Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 11

TAHULAH Cun Sek bahwa benda runcing itu tentu mengadung racun yang berbahaya, juga bubuk hitam yang ditaburkan itu tentu racun yang sangat jahat! Hatinya menjadi tegang, dan secara diam-diam dia harus mengakui bahwa orang-orang ini merupakan lawan yang amat curang dan berbahaya sekali.

Setelah menebarkan bubuk hitam pada semak-semak dan benda-benda runcing di jalan setapak, mereka semua lantas menuruni lereng dan kini di sebelah bawah, tidak jauh dari tempat yang ditebari racun itu, mereka mengumpulkan ranting dan daun kering kemudian membakar setumpuk daun dan ranting kering! Kini mereka semua bersembunyi di kanan kiri, dekat api yang mereka buat itu, setiap orang siap dengan senjata di tangan!

Cun Sek mengangguk-angguk. Orang-orang ini benar-benar licik. Agaknya mereka tidak berani menyerbu naik, maka menggunakan siasat ini. Mereka membakar tempat itu untuk memancing pihak musuh menuruni puncak, namun sebelum tiba di tempat yang mereka bakar, tentu pihak musuh akan melalui jalan setapak yang telah penuh dengan benda dan bubuk beracun. Celakalah kiranya pihak musuh yang berada di puncak itu, pikirnya.

Namun dia tidak ingin mencampuri. Bukan urusannya. Dia hanya ingin menjadi penonton dan ada kenikmatan tersendiri di dalam hatinya menonton peristiwa yang menegangkan hati ini.

Tepat seperti yang diduga oleh Cun Sek, tidak lama kemudian dari tempat sembunyinya dia melihat lima orang laki-laki berlarian dari atas, turun dari puncak menuju ke tempat kebakaran. Mereka adalah lima orang laki-laki yang mempunyai ilmu meringankan tubuh yang lumayan, terbukti dari cara mereka berlari yang cukup cepat biar pun harus melalui jalan setapak yang cukup sukar dengan adanya batu-batu yang berserakan. Kalau tidak hati-hati maka kaki mereka akan terpeleset dan jika sampai terjatuh di atas jalan setapak berbatu-batu itu, maka akan membuat kulit mereka babak belur.

Makin dekat lima orang itu datang ke jalan setapak yang dipasangi racun, makin kencang debar jantung Cun Sek karena tegang. Sedikit pun dia tidak ingin memperingatkan kelima orang itu. Dia tak ingin berpihak, karena dia tidak mengenal kedua pihak itu. Apakah lima orang itu akan mampu menghindarkan diri dari ancaman malapetaka?

Sementara itu, sesudah mereka sampai dekat api yang nampak dari atas, tentu saja lima orang yang datang dari puncak itu mempercepat larinya dan kini mereka memasuki jalan setapak yang telah ditaburi dengan benda berduri tadi. Berturut-turut terdengar mereka itu berteriak kaget.

Akan tetapi benda runcing yang menembus sepatu mereka hingga melukai telapak kaki, agaknya mengandung racun yang sangat hebat sehingga sekali berteriak, tubuh mereka lantas terguling. Tentu saja mereka jatuh menimpa benda-benda runcing beracun itu, dan begitu terjatuh, mereka tidak dapat bergerak lagi, merintih pun tidak mampu dan nampak beberapa bagian tubuh mereka menjadi hitam!

Dari tempat persembunyiannya, Cun Sek bergidik. Racun hitam itu ampuhnya luar biasa! Begitu terjatuh, lima orang itu tewas seketika sehingga mayat mereka malang melintang menutup jalan setapak.

Pada saat itu pula Cun Sek melihat lima bayangan orang berlari cepat menuruni puncak. Sebentar saja lima sosok bayangan itu sudah tiba di sana dan dia melihat bahwa mereka adalah lima orang wanita yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, rata-rata memiliki wajah cantik dan tubuh yang ramping padat.

Dia pun diam saja, hanya memandang penuh perhatian karena dari gerakan mereka itu, dia dapat menduga bahwa mereka lebih lihai dari pada lima orang pertama yang menjadi korban racun. Apakah mereka akan mampu melewati tempat yang merupakan perangkap maut itu?

Lima orang itu menghentikan lari mereka dan mereka terbelalak memandang ke arah lima orang yang telah tewas dan malang melintang di jalan setapak itu. Mereka mengamati ke arah tanah dan saling berbisik, agaknya mereka maklum bahwa lima orang pria itu sudah menjadi korban benda-benda kecil beracun yang bertebaran di atas jalan setapak.

"Ikuti aku!" kata seorang di antara mereka dengan nada memimpin.

Dia lalu mencabut pedang, menggunakan pedangnya untuk membacok putus dua batang ranting pohon. Teman-temannya cepat meniru perbuatannya sehingga kini masing-masing mereka memegang dua buah kayu ranting yang besarnya selengan tangan mereka. Lalu, didahului oleh pemimpin mereka, lima orang wanita itu mempergunakan dua batang kayu untuk menyeberangi jalan setapak yang penuh dengan benda-benda runcing beracun itu tanpa menyentuhkan kaki ke atas tanah.

Akan tetapi begitu mereka melewati jalan setapak itu, melangkahi lima sosok mayat yang malang melintang dan mereka tiba di seberang jalan berbahaya itu, mereka mengaduh-aduh lantas lima orang wanita itu pun terpelanting jatuh dari atas dua batang tongkat yang tadi mereka pergunakan untuk menyeberang sebagai pengganti kaki.

Cun Sek tak merasa heran. Lima orang wanita itu ternyata memang dapat menghindarkan kaki mereka sehingga tidak tertusuk benda runcing dan keracunan, namun mereka tidak tahu bahwa semak-semak di kanan kiri jalan itu telah ditebari bubuk hitam beracun. Ketika mereka lewat, tangan mereka terkena daun-daun yang sudah mengandung racun, maka ketika tiba di seberang, mereka merasa betapa kedua tangan mereka gatal dan panas.

Rasa gatal dan panas itu menjalar ke seluruh tubuh dan lima orang wanita itu kemudian bergulingan, menggunakan kedua tangan untuk mencakari tubuh sendiri hingga pakaian mereka koyak-koyak dan mereka berlima itu sampai telanjang bulat, namun tidak berhenti menggaruk dan tubuh mereka segera penuh dengan guratan merah dan hitam.

Mereka pun tewas dalam keadaan tersiksa sekali, tidak seperti lima orang pria tadi yang tewas seketika. Sebelum tewas, lima orang wanita itu harus menderita siksaan rasa gatal dan panas yang menjalar dari tangan mereka yang terkena bubuk racun hitam sampai ke seluruh tubuh!

Kembali Cun Sek bergidik ngeri. Sungguh hebat sekali! Sungguh bukan main kejamnya orang-orang Hek-tok-pang itu! Akan tetapi dia tetap hanya menjadi penonton dan tinggal tidak berpihak. Akan tetapi kini dia semakin tertarik. Agaknya yang menjadi korban racun itu, lima orang pria dan lima orang wanita, hanyalah anak buah saja.

Rombongan yang masih bersembunyi itu agaknya masih menunggu musuh mereka yang tadi mereka sebut-sebut, yaitu iblis betina! Sementara itu Cun Sek sendiri pun ingin sekali tahu bagaimana macamnya iblis betina itu dan bagaimana lihainya sehingga dua puluh delapan orang itu masih saja bersembunyi dengan senjata di tangan, agaknya siap untuk mengeroyok musuh yang ditunggu-tunggu itu.

Ketika Cun Sek memperhatikan tiga orang yang dibayanginya dari kota tadi, tiba-tiba dia melihat mereka menuding ke arah puncak bukit dan sikap mereka tegang sekali. Dia pun langsung memandang ke arah puncak dan nampaklah sesosok bayangan sedang berlari cepat seperti terbang menuju ke tempat itu. Dia merasa betapa hatinya tegang sekali.

Agaknya itulah orang yang mereka nanti-nanti, yang disebut iblis betina! Tentu orangnya sangat menakutkan, seperti iblis, mungkin sudah nenek-nenek, yang lihainya bukan main. Akan tetapi, semakin dekat sosok tubuh itu, semakin terbelalak lebar mata Cun Sek! Apa lagi sesudah wanita itu tiba di dekat jalan setapak yang beracun, dan memandangi mayat lima orang pria dan lima orang wanita di seberang jalan, Cun Sek melongo.

Dia adalah seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluh tahun. Pakaiannya serba indah dan mewah sehingga nampak ganjil sekali seorang wanita berpakaian seindah itu berada di dalam hutan! Dan cantiknya! Bentuk tubuhnya! Seorang wanita yang telah matang dan penuh daya tarik, menggairahkan! Kalau saja tidak nampak gagang sepasang pedang di balik pundaknya, tentu tidak ada seorang pun yang dapat menduga bahwa wanita cantik yang lemah-gemulai ini adalah seorang ahli silat yang amat pandai!

Wajah itu bulat dan kulitnya putih kemerahan, dan kecantikan itu masih ditambah dengan bedak serta pemerah pipi dan bibir. Pandang matanya amat tajam, dan kerlingnya begitu memikat sehingga akan sukar ditemukan pria yang mampu bertahan bila disambar kerling mata seperti itu.

Begitu melihat wanita itu, seketika timbul rasa sayang dan suka di dalam hati Cun Sek, maka tanpa ditanya lagi otomatis hatinya sepenuhnya berpihak kepadanya! Oleh karena itu, ketika melihat wanita itu agaknya ragu-ragu dan hendak menyeberang melewati jalan setapak yang mengandung ancaman maut itu, tanpa disadarinya sendiri dia lalu berseru,

"Hati-hati, nona! Jangan lewat jalan itu, tanah dan semak-semaknya sudah ditaburi racun jahat!"

Tiba-tiba saja wanita itu meloncat ke samping, tinggi sekali dan bagaikan seekor burung terbang, tubuhnya sudah melayang lantas hinggap di atas cabang pohon, terus diayunnya tubuhnya itu hingga melayang ke atas lagi, lalu hinggap lagi di cabang lain dan demikian seterusnya sehingga dalam waktu beberapa detik saja dia sudah hinggap di atas cabang pohon di depan Cun Sek!

Cun Sek memandang terbelalak kagum bukan main. Kiranya wanita itu bukan saja cantik manis, akan tetapi juga memiliki ginkang yang demikian hebatnya hingga nampak bagai seekor burung yang sangat indah, yang kini berdiri di atas cabang sambil memandang kepadanya dengan sinar matanya yang jeli indah dan mulutnya yang tersenyum manis.

"Siapakah engkau dan mengapa engkau memperingatkan aku tentang bahaya racun itu?" Wah, bukan hanya wajahnya cantik tubuhnya menggairahkan, sinar mata dan senyumnya memikat, juga suaranya amat merdu.

Tanpa menyembunyikan kekaguman pada pandang matanya, Cun Sek menjawab sambil tersenyum. "Tadinya aku memang hanya menjadi penonton, tak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi, melihat engkau yang begini cantik jelita terancam bahaya maut yang demikian mengerikan, aku merasa tidak tega sehingga tanpa kusadari aku sudah berteriak memberi peringatan."

Di dalam hatinya dia masih merasa heran mengapa yang muncul seorang wanita yang demikian cantiknya. Bukankah yang dinanti oleh orang-orang di bawah itu adalah seorang iblis betina?

Kini dua puluh delapan orang itu sudah bermunculan dari tempat persembunyian mereka dan mereka telah siap dengan senjata di tangan. Terdengar raksasa brewok tadi berteriak sambil mengacungkan golok besarnya ke arah pohon.

"Iblis betina, turunlah! Mari kita membuat perhitungan!"

"Tok-sim Mo-li (Iblis Betina Berhati Racun), bersiaplah engkau untuk menebus nyawa sute Yauw Kwan!" orang pertama dari Kwi-san Su-kiam-mo juga berteriak sambil menudingkan pedangnya ke arah wanita yang masih di atas cabang pohon itu.

Kini Cun Sek semakin kaget. Kiranya benar wanita ini yang disebut Iblis Betina. Wah, bagi dia, wanita ini lebih pantas disebut bidadari kahyangan!

Semua penilaian melahirkan pendapat yang palsu, karena penilaian selalu didasari pada perhitungan untung rugi si penilai. Bila mana yang dinilai itu menguntungkan, dan berarti menyenangkan, tentu dinilainya baik, sebaliknya jika merugikan atau tak menyenangkan, maka akan dinilainya buruk.

Para anggota Hek-tok-pang telah dirugikan oleh Tok-sim Mo-li, banyak anggotanya yang tewas di tangan wanita itu, maka tentu saja menganggap wanita itu jahat sekali, bahkan kecantikan wanita itu tidak lagi menarik karena telah timbul kebencian dan dendam dalam hati mereka. Seperti itu pulalah perasaan tiga orang di antara Kwi-san Su-kiam-mo yang menaruh dendam karena sute mereka tewas di tangan wanita itu.

Akan tetapi sebaliknya, Cun Sek sama sekali tidak pernah merasa dirugikan oleh wanita itu, dan ketika melihat kecantikan wanita itu, dia menilainya sebagai seorang wanita yang menarik dan patut dibela! Orang seperti Cun Sek ini tentu saja hanya menilai seseorang hanya dari kulitnya. Dia lupa bahwa kecantikan hanya setipis kulitnya, hanya merupakan pembungkus belaka, pembungkus tengkorak dan rangka yang sama pada setiap orang manusia.

Memang sungguh sayang sekali. Pada umumnya kita lebih senang memperhatikan dan memperindah badan dari pada batin kita. Kita mencuci badan kita setiap hari, dua tiga kali, akan tetapi ingatkah kita untuk mencuci batin kita? Mencuci batin berarti ingat pada Tuhan dan menyerah dengan seluruh pemasrahan, karena hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan mampu membersihkan batin kita yang dipenuhi kekotoran.

Tentu saja Cun Sek tidak tahu siapa sebenarnya wanita cantik itu. Kalau dia sudah benar-benar mengenalnya, maka dia akan semakin terkejut. Wanita ini bernama Ji Sun Bi, yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Tok-sim Mo-li. Dari julukan ini saja sudah bisa diketahui bahwa dia adalah seorang wanita yang hatinya beracun, berarti memiliki watak yang amat jahat.

Dia pernah menjadi murid juga kekasih dari mendiang Min-sa Mo-ko, seorang datuk sesat yang pernah menjadi tokoh Pek-lian-kauw. Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi ini mewarisi ilmu-ilmu yang dahsyat dari gurunya, dan selain lihai dan cantik manis, juga dia mempunyai suatu penyakit, yaitu gila laki-laki!

Dia seorang penjahat cabul yang selalu timbul birahinya ketika melihat seorang pria muda yang tampan dan ganteng. Oleh karena itu, begitu melihat Cun Sek yang tinggi tegap dan tampan, tentu saja seketika hatinya tertarik sekali. Apa lagi begitu berjumpa pemuda itu sudah berpihak kepadanya dan berusaha menyelamatkannya dari ancaman bahaya!

Kurang lebih satu tahun yang lalu, Ji Sun Bi bersama mendiang gurunya, Min-san Mo-ko, membantu gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh mendiang Lam hai Giam-lo serta seorang bangsawan Birma yang bernama Kulana. Akan tetapi pemberontakan itu berhasil dihancurkan oleh pasukan Menteri Cang Ku Ceng yang dibantu oleh para pendekar gagah perkasa. Hampir semua tokoh pemberontak tewas. Hanya ada beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri, di antaranya termasuk Tok-sim Mo-li li Sun Bi.

Ketika terjadi pertempuran, Ji Sun Bi bertanding melawan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai yang sudah digembleng oleh Pendekar Sadis dan isterinya, yaitu kakek neneknya sendiri. Ji Sun Bi terdesak hebat dan pada saat terakhir dia dapat membuang dirinya ke bawah tebing.

Kui Hong mengira bahwa Ji Sun Bi yang jahat tentu tewas karena tebing itu amat curam. Akan tetapi ternyata tidak! Ji Sun Bi sudah memperhitungkan ketika dia melempar diri ke bawah tebing itu. Dia maklum benar bahwa di bawah tebing, tepat di bawah dia melempar tubuh, terdapat sebuah danau kecil yang dalam. Karena itu, ketika dia sampai di bawah, bukan batu atau tanah yang menerima tubuhnya, melainkan air! Biar pun dia hampir saja pingsan ketika terbanting ke air danau, namun dia dapat menyelamatkan dirinya dan tidak tewas!

Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi kemudian melarikan diri dan bersembunyi sampai berbulan-bulan, takut kalau-kalau ada pengejaran dari para pendekar. Dan di dalam perantauannya sambil sembunyi-sembunyi ini Ji Sun Bi bertemu dengan seorang pria muda yang membuatnya girang bukan main. Siapakah pria muda itu? Dia bukan lain adalah Sim Ki Liong, seorang di antara para pembantu utama dalam pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo itu!

Pemuda itu adalah salah seorang di antara mereka yang berhasil menyelamatkan diri dan pemuda itu amat lihainya, bahkan tingkat kepandaiannya lebih lihai dari Ji Sun Bi sendiri. Dan yang lebih dari segalanya, pemuda itu adalah bekas kekasih atau seorang di antara para kekasih wanita cabul itu!

Ketika dua orang bekas rekan dan kekasih itu saling berjumpa, tentu saja mereka merasa gembira bukan main. Bukan saja gembira dalam melepas kerinduan masing-masing, akan tetapi terutama sekali gembira karena mereka kini merasa lebih kuat. Dengan kerja sama di antara mereka tentu saja mereka merasa kuat dan mampu melakukan hal-hal besar!

Sim Ki Liong adalah seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang berwajah tampan dan sikapnya halus lagi sopan. Dia sesungguhnya putera dari mendiang Sim Thian Bu, seorang seorang tokoh sesat yang tewas di tangan suheng-nya sendiri, yaitu Siangkoan Ci Kang.

Sim Ki Liong yang cerdik ini kemudian berhasil menyusup ke Pulau Teratai Merah. Karena dia memang pandai mengambil sikap, dia pun berhasil menarik perhatian Pendekar Sadis dan isterinya yang berkenan mengambil dia sebagai murid! Sebagai murid terkasih dari Pendekar Sadis dan isterinya, tentu saja Sim Ki Liong menjadi lihai bukan main!

Akan tetapi, pada saat Cia Kui Hong berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah, Sim Ki Liong yang tergila-gila kepada Kui Hong itu seperti membuka kedok sendiri. Maka dia pun kemudian melarikan diri, minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa pedang pusaka pulau itu, yaitu pedang pusaka Gin-hwa-kiam!

Sim Ki Liong kemudian ikut bergabung dengan gerakan pemberontakan Lam-hai Giam-lo, menjadi salah seorang di antara para pembantu yang dipercaya selain Ji Sun Bi. Pada waktu gerombolan pemberontak itu diserbu oleh para pendekar dan pasukan pemerintah, seperti juga Ji Sun Bi, Sim Ki Liong yang ternyata sangat cerdik itu dapat menyelamatkan diri juga.

Demikianlah, setelah Ji Sun Bi berjumpa dengan Sim Ki Liong, tentu saja kedua orang ini merasa girang bukan main. Keduanya lalu memilih Kim-lian-san (Bukit Terati Emas) itu sebagai tempat tinggal dan dengan kerja sama mereka sebentar saja mereka berdua telah mampu membangun tempat itu sebagai sarang dari perkumpulan yang mereka dirikan bersama, yang mereka beri nama Kim-lian-pai (Perkumpulan Teratai Emas)! Tentu saja ketuanya adalah Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi menjadi wakil ketua.

Mereka berdua lalu menundukkan tokoh-tokoh sesat di sekitar daerah itu dan memaksa mereka untuk mengakui kekuasaan Kim-Iian-pai. Kalau ada tokoh atau golongan yang tak mau mengakui, maka Ji Sun Bi lalu turun tangan mengalahkan tokoh itu atau mengobrak-abrik gerombolan yang melawan. Dalam waktu beberapa bulan saja hampir seluruh tokoh kang-ouw dan gerombolan penjahat sudah dapat ditundukkan!

Mereka berdua lalu memilih pemuda-pemuda atau para pria yang memiliki kepandaian, juga wanita-wanita tangkas untuk menjadi anggota Kim-Iian-pai. Keduanya lantas melatih mereka sehingga tak lama kemudian Kim-lian-pai telah menjadi suatu perkumpulan yang anggotanya berjumlah lebih dari seratus orang dan rata-rata mereka memiliki kepandaian silat yang cukup tangguh.

Nama besar Kim-Iian-pai mulai dikenal dunia kang-ouw. Kelompok-kelompok yang sudah mengakui kekuasaan Kim-lian-pai tentu saja mulai menyumbangkan hasil kekayaan atau kejahatan mereka kepada perkumpulan baru itu.

Baik Sim Ki Liong mau pun Ji Suri Bi tidak mempunyai niat untuk mengulangi apa yang dilakukan oleh gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Tidak, mereka sudah cukup berpengalaman dan cerdik. Melawan pemerintah adalah perbuatan yang tolol. Kekuatan pemerintah tidak mungkin dapat dilawan.

Mereka hanya ingin mendirikan perkumpulan yang kuat dan berkuasa karena dari dunia kang-ouw mereka dapat mengharapkan sumbangan yang akan membuat perkumpulan mereka cukup kuat untuk hidup mewah. Selain itu, kalau mereka kuat, para pendekar juga tidak akan berani mengganggu mereka.

Di samping itu semua, Sim Ki Liong yang menjadi ketua Kim-lian-pai juga memiliki suatu cita-cita, yaitu membalaskan dendam sakit hatinya kepada pendekar Siangkoan Ci Kang yang telah membunuh ayahnya. Dengan adanya perkumpulan kuat yang dipimpinnya ini, tentu tidak akan sukar baginya untuk mencari di mana adanya musuh besar itu.

Di samping memupuk kekuatan untuk perkumpulannya, Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi tidak menghentikan kesenangan mereka. Dua orang ini memang cocok sekali. Mereka memiliki kesukaan yang sama, yaitu bila Sim Ki Liong tiada bosannya mencari gadis-gadis cantik untuk menemaninya, juga Ji Sun Bi tidak pernah merasa puas dengan pria-pria tampan yang hampir setiap hari berganti-ganti melayaninya!

Hampir semua anggota Kim-lian-pai yang bertubuh kekar dan berwajah tampan pernah dikeram di dalam kamar wakil ketua yang cantik itu. Akan tetapi watak Ji Sun Bi memang pembosan. Biar di puncak itu sudah ada Sim Ki Liong dan banyak anggota perkumpulan yang pria, tapi dia masih suka berkeliaran turun dari bukit untuk melampiaskan nafsunya dengan pria-pria baru!

Demikianlah, perbuatannya itulah yang mendatangkan keributan pada hari itu. Ia bertemu dengan Yauw Kwan, pemuda berusia dua puluh lima tahun yang menjadi anggota termuda dari Kwi-san Su-kiam-mo, empat orang tokoh kang-ouw yang kenamaan.

Bertemu dengan pemuda yang gagah dan tampan ini, Ji Sun Bi segera merayunya. Yauw Kwan dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukan wanita cabul itu. Akan tetapi celakanya, Yauw Kwan yang belum banyak pengalaman itu benar-benar jatuh cinta kepada Ji Sun Bi dan tidak ingin berpisah lagi. Bahkan dia membujuk Ji Sun Bi agar suka menjadi isterinya.

Seperti biasa, setelah bermesraan dengan Yauw Kwan selama beberapa hari lamanya, Ji Sun Bi mulai bosan dan sikap Yauw Kwan yang rewel, yang hendak memaksanya supaya suka menjadi isteri pemuda itu, telah membuat Ji Sun Bi menjadi marah. Dia menganggap pemuda itu terlalu banyak rewel sehingga akan merepotkan saja, maka dia memaki-maki dan mengusir Yauw Kwan.

Pemuda itu terkejut, marah dan tahu bahwa wanita itu hanya mempermainkannya. Lalu terjadilah perkelahian dan Yauw Kwan melarikan diri membawa luka parah. Akhirnya dia tewas dalam rangkulan ketiga orang suheng-nya sesudah menceritakan tentang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang menjadi wakil ketua Kim-lian-pai di puncak Kim-lian-san.

Bukan hanya dengan Kwi-san Su-kiam-mo saja Ji Sun Bi menanam permusuhan. Juga dengan Hek-tok-pang. Perkumpulan Hek-tok-pang ini adalah perkumpulan para nelayan. Mereka merupakan ahli-ahli racun dan dengan kepandaian itu mereka menangkap ikan, menggunakan bubuk racun yang tidak begitu keras.

Akan tetapi, selain mencari ikan mereka dikenal pula sebagai penguasa pada sepanjang sungai Huang-ho dan dengan kekerasan sering menuntut sumbangan dari para saudagar yang perahunya lewat di tempat itu. Juga bajak-bajak sungai tunduk kepada mereka dan suka memberi bagian hasil kejahatan mereka.

Mendengar tentang perkumpulan ini, Ji Sun Bi mewakili Kim-lian-pai untuk menundukkan perkumpulan itu. Namun ketuanya, Hek-tok Pangcu Cui Bhok, tidak sudi tunduk kepada seorang wanita yang mewakili sebuah perkumpulan baru. Dia membuat perlawanan dan mengerahkan anak buahnya.

Dihadapi puluhan orang anggota Hek-tok-pang, tentu saja Ji Sun Bi menjadi kewalahan, akan tetapi ketika terjadi perkelahian, dia sempat menyebar maut di antara para anggota Hek-tok-pang. Tidak kurang dari tujuh orang tewas dan banyak yang terluka. Inilah yang membuat Hek-tok Pangcu Cui Bhok merasa sakit hati. Karena itu, dengan dibantu oleh dua puluh empat anggotanya yang pilihan, dia bergabung dengan tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan pada hari itu melakukan penyerbuan ke Kim-lian-san.

Ketika dua puluh delapan orang itu mengepung pohon besar di mana Sun Bi dan Cun Sek berada, wanita ini tersenyum sambil matanya mengerling ke arah pemuda gagah perkasa yang kini juga telah berdiri di atas cabang pohon itu. Diam-diam dia pun mengagumi tubuh yang kokoh kekar itu dan Ji Sun Bi lalu menelan ludah seperti seekor harimau kelaparan melihat segumpal daging yang segar.

"Sobat yang gagah perkasa, siapakah namamu?" tanya Ji Sun Bi dengan suara merdu.

Cun Sek semakin kagum. Wanita ini memang hebat. Di bawah itu ada dua puluh delapan orang lihai yang menunggu dan menantangnya, akan tetapi dia masih bersikap demikian tenang dan enak-enakan saja seakan-akan tidak ada ancaman apa pun. Dia pun segera mengimbangi dan bersikap santai dan tenang. Sambil mengamati wajah cantik manis itu, dia pun menjawab sambil tersenyum ramah.

"Namaku Tang Cun Sek, dan siapakah engkau, Nona? Mengapa pula mereka semuanya memusuhimu?"

"Namaku Ji Sun Bi," jawab wanita itu sambil memperlebar senyumnya sehingga sekarang nampak deretan giginya yang putih bersih. "Mereka di bawah itu adalah orang-orang tolol. Aku menjadi wakil ketua Kim-lian-pai yang ada di puncak Kim-lian-san ini, dan kami ingin agar mereka itu tunduk dan membantu kami. Ehh..., mereka malah melawanku! Saudara Tang Cun Sek, kalau menurut pendapatmu, bagaimana? Apakah aku harus membunuh mereka semua?"

Cun Sek menjadi semakin kagum. Wanita ini bukan khawatir bahkan mengatakan dapat membunuh mereka semua, seakan-akan dua puluh delapan orang di bawah itu tidak ada artinya baginya. Akan tetapi dia memikirkan pertanyaan itu dengan serius.

"Kalau engkau ingin menundukkan mereka, apa gunanya kalau mereka dibunuh semua? Kalahkan saja pemimpin mereka, maka yang lain-lain akan menakluk dengan sendirinya." Dia mengerutkan alis kemudian memandang ke bawah. "Alangkah baiknya kalau engkau mampu menarik mereka menjadi pembantu. Mereka itu amat pandai menggunakan racun. Lihat, sepuluh orang yang menjadi korban itu, sungguh mengerikan. Siapakah mereka?"

"Mereka adalah para anggota perkumpulan kami."

"Wah, kalau begitu maka lebih penting lagi untuk menundukkan mereka agar mereka mau membantumu sehingga kerugianmu kehilangan sepuluh orang anggota itu dapat ditebus."

Ji Sun Bi mengangguk-angguk. Memang pendapat pemuda ini sangat tepat. Kim-lian-pai adalah sebuah perkumpulan baru yang sedang menyusun kekuatan. Kalau Hek-tok-pang dapat ditundukkan dan membantu, berarti Kim-lian-pai akan menjadi semakin kuat. Kalau mereka semua dibunuh, tidak ada untungnya bagi Kim-lian-pai.

"Saudara Tang Cun Sek, tadi engkau sudah menolongku, memperingatkan aku mengenai racun. Dan sekarang maukah engkau membantuku menghadapi mereka? Atau kelirukah penilaianku bahwa engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"

Cun Sek tersenyum. "Terus terang saja aku pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi jika dibandingkan denganmu tentu saja aku masih kalah jauh!"

"Hik-hik, aku tahu bahwa orang yang merendahkan diri itu justru merupakan lawan yang berbahaya. Tong kosong nyaring bunyinya sebaliknya tong yang penuh tidak berbunyi!"

"Aihh, jadi engkau hanya menganggap aku ini sebagai sebuah tong saja?"

"Apa salahnya menjadi tong?"

"Kalau tong beras atau tong anggur memang cukup berguna, akan tetapi tong sampah?" kelakar Cun Sek yang timbul kegembiraannya melihat sikap wanita yang lincah jenaka dan genit ini.

"Tong sampah juga berguna sekali. Akan tetapi siapa menyamakan engkau dengan tong? Engkau seorang pemuda yang begini gagah perkasa dan ganteng. Hanya saja aku ingin melihat apakah engkau mampu menghadapi seorang di antara mereka."

Cun Sek merasa kejantanannya ditantang. Kalau tadi dia bersikap tak peduli dan tak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, dengan mudah saja kini dia berpihak. Tentu saja dia memilih pihak wanita yang cantik menarik ini!

"Iblis betina! Apa bila engkau tidak mau turun, terpaksa kami memaksamu turun bersama antekmu itu!" terdengar lagi suara dari bawah.

Dan tiba-tiba dari bawah tampak sinar berkelebat ketika dua batang hui-to (pisau terbang) meluncur ke arah Cun Sek dan Ji Sun Bi. Pisau-pisau terbang itu dilempar oleh Thio Su It, orang ke tiga dari Kwi-san Su-kiam-mo yang mempunyai keahlian menggunakan pisau ini sebagai senjata rahasia.

Sebelum Ji Sun Bi menggerakkan tubuhnya, Cun Sek lebih dahulu menggerakkan kedua lengannya. Kedua tangannya menyambar ke bawah dan ternyata dia sudah menyambut dua batang pisau itu! Kalau saja yang melemparkan pisau itu adalah orang Hek-tok-pang, tentu saja dia tak akan berani menyambut dengan tangan begitu saja karena ada bahaya keracunan. Akan tetapi yang menyambitkan pisau adalah salah satu di antara tiga orang yang dibayangi dari kota tadi, maka dia berani menyambutnya.

Tanpa berkata apa pun, Cuk Sek memandang ke bawah dan melihat salah satu anggota Hek-tok-pang mengacung-acungkan goloknya, diikuti oleh seorang anggota lain dan kini mereka berdua mendekati batang pohon di mana dia dan Ji Sun Bi berada. Dia lantas melemparkan dua batang pisau terbang tadi ke bawah, namun membidik ke arah pundak kedua orang itu.

Dua sinar menyambar turun, dibarengi suara mencuit nyaring dan dua orang anggota Hek-tok-pang itu lantas roboh sambil berteriak kesakitan. Pundak mereka sudah tertusuk pisau terbang tanpa mereka dapat mengelak saking cepatnya dua pisau itu menyambar. Melihat hal ini, Ji Sun Bi merasa girang bukan main. Dengan mesra dan lembut dia memegang tangan Cun Sek dan berbisik dengan suara merdu,

"Bagus sekali! Ternyata engkau adalah seorang yang sangat lihai. Saudara Tan Cun Sek yang gagah, mari kau bantu aku menundukkan mereka dan selanjutnya aku akan menjadi sahabatmu yang amat manis. Engkau akan kuhadapkan kepada pangcu kami dan engkau akan bisa menjadi pembantu kami yang utama. Coba kau perlihatkan kepandaianmu dan kau kalahkan ketua Hek-tok-pang itu!"

Cun Sek tersenyum. Memang lebih enak jika memihak wanita cantik ini dari pada mereka yang berada di bawah. Lagi pula dia sendiri perlu mendapat kedudukan yang kuat untuk memulai hidup baru. Bila dia bersekutu dengan wanita yang lihai ini, agaknya bukan saja kedudukannya kuat, akan tetapi dia juga memperoleh kehangatan dan kemesraan yang tentu akan amat menyenangkan.

Dia memandang ke bawah. Ketua Hek-tok-pang itu memang terlihat amat menyeramkan. Seorang raksasa brewok yang kasar dan dia tahu juga amat lihai, apa lagi dengan racun-racun berbahaya. Namun tentu saja dia tidak merasa takut, maka dia pun mengangguk.

"Baiklah, aku memang ingin sekali mencobanya. Mari kita turun dan kita hadapi mereka!" Berkata demikian, Cun Sek lalu melayang turun dari atas pohon itu seperti seekor burung garuda besar menyambar.

Dengan senyum girang Ji Sun Bi memandang dan dari cara pemuda itu melayang turun saja dengan mudah dia dapat menduga bahwa memang pemuda itu bukan orang biasa, melainkan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Tidak disangkanya bahwa dalam menghadapi musuh yang telah menewaskan sepuluh orang anak buahnya ini dia akan bertemu dengan seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan suka membantunya! Dia pun segera melayang turun untuk mendampingi pemuda itu menghadapi musuh-musuhnya.

Tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan Hek-tok Pangcu juga terkejut melihat cara kedua orang itu melayang turun. Mereka tidak tahu kalau Cun Sek adalah orang luar yang hanya kebetulan saja bertemu dengan iblis betina itu tetapi mengira bahwa Cun Sek tentu rekan dari Tok-sim Mo-li yang pandai.

cerita silat online karya kho ping hoo

Sebelum mereka mengerahkan anak buah untuk mengeroyok, lebih dahulu Tok-sim Mo-Ji Ji Sun Bi berkata dengan nada suara mengejek. Tentu saja dia tahu kenapa orang-orang itu datang menyerbu Kim-lian-san, namun dia sengaja ingin agar Cun Sek mendengarkan percakapan mereka supaya pemuda itu tahu mengenai duduknya perkara dan bagaimana selanjutnya sikap Cun Sek, apakah tetap ingin membantu padanya atau tidak, ingin sekali dia mengetahuinya.

"Haiiii! Kalian ini apakah orang-orang gila yang tiada hujan tiada angin berani menyerbu Kim-lian-san dan telah membunuh sepuluh orang anggota Kim-lian-pai kami?"

Mendengar pertanyaan itu gerombolan orang yang tadinya sudah siap mengeroyok cepat menunda gerakan mereka. Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang kasar itu menggereng seperti seekor singa terluka, matanya melotot merah dan dia lalu berteriak lantang.

"Tok-sim Mo-li, tak perlu engkau berpura-pura dan bertanya lagi. Engkau telah menyerbu tempat tinggal kami di lembah Huang-ho dan menewaskan banyak anak buah kami, tetapi sekarang engkau masih bertanya lagi mengapa kami datang menyerbu. Tentu saja untuk membalas dendam dan membunuhmu!"

Sun Bi tersenyum lebar, manis sekali. "Hek-tok Pangcu, aku datang ke tempatmu untuk memperkenalkan Kim-lian-pai kami dan minta kepadamu agar mengakui kekuasaan kami, akan tetapi engkau malah mengerahkan orang-orangmu sehingga aku pun terpaksa turun tangan memberi hajaran. Jika aku menghendaki, pada saat itu juga aku dapat membunuh kalian semua. Akan tetapi kami dari Kim-lian-pai tak bermaksud memusuhi golongan lain, melainkan hendak mengajak kerja sama. Engkau dan orang-orangmu secara curang telah membunuh sepuluh orang anggota kami, biarlah hal itu sebagai imbangan kematian anak buahmu di tanganku tempo hari. Dan sekarang tentu engkau suka menyerah dan mau membantu kami"

"Tidak sudi! Aku tidak akan menyerah sebelum orang mengalahkan aku!" bentak ketua Hek-tok-pang itu.

"Baiklah. Ada sahabatku ini, Tang Cun Sek yang akan mengalahkanmu. Dan kalian ini, bukankah tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo? Ada apakah kalian juga ikut-ikutan datang menyerbu ke tempat tinggal kami?"

Giam Sun, orang tertua dari mereka cepat melangkah maju, mukanya merah padam dan matanya melotot. "Iblis betina, kami datang untuk minta tebusan nyawa sute kami, Yauw Kwan! Masihkah engkau pura-pura bertanya lagi?"

"Aihh, Yauw Kwan? Pemuda bodoh yang tidak tahu diuntung itu? Dia hendak memaksaku untuk menikah! Tentu saja aku tidak mau terikat dengan pernikahan tolol itu. Maka kami bertengkar, lalu berkelahi. Di dalam perkelahian itu dia kalah dan roboh tewas. Apa pula yang harus diributkan? Dia tewas dalam perkelahian yang adil dan tidak penasaran. Dan sekarang kalian bertjga datang hendak mengeroyokku? Lebih baik kalian cepat insyaf dan menyadari kesalahan sute kalian, lalu bekerja sama dengan kami dari Kim-lian-pai..."

"Tak perlu banyak cakap lagi! Engkau atau kami yang harus mampus!" bentak Giam Sun marah.

"Aha, begitukah ? Kalian hendak main keroyok? Ataukah sebaliknya kalau kita bertanding seperti orang-orang gagah? Kalau begitu biar sahabatku Tang Cun Sek ini yang lebih dulu menghadapi ketua Hek-tok-pang."

Hek-tok Pangcu Cui Bhok memang sudah tidak sabar mendengar percakapan antara Ji Sun Bi dan Giam Sun tadi. Semenjak tadi dia telah memandang kepada Cun Sek dengan sepasang mata merah. Pemuda itu memang bertubuh tinggi tegap, akan tetapi selebihnya tidak mendatangkan kesan apa-apa maka dia pun memandang rendah.

Biar pun calon lawan itu tinggi tegap, namun nampak kecil ringkih dibandingkan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa. Agaknya, dengan sekali tangkap saja dia akan mampu mematahkan tulang punggung pemuda itu. Kini, mendengar ucapan si iblis betina, tanpa banyak cakap lagi dia pun segera menerjang dan menyerang Cun Sek dengan goloknya yang lebar dan panjang!

"Singgg...!" Golok itu menyambar lewat dekat kepala Cun Sek saat pemuda ini mengelak dengan lincah sekali.

Gerakan ketua Hek-tok-pang itu memang cepat bukan main dan hal ini saja membuktikan alangkah besar tenaganya sehingga dia mampu memainkan golok yang sangat berat itu bagaikan sebatang senjata yang sangat ringan saja.

Namun bagi Cun Sek kecepatan itu masih nampak terlalu lambat. Pemuda yang pernah mempelajari banyak macam ilmu silat, bahkan secara beruntung sudah dapat menguasai pula ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai ini memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari tingkat lawan. Oleh karena itu bacokan golok yang pertama tadi bisa dielakkannya dengan amat mudah. Bahkan pada waktu mengelak ke samping dia masih sempat mengirim pukulan ke arah lambung lawan.

"Wuutttttt...!"

Ketua Hek-tok-pang terkejut bukan main. Dia yang menyerang dengan goloknya, namun kini malah dia yang terancam bahaya. Pukulan itu mendatangkan angin yang sangat kuat sehingga terpaksa dia melempar tubuh ke belakang, lalu berjungkir balik dan hampir saja terpelanting jatuh!

Terdengar orang bertepuk tangan. Kiranya Ji Sun Bi yang bertepuk tangan memuji.

"Hebat, engkau hebat, saudara Tang Cun Sek!" Wanita itu memuji dengan kagum dan juga girang bukan main. Tak disangkanya bahwa pemuda itu mempunyai ilmu kepandaian sehebat itu sehingga dalam segebrakan saja hampir dapat membuat ketua Hek-tok-pang itu roboh!

Akan tetapi hal itu terjadi karena Hek-tok Pangcu memandang rendah lawannya sehingga dia sama sekali tidak memperhatikan pertahanan diri. Kini dia marah bukan main. Akan tetapi, di samping marah dia juga penasaran dan lebih waspada karena dia mulai dapat menduga bahwa lawannya ini ternyata jauh lebih lihai dari pada nampaknya.

Tiba-tiba Hek-tok Pangcu Cui Bhok mengeluarkan gerengan yang sangat dahsyat. Itulah ilmu khikang yang disalurkan melalui suara sehingga lawan yang tidak mempunyai tenaga sakti yang kuat akan dapat dilumpuhkan oleh serangan suara ini yang disebut Sai-cu Ho-kang (Auman Singa), seperti yang suka dilakukan binatang buas seperti beruang, singa, harimau dan lain-lain.

Seekor singa bisa melumpuhkan calon korban hanya dengan auman yang menggetarkan jantung calon korbannya atau lawannya, malah sudah banyak pula manusia yang menjadi korban binatang buas, belum apa-apa sudah merasa lumpuh dan tidak mampu melarikan diri begitu mendengar auman binatang buas itu.

Kini Hek-tok Pangcu itu agaknya juga menggunakan ilmu semacam itu. Suara aumannya menggetarkan jantung. Akan tetapi yang sekarang dihadapinya adalah seorang pemuda gemblengan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Cun Sek juga merasa betapa auman itu sudah menggetarkan jantungnya, namun dengan pengerahan sinkang-nya dia bisa menolak pengaruh itu dan hanya tersenyum mengejek. Keika auman berhenti, golok besar itu sudah menyambar-nyambar dan berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata. Agaknya raksasa brewok itu telah menggunakan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan serangan. Tiba-tiba, tangan kirinya bergerak dan nampak uap hitam menyambar ke arah Cun Sek!

Hal inilah yang dinanti-nantikan oleh Cun Sek. Dia tahu bahwa Hek-tok-pang merupakan perkumpulan ahli racun, karena itu tentu saja ketuanya pandai sekali memainkan senjata beracun. Maka, begitu tangan itu bergerak dan nampak uap hitam menyambar, tahulah dia bahwa lawannya sudah menyebar bubuk racun yang amat berbahaya dan yang sudah rnenewaskan lima orang wanita anggota Kim-lian-pai tadi.

Dia pun cepat-cepat mengumpulkan pernapasannya, lalu meniup ke arah asap atau uap hitam Itu. Uap hitam itu langsung membuyar dan bahkan tiga orang Kwi-san Sun-kiam-mo berloncatan menyingkir agar jangan terkena uap hitam yang menyebar. Demikian pula Ji Sun Bi yang cepat meloncat mundur ke belakang.

"Hek-tok Pangcu bukan seorang laki-laki jantan, belum apa-apa sudah mengandalkan uap beracun!" Cun Sek mengejek. Kini uap itu sudah menjauhi dirinya, terpukul dan terdorong oleh tiupan mulutnya tadi.

Raksasa brewok itu marah sekali. Goloknya mengeluarkan suara berciutan dan berubah menjadi segulung sinar yang menerjang dengan dahsyatnya ke arah Cun Sek.

Pemuda ini maklum betapa berbahayanya serangan itu, maka dia pun cepat meraba ke bawah jubahnya. Tiba-tiba saja nampak sinar emas yang mencorong dan tahu-tahu pada tangannya sudah nampak sebatang pedang yang mengeluarkan sinar emas. Itulah Hong-cu-kiam, pedang pusaka Cin-ling-pai yang bersinar emas dan yang sangat tipis sehingga dapat digulung dan disembunyikan di bawah jubah, bahkan dapat dipakai sebagai sabuk! Ketika dia mengintai di atas pohon, diam-diam dia mengambil pedang itu dari buntalannya dan memakainya sebagai sabuk, sedangkan kini buntalan pakaiannya itu dia gantungkan di atas pohon.

Melihat ini Ji Sun Bi terkejut dan kagum, akan tetapi alisnya berkerut karena dia teringat bahwa pedang itu benar-benar mirip dengan pedang Hong-cu-kiam, pedang pusaka milik Cin-ling-pai! Apa lagi ketika Cun Sek memainkan pedangnya untuk menyambut serangan golok besar dari lawannya, maka Ji Sun Bi yang tadinya kagum kini terkejut dan matanya terbelalak!

Dia adalah seorang tokoh sesat yang telah banyak pengalaman, dan dia sangat mengenal ilmu gaya Cin-ling-pai itu! Pemuda itu adalah murid Cin-ling-pai! Padahal orang-orang Cin-ling-pai adalah para pendekar yang memusuhi golongannya.

Akan tetapi kini Ji Sun Bi hanya bersikap waspada saja dan diam-diam dia memutar otak untuk mencari siasat apa yang akan dia lakukan nanti untuk menghadapi Tang Cun Sek yang mungkin sekali adalah seorang tokoh Cin-ling-pai yang termasuk musuh besarnya itu!

Dia masih ingat benar saat terjadi perang antara gerombolan pemberontak pimpinan Lam-hai Giam-lo di mana dia menjadi seorang pembantu utamanya. Dia berhadapan dengan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai dan hampir saja dia tewas di tangan gadis itu! Cin-ling-pai adalah musuh besarnya!

Akan tetapi sebelum menghadapi Cun Sek sebagai musuh, dia akan mempergunakannya lebih dahulu sebagai pembantu menghadapi pihak musuh yang menyerbu Kim-lian-san ini. Memang tidak sukar baginya untuk mengirim tanda ke puncak, minta bala bantuan. Akan tetapi dia merasa malu kepada Sim Ki Liong, ketua Kim-lian-pai kalau untuk menghadapi pengacau-pengacau itu dia harus minta bantuan sang ketua!

Tepat seperti yang diduga dan diharapkan oleh Ji Sun Bi, pedang Hong-cu-kiam di tangan Cun Sek membuat raksasa brewok itu menjadi kalang kabut dan terdesak hebat! Sesudah lewat tiga puluh jurus, Hek-tok Pangcu Cui Bhok hanya sanggup menangkis saja, tanpa mampu lagi menggunakan goloknya untuk balas menyerang. Bahkan dia pun tak sempat menggunakan tangan kiri untuk melakukan serangan dengan senjata rahasianya. Begitu hebatnya gulungan sinar emas itu mendesaknya!

Akan tetapi Cun Sek memang tidak ingin membunuh ketua Hek-tok-pang ini. Dia sudah mengambil keputusan untuk bekerja sama dengan Tok-sim Mo-li, dan dia pun tahu bahwa orang seperti ketua Hek-tok-pang ini bersama anak buahnya akan merupakan pembantu yang amat berguna.

"Haiiitttttt...!"

Tiba-tiba Cun Sek merubah ilmu pedangnya dan kini dia mengeluarkan sebuah jurus dari Siang-bhok Kiam-sut, ilmu pedang yang amat hebat dan langka dari Cin-ling-pai! Ilmu ini sebenarnya merupakan ilmu simpanan, dan untung bagi Cun Sek dia sempat mempelajari beberapa jurus pilihan ilmu pedang itu dari kakek Cia Kong Liang yang dulu menjanjikan bahwa kalau dia sampai dapat menjadi ketua Cin-ling-pai, barulah dia berhak mempelajari seluruh ilmu pedang ini. Namun jurus yang dikeluarkan itu sudah lebih dari cukup.

Terdengar suara nyaring ketika golok besar itu terlepas dari tangan ketua Hek-tok-pang. Cui Bhok. Ketua itu mengeluarkan seruan kaget sambil tangan kirinya memegang tangan kanan yang luka berdarah akibat tergores ujung pedang lawan hingga membentuk guratan memanjang sampai ke siku, dan lengan bajunya juga robek. Pada saat itu pula Cun Sek sudah menodongkan pedangnya ke dadanya, membuatnya tidak berdaya sama sekali!

"Nah, Pangcu, kuharap engkau mengerti bahwa di antara kita tidak ada permusuhan. Kim-lian-pai berniat baik. Memang beberapa orang anggotamu sudah tewas di tangan toanio (nyonya) ini, akan tetapi engkau sudah membalas dengan membunuh sepuluh anggota Kim-lian-pai. Berarti engkau tidak kehilangan muka dan sudah tidak ada perhitungan lagi, bukan? Sekarang, kalau engkau mau menyatakan tunduk kepada Kim-lian-pai, aku akan menganggap engkau sebagai sahabat dan tidak akan membunuhmu."

Biar pun kasar namun Cui Bhok bukan seorang yang tolol. "Baik, aku maklum bahwa aku berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih pandai. Kalau Kim-lian-pai mempunyai banyak pembantu selihai engkau, maka sudah sepatutnya bila Hek-tok-pang berlindung di bawah pengaruh dan kekuasaannya. Aku menyerah! Hayo, kalian lepaskan senjata kalian dan berlutut!"

Dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang itu melepaskan golok mereka dan semua berlutut tanda menyerah. Melihat ini, tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo menjadi marah sekali.

"Bagus kiranya Hek-tok Pangcu Cui Bhok hanyalah seorang pangecut besar!" teriak Giam Sun, kemudian bersama dua orang sute-nya dia sudah mencabut senjatanya dan mereka bertiga berloncatan ke depan. "Akan tetapi kami bertiga tetap hendak menuntut balas atas kematian sute kami! Tok-sim Mo-li, majulah engkau untuk menerima kematian di tangan kami!"

Tok-sim Mo-li- Ji Sun Bi mengerling ke arah Cun Sek, lalu dengan sikap manja dan suara merdu dia berkata, "Saudara Tang Cun Sek, relakah engkau melihat aku tewas di tangan tiga orang yang hendak mengeroyokku ini?"

Cun Sek tersenyum dan melintangkan pedang Hong-cu-kiam di depan dadanya. "Jangan khawatir, nona. Aku tidak membiarkan mereka main keroyokan dan aku yakin bahwa Hek-tok Pangcu juga akan membuktikan kesungguhan tekadnya untuk bekerja sama dengan Kim-lian-pai!"

Mendengar ini, Hek-tok Pangcu Cui Bhok melihat kesempatan untuk membuat jasa yang pertama. Dia seorang yang cerdik dan tahu bahwa yang paling menguntungkan adalah kalau berpihak kepada golongan yang lebih kuat. Maka,tanpa mempedulikan luka guratan bekas pedang Cun Sek pada tangan kanannya, dia sudah menggerakkan golok besarnya yang tadi sudah dipungutnya.

"Kwi-san Su-kiam-mo terlampau sombong! Biar aku Cui Bhok mencoba sampai di mana kelihaian pedang mereka yang begitu disombongkan!"

Kwi-san Su-kiam-mo yang kini tinggal tiga orang itu maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang tangguh dan mereka harus mengadu nyawa. Mereka adalah orang-orang yang telah terlanjur memandang diri mereka sebagai orang-orang gagah, dan juga menganggap bahwa ilmu pedang mereka selama ini tidak ada tandingannya. Karena itu kematian sute mereka telah membuat mereka marah dan sakit hati sekali, karena terutama sekali hal ini menghancurkan bayangan mereka tentang ketangguhan diri mereka berempat.

Giam Sun mengeluarkan teriakan melengking, kemudian bersama adiknya dia pun sudah menggerakkan pedang menerjang ke depan. Giam Sun menyerang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, dan adiknya, Giam Kun menyerang Cun Sek, sedangkan orang ketiga, yaitu Thio Su It, menyerang ketua Hek-tok-pang. Serangan mereka langsung disambut sehingga terjadilah perkelahian yang amat hebat, seru dan mati-matian.

Sementara itu, dua puluh empat orang anggota Hek-tok-pang sekarang menjadi penonton. Tanpa perintah ketua, mereka tidak berani ikut-ikutan turun tangan biar pun mereka terus memusatkan perhatian kepada perkelahian antara ketua mereka dengan Thio Su It, dan mereka pun siap dengan golok di tangan untuk membantu ketua mereka apa bila mereka diperintah atau apa bila mereka melihat ketua mereka terdesak dan terancam bahaya.

Sambil melayani Giam Kun yang terus menyerangnya dengan sengit, diam-diam Cun Sek memperhatikan Ji Sun Bi yang diserang oleh orang pertama dari tiga orang jagoan itu. Dia pun memandang kagum. Wanita itu selain cantik manis, juga amat lihai dan kini wanita itu telah memainkan sepasang pedang secara amat indah.

Bagaikan menari saja dia melayani lawan yang menggunakan pedang. Sepasang pedang di tangan wanita itu menyambar-nyambar, cepat sekali hingga membentuk dua gulungan cahaya yang melingkar-Iingkar dan menutup semua jalan penyerangan lawan! Indah akan tetapi juga cepat dan mengandung tenaga yang amat kuat.

Maka legalah hati Cun Sek karena melihat sepintas lalu saja dia pun merasa yakin bahwa wanita itu tidak akan kalah menghadapai lawannya. Dia pun segera mencurahkan seluruh perhatiannya kepada lawan yang terus mendesaknya dengan serangan-serangan ampuh. Harus diakuinya bahwa lawannya memang mempunyai ilmu pedang yang sangat lihai dan berbahaya. Tidak mengherankan kalau orang-orang ini memakai julukan kiam-mo (setan pedang) karena memang ilmu pedang mereka amat berbahaya.

Namun tingkat kepandaian Giam Kun masih jauh sekali dibandingkan tingkat kepandaian Tang Cun Sek. Setelah menghadapi belasan jurus serangan lawan, Tang Cun Sek sudah dapat mengukur sampai di mana ketangguhan Giam Kun dan kini mulailah dia memutar pedang Hong-cu-kiam untuk membalas. Giam Kun langsung merasa terkejut sekali begitu dia memainkan pedangnya dengan cepat.

Kini Giam Kun merasa repot sekali menghadapi serangan yang datangnya bertubi-tubi itu. Dia tidak mampu membalas lagi, hanya memutar pedang sekuat tenaga untuk melindungi tubuhnya.

Pada saat Cun Sek melirik untuk melihat keadaan Ji Sun Bi, ternyata wanita itu pun telah mendesak lawannya yang terhuyung-huyung! Cun Sek tersenyum dan dia pun tidak mau kalah. Dia harus dapat memperlihatkan kepandaiannya dan jangan sampai dia dikalahkan oleh wanita yang menarik hatinya itu. Dia pun mempercepat gerakan pedangnya.

Terdengar teriakan beruntun dan Cun Sek secepat kilat mencabut pedangnya yang tadi menancap di dada lawan, hampir berbareng dengan gerakan pedang Ji Sun Bi yang juga mencabut pedangnya dari leher lawannya. Secara berbareng mereka itu saling memutar badan dan saling pandang, keduanya tersenyum melihat bahwa perlombaan itu ternyata berakhir dengan tidak ada yang lebih cepat atau lebih lambat. Mereka merobohkan lawan pada detik yang sama.

Kini tinggallah Thio Su It yang masih bertanding melawan ketua Hek-tok-pang. Ternyata tingkat kepandaian mereka seimbang walau pun Hek-tok Pangcu Cui Bhok mulai berhasil mendesaknya. Melihat betapa kedua orang suheng-nya telah roboh, tentu saja Thio Su It menjadi terkejut, berduka akan tetapi juga gentar sekali. Dia maklum bahwa tak mungkin dia dapat menyelamatkan dirinya, maka dengan nekat dia lalu melawan terus. Kenekatan Thio Su It inilah yang membuat dia menjadi lawan yang tangguh.

Melihat betapa Hek-tok Pangcu bersungguh-sungguh melawan Thio Su It, hati Ji Sun Bi sudah merasa girang bukan main. Orang ini boleh dipercaya dan boleh diharapkan untuk menghadapi tokoh Cin-ling-pai itu, pikirnya. Tiba-tiba dia menggerakan tangan kirinya dan sinar halus berwarna hitam menyambar ke arah dua orang yang sedang berkelahi itu.

Thio Su It mengeluarkan seruan lirih, lantas dia terhuyung. Pada saat pula itu ujung golok di tangan Cui Bhok telah mengenai pundaknya sehingga dia pun roboh dan dalam waktu beberapa detik saja tubuhnya berubah hitam dan dia pun tewas seketika. Golok besar itu mengandung racun yang amat hebat!

Kini tiba-tiba Ji Sun Bi merubah sikapnya yang tadi tersenyum-senyum kepada Cun Sek. "Pangcu, bantu aku menangkap mata-mata ini. Dia seorang pendekar tokoh Cin-ling-pai, musuh golongan kita!"

Mendengar ini, Hek-tok Pangcu Cui Bhok terkejut sekali, akan tetapi dia segera meloncat ke dekat Cun Sek sambil menodongkan golok besarnya dan memberi isyarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya. Mereka itu segera mengepung Cun Sek, sedangkan Ji Sun Bi sendiri sudah berdiri di samping Cui Bhok, sepasang pedangnya di tangan dan dia memandang kepada Cun Sek yang terheran-heran itu dengan senyum mengejek.

"Wah, saudara Tang Cun Sek, tak perlu engkau berpura-pura lagi. Engkau seorang tokoh Cin-ling-pai, katakan apa maksudmu datang ke tempat kami ini. Apakah engkau datang sebagai mata-mata, sebagai musuh? Katakan terus terang sebelum kami turun tangan karena aku tak akan segan-segan membunuhmu sebagai seorang murid Cin-ling-pai yang selama ini menjadi musuh besar kami."

Tentu saja Tang Cun Sek terkejut bukan main melihat perubahan ini. Namun pemuda ini sangat cerdik dan sebentar saja otaknya yang bekerja cepat itu sudah dapat memaklumi keadaan, juga dia dapat menduga apa yang menyebabkan wanita cantik itu kini berbalik memusuhinya.

Tentu Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi ini pernah bermusuhan dengan pihak Cin-ling-pai dan tadi, ketika dia mengeluarkan pedang Hong-cu-kiam lantas memainkan ilmu silat Cin-ling-pai, wanita cantik itu mengenalnya sehingga tidak mengherankan jika wanita itu kini menaruh curiga kepadanya.

Tang Cun Sek tertawa. "Ha-ha-ha-ha, ternyata Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang cantik jelita dan lihai tidak mampu mengenali sahabat dan juga masih belum terlalu cerdik sehingga tidak mampu membedakan mana kawan mana lawan, ha-ha-ha!"

Ji Sun Bi mengerutkan alisnya dan sepasang matanya yang jeli itu berkilat, akan tetapi dia masih belum tersenyum. "Tang Cun Sek, apa alasannya engkau menganggap aku tidak mengenal sahabat dan tidak cerdik?"

"Pertama, engkau masih saja mencurigaiku walau pun aku telah membantu menarik Hek-tok-pang menjadi sekutu dan membunuh tiga orang musuh yang hendak membunuhmu. Ini namanya tidak mampu mengenal sahabat! Dan ke dua, kalau benar aku ini mata-mata Cin-ling-pai dan hendak memusuhimu, bukankah tadi aku memiliki kesempatan yang baik sekali dengan membantu mereka mengeroyokmu? Apa kau kira akan mampu menandingi kami kalau aku tadi membantu mereka? Nah, bukankah itu menunjukkan bahwa engkau kurang cerdik dan salah menilai orang?"

Kini Ji Sun Bi tersenyum dan mengangguk-angguk. Dia lantas menoleh kepada Hek-tok Pangcu Cui Bhok dan berkata lembut, "Pangcu, mundurlah dan kita harus dapat percaya keterangannya itu." KetuaHek-tok-pang itu pun mengangguk-angguk dan memberi isyarat kepada dua puluh empat orang anak buahnya untuk mundur.

Ji Sun Bi lalu menghampiri Cun Sek. Sejenak mereka saling berpandangan dan keduanya saling kagum. "Tang Cun Sek, keteranganmu tadi memang dapat kami terima, akan tetapi untuk lebih meyakinkan hati kami sebelum engkau kami hadapkan kepada Pangcu kami, terlebih dahulu ceritakanlah mengapa engkau yang mempunyai ilmu silat Cin-ling-pai dan memegang pedang pusaka Cin-ling-pai, tiba-tiba saja kini berpihak kepada kami!"

Sebetulnya Cun Sek segan menceritakan riwayatnya, akan tetapi ia maklum bahwa kerja sama dengan orang-orang seperti mereka itu adalah suatu keuntungan baginya, terutama sekali akan memudahkan dia dalam mencari serta menemukan ayah kandungnya, yaitu Ang-hong-cu! Apa lagi yang berada di situ hanyalah Ji Sun Bi dan Cui Bhok, sedangkan para anak buah Hek-tok-pang sudah disuruh menjauhkan diri.

Dengan singkat namun jelas dia kemudian menceritakan betapa semenjak kecil dia sudah mempelajari ilmu silat dan setelah dewasa dia ingin menambah pengetahuannya dengan masuk menjadi anggota Cin-ling-pai.

"Hanya beberapa tahun saja aku menjadi anggota Cin-ling-pai, tetapi aku beruntung dapat mempelajari ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai dari ketua lamanya. Akan tetapi aku gagal menjadi ketua baru, lalu aku melarikan diri dari Cin-ling-pai sambil membawa Hong-cu-kiam yang dihadiahkan ketua lama Cia Kong Liang kepadaku." Tentu saja bagian terakhir ceritanya itu adalah kebohongan sebab pedang pusaka itu bukan hadiah pemberian melainkan hasil pencurian!

Ji Sun Bi minta kepada ketua Hek-tok-pang untuk memerintahkan anak buahnya supaya menguburkan jenazah sepuluh orang anggota Kim-lian-pang yang tewas keracunan dan membersihkan kembali tempat yang tadi mereka taburi racun. Setelah itu, maka Ji Sun Bi menjadi petunjuk jalan dan mereka pun naik ke puncak Kim-lian-san.

Dalam perjalanan ini barulah orang-orang Hek-tok-pang melihat betapa besar bahayanya jika mereka menyerbu ke atas. Perjalanan itu mengandung banyak sekali tempat rahasia, jebakan-jebakan yang mengerikan. Tanpa petunjuk jalan, sebelum tiba di puncak mereka semua tentu akan menjadi korban perangkap yang banyak dipasang di sepanjang jalan menuju ke puncak.

Bahkan Hek-tok Pang-cu Cui Bhok sendiri bergidik dan diam-diam dia girang bahwa dia sudah dikalahkan oleh Tang Cun Sek sehingga dia menakluk. Apa lagi sesudah nampak banyak anggota Kim-lian-pang yang mulai menyambut, berdiri berjajar di sepanjang jalan, laki-laki dan wanita-wanita yang semuanya berwajah tampan dan cantik, bersikap gagah dan jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang.

Kemudian barulah dia tahu bahwa seluruh anggota Kim-lian-pang berjumlah seratus orang lebih, sebagian ada yang bertugas di bawah gunung dan tersebar ke kota-kota dan dusun-dusun sekitar daerah itu, bertugas sebagai mata-mata.

Baik Cui Bhok mau pun Tang Cun Sek merasa heran dan kagum sekali ketika mereka diajak oleh Ji Sun Bi menghadap orang yang disebut pangcu atau ketua dari perkumpulan Kim-lian-pang. Sama sekali mereka tak pernah membayangkan bahwa pangcu itu kiranya hanyalah seorang pemuda yang masih sangat muda, tidak akan lebih dari dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun saja usianya! Cun Sek memperhatikan orang yang menerima kedatangan mereka dengan berdiri dari tempat duduknya dan yang mengamati mereka dengan pandang mata tajam menyelidik itu.

Dia adalah seorang pria muda yang bertubuh sedang, gerak-geriknya halus dan sopan, pakaiannya seperti seorang terpelajar, wajahnya tampan dan kedua matanya mencorong penuh wibawa!

Ji Sun Bi segera memperkenalkan dua orang tamu itu sesudah memberi bisikan kepada Cui Bhok untuk memerintahkan anak buahnya yang ikut memasuki ruangan luas itu agar berlutut semua. Sambil tersenyum Ji Sun Bi mendekati ketua Kim-lian-pang yang menjadi rekan, kekasih, juga ketuanya itu dan dia sendiri menjabat wakil ketua.

"Pangcu, dia adalah Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang kini sudah menakluk kepada kita dan membawa dua puluh empat orang anak buahnya menakluk dan siap untuk bekerja sama dengan kita."

Orang muda tampan itu memandang kepada Cui Bhok dengan sinar mata penuh selidik, alisnya berkerut dan dia berkata dengan halus, "Hemm... , aku mendengar bahwa sepuluh orang anak buah kita tewas karena racun yang disebarkan mereka?"

Diam-diam Tang Cun Sek merasa kagum. Kiranya peristiwa di lereng tadi telah diketahui oleh ketua ini, tentu ada mata-mata yang lebih dahulu melapor ke atas sebelum mereka tiba di situ.

"Benar, mereka tewas karena kurang waspada," jawab Ji Sun Bi.

Walau pun bagi Cui Bhok keadaan ketua Kim-lian-pang itu kurang menyakinkan, hanya seorang pemuda yang nampaknya tidak begitu hebat, namun mengingat bahwa pemuda itu adalah ketua Kim-lian-pang dan Tok-sim Mo-li yang demikian lihainya hanya menjadi pembantunya, dia pun tidak berani memandang rendah.

"Saya Hek-tok Pangcu Cui Bhok menghadap pangcu dari Kim-lian-pang dan menyatakan bersedia untuk bekerja sama dengan Kim-lian-pang!" katanya sambil memberi hormat.

"Hemmm...!" Kim-lian Pangcu Sim Ki Liong tersenyum dingin, namun suaranya terdengar halus saat dia berkata kepada Cui Bhok yang bertubuh tinggi besar dan wajahnya brewok menyeramkan itu. "Hek-tok Pangcu, janji penyerahan diri dan kerja sama membutuhkan kesetiaan dan kesetiaan harus dibuktikan. Anak buahmu telah membunuh sepuluh orang anak buah Kim-lian-pang, padahal enci Ji Sun Bi hanya membunuh tujuh orang anak buah Hek-to-pang. Dengan demikian, Hek-to-pang masih berhutang tiga nyawa terhadap Kim-lian-pang. Nah, apa yang akan kau lakukan untuk membuktikan kesetiaanmu?"

Mendengar pertanyaan ini, wajah yang kasar penuh brewok itu berubah menjadi pucat, lalu merah padam dan matanya terbelalak. Cui Bhok paham apa yang dimaksudkan ketua Kim-lian-pang yang masih sangat muda itu dan dia merasa penasaran. Bagaimana pun juga, kalau ketuanya hanya seorang pemuda ingusan seperti ini, dia harus melihat bukti dulu bahwa ketua yang amat muda ini memang pantas untuk menjadi atasannya sebelum dia melaksanakan segala perintahnya. Dia pun tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, sungguh tuntutan yang wajar dari seorang ketua besar sebuah perkumpulan yang besar pula! Akan tetapi, Pangcu, bagaimana pun juga, saya juga harus melihat bukti bahwa Pangcu adalah orang yang pantas untuk saya taati. Mohon petunjuk!" katanya dan pria tinggi besar ini segera memasang kuda-kuda.

Dia tidak mencabut senjata karena dia maklum bahwa dia berada di sarang harimau dan kedudukannya amat berbahaya. Dia hanya ingin menguji kelihaian ketua yang amat muda itu, lain tidak. Dia sama sekali tak ingin menentang karena dia sudah takluk kepada orang muda yang membantu Tok-sim Mo-li tadi.

Mendengar ucapan ketua Hek-tok-pang itu, Sim Ki Liong tersenyum dan wajahnya yang tampan itu nampak cerdik dan licik sekali. Tang Cun Sek memandang dengan hati tegang akan tetapi juga gembira. Ketua yang masih amat muda itu tadi hanya memandang acuh saja kepadanya, dan kini ketua itu ditantang atau diuji oleh Cui Bhok. Suatu kesempatan baik baginya untuk melihat sendiri sampai di mana kelihaian ketua ini.

Dia sudah mengukur kepandaian Cui Bhok, dan dari perlawanan ketua itu terhadap Cui Bhok, dia akan dapat mengukur sampai di mana kelihaiannya. Kalau melihat betapa Tok-sim Mo-li, yang tadi dia lihat pula kehebatannya, hanya menjadi pembantu ketua Kim-lian-pang, maka dapat diduga bahwa kepandaian ketua yang masih amat muda ini tentu hebat bukan main.

Thanks for reading Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 11 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »