Pendekar Kelana Jilid 20

Si Kong mendapatkan kesempatan yang baik setelah lewat lima puluh jurus sejak Toa Ok mencabut Pek-lui-kiam. Secepat kilat dia menangkap pergelangan tangan kanan lawan yang memegang pedang. Tangan kiri Toa Ok melakukan pukulan dengan sinkang panas ke arah dada Si Kong dalam jarak dekat, namun Si Kong menerima pukulan itu dengan dadanya.

“Bukkk!” Telapak tangan Toa Ok melekat pada dada Si Kong dan seketika hawa sinkang membanjir keluar dari tangan kiri Toa Ok, tersedot oleh ilmu Thi-khi I-beng!

Toa Ok terkejut bukan kepalang, akan tetapi Si Kong sudah mengerahkan tenaganya dan menggunakan tangan kanannya untuk merenggut pedang Pek-lui-kiam dari tangan kanan Toa Ok. Karena Toa Ok sedang sibuk hendak melepaskan tangan kirinya, maka dia tidak dapat mempertahankan pedang itu yang dapat terampas oleh Si Kong.

Toa Ok menggereng marah dan menggerakkan tangan kirinya tanpa pengerahan sinkang. Akan tetapi dia terlambat. Si Kong sudah memukulnya dengan jurus Hok-liong Sin-ciang dan pukulan itu tepat mengenai ulu hatinya.

”Dessss...!”

Tubuh Toa Ok terlempar seperti bola dan jatuh terbanting ke atas tanah tanpa bergerak lagi. Isi dadanya sudah remuk oleh pukulan yang amat hebat itu!

Pada saat yang hampir bersamaan, Hui Lan juga sudah merobohkan Sam Ok atau Ang I Sianjin dengan pedang hitamnya. Dada Ang I Sianjin tertusuk pedang dan dia pun roboh dan tewas seketika. Setelah merobohkan Sam Ok, Hui Lan lalu mengamuk dan robohlah Tio Gin Ciong dan Kui Hwa Cu, orang pertama dari See-thian Su-hiap.

Mendengar teriakan maut puteranya, Tung-giam-ong terkejut dan perhatiannya terpecah sehingga Lam Tok berhasil memukul dada datuk besar timur itu dengan tangan kirinya. Pukulan itu hebat sekali dan mengandung racun yang mematikan sehingga tubuh Tung-giam-ong terjengkang keras dan dia pun tewas seketika.

Dapat dibayangkan betapa paniknya Ji Ok yang masih dapat bertahan melawan Pai Ong. Tetapi karena hatinya sudah merasa gentar melihat robohnya teman-temannya, terutama robohnya Toa Ok, dia hanya main mundur dan mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Dia memutar pecutnya dengan cepat, membentuk perisai lebar yang menutupi tubuhnya, dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak ke depan. Tiga batang paku beracun menyambar ke arah tubuh Pai Ong.

Datuk utara ini cepat mengelak sambil meloncat ke kiri dan kesempatan itu dipergunakan oleh Ji Ok untuk melarikan diri. Akan tetapi baru lima langkah dia berlari, Pai Ong sudah menggerakkan tangan kirinya dan golok di tangan kirinya itu meluncur lantas menancap di punggung Ji Ok sampai tembus ke dadanya. Ji Ok pun roboh dan dia tewas seketika.

Yang masih bertahan terhadap Bwe Hwa hanya Coa Leng Kun. Pemuda ini masih dapat bertahan karena dia dibantu oleh dua orang dari Bu-tek Ngo-sian yang amat lihai. Melihat betapa Bwe Hwa belum dapat merobohkan lawan yang mengeroyoknya, Hui Lan segera melompat dan membantu Bwe Hwa. Sekarang pertempuran itu menjadi berat sebelah dan dengan mudah pedang Kwan-im-kiam di tangan Bwe Hwa menyambar dan melukai leher Coa Leng Kun.

Dua orang Bu-tek Ngo-sian itu, orang pertama Ciok Khi dan orang kedua Sia Leng Tek, menjadi gentar akan tetapi tidak ada kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri. Ada pun tiga orang adik mereka juga sudah terdesak oleh pengeroyokan banyak prajurit.

Mereka berdua menjadi nekat melawan dua orang gadis perkasa itu. Akan tetapi karena hati mereka sudah merasa gentar, maka permainan pedang mereka menjadi lemah dan hampir berbareng mereka roboh oleh tusukan pedang Hui Lan dan pedang Bwe Hwa.

Para anggota Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai sudah banyak yang tewas ketika melawan pasukan kerajaan yang tiga empat kali lebih banyak jumlahnya. Tiga orang dari See-thian Su-hiap dan tiga orang dari Bu-tek Ngo-sian masih bertahan, akan tetapi Si Kong, Hui Lan serta Bwe Hwa menerjang mereka dan dalam waktu singkat saja mereka semua sudah roboh dan tewas.

Apa lagi karena Si Kong mempergunakan Pek-lui-kiam yang amat ampuh sehingga sepak terjangnya menggiriskan. Begitu sinar berkelebat, sudah ada seorang lawan yang tewas! Melihat ini, sisa anak buah Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai menjadi ketakutan dan mereka membuang senjata dan berlutut menyerah.

Panglima Gui Tin segera menyuruh pasukannya untuk menangkapi mereka, kemudian dia memerintahkan pasukannya untuk mundur. Setelah memeriksa keadaan pasukannya, dia lalu memerintahkan pasukannya untuk bekerja, mengubur semua jenazah dan mengobati mereka yang terluka.

Sementara itu Lam Tok sudah berhadapan dengan Pai Ong. Mereka saling pandang dan Lam Tok yang lebih dulu berkata, “Ha-ha-ha, kita berdua saja yang masih hidup di antara empat orang datuk besar. Apakah engkau masih ada hasrat untuk menjadi datuk paling lihai di kolong langit ini?” Pertanyaan ini mengandung tantangan.

Pai Ong tertawa pula, “Ha-ha-ha, ucapanmu benar, Lam Tok! Karena kita berdua memilih pihak yang benar, tidak menuruti hasutan Toa Ok dan Tung-giam-ong yang bersekongkol dengan pemberontak, maka kita masih hidup. Ini berarti kita memilih pihak yang benar.”

“Tepat sekali, Pai Ong! Memang Pek-lian-kauw selalu membujuk dan menghasut tokoh-tokoh kangouw sehingga terseret ke dalam pemberontakan melawan pemerintah. Apa bila seorang datuk masih bisa terbujuk omongan manis, maka dia tak berhak menjadi seorang datuk yang berpendirian gagah perkasa dan bebas. Akan tetapi mengingat sekarang yang tinggal hidup hanyalah Pai Ong datuk dari utara dan aku Lam Tok datuk dari selatan, lalu bagaimana pendapatmu?”

“Lam Tok, aku sudah merasa malas untuk memperebutkan sebutan Datuk Nomor Satu di Dunia. Kalau yang ada tinggal dua orang datuk saja, apa artinya mendapat sebutan Datuk Nomor Satu? Tidak, kau boleh memakai sebutan Datuk Terlihai itu karena aku tidak ingin merebutnya. Akan tetapi pedang pusaka Pek-lui-kiam, itulah yang dapat diperebutkan!”

“Tepat sekali! Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih berhak mendapat pedang pusaka Pek-lui-kiam!” kata LamTok.

“Bagus, aku setuju!” teriak Pai Ong. “Siapa pemilik Pek-lui-kiam, biar tanpa sebutan apa pun, menjadi bukti bahwa dialah yang terlihai!”

Pada saat itu Si Kong melangkah maju menghampiri dua orang datuk yang saling tantang itu, lantas memberi hormat kepada mereka. “Ji-wi locianpwe, pedang pusaka Pek-lui-kiam telah berada di tanganku.”

“Bagus, Si Kong. Serahkan pedang pusaka itu padaku. Sejak melihat engkau mengubur jenazah puteriku, aku sudah berubah pikiran dan membantumu menentang mereka yang menjadi musuh-musuhmu. Karena engkau tidak termasuk seorang datuk, maka serahkan pedang Pek-lui-kiam kepadaku!” kata Lam Tok.

Sekarang dia mengerti mengapa puterinya dahulu jatuh cinta kepada pemuda perkasa ini. Dia berterima kasih sekali ketika melihat Si Kong mengubur jenazah Cu Yin dan timbullah rasa sukanya terhadap pemuda ini

“Bukan diserahkan kepada Lam Tok. Itu kurang adil karena di sini ada dua orang datuk yang masih hidup. Orang muda, serahkan pedang itu kepada siapa di antara kami yang memenangkan pertandingan memperebutkan Pek-lui-kiam,” kata Pai Ong.

Si Kong kembali memberi hormat kepada dua orang datuk itu. sekarang pandangannya terhadap dua orang datuk itu pun sudah berubah. Dua orang datuk itu tidak seperti yang lain, tidak tunduk kepada pemberontak Kui-jiauw-pang dan Pek-lian-pai, malah menentang mereka. Dia beranggapan bahwa dua orang datuk ini masih memiliki jiwa pahlawan dan berpendirian, biar pun mereka memiliki watak yang aneh dan menurut kehendak mereka sendiri.

“Ji-wi locianpwe, pedang pusaka ini adalah milik pendekar Tan Tiong Bu, karena itu tidak dapat dimiliki siapa pun, harus kukembalikan kepada yang berhak.”

“Akan tetapi Tan Tiong Bu telah mati, terbunuh oleh Ang I Sianjin!” tegur Lam Tok.

“Benar, locianpwe. Akan tetapi dia masih memiliki seorang anak perempuan dan kepada anaknya itulah pedang Pek-lui-kiam ini akan kuserahkan. Dara itulah yang berhak memiliki Pek-lui-kiam sebagai peninggalan ayahnya.”

“Ahh, mana bisa begitu?” Pai Ong cepat mencela. “Siapa yang terkuat dialah yang berhak memiliki Pek-lui-kiam. Karena itu kita bertiga akan membuktikan siapa yang terkuat, dan dialah yang berhak memiliki Pek-lui-kiam!”

Akan tetapi Lam Tok menghela napas panjang dan berkata, “Apa yang dikatakan Si Kong itu benar! Apa gunanya kita memperebutkan sebuah pusaka yang sesungguhnya menjadi hak milik orang lain? Memalukan saja! Apa engkau senang kalau disebut sebagai seorang pencuri? Aku tidak! Sudahlah, Si Kong, aku tidak akan memperebutkan pusaka Pek-lui-kiam itu. Dan engkau, Pai Ong, apabila engkau masih penasaran untuk memperebutkan kedudukan datuk nomor satu, kupersilakan engkau datang ke tempat tinggalku di Lembah Sungai Heng-kiang. Selamat tinggal!” Sesudah berkata demikian, Lam Tok meloncat jauh dan lenyap di balik pohon-pohon.

“Bagaimana, locianpwe? Apakah engkau tidak sependapat dengan locianpwe Lam Tok?” tanya Si Kong kepada Pai Ong.

“Tentu saja tidak. Sebelum engkau dapat mengalahkan aku dalam perandingan, aku tidak rela kalau engkau membawa pergi Pek-lui-kiam! Kalahkan aku dulu, baru engkau berhak menentukan apa yang akan kau lakukan dengan Pek-lui-kiam!”

“Locianpwe, sesungguhnya aku sendiri tidak ingin memiliki pedang pusaka ini. Aku hanya hendak mempertahankan karena pusaka ini harus aku serahkan kepada puteri pemiliknya yang sejati, yaitu sebelum pusaka itu dibawa pergi oleh Ang I Sianjin.”

“Kalau begitu, mari kalahkan aku dulu!” Kakek tinggi besar berkepala botak ini mencabut sepasang goloknya. “Akan tetapi engkau berbuat licik kalau engkau hendak menghadapi sepasang golokku dengan pedang pusaka itu.”

Si Kong tersenyum, lantas memungut sebatang kayu dari bawah pohon. Dia membuang ranting dan daun kering dari cabang kayu itu dan memegangnya sebagai tongkat.

“Aku tidak akan menggunakan pedang Pek-lui-kiam untuk melawanmu, locianpwe. Cukup dengan sebatang kayu ini saja. Kalau aku kalah terhadap locianpwe, maka pedang Pek-lui-kiam akan kuserahkan.”

Pai Ong tersenyum dan wajahnya berseri-seri. “Aku tahu bahwa engkau seorang pemuda yang gagah perkasa dan dapat dipercaya. Marilah kita tentukan siapa di antara kita yang berhak membawa pergi Pek-lui-kiam. Mulailah, Si Kong.”

“Aku telah siap, locianpwe. Yang lebih tua harus mulai lebih dulu.”

“Bagus, lihat golok!” Kakek tinggi besar itu sudah menggunakan sepasang goloknya untuk menyerang.

Serangannya memang dahsyat sekali karena dia telah menggunakan seluruh tenaga dan kecepatannya. Karena maklum bahwa biar pun masih muda lawannya memiliki ilmu silat yang tinggi, maka begitu menyerang dia telah mengeluarkan jurusnya yang paling ampuh. Golok kanan membacok miring dari atas ke bawah ke arah leher Si Kong, ada pun golok kiri bergerak dari lain jurusan menyambar pinggang.

Si Kong tidak berani memandang rendah lawannya yang dia tahu merupakan orang yang tingkat ilmu silatnya tak berada di bawah tingkat mendiang Toa Ok. Dengan ringan sekali Si Kong mengelak mundur hingga serangan sepasang golok itu mengenai tempat kosong.

Ketika datuk itu memutar goloknya untuk menyerang lagi, Si Kong mendahuluinya dengan serangan balasan. Ujung tongkatnya tergetar, kemudian sekali bergerak laksana ular-ular mematuk, ujung tongkatnya sudah mengarah tujuh jalan darah di bagian depan tubuh Pai Ong.

“Hemmm...!” Pai Ong menggereng dan dua goloknya sibuk menangkis totokan itu dengan pengerahan tenaga agar tongkat itu terpotong oleh goloknya. Namun meski pun ditangkis sepasang golok yang tajam, tongkat itu tidak terpotong melainkan terayun dan membuat gerakan melingkar menyerang lagi dengan totokan ke arah lambung kakek tinggi besar itu.

Pai Ong terkejut. Tak disangkanya pemuda itu dapat menggerakkan tongkatnya demikian cepat dan tak terduga. Karena tidak sempat menangkis, dia meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan cepat itu. Kemudian, setelah memutar kedua goloknya, dia menyerang kembali dengan dahsyat.

Namun gerakan tubuh Si Kong terlampau cepat baginya, juga sangat aneh sehingga dia menjadi bingung. Makin lama permainan tongkat Si Kong semakin banyak perubahannya yang sama sekali tidak tersangka-sangka sehingga sesudah lewat lima puluh jurus kakek tinggi besar itu mulai terdesak.

Si Kong tidak berniat buruk terhadap Pai Ong. Bagaimana pun juga datuk utara ini sudah menunjukkan bahwa dia tidak sudi menjadi pengkhianat seperti Tung-giam-ong dan Toa Ok. Biar pun dia disebut datuk besar dunia kangouw, tapi dia masih memiliki kegagahan. Karena itu Si Kong tidak ingin mencelakainya.

Melihat lawannya telah terdesak, Si Kong lalu mempercepat gerakan tongkatnya sehingga Pai Ong menjadi semakin bingung. Seolah-olah tongkat itu telah berubah menjadi banyak sekali, mengurung dirinya dari berbagai penjuru. Karena bingung menghadapi tongkat itu, Pai Ong menggerakkan sepasang goloknya, bermaksud untuk menggunting tongkat yang ampuh itu agar terpotong. Suatu saat dia melihat bayangan tongkat itu dan secepat kilat sepasang goloknya menggunting dari atas ke bawah.

Si Kong sengaja memperlambat gerakan tongkatnya sehingga tampaknya hampir terjepit sepasang golok. Pai Ong sudah merasa girang sekali, akan tetapi pada saat terakhir tiba-tiba tongkat itu hilang dan sepasang goloknya bertemu sendiri di udara.

“Traanggg...!”

Pada saat itu pula ujung tombak Si Kong bergerak dua kali menotok ke arah pergelangan tangan Pai Ong sehingga kedua tangan itu kehilangan kekuatannya dan sepasang golok itu pun terlepas dari tangannya, jatuh ke atas tanah. Si Kong melompat mundur, memberi kesempatan kepada Pai Ong untuk memungut sepasang goloknya kembali.

Pai Ong terbelalak, wajahnya berubah sedikit pucat. Dia harus mengakui kekalahannya, akan tetapi hatinya masih penasaran sekali. Harus diakuinya bahwa pemuda itu memiliki ilmu tongkat yang sangat hebat, akan tetapi mungkin dalam perkelahian tangan kosong pemuda itu tidak akan mampu mengalahkannya. Untuk menebus rasa malu karena kalah dalam pertandingan menggunakan senjata, tanpa memungut sepasang goloknya Pai Ong berkata.

“Harus kuakui bahwa engkau mempunyai ilmu tongkat yang luar biasa dan aku mengaku kalah dalah permainan senjata. Akan tetapi aku baru mengakui kekalahanku bila engkau mampu menandingi aku dalam pertandingan tangan kosong dan penggunaan sinkang.”

Si Kong tersenyum maklum. Kakek tinggi besar itu dikenal sebagai seorang datuk besar. Tentu saja dia sukar mengakui kekalahannya terhadap seorang pemuda sepertinya. Dia dapat memaklumi hal ini dan sambil tersenyum dia menjawab,

“Kalau locianpwe mengajak bertanding dengan tangan kosong, akan kulayani, akan tetapi harap locianpwe suka mengalah dan tidak menjatuhkan tangan yang terlalu keras bagiku.”

Pai Ong memandang kagum. Pantas saja Lam Tok enggan bermusuhan dengan pemuda ini. Sungguh seorang pemuda yang luar biasa. Sudah jelas dapat mengalahkannya, akan tetapi tetap merendahkan diri.

“Engkau terlalu merendahkan diri, Si Kong. Mari kita uji kekuatan masing-masing.”

“Aku sudah siap, locainpwe,” kata Si Kong sambil membuang tongkatnya.

Dua orang itu saling berhadapan seperti dua ekor ayam jago hendak bertarung. Pai Ong mengerutkan alisnya dan bersungguh-sungguh karena dalam pertandingan ini dia harus mempertahankan kedudukannya sebagai datuk besar yang patut disegani semua orang.

Akan tetapi Si Kong kelihatan tenang-tenang saja dengan bibir tersenyum, seakan-akan dia sudah merasa pasti bahwa dia tidak akan kalah oleh lawannya. Sikap percaya diri ini ditanamkan mendiang Pendekar Sadis kepadanya bersama ilmu-ilmu yang dipelajarinya.

“Lihat serangan!” terdengar Pai Ong membentak karena dia melihat pemuda itu agaknya tidak mau mendahului menyerang. Tubuhnya menerjang maju dan dia sudah mengirimkan pukulan yang mendatangkan hawa panas sekali. Inilah ilmu pukulan Hwe-ciang (Tangan Api) yang mengandung sinkang amat kuat.

Si Kong mengenal pukulan ampuh, maka dia pun mengelak dan selanjutnya memainkan Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang) sehingga tubuhnya bergerak sangat cepat. Dengan penuh penasaran Pai Ong melancarkan serangan bertubi-tubi, namun tidak satu pun dari semua pukulannya mengenai sasaran.

Dengan seluruh tenaga serta kepandaiannya Pai Ong menyerang, dan agaknya tidak mau memberi kesempatan kepada Si Kong untuk membalas serangannya. Kakek datuk utara ini memang hebat sekali. Serangannya sambung menyambung dan bertubi-tubi sehingga menggetarkan sekeliling tempat itu. Bahkan orang yang berdiri dalam jarak sepuluh meter dari tempat pertandingan itu terpaksa mundur menjauh karena mereka dapat merasakan sambaran angin yang panas.

Si Kong sama sekali tak mampu membalas. Setiap kali dia mengelak dari satu serangan lawan maka serangan lain telah menyusul sebagai sambungan seolah jurus-jurus itu telah dirangkai dan tiada putusnya. Diam-diam pemuda ini merasa kagum bukan main. Tingkat kepandaian datuk utara ini bahkan lebih unggul dibandingkan tingkat kepandaian Tok Ok. Andai kata pertandingan Pai Ong dan Lam Tok diadakan, tentu Pai Ong akan merupakan lawan tangguh dari Racun Selatan itu.

Hampir seratus jurus sudah lewat dengan cepatnya dan belum juga ada pukulan Pai Ong yang mengenai tubuh Si Kong. Pai Ong sudah mulai lelah tetapi dia semakin penasaran. Pada suatu saat tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka menghantam ke arah dada Si Kong dan tangan kirinya mencengkeram ke arah pusar.

Si Kong yang tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang, menganggap sudah cukup dia memberi kesempatan kepada lawannya. Dia pun segera menggerakkan kedua tangannya menyambut dua serangan Pai Ong itu. Tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka menyambut pukulan ke arah dadanya dan tangan kanannya mengibas ke bawah untuk menyambut cengkeraman tangan kiri lawan.

“Plakk! Plakk!”

Dua pasang tangan bertemu di udara dan mata Pai Ong terbelalak. Dia merasa betapa sepasang tangannya bertemu benda lunak yang langsung menghisap tenaga sinkang-nya. Tenaga sinkang-nya membanjir keluar disedot telapak tangan yang lunak itu.

Tentu saja dia terkejut setengah mati. Dalam dunia persilatan hanya para hwesio Siauw-lim-pai yang sudah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu mereka yang dapat menggunakan tenaga dalam untuk menyedot tenaga lawan. Akan tetapi dia teringat akan ilmu menyedot sinkang seperti itu yang pernah dimiliki oleh mendiang Pendekar Sadis. Maka tanpa sadar mulutnya mengeluarkan apa yang terasa di hatinya.

”Pendekar Sadis...?”

Si Kong yang tidak bermaksud mencelakai lawan memang sudah hendak menarik kembali ilmu Thi-khi I-beng. Ketika mendengar disebutnya nama gurunya, dia melepaskan kedua tangannya dan meloncat mundur ke belakang.

Pai Ong memejamkan mata sambil menghirup hawa murni untuk memulihkan tenaganya. Beberapa saat kemudian barulah dia membuka matanya. Kakek ini pun maklum bahwa jika lawannya yang muda itu menghendaki, dengan mudah lawan akan mengirim pukulan maut selagi dia tak berdaya tadi. Dia melangkah maju dan mengangkat kedua tangannya.

“Si-taihiap (Pendekar besar Si), aku Pai Ong Loa Thian Kun mengaku kalah dan dengan kekalahanku ini, engkaulah yang berhak memakai gelar Jago Silat Nomor Satu di dunia dan pedang pusaka Pek-lui-kiam memang pantas menjadi milikmu.”

Si Kong cepat-cepat membalas penghormatan datuk utara itu. “Locianpwe, harap jangan bersikap seperti ini. Aku sama sekali tidak ingin disebut Jago Nomor Satu, aku pun sama sekali tidak ingin memiliki Pek-lui-kiam untuk pribadi. Sungguh aku berterima kasih sekali karena locianpwe telah mengalah kepadaku.”

Wajah Pai Ong menjadi kemerahan. “Ahh, alangkah bodohnya kami yang menyebut diri sebagai datuk besar persilatan, betapa sombongnya seperti katak dalam tempurung! Aku telah mendapat pelajaran yang amat berharga, orang muda. Mulai saat ini Loa Thian Kun hanya seorang biasa, tidak ada lagi Pai Ong. Selamat tinggal!” Orang tua itu kemudian melompat dan lenyap di antara pohon-pohon besar di bawah puncak.

Si Kong menarik napas panjang dan diam-diam bersyukur bahwa mendiang gurunya telah mewariskan ilmu-ilmu yang bisa menundukkan orang-orang sakti seperti para datuk besar itu.

Mereka semua sudah bubaran. Setelah menguburkan semua jenazah, Panglima Gui Tin dan juga Cang Hok Thian segera menarik mundur semua pasukan kerajaan untuk kembali ke kota raja.

cerita silat online karya kho ping hoo

Cang Hok Thian yang amat terpesona oleh Bwe Hwa mencoba untuk membujuk gadis ini agar mau ikut pulang bersamanya karena ingin dia perkenalkan kepada ayah bundanya, namun usahanya sia-sia belaka. Bwe Hwa menolak halus dan minta agar Cang Hok Thian meninggalkannya.

Hok Thian terpaksa ikut Panglima Gui Tin pulang. Dalam hatinya ia mengambil keputusan bahwa dia harus berjodoh dengan gadis itu atau tidak akan menikah dengan gadis lain.

Sesudah semua orang pergi, Si Kong juga melakukan perjalanan seorang diri menuruni puncak. Akan tetapi baru tiba di lereng bawah puncak, gerakan dua orang telah membuat dia membalikkan tubuh dan ternyata yang mengejarnya adalah Bwe Hwa dan Hui Lan! Dia berhenti dengan jantung berdebar.

Tadi dia telah berpamit dari dua orang gadis ini dan kini mereka mengejarnya. Apa yang mereka kehendaki? Hatinya menjadi tegang dan gelisah, akan tetapi dia menekan hatinya sehingga kelihatan tenang saja ketika dua orang gadis itu tiba di depannya.

“Lan-moi dan Hwa-moi, ada urusan apakah maka kalian mengejarku?” Si Kong bertanya sambil memandang ke kiri. Tanpa disengaja dia berhenti tak jauh dari makam Siangkoan Cu Yin ketika dua orang gadis itu menyusulnya!

Dua orang pendekar wanita itu adalah puteri-puteri para pendekar yang gagah perkasa dan keduanya mewarisi watak ibu mereka yang terkenal keras dan terbuka. Mendengar pertanyaan Si Kong, Hui Lan lalu menjawab,

“Kong-ko, kami berdua mengejarmu karena ingin menanyakan sesuatu yang kami harap Kong-ko akan menjawab dengan sejujurnya dan terbuka, sesuai dengan watak kita yang menghargai kebenaran dan kejujuran!”

Debar jantung di dada Si Kong makin menggebu. “Pertanyaan tentang apakah?”

Sekarang Bwe Hwa yang melangkah maju. “Kong-ko, ketika dulu engkau meninggalkan kami berdua di goa, kenapa engkau meninggalkan sajak itu? Aku masih ingat bunyinya!” kata Bwe Hwa yang lalu membacakan sajak itu.

“Seekor burung gagak yang papa tidak pantas berdekatan dengan sepasang burung Hong yang mulia! Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tak terikat apa pun juga!”

“Nah, kenapa engkau meninggalkan sajak itu dan meninggalkan kami tanpa pamit? Kong-ko, apakah engkau tidak menghargai perasaan kami terhadapmu?” tanya Hui Lan secara terbuka sehingga wajah Si Kong berubah kemerahan.

“Engkau harus menjawab sejujurnya, Kong-ko. tak perlu ada rahasia di antara kita, semua harus dijelaskan agar tidak terkandung pikiran buruk satu sama lain. Apakah kami berdua yang kau maksudkan dengan Sepasang Burung Hong itu dan engkau menganggap dirimu seekor burung gagak yang papa, yang tidak pantas berdekatan dengan kami?”

Si Kong harus menelan ludah berulang kali untuk menenteramkan hatinya yang berdebar gelisah menghadapi dua orang gadis yang bicara secara terbuka itu. Lebih gelisah dari pada harus menghadapi dua ekor singa betina yang marah!

“Ehh… hemmm... aku... terus terang saja aku telah mendengar percakapan kalian ketika aku habis mandi. Hatiku menjadi gelisah dan bingung sekali. Aku merasa tidak berharga bagi kalian, merasa tidak pantas, dan aku tidak ingin melihat kalian berduka atau kecewa, maka kupikir… sebaiknya aku pergi meninggalkan kalian. Percayalah, Lan-moi dan Hwa-moi, tak ada maksudku untuk membikin kalian berduka. Aku… aku merasa lebih baik aku menjauhkan diri, aku sungguh tidak berharga untuk kalian...”

“Kong-ko, tidak perlu kami sembunyikan bahwa kami berdua merasa kagum dan tertarik kepadamu. Karena itu buanglah keraguanmu bahwa pilihanmu akan membuat seorang di antara kami menderita kecewa atau berduka. Kami telah saling menceritakan rahasia hati kami masing-masing dan kami berani menghadapi kenyataan dengan hati terbuka,” kata Hui Lan.

“Benar, Kong-ko. Andai kata engkau memilih Hui Lan, aku pun tidak akan merasa sakit hati atau mendendam kepada kalian,” kata Bwe Hwa.

“Dan andai kata engkau memilih enci Bwe Hwa, aku pun rela dan menganggap bahwa engkau bukan jodohku,” kata pula Hui Lan.

“Engkau boleh menganggap kami sebagai wanita tidak tahu malu membicarakan urusan cinta kami, akan tetapi kami sudah bersikap terbuka dan jujur, maka harap engkau juga bersikap terbuka dan jujur terhadap kami,” sambung Bwe Hwa.

Si Kong mengeluarkan keringat dingin. Tentu saja di dalam pikirannya sedikit pun tidak terdapat pendapat bahwa dua orang gadis itu tidak tahu malu, bahkan dia kagum sekali terhadap keterbukaan mereka. Kalau di dunia ini semua orang bersikap terbuka dan jujur, tentu dunia tidak seperti sekarang, penuh pertikaian dan kesalah pahaman.

“Aihh, Lan-moi dan Hwa-moi, apakah yang harus aku katakan?” Si Kong menghela napas panjang dan sekali lagi dia menengok ke kiri, ke arah kuburan Cu Yin. “Kepada kalian aku merasa sangat kagum dan hormat. Bagiku kalian merupakan pendekar-pendekar wanita yang gagah dan patut dikagumi, selain berilmu tinggi juga berbudi luhur. Perasaan kalian terhadap diriku sungguh merupakan kehormatan yang berlebihan bagiku.”

“Tidak perlu berbelit-belit, Kong-ko!” kata Hui Lan. “katakan saja, siapakah di antara kami berdua yang kau cinta? Ataukah, engkau tidak mencinta kami berdua?”

Si Kong menggelengkan kepala dan menarik napas lagi. ”Cintaku telah terbawa mati oleh Cu Yin yang kini bermakam di sana. Kalian terlampau tinggi untukku. Aku hanya merasa kagum dan hormat, tetapi terus terang saja, sayangku terhadap kalian bukan seperti yang kalian duga. Maafkan keterus teranganku ini, akan tetapi sebenarnya tidak ada perasaan cinta asmara dalam hatiku.”

Dua orang gadis itu saling pandang. Wajah mereka menjadi agak pucat, akan tetapi cepat menjadi kemerahan kembali.

“Kong-ko, siapa itu Cu Yin?” tanya Hui Lan sambil menoleh dan memandang makam baru itu.

“Ya, siapa gadis yang sudah mampu menjatuhkan hatimu itu, Kong-ko?” tanya Bwe Hwa penasaran.

Si Kong menarik napas. “Sebelum dia tewas aku pun tidak tahu bahwa aku mencintainya. Kasihan Cu Yin. Ia tidak berkedudukan tinggi seperti kalian. Dia hanyalah puteri Lam Tok yang tewas oleh anak panah ayahnya sendiri ketika dia berkorban untukku, menghadang anak-anak panah yang ditujukan kepadaku.”

Dua orang gadis itu menunduk, merasa terharu. Mereka adalah dua orang gadis perkasa yang berwatak gagah, maka keterus terangan Si Kong tak membuat mereka merasa sakit hati. Mereka menerimanya dengan wajar dan dapat menekan perasaan sendiri. Mereka maklum bahwa cinta asmara tak mungkin terjadi sepihak saja, dan juga cinta tidak dapat dipaksakan. Mereka tidak marah, tidak sakit hati dan hanya pandangan mereka terhadap Si Kong berubah. Kini mereka melihat pemuda itu sebagai seorang sahabat yang mereka kagumi, tidak lagi mengharapkan balasan cinta darinya.

“Menyedihkan sekali...,” kata Hui Lan sambil memandang ke arah kuburan itu.

“Kasihan gadis itu...,” kata Bwe Hwa.

Sikap kedua orang gadis itu yang bisa menerima keterus terangannya yang menolak cinta mereka membuat Si Kong semakin kagum kepada mereka. Demikian bijaksana. Pantas kalau mereka berdua disebut gadis pendekar yang berbudi luhur dan tidak mementingkan kesenangan diri sendiri.

“Nah, selamat tinggal, Lan-moi dan Hwa-moi. Aku hendak melanjutkan perjalanan untuk menyerahkan Pek-lui-kiam ini kepada yang berhak.”

“Selamat berpisah, Kong-ko,” kata Hui Lan.

“Selamat tinggal, Kong-ko,” kata Bwe Hwa.

Kedua orang gadis itu lalu berlari cepat meninggalkan tempat itu. Mereka dapat menerima kenyataan yang betapa pahit pun dengan tabah dan gagah, tanpa penyesalan, melainkan penuh keikhlasan dan kemakluman.

Setelah dua orang gadis itu pergi, Si Kong menghela napas panjang. Dia telah berbohong dalam usahanya agar tidak membuat salah seorang dari mereka kecewa dan menyesal. Kalau hanya seorang saja yang mencintanya, alangkah mudah baginya untuk jatuh cinta kepada seorang gadis seperti Hui Lan atau Bwe Hwa. Akan tetapi dia maklum bahwa jika dia memilih salah satu, maka yang lain akan merasa kecewa dan menyesal. Lagi pula dia melihat betapa buruk nasib Cu Yin, gadis yang mencintainya. Dia tidak ingin kalau kedua orang dara perkasa itu mengalami nasib buruk pula.

Dengan perlahan dia menghampiri makam Cu Yin, lalu duduk bersila di depan makam itu hingga hampir satu jam lamanya. Setelah itu barulah dia pergi menuruni gunung Kui-liong-san untuk melanjutkan perjalanannya menuju kota Ci-bun, di mana Tan Kiok Nio tinggal mondok di rumah pamannya, yaitu Hartawan The Kun.

Sesudah tiba di kota Ci-bun, Si Kong langsung saja menuju ke rumah Hartawan The Kun. Hari masih pagi sekali, akan tetapi di depan rumah keluarga hartawan itu telah menunggu banyak pengemis besar kecil lelaki perempuan. Setiap hari rumah itu pasti didatangi para pengemis yang minta sumbangan dan tidak pernah mereka pergi dengan tangan kosong.

Melihat ini Si Kong mengangguk-angguk dan tersenyum senang. Kalau semua hartawan di dunia ini bermurah hati seperti hartawan The Kun, akan berkuranglah kesengsaraan di dunia. Hartawan The Kun bahkan merupakan sumber kehidupan bagi banyak orang pada waktu musim panen gagal. Dia membuka tangannya untuk memberi atau menyumbang, bahkan yang memerlukan sesuatu dapat meminjam darinya tanpa dikenakan bunga.

Ketika Si Kong memasuki pekarangan, seorang tukang kebun yang sedang menyapu di pekarangan itu menyambutnya dan tukang kebun ini bertanya ramah.

“Kongcu mencari siapakah dan ada keperluan apa datang berkunjung?”

Si Kong tersenyum pula. Kalau majikannya murah hati, tidak mungkin para pembantunya galak dan sombong.Tukang kebun ini pun ramah dan hormat sekali.

“Maaf kalau aku mengganggu, paman. Aku ingin bertemu dengan The-wan-gwe. Apakah paman dapat menolongku melaporkan ke dalam?”

“Apabila kedatangan kongcu mengenai urusan sumbangan, sebaiknya kongcu menunggu sebentar,” kata tukang kebun itu dengan sikap ramah dan halus.

“Ahh, tidak, paman. Aku memilikii urusan lain yang amat penting dengan The-wan-gwe.”

“Kalau begitu harap tunggu sebentar, biar kulaporkan dahulu ke dalam.” Tukang kebun itu melepaskan sapunya lalu melangkah memasuki rumah besar itu.

Tidak lama kemudian tukang kebun itu sudah keluar bersama seorang kakek yang dikenal Si Kong sebagai The-wan-gwe. Si Kong segera memberi hormat kepada hartawan itu.

“Engkau siapakah orang muda dan ada keperluan apakah hendak bertemu dengan aku?” kakek itu memandang wajah Si Kong dengan penuh selidik.

Si Kong tersenyum. “Apakah The-wan-gwe sudah lupa kepadaku? Aku pernah membantu membagi-bagi beras di sini.” Si Kong mengingatkan dan hartawan itu segera teringat.

“Ah, kiranya engkau, Si Kong...! Aku, aku sudah tua dan menjadi pelupa. Mari masuk, kita bicara di dalam!” Hartawan itu menawarkan dengan sikap ramah sekali.

“Baik, loya (tuan tua) dan terima kasih.”

“Ha-ha-ha, engkau jangan menyebut loya kepadaku, cukup kau sebut paman saja. Semua manusia di dunia ini merupakan satu keluarga yang besar, bukan?”

Si Kong semakin kagum. Dalam kehidupan sehari-hari orang tua ini melaksanakan ujar-ujar. Banyak orang yang hafal akan ujar-ujar bijaksana itu dan mampu menirukan dengan suara lantang dan indah. ‘Di empat penjuru lautan, semua orang adalah saudara!’ dan ada pula ujar-ujar yang berbunyi, ‘Cintailah orang lain seperti kamu mencintai diri sendiri!’ Akan tetapi semua itu tinggal menjadi slogan belaka.

Apa bila dengan saudara sendiri saja sudah bertengkar, bagaimana dapat menganggap manusia di empat penjuru sebagai saudara? Kalau kepada saudara sendiri saja kita tidak dapat mengasihi, bagaimana mungkin mencintai orang lain?

Tapi dalam kehidupannya sehari-hari agaknya The-wan-gwe sudah melaksanakan segala pelajaran yang bijaksana itu. Dia yang dulu pernah bekerja kepada hartawan itu, sekarang diterima sebagai anggota keluarga!

Setelah tiba di ruangan tamu, dengan sikap ramah Hartawan The mempersilakan Si Kong duduk. Mereka duduk berhadapan dan hartawan itu lalu bertanya, “Bantuan apakah yang dapat kami berikan kepadamu Si Kong?”

Si Kong tersenyum. Baru pertanyaan itu saja sudah menunjukkan sikap yang murah hati dari hartawan itu. “Sebetulnya saya tidak mempunyai keperluan apa pun dengan paman The, melainkan dengan nona Tan Kiok Nio. Akan tetapi rasanya tidak pantas kalau saya minta tolong kepada tukang kebun tadi untuk memanggilkan nona itu.”

Hartawan The tersenyum lebar. “Kiok Nio? Dia berada di dalam. Tentu dia akan merasa heran mendengar engkau berkunjung kepadanya.”

Untuk menghilangkan prasangka yang bukan-bukan Si Kong cepat-cepat berkata, “Dalam pertemuan kami dahulu, nona Tan Kiok Nio minta kepadaku untuk menyelidiki mengenai pembunuh ayahnya dan pencuri pedang pusaka milik ayahnya.”

“Ahh, itukah? Dan engkau telah berhasil?”

Si Kong mengangguk dengan wajah berseri. “Bagus!” kata hartawan itu. “Tentu Kiok Nio akan senang sekali mendengar hal ini! Kau tunggu sebentar, aku akan memanggilnya untuk menemui engkau di sini!”

Hartawan itu lalu masuk ke dalam dan Si Kong menanti di atas kursinya. Tidak lama dia menanti. Terdengar suara langkah kaki yang halus sehingga dia segera memandang ke arah pintu sebelah dalam. Muncullah Tan Kiok Nio, gadis yang cantik manis itu. Dengan pandang mata penuh harapan gadis itu menghampiri Si Kong. Pemuda ini segera bangkit untuk memberi hormat.

“Tan-siocia...,” katanya lembut.

“Ahh, Si-taihiap. Engkau sudah datang? Dan bagaimana dengan pembunuh itu?”

“Harap nona suka duduk dahulu. Ceritanya agak panjang, akan tetapi aku sudah berhasil menemukan pembunuh itu, sekaligus membawa pedang Pek-lui-kiam untuk dikembalikan kepadamu. Nah, terimalah pedang ini, nona Tan Kiok Nio.”

Si Kong mengulurkan tangan menyerahkan pedang itu. Melihat pedang itu, Tan Kiok Nio menerimanya lalu mendekap pedang itu dengan kedua mata basah. Akan tetapi dia tidak sempat menangis karena sudah cepat menelan kembali tangisnya.

“Terima kasih, taihiap. Akan tetapi bagaimana ceritanya sampai engkau bisa menemukan kembali pedang ini dan bagaimana pula dengan pembunuh itu? Siapakah dia?”

“Pembunuh itu berjuluk Ang I Sianjin, ketua Kui-jiauw-pang di Kui-liong-san. Akan tetapi dia sudah tewas dan beruntung sekali aku dapat berhasil merampas pedang pusaka milik ayahmu ini. Ceritanya panjang, nona.”

“Ceritakanlah, taihiap!”

Si Kong lalu menceritakan pengalamannya hingga Ang I Sianjin sampai tewas dan pedang itu dapat dirampasnya. Tentu saja dia hanya menceritakan garis besarnya saja yang ada hubungannya dengan Ang I Sianjin dan pedang Pek-lui-kiam.

“Begitulah, nona.” Si Kong mengakhiri ceritanya. “Pedang Pek-lui-kiam yang diperebutkan orang itu akhirnya dapat kurampas kembali dan aku segera ke sini untuk menyerahkan pedang itu kepadamu.”

Kini Kiok Nio tidak mampu menahan keharuan hatinya. Dia mendekap pedang itu sambil menangis dan terdengar dia berkata seperti berdoa, “Ayah... Ibu... tenang-tenanglah ayah ibu beristirahat di alam baka. Pembunuh ayah ibu telah terbalas, dan pedang Pek-lui-kiam telah dikembalikan kepadaku...”

Pada saat itu hartawan The memasuki ruangan tamu dan ketika melihat keponakannya menangis sambil mendekap pedang, dia pun bertanya, “Hei, pedang itukah milik ayahmu? Sekarang sudah kembali, mengapa engkau menangis, Kiok Nio?”

Kiok Nio menghapus air matanya. “Aku... aku terharu, paman. Pembunuh ayah ibu sudah dapat ditewaskan dan pedang ayah dapat dikembalikan!”

“Hemm, sepatutnya engkau bersyukur dan berterima kasih kepada Si Kong, bukan malah menangis.”

Kiok Nio memandang kepada Si Kong dengan mata kemerahan bekas tangisnya. “Terima kasih, taihiap...” Dan dia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Si Kong.

Pemuda itu sangat terkejut dan dia pun cepat berlutut. “Jangan begini nona. Sebenarnya tanpa bantuan banyak pendekar lainnya, belum tentu aku akan dapat merampas pedang ini. Bangkitlah, nona.”

Kiok Nio bangkit dan Si Kong juga bangkit berdiri. Mereka berdiri berhadapan, lalu Kiok Nio berkata dengan suara gemetar, “Taihiap, engkau terimalah pedang pusaka ini!”

Kiok Nio menyerahkan pedang itu, dan dengan bingung Si Kong terpaksa menerimanya karena pedang itu sudah dilepaskan dari pegangan Kiok Nio.

“Tapi pusaka ini harus kembali kepada yang berhak, nona. Aku tidak dapat menerimanya! Yang berhak memiliki adalah engkau, nona.”

“Tidak, bukan aku yang berhak, melainkan engkau, Si-taihiap. Ketahuilah, dahulu ayahku pernah memberi tahu kepadaku bahwa sebenarnya pusaka ini adalah milik seorang sakti bernama Pek In Losian yang tinggal di Pulau Bayangan. Aku tak berhak menyimpannya, dan karena engkau yang berhasil merampasnya dari Ang I Sianjin, maka engkaulah yang berhak memilikinya. Sekali lagi terima kasih, taihiap. Sampai mati aku takkan melupakan budi kebaikanmu ini.” Gadis itu terisak lalu berlari masuk.

Si Kong masih memegang pedang itu dengan kedua tangannya sambil termenung, tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

“Ha-ha-ha-ha!” The-wan-gwe tertawa. “Tidak tahukah engkau, Si Kong, mengapa Kiok Nio berlari masuk sambil menangis?”

“Saya... saya tidak mengerti, paman.”

“Si Kong, berapakah usiamu sekarang ini?”

“Dua puluh satu atau dua puluh dua, paman. Mengapa?”

“Dan engkau belum terikat, maksudku belum menikah atau bertunangan?” Hartawan The Kun bertanya lagi tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.

“Belum,” Si Kong menggeleng kepalanya dengan bingung.

“Bagus sekali! Sudah cocok kalau begitu! Kiok Nio berusia sembilan belas tahun dan dia pun belum mempunyai calon suami. Si Kong, kami sekeluarga akan merasa berbahagia sekali kalau engkau dan Kiok Nio dapat menjadi jodoh masing-masing.”

Si Kong terbelalak. “Ahh, mana mungkin? Aku... aku seorang yatim piatu...”

“Sama dengan Kiok Nio. Dengar, Si Kong. Aku tidak mempunyai anak dan Kiok Nio sudah kami anggap anak sendiri. Aku sudah tua, malas berusaha. Kalau engkau menjadi suami Kiok Nio, kalian akan mewarisi seluruh hartaku dan engkau dapat melanjutkan usahaku.”

“Tapi... tapi...”

“Tidak ada tapi, Si Kong. Kiok Nio pasti setuju. Ketika dia berlari masuk sambil menangis, aku sudah tahu. Karena itulah maka ia menyerahkan pedang pusaka ayahnya kepadamu. Anggaplah itu sebagai tanda pengikat perjodohan, ha-ha-ha!” Hartawan The Kun tertawa girang sekali karena dia tidak melihat alasan bagi Si Kong untuk menolak perjodohan itu. Kiok Nio cantik sekali, berilmu tinggi, dan menjadi pewaris hartawan itu pula.

Maka bisa dibayangkan betapa kaget dan kecewa hatinya ketika Si Kong berkata dengan suara tegas. “Tidak, paman. Maafkanlah aku. Aku merasa amat terhormat sekali dengan penawaranmu, akan tetapi aku tidak bisa menerimanya. Aku sama sekali belum memiliki keinginan untuk berjodoh, aku masih hendak berkelana. Aku mendengar keterangan nona Kiok Nio tadi, maka aku hendak mengembalikan pedang pusaka ini kepada yang berhak, yaitu pemiliknya yang berjuluk Pek In Losian di Pulau Bayangan itu.”

“Si Kong, jangan mengecewakan hatiku. Aku sungguh berharap engkau akan menerima tali perjodohan ini!”

“Maafkan jika aku mengecewakan hatimu, paman. Akan tetapi perjodohan adalah urusan hati pribadi, tak mungkin dapat dipaksakan. Selamat tinggal, paman!” Si Kong melangkah keluar dengan cepat.

Ketika dia tiba di pekarangan, ada sesuatu yang memaksa dia menoleh dan memandang ke atas. Dan di sana, di jendela loteng yang menghadap ke pekarangan, dia melihat Kiok Nio memandang kepadanya dengan air mata mengalir dari kedua matanya. Ada rasa haru menusuk hatinya. Namun dia cepat mengeraskan hatinya dan melanjutkan langkahnya, keluar dari pekarangan rumah Hartawan The Kun, terus keluar dari kota Ci-bun!

Setelah tiba diluar kota Ci-bun, dia merasa hatinya ringan dan bebas. Dia memang ingin bebas, tidak terikat. Dia ingin menjadi pengelana, menjelajahi banyak tempat, bertemu dengan pengalaman-pengalaman baru.

Seekor burung gagak yang papa terbang naik ke angkasa sendirian bermain di udara bebas dan merdeka tak terikat apa pun juga…!

T A M A T

Thanks for reading Pendekar Kelana Jilid 20 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »