Pedang Penakluk Iblis Jilid 18

Pedang Penakluk Iblis Jilid 18

SUDAHLAH, di sini bukan tempat kami!" kata See-thian Tok-ong sambil melompat pergi, diikuti oleh isteri dan anaknya. Lie Bu Tek, Wan Sin Hong, dan lain-lain orang masih tertegun menghadapi Kong Ji, maka mereka tidak berbuat sesuatu untuk menghadapi kepergian See-thian Tok-ong dan anak isterinya.

Apalagi karena Sin Hong dan Bu Tek benar-benar terpengaruh sekali oleh munculnya Kong Ji sehingga mereka tidak pedulikan See-thian Tok-ong dan anak isterinya yang melarikan diri, orang-orang lain juga tidak berani turun tangan sendiri. Bahkan Cam-kauw Sin-kai sendiri merasa tidak mampu melawan See-thian Tok-ong yang lihai, maka ia pun diam saja, hanya memandang kepada Kong Ji dengan mata penuh pertanyaan.

"Suheng, alangkah besarnya hatiku mendapat kebahagiaan bertemu dengan Suheng di sini. Kukira... kusangka... Suheng sudah tidak ada lagi di dunia ini,” suara Kong Ji terdengar menggetar saking terharunya.

Senyum yang mengembang di bibir Lie Bu Tek benar-benar sukar dilukiskan dan sukar pula dimengerti, akan tetapi Sin Hong tahu betapa perih hati gi-hu bertemu dengan orang yang dulu telah membuntungkan sebelah lengannya. Sambil mengerak-gerakkan pundak kanannya yang tak berlengan lagi, Bu Tek berkata,

"Hm, tentu kau kecewa mengapa dulu tidak membuntungi leherku saja hingga sekarang tak usah malu-malu melihat lenganku yang butung, bukan?"

Tiba-tiba Kong Ji berlutut dan menangis. Bukan main pandainya anak muda ini bermain sandiwara. Tak seorang pun yang hadir di situ, juga Sin Hong sendiri tidak, yang tak ikut merasa terharu melihat kesedihan pemuda ini dengan kata-kata yang keluar terputus-putus penuh kesayuan.

"Suheng... Suheng yang mulia, mengapa Suheng berkata demikian? Ah, sudah lama siauwte merasa betapa semua perbuatan siauwte itu tentu akan mendatangkan salah sangka. Kalau Suheng tidak sudi mendengar omongan dan alasan siauwte, dan menganggap siauwte benar-benar telah bertindak jahat, Suheng boleh turun tangan sekarang juga membunuhku..."

Apalagi seorang muda seperti Sin Hong, sedangkan Lie Bu Tek yang sudah banyak pengalamannya, mendengar kata-kata dan getaran suara penuh keharuan menjadi ragu-ragu dan ingin sekali mendengar selanjutnya apa yang akan dikatakan oleh Kong Ji.

"Ada musuh besar datang membasmi partai, kau tidak membela nama baik partai dan tidak membela pihak sendiri. Bahkan mengkhianati, lari ke musuh dan membuntungi lenganku. Apakah kau sekarang hendak bilang bahwa semua perbuatan itu tidak berdosa?" tanyanya.

Kong Ji bangkit dan berdiri, lalu menjura. Memang, berlutut tadi hanya siasatnya belaka agar supaya ia dapat mengatur rencananya dan dapat bermain sandiwara lebih mudah lagi karena ketika berlutut mukanya tersembunyi. Kini ia menjura dan berkata dengan suara lega, "Banyak terima kasih bahwa Suhe sudi mendengar alasanku. Tidak akan siauwte sangkal bahwa siauwte memang telah melakukan hal yang kelihatannya amat penakut, dan pengkhianat. Akan tetapi di balik semua perbuatan siauwte ini, sebenarnya siauwte mempunyai maksud dan cita-cita yang tertentu. Kalau siauwte tidak melakukan hal itu, yakni tidak berlari kepada musuh, pasti siauwe akan tewas dan apakah gunanya itu? Kalau siauwte masih hidup dan mengumpulkan kepandaian, bukankah siaute berarti masih mempunyai kesempatan untuk membalas dendam? Untuk membuang nyawa secara sia sia dan mati dalam penasaran? Hal kedua yang amat mendukakan hati siauwte, adalah tentang pembuntungan lengan Suheng! Memang nampaknya keji, akan tetepi hendaknya Suheng berani akui bahwa kalau siauwte tidak melakukan pembuntungan lengan itu, kiranya pada waktu itu juga Suheng sudah dibunuh oleh musuh-musuh kita! Siauwte sengaja membuntungi Suheng sebenarnya dengan maksud untuk menyelamatkan nyawa Suheng!"

Lie Bu Tek tertegun dan melenggong. Tentu saja ia tidak mau menerima alasan di dalam hatinya, akan tetapi oleh karena pada lahirnya semua alasan ini memang tepat sekali dan bahkan berbukti, yakin sampai sekarang dia sendiri masih hidup hanya karena dahulu Kong Ji membuntungi lengannya, maka ia tak berkata apa-apa.

"Alasan bagus sekali! Dan tentang usahamu untuk membunuhku, apakah ada alasannya pula?"

Mendengar suara ini, bagaikan kilat cepatnya tubuh Kong Ji bergerak membalik. Lie Bu Tek kagum bukan main melihat gerakan itu dan ia dapat menduga bahwa Kong ji benar-benar telah memiliki kepandaian tinggi. Tadi pun dengan sekali pukul dapat menewaskan kimtiauw, ia sudah kagum sekali.

Kong Ji yang mendengar suara teguran itu kaget, karena ia mengenal suara itu. Setelah berhadapan dengan orangnya ia terheran. Ternyata ia berhadapan dengan pemuda yang lihai, yang tadi dikeroyok oleh See-thian Tok-ong dan Kwa Kok Sun! Setelah kini berhadapan baru ia mengenal bahwa pemuda ini bukan lain adalah Wan Sin Hong!

"Sute... kau juga berada di sini..?” katanya agak gagap karena ia tidak menyangka sama sekali bahwa akan bertemu dengan Sin Hong di tempat itu.

Sin Hong tersenyum dan pada saat ia dapat menangkap kerling mata gi-hunya. Dalam kerling mata itu ia membaca cegahan agar ia tidak terburu nafsu dan teringatlah Sin Hong akan nasehat-nasehat gi-hunya bahwa ia tidak boleh secara serampangan dan mudah menaruh dendam atas perbuatan jahat orang kepada diri sendiri.

"Kau masih mengaku aku sebagai Sutemu sesudah kau gagal dalam usahamu membunuhku?" ejeknya.

Kong Ji mengerutkan kening dan wajahnya yang tampan itu nampak muram, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Memang nasibku yang amat buruk, sudah ditinggal mati Ayah Bunda, masih dibenci oleh banyak orang pula. semua perbuatanku dianggap keliru, padahal apakah salahku dalam semua perbuatan itu? Sute memang betul pada hari itu aku berusaha membunuhmu, akan tetapi kau harus ingat bahwa aku melakukan hal itu, karena tentu kau akan dibunuh pula oleh mereka. Dan untuk dapat mencapai cita-citaku membalas dendam, sudah tentu aku perlu memperbaiki pihak mereka agar aku lebih dulu dapat terbebas dari bencana. Murid-murid Hoa-san-pai hanya tinggal aku dan kau pada waktu itu. Kalau aku pun bersikap keras seperti engkau dan kita berdua dibunuh, siapakah kelak yang membalas dendam suhu Liang Gi Tojin?"

Seperti juga Lie Bu Tek, Sin Hong merasa kalah bicara, maka ia diam saja. Lie Bu Tek lalu bertanya. "Dan kau datang ke sini dengan maksud apakah?"

"Siauwte mendengar bahwa Hek-kin-kaipang memilih pengurus baru. Mengingat. bahwa Kiang-pangcu Ketua Hek-kin-kaipang adalah sahabat baik dari Suheng, maka siauwte sengaja datang untuk menyaksikan pemilihan itu dan kalau perlu, siauwte dengan suka rela hendak menyumbangkan tenaga."

"Tak perlu..." Lie Bu Tek menggeleng-gelengkan kepalanya. "tak perlu bantuanmu..." Kemudian ia memberi perintah kepada para pengemis Hek-kin-kaipang untuk mengurus para korban. Akibat amukan See thian Tok-ong banyak anggauta Hek-kin-kaipang yang tewas dan luka!

Kong Ji merasa betapa sikap Lie Bu Tek terhadapnya masih dingin sekali dan ia tahu bahwa biarpun kesalahannya yang lalu sudah agak terhapus oleh alasan-alasannya namun ia tetap menjadi seorang yang tidak disuka. Ia mengangkat pundaknya dan berkata lagi,

"Tidak apalah kalau begitu. Setidaknya siauwte mengharap kepada Suheng agar kelak Hek-kin-kaipang suka menyokong suara untuk siauwte dalam pemilihan bengcu di puncak Ngo-heng-san!"

Tiba-tiba Cam-kauw Sin-kai mengeluarkan suara ejekan daei hidung, kemudian, kakek ini tersenyum dan berkata, "Bagus sekali. Sekaligus ada dua orang muda lihai di Pulau Kim-ke-tho yang dicalonkan menjadi bengcu. Betapapun juga, aku jauh lebih suka memilih ahli waris dari Pak Kek Siansu!" Sambil berkata demikian ia mengangguk ke arah Sin Hong.

Kong Ji melirik ke arah Sin Hong, senyum di bibirnya mengejek dan masam. “Begitukah? Adikku Wan Sin Hong yang telah menjadi calon bengcu dan mendapat sokongan segala macam pengemis dan jembel? Selamat, selamat! Adapun tentang ahli waris Pak Kek Siansu, aku yang bodoh tidak berani membantah. Akan tetapi aku pun berhak menyebut diri sebagai ahli warisnya, karena aku adalah murid terkasih dan Hwa I Enghiong Go Ciang Le."

Lie Bu Tek yang tadinya memimpin orang-orang mengurus jenazah dan mereka yang terluka, dan tidak mau memperdulikan lagi kepada Kong Ji, ketika dengar omongan ini, seketika melompat dan menghadapi Kong Ji. "Apa katamu? Kau murid Ciang Le? Tak mungkin"

Kong Ji tersenyum. "Dia adalah guruku, bagaimana Suheng mengatakan tak mungkin? Siauwte adalah murid aseli, murid terkasih dari Hwa I Enghiong, dan oleh karena itu, siauwte-lah yang menjadi ahli waris sejati dari Pak Kek Siansu." Sambil berkata demikian ia menggerakkan tangan kanannya dan sekejap kemudian, pedang Pak-kek Sin-kiam telah berada di tangannya. "Inilah Pak-kek klam, pedang pusaka peninggalan Kek Siansu, yang diberikan kepadaku oleh Suhu Go Ciang Le. Apakah bukti ini masih belum cukup?"

Semua orang tertegun, lebih-lebih Sin Hong. ia ingat betul bahwa dahulu dialah yang menemukan pedang itu bersama kitab di dasar jurang di puncak Luliang-san, kemudian pedang itu dirampas oleh kim-tiauw yang bangkainya masih meringkuk di situ karena pukulan Kong Ji tadi. Terampasnya pedang oleh kim-tiauw berarti pedang itu terjatuh ke dalam tangan See-thian Tok-ong, bagaimana sekarang oleh Kong Ji dikatakan bahwa ia menerimanya dari Ciang Le?

Lie Bu Tek tak bisa berkata sesuatu, hanya memandang dengan mata terbelaIak. Kong Ji tersenyum kemenangan lalu menyarungkan pedangnya kembali di dalam sarung yang tersembunyi di balik bajunya.

"Nah, Suheng. Setelah Suheng tahu bahwa siauwte adalah murid Hwa I Enghiong, ahli waris dari Pak Kek Siansu dan keturunan yang berhak memiliki pedang Pak-kek Sin-kiam, apakah Suheng kelak tidak membawa Hek-kin-kaipang untuk menyokong suara kepada siauwte dalam pemilihan bengcu?"

"Kau mau menjadi bengcu atau tidak, apa sangkut pautnya dengan aku? Aku tidak mau pedull." Setelah berkata demikian, Lie Bu Tek mengundurkan diri untuk melanjutkan pekerjaannya mengurus para korban.

Cam-kauw Sin-kai tertawa. "Aku tetap menyokong putera Lie-hiap ini!"

Kong ji menjadi panas perutnya. Agaknya semua orang menaruh hormat dan suka kepada Sin Hong, dan hal ini menggelisahkai hatinya. Dia boleh menghadapi puluhan orang saingan dalam pemilihan bengcu, akan tetapi Sin Hong? Menggemaskan sekali! Namun, Kong Ji dapat menekan perasaannya, bahkan sambil tersenyum ia menghampiri Sin Hong lalu menjura sambil berkata,

"Adikku Wan Sin Hong yang baik! Kau benar-benar beruntung sekali dan dipilih sebagai calon bengcu. Haa... siauw-beng-cu (ketua cilik) kionghi-kionghi, biarlah aku yang bodoh memberi selamat kepdamu!"

Sambil merendahkan diri dan menjura, Kong Ji mengangkat kedua tangannya seperti orang memberi hormat. Akan tetapi diam-diam ia telah mengerahkan tenaga dan ini adalah semacam jurus Pukulan Tin-san-kang yang amat hebat. Dulu Sin Hong pernah menerima pukulan Tin-san-kang dari Giok Seng Cu, akan tetapi pukulan itu adalah pukulan langsung dengan kepalan tangan mengenai dada. Pukulan semacam ini adalah pukulan dengan tenaga kasar. Akan tetapi sekarang, pukulan Tin-san-kang yang dilakukan dari jarak terpisah tanpa mengena kulit, jauh lebih hebat dan berbahaya.

Semua orang terkejut sekali melihat betapa tubuh Sin Hong tiba-tiba terhuyung-huyung mundur sampai empat langkah, dan mukanya kelihatan pucat. Sin Hong terpengaruh oleh pukulan Tin-san-kang yang hebat itu, pukulan yang sekali tonjok saja sudah membikin tewas burung kim-tiauw, karena pemuda ini tidak pernah menyangka bahwa Kong Ji memiliki kepandaian sehebat ini. Akan tetapi. hawa sinkang di dalam tubuhnya sudah mencapai tingkat tinggi berkat latihan-latihan menurut petunjuk kitab peninggalan Pak Kek Siansu, sehingga hawa sakti dalam tubuh ini dapat bergerak dan bekerja secara otomatis.

Ketika kulit dan daging dadanya menerima sambaran hawa pukulan lawan dan merasa betapa hebat adanya pukulan itu, hawa sinkang secara otomatis bergerak ke arah dada dan melindungi isi dada. Akan tetapi, kehebatan pukulan itu tetap saja membuat Sin Hong terhuyung-huyung ke belakang sampai empat langkah. Mukanya menjadi pucat karena pengerah sinkang yang dahsyat untuk melindungi dada.

Sebaliknya, Kong Ji melongo. Hampir saja ia tidak dapat percaya akan penglihatannya sendiri. Ia tahu betul sampai di mana dahsyatnya pukulan Tin-san-kang tadi. See-thian Tok-ong sendiri agaknya akan terluka berat kalau berani menerima pukulan ini seperti yang dilakukan oleh Sin Hong, tanpa menangkis atau mengelak. Akan tetapi, Sin Hong hanya terhuyung empat langkah ke belakaug, dan kini sudah maju lagi perlahan-lahan sambil tersenyum.

"Kong Ji, ternyata kau pernah belajar kepada Giok Seng Cu! Tenma kasih atas pemberian selamat, akan tetapi, siapakah yang ingin menjadi bengcu? Mungkin kau yang sudah kegilaan, akan tetapi aku tidak. Karena itu, aku tidak berani menerima pemberianmu selamat tadi, terimalah kembali!" Sin Hong menjura dan mengangkat kedua tangan ke depan seperti yang dilakukan oleh Kong Ji tadi.

Kong-Ji maklum bahwa ia akan menerima serangan balasan, maka ia bersiap-siaga. ia mengumpulkan lweekangnya yang sudah dilatih bertahun-tahun dan menggeser sedikit tubuhnya agar serangan hawa pukulan dari Sin Hong itu tidak terlalu tepat kenanya. Akan tetapi, biarpun ia tidak merasa sambaran angin dahsyat, tiba-tiba ia merasa dadanya dingin sekali dan rasa dingin ini menyerang sampai ke dalam jantungnya. Dengan muka pucat Kong Ji mengeluarkan seruan tertahan dan tiba-tiba ia menggerakkan kedua kaki, tubuhnya berjungkir balik, kedua kaki di atas dan kepalanya di bawah!

Ia berdiri dengan cara terbalik seperti dahulu kalau berlatih Iweekang di bawah asuhan See-thian Tok-ong. Inilah cara untuk memulihkan kesehatan dan untuk menolak hawa pukulan lawan yang sudah melukai dalam tubuh. Sampai beberapa kali tubuhnya berputaran, membuat semua orang terheran-heran dan diam-diam Sin Hong juga tertegun karena ilmu dari Kong Ji benar-benar sudah amat tinggi dan berbahaya.

Tak lama kemudian, setelah hawa diangin terusir dan dalam dada, Kong Ji berkata tanpa membalikkan tubuh. "Sin Hong, kita sama lihat saja nanti, siapa yang menang di antara kita!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba tubuh yang masih berjungkir balik itu bergerak dan sekali melompat, tubuh itu sudah berada di tempat yang jauhnya hampir sepuluh tombak dengan kedua kaki di atas tanah! Kemudian, sebelum semua orang sempat mencegah. Kong ji sudah lenyap dari situ dengan cepat sekali.

Lie Bu rek menjadi pucat. "Sin Hong, bocah itu telah menjadi seorang iblis yang berbahaya!"

Cam-kauw Sin-kai juga berkata kagum, "Kepandaiannya benar-benar hebat, tidak kalah oleh tokoh-tokoh besar yang lain. Akan tetapi, aku tetap percaya bahwa mereka semua takkan dapat menandingi Wan-situ. Karena besok pada saat pemilihan bengcu baru, kuharap Wan-sicu tidak mengecewakan harapan orang banyak di dunia orang gagah, yakni seorang bengcu baru yang lihai bijaksana harus terpilih agar dunia kang-ouw dapat terpelihara dari pada malapetaka yang didatangkan oleh orang-orang jahat."

Sin Hong tadinya tidak tertarik sama sekali tentang hal. Ia juga sama sekali tak pernah mendengar tentang urusan ini, maka sedikitpun juga ia tidak tertarik untuk menjadi bengcu, apalagi ketika ia mendengar bahwa bengcu yang dimaksud bukanlah seperti halnya seorang ketua perkumpulan seperti Ketua He kin kaipang misalnya, melainkan seorang ketua yang mengepalai partai persilatan di seluruh Tiongkok. Seorang bengcu yang diangkat ini disahkan dan dtakuti oleh semua ciangbunjin (ketua) dari partai-partai besar seperti Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan lain-lain.

Dahulu memang tidak ada bengcu seperti ini. Setiap perkumpulan atau partai persilatan mempunyai ketua dan aturan-aturan sendiri. Akan tetapi setelah beberapa kali timbul keributan antara partai-partai itu sendiri sehingga selalu terjadi pemecah-belahan, lalu diadakan pemilihan bengcu itu, sehingga di bawah pimpinan satu orang, para partai itu dapat bekerja sama dengan baik. Apalagi di waktu menghadapi bencana yang mengancam rakyat dan negara, maka tenaga seluruh orang kangouw dapat dikerahkan pada saat yang sama dan di bawah komando satu saja.

Kalau Sin Hong tadinya tidak tertarik, adalah Lie Bu Tek yang amat tertarik. Setelah penguburan dan perawatan para korban selesai, Lie Bu Tek menjamu Cam-kauw Sin-kai dan minta kepada kakek ini untuk memberi penjelasan lebih lanjut tentang pemilihan bengcu. Cam-kauw Sin-kai adalah seorang tokoh besar yang selalu menyembunyikan diri, maka jarang ada orang bertemu dengannya. Akan tetapi diam-diam pengemis tua ini adalah bekas seorang panglima di waktu mudanya, yakni sebelum tentara Kin menguasai Tiongkok.

Oleh karena itu, selalu ia memperhatikan keadaan tanah airnya, ia pun selalu memperhatikan keadaan rakyat dan negara. Kepandaian Cam kauw Sin-kai memang tinggi, kiranya dapat disejajarkan dengan kepandaian Ba Mau Hoatsu atau Giok Seng Cu, kalau kalah pun kiranya tidak banyak. Sebegitu lama, Cam-kauw Sin-kai hanya menerima dua orang murid. Yang pertama adalah seorang muda rupa tampan dan gagah dan kini sudah melakukan tugas merantau dan membela keadilan dan peri kebenaran sebagai seorang pendekar. Yang kedua adalah Ah Kai yang baru saja gugur oleh See-thian Tok-ong.

Di dalam perantauannya, Cam-kau Sin-kai mendengar tentang majunya pihak hek-to atau kaum hitam yang selalu mengganggu ketenteraman umum. Semenjak dahulu, biarpun banyak orang jahat, namun mereka itu selalu bekerja sama secara sembunyi karena takut akan kejaran para pendekar gagah. Akan tetapi lambat laun keadaan berubah. Di pihak mereka itu banyak muncul orang-orang pandai, atau mungkin juga orang-orang yang tadinya tergolong pendekar-pendekar gagah entah mengapa terjeblos dan bahkan menggabung dalam kelompok kaum jalan hitam ini.

Apalagi setelah munculnya tokoh- tokoh seperti Giok Seng Cu, Ba Mau Hoatsu, keluarga See-thian Tok-ong, dan juga munculnya perkumpulan-perkumpulan jahat seperti Bu-cin-pang, Im-yang-bu-pai dan lain-lain, maka pihak hek-to makin berani saja. Ada tanda-tanda bahwa pihak "kaum putih" akan terdesak. Bahkan sudah ada beritanya bahwa partai-partai besar seperti Kunlun-pai dan Go bi pai akan diserbu oleh kaum hitam!

Dahulu memang masih ada seorang pandai seperti Pak Kek Siansu, Thian Te Siang-mo, dan lain-lain orang yang namanya cukup ditakuti oleh para penjahat. Akan tetapi sekarang, siapakah yang boleh diandalkan? Ada murid Pak-Kek Siansu yang cukup ternama, yakni Hwa I Enghlong Go Ciang Le dan isterinya Liang Bi Lan. Akan tetapi mereka sudah lama tidak muncul di dunia kangouw sehingga nama mereka tidak begitu terkenal lagi.

Di samping munculnya orang-orang jahat yang mengancam kedudukan kaum pendekar pembela kebenaran, ada juga yang amat menggelisahkan hati Ca kauw Sin-kai, yakni penyerbuan dari tentara Mongol di bawah pimpinan seorang gagah perkasa seperti Temu Cin itu. Tentu saja pengemis tua bekas panglima ini tidak peduli andaikan pemerintah Kin akan hancur lebur oleh tentara Mongol. Akan tetapi sebagai seorang bekas panglima ia maklum bahwa setiap peperangan pasti akan mendatangkan sengsara kepada rakyat jelata! Dan perang perlu dicegah. Untuk mencegah ini, tidak ada jalan lain, kecuali membantu pemerintah Kin untuk mengusir orang-orang Mongol!

Inilah scbabnya maka terpaksa Cam-kauw Sin-kai keluar dari tempat sembunyinya mengadakan hubungan dengan orang-orang gagah di seluruh tanah air, dan mengusulkan pengangkatan bengcu baru. Kemudian ia teringat akan muridnya, Ah Kai yang sedang menuju ke Ba-nam-bun untuk menghadiri pemilihan Ketua Hek-kin-kaipang yang baru. Maka lalu menyusul ke Bu-nam-bun, karena ia hendak menarik Hek-kin-kaipang agar supaya ikut membantu mencari calon bengcu dan untuk ikut pula menghubungi partai-partai lain sehingga mereka dapat satu padu.

"Demikianlah, kebetulan sekali di pulau ini aku melihat ilmu silat Wan-sicu luar biasa. Tidak betulkah dugaanku bahwa kau adalah ahli waris tunggal dari Pak Kek Siansu, Wan-sicu?"

Sin Hong terpaksa mengaku bahwa dialah penemu kitab peninggalan Pak Kek Siansu.

"Bagus! Kalau begitu, sesuai pula dengan sifat dan watak mendiang gurumu, kau harus turun tangan menyelamatkan orang-orang gagah sedunia dan juga meyelamatkan rakyat dan negara dari serbuan orang-orang Mongol, Wan-sicu."

"Bagaimana Locianpwe bisa berkata demikian? Boanseng adalah seorang yang masih bodoh dan hijau, bagaimana boanseng berani lancang mengangkat diri menjadi bengcu, mengepalai orang-orang gagah sedunia?"

"Bukan kau mengangkat diri sendiri, Wan-sicu. Akan tetapi kamilah yang mengangkat mu."

"Akan tetapi bukanlah banyak orang lain seperti Liok Kong Ji tadi, yang ingin pula menjadi bengcu?"

"Itulah bahayanya. Memang banyak orang-orang yang tidak bersih hatinya ingin menduduki kehormatan tertinggi di dunia ilmu silat itu, akan tetapi justru inilah yang harus dilawan dan diberantas. Kiranya hanya kau seorang yang akan dapat menghadapi mereka sehingga kedudukan bengcu dapat diselamatkan.”

Bicara tentang Kong Ji, kembali Sin Hong teringat akan keadaan pemuda aneh itu. Bagaimana Kong Ji bisa menjadi murid Go Ciang Le? Ah, mengapa ia begitu bodoh? Ia bisa tanyakan hal ini kepada Gak Soan Li! Teringat akan ini, Sin Hong lalu minta permisi dan meninggalkan pulau itu untuk sebentar dan sementara itu, Cam-kauw Sin-kai bercakap-cakap dengan Lie Bu Tek.

Ketika Sin Hong tiba di tempat dimana ia meninggalkan Soan Li seorang diri, ia menjadi bingung. Soan Li tidak kelihatan lagi, sudah lenyap dari tempat itu. Ia memanggil-manggil beberapa kali dan berjalan ke sana ke mari, namun tidak dapat melihat gadis itu. Ia mulai gelisah, dan menjadi makin bingung dan cemas sekali ketika ia melihat pedang Soan Li menggeletak di atas tanah. Tak salah lagi, gadis itu pasti telah tertawan oleh orang jahat.

"Celaka...! Dan semua ini gara-gara aku yang meninggalkannya seorang diri. Aku harus mencarinya..."

Cepat Sin Hong kembali ke Kim-ke-tho dan dengan singkat ia menuturkan kepada gihunya tentang hilangnya Gak Soan Li murid Go Ciang Le. "Gihu, dia tertawan karena kelalaianku. Aku harus pergi sekarang juga mencarinya, siapa tahu kalau-kalau aku masih akan dapat mengejar dan menolongnya dari tangan penjahat yang menculiknya."

"Memang seharusnya demikian. Sayang sekali dia sudah hilang, kalau tidak tentu aku cepat bertanya tentang tempat tinggal Ciang Le. Kalau saja aku tahu tempatnya, tentu akan kudatangi ia dapat kutarik untuk membantu semua usaha kita,"

Tiba-tiba Cam-kauw Sin-kai menepak pahanya. "Ah, mengapa Lie-taihiap tidak tadi tadi bertanya kepada lohu? Kalau Lohu tahu bahwa kalian ada hubungan erat dengan Hwa I Enghiong, tentu sudah kuberi tahu dari tadi. Memang kau dapat menarik bantuannya, kiranya hal itu jauh lebih berharga daripada mencari bantuan sepuluh orang ciangbunjin yang ternama! Lohu tahu tempat tinggalnya akan tetapi karena tidak ada hubungan erat, lohu tidak berani mengganggunya. Hwa I Enghiong tinggal di Pulau Kim-bun-to."

"Nah, kalau begitu, biar aku pergi mencari Gak-siocia dan menolongnya. Gihu pergi mencari Hwa I Enghiong, sedangkan Cam-kauw Locianpwe dapat menggantikan kedudukan ketua Hek-kin kaipang. Bukankah ini tepat sekali?" kata Sin Hong.

Karena menghadapi urusan penting dan pula melihat bahwa Hek-kin-kaipang memang perlu dipegang oleh seorang pandai seperti Cam-kauw Sin-kai agar jangan mudah diganggu orang jahat Lie Bu Tek segera menyatakan persetujuannya.

Para anggauta dikumpulkan, juga Tan Lokai dipondong keluar dalam keadaan masih terluka, kemudian setelah diumumkan bahwa Cam-kauw Sin-kai diangkat menjadi ketua, semua orang menyatakan setuju. Cam-kauw Sin-kai sendiri tidak mau berlaku sungkan-sungkan atau pura-pura lagi, lalu menerima pengangkatan itu. Ia berpesan kepada Lie Bu Tek agar supaya betul-betul berusaha membujuk Go Ciang Le suami isteri agar suka turun tangan dan membantu, bahkan kiranya lebih baik kalau Hwa I Enghiong mau dicalonkan sebagai bengcu.

Maka berangkatlah Sin Hong mencari Soan Li dan pada hari itu juga Lie Bu Tek berangkat menuju ke Pulau Kim-bun-to, mencari Hwa I Enghiong Go Ciang Le.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Sampai sepekan lebih Sin Hong mencari-cari tanpa hasil. Ia sudah mendengar sana-sini bertanya kepada penduduk, namun Soan Li hilang tak meninggalkan jejak. Ia seperti meraba-raba di tempat gelap. Akhirnya di sebuah kota ia mendengar bahwa di kota itu beberapa hari yang lalu memang kelihatan ada orang wanita cantik bersama seorang muda dan seorang kakek, akan tetapi Sin Hong tidak dapat memastikan apa Soan Li ada di antara mereka ini. Betapapun juga, ia lalu melanjutkan perjalanannya mengejar orang-orang itu. Akan tetapi baru saja ia keluar dari rumah penginapan di mana ia bermalam, belasan orang anggauta polisi mengejar dan mengepungnya.

"Penjahat keji, kau hendak lari ke mana?" bentak mereka.

Sin Hong melongo dan memandang kepada mereka dan dengan muka bodoh. "Kalian ini ada apakah, siang hari bolong memaki-maki orang tanpa alasan,” tanyanya mendongkol sekali karena memang hatinya sedang risau memikirkan Soan Li.

“Masih berpura-pura lagi? Lebih baik menurut saja kami tangkap agar kami tak usah mempergunakan kekerasan!"

Sin Hong menjadi heran sekali. Karena ingin tahu latar belakang kejadian ini, ia membiarkan kedua tangannya dibelenggu tanpa melawan. Kemudian digiring ke sebuah rumah gedung di mana banyak penduduk berdiri di luar. Jelas kelihatan dari luar bahwa di dalam rumah gedung itu pasti terjadi peristiwa hebat. Ketika Sin Hong digiring masuk, orang yang menonton memaki-maki padanya dan ternyata di dalam gedung itu juga terjaga oleh anggauta polisi. Beberapa orang pembesar sedang melakukan pemeriksaan. Seorang di antara anggauta-anggauta polisi yang menangkap Sin Hong memberi laporan dan ributlah mereka. Sin Hong diseret masuk dan dihadapkan pada seorang pembesar yang berkumis tebal.

"Siapa namamu?" bentaknya.

"Namaku Gong Lam," jawab Sin Hong, ingat akan nama yang diperkenalkan kepada Soan Li.

Alangkah kaget hatinya ketika pembesar itu menggebrak meja dan membentak, "Jangan main-main. Namamu Wan Sin Hong, bagaimana kau berani membohong di depan kami? Pengawal tampar dulu mulutnya yang membohong agar tidak berani membohong lagi!”

Sin Hong terlampau kaget dan sehingga ia tidak mengelak ketika seorang penjaga menampar mulutnya tiga kali. Ia tidak merasa apa-apa, sedangkan penamparnya menyeringai karena ia seakan-akan menampar karet yang membuat telapak tangannya pedas.

"Taijin, bagaimana Taijin mengetahui namaku? Memang benar namaku Wa Sin Hong, akan tetapi dari mana kalian tahu? Dan untuk perkara apakah aku ditangkap?"

Pembesar itu tertawa bergelak. "Tak mudah kau menipu orang seperti kami,” katanya menyombong. "Kau memang penjahat besar dan berani sekali. Kau masih pura-pura tanya mengapa kau ditangkap, Nah, mari kita bersama menyaksikan bekas tanganmu yang jahat dan berlumur darah."

Setelah berkata demikian, pembesar itu memberi tanda kepada para polisi dan kembali Sin Hong diseret memasuki sebuah kamar yang besar. Di tengah kamar itu menggeletak seorang laki-laki dan seorang wanita setengah tua dalam keadaan tak bernyawa lagi dan berlumur darah, sedangkan peti uang yang telah kosong berserakan di sudut, meja kursi terbalik. Jelas menandakan bahwa semalam telah ada perampok masuk dan merampas uang lalu membunuh dua orang tua itu,

Sin Hong membelalakkan matanya, lalu memandang kepada pembesar itu dengan mata bertanya. Akan tetapi pembesar itu tidak pedulikan pandang matanya bahkan menariknya ke dalam kamar di sebelah kamar itu sambil berkata, "Masih mau menyaksikan yang lain yang lebih hebat lagi? Hayo,"

Di kamar ke dua ini, Sin Hong menyaksikan pemandangan yang membuat darahnya bergolak saking marahnya. Di atas pembaringan menggeletak tubuh seorang nona muda yang cantik. Nona ini telah tewas pula dengan leher putus terbabat senjata tajam dan dari keadaan di situ mudah diduga bahwa yang datang mengganggu adalah seorang jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga). Ini semua masih belum hebat, yang betul-betul membuat Sin Hong marah bukan main adalah ketika ia disuruh membaca tulisan di tembok putih. Tulisan yang dibuat dengan darah nona itu, yang bunyinya seperti berikut:

Memetik bunga merampas harta membunuh hartawan tanggung jawab pendekar Luliang san.

Di bawah barisan tulisan ini ada tanda tangannya yang jelas sekali berbunyi WAN SIN HONG. Kemudian bagaikan mimpi ia mendengar pembesar itu bicara,

"Biarpun berani sekali dan kejam, akan tetapi kau tolol. Kau membiarkan dirimu terlihat oleh pelayan, yang tentu saja mengenal potongan tubuhmu dan warna pakaianmu, kemudian kau berjalan pergi seenakmu kembali ke dalam hotel Lianghoa likoan. Ha ha ha, selama hidupku baru kali ini aku bertemu dengan seorang penjahat yang berani dan kejam namun tolol sekali!"

Tiba-tiba semua anggauta polisi berteriak kaget ketika melihat Sin Hong sekali bergerak saja sudah melayang melewati kepala mereka dan telah berada di luar rumah! Kemudian dengan gerakan tangannya belenggu itu putus dengan mudah.

"Taijin, dan kalian semua, ketahuilah bahwa aku Wan Sin Hong bukan seorang penjahat. Semua itu tentu perbuatan seorang yang secara diam-diam memusuhi dan hendak membikin buruk namaku. Aku bersumpah untuk mencari dan membekuk penjahat pengecut itu!"

Ketika para orang memburu keluar, sekali berkelebat saja Sin Hong telah lenyap dari situ. Tentu saja seluruh penduduk kota itu gempar. Setiap mulut bicara tentang Wan Sin Hong penjahat besar yang berilmu tinggi. Memang sudah menjadi kebiasaan manusia-manusia gatal mulut untuk menyampaikan warta buruk akan seseorang seluas mungkin. Tentang kebaikan orang, takkan ada seseorang pun setan yang membicarakan, akan tetapi tentu keburukan orang, agaknya orang-orang yang mengaku sendiri suci pun suka pula mempercakapkan! Sebentar saja, berita bahwa penjahat muda yang bernama Wan Sin Hong dan berkepandaian amat tinggi berkeliaran mencari korban.

Sin Hong marah dan mendongkol bukan main. ia menduga-duga siapakah gerangan orangnya yang begitu curang memburukkan namanya secara begitu keji? Ia tidak berani sembarangan menduga, dan diam-diam ia bersumpah untuk mencari orang itu, yang akan diseretnya di depan orang banyak agar membuat pengakua sehingga namanya bersih kembali. Akan tetapi, bukan penjahat yang merusak namanya yang ia temukan, bahkan peristiwa-peristiwa yang membuatnya terheran-heran dan marah, juga tidak berdaya!

Beberapa hari kemudian ketika melanjutkan perjalanannya, hampir dalam setiap kota ia mendengar kejahatan yang dilakukan oleh... Wan Sin Hong! Pencurian besar-besaran, pembunuhan kejam, gangguan pada wanita-wanita secara mengerikan, pendeknya perbuatan sang iblis keji!

Saking ngeri dan bingungnya, Sin Hong buru-buru meninggalkan tempat itu dan di sepanjang jalan ia mencari-cari keterangan. Tiap kali mendengar ada kejahatan terjadi di sebuah kota, ia menyusul cepat-cepat untuk segera membekuk penjahatnya. Namun, selalu ia tidak berhasil. Bahkan beberapa pekan kemudian, ia mengalami peristiwa yang membuatnya benar benar tidak berdaya dan bingung.

Di tengah perjalanan antara sebuah kota dan kampung di jalan kecil berbukit yang sunyi, ia berjalan perlahan dengan pikiran kusut. Tiba-tiba ia melihat dua orang pendeta tosu yang berdiri di tengah jalan dengan senjata pedang di tangan dan siap mereka mengancam sekali.

"Wan Sin Hong, akhirnya kami dapat juga membalas dendam!" kata seorang di antara mereka, seorang tosu tua tinggi kurus berjenggot putih.

"Siancai... siancai... selama hidup pinto belum pernah melihat seorang penjahat semuda ini telah sedemikian jahatnya. Wan Sin Hong, dosamu telah terIampau banyak, lebih baik kau lekas berlutut dan menyerah," kata tosu ke dua yang bertubuh gemuk pendek dan mukanya kuning.

Sudah terlalu banyak Sin Hong melihat kejadian-kejadian aneh akhir-akhir ini, kejadian yang merugikan namanya, maka sekarang menghadapi dua orang tosu yang datang-datang memaki dan menuduhnya, ia bersikap adem saja, menarik napas panjang dengan sebal ia bertanya,

"Jiwi Totiang ini siapakah, dan partai persilatan mana dan apa alasannya hendak mencelakakan aku?"

"Pinto Im Yang Cu dari Kun-lun dan toyu ini adalah Tek Gwat Tosu d Thian-san-pai. Kiranya tak perlu berpanjang lebar lagi, dan tak ada gunanya berpura-pura memperlihatkan muka bersih dan keheranan. Tepat seperti dikatakan oleh Tek Gwat Toyu tadi, lebih baik kau lekas menyerah untuk kami bawa ke persidangan ketua-ketua partai." kata Im Yang Cu tosu yang kurus itu.

Sin Hong mendongkol bukan main. akan tetapi ia tidak bisa merasa gemas pada dua orang tosu ini, karena ia maklum bahwa mereka ini hanya menjadi korban dari perbuatan seorang jahat yang sengaja meminjam namanya dalam perbuatan jahatnya. Ia sekarang malah ingin sekali tahu perbuatan apa lagi gerangan yang dilakukan oleh siluman itu.

"Jiwi Totiang, kalau Jiwi Totiang berhak melakukan penangkapan atas diriku, kiranya aku yang tertuduh juga berhak untuk mengetahui apakah gerangan kejahatan yang orang sangka kulakukan. Apa kesalahanku terhadap Kun-lun-pai dan apa pula perbuatanku yang membikin marah Thian-san-pai?"

Im Yang Cu menghela napas dan mengelus-elus jenggotnya yang putih. "Hm, memang berbahaya sekali seorang muda mempelajari ilmu silat tinggi, batin belum kuat sehingga kepandaiannya dipakai untuk melakukan perbuatan jahat dan menyombongkan diri. Lebih berbahaya lagi kalau orangnya masih semuda engkau, memiliki muka yang baik dan yang menyenangkan. Benar-benar banyak yang palsu di dunia ini. Wan Sin Hong kau masih berpura-pura tanya? Baiklah agar jangan kelak orang bilang Kun lun-pai tidak adil, baik pinto tuturkan perbuatanmu yang jahat terhadap murid Kun-lun-pai yang bernama Thio Beng. Muridku itu sedang merayakan hari pernikahannya, kau datang merampas pengantin wanita, membunuh Thio Beng, kemudian membunuh pengantinnya sekali karena ia melawan. Dengan jelas kau menuliskan surat tantangan di atas tembok, perbuatanmu selain terkutuk juga amat sombong. Apakah masih banyak bicara lagi? Nama Wan Sin Hong sebagai penjahat besar, siapakah yang tidak mendengar?”

Sin Hong mengerutkan alisnya. Benar-benar hebat. Orang jahat yang sudah melakukan banyak kejahatan mempergunakan namanya, ternyata bukan orang biasa, melainkan seorang yang berkepandaian tinggi, kalau tidak demikian tak mungkin ia dapat membunuh anak murid Kun-lun-pai demikian mudahnya.

"Apakah ada saksi yang melihat aku melakukan perbuatan itu, Totiang? Menuduh orang berbuat jahat tanpa ada saksi, benar-benar amat gegabah dan tidak adil.”

Tiba-tiba Tek Gwat Tosu tertawa bergelak, "Masih kurang banyakkah saksi-saksi yang melihat sepak terjang penjahat muda Wan Sin Hong? Kalau masih kurang, pinto mempunyai seorang saksi utama yang akan melucuti kedokmu, penjahat muda! Kau menyerah untuk kami bawa ke persidangan, dan saksi utama itu telah menanti di sana. Tentu kau mengenal Kim Nio, bukan?"

Tentu saja Wan Sin Hong tidak mengenalnya. Hatinya makin penasaran. "Baiklah, aku akan ikut dengan Jiwi Totiang, akan tetapi bukan dalam arti kata menyerah, melainkan aku hendak ikut untuk menyelidiki persoalan ini lebih mendalam."

"Bocah jahat, kau benar-henar sombong sekali. Apa kau kira kami tak sanggup menangkapmu?" lm Yang Cu tokoh Kun-lun-pai dengan marah lalu melangkah maju, pedangnya dikelebatkan di depan muka Sin Hong, akan tetapi yang sungguh-sungguh menyerang adalah jari tangan kirinya, mencengkeram ke pundak pemuda itu.

Sin Hong sama sekali tidak mau menangkis atau mengelak. Terdengar bunyi kain robek disusul oleh seruan kaget tokoh Kun-lun-pai itu. Ketika jari-jari tangan kirinya mencengkeram pundak Sin Hong, kain baju pada pundak itu robek dan hancur, akan tetapi kulit pundak itu terasa oleh Im Yang Cu seakan-akan terbuat dan baja dilumuri lemak. Demikian keras dan licin. Hal ini benar-benar tidak masuk akal. Tosu ini terkenal memiliki kepandaian Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Garuda) dari Kun-lun-pai, jangankan tubuh manusia, batu karang juga akan hancur kalau dicengkeramnya. Akan tetapi bagaimana pundak pemuda itu tidak dapat dicengkeram?

"Totiang, apakah sudah menjadi kebiasaan seorang tosu untuk merusak pakaian orang?" kata Sin Hong menyindir.

Juga Tek Gwat Tosu menjadi pucat mukanya dan diam-diam ia gelisah sekali. penjahat muda ini benar-benar lihai sekali dan kalau memberontak, apakah dia dan Tek Gwat Tosu dapat menahannya? Im Yang Cu dapat melihat bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan. Ia berlaku cerdik dan tidak mau kehilangan muka, maka ia berkata,

“Wan Sin Hong, biarpun di dunia penjahat, orang mengenal kegagahan dan nama. Apakah kau mau berjanji untuk ikut dengan kami ke persidangan?"

"Aku memang hendak ikut, bukan untuk menyerah, melainkan untuk mendengar persoalan ini lebih lanjut."

"Kalau begitu, mari kita berangkat!"

Dengan senang Sin Hong mengikuti kedua orang tosu itu menuju ke sebuah bukit batu karang yang banyak terdapat jurang-jurang curam. Dua orang tua itu dalam perjalanan ini kembali mengakui kelihaian penjahat muda ini, karena biarpun mereka berdua mengerahkan ginkang dan mempergunakan ilmu berlari cepat, tetap saja orang muda itu berada di dekat mereka, Sedikit pun tak pernah tertinggal, bahkan berlari seenaknya saja.

Tak lama kemudian tibalah mereka di puncak bukit itu, di mana terdapat sebuah kelenteng kuno dan di depan kelenteng itu terdapat lapangan rumput. Di kanan kini nampak jurang-jurang ternganga amat curamnya. Ketika tiba di situ, Sin Hong melihat beberapa orang pendeta, ada tosu ada pula hwesio, tengah duduk bercakap-cakap dan nampaknya membicarakan hal yang amat penting. Kedatangan Im Yang Cu dan Tek Gwat Tosu membawa Wan Sin Hong mendapat sambutan hangat. Mereka semua berdiri memandang kepada Sin Hong dengan penuh perhatian.

Sin Hong dihadapkan kepada dua orang tosu yang paling tua. Dan laporan Im Yang Cu dan Tek Gwat Tosu, ia dapat menduga bahwa mereka ini adalalah ketua Kun-lun-pai dan ketua Thian-san-pai. Hatinya berdebar dan ia terkejut sekali. Ada apakah ketua-ketua partai persilatan besar berkumpul di bukit?

"Wan Sin Hong kau telah berhadapan dengan persidangan ketua ketua partai persilatan besar, apakah kau masih tidak lekas-lekas berlutut dan mengakui dosa dosamu?" tanya ketua Kun-lun-pai dengan suaranya yang lemah lembut dan bibir tersenyum, namun sepasang mata dan suaranya berpengaruh sekali.

"Boanpwe Wan Sin Hong menghaturkan hormat kepada Locianpwe sekalian. Akan tetapi, boanpwe sungguh tidak mengerti apakah artinya persidangan ketua ketua partai dan tidak tahu pula mengapa boanpwe disuruh menghadap. Juga mohon diberi tahu siapakah sebenarnya Locianpwe sekalian?"

Ketua Thian-san-pai yang berdiri di sebelah ketua Kun-lun-pai, seorang kakek berusia delapan puluh yang bertubuh kecil bongkok, bermuka merah sekali, kepalanya botak dan tidak berjenggat memukul-mukulkan tongkat hitamnya di atas tanah lalu berkata.

"Dunia telah berubah aneh sekali. Mana ada penjahat bersikap sebaik ini? Heran, heran!"

Ketua Kun-lun-pai yang juga usianya sudah delapan puluhan, bertubuh tinggi kurus, rambut dan jenggotnya panjang dan putih, sikapnya lemah lembut, berkata lagi kepada Sin Hong. "Pinto Tai Wi Siansu ketua Kun-lu pai, biarlah sebelum kami mendengar pengakuan-pengakuan dosamu, pinto perkenalkan dulu kepadamu agar kau tahu bahwa di sini kau tidak boleh main-main. Di sebelahku ini adalah Leng Hoat Tai su ketua Thian-san-pai, tiga saudara lain itu adalah Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai, Kian Hok Taisu ketua Go-bi-pai, dan Pang Soan Tojin ketua Teng-san-pai. Saudara-saudara yang lain adala tokoh-tokoh semua partai besar. Kami berkumpul di sini untuk keperluan lain, akan tetapi secara kebetulan kami mendengar munculnya seorang penjahat muda bernama Wan Sin Hong, bahkan hampir semua dari kami telah bertemu dengan peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh Wan Sin Hong. Setelah berada di sini dan mendengar kau menantang, apakah kami dapat tinggal diam?"

"Ah, tidak tahunya boanpwe dihadapkan kepada Ciangbunjin-ciangbunjin (Ketua-ketua) dari partai-partai besar. Benar-benar merupakan kehormatan bagi boanpwe. Akan tetapi boanpwe mendengar bahwa biasanya para Locianpwe suka berlaku adil dan teliti tidak sembrono. Maka boanpwe mengharap sukalah kira-kira dosa-dosa boanpwe itu disebutkan lalu diselidiki lebih dulu sebelum boanpwe dijatuhi hukuman, dan agar boanpwe diberi kesempatan untuk membela diri.”

Semua orang tua yang berada di situ saling pandang. Sikap pemuda ini benar-benar bukan seperti sikap seorang penjahat. Akan tetapi bukti-bukti banyak dan saksi pun ada.

"Dosamu terlalu banyak untuk disebut satu persatu. Buktinya di mana-mana, tulisan darah di tembok masih belum kering, saksi-saksi yang melihat melakukan kejahatan masih belum mati. Bahkan baru-baru ini kau telah membunuh murid partai kami Thio Beng membunuh isterinya pula. Kemudian pihak Thai-san juga mendapatkan seorang wanita yang telah kau ganggu. Mereka dapat mencegah wanita itu membunuh diri dan sekarang wanita itu pun berada di sini sebagai saksi. Apakah kau hendak menyangkal bahwa kau tidak kenal wanita itu?" Tat Wi Siansu ketua Kun-lun pai menudingkan telunjuknya ke arah seorang wanita muda dan cantik sekali yang berdiri di pinggir dekat jurang bersandar pada batu karang.

Sin Hong mengerahkan ingatannya akan tetapi ia tidak pernah bertemu muka dengan wanita ini. Wanita ini masih muda dan cantik sekali. Pakaiannya kusut demikian pula rambutnya, mukanya agak pucat dan kelihatannya sedih sekali. Akan tetapi semua ini tidak mengurangi kecantikannya, bahkan menambah jelita dan manis. Setelah bertemu pandang, wanita itu tiba-tiba terisak dan berkata,

"Memang dia inilah Si Keparat yang telah menggangguku. Dia ini yang memasuki kamarku, membawaku keluar dengan paksa, membawaku ke hutan dan mengancam hendak membunuhku kalau aku berteriak. Dia membawaku masuk keluar hutan dan memperlakukan aku secara kurang ajar dan keji, ia meninggalkan aku seorang diri di dalam hutan." wanita itu menangis lagi dengan sedih.

Sin Hong tak dapat menahan kemarahannya lagi. Bohongkah wanita itu? Ataukah memang ada kejadian seperti itu yang dilakukan oleh pemuda lain yang serupa benar dengan dia?

"Kau bohong...! Kau memfitnah... harus dibunuh...!" teriaknya marah.

Timbul niatnya untuk menangkap wanita itu kemudian memaksanya mengaku sejujurnya. Benar juga, pikirnya. Siapa tahu kalau-kalau orang yang selalu berusaha merusak namanya itu mempergunakan wanita ini untuk menjadi saksi palsu? Kalau benar demikian dan aku dapat memaksanya bicara, tentu Si Penjahat itu dapat diketahui siapa orangnya. Secepat kilat tubuh Sin Hong berkelebat ke arah wanita itu berdiri.

"Jahanam keji, apakah kau masih hendak membunuhnya lagi?" terdengar suara halus dan sebatang tongkat kecil hitam menyambar dan menghadang di depan tubuh Sin Hong. Pemuda ini mengibaskan tangannya ke arah tongkat itu sambil berkata, "Biarkan boanpwe menangkap pembantu Si Jahat itu, Locianpwe!”

Baik Sin Hong maupun Leng Hoat Taisu pemegang tongkat itu, terkejut akan akibat pertemuan tongkat dan tangan. Sin Hong merasa tangannya tergetar, demikian besar tenaga Iweekang yang disalurkan dalam tongkat itu, akan tetapi sebaiknya Ketua Thian-san-pai ini terkejut bukan main karena tongkatnya telah terpental mundur setelah kena dikibas tangan pemuda. Tosu tua maklum bahwa di dunia kang-ouw, larang ada orang yang kuat menangkis tongkatnya hanya dengan kibasan tangan belaka, maka tidak anehlah bahwa ia terheran-heran melihat tongkatnya ditangkis oleh seorang yang masih semuda ini. Namun, ia menjadi penasaran dan malu pula, maka tanpa banyak cakap ia lalu menyerang Sin Hong dengan tongkat hitamnya.

Sin Hong menjadi sibuk sekali. Dari angin pukulan tongkat, tahulah ia bahwa ia menghadapi seorang yang berilmu tinggi. Mengingat kedudukan kakek ini sebagai ketua Thian-san-pai, ia merasa sungkan untuk melawannya, apalagi merobohkannya.

"Taisu, harap jangan salah memukul orang tak berdosa," katanya sambil cepat mengelak dari serangan tongkat yang amat lihai itu.

"Mana ada maling mengaku dosa!" bentakan ini disusul dengan menyambarnya pedang yang berkelebat menusuk leher Sin Hong. Yang menyerang ini adalah ketua Bu-tong-pai, yakni Bu Kek Siansu.

Sin Hong mengeluh di dalam hatinya. Baru menghadapi serangan seorang saja di antara para ciangbunjin ini, merupakan hal yang tidak saja berat, akan tetapi juga tidak enak baginya. Antara dia dan mereka ini tidak terdapat permusuhan sesuatu, dan seringkali gihunya memberi nasihat agar ia menaruh hormat kepada para ciangbunjin. Oleh karena itu ia tidak mau membalas dan hanya mengelak dan kadang-kadang menggunakan tangannya untuk menyampok dan menangkis.

Bu Kek Siansu ketua Bu-tong-pai mengalami hal yang amat aneh. Dia tidak akan berani mengaku bahwa dialah orang terpandai, akan tetapi dia dapat memastikan bahwa di dunia kang-ouw tidak ada orang yang berani dengan seenaknya menghadapi pedangnya. Akan tetapi biarpun ia mengeroyok bersama Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai, namun pemuda yang dikeroyok ini dengan tangan kosong dapat menghadapi mereka, nampaknya sama sekali tidak terdesak dan seenaknya saja. Lebih-lebih heran dan kagetnya ketika pemuda itu sanggup menangkis sambaran pedangnya dengan menyentilkan jari telunjuknya. Kalau saja Bu Kek Siansu tidak memiliki lweekang yang kuat tentu pedang itu telah terlepas dari tangan demikian dahsyat dan kuatnya tenaga sentilan itu!

Sementara itu, ketika Sin Hong memandang ke arah gadis cantik yang mendakwanya tadi, ia melihat gadis itu melompat ke dalam kurang yang curam di dekatnya!

"Heeii... jangan Iari kau..." Sin Hong tak peduli lagi ketika tongkat hitam di tangan Leng Hoat Taisu mengarah pundaknya.

"Plak!" tongkat itu membalik ketika bertemu dengan pundak Sin Hong, dan dibarengi oleh teriakan kaget ketua Thian-san-pai, Sin Hong sudah dapat meloloskan diri dari kepungan dan melompat cepat ke tempat di mana gadis tadi berdiri.

"Dia sudah membunuh diri karena perbuatanmu yang jahat!" kata Tai Wi Siansu Ketua Kun-lun-pai yang juga melihat tubuh gadis tadi melayang ke dalam jurang.

Akan tetapi Sin Hong berpendapat lain. Tadi karena ia merasa gemas kepada gadis itu, di dalam pertempuran selalu memperhatikan sehingga ia melihat betul gerakan gadis di pinggir jurang. Matanya yang awas dapat melihat bahwa ketika bergerak melompat ke dalam jurang, gadis itu mempergunakan ginkang yang lumayan dan gerakan dalam melompat jelas sekali membuktikan bahwa gadis itu adalah seorang ahli silat tinggi!

"Gadis penipu, kau hendak lari kemana?" bentak Sin Hong sambil mengejar ke pinggir jurang. Akan tetapi jurang itu dalam sekali sehingga tidak kelihatan dasarnya. Juga dari atas tidak kelihatan lagi bayangan gadis itu, seakan-akan ditelan jurang yang ternganga.

"Jangan berpura-pura, ataukah sudah gila? Sudah jelas Nona Kim Nio membunuh diri di dalam jurang karena perbuatanmu yang keji dan jahat!" seru pula Tai Wi Siansu dan dibantu oleh yang lain-lain para kakek yang berkepandaian tinggi itu siap untuk menangkap Sin Hong.

"Cuwi Locianpwe, maafkan boanpwe tak dapat melayani lebih lama lagi. Boan-pwe perlu mencari Nona tadi!" Tubuhnya melesat dan bagaikan kilat ia telah lompat dan berlari cepat turun bukit.

Dengan mendongkol sekali Sin Hong berlari memutar dan menuju ke jurang yang tadi kelihatan dari puncak. Akan tetapi, seperti yang sudah ia duga, ia tidak dapat menemukan tubuh gadis itu. Kalau gadis itu benar benar terjun untuk membunuh diri, tentu ia akan dapat menemukan mayatnya yang sudah hancur. Bagaimana gadis itu dapat melompat dari tempat yang begitu tinggi tanpa terancam bahaya maut?

Sin Hong berpikir keras namun tak menemukan jawabannya. Dia sendiri biarpun sudah memiliki ginkang tinggi, kiranya takkan mungkin dapat melompat dari atas puncak itu ke bawah jurang. Pasti tubuhnya akan hancur. Kecuali seekor burung, kiranya tidak ada manusia yang dapat melompat dari tempat yang tingginya tak kurang dari lima puluh tombak itu. Kecuali kalau ada yang membantunya, pikir Sin Hong. Akan tetapi bagaimana caranya?

Makin marah hati pemuda ini. Kini ia yakin bahwa ada seorang atau lebih musuh rahasia yang berusaha keras untuk merusak namanya di dunia kang-ouw bahkan agaknya sengaja menarik perhatian para tokoh besar dunia persilatan seperti ketua-ketua partai itu agar dianggap sebagai seorang penjahat keji. Siapakah musuh rahasia itu? Apakah wanita tadi? Tak mungkin, karena selama hidupnya belum pernah ia bertemu dengan gadis tadi. Apakah gadis tadi hanya menjadi alat? Siapakah gerangan yang mengatur semua ini?

"Kurang ajar, aku harus mendapat rahasia ini. Aku harus dapat menangkap penjahat itu dan menyeretnya di depan para ciangbunjin." Hati dan pikiran Hong menjadi kusut karena ia merasa khawatir sekali. Kalau para ciangbunjin sampai menganggap dia sebagai seorang penjahat, dengan saksi-saksi yang hidup, benar-benar urusan ini bukan urusan kecil lagi.

********************

Sampai berbulan-bulan Sin Hong merantau dengan pikiran kusut, tidak saja ia merasa amat gelisah memikirkan keadaan Soan Li yang hilang tanpa meninggalkan jejak, juga ia amat gelisah memikirkan keadaan yang terjadi di sekitarnya. Tiada hentinya terdengar di mana-mana tentang penjahat keji bernama Wan Sin Hong yang tidak segan-segan meninggalkan nama di atas dinding kamar tempat ia melakukan kejahatan. Bahkan beberapa kali Sin Hong terpaksa harus mempergunakan kepandaiannya untuk melarikan diri ketika ia dikejar-kejar oleh para tokoh kang-ouw yang berusaha manangkapnya. Ia melarikan diri bukan karena takut, melainkan karena segan untuk melawan. Ia maklum bahwa tokoh kang-ouw itu bermaksud baik, yakni menangkap seorang penjahat keji

Pada suatu hari ia masuk ke dalam kota Liang-si. Ia sudah kehilangan jejak Soan Li sama sekali dan kini ia mencari Soan Li dan juga penjahat yang menggunakan namanya itu secara membuta, meraba-raba di dalam gelap, yakni di mana saja ia berada dicarilah keterangan. Kota Liang-si amat ramai dan besar karena di situ pusat perdagangan yang menghubungkan dua propinsi. Sin Hong bermalam di sebuah hotel dan mendapat kamar di belakang. Hari telah mulai senja maka Sin Hong terus saja memasuki kamar untuk mandi dan bertukar pakaian.

Akan tetapi baru saja masuk kamar ia mendengar gerakan-gerakan orang dan disusul bisikan-bisikan, "Ini dia orangnya, tak salah lagi...!"

Sin Hong sudah terlalu sering mengalami dirinya diintai dan diserbu orang maka hal ini tidak mengherankannya. tenang-tenang saja minta air hangat dari pelayan dan tanpa menghiraukan suara gerakan orang banyak yang ia tahu mengurung kamarnya, pemuda ini membersihkan diri dan bertukar pakaian. Kemudian ia memesan masakan kepada pelayan.

"Bawa saja ke kamar, aku hendak makan di dalam kamar," katanya sambil menyerahkan beberapa potong uang. Setelah makanan yang dipesan tiba, ia makan lalu memadamkan api dan siap untuk istirahat.

Tiba-tiba di dalam gelap itu ia mendengar suara senjata rahasia menyambar ke arah pembaringannya, Sin Hong dengan mudah mengelak dan tanpa banyak cakap ia menyambar bungkusan pakaiannya dan membuka daun pintu. Ternyata di depan pintu kamarnya telah berdiri belasan orang yang berpaksian sebagai polisi dan memegang senjata tajam, siap untuk menyerangnya. Sin Hong menarik napas. Ia merasa malas untuk melayani para petugas keamanan itu, maka ia lalu menutupkan lagi daun pintu, membuka jendela untuk melarikan diri dari situ. Akan tetapi di sini telah ada yang menjaga pula, bahkan pakaian mereka ini seperti ahli-ahli silat dan gerakan mereka jauh lebih tangguh daripada yang menjaga di depan pintu. Jumlah mereka yang berpakaian seperti kauwsu (guru silat) ini sedikitnya ada dua belas orang pula.

"Sungguh membosankan benar-benar!"

Sin Hong berkata perlahan, menutup kembali daun pintu dan sekali kedua kakinya bergerak, tubuhya sudah mencelat ke atas. Kedua tangannya digerakkan terdengar suara keras ketika pian dan genteng menjadi bobol dari mana tubuhnya menjeblos genteng. Akan tetapi, Sin Hong benar-benar keliru kalau ia mengira bahwa di atas genteng ia akan terlepas dari kepungan, bahkan begitu tubuhnya berada di wuwungan rumah, beberapa buah senjata menyambar dan menyerangnya dengan cara yang amat dahsyat. Ternyata bahwa yang menjaga di atas genteng adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, jumlahnya ada delapan orang di antara mereka itu bahkan samar-samar melihat ketua Kun-lun-pai dan Thian san-pai. Celaka, sekarang yang mengurungnya adalah tokoh-tokoh besar.

"Wan Sin Hong bangsat keji, menyerahlah untuk menebus dosa," terdengar suara Tai Wi Siansu dan pedangnya dah berkelebat dengan amat lihainya meluncur ke arah dada Sin Hong.

Sin Hong tidak mau melayani, sebaliknya ia menggulingkan tubuhnya di atas genteng, bergulingan ke bawah dan disusul dengan gerakan Hui-mau-jip-lim (Burung Terbang Masuk Hutan) tubuhnya sudah melayang ke bawah dan melarikan diri dengan cepat sekali.

"Kejar! Tangkap penjahat Wan Sin Hong!” terdengar suara orang mengejar dari segala jurusan.

Sin Hong tidak mau melayani dan terpaksa ia melarikan diri ke luar kota. Ia pikir takkan ada gunanya kalau melawan para pengejarnya, karena yang menjadi persoalan penting bukanlah ia dan para pengejar, melainkan antara dia dan penjahat yang merusak namanya. Percuma belaka kalau ia akan menyangkal semua tuduhan itu. Yang penting adalah mencari penjahat yang mengkhianatinya, karena penjahat itulah musuhnya, bukan orang-orang kang-ouw yang mengejarnya.

Sebentar saja ia sudah dapat melenyapkan diri dari para pengejarnya di dalam gelap. Baru saja ia melompat turun di luar tembok kota, tiba-tiba ia mendapatkan dirinya dikurung oleh belasan orang. Ketika ia melihat dengan bantuan sinar bulan yang remang-remang ia terkejut dan juga girang karena di antara orang orang yang tidak dikenalnya, ia melihat Liok Kong Ji, Ba Mau Hoatsu, Giok Seng Cu, dan ada juga... Soan Li!

"Gak... kau di sini...?" tak terasa pula ia berseru girang.

Akan tetapi, bukan main kagetnya, ketika ia melihat Soan Li tiba-tiba mencabut pedang dan dengan cepat melompat dan menyerangnya dengan ganas!

"Nona Soan Li...!" Sin Hong berseru kaget.

"Wan Sin Hong, kau telah menghinaku... kau telah merusak hidupku... kau harus mampus di tanganku..." Soan Li menyerang kalang kabut!

Bukan kepalang kagetnya hati Sin Hong melihat ini. Terpaksa ia mengelak dan beberapa kali memandang dengan penuh perhatian, khawatir kalau-kalau yang dianggap Soan Li bukan gadis itu. Akan tetapi tak salah lagi, inilah Gak Soan Li. Andaikata ia lupa akan orangnya, ia takkan lupa akan ilmu pedangnya. Benar-benar Sin Hong merasa dalam mimpi menghadapi hal yang aneh-aneh ini. Sementara itu, dalam kota terdengar suara mereka mengejar, bahkan terdengar Suara Tat Wi Siansu yang dikerahkan dengan tenaga lweekang.

"Wan Sin Hong, lebih baik kau menyerah. Tiada gunanya kau biar sampai ke neraka sekalipun kau akan berhadapan dengan seluruh orang gagah di dunia"

Sin Hong benar-benar menjadi bingung. Ia masih diserang kalang kabut oleh Soan Li yang nampaknya nekat itu. Tiba-tiba Kong Ji melangkah dan berkata keras berpengaruh,

"Soan Li kekasihku, sudahlah. Tinggalkan dia!"

Aneh di atas aneh! Sin Hong sampai berdiri bengong ketika melihat betapa Soan Li tiba-tiba melempar pedangnya, berlari dan menubruk Kong Ji yang memeluknya, kemudian gadis itu menangis terisak-isak di atas dada Kong Ji. Lebih hebat lagi kekagetan hati Sin Hong yang terheran-heran itu ketika mendengar suara Soan Li penuh kemanjaan.

"Lam-ko, Wan Sin Hong telah merusak hidupku, telah menghinaku..."

Sin Hong sampai tak dapat mengeluarkan suara saking heran dan terkejutnya, ia masih merasa dalam mimpi ketika ia mendengar suara Kong Ji berkata,

“Sin Hong... demi persaudaraan kita, Aku sanggup menolongmu, dan mari kita bersama menghancurkan para pengejarmu itu. Mari kita gempur habis-habisan mereka itu asal kau suka bekerja sama dengan aku. Marilah, Sin Hong saudaraku..." Sambil berkata demikian, Kong Ji melepaskan pelukan Soan Li dan menghampiri Sin Hong dengan senyum ramah.

Sin Hong masih bingung, serasa mimpi. Akan tetapi ia masih cukup sadar untuk mengingat bahwa pengejarnya itu adalah tokoh-tokoh besar dunia kang-ouw yang ternama dan termasuk pendekar-pendekar budiman. Ia tadi melihat di antara mereka dua orang tokoh besar, yakni Tai Wi Siansu ketua Kun-lun-pai dan Leng Hoat Taisu ketua Thian-san-pai dan baru. dua orang ini saja sudah meyakinkan hati bahwa mereka benar-benar merupakan tokoh-tokoh besar yang paling dihormati. Dan ia masih ingat akan sikap Kong Ji ketika bertemu dengannya, di atas Pulau Kim ke-tho, sikap yang tidak mencerminkan persaudaraan...

Thanks for reading Pedang Penakluk Iblis Jilid 18 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »