Dewa Mata Maut

DEWA MATA MAUT

SATU

"Oh, Kakang Rangga.... Kenapa sampai saat ini kabarmu tak juga kudengar? Sudah sepuluh purnama kau mengembara. Dan biasanya, lewat telik sandi kau selalu mengirimi aku kabar. Hhh...," desah seorang gadis cantik berbaju biru yang tengah duduk di sebuah kedai yang tak begitu ramai.

Gadis berbaju ketat warna biru ini, agaknya tidak bisa dianggap sembarangan. Sebuah pedang bergagang kepala naga yang tersampir di punggung dan sebuah kipas baja yang terselip di pinggang, membuktikan kalau gadis ini berasal dari rimba persilatan. Dan memang gadis cantik berbaju ketat warna biru ini tak lain dari Pandan Wangi. Di kalangan kaum persilatan, dia dikenal sebagai si Kipas Maut.

Keberadaan Pandan Wangi di tempat ini, sebenarnya memang untuk mencari Rangga yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Setelah menunggu sekian lama di Istana Karang Setra, gadis itu memutuskan mengembara untuk mencari kekasihnya yang sampai saat ini tak jelas rimbanya. Itu bisa dimaklumi, karena Pendekar Rajawali Sakti selain sebagai Raja Karang Setra, juga sebagai pendekar yang suka mengembara.

Pandan Wangi terus duduk termangu menghadapi hidangan yang tersedia di depan meja. Meski perut lapar, namun mulutnya seperti enggan membuka. Diteguknya isi bumbung bambu sebentar, lalu mulai menyantap makanan sedikit demi sedikit. Namun baru beberapa kali kunyahan....

"Ekhm! Ekhm...!"

"Eh?!" Pandan Wangi langsung menoleh ke kiri mejanya. Rupanya, seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun telah berdiri di samping kirinya. Tanpa mempedulikan gadis ini terus saja bersantap.

"Sendiri saja...?" tegur laki-laki berwajah kasar dengan bibir dower.

"Maaf, Kisanak. Aku tak ingin diganggu," ucap Pandan Wangi, halus,

"Bagaimana kalau kutemani?"

Belum juga Pandan Wangi menjawab, tiba-tiba laki-laki dower ini menarik kursi dan duduk di depannya. Bahkan dengan senyum yang lebih mirip seringai, laki-laki itu memandangi Pandan Wangi, seperti ingin menikmati kecantikannya. Kedua tangannya diletakkan di meja. Dan perlahan-lahan, tangan itu mendekat, hendak menggapai tangan Pandan Wangi.

Si Kipas Maut yang memang sudah kesal, tentu saja tak ingin diperlakukan demikian. Seketika kakinya terayun, menendang kursi yang diduduki laki-laki itu. Dan....

Brak!

"Aaakh...!" Tidak ayal lagi, laki-laki bermuka bulat itu terjungkal ke belakang. Begitu tubuhnya menghantam lantai kedai terdengar keluhan kesakitan dari mulut.

"Kurang ajar! Rupanya kau belum kenal Sangkuling, he?!" dengus laki-laki itu geram, seraya bangkit berdiri.

Laki-laki yang mengaku bernama Sangkuling melangkah gusar mendekati Pandan Wangi yang tetap melanjutkan santapan seperti tidak ada kejadian apa-apa. Begitu mencapai setengah tombak di depan gadis itu, Sangkuling langsung mencabut goloknya.

Srang!

Dan secepat itu pula golok itu berkelebat cepat. Dan...

Brak!

Meja di depan Pandan Wangi kontan hancur berantakan menumpahkan makanan dan minuman di atasnya, terhantam golok Sangkuling. Namun entah bagaimana caranya tahu-tahu Pandan Wangi telah hilang dari pandangan. Sangkuling kebingungan. Dan mendadak seseorang mencoleknya dari belakang.

"Heh?!" Saat Sangkuling berbalik....

Des!

"Aaakh...!" Tiba tiba satu sikutan keras menyodok dada Sangkuling, membuatnya terpekik kesakitan. Tubuhnya kontan terhuyung-huyung ke belakang beberapa tindak.

"Kau, benar-benar tak punya tata krama, Kisanak!" dengus si Kipas Maut ketus sambil berkacak pinggang.

"Kurang ajar! Gadis liar! Rupanya kau punya kepandaian juga, he? Baik! Akan kulihat, sampai di mana kehebatanmu!" desis Sangkuling, melotot garang.

Setelah berkata, Sangkuling kembali melompat menyerang sambil menyabetkan golok ke sana kemari, mengancam keselamatan Pandan Wangi.

Bet! Bet!

Tapi si Kipas Maut memang bukan pendekar kemarin sore. Dengan lincah tubuhnya berkelit menghindar. Dan tiba-tiba diayunkannya satu tendangan tepat ke ulu hati

Desss...!

"Aaakh...!" Untuk kesekian kalinya, Sangkuling menjerit kesakitan begitu tendangan Pandan Wangi tepat mendarat di sisinya. Tubuhnya kontan terjungkal membentur tonggak ruangan kedai ini.

"Sial!" rutuk Sangkuling semakin geram. Dengan susah payah, dia berusaha bangkit kembali.

Meski perutnya sakit dan pandangannya sedikit berkunang, tapi Sangkuling kelihatannya belum kapok. Dengan bernafsu laki-laki itu kembali meluruk dengan sabetan goloknya.

"Rupanya kau terlalu keras kepala, Kisanak! Baiklah, kalau itu maumu!" desis Pandan Wangi, kesal. Secepat itu pula si Kipas Maut mengegoskan tubuhnya ke kanan, saat Sangkuling mengayunkan golok. Dan secepat kilat ditangkapnya pergelangan tangan laki-laki gemuk itu, kemudian dipelintir ke belakang.

Tap!

Bersamaan dengan itu, sebelah kaki Pandan Wangi menghantam pinggang.

Desss...!

"Aaakh...!"

Brakkk...!

Tak ayal lagi, tubuh Sangkuling terjajar ke depan dan langsung menghantam meja yang langsung ambruk bersamanya. Laki-laki gemuk itu meringis-ringis kesakitan sambil memegangi pinggang saat bangkit berdiri. Kali ini, kelihatannya dia mulai kapok. Dan tanpa banyak suara lagi dia meninggalkan kedai. Masih sempat matanya melirik dengan sorot mata mengancam sebelum akhirnya keluar dari kedai ini.

"Huh...!" Pandan Wangi mendengus sinis, lalu kembali mencari meja kosong dan duduk dengan tenang tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya. Bahkan para pengunjung kedai berdecak kagum melihat sepak terjangnya tadi.

"Hebat sekali! Bukan main...!"

Terdengar sebuah suara bernada pujian dari belakang Pandan Wangi. Gadis berjuluk si Kipas Maut ini menoleh. Ternyata suara tadi datangnya dari seorang pemuda cukup tampan berpakaian kuning gading.

Dengan senyum ramah, pemuda itu menghampiri Pandan Wangi yang justru memandang dengan sinar mata tajam. Seakan-akan gadis ini ingin menumpahkan kekesalannya lagi.

"Pergilah, Kisanak. Aku bisa bertindak lebih keras lagi daripada orang tadi!" ujar Pandan Wangi, bernada mengancam.

Namun belum lagi pemuda itu menjawab, seorang laki-laki tua yang ternyata pemilik kedai datang menghampiri. Wajahnya tampak ragu dan bingung. Dipandangnya sejenak pemuda itu. Lalu, beralih pada Pandan Wangi.

"Ada apa?" tanya si Kipas Maut, keras.

"Eh! Anu..., ng.... Siapa yang akan mengganti kerusakan tadi, Nisanak? Sangkuling telah kabur begitu saja. Lagi pula, dia punya pimpinan yang menguasai tempat ini. Mana mungkin aku meminta ganti padanya...," ratap pemilik kedai, mengiba.

"Jangan khawatir. Biar aku yang akan menggantinya!" sahut pemuda berpakaian kuning gading itu seraya mengeluarkan empat keping uang emas yang langsung diberikan kepada pemilik kedai.

"Hah?!" Bola mata pemilik kedai itu berbinar-binar seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Kenapa? Apakah jumlah itu tidak cukup?" tanya pemuda ini dengan kening berkerut.

"Cukup! Lebih dari cukup. Terima kasih, Den! Eh, mau pesan apa lagi?" sahut pemilik kedai ini kegirangan.

"Sediakan sebumbung arak buatku. Dan..., gadis ini terserah apa maunya!" ujar pemuda itu seraya duduk di depan.

"Nisanak, mau makan apa lagi? Apa..., makanan yang tadi dirusak Sangkuling?" tanya pemilik kedai itu.

"Huh!" Pandan Wangi hanya mendengus. Lalu dia bangkit berdiri dan bergegas meninggalkan kedai.

"Eh, mau ke mana?! Tunggu dulu! Pesananmu belum disediakan!" tanya pemuda itu, berteriak.

Tapi percuma saja berteriak-teriak. Sebab, Pandan Wangi terus saja keluar dari kedai itu. Pemuda itu agaknya tidak cepat putus asa. Dia langsung langsung bangkit dan mengejar.

"Den! Pesanannya bagaimana?!" tanya pemilik kedai itu berteriak mengingatkan.

"Tidak jadi!" sahut pemuda itu, langsung melangkah keluar.

"Ini..., eh! Uang ini?!"

"Tidak apa. Ambil saja semua!"

"Ohhh...!" Pemilik kedai itu kembali mendesah dengan wajah cerah. Baru saja dia merasa masygul karena kerusakan yang menimpa perabotan kedainya, dan tahu-tahu seseorang mengganti dengan empat keping emas. Jauh di atas harga kerusakan yang terjadi.

Sementara itu Pandan Wangi telah melompat ke punggung kuda putih yang tertambat di muka kedai. Sedangkan pemuda yang mengintilnya terus melangkah, dan juga menaiki kudanya yang berwarna coklat.

"Nisanak, maafkan aku. Namaku Pranaja. Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggumu...," usik pemuda yang mengaku bernama Pranaja berusaha bersikap ramah.

Namun si Kipas Maut sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan gadis itu terus menggebah kudanya.

"Heaaa...!" Dan pemuda itu ternyata memang gigih. Secepat itu pula dikejarnya Pandan Wangi, langsung menjajari langkah kudanya sambil tersenyum-senyum. Namun baru saja hampir tiba di ujung desa, tahu-tahu berlompatan beberapa orang menghadang.

"Berhenti kalian!" Terdengar bentakan keras menggelegar bernada perintah dari salah satu dari penghadang yang berjumlah sebelas orang itu. Orang yang membentak barusan, berada paling depan. Dia adalah laki-laki tua kurus berbaju hitam. Matanya sayu. Kedua bahunya agak tinggi. Tampak sebilah golok panjang terselip di pinggang.

Sementara Pandan Wangi segera menghentikan laju kudanya, diikuti Pranaja. "Siapa kalian?!" tanya si Kipas Maut tidak kalah garang.

Tapi ketika melihat kalau salah seorang penghadang adalah laki-laki yang dicundanginya di kedai tadi, Pandan Wangi sedikit mengerti apa yang diinginkan.

"Hm, boleh juga...!" gumam laki-laki kurus berbaju hitam sambil memandang Pandan Wangi dengan mata menyelidik. "He he he...! Kau tengah berhadapan dengan Ki Tanggok, Cah Ayu! Seorang anak buahku mengatakan, ada bidadari yang tengah turun ke mayapada. Ternyata, dia benar. Telah lama aku bermimpi tidur dengan bidadari. Dan agaknya, hari ini akan terlaksana!"

Sementara anak buah laki-laki berbaju hitam benama Ki Tanggok itu kontan terbahak-bahak, mendengar kata-kata pimpinannya.

"Bajingan-bajingan berotak kotor! Menyingkirlah! Aku masih bisa menahan sabarku kali ini!" kata Pandan Wangi lantang.

"Apa? Coba dengar! Tidakkah kalian lihat dia begitu garang? Bidadari yang galak! Ah, menyenangkan sekali! Hua ha ha...!" leceh Ki Tanggok tersenyum mengejek, sambil memandangi anak buahnya.

"Mungkin ingin cepat-cepat merasakan dekapan mesramu, Ki!" teriak seseorang yang berdiri di belakang Ki Tanggok.

"Ya! Kenapa mesti berlama-lama? Begitu kau perintahkan, maka kami akan menangkapnya untukmu!" timpal yang Iain.

"He he he...! Tangkaplah dia. Dan, hati-hati! Jangan sampai sehelai rambutnya rontok!" ujar Ki Tanggok, disertai senyum menggiriskan.

Ki Tanggok lalu memandang pemuda yang berada di samping Pandan Wangi sambil menyipitkan mata.

"Dan singkirkan dia! Jangan sampai batang hidungnya kulihat lagi!" dengus orang tua itu dengan tudingan sinis.

"Beres, Ki!"

Segera anak buah Ki Tanggok membagi tugas. Enam orang meringkus Pandan Wangi. Sedang lima orang membereskan Pranaja di sebelahnya.

"Yeaaa!"

"Kurang ajar!" Si Kipas Maut mendengus geram. Seketika dia melompat tinggi dari punggung kuda, lalu berjumpalitan beberapa kali. Dan tiba-tiba kedua kakinya terentang. Lalu....

Pak! Buk!

"Aaakh...!" Dua orang yang jadi sasaran langsung terjungkal disertai jerit kesakitan. Dada mereka terasa remuk terkena jejakan kaki Pandan Wangi.

Sementara begitu menjejak tanah, si Kipas Maut langsung membungkuk, menghindari terjangan salah seorang pengeroyok. Lalu seketika tubuhnya berputar melepas sapuan kaki.

Begkh!

"Aaakh...!" Terdengar pekik kesakitan saat lambung orang yang menyerang Pandan Wangi terhajar sapuan kaki. Tubuhnya kontan terjajar dengan tangan memegangi perut.

"Heaaa...!" Sebelum ada yang menyerang lagi, si Kipas Maut telah lebih dulu menyerang. Dua orang yang jadi sasaran terkesiap. Sadar kalau gadis ini bukan orang sembarangan, mereka cepat mencabut golok dan siap menghadang.

Bet! Wut!

Kedua golok itu berkelebatan cepat. Sementara Pandan Wangi segera menarik serangannya dan langsung menyelinap di antara babatan golok. Tindakan si Kipas Maut membuat kedua pengeroyoknya terperangah, karena tak satu golok pun yang bisa menyentuh tubuh gadis itu. Bahkan tiba tiba....

Des! Des!

"Aaakh...!" Tahu-tahu kedua orang itu merasakan hantaman keras pada tengkuk masing-masing. Mereka menjerit tertahan, dan jatuh tak sadarkan diri!

Pandan Wangi melirik. Agaknya pemuda bernama Pranaja pun telah selesai pula membereskan lawan-lawannya. Begitu menoleh, pemuda itu memberi senyuman manis padanya. Entah kenapa, meski sedikit, dibalasnya senyuman itu. Dan Pandan Wangi tak mengerti, mendadak saja ada perasaan aneh menyeruak di hatinya. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang lagi saat pandangan mereka beradu.

"Eh...?!" Si Kipas Maut tersadar. Kepalanya menggeleng-geleng, seperti berusaha menghilangkan sesuatu yang aneh dalam kepalanya.

"Huh! Agaknya kalian memiliki kepandaian juga. Bagus! Akan kulihat, apa kepandaian kalian bisa diandalkan di depanku!"

Kesadaran Pandan Wangi makin pulih, ketika Ki Tanggok mendengus keras. Laki-laki tua ini benar-benar geram melihat anak buahnya tak mampu membereskan kedua anak muda itu.

Setelah berkata demikian, Ki Tanggok membuka jurus. Langsung diserangnya si Kipas Maut. Untung saja secepat kilat Pranaja berkelebat, langsung menangkis serangan.

Wut! Plak!

"Uhhh!" Ki Tanggok terkejut begitu terjadi benturan. Tangannya terasa kesemutan dan terasa nyeri, Bukan cuma itu. Dia melihat gerakan pemuda ini cepat bukan main. Kalau saja tidak segera melompat ke belakang, niscaya batok kepalanya akan jadi sasaran.

"Masih ingin melanjutkan persoalan ini, Kisanak?" tanya Pranaja sambil tersenyum.

"Huh! Siapa kau sebenarnya?!" tanya Ki Tanggok, mendengus.

"Bukan siapa-siapa. Dan sama sekali tidak ada urusannya denganmu," sahut Pranaja tenang.

"Baiklah. Kali ini kalian bisa bebas. Tapi lain kali, aku akan buat perhitungan!"

Pranaja hanya tersenyum mendengar ancaman orang ltu. "Terserahmu saja. Kapan dan di mana pun, aku selalu siap menyambut tantanganmu "

Ki Tanggok mendelik garang lalu bergerak melangkah. Dipandangnya beberapa anak buahnya yang masih belum bangkit atau yang tengah kesakitan. Kemudian ditinggalkannya kedua anak muda itu setelah memandang sinis. Hatinya kelihatan geram betul mendapat kekalahan menyakitkan.

"Huh! Dasar bajingan teri!" dengus si Kipas Maut, setelah para pengeroyoknya sudah tak terlihat lagi batang hidungnya.

Pranaja tersenyum seraya melangkah mendekati. "Ya. Orang-orang seperti mereka biasanya hanya banyak gertak. Tapi setelah tahu siapa yang dihadapi, nyali mereka akan ciut dengan sendirinya. Oh, ya! Kau tidak apa-apa, Nisanak?" tanya Pranaja penuh perhatian.

"Tidak.... Aku tidak apa-apa," sahut Pandan Wangi.

"Maafkan.... Aku jadi merepotkanmu, Ni..., eh! Siapa namamu?"

"Aku Pandan Wangi."

"Pandan Wangi? Ah! Nama yang indah sekali!" puji Pranaja. "Cantik dan hebat!"

"Kau pun hebat, Pranaja...."

"Tidak. Itu hanya kebetulan karena menghadapi lawan yang memang tidak punya kemampuan. Oh, ya. Kalau boleh tahu, ke mana tujuanmu, Pandan? Boleh kusebut begitu?"

"Tidak apa.... Eh, sebenarnya aku tengah mencari seseorang...."

"Seseorang? Siapa? Saudara? Kerabat? Atau barangkali kekasih?"

Pandan Wangi tidak langsung menjawab. Mulutnya seperti terkunci. Dan hatinya berdebar tak karuan setiap kali beradu pandang dengan pemuda ini. Sungguh Gila! Apa yang dirasakannya saat ini, rasanya memang tidak karuan. Memang pemuda ini cukup tampan, rapi. Dan lagi pula, tutur bahasanya santun. Tapi tentu saja tidak mesti Pandan Wangi menyukainya. Tidak! Dan tidak akan!

"Tapi... Oh, Hyang Jagat Bhatara!" desah Pandan Wangi dalam hati.

"Kenapa, Pandan? Apa yang kau rasakan?" lanjut Pranaja, seperti bisa menduga apa yang dipikirkan gadis itu.

Entah mengapa Pandan Wangi sama sekali tidak menolak ketika Pranaja menggenggam jemari tangannya. Sepertinya ada kekuatan gaib yang seakan-akan melarangnya untuk menampik genggaman itu.

Pandan Wangi terdiam. Dipandanginya pemuda itu sekilas, lalu buru-buru menunduk. Debaran jantungnya terasa semakin cepat, tatkala pemuda itu meremas jemari. Bahkan kini Pranaja perlahan-lahan mendekat hampir merapat ke tubuhnya. Sebelah tangannya hendak meraih pinggang. Dan wajah mereka nyaris bersentuhan, tatkala sebelah tangan kiri Pranaja menaikkan dagu gadis itu.

"Kau cantik sekali, Pandan. Belum pernah kutemui gadis secantikmu selama ini...," desah Pranaja halus.

Sesaat Pandan Wangi terpukau. Namun ketika terasa hela napas pemuda itu mulai menyapu wajahnya....

"Oh...?!" Gadis itu tersentak kaget. Didorongnya keras-keras pemuda itu. Dan nyaris, Pranaja terjungkal kalau saja tidak sigap jungkir balik dan tegak berdiri di atas kedua kakinya.

"Kurang ajar! Apa yang coba kau lakukan padaku, he?!" hardik Pandan Wangi garang. Mata gadis itu melotot dengan wajah penuh amarah. Sebelah tangannya menuding sinis.

"Kalau kau coba-coba berbuat seperti itu lagi, kutebas batang lehermu!" desis si Kipas Maut mengancam.

Dan dengan membawa kesal, Pandan Wangi melompat ke punggung kudanya. Kemudian segera ditinggalkan tempat ini. Namun aneh. Tidak biasanya Pandan Wangi akan meninggalkan begitu saja orang yang hendak kurang ajar. Paling tidak orang itu akan babak belur dibuatnya. Tapi terhadap Pranaja? Entah kenapa, ada perasaan kasihan dan tidak tega. Dia marah dan kesal. Namun tak mampu berbuat apa-apa. Maka jalan satu-satunya adalah meninggalkannya.

Toh, meski begitu, agaknya Pranaja tidak kapok. Sambil tersenyum-senyum pemuda itu melompat ke punggung kudanya. Lalu dipacunya tunggangannya dengan kencang, mengikuti jejak Pandan Wangi.

DUA

"Maafkan aku, Pandan. Aku..., aku tidak sengaja. Maaf...!" ucap Pranaja berulang-ulang, ketika Pandan Wangi tidak berusaha menghindari dari kejarannya.

Pandan Wangi tetap diam dan tidak berpaling, di sisi pemuda itu.

"Kau tidak mau memaafkanku? Oh, alangkah hinanya aku! Semua orang memang membenciku. Tapi..., memang sudah biasa. Orang sepertiku agaknya ditakdirkan untuk menjadi hinaan bagi semua orang," keluh Pranaja berduka.

Pandan Wangi hanya menoleh sekilas. Itu saja sudah cukup membuat Pranaja kembali tersenyum di atas kudanya.

"Kau tidak marah padaku, bukan?" usik Pranaja lagi.

Gadis itu tidak menjawab. Ada perasaan jengkel di hatinya. Tapi entah kenapa, dia tidak ingin mengungkapkannya. Sepertinya setiap pandangan pemuda itu, membuat Pandan Wangi bagai terkena pengaruh gaib. Pengaruh yang membawanya ke dunia lain.

"Pergilah ke tujuanmu semula, Pranaja. Dan aku akan terus mengembara mencari...."

"Tidak!" potong Pranaja. "Aku tidak punya tujuan. Kalau tidak keberatan, biarlah aku menemanimu saja."

Pandan Wangi bingung menjawabnya. Ada kebimbangan di hatinya. Tapi kata-kata pemuda itu terasa memelas penuh permohonan. Dan sorot matanya, membuat bibir Pandan Wangi tak mampu berkata, tidak.

"Bolehkan? Izinkanlah aku, Pandan?" ulang Pranaja memelas.

"Baiklah...," desah Pandan Wangi, akhirnya.

"Ah, sudah kuduga! Kau adalah gadis baik yang pernah kutemui seumur hidupku," seru Pranaja girang. "Percayalah! Aku tidak akan menyusahkanmu."

Baru saja kata-kata pemuda berbaju kuning itu selesai, mendadak....

"Heh?!" Kedua anak muda ini tersentak kaget, ketika terdengar derap langkah kaki kuda dari belakang. Ketika mereka menoleh terlihat tiga penunggang kuda mengejar kencang. Pandan Wangi menghentikan laju kudanya, seperti hendak menunggu.

"Sebaiknya kita cepat pergi saja, Pandan. Tak perlu mengurusi mereka," ajak Pranaja seraya menghentikan laju kudanya.

"Tidak. Aku ingin tahu apa yang mereka inginkan dari kita," sahut Pandan Wangi mantap, seraya membalikkan arah kudanya.

Pemuda itu hanya menarik napas. Arah kudanya juga dibalik, ikut menunggu. Sementara itu ketiga laki-laki yang mengejar telah menghentikan lari tunggangannya. Mereka berdiri di depan Pandan Wangi dan Pranaja pada jarak tujuh langkah. Rata-rata mereka berusia antara empat puluh tahun sampai lima puluh tahun dengan tampang sedikit kasar. Apalagi dengan sorot mata tajam. Tapi dari gerak-gerik, Pandan Wangi bisa menilai kalau mereka bukanlah termasuk tokoh-tokoh sesat.

"Pemuda busuk! Sekian lama dicari-cari, ternyata kau berada di sini! Bagus! Hari ini kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!" hardik laki-laki yang berada di tengah.

Orang itu memiliki cambang bauk tebal, jenggot serta kumis. Di pinggang kirinya terselip sebilah golok panjang.

"Siapa kau, Kisanak? Kenapa begitu datang tiba-tiba memaki yang bukan-bukan padaku?" tanya Pranaja heran.

"Keparat! Kenapa kau masih mungkir lagi, he?! Aku Puger, ayah Ningsih yang kau nodai tiga bulan lalu. Kini anakku mengandung dan menanggung malu! Anakku bunuh diri. Dan kau akan menyusulnya di akherat!" desis laki-laki bernama Puger itu menggeram.

"Kurasa kau salah paham, Kisanak. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Juga tidak mengenal perempuan bernama Ningsih!" sahut Pranaja bersungguh-sungguh, dengan kening berkerut.

"Kurang ajar! Kau masih mau mungkir juga rupanya! Mataku belum lamur dan ingatanku masih kuat. Tidak perlu kau menyangkal di depan gadis yang akan menjadi mangsamu. Sekarang juga, kau akan menerima akibat perbuatanmu itu!" Begitu lenyap gema suaranya, Ki Puger langsung mencabut golok panjangnya.

Srang!

Lalu secepat kilat, laki-laki setengah baya itu mencelat dari punggung kudanya menyerang Pranaja.

"Yeaaa...!"

"Kau terlalu memaksaku, Kisanak...!" keluh pemuda itu.

Sebelum serangan datang, Pranaja telah melompat dari punggung kuda. Dan baru saja pemuda itu menjejak tanah, serangan Ki Puger telah meluruk deras.

"Mampus kau!" desis Ki Puger sambil menyabetkan goloknya.

Wut!

Namun Sanjaya telah berkelebat cepat bukan main, sehingga semua serangan Ki Puger luput dari sasaran. Dan itu tidak membuat orang tua ini sadar. Bahkan dia semakin kalap menyerang.

"Kisanak! Kuharap sudahi salah paham ini!" ujar Pranaja, mengingatkan.

"Persetan! Sebelum kau mampus, hatiku tidak akan tenang. Kau penyebab kematian putriku!" dengus Ki Puger, menuding dengan goloknya.

"Tidakkah kau mengerti bahwa aku sama sekali tidak mcngenalmu? Apalagi putrimu!" kata Pranaja, berusaha terus meyakinkan.

"Tutup mulutmu, Pemuda Jalang! Bukan hanya Ningsih yang kau nodai. Tapi empat gadis di desa kami juga telah kau nodai. Apa kau hendak mungkir, he?! Mulutmu manis merayu. Tapi, hatimu busuk menyimpan bangkai! Heaaat...!"

Ki Puger tak dapat menahan kesabarannya lagi. Kembali tubuhnya meluruk dengan sabetan golok panjangnya. Pranaja hanya menghela napas pendek. Dan mau tidak mau, dia terpaksa harus balas menyerang. kalau ingin urusan ini cepat selesai.

Wut!

"Maaf!" Setelah berseru pendek, Pranaja. mengelak dari tebasan senjata golok. Dan dengan gerakan mengagumkan ditangkapnya pergelangan tangan Ki Pu-ger.

Tap!

Lalu secepat itu pula sebelah tangan Pranaja yang lain menggedor dada Ki Puger. Des!

"Aaakh...!" Tak ayal lagi, Ki Puger tersungkur ke belakang disertai jeritan tertahan. Sebelah tangannya mendekap dada, merasakan sakit dan nyeri. Namun begitu matanya beringas memandang Pranaja. Meski goloknya telah berpindah tangan, Ki Puger kelihatan tidak peduli. Bahkan kini dia bangkit dan terus menyerang dengan tangan kosong.

"Yeaaa...!"

"Kisanak, kau hanya mempersulit dirimu sendiri...," desah Pranaja, halus.

"Tutup mulutmu, Jahanam!" bentak Ki Puger. "Hiaaat...!"

Wut!

Tubuh Ki Puger meluruk dengan kibasan tangan berkali-kali, mengancam bagian-bagian mematikan di tubuh Pranaja. Namun semua serangan bisa dihindari Pranaja dengan egosan-egosan lincah. Bahkan tiba-tiba pemuda itu mengayunkan tendangan enteng, dan mendarat tepat di dada laki-laki itu.

Des!

"Aaakh...!" Untuk kedua kalinya Ki Puger menjerit kesakitan. Tubuhnya terlempar ke belakang sejauh dua tombak, lalu jatuh terduduk.

"Ki Puger! Kau tidak apa-apa?!" tanya dua laki-laki lain seraya turun dari kuda. Mereka langsung menghampiri dan memeriksa luka Ki Puger.

"Kurang ajar! Muri, Tukul! Kita harus membalaskan sakit hatinya!" desis seorang dari mereka.

"Benar, Braja! Huh! Akan kutebas lehernya!" timpal yang seorang lagi dengan sikap tidak kalah garang. Seketika kedua laki-laki bernama Tukul dan Braja ini tegak berdiri memandang pemuda itu. Lalu....

Srang!

Masing-masing mencabut golok dan siap hendak menyerang.

"Hm.... Agaknya kalian pun sama saja. Tidakkah kalian bisa mengerti, bahwa orang itu salah alamat?!" kata Pranaja coba meyakinkan.

"Tidak perlu kau bersusah-payah menipu kami, Bocah! Siapa pun akan sakit hati dan terhina sekali, mengetahui aib yang menimpa. Dan kau adalah pembuat aib itu. Hanya satu cara untuk menghi-langkannya. Kematianmu!" sahut orang yang bernama Tukul.

Sementara Braja agaknya sudah tidak dapat menahan diri lagi. Langsung saja diserangnya Pranaja dari sebelah kiri.

"Heaaa...!" Tukul pun seketika mengikuti. Diserangnya pemuda itu dari kanan.

"Orang-orang nekat!" desis Pranaja terdengar sinis. Secepat kilat pemuda itu meliukkan tubuhnya menghindari kedua tebasan. Dan seketika tubuhnya melenting dengan gerakan mengagumkan. Lalu tiba-tiba tubuhnya menukik tajam dengan kedua kaki terbentang.

Des! Duk!

"Aaakh...!" Tukul dan Braja langsung menjerit kesakitan ketika tendangan Pranaja tepat menghantam dada masing-masing. Tubuh mereka terpental dan jatuh mencium tanah dengan keras. Seringai kesakitan langsung menghiasi wajah mereka.

"Kurang ajar!" Meski terasa sakit dan sesak, namun keduanya cepat bangkit. Dan mereka siap menyerang pemuda itu kembali dengan sabetan golok.

"Yeaaa!"

Pranaja membungkuk menghindari dua sabetan sekaligus. Kemudian tubuhnya berputar sekali dengan sebelah kaki bergerak cepat menghantam pergelangan tangan Tukul dan Braja.

Plak! Plak! "

"Aaakh...!"

"Aaakh...!"

Kedua orang itu menjerit tertahan Golok masing-masing terpental. Dan sebelum sempat berbuat apa-apa, tendangan yang dilancarkan pemuda itu telah menghantam telak dada masing-masing.

Begkh! Des!

"Aaakh...!"

Tukul dan Braja kontan kembali tersungkur disertai jerit kesakitan. Dengan tertatih-tatih, mereka bergerak bangkit. Tampak darah segar menetes dari sudut bibir mereka. Walaupun dalam keadaan sempoyongan, mereka menghampiri Ki Puger yang masih terduduk untuk mengumpulkan kekuatan.

Melihat ketiga orang itu tidak bermaksud menyerang, Pranaja pun tidak meneruskan serangan. Pemuda itu berdiri tegak sambil menyungging senyum.

"Kisanak bertiga! Karena ini salah paham, maka aku tidak akan memperpanjang urusan. Kalian yang membuat gara-gara. Dan aku sama sekali hanya sekadar membela diri. Pergilah. Dan, jangan ganggu kami lagi!" ujar Pranaja.

"Dewa Mata Maut! Kau memang hebat dan licik!" desis Ki Puger. "Tapi aku tidak akan pernah melupakanmu seumur hidupku. Tunggulah saatnya, karena suatu hari nanti aku akan kembali da-tang untuk menagih nyawamu!"

"Aku tidak akan menanggapi ocehanmu, Kisanak. Kau salah menuduh orang. Dan aku sangat prihatin...!" kata Pranaja, halus.

Ki Puger mendengus. Kemudian matanya memandang gadis yang bersama Pranaja. "Nisanak! Kulihat kau bukan gadis sembarangan. Kenapa orang sepertimu mesti bergaul dengan penjahat pemetik bunga seperti pemuda ini?!" tanya Ki Puger.

"Eh! Aku..., aku hanya kebetulan saja...," kata Pandan Wangi, berkilah.

"Pandan! Kau tidak perlu mempedulikan mereka!" tukas Pranaja.

"Pandan? Pandan Wangi?!" sebut Ki Puger dengan mata terbelalak. "Aku kenal. Kau pasti si Kipas Maut. Bukankah kau kekasih Pendekar Rajawali Sakti? Astaga! Apa yang terjadi padamu? Apakah kau pun kepincut binatang jalang ini?!"

"Kisanak! Tutup mulutmu! Dan, jangan lagi menyebar fitnah!" umpat Pranaja geram.

"Kau adalah binatang busuk yang menjijikkan, Dewa Mata Maut!" dengus Ki Puger. Kemudian mengajak laki-laki itu untuk segera angkat kaki. Namun sebelum itu kepalanya masih sempat menoleh lagi pada Pandan Wangi.

"Dan kau, Pandan Wangi! Kau akan jadi wanita murahan yang tidak punya malu bila terus bergaul dengannya!" tambah Ki Puger, seraya naik ke atas punggung kudanya, diikuti kedua temannya.

Pandan Wangi terkesiap. Hatinya kontan panas mendengar hinaan yang dilontarkan kepadanya. Kalau saja Pranaja tidak menahan, mungkin akan dilabraknya ketiga laki-laki itu.

"Sudahlah. Kita tidak perlu mengurusi orang-orang seperti mereka...," ujar Pranaja sambil mengawasi kepergian tiga laki-laki yang telah menggebah kudanya itu.

"Huh!" Pandan Wangi hanya mendengus dengan wajah bersungut-sungut.

"Mereka hanya orang-orang yang putus asa. Kita patut kasihan dan tidak perlu menambah beban penderitaannya lagi...," tambah Pranaja.

"Tapi kulihat mereka bersungguh-sungguh...," kata Pandan Wangi, mencoba memancing.

"Apa?!" Pranaja pura-pura terperanjat. "He he he...! Rupanya kaupun mulai termakan cerita mereka. Cerita kosong yang dikarang orang-orang putus asa, dan akhirnya menuduh sembarangan orang sebagai pelampiasan. Kau sungguh-sungguh mempercayai mereka?!"

Pandan Wangi tidak langsung menjawab. Dipandanginya Pranaja untuk sejurus lamanya. Dan yang dipandangi ternyata balas memandang pula. Kembali, setiap pandangan pemuda itu selalu me-nimbulkan perasaan aneh pada diri Pandan Wangi. Entah bagaimana, gadis ini merasa percaya begitu saja pada Pranaja. Padahal dalam relung hatinya yang paling dalam, dia merasa ada sesuatu yang janggal pada pemuda di depannya.

Pada akhirnya Pandan Wangi tak ingin meneruskan dugaan-dugaan jelek pada diri Pranaja. Baginya hal itu bukan persoalan menarik ketimbang apa yang dirasanya di hati. Getaran-getaran aneh tatkala pertama kali bertatapan dengan pemuda ini, membuat kegalakannya seperti sirna. Bahkan hatinya tak mampu berontak. Pikirannya buntu. Dan saat itu, dia tidak tahu apa yang mesti dilakukan.

"Hm.... Kudengar orang tadi mengenalmu...," kata Pranaja, membuka suara setelah sekian lama terperangkap kebisuan.

"Eh, apa?!" tanya Pandan Wangi, tersadar dari lamunannya.

"Kau si Kipas Maut, bukan?" tanya Pranaja.

"Ya."

"Berarti benar kalau kau kekasih Pendekar Rajawali Sakti?"

Pandan Wangi baru saja hendak mengiyakan, tapi entah kenapa mulutnya seperti terkunci. Dan meski begitu, dia pun tak berusaha mengelak.

"Kalau begitu kepergianmu ini untuk mencarinya?" lanjut Pranaja tanpa mau mendesak gadis itu pada pertanyaan sebelumnya.

Seolah-olah Pranaja begitu yakin apa yang diduga dan tidak perlu meyakinkan lagi dengan jawaban gadis ini.

"Ya...." Suara Pandan Wangi terdengar ragu dan pelan sekali.

"Boleh kutemani untuk mencarinya?"

Pandan Wangi menoleh. Dan Pranaja membalasnya sambil tersenyum. Buru-buru gadis ini memalingkan muka. Kelihatan jengah, tapi sedikit berbunga-bunga hatinya.

"Boleh...?" ulang Pranaja.

"Tidak! Eh, maksudku..., tidak perlu mencarinya."

"Kenapa? Kau tidak ingin mencarinya?"

Kembali Pandan Wangi terdiam. Dia seperti tak mengerti kenapa sejak pertama kali menatap Pranaja, sampai kini perasaan aneh selalu menyergapnya. Tujuan semula yang hendak mencari Rangga, seakan sirna begitu saja. Rasa rindunya pun sedikit demi sedikit terkikis terhadap Rangga. Kenapa ini terjadi?

"Kau tidak rindu padanya?" usik Pranaja.

Gadis itu masih terdiam.

"Dia pun sering rindu padamu?"

Pandan Wangi masih membisu.

"Apakah dia sering meninggalkanmu?"

"Sering juga...," sahut Pandan Wangi, akhirnya mengeluarkan suara.

"Sayang sekali. Gadis secantikmu mestinya jangan sering-sering ditinggal..," desah Pranaja seperti berbisik.

"Apa maksudmu?" tanya Pandan Wangi dengan kening berkerut.

"Yeaaah.... Maksudku..., mungkin dia sudah bosan dan ingin cari yang lain! Apa hubungan kalian lama?" tukas Pranaja.

"Cukup lama juga...."

"Dan kau pernah mengikutinya atau diajaknya bepergian?"

"Sering."

"Nah, bisa jadi. Dalam petualangannya, bisa jadi dia banyak menemukan gadis cantik. Beberapa orang dari mereka pasti menarik perhatiannya."

Pandan Wangi sebenarnya hendak menjerit, mendengar kata-kata Pranaja. Dan dia juga tak suka melihat pemuda ini mengusik-usik pribadinya. Tapi entah kenapa, dia tak mampu marah. Bahkan bersuara pun tidak. Gadis ini terdiam. Bahkan pikirannya kini mulai membayangi kata-kata Pranaja barusan. Di mana Rangga saat ini? Apa yang di-lakukannya? Benarkah Rangga sudah bosan? Beribu-ribu pertanyaan menggayut di benak Pandan Wangi.

"Kau harus pikirkan baik-baik. Bisa saja, dia berpura-pura baik di depanmu. Tapi, sesungguhnya di belakangmu main dengan banyak gadis-gadis lain. Kau tidak akan mungkin mengawasinya terus, bukan? Nah! Itulah kesempatan yang digunakannya!" lanjut Pranaja.

"Kenapa kau begitu peduli pada hubungan kami?" tanya Pandan Wangi akhirnya.

Pranaja terkekeh. Tapi belum lagi menjawab,mendadak mencelat sesosok bayangan ke hadapan mereka. Dan tahu-tahu, telah berdiri sesosok gadis cantik berambut dikuncir.

"Hm, bagus! Jadi inikah urusan yang kau katakan itu, Pranaja!" dengus gadis yang baru datang pada Pranaja. Sementara, matanya melirik tajam pada Pandan Wangi.

Semula Pranaja terkejut melihat kehadirannya. Namun secepat itu pula bisa menguasai diri. Pemuda itu menggeleng lemah sambil tersenyum.

"Hm.... Ini pasti salah paham lagi...," gumam Pranaja.

"Kau coba menghindariku, Pranaja?!"

Pranaja memandang gadis berbaju kuning tua yang baru datang sambil tersenyum-senyum heran. "Siapa kau, Nisanak? Agaknya kau kenal namaku. Padahal, kita belum pernah bertemu sebelumnya!" kata Pranaja.

"Pranaja! Kau..., kau...?!" Gadis berbaju kuning itu memandang Pranaja dengan wajah tak percaya.

"Nisanak, ada apa denganmu?! Jangan merusak suasana kami. Aku sama sekali tak mengenalmu!" tandas Pranaja, keras.

Gadis itu tertegun. Lalu perhatiannya beralih pada Pandan Wangi untuk sejurus lamanya.

"Nisanak! Siapa namamu?" tanya gadis berbaju kuning ini.

"Eh! Aku..., Pandan Wangi," sahut Pandan Wangi sedikit kaget.

"Kau kekasihnya yang baru?"

Pandan Wangi tidak sempat menjawab karena....

"Kami tidak berurusan denganmu!" potong Pranaja. "Maka jangan suka mengurusi orang lain. Kuperingatkan padamu, Nisanak!"

Gadis berbaju kuning itu tersenyum. Lalu dipandangnya Pranaja dengan sorot mata sinis. "Pranaja! Ingin kudengar jawabanmu sekarang juga. Apakah kau benar-benar kepincut dengan gadis ini?"

"Itu bukan urusanmu!"

"Kau sungguh hendak mencampakkanku begitu saja?!"

"Dengar baik-baik, Nisanak! Aku tidak mengenalmu! Dan aku tak mengerti apa maumu. Jadi, jangan ganggu urusan kami!" ujar Pranaja, tandas.

"Huh! Kau takut gadis ini menolak, karena rayuan mautmu belum berhasil?!" dengus gadis itu sinis.

"Nisanak! Kuperingatkan sekali lagi, jangan sampai hilang kesabaranku. Pergilah. Dan, jangan ganggu kami. Atau, kau akan kuhajar!" bentak Pranaja garang.

"Huh! Kau memang bisa kapan saja menghajarku. Tapi, ingatlah baik-baik. Siapa yan mengangkatmu sehingga menjadi tokoh terkenal? Ingat baik-baik! Kepada siapa kau berhutang budi?!"

"Kurang ajar!" Pranaja tampaknya geram sekali. Dan seketika dia hendak bergerak untuk menghajar gadis itu.

"Tidak usah repot-repot, Pranaja!" cegah gadis itu seraya mengangkat tangan kanannya. "Aku akan pergi sekarang juga. Cuma satu hal yang harus kau ingat! Aku yang membuatmu jadi begini. Maka kelak aku pula yang akan menjatuhkanmu sampai ke jurang kenistaan yang paling, dalam!" Gadis itu berbalik lalu segera pergi dari tempat ini dengan berkelebat cepat.

"Huh! Ada-ada saja!" dengus Pranaja, begitu gadis tadi sudah tak terlihat lagi. Pemuda itu segera menghampiri kudanya. Lalu naik ke atas punggungnya. Sementara Pandan Wangi sendiri sudah berada di atas punggung kudanya.

"Kelihatannya gadis itu jujur. Kenapa kau tidak mau mengakui bahwa kau mengenalnya?" tanya Pandan Wangi, sambil menggebah kuda perlahan-lahan.

"Apakah aku harus mengakui hal yang semestinya tidak kualami? Aku tidak mengenalnya. Dan mestikah, aku mengaku mengenalnya sekadar untuk menyenangkan hatinya? Tidak bisa! Lagi pula akan berakibat buruk bagiku...!" jelas Pranaja, juga menggebah kudanya perlahan-lahan.

Pemuda itu kelihatan hendak melampiaskan jengkel. Terasa dari nada bicaranya. Tapi tidak berlangsung lama, karena sebentar kemudian sadar dan berusaha memperbaiki sikap.

"Dia mungkin saja suruhan orang yang ingin menjatuhkan nama baikku. Dan ketika berhasil menemuiku, langsung saja main tuduh...," kilah Pranaja.

Pandan Wangi agaknya enggan berdebat lebih jauh soal gadis yang dibicarakan Pranaja. Makanya kini dia lebih memilih diam.

"Hm.... Ada-ada saja. Mimpi apa aku semalam? Dalam sekejap, dua kejadian telah membuat citra buruk bagiku...," gumam Pranaja.

"Kalau memang terbukti kau tidak bersalah, tentu saja tidak seorang pun yang beranggapan buruk padamu," hibur Pandan Wangi.

"Dalam keadaan seperti ini tampaknya akan sulit. Sebab, semua akan menuduh bahwa aku pemuda buruk. Rasanya sulit mencari orang yang percaya bahwa aku tidak ada sangkut-pautnya dengan mereka!"

"Aku percaya...," kata Pandan Wangi.

"Sungguh, kau percaya?!" sahut Pranaja bernada gembira.

Pandan Wangi mengangguk.

"Oh, Hyang Jagat Bhatara! Ini sudah cukup bagiku. Tidak periu banyak orang yang mesti percaya. Satu orang sepertimu saja, sudah lebih dari cukup!" seru Pranaja girang.

Gadis itu tersenyum-senyum melihat kelakuan pemuda ini.

"Bagaimana kalau ternyata ada kejadian serupa yang menimpaku lagi?" tanya Pranaja, mencoba memancing.

Pandan Wangi hanya menoleh dan tersenyum.

"Kau masih percaya bahwa aku tidak ada sangkut-paut dengan mereka?" kejar Pranaja.

Gadis itu tidak menjawabnya. Dan kudanya digebah semakin kencang.

"Jawablah, Pandan! Apakah kau masih percaya?!" tanya pemuda itu, langsung ikut menggebah kudanya. Kelihatannya dia penasaran sekali.

"Kejarlah aku. Kalau kau bisa mengejar, maka akan kujawab," sahut Pandan Wangi.

"Apa?!" Pranaja terkesiap, sesaat dia tertegun. Tapi, cuma sekejap. Karena selanjutnya dengan bersemangat kudanya digebah semakin kencang.

"Awas! Akan kutanggap kau!" teriak Pranaja.

"Kau tidak akan mampu!" sahut Pandan Wangi. "Heaaa...!"

TIGA

Wajah Ki Puger yang pernah dicundangi Pranaja, kelihatan semakin pucat. Kedua kawannya yang bernama Braja dan Tukul merasa cemas kalau-kalau tidak bisa ke kampung halaman dengan membawa Ki Puger dalam keadaan selamat. Padahal mereka baru sampai di Desa Sumpyuh, yang berarti membutuhkan seharian perjalanan berkuda untuk mencapai Desa Gandekan, tempat tinggal mereka.

"Sebaiknya kita istirahat dulu, Ki...," usul Tukul ketika melewati sebuah perkebunan.

"Yah, terserah kalian saja...," sahut Ki Puger lemah.

Dengan hati-hati Tukul dan Braja menurunkan Ki Puger dari punggung kudanya. Dan mereka segera membopong ke sebuah pohon yang cukup besar di tepian perkebunan ini. Disandarkannya tubuh Ki Puger di bawah pohon itu. Tukul segera mencari sesuatu untuk diminum. Sedang Braja berjaga-jaga.

"Tidak usah terlalu dipikirkan soal ini, Ki. Nanti kalau kesehatanmu sudah membaik akan kita cari jalan keluarnya...," hibur Braja. Ki Puger mengangguk pelan.

"Bagaimanapun, keparat itu harus mati, Braja!" dengus Ki Puger, agak tersengal.

"Tentu saja, Ki! Dia manusia durjana. Dan sudah banyak kejadian, orang seperti dia tidak akan lama hidupnya!" sahut Braja.

Baru saja Ki Puger hendak buka suara lagi, mendadak terdengar derap langkah kaki kuda yang dipacu tidak begitu cepat. Tepat ketika lewat di depan mereka, penunggang kuda berbulu hitam mengkilat itu menoleh. Segera lari kudanya dihentikan.

Penunggang kuda yang ternyata seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggungnya itu segera melompat turun. Langsung dihampirinya Ki Puger dan Braja.

"Apa yang terjadi dengan kalian, Kisanak? Kulihat, kalian seperti terluka?" sapa pemuda berbaju rompi putih ini.

Ki Puger tidak langsung menjawab. Segera diperhatikannya pemuda itu untuk sejurus lamanya. Dan dia sepertinya teringat dengan ciri-ciri seseorang walaupun belum pernah berjumpa sebelumnya.

"Kau..., bukankah Pendekar Rajawali Sakti?" duga Ki Puger setengah yakin.

Pemuda tampan yang memang Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti itu tersenyum seraya mengangguk.

"Oh, syukurlah! Perkenalkan, aku Puger dari Desa Gandekan Dan yang berdiri di sisiku ini Braja, tetanggaku. Oh, tiada kusangka. Akhirnya, aku bertemu denganmu di sini!" desah Ki Puger. "Maafkan aku, Pendekar Rajawali Sakti. Aku tak bisa menyambutmu dengan semestinya. Aku sudah tak mampu berdiri!"

"Sudahlah, Ki. Tak perlu kau sungkan-sungkan denganku. Aku pun hanya manusia biasa, sama sepertimu. Jadi buanglah dulu segala peradatan...! Dan kumohon, panggil saja aku Rangga. Begitu lebih enak didengar...!" ujar Pendekar Rajawali Sakti dengan budi bahasa halus.

"Sudah kuduga, kalau kau pendekar besar berilmu padi. Makin banyak isinya, kepalamu makin menunduk ke bawah. Makin banyak ilmumu, maka kau makin berusaha untuk merendah...," puji Ki Puger, halus.

"Oh ya, Ki. Sebenarnya apa yang terjadi? Hm, kelihatannya kau terluka...?" tanya Rangga, mengalihkan pembicaraan.

"Ya! Kami terluka karena berurusan dengan seseorang...," jelas Ki Puger.

"Apa persoalannya?" tanya Rangga dengan kening berkerut.

"Orang itu telah menghamili putriku, kemudian kabur begitu saja. Putriku bunuh diri karena kecewa dan malu. Agaknya bukan hanya putriku yang menjadi korban. Tapi juga banyak penduduk desa kami yang anak gadisnya ikut menjadi korban," jelas Ki Puger lagi.

"Astaga! Siapa gerangan orang itu?!" desak Rangga, terkejut.

"Belakangan, dia dikenal sebagai Dewa Mata Maut. Lalu kami mencarinya ke mana-mana. Tapi setelah bertemu, kami tidak mampu berbuat apa-apa. Dia terlalu tangguh. Dan kami dihajarnya habis-habisan," papar laki-laki setengah baya ini.

"Keterlaluan!" desis Rangga.

"Kisanak! Kau akan terkejut kalau mendengar berita yang satu ini!" lanjut Ki Puger.

"Apa?"

"Bukankah Pandan Wangi yang berjuluk si Kipas Maut kekasihmu?" Ki Puger malah balik bertanya.

"Ya. Ada apa dengannya? Apakah kalian bertemu sebelumnya dengan dia?" desak Pendekar Rajawali Sakti. Dan mendadak jantungnya berdetak lebih kencang lagi.

"Ya."

"Di mana?"

"Dia bersama jahanam keparat itu!" desis Ki Puger.

"Apa?!" Bagai mendengar petir di siang bolong, Pendekar Rajawali Sakti kontan terlonjak kaget. Apa yang barusan didengarnya, terasa aneh di telinganya. Bahkan seakan sulit dipercaya.

"Ya! Dia bersama jahanam itu. Kelihatannya dekat sekali. Aku bahkan semula tidak yakin. Tapi, gadis itu memang Pandan Wangi. Karena, aku pernah melihatnya beberapa kali. Kisanak, kelihatannya gadismu itu telah kepincut dengan jahanam terkutuk itu!" papar Ki Puger menjelaskan lagi.

"Jangan main-main kau padaku, Kisanak!" desis Rangga mulai geram mendengar cerita itu.

"Tiada untung bagiku mempermainkanmu! Aku malah kasihan dan turut sedih. Pergilah kau ke selatan. Kalau beruntung, kau akan bertemu dengan mereka," tegas Ki Puger.

Kalau mau jujur, sebenarnya Rangga ingin berteriak saat itu juga. Amarahnya langsung terasa menggelegak dalam dada. Dan ini membuat aliran darahnya pun ikut berjalan cepat. Hela napasnya pun terasa cepat dan kasar. Meski begitu, dia berusaha menguasai diri. Dan tentu saja tidak ingin menunjukkan amarahnya di depan mereka.

"Baiklah. Kalau begitu akan kubuktikan ucapanmu itu!" sahut Pendekar Rajawali Sakti seraya berbalik menghampiri kudanya. Dan dengan gerakan ringan sekali, dia melompat ke punggung kudanya. Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti segera menggebah kuda sekencang-kencangnya pergi dari tempat ini.

"Heaaa...!"

"Tidak mungkin! Pandan Wangi tidak akan berbuat seperti itu!" desis Rangga beberapa kali untuk menghibur hatinya sendiri.

Pemuda yang merupakan kekasih Pandan Wangi ini memang terluka. Hatinya perih mendengar berita ini, meski berusaha meyakinkan diri untuk tidak percaya sepenuhnya dengan cerita yang dipaparkan Ki Puger.

"Heaaa...!" Kembali Pendekar Rajawali Sakti menggebah kuda hitam bernama Dewa Bayu dengan kencang. Dan bila bertemu seseorang, dia berhenti untuk menanyakan. Namun hatinya jadi kecewa, karena setiap orang yang ditanya selalu menggeleng tidak tahu-menahu. Dan ini membuatnya jengkel. Apa mungkin Ki Puger mengarang-ngarahg cerita?

"Berhenti, Dewa Bayu!" Mendadak saja Rangga menarik tali kekang kudanya ketika bertemu dua laki-laki berpakaian serba hitam dengan golok di pinggang. Dewa Bayu langsung memperlambat larinya, dan berhenti sama sekali. Bergegas Pendekar Rajawali Sakti melompat dari kudanya, dan menghampiri dua laki-laki yang berdiri di mulut sebuah desa.

"Kisanak berdua, maaf aku hendak bertanya!" sapa Rangga, seraya menjura.

"Apa yang hendak kau tanyakan?" sahut salah seorang yang berkumis lebat dengan mata dingin.

"Apakah kalian melihat seorang gadis berbaju biru muda, dengan pedang berkepala naga di punggungnya lewat daerah sini?"

Kedua orang itu saling pandang sejenak. "Yang kau maksudkan si Kipas Maut?" kali ini yang berkepala botak yang berbicara.

"Benar!" sahut Rangga buru-buru.

"Hm, ya. Kami memang melihatnya...," kata laki-laki botak.

"Ke mana dia sekarang?" terabas Rangga.

Laki-laki botak itu tidak langsung menjawab. Dan matanya mengerling lebih dulu pada kawannya yang berkumis lebat sambil tersenyum sinis.

"Di sini ada peraturan. Siapa yang bertanya, maka mesti bayar!" kata si botak.

Rangga menghela napas panjang, menahan kesal di hati. "Berapa?" tanya Rangga. Dalam keadaan begini, Pendekar Rajawali Sakti agaknya tidak mau banyak rebut.

"Satu pertanyaan, harganya sekeping uang perak!" kata laki-laki berkumis.

Rangga mengeluarkan kepingan uang. Dan dilemparkannya pada laki-laki berkumis. Dan mata orang itu langsung mendelik ketika melihat jumlah uang yang terhitung banyak. "Sekarang katakan, ke mana dia pergi?" tagih Rangga.

"Kau lurus saja ikuti jalan ini, lalu berbelok ke kiri. Dia berjalan bersama seorang pemuda....'

"Ke mana tujuan mereka?!"

"Ini pertanyaan kedua?"

Kening Rangga jadi berkerut dalam. Hatinya mulai kesal. Namun, dia lebih membutuhkan keterangan tentang Pandan Wangi. Maka segera dikeluarkan sekeping uang perak lagi.

"Ini pertanyaan penting, Sobat. Harganya pun jadi penting...," kata yang berkumis lebat, sebelum Rangga melemparkan uang.

"Apa maksudmu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, makin berkerut keningnya. Sementara alisnya pun bertautan.

"Harganya jadi lima kali lipat!"

"Hm, Kalian ingin memerasku, Kisanak?" desis Rangga, dingin.

"Ya, sudah.... Kalau kau tidak mau bayar, maka tidak ada jawaban. Kami harus buru-buru, karena ada urusan lain," sahut si botak seraya mengajak kawannya meninggalkan tempat ini.

"Tunggu!" tahan Rangga.

Kedua orang itu tersenyum sambil berbalik. Sementara, Rangga yang sudah mengeluarkan lima kepingan perak, tersenyum kecut. Segera dilemparkannya uang-uang itu. Namun....

"Aaakh...!"

Betapa terkejutnya kedua orang itu, ketika baru saja menangkap sekeping uang perak yang dilemparkan Rangga. Tangan masing-masing tiba-tiba merasa seperti memegang benda seberat ribuan kati. Dan mereka langsung jatuh terduduk, dengan telapak tangan kanan tetap menggenggam uang perak. Dan tangan mereka sendiri, seperti tidak bisa bergerak di tanah, seperti tertindih sebuah benda seberat ribuan kati.

"Bangun kalian!" desis Rangga, dingin.

"Ampun, ampuuun...!" ratap kedua orang itu berulang-ulang, tanpa mampu bangkit berdiri.

Sudah pasti mereka tidak mampu bangkit berdiri, karena tubuh mereka seperti tertahan oleh tangan yang bagai tertindih benda ribuan kati. Padahal, yang menindih hanyalah kepingan uang perak! Dan memang, Rangga telah menyalurkan tenaga dalam amat tinggi pada kedua uang perak itu, hingga beratnya bagaikan sebuah besi baja yang amat besar!

"Aku tengah tidak berselera main-main. Tapi, kalian malah membuatku jengkel!" dengus Rangga geram. "Katakan, ke mana mereka pergi?!"

"Kami tidak tahu...," sahut si botak.

"Jangan main-main! Atau, barangkali pelajaran ini belum cukup?!" hardik pemuda itu geram.

"Tidak, aku bersungguh-sungguh! Aku hanya bermaksud menipumu. Aku sungguh-sungguh tidak tahu ke mana mereka pergi. Kami memang berurusan dengan mereka. Khususnya gadis berbaju biru yang kini kuketahui berjuluk si Kipas Maut. Salah seorang kawan kami telah mengganggu. Tapi dia dihajarnya habis-habisan. Dan bersama seorang pemuda, akhirnya mereka melabrak kami pula, lalu pergi begitu saja. Sungguh aku tidak tahu tujuan mereka, Kisanak! Ampunilah aku...!" ratap yang berkumis lebat.

Rangga mendengus geram. Hatinya percaya kalau orang itu bersungguh-sungguh. "Kapan itu terjadi?!"

"Tadi. Kira-kira menjelang siang..."

Pemuda itu mengerling. Dan matahari memang mulai condong ke barat. Berarti cukup lama juga. "Kau yakin mereka melewati jalan ini?" Tanya Rangga lagi.

"Kami lihat sendiri, Kisanak!" kata si botak. "Baik. Terima kasih."

Pendekar Rajawali Sakti segera menarik tenaga dalamnya, lalu berkelebat ke arah Dewa Bayu. Dengan sekali melompat Pendekar Rajawali Sakti telah duduk di punggung kudanya.

"Hieeekh...!" Dewa Bayu meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi ketika Pendekar Rajawali Sakti menggebahnya. Kemudian dia segera berlari kencang bagai sapuan angin.

"Kita harus bisa menyusul sebelum mereka jauh, Dewa Bayu!" ujar Rangga seraya menepuk-nepuk leher kuda hitam itu.

Dewa Bayu seperti mengerti apa yang diinginkan majikannya. Larinya semakin dipercepat. Bila di sebelahnya ada kuda lain, niscaya tidak akan mampu mengejar lari Dewa Bayu.

Sebentar saja Rangga telah melewati pinggiran sebuah hutan yang cukup luas sambil menggebah kudanya, Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan aji Tatar Netra' untuk meneliti jejak-jejak yang terdapat di tanah yang dilalui. Dan bibir Rangga tersenyum, ketika melihat dua jejak tapak kuda yang masih baru. Sehingga tidak ada kesulitan baginya untuk mengikuti.

Setelah bertemu pinggiran sebuah desa, Pendekar Rajawali Sakti mulai melihat dua penunggang kuda yang berjalan tidak terlalu cepat di depannya.

"Ayo, Dewa Bayu! Kejar mereka...!" ujar Pendekar Rajawali Sakti, langsung menggebah kudanya semakin kencang.

Sementara itu, kedua penunggang kuda di depan agaknya menyadari kalau seseorang tengah mengejar. Maka mereka segera memperlambat laju kuda.

"Berhenti, Dewa Bayu!" seru Rangga, ketika telah berjarak lima tombak di belakang buruannya yang juga telah berhenti dan berbalik.

Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat dari atas punggung Dewa Bayu. Dipandanginya kedua orang itu bergantian. Kemudian, matanya memandang kepada gadis berbaju biru muda yang memang Pandan Wangi.

"Pandan Wangi! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rangga.

"Aku hanya berjalan-jalan saja, Kakang!" sahut gadis itu, enteng seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

"He he he...! Jadi kaukah pendekar kesohor itu, Kisanak? Selamat bertemu denganku. Orang-orang memanggilku Dewa Mata Maut...!" tukas pemuda yang berkuda bersama Pandan Wangi, yang tak lain Pranaja.

"Hm.... Dewa Mata Maut Kudengar kau telah membuat onar di mana-mana, dengan mengganggu gadis-gadis cantik. Apakah kau tidak bisa mendapatkan gadis cantik yang masih sendiri sehingga harus memperdaya gadis milik orang lain?" sindir Rangga, dingin.

EMPAT

"Ah! Sekarang, aku tidak heran. Sudah banyak kejadian seperti ini kualami. Dan Pandan Wangi pun tahu," desah Pranaja alias Dewa Mata Maut dengan senyum lebar.

"Tidak usah membawa-bawa namanya, Kisanak!" ujar Rangga, agak keras.

"Kisanak! Ada apa denganmu? Baru saja datang, tiba-tiba marah Tuduhan apa yang hendak kau lontarkan padaku?" tukas Pranaja

"Maaf, aku bukan hendak menuduh macam-macam padamu. Tapi, pergilah kau! Dan, tinggalkan kami berdua!" ucap Rangga, berusaha menahan diri.

"O... Jadi kau hendak bicara penting dengan Pandan Wangi? Silakan saja. Tapi di antara kami tidak ada hal yang disembunyikan. Pandan Wangi bebas mengetahui persoalanku Dan sebaliknya, dia pun mengatakan begitu padaku. Jadi kau tidak usah khawatir, Kisanak. Bicara saja padanya. Dan aku berjanji tidak akan mengganggu pembicaraan kalian," kata Dewa Mata Maut.

Rangga berusaha menahan geram yang memuncak. Dipandanginya orang itu sejurus lamanya. Dan yang dipandangi balas memandang sambil tersenyum-senyum. Tak lama pandangannya dialihkan pada Pandan Wangi.

"Siapa dia yang sebenarnya, Pandan Wangi? Ingat, dia termasuk orang asing bagimu. Dan tidak biasanya kau berbuat begini terhadap orang asing."

"Dia.... Dia kawanku, Kakang," sahut Pandan Wangi, pelan seraya menundukkan kepalanya.

Dan Rangga tadi sempat melihat ada tatapan aneh dalam sinar mata Pandan Wangi. Tapi dugaannya cepat ditepisnya, mengingat Pandan Wangi masih mengenalinya.

"Tidakkah kau berdusta, Pandan?"

Pandan Wangi terdiam.

"Apakah benar berita yang kudengar dan orang-orang itu, Pandan?" cecar Rangga.

Gadis itu tetap diam membisu.

"Hm. Kau tak ingin menjawabnya, Pandan? Baiklah.... Sekarang, begini saja. Maukah kau kuajak kembali ke Karang Setra?"

Lagi-lagi Pandan Wangi tidak menjawab. Dan ini membuat Rangga jadi geram. Bisa jadi Rangga jadi geram, karena dengan mengajaknya ke Karang Setra, berarti Rangga ingin bicara baik-baik. Atau bahkan Rangga ingin menghilangkan dugaan yang tidak-tidak terhadap gadis ini. Tapi, apa yang didapat Rangga? Sepertinya Pandan Wangi menganggap remeh ajakannya.

"Jawab Pandan!" bentak Rangga.

Gadis itu tersentak mendengar bentakan menggeledek. Dipandangnya pemuda di hadapannya itu dengan sinar mata tajam.

"Kisanak! Rasanya kau tidak pantas memperlakukannya begitu rupa. Dia wanita halus budi. Dan kau sangat kasar. Tidak bisakah kau bicara lebih lembut?" sahut Pranaja menasihati.

"Jangan campuri urusan kami!" desis Rangga.

"Hm... jika menyangkut Pandan Wangi, kurasa sekarang juga jadi urusanku," sahut Pranaja tenang.

"O, begitu? Apa yang hendak kau urus? Mencampuri persoalan kami? Membelanya? Atau, barangkali kau hendak merebut hatinya?!" dengus Rangga sinis.

"Tentu saja! Kenapa tidak? Dia toh, kekasihku."

"Kekasihmu?" tukas Rangga.

"Tanyakan saja padanya."

"Hei, Pandan! Benarkah yang diucapkannya?" bentak Rangga semakin gemas saja.

Gadis itu tidak menjawab. Malah kepalanya menunduk, tak mempedulikan pertanyaan Rangga.

"Dia malu mengutarakannya di depan banyak orang...," sahut Pranaja, enteng.

"Hm, ini semakin memuakkan!" dengus Rangga. "Pandan, ayo kita pergi!"

Namun Pandan Wangi tidak beranjak dari tempatnya.

"Pandan, ayo!" desak Rangga.

Gadis itu kelihatan bingung. Dan itu membuat Rangga gusar. Segera kakinya melangkah bermaksud menyeret gadis itu. Namun sebelum dilakukan, Pranaja telah menahan dengan mencekal perge-langan tangannya.

"Kisanak, usah kuperingatkan. Berlakulah sopan dan lemah lembut padanya," ujar Pranaja, keras.

"Jangan ikut campur urusan kami!" dengus Rangga, langsung menepis tangan Pranaja.

"Sudah kukatakan, bila urusannya menyangkut Pandan Wangi, maka itu urusanku juga. Dan kuminta kau jangan mendesaknya. Apalagi, berbuat macam-macam kepadanya!"

"Kurang ajar! Kau semakin membuatku muak saja. Hei! Siapa pun kau, menyingkirlah. Dan, jangan sampai aku gelap mata menghajarmu!" ancam Rangga.

"Hm.... Apa pun yang kau katakan, jangan harap bisa menyurutkan langkahku. Apalagi kau hendak mengusik kekasihku. Kau akan berurusan denganku, Sobat," desis Pranaja, tak kalah gertak.

"O, begitu? Kau bersungguh-sungguh menganggapnya kekasihmu, ya? Apa yang telah kau perbuat kepadanya? Kau apakan dia? Kau guna-guna? Kau sihir? Atau kau bius dengan bujuk rayu?"

Sambil berkata begitu, Rangga mendorong tubuh Pranaja beberapa kali. Dan sampai yang keempat kali, Dewa Mata Maut menangkis. Bahkan balas melayangkan pukulan.

Wut!

"Hih!" Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti menangkis.

Plak!

Namun Pranaja cepat mengirim serangan berikut, lewat tangan yang satu lagi. Untung Rangga segera menunduk, sehingga pukulan itu luput dari sasaran. Bahkan tiba-tiba ujung kaki kirinya menyodok ke perut Dewa Mata Maut.

"Hup!" Pranaja alias Dewa Mata Maut mencelat ke belakang, lalu mendarat manis pada jarak lima langkah sambil tersenyum. Lalu seketika dia kembali bergerak cepat menyerang.

"Yeaaa...!"

Splak!

Rangga menangkis dengan tangan kiri, kemudian melompat ke samping tepat ketika kaki Pranaja yang sebelah lagi menyapu kepala.

"Hup!" Begitu menjejak tanah, saat itu juga tubuh Pendekar Rajawali Sakti melesat menyerang.

Wut! Wut!

Dengan menggunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa' kedua kakinya bergerak lincah menghajar. Untuk sesaat Pranaja terkesiap. Namun selanjutnya dia berhasil menghindar dengan melenting ke belakang sambil jungkir balik beberapa kali.

"He he he...! Hebat! Benar-benar hebat!" puji Dewa Mata Maut. Sambil tersenyum begitu berhasil membuat jarak.

"Aku tidak butuh pujian!"

"He he he...! Sebenarnya kita bisa berkawan, Sobat. Soal perempuan itu bisa diatur. Bagaimana menurutmu? Yang jelas, aku tidak ingin merugikanmu," oceh Dewa Mata Maut.

"Omonganmu sudah melantur! Bahkan membuatku jengkel. Dan selamanya aku paling benci dengan laki-laki yang tak menghargai wanita. Hm.... Kau anggap wanita apa Pandan Wangi?"

"He he he...! Dia hanya wanita yang memang sudah antri Untuk berkawan denganku!" sahut Dewa Mata Maut, makin kurang ajar.

"Bedebah!" Pendekar Rajawali Sakti berpikir tidak ada gunanya berdebat omong dengan penjahat pemetik bunga ini. Orang sepertinya harus dihajar baru kapok.

"Heaaat...!" Kemarahan agaknya sudah hampir meledakkan kepala Pendekar Rajawali Sakti. Secepat itu pula Rangga meluruk ke arah Pranaja dengan satu tendangan.

"He he he...! Kau kelewat bernafsu, Sobat." Secepat itu pula, Dewa Mata Maut mengegos ke kanan, membuat tendangan itu luput dari sasaran.

Namun serangan Rangga tidak berhenti sampai di situ. Tubuhnya segera berputar cepat dan kembali melakukan tendangan. Namun, Dewa Mata Maut lebih cepat mencelat ke belakang. Rangga tak putus asa segera dikejarnya Pranaja dengan pukulan bertubi-tubi. Kembali Pranaja membuat gerakan tak terduga, dengan kibasan tangan secara bertubi-tubi pula.

Plak! Plak!

Baru saja terjadi benturan Rangga berbalik. Langsung dikirimkannya satu tendangan dari jarak dekat ke ulu hati. Terpaksa, Pranaja harus kembali bergerak menghindar dengan melenting ke belakang.

"Hiyaaa!" Rangga agaknya tidak mau memberi kesempatan sedikit pun kepada lawan. Begitu Pranaja baru saja mendarat di tanah, maka secepat itu pula tubuhnya menerjang melepas tendangan terbang.

Namun meski dalam keadaan demikian, agaknya Dewa Mata Maut masih mampu bersiaga. Secepat kilat, ditangkisnya serangan Rangga dengan kibasan tangan.

Plak!

"Heh!" Pendekar Rajawali Sakti terkejut, melihat gerakan Dewa Mata Maut yang tampak dalam keadaan sempoyongan setelah manangkis. Tapi selanjutnya mulai disadari kalau Dewa Mata Maut tengah mengerahkan jurus yang membuatnya seperti orang mabuk. Sebentar Rangga seperti berdiri terpaku, setelah melepas tendangan tadi.

"He he he...! Kenapa diam saja? Ayo, seranglah aku lagi. Bukankah kau sangat bernafsu menghajarku?" ejek Dewa Mata Maut seraya tersenyum mengejek.

"Kuakui, kepandaianmu cukup tinggi. Tapi sayang, kau berjalan di arah yang salah, Kisanak!"

"He he he...! Itu urusanku, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi yang jelas, kepandaianku memang untuk menghadapi orang sepertimu," sahut Pranaja.

"Terimalah jurus 'Dewa Mabuk'ku!"

"Baik. Buktikanlah!" tantang Rangga. Sejenak Rangga memperhatikan jurus pembuka yang dimainkan Dewa Mata Maut. Sesuai namanya, jurus itu memang mirip gerakan-gerakan orang mabuk. Namun tak lama, bibir Rangga sudah mulai tersenyum.

"Hm.... Kalau begitu akan kucoba dengan jurus 'Sembilan langkah Ajaib' untuk menandinginya.

Jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' yang lebih mengutamakan gerakan-gerakan gemulai dalam menghindar, agaknya memang pantas dikeluarkan untuk menandingi jurus 'Dewa Mabuk' Selain untuk menghindar, jurus yang dimiliki Rangga ini bisa digunakan untuk menyerang dengan gerakan juga mirip orang mabuk.

"Hiaaa...!"

Bet! Bet!

Dengan gerakan sempoyongan, Dewa Mata Maut menyerang lewat kepalan tangan secara bertubi-tubi.

"Shaaa...! Uts!" Dan dengan gerakan sempoyongan pula, Pendekar Rajawali Sakti berusaha menghindari setiap serangan. Maka saat itu pula terjadilah pertarungan aneh, bagai dua orang mabuk tengah bertarung memperebutkan sebumbung arak.

Terkadang kedua orang itu terhuyung seperti hendak jatuh, namun secepat itu pula tegak kembali dengan kuda-kuda kokoh. Pada satu kesempatan, Dewa Mata Maut menyorongkan satu gedoran lewat telapak tangan ke dada Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gemulai, Rangga mencondongkan dadanya ke bela-kang, sehingga pukulan itu lewat di atas dadanya.

Dan ternyata, serangan Dewa Mata Maut barusan hanya pancingan. Karena tiba-tiba tubuhnya berputar sambil melepas sapuan kaki. Gerakannya walau terlihat lambat, namun sesungguhnya tak dapat dilihat oleh mata biasa. Selanjutnya....

Plak!

Bruk!

Tepat sekali sapuan kaki Pranaja menghantam lutut belakang Rangga, sehingga terjerembab ke tanah. Dan secepat itu pula, Dewa Mata Maut akan menjejak kakinya pada dada Rangga. Namun....

"Hup!" Rangga langsung bergulingan ke kiri, membuat injakan Pranaja hanya menghantam tanah kosong. Namun, Dewa Mata Maut tak ingin melepas buruannya begitu saja. Tepat ketika Rangga berusaha melenting bangkit, tubuhnya sudah melepaskan tendangan bertubi-tubi. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Des! Des!

"Aaakh...!" Dua tendangan telak berturut-turut menghantam kepala serta dada Pendekar Rajawali Sakti. Rangga menjerit tertahan. Tubuhnya kontan terjungkal beberapa langkah ke belakang.

"He he he...! Pertunjukan yang menarik! Dan kita akan membuat pertunjukan yang lebih menarik lagi!" ejek Pranaja, memandangi Pendekar Rajawali Sakti yang susah payah bangkit berdiri.

Memang, dalam keadaan marah, Pendekar Rajawali Sakti tak bisa menggunakan akal sehatnya. Hawa marah, telah membuat jurus-jurusnya tak terarah. Tak heran kalau dia dengan mudah bisa di-cundangi.

Sementara, Dewa Mata Maut sudah bergerak mendekati Pandan Wangi. Seakan, dia lupa dengan lawannya. Dan ini membuat kening Rangga berkerut. Tampak Pranaja yang kini telah berada di sebelah Pandan Wangi langsung merangkul pundak gadis itu.

Aneh! Pandan Wangi diam saja. Gadis itu tidak berusaha melepaskan diri. Bukan itu saja yang membuat Rangga geram. Dengan tangan kanan merangkul Pandan Wangi, tangan kiri Dewa Mata Maut membuat gerakan aneh. Tangan kirinya yang mengepal ditempelkan ke kening. Sementara, mulutnya bergerak komat-kamit. Tepat ketika kepalan tangannya berputar, dari tubuh Dewa Mata Maut keluar asap kuning. Mula-mula tipis, namun sebentar kemudian telah menggumpal menyelimuti tubuhnya dan tubuh Pandan Wangi.

"Apa yang akan kau lakukan dengannya, Keparat?! Sehelai rambutnya rontok, maka kepalamu akan kutebas sekarang juga!" dengus Pendekar Rajawali Sakti mengancam sambil mendekat per-lahan-lahan.

"Sehelai? Aku bahkan mampu merontokkan semua rambutnya, tanpa kau bisa berbuat apa-apa!" ejek Pranaja.

"Keparat!" dengus Pendekar Rajawali Sakti geram. Bersamaan dengan itu, Pendekar Rajawali Sakti terus mencelat sambil meloloskan pedangnya. Seketika hari yang sudah gelap, jadi terang benderang oleh cahaya sinar biru berkilauan yang terpancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Dan bersamaan kebutan pedangnya, Pendekar Rajawali Sakti terus meluruk. Namun untuk sesaat Rangga agak curiga, melihat Dewa Mata Maut tidak berusaha mengelak. Atau jangan-jangan, Pandan Wangi akan dijadikan tameng.

Secepat kilat, akal Rangga bekerja. Dan dia telah siap dengan apa yang bakal terjadi nanti. Saat itu juga, pedangnya menderu tajam menuju sasaran. Dan....

Wut!

Tang!

"Heh?!" Pendekar Rajawali Sakti terkejut bukan main. Pedangnya seperti membentur dinding baja yang tak nampak. Bahkan tubuhnya terjajar dan bergetar sampai ke jantung.

"He he he..! Pertunjukan menarik, bukan?!" leceh Dewa Mata Maut terkekeh geli.

"Tertawalah sepuasmu di akherat sana, Keparat!" desis Rangga geram. Lalu kembali pedangnya diayunkan.

Tang!

"Aaah...!" Untuk yang kedua kali, Pendekar Rajawali Sakti mengalami kejadian serupa. Asap bercahaya kuning yang menyelubungi mereka berdua seakan berupa dinding baja tak nampak. Pedang pusakanya sama sekali tidak berdaya untuk menembusnya.

"Hua ha ha...! Kenapa tidak mengerahkan seluruh tenaga yang kau miliki untuk menembus aji 'Gelembung Maya' ini?! Ayo, Pendekar Rajawali Sakti! Apakah kau akan berdiam diri saja di situ? Seranglah aku dengan pedangmu itu! Atau, pukullah sekuat tenagamu!" teriak Pranaja mengejek.

"Huh! Kau akan menyesal karenanya!" Pendekar Rajawali Sakti mendengus geram. Segera dibuatnya kuda-kuda kokoh dengan telapak tangan berada di sisi pinggang. Lalu, seketika telapak tangannya dihentakkan dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. "Heaaa...!"

Seketika selarik cahaya merah menderu keras meluruk ke arah selubung asap kuning. Rangga mengarahkan pukulannya dengan hati hati, takut melukai Pandan Wangi. Dan....

Blam!

"Ha ha ha...!" Terdengar ledakan dahsyat, ketika cahaya merah itu berusaha menembus selubung asap kuning. Namun di luar dugaan, cahaya merah yang dilepaskan Rangga berbalik menghantam dirinya. Masih untung Pendekar Rajawali Sakti cepat berkelit ke atas, sehingga pukulannya luput dari sasaran. Dan Pranaja tertawa terbahak-bahak mengejek, membuat Pendekar Rajawali Sakti makin geram.

"Keparat!" desis Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku akan membuat pertunjukan bagus, Sobat! Coba lihat!" ujar Pranaja. "Heaaat..!" Secepat kilat Dewa Mata Maut menghentakkan tangannya. Seketika meluncur sinar kuning dari telapaknya yang terbuka ke arah Rangga.

"Hup!" Rangga berhasil menghindar dengan melenting ke atas. Namun itu saja cukup membuatnya kaget.

"Kurang ajar! Ilmu apa yang digunakannya?" gumam pemuda itu tidak habis pikir.

"He he he...! Kenapa diam? Ayo, serang aku! Gunakan seluruh tenagamu untuk menghajarku!" ejek Dewa Mata Maut.

Meski hatinya marah, namun Pendekar Rajawali Sakti tidak kehilangan kendali. Disadari kalau apa pun yang dilakukannya untuk menyerang tidak akan berhasil. Aji 'Gelembung Maya' kelihatan hebat dan aneh. Dan dari dalam pun, ternyata Pranaja masih bisa menyerang. Itu yang menguntungkan Dewa Mata Maut. Tapi Pendekar Rajawali Sakti tidak ingin beranjak dari tempatnya. Karena, berarti harus meninggalkan Pandan Wangi. Dan Rangga tetap berdiri di tempat

"Pandan Wangi! Apakah kau bersungguh-sungguh akan mengikuti jahanam bermulut manis ini?!" teriak Rangga, bergetar.

"Kau tidak perlu menjawabnya!" tukas Pranaja, seraya menoleh kepada gadis itu.

"Pandan, dengar kataku! Jangan pedulikan dia! Dia akan menjerumuskanmu!" lanjut Rangga.

Pranaja hanya terkekeh. Namun kekehannya dialiri tenaga dalam. Bukan tanpa alasan Dewa Mata Maut berbuat begitu, karena mengetahui kalau Pendekar Rajawali Sakti pun bermaksud menggugah gadis itu lewat pengerahan tenaga batin.

"Ha ha ha...! Kau tidak akan berhasil mengelabuinya. Percuma saja. Lebih baik lupakan, karena gadis ini ada dalam genggamanku!"

"Terkutuk kau, Jahanam! Aku bersumpah akan membunuhmu!" bentak Rangga.

"Ha ha ha...! Dengan kepandaianmu yang cuma seujung kuku itu?! Lupakan saja. Kau tidak akan bisa mencapaiku!" sahut Pranaja, mengejek. "Nah! Kita sudah terlalu lama bertemu. Kini saatnya telah tiba untuk berpisah. Selamat tinggal!"

Blep! Blep!

"Hei?!" Rangga terkesiap. Tiba-tiba saja Pranaja dan Pandan Wangi lenyap bersama kuda-kuda mereka laksana asap disapu angin. Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti menghampiri tempat mereka tadi sambil berteriak-teriak memanggil.

"Pandan! Pandan Wangi! Dengar kata-kataku! Apakah kau masih mendengarnya...?! Jangan pergi dengan keparat itu! Kau bisa melawannya. Ayo, berusahalah sekuat tenaga! Pandan Wangi, dengar kata-kataku...!"

Berulang-ulang Pendekar Rajawali Sakti berteriak sambil menyapu pandangannya ke sekeliling. Namun tidak juga terdengar jawaban. Rangga tidak putus asa.

Bagaimanapun sebagai tokoh yang memiliki banyak pengalaman, Rangga tidak percaya kalau Pranaja dan Pandan Wangi bisa menghilang begitu saja. Dugaannya, Dewa Mata Maut hanya mengecoh melalui ilmu sihir!

"Pandaaan...! Dengar kata-kataku. Kau tidak boleh pergi bersamanya! Kau tidak boleh pergi bersamanyaaa...!" teriak Pendekar Rajawali Sakti kembali.

LIMA

Sampai sinar matahari mulai menerangi persada ini, Pendekar Rajawali Sakti masih terduduk lesu di bawah sebatang pohon besar di tepi Hutan Banyuasin ini. Wajah pucat dan kuyu. Matanya kosong memandang jauh ke depan seperti tiada bertepi. Entah berapa lama dia mencari. Namun, jejak Pandan Wangi dan Dewa Mata Maut tidak juga ditemui.

"Pandan..., apa yang terjadi denganmu? Kuharap kau baik-baik saja. Aku tak tahu, apa yang mesti kuperbuat untuk menyelamatkanmu...," keluh Rangga dengan nada getir. "Kalau kau dengar suara hatiku ini, maka gerakkan jiwamu untuk berontak. Kau harus melepaskan diri darinya...."

"Hm... Inikah laki-laki perkasa yang pernah menggetarkan jagat?"

"Heh?!" Rangga tersentak kaget, ketika terdengar dari belakangnya. Seketika dia bangkit berdiri dan berbalik. Dan ternyata seorang gadis telah tegak berdiri di depannya. Seorang gadis cantik berbaju kuning tua, memakai gelang dalam jumlah banyak di kedua tangan.

"Siapa kau, Nisanak?" sapa Pendekar Rajawali Sakti.

"Namaku Anggraeni," sahut gadis berbaju kuning yang mengaku bernama Anggraeni.

"Apa yang kau cari di sini?" tanya Rangga malas-malasan "Kalau sekadar ingin mempermainkan, maka saat ini aku sedang tak berselera."

"Hi hi hi...! Kau seperti ayam sayur yang siap dipotong!" sahut Anggraeni mengejek.

Namun dalam keadaan begini pemuda itu tidak terlalu menghiraukannya. Rangga segera berbalik, hendak menghampiri Dewa Bayu yang masih merumput dua tombak dari tempatnya berdiri.

"Apakah di dunia ini tidak ada wanita lain, sehingga mesti meratapi gadis itu?" usik Anggraeni.

Kata-kata itu menarik perhatian Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga langkahnya berhenti seketika. Tubuhnya berbalik, langsung ditatapnya gadis itu tajam-tajam.

"Apa yang kau tahu soal diriku?" tanya Rangga.

"Banyak! Kau pemuda yang tengah patah hati, karena gadismu pergi bersama pemuda Iain. Kasihan..." Padahal, kau cukup tampan untuk mendapatkan sepuluh gadis sepertinya," jawab Anggraeni, seenaknya.

Rangga tersenyum pahit.

"Kini kau tersenyum. Padahal, semalam kau berteriak-teriak seperti orang kesurupan!" usik Anggraeni lagi.

"Kau rnendengarnya juga?" tanya Rangga.

"Tentu saja! Kau mirip orang gila yang mengagetkan semua hewan serta orang-orang yang berada di sekitar hutan ini. Dan baru pagi ini kutemukan kalau orang yang berteriak ternyata seorang pemuda tampan yang patah hati"

Kembali Rangga tersenyum. Dan Rangga jadi malu sendiri, karena berarti sejak semula gadis ini mendengar ocehannya. Kalau dibiarkan gadis ini pasti akan mengoceh terus. Maka, kembali Rangga berbalik dan melangkah menghampiri Dewa Bayu.

"Hei, mau ke mana kau?!" teriak Anggraeni mengikutinya dari belakang.

"Apakah aku harus seharian mendengarkan ocehanmu? Aku tidak mengenalmu. Juga aku tidak tahu apa maumu. Lalu untuk apa harus di sini?" Rangga balik bertanya.

"Apakah kau tidak berpikir bahwa aku bisa membantumu?" tukas gadis itu seraya tersenyum manis.

"Tentang apa?" tanya Rangga, seraya melompat dan duduk di atas punggung Dewa Bayu.

"Banyak hal. Umpamanya, menyiapkan makanan atau menjadi kawan ngobrol. Hm.... Apakah kekasihmu seorang gadis yang bernama Pandan Wangi?"

"Dari mana kau tahu?" tanya Rangga dengan tatapan tajam. Seakan dengan tatapannya, dia ingin menembus dada gadis itu untuk mengorek segala keterangan.

"Dari teriakanmu semalam, dan dari pertemuanku dengannya beberapa hari lalu," jelas Anggraeni, kalem. "Terus terang, aku pemah bertemu Pandan Wangi bersama si keparat Pranaja itu. Waktu itu, aku memang tengah mencari Pranaja. Ketika bertemu, Pranaja memanggil gadis berbaju biru di sampingnya dengan sebutan Pandan. Maka mudah saja aku menduga demikian.

Dada Pendekar Rajawali Sakti makin bergemuruh keras. Ingin rasanya saat itu dia berteriak, kalau tak ingat ada seorang gadis di depannya.

"Yah, mungkin saja dengan bantuanku, kau bisa bertemu kembali dengan Pandan Wangi," cetus Anggraeni lagi.

"Apa?!" Seketika Rangga melompat kembali dari atas punggung kudanya. Langsung dicengkeramnya kedua pundak gadis itu.

"Kau tahu di mana Pandan Wangi?! Katakan padaku! Katakan padaku sekarang juga!" berondong Pendekar Rajawali Sakti.

"Tunggu! Aduuuh...! Kau menyakitiku. Aku tidak mau begini caranya!" dengus gadis itu dengan wajah cemberut. Langsung ditepisnya cengkeraman pemuda itu.

"Aku mohon padamu, Nisanak! Tunjukkan padaku, di mana Pandan Wangi berada?!" pinta pemuda itu, memelas.

"Namaku bukan Nisanak!" sentak Anggraeni masih dengan wajah cemberut.

"Eh, lya! Ng...," Rangga coba mengingat-ingat "O, iya! Namamu Anggraeni, bukan?"

Gadis itu senang karena Rangga tidak lupa dengan namanya. Dan bibirnya tersenyum manis.

"Sekarang katakanlah padaku di mana Pandan Wangi berada?" desak Pendekar Rajawali Sakti.

"Apakah kau mencintainya?" Anggraeni malah batik bertanya.

"Nisanak, eh! Anggraeni.... Itu, eh! Maksudku, itu soal pribadi...," tukas Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau mencintainya atau tidak?!" tekan gadis itu.

"Tentu saja! Akan kupertaruhkan segalanya, asal Pandan Wangi bisa kutemukan dan kuselamatkan!" sahut Rangga dengan nada tinggi.

"Bagus! Itu baru namanya sikap tegas," sahut Anggraeni dengan tersenyum.

"Sekarang katakan, di mana bisa kutemukan Pandan Wangi?" desak Rangga lagi.

"Tidak semudah itu," sahut Anggraeni kalem.

"Apa lagi yang kau inginkan?!" sentak Rangga, agak keras.

"Hei, jangan marah-marah dulu! Kalaupun gadis itu kau temukan, apa yang bisa kau perbuat terhadap Pranaja yang berjuluk Dewa Mata Maut? Gadis itu ada dalam pengaruhnya. Dan tidak seorang pun yang bisa menyelamatkannya."

"Lalu, bagaimana caranya?"

"Kau harus menghadap Ratu Dewi Kunir."

"Ratu Dewi Kunir? Siapa dia?"

"Sabarlah dulu.... Semuanya akan jelas. Dan jangan lupa, bahwa itu pun tergantung dari kesungguhan hatimu. Lalu, ada satu hal yang mesti kau penuhi setelah berhasil mendapatkan gadis itu."

"Apa?"

"Kau tidak boleh membunuh Pranaja!"

Rangga terdiam. Disadari, dia memang tak akan membunuh siapa pun kalau tidak terpaksa. Atau paling tidak, orang itu memang pantas dilenyapkan, karena sepak terjangnya sudah di luar takaran. Tapi yang jelas, buat Rangga adalah bagaimana nanti. Kalau orang itu memang pantas untuk dilenyapkan dengan terpaksa harus dilakukan.

"Apa sebenarnya yang kau inginkan, sehingga melarangku untuk tidak membunuhnya?" tanya Rangga mencoba memancing.

"Itu bukan urusanmu. Yang jelas, serahkan saja Pranaja padaku."

"Kalau tidak kubunuh, jangan-jangan dia akan berusaha mempengaruhi Pandan Wangi?" pancing Rangga lagi.

"Dia tidak akan mempengaruhi siapa pun setelah ini!" tandas Anggraeni.

Dan Rangga merasa yakin kalau gadis di depannya ini pasti ada hubungan erat dengan Pranaja alias Dewa Mata Maut. Entah hubungan apa, yang jelas agaknya gadis itu amat mendendam. Atau mungkin malah mencintainya?

"Kau tidak usah repot-repot memikirkannya," lanjut gadis itu, seperti mengerti jalan pikiran Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga memandangnya takjub. Dan gadis itu tersenyum.

"Aku memang punya sedikit urusan dengannya. Dan kalaupun aku secara tidak langsung minta bantuanmu, bukan berarti tidak bisa membereskannya. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa kuhadapi. Yaitu Ratu Dewi Kunir yang berdiri di belakang pemuda itu," sambung Anggraeni kembali, sedikit mulai menceritakan persoalannya.

"Siapakah sebenarnya Ratu Dewi Kunir itu?" tanya Rangga.

"Dia seorang wanita yang setengah manusia setengah siluman. Wajahnya cantik. Ada satu hal yang selalu membuatnya senang, yaitu berhubungan dengan laki-laki," jelas Anggraeni, gamblang.

"Apa maksudmu?"

"Ya! Ratu Dewi Kunir senang berhubungan, seperti layaknya suami istri. Kau mengerti, bukan?" jelas Anggraeni enteng.

"Tapi apa hubungannya dengan semua ini?"

"Dewi Kunir amat sakti. Dan akan murah hati memberikan sedikit kesaktiannya, namun hanya untuk orang yang disukainya. Salah seorang di antaranya Pranaja."

"Lalu?"

"Pranaja memiliki beberapa ajian seperti 'Gelembung Maya' yang membuat dirinya dilindungi suatu kekuatan gaib yang tidak bisa ditembus apa pun. Dia pun memiliki ajian 'Menghilang Rupa' yang bisa membuatnya menghilang. Kalau kau tidak tahu bagaimana menghadapi kedua ajiannya itu, maka tidak usah berharap menemukan kekasihmu!" papar gadis itu.

"Bagaimana cara menghadapi kedua ajiannya itu?" desak Rangga, penuh harap.

"Kau harus minta pada Ratu Dewi Kunir yang merupakan pemilik ajian itu. Tapi, perlu diingat. Dia pun amat kikir memberikannya. Cuma dua hal yang bisa memaksanya. Pertama mengancamnya. Dan kedua, memenuhi keinginannya. Jalan pertama agak sulit. Sebab, sampai saat ini tak seorang pun yang mampu mengalahkannya. Maka satu-satunya cara adalah jalan kedua," papar Anggraeni lagi.

"Apa maksudmu?" tanya Pendekar Rajawali Sakti, pura-pura bodoh.

"Yah, mengertilah maksudku. Kau harus memohon. Dan itu akan berhasil kalau keinginannya dipenuhi. Dia suka laki-laki tampan. Maka pergunakanlah itu."

"Apakah tidak ada jalan lain?"

"Apakah kau ingin menempuh jalan pertama? Mengancamnya? Itu tidak mungkin!"

"Bagimana kalau mencari kelemahannya?"

Anggraeni terdiam untuk sejurus lamanya. Dari paras mukanya kelihatan kalau tengah berpikir. Seperti mengingat-ingat sesuatu. "Hm, ya. Kukira, kau benar. Aku ingat sesuatu...!"

Rangga tersenyum senang mendengarnya.

"Tapi, ini pun cukup sulit," jelas Anggraeni.

"Katakanlah, bagaimana?" tagih Rangga.

"Ratu Dewi Kunir memiliki dua helai rambut emas. Kalau kau berhasil mencabutnya, maka dia tidak akan berdaya. Ilmunya lumpuh!" jelas Anggraeni lagi. "Tapi untuk mencabutnya, bukan persoalan gampang. Bahkan lebih sulit. Paling tidak, kau harus berdekatan dalam keadaan bercengkerama dengannya. Sehingga, dia lupa dan tak waspada."

Rangga terdiam.

"Kenapa? Kau tidak mampu? Apakah sulit bagimu untuk meladeninya? Padahal, kurasa semua laki-laki tidak akan menolaknya. Tapi kau malah memilih jalan menghindarinya. Apakah kau sudah tidak jantan lagi?" sindir Anggraeni.

"Bukan itu. Tapi...."

"Aku tahu!" potong Anggraeni dengan senyum geli. "Kau pasti belum pernah mencoba, sehingga belum apa-apa sudah gemetar!"

"Ada hal yang menjadi pikiranku," kata Rangga, langsung mengalihkan percakapan. "Dari mana kau tahu banyak soal Dewa Mata Maut dan Ratu Dewi Kunir? Jangan-jangan kau musuh dalam selimut yang akan menjerumuskanku!"

"Jadi, kau tak percaya setelah semuanya kubeberkan?" Anggraeni balik bertanya dengan tatapan tajam.

"Aku tidak bilang begitu. Tapi setidaknya, katakan padaku. Apa alasannya sehingga kau bersedia membantuku?" kilah Pendekar Rajawali Sakti.

"Karena aku juga butuh bantuanmu!" jelas gadis. ini.

"Hanya itu?"

Anggraeni menghela napas panjang. "Kenapa kau banyak tanya segala?"

"Aku tidak ingin terjerumus...," sahut Rangga, kalem.

"Kau kira aku akan menjerumuskanmu?" cibir Anggraeni.

"Kau tahu banyak soal mereka. Dan itu menunjukkan, bahwa kau kenal baik. Lalu, bagaimana aku bisa percaya kalau sekarang kau mengkhianati mereka?" tukas Rangga.

"Baiklah. Pranaja adalah kekasihku. Aku tidak suka dia berhubungan dengan kekasihmu. Karena Pandan Wangi seperti menyita perhatiannya, sehingga dia tega mempermalukanku. Padahal, Pranaja belum pernah memperlakukanku begitu, meski sering serong dengan wanita lain," tutur Anggraeni.

Jelas sudah bagi Rangga, mengapa Anggraeni memberi syarat padanya untuk tidak membunuh Pranaja. Permasalahannya hanya satu. Cinta! Cinta memang bisa mengalahkan segala-galanya walaupun orang yang dicintai .adalah penjahat besar!

"Sedangkan Ratu Dewi Kunir adalah majikanku. Secara tak sengaja, aku memperkenalkan Pranaja pada majikanku. Tapi yang terjadi sungguh menyakitkan, karena akhirnya Pranaja menjadi kekasih gelap majikanku," jelas Anggraeni, panjang lebar.

Rangga terdiam seperti coba meyakini kebenaran cerita gadis ini.

"Sekarang kau percaya padaku?" usik gadis itu.

"Baiklah. Aku percaya...," desah Rangga.

"Bagus! Kita berangkat sekarang," ujar Anggraeni. "Hal-hal selanjutnya akan kita bicarakan di tengah perjalanan!"

Rangga mengangguk setuju.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Tak seorang pun yang pernah menduga kalau di dasar Telaga Tujuh Warna yang permukaannya kelihatan keruh, terdapat sebuah istana yang cukup megah. Dinamakan demikian, karena pada malammalam tertentu telaga itu akan memancarkan sinar berwarna tujuh rupa. Dan itu tandanya, di istana dalam telaga penghuninya yang bernama Ratu Dewi Kunir tengah mengadakan pertemuan dengan seorang pemuda tampan.

Rangga sendiri semula ragu. Namun Anggraeni terus meyakinkannya. Setelah menyelam sebentar, mereka bertemu sebuah lorong pendek di kedalaman dua puluh tombak. Begitu masuk lorong itu, mereka tahu-tahu telah berada di permukaan tanah datar yang terdapat lima buah terowongan.

"Orang mungkin saja bisa menemukan tempat ini. Tapi, tidak akan tahu jalan mana yang dipilih. Salah jalan, maka kematianlah bagi mereka," jelas Anggraeni seraya mengajak Rangga ke terowongan yang berada di tengah-tengah.

"Apa yang ada di ujung terowongan-terowongan itu?" tanya Rangga, ingin tahu.

"Perangkap!"

Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa membayangkan, perangkap apa yang dimaksudkan gadis ini. Tapi dengan jaminan mati, jelas sudah bisa dipikirkan perangkap seperti apa yang ada di terowongan-terowongan itu.

Tepat di ujung lorong, mulut Rangga kontan ternganga. Betapa tidak? Di depannya kini tampak sebuah istana megah, walaupun tidak terlalu besar. Di tiap sudut-sudut istana, terdapat tiang penyangga yang dibuat dari batu marmer. Pintu gerbangnya terukir indah dari kayu cendana yang mengambarkan aroma harum. Dinding-dindingnya berwarna putih mengkilat, dengan hiasan batu-batu permata. Begitu berkilauan!

Di depan pintu gerbang berdiri dua orang prajurit wanita dengan senjata tombak. Dan Anggraeni segera menghampiri, lalu berbicara dengan mereka. Baru kemudian dipanggilnya Rangga dengan lambaian tangan.

Pendekar Rajawali Sakti bergerak menghampiri. Dan bersama Anggraeni dimasukinya pintu gerbang. Sebentar saja, mereka telah tiba di sebuah ruangan terbuka yang cukup luas yang diterangi puluhan obor. Ruangan ini terlihat indah dan tertata cukup apik. Kemudian dari salah satu pintu ruangan ini, muncul seorang prajurit wanita.

"Silakan. Kanjeng Dewi telah menunggu...," ujar prajurit ini.

"Terima kasih...," ucap Anggraeni, mengangguk.

"Dia tahu kedatangan kita?" tanya Rangga heran.

"Dia tahu sejak kita berada di sekitar telaga itu. Sekarang mari kita masuki pintu di depan itu," ajak Anggraeni, sambil menunjuk sebuah pintu tepat di depan mereka.

Mereka kembali melangkah, dan masuk pintu. Kini Rangga dan Anggraeni tiba di sebuah ruangan yang beralas permadani merah. Ada tiang-tiang besar berukir, serta dinding ruangan yang dipenuhi obor. Sehingga, menambah maraknya suasana.

Di ujung ruangan terlihat seorang wanita muda berambut panjang tergolek di sebuah pembaringan. Kepalanya bertopang pada sebelah sikut tangan. Pakaiannya tipis. Sehingga siapa pun leluasa melihat lekuk-lekuk tubuhnya. Dua penjaga yang terdiri dari wanita muda berparas manis, berjaga-jaga di kanan dan kirinya.

"Kanjeng Ratu Dewi, hamba menghadap...!" seru Anggraeni seraya membungkuk hormat.

Rangga mengikuti saja semua gerak-gerik gadis itu.

"Hm. Kau membawa sesuatu untukku, Anggraeni?" tanya wanita yang tak lain Ratu Dewi Kunir dengan suara merdu tanpa merubah sikap duduknya.

"Benar, Kanjeng Dewi...!" tambah Anggraeni.

"Kau memang abdiku yang setia! Bocah ini bagus sekali. Siapa namanya?" tanya Ratu Dewi Kunir seraya menatap penuh hasrat pada Rangga.

"Nama hamba Rangga, Kanjeng Ratu Dewi!" sahut Pendekar Rajawali Sakti dengan kepala tertunduk.

"Bagus!" puji Ratu Dewi Kunir sambil tersenyum lebar.

Suasana sejenak hening. "Apa yang kau inginkan dariku, Anggraeni?" tanya Ratu Dewi Kunir seraya berpaling pada gadis itu.

"Apakah Kanjeng Ratu Dewi berkenan dengan persembahan hamba ini?" Anggraeni balik bertanya.

"Kenapa tidak? Bocah bagus. Dan, lebih bagus ketimbang semua yang pernah kau bawa untukku! Tentu saja aku berkenan menerimanya," sahut Ratu Dewi Kunir gembira.

"Syukurlah kalau demikian, Kanjeng Ratu Dewi. Hamba senang kalau memang berkenan...," desah Anggraeni.

"Nah! Katakanlah, apa yang kau inginkan?" ujar wanita cantik di pembaringan itu.

"Hamba rasa tak pantas, Kanjeng Ratu Dewi...," sahut Anggraeni ragu.

"Tidak. Saat ini aku tengah gembira. Apalagi dengan persembahanmu ini. Katakanlah, apa keinginanmu?"

"Baiklah kalau memang Kanjeng Ratu Dewi memaksa. Hamba menginginkan.... Pisau Pusaka Kembang Sanur," sahut Anggraeni, agak ragu-ragu.

"Hei?! Untuk apa kau menginginkan benda itu?!" tanya Ratu Dewi Kunir dengan tatapan heran.

"Maafkan hamba, Kanjeng Ratu Dewi! Kalau memang permintaan itu keterlaluan, hamba membatalkannya," ucap Anggraeni buru-buru.

"Tidak. Aku pasti akan memberikannya padamu!" Setelah berkata begitu, Ratu Dewi Kunir bertepuk tangan. Tak lama, seorang penjaga masuk dan langsung menjura hormat.

"Berikan Pisau Pusaka Kembang Sanur kepadanya!" perintah Ratu Dewi Kunir.

"Baik, Kanjeng Ratu Dewi!"

Anggraeni segera mengikuti penjaga itu, setelah menjura memberi hormat. Sementara itu terlihat Ratu Dewi Kunir tersenyum-senyum kecil. Lalu tangannya bertepuk dua kali. Kedua penjaga yang menyertainya segera menjura hormat, kemudian meninggalkan tempat ini,

"Sekarang hanya kita berdua di sini. Adakah sesuatu yang hendak kau katakan padaku?" tanya Ratu Dewi Kunir, ketika di tempat ini tak ada orang lain lagi kecuali dirinya dan Pendekar Rajawali Sakti. "

"Tidak..."

"Apa maksudmu tidak? Apakah kau kira aku orang bodoh?" tegur Ratu Dewi Kunir.

"Hamba tidak berani menduga begitu, Kanjeng Ratu Dewi," kilah Pendekar Rajawali Sakti.

"Kalau begitu, angkatlah wajahmu. Dan, tataplah aku!" ujar Ratu Dewi Kunir.

"Kanjeng Ratu Dewi, hamba adalah persembahan. Mana berani hamba berbuat selancang itu...."

Ratu Dewi Kunir tersenyum kecil. Suaranya seperti keluar dari hidung. Dan kedengarannya amat merdu.

"Kau bukan bocah tolol. Dan kau beda dengan yang lain. Kau tidak terpengaruh Anggraeni, karena tenaga batinmu kuat. Apakah orang seperti itu yang datang dan hendak mengelabuiku? Kau punya maksud datang ke sini. Sebab kalau tidak, mana mungkin akan mengikuti Anggraeni. Sekadar melampiaskan nafsu birahi. Atau, hal-hal lain? Kulihat kau bukan orang jahat. Dan kau pun tidak termasuk laki-laki hidung belang. Katakan sebelum membuatku marah!"

Kata-kata Ratu Dewi Kunir ini benar-benar diluar dugaan Pendekar Rajawali Sakti.

ENAM

Rangga terdiam. Meski begitu, tatapannya tidak ingin langsung terarah pada wanita ini. Pikirannya bekerja cepat. Amat berbahaya baginya berada di sini. Dia tidak tahu, sampai berapa dahsyat kesaktian wanita ini. Tapi kalau saja Dewa Mata Maut yang sedikit mendapat kesaktian darinya sudah demikian tangguh, maka bagaimana pula Ratu Dewi Kunir itu sendiri? Lebih dari itu, daerah ini adalah kekuasaannya. Entah perangkap atau apa pun yang tersembunyi, bisa saja menjebaknya. Dan Rangga benar-benar tidak menghendaki bentrokan dengan wanita ini!

"Memang, aku menginginkan sesuatu. Tapi...." Rangga tampak ragu-ragu mengutarakannya.

"Bicaralah yang tegas!" ujar Ratu Dewi Kunir, agak keras.

"Aku tengah mencari seseorang..." Pemuda itu berhenti sebentar. Sementara wanita itu memandang dengan sorot mata tajam.

"Lanjutkan!" perintah Ratu Dewi Kunir.

"Dan aku yakin, hanya Kanjeng Ratu Dewi yang tahu tempatnya...."

"Kenapa kau begitu yakin?"

"Karena Kanjeng Ratu Dewi sedikit mempunyai sangkut-paut...," sahut Rangga, mulai terbuka.

"Siapa yang kau cari?" tanya Ratu Dewi Kunir, dengan kening berkerut.

"Kekasihku...."

"Kenapa dia? Melarikan diri darimu?"

"Kanjeng Ratu Dewi.... Kekasihku tidak akan melarikan diri dariku. Dia dilarikan seseorang."

"Siapa yang melarikannya?"

"Pranaja alias Dewa Mara Maut."

"Lalu, apa hubungannya denganku?"

"Kanjeng Ratu Dewi.... Kudengar dia muridmu....

Wanita itu tertawa kecil. "Aku tidak pernah punya murid seorang pun!" tegas Ratu Dewi Kunir.

"Kalau demikian, apa namanya? Dia memiliki kesaktian seperti yang Kanjeng Ratu Dewi miliki?"

"Dari mana kau tahu kalau kesaktiannya berasal dariku? Kau baru bertemu sekali ini denganku. Dan tahu-tahu merasa bahwa kau tahu banyak tentangku!"

"Maaf, Kanjeng Ratu Dewi. Tentu saja aku tidak mengetahui sedikit pun mengenai dirimu kalau saja Anggraeni tidak cerita," ucap Rangga, buru-buru menjelaskan.

"Apa saja yang diceritakannya padamu?"

"Katanya, kau bisa menolongku dari kesulitan yang kuhadapi."

"Lalu?"

"Lalu..., aku berada di sini!"

Wanita itu kembali tertawa kecil. Dipandanginya pemuda itu untuk sejurus lamanya. "Kau hendak meminta pertolonganku? Apa imbalan yang hendak kau berikan?" tanya Ratu Dewi Kunir.

"Aku tidak bisa mengatakannya, Kanjeng Ratu Dewi. Kalau kubayar dengan emas, kurasa kau tidak kekurangan. Boleh jadi kau akan merasa tersinggung," sahut Rangga.

"Kau bisa membayarnya dengan yang lain...."

"Kanjeng Ratu Dewi yang menentukan. Lalu kupertimbangkan, apakah bisa kupenuhi atau tidak...," sahut pemuda itu dengan jantung berdetak semakin kencang.

"Apakah kau percaya bahwa aku bisa menolongmu?"

"Hamba percaya sepenuhnya, Kanjeng Ratu Dewi!"

"Kalau begitu, bangkitlah! Ayo ikut denganku. Dan, jangan banyak membantah!"

Rangga terkejut mendengarnya. Untuk sesaat dia terpaku dan tak tahu harus berbuat apa. Inikah saatnya? Inikah saat yang dikatakan Anggraeni?

"Ayo ikut aku! Apakah kau akan di situ sampai kiamat?!" ulang wanita itu seraya beranjak ke luar.

"Eh! Ba, baiklah.

********************

Wajah Anggraeni tampak berseri-seri. Dan sejak tadi tidak henti-hentinya memandangi sebilah pisau bergagang gading dan sarung terbuat dari perak. Pisau itu kelihatan sederhana namun entah kenapa seolah-olah begitu menarik perhatiannya.

"Apakah telah lama kau menginginkan pisau itu?" tanya Rangga, mengusik.

"Eh, apa? Oh, iya...!" sahut Anggraeni, tergagap.

"Apa kehebatannya?"

"Ini? Hm..., tidak ada."

Rangga tidak berhasrat mendesak, meski sadar kalau gadis ini menyembunyikan sesuatu.

"Bagaimana? Apa hasil pertemuan dengan beliau?" tanya gadis itu seperti sadar kalau belum bertanya pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Biasa saja...," sahut Rangga, kalem.

"Kau berhasil memperdayainya?" desak gadis itu.

"Apakah kau kira semudah itu?"

Anggraeni tersenyum. "Kulihat kau tidak bodoh. Pasti ada sesuatu yang berhasil kau dapatkan," duga Anggraeni.

"Maksudmu di tempat tidur?" Rangga balik bertanya.

Gadis itu tertawa geli. "Jadi..., kau mau memenuhi. keinginannya? Bagaimana? Hebat, bukan?!" tebak Anggraeni bersemangat.

"Bagaimana menurut beliau?" Rangga malah bertanya.

"Puas! Beliau sangat puas," sahut Anggraeni, mantap.

"Syukurlah...."

"Kalau berniat menemuinya, maka datanglah. Tapi, ingat. Tempat itu rahasia. Kalau kau coba berbuat macam-macam, maka pintu masuk akan tertutup dengan sendirinya dan rata dengan tanah," jelas gadis itu mengingatkan.

"Ya. Aku tahu...," jawab Rangga, singkat.

"Kanjeng Ratu Dewi telah bercerita banyak tentunya...?"

"Tidak. Beliau hanya cerita yang penting-penting saja."

"Apakah beliau tidak mengatakan, ke mana tujuan kita?"

"Kukira, kau sudah tahu...!"

"Apakah kau tidak menanyakan kepada beliau?"

Rangga tersenyum. "Sudah "

"Kau sengaja mengejutkan, he?!" Wajah Anggraeni kelihatan cemberut, mendengar jawaban Rangga yang terdengar bertele-tele. Rangga kembali tersenyum.

"Di mana?"

"Di kaki Gunung Bromo...."

"Hm.... Tiada kusangka, akhirnya tempat itu yang dipilihnya," gumam Anggraeni.

"Kenapa? Kau pernah ke sana?" tanya Rangga

"Tentu saja! Itu tempat pertama kali pertemuanku dengannya. Kurang ajar!" dengus gadis itu geram.

"Kau kelihatan begitu mendendam," pancing Rangga.

"Huh!" Anggraeni tak menjawab, melainkan mendengus kecil. Mukanya ditekuk sedemikian rupa. Sehingga siapa pun yang melihatnya akan mengetahui kalau dia tengah menahan perasaan geram dan amarah.

"Sebentar lagi hujan. Langit telah gelap. Kita harus mencari tempat berteduh...," ujar pemuda itu, mengalihkan perhatian.

Gadis itu diam saja tak menjawab. Memang, saat ini mereka sudah begitu jauh meninggalkan Telaga Tujuh Warna. Atas pertunjuk Ratu Dewi Kunir, mereka diharuskan untuk menuju kaki Gunung Bromo. Rangga sendiri, saat ini tidak menunggang kuda. Dewa Bayu telah ditinggalkannya di sekitar Telaga Tujuh Warna.

Rangga melirik Anggraeni sekilas, kemudian mencari-cari tempat berteduh di sekitar tempat itu. Sebentar saja matanya melihat sebuah gubuk kecil tak jauh di depan.

"Coba lihat! Beruntung sekali kita menemukan tempat berteduh!" tunjuk Rangga.

Gadis itu melirik sekilas, lalu mengikuti derap langkah pemuda itu. Sebentar kemudian, mereka sudah tiba di gubuk kecil yang kelihatan sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Sebagian tiang penyangga kelihatan sudah rapuh. Dan di beberapa bagian atapnya banyak yang bocor. Dindingnya pun banyak yang bolong. Namun begitu masih cukup lumayan untuk sekadar menghindari diri dari terpaan hujan.

Apa yang dikatakan Rangga memang benar. Baru saja pemuda ini mengumpulkan ranting kering di sekitar gubuk, mendadak hujan turun perlahan-lahan namun berubah cepat. Dan dalam sekejap, terasa angin kencang menyertai hujan lebat di sore ini.

"Hhh...!" Anggraeni menggigil kedinginan. Dan tubuhnya beringsut mendekati perapian yang baru saja dibuat Rangga. Lidah-lidah api tampak bergerak-gerak seperti hendak padam diterpa angin kencang.

"Apakah kau tidak merasa kedinginan?!" cibir gadis itu dengan wajah cemberut ketika melihat Rangga tenang-tenang saja duduk bersila di depan perapian.

Rangga membuka kelopak matanya. Dipandangnya gadis itu dengan tatapan heran. "Kenapa? Apakah kau tidak berusaha menghangatkan diri?" tanya Pendekar Rajawali Sakti.

Anggraeni menggeleng pelan. "Aku tidak biasa hidup seperti ini...," sahut gadis itu lemah.

"O, pantas...! Nah! Mulai sekarang, cobalah berusaha. Kau harus bisa menolong dirimu sendiri. Pusatkan pikiran pada satu titik. Kemudian, kosongkan pikiran seolah-olah tidak merasakan apa pun. Jadikan desau angin di sekelilingmu seperti irama merdu yang menyejukkan hati," ujar pemuda itu mengajari.

"Ah! Aku sungguh bodoh! Hal seperti itu saja tidak ingat!" umpat Anggraeni pada diri sendiri. Namun baru saja Anggraeni duduk bersila, tiba-tiba....

Brues...!

Mendadak saja dinding gubuk ini jebol. Dan dari dinding yang bolong meluncur satu sosok tubuh yang langsung berdiri di hadapan mereka berdua.

"Kurang ajar! Tikus mana yang berani menempati istanaku, he?!"

Belum sempat Rangga dan Anggraeni berbuat apa-apa, sosok itu telah menyambarkan senjata golok besarnya ke leher.

"Uts!" Kedua anak muda itu cepat menjatuhkan tubuhnya, membuat beberapa bagian tiang penyangga gubuk yang memang sudah rapuh hancur berantakan terhantam sambaran golok besar yang nyasar.

Secepat kilat, Pendekar Rajawali Sakti dan Anggraeni bangkit dan lagnsung melompat keluar. Sementara, sosok itu ikut mengejar dengan acungan golok besarnya, lalu berhenti ketika Rangga mengangkat tangannya.

Pendekar Rajawali Sakti memandang nyalang pada seorang laki-laki bertubuh besar berambut panjang awut-awutan yang berdiri di depannya. Jenggot dan kumis serta cambang kelihatan tumbuh liar tak terurus. Bertelanjang dada. Dan dia hanya mengenakan penutup bagian bawah perut terbuat dari kain lusuh yang sudah lapuk. Golok besar di tangannya kini diputar-putar.

"Kisanak, apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba saja kau menyerang kami?" tanya Rangga berusaha bersikap ramah di antara deru hujan dan petir yang mulai menderu sambung-menyambung.

"Wueeeh! Masih mau membela diri dan pura-pura tak bersalah?! Kubunuh kalian berdua!" bentak sosok bertubuh besar itu. Belum juga gema suara itu lenyap, secepat kilat senjatanya sudah menyambar Rangga dan Anggraeni.

Wut! Bet!

"Orang tua sinting! Tidak tahu adat! Barangkali kau memang perlu dihajar!" umpat Anggraeni geram, karena menjadi sasaran golok besar.

"Apa katamu?! Bocah lancang! Buktikan ocehanmu!" dengus laki-laki itu seraya mencecar Anggraeni.

Melihat gerakan laki-laki bertubuh besar itu, Rangga langsung tersenyum. Sudah bisa ditebak kalau orang itu hanya mengandalkan tenaga kasar saja, dengan sedikit ilmu olah kanuragan. Maka ketika Anggraeni jadi sasaran, hatinya tidak begitu khawatir. Dibiarkannya saja gadis itu, karena yakin akan mampu mengalahkannya.

"Huh! Apa sulitnya menghajar orang sinting sepertimu!" balas Anggraeni.

"Kurang ajar! Bocah tak tahu diri. Kaulah yang akan kuhajar!" desis orang itu geram.

Senjata di tangan sosok bertubuh besar ini bergerak ke sana kemari menyambar-nyambar seperti tak pernah berhenti. Namun Anggraeni pun mampu berkelit dengan gesit.

"Yeaaa...!" Tiba-tiba Anggraeni membentak nyaring, kemudian berkelebat menyerang dengan sebuah tendangan menggeledek.

Begkh!

"Aaakh!" Tahu-tahu tendangan telak mendarat di dada laki-laki itu, hingga membuatnya terjungkal di tanah becek.

"Bocah edan! Kutebas batang lehermu, he?!" dengus laki-laki itu seraya cepat bangkit tanpa menghiraukan sakit serta lumpur yang membasahi sekujur tubuhnya.

"Ayo maju dan kuberi kau hajaran lagi!" tantang Anggraeni.

"Heaaa...!" Dengan bernafsu, laki-laki itu kembali menyerang. Senjatanya kini bergerak cepat tak beraturan, membabat ke mana saja Anggraeni bergerak.

"Kau akan mampus di tangan Suromenggolo! Kau akan mampus di tanganku, bocah tak tahu diri...!" teriak laki-laki yang mengaku bernama Suromenggolo geram.

"Huh!" Anggraeni hanya mendengus sinis. Meski berusaha sekuat tenaga untuk melukainya, tapi usaha Suromenggolo agaknya sia-sia saja. Karena gadis itu agaknya mampu menguasai jalannya pertarungan. Sedikit pun tak ada kesulitan baginya untuk menghindari serangan-serangan Suromenggolo. Bahkan satu ketika...

"Hih!" Dengan kecepatan kilat, Anggraeni melepaskan sodokan tangan sambil merunduk, ketika Suromenggolo membabatkan golok besarnya ke leher. Sehingga...

Des!

"Aaakh...!" Dan kembali sekali lagi gadis itu berhasil menghajar Suromenggolo. Lalu secepat itu pula Anggraeni mencelat sedikit ke atas sambil berbalik. Seketika ujung kakinya berhasil menghantam senjata laki-laki itu.

Tak!

Tepat ketika senjata Suromenggolo terpental, tendangan Anggraeni meluncur ke dada.

Desss...!

"Aaakh...!" Suromenggolo terjungkal. Dan sebelum dia bangkit, kaki gadis itu telah menghimpit dadanya kuat-kuat.

"Aduuuh, sakiiit...! Lepaskan kakimu! Lepaskan! Anak celaka! Kuhajar kau nanti!" teriak Suromenggolo marah.

"Ayo, hajarlah kalau bisa! Sebelum kau menghajarku, akan kuremukkan dadamu!" ancam gadis itu tak kalah geram.

"Aaakh...! Aduh, sakiiit..! Tolooong...! Tolooong...!"

"Berteriaklah sekuat tenagamu. Dan, tidak ada seorang pun yang akan menolongmu!"

"Hei, Bocah! Tolong aku! Tolong aku cepaaat..!" teriak Suromenggolo sambil menggapai-gapai kepada Pendekar Rajawali Sakti.

"Dia tidak akan menolongmu!" sergah Anggraeni.

Dan kenyataannya memang begitu. Rangga hanya diam saja memperhatikan mereka.

"Kenapa kau diam saja? Tolong aku cepat! Cepaaat..! Dasar bocah tolol!" umpat Suromenggolo.

"Orang tua sinting! Kenapa aku harus menolongmu? Kau toh hampir saja membunuh kami berdua. Apakah kau memang tidak sadar atau gila betulan?" sahut Rangga tenang.

"Oh, jadi kau pun tak mau menolongku?! Ya, Jagat Dewa Bhatara! Kini tak seorang pun yang sudi menolongku. Kenapa masih kau hidupkan aku? Aku telah menjadi manusia tak berguna. Alangkah baiknya bila kau cabut nyawaku...," keluh Suromenggolo lirih. "Ayo, bunuhlah aku. Bunuhlah aku, Anak Manis. Aku tidak takut mati. Ayo, bunuhlah aku...!"

Dahi Anggraeni jadi berkerut. Laki-laki ini sungguh aneh. Kelakuannya seperti orang tak waras. Apakah dia hanya berpura-pura untuk menyelamatkan diri dari hajarannya?

"Pergilah kau! Aku muak melihatmu. Kalau kau mengganggu lagi, maka betul-betul akan kupatahkan lehermu!" dengus gadis itu seraya melepaskan injakan kakinya.

Suromenggolo bangkit perlahan-lahan. Badannya penuh lumpur. Namun, sama sekali tidak dipedulikannya. Sambil tertawa-tawa kecil dia memandang mereka berdua bergantian.

"He he he...! Kalian memang baik sekali. Kalian pantas menjadi abdiku yang setia. Tapi, sayang. Aku bukan raja lagi seperti dulu. Maka kalian tidak bisa bekerja. padaku," kata Suromenggolo seraya meninggalkan tempat ini sambil terkekeh-kekeh.

"Dasar sinting!" umpat Anggraeni.

"Ya. Dia mungkin pernah mengalami kejadian yang mengejutkan hati. Kejadian hebat yang tidak bisa diterimanya, sehingga membuatnya jadi begitu...," timpal Rangga.

"Tapi gara-gara dia pula kita kehujanan!" dengus gadis itu dengan muka cemberut.

"Tapi, kau tidak begitu kedinginan lagi, bukan?"

"Huh!" Anggraeni hanya mendengus pelan seraya mencari sisa-sisa gubuk yang bisa dipakai untuk berlindung.

Rangga mengikutinya. Hanya sedikit tempat yang tersisa. Itu pun tidak memadai, karena air hujan sesekali menerpa. Api yang tadi menyala telah padam. Satu-satunya penerangan hanyalah, bila cahaya kilat membelah. Malam semakin larut Dan hujan seperti tak mau berhenti.

********************

TUJUH

Rangga terjaga dari tidurnya. Pagi belum terlalu terang. Namun, hujan telah reda. Dari jauh terdengar ayam jantan hutan berkokok saling bersahutan. Dan Rangga jadi jengah sendiri melihat sikap tidur Anggraeni yang betul-betul tidak bisa membuatnya bergerak. Sebelah tangan gadis itu melingkar di pinggangnya. Demikian juga sebelah kakinya menindih kedua pahanya. Pemuda itu hendak menepiskannya. Namun melihat gadis ini yang begitu pulas terlelap, dia tidak sampai hati mengusik.

"Ehhh...!" Anggraeni menggeliat ketika pemuda itu coba mengangkat tangan dan kakirnya perlahan-lahan. Kelopak matanya mengerjap beberapa kali. Dan seketika gadis itu bangkit tatkala pemuda itu berdiri dan melangkah keluar gubuk.

"Mau ke mana kau?" tegur Anggraeni sambil menggeliatkan tubuhnya kembali.

"Aku harus cepat mencari mereka," sahut Rangga, kalem.

"Hm.... Kelihatannya kau tidak sabar. Kita belum sarapan, dan perutku sudah lapar. Apa tidak sebaiknya cari sarapan dulu?" usul Anggraeni.

Rangga memandang sekilas, lalu menggeleng lemah. "Aku belum lapar, sebelum mereka kutemukan!"

"Tenang saja. Mereka pasti kita temukan!"

"Iya...! Tapi, aku mengkhawatirkan Pandan Wangi. Dia berada di bawah pengaruh. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padanya!" Suara Rangga terdengar meninggi. Dan hal itu agaknya dirasa betul oleh gadis ini. Dia tertegun sebentar, lalu mengikuti pemuda itu.

"Baiklah...," sahut Anggraeni pendek.

"Heaaa...!"

Rangga langsung melangkah meninggalkan gubuk, diikuti Anggraeni. Sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara. Sepertinya, ada yang mengusik hati pemuda itu. Rangga terus memandang lurus ke depan seperti tengah melakukan perjalanan seorang diri saja. Bahkan Rangga seperti tak sadar kalau saat berjalan, ilmu meringankan tubuhnya yang telah sangat tinggi tersalurkan. Dan ini membuat Anggraeni terkadang tertinggal jauh.

"Hei!" Rangga baru sadar ketika Anggraeni berteriak. Walaupun pemuda itu sama sekali tidak menoleh, namun segera menghentikan langkahnya. Ditunggunya gadis itu, hingga dekat.

"Ada apa?" tanya Rangga.

"Kau mengkhawatirkan kekasihmu?" Anggraeni balik bertanya.

"Kau tahu itu."

"Apa yang kau khawatirkan?"

"Entah kau pura-pura tak tahu, atau sengaja bercanda!" sahut pemuda itu kesal.

"Kau takut Pranaja memperkosanya?" duga gadis itu tanpa basa-basi.

Rangga menoleh sekilas padanya. "Itu salah satunya...!" sahut Rangga, mendesis.

"Dia tidak akan melakukan hal itu!" sentak Anggraeni.

"Tidak usah menghiburku!"

"Aku bersungguh-sungguh! Dia tidak akan melakukan hal itu!"

Rangga memandang tajam gadis itu. "Apa maksudmu?" tanya Rangga.

"Kalau kau khawatir Pranaja akan memperkosa kekasihmu, maka hilangkan kekhawatiran itu. Dia tidak akan pernah melakukannya bila Pandan Wangi menolak," Anggraeni memberi alasan.

"Tapi Pandan Wangi dalam pengaruhnya!"

"Apakah kekasihmu itu tidak mencintaimu?"

"Tentu saja!" "Sebesar apa?"

"Tidak bisa kukatakan. Tapi... ya, tentu saja besar!"

"Kalau begitu, dia bisa menjaga diri."

"Apa maksudmu?" Kelihatan kalau Rangga semakin bingung.

"Dia tentu bisa melawan pengaruh Pranaja, kalau pada dasarnya tidak menyukai. Dia tidak akan terkena bujukan begitu saja. Rasa cintanya kepadamu, adalah perisai yang cukup kuat," jelas Anggraeni.

"Benarkah?" Sebaris senyum terhias di bibir Rangga. Senyum yang menggambarkan sebuah harapan.

"Tentu saja. Apa untungnya aku berbohong padamu!" tandas Anggraeni.

"Kalau begitu, kita harus bergegas!" seru pemuda itu seraya mencekal pergelangan tangan Anggraeni.

"Hei!" Anggraeni berteriak ketika tubuhnya diajak melesat kencang. Rangga memang langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling tinggi.

********************

Di kaki Gunung Bromo yang menghadap ke arah padang rumput luas, banyak yang tak tahu kalau di situ terdapat sebuah gua. Karena, memang kawasan ini jarang dilalui. Sesungguhnya gua itu tidak begitu terlihat dari luar, karena dihalangi semak-semak cukup tebal. Namun kalau saja ada yang berani masuk ke dalamnya, maka akan bertemu sebuah ruangan yang cukup luas dan ditata apik. Di kiri dan kanan terdapat penyekat dari kayu, membentuk dua buah kamar.

Sementara di mulut gua, berdiri seorang gadis berbaju ketat berwarna biru. Pandangan matanya lurus ke depan, menerawang kosong. Sementara di sebelahnya berdiri seorang pemuda berpakaian rapi warna kuning gading.

"Tinggallah di sini, Pandan. Maka, kau akan kujadikan ratuku...," bujuk pemuda itu.

"Aku merasa bahwa di sini bukan tempatku, Pranaja," kata gadis berbaju biru yang tak lain Pandan Wangi alias si Kipas Maut.

"Tak ada seorang pun yang suka sebelum menjalaninya dalam waktu cukup lama. Dan kau terhitung amat baru. Wajar bila kau merasa bahwa ini bukan tempatmu," kilah pemuda yang memang Pranaja yang berjuluk si Dewa Mata Maut.

"Tempat ini gersang...," desah Pandan Wangi.

"Itu tidak benar. Perhatikan rerumputan hijau bak permadani di luar sana. Pepohonan dengan ranting-ranting berdaun lebat. Bukankah itu pemandangan amat indah? Dan tak seorang pun yang bisa mengusik kita. Kawanan serigala yang patuh pada perintahku itu, senantiasa menjaga kita dari tamu-tamu yang tidak diundang," jelas Pranaja.

Gadis itu terdiam. Desahan keluar lirih dari bibirya, pertanda hatinya galau.

"Tidak sukakah kau dengan segala yang kupersembahkan untukmu? Kau membuatku sedih, karena aku telah berusaha sebisaku..." keluh Pranaja. "Atau barangkali kau membenciku?"

"Kau salah mengerti, Pranaja. Aku tidak membencimu. Hanya saja..."

"Hanya apa, Pandan Wangi? Apakah kau tidak mencintaiku? Lihatlah! Kalau kau belah dadaku, maka akan terlihat rasa cintaku sedemikian besar kepadamu!" desak Dewa Mata Maut.

Pandan Wangi menoleh dan memandang pemuda itu lekat-lekat, kemudian perlahan-lahan tertunduk. Lagi-lagi, tiap kali pemuda itu menatap, dadanya terasa bergetar keras. Perasaannya bagai terbuai ke awang-awang. Namun di hati kecilnya, terasa gaung suara Rangga memanggil-manggilnya.

"Coba pandanglah aku. Lihatlah! Betapa demikian besar rasa cintaku kepadamu!" ujar pemuda itu.

Sambil berkata begitu, Pranaja merengkuh kedua pundak Pandan Wangi. Sementara tangannya perlahan-lahan mengangkat dagu gadis ini.

"Pandan...," panggil Pranaja, mendesah.

"Hm...." Gadis itu menggumam lirih. Dan dia tak mampu mengelak dari pandangan mesra Pranaja.

Sementara wajah pemuda itu kelihatan semakin dekat dengan wajahnya. Dan jantungnya kontan seperti berhenti berdetak, ketika Pranaja hendak mengulum bibirnya. Dan...

"Uhhh...!" Pemuda itu pun terperanjat, karena tiba-tiba Pandan Wangi mendorongnya kuat-kuat sehingga nyaris membentur dinding mulut gua.

"Oh, maaf! Aku..., aku tidak bermaksud membuatmu celaka!" seru gadis itu ikut kaget atas perbuatannya.

"Lupakanlah...!" ujar Dewa Mata Maut, seraya bangkit. Pranaja mengibas-ngibaskan debu di pakaiannya. Wajahnya kelihatan jengkel sekali.

"Kau marah padaku...?" tanya gadis itu perlahan menghampirinya.

Pemuda itu melirik Pandan Wangi sekilas. "lnikah bukti cintamu padaku? Kau sama sekali tidak menyukaiku!" sentak Pranaja.

"Aku..., aku...."

"Sudahlah! Aku tahu. Bayangan pemuda berompi putih itu melekat kuat di hatimu. Kau sulit melupakannya!" tukas Pranaja. "Tapi, aku tidak akan pernah membuatnya lega. Dia akan merana seumur hidupnya!"

"Kau bicara apa?" tanya Pandan Wangi dengan kening berkerut.

"Ah, tidak. Tidak apa-apa!" sergah Pranaja buru-buru.

"Masih marah padaku?"

Pranaja terdiam sejurus lamanya sambil memandang gadis itu lekat-lekat. Kemudian kepalanya menggeleng lemah. "Tidak," sahut Pranaja singkat.

"Kalau begitu, antarkan aku pulang...," pinta Pandan Wangi.

"Kau berada di rumahmu sendiri, Pandan," tandas Pranaja, meyakinkan.

"Aku tidak suka di sini. Lagi pula, tempat ini bukan rumahku!"

"Setelah kau betah, akan jadi rumahmu."

Si Kipas Maut terdiam seraya beranjak ke pintu gua. Sedang Dewa Mata Maut bergerak mendekati. Namun ketika baru saja hendak membelai pipi si gadis, mendadak pendengarannya yang terlatih menangkap sesuatu yang mencurigakan.

"Ssst!" Dewa Mata Maut memberi isyarat dengan telunjuk menempel di bibir. Kini keduanya terdiam, dan tidak membuat suatu gerakan apa pun yang bisa terdengar.

Baru saja Pranaja melangkah lima tindak dari mulut gua, mendadak berkelebat sosok tubuh melayang turun dari atas tebing gua.

"Heh?!" Salah satu bayangan langsung menyerang Dewa Mata Maut. Terpaksa, pemuda itu melompat ke belakang dan semakin menjauhi pintu gua.

Sementara bayangan satu lagi langsung meluruk ke arah Pandan Wangi dengan gerakan cepat bagai kilat. Bahkan seketika tangannya meluncur, melepaskan totokan di punggung gadis itu. Dan....

Tuk! Tuk!

"Aaa...!" Pandan Wangi langsung roboh tak berdaya, terkena dua totokan di punggung.

"Bagus! Kau dapatkan bagianmu, Pendekar Rajawali Sakti. Dan aku mendapat bagianku. Kini kita tidak punya urusan lagi!" seru sosok bayangan kuning yang ternyata seorang gadis berbaju kuning.

"Anggraeni! Apa-apaan kau ini?!" teriak Pranaja ketika melihat orang yang muncul tiba-tiba.

Mereka tidak lain dari Pendekar Rajawali Sakti dan Anggraeni.

"Hm.... Hebat. Kini kau kenal denganku lagi, Pranaja?! Hi hi hi...! Bagus. Tidak kusangka kau akan setolol itu. Kau lupa kalau aku bisa menirukan suara beberapa ekor hewan. Sengaja kutiru suara serigala agar kawanan serigala itu pergi jauh dari tempat ini!" jelas Anggraeni sambil berkacak pinggang.

Pranaja memang terkejut sehingga tanpa sadar, dia menyebut nama Anggraeni. Padahal, sebelumnya di depan Pandan Wangi dia menyangkal kalau pernah kenal dengan Anggraeni. Namun pemuda itu tidak mau menunjukkan lewat paras mukanya. Dia bahkan berusaha tersenyum, seolah hal ini tidak berarti apa-apa.

"Hebat betul! Kemajuanmu sungguh pesat. Apakah ini berarti kau memusuhiku, sehingga perlu bersekutu dengan bocah dungu itu?" tunjuk Pranaja pada Rangga.

"Boleh jadi dia dungu. Tapi, dia lebih pintar ketimbang kau!" batas Anggraeni.

"Kalau dia lebih pintar, tidak mungkin kehilangan kekasihnya!" ejek Pranaja.

"Dan kalau dia bodoh, tidak semudah itu merebut kekasihnya. Padahal, kau bersusah-payah merebut hati gadis itu, sahut Anggraeni.

"Sudahlah. Tidak perlu kita perpanjang persolaan ini. Apa maksud kedatanganmu ke sini? Apakah ingin mengulang kisah kasih" kita seperti dahulu?" kata Pranaja, menjengkelkan.

"Simpan saja rayuanmu itu, Pranaja. Kau mungkin lupa pada sumpahku tempo hari. Tapi, jangan harap aku melupakannya!" sergah Anggraeni.

"Kau ingin membunuhku?" leceh Pranaja.

"Lebih dari itu! Kau akan tersiksa antara hidup dan mati!" desis Anggraeni.

"Ha ha ha...! Hebat! Sungguh hebat ancamanmu!"

"Aku bersungguh-sungguh, Pranaja! Kau lihat apa yang ada di tanganku ini!" dengus Anggraeni, seraya menunjukkan pisau pemberian Ratu Dewi Kunir.

Melihat pisau itu seketika Pranaja terkesiap. "Pisau Kembang Sanur?!" sentak pemuda itu.

"Ya, kau benar. Dengan pisau ini kau tidak akan berdaya menghadapiku!"

Dan sekali ini pemuda itu tidak bisa lagi tersenyum. Wajahnya mendadak pucat. Dan sikapnya jadi salah tingkah. "Eh! Ng..., Anggraeni, tunggu dulu. Kita masih bisa berdamai, bukan?" bujuk Pranaja, tergagap.

"Perdamaian yang bagaimana lagi?"

"Tentu saja yang menguntungkan bagi kita berdua!"

"Aku tidak mengerti!" dengus gadis itu seraya mendekati Pranaja perlahan-lahan.

"Eh! Maksudku..., kita bisa membina hubungan seperti dulu lagi!"

"Kau akan membohongiku lagi, Pranaja. Entah berapa kali kau lakukan hal itu. Dan aku selalu percaya."

"Kali ini aku bersungguh-sungguh!" tandas Pranaja, coba meyakinkan.

"Dulu juga kau berkata begitu," sergah Anggraeni.

"Tidak! Aku bersumpah. Tahukah bahwa selama ini kaulah yang selalu ada di hatiku."

"Jangan coba merayuku, Pranaja!"

"Kenapa? Kau adalah kekasihku dulu, sampai kapan pun. Aku tidak perlu merayu. Yang kukatakan adalah hal yang sebenarnya!" tegas Pranaja.

"Kau menyukai gadis itu!" tuding Anggraeni pada Pandan Wangi.

"Kau salah duga. Gadis itu sama sekali tidak berarti bagiku!" kilah Pranaja.

"Huh! Kau mulai lagi mulut manismu!"

"Aku berkata yang sebenarnya. Kalau tidak, untuk apa dia kubawa ke sini? Tempat ini adalah tempat kenangan, sekaligus tempat bersejarah bagi kita. Kupilih tempat ini, karena aku selalu mengenang dan merindukanmu!"

"Lalu, kenapa tidak kau pedulikan aku saat bersama gadis itu?!"

"Kau salah paham, Anggraeni!"

"Jelaskan padaku!"

"Aku hanya sekadar menguji kesetiaanmu. Selama ini, kau jarang sekali cemburu padaku. Dan itu membuatku kesal!"

Anggraeni tertegun.

"Percayalah, Anggraeni. Mana mungkin aku mencampakkan begitu saja. Kau adalah kekasihku yang pertama dan terakhir. Aku menyadari sepenuhnya akan pengorbanan yang begitu besar padaku. Apakah kau kira aku tidak menyadarinya?" rayu Pranaja, tak patah semangat.

Gadis itu kembali tertegun. Dan hatinya berdetak aneh. Keraguan mulai menyelimuti perasaan. Pada saat itulah Rangga yang telah meletakkan Pandan Wangi di tempat yang aman sudah kembali ke tempat ini. Dan kini, dia melangkah mendekati.

"Anggraeni, maaf. Persoalan kita telah selesai seperti yang kau katakan. Aku telah mendapatkan Pandan Wangi. Maka, uruslah pemuda ini. Aku tidak ikut campur. Kami akan segera pergi. Permisi. Dan, terima kasih atas pertolonganmu," ucap Pendekar Rajawali Sakti.

Gadis itu mengangguk lemah. Namun tiba-tiba secara tak terduga tangan Pendekar Rajawali Sakti berkelebat ke punggungnya. Dan...

Tuk! Tuk!

Terlambat bagi Anggraeni untuk menangkis. Tubuhnya langsung jatuh lemas tak berdaya begitu Rangga berhasil mendaratkan dua totokan di punggungnya. Saat itu juga Pisau Pusaka Kembang Sanur di tangannya telah berpindah ke dalam genggaman Rangga.

DELAPAN

"Apa-apaan ini?!" dengus Anggraeni geram.

"Maaf, aku terpaksa melakukannya...," ucap Rangga, perlahan.

"Mau apa kau?!" desak gadis ini.

"Perjanjian kita berubah. Aku harus membunuhnya!" sahut Rangga dingin.

"Kau..., kau! Bukankah kita sudah sepakat dalam perjanjian itu? Kau tidak boleh mengusiknya!" tuntut Anggraeni, kalap. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa.

"Memang. Selamanya aku akan memegang janjiku kalau saja tidak ada sesuatu yang membatalkannya. Dan itu lebih penting, karena menyangkut kedamaian rimba persilatan!" jelas Rangga, tenang.

"Apa maksudmu? Tidak usah bertele-tele. Katakan saja!"

"Ini perintah Kanjeng Ratu Dewi Kunir! Menurut beliau Dewa Mata Maut akan terus membuat keresahan dengan ilmu-ilmunya. Itulah alasannya!"

"Bohong!" desis gadis itu marah.

"Kau boleh percaya atau tidak. Tapi, aku diperintahkan demikian!"

"Tidak! Tidak mungkin! Kau hanya mencari-cari alasan!"

"Aku bersungguh-sungguh, Anggraeni. Kalau tidak, untuk apa pisau ini kuambil darimu?"

"Kau mendengar pembicaraanku dengan Pranaja. Dan kau tahu kalau Pranaja takut dengan pisau itu," tuduh Anggraeni.

"Begitukah menurutmu? Baiklah, kita lihat saja nanti," sahut Rangga tenang seraya menghampiri Dewa Mata Maut.

"Hei, tunggu! Kau telah menyalahi perjanjian kita! Dia bagianku! Kau tidak boleh mencampurinya!" teriak Anggraeni. Tapi percuma saja gadis itu berteriak-teriak, sebab Pendekar Rajawali Sakti tidak surut selangkah pun.

"Dewa Mata Maut! Maaf, dengan terpaksa aku harus melenyapkanmu," ucap Rangga, seperti berat untuk mengatakannya.

"He he he...! Kau masih penasaran padaku? Kasihan. Tapi mestinya membuatmu kapok. Karena kali ini pun aku akan mengecewakan mu."

Bukannya kaget, Pranaja malah tertawa terkekeh. Dan itu memang sudah wataknya. Sikapnya berusaha dibuat setenang mungkin. Jelas, dia tidak ingin Pendekar Rajawali Sakti mengira bahwa dia takut.

"Begitukah menurutmu? Dan kau bersiap akan kabur lewat aji 'Mangling Rupa'? Cobalah kalau mampu," kata Pendekar Rajawali Sakti, mulai geram melihat Pranaja seperti tak pernah menyesal atas perbuatannya.

"He he he...! Kau telah berbekal sesuatu rupanya, sehingga telah percaya diri menghadapiku. Siapa yang memberitahumu? Gadis itu? Kusarankan, sebaiknya pergi saja dari sini. Dan, jangan cari penyakit. Aku bisa membunuhmu. Dan kau sama sekali tidak mampu berbuat apa pun!" ujar Dewa Mata Maut, setenang mungkin.

"Hm. Agaknya kau sama sekali tidak pernah menyesali segala perbuatanmu. Silakan serang aku, Dewa Mata Maut!" kata Pendekar Rajawali Sakti, membuka tantangan walau dengan terpaksa.

"Baiklah. Kau akan mampus di depan mata kekasihmu!" desis Pranaja. Dewa Mata Maut segera merapal aji 'Gelembung Maya'. Dengan kuda-kuda kokoh, dia menggerakkan tangannya yang terkepal keatas. Lalu, ditempatkannya di depan kening. Maka seketika dari tubuhnya mengepul asap berwarna kuning yang langsung membungkus tubuhnya.

Sementara, Rangga mendekati Dewa Mata Maut perlahan-lahan. Dan tiba-tiba Rangga mengangsurkan Pisau Pusaka Kembang Sanur ke atas dengan bagian ujungnya menghadap Dewa Mata Maut. Sementara mulutnya berkomat-kamit sebentar. Lalu...

Siut...!

Tepat ketika Rangga berhenti komat-kamit, secepat kilat mata pisau itu terlepas dari gagangnya dan melesat menyambar Dewa Mata Maut.

"Eh, kurang ajar! Ternyata kau mengerti cara menggunakan pisau keparat itu!" desis Pranaja terkejut. Dan seketika Dewa Mata Maut melompat menghindar. Namun seperti terkendali, mata pisau itu terus melesat mengejar ke mana pun dia bergerak.

"Percuma saja aji 'Gelembung Maya' serta aji 'Mangling Rupa' yang kau miliki! Kalau saja kuinginkan, maka kau akan tersiksa selamanya dalam keadaan begini. Tapi, aku punya tujuan lain. Yaitu, membunuhmu. Ini perintah dari Kanjeng Ratu Dewi Kunir." Begitu selesai kata-katanya, tangan Rangga bergerak ke punggung. Lalu....

Sring!

Tepat ketika Pedang Pusaka Rajawali Sakti keluar dari warangka, sinar biru berkilauan dari batang pedangnya seperti membungkus tubuhnya.

"Tidak! Kau tidak boleh membunuhnya! Kau tidak boleh membunuhnya...!" teriak Anggraeni berulang-ulang.

"Maaf, Anggraeni. Aku terpaksa melakukannya...," desah Rangga, lirih. Secepat kilat Rangga mencelat menyerang. "Hiyaaa!"

Pranaja yang saat itu tengah kerepotan bergerak ke sana kemari menghiridari serangan Pisau Pusaka Kembang Sanur, kini semakin was-was ketika Pendekar Rajawali Sakti ikut menyerang pula.

Bet! Wut!

Dua sambaran pedang berhasil dihindari Dewa Mata Maut. Namun hawa panas yang ditimbulkan pedang Pendekar Rajawali Sakti terasa mengganggu perhatiannya. Sehingga akibatnya....

Des!

"Aaakh...!" Satu tendangan Rangga yang cepat tak dapat dihindari Dewa Mata Maut yang baru saja menghindari terjangan Pisau Pusaka Kembang Sanur. Pranaja terjungkal roboh. Namun sebelum dia bangkit, saat itu juga Pisau Kembang Sanur melesat.

"Uts..." Pisau itu menancap di tanah, karena Dewa Mata Maut sempat bergulingan. Namun seketika pisau itu bergerak kembali, dan mengejar buruannya. Sedangkan pada saat yang sama, Pendekar Rajawali Sakti telah menunggu Pranaja yang berusaha bangkit lewat tendangan geledek. Sehingga...

Begkh!

"Aaakh...!" Kembali Pranaja memekik kesakitan, dengan lubuh terhuyung-huyung. Dan belum juga keseimbangannya pulih, Pedang Pusaka Rajawali Sakti telah berkelebat memapas sebelah kakinya.

Cras!

"Aaa...!" Tidak ampun lagi, Pranaja terjungkal roboh. Aneh! Kakinya yang buntung sampai ke paha, sama sekali tidak mengucurkan darah! Wajahnya meringis ketakutan. Sepasang matanya mendelik garang. Dan dia kembali terpaksa bergulingan menghindari sambaran Pisau Pusaka Kembang Sanur.

"Hentikan pisau keparat itu! Hentikan seranganmu! Aku menyerah kalah! Aku menyeraaah...!" teriak Dewa Mata Maut ketakutan, sambil terus menghindar walau dengan susah payah.

"Dia telah menyerah! Kau harus melepaskannya, Rangga! Kau harus melepaskannya! Ingat! Kau berhutang budi padaku. Kau berhutang budi padaku! Tidakkah kau ingat itu?! Mana perasaanmu? Apakah kau tidak tahu malu?!" teriak Anggraeni, mencoba menyadarkan Rangga.

Namun Rangga hanya menoleh sekilas. Bukannya Pendekar Rajawali Sakti tidak berperasaan ataupun tega. Walaupun bukan berarti untuk tidak melenyapkannya. Maka....

"Heaaa...!" Disertai bentakan keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti berkelebat sambil mengibaskan pedangnya. Begitu cepat gerakannya, sehingga Dewa Mata Maut yang tengah sibuk menghindari Pisau Pusaka Kembang Sanur tak sempat menyadari. Dan....

Cras!

"Aaakh...!" Disertai lolongan, kepala Pranaja kontan terpenggal dari lehernya begitu Pedang Pusaka Rajawali Sakti memapaknya. Namun anehnya tubuhnya masih tetap berdiri. Bahkan dari lehernya sama sekali tidak menyemburkan darah. Dalam keadaan demikian, tentu saja Dewa Mata Maut tak mampu menghindar pada saat Pisau Pusaka Kembang Sanur melesat cepat ke arahnya. Dan....

Crep!

"Aaa...!" Pranaja terpekik menyayat ketika pisau itu tepat menghujam jantungnya. Dan tubuhnya baru ambruk dengan mata mendelik garang. Mulutnya tampak ternganga lebar menggambarkan rasa penasaran. Sekujur tubuhnya perlahan-lahan berubah pucat kekuning-kuningan. Setelah meregang nyawa, dia tewas tak lama kemudian.

Trek!

Setelah menyarungkan pedangnya, Rangga menghampiri mayat Dewa Mata Maut. Lalu dicabutnya pisau itu. Rangga sedikit terkejut karena tidak melihat darah sedikit pun. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti menatapi pisau itu, lalu melangkah menghampiri Anggraeni.

"Maaf, aku terpaksa melakukannya...," ucap Pendekar Rajawali Sakti lemah seraya meletakkan pisau itu ke dekat gadis itu.

Anggraeni diam terpekur dan tidak berusaha menyahut.

"Aku memang tak berbudi, Anggraeni. Tapi itu terpaksa kulakukan. Terus terang, kau terlalu lemah dengan kata-kata manis Pranaja. Kau telah terjebak dalam rayuannya, Anggraeni. Dan itulah yang kukatakan. Dan hal itu juga dikhawatirkan Kanjeng Ratu Dewi Kunir. Terus terang, waktu itu di antara kami sebenarnya tidak terjadi apa-apa seperti yang kau bayangkan...," papar Rangga, halus.

"Apa maksudmu?" tanya gadis itu lirih.

"Kanjeng Ratu Dewi Kunir telah mengetahui semua peristiwa ini. Dia memerintahkan aku untuk melenyapkan Pranaja karena banyak membuat resah di luaran. Dan aku kagum pada junjunganmu. Walau suka dengan laki-laki jantan, tapi dia tak sudi bila ilmu yang diturunkan digunakan untuk mengacau dunia persilatan. Apalagi, ilmu itu tak ada tandingannya. Bahkan aku sendiri, tak mampu mengalahkan Pranaja kalau tidak diberi rapalan oleh Kanjeng Ratu Dewi Kunir. Dan yang terpenting, ada satu hal yang tak mungkin kulakukan," papar Rangga.

"Apa?" tanya Anggraeni dengan kening berkerut.

"Beliau ingin agar aku harus melenyapkanmu."

"Melenyapkanku? Tidak mungkin! Kau berdusta!"

"Percayalah. Aku berkata yang sesungguhnya..."

"Apa alasannya?"

"Kau telah membuka rahasia kelemahan ratumu sendiri padaku. Itu sama artinya kau menusuk majikanmu dari belakang lewat perantaraku. Beliau amat murka padamu. Tapi, dia tidak ingin menghukummu saat itu. Mengingat, jasa-jasamu yang demikian banyak padanya. Kau hanya mendapat hukuman, yaitu tidak bisa kembali ke sana. Pintu terowongan itu telah tertutup bagimu. Dan dengan mantera apa pun, kau tidak akan bisa membukanya," jelas Rangga.

"Tidak. Kau hanya berdusta! Aku tidak percaya padamu!" tukas gadis itu.

"Percayalah, Anggraeni. Aku berkata yang sesungguhnya. Kau boleh mencoba ke sana, kalau memang aku berdusta. Tapi demi kebaikan kita bersama, sebaiknya kau jangan ke sana.

"Kenapa...?"

"Karena aku tak mampu melaksanakan perintah Kanjeng Ratu Dewi Kunir yang ingin agar aku membunuhmu! Kau berjasa padaku. Dan aku ingin membalas jasamu itu. Nah, selamat tinggal. Mudah-mudahan di lain waktu kita bisa bertemu kembali," ucap Rangga. Setelah berkata begitu Rangga segera berbalik hendak melangkah. Namun...

"Hei, mau ke mana kau?! Kau harus melepaskan totokan ini!" teriak Anggraeni.

"Oh, hampir saja aku lupa!" Rangga berbalik kembali, lalu menghampiri Anggraeni. Segera dilepaskan totokannya, namun tidak keseluruhan. Dan itu membuat Anggraeni geram.

"Apa-apaan kau ini?!" desis Anggraeni.

"Aku yakin kau belum bisa terima kematian Pranaja. Dan aku tidak mau kau kalap, lalu menyerangku. Totokan itu lemah. Tidak lama setelah aku meninggalkanmu, maka kau akan segera bebas. Dan ingat pesanku tadi, Anggraeni. Jangan coba-coba pergi ke telaga itu. Bila mereka tahu aku gagal membunuh, maka Kanjeng Ratu Dewi Kunir akan mengutus yang lain untuk membunuhmu! Selamat tinggal!"

Setelah itu secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti berkelebat meninggalkan tempat ini menuju tempat Pandan Wangi yang telah diamankannya di suatu tempat. Tidak dipedulikannya teriakan-teriakan Anggraeni yang geram bukan main melihat perlakuannya.

********************

Rangga menghela napas lega. Sementara Pandan Wangi memandang dengan mata berbinar-binar. Lalu..., memeluknya erat-erat sambil menumpahkan perasaan rindu yang demikian memuncak di hati.

"Kakang Rangga...!" panggil Pandan Wangi.

"Oh, syukurlah kau selamat, Pandan...," desah pemuda itu lembut.

"Selamat? Apa maksudmu? Selamat dari apa?" tanya gadis itu heran seraya melepaskan rangkulannya.

"Apakah kau tidak mengingatnya?"

Pandan Wangi menggeleng lemah. Diperhatikannya wajah kekasihnya secara seksama. "Kakang, kau kelihatan pucat. Ada apa? Kau seperti habis bertarung mati-matian. Apakah kau sakit?" tanya gadis itu cemas.

"Tidak. Aku hanya sedikit lelah...."

"Ada apa, Kakang? Jangan membuatku cemas. Katakanlah!" tuntut Pandan Wangi.

"Aku baru saja menyalurkan tenaga batinku untuk mengusir daya sihir Dewa Mata Maut...," jelas pemuda itu singkat.

"Dewa Mata Maut? Siapa dia?!"

"Kau tidak ingat? Cobalah berusaha mengingat-ingat!"

Rangga segera menggambarkan ciri-ciri Dewa Mata Maut. Dan seketika gadis itu teringat.

"Astaga! Ya, aku ingat Pemuda itu bertemu denganku di sebuah kedai!"

"Lalu...?" tanya Rangga.

"Lalu dia mengajakku jalan bersama. Aku berusaha menghindar, namun setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi. Padahal di hati kecilku aku berusaha menolak...!"

Pandan Wangi tidak melanjutkan cerita. Dipandangnya Pendekar Rajawali Sakti dengan seksama. Tatapan mata Rangga tampak merasa curiga. Padahal pemuda itu hanya tersenyum.

"Kakang, maafkan. Aku..., aku sama sekali tidak bermaksud buruk. Aku..., aku...." Pandan Wangi tidak kuasa meneruskan kata-katanya. Kepalanya tertunduk lesu. Dan sesaat, terdengar isak tangisnya.

"Kenapa kau menangis, Pandan? Teruskan ceritamu. Aku mendengarkannya sampai selesai."

"Kau menuduhku telah mengkhianatimu, Kakang...?" duga Pandan Wangi.

"Aku tidak katakan begitu," sangat Rangga.

"Kau bohong! Padahal hatimu menuduhku demikian!" tukas gadis ini.

Rangga menghela napas panjang. Kemudian, dibelainya rambut gadis itu perlahan-lahan. "Aku tidak menuduhmu mengkhianatiku, Pandan. Kau tidak sadar apa yang kau alami bersamanya...," ujar Rangga memberi keyakinan.

"Apa yang kualami bersamanya?" tanya Pandan Wangi.

"Aku tak tahu!"

"Kakang tidak berusaha mencari tahu?"

"Tentu saja aku berusaha sekuat tenaga."

"Apa buktinya?!"

Dan terpaksa Rangga menceritakan sedikit secara ringkas apa yang dialami gadis itu. Dan, apa yang ditempuhnya untuk membebaskan Pandan Wangi dari cengkeraman Pranaja.

Pandan Wangi terkesiap. Dia terdiam untuk sejurus lamanya, setelah Rangga selesai bercerita. Kemudian dipandangnya pemuda itu dengan tajam.

"Kakang! Kau tidak akan menuduhku berbuat serong dengannya, kan?" tanya Pandan Wangi bernada tuntutan.

"Apakah kau merasa berbuat serong?" Rangga balik bertanya.

"Entahlah..., aku tak tahu..."

"Apakah ada sesuatu yang kurang darimu?"

"Kurasa aku baik-baik saja."

"Kalau memang begitu tidak ada masalah."

"Kalau seandainya...."

"Sudahlah! Jangan berpikir yang macam-macam!" tukas Rangga. "Yang penting kau telah selamat. Itu saja!"

Pandan Wangi tidak berkata-kata lagi. Langsung dipeluknya Rangga erat-erat, seperti tak ingin melepaskannya. Sementara Pendekar Rajawali Sakti sendiri hanya tersenyum lega. Dan dia yakin tak ada sesuatu pun yang terjadi terhadap Pandan Wangi...

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: SILUMAN BUKIT TENGGER
Thanks for reading Dewa Mata Maut I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »