Pedang Penakluk Iblis Jilid 26

Pedang Penakluk Iblis Jilid 26

DARI jauh See-thian Tok-ong sudah melihat adanya tiga orang di tengaj jalan itu dan ia segera mengenal siapa adanya mereka ini. Tentu saja ia mengenal Kong Ji, dan juga tidak lupa kepada Giok Seng Cu, akan tetapi orang-orang ketiga ia tidak kenal. hanya ia dapat menduga bahwa orang ke tiga itu tentulah bukan orang sembarangan.

Tokoh lain yang manapun juga kiranya takkan dapat membangkitkan perhatian See-thian Tok-ong, akan tetapi terhadap Kong Ji, Raja Racun ini memandang lain lagi. Ia mendapatkan watak yang aneh dan sifat yang mengagumkan hatinya dalam diri Kong Ji, dan ia maklum bahwa Kong Ji merupakan seorang saingan berat, seorang lawan yang tidak saja lihai ilmu silatnya akan tetapi juga amat licin. Orang macam Kong Ji ini lebih baik dijadikan sekutu daripada dijadikan lawan.

”Berhenti!” katanya kepada busu yang mengiringnya di belakang" Di depan ada orang biar aku dan anak isteriku yang bicara dengan mereka. Kalau tidak kuberi tanda, jangan kalian mendekat. Mereka itu bukan orang-orang biasa.”

Para busu tentu saja tidak berani membantah dan mereka melompat turun dari kuda dan duduk di atas tanah menanti sambil berteduh di dalam bayangan kuda. Juga See thian Tok-ong, Kw Ji Nio, dan Kwan Kok Sun melompat turun dari kuda, memberikan kuda mereka kepada para busu kemudian mereka berlari menghampiri Kong Ji dan dua orang kawannya.

Kwan Kok Sun sejak tadi sudah mendongkol sekali melihat Kong Ji, apalagi melihat Giok Seng Cu berada pula di situ. Tanpa berkata apa-apa setelah jarak mereka dekat dengan rombongan Kong Ji, Kok Sun menggerakkan tangannya dan dua buah benda hitam melayang ke arah Kong Ji dan Giok Seng Cu.

Kong Ji dengan tenang mengangkat kaki kiri, membanting kaki itu dibarengi dengan bergeraknya tangan kiri ke depan, ke arah benda hitam yang menyambar ke arahnya. Demikian pula Glok Seng Cu menggerakkan tangan dan melakukan pukulan Tin-san-kang. Dua benda yang disambitkan oleh Kok Sun tadi keduanya terpental kembali seakan-akan tertumbuk dengan benda keras sebelum menyentuh tangan Kong Ji dan Giok Seng Cu.

Setelah dua benda hitam itu jatuh di atas tanah, baru terlihat bahwa dua buah benda ini adalah dua ekor binatang kelabang hitam yang berbisa. Biarpun keduanya mempergunakan Tin-san-kang untuk menangkis serangan senjata rahasia aneh itu, akan tetapi melihat betapa kelabang yang ditangkis oleh Giok Seng Cu masih berkelojotan sedangkan yang oleh Kong Ji mati tak bergerak sama sekali, dapat diambil kesimpulan bahwa pada dewasa ini Ilmu Tin-san-kang yang dimiliki bekas murid itu lebih tinggi daripada bekas gurunya sendiri.

Memang Kong Ji sang cerdik sekali telah dapat mengkombinasikan Tin-san- kang dengan Hek-tok-ciang yang ia pelajari dari See-thian Tok-ong, maka kalau dibuat perbandingan, dihadapkan dengan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu ia lebih menang setingkat karena pukulan Tin-san-kangnya mengandung racun dari pukulan Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam). Sedangkan apabila ia dihadapkan dengan Hek tok-ciang dari See-thian Tok-ong, ia masth lebih hebat karena pukulannya mengandung tenaga Tin-san-kang (Pukulan Menggetarkan Gunung) yang maha dahsyat!

“Kok Sun, perlahan dulu. Mengapa kau datang-datang mengeluarkan senjata berbisa yang jahat?“ kata Kong Ji nienegur Kok Sun yang memandang dengan mata terbelalak melihat kelihaian Kong Ji. Ia akui bahwa betapa pun tinggi lweekangnya, belum sanggup ia kalau harus memukul kelabang itu dari jarak jauh dan sekaligus memunahkan tenaga sambitannya sambil membunuh kelabang itu pula. Maka ia diam saja. Kong Ji sebaliknya menghadapi See-thian Tok ong sambil tersenyum, menggerak-gerakkan hudtimnya dengan penuh gaya, kemudian berkata nadanya menegur halus.

“See—thian Tok-ong, kau makin tua makin gagah saja. Terimalah ucapan selamat dariku bahwa kini telah menjadi orang berpangkat. Bagaimana aku harus menyebutmu? Apakah taijin (orang besar) ataukah kau sudah mempunyai pangkat tertentu? Menjadi thai-ciangkun (panglima besar)?“

“Laok Kong Ji jangan kau main-main.” See thian Tok-ong membentak dan mukanya yang hitam makin menghitam.

“Siapa main-main? Aku bengcu dari seluruh partai persilatan di selatan dan timur, calon bengcu dari seluruh dunia kang-ouw, tak perlu mengajak See-thian Tok-ong main-main. Sebaliknya, kaulah yang sudah main-main dengan kami, kau yang sudah menewaskan kawan-kawan kami di istana.“

“Hm, sudah kuduga. Kau kiranya orang yang mengirim pembunuh-pembunuh itu...“ See-thian Tok-ong berkata perlahan dan kini matanya melirik tajam siap sedia untuk bertempur. Kalau saja ia tidak tahu betul betapa lihainya bocah setan ini, tentu ia tidak sudi bercakap-cakap dengan bekas muridnya. Biasanya, kedua tangan See-thian Tok-ong lebih banyak bergerak daripada bibirnya.

“Benar aku orangnya. Dan mengapa kau mendadak sontak melindungi kaisar. Mengapa kau seorang yang datang dari See-thian mencampuri urusan kami? Apakah kau benar-benar hendak menentang gerakan para pejuang rakyat, See-thian Tok-ong?“

“Hm, kau tidak adil. Sudah tahu aku seanak isteri berada di istana menjadi pengawal, mengapa menyuruh tikus-tikus busuk membikin kacau? Bukankah itu berarti tidak memandang mata kepada kami bertiga?“

Tiba-tiba Siangkoan Bu melompat maju dan berkata sengit, “See-thian Tok ong, sudah lama sekali aku Mo-kiam Siangkoan Bu mendengar nama besarmu juga kesohoran tentang kekejamanmu. Kemarin dulu kau menewaskan muridku yang paling baik, sekarang marilah kita membuat perhitungan!“

Kakek ketua Partai Kwan-cin pai itu memang sedang berduka karena muridnya yang tersayang yakni Thian sin Siok Hoat, telah tewas ketika mencoba untuk membunuh kaisar dengan kawan-kawannya, tewas dalam tangan See-thian Tok-ong. Maka begitu bertemu dengan pembunuh muridnya, tak dapat menahan sabar lagi dan segera maju menantang. Terdengar suara haha hihi dari samping disusul kata- kata mengejek.

“Cacing perut tua bangka, kau sudah begini kurus mau mampus masih berani menantang Ayah. Kau baru patut bertanding melawan Ayah kalau sanggup meneima dua kepalan tanganku!”

Mo-kiam Siangkoan Bu adalah ketua dari sebuah partai besar, yaitu Partai Persilatan Kwan-cin-pai. Selama puluhan tahun di An-hwei belum pernah ada orang berani menghinanya. Sekarang ia dihina orang secara hebat, cepat ia menengok. Kemarahannya memuncak ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang mengeluarkan kata-kata penuh hinaan hanya seorang pemuda gundul yang seperti miring otaknya.

“Bocah edan, jadi kau ini anak See-thian Tok-ong? Pantas, pantas tidak banyak bedanya. Kau mau coba-coba? Mari, mari, coba kauperlihatkan betapa empuknya dua pukulan tanganmu. Ha ha ha!“

Kok Sun mengeluarkan suara seperti kuda meringkik, kemudian ia menerjang maju dan kedua tangannya dipukulkan ke arah dada kakek tua itu sambil mengerahkan tenaga dan mempergunakmi Ilmu Pukulan Hek-tok-ciang yang beracun!

Mo-kiam Siangkoan Bu belum pernah mendengar akan kelihatan bocah gundul putera See-thian Tok-ong, maka ia memandang rendah dan dengan berani ia menyambar kedua tangan itu, dipapak oleh kedua telapak tangannya sendiri dengan maksud hendak mempermainkan Kwan Kok Sun.

Begitu dua pasang telapak tangan bertemu, Kok Sun merasa telapak tangannya dingin dan Iengket dengan telapak tangan lawan yang ternyata pergunakan tenaga dalam menyedot! Ia kaget sekali karena kalau tenaganya sampai tersedot dan kalah kuat, ia akan menderita luka dalam dan untuk melepaskan kedua tangannya, sudah tak keburu lagi. Terpaksa dengan mati-matian Kok Sun mengerahkan lweekang dan membawa hawa berbisa dari Hek-tok-ciang.

Di lain pihak, tadinya Siangkoan merasa girang dan mengeluarkan suara mengejek ketika dengan mudahnya ia dapat menempel dua tangan lawannya. Akan tetapi segera wajahnya berubah cepat ketika ia merasa betapa telapak tangannya gatal-gatal dan sakit serta panas sekali. Maklumlah ia bahwa ia telah terkena pukulan yang berbisa.

“Celaka...“ serunya perlahan dan cepat-cepat ia menyalurkan hawa dalam tubuh merubah tenaganya yang tadi “menyedot” sekarang sebaliknya mendorong untuk mencegah menjalarnya racun ke dalam lengan dan terus menyerang jantung.

Demikianlah, dua orang itu sekali gebrak saja sudah saling bertempelan dua telapak tangan tanpa dapat dipisahkan lagi, masing-masing mempertahankan diri. Biarpun Ilmu Hek-tok-ciang amat lihai, akan tetapi oleh karena tenaga lweekang dari kakek itu masih menang setingkat, maka kini kedua pihak terancam bahaya, Siangkoan Bu terancam racun Hek-tok-ciang, sebaliknya Kwan Kok Sun terancam bahaya terluka oleh saluran tenaga lweekang yang lebih kuat!

See-thian Tok-ong yang melihat hal ini menjadi tak sabar lagi. Ia menepuk punggung anaknya sambil mencela. “Kok Sun, mengapa kau begitu tolol?”

Tepukan itu biarpun hanya perlahan saja dan dilakukan di atas punggung Kok Sun namun sebetulnya Raja Racun itu mengalirkan hawa pukulan atau dorongan melalui tubuh dan lengan anaknya sehingga tiba-tiba Siangkoan Bu menjadi terdorong. Mati-matian kakek ini mempertahankan diri dan kedua kakinya sudah menggigil. Hampir ia tidak kuat dan hawa beracun Hek-tok-ciang sudah mulai mendesak sehingga sampai di pergelangan tangannya. Buktinya, kedua tangannya mulai menjadi hitam, dari telapak tangan sampai mundur ke pergelangan kedua tangan. Rasa gatal dan panas makin menusuk.

Tiba-tiba merasa punggungnya di sentuh orang, sentuhan perlahan akan tetapi kuat bukan main. “Siangkoan Lo-enghiong, tak perlu mengadu nyawa dengan orang segolongan sendiri!“ terdengar suara Kong Ji dan tiba-tiba semacam tenaga yang dahsyat mengalir melalui punggung Siangkoan Bu terus mendesak ke sepasang lengan dan Siangkoan Bu melihat tanda hitam pada lengannya mundur terus terdesak sampai lenyap.

Akan tetapi dia mentaati kata-kata Kong Ji dan tidak mau mempergunakan kesempatan itu menyerang Kok Sun, sebaliknya ia lalu meluncurkan kedua tangannya yang menempel tadi ke bawah dan melompat mundur, Kok Sun mandi keringat. Baiknya Si Tua itu tidak mau membalas serangannya, karena setelah mendapat bantuan dan Kong Ji, Kok Sun merasa betapa Hek-tok-ciang memukul secara membalik kepada dirinya sendiri!

“Bagus, kepandaianmu ternyata sudah meningkat luar biasa sekali!“ See thian Tok-ong memuji dengan kagum. Ta tidak marah karena melihat bahwa ternyata Kong Ji tidak bermaksud buruk dan kawan-kawannya juga tidak mau melanjutkan serangan dan mencelakai Kok Sun yang sudah berada di pihak terancam.

“See-thian Tok-ong, kau lihat bahwa kami bermaksud baik. Biarpun kau sudah menewaskan kawan-kawan kami, hal itu kami anggap sebagai sebuah salah paham belaka. Biarlah yang sudah lewat sudahlah, akan tetapi hendaknya lain kali kita dapat bekerja sama. Bukankah kalian bertiga hendak naik ke Ngo-heng-san?“

“Benar.“

“Apakah hendak mengajukan seorang calon bengcu?“ tanya pula Kong Ji.

“Habis untuk apa lagi kalau tidak untuk merebut kedudukan bengcu?“

Kong Ji tersenyum. “See-thian Tok-ong kau sudah mempunyai kedudukan tinggi dan baik di istana apakah masih belum puas dan kini hendak merebut kedudukan bengcu? Ketahuilah bahwa kedudukan itu boleh dibilang sudah berada di tanganku. Bukankah lebih baik kau membantu suara dan menyokong aku saja agar kelak kita bisa saling menolong, kau sebagai kepala pengawal istana aku sebagai bengcu? Bukankah kita akan menjadi sekutu yang baik dan saling menguntungkan?“

See-thian Tok-ong mengerutkan kening. Memang ia pikir betul juga kata- kata Kong Ji itu. Akan tetapi sebagai seorang tokoh besar mana ia mau mengalah begitu saja terhadap seorang muda?

“Bagaimana nanti sajalah, Liok-sicu. Biar kita bertemu lagi di Puncak Ngo- heng-san dan kelak kita sama lihat saja bagaimana perkembangannya. Hanya satu hal kujelaskan bahwa aku memang lebih suka bekerja sama denganmu daripa dengan orang lain.“

Kong Ji tertawa penuh kemenangan, lalu menjura sampai dalam. “Terima kasih banyak, Lo-enghiong, terima kasih banyak. Sampai bertemu di puncak Ngo-heng-san dan selamat jalan.”

See-thian Tok-ong melambaikan tangan ke belakang dan para busu yang sudah siap segera mendatangi dengan kuda ayah, ibu dan anak itu. Mereka segera melanjutkan perjalanan dengan cepat. Debu mengepul tinggi dan di antara kepulan debu ini terdengar suara Kong Ji tertawa, suara ketawa yang amat menyeramkan.

Tak lama kemudian dari timur, selatan dan utara datang pasukan-pasukan partai-partai yang menyokong Kong Ji, di antaranya adalah partai lm-yang-bu-pai yang anggautanya tidak begitu banyak lagi setelah dibasmi oleh See-thian Tok- ong. Partai Bu-cin-pang, Kwan-cin-pai, Shan-si Kaipang, dan Twa-to Bu-pai. Setiap partai terdiri kurang lebih seratus orang sehingga di belakang Kong Ji sudah siap kurang lebih lima ratus orang.

Kong Ji memberi penjelasan dan siasat kepada lima orang kawannya yang masing-masing segera memberi perintah kepada pembantunya. Tak lama kemudian semua pasukan itu pergi dari situ mengambil jalan sendiri, akan tetapi semua menuju ke Ngo-heng-san. Adapun Kong ji bersama lima orang kawannya melanjut perjalanan dengan menunggang kuda ke Ngo-heng-san.

Ngo-heng-san adalah lima puncak bukit yang berada di Pegunungan Kin leng-san. Pegunungan ini disebut Ngo-heng san adalah karena puncak ini mempunyai lima lereng atau daerah yang berlainan sifatnya dan pula kalau orang berdiri di puncak yang tidak berapa tinggi ini, orang akan melihat bahwa puncak ini di kelilingi oleh lima gunung besar yakni Kin-leng-san, Tapa-san, Luliang-san dan Taihang-san.

Ngo-heng-san tidak terkenal karena tingginya atau besarnya, melainkan karena indahnya pemandangan alam yang berada di tempat itu. Apalagi kalau orang memandang tamasya alam dari puncaknya sekali, benar-benar jarang ada pemandangan alam seindah kalau dilihat dan situ. Akan tetapi sayangnya, jalan menuju ke puncak Ngo-heng-san amat sukar dan berbahaya sehingga pernah kaisar sendiri terpaksa membatalkan keinginannya menikmati tamasya alam dari puncak Ngo-heng-san.

Bagi pelancong biasa saja jangan harap akan dapat mencapai puncak, dan sudah ada beberapa orang nekat dan jumawa, akhirnya lenyap tak meninggalkan bekas ketika mencoba-coba untuk mendaki sampai ke puncak dengan pertolongan tongkat dan tambang. Oleh karena itu, biarpun terkenal indah, keadaan puncak Ngo heng-san selalu sunyi.

Akan tetapi, bagi orang yang berkepandaian tinggi, tentu saja tidak begitu sukar untuk mendaki sampai ke puncak, maka boleh dibilang bahwa puncak Ngo-heng-san hanya mengenal kaki orang-orang pandai, tak pernah puncak itu diinjak oleh orang-orang biasa.

Ahli-ahli silat tinggi, perantau-perantau di dunia kang-ouw dari segala jurusan, apabila berada di daerah ini, pasti takkan melewatkan kesempatan baik itu untuk megunjungi puncak Ngo-heng-san, dengan tiga macam maksud, pertama untuk menikmati keindahan alam, kedua untuk menjajal kepandaian sendiri apakah cukup tinggi untuk menempuh perjalanan yang sukar dan berbahaya itu, ketiga untuk mencari sahabat karena besar kemungkinan mereka akan bertemu dengan tokoh-tokoh kangouw ternama di puncak itu.

Pada hari itu bahkan semenjak beberapa hari yang lalu, keadaan di sekitar daerah Pegunungan Ngo-heng-san tidak seperti biasanya. Tidak sunyi sepi seperti biasa, melainkan penuh dengan orang yang mendaki ke puncak. Mereka ini terdiri dari bermacam-macam orang yang mendaki dari kaki bukit sebelah selatan, utara, timur atau dan barat.

Akan tetapi, biarpun mereka terdiri dari orang-orang dengan pakaian dan gaya bermacam-macam, ternyata mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Hal ini mudah saja dilihat dari cara mereka berjalan, dan pula bagaimana orang dapat mendaki ke puncak kalau tidak berkepandaian tinggi?

Di puncak sudah berkumpul tokoh-tokoh besar yang merupakan pelopor-pelopor daripada pemilihan bengcu baru. Di puncak bukit itu terdapat sebuah padang rumput yang luas dan tempat inilah yang dijadikan tempat pertemuan, tempat pemilihan bengcu. Di situ telah kelihatan kakek-kakek yang sikapnya alim duduk berunding untuk merencanakan cara pemilihan yang akan dilakukan.

Di antara mereka terdapat Leng Hoat Taisu ketua Thian- san-pai yang bertubuh kecil bongkok kepala botak bermuka merah dan licin tak berkumis. Ketua Thian-san-pai ini datang bersama beberapa belas orang tokoh Thian-san-pai yang terkemuka, yang pada waktu itu mengambil tempat duduk di atas rumput tak jauh dari tempat para pemimpin berkumpul.

Juga kelihatan ketua Kun-lun-pai yang sudah berusia delapan puluh tahun, yakni Tam Wi Siansu yang tubuhnya tinggi kurus, sikapnya lemah lembut dan rambutnya yang sudah putih semua itu berkibar terhembus angin gunung yang sejuk. Orang ke tiga yang menjadi tokoh besar dan ketua partai adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong pai juga kakek itu bertubuh tinggi kurus berpakaian seperti tosu dan berjenggot panjang.

Yang mengherankan tiga orang kakek yang termasuk ciangbunjin (ketua) dari partai-partai besar ini, juga mengherankan semua orang yang hadir di situ, adalah utusan-utusan dari Siau-lim-si, Go-bi-pai, Teng-san-pai, Hong-san-pai dan lain-lain partai persilatan besar bukan terdiri dari ketuanya sendiri atau setidaknya yang terkemuka, melainkan utusan-utusan ini adalah orang- orang yang sama sekali tidak terkenal di dunia kang-ouw. Akan tetapi, oleh karena masing masing membawa surat kuasa yang ditulis oleh ketua masing-masing partai mereka ini diakui sebagai wakil dari partai-partai besar itu.

“Heran sekali, mengapa Kian Hok Taisu dan Pang Soan Tojin tidak datang sendiri?“ berkata Tai Wi Siansu Ketua Kun-lun-pai kepada Bu Kek Siansu Ketua Bu-tong-pai. Bu Kek Siansu mengelus-elus jenggotnya yang panjang, lalu menghela napas.

“Mungkin keadaan yang buruk dari negara pada dewasa ini, tidak menyalakan semangat dalam dada orang bahkan malah melemahkan dan membuat mereka itu acuh tak acuh lagi. Untuk urusan sebesar ini, mereka tidak datang sendiri, juga tidak mengirimkan orang-orang penting, melainkan mengirim anak murid yang tidak terkenal. Benar-benar pinto juga tidak mengerti mengapa orang-orang seperti Kong Hian Hwesio dan Pek Kong Taijin yang biasanya bersemangat sekarang hanya mengirim anak-anak buah yang masih muda dan tidak ternama.“

Yang dimaksudkan oleh Bu Kek Siansu, yakni Kong Hian Hwesio adalah ketua Siauw-lim-si, sedangkan Pek Kong Tojin adalah Ketua dari Hong-san-pai. Memang tiga tokoh besar yang hadir di puncak itu sekarang merasa kecewa sekali melihat tidak munculnya ciangbunjin dari partai partai besar itu. Mereka kecewa, juga tak enak hati.

Pada setiap pertemuan tokoh-tokoh kang-ouw, apalagi dalam menghadapi pemilihan bengcu yang diperebutkan oleh banyak orang seringkali terjadi hal-hal yang gawat, pertempuran-pertempuran yang dahsyat. Tanpa adanya banyak kawan dan tokoh-tokoh besar terkemuka, mereka merasa kurang kuat.

Akan tetapi tiba-tiba wajah tiga orang kakek ini berseru gembira dan penuh harapan ketika mereka melihat rombongan orang berjalan mendaki puncak dengan tenang dan tidak tergesa-gesa.

“Hwa l Enghiong datang, bagus sekali!“ kata Leng Hoat Taisu gembira. “Juga Suheng Cam-kauw Sin-kai“

Memang betul yang datang adalah Go Ciang Le dan isterinya, dan di samping Ciang Le berjalan Si Pengemis Tua yang lihai, yakni Cam-kauw Sin-kai dengan tongkatnya yang tak pernah terpisah dari tangannya. Di sebelah Bi Lan atau isteri Go Ciang Le berjalan seora nona yang berwajah cantik jelita akan tetapi berpakaian sederhana dan berwajah muram. Dia adalah Gak Soan Li murid Go Ciang Le. Adapun orang yang terakhir di belakang Ciang Le adalah seorang tua gagah perkasa yang buntung sebelah tangannya, yakni pendekar perkasa Lie Bu Tek, tokoh besar Hoa-san-pai.

Rombongan terdiri dari lima orang ini biarpun kelihatan tenang dan berjalan perlahan, nampak bukan seperti tokoh- tokoh penting, akan tetapi semua orang menengok ke arah mereka. Terutama sekali nama besar Hwa I Enghiong adalah cukup terkenal dan otomatis semua diarahkan kepada punggung Go Ciang Le di mana nampak tersembul gagang pedang yang beronce kuning.

Begitu tiba di puncak itu, sepasang mata dari Liang Bi Lan yang masih tetap jernih dan tajam seperti mata burung Hong itu menyapu semua yang hadir, dan nampak kecewa. Nyonya ini mencari puterinya, Go Hui Lian yang ternyata tidak hadir di situ, maka ia merasa kecewa dan gelisah. Kemanakah gerangan perginya bocah nakal itu, pikirnya.

Sementara itu, Ciang Le, Lie Bu Tek dan Cam kauw Sin kai sudah sibuk membalas penghormatan atas sambutan para tokoh besar yang didahului oleh Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai. “Go-taihiap makin tua makin nampak gagah saja,“ kata ketua Kun-lun-pai yang mengenal Ciang Le dengan baik.

“Tai Wi Locianpwe apakah baik-baik saja?“ Ciang Le balas menyalam. “Apakah semua orang gagah sudah berkumpul di sini?“ tanyanya kemudian.

Mereka bercakap-cakap sebentar, kemudian Ciang Le dan rombongannya mencari tempat duduk di sebelah kiri, Bi Lan dan Soan Li duduk di atas rumput yang kering dan bersih akan tetapi Cam-kauw Sin-kai tidak mempedulikan lagi apakah rumput yang didudukinya kotor atau bersih, basah atau kering. terus saja duduk dan kepalanya menoleh ke kanan kiri matanya menyapu semua yang hadir mencari-cari.

Rombongan demi rombongan datang memenuhi tempat itu. Makin lama, dalam hati Tai Wi Siansu makin tidak enak. Orang-orang yang datang membanjiri tempat itu sebagian besar adalah orang-orang baru yang tidak dikenalnya. Dan sebagian besar adalah rombongan orang-orang yang tidak begitu penting dalam pemilihan itu.

Kemudian datang rombongan yang menarik perhatian orang pula. Mereka itu adalah rombongan See-thian Tok-ong yang datang bersama Kwan Ji Nio. Kwan Kok Sun, dan delapan orang laki-laki gagah perkasa yang sikapnya angker sekali. Mereka ini berpakaian seperti guru-guru silat, akan tetapi sesungguhnya mereka ini adalah busu-busu pilihan dari istana kaisar!

Kedatangan See-thian Tok-ong ini mendatangkan rasa khawatir di dalam hati para tokoh besar. Sudah terlalu tersohor nama See-thian Tok-ong dan sekarang menyaksikan keadaan ayah ibu dan anak itu, mereka makin cemas. Tak salah lagi, tentu Raja Racun dari barat ini, datang membawa maksud yang tidak baik, atau setidaknya tentu akan berusaha merebut kedudukan bengcu.

See-thian Tok-ong sama sekali tidak mengacuhkan para tokoh besar yang berada di situ, mengambil sikap seolah- olah dia mempunyai kedudukan lebih tinggi. Akan tetapi ketika ia melihat Ciang Le dan rombongannya, ia tersenyum menghampiri pendekar besar itu.

“Aha, Hwa I Enghiong! Sungguh menyenangkan sekali kita dapat bertemu lagi di tempat ini.” Sambil berkata begini matanya menyapu untuk menyelidiki siapa saja kawan-kawan Hwa I Enghiong yang ikut datang. Ketawanya berubah menjadi senyum sindir ketika melihat pendekar besar ini hanya dikawani oleh Lie Bu Tek yang buntung tangannya, Liang Bi Lan, Cam-kauw Sin-kai dan seorang gadis cantik yang berwajah muram.

“See-thian Tok-ong kau dan anak isterimu datang juga, benar-benar akan ramai keadaan di sini,“ kata Ciang Le sambil tersenyum tenang, akan tetapi kata katanya ini merupakan teguran setengah menyindir bahwa kedatangan Raja Racun ini tentu akan mengakibatkan keributan saja!

See-thian Tok-ong hanya tertawa menyeringai mendengar kata-kata ini, lalu mengundurkan diri ke dalam rombongannya sendiri. Orang-orang yang duduknya jauh dari tempat itu hanya memandang dengan hati berdebar- debar kepada kedua orang tokoh besar itu dan di hati mereka menduga-duga sipakah yang lebih kuat di antara mereka itu. Keduanya adalah tokoh kang-ouw yang jarang keluar dan jarang ada orang menyaksikan kepandaian mereka. Hwa I Enghiong terkenal sebagai seorang gagah perkasa yang mewakil kebajikan dan keadilan, sebaliknya See-thian Tok ong namanya seperti iblis yang dahsyat dan jahat.

Tiba-tiba terdengar suara yang amat riuh sehingga hanya gemanya saja yang terdengar. Semua orang kaget karena maklum bahwa ini adalah suaranya orang- orang yang memiliki lweekang tinggi dan yang dapat mengirim suara dari jarak jauh sekali dengan pengumuman Ilmu Coan-im-jib-bit.

“Tung-nam Thai-beng-cu yang menguasai semua partai orang-orang gagah di dunia selatan dan timur, Liok-bengcu yang gagah perkasa, calon bengcu besar dalam pemilihan hari ini, datang berkunjung...!“

See-thian Tok-ong mengeluarkan suara ketawa ha-ha-hi-hi seperti orang menghadapi hal yang amat lucu, sedangkan Hwa I Enghiong Go Ciang Le mengerutkan alis nampak marah. Melihat sikap dua orang tokoh ini dan rombongan mereka, dapat diduga bahwa dua rombongan ini saja sudah mengenal siapa adanya bengcu itu. Akan tetapi semua orang diam saja, hanya mengarahkan pandang mata ke arah suara tadi.

Tak lama kemudian, dari bawah puncak merayap naik lima pasukan yang teratur rapi, dengan bendera besar di bagian depan pasukan. Membaca tulisan pada bendera- bendera itu, semua orang dapat mengetahui bahwa rombongan besar itu adalah anggauta dari partai Im-yang- bu-pai, Bu-cin-pang, Kwa-cin-pai. Shansi Kai-pang dan Twa to Bu-pai.

“Hm, iblis itu sudah mengumpulkan partai-partai jahat untuk menjadi sekutunya,“ kata Lie Bu Tek perlahan kepada Ciang Le, Pendekar besar ini hanya mengerutkan alis dan tidak berkata apa-apa.

Setelah lima pasukan yang masing-masing terdiri dari kurang lebih seratus orang ini tiba di kaki puncak, mereka merupakan barisan di kanan kiri jalan bersikap hormat. Terdengar terompet ditiup dan tambur dipukul orang, terdengar amat angker seakan akan orang menghormat munculnya raja besar.

Kemudian kelihatanlah bengcu yang baru diumumkan, berjalan dengan langkah tegap dan tenang. Pemuda berusia dua puluh empat atau dua puluh lima tahun, wajahnya tampan dan sepasang matanya bergerak-gerak tanda otaknya selalu bekerja keras dalam setiap saat, kelihatan cerdik dan licik, bibirnya tersenyum-senyum setengah mengejek, jubahnya lebar panjang berwarna kuning bersulamkan benang emas menyerupai lukisan ular naga yang melilit tubuhnya dan kepala dua ekor naga itu tiba di bagian dada yang tengah-tengahnya tergambar mustika bernyala-nyala. Itulah gambar sepasang naga berebut mustika yang disulam secara indah sekali pada jubah itu, membuatnya nampak makin gagah.

Pemuda ini adalah Liok Kong Ji yang naik ke puncak sambil mengangkat dada, penuh kepercayaan akan diri dan sama sekali tidak gentar biarpun ia sudah tahu bahwa di situ akan berhadapa dengan tokoh-tokoh dunia! Di sampingnya berjalan Giok Seng Cu, kakek tua yang rambutnya panjang riap-riapan. Dengan adanya kakek buruk rupa ini di sampingnya, Liok Kong Ji kelihatan makin tampan dan gagah saja. Di belakang dua orang ini berjalan Sin-houw Lo Bong Mo-kiam Siangkoan Bu, dan dua orang gagah lain, yakni Kwa Seng ketua Kwa to-bu-pai yang berjuluk Twa-to (Si Golok Besar) dan yang ke dua adalah Siang-pian Giam-ong Ma Ek, ketua dari Bu-cin-pai di Keng- sin-bun.

Kalau kita ingat bahwa putera dari Siang-pian Giam-ong Ma Ek yang bernama Ma Hoat telah dibikin gila oleh Kong Ji ketika Kong Ji melakukan perjalanan dengan Hui Lian (baca jilid terdahulu), maka dapat dibayangkan betapa lihai dan licinnya Liok Kong Ji sehingga kini ayah dari Ma Hoat dapat menjadi sekutunya. Memang tak seorang pun tahu apa yang telah dilakukan oleh Kong Ji pada malam hari itu di kamar suami isteri Cu terhadap diri Ma Hoat!

Memang harus dipuji ketabahan hati Kong Ji. Kalau lain orang, melihat Ciang Le berada di situ tentu akan merasa sungkan dan malu. Akan tetapi tidak demikian dengan pemuda ini. Sambil tersenyum ramah ia melangkah ke tengah lapangan, menggerak-gerakkan hudtimnya dengan gaya seorang pemimpin besar, lalu berkata,

“Cuwi Locianpwe yang berkumpul di sini terlalu banyak sehingga sukarlah bagi siauwte untuk memberi hormat satu persatu. Oleh karena itu, siauwte Liok Kong ji bengcu dari selatan dan timur menghaturkan hormat dari sini saja kepada semua Locianpwe yang hadir.” Ta menjura ke empat penjuru, sengaja ditujukan ke arah rombongan See-thian Tok-ong, Go Ciang Le, Tai Wi Siansu lain lain tokoh besar.

“Siauwte yang muda dan bodoh telah diangkat menjadi bengcu di selatan dan timur, dan sekarang mendengar akan diadakannya pemilihan bengcu baru, para kawan-kawan siauwte mendesak supaya siauwte datang di sini sebagai calon. Oleh karena itu, dengan melupakan kebodohan sendiri, siauwte terpaksa menuruti kehendak kawan-kawan itu.“

Ketika bicara Kong Ji sengaja menghadap ke arah rombongan Ciang Le berada. Dia melihat Bi Lan berbisik kepada suaminya seakan-akan menanyakan sesuatu dan dilihatnya Ciang Le menjawabi isterinya sambil meraba pinggang kiri sendiri. Diam-diam Kong Ji kagum sekali. Melihat gerakan Ciang Le ini otaknya yang cerdik dapat menduga bahwa tadi Liang Bi Lan tentu membicarakan dia dan bertanya kepada suaminya dimana pedang Pak-kek Sin-kiam yang dulu dibawa oleh Kong Ji. Di jawab oleh Ciang Le dengan rabaan tangan ke pinggang kiri bahwa pedang itu disembunyikan di balik jubah.

Tentu saja Kong Ji amat kagum dan terkejut akan kelihaian dan ketajaman mata Ciang Le. Memang betul pedang Pak-kek Sin-kiam ia sembunyikan di balik jubahnya tergantung di pinggang kiri. Bagaimana Ciang Le bisa tahu? Akan tetapi Kong Ji tidak kehilangan akal. Ta takut kalau-kalau Hwa T Enghiong Go Ciang Le nanti akan membuka rahasia tentang pedang itu dan akan menuduhnya menuri pedang, maka ia hendak mendahuluinya. Sambil terseyum ia melanjutkan kata- katanya.

“Cuwi Locianpwe, sudah kukatakan tadi bahwa siauwte adalah seorang muda yang bodoh dan tentu saja tidak terkenal seperti Cuwi Locianpwe yang sudah menduduki tingkat tertinggi di dunia kang-ouw. Oleh karena itu, bukan melupakan kesombongan apabila siauwte memperkenalkan diri. Siauwte Liok Kong Jl tidak mempunyai guru yang sah, akan tetapi siauwte pernah digembleng oleh tokoh-tokoh seperti Suhu Liang Gi Tojin dari Hoa-san, Suhu Giok Seng Cu, Suhu See-thian Tok-ong, dan Suhu Hwa I Enghiong. Selain itu siauwte juga beruntung sekali menjadi ahli waris dari Bu Kek Siansu di puncak Luliang-san. Buktinya inilah!” Kong Ji menggerakkan tangannya, cepat bukan main seperti orang bermain sulap saja dan tahu-tahu sebatang pedang yang gemerlapan saking tajamnya telah berada di tangannya.

”Pedang ini adalah Pak-kek Sin-kiam peninggalan dari Sucouw Pak Kek Siansu dan siapa yang memiliki pedang berarti akan menjagoi dunia kang-ou. Pedang ini memang secara kebetulan jatuh di tanganku, setelah terjadi perebutan yang ramai yang tak perlu diceritakan di sini. Pokoknya siauwte yang berjodoh memiliki Pedang Pak-kek sin-kiam dari Pak Kek Siansu.”

Baru saja kalimatnya habis diucapkan, berkelebat bayangan yang amat cepat dan tahu-tahu seorang nyonya cantik sudah berdiri di hadapannya. Nyonya ini adalah Liang Bi Lan atau Nyonya Ciang Le yang dijuluki orang Sian-I Eng-cu (Bayangan Bidadari). Kepandaiannya yang tinggi sekali dan ginkangnya telah mencapai tingkat yang jarang ada yang dapat menandinginya, maka gerakannya tadi pun hanya sekelebatan saja dan hanya mata orang-orang pandai saja dapat mengikuti gerakannya dengan seksama.

”Orang she Liok” katanya dengan suara halus menekan kemarahan dan kebenciannya, ”semua omonganmu itu tak perlu bagiku karena aku sudah cukup kenal akan watak palsumu. Sekarang hayo lekas katakan di mana adanya Hui Lian anakku!”

Ciang Le agak menyesal mengapa isterinya tidak dapat bersabar menanti, akan tetapi ia pun maklum akan apa yang terasa di hati isterinya. Hui Lian sudah pergi dari rumah bersama Liok Kong Ji dan sudah kurang lebih satu tahun setengah puteri mereka pergi tanpa ada beritanya. Dia sendiri amat khawatir, apalagi setelah kini melihat Kong Ji muncul tanpa disertai oleh Hui Lian kalau dia saja sudah amat khawatir, apa lagi isterinya.

Liok Kong Ji yang ditanya oleh subonya dan yang tahu bahwa subonya amat marah kepadanya, hanya tersenyum. Sikapnya senang-tenang saja dan tidak mau memberi hormat. Ta adalah seorang bengcu yang akan dipilih tak perlu merendahkan diri. Ia hanya membungkukkan pinggangnya ke arah Bi Lan sambil menjawab.

“Toanio, tentang Nona Go Hui Lian siauwte tidak tahu di mana adanya. Akan tetapi seorang di antara sahabat- sahabat siauwte yang amat banyak jumlahnya mengetahui. Oleh karena itu, apabila persoalan memilih bengcu ini sudah beres, siauwte sebagai bengcu baru menanggung sepenuhnya bahwa Toanio pasti akan dapat bertemu dengan Nona Hui Lian.“

Bukan main mendongkolnya hati Bi Lan mendengar jawaban ini. Benar-benar kurang ajar sekali bocah ini pikirnya. Tidak saja menyebutnya “toanio“ seakan-akan tidak mengakui sebagai subo (iste guru) lagi, akan tetapi juga sengaja menolak secara halus untuk memberi tahu di mana adanya Hui Lian dan menuntut melakukannya pemilihan bengcu lebih dulu. Sebagai seorang yang sudah banyak melakukan perantauan di waktu mudanya dan tahu betul akan tipu muslihat para penjahat besar di dunia kang- ouw.

Bi Lan sudah mengerti bahwa keterangan tentang dimana adanya Hui Lian, akan dijadikan taruhan oleh Kong Ji, akan dijadikan bahan untuk memeras dan memaksanya memilih pemuda ini sebagai bengcu! Kalau menurutkan nafsu hatinya, ingin ia menyerang dan memaksa Kong Ji mengaku sekarang juga di mana adanya Hui Lian. Akan tetapi sebelum ia lakukan sesuatu, ia mendengar suara suaminya.

“Mundurlah, isteriku. Biar lihat apa yang ia lakukan selanjutnya. Mudah menurunkan tangan apabila ternyata dia mengganggu anak kita.“

Kata Ciang Le ini terdengar seperti bisikan di dekat telinga Bi Lan, akan tetapi tidak terdengar oleh siapapun juga, karena Ciang Le telah mempergunakan ilmu mengirim suara dari jauh yang amat tinggi tingkatnya sehingga suara yang ia kirim itu hanya dapat “diterima“ oleh telinga orang yang harus menerimanya, Bi Lan mendengar ini bahwa kelakukannya kurang patut.

Saat itu adalah saat pertemuan orang-orang gagah sedunia dan saat dilakukan pemilihan bengcu, sebuah hal yang amat pelik dan penting. Memperlihatkan perhatian sepenuhnya hanya untuk urusan pribadi, benar-benar bukan pada tempatnya dan tidak pada saatnya yang tepat. Maka sambil menahan amarah ia menggerakkan kaki dan berkelebatlah bayangannya dengan cepat sehingga di lain saat ia telah berdiri di sebelah suaminya lagi.

Banyak orang menahan napas menyaksikan kelihaian nyonya ini, akan tetapi yang paling kaget adalah Kong Ji. Bukan kaget melihat ginkang luar biasa dari subonya, karena ia memang sudah tahu akan kehebatan ilmu meringankan tubuh dari Liang Bi Lan. Yang membuat ia kaget adalah pengiriman suara dari Ciang Le.

Karena ia berdiri di depan Bi Lan dan ia pun sudah memiliki pendengaran yang lebih tajam daripada ahli-ahli silat lain, ia dapat mendengar bisikan halus itu dan hatinya terguncang. Dahulu belum pernah gurunya ini memperlihatkan ilmu lweekang yang demikian tinggi, dan sekarang ia harus akui bahwa Hwa I Enghiong Go Ciang Le benar-benar seorang yang kosen dan akan merupakan lawan yang sukar dikalahkan!

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Pada saat itu, tiba tiba-tiba terdengar pekik yang tinggi dan nyaring. Pekik ini amat nyaring dan menyakitkan anak telinga hingga banyak orang yang lweekangnya kurang tinggi, segera mengangkat dua tangan menutupi telinganya. Didengar sepintas lalu oleh mereka yang tidak kuat mendengar terus, terdengar seperti suara semacam burung yang aneh yang menyambar dari atas ke bawah, kadang-kadang terdengar di sebelah selatan, tiba-tiba berpindah-pindah ke jurusan lain.

Akan tetapi bagi para tokoh yang bertenaga lweekang cukup kuat untuk menerima serangan getaran suara tinggi ini, dapat mereka dengar jelas bahwa inilah pekik seorang wanita yang mempunyai Iweekang dan khikang tinggi sekali!

Tai Wi Siansu, ciangbunjin dari Kun-lun-pai yang sudah amat tua itu nampak terkejut dan terheran-heran sampai bangun berdiri dan berkata, “Thian Yang Maha Kuasa! Apakah Pat-jiu Nio-nio sudah bangkit kembali dari kuburnya?“

Tokoh yang sudah tua dan yang hadir di saat itu semua sudah mengenal atau pernah mendengar nama Pat-jiu Nio-nio seorang wanita aneh yang mempunyai semacam istana yang indah dan luas di sebuah puncak Pegunungan Go-bi-san. Di sana Pat-jiu Nio-nio mempunyai semacam perkumpulan yang terdiri dari wanita semua, dan yang diberi nama Perkumpulan Hui-eng-pai (Perkumpulan Elang Terbang). Memang pekik mengerikan di adalah tanda dari Pat-jiu Nio-nio. Akan tetapi nenek tua ini sudah meninggal dunia dan kabarnya perkumpulannya pun otomatis bubar.

Bagaimana sekarang tiba-tiba saja muncul pekik yang menyeramkan ini? Siapa lagi kalau bukan Pat-jiu Nio-nio yang dapat mengeluarkan pekik seperti itu? Tidak ada seorang pun yang berada di situ, juga Liang Bi Lan tidak ada yang mampu mengeluarkan pekik seperti tadi. Pekik ini khusus dipelajari dan tanpa latihan, tak mungkin orang dapat mengeluarkan pekik yang bunyinya seperti teriakan garuda betina, akan tetapi jauh lebih nyaring dan tinggi ini.

Semua orang menoleh ke arah bawah puncak dan tak lama kemudian terjawablah semua pertanyaan di dalam hati. Muncullah wanita yang mengeluarkan pekik tadi dan semua orang menahan napas. Yang datang adalah serombongan orang wanita-wanita muda atau gadis-gadis cantik jelita yang pakaiannya semua sama. Baju putih disulam burung elang di bagian dada, sedangkan pakaian sebelah bawah berwarna hijau daun. Rombongan ini terdiri dan empat puluh empat orang, dipimpin oleh seorang gadis berusia paling banyak dua puluh tahun yang wajahnya cantik seperti bidadari.

Kalau semua orang memandang dengan kagum dan tertarik, adalah Kong Ji yang tiba-tiba menjadi pucat. Akan tetapi ia dapat menekan perasaannya dan dengan tenaga lweekangnya ia menormalkan kembali jalan darahnya sehingga mukanya kembali kemerahan, kemudian mengambil sikap seakan-akan ia tidak perduli.

Akan tetapi, tiba-tiba gadis yang paling depan dan yang rambutnya terdapat hiasan mutiara dironce berbentuk buru elang, tanda satu-satunya yang tidak pada rambut lain wanita yang berada dalam rombongan itu, memandang kepadanya dan berserulah gadis itu nyaring.

“Jahanam Wan Sin Hong, mampuslah kau sekarang!“ Baru saja ucapan ini dikeluarkan, tubuh gadis itu sudah melesat di udara dan turun kembali menyambar ke arah Kong Ji. Sinar hijau berkelebat dan cepat Kong Ji mengelak ketika sebatang pedang yang bersinar kehijauan menyambar lehernya. Hebat sekali serangan gadis ini, benar-benar seperti seekor burung elang betina yang marah menyambar korbannya.

“Eh, nanti dulu, Nona! Aku bukan Wan Sin Hong!“ teriak Kong Ji sambil melompat jauh ke belakang.

Akan tetapi gadis itu tidak mau mendengar omonganya, dan kembali menyerang dengan gerakan laksana burung terbang menyambar. Terpaksa Kong Ji mencabut Pak Kek Sin-kiam yang tadi sudah disimpannya untuk menangkis. Terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar ketika dua batang pedang bertemu. Bukan main kagumnya Ciang Le dan Bi Lan ketika melihat bahwa pedang hijau itu tidak apa-apa! Jarang sekali di dunia ini ada pedang yang dapat menangkis Pak-kek Sin-kiam tanpa rusak.

“Nona, kau salah lihat! Aku bukan Wan Sin Hong dan sikapmu ini berarti bahwa kau tidak menaruh hormat kepada semua orang gagah di dunia yang pada saat ini berkumpul di sini!“ kata pula Kong Ji dengan bentakan suara keras. Ta sama sekali tidak takut kepada gadis ini, akan tetapi pada saat itu ia sedang mencari kawan bukan memandang lawan. Ta mencari kawan untuk merebut kedudukan bengcu.

Gadis itu nampak ragu-ragu agaknya baru ia memperhatikan bahwa di situ terdapat banyak sekali orang. menyapu ke kanan kini dengan matanya yang tajam dan indah, kemudian menatap wajah Kong Ji lagi. “Betulkah kau bukan Wan Sin Hong?” bentaknya mengancam.

“Di sini berkumpul banyak Locianpwe dan semua partai. Kalau kau masih belum percaya, kau boleh tanya kepada mereka.“ jawab Kong Ji menentang.

Gadis itu menoleh ke belakang, arah kawan-kawannya yang berjumlah empat puluh orang gadis cantik itu, lalu memanggil. “Cun Eng, ke sini kau!“

Seorang gadis cantik melompat luar dari dalam barisan itu, gerakannya juga cekatan dan Tincah sekali tanda bahwa ia pun memiliki kepandaian lumayan! Sayangnya biarpun wajahnya cantik namun nampak muram dan pucat seperti orang kurang tidur atau orang yang sedih. Setelah tiba di depan nona nemanggilnya, ia menjatuhkan berlutut di depan pemimpinnya itu.

“Cun Eng, kau lihat baik-baik. Inikah Si Jahat Wan Sin Hong itu?“

“Bagaimana saya dapat memastikan, Niocu? Ia mengaku bernama Wan Sin Hong...“ jawab gadis yang berlutut itu dengan suara lemah, nampaknya takut-takut.

“Akan tetapi, ini atau bukan orangnya? Jawablah yang tegas, jawabmu mati hidupnya orang ini!“ kata pula gadis itu.

Gadis yang berlutut mengangkat muka memandang wajah Kong Ji dengan tajam melalui air matanya yang hendak menitik turun, dan nampak ragu-ragu melihat Kong Ji berdiri dengan sikap agung seperti seorang pemimpin besar. Kemudian ia menundukkan mukanya, menggeleng- geleng kepala, kemudian mengangkat muka memandang lagi sampai lama. Akhirnya ia berkata,

“Niocu, sungguh mata saya tidak dapat memastikan dengan yakin. Malam itu gelap, saya tak dapat melihat wajahnya. Hanya saja, kalau melihat bentuk wajahnya yang nampak di dalam gelap, melihat bentuk tubuh dan mendengar suaranya, mirip benar dengan dia ini. Akan tetapi kalau namanya bukan Wan Sin Hong... ah, bagaimana saya dapat memastikan, Niocu? Saya tidak mau menjatuhkan dosa kepada orang lain.“ Kemudian gadis itu menangis.

Pemimpinnya nampak marah. “Mundur kau!“ kakinya diangkat sedikit dan tubuh gadis yang berlutut itu terlempar ke dalam barisannya dan jatuhnya berdiri tempatnya tadi. Kini ia berdiri tegak dengan sikap menghormat, biarpun air matanya masih berlinang dan mengalir turun di sepanjang pipinya yang pucat, namun tak sedikit pun suara tangisan keluar dari mulutnya.

Gadis yang berpedang hijau itu lalu memandang ke kanan kiri, akhirnya menjatuhkan pandang matanya kepada Gak Soan Li yang berdiri tegak di dekat Liang Bi Lan dan semenjak kedatangannya lebih banyak menundukkan muka daripada ikut bicara atau memandang ke mana-mana. Sekali menggerak kaki, gadis itu telah berhadapan dengan Soan Li.

“Eh, sahabat yang cantik dan gagah, tolong kau yang beri tahu kepadaku, siapakah orang yang pedangnya bagus itu? Apakah dia bukan Wan Sin Hong?'“ tanyanya dan kini air muka yang tadinya nampak keren dan galak itu sekaligus berubah menjadi ramah tamah dan manis bukan main.

Mendengar ada orang bicara dengan dia, Gak Soan Li mengangkat mukanya dan memandang tajam. Gadis berpedang hijau itu sampai kaget melihat sinar mata Soan Li yang tajam menyambar begaikan kilat!

“Aku bertanya dan bermaksud baik, jangan kau marah,“ katanya.

Begitu ditanya oleh gadis berpedang hijau itu apakah pemuda yang memegang hudtim (kebutan pendeta) itu bukan Wan Sin Hong, Soan Li menjawab.

“Dia bukan Wan Sin Hong.“

Akan tetapi, biarpun mulutnya berkata demikian, matanya memandang ke arah Liok Kong Ji dengan terbelalak lebar dan tiba-tiba mukanya menjadi pucat sekali, hidungnya kembang-kempis bibirnya bergerak-gerak tanpa meluarkan suara apa apa.

Sementara itu, semenjak tadi Liok Kong Ji memandang kepada gadis berpedang hijau itu dengan sinar mata tertarik kagum sekali. Tadi ia berdiri dengan wajah tak berubah ketika gadis itu bertanya kepada Soan Li, hal yang sama sekali tak pernah diduganya atau diduga oleh orang lain.

Apa yang menyebabkan gadis itu bertanya kepada Soan Li, benar-benar merupakan hal yang mengejutkan dan tidak ada yang mengerti. Lebih-lebih Kong Ji, biarpun wajahnya tidak memperlihatkan perubahan apa-apa, namun isi hatinya hanya dia sendiri yang tahu!

Setelah mendengar jawaban yang memastikan dari Soan Li bahwa dia bukan Wan Sin Hong yang dicari-cari oleh gadis berpedang hijau yang agaknya amat benci dan hendak membunuh Sin Hong, Kong ji tersenyum. Seperti biasa senyumnya membayangkan ketinggian hatinya dan mengandung ejekan. Sekali menggerakkan kedua kakinya, ia telah melompat ke dekat gadis berpedang hijau yang lihai itu, lalu menjuralah Kong Ji dengan sikap manis dan menghormat.

“Nona yang gagah perkasa, sudah kukatakan tadi bahwa aku bukan Wan Sin Hong. Banyak sekali orang mencari Wan Sin Hong, bahkan aku sendiri kalau bertemu dengan dia, masih ada beberapa hutangnya yang harus dibayar sehingga sebuah kepalanya masih belum lunas untuk membayar hutangnya. Jangan kau khawatir, Nona, kalau aku bertemu dengan bangsat itu, pasti sebelum memenggal kepalanya dia lebih dulu akan kuseret dan kuhadapkan kepadamu, asal saja kau sudi memberi tahu ke mana aku dapat mencarimu. Perkenalkan, Nona, aku adalah Liok Kong Ji, bengcu baru dari timur dan selatan, dan calon bengcu dalam pemilihan sekarang ini. Sebaliknya siapakah kau ini, Nona, dan dari partai apa?“

Gak Soan Li yang berdiri tidak jauh dari situ, mendengar nama Liok Kong Ji, mukanya menjadi makin pucat dan menatap wajah pemuda itu bagaikan orang melihat setan. Ia menahan jerit dan tangan kanannya menekan dan kemudian ia kelihatan terhuyung-huyung dan pasti roboh kalau saja Liang Bi Lan tidak cepat-cepat memeluknya. Ketika Bi Lan melihat bahwa muridnya itu ternyata telah pingsan ia lalu cepat mengangkatnya ke pinggir dan merebahkannya di atas lantai di bawah pohon.

Cam-kauw Sin-kai cepat menghampiri, berlutut dan memegang urat nadi Soan Li. Selama ini memang Soan Li dirawat oleh Cam-kauw Sin-kai yang ingin sekali memulihkan ingatan gadis itu dan ingin sekali membongkar rahasia yang membuat gadis yang bernasib malang ini kehilangan ingatannya. Cam-kauw Sin-kai maklum bahwa gadis ini terkena racun yang hebat sekali dan yang sebegitu lama belum dapat ia obati.

Sampai sebegitu jauh, Soan Li baru dapat ingat bahwa ia adalah murid Hwa I Enghiong Go Ciang-Le dan bahwa ia telah dihina oleh seseorang yang bernama Wan Sin Hong dan ditolong oleh seorang yang ia panggil Gong Lam-ko dan yang ia cinta sepenuh hati. Akan tetapi ia tidak dapat menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya, tidak dapat mengatakan pula siapakah itu Wan Sin Hong dan yang mana pula yang ia panggil Gong Lam-ko.

Sekarang yang ia kenal hanyalah Cian Le sebagai suhunya, Bi Lan sebagai subonya, Cam-kauw Sin-kai yang ia panggil locianpwe dan Lie Bu Tek yang ia sebut lo- enghiong. Yang lain-lain ia telah lupa semua. Sekarang ketika melihat betapa Soan Li roboh pingsan, Cam-kauw Sin-kai cepat-cepat menolongnya dan setelah gadis itu siuman kembali, Cam-kauw Sin-kai cepat-cepat berbisik.

“Soan Li, siapakah laki-laki itu? Ingatkah kau akan dia dan apa yang telah ia perbuat terhadap dirimu maka kau sampai pingsan melihat dia?“ Memang semenjak merawat Soan Li pengemis sakti ini menganggap Soan Li sebagai murid atau orang sendiri sehingga ia menyebut nama gadis itu demikian saja. Kakek ini memang sudah dapat menyelami bahwa dalam keadaan Soan Li ini terselip rahasia yang besar dan hebat, maka setiap gerakan gadis ini tentu amat ia perhatikan.

Akan tetapi Soan Li yang ditanya hanya menggeleng-geleng kepalanya dan kini ia telah duduk di atas rumpus, tangan kirinya mengurut-urut kening seperti orang pusing dan sepasang matanya yang suram itu ditujukan ke arah Kong ji berdiri.

“Kau kenal dia? Pernah kau melihat dia?“ Cam-kauw Sin-kai terus berbisik dalam usahanya mengembalikan ingatan gadis itu. Tentu saja Cam-kauw Sin-kai sudah mendengar dari Ciang Le tentang sepak terjang Liok Kong Ji yang melarikan diri sambil membawa pedang Pak-kek Sin-kiam, juga membawa Iari bersama puteri Hwa I Enghiong, kemudian mengalahkan Soan Li yang mencoba mengejarnya.

Soan Li mengerutkan kening dan sepasang alisnya bertemu. “Aku pernah melihatnya...“ katanya dalam bisikan pula, matanya tak pernah berkedip memandang ke arah Kong Ji.

“Kau tadi sudah mendengar namanya Liok Kong Ji. Kenalkah kau padanya?”

“Aku... aku pernah mendengar nama itu... lupa lagi entah dimana...“

“Coba kau lihat balk-balk, apakah wajahnya menimbulkan kesan baik atau buruk padamu?“

“Buruk... dia menimbulkan muak dan aku... entah mengapa aku benci dan tidak suka kepadanya.“

“Dan nama itu, Liok Kong Ji, bagaimana terdengar olehmu? Apakah juga mendatangkan perasaan tak enak?“

“Nama itu pun memuakkan, menimbulkan benci...!“ kata Soan Li dan nampaknya gadis ini bingung sendiri mengapa ia bisa membenci wajah dan nama orang itu.

Cam-kauw Sin- kai tidak mau mendesak terus karena sebagai seorang tabib ia maklum bahwa pengembalian ingatan gadis ini harus secara sewajarnya dan dengan perlahan, kecuali kalau memang ada obat yang tepat untuk menghantam racun yang sudah mengotori kepala gadis itu.

Sementara itu, gadis berpedang hijau ketika mendengar omongan Liok Kong Ji sama sekali sikapnya tidak mengacuhkan dan tidak sudi melayani. Ia hanya menyapu wajah pemuda itu dengan kerling matanya, kemudian berkata,

“Hemm... di sini orang mau mengadakan pemilihan bengcu? Menarik sekali! Hendak kulihat, orang macam apa yang nanti terpillh menjadi bengcu!” Setelah berkata demikian, ia menyapu wajah semua orang yang hadir di situ dengan wajah penuh perhatian. Pandang matanya tajam kini dapat melihat bahwa sesungguhnya tempat itu penuh oleh orang-orang yang kelihatannya pandai, maka wajahnya menjadi berseri, agaknya tertarik sekali.

Tai Wi Siansu, ketua Kun-lun-pai, adalah seorang yang dahulunya menjadi sahabat baik dari Pat-jiu Nio-nio, maka kini melihat bahwa di situ terdapat serombongan orang- orang Hui-eng-pai yang disangkanya sudah bubar semenjak nenek sakti itu meninggal, menjadi gembira dan tertarik. Dengan lambaian lengannya, iato melompat menghadapi nona pedang hijau itu dan berkata ramah.

”Nona, kau siapakah? Pinto lihat memimpin pasukan Hui-eng pai. Apa hubunganmu dengan mendiang Pat-jiu Nio-nio?”

Nona itu menengok dan matanya yang lihai itu mengerling tajam, bulu matanya yang panjang melengkung itu mencoba untuk menyembunyikan matanya yang bagus itu. Sikapnya dingin sekali, seakan-akan ia memandang rendah kepada semua tokoh yang berada di situ. Sikap ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang nona berilmu tinggi yang tak pernah terjun ke dunia kang-ouw sehingga tidak mengenal dan dikenal orang, dan bagaikan seekor anak lembu yang baru pertama kali memasuki rimba raya, tidak takut bertemu dengan singa, serigala, maupun harimau!

Gadis itu memperhatikan Tai Wi Siansu dan melihat seorang kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, bertubuh tinggi kurus, sudah putih rambutnya dan sikapnya amat lemah lembut dan ramah, ia lalu tersenyum manis. Bukan main manisnya senyum ini sehingga Tai Wi Siansu sendiri menjadi kagum. Setelah tersenyum, benar-benar gadis di depannya ini amat cantik jelita. Tadi tidak begitu kentara kecantikannya oleh karena sikapnya yang dingin dan mukanya yang keras. Setelah tersenyum dan nampak sifat kewanitaannya. Dia benar-benar seorang yang manis.

“Orang tua namaku Siok Li Hwa. Kau ini orang tua yang mengenal nama Nio-nio, siapakah kau?”

Tai Wi Siansu tertawa sambil mengelus-elus jenggotnya. Diam-diam ia kagum dan juga heran sekali karena gadis ini, terbayanglah di depan matanya Pat-jiu Nio-nio ketika masih muda. Biarpun tidak secantik gadis ini, akan tetapi sikap mereka ini benar-benar sama. Dahulu, Pat jiu Nio-nio juga begini sikapnya, dingin, sederhana, jujur, tegas, tidak mengenal takut di samping kepandaiannya yang amat lihai.

”Nona, sayang Pat-jiu Nio-nio sudah tidak ada lagi. Kalau dia masih ada tentu dia dapat bercerita banyak tentang pinto kepadamu.” Sejenak kakek berhenti dan matanya memandang ke atas seolah-olah ia hendak membayangkan kembali masa dahulu. ”Pinto adalah Tai Wi Siansu.”

Siok Li Hwa nampak kaget dan cepat gadis ini menoleh ke arah rombongannya dan kedua tangannya diangkat ke atas dan jari-jari tangan itu menari-nari. Seorang gadis yang berada di depan rombongan juga mengangkat tangan ke atas dengan jari-jari yang mungil dan runcing itu menari-nari seperti ular-ular kecil! Hanya sebentar pertunjukan aneh itu karena Siok Li Hwa sudah membalikkan tubuh lagi menghadapi Tai Wi Sian sambil berkata,

“Ah, kiranya Tai Wi Siansu dari Kun- lun-pai? Nio-nio dahulu pernah bilang bahwa Tai Wi Siansu dari Kun-lun pai adalah seorang gagah. Aku senang sekali bertemu dengan Siansu di sini. Melihat Siansu berada di sini, tentu kakek- kakek yang lain di sana itu pun bukan orang-orang sembarangan!“

Tai Wi Siansu tertawa. “Mereka itu bukan orang-orang asing bagi Pat-jiu Nio-nio. “Lihat, mereka itu adalah Ketua Thian-san-pai yang bernama Leng Hoat Taisu,” katanya sambil menunjuk kepada seorang kakek kecil bongkok bermuka merah dengan kepala botak dan tidak berkumis. Orang itu mengangkat tongkatnya yang hitam ke arah Siok Li Hwa sambil berkata gembira.

“Nona Garuda, Pat-jiu Nio-nio pernah dua kali bertemu dengan pinto!“

Siok LI Hwa tertawa dan merasa suka melihat kakek yang lucu itu. “Yang itu adalah Bu Kek Siansu, Ketua Bu-tong-pai. Yang di sana itu, dia adalah Cam-kauw Sin-kai, yang terkenal di dunia kang-ouw. Adapun yang gagah perkasa itu, dialah Pendekar Budiman yang terkenal dengan sebutan Hwa l Enghiong bernama Go Ciang Le bersama isterinya Sian-Li Engcu Liang Bi Lan. Dan itu,” ia menuding ke arah rombongan See-thian Tok-ong, “dia adalah See-thian Tok-ong bersama isterinya dan puteranya. Mereka ini pun merupakan orang-orang terkemuka dalam dunia silatan. Hanya mereka itulah yang patut kau kenal di antara semua yang hadir.“

“Hanya itu?“ tanya Siok Li Hwa, sinar matanya menyapu orang-orang lain yang banyak hadir di situ. “Mengapa begitu banyak orang'“

“Yang lain-lain adalah pengikut- pengikut dan orang- orang biasa,“ kata Ketua Kun-lun-pai. “Kami semua berkumpul di sini untuk mengadakan pemilihan seorang bengcu baru. Orang-orang gagah di dunia kang-ouw perlu sekali dengan seorang bengcu baru yang bijaksana, yang akan memimpin semua partai sehingga tidak timbul perpecahan.”

”Bagus sekali, alangkah ramainya nanti. Biar aku menonton dan ingin orang macam apa yang akan terpilih, kata gadis ini dengan sikap seakan-akan orang menghadapi sebuah permainan anak-anak.

”Nona, kau dari Go-bi-san datang bersama pasukan hui- eng-pai. Sudah sepatutnya kalau kau pun mengajukan usul ikut pula memilih.”

Siok Li Hwa menggeleng kepalanya. “Tidak perlu dengan segala bengcu! Aku datang bukan untuk urusan pemilihan bengcu, melainkan untuk mencari seorang penjahat bernama Wan Sin Hong.”

Seteiah berkata demikian, gadis ini melompat ke dalam rombongannya sendiri yang mengambil tempat di bagian terpisah. Di situ ia dan rombongannya berdiri sebagai penonton, akan tetapi mereka semua memasang mata tajam untuk mencari-cari orang yang mereka kejar-kejar sejak beberapa bulan yang lalu. Mengapa rombongan Hui-eng-pai ini mengejar-ngejar Wan Sin Hong?

Seperti telah dituturkan tadi, Siok Li Hwa menyerang Kong Ji karena mengira pemuda ini Wan Sin Hong, atau setidaknya seorang di antara anggauta rombongannya yang mengira demikian. Siok Li Hwa sendiri belum pernah bertemu dengan penjahat yang bernama Wan Sin Hong itu. Kurang lebih dua bulan yang lalu, seorang di antara anak buahnya yang bernama Cun Eng dan yang tadi telah ditanyainya tentang Kong Ji, pada suatu malam telah disergap dan diganggu oleh seorang pemuda yang kemudian mengaku bernama Wan Sin Hong.

Pemuda ini lalu menghilang di dalam gelap malam, Cun Eng sambil menangis melaporkan hal ini kepada Hui eng Niocu (Nona Garuda Terbang), yakni nama julukan dan Siok Li Hwa. Siok Li Hwa marah bukan main dan sambil membawa empat puluh orang kawan, ia memimpin pasukan ini melakukan pengejaran...

Thanks for reading Pedang Penakluk Iblis Jilid 26 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »