Pengkhianatan Di Bukit Kera

PENGKHIANATAN DI BUKIT KERA

SATU

"Air...!"

Sebuah suara terdengar menggema, memantul pada dinding-dinding sempit di ruang gelap dan suram. Tak ada penerangan sedikit pun. Satu sosok tubuh yang tergeletak dalam kubangan air dangkal itu bergerak-gerak perlahan. Sambil menahan dingin, dia memandang ke sekeliling. Tubuhnya yang telah basah perlahan-lahan bangkit, bergerak menepi.

"Oh.... Di mana ini? Apakah aku sudah berada di akherat?" gumam sosok ini seraya mengedar pandangan kesekeliling. Untuk sesaat hanya kegelapan yang terlihat. Namun setelah terbiasa, matanya mulai melihat keadaan sekelilingnya sedikit lebih jelas.

"Air? Aku tadi tergeletak dalam air?" gumam sosok ini lemah. "Oh.... Kalau saja tubuhku membentur benda keras, niscaya hari ini aku tidak akan bernyawa lagi. Eh! Tapi..., apakah saat ini aku memang masih hidup?"

Sosok yang ternyata seorang muda berwajah tampan itu mencubit lengannya. Dan ketika terasa sakit, hatinya baru sedikit yakin kalau apa yang dilihatnya adalah nyata.

"Oh, Gusti Yang Maha Agung! Kau selamatkan aku dari kematian. Tapi... apa dayaku di tempat seperti ini?" ucap pemuda berpakaian serba putih ini.

Untuk beberapa saat, pemuda ini termenung memikirkan cara keluar dari tempat ini. Di sekelilingnya hanya ada batu cadas dan telaga kecil. Kalaupun ada yang lain, maka hanya bebatuan. Tidak ada pepohonan, meski setinggi kelingking.

"Aku harus cari jalan keluar! Harus!" tekad pemuda itu.

Berpikir demikian, pemuda tampan itu bangkit. Mulai disusurinya dinding terjal itu sambil memeriksa dengan teliti. Beberapa saat dia melakukan hal ini, namun hasilnya nihil. Pemuda itu duduk di atas sebuah batu melepaskan letih dan penat.

"Buntu! Berarti aku akan terkurung selamanya di sini...," gumam pemuda ini lirih.

Entah sudah berapa lama pemuda tampan ini berada di sini. Juga tidak tahu, apakah saat ini malam atau siang. Karena keadaannya sama saja, yaitu kegelapan. Hanya rasa letih yang semakin menjadi-jadi mulai menyiksa tubuhnya. Tapi, mendadak perhatiannya terganggu ketika sebongkah batu besar yang didudukinya bergoyang-goyang.

"He, apa ini?!" seru pemuda ini kaget.

Dia melompat, memperhatikan dengan seksama. Batu itu berhenti bergoyang. Lalu dengan ragu pantatnya kembali diletakkan di atas batu. Dan batu itu kembali bergerak-gerak, seperti sebuah perahu yang tengah dinaiki.

"Hm.... Batu ini seperti diganjal sesuatu," pikir pemuda ini seraya melompat turun. "Di bawahnya pasti ada sesuatu."

Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dimiliki, pemuda tampan berbaju serba putih itu berusaha menggeser batu. Agak sulit memang. Namun, perlahan-lahan berhasil dengan baik. Seperti dugaannya, di bawah batu itu memang terdapat sesuatu. Tanahnya berlekuk, dan di bawahnya terdapat selembar benda agak tebal dan kenyal. Diangkatnya benda itu. Dan dia langsung melihat sebatang kayu penyangga benda tadi. Panjang kayu itu sekitar satu tombak. Ujungnya menyentuh dasar lubang, dengan tinggi yang sama dengan kayu. Pemuda itu menyingikirkan kayu itu. Otaknya berpikir sebentar, apakah ada gunanya turun ke bawah.

"Aku mesti coba!" tekadnya, mantap. Dengan ragu-ragu, pemuda itu melompat turun. Dari situ, dia langsung bisa melihat sebuah lubang di sebelah kanannya. Disusurinya lorong itu dengan langkah ragu. Dan tidak lama kemudian, dia tiba di sebuah tempat yang agak luas.

Yang pertama-tama terlihat di situ adalah sebuah altar batu yang berada di tengah-tengah ruangan. Di atas altar terdapat sebuah peti kecil, terbuat dari batu pula. Setelah memperhatikan keadaan di sekelilingnya, didekatinya altar itu.

"Hentikan langkahmu, Anak Muda!"

"Hei?!" Sebuah suara mengejutkan, terpaksa membuat langkah pemuda itu berhenti. Saat itu juga, jantungnya berdetak beberapa kali lebih cepat dari biasanya. Bola matanya seketika mencari-cari ke setiap sudut. Dan di atas sebelah kanannya, pada sebuah dinding ruangan yang berlubang, terlihat seseorang berdiri tegak mengawasinya.

"Eh, maafkan. Aku tidak bermaksud lancang di sini...!" ucap pemuda itu.

"Tapi nyatanya begitu!" sergah sosok didalam dinding ruangan yang berlubang.

"Aku..., aku tersesat disini...," kilah pemuda ini.

"Bagaimana mungkin?" sahut suara itu dingin dan curiga.

"Aku terjerembab ke dalam lubang yang ada di dalam Gua Griwa. Lalu, aku menemukan jalan keluar ke sini," jelas pemuda itu jujur.

"Hup!"

Tiba-tiba saja sosok tubuh itu mencelat turun. Gerakannya ringan laksana sehelai daun kering tertiup angin. Dan tahu-tahu, dia telah berdiri di depan pemuda itu pada jarak tiga langkah. Sehingga, wajah orang itu bisa terlihat jelas.

Yang berdiri di depan pemuda itu adalah seorang laki-laki setengah baya bertubuh agak kurus. Rambut panjang awut-awutan. Dan wajahnya sebagian tertutup rambutnya yang kelabu. Sepasang matanya menatap tajam.

"Siapa namamu?" tanya laki-laki agak kurus itu.

"Badrawata...," sahut pemuda tampan berbaju putih ini.

"Kau menginginkan Patung Dewi Ratih?"

"Eh! Sebenarnya tidak. Aku hanya ikut-ikutan."

"Hm...!"

"Sungguh! Ketika tengah berada di kedai, kudengar banyak orang yang bercerita soal patung itu. Lalu, seseorang mengajakku ke sini," tegas pemuda bernama Badrawata, menjelaskan.

"Siapa?" cecar laki-laki setengah baya ini.

"Seorang laki-laki setengah baya. Namanya, Ki Darta Rawon. Kukira dia orang baik. Tapi setelah melihat aku terperosok ke dalam lubang, dia diam saja. Bahkan meninggalkan aku seorang diri," jelas Badrawata.

"Hmm...!"

"Aku bercerita dengan sejujurnya!" lanjut Badrawata berusaha meyakinkan.

"Apakah menurutmu si Darta Rawon berhasil mendapatkan patung itu?" tanya laki-laki setengah baya itu tanpa mempedulikan ocehan Badrawata.

"Aku..., aku tak tahu."

"Hmm...!"

"Sungguh? Aku benar-benar tidak tahu! Bahkan kenal dengannya pun saat itu. Sebelumnya, aku tidak kenal dia!" tegas Badrawata, seperti orang kebingungan sendiri.

"Diamlah. Kenapa kau kelihatan takut?"

"Oh, maaf. Aku..., aku hanya tak tahu bagaimana caranya untuk keluar."

"Kalau telah berada di sini, maka kau tidak akan bisa keluar!"

"Oh! Jadi..., jadi tidak ada jalan keluar?!" seru Badrawata kaget.

Laki-laki setengah baya itu tidak menjawab. Kepalanya malah berpaling, lalu melangkah mendekati altar batu di dekat mereka.

"Benarkah di tempat ini tidak ada jalan keluar?" desak pemuda itu seraya melangkah mengikuti laki-laki setengah baya itu.

Namun laki-laki setengah baya itu diam membisu tak menjawab. Matanya tajam memandang altar batu. Sementara, Badrawata gelisah sendiri. Hatinya bingung, karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya melewati hari-hari membosankan dalam gua ini. Hari-hari membosankan? Entah, mungkin dalam seminggu ini dia akan mati kelaparan karena perutnya memang kosong.

Atau..., barangkali laki-laki di dekatnya ini akan membunuh dan menguliti dagingnya. Bisa jadi! Dia kelihatannya seperti makhluk hutan yang telah lama tidak mandi. Sorot matanya buas, seperti harimau, Kedua tangan dan kakinya kusam dan kotor dengan kuku-kuku tajam dan menghitam.

Berpikir begitu mendadak bulu kuduk Badrawata berdiri. Dan hatinya pun diliputi ketakutan hebat. Bahkan tanpa sadar, tubuhnya beringsut ke belakang untuk kembali ke tempat semula di ujung lorong yang dilewatinya tadi.

"Kau beruntung bisa selamat dari dalam kubangan itu...," kata laki-laki setengah baya itu, seperti bicara sendiri tanpa menoleh.

"Eh? Apa maksudmu?" tanya Badrawata ragu.

"Di dalam kubangan itu, hidung seekor ular besar yang dapat menelanmu hidup-hidup," jelas laki-laki itu.

"Ohhh...?!" Badrawata tercekat. Dan tanpa sadar, tubuhnya bergidik ngeri. Buru-buru dijauhi mulut lubang tadi.

"Kau tak percaya?" tanya laki-laki setengah baya ini tersenyum kecil, seraya membalikkan tubuhnya.

"Eh! Aku terjatuh di situ. Tapi..., tidak menemukan makhluk hidup satu pun...?!"

"Itu karena nasibmu tengah mujur. Ular itu tengah bertapa di dasar kobakan."

"Dari mana kau tahu?"

"Seumur hidup aku tinggal di sini. Semua seluk-beluk gua ini sedikit pun tak ada yang tidak kuketahui."

"Kau penghuni gua ini?"

"Ya."

"Berarti, kau orang yang diceritakan Ki Darta Rawon?"

"Apa yang diceritakannya tentang aku?" laki-laki setengah baya yang ternyata Penunggu Gua Griwa itu malah balik bertanya.

"Dia hanya yakin kalau Gua Griwa memiliki penghuni, manusia biasa seperti yang lainnya. Padahal, tokoh-tokoh yang lain sudah curiga dan merasa kalau penghuni Gua Griwa adalah makhluk halus," jelas Badrawata.

"Ha ha ha...!" Saat itu juga, Penghuni Gua Griwa ini melepas tawanya yang menggelegar. Walaupun tubuhnya agak kurus, namun suaranya terdengar berat dan kasar."

"Kenapa kau tertawa?" tanya Badrawata dengan kening berkerut heran.

"Mereka tidak akan berhasil mendapatkan Patung Dewi Ratih!" jawaban Penghuni Gua Griwa malah makin membingungkan.

"Ya! Tentu saja kalau kau menyembunyikannya," kata Badrawata, mulai berani.

Laki-laki setengah baya itu tidak menjawab, melainkan kembali tertawa keras.

"Kisanak! Aku tidak tahu, bagaimana kelanjutan hidupku di sini. Tapi kalau kau hendak membunuhku, maka cepat lakukan. Jangan siksa aku dengan segala cerita-cerita yang membuat nasibku tak menentu!" ujar Badrawata.

"Siapa yang akan membunuhmu?" tukas Penunggu Gua Griwa.

"Jadi..., jadi kau tidak membunuhku?!" seru Badrawata, girang.

"Aku memang tidak berniat membunuhmu. Aku bahkan bermaksud memulangkanmu," sahut Penunggu Gua Griwa, kalem.

"Memulangkanku? Bagaimana mungkin? Bukankah tadi kau katakan tempat ini tidak ada jalan keluar lagi? Jadi, aku tidak mungkin bisa keluar," sergah Badrawata, bingung.

"Bukankah tadi kukatakan, bahwa aku mengetahui seluk-beluk gua ini? Maka tentu saja aku tahu, di mana jalan keluarnya. Aku hanya mengelabuimu sebentar, sebelum kutahu niatmu yang sesungguhnya," jelas laki-laki setengah baya itu.

"Kisanak! Aku amat berterima kasih atas kebaikan hatimu!" ucap Badrawata, seraya berlutut di hadapan Penunggu Gua Griwa.

"Kau tidak pantas berbuat begitu. Tugasku adalah menjaga pusaka leluhurku. Bukan membunuh orang. Kalaupun aku terpaksa membunuh orang, itu karena mereka hendak merebut pusaka leluhurku. Nah, sekarang pejamkan matamu. Aku akan membawamu keluar," ujar Penunggu Gua Griwa.

Badrawata segera saja memejamkan matanya. Dan sesaat, dirasakan kalau laki-laki setengah baya itu menutup matanya dengan sehelai kain hitam.

"Maaf... Aku terpaksa melakukan hal ini, karena kerahasiaan gua harus tetap terjaga. Nanti setelah keluar dan berada cukup jauh dari gua, maka barulah kau boleh membuka penutup mata ini," ucap Penunggu Gua Griwa menjelaskan.

"Ya, aku mengerti."

"Bagus! Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" lanjut laki-laki Penunggu Gua Griwa seraya menggamit lengan Badrawata.

Pemuda berbaju serba putih itu tidak bisa melihat ke mana akan diajak. Hanya beberapa kali terdengar suara batu bergeser. Lalu dia merasakan jalan yang semakin menanjak naik. Dan setelah beberapa saat berjalan, mereka berhenti di suatu tempat.

"Sekarang, kau boleh membuka mata!" ujar Penunggu Gua Griwa.

Badrawata segera membuka matanya yang mendadak suram, karena terlalu lama tertutup kain. Dan perlahan-lahan matanya mulai menangkap suasana terang. Meski agak samar, tapi lama-kelamaan menjadi terbiasa juga. Dan ketika kepalanya menoleh ke belakang, tampak Gua Griwa ada di dekatnya.

"Ke mana lelaki tadi?" tanya Badrawata bingung, karena tidak menemukan siapa pun di tempat itu. "Apakah aku tengah bermimpi?"

Sesaat pemuda ini memandang mulut gua itu. Lalu perlahan-lahan kakinya melangkah meninggalkan tempat itu.

Lewat senja baru Badrawata tiba di depan perguruannya. Didepan Perguruan Macan Putih yang biasanya ramai, kini kelihatan sepi. Hanya dua orang saja yang tampak berjaga-jaga di pintu gerbang.

"Badra!"

Terdengar sebuah panggilan ketika Badrawata berjalan memasuki pintu gerbang. Saat itu juga, pemuda ini menoleh ke arah asal suara. Tampak seorang pemuda yang tadi menjaga pintu berlari-lari kecil menghampiri. Dia diikuti seorang kawannya.

"Astaga! Kau masih hidup?! Ke mana saja kau selama ini?!" lanjut pemuda itu.

"Aku..., eh, tidak dari mana-mana. Apakah Guru ada?" sahut Badrawata tergagap.

"Huuu.... Kami susah-payah mencarimu ke mana-mana. Malah kukira kau mati di dalam Gua Griwa!" sahut pemuda yang memakai ikat kepala hitam.

"Ya! Bahkan orangtuamu sudah diberi kabar. Kami semua mengira, kau mati. Sehingga, suasana berkabung diberlakukan Guru," timpal yang seorang lagi.

"Seperti kalian lihat, aku sehat-sehat saja, bukan?" tukas Badrawata.

"Jadi kau berhasil masuk ke dalam gua itu?!" tanya pemuda betikat kepala hitam, penasaran.

Badrawata mengangguk.

"Apa yang kau temui di dalamnya?" kejar yang seorang lagi.

"Banyak," sahut Badrawata, pendek.

"Dapat patung yang menghebohkan itu?" cecar pemuda berikat kepala hitam.

"Sudahlah. Aku mau ketemu Guru dulu, lalu makan yang kenyang dan istirahat panjang!" tukas Badrawata, seraya melenggang melewati kedua kawannya.

Kedua pemuda murid Perguruan Macan Putih ini menggerutu kesal. Kalau saja tidak sedang bertugas jaga, mereka pasti akan mengintil ke mana saja Badrawata pergi untuk memuaskan rasa penasaran.

Kehadiran Badrawata disambut rasa keterkejutan oleh semua penghuni Perguruan Macan Putih? Tak urung Ki Pulung, guru mereka sendiri. Karena pemuda itu memang sudah dianggap tewas. Dan Badrawata pun langsung ditodong untuk bercerita diruang utama perguruan.

"Banyak yang cerita, ribut-ribut itu berlangsung di muka Gua Griwa. Jadi, kami kira kau pun ikut tewas...," desah Ki Pulung lirih.

"Ini tentu berkat doa Guru dan kawan-kawan semua, sehingga aku masih selamat," kata Badrawata.

"Lalu, apa sebenarnya yang kau cari di dalam gua itu?" tanya Ki Pulung.

"Hanya untuk memuaskan rasa penasaranku saja. Guru...," jawab Badrawata lugu.

"Hm.... Ini memang suatu keajaiban. Padahal banyak orang tewas setelah masuk ke dalam gua itu. Tapi, kau malah diantarkan untuk keluar oleh si Penunggu Gua Griwa.

"Aku yakin, dia dari semula memang ingin mencelakakanmu, Badra!" dengus seorang pemuda yang dikenal sebagai kawan akrab Badrawata di tempat ini. Dia tak lain dari Teja Rukmana.

Badrawata diam saja tak menjawab. Dia memang salah, karena tidak mau mendengar nasihat Teja Rukmana tadinya (Baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode Patung Dewi Ratih). Tapi bukankah dengan begitu dia memperoleh pengalaman yang mengesankan?

"Ya! Kau tidak boleh percaya begitu saja pada orang yang belum dikenal, Badra," timpal Ki Pulung. "Di dunia ini banyak orang licik yang demi kepentingan pribadi, rela mengorbankan orang lain."

"Aku mengerti. Guru."

"Anggaplah pengalamanmu ini sebagai pelajaran. Kau beruntung bisa keluar dengan selamat."

Badrawata kembali mengangguk. "Ada satu hal yang masih membingungkanku, Guru," cetus Badrawata.

"Hm, soal apa itu?" tukas Ki Pulung.

"Tokoh yang menolongku keluar dari gua itu. Aku tidak yakin apakah dia benar ada, atau tidak. Apakah Guru tahu riwayat gua itu?"

"Tidak. Aku tidak tahu banyak, selain dari cerita orang-orang yang belakangan ini kudengar. Ada pun mengenai tokoh itu, bisa saja itu orang biasa. Atau juga, makhluk halus."

Badrawata bergidik ngeri membayangkan pertemuannya dengan laki-laki aneh di alam Gua Griwa. Kalau saja orang itu hendak membunuhnya, maka hal itu rasanya mudah sekali dilakukannya. Tapi untunglah nasibnya lagi mujur. Sehingga, nyawanya masih melekat di badan.

"Sudahlah. Mungkin kau lelah dan sangat lapar. Aku telah menyuruh seseorang untuk menghangatkan masakan. Kau boleh bersantap sepuasmu, lalu tidur nyenyak. Besok pagi kau boleh pulang ke rumah orangtuamu. Kasihan mereka. Tentu mereka bersedih karena kehilanganmu...," ujar laki-laki tua berusia tujuh puluh tahun itu.

"Baik, Guru. Aku mohon pamit dulu!" ucap Badrawata seraya membungkuk hormat, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.

********************

DUA

Satu sosok berpakaian serba hitam dengan wajah terselubung kain hitam pula bergerak mengendap-endap, memasuki Perguruan Macan Putih. Ketika melihat lima orang penjaga berada di gerbang depan, tubuhnya berkelebat mengambil jalan memutar.

"Hup!"

Sosok ini melompat ke atas pagar tembok setinggi dua tombak, dan terus mencelat kegenteng tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Sepasang matanya tajam mengawasi keadaan sekelilingnya. Lalu bagai seekor kucing, dia berjalan tenang melewati genteng demi genteng. Tepat di atas sebuah ruangan, dia berhenti. Kembali pandangannya beredar ke sekelilingnya. Setelah merasa aman, maka satu persatu dibukanya genteng di bawahnya.

Begitu empat buah genteng telah terlepas, sosok bertopeng hitam ini bisa melihat jelas seorang pemuda yang tengah tertidur pulas dibawahnya. Kemudian dengan ringan dia melayang turun.

"Hup!"

Begitu mendarat di lantai ruangan ini, tanpa menimbulkan suara sedikit pun, sosok ini menghampiri pemuda yang tertidur di balai-balai. Dan seketika, tangannya bergerak ke tubuh pemuda itu.

Tuk! Tuk!

Dengan gesit orang bertopeng ini menotok urat suara dan urat gerak pemuda yang tak lain Badrawata. Sehingga meskipun terjaga, Badrawata tidak akan berkutik lagi.

Dengan cepat, orang bertopeng ini membopong pemuda itu. Dia segera bergerak ke jendela kamar, lalu tubuhnya melesat keluar. Tak seorang pun di perguruan ini yang mengetahui, ke mana Badrawata dibawa kabur oleh orang bertopeng itu.

"Ohh, di mana aku?" tanya Badrawata ketika orang bertopeng itu melepaskan totokan urat suaranya.

Mereka saat ini berada di sebuah pinggiran hutan kecil yang tak jauh dari Perguruan Macan Putih.

"Kau aman disini," kata orang bertopeng ini, menenangkan.

"Siapa kau?!" sentak Badrawata, bertanya.

"Kau tak perlu tahu!" desis orang bertopeng itu dengan suara parau dan berat.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya pemuda itu dengan hati cemas.

"Kau baru saja dari Gua Griwa. Maka, kau pasti tahu seluk-beluk gua itu. Kalau ingin selamat, ceritakanlah padaku!"

"Aku..., aku tidak tahu apa-apa soal itu."

"Jangan membuatku marah!" dengus orang bertopeng ini, seraya menghentakkan tangan kiri ke sebuah batu sebesar kepala kerbau sepuluh tombak di depan Badrawata.

Blarrr...!

Kontan batu itu pecah berantakan, ketika sebuah angin menderu tajam menghantamnya. Bisa dibayangkan kalau pukulan itu menghantam kepala Badrawata.

"Kau tidak ingin kepalamu bernasib sepertibatu itu, bukan?!" desis orang bertopeng ini mengancam.

"Eh, tentu saja tidak," sahut Badrawata, tergagap.

"Nah, katakanlah padaku!" tekan orang bertopeng.

"Tapi aku betul-betul tidak tahu apa-apa soal isi gua itu...." Kata-kata Badrawata terhenti, ketika tangan orang bertopeng itu mencengkeram lehernya.

"Kau ingin lehermu yang lebih dulu kupatahkan?!"

"Eh! Ti..., tidak."

"Kalau begitu, katakan! Katakan saja apa yang kau ketahui! Mulai kau masuk ke dalam gua, sampai bisa keluar!"

"Ba..., baiklah."

Dengan terbata-bata penuh ketakutan, Badrawata mulai menceritakan kejadian ketika pertama kali masuk ke dalam Gua Griwa.

"Tunggu dulu! Kira-kira berapa langkah dari ujung lorong gua sampai kau terperosok ke dalam lubang?" ujar orang bertopeng, menyela cerita Badrawata.

"Kira-kira enam atau tujuh langkah agak ke sebelah kiri...," jelas pemuda itu.

"Bagus! Lanjutkan lagi!"

"Aku jatuh ke dalam kobakan kira-kira sedalam pinggang. Tapi rasanya kedua kakiku tidak menyentuh dasar kobakan. Sepertinya hanya lumpur saja. Di situ terdapat ruangan yang agak besar, seperti sumur yang agak luas yang berdinding karang dan batu-batuan. Secara tak sengaja, aku duduk di atas sebuah batu yang agak besar berbentuk hampir bulat. Batu itu bergoyang-goyang tidak mau diam ketika kududuki. Dan ketika kulihat di bawahnya, ternyata ada terowongan yang menghubungkan lubang itu dengan sebuah ruangan yang agak luas. Di tempat itu aku bertemu orang yang tidak kukenal. Dan dia menolongku keluar dari gua itu," jelas pemuda itu mengakhiri ceritanya.

"Coba ingat-ingat jalan yang kau lalui ketika keluar dari gua itu," kata orang bertopeng itu, meminta penjelasan lagi.

"Mataku tertutup. Jadi, aku tidak tahu apa-apa...," sahut Badrawata.

"Ingat-ingat kataku!" tukas orang bertopeng ini seraya lebih menguatkan cekalan di leher Badrawata.

"Ba..., baik. Tapi, kendorkan dulu cekikanmu. Aku..., aku sulit bernapas."

"Cepat!" bentak orang bertopeng ini seraya mengendorkan cekikannya. Tapi sebelum pemuda itu sempat berkata.

"Badra...! Badrawata...!"

Mendadak terdengar teriakan-teriakan memanggil nama pemuda itu. Tak lama, dari kejauhan terlihat banyak sekali cahaya obor yang bergerak ke arah mereka.

"Kurang ajar!" dengus orang bertopeng itu geram.

Tiba-tiba saja orang bertopeng ini meninggalkan tempat itu. Tubuhnya berkelebat cepat seperti angin. Sementara Badrawata terpaku dan heran sendiri. Tapi hatinya lega juga karena terlepas dari ancaman maut.

"Badra...!"

"Badrawata, di mana kau...?!" Kembali terdengar teriakan, memanggil nama pemuda itu.

"Aku disini, kawan-kawan!" sahut Badrawata seraya berteriak lantang, menghampiri orang-orang yang membawa obor.

"Astaga! Apa yang kau lakukan di sini?! Kami telah mencarimu ke mana-mana!" kata salah seorang pembawa obor yang tidak lain dari murid-murid Perguruan Macan Putih.

"Seseorang menculikku dan membawaku ke sini," jelas Badrawata.

"Pantas! Kami melihat jendelamu terbuka, dan beberapa genteng di atas kamarmu terbuka. Siapa orang itu?" tanya seorang murid.

"Entahlah. Dia memakai topeng hitam."

"Apa maunya darimu?"

"Dia ingin mengetahui keadaan Gua Griwa."

"Huh, kurang ajar! Orang itu pasti ingin mengetahui tentang tempat patung itu berada. Mungkin disangka, kau mengetahuinya!"

"Hei, ada apa ribut-ribut di sini?!"

Mendadak terdengar satu suara yang disusul menyeruaknya kerumunan orang-orang itu. Ketika mengetahui siapa yang muncul, buru-buru mereka memberi jalan seraya menjura hormat.

"Seseorang telah menculik dan membawa Badrawata ke sini, Guru!" jelas salah seorang murid.

"Benar apa yang dikatakannya, Badra?" tanya laki-laki tua yang tak lain Ki Pulung.

"Benar, Guru!"

"Kurang ajar! Sungguh gegabah orang itu. Dia sama sekali tidak memandang mukaku!" umpat Ki Pulung geram.

"Saat itu aku tengah terlelap, Guru. Sehingga, tidak mengetahui kehadirannya...," jelas Badrawata.

"Apa saja kerja kalian yang bertugas jaga?! Seseorang masuk dan menyelinap tanpa kalian ketahui. Dan tahu-tahu dia telah menculik Badra. Masih untung Badra selamat!"

Orang-orang yang merasa bertugas jaga diam membisu, tak berani berkata apa-apa. Mereka memang salah, tapi bukan berarti lengah. Sebab, tugas jaga itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dalam arti, mereka benar-benar menjalankan tugasnya. Baru saja Ki Pulung berkata demikian, lima orang murid segera berlutut seraya menjura hormat

"Ampuni kami. Guru! Kami terima salah atas kejadian ini! Kami memang patut dihukum," ucap mereka bersamaan.

Orang tua itu menarik napas panjang seraya memandangi mereka satu persatu. "Apakah kalian bermain-main dalam menjalankan tugas?" tanya Ki Pulung, menatap tajam.

"Ampun, Guru! Mana berani kami melalaikan tugas yang Guru berikan. Seperti biasa, kami ma-sing-masing bertugas jaga. Dua orang berada di gardu, dan tiga lainnya berkeliling. Begitu seterusnya kami berganti-ganti," jelas salah seorang murid, mewakili keempat kawannya.

"Sudahlah, kumaafkan kelalaian kalian. Orang itu mungkin tidak bisa dianggap sembarangan. Tapi lain kali, perketat penjagaan," ujar Ki Pulung.

"Terima kasih. Guru! Akan kami lakukan yang terbaik untuk tugas itu!"

Ketua Perguruan Macan Putih ini lalu berpaling pada Badrawata. "Kau benar tidak apa-apa?" tanya Ki Pulung lagi.

"Tidak, Guru," jawab Badrawata, singkat.

"Hm.... Apa yang diinginkan orang itu darimu?"

"Dia ingin agar aku menunjukkan seluk-beluk gua itu."

"Hmm.... Syukurlah dia tidak mencideraimu. Sekarang, lebih baik kita kembali ke perguruan."

Ki Pulung segera memerintahkan murid-muridnya untuk kembali ke perguruan.

"Guru! Kurasa orang itu belum jauh. Bagaimana kalau kita cari saja sekarang juga?" tanya seorang murid, memberi usul.

"Tidak! Itu sangat berbahaya. Kalau dia bisa masuk ke perguruan tanpa diketahui, berarti bukan tokoh sembarangan. Aku tidak mau terjadi hal-hal yang buruk pada kalian. Ayo, mari kita pulang!" tolak Ki Pulung.

"Baiklah, Guru!"

Mereka segera melangkah meninggalkan tempat itu. Sedangkan Ketua Perguruan Macan Putih bersama Badrawata berjalan paling belakang.

"Betul kau tak apa-apa, Badra?" tanya laki-lald tua ini lagi, sambil berjalan.

"Betul, Guru," sahut pemuda itu, pendek.

"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dari kami?"

"Maksud, Guru?"

"Tentang pengalaman yang kau alami di gua itu?"

"Bukankah semua sudah kuceritakan, Guru?"

"Sudahlah. Aku hanya berpikir kalau orang yang menculikmu tahu bahwa kau telah keluar dengan selamat dari gua itu. Sehingga, dia mengira kau membawa sesuatu.

"Maksud Guru, patung itu?"

"Iya! Atau mungkin salah satunya."

"Tidak, Guru! Aku sama sekali tidak membawa apa-apa dari gua itu. Apalagi patung itu!" sahut Badrawata, meyakinkan.

"Ya, sudah. Aku percaya, kau anak jujur. Mulai sekarang, kau harus hati-hati. Mungkin banyak orang yang akan mengincarmu karena dia kira kau memiliki patung itu," sergah Ki Pulung.

Badrawata tercekat. Hatinya bergetar mendengar kata-kata gurunya. Satu orang telah berusaha menculiknya. Dan..., entah berapa orang lagi nanti yang akan berusaha menculiknya. Bahkan memaksanya untuk menyerahkan Patung Dewi Ratih yang tidak pernah diketahuinya.

********************

Malam yang semakin larut, menjadi semakin terang benderang oleh cahaya api unggun di pinggiran Hutan Ketapang. Dalam jilatan api unggun, duduk seorang pemuda berbaju rompi putih, menghadap ke perapian di dekatnya. Sesekali mulutnya menguap lebar. Namun, pemuda dengan pedang bergagang kepala burung di punggung itu berusaha untuk tidak memejamkan mata. Suasana terasa sunyi. Sesekali kelelawar terbang di dekatnya. Kadang kala terdengar suara gemeretak ranting yang patah diiahap api.

"Ohhh...!" Kesunyian kembali terpecah oleh suara seseorang yang mengerang lirih. Seketika pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti menoleh. Rupanya, dua tombak di sampingnya berbaring satu sosok tubuh ramping yang tengah menggeliat pelan. Segera didekatinya sosok itu.

"Syukurlah kau telah sadar, Sakaweni...," kata Rangga, perlahan. Agaknya Rangga sudah mengenai sosok ramping yang terbaring itu. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya untuk menegaskan pandangan. Dia memang Sakaweni, seorang gadis berhati sombong dan selalu memandang dengan kecurigaan. Rangga mengenal namanya, ketika paman gadis ini yang bernama Ki Wangsa Kelana menyebut nama Sakaweni (Tentang gadis ini baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode Patung Dewi Ratih). Hanya saja baru kali ini Rangga memanggil nama gadis itu. Sementara Sakaweni sendiri hanya mengenai wajah Rangga, tanpa tahu namanya.

"Oh, kau rupanya! Apa yang telah kau lakukan padaku...?!" sentak Sakaweni, menuntut jawaban secepatnya.

"Aku berusaha mengobatimu, Sakaweni. Kalau kau tidak terima, tak apa-apa. Begitu kau telah merasa sehat, aku akan pergi meninggalkanmu. Jangan khawatir!" sahut Rangga, agak mangkel juga hatinya mendapat jawaban yang menyebalkan.

Gadis itu terdiam tak menjawab. Dalam hati dia berpikir, kok pemuda ini mengenai namanya?

"Minumlah dulu!" ujar Pendekar Rajawali Sakti seraya mengangsurkan sebuah mangkuk yang terbuat dari bambu.

"Ini ramuan obat untuk memperlancar peredaran darahmu."

"Kenapa aku mesti mempercayaimu?" tanya gadis ini dengan suara lemah. Namun, nada bica-ranya tetap curiga dan memperlihatkan ketidaksenangan.

"Terserahlah. Kalau kau takut kuracuni, jangan diminum."

"Aku tidak takut racun. Karena kalau kau menginginkan kematian, tentu akan kau lakukan sejak tadi," kata gadis ini seraya bangkit duduk.

"Lalu, apa?" tanya Rangga dengan kening berkerut.

"Aku khawatir kau akan membiusku. Lalu, berbuat gila padaku tanpa kusadari!" sahut Sakaweni, seenaknya.

"Cukup, Nisanak!" bentak Rangga geram. Bahkan merubah panggilannya pada Sakaweni dengan menyebut nisanak. Seketika Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri. Dipandangnya gadis itu dengan perasaan gusar.

"Entah kenapa aku mesti menologmu. Padahal, aku sadar kalau kau manusia tak tahu diri! Aku menolongmu atas dasar kemanusiaan. Namun kau malah berprasangka buruk terhadapku. Apakah dikira aku manusia bejat? Apakah selama kau tak sadarkan diri aku telah menodaimu? Bukankah kau sekarang bisa merasakannya? Padahal kalau aku mau, sudah sejak tadi kulakukan. Sekarang kau sudah sadar, maka selanjutnya terserahmu! Kalau kau anggap berdekatan denganku membahayakanmu, maka aku akan pergi!" dengus Rangga gusar, seraya melangkah mendekati Dewa Bayu yang selalu setia menunggui.

Secepatnya Pendekar Rajawali Sakti melompat ke punggung kudanya. "Ayo, Dewa Bayu! Kita pergi sekarang!" ujar Rangga.

"Hieee...!" Baru saja Rangga hendak menggebah kudanya....

"Hei, tunggu!" teriak Sakaweni, mencegah kepergian Pendekar Rajawali Sakti.

"Apa lagi?" tanya Rangga, dingin. Sedikit pun kepalanya tak menoleh pada Sakaweni.

Gadis itu tidak langsung menjawab. Namun dia segera bangkit berdiri.

"Ada apa? Apa yang hendak kau katakan? Ingin mencaci-maki lagi sebelum aku pergi?!"

"Kenapa kau pikir begitu?" tanya gadis itu lirih seraya menundukkan kepala.

"Tidak heran. Mungkin kau selalu begitu. Padaku saja, bahkan ingin memenggal kepalaku!"

"Aku..., aku tidak bermaksud begitu...."

"Tapi kenyataannya begitu, kan?" cecar Rangga, baru menoleh seraya menatap tajam.

"Kenapa kau malah memojokkanku?!" bentak Sakaweni mulai berang.

"Nah, mulai lagi!"

Gadis itu memandang Rangga dengan mata melotot. Tapi disadari kalau itu menunjukkan kemarahannya lagi. Pandangannya lantas dibuang sambil menghela napas panjang.

"Mau apa lagi?" tanya Rangga lagi.

"Kau ingin pergi? Meninggalkan aku sendiri di sini?" tanya Sakaweni lirih.

"Bukankah kau tidak suka dengan kehadiranku?" Rangga balik bertanya.

"Aku tidak bilang begitu...."

"Sikapmu mengatakan begitu!"

"Baiklah.... Aku minta maaf!" ucap Sakaweni dengan suara kaku.

"Aku telah memaafkannya sejak dulu...."

"Keadaanku belum pulih betul. Kalau ada yang mengetahuiku di sini, mereka tentu akan menghabisiku. Apakah kau sengaja memberikan aku pada mereka untuk disiksa sesuka hati?"

"Tempat ini aman dari orang-orang itu...."

"Mereka telanjur menyebar fitnah bahwa aku membawa patung itu. Maka tentu saja mereka tidak akan melepaskan aku begitu saja...."

"Lalu apa maumu?"

"Tidak bisakah kau..., kawani aku di sini?" tanya gadis itu dengan nada ragu.

"Kau pasti tidak sungguh-sungguh!"

"Aku bersungguh-sungguh.."

Belum habis kata-kata Sakaweni, mendadak tubuh Pendekar Rajawali Sakti mencelat dari kudanya dan berkelebat ke arah Sakaweni dengan kecepatan tinggi.

"Awaaas...!" seru Rangga memperingatkan.

TIGA

Sakaweni terkejut. Semula dikira Rangga akan berbuat kurang ajar. Tapi sekilas tadi terlihat olehnya sesosok bayangan hitam bergerak cepat ke arahnya. Dan pemuda itu berusaha melindungi dengan bergerak memapak.

Plak! Plak!

"Hup!"

"Yeaaa...."

Tampak Rangga dan sosok bayangan hitam yang baru datang saling pukul dan tangkis. Sebentar kemudian, keduanya terpental ke belakang sambil membuat gerakan salto yang indah. Kemudian dengan bernafsu bayangan hitam itu berkelebat gesit, menyerang pemuda berbaju rompi putih.

"Hmm!" Pendekar Rajawali Sakti yang sudah tegak berdiri dalam keadaan siap menghadapi serangan, hanya menggumam pelan. Namun ketika satu sodokan keras menyambar mukanya, tubuhnya berkelit ke samping. Di luar dugaan, sebelah kaki bayangan itu tiba-tiba menyambar pinggangnya.

Wut!

"Hiih!" Dengan gerakan cepat bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti mencelat ke atas. Kemudian serangan terus mencecarnya. Satu sodokan keras dari sebatang tongkat yang ujungnya runcing tahu-tahu telah mengancam dadanya. Namun keberaniannya luar biasa, Rangga segera menangkapnya disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Tap!

Begitu tertangkap, tongkat itu berputar seperti hendak menggeser telapak tangan Rangga. Pendekar Rajawali Sakti sendiri heran, walaupun tenaga dalamnya telah dikerahkan untuk mencengkeram, tapi tongkat itu seperti belut dengan mudah melepaskan diri dari cengkeraman. Bahkan tiba-tiba tongkat itu menyodok ke arahnya.

Pendekar Rajawali Sakti tak hilang akal. Segera tubuhnya jungkir balik ke belakang dengan kaki kanan menendang batang tongkat kuat-kuat.

Tak!

"Hi hi hi...!"

Baru saja Rangga menjejakkan kedua kaki ke tanah, terdengar suara tawa nyaring dari sosok bayangan yang sempat tergetar mundur ketika tongkat terpapak.

"Hebat! Sungguh hebat kau, Bocah!" lanjut bayangan hitam.

"Hmm!" Kini Rangga baru sadar kalau sosok yang menyerangnya tadi adalah seorang wanita tua berjubah hitam. Rambutnya panjang kelabu dan sebagian telah memutih, dikuncir satu ke atas seperti layaknya gadis belia. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat sebesar lengan orang dewasa, sepanjang satu tombak.

"Bibi Gandasari! Ah, kau rupanya!" seru Sakaweni kegirangan. Agaknya dia mengenali sosok yang baru datang ini. Segera dihampirinya perem-puan tua itu.

"Hi hi hi...! Anak nakal. Apa yang kau lakukan di sini, Sakaweni?! Ibumu pasti cemas memikirkanmu," kata perempuan tua bernama Gandasari.

"Ah! Aku tak apa-apa, Bibi...," kilah Sakaweni.

"Tak apa-apa katamu? Hm. Kulihat sekujur tubuhmu penuh luka? Dan kaupun terluka dalam. Siapa yang berani menyakitimu? Pemuda itukah?" cecar Nyai Gandasari.

"Bukan, Bi. Malah dia yang menyelamatkanku!" sahut gadis itu cepat. Lalu kepalanya berpaling pada pemuda berbaju rompi putih itu.

"Kisanak, ke sinilah! Jangan khawatir. Dia bibiku sendiri!"

"Hei? Bahkan kau sendiri tidak tahu namanya?!" seru Nyai Gandasari, heran.

Sakaweni tersipu-sipu sendiri jadinya. Memang setelah beberapa kali bertemu, gadis ini seperti enggan berkenalan. Bahkan Rangga tahu nama Sakaweni dari Ki Wangsa Kelana.

"Namaku Rangga...," kata si pemuda berbaju rompi putih ini mengenalkan diri seraya menghampiri mereka.

"Hm, Rangga. Bagus sekali, Bocah. Ilmumu tidak rendah. Siapa gurumu?" tanya Nyai Gandasari.

"Beliau hanya orang biasa yang tidak suka disebutkan namanya," sahut Rangga merendah.

"Ya, terserahmu saja. Hm.... Mulai kapan kalian bersama-sama?"

"Hanya secara kebetulan saja, Bi...," jelas Rangga.

Janggal juga rasanya Pendekar Rajawali Sakti memanggil 'Bibi' pada wanita tua ini. Tapi Nyai Gandasari agaknya tidak terlalu mempersoalkan,

"Jadi, kau suka padanya?" cecar perempuan tua ini.

Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu Rangga jadi kaget. Dia tak tahu harus menjawab apa. Sekilas tampak Sakaweni menunduk dengan perasaan jengah. Kalau saja saat itu siang hari, tentu akan terlihat perubahan wajah gadis ini yang bersemu merah, mendengar kata-kata bibinya. Untung saja cahaya api membantu pembahanrona wajahnya, sehingga tidak terlalu menyolok.

"Eh! Aku..., aku hanya sekadar menolongnya. Harap Bibi jangan salah sangka," kilah Rangga, tergagap.

"Kau baru mengenalnya. Dan sudah begitu baik menolongnya. Apa tidak ada keinginan lain? Barangkali, naksir padanya? Dia tidak terlalu jelek, bukan? Aku toh pernah muda. Dan aku tahu watak anak-anak muda!" lanjut Nyai Gandasari terus menyudutkan Rangga dan Sakaweni.

"Bagiku menolong tidak mesti mendapat imbalan...," kilah Rangga lagi.

"Hm, mulia sekali!" puji perempuan tua ini. Namun jelas kata-katanya tidak tulus keluar dari sanubarinya.

"Bibi.... Saat itu kami tengah menghadapi keroyokan banyak orang. Aku terluka dan.... Kakang Rangga menolongku," tengah Sakaweni.

Suara gadis ini ragu ketika menyebut Rangga dengan tambahan 'kakang'. Sempat matanya melirik sekilas pada pemuda itu. Tapi, Rangga diam saja. Tidak memperlihatkan perubahan apa pun pada raut wajahnya.

"Hei?! Siapa yang berani-beraninya mengeroyokmu?!" sentak Nyai Gandasari dengan wajahgarang.

"Orang-orang serakah yang mengingikan patung itu!" sahut Sakaweni, mendengus.

"Patung? Patung apa yang kau maksudkan?"

"Makanya jangan kebanyakan berdiam diri dipertapaan!" umpat gadis itu. "Apakah Bibi tidak tahu kalau belakangan ini Patung Dewi Ratih direbutkan banyak orang?"

"Astaga! Kurang ajar betul!" rutuk Nyai Gandasari sambil mengempalkan kedua tangan. "Lalu, kenapa mereka mengejar-ngejarmu?"

"Ya, karena mereka mengira kalau patung itu ada padaku!"

"Apakah kau merasa memiliki patung itu?"

"Tentu saja tidak! Bagaimana mungkin aku bisa masuk ke dalam gua itu? Kita tahu, kalau tidak seorang pun diperkenankan masuk ke dalam sampai waktu yang ditentukan."

"Tapi pasti mereka punya alasan, sehingga begitu yakin menuduhmu memiliki patung itu?"

"Hm.... Kurasa itu gara-gara ulah Paman Darta Rawon!" jelas gadis ini sambil bersungut-sungut.

"He, ada apa dengannya?" tanya Nyai Gandasari dengan dahi berkerut.

"Kebetulan saat itu aku berada di sekitar wilayah gua itu, tiba-tiba saja muncul Paman Darta Rawon. Dan dia agaknya berusaha menghindarkan keroyokan banyak orang," jelas Sakaweni menceritakan pengalaman selanjutnya.

"Hm.... Sungguh picik orang-orang itu!" desisperempuan tua itu.

"Huh! Ingin rasanya kuhajar mereka satu persatu, Bi!" dengus Sakaweni.

"Jangan khawatir. Akan Bibi balaskan sakit hatimu pada mereka!"

"Terima kasih, Bi. Tapi aku masih sanggup menghadapi mereka!"

"Eee.... Kau tengah terluka! Hati-hati, jangan sampai amarahmu tak terbendung sehingga mencelakakan dirimu sendiri."

"Aku tahu, Bi. Tentu saja akan kuhajar mereka setelah sembuh betul."

"Nah, duduklah. Biar kucoba untuk mengobati luka dalammu!" ujar Nyai Gandasari seraya duduk bersila, diikuti Sakaweni.

Gadis itu duduk membelakangi. Dan kedua telapak perempuan tua ini melekat di punggungnya. Sesaat terlihat keduanya tak ada yang bicara. Hening.

Rangga tahu kalau perempuan tua itu tengah menyalurkan sebagian hawa murninya untuk melancarkan peredaran darah Sakaweni. Sekaligus, mendesak darah-darah beku di tubuhnya agar keluar secepatnya. Juga, memberikan tenaga baru bagi gadis itu.

"Hoeeekh...!" Sakaweni memuntahkan darah kental beberapa kali, sebelum Nyai Gandasari menyudahi pengobatannya.

"Bagus, Weni! Bagaimana keadaanmu kini?" tanya perempuan tua itu, seraya menarik kedua tangannya.

"Lumayan, Bi...."

Nyai Gandasari melihat sebuah bumbung bambu di dekatnya. Ramuan obat yang tadi disodorkan Rangga pada gadis itu. Diambilnya, lalu diciumnya sebentar.

"Hm.... Siapa yang membuatkan ramuan ini?" tanya perempuan tua ini.

Sakaweni tak menjawab. Matanya melirik sekilas ke arah Rangga. Dan perempuan tua ini cepat mengerti.

"Hebat, Bocah! Ternyata kau bukan hanya hebat dalam ilmu olah kanuragan, tapi juga dalam ilmu ketabiban," puji Nyai Gandasari, tulus.

"Aku hanya memiliki sekadarnya untuk mengobati diriku sendiri...," sahut Rangga, merendah.

Sementara, Sakaweni hanya tertunduk malu dengan wajah memerah. Dia tadi sempat menuduh kalau ramuan Rangga berupa ramuan yang membiuskan. Menurut gadis ini bila keadaannya tak berdaya, dengan leluasa Rangga akan menggagahinya.

"Jadi, kenapa kau diamkan saja sejak tadi? Ayo minum!" sentak perempuan tua ini seraya mengangsurkan bumbung bambu itu.

Sakaweni mengambilnya. Lalu matanya melirik sejenak pada pemuda itu, sebelum menenggak isi bumbung bambu sampai habis.

"Rasanya pahit dan getir!" seru Sakaweni dengan wajah berkerut.

"Ya! Tapi, bagus untuk kesehatanmu. Itu akan cepat melancarkan peredaran darah dan mengeringkan luka dalam maupun luka luar," tegas Nyai Gandasari seperti tahu betul khasiat ramuan obat yang dibuat Rangga.

Apa yang dikatakan perempuan tua ini memang terbukti beberapa saat kemudian. Khasiat ramuan obat itu cepat bekerja, di dalam tubuh gadis itu. Hawa hangat menjalar dari bawah perut kesekujur tubuhnya, menimbulkan perasaan segar. Bahkan membuat tubuhnya terasa enteng.

"Bagaimana?" tanya Nyai Gandasari.

"Aku merasa lebih baik, Bi," jawab Sakaweni, tersenyum manis.

"Bagus! Nah, apa rencanamu selanjutnya? Kau ingin ikut denganku atau...."

Perempuan tua ini tak melanjutkan kata-katanya. Malah matanya melirik pada Pendekar Rajawali Sakti sambil tersenyum penuh arti.

"Eh! Aku akan melaporkan hal ini pada, ibu, Bi...," kata gadis itu, tersipu malu.

"Ya. Begitu memang baik."

"Bibi tidak biasa-biasanya keluar dari pertapaan. Apakah ada sesuatu yang Bibi kerjakan?" tanya Sakaweni, seperti ingin mengalihkan perhatian.

"Ya! Kebetulan aku lewat tempat ini. Dan dari kejauhan kulihat kau dan bocah ini. Lalu, aku tergerak untuk ke sini," jelas perempuan tua ini.

"Apakah..., apakah Bibi tidak berniat membereskan soal patung itu?"

"Hi hi hi...! Bocah manis, untuk apa Bibi ikut campur persoalan yang bukan urusan kita?"

"Tapi..., tapi bukankah kita berkewajiban melindunginya, Bi?"

"Patung itu telah memiliki pelindung. Dan, tak perlu lagi kita bersusah-payah melibatkan diri."

Sakaweni diam saja mendengar jawaban bibinya.

"Aku hendak pulang. Apakah kau akan ikut denganku?"

"Eh! Ng..., biarlah nanti aku pulang sendiri, Bi."

"Ya, ya. Aku tahu!" kata Nyai Gandasari seraya tersenyum manis ketika melirik Rangga. "Baiklah.... Jaga dirimu baik-baik, Anak Manis. Aku pergi dulu."

Setelah berkata demikian, perempuan tua ini berkelebat cepat meninggalkan mereka berdua. Sebentar saja tubuhnya hilang ditelan kegelapan malam. Sementara kedua anak muda itu terdiam sejurus lamanya.

"Kau telah tahu namaku...," kata gadis ini, memecah kebisuan. Nadanya lebih ramah ketimbang sebelumnya.

"Dan kau juga telah tahu namaku, bukan?" tukas Rangga.

Gadis itu mengangguk. "Terima kasih, kau telah selamatkan nyawaku...," ucap gadis ini lirih.

"Sudahlah, jangan pikirkan hal itu," ujar Rangga sambil mengulapkan tangannya.

"Maaf, aku..., eh! Aku memang selalu berprasangka buruk pada setiap orang yang tidak kukenal. Apalagi laki-laki."

"Itu baik. Tapi kecurigaan yang membabi-buta, terkadang merugikan."

"Ya, kau benar. Sekali lagi..., maafkan sikapku yang buruk padamu."

"Tidak apa. Aku berusaha menghilangkan hal-hal buruk dalam benakku."

"Ada satu lagi permintaanku. Hm.... Sudikah kau mengabulkannya?" tanya Sakaweni seraya tersenyum manis.

"Apa itu?"

"Aku ngantuk sekali. Dan aku merasa butuh istirahat secepatnya. Kau bersedia menjagaiku, bukan?"

Tanpa menunggu jawaban Rangga, Sakaweni membaringkan tubuhnya di dekat perapian seraya memejamkan mata. Sebentar saja sudah terdengar dengkurannya yang halus, seirama dengan tarikan napasnya.

"Sial! Dikiranya aku pembantunya barangkali!" rutuk pemuda itu di hati.

Nyenyak sekali Sakaweni terbuai dalam mimpi. Tubuhnya baru menggeliat bangun ketika matahari mulai menampakkan diri di ufuk timur. Sebentar dia mengucek-ngucek matanya. Bau harum daging panggang langsung menusuk hidungnya. Sebentar saja Sakaweni bangkit, dan langsung melihat Rangga tengah menggeragoti sepotong daging panggang.

"Perutku jadi lapar...," kata gadis ini pelan.

"Kusediakan dua potong untukmu!" tunjuk Rangga pada daging setengah matang di atas rumput yang berada dekat dengannya. "Kau tinggal membakarnya sebentar lagi, lalu matang."

Tanpa mempedulikan keadaannya lagi, Sakaweni cepat menyambar dua potong daging panggang itu dan membakarnya sebentar. Lalu masih panas-panas digeragotinya sedikit demi sedikit. Sesekali, wajahnya terlihat meringis dan mulutnya meniup-niup daging panggang itu.

"Kasihan. Kelihatannya kau lapar sekali. Kalau suka, kau boleh memakan bagianku," kata Rangga menawarkan bagiannya yang tinggal sedikit.

Sakaweni memandang sebentar lalu menyambar daging panggang Rangga. Langsung disantapnya daging panggang dengan nikmat. Sebentar saja makanan lezat itu telah berpindah tempat ke dalam perutnya.

"Semalam kau tertidur seperti orang mati...," kata Rangga.

Gadis itu hanya tersenyum malu, lalu mengalihkan perhatian pada daging panggangnya yang belum matang.

"Bagaimana keadaan Paman Wangsa Kelana?" tanya Sakaweni seperti mengalihkan perhatian. Atau juga, untuk menutupi perasaan jengah di hatinya.

"Ketika kutinggalkan, beliau tengah kerepotan menghadapi lawan-lawannya. Mudah-mudahan saja dia selamat dan bisa meloloskan diri...."

"Dia pasti selamat!" sahut gadis itu, yakin.

"Mudah-mudahan saja. Musuh-musuhnya terlalu tangguh...," desah Rangga, kurang yakin.

"Kau meragukan kemampuan beliau?" tukas Sakaweni.

"Beliau mungkin saja hebat. Tapi yang dihadapinya pun bukan orang sembarangan...."

"Hei? Jangan merendahkan keturunan pembantu Dewi Ratih!" sahut gadis itu gusar.

"Pembantu Dewi Ratih? Apa maksudmu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti dengan kening berkerut.

Sakaweni tercekat. Dia kelepasan omong. Dan hal itu agaknya tidak bisa ditarik lagi. Pemuda itu telah mendengarnya. Padahal, itu mesti dirahasiakan pada orang lain.

"Ada apa, Weni? Siapa yang kau maksudkan sebagai keturunan pembantu Dewi Ratih? Ki Wangsa Kelanakah?" desak Pendekar Rajawali Sakti.

"Eh, tidak! Tidak apa-apa. Aku hanya bergurau," sahut gadis itu sambil tersenyum.

Rangga hanya mengangguk sedikit. Dia dapat merasakan kebohongan gadis itu. Tapi kalau Sakaweni bermaksud menyembunyikan sesuatu, apa gunanya dia mendesak? Toh itu bukan urusannya?

"Hm.... Perutku sudah agak kenyang!" kata Sakaweni setelah menyantap daging panggang bagiannya. "Apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku akan melanjutkan perjalanan...."

"Hm, ya! Selamat menempuh perjalanan!"

"Kau sendiri hendak ke mana?"

"Seperti yang kukatakan semalam, aku akan pulang."

"Baiklah. Hati-hati."

"Terima kasih sekali lagi atas pertolonganmu. Juga, makanan itu! Aku pergi dulu!" pamit Sakaweni seraya berbalik dan melangkah panjang meninggalkan Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti mematikan perapian, lalu melompat ke punggung kudanya. Diperhatikannya gadis itu sejurus lamanya, sampai hilang dari pandangan. Kemudian dia mengambil jalan ke kiri.

"Ayo, Dewa Bayu. Kita pergi dari sini!"

Tapi belum lagi Rangga menggebah kuda, perasaannya jadi tak enak. Gadis itu berusaha merahasiakan sesuatu padanya. Ada apa? Kenapa? Lalu, apa hubungannya dengan wanita tua semalam? Lalu, siapa pula Ki Wangsa Kelana itu? Hm.... Rasanya dia memiliki kaitan dengan pemilik patung itu. Berpikir begitu, Rangga membalikkan arah kudanya, mengambil jalan yang tadi ditempuh gadis itu. Segera digebahnya Dewa Bayu.

"Ayo, Dewa Bayu! Kita lihat, apa yang coba disembunyikan dari kita!" ujar Pendekar Rajawali Sakti.

Dewa Bayu meringkik halus, lalu berlari pelan seperti yang dikehendaki majikannya. Bagaimanapun, dia tidak ingin kalau Sakaweni mengetahui dia dibuntuti. Baru saja Dewa Bayu melesat beberapa puluh tombak, mendadak....

Trang! Trang!

"Yeaaat...!"

"Hei?!" Rangga terkejut sendiri ketika pada jarak tangkap pendengarannya terdengar suara pertarungan seru di depan.

"Ayo, Dewa Bayu! Coba lari lebih kencang!" ujar Pendekar Rajawali Sakti seraya menggebah kudanya.

Pikiran Rangga langsung terlintas akan bahaya yang dialami gadis itu. Dan..., ternyata benar saja! Pada sebuah tempat yang amat luas di bawah sana, terlihat tiga orang bertopeng hitam tengah mengeroyok Sakaweni.

"Serangan-serangan mereka ganas! Jelas mereka ingin menghabisi gadis itu secepatnya dari sini!" gumam Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti segera melompat dari punggung kudanya, dan langsung mencelat hendak membantu.

"Heaaat...!" Pendekar Rajawali Sakti mendarat tepat di samping Sakaweni. Dan gadis itu hanya tersenyum kecil melihat kehadiran Rangga. Mereka pun segera saling memilih lawan masing-masing.

EMPAT

"Sebenarnya aku masih mampu menghajar mereka," kata Sakaweni.

"Ya, aku tahu. Tapi entah kenapa, aku tak bisa membiarkanmu terancam bahaya," sahut Rangga cepat.

"Kukira kau tak peduli...."

"Siapa mereka?" tanya Rangga, berusaha mengalihkan perhatian.

"Kenapa tidak kau tanyakan langsung?" tukas Sakaweni.

"Ya, kau benar!"

Begitu kata-katanya habis, Rangga segera meluruk dengan kepalan tangan kanan menuju ke muka salah satu orang bertopeng. Namun serangannya segera dipapaki dengan sabetan pedang. Maka, buru-buru Pendekar Rajawali Sakti menarik pulang tangannya.

"Hup!" Kemudian Pendekar Rajawali Sakti mencelat ke atas sambil jungkir balik. Namun, pada saat yang sama orang bertopeng itu berbalik. Kembali pedangnya disabetkan.

Wuttt!

"Uts!" Pendekar Rajawali Sakti cepat merendahkan tubuhnya, sambil melepas tendangan berputar ke dada. Dan....

Duk!

"Aaakh...!" Orang bertopeng itu menjerit kesakitan begitu tendangan Rangga mendarat telak di dada. Tubuhnya kontan terjungkal ke belakang. Namun dengan gesit, dia bangkit kembali. Langsung diserangnya Pendekar Rajawali Sakti tanpa menghiraukan rasa sakitnya.

"Yeaaa...!"

Bet! Wuuut!

Pedang di tangan orang bertopeng itu menyambar-nyambar mengincar seluruh tubuh Rangga. Tapi dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', Rangga berusaha menghindarinya. Tubuhnya meliuk-liuk indah, seperti orang mabuk.

"Siapa sebenarnya kalian? Dan, apa yang kalian inginkan dari gadis itu?!" bentak Pendekar Rajawali Sakti sambil terus berkelit lincah.

"Huh! Mampuslah kau!" dengus orang berto-ping itu sambil membabatkan pedangnya.

"Uts!" Nyaris ujung pedang orang bertopeng itu menyambar leher Rangga, kalau tak cepat mencelat ke belakang.

Yeaaa...!"

Orang bertopeng itu terus mengejar sambil mengibaskan pedang. Rangga yang baru saja menjejak tanah cepat menjatuhkan diri. Tubuhnya segera bergulingan ditanah sebentar seraya mengayunkan tendangan.

"Hiih!" Orang bertopeng itu terkejut. Namun dia cepat melompat ke belakang. Sementara, Rangga telah melenting bangkit. Saat itu juga tubuhnya berkelebat cepat melepaskan satu hantaman lewat jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Desss...!

"Aaakh...!" Orang itu kontan terjajar ke belakang begitu sambaran telak Rangga menghantam dadanya. Saat itu juga napasnya terasa sesak. Matanya berkunang-kunang. Dan belum sempat dia menguasai diri, Rangga telah melepas tendangan berputar ke perut.

Bugkh...!

"Hoaakh!" Kontan orang bertopeng itu terjungkal disertai semburan darah segar. Sebelum dia bangkit, Rangga telah mencengkeram leher baju sambil menepiskan senjata.

"Aku bisa memecahkan batok kepalamu sekarang juga! Maka cepat katakan, apa yang kalian inginkan dari gadis itu?!" gertak Rangga.

"Hiih...!"

Plup!

"Hei?!" Rangga terkejut karena tiba-tiba orang bertopeng itu meraup sesuatu dari pinggangnya. Dan secepat itu pula memasukkannya ke mulut. Seketika tubuhnya kejang-kejang dengan sepasang mata melotot tajam. Sesaat kemudian, dia menggelepar tak berdaya. Dari mulutnya keluar cairan merah bercampur cairan kuning berbusa.

"Sial! Dia malah meracuni dirinya sendiri!" dengus Pendekar Rajawali Sakti seraya melepas cengkeramannya.

"Aaa...!"

Pada saat yang hampir bersamaan, Sakaweni berhasil menumbangkan orang bertopeng lainnya. Maka kini, sisa orang bertopeng itu tinggal satu.

Ketika melihat Pendekar Rajawali Sakti ikut mendekati, sisa orang bertopeng ini mundur beberapa langkah. Dari sorot matanya terlihat ketakutan. Apalagi ketika Sakaweni ikut pula mendekati.

"Lebih baik katakan, apa yang kau inginkan dari gadis ini? Kenapa kalian berniat membunuhnya?" tanya Rangga, dingin.

"Huh! Percuma saja kalian coba mendesakku!" dengus orang bertopeng ini.

"Kalau begitu, kau akan mati!" ancam Sakaweni.

"Ha ha ha...! Mati? Kau kira aku takut mati?" leceh orang bertopeng.

"Tenang dulu, Weni!" cegah Rangga ketika melihat gadis itu akan melompat menyerang.

"Kenapa? Dia ingin mati, maka akan kukabulkan permintaannya!"

"Terlalu enak. Bukankah dia ingin mati? Jadi kalau kau mengabulkannya, maka musuh akan senang. Buatlah dia tidak senang. Maka kita akan puas," kata Rangga.

"Caranya?"

"Buat dia mati pelan-pelan. Kalau perlu sehari, dua hari, atau seminggu!"

"Hm, usul bagus!" gumam Sakaweni sambil tersenyum mengancam.

"Huh! Kalian tidak akan bisa melakukan apa pun terhadapku!" dengus orang bertopeng.

"Apa? Mau membunuh diri seperti kawanmu tadi? Cobalah lakukan. Aku ingin lihat, mana lebih cepat tanganmu atau pedang ini!" ancam Pendekar Rajawali Sakti, seraya menimang-nimang pedang yang tadi berhasil dirampasnya dari salah satu orang bertopeng.

Entah kenapa, orang bertopeng itu termakan gertakan Pendekar Rajawali Sakti. Padahal jarak mereka saat itu terpaut sekitar empat langkah. Dari gerakannya, orang bertopeng ini bukan tokoh berilmu rendah. Kalau mau adu cepat, mungkin saja dia mampu mengambil pil racun di balik pinggang, dan langsung menelannya. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Entah takut dengan ancaman pemuda itu, atau tak yakin dengan kemampuannya sendiri.

"Pilih! Mau kupatahkan tanganmu dulu atau kedua kakimu?!" ancam Sakaweni.

"Huh!" Orang bertopeng itu hanya mendengus sinis. Sama sekali rasa takutnya tidak ditunjukkan.

"Aku tidak bisa menunggu lama. Katakan! Apa maksud kalian hendak membunuh gadis ini?!" cecar Rangga.

"Kalian tidak akan bisa memaksaku!" dengus orang bertopeng.

"Kurang ajar!" Sakaweni jadi geram bukan main melihat jawaban orang bertopeng itu. Seketika dia melompat sambil mengibaskan pedang.

"Heaat!"

Tapi orang bertopeng itu ternyata tidak tinggal diam. Dia cepat menangkis dengan sengit.

Trang!

"Bagus! Setelah nyawamu terancam kau bermaksud bunuh diri, he?!"

"Kau harus mampus, Gadis Liar!" dengus orang bertopeng, langsung menyerang dengan tusukan-tusukan pedangnya.

"Huh! Buktikan kalau kau mampu!"

Pedang di tangan gadis itu bergerak lincah memapaki setiap serangan. Bahkan sekaligus balas menyerang dengan gencar. Dan tatkala jurus-jurus ilmu pedangnya mulai dikerahkan, orang bertopeng itu mulai terdesak hebat.

"Hiih!"

Trang!

Satu tebasan menyilang Sakaweni yang mengancam leher, dapat dipatahkan. Tapi bersamaan dengan itu, Sakaweni mengayunkan kaki kanan. Begitu cepat gerakannya, sehingga tak terhindarkan lagi. Dan....

Duk!

"Aaakh!" Orang bertopeng itu mengeluh kesakitan sambil terhuyung-huyung ke belakang saat tendangan Sakaweni menghantam dadanya.

"Yeaaa...!"

Sakaweni tak memberi kesempatan. Secepat itu pula tubuhnya mencelat seraya mengibaskan pedang mengancam leher.

"Hup!" Dalam keadaan demikian orang bertopeng masih sempat melindungi diri dengan mengibaskan pedang.

Trang!

Namun, senjata gadis itu terus meliuk-liuk, dan kembali berbalik dari bawah menyambar perut.

Bret!

"Aaakh...!" Orang bertopeng itu terpekik. Seketika celananya putus ditebas pedang Sakaweni. Tapi bukan itu yang membuatnya berteriak kesakitan, melainkan karena perutnya robek disambar ujung pedang.

"Ini yang kedua!" dengus gadis itu, kembali mengibaskan pedangnya ke arah tangan.

Tes!

"Aaakh...!" Untuk kesekian kalinya, orang bertopeng itu terpekik. Pergelangan tangan yang memegang pedang langsung putus dibabat senjata Sakaweni.

"Katakan! Apa maumu ingin melenyapkanku?!" bentak gadis itu mengancam dengan ujung pedang menyentuh leher.

"Bunuhlah! Aku tidak takut mati!" desis orang bertopeng ini.

"Membunuh mudah. Tapi jangan harap akan kau dapatkan begitu mudah. Seperti kata kawanku tadi, kau akan mati pelan-pelan! Dengan cara yang mengenaskan! Begitu lebih pantas bagimu. Kecuali, kau mau menjawab beberapa pertanyaan dengan jujur!" desis gadis itu.

Orang bertopeng itu terdiam. Mungkin tengah berpikir. Atau, pasrah menerima nasibnya.

"Kenapa kau ingin membunuhku?!" ulang Sakaweni geram.

"Begitu perintahnya!" sahut orang bertopeng ini.

"Perintah siapa?" desak Sakaweni.

"Majikan kami."

"Siapa?"

"Aku tidak tahu. Dia selalu bertopeng."

"Hm.... Di mana majikanmu itu?"

"Di Bukit Kera."

"Bukit Kera? Bukankah itu tempat Goa Griwa berada? Kau pasti tahu di mana tempatnya majikanmu berada. Katakan!"

"Aku tidak tahu!"

"Katakan! Atau, kutebas lehermu?!" bentak Sakaweni.

"Hiih!"

Jrees!

"Akh!" Rupanya, kesempatan itu digunakan orang bertopeng untuk memajukan kepalanya. Sehingga, lehernya tertembus ujung pedang. Dia mengeluh tertahan. Matanya melotot lebar, sebelum akhirnya ambruk tak berdaya.

"Sial!" umpat Sakaweni seraya mencabut pedang. Dibersihkannya noda darah pada baju korbannya.

"Seharusnya kau perhitungkan kemungkinan itu. Kawannya bunuh diri. Maka, dia pasti akan mengikuti jejaknya...," kata Rangga, datar.

Tapi, Sakaweni tidak tertarik dengan penyesalan Rangga. Dia justru sibuk memikirkan, kenapa ada orang yang hendak membunuhnya?

"Siapa? Apa yang diinginkannya dariku?" gumam gadis ini aneh.

"Mungkin dia mengira kau memiliki patung itu...."

"Hm, aku tidak yakin."

"Kau dikejar sejak di wilayah Gua Griwa. Dan semula, mereka menduga bahwa kau memiliki patung itu."

Gadis itu terdiam seperti memikirkan sesuatu. Tapi, tidak juga kunjung ketemu.

"Hm.... Aku harus mencari jawabannya di Bukit Kera!" tandas gadis ini.

"Kalau kau datang ke sana, berarti mencari penyakit!" kata Rangga mengingatkan.

"Aku harus tahu, siapa yang menyuruh mereka!" sergah Sakaweni seraya berbalik arah menuju Bukit Kera, tempat Gua Giiwa berada.

Rangga menghela napas pendek. Sambil menggeleng lemah, dia menghampiri kudanya. Langsung dinaikinya Dewa Bayu. Entah kenapa, Pendekar Rajawali Sakti malah kembali mengintili gadis itu dari belakang.

********************

Satu sosok tubuh berjubah hitam berdiri tegak dengan tajam bersedekap. Sudah sekian lama dia berdiri di sebuah bukit kecil yang penuh semak-semak. Sepertinya, sosok ini tengah menunggu seseorang. Benar saja. Tak lama, muncul satu sosok lain yang langsung berlutut di hadapan sosok berjubah hitam.

"Hamba datang, Tuanku Jubah Hitam," kata sosok yang baru datang ini.

"Hm, bagaimana tugasmu?" tanya sosok yang dipanggil Jubah Hitam dengan suara di hidung. Sikapnya seperti tak peduli.

"Aku telah menghubungi beberapa orang. Dan mereka mampu membuat benda itu," jelas sosok yang baru datang. Wajahnya tidak jelas, karena terselubung kain hitam.

"Bagus! Lalu, orang-orang yang akan digiring ke dalam gua?" tanya Jubah Hitam.

"Ada lima puluh orang lebih," jawab sosok bertopeng hitam.

"Hmm!" Si Jubah Hitam menggumam dengan anggukan puas.

"Tapi, tiga orang yang ditugasi menghabisi gadis itu belum kembali...," lanjut orang bertopeng itu.

"Hm.... Kalau mereka gegabah, pasti akan menemui ajal."

"Apakah Tuanku kira mereka gagal menjalankan tugas?"

"Kukira begitu. Kirim orang lain untuk menangani mereka. Hati-hati! Aku khawatir, pemuda itu ikut bersamanya," ingat Jubah Hitam.

"Baik, Tuanku!"

"Hmm...!" Si Jubah Hitam tiba-tiba mendengus dingin. Pendengarannya yang tajam seperti menangkap desah napas, selain mereka berdua. Jadi jelas ada orang lain di tempat ini. Dan setelah bisa memastikan tempat orang yang mencuri dengar pembicaraan ini, si Jubah Hitam memutar tubuhnya. Seketika kedua tangannya menghentak ke arah semak-semak di belakangnya, melepaskan pukulan jarak jauh.

"Hiih!"

Bres!

Krak!

Serumpun semak yang dihantamnya kontan tecerabut dari akarnya. Sementara sebatang pohon di dekatnya hancur berantakan, menandakan kehebatan pukulan jarak jauh yang dilancarkan si Jubah Hitam. Hampir bersamaan, melesat sesosok tubuh dengan lincah. Tubuhnya bergulung-gulung di udara beberapa kali, lalu mendarat di dekat orang berjubah hitam itu.

"Hm, hebat sekali!" puji sosok yang tadi bersembunyi, dan ternyata seorang laki-laki setengah baya.

"Rupanya ada yang coba mencuri dengar pembicaraanku! He, jangan kira aku tak tahu kehadiranmu di sini!" dengus si Jubah Hitam.

"Syukurlah kalau kau tahu. Aku sekadar ingin membuktikan bahwa orang-orang yang mengejarku punya alasan. Dan ternyata benar. Kau adalah dalangnya!" tuding laki-laki setengah baya yang baru muncul. "Hanya aku tidak mengerti, mengapa kau menginginkan kematianku."

"Tuanku! Perkenankan aku membereskan orang ini!" ujar orang bertopeng yang tadi berlutut di depan si Jubah Hitam.

"Tidak perlu! Pergilah. Dan, panggil yang lain. Kalian hanya perlu berjaga-jaga agar dia tidak bisa kabur lagi!" ujar si Jubah Hitam.

"Baik, Tuanku!" sahut orang bertopeng ini lalu berlalu.

"He, memandang rendah padaku rupanya!" dengus laki-laki setengah baya itu tersenyum sinis.

"Apa yang mesti kupandang tinggi darimu, Darta Rawon?"

"Hm, kau kenal aku rupanya!" kata laki-laki setengah baya yang tak lain Ki Darta Rawon.

"Aku bahkan banyak tahu tentangmu."

"Itu membuatku semakin penasaran untuk menyingkap wajah di balik topeng yang menginginkan nyawaku!" dengus Ki Darta Rawon.

Cring!

"Heaaat...!"

Tanpa buang-buang waktu lagi, laki-laki setengah baya itu mencabut pedang pendek dari balik bajunya yang lebar. Lalu langsung diserang si Jubah Hitam yang ternyata juga mengenakan selubung kain hitam pada wajahnya.

Bet! Bet!

"Hi hi hi...! Kau mengeluarkan jurus 'Pelangi Berwarna Lima'?" ejek si Jubah Hitam seraya melompat ke sana kemari menghindari serangan.

"Siapa kau sebenarnya?!" bentak Ki Darta Rawon. "Tidak banyak yang mengetahui jurus ilmu pedangku!"

"Apa hebatnya jurus ilmu pedang bulukan itu? Aku bahkan mampu memunahkannya!"

"Buktikan!"

"Hmm!" Si Jubah Hitam mendengus kasar! Lalu tongkatnya diputar sedemikian rupa. Dan tiba-tiba tubuhnya mencelat menyerang.

Secepat kilat Ki Darta Rawon mengebutkan pedang pendeknya, memapak.

Trang!

Dari benturan ini, Ki Darta Rawon mulai merasakan kedahsyatan ilmu pedang si Jubah Hitam yang dimainkan dengan menggunakan tongkat. Kuat dan ganas! Beberapa kali dia mesti mengeluh tertahan, tatkala pedangnya berbenturan dengan tongkat. Terasa himpitan tenaga dalam besar yang membuat tubuhnya bergetar.

Ki Darta Rawon melompat ke belakang. Tapi sebelum kedua kakinya menjejak di tanah, serangan si Jubah Hitam telah kembali datang.

"Heaaat...!" Dengan gesit laki-laki setengah baya itu mengibaskan pedang untuk menangkis.

Trang!

Bahkan Ki Darta Rawon masih harus bergulingan ke samping, tatkala tendangan si Jubah Hitam menyusuli. Si Jubah Hitam terus mengejar sambil mene-baskan ujung tongkatnya yang runcing, Tubuhnya melayang di atas tubuh Ki Darta Rawon. Namun dengan sekuat tenaga, laki-laki setengah baya itu terus bergulingan menghindarkan diri, sambil memutar-mutar pedangnya.

Trang!

"Hup!" Dalam satu kesempatan Ki Darta Rawon melenting ke belakang lagi. Senjatanya masih sempat menangkis sodokan tongkat yang mengincar perutnya.

"Yeaaap!"

LIMA

Namun tanpa disangka-sangka, si Jubah Hitam meluruk sambil melepas tendangan kilat bertenaga dalam tinggi ke dada Ki Darta Rawon.

Desss...!

"Aaakh...!" Ki Darta Rawon menjerit tertahan begitu tendangan itu mendarat didadanya. Tubuhnya langsung terhuyung-huyung ke belakang.

"Keparat!" dengus laki-laki setengah baya ini geram.

"Hi hi hi...!"

"Sebentar lagi akan kusumpal mulutmu, Kuntilanak!" bentak Ki Darta Rawon seraya membuka jurus baru.

"Hm... Jurus apa lagi yang hendak kau andalkan? Ayo, keluarkanlah semuanya!"

Tanpa banyak kata lagi, Ki Darta Rawon langsung meluruk menerjang ganas. Pedangnya menyambar ke pangkal leher, lalu berpindah ke pinggang. Namun si Jubah Hitam hanya mencelat kebelakang menghindarinya. Ki Darta Rawon terus mengejar. Mau tak mau si Jubah Hitam harus memapaki serangan dengan tongkatnya.

Trang!

Si Jubah Hitam memegang tongkatnya tepat tengah-tengah. Sehingga kedua ujungnya dengan bebas selalu dapat menangkis pedang Ki Darta Rawon. Dan tatkala pedang itu menebas bahu kanannya, ujung tongkatnya cukup dinaikkan sedikit.

Dari hasil benturan senjata barusan, tubuh Ki Darta Rawon terjajar beberapa langkah. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh si Jubah Hitam.

Belum sempat Ki Darta Rawon memperbaiki keseimbangan, tongkat si Jubah Hitam telah menghantam persis di pergelangan tangan gagang pedangnya.

Tuk!

"Ahh...!" Pedang di tangan Ki Darta Rawon terpental. Dan laki-laki setengah baya ini mengeluh tertahan. Belum lagi dia sempat berpikir untuk melakukan sesuatu, tongkat si Jubah Hitam telah menyodok ke ulu hatinya.

Duk!

"Akh!" Laki-laki itu menjerit kesakitan. Tubuhnya kembali terhuyung-huyung kebelakang sambil mendekap perutnya. Sementara, si Jubah Hitam terus mendekati. Tubuhnya berputar sebentar, seraya mengayunkan satu tendangan keras ke dada.

Desss...!

"Aaakh...!" Ki Darta Rawon terjungkal, kembali menjerit kesakitan. Kali ini dari mulutnya menyembur darah segar akibat tendangan barusan.

"Keparat! Siapa sebenarnya kau?! Sepintas lalu, aku kenal dengan jurus-jurus ilmu silatmu!" desis Ki Darta Rawon seraya berusaha bangkit dengan wajah berkerut geram.

"O, begitu? Apa hebatnya jurus-jurus itu?" tukas si Jubah Hitam.

"Siapa kau sebenarnya? Apa yang kau inginkan dariku?!"

"Apa sebenarnya yang kuinginkan darimu? Hm, tentu saja yang tidak diketahui oleh banyak orang."

"Kalau kau kira aku memiliki patung itu, maka sia-sia saja! Patung itu tidak ada padaku!"

"Aku tahu! Kau tidak akan mampu merebut patung itu seorang diri!"

"Lalu, apa yang kau inginkan dariku?!"

"Ini!" Si Jubah Hitam bergerak cepat. Mendadak salah satu ujung tongkatnya melesat ke jidat Ki Darta Rawon.

Ki barta Rawon memejamkan mata seraya menunduk pasrah. Dia memang tidak berusaha menghindar. Tapi, si Jubah Hitam sebenarnya bukan ingin membunuhnya. Melihat sikap lelaki ini, tongkatnya ditarik pulang. Dan mendadak dua buah jari kirinya menotok dua kali urat gerak laki-laki setengah baya itu.

Tuk! Tuk!

"Oh...!" Saat itu juga, Ki Darta Rawon ambruk tak berdaya, dengan tubuh terasa lemah.

"Hi hi hi...! Terlalu enak bagimu kalau mesti mati!" kata si Jubah Hitam seraya tertawa nyaring.

"Bangsat terkutuk! Apa sebenarnya yang kau inginkan?!" dengus Ki Darta Rawon geram, namun tak mampu berbuat apa-apa lagi.

"Nanti kau akan tahu sendiri."

Si Jubah Hitam menoleh ketika mendengar derap langkah beberapa orang. Tampak lima orang bertopeng hitam telah muncul di tempat ini. Cepat diberinya isyarat pada kelima orang itu agar mendekat.

"Ikat dia dan bawa ke tempat biasa!" ujar si Jubah Hitam.

"Baik, Tuanku Jubah Hitam!"

Sementara Ki Darta Rawon hanya mampu memaki-maki. Sedangkan si Jubah Hitam hanya membalasnya dengan tawa dingin.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Menjelang tengah hari Rangga dan Sakaweni tiba di kaki Bukit Kera. Beberapa orang kelihatan mempunyai niat sama, yaitu menuju Gua Griwa.

Agaknya daya tarik Patung Dewi Ratih yang digembar-gemborkan itu telah menyebar ke mana-mana. Sehingga, bukan saja tokoh-tokoh kelas bawah yang datang, tapi tokoh-tokoh utama pun agaknya tertarik.

"Hm, hebat sekali! Aku sendiri tak yakin, apakah cerita itu memang benar," gumam pemuda berbaju rompi putih itu seraya menuntun Dewa Bayu.

"Cerita itu memang benar," sahut Sakaweni.

"Bagaimana kau bisa yakin?"

"Pokoknya cerita itu benar, titik! Kau tidak perlu tahu, dari mana aku bisa begitu yakin."

"Apakah karena kau keturunan pembantu Dewi Ratih?" pancing Pendekar Rajawali Sakti.

"Hem!"' Sakaweni menoleh sambil menatap tajam pada Rangga.

"Benarkah?" usik Rangga.

"Aku tidak bisa cerita padamu."

"Kau hanya menjawab ya atau tidak. Atau menggeleng dan mengangguk. Tidak sulit, kan?"

Gadis itu diam tak menjawab.

"Kurasa ini bukan menjadi urusan pribadi," kata Rangga lagi.

"Apa maksudmu?" tanya Sakaweni.

"Telah banyak yang jadi korban. Dan orang-orang ini. Siapa tahu mereka akan jadi korban berikutnya. Jadi kalau kau tahu sesuatu, katakan! Barangkali aku bisa membantu," desak Rangga.

Sakaweni menghela napas panjang.

"Ayo, Weni! Katakanlah! Apakah dengan mengatakan rahasia itu kau akan kena kutuk menjadi seekor kodok, misalnya? Atau barangkali kena penyakit kusta? Atau apa?!"

"Aku tidak bisa...."

"Katakanlah! Tidakkah kau bisa percaya padaku, setelah kutunjukkan itikad baikku selama ini?"

Sakaweni masih tetap terdiam. Rangga menghela napas panjang melihat sikap gadis itu.

"Baiklah... Kalau kau tetap pada kemauanmu merahasiakan semua ini, tak apa...," lanjut Sakaweni pasrah.

"Baiklah aku akan cerita. Kuharap saja, ada gunanya. Tapi kau adalah orang luar satu-satunya yang akan tahu rahasia ini...," desah Sakaweni.

"Aku berjanji akan memendamnya sendiri!"

"Sebenarnya aku memang seperti yang kau duga tadi..."

"Keturunan pembantu Dewi Ratih?"

Gadis itu mengangguk. "Konon menurut hikayat yang diceritakan padaku, Dewi Ratih seorang putri raja yang memilih hidup sebagai seorang pertapa. Beliau memiliki kesaktian hebat. Mempunyai tiga orang dayang-dayang, seorang pembantu yang mengurus keperluannya, dan seorang pengawal. Dan mereka pun memiliki kepandaian hebat. Sebagian dari mereka, memiliki kesaktian sebelum mengabdi pada sang Dewi...," jelas gadis ini, memulai ceritanya.

"Lalu?" cecar Rangga.

"Aku adalah cicit salah seorang dayang beliau. Yaitu, Nyai Mayang Putih. Wanita tua semalam adalah Nyai Gandasari. Beliau cucu Nyai Mayang Merah. Sedangkan Ki Wangsa Kelana adalah cucu Nyai Mayang Biru. Lalu Ki Darta Rawon yang pernah kuceritakan padamu, adalah keturunan Ki Gede Rengon, pembantu Dewi Ratih," jelas Sakaweni.

"Hem, begitu...," Rangga mengangguk-ang-guk. "Lalu, ke manakah keturunan pengawal pribadi beliau?"

"Ibuku mengatakan, beliau menjaga peninggalan sang Dewi. Termasuk, pusaka-pusaka beliau. Keturunan Ki Jambang Seto dipercaya sang Dewi karena sangat setia."

"Itu berarti sang Dewi tidak mempercayai yang lain?" selak Rangga.

"Ceritanya agak rumit. Dimulai tatkala makanan yang hendak dihidangkan untuk sang Dewi dibubuhi racun...," jelas Sakaweni, perlahan.

"Dibubuhi racun?!" seru Rangga tak percaya.

"Ya! Dan sang Dewi mengetahuinya. Beliau marah betul, dan mencurigai semuanya. Kecuali, Ki Jambang Seto!"

"Kenapa mengecualikan seseorang?"

"Ki Jambang Seto tak akan pernah melakukan hal itu. Beliau sayang sekali pada sang Dewi. Apalagi, beliau adalah pengasuhnya sejak kecil dan guru pertamanya. Beliau mengajarkan banyak hal. Mulai dari falsafah hidup, sampai ilmu olah kanuragan. Semua kesaktian yang dimilikinya diturunkan pada sang Dewi. Meski akhirnya sang Dewi memiliki kesaktian lebih tinggi, setelah belajar dari guru-guru yang lain, namun Ki Jambang Seto tetap diangkat sebagai pengawal pribadi. Banyak kesempatan untuk membunuh sang Dewi sejak dahulu, tapi tak dilakukannya. Itu membuatnya tak termasuk dalam daftar orang-orang yang dicurigai sang Dewi."

"Lalu apa yang selanjutnya terjadi?"

"Sang Dewi mengusir mereka dengan satu perjanjian, mereka diperbolehkan kembali setelah dipanggil ke pertapaannya. Tapi sampai beliau meninggal, tidak seorang pun yang dipanggil. Aku tidak tahu nasib yang lain. Tapi, keturunanku selalu merasa berdosa sehingga mereka selalu bertapa agar bisa berhubungan.dengan Dewi Ratih di alam lain...."

"Tapi, ternyata kau kenal keturunan pembantu sang Dewi yang lain?"

"Maksudku, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan untuk menebus perasaan bersalah mereka pada sang Dewi. Kalau hanya pertemuan, sering kami adakan sampai keturunan sekarang. Sehingga, kami saling mengenal. Kecuali...."

Sebentar cerita Sakaweni terputus. Dia seperti ragu mengatakannya. "Kecuali keturunan Ki Jambang Seto. Dia tidak pernah menghubungi kami," lanjut Sakaweni, akhirnya.

"Dan keturunan Ki Jambang Seto yang kini mendiami Gua Griwa itu?" selak Rangga.

"Kemungkinan besar begitu."

"Lalu..., masing-masing keturunan orang-orang dekat sang Dewi berada di tempat ini, apa maksudnya?" tanya Rangga, penasaran.

"Kami harus mempertahankan pusaka-pusaka sang Dewi dari tangan orang-orang luar," jelas Sakaweni.

"Kenapa baru sekarang banyak yang mengetahui tentang pusaka yang ditinggalkan sang Dewi?"

"Karena ada yang menyebarkannya."

"Pasti orang dalam?"

"Begitulah dugaan ibuku. Karena beliau hanya punya anak satu, yaitu aku. Maka, akulah yang dikirim untuk menyelidiki hal ini. Bahkan kalau perlu membereskannya."

"Kenapa bukan beliau saja yang pergi menyelesaikannya?"

"Seperti yang kukatakan, beliau tengah bertapa. Dan waktunya belum selesai ketika berita ini menyebar. Aku tak bisa mengganggunya. Maka kuusulkan agar aku saja yang pergi, meski beliau agak keberatan. Beliau punya firasat persoalan ini tidak mudah. Dan ternyata, firasat itu tidak salah.

Rangga hanya mengangguk-angguk. Dan mereka menghentikan percakapan ketika tiba di tempat yang dituju. Tampak beberapa tokoh persilatan telah banyak muncul, berdiri tak jauh dari mulut Gua Griwa.

"Lihatlah! Bukit Kera ini tadinya sepi dan tidak bayak menarik perhatian orang. Kini dengan adanya cerita itu, menjadi tempat yang ramai sekali. Padahal, mereka sendiri ada yang tidak begitu yakin dengan cerita mengenai Dewi Ratih...," gumam Sakaweni.

"Kenalkah kau dengam tokoh itu?" tanya Rangga, yang lebih tertarik memperhatikan tokoh-tokoh yang berkumpul di sini.

"Yang mana?" tukas Sakaweni.

"Yang wajahnya ditutupi topeng hitam dan memakai jubah hitam pula."

"Hm, tidak!"

"Tidakkah itu mengundang kecurigaan?"

"Apa maksudmu? Tidak aneh bila tokoh-tokoh persilatan bertingkah macam-macam. Kau lebih tahu daripadaku. Lagi pula, orang-orang yang berada di dekatnya pun sama-sama memakai topeng hitam dan jubah hitam pula."

"Memang. Tapi, ada beberapa hal yang menyebabkan orang menyembunyikan wajahnya. Di antaranya, karena takut dikenali orang-orang terdekatnya," kilah Rangga memberi alasan.

"Aku tidak yakin begitu. Pernahkah kau mendengar tentang kuil Teratai Hitam?" tukas Sakaweni lagi.

"Hm, ya."

"Nah! Kudengar, orang-orang yang berada di dalamnya selalu berjubah hitam dan menutupi wajahnya agar tidak dikenali orang lain. Kudengar pula, kuil itu telah berdiri selama ratusan tahun. Apa anehnya? Mereka hanya menjalankan kepercayaan yang dianut.

Rangga tidak mau berbantah-bantahan lebih lanjut dengan gadis itu. Perhatiannya tertuju pada dua orang laki-laki bertubuh kekar yang berdiri di dekat mulut gua.

"Hm.... Apa hebatnya gua ini?! Raksasa Kembar bisa mengaduk-aduk isinya dalam waktu singkat!" dengus laki-laki bertubuh besar yang bersenjata kapak.

"Mari, Kakang Subala! Kita perlihatkan pada orang-orang tolol ini, bahwa tidak ada yang perlu ditakuti dari gua ini," timpal yang bersenjata gada besar.

Kedua orang ini memang dikenal sebagai si Raksasa Kembar. Mungkin sesuai bentuk tubuh mereka yang besar. Yang bersenjata kapak bemama Subala. Sedangkan yang membawa gada bernama Subali. Sambil mendengus mereka masuk ke dalam gua dengan penuh keyakinan.

"Hati-hati, Kakang! Aku tidak mau kita mati konyol!" ingat Subali.

"Jangan khawatir, Subali. Aku kenal perangkap-perangkap seperti ini!" desis Subala, congkak.

Setelah berjalan sekian lama, mereka tiba di ujung terowongan. Namun begitu, dua pasang mata serta telinga mereka dibuka lebar-lebar untuk menghindari segala kemungkinan buruk yang terjadi.

Grek.... Grek!

"Awas, Subali!" teriak Subala seraya melompat kedepan, tatkala ujung terowongan dibelakang mereka bergerak-gerak. Seketika sebuah batu besar dari atas telah menutup, sehingga mereka terkurung dalam sebuah mangan pengap dan agak gelap.

"Hup! Setan!" maki Subali yang kakinya hampir saja terhimpit.

"Huh! Permainan macam apa lagi yang hendak dipertunjukkannya pada kita?!" dengus Subala.

"Siap-siap saja, Kakang! Aku tidak suka keadaan seperti ini" Baru saja kata-kata Subali habis....

Set! Set!

"Awaaas!" Subala kembali berteriak memperingatkan ketika tiba-tiba dari segala penjuru dinding ruangan ini melesat puluhan anak panah ke arah mereka.

"Hiih!" Dengan gemas Raksasa Kembar menghalau anak-anak panah itu. Tapi seperti rintik hujan, anak panah itu terus bergerak menyerbu. Sehingga mau tak mau mereka sedikit kewalahan juga.

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Demikian pula Raksasa Kembar. Sepandai-pandai mereka berkelit, akhirnya akan naas juga. Itu terjadi ketika sebatang anak panah luput dari sergapan. Akibatnya....

Crab!

"Akh!" Subali mengeluh tertahan tatkala sebatang anak panah menancap di pahanya.

"Subali! Kau tidak apa-apa?!" teriak Subala cemas." Baru saja kata-kata Subala habis....

Crep!

"Akh.....!" Ketika Subala hendak memeriksa luka adik kembarnya sebatang anak panah menancap di punggung kiri.

"Keparat!" desis Subala geram seraya mencabut anak panah itu.

"Hieee...!"

"Heh?!" Raksasa Kembar terkesiap ketika terdengar pekikan nyaring yang diikuti berkelebatnya satu sosok tubuh yang langsung menyerang.

"Awas Subala...!" teriak Subali yang pertama kali melihat bayangan hitam itu dari samping kanan.

Subali sendiri menjatuhkan diri sambil mengibaskan gada untuk menahan segala kemungkinan buruk.

"Hiih!" Subala yang tidak sempat mengelak, terpaksa mengibaskan kapaknya untuk memapak serangan.

Trang!

Sesaat terdengar benturan senjata. Kapak Subala terpental dari genggaman akibat hantaman tenaga dalam yang bukan main kuatnya. Tubuhnya kontan terhuyung-huyung. Pada saat itu juga, sosok itu telah berkelebat cepat sambil menghujamkan senjatanya.

Jres!

"Aaa...!" Sesaat terdengar jeritan kematian Subala, tatkala dari dada kirinya yang belong mengucurkan darah segar.

"Subala?!" Subali terkejut, langsung melompat menghampiri saudaranya. Tapi....

Jresss...!"

"Aaa...!" Subali berteriak kesakitan. Tubuhnya ambruk dengan perut robek mengucurkan darah, ketika senjata sosok itu menyabet ganas.

Tempat itu kembali sepi seperti tak pernah terjadi apa-apa. Hujan panah berhenti. Dan pintu yang menutupi ujung terowongan terbuka kembali!

ENAM

Suara jeritan Raksasa Kembar agaknya terdengar pula oleh orang-orang yang berada di luar. Wajah mereka kelihatan tegang. Bahkan ada juga yang gemas.

"Ada apa sebenarnya di dalam gua ini?" gumam salah seorang tokoh persilatan.

Orang ini dikenal dengan nama Ki Sampang. Dia seorang tokoh terkenal di wilayah timur. Kehadirannya di tempat ini tak lain ingin melihat sendiri kehebohan berita yang didengarnya dari kawan-kawannya sesama tokoh persilatan, mengenai pusaka peninggalan Dewi Ratih.

"Orang-orang percaya kalau di dalamnya ada seorang tokoh sakti," sahut salah seorang tokoh lainnya.

"Siapa bilang?!" Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

Serentak para tokoh persilatan menoleh. Tampak seorang laki-laki kurus memakai baju panjang berwarna hitam. Wajahnya kelihatan angkuh, namun penuh percaya diri. Di pinggangnya terselip sebilah pisau agak panjang dengan gagang bengkok. Dengan langkah panjang, dia maju ke mulut gua.

"Siapa orang itu?" tanya salah seorang tokoh.

"Entahlah. Sepertinya dia pendekar dari negeri seberang...," sahut temannya.

"Lagaknya angkuh sekali. Dikira dia mampu masuk kedalam gua dan keluar dengan selamat!" cibir yang lain.

"Kita lihat saja...."

"Siapa kau, Kisanak? Apakah kau berminat mengadu nasib di dalam gua ini?" tegur salah seorang yang mengenakan topeng hitam.

"Aku Sampang! Bukan sekadar mencari peruntungan, tapi akan kulihat sampai di mana keangkeran isi gua ini!" kata laki-laki berbaju panjang hitam itu, sombong.

Orang bertopeng hitam itu mengangguk kecil. "Silakan masuk, Kisanak! Tantanglah orang di dalamnya."

Tanpa banyak bicara lagi, laki-laki bernama Ki Sampang melangkah lebar ke dalam gua. Matanya menatap lebar dan telinganya dibuka tajam. Ujung terowongan yang dimasukinya tak terlihat oleh pandang mata biasa. Namun tokoh satu ini mampu melihatnya.

"Hup!" Dengan cepat Ki Sampang masuk ke dalam sebuah ruangan yang merupakan ujung terowongan. Sebelum meneliti keadaan sekelilingnya, terdengar suara batu bergeser dengan cepat. Dan ketika menoleh, pintu terowongan telah tertutup batu besar. Namun, Ki Sampang tidak menjadi terkejut. Bahkan perhatiannya dipusatkan pada yang lain.

Set! Set!

Seperti yang terjadi pada si Raksasa Kembar, maka hujan anak panah pun kembali menimpa tokoh yang satu ini. Namun dengan tenang, tubuhnya berkelit. Cepat dia melompat pada sebuah batu yang berukuran agak besar, dan bertiarap didekatnya. Dengan begitu, hujan anak panah itu tidak terlalu menderanya. Bahkan sebagian berhasil ditangkis dan dielakkan!

Hujan anak panah itu berhenti. Dan Ki Sampang pun bangkit berdiri. "Siapa pun kau, keluarlah! Aku Sampang menantangmu bertarung!" teriak Ki Sampang lantang.

"Ha ha ha...! Hanya dengan kepandaian seperti itu kau mengajakku bertarung?!" sahut satu suara yang memenuhi ruangan, dan bergema ke mana-mana.

"Diam kau! Perlihatkan dirimu...!" bentak Ki Sampang. Suaranya menggelegar, untuk membalas himpitan tenaga dalam yang dikerahkan lewat suara tawa tadi.

Saking hebatnya tenaga dalam yang dikerahkan Ki Sampang, terlihat beberapa bebatuan, dan kerikil ruangan ini bergetar dan rontok satu persatu!

"Hm.... Kau hendak pamer tenaga dalam di sini?!" leceh suara tanpa wujud yang terdengar sinis ketika Ki Sampang menghentikan teriakannya.

"Keluarlah kau. Dan, tidak usah main sembunyi-sembunyian padaku!" teriak Ki Sampang.

"Baiklah kalau itu yang kau inginkan."

Begitu suaranya selesai, maka saat itu juga berkelebat sesosok bayangan ke arah Ki Sampang, Gerakannya cepat laksana seekor kelelawar yang tengah menangkap mangsanya, saat menyambar.

"Huh!" Ki Sampang mendengus sinis. Dan tanpa berbalik, sebelah tangannya dikibaskan untuk menangkis serangan.

Plak!

Wut!

"Hup!" Meski telah mengerahkan tenaga dalam, tapi tetap saja Ki Sampang merasakan hantaman kuat pada lengannya. Dan sebelum sempat berbuat apa-apa, mendadak datang serangan kembali ke arah dadanya. Ki Sampang terpaksa melompat ke belakang.

Tap!

Begitu kedua kaki laki-laki ini menyentuh dinding ruangan, dengan digenjotnya. Seketika tubuhnya melenting dan langsung memapaki serangan seraya mencabut pisau yang terselip di pinggang.

Trang!

Sesaat terdengar suara senjata tajam beradu. Dan Ki Sampang bermaksud menyodokkan ujung pisaunya ke bagian tubuh yang lunak dari sosok ini. Tapi sebelum hal itu dilakukan....

Brettt!

"Aaakh...!"

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu terasa sesuatu mengiris pangkal lengan kanan Ki Sampang. Dia menjerit. Bukan saja senjatanya yang terlepas, namun lengan kanannya pun ikut putus disambar senjata sosok itu.

"Hiih!" Sosok itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Saat itu juga tubuhnya berkelebat, sambil membabatkan senjatanya yang berupa tongkat runcing.

Crasss!

"Aaakh...!" Sesaat kemudian terdengar jeritan panjang menyambung, tatkala perut Ki Sampang dirobek senjata sosok itu. Tubuh Ki Sampang langsung ambruk tak berdaya, berkumpul bersama mayat-mayat lain yang berserakan di tempat ini.

"Hm... Seharusnya kau mengerti, tak ada gunanya merebut benda yang bukan milikmu!" dengus sosok ini yang untuk sesaat tegak berdiri mengawasi mayat-mayat yang berserakan.

"Orang itu mati! Tambah satu korban lagi!" desis seseorang yang berada dekat di mulut gua sehingga jerit kematian Ki Sampang terdengar jelas.

"Kita tidak bisa terus begini, Tuanku Jubah Hitam!" bisik salah seorang bertopeng hitam, pada orang bertopeng lain yiang memegang tongkat di dekatnya.

"Ya, aku tahu!" sahut sosok yang tak lain si Jubah Hitam.

"Apakah akan kita ledakan gua itu, Tuanku?"

"Tunggu dulu!"

"Kita tidak bisa menunggu lebih lama, Tuanku. Mereka akan semakin banyak berkumpul di sini!"

"Itu lebih baik. Lebih banyak korban, akan membuat jalan kita semakin mulus."

"Tapi, Tuanku...." '

"Jangan membantah lagi!"

"Baiklah..."

"Bagaimana keadaan yang lain? Apakah mereka telah berhasil menemukan jalan masuk dari arah lain?"

"Belum ada laporan, Tuanku."

"Goblok! Apa saja kerja mereka?!"

"Tapi kurasa sebentar lagi akan berhasil, Tuanku."

"Hm.... Kuharap saja begitu. Kalau tidak, nasib kalian akan sama dengan mereka yang telah masuk ke dalam gua itu!" dengus si Jubah Hitam yang membawa tongkat. "Bagaimana dengan bocah yang menjadi murid Ki Pulung?"

"Kami telah memaksa Ki Pulung. Dan sebentar lagi, tentu dia datang bersama bocah itu."

"Aku tidak mau bertele-tele lagi! Kalau dia tidak bisa dibujuk, pakai kekerasan!"

"Aku telah perintahkan begitu, Tuanku."

"Bagus!"

Percakapan mereka terhenti sejenak, karena saat itu tiga sosok tubuh bergerak menuju ke dalam gua.

"Hm.... Mereka adalah murid-murid Perguruan Macan Putih!" gumam si Jubah Hitam.

"Apakah menurut Tuanku mereka akan berhasil?"

"Mereka hanya mengantar nyawa sia-sia!" dengus si Jubah Hitam.

Sesaat beberapa orang bertopeng hitam menghampiri. "Tuanku, kami membawa berita!" lapor salah seorang.

"Apa?" tanya si Jubah Hitam.

"Pemuda itu telah kami bawa."

"Bagus! Di mana dia?"

"Dibelakang bukit, Tuanku. Dia bersedia menunjukkan jalan lain menuju Gua Griwa."

"Hmm...!"

"Bagaimana selanjutnya, Tuanku?"

"Aku akan ke sana. Dan sebagian, berjaga di sini sampai kuberi perintah selanjutnya!"

"Baik, Tuanku!"

Maka bersama beberapa orang anak buahnya, si Jubah Hitam angkat kaki dari tempatnya. Namun hal itu agaknya tak lepas dari perhatian Pendekar Rajawali Sakti.

"Orang-orang itu pergi...."

"Dan sebagian tinggal di situ...," timpal Sakaweni.

"Kau pun curiga?"

"Ya! Akan kuikuti mereka!" sahut gadis itu cepat.

"Aku akan tetap mengawasi di tempat ini," kata Rangga.

"Hati-hati!"

Sakaweni mengangguk, lalu berkelebat dari tempat itu. Namun dia mengambil jalan memutar. Dengan gerakan hati-hati sekali Sakaweni berusaha mengikuti si Jubah Hitam dari jarak yang cukup jauh.

"Mau ke mana mereka? Hm.... Aku yakin! Orang-orang ini yang menginginkan kematianku. Siapa mereka sebenarnya?" gumam gadis ini dengan perasaan geram.

Kalau menuruti perasaan, ingin rasanya gadis ini menyergap sekaligus membuka kedok orang-orang itu. Setelah mengetahui wajah-wajah mereka, maka selanjutnya pedangnya akan bicara untuk menghukum. Tapi sebisa mungkin, dia berusaha menahan diri.

"Mereka tentu bukan orang-orang sembarangan. Terlebih lagi, orang yang membawa tongkat itu. Aku yakin kalau dia pemimpinnya. Hm.... Aku mesti tahu dulu, apa yang akan mereka lakukan. Baru setelah itu, menentukan langkah selanjutnya.

Orang-orang bertopeng hitam itu menuju ke balik bukit yang jaraknya kurang lebih seratus lima puluh tombak dari Gua Griwa kalau ditarik garis lurus. Disana, telah menunggu beberapa orang bertopeng lainnya. Dua dari mereka, tampak sedang mengapit seorang pemuda yang kedua tangannya dibelenggu di belakang.

"Hm.... Inikah bocah itu?" tanya si Jubah Hitam ketika telah tiba di hadapan pemuda yang ditawan anak buahnya.

"Ya, Tuanku!" sahut salah satu orang bertopeng yang mengapit pemuda itu.

"Sudah tanyakan padanya?"

"Sudah, Tuanku! Dia bersedia bekerja sama."

"Hmm...." Si Jubah Hitam yang memegang tongkat memandang sesaat lamanya pada pemuda di depannya.

"Benarkah kau bersedia menunjukkan letak jalan keluar dari dalam gua itu, Bocah?" tanya si Jubah Hitam.

"Aku tidak yakin...."

"Mudah-mudahan kau bisa menemukannya. Karena kalau tidak..., kau tidak akan melihat matahari esok!" desis si Jubah Hitam.

Wajah pemuda itu tampak pucat. Nyata kalau dia ketakutan mendengar ancaman.

"Ayo, ingat-ingat!

"Aku sudah katakan pada mereka, bahwa aku keluar dari mulut Gua Griwa."

"Aku tidak tanyakan itu. Tapi, nanti setelah kita berada di dalam!" tukas si Jubah Hitam.

"Baiklah, akan kucoba mengingat-ingatnya...," sahut pemuda itu, ragu.

"Hm, tunjukkan jalan keluar itu!" ujar si Jubah Hitam pada anak buahnya.

"Aku yakin di sini letaknya Tuanku!" tunjuk seorang anak buah si Jubah Hitam sambil mengetuk-ngetuk dinding bukit di dekatnya.

"Hm.... Pasti ada cara bagaimana membuka pintunya."

"Kami sudah telusuri semuanya. Namun, hasilnya nihil, Tuanku. Agaknya pintu ini terbuka dan tertutup lagi dalam waktu singkat. Kami yakin hanya bisa dibuka dari dalam,"

"Kalau begitu, tidak ada cara lain!" dengus si Jubah Hitam. Si Jubah Hitam segera maju mendekati dinding bukit itu. Diketuk-ketuknya sebentar, lalu mundur beberapa langkah.

"Menepilah Kalian!" ujar si Jubah Hitam.

Orang-orang bertopeng itu mengerti apa yang hendak dilakukan pemimpinnya. Maka ketika orang-orang itu mulai menyingkir, si Jubah Hitam segera menarik napas dalam-dalam seraya mengangkat kedua telapak tangannya di bawah dada. Lalu?

"Hup! Yeaaa...!" Dari kedua telapak tangan si Jubah Hitam terlihat selarik cahaya biru tua melesat menghantam sasaran.

Blarrr...!

Dinding bukit yang terbuat dari batu cadas itu kontan hancur berantakan menimbulkan suara keras. Seketika terlihat sebuah terowongan yang menanjak ke atas melalui anak tangga.

"Hm... Berarti apa yang dikatakan si Darta Rawon memang benar," gumam si Jubah Hitam pelan.

"Tuanku! Apa yang akan kita kerjakan sekarang?" tanya seorang anak buahnya seraya mendekat.

"Bawa bocah itu ke dalam. Dan dua orang dari kalian memberi tahu yang lain agar mereka masuk lewat depan, seperti yang kita rencanakan!" ujar si Jubah Hitam.

"Baik, Tuanku!"

Dua orang segera berkelebat. Dan yang lain membawa pemuda itu masuk ke dalam. Sedangkan si Jubah Hitam yang menyusul di belakang. Namun baru melangkah beberapa tindak...

"Tuanku, buruan kita ada di sini!" teriak orang bertopeng pertama kali angkat kaki,

"Hmm!" Si Jubah Hitam itu menghentikan langkah. Demikian pula yang telah lebih dulu masuk. Mereka keluar lagi, ketika melihat dua kawannya tengah bertarung melawan seorang gadis bersenjata pedang.

"Yeaaat...!"

Gadis yang tidak lain dari Sakaweni tampak mengamuk dahsyat. Semula, dia ingin mengikuti dari belakang. Tapi siapa nyana, kedua orang bertopeng itu ternyata memergokinya. Maka kepalang basah, dia bermaksud menghabisi mereka. Tapi, ternyata kedua lawannya bukan orang sembarangan. Sehingga tidak mudah baginya untuk melumpuhkan secepatnya.

"Bantu mereka! Tangkap gadis itu!" ujar si Jubah Hitam.

"Baik, Tuanku!" Dua anak buahnya yang lain melompat dan ikut mengeroyok si gadis.

"Hm, main keroyok! Kenapa tidak sekalian saja semua turun tangan? Aku masih mampu menghabisi kalian!" dengus gadis itu.

"Tutup mulutmu, Gadis Liar! Kali ini kau tidak akan bisa lolos lagi!" bentak salah seorang.

"Huh! Buktikan mulut besarmu!"

"Yeaaa...!"

Empat orang bertopeng segera bergerak dari empat arah, Diserangnya gadis itu dengan menggunakan jurus-jurus ilmu pedang,

"Hiih!"

Trang!

Sakaweni mencelat ke atas, Dua lawannya mengikuti, mengancam dua kakinya, Dengan cepat gadis ini jungkir balik sambil mgrigibaskan pedangnya.

Sret!

"Ohhh!" Salah satu orang bertopeng terkesiap ketika selubungnya terlucuti pedang gadis itu. Sehingga wajahnya terlihat. Rupanya, dia seorang laki-laki tua. Namun gadis itu tidak mengenalinya. Sementara, pemuda berbaju putih yang tertawan terkejut melihat wajah orang yang topengnya terlepas.

"Guru! Kau..., kau...?!" seru pemuda itu dengan wajah tak percaya.

Seruan pemuda itu membuat Sakaweni terpana. Hanya sesaat, namun digunakan sebaik-baiknya. Salah seorang dari mereka langsung menotok tengkuk Sakaweni itu dari belakang.

Tuk! Tuk!

"Ahhh...!" Gadis itu ambruk tak berdaya seperti dilolosi tulangnya ketika dua totokan mendarat ditengkuknya. Pedang di tangannya cepat berpindah tangan.

"Bajingan keparat! Lepaskan aku! Aku masih mampu menghadapi kalian semua!" teriak Sakaweni geram.

TUJUH

"Tidak perlu kau berteriak-teriak begitu, Anak Manis. Tidak berguna! Kenapa tidak bersikap manis saja?" kata si Jubah Hitam, seraya mendekati.

"Siapa kau?! Aku seperti pernah mendengar suaramu sebelumnya!" bentak Sakaweni.

"Begitukah?"

"Hm, aku tahu!" seru gadis ini dengan mata melotot garang. "Kau adalah...."

Tuk!

Belum lagi gadis itu menyelesaikan kata-katanya, ujung tongkat si Jubah Hitam telah menotok urat suaranya. Sehingga, dia tak mampu menggerakkan lidahnya.

"Sebenarnya, ibumu yang kuharapkan muncul. Tapi, wanita itu terlalu angkuh. Merasa bukan derajatnya untuk turun tangan dalam urusan ini. Tapi, kurasa kau pun berguna untuk memancingnya keluar dari pertapaannya," kata si Jubah Hitam.

Gadis itu melotot garang menandakan amarah di dadanya.

"Hi hi hi...! Lebih baik simpan amarahmu. Sebentar lagi, kau akan bergabung dengan yang lain. Bawa dia!" perintah si Jubah Hitam.

"Baik, Tuanku!"

Dua orang anak buah si Jubah Hitam segera membopong gadis itu. Sementara dua lainnya menuju mulut Gua Griwa untuk menghubungi kawan-kawannya yang berada disana. Dan sisanya kembali melanjutkan niat semula, untuk masuk ke dalam terowongan.

"Guru! Kenapa kau lakukan ini padaku?" tanya pemuda yang menjadi tawanan seraya memandang anak buah si Jubah Hitam yang tadi kena dilucuti Sakaweni.

"Maafkan aku, Badrawata...," ucap laki-laki tua itu sambil menundukkan kepala.

"Pulung! Cepat laksanakan tugasmu! Aku tidak suka bermain-main di sini. Hilangkan perasaanmu!" bentak si Jubah Hitam.

"Baik, Tuanku!" sahut laki-laki tua yang ternyata Ki Pulung, Ketua Perguruan Macan Putih.

"Guru...," sebut pemuda yang ternyata Badrawata.

Ki Pulung tidak berkata apa-apa lagi, selain mendorong tubuh Badrawata, muridnya sendiri, untuk masuk ke dalam terowongan. Meski pemuda ini berkali-kali memanggil, tapi yang dipanggil tetap diam membisu.

"Terus Jalan dan ingat-ingat lorong yang pemah kau lalui. Kalau tidak, kalian berdua akan kubunuh!" dengus si Jubah Hitam mengancam.

Grek! Grek!

"Hei?!" Badrawata terkejut ketika tiba-tiba sebuah dinding batu turun dari atas menutupi jalan mereka.

"Ha ha ha...! Apakah kalian kira begitu mudah masuk ke tempat ini?" Mendadak saja terdengar sebuah suara tanpa wujud.

"Perlihatkan dirimu padaku!" bentak si Jubah Hitam.

"Menuruti keinginanmu, sama artinya menuruti keinginan iblis. Lalu, mengapa aku mesti menuruti keinginan iblis?" sahut suara itu lagi.

"Pengecut!" maki si Jubah Hitam.

"Ha ha ha...! Percuma saja. Kau boleh berteriak dan memaki seenakmu. Tapi, pintu ini tidak akan terbuka bagi mereka yang coba mengambil pusaka majikanku!"

"Siapa pun adanya kau, pasti keturunan si Jambang Seto keparat!" lanjut si Jubah Hitam memaki.

Tak ada sahutan.

"Hei, keturunan Jambang Seto! Keluarlah kau. Dan, perlihatkan dirimu!" teriak si Jubah Hitam makin kalap.

"Kau tahu leluhurku? Hm, tidak banyak yang mengetahuinya. Kecuali, kau keturunan para pengkhianat!" sahut suara tadi.

"Mungkin derajat kita sama. Aku keturunan pengkhianat. Dan, kau keturunan penjilat busuk! Leluhurmu itu sama dengan anjing buduk!" umpat si Jubah Hitam.

"Tutup mulutmu!" bentak suara tanpa wujud dengan suara mengguntur.

"Hi hi hi...! Kau marah, he?! Berarti dugaanku benar. Kau hanya keturunan penjilat hina. Aku akan menghancurkanmu! Ayo, perlihatkan dirimu, Anjing Busuk!"

Kembali tak terdengar sahutan. Dan si Jubah Hitam mengira kalau lawan bicaranya tengah mengendalikan nafsu amarahnya.

"Ayo, penjilat busuk! Anjing busuk! Keluarlah kau. Perlihatkan dirimu yang menjijikkan itu!" teriaknya lantang.

Tetap saja tak ada sahutan.

"Keparat!" maki si Jubah Hitam.

Dengan serta merta, si Jubah Hitam menghentakkan kedua tangannya, Pukulan mautnya dikeluarkan untuk menghancurkan dinding batu di depannya,

"Hup! Heaaa...!"

Siut!

Jderrr!

Seketika batu di depan si Jubah Hitam hancur berantakan. Namun, dinding batu lainnya telah menghalangi.

"Kurang ajar!" maki si Jubah Hitam geram.

"Pulanglah kalau tak ingin mengalami kematian. Percuma saja kalau kau coba menghancurkan tempat ini. Setiap anak tangga memiliki dinding batu di atasnya. Sedangkan anak tangga yang akan kalian lalui, lebih dari lima puluh. Tenagamu akan habis sebelum kau mampu menghancurkan semuanya!" kata suara tanpa wujud tadi.

"Tutup mulutmu!" bentak si Jubah Hitam seraya melepaskan kembali pukulannya sampai beberapa kali.

Namun yang terjadi tetap sama. Dinding batu kedua hancur, tapi tetap ada lagi dinding batu ketiga, Dinding batu ketiga hancur, namun ada lagi dinding batu keempat, Begitu seterusnya, sampai si Jubah Hitam merasa jemu sendiri.

"Keparat! Aku pasti akan menemukan cara untuk masuk kedalam dan menghancurkanmu!" desis si Jubah Hitam geram,

Tak ada sahutan lagi, Dan si Jubah Hitam segera mengajak anak buahnya untuk segera meninggalkan tempat ini.

********************

Pendekar Rajawali Sakti merasa curiga ketika melihat beberapa orang bertopeng menghampiri kawan-kawannya. Sementara Sakaweni tidak terlihat ikut membuntuti mereka. Kemana gadis itu?

"Hmm...." Rangga mengerutkan dahi, ketika melihat orang-orang bertopeng itu bergerak menuju mulut gua, setelah tidak ada lagi yang berani masuk ke dalamnya.

Tapi baru saja mereka hendak melangkah masuk, mendadak pintu gua itu tertutup.

Drrr...!

Terdengar suara gemuruh seperti runtuhnya bebatuan dari atas gunung.

"Kurang ajar! Apa ini?!" bentak salah satu orang bertopeng.

"Hei, siapa pun kau! Bila benar-benar jantan, bukalah pintu gua ini. Dan, hadapi kami!" teriak orang bertopeng, lantang.

Tak terdengar sahutan. Begitu juga ketika yang lain berteriak menantang, tetap saja tidak terdengar sahutan. Sehingga membuat kesal orang-orang bertopeng itu.

"Kurang ajar! Agaknya dinding batu ini mesti kita hancurkan!" dengus orang bertopeng itu bersiap-siap hendak mengerahkan pukulan mautnya.

Tapi sebelum hal itu dilakukannya, salah seorang membisiki sesuatu. Orang itu mengangguk, lalu berpaling pada tokoh-tokoh yang berada di tempat ini.

"Kisanak semua! Kalian lihat sendiri kepengecutan penghuni gua ini! Setelah dia membunuh kawan-kawan kita, kini dia menutup pintu gua dan melupakan semua. Kita tidak bisa menerima semua ini! Dia harus bertanggung jawab! Dia harus mati untuk menebus kematian kawan-kawan kita yang lain!" teriak orang bertopeng itu.

"Mereka bukan kawan-kawan kami!" teriak beberapa orang.

"Kematian mereka adalah tanggung jawabnya sendiri. Kenapa kami mesti repot-repot?!" timpal yang lain.

"Kalau kalian mau masuk, silakan saja!" sahut yang lain.

Mendengar jawaban, orang bertopeng itu tidak mau mundur dan kembali membujuk. "Kedatangan kita di sini untuk tujuan yang sama. Yaitu, ingin merebut pusaka peninggalan Dewi Ratih. Kenapa kita tidak bekerjasama? Kalau kami yang mendapatkan lebih dulu, maka kalian tidak akan mendapat apa pun. Tapi kalau kalian membantu kami, maka meski bantuan itu sedikit, akan dihargai dan tentu saja ada imbalannya."

"Imbalan apa yang hendak kalian berikan?!" tanya seseorang.

"Intan, berlian, emas, atau perak yang terdapat dalam gua ini!"

"Kami tak pernah dengar kalau Dewi Ratih mewariskan barang-barang berharga seperti itu."

"Itu karena kalian tidak mengetahuinya. Sedangkan majikan kami mengetahuinya. Memang selain benda-benda itu, masih ada yang lebih berharga. Khususnya, bagi kalangan persilatan. Yaitu, kitab pusaka berisi kesaktian Dewi Ratih yang tersimpan dalam sebuah patung. Barang siapa yang mau membantu, maka kelak akan kami pinjamkan kitab itu. Atau, kami beri kesempatan pada kalian untuk menyalinnya!"

Tawaran pertama memang menggiurkan. Tapi bagi kalangan persilatan tawaran kedua justru yang paling menggiurkan. Kalaupun mereka setuju, mungkin sekadar ingin menikmati cipratan rejeki. Namun, tidak jarang ada juga yang berniat licik.

"Sekarang kita bantu dulu mereka. Tapi begitu kitab itu ada pada kita, buat apa pikirkan yang lain!" dengus seseorang.

"Ya! Kita bawa lari saja!" timpal yang lain.

"Apa yang harus kami lakukan sekarang?!" tanya beberapa orang.

"Kita hancurkan batu-batu ini bersama-sama, lalu masuk ke dalam bersama-sama juga!" sahut orang bertopeng itu.

"Baiklah! Ayo, mari kita gempur bersama-sama!" teriak seseorang memberi semangat pada yang lain.

"Ayo! Ayo...!"

Saat itu juga, beramai-ramai mereka menggempur dinding batu yang menghalangi mulut gua. Satu dinding batu rontok, namun dinding batu lainnya menghalangi. Tapi dengan penuh semangat mereka terus menghancurkan dinding batu lainnya.

Sementara mereka menghancurkan dinding batu itu, ada juga yang tidak ikut-ikutan. Dan mereka hanya menonton saja. Termasuk di antara mereka adalah Rangga. Pemuda itu sedikit gelisah karena Sakaweni belum juga muncul.

"Hm, ke mana dia?" gumam Pendekar Rajawali Sakti lirih.

Pada saat itu Dewa Bayu yang tadi dilepasnya untuk merumput, datang menghampiri sambil mendengus kasar.

"Ada apa, Dewa Bayu? Kau ingin memberitahu sesuatu padaku?" tanya Rangga.

"Hieee...!" Kuda hitam itu mengusap-usap tubuhnya. Ditariknya lengan Rangga. Dan Pendekar Rajawali Sakti cepat mengerti isyarat yang diberikan hewan tunggangannya.

"Ayo, tunjukkan apa yang hendak kau beritahukan padaku!" ujar Pendekar Rajawali Sakti seraya melompat ke punggung Dewa Bayu.

Dengan serta merta kuda itu berlari kencang meninggalkan wilayah Gua Griwa. Ditembusnya semak belukar. Beberapa saat kemudian hewan itu berhenti di kaki bukit yang masih berhubungan dengan bukit-bukit yang ada di Gua Griwa. Di situ terdapat sebuah gua yang cukup besar. Kelihatan sepi dan tak terjaga. Di sekitar mulut gua, banyak ditumbuhi pohon-pohon merambat. Sehingga, sebagian pintunya tertutup.

"Beberapa tanaman di bawahnya rusak seperti diinjak orang. Hm.... Gua ini berpenghuni! Tapi siapa! Orang-orang bertopeng itukah?" gumam Rangga seraya melompat turun dari punggung kudanya. Perlahan-lahan dihampirinya mulut gua.

Setelah mengetrapkan aji 'Pembeda Gerak dan Suara', Pendekar Rajawali Sakti masuk ke dalam dengan sangat baik-baik dan kewaspadaan tinggi.

"Hmm!" Pendekar Rajawali Sakti merapatkan tubuh ke dinding ketika telinganya mendengar gerak-gerik seseorang di ujung lorong gua. Perlahan-lahan dia mendekat, dan melihat sebuah ruangan besar berbentuk segi empat. Dua orang berjaga-jaga di situ. Mereka memakai topeng hitam.

Rangga berpikir sebentar, sebelum menemukan akal. Di lemparnya sebuah batu kemulut gua, sehingga menimbulkan suara yang mencurigakan.

"Hei, apa itu?!" seru salah satu orang bertopeng.

"Coba periksa," ujar yang satunya.

"Ah! Paling-paling juga kawan-kawan kita."

"Periksa saja! Kalau ada sesuatu kau yang tanggung akibatnya!"

"Baiklah..." Dengan langkah malas, orang itu melangkah keluar. Tapi begitu jaraknya telah dekat, tendangan Rangga langsung menghantam perut.

Des!

"Hugkh!" Orang bertopeng itu menjerit tertahan. Tubuhnya terhuyung-huyung kontan ke belakang. Tapi Rangga tidak memberi kesempatan. Langsung kepalan tangan kanannya disodokkan ke dada dan tengkuk.

Begkh! Dek!

"Ohh...!" Orang bertopeng itu langsung ambruk tak sadarkan diri. Tapi saat itu juga, kawannya mencelat menyerang.

"Yeaaat!"

"Uts! Sial!" umpat Rangga ketika nyaris saja serangan itu menghancurkan batok kepalanya. Masih untung dia sempat membungkuk, sehingga tendangan itu luput dari sasaran.

Sring!

Pendekar Rajawali Sakti cepat mencelat ke belakang, ketika orang bertopeng itu mencabut pedang seraya langsung menyabetkannya ke pinggang. Begitu mendarat, Rangga langsung berkelebat sambil mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Langsung dihantamnya orang itu dengan pukulan telak hingga seperempat tenaganya.

"Hiih!"

"Hup!"

Orang bertopeng itu tercekat merasakan angin sambaran pukulan yang bertenaga dalam kuat. Namun dengan gesit dia menghindar sambil melompat ke samping.

Sementara, Rangga tidak memberi kesempatan lagi. Begitu orang bertopeng itu bersiap, tangan kirinya menyodok ke perut. Sedangkan tangan kanannya menghantam ke tengkuk. Begitu cepat gerakannya, hingga....

Desss! Dukkk!

"Aaakh...!" Orang bertopeng itu kontan ambruk tak sadarkan diri, setelah melenguh pendek.

Grek! Grek!

"Hiih!"

Saat itu juga dari salah satu dinding ruangan, terdengar suara batu bergeser. Begitu Rangga menoleh, tampak dua sosok tubuh bertopeng langsung lompat menyerang dengan ganas. Tapi Rangga tak tinggal diam. Tubuhnya cepat berkelebat, sambil mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Des...! Prak...!

"Aaakh...!"

Kedua orang bertopeng itu kontan terpekik kesakitan dan ambruk tak berdaya ketika hantaman Pendekar Rajawali Sakti mendarat di dada dan geraham. Saat itu juga Rangga masuk ke dalam terowongan lain, tempat kedua orang bertopeng itu keluar.

Panjang terowongan itu sekitar sepuluh tombak, dan kembali bertemu dengan sebuah ruangan besar. Di situ, terdapat sebuah kerangkeng yang terbuat dari jeruji besi. Di dalamnya terdapat empat tawanan yang masing-masing dirantai pada kedua tangan dan kaki. Dua di antara mereka cukup dikenal Rangga. Yaitu, Sakaweni dan Ki Wangsa Kelana.

"Berhenti kau!" Terdengar bentakan yang diikuti berkelebatnya satu sosok. Dan dia langsung menghadang dengan pedang terhunus.

Tidak seperti yang lainnya, orang ini tidak mengenakan topeng. Sehingga Rangga bisa melihat seraut wajah laki-laki tua penghadangnya.

"Hiih!"

Tanpa menunggu jawaban lagi, laki-laki tua ini langsung membabatkan pedang. Rangga cepat melompat ke samping sambil mengayunkan tendangan.

Wut!

"Hup!"

Laki-laki tua itu terkesiap. Namun cepat tubuhnya melompat ke belakang menghindari tendangan berhawa maut. Namun, tak urung dadanya berdetak lebih kencang merasakan angin sambaran bertenaga kuat dari tendangan pemuda itu.

"Hiih!"

Setelah mampu menguasai diri, laki-laki tua ini mengibaskan pedang. Tapi, Rangga telah bergerak ke samping kiri, seraya melepaskan tendangan lewat jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Duk!

"Ahh...!" Laki-laki tua itu kontan ambruk tak sadarkan diri, seperti kawan-kawannya yang lain. Sementara Rangga cepat bergerak ke arah para tawanan.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Rangga.

"Cepat lepaskan kami! Kita harus mengejar bangsat itu secepatnya!" teriak Sakaweni.

"Tenanglah dulu!" Rangga mundur selangkah. Lalu tangannya bergerak ke atas, mencabut pedang yang bersinar biru berkilauan. Begitu pedangnya di atas kepala, Rangga cepat memapas putus kerangkeng yang mengurung keempat orang itu. Lalu, satu persatu belenggu yang mengikat dipapasnya.

"Pedang hebat!" puji Ki Wangsa Kelana. "Belenggu ini alot sekali. Makin dikerahkan tenaga untuk memutusnya, makin kuat mencengkeram pergelangan tangan!"

"Sudah! Kita harus buru-buru ke sana! Ayo cepat!" ajak Sakaweni.

"Aku disini saja...," sahut pemuda berbaju putih, yang tidak dikenal Rangga. "Orang ini guruku...." Pemuda yang tak lain Badrawata menghampiri laki-laki tua yang terakhir dijatuhkan Rangga.

"Terserah saja! Ayo mari kita pergi!" kata Sakaweni selanjutnya.

DELAPAN

"Apa yang kalian kejar?" tanya Rangga ketika mereka mulai berlari.

"Pemimpin mereka!" sahut Sakaweni.

"Hm.... Kau sudah tahu siapa dia?"

"Paman Darta Rawon telah memberitahu. Cocok dengan dugaanku semula."

"Paman Darta Rawon?"

"Ya! Itu laki-laki yang bersama Ki Wangsa Kelana," jelas gadis itu.

Rangga mengangguk.

"Mereka hendak menghancurkan gua itu!" jelas Sakaweni lagi.

"Bagaimana caranya?" tanya Rangga.

"Entahlah. Mungkin meledakkannya."

"Meledakkannya?"

"Ya! Mereka punya bahan peledaknya. Hal itu dilakukan, kalau mereka tetap tidak menemukan benda-benda pusaka peninggalan sang Dewi."

"Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Biasanya seseorang yang menginginkan suatu pusa-ka, akan berusaha memperolehnya dengan cara apapun tanpa merusaknya?" tanya Pendekar Rajawali Sakti lagi bingung.

"Ini bukan sekadar memiliki pusaka, tapi juga untuk membalas dendam," jawab Sakaweni, gamblang.

"Apa maksudmu?"

"Masih ingat ceritaku? Di antara kami ada pengkhianat. Sang Dewi bermaksud menghukum mati. Tapi karena tidak mau menunjuk secara langsung siapa yang bersalah, beliau hanya mengusir keturunan kami. Masing-masing di antara keturunan kami, berusaha mencari siapa pengkhianat itu. Namun tak seorang pun yang mengaku..Sampai sekarang! Kini mulai terlihat siapa pengkhianat itu sebenarnya," jelas gadis itu lagi, panjang lebar.

"Maksudmu orang yang mengurung kalian?"

"Tepat!"

"Tapi, apa gunanya mengurung kalian?"

"Masing-masing diantara nenek moyang kami, punya ilmu silat berbeda meski dasarnya sama. Kalau digabungkan menjadi satu, itulah inti ilmu silat utama yang dimiliki sang Dewi. Orang itu membius kami satu persatu, sehingga berhasil memaksa untuk menunjukkan ilmu silat kami. Dia kini amat berbahaya dengan ilmu silat yang dimilikinya. Aku tak yakin, apakah penjaga gua itu mampu menghadapinya," jelas Sakaweni.

"Apa artinya bagi kalian semua ini?" Tanya Rangga.

"Kami adalah keturunan pengabdi. Setengah jiwa kami untuk mengabdi pada sang Dewi. Karena beliau telah tiada, maka kami wajib melestarikan peninggalannya. Tanggung jawab si penjaga gua, menjadi tanggung jawab kami pula. Kalau orang-orang itu merusak isi gua, maka berarti merusak kami pula," jelas gadis ini lagi.

Rangga mengangguk mengerti mendengar penjelasan itu. Kini mereka tiba di mulut Gua Griwa. Keadaan di tempat itu kelihatan ribut. Suara jeritan dari dalam gua mengundang mereka yang masih berada di luar untuk menyerbu masuk.

"Celaka! Orang-orang itu telah berada di dalam!" seru Sakaweni.

"Apa yang bisa kita lakukan? Apakah mengikuti mereka menerobos masuk?" tanya Rangga.

"Kita ambil jalan memutar. Aku tahu tempatnya!" sahut Ki Darta Rawon.

Maka mereka segera memutar haluan, menuju belakang bukit. Itulah tempat dulu Ki Darta Rawon pernah keluar dari dalam gua.

"Kurang ajar! Mereka telah mendahuluinya!" dengus orang tua itu ketika melihat salah satu dinding bukit hancur berantakan.

"Tapi, mereka tidak berhasil masuk, karena dinding batu ini berlapis-lapis," kata Ki Wangsa Kelana.

Tapi baru saja mereka kebingungan memikirkan langkah selanjutnya.

"Yeaaat...!" Mendadak terdengar teriakan dahsyat dari atas bukit, membuat semua kepala menoleh ke sana.

"Hei?!"

"Itu mereka!" tunjuk Sakaweni ketika melihat dua orang tengah bertarung di puncak bukit.

Seorang dari mereka memakai jubah dan topeng hitam. Senjatanya berupa tongkat. Dialah yang dipanggil dengan nama si Jubah Hitam. Sementara yang seorang laki-laki bertubuh jangkung dan agak kurus. Senjatanya berupa pedang, Rambutnya panjang, hingga menutupi sebagian wajahnya. Pakaianya kumal seperti tak pernah diganti bertahun-tahun.

Si Jubah Hitam agaknya tidak sendiri, karena beberapa anak buahnya yang sama-sama mengenakan topeng hitam tak lama kemudian menyusul ke atas. Dan mereka pun ikut bantu menyerang.

"Lebih baik kau menyerah saja, Anjing Busuk! Dan, serahkan kitab pusaka itu padaku. Dengan begitu, nyawamu akan kuampuni!" bentak si Jubah Hitam.

"Aku tidak bermaksud membunuhmu. Karena aku tahu, kau keturunan dayang sang Dewi. Tapi, kenapa kau memaksaku? Mestinya kau mengerti bahwa ini adalah kewajiban kita bersama mengamankan warisan sang Putri," sahut sosok berpakaian kumal.

"Tutup mulutmu! Jangan bawa-bawa nama sang Dewi sebagai topengmu. Aku tidak berurusan dengannya!"

"Hm, kau menyalahi aturan! Aku yakin, nenek moyangmu yang berniat meracuni sang Dewi!"

"Bedebah! Serahkan saja kitab pusaka itu padaku. Dan kau akan kubiarkan hidup!"

"Langkahi mayatku lebih dulu sebelum kau bisa mengambilnya!"

"Huh! Sebentar lagi mereka akan berhasil mengambilnya!"

"Kau bermimpi bila berharap bisa menemukannya. Meski kalian berhasil mengacak-acak isi gua, namun pusaka itu tak akan bisa ditemukan. Siapa pun yang berhasil menemukannya, tidak akan selamat."

"Huh, banyak omong! Mampuslah kau!" Si Jubah Hitam menyerang lawannya dengan bernafsu. Dan kalau laki-laki berpakaian kumal coba menghindar, maka anak buah si Jubah Hitam bersamaan menyerangnya. Menghadapi mereka, mungkin dia tidak begitu kesulitan. Tapi menghadapi serangan si Jubah Hitam, dia agak kewalahan. Bahkan serangan-serangannya selalu kandas di tengah jalan. Sebaliknya, serangan-serangan si Jubah Hitam semakin gencar saja.

"Hi hi hi...! Percuma saja kau menyerangku, Anjing Buduk! Sekian lama kau berada di dalam gua, yang kau kuasai hanya penyerangan dalam ruang sempit dan gelap. Tapi kali ini, kau berada di tempat luas dan terang. Jurus-jurusmu tidak berguna menghadapiku!" ejek si Jubah Hitam.

Apa yang dikatakan si Jubah Hitam memang tidak salah. Selama ini, laki-laki berpakaian kumal itu selalu berada di dalam gua. Dia terbiasa dalam pertarungan jarak dekat di ruang sempit dan agak gelap. Tapi agaknya bukan hal itu saja. Namun juga ada hal-hal lain yang mempengaruhinya. Yaitu, si Jubah Hitam selalu mengetahui ke mana dirinya bergerak menyerang. Bahkan telah menyiapkan serangan balasan.

Laki-laki berpakaian kumal ini kini memutar pedangnya, menyambar ke pinggang. Namun si Jubah Hitam telah mencelat ke samping. Lalu tiba-tiba, si Jubah Hitam telah mencelat ke atas sambil mengibaskan tongkat. Terpaksa laki-laki berpakaian kumal memapaknya.

Trang!

Suara benturan senjata terdengar keras. Terlihat laki-laki berpakaian kumal masih mampu menebaskan pedang ke dada si Jubah Hitam. Namun, si Jubah Hitam telah berkelebat cepat. Dan tahu-tahu tongkatnya sudah disodokkan dari bawah.

Diegkh...!

"Uhh...!" Laki-laki berpakaian kumal itu kontan menjerit kesakitan ketika gerakannya terhantam tongkat. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dan langsung disambut oleh anak buah si Jubah Hitam dengan sabetan pedang.

"Hup!" Dengan sigap laki-laki berpakaian kumal itu mencelat ke samping sambil mengibaskan pedang.

Trang!

Dua orang bertopeng yang lain cepat membabat kakinya. Sehingga, terpaksa laki-laki berpakaian kumal itu kembali mencelat ke atas. Dua lawan lainnya pun agaknya telah menunggu. Mereka langsung membabatkan pedang.

"Yeaaat?!" Namun dengan gerakan mengagumkan, tubuh laki-laki kumal itu berputaran di udara sambil memapaki.

"Hiih!"

Trang!

Kedua orang bertopeng itu terhuyung-huyung kesakitan, setelah senjata mereka terbentur pedang. Laki-laki kumal itu bermaksud menghabisi keduanya. Tapi saat itu, serangan si Jubah Hitam telah mengancamnya dari belakang.

"Uts!" Laki-laki kumal segera berkelit ke samping, dan terus meluncur ke bawah menghindari serangan tongkat si Jubah Hitam. Tapi anak buah si Jubah Hitam tidak membiarkan begitu saja. Mereka langsung menyerang dengan gencar. Sehingga, laki-laki bertubuh jangkung dan kumal itu kembali kerepotan. Dan saat itu juga digunakan sebaik-baiknya oleh si Jubah Hitam untuk melakukan serangan gencar.

"Heaaat!" Tubuh si Jubah Hitam berkelebat, sambil membabatkan tongkatnya. Dan....

Bugkh!

"Akh!" Laki-laki bertubuh jangkung itu menjerit kesakitan ketika punggungnya dihantam tongkat si Jubah Hitam. Dia sempat ambruk, meski cepat bangkit. Tapi si Jubah Hitam tidak memberi kesempatan. Tongkatnya seketika kembali menggebuk.

Begkh!

"Argkh!" Kali ini yang jadi sasaran adalah perut. Maka kontan laki-laki kumal itu memekik kesakitan dan terjungkal ke belakang. Saat itu juga, tiga anak buah si Jubah Hitam langsung menghunuskan pedang untuk menghabisinya. Namun....

"Bangsat terkutuk! Hentikan perbuatan kalian!"

"Hei?!"

Sebuah teriakan keras, membuat gerakan orang-orang bertopeng itu berhenti. Demikian pula si Jubah Hitam. Begitu mereka menoleh, tampak tegak berdiri empat sosok tubuh yang dikenalnya. Mereka tak lain dari Sakaweni. Rangga, Ki Darta Rawon, dan Ki Wangsa Kelana.

"Hi hi hi...! Kalian rupanya. Bagus, berkumpullah di sini. Jadi, aku mudah membereskan kalian semua!"

"Topeng itu tidak berguna lagi, Bibi Gandasari! Aku telah tahu siapa kau sebenarnya!" bentak Sakaweni.

"Hmm!" Si Jubah Hitam mendengus dingin. Diberinya isyarat pada anak buahnya untuk membereskan keempat tokoh persilatan yang baru muncul.

"Yeaaa...!"

Pertarungan terjadi kembali, dan kini terbagimenjadi dua. Keempat tokoh yang baru muncul itu terpaksa harus meladeni anak buah si Jubah Hitam. Sedangkan si Jubah Hitam, telah kembali bertarung melawan laki-laki berbaju dekil yang tengah terluka.

Sementara itu keributan di atas bukit itu telah mengundang perhatian tokoh-tokoh lain yang masih banyak berdiri di muka gua. Mereka tidak sekadar menunjuk-nunjuk pertarungan itu, tapi juga bergerak cepat menghampiri.

"Mereka ada di atas! Ayo, cepaaat...!"

Yang berada di dalam gua pun cepat-cepat keluar. Namun, jumlah mereka tidak sebanyak tadi. Karena, sebagian besar tewas dalam perangkap maut yang banyak terdapat dalam gua itu.

Melihat kehadiran mereka, si Jubah Hitam berseru girang dan langsung memanfaatkannya.

"Coba lihat! Kawan-kawan kalian banyak yang mati! Itu karena ulahnya!" tunjuk si Jubah Hitam pada laki-laki kumal itu. "Biar kuhadapi dia. Tapi, kalian bisa bereskan keempat kawannya!"

Seruan itu memang berpengaruh besar. Orang-orang persilatan yang kehilangan kawan-kawannya menjadi marah dan menemukan pelampiasan, Maka dengan serentak mereka mengeroyok Pendekar Rajawali Sakti dan ketiga kawannya.

"Kisanak, tahan serangan! Kalian telah diperalat...!" teriak Rangga berusaha menyadarkan mereka.

Tapi sia-sia saja Pendekar Rajawali Sakti berteriak. Orang-orang persilatan itu seperti banteng liar yang mengamuk hebat.

"Sial!" Yang dihadapi Rangga bukanlah orang-orang keroco, tapi tokoh-tokoh silat yang lumayan hebat. Sehingga bukan pekerjaan mudah baginya untuk menghajar. Apalagi bertangan kosong, sementara lawan-lawannya bersenjata lengkap. Beberapa kali Rangga terpojok, dan nyaris terluka. Sehingga memaksanya untuk mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

Sring!

"Hiyaaat!" Begitu selarik cahaya biru terpancar dari batang pedangnya, Rangga langsung menyambar lawan-lawan terdekatnya. Beberapa orang berseru kaget ketika melihat kenyataan senjatanya putus tersambar pedang pemuda itu. Bahkan hawa panas dari pedang itu terasa menyengat dari jarak yang cukup jauh.

Bresss...!

"Aaa...!"

Dua orang yang coba mendekat kontan memekik setinggi langit, tatkala pedang di tangan Pendekar Rajawali Sakti merobek perut dan dada.

"Hiyaaat...!"

Beberapa orang yang lain kaget melihat keadaan itu. Dan mereka buru-buru menyingkir. Tapi lainnya malah menyerang dengan bernafsu. Sementara Rangga langsung memapaki.

Cras!

"Aaakh...!"

Tiga orang lagi ambruk tak berdaya. Senjata mereka putus, dan perut mereka robek. Pendekar Rajawali Sakti terus mengejar yang lain. Tubuhnya berkelebat sambil mengamuk dengan dahsyat.

"Gila! Aku kenal pemuda itu. Dia Pendekar Rajawali Sakti! Telah kulihat kehebatannya beberapa kali. Aku tidak akan ikut-ikutan dalam urusan ini!" seru salah seorang tokoh-seraya lari terbirit-birit dari kancah pertempuran.

Agaknya, bukan tokoh itu saja yang kabur. Bahkan yang lain pun telah angkat kaki sejak tadi. Malah ketika yang lain telah angkat kaki, Rangga baru menyadari kalau Sakaweni dan kedua orang tua yang bersamanya, tengah berusaha mendesak si Jubah Hitam.

"Hi hi hi...! Percuma saja kalian bersama-sama mengeroyokku. Aku tahu semua ilmu silat kalian. Sehingga, tak sulit mengalahkannya!" kata si Jubah Hitam yang tak lain Nyai Gandasari.

Kata-kata si Jubah Hitam terkesan sombong. Tapi, ternyata mampu dibuktikannya. Hanya bersenjata tongkat, dia mampu mendesak keempat pengeroyoknya yang menyerang bersamaan.

Trang!

Buk!

"Aaakh!" Sakaweni yang menjadi korban gebukan tongkat Nyai Gandasari yang pertama. Gadis itu terpental ke belakang disertai jerit kesakitan. Tiga lawan lainnya menyerang. Maka, cepat si Jubah Hitam merendahkan tubuhnya, sambil berputar dan mengayunkan tongkat.

Duk!

"Aaakh...!" Kali ini, Ki Darta Rawon yang menjadi sasaran sodokan tongkat Nyai Gandasari. Laki-laki itu terhuyung-huyung sambil memuntahkan darah segar.

"Yeaaat!" Ki Wangsa Kelana dan laki-laki berbaju kumuh segera menyerang dari depan dan samping. Cepat si Jubah Hitam mengangkat sebelah kaki sambil mengayunkan tongkat, menangkis sabetan pedang Ki Wangsa Kelana. Tubuhnya kemudian melejit ke atas menghindari sabetan pedang laki-laki kumuh itu.

"Hup!" Begitu berada di atas, si Jubah Hitam tiba-tiba menyabetkan tongkatnya.

Duk!

"Akh!" Laki-laki dekil itu kontan mengeluh tertahan, tatkala ujung tongkat Nyai Gandasari menghantam dadanya. Tubuhnya terjungkal ke belakang dengan wajah berkerut menahan sakit.

"Yeaaat?!" Ki Wangsa Kelana menyerang dengan bernafsu. Namun si Jubah Hitam menghindari tebasan pedangnya dengan bergulingan di udara. Bahkan tiba-tiba berkelebat cepat tak tertahankan.

Buk!

"Akh...!" Orang tua itu kontan ambruk sambil menjerit kesakitan begitu tongkat Nyai Gandasari menghantam punggung.

"Hi hi hi...! Ayo, bangun kalian semua, sebelum menerima kematian!" teriak si Jubah hitam lantang.

"Nyisanak! Kenapa kau seperti melupakan aku?!" teriak Rangga, lantang.

"Hm. Bocah Edan! Apakah kau ingin mampus lebih dulu?!" dengus si Jubah Hitam.

"Tentu saja tidak. Tapi kalau kau yang tua bangka ingin mampus, tentu dengan senang hati akan kukirim ke akherat," kata Rangga yang sudah geram dengan si Jubah Hitam.

"Keparat!" Setelah mendengus marah si Jubah Hitam langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

Sring!

Sementara Rangga sudah langsung mencabut pedangnya. Saat itu juga sinar biru berkilauan memancar dari pedangnya. Begitu serangan mendekat, Rangga segera memapaknya.

Tang!

"Hm.... Boleh juga pedangmu, Bocah!" puji si Jubah Hitam ketika tongkat membentur pedang Pendekar Rajawali Sakti.

Terasa hawa panas menyengat menjalar melalui tongkat si Jubah Hitam. Namun, mana mau Nyai Gandasari menunjukkan kelemahan dirinya di hadapan lawan. Bahkan dia sudah langsung menyerang kembali.

"Hiyaaat!"

Tapi Rangga telah menghadang dengan mengerahkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Dengan jurus itu, pedangnya bergerak cepat seperti mengurung kemana saja lawannya bergerak.

Saat itu juga, si Jubah Hitam jadi heran sendiri. Mendadak saja, pikirannya jadi kacau. Semangat bertarungnya kontan lenyap, jiwanya seakan-akan terpecah-pecah ketika pedang Pendekar Rajawali Sakti berkelebatan. Dia seperti tak mengerti harus berbuat apa.

Dan kesempatan ini pun dipergunakan Rangga sebaik-baiknya. Tubuhnya cepat berkelebat sambil membabatkan pedangnya yang menderu tajam. Dengan mengumpulkan semangatnya si Jubah Hitam menangkis.

Trang!

Namun setelah terjadi benturan, mendadak pedang Rangga berputar, langsung bergerak miring. Cepat dibabatnya leher si Jubah Hitam.

Crasss!

"Aaa...!" Terdengar jerit tertahan tatkala kepala si Jubah Hitam menggelinding ke bumi. Tubuhnya menyusul dengan darah memancur dari pangkal leher. Sebentar tubuhnya meregang nyawa, lalu diam tak berkutik lagi.

Trak!

Pendekar Rajawali Sakti menyarungkan pedangnya. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling,

"Suiiit...!" Rangga bersuit nyaring. Tak lama, Dewa Bayu muncul. Sebentar Rangga melirik pada Sakaweni serta yang lain, lalu menaiki kudanya.

"Kurasa persoalan telah selesai. Aku pamit dulu!" kata Rangga sambil menggebah kudanya.

"Kakang Rangga...?!" panggil Sakaweni.

Tapi Pendekar Rajawali Sakti tak menoleh lagi, dan terus melesat bersama Dewa Bayu.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: LIMA GOLOK SETAN
Thanks for reading Pengkhianatan Di Bukit Kera I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »