Pedang Penakluk Iblis Jilid 13

Pedang Penakluk Iblis Jilid 13

Hui Lian tidak mau membunuh orang tanpa ada sebab tertentu. Di dalam pertempuran dan percekcokan ini, di dalam hati ia mengaku bahwa pihaknya yang salah. Ia hanya membela diri karena ikut dikeroyok, akan tetapi ia hanya murobohkan orang tanpa melukai berat, atau menabas kutung senjata mereka saja. Pak-kek Sin-kiam bagaikan sebatang pisau tajam bertemu buah labu menghadap golok dan pedang para pengeroyok itu. Setiap kali pedang pusaka ini bertemu dengan senjata lawan, pasti senjata lawan itu terbabat putus dengan amat mudahnya.

Oleh karena kejadian ini orang-orang Mongol menjadi gentar dan mereka mengalihkan pengeroyokan mereka kepada Kong Ji. Akan tetapi, inilah kesalahan mereka. Kalau mereka mengeroyok Hui Lian saja, paling hebat senjata mereka rusak dan mereka roboh terluka ringan. Sekarang setelah mereka mengeroyok pemuda itu, sama halnya dengan mencari mati sendiri. Kong Ji benar-benar telengas dan kedua tangannya menyebar maut. Setiap sambaran tangan kiri meremukkan kepala atau menotok jalan darah kematian! Hui Lian sampai bergidik melihat sepak terjang suhengnya ini. Baiknya baru ada tujuh orang yang tewas ketika tiba-tiba terdengar bentakan keras menahan semua orang yang bertempur. Bentakan itu demikian berpengaruh, karena semua orang Mongol lalu melompat mundur dan berlutut.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, yang datang itu adalah Temu Cin sendiri bersama pasukannya yang terpukul mundur oleh pasukan musuh yang besar jumlahnya. Pada waktu itu Temu Cin sedang memimpin bangsanya untuk menundukkan suku suku bangsa lain yang tadinya menindas mereka. Di antara suku-suku bangsa yang besar dan kuat adalah suku-suku bangsa Kerait dan Naiman. Dua suku bangsa ini bersatu dan menghadapi pemberontakan Temu Cin. Baru-baru ini, Temu Cin dengan hanya seratus lima puluh orang pasukannya, bertemu dengan rombongan musuh yang jumlahnya seribu orang lebih. Tentu saja pasukan Temu Cin menjadi kewalahan dan dikejar-kejar. Dengan amat cerdiknya, Temu Cin melarikan pasukann menuju ka Gasyun Nor, di mana telah bersiap sedia kawan-kawan untuk menyambut musuh. Dengan keras hati dan tidak mengenal lelah Temu Cin terus melakukan perjalanan yang amat jauh melalui padang pasir untuk memancing musuhnya yang banyak jumlahnya.

Akan tetapi, ketika tiba di Telaga Cu-yen-hu atau Telaga Gasyun Nor, ia melihat orang-orangnya tengah mengeroyok seorang pemuda dan seorang dara yang amat luar biasa permainan pedangnya, Temu Cin paling suka melihat orang gagah, dan memang termasuk kecerdikannya untuk memikat hati orang-orang pandai agar cita-citanya mendapat bantuan mereka. Oleh karena ini, sekelebat saja melihat jalannya pertempuran, Temu Cin sudah tahu bahwa dua orang muda itu bukanlah ahli silat sembarangan.

Di lain pihak, ketika Kong Ji dan Hui Lian memandang orang yang baru tiba, mereka diam-diam merasa kagum dan tertarik. Ada sesuatu dalam diri Temu Cin yang menarik perhatian orang dan menimbulkan kekaguman, ada sesuatu dalam sikapnya yang berbeda dengan semua orang. Selain ini, pemuda Mongol ini juga gagah sekali, dengan wajah seperti harimau dan sepasang mata sipit yang tajam dan bergerak-gerik penuh kecerdikan. Temu Cin menjura kepada Kong Ji dan Hui Lian, sedangkan matanya bersinar kagum ketika melihat pedang Pak-kek Sin-kiam di tangan gadis itu.

"Ji-wi Enghiong yang mulia, maafkan aku tidak sempat menyambut lebih siang kedatangan Ji-wi yang merupakan penghormatan bagi kami. Dan lebih-lebih lagi maafkan atas kelancangan orang-orangku yang tidak tahu bahwa dua orang gagah datang sebagai sahabat. Biarlah aku akan memberi hukuman kepada mereka!"

Mendengar ini, Kong Ji melengak dan Hui Lian merasa tidak enak sekali. Sebetulnya, pihaknya yang seharusnya ditegur dan pihaknya yang keterlaluan, akan tetapi tuan rumah mengeluarkan kata-kata yang demikian sungkan.

"Sahabat, harap kau yang maafkan kami, dan harap jangan memberi hukuman kepada orang-orangmu. Mereka itu hanya menjalankan kewajiban dan kamilah yang datang mengganggu. Maaf, maaf..." kata Hui Lian.

Temu Cin berpaling kepada orang-orangnya. "Kau dengarkan itu? Lihiap ini bukan orang sembarangan, baru melihat pokiamnya saja, seharusnya kalian dapat menduga. Hayo lekas singkirkan mayat-mayat ini dan bersihkan tempat untuk menyambut dua tamu agung'"

Sekarang Kong ji melangkah maju dan menjura, "Kami memang berlaku lancang, untungnya Tuan Rumah begitu sopan santun dan baik hati. Sebetulnya, kedatangan kami adalah untuk bertemu dengan pimpinan besar kalian yang bernama Temu Cin."

Orang Mongol muda yang bertubuh tegap itu tertawa bergelak. "Alangkah bahagia hatiku mendapat perhatian dua orang muda begini gagah perkasa. Tai-hiap, akulah Temu Cin!"

Kong Ji dan Hum Lian kali ini benar-benar terkejut. Sama sekali tidak mereka sangka bahwa pemimpin besar itu masih begitu muda, dan lagi begitu sederhana!

Melihat keheranan mereka, kembali Temu Cin tertawa. "Marilah duduk di dalam tenda, Ji-wi Enghiong. Mari kita bercakap-cakap di dalam dan minun arak."

Karena tidak baik dan tidak enak bicara di luar, apalagi setelah terjadi pertempuran tadi, Kong Ji dan Hui Lian menurut saja. Mereka mengikuti Temu Cin yang masuk ke dalam sebuah tenda besar sekali di mana telah tersedia meja dan bangku serba lengkap. Tidak disangka bahwa biarpun hanya bangunan tenda, namun di sebelah dalamnya lengkap dan menyenangkan, patut menjadi tempat tinggal seorang pemimpin besar. Setelah duduk dan arak dikeluarkan oleh pelayan yang cepat pergi lagi, Temu Cin bertanya,

"Tidak tahu siapakah Jiwi yang muda dan gagah?"

"Aku bernama Liok Kong Ji, dan nona ini adalah Go Hui Lian, sumoiku. Kami datang dari selatan, dari Pulau Kim bun-to."

Mendengar itu, sepasang mata yang sipit itu terbelalak dan wajah Temu Cin berseru. "Aha, Lihiap ini she Go, ada hubungan apakah kiranya dengan Taihiap Ciang Le yang berjuluk Hwa I Enghiong dan juga tinggal di Kim-bun-to?"

"Dia adalah ayahku," jawab Hui Lian cepat.

Temu Cin cepat berdiri dari tempat duduknya dan menjura dalam-dalam kepada Hui Lian. "Ah, benar-benar kehormatan besar sekali bagiku dapat bertemu dengan Lihiap di sini, dapat menerima kunjungan puteri dari Taihiap Go Ciang Le. Guru-guruku yang demikian banyak jumlahnya tak seorang pun di antara mereka yang tidak mengagumi dan menjunjung tinggi nama ayahmu, Nona."

"Terima kasih, Taijin terlampau menghormat," jawab Hui Lian yang sebaliknra menyebut "taijin", karena menurut pendapatnya bukankah pemuda Mongol itu seorang yang berkedudukan tinggi, menjadi pemimpin besar seluruh rakyat Mongol? Temu Cin sebaliknya tidak merasa aneh disebut taijin dan sikapnya biasa serta ramah-tamah.

"Adapun maksud kedatangan kami," kata Kong Ji kemudian, "Karena sudah lama sekali kagum mendengar nama besar Taijin, kagum mendengar pergerakan saudara-saudara bangsa Mongol untuk memperbaiki nasib. Apalagi mendengar berita bahwa Taijin bercita-cita untuk membebaskan rakyat kami dari penindasan bangsa Kin, benar-benar menimbulkan hati kagum dan berterima kalis. Oleh karena itu, kami sengaja datang bukan saja untuk menyaksikan kebenaran berita ini, juga untuk berkenalan dengan Taijin dan kalau mungkin menyediakan tenaga membantu perjuangan suci ini.

Berseri wajah Temu Cin mendengar ini. Untuk menarik hati dan menarik bantuan orang-orang gagah di dunia kang-ouw, ia tidak segan-segan mengeluarka banyak harta. Apalagi pemuda yang gagah ini datang-datang menawarkan tenaga bantuannya sendiri. Hal ini benar-benar menyenangkan hatinya sehinggga ia tersenyum-senyum gembira. Akan tetapi sebaliknya Hui Lian menjadi amat terheran-heran. Mengapa sekarang suhengnya menyatakan maksud yang amat jauh bedanya daripada semula? Ia menoleh kepada suhengnya dengan pandang mata penuh pertanyaan, akan tetapi Kong ji pura-pura tidak melihatnya. Hati Hui Lain menjadi mendongkol sekali dan ia kehilangan kesabarannya.

"Taijin, menurut kabar yang kudapat, di utara ini banyak perkumpulan orang-orang pandai dan tokoh-tokoh kang-ouw dari segala macam golongan. Oleh karena inilah maka kami sengaja datang ke sini bukan hanya untuk berkenalan denganmu, akan tetapi terutama sekali hendak mencari beberapa orang tokoh kang-ouw yang menjadi musuh besar kali. Kami mengharapkan keterangan dan taijin apakah mereka berada di daerah utara ini."

Temu Cin menekan perasaan tidak senangnya mendengar ini. Ia amat membutuhkan bantuan orang-orang pandai untuk melaksanakan cita-citanya yang besar, yakni selain mempersatukan suku-suku bangsa di utara sehingga menjadi suku bangsa besar, juga untuk menyerbu ke selatan dan menguasai seluruh Tiongkok. Tentu saja mendengar adanya pertentangan antara orang gagah, ia tidak senang karena itu berarti merugikan perjuangannya. Akan tetapi dengan pandai dapat menyembunyikan perasaannya itu dan pada wajahnya yang gagah tidak terbayang sesuatu.

"Siapakah gerangan nama musuh-musuh besar Lihiap itu?"

"Mereka adalah orang-orang tingkat tinggi di dunia kang-ouw, yakni Giok Seng Cu ketua Im-yang-bu-pai, Ba Mau Hoatsu dart Tibet dan See-thian Tok ong beserta anak isterinya."

Temu Cin benar-benar terkejut mendengar ini. “Mereka adalah orang-orang luar biasa di dunia kang-ouw!" katanya. "Sudah lama sekali aku mendengar nama mereka sebagai iblis-iblis yang sakti, akan tetapi sayang belum pernah bertemu muka, juga mereka tidak ada di sini. Lihiap bermusuhan dengan orang-orang seperti itu, alangkah berbahayanya! Baiklah, aku akan membuka mata dan memasang telinga, kalau aku mendengar di mana adanya mereka, pasti aka kuberi tahu kepada Lihiap." Kemudian pemimpin orang Mongol ini berpaling kepada Kong Ji. "Liok Taihiap, tentang maksudmu hendak membantu kami benar-benar amat kuhargai. Tentu saja kelak tidak akan melupakan budi yang besar dari Taihiap ini. Akan tetapi aku pun bersama seluruh kawanku minta bukti pembelaan dari Taihiap. Tak lama lagi akan datang serombongan barisan musuh, yakni dari suku bangsa Naiman dan Kerait yang jumlahnya seribu orang lebih, dipimpin sendiri oleh kepala suku bangsa Naiman yang gagah perkasa. Mereka mengejar-ngejar kami dan kalau mereka tiba aku akan mengadakan perlawanan besar-besaran. Untuk serbuan mereka ini aku sudah memasang jebakan dan aku yakin mereka akan dapat kuhancurkan. Kawan-kawanku di sini berjumlah tiga ribu orang lebih dan sekarang sudah kusiapkan. Bahkan aku sudah memanggil beberapa orang panglima dan pembantu dari barat. Maukah kau dan Lihiap membantu kami?"

"Tentu saja, Taijin. Serahkan saja pemimpin barisan musuh kepadaku, hendak kuperlihatkan bahwa kedatangan kami ini tidak percuma belaka!" jawab Kong Ji gembira.

Tiba-tiba terdengar sorak sorai yang hebat dari jurusan timur dan pada saat itu seorang pengawal masuk bersama seorang Mongol yang usianya, kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh tegap sekali akan tetapi agak pendek, sepasang matanya lebar dan kumisnya kecil panjang. Orang ini berpakaian perang dan di pinggangnya tergantung sebuah golok yang gagangnya amat indah ukirannya. Dengan matanva yang lebar itu ia menatap Kong Ji dan ia tidak menyembunyikan kekagumannya ketika ia melihat Hui Lian yang cantik manis.

"Bouw Ang Gempo, bagus kau datang pada saat yang tepat!" Temu Cin berkata girang ketika panglima itu memberi hormat kepadanya. "Perkenalkan dulu kepada dua orang pendekar ini. Dia ini adalah Liok Kong Ji Taihiap, murid dari pendekar besar Go Ciang Le di Kim bun-co, sedangkan Nona ini adalah puteri dari Go-talhiap itu yang bernama Go Hui Lian. Jiwi Enghiong, inilah Bouw Ang Gempo panglima perangku yang sudah bayak berjasa."

Bouw Ang Gempo, dengan lagak gagah memberi hormat kepada dua orang muda itu. Pandangan matanya terhadap Kong Ji agak bercuriga, akan tetapi terhadap Hui Lian, jelas sekali terbayang kekagumannya.

"Bouw Ang Gempo, berapa banyak pasukan yang kau bawa?"

"Dua ribu lima ratus orang, Khan Muda!" kata panglima itu. Kong Ji dan Hui Lian terkejut mendengar sebutan Temu Cin yang disebut Khan Muda atau Raja Muda itu. Tak mereka sangka bahwa kedudukan orang Mongol muda ini sudah meningkat demikian tinggi.

"Bagus, kau dan anak buahmu harus menjaga agar jangan terlampau banyak terjadi pembunuhan. Taklukkan orang-orang Naiman dan Kerait itu dalam keadaan hidup sehingga mereka akan menggabungkan diri dengan kita. Adapun tentang kepala suku bangsa Naiman beserta puteranya yang keras kepala itu, kau serahkan saja kepada Liok-taihiap dan Go Lihiap. Mereka ini sudah sanggup untuk menghadapi mereka!"

Bouw Ang Gempo menggerakkan sepasang alisnya yang gombyok. "Akan tetapi, Lima Honggan kepala suku bangsa Naiman itu lihai sekali! Apalagi puterinya bukanlah orang yang tidak boleh di-buat main-main!" Sambil berkata demikian ia memandang kepada Kong Ji dengan pandang merendahkan dan kepada Hui Lian dengan pandang mata khawatir.

Temu Cin tersenyum. "Ha ha ha, panglimaku, kaulah yang kurang awas. Sekarang tidak ada waktu lagi, kelak setelah selesai mengalahkan musuh, boleh kau belajar kenal dengan kelihaian dua orang pendekar muda ini!”

Panglima itu memberi hormat dan berjalan keluar. Temu Cin juga mengajak dua orang tamunya untuk keluar, karena suara musuh yang mendatangi tempat itu kini sudah terdengar jelas, Mereka sudah berbaris di dekat telaga dan terdengar suara menantang-nantang. Barisan yang datang hendak menyerbu suku bangsa Mongol ini kelihatan tidak teratur. Sungguhpun mereka itu rata-rata memiliki perawakan yang gagah dan kuat, namun sebagian besar nampak amat lelah, bahkan ada beberapa orang yang cepat mengambil air dari telaga untuk menghilangkan rasa haus.

Mereka dipimpin seorang tua yang berjenggot panjang dan tangan kanannya memegang tongkat kuningan yang dipegang seperti toya. Kelihatannya gagah sekali dan dari tindakannya nyata bahwa ia memiliki kepandaian silat yang tinggi. Kakek ini diam saja, hanya memandang ke depan dengan mata tajam, sedangkan yang berteriak-teriak menantang adalah pembantu-pembantunya yang berdiri di bagian depan dari barisan itu. Setelah menghadapi mereka dari jarak tiga puluh tombak Temu Cin berkata, suaranya nyaring sekali sehingga diam-diam Hui Lian dan Kong Ji memuji dan tahu bahwa pemimpin muda ini ternyata memiliki tenaga lweekang dan khikang ang tinggi juga.

"Paman Lima Honggan! Sudah berkali-kali kukatakan bahwa tiada gunanya kau dan kawan-kawanmu memusuhiku. Kau takkan menang! Bagaimana kau bisa mengalahkan bangsa Mongol yang besar? Daripada membuang nyawa cuma-cuma, bukanlah lebih baik kau dan kawan-kawanmu menggabungkan diri dengan kami! Hawa begini panas, kalian sudah melakukan perjalanan jauh, apakah tidak lebih baik datang minum arak menghilangkan lelah? Lihatlah anak buahmu sudah kehausan, apakah kau tidak hendak memberi kesempatan kepada mereka untuk minum dulu? Lihat, aku dan kawan-kawanku sengaja tidak menjaga telaga, untuk memberi kesempatan kepada orang-orangmu melepaskan lelah!"

"Temu Cin, siapa sudi mendengar bujukanmu? Kau sudah menghina keluarga kami, kau hendak mengajak kami menyerang ke selatan? Huh, orang macam kau akan menyerang ke selatan? Tengoklah tingginya Gunung Thai-san, apa kau kira akan dapat menghadapi orang selatan yang banyak memiliki ahli-ahli silat yang tinggi? Sudahlah, jangan banyak cerewet. Kalau kau memang laki-laki, pertanggung jawabkan semua perbuatanmu dan menyerah untuk kubelenggu!"

Akan tetapi pada saat itu, Temu Cin tertawa bergelak. "Paman Lima Hong-on. lihatlah, apa yang sudah terjadi dengan anak buahmu? Apakah kau masih keras kepala hendak melawan?"

Lima Honggan menengok dan mukanya menjadi pucat. Sebagian besar anak buahnya tadi tak dapat menahan haus dan beramai-ramai mereka minum air telaga Gasyun Nor, juga kuda-kuda yang kepayahan diberi minum. Mereka minum dengan bernafsu sekali, lupa akan segala apa di sekeliling mereka. Hanya para pemimpin yang di tengah jalan masih kebagian air, dan mereka yang memang bersemangat baja, tidak tergesa-gesa minum ketika menghadapi musuh. Dan sekarang mereka yang tadi minum air telaga, semua roboh bergelimpangan dalam keadaan lemas dan tak berdaya, seperti orang mabok atau orang mengantuk. Bahkan kuda yang minum air itu pun sekarang rebah miring, mengeluarkan ringkik panjang seperti keluhan. Sebentar saja lebih dari separuh barisan rebah malang melintang dan keadaan menjadi panik.

Tiba-tiba dari dalam barisan Lima Honggan, melompat keluar seorang wanita yang bertubuh ramping. Wanita bermuka manis sekali, dengan rambut dipotong pendek. Bajunya biru dan celananya merah berkibar tertiup angin ketika ia melompat ke depan dengan sinar mata memancarkan kemarahan. Tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu ia telah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yakni sebuah bola baja yang diikat dengan rantai kecil. Nona yang usianya paling banyak tujuh belas tahun, masih amat muda dan amat cantik menggiurkan ini, setelah mengayun bola baja itu di atas kepalanya, diputar-putarnya sehingga menimbulkan suara nyaring. Ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah Temu Cin.

"Temu Cin, bangsat curang manusia tak berbudi! Kau telah meracuni orang- orang kami!" Sambil berkata demikian sekali melompat gadis ini telah melapaui sepuluh tombak dan berdiri menantang dengan marah!

Temu Cin menoleh kepada Kong Ji dan Hui Lian, tersenyum dan berkata, “Itulah Lima Nalumei, puteri Paman Honggan yang tadinya hendak dijodohkan dengan aku. Dia lihai sekali, apakah di antara Ji-wi ada yang sudi mewakiliku?"

Hui Lian memandang kepada Temu Cin dan matanya ragu-ragu ketika ia memandang dan bertanya, "Taijin, betul-betulkah kau meracuni orang itu!"

Temu Cin tersenyum. "Aku sayang orang-orang di utara, bagaimana aku mau meracuni mereka? Mereka hanya telah minum air yang dicampuri obat bius yang melemahkan dan memabokan saja."

Sementara itu, sejak tadi Kong Ji memandang ke arah Nalumei dengan mata berseri dan penuh gairah. Gadis itu memang cantik sekali, dan memiliki sifat kecantikan yang lain sekali dari pada kecantikan seorang gadis Han. Rambutnya yang dipotong pendek itu agak kecoklat-coklatan dan matanya agak kebiruan seperti mata seorang nona bangsa Semu. Mendengar permintaan Temu Cin, ia lalu berkata.

"Biar aku yang menghadapinya!" Ia melompat dengan gembira sambil mencabut pedangnya.

"Saudara Liok, jangan bunuh dia, tangkap hidup-hidup!" Temu Cin masih sempat memberi ingat pemuda ini. Kemudian ia berpaling kepada Hui Lian, "Go lihiap, kalau Paman Lima Honggan maju, harap kau suka menghadapinya. Aku mau membantu Bouw Ang Gempo menaklukkan barisan mereka!"

Belum sempat Hui Lian menjawab sekali berkelebat Temu Cin sudah melompat jauh untuk memimpin pasukan menghadapi musuh yang masih hendak mengadakan perlawanan.

Ketika Kong ji berhadapan dengan nona bangsa Naiman itu, ia merasa girang sekali. Makin dekat, makin nampak kecantikan nona ini yang benar-benar masih amat muda, namun sudah mempunyai sikap gagah. Nona ini melihat kedatangan Kong Jil dengan pedang di tangan sudah tahu bahwa pemuda tampan bangsa Han ini tentulah jagoan dari Temu Cin, maka tanpa banyak cakap lalu menggerakkan senjatanya menyerang dengan hebat.

"Bagus, Nona manis, gerakanmu indah sekali!" Kong ji memuji sambil mengelak. Akan tetap' baru saja ia mengelak, bola baja itu sudah datang menyambar lagi amat cepatnya, mengarah kepalanya. Kong ji tentu saja tidak mau membiarkan kepalanya dihancurkan oleh benda itu, dan tidak berani pula berlaku semberono karena sambaran bola itu mendatangkan angin mengiuk. Cepat pedangnya bergerak menangkis dan bahkan inengerahkan tenaga untuk memutuskan tali bola itu.

Akan tetapi, tali itu tidak terputus, bahkan ketika pedangnya menahan tali, bola itu dapat memukul terus, menukik ke bawah mengancam dadanya. Kong Ji benar-benar kaget sekarang. Tak disangkanya bahwa nona ini demikian lihainya. ia cepat menarik kembali pedangnya dan mengelak ke kiri melangkah maju dan tangan kirinya diulur untuk merampas senjata lawan yang lihai itu. Akan tetapi, nona itu telah mendahuluinya, menotok ke arah Iambungnya dengan dua jari tangan kiri. Gerakannya cepat dan kuat sehingga kembali Kong Ji terkejut sampai berseru sambil melompat mundur. Jelas baginya bahwa gerakan tadi adalah ilmu menotok jalan darah dari selatan! Bagaimanakah seorang nona bangsa Naiman yang tinggal jauh di utara dapat mainkan ilmu silat selatan seperti orang Han?

Namun ia tidak sempat melamun terlalu lama karena Nalumei menyerangnya lagi, kini senjatanya diputar hebat dan mendesak kuat setelah diketahuinya bahwa pemuda berpedang ini dapat menghalau semua serangannya. Kong Ji juga melayaninya dengan hati-hati. Pemuda ini tidak mau menjatuhkan tangan besi, karena selain tidak mau melukai gadis manis yang menarik hatinya ini, juga. ia ingin sekali menyaksikan ilmu sang gadis ini lebih jauh. Pertempuran berjalan seru sekali.

Tiba-tiba kakek yang menjadi ayah gadis ini berteriak keras, memberi aba-aba kepada pasukannya untuk menyerbu. Dia sendiri membawa tongkatnya melompat untuk membantu puterinya. Tiba-tiba ia berhadapan dengan seorang gadis Han yang lincah, seorang gadis yang memegang pedang pusaka yang berkilauan cahayanya. Lima Honggan tidak gentar, sambil membentak keras ia mengayun tongkatnya ke arah Hui Lian. Gadis ini menangkis.

"Traangg!" Bukan main kagetnya Lima Honggan ketika ujung tongkatnya somplak, terbabat putus oleh pedang lawannya itu. ia mencelat mundur kemudian menghadapi Hui Lian lebih hati-hati. Tidak berani lagi ia mengadu tongkatnya dengan pedang itu dan selalu menghindarkan bertemunya kedua senjata. Namun tongkatnya selalu mengancam jalan darah yang berbahaya. Seperti juga Kong Ji. Hui Lian mendapat kenyataan bahwa ilmu silat dari selatan gerakannya hampir sama dengan ilmu silat cabang Bu-tong-pai.

Adapun pasukan Naiman dan Kerait setelah melihat pemimpin dan puterinya itu turun tangan, sambil bersorak sorak mereka lalu maju menyerbu, disambut oleh Bouw Ang Gempo yang memimpin anak buahnya. Namun sia-sia belaka bagi pihak penyerang, karena jumlah mereka sudah berkurang banyak. Kini mereka menghadapi sambutan dari pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya sehingga sebentar saja mereka dikurung dan dikeroyok. Banyak yang roboh bergelimpangan dan lebih banyak lagi yang tertangkap hidup-hidup. Adapun mereka yang terterkena minuman yang mengandung obat bius, siang-siang sudah dibelenggu oleh pihak Mongol.

Pertempuran antara pihak Kong Ji dan Nalumei hanya berlangsung selama dua puluh jurus. Kalau Kong Ji mau, dalam beberapa belas jurus saja akan dapat merobohkan lawannya akan tetapi ia merasa sayang kalau melukai nona ini. Maka setelah mendapat kesempatan baik ia memukul hancur bola besi itu dengan tenaga Tin-san-kang, kemudian sebelum Nalumei sempat mengelak, ia telah menepuk pundak gadis itu sehingga Nalumei jatuh lemas tak berdaya. Kong Ji menyambar tubuhnya dan mengempitnya, lalu membawanya ke dalam markas orang-orang Mongol.

Adapun pertandingan antara Hui Lian. dengan Lima Honggan juga tidak berjalan seimbang. Tidak saja pedang pusaka Pak-Kek Sin-kiam terlalu ampuh buat kakek itu, juga ilmu pedang gadis itu terlalu tinggi baginya. Sebentar saja, melihat berkelebatnya sinar pedang yang menyilaukan mata, Lima Honggan menjadi kabur pandangan matanya dan berkunang-kunang. Ia merasa bahwa kali ini ia dan anak buahnya pasti akan kalah. Apalagi setelah ia melihat puterinya tertawan musuh, hatinya menjadi kalut dan ia berlaku nekat. Ketika itu, pedang di tangan Hui Lian tengah menyerang ke arah dadanya. Kakek ini menangkis dengan tongkat sekuat tenaga. Terdengar suara nyaring dan tongkatnya patah menjadi dua. Namun ia tidak mundur, sebaliknya bahkan merangsek maju dengan kedua tangan diulur merupakan cengkeraman. Tangan kiri mencengkeram ke arah pedang dan tangan kanan mencengkeram ke arah dada Hui Lian!

Hui Lian terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa kakek ini demikian nekat. Kalau ia membabat, kedua lengan itu, pasti putus, namun ia tidak tega berlaku sekeji itu. Ia hanya mengelak untuk menghindarkan cengkeraman ke arah dadanya dan karena ia berlaku lambat, pedangnya telah kena dipegang oleh cengkeraman kakek itu. Lagi-lagi Hui Lian terkejut. Kalau orang tidak memiliki lweekang yang tinggi, baru mencengkeram Pak-kek Sin-ciang saja jari-jari tangannya tentu akan putus semua!

Agaknya kakek ini mempergunakan tenaga lemas sehingga tidak terpengaruh oleh tajamnya pedang yang keras. Kalau Hui Lian mau, ia dapat menyalurkan tenaga lemas pada pedangnya dan dengan demikian dapat melukai tangan kakek itu, akan tetapi ia tidak tega. Sebaliknya, ia hanya mencoba untuk membetot terlepas pedang itu. Mereka saling membetot dan tiba-tiba kakek itu menjerit, tangannya yang mencengkeram pedang terlepas dan ia roboh terlentang mandi darah. Tepat di ulu hatinya tertancap oleh sebatang anak panah yang kecil.

Hui Lian tertegun dan menengok ke belakangnya. Ia melihat Temu Cin bediri memandangnya dengan senyum, di tangan pemuda Mongol ini terlihat busur kecil dan anak-anak panah yang kecil pula. Jelaslah bahwa Temu Cin sudah turun tangan mengirim anak panah tadi ke ulu hati Lima Honggan'

"Dia harus dibinasakan, Lihiap, terlalu berbahaya untuk pergerakanku!" kata Temu Cin yang cepat lenyap pula di antara orang-orang yang sedang berperang tanding.

Orang-orang suku bangsa Kerait dan Naiman sebentar saja dapat dikalahkan dan hanya beberapa belas orang saja yang tewas, semua dapat ditawan dan diikat kedua tangannya. Mereka ini tidak dibunuh, akan tetapi perlahan-lahan akan mendapat bujukan dan penerangan dari Temu Cin sehingga kelak mereka bahkan akan menjadi pembantu dan anggauta pasukan yang setia. Di sinilah terletak kekuatan Temu Cin. ia tidak mau sembarangan menewaskan suku-suku bangsa utara kecuali yang dianggap berbahaya. Ia pandai mengambil hati dan pandai ia mengatur sehingga kelak seluruh suku bangsa di utara yang amat banyak macam dan jumlahnya itu dapat bersatu menjadi satu bangsa Mongol yang besar dan jaya.

Sehabis perang Temu Cin menghampiri Hui Lian dan mereka berdua berjalan kembali ke perkemahan, di sepanjang jalan disambut dan dihormati oleh semua orang Mongol. Diam-diam Hui Lian mengakui bahwa pemuda Mongol ini memang tepat untuk menjadi pemimpin. Gagah perkasa dan pandai memimpin, keras hati dan ramah tamah. Hui Lian memandang ke sana ke mari dan merasa heran mengapa ia tidak melihat Kong Ji. Ke manakah perginya Kong Ji?

Setelah ia mengalahkan Nalumei, ia menawan gadis cantik itu dan membawanya keperkemahan Mongol. Akan tetapi, sebagai tamu di tempat itu, ia tidak dapat berbuat sesuka hatinya dan terpaksa memberikan gadis tawanannya kepada para penjaga yang sudah menyediakan tempat tahanan khusus untuk para pimpinan pasukan musuh.

"Jaga dia baik-baik dan jangan ganggu. lni perintah Temu Cin!" kata Kong Ji yang merasa khawatir kalau-kalau gadis yang menggiurkan hatinya itu mendapat perlakuan buruk dari para penjaga tahanan.

Akan tetapi begitu ia kembali ke medan pertempuran dan hendak melampiaskan nafsunya yang suka membunuh, Temu Cin sudah mendekatinya dan tertawa, "Liok-taihiap, harap kau jangan mencampuri perang kecil ini. Cukup orang-orangku saja. Ke mana kau membawa Nalumei tadi?"

Merah muka Kong Ji. Pandang mata temu Cin demikian tajam seakan-akan orang ini dapat menjenguk ke dalam isi hatinya. "Aku serahkan kepada penjaga tawanan."

"Hem, kau agaknya tertarik kepdanya, Taihiap?"

Makin merah muka Kong Ji. Orang ini benar-benar berbahaya, mempunyai pandangan mata yang amat tajam dan otak yang cerdik sekali. "Dia memang manis, anehkah kalau seorang laki-laki tertarik kepada seorang gadis manis seperti dia?" Kong Ji menjawab dan sikapnya kurang senang.

Temu Cin tertawa bergelak. "Jangan salah mengerti, Taihiap. Kalau aku mau, gadis itu dulu sudah menjadi isteriku, dia adalah bekas tunanganku ketika aku masih kecil! Kalau aku mau menjadi suaminya, takkan ada perang hari ini dan aku pun tidak akan dapat maju, mungkin sekarang menjadi ayah yang baik. Ha ha ha! Akan tetapi, Taihiap seorang gagah takkan terlalu memusingkan urusan macam ini, dan kiranya seorang gadis suku bangsa Naiman kurang cocok dengan seorang pendekar Han seperti kau. Bouw Ang Gempo sudah lama tergila-gila kepada Nalumei, dan dia seorang yang berjasa besar. Aku akan merasa girang sekali kalau dapat menjodohkan Nalumei kepadanya sebagai pemberian jasa."

"Taijin, akulah yang mengalahkannya, aku yang menawannya, sudah sepantasnya kalau Nona itu diberikan kepadaku," kata Kong Ji dan kalau Hui Lian mendengar ini, gadis itu tentu akan merasa aneh sekali bagaimana suhengnya dapat berkata demikian tanpa merasa sungkan dan malu sedikitpun juga.

Temu Cin diam-diam juga terkejut. Penilaiannya terhadap Kong Ji merosot keras dan pemimpin ini biarpun masih muda, namun ia memiliki pertimbangan yang masak dan pandangan yang luas sekali. "Taihiap, apakah Sumoimu tidak akan marah kalau kau mengambil Nalumei?" tanyanya tiba-tiba.

Merah wajah Kong Ji. Pemuda ini teringat akan semua pengalamannya dengan Hui Lian dan ia sudah yakin sekarang bahwa Hui Lian tidak cinta kepadaya, walaupun sumoinya itu belum membencinya seperti yang dilakukan oleh Soan Li.

"Mengapa mesti marah? Aku suhengnya dan dia sumoiku, tidak ada hubungan lain kecuali itu."

Temu Cin berseri wajahnya. "Benarkah begitu, Taihiap? Bagus kalau begatu. Apakah sumoimu itu belum bertunangan dengan orang lain"

Kong Ji menggelengkan kepalanya. "Belum..." dan diam-diam dia menduga apakah pemimpin bangsa Mongol ini suka kepada Hui Lian?

"Kalau begitu, biarlah aku melamar sumoimu itu untuk... Bouw Ang Gempo. Dengan begitu, biarpun Nalumei kau ambil, dia tidak akan terlalu berduka! Ha ha ha, bukankah ini baik sekali, Taihiap?"

Demikianlah, di luar tahunya Hui Lian, persoalan ini dibicarakan oleh Kong Ji dan Temu Cin, kemudian bahkan Bou Ang Gempo dipanggil dan panglima diberi tahu, secara terus terang.

Bouw Ang Gempo mengurut-urut kumisnya yang kecil panjang. "Nona Nalumei sudah kuketahui watak dan keahliannya dalam berperang, sedangkan Nona Hui Lian itu, biarpun tidak kalah cantik oleh Nalumei, aku belum melihat sendiri sampai di mana kepandaiannya. Aku paling tidak suka mempunyai isteri yang lemah!"

Temu Cin khawatir kalau Kong Ji merasa tidak senang dan tersinggung. Maka ia tertawa dan berkata, "Bouw Ang Gempo ini paling menghargai kegagahan, dia sendiri juga memiliki kepandaian tinggi, apalagi dibantu oleh goloknya yang ampuh dan sakti, untuk suku bangsa kami, kiranya tidak ada keduanya!"

Mendengar ini, Kong ji melirik ke arah golok yang tergantung di punggung Bouw Ang Gempo. Golok itu sarungnya indah, juga gagangnya merupakan kepala mahluk aneh, singa bukan naga juga bukan, namun harus diakui bahwa gagangnya amat indah, dengan sepasang mata dari batu kemala hijau.

"Bouw Ang Gempo, marilah kau buktikan ketajaman golokmu itu dengan pedang ini," kata Kong Ji sambil memungut sebatang pedang yang terlempar ke atas tanah. Di sekitar tempat itu memang banyak sekali senjata-senjata tajam dari mereka yang jatuh dalam perang.

Bouw Ang Gempo tertawa bergelak dan sekali tangannya bergerak, ia telah mencabut goloknya. Kong Ji kagum bukan main melihat golok yang putih berkilauan seperti perak, akan tetapi ketika digerakkan membawa cahaya kehijauan itu. Benar-benar golok mustika yang luar biasa, pkirnya, Bouw A Gempo mengambil pedang dari tangan Kong Ji dan sekali ia memukulkan pedang pada goloknya, terdengar suara nyaring dan pedang itu putus bagaikan tangkai kembang teratai beradu dengan pisau tajam saja'

"Bouw Ang Gempo, mari kita bertaruh!" Kong Ji berseru sambil memandang kepada golok itu dengan mengilar. "Aku akan menyuruh Sumoiku melayanimu mengadu kepandaian agar kau puas dan melihat sampai di mana kepandaian Sumoiku. Kalau Sumoi kalah, terserah kepadamu dan aku takkan keberatan apa-apa, biar pun kau akan mengambil pedang pusaka yang dibawa oleh Sumoi, yang tidak kalah oleh golok ini baiknya. Akan tetapi kalau Sumoi menang, golok ini harus kau serahkan kepadaku, dan aku berhak mengambil pedang pusaka kami itu. Bagaimana?"

Bouw Ang Gempo sudah kegirangan karena ia boleh menguji Hui Lian yang memang amat dikaguminya, apalagi kalau mengingat bahwa gadis Han yang cantik itu akan menjadi isterinya, maka serta merta ia menyanggupinya dan menerima pertaruhan itu.

Temu Cin menggosok-gosok tangannya dengan hati girang. "Bagus sekali," pikirnya, "kalau Go Hui Lian menjadi isteri Bouw Ang Gempo dan Liok Kong Ji menjadi suami Nalumei, berarti aku dapat tambahan dua tenaga pembantu yang tangguh. Bagi Temu Cin, tidak ada yang lebih penting daripada cita-citanya, dan segala apa yang ia lakukan ialah demi tercapainya cita-citanya yang dikandung di dalam hatinya semenjak kecil. Cita-cita ini adalah, menaklukkan seluruh negeri dan merajai seluruh dunia!

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

"Sumoi, Bouw Ang Gempo itu harus diberi sedikit hajaran agar terbuka matanya dan jangan memandang rendah kepada kita." Kong Ji berkata kepada Hui Lian ketika malam hari itu Temu Cin mengadakan pesta untuk merayakan kemenangannya. Yang memenuhi tenda besar tempat pesta itu berlangsung adalah panglima-panglima dan pembantu-pembantu Temu Cin dan di antaranya terdapat beberapa orang kang-ouw dari selatan, orang-orang yang berkepandaian tinggi. Akan tetapi di antara mereka tidak kelihatan adanya -orang-orang yang dicari oleh Kong Ji dan Hui Lian.

"Mengapa kau berkata begitu, suheng?" tanya Hui Lian.

"Kau tunggu saja, ia pasti akan menantangmu menguji senjata. Tadi aku telah bercakap-cakap dengannya dan karena ia memamerkan golok pusakanya, aku menyatakan bahwa goloknya itu takkan menang dengan pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam yang kaubawa. ia marah-marah dan menyatakan bahwa kelihaian senjata bukan tergantung sepenuhnya dari kebaikan senjata itu sendiri melainkan dari orang yang memegangnya. Aku pun marah dan menyatakan bahwa kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya. Oleh karena ini, aku berani pastikan dia akan menantangmu. Kuharap kau jangan berlaku sungkan-sungkan menghadapinya, Sumoi."

Hui Lian menghela napas. "Kau ini mencari perkara saja. Pihak tuan rumah begitu ramah dan baik terhadap kita dan kau membangkitkan kemarahan dalam hati panglima yang dipercaya oleh Temu Cin."

"Akan tetapi aku harus menjaga nama apalagi menjaga nama besar Suhu!'"

Hui Lian hanya menarik napas panjang. "Baiklah, kalau memang ia menantang, akan kulihat sikapnya. Kiranya tak perlu melukainya, cukup kalau membuktikan bahwa Pak-kek Sin-kiam lebih bagus daripada segala macam golok!"

Pesta berjalan penuh kegembiraan dan di dalam kesempatan ini Temu Cin bahkan angkat bicara, membentangkan siasat-siasat dan rencana-rencana selanjutnya. Bukan main hebatnya hasil yang sudah dicapai oleh pemimpin muda ini. Ternyata bahwa pasukan-pasukan yang berada di bawah kekuasaannya sudah banyak sekali tersebar di mana-mana, dan siap untuk mempergunakan di segala waktu. Kini tugas dari setiap pasukan yang berpencaran itu adalah mengumpulkan kawan-kawan atau lebih tepat memperbesar jumlah anggauta pasukan, baik dari suku-suku bangsa lain yang menyetujui pergerakan mereka maupun dari tawanan-tawanan yang sudah diinsyafkan!

Setelah itu, hidangan dikeluarkan dan orang mulai makan minum gembira. Pujian-pujian diucapkan oleh Temu Cin untuk para panglimanya, terutama sekali Bouw Ang Gempo dipuji-puji, disambut tepuk sorak oleh kawan sejawatnya. Panglima ini berdiri, mengurut kumisnya dan menoleh ke sana ke mari dengan bangga, terutama sekali ia beberapa kali menoeh ke arah tempat duduk Hui Lian dan Kong Ji, sehingga diam-diam gadis ini merasa gemas dan mendongkol.

"Kepandaianku apa sih artinya kalau dibandingkan dengan kepandaian dua tamu agung kita?" kata Bouw Ang Gempo sambil menjura ke arah Kong Ji. "Liok taihiap telah dapat menawan puteri kepala suku bangsa Naiman yang terkenal pandai, itu sudah membuktikan bahwa kepandaian Liok-taihiap benar-benar hebat. Apalagi kepandaian Go-lihiap. Aku mendengar bahwa ia telah menghadapi Lima Honggan, bukankah itu hebat? Oleh karena itu untuk menggembirakan pesta malam hari ini, dan untuk menambah pengalaman dan meluaskan pandangan mata kami, aku minta dengan hormat sudilah kiranya Go-lihiap memberi sedikit petunjuk dan pelajaran dalam ilmu pedang kepadaku." Setelah berkata demikian, Bouw Ang Gempo melompat ke dekat meja Hui Lian dan menjura, matanya memandang penuh arti kepada Kong Ji.

Semua orang bertepuk tangan menyatakan gembira. Tentu saja mereka sudah mendengar bahwa nona bangsa Han yang cantik dan yang menjadi tamu pemimpin mereka itu lihai sekali, dan kini mereka ingin sekali menyaksikan apakah Hui Lian kuat menandingi Bouw Ang Gempo yang sudah amat terkenal di kalangan bangsanya sendiri.

"Go-lihiap," tiba-tiba terdengar suara Temu Cin keras ketika ia memandang kepada Hui Lian dengan senyum lebar, "Harap kau jangan salah terima. Bou Ang Gempo tidak berniat buruk, dan betul-betul hanya untuk minta petunjuk darimu. Terus terang saja, panglima ini memiliki sebatang golok pusaka yang amat baik, maka ia ingin sekali menguji goloknya itu dengan pedang pusakamu dan selain itu, ingin pula menguji ilmu silatnya dengan ilmu silatmu. Untuk meramaikan pesta ini, harap kau jangan menolak"

Bouw Ang Gempo gembira sekali mendengar ini, maka ia mendahului melompat ke tengah ruangan itu yang memang sudah dikosongkan dan dipersiapkan lebih dulu untuk tempat bersilat.

"Orang menantangku, sungguhpun tanpa maksud buruk, bagaimana aku dapat menolaknya?" kata Hui Lian. Mukanya agak merah, tanda bahwa nona ini menongkol sekali. Kalau Bouw Ang Gempo hendak mencoba kepandaian mengapa justru memilih dia? Mengapa tidak memilih Kong Ji? Ia merasa seperti hendak dijadikan tontonan! Aku akan menghajar babi berkumis ini,” pikirnya gemas!

Di lain saat gadis ini telah meninggalkan mejanya dan sekali ia melompat, telah menghadapi Bouw Ang Gempo dengan pedang di tangan. Semua orang kagum sekali melihat cara melompat yang amat lincah ini, apalagi melihat pedang yang berkilauan itu, mereka memuji dan menyatakan bahwa itulah pedang mustika yang amat baik.

"Bouw Ang Gempo, agaknya kau amat membanggakan golokmu dan mengandalkan ilmu silatmu, baiklah aku akan mencobanya,” kata gadis ini dan ia menekan rasa mendongkolnya karena tidak baik memperlihatkan kemarahan di muka umum, apalagi ia dan suhengnya adalah tamu-tamu yang dihormati.

Bouw Ang Gempo tersenyum dibuat-buat agar kelihatan gagah. "Lihiap, aku adalah pihak tuan rumah dan juga laki-laki, tidak patut menyerang lebih dahulu. Kau majulah dan mari kita main-main sebentar!"

"Baik, kau lihat pedangku!" Hui Lian tidak mau berlaku sheji (sungkan-sungkan) lagi, pedangnya digerakkan dan segulung sinar meluncur ke arah dada panglima Mongol itu.

"Mari mengadu ketajaman senjata!” Bouw Ang Gempo berteriak keras tiba-tiba dari samping goloknya menyambar dan membacok ke arah pedang.

Hui Lian tentu saja tidak mau membiarkan pedangnya terbacok dari samping, cepat merubah arah pedang dan sengaja memapaki datangnya golok. Gadis ini amat percaya akan ketajaman dan keampuhan Pak-kek Sin-kiam, maka tanpa ragu-ragu ia memapaki golok itu dengan maksud membuat golok itu rusak.

"Traaang..."

Bunga api yang banyak sekali berpijar menyambar ke sana ke mari ketika dua senjata itu bertemu dan bunga-bunga api muncrat ke arah muka Hui Lian dan Ang Gempo. Keduanya terkejut sekali dan cepat masing-masing melompat mundur untuk melihat apakah senjata mereka rusak. Akan tetapi baik Pak-kek Sin-kiam maupun golok di tangan Bouw Ang Gempo itu tidak rusak sedikitpun juga sehingga mereka menjadi lega. Diam-diam kedua orang ini memuji senjata lawan dan tadi ketika bertemu senjata.

Hui Lian merasakan tenaga raksasa yang membuat pedangnya terpental kembali. Ia maklum bahwa panglima Mongol ini memiliki tenaga gwakang yang amat besar maka kalau selalu beradu senjata, biarpun pedangnya takkan rusak, namun karena senjata itu sama baiknya, jika terus menerus beradu senjata, pihaknyalah yang rugi. Kemungkinan rusaknya senjata di pihaknya lebih besar. Oleh kaena ini, ia lalu melompat maju dan cepat melakukan penyerangan dengan ilmu pedangnya yang lihai, tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk mengadukan senjata. ia mengandalkan kelincah dan kecepatannya, setiap kali mengganti jurus dan menghindarkan pertemuan senjata.

Bouw Ang Gempo terkejut bukan main ketika melihat tubuh lawannya seakan-akan berubah menjadi tiga orang. Di kanan kiri dan depan terdapat berkelebatnya bayangan nona itu dan dimana-mana ia melihat pedang yang berkeredepan menusuk, membacok dan menabasnya! Panglima Mongol ini menjadi bingung sekali. Dalam hal senjata, ia boleh mengandalkan goloknya yang ternyata memang ampuh dan bukan senjata sembarangan, juga dalam hal tenaga, tak usah khawatir karena tenaganya lebih besar. Akan tetapi dalam hal silat, ia masih kalah jauh, apalagi menghadapi kecepatan gadis itu, ia benar-benar menjadi bingung dan sebentar sa ja matanya berkunang dan kepalanya serasa terputar-putar!

Baiknya Hui Lian ingat bahwa ia meghadapi seorang panglima yang disayang oleh Temu Cin, dan ingat bahwa pertandingan ini hanyalah sekedar menguji kepandaian belaka. Kalau dia mau, memang dengan jurus-jurus yang paling berbahaya dari ilmu pedangnya, ia dapat merobohkan atau membunuh Bouw Ang Gempo. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau lakukan hal ini dan hanya berusaha untuk melukai sedikit atau kalau mungkin merampas senjata lawan. Ia hanya mengharap supaya panglima ini mengakui kelemahannya dan akan mengaku kalah. Siapa kira bahwa panglima ini sama sekali tidak mau kalah, bahkan dengan berkat Bouw Ang Gempo menggerakkan goloknya, menangkis pedang nona itu sekuat tenaga.

"Traaaang... Triiiing...!"

kembali sepasang senjata ini bertemu dan kali ini bunga api yang muncrat lebih banyak lagi, mengagetkan para kadirin di situ. Kembali Hui Lian melompat ke belakang karena ia tidak mau kalau sampai ada bunga api yang mengenai kulit mukanya. Sambil melompat ia memeriksa pedangnya yang ternyata masih utuh akan tetapi diam-diam ia merasa mendongkol sekali. Kau keras kepala, pikirnya gemas, baiklah, aku akan memberi hajaran kepadamu!

Akan tetapi, Bouw Ang Gempo sudah melompat ke belakang, memeriksa golok dan kemudian memasukkan golok itu ke dalam sarungnya di pinggang. Ia menjura sambil tertawa. "Go-lihiap, aku harus akui bahwa pedangmu itu benar-benar luar biasa hebat, tidak kalah bagusnya daripada golok mustikaku. Karena senjata kita ini senjata pusaka, sayanglah kalau sampai rusak. Bagaimana kalau kita melanjutkan adu kepandaian ini dengan tangan kosong?”

Sebetulnya Hui Lian tidak sudi meladeni orang ini lebih lanjut, akan tetapi gadis ini masih muda dan darahnya masih panas. ia masih belum puas karena kemenangannya tadi hanya dapat dilihat oleh mata seorang ahli saja. Bagi orang- orang lain tentu belum mengakui bahw ia lebih unggul daripada panglima Mongol ini. Oleh karena itu, ucapan Bouw Ang Gempo yang bersifat tantangan itu tak dapat dttolaknya.

"Baiklah, ilmu golokmu sudah kulihat, aku pun ingin melihat ilmu silatmu sampai di mana sih tingginya!” katanya dengan nada mengejek sambil menyarungkan Pak-kek Sin-kiam.

Sebetulnya, Bouw Ang Gempo bukanlah seorang bodoh yang bermata buta. Dar pertandingan tadi ia sudah maklum bahwa kepandaian gadis ini memang luar biasa sekali dan ia kalah jauh, bahkan harus mengakui bahwa kepandaian Nalumei yang sudah pernah dilihatnya, tidak mungkin dapat mengatasi kepandaian nona Han ini. Akan tetapi karena ia sudah mengadakan perundingan dengan Kong Ji dan sudah mendapat janji bahwa nona ini akan dijodohkan dengan dia, ia ingin menguji sampai sepuasnya. Bahkan dalam pertandingan tangan kosong ini, ia akan dapat beradu tangan dan kalau mungkin ia akan menangkap calon isterinya ini.

"Lihiap kau mulailah!" katanya sambil tersenyum-senyum.

Hui Lian melangkah maju dan mengirim serangan dengan pukulan ke arah telinga kiri lawan. Inilah jurus dan Ilmu Silat Pak-kek Sin-ciang yang amat lihai, kelihatannya memukul telinga, akan tetapi sebenarnya leher lawanlah yang diarah. Akan tetapi tiba-tiba Bouw Ang Gempo menubruknya dengan kedua lengan dikembangkan dan sepasang tangan panglima Mongol itu yang penuh bulu hitam panjang, mencengkeram ke arah pergelangan tangannya yang memukul itu. Hui Lian terkejut karena hampir saja pergelangan tangannya kena dicengkeram. Cepat ia lalu membuka jari-jari tangannya dan mengibaskan jari-jarinya ke arah tangan yang mencengkeram. Inilah jurus mengibaskan jari tangan yang lihai sekali, karena jari-jari tangan yang dikibaskan itu dapat memutuskan otot dan mematahkan tulang.

Akan tetapi, Bou Ang Gempo yang sudah melatih kedua tangannya sudah merendamnya dengan obat dan melatihnya tak kenal lelah memiliki sepasang tangan yang kulit telapaknya sudah mengeras dan menguat. Kibasan jari-jari tangan nona itu tidak melukainya, namun cukup membuat ia merasa telapak tangannya pedas kedua tangannya terpental.

Jari-jari tangan yang dikibaskan ini adalah jurus pukulan Pak-kek Sin-ciang yang disebut Sin-ci-coan-hoa (Jari Sakti Menembus Bunga) dan merupakan semacam ilmu yang sukar dipelajari. Ilmu ini tepat sekali dipergunakan untuk menghadapi lawan yang pandai Ilmu Silat Kin-jia -hoat, semacam ilmu mencengkeram dan menangkap (seperti Judo).

Bouw Ang Gempo merasa penasaran dan beberapa kali ia menubruk dengan mengeluarkan seruan keras. Hui Lian pernah mendengar dari ayahnya bahwa di Mongol terdapat ilmu gulat yang lihai, maka ia menduga bahwa panglima Mongol ini tentulah mempergunakan ilmu gulat. Ayahnya pernah berkata, "Kalau kau menghadapi lawan yang mempergunakan ilmu gulat, hati-hati dan jagalah jangan sampai kau kena tertangkap. Lawan dia dengan tendangan dan pukulan yang mempergunakan tenaga lweekang dari jauh!"

Oleh karena itu, Hui Lian mempergunakan ginkangnya, selalu menjauhi Bouw Ang Gempo. Kemudian ia teringat akan ilmu pukulan yang ia pelajari dari Kong Ji, yakni yang sebetulnya adalah Ilmu Pukulan Tin-san-kang akan tetapi yang ia sendiri tidak tahu namanya. Ketika ia melihat lawannya menubruk lagi cepat Hui Lian mengerahkan tenaga, rendahkan tubuh dan mendorong dengan kedua tangannya.

Kong Ji terkejut sekali melihat sumoinya mempergunakan Ilmu Pukulan Tin-san-kang, akan tetapi kemudian ia lega karena ia ingat bahwa tenaga dari sumoinya belum berapa hebat. ia tidak menurunkan semua ilmu ini kepada Hui Lian. Betapapun juga, terdengar teriakan kaget dan tubuh Bouw Ang Gempo terjengkang, atau lebih tepat teelempar ke belakang sampai dua tombak lebih. Akan tetapi panglima Mongol ini benar-benar kuat. ia melompat berdiri lagi, tersenyum-senyum dan membersihkan pakaiannya, lalu menjura kepada Hui Lian dengan wajah berseri.

"Go-lihiap, sekarang baru aku percaya bahwa kepandaianmu memang benar-benar hebat. Saudara-saudara, tepuk tangan untuk Nona Go Hui Lian" Semua orang yang berada di situ bertepuk tangan dan bersorak memuji.

Hal ini tidak disangka-sangka oleh Hui-Lian. Ia merasa tidak enak hati melihat sikap yang demikian tutus dari diri Bouw Ang Gempo, maka ia pun menjura. "Saudara Bouw Ang Gempo, terima kasih bahwa kau sudah berlaku mengalah kepadaku," katanya.

Kong Ji menghampiri Bouw Ang Gempo dan menarik tangannya ke arah mejanya. "Kau benar-benar kuat, dapat menahan dorongan Sumoiku sehingga tidak terluka. Sekarang, setelah mengadu kepandaian barulah perkenalan kita disebut erat, karena bukanlah orang-orang gagah di dunia baru dapat bergaul bebas setelah menguji kepandaian masing-masing? Hal ini harus dirayakan!"

Hui Lian tidak keberatan melihat Bouw Ang Gempo duduk semeja dengannya, karena memang ia merasa kagum melihat sikap yang demikian jujur dan berani mengakui kekalahannya dari panglima Mongol ini. Kalau orang kang-ouw di selatan, kekalahan tentu dianggap bagai penghinaan dan hal yang memalukan serta menjatuhkan nama, akan tetapi bagaimana orang ini menerimanya dengan wajah gembira saja? Tentu saja ia tidak tahu bahwa panglima Mongol ini merasa puas melihat kepandaian orang yang dianggap sebagai calon isterinya!

Temu Cin sendiri berkenan memberi selamat kepada Hui Lian dengan secawan arak atas kemenangan dan kepandaiannya yang lihai. Kemudian Temu Cin memerintahkan anak buahnya bubar. "Di dalam kegembiraan kita harus tetap waspada," kata pemimpin muda ini, "musuh-musuh kita masih selalu mengintai. Kalau kita tidak membatasi diri dan berpesta pora mabok-mabokan kemudian pada lewat tengah malam ada musuh menyerbu, bagaimana nasib kita?" Demikianlah semua orang bubaran, kecuali meja yang dihadapi Kong Ji, Hui Lian, Bouw Ang Gempo dan juga Temu Cin sendiri yang pindah mendekati mereka.

Beberapa kali Kong Ji bertukar isarat dengan pandangan mata dengan Bouw Ang Gempo, di luar tahunya Hui Lian. Ang Gempo melepaskan tali pinggang yang mengikat sarung goloknya, kemudian menyerahkan golok itu kepada Kong Ji sambil berkata, "Liok-taihiap, aku kalah bertaruh, golok ini lebih pantas berada di tanganmu. Terimalah'"

Kong ji menerima sambil tertawa girang. “Saudara Bouw Ang Gempo, kau benar-benar seorang laki-laki sejati. Terima kasih."

Hui Lian memandang semua ini dengan heran. "Suheng, pertaruhan apakah yang kau adakan dengan Saudara Bouw Ang Gempo?"

Suhengnya hanya tersenyum saja dan panglima Mongol itu yang menjawab sambil tertawa lebar. "Liok-taihiap bertaruh bahwa aku pasti akan kalah menghadapimu, Lihiap, sebagai taruhannya, aku menawarkan golokku."

"Dan andaikata aku kalah?" tanya Hui Lian mengerutkan kening.

"Sumoi, aku tahu bahwa kau takkan kalah, maka aku berani mempertaruhkan pedang Suhu."

Hui Lian hanya tersenyum, akan tetapi di dalam hatinya ia mencela suhengnya yang begitu sembrono, berani mempertarukan pedang ayahnya! Adapun Temu Cin yang mendengar semua itu hanya tersenyum penuh rahasia. Pemimpin muda ini maklum akan perjanjian antara kedua orang ini dan ia pun sudah setuju sekali, maka ia telah siap untuk membicarakan tentang perjodohan antara Bouw Ang Gempo dengan Hui Lian. Akan tetapi, ia sama sekali tidak tahu bahwa telah diatur rencana yang amat keji oleh Kong Ji terhadap sumoinya.

Tiba-tiba Bouw Ang Gempo mengangkat cawan araknya. "Lihiap, aku Bou Ang Gempo benar-benar kagum terhadapmu, maka biarlah sekali lagi dengan secawan arak aku menghaturkan selamat sebagai pernyataan takluk!"

Hui Liman tidak enak sekali, "Ah, kau berlebih-lebihan. Dalam sebuah pertandingan, kalah menang bukanlah hal yang aneh. Kepandalanmu juga amat lihai, terutama sekali ilmu gulat itu benar-benar berbahaya sekali"

Biarpun mulutnya berkata demikian, namun Hun Lian tak mungkin dapat menampik penghormatan orang, maka ia mengangkat cawannya yang sementara itu telah dipenuhi oleh Kong Ji.

"Minumlah, Sumoi. Penghormatan orang secara tulus ikhlas tak boleh ditolak." kata Kong Ji yang mengangkat cawannya sendiri, diikuti pula oleh Temu Cin yang menganggap hal yang wajar saja.

Akan tetapi, begitu Hui Lian menenggak cawan araknya, tiba-tiba gadis ini melompat dari bangkunya. "Aaaa...! Siapa berani main-main dengan aku...?" ia hendak mencabut pedangnya, akan tetapi tiba-tiba bumi yang diinjaknya serasa berputar dan ia roboh pingsan di atas lantai.

Temu Cin terkejut sekali, akan tetapi pemimpin ini dapat menekan perasaannya dan memandang tajam, menanti sabar, apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bouw Ang Gempo dan Kong Ji tertawa bergelak. "Liok-taihiap, kau benar-benar memegang janji. Terima kasih”

Kong Ji menghampiri tubuh Hui Lian dan mengambil pedang Pak-kek Sin-kiam berikut sarungnya. Pedang Hui Lian yang tadinya terikat di punggungnya, ia lepaskan dan lemparkan di atas lantai. Kini ia memakai dua senjata, yakni golok dari Bouw Ang Gempo yang diikat di pinggang dan pedang Pak-kek Sin-kiam di punggung.

"Segala apa sudah dirundingkan dan sudah dilakukan beres. Temu Cin Taijin perkenankan aku melanjutkan perjalananku pada malam hari ini juga. Nalumei akan kubawa serta. Masa bodoh dengan Sumoi, harap ia diperlakukan baik-baik di sini!" Ia menjura kepada Temu Cin, yang berdiri dan tersenyum pula.

"Baiklah, Taihiap. Selamat jalan dan aku masih mengharapkan bantuanmu kelak.”

Kong Ji melompat ke arah tenda di mana Nalumei ditawan. Gadis ini berbaring dan masih berada dalam keadaan terikat kaki tangannya. Melihat kedatanga Kong Ji, matanya bersinar marah. "Nalumei, tahukah bahwa kau hendak dikawinkan dengan Bouw Ang Gempo? Dan tahukah kau pula bahwa aku sengaja menebusmu dengan sumoiku karena aku cinta padamu? Marilah kita berangkat, untuk apa tinggal di tempat yang berbahaya ini. Mari kau ikut aku merantau dan mengecap kebahagiaan hidup"

Ia lalu menyambar tubuh gadis itu, memanggul atau memondongnya lalu berlari cepat, pergi dari situ. Nalumei menerima nasib. Memang ia kagum sekali akan kepandaian pemuda bangsa Han ini dan kalau dibandingkan dengan Bouw Ang Gempo, tentu saja pemuda ini jauh lebih tampan, sungguhpun sikapnya tidak segagah Temu Cin yang tadinya ia kagumi sekalli.

********************

Setelah Kong Ji pergi, Bouw Gempo yang sudah terlalu banyak minum arak itu, memandang kepada Temu Cin sambil menyeringai, kemudian ia berkata, "Dengan perkenan Khan Muda yang mulia, hamba hendak mengaso bersama isteri hamba..." ia membungkuk dan menghampiri tubuh Hui Lian yang hendak dipondongnya.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras, disusul oleh suara berdebum dan tahu-tahu tubuh Bouw Ang Gempo telah terlempar jauh! Ia tadi telah ditangkap dan dilemparkan Temu Cin yang mempergunakan ilmu gulat yang luar biasa!

Bagaikan anjing yang jatuh dilemparkan Bouw Ang Gempo kerengkangan bangun dan memandang kepada raja mudanya itu dengan mata terbelalak dan muka pucat. "Bangsat!" Temu Cin memaki-maki dan tangannya meraba-raba gagang goloknya. "Kalau aku tidak ingat akan jasamu sekarang kau sudah tak bernyawa lagi!"

Apa…. apakah kedosaan hamba...?" Bouw Ang Gempo berkata ketakutan.

"Jahanam! Kau merendahkan martabat kita! Aku memang setuju kalau nona ini menjadi isterimu, akan tetapi bukan dengan cara serendah ini. Mana sifat laki-lakimu sebagai seorang pahlawan Mongol?"

"Hamba... hamba... ini adalah siasat dari Liok-taihiap... dan kalau... kalau dengan jalan halus siapakah yang dapat menghadapi Go-lihiap...?" kata pula panglima itu ketakutan dan bingung.

"Celaka' Kau menjadi kotor dan rendah setelah dekat dengan orang she Lok yang khianat itu! Sekali kau menjamah tubuh Nona Go, golokku akan minum darahmu! Bodoh sekali! Nona ini adalah puteri dari Taihiap Go Ciang Le yang amat kubutuhkan bantuannya. Kalau kita melakukan hal serendah ini, apa kau kira cita-cita kita akan tercapai? Kita akan dimusuhi oleh seluruh orang gagah di dunia dan kita akan mampus tertumpas sebelum melangkah maju. Orang she Liok itu jahanam sekali, hal ini sudah kucurigai semula, akan tetapi sekarang buktinya. Kepada sumoinya sendiri, telah berlaku khianat dan biadab, apalagi terhadap kita. Lekas kau bawa seribu orang pasukan, susul dan cegat dia. Rampas kembali Nalumei yang lebih patut menjadi isterimu, rampas kembali pedang Nona ini. Kalau dapat bunuh saja orang jahanam itu! Lekas!"

Bagaikan anjing dipukul Bouw Ang Gempo pergi. Temu Cin menepuk tangan tiga kali. Pelayan-pelayan wanita datang dan pemimpin muda yang keras hati dan berdisiplin ini memberi perintah.

"Bawa Nona ini ke dalam kamar tamu, rawat baik-baik dan setelah sadar, katakan bahwa dia tidak perlu takut. Aku akan bicara dengan dia sendiri kalau dia sudah sadar."

Setelah berkata demikian pemimpin besar ini lalu kembali ke kamarnya dengan uring-uringan. ia tidak mengira bahwa di dalam minuman yang di suguhkan oleh Kong Ji kepada Hui Lian tadi diberi obat membikin mabok, dan tidak menyangka bahwa Kong Ji telah menjalankan siasat yang demikian busuknya, terutama sekali ia marah karena panglimanya yang paling disayang telah kena dibujuk oleh pemuda she Liok itu untuk menjalankan perbuatan serendah itu...

Thanks for reading Pedang Penakluk Iblis Jilid 13 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »