Social Items

HARTAWAN mata keranjang, pikirnya, perusak gadis-gadis orang. Dan wanita genit tak tahu malu itu adalah seorang ibu tiri yang kejam dan jahat, ingin menjebloskan puteri tirinya ke dalam lembah kehinaan dan menghidangkan puterinya itu, seorang gadis manis, menjadi santapan si bandot tua Coa! Dia harus mencegah hal ini terjadi, pikirnya.

Namun karena peristiwa yang direncanakan orang-orang jahat itu baru akan dilaksanakan malam nanti, maka Hay Hay melanjutkan acaranya hari itu, yaitu melakukan penyelidikan dan mencari jejak Ang-hong-cu, Si Kumbang Merah, atau ayah kandungnya sendiri, untuk dibekuk dan dipaksanya mempertanggung jawabkan semua dosanya, apa lagi terhadap perbuatan hinanya, memperkosa dua gadis yang amat dikaguminya, yaitu perbuatan yang dilakukannya ketika para pendekar sedang menentang persekutuan Lam-hai Giam-lo.

Kedua orang gadis pendekar itu yang pertama adalah Pek Eng, adik kandung Pek Han Siong, puteri dari ketua Pek-sim-pang di Kong-goan. Yang kedua adalah Ling Ling atau Cia Ling, puteri dari pendekar besar Cia Sun, masih keluarga dari Cin-ling-pai yang tinggal di dusun Ciang-si-bun dekat kota raja.

Peristiwa aib yang menimpa dua orang gadis perkasa itu telah mencemarkan namanya, karena dialah yang mula-mula dituduh sebagai pelakunya! Oleh karena itu dia harus bisa membekuk batang leher Ang-hong-cu, ayahnya sendiri, lantas menyeretnya kepada dua orang pendekar wanita itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, untuk mencuci bersih namanya sendiri yang hampir saja tercemar dan menjadi busuk!

Mencari seorang datuk sesat haruslah menghubungi dunia penjahat, pikir Hay Hay. Maka dia pun tidak ragu-ragu lagi memasuki sebuah rumah judi terbesar di kota Shu-lu. Rumah judi ini bercat merah dan cukup luas. Ada beberapa belas meja perjudian. Ada permainan dadu, permainan kartu dan ma-ciok. Akan tetapi yang paling ramai dipenuhi orang adalah meja dadu terbesar di tengah ruangan. Banyak sekali tamu yang datang mengadu untung di tempat perjudian itu.

Pada waktu Hay Hay masuk dengan memakai topinya yang lebar, segera ada dua orang tukang pukul menghampirinya. Karena dia tidak dikenal dan pakaiannya sederhana, juga mengenakan topi caping yang lebar, maka tentu saja dia dicurigai.

"Hei, kawan. Di sini tidak boleh memakai caping lebar, seperti di sawah saja!" tegur salah seorang di antara mereka.

"Ke sinikan, kau titipkan dulu capingmu pada kami. Nanti kalau kau hendak pulang, boleh kau ambil dari kami!" kata yang ke dua.

Hay Hay menoleh. Dia melihat ada dua orang laki-laki tinggi besar dan terlihat kokoh kuat berdiri dengan sikap bengis dan mengancam. Hay Hay tersenyum dan menanggalkan topi capingnya, lalu menyerahkan kepada mereka.

"Harap jaga baik-baik capingku, karena di sini tidak ada orang yang menjual caping lebar model selatan ini," katanya sambil tersenyum. Seorang tukang pukul menerima caping itu sementara orang ke dua memandang Hay Hay dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Sobat, apakah engkau datang hendak berjudi?"

Hay Hay tersenyum. "Sobat, kalau orang memasuki rumah judi lalu tidak hendak berjudi, lalu mau apa?"

"Hemmm, siapa tahu? Ada saja manusia tolol yang mencoba-coba untuk merampok di po-koan (rumah judi) kami, ha-ha-ha!"

"Ha-ha-ha-ha, dan mereka itu dihajar habis-habisan, bahkan ada yang mampus! Mereka tidak tahu siapa kami!" kata orang ke dua.

Hay Hay ikut tertawa. "Sungguh tidak tahu diri! Merampok sebuah po-koan? Itu namanya tidak mengenal kawan sendiri. Akan tetapi aku tidak setolol itu, kawan. Aku datang untuk mengadu untung!" Dia menuding ke arah meja dadu yang penuh orang.

"Nanti dulu sobat, kalau engkau hendak berjudi, maka engkau harus mempunyai modal. Nah, sekarang perlihatkan dulu modalmu. Maklumlah, engkau orang baru dan kami harus berhati-hati!"

Hay Hay tersenyum. Memang ada dia membawa uang, akan tetapi tidak cukup banyak. Dia bukanlah seorang kaya yang banyak uang. Dia mengeluarkan beberapa uang logam tembaga yang tidak seberapa banyak, hanya segenggam dan harganya tentu saja tidak seberapa pula, akan tetapi pandang matanya mencorong ketika memandang kepada dua orang itu dan dia berkata sambil tertawa.

"Lihat, cukupkah modalku ini?"

Dua orang itu melihat Hay Hay membuka tangannya dan... mereka pun terbelalak melihat segenggam uang emas berkilauan pada telapak tangan pemuda itu. Segera sikap mereka berubah dan mereka berdua membungkuk-bungkuk.

"Wah, lebih dari cukup, kongcu. Silakan..., silakan...!" kata mereka sambil mengundurkan diri dan menyimpan caping Hay Hay di tempat yang memang sengaja disediakan untuk orang menaruh segala barang bawaan yang tidak diperlukan di situ seperti topi, payung, jubah dan lain-lain.

Dengan langkah seenaknya Hay Hay langsung menuju ke meja dadu. Dia melihat betapa tempat judi itu dilayani oleh banyak wanita muda cantik yang bersikap genit. Akan tetapi yang menjadi bandar adalah lelaki yang kelihatannya lihai sekali dalam mempermainkan dadu. Dia mendesak di antara banyak orang dan dapat melihat apa yang terjadi di atas meja judi putar dadu itu.

Semua orang sudah memasang taruhan mereka di atas meja, di mana terdapat gambar dan nomor-nomor yang telah dipasang orang, yaitu nomor dua sampai dengan dua belas. Dadu yang diputar ada dua buah, masing-masing dadu memiliki enam permukaan yang digambar totol-totol merah, dari satu sampai dengan enam. Tidak ada yang memasang taruhan pada nomor-nomor dua, tiga dan dua belas.

Meski pun bukan seorang penjudi, namun Hay Hay yang cerdik segera memperhitungkan kenapa tidak ada orang yang memasangkan taruhannya pada tiga nomor itu. Tentu saja, karena kemungkinan keluar ketiga nomor itu hanya masing-masing satu kali saja. Untuk nomor dua hanya jika keluar satu tambah satu, nomor tiga kalau keluar satu tambah dua, dan nomor dua belas kalau keluar enam dan enam. Demikian pula nomor sebelas tidak ada yang memasang, karena nomor sebelas hanya keluar satu kemungkinan, yaitu enam dan lima.

Akan tetapi nomor-nomor lain, dari empat sampai sepuluh, mempunyai dua kemungkinan keluar. Karena itu mereka semua hanya memasangkan uang mereka pada nomor empat sampai dengan sepuluh. Dan yang menang akan mendapatkan tiga kali lipat dari uang taruhannya!

Kelihatannya saja menguntungkan sekali, akan tetapi Hay Hay dapat memperhitungkan bahwa kemungkinan menang bagi para penjudi itu kecil sekali, dan kemungkinan menang itu sudah diborong oleh bandarnya! Bayangkan saja! Kemungkinan keluar dari dua dadu itu sebanyak delapan belas nomor sehingga kesempatan menang dari setiap pemasang adalah dua lawan delapan belas, atau satu lawan sembilan. Akan tetapi imbalannya kalau menang hanya satu mendapat tiga!

Hay Hay memandang kepada bandar di meja judi itu, seorang lelaki pendek gendut yang selalu menyeringai. Setelah semua orang meletakkan taruhannya, bandar cepat memutar dua buah dadu di dalam sebuah mangkok, lantas dengan cekatan dia menelungkupkan mangkok itu di atas meja, dengan dua buah dadunya tertutup di bawah mangkok.

"Hayo tambah lagi taruhan, masih ada kesempatan!" tantang bandar itu, dan empat orang pembantu wanita yang cantik-cantik, dengan gaya masing-masing turut membujuk penjudi yang banyak uang untuk menambah taruhan mereka. Memang pasaran taruhan menjadi semakin ramai bila mana mangkok itu sudah ditelungkupkan, tinggal dibuka saja. Meja itu kini penuh dengan uang taruhan yang ditumpuk-tumpuk.

"Awaaaasssss, mangkok akan segera dibuka! Perhatikan baik-baik! Satu... dua... tiga...!" Dengan sangat cekatan tangan si pendek gendut membuka mangkok dan dua buah dadu itu jelas memperlihatkan angka di permukaan mereka, yaitu angka satu dan dua!

"Tigaaaaaa...!" teriak bandar dadu dengan alat pengeruk di tangannya.

Dan tentu saja dia mengeruk semua uang yang bertumpuk di atas meja karena tidak ada seorang pun yang memasang nomor tiga. Para pelayan wanita sibuk pula membantunya dan ada beberapa orang pembantu lagi mengatur uang kemenangan itu dalam tumpukan-tumpukan yang rapi, memisah-misahkan mata uang itu dan menghitung-hitung.

"Silakan pasang lagi! Pasang lagi...! Siapa tahu sekali ini pasangan anda tepat mengenai sasaran! Pasang seratus mendapatkan tiga ratus, pasang seribu mendapatkan tiga ribu!" teriak beberapa orang gadis cantik pelayan meja dadu itu.

Sebuah tangan yang halus menyentuh lengan Hay Hay. Pemuda ini menengok dan dia terpesona.

Gadis ini cantik bukan main. Bedak pada mukanya tidak setebal gadis-gadis yang lain dan agaknya dara ini baru saja tiba di situ karena tadi dia tidak melihatnya di antara para gadis pelayan. Juga pakaiannya sangat berbeda, gadis ini lebih mewah dengan hiasan rambut terbuat dari emas permata. Matanya sungguh indah, seperti mata burung Hong! Usianya tentu tidak lebih dari dua puluh tahun.

"Kongcu, mengapa tidak ikut bertaruh? Kulihat engkau orang baru, biasanya orang baru akan selalu menang."

Hay Hay tersenyum. Gadis ini ramah sekali dan wajahnya amat menyenangkan, juga bau semerbak harum yang keluar dari pakaian serta rambutnya amat sedap, tidak menyolok.

"Aku sedang berpikir-pikir nomor berapa yang harus kupasangi," katanya.

Gadis itu tersenyum. "Kongcu, aku bekerja di sini maka tidak semestinya aku membantu para penjudi. Akan tetapi percayalah, malam tadi aku bermimpi indah sekali maka kalau aku menjadi kongcu, akan kupasangi nomor dua belas!"

Di dalam hatinya Hay Hay tertawa. Gadis ini bekerja di situ sebagai pelayan, tentu saja tugasnya selain membujuk para tamu agar berjudi, juga tentu berusaha supaya tamunya kalah, maka menganjurkan dia agar memasang nomor dua belas, nomor sial yang hanya memiliki kemungkinan keluar satu kali saja! Akan tetapi dia tersenyum dan mengeluarkan semua sisa uang yang ada di sakunya, hanya setumpuk uang tembaga dan dua potong uang perak, hanya kurang lebih dua tail perak saja harganya!

"Nah, inilah semua uangku, boleh kau pasangkan sesukamu, Nona."

Dara itu memandang dengan alis berkerut. "Kongcu, apakah semua uangmu hanya ini?"

Hay Hay mengerling ke kiri dan melihat betapa dua orang penjaga atau tukang pukul yang tadi menyambutnya sedang berbisik-bisik dan memandang ke arahnya. Ia pun tersenyum dan dapat menduga bahwa tentu dua orang itu yang melapor ke dalam dan dari dalam lalu mengutus gadis ini untuk melayaninya setelah mendengar laporan bahwa dia memiliki banyak uang emas!

"Semua uang kecilku hanya itu," katanya sambil tersenyum, "uang emasku masih banyak. Kau dengarlah ini!" Dia menepuk saku bajunya.

Gadis itu mendengar suara gemerincing nyaring, maka dia pun tersenyum manis sekali kemudian mendesak maju ke pinggir meja.

"Kongcu mempertaruhkan semua uang kecil ini pada nomor dua belas!"

Semua orang memandang heran. Bagaimana pun juga tumpukan uang itu cukup banyak. Mana ada orang mempertaruhkan uangnya pada nomor dua belas?

Bandar itu memandang sambil tersenyum menyeringai lebar, memperlihatkan deretan gigi yang kuning menghitam karena rusak. Dia pun memutar-mutar dua buah dadu di dalam mangkok, lantas cepat menelungkupkan mangkok itu di atas meja. Semua petaruh masih diberi kesempatan untuk menambah taruhan mereka, dan tidak seorang pun kecuali Hay Hay mempertaruhkan uangnya pada nomor dua belas. Mangkok dibuka dan...

鈥滵ua belaaaasss...!" teriak bandar.

Dua buah dadu itu jelas memperlihatkan nomor enam dan enam! Semua orang berteriak heran, ada pun dara manis itu sambil tersenyum-senyum membantu Hay Hay menghitung uang taruhannya. Hay Hay menerima tiga kali uang taruhannya sehingga di atas meja, di hadapannya, sekarang dia menghadapi uangnya yang menjadi bertumpuk-tumpuk! Dia memperoleh sebuah bangku dan gadis cantik itu pun duduk di dekatnya, memberi isyarat kepada seorang pelayan lain supaya mengambilkan minuman anggur untuk kongcu.

"Wah, engkau memang sedang mujur sekali, Nona...!"

"Siok Bi, namaku Siok Bi, Kongcu..."

"Dan namaku Hay Hay!"

"Hay Kongcu, sesungguhnya bukan aku yang mujur melainkan engkau!" katanya sambil menyentuh lengan dengan mesra sekali. Sentuhan itu membuat Hay Hay merasa betapa bulu tengkuknya segera meremang. Begitu lembut, begitu hangat dan mesra. Jantungnya berdebar kencang dan mukanya menjadi merah.

"Siok Bi, coba kau tukarkan semua uang ini dengan uang perak supaya lebih mudah kita bertaruh." katanya.

Gadis itu membantu dengan penuh gairah, dan dengan bantuannya, maka sebentar saja tumpukan uang di depan Hay Hay berubah menjadi setumpuk uang perak yang berjumlah sepuluh tail!

"Silakan pasang lagi...!" bandar sudah berteriak, agaknya sama sekali tak kecewa melihat betapa uangnya ditarik demikian banyaknya oleh tamu baru itu.

"Siok Bi, nomor berapakah sebaiknya kini?" tanya Hay Hay kepada gadis di sampingnya yang bersikap demikian mesra, seolah-olah mereka sudah lama berpacaran.

"Aih, mimpiku hanya satu kali, Kongcu. Sebaiknya jika engkau memilih sendiri agar tidak keliru."

"Baiklah, aku akan bertaruh pada nomor dua!" Hay Hay mendorong separuh dari semua uangnya ke atas nomor dua.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak. Gilakah pemuda itu? Setelah menang secara kebetulan sekali atas nomor dua belas, kini dia bertaruh atas nomor dua, lagi-lagi nomor sial yang sukar keluarnya.

"Mengapa nomor dua, Kongcu? Nomor itu jarang sekali keluar karena hanya mempunyai satu kemungkinan," bisik gadis di sisinya, mendekatkan mukanya dengan muka Hay Hay sehingga ketika bicara, dia dapat merasakan napas gadis itu hangat bertiup di pipinya.

Hay Hay tersenyum. "Biarlah, bukankah tadi nomor dua belas juga keluar?"

Karena tertarik dengan keberuntungan pemuda itu, ada dua orang penjudi lain ikut-ikutan memasang pada nomor dua, akan tetapi hanya secara iseng-iseng saja sehingga jumlah uangnya tidak banyak.

Dadu dikocok di dalam mangkok, lalu ditelungkupkan. Ketika dibuka, ternyata jatuh pada nomor lima! Beberapa orang penjudi yang kebetulan memegang nomor lima memperoleh uang hadiahnya, namun jumlahnya tidak banyak sehingga bandar masih menang cukup banyak.

"Aih..., Kongcu tidak percaya kepadaku sih!" Siok Bi mengeluh. "Sekarang pasang coba-coba saja dulu, Kongcu, jangan banyak. Sepotong perak saja untuk memancing nasib."

"Baiklah, aku menuruti usulmu," kata Hay Hay sambil tertawa.

Dengan sembarangan saja dia lalu melempar sepotong perak yang jatuh pada angka tiga! Kembali angka sial! Dan sekarang tak ada seorang pun yang mau ikut-ikutan memasang nomor tiga. Akan tetapi, ketika mangkok dibuka, dua dadu menunjukkan angka satu dan dua!

"Tigaaaa...!" Bandar berteriak dan menggaruk semua uang, kecuali taruhan Hay Hay yang menang lagi sehingga menerima hadiah tiga potong perak.

Dengan genit Siok Bi mencubit paha Hay Hay di bawah meja, lalu merapatkan tubuhnya sambil tertawa girang. Hay Hay juga tertawa-tawa untuk menenteramkan jantungnya yang berdebar.

Ketika para penjudi dipersilakan bertaruh lagi, Hay Hay lantas mendorong semua uang di hadapannya ke atas nomor sebelas. Lagi-lagi nomor sial! Akan tetapi sekali ini ada empat orang ikut-ikutan memasang nomor sebelas sehingga jika sekali ini keluar nomor sebelas, maka bandarnya akan rugi cukup canyak!

Siok Bi hanya tersenyum, maklum bahwa tamunya ini mulai panas dan mulai dipengaruhi oleh setan judi sehingga sebentar lagi tentu akan mengeluarkan uang emas dari dalam kantongnya! Dadu dikocok, lalu mangkok ditelungkupkan!

"Silakan menambah uang taruhan!" teriak bandar .

"Siok Bi, keluarkan semua uangmu, kupinjam dulu untuk taruhan!" kata Hay Hay. Gadis itu terkejut, akan tetapi mengeluarkan uangnya dan ternyata ada lima tail.

"Bagaimana kalau kalah, Kongcu?"

"Jangan khawatir, akan kuganti dengan uang emas!"

Siok Bi girang sekali. Kalau tidak terdapat banyak orang, tentu sudah diciumnya pemuda yang ganteng dan menarik ini. Tidak seperti para tamu lain, pemuda ini tidak pernah jail, tidak mengganggunya, bahkan menyentuhnya pun tidak, apa lagi kurang ajar. Akan tetapi selalu ramah dan pandang matanya itu membuat birahinya sudah bangkit sejak tadi! Hay Hay menambahkan uang Siok Bi ke atas taruhannya.

Mangkok kemudian dibuka dan... sepasang mata bandar itu melotot keheranan ketika dua buah dadu itu menunjukkan angka enam dan lima!

"Se... sebelas...!" serunya dan si gendut ini kelihatan bingung bukan main. Juga Siok Bi terbelalak heran, menatap tajam wajah bandar gendut, akan tetapi dengan cepat dia bisa menguasai keheranannya, lalu memegang lengan Hay Hay.

"Kita menang, Hay Kongcu...!" serunya gembira, berbareng dengan seruan mereka yang ikut memasang nomor sebelas. Dengan muka agak pucat bandar lalu menghitung semua uang dan membayar kemenangan mereka yang bertaruh pada nomor sebelas.

Sesudah tiga putaran lagi Hay Hay tetap menang dan semua penjudi di meja itu sekarang ikut memasang nomor yang sama dengan Hay Hay, bandar judi yang bertugas di meja itu menjadi pucat sekali. Tubuhnya gemetar dan beberapa kali dia menghapus keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Setiap kali membuka mangkok tangannya selalu gemetar, kemudian matanya terbelalak setelah melihat betapa sepasang dadu itu menunjuk angka yang tepat seperti yang dipasang oleh pemuda itu!

Orang-orang bersorak gembira dan uang di meja bandar itu telah dikuras habis, bahkan sang bandar terpaksa menyuruh pembantunya mengambil uang dari dalam! Kini bandar judi yang gendut pendek itu menyeka keringatnya dan menggoyang-goyang kepalanya.

"Aku... aku... lelah sekali... biarlah aku berhenti dulu dan... minta diganti rekan lain..."

Dengan terhuyung-huyung dia lalu meninggalkan meja itu menuju ke dalam dan tak lama kemudian muncullah lima orang pria dari dalam, mengawal seorang kakek berusia enam puluh tahun yang bermuka hitam dan bertubuh jangkung. Mata kakek ini tajam bagaikan mata elang.

Diam-diam Hay Hay tersenyum melihat mereka, maklum bahwa sekarang tentu muncul jagoan nomor satu dalam permainan judi itu, diikawal oleh lima orang pengawal jagoan yang pilihan pula. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan sibuk menyerahkan setumpuk uang yang banyak sekali kepada Siok Bi.

"Nona manis, ini aku kembalikan uangmu berikut pembagian keuntungan untukmu!" kata Hay Hay.

"Ahhh" banyak sekali, Kongcu...!" kata Siok Bi, setengah gembira namun juga khawatir.

Tentu saja gadis ini gembira menerima pengembalian yang begitu banyak, puluhan kali lebih banyak dari pada uangnya sendiri sehingga untuk membawanya saja dia telah amat kewalahan.

Akan tetapi, sejak pasangan pemuda itu terus menerus menang, dia sudah amat terkejut dan terheran, namun juga khawatir sekali. Kemenangan demi kemenangan itu sungguh tidak wajar sama sekali.

Dia tahu betapa pandainya Si Gendut itu memainkan dadu-dadu itu dan dapat mengatur sedemikian rupa sehingga dadu-dadu itu akan menghasilkan angka seperti yang telah dia kehendaki sebelum memutarnya. Akan tetapi entah kenapa hari ini kepandaiannya seperti musnah sehingga dadu-dadu itu agaknya tidak mau menurut perintahnya lagi, melainkan menurut kepada perintah atau harapan pemuda ganteng itu!

Di antara para pelayan wanita, Siok Bi bukanlah pelayan biasa, melainkan kepala pelayan dan dia dipercaya penuh oleh pimpinan mereka. Kini, melihat keadaan yang aneh itu, Siok Bi amat mengkhawatirkan keadaan Hay Hay yang telah menarik perhatiannya. Tentu akan terjadi malapetaka pada pemuda yang nasibnya amat mujur dalam perjudian itu!

Melihat munculnya kakek jangkung bermuka hitam yang dikenal sebagai Kepala Bandar tempat perjudian itu, beberapa penjudi yang kegirangan akibat kemenangan-kemenangan mereka dan yang masih menghendaki kemenangannya lebih banyak, segera menyambut riuh.

"Lanjutkan permainan dadu!"

"Kami akan mempertaruhkan semua uang kami!"

Dengan tenang Si Jangkung itu menghampiri meja, lantas menyapu wajah semua penjudi dengan matanya yang sedikit juling namun tajam luar biasa itu, dan agak lama matanya menatap wajah Hay Hay, kemudian tersenyum dan berkata,

"Jangan khawatir, sobat-sobat. Teman kami tadi sudah terlalu lelah, maka aku yang akan menggantikan dia. Nah, bersiaplah dengan taruhan kalian. Dadu-dadu ini kuganti dengan yang baru. Lihat, dua dadu ini masih baru dan semua angkanya tepat dari satu sampai dengan enam!"

Dia lalu memperlihatkan sepasang dadu yang dikeluarkannya dari dalam saku bajunya dan menyimpan dua buah dadu yang tadi digunakan, lalu memasukkan dadu-dadu itu ke dalam mangkok besar yang sudah dipersiapkan di situ.

"Sediakan dulu uang untuk membayar uang kemenangan kami!"

"Uang bandar sudah habis!"

"Smbil dulu uang dari dalam. Tanpa ada uang kami tidak mau!"

Hay Hay tersenyum dan memandang kepada Si Jangkung itu. "Mereka itu benar, orang berjudi harus memiliki modal dan kami tidak melihat bandar bermodal. Setidaknya harus ada beberapa puluh kali dari jumlah modal kami semua!"

"Bagus! Benar sekali itu! Aku tidak mau berjudi lagi kalau bandar tidak ada uangnya!"

Teriakan-teriakan itu riuh rendah dan kini semua penjudi berkumpul merubung meja dadu yang terbesar di tengah ruangan karena agaknya semua penjudi itu hendak membonceng keberuntungan Hay Hay.

Di depan Hay Hay bertumpuk uang yang amat banyak, bahkan ada sebagian yang harus ditumpuk di bawah meja. Siok Bi juga kewalahan membawa uang pemberian Hay Hay, maka dia memberi tanda kepada dua wanita pelayan bawahannya untuk membawakan uang itu. Suasana menjadi tegang dan Si Jangkung muka hitam tersenyum pahit.

"Jangan khawatir, sobat-sobat! Pasanglah taruhan berapa pun juga, dan kami pasti akan membayar setiap kemenangan kalian!"

"Sediakan dulu uangnya!" teriak Hay Hay dan semua orang menyambutnya dengan sorak sorai. "Dengar, sobat muka hitam!" kata Hay Hay sambil tersenyum.

Jantungnya kembali berdebar karena kini demikian banyaknya orang berdesakan di situ sehingga Siok Bi terhimpit dan tubuhnya yang montok dan lunak hangat itu mepet dengan tubuhnya sampai dia dapat merasakan betapa dada yang membusung itu merapat pada pundaknya karena gadis itu kini telah berdiri sedangkan dia masih duduk di atas bangku. Lengan yang halus dan putih mulus itu melingkar di sekitar pundak dan lehernya. Siok Bi kini agaknya sudah berani sekali menganggap dia sebagai kekasihnya!

"Kau lihat semua uang perakku ini dan taksir, ada berapa? Jika semua ini ditukar dengan uang emas, berapa kau berani menukarnya?"

Bandar itu memicingkan mata, menaksir tumpukan di atas meja dan di bawah meja. "Kami berani menukarnya dengan lima belas tail emas murni!" katanya. Tentu saja dia tahu betul bahwa nilai tumpukan uang perak itu sedikitnya ada dua puluh tail emas!

"Bagus! Suruh orang mengangkatnya dan menukarnya dengan lima belas tail emas sebab sekarang aku ingin berjudi dengan taruhan emas saja agar tidak memenuhi meja!"

Kembali semua orang riuh dan bising. Banyak di antara mereka yang tahu betapa pemuda itu sudah diakali dan dirugikan, akan tetapi tidak ada yang berani ribut karena bagaimana juga semua uang itu adalah hasil menang judi.

Ketika bandar jangkung memberi isyarat, para pengawalnya lalu mengambil uang emas yang cukup banyak dari dalam. Lima belas tail diberikan kepada Hay Hay dan bandar itu sendiri menumpuk lima puluh tail di atas meja sebagai modal judi. Tumpukan uang perak yang dimenangkan Hay Hay diangkut pula ke atas meja di belakang bandar itu. Semua penjudi memandang dengan hati gembira sekali, membayangkan betapa semua uang itu nanti akan menjadi milik mereka.

Kini bandar itu berseru, suaranya terdengar nyaring. "Silakan pasang!"

Hay Hay masih diam saja dan ternyata semua penjudi juga ikut diam. Suasana menjadi sunyi sekali karena semua penjudi menunggu pemuda itu memasang nomornya, barulah mereka akan memasang dengan nomor yang sama!

Suasana yang sangat tegang itu menggembirakan hati Hay Hay. Dia pergi ke tempat ini untuk mencari jejak Ang-hong-cu, akan tetapi terlibat dalam permainan judi. Kalau saja dia tidak melihat betapa bandar gendut tadi bermain curang dengan dadu-dadunya, tentu dia pun tidak akan duduk menjadi penjudi di sini.

Tadinya dia hanya ingin mengganggu bandar gendut itu, akan tetapi dengan adanya Siok Bi yang cantik, maka gangguannya menjadi berlarut-larut sampai semua uang dikurasnya dari meja bandar! Tentu saja dia tidak membutuhkan banyak uang seperti itu, dan kalau dia melanjutkan permainannya itu hanya untuk menghajar para bandar judi, membantu para penjudi yang dia tahu selama ini tentu telah banyak mengalami kekalahan, dan untuk memancing agar dia bisa mendapatkan jejak Ang-hong-cu melalui perjudian itu.

"Sobat, kocok dulu dadunya. Kalau sudah kau telungkupkan mangkok itu, baru aku akan memasang taruhanku. Akan tetapi, aku juga sudah lelah maka aku ingin berjudi satu kali lagi saja. Akan kupertaruhkan semua uang emasku ini untuk satu nomor!"

Semua orang menahan napas. Semuanya hendak dipertaruhkan? Lima belas tail emas, berarti tumpukan emas di depan bandar itu akan tersedot hampir habis kalau pemuda itu menang! Si bandar harus membayar empat puluh lima tail emas! Mendengar tantangan yang amat berani itu, si bandar muka hitam terbelalak sedikit, akan tetapi dengan tenang dia pun mengangguk.

"Baik, kuterima! Bagaimana yang lain?"

"Aku pun mempertaruhkan semua uangku ini!"

"Aku juga!"

"Aku juga!"

Semua penjudi berteriak ingjn mempertaruhkan semua uang mereka. Kini wajah bandar judi itu agak pucat. Bayangkan saja! Semua orang yang berjudi di sana mempertaruhkan seluruh uang mereka. Akan bangkrutlah apabila dia kalah, lantas bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan kepada pemimpinnya? Dia tahu bahwa semua penjudi tentu akan mempertaruhkan uang mereka seperti pemuda itu, dengan nomor yang sama! Akan tetapi dia yakin akan kemampuannya, maka dia menekan perasaannya dan mengangguk-angguk.

"Baiklah! Kawan-kawan, hitung uang mereka semua supaya lebih mudah pembayarannya nanti!" Dia pura-pura tenang saja, seperti telah siap kalau sampai kalah untuk membayar semua kekalahannya!

Kini meja itu penuh dengan tumpukan uang, di antaranya ada tumpukan uang emas lima belas tail milik Hay Hay. Hebatnya, semua penjudi menaruh seluruh uang mereka di atas meja, tidak menyisakan sedikit pun dalam saku baju mereka. Kalau sampai kalah, mereka semua akan pulang dengan kantong kosong sama sekali! Sebaliknya, kalau bandar yang kalah, maka tumpukan uang emas, perak dan tembaga yang berada di situ semua akan amblas!

Sesudah selesai menghitung uang taruhan dan mencatat, si jangkung muka hitam lantas berseru keras, "Dadu dikocok....!"

Dan cara dia mengocok dadu memang sangat aneh, lain dari kocokan si gendut tadi. Dia memutar-mutar mangkok yang lebih besar dari pada mangkok yang digunakan rekannya tadi, memutar cepat sekali di atas kepalanya hingga terdengar bunyi berkerotokan ketika dadu-dadu itu berputaran di dalam mangkok, kemudian dia menurunkan mangkok itu dan tangan kirinya menarik tutupnya.

"Brukkkk!"

Mangkok jatuh menelungkup di atas meja dan meja itu pun tergetar. Diam-diam Hay Hay memperhatikan dan maklumlah dia bahwa si jangkung ini memiliki tenaga sinkang yang kuat! Dia maklum pula bahwa seperti rekannya tadi, si jangkung ini tentu menggunakan tipu muslihat dan mungkin dibantu dengan tenaga sinkang-nya untuk mengatur keluarnya nomor dadu.

Maka dia pun langsung bersiap siaga, mengerahkan kekuatan sihirnya karena dia belum tahu akal apa yang akan dipergunakan orang. Tentu saja kedua telapak tangannya juga ditempelkan di meja itu untuk mengetahui melalui getaran di meja apa yang terjadi.

"Silakan memasang nomor!" teriak pula bandar itu, sementara tangan kanannya masih di atas mangkok yang telungkup di depannya.

Tanpa ragu-ragu lagi Hay Hay lantas mendorong lima belas tail emasnya ke atas nomor tiga! Kembali semua orang tertegun. Sungguh nomor-nomor yang sial dan jarang keluar saja yang selalu dipilih oleh pemuda itu. Akan tetapi, tanpa ragu-ragu mereka semua lalu mendorong uang masing-masing ke atas nomor tiga, mengelilingi tumpukan uang emas milik Hay Hay! Uang yang bertumpuk-tumpuk di atas meja itu semuanya dipertaruhkan kepada nomor tiga!

Hay Hay tidak melihat ada perubahan pada muka si jangkung itu, akan tetapi walau pun hanya sedetik dia melihat betapa sepasang mata itu terbelalak atau mengeluarkan sinar kaget, kemudian sepasang tangannya yang diletakkan di atas meja itu dapat merasakan getaran yang datangnya dari dalam mangkok besar itu. Pendengarannya yang terlatih itu pun mendengar suara bunyi kretek-kretek dua kali.

Hay Hay dapat menduga bahwa itulah alat rahasia di dalam mangkok. Pasangannya pada nomor tiga itu agaknya tepat mengenai sasaran dan dua buah dadu di bawah mangkok itu betul-betul menunjukkan angka tiga, akan tetapi alat rahasia di dalam mangkok kini telah bekerja sehingga dua buah dadu itu tentu akan membalik dan menjadi angka lain. Hal ini dapat dibacanya dari muka hitam itu, yang kini bibirnya mengandung senyum mengejek dan sepasang matanya bersinar penuh keyakinan menang.

Suasana menjadi sunyi, tegang mencekam hati para penjudi. Ada yang mukanya pucat, ada yang merah, ada yang peluhnya bercucuran. Semua orang dicengkeram oleh harapan kemenangan dan dicekam rasa takut akan kekalahan.

"Sobat-sobat, lihat baik-baik, mangkok ini akan kubuka. Satu... dua... tiga....!"

Semua mata memandang dan penglihatan Hay Hay yang paling tajam itu sudah melihat bahwa salah satu dadu menunjukkan angka satu, tetapi dadu kedua menunjukkan angka enam! Jadi yang keluar adalah tujuh! Dia kalah! Akan tetapi, dengan getaran dua telapak tangannya, tiba-tiba saja secepat kilat sehingga tidak tampak oleh mata biasa, dadu yang menunjuk angka enam itu bergulir dan kini menunjuk angka dua!

"Satu dan dua...!"

"Tiga...! Kita menang!"

"Kita menang! Hayo bayar taruhanku!"

Suasana menjadi riuh rendah, akan tetapi Hay Hay hanya menatap dengan pandang mata tajam kepada wajah Si Jangkung. Muka yang hitam itu menjadi pucat, matanya terbelalak memandang kepada dua buah dadu itu, kemudian dia berteriak parau.

"Sobat-sobat, kalian keliru! Lihat yang betul, bukan angka tiga yang keluar!"

Dengan menekan meja tiba-tiba saja dia menggetarkan sinkang sehingga biji dadu yang tadinya menunjukkan angka dua kini kembali berguling ke angka enam! Akan tetapi hanya sebentar karena sudah berguling ke angka dua!

Semua penjudi memandang bengong dengan mata terbelalak heran. Kini semua orang melihat betapa dadu yang satu ini dapat bergulir-gulir, suatu saat bergulir ke angka enam, lalu bergulir lagi ke angka dua!

Terjadi perang antara dua kekuatan sinkang yang digetarkan melalui telapak tangan Hay Hay dan Si Jangkung muka hitam itu. Akan tetapi, ketika untuk kesekian kalinya dadu itu bergulir ke angka enam dan Hay Hay menggulirkannya lagi ke angka dua, dia pun segera mengerahkan tenaga dan menahan sehingga betapa pun Si Jangkung berusaha dengan sinkang-nya, tetapi tetap saja dia tak mampu menggulirkan dadu itu yang tetap menunjuk angka dua. Satu dan dua!

"Tigaaaa...!" Semua penjudi berseru sesudah melihat betapa dadu itu kini tidak bergerak lagi dan keduanya tetap menunjuk angka satu dan dua!

Kembali orang-orang bersorak, akan tetapi tiba-tiba saja si jangkung muka hitam bangkit berdiri dan berseru, "Tidak! Ada kesalahan di sini! Kalian tadi melihat sendiri betapa dadu yang satu itu bergulir-gulir. Ini tidak benar! Pengocokan dadu harus diulang dan sekarang semua orang harus menjauhi meja!"

Tentu saja ucapan ini membuat para penjudi terkejut dan marah sekali.

"Wah, itu tidak adil!"

"Curang sekali!"

"Kami sudah menang, bayar kemenangan kami!"

Dengan gerakan yang cekatan sekali tiba-tiba si jangkung muka hitam meloncat ke atas meja dan bertolak pinggang. Wajahnya kereng dan bengis sekali, sementara itu belasan tukang pukul sudah siap siaga di belakangnya sambil meraba gagang senjata.

"Siapa bilang kami curang? Pernahkah rumah judi kami tidak membayar para pemenang? Kami hanya ingin mengulang pengocokan dadu sebab tadi tidak wajar. Hayo, mundur dan tidak boleh menyentuh meja! Kami telah mengambil keputusan, siapa akan menentang?"

Para pengawal di belakang si muka hitam memandang beringas, sudah siap menyerang siapa saja yang berani menentang keputusan itu. Para penjudi masih bersungut-sungut penasaran dan merasa tak puas, akan tetapi tak ada yang berani rnenentang dan semua orang mundur menjauhi meja. Kini mereka semua memandang kepada Hay Hay karena pemuda inilah yang mereka harapkan, dan tanpa pemungutan suara lagi pemuda itu telah mereka anggap sebagai pemimpin mereka!

Hay Hay tersenyum dan dia pun hanya menurut saja ketika lengannya ditarik oleh Siok Bi menjauhi meja. Gadis itu masih tetap merangkul pinggangnya ketika Hay Hay berkata,

"Saudara sekalian, biarlah kita terima saja keputusan itu! Meski pun dikocok ulang, kalau memang sudah nasib kita untuk menang maka kita tetap akan menang!"

Mendengar ucapan ini, semua orang menjadi lega kembali. Si muka hitam memandang penuh curiga. Tadi dia tahu bahwa ada orang yang main-main dan melawan sinkang-nya dan dalam pertarungan adu kekuatan itu dia telah kalah! Akan tetapi karena banyak sekali tangan yang berada di atas meja, tentu saja dia tidak tahu tangan siapa itu yang sudah menyalurkan sinkang.

Namun agaknya tidak mungkin tangan pemuda aneh yang digandeng Siok Bi itu. Selain pemuda itu nampaknya biasa saja, juga Siok Bi selalu menggandeng dan merangkulnya. Gadis yang juga merupakan pembantu dari pimpinan rumah judi dan memiliki kepandaian lumayan pula itu tentu akan mengetahui apa bila pemuda itu menyalurkan sinkang-nya.

Si jangkung muka hitam sudah meloncat turun kembali dan setelah mengamati dua buah dadu itu, dia pun memutar atau mengocok sepasang dadu itu ke dalam mangkok. Seperti tadi, dia menelungkupkan mangkok di atas meja dan berteriak,

"Apakah nomor pasangan tidak dirubah?"

"Tidak, tetap nomor tiga!" kata Hay Hay.

"Kami juga nomor tiga!"

"Nomor tiga...!" Semua orang serempak berteriak, walau pun hati mereka khawatir sekali. Bagaimana mungkin dua kali berturut akan keluar nomor sial itu?

"Jangan gelisah, saudara-saudara! Yang keluar pasti nomor tiga. Nomor tiga...!" seru Hay Hay dan seruan ini mengandung kekuatan sihir yang besar hingga seketika semua orang di ruangan itu terpengaruh tanpa mereka sadari.

"Satu... dua... tiga...!" teriak si jangkung muka hitam dan begitu mangkok dibuka, kembali dia terbelalak dan mukanya berubah pucat karena benar saja seperti yang dikatakan oleh pemuda itu, dadu-dadu itu menunjuk angka satu dan dua.

"Tigaaa...! Nomor tiga, kita menang!" teriak orang-orang itu dengan gembira.

"Nanti dulu, kalian salah lihat! Lihat baik-baik!" teriak si muka hitam dan kini dia menekan meja. Hanya kedua tangannya saja yang menekan meja, tidak ada tangan lain maka dia merasa yakin akan mampu menggulirkan dadu tanpa ada yang menghalanginya.

Benar saja, begitu dia menggetarkan telapak tangannya, sebuah dadu yang nomor satu bergulir ke angka tiga. Akan tetapi betapa heran, terkejut dan bingungnya ketika dadu itu bergulir, bukan angka tiga yang nampak, melainkan angka satu pula! Jadi tetap satu dan dua! Kembali dia mengerahkan sinkang dan dadu itu bergulir-gulir, namun ke permukaan mana pun dadu itu bergulir, tetap angka satu seolah-olah ke enam permukaannya semua berangka satu!

Si muka hitam terheran dan meneliti dadu itu dari samping. Angka-angkanya masih tetap biasa, dari satu sampai enam! Akan tetapi mengapa kalau berguIir, yang nampak angka satu Iagi? Sementara itu, para penjudi bersorak-sorak gembira. Mereka pun melihat dadu itu bergulir-gulir, namun tetap angka satu sehingga tetap saja angka itu menjadi satu dan dua.

Kini si muka hitam terbelalak dan mukanya penuh dengan keringat. Celaka, pikirnya. Dia sudah membikin bangkrut rumah judi, maka tentu dia harus bertanggung jawab terhadap pemimpinnya. Dia merasa ngeri dan seperti tadi, tiba-tiba saja dia telah meloncat ke atas meja dan tangannya sudah memegang sebatang pedang telanjang!

"Tidak ada yang menang atau pun kalah!" bentaknya. "Ada orang membikin kacau di sini! Rumah judi ditutup dan kalian boleh membawa pulang uang masing-masing!"

"Tapi kami menang! Harus dibayar dulu...!"

"Hendak dibayar dengan ini?" Si muka hitam mengacungkan pedangnya. "Kami tidak mau membayar sebab permainan judi tadi tidak wajar dan ada kecurangan! Hayo kalian semua keluar, atau kami akan menggunakan kekerasan!" Pada waktu semua orang memandang, belasan orang tukang pukul itu kini sudah menghunus senjata tajam masing-masing dan sikap mereka sangat mengancam.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan ketika semua orang memandang, ternyata yang tertawa itu adalah Hay Hay. "Ha-ha-ha-ha, maling teriak maling, orang curang teriak orang lain yang curang, alangkah palsunya hidup kalian sebagai penyelenggara perjudian. Saudara sekalian, mundurlah, biar aku yang menghadapi manusia-manusia jahat ini!"

Semua tamu mundur dan mepet pada dinding, dan dengan lembut Hay Hay mendorong Siok Bi untuk melepaskan gandengannya. Siok Bi bukanlah wanita sembarangan dan dia mempunyai ilmu silat yang cukup hebat sehingga dipercaya sebagai kepala para pelayan wanita. Akan tetapi ketika didorong, dia merasa betapa ada kekuatan yang amat dahsyat sehingga betapa pun dia sudah mempertahankan, tetap saja dia terdorong dan terhuyung sehingga terpaksa dia pun mundur sampai ke dinding.

Hay Hay menjulurkan tangannya, lantas menyambar mangkok besar di atas meja dadu. "Saudara sekalian, lihatlah betapa curang mereka ini!"

Dia menelentangkan mangkok itu dan nampaklah oleh semua orang betapa pada sebelah atas mangkok itu terpasang alat rahasia dan nampak pula ada sepasang dadu di sana. Agaknya, kalau sepasang dadu di atas meja itu hendak diganti sehingga nomornya keluar menurut kehendak bandar, maka alat di dalam mangkok itu menukar dadu di atas meja dengan dadu yang berada di dalam mangkok.

Kalau alat rahasia ini gagal, masih ada kekuatan sinkang bandarnya yang dapat membuat dadu bergulir. Akan tetapi semua itu, alat dan kekuatan sinkang si bandar, sekali ini tidak berhasil karena di halangi oleh Hay Hay yang menggunakan kekuatan sinkang kemudian menggunakan sihir.

Melihat ini, tentu saja para penjudi itu menjadi terkejut dan marah bukan main. "Nah, lihat betapa bodohnya berjudi di rumah judi. Hampir semua rumah judi tentu mempergunakan tipu muslihat dan mana mungkin kalian menang? Yang sengaja diberi kemenangan untuk menarik para tamu biasanya adalah anak buah mereka sendiri. Hendaknya kenyataan ini akan membuka mata saudara sekalian sehingga tidak mau lagi menjadi korban perjudian, menghentikan kebiasaan berjudi yang buruk!"

Mendengar ucapan Hay Hay itu, dipimpin oleh si muka hitam, belasan orang pengawal itu sudah mengepung Hay Hay. Bahkan dari dalam muncul pula bandar pendek gendut itu dan beberapa orang lain sehingga jumlah mereka kini ada dua puluh orang! Semua orang memegang senjata tajam, ada pun sikap mereka amat bengis. Semua tamu memandang dengan hati tegang dan penuh kekhawatiran.

Tiba-tiba nampak Siok Bi, wanita cantik yang tadi menemani Hay Hay, menyelinap masuk ke dalam lingkaran dan meloncat ke dekat Hay Hay. Wajahnya agak pucat dan matanya bersinar-sinar.

"Tidak! Kalian tidak boleh menyakiti Hay Kongcu! Dia tidak bersalah, dan dia melakukan perjudian juga hanya iseng-iseng saja! Kongcu, kuharap engkau suka menyudahi urusan ini dan membawa pergi uangmu dari tempat ini. Tidak ada gunanya bagimu dan tidak ada untungnya kalau memusuhi rumah perjudian ini, apa lagi mengingat bahwa Kongcu bukan orang Shu-lu. Sekali lagi kuanjurkan agar kong-cu pergi dari sini dengan aman. Aku yang menanggung bahwa Kongcu dapat pergi dengan aman dan tidak diganggu!"

Aneh sekali. Dua puluh orang lelaki bengis itu agaknya tidak ada yang berani menentang ucapan Siok Bi, hanya memandang kepada Hay Hay seakan hendak melihat bagaimana tanggapan Hay Hay terhadap nasehat Siok Bi itu.

Hay Hay tersenyum dan menjulurkan tangannya, membelai dagu yang halus itu. "Siok Bi, engkau manis sekali. Terima kasih atas usahamu mengamankan aku. Akan tetapi, tidak. Mereka berbuat curang dan mereka harus membayar kekalahan mereka kepada semua penjudi di sini!"

"Ahh, kau... kau berani... menentang mereka semua itu?" tanya Siok Bi, membelalakkan mata, tidak percaya.

Ia bisa menduga bahwa pemuda yang amat menarik hatinya ini tentu memliki kepandaian. Akan tetapi betapa pun lihainya, kalau harus melawan dua puluh orang bersenjata yang marah itu, apa lagi dia tahu betapa lihainya si muka hitam dan si pendek gendut, pemuda ini tentu akan celaka.

Hay Hay tertawa. "Mengapa tidak berani? Mereka itu hanya sekawanan tikus yang tidak tahu mana kawan mana lawan!"

"Ehh? Apa maksudmu, Kongcu?"

"Nanti engkau akan melihat sendiri. Minggirlah, Siok Bi yang manis, dan terima kasih atas kebaikanmu."

Mendengar percakapan itu, dua puluh orang yang mengepung Hay Hay menjadi marah bukan main. Mereka dianggap sebagai sekawanan tikus oleh pemuda itu! Begitu Siok Bi yang menggeleng kepala dengan penuh kekhawatiran itu minggir dan kembali ke dinding, si muka hitam lalu berteriak,

"Hajar dan bunuh manusia sombong ini!"

Dia sendiri segera menyerang dengan pedangnya, mengirim tusukan ke arah dada Hay Hay. Pemuda ini dengan tenang saja miringkan tubuhnya dan pada saat itu pula bandar ke dua yang bertubuh pendek gendut sudah ikut menyerangnya pula dari arah belakang, membacokkan goloknya ke arah leher.

Hay Hay juga mengelak dengan lompatan ke depan, kemudian dia membalik dan kedua tangannya menyambar dengan kecepatan kilat. Si jangkung muka hitam serta si gendut pendek yang merupakan dua orang paling lihai di antara dua puluh orang itu, tidak tahu apa yang terjadi atas diri mereka akan tetapi tiba-tiba saja kepala mereka terasa seperti disambar petir dan mereka pun terpelanting roboh.

Kiranya petir itu adalah dua buah tangan Hay Hay yang tadi menyambar cepat sekali dan menampar mereka. Ketika dua orang itu dapat bangkit kembali, Hay Hay sudah meloncat ke atas meja dadu yang lebar itu lantas bertolak pinggang. Dia tersenyum dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong!

"Kalian ini sekumpulan tikus! Musuh berada di sekelilingmu, kalian tidak saling serang mau tunggu apa lagi? Hayo cepat serang musuh di sekeliling kalian!"

Dia menggerak-gerakkan kedua lengannya ke arah mereka dan terjadilah peristiwa yang amat luar biasa. Si jangkung muka hitam dan si gendut pendek kini sudah menggerakkan senjata masing-masing dan saling serang! Semua anak buah mereka juga saling serang sehingga terjadilah pertempuran yang kacau-balau, seperti segerombolan tikus yang tiba-tiba menjadi gila semua lantas saling serang, tidak lagi mengenal mana kawan dan mana lawan!

Tentu saja para tamu memandang terbelalak penuh keheranan. Pemuda yang mereka anggap sebagai pemimpin itu enak-enak saja berdiri di atas meja judi, bertolak pinggang sambil tersenyum-senyum, sedangkan dua puluh orang tukang pukul sudah saling serang tak karuan. Karena mereka semua menggunakan senjata, maka sebentar saja sudah ada beberapa orang yang roboh mandi darah terkena bacokan.

Siok Bi juga terbelalak penuh keheranan. Akan tetapi, melihat betapa telah ada beberapa orang yang roboh mandi darah, dia lalu meloncat ke atas meja di mana Hay Hay berdiri. Semua orang terkejut dan kagum. Meja itu agak jauh dan dia harus melompat di antara orang-orang yang sedang berkelahi dengan senjata tajam, namun Siok Bi dapat meloncat ke atas meja dan tiba di depan Hay Hay tanpa mengguncangkan meja itu! Hay Hay yang sudah menduga bahwa Siok Bi memiliki kepandaian, tidak merasa heran dan menyambut gadis itu dengan senyuman.

"Kau mau membantu mereka?" tanyanya.

Siok Bi memegang lengan pemuda itu, "Tidak, Kongcu, tidak sama sekali! Aku bahkan gembira bahwa engkau yang mampu mempermainkan dan menghajar orang-orang kejam itu. Akan tetapi hentikanlah. Aku tak ingin melihat mereka tewas dan aku pun mempunyai tanggung jawab di sini. Oleh karena itu hentikanlah, kasihanilah aku sebab aku tentu akan mendapat marah dari pimpinan kalau berdiam diri saja..."

Hay Hay mengangguk, lalu menghadapi mereka yang sedang berkelahi dan dia bertepuk tangan! Tepukan tangannya sangat nyaring, disusul teriakannya yang berpengaruh. "Heiii, berhenti semua! Apakah kalian sudah gila, saling serang sendiri! Hayo berhenti berkelahi kataku!"

Tiba-tiba saja perkelahian berhenti dan semua orang itu terheran-heran melihat betapa mereka tadi sudah saling serang di antara kawan sendiri! Ada delapan orang yang terluka karena bacokan senjata kawan sendiri, bahkan si muka hitam terpincang-pincang dengan paha terluka, dan si gendut pendek juga meringis karena bahunya robek akibat sabetan pedang. Kini mereka semua memandang kepada Hay Hay yang berdiri di atas meja, ada pun Siok Bi sudah cepat meloncat turun.

"Nah, bagaimana sekarang? Apakah kalian masih hendak berkelahi dengan aku? Ataukah kalian mau memenuhi kewajiban kalian, membayar semua kemenangan kami?"

Siok Bi menghampiri si muka hitam dan si gendut pendek, lantas berbisik. "Sebaiknya kita penuhi saja permintaannya. Kalian bukanlah lawan dia, jika dilanjutkan maka kita semua akan celaka!"

Agaknya semua anak buah rumah judi itu kini sudah merasa gentar dan dengan pimpinan si muka hitam, mereka lalu membayar semua kemenangan para penjudi yang menerima uang kemenangan mereka dengan muka gembira. Mereka segera meninggalkan tempat itu dan berjanji di dalam hati sendiri untuk tidak kembali lagi.

Seluruh anak buah rumah judi itu memandang dengan penuh rasa gentar ketika Hay Hay membungkus semua uang emasnya yang kini berjumlah enam puluh tail emas itu dengan kain yang lebar, kemudian memanggul buntalan emas itu di atas pundaknya seperti benda yang biasa saja. Padahal buntalan itu merupakan harta yang cukup berat.

Siok Bi memandang dengan sinar mata penuh kekaguman. Selama ini belum pernah dia berjumpa dengan seorang pemuda seperti itu. Memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bahkan sakti, juga tampan gagah dan sangat pandai mengeluarkan kata-kata indah yang menyenangkan hati, merayu tanpa bersikap kurang ajar! Wanita muda ini merasa betapa baru pertama kali ini dia benar-benar tertarik kepada seorang pria, bahkan diam-diam dia mengaku telah jatuh cinta!

Sebelum meninggalkan tempat judi itu Hay Hay menoleh kepada rnereka dan memandang kepada Siok Bi sambil tersenyum. "Siok Bi, sekali lagi terima kasih kepadamu dan tolong beri tahukan kepada semua orang bahwa aku sedang mencari seorang tokoh kang-ouw yang berjuluk Ang-hong-cu. Lihat, semua emas pada pundakku ini akan kuberikan kepada siapa saja yang bisa menunjukkan di mana adanya Ang-hong-cu itu. Nah, akan kutunggu beritamu sampai besok siang di kamarku. Aku menginap di rumah penginapan Hok-lai-koan." Setelah berkata demikian, dia segera melangkah pergi.

Setelah Hay Hay pergi, barulah semua anak buah rumah judi itu menjadi gempar. Mereka cepat mengobati teman-teman yang terluka dan mereka semua bingung bagaimana harus menghadapi pemimpin mereka yang tentu akan menjadi marah sekali.

"Nona Siok Bi, sebaiknya engkaulah yang menyampaikan peristiwa ini kepada Coa Wan-gwe!" kata si muka hitam dengan muka membayangkan perasaan takut.

"Tenanglah, aku melihat sendiri bahwa kalian tak mampu berbuat apa-apa, tidak berdaya menghadapi Hay Kongcu yang sakti itu. Tentu akan kuceritakan kepadanya, akan tetapi tidak sekarang. Sekarang ini dia tidak boleh diganggu karena dia sedang beristirahat, dan kabarnya malah hendak bermalam di rumah penginapan. Biar kuselidiki... ehh, tadi kalian telah mendengar sendiri. Pemuda itu mencari Ang-hong-cu. Adakah di antara kalian yang mengenal tokoh kang-ouw yang berjuluk Ang-hong-cu itu?"

Semua orang mengerutkan alis dan mengingat-ingat. Kemudian, si jangkung muka hitam berkata, "Nama itu telah lama kudengar, akan tetapi belum pernah aku melihat orangnya. Bahkan sepanjang yang kudengar, tidak ada orang kang-ouw yang pernah melihatnya. Juga namanya sudah lama tak terdengar lagi di dunia kang-ouw, melainkan puluhan tahun yang lalu. Tapi, nona, siapakah sebetulnya pemuda itu? Kepandaiannya demikian hebat... dan... hiihhh, bagaimana tadi kami dapat saling serang sendiri? Ilmu apakah yang tadi dia gunakan itu?" Si muka hitam itu bergidik, juga teman-temannya semua merasa takut dan jeri.

Siok Bi menggeleng kepala. "Jelas bahwa ilmu silatnya tinggi, akan tetapi aku sendiri tidak mengerti kenapa tadi kalian menurut saja pada waktu dia menyuruh kalian saling serang sendiri."

"Tentu dia tadi mempergunakan ilmu sihir!" kata si pendek gendut. "Aihh, kalau disuruh melawan orang yang pandai sihir, lebih baik aku angkat tangan saja !"

Tak ada hentinya para anak buah itu membicarakan pemuda yang sudah mendatangkan kekacauan serta membuat mereka terpaksa menutup rumah judi karena bangkrut! Akan tetapi hati mereka menjadi lega setelah Siok Bi, gadis kepala pelayan yang menjadi orang kepercayaan majikan atau pemimpin mereka, menyanggupi untuk melaporkan peristiwa itu kepada majikan mereka.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Walau pun peristiwa di po-koan (rumah judi) itu segera diketahui oleh seluruh penduduk kota Shu-lu karena para penjudi itu ramai membicarakannya, namun tidak ada yang tahu bahwa pendekar muda yang mempunyai kesaktian itu tinggal di rumah penginapan Hok-lai-koan. Hay Hay hanya memberi tahu kepada Siok Bi dan para tukang pukul yang kini telah kehilangan lagak, bahkan tak berani keluar dari rumah judi itu, takut kalau dijadikan buah tertawaan orang-orang. Dengan seenaknya Hay Hay kembali ke rumah penginapan membawa buntalan emas yang banyak itu.

Pada malam itu, kurang lebih jam delapan malam, seorang gadis cantik memasuki rumah penginapan itu. Para petugas yang berjaga di rumah penginapan itu agaknya mengenal baik gadis ini sehingga tidak ada yang berani bersikap kurang ajar, bahkan mereka cepat menyambutnya dengan sikap hormat dan bertanya apa keperluan gadis itu malam-malam berkunjung ke hotel Hok-lai-koan. Semua petugas di situ mengenal dara ini sebagai orang kepercayaan Coa Wan-gwe, bahkan tahu bahwa gadis ini pandai ilmu silat!

"Apakah kedatangan Nona ini ada hubungannya dengan pesanan kamar Coa Wan-gwe? Beliau belum datang..."

"Tidak, aku hendak berkunjung kepada seorang tamu. Sudahlah..., kalian tidak perlu tahu urusanku!" katanya dan dia pun terus masuk ke dalam.

Para petugas itu tak berani mengikutinya dan Siok Bi, gadis itu, terus menuju ke ruangan belakang. Orang-orangnya sudah melakukan penyelidikan, maka dia tahu di mana kamar yang disewa Hay Hay, yaitu kamar nomor tujuh di belakang. Siok Bi membawa sebuah buntalan yang semenjak tadi dipegangnya dengan tangan kiri dan kini dia mengetuk daun pintu kamar nomor tujuh.

"Tuk-tuk-tuk...!"

Sunyi sejenak, lalu terdengar suara Hay Hay dari dalam. "Ya, siapa di luar?"

Mendengar suara yang ramah gembira ini, Siok Bi lantas tersenyum girang. Ia rnenyentuh rambutnya dengan tangan kanan untuk melihat apakah letak rambutnya sudah beres, lalu mengebutkan ujung bajunya dan baru menjawab dengan suara merdunya.

"Hay Kongcu, aku Siok Bi yang datang berkunjung."

Daun pintu terbuka dan Hay Hay berdiri di ambang pintu, memandang gadis itu dengan senyum dan pandang mata kagum. " Aihh, engkau semakin tambah manis dan jelita saja, Siok Bi!"

Wajah yang lembut itu menjadi kemerahan lantas dia pun melangkah masuk kamar tanpa rikuh lagi. "Hemmm, engkau murah sekali dengan pujianmu, Kongcu. Wanita bisa mabok oleh rayuanmu!"

Hay Hay juga masuk kamar tanpa menutup daun pintu. Hal ini nampak benar oleh Siok Bi dan kembali dia semakin kagum. Pemuda ini benar-benar berbeda dengan para pria lain yang tentu akan cepat-cepat menutupkan daun pintu seperti seekor harimau yang melihat seekor kambing memasuki kandangnya!

"Siapa memuji dan merayu? Aku berbicara sebenarnya saja, Siok Bi. Kalau engkau tidak percaya bahwa engkau jelita dan manis, coba kau bercermin!"

Siok Bi tersenyum manis. "Tidak usah kau suruh. Sebagai seorang wanita normal, setiap hari aku pasti bercermin, Kongcu, sedikitnya dua tiga kali atau malah lebih akan tetapi tak pernah aku melihat diriku seperti yang kau puji-puji. Sungguh engkau baik sekali, Kongcu, dan selama hidupku belum pernah aku bertemu seorang pemuda sehebat Kongcu..."

"Wah-wah, siapa kini yang memuji-muji? Siok Bi, sebenarnya apa maksud kunjunganmu ini? Apakah ada hubungannya dengan berita tentang Ang-hong-cu?"

Siok Bi menoleh ke arah pintu. "Kongcu, tidakkah sebaiknya kalau daun pintu kamar itu ditutup dulu?"

"Ehh? Engkau tidak khawatir, Siok Bi?"

"Apa yang harus kukhawatirkan?"

"Kalau-kalau aku melakukan hal-hal yang tidak baik, atau kalau sampai ada orang lain melihat engkau berada di sini dan..."

"Aku tidak peduli dengan pendapat orang lain, Kongcu. Dan tentang kemungkinan engkau melakukan hal-hal yang kau maksudkan itu, aku... aku bahkan akan merasa berbahagia sekali kalau kau sudi...."

Mendengar ini, jantung di dalam dada Hay Hay berdebar keras. Dia tersenyum kemudian menutupkan daun pintu, akan tetapi berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa dia tidak boleh terjatuh dalam rayuan gadis ini, seorang gadis pelayan rumah judi yang nampaknya memiliki kedudukan cukup terpandang di perkumpulan itu.Tentu bukan seorang perawan yang masih hijau, pikirnya, walau pun mungkin juga bukan seorang wanita penghibur atau wanita pelacur, melihat sikapnya yang lembut walau pun cukup berani.

Akan tetapi baru saja dia mau menutup daun pintu dan membalik, tiba-tiba saja dua buah lengan yang lembut itu telah merangkulnya dan gadis itu telah menciumnya dengan penuh rasa kagum dan mesra sampai Hay Hay gelagapan. Akan tetapi kemesraan itu langsung membakar hatinya sehingga dia pun membalas dengan penuh perasaan. Ketika api gairah itu terasa membakar, Hay Hay cepat melepaskan rangkulannya.

"Cukup, Siok Bi. Duduklah dan cetitakan apa maksudmu berkunjung ini!"

Kalau tadi Siok Bi hampir terlena di dalam rangkulan itu, tenggelam ke dalam kemesraan karena baru sekali inilah dia berangkulan dan berciuman dengan seorang laki-laki dengan suka rela dan sepenuh perasaan cinta dari hatinya, kini dia pun sadar dan terkejut setelah mendengar suara yang penuh wibawa itu.

Dengan dua kaki agak gemetar dan tubuh masih panas dingin Siok Bi menjatuhkan diri di atas pembaringan, napasnya agak terengah. "Aih, Hay Kongcu.... Belum.... belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang pria seperti Kongcu yang sungguh seorang jantan sejati! Kedatanganku ini membawa banyak urusan, Kongcu. Pertama, aku hendak mengembalikan ini." Dia membuka buntalan dan ternyata itu adalah caping milik Hay Hay yang tadi tertinggal di rumah judi. Hay Hay menerima caping itu sambil tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, terima kasih. Ini adalah sahabatku yang setia dalam perjalanan selama ini." Dia menerima caping itu dan meletakkannya di atas meja.

"Urusan ke dua adalah mengenai pesanmu agar aku menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu, Kongcu. Hal ini sudah kutanyakan kepada semua orang. Memang ada juga yang pernah mendengar akan nama Ang-hong-cu, akan tetapi tokoh itu terkenal beberapa puluh tahun yang lalu, setidaknya belasan tahun yang lalu dan selama ini namanya tak terdengar lagi. Bahkan belum pernah ada orang yang pernah melihat wajahnya. Akan tetapi, dari seorang pembantu yang baru saja pulang dari kota raja, aku mendengar bahwa di kota raja ada seorang yang membual bahwa dia adalah seorang keturunan Ang-hong-cu."

"Ahhh...! Siapakah orang itu? Siapa namanya dan di mana tinggalnya?"

"Aku pun telah bertanya akan hal itu. Kebetulan sekali pembantu baru itu mengetahuinya. Akan tetapi dia tidak tahu namanya, hanya mengenalnya sebagai Tang-ciangkun (perwira Tang), seorang perwira yang bekerja sebagai pasukan pengawal istana "

"She Tang ?" Hay Hay bertanya dan jantungnya berdebar kencang.

"Benar, Kongcu. Akan tetapi orang itu hanya mendengar bahwa Tang-ciangkun sering kali membual di luaran bahwa dia adalah keturunan Ang-hong-cu. Itu saja, benar atau tidak, tak ada yang mengetahuinya."

"Bagus, keterangan ini sudah cukup, Siok Bi. Besok aku akan segera pergi ke kota raja untuk menyelidiki orang she Tang yang menjadi perwira pasukan pengawal di istana itu. Beritamu ini sungguh cukup penting dan amat berharga bagiku. Apakah masih ada urusan lain lagi?"

"Ada, Kongcu. Mengenai dirimu..." dan tiba-tiba saja Siok Bi menangis. Hay Hay menatap tajam dan dia mendapat kenyataan bahwa tangis ini bukan dibuat-buat, bukan sandiwara, melainkan tangis karena duka.

"Tenanglah, Siok Bi. Apakah yang kau susahkan? Sejak pertemuan pertama secara diam-diam aku sudah merasa heran mengapa seorang gadis seperti engkau sampai terperosok menjadi seorang pelayan rumah judi..."

Mendengar ucapan itu, Siok Bi menangis semakin sedih, bahkan kemudian menjatuhkan diri menelungkup di atas pembaringan dan terisak-isak. Hay Hay merasa kasihan sekali. Dia duduk di tepi pembaringan dan menekan pundak gadis itu, mengelus rambutnya.

"Tenangkan hatimu dan bicaralah, aku akan menolongmu sedapatku jika memang engkau membutuhkan pertolongan."

Gadis itu bangkit, lantas dengan muka basah air mata dia memandang kepada Hay Hay. "Be... benarkah, Kongcu...? Benarkah engkau sudi menolongku...? Sudi mengangkat aku dari lumpur kehinaan ini...?"

Hay Hay tersenyum, lantas menggunakan jari-jari tangannya mengusap air mata dari pipi yang kini ditinggalkan bedak akan tetapi ternyata kulitnya memang putih mulus dan halus itu. Dia mengangguk. "Tentu saja, Siok Bi."

"Ah, Kongcu....!" Siok Bi menubruk, merangkul dan menangis di dada Hay Hay. Jantung di dalam dada itu kembali berdebar keras, tangannya balas mendekap akan tetapi Hay Hay dapat bertahan untuk tidak tergelincir ke dalam jurang birahi.

"Tenanglah, nah, kini duduklah yang baik dan berceritalah," katanya dan dia pun bangkit berdiri, lalu pindah duduk di atas kursi, baju di bagian dadanya basah oleh air mata ketika gadis itu tadi menangis di dadanya.

Siok Bi menyusuti air matanya dengan sehelai sapu tangan yang sudah menjadi basah. Ia cepat menenangkan dirinya dengan memejamkan mata, dan kembali Hay Hay mendapat kenyataan bahwa gadis cantik ini memang pernah mempelajari ilmu silat, juga cara untuk bersemedhi dan memperkuat batin. Dia hanya memandang sambil tersenyum. Tidak lama kemudian Siok Bi membuka matanya dan kini pandang matanya terang, tidak layu seperti tadi.

Ia menarik napas panjang, "Maafkan kelakuanku tadi, Kongcu. Bagi Kongcu tentu sikapku tadi bukanlah sikap seorang gadis yang sopan dan bersusila. Memang aku sudah menjadi seorang gadis yang tak tahu tahu malu, Kongcu, terseret oleh keadaan diriku," Siok Bi lalu menceritakan riwayatnya dengan singkat.

Pada waktu dia berusia tiga belas tahun, ayahnya yang sudah menduda menjadi gila judi dan habis-habisan sehingga akhirnya dia dijual oleh ayahnya kepada Hartawan Coa yang merupakan orang terkaya di Shu-lu, juga menjadi kepala dari golongan hitam di daerah itu. Ternyata Hartawan Coa suka kepadanya, karena selain cantik Siok Bi juga amat cerdas.

Gadis remaja ini lalu diperlakukan dengan sangat baik, bahkan dilatih pula dengan segala macam kepandaian, termasuk ilmu-ilmu silat tinggi. Ketika dia telah dewasa, dia terpaksa melayani Hartawan Coa yang mengambilnya sebagai seorang di antara para selirnya yang amat banyak. Mulai saat itu, selain menjadi selir Siok Bi juga menjadi orang kepercayaan dan menjadi kepala para pelayan yang berada di rumah judi itu.

"Nah, demikianlah riwayatku, Kongcu. Aku hidup bergelimang kehinaan, dan hatiku selalu merana semenjak aku dijual oleh ayah kepada Coa Wan-gwe. Tetapi ayah pun menderita karena merasa menyesal dan dia meninggal dunia karena penyesalannya pada saat aku dipaksa menjadi selir Coa Wan-gwe."

Hay Hay mengangguk-angguk. Betapa banyak gadis-gadis keluarga miskin yang bernasib seperti itu, terutama yang berwajah cantik manis seperti Siok Bi. Banyak penggoda yang datang, berupa hartawan-hartawan yang haus akan bunga cantik yang baru mekar, yang menggunakan uang mereka untuk membeli gadis-gadis itu.

Masih baik nasib gadis cantik miskin yang mempunyai orang tua yang mempunyai harga diri. Akan tetapi, sungguh celaka kalau orang tuanya mata duitan. Gadis itu akan menjadi laksana barang dagangan, dijual kepada hartawan untuk menjadi alat pemuas nafsunya. Terlampau banyak keluarga yang tidak menghargai anak perempuan, dianggapnya anak perempuan hanya menjadi beban orang tua saja. Pikiran yang sungguh jahat!

"Lalu apa yang dapat kulakukan untukmu, Siok Bi? Biar pun aku merasa sangat kasihan mendengar nasibmu, akan tetapi apa yang dapat kulakukan?"

"Tolonglah aku, Kongcu. Tolonglah aku supaya aku bisa terbebas dari cengkeraman Coa Wan-gwe...," gadis itu memohon.

"Hemm, kalau engkau memang tidak suka lagi menjadi selir dan pembantu hartawan Coa itu, kenapa engkau tidak melarikan diri saja? Engkau bukan seorang wanita yang lemah, Siok Bi, dan kulihat engkau mendapat kebebasan bergerak. Dengan mudah sekali engkau akan dapat melarikan diri meninggalkan kota Shu-lu ini ke tempat jauh!"

Gadis itu menggelengkan kepala. "Tidak mungkin, Kongcu. Ahhh, engkau tidak tahu akan kekuasaannya. Dia memiliki banyak tukang pukul dan aku tentu akan dapat ditangkapnya dengan cepat, kemudian menerima hukuman yang amat kejam. Tidak, Kongcu. Melarikan diri bukanlah jalan yang baik."

"Kalau begitu, katakan saja terus terus terang kepadanya bahwa engkau ingin bebas dan hidup sendiri."

Gadis ini menundukkan mukanya dan menarik napas panjang. "Pernah kukatakan hal itu kepadanya tetapi apa akibatnya? Aku dihukum cambuk sepuluh kali dan dia mengatakan bahwa aku telah menjadi miliknya karena sudah dibeli dari mendiang ayahku. Kalau aku ingin bebas, maka aku harus menebus diriku yang katanya kini harganya sudah menjadi lima puluh tail emas!"

"Wah, kenapa demikian banyak? Apakah dulu ayahmu menjualmu dengan harga seperti itu?"

Siok Bi menggeleng. "Hanya beberapa tail emas, tetapi dia memperhitungkan bunganya yang tinggi selama lima tahun ini...."

Hay Hay mengerutkan alisnya dan melirik ke arah buntalan uang emasnya. Uang itu lebih dari cukup untuk menebus diri Siok Bi!

"Siok Bi, kalau engkau sudah berhasil bebas dari Hartawan Coa, lantas ke mana engkau hendak pergi? Bukankah ayahmu telah meninggal dunia? Apakah engkau masih memiliki keluarga lain?"

Siok Bi kembali menggeleng kepalanya. "Hanya seorang paman di kota raja, akan tetapi dia tentu tidak sudi menerima aku yang sudah bergelimang lumpur. Tetapi... ada seorang pemuda...," gadis itu berhenti sejenak dan matanya memandang kepada Hay Hay dengan penuh duka.

Hay Hay tersenyum. "Aha! Ternyata engkau sudah mempunyai pillhan seorang kekasih? Bagus sekali kalau begitu!"

Siok Bi nampak tersipu-sipu. "Bukan begitu, Kongcu. Sebenarnya ada seorang pemuda yang dahulu suka berjudi. Dia sebetulnya seorang pemuda yang baik dan dia.... dia amat mencintaku. Ketika aku memberi nasehat agar dia berhenti berjudi, dia pun mau menurut, berhenti tidak pernah berjudi lagi dan kini dia bekerja, berdagang kecil-kecilan. Dia sangat mencintaku dan tentu akan menerimaku sebagai calon isterinya dengan hati bahagia..."

"Dan engkau tentu juga mencintanya, bukan?"

"Sayang... sayang dia bukan engkau, Kongcu....! Ahh, kenapa aku harus mengharapkan yang bukan-bukan? Aku kasihan dan suka padanya, akan tetapi terus terang saja, tidak mencintanya. Tetapi bagaimana pun juga hidupku akan lebih terhormat dan terjamin kalau dapat menjadi isterinya."

Mendengar pengakuan yang jujur itu, Hay Hay merasa terharu sekali. Gadis ini jatuh cinta kepadanya! Gadis ini tersesat ke jalan hitam bukan atas kehendaknya, melainkan karena terpaksa, dan sekarang dia berusaha untuk kembali ke jalan yang bersih. Agaknya hanya dialah yang mampu menolongnya, dengan cara menebusnya.

"Baiklah, Siok Bi. Kemenangkanku di meja judi itu cukup untuk menebus dirimu. Aku akan menemui Coa Wan-gwe dan aku akan menebus dirimu dengan lima puluh tail emas!"

"Hay Kongcu...!" Siok Bi menjerit kecil kemudian menubruk pemuda itu dengan hati penuh kebahagiaan sehingga keduanya berguling ke atas pembaringan. Siok Bi merangkul dan mencium, penuh perasaan terima kasih dan penuh kepasrahan diri.

"Kongcu...." bisiknya di antara ciumannya, "sampai mati aku tak akan mampu membalas budimu... maka... hanya tubuhku inilah yang kumiliki, hendak kuserahkan padamu untuk membalas budi dengan segala keikhlasan...! Hay Kongcu... aku kagum kepadamu, aku cinta padamu...."

Dara itu merintih ketika Hay Hay dengan halus mendorongnya, lantas pemuda itu bangkit duduk. Tadinya dia pun terseret gelombang nafsu sehingga membalas ciuman dan belaian gadis itu, namun kesadarannya membuat dia melihat betapa buruknya jika dia lanjutkan. Seolah-olah dia menolong dengan pamrih imbalan yang begitu rendah! Dia bukan hendak membeli tubuh Siok Bi, melainkan kebebasannya!

"Siok Bi, sadarlah! Aku kagum dan suka pula padamu, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku lalu ingin memperoleh imbalan darimu. Ingat, engkau telah bersiap-siap untuk menempuh jalan bersih bersama pemuda yang mencintamu. Maka sejak saat ini engkau harus menahan semua perasaanmu, dan harus pula menjadi seorang calon isteri yang setia! Kalau begitu, barulah engkau dapat mengharapkan akan membentuk rumah tangga bahagia dengan pemuda itu."

Wajah gadis itu menjadi merah dan dia pun segera meloncat turun dari atas pembaringan, membereskan pakaiannya kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hay Hay.

"Kongcu, aku menghaturkan banyak terima kasih, juga mohon maaf atas kelancanganku tadi."

Gadis itu semakin kagum, akan tetapi juga jeri karena kini dia merasa bahwa pemuda ini bukanlah manusia biasa! Tidak mungkin ada laki-laki, apa lagi masih muda, yang mampu bertahan seperti itu, padahal keduanya sudah saling peluk dan saling berciuman di atas pembaringan dalam sebuah kamar! Padahal dia telah siap menyerahkan diri dengan suka rela! Dan pemuda itu demikian pandai merayu, demikian pandai bercumbu! Selama hidup belum pernah Siok Bi mengalami hal seperti itu.

Hay Hay menyentuh kedua pundaknya lantas menariknya berdiri. Hay Hay memandang wajah yang manis itu, tersenyum, kemudian memberi ciuman mesra di dahi yang halus itu.

"Siok Bi, tidak perlu berterima kasih dan tak perlu minta maaf. Uang itu adalah uang milik rumah judi, bukan uangku. Dan tentang permintaan maaf, terus terang saja aku pun amat suka kepadamu, dan alangkah akan mudahnya dan senangnya jika aku menuruti bisikan nafsu. Akan tetapi orang harus lebih dulu sadar, waspada dan memperhitungkan segala perbuatan, bukan membuta karena nafsu. Kalau sekarang kita menuruti nafsu, kelak kita berdua akan merasa menyesal sekali. Terutama engkau, Siok Bi. Di sudut hatimu tentu akan timbul penyesalan karena engkau telah berkhianat terhadap cinta pemuda itu. Nah, sekarang katakan ke mana aku harus menyerahkan uang itu kepada Hartawan Coa. Aku ingin urusan selesai saat ini juga."'

"Ahhh, jangan sekarang, Kongcu. Besok pagi saja karena malam ini Hartawan Coa tidak berada di rumah. Dia bermalam di rumah penginapan ini!"

"Ehhh?! Di sini? Kenapa.... ?" Hay Hay bertanya heran.

Gadis itu mengerutkan alisnya. "Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi dia sudah sering kali begitu, bermalam di mana saja dan itu tandanya bahwa dia memperoleh seorang korban baru, seorang gadis yang baru saja didapatnya!"

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan terdengar suara seorang laki-laki, suara yang parau dan dalam, "Di mana kamar untukku? Harus yang paling baik!"

"Tentu saja, tentu saja... tai-ya. Di sana, di kamar paling kiri, sudah kami persiapkan..."

Siok Bi menaruh telunjuk ke depan mulutnya. "Sstttt, itu dia....!" bisiknya.

Hay Hay kemudian membuka daun pintu dan keluar dengan tenang. Dia sempat melihat seorang lelakl tinggi besar bermuka hitam bopeng! Dia terbelalak. Kiranya pemilik rumah judi, pemimpin dan kepala dari para bandar curang itu, bukan lain adalah hartawan yang sudah memiliki janji rahasia dengan isteri Gui Lok, pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai-koan!

Dia melihat pria tinggi besar itu memasuki kamar terbesar di sebelah kiri, dan dua orang tukang pukul atau jagoan yang bertubuh kokoh kekar berjaga di luar kamar itu! Isteri Gui Lok itu, yang bernama Kim Hwa, si cantik genit, berjanji akan mengantarkan puteri tirinya setelah lewat jam dua belas malam ke kamar itu! Mempergunakan obat bius pula!

Dia harus mencegah terjadinya peristiwa terkutuk itu. Kasihan Ai Ling, gadis pendiam yang bagaikan bunga baru mekar itu harus dipetik secara paksa, direnggut oleh Hartawan Coa yang rakus ini! Dia pun cepat masuk lagi ke dalam kamarnya.

"Ternyata si tinggi besar muka bopeng itukah Hartawan Coa?" katanya kepada Siok Bi. Pantas saja dara jelita ini merasa menderita. Wanita muda mana yang suka menjadi selir seorang laki-laki seperti itu yang kelihatannya kasar dan bengis? Siok Bi mengangguk.

"Siok Bi, engkau pulanglah. Besok akan kubereskan masalahmu. Aku akan menemui dia di rumahnya dan menebus dirimu, kemudian kuantar engkau ke rumah calon suamimu."

Siok Bi merasa gembira sekali. "Terima kasih, Hay Kongcu, terima kasih...!"

Dia menghampiri dan merangkul lagi, akan tetapi tiba-tiba dia menahan diri dan menatap wajah pemuda itu. Dua pasang mata saling bertaut.

"Bolehkah aku...., Kongcu... ?"

Hay Hay tersenyum, mengangguk dan menerima ciuman hangat gadis itu, sebuah ciuman yang tidak lagi dicekam oleh nafsu birahi, melainkan ciuman yang mengandung rasa haru, syukur dan terima kasih yang amat besar. Kemudian gadis itu melepaskan rangkulannya, lantas keluar dari dalam kamar itu disertai isak tertahan. Akan tetapi Hay Hay menangkap lengannya.

"Jangan, jangan lewat situ, lebih baik jangan terlihat bahwa engkau berada di sini," kata Hay Hay dan dia membuka jendela, lalu membantu Siok Bi meninggalkan kamarnya lewat jendela yang menembus ke dalam kebun yang gelap.

Setelah bayangan Siok Bi lenyap, Hay Hay menutup daun jendela dari luar sebab dia pun meninggalkan kamarnya untuk melakukan pengintaian dalam usahanya menyelamatkan Ai Ling dari ancaman bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut!

Si Kumbang Merah Pengisap Kembang Jilid 07

HARTAWAN mata keranjang, pikirnya, perusak gadis-gadis orang. Dan wanita genit tak tahu malu itu adalah seorang ibu tiri yang kejam dan jahat, ingin menjebloskan puteri tirinya ke dalam lembah kehinaan dan menghidangkan puterinya itu, seorang gadis manis, menjadi santapan si bandot tua Coa! Dia harus mencegah hal ini terjadi, pikirnya.

Namun karena peristiwa yang direncanakan orang-orang jahat itu baru akan dilaksanakan malam nanti, maka Hay Hay melanjutkan acaranya hari itu, yaitu melakukan penyelidikan dan mencari jejak Ang-hong-cu, Si Kumbang Merah, atau ayah kandungnya sendiri, untuk dibekuk dan dipaksanya mempertanggung jawabkan semua dosanya, apa lagi terhadap perbuatan hinanya, memperkosa dua gadis yang amat dikaguminya, yaitu perbuatan yang dilakukannya ketika para pendekar sedang menentang persekutuan Lam-hai Giam-lo.

Kedua orang gadis pendekar itu yang pertama adalah Pek Eng, adik kandung Pek Han Siong, puteri dari ketua Pek-sim-pang di Kong-goan. Yang kedua adalah Ling Ling atau Cia Ling, puteri dari pendekar besar Cia Sun, masih keluarga dari Cin-ling-pai yang tinggal di dusun Ciang-si-bun dekat kota raja.

Peristiwa aib yang menimpa dua orang gadis perkasa itu telah mencemarkan namanya, karena dialah yang mula-mula dituduh sebagai pelakunya! Oleh karena itu dia harus bisa membekuk batang leher Ang-hong-cu, ayahnya sendiri, lantas menyeretnya kepada dua orang pendekar wanita itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, untuk mencuci bersih namanya sendiri yang hampir saja tercemar dan menjadi busuk!

Mencari seorang datuk sesat haruslah menghubungi dunia penjahat, pikir Hay Hay. Maka dia pun tidak ragu-ragu lagi memasuki sebuah rumah judi terbesar di kota Shu-lu. Rumah judi ini bercat merah dan cukup luas. Ada beberapa belas meja perjudian. Ada permainan dadu, permainan kartu dan ma-ciok. Akan tetapi yang paling ramai dipenuhi orang adalah meja dadu terbesar di tengah ruangan. Banyak sekali tamu yang datang mengadu untung di tempat perjudian itu.

Pada waktu Hay Hay masuk dengan memakai topinya yang lebar, segera ada dua orang tukang pukul menghampirinya. Karena dia tidak dikenal dan pakaiannya sederhana, juga mengenakan topi caping yang lebar, maka tentu saja dia dicurigai.

"Hei, kawan. Di sini tidak boleh memakai caping lebar, seperti di sawah saja!" tegur salah seorang di antara mereka.

"Ke sinikan, kau titipkan dulu capingmu pada kami. Nanti kalau kau hendak pulang, boleh kau ambil dari kami!" kata yang ke dua.

Hay Hay menoleh. Dia melihat ada dua orang laki-laki tinggi besar dan terlihat kokoh kuat berdiri dengan sikap bengis dan mengancam. Hay Hay tersenyum dan menanggalkan topi capingnya, lalu menyerahkan kepada mereka.

"Harap jaga baik-baik capingku, karena di sini tidak ada orang yang menjual caping lebar model selatan ini," katanya sambil tersenyum. Seorang tukang pukul menerima caping itu sementara orang ke dua memandang Hay Hay dengan sinar mata tajam penuh selidik.

"Sobat, apakah engkau datang hendak berjudi?"

Hay Hay tersenyum. "Sobat, kalau orang memasuki rumah judi lalu tidak hendak berjudi, lalu mau apa?"

"Hemmm, siapa tahu? Ada saja manusia tolol yang mencoba-coba untuk merampok di po-koan (rumah judi) kami, ha-ha-ha!"

"Ha-ha-ha-ha, dan mereka itu dihajar habis-habisan, bahkan ada yang mampus! Mereka tidak tahu siapa kami!" kata orang ke dua.

Hay Hay ikut tertawa. "Sungguh tidak tahu diri! Merampok sebuah po-koan? Itu namanya tidak mengenal kawan sendiri. Akan tetapi aku tidak setolol itu, kawan. Aku datang untuk mengadu untung!" Dia menuding ke arah meja dadu yang penuh orang.

"Nanti dulu sobat, kalau engkau hendak berjudi, maka engkau harus mempunyai modal. Nah, sekarang perlihatkan dulu modalmu. Maklumlah, engkau orang baru dan kami harus berhati-hati!"

Hay Hay tersenyum. Memang ada dia membawa uang, akan tetapi tidak cukup banyak. Dia bukanlah seorang kaya yang banyak uang. Dia mengeluarkan beberapa uang logam tembaga yang tidak seberapa banyak, hanya segenggam dan harganya tentu saja tidak seberapa pula, akan tetapi pandang matanya mencorong ketika memandang kepada dua orang itu dan dia berkata sambil tertawa.

"Lihat, cukupkah modalku ini?"

Dua orang itu melihat Hay Hay membuka tangannya dan... mereka pun terbelalak melihat segenggam uang emas berkilauan pada telapak tangan pemuda itu. Segera sikap mereka berubah dan mereka berdua membungkuk-bungkuk.

"Wah, lebih dari cukup, kongcu. Silakan..., silakan...!" kata mereka sambil mengundurkan diri dan menyimpan caping Hay Hay di tempat yang memang sengaja disediakan untuk orang menaruh segala barang bawaan yang tidak diperlukan di situ seperti topi, payung, jubah dan lain-lain.

Dengan langkah seenaknya Hay Hay langsung menuju ke meja dadu. Dia melihat betapa tempat judi itu dilayani oleh banyak wanita muda cantik yang bersikap genit. Akan tetapi yang menjadi bandar adalah lelaki yang kelihatannya lihai sekali dalam mempermainkan dadu. Dia mendesak di antara banyak orang dan dapat melihat apa yang terjadi di atas meja judi putar dadu itu.

Semua orang sudah memasang taruhan mereka di atas meja, di mana terdapat gambar dan nomor-nomor yang telah dipasang orang, yaitu nomor dua sampai dengan dua belas. Dadu yang diputar ada dua buah, masing-masing dadu memiliki enam permukaan yang digambar totol-totol merah, dari satu sampai dengan enam. Tidak ada yang memasang taruhan pada nomor-nomor dua, tiga dan dua belas.

Meski pun bukan seorang penjudi, namun Hay Hay yang cerdik segera memperhitungkan kenapa tidak ada orang yang memasangkan taruhannya pada tiga nomor itu. Tentu saja, karena kemungkinan keluar ketiga nomor itu hanya masing-masing satu kali saja. Untuk nomor dua hanya jika keluar satu tambah satu, nomor tiga kalau keluar satu tambah dua, dan nomor dua belas kalau keluar enam dan enam. Demikian pula nomor sebelas tidak ada yang memasang, karena nomor sebelas hanya keluar satu kemungkinan, yaitu enam dan lima.

Akan tetapi nomor-nomor lain, dari empat sampai sepuluh, mempunyai dua kemungkinan keluar. Karena itu mereka semua hanya memasangkan uang mereka pada nomor empat sampai dengan sepuluh. Dan yang menang akan mendapatkan tiga kali lipat dari uang taruhannya!

Kelihatannya saja menguntungkan sekali, akan tetapi Hay Hay dapat memperhitungkan bahwa kemungkinan menang bagi para penjudi itu kecil sekali, dan kemungkinan menang itu sudah diborong oleh bandarnya! Bayangkan saja! Kemungkinan keluar dari dua dadu itu sebanyak delapan belas nomor sehingga kesempatan menang dari setiap pemasang adalah dua lawan delapan belas, atau satu lawan sembilan. Akan tetapi imbalannya kalau menang hanya satu mendapat tiga!

Hay Hay memandang kepada bandar di meja judi itu, seorang lelaki pendek gendut yang selalu menyeringai. Setelah semua orang meletakkan taruhannya, bandar cepat memutar dua buah dadu di dalam sebuah mangkok, lantas dengan cekatan dia menelungkupkan mangkok itu di atas meja, dengan dua buah dadunya tertutup di bawah mangkok.

"Hayo tambah lagi taruhan, masih ada kesempatan!" tantang bandar itu, dan empat orang pembantu wanita yang cantik-cantik, dengan gaya masing-masing turut membujuk penjudi yang banyak uang untuk menambah taruhan mereka. Memang pasaran taruhan menjadi semakin ramai bila mana mangkok itu sudah ditelungkupkan, tinggal dibuka saja. Meja itu kini penuh dengan uang taruhan yang ditumpuk-tumpuk.

"Awaaaasssss, mangkok akan segera dibuka! Perhatikan baik-baik! Satu... dua... tiga...!" Dengan sangat cekatan tangan si pendek gendut membuka mangkok dan dua buah dadu itu jelas memperlihatkan angka di permukaan mereka, yaitu angka satu dan dua!

"Tigaaaaaa...!" teriak bandar dadu dengan alat pengeruk di tangannya.

Dan tentu saja dia mengeruk semua uang yang bertumpuk di atas meja karena tidak ada seorang pun yang memasang nomor tiga. Para pelayan wanita sibuk pula membantunya dan ada beberapa orang pembantu lagi mengatur uang kemenangan itu dalam tumpukan-tumpukan yang rapi, memisah-misahkan mata uang itu dan menghitung-hitung.

"Silakan pasang lagi! Pasang lagi...! Siapa tahu sekali ini pasangan anda tepat mengenai sasaran! Pasang seratus mendapatkan tiga ratus, pasang seribu mendapatkan tiga ribu!" teriak beberapa orang gadis cantik pelayan meja dadu itu.

Sebuah tangan yang halus menyentuh lengan Hay Hay. Pemuda ini menengok dan dia terpesona.

Gadis ini cantik bukan main. Bedak pada mukanya tidak setebal gadis-gadis yang lain dan agaknya dara ini baru saja tiba di situ karena tadi dia tidak melihatnya di antara para gadis pelayan. Juga pakaiannya sangat berbeda, gadis ini lebih mewah dengan hiasan rambut terbuat dari emas permata. Matanya sungguh indah, seperti mata burung Hong! Usianya tentu tidak lebih dari dua puluh tahun.

"Kongcu, mengapa tidak ikut bertaruh? Kulihat engkau orang baru, biasanya orang baru akan selalu menang."

Hay Hay tersenyum. Gadis ini ramah sekali dan wajahnya amat menyenangkan, juga bau semerbak harum yang keluar dari pakaian serta rambutnya amat sedap, tidak menyolok.

"Aku sedang berpikir-pikir nomor berapa yang harus kupasangi," katanya.

Gadis itu tersenyum. "Kongcu, aku bekerja di sini maka tidak semestinya aku membantu para penjudi. Akan tetapi percayalah, malam tadi aku bermimpi indah sekali maka kalau aku menjadi kongcu, akan kupasangi nomor dua belas!"

Di dalam hatinya Hay Hay tertawa. Gadis ini bekerja di situ sebagai pelayan, tentu saja tugasnya selain membujuk para tamu agar berjudi, juga tentu berusaha supaya tamunya kalah, maka menganjurkan dia agar memasang nomor dua belas, nomor sial yang hanya memiliki kemungkinan keluar satu kali saja! Akan tetapi dia tersenyum dan mengeluarkan semua sisa uang yang ada di sakunya, hanya setumpuk uang tembaga dan dua potong uang perak, hanya kurang lebih dua tail perak saja harganya!

"Nah, inilah semua uangku, boleh kau pasangkan sesukamu, Nona."

Dara itu memandang dengan alis berkerut. "Kongcu, apakah semua uangmu hanya ini?"

Hay Hay mengerling ke kiri dan melihat betapa dua orang penjaga atau tukang pukul yang tadi menyambutnya sedang berbisik-bisik dan memandang ke arahnya. Ia pun tersenyum dan dapat menduga bahwa tentu dua orang itu yang melapor ke dalam dan dari dalam lalu mengutus gadis ini untuk melayaninya setelah mendengar laporan bahwa dia memiliki banyak uang emas!

"Semua uang kecilku hanya itu," katanya sambil tersenyum, "uang emasku masih banyak. Kau dengarlah ini!" Dia menepuk saku bajunya.

Gadis itu mendengar suara gemerincing nyaring, maka dia pun tersenyum manis sekali kemudian mendesak maju ke pinggir meja.

"Kongcu mempertaruhkan semua uang kecil ini pada nomor dua belas!"

Semua orang memandang heran. Bagaimana pun juga tumpukan uang itu cukup banyak. Mana ada orang mempertaruhkan uangnya pada nomor dua belas?

Bandar itu memandang sambil tersenyum menyeringai lebar, memperlihatkan deretan gigi yang kuning menghitam karena rusak. Dia pun memutar-mutar dua buah dadu di dalam mangkok, lantas cepat menelungkupkan mangkok itu di atas meja. Semua petaruh masih diberi kesempatan untuk menambah taruhan mereka, dan tidak seorang pun kecuali Hay Hay mempertaruhkan uangnya pada nomor dua belas. Mangkok dibuka dan...

鈥滵ua belaaaasss...!" teriak bandar.

Dua buah dadu itu jelas memperlihatkan nomor enam dan enam! Semua orang berteriak heran, ada pun dara manis itu sambil tersenyum-senyum membantu Hay Hay menghitung uang taruhannya. Hay Hay menerima tiga kali uang taruhannya sehingga di atas meja, di hadapannya, sekarang dia menghadapi uangnya yang menjadi bertumpuk-tumpuk! Dia memperoleh sebuah bangku dan gadis cantik itu pun duduk di dekatnya, memberi isyarat kepada seorang pelayan lain supaya mengambilkan minuman anggur untuk kongcu.

"Wah, engkau memang sedang mujur sekali, Nona...!"

"Siok Bi, namaku Siok Bi, Kongcu..."

"Dan namaku Hay Hay!"

"Hay Kongcu, sesungguhnya bukan aku yang mujur melainkan engkau!" katanya sambil menyentuh lengan dengan mesra sekali. Sentuhan itu membuat Hay Hay merasa betapa bulu tengkuknya segera meremang. Begitu lembut, begitu hangat dan mesra. Jantungnya berdebar kencang dan mukanya menjadi merah.

"Siok Bi, coba kau tukarkan semua uang ini dengan uang perak supaya lebih mudah kita bertaruh." katanya.

Gadis itu membantu dengan penuh gairah, dan dengan bantuannya, maka sebentar saja tumpukan uang di depan Hay Hay berubah menjadi setumpuk uang perak yang berjumlah sepuluh tail!

"Silakan pasang lagi...!" bandar sudah berteriak, agaknya sama sekali tak kecewa melihat betapa uangnya ditarik demikian banyaknya oleh tamu baru itu.

"Siok Bi, nomor berapakah sebaiknya kini?" tanya Hay Hay kepada gadis di sampingnya yang bersikap demikian mesra, seolah-olah mereka sudah lama berpacaran.

"Aih, mimpiku hanya satu kali, Kongcu. Sebaiknya jika engkau memilih sendiri agar tidak keliru."

"Baiklah, aku akan bertaruh pada nomor dua!" Hay Hay mendorong separuh dari semua uangnya ke atas nomor dua.

Semua orang memandang dengan mata terbelalak. Gilakah pemuda itu? Setelah menang secara kebetulan sekali atas nomor dua belas, kini dia bertaruh atas nomor dua, lagi-lagi nomor sial yang sukar keluarnya.

"Mengapa nomor dua, Kongcu? Nomor itu jarang sekali keluar karena hanya mempunyai satu kemungkinan," bisik gadis di sisinya, mendekatkan mukanya dengan muka Hay Hay sehingga ketika bicara, dia dapat merasakan napas gadis itu hangat bertiup di pipinya.

Hay Hay tersenyum. "Biarlah, bukankah tadi nomor dua belas juga keluar?"

Karena tertarik dengan keberuntungan pemuda itu, ada dua orang penjudi lain ikut-ikutan memasang pada nomor dua, akan tetapi hanya secara iseng-iseng saja sehingga jumlah uangnya tidak banyak.

Dadu dikocok di dalam mangkok, lalu ditelungkupkan. Ketika dibuka, ternyata jatuh pada nomor lima! Beberapa orang penjudi yang kebetulan memegang nomor lima memperoleh uang hadiahnya, namun jumlahnya tidak banyak sehingga bandar masih menang cukup banyak.

"Aih..., Kongcu tidak percaya kepadaku sih!" Siok Bi mengeluh. "Sekarang pasang coba-coba saja dulu, Kongcu, jangan banyak. Sepotong perak saja untuk memancing nasib."

"Baiklah, aku menuruti usulmu," kata Hay Hay sambil tertawa.

Dengan sembarangan saja dia lalu melempar sepotong perak yang jatuh pada angka tiga! Kembali angka sial! Dan sekarang tak ada seorang pun yang mau ikut-ikutan memasang nomor tiga. Akan tetapi, ketika mangkok dibuka, dua dadu menunjukkan angka satu dan dua!

"Tigaaaa...!" Bandar berteriak dan menggaruk semua uang, kecuali taruhan Hay Hay yang menang lagi sehingga menerima hadiah tiga potong perak.

Dengan genit Siok Bi mencubit paha Hay Hay di bawah meja, lalu merapatkan tubuhnya sambil tertawa girang. Hay Hay juga tertawa-tawa untuk menenteramkan jantungnya yang berdebar.

Ketika para penjudi dipersilakan bertaruh lagi, Hay Hay lantas mendorong semua uang di hadapannya ke atas nomor sebelas. Lagi-lagi nomor sial! Akan tetapi sekali ini ada empat orang ikut-ikutan memasang nomor sebelas sehingga jika sekali ini keluar nomor sebelas, maka bandarnya akan rugi cukup canyak!

Siok Bi hanya tersenyum, maklum bahwa tamunya ini mulai panas dan mulai dipengaruhi oleh setan judi sehingga sebentar lagi tentu akan mengeluarkan uang emas dari dalam kantongnya! Dadu dikocok, lalu mangkok ditelungkupkan!

"Silakan menambah uang taruhan!" teriak bandar .

"Siok Bi, keluarkan semua uangmu, kupinjam dulu untuk taruhan!" kata Hay Hay. Gadis itu terkejut, akan tetapi mengeluarkan uangnya dan ternyata ada lima tail.

"Bagaimana kalau kalah, Kongcu?"

"Jangan khawatir, akan kuganti dengan uang emas!"

Siok Bi girang sekali. Kalau tidak terdapat banyak orang, tentu sudah diciumnya pemuda yang ganteng dan menarik ini. Tidak seperti para tamu lain, pemuda ini tidak pernah jail, tidak mengganggunya, bahkan menyentuhnya pun tidak, apa lagi kurang ajar. Akan tetapi selalu ramah dan pandang matanya itu membuat birahinya sudah bangkit sejak tadi! Hay Hay menambahkan uang Siok Bi ke atas taruhannya.

Mangkok kemudian dibuka dan... sepasang mata bandar itu melotot keheranan ketika dua buah dadu itu menunjukkan angka enam dan lima!

"Se... sebelas...!" serunya dan si gendut ini kelihatan bingung bukan main. Juga Siok Bi terbelalak heran, menatap tajam wajah bandar gendut, akan tetapi dengan cepat dia bisa menguasai keheranannya, lalu memegang lengan Hay Hay.

"Kita menang, Hay Kongcu...!" serunya gembira, berbareng dengan seruan mereka yang ikut memasang nomor sebelas. Dengan muka agak pucat bandar lalu menghitung semua uang dan membayar kemenangan mereka yang bertaruh pada nomor sebelas.

Sesudah tiga putaran lagi Hay Hay tetap menang dan semua penjudi di meja itu sekarang ikut memasang nomor yang sama dengan Hay Hay, bandar judi yang bertugas di meja itu menjadi pucat sekali. Tubuhnya gemetar dan beberapa kali dia menghapus keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Setiap kali membuka mangkok tangannya selalu gemetar, kemudian matanya terbelalak setelah melihat betapa sepasang dadu itu menunjuk angka yang tepat seperti yang dipasang oleh pemuda itu!

Orang-orang bersorak gembira dan uang di meja bandar itu telah dikuras habis, bahkan sang bandar terpaksa menyuruh pembantunya mengambil uang dari dalam! Kini bandar judi yang gendut pendek itu menyeka keringatnya dan menggoyang-goyang kepalanya.

"Aku... aku... lelah sekali... biarlah aku berhenti dulu dan... minta diganti rekan lain..."

Dengan terhuyung-huyung dia lalu meninggalkan meja itu menuju ke dalam dan tak lama kemudian muncullah lima orang pria dari dalam, mengawal seorang kakek berusia enam puluh tahun yang bermuka hitam dan bertubuh jangkung. Mata kakek ini tajam bagaikan mata elang.

Diam-diam Hay Hay tersenyum melihat mereka, maklum bahwa sekarang tentu muncul jagoan nomor satu dalam permainan judi itu, diikawal oleh lima orang pengawal jagoan yang pilihan pula. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan sibuk menyerahkan setumpuk uang yang banyak sekali kepada Siok Bi.

"Nona manis, ini aku kembalikan uangmu berikut pembagian keuntungan untukmu!" kata Hay Hay.

"Ahhh" banyak sekali, Kongcu...!" kata Siok Bi, setengah gembira namun juga khawatir.

Tentu saja gadis ini gembira menerima pengembalian yang begitu banyak, puluhan kali lebih banyak dari pada uangnya sendiri sehingga untuk membawanya saja dia telah amat kewalahan.

Akan tetapi, sejak pasangan pemuda itu terus menerus menang, dia sudah amat terkejut dan terheran, namun juga khawatir sekali. Kemenangan demi kemenangan itu sungguh tidak wajar sama sekali.

Dia tahu betapa pandainya Si Gendut itu memainkan dadu-dadu itu dan dapat mengatur sedemikian rupa sehingga dadu-dadu itu akan menghasilkan angka seperti yang telah dia kehendaki sebelum memutarnya. Akan tetapi entah kenapa hari ini kepandaiannya seperti musnah sehingga dadu-dadu itu agaknya tidak mau menurut perintahnya lagi, melainkan menurut kepada perintah atau harapan pemuda ganteng itu!

Di antara para pelayan wanita, Siok Bi bukanlah pelayan biasa, melainkan kepala pelayan dan dia dipercaya penuh oleh pimpinan mereka. Kini, melihat keadaan yang aneh itu, Siok Bi amat mengkhawatirkan keadaan Hay Hay yang telah menarik perhatiannya. Tentu akan terjadi malapetaka pada pemuda yang nasibnya amat mujur dalam perjudian itu!

Melihat munculnya kakek jangkung bermuka hitam yang dikenal sebagai Kepala Bandar tempat perjudian itu, beberapa penjudi yang kegirangan akibat kemenangan-kemenangan mereka dan yang masih menghendaki kemenangannya lebih banyak, segera menyambut riuh.

"Lanjutkan permainan dadu!"

"Kami akan mempertaruhkan semua uang kami!"

Dengan tenang Si Jangkung itu menghampiri meja, lantas menyapu wajah semua penjudi dengan matanya yang sedikit juling namun tajam luar biasa itu, dan agak lama matanya menatap wajah Hay Hay, kemudian tersenyum dan berkata,

"Jangan khawatir, sobat-sobat. Teman kami tadi sudah terlalu lelah, maka aku yang akan menggantikan dia. Nah, bersiaplah dengan taruhan kalian. Dadu-dadu ini kuganti dengan yang baru. Lihat, dua dadu ini masih baru dan semua angkanya tepat dari satu sampai dengan enam!"

Dia lalu memperlihatkan sepasang dadu yang dikeluarkannya dari dalam saku bajunya dan menyimpan dua buah dadu yang tadi digunakan, lalu memasukkan dadu-dadu itu ke dalam mangkok besar yang sudah dipersiapkan di situ.

"Sediakan dulu uang untuk membayar uang kemenangan kami!"

"Uang bandar sudah habis!"

"Smbil dulu uang dari dalam. Tanpa ada uang kami tidak mau!"

Hay Hay tersenyum dan memandang kepada Si Jangkung itu. "Mereka itu benar, orang berjudi harus memiliki modal dan kami tidak melihat bandar bermodal. Setidaknya harus ada beberapa puluh kali dari jumlah modal kami semua!"

"Bagus! Benar sekali itu! Aku tidak mau berjudi lagi kalau bandar tidak ada uangnya!"

Teriakan-teriakan itu riuh rendah dan kini semua penjudi berkumpul merubung meja dadu yang terbesar di tengah ruangan karena agaknya semua penjudi itu hendak membonceng keberuntungan Hay Hay.

Di depan Hay Hay bertumpuk uang yang amat banyak, bahkan ada sebagian yang harus ditumpuk di bawah meja. Siok Bi juga kewalahan membawa uang pemberian Hay Hay, maka dia memberi tanda kepada dua wanita pelayan bawahannya untuk membawakan uang itu. Suasana menjadi tegang dan Si Jangkung muka hitam tersenyum pahit.

"Jangan khawatir, sobat-sobat! Pasanglah taruhan berapa pun juga, dan kami pasti akan membayar setiap kemenangan kalian!"

"Sediakan dulu uangnya!" teriak Hay Hay dan semua orang menyambutnya dengan sorak sorai. "Dengar, sobat muka hitam!" kata Hay Hay sambil tersenyum.

Jantungnya kembali berdebar karena kini demikian banyaknya orang berdesakan di situ sehingga Siok Bi terhimpit dan tubuhnya yang montok dan lunak hangat itu mepet dengan tubuhnya sampai dia dapat merasakan betapa dada yang membusung itu merapat pada pundaknya karena gadis itu kini telah berdiri sedangkan dia masih duduk di atas bangku. Lengan yang halus dan putih mulus itu melingkar di sekitar pundak dan lehernya. Siok Bi kini agaknya sudah berani sekali menganggap dia sebagai kekasihnya!

"Kau lihat semua uang perakku ini dan taksir, ada berapa? Jika semua ini ditukar dengan uang emas, berapa kau berani menukarnya?"

Bandar itu memicingkan mata, menaksir tumpukan di atas meja dan di bawah meja. "Kami berani menukarnya dengan lima belas tail emas murni!" katanya. Tentu saja dia tahu betul bahwa nilai tumpukan uang perak itu sedikitnya ada dua puluh tail emas!

"Bagus! Suruh orang mengangkatnya dan menukarnya dengan lima belas tail emas sebab sekarang aku ingin berjudi dengan taruhan emas saja agar tidak memenuhi meja!"

Kembali semua orang riuh dan bising. Banyak di antara mereka yang tahu betapa pemuda itu sudah diakali dan dirugikan, akan tetapi tidak ada yang berani ribut karena bagaimana juga semua uang itu adalah hasil menang judi.

Ketika bandar jangkung memberi isyarat, para pengawalnya lalu mengambil uang emas yang cukup banyak dari dalam. Lima belas tail diberikan kepada Hay Hay dan bandar itu sendiri menumpuk lima puluh tail di atas meja sebagai modal judi. Tumpukan uang perak yang dimenangkan Hay Hay diangkut pula ke atas meja di belakang bandar itu. Semua penjudi memandang dengan hati gembira sekali, membayangkan betapa semua uang itu nanti akan menjadi milik mereka.

Kini bandar itu berseru, suaranya terdengar nyaring. "Silakan pasang!"

Hay Hay masih diam saja dan ternyata semua penjudi juga ikut diam. Suasana menjadi sunyi sekali karena semua penjudi menunggu pemuda itu memasang nomornya, barulah mereka akan memasang dengan nomor yang sama!

Suasana yang sangat tegang itu menggembirakan hati Hay Hay. Dia pergi ke tempat ini untuk mencari jejak Ang-hong-cu, akan tetapi terlibat dalam permainan judi. Kalau saja dia tidak melihat betapa bandar gendut tadi bermain curang dengan dadu-dadunya, tentu dia pun tidak akan duduk menjadi penjudi di sini.

Tadinya dia hanya ingin mengganggu bandar gendut itu, akan tetapi dengan adanya Siok Bi yang cantik, maka gangguannya menjadi berlarut-larut sampai semua uang dikurasnya dari meja bandar! Tentu saja dia tidak membutuhkan banyak uang seperti itu, dan kalau dia melanjutkan permainannya itu hanya untuk menghajar para bandar judi, membantu para penjudi yang dia tahu selama ini tentu telah banyak mengalami kekalahan, dan untuk memancing agar dia bisa mendapatkan jejak Ang-hong-cu melalui perjudian itu.

"Sobat, kocok dulu dadunya. Kalau sudah kau telungkupkan mangkok itu, baru aku akan memasang taruhanku. Akan tetapi, aku juga sudah lelah maka aku ingin berjudi satu kali lagi saja. Akan kupertaruhkan semua uang emasku ini untuk satu nomor!"

Semua orang menahan napas. Semuanya hendak dipertaruhkan? Lima belas tail emas, berarti tumpukan emas di depan bandar itu akan tersedot hampir habis kalau pemuda itu menang! Si bandar harus membayar empat puluh lima tail emas! Mendengar tantangan yang amat berani itu, si bandar muka hitam terbelalak sedikit, akan tetapi dengan tenang dia pun mengangguk.

"Baik, kuterima! Bagaimana yang lain?"

"Aku pun mempertaruhkan semua uangku ini!"

"Aku juga!"

"Aku juga!"

Semua penjudi berteriak ingjn mempertaruhkan semua uang mereka. Kini wajah bandar judi itu agak pucat. Bayangkan saja! Semua orang yang berjudi di sana mempertaruhkan seluruh uang mereka. Akan bangkrutlah apabila dia kalah, lantas bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan kepada pemimpinnya? Dia tahu bahwa semua penjudi tentu akan mempertaruhkan uang mereka seperti pemuda itu, dengan nomor yang sama! Akan tetapi dia yakin akan kemampuannya, maka dia menekan perasaannya dan mengangguk-angguk.

"Baiklah! Kawan-kawan, hitung uang mereka semua supaya lebih mudah pembayarannya nanti!" Dia pura-pura tenang saja, seperti telah siap kalau sampai kalah untuk membayar semua kekalahannya!

Kini meja itu penuh dengan tumpukan uang, di antaranya ada tumpukan uang emas lima belas tail milik Hay Hay. Hebatnya, semua penjudi menaruh seluruh uang mereka di atas meja, tidak menyisakan sedikit pun dalam saku baju mereka. Kalau sampai kalah, mereka semua akan pulang dengan kantong kosong sama sekali! Sebaliknya, kalau bandar yang kalah, maka tumpukan uang emas, perak dan tembaga yang berada di situ semua akan amblas!

Sesudah selesai menghitung uang taruhan dan mencatat, si jangkung muka hitam lantas berseru keras, "Dadu dikocok....!"

Dan cara dia mengocok dadu memang sangat aneh, lain dari kocokan si gendut tadi. Dia memutar-mutar mangkok yang lebih besar dari pada mangkok yang digunakan rekannya tadi, memutar cepat sekali di atas kepalanya hingga terdengar bunyi berkerotokan ketika dadu-dadu itu berputaran di dalam mangkok, kemudian dia menurunkan mangkok itu dan tangan kirinya menarik tutupnya.

"Brukkkk!"

Mangkok jatuh menelungkup di atas meja dan meja itu pun tergetar. Diam-diam Hay Hay memperhatikan dan maklumlah dia bahwa si jangkung ini memiliki tenaga sinkang yang kuat! Dia maklum pula bahwa seperti rekannya tadi, si jangkung ini tentu menggunakan tipu muslihat dan mungkin dibantu dengan tenaga sinkang-nya untuk mengatur keluarnya nomor dadu.

Maka dia pun langsung bersiap siaga, mengerahkan kekuatan sihirnya karena dia belum tahu akal apa yang akan dipergunakan orang. Tentu saja kedua telapak tangannya juga ditempelkan di meja itu untuk mengetahui melalui getaran di meja apa yang terjadi.

"Silakan memasang nomor!" teriak pula bandar itu, sementara tangan kanannya masih di atas mangkok yang telungkup di depannya.

Tanpa ragu-ragu lagi Hay Hay lantas mendorong lima belas tail emasnya ke atas nomor tiga! Kembali semua orang tertegun. Sungguh nomor-nomor yang sial dan jarang keluar saja yang selalu dipilih oleh pemuda itu. Akan tetapi, tanpa ragu-ragu mereka semua lalu mendorong uang masing-masing ke atas nomor tiga, mengelilingi tumpukan uang emas milik Hay Hay! Uang yang bertumpuk-tumpuk di atas meja itu semuanya dipertaruhkan kepada nomor tiga!

Hay Hay tidak melihat ada perubahan pada muka si jangkung itu, akan tetapi walau pun hanya sedetik dia melihat betapa sepasang mata itu terbelalak atau mengeluarkan sinar kaget, kemudian sepasang tangannya yang diletakkan di atas meja itu dapat merasakan getaran yang datangnya dari dalam mangkok besar itu. Pendengarannya yang terlatih itu pun mendengar suara bunyi kretek-kretek dua kali.

Hay Hay dapat menduga bahwa itulah alat rahasia di dalam mangkok. Pasangannya pada nomor tiga itu agaknya tepat mengenai sasaran dan dua buah dadu di bawah mangkok itu betul-betul menunjukkan angka tiga, akan tetapi alat rahasia di dalam mangkok kini telah bekerja sehingga dua buah dadu itu tentu akan membalik dan menjadi angka lain. Hal ini dapat dibacanya dari muka hitam itu, yang kini bibirnya mengandung senyum mengejek dan sepasang matanya bersinar penuh keyakinan menang.

Suasana menjadi sunyi, tegang mencekam hati para penjudi. Ada yang mukanya pucat, ada yang merah, ada yang peluhnya bercucuran. Semua orang dicengkeram oleh harapan kemenangan dan dicekam rasa takut akan kekalahan.

"Sobat-sobat, lihat baik-baik, mangkok ini akan kubuka. Satu... dua... tiga....!"

Semua mata memandang dan penglihatan Hay Hay yang paling tajam itu sudah melihat bahwa salah satu dadu menunjukkan angka satu, tetapi dadu kedua menunjukkan angka enam! Jadi yang keluar adalah tujuh! Dia kalah! Akan tetapi, dengan getaran dua telapak tangannya, tiba-tiba saja secepat kilat sehingga tidak tampak oleh mata biasa, dadu yang menunjuk angka enam itu bergulir dan kini menunjuk angka dua!

"Satu dan dua...!"

"Tiga...! Kita menang!"

"Kita menang! Hayo bayar taruhanku!"

Suasana menjadi riuh rendah, akan tetapi Hay Hay hanya menatap dengan pandang mata tajam kepada wajah Si Jangkung. Muka yang hitam itu menjadi pucat, matanya terbelalak memandang kepada dua buah dadu itu, kemudian dia berteriak parau.

"Sobat-sobat, kalian keliru! Lihat yang betul, bukan angka tiga yang keluar!"

Dengan menekan meja tiba-tiba saja dia menggetarkan sinkang sehingga biji dadu yang tadinya menunjukkan angka dua kini kembali berguling ke angka enam! Akan tetapi hanya sebentar karena sudah berguling ke angka dua!

Semua penjudi memandang bengong dengan mata terbelalak heran. Kini semua orang melihat betapa dadu yang satu ini dapat bergulir-gulir, suatu saat bergulir ke angka enam, lalu bergulir lagi ke angka dua!

Terjadi perang antara dua kekuatan sinkang yang digetarkan melalui telapak tangan Hay Hay dan Si Jangkung muka hitam itu. Akan tetapi, ketika untuk kesekian kalinya dadu itu bergulir ke angka enam dan Hay Hay menggulirkannya lagi ke angka dua, dia pun segera mengerahkan tenaga dan menahan sehingga betapa pun Si Jangkung berusaha dengan sinkang-nya, tetapi tetap saja dia tak mampu menggulirkan dadu itu yang tetap menunjuk angka dua. Satu dan dua!

"Tigaaaa...!" Semua penjudi berseru sesudah melihat betapa dadu itu kini tidak bergerak lagi dan keduanya tetap menunjuk angka satu dan dua!

Kembali orang-orang bersorak, akan tetapi tiba-tiba saja si jangkung muka hitam bangkit berdiri dan berseru, "Tidak! Ada kesalahan di sini! Kalian tadi melihat sendiri betapa dadu yang satu itu bergulir-gulir. Ini tidak benar! Pengocokan dadu harus diulang dan sekarang semua orang harus menjauhi meja!"

Tentu saja ucapan ini membuat para penjudi terkejut dan marah sekali.

"Wah, itu tidak adil!"

"Curang sekali!"

"Kami sudah menang, bayar kemenangan kami!"

Dengan gerakan yang cekatan sekali tiba-tiba si jangkung muka hitam meloncat ke atas meja dan bertolak pinggang. Wajahnya kereng dan bengis sekali, sementara itu belasan tukang pukul sudah siap siaga di belakangnya sambil meraba gagang senjata.

"Siapa bilang kami curang? Pernahkah rumah judi kami tidak membayar para pemenang? Kami hanya ingin mengulang pengocokan dadu sebab tadi tidak wajar. Hayo, mundur dan tidak boleh menyentuh meja! Kami telah mengambil keputusan, siapa akan menentang?"

Para pengawal di belakang si muka hitam memandang beringas, sudah siap menyerang siapa saja yang berani menentang keputusan itu. Para penjudi masih bersungut-sungut penasaran dan merasa tak puas, akan tetapi tak ada yang berani rnenentang dan semua orang mundur menjauhi meja. Kini mereka semua memandang kepada Hay Hay karena pemuda inilah yang mereka harapkan, dan tanpa pemungutan suara lagi pemuda itu telah mereka anggap sebagai pemimpin mereka!

Hay Hay tersenyum dan dia pun hanya menurut saja ketika lengannya ditarik oleh Siok Bi menjauhi meja. Gadis itu masih tetap merangkul pinggangnya ketika Hay Hay berkata,

"Saudara sekalian, biarlah kita terima saja keputusan itu! Meski pun dikocok ulang, kalau memang sudah nasib kita untuk menang maka kita tetap akan menang!"

Mendengar ucapan ini, semua orang menjadi lega kembali. Si muka hitam memandang penuh curiga. Tadi dia tahu bahwa ada orang yang main-main dan melawan sinkang-nya dan dalam pertarungan adu kekuatan itu dia telah kalah! Akan tetapi karena banyak sekali tangan yang berada di atas meja, tentu saja dia tidak tahu tangan siapa itu yang sudah menyalurkan sinkang.

Namun agaknya tidak mungkin tangan pemuda aneh yang digandeng Siok Bi itu. Selain pemuda itu nampaknya biasa saja, juga Siok Bi selalu menggandeng dan merangkulnya. Gadis yang juga merupakan pembantu dari pimpinan rumah judi dan memiliki kepandaian lumayan pula itu tentu akan mengetahui apa bila pemuda itu menyalurkan sinkang-nya.

Si jangkung muka hitam sudah meloncat turun kembali dan setelah mengamati dua buah dadu itu, dia pun memutar atau mengocok sepasang dadu itu ke dalam mangkok. Seperti tadi, dia menelungkupkan mangkok di atas meja dan berteriak,

"Apakah nomor pasangan tidak dirubah?"

"Tidak, tetap nomor tiga!" kata Hay Hay.

"Kami juga nomor tiga!"

"Nomor tiga...!" Semua orang serempak berteriak, walau pun hati mereka khawatir sekali. Bagaimana mungkin dua kali berturut akan keluar nomor sial itu?

"Jangan gelisah, saudara-saudara! Yang keluar pasti nomor tiga. Nomor tiga...!" seru Hay Hay dan seruan ini mengandung kekuatan sihir yang besar hingga seketika semua orang di ruangan itu terpengaruh tanpa mereka sadari.

"Satu... dua... tiga...!" teriak si jangkung muka hitam dan begitu mangkok dibuka, kembali dia terbelalak dan mukanya berubah pucat karena benar saja seperti yang dikatakan oleh pemuda itu, dadu-dadu itu menunjuk angka satu dan dua.

"Tigaaa...! Nomor tiga, kita menang!" teriak orang-orang itu dengan gembira.

"Nanti dulu, kalian salah lihat! Lihat baik-baik!" teriak si muka hitam dan kini dia menekan meja. Hanya kedua tangannya saja yang menekan meja, tidak ada tangan lain maka dia merasa yakin akan mampu menggulirkan dadu tanpa ada yang menghalanginya.

Benar saja, begitu dia menggetarkan telapak tangannya, sebuah dadu yang nomor satu bergulir ke angka tiga. Akan tetapi betapa heran, terkejut dan bingungnya ketika dadu itu bergulir, bukan angka tiga yang nampak, melainkan angka satu pula! Jadi tetap satu dan dua! Kembali dia mengerahkan sinkang dan dadu itu bergulir-gulir, namun ke permukaan mana pun dadu itu bergulir, tetap angka satu seolah-olah ke enam permukaannya semua berangka satu!

Si muka hitam terheran dan meneliti dadu itu dari samping. Angka-angkanya masih tetap biasa, dari satu sampai enam! Akan tetapi mengapa kalau berguIir, yang nampak angka satu Iagi? Sementara itu, para penjudi bersorak-sorak gembira. Mereka pun melihat dadu itu bergulir-gulir, namun tetap angka satu sehingga tetap saja angka itu menjadi satu dan dua.

Kini si muka hitam terbelalak dan mukanya penuh dengan keringat. Celaka, pikirnya. Dia sudah membikin bangkrut rumah judi, maka tentu dia harus bertanggung jawab terhadap pemimpinnya. Dia merasa ngeri dan seperti tadi, tiba-tiba saja dia telah meloncat ke atas meja dan tangannya sudah memegang sebatang pedang telanjang!

"Tidak ada yang menang atau pun kalah!" bentaknya. "Ada orang membikin kacau di sini! Rumah judi ditutup dan kalian boleh membawa pulang uang masing-masing!"

"Tapi kami menang! Harus dibayar dulu...!"

"Hendak dibayar dengan ini?" Si muka hitam mengacungkan pedangnya. "Kami tidak mau membayar sebab permainan judi tadi tidak wajar dan ada kecurangan! Hayo kalian semua keluar, atau kami akan menggunakan kekerasan!" Pada waktu semua orang memandang, belasan orang tukang pukul itu kini sudah menghunus senjata tajam masing-masing dan sikap mereka sangat mengancam.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring dan ketika semua orang memandang, ternyata yang tertawa itu adalah Hay Hay. "Ha-ha-ha-ha, maling teriak maling, orang curang teriak orang lain yang curang, alangkah palsunya hidup kalian sebagai penyelenggara perjudian. Saudara sekalian, mundurlah, biar aku yang menghadapi manusia-manusia jahat ini!"

Semua tamu mundur dan mepet pada dinding, dan dengan lembut Hay Hay mendorong Siok Bi untuk melepaskan gandengannya. Siok Bi bukanlah wanita sembarangan dan dia mempunyai ilmu silat yang cukup hebat sehingga dipercaya sebagai kepala para pelayan wanita. Akan tetapi ketika didorong, dia merasa betapa ada kekuatan yang amat dahsyat sehingga betapa pun dia sudah mempertahankan, tetap saja dia terdorong dan terhuyung sehingga terpaksa dia pun mundur sampai ke dinding.

Hay Hay menjulurkan tangannya, lantas menyambar mangkok besar di atas meja dadu. "Saudara sekalian, lihatlah betapa curang mereka ini!"

Dia menelentangkan mangkok itu dan nampaklah oleh semua orang betapa pada sebelah atas mangkok itu terpasang alat rahasia dan nampak pula ada sepasang dadu di sana. Agaknya, kalau sepasang dadu di atas meja itu hendak diganti sehingga nomornya keluar menurut kehendak bandar, maka alat di dalam mangkok itu menukar dadu di atas meja dengan dadu yang berada di dalam mangkok.

Kalau alat rahasia ini gagal, masih ada kekuatan sinkang bandarnya yang dapat membuat dadu bergulir. Akan tetapi semua itu, alat dan kekuatan sinkang si bandar, sekali ini tidak berhasil karena di halangi oleh Hay Hay yang menggunakan kekuatan sinkang kemudian menggunakan sihir.

Melihat ini, tentu saja para penjudi itu menjadi terkejut dan marah bukan main. "Nah, lihat betapa bodohnya berjudi di rumah judi. Hampir semua rumah judi tentu mempergunakan tipu muslihat dan mana mungkin kalian menang? Yang sengaja diberi kemenangan untuk menarik para tamu biasanya adalah anak buah mereka sendiri. Hendaknya kenyataan ini akan membuka mata saudara sekalian sehingga tidak mau lagi menjadi korban perjudian, menghentikan kebiasaan berjudi yang buruk!"

Mendengar ucapan Hay Hay itu, dipimpin oleh si muka hitam, belasan orang pengawal itu sudah mengepung Hay Hay. Bahkan dari dalam muncul pula bandar pendek gendut itu dan beberapa orang lain sehingga jumlah mereka kini ada dua puluh orang! Semua orang memegang senjata tajam, ada pun sikap mereka amat bengis. Semua tamu memandang dengan hati tegang dan penuh kekhawatiran.

Tiba-tiba nampak Siok Bi, wanita cantik yang tadi menemani Hay Hay, menyelinap masuk ke dalam lingkaran dan meloncat ke dekat Hay Hay. Wajahnya agak pucat dan matanya bersinar-sinar.

"Tidak! Kalian tidak boleh menyakiti Hay Kongcu! Dia tidak bersalah, dan dia melakukan perjudian juga hanya iseng-iseng saja! Kongcu, kuharap engkau suka menyudahi urusan ini dan membawa pergi uangmu dari tempat ini. Tidak ada gunanya bagimu dan tidak ada untungnya kalau memusuhi rumah perjudian ini, apa lagi mengingat bahwa Kongcu bukan orang Shu-lu. Sekali lagi kuanjurkan agar kong-cu pergi dari sini dengan aman. Aku yang menanggung bahwa Kongcu dapat pergi dengan aman dan tidak diganggu!"

Aneh sekali. Dua puluh orang lelaki bengis itu agaknya tidak ada yang berani menentang ucapan Siok Bi, hanya memandang kepada Hay Hay seakan hendak melihat bagaimana tanggapan Hay Hay terhadap nasehat Siok Bi itu.

Hay Hay tersenyum dan menjulurkan tangannya, membelai dagu yang halus itu. "Siok Bi, engkau manis sekali. Terima kasih atas usahamu mengamankan aku. Akan tetapi, tidak. Mereka berbuat curang dan mereka harus membayar kekalahan mereka kepada semua penjudi di sini!"

"Ahh, kau... kau berani... menentang mereka semua itu?" tanya Siok Bi, membelalakkan mata, tidak percaya.

Ia bisa menduga bahwa pemuda yang amat menarik hatinya ini tentu memliki kepandaian. Akan tetapi betapa pun lihainya, kalau harus melawan dua puluh orang bersenjata yang marah itu, apa lagi dia tahu betapa lihainya si muka hitam dan si pendek gendut, pemuda ini tentu akan celaka.

Hay Hay tertawa. "Mengapa tidak berani? Mereka itu hanya sekawanan tikus yang tidak tahu mana kawan mana lawan!"

"Ehh? Apa maksudmu, Kongcu?"

"Nanti engkau akan melihat sendiri. Minggirlah, Siok Bi yang manis, dan terima kasih atas kebaikanmu."

Mendengar percakapan itu, dua puluh orang yang mengepung Hay Hay menjadi marah bukan main. Mereka dianggap sebagai sekawanan tikus oleh pemuda itu! Begitu Siok Bi yang menggeleng kepala dengan penuh kekhawatiran itu minggir dan kembali ke dinding, si muka hitam lalu berteriak,

"Hajar dan bunuh manusia sombong ini!"

Dia sendiri segera menyerang dengan pedangnya, mengirim tusukan ke arah dada Hay Hay. Pemuda ini dengan tenang saja miringkan tubuhnya dan pada saat itu pula bandar ke dua yang bertubuh pendek gendut sudah ikut menyerangnya pula dari arah belakang, membacokkan goloknya ke arah leher.

Hay Hay juga mengelak dengan lompatan ke depan, kemudian dia membalik dan kedua tangannya menyambar dengan kecepatan kilat. Si jangkung muka hitam serta si gendut pendek yang merupakan dua orang paling lihai di antara dua puluh orang itu, tidak tahu apa yang terjadi atas diri mereka akan tetapi tiba-tiba saja kepala mereka terasa seperti disambar petir dan mereka pun terpelanting roboh.

Kiranya petir itu adalah dua buah tangan Hay Hay yang tadi menyambar cepat sekali dan menampar mereka. Ketika dua orang itu dapat bangkit kembali, Hay Hay sudah meloncat ke atas meja dadu yang lebar itu lantas bertolak pinggang. Dia tersenyum dan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong!

"Kalian ini sekumpulan tikus! Musuh berada di sekelilingmu, kalian tidak saling serang mau tunggu apa lagi? Hayo cepat serang musuh di sekeliling kalian!"

Dia menggerak-gerakkan kedua lengannya ke arah mereka dan terjadilah peristiwa yang amat luar biasa. Si jangkung muka hitam dan si gendut pendek kini sudah menggerakkan senjata masing-masing dan saling serang! Semua anak buah mereka juga saling serang sehingga terjadilah pertempuran yang kacau-balau, seperti segerombolan tikus yang tiba-tiba menjadi gila semua lantas saling serang, tidak lagi mengenal mana kawan dan mana lawan!

Tentu saja para tamu memandang terbelalak penuh keheranan. Pemuda yang mereka anggap sebagai pemimpin itu enak-enak saja berdiri di atas meja judi, bertolak pinggang sambil tersenyum-senyum, sedangkan dua puluh orang tukang pukul sudah saling serang tak karuan. Karena mereka semua menggunakan senjata, maka sebentar saja sudah ada beberapa orang yang roboh mandi darah terkena bacokan.

Siok Bi juga terbelalak penuh keheranan. Akan tetapi, melihat betapa telah ada beberapa orang yang roboh mandi darah, dia lalu meloncat ke atas meja di mana Hay Hay berdiri. Semua orang terkejut dan kagum. Meja itu agak jauh dan dia harus melompat di antara orang-orang yang sedang berkelahi dengan senjata tajam, namun Siok Bi dapat meloncat ke atas meja dan tiba di depan Hay Hay tanpa mengguncangkan meja itu! Hay Hay yang sudah menduga bahwa Siok Bi memiliki kepandaian, tidak merasa heran dan menyambut gadis itu dengan senyuman.

"Kau mau membantu mereka?" tanyanya.

Siok Bi memegang lengan pemuda itu, "Tidak, Kongcu, tidak sama sekali! Aku bahkan gembira bahwa engkau yang mampu mempermainkan dan menghajar orang-orang kejam itu. Akan tetapi hentikanlah. Aku tak ingin melihat mereka tewas dan aku pun mempunyai tanggung jawab di sini. Oleh karena itu hentikanlah, kasihanilah aku sebab aku tentu akan mendapat marah dari pimpinan kalau berdiam diri saja..."

Hay Hay mengangguk, lalu menghadapi mereka yang sedang berkelahi dan dia bertepuk tangan! Tepukan tangannya sangat nyaring, disusul teriakannya yang berpengaruh. "Heiii, berhenti semua! Apakah kalian sudah gila, saling serang sendiri! Hayo berhenti berkelahi kataku!"

Tiba-tiba saja perkelahian berhenti dan semua orang itu terheran-heran melihat betapa mereka tadi sudah saling serang di antara kawan sendiri! Ada delapan orang yang terluka karena bacokan senjata kawan sendiri, bahkan si muka hitam terpincang-pincang dengan paha terluka, dan si gendut pendek juga meringis karena bahunya robek akibat sabetan pedang. Kini mereka semua memandang kepada Hay Hay yang berdiri di atas meja, ada pun Siok Bi sudah cepat meloncat turun.

"Nah, bagaimana sekarang? Apakah kalian masih hendak berkelahi dengan aku? Ataukah kalian mau memenuhi kewajiban kalian, membayar semua kemenangan kami?"

Siok Bi menghampiri si muka hitam dan si gendut pendek, lantas berbisik. "Sebaiknya kita penuhi saja permintaannya. Kalian bukanlah lawan dia, jika dilanjutkan maka kita semua akan celaka!"

Agaknya semua anak buah rumah judi itu kini sudah merasa gentar dan dengan pimpinan si muka hitam, mereka lalu membayar semua kemenangan para penjudi yang menerima uang kemenangan mereka dengan muka gembira. Mereka segera meninggalkan tempat itu dan berjanji di dalam hati sendiri untuk tidak kembali lagi.

Seluruh anak buah rumah judi itu memandang dengan penuh rasa gentar ketika Hay Hay membungkus semua uang emasnya yang kini berjumlah enam puluh tail emas itu dengan kain yang lebar, kemudian memanggul buntalan emas itu di atas pundaknya seperti benda yang biasa saja. Padahal buntalan itu merupakan harta yang cukup berat.

Siok Bi memandang dengan sinar mata penuh kekaguman. Selama ini belum pernah dia berjumpa dengan seorang pemuda seperti itu. Memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bahkan sakti, juga tampan gagah dan sangat pandai mengeluarkan kata-kata indah yang menyenangkan hati, merayu tanpa bersikap kurang ajar! Wanita muda ini merasa betapa baru pertama kali ini dia benar-benar tertarik kepada seorang pria, bahkan diam-diam dia mengaku telah jatuh cinta!

Sebelum meninggalkan tempat judi itu Hay Hay menoleh kepada rnereka dan memandang kepada Siok Bi sambil tersenyum. "Siok Bi, sekali lagi terima kasih kepadamu dan tolong beri tahukan kepada semua orang bahwa aku sedang mencari seorang tokoh kang-ouw yang berjuluk Ang-hong-cu. Lihat, semua emas pada pundakku ini akan kuberikan kepada siapa saja yang bisa menunjukkan di mana adanya Ang-hong-cu itu. Nah, akan kutunggu beritamu sampai besok siang di kamarku. Aku menginap di rumah penginapan Hok-lai-koan." Setelah berkata demikian, dia segera melangkah pergi.

Setelah Hay Hay pergi, barulah semua anak buah rumah judi itu menjadi gempar. Mereka cepat mengobati teman-teman yang terluka dan mereka semua bingung bagaimana harus menghadapi pemimpin mereka yang tentu akan menjadi marah sekali.

"Nona Siok Bi, sebaiknya engkaulah yang menyampaikan peristiwa ini kepada Coa Wan-gwe!" kata si muka hitam dengan muka membayangkan perasaan takut.

"Tenanglah, aku melihat sendiri bahwa kalian tak mampu berbuat apa-apa, tidak berdaya menghadapi Hay Kongcu yang sakti itu. Tentu akan kuceritakan kepadanya, akan tetapi tidak sekarang. Sekarang ini dia tidak boleh diganggu karena dia sedang beristirahat, dan kabarnya malah hendak bermalam di rumah penginapan. Biar kuselidiki... ehh, tadi kalian telah mendengar sendiri. Pemuda itu mencari Ang-hong-cu. Adakah di antara kalian yang mengenal tokoh kang-ouw yang berjuluk Ang-hong-cu itu?"

Semua orang mengerutkan alis dan mengingat-ingat. Kemudian, si jangkung muka hitam berkata, "Nama itu telah lama kudengar, akan tetapi belum pernah aku melihat orangnya. Bahkan sepanjang yang kudengar, tidak ada orang kang-ouw yang pernah melihatnya. Juga namanya sudah lama tak terdengar lagi di dunia kang-ouw, melainkan puluhan tahun yang lalu. Tapi, nona, siapakah sebetulnya pemuda itu? Kepandaiannya demikian hebat... dan... hiihhh, bagaimana tadi kami dapat saling serang sendiri? Ilmu apakah yang tadi dia gunakan itu?" Si muka hitam itu bergidik, juga teman-temannya semua merasa takut dan jeri.

Siok Bi menggeleng kepala. "Jelas bahwa ilmu silatnya tinggi, akan tetapi aku sendiri tidak mengerti kenapa tadi kalian menurut saja pada waktu dia menyuruh kalian saling serang sendiri."

"Tentu dia tadi mempergunakan ilmu sihir!" kata si pendek gendut. "Aihh, kalau disuruh melawan orang yang pandai sihir, lebih baik aku angkat tangan saja !"

Tak ada hentinya para anak buah itu membicarakan pemuda yang sudah mendatangkan kekacauan serta membuat mereka terpaksa menutup rumah judi karena bangkrut! Akan tetapi hati mereka menjadi lega setelah Siok Bi, gadis kepala pelayan yang menjadi orang kepercayaan majikan atau pemimpin mereka, menyanggupi untuk melaporkan peristiwa itu kepada majikan mereka.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Walau pun peristiwa di po-koan (rumah judi) itu segera diketahui oleh seluruh penduduk kota Shu-lu karena para penjudi itu ramai membicarakannya, namun tidak ada yang tahu bahwa pendekar muda yang mempunyai kesaktian itu tinggal di rumah penginapan Hok-lai-koan. Hay Hay hanya memberi tahu kepada Siok Bi dan para tukang pukul yang kini telah kehilangan lagak, bahkan tak berani keluar dari rumah judi itu, takut kalau dijadikan buah tertawaan orang-orang. Dengan seenaknya Hay Hay kembali ke rumah penginapan membawa buntalan emas yang banyak itu.

Pada malam itu, kurang lebih jam delapan malam, seorang gadis cantik memasuki rumah penginapan itu. Para petugas yang berjaga di rumah penginapan itu agaknya mengenal baik gadis ini sehingga tidak ada yang berani bersikap kurang ajar, bahkan mereka cepat menyambutnya dengan sikap hormat dan bertanya apa keperluan gadis itu malam-malam berkunjung ke hotel Hok-lai-koan. Semua petugas di situ mengenal dara ini sebagai orang kepercayaan Coa Wan-gwe, bahkan tahu bahwa gadis ini pandai ilmu silat!

"Apakah kedatangan Nona ini ada hubungannya dengan pesanan kamar Coa Wan-gwe? Beliau belum datang..."

"Tidak, aku hendak berkunjung kepada seorang tamu. Sudahlah..., kalian tidak perlu tahu urusanku!" katanya dan dia pun terus masuk ke dalam.

Para petugas itu tak berani mengikutinya dan Siok Bi, gadis itu, terus menuju ke ruangan belakang. Orang-orangnya sudah melakukan penyelidikan, maka dia tahu di mana kamar yang disewa Hay Hay, yaitu kamar nomor tujuh di belakang. Siok Bi membawa sebuah buntalan yang semenjak tadi dipegangnya dengan tangan kiri dan kini dia mengetuk daun pintu kamar nomor tujuh.

"Tuk-tuk-tuk...!"

Sunyi sejenak, lalu terdengar suara Hay Hay dari dalam. "Ya, siapa di luar?"

Mendengar suara yang ramah gembira ini, Siok Bi lantas tersenyum girang. Ia rnenyentuh rambutnya dengan tangan kanan untuk melihat apakah letak rambutnya sudah beres, lalu mengebutkan ujung bajunya dan baru menjawab dengan suara merdunya.

"Hay Kongcu, aku Siok Bi yang datang berkunjung."

Daun pintu terbuka dan Hay Hay berdiri di ambang pintu, memandang gadis itu dengan senyum dan pandang mata kagum. " Aihh, engkau semakin tambah manis dan jelita saja, Siok Bi!"

Wajah yang lembut itu menjadi kemerahan lantas dia pun melangkah masuk kamar tanpa rikuh lagi. "Hemmm, engkau murah sekali dengan pujianmu, Kongcu. Wanita bisa mabok oleh rayuanmu!"

Hay Hay juga masuk kamar tanpa menutup daun pintu. Hal ini nampak benar oleh Siok Bi dan kembali dia semakin kagum. Pemuda ini benar-benar berbeda dengan para pria lain yang tentu akan cepat-cepat menutupkan daun pintu seperti seekor harimau yang melihat seekor kambing memasuki kandangnya!

"Siapa memuji dan merayu? Aku berbicara sebenarnya saja, Siok Bi. Kalau engkau tidak percaya bahwa engkau jelita dan manis, coba kau bercermin!"

Siok Bi tersenyum manis. "Tidak usah kau suruh. Sebagai seorang wanita normal, setiap hari aku pasti bercermin, Kongcu, sedikitnya dua tiga kali atau malah lebih akan tetapi tak pernah aku melihat diriku seperti yang kau puji-puji. Sungguh engkau baik sekali, Kongcu, dan selama hidupku belum pernah aku bertemu seorang pemuda sehebat Kongcu..."

"Wah-wah, siapa kini yang memuji-muji? Siok Bi, sebenarnya apa maksud kunjunganmu ini? Apakah ada hubungannya dengan berita tentang Ang-hong-cu?"

Siok Bi menoleh ke arah pintu. "Kongcu, tidakkah sebaiknya kalau daun pintu kamar itu ditutup dulu?"

"Ehh? Engkau tidak khawatir, Siok Bi?"

"Apa yang harus kukhawatirkan?"

"Kalau-kalau aku melakukan hal-hal yang tidak baik, atau kalau sampai ada orang lain melihat engkau berada di sini dan..."

"Aku tidak peduli dengan pendapat orang lain, Kongcu. Dan tentang kemungkinan engkau melakukan hal-hal yang kau maksudkan itu, aku... aku bahkan akan merasa berbahagia sekali kalau kau sudi...."

Mendengar ini, jantung di dalam dada Hay Hay berdebar keras. Dia tersenyum kemudian menutupkan daun pintu, akan tetapi berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa dia tidak boleh terjatuh dalam rayuan gadis ini, seorang gadis pelayan rumah judi yang nampaknya memiliki kedudukan cukup terpandang di perkumpulan itu.Tentu bukan seorang perawan yang masih hijau, pikirnya, walau pun mungkin juga bukan seorang wanita penghibur atau wanita pelacur, melihat sikapnya yang lembut walau pun cukup berani.

Akan tetapi baru saja dia mau menutup daun pintu dan membalik, tiba-tiba saja dua buah lengan yang lembut itu telah merangkulnya dan gadis itu telah menciumnya dengan penuh rasa kagum dan mesra sampai Hay Hay gelagapan. Akan tetapi kemesraan itu langsung membakar hatinya sehingga dia pun membalas dengan penuh perasaan. Ketika api gairah itu terasa membakar, Hay Hay cepat melepaskan rangkulannya.

"Cukup, Siok Bi. Duduklah dan cetitakan apa maksudmu berkunjung ini!"

Kalau tadi Siok Bi hampir terlena di dalam rangkulan itu, tenggelam ke dalam kemesraan karena baru sekali inilah dia berangkulan dan berciuman dengan seorang laki-laki dengan suka rela dan sepenuh perasaan cinta dari hatinya, kini dia pun sadar dan terkejut setelah mendengar suara yang penuh wibawa itu.

Dengan dua kaki agak gemetar dan tubuh masih panas dingin Siok Bi menjatuhkan diri di atas pembaringan, napasnya agak terengah. "Aih, Hay Kongcu.... Belum.... belum pernah selama hidupku aku bertemu dengan seorang pria seperti Kongcu yang sungguh seorang jantan sejati! Kedatanganku ini membawa banyak urusan, Kongcu. Pertama, aku hendak mengembalikan ini." Dia membuka buntalan dan ternyata itu adalah caping milik Hay Hay yang tadi tertinggal di rumah judi. Hay Hay menerima caping itu sambil tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, terima kasih. Ini adalah sahabatku yang setia dalam perjalanan selama ini." Dia menerima caping itu dan meletakkannya di atas meja.

"Urusan ke dua adalah mengenai pesanmu agar aku menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu, Kongcu. Hal ini sudah kutanyakan kepada semua orang. Memang ada juga yang pernah mendengar akan nama Ang-hong-cu, akan tetapi tokoh itu terkenal beberapa puluh tahun yang lalu, setidaknya belasan tahun yang lalu dan selama ini namanya tak terdengar lagi. Bahkan belum pernah ada orang yang pernah melihat wajahnya. Akan tetapi, dari seorang pembantu yang baru saja pulang dari kota raja, aku mendengar bahwa di kota raja ada seorang yang membual bahwa dia adalah seorang keturunan Ang-hong-cu."

"Ahhh...! Siapakah orang itu? Siapa namanya dan di mana tinggalnya?"

"Aku pun telah bertanya akan hal itu. Kebetulan sekali pembantu baru itu mengetahuinya. Akan tetapi dia tidak tahu namanya, hanya mengenalnya sebagai Tang-ciangkun (perwira Tang), seorang perwira yang bekerja sebagai pasukan pengawal istana "

"She Tang ?" Hay Hay bertanya dan jantungnya berdebar kencang.

"Benar, Kongcu. Akan tetapi orang itu hanya mendengar bahwa Tang-ciangkun sering kali membual di luaran bahwa dia adalah keturunan Ang-hong-cu. Itu saja, benar atau tidak, tak ada yang mengetahuinya."

"Bagus, keterangan ini sudah cukup, Siok Bi. Besok aku akan segera pergi ke kota raja untuk menyelidiki orang she Tang yang menjadi perwira pasukan pengawal di istana itu. Beritamu ini sungguh cukup penting dan amat berharga bagiku. Apakah masih ada urusan lain lagi?"

"Ada, Kongcu. Mengenai dirimu..." dan tiba-tiba saja Siok Bi menangis. Hay Hay menatap tajam dan dia mendapat kenyataan bahwa tangis ini bukan dibuat-buat, bukan sandiwara, melainkan tangis karena duka.

"Tenanglah, Siok Bi. Apakah yang kau susahkan? Sejak pertemuan pertama secara diam-diam aku sudah merasa heran mengapa seorang gadis seperti engkau sampai terperosok menjadi seorang pelayan rumah judi..."

Mendengar ucapan itu, Siok Bi menangis semakin sedih, bahkan kemudian menjatuhkan diri menelungkup di atas pembaringan dan terisak-isak. Hay Hay merasa kasihan sekali. Dia duduk di tepi pembaringan dan menekan pundak gadis itu, mengelus rambutnya.

"Tenangkan hatimu dan bicaralah, aku akan menolongmu sedapatku jika memang engkau membutuhkan pertolongan."

Gadis itu bangkit, lantas dengan muka basah air mata dia memandang kepada Hay Hay. "Be... benarkah, Kongcu...? Benarkah engkau sudi menolongku...? Sudi mengangkat aku dari lumpur kehinaan ini...?"

Hay Hay tersenyum, lantas menggunakan jari-jari tangannya mengusap air mata dari pipi yang kini ditinggalkan bedak akan tetapi ternyata kulitnya memang putih mulus dan halus itu. Dia mengangguk. "Tentu saja, Siok Bi."

"Ah, Kongcu....!" Siok Bi menubruk, merangkul dan menangis di dada Hay Hay. Jantung di dalam dada itu kembali berdebar keras, tangannya balas mendekap akan tetapi Hay Hay dapat bertahan untuk tidak tergelincir ke dalam jurang birahi.

"Tenanglah, nah, kini duduklah yang baik dan berceritalah," katanya dan dia pun bangkit berdiri, lalu pindah duduk di atas kursi, baju di bagian dadanya basah oleh air mata ketika gadis itu tadi menangis di dadanya.

Siok Bi menyusuti air matanya dengan sehelai sapu tangan yang sudah menjadi basah. Ia cepat menenangkan dirinya dengan memejamkan mata, dan kembali Hay Hay mendapat kenyataan bahwa gadis cantik ini memang pernah mempelajari ilmu silat, juga cara untuk bersemedhi dan memperkuat batin. Dia hanya memandang sambil tersenyum. Tidak lama kemudian Siok Bi membuka matanya dan kini pandang matanya terang, tidak layu seperti tadi.

Ia menarik napas panjang, "Maafkan kelakuanku tadi, Kongcu. Bagi Kongcu tentu sikapku tadi bukanlah sikap seorang gadis yang sopan dan bersusila. Memang aku sudah menjadi seorang gadis yang tak tahu tahu malu, Kongcu, terseret oleh keadaan diriku," Siok Bi lalu menceritakan riwayatnya dengan singkat.

Pada waktu dia berusia tiga belas tahun, ayahnya yang sudah menduda menjadi gila judi dan habis-habisan sehingga akhirnya dia dijual oleh ayahnya kepada Hartawan Coa yang merupakan orang terkaya di Shu-lu, juga menjadi kepala dari golongan hitam di daerah itu. Ternyata Hartawan Coa suka kepadanya, karena selain cantik Siok Bi juga amat cerdas.

Gadis remaja ini lalu diperlakukan dengan sangat baik, bahkan dilatih pula dengan segala macam kepandaian, termasuk ilmu-ilmu silat tinggi. Ketika dia telah dewasa, dia terpaksa melayani Hartawan Coa yang mengambilnya sebagai seorang di antara para selirnya yang amat banyak. Mulai saat itu, selain menjadi selir Siok Bi juga menjadi orang kepercayaan dan menjadi kepala para pelayan yang berada di rumah judi itu.

"Nah, demikianlah riwayatku, Kongcu. Aku hidup bergelimang kehinaan, dan hatiku selalu merana semenjak aku dijual oleh ayah kepada Coa Wan-gwe. Tetapi ayah pun menderita karena merasa menyesal dan dia meninggal dunia karena penyesalannya pada saat aku dipaksa menjadi selir Coa Wan-gwe."

Hay Hay mengangguk-angguk. Betapa banyak gadis-gadis keluarga miskin yang bernasib seperti itu, terutama yang berwajah cantik manis seperti Siok Bi. Banyak penggoda yang datang, berupa hartawan-hartawan yang haus akan bunga cantik yang baru mekar, yang menggunakan uang mereka untuk membeli gadis-gadis itu.

Masih baik nasib gadis cantik miskin yang mempunyai orang tua yang mempunyai harga diri. Akan tetapi, sungguh celaka kalau orang tuanya mata duitan. Gadis itu akan menjadi laksana barang dagangan, dijual kepada hartawan untuk menjadi alat pemuas nafsunya. Terlampau banyak keluarga yang tidak menghargai anak perempuan, dianggapnya anak perempuan hanya menjadi beban orang tua saja. Pikiran yang sungguh jahat!

"Lalu apa yang dapat kulakukan untukmu, Siok Bi? Biar pun aku merasa sangat kasihan mendengar nasibmu, akan tetapi apa yang dapat kulakukan?"

"Tolonglah aku, Kongcu. Tolonglah aku supaya aku bisa terbebas dari cengkeraman Coa Wan-gwe...," gadis itu memohon.

"Hemm, kalau engkau memang tidak suka lagi menjadi selir dan pembantu hartawan Coa itu, kenapa engkau tidak melarikan diri saja? Engkau bukan seorang wanita yang lemah, Siok Bi, dan kulihat engkau mendapat kebebasan bergerak. Dengan mudah sekali engkau akan dapat melarikan diri meninggalkan kota Shu-lu ini ke tempat jauh!"

Gadis itu menggelengkan kepala. "Tidak mungkin, Kongcu. Ahhh, engkau tidak tahu akan kekuasaannya. Dia memiliki banyak tukang pukul dan aku tentu akan dapat ditangkapnya dengan cepat, kemudian menerima hukuman yang amat kejam. Tidak, Kongcu. Melarikan diri bukanlah jalan yang baik."

"Kalau begitu, katakan saja terus terus terang kepadanya bahwa engkau ingin bebas dan hidup sendiri."

Gadis ini menundukkan mukanya dan menarik napas panjang. "Pernah kukatakan hal itu kepadanya tetapi apa akibatnya? Aku dihukum cambuk sepuluh kali dan dia mengatakan bahwa aku telah menjadi miliknya karena sudah dibeli dari mendiang ayahku. Kalau aku ingin bebas, maka aku harus menebus diriku yang katanya kini harganya sudah menjadi lima puluh tail emas!"

"Wah, kenapa demikian banyak? Apakah dulu ayahmu menjualmu dengan harga seperti itu?"

Siok Bi menggeleng. "Hanya beberapa tail emas, tetapi dia memperhitungkan bunganya yang tinggi selama lima tahun ini...."

Hay Hay mengerutkan alisnya dan melirik ke arah buntalan uang emasnya. Uang itu lebih dari cukup untuk menebus diri Siok Bi!

"Siok Bi, kalau engkau sudah berhasil bebas dari Hartawan Coa, lantas ke mana engkau hendak pergi? Bukankah ayahmu telah meninggal dunia? Apakah engkau masih memiliki keluarga lain?"

Siok Bi kembali menggeleng kepalanya. "Hanya seorang paman di kota raja, akan tetapi dia tentu tidak sudi menerima aku yang sudah bergelimang lumpur. Tetapi... ada seorang pemuda...," gadis itu berhenti sejenak dan matanya memandang kepada Hay Hay dengan penuh duka.

Hay Hay tersenyum. "Aha! Ternyata engkau sudah mempunyai pillhan seorang kekasih? Bagus sekali kalau begitu!"

Siok Bi nampak tersipu-sipu. "Bukan begitu, Kongcu. Sebenarnya ada seorang pemuda yang dahulu suka berjudi. Dia sebetulnya seorang pemuda yang baik dan dia.... dia amat mencintaku. Ketika aku memberi nasehat agar dia berhenti berjudi, dia pun mau menurut, berhenti tidak pernah berjudi lagi dan kini dia bekerja, berdagang kecil-kecilan. Dia sangat mencintaku dan tentu akan menerimaku sebagai calon isterinya dengan hati bahagia..."

"Dan engkau tentu juga mencintanya, bukan?"

"Sayang... sayang dia bukan engkau, Kongcu....! Ahh, kenapa aku harus mengharapkan yang bukan-bukan? Aku kasihan dan suka padanya, akan tetapi terus terang saja, tidak mencintanya. Tetapi bagaimana pun juga hidupku akan lebih terhormat dan terjamin kalau dapat menjadi isterinya."

Mendengar pengakuan yang jujur itu, Hay Hay merasa terharu sekali. Gadis ini jatuh cinta kepadanya! Gadis ini tersesat ke jalan hitam bukan atas kehendaknya, melainkan karena terpaksa, dan sekarang dia berusaha untuk kembali ke jalan yang bersih. Agaknya hanya dialah yang mampu menolongnya, dengan cara menebusnya.

"Baiklah, Siok Bi. Kemenangkanku di meja judi itu cukup untuk menebus dirimu. Aku akan menemui Coa Wan-gwe dan aku akan menebus dirimu dengan lima puluh tail emas!"

"Hay Kongcu...!" Siok Bi menjerit kecil kemudian menubruk pemuda itu dengan hati penuh kebahagiaan sehingga keduanya berguling ke atas pembaringan. Siok Bi merangkul dan mencium, penuh perasaan terima kasih dan penuh kepasrahan diri.

"Kongcu...." bisiknya di antara ciumannya, "sampai mati aku tak akan mampu membalas budimu... maka... hanya tubuhku inilah yang kumiliki, hendak kuserahkan padamu untuk membalas budi dengan segala keikhlasan...! Hay Kongcu... aku kagum kepadamu, aku cinta padamu...."

Dara itu merintih ketika Hay Hay dengan halus mendorongnya, lantas pemuda itu bangkit duduk. Tadinya dia pun terseret gelombang nafsu sehingga membalas ciuman dan belaian gadis itu, namun kesadarannya membuat dia melihat betapa buruknya jika dia lanjutkan. Seolah-olah dia menolong dengan pamrih imbalan yang begitu rendah! Dia bukan hendak membeli tubuh Siok Bi, melainkan kebebasannya!

"Siok Bi, sadarlah! Aku kagum dan suka pula padamu, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku lalu ingin memperoleh imbalan darimu. Ingat, engkau telah bersiap-siap untuk menempuh jalan bersih bersama pemuda yang mencintamu. Maka sejak saat ini engkau harus menahan semua perasaanmu, dan harus pula menjadi seorang calon isteri yang setia! Kalau begitu, barulah engkau dapat mengharapkan akan membentuk rumah tangga bahagia dengan pemuda itu."

Wajah gadis itu menjadi merah dan dia pun segera meloncat turun dari atas pembaringan, membereskan pakaiannya kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hay Hay.

"Kongcu, aku menghaturkan banyak terima kasih, juga mohon maaf atas kelancanganku tadi."

Gadis itu semakin kagum, akan tetapi juga jeri karena kini dia merasa bahwa pemuda ini bukanlah manusia biasa! Tidak mungkin ada laki-laki, apa lagi masih muda, yang mampu bertahan seperti itu, padahal keduanya sudah saling peluk dan saling berciuman di atas pembaringan dalam sebuah kamar! Padahal dia telah siap menyerahkan diri dengan suka rela! Dan pemuda itu demikian pandai merayu, demikian pandai bercumbu! Selama hidup belum pernah Siok Bi mengalami hal seperti itu.

Hay Hay menyentuh kedua pundaknya lantas menariknya berdiri. Hay Hay memandang wajah yang manis itu, tersenyum, kemudian memberi ciuman mesra di dahi yang halus itu.

"Siok Bi, tidak perlu berterima kasih dan tak perlu minta maaf. Uang itu adalah uang milik rumah judi, bukan uangku. Dan tentang permintaan maaf, terus terang saja aku pun amat suka kepadamu, dan alangkah akan mudahnya dan senangnya jika aku menuruti bisikan nafsu. Akan tetapi orang harus lebih dulu sadar, waspada dan memperhitungkan segala perbuatan, bukan membuta karena nafsu. Kalau sekarang kita menuruti nafsu, kelak kita berdua akan merasa menyesal sekali. Terutama engkau, Siok Bi. Di sudut hatimu tentu akan timbul penyesalan karena engkau telah berkhianat terhadap cinta pemuda itu. Nah, sekarang katakan ke mana aku harus menyerahkan uang itu kepada Hartawan Coa. Aku ingin urusan selesai saat ini juga."'

"Ahhh, jangan sekarang, Kongcu. Besok pagi saja karena malam ini Hartawan Coa tidak berada di rumah. Dia bermalam di rumah penginapan ini!"

"Ehhh?! Di sini? Kenapa.... ?" Hay Hay bertanya heran.

Gadis itu mengerutkan alisnya. "Aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi dia sudah sering kali begitu, bermalam di mana saja dan itu tandanya bahwa dia memperoleh seorang korban baru, seorang gadis yang baru saja didapatnya!"

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan terdengar suara seorang laki-laki, suara yang parau dan dalam, "Di mana kamar untukku? Harus yang paling baik!"

"Tentu saja, tentu saja... tai-ya. Di sana, di kamar paling kiri, sudah kami persiapkan..."

Siok Bi menaruh telunjuk ke depan mulutnya. "Sstttt, itu dia....!" bisiknya.

Hay Hay kemudian membuka daun pintu dan keluar dengan tenang. Dia sempat melihat seorang lelakl tinggi besar bermuka hitam bopeng! Dia terbelalak. Kiranya pemilik rumah judi, pemimpin dan kepala dari para bandar curang itu, bukan lain adalah hartawan yang sudah memiliki janji rahasia dengan isteri Gui Lok, pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai-koan!

Dia melihat pria tinggi besar itu memasuki kamar terbesar di sebelah kiri, dan dua orang tukang pukul atau jagoan yang bertubuh kokoh kekar berjaga di luar kamar itu! Isteri Gui Lok itu, yang bernama Kim Hwa, si cantik genit, berjanji akan mengantarkan puteri tirinya setelah lewat jam dua belas malam ke kamar itu! Mempergunakan obat bius pula!

Dia harus mencegah terjadinya peristiwa terkutuk itu. Kasihan Ai Ling, gadis pendiam yang bagaikan bunga baru mekar itu harus dipetik secara paksa, direnggut oleh Hartawan Coa yang rakus ini! Dia pun cepat masuk lagi ke dalam kamarnya.

"Ternyata si tinggi besar muka bopeng itukah Hartawan Coa?" katanya kepada Siok Bi. Pantas saja dara jelita ini merasa menderita. Wanita muda mana yang suka menjadi selir seorang laki-laki seperti itu yang kelihatannya kasar dan bengis? Siok Bi mengangguk.

"Siok Bi, engkau pulanglah. Besok akan kubereskan masalahmu. Aku akan menemui dia di rumahnya dan menebus dirimu, kemudian kuantar engkau ke rumah calon suamimu."

Siok Bi merasa gembira sekali. "Terima kasih, Hay Kongcu, terima kasih...!"

Dia menghampiri dan merangkul lagi, akan tetapi tiba-tiba dia menahan diri dan menatap wajah pemuda itu. Dua pasang mata saling bertaut.

"Bolehkah aku...., Kongcu... ?"

Hay Hay tersenyum, mengangguk dan menerima ciuman hangat gadis itu, sebuah ciuman yang tidak lagi dicekam oleh nafsu birahi, melainkan ciuman yang mengandung rasa haru, syukur dan terima kasih yang amat besar. Kemudian gadis itu melepaskan rangkulannya, lantas keluar dari dalam kamar itu disertai isak tertahan. Akan tetapi Hay Hay menangkap lengannya.

"Jangan, jangan lewat situ, lebih baik jangan terlihat bahwa engkau berada di sini," kata Hay Hay dan dia membuka jendela, lalu membantu Siok Bi meninggalkan kamarnya lewat jendela yang menembus ke dalam kebun yang gelap.

Setelah bayangan Siok Bi lenyap, Hay Hay menutup daun jendela dari luar sebab dia pun meninggalkan kamarnya untuk melakukan pengintaian dalam usahanya menyelamatkan Ai Ling dari ancaman bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut!