Social Items

Han Siong kagum sekali. Pedang itu bukan saja merupakan pusaka ampuh, akan tetapi juga digerakkan oleh tangan ahli. Dia cepat mempergunakan ginkang-nya untuk meloncat dan mengelak. Namun pedang itu bergerak terus dengan sangat cepatnya sehingga Han Siong terpaksa harus berloncatan ke sana-sini. Dia semakin kagum.

Tentu saja ilmu pedang lawan itu sangat hebat karena Cun Sek memainkan ilmu pedang Cin-ling-pai yang mengandung unsur ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang amat tinggi tingkatnya. Walau pun dia tidak menguasai Siang-bhok Kiam-sut sepenuhnya, akan tetapi cukuplah untuk membuat dia menjadi seorang ahli pedang yang amat lihai.

Namun sekali ini Cun Sek berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki tingkat lebih tinggi dalam ilmu silat. Han Siong masih lebih pandai, baik dalam ilmu silat mau pun lebih kuat dalam ilmu sinkang dan ginkang. Maka, walau pun Cun Sek menyerangnya bertubi-tubi, tubuh Han Siong berkelebatan dan selalu terhindar dari sambaran pedang, bahkan kini Han Siong mulai membalas dengan serangan yang tak kalah ampuhnya, meski hanya mempergunakan tangan dan kaki.

Dengan Pek-hong Sin-ciang, beberapa kali Han Siong dapat membuat Cun Sek terdesak dan terhuyung. Bahkan pernah pedang pusaka Hong-cu-kiam di tangannya sudah hampir terlepas setelah lengan kanannya terkena tendangan kaki Han Siong. Kini Cun Sek mulai terdesak.

"Haiiitttt...!" Cun Sek yang menjadi amat penasaran, dengan nekat memutar tubuh setelah tadi dia menghindarkan diri dari tendangan kaki kiri Han Siong, kemudian sambil berputar, pedangnya menusuk ke arah perut lawan.

"Hemmm... huhhhh!" Han Siong membentak dan tangan kirinya mendorong dari samping. Dengan tangan kosong, dengan telapak tangannya, Han Siong mendorong pedang yang luar biasa tajamnya itu.

"Plakkk!"

Pedang itu terpukul menyerong, dan pada saat itu pula tangan kanan Han Siong sudah menampar ke arah kepala lawan. Cun Sek terkejut bukan main. Telapak tangan lawan itu mampu menangkis pedangnya, bahkan sekarang tiba-tiba ada angin yang menyambar ke arah kepalanya. Dia cepat miringkan tubuh dan menarik kepalanya ke belakang. !

"Plakkk!"

Pundaknya terkena srempetan telapak tangan Han Siong hingga Cun Sek terpelanting. Ia terkejut sekali, cepat bergulingan menjauh sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Ketika dia meloncat bangun, ternyata lawannya tidak mengejar, melainkan berdiri tegak sambil memandang kepadanya dengan senyum.

Mulailah Cun Sek merasa jeri karena dia maklum bahwa dia sedang menghadapi lawan yang mempunyai ilmu kesaktian. Pada saat itu nampak bayangan berkelebat dan ternyata Sim Ki Liong sudah berdiri di situ.

Sim Ki Liong dan Pek Han Siong berdiri saling pandang dengan sinar mata mencorong. Mereka memang sebaya dan bentuk tubuh mereka juga sama. Keduanya sama tampan, hanya sikap Ki Liong terlihat lebih halus, kehalusan yang menyembunyikan keliaran yang terkendali, dan kadang kala mata Ki Liong mencorong aneh dan kejam, sedangkan Han Siong sebaliknya selalu bersikap tenang sekali.

Ki Liong segera mengenal Han Siong dan dia pun mengangguk-angguk. "Hemm, kiranya engkau yang datang membikin ribut. Pek Han Siong, ternyata kini engkau sudah menjadi jagoan yang mewakili Pek-tiauw-pang. Berapa dia membayarmu? Apakah dibayar dengan puterinya yang cantik itu?"

Apa bila orang lain yang menerima ejekan dan penghinaan ini, tentu akan menjadi marah. Akan tetapi Han Siong adalah seorang pemuda gemblengan. Dia hanya tersenyum, lantas menjawab dengan halus pula.

"Sim Ki Liong, engkau sudah tahu siapa engkau dan siapa aku. Setelah gagal membantu pemberontakan mendiang Lam-hai Giam-lo dan engkau beruntung dapat meloloskan diri, kini engkau melakukan kejahatan baru dengan menguasai semua perkumpulan yang kau peras, juga mempengaruhi para pejabat daerah dan bersekutu dengan orang-orang jahat. Engkau melakukan pembunuhan dengan semena-mena. Dan engkau tahu bahwa sejak menentang Lam-hai Giam-lo hingga sekarang aku selalu akan menentang segala macam bentuk kejahatan! Aku bukan sekedar wakil Pek-tiauw-pang saja, melainkan wakil seluruh masyarakat yang menderita karena kejahatanmu. Aku sudah mendengar bahwa engkau bersekutu dengan Tok-sim Mo-li. Di mana dia sekarang? Mengapa tidak keluar sekalian?"

Sambil berkata demikian, Han Siong menendang sebuah batu sebesar kepalan tangan yang berada di depan kakinya. Batu itu meluncur ke arah semak-semak dan tiba-tiba saja batu itu tertangkis dan runtuh. Dari balik semak-semak muncullah Tok-sim Mo-li Ji Sun bi, diikuti oleh tiga orang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kesemuanya berjubah pendeta, dengan rambut panjang digelung ke atas seperti tosu (pendeta Agama To).

Melihat munculnya wanita cantik ini, senyum di bibir Han Siong melebar. "Nah, sekarang baru lengkap, semua biang keladi kekacauan telah berkumpul di sini!" Ucapan ini sengaja dikeluarkan agak keras karena memang merupakan isyarat bagi Ouw Pangcu dan kawan-kawannya untuk mulai dengan penyerbuan mereka ke puncak Kim-lian-san.

"Pek Han Siong, selamat berjumpa kembali dan selamat jalan ke neraka!" kata Ji Sun Bi sambil mencabut sepasang pedangnya. "Sekarang saatnya kami membalas dendam atas kekalahan kami dahulu!"

Sim Ki Liong sudah maklum akan kelihaian Pek Han Siong. Dia tidak malu-malu lagi untuk mencabut pula senjatanya, yaitu Gin-hwa-kiam yang berkilauan seperti perak.

Melihat betapa tiga orang muda yang jahat dan lihai itu sudah mencabut senjata masing-masing, dan dia tahu bahwa seperti juga Cun Sek, Ki Liong memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh, Han Siong cepat mengerahkan tenaga saktinya. Sepasang matanya memancarkan cahaya aneh, ada pun suaranya terdengar melengking tinggi penuh wibawa ketika dia berkata,

"Kalian bertiga hendak mengeroyokku? Baiklah, aku pun siap untuk melayani kalian satu lawan satu. Lihat, aku telah menjadi tiga orang seperti kalian!"

Tiga orang muda itu terbelalak, terkejut bukan main melihat betapa tubuh Han Siong telah terpecah menjadi tiga dan kini di depan mereka berdiri tiga orang Pek Han Siong! Ji Sun Bi maklum akan kekuatan sihir yang dipergunakan Han Siong dan memang dia telah siap untuk menghadapi kemungkinan itu, maka ia cepat berseru sambil menoleh ke belakang.

"Sam-wi Susiok (Paman Guru Bertiga), tolong bantulah kami!"

Ji Sun Bi adalah murid dari mendiang Min-san Mo-ko, seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang selain pandai ilmu silat, juga ahli dalam hal ilmu sihir. Ji Sun Bi sendiri tidak pernah mempelajari ilmu sihir selengkapnya, hanya ilmu guna-guna untuk menjatuhkan hati pria saja. Akan tetapi, berkat gurunya dia mempunyai hubungan dengan Pek-lian-kauw.

Ketika Ki Liong menjadi ketua Kim-lian-pang dan dia menjadi pembantu utama atau wakil ketua, dalam usaha mereka untuk memperkuat Kim-lian-pang, maka Ji Sun Bi menemui beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw dan berhasil membujuk tiga orang pendeta Pek-lian-kauw yang terhitung sute (adik seperguruan) mendiang Min-san Mo-ko, untuk membantu Kim-lian-pang.

Tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu menyanggupi dan kini mereka berada di sana untuk membantu gerakan-gerakan Kim-lian-pang yang mendatangkan untung besar itu. Ketika Han Siong muncul, kebetulan mereka berada di puncak sehingga mereka dapat ikut pula turun menghadapi lawan.

"Jangan khawatir!" terdengar seorang di antara mereka berseru pada saat Ji Sun Bi minta bantuan. Tadi mereka sempat melihat betapa pemuda itu menggunakan sihir yang sangat kuat sehingga mereka sendiri pun terpengaruh dan mereka melihat betapa tubuh pemuda Itu berubah menjadi tiga.

Mereka bertiga maklum bahwa kekuatan sihir pemuda itu memang sangat hebat. Mereka tak akan mampu menandinginya tanpa menggabungkan kekuatan, maka mereka segera duduk bersila, bergandeng tangan dan mengerahkan kekuatan mereka. Seorang di antara mereka, yang berada di sudut kki, segera mengeluarkan kata-kata yang juga melengking tinggi berwibawa.

"Pemuda itu hanya seorang! Yang dua hanya bayangan dan kami perintahkan agar kedua bayangan itu lenyap!" Mereka lalu mengeluarkan suara mengaung-ngaung seperti suara anjing meratapi bulan pada tengah malam, suara yang menyeramkan dan mengeluarkan getaran kuat.

Ki Liong, Cun Sek dan Sun Bi memandang kepada Han Siong. Dan benar saja, dua di antara tubuh Han Siong itu perlahan-lahan lenyap, tinggal seorang lagi saja. Akan tetapi mendadak menjadi tiga lagi, lalu yang dua lenyap lagi. Maka tahulah mereka bahwa telah terjadi pertempuran kekuatan sihir antara Han Siong dan tiga orang tosu Pek-lian-kauw.

Han Siong sendiri sebetulnya mampu menandingi kekuatan sihir tiga orang Pek-lian-kauw itu. Akan tetapi suara mereka sungguh amat mengganggunya dan jika dilanjutkan, dalam keadaan adu tenaga sihir itu kemudian dia dikeroyok tiga, maka keadaannya berbahaya juga. Karena itu, ketika tiga orang itu mulai menggerakkan pedang, dia pun menyimpan kekuatan sihirnya dan dirinya berubah menjadi satu lagi.

Ki Liong sudah menggerakkan pedang Gin-hwa-kiam dan sinar perak menyambar ke arah Han Siong. Pemuda ini cepat mengelak dengan loncatan ke kiri. Dia disambut oleh Ji Sun Bi dengan sepasang pedangnya, sedangkan di belakang pemuda itu Cun Sek juga sudah menggerakkan pedang Hong-cu-kiam untuk mengeroyok.

Han Siong melihat gerakan mereka dan maklum bahwa sekali ini dia menghadapi bahaya. Tiga orang itu adalah orang-orang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan ketiganya memegang senjata. Kalau dia ingin menyelamatkan diri, sebenarnya mudah saja baginya untuk melarikan diri dari tempat itu. Akan tetapi dia harus dapat menahan mereka supaya Ouw Pangcu beserta kawan-kawannya dapat menyerbu sarang Kim-lian-pang di puncak. Kalau dia melarikan diri, tentu tiga orang ini akan mengamuk dan mungkin Ouw Pangcu bersama semua kawannya akan terbasmi dan dibantai!

Tiba-tiba saja dia mengeluarkan bertakan nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke arah Ji Sun Bi. Wanita ini terkejut ketika melihat tubuh Han Siong menyambar dari atas seperti seekor burung garuda. Dia menyambutnya dengan bacokan sepasang pedangnya yang membuat gerakan menggunting dari kanan kiri!

Gerakan Ji Sun Bi ini berbahaya sekali terhadap tubuh Han Siong yang sedang melayang dan menyambar turun. Akan tetapi hal ini sudah di perhitungkan oleh Han Siong. Melihat wanita itu menggerakkan sepasang pedangnya, dia pun lantas membuat gerakan dengan tubuhnya sehingga tubuh yang meluncur turun itu mendadak terlempar ke atas membuat poksai (salto) dengan amat cepatnya. Tentu saja serangan Ji Sun Bi luput dan kini tubuh Han Siong telah turun di belakang wanita itu.

Ji Sun Bi adalah seorang ahli silat yang lihai. Dengan cepat dia memutar tubuhnya hingga kedua pedangnya juga ikut berputar, yang kanan membabat leher lawan sedangkan yang kiri menyusul dengan tusukan ke arah perut!

Han Siong sudah siap menghadapi ini. Dia segera merendahkan tubuh sehingga pedang yang menyambar leher itu lewat dl atas kepala, lalu dia menggeser kaki ke depan, sambil miringkan tubuh menghindarkan tusukan tangan kanannya membuat gerakan mendorong dengan pengerahan tenaga sinkang ke arah tangan Sun Bi yang menusukkan pedang.

"Lepaskan!" bentaknya dan bentakan ini pun mengandung wibawa memerintah yang amat kuat. Tanpa dapat dicegah lagi pedang itu terlepas dari tangan Sun Bi dan sudah pindah ke tangan kanan Han Siong.

Sun Bi terkejut dan cepat ia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh. Akan tetapi ternyata Han Siong tidak menyusulkan serangan melainkan bermaksud merampas sebatang pedang saja.

Kini Cun Sek dan Ki Liang telah menyerang lagi dari kanan kiri. Han Siong mengelak dan membalas dengan pedang rampasan, juga dengan tamparan tangan kiri. Dia tidak berani menggunakan pedang itu untuk menangkis. Meski pun pedang rampasan dari Sun Bi tadi bukan pedang biasa, melainkan sebatang pedang yang baik sekali biar pun terlalu ringan baginya, tetapi besar sekali kemungkinan akan patah jika dipergunakan untuk menangkis pedang sinar emas dan pedang sinar perak dari dua orang muda itu.

Ji Sun Bi yang marah sekali karena sebatang pedangnya terampas, kini sudah maju pula menyerang. Segera Han Siong merasa terdesak bukan main. Dia terpaksa mengeluarkan seluruh ilmu ginkang-nya untuk mengelak ke sana-sini dan hampir tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk membalas serangan. Bahkan ketika terpaksa dia menangkis Hong-cu-kiam yang menyambar dahsyat dari belakang, ujung pedang rampasan itu patah, seperti yang telah dikhawatirkannya.

Sementara itu, tiga orang tosu itu masih duduk bersila dan kini mereka pun membantu pengeroyokan dengan serangan suara mereka! Mereka membuat suara yang seperti tadi, seperti anjing-anjing melolong, sungguh mengerikan dan menyayat hati.

Tentu saja hanya Han Siong yang merasakan gangguan ini karena lolongan itu memang ditujukan kepadanya. Kalau saja dia tidak sedang dikeroyok tiga orang lawan tangguh ini sehingga seluruh perhatiannya harus dicurahkah untuk menyelamatkan diri menghadapi serangan maut itu, tentu dia akan mampu melawan suara yang sangat mengganggu itu. Semakin repotlah Han Siong karena serangan suara ini.

Akan tetapi hatinya segera lega ketika terdengar sorak sorai dibarengi api dan asap yang mengepul dari puncak. Nampaknya Ouw Pangcu sudah berhasil menyerang dengan anak panah berapi yang membakar sarang itu, siasat yang digunakan untuk memancing keluar seluruh anak buah Kim-lian-pang dan Hek-tok-pang.

Tiga orang pengeroyok itu terkejut sekali melihat kepulan asap dari puncak. Akan tetapi mereka enggan meninggalkan Han Siong yang sudah terdesak itu karena kalau pemuda lihai ini tidak dirobohkan lebih dulu, maka tetap saja keadaan mereka terancam.

"Mari kita habiskan dia dulu sebelum menyerang yang lain!" kata Sim Ki Liong dan dia pun segera mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Murid Pendekar Sadis ini memang lihai bukan main dan hanya berselisih sedikit saja jika dibandingkan dengan Han Siong. Sebab itu desakannya yang diikuti dua orang kawannya membuat Han Siong kembali terhuyung, dan terpaksa Han Siong menggerakkan pedang buntungnya untuk menangkis sinar perak yang menyambar ke arah kepalanya.

"Krakkk...!"

Pedangnya kembali patah dan kini hanya tinggal sedikit sisanya. Dia membuang gagang pedang itu dan pada saat itu pula ujung sepatu kaki kanan Ki Liong sempat menyambar ke arah pahanya sehingga dia pun terpelanting! Namun ketika sinar perak dan sinar emas menyambar, dengan amat cekatan dia sudah melesat lagi ke samping sehingga terhindar dari bahaya maut.

Tangannya kini sudah memegang sebatang ranting pohon yang dipatahkannya ketika dia meloncat menghindarkan diri tadi Sebatang ranting akan lebih berguna dari pada pedang rampasan yang kaku tadi. Ranting yang lentur mudah sekali menerima penyaluran tenaga sinkang dan tidak mudah dipatahkan pedang pusaka.

Mulailah Han Siong kembali melawan mati-matian. Dia belum mau melarikan diri, hendak memberi kesempatan kepada Ouw Pangcu hingga berhasil menumpas perkumpulan jahat itu. Tendangan yang mengenai pahanya tadi tidak menimbulkan luka karena dia tadi telah melindungi pahanya dengan kekebalan sinkang, dan kini akibatnya hanya mendatangkan rasa nyeri sedikit. Meski pun demikian tetap saja gerakannya menjadi agak canggung dan dia pun semakin terdesak, terutama sekali suara melolong-lolong dari tiga orang tosu itu sungguh membuat dia semakin bingung.

Tiba-tiba saja nampak bayangan biru berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah muncul lagi seorang pemuda yang berpakaian biru-biru dengan garis pinggir berwarna kuning. Kepala dan mukanya tertutup sebuah caping lebar dan di punggungnya terdapat sebuah buntalan kain kuning. Begitu tiba, pemuda ini tertawa bergelak dan menghampiri tiga orang tosu itu, tangannya membawa sebatang pendek ranting pohon.

"Ha-ha-ha, pantas saja suaranya gaduh sekali. Ternyata di sini ada tiga ekor anjing yang sedang menggonggong berebut tulang! Nah, ini kuberi tulangnya, boleh kalian tiga ekor anjing memperebutkannya!" Dia pun melemparkan sepotong kayu tadi ke arah tiga orang tosu dan sungguh luar biasa sekali.

Tiga orang tosu yang tadinya bersila dan bergandeng tangan sambil mengeluarkan suara melolong untuk menyerang Han Siong, kini tiba-tiba saja merangkak-rangkak dan saling memperebutkan kayu itu dengan mulut mereka, persis tiga ekor anjing memperebutkan tulang. Pada saat kepala mereka saling bertumbukan, barulah mereka sadar dan mereka saling pandang dengan mata terbelalak.

"Apa... apa yang terjadi...?" Mereka bertiga berseru.

Mendengar suara ketawa, mereka cepat-cepat menengok dan melihat seorang pemuda berpakaian biru memakai caping lebar sedang berdiri sambil tertawa geli, mentertawakan mereka. Tahulah mereka bahwa pemuda ini yang menjadi gara-gara, yang entah dengan ilmu apa telah memaksa mereka bertiga berlagak seperti tiga ekor anjing!

"Keparat, engkaulah seekor anjing!" bentak seorang di antara mereka, setengah memaki untuk membalas penghinaan tadi dan setengah lagi untuk menggunakan tenaga sihirnya.

Diam-diam pemuda itu mengerahkan kekuatan sihirnya yang hebat, dan dia pun berkata, "Betul sekali! Aku seekor anjing raksasa yang akan makan kalian tiga orang pendeta Pek-lian-kauw! Huk-huk-hukk!"

Tiga orang pendeta Pek-lian-kauw itu terbelalak memandang kepada pemuda itu yang di dalam pandang mata mereka tiba-tiba sudah berubah seperti seekor anjing raksasa yang besarnya seperti sebuah rumah gedung, mulutnya terbuka selebar pintu gerbang dengan giginya yang besar-besar. Mereka menjadi pucat seketika, tubuh mereka gemetaran dan seperti dikomando saja, mereka lalu membalikkan tubuh dan lari tunggang langgang jatuh bangun, bahkan ada yang terkencing-kencing saking ngerinya karena merasa seolah-olah napas anjing raksasa telah mendengus-dengus di tengkuk mereka.

Pemuda itu tertawa bergelak penuh kegembiraan. Han Siong yang semenjak tadi melihat kehadiran dan perbuatan pemuda berpakaian biru bercaping lebar itu, kemudian berseru dengan gembira,

"Hentikan main-mainmu itu, Hay Hay, dan cepat bantulah aku!"

Pemuda yang disebut Hay Hay itu menoleh dan melihat betapa Han Siong terdesak oleh tiga orang pengeroyoknya, dia pun tertawa lagi, "Ha-ha-ha, Sin-tong (anak ajaib), di mana pedang pusakamu yang ampuh itu? Engkau dikeroyok tiga orang lawan yang memakai senjata, bahkan ada pedang pusaka di situ, dan engkau bertangan kosong saja. Salahmu sendiri..."

"Sudahlah, bantu aku dahulu dan nanti baru kita mengobrol!" kata Han Siong lagi dengan mendongkol. Dia begitu terdesak dan dalam bahaya, tetapi orang ini malah mengajaknya mengobrol dan bersendau-gurau.

Pemuda bercaping itu memang Tang Hay, atau di antara kawan-kawannya lebih dikenal dengan sebutan Hay Hay saja. Seorang pemuda yang sebaya dengan Han Siong. Usia mereka sama, yaitu dua puluh dua tahun lebih, wajahnya juga tampan, dadanya bidang tubuhnya sedang dan tegap. Matanya selalu bersinar-sinar, tapi kadang kala mencorong penuh wibawa, dan mututnya tak pernah ditinggalkan senyum manis.

Pemuda ini seorang yang amat romantis, juga pengagum keindahan termasuk kecantikan wanita. Di mana pun berada dia selalu memuji-muji wanita sehingga dia terkenal sebagai Pendekar Mata Keranjang walau pun kegenitannya itu memiliki batas yang kuat sehingga belum pernah dia melanggar, belum pernah dia menggauli wanita, baik dengan perkosaan mau pun dengan suka rela. Kedekatannya dengan wanita tak lebih dari saling rangkul dan saling cium saja.

Dalam perjalanan mencari ayahnya, yaitu Ang-hong-cu, tanpa sengaja Hay Hay sampai di tempat itu dan melihat pertempuran itu. Dia sedang menuju ke kota raja karena dia sudah mendengar bahwa meski pun tidak ada seorang juga yang mengetahui di mana adanya si Kumbang Merah, jai-hwa-cat yang sudah lama sekali namanya dikenal orang akan tetapi akhir-akhir ini tidak ada kabar ceritanya lagi, namun di kota raja muncul seorang perwira muda disebut Tang-ciangkun yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Biar pun tipis, namun berita ini setidaknya merupakan suatu hal yang perlu diselidiki. Siapa tahu perwira muda Tang itu benar dapat membawa dia kepada jejak Ang-hong-cu!

Maka, ketika melihat ada perkelahian di situ, dia pun tak peduli dan hendak melewatinya begitu saja, apa lagi dia belum melihat jelas dan tidak tahu siapa yang sedang berkelahi. Akan tetapi dia lantas tertarik oleh suara melolong-lolong yang mengandung getaran aneh dan berwibawa itu.

Sebagai seorang yang sudah mempelajari ilmu sihir secara cukup mendalam, dia dapat merasakan ketidak wajaran dalam suara itu dan menduga bahwa suara itu mengandung kekuatan sihir! Maka dia pun tertarik kemudian mendekat. Setelah mendekat, barulah dia melihat bahwa yang dikeroyok tiga dan terdesak, masih diserang oleh suara mengandung kekuatan sihir pula, bukan lain adalah Pek Han Siong!

Dulu Pek Han Siong pernah menuduhnya memperkosa adik kandungnya, yaitu Pek Eng sehingga Han Siong memusuhinya dan mereka lalu bertanding dengan hebatnya. Namun akhirnya Han Siong mengetahui bahwa yang memperkosa adik kandungnya sama sekali bukan Hay Hay, melainkan Si Kumbang Merah yang ternyata menurut pengakuan Hay Hay adalah ayah kandung Hay Hay sendiri!

Karena kenyataan itu, maka permusuhan antara mereka pun lenyap dan tidak ada saling dendam di antara mereka. Bahkan sesungguhnya, ada hubungan yang amat dekat antara kedua pemuda ini.

Sejak kecil Han Siong dianggap sebagai Sin-tong (anak ajaib) oleh para pendeta Lama di Tibet yang merasa yakin bahwa Han Siong adalah seorang calon Dalai Lama! Maka anak ini kemudian diperebutkan dan oleh para pendeta Lama hendak dibawa ke Tibet. Untuk menyelamatkannya, maka Han Siong disembunyikan dan sebagai gantinya, orang tuanya mengambil Hay Hay yang ketika itu seorang anak tanpa ayah ibu. Maka terjadilah hal-hal yang amat menarik seperti diceritakan dalam kisah Pendekar Mata Keranjang.

Setelah keduanya menjadi pemuda dewasa, dalam cara hidup masing-masing keduanya menjadi pemuda gemblengan yang pandai ilmu silat, bahkan keduanya juga pandai ilmu sihir walau pun tingkat Hay Hay jauh lebih tinggi dalam hal sihir menyihir ini.

Sekarang Hay Hay tidak mau main-main lagi, apa lagi sesudah dia melihat dengan penuh perhatian dan mengenal dua orang di antara para pengeroyok itu

"Wah-wah-wahh! Bukankah itu Sim Ki Liong murid murtad dari locianpwe Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah? Dan yang seorang lagi, bukankah Ji Sun Bi si cantik manis yang memiliki hati penuh racun? Hayaa, pantas saja engkau terdesak, Han Siong. Kiranya para pengeroyokmu adalah dua orang yang teramat jahat. Dan siapa pula yang seorang lagi itu? Heiii! Bukankah itu Hong-cu-kiam yang dibawanya? Dan ilmu silatnya itu! Han Siong, apa kau lupa lagi dan tidak mengenal ilmu silat Cin-ling-pai? Dia seorang tokoh Cin-ling-pai!"

Tiba-tiba Hay Hay telah meloncat ke dalam medan perkelahian itu. Dia sendiri tak pernah mempergunakan senjata. Cun Sek yang terkejut dan juga marah melihat betapa pemuda bercaping lebar yang baru muncul ini dapat mengenali pedang serta ilmu silatnya, sudah menyambutnya dengan tusukan pedang yang cepat dan kuat sekali, mengarah dada Hay Hay.

Tanpa disadarinya, ucapan Hay Hay tadi memang sudah menarik perhatian Cun Sek, dia sudah terjatuh ke dalam pengaruh sihir Hay Hay! Melihat tusukan pedang Hong-cu-kiam itu Hay Hay segera miringkan tubuhnya dan berkata dengan suara nyaring.

"Pedangmu itu buntung, mana bisa untuk menyerangku?"

Cun Sek terbelalak. Dia memandang pedangnya yang tahu-tahu sudah menjadi sebatang pedang buntung yang pendek! Hanya beberapa detik saja dia termangu, namun ini sudah cukup bagi Hay Hay. Dengan sekali totokan ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, tahu-tahu Hong-cu-kiam telah berpindah tangan!

Barulah Cun Sek sadar dan dia menjadi marah sekali. "Kembalikan pedangku!" bentaknya sambil menerjang dengan tangan kosong.

Akan tetapi Hay Hay cepat menggerak-gerakkan pedang Hong-cu-kiam sehingga nampak sinar emas bergulung-gulung mengelilingi tubuh Cun Sek yang menjadi amat bingung dan khawatir sekali.

"Brett-brett-brett...!"

Nampak potongan kain berhamburan dan Cun Sek merasa tubuhnya dingin-dingin. Ketika dia memandang, ternyata sinar pedang emas itu telah menelanjanginya! Pakaian luarnya sudah robek-robek dan dia berdiri di situ hanya dengan sebuah celana kolor pendek yang menutupi tubuh bawahnya! Hay Hay tertawa-tawa dan kini dia menggerakkan pedangnya untuk menyerang Ki Liong!

Sejak tadi Ki Liong dan Sun Bi sudah kaget setengah mati ketika melihat munculnya Hay Hay, pemuda yang pernah membuat mereka gentar ketika pemuda ini muncul pula dalam rombongan para pendekar yang membasmi gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Keduanya segera maklum pula bahwa kemunculan Hay Hay yang di luar dugaan ini akan menghancurkan semua rencana mereka, bahkan sekarang mereka berada dalam bahaya besar. Hal ini langsung terbukti ketika dengan amat mudahnya Hay Hay sudah merampas pedang pusaka Hong-cu-kiam dari tangan Cun Sek yang telah dibuat tidak berdaya!

Cun Sek merasa terkejut dan malu bukan main. Dia kemudian menjadi nekat dan sambil mengeluarkan suara menggeram bagai seekor harimau terluka, dia pun menubruk dengan nekat ke arah Hay Hay.

Akan tetapi Hay Hay menyambutnya dengan sebuah tendangan sehingga tubuh Cun Sek terjengkang lalu terbanting keras ke atas tanah. Karena pemuda itu tadi memegang Hong-cu-kiam dan memiliki ilmu silat Cin-ling-pai, tentu saja Hay Hay tidak mau membunuhnya dan hanya merobohkannya tanpa melukai berat.

Setelah merobohkan Cun Sek, Hay Hay lalu membalik dan kembali menyerang Ki Liong. Murid Pendekar Sadis yang maklum akan kelihaian Hay Hay ini cepat menangkis dengan Gin-hwa-kiam.

"Trakkkk!"

Dua pedang bertemu kemudian melekat! Ki Liong terkejut dan menarik pedangnya, akan tetapi Hong-cu-kiam yang lemas itu ternyata telah melibat. Ujung Hong-cu-kiam membelit pedang Gin-hwa-kiam seperti seekor ular saja!

"Han Siong, cepat kau ambil pedangnya. Pedang itu tak pantas berada di tangannya. Kita harus kembalikan pedang itu ke Pulau Teratai Merah!" kata Hay Hay kepada Han Siong sambil mempertahankan pedang lawan dengan libatan pedangnya.

Ji Sun Bi cepat maju menghalang dan menusukkan pedangnya kepada Han Siong untuk mencegah pemuda ini mengeroyok Ki Liong. Akan tetapi kini, setelah berhadapan dengan Ji Sun Bi sendiri, tentu saja Han Siong memandang ringan wanita itu dan dengan mudah dia membiarkan pedang yang menusuknya itu lewat, kemudian dari samping tangannya menyambar.

"Plakkk!"

Pundak Sun Bi terkena tamparan tangan Pek-hong Sin-ciang dan dia pun mengeluh lalu roboh terkulai.

Kini Han Siong menerjang Ki Liong yang masih sibuk menarik Gin-hwa-kiam dari libatan Hong-cu-kiam. Tangan kirinya mencengkeram ke arah tangan murid Pendekar Sadis itu dan tangan kanannya mencengkeram ke arah pelipis! Menghadapi serangan dahsyat ini, terpaksa Ki Liong melepaskan pedangnya lantas berjungkir balik ke belakang. Pedangnya kini sudah berpindah ke tangan Han Siong.

"Ha-ha-ha, bagaimana, Han Siong? Kita bunuh saja tiga ekor ular berbisa ini?"

"Jangan, Hay Hay. Kita bukan pembunuh keji! Kita tangkap saja mereka dan..."

Tiba-tiba nampak seorang pria raksasa meloncat ke depan mereka dan dia mengebutkan sebuah kain. Asap atau debu hitam lantas berhamburan dan terdengar pula suara ledakan yang menimbulkan asap hitam tebal.

"Han Siong, mundur! Debu itu beracun!" teriak Hay Hay yang segera menyambar lengan Han Siong dan mengajaknya meloncat jauh ke belakang. Asap hitam menjadi tabir hingga membuat mereka tidak dapat melihat ke depan. Akan tetapi Hay Hay melihat kain yang dikebut-kebutkan itu dan dia berbisik,

"Kita serang kain itu dengan pukulan jarak jauh. Mari!"

Keduanya mengerahkan tenaga sinkang lantas mendorong dari tempat mereka berdiri ke arah kain itu. Angin dahsyat langsung menyambar ke arah kain itu dan terdengarlah jerit parau mengerikan di dalam asap hitam yang gelap itu, lalu keadaan menjadi sunyi.

Setelah asap hitam lenyap ditiup angin, mereka hanya melihat pria raksasa tadi yang kini menggeletak tanpa nyawa di situ dengan muka berubah hitam, sementara kain itu masih menutupi mukanya. Ki Liong, Cun Sek dan Sun Bi telah lenyap tanpa meninggalkan jejak. Kiranya pria raksasa itu adalah Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang telah menolong tiga orang pemimpinnya sedangkan bahan peledak yang mengeluarkan asap hitam tadi dilepas oleh tiga orang tokoh Pek-lian-kauw untuk menolong teman-temannya.

"Hemm, mereka telah lolos! Biar kucari dan kukejar mereka!" kata Hay Hay.

"Tidak perlu lagi" kata Han Siong. "Lebih baik kita turut membantu mereka yang sekarang sedang membasmi anak buah Kim-lian-pang yang jahat. Anak-anak buah Hek-tok-pang itu masih berbahaya, aku khawatir akan terjatuh banyak korban di antara para penyerbu."

"Kim-lian-pang? Hek-tok-pang? Aku tidak tahu apa yang terjadi di tempat ini," Hay Hay yang baru saja datang memang tidak tahu sehingga dia bertanya heran.

"Kim-lian-pang anak buah Sim Ki Liong, dan Hek-tok-pang anak buah dia yang tewas ini. Sudahlah, nanti saja kujelaskan lebih lanjut, sekarang aku harus membantu mereka!" kata Han Siong yang segera meloncat pergi dari situ.

"Aku membantumu!" kata Hay Hay sambil mengejar.

Tentu saja dia percaya penuh bahwa yang dibela oleh Han Siong pasti berada pada pihak yang benar. Dia telah mengenal watak Sin-tong ini, seorang pendekar muda gemblengan yang selalu menentang kejahatan. Apa lagi tadi pun dia telah membuktikan sendiri bahwa pihak lawan pemuda itu adalah orang-orang yang dia tahu amat jahat, terutama Ji Sun Bi.

Tentu saja dia mengenal baik siapa Ji Sun Bi itu! Bagaimana tidak mengenalnya? Bahkan wanita cantik berwatak cabul itu dapat dibilang merupakan gurunya dalam bercumbu dan berolah cinta! Wanita yang pertama kali saling peluk dan saling cium dengannya adalah Ji Sun Bi! Kalau saja batinnya tidak kokoh kuat, tentu dia sudah kehilangan perjakanya oleh wanita itu.

Dan hampir saja dia diperkosa ketika Ji Sun Bi dibantu mendiang gurunya, Min-san Mo-ko yang membuat dia tidak berdaya dengan sihir. Untung muncul Pek Mau Sanjin, mendiang kakek sakti yang kemudian menjadi gurunya dalam hal ilmu sihir. Dia sudah mengenal Ji Sun Bi secara baik, dan dengan mengenang peristiwa itu saja, sudah tentu dia tidak tega untuk membunuhnya! Wanita pertama yang mengajarnya tentang permainan asmara!

cerita silat online karya kho ping hoo

Perhitungan dan siasat yang digunakan Ouw Pangcu memang tepat. Dia bersama teman-temannya menghujankan anak panah berapi ke puncak hingga hal ini memancing semua anak buah Kim-lian-pang dan Hek-tok-pang untuk turun dari puncak, pergi meninggalkan sarang mereka lalu mengamuk dengan penuh kemarahan. Apa lagi setelah mereka lihat betapa pimpinan mereka mengepung seorang pemuda lihai.

Hek-tok Pangcu memimpin anak buahnya mengamuk. Tepat seperti yang dikhawatirkan Han Siong, dua puluh orang Hek-tok-pang serta pemimpin mereka ini merupakan lawan berat yang membuat para penyerbu kewalahan. Tapi karena jumlah pihak para penyerbu jauh lebih banyak, dan para penyerbu itu juga terdiri dari para anggota perkumpulan silat yang rata-rata pandai ilmu silat, maka pertempuran berlangsung dengan hebat dan pada kedua pihak telah jatuh korban belasan orang banyaknya.

Munculnya Han Siong dan Hay Hay dalam pertempuran itu pada saat yang sangat tepat. Begitu dua orang pemuda sakti ini terjun ke dalam pertempuran, hanya mempergunakan kaki tangan karena mereka sudah menyimpan pedang pusaka yang mereka rampas tadi, tak ingin mempergunakan pedang pusaka yang bukan milik mereka itu untuk membunuh orang, maka kocar-kacirlah pihak lawan. Semua anak buah Hek-tok-pang telah roboh dan tewas, dan sebagian besar anak buah Kim-lian-pang juga roboh, sebagian kecil melarikan diri bahkan ada pula yang terjun ke dalam jurang untuk menyelamatkan diri.

Dengan dipimpin oleh Ouw Pangcu, para penyerbu lalu naik ke puncak Kim-Iian-san dan kedua orang pemuda perkasa itulah yang menjadi pelopor di depan. Mereka berdua yang meruntuhkan semua penghalang serta jebakan, juga memunahkan segala macam racun yang disebar dengan membakar rumpun semak belukar pada sepanjang lorong dan jalan setapak yang menuju ke puncak.

Akhirnya mereka sampai di puncak, di sarang Kim-lian-pang dan ternyata yang tinggal di sarang itu hanyalah isteri para anggota bersama anak-anak mereka. Ouw Pangcu cepat memberi aba-aba agar tak seorang pun boleh mengganggu mereka! Sikap ini saja sudah membuat Han Siong dan Hay Hay merasa senang sekali, karena itu mereka tidak merasa menyesal telah membantu gerakan yang dipimpin oleh Ouw Pangcu yang bijaksana itu.

Oleh Ouw Pangcu, semua harta benda yang ada di sarang Kim-lian-pang lalu dibagikan kepada keluarga para anggota Kim-lian-pang. Dia menyuruh mereka semua turun bukit, kemudian dia membakar sarang itu, disaksikan oleh semua penyerbu yang bersorak sorai penuh kemenangan dan kepuasan karena mereka semua merasa sakit hati kepada Kim-lian-pang dan kini mereka telah berhasil membalas dendam dan membasmi perkumpulan jahat itu.

Setelah api berkobar membakar sarang gerombolan Kim-lian-pang dan para penyerbu itu tengah bersorak-sorai, tiba-tiba terdengar suara lantang Ouw Pangcu. "Saudara sekalian, tanpa bantuan dari pendekar besar Pek Han Siong, tidak mungkin kita dapat membasmi gerombolan jahat itu. Mari kita berterima kasih kepada Pek Taihiap!"

Berkata demikian, Ouw Pang Cu segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Pek Han Siong, diikuti oleh puterinya yang tadi juga ikut bertempur dengan gagah dan mati-matian. Melihat pemimpin penyerbuan itu telah berlutut, semua anggota penyerbu yang terdiri dari para anggota bermacam perkumpulan segera menjatuhkan diri berlutut dan menghadap pemuda itu. Hanya Han Siong dan Hay Hay saja yang berdiri, sedangkan semua orang berlutut. Melihat ini, Hay Hay tersenyum dan berseru dengan nyaring.

"Hidup pendekar gagah Pek Taihiap!"

Mendengar ini, semua orang yang berlutut juga berseru, "Hidup Pek Taihiap! Hidup Pek Taihiap!"

"Ahh, engkau gila!" Han Siong memaki Hay Hay yang masih cengar-cengir menggodanya, kemudian Han Siong menghampiri Ouw Pangcu dan mengangkat bangun ketua itu dan juga puterinya. Dia ingin membalas kepada Hay Hay, maka katanya dengan lantang,

"Ouw Pangcu dan saudara sekalian harap bangun dan jangan berterima kasih kepadaku saja. Tanpa bantuan pendekar sakti Tang Hay ini, mana aku mampu mengalahkan para pimpinan Kim-lian-pang? Dia inilah yang sudah membantuku dan dia yang berjasa besar dalam pertempuran ini. Hidup Pendekar Mata Keranjang Tang Hay!"

Tentu saja semua orang merasa heran sekaligus geli mendengar julukan itu. Pendekar Mata Keranjang? Karena itu mereka pun tidak berani menirukan sorakan Han Siong tadi, khawatir kalau-kalau menyinggung hati pemuda berpakaian biru dan bercaping lebar itu. Ouw Pangcu cepat maju memberi hormat kepada Tang Hay.

"Terima kasih atas bantuan Taihiap!" katanya yang diturut pula oleh Ci Goat, puterinya. Hay Hay memandang kepada Ci Goat dan tersenyum.

"Aih, tidak kusangka bahwa di antara banyak orang gagah ini terdapat pula seorang nona yang gagah perkasa. Han Siong, perkenalkan aku kepada mereka!"

Han Siong tersenyum mengejek. Pemuda yang satu ini memang sangat payah, pikirnya. Tak dapat dia menyangkal bahwa Hay Hay memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, bahkan dia sendiri merasa sukar untuk dapat menandinginya, juga mempunyai watak gagah dan bertanggung jawab, seperti yang pernah dibuktikannya pada saat mengakui Ang-hong-cu sebagai ayahnya.

Akan tetapi satu hal yang membuat dia merasa kecewa. Pemuda ini memiliki sifat mata keranjang yang sudah tidak ketulungan lagi! Bagaikan seekor kumbang yang tidak pernah mau melewatkan setangkai kembang yang indah bermadu. Begitu melihat wanita, segera saja merasa tertarik!

Memang harus diakuinya bahwa pada kenyataannya pemuda ini tak pernah mengganggu wanita dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, melainkan hanya karena iseng dan hanya tertarik untuk berdekatan saja. Namun tentu saja semua orang akan mudah menjatuhkan kesalahan kepadanya kalau terjadi sesuatu dengan gadis yang didekatinya.

"Ouw Pangcu dan adik Ci Goat, dia ini adalah seorang pendekar sakti bernama Tang Hay dan berjuluk..."

"Aihh, tidak ada julukan bagiku, Han Siong, tidak seperti engkau yang sejak kecil dijuluki Sin-tong!" Hay Hay mencela.

Tentu saja ucapannya ini hanya untuk bergurau, tetapi baik dia mau pun Han Siong tidak menyadari bahwa senda gurau ini ternyata berakibat panjang. Seorang di antara mereka yang tadi ikut menyerbu, terbelalak mendengar sebutan Sin-tong untuk ke dua kalinya ini, akan tetapi dia hanya diam saja.

"Hay Hay, ini adalah Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi dan ini adalah nona Ouw Ci Goat, puterinya," Han Siong memperkenalkan. .

"Ouw Pangcu, sungguh beruntung aku dapat berkenalan dengan ketua Pek-tiauw-pang," kata Hay Hay dengan sikap sopan.

"Aihh, Tang-taihiap, sekarang Pek-tiauw-pang hanya tinggal namanya saja. Tadinya, yang tersisa dari pembunuhan yang dilakukan Kim-lian-pang hanya tinggal aku, anakku ini dan tiga orang murid. Akan tetapi kini tiga orang murid itu pun gugur dalam pertempuran tadi. Tinggal aku dan puteriku ini, maka mulai saat ini aku adalah Ouw Lok Khi biasa, bukan lagi seorang pangcu (ketua). Aku sudah terlalu tua untuk membangun kembali Pek-tiauw-pang yang sudah terbasmi habis."

"Ahh, kurasa tidak perlu paman Ouw berputus asa. Bukankah di sini masih ada nona Ouw yang gagah perkasa dan cantik jelita, lagi pula masih muda belia? Dengan bantuannya, apa sulitnya bagi paman untuk membangun lagi perkumpulan?" Hay Hay berkata dengan ramah. Dia melihat sepasang mata yang jeli itu terbelalak mendengar pujian bagi dirinya, akan tetapi terbelalak heran atas keberanian orang, bukan karena marah!

"Sudahlah, aku telah menerima kalah. Mari, ji-wi taihiap, marilah ji-wi (kalian) singgah dulu di rumah muridku Thio Ki yang telah diserahkan kepada kami. Karena dia pun telah gugur, maka rumahnya kini menjadi tempat tinggal kami untuk sementara."

Han Siong hendak menolak, dan hal ini nampak oleh Hay Hay yang bermata tajam, maka Hay Hay cepat mendahuluinya. "Baiklah, Paman, dan Nona. Terima kasih atas undangan itu. Mari, Han Siong, kita singgah dulu di rumah paman Ouw agar dapat mempererat tali persahabatan."

Dengan ucapan seperti itu, tentu saja Han Siong merasa dilumpuhkan sehingga dia tidak berani menolak. Bagaimana dia berani menolak bila persinggahan itu dimaksudkan untuk mempererat persahabatan? Dia lalu mengerling tajam kepada Hay Hay yang menyeringai lebar karena maklum bahwa kawannya itu mendongkol.

Hay Hay merasa heran, mengapa dalam pertemuan dengan Han Siong sekali ini, setelah lenyap semua rasa curiga dan kemarahan di antara mereka, dia kini merasa sangat akrab dengan Han Siong, seolah-olah mereka adalah dua orang sahabat lama.

Sesudah menyerahkan pengurusan para jenazah muridnya dan teman-teman lain kepada para sahabatnya yang ikut dalam penyerbuan itu, Ouw Lok Khi dan Ouw Ci Goat lantas mengajak dua orang pemuda perkasa itu ke rumah Thio Ki yang juga gugur. Tiga jenazah murid Pek-tiauw-pang, termasuk jenazah Thio Ki, sesudah dirawat kemudian dimasukkan ke dalam peti dan dibawa ke rumah itu, dijajarkan di serambi depan.

Malam itu banyak kenalan yang datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada tiga jenazah dalam peti mati dan pada keesokan harinya, tiga peti jenazah itu pun dikuburkan dengan upacara sederhana. Selama itu pula Hay Hay tanpa rikuh lagi selalu mendekati Ci Goat dan mengajak gadis itu bercakap-cakap dengan sikap ramah dan akrab sekali! Berbeda dengan Han Siong yang selalu menjauhkan diri dari gadis itu karena dia merasa tidak enak kalau berdekatan dengan gadis yang dia ketahui sudah jatuh cinta kepadanya itu.

Hay Hay melihat gadis itu nampak murung ketika orang-orang mulai menimbuni lubang kuburan tiga orang murid Pek-tiauw-pang itu dengan tanah. Pada waktu gadis itu duduk di bawah pohon untuk berlindungi dari sengatan matahari, Hay Hay lalu mendekatinya dan masih sempat berkelakar untuk memancing percakapan.

Hay Hay juga duduk di atas sebuah batu, dalam jarak tiga meter dari gadis itu dan tanpa rikuh-rikuh dia mengamati wajah gadis yang bulat dan berkulit putih mulus itu. Wajah itu kelihatan muram dan sinar matanya mengandung kedukaan.

Pandang mata orang biasa saja sudah mengandung getaran yang akan terasa oleh orang yang dipandang, apa lagi pandang mata Hay Hay yang matanya mengandung kekuatan sihir yang hebat walau pun pada waktu itu dia tidak mempergunakan kekuatannya. Gadis itu mengangkat muka dan pandang matanya bertemu dengan mata Hay Hay yang tidak menyembunyikan sinar kekagumannya.

Melihat betapa mata pemuda itu terus memandang kepadanya dengan kagum, Ci Goat mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia lalu teringat akan ucapan Han Siong yang menjuluki pemuda ini dengan julukan aneh, yaitu Pendekar Mata Keranjang! Jika melihat pandang mata itu, tidak aneh kalau dia dijuluki mata keranjang!

Dia tidak berani marah, mengingat bahwa pemuda ini juga seorang penolong besar yang membuat dia dan ayahnya berhasil membalas dendam dan menghancurkan perkumpulan Kim-lian-pang bersama antek-anteknya. Maka dia hanya menundukkan kembali mukanya dengan cepat dan muka yang putih itu berubah kemerahan.

"Heiii, nona Ouw, mengapa bermuram durja? Alangkah sayangnya kalau bulan purnama tertutup awan dan matahari terhalang mendung, dunia akan menjadi gelap dan kehilangan serinya! Nona, kenapa berduka pada hal pagi seindah dan secerah ini?"

Sepasang pipi yang putih halus itu menjadi semakin merah. Dia diumpamakan bulan dan matahari! Sungguh kata-kata rayuan maut yang akan dapat membuat wanita tergetar dan berlonjak kegirangan penuh bangga. Akan tetapi Ouw Ci Goat tersipu malu dan melirik ke arah Han Siong yang berdiri dekat mereka yang sedang melakukan pemakaman. Hatinya khawatir sekali.

Dia telah jatuh cinta kepada Han Siong dan kini Pendekar Mata Keranjang mengeluarkan kata-kata yang merayunya. Andai kata bukan pendekar ini yang mengeluarkan kata-kata rayuan itu, tentu akan dijauhinya, tidak dipedulikannya.

Akan tetapi Hay Hay adalah seorang pendekar yang juga berjasa seperti Han Siong, dan harus diakuinya bahwa mendengar kata-kata manis laksana madu dari seorang pemuda yang demikian gagah perkasa dan gantengnya, sungguh merupakan belaian lembut pada hatinya. Untuk mencegah pemuda itu melanjutkan rayuannya, dia pun menjawab dengan sikap, pandang mata, dan nada suara yang serius, bahkan hatinya yang sedang diliputi kedukaan itu membuat kedua matanya basah air mata.

"Taihiap, bagaimana mungkin aku tidak berduka? Aku sudah kehilangan seluruh saudara anggota Pek-tiauw-pang yang juga menjadi murid-murid ayah, menjadi saudara-saudara seperguruanku. Mereka semua tewas, bahkan hari ini tiga orang yang terakhir pun tewas. Mala petaka besar telah menimpa keluarga kami. Tentu saja aku berduka sekali, Taihiap."

Hay Hay tersenyum, "Aihh, nona Ouw, sungguh sayang kalau menghamburkan air mata dan meremas hati sendiri. Berduka akan membuat wajahmu yang seperti bulan purnama itu menjadi kerut merut, juga dapat membuat engkau yang muda belia ini menjadi cepat tua. Nona yang baik, aku ingin bertanya, siapa yang kau tangisi, siapa yang kau sedihkan itu?"

Gadis itu memandang heran. Matanya yang agak kemerahan karena tangis itu sekarang agak terbelalak sehingga Hay Hay memandang kagum. Indahnya mata itu!

"Taihiap, aneh sekali pertanyaanmu itu. Tentu saja aku menangisi tiga orang suheng yang tewas itu, semua saudara seperguruanku yang telah tewas oleh para penjahat Kim-lian-pang!"

"Mengapa engkau menangisi mereka yang sudah mati? Apakah kalau ditangisi mereka akan merasa senang di sana, ataukah mereka akan hidup kembali kalau disedihkan?"

Gadis itu makin terkejut dan heran. "Tentu saja tidak! Pertanyaanmu sungguh aneh sekali, taihiap. Orang di seluruh dunia ini tentu akan bersedih dan menangis bila mana kematian orang-orang yang dekat dengan mereka!"

"Ahh, jadi kalau begitu engkau bersedih dan menangis karena umum melakukannya? Jadi tangismu itu hanya ikut-ikutan saja? Mari kita bicara tentang kesedihanmu, perasaanmu sendiri, bukan kesedihan orang-orang lain, Nona yang baik. Nah, mari mulai kita selidiki. Apakah engkau bersedih untuk mereka? Rasanya tidak mungkin. Mereka sudah mati dan engkau tidak tahu keadaan mereka. Yang jelas mereka tidak menderita lagi, jadi tidak ada alasan untuk mengasihani mereka. Bahkan mereka itu mati sebagai orang-orang gagah, sebagai pendekar yang menentang kejahatan, maka sepantasnya engkau malah bangga dengan kematian mereka, bukan berduka. Tidakkah benar demikian, Nona?"

"Aku... aku tidak tahu... aku menjadi bingung. Kurasa... pendapatmu itu benar juga, akan tetapi tak mungkin aku berbangga dan tidak berduka. Orang-orang akan menganggap aku tidak wajar..."

"Justru sebaliknya! Apa bila tangismu ini kau katakan untuk menangisi mereka yang mati, maka tangismu itu sama sekali tidak wajar bahkan berpura-pura! Mari kita membuka mata melihat kenyataan, Nona. Coba jenguk perasaan hatimu sendiri. Lihat baik-baik apa yang kau rasakan. Benarkah engkau menangis dan bersedih karena kasihan kepada mereka yang mati? Ataukah engkau bersedih dan menangis untuk dirimu sendiri, karena engkau merasa kehilangan dan merasa kasihan kepada dirimu sendiri? Beranikanlah hatimu dan amatilah baik-baik!"

Gadis itu tertegun. Selama hidupnya baru sekali ini dia mendengar pendapat yang seperti itu. Bukan, bukan pendapat, melainkan pembukaan kenyataan yang tak dapat dia bantah lagi. Memang benar, dia menangis dan berduka karena merasa kasihan terhadap dirinya sendiri, kepada nasib dirinya, sama sekali bukan menangisi mereka yang mati. Ia berduka karena dia kehilangan saudara dan sahabat baik, karena dia merasa ditinggalkan. Hal ini nampak jelas sekarang.

"Aku... aku menjadi bingung... kata-katamu memang benar, Taihiap. Akan tetapi, apakah aku tidak boleh menangis dan harus bergembira menghadapi kematian para suheng-ku?"

Hay Hay tersenyum. "Tidak ada orang yang menyuruhmu menangis atau tertawa, Nona, juga tidak ada yang melarangmu untuk menangis atau tertawa. Tangis dan tawa adalah pencurahan dari keadaan hati dan tidak ada orang lain yang mampu mengatur keadaan hatimu. Yang penting, engkau harus yakin benar apa yang kau tangiskan atau tawakan, agar tangis dan tawamu tidak menjadi palsu."

Dara itu termenung, wajahnya kosong dan polos. Tiba-tiba saja Hay Hay tertawa bergelak sehingga gadis itu menjadi semakin heran dan menatap wajah yang tampan itu.

"Ha-ha-ha, coba rasakan baik-baik, Nona. Semenjak kita bercakap-cakap, engkau sama sekali tidak berduka lagi, tidak menangis lagi! Ini menjadi bukti jelas bahwa duka hanyalah permainan pikiran sendiri belaka! Pikiran mengenang hal-hal yang tidak menguntungkan diri sendiri. Tadi pikiranmu mengenang tentang kehilangan saudara-saudaramu sehingga timbul iba diri dan pikiranmu seperti meremas-remas hatimu sendiri, maka timbullah duka. Begitu pikiranmu terisi perhatian untuk percakapan kita tadi, kenangan itu pun lenyap dan duka pun hilang tanpa bekas! Biang keladi susah senang hanyalah kenangan pikiran yang didasari rugi untung bagi diri pribadi, keduanya saling berlomba menguasai diri kita. Akan tetapi, kalau harus memilih, mengapa tidak memilih tersenyum dari pada menangis. Kalau engkau menangis, wajahmu yang cantik itu penuh kerut merut, matamu kemerahan, juga hidungmu merah dan engkau akan menyeret orang lain untuk menangis pula. Sebaliknya, kalau engkau tersenyum... hemm, cobalah tersenyum, Nona, dunia akan turut tersenyum bersamamu. Dan wajahmu yang cantik itu akan menjadi semakin manis apa bila engkau tersenyum!"

Ci Goat tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak tersenyum, dan Hay Hay terpesona. Alangkah manisnya gadis itu kalau tersenyum! Akan tetapi senyum itu segera lenyap dan Ci Goat berkata lirih, agak cemberut.

"Taihiap, harap jangan mempermainkan aku. Kalau ayahku melihat betapa aku senyum-senyum pada saat mereka menguburkan jenazah tiga orang suheng-ku, tentu ayah akan marah karena menganggap aku tidak sopan, tidak mengenal aturan, tidak sayang kepada suheng-suheng-ku, malah mungkin juga aku akan dianggap gila! Apa yang harus kujawab kalau ayah atau orang lain bertanya kenapa aku justru tersenyum-senyum dalam keadaan berkabung seperti ini?"

"Katakan saja bahwa engkau gembira bahwa tiga orang suheng-mu tewas sebagai orang-orang gagah yang menentang kejahatan. Katakan bahwa engkau sangat gembira karena sudah menemukan dirimu sendiri seperti apa adanya, tidak berpura-pura, berani melihat kenyataan hidup!" Hay Hay tersenyum dan kini Ci Goat juga tersenyum. Gadis ini merasa betapa dadanya lapang dan lega, tidak lagi tertindih duka yang ternyata hanya dibuat oleh angan-angan pikirannya sendiri! Dia merasa bebas lepas dan nyaman!

Pada saat itu Han Siong mendekati mereka. "Wah, ada apa ini kalian amat gembira dan senyum-senyum. Goat-moi, hati-hati jangan sampai terbuai oleh rayuan maut Si Pendekar Mata Keranjang!"

"Ha-ha-ha. Sin-tong! Mana mungkin dia bisa terbuai rayuan? Hatinya sudah melekat pada seseorang, cintanya hanya ditujukan kepada seseorang!"

Tentu saja Ci Goat tersipu malu. Ia ingin membantah, akan tetapi karena di situ hadir Han Siong, dia pun tidak dapat mengeluarkan kata-kata selain, "Ihh, Taihiap..."

"Hay Hay, siapakah seseorang yang kau maksudkan itu?" tanyanya ingin tahu karena dia menduga bahwa tentu Hay Hay ngawur saja, hanya untuk mengoda Ci Goat.

"Hemmm, jangan engkau pura-pura tidak tahu! Siapa lagi kalau bukan Sin-tong Pek Han Siong?"

Han Siong terbelalak, terkejut dan heran. Juga Ci Goat terkejut, akan tetapi dengan muka berubah merah sekali dia lalu lari dari situ menuju ke tempat di mana ayahnya dan orang-orang lain sedang menimbuni tiga makam dengan tanah.

"Hay Hay, bagaimana engkau bisa tahu? Ataukah engkau ngawur saja?" tanya Han Siong sambil mendekati Hay Hay, matanya memandang penuh selidik.

"Tahu apa?" Hay Hay pura-pura tidak tahu untuk mengoda.

"Tahu bahwa dia mencintaku!"

"Ha-ha, yang matanya tidak buta tentu tahu! Cara dia memandang kepadamu saja sudah jelas, belum lagi jika dia berbicara kepadamu, tentu lebih jelas lagi. Rahasia hati seorang wanita yang tengah jatuh cinta amat mudah diketahui dari pandang matanya. Ada kalanya matanya bersinar penuh kagum, penuh harap, penuh penantian. Ada kalanya pula sinar matanya itu redup seperti orang mengantuk, penuh tantangan, penuh penyerahan, tampak malu-malu, mengandung kegenitan... ahh, pendeknya jelas sekali. Kalau berbicara, tentu suaranya akan menggetarkan lagu cinta, disertai senyum dikulum penuh arti, dan andai kata dia hendak menyembunyikan perasaan cintanya pun pasti akan nampak jelas pada pandang matanya dan pada suaranya. Ah, dia jatuh cinta tidak ketulungan lagi kepadamu Sin-tong, maka seharusnya engkau bahagia sekali. Dia seorang gadis yang cantik manis, gagah perkasa, mudah menerima kebijaksanaan dan hemm... wanita semacam itu tentu penuh gairah dan panas!"

Hay Hay tertawa, ada pun Han Siong mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi muram. Akan tetapi diam-diam dia heran mendengar ucapan Hay Hay itu yang jelas membuktikan bahwa Hay Hay memang seorang ahli wanita! Untuk menutupi kemuramannya, dia lantas tersenyum.

"Hay Hay, engkau betul-betul seorang mata keranjang yang ahli wanita. Bagaimana pula engkau bisa tahu tentang penuh gairah dan panas itu?"

Hay Hay tertawa. "Itu mudah saja, sudah ada tanda-tandanya. Lihat saja sinar matanya, seperti ada apinya. Lihat juga tarikan mulutnya. Bibir itu penuh gairah dan menantang. Dan bentuk tubuhnya! Hemm, dia seorang wanita pilihan, Han Siong. Sebaiknya engkau cepat memetik bunga yang sedang mekar cerah dan harum semerbak itu!"

Han Siong menghela napas panjang. "Engkau benar, Hay Hay. Memang dia jatuh cinta kepadaku, dan inilah yang membuat aku pusing. Aku tidak ingin menyakiti hatinya, akan tetapi aku... aku tidak mungkin dapat membalas cintanya!"

Kini Hay Hay tertegun, akan tetapi dia segera tersenyum. "Wahai sobat, agaknya engkau sudah jatuh cinta kepada wanita lain?"

Kembali Han Siong terkejut dan mengamati wajah Hay Hay dengan tajam, seolah hendak menjenguk isi hatinya. Kenapa pemuda ini tahu segala?

"Hemm, bagaimana lagi engkau bisa tahu akan hal itu?"

"Ha-ha-ha-ha, engkau memang masih hijau dalam soal asmara, sobat! Kalau ada seorang pemuda menolak cinta seorang gadis sehebat nona Ouw Ci Goat, tentu pemuda itu tidak waras atau miring otaknya! Karena kulihat engkau ini bukan pemuda yang kurang waras atau miring otaknya, maka satu-satunya sebab penolakanmu sudah pasti bahwa engkau telah jatuh cinta kepada wanita lain!"

Han Siong memandang kagum. Anak ini benar-benar hebat, pikirnya. Otaknya demikian cerdas dan walau pun sikapnya ugal-ugalan dan ceriwis, namun harus diakui bahwa apa yang diucapkannya memang benar. Dia menarik napas panjang dan kembali dia teringat kepada Bi Lian, gadis yang dicintanya.

"Engkau memang benar, Hay Hay. Sesudah secara hebat dan tepat engkau mengetahui keadaan hati kami, kini aku ingin minta pertolonganmu. Kau ceritakanlah kepada Ci Goat bahwa aku tidak mungkin dapat menerima cintanya karena aku sudah mempunyai pilihan hati gadis lain."

Hay Hay tersenyum. "Wah, tugas berat itu! Kenapa engkau tidak mau berterus terang saja kepadanya?"

"Ihh, engkau ini bagaimana? Dia belum pernah mengaku cinta, lalu bagaimana aku akan menceritakan bahwa aku tidak dapat menerima cintanya? Pula, aku tidak ingin menyakiti hatinya, sementara engkau yang ahli asmara ini tentu akan dapat mencari akal agar dia bisa menerima kenyataan ini dengan tabah dan dapat mengerti penolakanku."

Hay Hay menepuk mulut sendiri. "Dasar mulut usil! Sekarang tertimpa tugas yang berat."

"Hemm, katakan saja bahwa engkau tidak mampu melakukan itu, tidak perlu sungkan dan mencari-cari alasan!" kata Han Siong cemberut.

"He-he-he, siapa bilang tidak mampu? Pekerjaan begitu saja, menghadapi wanita, uhhh, sepele bagiku!"

"Hah, jadi engkau mau, bukan?" kata Han Siong sambil tersenyum.

Hay Hay terbelalak. "Setan! Engkau memancing kesanggupanku dengan mengatakan aku tidak mampu, ya? Engkau penuh akal bulus dan tipu muslihat, Han Siong!" kata Hay Hay tertawa.

"Aku hanya mencontoh engkau!"

"Baiklah, aku menyerah. Aku yang akan menyampaikan kepadanya biar pun hatiku akan hancur lebur jadi debu melihat seorang gadis menangis karena patah hati. Akan tetapi, untuk itu engkau harus bersabar dan selama beberapa hari kita tinggal di rumah keluarga Ouw. Berilah waktu sepekan untukku..."

"Sepekan? Biar sebulan pun boleh. Engkau tinggal di rumah mereka dan aku melanjutkan perjalananku."

"Enaknya! Kalau begitu, aku pun tidak akan sudi! Engkau harus menemani aku di rumah itu sampai aku selesai dengan tugasku. Bagaimana?"

Han Siong kembali menghela napas panjang. "Baiklah, mari kita ke sana. Penguburan itu agaknya telah selesai dan sekarang tinggal sembahyang sebagai penghormatan terakhir." Mereka lalu bergandeng tangan sebagai dua orang sahabat yang akrab sekali menuju ke makam baru yang rupanya sudah selesai ditimbuni tanah itu.

Memang Hay Hay dan Han Siong saling merasa suka dan akrab, merasa seolah-olah ada pertalian hubungan di antara mereka. Betapa tidak? Sejak terlahir di dunia ini, keduanya memang mempunyai hubungan yang dekat sekali, jalan hidup mereka saling kait mengait secara aneh. Memang bukan sanak bukan kadang, akan tetapi sejak lahir sampai menjadi besar, Hay Hay menempati hidup Han Siong sehingga seolah-olah dia menjadi Han Siong ke dua!

Sejak bayi dia dipakai menjadi pengganti Han Siong yang disembunyikan orang tuanya, lalu dia mengalami banyak sekali hal hebat karena dia disangka Han Siong. Dan sesudah dewasa, mereka berdua sama lihainya, mempunyai tingkat kepandaian yang berimbang, bahkan keduanya menjadi murid orang-orang sakti dan selain menerima gemblengan ilmu silat, juga keduanya mahir ilmu sihir!

Ketika semua orang baru selesai bersembahyang untuk memberi penghormatan terakhir di depan tiga buah makam itu, mendadak terdengar suara kelenengan kecil yang nyaring. Semua orang segera menengok ke arah suara itu dan melihat tiga orang pendeta Lama yang berjubah merah dengan langkah lebar menuju ke tempat itu.

Melihat mereka itu, Han Siong dan Hay Hay saling pandang, lantas Hay Hay tersenyum. Keduanya sudah mengenal baik para pendeta Lama yang sejak mereka masih kecil terus berusaha untuk menemukan dan menculik Sin-tong, yaitu Pek Han Siong. Tak salah lagi, pikir mereka, kemunculan ketiga orang pendeta Lama itu tentu ada hubungannya dengan urusan lama itu, maka keduanya siap siaga dan waspada. Mereka segera memperhatikan tiga orang pendeta Lama itu.

Seperti pada umumnya, tiga orang pendeta Lama itu pun bertubuh jangkung. Orang yang pertama tinggi besar bagaikan raksasa, dengan kaki tangan yang kokoh kuat. Sepasang matanya bundar dan amat tajam, mukanya membayangkan kekuatan dan keberingasan.

Orang ini memikul sebatang tongkat panjang yang dipasangi kelenengan perak kecil yang mengeluarkan bunyi nyaring bila dia bergerak, dan di ujung lain dari tongkatnya tergantung sebuah buntalan yang cukup besar. Raksasa berkulit hitam ini agaknya menjadi pimpinan walau pun usianya sebaya dengan dua orang temannya, yaitu kurang lebih enam puluh tahun.

Pendeta Lama yang ke dua berkulit putih dan tubuhnya tinggi kurus. Sepasang matanya nampak seperti selalu terpejam saking sipitnya. Dia tidak kelihatan membawa senjata apa pun, akan tetapi kalau orang melihat ke arah pinggangnya, maka orang itu akan merasa ngeri melihat betapa sabuk di pinggang orang tinggi kurus ini adalah seekor ular hidup!

Ada pun pendeta yang ke tiga juga bertubuh jangkung, tetapi agak bongkok sehingga dia seperti seekor onta. Kulitnya kuning dan wajahnya kekanak-kanakan, kecil mengkerut. Di punggungnya tergantung sepasang cakar harimau yang sudah diberi gagang, sepanjang pedang.

Ouw Pangcu atau sekarang lebih tepat disebut namanya saja, yaitu Ouw Lok Khi karena dia tidak menjadi ketua lagi mengingat betapa semua anak buahnya sudah tewas, tinggal dia dan puterinya seorang, segera maju menyambut ketiga orang pendeta itu. Dia sendiri merasa amat heran ketika melihat munculnya tiga orang pendeta, namun karena dia yang menyelenggarakan pemakaman untuk ketiga orang muridnya, maka dia merasa sebagai tuan rumah dan menyambut tiga orang hwesio itu dengan sikap ramah ramah dan sopan.

"Selamat datang, sam-wi lo-suhu (tiga bapak guru)! Kami sedang melakukan pemakaman dan sembahyangan bagi tiga orang murid kami yang tewas dibunuh gerombolan penjahat. Tidak tahu apakah keperluan sam-wi (kalian bertiga) datang berkunjung ke tempat ini?"

"Omitohud..., semoga yang benar selalu mendapatkan perlindungan dan berkah! Pinceng (saya) bertiga sengaja datang untuk memberi hadiah penghibur bagi kalian yang berduka, juga untuk menyembahyangkan supaya arwah ketiga orang ini mendapatkan tempat yang damai abadi. Nah, sekarang terimalah hadiah penghibur yang kami bawa ini!"

Berbarengan dengan habisnya ucapan itu, pendeta Lama yang bertubuh raksasa bermata lebar itu segera menggerakkan tongkatnya dan buntalan itu pun melayang turun ke depan kaki Ouw Lok Khi. Begitu jatuh ke tanah buntalan itu lalu terlepas dan terbuka, dan semua orang memandang ngeri melihat bahwa isi buntalan adalah tiga buah kepala orang yang masih segar, leher yang buntung itu masih berdarah, agaknya baru saja tiga buah kepala itu dipenggal dari tubuhnya!

"Ohhh...!" Ouw Lok Khi terhuyung mundur dengan mata terbelalak dan muka pucat. Hay Hay dan Han Siong yang sudah siap siaga telah berloncatan ke depan. Sekali lihat saja mereka berdua mengenali tiga buah kepala itu.

"Ini adalah kepala para tosu Pek-lian-kauw ahli sihir itu!" seru Hay Hay.

Pendeta Lama yang tinggi besar itu tertawa, ada pun dua orang temannya berdiri seperti patung dan hanya menonton. "Ha-ha-ha, benar sekali, orang muda. Bukankah mereka ini yang menyusahkan kalian? Ehhh, orang muda yang baik, apakah engkau yang bernama Pek Han Siong?"

Sebelum Hay Hay menjawab, Han Siong yang sudah mempunyai dugaan buruk terhadap semua pendeta Lama, segera menjawab, "Akulah yang bernama Pek Han Siong! Tidak tahu sam-wi lo-suhu mempunyai keperluan apakah dengan aku?"

Tiga orang pendeta Lama itu menatap kepada Han Siong dengan pandang mata penuh selidik. Kemudian, melihat sinar mata mencorong pemuda itu yang agaknya seperti penuh tantangan, pendeta Lama yang tinggi besar itu lalu berkata ramah. "Bagus, setelah sekian lamanya kami mencari, kebetulan bertemu di sini. Saudara sekalian, dan juga engkau Pek Han Siong, ketahuilah bahwa kedatangan kami ini mempunyai iktikad baik. Buktinya, kami sudah membunuh tiga orang tosu yang telah mengacau di sini dan menimbulkan banyak korban. Terus terang saja, kami senang bertemu dengan Pek Han Siong dan kami ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting. Akan tetapi sebelum itu, biarlah kami akan membuat sembahyangan dulu agar roh ketiga orang yang mati ini akan mendapat tempat yang tenang abadi."

Sesudah berkata demikian, pendeta Lama yang agak bongkok kemudian mengeluarkan alat sembahyang dari saku jubahnya yang lebar, yakni dupa, tempat dupa gantung dan sebagainya. Lalu, disaksikan oleh semua orang, tiga orang pendeta Lama itu melakukan sembahyang dengan upacara yang aneh bagi mereka yang menyaksikan.

Upacara sembahyang untuk kematian yang dilakukan oleh para pendeta Lama ini sangat berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh para hwesio. Mereka berjalan mengelilingi tiga buah makam itu, mengucapkan doa dan mantera dengan nada dan lagu yang asing. Namun bagaimana pun juga Ouw Lok Khi merasa bersyukur dan berterima kasih kepada tiga orang pendeta itu.

Setelah tiga orang pendeta Lama itu menyelesaikan upacara sembahyang, mereka lantas menghampiri Pek Han Siong dan Hay Hay yang sejak tadi menonton upacara itu dengan penuh perhatian.

"Hati-hatilah, Han Siong. Aku merasa curiga pada mereka. Kurasa mereka datang karena engkau dan ada hubungannya dengan dirimu sebagai Sin-tong," Hay Hay berbisik kepada Han Siong.

Han Siong setuju dengan pendapat Hay Hay itu dan sejak tadi dia memang sudah merasa curiga dan bersiap siaga. Kini pendeta yang bertubuh raksasa itu berkata sambil memberi hormat kepadanya.

"Saudara muda Pek Han Siong, kami bertiga mohon supaya engkau suka menerima kami yang ingin bicara dengan engkau tanpa kehadiran orang lain, untuk urusan yang teramat penting.

Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 13

Han Siong kagum sekali. Pedang itu bukan saja merupakan pusaka ampuh, akan tetapi juga digerakkan oleh tangan ahli. Dia cepat mempergunakan ginkang-nya untuk meloncat dan mengelak. Namun pedang itu bergerak terus dengan sangat cepatnya sehingga Han Siong terpaksa harus berloncatan ke sana-sini. Dia semakin kagum.

Tentu saja ilmu pedang lawan itu sangat hebat karena Cun Sek memainkan ilmu pedang Cin-ling-pai yang mengandung unsur ilmu pedang Siang-bhok Kiam-sut yang amat tinggi tingkatnya. Walau pun dia tidak menguasai Siang-bhok Kiam-sut sepenuhnya, akan tetapi cukuplah untuk membuat dia menjadi seorang ahli pedang yang amat lihai.

Namun sekali ini Cun Sek berhadapan dengan seorang lawan yang memiliki tingkat lebih tinggi dalam ilmu silat. Han Siong masih lebih pandai, baik dalam ilmu silat mau pun lebih kuat dalam ilmu sinkang dan ginkang. Maka, walau pun Cun Sek menyerangnya bertubi-tubi, tubuh Han Siong berkelebatan dan selalu terhindar dari sambaran pedang, bahkan kini Han Siong mulai membalas dengan serangan yang tak kalah ampuhnya, meski hanya mempergunakan tangan dan kaki.

Dengan Pek-hong Sin-ciang, beberapa kali Han Siong dapat membuat Cun Sek terdesak dan terhuyung. Bahkan pernah pedang pusaka Hong-cu-kiam di tangannya sudah hampir terlepas setelah lengan kanannya terkena tendangan kaki Han Siong. Kini Cun Sek mulai terdesak.

"Haiiitttt...!" Cun Sek yang menjadi amat penasaran, dengan nekat memutar tubuh setelah tadi dia menghindarkan diri dari tendangan kaki kiri Han Siong, kemudian sambil berputar, pedangnya menusuk ke arah perut lawan.

"Hemmm... huhhhh!" Han Siong membentak dan tangan kirinya mendorong dari samping. Dengan tangan kosong, dengan telapak tangannya, Han Siong mendorong pedang yang luar biasa tajamnya itu.

"Plakkk!"

Pedang itu terpukul menyerong, dan pada saat itu pula tangan kanan Han Siong sudah menampar ke arah kepala lawan. Cun Sek terkejut bukan main. Telapak tangan lawan itu mampu menangkis pedangnya, bahkan sekarang tiba-tiba ada angin yang menyambar ke arah kepalanya. Dia cepat miringkan tubuh dan menarik kepalanya ke belakang. !

"Plakkk!"

Pundaknya terkena srempetan telapak tangan Han Siong hingga Cun Sek terpelanting. Ia terkejut sekali, cepat bergulingan menjauh sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Ketika dia meloncat bangun, ternyata lawannya tidak mengejar, melainkan berdiri tegak sambil memandang kepadanya dengan senyum.

Mulailah Cun Sek merasa jeri karena dia maklum bahwa dia sedang menghadapi lawan yang mempunyai ilmu kesaktian. Pada saat itu nampak bayangan berkelebat dan ternyata Sim Ki Liong sudah berdiri di situ.

Sim Ki Liong dan Pek Han Siong berdiri saling pandang dengan sinar mata mencorong. Mereka memang sebaya dan bentuk tubuh mereka juga sama. Keduanya sama tampan, hanya sikap Ki Liong terlihat lebih halus, kehalusan yang menyembunyikan keliaran yang terkendali, dan kadang kala mata Ki Liong mencorong aneh dan kejam, sedangkan Han Siong sebaliknya selalu bersikap tenang sekali.

Ki Liong segera mengenal Han Siong dan dia pun mengangguk-angguk. "Hemm, kiranya engkau yang datang membikin ribut. Pek Han Siong, ternyata kini engkau sudah menjadi jagoan yang mewakili Pek-tiauw-pang. Berapa dia membayarmu? Apakah dibayar dengan puterinya yang cantik itu?"

Apa bila orang lain yang menerima ejekan dan penghinaan ini, tentu akan menjadi marah. Akan tetapi Han Siong adalah seorang pemuda gemblengan. Dia hanya tersenyum, lantas menjawab dengan halus pula.

"Sim Ki Liong, engkau sudah tahu siapa engkau dan siapa aku. Setelah gagal membantu pemberontakan mendiang Lam-hai Giam-lo dan engkau beruntung dapat meloloskan diri, kini engkau melakukan kejahatan baru dengan menguasai semua perkumpulan yang kau peras, juga mempengaruhi para pejabat daerah dan bersekutu dengan orang-orang jahat. Engkau melakukan pembunuhan dengan semena-mena. Dan engkau tahu bahwa sejak menentang Lam-hai Giam-lo hingga sekarang aku selalu akan menentang segala macam bentuk kejahatan! Aku bukan sekedar wakil Pek-tiauw-pang saja, melainkan wakil seluruh masyarakat yang menderita karena kejahatanmu. Aku sudah mendengar bahwa engkau bersekutu dengan Tok-sim Mo-li. Di mana dia sekarang? Mengapa tidak keluar sekalian?"

Sambil berkata demikian, Han Siong menendang sebuah batu sebesar kepalan tangan yang berada di depan kakinya. Batu itu meluncur ke arah semak-semak dan tiba-tiba saja batu itu tertangkis dan runtuh. Dari balik semak-semak muncullah Tok-sim Mo-li Ji Sun bi, diikuti oleh tiga orang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih yang kesemuanya berjubah pendeta, dengan rambut panjang digelung ke atas seperti tosu (pendeta Agama To).

Melihat munculnya wanita cantik ini, senyum di bibir Han Siong melebar. "Nah, sekarang baru lengkap, semua biang keladi kekacauan telah berkumpul di sini!" Ucapan ini sengaja dikeluarkan agak keras karena memang merupakan isyarat bagi Ouw Pangcu dan kawan-kawannya untuk mulai dengan penyerbuan mereka ke puncak Kim-lian-san.

"Pek Han Siong, selamat berjumpa kembali dan selamat jalan ke neraka!" kata Ji Sun Bi sambil mencabut sepasang pedangnya. "Sekarang saatnya kami membalas dendam atas kekalahan kami dahulu!"

Sim Ki Liong sudah maklum akan kelihaian Pek Han Siong. Dia tidak malu-malu lagi untuk mencabut pula senjatanya, yaitu Gin-hwa-kiam yang berkilauan seperti perak.

Melihat betapa tiga orang muda yang jahat dan lihai itu sudah mencabut senjata masing-masing, dan dia tahu bahwa seperti juga Cun Sek, Ki Liong memegang sebatang pedang pusaka yang ampuh, Han Siong cepat mengerahkan tenaga saktinya. Sepasang matanya memancarkan cahaya aneh, ada pun suaranya terdengar melengking tinggi penuh wibawa ketika dia berkata,

"Kalian bertiga hendak mengeroyokku? Baiklah, aku pun siap untuk melayani kalian satu lawan satu. Lihat, aku telah menjadi tiga orang seperti kalian!"

Tiga orang muda itu terbelalak, terkejut bukan main melihat betapa tubuh Han Siong telah terpecah menjadi tiga dan kini di depan mereka berdiri tiga orang Pek Han Siong! Ji Sun Bi maklum akan kekuatan sihir yang dipergunakan Han Siong dan memang dia telah siap untuk menghadapi kemungkinan itu, maka ia cepat berseru sambil menoleh ke belakang.

"Sam-wi Susiok (Paman Guru Bertiga), tolong bantulah kami!"

Ji Sun Bi adalah murid dari mendiang Min-san Mo-ko, seorang bekas tokoh Pek-lian-kauw yang selain pandai ilmu silat, juga ahli dalam hal ilmu sihir. Ji Sun Bi sendiri tidak pernah mempelajari ilmu sihir selengkapnya, hanya ilmu guna-guna untuk menjatuhkan hati pria saja. Akan tetapi, berkat gurunya dia mempunyai hubungan dengan Pek-lian-kauw.

Ketika Ki Liong menjadi ketua Kim-lian-pang dan dia menjadi pembantu utama atau wakil ketua, dalam usaha mereka untuk memperkuat Kim-lian-pang, maka Ji Sun Bi menemui beberapa orang tokoh Pek-lian-kauw dan berhasil membujuk tiga orang pendeta Pek-lian-kauw yang terhitung sute (adik seperguruan) mendiang Min-san Mo-ko, untuk membantu Kim-lian-pang.

Tiga orang tosu Pek-lian-kauw itu menyanggupi dan kini mereka berada di sana untuk membantu gerakan-gerakan Kim-lian-pang yang mendatangkan untung besar itu. Ketika Han Siong muncul, kebetulan mereka berada di puncak sehingga mereka dapat ikut pula turun menghadapi lawan.

"Jangan khawatir!" terdengar seorang di antara mereka berseru pada saat Ji Sun Bi minta bantuan. Tadi mereka sempat melihat betapa pemuda itu menggunakan sihir yang sangat kuat sehingga mereka sendiri pun terpengaruh dan mereka melihat betapa tubuh pemuda Itu berubah menjadi tiga.

Mereka bertiga maklum bahwa kekuatan sihir pemuda itu memang sangat hebat. Mereka tak akan mampu menandinginya tanpa menggabungkan kekuatan, maka mereka segera duduk bersila, bergandeng tangan dan mengerahkan kekuatan mereka. Seorang di antara mereka, yang berada di sudut kki, segera mengeluarkan kata-kata yang juga melengking tinggi berwibawa.

"Pemuda itu hanya seorang! Yang dua hanya bayangan dan kami perintahkan agar kedua bayangan itu lenyap!" Mereka lalu mengeluarkan suara mengaung-ngaung seperti suara anjing meratapi bulan pada tengah malam, suara yang menyeramkan dan mengeluarkan getaran kuat.

Ki Liong, Cun Sek dan Sun Bi memandang kepada Han Siong. Dan benar saja, dua di antara tubuh Han Siong itu perlahan-lahan lenyap, tinggal seorang lagi saja. Akan tetapi mendadak menjadi tiga lagi, lalu yang dua lenyap lagi. Maka tahulah mereka bahwa telah terjadi pertempuran kekuatan sihir antara Han Siong dan tiga orang tosu Pek-lian-kauw.

Han Siong sendiri sebetulnya mampu menandingi kekuatan sihir tiga orang Pek-lian-kauw itu. Akan tetapi suara mereka sungguh amat mengganggunya dan jika dilanjutkan, dalam keadaan adu tenaga sihir itu kemudian dia dikeroyok tiga, maka keadaannya berbahaya juga. Karena itu, ketika tiga orang itu mulai menggerakkan pedang, dia pun menyimpan kekuatan sihirnya dan dirinya berubah menjadi satu lagi.

Ki Liong sudah menggerakkan pedang Gin-hwa-kiam dan sinar perak menyambar ke arah Han Siong. Pemuda ini cepat mengelak dengan loncatan ke kiri. Dia disambut oleh Ji Sun Bi dengan sepasang pedangnya, sedangkan di belakang pemuda itu Cun Sek juga sudah menggerakkan pedang Hong-cu-kiam untuk mengeroyok.

Han Siong melihat gerakan mereka dan maklum bahwa sekali ini dia menghadapi bahaya. Tiga orang itu adalah orang-orang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan ketiganya memegang senjata. Kalau dia ingin menyelamatkan diri, sebenarnya mudah saja baginya untuk melarikan diri dari tempat itu. Akan tetapi dia harus dapat menahan mereka supaya Ouw Pangcu beserta kawan-kawannya dapat menyerbu sarang Kim-lian-pang di puncak. Kalau dia melarikan diri, tentu tiga orang ini akan mengamuk dan mungkin Ouw Pangcu bersama semua kawannya akan terbasmi dan dibantai!

Tiba-tiba saja dia mengeluarkan bertakan nyaring dan tubuhnya sudah melayang ke arah Ji Sun Bi. Wanita ini terkejut ketika melihat tubuh Han Siong menyambar dari atas seperti seekor burung garuda. Dia menyambutnya dengan bacokan sepasang pedangnya yang membuat gerakan menggunting dari kanan kiri!

Gerakan Ji Sun Bi ini berbahaya sekali terhadap tubuh Han Siong yang sedang melayang dan menyambar turun. Akan tetapi hal ini sudah di perhitungkan oleh Han Siong. Melihat wanita itu menggerakkan sepasang pedangnya, dia pun lantas membuat gerakan dengan tubuhnya sehingga tubuh yang meluncur turun itu mendadak terlempar ke atas membuat poksai (salto) dengan amat cepatnya. Tentu saja serangan Ji Sun Bi luput dan kini tubuh Han Siong telah turun di belakang wanita itu.

Ji Sun Bi adalah seorang ahli silat yang lihai. Dengan cepat dia memutar tubuhnya hingga kedua pedangnya juga ikut berputar, yang kanan membabat leher lawan sedangkan yang kiri menyusul dengan tusukan ke arah perut!

Han Siong sudah siap menghadapi ini. Dia segera merendahkan tubuh sehingga pedang yang menyambar leher itu lewat dl atas kepala, lalu dia menggeser kaki ke depan, sambil miringkan tubuh menghindarkan tusukan tangan kanannya membuat gerakan mendorong dengan pengerahan tenaga sinkang ke arah tangan Sun Bi yang menusukkan pedang.

"Lepaskan!" bentaknya dan bentakan ini pun mengandung wibawa memerintah yang amat kuat. Tanpa dapat dicegah lagi pedang itu terlepas dari tangan Sun Bi dan sudah pindah ke tangan kanan Han Siong.

Sun Bi terkejut dan cepat ia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan menjauh. Akan tetapi ternyata Han Siong tidak menyusulkan serangan melainkan bermaksud merampas sebatang pedang saja.

Kini Cun Sek dan Ki Liang telah menyerang lagi dari kanan kiri. Han Siong mengelak dan membalas dengan pedang rampasan, juga dengan tamparan tangan kiri. Dia tidak berani menggunakan pedang itu untuk menangkis. Meski pun pedang rampasan dari Sun Bi tadi bukan pedang biasa, melainkan sebatang pedang yang baik sekali biar pun terlalu ringan baginya, tetapi besar sekali kemungkinan akan patah jika dipergunakan untuk menangkis pedang sinar emas dan pedang sinar perak dari dua orang muda itu.

Ji Sun Bi yang marah sekali karena sebatang pedangnya terampas, kini sudah maju pula menyerang. Segera Han Siong merasa terdesak bukan main. Dia terpaksa mengeluarkan seluruh ilmu ginkang-nya untuk mengelak ke sana-sini dan hampir tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk membalas serangan. Bahkan ketika terpaksa dia menangkis Hong-cu-kiam yang menyambar dahsyat dari belakang, ujung pedang rampasan itu patah, seperti yang telah dikhawatirkannya.

Sementara itu, tiga orang tosu itu masih duduk bersila dan kini mereka pun membantu pengeroyokan dengan serangan suara mereka! Mereka membuat suara yang seperti tadi, seperti anjing-anjing melolong, sungguh mengerikan dan menyayat hati.

Tentu saja hanya Han Siong yang merasakan gangguan ini karena lolongan itu memang ditujukan kepadanya. Kalau saja dia tidak sedang dikeroyok tiga orang lawan tangguh ini sehingga seluruh perhatiannya harus dicurahkah untuk menyelamatkan diri menghadapi serangan maut itu, tentu dia akan mampu melawan suara yang sangat mengganggu itu. Semakin repotlah Han Siong karena serangan suara ini.

Akan tetapi hatinya segera lega ketika terdengar sorak sorai dibarengi api dan asap yang mengepul dari puncak. Nampaknya Ouw Pangcu sudah berhasil menyerang dengan anak panah berapi yang membakar sarang itu, siasat yang digunakan untuk memancing keluar seluruh anak buah Kim-lian-pang dan Hek-tok-pang.

Tiga orang pengeroyok itu terkejut sekali melihat kepulan asap dari puncak. Akan tetapi mereka enggan meninggalkan Han Siong yang sudah terdesak itu karena kalau pemuda lihai ini tidak dirobohkan lebih dulu, maka tetap saja keadaan mereka terancam.

"Mari kita habiskan dia dulu sebelum menyerang yang lain!" kata Sim Ki Liong dan dia pun segera mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Murid Pendekar Sadis ini memang lihai bukan main dan hanya berselisih sedikit saja jika dibandingkan dengan Han Siong. Sebab itu desakannya yang diikuti dua orang kawannya membuat Han Siong kembali terhuyung, dan terpaksa Han Siong menggerakkan pedang buntungnya untuk menangkis sinar perak yang menyambar ke arah kepalanya.

"Krakkk...!"

Pedangnya kembali patah dan kini hanya tinggal sedikit sisanya. Dia membuang gagang pedang itu dan pada saat itu pula ujung sepatu kaki kanan Ki Liong sempat menyambar ke arah pahanya sehingga dia pun terpelanting! Namun ketika sinar perak dan sinar emas menyambar, dengan amat cekatan dia sudah melesat lagi ke samping sehingga terhindar dari bahaya maut.

Tangannya kini sudah memegang sebatang ranting pohon yang dipatahkannya ketika dia meloncat menghindarkan diri tadi Sebatang ranting akan lebih berguna dari pada pedang rampasan yang kaku tadi. Ranting yang lentur mudah sekali menerima penyaluran tenaga sinkang dan tidak mudah dipatahkan pedang pusaka.

Mulailah Han Siong kembali melawan mati-matian. Dia belum mau melarikan diri, hendak memberi kesempatan kepada Ouw Pangcu hingga berhasil menumpas perkumpulan jahat itu. Tendangan yang mengenai pahanya tadi tidak menimbulkan luka karena dia tadi telah melindungi pahanya dengan kekebalan sinkang, dan kini akibatnya hanya mendatangkan rasa nyeri sedikit. Meski pun demikian tetap saja gerakannya menjadi agak canggung dan dia pun semakin terdesak, terutama sekali suara melolong-lolong dari tiga orang tosu itu sungguh membuat dia semakin bingung.

Tiba-tiba saja nampak bayangan biru berkelebat dan tahu-tahu di situ sudah muncul lagi seorang pemuda yang berpakaian biru-biru dengan garis pinggir berwarna kuning. Kepala dan mukanya tertutup sebuah caping lebar dan di punggungnya terdapat sebuah buntalan kain kuning. Begitu tiba, pemuda ini tertawa bergelak dan menghampiri tiga orang tosu itu, tangannya membawa sebatang pendek ranting pohon.

"Ha-ha-ha, pantas saja suaranya gaduh sekali. Ternyata di sini ada tiga ekor anjing yang sedang menggonggong berebut tulang! Nah, ini kuberi tulangnya, boleh kalian tiga ekor anjing memperebutkannya!" Dia pun melemparkan sepotong kayu tadi ke arah tiga orang tosu dan sungguh luar biasa sekali.

Tiga orang tosu yang tadinya bersila dan bergandeng tangan sambil mengeluarkan suara melolong untuk menyerang Han Siong, kini tiba-tiba saja merangkak-rangkak dan saling memperebutkan kayu itu dengan mulut mereka, persis tiga ekor anjing memperebutkan tulang. Pada saat kepala mereka saling bertumbukan, barulah mereka sadar dan mereka saling pandang dengan mata terbelalak.

"Apa... apa yang terjadi...?" Mereka bertiga berseru.

Mendengar suara ketawa, mereka cepat-cepat menengok dan melihat seorang pemuda berpakaian biru memakai caping lebar sedang berdiri sambil tertawa geli, mentertawakan mereka. Tahulah mereka bahwa pemuda ini yang menjadi gara-gara, yang entah dengan ilmu apa telah memaksa mereka bertiga berlagak seperti tiga ekor anjing!

"Keparat, engkaulah seekor anjing!" bentak seorang di antara mereka, setengah memaki untuk membalas penghinaan tadi dan setengah lagi untuk menggunakan tenaga sihirnya.

Diam-diam pemuda itu mengerahkan kekuatan sihirnya yang hebat, dan dia pun berkata, "Betul sekali! Aku seekor anjing raksasa yang akan makan kalian tiga orang pendeta Pek-lian-kauw! Huk-huk-hukk!"

Tiga orang pendeta Pek-lian-kauw itu terbelalak memandang kepada pemuda itu yang di dalam pandang mata mereka tiba-tiba sudah berubah seperti seekor anjing raksasa yang besarnya seperti sebuah rumah gedung, mulutnya terbuka selebar pintu gerbang dengan giginya yang besar-besar. Mereka menjadi pucat seketika, tubuh mereka gemetaran dan seperti dikomando saja, mereka lalu membalikkan tubuh dan lari tunggang langgang jatuh bangun, bahkan ada yang terkencing-kencing saking ngerinya karena merasa seolah-olah napas anjing raksasa telah mendengus-dengus di tengkuk mereka.

Pemuda itu tertawa bergelak penuh kegembiraan. Han Siong yang semenjak tadi melihat kehadiran dan perbuatan pemuda berpakaian biru bercaping lebar itu, kemudian berseru dengan gembira,

"Hentikan main-mainmu itu, Hay Hay, dan cepat bantulah aku!"

Pemuda yang disebut Hay Hay itu menoleh dan melihat betapa Han Siong terdesak oleh tiga orang pengeroyoknya, dia pun tertawa lagi, "Ha-ha-ha, Sin-tong (anak ajaib), di mana pedang pusakamu yang ampuh itu? Engkau dikeroyok tiga orang lawan yang memakai senjata, bahkan ada pedang pusaka di situ, dan engkau bertangan kosong saja. Salahmu sendiri..."

"Sudahlah, bantu aku dahulu dan nanti baru kita mengobrol!" kata Han Siong lagi dengan mendongkol. Dia begitu terdesak dan dalam bahaya, tetapi orang ini malah mengajaknya mengobrol dan bersendau-gurau.

Pemuda bercaping itu memang Tang Hay, atau di antara kawan-kawannya lebih dikenal dengan sebutan Hay Hay saja. Seorang pemuda yang sebaya dengan Han Siong. Usia mereka sama, yaitu dua puluh dua tahun lebih, wajahnya juga tampan, dadanya bidang tubuhnya sedang dan tegap. Matanya selalu bersinar-sinar, tapi kadang kala mencorong penuh wibawa, dan mututnya tak pernah ditinggalkan senyum manis.

Pemuda ini seorang yang amat romantis, juga pengagum keindahan termasuk kecantikan wanita. Di mana pun berada dia selalu memuji-muji wanita sehingga dia terkenal sebagai Pendekar Mata Keranjang walau pun kegenitannya itu memiliki batas yang kuat sehingga belum pernah dia melanggar, belum pernah dia menggauli wanita, baik dengan perkosaan mau pun dengan suka rela. Kedekatannya dengan wanita tak lebih dari saling rangkul dan saling cium saja.

Dalam perjalanan mencari ayahnya, yaitu Ang-hong-cu, tanpa sengaja Hay Hay sampai di tempat itu dan melihat pertempuran itu. Dia sedang menuju ke kota raja karena dia sudah mendengar bahwa meski pun tidak ada seorang juga yang mengetahui di mana adanya si Kumbang Merah, jai-hwa-cat yang sudah lama sekali namanya dikenal orang akan tetapi akhir-akhir ini tidak ada kabar ceritanya lagi, namun di kota raja muncul seorang perwira muda disebut Tang-ciangkun yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Biar pun tipis, namun berita ini setidaknya merupakan suatu hal yang perlu diselidiki. Siapa tahu perwira muda Tang itu benar dapat membawa dia kepada jejak Ang-hong-cu!

Maka, ketika melihat ada perkelahian di situ, dia pun tak peduli dan hendak melewatinya begitu saja, apa lagi dia belum melihat jelas dan tidak tahu siapa yang sedang berkelahi. Akan tetapi dia lantas tertarik oleh suara melolong-lolong yang mengandung getaran aneh dan berwibawa itu.

Sebagai seorang yang sudah mempelajari ilmu sihir secara cukup mendalam, dia dapat merasakan ketidak wajaran dalam suara itu dan menduga bahwa suara itu mengandung kekuatan sihir! Maka dia pun tertarik kemudian mendekat. Setelah mendekat, barulah dia melihat bahwa yang dikeroyok tiga dan terdesak, masih diserang oleh suara mengandung kekuatan sihir pula, bukan lain adalah Pek Han Siong!

Dulu Pek Han Siong pernah menuduhnya memperkosa adik kandungnya, yaitu Pek Eng sehingga Han Siong memusuhinya dan mereka lalu bertanding dengan hebatnya. Namun akhirnya Han Siong mengetahui bahwa yang memperkosa adik kandungnya sama sekali bukan Hay Hay, melainkan Si Kumbang Merah yang ternyata menurut pengakuan Hay Hay adalah ayah kandung Hay Hay sendiri!

Karena kenyataan itu, maka permusuhan antara mereka pun lenyap dan tidak ada saling dendam di antara mereka. Bahkan sesungguhnya, ada hubungan yang amat dekat antara kedua pemuda ini.

Sejak kecil Han Siong dianggap sebagai Sin-tong (anak ajaib) oleh para pendeta Lama di Tibet yang merasa yakin bahwa Han Siong adalah seorang calon Dalai Lama! Maka anak ini kemudian diperebutkan dan oleh para pendeta Lama hendak dibawa ke Tibet. Untuk menyelamatkannya, maka Han Siong disembunyikan dan sebagai gantinya, orang tuanya mengambil Hay Hay yang ketika itu seorang anak tanpa ayah ibu. Maka terjadilah hal-hal yang amat menarik seperti diceritakan dalam kisah Pendekar Mata Keranjang.

Setelah keduanya menjadi pemuda dewasa, dalam cara hidup masing-masing keduanya menjadi pemuda gemblengan yang pandai ilmu silat, bahkan keduanya juga pandai ilmu sihir walau pun tingkat Hay Hay jauh lebih tinggi dalam hal sihir menyihir ini.

Sekarang Hay Hay tidak mau main-main lagi, apa lagi sesudah dia melihat dengan penuh perhatian dan mengenal dua orang di antara para pengeroyok itu

"Wah-wah-wahh! Bukankah itu Sim Ki Liong murid murtad dari locianpwe Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah? Dan yang seorang lagi, bukankah Ji Sun Bi si cantik manis yang memiliki hati penuh racun? Hayaa, pantas saja engkau terdesak, Han Siong. Kiranya para pengeroyokmu adalah dua orang yang teramat jahat. Dan siapa pula yang seorang lagi itu? Heiii! Bukankah itu Hong-cu-kiam yang dibawanya? Dan ilmu silatnya itu! Han Siong, apa kau lupa lagi dan tidak mengenal ilmu silat Cin-ling-pai? Dia seorang tokoh Cin-ling-pai!"

Tiba-tiba Hay Hay telah meloncat ke dalam medan perkelahian itu. Dia sendiri tak pernah mempergunakan senjata. Cun Sek yang terkejut dan juga marah melihat betapa pemuda bercaping lebar yang baru muncul ini dapat mengenali pedang serta ilmu silatnya, sudah menyambutnya dengan tusukan pedang yang cepat dan kuat sekali, mengarah dada Hay Hay.

Tanpa disadarinya, ucapan Hay Hay tadi memang sudah menarik perhatian Cun Sek, dia sudah terjatuh ke dalam pengaruh sihir Hay Hay! Melihat tusukan pedang Hong-cu-kiam itu Hay Hay segera miringkan tubuhnya dan berkata dengan suara nyaring.

"Pedangmu itu buntung, mana bisa untuk menyerangku?"

Cun Sek terbelalak. Dia memandang pedangnya yang tahu-tahu sudah menjadi sebatang pedang buntung yang pendek! Hanya beberapa detik saja dia termangu, namun ini sudah cukup bagi Hay Hay. Dengan sekali totokan ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, tahu-tahu Hong-cu-kiam telah berpindah tangan!

Barulah Cun Sek sadar dan dia menjadi marah sekali. "Kembalikan pedangku!" bentaknya sambil menerjang dengan tangan kosong.

Akan tetapi Hay Hay cepat menggerak-gerakkan pedang Hong-cu-kiam sehingga nampak sinar emas bergulung-gulung mengelilingi tubuh Cun Sek yang menjadi amat bingung dan khawatir sekali.

"Brett-brett-brett...!"

Nampak potongan kain berhamburan dan Cun Sek merasa tubuhnya dingin-dingin. Ketika dia memandang, ternyata sinar pedang emas itu telah menelanjanginya! Pakaian luarnya sudah robek-robek dan dia berdiri di situ hanya dengan sebuah celana kolor pendek yang menutupi tubuh bawahnya! Hay Hay tertawa-tawa dan kini dia menggerakkan pedangnya untuk menyerang Ki Liong!

Sejak tadi Ki Liong dan Sun Bi sudah kaget setengah mati ketika melihat munculnya Hay Hay, pemuda yang pernah membuat mereka gentar ketika pemuda ini muncul pula dalam rombongan para pendekar yang membasmi gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Keduanya segera maklum pula bahwa kemunculan Hay Hay yang di luar dugaan ini akan menghancurkan semua rencana mereka, bahkan sekarang mereka berada dalam bahaya besar. Hal ini langsung terbukti ketika dengan amat mudahnya Hay Hay sudah merampas pedang pusaka Hong-cu-kiam dari tangan Cun Sek yang telah dibuat tidak berdaya!

Cun Sek merasa terkejut dan malu bukan main. Dia kemudian menjadi nekat dan sambil mengeluarkan suara menggeram bagai seekor harimau terluka, dia pun menubruk dengan nekat ke arah Hay Hay.

Akan tetapi Hay Hay menyambutnya dengan sebuah tendangan sehingga tubuh Cun Sek terjengkang lalu terbanting keras ke atas tanah. Karena pemuda itu tadi memegang Hong-cu-kiam dan memiliki ilmu silat Cin-ling-pai, tentu saja Hay Hay tidak mau membunuhnya dan hanya merobohkannya tanpa melukai berat.

Setelah merobohkan Cun Sek, Hay Hay lalu membalik dan kembali menyerang Ki Liong. Murid Pendekar Sadis yang maklum akan kelihaian Hay Hay ini cepat menangkis dengan Gin-hwa-kiam.

"Trakkkk!"

Dua pedang bertemu kemudian melekat! Ki Liong terkejut dan menarik pedangnya, akan tetapi Hong-cu-kiam yang lemas itu ternyata telah melibat. Ujung Hong-cu-kiam membelit pedang Gin-hwa-kiam seperti seekor ular saja!

"Han Siong, cepat kau ambil pedangnya. Pedang itu tak pantas berada di tangannya. Kita harus kembalikan pedang itu ke Pulau Teratai Merah!" kata Hay Hay kepada Han Siong sambil mempertahankan pedang lawan dengan libatan pedangnya.

Ji Sun Bi cepat maju menghalang dan menusukkan pedangnya kepada Han Siong untuk mencegah pemuda ini mengeroyok Ki Liong. Akan tetapi kini, setelah berhadapan dengan Ji Sun Bi sendiri, tentu saja Han Siong memandang ringan wanita itu dan dengan mudah dia membiarkan pedang yang menusuknya itu lewat, kemudian dari samping tangannya menyambar.

"Plakkk!"

Pundak Sun Bi terkena tamparan tangan Pek-hong Sin-ciang dan dia pun mengeluh lalu roboh terkulai.

Kini Han Siong menerjang Ki Liong yang masih sibuk menarik Gin-hwa-kiam dari libatan Hong-cu-kiam. Tangan kirinya mencengkeram ke arah tangan murid Pendekar Sadis itu dan tangan kanannya mencengkeram ke arah pelipis! Menghadapi serangan dahsyat ini, terpaksa Ki Liong melepaskan pedangnya lantas berjungkir balik ke belakang. Pedangnya kini sudah berpindah ke tangan Han Siong.

"Ha-ha-ha, bagaimana, Han Siong? Kita bunuh saja tiga ekor ular berbisa ini?"

"Jangan, Hay Hay. Kita bukan pembunuh keji! Kita tangkap saja mereka dan..."

Tiba-tiba nampak seorang pria raksasa meloncat ke depan mereka dan dia mengebutkan sebuah kain. Asap atau debu hitam lantas berhamburan dan terdengar pula suara ledakan yang menimbulkan asap hitam tebal.

"Han Siong, mundur! Debu itu beracun!" teriak Hay Hay yang segera menyambar lengan Han Siong dan mengajaknya meloncat jauh ke belakang. Asap hitam menjadi tabir hingga membuat mereka tidak dapat melihat ke depan. Akan tetapi Hay Hay melihat kain yang dikebut-kebutkan itu dan dia berbisik,

"Kita serang kain itu dengan pukulan jarak jauh. Mari!"

Keduanya mengerahkan tenaga sinkang lantas mendorong dari tempat mereka berdiri ke arah kain itu. Angin dahsyat langsung menyambar ke arah kain itu dan terdengarlah jerit parau mengerikan di dalam asap hitam yang gelap itu, lalu keadaan menjadi sunyi.

Setelah asap hitam lenyap ditiup angin, mereka hanya melihat pria raksasa tadi yang kini menggeletak tanpa nyawa di situ dengan muka berubah hitam, sementara kain itu masih menutupi mukanya. Ki Liong, Cun Sek dan Sun Bi telah lenyap tanpa meninggalkan jejak. Kiranya pria raksasa itu adalah Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang telah menolong tiga orang pemimpinnya sedangkan bahan peledak yang mengeluarkan asap hitam tadi dilepas oleh tiga orang tokoh Pek-lian-kauw untuk menolong teman-temannya.

"Hemm, mereka telah lolos! Biar kucari dan kukejar mereka!" kata Hay Hay.

"Tidak perlu lagi" kata Han Siong. "Lebih baik kita turut membantu mereka yang sekarang sedang membasmi anak buah Kim-lian-pang yang jahat. Anak-anak buah Hek-tok-pang itu masih berbahaya, aku khawatir akan terjatuh banyak korban di antara para penyerbu."

"Kim-lian-pang? Hek-tok-pang? Aku tidak tahu apa yang terjadi di tempat ini," Hay Hay yang baru saja datang memang tidak tahu sehingga dia bertanya heran.

"Kim-lian-pang anak buah Sim Ki Liong, dan Hek-tok-pang anak buah dia yang tewas ini. Sudahlah, nanti saja kujelaskan lebih lanjut, sekarang aku harus membantu mereka!" kata Han Siong yang segera meloncat pergi dari situ.

"Aku membantumu!" kata Hay Hay sambil mengejar.

Tentu saja dia percaya penuh bahwa yang dibela oleh Han Siong pasti berada pada pihak yang benar. Dia telah mengenal watak Sin-tong ini, seorang pendekar muda gemblengan yang selalu menentang kejahatan. Apa lagi tadi pun dia telah membuktikan sendiri bahwa pihak lawan pemuda itu adalah orang-orang yang dia tahu amat jahat, terutama Ji Sun Bi.

Tentu saja dia mengenal baik siapa Ji Sun Bi itu! Bagaimana tidak mengenalnya? Bahkan wanita cantik berwatak cabul itu dapat dibilang merupakan gurunya dalam bercumbu dan berolah cinta! Wanita yang pertama kali saling peluk dan saling cium dengannya adalah Ji Sun Bi! Kalau saja batinnya tidak kokoh kuat, tentu dia sudah kehilangan perjakanya oleh wanita itu.

Dan hampir saja dia diperkosa ketika Ji Sun Bi dibantu mendiang gurunya, Min-san Mo-ko yang membuat dia tidak berdaya dengan sihir. Untung muncul Pek Mau Sanjin, mendiang kakek sakti yang kemudian menjadi gurunya dalam hal ilmu sihir. Dia sudah mengenal Ji Sun Bi secara baik, dan dengan mengenang peristiwa itu saja, sudah tentu dia tidak tega untuk membunuhnya! Wanita pertama yang mengajarnya tentang permainan asmara!

cerita silat online karya kho ping hoo

Perhitungan dan siasat yang digunakan Ouw Pangcu memang tepat. Dia bersama teman-temannya menghujankan anak panah berapi ke puncak hingga hal ini memancing semua anak buah Kim-lian-pang dan Hek-tok-pang untuk turun dari puncak, pergi meninggalkan sarang mereka lalu mengamuk dengan penuh kemarahan. Apa lagi setelah mereka lihat betapa pimpinan mereka mengepung seorang pemuda lihai.

Hek-tok Pangcu memimpin anak buahnya mengamuk. Tepat seperti yang dikhawatirkan Han Siong, dua puluh orang Hek-tok-pang serta pemimpin mereka ini merupakan lawan berat yang membuat para penyerbu kewalahan. Tapi karena jumlah pihak para penyerbu jauh lebih banyak, dan para penyerbu itu juga terdiri dari para anggota perkumpulan silat yang rata-rata pandai ilmu silat, maka pertempuran berlangsung dengan hebat dan pada kedua pihak telah jatuh korban belasan orang banyaknya.

Munculnya Han Siong dan Hay Hay dalam pertempuran itu pada saat yang sangat tepat. Begitu dua orang pemuda sakti ini terjun ke dalam pertempuran, hanya mempergunakan kaki tangan karena mereka sudah menyimpan pedang pusaka yang mereka rampas tadi, tak ingin mempergunakan pedang pusaka yang bukan milik mereka itu untuk membunuh orang, maka kocar-kacirlah pihak lawan. Semua anak buah Hek-tok-pang telah roboh dan tewas, dan sebagian besar anak buah Kim-lian-pang juga roboh, sebagian kecil melarikan diri bahkan ada pula yang terjun ke dalam jurang untuk menyelamatkan diri.

Dengan dipimpin oleh Ouw Pangcu, para penyerbu lalu naik ke puncak Kim-Iian-san dan kedua orang pemuda perkasa itulah yang menjadi pelopor di depan. Mereka berdua yang meruntuhkan semua penghalang serta jebakan, juga memunahkan segala macam racun yang disebar dengan membakar rumpun semak belukar pada sepanjang lorong dan jalan setapak yang menuju ke puncak.

Akhirnya mereka sampai di puncak, di sarang Kim-lian-pang dan ternyata yang tinggal di sarang itu hanyalah isteri para anggota bersama anak-anak mereka. Ouw Pangcu cepat memberi aba-aba agar tak seorang pun boleh mengganggu mereka! Sikap ini saja sudah membuat Han Siong dan Hay Hay merasa senang sekali, karena itu mereka tidak merasa menyesal telah membantu gerakan yang dipimpin oleh Ouw Pangcu yang bijaksana itu.

Oleh Ouw Pangcu, semua harta benda yang ada di sarang Kim-lian-pang lalu dibagikan kepada keluarga para anggota Kim-lian-pang. Dia menyuruh mereka semua turun bukit, kemudian dia membakar sarang itu, disaksikan oleh semua penyerbu yang bersorak sorai penuh kemenangan dan kepuasan karena mereka semua merasa sakit hati kepada Kim-lian-pang dan kini mereka telah berhasil membalas dendam dan membasmi perkumpulan jahat itu.

Setelah api berkobar membakar sarang gerombolan Kim-lian-pang dan para penyerbu itu tengah bersorak-sorai, tiba-tiba terdengar suara lantang Ouw Pangcu. "Saudara sekalian, tanpa bantuan dari pendekar besar Pek Han Siong, tidak mungkin kita dapat membasmi gerombolan jahat itu. Mari kita berterima kasih kepada Pek Taihiap!"

Berkata demikian, Ouw Pang Cu segera menjatuhkan diri berlutut menghadap Pek Han Siong, diikuti oleh puterinya yang tadi juga ikut bertempur dengan gagah dan mati-matian. Melihat pemimpin penyerbuan itu telah berlutut, semua anggota penyerbu yang terdiri dari para anggota bermacam perkumpulan segera menjatuhkan diri berlutut dan menghadap pemuda itu. Hanya Han Siong dan Hay Hay saja yang berdiri, sedangkan semua orang berlutut. Melihat ini, Hay Hay tersenyum dan berseru dengan nyaring.

"Hidup pendekar gagah Pek Taihiap!"

Mendengar ini, semua orang yang berlutut juga berseru, "Hidup Pek Taihiap! Hidup Pek Taihiap!"

"Ahh, engkau gila!" Han Siong memaki Hay Hay yang masih cengar-cengir menggodanya, kemudian Han Siong menghampiri Ouw Pangcu dan mengangkat bangun ketua itu dan juga puterinya. Dia ingin membalas kepada Hay Hay, maka katanya dengan lantang,

"Ouw Pangcu dan saudara sekalian harap bangun dan jangan berterima kasih kepadaku saja. Tanpa bantuan pendekar sakti Tang Hay ini, mana aku mampu mengalahkan para pimpinan Kim-lian-pang? Dia inilah yang sudah membantuku dan dia yang berjasa besar dalam pertempuran ini. Hidup Pendekar Mata Keranjang Tang Hay!"

Tentu saja semua orang merasa heran sekaligus geli mendengar julukan itu. Pendekar Mata Keranjang? Karena itu mereka pun tidak berani menirukan sorakan Han Siong tadi, khawatir kalau-kalau menyinggung hati pemuda berpakaian biru dan bercaping lebar itu. Ouw Pangcu cepat maju memberi hormat kepada Tang Hay.

"Terima kasih atas bantuan Taihiap!" katanya yang diturut pula oleh Ci Goat, puterinya. Hay Hay memandang kepada Ci Goat dan tersenyum.

"Aih, tidak kusangka bahwa di antara banyak orang gagah ini terdapat pula seorang nona yang gagah perkasa. Han Siong, perkenalkan aku kepada mereka!"

Han Siong tersenyum mengejek. Pemuda yang satu ini memang sangat payah, pikirnya. Tak dapat dia menyangkal bahwa Hay Hay memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, bahkan dia sendiri merasa sukar untuk dapat menandinginya, juga mempunyai watak gagah dan bertanggung jawab, seperti yang pernah dibuktikannya pada saat mengakui Ang-hong-cu sebagai ayahnya.

Akan tetapi satu hal yang membuat dia merasa kecewa. Pemuda ini memiliki sifat mata keranjang yang sudah tidak ketulungan lagi! Bagaikan seekor kumbang yang tidak pernah mau melewatkan setangkai kembang yang indah bermadu. Begitu melihat wanita, segera saja merasa tertarik!

Memang harus diakuinya bahwa pada kenyataannya pemuda ini tak pernah mengganggu wanita dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, melainkan hanya karena iseng dan hanya tertarik untuk berdekatan saja. Namun tentu saja semua orang akan mudah menjatuhkan kesalahan kepadanya kalau terjadi sesuatu dengan gadis yang didekatinya.

"Ouw Pangcu dan adik Ci Goat, dia ini adalah seorang pendekar sakti bernama Tang Hay dan berjuluk..."

"Aihh, tidak ada julukan bagiku, Han Siong, tidak seperti engkau yang sejak kecil dijuluki Sin-tong!" Hay Hay mencela.

Tentu saja ucapannya ini hanya untuk bergurau, tetapi baik dia mau pun Han Siong tidak menyadari bahwa senda gurau ini ternyata berakibat panjang. Seorang di antara mereka yang tadi ikut menyerbu, terbelalak mendengar sebutan Sin-tong untuk ke dua kalinya ini, akan tetapi dia hanya diam saja.

"Hay Hay, ini adalah Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi dan ini adalah nona Ouw Ci Goat, puterinya," Han Siong memperkenalkan. .

"Ouw Pangcu, sungguh beruntung aku dapat berkenalan dengan ketua Pek-tiauw-pang," kata Hay Hay dengan sikap sopan.

"Aihh, Tang-taihiap, sekarang Pek-tiauw-pang hanya tinggal namanya saja. Tadinya, yang tersisa dari pembunuhan yang dilakukan Kim-lian-pang hanya tinggal aku, anakku ini dan tiga orang murid. Akan tetapi kini tiga orang murid itu pun gugur dalam pertempuran tadi. Tinggal aku dan puteriku ini, maka mulai saat ini aku adalah Ouw Lok Khi biasa, bukan lagi seorang pangcu (ketua). Aku sudah terlalu tua untuk membangun kembali Pek-tiauw-pang yang sudah terbasmi habis."

"Ahh, kurasa tidak perlu paman Ouw berputus asa. Bukankah di sini masih ada nona Ouw yang gagah perkasa dan cantik jelita, lagi pula masih muda belia? Dengan bantuannya, apa sulitnya bagi paman untuk membangun lagi perkumpulan?" Hay Hay berkata dengan ramah. Dia melihat sepasang mata yang jeli itu terbelalak mendengar pujian bagi dirinya, akan tetapi terbelalak heran atas keberanian orang, bukan karena marah!

"Sudahlah, aku telah menerima kalah. Mari, ji-wi taihiap, marilah ji-wi (kalian) singgah dulu di rumah muridku Thio Ki yang telah diserahkan kepada kami. Karena dia pun telah gugur, maka rumahnya kini menjadi tempat tinggal kami untuk sementara."

Han Siong hendak menolak, dan hal ini nampak oleh Hay Hay yang bermata tajam, maka Hay Hay cepat mendahuluinya. "Baiklah, Paman, dan Nona. Terima kasih atas undangan itu. Mari, Han Siong, kita singgah dulu di rumah paman Ouw agar dapat mempererat tali persahabatan."

Dengan ucapan seperti itu, tentu saja Han Siong merasa dilumpuhkan sehingga dia tidak berani menolak. Bagaimana dia berani menolak bila persinggahan itu dimaksudkan untuk mempererat persahabatan? Dia lalu mengerling tajam kepada Hay Hay yang menyeringai lebar karena maklum bahwa kawannya itu mendongkol.

Hay Hay merasa heran, mengapa dalam pertemuan dengan Han Siong sekali ini, setelah lenyap semua rasa curiga dan kemarahan di antara mereka, dia kini merasa sangat akrab dengan Han Siong, seolah-olah mereka adalah dua orang sahabat lama.

Sesudah menyerahkan pengurusan para jenazah muridnya dan teman-teman lain kepada para sahabatnya yang ikut dalam penyerbuan itu, Ouw Lok Khi dan Ouw Ci Goat lantas mengajak dua orang pemuda perkasa itu ke rumah Thio Ki yang juga gugur. Tiga jenazah murid Pek-tiauw-pang, termasuk jenazah Thio Ki, sesudah dirawat kemudian dimasukkan ke dalam peti dan dibawa ke rumah itu, dijajarkan di serambi depan.

Malam itu banyak kenalan yang datang untuk memberi penghormatan terakhir kepada tiga jenazah dalam peti mati dan pada keesokan harinya, tiga peti jenazah itu pun dikuburkan dengan upacara sederhana. Selama itu pula Hay Hay tanpa rikuh lagi selalu mendekati Ci Goat dan mengajak gadis itu bercakap-cakap dengan sikap ramah dan akrab sekali! Berbeda dengan Han Siong yang selalu menjauhkan diri dari gadis itu karena dia merasa tidak enak kalau berdekatan dengan gadis yang dia ketahui sudah jatuh cinta kepadanya itu.

Hay Hay melihat gadis itu nampak murung ketika orang-orang mulai menimbuni lubang kuburan tiga orang murid Pek-tiauw-pang itu dengan tanah. Pada waktu gadis itu duduk di bawah pohon untuk berlindungi dari sengatan matahari, Hay Hay lalu mendekatinya dan masih sempat berkelakar untuk memancing percakapan.

Hay Hay juga duduk di atas sebuah batu, dalam jarak tiga meter dari gadis itu dan tanpa rikuh-rikuh dia mengamati wajah gadis yang bulat dan berkulit putih mulus itu. Wajah itu kelihatan muram dan sinar matanya mengandung kedukaan.

Pandang mata orang biasa saja sudah mengandung getaran yang akan terasa oleh orang yang dipandang, apa lagi pandang mata Hay Hay yang matanya mengandung kekuatan sihir yang hebat walau pun pada waktu itu dia tidak mempergunakan kekuatannya. Gadis itu mengangkat muka dan pandang matanya bertemu dengan mata Hay Hay yang tidak menyembunyikan sinar kekagumannya.

Melihat betapa mata pemuda itu terus memandang kepadanya dengan kagum, Ci Goat mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia lalu teringat akan ucapan Han Siong yang menjuluki pemuda ini dengan julukan aneh, yaitu Pendekar Mata Keranjang! Jika melihat pandang mata itu, tidak aneh kalau dia dijuluki mata keranjang!

Dia tidak berani marah, mengingat bahwa pemuda ini juga seorang penolong besar yang membuat dia dan ayahnya berhasil membalas dendam dan menghancurkan perkumpulan Kim-lian-pang bersama antek-anteknya. Maka dia hanya menundukkan kembali mukanya dengan cepat dan muka yang putih itu berubah kemerahan.

"Heiii, nona Ouw, mengapa bermuram durja? Alangkah sayangnya kalau bulan purnama tertutup awan dan matahari terhalang mendung, dunia akan menjadi gelap dan kehilangan serinya! Nona, kenapa berduka pada hal pagi seindah dan secerah ini?"

Sepasang pipi yang putih halus itu menjadi semakin merah. Dia diumpamakan bulan dan matahari! Sungguh kata-kata rayuan maut yang akan dapat membuat wanita tergetar dan berlonjak kegirangan penuh bangga. Akan tetapi Ouw Ci Goat tersipu malu dan melirik ke arah Han Siong yang berdiri dekat mereka yang sedang melakukan pemakaman. Hatinya khawatir sekali.

Dia telah jatuh cinta kepada Han Siong dan kini Pendekar Mata Keranjang mengeluarkan kata-kata yang merayunya. Andai kata bukan pendekar ini yang mengeluarkan kata-kata rayuan itu, tentu akan dijauhinya, tidak dipedulikannya.

Akan tetapi Hay Hay adalah seorang pendekar yang juga berjasa seperti Han Siong, dan harus diakuinya bahwa mendengar kata-kata manis laksana madu dari seorang pemuda yang demikian gagah perkasa dan gantengnya, sungguh merupakan belaian lembut pada hatinya. Untuk mencegah pemuda itu melanjutkan rayuannya, dia pun menjawab dengan sikap, pandang mata, dan nada suara yang serius, bahkan hatinya yang sedang diliputi kedukaan itu membuat kedua matanya basah air mata.

"Taihiap, bagaimana mungkin aku tidak berduka? Aku sudah kehilangan seluruh saudara anggota Pek-tiauw-pang yang juga menjadi murid-murid ayah, menjadi saudara-saudara seperguruanku. Mereka semua tewas, bahkan hari ini tiga orang yang terakhir pun tewas. Mala petaka besar telah menimpa keluarga kami. Tentu saja aku berduka sekali, Taihiap."

Hay Hay tersenyum, "Aihh, nona Ouw, sungguh sayang kalau menghamburkan air mata dan meremas hati sendiri. Berduka akan membuat wajahmu yang seperti bulan purnama itu menjadi kerut merut, juga dapat membuat engkau yang muda belia ini menjadi cepat tua. Nona yang baik, aku ingin bertanya, siapa yang kau tangisi, siapa yang kau sedihkan itu?"

Gadis itu memandang heran. Matanya yang agak kemerahan karena tangis itu sekarang agak terbelalak sehingga Hay Hay memandang kagum. Indahnya mata itu!

"Taihiap, aneh sekali pertanyaanmu itu. Tentu saja aku menangisi tiga orang suheng yang tewas itu, semua saudara seperguruanku yang telah tewas oleh para penjahat Kim-lian-pang!"

"Mengapa engkau menangisi mereka yang sudah mati? Apakah kalau ditangisi mereka akan merasa senang di sana, ataukah mereka akan hidup kembali kalau disedihkan?"

Gadis itu makin terkejut dan heran. "Tentu saja tidak! Pertanyaanmu sungguh aneh sekali, taihiap. Orang di seluruh dunia ini tentu akan bersedih dan menangis bila mana kematian orang-orang yang dekat dengan mereka!"

"Ahh, jadi kalau begitu engkau bersedih dan menangis karena umum melakukannya? Jadi tangismu itu hanya ikut-ikutan saja? Mari kita bicara tentang kesedihanmu, perasaanmu sendiri, bukan kesedihan orang-orang lain, Nona yang baik. Nah, mari mulai kita selidiki. Apakah engkau bersedih untuk mereka? Rasanya tidak mungkin. Mereka sudah mati dan engkau tidak tahu keadaan mereka. Yang jelas mereka tidak menderita lagi, jadi tidak ada alasan untuk mengasihani mereka. Bahkan mereka itu mati sebagai orang-orang gagah, sebagai pendekar yang menentang kejahatan, maka sepantasnya engkau malah bangga dengan kematian mereka, bukan berduka. Tidakkah benar demikian, Nona?"

"Aku... aku tidak tahu... aku menjadi bingung. Kurasa... pendapatmu itu benar juga, akan tetapi tak mungkin aku berbangga dan tidak berduka. Orang-orang akan menganggap aku tidak wajar..."

"Justru sebaliknya! Apa bila tangismu ini kau katakan untuk menangisi mereka yang mati, maka tangismu itu sama sekali tidak wajar bahkan berpura-pura! Mari kita membuka mata melihat kenyataan, Nona. Coba jenguk perasaan hatimu sendiri. Lihat baik-baik apa yang kau rasakan. Benarkah engkau menangis dan bersedih karena kasihan kepada mereka yang mati? Ataukah engkau bersedih dan menangis untuk dirimu sendiri, karena engkau merasa kehilangan dan merasa kasihan kepada dirimu sendiri? Beranikanlah hatimu dan amatilah baik-baik!"

Gadis itu tertegun. Selama hidupnya baru sekali ini dia mendengar pendapat yang seperti itu. Bukan, bukan pendapat, melainkan pembukaan kenyataan yang tak dapat dia bantah lagi. Memang benar, dia menangis dan berduka karena merasa kasihan terhadap dirinya sendiri, kepada nasib dirinya, sama sekali bukan menangisi mereka yang mati. Ia berduka karena dia kehilangan saudara dan sahabat baik, karena dia merasa ditinggalkan. Hal ini nampak jelas sekarang.

"Aku... aku menjadi bingung... kata-katamu memang benar, Taihiap. Akan tetapi, apakah aku tidak boleh menangis dan harus bergembira menghadapi kematian para suheng-ku?"

Hay Hay tersenyum. "Tidak ada orang yang menyuruhmu menangis atau tertawa, Nona, juga tidak ada yang melarangmu untuk menangis atau tertawa. Tangis dan tawa adalah pencurahan dari keadaan hati dan tidak ada orang lain yang mampu mengatur keadaan hatimu. Yang penting, engkau harus yakin benar apa yang kau tangiskan atau tawakan, agar tangis dan tawamu tidak menjadi palsu."

Dara itu termenung, wajahnya kosong dan polos. Tiba-tiba saja Hay Hay tertawa bergelak sehingga gadis itu menjadi semakin heran dan menatap wajah yang tampan itu.

"Ha-ha-ha, coba rasakan baik-baik, Nona. Semenjak kita bercakap-cakap, engkau sama sekali tidak berduka lagi, tidak menangis lagi! Ini menjadi bukti jelas bahwa duka hanyalah permainan pikiran sendiri belaka! Pikiran mengenang hal-hal yang tidak menguntungkan diri sendiri. Tadi pikiranmu mengenang tentang kehilangan saudara-saudaramu sehingga timbul iba diri dan pikiranmu seperti meremas-remas hatimu sendiri, maka timbullah duka. Begitu pikiranmu terisi perhatian untuk percakapan kita tadi, kenangan itu pun lenyap dan duka pun hilang tanpa bekas! Biang keladi susah senang hanyalah kenangan pikiran yang didasari rugi untung bagi diri pribadi, keduanya saling berlomba menguasai diri kita. Akan tetapi, kalau harus memilih, mengapa tidak memilih tersenyum dari pada menangis. Kalau engkau menangis, wajahmu yang cantik itu penuh kerut merut, matamu kemerahan, juga hidungmu merah dan engkau akan menyeret orang lain untuk menangis pula. Sebaliknya, kalau engkau tersenyum... hemm, cobalah tersenyum, Nona, dunia akan turut tersenyum bersamamu. Dan wajahmu yang cantik itu akan menjadi semakin manis apa bila engkau tersenyum!"

Ci Goat tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak tersenyum, dan Hay Hay terpesona. Alangkah manisnya gadis itu kalau tersenyum! Akan tetapi senyum itu segera lenyap dan Ci Goat berkata lirih, agak cemberut.

"Taihiap, harap jangan mempermainkan aku. Kalau ayahku melihat betapa aku senyum-senyum pada saat mereka menguburkan jenazah tiga orang suheng-ku, tentu ayah akan marah karena menganggap aku tidak sopan, tidak mengenal aturan, tidak sayang kepada suheng-suheng-ku, malah mungkin juga aku akan dianggap gila! Apa yang harus kujawab kalau ayah atau orang lain bertanya kenapa aku justru tersenyum-senyum dalam keadaan berkabung seperti ini?"

"Katakan saja bahwa engkau gembira bahwa tiga orang suheng-mu tewas sebagai orang-orang gagah yang menentang kejahatan. Katakan bahwa engkau sangat gembira karena sudah menemukan dirimu sendiri seperti apa adanya, tidak berpura-pura, berani melihat kenyataan hidup!" Hay Hay tersenyum dan kini Ci Goat juga tersenyum. Gadis ini merasa betapa dadanya lapang dan lega, tidak lagi tertindih duka yang ternyata hanya dibuat oleh angan-angan pikirannya sendiri! Dia merasa bebas lepas dan nyaman!

Pada saat itu Han Siong mendekati mereka. "Wah, ada apa ini kalian amat gembira dan senyum-senyum. Goat-moi, hati-hati jangan sampai terbuai oleh rayuan maut Si Pendekar Mata Keranjang!"

"Ha-ha-ha. Sin-tong! Mana mungkin dia bisa terbuai rayuan? Hatinya sudah melekat pada seseorang, cintanya hanya ditujukan kepada seseorang!"

Tentu saja Ci Goat tersipu malu. Ia ingin membantah, akan tetapi karena di situ hadir Han Siong, dia pun tidak dapat mengeluarkan kata-kata selain, "Ihh, Taihiap..."

"Hay Hay, siapakah seseorang yang kau maksudkan itu?" tanyanya ingin tahu karena dia menduga bahwa tentu Hay Hay ngawur saja, hanya untuk mengoda Ci Goat.

"Hemmm, jangan engkau pura-pura tidak tahu! Siapa lagi kalau bukan Sin-tong Pek Han Siong?"

Han Siong terbelalak, terkejut dan heran. Juga Ci Goat terkejut, akan tetapi dengan muka berubah merah sekali dia lalu lari dari situ menuju ke tempat di mana ayahnya dan orang-orang lain sedang menimbuni tiga makam dengan tanah.

"Hay Hay, bagaimana engkau bisa tahu? Ataukah engkau ngawur saja?" tanya Han Siong sambil mendekati Hay Hay, matanya memandang penuh selidik.

"Tahu apa?" Hay Hay pura-pura tidak tahu untuk mengoda.

"Tahu bahwa dia mencintaku!"

"Ha-ha, yang matanya tidak buta tentu tahu! Cara dia memandang kepadamu saja sudah jelas, belum lagi jika dia berbicara kepadamu, tentu lebih jelas lagi. Rahasia hati seorang wanita yang tengah jatuh cinta amat mudah diketahui dari pandang matanya. Ada kalanya matanya bersinar penuh kagum, penuh harap, penuh penantian. Ada kalanya pula sinar matanya itu redup seperti orang mengantuk, penuh tantangan, penuh penyerahan, tampak malu-malu, mengandung kegenitan... ahh, pendeknya jelas sekali. Kalau berbicara, tentu suaranya akan menggetarkan lagu cinta, disertai senyum dikulum penuh arti, dan andai kata dia hendak menyembunyikan perasaan cintanya pun pasti akan nampak jelas pada pandang matanya dan pada suaranya. Ah, dia jatuh cinta tidak ketulungan lagi kepadamu Sin-tong, maka seharusnya engkau bahagia sekali. Dia seorang gadis yang cantik manis, gagah perkasa, mudah menerima kebijaksanaan dan hemm... wanita semacam itu tentu penuh gairah dan panas!"

Hay Hay tertawa, ada pun Han Siong mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi muram. Akan tetapi diam-diam dia heran mendengar ucapan Hay Hay itu yang jelas membuktikan bahwa Hay Hay memang seorang ahli wanita! Untuk menutupi kemuramannya, dia lantas tersenyum.

"Hay Hay, engkau betul-betul seorang mata keranjang yang ahli wanita. Bagaimana pula engkau bisa tahu tentang penuh gairah dan panas itu?"

Hay Hay tertawa. "Itu mudah saja, sudah ada tanda-tandanya. Lihat saja sinar matanya, seperti ada apinya. Lihat juga tarikan mulutnya. Bibir itu penuh gairah dan menantang. Dan bentuk tubuhnya! Hemm, dia seorang wanita pilihan, Han Siong. Sebaiknya engkau cepat memetik bunga yang sedang mekar cerah dan harum semerbak itu!"

Han Siong menghela napas panjang. "Engkau benar, Hay Hay. Memang dia jatuh cinta kepadaku, dan inilah yang membuat aku pusing. Aku tidak ingin menyakiti hatinya, akan tetapi aku... aku tidak mungkin dapat membalas cintanya!"

Kini Hay Hay tertegun, akan tetapi dia segera tersenyum. "Wahai sobat, agaknya engkau sudah jatuh cinta kepada wanita lain?"

Kembali Han Siong terkejut dan mengamati wajah Hay Hay dengan tajam, seolah hendak menjenguk isi hatinya. Kenapa pemuda ini tahu segala?

"Hemm, bagaimana lagi engkau bisa tahu akan hal itu?"

"Ha-ha-ha-ha, engkau memang masih hijau dalam soal asmara, sobat! Kalau ada seorang pemuda menolak cinta seorang gadis sehebat nona Ouw Ci Goat, tentu pemuda itu tidak waras atau miring otaknya! Karena kulihat engkau ini bukan pemuda yang kurang waras atau miring otaknya, maka satu-satunya sebab penolakanmu sudah pasti bahwa engkau telah jatuh cinta kepada wanita lain!"

Han Siong memandang kagum. Anak ini benar-benar hebat, pikirnya. Otaknya demikian cerdas dan walau pun sikapnya ugal-ugalan dan ceriwis, namun harus diakui bahwa apa yang diucapkannya memang benar. Dia menarik napas panjang dan kembali dia teringat kepada Bi Lian, gadis yang dicintanya.

"Engkau memang benar, Hay Hay. Sesudah secara hebat dan tepat engkau mengetahui keadaan hati kami, kini aku ingin minta pertolonganmu. Kau ceritakanlah kepada Ci Goat bahwa aku tidak mungkin dapat menerima cintanya karena aku sudah mempunyai pilihan hati gadis lain."

Hay Hay tersenyum. "Wah, tugas berat itu! Kenapa engkau tidak mau berterus terang saja kepadanya?"

"Ihh, engkau ini bagaimana? Dia belum pernah mengaku cinta, lalu bagaimana aku akan menceritakan bahwa aku tidak dapat menerima cintanya? Pula, aku tidak ingin menyakiti hatinya, sementara engkau yang ahli asmara ini tentu akan dapat mencari akal agar dia bisa menerima kenyataan ini dengan tabah dan dapat mengerti penolakanku."

Hay Hay menepuk mulut sendiri. "Dasar mulut usil! Sekarang tertimpa tugas yang berat."

"Hemm, katakan saja bahwa engkau tidak mampu melakukan itu, tidak perlu sungkan dan mencari-cari alasan!" kata Han Siong cemberut.

"He-he-he, siapa bilang tidak mampu? Pekerjaan begitu saja, menghadapi wanita, uhhh, sepele bagiku!"

"Hah, jadi engkau mau, bukan?" kata Han Siong sambil tersenyum.

Hay Hay terbelalak. "Setan! Engkau memancing kesanggupanku dengan mengatakan aku tidak mampu, ya? Engkau penuh akal bulus dan tipu muslihat, Han Siong!" kata Hay Hay tertawa.

"Aku hanya mencontoh engkau!"

"Baiklah, aku menyerah. Aku yang akan menyampaikan kepadanya biar pun hatiku akan hancur lebur jadi debu melihat seorang gadis menangis karena patah hati. Akan tetapi, untuk itu engkau harus bersabar dan selama beberapa hari kita tinggal di rumah keluarga Ouw. Berilah waktu sepekan untukku..."

"Sepekan? Biar sebulan pun boleh. Engkau tinggal di rumah mereka dan aku melanjutkan perjalananku."

"Enaknya! Kalau begitu, aku pun tidak akan sudi! Engkau harus menemani aku di rumah itu sampai aku selesai dengan tugasku. Bagaimana?"

Han Siong kembali menghela napas panjang. "Baiklah, mari kita ke sana. Penguburan itu agaknya telah selesai dan sekarang tinggal sembahyang sebagai penghormatan terakhir." Mereka lalu bergandeng tangan sebagai dua orang sahabat yang akrab sekali menuju ke makam baru yang rupanya sudah selesai ditimbuni tanah itu.

Memang Hay Hay dan Han Siong saling merasa suka dan akrab, merasa seolah-olah ada pertalian hubungan di antara mereka. Betapa tidak? Sejak terlahir di dunia ini, keduanya memang mempunyai hubungan yang dekat sekali, jalan hidup mereka saling kait mengait secara aneh. Memang bukan sanak bukan kadang, akan tetapi sejak lahir sampai menjadi besar, Hay Hay menempati hidup Han Siong sehingga seolah-olah dia menjadi Han Siong ke dua!

Sejak bayi dia dipakai menjadi pengganti Han Siong yang disembunyikan orang tuanya, lalu dia mengalami banyak sekali hal hebat karena dia disangka Han Siong. Dan sesudah dewasa, mereka berdua sama lihainya, mempunyai tingkat kepandaian yang berimbang, bahkan keduanya menjadi murid orang-orang sakti dan selain menerima gemblengan ilmu silat, juga keduanya mahir ilmu sihir!

Ketika semua orang baru selesai bersembahyang untuk memberi penghormatan terakhir di depan tiga buah makam itu, mendadak terdengar suara kelenengan kecil yang nyaring. Semua orang segera menengok ke arah suara itu dan melihat tiga orang pendeta Lama yang berjubah merah dengan langkah lebar menuju ke tempat itu.

Melihat mereka itu, Han Siong dan Hay Hay saling pandang, lantas Hay Hay tersenyum. Keduanya sudah mengenal baik para pendeta Lama yang sejak mereka masih kecil terus berusaha untuk menemukan dan menculik Sin-tong, yaitu Pek Han Siong. Tak salah lagi, pikir mereka, kemunculan ketiga orang pendeta Lama itu tentu ada hubungannya dengan urusan lama itu, maka keduanya siap siaga dan waspada. Mereka segera memperhatikan tiga orang pendeta Lama itu.

Seperti pada umumnya, tiga orang pendeta Lama itu pun bertubuh jangkung. Orang yang pertama tinggi besar bagaikan raksasa, dengan kaki tangan yang kokoh kuat. Sepasang matanya bundar dan amat tajam, mukanya membayangkan kekuatan dan keberingasan.

Orang ini memikul sebatang tongkat panjang yang dipasangi kelenengan perak kecil yang mengeluarkan bunyi nyaring bila dia bergerak, dan di ujung lain dari tongkatnya tergantung sebuah buntalan yang cukup besar. Raksasa berkulit hitam ini agaknya menjadi pimpinan walau pun usianya sebaya dengan dua orang temannya, yaitu kurang lebih enam puluh tahun.

Pendeta Lama yang ke dua berkulit putih dan tubuhnya tinggi kurus. Sepasang matanya nampak seperti selalu terpejam saking sipitnya. Dia tidak kelihatan membawa senjata apa pun, akan tetapi kalau orang melihat ke arah pinggangnya, maka orang itu akan merasa ngeri melihat betapa sabuk di pinggang orang tinggi kurus ini adalah seekor ular hidup!

Ada pun pendeta yang ke tiga juga bertubuh jangkung, tetapi agak bongkok sehingga dia seperti seekor onta. Kulitnya kuning dan wajahnya kekanak-kanakan, kecil mengkerut. Di punggungnya tergantung sepasang cakar harimau yang sudah diberi gagang, sepanjang pedang.

Ouw Pangcu atau sekarang lebih tepat disebut namanya saja, yaitu Ouw Lok Khi karena dia tidak menjadi ketua lagi mengingat betapa semua anak buahnya sudah tewas, tinggal dia dan puterinya seorang, segera maju menyambut ketiga orang pendeta itu. Dia sendiri merasa amat heran ketika melihat munculnya tiga orang pendeta, namun karena dia yang menyelenggarakan pemakaman untuk ketiga orang muridnya, maka dia merasa sebagai tuan rumah dan menyambut tiga orang hwesio itu dengan sikap ramah ramah dan sopan.

"Selamat datang, sam-wi lo-suhu (tiga bapak guru)! Kami sedang melakukan pemakaman dan sembahyangan bagi tiga orang murid kami yang tewas dibunuh gerombolan penjahat. Tidak tahu apakah keperluan sam-wi (kalian bertiga) datang berkunjung ke tempat ini?"

"Omitohud..., semoga yang benar selalu mendapatkan perlindungan dan berkah! Pinceng (saya) bertiga sengaja datang untuk memberi hadiah penghibur bagi kalian yang berduka, juga untuk menyembahyangkan supaya arwah ketiga orang ini mendapatkan tempat yang damai abadi. Nah, sekarang terimalah hadiah penghibur yang kami bawa ini!"

Berbarengan dengan habisnya ucapan itu, pendeta Lama yang bertubuh raksasa bermata lebar itu segera menggerakkan tongkatnya dan buntalan itu pun melayang turun ke depan kaki Ouw Lok Khi. Begitu jatuh ke tanah buntalan itu lalu terlepas dan terbuka, dan semua orang memandang ngeri melihat bahwa isi buntalan adalah tiga buah kepala orang yang masih segar, leher yang buntung itu masih berdarah, agaknya baru saja tiga buah kepala itu dipenggal dari tubuhnya!

"Ohhh...!" Ouw Lok Khi terhuyung mundur dengan mata terbelalak dan muka pucat. Hay Hay dan Han Siong yang sudah siap siaga telah berloncatan ke depan. Sekali lihat saja mereka berdua mengenali tiga buah kepala itu.

"Ini adalah kepala para tosu Pek-lian-kauw ahli sihir itu!" seru Hay Hay.

Pendeta Lama yang tinggi besar itu tertawa, ada pun dua orang temannya berdiri seperti patung dan hanya menonton. "Ha-ha-ha, benar sekali, orang muda. Bukankah mereka ini yang menyusahkan kalian? Ehhh, orang muda yang baik, apakah engkau yang bernama Pek Han Siong?"

Sebelum Hay Hay menjawab, Han Siong yang sudah mempunyai dugaan buruk terhadap semua pendeta Lama, segera menjawab, "Akulah yang bernama Pek Han Siong! Tidak tahu sam-wi lo-suhu mempunyai keperluan apakah dengan aku?"

Tiga orang pendeta Lama itu menatap kepada Han Siong dengan pandang mata penuh selidik. Kemudian, melihat sinar mata mencorong pemuda itu yang agaknya seperti penuh tantangan, pendeta Lama yang tinggi besar itu lalu berkata ramah. "Bagus, setelah sekian lamanya kami mencari, kebetulan bertemu di sini. Saudara sekalian, dan juga engkau Pek Han Siong, ketahuilah bahwa kedatangan kami ini mempunyai iktikad baik. Buktinya, kami sudah membunuh tiga orang tosu yang telah mengacau di sini dan menimbulkan banyak korban. Terus terang saja, kami senang bertemu dengan Pek Han Siong dan kami ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting. Akan tetapi sebelum itu, biarlah kami akan membuat sembahyangan dulu agar roh ketiga orang yang mati ini akan mendapat tempat yang tenang abadi."

Sesudah berkata demikian, pendeta Lama yang agak bongkok kemudian mengeluarkan alat sembahyang dari saku jubahnya yang lebar, yakni dupa, tempat dupa gantung dan sebagainya. Lalu, disaksikan oleh semua orang, tiga orang pendeta Lama itu melakukan sembahyang dengan upacara yang aneh bagi mereka yang menyaksikan.

Upacara sembahyang untuk kematian yang dilakukan oleh para pendeta Lama ini sangat berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh para hwesio. Mereka berjalan mengelilingi tiga buah makam itu, mengucapkan doa dan mantera dengan nada dan lagu yang asing. Namun bagaimana pun juga Ouw Lok Khi merasa bersyukur dan berterima kasih kepada tiga orang pendeta itu.

Setelah tiga orang pendeta Lama itu menyelesaikan upacara sembahyang, mereka lantas menghampiri Pek Han Siong dan Hay Hay yang sejak tadi menonton upacara itu dengan penuh perhatian.

"Hati-hatilah, Han Siong. Aku merasa curiga pada mereka. Kurasa mereka datang karena engkau dan ada hubungannya dengan dirimu sebagai Sin-tong," Hay Hay berbisik kepada Han Siong.

Han Siong setuju dengan pendapat Hay Hay itu dan sejak tadi dia memang sudah merasa curiga dan bersiap siaga. Kini pendeta yang bertubuh raksasa itu berkata sambil memberi hormat kepadanya.

"Saudara muda Pek Han Siong, kami bertiga mohon supaya engkau suka menerima kami yang ingin bicara dengan engkau tanpa kehadiran orang lain, untuk urusan yang teramat penting.