Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 17

ALANGKAH indahnya rambut ini, pikirnya, tetapi sekarang tidak ada sedikit pun nafsu birahi menggodanya. Bagaikan benang sutera emas! Kulit muka itu demikian putih kemerahan. Kalau saja tidak ada bulu lembut di permukaannya, kulit muka itu seperti kulit muka bayi. Mata yang terpejam itu tidak nampak bola matanya yang berwarna biru, akan tetapi masih saja mendatangkan kesan asing dan aneh karena bulu matanya juga tidak hitam benar, melainkan agak kelabu dan panjang melengkung. Dan garis mata itu demikian panjang.

Hidung itu pun biar pun tidak terlalu besar tapi mancungnya lain dari pada kemancungan hidung bangsanya. Punggung hidung itu tinggi sehingga mirip paruh burung kalau nampak dari pinggir. Dan mulut itu pun berbibir indah, sulit menggambarkan keindahannya karena keindahan itu tersembunyi di dalam lekukan-lekukan kecil di sekitar mulut, tersembunyi di antara bibir yang sedikit terbuka, di kedua ujung yang membelok ke atas, di bibir belahan bawah yang penuh dan tipis, agaknya tergigit sedikit pun akan pecah, dan bentuk dagu itu membayangkan keangkuhan, keanggunan, juga amat manis.

Wajah ini memang aneh dan asing baginya. Akan tetapi keasingan itu tidak terasa sama sekali ketika mereka tadi bercakap-cakap. Jalan pikiran, hati serta akal pikiran gadis ini sama saja dengan apa yang ada pada diri gadis-gadis bangsanya. Yang berbeda hanya kulitnya, akan tetapi isinya sama.

Dia merasa sayang kepada gadis ini. Bahkan tadi Sarah mengatakan bahwa dia merasa seperti dengan kakaknya sendiri! Tetapi kebiasaan atau cara hidup dari gadis ini sungguh berbeda sekali dengan cara hidup bangsanya.

Kalau seorang gadis bangsanya, sampai bagaimana pun juga tidak mungkin mau tidur di atas pangkuan dan menyandarkan kepala di dada seorang laki-laki asing yang bukan apa-apanya. Bahkan antara saudara sekandung sendiri pun tidak! Mungkin hanya lelaki yang menjadi suami seorang wanita saja yang akan dipercaya seperti ini.

Tentu saja lain halnya kalau wanita itu seorang wanita sesat yang sudah menjadi hamba nafsu yang tidak mengenal susila lagi, di mana hamba nafsunya telah membuat menjadi seperti buta.

Akan tetapi Sarah bukanlah wanita seperti itu. Sama sekali bukan! Dia mempertahankan kehormatannya dengan mati-matian, kalau perlu dengan taruhan nyawa. Jelaslah bahwa bagi bangsa Sarah, hubungan antara pria dengan wanita jauh lebih bebas dan berdekatan seperti ini bukan merupakan hal yang buruk bagi Sarah.

Hay Hay tidak berani tidur, maklum bahwa di luar goa terdapat banyak musuh yang tentu telah berjaga-jaga sambil menanti datangnya pagi. Setelah mereka tidak merasa ngeri lagi terhadap siluman, tentu mereka akan menyerbu ke dalam goa. Dia tidak berani tidur, dan sambil memangku tubuh Sarah, dia hanya menghimpun tenaga murni dan membiarkan tubuhnya melepas lelah.

********************

“Sssttt, Sarah, bangunlah...” Hay Hay berbisik di dekat telinga kiri gadis itu.

Sarah menggerakkan bulu matanya, tubuhnya menggeliat dan ketika mengangkat kedua lengannya ke atas, tangannya menyentuh wajah Hay Hay. Dia membuka mata dengan kaget dan heran. Akan tetapi, ketika kedua matanya yang biru dan masih mengantuk itu menatap wajah Hay Hay, dia segera teringat dan tersenyum.

"Selamat pagi, Hay Hay."

"Selamat pagi, Sarah. Bersiaplah, sekarang kita akan pergi. Kau tunggu dulu di sini, aku akan mencari kuda untuk kita."

Setelah ingatannya segar kembali, Sarah kemudian berbisik. "Kalau bisa, tolong ambilkan kudaku, Hay Hay. Berbulu kelabu kecuali keempat kaki dan ekornya yang warna putih."

Hay Hay mengangguk. "Kau tetap bersembunyi saja di ruangan paling belakang tempat menaruh senjata-senjata itu. Jangan keluar dari ruangan itu sebelum aku kembali, jangan pula mengeluarkan suara, Sarah."

"Aku tahu, Hay Hay," kata Sarah dan dia pun bangkit, melangkah masuk ke dalam kamar di bagian belakang goa itu. Semalam dia dan Hay Hay tetap bersembunyi di belakang tiga buah peti mati.

Sesudah mengantar gadis itu memasuki kamar, dengan sekali berkelebat Hay Hay lenyap dari depan Sarah. Gadis itu terbelalak, menjenguk keluar kamar, ke arah ruangan depan di mana nampak tiga buah peti mati dari situ. Akan tetapi tidak nampak lagi bayangan Hay Hay. Dia menarik napas panjang. Pernah dia mendengar cerita tentang pendekar pribumi, akan tetapi tidak pernah disangkanya ada yang sehebat Hay Hay, yang agaknya memiliki ilmu aneh, ilmu menghilang! Seperti bukan manusia saja, pikirnya.

Hay Hay menyelinap ke belakang batu di depan goa dan menghilang keluar. Benar saja dugaannya, dia melihat gerakan di sana-sini, di balik batu-batu dan terlihat rambut kepala orang-orang tersembul di balik batu. Tentu banyak orang berjaga-jaga, pikirnya, dan tentu mereka terus memperhatikan mulut goa ini.

Dia lalu melepaskan kancing bajunya dan membalikkan bajunya ke atas, menutupi caping dan seluruh mukanya. Dari celah-celah baju dia masih dapat melihat keluar. Kemudian dia bangkit dan berloncatan dengan gerakan aneh keluar dari situ.

Tentu saja anak buah gerombolan yang mengintai dari kanan-kiri dan depan goa melihat makhluk aneh itu muncul dari dalam goa tempat tiga buah peti mati ditaruh. Dan mereka gemetar ketakutan. Makhluk apakah yang keluar dengan loncatan-loncatan aneh, miring dan ke kanan-kiri itu? Seperti loncatan katak mabuk.

Makhluk itu berkaki seperti manusia, namun tubuh bagian atasnya berkerobong sehingga tidak nampak kedua tangan mau pun kepalanya. Hanya di dalam kerobongan itu nampak bagian kepala yang luar biasa besarnya. Itulah caping yang terbungkus baju! Mereka yang masih merasa ngeri tentu saja menjadi semakin gentar ketika melihat 'makhluk' aneh itu keluar.

Hari masih pagi sekali, kabut masih menggelapkan cuaca. Sinar matahari belum muncul sepenuhnya. Mereka tidak berani bergerak, tapi akan menanti sampai cuaca terang baru mereka berani mendekati goa atau memasukinya, tergantung perintah lima orang ketua mereka yang sejak pagi sekali sudah berada pula di tempat persembunyian para penjaga.

Melihat makhluk aneh itu, kelima orang pimpinan gerombolan juga termangu dan gentar, tidak berani memberi perintah apa pun karena mereka berlima juga hanya orang-orang sederhana yang sangat percaya dengan takhyul. Mereka adalah orang-orang kejam yang tidak segan membunuh orang, dan mereka tidak takut menghadapi orang lain, akan tetapi mereka merasa gentar untuk melawan setan. Apa lagi dengan loncatan yang mengerikan dan amat ringan, dengan beberapa kali loncatan saja makhluk aneh itu telah menghilang! Suasana semakin menyeramkan!

Dengan mudah Hay Hay menemukan kuda milik Sarah yang terikat di dalam sebuah goa kosong. Tidak ada orang berjaga di situ, agaknya semua orang berkumpul. Suasana yang menyeramkan dan rasa takut terhadap 'mayat hidup' telah membuat mereka tidak berani menyendiri. Mereka merasa lebih aman untuk berkumpul dengan teman-teman.

Akan tetapi Hay Hay tidak melihat adanya kuda lain. Seekor pun sudah cukup, pikirnya. Kuda untuk Sarah, sedangkan dia sendiri tidak membutuhkan kuda. Kedua kakinya lebih dari cukup, dan dalam hal berlari cepat dia tidak mau kalah oleh kuda yang mana pun! Dia menuntun kuda itu dan ditambatkannya kuda itu di tempat yang lain.

Sesudah benar-benar mengenal jalan dari tempat dia menyembunyikan kuda itu ke goa perkabungan, dia lalu kembali. Seperti tadi, Hay Hay menutupi kepala berikut capingnya dengan baju yang dibalik ke atas, akan tetapi sengaja sekali ini dia bergerak cepat sekali sehingga orang-orang yang mengintai di sekitar tempat itu hanya melihat bayangan yang aneh bentuknya, kepala besar tanpa muka, berkelebat memasuki goa. Tentu saja semua orang menjadi ketakutan.

Ma Kiu, raksasa hitam pimpinan gerombolan itu tidak sabar lagi. Dia mendorong rekannya yang ke lima dan ke empat supaya menjadi pelopor. "Kalian berdua majulah. Beri contoh kepada yang lain. Pengecut!" bentaknya akan tetapi dengan suara lirih tertahan.

Pemimpin ke empat yang tubuhnya gendut perutnya besar dan ke lima yang kurus kering, saling pandang dengan muka pucat. Mereka takut kepada pirnpinan pertama mereka, tapi juga malu terhadap para anak buah karena mereka dimaki pengecut. Terpaksa mereka memberanikan diri kemudian keduanya segera muncul dari balik batu. Mereka memegang sebatang golok besar di tangan kanan dan sebuah perisai baja di tangan kiri.

Sebenarnya, di antara mereka berlima, yang memegang senjata cakar besi di tangan kiri dan golok pada tangan kanan hanyalah Ma Kiu, pemimpin pertama. Karena cakar besinya inilah maka mereka berlima dijuluki Lima Harimau Cakar Besi. Akan tetapi dua orang yang bergolok dan berperisai ini pun lihai bukan main.

"Haii, siluman, keluarlah dan lawanlah kami berdua!" teriak si gendut dengan sikap gagah, akan tetapi suaranya jelas terdengar gemetar dan parau!

"Setan iblis yang berani mengganggu kami! Keluarlah dan rasakan tajamnya golokku!" si kurus kering ikut berteriak pula. Dia bersuara lantang dan tidak gemetar, akan tetapi kalau orang melihat ke arah kakinya, jelas bahwa dua buah kakinya itu terlihat menggigil!

Dua orang pemimpin ini sebenarnya ketakutan sekali, akan tetapi mereka memaksa diri dan keduanya lantas melangkah maju menghampiri mulut goa. Setelah tiba di mulut goa dan melihat tiga buah peti mati itu tergeletak seperti biasa, timbullah keberanian mereka. Mereka memutar golok ke atas kepala dengan sikap gagah dan menantang.

Akan tetapi, mereka yang mengintai dari tempat persembunyian mereka terbelalak kaget dan terheran-heran ketika mereka melihat betapa dua orang pemimpin itu, si gendut dan si kurus kering, kini mulai saling serang dengan mati-matian! Saling serang dengan golok, ditangkis dengan perisai sehingga terdengarlah bunyi trang-tring-trang saat mereka saling serang dengan ganasnya.

"Mampus kau, setan!" teriak si gendut.

"Rasakan golokku, iblis!" bentak si kurus.

Pada saat semua orang terheran-heran, nampak dua sosok bayangan melesat keluar dari dalam goa. Dua orang tanpa kepala, atau lebih tepat lagi, kepalanya tidak nampak karena tubuh bagian atas merupakan kerobongan. Dua orang itu lari dengan cepat, seperti saling melekat. Melihat ini, Ma Kiu menjadi curiga karena cuaca sudah semakin terang dan dia dapat melihat bahwa mereka adalah seorang pria dan seorang wanita yang mengerobongi tubuh atas mereka dengan baju yang dibalik ke atas!

"Cepat kalian kejar mereka!" teriaknya kepada pemimpin ke dua dan ke tiga, atau Ji Tang, sedangkan dia sendiri telah meloncat ke arah dua orang pembantunya yang saling serang itu.

"Berhenti!" teriaknya sambil menggerakkan golok menangkis.

"Trangg-tranggg…!"

"Berhenti! Apakah kalian berdua sudah gila, saling serang sendiri?"

Si gendut dan si kurus saling pandang, terbelalak dan bingung.

"Aku tadi menyerang setan!" kata si gendut.

"Aku pun menyerang iblis!" kata si kurus.

Tentu saja ulah yang aneh itu adalah akibat pengaruh sihir Hay Hay. Kini mereka sudah sadar kembali karena Hay Hay sudah pergi dan Ma Kiu dapat menduga bahwa tentu ada musuh yang menggunakan ilmu sihir.

Tentu peristiwa semalam yang menggegerkan karena disangka tiga buah mayat di dalam peti mati hidup kembali juga merupakan perbuatan musuh itu. Musuh itu dan wanita bule telah melarikan diri, yaitu dua bayangan tadi. Dia segera mengajak si gendut dan si kurus untuk melakukan pengejaran agar dapat membantu dua kawan terdahulu yang kini sudah melakukan pengejaran.

Mereka mendengar derap kaki kuda dan ke sanalah mereka berlari. Akan tetapi mereka hanya menemukan Ji Tang dan orang ke dua mengerang kesakitan dengan dahi terluka.

"Di manakah mereka? Apa yang terjadi?" tanya Ma Kiu penasaran.

"Ahhh, si keparat itu!" Ji Tang mengepal tinju, mengamangkan tinju itu ke arah bayangan yang kini tampak sudah jauh sekali, dan bunyi derap kaki kuda juga tinggal sayup sampai saja. "Ternyata yang melarikan gadis bule itu adalah seorang laki-laki yang mengenakan caping lebar. Tentu dia pula yang semalam mempermainkan kita semua, dan agaknya dia pandai ilmu sihir. Ketika tadi kami mengejar sampai di sini, mereka sedang melompat ke atas kuda milik gadis itu. Si caping lebar lantas menyambit kami dengan batu sehingga mengenai dahi kami."

Ma Kiu menyumpah-nyumpah, memaki kawan-kawan serta anak buahnya penakut dan tolol, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani melakukan pengejaran ke dalam kota.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Keterangan yang diberikan Ji Tang memang benar. Hay Hay yang tadi menggunakan sihir membuat dua pimpinan gerombolan itu saling serang di depan goa. Dengan menggunakan kesempatan itu dia lalu mengajak Sarah untuk lari keluar dari goa dengan membalikkan baju ke atas menutupi muka mereka. Di balik baju itu dia menggandeng tangan Sarah dan dia seperti menarik tubuh Sarah dibawa berlari cepat, menuju ke tempat dia menyimpan kuda.

"Cepat naiklah ke atas kudamu, aku mengikuti dari belakang," kata Hay Hay.

"Tidak!" Sarah berkukuh. "Aku tidak mau naik kuda kalau engkau berjalan kaki."

"Habis, bagaimana? Aku hanya mendapatkan seekor kuda, tidak ada kuda lainnya, entah mereka sembunyikan di mana."

"Kudaku ini kuda pilihan yang kuat. Kita menunggang kuda bersama, berboncengan, atau bersama pula kita berlari!"

Karena khawatir dikejar puluhan orang dan Sarah tentu terancam bahaya, Hay Hay tidak mau banyak berbantah lagi. "Baik, kita berboncengan!" katanya.

Dia telah melihat datangnya dua orang yang berlari cepat ke arah mereka. Tanpa banyak cakap lagi ia memeluk pinggang Sarah lalu mengangkatnya naik ke atas kuda, kemudian dia memungut dua buah batu sebesar telur ayam dan menyambit dua kali ke arah kedua orang yang berlari menghampiri. Sambitannya tepat mengenai dahi dan dua orang itu pun terpelanting dan mengaduh-aduh. Hay Hay meloncat ke atas punggung kuda, di belakang Sarah, dan gadis yang sudah memegang kendali kuda itu segera membalapkan kudanya meninggalkan tempat itu.

Mereka menunggang kuda tanpa pelana. Ketika Hay Hay menemukan kuda itu, memang pelananya sudah tidak ada, entah disimpan di mana. Untung bahwa kendali kuda masih dipasang. Kini kuda dilarikan kencang dan mereka duduk tanpa pelana.

Tubuh Sarah tegak dan lentur, karena dia memang ahli menunggang kuda. Hay Hay juga biasa menunggang kuda, akan tetapi belum pernah dia menunggang kuda tanpa pelana, apa lagi berboncengan seperti itu. Ketika kuda dilarikan kencang, dia terpaksa memeluk pinggang gadis itu dengan kedua tangan untuk menjaga keseimbangan badannya hingga tubuhnya merapat dengan tubuh belakang Sarah. Ia harus memejamkan matanya sambil mengerahkan kekuatan batinnya untuk mencegah otaknya membayangkan yang bukan-bukan, dan tidak merasakan tubuhnya yang merapat dengan tubuh Sarah.

Setelah mereka keluar dari daerah bukit yang bergoa-goa itu, Hay Hay berkata, "Cukup, Sarah. Kita telah keluar dari daerah mereka dan kulihat tidak ada yang mengejar. Kasihan kudamu kalau disuruh membalap terus." Diam-diam hatinya mengeluh. Akulah yang patut dikasihani, seperti tersiksa oleh bisikan setan!

Sarah menahan kendali kuda dan membiarkan kudanya berjalan congklang. Ketika kuda itu berjalan congklang seperti itu, Hay Hay merasa semakin tersiksa. Tubuhnya terangkat angkat seperti diadu dengan tubuh Sarah! Dia tidak mampu bertahan lagi sehingga cepat melompat turun.

"Ehh, kenapa?" tanya Sarah sambil menahan dan menghentikan kudanya.

Wajah Hay Hay merah seperti kepiting direbus. "Tidak apa-apa, aku... aku hanya kasihan kepada kudamu... lebih baik aku berjalan saja…"

Sarah menatap wajah Hay Hay penuh perhatian, dan tiba-tiba dia pun tertawa, tawa yang bebas lepas. Hay Hay mengerutkan kedua alisnya, dan dari pandang mata gadis itu dia dapat menduga bahwa agaknya Sarah tentu dapat mengerti apa yang menyiksanya dan yang memaksanya turun. Dia semakin tersipu.

"Sarah, kenapa engkau tertawa? Apakah engkau mentertawakan aku, Sarah?"

Sarah menghentikan tawanya lantas tersenyum kepadanya. "Engkau memang lucu, Hay Hay. Lihat, kudaku tidak apa-apa, kenapa engkau yang ribut-ribut? Kudaku ini kuat sekali. Naiklah, mari kita lanjutkan perjalanan dengan naik kuda. Kalau engkau berjalan kaki, aku pun akan berjalan kaki. Kenapa sih kalau berboncengan denganku? Apa engkau malu?"

Hay Hay tersenyum, di dalam hatinya mengeluh. Gadis ini memang aneh sekali, agaknya memang tak perlu sungkan-sungkan lagi dengannya. Tentu saja dia malu untuk mengaku betapa himpitan tubuh di antara mereka tadi membuat dia tidak dapat menahan gejolak birahinya.

"Tidak apa-apa, Sarah, hanya... tidak enak dilihat orang kalau kita menunggangi seekor kuda berdua, kita akan dianggap tidak mempunyai perasaan kasihan kepada kuda ini."

Tiba-tiba Sarah tertawa lagi.

"Aihh, Sarah, benar-benarkah engkau mentertawakan aku?"

Sarah menggeleng kepalanya. "Hay Hay, ucapanmu itu mengingatkan aku akan dongeng kuno yang pernah diceritakan pelayan kami kepadaku," katanya menahan tawa.

"Dongeng apa?" Hay Hay cepat menyambut karena dia mendapatkan bahan percakapan lain untuk mengalihkan urusan berboncengan itu.

"Dongeng tentang dua orang seperti kita ini, yang hanya mempunyai seekor kuda, mereka adalah suami isteri yang melakukan perjalanan seperti kita pula. Nah, si suami mendesak supaya isterinya naik kuda sendirian dan dia yang menuntun kuda. Di tengah perjalanan mereka bertemu seorang laki-laki setengah tua. Melihat suami isteri itu, laki-laki tadi lalu mengomel, mengatakan betapa isteri itu tak tahu diri, tidak kasihan kepada suami, enak-enak nongkrong di atas kuda sedangkan suaminya berjalan sampai bermandi peluh. Nah, mendengar omelan itu, sang isteri segera turun dan mendesak agar suaminya saja yang kini menunggang kuda. Sang isteri kini yang berjalan menuntun kuda. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan seorang wanita setengah tua yang menggeleng-geleng kepala melihat suami isteri itu, lantas mencela betapa kejamnya suami itu membiarkan isterinya berjalan kaki sedangkan dia sendiri enak-enak menunggang kuda dan mengatakan betapa tidak patutnya sikap suami itu. Mendengar ini, sang suami lalu menarik isterinya ke atas punggung kuda dan mereka berdua kini berboncengan, seperti kita tadi. Namun kembali mereka berpapasan dengan seorang kakek tua yang langsung menyumpah-nyumpah dan dengan marahnya menegur mereka sebagai suami isteri yang berhati kejam, membiarkan kuda mereka tersiksa menanggung beban dua orang. Mendengar celaan yang terakhir ini, suami lsteri itu menjadi jengkel. Mereka turun dan mencari bambu, mengikat empat buah kaki kuda itu, lalu memikul kuda mereka dengan kaki di atas dan tubuh di bawah. Mereka tidak peduli lagi walau pun di sepanjang jalan mereka disoraki dan ditertawakan orang!"

Sarah mengakhiri ceritanya dengan tertawa geli. Hay Hay juga tertawa.

"Hay Hay tidakkah sama benar keadaan Itu dengan keadaan kita kalau engkau menolak untuk berboncengan? Kalau engkau jalan kaki, aku tidak mau naik kuda, sebaliknya kalau aku yang berjalan kaki, jelas engkau tidak mau naik kuda. Dan sekarang engkau menolak untuk berboncengan. Apakah sebaiknya kita mencari bambu dan memikul kuda ini seperti suami isteri itu? Heh-heh-hi-hik, alangkah akan lucunya!" kata Sarah.

Hay Hay juga ikut tertawa. "Sarah, rasanya tidak pantas kalau sebagai laki-laki aku harus membonceng."

"Kalau begitu aku yang membonceng!”

Hay Hay menghela napas. Sulit untuk membantah gadis yang lincah dan pandai berdebat ini. "Baiklah engkau yang membonceng." Dia pun melompat ke atas punggung kuda, ke depan Sarah yang sudah menggeser duduknya ke belakang.

Mereka melanjutkan perjalanan dan biar pun tubuh Sarah menempel ketat di belakangnya dan kedua lengan gadis itu merangkul pinggangnya, namun Hay Hay tidak merasa begitu tersiksa seperti tadi. Bagaimana pun juga, setan seperti berbisik-bisik, mengingatkan dia akan perasaan aneh di tubuh belakangnya yang berhimpitan dengan tubuh Sarah. Maka terpaksa dia harus mengerahkan kekuatan batinnya untuk melawan. Hay Hay mengajak Sarah bercakap-cakap untuk membuyarkan perhatiannya yang selalu mengarah kepada perasaan di punggungnya.

Setelah berhasil dengan penyelidikannya, dia akan ke kota raja untuk menyerahkan surat laporan Yu Siucai kepada Menteri Yang Ting Hoo atau Cang Ku Ceng. Dia tahu bahwa pemerintah di kota raja tentu akan mengirim pasukan untuk menggempur Cang-cow dan mengusir orang-orang Portugis. Namun perang menumpas para pemberontak juga akan merusak kehidupan banyak orang yang tidak bersalah. Dia amat mengkhawatirkan Sarah.

"Sarah, setelah engkau kembali kepada ayahmu, kita akan saling berpisah."

Sepasang lengan yang memeluk pinggangnya itu semakin kuat, seolah gadis itu tak ingin berpisah darinya. "Akan tetapi, bukankah engkau hendak mencari pekerjaan, Hay Hay? Aku dapat membantumu, aku dapat minta kepada ayah supaya engkau diberi pekerjaan. Dengan demikian kita akan selalu berdekatan. Aku ingin persahabatan kita dapat berlanjut selamanya...”

“Sarah, terima kasih atas maksud baikmu, akan tetapi hal itu tidak mungkin. Selama hidup aku tidak akan melupakanmu, dan sekarang aku ingin meninggalkan pesan yang teramat penting bagimu."

Sarah adalah seorang gadis yang berhati baja dan tabah. Akan tetapi ingin rasanya dia menangis bila membayangkan dia akan berpisah dari penolong yang amat dikaguminya ini setelah dia kembali kepada ayahnya.

"Katakan, pesan apakah itu?"

"Engkau tentu tahu sendiri betapa bangsamu, orang-orang Portugis, sudah mengadakan persekutuan dengan para pembesar di Cang-couw, juga dengan para bajak laut Jepang. Mereka bersikap memberontak terhadap pemerintah di kota raja. Hal ini sudah pasti akan menimbulkan perang. Pemerintah tidak akan tinggal diam dan pasti kota Cang-couw akan diserbu."

Sarah terkejut. "Ahhh, begitukah? Aku malah tidak tahu akan hal itu, Hay Hay. Aku tidak pernah mencampuri urusan politik ayah. Setahuku menurut ayah, kepala daerah Cang-couw menghukum mati banyak pejabat penting yang dituduh memberontak. Bukankah itu berarti bahwa kepala daerah Cang-couw setia kepada rajanya?"

"Hemm, itu pemutar-balikan kenyataan, Sarah. Akan tetapi engkau tidak akan mengerti. Pesanku hanya ini, yaitu agar engkau segera meninggalkan kota Cang-cow. Kembalilah ke negerimu sebelum terlambat, sebelum terjadi perang. Karena kalau terjadi perang, aku sungguh amat mengkhawatirkan keselamatanmu."

"Bagaimana mungkin, Hay Hay? Aku tidak bisa meninggalkan ayah, apa lagi ada Aaron..."

"Nah, bukankah pernah kau ceritakan bahwa kekasihmu itu bertahan di sini hanya karena engkau? Bahwa ayahmu selalu menekannya dan tak pernah memberi kenaikan pangkat? Ajak saja dia pulang ke negeri kalian, Sarah. Aku tidak ingin mendengar engkau menjadi korban perang. Pulanglah dan hiduplah berbahagia dengan kekasihmu itu di sana. Gadis seperti engkau tidak layak menjadi korban dalam perang yang kejam, engkau layak untuk hidup berbahagia di samping pria yang mencintamu. Ingat baik-baik pesanku ini, Sarah...”

Sarah tidak sempat menjawab lagi karena tiba-tiba telah bermunculan banyak kuda yang mengepung mereka dan ternyata mereka adalah pasukan orang Portugis yang dipimpin oleh Kapten Armando dan Kapten Gonsalo!

Dengan pistol ditodongkan ke arah Hay Hay, Kapten Gonsalo sudah mengajukan kudanya sambil membentak. "Jahanam busuk, cepat angkat tangan atau kuhancurkan kepalamu yang terkutuk dengan peluru pistolku!"

"Kapten Gonsalo, hentikan kata-katamu yang busuk dan kotor itu!" bentak Sarah dengan marah sekali. "Dia adalah seorang pendekar, dan dialah yang sudah menyelamatkan aku dari tawanan para gerombolan penjahat! Hati-hati kau dengan mulutmu!"

"Hemm, mereka semuanya adalah orang-orang biadab! Mereka layak dibunuh!" Gonsalo masih menodongkan pistolnya ke arah Hay Hay yang tetap bersikap tenang saja sambil tersenyum.

"Kapten Gonsalo, sabarlah dan jangan lancang tangan," kata Kapten Armando. "Sarah, turunlah dan ke sinilah, biar kami yang akan menyelesaikan urusan ini. Aku girang sekali melihat engkau selamat."

Sarah tidak mau turun. Meski pun tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, akan tetapi Hay Hay dapat menduga kehendak kapten setengah tua yang rambutnya keemasan dan matanya biru seperti rambut dan mata Sarah itu.

"Sarah, turunlah dan pergi kepada ayahmu. Jangan lupakan pesanku tadi."

"Tapi, Hay Hay... aku khawatir mereka mengganggumu..."

“Jangan khawatir, aku mampu menjaga diri," kata Hay Hay yang sejak tadi telah menatap tajam wajah Kapten Gonsalo yang masih menodongkan pistolnya.

Sarah percaya kepada Hay Hay dan dia pun meloncat turun, lalu menghampiri ayahnya yang juga melompat turun. Ayah dan anak itu berpelukan, dan Hay Hay melihat betapa kapten tua itu merangkul dan mencium kedua pipi dan dahi puterinya dengan penuh kasih sayang. Teringatlah dia akan pelajaran yang didengarnya dari Sarah tentang ciuman dan dia pun tersenyum.

"Jahanam biadab, sekarang terimalah hukumanmu!" Kapten Gonsalo membentak, lantas mengacungkan pistolnya.

"Gonsalo, jangan...!” Sarah menjerit.

Hay Hay tersenyum sambil menggerakkan tangan kanannya menunjuk ke arah Gonsalo. "Kapten Gonsalo, mau apa engkau bermain-main dengan ular itu?"

Gonsalo tertegun. “Ular...? Ehhh...ular…!" Matanya terbelalak dan mukanya pucat karena dia melihat betapa pistol yang dipegangnya tadi sudah berubah menjadi seekor ular yang mendesis-desis dan siap mematuk hidungnya! Saking kaget dan ngerinya, Gonsalo tentu saja cepat melepaskan pistol itu dan mencampakkannya sambil melompat turun dari atas kudanya.

Semua orang yang melihat hal ini terheran-heran. Mereka melihat kapten muda itu tadi terbelalak memandangi pistolnya yang kini diarahkan ke muka sendiri, lalu melemparkan pistol itu dengan muka jijik ketakutan!

Sarah cepat melepaskan ayahnya kemudian mengambil pistol yang dibuang oleh Kapten Gonsalo dan dia pun menodongkan pistol itu ke arah Kapten Gonsalo. Suaranya lantang terdengar oleh semua orang.

"Kapten Gonsalo, jika engkau tidak menghentikan ulahmu yang gila, demi Tuhan, kalau engkau membunuh Hay Hay, aku sendiri yang akan menembak hancur kepalamu! Hayo, majulah, jangan kau kira aku hanya mengancam saja!"

"Sarah...!" teriak Kapten Armando kaget.

"Biarlah dulu, Ayah!" Sarah berseru tanpa melepaskan pandangan matanya dari Kapten Gonsalo yang kini tercengang karena dia merasa seperti sedang bermimpi menghadapi semua peristiwa ini. Pistolnya menjadi ular, dan kini Sarah menodongnya dan siap untuk menembak kepalanya!

"Sarah, aku hanya bermaksud membelamu...," dia berkata.

"Membelaku? Engkau manusia kasar, sombong dan berkepala besar! Ketika aku ditawan oleh gerombolan penjahat, ke mana saja engkau minggat? Engkau melarikan diri seperti pengecut. tidak mempedulikan aku yang ditawan penjahat. Tetapi kemudian, setelah aku diselamatkan oleh pendekar ini yang mati-matian membelaku dan berhasil membebaskan aku, engkau malah memaki-maki dia dan hendak menembaknya? Sekarang akulah yang akan membelanya, kalau perlu dengan nyawaku!"

Tentu saja semua orang amat terkejut dan terheran-heran mendengar ini, bahkan Kapten Armando sendiri sampai terlongong dan tidak tahu harus berkata apa. Akan tetapi Kapten Gonsalo marah bukan main, merasa dihina.

"Sarah, engkau sungguh tidak adil! Ketika kita dikepung penjahat, aku membelamu mati-matian sampai terluka sehingga aku terpaksa pergi, bukan karena takut melainkan untuk mencari bala bantuan karena pihak lawan terlampau banyak. Memang aku terluka, akan tetapi sejak semalam terus ikut mencarimu, dan engkau kini bahkan memaki aku? Engkau sungguh tidak adil, atau apakah engkau sudah dipengaruhi jahanam ini? Sejauh manakah hubunganmu dengan dia? Kulihat tadi kalian berpelukan di atas kuda! Sarah, sungguh aku merasa malu..."

“Cukup, Kapten Gonsalo!" tiba-tiba saja tampak seorang pemuda Portugis yang turun dari kudanya, meloncat ke depan Gonsalo.

Dia seorang prajurit muda yang bertubuh tegap jangkung, rambutnya hitam kemerahan dan matanya tajam penuh keberanian. Wajahnya yang halus tanpa kumis dan jenggot itu nampak kekanakan dan tampan, namun dagunya berlekuk tanda bahwa dia seorang yang pemberani.

"Sebagai seorang yang sopan engkau tidak patut menghina Sarah dengan mengeluarkan ucapan yang kotor dan tuduhan yang keji itu!"

Gonsalo membelalakkan mata memandang kepada pemuda itu. "Kau...! Aaron, kamu ini prajurit biasa, berani menentang kaptenmu? Kau hendak memberontak?"

Dengan sikap gagah dan tenang Aaron lantas menjawab, "Tidak ada prajurit yang hendak menentang kaptennya, juga tak ada yang hendak memberontak. Aku berhadapan dengan engkau sebagai seorang jantan berhadapan dengan seorang laki-laki. Engkau menghina seorang wanita terhormat dan aku membela wanita yang kucinta. Ini urusan pribadi!"

Hay Hay tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, akan tetapi mendengar pemuda itu disebut Aaron, tahulah dia bahwa pemuda itu kekasih Sarah dan dia kagum melihat sikap prajurit muda yang berani menentang atasannya untuk membela kekasihnya itu. Dia bisa menduga bahwa tentu Gonsalo mengeluarkan kata-kata yang tak berkenan di hati Aaron yang maju membela kekasihnya.

"Bagus! Ini adalah urusan pribadi dan aku akan menghajarmu!" bentak Gonsalo dan dia telah menyerang dengan tinjunya. Aaron cepat menangkis dan balas menyerang. Mereka segera bertanding, bertinju dan saling serang dengan ganas.

"Cukup! Hentikan semua kegilaan ini!" Kapten Armando membentak.

Akan tetapi Sarah menjawab dengan suara yang tak kalah lantangnya. "Biarkan mereka, Ayah! Aku ingin melihat bukti kesetiaan Aaron kepadaku! Biarkan mereka bertanding dan kita lihat saja siapa yang lebih jantan!"

"Sarah, prajurit itu akan dihajar oleh Gonsalo," kata Kapten Armando agak lirih.

"Hemmm, biarlah kalau memang begitu. Akan tetapi aku tidak percaya laki-laki sombong semacam dia akan mampu menghajar Aaron." Dara ini lantas menoleh kepada Hay Hay sambil berkata, "Hay Hay, lihatlah betapa kekasihku Aaron membelaku. Dan aku percaya bahwa Aaron akan mampu membersihkan namaku dan menang dalam pertandingan ini!"

Hay Hay mengangguk, tersenyum, lantas meloncat turun dari atas kudanya. Dia maklum maksud yang tersembunyi di dalam ucapan Sarah tadi. Dara itu ingin melihat kekasihnya menang dan sengaja memberitahu kepadanya. Baiklah, dia akan menjamin supaya Aaron menang dalam pertandingan adu tinju itu.

Dua orang itu bertanding semakin seru. Karena Kapten Gonsalo memang seorang jago tinju yang kuat, dua kali Aaron sempat tercium kepalan tangannya, membuat pemuda itu terpelanting. Akan tetapi dia tidak mengeluh, segera bangkit berdiri dan melawan lagi.

"Pukul dia, Aaron. Demi aku, kau hajarlah orang kurang ajar itu!" Teriakan-teriakan Sarah ini mendatangkan semangat yang berkobar. Aaron mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan. Dia pun bukan seorang pemuda lemah. Dia telah belajar ilmu berkelahi, pandai bertinju, bermain pedang dan juga merupakan seorang penembak jitu.

Namun menghadapi Gonsalo, dia kalah pengalaman. Gonsalo mempunyai banyak gerak tipu yang licik, suka main curang dengan sikunya atau lututnya sehingga Aaron nampak terdesak. Pemuda yang tepi bibirnya sudah berdarah itu melawan mati-matian. Tiba-tiba saja, entah megapa, Gonsalo terhuyung dan kesempatan ini digunakan oleh Aaron untuk mengayunkan tinjunya. Dengan cepat sekali ayunan tinju kanannya meledak pada rahang Gonsalo yang segera terhuyung.

"Dessss….!"

Gonsalo terjengkang. Pukulan itu keras sekali dan tadi, tanpa sebab tertentu, secara tiba-tiba saja kaki kirinya seperti kram dan dia terhuyung sehingga terpukul lawan. Akan tetapi dia memang kuat. Begitu tubuhnya terjengkang dia sudah melompat bangkit kembali dan bagaikan seekor harimau dia menggereng dan menerjang lagi. Akan tetapi kembali terjadi keanehan. Tiba-tiba saja kedua lutut kakinya lemas, lantas dia pun jatuh berlutut. Aaron. sudah datang dengan tinju kanan kiri, dua kali dia meninju pangkal telinga dan dagu.

"Desss…! Desss...!”

Kini Gonsalo roboh. Walau pun dia berusaha untuk merangkak bangun, kepalanya pening dan dia pun roboh lagi, lalu bangkit duduk dan rnengguncang-guncang kepala.

Terdengar sorak-sorai dan ternyata banyak di antara para prajurit yang memihak kepada Aaron karena banyak di antara mereka yang diam-diam tidak suka kepada Gonsalo yang sombong dan keras terhadap bawahannya itu.

"Cukup, hentikan perkelahian!!" Tiba-tiba Kapten Armando berseru.

Sarah menghampiri Aaron lantas mereka berpelukan. Sarah mengusap sedikit darah dari pinggir bibir kekasihnya, lalu mereka berciuman di hadapan Armando dan semua prajurit. Kembali terdengar teriakan gembira.

Kapten Armando menghela napas panjang dan merasa dikalahkan puterinya. Kini semua orang tahu bahwa puterinya saling mencinta dengan Aaron, dan pemuda yang berpangkat prajurit biasa itu ternyata dapat membuktikan bahwa dia lebih jantan dari pada Gonsalo.

"Aaron, ketahuilah bahwa tadi Hay Hay sudah membantumu sehingga engkau menang," Sarah berbisik di dekat telinga kekasihnya.

Aaron membelalakkan mata memandang kepada Hay Hay yang juga memandang ke arah mereka sambil tersenyum. Kini mengertilah Aaron. Tadi dia juga merasa heran mengapa Gonsalo terhuyung sehingga dia dapat memukulnya, kemudian Gonsalo bahkan berlutut sehingga dia berhasil menaklukkannya. Dia tahu bahwa hal ini tidak wajar, kecuali kalau Gonsalo mendadak terserang penyakit. Kini mengertilah dia sesudah mendengar ucapan Sarah. Dia pun sudah banyak mendengar tentang adanya ‘pendekar’ di negeri asing ini.

Kini Gonsalo dibantu bangkit oleh anak buahnya. Kesempatan ini digunakan Sarah untuk menghampiri ayahnya dan dengan lantang dia berkata, "Ayah, kalau tidak ada Hay Hay, tentu saat ini aku tidak dapat bertemu kembali dengan Ayah. Karena itu aku minta agar jangan ada yang mengganggu Hay Hay."

Kapten Armando memandang kepada Hay Hay. Dia melihat betapa pemuda itu memiliki wajah yang cerah dan ramah, akan tetapi mata itu benar-benar mengejutkan, mencorong seperti mata harimau!

"Baiklah, dia boleh pergi. Akan tetapi kami akan menyerbu sarang perampok yang sudah menawanmu."

"Terserah kepada Ayah. Ada satu lagi permintaanku, Ayah."

"Apa lagi? Katakan dan cepat kembali ke benteng."

"Ayah, sesudah peristiwa ini aku tidak suka lagi tinggal di sini. Aku ingin pulang ke negeri kita. Aku ingin melanjutkan sekolah di perguruan tinggi."

Kapten Armando mengangguk-angguk. Kalau tidak ada puterinya di situ, dia akan merasa lebih bebas dan tidak khawatir. Puterinya terlalu nakal dan berandal, telah mendatangkan banyak kepusingan kepadanya.

“Boleh, boleh. Dalam kesempatan pertama engkau boleh berlayar pulang ke negeri kita."

"Aku minta diantar oleh Aaron!" seru pula Sarah.

"Tapi dia seorang prajurit yang bertugas di sini," bantah ayahnya.

"Tidak, Ayah. Setelah kejadian ini tentu dia akan diancam oleh Kapten Gonsalo. Lagi pula dia bukan prajurit biasa, dia calon menantumu Ayah. Di negeri kita dia dapat bekerja, dari pada di sini selama hidup dia hanya menjadi prajurit saja yang pangkatnya tidak pernah dinaikkan!"

Kapten Armando kembali merasa dikalahkan. Jelas bahwa puterinya memprotes dan dia pun merasa salah. Memang sengaja dia tidak menaikkan pangkat Aaron karena memang dia tidak setuju puterinya berpacaran dengan prajurit itu. Kini Sarah membuka semua itu di depan banyak prajurit dan dia akan nampak buruk sekali kalau dia tetap berkeras.

"Baiklah, dia akan mengantarmu pulang,” kata Kapten Armando.

"Terima kasih, Ayah...!" Sarah berteriak dan dia pun melepaskan Aaron, berlari kepada ayahnya, lalu memeluk ayahnya dan menciumi kedua pipi ayahnya. Mau tak mau Kapten Armando merasa terharu juga.

Sesudah menciumi ayahnya, Sarah kembali menghampiri Aaron. "Aaron, kalau tidak ada Hay Hay mungkin aku sudah mati, atau setidaknya tak mungkin kita akan dapat berjodoh. Semua ini berkat pertolongannya. Kau menyadari hal ini?"

Aaron mengangguk, lantas menggandeng tangan Sarah dan menghampiri Hay Hay yang masih berdiri sambil memandang peristiwa itu dengan hati gembira. Dia semakin kagum. Sarah memang hebat, pandai sekali memanfaatkan keadaan sehingga terkabullah semua keinginannya. Juga hatinya terasa lega sekali melihat Sarah telah berbaik kembali dengan ayahnya. Walau pun dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, namun melihat sikap mereka, dia pun dapat menduga bahwa Sarah telah berhasil.

Dengan wajah cerah dia menyambut Sarah yang bergandengan tangan dengan Aaron itu. "Berhasilkah engkau, Sarah?" tanyanya menyambut mereka.

"Berkat bantuanmu semuanya berhasil baik, Hay Hay. Ayah membolehkan aku pulang ke negeri kami diantar oleh Aaron."

Aaron juga mengulurkan tangan kepada Hay Hay. "Terima kasih," katanya. Itulah satu-satunya kata yang dikenalnya dari bahasa daerah. Hay Hay menyambut uluran tangan itu dengan hangat.

"Kalau begitu, aku mengucapkan selamat untukmu, Sarah," kata Hay Hay mengulurkan tangan kepada gadis itu. Akan tetapi Sarah tidak menyambut uluran tangan itu.

"Aaron, engkau tidak keberatan kalau aku mencium penyelamat kita?"

Aaron tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sarah lalu menghampiri Hay Hay yang masih mengulurkan tangannya, kemudian ia merangkul, menarik leher Hay Hay sehingga mukanya menunduk, lalu Sarah menciumnya. Bukan di dahi atau pun di pipi, melainkan di bibir. Ciuman yang hangat, yang mesra dan dilakukan dengan seluruh luapan perasaan yang berterima kasih. Hay Hay merasakan ini, dan dia pun merasa betapa pipinya basah oleh air mata gadis itu.

Sarah mengendurkan rangkulannya, kemudian berbisik, "Hay Hay, demi aku, perlihatkan kepandaianmu dan menghilang dari sini agar mereka percaya." Kemudian dia melepaskan rangkulannya dan berkata dengan suara lantang, "Hay Hay, selamat berpisah dan selama hidupku, aku tidak akan melupakanmu!" Dia mengusap air matanya.

Hay Hay terharu. "Semoga Tuhan selalu membimbingmu dan memberkahimu agar hidup berbahagia bersama Aaron, Sarah. Selamat tinggal!" Tiba-tiba Hay Hay meloncat ke atas, tinggi seperti terbang saja.

Semua orang terbelalak memandang. Laksana seekor burung saja pemuda itu melayang ke atas pohon, dan sesudah membuat salto maka dia pun lenyap di antara pohon-pohon! Tentu saja hal ini membuat semua orang merasa kagum dan kini semua orang, termasuk Gonsalo sendiri dan juga Armando, percaya akan cerita Sarah bahwa yang menolongnya adalah seorang pendekar sakti!

Sarah lalu mengajak Aaron untuk pulang ke benteng, sedangkan Kapten Armando dibantu oleh Kapten Gonsalo bersama pasukannya lalu melanjutkan perjalanan menyerbu sarang gerombolan di bukit bergoa-goa. Agaknya Gonsalo ingin melampiaskan rasa sakit hatinya kepada mereka, maka segera terdengar letusan-letusan senjata api pada waktu sarang itu diserbu. Terjadilah pembantaian dan hanya sedikit saja di antara anggota gerombolan itu yang dapat lolos. Lima orang Harimau Cakar Besi yang menjadi pemimpin mereka tewas.

Peristiwa ini disusul oleh amukan orang-orang Portugis yang sejak terjadinya penyerbuan ke sarang perampok itu sudah memperlihatkan sikap mereka yang asli. Mereka menjadi ganas dan kejam, dan sewenang-wenang terhadap rakyat. Mereka merasa diri kuat, apa lagi karena mereka sudah berhasil mengikat para pembesar daerah untuk bersekutu, dan dibantu pula oleh para bajak laut Jepang yang kemudian mempergunakan kesempatan itu untuk membonceng demi keuntungan diri sendiri.

Sarah dan Aaron segera berangkat dengan kapal pertama yang membawa barang-barang dagangan, meninggalkan Cang-cow dan berlayar ke tanah airnya. Di sana telah menanti suatu kehidupan baru yang cemerlang, yang jauh bedanya dengan kehidupan di Cang-cow, hidup dalam benteng yang penuh dengan kekerasan dan kelicikan.

********************

Kini kedua orang itu, Liong Ki alias Sim Ki Liong, dan Liong Bi alias Cu Bi Hwa, bersikap hati-hati sekali. Mereka maklum bahwa mereka telah mendapatkan kedudukan yang baik sekali, dipercaya oleh Menteri Cang, seorang di antara semua menteri yang paling besar pengaruh dan kekuasaannya.

Mereka berdua memang ingin sekali meningkatkan kedudukan mereka hingga yang paling tinggi, akan tetapi mereka berdua adalah orang-orang cerdik yang maklum bahwa sekali mereka salah langkah, bukan tingkat tertinggi yang mereka peroleh, melainkan kejatuhan yang akan amat menyakitkan.

Walau pun mereka telah bertekad untuk menjadi menantu Menteri Cang dengan merayu putera dan puteri pembesar itu, tapi mereka berdua tidak terlalu mendesak. Mereka ingin agar Cang Sun dan adiknya, Cang Hui, dengan wajar jatuh cinta kepada mereka, walau pun tentu saja dibantu oleh kekuatan sihir mereka. Hal itu harus terjadi secara wajar dan perlahan-lahan agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Apa lagi di situ terdapat Mayang. Gadis ini agaknya memperlihatkan sikap curiga kepada mereka, dan nampak tidak senang kalau melihat Liong Ki mendekati Cang Hui dan Liong Bi mendekati Cang Sun. Mereka harus berhati-hati, karena Mayang dapat saja menjadi penghalang terbesar bagi tercapainya cita-cita mereka.

Karena mereka mengaku sebagai kakak-beradik, tentu saja persekutuan antara mereka itu menjadi lancar dan mudah. Tidak ada orang menaruh kecurigaan kalau mereka berada berduaan saja sehingga mudahlah bagi mereka untuk mengatur siasat dan merundingkan segala langkah mereka.

Meski pun bukan merupakan tokoh resmi, namun Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa yang kini dikenal sebagai Liong Bi adalah murid Pek-lian-kauw dan sudah banyak jasanya untuk perkumpulan pemberontakan itu. Oleh karena itu di kota raja pun dia kadang mengadakan hubungan dengan mata-mata Pek-lian-kauw dan dia mendengar akan semua pergerakan Pek-lian-kauw, mendengar pula akan keadaan di Cang-cow di mana para pembesarnya bersekongkol dengan orang-orang Portugis, dengan para bajak laut Jepang dan tentu saja dengan Pek-lian-kauw.

Bahkan dia sudah mendengar pula bahwa seorang siucai tua bernama Yu Siucai, sudah menulis laporan tentang persekutuan itu dan bermaksud menyerahkan laporan itu kepada kaisar di kota raja. Menurut mata-mata Pek-lian-kauw itu, surat laporan Yu Siucai itu kini berada di tangan seorang pemuda dan mereka sedang membantu persekutuan Cang-cow untuk mencari pemuda itu dan sebisa mungkin merampas surat laporan itu sebelum jatuh ke tangan kaisar.

Mendengar ini, Liong Bi segera berunding dengan Liong Ki. Mereka mengambil keputusan untuk bersikap waspada karena menurut keterangan mata-mata Pek-lian-kauw itu, orang yang merampas surat laporan mungkin sekali akan menyerahkan surat yang membuka rahasia persekutuan itu kepada Menteri Cang Ku Ceng atau Menteri Yang Ting Hoo.

Pada suatu hari, masih pagi sekali, Liong Ki dan Liong Bi sudah keluar dari istana Menteri Yang. Mereka pergi ke taman bunga yang luas di sebelah barat kota raja. Taman bunga ini memang terbuka untuk umum. Mereka mencari tempat di sini agar leluasa bicara dan mengatur siasat selanjutnya. Sedangkan Menteri Cang pagi sekali tadi sudah berangkat ke istana kaisar untuk menghadiri pertemuan antara para menteri yang menghadap kaisar untuk membicarakan segala permasalahan negara.

Mereka berdua duduk di bangku panjang di tepi kolam ikan. Tempat ini terbuka sehingga mereka akan dapat melihat kalau ada orang lain mendekat sehingga percakapan mereka tidak akan dapat didengar orang lain. Juga di sekitar situ tidak ada tempat persembunyian yang memungkinkan orang lain mengintai dan mendengarkan secara sembunyi-sembunyi.

Liong Bi nampak murung dan begitu mereka duduk di atas bangku itu, dia segera berkata dengan wajah bersungut-sungut, "Sialan! Kulihat Ciang Sun malah makin tertarik kepada Mayang. Gadis itu sungguh merupakan penghalang besar bagi kita."

"Bersabarlah, Bi-moi. Kelak bila mana dia sudah menjadi milikku, tentu dia akan mentaati semua perintahku."

"Hemmm, sampai kapan? Kita tidak berdaya. Dia kebal terhadap sihir, juga tidak terbujuk rayuanmu, lalu bagaimana? Ia malah menjadi berbahaya sekali. Menggunakan kekerasan pun tidak mudah karena dia cukup lihai. Dia menjadi ancaman bagi kita, sekarang sudah kelihatan curiga kepada kita, membuat kita tidak leluasa bergerak. Lihat, untuk berunding pun kita terpaksa mempergunakan tempat ini, tidak berani di istana menteri. Tidak, Ki-ko, kita harus bertindak, kita harus menyingkirkannya." kata Liong Bi.

Dia dan Liong Ki membiasakan diri untuk saling menyebut Bi-moi dan Ki-koko agar tidak kesalahan sebut kalau berada di depan orang lain. Sebutan itu kini telah akrab dan meski pun Su Bi Hwa lebih tua satu dua tahun, namun dia tidak merasa canggung disebut adik.

Sim Ki Liong atau Liong Ki mengerutkan alisnya mendengar ucapan itu, "Menyingkirkan Mayang? Apa maksudmu?"

"Bunuh dia dan lenyapkan. Apa lagi?" jawab Liong Bi singkat.

Liong Ki terkejut dan kembali mengerutkan alisnya. Dia bukanlah orang yang tidak biasa membunuh. Entah sudah berapa banyak nyawa-nyawa orang tidak berdosa yang tewas di tangannya. Akan tetapi sekali ini yang akan dibunuh adalah Mayang! Dia harus mengakui bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis itu! Dia merasa tidak tega kalau sampai Mayang dibunuh.

"Gila kau!" desisnya. "Aku mencintanya!"

Liong Bi menggerakkan cuping hidungnya dan mencibirkan bibirnya. "Cinta? Huh, lelucon yang konyol! Kalau dia kehilangan kecantikannya, ke mana larinya cintamu itu? Kalau dia menjadi penghalang kesenangan kita, bahkan mengancam kedudukan kita dan mungkin akan menghancurkan cita-cita kita, apakah engkau tetap akan mencintanya? Apakah kau ingin mampus demi cintamu kepadanya? Konyol dan tolol!"

Bagi seorang wanita seperti Liong Bi atau Tok-ciang Bi Moli Su Bi Hwa, dalam kehidupan ini tidak ada cinta. Yang dikenalnya hanyalah cinta nafsu, kesenangan yang ditimbulkan karena hubungan antara manusia. Kalau nafsu birahinya terpuaskan maka dia mengaku cinta. Kalau kebutuhan hidupnya dicukupi bahkan sampai berlebihan maka dia mengaku cinta. Kalau hatinya disenangkan maka dia mengaku cinta. Cintanya kepada seseorang tidak ada bedanya dengan sayangnya kepada sebuah benda mainan yang mengasyikkan dan menyenangkan hatinya.

"Jangan berkata demikian, Bi-moi. Engkau tahu, sudah banyak kualami bersama Mayang. Aku sudah terlanjur amat suka kepadanya. Sebelum aku berhasil memilikinya, bagaimana engkau dapat bicara tentang membunuhnya?”

Sebetulnya tidak banyak bedanya antara Ki Liong dan Bi Hwa ini. Sim Ki Liong atau Liong Ki juga mengukur cinta dari kesenangan dan kepentingan diri pribadi saja. Memang ada sesuatu pada diri Mayang, sesuatu yang sangat menarik hatinya, yang membuat dia ingin selalu berdekatan dengan dara itu, membuat dia ingin memiliki Mayang selama hidupnya. Bahkan untuk dapat memilikinya, dia tadinya rela untuk mengubah jalan hidupnya.

Namun semua itu pun tidak terlepas dari pengaruh nafsu. Dia tergila-gila kepada Mayang karena ada sesuatu yang amat menarik hatinya dan yang dianggapnya sangat indah. Dia akan rela melakukan apa pun untuk mendapatkan diri Mayang. Akan tetapi itu bukanlah cinta. Itu hanya nafsu walau mencoba untuk mengenakan pakaian atau bentuk lain.

Cinta semacam ini, kalau sampai berhasil memiliki orang yang dicintanya, maka cinta itu makin lama akan semakin menipis bagaikan berkobarnya api yang akhirnya padam dan hanya tinggal asapnya saja. Nafsu dalam bentuk apa pun juga memiliki sifat yang sama. Menggelora ketika sedang mengejar, belum memiliki dan belum terpuaskan. Akan tetapi sekali yang dikejar itu sudah didapat, maka akan timbul kebosanan pada nafsu sehingga mendorong kita untuk mencari yang lain lagi, yang dianggapnya lebih menarik dan lebih baik. Dan demikian seterusnya, sekali kita menjadi hamba nafsu, maka kita akan selalu dicengkeram dan tak berdaya. Kita dipermainkan nafsu seperti kanak-kanak yang asyik dengan sebuah mainan, namun begitu datang yang baru, maka yang lama menjadi tidak menarik lagi dan membosankan.

Nafsu menjadi pendorong bagi kita untuk mencari kepuasan dalam segala hal sehingga terjadilah kemajuan-kemajuan dalam hal lahiriah. Sarana kesejahteraan dan kesenangan lahiriah semakin lama semakin bertambah. Namun nafsu pula yang menyeret kita untuk mundur dalam hal rohaniah.

Ketika Liong Bi hendak membantah lagi, tiba-tiba mereka mendengar suara ribut-ribut, tak jauh dari tempat mereka duduk, dan ketika mereka menengok, mereka melihat lima orang laki-laki yang melihat pakaiannya tentulah orang-orang muda yang kaya-raya sedang ribut mengeluarkan kata-kata teguran yang nadanya keras dan marah kepada seorang hwesio berjubah kuning. Mereka berdua tertarik sekali dan mendekat.

Hwesio itu berusia kurang lebih enam puluh tahun, kepalanya gundul dan perutnya gendut sekali. Karena gemuknya maka dia kelihatan pendek. Yang aneh adalah warna kulit pada bagian yang tidak tertutup jubah kuning, yaitu di bagian leher dari kedua tangan sampai di atas pergelangan. Kulit leher dan lengan itu terlihat hitam kehijauan seperti baja! Mukanya yang bulat itu nampak lucu karena berseri dan mulutnya tersenyum-senyum sinis, akan tetapi matanya mencorong!

Hwesio itu tidak mempedulikan lima orang muda yang marah-marah itu. Dia melanjutkan makan dengan lahapnya, beberapa sayuran dari mangkok-mangkok besar yang berada di atas tanah, di depan dia bersila. Liong Ki dan Liong Bi melihat bahwa mangkok-mangkok itu berisi masakan dari daging, bahkan di situ terdapat pula seguci besar arak.

"Hwesio tua yang jahat, berani engkau mencuri hidangan kami?!" teriak seorang di antara lima pemuda berpakaian mewah itu.

"Engkau ini seorang hwesio, akan tetapi makan daging dan minum arak yang kau rampas dari kami!" teriak orang ke dua.

"Orang tua tak tahu malu. Engkau ini pendeta atau perampok?"

"Hayo pergi dari sini dan tinggalkan makanan kami!"

Hwesio tua itu tersenyum-senyum saja ketika menghadapi kemarahan lima orang pemuda hartawan itu. Sambil mengunyah makanan dia menoleh dan memandang kepada mereka, dan sebelum menjawab dia menuangkan arak dari guci ke mulutnya. Sesudah tidak ada lagi makanan di mulutnya, barulah dia mejawab.

"Omitohud, kalian ini hartawan-hartawan muda macam apa? Pantasnya kalian bersyukur karena makanan kalian dipilih oleh pinceng. Memberi makanan kepada seorang hwesio akan mendatangkan berkah yang berlipat ganda, kenapa kalian banyak rewel?"

Lima orang pemuda itu menjadi makin marah. Mereka memberi isyarat kepada tiga orang lelaki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang dilihat dari pakaian dan sikap mereka, jelas bahwa mereka adalah jagoan-jagoan yang mengawal lima orang pemuda itu.

"Seret dia pergi dari sini!" perintah seorang di antara lima orang pemuda itu. "Pendeta tua itu perlu dihajar!"

Tiga orang jagoan itu bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat. Agaknya mereka pun merasa sungkan jika harus menangani seorang pendeta tua gendut. Bagaimana pun juga biasanya para hwesio dihormati dan dimintai berkah, sekarang mereka harus menghajar seorang pendeta, tentu saja mereka merasa sungkan. Mereka tak akan merasa sungkan kalau disuruh menghajar orang biasa. Karena itu seorang di antara mereka yang mukanya kuning pucat lalu menghampiri hwesio itu dan dengan sikap hormat dia berkata.

"Maafkan, Losuhu, harap Losuhu tidak menyusahkan kami dan suka pergi saja dari sini, jangan mengganggu para kongcu yang sedang bersenang-senang di taman ini.”

"Omitohud, kalian ini tiga orang anjing penjilat, kalianlah yang cepat pergi dari sini, jangan mengurangi selera makan pinceng," kata hwesio itu dengan senyum lebar dan suara yang mengandung ejekan.

"Losuhu, kami bersikap hormat, akan tetapi engkau malah memaki kami. Jangan mengira kami takut menyeretmu keluar dari taman ini!" bentak jagoan ke dua.

"Heh-heh-heh, kalau pinceng tidak mau pergi, kalian mau apa?"

"Terpaksa kami akan menyeretmu pergi!" bentak si muka kuning yang sudah kehilangan kesabarannya.

"Ha-ha-ha-ha, anjing-anjing yang gonggongannya nyaring tidak dapat menggigit!" hwesio itu tertawa, kemudian melanjutkan makan minum dengan lahapnya.

Mendengar ejekan ini, tiga orang tukang pukul itu tentu saja menjadi semakin marah dan serentak mereka menerjang ke depan hendak menangkap dan menyeret hwesio gendut yang sedang makan itu.

"Pergilah kalian anjing-anjing penjilat!" hwesio itu berkata.

Dia lalu membuat gerakan seperti menepiskan tangan kirinya ke arah tiga orang jagoan itu dan akibatnya membuat Liong Ki dan Liong Bi yang melihat dari jarak agak jauh menjadi terbelalak. Tiga orang jagoan itu mendadak saja terjengkang seperti dipukul atau didorong tangan yang tidak nampak. Mereka terbanting keras lantas mengaduh-aduh karena tubuh mereka terus terguling-guling seperti diseret angin yang amat kuat.

Liong Ki dan Liong Bi, dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu melihat betapa debu dan daun kering berhamburan dan beterbangan seperti ditiup angin dan beberapa helai daun melayang ke arah mereka. Mereka mengebutkan tangan ke arah daun-daun itu namun alangkah kaget hati mereka ketika merasa betapa daun kering itu terasa berat dan keras seperti batu saja ketika mereka tangkis.

Tiga orang jagoan itu babak belur. Mereka tidak bergulingan lagi, tapi telah bangkit duduk lalu dengan muka pucat dan mata terbelalak mereka memandang ke arah hwesio itu.

"Hemm, kalian orang-orang muda kaya-raya sungguh tidak tahu malu. Kalian bergelimang kemewahan, berpesta-pora di taman, di depan orang-orang yang kelaparan, benar-benar bermuka tebal. Kalian perlu dicuci sampai bersih!" kata pula hwesio itu dengan mulutnya tetap menyeringai.

Dan kembali tangannya membuat gerakan seperti mendorong ke arah lima orang pemuda hartawan yang juga kelihatan kaget bukan main ketika melihat tiga orang jagoan mereka roboh secara aneh.

Dan tiba-tiba mereka berlima mengeluarkan teriakan kaget karena tubuh mereka seperti disambar angin keras yang tidak dapat mereka lawan. Mereka terhuyung dan tanpa dapat dicegah lagi mereka berlima terlempar ke dalam kolam ikan. Terdengar suara berjebur lima kali dan air muncrat tinggi, ikan-ikan dalam kolam berenang ketakutan.

Thanks for reading Jodoh Si Mata Keranjang Jilid 17 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »