Social Items

PEDANG ULAR MERAH JILID 01

Pegunungan Tai Hang San diperbatasan Mongolia merupakan daerah pegunungan yang amat luas dan di situ penuh dengan hutan-hutan liar yang jarang dikunjungi manusia. Di puncak bukit yang paling ujung yakni di bagian barat terdapat sebuah hutan yang benar-benar masih liar dan belum pernah ada manusia berani memasukinya. Hutan ini terkenal menjadi sarang binatang buas, terutama sekali banyak terdapat ular berbisa semacam ular yang berkulit merah dan tidak terdapat di lain bagian dunia akan tetapi yang banyak terdapat di hutan itu, membuat hutan itu dinamakan hutan ular merah.

Pada suatu pagi yang sejuk dengan sinar matahari yang cerah terdengarlah suara nyaring dan merdu dari seorang anak perempuan berusia paling banyak enam tahun, anak itu mungil dan cantik sekali dengan sepasang matanya yang bening kocak dan dua kuncir rambutnya yang panjang dan hitam. Tiap kali ia menggerakkan kepalanya, kuncirnya itu menyabet ke kanan ke kiri dan kalau kuncirnya melewati pundak lalu jatuh bergantung di atas pundaknya ke depan, ia tampak lucu dan manis.

Sambil memetik bunga-bunga hutan yang beraneka warna, anak ini bernyanyi dengan merdu. Akan tetapi sungguh mengherankan suaranya yang amat merdu itu bcrlawanan sekali dengan kata-kata nyanyiannya yang dapat membuat orang melengak saking heran tidak mengerti.

Aku bukan dewata bukan pula setan
Akan tetapi baik dewata maupun setan
Takkan dapat menguasai aku
Biar dewata berbisik, biar setan menggoda
Aku tak hendak patuh. tak sudi tunduk
Aku tertawa kalau ingin menangis
Menangis kalau ingin tertawa
Siapa peduli? Aku adalah aku
Bukan dewata, Bukan pula setan!


Tidak hanya kata-kata saja yang aneh, juga nyanyiannya itu terdengar lucu dan sumbang. Namun anak perempuan itu agaknya merasa suka akan nyanyian ini dan dianggapnya enak dinyanyikan, buktinya ia bernyanyi dengan wajah gembira dan mengulangi nyanyian itu berkali-kali.

Tiba-tiba dua ekor kupu-kupu yang indah sekali sayapnya beterbangan mengelilingi bunga-bunga itu. Anak perempuan ini berhenti menyanyi dan biarpun matanya memandang kagum kcpada dua ekor kupu-kupu itu, namun kedua tangannya masih bekerja mengumpulkan kembang mawar hutan.

"Aduh…!" tiba-tiba ia memekik kesakitan ketika ibu jari tangan kanannya tertusuk oleh duri kembang.

Saking kagetnya ia menarik keras tangan itu yang tentu saja membuat lukanya lebih besar dan dalam. Duri kcmbang itu ternyata runcing besar dan kuat. Darah mengalir dari ibu jarinya dan terasa amat pedih dan sakit. Seperti seorang anak kecil yang manja, rasa sakit ini membuat anak itu marah dan ia lalu membuang kembang-kembang tadi kemudian mcnangis keras.

"Ha ha ha ha!” terdengar suara tertawa bcrgelak dari atas pohon menyaingi suara tangis.

Anak itu tiba-tiba menghentikan tangisannya dan sambil menengok ke atas pohon ia berkata cemberut, "Suhu memang kejam! Aku terluka dan terasa sakit, mengapa ditertawakan?"

Bagaikan seekor burung garuda yang besar, dari atas pohon itu melayang turun seorang kakek yang tinggi besar dan berkulit muka kchitaman. Sepasang matanya lebar dan bersinar liar seperti mata harimau, baju dan rambutnva tidak karuan, awut-awutan dan tidak terpelihara. Benar-benar mengherankan betapa tubuh yang tinggi besar itu dapat melompat turun dan ketika kedua kakinya tiba di atas tanah di depan anak perempuan itu, telapak kakinya sama sekali tidak menerbitkan suara, seperti kucing melompat saja layaknya!

Kembali ia tertawa terbahak-bahak di depan anak perempuan itu yang menjadi makin marah. Sambil membanting-banting kakinya yang kecil, ia bertanya, "Mengapa suhu tertawa?"

"He, bukankah kau tadi menangis, Eng Eng? Kalau ada yang menangis, harus ada yang tertawa. Aku tertawa kalau ingin menangis dan menangis kalau ingin tertawa, bukankah kau sudah tahu? Dan kau, mengapa kau menangis?"

Pertanyaan ini diajukan dengan muka yang bodoh dan melihat sinar mata kakek ini, mudah saja orang menduga bahwa dia memang seorang yang miring otaknya, seorang yang tidak waras pikirannya!

"Aku tidak seperti suhu. Aku menangis atau tertawa tentu ada sebabnya. Dan sekarang aku menangis karena jari tanganku terluka oleh duri bunga itu!"

Anak yang disebut Eng Eng itu lupa bahwa pada saat itu ia sudah tidak menangis lagi. Akan tetapi ibu jarinya benar-benar terasa amat sakit dan perih sehingga mukanya yang berkulit halus itu mengerinyit.

Kakek itu sudah biasa dibantah oleh muridnya dan hal ini sama sekali tidak dipedulikan, bahkan ia lalu tertawa-tawa dan melihat ibu jari muridnya,

"Tertusuk duri? Kau tentu mengganggu kembang itu, kalau tidak tak rnungkin ia akan menusukmu dengan durinya, Ha ha ha..."

"Sudablah Suhu... Aku yang kesakitan, kau menggoda saja. Memang aku yang bersalah, memetik kembang tanpa melihat karena tertarik oleh dua ekor kupu-kupu yang beterbangan itu.”

Kakek itu menengok dan ketika melihat dua ekor kupu-kupu beterbangan dengan lincah gembira, ia berkata, "Mereka itukah yang mengganggumu?”

Ia lalu menggerakkan kedua tangannya bergantian ke arah kupu-kupu yang terbang sejauh dua tombak dari tempat ia berdiri dan aneh sekali! Tiba-tiba seperti tertiup oleh angin besar, kedua kupu-kupu itu terbangnya kacau balau dan melayang ke arah kakek tadi! Kakek itu mengulurkan tangan kirinya dan kini kedua kupu-kupu itu jatuh ke atas telapak tangannya, hinggap disitu tak dapat terbang lagi, hanya menggerak-gerakkan sayap tanpa dapat pergi dari situ.

“Bagus, bagus, suhu!" seru anak perempuan itu dan ia bertepuk tangan.

Untuk sesaat ia terlupa akan sakit pada ibu jarinya, akan tetapi baru saja ia bertepuk tangan, la mengeluh karena lupa jarinya serasa sakit. "Aduh... aduh...!" Dan ia menangis lagi.

Kakek itu lalu melemparkan sepasang kupu-kupu tadi ke atas dan kedua binatang ini segera dapat terbang lagi dengan cepat, pergi dari tempat yang berbahaya ini, sedangkan kakek itu tertawa lagi ha-ha-hi-hi.

"Sakitkah...? Sakitkah..." ia menghampiri sambil tertawa terus.

"Tentu saja sakit, kalau tidak masa aku menangis?"

Kakek yang aneh itu lalu memegang tangan muridnya dan ketika ia melihat ibu jari yang terluka, ternyata bahwa ujung duri kembang itu ketika tadi tangan dibetot keras, telah patah dan tertinggal di dalam daging, nampak membayang di kulit ibu jari. Kakek itu memencetnya dan anak itu berseru mengaduh-aduh. Air mata anak itu mengalir turun membasahi kedua pipinya yang merah.

"He he he! Siapa bilang sakit? Tidak sakit sama sekali. Aku tidak merasakan sakit sama sekali." katanya.

Anak perempuan itu cemberut. "tentu saja suhu tidak merasa sakit. akan tetapi aku merasa sakit setengah mati!"

"Bohong tidak sakit. Tidak sakit! Hayo kau harus menurut aku, bukankah kau muridku? Katakan tidak sakit"

Kakek yang miring otaknya itu berkata keras sambil memandang kepada muridnya dengan sepasang mata yang dilebarkan. Biarpun mulutnya masih cemberut, anak itu menurut juga dan berkata keras,

"Tidak sakit!" Akan tetapi ketika kakek itu memijit ibu jarinya lagi ia berjengir kesakitan.

"Jangan pura-pura!" kakek itu mencela. "Salah sama sekali. Kalau mulutmu bilang tidak sakit, hati dan pikiranmu juga harus berkata tidak sakit. Hayo ulang terus sampai kau benar benar tidak merasa sakit lagi!"

Berkali-kali anak perempuan itu berkata. "Tidak sakit, tidak sakit!" Akan tetapi masih saja kulit mukanya berkerut menahan sakit. "Sudahlah, suhu, lekas keluarkan duri itu dari dalam ibu jariku," ia mengeluh.

"Tidak, kalau kau masih merasa sakit aku tidak mau mengeluarkannya Ha ha ha! Hayo kau mengerahkan semangatmu sambil menginjak langit menghadap bumi."

Kalau orang lain yang mendengar perintah ini, tentu takkan mengerti dia. Akan tetapi anak perempuan itu memang sudah mendapat pelajaran yang aneh-aneh dari kakek itu, maka mendengar perintah suhunya ini, ia lalu bergerak jungkir balik dan tahu-tahu anak itu sudah berdiri dengan kedua kaki lurus ke atas kepala di bawah. Ia menggunakan dua tangannya untuk mewakili kakinya dan menjaga tubuhnya.

Dapat diduga bahwa anak ini telah seringkali berlatih seperti itu, buktinya dapat menginjak langit menghadapi bumi, yakni berdiri jungkir balik dengan mudah sekali dan tubuhnya sama sekali tidak bergoyang-goyang. Keseimbangan badannya tidak terganggu sama sekali. Otomatis setelah tubuhnya berada dalam keadaan seperti itu, kedua matanya lalu dimeramkan dan jalan-jalan pernapasannya demikian halus dan lambat seperti orang dalam semadhi atau tidur nyenyak!

"Nah, sekarang kumpulkan seluruh ingatan dan perasaanmu lalu kau berkata lagi tidak sakit"

Kakek itupun membuat gerakan dengan tubuhnya dan tahu-tahu tubuhnya telah jungkir balik kepala dibawah dan kedua kaki di atas. Kalau anak perempuan itu masih mempergunakan dua tangan untuk menahan tubuhnya, adalab kakek ini sama sekali tidak mempergunakan tangannya dan ketika tubuhnya berjungkir balik, kepalanyalah yang menahan tubuhnya. Akan tetapi ketika kepala itu tiba di atas tanah, sama sekali tidak mengeluarkan suara seakan-akan kepalanya berubah empuk dan berdaging.

Anak perempuan itu masih merasakan betapa ibu jarinya sakit berdenyut-denyut akan tetapi biarpun kalau bicara kepada suhunya ia nampaknya seperti pembantah dan bandel, sesungguhnya ia amat taat dan sayang kepada suhunya itu. Maka ia lalu mengerahkan seluruh kckuatan hati dan pikirannya dan tiga kali ia berkata,

"Tidak sakit, tidak sakit, tidak sakit!"

Ketika ia berkata sampai dua kali, ibu jarinya masih terasa sakit, akan tetapi pada saat itu semua pikiran dan perasaannya telah terkumpul dan terpengaruh oleh kata katanya sendiri, ditambah dengan kcmauannya yang keras sekali, maka pada ucapan ke tiga kalinya, benar saja rasa nyeri di ibu jarinya telah lenyap sama sekali!

"Tidak sakit, suhu!" katanya lagi dan suaranya yang terdengar gembira Itu meyakinkan kepada suhunya bahwa kali ini anak itu benar benar tidak merasa sakit lagi.

"Angkat lengan kananmu ke sini!" ia memerintah.

Anak itu menurut, menggeser lengan kiri ke bawah kepala dan rnengangkat tangan kanannya yang diacungkan kepada suhunya. Dengan demikian anak itu kini hanya menahan tubuhnya dengan satu tangan saja!

Dengan gerakan dan gaya yang enak saja seakan-akan ia sedang berdiri biasa di atas kedua kakinya, kakek yang menahan tubuh dengan kepalanya itu lalu menangkap tangan muridnya. Ia memijit-mijit ibu jari yang terluka di sekitar luka itu sehingga darah menitik keluar. Akan tetapi ujung duri tadi kini terbawa keluar dan dengan mudah dicabut oleh kakek itu yang mempergunakan giginya.

Selama pengobatan ini, anak perempuan itu sama sekali tidak pernah mengeluh bahkan rnukanya tidak menunjukkan rasa sakit lagi. Memang kemauannya telah bulat, hati dan pikiran berikut perasaan telah dapat dikuasai oleh keyakinan dan kcmauannya sehingga benar beoar rasa sakit itu menghilang!

Sambil mengobati luka di tangan muridnya, kakek itu tiada hentinya tertawa-tawa dan muridnya diam saja sambil meramkan mata. Kalau ada orang yang mendengar ketawa itu dan melihat guru dan murid ini berjungkir balik seperti itu tentu orang itu akan berlari tunggang langgang dan mengira telah melihat setan di dalam hutan yang liar ini!

Siapakah sebenarnya kakek yang miring otaknya ini dan siapa pula anak perempuan yang mungil dan manis itu? Kakek yang gila itu bukanlah orang sembarangan. Ia tak pernah mau menyebutkan namanya, maka di dunia kangouw ia dijuluki orang Hek Sin mo (Iblis Sakti Hitam) karena tingkah lakunya aneh seperti Iblis dan mukanya kehitam-hitaman.

Banyak orang kang ouw baik para pendekar silat maupun para penjahat, meremang bulu tengkuknya kalau teringat kepadanya, oleh karena Hek sin-mo ini memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Ilmu silatnya yang aneh akan tetapi sukar dikalahkan, ditambah oleh kelakuannya yang aneh, membikin ia amat ditakuti dan dianggap sebagai tokoh persilatan yang mengerikan. Hanya satu hal yang membuat semua orang menaruh hati segan kepadanya, yakni kejujurannya yang luar biasa.

Memang kakek ini berotak miring. Dulu dia adalab seorang nelayan muda yang jujur keras hati dan mudah marah serta gemar berkelahi. Ketika ia masih muda, pada suatu hari ia dikalahkan oleh seorang pendekar pedang sehingga ia menjadi takluk dan menganggap pendekar itu sebagai suhunya. Kemudian ia mengikuti pendekar itu kesebuah pulau di sebelah timur pantai laut Tiongkok.

Ketika ia bersama pendekar itu memasuki pulau yang dicari, pemuda yang tadinya bernama Hek Houw (Macan Hitam) ini tersasar memasuki sebuah gua yang disebut gua siluman. Dan aneh sekali, sekeluarnya dari goa ini telah menjadt gila akan tetapi juga ia telah memiliki ilmu silat yang amat luar biasa. la telah menemukan ilmu kepandaian mujijat dan yang demikian hebat pengaruhnya sehingga otaknya menjadi miring!

Semenjak saat itu ia berlari pergi dari pendekar yang dianggap suhunya itu dan merantau ke seluruh penjuru daratan Tiongkok seperti seorang gila! Yang hebat ialah bahwa ilmu kepandaiannya makin lama makin tinggi. la melatih lweekang dan bersamadhi dalam keadaan jungkir balik dan melatih ilmu silat dengan cara yang aneh, jauh berbeda dengan Ilmu silat biasa, bahkan boleh dibilang segala gerakannya berlawanan dan terbalik daripada ilmu silat biasa!

Akan tetapi, Hek Sin-mo tak pernah mempergunakan senjata, sungguhpun tiap kali senjata lawannya terampas olehnya ia dapat mainkan senjata apa saja dengan amat aneh seperti anehnya Ilmu pukulannya! Hek Sin-mo tidak pernah mencari musuh, namun di mana saja ia berada dan bertemu dengan orang pandai ia selalu mengalahkan orang pandai itu.

la pernah dalam perantauannya tersesat jalan sampai ke puncak Go-bi-san dan bertemu dengan lima tokoh Go-bi-pai yang berilmu tinggi. Melihat gerak-geriknya yang aneh, lima orang tokoh Go-bi-pai itu mencobanya seorang demi seorang. Dan apakah akibatnya! Seorang demi seorang kelima tokoh Go-bi-pai itu roboh oleh Hek Sin-mo!

Masih banyak sekali orang-orang pandai yang sudah memiliki ilmu silat tinggi, kena dikalahkan oleh Hek Sin-mo, dan satu hal yang mcmbuat nama Hek Sin-mo makin terkenal adalah bahwa tidak seorangpun diantara jago-jago yang dirobohkannya ini menderita luka berat atau binasa. Tentu saja hal ini amat menggemparkan kalangan kang ouw. Sekalipun mereka yang dikalahkan tidak mau mengaku dan menyimpan rahasia kekalahannya terhadap seorang gila, namun lambat laun orang-orang mendengar juga.

Anak perempuan yang kecil itu adalah murid tunggalnya. Anak ini bernama Suma Eng dan selalu disebut Eng Eng oleh suhunya. anak yang mungil dan manis ini mempunyai riwayat yang amat menyedihkan. Ia kini telah menjadi seorang anak yatim piatu, tak berayah ibu lagi. Ibunya adalah putri seorang pembesar militer, yakni Suma Cian-bu dan ibunya bernama Suma Lilian.

Sungguh amat mengharukan bahwa puteri pembesar ini telah menjadi korban dan dinodai oleh seorang pemuda ahli silat yang berwatak buruk yakni yang bernama Gak Bin Tong. Perbuatan terkutuk dari Gak Bin Tong ini menghancurkan kehidupan Suma Lilian karena putri perwira ini telah mengandung. Suma Lilian pergi merantau dengan hati hancur dan pikiran seperti gila!

Setelah anaknya lahir, yakni Suma Eng lahir dan anak itu dibawa pergi oleh seorang pendekar yang merasa kasihan melihat keadaan anak itu, Suma Lilian lalu merantau seperti orang gila untuk mencari dan membalas dendam kepada Gak Bin Tong yang mencelakakan hidupnya. Akhir dari perantauannya ini, Suma Lilian bertemu dengan seorang tua gila yakni Hek Sin-mo!

Biarpun Hek Sin-mo seorang gila, namun ia masih memiliki pribudi dan merasa kasihan melihat Suma Lilian. Nyonya muda yang sengsara ini ia ambil murid dan diberi pelajaran Ilmu silat. Akhirnya, Suma Lilian bertemu juga dengan Gak Bin Tong dan berhasil membunuh manusia durjana ini, akan tetapi ia sendiripun menjadi korban dan tewas berbareng dengan orang yang mencelakakannya atau yang sesungguhnya adalah ayah daripada anak itu!

Setelah Suma Lilian meninggal dunia, Hek Sin mo lalu mencari anak kecil yang ditinggalkan oleh muridnya itu, dan setelah bertemu Hek Sin mo lalu membawa pergi anak itu yakni Suma Eng, putri tunggal dari Suma Lilian dan Gak Bin Tong!

Demikianlah sedikit riwayat yang dipersingkat oleh karena riwayat ini akan dituturkan dalam episode Kisah Sepasang Naga (Ji Liong Jio Co). Suma Eng atau selanjutnya kita sebut Eng Eng saja, semenjak kecil hidupnya di bawah asuhan Hek Sin-mo yang memang telah berobah pikirannya dan tidak waras otaknya. Memang harus dikasihani anak kecil ini karena wataknyapun menjadi aneh.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Sungguhpun otaknya sehat. Ia tidak tahu tentang ayah ibunya, bahkan sedikitpun tidak terkandung dalam pikirannya untuk menanyakan hal ini kepada suhunya. Hal ini ada baiknya bagi anak itu sendiri, oleh karena andai kata ia bertanya juga, suhunya pasti takkan dapat menuturkannya dan hanya akan tertawa saja, seperti telah dituturkan di bagian depan, Eng Eng suka sekali bernyanyi dan tentu saja ia hanya bisa menyanyikan lagu lagu karangan suhunya yang gila!

Juga Eng Eng diberi pelajaran ilmu silat yang amat aneh, bahkan dilatih pula lweekang dan samadhi secara terbalik, dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kejadian yang telah dituturkan di bagian depan, ketika Eng Eng terluka oleh duri kembang, biarpun nampaknya hanya orang gila saja yang memaksa orang menyatakan tidak sakit padahal ibu jarinya terasa amat sakit dan perih namun sesungguhnya kegilaan ini mengandung pelajaran kebatinan yang amat tinggi!

Secara tak sadar, yaitu tanpa diberi penjelasan atau pelajaran tentang teorinya, anak kecil itu telah mendapat pelajaran bagaimana cara untuk menguasai pikiran dan perasaan. Bagaimana cara untuk memperkuat semangat dan batin sehingga jiwa dan batinnya tidak dipengaruhi oleh perasaan raga, sebaliknya dengan keteguhan iman dan batin, Eng Eng bahkan dapat mengalahkan perasaannya yang harus tunduk kepada suara batinnya.

Sungguhpun anggota tubuhnya terasa sakit namun berkat kemauan yang keras dan batin yang teguh rasa sakit itu dapat tunduk padanya dan tidak terasa sama sekali olehnya. Memang sungguh mengherankan betapa seorang anak sekecil itu, tanpa disadarinya dan dengan cara yang amat aneh, telah dapat menguasai dan memiliki ilmu tinggi yang hanya dapat dicapai dan dimiliki oleh seorang pertapa yang telah bertapa selama bertahun-tahun!

Hek Sin-mo sengaja memilih hutan yang liar dan sunyi itu karena dia memang tidak suka tinggal di tempat ramai. Di mana saja ia berada, selalu orang-orang, terutama anak-anak kecil yang tidak tahu siapa adanya kakek tua yang gila ini, mengganggunya seperti biasanya orang gila diganggu dan dipermainkan orang.

Di tempat yang sunyi ini, dimana tidak ada lain manusia kecuali dia dan muridnya, ia boleh berbuat sekehendak hatinya, boleh menangis kalau ingin tertawa dan boleh tertawa kalau ingin menangis. Muridnya tak pernah metertawakannya, bahkan sering kali membantunya menangis atau tertawa!

Eng Eng mendapat latihan ilmu silat yang aneh, ilmu ginkang yang tinggi dan ilmu lweekang yang lebih aneh lagi. Selain Ilmu silat, Eng Eng tidak mendapat pelajaran lain oleh karena Hek Sin-mo adalah seorang yang buta huruf, maka otomatis Eng Eng juga buta huruf, bahkan anak perempuan yang patut dikasihani ini sama sekali tidak tahu bahwa di dunia ini orang dapat mencatat dan menuliskan kata-kata yang keluar dari mulut!

Akan tetapi kekurangan ini ditutup oleh kecantikannya yang wajar dan murni, bakatnya dalam hal gerakan ilmu silat yang kadang-kadang membuat suhunya berlonjak-lonjak dan menari kegirangan, dan disamping itu sungguh mengherankan bahwa Eng Eng mempunyai bakat yang baik dalam hal melukis.

Pernah anak ini secara iseng-iseng menggurat-guratkan jari telunjuk yang terlatih dan dengan tenaga dalam yang mengagumkan ia telah membuat corat-coret pada kulit sebatang pohon besar. Sambil tersenyum-senyum dan tertawa ha ha hi hi, Eng Eng mulai melukis wajah suhunya. Ia telah mengguratkan garis-garis tubuh suhunya dari kepala sampai kaki dan tak lama kemudian pada batang pohon besar itu berdiri gambar Hek Sin-mo yang bagus dan cocok sekali!

Karena adat suhunya yang aneh, Eng Eng berwatak jenaka itu seringkali menggodanya. Anak ini tidak tahu akan arti sopan santun, dan tidak tahu pula apa yang dinamakan perbuatan kurang ajar. Pernah ia mengganggu suhunya yang sedang tidur dan menggunakan sebatang rumput untuk mengilik-iliki hidung suhunya.

Kakek ini dalam tidurnya merasa gatal-gatal pada hidungnya, dan beberapa kali ia mengebutkan tangannya untuk mengusir benda yang menggatalkan hidungnya tanpa membuka matanya. Eng Eng menahan kegelian hatinya dan terus mempermainkan suhunya!

Akhirnya suhunya bangun dan menyumpah-nyumpah terus mengamuk pada lalat lalat yang dikira tadi mengganggunya. Kasihan binatang-binatang kecil itu karena tiap kali kakek itu mengebutkan tangannya yang lebar, lalat-lalat itu mampus dan hancur tubuhnya!

Kini setelah Eng Eng menggambar suhunya pada pohon besar itu, ia memandang gambarnya dengan puas dan tertawa-tawa senang. Tiba-tiba ia mendengar desir angin dan maklum bahwa suhunya datang. Cepat anak yang nakal ini bersembunyi di dalam semak belukar untuk melihat bagaimana sikap suhunya kalau melihat gambar itu.

Benar saja, Hek Sin-mo muncul dengan langkahnya yang lebar. Pada waktu itu, senja kala telah tiba dan dalam keadaan yang hampir gelap, kakek ini melihat bayangan orang pada batang pohon besar itu ia nampak tercengang dan segera membentak.

"Ei... eh, orang gila dari mana berani lancang memasuki hutanku?"

Akan tetapi tentu saja gambar itu tidak dapat menjawab, bahkan bergerakpun tidak! Hek Sin-mo menjadi marah dan membentak lagi.

"Orang gendeng! Kau siapa dan mengapa tidak menjawab? Hayo pergi dari sini!"

Tiba-tiba 'orang' itu menjawab. "Kalau aku tidak mau pergi, kau mau apakah?"

Suara ini terdengar aneh dan menyeramkan. Eng Eng yang bersembunyi di semak belukar yang berada di belakang pohon itulah yang menjawab. Gadis cilik yang telah mempunyai ilmu khikang tinggi ini telah mempergunakan tenaga perut untuk mengeluarkan suara yang besar dan parau, berbeda dengan suaranya sendiri dan dengan tenaga khikangnya ia telah dapat mengirimkan suaranya ke pohon itu!

Hek Sin-mo memandang dengan mata terbelalak. Orang tua ini karena tak dapat menjaga kesehatan, biarpun ia berilmu tinggi, maka kedua matanya sudah kurang sempurna daya penglihatannya.

“Tidak mau pergi? Aku akan melemparmu keluar!"

Dan ia lalu menyerbu dengan pukulan tangan kanannya ke arah bayangan itu. Pukulan Hek Sin-mo ini tak perlu mengenai tubuh. baru saja angin pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan orang yang sudah begitu tinggi ilmu kepandaiannya. Ia melihat betapa batang pohon itu bergoyang dan daun-daun rontok ke bawah, akan tetapi 'orang' itu sama sekali tidak bergerak, seakan-akan angin pukulannya itu hanya angin gunung yang sejuk saja!

Tentu saja hal ini membuat Hek Sin-mo melengak dan juga marah sekali. Ia tidak pernah mau membunuh orang dan dalam setiap pertempuran, kepandaiannya yang aneh sudah cukup tinggi untuk merobohkan lawan lanpa melukainya. Tadipun ketika ia mengerahkan pukulan, ia tidak berniat melukai 'orang' itu dan hanya ingin menggunakan angin pukulannya untuk melemparkan orang itu agar menjadi takut dan pergi.

Sama sekali tak pernah disangkanya betapa 'orang' itu dapat menerima hawa pukulannya dengan tersenyum-senyum dan tidak bergoyang sedikitpun. Sekali lagi ia memukul dengan tenaga lebih besar dan kini hasilnya hanyalah daun-daun yang jatuh seperti hujan menimpa di atas kepalanya. batang pohon itu bergoyang-goyang keras dan terdengar suara cekikikan seakan-akan mengejeknya!

Kini Hek sin-mo benar-benar kehabisan akal dan kemarahannya yang semenjak puluhan tahun sudah dapat menjadi jinak di dasar hatinya, kini timbul dengan hebatnya. Sepasang matanya liar memandang, mulutnya berbusa dan kedua tangannya menggerak-gerakkan jari tangan dengan sikap mengerikan sekali.

"Kau menantang dan mencari mati !" serunya dan berbareng dengan seruan ini, tubuhnya menubruk ke depan. kedua tangan ditumbukkan ke arah dada "orang" itu sekuat tenaga!

"Blek...! Kraak...!"

Tentu saja kedua tangannya tidak mengenai 'orang' itu dan hanya mcnghantam batang pohon besar yang menjadi tumbang setelah mengeluarkan suara hiruk pikuk!

Eng Eng yang bersembunyi di belakang pohon itu, tentu saja menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa pohon itu tiba-tiba menjadi tumbang dan menimpa ke tempat ia bersembunyi! Gadis cilik itu cepat melompat keluar dari semak-semak dan hendak menjauhkan diri, akan tetapi pohon yang penuh dengan cabang besar-besar dan daun itu roboh dengan cepat dan biarpun Eng Eng sudah mengelak tetap saja ia masih kena terpukul oleh cabang dan ranting sehingga ia terpelanting ke tempat yang jauh!

Eng Eng memekik keras dan pekikan ini bukan karena pukulan cabang pohon, melainkan karena begitu ia jatuh di atas tanah, la merasa betapa betisnya amat panas dan sakit sekali. Ketika ia melihat, ternyata bahwa betisnya telah tergigit oleh seekor ular merah yang berbahaya! Ia memekik lalu tak sadarkan diri lagi!

Sementara itu Hek Sin-mo yang masih berdiri bengong melihat betapa 'orang' yang diserangnya itu ternyata menempel pada batang pohon, terkejut mendengar jeritan Eng Eng. Cepat ia melompat dan melihat muridnya menggeletak dengan betis masih tergigit oleh seekor ular merah ia berseru marah sekali. Sekali injak saja hancur luluh tubuh ular itu beserta kepalanya. dan ia lalu menyambar tubuh muridnya dibawa keluar dari semak-semak.

Dengan bingung Hek Sin-mo meletakkan muridnya di dekat tempat di mana pohon tadi berdiri. Ia menggoyang-goyang tubuh muridnya dan memanggil-manggil namanya, akan tetapi Eng Eng tidak bergerak dan menyahut seperti 'orang' di batang pohon tadi. Hek Sin-mo sudah lama tinggal di hutan ini ia melihat seekor harimau besar mati seketika ketika terkena gigitan ular merah.

Kini melihat keadaan muridnya, hatinya menjadi gelisah dan sedih sekali. Akan tetapi, anehnya sungguhpun hatinya menangis, yang keluar dari mulutnya hanya suara ketawa bergelak-gelak yang menyeramkan dan dari kedua matanya keluar air mata berderai derai!

Ia melihat muka muridnya pucat sekali dan ketika merobek celana di bagian betis ternyata betis anak itu telah mengembang besar dan berwarna merah seperti darah. Bukan main marahnya Hek Sin-mo. Tiba-tiba ia berdiri lagi dan kembali ia menginjak-injak tubuh ular merah yang sudah hancur lebur. Kemudian ia membuka semak-semak dan mencari-cari ular merah. Hendak dibunuhnya semua ular-ular merah yang berada di hutan itu. Kebetulan sekali ia melihat seekor ular merah yang merayap pergi ketakutan dari dalam semak.

Cepat ia melangkah maju dan kembali ular itu harus mengalami nasib yang mengerikan, tubuhnya lumat dan hancur lebur oleh injakan kaki kakek gila ini. Ketika Hek Sin-mo kembali ke tempat dekat pohon itu matanya tertarik oleh lubang yang berada di bawah pohon yang tumbang. Ternyata bahwa pohon itu tumbang dengan akarnya dan di bawah akar pohon terdapat lobang yang besar. Ia maju mendekat dan alangkah marahnya ketika ia melihat puluhan ekor ular merah berada di dalam lobang itu!

Tanpa memperdulikan bahaya lagi ia lalu mengulur tangannya dan mencengkeram puluhan ular merah kecil itu dan alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ular-ular itu telah mati!

Ia membanting ular-ular itu dan mengeluarkan semua ular dari dalam lobang. Tak seekorpun ular merah yang masih hidup dan semuanya ada tiga puluh ekor lebih. ketika bangkai-bangkai ular itu sudah dikeluarkan semua, ia membelalakkan matanya melihat benda yang bersinar merah sekali berada di dasar lobang. Tanpa rasa takut sedikitpun, Hek Sin mo mengambil benda itu dan ternyata bahwa benda itu adalah sebatang pedang yang bersinar merah!

Pedang itu lemas, dapat digulung akan tetapi berkilauan dan tajam serta runcing sekali. Melihat pedang ini timbul sebuah pikiran dalam kepala Hek sin-mo. Ia menghampiri muridnya dan dengan hati-hati ia lalu menusukkan ujung pedang pada betis Eng Eng yang mengembung itu. Maksud Iblis Sakti Hitam ini untuk membuka kulit betis dan mengeluarkan bisa ular. la tidak mengerti tentang ilmu pengobatan dan hanya mengira-ira saja, akan tetapi alangkah girangnya ketika baru saja batang pedang itu ditusukkan ke dalam betis, tiba-tiba ia melihat betis itu mengempis kembali!

Saking kaget dan herannya, ia tidak mencabut pedang itu dan membiarkan ujung pedang menancap pada betis Eng Eng! Perlahan akan tetapi tentu warna merah yang menyelimuti kulit tubuh gadis cilik itu melenyap dan mukanya yang pucat kini menjadi bercahaya kembali.

"Aduh aduh..." bibir Eng Eng mulai menggetar dan mengeluh.

Bukan main girangnya hati Hek Sin-mo dan tiba-tiba ia menangis keras. Menangis, lalu bangun berdiri dan menari-nari! Tentu saja orang gila ini tidak tahu bahwa pedang itu sebetulnya mengandung bisa yang menjadi lawan dari pada bisa ular. Ular-ular merah yang mati di dekat pedang itu menyatakan bahwa bisa pedang itu lebih lihai dari pada bisa ular dan ketika pedang itu menusuk betis Eng Eng maka otomatis bisa ular yang menguasainya menjadi lenyap dan tidak bahaya lagi!

Eng Eng bangun dan melihat ke arah betisnya. Ia merasa betisnya panas dan sakit akan tetapi cepat ia lalu berjungkir balik dengan mengerahkan tenaga mengusir rasa sakit itu. Sungguh lucu dan mengerikan melihat Hek Sin-mo menangis terisak-isak sambil menari-nari sedangkan Eng Eng masih berjungkir balik dengan pedang masih tertancap pada betisnya.

Pengerahan tenaga lweekang yang dilakukannya sambil berjungkir balik ini ternyata dapat mendorong keluar darah berikut sisa-sisa bisa ular sehingga pedang yang bersinar merah itu menjadi lebih merah karena darah yang menyembur keluar dari betisnya!

Hek Sin mo menghampiri muridnya dan mencabut pedang itu.Ia membersihkan pedang itu dengan bajunya, kemudian sambil berjingkrak-jingkrak ia menciumi pedang itu.

"Ang coa kiam (Pedang Ular Merah) yang baik. Ang-coa kiam yang cantik manis...”

Karena ucapan ini dikeluarkan sambil menangis, maka ia terdengar seperti seorang pemuda yang merindukan kekasihnya. Sebenarnya kakek itu sedang menyatakan kegembiraan dan terima kasihnya kepada pedang itu. Luka di betis Eng Eng menjadi sembuh dan pedang itu menjadi pedang kesayangan gadis kecil ini.

Oleh karena ilmu silat yang ia pelajari dari suhunya bukanlah ilmu silat tangan yang dapat pula memainkan segala senjata, maka ia hanya sayang kepada pedang itu karena indahnya. Ia tidak mempelajari ilmu pedang yang khusus, akan tetapi bila Eng Eng sedang gembira dapat mainkan pedang itu dengan gerakan yang aneh dan cepat sekali.

Gerakannya, seperti juga gerakan suhunya, kacau balau dan nampaknya tidak teratur, akan tetapi pada dasarnya kekuatan dan kecepatannya yang amat mengagumkan. Pedang di tangannya menjadi segulung sinar merah yang gerakannya aneh dan menyeleweng ke sana ke mari sukar sekali diikuti oleh pandangan mata.

Karena kesalahan seekor ular merah yang menggigit betis Eng Eng, guru dan murid ini amat benci kepada ular merah, dan ular merah di hutan itu hampir habis oleh pembasmian kedua orang ini. Di mana saja mereka melihat ular merah, tanpa ampun lagi binatang itu tentu mereka binasakan.

Demikianlah, di dalam hutan yang liar itu, tanpa diketahui oleh siapapun juga, Hek Sin-mo melatih muridnya dan boleh dibilang ia menumpahkan seluruh kepandaiannya kepada murid ini. Sepuluh tahun kemudian, apabila mereka berlatih silat, Hek Sin-mo sudah terdesak hebat oleh muridnya dan ia hanya dapat mempertahankan diri sampai napasnya menjadi senin kemis karena makin tua makin lemahlah dia.

Kesukaan Hek Sin-mo membunuh ular merah menjadi kebiasaan dan kesukaan yang berakar di dalam hatinya. Setelah agak sukar mencari ular merah di dalam hutan itu, kakek ini mulai mencari ular merah di hutan berikutnya! Dan kegemarannya yang aneh inilah yang menamatkan riwayatnya.

Pada suatu hari Eng Eng nampak gelisah oleh karena semenjak siang tadi ia tidak melihat suhunya. Hari telah mulai gelap dan gadis ini mulai mencari-cari suhunya sambil memanggil-manggil dengan suaranya yang nyaring. Akhirnya ia mendapatkan suhunya menggeletak di depan sebuah goa yang gelap, dan di kanan kirinya menggeletak hampir seratus ekor ular merah dalam keadaan hancur dan putus-putus!

Ternyata bahwa tak disangka-sangka Hek Sin-mo menjumpai tempat sembunyi ular-ular merah yang menjadi musuh besarnya itu, yakni di dalam sebuah goa. Ular-ular yang belum terbunuh dan yang sisanya masih kurang lebih seratus ekor itu, pada lari mengungsi dan bersembunyi di dalam goa itu.

Ketika Hek Sin mo melihat seekor ular keluar dari goa itu, cepat ia menginjaknya sampai hancur. Dan tiba-tiba saja, banyak sekali ular merah menyerbu keluar dari goa itu. Melihat itu, Hek Sin-mo tidak menjadi takut, bahkan ia lalu lertawa bergelak dan mengamuk menghadapi serbuan ular ular merah ini. Betapapun lihainya, menghadapi hampir seratus ekor ular itu, akhirnya terkena beberapa kali gigitan ular merah.

Berkat kekuatan dan kelihaiannya, ia tidak segera roboh dan masih mengamuk terus sehingga saking girang dan gembiranya ia memegang ular terakhir dan membunuhnya dengan menggigit kepala ular itu sampai remuk. Akan tetapi, bisa ular yang sudah mulai menyerang jantungnya, membuat ia roboh dan menggeletak tak bernyawa bersama ular terakhir yang masih digigitnya.

Melihat keadaan suhunya ini, Eng Eng memeluk dan menangis sedih. Ia memang tidak seperti suhunya. Kalau hatinya sedih biarpun beberapa kali telah dicobanya, ia tidak dapat tertawa dan selalu menangis. Kini ia menangis terisak-isak, ia tidak mengerti bahwa seorang manusia kalau sudah mati harus dikubur, dan hanya kekhawatirannya melihat mayat suhunya menjadi korban binatang buas saja yang membuat ia mengangkat tubuh suhunya dan meletakkannya di dalam gua.

Ia masih belum tahu bahwa suhunya telah mati dan dikiranya sedang tidur atau pingsan saja. Maka tiap hari ia menjaga tubuh suhunya dan sepekan kemudian, setelah suhunya tidak juga bangun bahkan tubuhnya mulai membusuk menyiarkan bau yang amat tidak enak, barulah ia dapat menduga bahwa suhunya takkan bangun lagi!

Selama sepekan, Eng Eng tidak keluar dari goa, tidak makan,tidak tidur, hanya menjaga suhunya dengan setia dan hati berduka. Ketika matahari menerangi keadaan di dalam gua dan ia melihat tubuh suhunya membusuk dan hidungnya mencium bau yang amat memusingkan, ia tidak kuat menahan dan akhirnya Eng Eng rebah pingsan di dekat mayat suhunya!

Pedang Ular Merah Jilid 01

PEDANG ULAR MERAH JILID 01

Pegunungan Tai Hang San diperbatasan Mongolia merupakan daerah pegunungan yang amat luas dan di situ penuh dengan hutan-hutan liar yang jarang dikunjungi manusia. Di puncak bukit yang paling ujung yakni di bagian barat terdapat sebuah hutan yang benar-benar masih liar dan belum pernah ada manusia berani memasukinya. Hutan ini terkenal menjadi sarang binatang buas, terutama sekali banyak terdapat ular berbisa semacam ular yang berkulit merah dan tidak terdapat di lain bagian dunia akan tetapi yang banyak terdapat di hutan itu, membuat hutan itu dinamakan hutan ular merah.

Pada suatu pagi yang sejuk dengan sinar matahari yang cerah terdengarlah suara nyaring dan merdu dari seorang anak perempuan berusia paling banyak enam tahun, anak itu mungil dan cantik sekali dengan sepasang matanya yang bening kocak dan dua kuncir rambutnya yang panjang dan hitam. Tiap kali ia menggerakkan kepalanya, kuncirnya itu menyabet ke kanan ke kiri dan kalau kuncirnya melewati pundak lalu jatuh bergantung di atas pundaknya ke depan, ia tampak lucu dan manis.

Sambil memetik bunga-bunga hutan yang beraneka warna, anak ini bernyanyi dengan merdu. Akan tetapi sungguh mengherankan suaranya yang amat merdu itu bcrlawanan sekali dengan kata-kata nyanyiannya yang dapat membuat orang melengak saking heran tidak mengerti.

Aku bukan dewata bukan pula setan
Akan tetapi baik dewata maupun setan
Takkan dapat menguasai aku
Biar dewata berbisik, biar setan menggoda
Aku tak hendak patuh. tak sudi tunduk
Aku tertawa kalau ingin menangis
Menangis kalau ingin tertawa
Siapa peduli? Aku adalah aku
Bukan dewata, Bukan pula setan!


Tidak hanya kata-kata saja yang aneh, juga nyanyiannya itu terdengar lucu dan sumbang. Namun anak perempuan itu agaknya merasa suka akan nyanyian ini dan dianggapnya enak dinyanyikan, buktinya ia bernyanyi dengan wajah gembira dan mengulangi nyanyian itu berkali-kali.

Tiba-tiba dua ekor kupu-kupu yang indah sekali sayapnya beterbangan mengelilingi bunga-bunga itu. Anak perempuan ini berhenti menyanyi dan biarpun matanya memandang kagum kcpada dua ekor kupu-kupu itu, namun kedua tangannya masih bekerja mengumpulkan kembang mawar hutan.

"Aduh…!" tiba-tiba ia memekik kesakitan ketika ibu jari tangan kanannya tertusuk oleh duri kembang.

Saking kagetnya ia menarik keras tangan itu yang tentu saja membuat lukanya lebih besar dan dalam. Duri kcmbang itu ternyata runcing besar dan kuat. Darah mengalir dari ibu jarinya dan terasa amat pedih dan sakit. Seperti seorang anak kecil yang manja, rasa sakit ini membuat anak itu marah dan ia lalu membuang kembang-kembang tadi kemudian mcnangis keras.

"Ha ha ha ha!” terdengar suara tertawa bcrgelak dari atas pohon menyaingi suara tangis.

Anak itu tiba-tiba menghentikan tangisannya dan sambil menengok ke atas pohon ia berkata cemberut, "Suhu memang kejam! Aku terluka dan terasa sakit, mengapa ditertawakan?"

Bagaikan seekor burung garuda yang besar, dari atas pohon itu melayang turun seorang kakek yang tinggi besar dan berkulit muka kchitaman. Sepasang matanya lebar dan bersinar liar seperti mata harimau, baju dan rambutnva tidak karuan, awut-awutan dan tidak terpelihara. Benar-benar mengherankan betapa tubuh yang tinggi besar itu dapat melompat turun dan ketika kedua kakinya tiba di atas tanah di depan anak perempuan itu, telapak kakinya sama sekali tidak menerbitkan suara, seperti kucing melompat saja layaknya!

Kembali ia tertawa terbahak-bahak di depan anak perempuan itu yang menjadi makin marah. Sambil membanting-banting kakinya yang kecil, ia bertanya, "Mengapa suhu tertawa?"

"He, bukankah kau tadi menangis, Eng Eng? Kalau ada yang menangis, harus ada yang tertawa. Aku tertawa kalau ingin menangis dan menangis kalau ingin tertawa, bukankah kau sudah tahu? Dan kau, mengapa kau menangis?"

Pertanyaan ini diajukan dengan muka yang bodoh dan melihat sinar mata kakek ini, mudah saja orang menduga bahwa dia memang seorang yang miring otaknya, seorang yang tidak waras pikirannya!

"Aku tidak seperti suhu. Aku menangis atau tertawa tentu ada sebabnya. Dan sekarang aku menangis karena jari tanganku terluka oleh duri bunga itu!"

Anak yang disebut Eng Eng itu lupa bahwa pada saat itu ia sudah tidak menangis lagi. Akan tetapi ibu jarinya benar-benar terasa amat sakit dan perih sehingga mukanya yang berkulit halus itu mengerinyit.

Kakek itu sudah biasa dibantah oleh muridnya dan hal ini sama sekali tidak dipedulikan, bahkan ia lalu tertawa-tawa dan melihat ibu jari muridnya,

"Tertusuk duri? Kau tentu mengganggu kembang itu, kalau tidak tak rnungkin ia akan menusukmu dengan durinya, Ha ha ha..."

"Sudablah Suhu... Aku yang kesakitan, kau menggoda saja. Memang aku yang bersalah, memetik kembang tanpa melihat karena tertarik oleh dua ekor kupu-kupu yang beterbangan itu.”

Kakek itu menengok dan ketika melihat dua ekor kupu-kupu beterbangan dengan lincah gembira, ia berkata, "Mereka itukah yang mengganggumu?”

Ia lalu menggerakkan kedua tangannya bergantian ke arah kupu-kupu yang terbang sejauh dua tombak dari tempat ia berdiri dan aneh sekali! Tiba-tiba seperti tertiup oleh angin besar, kedua kupu-kupu itu terbangnya kacau balau dan melayang ke arah kakek tadi! Kakek itu mengulurkan tangan kirinya dan kini kedua kupu-kupu itu jatuh ke atas telapak tangannya, hinggap disitu tak dapat terbang lagi, hanya menggerak-gerakkan sayap tanpa dapat pergi dari situ.

“Bagus, bagus, suhu!" seru anak perempuan itu dan ia bertepuk tangan.

Untuk sesaat ia terlupa akan sakit pada ibu jarinya, akan tetapi baru saja ia bertepuk tangan, la mengeluh karena lupa jarinya serasa sakit. "Aduh... aduh...!" Dan ia menangis lagi.

Kakek itu lalu melemparkan sepasang kupu-kupu tadi ke atas dan kedua binatang ini segera dapat terbang lagi dengan cepat, pergi dari tempat yang berbahaya ini, sedangkan kakek itu tertawa lagi ha-ha-hi-hi.

"Sakitkah...? Sakitkah..." ia menghampiri sambil tertawa terus.

"Tentu saja sakit, kalau tidak masa aku menangis?"

Kakek yang aneh itu lalu memegang tangan muridnya dan ketika ia melihat ibu jari yang terluka, ternyata bahwa ujung duri kembang itu ketika tadi tangan dibetot keras, telah patah dan tertinggal di dalam daging, nampak membayang di kulit ibu jari. Kakek itu memencetnya dan anak itu berseru mengaduh-aduh. Air mata anak itu mengalir turun membasahi kedua pipinya yang merah.

"He he he! Siapa bilang sakit? Tidak sakit sama sekali. Aku tidak merasakan sakit sama sekali." katanya.

Anak perempuan itu cemberut. "tentu saja suhu tidak merasa sakit. akan tetapi aku merasa sakit setengah mati!"

"Bohong tidak sakit. Tidak sakit! Hayo kau harus menurut aku, bukankah kau muridku? Katakan tidak sakit"

Kakek yang miring otaknya itu berkata keras sambil memandang kepada muridnya dengan sepasang mata yang dilebarkan. Biarpun mulutnya masih cemberut, anak itu menurut juga dan berkata keras,

"Tidak sakit!" Akan tetapi ketika kakek itu memijit ibu jarinya lagi ia berjengir kesakitan.

"Jangan pura-pura!" kakek itu mencela. "Salah sama sekali. Kalau mulutmu bilang tidak sakit, hati dan pikiranmu juga harus berkata tidak sakit. Hayo ulang terus sampai kau benar benar tidak merasa sakit lagi!"

Berkali-kali anak perempuan itu berkata. "Tidak sakit, tidak sakit!" Akan tetapi masih saja kulit mukanya berkerut menahan sakit. "Sudahlah, suhu, lekas keluarkan duri itu dari dalam ibu jariku," ia mengeluh.

"Tidak, kalau kau masih merasa sakit aku tidak mau mengeluarkannya Ha ha ha! Hayo kau mengerahkan semangatmu sambil menginjak langit menghadap bumi."

Kalau orang lain yang mendengar perintah ini, tentu takkan mengerti dia. Akan tetapi anak perempuan itu memang sudah mendapat pelajaran yang aneh-aneh dari kakek itu, maka mendengar perintah suhunya ini, ia lalu bergerak jungkir balik dan tahu-tahu anak itu sudah berdiri dengan kedua kaki lurus ke atas kepala di bawah. Ia menggunakan dua tangannya untuk mewakili kakinya dan menjaga tubuhnya.

Dapat diduga bahwa anak ini telah seringkali berlatih seperti itu, buktinya dapat menginjak langit menghadapi bumi, yakni berdiri jungkir balik dengan mudah sekali dan tubuhnya sama sekali tidak bergoyang-goyang. Keseimbangan badannya tidak terganggu sama sekali. Otomatis setelah tubuhnya berada dalam keadaan seperti itu, kedua matanya lalu dimeramkan dan jalan-jalan pernapasannya demikian halus dan lambat seperti orang dalam semadhi atau tidur nyenyak!

"Nah, sekarang kumpulkan seluruh ingatan dan perasaanmu lalu kau berkata lagi tidak sakit"

Kakek itupun membuat gerakan dengan tubuhnya dan tahu-tahu tubuhnya telah jungkir balik kepala dibawah dan kedua kaki di atas. Kalau anak perempuan itu masih mempergunakan dua tangan untuk menahan tubuhnya, adalab kakek ini sama sekali tidak mempergunakan tangannya dan ketika tubuhnya berjungkir balik, kepalanyalah yang menahan tubuhnya. Akan tetapi ketika kepala itu tiba di atas tanah, sama sekali tidak mengeluarkan suara seakan-akan kepalanya berubah empuk dan berdaging.

Anak perempuan itu masih merasakan betapa ibu jarinya sakit berdenyut-denyut akan tetapi biarpun kalau bicara kepada suhunya ia nampaknya seperti pembantah dan bandel, sesungguhnya ia amat taat dan sayang kepada suhunya itu. Maka ia lalu mengerahkan seluruh kckuatan hati dan pikirannya dan tiga kali ia berkata,

"Tidak sakit, tidak sakit, tidak sakit!"

Ketika ia berkata sampai dua kali, ibu jarinya masih terasa sakit, akan tetapi pada saat itu semua pikiran dan perasaannya telah terkumpul dan terpengaruh oleh kata katanya sendiri, ditambah dengan kcmauannya yang keras sekali, maka pada ucapan ke tiga kalinya, benar saja rasa nyeri di ibu jarinya telah lenyap sama sekali!

"Tidak sakit, suhu!" katanya lagi dan suaranya yang terdengar gembira Itu meyakinkan kepada suhunya bahwa kali ini anak itu benar benar tidak merasa sakit lagi.

"Angkat lengan kananmu ke sini!" ia memerintah.

Anak itu menurut, menggeser lengan kiri ke bawah kepala dan rnengangkat tangan kanannya yang diacungkan kepada suhunya. Dengan demikian anak itu kini hanya menahan tubuhnya dengan satu tangan saja!

Dengan gerakan dan gaya yang enak saja seakan-akan ia sedang berdiri biasa di atas kedua kakinya, kakek yang menahan tubuh dengan kepalanya itu lalu menangkap tangan muridnya. Ia memijit-mijit ibu jari yang terluka di sekitar luka itu sehingga darah menitik keluar. Akan tetapi ujung duri tadi kini terbawa keluar dan dengan mudah dicabut oleh kakek itu yang mempergunakan giginya.

Selama pengobatan ini, anak perempuan itu sama sekali tidak pernah mengeluh bahkan rnukanya tidak menunjukkan rasa sakit lagi. Memang kemauannya telah bulat, hati dan pikiran berikut perasaan telah dapat dikuasai oleh keyakinan dan kcmauannya sehingga benar beoar rasa sakit itu menghilang!

Sambil mengobati luka di tangan muridnya, kakek itu tiada hentinya tertawa-tawa dan muridnya diam saja sambil meramkan mata. Kalau ada orang yang mendengar ketawa itu dan melihat guru dan murid ini berjungkir balik seperti itu tentu orang itu akan berlari tunggang langgang dan mengira telah melihat setan di dalam hutan yang liar ini!

Siapakah sebenarnya kakek yang miring otaknya ini dan siapa pula anak perempuan yang mungil dan manis itu? Kakek yang gila itu bukanlah orang sembarangan. Ia tak pernah mau menyebutkan namanya, maka di dunia kangouw ia dijuluki orang Hek Sin mo (Iblis Sakti Hitam) karena tingkah lakunya aneh seperti Iblis dan mukanya kehitam-hitaman.

Banyak orang kang ouw baik para pendekar silat maupun para penjahat, meremang bulu tengkuknya kalau teringat kepadanya, oleh karena Hek sin-mo ini memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Ilmu silatnya yang aneh akan tetapi sukar dikalahkan, ditambah oleh kelakuannya yang aneh, membikin ia amat ditakuti dan dianggap sebagai tokoh persilatan yang mengerikan. Hanya satu hal yang membuat semua orang menaruh hati segan kepadanya, yakni kejujurannya yang luar biasa.

Memang kakek ini berotak miring. Dulu dia adalab seorang nelayan muda yang jujur keras hati dan mudah marah serta gemar berkelahi. Ketika ia masih muda, pada suatu hari ia dikalahkan oleh seorang pendekar pedang sehingga ia menjadi takluk dan menganggap pendekar itu sebagai suhunya. Kemudian ia mengikuti pendekar itu kesebuah pulau di sebelah timur pantai laut Tiongkok.

Ketika ia bersama pendekar itu memasuki pulau yang dicari, pemuda yang tadinya bernama Hek Houw (Macan Hitam) ini tersasar memasuki sebuah gua yang disebut gua siluman. Dan aneh sekali, sekeluarnya dari goa ini telah menjadt gila akan tetapi juga ia telah memiliki ilmu silat yang amat luar biasa. la telah menemukan ilmu kepandaian mujijat dan yang demikian hebat pengaruhnya sehingga otaknya menjadi miring!

Semenjak saat itu ia berlari pergi dari pendekar yang dianggap suhunya itu dan merantau ke seluruh penjuru daratan Tiongkok seperti seorang gila! Yang hebat ialah bahwa ilmu kepandaiannya makin lama makin tinggi. la melatih lweekang dan bersamadhi dalam keadaan jungkir balik dan melatih ilmu silat dengan cara yang aneh, jauh berbeda dengan Ilmu silat biasa, bahkan boleh dibilang segala gerakannya berlawanan dan terbalik daripada ilmu silat biasa!

Akan tetapi, Hek Sin-mo tak pernah mempergunakan senjata, sungguhpun tiap kali senjata lawannya terampas olehnya ia dapat mainkan senjata apa saja dengan amat aneh seperti anehnya Ilmu pukulannya! Hek Sin-mo tidak pernah mencari musuh, namun di mana saja ia berada dan bertemu dengan orang pandai ia selalu mengalahkan orang pandai itu.

la pernah dalam perantauannya tersesat jalan sampai ke puncak Go-bi-san dan bertemu dengan lima tokoh Go-bi-pai yang berilmu tinggi. Melihat gerak-geriknya yang aneh, lima orang tokoh Go-bi-pai itu mencobanya seorang demi seorang. Dan apakah akibatnya! Seorang demi seorang kelima tokoh Go-bi-pai itu roboh oleh Hek Sin-mo!

Masih banyak sekali orang-orang pandai yang sudah memiliki ilmu silat tinggi, kena dikalahkan oleh Hek Sin-mo, dan satu hal yang mcmbuat nama Hek Sin-mo makin terkenal adalah bahwa tidak seorangpun diantara jago-jago yang dirobohkannya ini menderita luka berat atau binasa. Tentu saja hal ini amat menggemparkan kalangan kang ouw. Sekalipun mereka yang dikalahkan tidak mau mengaku dan menyimpan rahasia kekalahannya terhadap seorang gila, namun lambat laun orang-orang mendengar juga.

Anak perempuan yang kecil itu adalah murid tunggalnya. Anak ini bernama Suma Eng dan selalu disebut Eng Eng oleh suhunya. anak yang mungil dan manis ini mempunyai riwayat yang amat menyedihkan. Ia kini telah menjadi seorang anak yatim piatu, tak berayah ibu lagi. Ibunya adalah putri seorang pembesar militer, yakni Suma Cian-bu dan ibunya bernama Suma Lilian.

Sungguh amat mengharukan bahwa puteri pembesar ini telah menjadi korban dan dinodai oleh seorang pemuda ahli silat yang berwatak buruk yakni yang bernama Gak Bin Tong. Perbuatan terkutuk dari Gak Bin Tong ini menghancurkan kehidupan Suma Lilian karena putri perwira ini telah mengandung. Suma Lilian pergi merantau dengan hati hancur dan pikiran seperti gila!

Setelah anaknya lahir, yakni Suma Eng lahir dan anak itu dibawa pergi oleh seorang pendekar yang merasa kasihan melihat keadaan anak itu, Suma Lilian lalu merantau seperti orang gila untuk mencari dan membalas dendam kepada Gak Bin Tong yang mencelakakan hidupnya. Akhir dari perantauannya ini, Suma Lilian bertemu dengan seorang tua gila yakni Hek Sin-mo!

Biarpun Hek Sin-mo seorang gila, namun ia masih memiliki pribudi dan merasa kasihan melihat Suma Lilian. Nyonya muda yang sengsara ini ia ambil murid dan diberi pelajaran Ilmu silat. Akhirnya, Suma Lilian bertemu juga dengan Gak Bin Tong dan berhasil membunuh manusia durjana ini, akan tetapi ia sendiripun menjadi korban dan tewas berbareng dengan orang yang mencelakakannya atau yang sesungguhnya adalah ayah daripada anak itu!

Setelah Suma Lilian meninggal dunia, Hek Sin mo lalu mencari anak kecil yang ditinggalkan oleh muridnya itu, dan setelah bertemu Hek Sin mo lalu membawa pergi anak itu yakni Suma Eng, putri tunggal dari Suma Lilian dan Gak Bin Tong!

Demikianlah sedikit riwayat yang dipersingkat oleh karena riwayat ini akan dituturkan dalam episode Kisah Sepasang Naga (Ji Liong Jio Co). Suma Eng atau selanjutnya kita sebut Eng Eng saja, semenjak kecil hidupnya di bawah asuhan Hek Sin-mo yang memang telah berobah pikirannya dan tidak waras otaknya. Memang harus dikasihani anak kecil ini karena wataknyapun menjadi aneh.

Cersil karya Kho Ping Hoo Serial Jago Pedang Tak Bernama

Sungguhpun otaknya sehat. Ia tidak tahu tentang ayah ibunya, bahkan sedikitpun tidak terkandung dalam pikirannya untuk menanyakan hal ini kepada suhunya. Hal ini ada baiknya bagi anak itu sendiri, oleh karena andai kata ia bertanya juga, suhunya pasti takkan dapat menuturkannya dan hanya akan tertawa saja, seperti telah dituturkan di bagian depan, Eng Eng suka sekali bernyanyi dan tentu saja ia hanya bisa menyanyikan lagu lagu karangan suhunya yang gila!

Juga Eng Eng diberi pelajaran ilmu silat yang amat aneh, bahkan dilatih pula lweekang dan samadhi secara terbalik, dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kejadian yang telah dituturkan di bagian depan, ketika Eng Eng terluka oleh duri kembang, biarpun nampaknya hanya orang gila saja yang memaksa orang menyatakan tidak sakit padahal ibu jarinya terasa amat sakit dan perih namun sesungguhnya kegilaan ini mengandung pelajaran kebatinan yang amat tinggi!

Secara tak sadar, yaitu tanpa diberi penjelasan atau pelajaran tentang teorinya, anak kecil itu telah mendapat pelajaran bagaimana cara untuk menguasai pikiran dan perasaan. Bagaimana cara untuk memperkuat semangat dan batin sehingga jiwa dan batinnya tidak dipengaruhi oleh perasaan raga, sebaliknya dengan keteguhan iman dan batin, Eng Eng bahkan dapat mengalahkan perasaannya yang harus tunduk kepada suara batinnya.

Sungguhpun anggota tubuhnya terasa sakit namun berkat kemauan yang keras dan batin yang teguh rasa sakit itu dapat tunduk padanya dan tidak terasa sama sekali olehnya. Memang sungguh mengherankan betapa seorang anak sekecil itu, tanpa disadarinya dan dengan cara yang amat aneh, telah dapat menguasai dan memiliki ilmu tinggi yang hanya dapat dicapai dan dimiliki oleh seorang pertapa yang telah bertapa selama bertahun-tahun!

Hek Sin-mo sengaja memilih hutan yang liar dan sunyi itu karena dia memang tidak suka tinggal di tempat ramai. Di mana saja ia berada, selalu orang-orang, terutama anak-anak kecil yang tidak tahu siapa adanya kakek tua yang gila ini, mengganggunya seperti biasanya orang gila diganggu dan dipermainkan orang.

Di tempat yang sunyi ini, dimana tidak ada lain manusia kecuali dia dan muridnya, ia boleh berbuat sekehendak hatinya, boleh menangis kalau ingin tertawa dan boleh tertawa kalau ingin menangis. Muridnya tak pernah metertawakannya, bahkan sering kali membantunya menangis atau tertawa!

Eng Eng mendapat latihan ilmu silat yang aneh, ilmu ginkang yang tinggi dan ilmu lweekang yang lebih aneh lagi. Selain Ilmu silat, Eng Eng tidak mendapat pelajaran lain oleh karena Hek Sin-mo adalah seorang yang buta huruf, maka otomatis Eng Eng juga buta huruf, bahkan anak perempuan yang patut dikasihani ini sama sekali tidak tahu bahwa di dunia ini orang dapat mencatat dan menuliskan kata-kata yang keluar dari mulut!

Akan tetapi kekurangan ini ditutup oleh kecantikannya yang wajar dan murni, bakatnya dalam hal gerakan ilmu silat yang kadang-kadang membuat suhunya berlonjak-lonjak dan menari kegirangan, dan disamping itu sungguh mengherankan bahwa Eng Eng mempunyai bakat yang baik dalam hal melukis.

Pernah anak ini secara iseng-iseng menggurat-guratkan jari telunjuk yang terlatih dan dengan tenaga dalam yang mengagumkan ia telah membuat corat-coret pada kulit sebatang pohon besar. Sambil tersenyum-senyum dan tertawa ha ha hi hi, Eng Eng mulai melukis wajah suhunya. Ia telah mengguratkan garis-garis tubuh suhunya dari kepala sampai kaki dan tak lama kemudian pada batang pohon besar itu berdiri gambar Hek Sin-mo yang bagus dan cocok sekali!

Karena adat suhunya yang aneh, Eng Eng berwatak jenaka itu seringkali menggodanya. Anak ini tidak tahu akan arti sopan santun, dan tidak tahu pula apa yang dinamakan perbuatan kurang ajar. Pernah ia mengganggu suhunya yang sedang tidur dan menggunakan sebatang rumput untuk mengilik-iliki hidung suhunya.

Kakek ini dalam tidurnya merasa gatal-gatal pada hidungnya, dan beberapa kali ia mengebutkan tangannya untuk mengusir benda yang menggatalkan hidungnya tanpa membuka matanya. Eng Eng menahan kegelian hatinya dan terus mempermainkan suhunya!

Akhirnya suhunya bangun dan menyumpah-nyumpah terus mengamuk pada lalat lalat yang dikira tadi mengganggunya. Kasihan binatang-binatang kecil itu karena tiap kali kakek itu mengebutkan tangannya yang lebar, lalat-lalat itu mampus dan hancur tubuhnya!

Kini setelah Eng Eng menggambar suhunya pada pohon besar itu, ia memandang gambarnya dengan puas dan tertawa-tawa senang. Tiba-tiba ia mendengar desir angin dan maklum bahwa suhunya datang. Cepat anak yang nakal ini bersembunyi di dalam semak belukar untuk melihat bagaimana sikap suhunya kalau melihat gambar itu.

Benar saja, Hek Sin-mo muncul dengan langkahnya yang lebar. Pada waktu itu, senja kala telah tiba dan dalam keadaan yang hampir gelap, kakek ini melihat bayangan orang pada batang pohon besar itu ia nampak tercengang dan segera membentak.

"Ei... eh, orang gila dari mana berani lancang memasuki hutanku?"

Akan tetapi tentu saja gambar itu tidak dapat menjawab, bahkan bergerakpun tidak! Hek Sin-mo menjadi marah dan membentak lagi.

"Orang gendeng! Kau siapa dan mengapa tidak menjawab? Hayo pergi dari sini!"

Tiba-tiba 'orang' itu menjawab. "Kalau aku tidak mau pergi, kau mau apakah?"

Suara ini terdengar aneh dan menyeramkan. Eng Eng yang bersembunyi di semak belukar yang berada di belakang pohon itulah yang menjawab. Gadis cilik yang telah mempunyai ilmu khikang tinggi ini telah mempergunakan tenaga perut untuk mengeluarkan suara yang besar dan parau, berbeda dengan suaranya sendiri dan dengan tenaga khikangnya ia telah dapat mengirimkan suaranya ke pohon itu!

Hek Sin-mo memandang dengan mata terbelalak. Orang tua ini karena tak dapat menjaga kesehatan, biarpun ia berilmu tinggi, maka kedua matanya sudah kurang sempurna daya penglihatannya.

“Tidak mau pergi? Aku akan melemparmu keluar!"

Dan ia lalu menyerbu dengan pukulan tangan kanannya ke arah bayangan itu. Pukulan Hek Sin-mo ini tak perlu mengenai tubuh. baru saja angin pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan orang yang sudah begitu tinggi ilmu kepandaiannya. Ia melihat betapa batang pohon itu bergoyang dan daun-daun rontok ke bawah, akan tetapi 'orang' itu sama sekali tidak bergerak, seakan-akan angin pukulannya itu hanya angin gunung yang sejuk saja!

Tentu saja hal ini membuat Hek Sin-mo melengak dan juga marah sekali. Ia tidak pernah mau membunuh orang dan dalam setiap pertempuran, kepandaiannya yang aneh sudah cukup tinggi untuk merobohkan lawan lanpa melukainya. Tadipun ketika ia mengerahkan pukulan, ia tidak berniat melukai 'orang' itu dan hanya ingin menggunakan angin pukulannya untuk melemparkan orang itu agar menjadi takut dan pergi.

Sama sekali tak pernah disangkanya betapa 'orang' itu dapat menerima hawa pukulannya dengan tersenyum-senyum dan tidak bergoyang sedikitpun. Sekali lagi ia memukul dengan tenaga lebih besar dan kini hasilnya hanyalah daun-daun yang jatuh seperti hujan menimpa di atas kepalanya. batang pohon itu bergoyang-goyang keras dan terdengar suara cekikikan seakan-akan mengejeknya!

Kini Hek sin-mo benar-benar kehabisan akal dan kemarahannya yang semenjak puluhan tahun sudah dapat menjadi jinak di dasar hatinya, kini timbul dengan hebatnya. Sepasang matanya liar memandang, mulutnya berbusa dan kedua tangannya menggerak-gerakkan jari tangan dengan sikap mengerikan sekali.

"Kau menantang dan mencari mati !" serunya dan berbareng dengan seruan ini, tubuhnya menubruk ke depan. kedua tangan ditumbukkan ke arah dada "orang" itu sekuat tenaga!

"Blek...! Kraak...!"

Tentu saja kedua tangannya tidak mengenai 'orang' itu dan hanya mcnghantam batang pohon besar yang menjadi tumbang setelah mengeluarkan suara hiruk pikuk!

Eng Eng yang bersembunyi di belakang pohon itu, tentu saja menjadi terkejut sekali ketika melihat betapa pohon itu tiba-tiba menjadi tumbang dan menimpa ke tempat ia bersembunyi! Gadis cilik itu cepat melompat keluar dari semak-semak dan hendak menjauhkan diri, akan tetapi pohon yang penuh dengan cabang besar-besar dan daun itu roboh dengan cepat dan biarpun Eng Eng sudah mengelak tetap saja ia masih kena terpukul oleh cabang dan ranting sehingga ia terpelanting ke tempat yang jauh!

Eng Eng memekik keras dan pekikan ini bukan karena pukulan cabang pohon, melainkan karena begitu ia jatuh di atas tanah, la merasa betapa betisnya amat panas dan sakit sekali. Ketika ia melihat, ternyata bahwa betisnya telah tergigit oleh seekor ular merah yang berbahaya! Ia memekik lalu tak sadarkan diri lagi!

Sementara itu Hek Sin-mo yang masih berdiri bengong melihat betapa 'orang' yang diserangnya itu ternyata menempel pada batang pohon, terkejut mendengar jeritan Eng Eng. Cepat ia melompat dan melihat muridnya menggeletak dengan betis masih tergigit oleh seekor ular merah ia berseru marah sekali. Sekali injak saja hancur luluh tubuh ular itu beserta kepalanya. dan ia lalu menyambar tubuh muridnya dibawa keluar dari semak-semak.

Dengan bingung Hek Sin-mo meletakkan muridnya di dekat tempat di mana pohon tadi berdiri. Ia menggoyang-goyang tubuh muridnya dan memanggil-manggil namanya, akan tetapi Eng Eng tidak bergerak dan menyahut seperti 'orang' di batang pohon tadi. Hek Sin-mo sudah lama tinggal di hutan ini ia melihat seekor harimau besar mati seketika ketika terkena gigitan ular merah.

Kini melihat keadaan muridnya, hatinya menjadi gelisah dan sedih sekali. Akan tetapi, anehnya sungguhpun hatinya menangis, yang keluar dari mulutnya hanya suara ketawa bergelak-gelak yang menyeramkan dan dari kedua matanya keluar air mata berderai derai!

Ia melihat muka muridnya pucat sekali dan ketika merobek celana di bagian betis ternyata betis anak itu telah mengembang besar dan berwarna merah seperti darah. Bukan main marahnya Hek Sin-mo. Tiba-tiba ia berdiri lagi dan kembali ia menginjak-injak tubuh ular merah yang sudah hancur lebur. Kemudian ia membuka semak-semak dan mencari-cari ular merah. Hendak dibunuhnya semua ular-ular merah yang berada di hutan itu. Kebetulan sekali ia melihat seekor ular merah yang merayap pergi ketakutan dari dalam semak.

Cepat ia melangkah maju dan kembali ular itu harus mengalami nasib yang mengerikan, tubuhnya lumat dan hancur lebur oleh injakan kaki kakek gila ini. Ketika Hek Sin-mo kembali ke tempat dekat pohon itu matanya tertarik oleh lubang yang berada di bawah pohon yang tumbang. Ternyata bahwa pohon itu tumbang dengan akarnya dan di bawah akar pohon terdapat lobang yang besar. Ia maju mendekat dan alangkah marahnya ketika ia melihat puluhan ekor ular merah berada di dalam lobang itu!

Tanpa memperdulikan bahaya lagi ia lalu mengulur tangannya dan mencengkeram puluhan ular merah kecil itu dan alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan bahwa ular-ular itu telah mati!

Ia membanting ular-ular itu dan mengeluarkan semua ular dari dalam lobang. Tak seekorpun ular merah yang masih hidup dan semuanya ada tiga puluh ekor lebih. ketika bangkai-bangkai ular itu sudah dikeluarkan semua, ia membelalakkan matanya melihat benda yang bersinar merah sekali berada di dasar lobang. Tanpa rasa takut sedikitpun, Hek Sin mo mengambil benda itu dan ternyata bahwa benda itu adalah sebatang pedang yang bersinar merah!

Pedang itu lemas, dapat digulung akan tetapi berkilauan dan tajam serta runcing sekali. Melihat pedang ini timbul sebuah pikiran dalam kepala Hek sin-mo. Ia menghampiri muridnya dan dengan hati-hati ia lalu menusukkan ujung pedang pada betis Eng Eng yang mengembung itu. Maksud Iblis Sakti Hitam ini untuk membuka kulit betis dan mengeluarkan bisa ular. la tidak mengerti tentang ilmu pengobatan dan hanya mengira-ira saja, akan tetapi alangkah girangnya ketika baru saja batang pedang itu ditusukkan ke dalam betis, tiba-tiba ia melihat betis itu mengempis kembali!

Saking kaget dan herannya, ia tidak mencabut pedang itu dan membiarkan ujung pedang menancap pada betis Eng Eng! Perlahan akan tetapi tentu warna merah yang menyelimuti kulit tubuh gadis cilik itu melenyap dan mukanya yang pucat kini menjadi bercahaya kembali.

"Aduh aduh..." bibir Eng Eng mulai menggetar dan mengeluh.

Bukan main girangnya hati Hek Sin-mo dan tiba-tiba ia menangis keras. Menangis, lalu bangun berdiri dan menari-nari! Tentu saja orang gila ini tidak tahu bahwa pedang itu sebetulnya mengandung bisa yang menjadi lawan dari pada bisa ular. Ular-ular merah yang mati di dekat pedang itu menyatakan bahwa bisa pedang itu lebih lihai dari pada bisa ular dan ketika pedang itu menusuk betis Eng Eng maka otomatis bisa ular yang menguasainya menjadi lenyap dan tidak bahaya lagi!

Eng Eng bangun dan melihat ke arah betisnya. Ia merasa betisnya panas dan sakit akan tetapi cepat ia lalu berjungkir balik dengan mengerahkan tenaga mengusir rasa sakit itu. Sungguh lucu dan mengerikan melihat Hek Sin-mo menangis terisak-isak sambil menari-nari sedangkan Eng Eng masih berjungkir balik dengan pedang masih tertancap pada betisnya.

Pengerahan tenaga lweekang yang dilakukannya sambil berjungkir balik ini ternyata dapat mendorong keluar darah berikut sisa-sisa bisa ular sehingga pedang yang bersinar merah itu menjadi lebih merah karena darah yang menyembur keluar dari betisnya!

Hek Sin mo menghampiri muridnya dan mencabut pedang itu.Ia membersihkan pedang itu dengan bajunya, kemudian sambil berjingkrak-jingkrak ia menciumi pedang itu.

"Ang coa kiam (Pedang Ular Merah) yang baik. Ang-coa kiam yang cantik manis...”

Karena ucapan ini dikeluarkan sambil menangis, maka ia terdengar seperti seorang pemuda yang merindukan kekasihnya. Sebenarnya kakek itu sedang menyatakan kegembiraan dan terima kasihnya kepada pedang itu. Luka di betis Eng Eng menjadi sembuh dan pedang itu menjadi pedang kesayangan gadis kecil ini.

Oleh karena ilmu silat yang ia pelajari dari suhunya bukanlah ilmu silat tangan yang dapat pula memainkan segala senjata, maka ia hanya sayang kepada pedang itu karena indahnya. Ia tidak mempelajari ilmu pedang yang khusus, akan tetapi bila Eng Eng sedang gembira dapat mainkan pedang itu dengan gerakan yang aneh dan cepat sekali.

Gerakannya, seperti juga gerakan suhunya, kacau balau dan nampaknya tidak teratur, akan tetapi pada dasarnya kekuatan dan kecepatannya yang amat mengagumkan. Pedang di tangannya menjadi segulung sinar merah yang gerakannya aneh dan menyeleweng ke sana ke mari sukar sekali diikuti oleh pandangan mata.

Karena kesalahan seekor ular merah yang menggigit betis Eng Eng, guru dan murid ini amat benci kepada ular merah, dan ular merah di hutan itu hampir habis oleh pembasmian kedua orang ini. Di mana saja mereka melihat ular merah, tanpa ampun lagi binatang itu tentu mereka binasakan.

Demikianlah, di dalam hutan yang liar itu, tanpa diketahui oleh siapapun juga, Hek Sin-mo melatih muridnya dan boleh dibilang ia menumpahkan seluruh kepandaiannya kepada murid ini. Sepuluh tahun kemudian, apabila mereka berlatih silat, Hek Sin-mo sudah terdesak hebat oleh muridnya dan ia hanya dapat mempertahankan diri sampai napasnya menjadi senin kemis karena makin tua makin lemahlah dia.

Kesukaan Hek Sin-mo membunuh ular merah menjadi kebiasaan dan kesukaan yang berakar di dalam hatinya. Setelah agak sukar mencari ular merah di dalam hutan itu, kakek ini mulai mencari ular merah di hutan berikutnya! Dan kegemarannya yang aneh inilah yang menamatkan riwayatnya.

Pada suatu hari Eng Eng nampak gelisah oleh karena semenjak siang tadi ia tidak melihat suhunya. Hari telah mulai gelap dan gadis ini mulai mencari-cari suhunya sambil memanggil-manggil dengan suaranya yang nyaring. Akhirnya ia mendapatkan suhunya menggeletak di depan sebuah goa yang gelap, dan di kanan kirinya menggeletak hampir seratus ekor ular merah dalam keadaan hancur dan putus-putus!

Ternyata bahwa tak disangka-sangka Hek Sin-mo menjumpai tempat sembunyi ular-ular merah yang menjadi musuh besarnya itu, yakni di dalam sebuah goa. Ular-ular yang belum terbunuh dan yang sisanya masih kurang lebih seratus ekor itu, pada lari mengungsi dan bersembunyi di dalam goa itu.

Ketika Hek Sin mo melihat seekor ular keluar dari goa itu, cepat ia menginjaknya sampai hancur. Dan tiba-tiba saja, banyak sekali ular merah menyerbu keluar dari goa itu. Melihat itu, Hek Sin-mo tidak menjadi takut, bahkan ia lalu lertawa bergelak dan mengamuk menghadapi serbuan ular ular merah ini. Betapapun lihainya, menghadapi hampir seratus ekor ular itu, akhirnya terkena beberapa kali gigitan ular merah.

Berkat kekuatan dan kelihaiannya, ia tidak segera roboh dan masih mengamuk terus sehingga saking girang dan gembiranya ia memegang ular terakhir dan membunuhnya dengan menggigit kepala ular itu sampai remuk. Akan tetapi, bisa ular yang sudah mulai menyerang jantungnya, membuat ia roboh dan menggeletak tak bernyawa bersama ular terakhir yang masih digigitnya.

Melihat keadaan suhunya ini, Eng Eng memeluk dan menangis sedih. Ia memang tidak seperti suhunya. Kalau hatinya sedih biarpun beberapa kali telah dicobanya, ia tidak dapat tertawa dan selalu menangis. Kini ia menangis terisak-isak, ia tidak mengerti bahwa seorang manusia kalau sudah mati harus dikubur, dan hanya kekhawatirannya melihat mayat suhunya menjadi korban binatang buas saja yang membuat ia mengangkat tubuh suhunya dan meletakkannya di dalam gua.

Ia masih belum tahu bahwa suhunya telah mati dan dikiranya sedang tidur atau pingsan saja. Maka tiap hari ia menjaga tubuh suhunya dan sepekan kemudian, setelah suhunya tidak juga bangun bahkan tubuhnya mulai membusuk menyiarkan bau yang amat tidak enak, barulah ia dapat menduga bahwa suhunya takkan bangun lagi!

Selama sepekan, Eng Eng tidak keluar dari goa, tidak makan,tidak tidur, hanya menjaga suhunya dengan setia dan hati berduka. Ketika matahari menerangi keadaan di dalam gua dan ia melihat tubuh suhunya membusuk dan hidungnya mencium bau yang amat memusingkan, ia tidak kuat menahan dan akhirnya Eng Eng rebah pingsan di dekat mayat suhunya!