Dewi Mawar Selatan

DEWI MAWAR SELATAN

SATU

Danau Singkarak membentang memanjang menghias persada bagaikan alis Dewi Kayangan. Begitu indah dan menyimpan kedamaian. Matahari yang baru sepenggalah, membiaskan sinarnya, membuat permukaan danau bagai ditaburi intan kemilau. Angin berhembus tak terlalu kencang, menciptakan yang halus dan hilang di tepinya. Kehijauan bukit-bukit yang terdapat di sisi kanan danau, seperti sepasukan pengawal yang menjaga keindahan sang Dewi Kayangan.

Hari ini tak nampak ada seorang nelayan pun yang mencari ikan, sebagai mata pencaharian mereka. Kendati demikian, sebenarnya di tengah-tengah danau nampak sebuah sampan kecil yang terombang-ambing di permainkan ombak. Di atas sampan duduk mencangkung seorang perempuan berpakaian putih kusam, dan nampak buruk sekali. Wajahnya lebih buruk lagi daripada pakaian yang dikenakannya. Hidungnya agak bengkok dengan lubang yang besar. Matanya mencuat keluar. Pipinya keriput dan dipenuhi luka-luka yang telah membusuk. Tidak heran bila di sekitar sampannya, tercium bau busuk.

Sementara itu dari arah matahari terbit dua buah sampan tampak meluncur deras ke tengah-tengah danau. Di salah satu sampan yang berukuran cukup besar, tidak kurang lima orang laki-laki bersenjata pedang berdiri dengan sikap siaga. Sementara sampan satunya berisi satu orang laki-laki gagah dengan pakaian serba merah. Pinggangnya dililit sarung sampai ke paha. Tampaknya mereka ini adalah orang-orang rimba persilatan yang memiliki ilmu meringankan tubuh cukup baik Terbukti, walaupun dalam keadaan berdiri, sampan yang dinaiki sedikit pun tidak oleng.

Semakin mendekati sampan kecil di tengah danau, para penumpang sampan besar itu semakin meningkatkan kewaspadaan. Kelihatannya kedatangan mereka membawa maksud-maksud yang tidak baik.

Sementara itu perempuan renta berbaju putih kusam tampak tenang-tenang saja. Malah perhatiannya tertuju ke air danau. Sedangkan mulutnya tidak pernah berhenti mengunyah sirih. Tiba-tiba perempuan ini melihat ikan besar berenang mendekati sampannya. Seketika disemburkannya air sirih dari mulutnya ke arah ikan besar.

"Chuiiihhh...!"

Air sirih berwarna merah darah itu meluncur secepat kilat, menembus air danau. Tampak asap tipis berwarna merah mengepul ke udara. Dan air di samping sampan bergolak sebentar, kemudian tampaklah seekor ikan tawes sebesar nampan mengambang dengan mata berlubang dan kepala hancur!

Sukar dilukiskan betapa hebatnya semburan air sirih tadi. Jelas, nenek buruk rupa ini memiliki kesaktian yang tidak terukur dengan tenaga dalam tinggi. Tenang saja, perempuan tua itu mengambil ikan. Bahkan langsung dimakannya mentah-mentah.

"Kalau tidak salah, kami sekarang sedang berhadapan dengan Etek Petaka. Kalau memang betul, berarti kau telah begitu berani melanggar peraturan!"

Terdengar bentakan keras, namun nenek buruk rupa' yang sekujur tubuhnya menebar bau bangkai itu sedikit pun tidak menghiraukan. Malah dia terus melahap hasil tangkapannya dengan rakus.

"Tidak perlu banyak tanya! Memang dialah orangnya! Sekarang, tunggu apalagi? Mari kita laksanakan!" kata laki-laki gagah berpakaian serba merah yang berada sendiri di atas sampannya.

Sementara perempuan tua yang tengah dibicarakan kini mengangkat kepalanya perlahan. Sehingga tampaklah seluruh wajahnya yang mengerikan, dipenuhi luka-luka membusuk Ketika perempuan tua yang bernama Etek Petako menyeringai, maka tampaklah giginya yang berwarna hitam dan berlumuran darah. Mengerikan sekali.

"Tamu datang tidak diundang... Berbisik-bisik mengganggu ketenangan orang. Persetan dengan pantangan! Apakah kalian tahu, dunia ini punya siapa?!" desis Etek Petako dengan suara serak, seperti dicekik setan.

"Kurasa tanah Minah ini hanya milik Datuk Gadang seorang. Semua rakyat negeri harus patuh serta tunduk pada perintahnya!" sahut laki-laki gagah berbaju serba merah yang menjadi pimpinan tegas.

Seulas senyum tampak mengembang di bibir keriput penuh luka membusuk milik Etek Petako.

"Kelihatannya, Datuk kalian ini seperti Tuhan? Apakah datukmu bisa melarang jika aku menginginkan badan dan nyawa orang?" cibir Etek Petako dingin.

Sedikit banyaknya para laki-laki yang berada di atas sampan ini mengetahui maksud ucapan Etek Petaka. Sehingga, serentak mereka mencabut pedang.

Sret! Srettt!

"Serbuuu...!" teriak laki-laki gagah berbaju serba merah.

Dua sampan langsung bergerak mendekati sampan kecil Sedangkan Etek Petako tampak acuh tak acuh. Saat senjata-senjata pedang menebas leher, tiba-tiba sampannya meluncur deras meninggalkan lawan-lawannya.

Apa yang dilakukan Etek Petako sangat mengejutkan, karena sampan kecil itu sama sekali tidak didayung! Kakinya tetap diam. Begitu pula tangannya. Hanya mulutnya saja yang bergerak-gerak mengunyah sirih.

"Kurang ajar! Rupanya kau hendak pamer kehebatan di sini!" kata laki-laki berbaju serba merah.

"Hik..u Hik.... Hik...! Jika kematian menyambangi seseorang, tidak usah bertanya! Apalagi basa-basi Contohnya, seperti ini...!"

Crottt.. .!

Begitu habis kata-katanya, Etek Petako menyemburkan sirihnya ketiga arah. Hanya dalam waktu sangat singkat, air sirih yang menebarkan asap tipis ini telah mengenai salah satu lawan. Bahkan ada yang sampai melubangi badan sampan, sampai bocor. Sedangkan orang yang terkena terlempar dari sampan dengan perut berlubang tembus hingga ke punggung.

Byuurrr....!

Air danau bergolak ketika laki-laki malang itu tenggelam. Sedangkan empat orang lainnya sibuk menyelamatkan diri karena sampan hampir tenggelam.

"Huh...! Kalau kubiarkan, kalian tentu mati kekenyangan minum air. Aku tidak mau kalian sengsara. Maka aku akan mempercepat kematian kalian," dengus Etek Petako. "Pruhhh...!

Kembali mulut perempuan tua itu menyembur. Tentu saja orang-orang yang sedang berenang di dalam danau sulit sekali menghindar. Sehingga luncuran air sirih tepat mengenai sasaran.

"Aaa...!" Mereka menjerit keras, saat semburan air sirih menembus batok kepala. Tubuh mereka berkelojotan, lalu tenggelam perlahan-lahan.

Perempuan tua itu lantas melengos ke arah laki-laki gagah berpakaian serba merah. Matanya menyorot tajam, siap menebar hawa kematian.

"Sekarang tinggal kau saja, manusia bermulut besar! Kau ingin mati secara enak, atau mati sengsara?" cibir wanita buruk rupa ini dengan mata mendelik.

"Bangsat! Manusia rendah! Hiyaaa...!" teriak laki-laki berbaju merah yang jadi pimpinan rombongan, seraya melesat ke udara. Sedangkan pedang di tangannya meluncur deras menebas kepala Etek Petako.

Namun hanya sedikit menggerakkan sampan, luputlah wanita buruk rupa ini dari kematian. Bahkan Etek Peta ko langsung melepaskan tinjunya ke dada. Dalam keadaan melayang di udara, sulitlah bagi laki-laki itu untuk menghindar! serangan. Sehingga...

Desss...! Krak!

"Aaa...!" Tidak ayal lagi, laki-laki berbaju serba merah itu terpental ke udara disertai pekik kematian. Dadanya hancur. Sedangkan pada permukaan kulitnya terlihat menghitam, pertanda pukulan Etek Petako mengandung racun ganas.

Byurrr...!

Laki-laki itu langsung tenggelam ke danau, dan tidak pernah timbul untuk selama-lamanya. Tanpa beban Etek Petako tertawa mengikik. Dan begitu mengegoskan badannya, maka sampan kecil itu meluncur deras menuju tepi danau.

********************

Siapa yang tidak kenal Datuk Gadang? Dialah orang terkaya di tanah Minang yang mempunyai kebun dan ladang luas. Harta bendanya tidak habis dimakan tujuh turunan Istrinya hampir selusin. Di mata orang, Datuk Gadang dikenal sangat santun dan dermawan.

Datuk Gadang mempunyai pengaruh yang sangat luas di tanah Dalas, terutama di tanah Minang. Anak buahnya cukup banyak Dia cukup disegani sekaligus ditakuti, karena ilmu harimau yang hebat. Dan di tanah Minang ilmu itu dikenal dengan nama ilmu cindaku.

Walaupun Datuk Gadang sangat berkecukupan dalam hidupnya, namun sepanjang hari-hari hidupnya tidak pernah tenang. Memang sebagai tokoh persilatan, musuh datuk ini tersebar di mana-mana.

Matahari senja telah tenggelam di ufuk barat Rumah besar milik. Datuk Gadang halamannya sangat luas tampak sepi. Hanya seorang penjaga yang terkantuk-kantuk di depan pintu utama. Umurnya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya bengis terkesan menyimpan kekejaman.

Baru beberapa tarikan napas terlelap, laki-laki berpakaian sederhana ini tersentak kaget ketika mendengar suara ringkik kuda di luar tembok rumah besar Ini. Dengan cekatan, dia mengintip ke luar dari sebuah lubang di pintu utama.

Ternyata, yang datang adalah sebuah kereta kuda. Dan yang membuat penjaga ini terheran-heran, ternyata kereta kuda itu tidak ada yang mengendalikannya. Namun, dia hafal betul kalau kereta kuda itu masih milik Datuk Gadang. itu lah sebabnya, walau hatinya diwarnai keheranan, namun tetap membuka pintu utama.

Setelah pintu terbuka, kereta kuda. itu langsung menerobos masuk Dan penjaga ini langsung menutup pintu kembali Ketika kereta kuda berhenti tepat di depan halaman bangunan, penjaga itu langsung menghampiri untuk dibawa ke belakang. Namun, langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika terlihat ceceran darah yang menetes dari dalam kereta kuda.

Dengan tergesa-gesa, penjaga ini membuka pintu kereta. Betapa terkejutnya dia ketika menyaksikan di dalamnya tergeletak mayat seorang perempuan.

"Tuan Putri Halipah...?!" desah penjaga ini, begitu mengenali mayat yang tergolek Yang dilihatnya memang tak lain mayat istri pertama Datuk Gadang.

Mayat itu sudah dalam keadaan tidak utuh lagi. tubuhnya seperti habis dicabik-cabik binatang buas. Penjaga ini ketakutan setengah mati. Dia bermaksud segera melapor pada majikannya, namun secarik kain merah yang tersembul di sela-sela dada mayat itu menarik perhatiannya.

Dengan cepat penjaga itu mengambil kain merah itu. Begitu dibuka. ternyata isinya sebuah pesan yang ditulis dengan tinta emas. Tulisan tidak dibacanya, melainkan terus dibawa ke dalam bangunan besar ini.

Laki-laki ini langsung menelusuri lorong-lorong ruangan panjang. Hingga kemudian, dia sampai di depan sebuah pintu. Setelah mengetuk beberapa kali, maka pintu pun terbuka dengan sendirinya.

Tampak seorang laki-laki berbadan gemuk tinggi di bungkus pakaian kuning gading, berusia sekitar lima puluh tahun tengah duduk dengan angkuh menghadap ke arah penjaga. Matanya melotot melihat kehadiran penjaga yang langsung masuk ke kamar pribadi ini.

"Apa yang kau bawa pada ku, Bujang Rancak? Sudah kukatakan padamu, jangan ganggu aku! Apakah telingamu tuli?!" sentak laki-laki berbadan gemuk itu.

"Hamba punya telinga tidak tuli Datuk Hamba hanya ingin menyampaikan kabar buruk pada Datuk, bahwa istri pertama Datuk meninggal di dalam kereta kuda...!" lapor laki-laki penjaga bernama Bujang Rancak dengan suara pelan.

"Apa...?!" Datuk Gadang terkejut sekali mendengar ucapan penjaganya. Tubuhnya sampai terlonjak dari tempat duduknya. Seakan, ada binatang berbisa yang menggigitnya.

"Tidak mungkin...! Istriku Halipah tengah pergi ke rumah orangtuanya di Solok Dia baru akan pulang besok pagi. Sekarang kau katakan dia tewas? Bujang Rancak! Jangan mengolokku kalau tidak mau kepalamu kubuat pajangan penghias dinding kamarku!" bentak Datuk Gadang, dengan mata mendelik

Bujang Rancak jadi gemetar tubuhnya. Dia ketakutan setengah mati mendengar ancaman Datuk Gadang. Bahkan keringat sebesar-besar jagung telah menetes deras di tubuhnya.

"Hamba tidak berbohong, Datuk. Hamba malah menemukan pesan di dalam kereta kuda yang membawa mayat istri Datuk!"

"Coba bawa kemari!" perintah Datuk Gadang.

Dengan cepat Bujang Rancak menyerahkan kain merah yang dibawanya. Datuk Gadang segera menyambar kain merah, dan membaca pesan yang ditulis dengan tinta emas.

"Datuk Gadang! Sekarang kami melihat kau terlalu sibuk dengan segala macam harta benda yang bertumpuk. Suatu hari, kau tidak dapat melupakan kami begitu saja. Ingatkah kau pada dosa-dosamu di masa lalu? Kuharap kau membayarnya di suatu saat kelak. Sekarang sebagai peringatan, kami minta nyawa istrimu dengan cara lama. Datuk Gadang! Taring dan kukuku ternyata masih cukup tajam untuk menyelesaikan hutang piutang kita. Tiga Datuk"

"Bangsat! Bukankan mereka telah tewas di Ngarai Sianok?!" maki Datuk Gadang setelah membaca pesa dengan hati geram. Bagaimanapun, ancaman ini tidak dapat dianggap main-main. Padahal disangkanya Tiga Datuk telah mati di Ngarai Sianok. Sehingga urusan lama tidak terkatung-katung sampai sekarang ini. dia sadar betul, bagaimana sikap Tiga Datuk yang masih saudara seperguruannya bisa sudah disakiti. Apalagi, mengingat dulu Datuk Gadang bermaksud membunuh mereka dalam sebuah urusan memalukan.

"Bujang Rancak!" panggil Datuk Gadang.

"Hamba, Datuk," sahut laki-laki itu sambil membungkukkan badannya.

"Perintahkan pada seluruh anak buahku untuk kembali ke sini Tinggalkan Bangko secepatnya. Katakan bahwa mereka harus menjaga gedung ini dari rongrongan siapa saja!" perintah Datuk Gadang, tegas.

"Baik, Datuk!" jawab Bujang Rancak

Tanpa basa basi lagi, penjaga ini segera mengundurkan diri dari ruangan pribadi Datuk Gadang. Kepergiannya diantar tatapan mata Datuk Gadang yang tampak gelisah.

********************

Pagi menyapa alam. Kabut bergerak-gerak perlahan. Burung berkicau riang, siap terbang jauh mencari makan buat anak-anaknya. Begitu ceria, seceria seorang gadis yang berjalan melenggang memasuki sebuah gubuk di sebuah lembah yang diapit Pegunungan Bukit Barisan.

Usia gadis itu menginjak sembilan belas tahun. Penampilannya cukup memikat Wajahnya cantik. Berbaju putih bersulam setangkai bunga mawar di punggung tampak jelas dengan warna kulitnya. Di bagian rambut di atas telinganya, tampak terselip bunga mawar yang tidak pernah layu.

"Ada apa, Guru? Tadi kudengar Guru memanggilku?" tanya gadis ini begitu berada di dalam.

Gadis ini lantas duduk bersila di depan seorang perempuan tua berpakaian putih kusam yang tak henti-hentinya mengunyah sirih. Wajahnya buruk, dipenuhi luka-luka membusuk.

"Banyak persoalan yang akan kubicarakan denganmu, Dewi! Dan semua ini, menyangkut tentang dirimu dan juga kematian kedua orangtuamu...! ujar nenek berwajah buruk yang tak lain Etek Petako.

"Sembilan belas tahun aku berada di sini, Guru. Dan selama itu pula, kau telah memberikan segala-galanya padaku. Hari ini aku ingin mengucapkan rasa kasih yang tidak terhingga padamu!" ucap gadis berambut panjang yang dipanggil Dewi.

"Tidak usah berterima kasih, Dewi. Gurumu bukan hanya aku saja. Masih ada Nenek Sekato yang juga tidak kecil artinya dalam mendidikmu. Kau harus menjumpainya, sebelum meninggalkan Lembah Penyesalan ini!" sergah Nenek. Petako.

Entah mengapa, gadis itu hanya diam saja. Sama sekali kepalanya tidak mengangguk atau menggelengkan kepala.

"Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Dewi?" tanya perempuan tua berwajah buruk menebar bau busuk ini heran.

"Ya... Memang ada beberapa hal yang mengganjal hatiku. Pertama, Guru tidak pernah mengatakan siapa yang telah membunuh kedua orangtuaku. Yang kedua, sejak dulu Guru tidak pernah berusaha mencari tahu di mana para pembunuh itu...?" kata Dewi, bersungut-sungut

"Sekarang, sudah waktunya mengatakan padamu. Yang membunuh ibumu adalah Datuk. Aku kurang jelas, Datuk apa namanya. Sedangkan yang membunuh ayahmu, aku hanya menemukan senjata ini sebagai petunjuknya...!"

Etek Petako segera menunjukkan sebuah tusuk konde emas yang ujungnya berbentuk seekor burung merak Kemudian diberikannya benda itu pada Dewi. Gadis cantik berambut panjang ini menerima dan langsung memperhatikan tusuk konde itu. Kemudian disimpannya di balik pakaian.

"Hanya itu bukti-bukti yang dapat mengantarmu pada pembunuh kedua orangtuamu. Seperti biasanya, aku hanya memberimu bekal satu bumbung bambu tuak keras," jelas Etek Petako.

"Aku mengucapkan terima kasih padamu, Guru. Semoga semua urusanku cepat selesai, sehingga kita dapat berkumpul kembali," ucap Dewi.

"Pergilah... Sekarang sudah saatnya bagimu!" tegas Etek Petako.

Dewi sadar betul dengan sikap gurunya yang angin-anginan. Untuk itu segera dia pergi meninggalkan Lembah Penyesalan. Hanya dalam waktu yang demikian singkat, tubuhnya telah lenyap dari pandangan Etek Petako.

********************

Setelah berada jauh di sudut Lembah Penyesalan Dewi membelok ke arah sebuah rumah yang seluruh dindingnya dari kulit harimau. Diperhatikannya pintu rumah yang tertutup.

Nenek Sekato akhir-akhir ini seperti enggan bertemu denganku. Dan sekarang ini, tampaknya dia tidak berada di rumah pula," gumam Dewi.

Dewi mendorong pintu. Kepalanya langsung melongok. Ternyata, di dalam rumah gubuk itu tidak ada siapa-siapa. Tapi dia tetap memasuki gubuk ini.

"Nenek Sekato! Di manakah kau? Aku ingin berjumpa denganmu untuk mengucapkan salam perpisahan. Nenek Sekato jawablah...!" teriak Dewi lantang.

Sekejap kemudian, terdengar suara raungan harimau disusul suara desir angin yang begitu deras. Sesudahnya suasana berubah sunyi kembali.

"Nenek Sekato telah berada jauh dari sini rupanya," gumam Dewi.

Gadis ini bermaksud keluar dari pondok, namun matanya melihat selembar daun lontar tergeletak di atas balai-balai bambu. Tidak jauh dari daun lontar terlihat sebuah jangkar berwarna hitam yang disambung dengan tali dari oyot kuat

"Dia meninggalkan pesan untukku!" kata batin gadis berambut panjang ini. Kemudian dibacanya pesan singkat di atas daun lontar itu.

"Dewi muridku... Sesuatu yang paling tidak kusuka adalah perpisahan. Aku telah memberikan semua yang kumiliki. Aku yakin, kau dapat mencari pembunuh orangtuamu. Aku punya Jangkar butut untukmu. Kau dapat mempergunakannya bila dalam keadaan sangat terpaksa. Pergilah,... Semoga Tuhan selalu menyertaimu!

Gurumu Sekato Manangi"


Dewi tercenung setelah membaca pesan di atas daun lontar. Tidak dapat dipungkiri bahwa Nenek Sekato adalah orang yang paling dekat dengannya. Jika gurunya Etek Peta ko memiliki wajah rusak mengerikan, maka gurunya yang satu ini sangat jarang bicara. Wajahnya selalu muram dan sedih. Sedangkan tatapan matanya menyimpan penyesalan yang dalam.

"Seumur hidup, mustahil aku dapat membalas semua kebaikan kalian, wahai guru-guruku!" kata Dewi, bicara sendiri.

Gadis berambut panjang ini lantas menyambar jangkar yang tergeletak di atas balai-balai. Kemudian dia segera memulai perjalanannya untuk mencari orang-orang yang telah membunuh kedua orangtuanya.

********************

DUA

"Aaa...!" Bukit Siguntang yang semula hening, mendadak pecah oleh teriakan berbau kematian yang saling sambut. Asal suara adalah dari sebuah rumah besar di lereng bukit, yang dipagari bambu sepanjang satu setengah tombak.

Suasana di halaman rumah besar itu mendadak menjadi hiruk-pikuk. Dua orang kedapatan tewas dengan leher luka seperti terbakar dan masih mengepulkan asap.

Belum hilang keterkejutan beberapa laki-laki yang ada di tempat itu, tahu-tahu sudah berkelebat satu bayangan putih dari atas pagar. Setelah berputaran beberapa. kali, sosok bayangan putih itu mendarat manis di tengah-tengah halaman yang baru saja dijadikan tempat berlatih.

Beberapa laki-laki langsung mengurung sosok bayangan putih, yang ternyata seorang gadis berpakaian serba putih. Di punggungnya terdapat sulaman bunga mawar berukuran cukup besar. Sementara di pinggangnya menggantung sebuah bumbung bambu yang dari aroma baunya berisi tuak sangat keras. Walaupun sudah terkepung, gadis ini malah mengikik.

"Siapa kau?! Mengapa membuat keonaran di tempat ini?!" bentak salah seorang pengepung, geram.

"Hi hi hi! Kalian anak buahnya Datuk Panglima Hitam, bukan?" tanya gadis berbaju putih.

"Tidak salah!" jawab laki-laki berbadan tegap yang tadi membentak.

"Huh! Bunuh dia!" seru laki-laki itu pada para pengepung lainnya.

Perintah laki-laki berbaju biru kiranya cukup berpengaruh bagi yang lainnya. Terbukti, para pengepung langsung menerjang Dewi Mawar Selatan dari delapan penjuru.

Hiyaaa...!" Sembilan laki-laki yang merupakan anak buah Datuk Panglima Hitam langsung melancarkan serangan-serangan dahsyat. Dewi Mawar Selatan tentu saa tidak tinggal diam. Dengan kepandaiannya, sampai sejauh ini tak satu serangan pun yang berhasil mendarat di tubuhnya yang meliuk-liuk indah.

Melihat gadis itu mampu menghindari serangan, maka laki-laki berbaju biru yang menjadi pimpinan menjadi sangat marah. Langsung senjatanya yang berbentuk ganco dicabut dan diputar-putarkan. Dan saat tubuhnya menerjang, senjata di tangannya meluncur deras terarah ke bagian lambung Dewi Mawar Selatan.

"Hiyaa..."

Dengan cepat gadis itu berjumpalitan ke belakang. Begitu menjejak tanah dicabutnya bumbung bambu di pinggang. Seketika bibir bumbung bambu ditempelkan ke bibirnya. Cairan tuak langsung tertampung di mulutnya. Tidak diteguk, melainkan langsung disemburkan ke arah lawan-lawannya.

"Fruhhh....!"

"Aaagkh...!"

Empat orang anak buah Datuk Panglima Hitam kontan terpelanting roboh terkena semburan tuak. Wajah mereka langsung hancur dan tampak mengepulkan asap putih sama seperti dua orang sebelumnya yang tewas pertama kali. Dengan cepat segera tercium bau daging terbakar. Betapa kerasnya tuak yang disemburkan Dewi Mawar Selatan!

Laki-laki berbaju biru terkejut sekali melihat kenyataan ini. Disertai teriakan keras, tubuhnya meluruk melakukan serangan kembali. Kali ini serangannya lebih hebat. Tubuhnya berkelebatan cepat. Sehingga dalam waktu singkat yang terlihat hanya bayang-bayang saja bersambar kelebatan senjata ganconya.

Wuuut!

"Uts!" Begitu senjata ganco meluncur ke bagian kepala, Dewi Mawar Selatan cepat-cepat menunduk sambil menggeser kakinya selangkah ke belakang, membuat ganco hanya menebas angin.

Tetapi di luar dugaan, laki-laki berbaju biru berputar dengan kaki secepat kilat meluncur deras ke bagian perut.

Buk!

"Huugkh...!" Dewi Mawar Selatan kontan terhuyung-huyung. Mulutnya meneteskan darah. Tangan kirinya langsung memegangi perut yang terasa mual.

Melihat hal ini, laki-laki berbaju biru makin bernafsu untuk menghabisinya. "Heaaaa...!"

Melihat kenyataan ini, Dewi Mawar Selatan segera semburkan tuaknya. "Fruhhh...!"

Kiranya laki-laki ini telah mengetahui apa yang akan dilakukannya. Seketika ganconya diputar bagai baling-baling, coba menangkis serangan tuak.

Tes! Tes! Tes!

"Heh...!" Laki-laki itu terkejut sekali melihat senjata di pegangnya patah jadi empat bagian terkena serangan itu. Seketika dia berusaha menghindar ke belakang. Namun gerakannya terlambat. Semburan tua Dewi Mawar Selatan yang datang susul-menyusul sudah tidak terelakkan lagi. Dan...

Creess!

"Aaa...!" Laki-laki berbaju biru menjerit keras. Tubuhnya kontan terlempar dan menggelepar. Tampak beberapa bagian tubuhnya berlubang-lubang, tertembus tuak yang disemburkan gadis baju putih itu.

Melihat kematian pemimpinnya, empat orang anak buah Datuk Panglima Hitam lainnya segera berlari menyelamatkan diri.

Dewi Mawar Selatan merasa tidak perlu melakukan pengejaran. Siasat yang sedang dijalankan dianggapnya cukup sampai di sini dulu.

"Hm.... Untung saja Datuk Panglima Hitam tidak ada di tempat Kalau ada, bisa gagal rencanaku. Dan jika antara para datuk telah saling bertarung, nantinya aku hanya tinggal membunuh pemenangnya," gumam Dewi Mawar Selatan sambil melangkah pergi.

********************

Seorang laki-laki tua berbaju hitam terus memandangi permukaan air sungai yang mengalir jernih. Sesekali tampak senyumnya mengembang sehingga giginya yang tinggal beberapa buah terlihat putih seperti mutiara.

"Jika ikan mengenal kasih sayang! Mengapa manusia tidak? He he he...'' gumam laki-laki tua ini sambil terkekeh.

Laki-laki tua ini lantas mengambil tempurung kelapa yang sudah berwarna hitam di sebelahnya. Diciduknya air sungai dengan tempurung. Sementara tangan satunya bergerak cepat ke dalam air.

Pyarr...! Tap! Tap!

Dua ekor ikan kecil tahu-tahu telah terjepit di sela-sela jemari, ketika laki-laki tua itu mengangkat tangannya. Dimasukkannya ikan-ikan itu ke dalam tempurung kelapa sambil terkekeh-kekeh.

"Kalian hidup penuh kedamaian, tanpa angkara murka. Tidak seperti manusia yang suka menebar darah di mana-mana. Hik hik hik...!"

Kakek berpakaian hitam penuh tambalan yang berwatak aneh ini tampak sibuk dengan ikan-ikan itu. Terkadang terdengar suara tawanya. Namun, tak jarang menangis tersedu-sedu seperti anak kecil!

Semua tingkah laku kakek itu kiranya tidak lepas dari perhatian seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Di punggungnya tersampir sebilah pedang bergagang kepala burung rajawali. Sambil memperhatikan, pemuda itu geleng-geleng kepala.

"Pikiran orang tua satu ini benar-benar miring. Tertawa dan menangis sendirian!" bisik pemuda tampan berbaju rompi putih yang tidak lain Rangga sang Pendekar Rajawali Sakti.

Pendekar Rajawali Sakti terus memperhatikan gerak-gerik kakek itu. Sampai kemudian...

"Hey, orang usil yang bersembunyi di balik pohon! Harap keluar! Tunjukkan dirimu...!" teriak laki-laki tua berbaju hitam tambal-tambalan.

"Heh...?!" Rangga terkejut karena tidak menyangka kalau kakek berwatak aneh ini mengetahui kehadirannya. Merasa tidak ada pilihan lain, segera dia keluar dari tempat persembunyiannya.

Kakek berpakaian hitam penuh tambalan ini memperhatikan Rangga sekilas, lalu berdiri sambil memainkan ikan-ikan kecil yang terdapat di dalam tempurung.

"Kau ini siapa, Kek?" tanya Rangga ramah sambil menjura hormat

"Kakek? Kapan aku kawin dengan nenekmu! Dasar pemuda tidak tahu aturan! Hiyaaa...!"

Disertai bentakan keras, kakek bertabiat aneh ini langsung menyerang dengan jurus-jurus aneh dan kocak Rangga tentu saja sangat terkejut.

"Hei?! Mengapa kau menyerangku, Kek?" tukas Rangga lak senang sambil menghindari serangan.

"Jangan banyak mulut, Pemuda usilan!" dengus kakek berbaju tambal-tambalan ini

Serangan kakek ini semakin menghebat. Aneh nya sambil menyerang tempurung di tangannya yang berisi air dan ikan dipergunakan sebagai senjata. Hal ini membuat Pendekar Rajawali Saku terkagum-kagum. Apalagi melihat air di dalam tempurung tidak tumpah barang setetes pun.

Rangga terus menghindari serangan dengan jurus Sembilan Langkah Ajaib. Tubuhnya meliuk-liuk indah bagai orang mabuk, ditunjang oleh gerakan kaki yang lincah. Kadang tubuhnya tegak, kadang condong ke samping atau ke belakang, seperti hendak jatuh. Itulah kelebihan jurus Sembilan Langkah Ajaib.

Di luar sepengetahuan Rangga, kakek bertabiat aneh ini kiranya cukup terkejut juga melihat tak satu pun serangannya yang mendarat di sasaran. Padahal dia telah mengeluarkan jurus-jurus mautnya yang cepat bukan main.

"Aandai juga kau mengejekku, Anak Muda! Tapi coba hadapi jurus Bidadari Menari Dewa Menangis ini. kau segera mampus di tanganku! Heaaa...!" dengus kakek ini.

"Maaf, kek. Di antara kita tidak ada permusuhan. Mengapa kau menyerangku mati-matian?" tanya Rangga sambil melompat mundur ke belakang.

"Ada persoalan atau tidak, sekarang ototku sedang pegal-pegal. Apa salahnya jika aku mau menyerang siapa pun yang mengganggu ketenangan!" sahut kakek itu dingin.

Setelah Pendekar Rajawali Sakti kalau orang tua yang dihadapinya memang sulit diajak bicara baik-baik. Kini Rangga merasa harus bersikap tegas.

Ketika melihat tempurung kelapa di tangan kakek itu hendak menghantam wajahnya, secepat kilat dia melompat ke samping. Kemudian tangannya bergerak cepat meluncur ke pergelangan tangan kakek itu.

Plak!

Rangga terjajar ke belakang dengan wajah pucat dan badan bergetar. Sedangkan kakek ini hanya meringis saja. Yang lebih mengherankan, air di dalam tempurung setetes pun tidak ada yang tumpah.

"Kau boleh juga, Anak Muda!" puji kakek ini.

"Ah...! Aku bukanlah apa-apa dibandingkan dirimu..!" jawab Rangga merendah.

"Kurang ajar! Kau tidak memandang muka padaku! Mukamu di mana, heh...?! Hiaaa...!"

Dengan konyol kakek berpakaian tambal-tambalan ini kembali menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga sadar betul kalau kakek ini hanya mengujinya. Tak heran kalau dia tidak berani turun tangan lebih kejam kepada orang tua ini. Maka apa yang dilakukannya tidak lebih hanya memapak, menghindari saja. Tindakannya Ini jelas membual lawannya lebih leluasa menyerang.

"Hei...?! Apa kau memilih mati?! Kau menghindar terus seperti seekor monyet kudisan!" teriak kakek itu.

Diejek begitu, Rangga hanya tersenyum kecil saja. Namun dia mulai bersikap sungguh-sungguh dalam menghadapi serangan.

Kakek berbaju hitam penuh tambal-tambalan ini kembali menerjang. Tangan kirinya menghantam perut. Sementara tempurung kelapa di tangan menghantam dada. Namun Pendekar Rajawali Sakti dapat mengangkat kaki kanannya untuk melindungi perut. Sedangkan tangan kirinya cepat memapak tempurung kelapa yang mengarah ke dada.

Plak! Plak!

Bukan main kerasnya benturan barusan, sehingga kedua-duanya tampak terhuyung. Air di dalam tempurung kelapa tumpah, sehingga ikannya melompat jatuh ke bawah. Rangga merasa tangannya seperti patah, menimbulkan rasa sakit mendenyut-denyut.

"Ah, ikanku... Ikan kedamaian. Pemuda jelek ini tega membuangmu. Hu hu hu...!" rintih kakek itu tak melanjutkan serangan.

Kemudian kakek ini berbalik dan melangkah ke arah batu cadas. Dia duduk di atas. Sedangkan Rangga hanya melongo melihat tingkah kakek tua yang seperti anak kecil itu.

"Maafkan aku, Kek. Aku tidak sengaja menumpahkan ikan-ikanmu," ucap Rangga membela diri.

"Huh! Kau tahu apa dengan ikan-ikan. yang tidak berdosa ini? Tapi, tidak mengapa. Kesalahanmu kumaafkan. Kemarilah! Aku ingin mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikatakan orang, malaikat ataupun dewa!" ujar kakek ini.

Rangga sebenarnya kurang begitu tertarik dengan kakek yang bicaranya terkesan seperti orang gila ini. Namun mengingat kakek itu memiliki kepandaian sangat tinggi, akhirnya Pendekar Rajawali Sakti memutuskan untuk menghampirinya.

"Aku ini berjuluk Penyair Gila. Untuk mengenal siapa dirimu, coba ulurkan telapak tanganmu!" pinta kakek berbaju tambal-tambalan ini yang mengaku berjuluk Penyair Gila.

Dengan ragu-ragu Rangga menjulurkan tangannya. Penyair Gila cepat membuka telapak tangan Rangga. Beberapa saat diperhatikannya telapak tangan pemuda tampan ini. Sampai kemudian dia tersentak kaget dengan mata melotot.

"Ada apa, Kek?" tanya Rangga dengan kening berkerut.

"Kiranya sekarang ini aku sedang berhadapan dengan seorang raja, tidak kusangka! Kau rela meninggalkan kerajaan, dan memilih hidup mengikuti jiwa kependekaranmu!" desis Penyair Gila.

Rangga sendiri sebenarnya sangat terkejut. Tidak disangka bahwa Penyair Gila sebenarnya seorang ahli ramal juga, namun rasa terkejutnya segera ditutupinya.

"Mataku melotot, tetapi aku tidak melihat. Kau seorang pendekar besar. Julukanmu pasti Pendekar Rajawali Sakti. Mana burung rajawalimu? Bukankan kau juga punya kuda tunggangan bernama Dewa Bayu? Melihat garis tanganmu, hidupmu selalu dihadang bahaya. Aku turut sedih, hu hu hu...!" Dan Penyair Gila pun benar-benar menangis dengan air mata berlinang membasahi pipi! Benar-benar aneh!

"Dalam usiaku yang sudah sangat tua ini, aku tidak tahu harus berbuat apa. Ingin membantu seorang gadis bingung, tapi aku sendiri sedang kebingungan," tutur Penyair Gila, setelah tangisnya reda.

Pendekar Rajawali Sakti menjadi tidak sabar. "Tadi kau hendak mengatakan sesuatu padaku, segera katakan. Aku tidak mengerti arti ucapanmu, Kek. Itulah sebabnya, hendaknya kau suka terus terang kalau bicara!" pinta Rangga.

"Sudah begini bodohnyakah aku? Bicaraku pun orang tidak tahu. Pendekar Rajawali Sakti! Maukah kau menolongku?" pinta Penyair Gila berkata.

Rangga menjadi heran. Mengapa orang tua berjuluk Penyair Gila masih hendak minta tolong kepadanya?

"Huhhu.! Tidak seharusnya aku minta tolong padamu. Namun berhubung kau orang luar, kurasa kau dapat menjernihkan persoalan yang sedang terjadi di tanah Andalas ini," lanjut Penyair Gila seperti mengerti apa yang sedang dipikirkan Pendekar Rajawali Sakti.

"Persoalan apa, Kek?" tanya Rangga.

"Aku sebenarnya bernama Lebai Penyadi. Adikku bernama Ledai Nan Rancak Sayang orangnya sudah meninggal. Dia punya empat murid. Tiga di antaranya tidak dapat diharapkan lagi. Sedangkan satunya lagi yang bernama Datuk Putih, sekarang telah pergi entah ke mana. Padahal, Datuk Panglima Hitam, Datuk Merah, dan Datuk Gadang, masih saja selalu berseteru...!"

"Mengapa saudara seperguruan bisa begitu, Kek?" tanya Rangga.

"Rambut bisa sama hitam, tapi isi kepala jelas berlainan. Persoalannya waktu itu hanya siapa yang pantas menggantikan guru mereka yang telah meninggal. Persoalan kemudian ditengahi oleh Datuk Putih, murid bungsu di Perguruan Sangga Langit milik adikku itu, yang tak pernah memihak siapa pun. Akhirnya dibuat keputusan, bahwa perguruan kemudian dibubarkan. Namun setelah Datuk Putih pergi entah ke mana, ketiga datuk yang ternyata menyimpan dendam di hati masing-masing kembali terlibat silang sengketa. Dan sekarang, persoalannya sudah lain. Mereka terlibat persaingan kekuasaan dan saling ingin menunjukkan siapa yang paling hebat. Mereka orang-orang besar dan sangat berpengaruh di tanah Andalas ini. jika terjadi perselisihan, maka korbannya tidak sedikit. Suasana semakin bertambah kacau, oleh kemunculan seorang gadi berjuluk Dewi Mawar Selatan. Gadis ini ternyata murid Etek Petako itu mempergunakan kecerdikannya untuk mencari datuk yang telah membunuh ibunya," papar Penyair Gila panjang lebar.

"Lalu, apa yang hendak dilakukan gadis itu?" tanya Rangga.

"Secara pasti tidak tahu. Mungkin hendak menuntut balas pada salah satu murid adikku itu. Pokoknya tahu-tahu dengan membabi-buta, dia mengadu domba antara datuk dengan datuk!"

"Kalau begitu, pasti dia tahu persoalan antara datuk yang satu dengan datuk lainnya," tebak Rangga.

"Memang! Dia telah mempelajari kelemahan itu dengan kecerdikannya. Aku tidak bisa berpihak pada murid-murid keponakanku, karena tindakan mereka memang telah melampaui batas. Seakan-akan mereka tidak mau kembali ke jalan yang benar. Aku tidak dapat melarangmu berbuat apa-apa," kata Penyair Gila Pasrah.

"Apakah kau ingin aku menangkap gadis yang berjuluk Dewi Mawar Selatan itu?" tanya Rangga.

"Tidak perlu begitu. Dia punya hak untuk membalas sakit hati. Malah suatu saat, kau harus membantunya di saat harus berhadapan dengan orang-orang yang telah membunuh ayahnya," saran Lebai Penyadi mendukung.

"Tentu kau tidak dapat memaksaku, bukan?" sergah Rangga.

"Hik hik hik...! tentu saja semua terpulang padamu. Aku malah khawatir, kau jatuh cinta padanya...!" ejek Penyair Gila.

Bersamaan dengan ucapannya itu, Lebai Penyadi berkelebat pergi meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti sendirian.

"Dasar orang sinting! Kata-katanya pun entah benar entah tidak," gumam Rangga lirih.

********************

TIGA

Sepak terjang gadis murid Etek Petako yang berjuluk Dewi Mawar Selatan ternyata telah merebak sampai ke kota Gadang. Tempat jual beli terbesar dan masih merupakan milik Datuk Gadang ini pun dibakarnya pada malam hari. Dengan sepak terjangnya, namanya pun cepat dikenal di tanah Andalas bagian barat.

Kerugian yang diderita Datuk Gadang tidak sedikit. Dan sampai sejauh ini, Datuk Gadang tetap menyangka kalau gadis itu adalah orang upahan Datuk Panglima Hitam!

Siang itu di tempat tinggalnya yang besar dan mewah, Datuk Gadang memanggil dua orang kepercayaannya. Kedua orang itu memiliki ilmu olah kanuragan cukup tinggi. Namun sifat mereka congkak, di samping sangat gemar melakukan tindakan-tindakan menyimpang. itu terlihat dari sorot mata mereka yang menyiratkan keculasan dan kelicikan.

"Adakah sesuatu yang mesti kami selesaikan sehingga Datuk memanggil kami berdua?" tanya laki-laki berbadan kurus berambut kurus seperti duri landak, begitu menghadap Datuk Gadang.

"Menda! Pekerjaan kalian kuanggap beres selama ini. Tempat-tempat perjudian yang kubangun juga aman dari gangguan tangan-tangan jahil. Satu hal yang membuatku marah, malam tadi tempat usahaku di kota Gadang telah dibakar seseorang," jelas Datuk Gadang dengan wajah cemberut.

"Huh! Lancang sekali orang itu. Dapatkah Datuk katakan pada kami, siapa orang yang telah melakukan pembakaran itu?" tanya laki-laki yang berbadan gemuk pendek Di punggungnya tampak sebuah benda persegi panjang yang memiliki tiga tali. Yang terpasang seperti senar.

"Menurut laporan yang kudengar dari orang-orang kita yang bertugas di sana, orang itu mengaku sebagai kaki tangan Datuk Panglima Hitam!" sahut Datuk Gadang.

"Kalau begitu, kita serang saja Bukit Siguntang. Aku jadi ingin tahu, apa yang diandalkan oleh Datuk Panglima Hitam, sehingga begitu berani bertindak gegabah!" saran laki-laki gemuk pendek

"Persoalannya tidak semudah itu, Prabangkara....!"

"Datuk takut padanya?" potong laki-laki kurus berambut pendek yang bernama Menda.

"Huh! Pada setan belang pun aku tak takut! Hanya saja, aku tidak dapat menuduh secara gegabah, karena belum melihat dengan kepala mala sendiri apakah benar gadis berbaju putih itu bekerja sama dengan Datuk Panglima Hitam!" tukas Datuk Gadang.

"Siapa pun gadis itu, kalau urusan perempuan, biarkan kami yang mengatasinya. Dan Datuk tidak usah membayar kami! Karena kami jelas akan mendapat keuntungan juga, " tandas yang berbadan gemuk pendek bernama Prabangkara.

Datuk Gadang mengerti betul makna ucapan Prabangkara. Apalagi mengingat kedua tangan kanannya sangat suka mempermainkan perempuan. Jangankan gadis-gadis. Perempuan yang sudah bersuami pun, asal berwajah cantik, tidak luput menjadi mangsa!

"Baiklah... Kalian kuberi kebebasan untuk menangkap begundal Datuk Panglima Hitam itu. Kalau gadis itu tertangkap, terserah mau kalian apakan! " kata Datuk Gadang memutuskan.

"Kalau memang itu keputusan Datuk, maka kami dengan senang hati akan melaksanakan tugas ini," sambut Prabangkara dan Menda hampir bersamaan.

"Sekarang, pergilah kalian! Jangan kembali jika tugas belum berhasil," ujar Datuk Gadang.

"Bolehkah kami membawa serta beberapa orang anak buah untuk menemani, Datuk?" tanya Menda

"Ha ha ha...! Tentu saja tidak ada yang melarang walaupun kau membawa seluruh anak buahku. Eeeh..., jangan semuanya. Setengah saja. Sedangkan yang lainnya biar tinggal di sini!" sahut Datuk Gadang.

********************

Disertai lima orang anak buah yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan, Menda dan Prabangkara meninggalkan rumah Datuk Gadang, menuju kota Gadang yang memakan waktu lebih kurang setengah hari. Mereka menunggang kuda-kuda pilihan yang dapat berlari cepat.

Di sepanjang perjalanan, mereka sebenarnya tidak menemui hambatan apa-apa. Namun ketika melewati seorang pemuda berbaju rompi putih...

"Panas yang terik ini menjadi semakin tidak menyenangkan oleh kehadiran seekor monyet berompi putih yang tidak dikenal, Prabangkara...!" celetuk Menda, mendengus tidak senang.

"Biarkan saja. Toh dia tidak mengganggu perjalanan kita!" sahut Prabangkara, acuh tak acuh.

"Ini daerah kekuasaan kita! Seekor tikus comberan pun tidak ada yang berani bertingkah di sini!" sergah Menda yang disambut tawa para pengikut-pengikutnya yang berada di belakang.

Kata-kata yang diucapkan Menda, tentu sempat didengar pemuda berbaju rompi putih itu. Terus terang hatinya menjadi jengkel juga.

Tepat ketika kuda yang ditungangi Menda melintas di sampingnya, pemuda itu melihat sebuah kerikil. Langsung dicungkilnya kerikil itu dengan kaki kanan disertai tenaga dalam lumayan. Dan....

Tak!

"Hiekh...!" Batu sebesar ibu jari kaki itu langsung menghantam kaki kuda yang ditunggangi Menda, hingga langsung tersungkur disertai ringkikan panjang.

Jika Menda tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh sempurna, tentu sudah tersungkur bersama kuda yang ditungganginya. Menda melakukan salto beberapa kali, lalu menjejakkan kedua kakinya dengan suatu gerakan sangat manis.

Prabangkara dan anak buahnya langsung menghentikan kudanya, mereka kemudian berlompatan dengan sikap siaga. Sedangkan Menda sendiri langsung mendekati pemuda berbaju rompi putih yang lak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

"Pemuda keparat! Berani benar kau mengganggu perjalanan kami dengan kepandaian picisanmu!" bentak Menda, kasar.

Rangga tersenyum dingin. Diperhatikannya orang-orang yang mengepungnya satu demi satu. Tatapan matanya dingin, menusuk ke bola mata para pengepungnya.

"Bicaramu jauh dari sopan santun, Kisanak. Apakah kau merasa berkuasa atas semua orang?" tukas Pendekar Rajawali Sakti, kalem.

"Kalau aku mau bicara, siapa yang bisa melarang? Kalau kubunuh sekali pun kau di sini, tidak ada orang yang menanyakanmu! Apalagi kulihat kau bukan orang dari daerah sini!" bentak Menda garang.

Rangga merasa tidak ada gunanya bersilat lidah dengan laki-laki berwajah telengas ini Namun sebagai pendekar berkepandaian tinggi, Pendekar Rajawali Sakti merasa tak ada gunanya meladeni mereka. Maka segera dia berjalan kembali.

Namun baru beberapa langkah, lima orang anak buah Menda sudah mencabut golok panjang yang melengkung pada bagian ujungnya. Bahkan telah menghadang langkah Rangga.

"Seraaang...!" teriak Menda.

Begitu mendapat perintah, lima orang pengepung langsung menebaskan senjatanya. Namun Pendekar Rajawali Sakti cepat meliuk-liukkan tubuhnya, sehingga serangan lima buah senjata itu luput Bahkan tiba-tiba Rangga memutar badannya, sekaligus melepaskan tendangan beruntun.

Mereka yang sempat melihat serangan, cepat melompat ke belakang. Namun salah seorang terlambat menyadari. Maka tidak ampun lagi...

Buk!

"Wuaagkh...!" Disertai jeritan tertahan, salah satu anak buah Menda terpental sejauh satu batang tombak. Tampak jelas orang ini kesakitan. Bahkan dari hidungnya mengucurkan darah, pertanda menderita luka dalam yang tidak ringan.

"Rupanya punya mainan juga kau, Monyet! Pantas berani jual tingkah di depan utusan Datuk Gadang! Huh...! Aku tidak akan puas sebelum mencincang tubuhmu!" dengus Prabangkara.

"Kepandaianku yang tak seberapa hanya untuk membela diri dari tindakan orang-orang telengas macam kalian...!" desis Rangga, dingin.

Dikatakan orang telengas, membuat Prabangkara marah. Tanpa bicara lagi segera dia memberi isyarat pada keempat anak buahnya untuk menyerang:

"Hiyaaa...!"

Keempat anak buah Prabangkara dan Menda segera melesat ke arah pemuda berbaju rompi putih. Golok melengkung di tangan mereka berkelebat-kelebat, menyambar ke bagian-bagian tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga menghembuskan napas kesal lalu berkelit sambil memutar tubuhnya. Kaki kanan digeser sedikit Sedangkan kedua tangannya menghantam ke dada salah seorang yang jaraknya paling dekat

Desss...!

"Aaa....!" Kembali salah seorang pengeroyok jatuh ke tanah disertai keluhan tertahan. Dia berusaha bangkit, namun kembali jatuh. Dari mulutnya langsung memuntahkan darah.

Melihat salah seorang kembali dijatuhkan, tiga orang sisanya secepatnya mengibaskan golok. Pendekar Rajawali Sakti mendadak melompat ke udara. Setelah berjumpalitan beberapa kali, badannya meluncur cepat ke bawah dengan kaki melakukan tendangan ke bagian kepala. Inilah jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa', salah satu jurus dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Tidak dapat dihindari lagi, tendangan itu tepat menghantam dua buah kepala.

Prak! Prak!

"Aaa...!" Jeritan keras terdengar disertai jatuhnya dua anak buah Menda dan Prabangkara. Mereka jatuh terpelanting dengan kepala hancur bergelimpang darah. Nyawa mereka lepas dari badan saat itu juga.

"Huh...?!" desis Menda.

Mata laki-laki kurus ini melotot melihat kematian anak buahnya. Sungguh tidak disangka kalau pemuda berbaju rompi putih memiliki kepandaian hebat. Namun untuk mundur, bukan kebiasaan baginya. Lagi pula, kematian dua orang anak buahnya harus ditebus.

"Mundur kalian!" teriak Menda.

Sisa orang anak buah Menda serentak berlompatan mundur. Laki-laki kurus ini yang selalu mengawali pertarungan dengan jurus-jurus tangan kosong segera menerjang Rangga.

Namun Pendekar Rajawali Sakti dengan satu gerakan sangat manis melenting ke udara. Tubuhnya berputaran beberapa kali, lalu meluruk cepat dengan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Tangan kanannya cepat dikibaskan dengan pengerahan tenaga dalam lumayan. Dan...

Duk!

"Huaagkh...!" Menda kontan menjerit kesakitan begitu danya terhantam pukulan telak Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya terlempar, namun cepat bangkit berdiri. Dan secepat itu pula dia memasang kuda-kuda. Tepat ketika Pendekar Rajawali Sakti mendarat di tanah, Menda menghentakkan kedua tangannya melepaskan pukulan jarak jauh.

Wuusss...!

Segelombang angin kencang menerjang. Namun Pendekar Rajawali Sakti secepat kilat melompat ke samping kanan, seraya menghimpun tenaga dalam. Dan....

"Heaaa...!" teriak Rangga sambil mengerahkan aji Guntur Geninya dengan menghentakkan kedua tangannya ke depan.

Seleret sinar merah menyala melesat cepat bagai kilat dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Menda berusaha menahan bahaya besar yang sedang mengancam jiwanya. Maka segera tangannya dihentakkan kembali.

Wuuut! Glam!

Dua pukulan bertenaga dalam bertemu di udara. Rangga terdorong mundur. Sedangkan Menda sambil berteriak kesakitan. Tubuhnya terpelanting roboh, tanpa mampu bangun-bangun lagi dalam keadaan menghitam.

Melihat tubuh Menda dalam keadaan hangus, nyali Prabangkara menjadi ciut. Bahkan benda persegi panjang di punggung yang tak lain adalah sebuah kecapi itu, tak digunakannya sebagai senjata. Karena dia yakin, pemuda tampan berbaju rompi putih ini memiliki kepandaian amat tinggi. Maka, akhirnya sikapnya jadi seperti orang pengkhianat.

"Anak muda! Aku tidak mau mencampuri urusanmu dengan kawanku. Karena urusanku sendiri masih banyak Mungkin di suatu saat, jika urusanku telah selesai, aku akan mencarimu!" kata Prabangkara, seraya berbalik menghampiri kudanya.

Rangga sedikit pun tidak menghiraukan ucapan Prabangkara. Tubuhnya juga berbalik dan langsung melanjutkan perjalanannya kembali.

********************

Prabangkara dan sisa anak buahnya berniat kembali ke kota Gadang. Namun di tengah jalan langkah kuda mereka terhenti kembali. Di tengah jalan yang akan dilewati, tampak seorang gadis berbaju putih berambut panjang menghadang.

"Kaukah utusan Datuk Panglima Hitam?" tanya Prabangkara, begitu melihat penampilan gadis yang tak lain Dewi Mawar Selatan.

"Tidak salah! Dan kalian tentu kaki tangan Datuk Gadang keparat itu, bukan?" sahut gadis yang pada bagian punggungnya terdapat sulaman bunga mawar.

"Huh! Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kami jadi tak susah-susah mencarimu. Tidak kusangka aku harus berhadapan dengan gadis secantikmu. Aku gembira jika dapat menangkapmu hidup-hidup...!" dengus Prabangkara.

"Banyak mulut! Buktikanlah..!" dengus Dewi Mawar Selatan penuh tantangan.

Prabangkara segera memberi isyarat pada kedua anak buahnya untuk menangkap Dewi Mawar Selatan. Kedua laki-laki muda berpakaian hitam ini segera melompat dari atas punggung kuda masing-masing, lalu langsung menerjang gadis itu disertai tendangan kilat yang mematikan.

Namun indah sekali Dewi Mawar Selatan berkelit sambil meliukkan tubuhnya beberapa kali. Bahkan tiba-tiba kedua tangannya mendorong. Gerakannya tampak begitu lembut, menimbulkan desiran halus. Namun akibatnya...

Des! Desss!

Kedua anak buah Prapang kara kontan jatuh terguling-guling. Seakan, ada suatu kekuatan yang tidak tampak telah menghempas tubuh mereka.

Secepatnya mereka mencoba bangkit berdiri dengan wajah pucat dan tegang. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sekejab kemudian, mereka telah mencabut golok melengkung yang tergantung di pinggang.

"Hiaaat...!" Secepat kilat mereka menebas golok. Senjata berbentuk aneh ini meluncur deras ke bagian leher dan pinggang Dewi Mawar Selatan.

"Hiyaaa...!" Secepatnya Dewi Mawar Selatan melenting ke udara. Disambarnya bumbung tuak yang tersampir di pinggang kiri. Dan isinya langsung diteguknya. Lalu... "Fruhhh...!"

Tes! Tes!

"Aaa...!" Kedua laki-laki itu langsung mendekap wajah yang hancur mengepulkan asap, bercampur bau daging terbakar. Mereka langsung ambruk menggelepar di atas tanah. Berkelojotan sebentar, kemudian terdiam untuk selamanya!

"Bangsat betul! Tindakanmu begini keji. Aku bersumpah untuk membunuhmu!" teriak Prabangkara murka.

Dewi Mawar Selatan begitu mendarat hanya tersenyum dingin. Sedangkan Prabangkara sendiri segera melompat dari kudanya. Langsung dilancarkannya serangan gencar.

Tidak dapat dihindari lagi, pertarungan sengit pun terjadi. Sampai pertarungan berlangsung empat puluh jurus, masih belum kelihatan siapa yang keluar sebagai pemenang. Dan tiba-tiba Prabangkara melepas senjata aneh berbentuk kecapi yang tersandar di balik punggung.

Tiung! Tiung...!

"Heh?! Kecapi Setan...!" sentak Dewi Mawar Selatan dengan mata melotot.

Begitu Prabangkara menarik senar kecapi yang berjumlah tiga buah, maka Dewi Mawar Selatan tersurut mundur sejauh tiga langkah. Suara senar kecapi ini terasa memekakkan telinga dan membuat kepalanya berdenyut-denyut! Hebatnya lagi, suara itu makin lama kian meninggi. Sehingga, membuat gadis ini terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk menghilangkan pengaruh getaran suara yang ditimbulkan senar senjata bernama Kecapi Setan.

Tubuh Dewi Mawar Selatan sama sekali tidak bergerak Wajahnya telah berubah merah padam. Pertempuran adu tenaga dalam seperti ini memang sangat jarang terjadi. Dan biasanya, bagi lawan yang mempunyai tenaga dalam lebih rendah, akan segera tewas dengan hidung dan telinga mengucurkan darah!

Inilah pertarungan yang menyangkut hidup mati seseorang. sementara Prabangkara sendiri terus memetik senar kecapinya. Tanah yang dipijak tampak bergetar. Bahkan kedua kaki Prabangkara amblas sampai sedalam mata kaki.

Dewi Mawar Selatan walaupun kedua gendang telinganya tidak sampai pecah, tetapi bagian dalam tubuhnya sempat terguncang. Sampai kemudian diputuskannya untuk mengambil tindakan nekat

"Heaaa...!" Dalam keadaan seperti itu, Dewi Mawar Selatan segera mengibaskan kedua tangannya ke arah Prabangkara. Dua sinar biru langsung meluncur deras dari kedua telapak tangannya.

Dalam keadaan seperti itu, tentu laki-laki berwajah bengis ini tidak mungkin menghindar. Maka tanpa dapat dicegahnya, pukulan Dewi Mawar Selatan menghantam tubuh Prabangkara.

Glam!

"Huaagkh...!" Prabangkara kontan terlempar dengan tubuh hangus. Begitu jatuh di tanah, dia tidak dapat bergerak-gerak lagi.

Entah mati, entah masih hidup. Dewi Mawar Selatan tidak menghiraukan Prabangkara. Segera ditinggalkannya tempat itu sambil mengerahkan ilmu lari cepatnya. Hanya dalam waktu sekejap saja, tubuhnya telah begitu jauh.

Ternyata, Prabangkara. tidak mati. Tubuhnya tak lama menggeliat, lalu bangkit berdiri. Laki-laki yangg sekujur tubuhnya telah menghitam akibat terkena pukulan Dewi Mawar Selatan segera mengambil kecapi miliknya yang terlempar. Kemudian menghampiri kudanya untuk melaporkan kejadian ini pada Datuk Gadang.

EMPAT

Satu kenyataan yang paling sulit diterima Datuk Gadang adalah sebuah kegagalan. Demikian pula yang terjadi ketika Prabangkara melaporkan apa yang dialami.

Setelah melihat keadaan tangan kanan Prabangkara yang hangus, laki-laki gemuk tinggi itu sudah dapat menduga kalau lawan yang dihadapi orang andalannya ini pastilah memiliki kepandaian lebih tinggi. Dia tidak pernah berpikir bahwa ternyata Datuk Panglima Hitam mempunyai anak buah yang memiliki kepandaian tinggi.

Datuk Gadang bisa menduga begitu, karena tahu betul kehebatan yang dimiliki Prabangkara. Dengan Kecapi Setan di tangannya, jasa-jasa Prabangkara tidak sedikit terhadap apa yang telah dicapai Datuk Gadang.

"Jadi Menda tewas di tangan gadis itu?" tanya Datuk Gadang, setelah lama terdiam.

"Benar, Datuk!" sahut Prabangkara, berbohong. Padahal, Menda tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti. "Kami sebenarnya sudah hampir sama-sama mati. Tetapi Dewi Mawar Selatan cukup cerdik Dia melepaskan pukulan dahsyat di saat kami sama-sama mengadu tenaga dalam. Inilah akibatnya...!" jawab Prabangkara.

"Mengapa kau tidak mampus saja sekalian?!" dengus Datuk Gadang, ketus.

"Kalau aku mati, tentu tidak ada yang melaporkan kejadian ini pada Datuk. Lagi pula aku telah bertekad untuk membalaskan segala sakit hati pada gadis itu!" geram Prabangkara.

"Bagus! Mudah-mudahan gurumu mendengar kekalahanmu, sehingga aku tidak perlu susah payah mengundang kakek berangasan itu!" sambut Datuk Gadang, penuh harap.

"Aku malah berharap semoga Guru tidak mendengarnya, Datuk. Sebab, nanti beliau menghukumku!"

"Bodoh! Jika gurumu Dura Seta datang membantu, tentu kita tidak akan begitu berat dalam menghadapi lawan!" bentak Datuk Gadang.

"Terserah bagaimana pendapat Datuk yang penting, aku akan mematuhi perintah Datuk!" sahut Prabangkara, yang tampaknya memang tidak suka berdebat dengan majikannya.

"Sekarang sudah hampir larut malam Sebaiknya kau istirahat. Mudah-mudahan malam ini tidak seekor kecoa pun yang datang ke sini!"

Ucapan Datuk Gadang sama sekali tidak ditanggapi Prabangkara, karena kakinya sudah melangkah menuju ke kamarnya. Namun ketika melewati salah satu kamar yang ditempati istri Datuk Gadang, Prabangkara jadi kaget Dia melihat ceceran darah di depan pintu.

Dengan tangan gemetaran didorongnya pintu yang sedikit terbuka. Begitu pintu terbuka, tubuh Prabangkara mengejang. Matanya melotot seperti melihat hantu. Di dalam kamar ternyata sembilan istri Datuk Gadang telah menjadi mayat dalam keadaan bertumpuk

"Datuuukkk...!" Teriak Prabangkara membuat Datuk Gadang yang baru saja masuk ke dalam kamar pribadinya tersentak Laki-laki tinggi besar ini langsung berbalik, memburu ke arah datangnya suara.

"Ada apa, Prabangkara?" tanya Datuk Gadang begitu sampai di depan tangan kanannya.

"Lihatlah ke dalam, Datuk Semua istri Datuk telah tewas secara mengenaskan...!" seru Prabangkara.

Tanpa membuang-buang waktu Datuk Gadang langsung menerobos ke dalam ruangan. Dan dia jadi terkesima, melihat darah menggenangi lantai, membanjiri mayat-mayat istrinya yang berserakan tumpang tindih.

"Keparaaattt...!" Datuk Gadang meraung seperti harimau terluka. Tidak terkirakan betapa terpukulnya hati laki-laki ini. Setelah cukup lama memandangi mayat kesembilan istrinya, matanya yang telah berubah memerah tampak memandang ke langit-langit kamar.

"Setelah melihat luka-luka di tubuh mereka aku tahu ini bukan perbuatan Dewi Mawar Selatan! Rupanya kau telah datang sendiri kemari, Datuk Panglima Hitam!" desis laki-laki berbaju kuning ini geram.

"Apa yang harus kulakukan, Datuk?" tanya Prabangkara cemas.

"Kumpulkan seluruh penjaga yang berada di dekat sana. Malam ini, kita sambut tamu paling istimewa selama hidupku!" perintah Datuk Gadang tegas.

Prabangkara segera melaksanakan perintah majikanya. Dia berlari cepat ke depan. Namun setelah sampai, Prabangkara langsung tercekat. Karena, ternyata tiga puluh orang anak buah majikannya telah terkapar menjadi mayat!

"Datuuukk..!" teriak Prabangkara kembali tanpa sadar.

Datuk Gadang jelas mendengar jeritan anak buahnya. Tubuh laki-laki ini langsung berkelebat ke depan. Setelah sampai di halaman depan dia tertegun. Ternyata, semua anak buahnya sudah tewas dibantai secara mengerikan pula.

"Heaaa...!" Dalam puncak amarahnya, Datuk Gadang berteriak keras. Suaranya membelah kesunyian malam yang sedemikian mencekam.

"Kau rupanya telah datang, Datuk Panglima Hitam. Satu hal yang paling sangat kusesali, mengapa harus membunuh orang-orang yang kucintai?!"

Sejenak suasana berubah sunyi. Ucapan Datuk Gadang tidak ada seorang pun yang menjawabnya. Hanya sebagai orang yang menganut ilmu 'Cindaku' Datuk Gadang tahu kalau lawannya berada di sekitar situ. Namun, entah mengapa orang yang dimaksud tidak kunjung datang juga. Atau karena lawan ingin menghabisinya secara sembunyi-sembunyi?

Pertanyaan Datuk Gadang tak lama terjawab, ketika tiba-tiba saja berkelebat satu sosok bayangan merah. Dan tahu-tahu di depannya telah berdiri satu sosok tinggi besar berpakaian merah. Datuk Gadang jelas terkejut Sebab, Datuk Panglima Hitam tidak pernah berpakaian merah.

"Datuk Merah?!" seru Datuk Gadang terkejut, karena salah duga. Pikirnya, yang akan datang adalah Datuk Panglima Hitam. Tak tahunya, Datuk Merah.

"Benar! Aku Datuk Merah," sahut laki-laki berkumis serta berjenggot panjang ini dingin.

Untuk beberapa saat mereka hanya saling berpandang, seakan-akan mencoba menjajaki kepandaian masing-masing setelah terpisah selama bertahun-tahun.

"Apa kesalahanku padamu, Datuk Merah? Mengapa kau begitu tega membunuh orang-orang yang sangat dekat denganku?" tanya Datuk Gadang, memecah kebisuan.

"Kesalahanmu? Apakah kau lupa sejak kematian Guru Lebai Nan Rancak, kita memang sudah berseteru? Aku secara pribadi memang mencoba melupakan masa lalu. Juga, kekalahanku waktu itu. Tapi tindakan anak buahmu yang bernama Dewi Mawar Selatan, sungguh keterlaluan dengan membakar hidup-hidup seluruh muridku! Jika aku kehilangan orang yang sangat kusayang, apakah tidak cukup adil kalau kau juga harus kehilangan orang yang sangat kau sayangi?" tukas Datuk Merah.

Sadar atau tidak, sebenarnya telah terjadi kesalahpahaman di antara mereka. Namun, Datuk Gadang malah menganggap kalau Datuk Merah hanya menutupi kesalahan Datuk Panglima Hitam. Karena dia tahu, antara kedua orang itu masih terjalin hubungan sangat baik

"Kau hanya menutupi kesalahanmu sendiri, atau mungkin juga kesalahan Datuk Panglima Hitam. Menurut sepengetahuanku, Dewi Mawar Selatan adalah orang yang berada di pihak Datuk Panglima Hitam. Kau tentu memutarbalikkan kenyataan dan bersikap pura-pura!" sergah Datuk Gadang.

"Seribu kata, dapat kau ucapkan, Datuk Gadang! Sangat jarang orang yang mau mengakui kesalahannya di dunia ini. Tahukah kau, sebenarnya aku muak bicara denganmu!" sambar Datuk Merah, sengit "Kepalang basah! Aku akan mengabulkan apa pun keinginanmu!"

Mendengar kata-kata bernada tantangan, Prabangkara tentu tidak tinggal diam. Segera dihadang Datuk Merah.

"Biarkan aku yang menghadapi Datuk Merah! Aku ingin tahu sampai di mana kehebatannya!" kata Prabangkara tanpa menoleh pada Datuk Gadang. Sementara matanya menatap tajam pada Datuk Merah.

"Bagus! Sekarang saatnya kau tunjukkan kesetiaanmu padaku!" sambut Datuk Gadang.

"Aku segera membunuhmu, tidak sampai lima jurus!" leceh Datuk Merah.

"Manusia bermulut besar! Rasakanlah! Hiyaaa...!" teriak Prabangkara disertai satu lompatan ganas.

Kecapi Setan yang sudah dilepas, langsung meluncur deras ke bagian kepala Datuk Merah. Namun kakek berbaju merah ini cepat melenting ke udara sambil berjumpalitan beberapa kali.

Melihat sabetan Kecapi Setan miliknya tidak mengenai sasaran, Prabangkara segera mencabik tali kecapinya. Seketika terdengar gelombang suara yang menyakitkan gendang-gendang telinga.

Datuk Merah yang seharusnya akan melepaskan tendangan ke dada, terpaksa diurungkan. Segera indera pendengarannya ditutup setelah mengerahkan tenaga dalam yang dimiliki.

Twing! Twing! Twing!

Dengan demikian, pengaruh petikan kecapi yang dapat menghancurkan gendang-gendang telinga lenyap. Prabangkara kiranya tidak menyadari kalau Datuk Merah telah mampu mengatasi serangan melalui suara ini. Sehingga kecapinya terus dipetik.

"Aku akan merobek-robek tubuhmu!" teriak Datuk Merah.

Seiring kata-kata yang diucapkannya Datuk Merah mengerahkan jurus 'Harimau Keluarkan Kuku, salah satu jurus dari rangkaian jurus 'Harimau' yang dimiliki

"Heaaa...!"

Set! Set! Set!

Kedua tangan Datuk Merah yang terpentang membentuk cakar meluncur deras ke arah Prabangkara. Laki-laki yang sekujur tubuhnya hangus ini mempergunakan Kecapi Setan di tangannya untuk menangkis serangan.

Twing! Trang! Prak!

Kecapi Setan Prabangkara kontan hancur tercabik-cabik. Akibat pecahnya senjata aneh itu, timbul asap hitam yang menebar memenuhi sekitarnya. Asap hitam yang semakin menebal perlahan-lahan membentuk sesosok tubuh berwarna hitam. Wajah sosok itu tampak angker dan lonjong. Alisnya tebal. Sedangkan pada sudut-sudut bibirnya, tampak dua pasang taring mencuat panjang!

"Iblis!" desis Datuk Merah. Datuk Merah terpaksa menarik kepalanya ke belakang saat sosok hitam yang terbentuk dari gumpalan asap menjulurkan tangan ke bagian leher. Ternyata tangan makhluk jejadian itu dapat memanjang. Bahkan semakin lama bertambah panjang. Tubuhnya terus bertambah tinggi, seakan ingin menggapai langit.

Datuk Merah tidak kehilangan akal. Disadari betul kalau sosok tinggi hitam yang jadi lawannya sekarang hanya penjelmaan dari kepingan Kecapi Setan yang telah dihancurkannya. Untuk mengatasinya, segera kedua tangannya dirangkapkan dan digosok-gosokkan satu sama lain. Semakin lama, mulai mengepul kabut tipis berwarna putih. Kabut itu kemudian membubung tinggi ke udara.

Bersamaan dengan itu pula, terbentuk sesosok makhluk yang sama-sama mengerikan. Sosok jejadian berwarna putih ini langsung menyerang sosok jejadian yang berasal dari kepingan Kecapi Setan. Datuk Merah kini berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan dada. Demikian juga Prabangkara. tampaknya masing-masing sedang mengadu kekuatan hitam.

Sosok hitam yang menjulang tinggi terus bertarung dengan sosok putih yang diciptakan Datuk Merah. Seiring terdesaknya sosok hitam tubuh Prabangkara pun tergetar. Dan tiba-tiba...

Glarrr!

Bersamaan terdengarnya ledakan, tubuh Prabangkara terlempar dan terguling-guling. Sekujur tubuhnya tampak meneteskan darah. Sedangkan sosok hitam miliknya meraung keras lalu lenyap. Datuk Merah yang hanya jatuh terduduk segera bangkit berdiri. Sosok yang diciptakannya pun telah lenyap.

Sementara, Datuk Gadang tidak menyangka kalau lawannya telah memiliki kepandaian yang sedemikian pesat dan mengagumkan. "Jika kau mempergunakan ilmu sihirmu untuk menghadapi aku, maka kematianlah bagimu!" desis Datuk Gadang.

"Aku dapat berbuat apa saja untuk membunuh musuh besarku!" ejek Datuk Merah.

"Manusia busuk!" maki Datuk Gadang.

"Kau pun jauh lebih busuk dariku!" balas Datuk Merah, tidak kalah sengit.

Mereka tampaknya tidak perlu bertegang leher lagi. Datuk Gadang segera mengerahkan jurus andalan. Kedua kakinya melakukan gerakan-gerakan cukup aneh. Sedangkan tubuhnya terhuyung ke kiri, lalu seperti rubuh ke kanan. Setelah itu tubuhnya melesat ke arah Datuk Merah. Tangannya yang terkembang meluncur deras ke arah perut lawannya.

"Hm... Dia mengerahkan jurus 'Harimau Keluar Kandang'. Baik! Akan kutandingi dengan jurus 'Harimau Merobek Mangsa'.

Datuk Merah yang memang mengetahui dasar-dasar jurus lawannya karena memang berasal dari satu guru, langsung bisa membaca setiap gerakan lawan. Maka tak heran kalau dia langsung mengerahkan jurus andalan, 'Harimau Merobek Mangsa.

Datuk Merah sama sekali tidak menghindari serangan. Malah kedua tangannya telah terpentang. Dan dari setiap ujung jemari tangannya mencuat kuku-kuku berwarna hitam beracun.

Datuk Gadang menggeram. Masih dalam keadaan melayang, serangannya dicobanya untuk ditarik kembali. Tetapi, tangan kiri Datuk Merah lebih cepat merobek pergelangan tangannya.

Crasss!

"Aaarkh...!" Datuk Gadang menjerit keras sambil memegangi tangannya yang hancur, namun cepat membuat salto ke belakang. Dengan cepat ditotoknya urat besar di tangannya untuk mencegah agar darah tidak banyak keluar. Begitu darah berhenti mengalir, dibuatnya beberapa gerakan aneh.

Zeb! Zeb!

"Huup...!" Datuk Gadang tiba-tiba berguling-guling. Inilah serangan paling berbahaya dibanding serangan pertama tadi

"Jurus 'Harimau Kehilangan Anak'! Huh! Aku tidak akan mundur!" dengus Datuk Merah.

Saat itu juga laki-laki berbaju merah ini pun mempergunakan jurus yang sama, untuk menahan serangan. Karena mereka sama-sama mempergunakan jurus-jurus tingkat tinggi, maka tidak heran jika pertempuran berlangsung semakin seru.

Dalam keadaan terguling-guling itu, mereka melakukan serangan-serangan gencar. Tidak jarang kaki mereka saling membentur. Namun tiba-tiba Datuk Gadang melompat. Dan kakinya sekuat tenaga menginjak badan Datuk Merah.

Duuk!

"Huugkh...!" Datuk Merah mengeluh. Sudut-sudut bibirnya tampak meneteskan darah, pertanda bagian perutnya mengalami luka dalam.

"Grauuung...!" Untuk pertama kalinya Datuk Merah meraung dahsyat. Mulutnya yang meneteskan darah tampak berkemak-kemik. Inilah saat yang paling menegangkan. Karena, Datuk Merah memang tengah membaca mantra-mantra ilmu 'Cindaku' untuk menjadikan dirinya sebagai harimau siluman.

Datuk Gadang bukan tidak menyadari betapa berbahayanya bila Datuk Merah telah berganti wujud menjadi harimau siluman. Namun tampaknya dia terlalu yakin dengan kemampuan yang dimilikinya.

"Grauung... !" Auman panjang disertai berjumpalitannya tubuh Datuk Merah sebanyak tujuh kali, mengawali serangan. Ketika kakinya menjejak tanah, Datuk Merah telah berganti wujud menjadi seekor harimau besar berwarna merah belang-belang hitam.

Binatang jelmaan Datuk Merah itu dengan sangat buasnya menerkam Datuk Gadang. Gerakannya yang cepat disertai desiran angin halus. Kuku-kuku yang panjang menyambar tengkuk Datuk Gadang. Sedangkan taringnya mengarah pada bagian tengkuk

Dua serangan yang datangnya, secara bersamaan ini tentu membuat Datuk Gadang menjadi terdesak Secepat kilat tubuhnya dilempar ke samping.

"Pukulan 'Raungan Harimau Senja Hari'!" teriak Datuk Gadang sambil mengibaskan tangannya.

Wuuut! Blarrr!

"Graung!" Pukulan keras mengandung hawa dingin ini hanya membuat harimau penjelmaan Datuk Merah terbanting. Namun agaknya pukulan barusan tidak membawa akibat apa-apa. Terbukti, harimau siluman itu sudah bangkit berdiri. Bahkan kini menerkam kembali dengan kecepatan berlipat ganda!

Datuk Gadang tidak sempat berkelit menghindar. Terpaksa dipapaknya serangan. Ternyata walaupun Datuk Merah telah berubah menjadi harimau siluman, namun tidak mudah untuk membunuh lawannya. Kiranya di luar sepengetahuan Datuk Merah, Datuk Gadang sekarang telah memiliki ilmu kebal yang entah didapat dari mana.

Pertarungan jarak rapat ini terus berlanjut, sampai kemudian Datuk Gadang tampaknya mulai terdesak juga. Seketika tubuhnya melenting ke belakang untuk membuat jarak. Dan setelah terbebas dari cengkeraman lawan, mulutnya komat-kamit. Tidak lama, seperti yang dilakukan Datuk Merah, Datuk Gadang juga berjumpalitan beberapa kali.

Ketika Datuk Gadang menjejakkan kakinya kembali, wujudnya telah berubah menjadi seekor harimau kuning belang-belang hitam. Harimau kuning ini sama besarnya dengan harimau merah yang sekarang telah menyerang kembali. Saat itu juga suara-suara raungan keras pun mewarnai perkelahian kedua ekor harimau jadi-jadian ini.

Setelah wujud mereka sama-sama berubah, maka cara berkelahi pun tidak bedanya binatang lainnya. Maka saling terjang, saling pukul, saling cakar, dan sesekali melakukan gigitan mematikan.

Kini harimau merah tampaknya kehilangan cara untuk menghadapi harimau kuning. Cakaran kukunya tidak membuat harimau kuning terluka. Taring-taringnya yang sempat menghujam ke tengkuk, tidak membuat harimau penjelmaan Datuk Gadang binasa.

"Grauung!" Disertai auman keras, sekarang giliran harimau kuning melakukan serangan balasan. Namun, harimau merah juga tidak ingin menyerah begitu saja

Berulang kali binatang siluman berwarna merah itu berkelit. Namun, satu lompatan yang dilakukan harimau kuning tak bisa dielakkan lagi Kukunya yang runcing mendarat tepat di tenggorokkan harimau merah. Harimau merah penjelmaan Datuk Merah mencoba berbalik. Tetapi kuku-kuku, harimau kuning begitu kuat menghujam!

Crak! Crak!

"Auuummm...!" Robekan pada bagian tenggorokkan disertai robekan-robekan pada bagian lain, membuat harimau merah terkapar disertai auman yang semakin lemah dengan tubuh berlumur darah.

Tidak lama, harimau merah kembali ke wujud asalnya. Sedangkan harimau kuning setelah berjumpalitan beberapa kali, berubah pula menjadi Datuk Gadang kembali.

"Hari ini, dirimu yang menjadi korbanku. Besok atau lusa, giliran Datuk Panglima Hitam yang menjadi sasaran!" desis Datuk Gadang, begitu angkuhnya!

********************

LIMA

Kabar kematian Datuk Merah telah sampai di telinga Dewi Mawar Selatan. Dan gadis ini merasa puas. Sekarang, hanya tinggal melihat apa yang bakal terjadi antara Datuk Gadang dengan Datuk Panglima Hitam. Tidak lama lagi, sesuai siasat yang sedang dijalankannya, tentu mereka akan bertarung hingga salah seorang ada yang tewas. Jika hal yang diharapkannya benar-benar telah terjadi, berarti hanya tinggal menghadapi pemenangnya.

Sebenarnya, Dewi Mawar Selatan sendiri merasa bingung, mana di antara datuk-datuk itu yang telah membunuh ibunya. Sebab, kedua gurunya tidak menceritakannya secara terperinci. Walaupun begitu, dia tidak pernah merasa ragu untuk membunuh para datuk itu, sebab mereka juga selalu membuat angkara murka di mana-mana.

Kini, gadis cantik berambut panjang itu merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau melepas kepenatan, setelah sebagian rencananya berjalan mulus. Tapi yang penting dia harus mencari orang yang sebenarnya telah membunuh orangtuanya. Tugas ini termasuk berat juga, karena Dewi Mawar Selatan hanya mempunyai petunjuk yaitu berupa tusuk konde terbuat dari emas.

Dalam keadaan menelentang seperti itu, di luar sepengetahuannya ada sepasang mata terus mengawasi gerak-geriknya. Pemilik mata itu tidak lain dari seorang pemuda berbaju rompi putih.

"Wajahnya hampir mirip Pandan Wangi! Hanya saja, dia sedikit lebih cantik. Mungkin gadis inilah yang dimaksudkan Penyair Gila. Tapi, mana aku berani menjumpainya?" gumam pemuda yang tidak lain Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti bermaksud meninggalkan persembunyiannya. Namun salah satu ranting sempat terinjak kakinya, sehingga menimbulkan suara gemeretak.

Dewi Mawar Selatan langsung melompat berdiri. Dan dia melihat ke arah datangnya suara. "Pengintip tengik! Hendaknya kau suka tunjukkan diri!" bentak gadis berbaju putih itu garang.

Karena kedatangannya bukan membawa maksud buruk, maka tanpa pikir panjang lagi Pendekar Rajawali Sakti keluar dari tempat persembunyiannya.

"Kau...!" desis Dewi Mawar Selatan. Rupanya gadis ini tidak menyangka kalau orang yang dibentak seorang pemuda berwajah tampan. Lagipula kelihatannya pemuda ini cukup baik. Sungguhpun demikian, sikapnya perlu berwaspada.

"Maafkan aku, Nisanak Aku tak bermaksud mengganggu ketenanganmu. Aku hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu," ucap Rangga, setelah menjura hormat.

"Hi hi hi! Berjumpa saja baru kali ini. Tapi, tiba-tiba kau ingin bertanya padaku? Apakah itu tidak lucu?" tukas Dewi Mawar Selatan disertai senyum mengejek

"Aku ingin bicara sungguh-sungguh. Dan ini menyangkut dendammu kepada orang-orang yang telah membunuh orangtuamu!" jelas Rangga.

Dewi Mawar Selatan terkejut mendengar ucapan Rangga. Bagaimana pemuda berbaju rompi putih ini mengetahui masalah yang dihadapinya? Padahal baru sekali ini mereka bertemu.

"Siapakah kau yang sebenarnya?" cecar Dewi Mawar Selatan, curiga.

"Aku Rangga, " jawab Pendekar Rajawali Sakti. "Dan kau pasti Dewi Mawar Selatan..."

"Dari mana kau tahu kalau aku sedang mencari pembunuh kedua orangtuaku?" desak gadis itu.

Rangga terdiam. Dia tidak tahu, apakah harus mengatakan yang sebenarnya. Jika terpaksa mengatakan, berarti harus mengatakan Penyair Gila orangnya. Bagaimana jika gadis itu menertawainya? Rasanya walau bagaimanapun dia harus berani mengatakan yang sejujurnya.

"Seseorang telah mengatakannya padaku," jawab Pendekar Rajawali Sakti.

"Siapa?" desak Dewi Mawar Selatan

"Penyair Gila!" sahut Rangga mantap.

Alis Dewi Mawar Selatan tampak bertaut. Dulu, gurunya pernah bercerita tentang seorang penyair sinting yang kabarnya tahu tentang berbagai hal mengenai masa lalu, dan masa yang akan datang. Mungkin Penyair Gila itulah yang dimaksudkan kedua gurunya.

"Lalu, apa yang dikatakan Penyair Gila itu?" cecar Dewi Mawar Selatan lagi.

Rangga menarik napas dalam-dalam, seakan merasa ragu untuk mengatakan siapa yang telah membunuh orangtua gadis ini.

"Cepatlah jelaskan padaku. Atau, kau ingin mati di tanganku!" dengus Dewi Mawar Selatan tidak sabar.

"Apakah kau tidak marah atau malu setelah mendengar penjelasanku nanti?" Rangga malah bertanya.

"Apa pun yang terjadi di masa lalu, aku harus tahu. Belum puas rasanya hati ini jika belum mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya!" ucap gadis ini dengan suara melemah kembali.

"Baiklah," desah Rangga. "Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, seorang gadis cantik bernama Indriati pernah jatuh cinta pada seorang pemuda tampan bernama Pati Sena. Cinta mereka berjalan lancar. Namun di luar sepengetahuan mereka, ada tiga orang pemuda yang jatuh hati pada Indriati. Ternyata, gadis itu tetap pada pilihannya. Sementara itu, ternyata ada dua orang gadis pula yang secara diam-diam mencintai Pati Sena. Karena runyamnya keadaan pada waktu itu, maka kedua muda-mudi yang saling jatuh cinta ini memutuskan untuk mengasingkan diri setelah menikah."

Pendekar Rajawali Sakti diam sebentar untuk mengingat kembali apa yang dituturkan Penyair Gila padanya. Dia memang telah bertemu kembali dengan Penyair Gila untuk yang kedua kalinya.

"Tetapi di luar dugaan, kedua gadis itu terus mencari Pati Sena. Sedangkan ketiga pemuda tadi, terus mencari Indriati. Setelah mencari sekian purnama lamanya, akhirnya ketiga pemuda itu menemukan wanita yang mereka cintai. Namun pada saat itu, Indriati baru melahirkan sembilan hari. Ketiga pemuda itu membujuknya agar dia mau ikut. Karena menolak, maka dua orang di antaranya langsung memperkosa Indriati, Sedangkan, pemuda ketiga malah membunuhnya. Saat itu, Pati Sena memang tak ada di rumah karena tengah ada urusan. Sehari kemudian, dua gadis yang mencari Pati Sena juga bertemu orang yang dicari. Waktu itu, Pati Sena sedang menimang bayinya yang baru berumur sepuluh hari. Melihat kehadiran kedua gadis itu, tentu saja Pati Sena yang baru ditinggal istrinya menjadi berang. Langsung keduanya di serang. Tetapi, ilmu olah kanuragan Pati Sena kalah tinggi, sehingga tewas," Rangga mengakhiri ceritanya.

Wajah Dewi Mawar Selatan sulit dilukiskan setelah mendengar penuturan Pendekar Rajawali Sakti. Kemudian wajah cantik yang tertunduk sejak lama kini mulai terangkat perlahan, Kini, terlihatlah wajahnya dengan jelas.

"Katakan padaku, siapa Indriati itu?" tanya Dewi Mawar Selatan. Suaranya bergetar hebat. Memang sejak dipelihara Etek Petako, Dewi Mawar Selatan tak pernah diberitahu nama kedua orangtuanya. Padahal, gadis ini selalu mendesaknya. Etek Petako hanya menjelaskan kalau kedua orangtua gadis ini tewas terbunuh itu saja.

"Dia ibumu!" jawab Rangga pelan.

"Siapa pula ketiga pemuda yang telah memperkosa dan membunuhnya...?" desak berbaju putih ini tidak sabar,

"Dua orang yang memperkosa adalah yang sekarang bergelar Datuk Merah dan Datuk Panglima Hitam. Sedangkan yang membunuh ibumu Datuk Gadang," papar Rangga, tanpa melebih-lebihkan,

"Berarti aku mengincar orang yang tepat! Datuk Merah telah mati. Sekarang, tinggal Datuk Hitam dan Datuk Gadang. Mungkin dalam waktu tidak lama, mereka segera bertarung sampai ada yang mati. Setelah itu, aku akan turun tangan membunuh pemenangnya!" desis Dewi Mawar Selatan.

"Aku tidak dapat menyalahkan dirimu. Karena berbakti kepada orangtua adalah kewajiban setiap anak! Tetapi menurut yang kudengar, ketiga datuk itu memiliki ilmu 'Cindaku'. Dan itu cukup membahayakanmu!" sergah Rangga, halus.

"Aku tidak takut! Atau kau mau membantu? Tapi, maaf. Aku tidak akan memaksamu....!" ucap Dewi Mawar Selatan, merasa ketelepasan bicara.

"Aku memang sengaja datang untuk membantumu. Tentu saja sebatas yang kumampu!" sahut Rangga, merendah.

Dewi Mawar Selatan tampaknya tidak mau percaya begitu saja dengan niat baik pemuda berbaju rompi putih ini. "Lalu, siapa yang membunuh ayahku?" tanya Dewi Mawar Selatan selanjutnya.

"Mengenai hal itu, aku tidak tahu. Sebab Penyair Gila tidak pernah cerita padaku. Tetapi dia telah berjanji untuk menjumpaiku kembali di suatu hari nanti!"

"Siapa yang mau percaya? Aku pun belum percaya padamu!" tegas Dewi Mawar Selatan, berterus terang.

"Mengapa?" tanya Rangga.

"Pertama, kau orang asing! Sedangkan yang kedua, mengapa kau mau membantuku begitu saja, Rangga...?" tanya gadis itu pula.

"Aku hanya membawa tujuan baik. Aku bersedia membantumu, karena kekejaman dan kelicikan ketiga datuk tanah Andalas ini sudah sangat sering kudengar. Jauh-jauh aku datang dari tanah Jawa kemari, semata-mata ingin menghentikan kejahatan mereka!" jawab Pendekar Rajawali Sakti, tandas.

"Huh! Siapa mau percaya bualanmu?! Jangan-jangan kau malah menyimpan maksud-maksud tidak baik padaku!" tuduh Dewi Mawar Selatan berubah ketus.

Ucapan Dewi Mawar Selatan yang ceplas-ceplos membuat wajah Rangga bersemu merah. Sebenarnya pemuda ini marah pada gadis berambut panjang itu. Namun dia khawatir, amarahnya hanya akan memperburuk keadaan.

"Baiklah, Dewi jika kau tidak percaya padaku, aku pun tidak memaksamu untuk percaya. Kalau begitu, aku akan pergii!" kata Rangga, dingin. Rangga berbalik Dia bermaksud berlalu dari hadapan Dewi Mawar Selatan. Namun...

"Enak saja kau datang dan pergi begitu saja, Rangga! Kau sama sekali tidak memandang mata padaku!" bentak Dewi Mawar Selatan.

Wuuuutt....!

Di luar dugaan, kiranya gadis itu telah menyambitkan setangkai bunga mawar dari rambutnya ke punggung Rangga. Jika orang biasa yang melemparkan kuntum bunga mawar itu, tentu tidak akan berakibat apa-apa. Tetapi di tangan Dewi Mawar Selatan, bunga mawar itu berubah menjadi senjata rahasia yang dapat mematikan.

Walaupun tidak melihat kapan gadis itu menyambitkan kuntum bunga mawarnya, namun sebagai orang yang kenyang makan asam garam di dunia persilatan, Pendekar Rajawali Sakti merasakan ada desiran halus di belakangnya. Dan tanpa menoleh lagi, tubuhnya langsung melenting ke udara. Begitu menjejakkan kakinya kembali di atas tanah kering, Rangga langsung berbalik.

"Mengapa kau membokongku?" tanya pemuda itu tidak senang.

Dewi Mawar Selatan tertawa mengikik. "Aku hanya ingin tahu, apakah aku bicara dengan orang yang tepat, atau hanya laki-laki hidung belang? Aku juga mau lihat, apakah aku berhadapan dengan manusia bermulut besar, atau kebisaan?" ejek Dewi Mawar Selatan disertai senyum menjengkelkan.

"Ucapanmu terlalu menggelitik telingaku!" balas Rangga, apa adanya.

"Kalau kau tidak merasa seperti yang kukatakan, mengapa harus sakit hati? Hiyaaa. ..!"

Selesai dengan kata-katanya, Dewi Mawar Selatan segera menyerang Rangga. Kiranya gadis ini tidak main-main. Begitu menyerang, langsung dipergunakannya jurus 'Menepis Kehampaan Di Ujung Nestapa'. Serangan mendadak ini sudah tentu membuat Pendekar Rajawali Sakti jadi kerepotan menghindarinya.

"Hiyaaa...!"

Untuk menghindar, Rangga cepat melenting ke udara. Tubuhnya berputar beberapa kali. Begitu menjejak tanah langsung dikerahkannya jurus Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindari setiap serangan yang kembali meluncur deras ke beberapa bagian tubuhnya. Dewi Mawar Selatan semakin memperhebat serangannya. Tubuhnya meluruk deras dengan kepalan tangan siap dihantamkan.

"Hiyaaaa...!"

Bet! Bet!

Dalam keadaan meluncur deras, Dewi Mawar Selatan mengibaskan tangannya ke bagian tulang siku. Dan Pendekar Rajawali Sakti sadar betul kalau gadis ini bermaksud mengujinya. Maka dia tidak mau menangkis. Cepat badannya diputar. Sementara kaki kanan bergerak lincah, dengan tubuh terus meliuk-liuk menghindari serangan.

Wuuus!

Maka serangan Dewi Mawar Selatan pun melenceng. Menyadari serangannya gagal, gadis ini menyempatkan diri untuk melepaskan tendangan. Karena jaraknya yang begitu dekat, Rangga tidak ingin isi perutnya hancur. Terpaksa serangan gadis konyol ini disambut dengan tangannya yang cepat terjulur. Dan...

Plak! Duk!

"Heh...?!" Dewi Mawar Selatan terkejut. Tubuhnya terdorong mundur. Sedangkan kakinya yang menghantam telapak tangan Rangga seperti membentur batu karang hingga terasa panas sekali.

"Mengapa kau terus menyerangku?" tanya Rangga.

"Diam! Kau sama ceriwisnya dengan nenek-nenek yang sudah pikun...!" bentak gadis itu tidak senang.

"Satu hari saja aku bersama gadis konyol ini bisa mati berdiri!" gumam Rangga dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti memang tidak dapat berpikir lagi apa yang akan dilakukan Dewi Mawar Selatan. Dan yang terjadi kemudian, gadis itu kembali melabraknya, mempergunakan jurus-jurus yang telah dipelajarinya di Lembah Penyesalan.

"Hiyaaa...!" teriak Dewi Mawar Selatan disertai jurus penebus Dosa'nya. Dan gerakan jurus gadis ini pun berubah secara menyeluruh. Kini dia mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya dalam setiap melakukan serangan. Hebatnya, setiap kibasan tangan maupun tendangan kakinya selalu menimbulkan hawa dingin menusuk tulang.

"Jaga kepala dan perutmu!" dengus Dewi Mawar Selatan. Secepat ucapannya, tangan kanan dan kaki gadis ini meluncur deras ke arah seperti yang dikatakannya. Serangan ini tentu tidak sembarangan orang dapat melakukannya.

Rangga sekali ini tidak tinggal diam. Tiba-tiba tubuhnya menunduk serendah mungkin. Sehingga serangan gadis itu meleset. Begitu kaki Dewi Mawar Selatan lewat di samping kepalanya, secepat kilat tangannya bergerak menyentuh.

Tak!

"Heh...?!" Dewi Mawar Selatan terkejut dibuatnya terkena sentuhan tangan Rangga. Jika pemuda berbaju rompi putih itu mau, tentu dia sudah roboh. Atau paling tidak sudah kena tertotok. Kini setelah menjejakkan kaki, wajahnya bersemu merah.

"Bagaimana? Apakah kita lanjutkan permainan sia-sia ini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, tanpa bermaksud menyinggung.

Gadis itu menggeleng sambil memandang Rangga penuh rasa kagum. Sejurus matanya memandang ke lain arah. "Kalau kau bermaksud buruk, aku tahu sejak tadi. Pasti kau dapat mencelakaiku, Rangga, Maafkanlah karena terkadang aku salah dalam menilai maksud seseorang. Maukah kau memaafkanku?" tanya Dewi Mawar Selatan seraya menoleh ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Matanya meredup pada pemuda itu.

"Kau gadis yang lugu, Dewi. Tentu kau wajib merasa curiga kepada siapa pun, mengingat dirimu seorang wanita. Aku tentu saja dapat memakluminya!" sahut Rangga, kalem.

Dewi Mawar Selatan tersenyum. Manis sekali. "Baru sekarang aku percaya padamu, kalau kau benar mau membantuku. Mari ikut bersamaku!" ajak gadis itu.

Rangga tentu tidak dapat menolak Apalagi, yang mengajaknya memang membutuhkan pertolongannya.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Datuk Gadang bagai dikejar-kejar setan menggebah kudanya, menuju Bukit Siguntang. Tidak sampai setengah hari, sampailah dia di lereng bukit. Karena bagian lereng Bukit Siguntang agak curam maka lelaki berbaju kuning ini melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.

Namun baru beberapa tombak saja laki-laki ini meninggalkan kudanya, dari atas bukit batu-batu besar menerjang ke arahnya. Datuk Gadang segera melompat ke samping menghindari luncuran batu-batu.

Datuk Gadang memang dapat menghindari serangan batu-batu. Namun yang datang berikutnya, jumlahnya lebih banyak lagi. Sehingga terpaksa dia menguras tenaga untuk menyelamatkan diri. Dan amarahnya pun sudah tak terkirakan lagi.

"Aku membenci akal licikmu, Datuk Panglima Hitam! Aku mau kau menunjukkan diri. Mari kita selesaikan semua persoalan ini secara jantan!" teriak Datuk Gadang murka.

Suara runtuhnya batu-batu meningkahi teriakkan Datuk Gadang. Dan laki-laki berbaju kuning ini kembali dibuat repot, hingga kemudian batu-batu yang meluncur dari atas lereng bukit berhenti dengan sendirinya.

"Ha ha ha,..!" Mendadak terdengar tawa yang seakan-akan mengguncang puncak bukit. Sekejap kemudian muncul sosok bayangan serba hitam menuruni lereng bukit.

"Akhirnya, kau datang juga, Datuk Gadang! Apakah kedatanganmu ke sini ingin menyatakan pengakuan dosa dan meminta maaf padaku?" Rambut laki-laki berpakaian serta hitam bertubuh tambun, begitu berdiri lima tombak di hadapan Datuk Gadang.

Yang ditanya malah melotot. Sekilas diperhatikannya sosok berpakaian serba hitam yang tak lain Datuk Panglima Hitam. "Aku datang kemari malah ingin mengambil nyawa busukmu! Apakah kau sudah menyadari kesalahan apa yang kau perbuat, Datuk Panglima Hitam?" balas Datuk Gadang.

"Aku malah tidak dapat menghitung, berapa orang anak buahku yang mati karena ulahmu!" tukas Datuk Panglima Hitam.

"Huh! Sejak dulu kau memang selalu memutarbalikkan kenyataan!" bentak Datuk Gadang.

"Percuma aku berdebat denganmu, Datuk Gadang. Sejak dulu sebenarnya kita telah ditakdirkan untuk saling membunuh. Mengapa begitu? Karena, ketamakan dan kecongkakanmu!" cibir Datuk Panglima Hitam berang.

"Apakah bukan sikapmu yang kau katakan itu?" ejek Datuk Gadang disertai senyum kecut

"Rasanya memang percuma jika kita hanya bersilat lidah. Hari ini, rasanya di antara kita harus ada yang mati. Barulah setelah itu, aku dapat berbuat apa saja."

"Kalaupun harus ada yang mampus kaulah orangnya, Datuk Panglima Hitam. Bukan aku!" seru Datuk Gadang, penuh percaya diri.

ENAM

Datuk Panglima Hitam merasa tidak ada gunanya berdebat dengan musuh bebuyutannya. Maka diambilnya keputusan melakukan serangan secepat mungkin. Laki-laki berpakaian serba hitam ini segera memasang kuda-kuda, membangun serangan awal. Sementara Datuk Gadang yang penuh rasa percaya diri hanya tersenyum mengejek.

"Hiyaaa...!" Disertai teriakan keras, Datuk Panglima Hitam bergerak menerjang. Tangan kirinya langsung menyodok perut. Sedangkan tangan kanannya menghantam bagian wajah. Luncuran tangannya benar-benar menimbulkan desir angin menderu tajam, pertanda mempergunakan tenaga dalam tingkat tinggi.

Datuk Gadang melompat mundur. Badannya dimiringkan, sedangkan kakinya tiba-tiba saja menyambut.

"Heh...?!" Datuk Gadang terkejut, mendadak saja, Datuk Panglima Hitam membuat salto di udara dengan tangan terbuka mengibas. Begitu cepat gerakannya, sehingga...

Plak!

"Aaakh...!" Datuk Gadang mengeluh tertahan ketika wajahnya kena tampar. Wajahnya terasa panas dan langsung berubah merah seperti terbakar. Sadarlah dia kalauu Datuk Panglima Hitam sekarang telah memiliki kemajuan sangat pesat.

Setelah menyeka hidungnya yang mengucurkan darah, Datuk Gadang segera melakukan serangan balasan. Jurus yang dipergunakannya sudah tidak asing lagi bagi lawannya, yaitu jurus 'Harimau Keluarkan Kuku'.

Datuk Panglima Hitam mendengus, saat Datuk Gadang menerjangnya dengan sebuah tendangan beruntun ke beberapa bagian tubuhnya. Secepat kilat laki-laki berpakaian serba hitam itu melenting ke udara. Saat tubuhnya meluruk deras ke bawah, kedua tangannya terkembang menghantam batok kepala Datuk Gadang.

Tampaknya walaupun mengetahui datangnya bahaya, namun Datuk Gadang sengaja memberi angin pada Datuk Panglima Hitam. Dan...

Tep!

Hujaman kuku-kuku yang tajam itu ternyata tidak berpengaruh apa-apa bagi Datuk Gadang. Sadarlah Datuk Panglima Hitam kalau musuh bebuyutannya memiliki ilmu kebal. Datuk Panglima Hitam bermaksud menarik balik tangannya untuk dihantamkan pada bagian tengkuk. Namun tangan Datuk Gadang telah bergerak mendahului menghantam dada.

Des! Des!

"Aaagkh...!" Disertai keluhan tertahan, Datuk Panglima Hitam jatuh terjengkang. Karena kerasnya pukulan tadi, membuat sudut-sudut bibirnya meneteskan darah.

Melihat kesempatan baik, Datuk Gadang yang merasa dirinya berada di atas angin segera memanfaatkan, segera dilepaskannya pukulan.

"Hiyaaa...!" teriak Datuk Gadang seraya mengerahkan pukulan 'Harimau Murka'nya. Seketika, dari telapak tangan laki-laki berbaju kuning ini melesat seleret sinar biru ke arah Datuk Panglima Hitam disertai menebarnya hawa panas menghanguskan.

Sebisanya Datuk Panglima Hitam berjumpalitan ke udara sambil menghentakkan kedua tangannya sekaligus.

Wuuut..!

Segulung angin keras menderu, sekaligus menghadang sinar biru di udara.

Blammm...!

Terjadi ledakan sangat keras ketika dua tenaga sakti beradu di tengah-tengah. Kedua-duanya jatuh terjengkang dan sama-sama mengeluarkan darah. Namun secepatnya kedua musuh bebuyutan ini bangkit berdiri, lalu kembali saling serang.

Setelah pertarungan melewati empat puluh lima jurus, barulah masing-masing mengerahkan ilmu andalan. Datuk Gadang yang sudah tidak sabar dalam mengakhiri pertempuran segera mengambil jarak Mulutnya berkomat-kamit, membaca mantra-mantra ilmu 'Cindaku' untuk merubah wujudnya menjadi harimau siluman.

Inilah saat yang paling dinanti-nantikan Datuk Panglima Hitam. Dia sendiri tidak mengikuti apa yang dilakukan musuh bebuyutannya.

"Grauung...!" Raungan panjang Datuk Gadang disertai gerakan cepat berguling-guling. Tujuh kali dia melakukan gerakan seperti itu. Setelah menjejakkan kaki belakangnya, maka wujudnya telah berubah menjadi seekor harimau berwarna kuning.

Harimau penjelmaan Datuk Gadang mengaum dahsyat. Dua pasang taringnya yang panjang lagi runcing terlihat mengerikan. Sementara kuku-kuku pada kaki depannya mencuat keluar, siap merobek-robek mangsa.

"Auuurnmm...!"

"Hiyaaa...!" Sementara Datuk Panglima Hitam melompat ke udara sambil mengerahkan jurus 'Harimau Keluar Kandang' saat harimau jadi-jadian itu menerkam. Liukan indah Datuk Panglima Hitam, membuat serangan Datuk Gadang tidak mengenai sasaran.

"Tubuhmu boleh kebal. Tapi aku telah menemukan senjata untuk menghancurkan kekuatan ilmu 'Cindaku' dan ilmu kebal yang kau miliki. Sekarang, saatnya bagimu minggat ke neraka setelah Datuk Merah tewas di tanganmu!" kata Datuk Panglima Hitam lantang, begitu menjejak tanah.

"Sekarang hadapi senjata Cula Kematian..!" Secara cepat Datuk Panglima Hitam mengeluarkan sebuah senjata berbentuk tanduk. Senjata berwarna putih mengkilap seperti perak bernama Cula Kematian cepat diputarnya begitu rupa, sehingga tampak memancarkan sinar putih menyilaukan.

Harimau kuning belang-belang hitam penjelmaan Datuk Gadang menggerung, seakan tidak mempercayai ucapan Datuk Panglima Hitam. Bahkan binatang itu kembali menerjang.

Selagi harimau itu mengambang di udara, di saat itulah sambil merundukkan badannya. Datuk Panglima Hitam menerobos ke bawah perut langsung dihujamkannya Cula Kematian tepat pada bagian pusar binatang jejadian itu.

Crep!

"Aauwnm...!" Harimau jejadian itu meraung keras. Perutnya berlubang besar, sehingga ususnya terburai keluar, Harimau itu kemudian jatuh terkapar. Suara raungannya melemah. Saat tubuhnya berkelojotan, perubahan ke wujud asli pun terjadi Tepat saat nyawanya lepas, harimau itu telah kembali menjadi Datuk Gadang.

"Heh...?! Akhirnya aku dapat juga membalaskan segala sakit hati dari kekalahanku dulu! Semoga Datuk Merah di alam sana dapat melihat kehancuran Datuk Gadang!" desah Datuk Panglima Hitam, pelan.

"Masih jauhkan tempat itu dari sini?" tanya Pendekar Rajawali Sakti pada Dewi Mawar Selatan

"Cukup jauh juga. Mungkin besok pagi baru sampai ke tempat tujuan!" sahut gadis itu. "Ada apa rupanya?"

"Sekarang telah senja. Sebentar lagi tentu malam akan tiba. Bagaimana jika kita mencari tempat istirahat?" usul Rangga.

"Di dalam hutan belantara seperti ini mana ada rumah? Apakah kita harus bermalam di atas pohon?" sindir Dewi Mawar Selatan.

"Tidak jauh dari sini, ada sebuah sungai. Kita membuat api unggun dan menangkap ikan. Apakah kau tidak lapar, Dewi?" tukas Rangga pelan.

"Sebenarnya aku sudah sangat lapar. Bagaimana kalau aku yang menangkap ikannya, sedangkan kau mencari kayu bakar!" saran gadis berbaju putih yang ternyata secara diam-diam menaruh perhatian khusus pada pemuda tampan yang menyertainya.

"Baiklah..!" jawab Rangga singkat.

Senja ini mereka mulai disibukkan tugas masing-masing. Tidak lama, mereka sudah berkumpul kembali di pinggiran sungai. Pendekar Rajawali Sakti segera membuat api unggun, sedangkan Dewi Mawar Selatan sambil membersihkan beberapa ekor ikan besar, secara diam-diam sering mencuri pandang pada Rangga.

Tampaknya, Rangga memang tidak menyadari kalau gadis itu mulai menaruh perhatian pada dirinya. Memang patut diakui bahwa gadis itu cantik. Namun, pikirannya selalu tertuju pada kekasihnya, Pandan Wangi.

"Api sudah siap. Sebaiknya, ikan-ikan itu kita bakar sekarang!" usul Rangga.

Dewi Mawar Selatan segera menyetujui. Rangga kagum juga melihat hasil tangkapan Dewi Mawar Selatan yang besar-besar. "Bagaimana kau bisa menangkap ikan sebesar besar ini?" puji Pendekar Rajawali Sakti.

"Ah... Kau jangan mengolokku, Rangga. Orang bodoh juga bisa menangkap ikan," sahut Dewi Mawar Selatan tersipu.

"Tapi tidak sebesar ini," sergah Rangga.

Gadis ini tersenyum. Bau wangi ikan bakar yang mulai masak menggelitik perut mereka. "Silakan. Kau bisa mencicipi, bagaimana enaknya ikan jurung ini," ucap Dewi Mawar Selatan sambil menyerahkan seekor ikan yang telah matang.

Tanpa ragu-ragu, Pendekar Rajawali Sakti menerimanya. Langsung dilahapnya ikan panggang yang diberikan Dewi Mawar Selatan. Tidak lupa, gadis itu juga memberikan sekendi tuak wangi pada Rangga. Maka acara makan di senja ini jadi semakin nikmat.

"Kau masih lapar?" tanya Dewi Mawar Selatan penuh perhatian.

"Kurasa cukup kenyang. Ada apa rupanya?" Rangga balik bertanya.

"Kalau mau, masih ada satu ekor lagi."

"Biarkan saja untuk besok pagi. Kita harus membuat tempat beristirahat yang baik," ujar Rangga mengingatkan.

Rangga dan Dewi Mawar Selatan selanjutnya membuat tempat bermalam darurat. Jarak di antara mereka tidak berjauhan. Namun itu memang keinginan Dewi Mawar Selatan sendiri agar bisa saling menjaga.

Malam mulai merayap menyelimuti alam sekitarnya. Bulan malu-malu menampakkan diri di langit. Rangga merebahkan badannya Sedangkan Dewi Mawar Selatan tetap duduk menghangatkan diri di sebelah api unggun.

"Kau tidak tidur?" tanya Rangga sambil berusaha memejamkan matanya.

"Aku belum mengantuk. Malam ini begitu indah. Tidakkah kau ingin melihat keindahan bulan purnama?"

"Aku sudah mengantuk Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali," sahut Rangga.

"Yah.! Dan aku selalu ingin cepat-cepat membunuh musuh orangtuaku. Sebenarnya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi..."

Dewi Mawar Selatan tidak melanjutkan kata-katanya. Kalau Rangga duduk di sampingnya, tentu dapat melihat betapa wajah Dewi Mawar Selatan bersemu merah.

"Kenapa?"

"Eeeh..., tidak apa-apa. Sebaiknya kau tidurlah. Sebentar lagi aku juga segera tidur," ujar gadis ini dengan suara tergagap.

Rangga pun seperti dininabobokan. Tidak sampai setengah penanakan nasi, dia sudah terlelap dibuai mimpi.

Cukup lama Dewi Mawar Selatan memperhatikan pemuda itu selagi tidur. Semakin lama memandanginya, maka hatinya pun bergetar. Kemudian tubuhnya direbahkan di samping Rangga. Untuk pertama kalinya dia merasakan sebuah kedamaian yang begitu abadi.

********************

Sinar matahari pagi membias, membuat Rangga terjaga. Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak melihat Dewi Mawar Selatan ada di sebelahnya. Dicari-carinya gadis itu. Seketika wajah pemuda itu berubah merah ketika melihat di atas batu teronggok pakaian Dewi Mawar Selatan. Sedangkan gadis itu sendiri dalam keadaan polos tanpa benang sehelai pun tengah berenang di dalam sungai berair jernih. Begitu jernihnya air sungai, membuat beberapa bagian terlarang di tubuh Dewi Mawar Selatan terlihat oleh Rangga. Putih bersih dan begitu menawan. Namun Rangga buru-buru mengalihkan perhatiannya ke arah lain,

Setelah puas menyegarkan diri gadis itu segera berenang ke tepi. Segera pakaiannya dikenakan kembali. Ketika kepalanya muncul ke belakang batu tampak Rangga sudah terjaga dari tidurnya.

"Kau tidak membersihkan diri, Rangga?" sapa Dewi Mawar Selatan.

"Tidak merasakah kau, bahwa tempat ini ada yang mengawasi sejak tadi?" tukas Rangga.

Dewi Mawar Selatan mengitarkan pandangan ke sekeliling, namun tidak melihat ada orang lain seperti yang dikatakan Rangga. Kepalanya menggeleng dan bermaksud mengatakan sesuatu. Belum sempat kata-katanya terucap, tiba-tiba dari arah utara berkelebat sebuah bayangan hitam ke arah mereka. Sebentar saja di depan Rangga dan Dewi Mawar Selatan telah berdiri seorang laki-laki berpakaian serba hitam.

Dewi Mawar Selatan yang memang pernah menyelidiki musuh-musuhnya, langsung mengenali laki-laki tambun berpakaian serba hitam ini. Dia tidak lain dari Datuk Panglima Hitam!

"He he he...! Melihat ciri-cirimu, aku tahu kau adalah orang yang suka mengadu domba sesama datuk, hingga sekarang ini hanya tinggal aku saja yang bercokol di muka bumi ini. Kau cantik. Tapi setelah kulihat dalam keadaan polos, ternyata lebih cantik. Aku bersedia mengampuni kesalahanmu, asal saja kau bersedia menjadi istriku! " kata Datuk Panglima Hitam, sesumbar.

Ucapan laki-laki tambun yang menjurus pada hal-hal menyimpang dan terkesan meremehkan Rangga, telah membuat Dewi Mawar Selatan menjadi berang.

"Bicaramu kotor! Dan kau jangan mimpi dapat bersikap kurang ajar padaku. Ingatkah kau atas kematian seorang perempuan bernama Indriati dua puluh tahun yang lalu?" dengus Dewi Mawar Selatan.

"Heh...?!" desis Datuk Panglima Hitam. Tampaknya, datuk ini terkejut mendengar ucapan Dewi Mawar Selatan. Matanya memandangi gadis di depannya seakan tidak percaya. Lalu tatapannya beralih pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau siapa, Anak Muda?" tanya Datuk Panglima Hitam.

"Aku hanya seorang pengembara yang akan membantu gadis ini dalam menghadapi orang telengas sepertimu..." sahut Rangga dingin.

"Ciiihh, manusia busuk! Dulu kau memperkosa Ibuku! Dan saudaramu yang bernama Datuk Gadang telah membunuhnya. Kalian berdua memang pantas dirajam sampai mati!" teriak Dewi Mawar Selatan dengan amarah membludak.

"Datuk Gadang telah mampus di tanganku. Sudah kukatakan hanya tinggal aku saja orang yang bergelar datuk. Maka sudilah kau menjadi istriku, untuk menggantikan ibumu. Sedangkan urusan pemuda ini, biar menjadi tugas utamaku! " kata Datuk Panglima Hitam, meremehkan.

"Kau boleh bicara apa saja. Tapi agaknya, keinginanmu itu hanya tinggal impian saja!" sambar Rangga.

"Aku tidak bermulut besar. Jika kalian tidak percaya, rasakanlah sambutanku ini! Hiyaaa...!" teriak Datuk Panglima Hitam seraya menghentakkan tangannya ke dua arah sekaligus.

Rupanya datuk ini bermaksud melakukan dua serangan jarak jauh. Namun secara hampir bersamaan, baik Rangga maupun Dewi Mawar Selatan segera melompat ke atas. Sehingga, serangan itu tak menemui sasaran.

"Biarkan aku yang menghadapi bangsat hitam yang telah memperkosa ibuku ini, Rangga!" teriak Dewi Mawar Selatan sambil menerjang Datuk Panglima Hitam.

Dan Rangga pun segera menyingkir secepatnya. Sementara matanya terus memperhatikan jalannya pertarungan sambil bersikap waspada. Dia harus segera membantu, bila gadis itu membutuhkan pertolongan.

Tanpa memberi kesempatan barang sedikit pun, Dewi Mawar Selatan langsung menyerang Datuk Panglima Hitam mempergunakan jurus 'Saat-Saat Penyesalan Tiba'.

Tentu saja mendapat serangan gencar ini, Datuk Panglima Hitam tidak tinggal diam. Tubuhnya berkelebat lenyap, menghindari serangan. sebentar saja, pertarungan telah berlangsung seru dan seimbang. Apalagi, Datuk Panglima Hitam telah mempergunakan jurus 'Harimau Kehilangan Anak' suatu jurus dari rangkaian jurus 'Harimau' ' yang dimilikinya. Di lain waktu. laki-laki berbaju serba hitam itu membalas serangan dengan totokan-totokan maut yang berbahaya. Dewi Mawar Selatan berkelit ke samping, lalu membalas serangan bila ada kesempatan.

"Ciaaat..!"

"Uts!" Tendangan kaki Datuk Panglima Hitam mendadak terjulur ke punggung. Tapi, gadis ini segera memutar langkah ke samping: Tubuhnya langsung berputar, sedangkan kedua tangannya menyilang menangkis tendangan. Benturan keras pun tidak dapat dihindari lagi.

Plak!

Dewi Mawar Selatan sempat terhuyung akibat benturan tenaga dalam tadi, namun cepat menguasai keseimbangan. Sedangkan Datuk Panglima Hitam hanya menyeringai, walau patut diakui bagian kakinya tampak benjol setelah membentur tangan gadis itu.

Tanpa menghiraukan sakit pada bagian tangannya, Dewi Mawar Selatan segera meraih bumbung tuak. Dan begitu ada kesempatan diteguknya tuak lalu disemburkan ke arah Datuk Panglima Hitam.

"Fruhhh...!" Tuak yang disemburkan Dewi Mawar Selatan langsung meluncur deras. Namun Datuk Panglima Hitam mengibaskan bajunya, untuk menghalau semburan tuak. Tetapi...

Ces! Ces! Ces!

"Heh...?!" Pakaian Datuk Panglima Hitam yang dipergunakan untuk menangkis hancur terhantam semburan tuak Laki-laki itu terkejut Sungguh tidak pernah disangka tuak itu sangat berbahaya. Saat itu juga dia melompat mundur.

"Hebat! Rupanya senjata rahasiamu sangat berbahaya, Gadis Cantik? Tapi kau jangan bangga dulu. Hiyaaa...!"

Dengan teriakan menggelegar, Datuk Panglima Hitam segera merubah jurusnya. Dan dengan mengandalkan jurus 'Harimau mencabik Mangsa', dia siap melepas serangan. Kedua tangannya telah terpentang lebar. Kuku tangannya mencuat ke luar

"Hiih..!" Begitu tubuh datuk itu melesat, kuku-kukunya langsung mencabik ke delapan penjuru.

Serangan langkah seperti ini memang sulit dihindari. Maka Dewi Mawar Selatan pun mengambil jangkar yang tersampir di punggung. Begitu talinya digerakkan ke depan, maka mata jangkar yang sebesar lengan bergerak liar. Menusuk, mematuk, bahkan menderu ke bagian-bagian yang cukup berbahaya.

Melihat serangan mata jangkar dan bumbung tuak yang susul menyusul ini, Datuk Panglima Hitam tak punya kesempatan untuk menerobos pertahanan Dewi Mawar Selatan. Apalagi mengingat mata jangkar selalu mengincar mata, tenggorokkan, serta punggungnya!

TUJUH

Sampai tiga puluh jurus, Datuk Panglima Hitam merasa masih belum mampu mendesak Dewi Mawar Selatan. Apalagi, sempat melukainya. Maka dia merasa perlu melakukan sesuatu. Namun belum sempat bertindak, mata jangkar gadis itu telah menyambar ke arah punggungnya.

Wuuk! Cep!

Untung Datuk Panglima Hitam sempat memajukan tubuhnya sedikit, sehingga, mata jangkar sebesar lengan hanya menembus baju. Namun begitu Dewi Mawar Selatan cepat menyentakkan ke udara. Bukan main besar tenaga dalam yang dimilikinya, terbukti tubuh laki-laki tambun itu terangkat dan ikut berputar-putar sesuai gerakan tali di tangan Dewi Mawar Selatan. Diputar begitu rupa, kiranya kepala Datuk Panglima Hitam menjadi pusing. Untuk itu, dia harus melepaskan pakaiannya.

Set! Set!

"Hup...!" Datuk Panglima Hitam meluncur ke bawah dalam keadaan tanpa baju. Begitu marahnya, hingga cepat mencabut Cula Kematian. senjata berwarna putih mengkilat ini langsung dihentakkannya ke depan seiring luncuran tubuhnya ke arah Dewi Mawar Selatan.

Dalam jarak yang cukup dekat itu mustahil Dewi Mawar Selatan dapat mempergunakan jangkarnya. Seketika dituangkannya isi bumbung ke mulutnya. Dan....

Gluk! Gluk! Gluuukk!

"Fruhhh...!" Tuak itu pun meluncur dari mulut Dewi Mawar Selatan. Sementara, Datuk Panglima Hitam segera menangkis dengan sabetan senjatanya.

Tes! Tes!

Tangkisan itu berhasil mematahkan serangan Dewi Mawar Selatan, sementara Cula Kematian terus meluncur. Sedapat mungkin gadis itu segera berkelit dengan membuang tubuh ke kanan. Namun....

Cresss!

"Aukhh!" Dewi Mawar Selatan menjerit tertahan ketika ujung Cula Kematian sempat menggores bahunya. Tubuhnya terhuyung-huyung, kemudian roboh tidak sadarkan diri.

Melihat kejadian ini, Rangga langsung menghampiri Dewi Mawar Selatan. Segera ditotoknya urat-urat besar di sekitar luka-luka gadis itu. Kemudian dimasukkannya beberapa butir obat pulung berwarna hitam, kuning, dan merah ke mulutnya.

Pendekar Rajawali Sakti tahu senjata cula itu mengandung racun jahat. Maka dia segera memberikan obat pemunah racun. Setelah membawa gadis itu ke tempat yang aman. Rangga menghampiri Datuk Panglima Hitam yang tetap berdiri tegak di tempat semula.

"Selain senjatamu yang mematikan itu, kudengar kau mempunyai ilmu 'Cindaku'?" tanya Rangga dingin.

"Banyak mulut! Aku harus mendapatkan gadis itu. Maka kau harus kubunuh terlebih dulu!" geram Datuk Panglima Hitam. "Hiaaa...!"

Wuuttt!

Datuk Panglima Hitam melompat ke depan sambil dorongkan tangan kanan. Sementara Rangga cepat berputar seraya menyambut dengan siku kiri.

Duk!

Masing-masing terhuyung mundur sejauh tiga langkah. Namun Datuk Panglima Hitam yang sudah tidak sabar mengakhiri perlawanan segera menerjang kembali mempergunakan jurus 'Harimau Merobek Mangsa'.

"Hiyaaa...!" Diiringi teriakan keras menggelegar, Datuk Panglima Hitam meluruk deras dengan jemarinya berkuku runcing siap menerkam

"Hup!" Pendekar Rajawali Sakti telah melenting ke udara. Saat tubuhnya meluncur deras ke bawah kakinya mengibas ke bagian kepala dalam jurus Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Duk!

Tidak dapat dihindari lagi, tendangan Pendekar Rajawali Sakti menghantam kepala Datuk Panglima Hitam. Tapi anehnya, kepala itu tidak hancur dan hanya membuat Datuk Panglima Hitam terpelanting.

Secepat kilat laki-laki bertubuh tambun ini bangkit berdiri. Bibirnya yang meneteskan darah tampak komat-kamit. Lalu....

"Graung...!" Dan Datuk Panglima Hitam segera berjumpalitan. Tujuh kali dia melakukan gerakan seperti itu. Dan begitu menjejakkan kakinya, tubuhnya telah berubah menjadi seekor harimau siluman yang berbulu hitam.

"Auummm...!" Harimau itu mengaum keras sambil menerkam Rangga dengan satu loncatan cepat yang terarah pada bagian dada dan tengkuk.

Pendekar Rajawali Sakti terpaksa mengerahkan Jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Langkahnya menggeser ke kanan dan ke kiri. Atau, terkadang bergerak ke belakang. Sedangkan tubuhnya terus meliuk-liuk. Sehingga tak satu serangan pun yang mengenai sasaran.

Rupanya harimau jejadian itu menjadi marah, karena serangannya selalu gagal. Dan seketika serangannya ditingkatkan, membuat Pendekar Rajawali Sakti jadi terdesak. Merasa tidak punya pilihan lain lagi, Rangga tiba-tiba meraih gagang pedangnya,

Sring! Bet! Bet!

Begitu tercabut, tampak sinar biru berkilau memancar dari mata pedang. Dan saat itu juga, dikibaskannya ke arah harimau berwarna hitam.

"Grauung...!" Harimau jejadian ini langsung melompat mundur. Agaknya hatinya mulai gentar melihat pamor pedang yang begitu dahsyat.

"Hiyaaa...!" Pendekar Rajawali Sakti tak memberi kesempatan lagi. Begitu menerjang pedangnya bergerak menebas dengan kecepatan dahsyat. Sementara makhluk jejadian ini agaknya tak mampu mengelak lagi. Akibatnya....

Crasss...!

"Auuummm...!" Disertai raungan panjang harimau berbulu hitam ini pun terbanting ke tanah begitu lehernya tertebas Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Begitu kuat kemampuan harimau itu. Dia tidak langsung mati, melainkan mengerang-erang sekarat.

Tiba-tiba sebuah, bayangan putih berkelebat, langsung menghantamkan bumbung bambu ke bagian kepala harimau jelmaan Datuk Panglima Hitam.

Prak!

"Aaa...!" Harimau jejadian yang telah hampir kembali di wujud asalnya ini menjerit lemah, kemudian diam tidak bergerak lagi dengan kepala pecah.

"Dewi?" seru Rangga terkejut, begitu melihat sosok bayangan putih yang baru saja menghantamkan bumbung tuaknya pada kepala harimau.

"Dendamku padanya sedalam lautan, Rangga. Kini dia telah mati. Aku hanya tinggal mencari orang yang telah membunuh ayahku!" desis Dewi Mawar Selatan.

"Kalau begitu kita harus mencari Penyair Gila. Sebab, hanya dialah yang tahu siapa yang telah membunuh ayahmu!" ajak Rangga. Baru saja Rangga berkata demikian...

"Orang-orang yang membuat angkara murka telah berangkat ke neraka. Kini, seorang anak sedang bingung karena tidak tahu pada siapa harus bertanya. Orang membunuh atas nama dendam, sampai kapan darah tidak akan menetes lagi? Sampai penindasan segera terhenti. Di sini Penyair Gila hanya dapat sedih sendiri...!"

Baik Rangga maupun Dewi Mawar Selatan tertegun saat mendengar lantunan bait-bait syair. Mereka kemudian memandang ke satu arah tempat asal suara yang tadi terdengar.

"Siapa dia?" tanya Dewi Mawar Selatan pada Rangga.

"Pasti suara Penyair Gila!" tebak Rangga.

Memang benar. Tidak lama kemudian, tampak seorang kakek berjubah hitam tambal-tambalan tengah melangkah menghampiri. Kakek berjuluk Penyair Gila yang tetap membawa tempurung kelapa ini kelihatan murung.

"Kakek Lebai Panyadi! Aku dan Dewi Mawar Selatan sebenarnya bermaksud mencarimu. Jadi kami merasa beruntung, karena kau telah datang kemari" sambut Rangga, ramah.

"Kau ingin menanyakan sesuatu yang ada hubungannya dengan hutang darah? Hik hik hik.. Aku jadi ikut sedih!" sahut Penyair Gila.

"Benar Kek Dewi Mawar Selatan sudah tidak sabar ingin mencari pembunuh ayahnya," sahut Rangga.

"Tidak cukupkah setelah kematian datuk-datuk itu?" tanya Penyair Gila muram.

"Semuanya harus tuntas. Aku tidak mungkin dapat berdiam diri. Aku harus tahu, siapa yang telah membunuh ayahku!" tandas gadis itu.

"Hu hu hu...! Aku sedih. Sedih sekali. Lebih sedih lagi, setelah mengetahui garis hidupmu!" rintih Penyair Gila sambil menangis tersedu-sedu.

"Tidak, Kek. Apa pun masa lalu dan masa yang akan datang, jika kau memang mengetahuinya, harap sudi menceritakan segala sesuatunya padaku!"

Penyair Gila terdiam. Ditatapnya wajah Dewi Mawar Selatan lekat-lekat. "Bukankah kau menyimpan bukti atas kematian ayahmu?" tanya Penyair Gila.

"Benar,'' sahut gadis itu, singkat.

"Apa?" tanya Kakek Lebai Panyadi

"Sebuah tusuk konde terbuat dari emas," jawab Dewi Mawar Selatan, singkat

"Aku sedih memikirkan hidupku. Tetapi, aku lebih sedih lagi mengingat nasibmu. Aku tidak dapat menjelaskannya. Gurumu yang lebih berhak menjelaskan padamu, siapa yang telah membunuh ayahmu. Merekalah kunci segala-galanya," jelas Penyair Gila. Kemudian matanya melirik Rangga.

"Kau temanilah dia menuju Lembah Penyesalan. Karena, di sana nanti gadis ini akan memperoleh jawaban dari apa yang diinginkannya."

"Tapi, Kek...."

"Tidak ada tapi-tapian. Jawaban yang kuberikan padamu, telah kuanggap cukup. Dan aku tidak mempunyai apa-apa lagi untuk menjawab pertanyaanmu!" tegas Penyair Gila.

Rangga memberi isyarat pada Dewi Mawar Selatan agar tidak bertanya-tanya lagi. "Terima kasih atas penjelasan yang kau berikan, Kek," ucap Rangga bersungguh-sungguh.

"Pergilah, Pendekar Rajawali Sakti! Temani dia sampai mendapatkan apa yang diinginkannya!"

Dewi Mawar Selatan terkejut ketika mendengar Penyair Gila menyebut julukan Rangga. Bagaimanapun, gurunya pernah bercerita tentang kehebatan seorang pendekar tanah Jawa yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Sepak terjangnya menggemparkan dunia persilatan dan sampai terdengar di tanah Andalas. Tidak pernah gadis ini menyangka kalau selama beberapa hari sebenarnya telah berjalan seiring bersama seorang pendekar besar!

"Mari kita pergi, Dewi!" ajak Rangga sambil menarik tangan gadis cantik ini.

Dewi Mawar Selatan tidak bisa menolak. "Kuucapkan terima kasih atas bantuanmu, Kek," ucap Dewi Mawar Selatan, sebelum meninggalkan Penyair Gila.

"Hik hik hik...! Kau tidak usah berterima kasih. Cuma nanti setelah bertemu pembunuh orangtuamu, kuharap tidak akan kecewa..."

Ucapan Penyair Gila memang sulit dimengerti baik oleh Pendekar Rajawali Sakti maupun Dewi Mawar Selatan. Namun, mereka tidak ingin menunda-nunda lebih lama lagi. Maka sebentar kemudian mereka telah pergi meninggalkan tempat itu.

********************

"Berhenti..!"

Rangga dan Dewi Mawar Selatan menghentikan langkah, ketika tiba-tiba di depan menghadang sesosok tubuh bercadar hitam. Pakaiannya pun hitam Dia berdiri di tengah jalan dengan angkuh!

"Siapa kau? Dan, mengapa menghadang perjalanan kami?" tanya Rangga.

Sementara Dewi Mawar Selatan terus meneliti. Melihat tubuhnya yang ramping, pastilah orang bercadar ini perempuan. Tapi, mengapa tadi suaranya besar dan serak seperti laki-laki?

"Siapa aku, kau tidak perlu tahu. Yang jelas, aku menghendaki nyawamu dan nyawa gadis itu...!" dengus orang bercadar kasar.

"Enak saja bicara!" sela Dewi Mawar Selatan. Daerah ini sudah termasuk wilayah Lembah Penyesalan. Aku murid Nenek Sekato dan Etek Petako yang tinggal di lembah itu. Apa hakmu melarang kami menyambangi guruku sendiri?!" bentak Dewi Mawar Selatan, tidak senang.

"Ha ha ha...! Lembah Penyesalan sejak dulu dan sekarang adalah daerah kekuasaan kami. Jika kau tetap nekat juga ingin memasuki daerah itu, maka harus menyerahkan nyawa!" tegas orang bercadar hitam itu.

Melihat ulah orang bercadar ini, Dewi Mawar Selatan menjadi tidak sabar. Saat itu juga dia melompat ke depan. "Kau harus mengatakan siapa dirimu, baru nanti aku akan mempertimbangkan apakah pantas untuk mencegah kami!" sentak gadis itu.

"Kau tidak layak tahu siapa diriku!" dengus orang bercadar itu, tetap bersikeras.

"Kalau begitu, kau memang ingin mampus!" Tiba-tiba Dewi Mawar Selatan mengibaskan tangannya. Maka gulungan angin berhawa dingin langsung meluncur deras ke arah sosok bercadar.

Namun orang itu malah mendengus. Bahkan menjentikkan jari telunjuknya, sehingga serangan Dewi Mawar Selatan, berantakan di tengah jalan. Bukan itu saja. Sebagian angin itu malah membalik dan membuat tubuh Dewi Mawar Selatan bergetar

Gadis ini rupanya menjadi sangat penasaran melihat orang bercadar bukan saja mampu menangkis pukulan jarak jauhnya, tapi juga dapat mengembalikannya.

Gluk! Gluk! Glukk!

Dewi Mawar Selatan meneguk tuaknya. Tanpa memberi kesempatan lagi, tuak di mulutnya langsung disemburkan. "Fruuhhh...! "

Luncuran tuak yang dapat menghancurkan wajah itu melesat ke bagian perut. Namun sejengkal lagi tuak itu menghantam, orang bercadar ini cepat menghembuskan napasnya kuat-kuat melalui mulut

"Puuhhh...!" Semburan tuak Dewi Mawar Selatan jadi melenceng, lalu menghantam sebatang pohon di samping mereka hingga berlubang-lubang. Dapat dibayangkan,. betapa hebatnya serangan gadis itu.

Hanya saja setelah menghadapi orang bercadar ini serangan Dewi Mawar Selatan seakan tidak mempunyai arti apa-apa.

"Menyingkirlah, Dewi Mawar Selatan. Biarkan aku yang akan menghadapi orang ini, " ujar Rangga sambil melangkah maju ke depan.

Dewi Mawar Selatan dengan patuh segera menuruti apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti. Dan Rangga sendiri kemudian berhadapan dengan sosok bercadar.

"Kau tetap tidak mau mengatakan siapa dirimu?" tanya Rangga, dingin. Pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti tampaknya tidak akan pernah terjawab selamanya. Karena, orang bercadar itu malah menyerangnya.

"Heaaa...!" Tanpa memberi kesempatan barang sedikit pun, orang ini terus menerjang Pendekar Rajawali Sakti dengan jurus ampuhnya.

Melihat serangan yang begitu ganas, Rangga langsung mengerahkan jurus dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang digabung-gabungkan. Gerakannya pun begitu cepat Bahkan hampir sering mungkin Rangga merubah jurus-jurus silatnya. Dalam waktu singkat orang bercadar hitam ini dibuat pontang-panting.

Akan tetapi rupanya, orang itu cukup cerdik juga. Sambil melompat mundur, kedua tangannya digosok-gosokkan. Dan begitu dari sela-sela jemari tangannya mengeluarkan kabut tipis, seketika dua tangannya diadu satu sama lainnya.

"Hiyaaa...!" teriak orang bercadar ini seraya mengerahkan jurus aji 'Brajamusti'.

Wuusss...!

Seleret sinar redup yang keluar dari telapak tangan orang bercadar itu langsung menghantam begitu cepat tanpa bisa dihindari Pendekar Rajawali Sakti. Hingga..,

Glarr...!

Terdengar sebuah ledakan dahsyat, seiring jatuhnya Rangga ke tanah. Untung saja saat itu Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan tenaga dalam tinggi, sehingga tidak terluka dalam. Melihat Pendekar Rajawali Sakti jatuh, Dewi Mawar Selatan segera menyerbu ke depan.

"Gerakan silatmu seperti kukenal. Kau tidak mungkin dapat mencapai niat busukmu!" desis Dewi Mawar Selatan.

Gadis berambut panjang ini kemudian mengambil beberapa kuntum bunga mawar dari balik pakaiannya. Secepat kilat, tiga buah kuntum bunga mawar dikibaskan ke depan.

"Hmm..." Orang bercadar menggumam tidak Jelas. Tiba-tiba tubuhnya melenting ke udara dengan tangan terjulur menghalau serangan senjata rahasia gadis itu.

Prasss!

Tiga kuntum bunga mawar kontan tersapu hancur. Tentu saja hal ini membuat Dewi Mawar Selatan tercengang. Karena, belum pernah ada seorang pun yang mampu menghancurkan serangan senjata rahasianya hanya sekali gebrak.

Sementara itu, Rangga yang mempunyai kesempatan cukup banyak segera menghimpun tenaga dalam. Akibat pukulan yang dilepaskan orang itu tadi, peredaran darahnya jadi kacau.

DELAPAN

Dewi Mawar Selatan sedapatnya berusaha mendesak orang bercadar. Namun hingga sejauh itu, tampaknya lawannya memiliki kepandaian dua tingkat di atasnya. Lagi pula, jurus-jurus yang dipergunakan orang bercadar sangat mirip dengan jurus-jurus yang dimilikinya! Dan belum hilang keheranannya. Tiba-tiba orang bercadar itu menerjang.

"Hiyaaa...!" Dewi Mawar Selatan yang sudah sangat geram sedikit pun tidak gentar. Dalam waktu bersamaan pula, dia menerjang. Kedua tangannya yang telah teraliri tenaga dalam dikibaskan ke arah luncuran tangan orang bercadar. Sedangkan kakinya secara diam-diam menghantam ke perut. Maka...

Duk! Buk!

"Hugkh...!" Benturan keras terjadi baik Dewi Mawar Selatan maupun orang bercadar sama-sama terjengkang. Ketika gadis itu hendak bangkit lagi tiba-tiba sesuatu di dalam perutnya telah mendorong keluar. Lalu...

"Hoegkh...!" Darah segar mengucur dari mulut Dewi Mawar Selatan, Rangga yang melihat kejadian ini segera sadar kalau tenaga dalam yang dimiliki orang bercadar ternyata tiga tingkat berada di atas gadis itu. Saat orang bercadar bermaksud menyudahi pertarungan, di saat itulah Rangga menghentakkan kedua tangannya ke depan.

"Hiyaaa...!" teriak Rangga seraya mengeluarkan jurus aji 'Guntur Geni'.

Saat itu juga meluruk sinar merah dengan angin panas ke arah orang bercadar. Begitu cepatnya luncuran serangan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga lawannya tidak sempat lagi menghindar. Maka....

Glarr!

Orang bercadar kontan terjengkang. Sebagian pakaiannya hangus, namun cadarnya yang terbuat dari kulit tetap utuh. Rangga sendiri merasa dadanya sesak bukan main.

"Gila! Orang ini ternyata memiliki daya tahan tubuh luar biasa!" desis Rangga.

"Kau tidak mungkin dapat membunuhku, Pendekar Rajawali Sakti. Hik hik hik..!" Kata orang bercadar disertai tawa mengikik

Melihat kenyataan ini, Rangga sendiri waspada. Apalagi orang bercadar itu telah bangkit kembali, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

"Hiaaat...!" Disertai teriakan keras, orang bercadar telah mendahului melakukan serangan. Bahkan telah pula mencabut sebuah tongkat berwarna hitam yang bagian ujungnya terdapat sebuah mata pisau berwarna hitam mengkilat.

Trek! Trek!

Senjata itu berputar, lalu meluncur deras ke seluruh penjuru arah mengancam delapan jalan darah di tubuh Rangga.

Pemuda berbaju rompi putih ini cepat mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' untuk menghindari serangan. Tubuhnya lantas berputar, lalu meliuk-liuk Sehingga tak satu serangan pun mendarat di tubuhnya. Namun semakin lama serangan-serangan orang bercadar semakin cepat dan sangat berbahaya. Bahkan tanpa terduga-duga....

Bret!

"Aaakh...!" Ujung pisau di tangan orang bercadar membeset kulit Rangga, menimbulkan luka memanjang dan mengucurkan darah. Untung Rangga sempat melompat ke belakang. Sekarang bisa disadari, betapa akan semakin berbahayanya jika dia tidak cepat mengambil tindakan tegas.

"Sebentar lagi kau pasti mampus di tanganku, Anak Muda!" teriak orang bercadar.

Kejap berikutnya orang ini memutar tongkat berujung pisau dengan gerakan sedemikian cepat. Begitu cepatnya serangannya, sehingga tubuhnya bagai terbungkus kelebatan senjatanya. Lalu...

"Heaaa...!" Secepat kilat tubuh orang bercadar menerjang, dan secepat itu pula senjata di tangannya menyodok ke dada Pendekar Rajawali Sakti.

"Uts...!" Rangga membuang tubuhnya ke kiri. Tetapi, senjata itu mendadak membelok dan terus mengejarnya.

Rangga tidak punya pilihan lagi. Dengan gerakan cepat tangannya bergerak ke punggung. Begitu Pedang Pusaka Rajawali Sakti tercabut, sinar biru yang berkelebat dan menimbulkan suara bergemuruh, langsung memapak senjata tongkat bermata pisau.

Tras!

"Heh...?!" Orang bercadar terkejut sekali. Terlebih-lebih setelah melihat tongkat hitamnya buntung menjadi tiga bagian. Belum juga hilang rasa terkejutnya, sinar biru berkilau dari mata pedang Pendekar Rajawali Sakti menerobos.

Crep!

"Aaa...!" Pedang Pendekar Rajawali Sakti langsung menghujam perut orang bercadar hingga tembus ke punggung disertai jerit kesakitan. Darah langsung mengucur deras dari luka menganga di perutnya.

Tepat ketika Rangga mencabut senjatanya, orang bercadar langsung roboh sambil mengerang-erang. Kedua tangannya menggapai lemah. Dewi Mawar Selatan yang merasa penasaran segera membuka cadar orang ini.

"Nenek Sekato...?!" Sesuatu yang tidak pernah terduga sebelumnya kini terlihat nyata oleh Dewi Mawar Selatan. Matanya melotot, seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi. Bagaimana tidak? Karena orang yang baru saja dibunuh Rangga tidak lain dari Nenek Sekato, gurunya sendiri.

"Mengapa kau lakukan semua ini, Guru?!" tanya Dewi Mawar Selatan dengan tubuh terguncang dan suara bergetar.

"Oh..! Ajalku sudah hampir tiba. Aku adalah orang yang menyimpan kebusukan dalam hidupmu ini. Aku dan juga Etek Petako malu berhadapan dan bertemu denganmu," desah Nenek Sekato. Suaranya tersendat-sendat

"Mengapa?" tanya Dewi Mawar Selatan semakin tidak mengerti.

"Karena akulah yang telah membunuh ayahmu!"

Bagai mendengar petir di tengah hari, Dewi Mawar Selatan tersentak mendengar semua ini. Sekarang barulah disadari, mengapa Penyair Gila tidak mau menceritakan padanya, siapa yang telah membunuh ayahnya. Karena, ternyata pembunuhnya adalah orang yang begitu dekat dengannya!

Tetapi mengapa dulu gurunya tidak membunuhnya sekalian? Paling tidak, agar hatinya tidak hancur. Agar kesedihan tidak melanda jiwanya?

"Kau tega membunuh ayahku, Guru Mengapa kau malah mendidik anak dari orang-orang yang sangat kau benci? Mengapa kau tidak membunuhku sekalian pada waktu itu?" tanya Dewi Mawar Selatan.

"Sebab ak..., aku...!" Dan suara Nenek Sekato pun putus ketika nyawanya lepas dari badan.

"Guru...!" seru Dewi Mawar Selatan, merasa serba salah.

"Dia telah memilih jalan yang dianggap baik untuknya. Sekarang kita mempunyai kesempatan untuk menjumpai gurumu yang satu lagi. Barangkali dia dapat memberi jawaban dari seluruh kejadian di masa lalu. Marilah. Kita merasa tidak perlu membuang-buang waktu!" ajak Rangga tidak sabar.

"Tetapi mayatnya?" tanya Dewi Mawar Selatan bingung.

"Seburuk-buruknya gurumu dia masih tetap orang yang telah banyak berjasa dalam hidupmu. Kalau bisa, nanti kita akan menguburkannya secara layak!" sahut Rangga.

"Baiklah...!" kata Dewi Mawar Selatan.

Kemudian Rangga memanggul jasad guru gadis itu. Kini kedua muda-mudi itu segera melanjutkan perjalanan menuju Lembah Penyesalan yang jaraknya sudah tidak berapa jauh lagi.

Pendekar Rajawali Sakti dan Dewi Mawar Selatan sampai di Lembah Penyesalan yang terasa lebih sunyi dari hari-hari sebelumnya. Rangga meletakkan jasad Nenek Sekato atas permintaan Dewi Mawar Selatan di atas batu besar yang dulu setiap sore selalu dipergunakan gadis itu untuk duduk dan bertukar pikiran dengan gurunya.

"Tunggulah di sini, Rangga! Aku akan menjumpai guruku Etek Petako di dalam rumah itu," ujar Dewi Mawar Selatan.

Tanpa menunggu jawaban, gadis itu langsung bergegas menuju sebuah pondok sederhana beratap daun kirai Ketika mengetuk-ngetuk pintu, ternyata tidak ada jawaban.

"Guru...! Aku kembali...! Cepat bukakan pintu!" teriak gadis itu tidak sabar.

Setelah menunggu sejenak lamanya, namun tidak terdengar suara apa-apa. Dewi Mawar Selatan merasa curiga, maka langsung didorong pintu itu. Begitu pintu terbuka lebar, mata gadis ini kontan terbelalak

"Rangga...!" pekik Dewi Mawar Selatan keras.

Seketika Rangga segera bergegas menghampiri. Ketika sampai di sana, pemuda ini pun tidak kalah kagetnya. Tampak sesosok tubuh tergantung seutas tali yang mencekik lehernya.

"Rupanya dia merasa malu bertemu denganmu Dewi Mawar Selatan. Sehingga, dia memilih bunuh diri. Sungguh menggiriskan nasib guru-gurumu!" gumam Rangga, ikut merasa prihatin. Rangga segera bergerak cepat melepaskan tali yang menjerat leher Etek Petaka, dan diturunkannya secara perlahan.

Dewi Mawar Selatan langsung memeluki jenazah gurunya sambil menangis tersedu-sedu. Tidak banyak yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti terkecuali menghiburnya. Dan tiba-tiba Rangga segera melihat selembar kulit kambing hutan tergeletak di atas meja. Merasa penasaran, langsung dihampirinya.

"Ada pesan, Dewi!" ujar Rangga.

Dewi Mawar Selatan yang sedang dilanda duka langsung menoleh. "Tolong baca!" ujar gadis ini.

"Sebaiknya kau saja yang membacanya. Karena, ini menyangkut masalah pribadimu!" saran Rangga, seraya menyerahkan kulit kambing itu pada Dewi Mawar Selatan.

Dewi Mawar Selatan segera membaca. Dan tulisan itu tampaknya dibuat tergesa-gesa.

Dewi muridku, Jika surat ini sampai di tanganmu, berarti aku telah berada di dunia lain. Maafkan gurumu yang terkesan bertindak bodoh. Terus terang, apa yang telah kami lakukan padamu rasanya masih belum dapat menghapus dosa-dosa kami di masa lalu. Karena tindakan kami yang membabi-buta waktu itu, telah membuat ayahmu meninggal.

Kami baru sadar melakukan dosa besar, setelah mendengar tangismu waktu bayi. Aku dan Nenek Sekato akhirnya memutuskan untuk menjagamu hingga dewasa. Tusuk konde itu adalah milikku sendiri. Berarti, akulah yang paling bertanggung jawab atas kepergian ayahmu. Setelah kau pergi, aku selalu merasa dikejar-kejar dosa. Itulah sebabnya, aku merasa malu. Terlebih-lebih, pada diriku sendiri.

Dulu, aku telah menghancurkan wajahku karena penyesalan itu. Tetapi itu tidak bisa memupus rasa bersalah di hati ini. Dewi..., sampai akhir hayatku aku tetap menyayangimu. Tetapi, aku merasa tidak pantas bertemu lagi denganmu. Setelah kami semua tiada, tetaplah tinggal di lembah ini. Kenang-kenanglah keburukan kami...! Semoga kau sudi memberi maaf padaku dan juga Nenek Sekato.

Tertanda, Etek Petako.


Dewi Mawar Selatan semakin terisak-isak setelah membaca surat terakhir yang ditinggalkan gurunya. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Walau bagaimanapun, kedua gurunya telah mendidik dan membesarkannya. Meskipun, mereka adalah orang-orang yang telah menyebabkan kematian ayahnya.

Sementara itu di luar sepengetahuan Dewi Mawar Selatan, Rangga sempat mendengar suara aneh di luar pondok. Segera Pendekar Rajawali Sakti melesat keluar. Sampai di halaman pondok yang dipenuhi batu-batu, pemuda ini melihat seorang laki-laki berambut lurus dan berbadan kurus kering tengah mencabik-cabik mayat Nenek Sekato.

"Hei..?! Apa yang kau lakukan..?" teriak Rangga keras.

Laki-laki tua berbadan kurus kering bertelanjang dada ini berpaling. Lalu bibirnya mengembangkan senyum dingin. "Bukankah ini Lembah Penyesalan?" laki-laki itu malah balik bertanya dengan nada ketus.

"Tidak salah!" jawab Rangga, singkat

"Ha ha ha...! Aku tahu mayat ini adalah mayat guru Dewi Mawar Selatan. Dia telah mengadu domba sesama datuk Sehingga, muridku Prabangkara tewas di tangan Datuk Merah, karena ulah gadis itu. Sekarang, serahkan bocah baju putih itu! Dia harus menerima hukuman karena kesalahannya!" tandas laki-laki kurus ini tegas.

"Tidak bisa! Dia sedang berkabung. Kalau ada apa-apa, cukup aku yang mewakilinya!" sahut Rangga, tegas pula.

"Ho ho ho...! Terhadap Dura Seta, kau jangan main-main! Aku bisa mengorek jantungmu dan memakan otakmu!" ancam laki-laki ini marah.

"Jangan terlalu mengumbar dendam, Kisanak. Bisa-bisa, kau yang malah celaka!" kata Rangga, menantang secara halus.

Mendapat tantangan seperti itu, laki-laki bernama Dura Seta jelas semakin kalap. Tiba-tiba tangannya dikibaskan. Seketika serangkum angin panas meluncur deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun, Rangga segera bergerak menghindar dengan melompat ke atas.

Blam!

Tidak ampun lagi, serangan itu mengenai batu di belakang Rangga hingga hancur berkeping-keping. Dan laki-laki berangasan ini pun jadi penasaran dibuatnya.

"Hiyaaah.!" teriak Dura Seta seraya mengerahkan pukulan 'Segera Wisa'. Kedua tangan guru dari Prabangkara itu tiba-tiba mengibas ke depan. Maka seleret sinar berwarna merah, kuning, dan hitam menderu cepat melabrak Pendekar Rajawali Sakti disertai bau busuk menyengat

Rangga menyadari, nyawanya dalam keadaan terancam. Maka kedua tangannya langsung menghentak. "Sheaaau.!" teriak Rangga seraya mengerahkan aji 'Guntur Geni'. Segulung sinar merah berhawa panas langsung menghadang serangannya. Akibatnya...

Glar! Glarrr...!

"Wuaagkh...!" Disertai jeritan keras, Rangga terlempar ke belakang. Sebagian pukulan Dura Seta ternyata masih mampu menembus papakannya. Dan tanpa ampun lagi, muntahkan darah kental berwarna hitam.

Rangga segera bangkit seraya menelan obat pulung berwarna merah dan kuning. Langsung dibuatnya sikap semadi dikerahkannya hawa murni untuk mengusir luka dalam yang diderita.

Dura Seta sendiri juga duduk bersila. Rupanya, Benturan tenaga sakti tadi telah membuat bagian dalam dadanya terguncang. Namun secepat itu pula dia bangkit berdiri seraya tersenyum dingin.

"Serahkan gadis itu pada ku! Atau, kau hanya akan membuang nyawa percuma!" dengus laki-laki berangasan ini tidak sabar.

"Jangan kelewat yakin dengan kemampuanmu!" sahut Rangga enteng. "Gadis itu tidak akan kuserahkan pada siapa pun."

"Kau benar-benar ingin mencari mati! Hiyaaa...!"

Disertai teriakan keras, Dura Seta menghentakkan kedua tangannya ke depan. Maka saat itu juga kembali meluncur sinar kuning keemasan ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Jelas laki-laki ini telah mengerahkan tenaga dalam paling tinggi Dan berarti, taruhannya nyawa.

Sementara Pendekar Rajawali Sakti yang telah bangkit, langsung membuat kuda-kuda kokoh. Tangannya membuat beberapa gerakan, dengan tubuh miring ke kiri dan kanan. Tepat ketika tubuhnya tegak, telapak tangannya yang sudah diselubungi sinar biru berkilau sebesar kepala bayi, merangkap di depan dada. Dan setombak lagi sinar kuning keemasan menghantam tubuhnya, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kedua tangannya ke depan.

"Heaaa..." teriak Pendekar Rajawali Sakti seraya mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Saat itu juga sinar biru berkilau meluncur, menghadang sinar kuning keemasan. Tidak dapat dihindari lagi...

Blam!

"Aaa...!" Ledakan dahsyat disertai jeritan keras terdengar. Sinar biru milik Pendekar Rajawali Sakti langsung menerobos sinar kuning keemasan, lalu menghantam tubuh Dura Seta hingga hancur berkeping-keping. Daging dan tulang-belulangnya berserakan di sekitarnya.

"Sungguh terpaksa aku membuat tubuhmu hancur. Kau terlalu mendesakku, Kisanak!" kata Rangga perlahan.

Setelah, menghembuskan napas dalam-dalam, Pendekar Rajawali Sakti berbalik. Ternyata di depannya telah berdiri Dewi Mawar Selatan yang memandangi penuh rasa kagum.

"Kau telah banyak membantuku, Rangga. Aku tidak tahu, apa yang harus kuberikan sebagai rasa terima kasih padamu!" ucap Dewi Mawar Selatan dengan suara bergetar.

"Aku hanya membantu sebatas kemampuanku. Aku merasa senang jika kau telah menemukan dirimu yang sesungguhnya!" sahut Rangga pelan.

"Maukah kau menemaniku, sampai selesai menguburkan jenazah kedua guruku?" tanya Dewi Mawar Selatan, penuh harap.

Pendekar Rajawali Sakti mengangguk setuju. Mereka saling berpandangan sejenak, kemudian sama-sama berpaling ke arah lain dengan perasaan jengah. Dalam hati gadis itu berharap, semoga pemuda tampan berbaju rompi putih ini merasakan seperti apa yang sedang dirasakannya...

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: IBLIS PEMENGGAL KEPALA
Thanks for reading Dewi Mawar Selatan I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »