Pedang Penakluk Iblis Jilid 17

Pedang Penakluk Iblis Jilid 17

GADIS itu memandang ke depan dan terheran. Benar saja, dari jauh datang lima orang penunggang kuda. Bagaimana pemuda ini bisa tahu akan kedatangan mereka itu? Kalau dia sendiri telah memiliki sepasang mata terlatih dan juga ia duduk di pundak itu sehingga ia menjadi lebih tinggi. Akan tetapi bagaimana pemuda ini bisa mengetahui dulu akan kedatangan lima orang itu.

"Eh, benar ada lima orang penunggang kuda datang dari depan. Akan tetapi bagaimana kau bisa tahu, Lam-ko?"

Memang sebetulnya, tadi Sin Hong bukan secara kebetulan saja menyatakan bahwa ada orang datang dari depan. Memang pemuda ini telah memiliki penglihatan dan pendengaran yang lebih tajam daripada Soan Li, maka sebelum gadis itu melihat atau mendengar, ia lebih dulu telah mendengar derap kaki kuda dan melihat bayangan lima titik depan. Kini ia terkejut dan menyesal sekali. Otaknya yang cerdik diputar dan sebentar saja sambil tersenyum ia sudah menjawab senang.

"Mudah saja, Gak-siocia. Dan jauh mereka memang tidak tampak olehku akan tetapi debu yang mengepul itu sudah kelihatan dari jauh. Debu yang mengepul di atas jalan raya, sudah pasti disebabkan oleh orang bukan oleh kerbau."

Soan Li tersenyum. Mengapa ia begitu bodoh? Memang alasan ini kuat sekali Di belakang lima ekor kuda itu memang debu mengepul tinggi sehingga mudah di lihat dari jauh.

"Kau memang pandai, Lam-ko."

"Bukan pandai, hanya sudah biasa dengan kehidupan di tempat sunyi, Nona.”

Sementara itu, lima orang penunggang kuda itu sudah tiba dekat dan mereka itu ternyata lima orang laki-laki. Han Sin Hong berdebar ketika inelihat bahwa dua orang di:antara mereka adalah dua orang pengemis yang pundaknya terkena totokan sepasang sumpit yang dilemparkan oleh Soan Li di kelenteng tadi pagi. Hmm, agaknya akan terjadi hal-hal tidak enak, pikirnya. Apalagi kalau ia lihat tiga orang lainnya yang kelihatannya bukan orang sembarangan.

Yang dua orang adalah orang-orang setengah tua dengan pakaian piauwsu (pengawal barang kiriman), dan mereka ini kelihatan sebagai ahli-ahli lweekeh karena sepasang mata kedua orang ini berkilat-kilat dan berpengaruh. Akan tetapi yang lebih niengkhatirkan hati Sin Hong adalah orang ketiga yakni seorang gundul yang seperti hwesio, akan tetapi mukanya memperlihatkan sifat jahat, sama sekali tidak patut seorang pertapa, apalagi tubuhnya tinggi besar dan nampakm ia kuat bukan main, sungguhpun usianya sudah amat tua.

Lima orang itu menghentikan kuda mereka dan dua orang yang berpakaian seperti piauwsu itu tertawa bergelak ketika melihat Sin Hong dan Soan Li. Telunjuk mereka menuding ke arah Sin Hong dan mereka tertawa geli sampai memegang perut.

"Eh, kalian ini kenapa tertawa? Apa sih yang lucu?" Sin Hong menegur karena ia mendongkol sekali. ia dapat menduga bahwa tentu dia yang ditertawai karena dia memanggul tubuh Gak Soan Li

"Ayaa...!" seorang di antara dua piauwsu itu berpura-pura kaget untuk melawak, "Kiranya kuda berkaki dua ini masih pandai bicara segala! He, kuda kaki dua, kau setiap hari makan rumput ataukah...?"

Baru saja ia bicara sampai di sini, piauwsu ini melompat kaget dari kudanya yang meringkik dan mengangkat kedua kaki depan, lalu meronta-ronta dan hendak minggat. Akan tetapi, sekali menepuk pundak kuda itu dengan tangannya, piauwsu tadi dapat membuat kuda itu tidak berdaya dan lemas!

Kemudian piauwsu ini dengan muka berubah mencabut sebatang jarum halus dari leher kudanya dan memandang ke arah Soan Li dengan muka merah. Memang, ketika tadi ia mengganggu Sin Hong, Soan Li marah sekali dan sekali tangan kirinya bergerak, dua batang jarum menyambar ke arah depan, yang sebatang menyambar muka piauwsu yang baru bicara mengejek Sin Hong, sedangkan jarum ke dua menyambar leher kudanya.

Piouwsu tadi memang lihai. ia dapat mendengar datangnya jarum dan dapat cepat mengelak akan tetapi kudanya menjadi korban. Baiknya ia memang berkepandaian tinggi sehingga ia dapat membikin kudanya tak berdaya sebelum kuda itu melarikan diri dan dapat mencabut jarum yang menancap di leher kudanya.

Melihat ini, diam-diam Soan Li mengeluh. Ia menghadapi lawan yang tangguh. Tentu saja ia tidak akan gentar menghadapi mereka ini kalau kedua kakinya dapat digerakkan. Akan tetapi dengan duduk di atas pundak Gong Lam, ia dapat berbuat apakah?

"Inikah murid Hwa I Enghiong yang kalian maksudkan?" tanya piauwsu kedua yang lebih tua kepada dua orang pengemis di sampingnya. Dua orang pengemis itu mengangguk. Piauwsu itu lalu mengangkat kedua tangan memberi hormat kepada Soan Li.

"Benar-benar murid Hwa I Enghiong hebat sekali. Tidak saja kepandaiannya tinggi, akan tetapi juga memilikt keberanian yang luar biasa pula. Sayangnva. kepandaian yang tinggi itu dipergunakan untuk menghina dan merendahkan orang lain. Sampai-sampai memaksa seorang pemuda tampan menjadi kudanya. Ilmu... memalukan benar!"

"Hei tutup mulutmu. kau kambing busuk! Aku memanggul Nona ini atas kehendakku sendiri, secara suka rela sama sekali tidak dipaksa! Juga aku bukan kuda, kau tahu? Enak saja kau bicara!"

Sin Hong memaki-maki marah sambil tangannya menuding-nuding ke arah piauwsu itu yang memang memiliki jenggot panjang meruncing seperti jenggot kambing. Pada saat itu, Soan Li juga sudah menggerakkan tangannya mengirim tiga batang jarum ke arah piauwsu itu. Piauwsu itu dengan senyum mengejek mengibaskan lengan bajunya untuk menyampok runtuh tiga batang jarum tadi. Akan tetapi tiba-tiba ia menjerit dan lengannya yang dipergunakan menyampok jarum-jarum tadi berdarah!

Ketika ia melihat ternyata bahwa dua batang di antara jarum-jarum itu biarpun menancap pada kulit lengannya, biarpun tidak begitu dalam, lengannya berdarah dan perih. I benar-benar merasa heran karena tadi ia sudah mempergunakan tenaga lweekang untuk menyampok jarum-jurum itu, mengapa tiba-tiba tenaganya lenyap sebagian besar sehingga jarum-jarum itu masih mengenai lengannya?

Tentu saja tak seorang pun menduga bahwa ini adalah disebabkan oleh kedua telunjuk tangan Sin Hong yang digerak-gerakkan menuding ke arah piauwsu itu ketika ia memaki-maki. Dari telunjuknya keluar hawa sinkang yang secara aneh telah dapat memukul piauwsu itu sehingga ketika piauwsu itu mengibaskan lengannya, tenaga lweekangnya lenyap terpukul oleh sinkang dari kedua telunjuk Sin Hong yang digerakkan! Bagi piauwsu itu, tentu mengira bahwa Soan Li memang memiliki kepandaian yang amat tinggi, maka ia tidak berani banyak cakap dan mukanya berubah.

Sebaliknya Soan Li mengira bahwa piauwsu ini kepandaiannya tidak berapa hebat. Ia lalu berkata dengan suara nyaring, "Aku Gak Soan Li selama hidupku belum pernah bertemu dengan kalian, mengapa kalian mengambil sikap bermusuhan? Memang betul bahwa aku adalah murid Suhu Go Ciang Le, habis kalian mau apakah?"

Dua orang pengemis itu sudah tahu akan kepandaian Soan Li, maka mereka tidak berani banyak bicara. Adapun dua orang piauwsu itu kini berpaling kepada hwesio tinggi besar tadi, seakan akan minta keputusan. Hwesio tinggi besar itu membuka mulut dan suaranya terdengar seperti desis ular ketika ia berkata, "Kalian turun tangan dan coba tangkap dia!"

"Baik, Suhu!" Dua orang piauwsu itu berkata girang, lalu keduanya melompat turun dari kudanya dan bersama piauwsu pertama melangkah maju menghadapi Soan l.i yang masih duduk di pundak Sin Hong.

"Nona Gak yang baik, kami adalah Po An Ci-heng-te (Kakak Beradik she Ci dari Po An) yang menjadi piauwsu di Po An. Tentunya kau sudah pernah mendengar nama kami berdua..."

"Eh, eh, kalian ini mau jual obat atau mau main wayang? Mau bicara lekas bicara ada keperluan apa pakai memperkenalkan nama segala! Mana Nona Gak mengenal manusia-manusia seperti kalian?" Sin Hong membentak marah. ia merasa sebal sekali melihat lagak dua orang piauwsu yang sombong itu.

Soan Li menekan pundaknya memberi tanda agar pemuda ini jangan naik darah karena gadis itu tidak berani bersikap sembrono. Ia maklum bahwa kalau dua orang muridnya saja sudah setangguh ini, apalagi hwesio tinggi besar itu, tentu memiliki kepandaian tinggi sekali.

"Kahan mau apakah?" tanyanya.

"Kau sudah mendengar sendiri bahwa Suhu menyuruh kami menawanmu, Nona. Kami merasa sayang untuk membikin kau lelah, juga tidak tega membiarkan kau terluka. Oleh karena itu lebih baik Nona menyerah saja tanpa perlawanan dan menurut saja kami tawan untuk memenuhi perintah Suhu."

"Manusia-manusia rendah, siapa sudi mendengar omonganmu?" bentak Soa Li dan kembali kedua tangannya bergerak. Empat batang jarum yang sudah disiapkan menyambar ke arah dua orang piauwsu itu. Akan tetapi kini kedua Ciheng-te itu sudah siap sedia, maka dengan mudah mereka dapat mengelak.

"Gadis keji, kau memang tidak patut dikasihani!" seru dua orang piauwsu itu yang mulai mendesak maju dengan sikap mengancam sekali.

"Lam-ko, ulur kedua lenganmu, biar, aku duduk di atas kedua lenganmu untuk melawan mereka!" kata Soan Li cepat.

Sin Hong maklum akan maksud gadis itu dan ia kagum atas ketabahan hati Soan Li. Segera ia melonjorkan kedua lengannya ke depan dengan kedua siku mepet pinggang. Soan Li lalu bergerak dan tubuhnya meluncur turun dari pundak ke atas lengan itu. ia duduk di atas kedua lengan Sin Hong seperti orang duduk di atas kursi. Tentu saja ia mempergunakan ginkangnya sebaik mungkin agar tubuhnya tidak terlalu memberatkan pemuda yang menyangganya. Diam-diam Sin Hong mengeluh. Kalau Soan Li terlalu mengerahkan tenaga untuk meringankan tubuh, tentu ia kurang kuat menghadapi lawan-lawannya. Bagi dia tentu saja tidak terasa berat, biarpun andaikata ditambah lagi dengan lima orang Soan Li menindih kedua lengannya.

Di lain pihak, Ci Kong dan Ci Kwan, dua kakak beradik dari Po An itu, memandang heran dan ragu-ragu untuk turun tangan. Apakah gadis ini main-main ataukah memang sudah gila? Mana ada orang berkelahi dengan cara macam itu?

"Nona, jangan kau main gila. Turunlah, mari kita bertempur sampai seribu jurus!" kata Ci Kwan.

Tangan Soan Li bergerak dan pedangnya sudah berada di tangan kanan. "Tikus sawah, kalau kalian ada kepandiaan, majulah jangan banyak cerewet,” jawab Soan Li.

Ci Kong dan Ci Kwan marah sekali. Mereka merasa dipandang rendah oleh gadis ini. Dengan garang mereka lalu mencabut senjata mereka, yakni sebatang golok besar yang tergantung di pinggang.

"Kwan-te (Adik Kwan), kautusuk mampus kuda kaki dua itu, biar aku yang menawan Nona ini!" kata Ci Kong kepada adiknya. Kemudian mereka serentak maju menyerang. Ci Kwan menggunakan goloknya untuk menyerang lambung Sin Hong dan samping, sedangkan Ci Kong mengerahkan tenaga membacok leher Soan Li untuk mencegah gadis ini melindungi pemuda yang menyangganya.

Serangan ini hebat. Soan Li maklum bahwa untuk dapat menghindarkan dua serangan ini, harus digunakan gerak tipu Hiu-po-liu-hong (Pancuran Air Dilngkungi Pelangi). Tentu saja ia dapat menggerakkan pedangnya melakukan gerakan ini, akan tetapi bagaimana ia harus menggerakkan tubuhnya? Setelah duduk di atas kedua lengan Sin Hong sekarang ia tidak leluasa bergerak, boleh dibilang tubuh dan kedua kakinya telah dikuasai oleh pemuda yang menyanggahnya. Akan tetapi tiba-tiba ia menjadi girang dan juga terkejut heran karena pemuda yang menyangganya itu, yang agaknya ketakutan melihat golok menyambar-nyambar telah melangkah ke kiri dan tepat sekali ialah melakukan gerak kaki yang cocok betul dengan jurus Hia-po-liu-hong! Soan Li telah menggerakkan pedangnya dan terdengar dua kali suara nyaring ketika pedangnya menangkis serangan dua golok itu.

Ci Kong dan Ci Kwan terkejut sekali. hampir saja senjata mereka terlepas dari pegangan, demikian kuat tangan gadis itu. Mereka merasa heran sekali bagaimana serangan dari dua jurusan dapat ditangkis sekaligus oleh Soan Li. Akan tetapi mereka tidak diberi kesempatan untuk memikirkan hal ini. Kini pedang Soan Li sudah berkelebat menyambar ke arah mereka.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Soan Li ketika Sin Hong mengajukan kaki ke depan dan gerakan Sin Hong tepat sekali bagi Soan Li untuk menyerang dengan gerak tipu Sianli-kai-in (Dewi Membuka Mega). Demikian cepat gerakan pedang di tangan So Li sehingga biarpun Ci Kong dapat mengelak, namun Ci Kwan yang menggunakan golok menangkis, tiba-tiba berseru kesakitan, goloknya terlepas dari pegangan dan tiga jari tangannya terbabat putus!

Memang gerak tipu yang dimainkan oleh Soan Li ini berbahaya sekali, sebuah jurus silat dari Ilmu Pedang Pak-kek Kiam-hoat yang lihai. Pedang di tangannya ketika bertemu dengan golok yang menangkis, bukan terpental kembali, melainkan meluncur di sepanjang batang golok lawan yang memegang gagang golok. Akan tetapi ketika Soan Li hendak maju untuk mengirim serangan maut kepada Ci Kwan, tiba-tiba Sin Hong melangkah ke jurusan lain!

Soan Li merasa kecewa sekali, akan tetapi ia tak dapat menyesal, karena bukankah Sin Hong memang tidak mengerti ilmu silat? Kalau tadi pemuda itu melangkah ke jurusan yang tepat seperti yang ia kehendaki, adalah kebetulan saja. "Ke kanan dua langkah!" Soan Li berkata lirih kepada Sin Hong.

Pemuda tadinya sengaja melangkah ke lain jurusun oleh karena memang ia tidak suka melihat gadis itu menurunkan tangan maut kepada Ci Kwan. Sekarang, setelah Ci Kwan melompat mundur ke dekat hwesio tinggi besar itu, barulah ia menurut perintah Soan Li dan melangkah ke kanan dua kali. Ci Kong menyambutnya dengnan sambaran golok. Ia marah sekali karena adiknva telah terluka pada gebrakan pertama dan ingin membalas dendam, maka serangan goloknya bertubi-tubi dan cepat sekali datangnya. Namun ia memang bukan tandingan Soan Li. Ke mana saja goloknya menyambar, selalu senjata ini terpental kembali.

Soan Li terus berkali-kali memberi aba-aba kepada Sin Hong untuk mengatur gerakan tubuh seperti melangkah kekiri, merendahkan tubuh, miringkan tubuh dan lain lain. Biarpun gerakannya kelihatan kaku, namun anehnya selalu Soan Li nendapat kedudukan yang menguntungkan dalam pertandingan menghadapi Ci Kong sehingga dalam jurus ke lima belas ia sudah berhasil menusuk dan melukai pundak Ci Kong. Ci Kong penasaran dan marah sekali, akan tetapi tiba-tiba hwesto tinggi besar itu membentak,

"Ci Kong mundur kau!"

Bentakan yang mengguntur ini membuat Soan Li dan Sin Hong terkejut. Dalam bentakan ini terkandung tenaga khi-kang yang besar sekali, tanda bahwa hwesio itu benar-benar bukan seorang yang boleh dipandang ringan.

"Hwesio tua bangka, kau seorang pendeta apakah tidak malu menghina seorang gadis muda! Tidak malukah kau melawan seorang yang jauh lebih muda dari padamu? Kalau mau mencari lawan carilah bangsa siluman dan pertapa, jangan mengganggu Nona Gak!" Sin Hong mendamprat marah.

Soan Li merasa senang melihat sikap pemuda ini, akan tetapi gadis ini adalah murid dari Go Ciang Le dan ia memiliki watak yang keras. Ia merasa malu karena ucapan Sin Hong tadi seakan-akan menyatakan bahwa dia takut menghadapi hwesio ini, maka ia cepat berkata,

"Lam-ko, biarlah. Kalau dia berkeras hendak maju aku pun tidak takut!"

Mendengar ini, diam-diam Sin Hong mengeluh. Kulau saja kedua kaki Soan Li tidak lumpuh, kiranya ia masih percaya gadis itu akan dapat melawan hwesio ini. Akan tetapi dengan duduk di atas kedua lengannya, bagaimana Soan Li dapat melawan dengan baik? Kalau ia terlalu membantu berarti membuka rahasianya sendiri, maka ia menjadi serba salah.

"Hm, begitukah? Biarpun begitu, kalau hwesio raksasa gundul ini hendak menggunakan senjata, benar-benar ia seorang yang tak tahu malu sama sekali. Ia lebih tua, lebih besar, lebih tinggi, pendeknya lebih kuat. Sedangkan Gak-siocia hanya duduk dan membela diri mana bisa disebut adil?"

Hwesio itu tertawa bergelak. "Ha ha ha, bocah ini dahulu tentu seekor kuda yang setia, sehingga sekarang setelah menjelma menjadi manusia, sifatnya masih sama. Kau beruntung sekali mendapatkan seekor kuda kaki dua seperti dia, Nona. Biarlah pinceng tidak akan mengeluarkan senjata dan akan menggunakan kedua tangan untuk menangkapmu dan melempar pergi kuda kaki dua ini.”

Sin Hong sudah merasa girang mendengar ini. Kalau hwesio ini tidak bersenjata, kiranya pedang di tangan Soan Li masih akan dapat menguasainya. Akan tetapi, tak disangkanya bahwa Soan Li selain memiliki watak yang keras, juga mempunyai sifat kegagahan dan pantang mundur, lagi tak mengenal takut. Melihat hwesio itu hendak maju dengan tangan kosong, ia merasa dipandang rendah sekali, maka ia pun cepat menyarungkan pedangnya sambil berkata,

"Lo-suhu, kau memiliki dua lengan apakah aku tidak? Kau pandai bersilat tangan kosong aku pun bisa. Majulah!”

Hwesio itu tertawa lagi dan sambil berseru keras ia memukul dengan kepalan tangannya yang besar, meninju ke arah kepala Sin Hong! Melihat hebatnya pukulan yang bersembunyi di balik kepalan tangan itu tidak kalah banyak oleh tenaga pukulan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu! Ia tahu bahwa kalau Soan Li menangkis, lengan gadis itu akan terluka.

Di lain pihak Soan Li sendiri pun kaget dan tahu bahwa lawannya ini benar-benar memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi melihat hwesio itu memukul pala Sin Hong, ia tidak rela membiarkan begitu saja. Ia tahu bahwa pemuda yang menyangganya tentu tak dapat mengelak dari pukulan itu, maka dengan nekat ia mengangkat tangan kanan menangkis pukulan hwesio itu.

"Plak...!" Tubuh Soan Li di atas kedua lengan Sin Hong bergoyang-goyang seperti setangkai bunga tertiup angin. Akan tetapi yang aneh dan luar biasa sekali, tubuh hwesio tinggi besar itu terlempar dan terjengkang sampai tiga tombak lebih jauhnya! Soan Li tersenyum dingin menganggap bahwa hwesio itu ternyata hanya nampaknya saja gagah, akan tetapi tenaganya ternyata tidak sangat besar seperti yang ia khawatirkan tadi.

Sebaliknya, hwesio tinggi besar itu berdiri dengan kedua mata terbelalak heran juga gentar melihat Soan Li. Baru menangkisnya sambil duduk saja, gadis telah berhasil membuatnya terlempar dan terjungkal! Hwesio itu bergidik dan berkata kepada empat orang kawannya.

"Mari kita pergi!" Ia melompat ke atas kudanya dan membalapkan kuda itu, diikuti oleh empat orang kawannya yang mcnjadi kecewa sekali.

Diam-diam Sin Hong merasa lega bahwa hwesio tadi telah dapat dibikin takut oleh akalnya. Ketika tadi Soan Li menangkis lengan hwesio itu diam-dia Sin Hong mengerahkan tenaganya ke dalam sebuah lengan yang ia tempelkan di pinggang Soan Li. Maka ketika kedua lengan bertemu, hwesio itu merasa betapa kuat tenaga lweekang yang keluar dari lengan gadis itu, akan tetapi ia tak kan terlempar begitu jauh kalau saja tiba-tiba ia tidak terdorong oleh hawa pukulan dari bawah. Ini pun pekerjaan Sin Hong yang tanpa diketahui oleh yang lain, tangan kanannya melakukan gerakan mendorong dari bawah tubuh Soan Li ke arah perut hwesio itu!

"Ha, hwesio siluman, mana bisa melawan Gak-siocia yang gagah perkasa?" kata Sin Hong sambil mentertawakan hwesio itu dan empat orang kawannya yang membalapkan kuda melarikan diri.

"Lam-ko kauturunkan aku di bawah pohon sana itu." kata Soan Li.

"Eh, kenapa, Nona?" Banyak orang jahat di sini, bukankah kita lebih baik lekas-lekas pergi ke kota?"

"Tidak, kau turunkanlah aku." desak Soan Li.

Sin Hong tak dapat membantah pula, namun ia ingin tahu mengapa tiba-tiba gadis ini minta beristirahat. Lelahkah dia? Ataukah terluka ketika bertempur tadi? Setelah Soan Li diturunkan dan duduk di atas tanah yang ditilami daun-daun kering dan rumput, gadis itu memandang mesra kepadanya dan berkata,

"Aku minta beristirahat karena kau tentu lelah sekali, Lam-ko. Kalau sudah hilang lelahmu barulah kita akan melanjutkan perjalanan."

"Aku? Lelah? Ah, menyindir, Gak Siocia patutnya kaulah yang lelah, kau baru saja menghadapi pertempuran mati-matian."

Sin Hong merasa jantungnya berhenti berdetak. Celaka, gadis ini agaknya sudah tahu akan rahasianya, pikirnya. Maka hanya dapat menoleh dan menatap wajah gadis itu tanpa menjawab.

Soan Li tersenyum. "Lam-ko, apa artinya semua perlawananku tanpa menggerakkan tubuh dan kaki? Kedua tanganku yang bekerja, akan tetapi yang bergerak adalah tubuh dan kakimu. Kaulah yang menentukan kemenangan tadi!"

Sin Hong menghela napas lega. wajahnya berseri. Hal ini dianggap oleh Soan Li bahwa pemuda itu puas dan bangga mendapat pujiannya. "Kau memang cerdik sekali, Lam-ko. Kalau saja kau tidak dapat mengikuti kehendakku dan kau sampai salah melangkahkan kaki pada saat berbahaya tentu kita berdua sudah menjadi korban pukulan lawan.”

Pada saat Sin Hong kurang memperhatikan kata-kata Soan Li karena ia tengah bengong dan memandang ke langit. Soan Li mengerutkan kening mengira pemuda itu tidak mengacuhkannya. Akan tetapi ketika ia ikut pula memandang ke atas, melihat seekor burung rajawali yang amat besar sedang terbang di atas dengan amat megahnya.

"Burung rajawali..!" kata Soon Li kagum.

Sin Hong sudah melompat dan berlari ke arah burung itu terbang. "Eh, Lam-ko, kau hendak ke mana...??" Soan Li bertanya kaget.

"Tunggu sebentar di situ, Siocia. Burung itu indah dan besar, aku ingin melihatnya dari dekat!" jawab Sin Hong sambil berlari terus. Setelah menghilang di jalan tikungan, pemuda ini lalu mengerahkan ginkang dan berlari seperti terbang cepatnya.

"Lam-ko...!" Ia mendengar panggilan Soan Li, akan tetapi tidak mempedulikannya. Panggilan itu berulang sampai beberapa kali, dan berakhir dengan seruan memanjang dan mengerikan, "Lam koooo'" Akan tetapi sayang, pada saat seruan ini menggema, Sin Hong sudah terlalu jauh untuk dapat mendengar seruan

Sin Hong meninggalkan Soan Li bukan tidak ada sebabnya. Ketika ia melihat burung rajawali tadi, segera mengenal burung itu sebagai burung kim-tiauw yang dulu pernah ia tunggangi ke Hoasan, yakni burung peliharaan dari See-thian Tok-ong Si Raja Racun. Melihat burung ini terbang ke jurusan Pulau Kim-ke-tho, Sin Hong menjadi gelisah sekali. Ia tahu bahwa ke mana saja burung itu pergi, pasti ia menjadi pelopor dari Raja Racun itu.

Kalau burung itu terbang ke arah Pulau Kim-ke-tho dan kelihatan di daerah ini, sudah hampir dapat dipastikan bahwa kedatangan See-thian Tok-ong di daerah ini tentu ada hubungannya dengan Hek-kin-kaipang. Selain perkumpulan pengemis ini, tidak ada hal lain yang akan menarik hati seorang kang-ouw. Karena ia merasa khawatir kalau-kalau Hek-kin-kaipang diganggu oleh Raja Racun yang keji, dan ia tahu betul bahwa gihunya dan yang lain takkan dapat menandingi See-thian Tok-ong seanak isteri, maka ia cepat-cepat menyusul ke Kim-ke-tho dan meninggalkan Soan Li untuk sementara waktu.

Tentu saja Sin Hong tidak pernah menduga bahwa Soan Li yang ditinggalkannya itu terancam bahaya hebat. Belum lama setelah ia pergi, Soan Li yang duduk seorang diri sambil memanggil-manggil nama Gong Lam atau Sin Hong, tiba-tiba gadis ini melihat datangnya Giok Seng Cu! Tak terasa pula, saking ngeri dan takut menghadapi kakek yang amat lihai ini, panggilannya kepada "Lam ko" menjadi makin nyaring dan panjang.

"Ha ha ha, ke mana perginya kau punya Koko yang baik, Nona manis?" Giok Seng Cu tertawa bergelak sambil menghampiri Soan Li. Gadis ini menggigit bibir dan siap dengan pedangnya, Giok Seng Cu menubruk maju.

Ketika pedang Soan Li menusuk dadanya, kakek ini menggunakan ujung lengan baju melibat pedang sehingga pedang itu seakan-akan dicengkeram oleh tangan yang amat kuat. Mereka saling membetot dan pada saat itu, pukulan Tin-san-kang yang hebat telah mengenai pundak Soan Li membuat gadis itu mengeluarkan keluhan panjang dan pingsanlah ia! Sambil terkekeh-kekeh, Giok Seng Cu mengempit pinggang gadis itu dan dibawanya lari dari situ.

Memang setelah ia dikejutkan oleh Sin Hong yang menerima pukulan Tin-san-kang dengan dada terbuka, Giok Seng Cu melarikan diri, akan tetapi diam-diam ia mengikuti dan mengintai keadaan Soan Li dengan amat terheran-heran ia melihat betapa pemuda aneh dan lihai itu berlaku seperti seorang pemuda tolol, menolong Soan Li dan mengobatinya. ia pun mendengar pemuda itu dipanggil "Gong Lam-ko" oleh Soan Li.

Diam-diam Giok Seng Cu memutar otak. Ia merasa sudah pernah melihat pemuda ini, akan tetampi sikap ketololan dari Sin Hong dan nama Gong Lam membikin Giok Seng Cu bingung dan ia lupa lagi dimana ia pernah bertemu dengan pemuda ini. Tentu saja ia sama sekali tidak teringat lagi akan Wan Sin Hong, bocah yang dahulu telah ia lemparkan ke dalam jurang di puncak Luliang-san.

Betapapun juga di saat Sin Hong dekat dengan Soan Li. Giok Seng Cu sama sekali tidak berani muncul. Dari hasil pengintaiannya ia tahu bahwa gadis itu “jatuh cinta" kepada Gong Lam, dan ia menduga bahwa sebaliknya pemuda itu tentu jatuh hati pula kepada Soan Li. Laki-laki manakah yang takkan jatuh hati kepada seorang gadis cantik ini? Apalagi kalau ia ingat betapa pemuda itu sudah mengobati kedua paha gadis itu!

Ketika ia mengintai dan melihat Soan Li mengalahkan tiga orang pengemis yang sebetulnya disuruh mengganggu dan sengaja disuruhnya mencari perkara untuk memancing dan membuka rahasia pemuda Giok Seng Cu masih belum berhasil mengetahui siapa adanya Sin Hong. Kemudian, ia melihat pula betapa hwesio tinggi besar itu juga kalah oleh Soan Li berkat bantuan secara sembunyi oleh pemuda tolol itu. Ia benar-benar kaget sekali. Hwesio tinggi besar itu bukan lain adalah Be Mau Hoatsu, tokoh besar dari Tibet yang kepandaiannya tidak di sebelah bawah tingkat kepandaiannya sendiri.

Akan tetapa dalam segebrakan saja dengan meminjam tangan Soan Li, pemuda itu dapat melemparkannya. Benar-benar hebat sekali pemuda kecil ini! Karena ia mengintai dan memperhatikan, mata Giok Seng Cu yang tajam dapat melihat semua gerakan diam-diam dari Sin Hong dan pada saat itulah terbuka mata Giok Seng Cu, membuat kakek ini hampir saja mengeluarkan seruan saking kaget dan herannya.

"Demi iblis!" pikirnya. "Diakah anak itu??"

Giok Seng Cu mengingat-ingat. Tak salah lagi gerak kaki dan pukulan pemuda itu yang ditujukan kepada Ba Mau Hoatsu, adalah gerakan dan Ilmu Pak-kek-sin-ciang yang paling sulit dan hebat. Selain Go Ciang Le, siapa lagi manusia di muka bumi ini yang dapat melakukan pukulan macam itu? Kalau pemuda ini putera atau murid Go Ciang Le, tak mungkin Gak Soan Li tidak mengenalnya, karena Soan Li adalah murid Ciang Le. Akan tetapi, pemuda ini berlaku ketolol-tololan dan kepandaiannya lebih tinggi daripada Soan Li bahkan ia sangsikan apakah kepandaian Ciang Le sendiri sampai meningkat setinggi tingkat kepandaian bocah ini.

Akhinya ia teringat akan bocah yang ia lemparkan ke dalam jurang di puncak Luliangsan, Ah, ia sekarang ingat. Wajah pemuda ini memang sama benar dengan wajah bocah yang bernyali besar, yang berada di puncak Luliang-san, menjaga makam Pak Kek Siansu. Tentu bocah ini sudah mewarisi kepandaian Pak Kek Siansu, akan tetapi .. dengan cara bagaimanakah? Apakah ketika dilemparkan ke dalam jurang, bocah ini tidak mampus?

Giok Seng Cu benar-benar bingung. kemudian ia melihat Ba Mau Hoatsu dan kawan-kawannya melarikan diri dan melihat pula burung kim-tiauw terbang lewat, kemudian dikejar oleh Sin Hong. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Giok Seng Cu. Sebuah pikiran dan akal yang amat baik teringat olehnya. Maka segera ia menyerang dan menawan Gak Soan Li, lalu dibawanya pergi dengan cepat sekali.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Apa yang dikhawatirkan oleh Sin Hong ternyata terbukti, ketika pemuda ini tiba di pantai, ia melihat burung kim-tiauw itu telah meluncur turun di Pulau Kim-ke-tho. Ia cepat melompat ke dalam sebuah perahu anggauta Hek-kin-kaipang yang banyak menyediakan perahu di tempat itu.

"Apakah ada seorang tinggi besar gundul muka hitam bersama seorang nyonya dan seorang pemuda gundul menyeberang ke pulau?" tanyanya cepat kepada seorang pengemis.

Para pengemis sudah mengenal Sin Hong sebagai putera angkat Lie Bu Tek. Mereka tidak ada yang tahu bahwa Sin Hong memiliki kepandaian yang amat tnggi, akan tetapi melihat Lie Bu Tek, maka anggauta Hek-kin-kaipang menghormatnya.

"Betul, tadi memang mereka menyeberang dan menyewa perahu dengan bayaran royal sekali," kata seorang di antara mereka.

Tanpa mempedulikan mereka lagi, Sin Hong mendayung perahunya cepat sekali sehingga para pengemis itu melongo. Bagaimana ada orang dapat mendayung perahu secepat itu sehingga leb'h cepat luncurannya daripada kalau digerakkan oeh layar yang tertiup angin?

"Aneh... aneh..." kata mereka.

Sin Hong dengan gelisah sekali mendayung perahunva dan sebentar saja ia telah tiba di daratan Pulau Kim-ke-tho. tanpa mempedulikan lagi perahu yang dipinjamnva, ia meloncat ke darat dan terus lari ke arah perkumpulan Hek-kin kaipang. Ia masih gelisah ketika melihat orang-orang berlari ke sana ke maril dalam keadaan panik. Ketika ia tiba di depan rumah perkumpulan, kemarahannya memuncak. Da sana-sini menggeletak tubuh para anggauta Hek-kin-kaipang yang sudah menjadi mayat juga tubuh beberapa orang bekas pelayan Yap Kong Ki. Sebagian besar lagi melarikan diri ketakutan.

Di depan rumah perkumpulan atau bekas rumah gedung Yap Kong Ki, masih terjadi pertempuran hebat. Sin Ho melihat See-thian Tok-ong yang bertangan kosong sedang dikeroyok oleh Li Bu Tek, Ah Kai, Tiat-ciat eng Lai Sek, dan masih ada beberapa orang tokoh Hek-kin-kaipang. Tan Lokai tidak muncul karena pengemis tua ini masih dalam keadaan terluka dalam pertempuran kemarin dulu. Biarpun See-thian Tok-ong bertangan kosong, namun semua pengeroyoknya tak dapat mendekat, bahkan selalu terjengkang mundur kalau terkena sambaran angin pukulan Raja Racun yang lihai itu.

Ini baru See thian Tok-ong seorang diri yang turun tangan, sedangkan tak jauh dari situ, Kwan Ji Nio berdiri melihat-lihat rumah gedung yang megah itu. Adapun Ban beng Sin-tong Kwan Kwan Kok Sun, pemuda gundul yang mukanya masih seperti bocah itu, sambil tertawa terkekeh melempar-lemparkan batu-batu kucil ke kanan kiri. Setiap orang yang terkena lemparan batunya, biarpun baru itu kecil sekali, berteriak kesakitan sambil berlari tunggang langgang.

Ketika Sin Hong memandang lebih tegas, ternyata bahwa yang dilempar-lemparkan itu bukanlah batu-batu kecil, melainkan tawon-tawon hitam kecil yang diambilnya dari sebuah kantong. Tawon-tawon ini berbisa dan kalau mengenai tubuh orang lalu menyengat. Biarpun sengatannya tidak mematikan orang, akan tetapi menimbulkan rasa gatal-gatal dan sakit luar biasa sekali.

Tiba-tiba terdengar See-thian Tok-ong mengeluarkan suara pekik yang luar biasa tidak menyerupai suara manusia. Akan tetapi akibatnya luar biasa sekali. Sebagian besar anggauta Hek-kin-kai-pang kelihatan terjungkal sambil menutupi telinga dengan kedua tangan dan wajah mereka pucat sekali, kelihatan mereka menderita rasa sakit yang luar biasa. Bahkan Lie Bu Tek dan Ah Kai yang berkepandaian paling tinggi di antara semua kawan, nampak menggigil dan otomatis mengundurkan diri, tidak berani mendekati kakek Raja Racun ini. Lai Sek yang memiliki tenaga gwakang cukup besar akan tetapi tenaga lweekangnya kurang tinggi, jatuh dan bergulingan untuk menjauhkan diri. Wajahnva pucat dan merasa jantungnya berdebar keras, telinganya seakan-akan pccah dari sebelah dalam!

"Ha-ha-ha, orang-orang Hek-kin-kai pang, dengarlah baik-baik! Kami bertiga sesungguhnya datang bukan untuk menyebar kematian, melainkan untuk menduduki ketua Hek-kin-kaipang dan tinggal di pulau ini. Kalau kalian melepas senjata dan menakluk sebagai anak buah kami, kalian akan diampuni. Akan tetapi kalau ada yang membantah, jangan tanya dosa, pasti akan mengalami kemataian yang mengerikan. Ketahuilah, bahwa aku adalah See-thian Tok-ong, dia ini adalah isteriku dan yang itu puteraku!"

Mendengar ini semua orang kelihatan kaget setengah mati. Para anggauta Hek-kin-kaipang ini tentu saja pernah mendengar nama iblis yang datang dari barat yang baru saja muncul di dunia kang-ouw dan nama mereka menggetarkan jagat. Siapakah yang tidak takut mendengar nama See-thian Tok-ong, yang kabarnya dengan suara saja dapat membunuh puluhan orang? Siapa tidak ngeri mendengar nama Kwan Ji Nio, yang kabarnya memiliki ilmu silat tidak kalah oleh suaminya dan wataknya ganas melebihi siluman?

Dan siapa yang tidak meremang bulu tengkuknya mendengar nama Ban-beng Sin-tong Kwan Kok Sun yang semenjak kecil permainannya adalah membunuh orang secara keji, yakni menyuruh ular-ularnya memakan daging manusia? Apalagi mereka tadi sudah melihat sepak terjang tiga orang ini yang benar-benar hebat. Sebagian besar termasuk Tiat-ciang-eng Lai Sek, sudah gemetaran seluruh tubuh dan berturut-turut mereka ini menjatuhkan diri berlutut.

Lie Bu Tek dan Ah Kai yang tidak sudi berlutut. Bahkan Ah Kai yang bisu itu dengan mata bernyala lalu menubruk maju mempergunakan tongkat pusaka perkumpulan untuk menotok jalan darah di leher See-thium Tok-ong. Akan tetapi sekali menggerakkan tangan Raja Racun ini telah merampas tongkat itu dan begitu tangan kirinya bergerak, tubuh Ah Kai roboh berkelojotan sebentar terus tewas dengan tubuh berubah hangus! Inilah pukulan Hek-tok-ciang (Pukulan Racun Hitam) yang amat mengerikan. Terdengar suara ketawa See-thian Tok-ong yang menyeramkan dan keadaan menjadi sunyi.

Lie Bu Tek yang tangannya buntung melangkah maju dengan pedang di tangan. "See-thian Tok-ong, kau telah datang bersama anak isterimu dan menyebar maut di antara anggauta Hek-kin-kaipang Sekarang kau merampas tongkat dan membunuh Kai-pangcu, benar-benar kau tidak mengindahkan peraturan kang-ouw. Bukan demikian caranya mengangkat diri menjadi pangcu."

"Habis, kau mau apa?" kata See-thian tok-ong mengancam.

"Kembalikan tongkat dan pergilah dari sini bentak Lie Bu Tek tanpa mengenal takut, sungguhpun ia maklum bahwa ia takkan menang menghadapi Raja Racun itu. Akan tetapi sebagai seorang gagah, Lie Bu Tek tidak sudi memperlihatkan kelemahan dan sifat pengecut maka beberapa orang pengemis, dipelopori oleh Lai Sek, segera bangkit kembali dari tanah dan tidak mau berlutut. Mereka menjadi bersemangat melihat sikap gagah dan Lie Bu Tek.

See-thian Tok-ong tertawa bergerak dan bagaikan seekor naga ia mengayun tongkat pusaka itu menyerang Lie Bu Tek. Serangannya ini hebat sekali dan sudah dapat dibayangkan bahwa andaikata Lie Bu Tek dapat menghindarkan diri orang-orang di dekatnya pasti akan terkena pukulan tongkat yang hawa pukulannya saja sudah cukup kuat untuk merobohkan seorang lawan yang kurang kuat!

Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan yang sukar diikuti dengan pandangan mata, dibarengi bentakan nyaring, "See-thian Tok-ong jangan menjual lagak di sini!"

See-thian Tok-ong menarik tongkatnya dan mengayun kaki menendang ke arah bayangan yang merampas tongkatnya. Akan tetapi aneh dan ajaib tendangannya mengenai tempat kosong seakan-akan menendang bayangan, sedangkan tongkatnya tanpa dapat dicegah lagi telah berpindah tangan! Ketika ia memandang, ia melihat seorang pemuda tanggung yang berdiri di hadapannya dengan muka memperlihatkan kemarahan. Pemuda ini biasa saja dan pakaiannya pun sederhana sekali, tidak memegang senjata kelihatan lemah.

Sungguh sukar dipercaya. Seorang pemuda tanggung dapat merampas tongkat dari tangan See-thin Tok-ong. Jangankan orang lain, See-thian Tok-ong sendiri pun kalau tidak mengalami sendiri pasti takkan percaya! Raja Racun ini memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya dan sudah mempunyai pengalaman yang amat luas maka ia tahu bagaimana pemuda itu tadi merampas tongkatnya.

Ia tahu bahwa pemuda telah melakukan gerakan berlawan, yakni tangan yang merampas tongkat mempergunakan tenaga kasar sedangkan perut yang menerima tendangan dijaga oleh tenaga lemas sehingga ketika kakinya menyentuh kulit, perut itu bisa ditarik masuk secara otomatis sehingga kaki yang menendang menyerang tempat kosong. Tentu saja, bagi See-thian Tok-ong kepandaian macam ini saja bukan hal yang aneh, akan tetapi yang ia merasa aneh adalah seorang anak muda yang sudah begini pandai dalam usia semuda ini.

"Sin Hong, hati-hatilah, mereka ini lihai dan jahat sekali!" Lie Bu Tek memperingatkan Sin Hong. Sungguhpun pendekar buntung sudah percaya benar-benar akan kepandaian Sin Hong, namun melihat anak angkatnya menghadapi See, thian Tok-ong seanak isteri, tetap saja ia merasa gelisah.

Tiba-tiba Kwan Ji Nio berseru, "Dia adalah bocah yang merampas kitab Kwa Siucay!"

Teringatlah See-thian Tok-ong. Dahulu ketika ia berusaha merampas kitab dari tangan Kwa-siucai, ia telah bertemu dengan seorang bocah yang luar biasa sekali, yang seorang diri sudah dapat melarikan diri dari kejarannya dan Kwa Ji Nio.

"Kaukah ini?" serunya dan cepat sekali ia memukul dada Sin Hong dengan tangan kanan disusul pula oleh tamparan tangan kiri ke arah pipi anak muda itu. Ia masih memandang rendah kepada Sin Hong, maka ia masih mempergunakan tangan kosong. Biarpun hanya pukulan dan tamparan tangan kosong, namun bahayanya melebihi sambaran senjata tajam, oleh karena kakek gundul dari barat ini memiliki tenaga Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) hingga pertemuan antara lengan dengan lengan saja sudah dapat membuat lawan terluka oleh racun.

Sin Hong bukan seorang bodoh. Dahulu ketika ia sedang menuju ke Hoa-san, sudah pernah bertemu dengan keluarga iblis ini, dan ia sudah menderita luka karena Hek-tok-ciang. Akan tetapi Sin Hong dahulu bukanlah Sin Hong sekarang. Ia telah mempelajari kitab pengobatan dari gurunya, yakni Kwa-siucai, dipelajarinya dengan amat tekun sampai bertahun-tahun di tempat persembunyiannya, yakni di dasar jurang Luliang-san. Maka sekarang tanpa ragu-ragu lagi ia menggerakkan kedua tangan sekaligus, kedua tangannya menangkis pukulan dan tamparan itu.

"Ayaaa...!" See-thian Tok-ong terhuyung mundur sampai tiga langkah, akan tetapi ia segera tertawa bergelak karena tadi ketika melihat anak muda itu berani menangkis, ia telah mengerahkan seluruh tenaga Hek-tok-ciang sehingga ia percaya bahwa kini kedua lengan pemuda itu tentu telah kemasukan racun yang banyak sekali sehingga tak lama kemudian pemuda itu akan roboh sendiri. Memang benar ia tadi terkejut bukan main karena pertemuan dua pasang lengan itu membuatnya terhuyung tiga langkah, tanda bahwa tenaga sinkang dalam tubuh anak muda ini benar benar mengagumkan sekali, akan tetapi Raja Racun ini percaya bahwa Hek-tok-ciang pasti takkan mengampuni nyawa lawannya.

"Bocah, tenaganmu besar juga. Akan tetapi lekas kau berlutut agar aku dapat mengampuni dan memberi obat penawar untuk racun di kedua lenganmu!"

Sin Hong tersenyum. Tadi sebelum turun tangan, ia telah menggosok kedua tangannya dengan obat penawar racun. Ia tahu bahwa biarpun dalam hal kepandaian silat ia tak usah takut menghadapi keluarga iblis itu, akan tetapi ia harus berlaku hati-hati terhadap racun mereka. Ini pula sebabnya maka ia agak terlambat turun tangan sehingga Ah Kai sampai tewas secara mengenaskan di tangan Raja Racun itu.

"See-thian Tok-ong siapa takut menghadapi racunmu? Majulah!"

See-thian Tok-ong tertegun. benarkah bocah ini kuat menghadapi pengaruh Hek-tok-ciang? Kemudian ia teringat dan berubahlah wajahnya. Bocah ini dahulu telah membawa lari kitab peninggalan Kwa-siicai! “Bocah sombong, siapakah namamu? Kami tidak biasa bertempur dengan orang-orang tak bernama."

"Orang gila menganggap yang waras gila, itu sudah wajar. Orang sombong menyatakan orang lain sombong, itu pun tak aneh. See-thian Tok-ong, aku yang muda dan bodoh bernama Wan Sin Hong, anak angkat dari Gi-hu Lie Bu Tek ini." Ia menunjuk ke arah Lie Bu Tek yang memandang kagum kepada putera angkatnya ini.

"Bagus! Wan Sin Hong, kami pun bukan orang yang tidak tahu urusan. Tadinya kami datang dengan maksud hendak menduduki kursi Ketua Hek-kin-kaipang. Akan tetapi melihat muka Gi-humu, kami membatalkan niat itu dan akan pergi dari sini apabila kau suka menyerahkan semacam benda kepadaku."

"Kau tentu minta kitab peninggalan Kwa Suhu, bukan?" kata Sin Hong sambil tersenyum.

Diam-diam See-thian Tok-ong terkejut. Ah, bocah ini terlalu berbahaya, tidak saja berkepandaian tinggi, juga memiliki kecerdasan otak yang menjadikan bocah ini seorang lawan berat, pikirnya. Tanpa diketahui oleh orang lain, See thian Tok-ong menggerakkan tangan bagai tanda rahasia kepada anak isterinya serentak membantunya apabila terjadi pertempuran. Akan tetapi pada mulutnya ia tersenyum.

"Wan Sin Hong kau benar-benar cerdik. Memang kitab itulah yang kumaksudkan. Kau tahu aku paling suka main-main dengan racun, maka kitab itu amat kubutuhkan untuk mempelajari penawar racun, agar nyawaku tidak terancam bahaya."

"Kakek tua, kau memang pandai memutar omongan. Seorang yang sudah disebut Raja Racun seperti engkau ini mana mungkin takut akan racun lagi. Kau sendiri sudah merupakan racun dunia yang paling berbahaya! Tentang kitab, kitab itu kupindahkan dalam kepala. Kata-kata memindahkan kitab ke dalam kepala ini berarti bahwa dia sudah menghapal seluruh isi kitab ke dalam ingatan dan kitab itu sendiri mungkin sudah lenyap.

Memang bukan maksud sebenarnya dari See-thian Tok-ong untuk minta kitab lalu pergi. Andaikata kitab itu benar ada dan oleh Sin Hong diberikan kepadanya, tak mungkin ia mau pergi begitu saja. Bukan watak See-thian Tok-ong seanak isteri untuk mengalah kepada orang lain. Maka begitu mendengar jawaban ini, ia berseru keras disusul gelak ketawanya yang menyeramkan dan di lain saat ia telah menyerang Sin Hong dengan senjatanya yang luar biasa dan hebat, yakni Ngo tok-mo-jiauw (Cakar Iblis Lima Racun) yang berupa sepasang tangan merupakan cakar dengan kuku masing-masing cakar mempunyai lima warna yang berbeda.

Hampir berbareng, secara bertubi-tubi Kwan Ji Nio sudah melompat dan dari atas menyambar ke arah kepala Sin Hong, menyerang dengan rantingnya yang tak kalah lihainya. Adapun Ban beng Sin-tong Kwan Kok Sun sambil tertawa terkekeh-kekeh lalu maju pula menyerang dengan senjatanya yang mengerikan yakni seekor ular yang dipergunakan bagai senjata pian lemas. Kalau kepala ular yang di depan dan diayun, kepala ular ini dapat menggigit, sedangkan kalau ekornya yang di depan maka ekor ini bisa dipergunakan sebagai cambuk. Yang hebat, baik gigitan maupun sabetan ekor keduanya dapat menewaskan lawan karena mengandung bisa yang kuat sekali.

Dalam detik-detik yang hampir berbareng sepasang cakar di tangan See-thian Tok-ong menyerang ke arah muka dan perut, ranting di tangan Kwan Ji Nio menotok ubun-ubun kepala, sedangkan kepala ular yang dipegang oleh Kwa Kok Sun meluncur untuk menggigit leher Sin Hong! Tiga macam serangan ini dilakukan oleh ahli-ahli silat yang lihai, dan satu serangan berarti datangnya maut yang hendak mencengkeram nyawa. See-thian Tok-ong dan anak isterinya sudah merasa yakin bahwa pemuda yang mereka serang itu pasti akan roboh dan kiranya tak mungkin dapat menyelamatkan diri. Apalagi dalam pandangan mata para pengemis Hek kin-kaipang.

Sungguhpun tadinya mereka melongo dan terheran-heran disertai rasa kagum besar terhadap pemuda anak angkat Lie Bu Tek yang tak mereka sangka-sangka ternyata memiliki kepandaian yang melebihi Lie Bu Tek dan Ah Kai sendiri, namun sekarang melihat pemuda itu dikeroyok tiga secara demikian hebat, mereka merasa gelisah dan khawatir. Hanya Lie Bu Tek seorang yang masih berlaku tenang, biarpun dadanya juga berdebar.

Pendekar buntung ini sudah tahu betul bahwa anak angkatnya itu telah mewarisi kepandaian yang luar biasa dan tiada keduanya di kolong langit ini, kepandaian istimewa dari Pak Kek Siansu. Memang serangan dari See-thian Tok-ong seanak isteri itu bukan main dahsyatnya dan kalau tokoh kang-ouw yang manapun juga menghadapi serangan ini, pasti sukar dapat meloloskan diri. Namun dengan sekali menggerakkan tubuh, Sin Hong berkelebat dan lenyap dari kepungan senjata-senjata maut itu.

Demikian cepat gerakan tubuh pemuda ini sehingga bagi mata para anggauta Hek-kin-kaipang dia seakan akan telah menghilang dan mempunyai ilmu siluman. Akan tetapi bagi mata Lie Bu Tek dan ketiga lawan yang mengeroyok Sin Hong pemuda itu telah mempergunakan ginkang yang istimewa menerobos di antara senjata sambil memutar tongkat, sedangkan tangan kiri membuat gerakan memutar dengan tenaga sinkang tinggi sehingga tiga orang lawannya tak dapat dekat!

Tentu saja See-thian Tok-ong menjadi penasaran sekali. Sambil mengeluarkan suara menyeramkan, ia lalu mendesak Sin Hong dibantu oleh Kwan Ji Nio dan Kwan Kok Sun. Di lain saat terjadilah pertandingan yang amat hebat. Pertandingan ini berjalan demikian serunya sehingga sukar diikuti oleh pandang mata. Bahkan Lie Bu Tek sendiri merasa pening menonton pertempuran itu. Tubuh Sin Hong lenyap terbungkus oleh gulungan sinar menghitam, yakni sinar tongkatnya yang digerakkan cepat sekali menurut gerak tipu dari jurus-jurus Ilmu Silat Pak-kek-kiam-sut. Bukan main hebatnya kepandaian pemuda ini. Kalau mempunyai pedang Pak-kek-sin-kiam ditangan, agaknya keadaannya menjadi lain.

Biarpun hanya bersenjata sebatang tongkat pendek, namun desakan tiga orang tangguh itu selalu membentur benteng kuat dari tongkat hitam Hek-kin-kaipang. Adapun hawa beracun yang keluar dari ular Kwan Kok Sun dan dari sepasang Ngo-tok-mo-jiauw di tangan See-thian Tok-ong, yang amat berbahaya dan baunya saja cukup merobohkan lawan, agaknya tidak mempengaruhi pemuda itu sedikitpun juga. Memang, selain memiliki sinkang yang sudah tinggi tingkatnya, pemuda ini pun telah menelan sebutir pel merah yang mengeluarkan bau harum memenuhi mulut dan hidungnya, dan obat ini mempunyai khasiat mencegah hawa beracun yang hendak memasuki hidung dan mulut.

Tiga puluh jurus telah lewat dan biarpun ia dapat melindungi tubuhnya dengan amat kokoh, namun sukar juga bagi Sin Hong untuk menembus kepungan lawan dan untuk membalas menyerang. Kedua belah pihak maklum bahwa kalau dilanjutkan, pertempuran ini akan berlangsung lama sebelum salah satu pihak menderita kerugian. Tiba-tiba sebatang tongkat butut meluncur dan menangkis ranting di tangan Kwan Ji Nio. Tongkat butut itu berada di tangan seorang pengemis tua yang datang-datang membantu Sin Hong sambil berkata,

"See-thian Tok-ong seanak isteri benar benar tak tahu diri, berani mengganggu calon bengcu (ketua) delapan penjuru!"

See thian Tok-ong dan anak isteri terkejut. Terutama sekali Kwan Ji Nio kaget ketika merasa betapa rantingnya terpental karena bertemu dengan tongkat butut itu. Mereka belum tahu siapakah adanya pengemis tua ini, akan tetapi harus diakui bahwa gerakannya cukup lihai, jauh lebih Iihai daripada Pendekar Buntung Lie Bu Tek.

Pada saat itu, kakek yang baru datang berseru kuat, "Ayaaa, juga muridku Ah Kai telah kalian bunuh? Benar-benar keji dan jahat, tidak segan membunuh seorang gagu!" Setelah berkata demikian kakek pengemis ini lalu memutar tongkanya menjadi makin seru.

Kepandaian kakek ini hampir seimbang dengan kepandaian Kwan ji Nio, maka See-thian Tok-ong dan puteranya tidak membantunya karena lebih penting mengeroyok Sin Hong yang benar-benar luar biasa tangguhnya. Di dalam pengeroyokan tiga orang tadi, yang membuat Sin Hong agak sibuk adalah Kwan Ji Nio, karena nyonya ini amat gesit dan cepat gerakannya. Memang ginkang dari nyonya tua ini lihai sekali sehingga ia disebut ahli Tee-in ciong (Loncat Tangga Awan). Kini setelah nyonya ini meninggalkannya untuk menghadapi kakek pengemis yang mengaku guru Ah Kai, Sin Hong merasa agak longgar.

"Locianpwe yang mengaku guru Saudara Ah Kai, siapa nama Locianpwe yang mulia? Dan mengapa pula menyebut boanseng sebagai calon bengcu delapan penjuru?" Biarpun dikeroyok oleh dua orang pandai, Sin Hong masih sempat bercakap-cakap dengan kakek itu!

Kakek itu mengeluarkan suara ketawa aneh, nampaknya girang sekali. "Sicu (Orang Gagah) seorang diri kuat menghadapi keroyokan See-thian Tok ong seanak isteri, orang gagah lain manakah yang sanggup melakukan hal ini? Sicu ternyata telah mewarisi kepandai, luar biasa dan kalau lohu tak salah lihat, Sicu telah mewarisi kepandaian Pak Kek Siansu. Maka sudah sepatutnya Sicu yang dicalonkan untuk menjadi bengcu delapan penjuru dalam pemilihan yang akan datang! Ketahuilah, lohu (aku yang tua) adalah Cam-kauw Sin-kai, seorang pengemis perantau yang miskin."

Semua orang terkejut mendengar ini. Pantas saja demikian gagah, tidak tahunya dia adalah tokoh persilatan yang amat terkenal namanya, akan tetapi yang selalu menyembunyikan diri sebagai seorang jembel sengsara. Ayah dari Kiang Cun Eng dahulu kenal kepada tokoh ini, bahkan seringkali mendapat petunjuk. Semua anggauta Hek-kin-kaipang, biarpun belum pernah bertemu muka, di dalam hati mereka menghormat pengemis tua ini.

Namun, nama besar Cam-kauw Sin-kai tidak berarti banyak bagi See-thian Tok-ong seanak isteri. Mereka terus saja mendesak dan Kwan Ji Nio juga tidak gentar. Rantingnya bergerak laksana kilat menyambar-nyambar. Dalam hal lweekang, boleh jadi ia masih kalah setingkat oleh kakek pengemis ini, namun ginkangnya terang lebih tinggi dan hebat.

Selagi pertempuran berjalan seru-serunya, tiba-tiba terdengar suara nyaring sekali dan dari atas menyambar turun seekor burung kim-tiauw. Suara ini disusul oleh suara mendesis dan muncullah puluhan ekor ular berbisa, berlenggang-lenggok menuju ke tempat pertempuran. Akan tetapi selagi para pengemis Hek-kin-kaipang menjadi gempar, bayangan seorang laki-laki muda berkelebat. Beberapa kali tangannya diayun dan matilah ular-ular itu. Bahkan ketika kim-tiauw menyambar turun, pemuda ini memukul dengan kedua tangannya ke depan.

"Buk...!" Burung itu terpental dan roboh dengan nyawa melayang.

Bukan main marahnya Kwan Kok Sun melihat ular-ularnya dan burung kesayangannya tewas. ia memekik nyaring meninggalkan Sin Hong dan sekaligus menyerang pemuda baju biru itu dengan ularnya. Pemuda itu tertawa mengejek,

"Kwan Kok Sun, apakah kau tidak kenal lagi kepadaku?" Sambil berkata demikian, dengan berani ia mengulur tangan menyambar leher ular itu dan sekali meremas, leher ular itu hancur!

"Kong Ji...!" Kwan Kok Sun berseru kaget.

Seruan ini keras sekali dan akibatnya aneh. Semua pertandingan berhenti saketika. See-thian Tok-ong dan isterinya melompat mundur sehingga Cam-kau Sin kai terheran-heran dan juga menghentikan gerakannya. Sin Hong sendiri melompat dekat pemuda baju biru itu memandangnya dengan mata terbelalak. Lie Bu Tek juga berlari menghampiri dan memandang kepada pemuda yang baru datang dengan sinar mata tajam. Semua orang memandang kepada pemuda ini yang bukan lain adalah Liok Kong Ji.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Liok Kong Ji berhasil membawa lari Nalumei, puteri kepala suku bangsa Naiman itu. Nalumei yang cantik itu yang tadinya tertawan oleh Kong Ji dan menganggap pemuda ini sebagai musuh membantu orang-orang Mongol, setelah dibawa lari oleh Kong Ji merasa suka dan kagum kepada pemuda ini. Ia bahkan jatuh hati kepada Liok Kong Ji pemuda yang berwajah tampan dan pandai mengambil hati orang ini. Apalagi ia tahu bahwa Kong Ji berkepandaian tinggi luar biasa dan sekarang, setelah ia menjadi kekasih pemuda ini, kiranya hanya Kong Ji seoranglah yang dapat melindungi dirinya, dapat membalas sakit hatinya kelak terhadap Temu Cin dan pasukannya yang sudah membunuh ayahnya dan membasmi bangsanya.

Di lain pihak, Kong Ji benar-benar boleh merasa puas mendapatkan seorang kawan atau kekasih seperti Nalumei. Tidak saja nona suku bangsa Naiman ini cantik jelita dan gagah perkasa, juga nona ini amat penurut dan setia kepadanya. Di samping menghiburnya, nona ini juga dapat menjadi seorang pembantu yang amat berharga dan boleh dipercaya.

Bersama kekasihnya ini, setelah meninggalkan daerah utara, Kong Ji berpesiar ke pelbagai tempat indah. Di mana mana ia meninggalkan bekas tangannya merobohkan jago silat jago silat yang menjadi tokoh terutama di daerahnya, melakukan pencurian-pencurian barang-barang indah berharga dan emas permata untuk dihadiahkan kepada Nalumei. Dan ada beberapa kali Kong Ji memuaskan nafsunya yang seperti iblis, mencuri, membunuh dan mengganggu anak bini orang!

Akan tetapi hebatnya, semua perbuatannya yang termasuk perbuatan busuk dan jahat, dilakukan tanpa diketahui orang lain, bahkan Nalumei sendiri yang menjadi kekasihnya atau boleh juga disebut isterinya sama sekali tak pernah mimpi bahwa Kong Ji telah melakukan semua perbuatan itu. Tentu saja Nalumei tahu bahwa kekasihnya suka mengambil barang barang berharga dari kaum bangsawan untuk diberikan kepadanya, akan tetapi dia tidak menganggap hal ini sebagai kejahatan.

Kalau orang berhadapan dengan Kong Ji, ia pasti takkan pernah menyangka bahwa pemuda ini mempunyai watak buruk. Sebaliknya, dipandang dari luar, pemuda ini mempunyai gerak-gerak yang halus dan sopan, tutur sapanya halus, dan senyumnya murah. Bahkan pedang Pak-kek Sin-kiam yang dirampasnya dari Go Hui Lian, tak pernah diperlihatkannya kepada umum dan selalu disembunyikan di balik baju luarnya. Dalam sepak terjangnya yang sudah-sudah menghadapi para tokoh besar di dunia kang-ouw yang ia tantang berpibu dan ia kalahkan, ia selalu mempergunakan kedua tangan kosong. Tak seorang pun tokoh kang-ouw dapat menghadapinya lebih dari lima puluh jurus.

. Kepandaian pemuda ini memang lihai sekali yang tentu saja tidak amat mengherankan apabila diingat bahwa Liok Kong Ji telah mempelajari berbagai ilmu silat tinggi dari tokoh-tokoh besar. Ia pernah menjadi murid pamannya sendiri, yakni Liok San tokoh Kwan-im-pai lalu mendapat gemblengan dari Liang Gi Tojin dan Lie Bu Tek tokoh-tokoh Hoasan-pai. Setelah itu, ia menerima warisan ilmu silat tinggi dengan Ilmu Pukul Tin-san-kang dari Giok Seng Cu, bahkan selama empat tahun dilatih secara hebat oleh See-thian Tok-ong.

Kemudian dan yang terakhir ini membikin kepandaiannya memuncak tinggi, ia menerima gemblengan bertahun-tahun lamanya dari Hwa l Enghiong Go Ciang Le. Semua ditambah lagi dengan kecerdikan otaknya yang luar biasa sehingga dia dapat menciptakan sendiri ilmu silat tinggi dengan cara merangkai dan menyusun semua ilmu silat itu dijadikan satu.

Setelah terbebas dari kejaran pasukan Monggol, dalam perantauannya, sesuai dengan desakan dan bujukan Nalumei kekasillnya, setiap kali mengalahkan lalu berkenalan dengan tokoh kang-ouw, Kong Ji membicarakan cita-cita Temu Cin yang hendak menguasai benua Tiongok. Ia bicara seperti seorang patriot yang hendak membela tanah air, maka di mana-mana ia dihormati orang, mendapat dukungan banyak orang-orang gagah dan dianggap sebagai seorang pendekar muda yang sakti dan berjiwa patriot. Padahal semua ini dilakukan untuk memusuhi Temu Cin dan untuk memuaskan hati dan perasaan Nalumai yang tentu saja makin mencintainya.

Juga di samping maksud-maksud ini, masih ada cita-cita lain yang selalu menggerogoti hatinya, yang selalu membuat ia termenung. Ia merasa iri kalau mendengar orang memuji-muji dan menjunjung tinggi nama besar Hwa I Enghiong Go Ciang Le. Ia ingin menggantikan nama ini, ingin duduk di tempat tertinggi dari golongan silat. Ingin ia mengepalai seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang yang paling dihormati dan paling pandai. Untuk mencapai cita-cita ini, ia harus mempunyai banyak pendukung agar pada kesempatan para orang gagah memilih bengcu ia akan mendapat suara terbanyak.

Kemudian ia mendengar bahwa di pusat perkumpulan Hek-kin-kaipang, yakni di Bi-nam-bun, diadakan pemilihan untuk ketua baru. Mendengar berita ini Kong Ji tergerak hatinya. Ia tahu bahwa Hek kin kaipang adalah sebuah perkumpulan yang besar dan berpengaruh besar. Kalau ia berhasil menduduki kursi ketua perkumpulan besar ini, sebentar saja namanya tentu akan terangkat tinggi dan ini akan memudahkan tercapainya cita-citanya.

Oleh karena waktu diadakan pemillhan ketua itu sudah amat dekat, sedangkan Nalumei tidak memiliki kepandaian setinggi dia, maka kalau ia pergi dengan Nalumei tentu akan terlambat. Ia lalu menyuruh Nalumei menunggunya di tempat itu yakni di dalam sebuah kamar hotel besar di kota Kun-leng, dan ia sendiri mempergunakan kepandaiannya untuk melakukan perjalanan secepatnya ke Bi-nam-bun. Nalumei yang tahu akan maksud dan cita-cita kekasihnya, tidak membantah.

Demikianlah ketika ia tiba di Bi-nam-bun, ternyata ia telah terlambat satu hari, ia mendengar bahwa ketua Hek-kin-kaipang telah terpilih dan kini perkumpulan itu pindah ke Pulau Kim-ke-tho. Dengan kecewa akan tetapi tidak putus asa, pemuda yang bercita cita besar ini lalu menyusul ke Kim-ke-tho dan secara kebetulan sekali ia menyaksikan pertempuran besar. Ia tidak mengenal pemuda yang dikeroyok See-Thian Tok-ong dan Kwan Kok Sun, akan tetapi melihat seorang pengemis tua bertempur melawan Kwan Ji Nio, Kong Ji berpendapat bahwa tentu pengemis tua itu seorang tokoh Hek-kin-kaipang.

Maka untuk menonjolkan diri dan untuk mencari nama baik di kalangan pengemis, ia segera turun tangan, membunuh burung rajawali dan ular-ular kemudian membunuh pula ular yang dipakai sebagai senjata oleh Kwan Kok Sun.

Ketika Lie Bu Tek berlari menghampirinya, wajah Kong Ji berubah, hatinya berdebar. Akan tetapi ia tidak takut, bahkan tanpa malu-malu ia lalu menjura kepada pendekar yang sudah buntung tangannya. Sementara itu. See thian Tok-ong yang melihat betapa pihak lawan telah bertambah dengan Liok Kong Ji dan melihat bahwa sekali gebrak saja Kong Ji sudah berhasil mengalahkan Kwa Kok Sun, mengertilah ia bahwa pihaknya menghadapi bencana kalau pertempuran itu dilanjutkan...

Thanks for reading Pedang Penakluk Iblis Jilid 17 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »