Kelelawar Hijau

KELELAWAR HIJAU

SATU

"Hauuungngng...!"

Suara lolongan anjing yang terdengar menyayat, memecah keheningan malam yang begitu sunyi mencekam di Desa Susukan. Malam tampak pekat, karena bulan yang sebenarnya telah waktunya untuk menampakkan diri, kali ini tertutup awan hitam menggumpal.

Desa yang terletak di pantai Laut Utara ini semakin terlihat bagai desa mati. Tak seorang penduduk pun berani keluar rumah. Sejak sore tadi, mereka telah mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Sepertinya mereka telah tahu betul dengan ciri lolongan anjing di malam ini. Sebuah malapetaka!

"Aaa...!"

Benar saja. Baru beberapa kejapan gema lolongan anjing menghilang, terdengar jeritan kematian. Suara itu datangnya dari rumah yang paling besar di desa ini. Rumah siapa lagi kalau bukan rumah Kepala Desa Susukan itu sendiri?

Beberapa tarikan napas kemudian, dari dalam rumah kepala desa itu tampak berkelebat keluar sebuah bayangan yang langsung berlari menuju kegelapan malam.

Para penjaga rumah kepala desa sebagian menyerbu ke dalam untuk melihat keadaan keluarga kepala desanya, sebagian langsung melakukan pengejaran begitu melihat satu bayangan berkelebat.

Mereka langsung berteriak-teriak membangunkan penduduk di sekitarnya. Sebentar saja, para penduduk yang terdiri dari kaum laki-laki segera keluar dengan senjata terhunus.

"itu dia orangnya! Tangkap! " teriak salah seorang penduduk sambil terus mengejar.

Tidak disangka-sangka, bayangan yang dikejar berbalik. Sambil menggeram, tangannya mengebut ke arah pengejarnya.

Zing! Zing!

Terdengar suara mendesing disertai meluncurnya sinar berwarna hijau. Lalu...

Crep! Creppp!

"Aaa...l"

Para penduduk yang mengejar paling depan kontan roboh terhantam sinar hijau yang melesat begitu cepat laksana kilat.

"Gali.... Garda...!" pekik pengejar yang berada di belakang.

Kedua laki-laki yang terhantam sinar hijau ini hanya mampu mengerang. Sekujur tubuh mereka berwarna hijau. Tidak lama, mereka pun tewas dalam pelukan kawan-kawannya. Sementara bayangan tadi telah kembali melesat meninggalkan korban-korbannya.

Para pengejar yang datang semakin ramai. Setelah melihat nasib Gali dan Garda, kini ketakutan membayang di wajah para penduduk.

"Sebaiknya sebagian ke rumah Ki Pangestu untuk melihat keadaannya. Dan sebagian lagi mengurus mayat Gali dan Garda. Antarkan mayat-mayat itu pada keluarga masing-masing."

Para penduduk Desa Susukan menjadi gempar ketika mengetahui Ki Pangestu yang menjadi kepala desa ini beserta istri dan anak satu-satunya tewas dalam keadaan menyedihkan.

"Lihatlah senjata ini, Ki Belalang! Pelakunya tidak lain adalah si Kelelawar Hijau! Kita harus mencarinya!" tunjuk seorang pemuda berbadan tinggi tegap. Wajahnya tegang, penuh amarah.

Sementara seorang laki-laki tua berpakaian jubah putih yang berdiri tidak jauh dari pemuda itu datang menghampiri. Segera diperiksa nya senjata rahasia yang dipegang pemuda itu.

Senjata itu seperti mata pisau yang berujung runcing. Hanya saja, pada bagian hulunya berbentuk kelelawar berwarna hijau.

"Kelelawar Hijau?" desis laki-laki tua berjubah putih yang dipanggil Ki Belalang. "Lima korban terdahulu juga terbunuh dengan senjata sama. Hm.... Sebaiknya kita hubungi kawan-kawan terdekat kita untuk mencari pembunuh keji itu. Wisesa!"

"Bagaimana kalau mereka tidak mau, Ki Belalang?" tanya pemuda tinggi tegap bernama Wisesa khawatir.

"Mereka adalah kawan lama yang dulu pernah tinggal di daerah kita. Jadi, mustahil kalau menolak," jawab Ki Belalang.

Wisesa langsung terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Beberapa hari yang lalu di desa tetangga juga terjadi pembunuhan seperti ini. Dan konon pelakunya berjuluk Kelelawar Hijau. Apa yang ingin dicari tokoh itu, hingga harus membunuh penduduk desa? Yang lebih menggemaskan lagi, Kelelawar Hijau pun memperkosa gadis-gadis, setiap menyatroni suatu desa. Setelah diperkosa. lalu dibunuh.

"Wisesa, besok pagi mintalah bantuan tokoh persilatan di Pulau Karimun. Katakan pada para tokoh persilatan di sana, keadaan Desa Susukan sedang kacau...," ujar Ki Belalang.

"Baik, Ki!" sahut Wisesa.

Ki Belalang duduk mencangkung di depan rumahnya. Udara pantai yang dingin tidak membuat menggigil tubuhnya yang renta. Tatapan matanya menerawang jauh ke depan. Pikirannya kacau. Berbagai pertanyaan membebani hatinya.

"Sepanjang hidupku, rasanya di pantai Laut Utara pernah ada kejadian begini rupa yang pertama kejadiannya juga menimpa Puri Kambangan yang sempat porak-poranda.... Kini Desa Susukan kembali tertimpa petaka. Hm.... Kelelawar Hijau bisa muncul begitu saja tanpa sebab-sebab yang jelas. Entah, apa yang dicarinya. Hhh.... Apakah memperkosa gadis-gadis yang merupakan kesenangannya, atau merupakan suatu syarat untuk menyempurnakan ilmu hitam yang diyakininya?" pikir Ki Belalang.

Ki Belalang menarik napas dalam-dalam. Dia tadi teringat dengan pembunuhan dan perkosaan yang terjadi secara beruntun di Desa Susukan ini, hampir sama dengan kejadian sepuluh tahun lalu. Hanya saja kejadian pertama yang menimpa Puri Kambangan yang terletak di Pulau Kambangan. Saat itu seorang ahli sihir menguasai puri tersebut dan memorak-porandakan Desa Susukan.

Ki Belang tahu benar, bahwa seluruh penghuni puri saat itu tewas di tangan Bagas Pati yang berjuluk Raja Penyihir, kecuali dua orang. Sang Penguasa Puri dan seorang anak angkatnya yang masih kecil.

Kemudian tokoh penyihir itu menetap di Pulau Karang Hantu dan hidup bersama istrinya. Jadi, mustahil apa yang terjadi di Desa Susukan sekarang ini adalah akibat ulah Bagas Pati. Tapi kalau bukan dia pelakunya, lalu siapa? Sebab bisa saja dia merubah julukannya menjadi Kelelawar Hijau?

Belum tuntas lamunan Ki Belalang, tiba-tiba saja terlihat satu bayangan berkelebat di samping rumahnya. Kemudian, hidungnya mengendus bau yang begitu busuk Ki Belalang mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dan dia jadi tersentak kaget. Keningnya berkerut melihat satu sosok bayangan yang tahu-tahu berdiri di depannya, di dalam kegelapan.

"Hik hik hik...! Semakin tua. otakmu ternyata semakin tumpul saja. Belalang Sentadu! Lupakah kau pada bauku?"

Terdengar suara nyaring dari kegelapan. Jelas suara seorang wanita.

"Sekar Tanjung!" sebut Ki Belalang begitu mengenali suara orang di depannya. "Mata tuaku sudah mulai lamur. Penciumanku sudah tumpul. Dan otakku hampir beku dimakan usia. Kemarilah...!"

"Hik hik hik..! Aku tahu pikiranmu sedang pusing. Aku orang lama harus menyambangimu. Dan juga akan memberi beberapa nasihat!" sahut sosok yang dipanggil Sekar Tanjung. seraya melangkah menghampiri.

Hanya dalam waktu sekedipan mata saja, satu tombak di depan laki-laki tua yang bernama asli Belalang Sentadu telah berdiri seorang perempuan renta berbadan bungkuk. Wajahnya dipenuhi keriput. Bibirnya begitu besar. Hidungnya sumplung, sehingga ketika bicara suaranya terdengar sengau.

Ki Belalang lantas beringsut dari duduknya, lalu duduk bersila di pendopo rumahnya. Sementara Nyai Sekar Tanjung telah menaiki pendopo, dan duduk bersila di hadapan laki-laki tua itu.

"Sampai sekarang kau masih bertahan, Sekar Tanjung. Kalau dihitung, sudah berapakah umurmu?" tanya Ki Belalang, seraya menatap gembira pada perempuan itu.

"Hik hik hik...! Umur kau tanya-tanya! Aku sudah seratus delapan puluh tahun. Ada apa rupanya...?" tukas Nyai Sekar Tanjung.

"Sebagai orang yang sudah tidak asing di Desa Susukan ini, tentu kau tahu semua kejadian di sini. Baru saja Ki Pangestu, kepala desa ini tewas bersama anak gadisnya. Kudengar, pelakunya adalah Kelelawar Hijau yang pernah melakukan pembunuhan dan pemerkosaan beberapa hari yang lalu!" jelas Ki Belalang. "Tapi aku sangsi, apakah benar Kelelawar Hijau yang melakukannya? Karena bisa jadi Raja Penyihir yang melakukannya. Atau kedua julukan itu orangnya tetap sama."

"Kau menyuruhku untuk menyelidiki siapa sesungguhnya yang telah melakukan pembunuhan itu, bukan?" tebak Nyai Sekar Tanjung.

"Masalahnya, kejadian seperti ini hampir sama dengan peristiwa sekitar sepuluh tahun yang lalu?" tukas Ki Belalang mengingatkan.

"Hik hik hik...! Apa yang kau katakan memang betul, Belalang! Ketika itu Bagas Pati pelakunya. Dia adalah Raja Penyihir yang dengan kesaktiannya mampu menundukkan Ketua Puri Kambangan. Bahkan konon karena Ketua Puri Kambangan itu tidak mau dijadikan istri, anak angkatnya disihir menjadi ular jejadian?!"

"Menurutmu, mungkinkah Raja Penyihir itu masih hidup hingga saat ini?" tanya Ki Belalang. "Dan kini dia kembali menguasai Pulau Kambangan berikut Puri Kambangan?"

"Bagaimana aku tahu?" tukas Nyai Sekar Tanjung menggaruk kepalanya yang hampir botak.

"Kau seorang peramal yang dapat melihat masa lalu. Untuk urusan sekecil ini apakah kau tidak mampu melakukannya, Sobatku?" Ki Belalang tersenyum mencibir.

Wajah Nyai Sekar Tanjung memerah. Sejak dulu hingga sekarang, Ki Belalang memang tidak pernah jera mengujinya. Padahal untuk urusan ramal-meramal dia sebenarnya sudah tidak mau melakukannya lagi mengingat usianya yang sudah teramat tua.

"Bagaimana, Sekar? Kalau tidak mau melakukannya, berarti kau suka melihat penduduk di desa ini tewas setiap hari di tangan Kelelawar Hijau."

"Kau selalu mendesakku. Tapi baiklah. Mengingat hubungan baik di antara kita selama ini aku mau melakukannya untukmu. Tapi sebelumnya aku ingin tahu, siapa orang yang dapat kau utus ke sana untuk mencari mampus? Hik hik hik..!"

"Mengapa bicara begitu, Sekar?" tanya Ki Belalang tidak senang.

"Kau kira jika Raja Penyihir benar-benar masih hidup, dia mau membiarkan orang lain memasuki pulau terapung itu begitu saja. Kalau tidak disihir menjadi batu karang, tentu orang-orangmu akan dijadikan dendeng untuk bersantap malam," jelas Nyai Sekar Tanjung tanpa maksud menakut-nakuti.

"Sudahlah.... Jangan bicara terus. Sebaiknya kita mulai dari Pulau Kambangan. Aku ingin tahu, apakah Bagas Pati telah pindah dari Pulau Karang Hantu ke Pulau Kambangan atau belum. Nah, coba cari tahu apakah di Puri Kambangan ada sesuatu yang mencurigakan?" desak Ki Belalang tidak sabar.

"Baiklah. Sekarang aku jangan diajak bicara lagi Aku akan memulainya langsung ke Puri Kambangan. "

Nyai Sekar Tanjung lantas mulai memejamkan mata. Bibirnya yang tebal tampak berkemak-kemik. Sampai akhirnya terasa adanya hembusan angin dari Laut Utara.

Tubuh bungkuk di depan Ki Belalang tampak bergetar. Keringat dingin mengucur membasahi pakaian Nyai Sekar Tanjung.

"Aku melihat ada seorang gadis sangat cantik di sana. Dia ketakutan dan bersembunyi di dalam ruangan bawah tanah. Tubuhnya terkadang berubah menjadi ular besar. Ada kekuatan gaib menyelimuti dirinya. Di atas ruangan itu ada sebuah kamar. Ada empat kehidupan di sana. Kudengar desah napasnya.... Jelas mereka adalah laki-laki. Mustahil Bagas Pati bisa merubah dirinya menjadi empat bagian. Dan...."

Nyai Sekar Tanjung tiba-tiba hentikan ocehannya yang seperti mengigau. Kepalanya menggeleng perlahan. Dan tubuhnya yang semakin bergetar keras, telah bermandikan keringat.

Ki Belalang melihat semua ini. Namun dia tidak berani berkata apa-apa. Sebab, dia tahu akibatnya bisa bahaya bagi perempuan tua yang memang sahabatnya.

"Gila! Aku tidak dapat menembus tabir hitam yang satu ini. Begitu kuat! Bahkan hidungnya saja tidak dapat kulihat. Ufh... eeh! Orang dalam tabir itu melihatku. Lebih baik aku mundur!" desis Nyai Sekar Tanjung tegang. "Wuakh...!"

Dan Nyai Sekar Tanjung kontan jatuh terguling-guling di lantai pendopo. Ki Belalang langsung memberikan pertolongan, namun Nyai Sekar Tanjung sebaliknya malah marah.

"Edan! Jangan kau pegangi aku seperti memeluk istrimu!" bentak Nyai Sekar Tanjung sambil mendorong tubuh Ki Belalang. Seketika laki-laki tua itu jatuh tunggang-langgang.

"Maaf..., aku bingung melihatmu begitu. Apakah kau baik-baik saja?" tanya Ki Belalang salah tingkah.

"Hoegkh!"

Belum sempat menjawab, Nyai Sekar Tanjung muntahkan darah segar. Saat itu juga tenaga dalamnya segera dihimpun untuk mengobati luka dalam yang diderita.

"Hampir saja napasku putus. Kau lihat sendiri, Belalang! Serangan jarak jauhnya saja hampir membuat tubuhku rontok Mereka benar-benar gila!" dengus perempuan bungkuk itu bersungut-sungut.

"Mereka?" sergah Ki Belalang. "Siapa yang kau maksudkan? Apakah kau melihat Kelelawar Hijau atau Raja Penyihir?"

"Ternyata otakmu semakin tumpul dan tidak berharga. Dengar!" ujar Nya! Sekar Tanjung membentak; Kemudian dia berbisik seakan takut ucapannya didengar orang lain. "Aku tidak bisa memastikan, apakah empat orang yang telah memperkosa dan membunuh gadis-gadis di desa ini ada di tempat itu Aku juga tidak melihat Bagas Pati."

"Lalu mata batinmu yang telah lamur itu melihat apa?" tanya Ki Belalang kesal,

"Seperti yang kukatakan tadi. Di sana ada empat laki-laki. Mereka memiliki kepandaian sangat tinggi. Entah, apa yang mereka lakukan di sana."

"Lalu tabir gaib yang kau lihat tadi?" desak Ki Belalang.

"Di dalam tabir gaib itu, ada kekuatan lain di Puri Kambangan. Ada kehidupan pula. Hanya saja, aku tidak bisa memastikan apakah itu Bagas Pati." jelas Nyai Sekar Tanjung ragu.

"Keberadaan Kelelawar Hijau tidak dapat kau pastikan. Kepastian Raja Penyihir masih hidup atau sudah mati, dan di mana tempat tinggalnya sekarang, kau juga tidak tahu. Apakah kau kira semua ini tidak membuatku bingung?" cibir Ki Belalang tampak kecewa.

Nyai Sekar Tanjung memang merasa serba salah. Jika mata batinnya diteruskan, mungkin saja dapat diketahui apakah Raja Penyihir masih hidup atau sudah mati. Bahkan mungkin juga dapat mengetahui siapa empat laki-laki tersebut. Tapi jika kekuatan gaib itu terus menerus menyerangnya dari jarak jauh, bukan suatu yang berlebihan jika akan tewas akibat pertarungan jarak jauh tersebut.

Namun, Ki Belalang memang orang yang susah diberi pengertian. Dia tidak mau tahu dengan segala kesulitan yang dihadapi Nyai Sekar Tanjung.

"Sobatku, lebih baik lupakan saja masalah Puri Kambangan. Kurasa, nenek moyangmu sejak dulu pun tidak berani gegabah membicarakan masalah puri di pulau terapung itu."

"Mana bisa! Kepala desa sudah mati. Sekarang, mau tidak mau keselamatan penduduk di Desa Susukan ini menjadi tanggung jawabku!" tegas Ki Belalang, mantap.

"Kalau itu maumu, aku tentu tidak berani melarang," desah Nyai Sekar Tanjung. "Sekarang sudah larut malam. Malam ini aku menumpang istirahat di pondokmu ini. Segala urusan sebaiknya kita bicarakan besok saja!"

Ki Belalang sebenarnya ingin menahan sahabatnya untuk membicarakan masalah yang dihadapinya lebih lama. Namun, perempuan tua berbadan bungkuk ini sudah mendengkur.

********************

DUA

Gelombang laut mempermainkan perahu yang dinaiki Wisesa dan dua pemuda Desa Susukan. Namun mereka dengan mantap terus mendayung menuju Pulau Karimun.

"Hm... Pulau ini tidak jauh lagi di depan kita!" gumam Wisesa sambil menunjuk salah satu pulau di depan mereka.

Di luar sepengetahuan mereka, sejak tadi ada sesuatu yang terus mengikuti di belakang perahu. Gerakannya begitu pelan, pertanda sosok yang bergerak di bawah air itu sudah sangat terbiasa dengan alam sekelilingnya.

"Menurutmu. apakah para tokoh persilatan di Pulau Karimun mau menolong kita, Wisesa?" tanya pemuda yang di depan.

"Mengingat jasa baik Ki Belalang yang selalu menolong di masa-masa sulit, kurasa mereka tidak berani menolak, Pangkur...," sahut Wisesa, pada pemuda yang bernama Pangkur.

"Ayo cepat kita dayung perahu ini agar sampai ke pulau itu...!" ajak pemuda yang di tengah.

"Tanpa menunggu lagi, mereka segera mendayung perahu berukuran sedang ini lebih cepat seakan mengejar waktu. Namun....

Duk!

"Heh...!" Tiba-tiba saja ketiga pemuda itu terkejut ketika merasakan benturan keras pada perut perahu. Dan anehnya, perahu tidak dapat bergerak lagi walaupun telah diayunkan sekuat tenaga.

"Wisesa! Perahu kita kandas!" seru Pangkur terkejut.

"Tidak! Laut ini masih dalam. Mustahil perahu kita kandas begitu saja," bantah Wisesa. "Sebaiknya salah satu dari kalian turun dan periksa ke bawah sana!"

Belum sempat mereka berbuat sesuatu, dari dalam air tiba-tiba menyembul sesosok mayat dalam keadaan telah rusak, yang seakan-akan dilemparkan dari dalam air.

Wajah mayat itu hancur. Daging-dagingnya membusuk berantakan. Tapi jelas itu mayat seorang laki-laki.

"Bagaimana ini bisa terjadi?!" teriak pemuda yang di tengah sambil menutup hidungnya.

"Aku tidak tahu, Balung," jawab Wisesa.

"Kalau begitu aku tidak mau turun ke bawah sana!" tegas pemuda yang bernama Balung merasa ngeri.

Wisesa sendiri sebenarnya sempat tegang juga. Namun dia merasa harus turun ke laut tanpa menghiraukan mayat yang mengapung di samping perahunya. Namun belum juga niatnya terlaksana....

Pyarr...!

Mendadak dari bawah permukaan air menyembul kepala dari mayat lain. Dan perahu pun jadi terguncang cukup keras. Akibatnya dua kawan Wlsesa terjungkal ke laut.

Byur...! Byurrr...!

Wisesa belum merasa cemas, karena hal itu biasa bagi dua pemuda yang biasa melaut. Apalagi, gelombang cukup kuat mengombang-ambingkan perahu.

Namun lama-kelamaan keheranan pemuda itu pun tebersit. Mengapa kedua kawannya lama tidak muncul-muncul juga? Padahal mereka sangat pandai berenang.

Tiba-tiba air laut bergolak kembali. Seketika terlihat pula warna merah darah. Wisesa terkejut. Segera melompat ke dalam laut untuk memberi pertolongan. Dia benar-benar merasa khawatir kalau kawan-kawannya ini mendapat serangan ikan hiu. Selagi Wisesa masuk ke dalam air, bersamaan dengan itu ada dua sosok tubuh terlempar ke udara.

Buk! Buk!

Keduanya kemudian jatuh persis di dalam perahu dengan perut robek menyemburkan darah. Wajah mereka hancur. Dan yang jelas, mereka adalah kawan-kawan Wisesa. Pemuda itu sendiri sejak terjun ke dalam air tidak timbul-timbul lagi. Entah, apa yang terjadi di bawah sana tidak ada yang tahu.

Sementara itu, perahu tadi seakan ada kekuatan yang menggerakkannya. dan kembali meluncur menuju pantai Desa Susukan membawa dua sosok mayat kawan Wisesa.

Wisesa merasa ada tangan yang menyeretnya ke sebuah gua karang di dasar laut. Tubuhnya menggelepar karena sulit bernapas. Tapi kekuatan yang menyeretnya begitu besar. Sehingga sekuat apa pun melepaskan diri, usahanya hanya sia-sia saja.

Setelah beberapa saat menelusuri lorong gua bawah laut, Wisesa tahu-tahu muncul di sebuah ruangan yang terdapat undakan-undakan menuju ke atas.

Pemuda berbadan tinggi kekar ini sudah tidak sempat memperhatikan sekelilingnya yang terasa serba aneh dan sangat asing. Dia terus digiring seorang laki-laki berpakaian serba biru yang telah menyeretnya dari tengah laut ke sana. Namun yang jelas pemuda ini berada di sebuah ruangan indah bagai sebuah bangunan kerajaan, setelah tadi menaiki undak-undakan. Rupanya, gua di bawah laut tadi berhubungan dengan bangunan ini.

"Duduk!" perintah laki-laki itu dengan mata melotot.

Wisesa tentu saja tidak mau diperlakukan sewenang-wenang. Begitu kekuatannya pulih, dengan cepat dia bangkit berdiri. langsung diserangnya laki-laki berbaju biru dengan jurus-jurus yang diandalkannya.

"Bodoh! Kau mencari kesulitan!"

Dengan gerakan cukup indah, laki-laki berbaju biru itu menyambut serangan Wisesa. Ternyata kepandaian laki-laki berbaju biru ini cukup tinggi. Sehingga dalam waktu sebentar, Wisesa sudah berhasil didesaknya.

Pemuda ini tidak mau menyerah begitu saja. Disertai bentakan nyaring dilancarkannya sebuah pukulan keras ke dada laki-laki berbaju biru yang sedikit pun tidak menghindar. Sehingga luncuran tinju Wisesa terus meluncur. Dan...

Buuk!

"Ha ha ha...! Aku bukan tandinganmu! Menurut, atau mencari mati seperti dua kawanmu itu?" dengus laki-laki berbaju biru, tanpa terjajar serambut pun.

Sementara Wisesa terdorong mundur. Pukulannya tadi sedikit pun tidak berarti apa-apa bagi laki-laki berbaju biru. Bahkan tangannya seperti memukul batu karang, sehingga langsung bengkak membiru.

"Kau bunuh kawanku! Siapa kau sebenarnya?!" bentak Wisesa tidak kalah sengit.

"Kau berada di tangan kami. Dan aku tidak patut menjawab pertanyaanmu. Tunggu saja.... Sebentar lagi, Ketua kami segera menemuimu!" sahut laki-laki berpakaian bini ini.

Di luar dugaan laki-laki itu berkelebat cepat. Tangannya terjulur ke beberapa bagian tubuh Wisesa.

Tuk! Tuk!

"Oh...!" Wisesa mengeluh begitu dua totokan mendarat telak di rusuknya. Tubuhnya saat itu juga bagai dilolosi tulang-tulangnya, lemas tak bertenaga. Pemuda itu ambruk tanpa bisa bergerak sedikit pun. Sementara laki-laki berbaju biru yang baru saja berlalu dari hadapannya.

Seorang laki-laki tua renta berumur sekitar dua ratus tahun memperhatikan tubuh Wisesa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajah laki-laki tua berambut dan berjenggot putih ini tampak angker. Matanya mencorong penuh kekejaman. Tangannya memegang sebuah tongkat berwarna hitam berhulu kepala ular sendok.

Di sekeliling pinggang laki-laki tua ini terdapat beberapa buah tengkorak manusia. Sungguh mengerikan wujudnya. Pada bagian lehernya, menggantung kepala perempuan cantik berambut panjang yang sudah dikeringkan.

"Hmm...," gumam kakek berpenampilan angker ini tidak jelas.

"Bagaimana, Ketua?" tanya laki-laki berbaju biru yang tadi membawa Wisesa ke tempat ini.

"'Ha ha ha...! Bagus sekali. Dia memenuhi syarat untuk dijadikan tumbal kita purnama yang akan datang! Kau memang orang yang sangat berguna bagiku, Lesmana! Sekarang kurung dia di tempat biasa. Bulan purnama sudah dekat, tentu dia tidak akan menunggu lebih lama," ujar laki-laki tua berwajah angker.

"Baiklah, Ketua Raja Penyihir. Hamba segera jalankan perintah...!" sahut laki"laki berbaju biru yang bernama Lesmana.

Wisesa saat itu juga dalam keadaan tidak berdaya langsung diseret menuju ke ruangan penjara khusus.

********************

Waktu terus berlalu tanpa terasa. Sementara tanpa sebab-sebab yang jelas. penduduk Desa Susukan saling berkelahi dengan sesamanya. Tidak jarang perkelahian yang terjadi merenggut korban jiwa!

Sebenarnya bukan di Desa Susukan saja peristiwa demi peristiwa aneh terjadi. Di desa-desa tetangga pun suasana seperti itu kerap terjadi akhir-akhir ini. Pertarungan, hilangnya harta benda penduduk secara aneh, peristiwa perkosaan terhadap gadis-gadis remaja, serta pembunuhan terus terjadi.

Tidak seorang pun yang tahu, mengapa penduduk berubah liar tidak terkendali. Satu hal yang perlu diketahui, mereka biasanya menderita demam panas dulu beberapa hari. Kemudian. disusul tingkah laku aneh yang diakhiri pertarungan sesama penduduk. Dan biasanya, merenggut korban jiwa tidak sedikit.

Kejadian seperti itu tentu saja membuat Ki Belalang merasa bingung. Dia telah kehabisan akal, apa yang harus dilakukannya.

Wisesa yang dipercayakan untuk menghubungi tokoh-tokoh silat di Pulau Karimun hilang entah ke mana. sementara dua orang lainnya yang kembali dalam keadaan tewas mengenaskan. Ki Belalang bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Wisesa membunuh kawan-kawannya sendiri? Lalu, apa yang terjadi dengannya?

Rasanya pertanyaan Ki Belalang hanya tinggal pertanyaan saja, kalau tidak segera bertindak lebih jauh. Paling tidak, semua kawannya di rimba persilatan dihubungi untuk memecahkan persoalan yang tengah dihadapi.

Mungkinkah Kelelawar Hijau itu sumber dari semua malapetaka yang terjadi? Padahal, sebelumnya kemunculan Kelelawar Hijau hanya memperkosa dan membunuh gadis-gadis desa secara keji.

Waktu itu tidak ada gejala-gejala yang ganjil. Harta benda mereka juga tidak ada yang hilang, seperti sekarang ini.

Sementara itu tidak jauh dari tempat tinggal Ki Belalang, tampak seorang pemuda tampan berompi putih memasuki Desa Susukan di siang ini. Di punggungnya tergantung sebilah pedang berhulu kepala burung rajawali. Pemuda ini tidak lain Rangga atau lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti.

Ketika melintasi Desa Susukan, Rangga terheran-heran. Karena sejak berada di mulut desa tidak terlihat seorang penduduk pun. Suasana tampak sepi, bagaikan tidak berpenghuni.

Dalam keheranannya Pendekar Rajawali Sakti terus melangkah tenang. Naluri kependekarannya mengatakan ada berpasang-pasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya dari balik pintu rumah-rumah penduduk yang tertutup. Rangga jadi curiga. Dia berpikir, pasti ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sini.

"Aku harus mencari tahu, apa yang telah terjadi di tempat ini. Pertama yang harus kulakukan adalah mencari rumah kepala desa," gumam Rangga pelan.

Sampai di perempatan jalan, Pendekar Rajawali Sakti yang baru saja ingin membelok ke kiri, mendengar suara teriakan disertai kata-kata kotor yang ditingkahi denting senjata beradu. Rangga segera berkelebat ke arah itu. Sesampainya di tempat terjadinya perkelahian, Rangga jadi tertegun.

"Melihat cara bertarung, rasanya mereka tak memiliki ilmu olah kanuragan. Gerakan silat mereka cenderung seadanya. Tapi mengapa mereka berkelahi?" tanya Rangga, seperti ditujukan pada diri sendiri.

Sementara itu tidak jauh di depan pertarungan seru memang sedang terjadi antara seorang bersenjata golok dengan orang lain yang bersenjata clurit.

Rangga segera melangkah mendekati, sambil terus memperhatikan dengan seksama. Dan Pendekar Rajawali Sakti pun terkejut.

"Kata kedua orang ini kosong seperti terkena sihir. Jelas orang-orang ini dalam keadaan tidak sewajarnya," gumam Rangga. "Sebaiknya kupisahkan mereka dulu!"

Namun sebelum sempat Rangga memisahkan, laki-laki yang berdiri paling dekat dengannya telah menyerang dengan golok. Rangga terkesiap. Langsung dia melompat mundur sejauh dua tombak. Tapi laki-laki bersenjata golok itu terus mengejarnya.

"Kau harus kubunuh! Kubunuuuh...!" teriak laki-laki ini sambil menyabetkan golok dengan beringas. Sementara laki-laki yang bersenjata clurit hanya menatap kosong saja.

"Hei...? Aku tidak tahu menahu persoalanmu. Mengapa kau menyerangku..!" Rangga mencoba mengingatkan.

"Kubunuh...!" dengus laki-laki itu lagi tanpa menghiraukan ucapan Rangga.

"Orang ini benar-benar seperti kesurupan. Dia menyerang bukan atas perintah akal sehatnya. Pasti ada yang mendalangi semua ini!" pikir Rangga.

Tidak ada pilihan lagi bagi Pendekar Rajawali Sakti terkecuali mengelakkan setiap serangan yang datang. Walaupun orang yang menyerangnya tidak mempunyai keterampilan silat, namun serangannya cukup berbahaya juga. Sehingga Rangga terpaksa mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindarinya.

"Hiyaaa...!"

Rangga segera menggeser langkahnya ke samping kiri, sehingga golok yang meluncur deras ke bagian perut luput. laki-laki itu rupanya kalap melihat serangannya tidak mengenai sasaran. Tubuhnya cepat berbalik lalu kembali melakukan serangan gencar. Rangga meliukkan tubuhnya setiap ada serangan yang datang.

Wuut!

Golok laki-laki itu kembali menyambar. Dan sekali lagi Rangga melompat ke belakang. Ketika Pendekar Rajawali Sakti melihat kesempatan yang cukup baik tiba-tiba tubuhnya meluruk deras ke depan. Tangannya meluncur melancarkan totokan. Lalu....

Tuk!

"Aaagkh...!" Laki-laki itu kontan mengeluh saat totokan Rangga mendarat tepat pada sasaran. Tubuhnya kaku dan sulit digerak-gerakkan lagi.

Melihat ini orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut yang semula saling serang, kini berbalik menyerang Rangga. Tentu saja Rangga jadi kerepotan. Apalagi Pendekar Rajawali Sakti tidak bermaksud melukai. Apalagi, membunuh.

Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan ilmu meringankan tubuh, sekaligus jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindari hujan senjata yang tidak ada henti-hentinya.

"Hup! Heaaa...!"

Dengan manisnya Rangga keluar dari kepungan. Setiap kali ada kesempatan baik, segera dilancarkannya serangan balik.

Buk!

"Augkh!"

Beberapa orang yang terkena tendangan Pendekar Rajawali Sakti langsung jatuh terguling-guling. Kemudian Rangga memburu orang-orang ini, dan langsung melepas totokan.

Tuk! Tuk! Tuk!

"Ah...!"

Terdengar keluhan lemah disertai ambruknya beberapa orang lawan. Empat orang lain ketika melihat kawannya dalam keadaan tidak berdaya tampak semakin marah. Secara bersamaan mereka menyerbu.

Rangga tidak lagi memberi kesempatan pada keempat laki-laki yang telah berubah linglung. Segera dilakukannya serangan cukup gencar. Namun gerakannya itu langsung tertahan, ketika....

"Berhenti...!"

Rangga melompat mundur begitu mendengar bentakan keras, keempat pengeroyoknya juga melakukan hal yang sama. Rangga berpaling ke arah datangnya suara. Tidak jauh dari tempat Pendekar Rajawali Sakti berdiri. tampak seorang laki-laki tua berpakaian putih berada di situ.

"Pergi kalian! Dan, jangan buat kekacauan lagi!" perintah orang ini.

Nampaknya para pengeroyok Rangga begitu menghormati orang tua berpakaian putih ini. Terbukti, mereka segera meninggalkan tempat itu tanpa menoleh-noleh lagi.

Sementara sosok berambut putih ini memperhatikan Rangga dengan seksama. Ada rasa curiga di matanya. Namun kecurigaan itu tidak berlangsung lama, setelah melihat betapa berwibawanya Pendekar Rajawali Sakti ini di matanya.

"Untuk menghindari hal-hal yang tidak diingini, sebaiknya kau ikut aku, Kisanak...!" tegas laki-laki tua yang tak lain Ki Belalang.

"Maaf, aku tidak bisa ikut sebelum tahu namamu!" tolak Rangga, halus.

"Kau sendiri siapa?" Ki Belalang malah balik bertanya.

"Namaku, Rangga...!" jawab Pendekar Rajawali Sakti memperkenalkan namanya

"Aku Belalang Sentadu. Aku tinggal tidak jauh dari sini. Kalau kau berkenan, mari mampir ke pondokku...! Ki Belalang memberi tawaran

Rangga sebenarnya merasa ragu-ragu juga. Tapi mengingat adanya keanehan-keanehan yang terjadi di Desa Susukan, akhirnya dia mengikuti ajakan Ki Belalang.

TIGA

Ki Belalang mengajak Pendekar Rajawali Sakti duduk di ruangan Pendopo. Dua cangkir kopi panas telah terhidang di atas meja. Ketika Ki Belalang mengajaknya minum, Rangga hanya mengangguk saja. Ki, Belalang tersenyum. Rupanya, dia dapat menduga kalau Pendekar Rajawali Sakti merasa curiga kepadanya.

"Terus terang, Ki. Apa sebenarnya maksudmu mengajakku ke sini?" tanya Rangga, tidak sabar.

Ki Belalang malah tertawa. Sehingga, membuat Rangga jadi semakin bertambah curiga. "Kulihat kau menjatuhkan orang-orang linglung tadi dengan cara mudah. Hm.... Kau pasti mempunyai kepandaian sangat tinggi," bukannya menjawab, Ki Belalang malah memuji.

"Orang-orang itu memang tidak pandai ilmu olah kanuragan. Sedangkan kepandaianku hanya kepandaian pasaran saja," sahut Rangga, merendah.

"Memang..., biasanya pendekar tangguh selalu menganut ilmu padi. Kurasa, Tuhan telah menurunkan kemurahannya melalui kau," sergah Ki Belalang.

"Aku semakin tidak mengerti saja, ke mana arah ucapanmu, Ki," ucap Rangga.

Ki Belalang terdiam sejenak. Seakan dia berusaha menentukan, mana yang akan dibicarakannya lebih dulu pada pemuda berompi putih ini.

"Aku melihat ada sesuatu yang aneh pada orang-orang yang telah menyerangku tadi. Dapatkah kau katakan padaku, apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat ini?!" desak Rangga, penasaran.

"itulah yang ingin kukatakan padamu " sahut Ki Belalang. "Desa Susukan ini sebenarnya sudah dalam keadaan aman, mengingat Raja Penyihir yang bernama Bagas Pati kabarnya sudah mengasingkan diri ke Pulau Karang Hantu. Tapi beberapa purnama belakangan ini, keadaan berubah kacau oleh munculnya tokoh berjuluk Kelelawar Hijau. Dia suka memperkosa gadis-gadis cantik di desa ini. Juga melakukan pembunuhan demi pembunuhan.... "

"Apa tujuan Kelelawar Hijau itu yang sebenarnya?" potong Rangga tidak sabar.

"Tidak seorang pun yang tahu. Mungkin dia melakukan perkosaan dan pembunuhan untuk kesenangan. Bisa jadi untuk kesempurnaan ilmu hitam yang dianut," sahut Ki Belalang, menduga.

"Lalu, apa hubungannya dengan orang-orang yang telah menyerangku tadi, Ki?"

"Entahlah...," desah Ki Belalang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi, kurasa persoalan yang satu dengan yang lain ada hubungannya. Aku sendiri tak tahu. mengapa orang-orang di sini seperti lupa ingatan. Mereka setiap hari berkelahi, tanpa sebab-sebab yang jelas. Mereka kalap, marah, dan saling bunuh. Yang membuatku lebih heran lagi, bersamaan waktunya dengan perubahan watak penduduk desaku ini, banyak orang kaya kehilangan harta bendanya secara aneh."

"Apakah kau menduga semua ini adalah perbuatan Kelelawar Hijau...?" tebak Rangga semangat.

"Aku tidak berani menarik kesimpulan begitu. Beberapa bulan yang lalu, saat Kelelawar Hijau melakukan penculikan dan perkosaan, dua kejadian yang baru kukatakan tadi tidak pernah ada," jelas Ki Belalang mantap.

Rangga merasa apa yang dihadapi Ki Belalang memang sebuah persoalan tidak ringan Di desanya sendiri mengingat penduduknya yang telah lupa ingatan bukan mustahil bila sewaktu-waktu Ki Belalang terbantai. Tapi, mengapa orang-orang linglung tadi begitu patuh dan seperti takut melihat Ki Belalang? Pertanyaan ini membuat Rangga harus bertindak hati-hati.

"Kau tadi menyinggung masalah Raja Penyihir. Kalau kau tahu, di manakah dia tinggal. Dan, apakah masih hidup sampai saat ini?" tanya Rangga, polos.

Tanpa ragu Ki Belalang segera menceritakan pertemuannya dengan Nyai Sekar Tanjung, perempuan renta yang masih terhitung sahabatnya dan sangat ahli dalam hal membaca pikiran orang. Sementara, Rangga mendengarkan penuh perhatian.

"Jadi hidup matinya Raja Penyihir belum ketahuan?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, begitu Ki Belalang menuntaskan ceritanya.

"Begitulah. Hanya menurutku, mungkin Bagas Pati sudah tiada. Sepuluh tahun yang lalu, saat dia menyebar malapetaka di mana-mana, umurnya sudah hampir dua ratus tahun. Kabar yang kudengar, dia mengasingkan diri di Pulau Karang Hantu bersama Minanti, Penguasa Puri Kambangan. yang berhasil dijadikan istrinya. Sejak saat itu kabar tentangnya tidak terdengar lagi!" jelas Ki Belalang, panjang lebar

Rasanya Rangga merasa sulit juga memastikannya. Seorang Raja Penyihir bisa saja mengundurkan diri dari keramaian dunia. setelah menemukan orang yang dicintainya. Dan kendati sudah sangat tua, orang yang memiliki sihir sulit mati karena ilmu yang dimilikinya. Segala kemungkinan memang dapat terjadi di dunia ini. Tapi, alangkah baiknya jika melakukan penyelidikan sendiri.

"Ki..., kurasa persoalan yang kau hadapi cukup menarik. Dapatkah kau tunjukan padaku, di mana Pulau Karang Hantu itu?" tanya Rangga.

"Pulau yang kau maksud terletak di kawasan Kepulauan Bawean. Jika kau berniat menolongku, sebaiknya bisa memulai segala sesuatunya dari Pulau Kambangan. Mungkin di pulau itu kau dapat menemukan sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk. Aku punya sebuah perahu yang dapat dipergunakan untuk menuju ke sana," ujar Ki Belalang.

"Kuterima tawaranmu, Ki. Kurasa lebih baik aku berangkat sekarang ini," putus Rangga.

"Jangan," cegah Ki Belalang. "Di laut sedang musim badai Besok pagi saja kau berangkat," cegah Ki Belalang.

Sebenarnya Rangga dapat memanggil burung rajawali tunggangannya untuk membawanya menuju pulau Kambangan. Tapi karena Ki Belalang mendesaknya terus untuk tetap bermalam di rumahnya, akhirnya tawaran itu diterima.

********************

Pendekar Rajawali Sakti terjaga dari tidurnya ketika telinganya yang setajam rajawali mendengar suara bergemerincing yang begitu halus. Dia bangkit berdiri, dan langsung melangkah keluar dari kamar. Gerakannya hati-hati sekali.

Sampai di depan pintu Pendekar Rajawali Sakti berhenti, dan memandang ke tengah-tengah kegelapan yang menyelimuti alam sekitarnya. Dia tersentak kaget saat sebuah tangan menepuk bahunya.

"Eeeh.... Ki Belalang.... Membuatku kaget saja," desah Rangga dengan suara berbisik.

"Kau mendengar sesuatu?" tanya Ki Belalang, tidak kalah pelan.

"ya.... Suara gemerincing itu seperti berada di atas rumah-rumah penduduk di depan sana, " ungkap Rangga.

"Hampir setiap malam aku mendengarnya. Tapi ketika kuperiksa ternyata, aku hanya melihat dua bola api seperti bintang jatuh bergerak tidak menentu. Terkadang menerobos rumah penduduk. Anehnya, tidak menimbulkan kebakaran dan korban jiwa. Biasanya bola api itu baru pergi setelah menjelang subuh," jelas Ki Belalang.

"Sungguh aneh?" gumam Rangga.

"Kau lihat!" seru Ki Belalang.

Tiba-tiba laki-laki tua ini menunjuk ke angkasa, tidak jauh di sebelah kiri. Di angkasa tampak dua bola api. Yang satu berwarna merah membara, sedangkan satunya lagi berwarna kuning. Bola api itu terus bergerak mengelilingi rumah-rumah penduduk. Sementara suara gemerincing terus terdengar. Rangga yang dihinggapi rasa penasaran, bermaksud mendekati bola api yang terus berputar-putar di udara. Namun baru saja ia menuruni anak tangga....

"Aaa...!" Tiba-tiba terdengar jeritan seorang perempuan.

Kembali Pendekar Rajawali Sakti tersentak kaget. Cepat dia menoleh ke sebelahnya. Ternyata, Ki Belalang sudah tidak lagi berada di situ. Dan Pendekar Rajawali Sakti sempat melihat bayangan berkelebat menuju ke arah jeritan tadi.

Tanpa membuang-buang waktu Rangga menyusul. Ketika sampai di sebuah rumah, di depan pintu terlihat seorang gadis terkapar dengan tubuh telanjang berlumuran darah. Sementara itu, Ki Belalang sedang bertarung melawan sosok tubuh berjubah berwarna hijau. Kepalanya tertutup topeng berbentuk kelelawar.

"Pemerkosa keji! Mampuslah kau malam ini di tanganku!" teriak Ki Belalang marah.

Tiba-tiba saja laki-laki tua ini menerjang ke depan. Namun sosok yang dikenal berjuluk Kelelawar Hijau ini telah merentangkan kedua tangannya, sejajar bahu. Tampak jelas jubah hijaunya melambai-lambai, berbentuk seperti sayap sungguhan dan cukup lebar.

Tepat ketika serangan Ki Belalang hampir tiba, Kelelawar Hijau menggerakkan kedua tangannya ke depan.

Wuttt...!

Maka seketika empat buah benda berwarna hijau meluruk ke arah laki-laki itu. Terpaksa Ki Belalang membatalkan serangan, lalu segera berjumpalitan ke udara dengan kedua tangan memapak.

"Hup!"

Seketika angin deras yang keluar dari tangan Ki Belalang membuat tiga buah senjata rahasia terpental. Sementara satu sisanya terus lolos dan mengancam dada laki-laki tua ini. Sesepuh Desa Susukan ini terkesiap. Jelas dia tidak dapat menghindarinya lagi.

Namun pada saat-saat yang sangat menegangkan, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan putih. Gerakannya begitu cepat, menyambut luncuran senjata rahasia itu. Dengan gerakan mengagumkan tangannya menyambut.

Tap!

"Heh...!" Kelelawar Hijau terkejut bukan main, melihat sosok bayangan putih itu berhasil menangkap senjata rahasia yang pada bagian hulunya terdapat ukiran berbentuk kelelawar berwarna hijau.

"Hiih...!"

Wuutt...!

"Heh?!" Kelelawar Hijau lebih terkejut lagi ketika sosok yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti melempar balik senjata miliknya. Maka dengan cepat tubuhnya berjumpalitan ke udara. Sehingga senjata rahasia yang dilemparkan Rangga hanya setengah jengkal melesat di bawah kakinya.

"Mundurlah, Ki. Biarkan aku yang memberi pelajaran pada manusia tengik ini!" ujar Rangga tegas.

"Huh...!" Kelelawar Hijau mendengus. Tiba-tiba Kelelawar Hijau meluruk deras ke arah Rangga. Kedua tangannya langsung terkembang seperti sayap, hendak menghantam kepala Rangga.

"Uts...!" Pendekar Rajawali Sakti tentu tidak tinggal diam. Wajahnya segera ditarik ke belakang lalu tangannya dijulurkan menangkis.

Plak!

"Aaakh!" Kelelawar Hijau terhuyung mundur dengan keluhan tertahan. Sementara Rangga sempat bergetar tubuhnya. Namun secepat kilat tubuhnya meluruk deras membalas serangan dengan sebuah tendangan yang begitu cepat ke perut Kelelawar Hijau.

"Hup...!" Namun tidak kalah cepat Kelelawar Hijau melompat mundur, sehingga tendangan Rangga tidak mengenai sasaran. Bahkan tubuhnya cepat diputar. Sementara tangannya kembali menghantam kepala.

"Uts...!" Pendekar Rajawali Sakti cepat menunduk, maka tinju Kelelawar Hijau lewat seperempat jengkal di atas kepala Rangga.

Pada saat itu juga, pemuda berompi putih ini melihat sebuah kesempatan yang sangat baik. Sebuah celah untuk menggempur pertahanan lawan. Maka seketika tangannya menyampok ulu hati Kelelawar Hijau.

Desss...!

"Heegkh...!" Manusia kelelawar memekik kesakitan. Dia jatuh terguling-guling, namun cepat bangkit berdiri. Seakan tidak merasakan sakit apa-apa. Padahal tampak jelas darah menetes dari sudut-sudut bibirnya. Bahkan kini segera dikerahkannya jurus-jurus 'Kelelawar' yang cukup dahsyat

"Hiaaa...!"

Dengan penuh kemarahan Kelelawar Hijau menggempur Rangga dengan serangan-serangan mematikan. Dan tentu saja Pendekar Rajawali Sakti tidak tinggal diam. Segera dikerahkannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindari serangan.

Ternyata Kelelawar Hijau cukup tangguh juga. Walaupun Rangga meliuk-liuk sambil terus menggeser kedua kakinya dengan lincah, beberapa kali tendangan Kelelawar Hijau nyaris menghantam kepala dan perutnya. Rangga kemudian jadi tidak sabar. Seketika gerakannya dipercepat. Tangan dan kakinya terus membalas serangan yang datang.

"Heaaa...!"

"Huup!"

Tiba-tiba saja Kelelawar Hijau berjumpalitan di udara. Didukung jubah hijaunya yang dapat terkembang membentuk sayap, maka gerakannya lebih cepat dari sebelumnya. Bahkan Rangga terpaksa berguling-guling untuk menghindari tendangan. Namun ketika Rangga bangkit, Kelelawar Hijau meluncur begitu cepat melepaskan hantaman ke dada.

Desss...!

"Akh...!" Rangga terlempar cukup jauh. Dadanya langsung terasa sesak. Walaupun begitu, dia cepat bangkit berdiri. Setelah menyeka darah yang keluar dari hidungnya, tiba-tiba dia memasang kuda-kuda kokoh dengan kedua telapak tangan terbuka di sisi pinggang. Lalu....

"Aji 'Bayu Bajra'! Heaaa...!" Disertai bentakan keras, Rangga menghentakkan tangannya ke depan. Seketika, bertiup angin kencang bagai topan menderu dan bergulung-gulung ke arah Kelelawar Hijau.

Sementara laki-laki bertopeng berbentuk kepala kelelawar ini mengebutkan jubahnya yang lebar seperti sayap. Maka seketika bertiup pula angin kencang, memapak luncuran angin topan dari aji 'Bayu Bajra'.

Blarrr!

"Aaagkh...!" Kelelawar Hijau kontan terlempar sejauh tiga tombak disertai keluhan tertahan. Dengan mulut meringis menahan sakit dia berusaha bangkit. Agaknya, dia menderita luka dalam yang tidak ringan.

Sementara, Rangga yang terhuyung-huyung tengah mendekap dadanya, seringai kesakitan juga tergambar di wajahnya. Namun baru saja Pendekar Rajawali Sakti hendak bersiap kembali, Kelelawar Hijau telah berkelebat kabur.

"Mau lari ke mana kau, Keparat?!" Rangga tentu saja tidak membiarkan lawannya lolos begitu saja. Segera tubuhnya berkelebat mengejar.

Namun tiba-tiba Kelelawar Hijau berbalik. Kedua tangannya terpentang lebar yang bagaikan kelelawar mengebut.

Set! Set!

Seketika, melesat sinar kehijauan ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Dengan terpaksa, Rangga menghentikan pengejarannya.

"Hup...!" Dengan gerakan lincah Rangga berjumpalitan di udara hingga tidak satu pun dari senjata-senjata rahasia Kelelawar Hijau mengenai sasarannya. Namun, pada saat yang sama manusia bertopeng kelelawar itu telah melesat bagai terbang meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga yang baru saja turun ke tanah menjadi kesal bukan main. Sedangkan Ki Belalang menunggunya di situ dengan perasaan cemas.

"Bagaimana keadaanmu, Rangga?" tanya Ki Belalang.

"Aku dalam keadaan baik-baik saja, Ki. Tidak ada yang perlu dicemaskan!" jawab Rangga, mantap.

"Kulihat Kelelawar Hijau itu lari menuju ke Pulau Kambangan. Bagaimana dia bisa terbang seperti kelelawar sungguhan?"

"Sebenarnya dia tidak bisa terbang. Hanya jubahnya yang lebar berbentuk sayap itu yang membuatnya dapat melayang, seolah-olah seperti terbang." jelas Rangga.

"Aneh sekali!" ucap Ki Belalang, ternyata masih tetap penasaran.

"Sudahlah, Ki. Malam semakin larut. Gara-gara manusia Kelelawar Hijau, aku gagal mengintai dua bola api yang sempat kita lihat. Sekarang sebaiknya kita urus mayat gadis malang itu!"

"Kau terlambat, Rangga. Tadi ketika kau sibuk bertarung, aku dengan dibantu beberapa penduduk yang masih waras, sudah menguburnya, " sergah Ki Belalang.

"Kalau begitu, sebaiknya kita pulang sekarang!" ajak Rangga.

Tanpa banyak bicara lagi Ki Belalang langsung mengikuti Rangga tidak jauh di belakangnya.

"Lihat..!" seru Ki Belalang tiba-tiba saja.

Rangga melihat ke arah yang ditunjukkan Ki Belalang. Tampak bola api yang mereka lihat pertama kali bergerak meninggalkan sebuah rumah salah satu penduduk.

"Kita ikuti ke mana perginya bola-bola api itu Ki!"

"Aku setuju."

Mereka segera berkelebat mengikuti kedua bola api itu. Dan ternyata benda-benda aneh yang menyalakan warna-warna kemilau ini menuju Laut Utara lepas.

"Tidak salah lagi, Rangga. Mereka pasti menuju Pulau Kambangan. Kau harus menyelidikinya, Rangga. Keselamatan penduduk di daerah ini terletak di tanganmu."

"Mengapa kau begitu yakin aku bisa melakukannya, Ki?" tanya Rangga heran.

"Setelah melihat kehebatanmu berhadapan dengan Kelelawar Hijau tadi, entah mengapa aku begitu percaya dengan kemampuanmu...!" sahut Ki Belalang.

"Sudahlah.... Segalanya kita bicarakan lagi besok," desah Rangga sambil berlalu meninggalkan pinggiran pantai.

********************

EMPAT

Pulau Kambangan yang tampak angker terusap angin lembut. Pucuk-pucuk pohon kelapa melenggak-lenggok bagai tarian putri pantai. Kendati demikian, keadaan seperti ini justru makin menambah seramnya suasana. Apalagi, ditambah tulang-belulang yang berserakan di Sana sini. Konon, tulang-tulang itu berasal dari korban kejahatan Raja Penyihir.

Agak menjorok ke dalam, berdiri kokoh sebuah bangunan besar bagaikan sebuah kerajaan. Sepertinya, tidak ada kehidupan di sana. Namun justru di dalam ruangan puri yang berlantai batu mamer, tengah berkumpul tiga orang laki-laki berumur sekitar enam puluh tahun. Mereka duduk bersila di setiap sudut ruangan. Di atas pangkuan mereka terdapat sebuah kitab tipis berisi ajaran tertentu.

Siapa sebenarnya ketiga laki-laki bertampang seram ini? Hanya Raja Penyihir yang bernama Bagas Pati sajalah yang tahu. Kendati demikian, antara Bagas Pati dan pembantu utamanya yang bernama Laksamana, dengan ketiga laki-laki ini, tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Walaupun, mereka sama-sama tinggal di tempat yang sama, di dalam bangunan besar bernama Puri Kambangan ini.

"Semua cita-citaku sudah hampir terlaksana," kata laki-laki yang berkepala botak dan berbaju serba merah. Suaranya pelan, tapi nyaring. Sehingga semua orang yang berada di dalam ruangan dapat mendengarnya. "Sebentar lagi, aku segera dapat membangun sebuah kerajaan besar dengan harta-harta yang berhasil kucuri dari penduduk di seberang pulau ini. Kitab Wijaya Aria ternyata banyak gunanya bagiku, seluruhnya setelah kupelajari. Aku bisa menjadi pengipri yang tidak pernah ketahuan para pemilik harta itu! Ha ha ha...!"

"Semua yang berada di sini tahu, kalau Raja Penyihir tidak pernah mendustai kita, Sumantri! Kitab yang kumiliki pun benar-benar ampuh. Kurasa setelah berhasil meniduri gadis suci sebanyak tiga puluh orang lagi, aku benar-benar menjadi Kelelawar Hijau yang sakti. Betapa beruntungnya aku memiliki Kitab Kelelawar Hijau ini. Kesaktian kudapatkan. Dan kesenangan kuperoleh pula," timpal yang berpakaian serba hijau bangga.

"Kakang Manik Kanginan! Kau memang beruntung. Tapi apa gunanya punya ilmu sakti dan bersenang-senang dengan gadis-gadis cantik, jika tidak punya harta yang dapat dibanggakan?" tukas laki-laki botak bernama Sumantri, bangga.

"Aku sudah punya ilmu yang dapat kubanggakan. Dengan ilmu kelelawar yang kumiliki, aku dapat melakukan apa saja tanpa ada orang lain yang dapat menghalanginya!" sahut laki-laki berpakaian serba hijau yang bernama Manik Kanginan.

"Tapi katamu, kau baru saja takluk ketika berhadapan dengan pemuda berompi putih ketika mencari tumbal perawan di Desa Susukan!" ejek Sumantri sambil mencibirkan bibirnya.

Wajah Manik Kanginan berubah merah mendengar ejekan adik seperguruannya. Dia bangkit berdiri dengan perasaan geram.

"Pemuda berompi putih yang telah menyerangku malam itu, tidak akan punya arti apa-apa bila kitab ini telah kutamatkan seminggu mendatang. Ia akan menjadi korbanku yang paling berarti!" dengus Manik Kanginan berang.

"Aku percaya. Sebagaimana percayanya ketika tubuhku berubah menjadi bola api merah dan melakukan pencurian harta tanpa diketahui pemiliknya," tandas Sumantri.

"Karena Kitab Kelelawar Hijau, aku menjadi sakti. Karena Kitab Wijaya Arta kau menjadi orang kaya. Dan nantinya pasti akan mendirikan sebuah singgasana melebihi Puri Kambangan ini. Dan karena kita....!"

"Jangan sebut-sebut kitabku!" bentak seorang laki-laki lain yang duduk di sudut sebelah kanan. Dia tampak lebih tua daripada dua orang lainnya. Hanya yang satu ini selain memakai pakaian warna kuning yang kedodoran, wajahnya juga tampak lucu. Rambutnya yang jarang dikuncir menghadap ke atas.

"Mengapa tidak mau, Kakang Giling Wesi? Bukankah kau juga mewarisi kitab milik Raja Penyihir?" tanya Sumantri, heran.

"Rupanya saudara kita ini kurang bangga, karena cuma mempelajari kitab yang dapat membuat orang lupa ingatan sampai saling bunuh tanpa sebab!" timpal Manik Kanginan.

"Aku malah senang. Kalau perlu, aku bisa membuat kalian berdua menjadi linglung. Tapi aku lebih bangga membuat orang lain menderita, daripada menyengsarakan saudara-saudaraku sendiri," desis laki-laki berpakaian kuning yang dipanggil Giling Wesi dingin

"Sebentar lagi kita telah berhasil menyelesaikan kitab ini. Lalu.... apa rencana kita selanjutnya?" tanya Sumantri mengalihkan pembicaraan.

Suasana di dalam ruangan ini berubah sunyi. Tampaknya mereka berusaha memikirkan apa yang baru saja dikatakan Sumantri.

"Rencana kita cukup banyak Cuma yang kuherankan, mengapa adik seperguruan kita Lesmana lebih suka mengabdi pada Bagas Pati?" gumam Giling Wesi, seolah-olah menyesalkan.

"Ya.... Padahal, Bagas Pati sudah sangat tua. Kekuatannya hanya terletak pada tongkat penyihir itu Kalau Lesmana mau, tentu bisa mempelajari kitab-kitab ciptaan Bagas Pati. Dia bisa mendapatkan apa yang kita dapatkan...," kata Manik Kanginan, ikut menimpali.

"Justru kita yang bodoh. Lesmana termasuk manusia cerdik Dia tentu saja tidak mau mempelajari kitab-kitab yang sudah kuno ciptaan Raja Penyihir. Jika terus mendekati Bagas Pati dan selalu mengabdi padanya, tentu lama kelamaan Bagas Pati tidak sayang-sayang lagi menurunkan ilmu sihirnya yang baru. Secara tidak kita sadari, di antara kita berempat hanya Lesmana-lah yang berhasil mewarisi ilmu sihir Bagas Pati," sergah Sumantri.

"Bodoh! Untuk apa mewarisi ilmu sihir Bagas Pati?! Dulu kita berempat mampu mengalahkan kakek renta itu. Artinya, kepandaian yang kita miliki lebih tinggi daripada kepandaian Bagas Pati," sentak Giling Wesi.

"Sudahlah! Untuk apa kita mengadu mulut? Dulu kita dapat mengalahkan Raja Penyihir, karena telah memakai akal dan semua tipu muslihat yang kita dimiliki. Aku tidak mau bertengkar untuk urusan yang sudah tidak pantas lagi dibicarakan! Sekarang, aku ingin istirahat." dengus Manik Kanginan sambil berlalu meninggalkan ruangan pertemuan.

Manik Kanginan sebenarnya bukan menuju kamarnya yang terdapat di sisi kanan puri, tapi menuju ke sebuah lorong yang menghubungkan ke bagian taman belakang. Taman yang sudah tidak terawat ini sebenarnya sebelum Raja Penyihir menguasai puri, selalu dipergunakan Ketua Puri Kambangan.

Ke tengah-tengah tampak itulah Manik Kanginan melangkahkan kakinya, menuju sebuah bangku batu. Setelah memastikan keadaan di sekelilingnya dalam keadaan aman-aman saja, bangku batu itu mulai digerak-gerakkan.

"Batu lainnya segera bergeser, sehingga terlihat lubang seukuran kepala manusia. Manik Kanginan lantas menjulurkan seutas tali yang ada di tempat ini. Sementara dari dalam lubang terdengar suara mendesis seperti suara ular. Ujung tali yang dipasang jeratan ini kemudian ditarik ke atas. Tak lama, terlihat seekor ular sanca seukuran paha laki-laki dewasa terangkat dan meronta-ronta. Rupanya, ular sanca itu begitu takut pada Manik Kanginan. Terbukti,. dia terus meronta-ronta.

Manik Kanginan tersenyum sinis. Dielusnya badan ular hingga membuat makhluk melata ini menggelepar dan berusaha melepaskan diri. Namun, apa yang dilakukannya hanya membuat jeratan pada pangkal kepalanya semakin erat.

"Ha ha ha...! Tidak seorang pun yang menyangka bahwa ular sepertimu adalah wanita sangat cantik, Kemala Dewi. yang membuatku terheran-heran, mengapa selama itu Raja Penyihir yang sudah hampir mampus tidak mengembalikanmu seperti semula? Apakah dia terlalu benci padamu? Atau, kau memang sengaja bersembunyi darinya?" tanya Manik Kanginan, seakan ditujukan pada diri sendiri.

"Zzzttt...!"

Ular Sanca yang berada dalam pangkuan Manik Kanginan mendesis keras. Dia lantas mencoba melepaskan diri dari Manik Kanginan, namun tidak mempunyai daya apa-apa.

"Dua puluh sembilan gadis yang masih suci harus berkorban demi ilmu yang kupelajari. Untuk menggenapkannya menjadi tiga puluh, tentu aku dapat menikmati kehangatan tubuhmu! Pertama yang kulakukan untuk membebaskanmu dari pengaruh sihir adalah dengan mencuri tongkat penyihir di tangan Bagas Pati. Dapat kau bayangkan, betapa aku mempertaruhkan nyawa demi membebaskanmu dari pengaruh jahat si tua renta itu!" kata Manik Kanginan, ditujukan pada ular yang berada dalam pangkuannya.

Ular sanca itu kembali mendesis. Kali ini desisannya lebih panjang dari pertama tadi. Kalau saja Manik Kanginan dapat mendengar ucapan makhluk jelmaan ini, tentu telinganya terasa panas seperti terbakar api.

"Kalian sama busuknya dengan yang lain! Aku mengetahui banyak rahasia yang tidak kau ketahui, Manik Kanginan! Lagi pula siapa sudi menerima pertolonganmu yang busuk itu?" kata ular ini dalam desisan yang tak dimengerti Manik Kanginan.

Manik Kanginan yang memang tidak mendengar apa-apa kemudian tertawa lebar. "Aku si Kelelawar Hijau akan menaklukkan seluruh tokoh-tokoh di tanah Jawa ini. Aku akan menjadi orang nomor satu. Tapi sebelum itu, aku harus menyingkirkan pemuda berompi putih yang telah menyerangku. Kau dengar itu, Kemala Dewi.... Kau dengar...?" desis Manik Kanginan seperti orang kesetanan.

"Zzzttt...!"

Suara desisan kembali terdengar. Sambil tersenyum, Manik Kanginan melepaskan simpul tali yang menjerat leher ular sanca bernama Kemala Dewi. Setelah itu, dilepaskannya ular ke tempatnya kembali, seraya menghembuskan napas dalam-dalam

"Kau dalam keadaan aman di sini, Sayang. Tunggulah, sampai aku berhasil mendapatkan tongkat penyihir itu. Aku akan membebaskanmu. Dan setelah itu tentu. kita dapat bersenang-senang!" ucap Manrk Kanginan sambil membasahi bibir.

Manik Kanginan kemudian meninggalkan taman ini, menuju., lorong semula dan kembali ke kamarnya.

Sementara itu pada waktu bersamaan di ruangan lain, Bagas Pati dan pembantu yang bernama Lesmana sedang menghadap ke sebuah altar. Di samping altar, terdapat sebuah lubang besar mirip sebuah sumur yang berhubungan langsung dengan gua di bawah laut. Di dalamnya hidup berbagai jenis binatang melata yang sangat berbisa.

Sementara itu di atas altar, tampak terikat tak berdaya seorang pemuda bertubuh tinggi berbadan kekar. Dia tidak lain dari Wisesa yang diculik di tengah laut beberapa hari yang lalu.

Tidak jauh dari altar, seorang laki-laki tua renta duduk bersimpuh sambil memegangi tongkatnya. Hulu tongkat hitam yang berbentuk kepala ular sendok itu menghadap ke arah pemuda yang dalam keadaan terikat tidak berdaya. Dia tak lain dari Bagas Pati yang berjuluk Raja Penyihir!

Tidak jauh di belakang Bagas Pati, duduk seorang laki-laki berumur sekitar lima puluh tahun, berpakaian serba biru. Dia tak lain dari Lesmana. Mereka tampaknya memang sedang memusatkan pikiran untuk melakukan pengorbanan tumbal.

Bahkan Bagas Pati alias Raja Penyihir menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sesekali ditaburkannya serbuk kayu cendana ke dalam bara api yang berada di dalam pendupaan. Sehingga, terciumlah bau wangi semerbak.

Di dalam lubang di tepi altar terdengar suara hiruk-pikuk desisan ular sendok yang menebarkan bau amis menusuk hidung.

"Segala-galanya akan dimulai malam ini, Lesmana! Inilah tumbal terakhir bagi kita untuk sang Raja Ular Sendok yang bersemayam dalam kegelapan sana," seru Bagas Pati sambil mengangkat kepala.

"Aku selalu patuh menjalankan perintahmu, Ketua.. Semoga kau tidak ingkar janji!" sahut Lesmana penuh harap.

"Hak hak hak...! Janjiku adalah janji sejati untuk laki-laki setia sepertimu. Mana mungkin aku mau memungkiri janji? Dulu sebagai Raja Penyihir, aku memang kalah oleh saudara-saudara seperguruanmu. Tapi mereka waktu itu mempergunakan kelicikan, sehingga berhasil memperdayai aku!" aku Raja Penyihir.

"Memang.... Waktu itu kami mempergunakan kelicikan untuk mengalahkanmu. Sehingga, kau terpaksa kehilangan beberapa kitab penting hasil ciptaanmu. Aku menyatakan sangat menyesal atas peristiwa itu!" ujar Lesmana tulus.

"Kau tidak perlu minta maaf padaku, " sergah Bagas Pati. "Memang, kitab yang kuberikan pada saudara-saudara seperguruanmu itu sangat bagus untuk dipelajari. Kuberikan semua itu demi perdamaian antara aku dengan saudara-saudaramu. Tapi aku telah menciptakan ilmu dahsyat yang baru akan kuturunkan padamu, dalam waktu dekat ini," tandas Bagas Pati, menjanjikan.

Lesmana jelas merasa gembira atas janji yang diucapkan Bagas Pati. Hatinya yakin betul, Raja Penyihir tidak akan membohonginya. Untuk itu, dia senantiasa sabar menunggu sampai tiba waktunya Bagasi Pati menurunkan seluruh ilmu sihir yang dimilikinya!

"Sekarang bulan purnama pasti sudah tepat di atas kepala. Dorong tumbal kita ke dalam lubang biasa. Mulai saat ini pemuda itu bukan milik kita lagi. Dia milik Raja Ular Sendok penghuni alam kegelapan sana!" ujar Bagas Pati.

Sebelum Lesmana bergerak melaksanakan tugasnya, Bagas Pati menekan hulu tongkatnya. Sehingga dari tongkat itu seleret sinar berwarna biru meluncur deras ke arah Wisesa yang dalam keadaan tertotok.

Tes! Tes!

"Aaa...!" Wisesa hanya mampu menjerit tanpa daya, ketika sinar biru itu menyengat tubuhnya. Hanya dalam waktu singkat, matanya kontan melotot. Lidahnya terjulur keluar. Dan dari seluruh pori-pori di tubuhnya meneteskan darah berwarna hitam.

"Dia sudah di ambang kematian! Sekarang, tugasmu untuk memasukkannya ke dalam lubang persembahan!" ujar Bagas Pati lagi

Lesmana segera menjalankan perintah Raja Penyihir. Kakinya melangkah mendekati Wisesa yang sudah dalam keadaan tidak berdaya.

Dengan mudah sekali, Lesmana berhasil mendorong tubuh Wisesa ke dalam lubang maut. Selanjutnya, terdengar suara desisan-desisan pesta pora dari dasar lubang, menyambut kehadiran sang tumbal.

Desisan-desisan itu kemudian hilang begitu saja. Sementara Bagas Pati mengangguk-anggukkan kepala pada Lesmana. Mereka kembali ke kamar masing-masing. Dan suasana pun berubah sunyi kembali.

********************

Pendekar Rajawali Sakti menyembunyikan perahunya di tengah-tengah hutan bakau, ketika telah sampai di bibir pantai Pulau Kambangan. Ternyata pulau yang mengapung di permukaan air ini cukup luas juga. Rangga sendiri harus bersikap hati-hati. Apalagi, tidak tahu apakah benar Bagas Pati tinggal di puri itu, atau di Pulau Karang Hantu sebagaimana yang dikatakan Ki Belalang.

Setelah memastikan suasana di sekitarnya dalam keadaan aman-aman saja, Rangga mulai menyelusup mendekati Puri Kambangan yang terletak di tengah-tengah pulau.

"Daerah ini begini menyeramkan. Aku merasa seperti ada berpasang-pasang mata yang mengawasiku!" gumam Rangga pada diri sendiri.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Rangga mempergunakan ilmu meringankan tubuh untuk melompati pagar tembok puri yang cukup tinggi.

"Huup!"

Tap!

Walaupun tembok puri cukup tinggi namun Rangga berhasil juga mendaratkan kedua kakinya di atas tembok dengan baik. Selanjutnya, diperiksanya ke bagian dalam tembok.

"Tampaknya bekas sebuah taman,," gumam Rangga. "Sebaiknya, kumulai segala sesuatunya dari sini. Haaap!"

Tubuh Rangga meluncur turun. Begitu menjejakkan kakinya di bagian taman, Rangga langsung terkejut ketika melihat seekor ular sanca cukup besar telah mendesis-desis tidak jauh di samping kirinya.

Pendekar Rajawali Sakti bersikap waspada menjaga segala kemungkinan. Kakinya digeser pelan-pelan. Pendekar Rajawali Sakti segera teringat dengan rapalan yang pernah diajarkan Satria Naga Emas. Dengan rapalan itu, Rangga bisa berbicara dengan segala macam jenis ular, termasuk siluman ular. Sebentar mata Rangga terpejam dengan mulut komat-kamit. Lalu....

"Apa yang kau lakukan di sini Ular Sanca? Aku adalah saudara angkat Raja Ular. Jika kau macam-macam, kau bisa tanggung akibatnya sendiri, " tegas Pendekar Rajawali Sakti.

Ular sanca itu mengangkat kepalanya. Mulutnya mendesis, mengucapkan sesuatu. "Tolonglah aku, Kisanak. Bebaskan aku dari tempat ini. Tolong aku.... Niscaya aku akan memberimu petunjuk yang dapat menyelamatkan dirimu sendiri," kata ular sanca ini, mendesis.

LIMA

Kening Pendekar Rajawali Sakti berkerut dalam. Dia tidak tahu, apa yang dimaksud ular itu yang meminta untuk dibebaskan. Bahkan Rangga melihat ular ini meneteskan air mata. Dari sini Rangga yakin kalau ular ini bukan ular yang sesungguhnya.

"Hm.... Jadi kau sebenarnya hanya ular jadi-jadian?" tanya Rangga.

"Aku sebenarnya adalah seorang gadis, Kisanak. Dulu, Raja Penyihir telah menyihirku menjadi seekor ular. Aku ingin Kisanak mau menolongku untuk mengembalikan wujudku. Setelah itu aku akan membantu kesulitanmu. Bahkan aku bersedia mendampingimu seumur hidupku! " tandas ular sanca itu disertai desisan lirih.

"Siapa namamu?" tanya Rangga, mulai percaya.

"Namaku Kemala Dewi," jawab ular sanca ini.

"Bagaimana caranya agar aku dapat membebaskanmu dari pengaruh sihir Bagas Pati?"

"Caranya adalah dengan mencuri Tongkat Raja Penyihir Ular Sendok yang penuh keajaiban," sahut ular sanca bernama Kemala Dewi penuh harap.

"Tentu pekerjaan itu tidak mudah, bukan? Karena, tongkat sihir itu pasti selalu dibawa Bagas Pati!" tebak Rangga.

"Memang betul, Kisanak...."

"Namaku Rangga. Rasanya di antara kita tidak perlu berbasa-basi lagi," potong Rangga.

"Kau benar, Rangga, " ujar Kemala Dewi, "Aku tahu seluk-beluk puri ini, karena aku dibesarkan di sini. Jadi paling tidak sekali waktu mereka lengah juga, bukan?"

Rangga terdiam. Kemala Dewi yang berwujud ular sanca ini tadi menyebut kata 'mereka' itu artinya Raja Penyihir tidak sendirian. "Berarti selain Bagas Pati masih ada lagi orang lain di sini bukan?" desak Rangga. "Dapatkah kau katakan padaku, apa sesungguhnya yang terjadi di tempat ini?"

Kemala Dewi tentu saja setuju. Kemudian dia menuturkan bahwa sepuluh tahun yang lalu di Pulau Kambangan telah terjadi kejadian besar yang menyakitkan.

Waktu itu, Raja Penyihir berhasil menaklukkan Penguasa Puri Kambangan yang bernama Miranti, sekaligus ibu angkat Kemala Dewi. Bagas Pati berniat memperistri Miranti. Namun wanita itu menolaknya. Akibatnya, Kemala Dewi anak angkat Miranti dijadikan sasaran, disihir menjadi ular sanca. Miranti juga akan mendapat nasib yang sama jika tetap bersikeras tidak mau diperistri Bagas Pati.

Melihat ancaman itu yang telah terbukti pada anak angkatnya, akhirnya Miranti menyerah dengan syarat, Kemala Dewi yang masih kecil jangan dibunuh. Kemudian, Bagas Pati membawa Miranti ke Pulau Karang Hantu tempat tinggalnya selama ini.

Sekitar tujuh tahun mereka hidup di Pulau Karang Hantu. Namun, Miranti tetap tidak tenang karena selalu teringat anak angkatnya dan menyimpan dendam pada Bagas Pati. Pada saat itu, nama besar Bagas Pati terkenal di seluruh penjuru tanah Jawa ini. Sampai kemudian, muncul Empat Pendekar Sesat di Karang Hantu. Miranti yang mengetahui kehadiran mereka yang hendak menjajal kehebatan Raja Penyihir segera menemukan akal untuk membalas dendam.

Miranti lantas membujuk Bagas Pati dan Empat Pendekar Sesat agar pertarungan dilaksanakan di Pulau Kambangan. Dan nyatanya, semua tokoh itu setuju. Mereka lantas berangkat ke Pulau Kambangan. Tak lupa, Miranti mengajak anak angkatnya yang telah berubah menjadi ular.

Setelah tiba di Pulau Kambangan, mereka bersiap-siap melakukan pertarungan yang akan digelar esok harinya. Mulanya, Miranti segera membuat ramuan khusus. Karena Puri Kambangan adalah tempat tinggalnya, tak heran kalau dia langsung menuju ruang rahasia tempat membuat ramuan obat-obatan. Di tempat itu dibuatnya racun yang tak mematikan, tapi mampu melemahkan seseorang. Namanya, racun 'Patah Jiwa'. Berkat racun 'Patah Jiwa' yang dibubuhkan Miranti pada makanan, pada pertarungan yang telah ditentukan. Bagas Pati kalah.

Sesuai perjanjian, Raja Penyihir harus menyerahkan tiga buah kitab yang sedang digarapnya. Tepat tiga tahun kitab-kitab itu selesai. Namun bersamaan dengan itu, Miranti lenyap entah ke mana bagai tertelan bumi. Nasibnya sampai sekarang tak diketahui.

Waktu terus berlalu. Sejak hilangnya Miranti, secara aneh salah satu dari Empat Pendekar Sesat malah menghambakan diri pada Bagas Pagi. Sementara tiga lainnya tidak melarang. Sedangkan satu dari Empat Pendekar Sesat yang bernama Manik Kanginan rupanya tahu keberadaan Kemala Dewi.

Manik Kanginan mengerti betul kalau ular sanca yang berada di taman adalah penjelmaan Kemala Dewi. Dan kabar itu memang sudah menyebar di kalangan rimba persilatan. Maka tak heran kalau kehadiran Manik Kanginan menjadi ancaman besar bagi Kemala Dewi. Sebab, bila berhasil mencuri tongkat Ular Sendok dan berhasil pula mengembalikan Kemala Dewi seperti manusia biasa kembali Manik Kanginan akan menjadikannya tumbal demi ilmu Kelelawar Hijau' yang sedang dipelajarinya. Berarti, Kemala Dewi harus menyerahkan kehormatannya.

Kini segala cerita Kemala Dewi menjadi semakin jelas bagi Rangga. Manik Kanginan tidak lain adalah manusia Kelelawar Hijau. Dia memperkosa dan membunuh gadis-gadis adalah demi memenuhi tumbal yang dibutuhkan. Sedangkan bola api merah dan kuning, tidak lain dari Sumantri dan Giling Wesi. Bila Sumantri mencuri harta benda penduduk, maka Giling Wesi mempelajari ilmu aneh yang membuat siapa pun yang dikehendaki menjadi linglung.

Sedangkan tujuan Lesmana bergabung dengan Bagas Pati inilah yang tidak jelas. Yang pasti, semua tokoh yang telah menyebar kesengsaraan bagi penduduk Desa Susukan dan desa-desa lain berada di Puri Kambangan.

"Penjelasanmu sangat berarti bagiku. Dewi. Mereka adalah orang-orang yang kucari. Tapi, bagaimana agar mereka tidak mengetahui kehadiranku?" tanya Rangga.

"Banyak ruangan-ruangan tertentu yang dapat dijadikan tempat persembunyian sementara. Kemarilah ikuti aku!" ajak Kemala Dewi.

Ular sanca itu kemudian merayap meninggalkan taman, dan terus menelusuri lorong yang terletak di sebelah kiri. Sedangkan Rangga terus mengikuti dari belakang.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Sementara itu di pinggiran pantai Pulau Kambangan tampak seorang perempuan tua berwajah seram dan berbibir tebal, melompat turun dari perahunya yang sangat kecil. Pakaiannya yang serba hitam berkibar-kibar diterjang angin pantai.

Perempuan tua ini membiarkan perahunya begitu saja. Sebentar matanya memandang ke tengah-tengah pulau. Dari pinggir pantai itu, dia dapat melihat Puri Kambangan yang terkenal angker. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

"Segala setan dan dedemit! Di sinilah awal semua malapetaka itu terjadi. Hhh..., sayang! Mengapa sebelum datang kemari aku tidak memberitahu dulu Ki Belalang? Dia pasti mencari-cari aku. Mudah-mudahan saja urusan di sini cepat selesai!" desah perempuan yang tidak lain Nyai Sekar Tanjung.

Kemudian Nyai Sekar Tanjung melangkah menuju Puri Kambangan. Namun belum juga meninggalkan pantai tiba-tiba terdengar desiran halus di belakangnya.

"Hup...!" Nyai Sekar Tanjung segera melompat, menghindari serangan sinar hijau yang meluruk ke arahnya.

Crep! Crep!

Serangan sinar hijau itu tidak mengenai sasaran, dan langsung menancap di batang pohon bakau. Nyai Sekar Tanjung segera memeriksanya. Dan dia terkejut, karena sinar hijau itu ternyata sebuah senjata rahasia berbentuk pisau yang pada bagian hulunya terdapat ukiran kelelawar berwarna hijau.

"Kelelawar Hijau!" desis Nyai Sekar Tanjung kaget. "Berarti bangsat pemerkosa itu memang tinggal di tempat ini." Nyai Sekar Tanjung segera meningkatkan kewaspadaannya. Dengan sudut matanya dicobanya meneliti. Dan....

Wut! Wut!

"Hiyaaa...!"

Tap!

Nyai Sekar Tanjung terpaksa berjumpalitan di udara ketika senjata rahasia itu meluncur kembali ke arahnya. Salah satu senjata berhasil ditangkapnya. Secepat kilat, dilemparkannya ke arah datangnya senjata rahasia.

Grosak!

Begitu senjata rahasia itu menembus hutan bakau, satu sosok bayangan hijau keluar dari tempat persembunyiannya. Kalau tidak, mungkin sudah celaka terkena serangan senjata rahasianya sendiri.

"Ha ha ha...! Ternyata kau mampu menghindari senjata dengan baik, Nenek Peot. Kau telah datang di daerah terlarang. Berarti kau harus mati!" kata sosok yang baru saja mendarat di tanah berpasir Dia tidak lain adalah Manik Kanginan alias Kelelawar Hijau. itu bisa dibuktikan dengan senjata rahasianya yang berupa pisau dengan ukurin sayap kelelawar pada hulunya.

"Hik hik hik...! Daerah terlarang tersembunyi dalam celanamu, bukan di Pulau Kambangan ini! Walaupun kau tidak memakai jubah kebesaranmu, melihat senjata tadi pasti tidak salah kalau kau adalah Kelelawar Hijau, " duga Nyai Sekar Tanjung.

"Ha ha ha...! Apa yang kau katakan memang betul. Lalu kalau sudah berjumpa, kau mau apa?" desis Manik Kanginan memandang remeh Nyai Sekar Tanjung.

"Aku datang ke pulau terkutuk ini semata-mata ingin membunuh dan menghancurkan tempat ini!" sahut perempuan tua itu tegas.

"Bicaramu memang mudah.... Bisakah katamu dibuktikan dengan tindakanmu?" ejek Manik Kanginan.

"Tentu saja! Aku tidak dapat membiarkan tindakanmu yang sewenang-wenang!"

"Ha ha ha...! Kalau Raja Penyihir dapat kukalahkan, apa susahnya membunuh manusia rongsokan sepertimu?" tantang Manik Kanginan jumawa.

Nyai Sekar Tanjung merasa tidak perlu lagi basa-basi dengan Kelelawar Hijau. Tiba-tiba jari telunjuknya diacungkan ke arah Kelelawar Hijau

Set!

Seketika seleret sinar berwarna kuning melesat dari ujung jemari Nyai Sekar Tanjung. Manik Kanginan sempat terkesiap, karena tidak menyangka perempuan tua ini dapat berbuat seperti itu. Jika seseorang dapat mengirimkan pukulan jarak jauhnya dengan mempergunakan satu jari, berarti memang tidak dapat dianggap sepele.

"Heaaa...!"

Sambil menggenjot tubuhnya sehingga berjumpalitan di udara, Kelelawar Hijau menghentakkan tangannya melepaskan pukulan dahsyat yang menahan serangan. Maka tidak dapat dihindari lagi, benturan yang sangat keras terjadi.

Blarrr!

"Heh...!"

Masih dalam keadaan mengambang di udara, Manik Kanginan terdorong mundur. Namun kakinya masih sempat dijejakkan dengan baik di atas tanah. Wajah Kelelawar Hijau berubah pucat. Napasnya memburu, pertanda jalan darahnya agak terganggu. Sementara kaki Nyai Sekar Tanjung sendiri sempat amblas ke dalam tanah sedalam mata kaki.

"Monyet tua yang satu ini ternyata memang tidak bisa dianggap enteng!" dengus Manik Kanginan.

"Setan alas itu rupanya cukup tangguh juga! Pantas kawanku si Belalang tidak bisa bertindak sendiri!" gerutu Nyai Sekar Tanjung.

Selanjutnya tanpa memberi kesempatan lagi barang sedikit pun, Nyai Sekar Tanjung meluruk menerjang Manik Kanginan yang langsung berusaha menyelamatkan diri.

Melihat Kelelawar Hijau berhasil menghindari serangan, Nyai Sekar Tanjung langsung mengerahkan rangkaian jurus andalannya yang terdiri dari tiga bagian ini. Tentu saja jurus-jurus yang dipergunakan sangat berbahaya. Terbukti, Manik Kanginan terpaksa mengerahkan sebagian kemampuan untuk menghindari setiap gempuran yang menimbulkan deru angin tajam.

"Hiyaaa! "

Sambil berteriak keras, Nyai Sekar Tanjung lagi-lagi mengirimkan tendangan menggeledek ke arah Manik Kanginan. Kaki kirinya meluncur deras ke arah bagian terlarang laki-laki itu.

"Hup!" Kelelawar Hijau terpaksa berguling-gulingan sambil menghantamkan tangan ke arah perempuan tua ini.

Set! Set

"Uts...!"

Nyai Sekar Tanjung terpaksa menarik kembali kakinya, ketika senjata rahasia Manik Kanginan meluncur ke arah kakinya. Begitu serangan senjata rahasia itu luput, kembali dikirimkannya pukulan jarak jauh.

"Hiaaat!"

"Heh...!" Sinar kuning kembali meluncur deras ke arah Manik Kanginan. Namun dengan cepat Kelelawar Hijau memutar tubuhnya. Aneh.... Tahu-tahu dia telah memakai jubah kelelawarnya yang berwarna hijau. Dan saat jubah itu direntangkan, maka terlihatlah bagian lebarnya yang mirip sayap.

Kedua tangan Kelelawar Hijau yang sudah terentang selanjutnya bertaut deras. Hebat sekali akibat yang ditimbulkannya. Angin kencang disertai hawa panas bergulung-gulung menerjang sinar kuning milik Nyai Sekar Tanjung. Akibatnya....

Glam...!

"Aaa...!" Sebuah ledakan terdengar menggelegar disertai pekikan menyayat begitu dua kekuatan bertenaga dalam tinggi bertemu. Tampak Nyai Sekar Tanjung terguling-guling. Sedangkan Manik Kanginan hanya tergetar mundur saja.

Kini, nyatalah sudah kehebatan Manik Kanginan, setelah kembali dalam wujud kelelawarnya. Nyai Sekar Tanjung tampaknya harus berusaha dengan segenap kemampuan yang ada untuk menjatuhkan Kelelawar Hijau.

"Harus ada cara!" pikir Nyai Sekar Tanjung, begitu bangkit berdiri.

Tiba-tiba saja perempuan tua ini melompat mundur beberapa tombak Segera dirapalnya mantra-mantra gaib yang dimiliki. Tak lama, kabut tipis mulai menyelimuti tubuh Nyai Sekar Tanjung.

Manik Kanginan tampak terkesiap melihat perubahan yang terjadi pada diri perempuan tua ini. Sebelum perubahan pada diri Nyai Sekar Tanjung menjadi wujud yang jelas, Kelelawar Hijau tiba-tiba menerjang sambil melepaskan pukulan paling ampuh.

Wuuut!

"Heh...?!" Nyai Sekar Tanjung terkesiap, karena tidak sempat lagi menghindari serangan kilat yang datangnya tidak disangka-sangka. Apalagi ketika itu, dirinya sedang berubah menjadi burung hantu! Untuk menarik balik mantranya, juga sudah tidak sempat. Maka tanpa dapat ditahan lagi....

Glarrr!

"Aaagkh...!" Tepat sekali pukulan jarak jauh Kelelawar Hijau menghantam Nyai Sekar Tanjung. Perempuan tua itu menjerit keras dan jatuh terpelanting. Tubuhnya hangus dan tidak bangun-bangun lagi.

Manik Kanginan boleh berbangga hati, karena sekarang ilmu yang dipelajarinya dari Kitab Kelelawar Hijau sudah hampir mendekati kesempurnaan. Tinggal satu lagi kesucian gadis sebagai tumbal, maka dia akan menjadi Kelelawar Hijau yang tidak terkalahkan.

********************

Untuk sampai kamar yang ditempati Bagas Pati ternyata memang sulit. Apalagi, Raja Penyihir tidak pernah meninggalkan kamarnya. Kalaupun itu terjadi, pasti selalu digantikan Lesmana. Sebenarnya, Kemala Dewi yang berwujud ular itu merasa heran juga mengapa antara Bagas Pati dan Lesmana yang jelas-jelas bekas musuh dapat bekerja sama dengan baik. Bahkan mereka tampak mesra, seperti layaknya sepasang kekasih. Apakah mungkin Bagas Pati mempunyai kelainan dan suka berhubungan dengan kaum sejenisnya sendiri?

Kumala Dewi mengesampingkan persoalan itu. Yang jelas, persoalan yang perlu dipikirkan adalah bagaimana dapat mencuri Tongkat Ular Sendok sebelum didahului Manik Kanginan yang tergila-gila ingin mendapatkan tubuhnya! Padahal dia bersama Rangga hanya dapat bergerak pada malam hari saja.

"Kita harus mencari cara yang lebih baik, agar dapat mengambil tongkat itu untuk mengembalikan wujudmu seperti semula. Tapi, orang-orang itu tidak pernah meninggalkan kamar!" kata Rangga pelan.

Pendekar Rajawali Sakti meneliti kamar yang dijadikan tempat bersembunyi. Dinding yang dijadikannya tempat bersandar diketuknya.

Tak! Tak!

"Heh...!" Rangga terkejut Ternyata, di belakang dinding seperti berongga. Atau mungkin saja memang ada satu ruangan lain seperti ruangan rahasia?

"Kemala Dewi! Apakah kau tahu, apa yang terdapat di balik dinding ini?" tanya Rangga. pada ular sanca yang melingkar tidak jauh di depannya.

"Aku belum pernah melihatnya, Rangga!" sahut Kemala Dewi mendesis.

ENAM

Rangga menganggukkan kepala. Keningnya berkerut pertanda sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya. Jika memang benar di balik dinding ada sebuah ruangan lain, bukan mustahil ruangan itu menghubungkan ke kamar Bagas Pati. Dan tentu akan lebih mudah baginya mencuri Tongkat Ular Sendok.

"Kemala Dewi..., bagaimana jika kita jebol dinding ini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti

"Sekarang aku baru ingat! Memang ada ruangan lain di balik dinding ini. Dulu dipergunakan sebagai tempat penyiksaan bagi anggota puri yang menyalahi aturan!" jawab Kemala Dewi, menerangkan.

"Kalau kita berhasil menjebolnya, apakah ada lorong yang menghubungkan langsung ke kamar yang ditempati Raja Penyihir?" bisik Rangga.

"Memang.... Lorong itu berhubungan langsung dengan kamar Bagas Pati. Dulu ketika ibu angkatku masih ada, beliau yang menempati kamar itu, " jelas sosok ular sanca yang tetap bergelung di depan Rangga.

Akhirnya tanpa berkata lagi, Rangga mulai membongkar dinding batu marmer itu. Pekerjaan ini tidak mudah, sehingga terpaksa sebagian tenaga dalam yang dimilikinya dikerahkan. Tidak lama setelah itu terlihatlah sebuah lubang cukup besar.

"Benar! Ada ruangan lain di sini!" seru Rangga kegirangan.

Pendekar Rajawali Sakti semakin memperbesar terowongan agar tidak sulit dimasuki. Setelah dianggap cukup, Rangga segera menerobos masuk.. Sedangkan Kemala Dewi mengikuti tidak jauh di belakangnya.

"Lihat...!" seru Rangga.

Ular sanca di belakang Rangga menjulurkan kepalanya lebih tinggi. Di depan mereka, terlihat mayat yang telah mengering. Wajahnya keriput. Dan, ada bekas luka tusuk pada bagian dada dan perutnya. Mayat yang sudah kering itu jelas mayat laki-laki.

"Bukankah ini mayat Raja Penyihir?" tanya Rangga, ingin memastikan. .

Kemala Dewi tidak bisa langsung menjawab. Dia kaget, karena di ruangan itu ternyata ada mayat orang yang sangat ditakutinya! Kalau begitu, siapa laki-laki tua renta yang memiliki penampilan seperti Bagas Pati? Atau mungkin memang ada dua Bagas Pati?

"Bagaimana ini bisa terjadi, Kemala? Raja Penyihir ada dua? Sangat mustahil!" desis Rangga, penasaran.

Kemala Dewi bergerak mendekati. Sambil mendesis-desis dia berusaha meneliti wajah mayat dengan seksama.

"Benar, ini Raja Penyihir yang asli! Tampaknya kematiannya sekitar dua atau tiga tahun yang lalu!" tegas Kemala Dewi, mendesis.

"Berarti yang di atas sana Raja Penyihir palsu! Aku yakin telah terjadi sesuatu yang tidak beres antara Ibu angkatmu, dengan Raja Penyihir!" duga Rangga, penuh keyakinan.

"Maksudmu..?" tanya Kemala Dewi.

"Mungkin ibumu masih ada hingga sampai saat ini. Sedangkan Raja Penyihir memang sudah mati beberapa tahun yang lalu kalau benar dugaanku berarti ibu angkatmu telah menggantikan kedudukan Bagas Pati," duga Rangga lagi.

"Artinya, laki-laki tua renta yang kita lihat sebagai Bagas Pati, sebenarnya seorang perempuan yang memakai kedok...?" tukas Kemala Dewi dengan suara bergetar.

"Ya..., mungkin saja itu Ibu angkatmu...!" kata Rangga dengan sangat hati-hati.

"Rasanya sulit dipercaya! Kuakui, ibuku memang sangat membenci Raja Penyihir. Terlebih-lebih, setelah kekalahannya, tapi untuk apa memakai kedok Raja Penyihir segala?"

"Barangkali karena ada rencana tersendiri!" tebak Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku tetap tidak percaya jika belum membuktikannya sendiri!" tandas Kemala Dewi bersikeras.

"Kalau benar telah membunuh Bagas Pati, tentu dengan tongkat sihir di tangannya dia bisa membebaskan aku dari pengaruh sihir. Sehingga, aku kembali pada wujudku semula sebagai manusia!"

Rangga terdiam. Memang apa yang dikatakan Kemala Dewi masuk akal juga. Jika benar orang di balik kedok Bagas Pati adalah lbu angkat Kemala Dewi, tentu sekarang ini ular sanca jadi-jadian itu telah dibebaskan dari pengaruh sihir. Bukan membiarkannya terus menderita, menjadi ular sanca.

Sebuah kemungkinan terlintas dalam pikiran Rangga. "Menurutmu, bukankah Manik Kanginan menginginkan dirimu?" tanya Rangga.

"Memang!" jawab Kemala Dewi, tegas.

"Kalau benar orang di balik topeng Raja Penyihir itu adalah Ibu angkatmu, mungkin dia menyadari betapa berbahayanya keadaanmu jika sampai kembali menjadi manusia seperti semula. Di pulau ini, kau akan menjadi bahan rebutan. itu lebih baik bagi Manik Kanginan yang menginginkan kegadisanmu dari ilmu yang dianutnya. Sementara, ibu angkatmu tidak mungkin dapat melindungimu. Bahkan dia juga terpaksa menyerahkan tiga kitab ciptaan Bagas Pati pada Empat Pendekar Sesat," tegas Pendekar Rajawali Sakti secara panjang lebar.

"Sudahlah.... Sebaiknya kita mulai bergerak ke sana!" desak Kemala Dewi.

Rangga mengangguk 'setuju. Namun belum sempat melangkah kan kakinya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang mendekati terowongan yang dibuat Rangga.

Suara langkah kaki semakin bertambah dekat. Sampai kemudian, muncul seorang laki-laki berbaju merah dalam terowongan itu. Lalu, terlihatlah kepalanya yang botak. Laki-laki berbaju merah ini tidak lain dari Sumantri yang berhasil mempelajari Kitab Wijaya Arta.

Ketika masuk ke dalam ruangan, dia terkejut melihat pemuda berompi putih berada di situ bersama seekor ular sanca yang cukup besar. Lebih kaget lagi, setelah melihat mayat Raja Penyihir.

Karena mata Sumantri agak lamur, dia langsung menyangka kalau pemuda berompi putih inilah yang telah membunuhnya.

"Siapa kau?!" tanya Sumantri, dengan Sikap waspada.

"Aku Rangga. Kedatanganku kemari untuk mencari Kelelawar Hijau!" tegas Rangga.

"Kau datang bersama ular ini, ingin mencari saudara seperguruanku? Mana mungkin aku membiarkan saudaraku dicelakai orang lain. Kau harus berhadapan denganku!" dengus Sumantri.

"Lebih baik menyingkir dari hadapanku!" gertak Pendekar Rajawali Sakti tegas.

"Tidak bisa. Kau telah memasuki puri ini. Telah membunuh Raja Penyihir yang menjadi sekutu kami. Kau harus kami bunuh!" teriak Sumantri.

Rangga sebenarnya ingin membantah tuduhan Sumantri. Tapi tiba- tiba saja Kemala Dewi mendesis dengan bahasa ular pada Pendekar Rajawali Sakti agar membiarkan tuduhan itu.

Rangga bergerak mundur. Sekarang dia yakin kalau orang ini satu dari Empat Pendekar Sesat. Berarti dia juga merupakan orang yang harus disingkirkan.

Sementara itu, Kemala Dewi dalam wujud ularnya segera menyingkir mencari tempat perlindungan. Dia khawatir, bila terjadi pertarungan akan terkena pukulan nyasar.

"Kau akan mati di tanganku, Rangga! Aku harus membunuhmu! Karena, kau hampir membuat Kelelawar Hijau tewas di tanganmu!" bentak laki-laki berkepala botak ini seraya meluruk menerjang dengan tendangan kilat. Dengan cepat Rangga menyambut dengan tangan kanannya.

Plak!

"Ufh...!" Akibatnya, tidak ringan bagi kedua belah pihak. Rangga sendiri sempat bergetar dan terhuyung mundur. Sedangkan Sumantri jatuh terduduk. Kakinya seperti membentur batu karang. Namun tanpa menghiraukan rasa sakit yang diderita, dia bangkit berdiri dan kembali melancarkan serangan ganas.

Suara teriakan dan benturan tenaga dalam begitu membahana. Namun, itu hanya memantul di situ-situ saja. Jadi, ruangan itu ternyata kedap suara. Sehingga tidak mungkin terdengar sampai ke ruangan lain.

Dengan jurus-jurus aneh, Sumantri melompat seraya mengirimkan pukulan tangan kosong ke arah Rangga. Serangan cepat ini rasanya mustahil dihindari. Tapi berkat jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', serangan itu selalu bisa dihindari Rangga.

Pemuda berompi putih ini begitu melihat serangan lawannya gagal sempat melihat kesempatan yang cukup baik. Tanpa banyak waktu lagi, kakinya langsung terjulur. Begitu cepat, sehingga....

Buk!

"Ughhh...!" Kontan Sumantri terpelanting begitu kaki Pendekar Rajawali Sakti mendarat telak di perut. Tubuhnya langsung menabrak tembok. Sedangkan darah mengucur dari sudut-sudut bibirnya.

"Heaaa...!"

Penuh kemarahan Sumantri bangkit berdiri. Tiba-tiba dicabutnya senjata tombak yang pada salah satu sisinya terdapat kaitan seperti clurit. Senjata itu diputar cepat, sehingga mengeluarkan bunyi menderu tajam, mengganggu pendengaran. Dengan senjata berbentuk aneh inilah dia berusaha mendesak dan menjatuhkan Pendekar Rajawali Sakti.

Namun, Rangga juga tidak tinggal diam. Sambil menghindari sabetan dan sodokan senjata Sumantri, dikerahkannya jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. '

"Hiyaaa...!" Rangga meluruk dengan kedua tangan mengibas-ngibas bagai sayap. Begitu senjata Sumantri bergerak ke lehernya, langsung disampok dengan tangannya yang kokoh.

Plak!

Senjata Sumantri kontan terlepas. Dan tiba-tiba, Pendekar Rajawali Sakti menyodokkan siku kanannya ke dada.

Desss...!

"Aaakh...!"

Akibatnya pemuja kekayaan ini jatuh terjengkang. Karena pada saat menghantam tadi, Rangga mempergunakan setengah tenaga dalamnya. Maka tidak ampun lagi beberapa tulang rusuk Sumantri patah. Rangga tidak ingin mengulur-ulur waktu. Segera tubuhnya berkelebat sambil mengirimkan tendangan susulan.

"Heh?!"

Tidak disangka-sangka, ternyata Sumantri menyodokkan senjata ke arahnya. Untung Rangga cepat melompat ke samping menghindarinya. Walaupun begitu, sebagian rompi putihnya robek juga terkena sabetan senjata itu.

Sring!

Begitu bisa menguasai keadaan, Rangga mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Pedang berhulu kepala burung ini langsung memancarkan sinar biru berkilauan, membuat ruangan menjadi terang benderang.

"Heh...?!" Sumantri terperangah ketika melihat pedang bersinar biru berkilauan itu. Namun belum juga rasa terperangahnya hilang, Pendekar Rajawali Sakti telah berkelebat dengan pedang menyambar deras. Dengan sebisanya, Sumantri mempergunakan senjatanya untuk menangkis. Akibatnya....

Tring!

Senjata Sumantri patah menjadi dua bagian. Sementara, luncuran senjata di tangan Rangga sudah tidak mampu dielakkan lagi. Hingga....

Cres!

"Aaa...!" Terdengar suara jeritan panjang dari mulut Sumantri. Tubuhnya langsung roboh, begitu senjata Rangga menebas lehernya. Darah mengucur deras dari bagian luka.

Rangga segera menyusul Kemala Dewi yang telah menemukan kamar yang ditempati Bagas Pati. Dari celah-celah pintu, ular sanca ini mengintip sesuatu yang menarik hatinya.

Sebuah pelita menerangi kamar mewah, yang di tengah-tengahnya terdapat. sebuah ranjang. Di ranjang itu duduk seorang laki-laki tua berumur ratusan tahun. Wajahnya keriput. Rambutnya serba putih. Tangannya memegangi tongkat hitam berhulu kepala Raja Ular Sendok. Entah, apa yang sedang dipikirkannya. Yang jelas, tidak lama dia duduk mencangkung seperti itu. Tongkatnya mulai diketuk-ketuk ke lantai.

Dari pintu lain yang terbuka, muncul seorang laki-laki berpakaian serba biru. Laki-laki tua renta itu memperhatikannya sekejap dengan sikap acuh.

"Ketua memanggilku?" tanya laki-1aki berumur lima puluh tahun itu sambil menundukkan kepala.

"Benar. Sekarang, sudah saatnya bagimu untuk mengetahui siapa aku. Tapi kau harus berjanji tidak akan menceritakan pada saudara-saudara seperguruanmu!" ujar laki-laki ini, tegas berwibawa.

Aneh! Suara laki-laki ini tidak lagi serak dan kasar. Melainkan, telah berubah halus seperti suara perempuan. Tatapan matanya pun teduh penuh hasrat.

"Mengenai hal itu tidak usah kau ragukan, Ketua. Aku tidak akan bicara pada siapa pun...!" sahut laki-laki berbaju biru.

"Menurutmu, siapakah aku, Lesmana?" tanya laki-laki tua renta ini.

"Aku tidak dapat memastikannya. Mau kukatakan Bagas Pati, memang banyak persamaannya. Wajah Ketua sangat mirip. Tapi aku yakin, Ketua bukan Raja Penyihir. Sebab sampai saat ini, Ketua tidak menurunkan kitab apa-apa kepadaku. Walaupun begitu entah mengapa aku suka mengabdi padamu!" kata laki-laki berbaju biru yang memang Lesmana terus terang.

"Ternyata kau mempunyai mata yang tajam. Aku memang bukan Bagas Pati. Karena, Bagas Pati telah kubunuh sekitar tiga tahun yang lalu, setelah menyelesaikan tiga kitabnya. Aku tidak sanggup menerima perlakuannya. Dan aku muak melihat ketuaannya.. .!" desis laki-laki tua renta yang bersuara perempuan ini.

"Jadi Ketua seorang perempuan, bukan? Tidak salah jika aku tergila-gila padamu. Sehingga, aku rela berpura-pura mengabdi padamu untuk mendapatkan perhatianmu!" tegas Lesmana, terus terang.

"Hi hi hi...! Kau tidak menyesal karena selama ini hanya menemani seorang perempuan dan tidak mendapat apa-apa? Sementara, saudara seperguruanmu berhasil mempelajari kitab sakti sesuai pilihan mereka."

Lesmana tersenyum. Sesungguhnya dia telah lama curiga kalau laki- laki tua ini adalah Bagas Pati yang palsu. Karena, dia sendiri pernah melihat mayat Bagas Pati yang sesungguhnya. Kecurigaan itu makin beralasan, ketika Miranti menghilang.

Waktu itu, Lesmana hanya diam saja. Karena dia tahu betul, Bagas Pati palsu sebenarnya seorang perempuan cantik yang tidak lain Miranti bekas istri paksaan Raja Penyihir. Apalagi, Lesmana pernah melihat kecantikan Miranti ketika terjadi penyerbuan dulu di Pulau Karang Hantu. Begitu melihat, Lesmana telah jatuh cinta.

"Aku sama sekali tidak menyesal, Miranti," sahut Lesmana langsung menyebut nama perempuan yang bersembunyi di balik topeng Bagas Pati itu. "Aku sudah lama mengetahui penyamaranmu. Karena itu, aku bersedia menjadi pelayanmu. Semata-mata kulakukan semua itu bukan karena mengharap kau mau menurunkan berbagai kitab, tapi karena aku menyukaimu. Sejak pertama kita bertemu yang tidak disengaja dulu di Karang Hantu!" jelas Lesmana tanpa malu-malu

Mata di balik topeng Bagas Pati berkaca-kaca. Miranti sendiri memang harus mengakui sejak pertama bertemu Lesmana, tidak dapat melupakannya. Bahkan Raja Penyihir yang sangat dibenci dibunuhnya, semata-mata karena sangat mencintai Lesmana. Tidak peduli apakah Lesmana berasal dan golongan sesat ataupun golongan lurus. Bagi Bagas Pati palsu, pengakuan seperti itu telah ditunggunya sejak lama. Kini masing-masing pihak sudah sama mengetahui isi hati satu sama lain. Sikap Lesmana tidak lagi sebagaimana sikap seorang hamba pada rajanya. Melainkan, telah berubah seperti sikap seorang kekasih pada perempuan yang dicintainya.

"Mendekatlah kemari, Lesmana!" pinta Miranti manja.

Lesmana langsung mendekati, dan duduk di pinggir ranjang di sisi Miranti.

"Tidakkah kau rindu padaku?"

"Oh..., sudah sekian lama aku menunggumu Adalah dusta besar jika aku tidak merasa rindu padamu. Tapi, tolonglah kau tanggalkan topeng Raja Penyihir yang menjijikkan itu!" pinta Lesmana.

Wajah di balik topeng tertawa manja. Miranti bangkit berdiri dan segera meletakkan tongkat penyihir di bawah meja. Tidak lama, mulai ditanggalkannya perlengkapan penyamaran yang dipakainya. Ternyata, di balik topeng keriput, wajah Miranti sangat cantik. Bahkan seperti seorang gadis baru berumur dua puluhan. Kulitnya putih agak kemerah-merahan. Rambutnya hitam panjang. Hati Lesmana bergetar melihat semua ini.

Miranti selanjutnya menanggalkan bagian pakaiannya yang terbuat dari kulit beruang. Ternyata, di balik pakaian luar yang menggambarkan penampilan Bagas Pati tubuhnya tidak memakai pelindung apa-apa. Sehingga. membuat mata Lesmana melotot melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan di depannya.

Miranti tersenyum penuh tantangan yang tidak mungkin ditampik Lesmana yang telah menunggunya selama bertahun-tahun. "Lesmana. Apakah kau hanya ingin memandangiku seperti itu? Tidak rindukah kau pada apa yang kau lihat?" tanya Miranti menantang.

Namanya juga Lesmana. Mendapat aba-aba dari orang yang sangat digila-gilainya, tentu saja tidak membuang-buang waktu lagi. Dengan cepat, diraihnya Miranti dalam pelukannya.

Miranti rupanya sama gilanya. Sehingga, dia pun membalas perlakukan Lesmana dengan tidak kalah panasnya. Entah, apa yang terjadi selanjutnya. Namun hal ini tentu saja dilihat oleh dua pasang mata yang sedang menunggu kesempatan untuk mengambil Tongkat Ular Sendok. Wajah salah satunya berubah merah, dan cepat-cepat berpaling ke lain arah. Sedangkan yang satunya lagi karena berwujud seekor ular, tentu saja sulit ditafsirkan.

TUJUH

"Kini kau lihat sendiri, siapa Bagas Pati palsu itu," kata Pendekar Rajawali Sakti. "Dia ternyata ibu angkatmu, tepat seperti dugaanku. Dan ternyata, orangtua angkatmu itu tidak lebih hanya seorang perempuan berjiwa rendah...!"

"Aku tidak menyangka dia mau berbuat terkutuk seperti itu!" dengus Kemala Dewi, merasa jijik.

"Kau redakan dulu amarahmu. Setelah itu, cepat ambil Tongkat Ular Sendok selagi mereka tenggelam dalam asmara! Kau pasti berhasil melakukannya," ujar Rangga memberi dorongan semangat.

"Mengapa bukan kau saja, Rangga?" tanya Kemala Dewi, mendesis.

"Keberadaan yang demikian, mendukung rencana kita untuk mengambil tongkat itu," jelas Rangga.

Kemala Dewi akhirnya dapat memakluminya. Selagi dua insan berlainan jenis itu tenggelam dalam lautan birahi, maka Kemala Dewi yang masih tetap berwujud seekor ular merayap melalui pintu kecil yang terdapat di sudut ruangan.

Tidak lama, Kemala Dewi telah sampai dekat tongkat yang tergeletak di bawah kolong ranjang. Segera digigitnya tongkat itu. Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, Kemala Dewi kembali ke tempat semula.

"Kau berhasil, Dewi...!" sambut Rangga begitu Kemala Dewi menyerahkan tongkat itu. Pendekar Rajawali Sakti menimang-nimang tongkat penyihir yang telah berhasil dicuri

"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Sebentar lagi, Jika mereka selesai, pasti segera mencari tongkatnya yang hilang!" sahut ular sanca ini gelisah.

"Ya..., kita cari tempat yang aman untuk memulihkanmu. Jika telah berhasil, nanti kita akan memancing orang-orang itu untuk mendapat ganjaran yang setimpal!" desis Rangga.

Dengan diikuti Kemala Dewi, Rangga menuju ruangan semula tepat mereka menemukan mayat Bagas Pati tadi. Di tempat itulah Pendekar Rajawali Sakti mencoba mengembalikan Kemala Dewi seperti sediakala.

"Bagaimana caranya, Dewi?" tanya Rangga. Pendekar Rajawali Sakti memang tidak tahu, bagaimana cara mempergunakan Tongkat Ular Sendok itu untuk dapat mengembalikan Kemala Dewi seperti semula.

"Bagian hulu tongkat harus diputar-putar di atas kepalaku. sebanyak tujuh kali. Kemudian bagian ujung tongkat dihentakkan ke lantai sebanyak tujuh kali pula!" jelas Kemala Dewi.

"Hanya itu saja?" sahut Rangga.

"Ya..., hanya itu...!"

Rangga kemudian memutar-mutar tongkat di tangannya di atas kepala ular sanca di depannya. Dan mendadak ruangan itu kemudian bergetar. Sebuah kekuatan aneh memancar dari hulu tongkat. Terlihat, cahaya seperti pelangi.

Tubuh Rangga sendiri sempat bergetar pula. Namun putaran tongkat di tangannya tidak dihentikan. Kemudian terdengar suara desisan panjang. Ular sanca jelmaan Kemala Dewi meliuk-liuk. Wujudnya tidak terlihat, karena sinar putih laksana perak telah mengurung ular ini. Melihat perubahan itu, Rangga segera menghentakkan tongkat di tangannya ke lantai sebanyak tujuh kali pula.

Plas!

"Heh...?!" seru Rangga tertahan. Mata Pendekar Rajawali Sakti membelalak lebar ketika melihat seorang gadis cantik berbaju putih sekarang telah berdiri di depannya. Untuk sesaat lamanya Rangga terpesona melihat kecantikan Kemala Dewi yang telah berwujud menjadi manusia kembali. Dan dengan kembalinya Kemala Dewi, maka ular sanca tadi hilang begitu saja.

Tanpa diduga-duga Rangga, tiba-tiba Kemala Dewi menghambur ke dalam pelukan Rangga. Gadis itu menangis di dada Pendekar Rajawali Sakti yang kokoh dan bidang. Pemuda berompi putih ini, menyadari Kemala Dewi menangis karena haru. Maka dibiarkannya gadis itu menumpahkan segala perasaannya.

"Tanpa bantuanmu, aku akan menjadi ular selama-lamanya, Rangga. Aku telah berhutang nyawa kepadamu!" ucap Kemala Dewi sambil menjauhkan wajahnya dari dada Rangga.

"Kau tidak menghutangkan apa-apa. Jangan berkata begitu.... Aku sendiri tidak bisa menjaga nyawaku!" sahut Pendekar Rajawali Sakti, bijaksana.

"Sebagaimana janjiku, jika aku bebas dari pengaruh sihir Bagas Pati, aku akan mengabdikan diri pada orang yang membebaskan aku. Kini hidupku sepenuhnya milikmu!" kata Kemala Dewi pasrah.

"Mana bisa begitu...? Tidak..!" bantah Rangga. "Hidup seseorang adalah milik orang itu sendiri!"

"Aku telah berjanji pada diriku sendiri," desah Kemala Dewi.

Rangga akhirnya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Malah, Tongkat Ular Sendok diserahkannya pada Kemala Dewi.

"Tugas yang harus kita selesaikan cukup banyak. Mari kita cari mereka!" ajak Rangga, langsung disetujui Kemala Dewi.

********************

Giling Wesi sebenarnya merasa heran ketika tidak melihat Sumantri berada di dalam kamarnya. Dia tidak tahu, ke mana perginya adik seperguruannya. Padahal, belum pernah dia pergi tanpa sepengetahuannya. Biasanya, mereka selalu bersama-sama. Hal itu telah ditanyakan pada Manik Kanginan. Dan ternyata, adik seperguruannya yang kedua ini juga tidak mengetahui ke mana perginya Sumantri.

Merasa khawatir, Giling Wesi segera melakukan pemeriksaan ke seluruh Puri Kambangan yang mempunyai lebih dari dua lusin kamar. Sampai kemudian Sumantri ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di sebuah kamar yang berdekatan dengan kamar Raja Penyihir. Dan dia semakin terkejut lagi ketika melihat mayat Raja Penyihir telah mengering.

"Apa yang terjadi di tempat ini? Sumantri tewas.... Siapa yang telah membunuhnya?" desis Giling Wesi, menahan marah. "Yang satunya ini adalah Raja Penyihir. Jadi siapa laki-laki tua yang selalu dikawal Lesmana itu? Aku yakin Lesmana dalam bahaya!"

Dengan penemuannya, Giling Wesi mencoba akan menghubungi Manik Kanginan dan Lesmana. Tanpa menunggu lebih lama lagi, segera ditinggalkannya ruangan itu. Dia berjalan melintasi taman yang tidak terurus, Pada saat itulah langkahnya terhenti.

"Gadis cantik! Bagaimana mungkin di sini ada gadis cantik? Aku tidak melihat gadis secantik ini sebelumnya," gumam Giling Wesi sambil menelan ludah.

Penuh semangat laki-laki berpakaian kuning menghampiri gadis berbaju putih yang tidak lain Kemala Dewi Langkahnya berhenti satu tombak di depan gadis itu. Matanya tajam, memperhatikan dengan seksama. Air liurnya menetes, begitu melihat kecantikan Kemala Dewi.

"Betapa beruntungnya aku telah menemukan gadis secantikmu. Kurasa kita dapat bersenang-senang sebentar sebelum aku melaporkan kematian Sumantri pada Manik Kanginan!"

"Tua bangka tidak tahu malu! Jangan coba-coba mendekati aku jika, tidak ingin celaka!" dengus Kemala Dewi, jijik.

"Ha ha ha...! Semakin marah, wajahmu semakin cantik. Lebih baik turuti kemauanku kalau tidak ingin kubuat linglung...!" ancam Giling Wesi.

Rupanya Kemala Dewi bukan gadis penakut. Matanya langsung memelototi Giling Wesi dengan perasaan tidak senang. "Pendekar Rajawali Sakti! Sebaiknya bereskan keledai jelek ini!" ujar Kemala Dewi sambil melirik ke satu arah.

Dari bagian semak-semak taman, melompat keluar seorang pemuda berompi putih mendekati Kemala Dewi. Giling Wesi tampak terkejut melihat kemunculan pemuda yang memang Pendekar Rajawali Sakti. Sebab jauh sebelumnya, dia sudah mendengar cerita dari Manik Kanginan tentang kehebatan pemuda yang satu ini.

"Huh...! Kaukah orangnya yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Giling Wesi.

"Matamu awas juga," sahut Rangga, kalem.

"Apakah kau yang telah membunuh saudara seperguruan kami?"

"Kalau keledai gundul di dalam ruangan itu yang kau maksudkan, memang aku yang membunuhnya!" dengus Pendekar Rajawali Sakti sinis.

"Bangsat! Kau harus menerima pembalasan yang setimpal dariku...!" teriak Giling Wesi. "Heaaa...!"

Seketika laki-laki berbaju kuning melompat ke depan. Tangannya menjulur meluncur deras ke bagian leher Rangga.

"Uts...!" Secepatnya Rangga menghindar ke samping, sehingga serangan itu tidak mengenai sasaran. Bahkan Pendekar Rajawali Sakti malah sempat melakukan tendangan berputar.

"Hup...!" Namun serangan balik yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti pun tidak mengenai sasaran, karena Giling Wesi sudah lebih dulu melompat ke belakang sejauh satu tombak.

"Heaaa...!" Merasa serangannya gagal, Giling Wesi segera mempergunakan jurus simpanan yang hanya dipergunakan bila menganggap lawannya terlalu berat.

Tiba-tiba saja laki-laki ini berjumpalitan ke udara. Begitu meluruk, tangannya terjulur membentuk cakar. Sedangkan kaki kiri melepaskan tendangan menggeledek ke bagian dada.

Pendekar Rajawali Sakti terpaksa meliuk-liukkan tubuhnya sambil menggeser kakinya dengan lincah dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Gerakan yang sangat cepat dalam menghindar ini membuat serangan Giling Wesi selalu mengenai angin kosong.

Namun setelah sekian puluh jurus terlewatkan, Giling Wesi tiba-tiba merubah jurus silatnya. Perubahan ini membuat Rangga terpaksa menguras tenaga. karena serangannya terlihat semakin berbahaya saja.

"Heaaa...!" Tiba-tiba Giling Wesi meluruk ke depan. Tangannya terjulur menghantam kepala Rangga.

"Uts...!" Pendekar Rajawali Sakti cepat tarik kepalanya ke belakang. Tetapi tidak disangka-sangka, juluran tangan itu hanya tipuan saja. Karena tiba-tiba, laki-laki berbaju kuning ini menarik tangannya, disusul tendangan menggeledek. Dan....

Der!

"Aaakh...!" Pendekar Rajawali Sakti berteriak tertahan. Tubuhnya terlempar, ketika tendangan kaki Giling Wesi dengan telak menghantam dada. Darah kental menetes di sudut-sudut bibirnya. Jelas Rangga menderita luka dalam yang tidak ringan.

Melihat lawannya dapat dilukai, Giling Wesi menjadi sombong dan merasa sebentar lagi dapat membunuh Pendekar Rajawali Sakti. Dugaan ini telah membuatnya berlaku ceroboh dan bertindak kurang hati-hati.

Saat itu, Giling Wesi segera mencabut senjatanya yang berbentuk gada berduri. Tubuhnya seketika meluruk, dengan gada berduri berputar-putar. Pada saat yang sama Rangga melenting ke atas sambil mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Begitu gada berduri menyambar angin kosong, Rangga segera meluruk melepaskan hantaman telak ke kepala dengan tangannya yang mengibas bagai sayap. Dan....

Prak!

"Aaa...!" Giling Wesi ambruk ke tanah disertai jeritan keras. Sedangkan senjatanya sempat terlempar dari tangannya. Dia tidak bangun-bangun lagi dengan kepala pecah mengeluarkan darah.

Kemala Dewi sempat tercengang melihat kehebatan Rangga. Kini hatinya semakin yakin kalau hanya kepada Rangga dia pantas menjadi abdi setia setelah dirinya dibebaskan dari pengaruh sihir Bagas Pati.

"Kau hebat. Kakang...!" seru Kemala Dewi. Dan untuk pertama kalinya, tanpa malu-malu dia memanggil 'kakang' pada Rangga.

"Kebetulan saja dia kalah cepat dari aku. Giling Wesi cukup lumayan untuk mengisi api neraka!" sahut Rangga, seraya menatap mayat Giling Wesi.

"Sekarang sudah saatnya bagi kita untuk mencari Kelelawar Hijau...!" Kemala Dewi mengingatkan.

Pendekar Rajawali Sakti mengangguk setuju. Mereka berjalan beriringan menuju ruangan lain.

Sementara itu Miranti bersama Lesmana sedang kelabakan oleh hilangnya Tongkat Ular Sendok. Mereka mencari-cari ke seluruh ruangan, namun tidak juga ditemukan.

"Pakai pakaianmu, Miranti! Kita harus menemukan tongkat itu kembali kalau tidak ingin konyol di tangan saudara-saudaraku!" desak Lesmana khawatir.

"Bukankah kita bersatu untuk menghadapi mereka?" tanya Miranti seakan perlu ketegasan.

"Memang betul," jawab Lesmana. "Tapi, tanpa tongkat penyihir itu, kepandaian kita kalah jauh bila harus berhadapan dengan saudara-saudaraku. Apalagi sekarang dia telah berhasil mempejalari Kitab Kelelawar Hijau. Dulu saja sebelum itu, ilmunya sudah tinggi. Dan sekarang aku tidak dapat membayangkannya, jika penyamaranmu diketahui!"

Miranti segera memakai pakaiannya yang dari kulit beruang. Pakaian yang seperti dikenakan Bagas Pati dulu. Setelah itu, dikenakannya pula topeng yang menyerupai wajah Bagas Pati. Sehingga, dalam waktu sebentar penampilannya telah berubah menjadi penampilan seorang laki-laki tua renta. Sosok Raja Penyihir.

"Bagaimana? Apakah tidak mencurigakan?" tanya Miranti.

"Memang tidak mencurigakan. Tapi, tanpa tongkat itu, kau sama saja dengan badut konyol," dengus Lesmana.

"Lalu... ke mana kita harus mencarinya?" tanya Miranti alias Raja Penyihir palsu pada kekasihnya.

"Aku sendiri tidak tahu." sahut Lesmana bingung.

Miranti terdiam. Alis matanya berkerut. seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. "Pasti ada seseorang yang mencuri tongkat penyihir milikku. Kita harus mencarinya!" tegas Miranti

"Mari ikuti aku!" ajak Lesmana. "Jika saudara-saudara seperguruanku yang mencurinya, paling tidak aku masih dapat memintanya. Tapi kalau sampai jauh ke tangan orang lain, kita berdua bisa berubah menjadi patung batu."

Apa yang dikatakan Lesrnana memang tidak berlebihan. Bila tongkat itu jatuh ke tangan pencuri, maka si pencuri dapat berbuat apa saja terhadap orang lain. Kini keadaan mereka berdua benar-benar terancam, itulah sebabnya Miranti langsung mengajak Lesrnana untuk mencari tongkat penyihir yang telah dicuri.

Mereka terus meneliti kamar demi kamar. Anehnya, Miranti tidak menemukan siapa pun di setiap kamar itu. Tiba-tiba, benaknya teringat ruangan di bawah tempat terdapat bekas-bekas ruangan tahanan. Ke sanalah tujuan Miranti dan Lesmana.

Setelah menuruni tangga batu, mereka sampai di dalam sebuah ruangan lain tempat Miranti pernah menyimpan mayat Bagas Pati di situ. Tapi, ternyata pada salah satu dinding kamar itu jebol. Dan tampaknya masih baru.

Miranti berdiri tegak dengan kening berkerut dalam. Jelas ada orang yang telah berusaha masuk ke situ. Mereka berdua selanjutnya masuk ke dalam lubang besar yang batunya berantakan. Begitu sampai di situ, betapa terkejutnya Miranti dan Lesmana ketika menemukan mayat Sumantri yang telah membeku.

"Seseorang telah masuk ke sini, Lesmana!" seru Miranti terkejut. Bahkan hampir tidak percaya.

"Menurutmu, orang itu penghuni puri ini juga?" tanya Lesmana cemas.

"Jelas! Orang luar tidak mungkin mengetahui tempat rahasia ini," sahut Miranti merasa pasti. "Sekarang hilangnya tongkat penyihir milikku, sudah terjawab. Orang itu pasti masuk ke kamar kita melalui pintu yang di depan itu"

"Tapi siapa?" tanya Lesmana bingung.

"Sudah kukatakan penghuni puri ini juga," jawab Miranti.

"Sumantri sudah tewas. Siapa? Kakang Manik Kanginan, atau Kakang Giling Wesi?" tebak Lesmana.

"Entahlah.... Aku tidak tahu!" sahut Miranti. "Sebaiknya kita cari yang lainnya!"

DELAPAN

Manik Kanginan yang bermaksud melihat ular sanca di tempat persembunyiannya, dikejutkan lagi dengan ditemukannya mayat Giling Wesi.

"Kakang! Siapa yang telah membunuhmu?" desis Manik Kanginan sambil memeluk mayat Giling Wesi

Hati laki-laki berjuluk Kelelawar Hijau ini begitu panas. Amarah telah menggelegak dalam dadanya.

"Hmm..., aku harus menghubungi saudara-saudara seperguruanku!" lanjut Kelelawar Hijau.

Manik Kanginan bangkit berdiri sambil membopong mayat Giling Wesi. Namun pada saat itu, dia melihat Lesmana dan Bagas Pati palsu berjalan cepat ke arahnya.

"Siapa yang kau bopong itu, Kakang?" tanya Lesmana terkejut.

Manik Kanginan menggeram tidak jelas. Dipandangnya adik seperguruannya ini penuh selidik.

"Aku baru saja menemukan mayat Kakang Sumantri dalam sana!" lapor Lesmana, begitu melihat Manik Kanginan cuma diam membisu.

"Sandiwara apa yang kau mainkan di depanku, Lesmana? Apakah kau tergila-gila pada perempuan di balik topeng Bagas Pati itu?" sindir Manik Kanginan. "Asal tahu saja, aku tadi sempat mengintip perbuatanmu dengan Bagas Pati palsu yang ternyata seorang wanita cantik. Sejak lama aku curiga, melihat kau sudi mengabdi pada musuh kita yang tak memberimu kitab. Tak tahunya...?"

Miranti dan Lesmana tidak dapat menutupi rasa kaget karena tidak menyangka Manik Kanginan mengetahui penyamaran Miranti.

"Tidak kusangka rupanya kau berkomplot dengan perempuan itu untuk membunuh saudara-saudaramu sendiri, Lesmana!" lanjut Manik Kanginan gusar, langsung menuduh.

"Kakang salah sangka. Justru kami baru mengetahuinya, setelah melakukan pemeriksaan ke sini!" bantah Lesmana tidak terima.

"Aku sudah lama curiga padamu. Dan tidak pernah kusangka, kalau akhirnya kau tega membunuh saudaramu sendiri Lesmana! Sekarang cabutlah senjatamu. Aku harus membalaskan kematian saudara-saudaraku!" tegas Manik Kanginan.

"Kakang salah sangka! Aku tidak akan mencabut senjataku, karena memang tidak membunuh Kakang Giling Wesi maupun Sumantri. Kami sampai ke tempat ini, justru ingin mencari Tongkat Ular Sendok yang telah dicuri seseorang!" bantah Lesmana tetap bersikeras.

"Siapa mau dengar ocehanmu. Lesmana?!" bentak Manik Kanginan.

Kelelawar Hijau meletakkan kembali jenazah Giling Wesi di atas bangku batu. Begitu tegak, kedua tangannya dikembangkan lebar-lebar. Sehingga, bagian jubahnya yang lebar itu membentuk sayap kelelawar berwarna hijau.

"Kau jangan sembarangan menuduh. Manik Kanginan! Seharusnya kaulah yang kami curigai. Bukankah kau bermaksud mencuri tongkat Ular Sendok untuk memenuhi niat busukmu menguasai makhluk ular sanca yang di dalam lubang rahasia! Tahukah kau, bahwa sanca sihiran Bagas Pati yang sudah mati itu tidak lain adalah anak angkatku?" sela Miranti tiba-tiba saja.

Manik Kanginan yang berjuluk Kelelawar Hijau terkejut juga. Keningnya berkerut dalam. Tidak disangka olehnya kalau Miranti juga mengetahui rahasia yang selama ini disembunyikannya dari siapa pun.

"Sekarang kau malah memutar balikkan kenyataan dengan menuduh kami telah membunuh saudara-saudaramu. Apakah ini lucu?" desis Miranti disertai senyum mengejek.

"Tidak ada yang lucu. Kalau benar tongkat itu sudah tidak ada di tanganmu. merupakan suatu keuntungan bagiku untuk melenyapkan kalian!"

"Bangsat keji!" teriak Miranti.

Sambil berteriak Miranti tiba-tiba meluruk deras ke arah Manik Kanginan. Tendangan serta pukulan keras dilancarkan. Ketika meluncur secara menakjubkan wanita ini bersalto ke udara. Gerakan aneh ini adalah lanjutan dari gerak tipuan yang membuat Manik Kanginan sempat terkecoh. Akibatnya....

Buk!

"Heh...?!" Ketika kaki Miranti menghantam telak dada, anehnya Kelelawar Hijau tidak merasakan apa-apa. Tapi ketika Miranti menjejakkan kakinya di atas tanah, barulah Manik Kanginan jatuh terpelanting.

Manik Kaningan menyangka apa yang dilakukan Miranti tidak lain adalah permainan sihir juga. Padahal yang sesungguhnya wanita ini telah mempergunakan jurus-jurus dari Puri Kambangan yang dikenal mempunyai banyak tipuan.

"Hiyaaa...!" Kelelawar Hijau melompat ke depan sambil mengirimkan pukulan jarak jauhnya.

Wusss...!

Melihat segulung angin kencang disertai hawa dingin menusuk menyerang dirinya, Miranti tidak tinggal diam. Tangannya cepat dikibaskan. Seketika, meluruk pula angin kencang, memapak serangan Manik Kanginan. Dan....

Blarrr!

Masing-masing kontan terlempar sejauh dua batang tombak. Namun Manik Kanginan cepat bangkit berdiri. Sementara Miranti yang sempat terluka dalam mencoba memasang kuda-kudanya. Pada saat itu pula Kelelawar Hijau melemparkan senjata rahasianya.

Set! Set! Set!

Bukan main cepatnya luncuran senjata rahasia berhulu kelelawar berwarna hijau itu, membuat Miranti terkesiap. Sejengkal lagi salah satu senjata rahasia itu mengenai tubuhnya, tiba-tiba berkelebat bayangan biru disertai kilatan cahaya putih yang tidak lain sambaran pedang milik Lesmana. Dan....

Tang! Trang!

Senjata-senjata rahasia itu dibuat berpentalan oleh Lesmana. Walaupun, laki-laki itu sendiri sempat terdorong mundur, karena begitu kuatnya tenaga dorong senjata Kelelawar Hijau.

Miranti dapat terhindar dari maut. Dan apa yang dilakukan Lesmana hanya membuat Kelelawar Hijau menjadi marah.

"Kau memang bajingan, Lesmana! Rupanya kau benar-benar bersekongkol dengan perempuan keparat itu!" desis laki-laki berpakaian serba hijau ini.

"Aku sendiri sebenarnya tidak menghendaki kejadian seperti ini. Tapi aku terpaksa membelanya, karena kami telah berjanji sehidup semati!" sahut Lesmana. tenang namun tegas.

"Bagus sekali! Kau tega mengkhianati saudara seperguruanmu sendiri hanya demi wanita yang tidak berharga di mataku!" cibir Manik Kanginan.

"Kita sama-sama tidak berharga dan sama busuknya. Kau melukai Miranti, maka aku akan membunuhmu!" geram Lesmana.

"Kalau begitu, kalian berdua memang pantas mati di tanganku!" bentak Kelelawar Hijau.

Tiba-tiba Manik Kanginan merentangkan kedua tangannya kembali. Tubuhnya berputar-putar dengan jubah terkembang membentuk sayap. Dan disertai teriakan menggelegar, tubuhnya meluruk deras ke arah Lesmana dan Miranti.

Sepasang kekasih ini tentu saja tidak tinggal diam. Lesmana segera memutar senjatanya dengan mengerahkan jurus-jurus pedang andalan. Sedangkan Miranti dengan jurus-jurus dari Puri Kambangan. Pertarungan tentu saja berlangsung semakin seru. Apalagi mengingat masing-masing bermaksud membunuh satu sama lain.

"Hiyaaa!"

"Hait!!"

Dikepung sedemikian rupa, tidak membuat semangat Manik Kanginan menjadi kendor. Apalagi mengingat telah berhasil menamatkan Kitab Kelelawar Hijau. Sehingga secara menakjubkan serangan-serangan gencar dua lawannya berhasil dipatahkan.

Tangan Miranti tiba-tiba te1julur mencengkeram ke arah dada. Namun dengan gerakan indah. Kelelawar Hijau meliukkan tubuhnya. Sehingga, serangan ganas wanita itu luput. Bahkan kemudian Manik Kanginan melakukan serangan balik dengan sebuah tinjunya yang menderu. Lalu...

Buk!!

"Aaa..!" Miranti berteriak menyayat ketika tinju Kelelawar Hijau menghantam dadanya yang menonjol. Tubuhnya terbanting keras di tanah. Dadanya hancur dan langsung berubah menghitam. Dia tewas seketika sebelum sempat mengucapkan selamat tinggal pada Lesmana, kekasihnya.

Kelelawar Hijau melompat mundur. Sementara, Lesmana begitu melihat kematian kekasihnya, tampak berteriak menggelegar. Dia menjadi sangat marah. Sedangkan tatapan matanya berubah nyalang diwarnai keinginan membunuh yang berkobar-kobar.

"Kau harus mengakui, bahwa aku bukanlah lawanmu!" teriak Manik Kanginan mengingatkan.

Namun, mana mau Lesmana mendengar ucapan saudara seperguruannya yang telah membunuh kekasihnya. Segera dikerahkannya jurus-jurus terhebat dari seluruh jurus pedang yang dimiliki.

Apa yang terjadi di tengah-tengah taman ini memang tidak lepas dari perhatian Rangga dan Kemala Dewi. Mereka terus menunggu, sampai salah seorang di antaranya tewas.

"Kurasa Lesmana tidak mungkin mampu menghadapi saudara seperguruannya!" cetus Ke mala Dewi, berbisik .

"Ya.... ilmu pedang Lesmana memang hebat. Tapi, Manik Kanginan menjadi sangat istimewa setelah berhasil menguasai Kitab Kelelawar Hijau peninggalan Bagas Pati," sahut Rangga tanpa mengalihkan perhatiannya dari pertempuran.

"Manik Kanginan kuakui hebat Tapi, kurasa dia tidak dapat mengalahkanmu, Kakang!" puji Kemala Dewi tanpa sadar.

Rangga hanya tersenyum. Padahal, Pendekar Rajawali Sakti tak pernah menganggap remeh calon lawannya yang sangat handal. Apalagi, Manik Kanginan punya lusinan senjata rahasia yang dapat dipergunakan dalam keadaan terdesak.

"Kau terlalu memuji, Dewi. Apakah tidak melihat, ibu angkatmu yang tewas di tangannya?" tukas Rangga.

"O, ya.... Kulihat, kau tidak begitu sedih melihat kematian orang yang telah membesarkanmu?"

"Memang betul Miranti telah membesarkan aku," jawab Kemala Dewi. "Tapi sejak dulu dia jarang memperhatikan aku. Dia lebih sayang pada murid-muridnya yang tewas di tangan Bagas Pati. Mungkin karena itu juga, mengapa dia begitu membenci laki-laki ahli sihir tersebut!"

"Berarti kau tidak tahu, di mana orangtuamu?" tanya Rangga tertarik

"Orang tuaku sudah tidak ada. Mereka tewas pada awal Bagas Pati melakukan pembunuhan besar-besaran pada waktu dulu," jelas Kemala Dewi lirih.

"Aku prihatin mendengarnya!" kata Rangga tulus.

"Semuanya sudah berlalu, Kakang. Mereka yang telah tiada tidak mungkin kembali lagi," desah Kemala Dewi, berusaha tegar.

Sementara itu perkelahian antara Lesmana melawan Manik Kanginan berlangsung semakin seru. Kelelawar Hijau sendiri beberapa kali sempat tersayat pedang Lesmana. Tapi senjata itu hanya menimbulkan luka ringan saja. Lesmana sendiri sudah menguras segenap kemampuannya. Pedang di tangannya terus meluncur mengarah pada bagian-bagian tubuh saudara seperguruannya.

Set!

"Haiiit!"

Dengan baik Manik Kanginan kembali dapat menghindari tusukan senjata Lesmana. Dan tiba-tiba tubuhnya berjumpalitan. Sementara Lesmana menggeser langkahnya ke samping kiri.

"Hiih...!" Dan secara tidak diduga, Kelelawar Hijau memutar kaki kanannya, lalu meluncur tepat pada bagian perut Lesmana.

Desss... !

"Hugkh...!" Lesmana jatuh terduduk. Dari mulutnya mengucurkan darah kental berwarna kehitam-hitaman. Pedang di tangannya terlepas, sehingga memerlukan waktu untuk mengambilnya.

Lesmana menggapai senjata yang tergeletak tidak jauh darinya. Pada saat itu pula Manik Kanginan melemparkan senjata rahasianya ke arah Lesmana yang masih adik seperguruannya.

Set! Set!

Cepat sekali luncuran senjata rahasia itu, sehingga Lesmana tak sempat menghindar. Dan....

Jeb! Jeb!

"Aaa...!" Lesmana kontan jatuh telentang. Tangannya menggapai bermaksud mencabut senjata di bagian perutnya. Tetapi, niatnya tidak pernah tercapai karena jiwanya keburu melayang!

"Ha ha ha...! Walaupun tidak bangga telah membunuh saudara seperguruanku sendiri tapi aku harus menghentikannya agar tidak menyusahkan kelak di kemudian hari!" dengus Manik Kanginan buas.

"Iblis sepertimu memang selalu tertawa setelah membunuh siapa saja. Sekarang sudah saatnya giliranmu untuk mempertanggungjawabkan nyawa dan kehormatan gadis-gadis yang telah menjadi korbanmu!"

"Heh...?!" Manik Kanginan terkejut ketika tiba-tiba terdengar sebuah suara. Sungguh tidak disangka, masih ada orang lain di tempat itu. Maka segera diputar tubuhnya dengan mata mencari-cari.

Tak lama, Manik Kanginan melihat satu sosok bayangan putih berkelebat dan mendarat manis di depannya. Kini di depan Kelelawar Hijau telah berdiri seorang pemuda berompi putih yang pernah menyerangnya ketika berada di Desa Susukan berapa pekan lalu.

"Sudah bosan hidup kau rupanya, sehingga berani datang ke sarang harimau?" bentak Manik Kanginan sambil melotot

"Justru saudara-saudaramu dan kau sendiri yang bosan hidup!" jawab sosok yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti tenang..

Manik Kanginan tentu saja kaget mendengar jawaban Rangga. Kini baru disadari kalau yang membunuh dua saudara seperguruannya tidak lain adalah Pendekar Rajawali Sakti.

Tanpa banyak bicara lagi Kelelawar Hijau ini langsung mempersiapkan serangan. Kemarahannya jelas tidak dapat ditahan lagi. Apalagi, mengingat ular sanca yang berada dalam lubang rahasia, tentu Pendekar Rajawali Sakti yang telah menyelamatkannya. Menyadari lawannya memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, segera dikerahkannya jurus 'Kelelawar Hijau' yang dipelajarinya dari Kitab Kelelawar Hijau.

"Matilah kau! Hiyaaa...!"

Sambil melompat ke depan Manik Kanginan segera melepaskan senjata rahasianya yang langsung meluncur deras ke arah Rangga. Namun, pemuda berompi putih ini sudah berjumpalitan menghindar. Sehingga, serangan lawan hanya mengenai tempat kosong.

Manik Kanginan jadi penasaran melihat pemuda itu dapat lolos dari serangan senjata rahasianya. Maka dengan lebih cepat, kembali dia melemparkan senjata rahasianya.

Rangga mempercepat gerakannya, mempergunakan Jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Dan lagi-lagi dia berhasil menghindari serangan senjata itu.

Namun tidak disangka, Manik Kanginan telah mengembangkan kedua tangannya, sejajar bahu. Secepat itu pula, kedua tangannya dikatupkan, lalu dihentakkan ke depan.

Wusss....!

Segulung sinar hijau berhawa panas melabrak ke arah Rangga, Pendekar Rajawali Sakti berusaha menghindarinya, namun terlambat. Sehingga....

Glarrr!

"Aaagkh...!" Rangga menjerit kesakitan ketika sinar hijau itu menghantam bahu kanannya. Sekujur tubuhnya terasakan panas bukan main. Darah mengucur dari sudut-sudut bibirnya, pertanda dia menderita luka dalam yang tidak ringan. Maka segera dikerahkannya tenaga dalam untuk mengobati luka.

"Kini benar-benar kau rasakan, betapa hebatnya pukulan 'Kelelawar Hijau'.:.!" desis Manik Kanginan bangga.

"Pukulanmu memang hebat. Sayang, tindakanmu melampaui batas. Apa pun yang terjadi, aku terpaksa membunuhmu!" kata Rangga, dingin penuh perbawa.

Setelah melihat kenyataan yang dialami, Rangga tidak mau bersikap gegabah. Segera serangannya ditingkatkan dengan mempergunakan rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'.

Kini akibatnya segera dapat dirasakan Manik Kanginan. Bahkan permainan silatnya terasa tidak berkembang. Walaupun seluruh kemampuannya telah dikerahkan, namun dia hanya dapat bertahan sambil sesekali membalas serangan.

Pada satu kesempatan tiba-tiba saja Rangga meluncur deras dengan tubuh berjumpalitan. Lalu dengan mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa', kakinya menghantam kepala Kelelawar Hijau.

Duk!

"Hugkh...!" Manik Kanginan kontan terhuyung-huyung sambil memegangi kepala yang seperti remuk. Sejuta kunang-kunang bertabur di matanya. Tetapi, Kelelawar Hijau seperti mempunyai nyawa rangkap saja. Malah dia balas menyerang. Jubahnya menyambar-nyambar ganas. Serangannya bagai orang dirasuki setan.

"Heaaa...!"

Manik Kanginan meluruk memburu Pendekar Rajawali Sakti. Jubahnya yang seperti sayap kelelawar menyambar ke arah Rangga. Namun Pendekar Rajawali Sakti dengan segenap tenaga berusaha menghindar. Sayang dia kalah cepat dengan sambaran jubah Manik Kanginan. Tidak terelakkan lagi....

Prat!

"Aaagkh!" Rangga kembali terpelanting namun cepat bangkit. Dadanya seakan remuk, terhantam jubah Kelelawar Hijau. Dalam keadaan telentang begitu, Manik Kanginan yang tak memberi ampun lagi meluruk deras ke arahnya, dengan maksud menyudahi pertempuran. Dalam keadaan yang gawat Rangga cepat memasang kuda-kuda kokoh. Cepat dibuatnya beberapa gerakan tangan yang kemudian berakhir menakup di depan dada. Tenaga dalamnya telah dikerahkan secara penuh. Bahkan, kedua tangannya telah terbungkus sinar warna biru sebesar kepala bayi. Lalu....

Sambil berteriak menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kedua tangannya ke depan. Maka seketika meluncur sinar biru ke arah Kelelawar Hijau yang tengah meluruk. Dan....

Blarrr...!

"Aaa...!" Manik Kanginan menjerit keras dengan suara merobek langit. Tubuhnya kontan hancur terkena ajian yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti. Tidak seorang pun yang dapat mengenali Kelelawar Hijau lagi, karena tubuhnya hancur menjadi serpihan daging yang terbakar, berbau sangit.

Rangga sejenak memandangi mayat Manik Kanginan. Pada saat itu Kemala Dewi keluar dari tempat persembunyiannya.

"Kau tidak apa-apa, Kakang?" tanya Kemala Dewi khawatir.

"Seperti yang kau lihat!" sahut Rangga seraya berbalik. "Kini kau telah bebas dari ancaman siapa pun, Dewi. Kau tidak mungkin tinggal di tempat terpencil ini. Ka...!"

"Dia bisa tinggal bersamaku di Desa Susukan!" terdengar suara yang disusul munculnya seseorang. Dia tidak lain Ki Belalang. Rangga tersenyum melihat kehadirannya. Sedangkan Kemala Dewi memperhatikan Ki Belalang dengan kening berkerut.

"Bagaimana, Rangga?" tanya Ki Belalang.

"Semuanya sudah berakhir, Ki. Sekarang aku punya tugas untukmu, Ki...!"

"Tugas apa? Kalau sanggup, pasti aku bersedia menolongmu!'' jawab Ki Belalang.

"Tolong beri perlindungan pada Kemala Dewi. Jika nanti kudengar kalian menyakiti seujung rambut saja. Aku akan mencarimu dan melakukan perhitungan!" kata Pendekar Rajawali Sakti, kalem.

"Ho ho ho...! itu masalah sepele! Aku senang Kemala Dewi mau tinggal bersamaku!" ujar Ki Belalang menyanggupi, seraya menatap Kemala Dewi. Kemudian Ki Belalang menoleh untuk mengucapkan rasa terima kasih pada Pendekar Rajawali Sakti. Tapi Rangga sudah tidak ada di sampingnya. Entah kapan perginya.

"Dia pergi, Ki," desah Kemala Dewi, merasa kehilangan.

"Relakanlah.... Mungkin nanti kau dapat bertemu dengannya," ujar Ki Belalang.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: PUSAKA LIDAH SETAN
Thanks for reading Kelelawar Hijau I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »