Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 36

36: AYAH BUNDA KANDUNG TAN LI HONG

Kembali dia menghela napas ketika tangannya meraba saku baju dan merasakan adanya tusuk konde perak sebagai tanda ikatan perjodohan dari Siok Eng!

“Giok-ko? Mengapa engkau tiba-tiba melamun dan beberapa kali menghela napas panjang?” tanya Ceng Ceng sambil tersenyum.

Cun Giok yang berjalan di sisinya sadar dari lamunannya. Dia menjadi salah tingkah dan gugup karena tiba-tiba saja dia mendapat teguran dan pertanyaan itu.

“Ah, aku... eh, apa yang kau katakan tadi memang benar, Ceng-moi. Akan tetapi bagaimana mengetrapkannya dalam kehidupan ini? Bagaimana caranya agar cinta kasih dapat bersemayam dalam hati sanubari kita?”

“Memang tidak mungkin kalau kita mengusahakannya sendiri, Twako. Kita dipenuhi pengaruh nafsu daya rendah yang melahirkan dan memelihara si-aku yang selalu mengejar kesenangan. Kalau si-aku disenangkan, timbul cinta, kalau disusahkan, timbul benci. Si-aku tidak mungkin dapat mengadakan cinta kasih yang sejati, bukan cinta nafsu. Hanya Thian yang dapat memberi karunia sehingga cinta kasih dapat bersemayam di hati. Karena itu, satu-satunya jalan hanyalah apabila kita saling mendekatkan diri seutuhnya kepadaNya. Kita ini manusia biasa, Giok-ko, lemah dan tidak berdaya, selalu menjadi permainan nafsu daya rendah. Akan tetapi kalau kita selalu mendekatkan diri dan berserah diri kepada Thian, maka dia akan memberi bimbingan kepada kita untuk dapat menguasai nafsu-nafsu kita sendiri.”

Mereka berdua tiba di Hoa-san. Segera mereka dihadapkan pada Goat-liang Sanjin yang biarpun dalam keadaan sadar, namun keadaan tubuhnya lemah sekali. Ceng Ceng memeriksanya, kemudian memberi minum obat pemberian Ban-tok Niocu. Dengan tekun dan penuh perhatian Ceng Ceng merawat dan mengobati ketua Hoa-san-pai itu dan tiga hari kemudian, kakek itu telah sembuh!

Tentu saja para pimpinan Hoa-san-pai merasa girang dan berterima kasih sekali kepada Ceng Ceng. Juga Goat-liang Sanjin sendiri mengucapkan terima kasihnya kepada Cun Giok. Pada keesokan harinya setelah Goat-liang Sanjin sembuh, Ceng Ceng dan Cun Giok lalu berpamit meninggalkan Hoa-san-pai. Setelah tiba di kaki gunung, Ceng Ceng berkata,

“Giok-ko, aku merasa bahagia sekali dapat berkenalan denganmu dan selama ini mengadakan perjalanan bersamamu. Akan tetapi sekarang sudah tiba saatnya kita berpisah.”

Cun Giok terkejut. Tidak terbayangkan sebelumnya dia akan berpisah dari Ceng Ceng. Rasanya sulit untuk dapat berpisah dari gadis yang telah membetot semangatnya, yang diam-diam dia kagumi dan dia kasihi.

“Berpisah, Ceng-moi? Engkau... hendak pergi ke manakah?”

“Aku akan pulang.”

“Pulang?” kata ini bagi Cun Giok terasa seperti asing.

“Ya, pulang ke rumah orang tuaku, di Nan-king. Engkau sendiri hendak ke mana, Giok-ko?”

“Aku? Ah, aku akan... merantau.”

“Selamat berpisah, Twako. Aku harus cepat pulang mengabarkan tentang kematian Susiok Im Yang Yok-sian kepada ayahku.” Gadis itu mengangkat kedua tangan memberi hormat dibalas oleh Cun Giok.

“Selamat jalan, Ceng-moi, semoga aku akan dapat bertemu lagi denganmu,” kata pemuda itu dan ketika gadis itu pergi dengan menggunakan ilmu berlari cepat sehingga yang tampak hanya bayangan putih berkelebat, tiba-tiba saja hatinya terasa kosong seolah semangatnya terbawa terbang oleh Ceng Ceng.

Cun Giok menghela napas panjang dan tahulah dia bahwa kini dia benar-benar menemukan seorang gadis yang telah merebut cintanya. Dia jatuh cinta kepada Ceng Ceng seperti yang belum pernah dia alami terhadap gadis lain. Namun tiba-tiba muncul bayangan wajah Siok Eng dan dia menghela napas panjang lagi.

“Tidak! Aku tidak akan mengingkari janji!” serunya dalam hati dan dia pun melanjutkan perjalanan tanpa tujuan tertentu, akan tetapi seperti dengan sendirinya, kedua kakinya mengayun langkah ke arah perginya Ceng Ceng. Terngiang dalam telinganya pelajaran Guru Besar Khong Hu Cu dalam kitab Tiong Yong seperti yang diajarkan Pak-kong Lojin kepadanya, pasal pertama ayat keempat.

Sebelum timbul senang, marah, duka dan suka perasaan dalam keadaan Tegak Seimbang. Apabila berbagai perasaan itu timbul namun dapat mengendalikan, itu dalam keadaan Selaras. Tegak Seimbang adalah Pokok Terbesar dunia Selaras adalah jalan Utama dunia.

Teringat akan pelajaran ini, Cun Giok bernapas panjang dan dalam sehingga perasaannya yang tadinya terguncang itu menjadi tenang kembali, lalu dia pun menggunakan ilmu berlari cepat melanjutkan perjalanannya merantau.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Tan Kun Tek yang berusia sekitar limapuluh tahun tinggal di kota Seng-hai-lian, tak jauh dari Nan-king. Dia seorang laki-laki yang tampan dan gagah. Ilmu silatnya tinggi karena dia adalah seorang pendekar dari Bu-tong-pai. Ketika muda, namanya terkenal di dunia kang-ouw dan dia juga ikut membela tanah air ketika diserbu pasukan MongoI.

Kini dia membuka sebuah perguruan silat dan menjauhkan diri dari urusan dunia kang-ouw. Tan Kun Tek hidup berdua dengan isterinya yang berusia sekitar empatpuluh tiga tahun dan masih tampak cantik dan lembut. Suami isteri ini hidup sederhana dengan penghasilan Tan Kun Tek yang tidak berapa besar sebagai seorang guru silat. Di Seng-hai-lian, Tan Kun Tek lebih dikenal dengan sebutan Tan-kauwsu (Guru Silat Tan).

Biarpun suami isteri ini tampak rukun dan hidup tenteram di rumah mereka yang tidak berapa besar namun memiliki tanah lapang di belakang rumah sebagai tempat latihan silat, namun keduanya seringkali tampak duduk melamun dengan wajah seolah matahari tertutup awan!

Mereka berdua hanya mempunyai seorang anak, akan tetapi ketika anak perempuan mereka itu berusia dua tahun, pada suatu malam anak itu lenyap diculik orang! Mereka tahu siapa penculiknya, namun semua usaha Tan Kun Tek mencari penculik itu gagal. Penculik itu seperti menghilang bersama puterinya.

Tan Kun Tek tahu benar siapa penculik puterinya. Dahulu, sebelum bertemu dengan gadis yang kini menjadi isterinya, dia berhubungan akrab dengan Gak Li, seorang pendekar wanita yang cantik dan gagah. Akan tetapi, Tan Kun Tek tidak suka dengan watak Gak Li yang keras dan suka mengandalkan ilmu silatnya yang memang tinggi sehingga terkadang suka bertindak kejam.

Maka begitu bertemu dengan gadis yang lembut, lemah dan sabar, cintanya berpindah dan dia lalu menikah dengan gadis itu, tidak mempedulikan Gak Li yang menjadi marah. Pernah Gak Li berusaha pada suatu malam untuk memasuki rumah dan membunuh isterinya. Akan tetapi masih untung bahwa kebetulan sekali Goat-liang Sanjin yang ketika itu belum menjadi ketua Hoa-san-pai dan merupakan sahabat baik Tan Kun Tek, memergoki dan berhasil menggagalkan niat jahat Gak Li dan mengusirnya.

Maka, ketika puterinya hilang diculik orang, Tan Kun Tek dapat menduga siapa penculiknya. Tentulah Gak Li yang hendak membalas dendam!

Pada suatu sore, Tan Kun Tek dan isterinya duduk di ruangan depan, seperti biasa setelah semua murid yang jumlahnya belasan orang itu pulang sehabis latihan silat. Mereka tampak serius bercakap-cakap dengan suara lirih.

“Bagaimana nanti kalau Kim Thai-ciangkun datang dan minta keputusanmu?” tanya Nyonya Tan dengan cemas.

Tan Kun Tek mengerutkan alisnya yang tebal. aku sudah mengambil keputusan menolak permintaannya.”

“Tetapi, itu adalah sebuah perintah!” wanita itu berseru dengan gelisah.

“Jangan hanya Kim Thai-ciangkun (Panglima Besar Kim), biarpun Kaisar sendiri yang memerintahkan, aku tetap tidak sudi melatih para perajurit Mongol! Aku tidak mau menjadi pengkhianat bangsa! Aku latih mereka untuk membunuhi rakyat kita? Huh, jangan harap!”

Yang mereka bicarakan itu adalah tentang permintaan Kim Thai-ciangkun yang datang tiga hari yang lalu. Panglima Kim itu datang berkunjung dan minta, bahkan memerintahkan Tan-kauwsu untuk melatih ilmu silat kepada para perajurit pasukannya. Dia diberi waktu sampai tiga hari untuk memutuskan, disertai penegasan bahwa itu merupakan perintah yang harus ditaati!

Dan hari ini, tiga hari telah lewat dan Tan-kauwsu harus memutuskan untuk menaati perintah itu. Apa yang mereka tunggu dengan hati tegang itu pun tiba. Terdengar derap kaki kuda berhenti di tepi jalan depan pekarangan rumah mereka. Tan Kun Tek dan isterinya memandang keluar dengan hati tegang. Lalu muncullah orang yang mereka tunggu-tunggu.

Seorang Panglima Mongol yang bertubuh tinggi besar, mukanya brewok, pakaiannya gemerlapan, memasuki pintu pagar diikuti selosin orang perajurit! Wajahnya bengis ketika dia melangkah dengan tegap menuju ke rumah di mana suami isteri itu menanti. Setelah panglima itu tiba di beranda atau ruangan depan, Tan Kun Tek dan isterinya bangkit berdiri.

“Kim Thai-ciangkun, silakan duduk!” kata Tan Kun Tek ramah.

“Terima kasih,” kata panglima itu tanpa mengambil tempat duduk dan langsung dia bertanya. “Bagaimana, Tan-kauwsu, tentu engkau sudah mengambil keputusan, bukan? Marilah bersama kami ikut ke markas dan mulai dengan tugasmu mengajarkan silat kepada para perajurit pasukanku.”

Wajah Tan Kun Tek berubah kemerahan, berbeda dengan wajah isterinya yang menjadi pucat. Dia memberi hormat dan menjawab dengan suara tegas. “Maafkan saya, Thai-ciangkun. Terpaksa saya tidak dapat memenuhi permintaanmu. Pengetahuan saya tentang ilmu silat tidak ada artinya dan tidak cukup berharga untuk melatih pasukan Thai-ciangkun.”

Panglima Mongol itu mengerutkan alisnya dan matanya yang sipit itu mengeluarkan sinar menakutkan. “Tan-kauwsu, engkau adalah murid Bu-tong-pai, jangan bilang bahwa engkau tidak pandai ilmu silat. Berani sekali engkau menolak perintahku, berarti perintah petugas Kerajaan Goan yang jaya?”

“Saya tidak menolak, hanya merasa tidak mampu, Thai-ciangkun.”

“Alasan kosong! Siapa tidak tahu bahwa engkau dahulu juga membantu pasukan pribumi yang melawan pasukan kami? Kalau engkau menolak, berarti benar kecurigaan kami bahwa Bu-tong-pai mengambil sikap anti pemerintahan kerajaan kami! Engkau berani menentang perintah, berarti engkau hendak memberontak!”

“Tidak, Thai-ciangkun, saya tidak bermaksud memberontak,” kata Tan Kun Tek dengan tenang dan suaranya tegas.

“Tangkap pemberontak ini!” bentak Panglima Mongol yang bernama Kim Bayan itu.

Dua orang perajurit maju hendak menangkap Tan Kun Tek, akan tetapi guru silat ini bergerak cepat dengan tamparan dan tendangan kakinya sehingga dua orang perajurit itu roboh! Kim Bayan marah sekali, akan tetapi dia bergerak cepat ke depan dan tahu-tahu Nyonya Tan telah dia tangkap.

“Tan Kun Tek, menyerah atau isterimu kubunuh lebih dulu!” bentak Kim Bayan yang sudah mendekatkan tangannya ke arah kepala wanita itu.

Tan Kun Tek maklum bahwa sekali panglima itu menggerakkan tangannya, nyawa isterinya tidak akan dapat diselamatkan lagi. Tentu saja dia tidak ingin mengorbankan isterinya, maka dia mengangguk dan berkata, “Saya menyerah, akan tetapi jangan ganggu isteriku, Thai-ciangkun!”

Tan Kun Tek dan isterinya lalu dibelenggu kedua tangannya dan dibawa ke markas pasukan Kerajaan Mongol yang berada di luar kota Seng-hai-lian. Tentu saja penangkapan suami isteri Tan ini membuat para tetangganya menjadi panik dan berita tentang penangkapan Guru Silat Tan dan isterinya itu segera tersebar di seluruh kota dan menjadi bahan percakapan orang.

Akan tetapi siapa yang berani mencampuri urusan Panglima Kin, yang menjadi panglima besar untuk seluruh pasukan yang berada di Propinsi Shan-tung, bahkan kini kekuasaannya juga sampai di Nan-king?

********************

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi menjelang tengah hari, Tan Li Hong memasuki kota Seng-hai-lian. Jantungnya berdebar tegang. Inilah kota kelahirannya, tempat tinggal ayah ibunya seperti yang ia dengar dari gurunya, Ban-tok Kui-bo.

Tentu saja ia sama sekali tidak ingat akan kota itu, bahkan bagaimana wajah ayah ibunya pun ia tidak ingat karena ia baru berusia dua tahun ketika ia diculik gurunya. Akan tetapi mencari rumah ayahnya yang bernama Tan Kun Tek di kota itu tidak merupakan hal yang sukar.

Ia bertanya kepada orang yang berjualan di sebuah warung, apakah orang itu mengetahui di mana rumah Tan Kun Tek. Pemilik warung itu, seorang laki-laki setengah tua, memandang Li Hong dengan mata terbelalak.

“Tan Kun Tek? Maksudmu Tan-kauwsu, Nona?”

Tentu saja Li Hong tidak tahu apakah ayahnya itu menjadi guru silat, akan tetapi karena ia mengerti dari gurunya bahwa ayahnya dulu seorang pendekar, tentu saja ayahnya itu ahli silat dan bukan mustahil kalau dia menjadi guru silat.

“Betul, Paman. Di mana rumahnya?”

Orang itu menjawab dengan lirih dan kaku, tampaknya seperti orang takut karena sebelum menjawab dia menoleh ke kanan kiri. “Di sana... belasan rumah dari sini...”

Setelah berkata demikian, orang itu masuk ke belakang, meninggalkan warungnya tak terjaga! Li Hong merasa heran akan tetapi ia lalu melanjutkan pencariannya. Setelah melewati belasan buah rumah, dia melihat sebuah rumah dan di pendapa rumah itu duduk seorang wanita setengah tua dan ia menangis tanpa suara, sesenggukan dan tampaknya gelisah.

Li Hong merasa tertarik dan ia lalu memasuki pekarangan rumah itu. Wanita yang sedang menangis itu mengangkat muka memandang, cepat ia mengusap air mata dari pipinya dan bangkit berdiri memandang Li Hong dengan heran.

“Nona mencari siapa dan ada keperluan apa?”

“Bibi, tolong tanya di manakah rumah Tan Kun Tek?”

Wanita itu memandang dengan mata penuh selidik, lalu menjawab ragu. “Ini rumah Kauwsu Tan Kun Tek, akan tetapi...”

“Ah, tolong beritahu mereka bahwa aku datang...”

“Nona, harap katakan dulu engkau siapa dan ada keperluan apa engkau hendak bertemu dengan Tan-kauwsu?”

“Aku Tan Li Hong, puterinya!” Akan tetapi ia segera teringat bahwa tentu saja wanita ini tidak tahu. Ia telah hilang dari rumah orang tuanya sejak berusia dua tahun! Bahkan ayah ibunya sendiri pun pasti tidak mengenalnya, apalagi orang lain!

“Puterinya? Akan tetapi... saya mendengar bahwa puteri mereka hilang belasan tahun yang lalu...”

“Benar, puteri mereka diculik orang. Akulah puteri mereka yang diculik itu. Sekarang aku datang ingin bertemu mereka. Di manakah Ayah Ibuku? Tolong beritahu mereka!” kata Li Hong tidak sabar lagi.

Tiba-tiba wanita itu menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangannya. Li Hong menyentuh pundak wanita itu dan bertanya tidak sabar.

“Bibi! Engkau ini mengapa? Mengapa menangis? Mana Ayah Ibuku?”

Dengan sedih wanita itu menjawab sambil menangis. “Mereka... mereka... kemarin ditangkap dan dibawa pasukan pemerintah...”

“Ditangkap pasukan...?” Li Hong terkejut bukan main. Akan tetapi ia segera dapat menenangkan perasaannya dan ia lalu membimbing wanita itu untuk duduk di atas kursi dan ia sendiri duduk di depannya.

“Tenanglah, Bibi. Jangan takut dan jangan menangis. Aku adalah puteri mereka dan aku akan menolong mereka. Akan tetapi ceritakan dulu siapa Bibi ini dan apa yang telah terjadi dengan Ayah Ibuku kemarin!”

Nada suara Li Hong memerintah dan wanita itu dapat menghentikan tangisnya setelah menggosok kedua matanya dengan ujung lengan bajunya.

“Nona, saya bernama Siok dan menjadi pembantu rumah tangga Tan-kauwsu selama sepuluh tahun lebih. Karena saya seorang janda yang hidup sebatang kara, maka saya dianggap keluarga sendiri oleh Tan-kauwsu dan Tan-hujin. Kemarin sore, seorang panglima datang bersama selosin orang perajurit dan dia menangkap Tan-kauwsu dan Tan-hujin, dibawa pergi dari sini. Semua orang di kota ini sudah mendengar akan penangkapan itu. Aih, saya merasa sedih dan bingung, Nona. Apa yang dapat dilakukan seorang perempuan seperti saya?” Ia menahan isaknya.

Li Hong marah sekali, juga di samping kemarahannya ia merasa menyesal. Ketika ia meninggalkan Coa-to untuk mencari orang tuanya di Seng-hai-lian dekat Nan-king ini, ia melakukan perjalanan seenaknya dan tidak tergesa-gesa. Ia menikmati perjalanan itu, kalau melewati kota ia berhenti satu dua hari lamanya dan kalau melewati daerah yang indah pemandangannya, ia pun menunda perjalanannya, sehingga ia amat terlambat tiba di Seng-hai-lian...

Thanks for reading Pendekar Tanpa Bayangan Jilid 36 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »