Pedang Penakluk Iblis Jilid 14

Pedang Penakluk Iblis Jilid 14

SEMENTARA itu, Liok Kong Ji berlari-lari meninggalkan Telaga Gasyun Nor. Bulan bercahaya terang sehingga ia dapat melakukan perjalanan dengan senang. Akan tetapi, karena ia masih asing dengan daerah ini, ia tidak tahu mana yang terdekat, dan hanya mengikuti jalan yang dahulu ia lalui bersama Hui Lian.

Hatinya girang sekali. Tidak saja ia mendapatkan Nalumei nona manis bangsa Naiman itu, akan tetapi ia juga mendapatkan Pak-kek Sin-kiam dan golok mustika dari Bouw Ang Gempo. Pula telah terbebas dan Hui Lian, gadis yang telah menolak cinta kasihnya, berarti musuhnya dan harus dilenyapkan. Ia tersenyum girang kalau mengingat akan nasib Hui Lian, terjatuh ke dalam tangan seorang Mongol yang kasar dan buruk rupa.

"Hem, kau menolakku dan sekarang mendapatkan orang Mongol itu, ha ha ha," ia ketawa seorang diri sehingga Nalumei yang berada dalam pondongannya menjadi terheran-heran.

Tiba-tiba pemuda itu menghentikan larinya. ia mendengar suara kaki kuda yang banyak sekali. Ketika ia memperhatikannya, derap kaki kuda itu datang dari belakang, kanan kiri dan dari depan! Agaknya ia telah terkurung oleh barisan kuda yang banyak sekali jumlahnya. Memang betul demikian, Bouw Ang Gempo yang telah mendapat perintah, dengan hati mengkal terhadap Kong Ji telah mengerahkan seribu orang pasukan berkuda untuk menyusul Kong Ji, bahkan dengan jalan mengambil jalan terdekat, dapat mengurung pemuda yang lari itu.

Waktu itu telah menjelang fajar. Keadaan masih remang-remang dan suram. Cahaya matahari tipis berlawanan dengan cahaya bulan yang sudah lemah, nampak udara keabu-abuan menimbulkan bayang-bayang yang menyeramkan. Di dalam kesuraman ini, Kong Ji melihat banyak sekali penunggang kuda muncul dari mana-mana.

"Liok Kong Ji manusia curang, kau sudah terkurung dan nyawamu berada di tangan kami. Kembalikan Nalumei dan pedang pusaka. Golok mustikaku boleh kau bawa ke neraka. Ha ha ha!"

Itulah suara Bouw Ang Gempo, yang kasar dan besar, yang bergema sekitar tempat itu amat menyeramkan. Mendengar kata-kata ini, Kong Ji maklum bahwa ia telah terjebak, bahwa telah tertipu oleh orang orang Mongol. Ia cepat membebaskan Nalumei dan menurunkan gadis itu.

"Kalau ingin selamat, bantu menghadapi mereka. Boleh kau pilih, bersuamikan aku atau orang kasar itu!" kata Kong Ji sambil mencabut golok dan pedang. Akan tetapi, golok itu amat ringan sehingga ia terheran sekali. Ketika melihat lebih nyata, ia terkejut dan marah. Golok ini sama sekali bukan golok mustika yang dipakai Bouw Ang Gempo melainkan golok palsu yang hanya gagangnya sama dengan golok panglima itu. Ia cepat menyerahkan golok itu kepada Nalumei.

"Biarpun golok palsu, lumayan untuk menjaga diri. Bersiaplah!"

Nalumel mengangguk. ia memang sakit hati sekali kepada suku bangsa Mongol yang telah membunuh ayahnya dan mengalahkan bangsanya, bagaimana ia sudi diambil isteri oleh seorang kasar seperti Bouw Ang Gempo? Lebih baik ikut dengan pemuda Han yang gagah perkasa ini.

"Bouw Ang Gempo ternyata kau seekor ular busuk yang harus mampus. Biarpun kau dan orang-orangmu sudah mengurungku, kau dapat berbuat apakah?" Baru saja ia bicara demikian, cepat seperti kilat Kong Ji melompat dan ia telah berada di depan kuda Bouw Ang Gempo. Setelah pedangnya berkelebat, putuslah sepasang kaki depan kuda itu dan terpaksa Bouw Ang Gempo melompat, Ia dan kudanya sambil mengayun senjata rahasia berupa pisau-pisau terbang, sebanyak tiga buah. Namun dengan mudah Kong Ji membabat putus pisau-pisau itu dengan pedangnya.

Bouw Ang Gempo sudah siap dan sambil memberi aba-aba kepada anak buahnya. ia menyerbu dengan goloknya. "Bunuh anjing ini dan tawan putri Nalumei, jangan lukai calon isteriku itu,” perintahnya dengan suara garang.

Terjadilah pertempuran yang hebat sekali. Kong Ji menggerakkan pedangnya dan baru sekarang Bouw Ang Gempo melihat kelihaian pemuda ini. Baru beberapa gebrakan saja lima orang anak buahnya menjerit dan roboh mandi darah. Ia marah sekali dan sambil memberi dorongan semangat kepada anak buahnya untuk mengcroyok, ia mengobat-abit golok pusakanya dengan tenaga sekuatnya.

Kong Ji merasa kewalahan juga. Biarpun pedangnya banyak merobohkan lawan, akan tetapi jumlah lawan terlampau banyak dan mereka ini nekat tidak takut mati, sedangkan mereka rata-rata juga orang-orang yang banyak pengalaman dalam pertempuran. Apalagi Bouw Ang Gempo bukannya lawan yang boleh dipandang rendah.

"Kalau begini terus, belum merobohkan seratus orang tenagaku sudah habis,” keluhnya. Kemudian ia mengambil keputusan untuk merobohkan Bouw Ang Gempo lebih dulu. Segera ia mendesak dan pedangnya bagaikan bintang melayang meluncur mengarah dada Bouw Ang Gempo.

Panglima ini cepat menangkis, akan tetapi tangkisannya ini gagal karena goloknya tersampok ke samping. Baiknya pada saat berbahaya itu, seorang anak buahnya dengan nekat menubruk Kong Ji sehingga terpaksa Kong Ji mengubah gerakan pedangnya, tidak dapat membunuh Bouw Ang Gempo sebaliknya membabat penyerang ini yang segera roboh dengan tubuh menjadi dua potong.

Demiklanlah, setiap kali ia hampir berhasil membunuh Bouw Ang Gempo, selalu dihalangi oleh seorang pengeroyok. Diam-diam Kong Ji merasa mendongkol dan juga kagum akan kesetiaan orang-orang Mongol ini terhadap pemimpin mereka. Keadaannya seperti seekor harimau dikeroyok banyak tikus. Roboh seorang maju dua orang roboh dua orang maju lima orang sehingga ia menjadi sibuk juga. Tiba-tiba ia mendengar Nalumei menjerit. Ketika ia melirik, ternyata bahu gadis itu telah kena ditangkap.

"Lepaskan dia!" Kong Ji marah, sekali melompat ia telah berada dekat Nalumei. Pedangnya bergerak dan robohlah empat orang yang tadi menangkap Nalumei!

Dari belakang orang-orang mengejarnya. Kong Ji merendahkan diri, menyarungkan pedang dan kedua tangannya memukul bertubi-tubi ke depan. Bukan main hebatnya akibat dari pukulan Tin-san-kang. Bagaikan daun kering tertiup badai belasan orang perajurit Mongol roboh tak bernyawa lagi dari telinga mereka mengalir darah!

Kong Ji memukul terus dan untuk sesaat orang-orang Mongol itu menjadi gentar. Mereka menganggap bahwa ini adalah ilmu siluman. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kong Ji. ia menyambar tubuh Nalumei, melompat keatas kuda yang telah kehilangan penunggangnya, lalu membalapkan kuda itu!

Dari belakang orang orang Mongol mengejarnya sambil berteriak-teriak. Ratusan batang anak panah menghujani Kong Ji. Anak muda ini dengan mudah dapat mengibas runtuh semua anak panah, akan tetapi kudanya tak dapat mengelak dan tak lama kemudian kudanya roboh binasa dengan tubuh belakang penuh anak panah yang menancap dalam-dalam.

"Keparat! Kubasmi kalian!" bentak Kong Ji marah. "Nalumei kau bersembunyilah di belakang batu karang itu. Diam-diam kau robohkan seorang musuh dan pakailah pakaiannya lalu siapkan dua ekor kuda untuk kita," kata Kong Ji bersiasat.

Nalumei mengangguk. Ia amat kagum kepada pemuda ini yang ternyata luar biasa gagahnya. Juga sekarang ia melihat bahwa pemuda ini benar-benar tampan dan gagah, maka hatinya jatuh. ia mengambil keputusan untuk ikut dengan pemuda ini dan kelak akan dapat membalas dendam kepada orang-orang Mongol atas kematian ayahnya. Dengan bantuan pemuda ini, ia berbesar hati. Cepat Nalumei menyelinap dan menyembunyikan diri di belakang batu karang yang besar. Mereka telah tiba di daerah yang kering, akan tetapi masih ada pohon-pohon sedikit dan batu-batu karang menonjol tinggi.

Para pengejar sudah datang dekat Kong Ji memapaki mereka dan dengan pedang di tangan kanan ia siap sedia. Para pengejarnya itu, juga Bouw Gempo menahan kuda mereka. Betapa pun juga, kegagahan pemuda ini mengecilkan hati mereka.

"Liok Kong Ji, kalau kau menyerahkan Nalumei baik-baik kami akan kembali dan kau boleh melanjutkan perjalananmu," kata Bouw Ang Gempo. ia merasa gentar terhadap Kong Ji dan hendak mempergunakan cara damai.

Kong Ji tersenyum. "Bouw Ang Gempo, tak kusangka kau ternyata seorang yang rendah budi. Bukankah aku sudah meninggalkan sumoiku dalam keadaan tidak berdaya? Bukankah kita sudah berjanji untuk saling bertukar antara Sumoiku dan Nona Nalumei? Kau ternyata tidak saja memalsu golok, bahkan sekarang kau mengejar dan hendak merampas Nalumei dan membunuhku. Anjing dan ular kiranya tidak sejahat engkau!"

"Enak saja kau bicara! Memang golokku ada dua, mengapa kau tidak melihat baik-baik di waktu kau menerimanya itu tandanya kau goblok. Tentang sumoimu itu, siapa yang sudi? Kau boleh mengambilnya kembali asal kau memberikan Nalumei calon isteriku itu kepadaku.”

Kong Ji memperlihatkan wajah berseri. Bouw Ang Gempo kebetulan sekali, aku memang baru saja merasa menyesal telah meninggalkan Sumoi. Kalau kau benar-benar hendak menukarnya kembali, boleh kau membawa Nalumei"

Nalumei yang bersembunyi di balik batu karang, terkejut sekali dan mukanya menjadi pucat. ia tidak tahu akan siasat yang dijalankan oleh Kong Ji dan ia memang belum mengenal kelihatan siasat Kong Ji.

Bouw Ang Gempo tertawa mengejek. “Orang she Liok, siapa tidak tahu bahwa kau mempunyai tipu muslihat dan akal busuk? Siapa bisa percaya kepadamu?”

"Kalau kau tidak percaya boleh kau menyuruh seorang anak buahmu mengambil Nalumei. Boleh naikkan dia di atas kuda untuk kau bawa pulang, siapa yang akan menipumu?"

Mendengar ini, Bouw Ang Gempo menyuruh seorang anak buahnya membawa kuda menghampiri Kong Ji. "Itu, dia di balik batu karang," kata Kong Ji, "ambil saja dia."

Orang berkuda itu membalapkan kudanya sampai di belakang batu karang itu, akan tetapi tiba tiba ia menjerit dan dadanya ditembusi oleh ujung golok di tangan Nalumei.

Bouw Ang Gempo terkejut sekali, akan tetapi kejadian ini membuat ia kurang waspada sehingga ia tidak melihat bahwa Kong Ji sudah mendekatinya. Sebelum ia tahu apa yang harus dilakukan tiba-tiba pundaknya sudah dicengkeram oleh Kong Ji yang melakukan ini sambil melompat sejauh lima tombak lebih! Benar-benar hebat pemuda ini karena dari jarak lima tombak lebih ia dapat menangkap lawannya tanpa diketahui lebih dulu oleh orang begitu banyak. Bouw Ang Gempo hendak melawan, akan tetapi sudah kehilangan tenaga, karena jalan darahnya sudah ditekan oleh Kong Ji yang duduk di atas kudanya. Sambil mengempit tubuh Bouw Ang Gempo, Kong Ji membalikkan kudanya menghadapi orang-orang Mongol yang tercengang melihat kejadian itu.

"Kalau kalian bergerak, pemimpinmu ini akan kupatahkan barang lehernya!" ia mengancam. "Biarkan aku dan Nalumei pergi, kalau kalian tidak mengganggu, aku akan melepaskan Bouw Ang Gempo dalam keadaan hidup."

"Siapa bisa tanggung kalau kau tidak akan menipu kami?" teriak seorang pembantu Bouw Ang Gempo. "Bagaimana kalau kau pergi dan kemudian tetap memhunuh komandan kami? Lekas lepaskan dia kalau tidak, kami akan menghujani anak panah dan akan menyerangmu mati-matian. Biarpun sampai di neraka, sebelum habis pasukan kami, kami akan mengejarmu!"

Kong Ji maklum bahwa ancaman ini bukan ancaman kosong, maka ia cepat mengatur siasat, "Aku tidak menipu kalian. Kalau tidak percaya, biarlah barisan anak panah kalian mengikuti kami dengan jalan kaki. Begitu kami membalikan kuda, kalian boleh menghujani anak panah, apa salahnya? Nah, kalau sudah lima li dan sini, aku akan melepaskan Bouw Ang Gempo dan kami akan melarikan kuda. Dengan demikian menjadi adil bukan? Kalian tidak dapat mengejar kami karena tidak berkuda, sedangkan kami tidak dapat menipu karena kalau aku membunuh komandanmu, barisan anak panah itu dapat menghujani kami dengan anak panah."

Para pembantu Bouw Ang Gempo mengadakan perundingan, akhirnya setuju. Bagi mereka, nyawa Bouw Ang Gempo lebih berharga daripada Nalumei. Seratus dua puluh orang ahli panah lalu turun dari kuda dan berbaris, siap mengantar Kong Ji. Pemuda ini tertawa sambil mengempit tubuh Bouw Ang Gempo yang tak berdaya itu, ia berseru, "Nalumei, keluarlah dan situ, dan melanjutkan perjalanan"

Nalumei girang sekali karena tadi ia mendengar semua dan tahu bahwa semua kata-kata pemuda itu hanyalah siasat belaka untuk menipu musuh. ia menjadi semakin girang dan muncullah dari balik batu karang itu seorang pemuda yang ganteng menunggang kuda dengan gagah. Dia inilah Nalumei yang sudah merobohkan penunggang kuda yang hendak menjemputnya tadi dan memakai pakaian luarnya! Semua orang Mongol tercengang, akan tetapi Nalumei berkata sambil tersenyum manis.

"Bagus sekali, orangmu tadi kurang ajar dan hendak menggangguku, terpaksa aku membunuhnya dan mengambil kuda dan pakaiannya, amat perlu bagi perjalananku."

Biarpun mendongkol, orang-orang Mongol itu tidak berdaya. Keselamatan Bouw Ang Gempo jauh lebih penting dari pada urusan kematian seorang anak buah biasa. Kong Ji dan Nalumei lalu menjalankan kuda perlahan untuk memberi kesempatan kepada seratus dua puluh orang atilt panah itu mengikuti mereka sambil berjalan kaki.

"Nalumei, kau manis sekali dalam pakaian itu," kata Kong Ji perlahan sambil memandang Nalumei yang menjalankan kudanya di sebelahnya.

Nalumei tercengang, akan tetapi ia girang sekali. Luar biasa pemuda ini, dalam keadaan seperti itu, terancam oleh seratus dua puluh orang ahli panah di belakang, masih sempat bercumbu. "Dan kau gagah perkasa sekali. Taihiap,” balasnya lirih dengan kerling mata penuh arti.

Kong Ji girang. Nona ini benar-benar jauh bedanya dengan Hui lian, dan melakukan pejalanan bersama dia tentu akan amat menyenangkan. Setelah jarak lima li dilewati, Kong Ji menghentikan kudanya dan memutar binatang tunggangannya itu, menghadapi seratus dua puluh orang yang mengikutinya.

"Aku akan melepaskan Bouw Ang Gempo di sini seperti yang telah kita janjikan. Harap saja kalian dapat dipercaya." katanya.

"Janji orang-orang Mongol takkan dilanggarnya,” jawab seorang di antara para ahli panah itu.

Kong Ji menoleh kepada Nalumei, “Kekasihku, kau pergilah dulu, nanti kususul engkau. Dengan seorang diri, lebih mudah bagiku untuk menyelamatkan diri, kalau kalau mereka nanti menyerang."

Nulumai tidak ragu-ragu untuk mentaati perintah ini karena tadi ia sudah menyaksikan betapa lihainya Kong Ji. Sambil tersenyum manis, gadis suku bangsa Naiman yang kini sudah menyamar dalam pakaian pria ini lalu mengangguk dan membalapkan kudanya, lari ke depan.

"Nah, sekarang kalian boleh menerima kembali Bouw Ang Gempo. Lihat, dia tidak aku apa-apakan dan masih sehat," kata Kong Ji setelah melihat Nalumei berada di tempat aman, takkan tercapai oleh anak panah yang dilepaskan dari tempat itu. Ia menurunkan Bouw Ang Gempo dari atas kuda, dan panglima Mongol itu karena didorong lalu terhuyung ke depan dan terus berjalan dengan langkah cepat ke arah kawan-kawannya.

Melihat betapa panglima mereka benar benar dilepas dan dapat berjalan serta keadaannya memang tidak terluka para ahli panah itu tidak mengganggu ketika sambil tertawa Kong Ji membalapkan kuda menyusul Nalumei. Gadis itu telah menanti di tempat jauh. Melihat kedatangan Kong Ji, ia girang sekali dan menyambut dengan senyum mains. Hatinya girang bahwa pemuda ini tidak menemui halangan sesuatu.

"Nalumei, hayo kita balapkan kuda jangan sampai tersusul oleh mereka," kata Kong Ji dengan wajah berseri. "Mereka tentu akan mencak-mencak dan pasti akan berusaha mengejar kita."

Nalumei menyabat kudanya dan kedua orang muda ini lalu mengaburkan kuda sehingga debu mengepul di belakang ke dua binatang itu. "Apa sih yang kau lakukan terhadap Bouw Ang Gempo" tanya Nalumei. Gadis ini adalah seorang gadis yang terlahir di tengah-tengah suku bangsa menungang kuda, maka dia sendiri sudah semenjak kecil dapat menunggang kuda, kini menjadi seorang penunggang kuda yang amat pandai. Oleh karena itu, biarpun berada di atas punggung seekor kuda yang membalap, dia masih enak saja dan masih sempat bercakap-cakap.

Kong Ji tersenyum. "Tidak apa hanya aku memutuskan urat syaraf kepalanya sehingga babi kudisan itu takkan dapat mengingat dengan baik lagi"

Nalumei diam-diam merasa ngeri akan tetapi ia juga girang sekali. Sekalian orang Mongol yang membantu Temu Cin berarti musuh besarnya, maka kematian atau terlukanya seorang seperti Bouw Ang Gempo merupakan pembalasan dendam baginya.

"Kuharap saja lain kali kau dapat melakukan hal seperti itu terhadap Temu Cin dan lain-lain manusia Mongol yang telah membasmi suku bangsaku, Taihiap.”

Akan tetapi Kong Ji hanya tersenyum dan demikianlah, sepasang orang muda melakukan perantauan mereka, dan Halumei tidak sadar bahwa diam-diam ia telah menyerahkan diri kepada seorang muda yang berwatak aneh, kejam, dan licin sekali.

Memang betul apa yang diucapkan oleh Kong Ji kepada Nalumei itu. Dengan cara diam-diam ia telah menepuk ubun-ubun kepala Bouw Ang Gempo dan dengan ilmu pukulan keji yang ia pelajari dari See-thian Tok-ong, ia telah merusak urat syaraf di kepala panglima Mongol itu sehingga, seperti halnya pemuda Ma Hoat tempo hari, panglima ini pun menjadi lupa ingatan dan seperti orang gila.

Kawan-kawannya yang tadinya girang menyambutnya, setelah Bouw Ang Gempo datang dekat, menjadi terheran-heran melihat panglima itu memandang kepada mereka seperti orang mimpi. Ketika ditanya dan ditegur, panglima Mongol ini hanya tersenyum menyeringai dan akhirnya tahulah mereka bahwa panglima ini telah berubah ingatannya! Tak seorang pun di antara mereka yang menduga bahwa ini adalah perbuatan Kong Ji, dalam kebingungan, mereka segera membawa Bouw Ang Gempo kepada Temu Cin.

Ketika itu, Temu Cin sedang bercakap-cakap dengan Hui Lian. Gadis ini telah mendengar semua penuturan Temu Cin tentang kekejian dan pengkhianatan Kong Ji, tak dapat menahan air matanya. Ia merasa amat kecewa kepada diri sendiri yang salah tafsir akan Kong Ji, merasa penasaran mengapa ayahnya dapat mengambil murid sejahat itu, merasa sakit hati dan marah sekali kepada suhengnya. Juga ia ngeri memikirkan betapa ia pernah mengajar Pak-kek Sin-ciang kepada Kong Ji dan ia maklum bahwa pemuda itu merupakan seorang manusia iblis yang amat lihai, apalagi setelah pedang Pak-kek Sin-kiam dibawanya! Di samping ini, Hui Lian merasa bersukur dan berterima kasih sekali ke pada Temu Cin. Kalau tidak karena sifat yang gagah dan adil dari pemimpin besar ini entah bagaimana jadinya dengan nasibnya.

"Aku akan mencarinya! Aku akan membunuhnya!" hanya inilah kata-kata yang keluar dan mulut Hui Lian.

"Sabar Lihiap. Aku pun sudah mengutus Bouw Ang Gempo dan seribu orang pasukan panah untuk menghadang dan membunuhnya, sekalian merampas kembali Nalumei dan pedang pusakamu."

"Kau baik sekali, Taijin. Kalau tidak kau yang menolongku..."

"Sudahlah, antara orang sendiri mengapa banyak sungkan? Aku selalu mengharmati orang-orang gagah dan membenci orang yang jahat dan curang. Apalagi aku ingat bahwa nama ayahmu sudah menjulang tinggi di dunia kang-ouw, bagaimana aku dapat membiarkan kau mengalami celaka? Biarpun aku tidak minta balas jasa kepada siapapun juga, namun aku kelak masih banyak mengharapkan bantuan-bantuan dari orang-orang gagah seperti kau, Ayahmu dan yang lain-lain," jawab Temu Cin yang pada hakekatnya amat cerdik itu.

Kecerdikan dan kegagahan serta pengaruhnya yang amat besar inilah yang kelak dapat menghasilkan perjuangan dan cita-citanya sehingga ia mencapai kedudukan tertinggi menjadi raja besar yang terkenal dengan nama Jengis Khan!

Tengah mereka bercakap-cakap datanglah rombongan ahli panah yang tadinya mengikuti Kong Ji bersama ratusan perajurit sisa dari seribu orang yang tadinya dipimpin oleh Bouw Ang Gempo. Pasukan yang lain menanti di luar, yang masuk adalah pemimpin barisan berpanah sebanyak tiga orang yang menggandeng Bouw Ang Gempo di tengah-tengah. Dilihat dari jauh, seakan-akan tiga orang ini mengawal seorang tangkapan yang keadaannya menyedihkan kali.

Temu Cin mengerutkan kening dan berkata perlahan kepada Hui Lian. "Ah, agaknya suhengmu telah dapat menggagalkan pengejaran Bouw Ang Gempo..."

Tiga orang itu menghadap Temu Cin, memberi hormat secara militer, kemudian menuturkan semua pengalaman mereka. Menjelaskan betapa dengan amat cerdik dan licinnya, Kong Ji yang dikejar-kejar itu telah berhasil menawan Bauw Ang Gempo sehingga terpaksa mereka melepaskan pemuda itu asal Bouw Ang Gempo tidak dibunuh.

"Akan tetapi sungguh aneh, Khan Muda yang mulia, memang Panglima Bouw Ang Gempo telah dilepas dan tidak terluka sama sekali, akan tetapi aneh... Paduka dapat melihatnya sendiri, keadaannya tidak sewajarnya... agaknya seperti berubah ingatan!"

Temu Cin memandang kepada panglimanya. Dadanya berdebar menahan kemarahan. Benar-benar merupakan tamparan baginya. ia tentu akan ditertawai orang sedunia kalau mereka mendengar betapa seorang panglimanya dengan pasukan seribu orang jumlahnya, telah gagal untuk mengejar dan menangkap seorang buronan!

"Bouw Ang Gempo! Hayo jelasnya semua ini!" bentaknya marah.

Akan tetapi Panglima Mongol yang tegap pendek dan berkumis kecil panjang itu hanya menyeringai, mulutnya berkemak-kemik dan yang terdengar hanya kata-kata mengaco tidak karuan.

"Ah, Kong Ji benar-benar manusia Iblis!" tiba-tiba Hui Lian menggebrak meja. "Tak perlu diperiksa orang ini telah kehilangan ingatannya. Dulu dalam perjalanan, dia membikin seorang pemuda she Ma seperti ini, yakni ditotok putus urat-urat syaraf di kepalanya!"

Temu Cin minta penjelasan. Setelah mendengar penuturan Hui Lian, tiba-tiba ia melompat berdiri, mencabut golok dan sekali tabas saja putuslah leher Bou Ang Gempo. Hui Lian terkejut sekali dan gadis ini menegur,

"Apakah artinya ini? Mengapa orang yang harus dikasihani ini dibunuh? Ini keterlaluan sekali!!"

Temu Cin menyarungkan goloknya wajahnya nampak gelap dan berduka. Kemudian ia memandang kepada Hui Lian sambil tersenyum pahit. "Go-lihiap, kalau kau seorang tamu yang pernah diperlakukan secara curang dan jahat oleh Bouw Ang Gempo dapat menaruh hati kasihan kepadanya bagaimana aku tidak? Bouw Ang Gempo adalah seorang kepercayaanku yang selalu taat dan setia, aku kasihan dan sayang kepadanya," kata Temu Cin kepada Hui Lian yang terheran-heran dan tidak senang melihat pemimpin orang Mongol ini membunuh Bouw Ang Gempo.

"Kalau kasihan, mengapa Taijin bahkan membunuhnya?"

"Adakah jalan yang lebih baik untuk membebaskannya dari penderitaan daripada membunuhnya? Kalau ia dibiarkan hidup, ia akan menjadi seorang gila yang tidak ada gunanya. Bagi seorang gagah, lebih baik mati daripada hidup tak berguna, bahkan hanya akan mendatangkan malu belaka," kata Temu Cin dan wajah pemimpin besar ini nampak muram.

Akhirnya Hut Lian terpaksa mengakui dalam hati bahwa perbuatan Temu Cin terhadap diri Bouw Ang Gempo tadi memang tepat. Dan bertambahlah kebenciannya terhadap Liok Kong Ji, pemuda berwatak iblis itu. “Aku akan mencari keparat itu, Tai-jin, dan percayalah bahwa dengan bantuan Ayah Bundaku, kelak aku akan dapat menewaskannya, dan dengan demikian sakit hatimu dan sakit hati Bouw Ang Gempo akan terbalas."

"Kau baik sekali, Lihiap, dan kami merasa beruntung sekali dapat berkenalan denganmu. Sampaikan saja hormatku pada ayahmu pendekar besar yang sudah lama kujunjung tinggi namanya."

Hui Lian bersiap-siap kemudian meninggalkan tempat itu setelah berjanji bahwa kelak ia akan membantu pemimpin ini bersama ayah bundanya dan sahabat-sahabatnya di dunia kang-ouw. Temu Cin memberi seekor kuda yang amat baik berikut bekal makanan, minuman dan emas. Selain ini, ia memerintahkan sepasukan berkuda untuk mengawal Hui Lian keluar dari daerah kering yang amat sukar itu, untuk mencegah agar gadis ini jangan sampai tersesat dan menderita kesulitan di jalan.

Tentu saja Hui Lian menjadi girang dan merasa berterima kasih sekali, maka berangkatlah rombongan itu mengawal Hui Lian menuju ke selatan. Debu mengepul tinggi dari bawah kaki rombongan berkuda ini, menutupi cahaya matahari yang masih lemah.

********************

Serial Pendekar Budiman Karya Kho Ping Hoo

Kurang lebih seratus orang pengemis sabuk hitam, yakni anggauta-anggauta penting dari perkumpulan pengemis Hek-kin-kaipang, berkumpul di luar kota Bi nam-bun. Sebagaimana pembaca tentu masih ingat, perkumpulan Hek-kin-kaipang adalah perkumpulan pengemis yang paling besar dan berpengaruh, dan telah memiliki nama yang terkenal di dunia kang-ouw.

Ketua dari Hek-kin-kaipang adalah Kiang Cun Eng, wanita cantik yang genit, akan tetapi yang pada dasarnya memiliki watak gagah dan baik. Ketua Hek-kin-kaipang inilah yang telah menolong Wan Sin Hong dan yang membawanya ke puncak Luliang-san, menyehkannya kepada Luliang Sam lojin.

Setelah menyerahkan Sin Hong kepada dua orang kakek sakti di Luliang-san itu, Kiang Cun Eng lalu memindahkan pusat perkumpulannya di Bi-nam-bun dan semenjak itu ia hidup menyendiri, bahkan setengah bersembunyi. Ia maklum bahwa setelah merampas Sin Hong dari tangan orang-orang Im-yang-bu-pai, berada dalam keadaan terancam. Ke pada para anggauta Hek-kin-kaipang pun berpesan agar menjauhkan diri bentrokan dengan Im-yang-bu-pai.

Telah berpuluh tahun Cun Eng menjadi ketua Hek-kin-kaipang. Ketua perkumpulan ini dipilih dalam lima tahun sekali dan selalu mereka memilih Cun Eng. Bukan saja karena wanita ini memang memiliki kepandaian tinggi, juga karena selama dipimpin oleh Cun Eng perkumpulan ini dapat berkembang dengan baik dan dalam diri Cun Eng mereka mendapatkan seorang pemimpin yang baik dan tegas.

Pada hari itu, kembali lima tahun telah lewat dan hari itu mereka berkumpul di Bi-nam-bun untuk menguasai perkumpulan itu agar dapat menjadi ketua perkumpulan yang besar dan berpengaruh ini. Akan tetapi beberapa orang yang hendak mencari kedudukan ini semua kena dikalahkan oleh Kiang Cun Eng yang lihai. Namun sekarang lain lagi. Selama ini, Hek-kin-kaipang telah maju pesat dan diantara anggautanya telah terdapat baik orang-orang pandai yang dengan suka rela menggabungkan diri.

Maka sekarang banyak sekali calon-calon ketua yang memiliki kepandaian tinggi. Apalagi, telah tersiar desas-desus bahwa ketua Hek-kin-kai-pang, yakni Kiang Cun Eng, hendak melepaskan kedudukannya dan memberikan kepada seorang laki-laki gagah perkasa yang menjadi sahabat baiknya. Bahkan ada desas-desus lain yang menggemparkan yakni, bahwa Kiang Cun Eng bukan saja hendak menyerahkan kedudukan kapada orang itu, akan tetapi juga hendak menyerahkan jiwa raganya atau jelasnya hendak menikah dengan orang itu!

Tentu saja hal inl menggemparkan para anggauta Hek-kin-kaipang. Mereka tahu bahwa ketua mereka itu semenjak dulu tidak mau menikah, biarpun banyak orang-orang muda yang tergila-gila kepada Cun Eng yang cantik jelita dan pandai. Bagaimana sekarang setelah ketua ini usianya sudah tidak muda lagi, biarpun masih cantik, tiba-tiba hendak memilih suaminya?

Laki-laki itu bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang pendekar yang ternama, penghuni atau pemilik dari pulau Kim-ke-tho (Pulau Ayam Emas). Kim-ke-tho adalah sebuah pulau di dekat pantai timur dan orang ini termasuk seorang tuan tanah kaya raya yang memiliki pulau itu. Ia hidup seorang diri di pulau itu, tidak berkeluarga hanya dibantu oleh puluhan orang nelayan dan pekerja.

Namanva terkenal sebagai seorang gagah yang banyak menolong orang dan kiranya di dunia kang-ou nama julukan Sian-hud-tim (Kebutan Dewa) bukan julukan asing lagi. Nama sebenarnya dari orang gagah ini adalah Yap Kong Ki, usianya sudah empat puluh tahun lebih, wajahnya terang dan mukanya putih. Rambutnya digelung seperti seorang tosu, gerak-geriknya halus akan tetapi langkahnya menunjukkan bahwa ia adalah seorang ahli silat pandai.

Di dalam perantauannya, Kiang Cun Eng bertemu dengan orang ini dan ternyata olehnya bahwa ilmu silat yang dimiliki oleh Yap Kong Ki jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Akhirnya keduanya saling "jatuh hati" dan diam-diam mereka merencanakan sebuah rumah tangga berdua. Banyak orang kang-ouw datang di Bi-nam-bun pada hari itu, ada yang datang untuk memenuhi undangan sebagai saksi, ada pula yang sengaja untuk melihat-lihat keadaan dan kalau kiranya mungkin akan mencalonkan diri menjadi ketua. Tidak sedikit yang datang hendak melihat Kiang Cun Eng, ketua pekumpulan yang cantik itu yang biarpun usianya sudah empat puluh tahun lebih masih menarik hati banyak pria.

Tak lama setelah seratus lebih anggauta Hek-kin-kaipang berkumpul, datanglah Kiang Cun Eng bersama Yap Kong ki. Memang sudah lama Cun Eng selalu bersama Yap Kong Ki, juga seringkali tinggal di atas Pulau Kim-ke-tho tidak jauh letaknya dan Bi-nam-bun dusun di pantai laut itu. Semua mata memandang dan banyak yang kagum melihat Kiang Cun Eng karena wanita ini masih saja memiliki bentuk tubuh yang langsing dan padat, wajah yang riang gembira dan senyumnya masih amat manis.

Kemudian orang mulai memperhatikan Yap Kong Kim. Harus mereka akui laki-laki ini pun gagah dan cocok berjalan di sebelah Cun Eng. Akan tetapi banyak pula di antara mereka yang merasa iri hati dan cemburu, yakni mereka yang menginginkan kedudukan ketua dan terutama sekali yang suka kepada Cun Eng. Para anggauta Hek-kin-kaipang menyambut kedatangan Kiang Cun Eng dengan penghormatan dan seruan,

"Hidup Kiang-pangcu (Ketua Kiang) dari Hek kin-kaipang!"

Kiang Cun Eng tersenyum, mencabut keluar sebuah tongkat hitam kecil, yakni tongkat pusaka dari Hek-kin-kaipang mengangkat tongkat itu tinggi di atas kepala sambil berseru, "Hidup Hek-kin-kaipang!"

Kemudian Cun Eng mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku yang sudah disediakan di situ. Yap Kong Ki berdiri di belakangnya, memandang kepada para pengemis yang hadir dengan sikap tenang.

“Kawan-kawanku sekalian," Kiang Cun Eng berkata dengan suara penuh perasaan terharu, "saat pemilihan ketua baru telah tiba. Akan tetapi sebelum kita mengadakan pemilihan perkenankan saya bicara sedikit. Sudah empat kali pemilihan, selalu aku yang mendapat kehormatan dipilih menjadi ketua. Selama ini kawan-kawan telah membantuku dan perkumpulan kita makin berkembang. Akan tetapi, sekarang tiba saatnya bagiku untuk mengundurkan diri..."

Terdengar suara celaan dan pernyataan kecewa dari sana-sini, disusul dengan suara, "Kami memilih Kiang-pangcu...!"

Cun Eng mengeleng-geleng kepala sambil tersenyum pahit. "Berilah waktu kepadaku untuk beristirahat. Kepandaianku terbatas sekali, dan sekarang keadaannya berbeda dengan dahulu. Di dunia kang-ouw muncul banyak orang jahat yang lihai sekali, maka perkumpulan kita perlu dipimpin oleh orang yang pandai. Aku tidak sanggup lagi dan sekarang aku menyerahkan kepada kawan-kawan yang cakap."

"Curang...!" terdengar teriakan di tengah-tengah kumpulan pengemis, sukar dicari siapa yang bicara itu. "Kiang-pangcu hendak mundur sambil menggasak semua kekayaan Hek-kin-kaipang!"

Sepasang mata Kiang Cun Eng bersinar marah dan berusaha mencari si pembicara tadi, akan tetapi sia-sia karena suara para pengemis yang simpang siur itu menyembunyikan pembicaraan tadi. "Begitu rendahkah orang menganggapku?"

Cun Eng menggerakkan kedua tangan dan tiga kali ia bertepuk tangan maka datanglah delapan orang anggauta Hek-kin-kaipang menggotong empat buah peti besar yang ditaruh di tengah-tengah tempat pertemuan itu. Cun Eng menghampiri peti-peti itu dan membukanya satu demi satu. Ternyata bahwa peti itu penuh dengan uang dan barang-barang berharga.

"Kawan-kawan sekalian, lihatlah baik-baik. Empat peti ini adalah seluruh harta kekayaan perkumpulan yang kita semua kumpulkan selama puluhan tahun. Aku telah menukar-nukarkan dan meringkaskan menjadi barang-barang berharga untuk keperluan perkumpulan. Bahkan yang sepeti di antaranya adalah milik pribadiku, warisan dari orang tuaku. Akan tetapi, kalau aku mengundurkan diri, aku pun akan meninggalkan milikku itu untuk perkumpulan. Nah, siapa berani bilang aku hendak mundur membawa lari harta perkumpulan?"

Cun Eng berdiri tegak menyapu semua orang dengan mata menentang. Keadaan sunyi untuk beberapa lama.

"Kami memilih Kiang-pangcu! Kalau Kiang-pangcu memaksa mengundurkan diri, itu berarti pengkhianatan terhadap partai!" terdengar suara seorang pengemis.

Cun Eng menoleh ke arah suara itu. “Tak dapat dianggap pengkhianatan. Aku mundur bukan melarikan diri, melainkan hendak memberikan kepada orang yang lebih cakap. Sebelum aku mundur hari ini aku akan membantu kawan-kawan memilih ketua baru dan percayalah biarpun aku sudah mengundurkan diri, sewaktu-waktu aku siap sedia membela kehormatan Hek-kin kaipang!"

Kembali terdengar suara bercampur aduk tidak karuan. Keadaan sampai lama begitu saja sehingga Cun Eng mengangkat tangan kanan dengan marah. "Kawan-kawan, kalian bukan anak kecil yang berpikiran sempit. Baru saja kata-kataku tadi dapat diterima dengan baik dan sekarang aku mengusulkan seorang calon untuk mengganti kedudukanku sebagai ketua baru"

Semua suara terhenti dan keadaan menjadi sunyi. Semua orang ingin sekali mendengar siapa gerangan calon yang dipilih oleh ketua itu. Ada yang menyangka bahwa Cun Eng tentu akan menunjuk Yap Kong Ki yang berdiri seperti patung itu, dan hati para anggauta berdebar menanti. Ada yang tidak setuju dan ada pula yang setuju, akan tetapi semua mata kini diarahkan kepada Yap Kong Ki. Akan tetapi, jawaban atau lanjutan kata-kata Cun Eng ternyata jauh berbeda dengan dugaan mereka.

"Aku mengusulkan supaya Tan Lokai menggantikan aku menjadi pangcu baru!" sambil berkata demikian, Cun Eng melompat ke kanan dan menggandeng keluar tangan seorang pengemis tua yang tinggi kurus dan berwajah ramah.

Semua orang tertegun, akan tetapi ada sebagian yang setuju. Tan Lokai (Pengemis Tua she Tan) terkenal sebagai pembantu ketua yang selain tinggi kepandaiannya, juga amat ramah dan sabar. Akan tetapi karena jarang sekali ia bertempur orang-orang belum menyaksikan sendiri sampai dimana kelihaiannya, bahkan ada yang memandang rendah.

"Kiang-pangcu benar-benar membikin lokai menjadi malu," kata Tan Lokai sambil membungkuk-bungkuk, akan tetapi lalu berkata dengan nada suara bersungguh-sungguh, "Aku yang sudah tua telah dapat mengerti akan semua alasan Kiang-pangcu, maka apabila tidak ada yang mengajukan keberatan, demi menyelamatkan perkumpulan dari tangan orang jahat, aku bersedia menjadi ketua dan bekerja dengan bantuan para kawan yang setia!"

Kiang Cun Eng kelihatan gembira kali. "Bagaimana kawan-kawan? Setujukah kalian?"

Terdengar jawaban bersimpang siur di sana-sini.

"Yang tidak setuju harap angkat tangan! Pengangkatan ketua harus diterima dengan suara bulat seperti biasa!" kata pula Cun Eng.

Tak lama kemudian, kagetlah Cun Eng melihat rombongan di sebelah kiri semua mengangkat tangan, lebih dari tiga puluh orang! Dan yang lebih menggelisahkannya lagi, justru yang mengangkat tangan itu adalah tokoh-tokoh yang belum lama menggabungkan diri ke dalam perkumpulan Hek-kin-kai-pang!

Kemudian, dua orang pengemis melompat keluar dan menghadapinya. Yang seorang adalah pengemis tinggi besar yang terkenal dengan sebutan Tiat-ciang-eng (Pendekar Tangan Besi) dan bernama Lai Sek. Dia adalah seorang anggauta pimpinan Hek kin-kaipang yang sudah tinggi tingkatnya, orangnya tinggi besar bermuka kuning, dan mempunyai watak yang jujur. Sudah lama Lai Sek tergila-gila kepada ketuanya sendiri dan semenjak tadi ia sudah merasa cemburu dan iri hati sekali melihat Yap Kong Ki, maka sekarang ia melompat maju setelah mendapat kesempatan.

"Aku tidak setuju kalau Kiang-pang-cu, mundur! Kalau mundur apa alasannya? Dan pula aku mendengar desas-desus tentang perjodohan! Inipun harus dijelaskan, orang gagah tidak perlu merahasiakan sesuatu. Ketiga, aku tidak setuju ada orang luar hadir di dalam pertemuan Hek-Kin-kaipang ini, kecuali kalau dia hendak mencoba untuk merebut kedudukan ketua," setelah berkata demikian, pengemis tinggi besar ini memandang ke arah Yap Kong Ki dengan mata melotot.

Mendengar ucapan ini dan melihat sikap Lai Sek, wajah Cun Eng menjadi merah sekali. Ia maklum akan isi hati orang kasar ini dan tahu bahwa Lai Sek sudah lama jatuh hati kepadanya. Bahkan pada setiap kali pemilihan ketua Lai Sek inilah yang tampil ke depan berkeras memilih dia melanjutkan kedudukan ketua. Adapun Tan Lokai, mendengar betapa Kiang Cun Eng dihina, menjadi tidak senang. Ia menghadapi Lai Sek dan berkata,

"Lai Sek, mengapa kau begitu kurangajar terhadap Kiang-pangcu? Ingat, sebelum ada ketua baru, dia masih ketua kita! Kalau kau tidak setuju akan pilihan pangcu, kau boleh mengajukan calon. Ataukah kau sendiri hendak mencalonkan diri sendiri? Tentang orang luar tentu kaumaksudkan Yap-sicu. Dan dalam hal ini pun kau benar-benar keliru Yap Sicu adalah seorang gagah yang selalu membantu Hek-kin-kaipang dan sudah banyak ia menyumbang, sungguhpun dia bukan anggauta perkumpulan kita. Katakan, apakah kau ingin menjadi pangcu dan sanggupkah kau memimpin perkumpulan kita?"

Diserang begini oleh Tan Lokai, Lai Tek menjadi gagap. "Aku... aku... betapapun juga, kalau Tan Lokai menjadi pangcu, aku harus menguji dulu kepandaiannya!" akhirnya ia berkata untuk menutupi malunya.

"Bagus! Itulah seharusnya ucapan seorang laki-laki!" memuji orang ke dua yang tadi melompat maju. Dia ini adalah orang pengemis tua berusia lima puluh tahun lebih yang bernama Teng Gai berjuluk Kim-tung Mo-kai (Pengemis Setan Tongkat Mas). Tongkatnya berwarna kuning seperti emas, sungguhpun amat disangsikan apakah benar-benar dari pada logam mahal itu. Setelah berkata demikian ia melompat mundur untuk me-nanti giliran.

Sudah menjadi kebiasaan dalam perkumpulan Hek-kin-kaipang, tiap kali ada pemilihan pengurus baru, semua anggauta berhak untuk menguji kepandaian ketua yang dipilih, maka kata-kata Lai Sek tadi menggembirakan semua orang. Adapun Tan Lokai sendiri yang tahu bahwa kali ini ia menghadapi banyak orang yang menentangnya, sudah siap menghadapi setiap lawan.

"Lai Sek kalau kau penasaran, majulah lohu melayanimu bermain-main sebentar!"

"Awaslah, Tan Lokai!" Lai Sek yang jujur itu tidak mau banyak bicara dan secepat angin ia menggerakkan tongkatnya menyerang ke arah dada Tan Lokai. Pengemis tua ini memiliki ilmu tongkat yang lihai sekali. Cun Eng tahu bahwa ilmu tongkat pengemis ini mengatasi semua ilmu tongkat yang dimiliki oleh para anggauta Hek-kin-kaipang, maka tidak khawatir dan karena itu pula tadi memilihnya sebagai calon ketua.

Dengan cepat sekali Tan Lokai membuktikan kelihaiannya. Biarpun Lai Sek bertenaga besar seperti kerbau dan tongkatnya mengeluarkan angin saking kerasnya serangan-serangan yang dilakukannya namun dengan enak dan mudah semua serangan digagalkan. Dalam beberapa belas jurus saja terdengar Lai Sek berteriak kesakitan dan jatuh terjengkang ketika kakinya kena dicongkel oleh tongkat Tan Lokai yang gerakannya cepat sekali!

Tan Lokai dengan senyum ramah membantu Lai Sek bangun. Pengemis kalap ini meringis kesakitan, lalu menjura. “Tan Lokai benar-benar lihai, siauwte yang muda bermata buta. Urusan ketua terserah saja kepada pemilihan orang banyak!" katanya sambil menyerat tongkatnya dan mengundurkan diri.

“Ha ha ha! Tidak kusangka Tiat-tiang-eng demikian lemahnya! Dan nama Tan Lokai tidak kosong belaka. Biar aku yang mencoba kepandaiannya," kata Kim-lung Mo-kai sambil mclompat maju dengan tongkat kuning di tangan.

Tan Lokai mengerutkan kening. Pengemis di depannya ini baru beberapa bulan menjadi anggauta, akan tetapi selalu bersikap mencurigakan. Bahkan sekarang, sabuk yang dipakainya bukanlah sabuk hitam melainkan sabuk putih.

"Sahabat Teng Gai, mengapa kau memakai sabuk putih?" tegurnya.

Kim Lung Mo-kai Teng Gal tertawa geli. "Tan Lokai, nama Hek-kin kaipang kuanggap tidak baik dan kurang tepat. Mengapa memakai nama hitam? Bukankah lebih patut kalau diganti saja dengan Pek-kin-kaipang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Putih). Kalau aku yang menjadi ketuanya, tentu akan segera kuganti nama perkumpulan kita."

Kata-kata ini disambut oleh suara tawa menyatakan setuju dan ketika Tan Lokai dan Cun Eng menengok ke arah mereka yang tertawa, ternyata bahwa mereka itu adalah puluhan orang yang tadi mengangkat tangan dan di antara mereka banyak yang memakal sabuk putih!

Tan Lokai marah sekali. "Teng Gak kau hendak mengujiku, atau merampas kedudukan ketua, ataukah hendak mengkhianatt perkumpulan?"

"Yang pertama dan kedua memang tepat, aku hendak mengujimu dan kalau kau kalah, akulah yang lebih patut menjadi ketua. Soal pengkhianatan, aku bukan hendak memperbaiki keadaan perkumpulan, mana bisa disebut mengkhianati?"

"Bagus, kau majulah!" seru Tan Lokai.

Teng Gak mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tongkatnya ini seperti gerakan garuda memukulkan sepasang sayap, yakni ia memegang tongkat di tengah-tengah dan mengirim pukulan dengan ujung tongkat kiri ke atas kepala, kemudian disusul dengan ayunan ujung tongkat kanan ke arah perut lawan.

Akan tetapi ketika Tan Lokai menangkis, kakek ini terkejut sekali. Ujung tongkat itu memukulnya dengan tenaga lweekang yang lemas dan mempunyai daya membetot, sebaliknya pukulan ujung tongkat kanan yang menyusul, dilakukan dengan penyaluran tenaga gwakang yang amat kuat dan keras! Melihat cara pukulan ini, Tan Lokai yang sudah banyak pengalamannya terkejut dan terheran-heran. Inilah cara ilmu silat dari orang Im-yang-bu-pai, yang mendasarkan pada ilmu Silat Im-yang-ciang-hoat atau Ilmu Silat Im-yang!

"Eh, kau orang Im-yang-bu-pai!” tegurnya sambil membalas serangan lawan.

Teng Gak hanya tertawa mengejek, dan pada saat itu, tiga puluh orang yang tadi mengangkat tangan, mendengar kata-kata Tan Lokai ini, serentak bangkit berdiri tegak dan bersiap-siap, sikap mereka angker sekali. Keadaan menjadi riugh dan orang-orang Hek kin-kaipang juga cepat memisahkan diri dari mereka.

"Teng Gai apa kehendakmu?" tanya Tan Lokai, akan tetapi Teng Gai terus saja mendesaknya dengan pukulan pukulan maut. Tan Lokai yang mengalami kekagetan, tak dapat menjaga diri dengan baik, maka terdengar suara keras ia mencelat ke belakang sampai tiga tombak lebih ketika tongkat kuning lawannya berhasil menyodok dadanya! Baiknya Tan Lokai telah mengerahkan lweekang, sehingga biarpun terluka berat, tidak sampai membahayakan nyawanya.

"Teng Gai, betulkah kau orang Im yang-bu-pai dan apakah maksudmu memasuki perkumpulan kami?" Cun Eng melompat maju dengan pedang di tangan menghadapi pengemis sabuk putih itu.

"Ha ha ha, Kiang-pangcu! Im yang-bu-pai sudah tidak ada dan aku sekarang calon ketua dari Pek-kin-kaipang! Aku menuntut hakku sebagai pemenang calon ketua. Akulah yang berhak menjadi nama baru dan aku akan mengganti nama perkumpulan menjadi Pek- kin kaipang!”

Sebelum Kiang Cun Eng menjawab, berkelebat bayangan orang dan sosok bayangan ini begitu tiba lalu menonjok ke arah Teng Gai yang cepat menangkis. Akan tetapi to terhuyung-huyung dan hal ini mengejutkan hatinya. Ketika ia memandang, yang menyodoknya adalah seorang pengemis setengah tua yang bajunya tambal-tambalan, kumis dan jenggotnya malang melintang tidak karuan. Pengemis ini berdin dengan dua tangan digerak-gerakkan, sambil lulutnya mengeluarkan bunyi "ah-ah, uh-uh" tidak karuan. Ternyata bahwa dia adalah seorang pengemis bisu.

"Ah Kai, biar aku menghadapinya!” kata Cun Eng, kaget melihat datangnya pengemis ini yang dahulu di waktu masih kanak-kanak adalah pelayan dari ayahnya. Pengemis ani biasa disebut Ah Kai atau Si Bisu yang semenjak kecil sudah mempunyai kesukaan belajar ilmu silat. Setelah ayah Cun Eng meninggal, A-Kai melarikan diri dan baru hari ini muncul kembali dalam saat yang tidak tersangka-sangka.

Akan tetapi Ah-Kai tidak mau mundur, bahkan ia lalu memberi isyarat dengan tangan, minta Cun Eng mundur, kemudian sekali ia mengulur tangan, tongkat pusaka Hek-kin-kaipang di tangan Cun Eng telah pindah ke dalam tangannya, Cun Eng heran bukan main. Tidak sembarangan orang akan dapat merampas tongkatnya demikian mudah seperti sihir saja.

"Biarkan saja, dia takkan kalah," kata Yap Kong Ki kepada Cun Eng yang sudah berdiri di dekatnya. Sian-hud-ti Yap Kong Ki tokoh Pulau Kim-ke-tho yang semenjak tadi diam saja, mempunyai penglihatan yang awas sekali. Sekali pandang saja ia maklum bahwa pengemis bisu itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi, lebih tinggi daripada kepandaian Cun Eng. Maka ia memberi nasehat kepada Cun Eng untuk membiarkan pengemis bisu itu menghadapi orang-orang Im-yang-bu-pai.

Sementara itu, Ah Kai telah menyerang Teng Gai kalang kabut dan mulutnya tak pernah berhenti mengeluarkan ah-ah-ah uh-uh. Biarpun tongkat hitam di tangannya itu digerak-gerakkan dengan kacau, akan tetapi kembali terdengar Yap Kong Ki memuji dan berkata kepada Cun Eng dengan nada suara terheran-heran.

"Eh, darimana ia mendapatkan ilmu tongkat itu? Cam-kauw-tung-hwat (Ilmu tongkat Pemukul Anjing) tidak sembarang orang dapat mainkan!"

Memang ilmu tongkat yang dimainkan oleh Ah Kai itu luar biasa sekali. Kelihatannya memang kacau balau dan tidak teratur sama sekali, akan tetapi yang amat mengherankan, kekacauan gerakan tongkat ini mengurung dan mematikan semua gerakan tongkat kuning di tangan Teng Gai! Yang paling merasa heran dan penasaran adalah Teng Gai sendiri, karena ia yang memiliki ilmu Silat Im-yang-kun mengapa sekarang tidak berdaya sama sekali? Setiap serangan menemukan tempat kosong, atau kadang-kadang tertangkis oleh tongkat hitam butut itu dan tergetarlah telapak tangannya, tanda bahwa Si Bisu itu memiliki tenaga lweekang yang mengatasinya!

Para anggauta perkumpulan Hek-ki kaipang yang berada di situ menonton pertempuran itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Banyak di antara mereka kecuali beberapa orang anggauta baru, kenal baik kepada Ah Kai yang di waktu kecilnya merupakan pelayan ketua Hek-kin-kaipang yang sering kali digoda oleh para anggauta. Setelah ketua Hek-kin-kai-pang meninggal dunia bocah itu lenyap dan sekarang tiba-tiba muncul dalam keadaan yang tak terduga-duga dan yang lebih aneh lagi memiliki kepandaian yang demikian luar biasa. Maka kini mehhat Teng Gai terdesak dan kebingunan, orang-orang mulai bersorak-sorak.

Makin keras suara orang-orang itu bersorak dan bertepuk tangan ketika pada jurus ke lima puluh, setelah Teng Gai kebingungan dan pening kepalanya menghadapi serangan bertubi-tubi dan aneh dari lawannya, terdengar suara keras dan tubuh belakang dari Kim-tung Mo-kai Teng Gai kena dihajar dengan sekali gerakan! Teng Gai jatuh terguling-guling dan tongkat hitam di tangan Ah Kai terus bergerak memukulnya, lagak Si Bisu benar-benar seperti seorang yang memberi hajaran kepada seekor anjing.

"Lihai sekali... lihai sekali..." Yap Kong Ki beberapa kali memuji. "Agaknya ia telah beruntung mewarisi kepandaian dari Cam-kauw Sin-kai yang telah lama hilang dari dunia kang-ouw."

Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara gerengan keras dan mendadak tubuh Ah Kai terhuyung ke belakang, seakan-akan ia kena dorongan keras dari depan. Tubuh Teng Gai juga terdorong sampai bergulingan seperti seekor trenggiling. Bahkan orang-orang yang duduknya terdekat dengan mereka, semuanya terguling karena terdorong oleh angin pukulan yang dahsyat sekali.

"Ayaaaa...!" Yap Kong Ki berseru terkejut. ia melihat datangnya seorang kakek yang menyeramkan berambut panjang dan bermata liar. Yang membuat Yap Kong Ki terkejut adalah daya pukulan dari jauh yang dilakukan oleh kakek ini. Bagaimanakah sebuah pukulan dari jarak jauh mempunyai tenaga yang demikian dahsyatnya? Ini membuktikan bahwa orang yang baru datang adalah seorang ahli silat tinggi yang lihai sekali.

Ketika Ah Kai memandang, pengemis bisu itu mengeluarkan suara ribut-ribut nampaknya ia marah dan juga gentar menghadapi kakek itu. Adapun Teng Gai ketika melihat kakek ini mukanya berubah pucat sekali dan matanya terbelalak seolah-olah ia melihat setan. Kakek itu melihat semua orang diam dan memandangnya dengan gentar, tertawa terkekeh, lagaknya memandang rendah. Ketika ia memutar tubuh dan matanya mencari-cari, akhirnya ia melihat Kiang Cun Eng dan suara ketawanya berhenti.

“Heh, belum mampus? Kiang pangcu, kalau kau ingin menebus dosamu terhadapku, lekas berlutut den berjanji hendak menjadi pembantuku dan menyerahkan tongkat ketua Hek-kin-kaipang kepadaku." Suara kakek ini terdengar perlahan saja, namun di dalamnya mengandung pengaruh dan ancaman besar.

"Giok Seng Cu Totiang, mengapa seorang tokoh besar seperti Totiang dapat mengeluarkan kata-kata seperti itu? Memang aku pernah berdosa terhadap Im-yang-bu-pai ketika menolong seorang bocah, akan tetapi bukankah dosa itu telah tertebus dengan tewasnya banyak sekali anak buahku? Pula, kedosaan itu tidak ada artinya kalau dtingat bahwa hal itu aku lakukan untuk menolong nyawa seorang anak yang tak berdosa."

Kakek ini memang Giok Seng Cu. Sebagaimana telah dttuturkan di bagian depan, berkali-kali Giok Seng Cu mengalami kegagalan. Tidak saja perkumpulan yang dipimpinnya, yakni Im-yang-bu-pai, telah dibasmi oleh See-thian Tok-ong dan anak isterinya, akan tetapi juga pedang pusaka Pak-kek Sin-kiam yang sudah terjatuh di tangannya itu, dapat terampas oleh See thian Tok Ong. Hal ini amat menyakitkan hatinya.

Selama beberapa tahun ini ia tidak mau muncul, bersembunyi sambil memperdalam kepandaiannya. Kemudian setelah ia muncul melihat bahwa lm-yang-bu-pai sudah hancur dan anak buahnya sudah kocar-kacir, timbul di dalam pikirannya untuk mendirikan perkumpulan baru. Tanpa perkumpulan dan anak buah yang banyak jumlahnya, kedudukannya takkan kuat. Kemudian teringatlah ia akan perkumpula Hek-kin-kaipang sebuah perkumpulan yang amat besar dan kuat dan ia segera mengambil keputusan untuk merampas kedudukan ketua di perkumpulan ini.

Kini ia telah berhadapan dengan Cu Eng. Mendengar Cun Eng membela diri ia tertawa mengejek. "Ha, enak saja kau bicara! Dengar mengandalkan siasat licin, kau pernah menentang Im-yang-bu-pai yang berarti menentangku pula. Sekarang, aku datang membunuhmu, bahkan hendak memimpin perkumpulan jembel ini agar dapat kemajuan dan nama besar, dan bahkan kuangkat menjadi pembantu. Bukankah hal ini membuktikan bahwa aku sekarang telah berhati lemah dan mudah menaruh hati kasihan? Kau tak perlu berterima kasih, asal kau dapat memperlihatkan kasih sayang terhadap aku, cukuplah."

Kata-kata ini ditutup dengan lirikan mata yang penuh arti dan tentu amat menjemukan karena main mata itu dilakukan kakek yang sudah begitu tua!

Antara Yap Kong Ki dan Kiang Cun Eng memang terdapat pertalian hati dan keduanya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari urusan kang-ouw untuk mengecap kenikmatan rumah tangga dalam usia mereka yang sudah agak terlambat itu. Maka mendengar kata-kata Giok Seng Cu, hati Kong Ki mendongkol bukan main. Terang-terangan kekasihnya dihina orang dan hal ini tak mungkin dapat ia biarkan saja.

Yap Kong Ki belum pernah bertemu muka dengan Giok Seng Cu, akan tetapi tentu saja ia dulu sudah seringkali mendengar nama kakek pemimpin Im-yang bu-pai yang lihai Kalau saja tidak karena urusan Cun Eng, agaknya ia akan lebih suka pergi menjauhi Giok Seng dan tidak mencari urusan dengan orang yang berbahaya itu. Sekarang melihat wanita yang dikasihinya dihina, Yap Kong tak dapat menahan sabar lagi. ia melompat ke depan dan kebutan di tangan kanannya tergetar.

"Totiang, telah lama sekali aku yang bodoh mendengar nama besar dari Giok Seng Cu sebagai ketua Im yang-bu-pai yang berilmu tinggi. Sudah lajim di dunia kang-ouw seorang tokoh yang berilmu tinggi selalu memiliki pandang yang amat luas dan bijaksana. Akan tetapi hari ini aku mendengar ucapan yang kau tujukan kepada Kiang-pangcu, benar benar membuat aku terheran-heran dan hampir tak dapat mempercayai telingaku sendiri."

Giok Seng Cu memutar tumit kakinya dan menghadapi Yap Kong Ki. Ia melihat seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bersikap gagah dan tenang, dengan alis dikerutkan tanda tak senang hati dan kebutan yang terpegang di tangan kanan bulu-bulunya tergetar, tanda bahwa lweekang orang yang memegangnya sudah mencapai tingkat tinggi dan sudah dapat disalurkan melalui gagang kebutan itu sampai ke ujung bulu kebutan.

"Hm, hm, kau sudah mengenaI namaku, akan tetapi sebaliknya aku belum pernah melihat mukamu. Siapakah kau dan berdasarken apakah kau hendak mencampuri urusanku?" tanya Giok Seng Cu. Kalau menghadapi kebanyakan orang, Giok Seng Cu lebih banyak mempergunakan tangannya daripada mulutnya. Akan tetapi melihat Yap Kong Ki sekelebatan saja tahulah Giok Seng Cu bahwa yang dihadapi bukanlah orang biasa, maka ia masih mempergunakan mulut untuk bertanya nama.

"Aku yang bodoh disebut orang Sian-hud-tim Yap Kong Ki, urusan Hek-kin-kaipang adalah urusanku juga, maka hinaan totiang terhadap Hek-kin-kaipang berarti penghinaan terhadapku pula."

"Begitu??" Pertanyaan ini hampir bersamaan datangnya dengan kibasan tangan kanan Giok Seng Cu yang mempergunakan ujung lengan baju untuk menyerang Kong Ki.

Majikan Pulau Kim-ke-tho ini tak berani berlaku lengah. Ia tahu bahwa setiap gerak serangan dari kakek ini tak boleh dipandang ringan. Benar saja dugaannya, karena biarpun kibasan ujung lengan baju ini dilakukan perlahan saja dan seakan-akan tidak memakai tenaga, akan tetapi tiba-tiba angin pukulannya menyambar, mengandung hawa panas dan bukan main kuatnya.

Yap Kong Ki memiliki ilmu silat turunan dan ia pun sudah memiliki tenaga Iweekang yang tinggi. Menghadapi serangan lawan yang ia tahu dilakukan dengan tenaga sebagian saja, sifatnya hanya untuk mencoba dulu, ia pun tidak mau memperlihatkan kelemahannya. Cepat ia mengebutkan hudtimnya ke arah lawan dan dari hudtim ini pun menyambar hawa pukuian yang sekaligus menangkis pukulan lawan dan langsung menyambar ke arah jalan darah di pundak Giok Seng Cu.

"Hem, cacing tanah berani menjual lagak di depanku?" bentak Giok Seng Cu, marah karena pukulannya tadi dapat ditangkis lawan yang bahkan mengirim serangan balasan. Ia sama sekali tidak mengelak dari totokan ujung hudtim, sebaliknya tangan kirinya maju memukul dada lawan.

Ujung hudtim tepat sekali mengenai jalan darah di pundak Giok Seng Cu, akan tetapi Yap Kong Ki berseru kaget karena ujung kebutannya terpental balik seperti menotok baja hitam saja. Sebaliknya, pukulan tangan kakek itu telah menyerang dadanya dan biarpun masih hawa pukulannya saja sudah terasa di dalam dadanya.

"Lihai sekali...!" Kong Ki berseru dan cepat Kebutan Dewa ini memutar senjatanya sehingga kebutan itu berubah menjadi segulungan sinar yang amat berbahaya. Biarpun ujungnya terdiri dari bulu-bulu yang lemas, namun kalau dipergunakan dalam serangan, dapat diperlemas atau diperkeras menurut saluran tenaga dalam. Totokan-totokan yang dilakukan oleh ujung kebutan ini pun bahaya sekali karena selalu mengarah jalan darah yang mematikan...

Thanks for reading Pedang Penakluk Iblis Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »