Kembang Lembah Darah

KEMBANG LEMBAH DARAH

SATU

"Hiaaa...!"

Seekor kuda jantan berwarna hitam mengkilat, berlari kencang seperti dikejar setan. Keempat kakinya menghentak-hentak tanah dengan hidung mendengus-dengus kencang.

Sementara penunggangnya, seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung tampak bagai dihentak-hentak. Rambutnya pun berkibaran tertiup angin menderu yang diterabasnya. Telinganya mendengar dentang senjata yang kedengarannya cukup ramai.

"Seperti pertempuran hebat," gumam pemuda ini. "Ayo lebih cepat lagi, Dewa Bayu...!"

"Hieee...!" Saat itu juga kuda berbulu hitam yang tak lain Dewa Bayu, tunggangan Pendekar Rajawali Sakti, meringkik dan menambah kecepatan larinya.

Sebentar saja pemuda yang memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti tiba di sebuah lembah yang cukup indah, dia melihat kawanan laki-laki berwajah kasar tengah mengeroyok dua orang gadis. Kelihatannya bernafsu sekali untuk menghabisi kedua lawannya.

"Nanti jangan dibunuh dulu, Jonggor! Aku ingin mencicipi kenikmatan tubuh mereka!" teriak seorang laki-laki bertubuh gemuk ketika kawannya berhasil mendaratkan satu pukulan ke perut salah satu gadis itu.

"He he he...! Ternyata kau tergoda juga, Kang Bilung!" ejek laki-laki yang dipanggil Jonggor.

"Tutup mulutmu, Jonggor! Apa kau tidak pusing melihat tubuh molek dan kulit bagus begini?!" ujar laki-laki gemuk bernama Bilung.

"Bisa saja kau, Kang Bilung."

"Sudahlah! Ayo kita ringkus mereka hidup-hidup. Baru setelah itu kita bunuh!"

Maka selanjutnya, kurang lebih dua puluh orang laki-laki ini bergerak semakin cepat meringkus dua gadis lawan mereka.

"Yeaaa...!"

Namun kedua gadis itu agaknya tidak bisa dianggap sembarangan. Setidaknya, ilmu olah kanuragan mereka lumayan hebat. Terbukti, sejak tadi salah satu dari mereka belum berhasil dijatuhkan, kendati satu dua pukulan cukup telak mendarat di tubuh mereka. Sayang ketahanan kedua gadis ini ada batasnya. Selain kasar, para pengeroyok juga bertenaga besar. Dan yang terpenting, jumlah mereka cukup banyak. Sehingga dalam waktu singkat, kedua gadis itu terdesak hebat.

Pada satu kesempatan, salah satu gadis itu membabatkan pedangnya, berusaha menyerang balik. Namun dengan gerakan cepat salah seorang pengeroyok memapaknya.

Tang!

"Ohhh...!" Gadis itu mengeluh tertahan. Pedang di tangannya terlepas. Dan belum lagi dia bersiap, laki-laki yang bernama Jonggor telah lebih dulu menyergap dari belakang.

"Kena kau!"

"Ouw! Keparat!" Gadis itu terkejut, dan langsung jatuh bergulingan bersama Jonggor. Dia berusaha melepaskan diri dengan menyodokkan sikut kanan ke perut.

Duk!

"Akh!" Jonggor menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya.

Buru-buru gadis itu bangkit dengan sigap. Tapi seorang pengeroyok yang lain telah menyergapnya. Sementara satu lagi membantu dari depan.

"Ahh...."

"Pegang tangannya, Rudra! Dan aku akan pegang kedua kakinya!" teriak Jonggor, sambil buru-buru bangkit.

"Iya, iya...!" Dengan cepat laki-laki bernama Rudra memegang kedua tangan gadis itu. Sementara Jonggor langsung mendekap kaki. Sehingga, gadis itu benar-benar tidak berkutik. Percuma saja gadis ini mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, karena tenaga kedua laki-laki yang menyergapnya lebih besar.

"Ningsih!" teriak gadis yang satunya, kaget melihat kawannya berhasil diringkus.

"Wulandari! Jangan hiraukan aku! Pergilah kau! Selamatkan dirimu!" teriak gadis yang tengah teringkus.

Gadis yang bernama Wulandari bingung. Dia tak tahu apa yang mesti diperbuat. Ningsih adalah kawan dekatnya. Kalau ditinggalkan begitu saja, apa jadinya nanti? Tapi kalau tidak kabur, para pengeroyok terlalu banyak. Dan bisa saja nasibnya akan sama dengan Ningsih.

"Ayo pergi! Selamatkan dirimu. Dan beritahu perbuatan mereka pada kawan-kawan yang lain!" teriak Ningsih lagi.

"Mau kabur ke mana? Huh! Jangan harap bisa lepas dari kami!" dengus laki-laki yang bernama Bilung seraya mengibaskan golok panjangnya.

"Uts!" Dengan gerakan cepat, Ningsih melompat ke belakang, sehingga babatan golok itu luput.

"Kurang ajar! Heaaa...!" Bilung menggeram marah, melihat serangannya gagal. Dia kembali melompat mengejar. Sementara, para pengeroyok yang lain telah bersiap mengurungnya.

Kali ini keadaan Wulandari benar-benar tidak menguntungkan, karena para pengeroyok lebih ketat mengurungnya. Bahkan tidak memberi kesempatan sedikit pun padanya untuk melarikan diri

Dalam keadaan demikian, Wulandari bertindak nekat. Dia ingin memporak-porandakan kepungan yang makin ketat mengurungnya.

"Hiaaat...!" Gadis itu segera melompat menerjang salah seorang lawannya yang terdekat dengan sambaran pedangnya.

Namun, rupanya Bilung telah membaca gerakan gadis ini. Seketika tubuhnya meluruk dari samping, dengan satu tepakan ke tangan Wulandari. "Lepas!"

"Ohhh...!" Gadis itu mengeluh tertahan ketika Bilung berhasil menepak tangannya, hingga pedangnya terlepas dari genggaman. Meski begitu dia tetap berusaha melepas satu tendangan berputar ke arah lawan lainnya.

Plak!

Tendangan Wulandari berhasil ditangkis seorang lawannya. Namun gadis itu harus cepat mengegoskan pinggangnya ke kanan, karena satu tendangan Bilung telah meluruk cepat.

"Hup!" Belum juga Wulandari bersiap kembali, seorang laki-laki yang berada di belakang langsung menubruk dan memeluk pinggangnya erat-erat.

"Hiih!" Gadis itu cepat menyikut ubun-ubun laki-laki yang memeluk pinggangnya dengan gemas. Bletak!

"Adouuuw!" Kontan saja, laki-laki itu menjerit kesakitan. Terpaksa pelukannya dilepaskan, karena kedua tangannya harus memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.

Meski gadis ini berhasil melepaskan cengkeraman, tapi dua lawan lainnya telah menubruknya secepat kilat. Kedua laki-laki itu segera memeluk erat-erat kaki dan lengan Wulandari hingga tak bisa bergerak.

"Yeaaa!" Wulandari berusaha berontak. Namun seorang pengeroyok yang telah siap dengan tali telah mengikat kedua tangan dan kakinya hingga tak berkutik. Gadis ini terus berontak dengan mengerahkan tenaga dalam, namun tali yang mengikatnya benar-benar tak mampu dilepaskan. Mungkin tali itu terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan yang telah diberi ramuan khusus.

"He he he...! Percuma saja kau berontak, Cah Ayu! Tali itu terbuat dari akar yang telah diberi ramuan khusus!" kata Bilung, laki-laki yang bertubuh gemuk bercambang bawuk tebal.

"Keparat kau! Tunggulah pembalasan kami!" dengus Wulandari geram.

"Pembalasan? Mana mungkin. Nasib kalian berada di tanganku. Dan setelah ini, kalian tidak akan melihat matahari lagi. Apakah hendak membalas dari akherat sana?!" ejek laki-laki brewok itu sambil berkacak pinggang.

Sementara, laki-laki lain tertawa bergelak mendengar ejekan laki-laki gemuk yang agaknya bertindak sebagai pemimpin ini.

"Phuih! Tunggu saja balasannya! Kawan-kawan kami tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari kalian meski sembunyi di lubang semut sekali pun!" dengus Ningsih.

"Hm.... Jadi kalian punya kawan? Perempuan? Cantik-cantikkah? He, kebetulan sekali kalau mereka datang ke sini!" sahut Bilung seenaknya.

"Ha ha ha...!"

Kawanan itu kembali bergelak. Apa pun kata-kata berbau ancaman yang dikeluarkan kedua gadis itu dianggap sepele, dan terdengar lucu. Seperti kelinci di mulut harimau, tapi masih berusaha menakut-nakuti.

"Kang Bilung! Aku sudah tak sabar lagi! Apakah akan kita diamkan saja mereka?" celetuk salah seorang anak buah laki-laki bertubuh tambun.

"Ya! Dimulai saja sekarang!" timpal yang lain.

"He he he...! Memangnya kalian saja yang ngebet?! Aku juga sudah tak tahan melihat kedua kelinci gemuk ini. Hm.... Tapi karena ada dua, maka aku pilih yang ini!" tunjuk Bilung pada Wulandari yang memang lebih cantik sedikit.

"Ha ha ha...! Itu adil. Biar kami yang satunya lagi!" sambut seorang laki-laki bertubuh kurus.

"Wah.... Lama sekali menunggu bagian!" teriak laki-laki lain yang merasa kurang puas.

"Tutup mulutmu, Braja! Sejak kapan aku pernah berlaku tidak adil? Setelah bocah ini kucicipi, maka kalian segera merasakannya pula!" semprot Bilung.

"Maaf, Kang. Aku tak bermaksud begitu...," ujar laki-laki bernama Braja tersipu-sipu.

Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Bilung segera menghampiri Wulandari. Lalu dibopongnya gadis itu ke balik semak-semak. Sementara anak buahnya berebutan mengadakan undian untuk mencicipi Ningsih paling dulu.

"Keparat busuk! Lepaskan aku! Lepaskan...!" teriak Wulandari dan Ningsih berulang-ulang.

Tapi percuma sjaa kedua gadis itu berusaha berontak sambil memaki. Isi kepala kawanan laki-laki itu telah dipenuhi nafsu setan. Sehingga mereka tidak peduli lagi segala apa pun, asal niat tercapai. Tapi apa pun yang mereka inginkan, belum tentu berjalan dengan mulus, bila keadaan menghendaki lain.

"Kisanak! Hentikan perbuatanmu!"

"He?!"

Sebuah suara yang sarat kegeraman mendadak terdengar, membuat Bilung tersentak kaget. Kepalanya cepat menoleh. Dan dia melihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih tegak berdiri di dekatnya.

"Bocah! Cepat enyah dari sini kalau masih sayang nyawa!" dengus Bilung, keras menggelegar.

"Kenapa bukan kau saja?" sahut pemuda yang memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

"Hm?!" Bilung mendelik tajam, lalu berniat meneruskan maksudnya. Dikiranya, ancaman tadi mempan. Sehingga pemuda itu tidak dipedulikan.

Tapi, siapa nyana kalau Pendekar Rajawali Sakti justru mencari mati dengan tidak memenuhi perintah Bilung. Bahkan seketika kakinya melayang deras ke tubuh Bilung.

Duk!

"Aaakh!" Bilung kontan menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terguling ke samping. Sebelum dia berbuat apa-apa, mendadak Rangga kembali melepas tendangan keras ke dada.

Desss...!

"Aaakh!" Kembali Bilung memekik kaget. Tubuhnya bergulingan beberapa tombak. Begitu bangkit, dia langsung menunjukkan kemarahannya. Kejadian ini rupanya juga mengejutkan beberapa anak buah Bilung. Seketika mereka menghentikan niat bejad terhadap Ningsih, dan langsung mengurung Pendekar Rajawali Sakti.

"Biar kami bereskan dia, Kang!" dengus Braja seraya mencabut golok.

Srak!

Begitu golok tercabut, Braja langsung melompat kedepan Rangga. Sementara yang lain pun telah ikut melompat dan langsung meloloskan golok.

"Huh!" Bilung mendengus dingin. Matanya memandang tajam pada Pendekar Rajawali Sakti. Dan perlahan, didekatinya pemuda itu tanpa peduli ocehan anak buahnya.

"Berani betul kau berbuat kurang ajar padaku, Bocah? Rupanya kau sudah bosan hidup, he?!" bentak Bilung, begitu berada selangkah di depan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Braja telah mundur beberapa langkah.

"Kalaupun aku bosan hidup, bukan berarti akan mati di tanganmu. Tapi kalau niat busukmu diteruskan, aku khawatir malah kau tak bisa melihat matahari esok hari," sahut Rangga enteng, penuh perbawa.

"Bedebah sombong! Kau boleh mampus sekarang juga!" bentak Bilung seraya melayangkan tendangan cepat dan bertenaga dalam tinggi.

Wut!

"Uts!" Rangga berkelit sedikit ke samping sehingga tendangan Bilung luput dari sasaran. Bahkan tiba-tiba tubuhnya berbalik sambil melayangkan tendangan setengah lingkaran untuk menggedor dada Bilung.

Des!

"Aaakh...!" Untuk yang kedua kalinya Bilung terjerembab merasakan sakit luar biasa di dadanya yang seperti remuk. Dengan susah-payah dia berusaha bangkit. Anak buah laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun ini sudah akan bergerak menyerang Rangga. Namun....

"Mundur kalian semua!" bentak Bilung.

"Tapi, Kang."

"Kalian kira aku tak bisa menghajarnya?!" bentak Bilung lagi semakin geram.

Mendengar bentakan barusan, tak seorang pun yang berani bertindak. Bahkan sekadar suara. Mereka memang percaya kalau Bilung berilmu tinggi. Tapi melihat kenyataan kalau telah dua kali dijatuhkan pemuda itu, maka mereka merasa perlu membantu.

Tapi, Bilung berpikir lain. Dia merasa yakin dengan kemampuannya. Kalaupun penasaran, itu karena tadi menganggap remeh lawan. Dan kali ini, tekadnya untuk.menghajar pemuda itu nampak membulat. Dia bersungguh-sungguh ingin menunjukkan, siapa sebenarnya dirinya. Juga, untuk menutup malu dihadapan anak buahnya atas perbuatan pemuda berbaju rompi putih ini.

"Ayo! Bersiaplah, Bocah!" dengus Bilung seraya menyipitkan kelopak mata.

"Aku telah siap, Kisanak!" balas Rangga, santai.

"Yeaaa...!" Bilung kembali meluruk sambil melepas tendangan dahsyat. Namun kali ini dia cukup hati-hati.

Rangga menggeser tubuhnya sedikit, sehingga tendangan itu luput. Saat itu juga tangannya bergerak mengibas menangkis sodokan kepalan tangan Bilung yang mengandung tenaga dalam tinggi.

Plak!

Begitu habis menangkis, Pendekar Rajawali Sakti bergerak ke samping. Dan seketika sisi telapak tangan kanannya meluncur dari kiri ke kanan.

"Uts!" Bilung cepat menunduk sehingga hantaman itu hanya mengenai tempat kosong. Tapi, Rangga melanjutkan serangan dengan sodokan lutut kanan yang tak mampu dielakkan. Sehingga....

Begkh!

"Agkh...!" Tepat sekali lutut kanan Rangga mendarat di perut Bilung. Tak ayal lagi, laki-laki brewok itu terjungkal untuk yang ketiga kalinya disertai keluhan tertahan.

"Setan!" rutuk Bilung dengan wajah berkerut menahan kesal dan sakit. Bilung lantas menoleh ke arah anak buahnya dengan tatapan tak senang. "Kenapa kalian diam saja?! Ayo, bereskan dia!" bentak laki-laki gemuk ini garang dengan mata melotot lebar.

"Oh, maaf! Maaf, Kang. Kami segera membereskannya!"

Dengan tergopo-gopo, anak buah Bilung cepat bergerak mengurung Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan langsung menyerang bersamaan.

"Yeaaa...!"

"Hup!" Rangga seketika melesat ke atas dengan gerakan ringan, lalu membuat putaran beberapa kali menjauhi lawan-lawannya. Tentu saja, anak buah Bilung tak akan membiarkannya. Maka dua orang yang mampu bergerak cepat segera mengejar dengan serangan maut ketika Rangga menjejak tanah.

"Hiih!" Pendekar Rajawali Sakti tak mau kalah cepat. Sebelum serangan para pengeroyok datang, maka tubuhnya telah lebih dulu bertindak. Dua golok yang disabetkan dielakkan dengan mengegoskan tubuhnya dua kali seperti orang menari. Sementara kedua kepalan tangannya tepat menyodok ke ulu hati.

Duk! Des!

"Wuaaa...!"

Kontan dua orang itu terjungkal ke belakang disertai jerit kesakitan. Mereka kontan ambruk tak sadarkan diri.

"Keparat! Jangan beri ampun. Bunuh dia secepatnya!" teriak Bilung geram melihat dua anak buah terbaiknya dilumpuhkan dalam waktu singkat.

"Hiaaat...!"

"Shaaa...!"

Menyadari kalau sang pemimpin amat gusar, maka orang-orang bertampang kasar itu menyerang semakin hebat. Agaknya mereka lebih takut terhadap Bilung ketimbang pada Pendekar Rajawali Sakti yang mampu bergerak cepat.

Wut!

Segala macam senjata berkesiutan mengancam keselamatan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi sejauh ini belum ada satu pun yang mampu menggores kulitnya yang hanya mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Bahkan ketika seketika Rangga melepas serangan secara tiba-tiba....

Duk!

"Aaakh...!" Satu lagi menjadi sasaran ketika Pendekar Rajawali Sakti melepas satu kibasan keras dengan tangan kiri ke dada. Orang itu terpekik dan ambruk, setelah terhuyung-huyung sejenak.

Yang seorang lagi coba membokong dari belakang. Namun, dengan gesit Pendekar Rajawali Sakti membungkuk. Dan seketika tubuhnya berputar sambil melepas sapuan kaki yang begitu cepat sehingga....

Gubrak!

Satu lagi anak buah Bilung jatuh di tanah sambil mengeluh tertahan. Mulutnya meringis merasakan sakit karena pantatnya membentur batu sebesar kepala kerbau. Sedangkan pada saat yang bersamaan, Rangga telah berkelebat menghajar yang lain.

DUA

Selang beberapa saat, anak buah Bilung telah menciut. Kini tinggal empat orang yang berdiri tegak. Sikapnya tampak ragu-ragu. Termasuk, Bilung yang tak percaya melihat kehebatan pemuda itu. Hanya bertangan kosong, pemuda itu mampu melumpuhkan mereka?

"Kenapa diam? Ayo, maju lagi!" seru pemuda itu sambil bersedekap pinggang.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Bilung penuh tekanan.

"Siapa pun aku, tak jadi masalah! Yang membuat masalah justru kalian. Nah, jangan harap aku akan mengampuninya!" sahut Rangga dingin dan penuh perbawa kuat.

"Tidak seorang pun berani macam-macam pada Bilung, Ketua Gerombolan Singa Barong yang menguasai Lembah Tengkorak ini!" gertak laki-laki brewok Itu.

"Tidak usah menggertakku, Kisanak! Pikirkan saja keselamatanmu sekarang!"

"Keparat!" Selama ini tidak ada yang berani merendahkan Bilung yang memang sebagai pimpinan kawanan perampok yang menguasai Lembah Tengkorak. Namun pemuda di depannya seenaknya saja menganggap enteng. Itu membuat Bilung betul-betul terhina. Sehingga amarahnya cepat naik ke kepala. Maka tanpa mempertimbangkan apa-apa lagi, diserangnya Pendekar Rajawali Sakti dengan ganas.

"Heaaat!"

Bet!

Golok di tangan laki-laki brewok ini bergerak cepat, dipadu sodokan kepalan tangan kiri serta tendangan untuk menjatuhkan pemuda itu secepatnya. Terasa kalau serangannya lebih berat dan cepat ketimbang tadi. Ini pertanda kalau Bilung telah mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki.

Walaupun telah mengeluarkan kepandaiannya setinggi mungkin, namun dimata Rangga, Bilung hanyalah seorang tokoh yang besar mulut dan keras kepala. Kalau melihat gerakannya pun sangat kaku dan lambat.

Rangga memang tidak sembarangan memperhitungkan kalau tidak dibuktikan. Maka ketika Bilung menyabetkan pedang dengan gerakan indah sekali Pendekar Rajawali Sakti menjatuhkan diri. Dan mendadak kedua kakinya menyapu bagian bawah tubuh Bilung.

Ketua gerombolan itu terkesiap. Cepat dia melompat mundur. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti telah melenting. Bahkan tahu-tahu tubuhnya meluruk dengan kepalan tangan menghantam perut dan dada.

Buk! Begkh!

"Aaakh...!" Bilung kontan terpental dan jatuh beberapa langkah ke belakang disertai jerit kesakitan. Pukulan barusan terasa berat dan kuat. Isi perutnya seperti diaduk-aduk. Dan tatkala bibirnya diseka, terlihat cairan merah menetes. Laki-laki gemuk ini berusaha bangkit. Tapi belum juga sempurna berdiri, Pendekar Rajawali Sakti siap melepaskan tendangan lagi.

"Akh! Cukup! Aku menyerah...!" teriak Bilung cepat menahan gerakan pemuda itu.

Darah meleleh semakin deras dari sela-sela bibir Bilung. Wajahnya berkerut menahan rasa sakit hebat. Meski begitu sisa-sisa anak buahnya yang masih ada, tak berani berbuat apa-apa. Mereka telah melihat sendiri, bagaimana sepak terjang pemuda itu. Dengan jumlah banyak saja, mereka berhasil dirontokkan. Apalagi dengan jumlah yang lebih sedikit.

"Apa kau kira aku akan mengampuni begitu saja?" desis Rangga, dingin menggetarkan.

"Jadi..., jadi kau hendak membunuh kami semua?" tanya Bilung gelagapan.

"Aku hanya ingin kalian tak melakukan perbuatan-perbuatan busuk seperti tadi!" tegas Rangga, penuh perbawa.

"Kami berjanji, Pendekar!" sahut Bilung cepat seraya memaksakan diri untuk beriutut.

"Hm. Bisa saja kalian mungkir di belakangku."

"Bukankah kau seorang pendekar hebat? Dan kalau terdengar aku mungkir akan janjiku, bukankah kau bisa mengejarku lalu memenggal leherku?"

"Baik. Kau telah berjanji begitu di hadapanku. Ingatlah! Aku akan mengejarmu jika mendengar kau dan anak buahmu melakukan perbuatan-perbuatan busuk lagi!"

"Jadi..., jadi kau mengampuni kami, Pendekar?!" sambar Bilung dengan wajah agak cerah.

"Kalau Yang Maha Kuasa saja mampu mengampuni hamba-hambanya yang bertobat, kenapa aku tidak?"

"Terima kasih, Pendekar. Kalau begitu kami mohon pamit dulu," ucap Bilung, terburu-buru.

Pendekar Rajawali Sakti mengangguk kecil.

"Eh! Maaf, Kisanak. Kalau boleh kami tahu, siapa gerangan nama besarmu agar kami bisa mengingatnya baik-baik?" tanya Bilung sebelum mengajak anak buahnya angkat kaki dari sini.

"Namaku Rangga. Maaf, julukanku mungkin tidak dikenal orang. Meski begitu sebagian orang menyebutku Pendekar Rajawali Sakti," sahut Rangga merendah.

"Ohhh...?!" Bilung terkejut. Jelas dia kenal nama itu sebagai tokoh yang ditakuti oleh tokoh-tokoh hitam sepertinya. Maka tanpa banyak bicara lagi dia buru-buru angkat kaki, setelah mengangguk beberapa kali pada Rangga.

Setelah Gerombolan Singa Barong pergi, Pendekar Rajawali Sakti segera melepaskan kedua gadis yang tadi ditawan.

"Sekarang kalian boleh melanjutkan perjalanan," ujar Rangga, pendek.

"Kami berhutang budi padamu, Kisanak...," ucap Wulandari. "Namaku Wulandari dan kawanku Ningsih. Kalau boleh tahu, siapa namamu sebenarnya?"

"Bukankah kalian tadi telah mendengarnya pula?"

"Ya! Kau adalah Pendekar Rajawali Sakti. Tokoh terkenal yang disegani lawan maupun kawan. Tapi, tidak bolehkah kami mengetahui namamu yang sebenarnya?"

"Namaku Rangga...."

"Oh, Kakang Rangga. Senang sekali bisa mengetahuinya," kata Wulandari disertai senyum manis sekali. Bahkan langsung memanggil kakang pula.

"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak atas pertoonganmu, Kakang Rangga," timpal Ningsih. "Kalau kau tidak menolong, entah apa jadinya."

"Hm, jangan begitu berlebihan. Ini hanya kebetulan. Dan lagi pula, sudah menjadi kewajiban sesama untuk saling menolong...."

"Mulia sekali niatmu, Kakang!" puji Wulandari.

"Kalau boleh kami tahu, ke mana tujuanmu, Kakang?" tanya Ningsih.

"Aku tidak punya tujuan pasti. Sekadar mengikuti ke mana saja langkahku. Kalian sendiri hendak ke mana?"

"Kami.... Eh..., hendak ke rumah saudara," sahut Ningsih sedikit gugup dan melirik sebentar pada Wulandari.

"Hm... Daerah ini memang banyak dihuni kawanan perampok seperti mereka tadi," gumam Rangga. "Kuharap kalian bisa berhati-hati."

"Ya, kami sendiri agak takut. Kalau tidak keberatan, maukah kau..., menemani kami sampai tujuan?" tanya Ningsih, ragu.

Rangga tersenyum. "Jika kalian berjalan terus ke kanan, maka tidak berapa lama lagi akan ketemu sebuah desa. Tempat itu cukup ramai dan aman bagi kalian," jelas Rangga, menolak secara halus.

"Ah! Kau benar, Kakang Rangga! Maaf, kalau kami merepotkan." Ningsih jadi tersipu malu. Dan sesaat matanya tidak berani memandang pemuda itu.

"Mungkin karena kau tengah ada urusan penting barangkali...," cetus Wulandari memancing.

"Begitulah kira-kira," sahut Rangga, mendesah.

"Kalau boleh tahu, urusan apa yang membuatmu harus buru-buru, Kakang?" tanya Ningsih, memberanikah diri.

"Aku tak bisa mengatakannya," sahut Rangga singkat sambil tersenyum.

"Maaf, mestinya aku tak bertanya seperti itu!" ucap Ningsih menyadari kesalahannya.

"Kurasa tidak ada lagi bahaya yang menimpa kalian berdua. Silakan lanjutkan perjalanan lagi!" lanjut Rangga seraya bersuit pendek memanggil kudanya.

Tak lama, muncul kuda gagah berbulu hitam mengkilat, langsung menghampiri Rangga.

"Kuda cerdik!" puji Ningsih.

"Kakang Rangga, benarkah kau tidak berkenan menerima undangan bila kami mengajakmu mampir barang sejenak?" tanya Wulandari. "Paling tidak, sebagai ucapan terima kasih...."

Rangga mengusap-usap leher kudanya sebentar. "Kurasa lain kali saja, Wulandari," tolak Rangga, halus.

"Bagaimana mungkin? Kau tidak tahu tempat kami...."

"Kalau begitu kenapa tidak katakan saja sekarang?" sahut pemuda itu seraya melompat ke punggung Dewa Bayu.

"Datanglah ke Lembah Darah. Di situ tempat tinggal kami," sahut Wulandari cepat. Padahal. Ningsih sudah beberapa kali menjawil tangannya, memberi isyarat. Tapi, agaknya tak dimengerti oleh Wulandari.

"Lembah Darah?" sebut Rangga dengan dahi berkerut.

"Eh! Maksud kami pada sebuah desa dekat lembah itu!" sahut Ningsih buru-buru memperbaiki kesalahan Wulandari tadi.

"Di mana Lembah Darah itu?" tanya Rangga.

"Di sebelah selatan Gunung Arga Kawung."

"O...!" Rangga mengangguk. "Nanti kapan-kapan kalau ada kesempatan aku berkunjung ke sana."

"Kami akan menunggumu dengan tangan terbuka!" sambut Ningsih cepat.

"Terima kasih. Kini aku pergi dulu! Heaaa...!"

Beberapa saat kemudian, Pendekar Rajawali Sakti telah jauh dari pandangan, dan akhirnya hilang sama sekali di tikungan jalan. Meski begitu, kedua gadis ini belum juga beranjak dari tempatnya.

"Kita kehilangan dia...," gumam Ningsih.

"Tapi dia telah menanam budi pada kita, Ningsih...."

"Kau lupa pesan ketua? Kita tak boleh menyertakan perasaan dalam tugas. Persetan dengan segala hutang budi! Tugas adalah tugas, dan patut dijalankan secara sungguh-sungguh. Kalau tidak, ketua akan murka pada kita!" tegas Ningsih.

"Lalu, apa yang mesti kita lakukan?"

"Dia hebat. Dan kita tak bisa meringkusnya berdua. Maka dari itu kita harus menghubungi kawan-kawan!"

"Aku tidak ikut!" sambar Wulandari cepat.

"Terserahmu! Asal saja, kau punya jawaban kalau majikan bertanya."

Wulandari terdiam.

"Hm.... Aku menangkap gejala aneh...," gumam Ningsih menyindir.

"Apa maksudmu?" tukas Wulandari.

"Kau menyukai pemuda itu, bukan?" tuding Ningsih.

"Ningsih! Jangan macam-macam!"

"Kau takut dia menjadi korban ketua kata?"

"Sudahlah!" sentak Wulandari seraya beranjak meninggalkan kawannya.

"Eh, mau ke mana kau?!"

"Bukankah katamu kita harus menghubungi kawan-kawan untuk meringkusnya?"

"Jadi kau akan ikut?"

Wulandari tak menjawab.

"Wulan! Kita mesti mengenyampingkan perasaan demi tugas. Ketua telah memberi perintah untuk meringkusnya. Beliau amat mendambakannya. Apakah kita mesti bersaing dengan ketua?" tukas Ningsih, datar.

"Ningsih, bicara apa kau?! Sudahlah! Aku tidak mau mengurusi soal itu lagi, Ayo, cepat! Sebelum dia pergi kelewat jauh!" ujar Wulandari dengan suara tinggi.

Dan tanpa menunggu jawaban kawannya, gadis itu telah berkelebat cepat. Ningsih menggeleng lemah. Dan sambil tersenyum segera disusulnya Wulandari.

********************

Kalau Rangga dikatakan memiliki keperluan penting, rasanya tidak juga. Tapi itu alasan tepat agar Wulandari dan Ningsih tidak terlalu memaksanya. Bagaimanapun, jalan bersama dua gadis kelihatan tidak bagus dilihat orang banyak. Apalagi berada di tempat mereka. Rangga bisa membayangkan hal-hal yang akan membuatnya tidak leluasa. Maka lebih baik menolak lebih dini. Soal janjinya dia akan datang, itu terserah nanti.

Setelah merasa agak jauh, Pendekar Rajawali Sakti melambatkan lari kuda. Lalu dia berhenti di dekat sebuah sungai kecil airnya cukup jernih.

"Ayo, Dewa Bayu! Minumlah sepuasmu. Dan setelah itu, merumput yang banyak. Kita istirahat barang sesaat di sini!" ujar Rangga seraya melompat turun dan mengusap-usap leher kudanya.

Dewa Bayu meringkik halus, lalu buru-buru menghampiri tepi sungai. Langsung direguknya air sungai sepuas-puasnya. Hal yang sama pun dilakukan Rangga pada tempat yang tidak seberapa jauh dari tunggangannya.

Meski siang ini matahari tidak bersinar garang, namun udara yang bertiup agak kencang, cukup membuat kantuk Rangga datang. Setelah dahaganya hilang, Pendekar Rajawali Sakti segera bersandar di bawah sebatang pohon. Dan perlahan-lahan matanya mulai terpejam.

"Hieee...!"

"Hei?!" Baru beberapa tarikan napas terlelap, Rangga sudah terjaga ketika mendengar ringkikan kuda di dekatnya. Buru-buru dia melompat, langsung memandang tajam ke sekelilingnya.

"Hm...." Rangga menggumam tak jelas, ketika di sekelilingnya kini belasan gadis berusia muda yang rata-rata membawa pedang telah siap mengurungnya. Semuanya mengenakan pakaian berwarna merah tanpa lengan dengan celana pangsi berwarna hitam pekat. Rambut mereka rata-rata panjang hingga ke pinggul, dengan ikat kepala dari logam berwarna putih keperakan. Hanya seorang yang mengenakan ikat kepala berwarna kuning keemasan.

"Siapa kalian?! Apa yang kalian inginkan?!" tanya Rangga, dingin.

"Meringkusmu!" sahut salah seorang gadis yang di kepalanya terdapat logam keemasan, tegas.

"Aku tak kenal kalian. Dan aku tak punya urusan! Atas dasar apa kalian hendak meringkusku?"

"Lebih baik kau tak banyak tanya. Dan, menyerahlah baik-baik sebelum kami kasar!" tandas gadis berikat kepala berwarna kuning keemasan yang agaknya bertindak sebagai pimpinan.

Rangga tersenyum dingin mendengar ancaman itu. Perlahan-lahan dia bangkit berdiri. "Hm.... Rupanya kalian sebangsa orang yang hendak memaksakan keinginan dengan cara mengancam? Aku ingin lihat, cara kasar yang bagaimana yang hendak kalian lakukan."

"Kalau begitu jangan menyesal! Kau yang memaksa!"

"Apa pun yang kalian lakukan, jangan harap mampu memaksakan kehendak padaku!"

Sambil mendengus geram, gadis berikat kepala kuning keemasan memberi isyarat pada yang lain untuk meringkus Pendekar Rajawali Sakti.

"Seraaang...!"

"Hiaaat...!"

"Hm!"

Tujuh orang gadis langsung meluruk cepat ke arah Rangga. Tiga bersenjata pedang, dua memegang tambang, dan dua lagi bersenjata rantai besi berukuran agak panjang.

"Hm.... Mereka hendak meringkusku! Apa sebenarnya yang diinginkan dariku?" gumam Pendekar Rajawali Sakti di hati.

Wut! Bet!

Tiga pedang meluruk ke arah Pendekar Rajawali Sakti dari tiga jurusan. Cepat tubuhnya mencelat ke atas. Begitu berada di udara, dua gadis yang bersenjata rantai siap menjerat kedua kaki dan pinggangnya.

Cring! Wuk!

Salah satu rantai dibiarkan Rangga menjerat pinggang. Sementara rantai yang lain berhasil ditangkapnya. Begitu tubuh Pendekar Rajawali Sakti berada ditanah, dua gadis itu berusaha menyentak rantai.

Tatkala Rangga membiarkan tubuhnya mengikuti arus sentakan, maka dua gadis lain yang bersenjata tambang berusaha meringkus kedua tangan dan kakinya.

"Hiyaaa...!" Rangga kembali melenting ke atas, lalu meluncur deras melepas tendangan lurus ke arah gadis yang rantainya membelenggu pinggangnya. Pada saat yang sama, rantai di tangannya dibetot keras.

Wut! Desss! Brukkk!

"Aaakh...!"

Dua jeritan keras terdengar. Seorang gadis terjajar ke belakang, terhantam tendangan Rangga pada dadanya. Sementara yang seorang lagi terjerembab, tersentak rantainya. Dan rantai besi itu kini berpindah ke tangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Kurang ajar! Yeaaa...!"

Lima gadis yang tersisa mulai kalap. Mereka langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan amarah meluap.

Cring!

"Heaaat...!"

Tapi Rangga tak mau tinggal diam. Rantai besi itu diputar-putamya untuk membendung serangan. Sementara rantai yang membelit pinggangnya dilepas dengan cepat.

Tring! Buk!

"Aouw!"

Pedang salah seorang gadis terpental dihantam ujung rantai di tangan Rangga. Dan yang seorang lagi perutnya tersambar rantai sampai terpental roboh. Melihat itu tiga gadis lainnya menyerbu dengan kalap.

********************

"Heaaa...!" Kembali Rangga memutar rantai yang dipegangnya. Namun, gadis-gadis itu cepat mencelat gesit menghindarinya. Bahkan berusaha menerobos pertahanan Pendekar Rajawali Sakti dengan cepat. Seorang menusukkan pedang ke jantung, dua lainnya menyambar kaki dan kedua pangkal lengan dengan tambang.

"Yeaaah...!" Rangga cepat bergulingan. Dan mendadak kedua kakinya cepat menghantam dua gadis yang memegang tambang.

Des! Des...!

"Aaakh...!"

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti berhasil menjatuhkan dua gadis, pedang yang dibawa gadis lain kembali meluruk. Bahkan gadis pemegang rantai besi yang tadi dijatuhkan, ikut membantu menyerang dengan rantai yang tadi dilepas Rangga.

"Huh...!" Dengan gerakan mengagumkan, Pendekar Rajawali Sakti memutar rantai satunya yang masih di tangan.

Cring! Cring!

Seketika, rantai di tangan Rangga membelit pedang dan rantai yang dipegang gadis yang tadi dijatuhkan. Lalu disentakkannya kuat-kuat. Dan....

"Lepas!" bentak Pendekar Rajawali Sakti dengan suara menggelegar.

Bentakan itu bukan saja menggetarkan setiap persendian di tubuh gadis-gadis ini, tapi juga membuat senjata mereka terlepas dari genggaman.

"Hup!" Saat itu juga Pendekar Rajawali Sakti melompat gesit, dan tegak berdiri mengawasi lawan-lawan lainnya yang telah siap menyerang.

"Hm.... Hebat juga kau rupanya!" dengus gadis berikat kepala kuning keemasan.

"Terima kasih. Tapi aku tak butuh pujian dari orang seperti kalian...!"

"Jangan sombong! Itu baru permulaan. Selanjutnya kau akan bertekuk lutut di hadapan kami!" desis gadis berikat kepala kuning keemasan sambil memberi isyarat pada anak buahnya.

"Yeaaa...!"

Serentak lebih dari lima belas gadis berpakaian merah telah maju bersamaan menyerang dengan ganas.

"Hmm...!" Rangga hanya bergumam tak jelas. Dipegangnya bagian tengah rantai besi dan diputar-putarnya, siap menghadapi lawan-lawannya.

Wut! Wuk!

Trang! Trak!

Beberapa pedang terpental dihantam rantai besi di tangan Pendekar Rajawali Sakti yang berputar cepat seperti baling-baling. Bahkan beberapa korban mulai berjatuhan terhajar rantai besi yang bergerak tak kepalang tanggung karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Aaakh...!"

Beberapa orang lagi jadi korban rantai besi yang berputar cepat dahsyat di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan tidak seorang pun dari gadis-gadis itu yang berhasil mendekat, meski berusaha mati-matian. Hal ini membuat gadis berikat kepala kuning keemasan yang merupakan pemimpin mereka berang.

"Heaat!"

Sambil membentak keras, gadis itu melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan pedang terhunus. Sementara Rangga menyambut dengan sabetan rantai besinya.

Cring! Wut! Wuk!

Gadis berikat kepala kuning keemasan itu menghantamkan pedangnya kuat-kuat. Coba dipapasnya tangan Rangga dengan gerakan cepat.

"Hiih!"

Tapi belum lagi niat gadis itu kesampaian, ujung rantai Pendekar Rajawali Sakti telah bergerak ke arahnya. Terpaksa serangannya ditarik, lalu melompat ke belakang untuk mengambil jarak. Pada saat yang sama, seorang gadis lain meluruk sambil menyabetkan pedangnya.

"Heaaat!"

"Uts...!" Pendekar Rajawali Sakti menunduk untuk menghindar, lalu jungkir balik beberapa kali mengelakkan sabetan senjata-senjata para pengeroyok. Begitu mendapat kesempatan, tubuhnya berkelebat, terus menyerang gadis berikat kepala kuning keemasan dengan sambaran rantai.

"Hup!"

Trang!

Rantai besi Rangga ditangkis sengit oleh gadis itu. Namun, justru tenaga tangkisan dipergunakan Pendekar Rajawali Sakti untuk memutar arah rantai besinya yang terus menyambar leher.

Wut!

"Ohh...!" Gadis itu gelagapan, namun cepat mencelat ke belakang. Sehingga, sabetan rantai itu luput dari sasaran.

Baru saja gadis ini menjejak tanah, dengan gerakan luar biasa cepat. Langsung dilepaskan satu tendangan ke perut.

Desss...!

"Ugkh!" Gadis berikat kepala kuning keemasan itu kontan terhuyung-huyung ke belakang. Rangga sudah hendak melepaskan serangan kembali, tapi lawan-lawannya yang lain melompat menyerangnya dari belakang.

"Hiih!" Sambil memutar tubuhnya, Pendekar Rajawali Sakti mengibaskan rantai besi di tangannya.

Trang! Wut!

Beberapa batang pedang langsung berpentalan dihantam rantai besi itu. Dan yang lainnya nyaris terhajar senjata di tangan Rangga kalau saja tidak cepat mengelak.

"Lari...!" teriak gadis berikat kepala kuning keemasan, menyadari kalau tak bakal unggul menaklukkan pemuda berbaju rompi putih itu.

"Hup!"

"Yeaaa...!"

Begitu mendengar teriakan bernada perintah, para gadis itu berlompatan mundur. Dan seketika mereka berkelebatan lenyap meninggalkan Rangga sendirian. Kawan-kawan mereka yang tadi dijatuhkan Pendekar Rajawali Sakti pun telah dipanggul oleh beberapa gadis itu. Sedangkan Rangga tak berusaha mengejar. Dibiarkan saja mereka menghilang di balik kerimbunan pohon di pinggiran sungai ini.

********************

"Tolooong...!"

Pendekar Rajawali Sakti menghentikan langkah Dewa Bayu, ketika tiba-tiba dari arah utara terdengar teriakan minta tolong. Pendengarannya segera dipertajam. Setelah merasa pasti kudanya cepat dibelokkan ke arah utara.

"Ayo, Dewa Bayu! Kita lihat apa yang terjadi!" ajak Pendekar Rajawali Sakti, seraya menggebah kudanya.

Sementara di sebelah utara, memang tengah terjadi pergumulan sengit antara seorang gadis yang tengah berusaha melepaskan diri dari dekapan laki-laki itu bertubuh besar. Bahkan tenaganya pun kuat, menindihnya.

"Hm, kurang ajar! Rupanya kau ingin dikasari, he? Baiklah kalau itu keinginanmu!" dengus laki-laki ini yang agaknya mulai kesal dengan tindakan gadis itu.

"Hiih!"

Bret! Bret!

"Aouw...!" Karuan saja gadis ini jadi kalang kabut sendiri ketika laki-laki itu merobek bajunya dengan kasar. Dengan sebisanya dia berusaha menutupi bagian dadanya yang terbuka lebar. Namun, laki-laki itu tak peduli. Dengan tangan kanan dirangkulnya pinggang gadis ini. Sementara tangan kirinya bergentayangan ke bagian tubuh mulus milik gadis ini.

"Keparat busuk! Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aouw...!" teriak gadis itu berulang-ulang.

Tapi percuma saja meronta-ronta dan memaki. Menghadapi laki-laki yang tengah kesetanan, gadis ini hanya membuang-buang tenaga percuma. Malah teriakan dan rontaannya semakin menimbulkan nafsu menggelegak di hati laki-laki itu.

"Kisanak! Hentikan perbuatan busukmu!"

Mendadak saja terdengar bentakan keras menggelegar. Dan tahu-tahu laki-laki ini merasakan pantatnya ditendang.

Duk!

"Adaouw!" Laki-laki itu menjerit kesakitan. Tubuhnya kontan terguling ke samping. Begitu bangkit, secepat kilat disambarnya golok yang tergeletak di tanah. Langsung dia memasang kuda-kuda untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sementara itu gadis yang akan menjadi korban nafsunya buru-buru bangkit. Sambil membenahi pakaian dihampirinya sosok pemuda berbaju rompi putih yang menolongnya dari tindakan bejad laki-laki itu. Langsung dipeluknya pemuda yang tak lain adalah Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

"Tolonglah aku, Tuan Pendekar! Tolonglah, Tuan! Dia hendak berbuat kotor padaku!" ratap gadis ini, memelas.

"Tenanglah, Nisanak. Aku akan menolongmu...," sahut Rangga berusaha menepiskan pelukan gadis ini.

"Tapi, Tuan...."

"Bocah keparat! Berikan dia padaku kalau mau selamat!"

Kata-kata gadis ini terhenti ketika laki-laki yang hendak menodainya membentak garang.

"Hm.... Biar bagaimanapun dia tak akan kuberikan padamu!" sahut Rangga kalem.

Di luar perkiraan, dan tanpa menimbulkan kecurigaan sedikit pun, gadis dalam pelukan Rangga merogoh sesuatu dari sakunya. Begitu tangannya keluar, dengan gerakan cepat dibekapnya mulut dan hidung Rangga. Dan....

"Ohhh...!" Saat itu juga Rangga merasakan tubuhnya terasa lemas. Persendiannya terasa kaku dan sulit digerakkan. Seperti batang pisang, tubuhnya ambruk ke tanah.

"Hi hi hi...! Akhirnya dapat juga kami meringkusmu dengan aji 'Lumpuh Raga'!" kata gadis ini sambil memasukkan saputangan yang dipergunakan untuk membeka Rangga.

Sedangkan laki-laki yang tadi hendak menodai, tiba-tiba saja telah berada di dekat gadis ini sambil tertawa lebar. Memang kejadian ini di luar perhitungan Rangga. Sungguh tak diduga kalau gadis ini mengatur siasat untuk meringkusnya dengan bersandiwara, pura-pura hendak diperkosa oleh laki-laki itu. Samar-samar telinganya masih mendengar suara gadis dan laki-laki itu. Namun, lambat laun kesadarannya mulai hilang. Penglihatannya pun mengabur. Sebentar kemudian Pendekar Rajawali Sakti pingsan oleh aji yang kata gadis itu bernama 'Lumpuh Raga'.

Dalam rimba persilatan, ajian itu memang memiliki berbagai macam nama dan cara menggunakannya. Namun tujuannya satu, untuk melumpuhkan musuh, tanpa menggunakan kekerasan. Hebatnya, ajian 'Lumpuh Raga' bekerja bagai totokan tokoh persilatan yang bertenaga dalam sangat tinggi. Bila si korban telah sadar, maka tubuhnya tak mampu digerakkan lagi dalam waktu singkat, walaupun telah mengerahkan hawa murni.

********************

"Kini kau baru rasakan kalau kebaikanmu akan berakibat kematianmu!" kata laki-laki itu dingin, begitu Rangga telah tersadar.

"Perempuan laknat! Kalian rupanya bersekongkol! Apa maksud kalian membiusku?" bentak Rangga, sambil mengerahkan hawa murni. Namun hasilnya tetap nihil.

"Ketuaku menginginkanmu. Dan untuk itu maka dia harus mendapatkannya!" jelas gadis itu, menyahuti.

"Siapa ketuamu?"

"Nanti pun kau akan mengetahuinya."

"Di mana ketuamu tinggal?!"

"Di Lembah Darah...!"

Rangga tersentak kaget mendengar Lembah Darah disebutkan. Dia jadi teringat pada Wulandari yang menawarkan untuk tinggal di rumahnya, di Lembah Darah. Apa hubungannya gadis ini dengan Wulandari?

Gadis ini lantas memberi isyarat pada laki-laki teman sekongkolannya. "Bawa dia, Rupangga!" ujar gadis ini.

"Beres, Panglima Kencana," sahut laki-laki bernama Rupangga.

"Hati-hati! Siapa tahu dia berusaha membebaskan diri dari aji 'Lumpuh Raga'ku tadi," ingat gadis yang dipanggil Kencana.

"Jangan khawatir, Panglima Kencana!"

Tapi baru saja mereka hendak melangkah meninggalkan tempat ini, sekonyong-konyong muncul seorang laki-laki tua. Rambutnya putih. Tangannya membawa guci arak yang sesekali ditenggaknya.

"He he he...! Dari mana kalian?" tanya laki-laki ini dengan tubuh sempoyongan.

"Orang tua, minggir kau!" bentak Kencana.

"Apa?! Kurang ajar! Kau sebut aku orang tua?! Dasar tak tahu diri. Tahukah kau, siapa aku se-benarnya? Aku adalah seorang pangeran muda yang gagah dan tampan!" semprot laki-laki tua, geram.

"Dasar sinting!" umpat Rupangga.

"Apa katamu?! Kurang ajar! Setan!"

Bukan main geramnya laki-laki tua pemabuk itu mendengar ucapan barusan. Mukanya tegang dan matanya melotot lebar. Dan tiba-tiba saja tuak yang ada dimulutnya disemburkan kearah Rupangga. "Fruiih!"

Werrr!

"Hei?!" Rupangga terkejut. Demikian pula Kencana di dekatnya. Semburan tuak yang dilancarkan laki-laki tua ternyata bukan sembarangan. Selain menimbulkan angin kencang pertanda dilepaskan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi, juga terlihat percik-percik bunga api.

"Hup!" Untung Rupangga dan Kencana mampu menghindar dengan melompat ke kanan dan ke kiri. Namun tak urung jantung mereka berdetak lebih kencang. Sadarlah mereka kini kalau orang tua di depannya bukan sekadar pemabuk biasa.

"Pemabuk Dari Gunung Kidul!" seru Kencana.

Demi mendengar nama itu, Rangga tersenyum gembira. "Hei, Sobat! Hati-hati! Tuakmu salah-salah bisa kena tubuhku!" teriak Rangga.

"He, siapa kau?!" seru laki-laki tua yang ternyata berjuluk Pemabuk Dari Gunung Kidul sambil celingak-celinguk memperhatikan pemuda yang tengah dipanggul itu. Sebelah tangannya memayungi kedua alisnya.

"Sial! Kukira siapa?! Hei, Rangga! Apa yang kau lakukan disini?! Seperti bocah saja main panggul-panggulan. Ayo turun!" umpat Pemabuk Dari Gunung Kidul.

"Siapa yang tengah main panggul-panggulan?! Mereka telah memperdayaiku. Sobat, lepaskan aku!" pinta Rangga.

"Kenapa rupanya? Apakah kau tidak bisa turun sendiri? Suruh saja kawan-kawanmu menurunkannya!"

"Mereka bukan kawan-kawanku!"

"Apa?!" Laki-laki tua bernama asli Ki Demong itu, terpana barang sesaat. Tapi kemudian tergelak sendiri. Lalu ditenggaknya tuak dalam guci tersebut (Tentang Pemabuk Dari Gunung Kidul baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode Satria Pondok Ungu).

"He he he...! Dasar bocah geblek! Apa yang kau lakukan sampai diringkus mereka? He he he...!" ledek Ki Demong, seraya menenggak tuak dari gucinya.

"Sudahlah jangan banyak tanya! Lepaskan aku dari cengkeraman mereka!"

"Sabar dulu! Mereka toh, tak ke mana-mana...," sahut Ki Demong kalem, dan kembali menenggak tuaknya.

Rangga menggerutu habis-habisan dalam hati melihat tingkah Pemabuk Dari Gunung Kidul. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Kalau Rangga mengomel, bisa jadi Ki Demong akan membiarkan saja. Atau bahkan pergi begitu saja. Tingkah laki-laki tua itu memang suka aneh-aneh!

Sebaliknya, kedua orang yang tadi memperdaya Rangga dengan aji 'Lumpuh Raga' mulai berpikir keras bagaimana caranya menyelamatkan diri dari Pemabuk Dari Gunung Kidul sekaligus membawa serta tawanan. Mereka tahu, Ki Demong bukan orang sembarangan. Dan kalau untuk bertempur, rasanya sulit untuk menang. Apalagi bisa menjatuhkannya.

"Kisanak! Sebaiknya kau tak mencampuri urusan kami!" ujar Kencana, mengingatkan.

"He he he...! Mana mungkin? Kawanku telah kau ringkus. Dan kau suruh aku untuk diam saja? Aku justru ingin meringkus kalian!" sahut Ki Demong enteng.

"Kalau kau berkeras, maka kawanmu ini akan mampus di tangan kami!" ancam gadis itui.

"Kau mau membunuhnya?" tanya Ki Demong dengan mata melotot lebar dengan sepasang alis terangkat.

"Kenapa tidak? Dengan mudah akan kami lakukan! Tapi, dia akan selamat kalau kau tidak macam-macam!"

"He he he...! Bocah sial! Apa kau kira bisa mengancamku, he?!"

"Aku bersungguh-sungguh!"

"Ayo bunuh dia! Cepat lakukan di depan mataku. Dan setelah itu, maka giliran kalian berdua akan kucincang!" dengus Ki Demong.

Rupangga dan Kencana menarik napas kesal. Mereka memang tak mungkin membunuh Rangga, sebab sang ketua menginginkan untuk dibawa ke hadapannya dalam keadaan hidup. Tapi, agaknya Kencana coba melanjutkan ancaman sambil mencabut pedang yang siap ditebaskan ke leher Rangga.

"Kuhitung sampai tiga. Kalau kau tidak angkat kaki, maka kepala pemuda ini akan menggelinding!" gertak Kencana.

"Kenapa mesti hitung-hitung segala? Ayo tebas kepalanya sekarang juga!" seru Ki Demong sambil tertawa lebar.

"Setan! Rupangga! Bereskan dia!" dengus Kencana, gusar.

"Baik, Panglima!" Laki-laki itu menyerahkan Rangga pada Kencana. Kemudian pedang dipinggangnya dicabut, siap menyerang Ki Demong.

Sementara itu Kencana yang telah memanggul tubuh Rangga, bersiap melarikan diri dari tempat ini.

"He he he...! Mau coba kabur, he? Jangan harap!" ejek Pemabuk Dari Gunung Kidul seraya menyemprotkan tuak di mulutnya ke arah Kencana.

"Pruihhh!"

"Yeaaa...!"

Melihat panglimanya dalam keadaan bahaya, Rupangga langsung menghunus pedang ke tenggorokan. Tanpa menoleh sedikit pun, Ki Demong menangkis dengan gucinya.

Tang!

Rupangga bukan saja tangannya terasa kesemutan ketika pedangnya menghantam guci. Tapi, senjata antik Ki Demong itu pun secepat kilat menyambar ke arah mukanya. Kalau dia tidak cepat jungkir balik kebelakang, bukan tidak mungkin muka akan remuk.

"Hup!"

"Yeaaa...! Kau tak akan bisa kabur dariku, Gadis Liar!" dengus Pemabuk Dari Gunung Kidul seraya mengejar Kencana yang berusaha melarikan diri.

"Matilah kau, Pemabuk Gila!" desis gadis itu seraya berbalik dan menyabetkan pedangnya.

"He he he...! Tidak kena! Tidak kena!" ejek Ki Demong, setelah berhasil menghindar dengan mencelat ke atas. Di udara, dia menenggak tuak.

"Pruih!"

"Uts! Bangsat!" Kencana memaki-maki geram ketika tuak yang disemprotkan Ki Demong hampir saja menyiram mukanya kalau tidak mengegos ke samping.

********************

"Agaknya dia tak peduli, apakah tuaknya akan menghantam aku atau pemuda ini!" gumam wanita itu, semakin geram.

"Yeaaa...!" Sementara itu Rupangga kembali menyerang dari belakang. Tapi seperti tadi, Ki Demong tidak mau terlalu ambil pusing dengannya. Serangannya lebih diutamakan pada gadis yang memanggul tubuh Rangga. Tentu saja tanpa melupakan serangan Rupangga.

Wut! Tang!

"Heaaat...!"

Sambil mengibaskan guci menangkis tebasan pedang Rupangga, sebelah kaki Pemabuk Dari Gunung Kidul menyodok perut Kencana. Dengan cepat gadis itu melompat ke kiri dan membalasnya dengan tebasan pedang. Saat itu juga Ki Demong buru-buru menyemprot tuaknya.

"Pruih!"

"Uts! Keparat!" Kencana cepat membabatkan serangannya. Dan dengan kalang kabut dia berusaha menghindar dengan membuang tubuhnya ke tanah. Sementara Ki Demong mengikutinya. Begitu gadis itu bangkit, secepat kilat ia mengirim tendangan telak ke dada.

Duk!

"Aaakh...!" Tak ampun lagi, Kencana terjerembab ke belakang disertai jerit kesakitan. Tubuh Rangga pun ikut terjungkal seperti batang pohon ambruk.

"Hup!" Kencana cepat bangkit berdiri. Lalu dengan cepat tubuhnya berbalik.

"Rupangga! Cepat lari!" teriak gadis itu.

"Hei?! Kurang ajar! Mereka coba kabur!" dengus Ki Demong ketika Kencana dan Rupangga mendadak berkelebat kabur dari tempat ini.

Sementara Ki Demong tidak beranjak dari tempatnya. Dia malah tenang-tenang saja menenggak tuak, tanpa berniat mengejar.

"Dasar pemabok!" umpat Rangga dalam hati.

"Ya, sudah. Biarkan saja!"

Rangga telah selesai bersemadi, untuk mengusir pengaruh aji 'Lumpuh Raga' dalam dirinya. Ajian itu selain menggunakan ramuan khusus yang terbuat dari candu yang sangat hebat daya kerjanya, juga harus menggunakan mantera-mantera tertentu.

Dengan menghirup candu, tubuh Rangga jadi lemas tak bertenaga. Sementara mantera digunakan untuk melumpuhkan kesadarannya beberapa saat. Untuk mengusir candu yang terhirup, karena Rangga tak sempat memindahkan pernapasannya ke perut, terpaksa harus bersemadi. Tadi saja, Pendekar Rajawali Sakti muntah beberapa kali untuk mengusir hawa candu yang masih bersemayam di peredaran darahnya.

Setelah bersemadi, Pendekar Rajawali Sakti merasakan tubuhnya jadi segar kembali. Sedangkan Pemaduk Dari Gunung Kidul tampak menunggu sambil sesekali menenggak tuaknya.

"Hm.... Aku ingin tahu, kenapa mereka hendak menangkapku!" gerutu Rangga, kesal.

"Mungkin gadis itu naksir padamu! Dan dia melakukannya dengan cara aneh," sahut Ki Demong asal-asalan.

"Kurasa malah dia naksir padamu!"

Ki Demong malah terkekeh. "Sayang sekali, aku telah mengecewakannya. Aku tak suka dengan perempuan seperti itu," sahut Ki Demong enteng.

Rangga menghela napas panjang. Bicara dengan laki-laki tua ini akan sinting sendiri karena kesal bercampur gondok.

"Kau hampir mencelakaiku, Ki...."

"Kapan? Kapan?!" tanya laki-laki tua ini pura-pura kaget.

"Tuak yang kau semprotkan secara sembarangan itu."

"O, itu. Ha ha ha...! Kenapa? Apakah kau takut?!"

"Bukan. Aku hanya tak ingin ketularan bau mulutmu," sahut Rangga.

Tapi Ki Demong malah ketawa ngakak.

"Dengar, Ki! Ada hal aneh yang dalam waktu dekat ini membingungkan," lanjut Rangga sungguh-sungguh dengan harapan Ki Demong akan menanggapinya.

"Hm, soal apa?" tanya Ki Demong setelah menyeka sisa tuak di bibirnya.

"Ada orang-orang yang ingin menangkap dan meringkusku. Kau tahu, ada apa di balik semua ini? Dan, siapa orang-orang itu?"

"Kau banyak punya musuh. Kenapa mesti heran kalau ada yang ingin menangkap dan meringkusmu? Bahkan kalau ada yang beramai-ramai membunuhmu pun, aku tak heran," sahut Pemabuk Dari Gunung Kidul, enteng.

"Belum lama sekelompok perempuan coba menangkapku. Lalu, yang baru saja terjadi. Sepertinya mereka ingin menangkapku hidup-hidup untuk diserahkan pada ketua mereka," jelas Rangga melanjutkan, tak mempedulikan tanggapan orang tua itu.

"Wanita? Gila! Tampangmu lumayan juga. Tapi kalau sekelompok wanita menginginkanmu, apa tidak gempor kau meladeni mereka?!"

"Sial!" gerutu Rangga. "Coba dengar baik-baik, Ki. Bukan hal seperti itu yang kumaksudkan. Mereka menangkapku, karena mendapat perintah dari ketua mereka."

"Perempuan atau laki-laki?"

"Aku tidak tahu!"

"Pasti perempuan!" tebak Ki Demong. "Tidak mungkin laki-laki menginginkan laki-laki. Kalau majikan mereka laki-laki, maka perintahnya pasti membunuhmu. Huh! Perempuan di mana-mana sama saja. Kalau punya kedudukan dan sedikit kekuasaan, niatnya selalu ke laki-laki untuk melampiaskan nafsu kewanitaannya!"

"Kau ini bicara apa, Ki? Aku bahkan tak tahu, apa yang diinginkan pemimpin mereka."

"Kau kira apa? Jelas dia menginginkanmu.'"

"Untuk apa?"

"Dasar tolol! Dia menginginkanmu, apakah kau tidak mengerti? Seorang wanita menginginkan seorang laki-laki! Masih tak mengerti juga?!"

"Hm, entahlah...," desah Rangga mulai malas meladeni ocehan Pemabuk Dari Gunung Kidul yang dianggap semakin melantur.

"Eh, kalau tak ada masalah lagi sebaiknya aku pamit dulu...."

Sebelum Rangga menyahut, Ki Demong telah lebih dulu berkelebat cepat. Sebentar saja tubuhnya telah lenyap dari pandangan.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Kencana duduk bersila bersama beberapa gadis lain di depan seorang wanita muda berkulit putih. Rambutnya panjang menjuntai hingga ke lantai, menutupi sebagian tubuhnya yang agak terbuka. Kepalanya dihiasi mahkota dari emas bertatahkan berlian. Wajahnya cantik dengan sepasang mata bulat dan alis lebat. Bibirnya merah merekah. Sulit rasanya bagi seorang laki-laki dewasa untuk berpaling setelah melihat wajahnya.

"Hamba menghadap bersama kawan-kawan, Tuanku...!" ucap Kencana seraya menjura hormat.

Gadis ini tampak sudah berpakaian merah dengan celana pangsi hitam. Di kepalanya tampak ikat kepala dari logam berwarna kuning keemasan. Ada seorang gadis lain yang berikat kepala sama dengannya. Sedangkan gadis-gadis lain mengenakan ikat kepala putih keperakan.

"Hem, apa yang kau bawa untukku, Panglima Kencana?" tanya wanita itu dengan suara halus.

"Ampunkan kami, Tuanku Anjarasih," ucap Kencana lagi.

"Kalian gagal?"

"Begitulah agaknya, Tuanku Anjarasih," sahut Kencana ragu.

"Kurang ajar!" Wanita yang dipanggil Tuanku Anjarasih mendadak bangkit. Dan matanya memandang marah pada Kencana serta kawan-kawannya.

"Berapa jumlah yang kuberikan padamu untuk meringkus pemuda itu?!"

"Lima belas, Tuanku."

"Dan ternyata gagal? Apa yang bisa kalian lakukan? Membelai dan merayunya? Atau hanya tertawa-tawa menggoda?!"

"Kami telah berusaha dengan segala daya, Tuanku. Bahkan dalam satu kesempatan, hamba berhasil meringkusnya dengan bantuan Rupangga. Tapi, saat itu datang seseorang yang mengacaunya...," jelas Kencana.

"Siapa?" cecar Anjarasih.

"Pemabuk Dari Gunung Kidul."

"Hm....!? Orang itu rupanya. Sungguh lancang dia berani mencampuri urusanku!" desis Anjarasih.

"Kami tak tahu lagi harus berbuat apa untuk meringkusnya, Tuanku...."

"Tolol! Goblok! Kenapa mengerjakan tugas begitu mudah saja tak mampu?! Buat apa kalian membekali saputangan yang berisi ajian 'Lumpuh Raga'?!" maki wanita itu dengan muka berkerut menahan marah.

"Ampunkan kami, Tuanku...," ucap Kencana lirih dengan kepala tertunduk.

"Kalau mereka tak mampu biar kami yang meringkus pemuda itu, Tuanku!" kata seorang gadis berikat kepala kuning keemasan, seraya menjura hormat.

"Hm. Apa rencanamu, Sekar?" tanya Anjarasih, menoleh ke arah gadis yang dipanggil Sekar.

"Serahkan saja pada kami, Tuanku. Maka segalanya akan beres!" tegas Sekar, mantap.

"Kau yakin, Sekar?"

"Apakah selama ini hamba pernah mengecewakan Tuanku? Hamba selalu melakukan yang terbaik bagi Tuanku!"

"Ya! Tapi aku perlu mendengar, apa rencanamu untuk meringkusnya?"

"Pertama-tama kami akan menggunakan kekerasan...."

"Kalian tak akan mampu. Pendekar Rajawali Sakti bukan orang sembarangan."

"Mungkin saja, Tuanku. Tapi kalau tak kena juga, maka akan kami gunakan cara halus."

"Cara halus bagaimana yang kau maksudkan?"

"Kita sebagai wanita, punya segala macam cara untuk memperdaya kaum laki-laki. Nah! Daya ini yang hamba maksudkan untuk meringkusnya," jelas Sekar tanpa menyebutkan secara terperinci, cara halus bagaimana yang dimaksudkan.

Dan agaknya wanita muda itu tidak mau terlalu bertele-tele. "Baiklah, Sekar. Kuberikan tugas ini padamu. Kalau gagal, maka kalian semua akan mendapat hukuman, karena berani mengajukan diri dan merasa mampu meringkus pemuda itu!"

"Bagaimana kalau kami berhasil, Tuanku?" pancing Sekar, dengan bola mata berbinar penuh harap.

"Apa yang kau minta akan kukabulkan!" tandas Anjarasih.

"Terima kasih, Tuanku."

"Nah! Sekarang juga kuperintahkan padamu untuk berangkat!"

"Baik, Tuanku!" Maka tanpa menunggu banyak waktu lagi, Sekar segera angkat kaki dari balairung yang menjadi tempat pertemuan ini.

"Dan bagi Kencana dan kawan-kawannya, hukuman telah menanti!" lanjut Anjarasih.

"Tuanku, kami siap menerima hukuman yang diberikan!" sahut mereka serentak.

"Kalian semua akan kuikat pada tonggak-tonggak kayu di Padang Neraka selama tiga hari!"

"Ohhh...?!"

Para gadis yang hadir di sini berseru kaget mendengar keputusan itu. Padang Neraka adalah suatu tempat yang amat tandus, dan jarang ditumbuhi rerumputan. Suhu di sana tinggi sekali, dengan udara kering. Apalagi dalam musim panas seperti sekarang. Jarang ada yang selamat dari hukuman itu. Apalagi selama tiga hari!

"Terima hukuman itu atau kupenggal leher kalian satu persatu?!" bentak Anjarasih.

"Kami terima hukuman itu, Tuanku...!" sahut mereka.

"Bagus! Jadi bila ada di antara kalian yang masih hidup setelah waktu tiga hari, maka boleh kembali mengabdi padaku."

"Terima kasih, Tuanku!"

"Hm!" Anjarasih lantas memberi isyarat. Maka, belasan pengawalnya yang terdiri dari laki-laki dan perempuan segera menggiring rombongan yang dipimpin Kencana.

********************

LIMA

Siang yang amat terik, membuat Pendekar Rajawali Sakti mampir di sebuah kedai di desa yang tak jauh dari Lembah Darah. Sejak tadi pagi Rangga berkuda dari Lembah Tengkorak.

Di dalam kedai ini, pembicaraan beberapa pengunjung semula tidak menarik minat telinga Rangga. Tapi ketika seseorang menyebut-nyebut nama Lembah Darah, maka telinganya segera dipasang tajam-tajam.

Mengingat nama Lembah Darah, membuat Rangga juga teringat dengan beberapa kejadian yang dialami. Sejak pertemuannya dengan Wulandari yang mengajaknya ke Lembah Darah, sampai pada seorang gadis yang berhasil meringkusnya, dan hendak membawanya ke sana. Atas dasar ini, Rangga jadi tertarik ingin menyelidiki lebih lanjut.

"Hei, kenapa susah-susah?! Kalau kau ingin bekerja dan dapat uang banyak, kenapa tidak datang saja ke sana? Banyak pekerjaan dan upahnya pun besar!" jelas seorang laki-laki berperut buncit. Mukanya bulat dan lebar.

"Kerja apa di sana, Mbul?" tanya laki-laki lain, berwajah penuh bopeng, bekas luka cacar.

"Apa saja, Bopeng. Di sana, nanti akan dibagi-bagi tugas apa yang mesti dikerjakan," jelas laki-laki yang dikenal bernama Gembul ini.

"Memangnya kita kerja dengan siapa?" tanya laki-laki bernama Bopeng.

"Anjarasih."

"Anjarasih? Siapa dia?" tanya laki-laki berbadan kurus dengan mata sayu.

"Alaaah.... Masa' kau tak tahu, Kaspa? Itu..., wanita paling kaya di wilayah barat. Eh! Dia cantik dan kaya, Iho! Siapa tahu saja dia terpikat padamu!" olok Gembul.

"Ha ha ha...! Anjarasih mana mungkin mau padanya. Matanya saja seperti orang mengantuk!" ejek laki-laki berkumis tipis.

"Hei, Cakra! Jelek-jelek begini sudah sepuluh gadis yang kutolak cintanya!" sahut laki-laki berbadan kurus yang bernama Kaspa.

"Huu, dasar Kaspa!" seru Gembul.

"Eh! Ngomong-ngomong yang namanya Anjarasih itu apa betul masih sendiri? Dari mana dia dapat kekayaan begitu banyak? Apa dia putri raja yang dalam pengasingan?" tanya Kaspa, terlihat sungguh-sungguh.

"Entahlah.... Aku sendiri tak tahu. Yang kutahu dia hidup sendiri di istananya yang hampir selesai dibangun. Mungkin saja dia putri raja yang tengah diasingkan di lembah itu," sahut Gembul.

Pendekar Rajawali Sakti terus memasang telinganya. Sebentar keningnya berkerut tajam, sebentar kemudian biasa kembali.

"Hm.... Mungkin hanya kebetulan saja. Wulandari bertempat tinggal di lembah itu," gumam Rangga coba mengabaikan apa yang tengah dipikirkannya saat ini.

"Yang lebih heran lagi," lanjut Gembul. "Anjarasih itu banyak memiliki anak buah wanita muda. Dan rata-rata cantik!"

"Dasar kau, Mbul! Kalau bicara perempuan, selalu saja wajahmu berseri-seri!" celetuk Cakra.

"Kapan lagi? Mumpung masih muda dan belum kawin!"

"Wajah boleh saja mengaku muda. Tapi, umurmu kan sudah kepala tiga! Dan sampai sekarang belum laku-laku juga!" timpal Kaspa.

"Dibanding nasibmu, mungkin aku lebih baik.

Aku pernah beberapa kali diajak kawin oleh gadis-gadis sekampungku. Tapi kau...? He he he...!" Gembul tak melanjutkan kata-katanya karena keburu tertawa sendiri.

"Sudahlah, sudah! Itu terus yang diomongin!" tukas Kaspa kesal.

"Makanya jangan mulai lebih dulu!" kata Cakra.

"Sudahlah. Lebih baik kita pulang saja. Sebentar lagi sore. Nanti kita kemalaman tiba di sana," ajak Kaspa.

"Ayolah!"

"Selamat siang, Kisanak semua...."

"Heh?!" Gembul dan kawan-kawannya tersentak kaget. Mereka langsung mencabut golok masing-masing begitu tahu-tahu di depan berdiri seorang pemuda berbaju rompi putih.

"Tenanglah, Kisanak semua. Aku sama sekali tak bermaksud jahat," ujar pemuda yang tak Iain Pendekar Rajawali Sakti.

"Siapa kau?!" berjtak Gembul, dengan wajah garang.

"Namaku Rangga...," sahut Rangga, kalem.

"Apa maksudmu menghadang kami?!" cecar Gembul.

"Aku sempat mencuri dengar pembicaraan kalian. Dan kalau tidak salah, katanya kau bekerja pada Anjarasih yang tinggal di Lembah Darah?"

"Hm, memang betul. Lalu, apa maumu?!" tanya Gembul masih dengan nada tinggi.

"Kebetulan aku punya dua orang kawan yang berasal dari sana. Dan..., mungkin kau mengenal mereka," sahut Pendekar Rajawali Sakti, ramah.

"Siapa?"

"Namanya Ningsih dan Wulandari. Kau kenal mereka?"

Gembul berpikir beberapa saat, dan coba mengingat-ingat nama-nama yang disebutkan Rangga barusan.

"Anak buah Anjarasih banyak. Dan aku tak bisa mengingatnya satu persatu. Apalagi yang wanita!"

"Hm, sayang sekali. Padahal mereka mengundangku ke sana. Dan aku lupa menanyakan secara persis rumah mereka...."

"Di sana tak ada rumah, tapi istana milik Anjarasih!" sahut Gembul masih tetap curiga pada pemuda itu.

"Ah, ya! Aku lupa. Maksudku mereka tidak memberitahu di bagian mana bekerjanya. Mungkin kau bisa bantu? Penting sekali bagiku untuk bertemu mereka."

"Apakah mereka kekasihmu?"

"Hm, bukan," sahut Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti khawatir ada kebijaksanaan lain di tempat yang katanya istana milik, Anjarasih jika mengaku sebagai kekasih salah seorang dari wanita itu? Mungkin saja nantinya Gembul akan mengatakan kalau Anjarasih melarang anak buahnya untuk memiliki kekasih.

"Kenapa mesti berdusta? Kalau benar dia kekasihmu, maka Anjarasih tentu akan senang sekali."

"Sementara ini mungkin belum. Tapi..., kami sudah berkawan dekat," sahut Rangga berdusta sambil tersenyum malu-malu.

"He he he...! Kenapa tidak bilang dari tadi?"

"Aku..., malu."

"Sudahlah. Aku mengerti sekarang," ujar Gembul seraya menyarungkan golok. "Kalau hendak bertemu dengannya, kenapa tidak datang saja ke Lembah Neraka?"

"Eh, bolehkah?!"

"Tentu saja!"

"Tapi, aku tak tahu di mana tempat itu...."

"Ikut saja dengan kami. Nanti kita ke sana sama-sama!"

"Benarkah?! Oh, terima kasih! Terima kasih!"

"Sudahlah. Ayo kita berangkat ke sana sama-sama!" ajak Gembul tanpa curiga lagi.

Rangga, Gembul, dan rombongannya tiba di sebuah lembah permai yang dikenal sebagai Lembah Darah. Dari kejauhan terlihat betapa rindang dan sejuknya tempat itu. Tampak sebuah bangunan besar berdiri kokoh di sana. Bangunan yang belum seluruhnya selesai, serta masih dikerjakan oleh lebih dari seratus pekerja.

"Kita lewat sana!" tunjuk Gembul mengajak untuk masuk lewat pintu gerbang kecil.

"Kenapa tidak jalan sana?" tanya Rangga, menunjuk pintu gerbang utama.

"Itu untuk tamu-tamu istimewa Anjarasih. Tapi kalau untuk orang-orang seperti kita, maka lewat sini yang diperbolehkan. Lagi pula penjagaan di sana sangat ketat. Kalau lewat sini, aku bisa memberi alasan tepat jika ditanya penjaga," jelas Gembul.

"Hm.... Alasan apa yang ingin kau kemukakan jika penjaga bertanya?" tanya Rangga, ingin tahu.

"Apalagi? Kukatakan saja kalau kau ingin ikut bekerja di sini."

"Alasan bagus! Tapi kerja apa yang cocok untukku?"

"Kau bisa silat?"

"Sedikit-sedikit..."

"Nah! Nanti akan kukatakan kalau kau ingin bekerja sebagai keamanan. Setelah segala sesuatunya beres, kau bisa mencari kedua gadis itu," papar Gembul.

"Baiklah," kata Rangga, sambil mengangkat kedua bahunya.

Kini, mereka memasuki sebuah lorong yang tidak terlalu panjang. Di ujungnya, terdapat sebuah ruangan besar dengan lantai hitam mengkilap, dipenuhi tiang-tiang besar. Di ujung lorong berdiri tegak empat orang penjaga yang langsung mencegat.

"Aku Gembul yang bekerja pada Panglima Sekar, satuan pengawal pribadi Gusti Anjarasih!"

"Apa yang kau bawa?" tanya salah seorang penjaga.

"Aku membawa teman yang ingin bekerja untuk kami."

"Hm!" Penjaga itu bergumam dingin. Lalu bersama tiga kawannya, dia meneliti Pendekar Rajawali Sakti dari ujung rambut sampai kaki.

"Empat orang?"

"Ya. Kenapa rupanya? Apakah ada larangan untuk mengabdi pada Gusti Anjarasih?"

"Tidak. Kalau begitu masuklah. Temui bagian penerima pekerja."

"Baik, terima kasih!"

Mereka pun melewati ruangan ini. Tatapan mata Pendekar Rajawali Sakti tidak lepas-lepas mengawasi keadaan sekelilingnya. Ramai sekali orang yang tengah bekerja, atau sekadar lalu-lalang. Entah, apa yang mereka kerjakan. Kini tak lama kemudian mereka tiba di suatu ruangan kecil.

"Ruangan ini khusus untuk menerima pekerja baru. Kalian tunggu di sini. Sedangkan aku akan memberitahu petugas yang menerima pekerja baru," kata Gembul.

"Baiklah..."

Gembul segera angkat kaki dari tempat itu. Sedangkan Kaspa, Cakra, Bopeng, dan Rangga memandang ke sekeliling tempat penuh takjub. Mereka berdiri di dekat pintu, mengagumi dinding ruangan yang kokoh itu. Namun ketika Rangga kembali ke dalam dan duduk tenang, buru-buru ketiga teman Gembul melompat keluar.

"Hup!" "Hei?!"

Breg!

"Keparat busuk!"

Rangga terkejut ketika mendadak pintu ruangan telah terkunci oleh tembok tebal yang jatuh cepat dari atas. Apalagi, keadaan ini benar-benar tak terduga, tanpa Rangga mampu berbuat sesuatu.

"Hei, apa-apaan ini?! Keluarkah aku dari sini. Atau, kuhancurkan tembok ini?!" bentak Rangga garang.

"Tembok ini dilapisi berlembar-lembar baja yang tebal dan kokoh. Akan sulit bagimu untuk menghancurkannya walau kutahu kesaktianmu sangat tinggi!"

Terdengar sebuah suara bergaung di dalam ruangan kecil yang mengurung Rangga.

"Setan alas! Jangan kira aku tak mampu menghancurkannya!" teriak Rangga.

"Mungkin saja kau mampu menjebolnya. Tapi kami telah memperhitungkan hal itu. Makanya, telah kami siapkan sesuatu yang khusus bagimu!"

Setelah suara berhenti, dari beberapa sudut ruangan mengepul asap putih yang cepat memenuhi ruangan.

"Uh, setan! Dari baunya, ini jelas asap yang berasal dari aji 'Lumpuh Raga', yang pernah digunakan gadis bernama Kencana...."

Rangga berusaha memindahkan napasnya ke perut. Namun asap putih itu terus memenuhi ruangan, membentuk kabut tebal. Bukan saja menghalangi pemandangan, tapi juga menyusup ke dalam tubuhnya lewat pori-pori. Inilah salah satu kehebatan ajian 'Lumpuh Raga'. Asap ini memang bukan racun, walaupun terbuat dari candu. Bila hanya candu biasa, mungkin Rangga sudah kebal setelah memakan jamur yang terdapat di Lembah Bangkai. Yang jelas, karena asap candu juga diberi mantera-mantera, maka akibatnya kekebalan Rangga tak ada gunanya.

"Ohh...!" Pendekar Rajawali Sakti mulai mengeluh berkali-kali. Tubuhnya lemah dan pandangannya berkunang-kunang. Kepalanya berat. Pikirannya tak terkendali. Entah sampai kapan dia mampu bertahan. Tapi di akhir segalanya, Pendekar Rajawali Sakti memang tak kuasa lagi. Tubuhnya terkulai tak berdaya.

Entah berapa lama Rangga terkulai tak sadarkan diri. Tapi ketika kesadarannya pulih, samar-samar matanya melihat banyak orang duduk bersila dalam sebuah ruangan berlantai hitam mengkilap. Dia sendiri terikat pada sebuah tiang besar dengan kedua tangan di belakang. Yang pertama kali dilihatnya adalah empat orang laki-laki yang membawanya ke sini.

"Gembul! Duduklah kau! Ketua ingin bicara dengannya!" ujar Sekar yang telah berada di sana.

"Baik, Panglima!"

Empat laki-laki yang dilihat Rangga menepi. Mereka lantas duduk bersila. Kini Rangga bisa melihat seorang wanita muda duduk di atas sing-gasana yang terbuat dari logam mulia berkilauan. Wajahnya cantik. Beberapa bagian tubuhnya terbuka, dan secara samar dihalangi rambutnya yang panjang.

"Tuanku.... Hamba telah menyelesaikan tugas yang diberikan!" ujar gadis dengan ikat kepala berwama kuning keemasan itu.

"Ya! Kupuji hasil kerjamu, Sekar," sahut wanita cantik di singgasana yang tak lain Anjarasih.

"Eh! Hamba ingin...."

"Aku tahu apa yang hendak kau katakan!" tukas Anjarasih. "Aku tidak ingkar dari janjiku. Nah! Apa yang kau inginkan? Katakanlah!"

"Mana berani hamba meminta, Tuanku...," kata Sekar.

"Kalau begitu akan kuberikan beberapa emas permata padamu. Pergilah pada bagian perbekalan. Dan minta padanya bagianmu. Aku telah menyiapkannya!" ujar Anjarasih.

"Terima kasih, Tuanku!" sahut Sekar, girang.

"Sekarang kau boleh pergi!"

"Sekali lagi terima kasih, Tuanku!" ucap Sekar berulang-ulang sebelum angkat kaki dari ruangan ini.

Sesaat kemudian, bersama anak buahnya termasuk empat laki-laki yang telah menjebak Rangga, Sekar meninggalkan ruangan itu. Hanya beberapa orang penjaga yang masih tetap berada dalam ruangan. Tapi tak berapa lama Anjarasih pun memberi isyarat agar mereka angkat kaki dari sini.

"Hm.... Kini tinggal kita berdua di sini...!" lanjut Anjarasih, setelah tak ada orang lagi di ruangan ini kecuali dirinya dan Pendekar Rajawali Sakti.

"Kaukah penguasa tempat ini?" tanya Rangga.

"Ya. Bagaimana? Apakah kau menyukai istanaku?"

"Entah siapa sebenarnya kau. Tapi aku tidak kenal sebelumnya denganmu. Kenapa kau menginginkan aku?" tanya Rangga lagi.

"Mungkin saja. Tapi aku kenal baik denganmu. Namamu selalu mengusik rasa ingin tahuku. Dan wajahmu selalu membayang-bayangi pelupuk mataku...."

"Dengar, Nisanak. Aku tak kenal denganmu. Dan kau seorang diri berada di sini menghadapiku. Apa tidak terpikir olehmu kalau aku terlepas, maka tak seorang pun yang bisa mencegahku menangkapmu!"

"Betulkah? Kalau kau bisa melepaskan diri dari ajian 'Lumpuh Raga'ku, silakan saja. Hm.... Aku telah cukup lama mengawasimu, sehingga bisa memperhitungkan sampai di mana tingkat kehebatanmu. Belum tentu kau bisa menangkapku dengan mudah," sahut Anjarasih sambil tersenyum-senyum.

Rangga mendengus geram. Apa yang dikatakan wanita itu memang benar. Ajian yang mempengaruhinya masih terasa membelenggunya. Belum lagi tali yang mengikat kedua tangannya. Begitu alot dan sulit dilepaskan. Tenaganya pun kini terasa berkurang. Keadaannya saat ini agak lemah. Entah kenapa. Mungkin juga karena pengaruh asap putih dari aji 'Lumpuh Raga' di ruangan tadi. Dan Rangga perlu bersemadi untuk menghilangkan pengaruh ini. Tapi dalam keadaan begini mana bisa?

"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" tanya Rangga.

"Tentu saja dirimu!" sahut Anjarasih, kalem.

"Aku tak mengerti."

"Kenapa? Bukankah amat sederhana? Aku seorang wanita. Dan kau seorang laki-laki. Aku seorang penguasa, dan kau seorang raja. Aku cantik dan kau tampan. Lalu, siapakah menurutmu yang sepadan untukku selain dirimu?"

ENAM

Rangga terdiam. Dia berpikir, apa yang mesti dilakukan untuk keluar dari tempat ini? Tapi dalam keadaan seperti sekarang, apa yang bisa dilakukannya? Tubuhnya lemah. Kedua tangannya terikat Dan..., pedangnya? Hm.... Baru sekarang dia tidak merasakan apa-apa di punggungnya. Dan saat melirik, ternyata Pedang Pusaka Rajawali Sakti tak ada di punggungnya.

Anjarasih agaknya mengerti, apa yang tengah dipikirkan pemuda ini. "Pedangmu ada padaku. Kusimpan dengan rapi...," kata Anjarasih. Rangga diam saja. "Kalau kau menurut dan tidak banyak tingkah, maka pedangmu akan kuberikan lagi."

"Hm...," gumam Rangga, tak jelas.

"Bagaimana? Kau menerima permintaanku?"

"Jelaskanlah lebih seksama, apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Dalam keadaan seperti ini, rasanya otakku tumpul untuk mencerna isyarat-isyarat yang kau berikan," pinta Rangga.

"Mudah saja. Dampingi aku di istana yang megah ini!" sahut Anjarasih sambil tersenyum lebar.

"Kenapa mesti aku? Kulihat kau memiliki banyak anak buah. Baik laki-laki atau perempuan. Dan kudenggar pula, mereka memiliki kesaktian hebat. Kau bisa pilih salah satu di antara mereka kalau suka," tukas Rangga.

"Mereka budak-budakku. Apakah pantas seorang budak berdampingan dengan majikan?"

"Lalu setelah kau tangkap aku, apakah derajatku tidak sama dengan mereka?"

"Hi hi hi...! Otakmu ternyata belum tumpul. Kau cerdik dan pintar bicara. Mungkin itu salah satu sebab yang membuatku suka padamu," puji penguasa tempat ini.

"Terima kasih atas pujianmu. Untuk seorang budak sepertiku, mungkin kelewat tinggi," ucap Rangga.

"Kau bukan budak. Kau adalah tamu yang kuhormati."

"Tamu tidak diperlakukan seperti ini!"

"Kau ingin aku melepasmu?' tanya Anjarasih.

"Kau majikan di sini. Dan bisa berbuat sesukamu."

"Baiklah. Asal, janji tidak membuat keributan. Dan kau akan kuperlakukan seperti layaknya seorang tamu. Tamu istimewaku!" ujar wanita itu.

Anjarasih bertepuk sekali. Tak lama, seorang penjaga segera masuk.

"Hamba, Tuanku!"

"Buka ikatan tangannya!"

"Baik, tuanku."

Penjaga itu segera membuka ikatan yang membelenggu Pendekar Rajawali Sakti. Dan setelah memberi isyarat pada Anjarasih kembali dia beranjak meninggalkan ruangan itu.

"Duduklah di dekatku!" ajak Anjarasih seraya menunjuk kursi di dekatnya.

Rangga melangkah perlahan, mendekati, Lalu dia duduk dengan tenang. Meski begitu kewaspadaannya tetap ditingkatkan untuk menghindari perangkap yang mungkin saja akan dipasang wanita ini.

"Jangan curiga. Aku tidak akan menjebakmu...," ujar perempuan ini, seperti bisa membaca pikiran Rangga.

"Kau terlalu mempercayai orang. Apa dikira aku tidak bisa meringkusmu saat ini?" tukas Rangga, seraya bangkit berdiri.

"Kenapa tidak kau lakukan?" tanya Anjarasih tanpa merubah sikap duduknya.

Melihat sikap wanita ini yang tenang dan tidak khawatir sedikit pun, Rangga jadi curiga. Mungkin dia telah mempersiapkan sesuatu. Makanya niatnya segera diurungkan.

"Diantara kita tidak ada saling permusuhan. Kenapa kau berbuat begitu padaku?" tanya Rangga, membuka percakapan lagi.

"Duduklah di sini. Dan kita akan bicara lebih santai," ujar Anjarasih.

"Aku bukan budakmu. Maka aku berhak menolak!" tegas Rangga.

"Kenapa? Kau tidak suka berdekatan denganku?"

"Aku tak suka dengan perbuatanmu!"

"Hm.... Kau keras kepala sekali! Tapi selama kau baik-baik dan tidak berbuat keributan, maka selama itu pula aman..."

"Kalau tidak?" tukas Rangga.

"Kalau tidak...? Hm.... Bisa kau bayangkan dengan keadaanmu saat ini. Seorang pesilat biasa pun, bisa melumpuhkanmu. Padahal..., dengan sepak terjangmu selama ini, kau banyak mempunyai musuh. Maka melihatmu tak berdaya, bisa ditebak apa yang akan mereka lakukan terhadapmu."

Memang tak dapat dipungkiri, saat ini Pendekar Rajawali Sakti masih di bawah pengaruh ajian 'Lumpuh Raga'. Badannya masih terasa lemas. Otot-ototnya terasa dilolosi.

"Aku tak takut! Lepaskanlah aku dari sini!" sentak Rangga, setelah berusaha mengangkat semangatnya.

"Setelah semua usaha yang kulakukan untuk menangkapmu? Hi hi hi...! Tidak semudah itu!"

"Kalau begitu, kau boleh membunuhku sekarang juga!" dengus pemuda itu dingin.

"He, kenapa buru-buru? Lagi pula permintaanku tidak sulit untuk dipenuhi, bukan?"

"Aku tidak akan pernah memenuhi permintaanmu!"

"Jangan buru-buru memberi jawaban. Kuberi kau beberapa waktu untuk berpikir. Ingat-ingatlah! Kalau setuju, maka bukan saja kau akan selamat. Tapi kedudukanmu pun akan mulia di sampingku."

"Jangan mimpi! Aku tak sudi menuruti keinginan perempuan sepertimu!"

"Hm.... Sudahkah kau pikirkan hal itu baik-baik?"

"Aku tak perlu berpikir untuk menolak kemauanmu!"

"Kalau begitu kau tak sayang padanya...," sahut Anjarasih mengancam.

"Hei? Apa maksudmu?"

"Pandan Wangi. Kau kenal nama itu?"

"Terkutuk! Apa yang kau lakukan padanya?!" bentak Rangga, geram.

"Belum. Tapi kalau kau terus menolak, maka akan kucari gadis itu dan akan kutentukan nasibnya kelak."

"Huh! Kau tak akan berhasil memperdayainya!"

"Apakah dia lebih hebat darimu? Padahal, kau saja mampu kuringkus. Dan kalau kau tetap pada pendirianmu, aku akan bersungguh-sungguh mencari kekasihmu itu!" gertak Anjarasih. "Dan akan kubunuh dia bila kudapatkan!"

"Celakalah kau, Keparat!" desis Rangga geram.

"Tidak perlu terus memaki, karena tak ada gunanya. Pertimbangkan baik-baik keputusanmu. Dan bila saatnya tiba, maka kau boleh memberi jawaban yang memuaskanku!" sahut wanita itu dingin.

Anjarasih bertepuk sekali. Maka, tiga penjaga muncul di tempat itu.

"Bawa dia ke ruangan khusus. Dan, adakan penjagaan dengan ketat!" perintah Anjarasih, tegas.

"Baik, Tuanku!"

Semula Rangga hendak melawan. Namun, sia-sia saja. Seperti yang dikatakan wanita itu, tubuhnya memang tak berdaya. Tenaganya terasa lemah. Sehingga ketiga penjaga itu dengan mudah meringkus dan membawanya keluar dari ruangan ini.

"Bedebah kau, Keparat! Kau akan menerima balasan ini suatu saat nanti!" teriak Rangga lantang. Tapi Anjarasih hanya tersenyum-senyum saja.

Sama sekali wajahnya tidak memperlihatkan perubahan. Makian dan teriakan pemuda itu seolah-olah tak didengarnya.

Rangga ditempatkan pada ruangan khusus yang agak sempit namun berdinding tebal. Hanya ada dua lubang angin. Dan itu pun berjeruji serta pada ketinggian sekitar tiga tombak dari lantai. Panjangnya sekitar dua jengkal. Dan lebarnya kira-kira sejengkal. Ada dipan. Meja berisi kendi dan cangkir serta buah-buahan di ruangan itu.

Perlahan-lahan Rangga duduk bersila, mengambil sikap bersemadi. Perlahan-lahan pula, matanya terpejam, Pikirannya dipusatkan pada satu titik, untuk meleburkan diri dengan kekuatan Yang Maha Esa. Berangsur-angsur, Rangga merasakan kesegaran dalam tubuhnya. Kendati demikian, perutnya terasa mual bukan main. Lalu....

"Hoeeekh...!" Rangga mendadak memuntahkan cairan berwarna ke kuning-kuningan. Baru setelah itu tubuhnya benar-benar segar.

Dan baru saja Rangga hendak bangkit, tiba-tiba saja pintu terbuka. Tampak sesosok gadis muncul di ambang pintu, lalu buru-buru menutupnya. Dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti.

"Kakang Rangga!"

"Hm!" Rangga cepat bangkit. Matanya tajam mengawasi raut wajah wanita itu di depannya. Samar-samar dia pernah ingat dengan wajah itu.

"Aku Wulandari!" desis gadis itu dengan suara setengah berbisik.

"Ah, ya! Aku ingat! Apa yang kau kerjakan di sini?"

"Jangan ribut! Aku akan mengeluarkanmu dari sini. Sebelumnya, cepat minum obat pemunah aji 'Lumpuh Raga' ini!" ujar gadis itu.

"Bagaimana dengan penjaga-penjaga di depan pintu?" tanya Rangga, seraya mengambil sebutir obat pulung yang disodorkan sosok yang ternyata Wulandari.

"Sudah kubereskan! Ayo cepat keluar, sebelum yang lain melihat kita!" kejar Wulandari.

"Pedangku? Tahukah kau ada di mana?" tanya Rangga, setelah menelan obat pulung itu.

"Aku tak tahu! Tapi Ningsih akan berusaha mencari tahu. Sekarang yang penting selamatkan dulu dirimu."

"Baiklah." Tanpa sungkan-sungkan lagi, gadis itu menggamit lengan Rangga. Mereka mengintip di pintu. Dan ketika melihat keadaan sepi, perlahan-lahan Wulandari membawa Rangga ke dalam sebuah ruangan. Dan dari dalam ruangan kosong, mereka menyelinap keluar lewat jendela. Di situ, terlihat sepi. Dan di sebelah kanan tampak sebuah terowongan. Agaknya, terowongan itu yang akan dituju Wulandari.

Sementara Rangga kini telah merasakan benar-benar segar pada tubuhnya setelah ditunjang obat pulung yang berikan Wulandari.

"Di ujung terowongan itu kita akan keluar!" desis Wulandari.

"Kalau begitu, ayo sekarang!" ajak Rangga seraya hendak melompat keluar.

"Tunggu dulu!" cegah Wulandari.

"Kenapa?"

Rangga tak perlu menanti jawaban, sebab tak lama kemudian lima orang penjaga keluar dari terowongan.

"Ini saatnya pergantian penjaga. Kita harus cepat, sebelum penjaga yang lain menggantikan orang-orang tadi," jelas Wulandari seraya melompat turun, diikuti Rangga.

Secepatnya mereka masuk ke dalam terowongan yang cukup besar. Tapi alangkah terkejutnya Wulandari, ketika di dalam terowongan telah menunggu belasan gadis berpakaian merah dengan ikat kepala putih keperakan membuat pagar betis yang berlapis-lapis. Paling depan, berdiri seorang gadis berpakaian sama, namun mengenakan ikat kepala warna kuning keemasan.

"Huh! Akhirnya ketahuan juga siapa pengkhianatnya!" dengus gadis berikat kepala kuning keemasan yang tak lain Sekar.

"Ohh...!" Wulandari terkejut. Wajahnya kelihatan pucat pasi. Untuk sesaat, mereka mundur beberapa langkah. Tapi ketika menoleh ke belakang, kembali dia dibuat kaget.

"Celaka! Tak ada lagi tempat bagi kita untuk melarikan diri. Tempat ini telah terkepung!" desah Wulandari putus asa.

"Kalau begitu aku akan melawan mereka!" dengus Rangga.

"Percuma saja. Jumlah mereka kelewat banyak."

"Hm.... Mudah-mudahan aku mampu mengatasi mereka!"

"Kalau keadaanmu seperti semula, mungkin saja kau mampu mengatasi mereka. Tapi kini keadaanmu mungkin lebih buruk dariku. Kita tidak akan mampu menghadapi mereka, Kakang!"

"Tidak ada pilihan lain. Kita mesti mencobanya!" sahut Rangga bersiap-siap hendak mengadakan perlawanan.

Sring! Wulandari pun telah siap mencabut pedangnya.

"Ringkus mereka!" teriak Sekar.

"Hiaaat!"

Lebih dari sepuluh orang gadis berpakaian merah menyerang bersamaan. Beberapa batang pedang menyambar ke arah Rangga dengan cepat. Namun lincah sekali Pendekar Rajawali Sakti berkelit. Sayang, tidak demikian halnya bagi Wulandari.

Perlawanan yang diberikan gadis itu tak banyak artinya. Rata-rata gadis berpakaian merah memiliki kepandaian setingkat. Sehingga tak heran gadis itu cepat terdesak.

"Lepas!"

"Ohh...!" Wulandari tercekat ketika pedangnya terlepas dari genggaman, ketika dua gadis lawannya memapaki. Dia berusaha menjauhi lawan, namun tiga orang gadis telah menodongkan pedang terhunus.

"Hentikan perlawanan kalau tak ingin gadis ini celaka!" teriak Sekar.

Rangga tersentak, namun tak bisa berbuat apa-apa. Wulandari telah jadi sandera. Mau tak mau, dia mengalah dengan menghentikan serangan. Maka saat itu juga dua orang gadis meringkusnya dengan mengikat kedua tangan yang dirapatkan ke tubuh.

"Bawa mereka kehadapan ketua!" perintah Sekar lagi.

"Baik!"

Seperti membawa tawanan perang, Rangga dan Wulandari yang telah diikat digiring ke dalam ruangan besar yang biasa digunakan pemilik tempat ini. Begitu tiba, mereka langsung diperintah bersimpuh.

"Tuanku! Kami membawa dua orang tawanan. Yang seorang, Tuanku telah mengenalnya. Sedangkan seorang lagi adalah anggota kita yang coba berkhianat!" lapor Sekar setelah menjura hormat.

"Hm...!" Anjarasih yang duduk di atas singgasana besar memandang keduanya satu persatu sambil tersenyum.

"Siapa namamu?" tanya Anjarasih pada gadis yang bersimpuh di samping Rangga.

"Wulandari, Tuanku...," sahut Wulandari.

"Kau tahu, apa akibatnya jika berkhianat padaku?" tanya Anjarasih.

"Ampunkan hamba, Tuanku...!"

"Ampunan tidak cukup bagi seorang pengkhianat! Tugas menangkap pemuda ini kuberikan sendiri. Dan setelah susah payah menangkapnya, lalu kau coba melepaskannya. Lancang betul kau!"

Wulandari tertunduk lesu dengan tubuh gemetar. Dia tak tahu, bagaimana caranya bisa selamat dari hukuman. Tapi rasanya hal itu mustahil.

"Untuk itu kau akan mendapat hukuman yang paling berat!" lanjut penguasa tempat ini.

"Ampun, Tuanku. Hamba memang bersalah dan patut mendapat hukuman...."

"Hukuman mati terlalu mudah bagimu. Kau harus mati dengan cara perlahan-lahan!" desis Anjarasih.

Wulandari semakin bergidik ngeri, membayangkan hukuman apa yang akan dilimpahkan padanya.

"Kau akan dijebloskan kedalam kobakan lintah!" lanjut Anjarasih.

"Ohh...!"

Semua yang berada di tempat ini, kecuali Pendekar Rajawali Sakti, terkejut. Mereka tahu tempat apa yang disebut oleh Anjarasih. Kobakan lintah adalah sebuah tempat berbentuk kolam berisi lumpur yang di sekelilingnya dikurung kerangkeng besi kuat dan tak mudah dipatahkan. Di dalam lumpur, terpelihara ribuan lintah sebesar jari-jari orang dewasa. Selama ini, tempat itu merupakan ruang penyiksaan bagi mereka yang melakukan kesalahan berat. Dan, belum pernah ada seorang pun yang bisa selamat.

TUJUH

Saat itu juga tubuh Wulandari menggigil ketakutan. Wajahnya pucat. Bibirnya kelu untuk berkata-kata.

"Bawa dia sekarang juga!" perintah Anjarasih.

"Oh, tidak! Tidaaak...!" Wulandari berusaha berontak, ketika dua pengawal meringkusnya. Tapi, sia-sia saja. Sebab dengan kedua tangan dan kaki yang terbelenggu, maka tak mampu berbuat banyak untuk mengadakan perlawanan.

"Tunggu...!" teriak Rangga, lantang.

"Hm!" Anjarasih mengangkat tangannya sebagai isyarat. Sehingga untuk sesaat kedua pengawal yang tengah meringkus Wulandari menghentikan kerjanya.

"Ada apa?" tanya penguasa tempat ini, dingin.

"Kau tidak pantas menghukumnya secara keji. Dia tak bersalah. Kalau mencari siapa yang bersalah, maka akulah yang patut mendapat hukuman!" sahut Rangga, mantap.

"Begitukah menurutmu?" tukas Anjarasih.

"Lepaskan dia. Dan hukumlah aku!"

"Sayang sekali. Yang menjadi persoalan adalah, bukan siapa yang salah. Tapi, hukuman itu kujatuhkan. Karena, aku tak suka dikhianati anak buahku. Sudah menjadi keputusanku untuk menghukum mati mereka yang mengkhianatiku," lanjut Anjarasih tenang.

"Aku yang membujuknya. Dan dia terpaksa melakukan itu!" dalih Rangga.

Rangga memang berkata dusta. Tapi kalaupun berkata seperti itu, niatnya adalah agar Wulandari tidak terlalu disalahkan. Namun tanggapan Anjarasih justru memojokkan gadis itu.

"Hm.... Jadi kalian telah kenal lama sebelumnya? Hal itu justru merupakan pelanggaran bagi mereka!" sentak Anjarasih.

"Sebenarnya tidak begitu...," sahut Rangga.

"Lalu apa?" Pemuda itu tak mampu menjawab. "Bawa dia cepat!" perintah Anjarasih lantang.

"Tunggu dulu!" cegah Rangga.

Tapi, wanita muda itu tidak memberikan isyarat apa-apa. Sehingga anak buahnya segera menggiring Wulandari keluar dari ruangan ini.

"Ada yang ingin kubicarakan padamu. Namun dengan syarat, hukuman terhadap Wulandari dibatalkan!" lanjut Pendekar Rajawali Sakti.

"Demikian berharganyakah yang hendak kau bicarakan?"

"Bagaimana tentang tawaranmu padaku?" sahut Rangga cepat.

"Hm!" Anjarasih bergumam. Lalu diberinya isyarat pada salah seorang pengawal yang ada di sebelahnya. Dia berbisik sebentar. Dan pengawal itu segera keluar dari tempat ini, setelah mengangguk.

"Aku menangguhkan hukuman terhadapnya. Dan setelah mendengar apa yang hendak kau bicarakan, maka nanti akan kuputuskan, apakah hukuman itu patut diterimanya atau tidak," kata Anjarasih.

"Aku ingin bicara secara pribadi denganmu."

"Hm, begitu? Baiklah." Penguasa tempat ini tersenyum. Lalu tangannya menepuk dua kali. Maka orang-orang yang berada di ruangan ini segera angkat kaki setelah menjura hormat.

"Nah, mereka telah pergi. Bicaralah! Apa yang hendak kau katakan padaku!"

Rangga terdiam beberapa saat. Dia berpikir tentang Wulandari. Nyawa gadis itu terancam, karena hendak menyelamatkannya. Entah, apa maksudnya. Padahal mereka baru sekali bertemu. Dan itu pun tidak lama. Tapi mestikah dia mendiamkan saja orang yang berusaha menyelamatkannya dengan taruhan nyawa meski gagal?

"Aku ingin agar kau membebaskan gadis itu...," ucap Rangga.

"Itu tidak mungkin!" sentak Anjarasih.

"Apa yang bisa menyelamatkannya dari hukuman itu? Apakah dia tak punya pilihan?"

"Dia tidak. Tapi, kau ada!"

"Apa maksudmu?"

"Kau bisa menyelamatkannya, asal bersedia memenuhi permintaanku. Tidak sulit, bukan?"

Rangga terdiam. Hal ini yang justru tadi tengah dipikirkannya. Tapi tatkala persoalan telah di depan mata, dia kembali kebingungan menentukan pilihan.

"Bagaimana? Atau barangkali kau menunggu gadis itu mati?" desak Anjarasih.

"Paling tidak dia telah berjasa padamu. Tapi hanya karena kesalahan sedikit, mengapa kau begitu tega untuk menghukum mati terhadapnya?" ujar Rangga untuk mengalihkan perhatian.

"Aku tak tertarik berdebat!" sahut wanita itu tegas. "Yang ingin kudengar saat ini adalah jawabanmu. Sehingga bisa kuputuskan apakah gadis itu akan dihukum mati atau tidak."

Rangga kembali terdiam. Berpikir untuk beberapa saat lamanya.

"Bagaimana?!"

"Baiklah...," desah Rangga dengan suara berat, setelah menghela napas panjang.

"Hm, bagus! Ternyata kau mampu menentukan pilihan. Nah! Hari ini juga akan kuumumkan hubungan kita berdua kepada semua anak buahku!" sambut Anjarasih, tersenyum bangga.

Wajah Anjarasih kelihatan berseri-seri, setelah mendengar jawaban Rangga. Maka saat itu juga semua anak buahnya diperintahkan untuk berkumpul di balairung yang besar itu. Agaknya segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik. Termasuk, perhelatan untuk upacara ini.

Kini Penguasa Istana Lembah Darah ini memakai seperangkat pakaian sutera. Demikian pula Rangga. Seorang laki-laki berusia lanjut yang bertindak sebagai pemuka agama maju ke depan, untuk mengokohkan hubungan kedua insan itu menjadi hubungan resmi sebagai suami istri.

"Aku tidak akan bersedia sebelum melihat gadis itu bebas," kata Rangga, berbisik.

"Apakah kau tak percaya dengan janjiku? Dia akan bebas. Tenanglah. Begitu berartikah dia bagimu?" sahut Anjarasih tenang.

Pemuda itu diam tak menjawab. Sementara, gadis ini mengerling sambil tersenyum padanya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Begitu berartikah dia bagimu, sehingga kau mengkhawatirkan keselamatannya?" desak Anjarasih.

Rangga masih tetap membisu, tanpa peduli dengan pertanyaan gadis ini di sebelahnya.

"Jawablah, meski hanya sepatah kata...," ujar Anjarasih.

"Lepaskan dia."

"Aku telah melepaskannya."

"Aku tidak melihat buktinya."

"Baiklah."

Anjarasih lantas berbisik pada pengawal yang ada di sebelahnya. Dan sang pengawal pun kemudian berbisik pada seorang pengawal lainnya, yang segera berlalu dari tempat itu.

Tak lama, Rangga melihat Wulandari di ambang pintu bersama seorang pengawal.

"Nah! Kau lihat dia bebas, bukan?" tukas Anjarasih.

"Hm... Aku tidak melihatnya begitu," gumam Rangga.

"Apa maksudmu?"

"Dia seperti masih ditawan."

"Setelah urusan kita selesai, maka dia akan kulepaskan!" sahut Anjarasih menegaskan. "Dia telah kubebaskan dari hukuman mati. Itu berarti aku tidak mengingkari janji. Nah, apakah kau yang hendak mengingkari janjimu padaku?"

Rangga diam membisu. Pada saat itu, pemuka agama yang akan menyatukan mereka berdua dalam mahligai rumah tangga telah siap di depan sebuah altar yang dipenuhi sesajian. Kedua pasangan calon pengantin mengikuti, lalu duduk bersimpuh di depan di pemuka agama. Namun sebelum segala sesuatunya dimulai....

"Hiaaat...!"

"Aaakh...!" Mendadak terdengar keributan dari arah luar.

Dan sesaat kemudian disusul jerit kesakitan yang saling sambung-menyambung.

"Hei?!" Mereka yang berada di ruangan ini terkejut. Demikian pula halnya Anjarasih.

"Kurang ajar! Apa itu?"

"Seseorang mengacau di tempat ini, Tuanku!" lapor seorang pengawal.

"Brengsek! Apakah kalian tidak bisa membereskan seorang pengacau?!" hardik Penguasa Istana Lembah Darah geram.

"Biar kami bantu, Tuanku!" sahut salah seorang pengawal.

Saat itu juga beberapa pengawal melompat menghadapi si pengacau. Tapi, ternyata hal itu tak merubah keadaan. Tetap saja terdengar jerit kesakitan yang saling sambung-menyambung. Dan korban di pihak penghuni Istana Lembah Darah semakin bertambah.

Dengan terpaksa, Anjarasih meninggalkan ruangan ini, menuju keluar. Dia diikuti beberapa pengawalnya.

"Hm, si Pemabuk Dari Gunung Kidul rupanya...!" gumam Anjarasih geram begitu mengenali siapa orang yang mengacau. "Pantas mereka tak mampu menghadapinya."

Ki Demong alias si Pemabuk Dari Gunung Kidul tampak berkelit-kelit lincah menghadapi keroyokan. Sesekali dia melepas serangan.

"Heaaat...!" Bahkan Ki Demong membarengi dengan semprotan tuaknya.

"Prufhhh...!"

Wusss!

Cairan tuak Ki Demong bergerak cepat menyambar para pengeroyok. Sebagian terlihat memercikkan api.

Pada saat itu juga, berkelebat satu sosok bayangan yang langsung memapak serangan tuak Pemabuk Dari Gunung Kidul dengan pukulan jarak jauh.

Wusss...!

"Uts! Brengsek!" umpat Ki Demong seraya melompat ke samping, ketika tuaknya berbalik menyambarnya. Tubuhnya terus bergulingan, lalu melenting menjauhi sosok bayangan yang tak lain Anjarasih.

Tapi Penguasa Istana Lembah Darah terus mengejar dengan gesit. Agaknya wanita itu tidak mau melepaskan lawannya begitu saja, sebelum berhasil meringkus atau membunuhnya.

Sementara itu, perkembangan yang terjadi di tempat ini membuat Rangga cepat bertindak untuk meloloskan diri. Namun perbuatannya itu diketahui beberapa orang anak buah Anjarasih.

"Berhenti! Jangan coba-coba bertingkah. Atau kami terpaksa membunuhmu!" ancam salah seorang seraya menyodorkan ujung pedang ke leher.

Rangga berpikir cepat. Ini adalah kesempatan baik baginya untuk kabur. Dan kalau tidak bertindak, mungkin saja kesempatan itu tak akan pernah datang lagi. Maka seketika dia menjatuhkan diri ke belakang.

"Hei?!" Tiga anak buah Anjarasih terkejut. Mereka langsung melompat mengejar sambil membabatkan pedang.

Wut!

Pada saat yang gawat ini mendadak satu sosok lain berkelebat, langsung membabatkan pedang ke arah para pengeroyok.

Bret!

"Aaa...!" Tiga orang gadis kontan terjungkal disertai jeritan kesakitan. Mereka ambruk tak bangun-bangun lagi.

Rangga yang telah bangkit berdiri melihat seorang gadis tegak berdiri di depannya dengan pedang di tangan kanan. Pedang itulah yang agaknya menghabisi nyawa ketiga gadis tadi. Tapi, agaknya pedang itu pula yang membuat Rangga tersenyum lega. Apalagi ketika gadis itu mengangsurkan pedang di tangannya itu. Lengkap berikut warangkanya.

"Kakang Rangga! Ini pedangmu. Terimalah!"

"Oh, terima kasih! Kau baik sekali. Rasanya aku pernah mengenalmu...."

"Aku Ningsih. Kita tak punya banyak waktu. Sebaiknya, lekas kita keluar dari tempat ini!" ajak gadis yang tak lain Ningsih seraya menggamit lengan Rangga.

"Eh, tapi...."

"Ayo cepat! Kita tak punya banyak waktu. Aku dan Wulandari akan menuntunmu mencari tempat keluar. Cepat!"

"Wulandari?" Tapi Rangga tidak mendapat jawaban, karena gadis itu keburu mengajaknya keluar dari balairung itu. Mereka lari sekencang-kencangnya menuju sebuah terowongan panjang. Dibelakang mereka pada jarak beberapa langkah, Wulandari menyusul setelah membereskan beberapa orang anak buah Anjarasih.

"Cepat, Ningsih! Mereka mengejar kita!" teriak Wulandari.

"Iya, iya!"

"Cepat kesini!" teriak Ningsih memasuki sebuah terowongan lain.

"Hup!"

Brug!

Begitu Rangga dan Wulandari melompat, maka saat itu juga pintu tertutup rapat oleh jeruji besi.

"Untuk sesaat kita aman. Tapi siapa tahu, ada yang mengejar. Kita mesti cepat!" seru Ningsih.

"He, disini banyak sekali terowongan?!" ujar Rangga bingung.

"Jangan khawatir! Ikuti aku!" seru Ningsih, seraya terus berlari menuju terowongan yang ada di sebelah kanan.

Di dalam terowongan itu pun terdapat beberapa cabang terowongan lain yang berjumlah sekitar tujuh. Sangat membingungkan bagi mereka yang tidak tahu. Tapi, Ningsih telah hafal semuanya sehingga tanpa ragu-ragu lagi mengambil jalan yang aman.

"Fuuuhh...! Kita harus terjun ke telaga itu!" ujar Ningsih ketika mereka tiba di ujung terowongan, dan di bawahnya terhampar sebuah telaga.

Tanpa menunggu lama lagi mereka sudah langsung melompat ke dalam telaga.

DELAPAN

Telaga tempat Rangga, Wulandari, dan Ningsih menceburkan diri bukanlah tempat pemandian atau sebuah tempat yang berair sejuk dan bening. Melainkan, sebuah telaga yang amat jorok dan kotor. Baunya sangat menusuk hidung. Karena, ujung terowongan yang tadi dilalui adalah tempat pembuangan limbah yang berasal dari istana. Dan telaga ini sendiri merupakan tempat penampungan limbah-limbah itu.

"Maafkan kami, Kakang Rangga. Tapi itu adalah jalan satu-satunya bagi kita untuk selamat...," ucap Ningsih lirih, ketika mereka telah jauh dari istana.

Rangga terdiam. Dibersihkannya kotoran-kotoran yang melekat di tubuhnya.

"Ningsih benar. Kalau kita melalui jalan lain, maka kemungkinan besar akan diketahui mereka...," timpal Wulandari.

"Sudahlah. Bagaimanapun aku berterima kasih atas pertolongan yang kalian berikan."

"Sebaiknya kau tidak berada dekat-dekat istana itu lagi, Kakang," ujar Ningsih.

"Aku justru hendak ke sana. Nasib Ki Demong dalam bahaya!" tegas Rangga.

"Dalam keadaanmu sekarang ini sulit bagimu untuk membantu mereka. Bahkan membantu dirimu sendiri pun belum tentu bisa...," ujar Wulandari.

"Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka dalam kesulitan demi menolongku."

"Kau telah selamat. Itulah tujuan mereka. Kita hanya berdoa mudah-mudahan saja mereka bisa selamat...."

"Mungkin aku bisa menolong," sambung Ningsih.

"Hm, bagaimana maksudmu?" tanya Rangga.

"Kalau keadaanmu telah pulih seperti semula, kemungkinan besar kau bisa membantu mereka...."

"Benar! Kini aku telah pulih benar, setelah menelan obat yang diberikan Wulandari."

********************

Kaburnya Pendekar Rajawali Sakti sempat didengar Anjarasih. Tapi Penguasa Istana Lembah Darah itu tak mampu berbuat apa-apa, sebelum membereskan Pemabuk Dari Gunung Kidul. Dan agaknya membereskan orang tua itu bukanlah hal mudah. Selain berilmu tinggi, tokoh tua itu juga amat berbahaya. Terutama, semprotan tuaknya.

"Hm, Keparat! Aku tidak bisa terus-terusan begini. Tua bangka pemabuk ini harus cepat kubereskan!" desis Anjarasih geram.

"Hiih!" Anjarasih melepaskan pukulan jarak jauh ke arah Ki Demong. Namun orang tua itu mengegos ke samping, sehingga pukulan itu luput. Namun selanjutnya Penguasa Istana Lembah Darah itu telah meluruk deras.

Wuuuttt!

Ki Demong cepat mengibaskan guci tuak. Tapi dengan cepat Anjarasih telah berkelebat. Dan tahu-tahu satu hantaman keras menghajar dadanya.

Des!

"Akh!" Ki Demong terjungkal ke belakang, muntahkan darah segar. Wajahnya berkerut kesakitan, menandakan kalau hantaman tadi disertai pengerahan tenaga dalam kuat.

"Heaaa...!" Anjarasih telah melesat, sebelum Pemabuk Dari Gunung Kidul sempat bangun. Dan kalau saja Ki Demong tidak bergulingan, niscaya tubuhnya akan remuk dihantam tendangan beruntun yang dilepaskan wanita itu.

"Hiih!" Penguasai Istana Lembah Darah menyapu ke bawah dengan sebelah kaki. Namun tubuh Ki Demong telah melenting sedikit ke atas. Maka seketika wanita itu berbalik. Cepat dilepaskannya tendangan dari atas ke bawah.

Begkh!

"Aaakh...!" Kembali Pemabuk Dari Gunung Kidul menjerit kesakitan. Darah langsung muncrat lebih banyak dari mulutnya. Namun, orang tua itu masih sempat bergulingan menghindari serangan selanjutnya.

"Aduh, Biyung! Edan! Edan sekali perempuan ini!" gerutu Ki Demong dengan muka berkerut menahan rasa sakit.

"Yeaaa...!" Anjarasih terus mengejar. Dan sekali ini, keadaan Ki Demong sudah lebih parah. Kalaupun dia bisa menghindar atau menangkis, tapi serangan berikut pasti akan menghajarnya bertubi-tubi.

Keadaan Ki Demong sangat gawat. Sedangkan Anjarasih berniat menghabisinya saat itu juga. Namun sebelum hal itu terjadi, berkelebat sesosok bayangan memapak serangan.

"Hiyaaat...!"

Plak! Plak!

"Uhh...!" Bentrokan barusan mengejutkan Anjarasih. Tubuhnya kontan terjungkal ke belakang dan sempat terhuyung-huyung. Namun yang lebih mengejutkannya adalah ketika mengetahui siapa gerangan yang telah menahan serangannya.

"Kau..., kau...?!"

"Ya, aku! Kenapa? Apakah kau kaget?" tanya sosok bayangan yang ternyata Rangga dengan senyum dingin.

"Bagaimana mungkin...?"

"Segalanya bisa saja terjadi. Dan kau tak perlu heran!" sahut Rangga singkat.

"Huh, bagus! Senjatamu telah kembali. Begitu juga keadaanmu. Tapi jangan harap kau bisa lolos dariku!" dengus Anjarasih.

"Jangan terlalu mengumbar kesombongan, Perempuan Iblis! Kali ini akan kita lihat siapa yang berhasil meringkus dan siapa yang diringkus!"

Tanpa banyak bicara lagi penguasai Istana Lembah Darah langsung menyerang secepat kilat. "Heaaat!"

Cring!

Begitu tubuhnya meluruk, Anjarasih meloloskan pedang. Langsung dibabatnya Rangga dengan jurus pedangnya yang berbahaya.

"He he he...! Dasar bocah bego! Kenapa kau baru muncul sekarang? Orang sudah mau mampus baru datang. Apa barangkali kau ingin aku mampus, he?!" omel Ki Demong.

Rangga hanya tersenyum mendengar omelan Ki Demong. Namun seketika dia mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang bersinar biru berkilauan.

Sring!

Begitu serangan Anjarasih hampir tiba, secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti memainkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'.

Bet! Bet!

"Uhh...!" Melihat pedang yang memancarkan cahaya biru, agaknya tidak membuat wanita itu kaget. Dia malah menghindari bentrokan senjata, dan berusaha menyusup diantara pertahanan Rangga.

Tapi, Rangga tidak memberi kesempatan sedikit pun padanya. Pedang pusakanya bergerak bagai hujan badai yang mengurung ruang gerak Anjarasih.

"Heaaa! Hiyaaat!"

Kesempatan itu agaknya dipergunakan Rangga sebaik-baiknya untuk mengerahkan kekuatan yang ada dalam jurus 'Pedang Pemecah Sukma'.

Akibatnya, Anjarasih jadi kelihatan kewalahan. Jurus-jurusnya jadi kelihatan kacau. Semangat bertarungnya lenyap entah ke mana, seketika jiwanya terasa terpecah-pecah. Dia tidak tahu kalau itulah pengaruh jurus 'Pedang Pemecah Sukma' tingkat terakhir.

Anjarasih terkejut melihat kelebatan pedang Rangga. Dan seketika ditangkisnya pedang itu.

Tras!

Akibatnya, pedang wanita itu sendiri putus dibabat senjata Pendekar Rajawali Sakti. Masih untung Anjarasih bisa selamat setelah bergulingan. Sambil bergulingan dilemparkannya sisa pedang ke arah Rangga.

Wut!

"Hiih!" Rangga tak berusaha menangkis. Cepat dia melompat mendekati Anjarasih. Langsung pedangnya dibabatkan. Seketika, Penguasa Istana Lembah Darah menekuk tubuhnya. Dia coba menghindar ke belakang. Tapi, tendangan Rangga lebih cepat meluncur. Sehingga....

Desss!

"Aaakh...!" Wanita itu memekik kesakitan ketika tendangan Rangga mendarat diperut. Tubuhnya terjungkal beberapa langkah ke belakang. Dari mulutnya menetes darah segar. Secepat kilat Anjarasih bangkit, memandang tajam pada Rangga.

"Serang dia! Bunuh!" dengus perempuan ini memberi perintah pada beberapa orang anak buahnya.

Begitu beberapa gadis berbaju merah menyerang Rangga, Anjarasih sendiri kabur menyelamatkan diri.

"Kurang ajar! Kau kira bisa kabur begitu saja, he?!" dengus Rangga geram.

Cepat Pendekar Rajawali Sakti melompat mengejar. Namun anak buah Anjarasih segera menghalangi.

"Yeaaat!" Rangga tidak tinggal diam. Langsung pedangnya dikibaskan menghalau lawan-lawannya.

Tras! Cras!

"Aaa...!" Jerit kesakitan segera berkumandang ketika para gadis itu ambruk disapu pedangnya. Mereka yang kembali coba menghalangi, kembali ambruk tak berdaya.

"Hiyaaat!" Sambil melompat dan menebas, Pendekar Rajawali Sakti berusaha mengejar Anjarasih. Tapi agaknya hal itu sia-sia saja. Sebab, wanita itu telah menghilang entah ke mana.

"Kakang Rangga, hentikan!" Saat itu seseorang berteriak memanggil.

"Hm, Wulandari! Kebetulan. Kau tahu, ke mana kira-kira wanita itu pergi? Tunjukkan padaku!" desis Rangga.

"Hentikan pembantaian ini. Mereka tak berdosa. Mereka hanya alat. Anjarasih telah kabur."

"Kabur? Kau pasti tahu di mana tempat persembunyiannya. Ayo, tunjukkan padaku!"

Gadis itu menggeleng lemah. "Sayang sekali. Tak seorang pun di tempat ini yang tahu persembunyiannya selain dia sendiri...," desah gadis ini.

Kurang ajar!" umpat Rangga geram.

"Sudahlah. Lain kali mungkin kau akan bertemu dengannya. Kita harus menguasai keadaan. Kau harus paksa mereka menyerah, atau korban akan semakin berjatuhan...," bujuk Wulandari.

Rangga melihat Ki Demong masih terus menghajar musuh-musuh. Dan kalau tak cepat dihentikan maka bisa jadi korban akan bertambah. Padahal seperti yang dikatakan Wulandari, mereka hanya alat. Dan kini ketika pemimpinnya kabur, mereka seperti anak ayam kehilangan induk.

"Berhenti semua!" bentak Rangga keras menggelegar.

Bentakan itu mengejutkan kedua belah pihak. Tapi, tidak buat Ki Demong.

"Bocah gendeng! Kenapa kau hentikan saat aku tengah asyik-asyiknya menghajar mereka?!" rutuk Pemabuk Dari Gunung Kidul.

"Maaf, Ki. Kita tidak bisa menghajar mereka terus-terusan. Pemimpin mereka telah kabur. Dan kalau mereka tidak menyerah dalam hitungan tiga, maka akan kuratakan tempat ini berikut dengan mereka!" sahut Rangga lantang. Kemudian Pendekar Rajawali Sakti memandang mereka satu persatu. "Menyerahlah kalian. Dan, buang senjata yang ada di tangan. Pemimpin kalian telah kabur meninggalkan kalian semua! Tidak ada yang mesti dibela lagi!"

Mula-mula para anak buah Anjarasih ragu. Namun setelah melihat kalau sang pemimpin tak ada di tempat itu, maka satu persatu mereka melemparkan senjata.

Rangga meminta Ningsih dan Wulandari untuk meringkus mereka. Dia sendiri menghampiri Ki Demong. "Ki Demong! Aku amat berterima kasih atas pertolongan yang kau berikan...," ucap Rangga.

"Eh, eh! Pertolongan apa?!" tanya orang tua itu bingung, sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.

"Kau telah datang ke sini sengaja menolongku, bukan?"

"He he he...! Siapa yang menolongmu? Aku datang ke sini karena ingin melihat gadis-gadis cantik. Siapa tahu aku masih laku. He he he...!" sahut orang tua ini enteng.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: GEGER DI TELAGA WARNA
Thanks for reading Kembang Lembah Darah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »