Pedang Penakluk Iblis Jilid 23

Pedang Penakluk Iblis Jilid 23

SEBAGIAN besar terdiri dari busu yang tingkatnya sama dengan empat orang yang dalam segebrakan dikalahkan oleh Hui Lian. Tiga orang busu mempuyai tingkat yang jauh lebih tinggi dapada mereka ini, dan terhitung busu-busu pilihan dari Istana. Masih ada seorang lagi yang terpandai dari mereka, karena dia ini menjadi pemimpin dan sudah termasuk seorang perwira tinggi di kalangan busu istana.

Komandan atau pimpinan inilah yang tadi merobohkan dan menewaskan orang kate yang melarikan diri dari kamar Hui Lian melalui genteng. Mengingat betapa dengan mudahnya ia dapat menewaskan Si Kate yang lihai dapat diduga betapa tinggi kepandaian perwira busu itu.

Busu lain yang kepandaiannya hanya setingkat dengan kepandaian empat orang busu yang berpakaian pedagang, melihat betapa dalam segebrakan saja Hui Lian sudah dapat membuntungkan dua batang golok dan membuat empat orang pengeroyoknya melompat mundur dengan perih, hati mereka sudah gentar.

Tiga orang busu yang tingkatnya lebih tinggi, yang terdiri dari tiga orang tua berusia sedikitnya lima puluh tahun kini melangkah maju menghadapi Hui Lian. Pada saat itu, pintu-pintu kali hotel itu bergerit dan semua penghuni kamar mengintai dengan hati kebat-kebit. Yang nyalinya besar keluar pintu dan menonton, yang kecil nyalinya menyembunyikan diri ketakutan. Bahkan ada yang buru-buru keluar meninggalkan hotel itu.

Para pelayan menjadi kebingungan ke sana ke mari tak tentu tujuan. Sebetulnya, menangkap seorang dua orang tamu hotel itu oleh pasukan biasa bukanlah hal yang amat aneh. Akan tetapi, baru kali ini ada seorang gadis muda cantik hendak ditangkap, dan baru kali ini juga seorang gadis berani menghadapi sekalian busu itu dengan pedang di tangan!

Sebagian besar dari mereka merasa ngeri kalau membayangkan betapa gadis semuda dan secantik itu menjadi korban kekejaman para busu, menjadi korban senjata-senjata tajam yang tak pernah mengenaI ampun dari para pengawal istana itu!

Tiga orang busu kini sudah menghadapi Hui Lian. Seorang di antara mereka yang paling tua, berkepala botak dan memegang sebatang toya yang disebut Long-gee-pang (Toya Gigi Srigala), berkata kepada Hui Lian.

"Benar-benar puteri Hwa I Enghiong lihai seperti ayahnya. Akan tetapi kau takakan mungkin dapat menang menghadapi kami, Nona. Andaikata kau berhasil mengalahkan aku, masih banyak lagi busu yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padaku, dan jumlahnya banyak sekali. Kau tidak percaya? Lihatlah!"

Busu ini bersuit keras dan terdengar jawaban dari empat penjuru, bahkan orang-orang berpakaian busu bermunculan dari setiap sudut. Jumlah mereka semua entah berapa, akan tetapi kiranya tidak kurang dari lima puluhan orang!

"Nah, apa artinya kau melawan, nona? Lebih baik menyerah. Kami menawanmu dan membawamu menghadap ke depan Hakim Istana. Di sanalah boleh membela kalau kau dianggap tidak berdosa, kau tentu akan dibebaskan." kata pula busu bersenjatakan Long gee-pang itu.

Hati Hui Lian tergerak. Kata-kata busu ini dianggapnya masuk di akal, memang, melihat banyaknya busu yang mengepung tempat itu, agaknya tak mungkin ia dapat menyelamatkan diri melawan dan membunuh mereka ini apa artinya kalau akhirnya ia akan tertawan juga? Ini berarti dosanya akan lebih besar. Kalau menyerah, siapa tahu kalau ia dapat dibebaskan atau setidaknya mendapat keringanan? tentu saja ia hanya mau menyerah dengan syarat, yakni tidak mau diikat dan tidak mau dilucuti senjatanya. Berarti, sewaktu-waktu kalau perlu ia akan dapat melawan dan mengamuk!

Akan tetapi, belum juga ia menjawab kata-kata busu bersenjata Long gee pang itu, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar hotel dan tak lama kemudian dari luar berlari masuk seorang hwesio tinggi besar yang memanggul penggada besar pula. Suaranya parau dan nyaring ketika ia berteriak-teriak.

“Busu-busu keparat, jangan berani mengganggu Nona Go Hui Lian!"

Hui Lian girang sekali ketika mendapat kenyataan bahwa yang datang ini bukan lain adalah Tang Hwesio! "Tang Lo-suhu'" Hui Lian berseru girang.

Lenyaplah seketika niatnya untuk menyerah ketika ia melihat hwesio tua yang bersemangat ini. Apalagi ketika ia melihat betapa Tang Hwesio segera terjun di tengah-tengah para busu yang mengepung dan penggadanya segera mengamuk laksana seekor harimau galak, Hui Lian lalu menggerakkan pedangnya membantu. Sebentar saja Hui Lian dan Tang Hwesio dikeroyok oleh puluhan orang busu dalam sebuah pertempuran yang luar biasa ramainya!

Gada di tangan Tang Hwesio benar-benar mengerikan sekali. Beberapa kali terdengar suara keras dan kepala beberapa orang busu pecah berantakan tersambar oleh penggada. Mayat-mayat para pengeroyok bertumpang tindih dan membanjiri ruangan itu. Juga pedang di tangan Hui Lian amat lihai. Sedikitnya ada enam orang pengeroyok yang roboh oleh pedang ini dan biarpun akibat dari pada serangan pedang ini tidak sehebat serangan penggada, namun yang roboh tak dapat bangun pula dengan tubuh utuh.

Akhirnya Hui Lian dan Tang Hwesio hanya dikeroyok oleh enam orang busu yang kepandaiannya tinggi. Hui Lian keroyok dua sedangkan Tang Hwesio dikeroyok empat. Yang mengeroyok Hui Lian adalah busu yang memegang Lot gee-pang dan seorang kawannya yang juga sudah berusia lima puluh dan yang memegang siang-kiam (sepasang pedang). Kepandaian dua orang busu ini benar-benar hebat. Long-gee-pang itu gerakannya lambat namun membawa tenaga yang luar biasa kuatnya tanda bahwa pemegangnya seorang ahli lwekeh yang jempolan. Adapun siang-kiam di tangan orang ke dua amat cepat dan lincah gerakannya sehingga dalam diri dua orang pengeroyoknya ini.

Hui Lian mendapatkan lawan seimbang dan baginya malah menggembirakan. Dengan ilmu pedang berdasarkan Pak-kek Sin-kiam-hwat, bepapun lihainya kedua lawan itu, dapat juga akhirnya pada jurus-jurus ke lima puluh lebih Hui Lian mendesak mereka. Ataukah kedua lawannya yang sengaja memmperlambat gerakan?

Hui Lian merasa aneh karena entah mengapa setelah lima puluh jurus terlewat, kedua lawannya itu seakan-akan menjadi lemah dan ia tidak merasai tekanan lagi. Lebih aneh lagi ketika dua orang itu bertempur sambil mundur sehingga tak lama kemudian pertempuran terpecah menjadi dua rombongan yang jauh jaraknya. Setelah tertempur seru lagi beberapa jurus, tiba-tiba terdengar pemegang toya Long-gee-pang itu berkata perlahan.

"Lihiap, kami berdua adalah orang-orang pejuang rakyat. Kau boleh melukai dan merobohkan kami berdua, kemudian kau dapat melarikan diri melalui pintu di belakang itu lalu melompat naik ke atas genteng. Kalau nanti kau dikejar-kejar, dan tidak ada jalan keluar dari kota raja, jalan yang paling aman larilah ke dalam istana sekali. Banyak kawan di sana. Lekas!"

Hui Lian seketika menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Ia sejak tadi memang sudah melihat datangnya banyak sekali perwira-perwira busu dan maklum bahwa kalau para busu itu kepandaiannya setingkat dengan dua orang pengeroyoknya ini, akhirnya ia akan kehabisan tenaga dan tertawan juga.

Kini mendengar omongan busu pemegang Long-gee-pang ini, pertama-tama menjadi bingung, akan tetapi melihat dia orang lawannya sengaja membuka pertahanan, Hui Lian cepat menggerakkan pedangnya dua kali dan pundak dua orang lawannya terluka ringan dan mengeluarkan darah. Akan tetapi dua orang ini memekik dan senjata mereka terlepas dari tangan lalu mereka merobohkan diri seakan-akan terluka hebat.

Hui Lian tadinya hendak lari menurut jalan yang ditujukan oleh pemegang Long-gee-pang itu, akan tetapi ketika ia melirik ke depan, ia melihat Tang Hwesio sedang terdesak hebat. Tang Hwesio dikeroyok oleh empat orang. Tiga orang pengeroyoknya biarpun berkepandaian tinggi, namun masih di bawah tingkat hwesio itu, karena tingkat dua orang ini seimbang dengan tingkat dua orang pengeroyok Hui Lian.

Akan tetapi orang ke empat adalah busu komandan yang tadi melayang turun dari atas genteng dan ternyata dia ini seorang hwesio pula, hwesio yang kepala gundulnya tertutup topi busu berbulu garuda dan yang kini sudah menjadi seorang panglima! Ilmu silat dari hwesio yang sudah malih rupa ini benar-benar lihai. Dia memegang toya pula dan ketika ia menyerang Tang Hwesio, hwesio tua ini kaget sekali karena maklum bahwa lawan ke empat ini tak boleh dipandang ringan.

Apalagi setelah lawannya itu mainkan toya, ia mengenal Ilmu Toya Tat Mo Kun-hwat yang lihai dari Siauw lim-si. Baiknya Tang Hwesio adalah seorang tokoh besar yang berilmu tinggi, kalau tidak, kiranya tak kan lama ia dapat bertahan menghadapi keroyokan empat orang lawan yang berkepandaian tinggi ini.

Ia melawan mati-matian dan biarpun dikeroyok empat oleh lawan-lawan yang tangguh, tetap saja penggada Hwesio masih berbahaya sekali. Ada seorang busu rendahan yang mencoba untuk menyerangnya dari belakang, akan tetapi kedua orang pembokong ini roboh dengan kepala pecah! Setelah itu tidak ada lagi lain busu, yang kepandaiannya belum tinggi betul berani coba-coba untuk menyerangnya.

Akan tetapi Tang Hwesio adalah seorang hwesio yang sudah tua, tenaganya masih besar akan tetapi daya tahan dan keuletannya tidak seperti dulu-dulu lagi. Menghadapi empat orang pengeroyok yang amat tangguh dan yang sukar sekali dirobohkan, lambat laun tenaga dan keuletannya berkurang dan ia mulai terdesak hebat. Bahkan dalam sebuah serangan yang bertubi-tubi dari empat lawannya, ia kurang cepat karena sudah lelah sekali sehingga toya di tangan komandan busu dengan keras mengenai pundak kirinya, menyebabkan tulang pundaknya patah!

Pada saat itulah Hui Lian berhasil merobohkan dua orang pengeroyoknya dan selagi gadis ini hendak melarikan diri, ia melihat keadaan Tang Hwesio. Seketika itu juga lenyaplah niatnya untuk lari. Sambil berseru nyaring, gadis ini melompat dan dengan tepat sekali menangkis toya yang menyambar ke arah kepala Tang Hwesio.

"Tang Lo-suhu, jangan khawatir, aku membantu!" teriak Hui Lian sambil memutar pedangnya dengan cepat menghadap empat orang lawan itu. Ilmu pedang dari gadis ini memang ilmu pedang pilihan, empat orang lawannya tidak berani memandang ringan.

"Nona, hati-hati, mereka itu lihai kata Tang Hwesio yang timbul kembali semangat dan kegagahannya, dan biarpun lengan kirinya lumpuh, ia masih mengamuk dengan penggada di tangan kanannya. Lakunya seperti seekor harimau terluka dan dengan pukulan yang luar biasa hebatnya ia membuat golok di tangan seorang pengeroyok terlempar dan pemegangnya sendiri terpental karena dorongan penggada!

Akan tetapi pada saat itu, di dalam pertempuran bertambah tiga orang lagi, busu yang kepandaiannya hampir setingkat dengan komandan bertoya! Dalam segebrakan saja, tahulah Tang Hwesio dan Hui Lian bahwa keadaan mereka berbahaya sekali.

"Nona, kau larilah! Biar pinceng yang menahan mereka!" Tang Hwesio membentak keras sambil memutar penggadanya. Hwesio tua ini setelah melihat bahwa mereka berdua takkan dapat lolos berlaku nekat dan hendak mengorbankan diri agar memberi kesempatan kepada Hui Lian melarikan diri.

Akan tetapi Hui Lian adalah keturunan orang gagah, ia seorang gadis yang tidak saja memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi juga memiliki watak yang gagah dan berbudi baik. Mana ia sudi meninggalkan kawan dalam keadaan bahaya mengancam?

"Kita melawan terus, Tang-losuhu. Menang atau mati!" pedangnya diputar makin cepat dan seorang pengeroyok terjungkal dengan lengan terbabat putus sebatas siku.

"Bodoh kita takkan menang! Jangan buang nyawa sia-sia... lekas lari dan...!" kata-katanya terhenti dan tubuh Tang Hwesio terjengkang ke belakang. Toya di tangan lawannya yang paling tangguh telah memasuki dadanya. Tang Hwesio roboh terlentang dan tewas sebagai seorang gagah.

Melihat Tang Hwesio tewas, baru Hui Lian ingat akan petunjuk dari busu bersenjata Long-gee-pang. Setelah kawannya binasa, memang tidak ada perlu membuang nyawa cuma-cuma. Ia harus dapat melarikan diri. Melawan sama dengan membunuh diri. Cepat ia melompat ke belakang dan ginkangnya yang…

...Halaman 16-17 hilang...

"Celaka," pikirnya, "di kota raja agaknya penuh dengan pasukan pengawal kaisar." Hui Lian mengamuk lagi, saking gemasnya ia sampai lupa akan kelelahan dan kembali ia berhasil merobohkan dua orang lawan. Namun, pertempuran dengan para pencegat baru ini membuat ia kehilangan waktu dan para pengejar yang semenjak tadi mengikutinya, telah tiba di situ dan sebentar saja Hui Lian sibuk melayani keroyokan belasan orang yang berilmu tinggi.

la masih mencoba untuk mengamuk akan tetapi tenaganya tidak mengijinkan lagi dan lawan terlampau banyak. Sebuah pukulan ruyung mengenai lengan kanannya, membuat pedangnya terlepas di lain saat ia telah kena totokan yang lihai dari belakang sehingga nona gagah ini akhirnya roboh. Di lain saat ia telah dibelenggu kedua tangannya ke belakang dan di pergelangan kaki kanannya dipasangi rantai yang kuat.

Biarpun tubuhnya terasa sakit-sakit namun sebentar saja Hui Lian sudah dapat membebaskan diri dari totokan dan bangkit berdiri. Ia sama sekali tidak sudi memperlihatkan muka menderita atau takut, berdiri tegak dengan gagahnya.

“Aku telah kalah, mau bunuh boleh bunuh" katanya lantang.

"Kau siluman wanita benar-benar membuat kami repot," kata komandan bekas hwesio yang memegang toya. "Hayo ikut kami ke istana, menghadap Hakim Istana."

Akan tetapi pada saat itu, semua busu berdiri tegak memberi hormat dan memandang ke arah sebuah kendaraan yang ditarik oleh empat ekor kuda besar. Kendaraan itu indah sekali dan setibanya di tempat itu, pengendara menghentikan kudanya. Pintu kendaraan terbuka dan dua orang pemuda melompat keluar.

Hui Lian yang semenjak tadi memandang ke arah kendaraan itu, hampir saja mengeluarkan teriakan kaget ketika melihat seorang di antara dua pemuda ini. Pemuda yang turun lebih dulu adalah seorang pemuda berbaju hijau yang berajah tampan dan bersikap gagah.

Usianya paling banyak dua puluh lima tahun, alisnya tebal dan ia memegang sebatang tongkat pendek yang gagangnya diukir kepala ular. Bajunya yang hijau terbuat daripada kain sutera tipis yang berkibar ketika ia menuruni kendaraan sehingga ia benar-benar nampak gagah menarik. Akan tetapi pemuda kedua yang turun kemudian, bahkan melampaui pemuda pertama.

Pemuda yang kedua ini lebih muda, kurang lebih dua puluh tiga tahun usianya, pakaiannya indah sekali, terbuat daripada sutera biru putih, dijahit dengan benang emas, wajahnya tampan sekali dan sikapnya halus. Melihat pemuda ini, Hui Lian benar-benar terkejut karena pemuda itu dikenalnya sebagai... Wan Sin Hong!

Ketika pemuda ini turun, semua busu memberi hormat. Pemuda itu mengangkat tangan dan berkatalah ia dengan suaranya yang halus. "Ada terjadi ribut-ribut apa lagikah ini?"

Kemudian busu bekas hwesio maju selangkah, memberi hormat dan memberi laporan singkat, "Seorang pemberontak memasuki kota raja dan membunuh banyak anggauta siwi. Akhirnya di sini berkat kerja sama, hamba sekalian dapat menawannya hidup-hidup."

"Mana dia?" tanya pemuda tampan ini.

"Inilah orangnya, Siauw-ongya." Kemudian bekas hwesio ini mendorong Hui Lian maju.

Pemuda itu mengerutkan kening. Hui Lian memandang tajam, sinar matanya dingin sekali karena ia mengira bahwa pemuda itu tentulah Wan Sin Hong yang entah dengan cara bagaimana kini dia menduduki pangkat tinggi di kota raja. Akan tetapi, pemuda itu memandang kepadanya seperti orang baru bertemu muka kali ini, dan jelas nampak kekaguman membayang di matanya yang bagus dan agak kebiruan. Kemudian katanya kepada komandan busu itu.

"Kalian ini kerjanya hanya bikin ribut saja dan mencari perkara. Bagaimana seorang nona muda seperti ini kalian katakan pemberontak? Coba ceritakan, bagaimana mula-mulanya" Nada suara yang tIdak senang itu membuat Si Komandan berubah air mukanya.

"Ampun, Siauw-ongya. Gadis ini memang betul pemberontak. Dia puteri dari Hwa I Enghiong Go Ciang Le dan dia pernah mengadakan hubungan dengan Temu Cin!"

Pemuda tampan itu menengok kepada Hui Lian, nampaknya terkejut dan heran, juga tertarik. Kemudian ia bertanya kepada Hui Lian dengan suara halus. "Nona, betulkah kau pernah mengadakan hubungan dengan Temu Cin? Sukakah kau menerangkan hal ini kepadaku?"

Tadinya Hui Lian bersabar dan ingin sekali melihat apa yang akan dilakukan Wan Sin Hong karena ia dapat menduga bahwa pemuda ini pasti akan menolongnya, sungguhpun ia tidak terlalu menghapkan pertolongannya. Akan tetapi ketika mendengar pertanyaan itu, darahnya meluap. Sepasang matanya melotot dan in mendamprat,

"Wan Sin Hong, jangan kau hendak membadut di depanku! Aku sudah tertangkap oleh tikus-tikus istana, hendak…

....Halaman 24-25 hilang lagi nich...

… Mongol yang bertubuh kate. Ketika kami datang, mata-mata itu hendak lari, akan tetapi berhasil hamba tewaskan. Gadis liar ini tidak mau menyerah, melainkan melawan dan menewaskan banyak anak buah hamba. Akhirnya datang kawannya, seorang hwesio yang kosen dan yang dapat pula kami tewaskan itu telah dia membunuh banyak kawan hamba. Gadis ini sendiri baru dapat ditangkap di sini. Mohon petunjuk selanjutnya dari Siauw-ongya."

"Kau lepasken dia!"

Perintah yang sama sekali tak pernah disangka-sangkanya ini membuat komandan itu dan semua busu mengangkat muka terheran-heran, juga penasaran. Gadis itu akhirnya dapat ditangkap dengan susah payah setelah mengorbankan dua puluh lebih anak buah pasukan, bagaimana sekarang disuruh melepaskan lagi?

"Tapi... ampun, Siauw-ongya... tapi… dia pemberontak berbahaya dan... dan…”

"Cukup omong kosong ini. Dia putri Go Ciang Le, bukan berarti dia pemberontak! Apa buktinya dia memberontak? Dia baik-baik melancong ke kota raja, tanpa kesalahan apa apa kau yang terlalu pintar ini sudah mencurigainya. Kemudian kau datang dengan gentong-gentong nasi itu hendak menangkapnya. Dia seorang gadis kang-ouw yang gagah, tentu saja tidak sudi ditangkap. Kemudian kalian mengeroyoknya dan dia melawan sampai ada beberapa orang gentong nasi tewas. Salah siapakah itu? Hm, kalau saja busu-busu istana tidak begitu goblok, menangkap-nangkapi orang tidak berdosa sebaliknya tidak becus menangkap penjahat-penjahat yang sesungguhnya…!" Pangeran Wanyen menarik napas panjang kemudian perintahnya, "Lepaskan dia!"

"Akan tetapi hamba... hamba tidak bertanggung jawab kalau dia mengamuk di kota raja. Siauw-ongya," kata komandan bekas hwesio itu ragu-ragu dan takut.

“Siapa mendengar mulut busukmu? Aku yang menyuruh lepas, aku pula yang tangung jawab! kau ini siapakah berani membantah perintahku? Hm... benar benar tidak beres. Seorang komandan kecil saja sudah mulai berani menentangku."

Komandan itu menjadi pucat dan cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut, "Tidak sama sekali, Siauw-ongya. Mohon ampunkan dosa hamba. Baik, hamba mentaati perintah!" Ia buru-buru berdiri dan dengan tangan-tangan gemetar melepaskan ikatan tangan dan kaki Hui Lian.

"Sekarang pergilah, bawa anak buahmu dan rawat mereka yang luka, urus yang sudah tewas. Selanjutnya, kalau tidak sudah nyata bukti-buktinya, kalian tidak boleh sembarangan menangkap-nangkapi orang.”

Komandan itu memberi hormat, lalu mengundurkan diri bersama anak buahnya sambil menundukkan kepala. Mereka semua berkecil hati karena tadinya mengharapkan pujian dan pahala, tidak tahunya bahkan mendapat celaan dan makian!

Sementara itu, Hui Lian melihat semua peristiwa ini dengan hati tidak karuan. Sudah semenjak kecil ia didongengi ayah bundanya bahwa pemerintah Kin amat jahat, bahwa pembesar-pembesar Kin amat kejam sehingga telah timbul rasa benci di dalam hatinya terhadap Pemerintah Kin, dan karenanya dahulu ia bersimpati terhadap Temu Cin yang bermaksud menumbangkan Pemerintah Kin. Akan tetapi sikap pangeran muda bangsa Kin pangeran yang semuanya serupa benar dengan Wan Sin Hong, hanya warna matanya yang berbeda, membuat ia ragu-ragu. Mata Sin Hong tajam dan maniknya hitam arang, sedangkan mata pangeran ini tajam akan tetapi maniknya agak kebiruan. Alangkah jauh bedanya sikap pangeran ini dengan apa yang ia dengar dari ayah bundanya tentang kekejaman orang-orang bangsa Kin!

Dengan jengah, terpaksa Hui Lian melangkah malu, menjura kepada pangeran Wanyen sambil berkata, "Aku tidak tahu apakah aku harus berterima kasih kepadamu, Siauw-ongya, karena pertolongan dan pembelaanmu tadi benar-benar membuat aku tidak mengerti. Akan tetapi betapapun juga, aku harus minta maaf atas kekasaranku tadi, karena aku tadinya mengira Siauw ongya adalah seorang lain..."

"Dengan Wan Sin Hong? Benar-benarkah dia seperti aku? Orang macam apakah dia? Aku ingin sekali bertemu dengan dia!" kata Pangeran itu dan pandang matanya terhadap Hui Lian membuat gadis ini menundukkan mukanya karena jelas sekali terpancar sinar kagum dan tertarik. Hui Lian tidak mau bicara lebih banyak tentang Wan Sin Hong, dan pada saat itu, pemuda baju hijau berkata, suaranya juga halus dan sopan.

"Go-lihiap, kau menghaturkan terima kasih atau tidak bagi Pangeran Wanyen tidak ada bedanya. Ketahuilah bahwa Pangeran Wanyen adalah satu-satunya orang di kota raja yang boleh kau percaya penuh kemuliaan hatinya yang suka menolong siapa saja yang mengalami kesusahan."

"Aah, Coa-sicu, kau ini bisa saja!"

Pangeran itu mencela, kemudian berkata kepada Hui Lian, "Nona, dia itu berdusta. Sesungguhnya, dialah yang menolongmu. Kalau tidak ada dia yang datang kepadaku, yang menyatakan bahwa kau ini puteri seorang pendekar besar, menyatakan pula bahwa Ibumu adalah Sumoi dari pendekar wanita Thio Ling In isteri dari Pamanku Wanyen Kan, bagaimana aku bisa tahu dan bisa menolongmu? Dan pula, dialah orangnya yang akan mengantarmu keluar dari kota raja agar kau jangan sampai diganggu orang di sini. Maka kalau mau bicara tentang terima kasih, agaknya kepada dia lah kau harus berterima kasih. Nah, selamat jalan, Nona, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik. Coa-sicu, kau antar nona Go keluar dari kota raja dan setelah ia berada dalam keadaan aman betul baru kau kembali ke istanaku memberi laporan."

"Baik Siauw-ongya," jawab pemuda she Coa itu, nampaknya gembira sekali.

Pangeran Wanyen itu naik kembali ke dalam kendaraannya dan Hui Lian mengejar dengan ucapan. "Terima kasih banyak atas budi kebaikan Siauw-ongya."

Pangeran muda itu menengok, tersenyum, lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup pintu kendaraan. Kemudian ia memberi perintah kepada pengendara dan kendaraan itu bergerak maju, ditarik oleh empat ekor kuda yang besar dan kuat.

Pemuda baju hijau itu menjura kepada Hui Lian dan berkata perlahan, "Go lihiap, mari kita berjalan sambil bercakap-cakap. Tidak baik di sini, terlalu diperhatikan orang."

Hui Lian maklum karena memang semenjak tadi, orang-orang menonton dari jauh, tidak berani mendekat Pangeran Wanyen yang di kota raja mempunyai kedudukan tinggi itu. Sambil berjalan pemuda baju hijau itu berkata, sikapnya ramah tamah dan sopan. "Go-lihiap, kau tentu bertanya-tanya di dalam hati siapakah aku ini maka aku berusaha untuk membantumu."

"Memang aku merasa heran sekali dan juga tidak enak hati karena tidak mengenal siapa orang yang sudah berlaku baik kepadaku."

"Aku yang rendah bernama Coa Hong Kin. Suhuku Cam-kauw Sin kai kenal baik dengan Ayahmu."

"Ah, jadi kau murid Cam-kauw Sin-kai? Aku pernah bertemu dengan dia ketika dahulu mengunjungi rumah Ayah." Kata Hui Lian dengan girang karena ia tahu bahwa Cam-kauw Sin-kai adalah seorang pendekar tua yang disukai oleh ayahnya. Kini bertemu dengan muridnya, berarti bertemu dengan orang segolongan.

Coa Hong Kin mengangguk. "Suhu juga banyak bicara dengan aku dan mendongeng tentang Ayah Bundamu, tentang kau dan tentang Sucimu yang bernama Gak Soan Li. Sudah lama sekali aku amat kagum terhadap keluarga Ayahmu. Oleh karena itu, tadi secara tidak mengaja aku mendengar tentang keributan di hotel, tentang seorang nona bernama Go Hui Lian puteri Go Ciang Le yang dikeroyok oleh para busu. Aku tahu apa artinya itu, dan tahu bahwa para busu di sini amat kuat dan berbahaya. Oleh karena itu, aku sengaja pergi mencari dan menarik tangan Pangeran Muda Wanyen untuk menolongmu."

"Kalau begitu betul Pangeran Wanyen," kata Hui Lian sambil tersenyum. "Agaknya aku berhutang terima kasih kepadamu, Saudara Coa."

"Ah, tak perlu sungkan, Nona. Di antara kita, apakah artinya saling bantu? Aku pun di dunia kangouw entah sudah berapa ratus kali dibantu oleh kawan-kawan segolongan."

Jawaban ini menyenangkan hati Hui Lian. Dalam diri Coa Hong Kin ia mendapatkan seorang pemuda yang tidak saja tampan dan gagah, juga amat jujur dan bersikap sederhana sungguhpun pakaiannya rapi dan bersih selalu.

"Amat menarik hatiku untuk mengetahui bagaimana kau bisa kenal begitu baik dengan Pangeran itu, Saudara Coa,” kata Hui Lian.

Coa Hong Kin menghela napas panjang. "Aku pujikan kelak dia yang akan menjadi kaisar. Jika demikian halnya agaknya hidup ini akan banyak senang karena keadilan selalu dikemukakan oleh Kaisar. Dia itu banyak persamaannya dengan Wanyen Kan yang pernah kudengar sifat dan wataknya dari Suhu. Pangeran Wanyen ini bernama Ci Lun, atau panjangnya Wanyen Ci Lun. Dengan Wanyen Kan ia adalah keponakan karena ayahnya yang sudah meninggal adalah kakak dari Wanyen Kan. Seperti juga Wanyen Kan dahulu, Pangeran Wanyen Ci Lun ini tidak bersikap sombong dan suka bergaul dengan rakyat, bahkan amat menyukai kebudayaan rakyat jelata sehingga gerak geriknya tiada ubahnya seperti seorang Han terpelajar. Hanya bedanya, kalau Wanyen Kan dahulu seorang gagah perkasa yang tinggi ilmu silatnya, adalah Wanyen Ci Lun ini tidak pernah mempelajari ilmu silat, hanya ilmu kesusasteraannya amat tinggi. Dia amat mengagumi orang-orang gagah dan banyak membaca cerita tentang orang-orang gagah. Maka tidak heran apabila ia mendengar permintaanku dan cepat-cepat pergi menolongmu. Aku kenal dengan Pangeran Wanyen Ci Lun ketika pada suatu hari ia menyamar sebagai penduduk desa dan keluar dari kota raja, kemudian hampir menjadi korban penjahat karena dikira seorang pemuda kaya raya hendak dirampok. Kebetulan aku melihatnya dan turun tangan mengusir para penjahat itu. Semenjak itu, sudah dua tahun yang lalu, kami bersahabat dan setiap kali aku datang di kota raja, aku pasti berkunjung dan bahkan menginap di gedungnya."

Hui Lian mengangguk-angguk, bukan hanya untuk memuji dan menyatakan kagum kepada Pangeran Wanyen Ci Lun, akan tetapi diam-diam juga lenyap keheranannya tadi ketika melihat persamaan wajah pangeran itu dengan wajah Wan Sin Hong. Ia tahu bahwa Wan Sin Hong adalah putera Thio Ling In dan Wanyen Kan atau Wan Kan, maka antara Sin Hong dan Pangeran Wanyen Ci Lun masih ada pertalian darah, yakni saudara seketurunan Wanyen. Pada hakekatnya she Wanyen. Percakapan mereka tertunda ketika lima orang berpakaian penjaga menyetop mereka dan dengan suara angkuh bertanya,

"Kalian siapa dan hendak ke mana? Beri keterangan jelas, kalau tidak terpaksa kami tahan" kata seorang di antara mereka.

Hong Kin dan Hui Lian maklum bahwa karena peristiwa tadi maka di seluruh kota diadakan penjagaan ketat dan pemeriksaan. Coa Hong Kin dengan tenangnya mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, mendekati kepala penjaga dan memperlihatkan benda itu. Kepala penjaga setelah melihat benda itu lalu berdiri tegak, memberi hormat dan berkata,

"Taijin dan Toanio dipersilakan melanjutkan perjalanan"

Hong Kin tersenyum dan membetot tangan Hui Lian untuk segera pergi. Setelah jauh dari tempat penjagaan, baru ingatlah pemuda itu bahwa ia masih memegangi tangan Hui Lian yang halus kulitnya, maka buru-buru ia melepaskan tangan itu dan wajahnya menjadi merah. Hui Lian sendiri karena tadi melihat perbuatan Hong Kin ini amat wajar dan disangkanya untuk mengelabuhi mata para penjaga tidak keberatan tangannya di betot, maka ia pun tidak merasa apa-apa.

"Saudara Hong Kin, benda apakah yang begitu besar pengaruhnya, sehingga para penjaga itu nampak ketakutan? Mengapa pula kau disebut taijin, pangkat apakah yang kau pegang?"

Hong Kin mengeluarkan benda itu dan memperlihatkannya kepada Hui Lian. Ternyata itu adalah sebuah kancing baju terbuat daripada emas yang diukir merupakan seekor liong melingkari huruf "WANYEN". Pemegang kancing ini berarti seorang kepercayaan dari Pangeran Wanyen Ci Lun, maka penjaga tadi menjadi takut dan tidak berani mengganggu.

"Karena memegang kancing ini aku disangka pembesar dan disebut taijin, benar-benar lucu sekali." Hong Kin tertawa dan Hui Lian juga ikut tertawa.

Diam diam Hui Lian merasa suka kepada pemuda baju hijau yang patut dijadikan sahabat yang baik dan menyenangkan. Beberapa kali mereka ditahan dan dperiksa, akan tetapi selalu kancing wasiat yang dibawa oleh Hong Kin membuka semua jalan dengan lancarnya. Bahkan ketika mereka menghadapi pintu gerbang tembok kota raja yang tertutup kancing itu pun cukup berkuasa untuk membukanya. Dengan lega mereka berdua berlari keluar dari pintu gerbang kota sebelah selatan.

"Saudara Coa, kita sekarang harus lari ke mana?" tanya Hui Lian yang tidak mengenal daerah ini.

"Aku mempunyai kenalan baik, Nona, yakni seorang hwesio yang bernama Hoan Ki Hosiang di kelenteng Kwan te-bio tak jauh dari sini, di luar sebuah kampung. Mari kita pergi dan bermalam di sana. Besok kau baru dapat melanjutkan perjalananmu dan aku harus kembali ke istana." Kalimat terakhir ini keluar dari mulut Hong Kin dengan nada kecewa.

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Memang pemuda ini merasa amat kecewa harus sudah meninggalkan Hui Lian pada esok hari. Biarpun baru saja bertemu dan berkenalan dengan Hui Lian, namun ia amat tertarik dan diam-diam ia telah jatuh hati kepada gadis perkasa ini. Mereka berjalan terus menuju ke kelenteng yang dimaksudkan oleh Hong Kin sambil bercakap-cakap.

"Saudara Hong Kin, sudah lamakah kau berada di kota raja?" tiba tiba Hui Lian bertanya.

"Sudah beberapa bulan, ada apakah?”

"Pernahkah kau mendengar tentang Ayah Bundaku di kota raja? Sebetulnya aku sedang mencari mereka dan kukira tadinya bahwa mereka pergi ke kota raja."

"Orang-orang besar seperti Ayah Bundamu kalau tiba di kota raja siapakah yang takkan tahu? Tidak, Nona. Ayah Bundamu pasti tidak ada di kota raja. Baru kau saja yang datang semua orang sudah mengetahui, apalagi kalau yang datang Ayah Bundamu, pasti timbul kegemparan hebat."

Hong Kin berhenti sebentar, kemudian dia teringat akan penuturan komandan busu di depan Pangeran Wanyen, maka ia lalu bertanya,

"Nona, tentang orang Mongol kate yang dikatakan berada dikamarmu, bagaimanakah persoalannya? Setelah kita menjadi sahabat, kiranya tidak berhalangan kalau aku bertanya tentang ini kepadamu."

“Tentu saja, tidak ada rahasia apa-apa, dan juga dengan orang aneh itu." Hui Lian lalu menuturkan sejujurnya tentang semua yang ia alami di hotel Thian Lok Likoan, bahkan ia menuturkan pula tentang dua orang busu yang mengaku sebagai pejuang rakyat dan yang telah menolongnya pula. Ia menuturkannya dengan kata-kata menyatakan herannya.

"Saudara Hong Kin, baru sehari saja di kota raja aku merasa seperti berada dalam mimpi, berada dalam sebuah tempat yang penuh rahasia dan aneh sekali. Ada mata-mata Mongol, lalu ada busu yang mengaku pejuang rakyat dan membelaku, ada komandan busu gundul dan kemudian muncul orang seperti Pangeran Wanyen yang menolong orang yang dianggap pemberontak, kemudian, aku bertemu pula dengan orang seperti kau ini. Apakah sih artinya semua rahasia di kota raja?"

Hong Kin tersenyum. "Memang membingungkan bagi yang tidak tahu, Nona. Keadaan di kota raja memang rusuh dan menggelisahkan. Memang pada saat ini ada tiga macam pengaruh saling bertentangan di kota raja, bahkan lebih dari tiga karena masing-masing pengaruh terpecah pula menjadi dua golongan. Pertama adalah pengaruh dari Pemerintah Kin sendiri, yakni kaisar yang didukung oleh para pangeran dan mempergunakan pasukan busu yang amat besar untuk melindungi keselamatan keluarga Kaisar. Akan tetapi pihak ini sendiri boleh dibilang terpecah dua karena ada golongan yang mempunyai cita-cita sendiri, yaitu hendak bekerja sama dengan rakyat. Kau tentu dapat menduga bahwa Pangeran Wanyen Ci Lun termasuk golongan ke dua ini. Dia tidak anti Kaisar hanya tidak setuju akan cara kerja Kaisar, tidak mau menindas rakyat bahkan hendak mengambil hati rakyat untuk diajak memperkuat negara!"

Hui Lian mengangguk-angguk. "Sifat yang amat baik. Aku pernah mendengar cerita Ayah tentang Wanyen Kan, demikian sifat pangeran itu dahulu."

Hong Kin melanjutkan penuturannya. "Adapun pengaruh ke dua adalah pengaruh dan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Temu Cin, dan pada waktu ini di kota raja banyak sekali pengikutnya, menyamar sebagai pedagang dan penduduk biasa, bahkan ada yang menyamar sebagai busu, Mata-matanya, tersebar luas dan orang kate yang kaulihat itu adalah seorang di antara mata-matanya. Karena kau pernah ke utara dan bertemu dengan Temu Cin, mendapat penghargaan pemimpin Mongol itu seperi yang kauceritakan tadi. Maka tentu saja mata-mata Mongol menaruh hormat dan suka membelamu."

"Temu Cin memang lihai sekali, dia patut menjadi pemimpin besar." Hui Lian memberi komentar. "Kedudukan Pemerintah Kin tentu terancam oleh munculnya pemimpin ini."

"Memang demikianlah." Hong Kin membenarkan. "Kemudian pengaruh yang ketiga, yakni terdiri daripada penyelidik-penyelidik dan mata-mata para pejuang rakyat yang semenjak dahulu tiada hentinya mengadakan pemberontakan menentang kekuasaan Pemerintah Kin Dan pengaruh inilah yang terpecah- pecah, sebagian adalah yang bercita cita sendiri menggulingkan kekuasaan Pemerintah Kin, ada pula yang hendak bersekongkol dengan orang-orang Mongol dalam menentang Pemerintah Kin, ada pula yang sebaliknya, yakni mau bersekongkol dengan Pemerintah Kin untuk menentang ancaman orang-orang Mongol. Pendeknya, di kota raja terjadi pertentangan-pertentangan yang ruwet dan yang amat merugikan saja."

"Hm, memang enak sekali bagi orang- orang jahat untuk memancing di air keruh," kata Hui Lian.

Hong Kin memandang kagum. "Ternyata kau cerdik sekali dan mengerti hal yang demikian ruwetnya dengan menangkap inti sarinya. Memang demikianlah Nona. Pertentangan-pertentangan yang ruwet itu dijadikan kesempatan luas sekali oleh orang-orang bermoral bejat untuk menggaruk keuntungan sebesar-besarnya, mengadu domba sana sini dan memeras mereka yang lemah."

Sementara itu, bulan telah muncul tinggi. Kebetulan sekali bulan purnama, maka keadaan menjadi indah menimbulkan kegembiraan, dan hawanya sejuk sekali.

"Mari kita mempercepat perjalanan. Kelenteng Kwan-te-bio sudah dekat. Paling jauh lima li lagi," kata Hong Kin.

"Ssst, ada suara derap banyak kuda dari belakang!" Hui Lian berkata, Hong Kin yang kalah tajam pendengarannya, menghentikan tindakan kakinya. Setelah menyatukan perhatiannya, ia pun mendengar pula derap kaki kuda itu, bahkan telinganya yang sudah berpengalaman dapat menduga bahwa yang datang itu sedikitnya ada dua puluh ekor kuda.

"Celaka, kita dikejar juga!" katanya. "Lebih baik kita lari sebelum tersusul."

Hui Lian menggelengkan kepalanya. "Apa gunanya? Kalau betul mereka yang mengejar, biarpun kita lari akhirnya akan tersusul juga. Bagaimana kita dapat mengadu kekuatan berlari dengan kuda pilihan? Tidak, Saudara Coa. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan seperti tadi. Kalau sampai tersusul dan mereka menyerang, kita lawan sedapatnya. Dan lagi, belum tentu mereka itu adalah para busu yang mengejar kita."

Hong Kin tidak membantah lebih lanjut karena ia tidak suka kalau nona ini akan menganggapnya pengecut. Dua orang muda ini melanjutkan perjalan seperti tadi dengan tenang. Suara derap kaki kuda makin lama makin jelas dan tak lama kemudian muncullah serombongan orang menunggang kuda dengan cepat, Hong Kin dan Hui Lian berdiri di pinggir jalan dan dua puluh lebih penunggang kuda itu lewat dengan cepat.

Hong Kin sudah menarik napas lega karena kecepatan kuda itu tidak memungkinkan mata mengenal mereka dan melihat mereka lewat tanpa menoleh, besar harapannya bahwa mereka memang bukan para busu yang mengejar. Akan tetapi tiba-tiba penunggang kuda yang paling belakang berseru.

"Ini mereka! Berhenti...!"

Serentak mereka menahan kendali kuda dan debu mengepul tinggi. Di lain saat para penunggang kuda sudah memutar kepala kuda dan seorang yang bertubuh tinggi akan tetapi punggungnya bongkok, duduknya di atas kuda miring tak seperti layaknya orang menunggang kuda, menggerakkan kuda dan maju menghadapi Hong Kin dan Hui Lian.

"Nona, dia itu adalah kepala busu kaisar, bernama Liok-te Mo-ong Wie It." Hong Kin berbisik kepada Hui Lian, suaranya menyatakan kekhawatiran besar. Pemuda ini tidak takut dan tidak mengkhawatirkan keselamatan diri sendiri, akan tetapi ia benar-benar khawatir akan keselamatan nona yang telah merampas hatinya itu.

Hui Lian memandang, ingin sekali tahu bagaimana macamnya orang memakai julukan Liok-te Mo-ong (Raja Iblis Bumi) itu. Ternyata orangnya tidak sehebat nananya, bahkan melihat orangnya, menimbulkan kesan bahwa orang itu adalah seorang sarang penyakit yang sudah mendekati lubang kubur. Tubuhnya tinggi sekali, punggungnya bongkok seperti tongak patah, kepalanya yang tertutup topi seperti komandan-komandan busu lain nampak benjol-benjol, hidungnya melenceng ke kiri dan sepasang matanya juling.

Hanya pakaiannya yang berharga karena memakai pakaian indah dan lebih gagah daripada pemimpin-pemimpin pasukan busu lainnya. Ini tidak mengherankan oleh karena dia adalah kepala busu di istana, orang yang menjadi pelindung Kaisar dan pengaruh serta kekuasaannya amat besar.

Di pinggang kiri tergantung sebatang pedang yang sarungnya indah sekali, inilah pedang pemberian Kaisar dan yang lucu sekali di pinggang depan terselip sebatang suling. Diam-diam Hui Lian merasa geli dan bertanya-tanya apakah orang macam ini bisa meniup suling dan berlagu? Apalagi kalau melihat cara orang itu menunggang kuda benar-benar menggelikan. Duduknya miring dengan kedua kaki ke samping kiri seperti cara puteri-puteri harus menunringgang kuda!

"Hm, kau inikah yang bernama Hui Lian puteri Go Ciang Le?" kata Iblis Bumi ini mengeluarkan suaranya yang tinggi kecil dan parau, buruk sekali seperti orangnya.

Hui Lian tidak dapat menahan geli hatinya dan ia tersenyum. Memang lucu sekali orang ini. Mukanya menghadap ke lain jurusan, akan tetapi dia yang ditanyainya padahal matanya juga diarahkan ke jurusan lain. Ini disebabkan karena kejulingan mata busu ini memang agak berat sehingga kalau mukanya menoleh ke kiri, yang dipandang adalah sebelah kanam. Dan ini pula yang membuat ilmu silatnya lebih berbahaya karena lawan yang bertempur menghadapinya seringkali menjadi bingung!

"Akulah Go Hui Lian, kau ini siapa mau apa datang-datang menyebut namaku dan nama Ayahku?"

Orang itu masih menengok ke lain jurusan dan Hui Lian sendiri tidak tahu bahwa sebetulnya sepasang mata yang juling itu langsung menatap wajahnya. Tiba-tiba orang itu berkata, "Kau harus ikut dengan kami ke istana!" Dan tangan kanan diulur ke depan, lima jari tangan yang bengkok-bengkok menyambar ke arah pundak Hui Lian!

Gadis itu kaget sekali. Tak pernah disangka-sangkanya bahwa orang aneh itu akan menyerangnya demikian cepat. Bagaimana orang dapat menyerang tanpa memandang. Orang itu masih menengok ke lain jurusan, bagaimana bisa menyerangnya begitu cepat dan tepat. Akan tetapi ia tidak mempunyai waktu untuk mengherankan hal itu. Cepat ia mengelak ke belakang. Akan tetapi, tetap saja pundaknya kena dicengkeram oleh jari-jari tangan itu.

Hui Lian mengeluarkan seruan kaget cepat mengerahkan lweekangnya mempergunakan Ilmu Sia-kut-hoat menggerakkan pundak secara berputar hingga ia dapat membebaskan diri dari cengkeraman itu. Akan tetapi terdengar suara kain pecah karena pakaian di bagian pundaknya robek dan hancur!

Hui Lian benar-benat terkejut sekali. Tadi ia telah mengelak dan menurut perhitungan, tak mungkin orang itu dapat mengulur tangan sampai dipundaknya. Jarak antara orang itu di atas kuda dan dia terlampau jauh. Betapapun panjang lengan orang itu, kiranya tidak mungkin dapat mencapai pundaknya.

Kemudian ia teringat akan penuturan ayahnya bahwa dunia kang-ouw memang ada ilmu semacam Jiu-kut-kang, yakni ilmu melepas dan melemaskan tulang dan urat sehingga lengan tangan kalau dipergunakan dapat diulur sampai melebihi ukuran panjang yang semestinya, bahkan yang sudah ahli betul dapat memperpanjang ukuran lengannya sampaI dua kali! Kiranya manusia seperti setan ini memiliki ilmu semacam itu, pikir Hut Lian. Dengan marah ia lalu mencabut pedangnya, siap untuk melawan.

Akan tetapi Hong Kin mendahuluinya. Pemuda ini melompat maju dan berdiri di depan Hui Lian sambil berkata, "Nanti dulu, Lo-ciangkun. Nona Go ini bukan musuh lagi, dia sudah dibebaskan oleh Wanyen Siauw-ongya dan dianggap tidak berdosa. Bahkan Siauw-ongya menitahkan kepadaku untuk mengantar Nona Go keluar dari kota raja. Mengapa sekarang Lo-ciangkun menyusul dan hendak menangkapnya?"

We It kini menengok ke arah Hui Lian, akan tetapi ia bicara kepada Hong Kin dengan suara dan gaya memandang rendah, "Kau ini siapakah?"

"Sudah kukatakan tadi, aku Go Hui Lian. Mengapa tanya-tanya lagi?" jawab Hui Lian dengan mendongkol. Ia sudah diserang sampai pakaiannya di bagian pundak robek, kini baru dipandang dan ditanya nama, sungguh ia merasa dipermainkan.

Akan tetapi ada kejadian yang amat lucu. Wie It tetap memandang ke Hui Lian, akan tetapi mulutnya bertanya dengan nada tak sabar. "Aku tak tanya kepadamu! Hei kau baju hijau, siapakah kau berani menghalangi niatku?"

Hui Lian tercengang, kemudian setelah ia memandang dengan penuh perhatian, hampir meledak suara ketawanya. Kini baru ia sadar dan tahu bahwa sebetulnya biarpun muka dan mata orang aneh itu ditujukan kepadanya, orang ini bukan sedang memandangnya, melainkan memandang kepada Hong Kin!

"Lo-ciangkun, siauwte adalah sahabat baik dari Wanyen Siauw-ongya." Sambil berkata demikian Hong Kin mengeluarkan kancing emas yang tadi telah dijadikan barang wasiat dan pelindung.

"Hmm, Wanyen Siauw-ongya masih terlalu muda maka amat sembrono," katanya dengan suara di hidung. “Bagaimanapun juga gadis ini harus kutawan dan kubawa ke istana!"

"Lo-ciangkun, apakah kau tidak memandang kepada kancing baju Wanyen Siauw-ongya?"

"Tidak peduli, aku melakukan tugasku." Kembali tubuhnya bergerak dan targannya diulur, akan tetapi kini Hui Lian sudah bersiap sedia sehingga ia melompat mundur sambil mengibaskan pedangnya.

"Lo-ciangkun terpaksa aku harus melindunginya. Aku sudah menerima perintah dari Wanyen Siauw-ongya untuk melindungi Nona ini, biarpun harus berkorban nyawa, aku harus setia dan taat akan perintah itu!" Sambil berkata demikian Hong Kin sudah mencabut tongkat pendeknya dari ikat pinggang dan berdiri dengan sikap menantang.

"Ho-ho-ho-ho, kau berani melawan kami?" tanya Wie It dengan muka menghadapi Hui Lian.

"Siapa takut kepadamu, setan?" Hui Lian mendamprat karena lagi-lagi ia mengira bahwa Wie It bicara kepadanya.

"Bocah lancang, aku tidak bicara padamu!" Wie It membentak sambil menoleh kepada Hong Kin. "Aku bicara dengan pemuda ini" Kembali ia menoleh kepada Hui Lian dan melanjutkan pertanyaannya. "Benar-benarkah kau berani melawan kami?"

Memang amat membingungkan bagi yang belum biasa. Kalau Wie It menoleh kepada Hong Kin berarti dia bicara kepada Hui Lian dan demikian sebaliknya. Julingnya memang terlalu sekali dan suka menipu orang sehingga Hui Lian yang terkenal cerdik sampai kecele dua kali!

“Lo-ciangkun, aku harus melindungi gadis ini sebagai pelaksanaan tugas yang diperintahkan oleh Wanyen Siauw-ongya, dan untuk melaksanakan perintah itu aku tidak bisa memandang siapa-siapa," jawab Hong Kin.

"Ha, ha, ho, ho, kau seperti anak domba menantang harimau. Kau murid siapakah?" tanya Wie It dengan lagak sombong.

"Cam-kauw Sin-kai adalah suhuku yang mulia," jawab Hong Kin.

"Aha, pantas, pantas! Pantas kau begini besar hati dan tabah, tidak tahunya murid Pengemis Pembunuh Anjing itu." Memang nama julukan Cam-kauw Sin-kai berarti Pengemis Sakti Pembunuh Anjing maka Wie It berkata demikian. Kemudian kepala busu istana ini menoleh kepada perwira busu yang duduk di atas kuda di sebelah kirinya. "Bu Tong kau wakili aku mendorong pergi bocah ini!"

Busu yang berada di sebelah kirinya diam saja, akan tetapi yang berada di sebelah kanannya yang menjawab,

"Wie-tai-ciangkun, manusia macam ini saja mengapa mesti aku sendiri yang turun tangan? Kalau harus menangkap nona she Go itu baru pantas namanya. Untuk bocah sombong murid jembel ini kiranya cukup pembantuku yang turun tangan!"

Ia lalu memberi isyarat ke belakang dan majulah seorang busu yang pendek gemuk seperti gentong arak. Busu yang bernama Bu Tong itu memang memandang rendah kepada Hong Kin karena belum mengenal pemuda ini, sedangkan ia merasa lebih patut melawan Hui Lian, pertama karena memang ia sudah mendengar akan kelihatan nona ini, ke dua karena ia merasa lebih suka kalau ditugaskan menangkap Hui Lian daripada melawan pemuda yang memegang tongkat pendek itu.

"Sesukamulah, akan tetapi hati-hati dia murid Cam-kauw Sin-kai, gurunya lihai," kata Liok-te Mo-ong Wie It.

Busu yang pendek gemuk itu melompat turun dari kudanya dan di lain saat ia telah "menggelundung" ke depan Hong Kin. Kedua kakinya pendek, gerakannya gesit sehingga saking gemuk dan pendeknya ia kelihatan tidak berjalan, melainkan menggelundung. Seperti tukang sulap saja, tahu-tahu ia pun sudah memegang sebatang toya yang tingginya melebihi kepalanya. Ia berdiri dengan tangan kiri di pinggang, tangan kanan memegang toya, matanya yang sipit berkedip-kedip memandang Hong Kin, mulutnya tak dapat tertutup rapat dan melongo seperti sumur.

Hui Lian tak dapat menahan ketawanya, "Saudara Hong Kin, awas, lawanmu seekor katak."

Biarpun menghadapi ketegangan, mendengar ini Hong Kin ketawa juga. “Nona jangan memandang ringan, dia ini biarpun kelihatan seperti seorang bayi gemuk, akan tetapi ilmu toyanya terkenal di kota raja."

Kemudian Hong Kin menghadapi lawannya dan berkata. "Ciangkun, bukankah kau yang bernama Wong Sit dan berjuluk Kauw-ce-thian?" Julukan ini diberikan orang kepadanya karena kelihaian toyanya, karena Kauw-ce-thian Si Raja Monyet juga sakti karena toyanya yang bernama Kim kauw-pang.

"Bet-bet-betul...! Akulah Kim-Kauw ce-thian Wong Sss...Sit! He, bocah she Coa, sss... sebelum ku-ku kuhancurkan kepalamu, lebih ba-ba-ba-baik kau serah kan n-n-nona itu ke-ke-kepadaku!"

Hui Lian tertawa cekikikan sambil menutupi mulutnya. Benar-benar banyak busu yang lucu di istana, seperti sekumpulan badut. Yang tinggi bongkok dan juling itu sudah aneh dan lucu, sekarang muncul busu seperti katak yang bicaranya gagap tidak karuan.

"Saudara Hong Kin, ini Kauw-ce-thian model mana? Dia tidak patut berjuluk Raja Monyet, lebih tepat diberi julukan Siluman katak, atau kalau mau mengambil julukan tokoh di dalam cerita See-yu, dia ini lebih tepat menjadi Ti Pat Kai-nya!"

Hong Kin tertawa lagi. Tak disangkanya nona ini demikian jenaka dan pandai bicara. Akan tetapi Kauw-ce-thi Wong Sit sudah merah mukanya dan marah sekali.

"Li-li-lihat to-toya!" serunya dan cepat ia menggerakkan toyanya yang panjang melakukan serangan ke arah dada Hong Kin. Benar saja, biarpun orangnya tidak seberapa, namun setelah ia menyerang, toyanya bergerak cepat dan dari pukulan senjata itu dapat diketahui bahwa ia bertenaga besar.

Hong Kin tidak berani berlaku lambat. Cepat ia melangkah mundur sambil menggerakkan tongkatnya untuk menangkis dan di lain saat mereka sudah bertanding ramai. Cam-kauw Sin-kai adalah seorang tokoh besar kang ouw dan ia amat terkebal dengan ilmu tongkatnya yang diciptakannya sendiri. Ilmu Tongkat ini disebut Cam-kauw-tung-hwat (Ilmu Tongkat Pembunuh Anjing) dan saking terkenalnya ilmu tongkat ini, maka ia amat disegani orang-orang kang-ouw.

Seperti pernah dituturkan dibagian depan, Cam-kauw Sin-kai mempunyai dua orang murid, yang pertama Ah Kai pengemis gagu yang telah tewas di Pulau Kim-ke-tho ketika keluarga See-thian Tok-ong ngamuk di sana. Adapun murid kedua adalah Coa Hong Kin yang menjadi muridnya semenjak pemuda ini masih kecil. Oleh karena itu, dibandingkan dengan Ah Kai kepandaian Hong Kin lebih masak dan lebih tinggi. Apalagi pemuda semenjak kecil sudah banyak merantau banyak mengalami pertempuran besar melawan penjahat-penjahat lihai sehingga makin bertambahlah kepandaiannya.

Menghadapi Wong Sit yang juga bukan orang lemah, Hong Kin segera mengeluarkan kepandaiannya, yakni Ilmu Tongkat Cam-kauw-tung-hoat. Ke mana pun juga toya panjang di tangan Wong Sit bergerak dengan cepat dan kuatnya, selalu toya ini bertemu dengan tongkat kecil yang seakan-akan berubah menjadi puluhan batang banyaknya dan berada di mana-mana menghalangi majunya toya. Juga anehnya, biarpun amat kecil, namun setiap kali toya terbentur oleh tongkat kecil ini, bukan tongkat itu terpental, sebaliknya toya yang besar panjang itulah yang terbentur dan membalik. Dari sini saja sudah dapat diukur kepandaian dan tenaga Hong Kin jauh lebih unggul.

Pada jurus ke dua puluh, ketika Wong Sit menusukkan toyanya ke arah perut Hong Kin, pemuda ini miringkan tubuhnya dan secepat kilat ia memegang ujung toya lawan. Karena toya itu panjang sekali, maka sukar baginya untuk membalas serangan lawan yang berada di ujung toya. Keduanya saling betot berebut toya, Hong Kin menyelipkan tongkatnya di pinggang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan tetap memegangi ujung toya lawan. Biarpun Wong Sit mengerahkan tenaga membetot, mendorong, memutar, tetap saja ia tak dapat merampas kembali toyanya yang bagaikan berakar di tangan kanan Hong Kin.

Setelah menyimpan tongkatnya, Hong Kin memegang toya itu dengan kedua tangan, mengerahkan tenaga, berseru, “Naik!" sambil menggunakan lweekangnya dan... tubuh Wong Sit di ujung sana terangkat ke atas! Di lain saat Hong Kin sudah memegang toya itu dengan tubuh Wong Sit di atas toya, persis seperti orang bermain liong. Hong Kin memutar mutar toya dan Wong Sit berteriak-teriak ketakutan.

"Le le lepaskan... kau se-se-setan... lepaskan! Aduh... aku bis-bis-bisa jatuh...!"

Kembali Hong Kin mengerahkan tenaga dan tubuh yang bundar bentuknya melayang ke depan dan... menyangkut ke ranting-ranting pohon yang lebat daunnya. Di sana Si Kauw-ce-thian benar- benar menjadi monyet, akan tetapi monyet yang amat aneh karena ia berteriak-teriak minta tolong. Mana ada monyet ketakutan berada di atas pohon. Kawan-kawannya segera lari mendatangi untuk menolongnya. Adapun Hong Kin lalu melemparkan toya itu ke atas tanah.

Bu Tong, busu perwira pembantu Wie It, marah bukan main melihat kelakuan pembantunya yang memalukan tadi. Ia melompat turun dari atas kudanya dengan gerakan yang ringan sekali. Amat mengherankan kalau melihat betapa busu yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa ini dapat bergerak sedemikian cepat dan ringan seperti seekor kucing!

Memang Bu Tong adalah busu pilihan yang memiliki kepandaian tinggi. Dia adalah seorang panglima bangsa Kin yang sudah banyak jasanya dalam menjaga dan melindungi istana Kaisar. Bahkan ayahnya dahulu bersama dengan Liok-te Mo-ong Wie It merupakan panglima-panglima pilihan dalam balatentara Kin.

Tadinya memandang rendah kepada Coa Hong Kin, akan tetapi ia kecele dan bahkan ia mendapat malu besar karena orangnya dipermainkan oleh pemuda itu. Dengan marah ia melompat dan mencabut senjatanya, sebatang golok besar yang nampaknya berat. Akan tetapi sebelum ia bergerak, Liok-te Mo-ong Wie It juga melompat turun dan atas kudanya dan berkata,

"Bu Tong, kau boleh tahan dia, akan tetapi jangan bunuh dia. Tidak enak kalau kita membunuh orangnya Pangeran Wanyen. Jaga saja supaya dia tidak rewel, kalau perlu boleh lukai dia asal tidak sampai mampus. Biar aku sendiri menangkap Nona kepala batu ini!"

Setelah berkata demikian Wie It lalu mencabut keluar suling yang tadi terselip di ikat pinggangnya, lalu menghampiri Hui Lian sambil berkata, "Nona Go Hui Lian, kau masih begini muda sudah keras kepala dan jangan kau mengira bahwa di dunia ini tak ada orang lain yang dapat mengalahkanmu. Lebih baik sekarang kau menurut dan menyerah saja kubawa ke istana, agar aku tidak usah menurunkan tangan keras kepadamu."

Thanks for reading Pedang Penakluk Iblis Jilid 23 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »