Gerombolan Samurai Hitam

GEROMBOLAN SAMURAI HITAM

SATU

HUJAN semalaman bagaikan diguyur dari langit, membasahi mayapada. Membasahi pula Hutan Karimun, meninggalkan titik-titik air di daun-daun pepohonan. Tanah sekitar hutan yang tak begitu lebat ini jadi becek. Di depan halaman beberapa bangunan, tampak kubangan-kubangan kecil.

Pagi baru saja menjamah bumi. Matahari ramah pada setiap makhluk di bawahnya, menghangatkan lima orang berpakaian serba hitam yang tengah berjaga-jaga di sebuah rumah yang hanya satu-satunya di tengah Hutan Karimun ini. Dari dalamnya terdengar suara beberapa orang tengah berbincang-bincang.

“Apakah selamanya kita akan tinggal di tempat ini, Kak Kenzo Matsuta...?” tanya laki-laki bermata sipit.

Wajahnya cukup tampan, dengan kumis tipis menghias di atas bibirnya. Rambutnya panjang dikuncir kuda. Pakaiannya berwarna hitam berlengan lebar, tanpa kancing. Sebuah ikat pinggang dari kain berwarna hitam menjadi pengikat pakaiannya yang tanpa kancing. Sedangkan celananya juga lebar berwarna hitam.

“Tentu saja tidak, Genkuro. Memangnya kenapa...?” jawab laki-laki bermata sipit yang dipanggil Kenzo Matsuta.

Ciri ciri pakaiannya sama dengan laki-laki bernama Genkuro. Hanya saja, badan Kenzo Matsuta lebih kekar, membayangkan kekuatannya. Wajahnya pun tak ditumbuhi bulu selembar pun.

“Tidak apa-apa.... Apakah kita tidak ingin mempunyai harta yang lebih banyak lagi...? Dan, apakah akan terus membujang begini...?” kembali Genkuro bertanya.

“Tentu tidak. Aku juga mengerti hati kalian. Kalau ingin wanita, boleh saja pergi ke desa terdekat. Tetapi, jangan sampai terlalu menyolok. Sebab hal itu akan merepotkan sebelum waktunya. Ingatlah! Jangan sampai menimbulkan kecurigaan para pendekar tanah Jawa sebelum kedudukan kita kuat...,” papar Kenzo Matsuta.

“Menurutmu bagaimana, Kenzi...?” Kenzo Matsuta menatap laki-laki bermata sipit lainnya yang juga berpakaian sama. Hanya saja wajahnya penuh ditumbuhi brewok.

“Aku sependapat denganmu, Kak Kenzo! Ingat! Kita adalah pelarian dari Nippon, yang telah gagal melakukan pemberontakan terhadap kaisar. Aku khawatir, para pendekar tanah Jawa yang mengetahui kehadiran kita, menceritakan kehadiran kita pada para pedagang dari negeri kita sendiri. Selanjutnya, para pedagang akan menceritakan kehadiran kita di sini pada kaisar,” dukung laki-laki yang dipanggil Kenzi.

“Ya, selama ini kita memang baru mempunyai pengikut lima orang dari tanah Jawa ini. Kedudukan kita belum kuat. Kalaupun sudah kuat, rasanya aku enggan meninggalkan tanah Jawa. Karena kulihat, di tanah ini pun kita bisa menancapkan kuku kekuasaan...,” sahut Kenzo Matsuta, tegas.

Memang, mereka bertiga adalah tiga bersaudara dari negeri Matahari Terbit yang melarikan diri dari kejaran para samurai, setelah gagal memberontak. Dan begitu tiba di tanah Jawa, Kenzo Matsuta yang merupakan paling tua dan diangkat sebagai pemimpin, berubah pikiran. Dia bertekad tak ingin kembali ke tanah kelahirannya. Pertimbangannya, kalaupun mereka tidak kembali, jelas akan diburu kaum samurai.

Suasana jadi hening ketika tak ada yang bersuara. “Adik-adikku, aku tak melarang kalian mencari gadis-gadis desa. Pergilah. Hanya yang perku kalian ingat, bertindaklah hati-hati...,” ujar Kenzo Matsuta, memecah keheningan. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Nippon.

“Baiklah kalau begitu. Esok malam aku akan keluar. Kepalaku sudah pening...,” sahut Kenzi Matsuta sambil tersenyum.

********************

Malam menjelang tiba. Binatang-binatang malam mengerik saling bersahutan. Lolongan anjing hutan di kejauhan menambah suasana malam menjadi kian mencekam. Ditambah lagi cuaca yang kurang bagus. Angin dingin dan kilat sesekali menerangi langit gelap.

Pada saat yang seperti itu, dua sosok bayangan serba hitam berkelebat menuju Desa Walatika. Gerakan kedua bayangan itu gesit bagaikan setan yang tengah mencari mangsa. Tak lama, hujan mulai turun bagaikan dicurahkan dari langit. Cahaya kilat dan bunyi guntur terlihat saling susul, membuat suasana semakin mencekam.

Tiba di Desa Walatika, keadaan sudah tampak sepi dan mati. Tak seorang penduduk pun yang terlihat keluar rumah dalam suasana yang seperti ini. Di tepi desa terdapat sebuah rumah sederhana. Ke sanalah kedua bayangan itu menuju.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara pintu diketuk berkali-kali. Kemudian terdengar suara langkah terseret di balik pintu. Namun, pintu belum juga terbuka.

“Siapa di luar...?” tanya suara dari dalam rumah.

“Kami...,” jawab salah satu bayangan hitam, dengan logat yang asing di telinga.

“Iya, tapi siapa...?” kembali terdengar suara dari dalam.

“Kami pengembara yang kehujanan dan kemalaman. Bolehkah kami menumpang istirahat barang semalaman...?” pinta kedua sosok bayangan.

Kiet...! Kreettt...!

Terdengar suara pintu dibuka dari dalam. Tak lama muncul seraut wajah tua. Dengan pandangan penuh curiga, diawasinya kedua orang berpakaian serba hitam dengan wajah sangat asing di matanya. Dengan cepat pintu itu hendak ditutupnya kembali. Tetapi, sebuah tangan bertenaga dalam kuat menahannya dari luar. Sehingga, pintu tetap terbuka tak dapat ditutup kembali.

“Sabar dulu, Kisanak! Mengapa kau bersikap demikian terhadap kami...? Kami berdua hanya numpang berteduh saja...?” tukas salah satu orang asing yang bermata sipit dengan rambut dikuncir ekor kuda.

“Kalian ini siapa...? Aku baru kali ini melihat kalian...?” tanya laki-laki tua pemilik rumah.

“Kau terlalu cerewet, Ki...,” desis orang asing satunya yang berwajah brewok. Seketika, tangan laki-laki sipit penuh brewok itu berkelebat.

Tuk! Tuk!

“Aaakh...!”

Dua buah totokan di iga, membuat orang tua itu jatuh tanpa dapat bersuara dan berkutik lagi.

“Kakang...!” Melihat kejadian itu, seorang perempuan tua segera menubruk laki-laki tua yang tak lain suaminya sambil memaki.

Kedua orang asing tersebut mengawasi dengan wajah mengerut. Tampaknya mereka mulai kesal dan tidak sabar. Salah seorang langsung mengarahkan ujung jarinya ke tubuh perempuan itu.

Tuk!

“Oh...!” Perempuan tua itu jatuh menyusul suaminya ketika punggungnya tertotok. Dia pun tidak dapat bangkit kembali. Apalagi bersuara.

“Ayah...! Ibu...!” Dua gadis yang tak lain anak kedua orang tua itu langsung menghambur. Mereka memeluki orangtuanya sambil menangis tersedu-sedu.

“Setan keparat! Kau apakan kedua orangtuaku...?!” dengus salah seorang gadis, mendadak timbul keberaniannya.

Sambil tertawa-tawa, kedua orang asing bermata sipit yang ternyata Kenzi Matsuta dan Genkuro Matsuta menyergap dan menarik tangan kedua gadis itu. Mereka lantas menyeret-nyeret ke dalam kamar. Karena terus memberontak, kedua gadis itu ditotok hingga tak berdaya.

“Tolong.... Ouwww...!” gadis-gadis itu terus berteriak keras.

“Heh?!” Suara minta tolong membuat dua peronda yang kebetulan melintas menjadi tersentak. Setelah berpandangan sejenak, keduanya berlari menuju sumber suara.

“Jelas asalnya dari rumah Ki Wangsa! Cepat, Gempol!” tunjuk peronda yang bertubuh kurus. “Sabar, Kuwu! Kau tahu, tubuhku terlalu gemuk,“ sahut peronda yang bertubuh gemuk. Namanya Gempol.

“Heh?!” Kedua peronda itu makin terkejut tatkala melihat dua orang tua yang tergeletak tanpa dapat bergerak lagi di depan pintu.

“Ada apa, Wangsa? Apa yang telah terjadi di sini...?” tanya peronda yang bernama Kuwu.

Tak ada jawaban dari dua orang tua bernama Ki dan Nyi Wangsa itu. Namun....

“Auuw...! Jangan, aduh tolong..., toloong...!”

“Heh?!” Kuwu dan Gempol tercekat, mendengar suara perempuan dari dalam kamar rumah ini. Kedua peronda itu segera berkelebat masuk ke dalam. Tapi, keduanya berhenti dan sejenak terpaku melihat pemandangan tak senonoh sedang terjadi di dalam. Begitu tersadar, kedua peronda ini segera bertindak.

“Keparat! Kalian benar-benar biadab! Rasakanlah ini...!” Kuwu maju lebih dulu sambil menyerang dengan golok.

Kenzi Matsuta yang diserang tetap asyik dengan kegiatannya. Tapi, begitu serangan dekat tubuhnya bergulir ke samping. Akibatnya....

Cras...!

“Aaa...!” Gadis yang diperkosa Kenzi Matsuta memekik panjang, ketika golok Kuwu malah salah sasaran, menghujam dadanya. Sejenak gadis itu melejang-lejang, lalu tewas berlumur darah.

“Oh...?!” Kuwu terpekik, tak menyangka goloknya malah menebas gadis yang hendak ditolong. Tapi sebelum keterkejutannya lenyap, Kenzi Matsusta telah melepaskan satu kibasan tangan bertenaga dalam tinggi. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Prak!

“Aaa...!” Laki-laki kurus itu kontan terjengkang sambil memegangi kepalanya yang pecah. Darah nampak merembes dari sela-sela jarinya. Kuwu menggelepar sebentar, lalu diam tak berkutik lagi.

Sementara itu, Gempol yang menyerang Genkuro Matsuta tinggal menunggu nasib saja. Satu hantaman telak telah mematahkan lehernya. Dan tanpa rasa kasihan sedikit pun, Genkuro Matsuta menghantam dada Gempol yang masih terhuyung-huyung.

Des...! Brukk...!

Tanpa bersuara lagi, tubuh Gempol ambruk dengan nyawa melayang.

“Huh...! Mengganggu saja...!” desah Genkuro Matsuta.

“Bagaimana dengan satu gadis ini...?” tanya Kenzi Matsuta.

"Sebaiknya kita habisi saja. Kalau tidak, dia dapat menyebarkan berita ke mana-mana,” usul Genkuro Matsuta.

“Hm...! Baiklah...!” sambut Kenzi Matsuta. Kemudian, diambilnya senjata salah satu peronda dan ditebaskan pada satu gadis sisanya.

Crasss!

Wanita yang sudah pingsan ini binasa bersimbah darahnya sendiri. Kedua orang asing ini lantas melangkah keluar kamar. Ketika golok peronda itu dihantamkan pada Ki dan Nyi Wangsa.

********************

DUA

Matahari bersinar cukup terik. Cahayanya yang panas terasa menyengat kulit. Dan itu dialami oleh seorang gadis cantik berpakaian serba merah yang berjalan sendirian di sebuah lembah kecil. Rambutnya panjang dikuncir ekor kuda. Di pinggangnya terselip seruling terbuat dari emas. Wajah cantik itu bersemu merah, dengan beberapa tetes peluh menetes dari pipinya yang halus.

Sambil menghembuskan napas, gadis berusia sekitar dua puluh lima tahun itu menyapu keringat dengan ujung lengan baju. Tapi, semua itu tidak mengurangi kecantikan alaminya. Bahkan wajahnya tampak semakin bersemu merah.

Ketika melihat sebuah batu besar di bawah sebuah pohon rindang, dia segera menghampiri. Dihenyakkan pantatnya yang padat untuk melepaskan lelah. Dari balik baju dikeluarkannya sebuah kipas berwarna merah. Langsung dikebut-kebutkan pada tubuhnya untuk mendapatkan angin sejuk.

Baru beberapa kejap gadis ini beristirahat, dari samping kanannya yang banyak ditumbuhi semak, berlompatan tiga orang berpakaian serba hitam. Seluruh wajahnya tertutup kain hitam, hanya pada bagian matanya saja yang terbuka. Pancaran mata mereka tampak sangat tajam.

Sementara gadis berbaju serba merah tampak tenang saja, seperti tak menghiraukan. Padahal, ketiga orang berpakaian serba hitam semakin liar memandangi, seperti hendak menelanjangi. Bahkan acuh tak acuh, gadis cantik itu terus berkipas-kipas santai.

Sikapnya yang kenes, membuat ketiga orang bertopeng hitam itu jadi semakin berani. Dengan kekurangajarannya, salah seorang mencoba meraba pipi. Gadis itu sepertinya tak mempedulikan. Tapi, begitu tangan itu hampir menyentuh, kipasnya dikebutkan.

Wees! Beed!

“Aiiit...!” Untung orang bertopeng memiliki gerakan gesit. Dengan cepat tubuhnya dibuang ke belakang, seraya berjumpalitan beberapa kali. Namun baru saja kakinya menyentuh tanah, gadis berbaju merah telah berkelebat. Dengan kipasnya yang telah menguncup, ditotoknya laki-laki bertopeng itu.

Tuk! “Eekh!” Sebuah totokan keras menghantam punggung laki-laki itu. Tak ampun lagi, tubuhnya roboh tak dapat bergerak lagi. Kejadian itu berlangsung sangat cepat Sehingga, kedua orang temannya tak sempat berbuat sesuatu untuk menolong.

Sementara itu gadis berbaju merah sudah berkelebat kembali dan duduk di tempat semula. Seolah, tak pernah terjadi sesuatu apa-apa. “Huh...! Rupanya di tempat ini banyak lalat yang menjijikkan. Hm.... Kalau tak mau menyingkir, biar kuhajar lagi!” dengus gadis ini.

Sambil duduk, gadis itu terus berkipas-kipas. Gerakannya membuat anak rambutnya berterbangan. Mulutnya menampakkan senyum manis. Tingkahnya membuat kedua orang bertopeng jadi gemas bercampur geram.

“Gadis keparat...! Tingkahmu akan membuatmu menyesal seumur hidup...,” ancam salah seorang seraya mencabut samurai dari punggung.

Ucapan laki-laki itu disusul serangan samurai ke arah perut Tapi, dengan sekali kebut memakai kipas, gadis ini berhasil membuat penyerang berangasan itu terdorong balik ke belakang. Mengetahui tenaga dalam gadis itu begitu kuat, kedua orang bertopeng menerjang serentak dengan samurai tajam luar biasa. Tetapi begitu serangan sampai, yang diserang sudah berkelebat cepat bukan main. Ketika mereka tengah kebingungan mencari....

“Hi hi hi...!” Terdengar suara tawa mengikik dari atas pohon. Begitu kedua orang bertopeng menengadah, ternyata gadis cantik berpakaian serba merah itu tengah duduk santai pada salah satu cabang pohon sambil mengayun-ayunkan kaki. Tentu saja kedua orang bertopeng jadi bertambah geram.

“Heiiit! Sheaaat!”

Kembali kedua orang bertopeng ini melesat ke atas pohon sambil melancarkan serangan dahsyat. Suara sabetan samurai di tangan mereka terdengar mengaung menyakitkan telinga.

Sambil tersenyum gadis itu mengebutkan kipasnya ke arah kedua orang bertopeng. Seketika, meluruk angin keras menyongsong kedua orang bertopeng.

Wuuut!

“Aaakh...!” Bagaikan terdorong tenaga raksasa yang tak terlihat, kembali kedua orang bertopeng terbanting ke tanah. Batu kecil dan pasir berterbangan ke mana-mana. Tapi sambil meringis menahan sakit, keduanya segera bangkit.

Dengan perasaan heran, mereka memandangi gadis cantik yang masih duduk menjuntai di atas pohon. Tampak gadis berbaju merah itu mengeluarkan seruling emas dari balik ikat pinggangnya. Kemudian, ditiupnya dengan irama mendayu-dayu.

Merasa diremehkan sedemikian rupa, amarah kedua orang bertopeng itu semakin meluap ke ubun-ubun. Seketika mereka mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, siap melompat melancarkan serangan maut. Tetapi, sebelum maksudnya tercapai....

“Ohh...?!” Tiba-tiba pikiran mereka jadi kacau. Mereka berhenti bergerak, dan mendengarkan irama seruling yang mengganggu pikiran itu. Aneh! Mendadak saja, entah bagaimana mereka kini jadi teringat akan peristiwa masa lalu yang sangat menyedihkan. Bahkan mereka mulai menangis tersedu-sedu.

Sementara yang tertotok juga ikut menangis, walau tak dapat bergerak. Semakin lama keadaan mereka jadi semakin mengenaskan. Sambil menangis, mereka bergulingan dan memukul-mukul kepala sendiri.

Wanita cantik berpakaian serba merah tertawa mengikik. Sambil menyimpan seruling emasnya, tubuhnya berkelebat pergi. Sebentar saja, dia telah lenyap dari pandangan. Kini yang tertinggal hanyalah ketiga orang bertopeng yang masih menangis tersedu-sedu.

Pada saat yang gawat bagi ketiga orang bertopeng, melesat dua sosok bayangan hitam. Kedua sosok ini langsung menghentikan lesatannya. Begitu berhenti tampak jelas, yang seorang berwajah brewok. Sedang yang seorang lagi berkumis tipis. Dengan keheranan mereka mengawasi kelakuan ketiga orang bertopeng itu.

“Kenapa mereka, Kak Kenzi?” tanya yang laki-laki berpakaian hitam yang ternyata bermata sipit dan berkumis tipis.

“Hm.... Agaknya tiga anak buah kita ini baru saja mendapat lawan tangguh. Mereka pasti terkena semacam ajian yang dapat membangkitkan kesedihan. Aku pernah mendengar kalau di tanah Jawa ini banyak ajian yang aneh-aneh...,” sahut laki-laki satunya, yang berwajah brewok.

Mereka itu tak lain dari Kenzi Matsuta dan Genkuro Matsuta. Kedua tokoh dari negeri Matahari Terbit ini bermaksud menyusul ketiga anak buahnya yang ditugaskan untuk mencari beberapa gadis cantik. Karena ditunggu-tunggu tak muncul juga, mereka jadi tak sabar. Ketika menyusul, ternyata ketiga anak buah mereka dalam keadaan penuh keanehan. Menangis sambil berguling dan memukul kepala sendiri.

“Bagaimana kita menyadarkan mereka, Kak Kenzi?” tanya Genkuro Matsuta.

“Aku pernah belajar sedikit tentang cara memunahkan ajian seperti ini. Coba ikuti aku,” ujar Kenzi Matsuta, “Pasang kuda-kuda rendah....”

Genkuro Matsuta membuat kuda-kuda rendah seperti kakaknya.

“Kumpulkan tenaga dalam di dada, sambil tarik napas dalam-dalam...,” lanjut Kenzi Matsuta, “Tahan napas sejenak, dan lihat jariku. Bila sudah pada hitungan jari ketiga, beteriaklah sekerah-kerasnya. Siap?”

Genkuro Matsuta mengangguk, lalu bersiap-siap. “Ya!”

Kedua orang asing ini mulai mengumpulkan tenaga dalam di dada. Mereka menarik napas, dan menahannya sebentar. Sementara, Genkuro Matsuta memperhatikan jari kakaknya yang teracung ke atas. Tepat ketika jari ketiga telah teracung....

“Heaaa...!”

Terdengar teriakan mengguntur dari mulut Kenzi Matsuta dan Genkuro Matsuta. Dari teriakan itu, tercipta semacam gelombang yang langsung menusuk telinga ketiga orang bertopeng yang masih bertingkah aneh. Sesaat kemudian, bagai disentak dari mimpi panjang, ketiga orang itu sadar dari pengaruh irama seruling yang memabukkan. Napas mereka tersengal bagaikan habis berlari jauh.

“Apa yang telah terjadi pada kalian...?” tanya Genkuro Matsuta, setelah menguasai keadaan tubuhnya sendiri sehabis mengerahkan tenaga dalam tinggi.

“Kami bertarung dengan gadis cantik berpakaian serba merah...,” jelas salah seorang.

“Wanita cantik...? Apa kau tidak salah lihat...?!” tukas Kenzi Matsuta terkejut.

Dengan singkat, ketiga orang bertopeng menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu, kedua tokoh dari Nippon ini tampak merenung dan menarik napas panjang.

“Sudahlah.... Lain kali, kalian harus berhati-hati. Tanah Jawa ini masih asing. Dan kita belum dapat mengukur secara pasti, sampai di mana kemampuan para tokoh di sini. Sekarang, mari kita kembali...,” ajak Genkuro Matsuta.

********************

Malam mulai merayap sang Dewi Malam telah sejak tadi menunaikan tugasnya. Di tengah Desa Walatika, keadaan justru bertolak belakang. Selain lebih ramai, di desa ini tersedia beberapa kedai makan dan beberapa penginapan. Obor dari minyak jarak terpasang di setiap sudut kedai dan penginapan. Karena malam sudah benar-benar larut, tak ada seorang pun keluar dari penginapan. Kecuali, tiga sosok bayangan yang mengendap-endap di atas atap, menuju sebuah kamar bagian atas penginapan ini.

Ringan gerakan mereka tanpa menimbulkan suara yang berarti, pertanda memiliki ilmu meringankan tubuh yang lumayan. Ketiga bayangan itu kini telah berada di depan jendela kamar yang jadi sasaran. Perlahan-lahan, mereka mulai mendongkel. Namun baru saja pintu jendela terbuka...

“Heh?!” Ketiga sosok ini tersentak seraya menghentikan tindakannya ketika terdengar suara seruling yang mendayu-dayu.

Dan entah apa yang membuatnya demikian, mendadak saja mereka berjingkrak-jingkrak. Kalau tadi berada di depan jendela, kini berada di atas atap. Kalau tadi suara seruling mendayu-dayu, kini menghentak-hentak.

Mendengar suara ribut-ribut di atas genteng, penghuni kamar yang tadi hendak dijadikan sasaran mendorong jendela kamarnya. Tampaklah seraut wajah tampan dengan rambut panjang sebahu. Bajunya rompi putih. Pada punggungnya tersampir sebilah pedang bergagang kepala burung. Siapa lagi sosok ini kalau bukan Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

Tadi pun, ketika ketiga sosok yang kini menari-nari telah mendongkel kamarnya, Rangga sudah siap membekuk. Tapi Pendekar Rajawali Sakti jadi kecele, ketika ketiga orang itu malah menari-nari di atas atap diiringi suara seruling. Namun pemuda tampan berbaju rompi putih ini merasa heran. Karena ketiga orang itu menari dengan senjata tajam di tangan.

Ketika diperhatikan seksama, ternyata mereka berusaha menahan agar tidak terseret dalam alunan seruling, yang membuat lupa diri. Tapi, irama seruling itu terlalu kuat bagi mereka. Beberapa saat kembali berlalu, agaknya mereka bertiga sudah tidak sanggup bertahan lagi.

“Aaakh...!” Dengan mengeluarkan teriakan tertahan dan suara berisik, ketiga orang itu jatuh dari atas genteng dalam keadaan tak sadarkan diri.

Pandangan mata Pendekar Rajawali Sakti yang setajam mata burung hantu sempat melihat berkelebatnya sesosok bayangan merah di ujung genteng sebelah sana. Cepat dikejarnya bayangan tersebut. Seketika tubuhnya melesat bagai kilat.

“Berhenti...!” teriak Pendekar Rajawali Sakti, keras.

“Hi hi hi...! Kejarlah kalau mampu, Kisanak...,” jawab bayangan merah yang berlari bagaikan terbang, dari satu rumah ke rumah yang lain.

“Hm.... Kiranya dia seorang gadis. Hebat sekali tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuhnya...,” gumam Rangga dalam hati. Karena penasaran, Pendekar Rajawali Sakti terus mengejar.

Kejar mengejar di malam gelap berlangsung sengit. Akhirnya, mereka menuju keluar Desa Walatika. Tapi, belum ada tanda kalau gadis itu akan berhenti. Sementara Pendekar Rajawali Sakti segera menambah tenaganya. Maka tubuhnya melesat laksana anak panah lepas dari busur. Semakin lama, jarak mereka jadi semakin dekat. Akhirnya, dengan beberapa kali lentingan, Pendekar Rajawali Sakti berhasil menghadang gadis itu.

“Tunggu dulu, Nisanak.... Berhentilah sebentar...!” ujar Rangga.

“Mengapa kau menghentikan lariku...?” tanya wanita itu menghentikan larinya. Dia kagum, karena larinya dapat dikejar.

“Jangan berprasangka buruk, Nisanak.... Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu tadi...,” kilah Rangga.

“Aku salah. Seharusnya, aku tak perlu menolongmu...,” sergah gadis itu.

“Memangnya kenapa...?” tanya Rangga.

“Dengan kepandaianmu, perbuatanku tadi sebenarnya tak ada gunanya....”

“Wah, jangan begitu.... Kalau tak ada dirimu, ketiga orang tadi pasti sudah membunuhku.... Untung kau menolong tepat pada waktunya...,” kembali Rangga bicara bernada merendah.

“Kau terlalu merendah, Kisanak! Kalau tak kutolong pun, mereka pasti mendapat pelajaran darimu.... Kalau boleh tahu, siapakah namamu?” tanya gadis cantik ini.

“Namaku Rangga. Kau sendiri siapa...? Kalau melihat kepandaianmu yang luar biasa, aku yakin kau adalah salah satu tokoh dunia persilatan....”

“Hm.... Jadi, namamu Rangga...?” gumam gadis ini, seperti mencoba mengingat-ingat. Ya, aku ingat. Kini aku sedang berhadapan dengan seorang pendekar termasyhur. Kau pasti Pendekar Rajawali Sakti! Oh, alangkah terhormatnya aku bertemu denganmu, Pendekar Rajawali Sakti. Oh, ya. Namaku Ratna Jenar. Dan, orang persilatan menyebutku Peri Baju Merah....”

“Ah, jangan terlalu menyanjung begitu, Ratna. Nanti kepalaku bisa pecah. Kiranya kau sendiri pun seorang pendekar wanita yang sedang naik daun.... Kalau boleh kutahu, ke manakah tujuanmu, Ratna...?” tanya Rangga.

“Aku tidak pernah tahu, ke mana kaki ini hendak melangkah. Tapi sudah sejak lama aku ingin berjumpa denganmu, Pendekar Rajawali Sakti....”

“Uts! Tolong panggil aku Rangga saja. Tak usah banyak peristiadatan denganku. Oh, ya ada apa kau ingin bertemu denganku, Ratna?” tanya Pendekar Rajawali Sakti heran.

“Nama besarmu telah lama kudengar. Dan melihat ciri-cirimu, aku yakin kau adalah pendekar besar yang selama ini kutunggu-tunggu, Rangga. Aku ingin belajar beberapa jurus darimu. Paling tidak untuk menambah pengetahuan dalam berpetualangku....”

“Nah, nah.... Sekarang kau terlalu merendah. Dengan kepandaianmu, rasanya, kau akan kesulitan untuk mendapatkan lawan dalam dunia persilatan ini....”

“Kuharap kau jangan mengecewakan harapanku. Apalabila menolak, berarti kau tak mau bersahabat denganku...,” kata Ratna Jenar, sedikit mendesis.

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya takut nanti akan salah tangan...,” kilah Rangga.

“Jadi kau menganggap kepandaianmu terlalu tinggi, dan tidak memandang sebelah mata padaku...?” tukas Ratna Jenar dengan nada tinggi. Sementara keningnya mulai berkerut pertanda hatinya mulai kesal.

“Maafkan aku, Ratna.... Bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir bila terjadi salah tangan, akan merusak perkenalan kita...,” Rangga coba memberi penjelasan.

Wajah gadis cantik itu tampak bersemu merah. Kata merusak perkenalan kita telah membuat hatinya berdebar keras. “Kau jangan bicara ngawur! Sudah lama pertemuan ini kuidam-idamkan. Kalau mengaku bersahabat, jagalah serangan ini...! Soal terluka atau tidak, itu hal biasa. Kuharap kau bersungguh-sungguh. Kalau tidak, kau akan menyesal sendiri...! Awas serangan...!” seru Ratna Jenar.

Begitu ucapannya selesai, tangan gadis ini bergerak bagaikan kilat menotok pada beberapa jalan darah di tubuh Rangga. Gerakannya begitu cepat. Namun Pendekar Rajawali Sakti cepat melompat ke belakang. Tapi, serangan Ratna Jenar tidak berhenti sampai di situ saja. Dengan gerakan sulit diikuti mata, pukulan dan tendangan beruntun dari gadis itu datang saling susul.

“Haiiit..!” Cepat Rangga mengeluarkan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’. Tubuhnya bagaikan orang mabuk, terhuyung ke sana kemari. Sebentar bagaikan mau jatuh, sebentar kemudian berjongkok dan melompat-lompat Tapi semua serangan Ratna Jenar tak ada yang mengenai sasaran. Gadis cantik itu jadi penasaran. Serangannya pun dipergencar.

“Ciaaat!” “Yeaaat!”

Plak! Plak!

Benturan telapak tangan mengandung tenaga dalam terdengar nyata. Keduanya tergetar dan tertolak balik ke belakang. Masing-masing merasakan tangan mereka bergetar dan kesemutan. Rangga sendiri merasa heran, gadis semuda ini memiliki tenaga dalam dan ilmu olah kanuragan yang sulit dicari tandingannya.

“Kau hebat Pendekar Rajawali Sakti.... Aku tahu kau belum mengerahkan tenaga sepenuhnya. Tapi tanganku seperti kesemutan. Kini aku akan mencoba dengan memakai senjata...,” desis Ratna Jenar sambil mengeluarkan kipas merah dan seruling emasnya.

“Hei...! Sudahlah.... Kurasa sudah cukup...!” ujar Rangga sambil melompat mundur beberapa langkah.

Tapi, gadis cantik yang menggiurkan ini tidak meladeni. Bagai kilat, kipasnya dikebutkan. Serangkum angin dingin yang kuat meluruk ke arah Rangga. Begitu Pendekar Rajawali Sakti mengelak, seruling di tangan Ratna Jenar meluncur ke arah kedua matanya. Berkat jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’nya, Rangga masih dapat mengelakkan serangan dengan mengegos ke samping. Tapi, kembali kipas merah dikebutkan ke arahnya. Kali ini, serangkum angin panas menerjang ke arah Rangga.

“Hup...!” Terpaksa Rangga berjumpalitan di udara untuk mematahkan serangan. Begitu kakinya menyentuh tanah, telinganya mendengar suara seruling yang ditiup dengan irama syahdu dan mendayu-dayu. Mendadak Pendekar Rajawali Sakti merasakan tubuhnya tak mau digerakkan lagi. Mendadak pula, perasaan sedih merasuki dirinya. Dalam pikirannya, terbayang semua kenangan yang tidak mengenakan. Perlahan-lahan kepalanya jadi menunduk menyiratkan kesedihan.

“Heaaa...!” Ketika pikiran sadarnya melintas, cepat Pendekar Rajawali Sakti memekik dahsyat.

Begitu kerasnya, membuat Ratna Jenar sampai tersentak ke belakang. Cepat dirubahnya irama seruling dengan irama yang menyentak-nyentak. Secara tak sadar, Rangga jadi bersilat sendiri. Dan kadang-kadang menari-nari sampai tertawa-tawa. Ketika irama serulingnya berubah, Rangga terpaku di tempatnya tak dapat bergerak lagi. Saat itu juga Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan tenaga dalamnya. Maka, sekarang berlangsung adu tenaga dalam dahsyat.

Pendekar Rajawali Sakti secara tiba-tiba merasakan dadanya nyesak. Napasnya terasa tak lancar. Hawa murninya tak dapat disalurkan dengan baik. Dan darahnya terasa bergolak hebat. Tanpa dapat ditahan lagi, beberapa tetes darah segera meleleh dari sudut bibirnya. Sementara Ratna Jenar tampak terkejut melihat keadaan Pendekar Rajawali Sakti. Cepat tiupan serulingnya dihentikan.

Dengan segera dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti. Dengan suara gugup, diurutnya beberapa jalan darah di tubuh Rangga. Tampak napas pemuda itu agak sedikit tenang dan mereda. Setelah menarik napas panjang beberapa kali, Pendekar Rajawali Sakti duduk, di tanah sambil menyalurkan hawa murninya dengan sikap bersemadi.

“Terima kasih atas bantuanmu tadi, Ratna...,” ucap Rangga, begitu membuka matanya setelah bersemadi.

“Sudahlah.... Kau sedang kurang sehat, Kisanak...? Luka dalam yang kau derita cukup parah...,” kata Ratna Jenar gugup.

“Benar.... aku sebenarnya memang tengah menderita luka dalam. Dua purnama yang lalu, aku bertarung dengan Dwi Gata Bayu. Dalam pertarungan itu aku menderita luka dalam yang lumayan. Dan kini aku sedang mencari seorang tabib pandai yang dapat menyembuhkan lukaku... Barangkali kau mengetahui tabib pandai, tolong beritahu padaku di mana tempatnya...,” sahut Rangga, perlahan.

(Untuk mengetahui lebih jelas Rangga dengan Dwi Gata Bayu baca episode Pedang Kilat Buana).

“Maafkanlah aku yang telah memaksamu. Sungguh aku tidak tahu kalau kau sedang mendapat luka dalam separah ini...,” ucap Ratna Jenar penuh penyesalan.

“Sudahlah tak apa-apa. Kalau kau tak tahu, aku hendak minta diri untuk meneruskan perjalananku...,” ucap Rangga perlahan.

“Tunggu dulu! Di Desa Langsep, kudengar ada seorang tabib sakti yang mengasingkan diri. Beliau sahabat dekat guruku. Biar kuantar kau ke sana. Siapa tahu kau berjodoh dan dapat disembuhkan di sana...,” cegah Ratna Jenar.

“Apakah tidak merepotkanmu, Ratna...?” tanya Rangga.

“Sudahlah.... Tak perlu banyak beradatan lagi. Kita sesama manusia, kalau tidak mau katakan saja tidak mau...!” desak Ratna Jenar.

“Baiklah. Aku menurut padamu....”

“Nah! Begitu baru sikap laki-laki sejati....”

TIGA

“Ketua...! Ketua...!” Salah seorang anak buah tiga orang asing dari Nippon di tengah Hutan Karimun berlari-lari menghampiri Kenzo Matsuta yang tengah duduk di beranda rumah.

“Ada apa, Purbaya?” tanya Kenzo Matsuta dengan kening berkerut.

“Ketua...! Hamba tadi baru saja pulang menyatroni Desa Walatika. Namun ketika hamba memotong jalan lewat tenggara, hamba menemukan sebuah sumur yang mencurigakan,” lapor pengikut orang asing yang bernama Purbaya.

“Mencurigakan? Apa maksudmu, Purbaya?”

“Begini, Ketua. Hamba sebagai penduduk asli daerah ini, pernah mendengar cerita dari mulut ke mulut yang sudah berlalu sejak nenek moyang hamba dulu....” Purbaya menghentikan ceritanya, untuk melihat tanggapan ketuanya.

“Teruskan,” ujar Kenzo Matsuta.

“Menurut cerita, konon dulu ada seorang tokoh sakti dari golongan hitam yang mendiami Hutan Karimun, dia mempunyai sebuah patung berkekuatan iblis. Setelah tokoh hitam itu tewas, patung itu kembali ke asalnya secara gaib. Nah bila, Ketua bisa mengambil patung itu, kekuatan kita bisa bertambah, Ketua!” papar Purbaya. “Dan sampai saat ini belum ada tokoh-tokoh persilatan yang berusaha mencari karena tak tahu letaknya....”

“Hm.... Boleh juga ceritamu. Tapi, apa bisa kupercaya?”

“Begini saja, Ketua. Kalau nanti di sumur itu kita tidak menemukan apa-apa, kepala hamba bersedia dipenggal!” tandas Purbaya, mantap.

“Oh, ya. Bagaimana kau bisa menemukan sumur itu?” tanya Kenzo Matsuta, memancing.

“Hamba tadi sepulang dari Desa Walatika, melihat dua kelinci. Niat hamba kelinci itu bisa dijadikan makan malam nanti. Tapi ketika hamba lempar dengan pisau, kelinci itu berhasil menghindar dan kabur. Ketika hamba mengejar-ngejar, hamba terperosok di depan sebuah semak. Dan ketika hamba sibak, ternyata di depan hamba terdapat sumur tua....”

Kenzo Matsuta dan dua anak buahnya telah tiba di sumur tua, sebelah tenggara markas mereka. Tak begitu dalam sumur itu, hanya sekitar dua setengah tombak saja. Dan mereka cukup meloncat. Namun ketika di dalam, ternyata di dasar sumur terdapat lorong mirip gua. Jalan ke dalam gua dalam sumur itu sangat licin dan penuh lumut. Dengan hati-hati, mereka masuk ke dalam.

Sementara Kenzo Matsutri telah mengeluarkan samurai kecilnya untuk menjaga sesuatu hal yang tidak diinginkan. Semakin ke dalam, gua itu semakin luas dan bersih. Tetapi, perasaan seram mulai menyusup ke dalam diri masing-masing. Akhirnya, mereka sampai pada sebuah ruangan yang benar-benar menyeramkan!

Tanpa terasa, tubuh mereka jadi gemetar. Keringat dingin mulai mengucur deras, hati mereka pun jadi berdebar-debar tak karuan. Cepat Kenzo Matsuta mengatur pernapasan sambil memusatkan perhatian. Setelah dapat menguasai diri, diperhatikannya ruangan gua ini.

“Ah...! Tempat apa ini...? Mengapa begitu menyeramkan?!” desah Kenzo Matsuta dalam hati.

“Ketua...! Coba lihat pada batu besar yang seperti meja itu...!” seru Purbaya.

Cepat Kenzo Matsuta menoleh ke arah yang ditunjuk anak buahnya. Ternyata, di situ terdapat sebuah patung berbentuk sangat menyeramkan. Kepala patung mirip kepala kelelawar dengan kedua telinga runcing, kedua mata melotot keluar. Hidungnya besar. Gigi taringnya mencuat keluar. Patung itu menggambarkan makhluk yang sedang merentangkan busur panah lengkap dengan anak panahnya yang tajam. Segera tokoh dari Nippon ini menghampiri dan memeriksanya.

“Ceritamu benar, Purbaya! Kau patut mendapat hadiah dariku...,” kata Kenzo Matsuta, menatap pada Purbaya.

“Hamba hanya mengabdi pada Ketua. Jadi, apa yang hamba dapat hanyalah untuk Ketua,” sahut Purbaya.

“Sebuah patung yang sangat indah buatannya. Tentu benda ini sangat berharga. Biar kuambil saja patung ini...,” gumam Kenzo Matsuta kembali memperhatikan patung itu.

Tapi, tanpa sengaja tangan laki-laki sipit ini tergores ujung taring pada mulut patung itu. Darah tampak menetes pada gigi-gigi patung itu. Entah bagaimana, keanehan pun segera terjadi. Mata patung itu tampak berkedip dan bergerak memutar ke kiri dan ke kanan. Mulutnya tampak menyeringai dan berdecap menyeramkan. Yang lebih aneh lagi.... Anak panah itu tiba-tiba terlepas dari busurnya dan melesat. Berputar-putar sejenak, kemudian meluncur ke arah Purbaya.

“Awaaas, Purbaya...!” seru Kenzo Matsuta.

Dengan gerakan cepat Purbaya mencabut pedangnya, langsung berusaha membabat anak panah yang mengancam leher. Kembali keanehan terjadi. Bagaikan dikendalikan tenaga gaib dan kekuatan setan, anak panah itu meliuk-liuk menghindari serangan Purbaya. Lalu dengan kecepatan luar biasa, meluncur terus dan tepat menancap di leher.

Crab!

“Aaakh...!” Dengan suara tertahan, murid Kenzo Matsuta itu ambruk dengan leher tertancap panah. Setelah berkelojotan sejenak, dia diam untuk selamanya.

Lagi-lagi keanehan terjadi. Seluruh kulit Purbaya semakin lama memutih, seolah darahnya tersedot habis oleh anak panah yang memancar di lehernya. Setelah tak ada darah lagi, anak panah itu melesat secara mundur, dan kembali kepada patung. Lalu berbentuk seperti sediakala, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Kenzo Matsuta sampai tak berkedip menyaksikan semua itu.

“Ini.... Benar-benar tempat sarang iblis...!” desis Kenzo Matsuta dengan tubuh gemetar.

“Ketua! Mari kita tinggalkan tempat ini, sebelum kita terbantai habis...!” ajak anak buah laki-laki bermata sipit itu ketakutan. Tapi, belum sempat mereka bergerak....

“Hua ha ha...! Hai orang asing. Aku tahu, kau pasti seorang pelarian dari negeri Matahari Terbit. Kau terpilih menjadi orangku.... Kau akan kaya dan menjadi orang tak tertandingi.... Kau akan kujadikan manusia sakti, asal mau menuruti segala perintahku. Apa kau sanggup...?” Mendadak terdengar suara parau tanpa wujud. Suaranya menggema mendirikan bulu roma.

“Siapakah kau...? Cepat tampakkan dirimu...!” seru Kenzo Matsuta dengan suara keras.

“Kau belum saatnya berjumpa denganku. Bila kau ingin membinasakan seseorang, goreskan lengan atau tubuhmu yang lain pada taring patung yang kau pegang. Maka, kau akan melihat seperti apa yang terjadi belum lama berselang. Orang yang kau benci akan mati tertembus anak panah. Dan darahnya akan kering terhisap.... Ha ha ha.... Aku akan selalu berada dalam patung itu. Sekarang, pulanglah kau...!”

Kenzo Matsuta tahu, pasti suara itu adalah arwah tokoh hitam yang diceritakan Purbaya. Tapi, siapa namanya? Namun laki-laki ini tak ingin terlalu jauh memikirkan. Yang jelas, kini perasaannya tenang. Tak ada yang ditakuti lagi. Patung dalam genggamannya ternyata luar biasa. Siapa lagi yang dapat mengalahkannya.

********************

Seorang laki-laki tua berambut putih sebahu dengan pakaian serba hitam dan ikat kepala hitam, beijalan gontai di tempat yang cukup ramai. Kumis dan jenggotnya yang berwarna putih berkibaran tertiup angin. Sambil berjalan sesekali ditenggak tuak merah dari gucinya. Sedangkan mulutnya tak henti-hentinya mendendangkan lagu dengan syair seenaknya sendiri.

“Tukang kentut mati berdiri.... Kenyang perut senanglah hati.”

Laki-laki tua aneh ini menghampiri seorang laki-laki tua berambut putih sepunggung. Pakaiannya serba putih dengan ikat pinggang kotak-kotak. Dia tengah tidur mendengkur di bawah sebuah pohon rindang. Wajahnya licin tanpa ditumbuhi bulu sehelai pun. Di punggungnya tersampir sebuah bumbung bambu tempat tuak. Sedang di tangannya tergenggam sebatang tongkat bambu hitam berkilat.

“Namanya saja Sabda Gendeng! Ya, orangnya pasti juga gendeng! Tidur di mana pun jadilah...! Disuruh menunggu, malah enak-enakan tidur....”

Laki-laki tua berpakaian serba hitam ini menggeleng-geleng. “Hei, bangun...! Aku disuruh mencari makanan, eh, kau malah tidur mendengkur seperti kerbau.... Ayo bangun, bangun...!” seru laki-laki tua berpakaian serba hitam, seraya duduk di samping laki-laki tua berpakaian putih yang dipanggil Sabda Gendeng.

Dengan malas malasan, laki-laki tua yang memang Ki Sabda Gendeng mengeliat bangun. “Mana makanan yang kau bawa, Demong?! Mana...?” tanya Ki Sabda Gendeng.

“Ingatanmu hanya makanan saja! Tuh, aku bawakan kesukaanmu. Ikan lele panggang dan ayam bakar...,” gerutu laki-laki tua berpakaian hitam yang ternyata Ki Demong.

Tanpa banyak pikir lagi mereka segera mengantar makanan. Mulut mereka tak henti-hentinya mengunyah. Hingga tanpa memakan waktu lama, makanan tersebut habis tak bersisa.

“Sekarang perut kita telah kenyang. Kini kita tinggal main catur...,” tantang Ki Sabda Gendeng, yang memang gila catur.

“Malas aku melawanmu! Kalau ada taruhannya, aku mau...,” tolak Ki Demong alias Pemabuk Dari Gunung Kidul.

“Lagakmu macam yang paling jago saja! Kau mau bertaruh apa denganku...? Coba kau katakan...?” rutuk Ki Sabda Gendeng sambil mendelikkan matanya.

“He he he...! Bagaimana kalau yang kalah, menggendong yang menang keliling desa membayari makan sampai kenyang. Setuju...?!”

Ki Sabda Gendeng mengangguk tanda setuju. Kemudian ikat pinggangnya dibuka dan dibeberkan di atas tanah. Kali ini, Ki Sabda Gendeng memang tak membawa papan caturnya. Biar lebih ringkas, dia coba membawa sehelai kain kotak-kotak hitam dan putih. Selain bisa digunakan sebagai ikat pinggang, juga bisa digunakan untuk papan catur. Dasar gila catur!

Kini mereka telah terlibat dalam suasana tenang dan sepi. Hanya sesekali terdengar napas keras. Dan, terlihat salah seorang menggaruk-garuk kepala. Lalu, terdengar suara menggerutu berkepanjangan.

“He he he...! Bagaimana, Demong? Apa kau menyerah...?” tanya Ki Sabda Gendeng.

“Huh...! Siapa yang menyerah?! Lihat aku jalankan perwira ini...!”

Secara tak terduga, Ki Demong menjalankan perwira sebelah kanan dan langsung mengancam menteri dan raja. Langkah itu tidak disangka sama sekali oleh Ki Sabda Gendeng. Dia langsung kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya.

“Sialan...! Mengapa aku lalai dengan perwira yang di kanan? Tapi aku belum kalah dan tak mungkin kalah darimu, Demong...,” tangkis Ki Sabda Gendeng sambil mengomel terus tak ada hentinya.

“Ayo jalan.... Jangan menggerutu terus....”

“Sabarlah.... Aku sedang berpikir, jangan diganggu terus.... Kalau kau recoki terus, aku berhenti nih...!” tukas Ki Sabda Gendeng.

“Sesukamulah. Aku mau minum tuak dulu...,” Ki Demong sambil menenggak tuak merah dari gucinya.

Hembusan angin yang berhembus lembut telah membuat mata Ki Demong berkejap-kejap dan semakin menyipit. Tak lama antaranya, Pemabuk Dari Gunung Kidul telah tertidur pulas. Sedangkan Ki Sabda Gendeng tampak masih berpikir keras, untuk mencari jalan keluar. Walau telah berpikir sekuat tenaga dan kemampuan, tetap saja tak ada jalan keluarnya. Akhirnya, dia habis akal.

Tubuhnya pun disandarkan pada batang pohon sambil berusaha memecahkan rajanya yang terjepit. Sesekali direguknya tuak dari bumbung bambu miliknya. Lambat laun, dia merasa ngantuk. Matanya sulit dibuka kembali. Tak lama, dia pun tertidur pulas. Dengkurnya yang keras saling bersahutan dengan Ki Demong.

Penduduk yang kebetulan lewat, memandang dengan senyum pada kedua orang tua urakan yang tertidur itu. Mereka berpikir, tentu kedua tua bangka ini telah pikun. Ketika Ki Demong terbangun dari tidurnya, dilihatnya Ki Sabda Gendeng masih tertidur pulas.

“Hoi, bangun...! Bagaimana ini? Bukannya mencari jalan keluar, malahan enak-enakan tidur...! Ayo bangun kau...!” seru Ki Demong.

Sambil menggeliat malas malasan, Ki Sabda Gendeng berbalik ke arah lain dan tidur kembali. Tentu saja Ki Demong jadi kesal. Cepat matanya mencari ke sana kemari ke atas dan ke bawah. Lalu tiba-tiba tubuhnya melesat ke atas pohon dan tangannya mengambil sesuatu. Sekejapan saja dia telah berada di tempatnya semula.

Sambil menahan tawa, Pemabuk Dari Gunung Kidul menaruh benda yang baru diambil tadi di perut Ki Sabda Gendeng. Ternyata benda itu adalah sehelai daun bergulung yang dijadikan sarang semut merah. Ketika semut-semut merah mulai menggerayangi, Ki Sabda Gendeng jadi kelabakan dan berjingkrakan bagai kera menari.

“Whiiih.... Aaah.... Hadhuh, apa ini...? Wuaaa...!. Sialan semut-semut ini! Tapi, bagaimana bisa jatuh ke atas perutku...? Ini pasti perbuatan busuk si Demong...!” maki Ki Sabda Gendeng.

“Hei, Manusia Pemabukan! Di mana kau...?! Awas kalau ketemu akan kuhajar kau sampai mampus...!” teriak Ki Sabda Gendeng, seraya berlari ke arah sungai. Di kejauhan, tampak Pemabuk Dari Gunung Kidul tengah menenggak tuak merah sambil tertawa-tawa.

********************

Para penduduk Desa Langsep tahu, rumah yang halamannya dikelilingi tumbuhan obat tak lain lagi adalah rumah seorang tabib yang terkenal. Namanya, Ki Pungut. Telah lama laki-laki berusia sekitar tujuh puluh tahun itu mengasingkan diri di desa ini. Semua penduduk pun tahu kalau tabib itu sering menolong sesamanya tanpa pamrih.

Maka tak heran ketika tiga orang asing bertanya pada penduduk, langsung dapat menemukan rumah Ki Pungut. Ketiga orang berpakaian serba hitam berjalan sambil membawa sebuah bungkusan Kini mereka telah tiba di depan rumah Ki Pungut.

Tok! Tok! Tok! Pintu rumah Ki Pungut diketuk.

“Siapa di luar...? Masuk sajalah. Pintu tidak dikunci...,” sahut sebuah suara dari dalam.

Krieeett...! Dengan memperdengarkan suara berderit pintu terbuka.

“Selamat jumpa, Orang Tua. Maaf, kami mengganggu ketenangan di tempat ini...,” ucap salah satu orang asing yang ternyata bermata sipit. Dia tak lain Kenzo Matsuta.

Seraut wajah tua dengan kumis dan jenggot putih tipis menjuntai di dagu ini tersenyum. Wajah tua itu tampak bersemu merah, pertanda sehat dan hidup tanpa beban pikiran.

“Oh, tidak apa-apa.... Mengapa tidak langsung masuk...? Hm.... Apa keperluan Kisanak, barangkali aku dapat membantu...?” tanya laki-laki tua yang tak lain Ki Pungut.

“Benar! Kami sangat membutuhkan bantuanmu, Orang Tua...,” sahut Kenzo Matsuta. Sementara di sebelahnya dua laki-laki lain yang ternyata Kenzi Matsuta dan Genkuro Matsuta hanya mengangguk-angguk.

“Katakan saja terus terang. Kalau dapat, tentu aku akan membantu walau aku yakin Kisanak bukan penduduk tanah Jawa ini...,” ujar Ki Pungut, ramah. Laki-laki tua ini bisa menebak, lantaran mendengar logat bahasa yang dipakai Kenzo Matsuta.

“Itu membuktikan kalau kau berjiwa besar, Orang Tua. Itulah sebabnya, aku memberanikan diri datang ke tempat ini...,” selak Kenzo Matsuta.

“Tak perlu berbelit-belit, Kisanak. Katakan saja terus terang, apa keperluan kalian...?”

“Baiklah.... Aku telah beberapa kali menguji ilmu ketabiban yang kau miliki. Secara diam-diam, aku mengirimkan orang terluka kemari. Dan dengan mudah, kau dapat menyembuhkannya. Saat ini, aku mempunyai sebuah gerombolan yang bernama Samurai Hitam. Jumlah anggota kami sudah cukup banyak. Maka kami bermaksud mengajakmu untuk bergabung. Kujamin, kau akan hidup senang dan banyak harta. Tapi, kau tak boleh mengobati orang luar, kecuali anggota kita sendiri.... Kau boleh saja tetap tinggal di tempat ini, tapi hanya boleh mengobati orang yang membawa surat dengan tanda ‘Samurai Hitam’. Soal imbalan, kujamin tidak mengecewakanmu. Bagaimana? Apa kau setuju...?” tawar Kenzo Matsuta.

“Aku telah puluhan tahun mengasingkan diri di tempat ini. Tak pernah aku memikirkan soal urusan dunia dan harta. Siapa saja yang memerlukan bantuanku, pasti akan kubantu. Tak pernah aku memikirkan soal imbalan. Aku ingin hidup bebas, tak mau terikat gerombolan apa pun. Jadi aku terpaksa tak dapat menuruti kehendak kalian.... Banyak tabib pandai di tanah Jawa ini. Dan kalian dapat mencari yang lain...,” tolak Ki Pungut tenang dan halus.

“Orang tua! Apakah penolakan ini telah kau pikirkan masak-masak...?! Jangan sampai kau menyesal nantinya...,” sentak Kenzo Matsuta sambil mengerutkan keningnya.

“Kau bicara baik-baik pun aku tak sudi. Apalagi kasar seperti ini.... Kalian pergilah. Aku banyak pekerjaan! Apa pun yang terjadi, aku tetap menolak...!” tandas Ki Pungut, dengan nada sedikit keras.

“Sudahlah! Tidak perlu banyak bicara.... Kalau orang tua ini tak mau, biar kulenyapkan dia...!” desis Genkuro Matsuta.

Genkuro Matsuta langsung meluruk mengirimkan tendangan keras ke arah pinggang. Namun dengan lincah orang tua itu berjumpalitan menjauhkan diri. Tapi, serangan Genkuro Matsuta tidak berhenti sampai di situ. Beberapa pukulan berantai langsung mengancam keselamatan Ki Pungut.

“Haiit!” Walaupun kepandaian khususnya sebagai tabib, tetapi Ki Pungut juga menguasai ilmu olah kanuragan cukup tinggi. Sehingga, tidak mudah bagi Genkuro Matsuta untuk menjatuhkannya secepat itu.

Dengan geram Genkuro Matsuta menerang Ki Pungut, melancarkan sebuah pukulan keras. Merasa tak ada jalan untuk mengelak, Ki Pungut menahan serangan Genkuro Matsuta dengan tangannya.

Plak!

“Aaargkh...!” Tabib itu terlempar dan jatuh disertai muntahan darah dari sudut bibirnya. Namun laki-laki tua ini segera berusaha bangkit. Dan baru saja dia hendak menyerang.

Set! Set!

Beberapa buah senjata rahasia berbentuk bintang lima yang runcing pada ujungnya, mendadak meluncur dengan kecepatan kilat. Karena perhatian Ki Pungut tertuju pada Genkuro Matsuta, akibatnya....

Crap! Crap!

“Aaa...!” Senjata-senjata rahasia itu menancap pada tempat-tempat yang berbahaya di tubuh Ki Pungut hingga terpekik dan ambruk. Ternyata, pelemparnya adalah Kenzo Matsuta. Setelah berkelojotan sesaat, Ki Pungut menghembuskan napasnya yang terakhir, berkubang darahnya sendiri.

EMPAT

“Celaka...! Ki Pungut telah tewas. Entah siapa yang telah melakukan perbuatan ini...? Padahal dia tak pernah mencari musuh. Sungguh biadab orang yang melakukan perbuatan ini! Tapi kalau melihat keadaannya, perbuatan ini belum lama terjadi. Darahnya masih terasa hangat...!” sentak Ratna Jenar, ketika baru saja memasuki rumah Ki Pungut dan kembali menemui Rangga di luar.

Rangga cepat menerobos ke dalam. Segera diperiksanya mayat Ki Pungut. Dicabutnya senjata-senjata rahasia berbentuk bintang yang menancap di tubuh Ki Pungut.

“Bagaimana ini...? Berarti kau gagal untuk mendapatkan obat dari Ki Pungut, Rangga? Berarti kau akan...?” tanya Ratna Jenar, yang ikut masuk ke rumah ini lagi. Kata-katanya terpenggal begitu saja. Dia memandang lesu ke arah Rangga.

“Berarti aku akan menemui kematian, begitu...? Kau tak perlu khawatir, Ratna. Segalanya telah diatur Hyang Widhi.... Kalau memang itu kehendaknya, kita dapat berbuat apa...?! Sudahlah.... Soal diriku tak perlu dirisaukan. Sekarang yang penting menguburkan Ki Pungut sebagaimana mestinya...,” ujar Rangga, tenang.

Pendekar Rajawali Sakti segera membopong mayat Ki Pungut, langsung menuju belakang rumahnya. Ratna Jenar mengikuti dari belakang. Setelah menyerahkan mayat laki-laki tua itu pada Ratna Jenar, Rangga segera membuat kuda-kuda. Tiba-tiba tangannya menghentak ke depan. Dan....

Blarrr...!

Disertai ledakan keras, tercipta sebuah lubang cukup dalam. Pas untuk sebuah makam. Ratna Jenar lantas meletakkan mayat di dalam lubang. Dan bersama Rangga, dia menguruk kembali lubang itu. Setelah memberi penghormatan yang terakhir, kedua anak muda ini masuk ke dalam rumah.

Mereka segera mencari petunjuk dari kitab ataupun tulisan mengenai pengobatan. Tetapi yang dicari tak ada. Dan dengan daun obat yang banyak terdapat di tempat Ki Pungut, Rangga meracik membuat obat berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.

Pendekar Rajawali Sakti tinggal di tempat Ki Pungut selama sepekan. Selama berada di tempat itu, Ratna Jenar melayani dan merawatnya dengan telaten. Rupanya, secara diam-diam, gadis cantik ini telah jatuh hati pada Rangga. Pendekar Rajawali Sakti bukannya tidak tahu masalahnya, justru hal inilah yang dikawatirkan. Dia takut gadis itu akan kecewa dan berbalik membencinya, setelah tahu kalau ada Pandan Wangi di sisinya.

Untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, Pendekar Rajawali Sakti pergi secara diam-diam ketika Ratna Jenar tertidur. Tubuhnya berkelebat cepat, saat hari menjelang pagi. Ketika telah cukup jauh dari rumah Ki Pungut, Pendekar Rajawali Sakti berjalan biasa. Walau kelihatannya gembira, di benak Rangga berkecamuk berbagai pertanyaan....

“Siapa orang yang telah melakukan pembunuhan terhadap Ki Pungut yang tidak punya musuh itu...?”

Persoalan yang kelihatan sepele ternyata tidak semudah itu untuk mendapatkan jawabannya. Rangga terus mencari tahu, siapa pelaku pembunuhan itu. Kini, Pendekar Rajawali Sakti telah pasrah. Apa pun yang akan terjadi pada dirinya, dia akan menerima dengan dada lapang.

Pendekar Rajawali Sakti terus berkelebat cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah sangat tinggi. Kendati dia masih terluka dalam, namun semua itu tak dipikirkannya, justru yang jadi beban pikirannya saat ini adalah kejadian-kejadian yang menimpa dunia persilatan.

Sebelumnya waktu berjalan bersama Ratna Jenar, Rangga telah mendengar beberapa kejadian mengenaskan. Dia mendengar, banyak penduduk tewas dengan tubuh mengering kehabisan darah setelah tertancap panah. Rangga juga mendengar adanya gerombolan yang dipimpin tiga orang asing dari negeri Matahari Terbit. Konon, gerombolan itulah yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan. Bahkan tak hanya itu yang dilakukan gerombolan ini. Mereka juga melakukan perampokan dan pemerkosaan.

Inilah yang membuat Pendekar Rajawali Sakti tak ingin mementingkan dirinya sendiri. Dia lebih mementingkan keselamatan penduduk yang tak berdosa. Tepat ketika memasuki Desa Walatika, Pendekar Rajawali Sakti menghentikan lesatannya. Kali ini dia kembali menemukan banyak penduduk terbantai dalam keadaan mengenaskan saling tumpang tindih tak tentu arah.

“Hmm.... Mungkinkah ini perbuatan gerombolan yang akhir-akhir ini sering jadi buah bibir...?” gumam Pendekar Rajawali Sakti. Tak ada waktu buat Rangga untuk menguburkan mayat-mayat itu. Dia kembali berlalu dengan wajah diliputi kegeraman dan kesedihan.

“Oh.... Mengapa kebiadaban tak pernah menghilang dari muka bumi ini...?” desah Rangga, perlahan.

Ketika melewati tempat yang banyak ditumbuhi pohon besar, telinga Pendekar Rajawali Sakti yang terlatih mendengar banyak langkah lunak mengikuti dari jarak tertentu. Kalau mau, dapat saja Rangga berkelebat kembali meninggalkan mereka. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti justru ingin mengetahui, siapa dan apa mau mereka mengikutinya sejak tadi.

Pendekar Rajawali Sakti melangkah perlahan-lahan dengan sikap tenang. Dan baru saja melewati sebuah tikungan, tujuh orang berloncatan, langsung menghadang di tengah jalan. Rata-rata mereka memiliki gerakan gesit dengan senjata golok.

“Berhenti...!"

Pendekar Rajawali Sakti menghentikan langkahnya. Matanya tajam beredar ke sekeliling. “Siapakah kalian, Kisanak semua? Ada keperluan apa sampai menghadang perjalananku...?!” tanya Rangga, kalem.

“Keperluanku hendak mengajakmu bergabung dengan kami dalam Gerombolan Samurai Hitam...,” jelas seorang yang bertubuh tinggi besar. Agaknya, dia menjadi pemimpin. “Karena kami tahu, kau pasti seorang pendekar.”

“Gerombolan Samurai Hitam...? Gerombolan apa itu? Dan, siapa yang menjadi pemimpinnya...?!” tanya Pendekar Rajawali Sakti.

“Gerombolan kami dipimpin tiga orang dari Negeri Matahari Terbit. Menurutlah, Kisanak. Kau di sana nanti akan mendapat kemulyaan dan harta berlimpah. Bahkan pula akan memperoleh tambahan didikan dalam ilmu olah kanuragan tingkat tinggi. Kurasa hanya orang bodohlah yang tidak mau hidup enak, dan disegani dalam dunia persilatan...,” tandas laki-laki tinggi besar ini.

“Hm.... Jadi pemimpin kalian tiga orang dari negeri Matahari Terbit. Ada urusan apa mereka datang ke tanah Jawa ini? Lagi pula, mengapa harus mereka yang menjadi pemimpin gerombolan di sini...?!” Rangga balik bertanya.

“Kau terlalu banyak bicara, Kisanak...! Kalau tak mau, kau akan menyesal seumur hidup. Karena tak ada orang yang berbahagia setelah menjadi mayat di tangan Rekso Menggolo!” ancam laki-laki tinggi besar bernama Rekso Menggolo.

Mendengar ancaman ini, Rangga tersenyum kecut. “Lebih baik kalian yang menghindari orang-orang itu. Dan terus terang, aku sendiri menolak masuk gerombolan kalian.... Kalau mau main kekerasan itu artinya kalian memaksaku...,” sahut Rangga, kalem.

“Bangsat! Kalau begitu mampuslah kau...!

Disertai teriakan keras, Rekso Menggolo mengirimkan sebuah sabetan dengan sisi telapak tangan pada leher Rangga. Namun hanya menunduk sedikit, serangan itu lewat, beberapa jari di atas kepala Rangga. Bahkan sekali menggerakkan tangan, Rangga berhasil mencengkeram tangan Rekso Menggolo kuat-kuat. Begitu tangan itu disentakkan, Rangga mengaet kaki laki-laki tinggi besar itu.

Tak! Bruk!

Tak ampun lagi, Rekso Menggolo jatuh mencium tanah. Melihat pemimpinnya dapat dijatuhkan begitu saja, yang lain segera ikut menyerang. Namun dengan gerakan cepat bagai kilat, tubuh Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat dengan tangan melepaskan serangan balasan. Ternyata para pengeroyoknya hanya memiliki kepandaian biasa saja. Tak heran bila dalam waktu singkat, ketujuh penyerang dapat dibuat terjungkal.

Blug! Blug!

Mereka berjatuhan dalam keadaan tertotok dan tak dapat bergerak lagi. Kemudian Pendekar Rajawali Sakti mendekati Rekso Menggolo. Dengan kakinya, ditekannya leher laki-laki tinggi besar itu.

“Jawablah pertanyaanku! Apakah semua pembunuhan yang mengerikan dengan tubuh kering tak berdarah itu hasil perbuatan para pemimpin kalian...?!”

“Aku tidak tahu! Sungguh aku tak tahu.... Walau kau bunuh aku sekalipun, tetap aku tidak tahu...!” tandas Rekso Menggolo, gemetar.

“Baiklah kalau kalian ingin mati.... Rasakanlah ini...!” ujar Rangga sambil menekan kakinya disertai tenaga dalam ke dada Rekso Menggolo.

“Aaakh...! Wuaaaeee.... Ampuuunn...! Aduuuhh sakiiitt.... Baiklah, akan kukatakan.... Lepaskanlah tekanan kakimu. Sakhiiitt...!” teriak Rekso Menggolo, terdengar sangat menderita dan memilukan.

Mendengar rintihan itu cepat Rangga mengendorkan tekanan kakinya yang menimbulkan rasa sakit tak terhingga. “Nah, katakanlah.... Benarkah segala yang kutanyakan tadi...?!” tanya Rangga, halus.

“Ya, benar.... Semua korban itu hasil kerja ketiga laki-laki asing itu. Tapi, aku tak tahu dengan cara apa mereka melakukan semua itu...?” jelas laki-laki tinggi besar dengan napas memburu.

“Benar kau tak tahu...?” desak Rangga dengan wajah mengeras.

“Aku berkata sejujurnya. Kali ini, walau kau siksa, aku tak dapat berbicara lain....”

“Baiklah kalau begitu. Sebentar lagi totokan kalian akan terbebas dengan sendirinya.... aku pergi dulu...!” kata Rangga.

Kemudian Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat meninggalkan para pengeroyoknya. Sebentar saja, tubuhnya telah menghilang dari pandangan mata.

Rekso Menggolo dan kawan-kawannya mulai dapat bangkit, karena totokan pada tubuh mereka telah terlepas. Namun, para anak buah Rekso Menggolo malah memandang dengan sinar mata tak suka. Kemudian....

“Ada apa...? Kenapa memandangku dengan cara itu...?!” tanya Rekso Menggolo.

“Mengapa mengatakan rahasia pemimpin kita pada orang luar...? Bukankah hal itu dapat mencelakakan diri kita sendiri...?!” tanya salah seorang.

Rekso Menggolo tersentak mundur dengan wajah pucat. “Membahayakan kita sendiri? Apa maksudmu...?!” tukas Rekso Menggolo dengan nada tersendat.

“Kalau Ketua tahu, tentu kita yang akan dibunuh semua tanpa kecuali...!”

“Ketua tak akan tahu kalau bukan kita sendiri yang mengatakannya...!” desis laki-laki tinggi besar ini sambil menyabetkan senjatanya.

Wuutt...! Crasss...!

“Aaa...!” Karena tak menyangka, orang yang berbicara tadi terbabat perutnya sampai ususnya terburai keluar.

“Kau.... Kau benar-benar biadab, Rekso! Keparat..! Aaakh..!” Orang itu tidak dapat meneruskan kata-katanya lagi, karena jiwanya keburu meninggalkan raga.

“Nah! Yang berpihak padanya, silakan memisahkan diri!” kata Rekso Menggolo sambil memandangi sisa anak buahnya.

Ternyata ada tiga orang yang memisahkan diri. Sedangkan yang dua orang lagi berpihak pada Rekso Menggolo. Kedua kelompok yang terpecah dua ini saling berpandangan tajam. Lalu tanpa diberi aba-aba lagi, mereka saling terjang dengan sengit.

“Haiiit!”

“Sheaaat!”

Trang! Tring!

Beradunya senjata tajam terdengar nyata. Sepuluh jurus kemudian, tiga orang yang membangkang telah terdesak hebat Lalu...

Cras! Cras!

“Aaa...!” Beberapa jurus berikutnya, tiga orang itu binasa berserakan di tanah berkubang darahnya sendiri. Sementara Rekso Menggolo dan kedua anak buahnya mengawasi dengan pandangan puas.

“Mari kita tinggalkan mereka...,” ajak Rekso Menggolo sambil melangkah pergi.

Kedua anak buah laki-laki tinggi besar itu segera mengikuti dari belakang. Tetapi secara tak terduga, Rekso Menggolo berbalik seraya membabatkan goloknya.

Cras! Crasss!

“Wuaaakh...!” Dengan menekap perut masing-masing, kedua laki-laki itu menatap Rekso Menggolo dengan sinar mata marah dan kebencian luar biasa. Dan tiba-tiba mereka berusaha menerjang dengan sisa tenaga yang terakhir. Tetapi, sebelum maksud mereka tercapai, kedua laki-laki itu telah ambruk tanpa bernyawa lagi.

Sambil tertawa terbahak-bahak, Rekso Menggolo berlalu dari tempat itu. Rekso Menggolo langsung menghadap Ketua Gerombolan Samurai Hitam. Diceritakannya segala apa yang dialami. Namun dengan wajah tetap dingin, Kenzo Matsuta yang memimpin gerombolan ini mendengarkan semua penuturan anak buahnya.

“Kalau mereka binasa semua, mengapa kau sendiri berhasil kembali ke tempat ini...?!” Tanya Kenzo Matsuta.

“Aku berusaha menyelamatkan diri agar dapat melaporkan kepada Ketua....”

“Bagus! Bagaimana ciri-ciri pendekar itu...?” tanya Kenzo Matsuta lagi.

Rekso Menggolo menceritakan kembali ciri-ciri pemuda berbaju rompi putih yang berhasil menaklukkan mereka.

“Kalau begitu, dia pasti pendekar berkepandaian tinggi. Hm.... Kita harus berhati-hati berhadapan dengannya. Mungkinkah dia yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti...?” Begitu kata-katanya selesai, mendadak tangan Kenzo Matsuta terayun. Seketika selarik sinar putih menerjang dengan kecepatan luar biasa. Lalu....

Crep!

“Aaakh,..!” Rekso Menggolo kontan roboh ketika keningnya tertancap senjata rahasia bintang bersegi lima yang runcing pada ujungnya. Setelah mengeluarkan erangan keras, dia menghembuskan napas terakhir. Kepalanya digenangi darah dari lukanya.

“Buang mayatnya ke dalam hutan!” perintah Kenzo Matsuta.

Beberapa orang langsung bergerak, mengangkat mayat Rekso Menggolo keluar ruangan ini.

“Kak Kenzo! Apa tindakan kita selanjutnya...?” tanya Kenzi Matsuta, ketika di ruangan ini tinggal Kenzo Matsuta, Gengkuro Matsuta, dan Kenzi Matsuta.

“Apakah kini sudah saatnya kita menggempur para padepokan dan memaksa mereka bergabung dengan kita...? Kurasa, pihak Kerajaan Sekarwangi tidak menyangka kalau ada kekuatan dari luar yang akan mengadakan penyerbuan.... Kalau berhasil, kita akan menjadi raja di tanah Jawa ini ... Dan kau akan menjadi seorang raja terkenal...,” ujar Genkuro Matsuta.

“Kau benar juga, Genkuro.... Dengan Patung Kelelawar Setan di tanganku, aku tak takut pada siapa pun di muka bumi ini...! Mari! Kurasa saatnya telah tiba...!” seru Kenzo Matsuta.

Memang Kenzo Matsuta dan dua adiknya kini telah mempersiapkan segala sesuatunya. Apalagi sejak memegang patung yang belakangan diketahui bernama Patung Kelelawar Setan. Sejak mendapatkan patung itu, Kenzo Matsuta selama tujuh malam selalu bermimpi didatangi seorang laki-laki berwajah menyeramkan seperti kelelawar. Dalam mimpi, makhluk aneh itu mengaku berjuluk Iblis Kelelawar yang pernah hidup seratus tahun yang lalu.

Begitu saktinya Iblis Kelelawar, hingga kehadirannya benar-benar menjadi momok bagi orang persilatan. Untung waktu itu ada seorang tokoh sakti pula yang menjadi tandingannya. Tokoh sakti itu bergelar Pendekar Rajawali. Iblis Kelelawar berhasil ditewaskan oleh Pendekar Rajawali. Namun, dendamnya tetap akan bersemayam pada tokoh-tokoh berhati telengas.

Begitu berhasil ditewaskan, arwah Iblis Kelelawar kembali ke sebuah sumur di Hutan Karimun bersama Patung Kelelawar Setan yang menjadi senjata anehnya. Sebelum tewas, Iblis Kelelawar bersumpah akan menitis kepada orang berhati culas yang berhasil menyentuh patungnya.

Selama seratus tahun itu, memang tak seorang tokoh pun yang berhasil menemukan Patung Kelelawar Setan. Selain tempatnya yang tersembunyi, kisah patung ini sendiri hanya dianggap dongeng saja. Sehingga entah kenapa, tak satu tokoh pun yang tertarik dengan cerita itu. Sampai akhirnya, Kenzo Matsuta berhasil mendapatkan Patung Kelelawar Setan.

Kini Kenzo Matsuta telah banyak memiliki pengikut. Hebatnya mereka rata-rata berkepandaian cukup tinggi. Dengan bekal ini dia berhasrat menaklukkan padepokan silat yang banyak terdapat di tanah Jawa ini. Baru kemudian menaklukkan Kerajaan Sekarwangi. Memang Hutan Karimun termasuk wilayah kerajaan itu.

********************

LIMA

Pagi menyapa ramah penduduk Desa Sapuangin, sebelah selatan Hutan Karimun. Matahari pagi membangkitkan semangat kerja para penduduk. Tak urung juga yang terjadi di padepokan yang hanya ada satu-satunya di desa ini. Padepokan Sriti Ungu. Sebuah padepokan yang terkenal menghasilkan pendekar-pendekar digdaya, di bawah bimbingan Ki Darba Sana.

Para murid padepokan pagi ini bahu-membahu bercocok tanam di ladang di depan padepokan. Ini biasa dilakukan, setelah sejak pagi buta tadi mereka berlatih ilmu olah kanuragan. Namun keasyikan kerja mereka terpenggal oleh....

“Ha ha ha...!” Tiba-tiba terdengar suara tawa berkepanjangan disertai pengerahan tenaga dalam.

Serentak murid-murid Padepokan Sriti Ungu menghentikan segala kegiatannya. Mereka memandang ke segala penjuru karena suara itu datangnya bagai dari segala arah. Dada mereka sempat terguncang, oleh suara yang mengandung kekuatan tenaga dalam itu.

“Heh...?! Siapakah suara tawa iblis itu...?! Cepat keluar! Jangan bertindak pengecut!” teriak salah seorang murid. Tetapi, sebelum mendapat jawaban yang diharapkan....

Set! Set!

Mendadak meluruk beberapa sinar keperakan dengan kecepatan tinggi ke arah murid-murid itu. Lalu...

Crep! Crep! Crep!

“Aaa...!” Beberapa teriakan kematian kontan terdengar menggema di tempat itu. Dan tubuh-tubuh tanpa nyawa pun berjatuhan tanpa sempat memberi perlawanan sedikit pun. Sisanya yang berjumlah sembilan orang mempersiapkan diri dengan senjata arit, cangkul, atau golok. Baru saja mereka bersiap, berkelebat sesosok bayangan hitam, dan mendarat di tengah ladang yang baru saja ditanam.

Belum lama orang yang ternyata laki-laki bermata sipit dan berpakaian longgar warna hitam itu muncul, dari atas pohon berlompatan sepuluh orang berpakaian serba hitam dalam keadaan siap siaga.

“Ha ha ha...! Itulah sarapan pagi untuk kalian...!” seru sosok laki-laki bermata sipit yang baru muncul.

“Siapakah kalian...? Apa salah kami, sehingga sampai hati kalian berbuat sekeji ini...?!” bentak salah seorang murid.

“Akulah Ketua Gerombolan Samurai Hitam. Namaku Kenzo Matsuta. Siapa yang ingin selamat, harap bergabung dengan kami. Bila menentang, nyawa taruhannya...! Nah...! Kuberi kalian waktu untuk berpikir sejenak...,” sahut laki-laki bermata sipit yang ternyata Kenzo Matsuta.

“Tidak perlu dipikirkan lagi! Kami lebih suka mati daripada masuk ke dalam genggaman iblis...!” desis murid-murid Padepokan Sriti Ungu sambil mengangkat senjata tinggi-tinggi.

“Bagus...! Sebenarnya aku segan berurusan dengan kalian. Tetapi, kalian yang memaksa. Jangan salahkan aku...!”

Begitu kata-katanya usai, Kenzo Matsuta langsung memberi aba-aba. Seketika pertarungan terbuka segera terjadi. Namun karena sepuluh anak buah berkepandaian lebih tinggi. Para murid padepokan itu sebentar saja sudah terdesak. Belum lagi, tindakan Kenzo Matsuta sendiri yang kelewat kejam. Dengan gerakan tubuhnya yang lincah, laki-laki dari negeri Matahari Terbit ini mengibas-ngibaskan samurainya yang telah tercabut begitu cepat.

Cras! Cras!

“Aaa...!” Terdengar pekikan menyayat disertai tubuh yang terhuyung-huyung tersambar samurai. Para murid Padepokan Sriti Ungu satu persatu ambruk dengan nyawa melayang. Maka dalam waktu sekejap saja, yang tersisa hanya tinggal seorang.

“Iblis keparat..! Hayo cepat bunuh aku! Apa kau kira kami takut mati...?!” dengus seorang murid dengan wajah agak pucat.

“Tolol...! Kalau mau kau pun sudah menjadi mayat di sini. Tapi, sengaja kau kubiarkan hidup untuk memberi laporan pada Ketua Padepokan Sriti Ungu. Katakan! Ketua Gerombolan Samurai Hitam akan datang bertamu. Kuharap, dia tidak berbuat yang tidak-tidak. Atau padepokan ini akan kubumi-hanguskan seperti padepokan yang lain...,” bentak Kenzo Matsuta.

Tanpa menjawab lagi, murid itu berlari menuju ke bangunan padepokan yang terletak lima puluh tombak dari ladang.

“Kakang Baksara! Apa yang telah terjadi...?” tanya seorang murid Padepokan Sriti Ungu ketika melihat seorang pemuda yang merupakan kakak seperguruannya memasuki halaman padepokan.

“Awas.... Bersiaplah! Gerombolan Samurai Hitam telah membunuhi saudara kita.... Aku akan langsung menghadap Guru...!” seru pemuda bernama Baskara.

Saat itu juga, murid yang bertanya tadi segera memberitahukan pada saudara-saudara seperguruannya untuk cepat mempersiapkan diri. Mereka semua segera berkumpul untuk menghadang Gerombolan Samurai Hitam yang sedang menuju ke bangunan padepokan.

Brakkk...! Baru saja mereka mempersiapkan diri, pintu gerbang padepokan telah terbuka lebar. Saat itu juga, bermunculan orang-orang berpakaian serba hitam. Paling depan tampak berdiri seorang laki-laki bermata sipit. Rambutnya dikuncir ekor kuda. Pakaiannya serba hitam pula, namun berlengan longgar. Dia tak lain dari Kenzo Matsuta.

“Ha ha ha.... Rupanya kedatangan kami telah disambut dengan begitu bersemangat. Kuucapkan terima kasih atas semua ini...,” ujar Kenzo Matsuta, setengah mengejek.

Merasa mereka dihina secara halus, kemarahan para murid Padepokan Sriti Ungu memuncak. Serentak mereka menerjang, menggunakan senjata masing-masing. Tetapi, serbuan itu disambut sepuluh pengikut Kenzo Matsuta. Pertarungan pun tak terelakan lagi. Mereka saling terjang tanpa memikirkan keselamatan masing-masing.

“Hiyaaat!” “Sheaaa...!”

Trang! Trang!

Jerit pekik kesakitan ditingkahi teriakan pembangkit semangat pertarungan terdengar saling sambut. Itu pun masih ditambah oleh denting senjata beradu. Namun biar bagaimanapun, pihak penyerbu terdiri dari kaum sesat yang memilik kepandaian tinggi. Mereka banyak melakukan pembunuhan tanpa perasaan lagi. Hal itu membuat para murid Padepokan Sriti Ungu jadi terdesak hebat. Pada saat yang gawat...

“Berhenti...!” Mendadak terdengar bentakan keras menggelegar, membuat pertarungan berhenti sejenak.

Semua mata langsung terarah pada asal suara bentakan tadi. Dari pintu tampak berjalan seorang laki-laki berjubah ungu, berusia sekitar enam puluh lima tahun, diikuti beberapa murid Padepokan Sriti Ungu. Laki-laki tua yang tak lain Ki Darba Sana ini langsung menatap tajam Kenzo Matsuta. Pada saat yang sama, laki-laki bermata sipit itu pun tengah menatap Ki Darba Sana. Mata mereka saling terkam, seperti hendak mengukur kekuatan satu sama lain.

“Hm...! Aku telah mendengar dari muridku. Maksud kedatanganmu tak mungkin dapat kuturuti. Kami di sini mempunyai aturan dan jalan yang berbeda! Kau terlalu kejam dalam bertindak. Kau harus menerima hukuman dariku...!” desis Ki Darba Sana, Ketua Padepokan Sriti Untu.

“Apakah penolakan ini telah kau pikirkan masak-masak...?” tanya Kenzo Matsuta dengan pandangan tajam.

“Segala ucapan yang keluar tak akan kutarik kembali...!” dengus Ki Darba Sana.

Kenzo Matsuta mengawasi mereka sejenak. Namun secara diam-diam, dia memberi isyarat pada sepuluh pengikutnya.

“Bagus...! Itu baru seorang ketua yang patut disegani. Aku mengagumi sifat pemberani dan ksatria. Mari kita bertarung sebagai seorang ksatria pula...!” puji Kenzo Matsuta sambil memasang kuda-kuda.

Begitu ucapannya selesai, para pengikut Gerombolan Samurai Hitam menerjang bagaikan gajah liar tengah murka.

Kembali pertarungan terjadi. Mereka yang telah dirasuki nafsu membunuh, tak mau peduli dengan keselamatan diri lagi. Suara denting senjata tajam bertemu, terdengar memekakkan telinga. Begitu juga teriakan kesakitan dan teriakan pembangkit pertarungan.

Sret! Bret!

“Aaakh...!” Entah, sudah berapa orang murid Padepokan Sriti Ungu yang berjatuhan tewas. Namun itu tak membuat semangat para murid menjadi kendor. Mereka terus mengadakan perlawanan sampai titik darah yang penghabisan.

Cras! Cras! “Aaa...!

Korban semakin banyak berjatuhan. Ki Darba Sana melihat semua itu dengan perasaan sedih. Akibatnya, dia jadi mengamuk dengan senjata payung peraknya yang terkenal. Suara sambaran payungnya terdengar menderu-deru, menyakitkan telinga.

Mendapat serangan ini, Kenzo Matsuta terpaksa main mundur. Dia berjumpalitan ke belakang untuk mengambil jarak. Hal ini dapat dimaklumi, sebab bila musuh berlindung di balik payungnya yang dikembangkan, laki-laki bermata sipit itu tak dapat melihat gerakan lawan. Dia tidak berani sembrono. Karena salah sedikit saja, nyawa taruhannya.

Begitu mendapat peluang Kenzo Matsuta mengadakan serangan balasan dengan menggunakan samurainya. Beberapa jurus andalannya mengancam leher dan perut Ki Darba Sana.

“Haet...!”

Trang!

Cepat Ki Darba Sana membuka payungnya kembali dan memutar-mutamya bagaikan baling-baling. Gerakan samurai itu mau tak mau tertahan oleh payung. Dan begitu payung ditutup kembali, ujungnya yang tajam disodokkan ke perut Kenzo Matsuta.

“Uts...!” Cepat bagai kilat, tokoh dari negeri Matahari Terbit yang tangguh itu menggulingkan tubuhnya ke tanah. Sambil bergulingan, pedang samurainya dibabatkan berkali-kali ke kaki.

“Hup!” Terpaksa Ki Darba Sana berloncatan untuk menghindari serangan.

Mendadak, Kenzo Matsuta melenting bangkit tanpa menghentikan serangan samurainya.

“Uts...!” Terpaksa Ketua Padepokan Sriti Ungu berjumpalitan ke udara untuk menjauhi lawan tangguh yang berbahaya itu. Namun begitu kakinya menyentuh tanah, tiga buah sinar keperakan meluncur ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Cepat Ki Darba Sana menggerakkan payungnya menyampok tiga sinar keperakan yang ternyata senjata rahasia berbentuk bintang segi lima.

Trak! Tring!

Senjata-senjata rahasia itu dapat disampok jatuh. Tapi pada saat yang sama, sebuah tendangan tak terduga telah meluruk dahsyat. Sehingga....

Desss...!

“Aaakh...!” Sambil berteriak tertahan, Ki Darba Sana jatuh telentang ketika satu tendangan Kenzo Matsuta mendarat di dadanya. Napasnya terasa sesak. Dan dari sudut bibirnya mengucurkan darah. Sambil terbatuk-batuk, orang tua itu meronta bangun. Pada sat itulah laki-laki bermata sipit itu berkelebat dengan sabetan samurainya.

Cras! Crasss...!

“Aaakh...!” Kedua tangan Ketua Padepokan Sriti Ungu tertebas putus. Lengan dan senjata payung terjatuh ke tanah. Ki Darba Sana menggigit bibir menahan sakit.

“Murid-muridku...! Pergilah dari sini...! Tinggalkan aku sendiri. Dan, jangan kembali lagi ke tempat ini...!” teriak Ki Darba Sana.

Melihat keadaan gurunya, tentu saja mereka tidak ada yang mau menuruti perintahnya. “Guru...! Kalau kita harus hancur, biarlah hancur bersama! Tak mungkin kami meninggalkan Guru dalam keadaan seperti itu.... Mari saudara-saudaraku. Kita hancurkan iblis penyebar petaka itu...!” teriak Baskara yang disambut gegap gempita para murid padepokan. Betapa terharunya hati Ki Darba Sana melihat kesetiaan murid-muridnya.

“Ha ha ha...! Kalau begitu, mampuslah kalian...!” teriak Kenzo Matsuta sambil membabatkan samurainya ke perut Ki Darba Sana yang hanya pasrah menunggu nasib.

Brebet!

“Heegkh...!” Ki Darba Sana jatuh dengan perut terbuka. Ususnya keluar dari tempatnya. Setelah berkelojotan sejenak, tubuhnya diam untuk selamanya.

Sementara anak muridnya terus menyerang tanpa memikirkan keselamatan diri lagi. Tetapi, mereka hanya mengorbankan nyawa sia-sia. Pembantaian besar-besaran segera terjadi. Dalam waktu singkat mayat tampak berserakan di tempat itu.

Kenzo Matsuta dan sepuluh anak buahnya kembali ke markas mereka di Hutan Karimun. Namun mereka menjadi terkejut ketika melihat di tengah jalan terjadi pertarungan sengit antara dua orang laki-laki tua yang masing-masing berpakaian hitam dan berpakaian putih, melawan dua orang berpakaian serba hitam-hitam.

Kenzo Matsuta tahu, dua laki-laki berpakaian hitam-hitam adalah adik-adik kandungnya sendiri. Tapi siapa dua laki-laki tua yang menjadi lawan mereka? Adik Kenzo Matsuta yang bernama Genkuro Matsuta, bertarung melawan laki-laki tua yang bersenjatakan guci berisi tuak merah. Sesekali tuak itu menyembur dari mulut laki-laki tua yang tak lain Ki Demong alias Pemabuk Dari Gunung Kidul.

Genkuro Matsuta mundur, menghindari terjangan tuak merah yang disertai api membara. Namun serangan Ki Demong seperti tak ada habisnya. Tendangan dan pukulan guci tuaknya siap mengancam keselamatan laki-laki berkumis tipis itu.

“Haiiit...!” “Yeaaa...!” Cepat Genkuro mencabut samurai, berusaha menahan serangan yang datangnya bagaikan hujan angin.

Menghadapi gerakan Ki Demong yang kacau balau, Genkuro Matsuta tak dapat berbuat banyak. Sementara, Pemabuk Dari Gunung Kidul sendiri mengakui kalau kepandaian lelaki sipit berkumis tipis itu sangat tinggi dan tak mudah untuk dikalahkan. Sengaja dikeluarkannya jurus yang seperti tak terkendali dan kacau gerakannya. Sehingga, Genkuro Matsuta jadi benar-benar terdesak.

“Bedebah...! Ilmu bela diri macam apa ini...? Mengapa gerakannya seperti orang gila begini...?!” umpat Genkuro sambil terus bertahan dengan samurainya.

“Hei..., hei...! Jangan berputar-putar terus! Ayo, mana jurus andalanmu...? Wheei.... Bagian bawahmu tak terjaga, tuh! Biar kusembur saja dengan ini.... Fruhh...!” Ki Demong terus mengejek sambil menyerang. Tuak merah yang disertai api, menyambar ke arah daerah terlarang Genkuro Matsuta.

“Uts. !” Dengan kalang kabut, laki-laki berkumis tipis itu menjatuhkan diri bergulingan di tanah.

Sementara itu, Ki Sabda Gendeng yang bersenjata tongkat hitam sedang bertarung sengit dengan Kenzi Matsuta yang bersenjata samurai.

“Haiiit!”

Trak! Tring!

Berkali-kali, senjata mereka bertemu. Selama itu pula, tangan mereka bergetar. Gerakan Kenzi Matsuta yang kadang-kadang diam dan bergerak cepat, sangat membingungkan Ki Sabda Gendeng. Terpaksa dikeluarkannya jurus ‘Seribu Ular Keluar Kandang’ yang memiliki gerakan cepat luar biasa. Ujung tongkatnya seketika berubah banyak menggeletar, mengancam setiap jalan darah di tubuh Kenzi Matsuta.

“Eiitt!” Secara tiba-tiba, tubuh Kenzi Matsuta melenting ke udara dan terus berjumpalitan ke belakang menjauhi Ki Sabda Gendeng. Namun, orang tua itu terus memburu. Setiap kali Kenzi Matsuta menyentuh tanah, sebanyak itu pula ujung tongkat mengancam tenggorokannya. Lama kelamaan, laki-laki sipit penuh brewok jadi semakin terdesak.

Melihat atasannya terdesak, sepuluh anak buah Kenzo Matsuta ikut meluruk menyerang Ki Demong. Tetapi dengan konyol Pemabuk Dari Gunung Kidul menyemburkan tuak berapinya pada selangkangan mereka.

“Fruuhhh...!”

“Aaa...!” Tak ampun lagi, mereka berjingkrakan dan bergulingan dalam usaha memadamkan api yang membakar pakaian dan tubuh.

Sedangkan Ki Sabda Gendeng terus mendesak Kenzi Matsuta. Pada saat yang gawat bagi Kenzi Matsuta....

“Mundur, Kenzi...!” Terdengar teriakan keras yang disusul melayangnya sesosok tubuh. Langsung ditahannya serangan Ki Sabda Gendeng.

Plak...!

Ki Sabda Gendeng tergetar ke belakang sejauh lima langkah. Sementara, sosok yang menahan serangannya tertolak balik tiga langkah. Kini tampak jelas, siapa yang membantu Kenzi Matsuta. Dia tak lain Kenzo Matsuta. Belum sempat Ki Sabda Gendeng bersiap kembali, secara tak terduga sebuah tendangan terbang yang dilakukan Kenzo Matsuta telah menghantam dadanya.

Duk!

“Aaakh...!” Gerakan itu disusul sebuah totokan di iga, ketika Ki Sabda Gendeng terhuyung-huyung.

Tuk!

Kontan Ki Sabda Gendeng Ambruk tak dapat bergerak kembali, begitu berhasil ditotok. Sehingga, kini keadaannya bagaikan patung batu. Hanya matanya saja yang kelihatan menyiratkan kemarahannya.

Ki Demong melihat kawannya kena tertangkap, segera membuat lentingan ke belakang, lalu melarikan diri.

********************

ENAM

Ke mana Pendekar Rajawali Sakti selama ini? Padahal, dunia persilatan benar-benar membutuhkannya untuk menumpas Gerombolan Samurai Hitam! Memang tak ada yang tahu kalau saat ini Pendekar Rajawali Sakti tengah berusaha mengobati luka dalamnya akibat bertarung tenaga dalam dengan seorang gadis bernama Ratna Jenar. Padahal sebelumnya, Rangga tengah terluka dalam setelah bertarung melawan Dwi Gata Bayu, seorang tokoh sesat murid dari si Mata Iblis. (Baca episode Pedang Kilat Buana).

Dan berkat Rajawali Putihnya, Pendekar Rajawali Sakti kini telah berada di Lembah Bangkai. Sebuah lembah tempat Rangga dibesarkan, sekaligus dibimbing dan diasuh oleh rajawali raksasa tunggangannya. Bahkan di tempat ini pula Rangga mendapat gemblengan berupa ilmu-ilmu olah kanuragan dan kedigdayaan lainnya.

Pendekar Rajawali Sakti langsung mendatangi sebuah tempat yang terdapat bangunan bercungkup. Di sinilah dia duduk bersimpuh seperti bertafakur, di depan bangunan kecil yang tak lain adalah makam gurunya, Pendekar Rajawali. Rangga masih menundukkan kepala ketika dari permukaan makam keluar asap putih. Dan di antara asap, tampak sebuah bayangan putih bersih berwajah tampan.

“Rangga, bangunlah...,” ujar sosok bayangan itu.

“Oh, Eyang Guru.... Terimalah salam hormatku,” sentak Rangga mendongak sambil merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung, ke arah sosok yang tak lain arwah Pendekar Rajawali.

“Aku tahu maksudmu datang ke sini. Kau saat ini tengah terluka dalam. Tapi kau harus menghadapi sebuah gerombolan yang dikenal sebagai Gerombolan Samurai Hitam...,” tebak Pendekar Rajawali.

“Benar, Eyang. Tapi luka dalamku ini, rasanya sulit disembuhkan...,” desah Pendekar Rajawali Sakti.

“Hm.... Tak sepantasnya kau sebagai pendekar mengeluh soal luka dalam....”

“Ampun, Eyang. Kali ini aku sepertinya sudah pasrah. Tapi....”

“Cukup!”

Kata-kata Pendekar Rajawali Sakti terpenggal. Dia hanya kembali merapatkan kedua tangan di depan hidung.

“Soal luka dalammu sebenarnya hanya masalah sepele. Tapi yang paling utama, kau harus bisa menghentikan sepak terjang Gerombolan Samurai Hitam! Karena, salah satu dari ketua gerombolan itu telah dititisi arwah salah satu musuh besarku yang berjuluk Iblis Kelelawar. Memang, penitisan itu tidak secara langsung. Penitisan itu hanya berupa penitisan sifat-sifat angkara murka dengan nafsu membunuh. Sedangkan kekuatan roh jahat Iblis Kelelawar tersebut telah bersemayam di sebuah patung yang bernama Patung Kelelawar Setan....”

“Jadi orang yang dititisi kini memegang patung itu, Eyang?” tebak Rangga.

“Benar!” sahut Pendekar Rajawali. “Karena dendamnya, Iblis Kelelawar berniat membayarnya. Karena aku sudah mati, maka dendam itu akan dituntaskan kepadamu, lewat tangan Ketua Gerombolan Samurai Hitam.”

“Bagaimana aku bisa mengalahkannya, Eyang?” tanya Rangga.

“Hancurkan patungnya!”

“Baiklah, Eyang!”

“Hm.... Dan mengenai luka dalammu, untuk sementara, kau hirup asap di atas makamku nanti ketika aku lenyap. Tapi, ingat. Itu hanya untuk sementara waktu. Untuk penyembuhan selanjutnya, bertapalah selama sepuluh hari. Mintalah petunjuk pada Hyang Widhi.... Nah, selamat tinggal....”

Begitu kata-katanya habis, Pendekar Rajawali perlahan-lahan lenyap. Sementara Rangga buru-buru menghisap asap yang tertinggal sebelum lenyap tertiup angin, setelah kembali merapatkan tangan di depan hidung. Baru beberapa hisapan, Rangga sudah merasakan pening pada kepalanya. Pandangannya langsung seperti berputar-putar. Bahkan perutnya seperti bergejolak. Secepat kilat, Pendekar Rajawali Sakti berkelebat dari tempat itu. Begitu agak jauh....

“Hoekh...!” Rangga memuntahkan darah hitam beberapa kali. Ketika warna darahnya mulai merah segar, kepalanya mulai agak enteng. Perutnya pun mulai tenang kembali. Nanti bila Pendekar Rajawali Sakti merasa segar, berniat akan langsung mencari Gerombolan Samurai Hitam seperti amanat gurunya.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Satu rombongan berpakaian serba hitam bergerak gagah menuju utara jelas tujuan mereka adalah Kerajaan Sekarwangi. Berjalan paling depan adalah tiga orang laki-laki bermata sipit. Pakaian mereka serba hitam berlengan longgar. Mereka tak lain Kenzo Matsuta, dan dua saudaranya. Kenzi Matsuta dan Genkuro Matsuta.

“Hoop...!” Mendadak Kenzo Matsuta mengangkat tangan kanannya ke atas, memberi isyarat untuk berhenti. Laki-laki bermata sipit ini memandang tajam pada seorang laki-laki tua.

“He he he..., Kakek Tua! Apakah kau sudah bosan hidup hingga berani menghadapi kami yang berjumlah sebanyak ini...?!” leceh Kenzo Matsuta, meremehkan.

“Iblis keparat.... Mana dia orang-orang yang mengaku memimpin Gerombolan Samurai Hitam. Biar kubeset kulit manusia pengacau itu...?! Seharusnya kalian baik-baik saja berada di tanah Jawa ini. Tetapi, tindakan kalian malah sebaliknya...!” dengus laki-laki tua itu sengit.

“Siapa kau, Orang tua! Akulah yang memimpin Gerombolan Samurai Hitam. Dan dua adikku ini adalah para panglimaku. Hm.... Sebaiknya kau tak usah menentang kami, Orang Tua! Lebih baik bergabung saja dengan kami. Aku tahu, kau memiliki kepandaian lumayan....”

“Jangkrik! Kau bilang kepandaianku lumayan?! Rupanya kalian belum kenal Ki Purwa Kala, hah?! Ayo, maju kalian semua!” tantang laki-laki tua bernama Ki Purwa Kala, keras.

“Heyaaa...!”Genkuro Matsuta yang sifatnya keras dan tak dapat menahan nafsu. Segera tubuhnya melesat, mengirimkan serangan pukulan bertubi-tubi.

Deb! Deb!

Ki Purwa Kala bergerak mundur sambil mengegos ke kiri dan kanan, menghindari serangan. Namun mendadak Gengkuro Matsuta memutar tubuhnya, melepas tendangan memutar. Yang diancam bagian kepala.

Wuutt! Tap!

Namun kaki Genkuro Matsuta berhasil dicengkeram pada pergelangannya. Bahkan dengan gerakan cepat Ki Purwa Kala memutar kaki hingga tubuh Genkuro Matsuta ikut berputar juga. Dan tiba-tiba, Ki Purwa Kala melemparkannya.

Dug!

“Aaakh...!”Genkuro Matsuta terlempar jauh. Dan dia terpekik ketika tubuhnya menghantam sebuah pohon hingga tumbang. Dari sudut bibirnya menetes darah segar.

Melihat kejadian itu, Kenzi Matsuta segera meluruk melancarkan serangan, dibantu beberapa anak buahnya. Mereka langsung mengeroyok Ki Purwa Kala. Tetapi, laki-laki tua berbaju hijau itu tidak gentar walaupun dikeroyok sebanyak ini. Dia memang salah seorang tokoh tingkat atas yang selama ini tak mau lagi ikut campur dalam kalangan persilatan. Pentungan di tangannya segera berkelebat, menimbulkan suara menderu-deru. Dua orang pengeroyok dengan mudah dihantam hingga pecah kepalanya. Darah merah bercampur putih meleleh dari kepala yang pecah.

Prak! Prok!

“Aaa...!” Kembali nyawa manusia melayang di tangan. Ki Purwa Kala. Rupanya dia sengaja hendak menghabiskan mereka. Genkuro Matsuta yang telah bangkit kembali menerjang sengit membantu Kenzi Matsuta. Suara sabetan senjata mereka terdengar menyakitkan telinga. Pentungan maut Ki Purwa Kala terus berseliweran dan selalu menghasilkan mangsa. Darah telah banyak memenuhi tempat itu.

“Hei.... Yang lain mundur dan jangan ikut membantu! Biar kami saja yang menghadapi orang tua gila ini...!” ujar Kenzi Matsuta berteriak sambil menyabetkan samurainya. Saat itu juga beberapa orang pengeroyok bergerak mundur, memberi kesempatan pada Kenzi Matsuta dan Genkuro Matsuta.

Ketika Kenzi Matsuta menusuk dengan samurainya, Ki Purwa Kala melenting ke udara, dan langsung berputaran. Begitu mendarat tepat di belakang laki-laki sipit brewok. Seketika tubuhnya berputar dengan pentungan di tangan menghantam ke punggung.

Bug!

“Hegkh...!” Tak tertahan lagi, Kenzi Matsuta jatuh tertelungkup dengan darah menyembur dari mulut. Ketika Ki Purwa Kala memburu, sebuah bayangan telah berkelebat, langsung menahan serangannya.

Trak!

Begitu terjadi benturan senjata, kedua orang itu tampak bergetar. Tangan mereka yang memegang senjata kesemutan. Ketika ditegasi, ternyata yang menahan serangannya adalah Kenzo Matsuta, Ketua Gerombolan Samurai Hitam. Kedua tokoh ini saling pandang sejenak.

“Kau terlalu angkuh, Orang Tua! Tapi, kuhargai keberanianmu...! Aku tadi telah memberi penawaran padamu. Dan kau menolaknya.... Hm..., ajalmu telah digariskan...,” desis Kenzo Matsuta.

Ki Purwa Kala yang sudah telanjur berang segera menerjang dengan pentungan mautnya. Tapi, kali ini lawan yang dihadapi tidak seperti sebelumnya. Seketika Kenzo Matsuta melenting ke belakang. Begitu mendarat, tangannya mengibas.

Set! Set!

Lima buah sinar keperakan yang berasal dari senjata rahasia berbentuk bintang segi lima meluncur cepat. Namun dengan cepat Ki Purwa Kala memutar pentungan untuk menahan serangan.

Trang! Trang!

Lima senjata rahasia langsung berpentalan, tertangkis oleh senjata Ki Purwa Kala. Bahkan seketika tubuh laki-laki tua itu meluruk melancarkan serangan secara bertubi-tubi. Kenzo Matsuta menjadi pemimpin Gerombolan Samurai Hitam segera melayani dengan jurus-jurus samurainya yang dahsyat.

Pada satu kesempatan baik, Kenzo Matsuta melihat laki-laki tua itu lengah. Sambil melenting samurainya cepat disabetkan dengan gerakan sulit diikuti pandangan.

Bret!

“Heegkh...!” Ki Purwa Kala terpekik ketika punggungnya terbabat samurai. Kulitnya terluka lebar. Dan darah mengucur deras. Untung saja, luka itu tidak membahayakan jiwanya. Tepat ketika Kenzo Matsuta mendarat laki-laki tua itu telah berbalik seraya membabatkan pentungannya. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Buk!

“Aaakh...!” Laki-laki bermata sipit itu mengeluh tertahan ketika iganya terhantam pentungan. Tubuhnya kontan terjajar menyerong. Pada saat demikian, cepat Kenzo Matsuta menjauh sambil mengeluarkan sebuah benda yang tak lain Patung Kelelawar Setan yang sedang mementang anak panahnya.

Ki Purwa Kala merasa heran melihat tindakan laki-laki bermata sipit itu. Apalagi ketika melihat lawannya melukai tangan dengan jalan menggoreskan pada gigi taring patung yang wajahnya berbentuk kelelawar itu. Sesaat kemudian, tampak mulut patung itu berdecap-decap. Matanya melirik ke kiri dan kanan. Pemandangan aneh itu tampak sangat mengerikan. Secara aneh suasana jadi sepi mencekam. Sementara secara tiba-tiba, anak panah pada patung itu lepas melesat dengan kecepatan tinggi. Dan....

“Bunuh dia...!” seru Kenzo Matsuta. Seolah mengerti pada perintah pemiliknya, anak panah itu meluncur ke arah Ki Purwa Kala.

Dengan terkejut laki-laki tua itu mengelak dan berusaha menangkis. Tapi seolah bernyawa, anak panah itu tak dapat ditahan lajunya.

“Heaaa...!” Sambil berteriak keras, Ki Purwa Kala menghentakku kedua tangannya, dengan tenaga dalam tinggi. Tapi, anak panah itu terus melaju dengan kecepatan tak berubah. Kemudian...

Crap!

“Aaakh...!” Anak panah itu menancap tepat di dada Ki Purwa Kala. Bagaikan seekor lintah, anak panah itu menghisap terus darah di tubuh laki-laki tua itu. Kalang kabut dia berusaha mencabutnya, tetapi semuanya sia-sia belaka. Beberapa saat kemudian keadaan laki-laki tua itu semakin parah dan lemah lalu ambruk. Tak lama, dia mati kehabisan darah. Kulitnya tampak kuning keputihan.

Setelah laki-laki tua itu binasa, anak panah kembali pada patung, dan terpasang di sana seperti semula. Sementara Kenzo Matsuta tertawa terbahak-bahak. Kini dia merasa yakin, kalau dirinya tak tertandingi lagi.

Baru saja Gerombolan Samurai Hitam hendak berangkat kembali menuju Kerajaan Sekarwangi, mendadak terdengar suara tiupan seruling yang mendayu-dayu dan berirama cinta. Mulanya, menganggap sepi suara seruling itu. Ketika perasaan mulai hanyut dan terbawa irama seruling, mendadak mereka menangis dan bergulingan di tanah. Bahkan ketika irama seruling secara tiba-tiba berubah mengeras dengan irama peperangan dan kegagahan, yang lebih menggiriskan, mereka lantas kontan jadi berubah beringas dan mencabut senjata masing-masing. Saling serang!

Cras! Cras!

“Aaa...!” Korban banyak berjatuhan. Jerit pekik kematian terdengar berkali-kali.

“Heaaah...!” Kenzo Matsuta dan dua saudaranya yang mempunyai tenaga dalam tinggi segera berteriak untuk mengimbangi irama seruling.

Seketika irama seruling terhenti. Dan ketika orang-orang yang menangis sambil berguling-gulingan itu tersadar, mereka segera bangkit dan saling berpandangan dengan perasaan tak mengerti. Belum tuntas kebingungan mereka, tampak melayang sesosok tubuh berpakaian serba merah dan mendarat di depan mereka.

Wajah sosok yang baru datang ini sangat cantik. Di pinggangnya yang ramping terselip seruling dari emas. Tangannya bergerak-gerak mengibas dengan kipasnya yang berwarna merah juga. Sikapnya yang manis dan anggun itu telah membuat yang hadir terpana untuk sesaat Tidak terkecuali, para pemimpin Gerombolan Samurai Hitam itu sendiri.

TUJUH

“Siapa kau Nisanak...?” tegur Ketua Gerombolan Samurai Hitam.

“Aku baru saja melihat kematian orang tua yang memegang pentungan. Dan kematian serupa juga dialami beberapa tokoh persilatan belum lama ini. Kesimpulannya pasti kalianlah Gerombolan Samurai Hitam...!” desis gadis berbaju merah yang tak lain Ratna Jenar.

“Kau sudah tahu siapa kami, Nisanak. Lantas kau mau apa...?” tukas Kenzo Matsuta jumawa.

Mendapat jawaban bernada menantang, Ratna Jenar segera meluruk melancarkan serangan dengan kipasnya.

Wuuttt...!

“Uts...!" Kenzo Matsuta mundur beberapa langkah kebelakang, menghindari serangan.

“Serang...!” teriak laki-laki bermata sipit itu.

Seketika beberapa anak buah Kenzo Matsuta segera berhamburan mengurung Ratna Jenar. Mereka memandang rendah, karena melihat gadis itu masih sangat muda dan cantik. Maka, timbul niat kotor dalam hati orang-orang itu. Dengan nafsu menggelegak, mereka berebut hendak menangkap Ratna Jenar yang cantik ini dalam dekapan mereka.

Namun kali ini nasib mereka sial. Ratna Jenar yang sedang kesal ditinggalkan Rangga begitu saja, melampiaskannya pada mereka. Kebutan kipas yang kelihatannya lembut, ternyata mendatangkan maut mengerikan!

Cras...! Cras...!

“Huaaa...!” Mereka berpelantingan dengan kepala retak dan tubuh pecah-pecah. Yang berada terlalu dekat, terbabat ujung kipas. Namun keadaan ini tak membuat para anggota Gerombolan Samurai Hitam itu jadi kendor semangat.

Pertarungan tak seimbang terus berlangsung. Para pengeroyok bagaikan kemasukan setan terus mendesak. Berbagai senjata tajam meluruk ke arah Ratna Jenar dari berbagai penjuru. Menghadapi serangan yang bagai hujan angin itu, Ratna Jenar terpaksa mengeluarkan serulingnya. Selain sebagai alat penangkis, seruling itu juga merangkap sebagai alat penyerang.

“Hiyaaat..!”

Swing! Ngung!

Ketika diputar, seruling itu mengeluarkan suara menusuk-nusuk, memecahkan gendang telinga. Bahkan mengacaukan daya pikir lawan. Berbagai senjata dapat ditahan oleh seruling itu. Bahkan beberapa orang kembali terhantam dan binasa. Tubuh Ratna Jenar yang berkelebatan dengan senjata seruling dan kipasnya, tampak indah dan menarik bagaikan bidadari merah tengah menari.

Plak! Crass...!

“Aaakh...!” Kembali anak buah Kenzo Matsuta yang kurang cepat gerakannya, terhantam kipas pada perut dan dada. Tak ampun lagi, mereka jatuh binasa. Memang amukan Ratna Jenar hebat sekali.

Melihat ketangguhan gadis itu, Kenzi Matsuta dan Gengkuro Matsuta saling memberi isyarat. Saat itu juga mereka berkelebat menyerang dari kanan dan kiri.

“Hiyaaa...!”

Namun Ratna Jenar seperti tak pernah kendor semangatnya. Kedua senjatanya bergantian memapaki serangan samurai Kenzi Matsuta dan Genkuro Matsuta.

Trang! Trang!

Begitu terjadi benturan, Ratna Jenar mengebutkan seruling di tangan kiri. Tapi sambil mengegos, tangan Genkuro Matsuta bergerak cepat.

Tap!

Tangan kiri gadis itu berhasil ditangkap Gengkuro Matsuta. Pada saat yang sama, tangan kanan Ratna Jenar yang masih bebas hendak menyabetkan kipasnya.

“Heaaa...!” Dengan gerakan cepat, Kenzi Matsuta berkelebat dan langsung menangkap tangan kanan Ratna Jenar.

Tap!

Ratna Jenar jadi kian kalang kabut Akal warasnya seolah-olah terasa tumpul. Melihat kesempatan ini, Kenzo Matsuta langsung berkelebat ke belakang gadis itu. Seketika dilepaskannya totokan ke punggung.

Tuk! Tuk!

“Ohh...!” Dua buah totokan membuat perlawanan Ratna Jenar berakhir. Disertai keluhan tertahan, gadis itu jatuh lunglai tak bertenaga lagi, ketika Genkuro Matsuta dan Kenzi Matsuta melepaskan tangannya.

********************

“Hoi, Bocah Edan! Berhenti dulu...!”

Pendekar Rajawali Sakti menghentikan langkahnya ketika mendengar suara orang yang dikenalnya. Tubuhnya berbalik. Dan dengan pandangan tajam, terlihat kalau sosok hitam yang berteriak itu ternyata Ki Demong. Dalam sekejap saja, mereka telah saling berhadapan. Sebagai orang yang lebih muda, Pendekar Rajawali Sakti menjura memberi hormat pada Ki Demong.

“Apa kabar, Ki. Kemana saja selama ini...?” sambut Rangga, bertanya.

“Justru kau yang selama ini ke mana saja, hah?! Aku sudah berputar-putar mencarimu. Jadi aku yang seharusnya bertanya!” dengus Ki Demong.

Rangga tersenyum manis. Dia tak ingin meladeni kemarahan laki-laki tua ini. Dan segera diceritakannya segala yang terjadi dan dialaminya selama beberapa waktu berselang. Kecuali, pertemuannya dengan Pendekar Rajawali yang merupakan gurunya, tentu saja.

Demikian pula Ki Demong. Dia menceritakan segala yang terjadi dan nasib Ki Sabda Gendeng yang ditawan Gerombolan Samurai Hitam yang dipimpin tokoh-tokoh persilatan dari Nippon. Pendekar Rajawali Sakti mendengarkan penuh perhatian disertai rasa cemas akan nasib Ki Sabda Gendeng.

“Bagaimana orang tua tangguh itu dapat dikalahkan, Ki...?” tanya Rangga.

“Kali ini pihak lawan sangat tangguh dan banyak didukung kaum sesat. Kita tak dapat bertindak semaunya. Buktinya Sabda Gendeng yang tangguh dan berkepandaian tinggi bisa dilumpuhkan,” desah Ki Demong. “Tapi yang paling mengkhawatirkan, gerombolan itu sekarang sedang menuju ke Kerajan Sekarwangi.”

“Bila mendengar penjelasanmu, jelas mereka tidak bisa didiamkan. Ini sangat berbahaya bagi rakyat yang tak berdosa...,” gumam Rangga.

“Ya.... Selama mencarimu, aku banyak mendengar berita, selama perjalanan mereka ke Kerajaan Sekarwangi, mereka banyak membantai tokoh-tokoh persilatan yang tak ingin bergabung. Apa yang mesti kita perbuat, Bocah?! Dan aku khawatir dengan keadaan sahabatku yang ditahan oleh mereka...!” desah Pemabuk Dari Gunung Kidul.

“Sudahlah.... Serahkan semuanya pada Hyang Widhi. Kita sebagai manusia hanya berusaha. Apa pun yang akan terjadi, itu urusan nanti.... Mari kita berangkat!” ajak Rangga.

“Kuperkirakan petang nanti mereka telah siap menggempur Kerajaan Sekarwangi. Jadi paling tidak, kita harus menghadang mereka sebelum petang. Jalan satu-satunya ke Kerajaan Sekarwangi hanyalah lewat Lembah Walet...,” jelas Ki Demong. “Lantas, bagaimana kita mau menghadang kalau kita berada sangat jauh dari mereka?”

“Pokoknya ikut saja denganku. Pasti kita bisa menghadang mereka...!”

“Iya, tapi dengan cara apa? Ilmu meringankan tubuh? Kau tahu walaupun kau menggunakan ilmu itu setinggi-tingginya, baru besok pagi kau bisa tiba di Lembah Walet..,” cibir Pemabuk Dari Gunung Kidul.

“Yang penting, kau mau ikut apa tidak?” tukas Pendekar Rajawali Sakti.

“Ya, mau...!”

“Ya, sudah. Mari ikut aku....”

Tanpa menunggu pertanyaan lagi dari Ki Demong, Rangga berkelebat cepat menuju pinggiran Hutan Karimun yang memiliki tanah lapang. Sementara, Ki Demong dengan hati bertanya-tanya terpaksa mengikuti.

********************

“Kraaagkh...!”

“Bagus, Rajawali Putih! Kau datang tepat pada waktunya,” sambut Rangga, pada burung rajawali raksasa berbulu putih yang telah mendarat di tanah lapang ini. Pendekar Rajawali Sakti langsung bergerak menghampiri. Dielus-elusnya leher burung itu dengan penuh rasa kasih sayang.

“Hei, Bocah Edan! Jadi ini yang kau maksud?!” teriak Ki Demong, tak berani mendekat. Nyalinya jadi mengkeret juga melihat burung yang besarnya minta ampun itu.

Rangga menoleh dan tersenyum. “Ayolah, Ki! Tak usah takut Dia sahabatku,” sahut Rangga.

Dengan masih takut-takut, Ki Demong menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. “Setan kau! Kenapa kau tak pernah bilang kalau punya peliharaan seperti ini...!” rutuk Pemabuk Dari Gunung Kidul.

Kembali Pendekar Rajawali Sakti tersenyum, lalu melompat ke punggung Rajawali Putih. Kepalanya lantas menoleh pada Ki Demong yang belum beranjak. “Ayolah, Ki! Kita nanti kehabisan waktu!”

“Iya, iya...!” Dengan gerakan ringan Ki Demong melompat ke punggung Rajawali Putih, di belakang Pendekar Rajawali Sakti.

“Ayo, Rajawali Putih. Bawa kami ke utara, ke Kerajaan Sekarwangi!” ujar Pendekar Rajawali Sakti sambil menepuk punggung burung itu.

“Kraaagkh...!” Sekali mengepakkan sayapnya, Rajawali Putih telah melesat ke angkasa. Saat itu juga, Ki Demong langsung merangkul Rangga dari belakang!

“Bocah edan! Suruh burungmu terbang perlahan saja!” teriak Ki Demong keras, berusaha mengalahkan suara deru angin.

“Ini sudah pelan, Ki!” sahut Rangga juga keras.

“Gendeng! Begini saja sudah pelan. Bagaimana kalau kencang...?”

“Kraaagkh...!"

“Benar, Rajawali Putih! Sedikit ke bawah lagi!” ujar Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti langsung mengerahkan aji ‘Tatar Netra’ ketika melihat iring-iringan seperti semut hitam memasuki Lembah Walet. Dengan ajian itu, Rangga memang bisa melihat dari jarak jauh walau dalam gelap sekalipun.

“Ki! Itukah Gerombolan Samurai Hitam...?!” tanya Rangga keras.

“Mana...?!” Pemabuk Dari Gunung Kidul bertanya.

“Itu...! Di bawah sana!”

“Semprul, kau! Aku tak melihat apa-apa di sana kecuali pepohonan hijau saja...!”

“Hm.... Baiklah. Yang jelas aku memang melihat Ki Sabda Gendeng di sana. Tapi gadis itu...?”

“Gadis?! Gadis siapa. Pacarmu? Bukankah kau milik Pandan Wangi...?”

“Edan! Dia..., dia Ratna Jenar! Berarti gadis itu juga tertawan!” sentak Pendekar Rajawali Sakti, ketika melihat sesuatu yang tak diduganya.

“Siapa Ratna Jenar?! Hai, Bocah Edan! Kau mulai nyeleweng, ya?! Kuadukan pada Pandan Wangi, baru kapok kau!”

“Dia tokoh persilatan yang baru muncul dan telah menolongku, Ki. Tapi, ah! Sudahlah!” Rangga lantas menepuk-nepuk Rajawali Putih. “Rajawali Putih, turun di belakang iring-iringan itu. Cepat!”

“Kraaagkh...!”

Wuutt...!

Rajawali Putih langsung menukik turun begitu cepat, membuat wajah Ki Demong mendadak pucat pasi bagai mayat

“Bocah edaaannn...! Kau mau membunuhku...?!” rutuk Pemabuk Dari Gunung Kidul.

“Tenanglah, Ki. Nanti kalau mendarat minum saja tuak merahmu. Agar hatimu bisa tenang kembali...!” sahut Rangga, pelan.

Hanya beberapa tarikan napas, Rajawali Putih telah berada dua tombak dari tanah, di belakang iring-iringan Gerombolan Samurai Hitam.

“Terbanglah kembali, Rajawali Putih. Awasi aku dari atas sana!” ujar Rangga, langsung melenting turun. Gerakannya diikuti oleh Ki Demong.

“Kraaagkh...!”

Rajawali Putih langsung melesat dengan sekali kepakan sayapnya. Di angkasa burung raksasa itu berputar-putar mengawasi Pendekar Rajawali Sakti. Sementara itu, Ki Demong langsung menghampiri Pendekar Rajawali Sakti yang tengah memperhatikan Gerombolan Samurai Hitam dari belakang.

“Bagaimana, Bocah Edan?! Apa langkah selanjutnya.

Rangga berbalik, lalu tersenyum. Didekatinya Ki Demong. Lalu dibisikinya laki-laki tua itu yang cuma manggut-manggut. Sehabis berbisik, Rangga dan Ki Demong berkelebat mengejar Gerombolan Samurai Hitam dari sisi kanan dan kiri, dalam jarak yang tak menimbulkan kecurigaan. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuh mereka saat berkelebat, hingga sebentar saja mereka telah berada di sisi kiri dan kanan gerombolan itu dengan menelusup ke balik-balik ilalang setinggi setengah tombak yang memenuhi lembah ini.

Begitu orang yang berjalan terakhir ada di depannya, Rangga bergerak begitu cepat Langsung ditariknya orang itu. Sebelum sadar apa yang terjadi, jalan darahnya telah ditotok. Dan orang itu kontan jatuh pingsan tanpa dapat bergerak lagi. Begitulah seterusnya sampai ada sepuluh orang yang telah menjadi korban totokan Pendekar Rajawali Sakti.

Kebetulan ada seorang yang menoleh ke belakang. Namun sebelum dia dapat berbuat sesuatu, sebuah lemparan Rangga dengan batu kerikil, telah membuatnya diam tak dapat bersuara lagi. Cepat Rangga menotoknya, membuat orang itu tak bergerak lagi. Pingsan.

Tindakan Rangga membuat barisan terbelakang hanyalah Ki Sabda Gendeng yang terseret. Tindakannya yang rapi membuat kehadirannya sama sekali belum disadari oleh gerombolan itu. Pendekar Rajawali Sakti cepat membebaskan totokan Ki Sabda Gendeng dan memutuskan tali-tali yang mengikatnya. Dan tindakan yang terakhir ini rupanya baru disadari orang yang menarik Ki Sabda Gendeng.

“Heh...?! Tawanan kita lepas...!” teriak orang itu.

Seketika, rombongan itu berhenti dengan wajah terkejut. Mereka langsung membuat kepungan.

“Eh! Kiranya kau yang menolongku.... Terima kasih, Bocah! Biar kuhancurkan mereka!” desis Ki Sabda Gendeng sambil mengeluarkan tongkat hitamnya dan menerjang mereka.

“Heyaaat!"

Bret! Bret!

“Wuaaeee...!”

Beberapa orang kontan jatuh akibat amukan laki-laki tua yang sedang geram dan banyak disiksa itu. Rangga sendiri segera membantu dengan mengirimkan pukulan aji ‘Guntur Geni’ yang berhawa pc.nas. Kembali mereka berpelantingan dalam keadaan binasa dan tubuh hangus.

DELAPAN

Sementara itu, Gengkuro Matsuta dan Kenzi Matsuta segera melompat ke belakang. Ketika Melihat tahanannya telah bebas, samurainya segera dicabut. Langsung diserang Ki Sabda Gendeng dengan sengit. Serangannya masih pula dibantu anak buahnya yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi.

“Ciaaat!”

Jrep!

Serangan Ki Sabda Gendeng kali ini tak bisa dianggap main-main. Buktinya seorang anggota Gerombolan Samurai Hitam telah tertusuk lehernya sampai tembus dan binasa saat. itu juga. Gerakan laki-laki gila catur itu cepat sekali. Ujung tongkatnya berputar-putar jadi berubah banyak.

“Hiyaaat…!”

Swing!

Pada satu kesempatan dengan gerakan memutar, Genkuro Matsuta menyabetkan samurainya. Namun cepat sekali Ki Sabda Gendeng menundukkan kepala. Seketika tongkatnya ditusukkan pada perut Genkuro Matsuta. Gerakannya begitu cepat. Sehingga....

Crep!

“Aaargk...!” Begitu tongkat dicabut, usus Genkuro Matsuta segera kontan terburai disertai cucuran darah segar. Laki-laki sipit berkumis tipis ini coba bertahan. Tapi tubuhnya ambruk tatkala Ki Sabda Gendeng menendang dadanya. Setelah bergulingan, dia mati berkubang darahnya sendiri.

“Bangsat! Kau telah membunuh adikku! Kini terimalah kematianmu...!” seru Kenzi Matsuta.

Disertai teriakan menggeledek, laki-laki brewok ini loncat ke udara. Sambil melesat di udara, samurainya dikibaskan cepat sekali. Namun....

“Fruhhh...!”

Kenzi Matsuta membuang tubuhnya ke tanah, sebelum semburan tuak merah yang tiba-tiba menyerang menghantam wajahnya. Ki Sabda Gendeng langsung menoleh ke arah datangnya semburan barusan. Ternyata, Ki Demong telah berada di tempat ini. Kedua orang tua urakan itu saling peluk dan tertawa gembira.

“Ha ha ha...! Kukira kau sudah jadi raja cacing dalam tanah! Rupanya kau masih sehat-sehat saja, Gendeng...,” ledek Ki Demong.

“Sialan kau! Rupanya kau senang aku ditahan mereka...,” maki Ki Sabda Gendeng, sambil meninju pundak sahabatnya.

“Hei.... Awas di belakangmu Demong...!” ujar Ki Sabda Gendeng.

Pada sat itu, Kenzi Matsuta memang telah kembali meluruk dengan sabetan samurainya.

“Hait!”

Trang!

Dengan guci tuaknya, Ki Demong yang cepat memutar tubuhnya berhasil menahan serangan samurai di tangan Kenzi Matsuta. Ketika laki-laki brewok itu terkejut, semburan tuak Pemabuk Dari Gunung Kidul telah meluncur cepat.

“Fruhhh...!"

“Ohh...!” Sambil mendesah gugup, Kenzi Matsuta melempar dirinya ke belakang dan berusaha menjauhi lawan.

Baru saja Ki Demong dan Ki Sabda Gendeng menarik napas lega. dua orang anggota Gerombolan Samurai Hitam menerjang serentak dari belakang. Sebagai tokoh tingkat tinggi, Pemabuk Dari Gunung Kidul merasakan angin serangan dari belakang. Lalu...

“Fruhhh...!”

Sambil membuang diri ke samping, Ki Demong menyemburkan tuak ke celana mereka. Tak terelakan lagi, celana dan pakaian mereka terbakar. Sambil menjerit-jerit kesakitan, mereka berjingkrakan dan berusaha memadamkan api yang membakar tubuh dan pakaian. Keadaan jadi bertambah kacau balau ketika yang lain ikut terbakar dan berlari ke sana kemari.

Sementara Ki Sabda Gendeng terus mengejar para anggota Gerombolan Samurai Hitam. Sambil bertarung mata Ki Sabda Gendeng sempat melihat seorang gadis berbaju merah tengah tak berdaya, dijaga dua anggota gerombolan itu.

Di lain pertarungan Pendekar Rajawali Sakti saat ini tengah mengamuk dahsyat. Kali ini lawannya adalah Kenzi Matsuta. Dengan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’ semua serangan dapat dihindari. Bahkan dapat pula melakukan serangan balasan yang tak kalah sengit. Tubuhnya meliuk-liuk indah dengan gerakan kaki amat lincah. Pada saat yang demikian, meluruk tiga orang dari belakang.

Namun naluri Pendekar Rajawali Sakti yang peka, menangkap desir angin halus yang berjumlah tiga itu. Seketika dengan gerakan memutar, kakinya melakukan tendangan beruntun ke belakang.

Dag! Dug! Dug!

“Aaakh...!” Ketiga pembokong itu kontan terlempar tanpa dapat bangkit kembali. Baru saja Rangga bersiap, Kenzi Matsuta telah mendesak lagi. Dan ketika serangan mendekat, tubuhnya mengelak ke samping seraya menangkap mata samurai.

Tap!

“Hih!” Kenzi Matsuta berusaha menariknya. Tapi samurai itu seakan-akan melekat di tangan Rangga yang tak terluka barang sedikit pun.

“Hup...!” Sambil melenting ke atas, Pendekar Rajawali Sakti menyentak samurai itu hingga terlepas dari pegangan. Dan sebelum Kenzi Matsuta menyadari apa yang terjadi, Rangga yang telah berhasil merampas samurai itu segera menghujamkannya ke ubun-ubun Kenzi Matsuta.

Crab!

“Aaa...!” Kenzi Matsuta membelalakkan matanya ketika ubun-ubunnya tertembus samurainya sendiri. Sebentar tubuhnya limbung, lalu ambruk tak berdaya lagi.

Sementara itu, tanpa menemui kesulitan Ki Sabda Gendeng berhasil membebaskan gadis berbaju merah yang tak lain dari Ratna Jenar. Begitu bebas, gadis ini langsung ikut membantu serangan.

Ketika tubuhnya enak, Ratna Jenar segera meniup serulingnya, yang khusus ditujukan pada Gerombolan Samurai Hitam. Irama seruling yang menyentak-nyentak, membuat mereka saling hantam dan saling serang.

“Huaaa...!”

“Aaa...!” Jerit pekik dari para anggota Gerombolan Samurai Hitam yang meregang nyawa terdengar membahana merobek angkasa. Darah berceceran di mana-mana. Mayat pun tergeletak malang melintang tak karuan. Kenzo Matsuta benar-benar cemas melihat hal ini. Apalagi dua adiknya telah tewas.

Kekhawatiran Kenzo Matsuta makin memuncak ketika dari utara terdengar derap langkah kaki kuda yang kian mendekat Dia mendesis geram ketika melihat ratusan prajurit yang melihat dari umbul-umbul yang dibawa adalah dari Kerajaan Sekarwangi. Rupanya, kegiatan Kenzo Matsuta dan dua saudaranya telah tercium oleh telik sandi kerajaan. Para prajurit yang semula berniat menghadang, begitu melihat orang-orang berpakaian serba hitam langsung menduga kalau itu adalah Gerombolan Samurai Hitam. Maka....

“Serbu...!”

Para prajurit Kerajaan Sekarwangi segera berloncatan dan terjun ke dalam kancah pertempuran menghadapi orang-orang berpakaian serba hitam. Akibatnya para anggota Gerombolan Samurai Hitam jadi kalang kabut Dan korban pun semakin banyak berjatuhan. Dengan bantuan para perwira kerajaan, mereka dalam waktu singkat dapat dibasmi. Sisanya menyerah dan takluk menjadi tahanan.

Sementara itu, Kenzo Matsuta telah melompat dan berdiri di atas batu sambil memegang Patung Kelelawar Setan. Pandangan matanya tampak merah membara pertanda sedang marah besar. Namun....

“Ha ha ha...!” Mendadak Kenzo Matsuta tertawa terbahak-bahak disertai tenaga dalam tinggi. Seketika, semua mata tertuju padanya.

“Siapa di antara kalian yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti?!” tanya laki-laki sipit itu, berteriak.

“Aku...!” sahut Rangga seraya melangkah maju mendekati batu seukuran kerbau bunting itu.

“Hm.... Sesembahanku menginginkan nyawamu, Pendekar Rajawali Sakti! Dia ingin menuntut balas pada gurumu! Tapi karena Pendekar Rajawali telah tewas, maka dendamnya dilimpahkan padamu!” desis Kenzo Matsuta.

“Aku tahu,” sahut Rangga enteng.

“Bagus! Sekarang, roh jahat sesembahanku, ada di dalam patung ini. Dia sangat haus darah...! Tapi dia belum puas kalau belum menghisap darahmu!”

“Hm.... Arwah guruku juga belum tenang kalau belum melenyapkan secara tuntas musuh lamanya...,” sahut Rangga, tetap tenang.

“Bangsat!” Begitu habis memaki, Kenzo Matsuta menorehkan pergelangan tangannya pada taring Patung Kelelawar Setan. Seketika mulut patung itu mendecap-decap. Matanya melirik ke sana kemari. Lalu dengan aneh, anak panah yang terentang melesat dengan kecepatan tinggi.

Siuut!

Rangga melenting tinggi, namun akibatnya panah itu menancap di dada seorang prajurit kerajaan hingga jatuh terpental.

Crap!

Begitu menancap, mata panah langsung menghisap darah prajurit itu hingga tubuhnya mengering. Mati!

Sambil tertawa sombong, Kenzo Matsuta menanti datangnya anak panah itu kembali. “Ha ha ha...! Majulah Pendekar Rajawali Sakti. Ajalmu sudah dekat Dan tubuhmu akan sama dengan prajurit itu!” tantang Kenzo Matsuta dengan sombongnya. Sementara, panahnya telah kembali ke patungnya.

Rangga yang sudah mendarat di tanah sedikit mendongak ke atas. Matanya yang tajam masih melihat titik putih di angkasa. Berarti, Rajawali Putih masih mengawasinya. “Sambar patung itu, Rajawali Putih. Ya, cepat! Sekarang!”

Pendekar Rajawali Sakti mengirimkan suara batinnya pada Rajawali Putih di angkasa, ketika Kenzo Matsuta mengacung-acungkan patungnya ke atas dengan sikap sombong. Belum puas laki-laki ini membanggakan Patung Kelelawar Setan, mendadak....

“Kraaagkh...!”

“Heh...?!”

Tap!

Betapa terkejutnya Kenzo Matsuta ketika tahu-tahu patungnya tersambar cakar burung rajawali raksasa yang langsung melesat kembali. Bahkan semua orang yang ada di tempat ini jadi terkesiap. Mereka baru sadar ketika angin kepakan sayap rajawali itu menerabas tubuh.

“Patungku! Patungku! Kembalikan, Burung Keparat! Kembalikan...!”

Pada saat yang sama, Pendekar Rajawali Sakti telah mengumpulkan tenaga dalamnya di tangan dengan kuda-kuda kokoh. Ketika tangannya telah berwarna merah membara....

“Ya, lepaskan Rajawali Putih!” Kembali Rangga mengerahkan suara batin. Begitu Rajawali Putih melepaskan Patung Kelelawar Setan dari cakarnya, Pendekar Rajawali Sakti melesat ke udara menggunakan jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’! Dan ketika patung itu telah berada dalam jarak jangkauannya, tangan yang berisi tenaga dalam penuh mengibas dengan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Dan....

Prak! Blarrr...!

Saat itu juga, Patung Kelelawar Setan hancur lebur jadi abu begitu terhantam tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan dengan gerakan manis sekali, Rangga mendarat di tanah.

“Bangsat! Kau apakah patungku?!”

“Aku hanya membuatnya abadi di alam sana...!” sahut Rangga, enteng.

“Bedebah!” Saat itu juga, Kenzo Matsuta melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti dengan sambaran samurainya.

“Minggir semua! Ini bagianku!” ujar Rangga.

Pertarungan tak dapat dielakkan lagi. Para pra irit kerajaan segera bergerak mundur. Demikian pula Ki Demong, Ki Sabda Gendeng, dan Ratna Jenar. Mereka seperti memberi kesempatan pada Pendekar Rajawali Sakti untuk bertarung secara ksatria. Pendekar Rajawali Sakti bermain mundur ketika Kenzo Matsuta terus mencecar dengan pedangnya.

“Hup...!” Tiba-tiba pemuda berbaju rompi putih ini melenting ke atas, melewati kepala Kenzo Matsuta. Sambil berputaran di udara, tangannya bergerak ke punggung.

Sring!

Tepat ketika Pendekar Rajawali Sakti mendarat, Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang memancarkan sinar biru berkilau telah tergenggam di tangan. Dan Rangga tak mau tanggung-tanggung lagi. Ketika Kenzo Matsuta menyerang kembali, langsung dikerahkannya jurus ‘Pedang Pemecah Sukma’ tingkat pertengahan.

“Heh?! Kenapa aku ini...? Oh..., mengapa semangat bertarungku jadi merosot? Mengapa jiwaku seperti tercabik-cabik. Dan..., aku tak mampu menguasai akalku lagi...?” keluh Kenzo Matsuta, dalam hati.

Memang, itulah keampuhan jurus ‘Pedang Pemecah Sukma’! Padahal baru dikerahkan pada tingkat pertengahan. Dan jurus itu pun membuat gerakan-gerakan silat Kenzo Matsuta jadi kacau, tak terarah.

“Heaaah...!” Untuk mengenyahkan perasaan tak menentu itu, Kenzo Matsuta berteriak keras. Dan dengan nekat diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti dengan kibasan samurainya.

Saat itu juga Pendekar Rajawali Sakti segera melayaninya. Pedangnya langsung bergerak memapak. Dan...

Tras...!

“Heh?!” Betapa terkejutnya, Kenzo Matsuta melihat samurainya buntung terpapas pedang Pendekar Rajawali Sakti. Belum lagi dadanya terasa berguncang dengan napas tersengal. Seketika terasa kesemutan. Dan sebelum laki-laki Ketua Gerombolan Samurai Hitam itu mampu menguasai diri, Pedang Pusaka Rajawali Sakti telah berkelebat cepat disertai tenaga dalam tinggi. Lalu....

Crasss...!

“Aaakh...!” Mata Kenzo Matsuta mendelik dengan tubuh kejang. Tampak garis melingkar berwarna merah telah menghias lehernya.

Trek!

Tepat ketika Pendekar Rajawali Sakti menyarungkan pedangnya, Kenzo Matsuta ambruk dengan kepala menggelinding. Darah langsung menyembur dari lehernya yang buntung. Seperti ayam disembelih, laki-laki yang berniat menguasai dunia persilatan tanah Jawa ini melejang-lejang, meregang nyawa. Tak lama tubuhnya diam tak berkutik lagi.

Rangga menghela napas lega, lalu perhatiannya beralih pada Ki Demong, Ki Sabda Gendeng, lalu terakhir pada Ratna Jenar. “Ratna, maafkan aku waktu itu telah meninggalkanmu,” ucap Rangga perlahan “Kau tak apa-apa, Ratna?”

“Ah, aku tak apa-apa, Ka..., eh, Rangga...,” sahut Ratna Jenar yang sebenarnya ingin memangil kakang pada Rangga.

Lalu perhatian Rangga beralih pada dua orang tua urakan itu kembali. “Ki Sabda Gendeng dan Ki Demong, rasanya tugas kita telah selesai. Aku mohon diri dulu,” pamit Rangga.

“Hei, Bocah Gendeng! Tadi panglima perang Kerajaan Sekarwangi .menawarkan kita untuk mampir. Mereka akan menjamu kita dengan makanan lezat dan tuak merah...,” kata Ki Demong, seraya melirik seorang laki-laki tegap gagah dengan pakaian panglima.

“Terima kasih. Jatahku buat kau saja, Ki!” ucap Rangga dengan senyum cerah.

“Ah! Yang benar, Bocah Gendeng?!” Ki Demong langsung melotot kegirangan.

“Benar! Tapi kuminta, layanilah Ki Sabda Gendeng bermain catur semalam suntuk...!"

“Apa...?!” Ki Demong berpaling pada Ki Sabda Gendeng yang terbahak-bahak. “Dasar gend...? Heh?! Ke mana bocah itu?! Biar kukemplang kepalanya!”

Ki Demong memaki-maki sendiri ketika Pendekar Rajawali Sakti telah berkelebat lenyap, tertelan lebatnya ilalang di Lembah Walet ini. Sementara yang lainnya hanya tersenyum saja.

Sedangkan Ratna Jenar diam-diam tertunduk sedih. Sepertinya, ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ya, sekeping hati yang tercuri oleh Pendekar Rajawali Sakti. Di sisi lain, Rangga sebenarnya hanya menganggap sahabat saja. Lain, tidak!

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: KITAB PELEBUR JIWA
Thanks for reading Gerombolan Samurai Hitam I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »