wan Sin Hong, mari kita main-main sebentar!“ Tantangnya sambil menghadapi pemuda itu.

Tadinya Sin Hong sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menjadi bengcu. Akan tetapi setelah melihat semua orang gagah mengundurkan diri dan melihat suasana di dunia kangouw, terutama sekali setelah ia mendengar pesan terakhir dari Cam-kauw Sin-kai, pikirannya berubah. Ia melihat perlunya ia membela kedudukan bengcu agar jangan terjatuh ke dalam tangan orang-orang jahat. Kalau ia masih berpendirian seperti tadi, yakni tidak mau menerima pengangkatan bengcu, tentu ia pun tidak sudi melayani tantangan orang-orang seperti Lo Bong dan yang lain-lain.

Sekarang, ia maklum bahwa ia harus menyingkirkan orang-orang bekas pendukung Kong Ji ini, sekalian memperkenalkan diri melalui ilmu silatnya agar lain kali jangan ada orang jahat berani berbuat sewenang- wenang. Maka dengan senang ia lalu melangkah maju menghadapi Sin-houw Lo Bong, berkata perlahan,

“Lo-enghiong ini siapakah, harap memperkenalkan diri agar aku yang muda bertambah pengetahuan.“

Melihat sikap Sin Hong yang ramah dan sopan Lo Bong mengurangi kekakuan sikapnya. “Aku adalah Shansi Kai- pangcu, Sin-houw Lo Bong dari Shansi.“

“Ah kiranya ketua Shansi Kai-pangcu yang terkenal. Silahkan, Pangcu aku sudah siap menerima pelajaran.“

“Lihat serangan!“ Lo Bong berseru sambil membuka serangan pertama yang dahsyat. Kedua lengannya ditekuk, jari-jari tangan dipentang seperti kuku harimau, kemudian lengan itu bergerak cepat pergi datang, melakukan serangan bertubi-tubi dan bergantian, mencakar dada, perut, leher, dan muka.

Sin Hong cepat melangkah mundur. Serangan itu hebat sekali. Dari kedua tangan itu menyambar angin pukulan yang cukup kuat, menandakan bahwa serangan-serangan itu dilakukan dengan tenaga lweekang yang tinggi. Biarpun Sin Hong berkepandaian tinggi, akan tetapi ia kurang pengalaman dan belum pernah melihat ilmu silat macam ini.

Memang ia pernah mendengar dari gihunya bahwa di dunia ini terdapat ilmu bertempur yang tak dapat dihitung banyak macamnya, dan terhadap seorang lawan yang mempergunakan Ilmu bertempur yang belum dikenalnya, ia harus berlaku hati-hati sekali. Ia belum tahu bagaimana perubahan serangan ini dan di mana letak kelihaiannya, maka biarpun didesak terus, ia main mundur dan mengelak saja.

Dua puluh jurus terlewat dan Lo Bong menjadi marah. ia merasa dipermainkan oleh pemuda itu yang selalu mengelak, bahkan menangkis satu kali pun belum pernah. Padahal ia amat mengharapkan tangkisan pemuda itu agar dapat mempergunakan ilmunya, mencengkeram lengan pemuda itu! Inilah sebuah di antara keistimewaan ilmu silatnya.

Begitu dua lengan bertemu dalam tangkisan, dengan gerakan dan kecepatan yang tak dapat diduga lawan, ia dapat membalikkan lengan dan menggunakan cengkeramannya menangkap lengan lawan dan cclakalah lawan yang dapat ia tangkap lengannya!

Karena Sin Hong tidak mau menangkis dan gerakan pemuda itu memang gesit sekali sehingga amat melelahkan bagi Lo Bong yang sudah tua, tiba-tiba kakek ini mengeluarkan suara gerengan harimau dan tubuhnya lalu mencelat naik, menubruk ke arah Sin Hong seperti seekor harimau tulen!

Ini merupakan keistimewaan kedua dari ilmu silatnya Houw jiauw-kun ini. Tubrukannya demikian cepat, kedua lengan dan kaki dipentang, bahkan kini kedua kakinya juga bergerak seperti mencakar sehingga dalam sedetik Sin Hong diancam oleh empat cakar yang berbahaya!

“Lihai sekali...!“ Sin Hong berseru kaget. Tentu saja ia dapat menghantam lawannya ini selagi ia masih di udara menggunakan tenaga lweekang. Akan tetapi Sin Hong tidak sekejam itu. bahkan menggulingkan tubuhnya untuk menghindarkan diri dari terkaman lawan.

Tak disangkanya bahwa gerakan Lo Bong memang luar biasa. tubuh yang tinggi besar dan yang sedang melompat di tengah udara itu tiba-tiba bergerak dan berganti haluan, kini menyambar ke arah Sin Hong dengan dua tangan mencengkeram pundak dan leher. Cepat sekali serangan ini sehingga bagi Sin Hong tidak terdapat kesempatan untuk mengelak lagi. Terpaksa pemuda ini menangkis dengan kedua tangannya.

“Plat’ Plak!“

Sin hong mengalami hal aneh. Biarpun ia menangkis dengan teori ilmu silat, yakni dengan gerakan dikepretkan atau dikipatkan, tetap saja kedua lengannya dapat ditangkap oleh dua telapak tangan kakek itu, lekat tak dapat terlepas lagi seakan-akan pada telapak tangan itu perekat yang amat kuat!

“Wan Sin Hong, lebih baik mengundurkan diri dari kedudukan bengcu, kalau tidak kedua lenganmu akan patah-patah,” kata Lo Bong sambil tertawa. ia merasa yakin bahwa pemuda itu akan mengaku kalah, karena siapakah dapat membebaskan diri dari kedua cengkeramannya?

Akan tetapi baru saja kata-katanya habis, ia meringis kesakitan dan terpaksa mengendurkan cengkeramannya karena kedua telapak tangan yang mencengkeram lengan tangan pemuda itu merasa panas sekali dan sakit seperti ditusuk jarum. Di lain saat, lengan yang tadinya mengeras dan panas sekali dan bulu-bulu lengan berdiri dan keras bagaikan jarum-jarum baja yang menusuk telapak tangannya tiba-tiba menjadi lemas dan licin bagaikan tubuh seekor belut dan sekali tarik dua lengan pemuda itu telah terlepas!

Lo Bong sampai berdiri melongo. Tak disangkanya bahwa pemuda ini memiliki lweekang yang sedemikian hebatnya. Mengerahkan tenaga sehingga lengan menjadi panas seperti api dan bulu-bulu lengan menjadi berdiri tegak dan mengeras seperti jarum, adalah ilmu lweekang yang hanya pernah didengarnya saja akan tetapi belum pernah disaksikannya. Tadinya Lo Bong mengira bahwa di dunia tak mungkin ada orang yang lweekangnya setinggi itu, kecuali mungkin Pak Kek Siansu yang sudah lama meninggalkan dunia. Tak disangkanya sekarang ini bertemu dengan orangnya. seorang yang masih begini muda.

Tiba-tiba Lo Bong mengeluarkan seruan kaget karena tanpa sebab kedua tangannya terasa sakit sekali, tulang tulang jari tangannya mengeluarkan suara kerotokan dan di lain saat Lo Bong mengeluh dengan muka pucat dan keringat mengucur, memijit-mijit pergelangan tangan berganti-ganti. Inilah akibat pukulan membalik dari tenaga cengkeramannya yang dihantam oleh sinkang yang disalurkan melalui lengan Sin Hong yang ditangkapnya tadi.

Melihat Lo Bong tak berdaya dan seperti cacing terkena abu memijit-mijit kedua tangannya, Siang-plan Giam-ong Ma Ek Ketua Bu-cin-pang melompat maju dan memutar sepasang ruyungnya.

“Wan Sin Hong, lihat senjata!“ Ucapannya ini belum habis, ruyungnya sudah menyambar-nyambar seperti dua ekor burung garuda yang mengamuk.

Melihat gerakan ini, tahulah Sin Hong bahwa kepandaian ketua dari Bu-cin-pai ini tidak berapa hebat, hanya mengandalkan tenaga besar saja. Ia sendiri belum mengenal siapa kakek ini, karena tidak sampai sempat bertanya nama, maka mengira bahwa yang menyerangnya bukan seorang penting. Sin Hong cepat menggerakkan kedua tangan dan di lain saat sepasang ruyung telah dapat dirampasnya dan Ma Ek terjungkal karena lututnya kena disentuh oleh ujung kaki Sin Hong.

Dalam satu gebrakan saja Siang-pian Giam-ong Ma Ek sudah roboh, hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang mengherankan dan tak dapat dimengerti oleh para tokoh di situ. Tak seorang pun mengenal gerakan Sin Hong tadi, semacam gerakan yang nampaknya mudah dan sederhana akan tetapi yang hasilnya demikian luar biasa.

Tidak mengherankan kalau tidak ada yang mengenalnya karena gerakan tadi adalah gerakan dari jurus llmu Silat Pak-kek sin-Ciang-hoat yang belum pernah dimainkan di muka dunia ini oleh siapapun juga. Pak Kek Siansu yang mencipta ilmu silat ini belum pernah mempergunakan di depan umum dan selain Sin Hong belum pernah ada yang, menerima pelajaran ilmu silat ini.

Biarpun sudah terbukti kelihaian pemuda ini setelah mengalahkan dua orang tokoh besar, namun Twa-to Kwa Seng tidak menjadi gentar. Sebagai seorang tokoh besar yang sudah amat terkenal namanya, ia tidak mundur sebelum merasai sendiri keunggulan lawan. Sambil memutar-mutar golok di atas kepala ia berkata,

“Wan Sin Hong, kau cobalah kalahkan golok dari Twa-to Kwa Seng!“

Wan Sin Hong memandang tajam, lalu berkata tenang. “Majulah”

Akan tetapi sebelum Twa-to Kwa-Seng mulai dengan serangannya, Li Hwa melompat ke hadapannya dan berkata kepada Sin Hong. “lni tidak adil! Wan Sin Hong, apakah kau ingin borong semua agar kelihatan paling pandai dan dipilih menjadi bengcu? Sekarang giliranku.” Setelah berkata demikian, dengan pedang hijau di tangannya ia menantang Twa-to Kwa Seng dengan senyum sindir dan pandang matanya yang penuh ejekan.

Sin Hong tersenyum lalu mundur. Adapun Kwa Seng melihat lagak Li Hwa menjadi marah. Baginya memang sama saja, melawan Sin Hong atau gadis ini, karena kedua-duanya adalah calon bengcu.

“Bocah sombong, jaga dirimu baik baik,” serunya dan goloknya menyambar mengeluarkan angin bagaikan sampokan sayap burung garuda besar.

“Tua bangka pemotong babi! Kaulah yang harus menjaga diri baik-baik agar pisau pemotong babimu itu tidak melukai tubuhmu sendiri!“ kata Li Hwa sambil mengelak ke samping dan membalas serangan lawan dengan pedangnya.

Cepat sekali gerakan Li Hwa sehingga Kwa Seng terkejut tidak sempat membalas ejekan nona itu. Goloknya di ayun dan dengan tenaganya yang besar mengandalkan goloknya yang tebal dan berat ia hendak menangkis pedang agar terlepas dari pegangan gadis itu. Akan tetapi Li Hwa terlalu lincah, namun membiarkan pedangnya yang tipis itu di hantam oleh golok besar.

Juga gadis ini tidak mau mengandalkan ketajaman pedangnya untuk membabat golok. karena golok setebal dan seberat itu, biarpun andalkata dapat dibabat putus tentu akan merusak pedangnya, atau ada bahayanya kalau ia kalah tenaga, pedangnya akan terlepas dari pegangan. Dengan gerakan cepat dan lincah sekali Li Hwa mulai nempermainkan lawannya.

Payah juga Kwa Seng mengikuti gadis itu yang bagaikan seekor burung walet menyerang seekor gajah yang berat tubuhnya. Gadis itu berlompatan ke sana ke mari, kadang kadang tahu-tahu berada di belakang Kwa Seng, atau ada kalanya melompat tinggi di atas kepala dan menyerang dari atas. Semua ini dilakukan sambil tertawa-tawa mengejek sehingga Kwa Seng merasa kepalanya pening sekali.

Akhirnya dengan gerakan indah sekali, Li Hwa berhasil menggores lengan tangan Kwa Seng dan cepat mengirim tendangan ke arah jari-jari tangan yang memegang golok. Karena sakit lengannya tergores pedang. pegangan pada gagang goloknya yang amat tidak begitu kuat tapi maka ketika jari-jari tangannya terkena tendangan, golok itu terlempar membalik dan melukai pahanya sendiri.

Darah mengucur dari paha dan Kwa Seng berlompat- lompatan ke belakang menahan sakit. Li Hwa tertawa nyaring. “Apa kata ku tadi? Tua bangka pemotong babi mulai memotong kakinya sendiri, dikira kaki babi...“

Akan tetapi kata-kata ini terputus oleh sorak-sorai dan ketika Li Hwa dan Sin Hong serta yang lain lain menengok mereka terkejut sekali karena puncak itu telah terkurung oleh pasukan yang ribuan orang banyaknya! Inilah pasukan- pasukan dari Perkumpulan Im-yang-bu pai, Bu-cin-pang, Kwa-cin-pai, Shan-si Kaipang, Twa-to Bu-pai, dan lain-lain yang telah dikerahkan oleh Kong Ji. Mereka itu kesemuanya telah memegang senjata lengkap dan mengurung tempat itu dengan sikap mengancam!

Ketua-ketua perkumpulan yang tadi sudah kalah cepat-cepat lari masuk ke dalam barisan masing-masing. Di ujung barisan itu tiba-tiba muncul seorang yang tertawa bergelak, suara ketawanya menyeramkan. Semua orang yang terkurung memandangnya dengan penuh kebencian karena orang ini ternyata bukan lain adalah Liok Kong ji!

Pemuda yang amat licik ini diam-diam telah mengatur semua pasukan pendukungnya untuk mempergunakan kesempatan selagi semua orang lengah dan memperhatikan pertempuan antara ketua-ketua pasukannya dengan calon-calon bengcu, mengatur pengepungan itu. Kini ia berdiri sambil tertawa di dekat barisan lm-yang-bu-pai, lalu suaranya terdengar lantang.

“Wan Sin Hong manusia sombong, lihatlah baik-baik di sekelilingmu! Kau mau tahu berapa banyaknya? Lima ribu orang, sobat! Apakah kau masih mau menyombongkan kepandaianmu dan sanggupkah kau membobolkan kepungan kami?“ kata-kata ini disusul suara ketawa bergelak, sama sekali pemuda itu tidak kelihatan malu karena kekalahannya tadi.

Di puncak gunung itu masih terdapat banyak orang. Di samping Sin Hong dan Siok Li Hwa, di situ masih terdapat ciangbunjin dari tiga partai besar yakni Tai Wi Siansu ketua dari Kunlun-pai Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai, Bu kek Siansu ketua Bu-tong-pai, dan beberapa belas orang tokoh kang-ouw yang tidak ikut mendukung Kong Ji.

Para wakil palsu dari Siauw-lim-pai, Go-bi-pai, Teng-san-pai, Hong-san-pai dan lain lain yang sesungguhnya masih kaki tangan Kong Ji juga, sejak tadi sudah mengundurkan diri dan menggabungkan diri dengan para ketua pasukan pendukung Kong Ji.

Selain ketua-ketua partai besar dan tokoh-tokoh kang-ouw, masih ada anak murid Kun-lun-pai, Bu-tong-pai dan Hui-eng-pai yang masing-masing berjumlah kurang lebih dua puluh orang sehingga jumlah semua orang yang terkepung itu hanya ada seratus orang lebih. Akan tetapi, begitu muncul di situ, Liok Kong Ji hanya menyebut nama Wan Sin Hong, maka dapat diduga bahwa ia memang melakukan pengepungan itu untuk mengancam Sin Hong.

“Kong Ji manusia berhati iblis, tak perlu kau memutar-mutar omongan, kata-kan saja apa maksudmu dengan perbuatan curang dan tak tahu malu ini?“ kata Sin Hong, sedikit pun tidak takut, bahkan memperlihatkan senyum mengejek.

“Monyet rawa, kau yang sudah kalah bertanding dan dipukul Iari seperti anjing apakah sekarang hendak mengandalkan orang banyak untuk merebut kedudukan bengcu? Sungguh tak tahu malu sekali!“ Siok Li Hwa memaki Kong Ji, karena gadis ini sekarang dapat menduga dan hampir yakin bahwa yang menyebabkan matinya Cun Eng tentulah Liok Kong Ji.

Kong Ji tidak marah dimaki oleh LI Hwa, hanya tersenyum manis dan menjawab dengan suara halus, jawaban yang sekaligus menjawab pertanyaan Sin Hong dan Li Hwa. “Sin Hong, kalau aku mau, sekarang juga aku dapat menumpas kau dan semua orang di puncak ini. Akan tetapi hatiku tidak sekejam itu. Aku menghargai persahabatan di dunia kang-ouw. Ada peribahasa bilang bahwa siapa kuat dia menjadi raja. Sekarang aku menawarkan pembebasanmu dan semua orang di puncak ini dengan hanya ditukar dua macam barang, yakni kitab warisan Pak-Kek Siansu dan pedangku Pak-kek Sin kiam kau kembalikan!“

Sin Hong maklum bahwa ancaman pemuda itu bukan main-main. Ketika menyapu orang-orang yang mengurung tempat itu dengan kerling matanya, ia mendapat kenyataan bahwa ancaman itu bukan ancaman kosong belaka. Kalau terjadi pertempuran, kiranya seratus orang betapapun lihainya takkan mungkin dapat mengundurkan lima ribu orang!

“Kalau aku menolak“ tanyanya memancing.

Kong Ji tertawa mengejek mendengar pertanyaan ini. “Ha ha ha, manusia bodoh. Kalau kau menolak, kau menderita rugi besar karena kau dan semua orang yang berada di puncak ini akan kubinasakan semua. Sebaliknya, aku untung besar karena selain kitab dan pedang pusaka tetap menjadi milikku setelah kau mampus, juga para anggauta Hut-eng-pai itu... hemmmm, mereka cantik-cantik! Tentu mereka tidak termasuk orang-orang yang harus dibinasakan, bahkan sebaliknya!“ Kembali pemuda ini tertawa terbahak-bahak.

“Jahanam Liok Kong Ji, manusia tak tahu malu! Kalau kau memang laki-laki, mari kita bertempur seribu jurus sampai semua orang di antara kita menggeletak tak bernyawa di situ!“ Li Hwa melompat dengan pedang di tangan. Pasukannya juga bergerak dan semua gadis anak buahnya yang rata-rata menjadi merah mukanya dan marah sekali mendengar kata-kata Kong Ji tadi, telah mencabut pedang, siap sedia menanti perintah ketua mereka untuk menyerbu.

“Nona, aku tidak hendak bermusuhan dengan kau dan anak buahmu, bahkan aku ingin menjadi sahabatmu, sahabat yang baik sekali...“ kata Kong Ji sambil memandang dengan mata penuh arti, pandang mata yang kurang ajar sekali.

“Keparat, jadilah setan tak berkepala!“ Li Hwa berseru dan tubuhnya melayang, pedangnya menyambar ke arah leher Kong Ji.

Akan tetapi, dengan mudah Kong Ji mengelak dan di lain saat ia telah lenyap ke dalam barisannya dan Li Hwa berhadapan dengan barisan golok yang terdiri dari ratusan orang. Barisan ini teratur rapat sekali, merupakan barisan terlatth baik. Inilah barisan dari Twa-to Bu-pai yang disebut Twa-to-tin (Barisan Golok Besar). Barisan itu sudah mulai bergerak-gerak, dan semua barisan yang mengepung puncak itu pun sudah bergerak, di antaranya terdapat barisan anak panah yang sudah siap menarik tali busur!

“Hui-eng Niocu, tahan!“ seru Sin Hong sambil melompat ke dekat nona itu. “Kong Ji, aku terima syaratmu!“

Hui-eng Niocu Siok Li Hwa mengerling kepada Sin Hong. “Apakah kau takut mati? Takut menghadapi ribuan ekor monyet rawa itu?“

Sin Hong tersenyum dan memandang kepada nona yang gagah. “Orang-orang seperti kau dan aku tidak kenal takut untuk menghadapi bahaya biarpun terkurung oleh mereka, akan tatapi apakah kau tidak ingat dan sayang kepada nyawa orang-orang lain yang berada di sini? Apakah kau rela mengorbankan anak buahmu itu hanya untuk menuruti perasaan marah dan hati panas?“

Li Hwa membanting-banting kakinya, “Anjing she Liok itu, kelak akan tiba satnya aku membelah dadanya!“

Sementara itu, tahu-tahu Kong Ji sudah muncul lagi di ujung lain sambil tersenyum-senyum. Entah dari mana datangnya, ia kini telah memegang sebuah hudtim lagi dan lagaknya dibuat-buat seperti seorang pembesar tinggi.

“Bagus, Sin Hong. Lekas kauserahkan kitab dan pedang itu!“ katanya penuh kegembiraan.

“Sabar dulu, Kong Ji. Jangan kauharap aku dapat mempercayai omongan seorang seperti engkau. Lebih dulu buka jalan agar para enghiong dan locianpwe yang berada di sini turun gunung, baru aku mau memberikan benda-benda itu.“

Kong Ji marah, akan tetapi ia tertawa mengejek. “Kau tidak percaya kepadaku, apakah aku juga dapat percaya kepadamu? Kalau kalian sudah turun semua, ke mana aku harus mencarimu? Ha, ha, ha, jangan kau bicara seperti anak kecil, Sin Hong.“

“Kong Ji aku hanya ingin kau membuka jalan memberi kesempatan kepada para locianpwe dan juga kepada Hui- eng-pai turun gunung. Aku sendiri takkan turun gunung sebelum memberikan semua benda yang ada padaku. Aku bersumpah demi kegagahan, setelah semua orang kecuali aku turun gunung tanpa mendapat gangguanmu, aku akan memberikan semua benda yang ada padaku!“

Liok Kong Ji agaknya puas mendengar ini. “Hem, kalau begitu sesukamulah, aku akan memberi jalan keluar. Akan tetapi awas, jangan kau ikut bergerak dari tempatmu!“

Ia lalu memberi aba aba dan pasukan pengurung itu melebar, lalu di tempat yang jauh dan situ dibukalah jalan keluar yang terjaga kuat oleh barisan anak panah! Serombongan lain yang merupakan barisan panah mengancam Sin Hong menjaga kalau-kalau pemuda itu mengeluarkan gerakan mencurigakan tentu akan dahujani panah.

Tai Wi Siansu menghadapi Sin Hong. “Wan-sicu mengapa begini? Kau tahu bahwa pinto dan yang lain-lain bukan pegecut dan tidak takut mati. tak perlu kau mengorbankan diri dan kehormatan untuk menyelamatkan kami!”

”Betul, Wan-sicu, aku pun ingin berkenalan dengan kepandaian iblis itu.”

”Pinto juga tidak gentar menghadapi segala gentong nasi ini, Wan-taihiap,” kata Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai.

Sin Hong tersenyum. ”Tentu saja saya yakin akan keberanian dan kelihaian Sam-wi Locianpwe, juga tidak menghina Sam-wi. Sam-wi sebagai ciangbunjin-ciangbunjin partai besar untuk apa harus mengotorkan mulut dan tangan berurusan dengan orang macam dia? Apalagi, saya mengerti bagaimana harus menghadapi orang macam dia. Harap Sam-wi suka mengalah dan silakan turun gunung lebih dulu. Lain kali kita saling bertemu pula.”

Terpaksa para ketua partai besar tanpa menoleh kepada Kong Ji, dengan tindakan gagah memimpin anak-anak muridnya meninggalkan tempat itu. Setelah semua orang gagah itu turun gunung barulah Li Hwa menghampiri Sin Hong. Gadis ini paling sukar disuruh pergi.

”Di sini tempat bebas, aku berada di sini, siapa yang berani mati mengusirku?” katanya dengan mata berapi-api di tujukan kepada Sin Hong...

Thanks for reading Pedang Penakluk Iblis Jilid 31 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »