Cakar Maut

CAKAR MAUT

SATU

DI PAGI yang masih berselimut embun, berjalan tiga orang laki-laki berpakaian serba kuning dengan langkah terburu-buru melewati pematang sawah. Salah seorang menjulurkan kepala ke sana kemari, mengawasi keadaan sekelilingnya. Tidak ada orang lain di tempat ini, kecuali dua orang petani yang mungkin terlambat menanami sawahnya. Padahal, padi di sawah-sawah lainnya telah tumbuh hampir dua jengkal.

Langkah ketiga laki-laki ini terhenti, ketika didepan pematang sawah berdiri lima lelaki lain yang masing-masing membawa pedang pendek. Tidak ada jalan lain, kecuali harus melewati mereka. Atau, kembali mundur!

Tapi, pilihan terakhir rasanya tidak mungkin dilakukan ketiga lelaki berpakaian serba kuning memakai ikat kepala warna kuning pula. Di dada masing-masing terlihat lambang perguruan bergambar rebung berwarna kuning. Dari sini bisa diduga kalau ketiganya berasal dari Perguruan Rebung Koneng.

“Bagaimana, Kang Banu?” tanya lelaki yang berada di tengah pada kedua kawannya yang berada di depan.

“Apa boleh buat, Dipa? Kita terpaksa melewati mereka...!” tandas laki-laki bernama Banu atau Banuwirya, mantap.

“Tapi mereka berlima!” laki-laki yang paling belakang mengingatkan.

“Lalu, apa kita harus turun ke sawah? Atau, mundur dan mengambil jalan memutar? Mereka pasti mengejek. Dan Guru tidak akan senang mendengarnya”

“Huh! Apa mau mereka sebenarnya? Mencari gara-gara saja!” umpat lelaki yang dipanggil Dipa. Nama sebenarnya adalah Dipayana.

“Jatmika! Dipayana! Bersiaplah!Kita harus melewati mereka!” ujar Banuwirya tegar.

Setelah membulatkan tekad, mereka segera melangkah dengan sikap waspada. Dada ketiga murid Perguruan Rebung Koneng berdetak kencang, seperti menanti sesuatu dengan tegang.

Sementara kelima laki-laki berpakaian serba hitam yang berdiri menghadang diujung pematang pura-pura tidak peduli. Padahal, mereka jelas menghalangi jalan ketiga murid Perguruan Rebung Koneng itu.

“Kisanak, tolonglah menepi. Kami hendak lewat,” ucap Banuwirya berusaha sopan ketika telah berada dua setengah tombak di depan kelima laki-laki bertampang seram itu.

“Lewat! Siapa yang melarang?” sahut salah satu penghadang yang berkepala botak.

“Bagaimana kami bisa lewat, bila kalian berdiri di situ?” kata Banuwirya mencoba tenang.

“Kau boleh lewat sesuka hatimu. Atau kalau perlu, turun ke sawah!”

Banuwirya menarik napas, dan berusaha menahan sabar. Kata-kata itu sama artinya penghinaan. Sebab ketiga murid Perguruan Rebung Koneng bukan tidak kenal dengan lima orang berpakaian serba hitam dengan lambang bergambar pedang dan kilat didada masing-masing. Mereka adalah murid-murid Perguruan Pedang Kilat.

“Kisanak. Kami tengah ada urusan. Harap kalian tidak mengganggu.” Kali ini Dipayana mencoba berbicara.

“Siapa yang peduli urusan kalian?” lecehnya.

“Kakang, kenapa mesti mengalah segala? Jelas mereka memang ingin cari gara-gara!” dengus laki-laki yang bernama Jatmika.

“Hei, hati-hati bicaramu!” sentak salah seorang murid Perguruan Pedang Kilat bertubuh gemuk, namanya Surokatil.

“Hai, Babi Busuk! Apa kau kira kami takut dengan kalian? Puih! Jangan berlagak di depan kami!” dengus Jatmika disertai semburan ludahnya.

“Bangsat!” maki Surokatil.

Wajah laki-laki bertubuh gemuk itu terlihat merah. Gerahamnya berkerotokan menahan geram. Demikian pula keempat kawannya. Seperti diberi aba-aba mereka langsung melompat menerjang tiga murid Perguruan Rebung Koneng.

Sring!

“Heaaat...!”

Melihat kelima murid Perguruan Pedang Kilat mencabut pedang, maka Banuwirya, Dipayana, dan Jatmika pun tidak kalah sigap. Segera serangan itu disambut dengan mencabut senjata masing-masing yang berupa pedang.

Wuuut! Trang!

Pertarungan seketika berlangsung sengit, namun terlihat tidak seimbang. Lima lawan tiga. Namun begitu murid-murid Perguruan Rebung Koneng sama sekali tidak merasa gentar. Mereka menghadapi kelima lawannya dengan semangat menyala-nyala.

Sayang, kepandaian ketiga murid Perguruan Rebung Koneng tidak lebih tinggi dibanding lawan-lawannya. Sehingga, pelan-pelan mereka terdesak hebat.

Seperti sekarang ini. Banuwirya tampak kewalahan menghadapi salah seorang yang membabatkan pedang pendeknya kedada. Cepat dia berusaha menggeser tubuhnya ke samping, lalu menangkis senjata laki-laki botak lawannya.

Trang!

Pada saat yang sama, laki-laki botak itu sudah memutar tubuh ke kiri. Bahkan langsung mengayunkan tendangan keras ke arah perut.

Duk!

“Aaakh...!”

Dipayana yang dikeroyok tampak juga kewalahan. Setelah berhasil menghindari satu serangan, maka lawan yang seorang lagi menyabetkan pedang ke lehernya dari belakang. Karuan saja, terpaksa dia menjatuhkan diri. Padahal saat itu lawan yang berada di depan tengah melayangkan satu tendangan menggeledek. Sehingga....

Begkh!

“Aaakh...!”

Tepat sekali tendangan itu menghajar dada Dipayana, membuatnya terpental ke belakang. Selang beberapa saat kemudian, nasib Jatmika tidak berbeda jauh. Ketika salah seorang membabatkan pedang ke dada, dengan cepat pedangnya dikebutkan.

Trang!

Dan baru saja Jatmika menguasai diri, seorang lawan yang lain mengayunkan tendangan ke pinggang belakang. Untung, Jatmika cepat bergeser ke kiri. Namun pada saat itu juga, pedang lawan yang berada didekatnya menyambar tanpa ampun.

Brettt!

“Aaakh...!” Murid Perguruan Rebung Koneng itu menjerit kesakitan ketika bagian perutnya tersayat pedang pendek, menimbulkan luka lebar.

“Bunuh sekalian...!” sentak Surokatil, memberi semangat.

Maka kelima murid Perguruan Pedang Kilat yang tengah dibakar amarah, agaknya tidak bisa menahan diri. Mereka bermaksud menghabisi lawan-lawannya secepat mungkin. Namun....

“Berhenti! Atau, kalian ingin mampus!”

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring melengking, membuat pertarungan berhenti sejenak. Belum juga kelima murid Perguruan Pedang Kilat hilang keterkejutannya, tahu-tahu sesosok tubuh bergerak cepat mendekati dengan gerakan jungkir balik.

“Tahan dia!” perintah Surokatil, begitu tersadar dari keterpukauannya.

Trang! Trang!

“Akh...!” Keempat murid Perguruan Pedang Kilat coba memapaki.

“Aaah...!” Dua orang kontan menjerit kesakitan dan terjungkal ke sawah begitu terjadi benturan senjata. Sementara dua lainnya tersentak kaget. Bahkan tahu-tahu, pedang ditangan mereka terpental entah ke mana.

“Imas Pandini! Agaknya kau mau ikut campur dalam urusan ini!” dengus Surokatil ketika melihat siapa sosok yang baru saja menjejakkan kakinya di tanah.

Dia adalah seorang gadis cantik berikat kepala kuning. Pedangnya yang terhunus diarahkan ke murid-murid Perguruan Pedang Kilat itu. Raut wajah gadis yang dipanggil Imas Pandini kelihatan sinis penuh amarah.

“Kalianlah yang lebih dulu memulai persoalan!” balas gadis itu dengan suara lantang.

“Huh! Orang-orangmu yang lebih dulu mencari gara-gara! Coba tanyakan pada mereka!” kilah Surokatil.

Imas Pandini menoleh pada ketiga murid Perguruan Rebung Koneng yang berusaha bangkit. Dan mereka segera mendekati gadis itu.

“Banuwirya! Apa benar yang dikatakan mereka?” tanya Imas Pandini.

“Tidak, Nyai. Merekalah yang menghadang kami di ujung tegalan itu!” sahut Banuwirya, disertai ringisan kesakitan.

“He, Monyet! Jangan berdusta. Kawanmu yang lebih dulu memaki. Padahal, kami tidak berbuat apa-apa!” sentak Surokatil.

“Itu karena kalian yang lebih dulu mencari gara-gara! Apa namanya jika menghadang di ujung pematang, kalau bukan mencari urusan? Padahal kalian tahu, kami akan lewat!” sahut Jatmika, tidak kalah garang.

“Sudah! Aku ingin persoalan ini tidak dilanjutkan! Pergilah kalian!” sentak Imas Pandini.

“Imas! Kau telah mencari urusan. Dan ini tidak bisa kami diamkan begitu saja!” sahut salah seorang murid Perguruan Pedang Kilat.

“Tutup mulutmu! Sudah jelas kalian mencari gara-gara. Dan kini malah mau memperpanjang urusan. Apakah kalian tidak melihat bahwa aku berusaha menyelesaikan persoalan?” bentak gadis itu.

“Huh! Itu karena kalian memang pengecut!”

“Kurang ajar!” Imas Pandini menggeram.

Namun gadis itu segera menghela napas panjang. Bukannya dia takut menghadapi mereka. Bahkan kalau menuruti amarah, ingin rasanya kepala kelima murid Perguruan Pedang Kilat itu ditebasnya. Namun sekuat mungkin amarahnya ditahan karena dikhawatirkan bisa menyulut perang besar di antara dua perguruan.

Selama ini permusuhan antara kedua perguruan itu telah berlangsung lama. Bahkan perang kecil-kecilan sering terjadi. Tidak ada yang tahu pasti, apa penyebabnya.

“Kenapa? Apa dikira kami takut?!” ejek Surokatil, sinis.

“Pergilah kalian. Dan, tidak usah memancing amarahku!” bentak Imas Pandini.

Surokatil terkekeh. “Dasar orang-orang pengecut! Di mana saja tetap pengecut. Setelah menyerang dari belakang, kini berlagak hendak menyudahi urusan seperti orang tidak bersalah.”

“Keparat!” dengus gadis itu menggigil menahan geram. Sepasang matanya melotot geram. Raut mukanya berkerut penuh amarah.

“Tidak perlu menakut-nakuti kami, Imas! Kami sama sekali tidak takut padamu!” tantang Surokatil.

“Baiklah kalau itu yang kalian inginkan. Biar kutunjukkan, bagaimana pengecut sepertiku mengurus kalian!” sahut gadis itu dengan suara ditekan sedemikian rupa.

Bet!

Imas Pandini melintangkan pedangnya didepan dada, siap menyerang. Sementara kelima orang itu pun tidak kalah sigap menyambut serangan.

“Nyai Imas! Lima lawan satu tidak seimbang! Biar kami bantu!” sahut Banuwirya seraya melompat ke samping gadis itu.

Tindakan laki-laki itu cepat diikuti Dipayana. Sementara Jatmika yang tengah terluka, mundur beberapa langkah ke belakang untuk memberi ruang gerak.

“Tidak perlu! Kalian bantu merawat luka Jatmika. Aku masih mampu menghadapi mereka!”

“Baiklah...,” sahut Banuwirya.

Tanpa banyak kata lagi Dipayana dan Banuwirya melangkah mundur. Mereka yakin akan kemampuan gadis itu, meski menghadapi lima orang sekaligus.

Memang, keyakinan itu bukan tanpa alasan. Dengan sekali bergerak menyerang, buktinya gadis itu kini berhasil menghajar Surokatil sampai kelabakan. Pedang di tangan murid Perguruan Pedang Kilat itu terpental. Bahkan dengan jungkir balik, dia harus menghindari tebasan-tebasan senjata Imas Pandini. Padahal pada saat yang sama, keempat kawannya berusaha mendesak. Tapi ketika gadis itu berbalik tiba-tiba, maka yang terjadi malah sebaliknya.

Trang! Cras!

“Uhhh...!” Dua kawan Surokatil mengeluh tertahan. Pedang mereka terpental dihantam senjata Imas Pandini. Bahkan ujung pedang itu terus meluncur deras, melukai dada tanpa bisa dielakkan. Masih untung gadis itu tidak bertindak kejam. Kalau mau, rasanya dada mereka akan robek hingga membuat tulang rusuk patah. Meski begitu dua murid Perguruan Pedang Kilat yang lainnya kelihatan tidak gentar. Mereka malah menyerang semakin kalap.

“Kurang ajar! Kau harus membalasnya. Perempuan Busuk!” bentak seorang murid Perguruan Pedang Kilat.

“Huh!” Imas Pandini hanya mendengus pendek, dan bersiap menyambut serangan dengan menyilangkan pedang.

Sementara Surokatil tidak tinggal diam. Dia langsung ikut membantu kedua kawannya dalam menyerang Imas Pandini.

“Heaaat...!”

Tring! Trang!

Namun meski telah mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki, tetap saja kelima murid Perguruan Pedang Kilat tidak mampu mendesak. Apalagi, menjatuhkan gadis itu. Bahkan dengan cepat keadaan berubah.

Pedang di tangan Imas Pandini bergerak cepat secara tidak terduga. Gerakan ini membuat dua murid Perguruan Pedang Kilat terkejut. Mereka berusaha menghindar, namun dengan cepat senjata gadis itu menghantam pedang-pedang mereka.

Trang! Trang!

Pedang-pedang itu terlepas dari genggaman. Gerakan Imas Pandini tidak cukup sampai di situ. Karena secepat itu pula, ujung pedangnya sudah menyambar ke tenggorokan.

“Hiiih!”

Melihat kedua kawannya terdesak, Surokatil coba membantu dengan menyerang dari belakang. Tapi mudah sekali Imas Pandini mengelak dengan membungkuk sambil bergeser ke kiri. Saat itu juga pedangnya berkelebat menyambar Surokatil.

Cras!

“Aaakh...!” Surokatil menjerit kesakitan begitu ujung pedang Imas Pandini merobek kulit perutnya. Pada saat yang sama, gadis itu telah melepaskan satu tendangan berputar.

Duk!

“Aaah...!” Kembali terdengar jeritan tertahan dari satu murid Perguruan Pedang Kilat ketika satu tendangan keras Imas Pandini tepat menghantam mukanya.

“Ayo, ke sini kau!” bentak Imas Pandini pada lawan berikutnya yang belum terkena hajarannya.

Orang yang dibentak memandang ke arah gadis itu dan kawannya bergantian. Nyalinya agak ciut. Tapi, dia malu menunjukkannya di depan keempat kawannya. Tapi kalau menyerang gadis ini, maka nasibnya tidak jauh berbeda dengan kawan-kawannya itu. Dia hanya maju mundur sambil menimang-nimang pedang.

Dan sebelum ada yang memulai, mendadak berkelebat satu sosok berpakaian serba hitam. Begitu cepat gerakannya, sehingga tahu-tahu sudah berada di depan Imas Pandini.

“Den Santang Praja...!” Begitu melihat siapa yang datang, Surokatil dan kawan-kawannya berseru girang.

Sementara, pemuda yang memiliki dahi lebar dan memakai ikat kepala merah itu memandang sinis pada Imas Pandini setelah melirik sekilas pada Surokatil dan keempat kawannya.

“Mereka telah menganiaya kami. Den...!” lapor Surokatil.

“Dasar bangsat! Kalianlah yang lebih dulu buat gara-gara, lalu memancing-mancing kemarahanku. Dan kini kalian hendak mengadu yang bukan-bukan! Apa kau kira aku takut dengan majikanmu itu, he?!” dengus Imas Pandini garang.

“Tidak usah membela diri, Imas. Bukti yang kulihat sudah jelas!” sahut pemuda bernama Santang Praja, dingin.

“Lalu, apakah kau tidak melihat bukti yang menimpa murid ayahku? Kalian memang pandai mencari gara-gara!”

“Jaga mulutmu!” sentak Santang Praja. Sepasang mata pemuda itu melotot lebar. Gerahamnya berkerotokan, menahan amarah.

“Hei, Santang Praja! Pertarungan antara perguruan kita tinggal beberapa hari lagi saja. Tapi kalau kau ingin mempercepatnya sekarang, jangan kira kami akan mundur!”

“Perempuan busuk! Kau kira aku tidak berani membunuhmu sekarang juga?!” dengus Santang Praja.

“Laki-laki bajingan! Tidak usah banyak bicara. Cabut pedangmu. Dan kita tentukan sekarang juga!” balas gadis itu dengan suara tidak kalah sengit.

Sraaang!

Santang Praja agaknya benar-benar tidak bisa menguasai amarah. Maka seketika pedangnya dicabut dan siap menyerang Imas Pandini. Tapi saat itu juga niatnya diurungkan ketika tahu-tahu ada satu sosok berlari ke arah murid-murid Perguruan Rebung Koneng.

Begitu tiba, jelaslah siapa yang datang. Ternyata seorang laki-laki berusia sekitar enampuluh tahun lebih. Kumisnya tipis, namun sudah berwarna putih. Kepalanya berikat kuning. Tubuhnya sedang dan tidak terlalu besar. Tangan kirinya terlihat menggenggam sebatang pedang bergagang kuning emas.

“Huh...!” Melihat kedatangan laki-laki itu dengan mendengus sinis Santang Praja mengajak Surokatil dan yang lainnya berlalu dari tempat itu.

Sementara orang yang baru datang itu tidak berkata apa-apa. Dan matanya hanya memandang sekilas seraya menarik napas panjang. Kemudian didekatinya Imas Pandini.

“Apa yang telah terjadi? Kenapa kalian terlibat bentrokan dengan mereka?” tanya laki-laki tua itu.

“Mereka yang buat gara-gara lebih dulu, Ayah! Tanyakan saja pada Banuwirya,” sahut Imas Pandini masih memendam perasaan jengkel terhadap pemuda tadi.

“Benar begitu, Banuwirya?”

“Benar, Guru! Mereka yang memulai lebih dulu,” sahut Banuwirya. Kemudian pemuda itu menceritakan persoalan yang sebenarnya terjadi dari awal.

Orang tua itu mengangguk, lalu kembali menarik napas panjang. “Mugeni tentu tidak akan menerima begitu saja.... Tapi, sudahlah! Ayo kita pulang...!”

“Tidak usah khawatir. Ayah! Kalau memang mencari gara-gara, sambut saja tantangan mereka!” dengus Imas Pandini.

“Pertarungan itu kian dekat. Dan kalau bisa, Ayah ingin agar itu tidak terjadi. Namun dengan adanya kejadian tadi, tentu semakin membuat mereka bertambah marah.”

“Huh! Apa hebatnya mereka?! Ayah tidak usah terlalu lemah, sebab mereka akan menganggap kita penakut!”

“Bukan itu yang Ayah pikirkan. Tapi, permusuhan ini tidak ada gunanya sama sekali....”

“Kita sudah cukup menawarkan persahabatan. Tapi, mereka malah menganggap kita kalah dan penakut! Kalau sudah begitu, sekalian saja hadapi. Apa mau mereka sebenarnya!”

Orang tua yang sebenarnya Ketua Perguruan Rebung Koneng itu terdiam. Agaknya, dia tahu kalau jiwa putrinya tengah diamuk amarah. Sehingga, tidak ada gunanya membicarakan permusuhan di antara dua perguruan itu.

********************

DUA

“Kurang ajar...!”

Bruak!

Sebuah meja bundar hancur dengan sekali gebrak, dihantam tangan kekar milik seorang laki-laki yang berusia sekitar enampuluh lima tahun. Dia lantas berjalan mondar-mandir menelusuri ruangan besar ini dengan kedua tangan masih terkepal. Sepasang matanya lebar, mukanya berkerut menahan amarah.

Sementara enam orang lain yang juga ada di ruangan ini hanya bisa menundukkan kepala tanpa ada yang berani mengangkatnya.

“Santang Praja! Benar apa yang dikatakan Surokatil?! Hm... kalau benar agaknya mereka sengaja mencari permusuhan dengan kita!” desis laki-laki tua berjubah hitam, dengan rambut putih yang panjangnya sebahu.

“Benar, Ayah! Mereka memang cari gara-gara!” sahut pemuda yang dipanggil Santang Praja.

Memang, orang tua berambut panjang sebahu adalah Ketua Perguruan Pedang Kilat yang dikenal dengan nama Ki Mugeni. Sedang pemuda yang dipanggil Santang Praja adalah putranya. Rupanya, Santang Praja bersama lima muridnya segera melapor kepada Ki Mugeni, tentang kejadian pagi tadi.

“Apa maunya tua keparat itu?”

“Kenapa Ayah masih bertanya-tanya lagi? Sudah jelas mereka hendak menunjukkan pada kita, bahwa perguruan merekalah yang lebih hebat!” sahut Santang Praja memanasi.

“Keparat!” maki Ki Mugeni kembali.

“Ayah tidak bermaksud menuntut balas terhadap kekurangajaran mereka? Coba lihat! Surokatil dan kawan-kawannya terluka. Ini akibat perbuatan anak perempuannya yang tidak tahu adat itu!” jelas Santang Praja, berusaha meyakinkan.

“Akan kuhabiskan mereka di arena pertarungan nanti!”

“Hm, terlalu lama. Perbuatan mereka hari ini tidak mendapat balasan apa-apa dari kita. Jangan-jangan mereka akan besar kepala. Bahkan menganggap kita sekumpulan orang penakut!” lanjut pemuda itu terus memanas-manasi orangtuanya.

“Tua bangka itu tidak akan berani berkata demikian, Santang!”

“Kenapa tidak? Bahkan tadi kata-katanya menjurus ke arah itu....”

“Apa katamu, Santang? Benar dia berkata seperti itu?”

“Kenapa aku mesti berdusta...?” sahut Santang Praja enteng.

“Keparat! Tua bangka itu memang tidak bisa diberi hati!” geram Ki Mugeni dengan sepasang mata semakin melotot.

“Nah! Sekarang, Ayah baru bisa merasakan apa yang kurasa saat ini. Mereka memang tidak bisa diberi hati.”

“Huh! Sekarang juga siapkan murid-murid lainnya! Kita hajar mereka!” dengus Ki Mugeni, kalap.

“Sebentar, Ayah! Aku ada rencana yang lebih matang.”

“Apa? Lekas katakan!” desak Ki Mugeni.

“Bukankah hari ini Kakang Brajadenta akan kembali bersama gurunya?”

“Hm, ya! Lalu?”

“Kami akan menjemputnya beramai-ramai.”

“Apa hubungannya dengan rencanamu itu?”

“Aku dengar, si Baladewa hari ini pulang dari bepergian. Kami akan menyergapnya. Dan pasti Ketua Perguruan Rebung Koneng akan melihat anaknya pulang dengan tubuh babak belur! Kemudian, setelah itu kami pergi menjemput Kakang Brajadenta. Sehingga mereka tidak bisa menyalahkan kita. Sebab, Ayah bisa memberi alasan bahwa kami pergi ke tempat lain,” jelas Santang Praja.

“Memalukan! Kau hendak mengeroyok anak itu?!”

“Aku pun sanggup menghajarnya seorang diri, bila Ayah menginginkan begitu!”

Ki Mugeni terdiam, seperti tengah berpikir.

“Kami akan mengenakan topeng, sehingga dia tidak mengenali. Sehingga pekerjaan menjadi cepat tanpa diketahui orang lain. Bisa saja aku menghadapinya seorang diri. Tapi kalau tiba-tiba ada yang melihat dan membantunya atau memisahkan kami, maka rencana untuk mempermalukan orangtuanya tidak tercapai. Lagi pula, belum tentu dia pulang seorang diri...,” jelas pemuda itu, membujuk ayahnya.

“Anak itu tidak bodoh. Dia pasti akan mengenali jurus-jurus yang kalian mainkan...,” sahut Ki Mugeni.

Suara orang tua berjubah hitam itu terdengar sumbang. Satu sisi rencana Santang Praja disetujuinya. Namun di sisi lain, Ki Mugeni bukanlah tokoh sesat. Dan dia tahu betul kalau pengeroyokan bukanlah tindakan seorang ksatria. Tapi, lebih tepat disebut sebagai perbuatan pengecut.

“Tidak! Ayah terlalu memandang tinggi pada mereka. Kalau jurus-jurus kita bisa dikenali sudah tentu sejak dulu tua bangka itu akan mengajarkan murid-muridnya untuk mengatasi jurus-jurus kita. Tapi nyatanya, toh mereka tetap saja bisa kita kalahkan!” kilah Santang Praja.

Ki Mugeni kembali terdiam. Meski putranya berusaha membujuk, tapi hatinya lebih berat untuk menyatakan tidak setuju.

“Ayah rasa tidak perlu! Pergilah kau menjemput Brajadenta. Dan, bawa beberapa orang murid. Tidak perlu kalian mencegat Baladewa. Ayah akan datang sendiri menemui Sanjaya untuk menanyakan persoalan ini!” ujar orang tua itu menegaskan.

“Tapi, Ayah....”

“Tidak perlu membantah, Santang! Kerjakan saja tugasmu!” sentak Ki Mugeni.

“Baiklah,” desah pemuda itu.

Santang Praja kesal bukan main, karena orang-tuanya tidak mendukung rencananya. Meski begitu di hadapan Ketua Perguruan Pedang Kilat ini dia sama sekali tidak bisa membantah!

********************

Siang ini udara terasa panas dan kering. Matahari bersinar garang, membuat padang rumput mulai meranggas. Namun, itu semua tidak menghalangi langkah seekor kuda coklat dengan seorang pemuda di atas punggungnya. Jalan yang dilalui lebih singkat dan cepat. Namun pemuda berbadan tegap dengan ikat kepala warna kuning itu sengaja berbelok dan mengambil jalan lain. Yaitu, lewat pinggiran hutan kecil. Di situ lebih teduh dan nyaman. Sepanjang perjalanan pepohonan yang berdaun lebat akan memayunginya.

Wajah pemuda berpakaian kuning itu tampak keruh. Beberapa kali keringat yang bercucuran diseka dengan punggung tangannya. Agaknya, dia telah melakukan perjalanan cukup jauh yang amat melelahkan. Demikian pula kuda tunggangannya. Sesekali hewan itu mendengus-dengus kelelahan. Baru saja pemuda berbaju kuning menelusuri jalan tepian hutan, mendadak....

“Hup!”

“Heh?!” Pemuda itu kontan terkejut ketika di depannya meloncat beberapa sosok tubuh dari cabang-cabang pohon, langsung menghadang perjalanannya. Kemudian menyusul beberapa orang lagi dari belakang. Rata-rata mereka bersenjata pedang dan memakai penutup muka warna hitam, seperti baju yang dikenakan.

“Berhenti kau...!” bentak salah seorang berpakaian hitam yang berada paling depan.

“Siapa kalian? Dan, apa yang kalian kehendaki dariku?” sahut pemuda itu berusaha menenangkan diri.

“Kau tidak perlu tahu, siapa kami! Yang kami inginkan adalah kepalamu!”

“Hm.... Bila kalian rampok, aku tidak punya sesuatu yang berharga selain nyawaku. Dan kalau itu yang kalian inginkan, maka tak semudah itu kalian merampasnya,” dengus pemuda berbaju kuning itu lantang.

“Bocah sombong! Kau akan mampus sekarang juga!”

Sring!

Orang yang bertopeng yang berada paling depan membentak nyaring. Dan setelah pedangnya dicabut, dia melompat menyerang pemuda berbaju kuning ini.

“Heaaat...!”

“Huh!”

Tapi pemuda berbaju kuning itu tidak kalah sigap. Dengan gerakan indah dan cepat, dia melompat dari punggung kudanya sambil mencabut pedang. Begitu kakinya mendarat di tanah, langsung dipapaknya serangan itu.

Trang!

Begitu habis berbenturan pedang, orang-orang bertopeng lainnya segera ikut melompat menyerang. Namun begitu pemuda berbaju kuning itu sama sekali tidak gentar. Sambil mengerutkan rahang, pedangnya diayunkan disertai segenap kelincahan yang dimiliki.

Lewat beberapa jurus, agaknya pemuda berbaju kuning itu masih mampu menahan serangan-serangan. Namun melewati jurus kesembilan, dia tampak terdesak hebat.

Ternyata orang-orang bertopeng kain hitam itu bukan semacam kawanan rampok berilmu rendah. Kepandaian mereka rata-rata hebat dan tidak berada di bawahnya. Sehingga meski telah mengerahkan segenap kemampuan, tetap saja pemuda itu terus terdesak. Bahkan....

Cras!

“Akh...!” Pemuda berbaju kuning itu mengeluh tertahan ketika salah satu senjata orang bertopeng berhasil melukai lengan kirinya. Namun begitu, dia masih mampu membungkuk. Sehingga serangan selanjutnya yang datang dari belakang, dapat dihindarkan. Demikian pula tebasan pedang yang datang dari kanan pun mampu dielakkan dengan melompat ke kiri sambil menangkis tusukan dari seorang yang berada di depan!

Tring!

Namun baru saja menangkis, orang bertopeng yang berada di sebelah kiri mengayunkan tendangan keras ke perut. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Begkh!

“Aaakh...!” Tendangan itu tidak mampu dielakkan pemuda berbaju kuning ini. Dia kontan menjerit keras dan terhuyung-huyung ke belakang.

Pada saat pemuda itu terhuyung-huyung dua orang bertopeng telah menyerang kembali. Dengan cepat dia menangkis salah satu serangan berupa kibasan tangan.

Plak!

Namun satu sodokan berupa tendangan bertenaga dalam kuat tak mampu dielakkan lagi. Pemuda berbaju kuning kontan terpekik. Tulang pinggangnya terasa patah akibat tendangan tadi.

“Kau rasakan hajaran kami, Bocah!” teriak salah seorang bertopeng hitam seraya melompat. Langsung dihajarnya pemuda berbaju kuning yang tengah terhuyung-huyung ke depan.

Des!

“Hugkh...!”

Pemuda berbaju kuning itu mengeluh kesakitan. Tubuhnya terjungkal ke depan ketika satu tendangan menghantam tengkuknya. Belum lagi dia menguasai diri, maka satu tendangan lagi menghajar dadanya.

Dugh!

Dan berikutnya pemuda itu menjadi bulan-bulanan. Tanpa mempedulikan jerit kesakitan yang berkali-kali keluar, orang-orang bertopeng itu terus menghajarnya tanpa belas kasihan sedikit pun. Namun....

“Aaah...!”

“Heh?!”

Mendadak mereka menghentikan siksaan itu ketika terdengar jerit kesakitan lain. Dan tahu-tahu salah satu orang bertopeng terpelanting, terjungkal mencium tanah.

Tidak jauh di depan pemuda berbaju kuning, berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Di punggungnya tersandang sebilah pedang berhulu kepala burung rajawali.

“Siapa kau, Keparat!” bentak salah satu orang bertopeng garang.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Yang jelas, aku paling tidak suka melihat pengecut-pengecut seperti kalian melakukan perbuatan rendah di depanku...,” sahut pemuda berbaju rompi putih itu.

“Kurang ajar! Rupanya kau belum tahu siapa kami, he?!”

“Aku tahu, kalian hanyalah pengecut hina,” jawab pemuda berbaju rompi putih itu, enteng.

“Setan!” Orang-orang bertopeng itu menjadi geram. Amarah mereka kian menggelegak dalam dada.

“Tidak usah banyak bicara! Bereskan dia!” teriak orang bertopeng lainnya.

Serentak, orang-orang bertopeng itu langsung mengepung pemuda berbaju rompi putih seraya menghunus senjata masing-masing.

“Dasar pengecut, tetap saja pengecut! Majulah. Tidak usah ragu-ragu!” dengus pemuda berbaju rompi putih yang tak lain Rangga alis Pendekar Rajawali Sakti.

“Yeaaa...!”

Serentak orang-orang bertopeng kain hitam itu menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan gencar. Namun dengan hanya meliuk-liukkan tubuhnya, Rangga mampu menghindari serangan. Tubuhnya berkelit di antara kelebatan senjata lawan-lawannya. Bahkan dengan sekali gebrak, orang-orang bertopeng itu dibuat kalang-kabut!

“Heaaat!”

Wuuut!

Dua batang senjata orang-orang bertopeng menyambar leher dan pinggang. Namun dengan gesit Pendekar Rajawali Sakti melompat ke atas menghindarinya. Dan setelah berjumpalitan, tubuhnya menukik tajam sambil mengayunkan tendangan.

Duk! Des!

“Akh...!” Dua orang kontan terjungkal dengan beberapa buah gigi rontok saat tendangan itu menghantam rahang bawah.

Pendekar Rajawali Sakti tidak berhenti sampai di situ. Tubuhnya langsung berkelebat menghampiri orang bertopeng yang berada di depan. Seketika tubuhnya berputar, lalu menghantamkan kepalan tangannya. Pada saat yang bersamaan, kaki kanannya berputar dan menghajar dua orang yang berada di sebelah kanan.

Pak! Tak!

“Akh...!” Tiga orang bertopeng kembali terjungkal disertai jerit kesakitan.

“Bajingan...!” maki salah satu orang bertopeng yang bertubuh tegap.

Kepandaian orang ini kelihatan di atas orang-orang bertopeng lainnya. Permainan pedangnya pun terhitung hebat. Namun begitu, tetap saja dia tidak mampu mendesak Pendekar Rajawali Sakti.

Wuuut! Plak!

Pedang orang bertopeng yang bertubuh tegap menyambar tempat kosong, begitu Pendekar Rajawali Sakti membungkuk. Bahkan Rangga kemudian bergerak cepat mendekatinya. Namun, orang bertopeng itu menyodokkan kepalan tangan kanannya. Seketika, Rangga menangkapnya dan menarik kebelakang dengan keras.

“Hih!” Saat itu juga, Rangga menghantamkan sikut kanannya ke leher orang itu.

Des!

“Akh...!”

Baru saja orang itu menjerit, dengan cepat Rangga menyambar topeng yang dikenakan.

Brettt!

Seketika, wajah orang itu terlihat jelas. Dan sebelum sempat berbuat apa-apa, Rangga telah menelikung sebelah tangannya ke belakang.

“Berontaklah yang kuat kalau ingin lenganmu patah!” ancam Pendekar Rajawali Sakti ketika merasakan orang itu berusaha melepaskan diri.

“Aaakh!” Orang itu memekik kesakitan ketika Rangga bermaksud membuktikan kata-katanya.

Melihat seorang berhasil diringkus Pendekar Rajawali Sakti, yang lainnya tidak berani bertindak. Dari sorot mata dan sikapnya, terlihat mereka ragu-ragu bertindak.

“Hm.... Rupanya aku tidak salah pilih. Kau kepala komplotan ini, bukan?” tanya Rangga tersenyum dingin.

“Huh! Apa pedulimu?”

“Orang sepertimu, baiknya memang cepat-cepat mampus!” dengus Pendekar Rajawali Sakti.

Mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti sebenarnya nyali orang itu kecut dan ciut. Namun hal itu tidak ditunjukkannya. Dia malah mendengus sinis. “Huh! Kau kira aku takut mati?”

“Berarti kau tidak takut mati? He, bagus sekali! Kalau begitu, biar kawanmu yang akan menggorok lehermu!”

Orang ini terdiam. Namun, tetap menunjukkan muka sinis.

“Kemari kau!” tunjuk Rangga pada salah seorang kawanan bertopeng.

“Kenapa kalian diam? Ayo, bunuh dia!” sentak pemuda bertubuh tegap yang tengah diringkus Pendekar Rajawali Sakti.

“Tapi...”

“Jangan pedulikan aku! Serang dia! Bunuh...!”

Meski ragu-ragu, namun akhirnya mereka bergerak juga hendak menyerang.

“Heaaa...!”

“Hm.... Apakah kalian juga ingin mengiringi kematiannya?!” kata Pendekar Rajawali Sakti seraya memungut pedang lawannya.

Wuuut!

Trang! Trak!

Tanpa bergeser dari tempatnya, pemuda itu menangkis serangan lawan-lawannya. Bahkan mampu mematahkan beberapa batang pedang. Dan....

Bret!

“Aaakh...!”

Dua orang bertopeng kembali menjerit kesakitan. Ujung pedang di tangan Rangga berhasil melukai dada mereka. Bukan hanya itu. Senjata di tangan pemuda berbaju rompi putih itu pun berhasil merobek topeng yang dikenakan.

“Inikah wajah-wajah pengecut itu? Kenapa kalian bersembunyi di balik topeng ini? Atau karena malu pada diri sendiri, karena bertindak pengecut?!” ejek pemuda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu.

Sebagai jawabannya, justru orang-orang bertopeng lainnya menyerang dengan ganas. Kalau tadi mereka sedikit ragu-ragu, karena takut bila kawannya yang diringkus digunakan sebagai tameng. Tapi ternyata hal itu tidak dilakukan Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga, mereka tidak merasa khawatir akan keselamatan kawannya.

“Heaaat...!”

Melihat itu, Pendekar Rajawali Sakti kelihatan gusar. Ditotoknya orang yang ditelikungnya tadi, hingga tak berdaya. Lalu dengan gerakan dahsyat Rangga melompat menghadapi lawan-lawannya.

Trang! Trak!

“Uh...!”

Pedang di tangan Pendekar Rajawali Sakti, menyambar senjata-senjata lawan hingga patah atau terpental. Kemudian secepat kilat, pedang itu menyambar ke arah mereka.

Orang-orang bertopeng itu kontan pontang-panting menghindarkan diri. Tiga orang berhasil dilukai Pendekar Rajawali Sakti. Meski tidak parah, namun cukup membuat ciut nyali yang lainnya. Apalagi pada waktu singkat, kembali dua kawannya yang lain mendapat giliran.

Trak! Bret!

“Aaakh...!”

Setelah mematahkan pedang mereka, maka senjata di tangan Pendekar Rajawali Sakti menyambar ke dada lawan-lawannya. Keduanya memekik kaget dan kesakitan. Melihat hal ini yang lain tidak lagi menyerang. Mereka diam terpaku dengan sikap ragu-ragu.

“Pergilah. Dan, bawa kawan kalian itu! Hari ini masih kuampuni jiwa busuk kalian!” hardik Pendekar Rajawali Sakti, mengancam.

Tanpa menunggu lama-lama lagi, mereka segera angkat kaki seraya membawa kawannya yang tertotok.

********************

TIGA

Setelah memanggil kudanya dengan satu siulan, Pendekar Rajawali Sakti menghampiri pemuda berpakaian kuning yang tadi dikeroyok kawanan bertopeng itu. Tepat ketika kuda hitam bernama Dewa Bayu muncul, Rangga menyandarkan pemuda yang ditolongnya di bawah sebatang pohon. Kuda Dewa Bayu tampak mendengus-dengus sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Pendekar Rajawali Sakti, sambil berjongkok di depan pemuda itu.

“Eh, tidak. Aku masih kuat bertahan...,” sahut pemuda berbaju kuning itu sambil meringis, menahan sakit.

“Siapa namamu?” tanya Rangga lagi.

“Baladewa....”

“Aku Rangga.”

“Terima kasih atas pertolonganmu. Kau hebat sekali. Aku yakin, kau bukan tokoh sembarangan,” ucap pemuda yang ternyata bernama Baladewa.

“Aku hanya pengembara biasa,” sahut Rangga, sambil tersenyum.

“Dari pakaian dan penampilanmu, rasanya kau bukan pengembara biasa. Kau pasti salah seorang pendekar hebat. Kalau boleh tahu, siapa kau ini sebenarnya? Dan, apa julukanmu dalam dunia persilatan.”

Rangga sebenarnya enggan menyombongkan diri dengan menyebut julukannya. Tapi Baladewa terus memaksa. Sehingga, dia terpaksa menyebutkannya.

“Pendekar Rajawali Sakti?! Oh! Apakah aku tidak salah dengar?!” seru Baladewa kaget dengan bola mata terbelalak.

“Kenapa, Baladewa? Tidak ada yang ajaib dari julukan itu, bukan?”

“Ah! Kau terlalu merendah, Pendekar Rajawali Sakti! Benar dugaanku. Kau memang bukan tokoh sembarangan. Julukanmu menjulang setinggi Gunung Mahameru. Dan aku hanya seperti seekor semut di depanmu!”

“Jangan berkata begitu, Baladewa. Aku sama sepertimu. Dan, panggillah aku Rangga,” pinta Pendekar Rajawali Sakti penuh harap.

“Tidak, Pendekar Rajawali Sakti! Kepandaianmu lebih tinggi dibandingkan denganku. Terimalah rasa hormatku!” ucap Baladewa seraya menjura hormat.

Tapi Rangga buru-buru mencekal kedua bahu Baladewa. “Apa-apaan ini? Jangan keterlaluan, Baladewa. Jangan berlebihan menghormatiku....”

“Aku sering mendengar cerita tentangmu dari orang-orang. Juga dari ayahku sendiri. Sejak itu rasanya aku ingin bertemu denganmu, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, kata orang-orang kau sulit ditemui.”

“Tapi nyatanya hari ini kau bertemu denganku.”

“Ya. Dan aku senang sekali!”

“Tapi, aku tidak bisa berlama-lama, Baladewa.”

“Sayang sekali. Padahal aku ingin minta pertolonganmu.”

“Pertolongan apa?”

“Maukah kau membantu kami memerangi mereka?”

“Mereka siapa yang kau maksud?”

“Orang-orang tadi.”

“Kau mengenal mereka?”

Baladewa mengangguk. “Semula aku tidak tahu, sebab mereka yang menyerangku bertopeng. Tapi setelah kau mencopot topeng salah seorang, aku jadi tahu siapa mereka....”

“Siapa mereka sebenarnya? Dan ada masalah apa kau dengan mereka hingga timbul kejadian tadi?!” desak Rangga.

“Mereka murid-murid Perguruan Pedang Kilat yang dipimpin Ki Mugeni. Yang tadi kau ringkus dan kau totok adalah putra bungsunya. Namanya, Santang Praja. Antara perguruan mereka dengan perguruan yang dipimpin ayahku, telah lama terjadi permusuhan. Adapun maksud kejadian tadi, aku sama sekali tidak tahu-menahu. Aku baru pulang dari mengunjungi salah seorang kenalan ayahku. Dan tiba-tiba, mereka mencegat begitu saja,” jelas Baladewa.

Rangga mengangguk mendengar penjelasan itu. “Ini persoalan antar perguruan kalian dengan mereka. Aku tidak bisa memihak salah satu perguruan sebelum tahu benar persoalannya. Dan untuk itu, aku tidak bisa menolongmu, Baladewa.”

“Selama ini ayahku sudah sering mencoba berdamai. Tapi, mereka menolak dan menganggap kami penakut. Sudah barang tentu penghinaan itu membuat murid-murid ayah berang. Lalu secara diam-diam, mereka menantang murid-murid Perguruan Pedang Kilat. Tapi, sesungguhnya mereka mengharapkan hal itu. Orang-orang Perguruan Pedang Kilat sengaja memanas-manasi dan mencari-cari persoalan untuk membuat kami marah. Tolonglah, Pendekar Rajawali Sakti! Dengan adanya kau, tentu mereka tidak berani macam-macam lagi,” lanjut Baladewa.

“Maaf, Baladewa. Persoalan tidak sesederhana itu. Bukan aku tidak mempercayaimu. Tetapi rasanya aku perlu bicara dengan mereka,” sergah Rangga halus disertai senyum manis.

“Mereka pandai sekali bersilat lidah! Bahkan banyak di antara kawan-kawan ayahku yang telah dipengaruhi, dan tidak mau berpihak pada ayahku lagi. Mereka semua memberi dukungan pada Perguruan Pedang Kilat!” tambah Baladewa berapi-api.

“Apakah Demikian pintarnya orang-orang Pedang Kilat itu, sehingga hampir semua kawan ayahmu berpihak pada mereka?” tanya Rangga, sedikit tidak percaya.

Baladewa mendesah kesal. “Agaknya kau tak percaya dan menganggap ceritaku bohong,” keluh pemuda berbaju kuning ini.

“Tidak begitu, Baladewa. Tapi sepertinya, ini soal antara kalian berdua. Mungkin juga soalnya pribadi. Sehingga mana bisa aku ikut campur....”

Baladewa tersenyum getir. Hatinya masygul mendengar jawaban sahabat barunya. “Agaknya mungkin telah ditakdirkan, bahwa kami akan menerima semua kekalahan dan rasa malu ini...,” desah Baladewa, lirih.

Rangga tersenyum sambil menepuk-nepuk bahu Baladewa. “Mungkin masih ada jalan bagimu, Baladewa.”

“Tidak. Besok adalah pertarungan di antara kami akan berlangsung. Hal ini telah disepakati kedua belah pihak, untuk menyelesaikan pertikaian yang selama ini terjadi. Ayah menyuruhku menemui beberapa kawan-kawannya untuk mencari dukungan. Tapi, mereka pura-pura tidak mau ikut campur. Padahal, sesungguhnya mereka telah memberi dukungan kepada Ki Mugeni...,” jelas Baladewa, dengan suara penuh tekanan.

“Hm. Jadi di antara kalian akan terjadi pertarungan?”

Baladewa mengangguk.

“Apakah kalian tidak yakin bisa mengalahkan mereka?”

“Entahlah. Mungkin, sesuai yang telah direncanakan ayahku dan Ki Mugeni, pertarungan akan dilakukan secara jujur. Beberapa murid utama akan saling berhadapan. Dan aku sendiri mungkin akan berhadapan dengan Santang Praja. Tapi, ada hal yang membuat ayahku gelisah belakangan ini.”

“Tentang apa?” tanya Rangga dengan kening berkerut.

“Ki Mugeni bukan saja mendapat dukungan dari beberapa tokoh persilatan. Tapi, juga mendapat bantuan khusus dari salah seorang tokoh sesat bernama Ki Rampengan,” jelas Baladewa lagi. Terdengar serak suaranya.

“Ki Rampengan yang bergelar si Cakar Maut?” tanya Rangga, meyakinkan pendengarannya.

“Agaknya kau pun mengenal namanya....”

“Siapa yang tidak kenal tokoh itu. Dia amat terkenal dengan kehebatan jurus-jurus ‘Cakar Maut’nya.”

“Ya! Itulah yang membuat ayahku masygul. Sebab, salah seorang putra Ki Mugeni yang bernama Brajadenta, adalah salah seorang muridnya.”

“Apakah dia akan ikut bertarung juga?” tanya Rangga makin penasaran.

“Ya. Kabarnya, dia akan pulang hari ini bersama gurunya. Nanti, Brajadenta akan menghadapi kakakku Imas Pandini. Aku khawatir, kakakku akan celaka di tangannya,” keluh Baladewa, lirih. Untuk beberapa saat pemuda berbaju kuning itu menghentikan ceritanya. Dan dia lantas tertunduk.

Rangga bukannya tidak terhanyut oleh cerita kawan barunya ini. Bahkan kecemasan yang dibayangkan Baladewa bisa dimengertinya. Namun ikut campur tangan kemudian membantu mereka seperti yang diinginkan Baladewa, rasanya tidak mungkin. Belum jelas benar persoalan di antara mereka. Dan, pihak siapa sebenarnya yang benar atau yang salah? Mungkin dua-duanya benar. Atau, sebaliknya. Kalau dia coba cari keterangan, bisa jadi bukan memperjernih persoalan. Bahkan memperkeruh keadaan.

“Ayo, ikut aku!” ajak Pendekar Rajawali Sakti seraya berdiri.

“Ke mana?” tanya Baladewa, ikut berdiri dengan sikap tak mengerti.

“Ikut saja!” desak Rangga, lantas berdiri. Segera diambilnya tali kekang Dewa Bayu, lalu menuntunnya.

Baladewa meski tidak mengerti apa yang diinginkan Pendekar Rajawali Sakti, menurut saja. Setelah menghampiri kudanya, segera diikutinya langkah Rangga.

Ternyata Rangga membawa Baladewa ke tempat yang agak terlindung, tak jauh dari tempat tadi. Kemudian di bawah sebatang pohon yang cukup rindang, mereka duduk. Disuruhnya Baladewa berbalik hingga memunggunginya.

“Lepaskan semua pikiran yang ada di benakmu. Dan, tahan agar kau tidak mengadakan perlawanan,” lanjut Pendekar Rajawali Sakti seraya menempelkan telapak tangan kiri ke punggung Baladewa.

“Apa yang akan kau lakukan? Kau ingin menambah tenaga dalamku?” tanya Baladewa, seperti mengerti apa yang akan dilakukan Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti mengangguk, seraya menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung Baladewa.

Wajah Baladewa berseri-seri. Pikirannya segera dipusatkan pada satu titik. Semua beban pikiran yang selama ini berkecamuk dalam benaknya dihilangkan. Maka perlahan-lahan tapi pasti, terasa mengalir hawa hangat yang berputar-putar cepat menuju bagian bawah pusarnya. Terasa bergolak seperti air yang tertuang dari sebuah wadah. Kemudian dari situ, memancar ke segala penjuru bagian tubuhnya dengan cepat.

Baladewa semula merasakan isi tubuhnya seperti disengat kalajengking. Kalau saja dia tidak ingat pesan Pendekar Rajawali Sakti, ingin rasanya menghalau rasa sakit yang terasa dalam tubuhnya. Tapi dia tahu akibatnya, yaitu tenaga dalam Pendekar Rajawali Sakti yang lebih kuat akan mendorong tenaga dalamnya. Dan itu akan berakibat sangat berbahaya bagi dirinya.

Beberapa saat kemudian, penderitaan Baladewa berakhir. Rangga menarik napas panjang, lalu mengatur pernapasannya untuk sesaat. Sedang Baladewa merasa tubuhnya segar dan enteng. Luka dan rasa sakit yang dideritanya tadi, seperti tidak terasakan lagi.

“Sekarang perlihatkan padaku jurus-jurus yang kau miliki. Akan kulihat kekurangan-kekurangannya. Kemudian akan kutunjukkan padamu, bagaimana cara memperbaikinya” ujar Pendekar Rajawali Sakti.

“Kau bersungguh-sungguh, Pendekar Rajawali Sakti?!” seru Baladewa seperti tidak percaya dengan pendengarannya.

“Jika kau memanggilku Rangga, aku akan bersungguh-sungguh,” kata Pendekar Rajawali Sakti, mengajukan syarat, karena jengah dipanggil dengan sebutan Pendekar Rajawali Sakti.

“Baiklah, Pend... eh! Rangga!”

Tak lama, Baladewa mulai memperlihatkan jurus-jurus yang dimilikinya dari awal hingga akhir. Kemudian, setelah itu Rangga memberikan saran-saran perbaikan, setelah mengamatinya. Pendekar Rajawali Sakti pun memberikan beberapa gerakan yang mampu mengecoh tanpa disadari lawan.

********************

Santang Praja diam membisu. Tidak ada lagi alasan baginya untuk membela diri dari amarah Ki Mugeni, ayahnya. Masih untung saat itu, Ketua Perguruan Pedang Kilat ini kedatangan beberapa orang tamu. Kalau tidak, tentu putra bungsunya itu akan panas mendengar amarah dan makiannya.

“Sudahlah, Ki. Tidak perlu rasanya bersikap keras begitu pada anak. Lagi pula dia tidak terlalu salah,” ujar salah seorang tamu yang bertubuh kurus dengan sorot mata tajam. Kulitnya yang hitam, semakin menambah keangkerannya.

“Bagaimana aku tidak kesal, Ki Rampengan? Padahal aku telah datang menemui Ki Sanjaya dan menyalahkan murid-muridnya. Tapi, kini malah putraku sendiri yang membuat ulah!” jelas Ketua Perguruan Pedang Kilat itu bersungut-sungut di ruang pribadinya.

Ditempat itu telah ada dua tokoh lainnya. Yang seorang bertubuh kurus berjanggut panjang telah memutih. Orang ini bernama Ki Sadang, bergelar Musang Berjanggut. Sementara seorang lagi memakai ikat kepala hitam. Tubuhnya sedang, namun berotot kuat. Namanya Ki Pintur, bergelar Serigala Jinak.

Diantara mereka, kelihatannya Ki Rampengan memang paling berpengaruh. Laki-laki ini adalah guru, bagi putra tertua Ki Mugeni yang bernama Brajadenta. Dia juga turut hadir di ruangan ini, bersama beberapa orang murid utama Perguruan Pedang Kilat.

Ki Mugeni menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan amarahnya dalam menghadapi ketiga tamunya. Yang jelas dia tidak ingin kemarahannya pada Santang Praja sampai terbawa-bawa dalam pembicaraan nanti.

“Bagaimana rencana pertandingan esok hari, Ki Mugeni?” tanya laki-laki kurus berkulit hitam yang bernama Ki Rampengan.

“Telah kami sepakati bersama. Dan, tidak akan berubah.”

“Siapa yang menjadi penengahnya?”

“Ki Selopati.”

“Hm, Dewa Tangan Delapan...?” gumam Ki Rampengan.

“Benar, Ki.”

“Bukankah menurutmu dia pernah hendak mendamaikan kalian berdua?”

“Ya! Aku menolaknya dengan mengemukakan alasan. Dan dia mengerti, hingga akhirnya bersedia menjadi penengah. Dia juga berjanji akan menjadi wasit yang adil dalam pertandingan besok,” jelas Ki Mugeni.

“Mereka tidak pernah menghubunginya?”

“Pernah....”

“Menurutmu, dia condong berpihak ke mana?”

“Aku tidak melihat tanda-tandanya. Kelihatannya, Ki Selopati berusaha menjadi penengah yang baik.”

Ki Rampengan terdiam beberapa saat. Sementara, semua pun terdiam, sehingga suasana jadi hening.

“Apakah Ki Rampengan bermaksud turun tangan dalam pertandingan besok?” tanya Ki Mugeni, memecahkan keheningan.

“Kalau tua bangka itu menyinggung-nyinggung kehadiranku, biar kujajal ilmunya!” sahut Ki Rampengan, mantap.

“Tidak usah, Ki. Biar dia menjadi bagianku,” sela Ki Mugeni.

“Persoalan kalian, harus selesai esok hari. Bila tidak, maka bisa berkepanjangan!” tegas Ki Rampengan.

“Tentu saja, Ki. Telah lama hal ini kunanti-nantikan.”

“Biar dia tahu diri, dan tidak jadi besar kepala!” timpal Ki Rampengan yang terkenal berjuluk si Cakar Maut.

“Siapa saja yang mendukung mereka?” tanya Ki Sadang.

“Sejauh ini belum ada,” sahut Ki Mugeni.

“Menurut murid-murid ayah, mereka mencoba menghubungi beberapa kenalannya. Kebanyakan, mereka agaknya tidak bersedia ikut campur sebab menyadari bahwa ini persoalan pribadi,” sahut Brajadenta yang sejak tadi diam saja.

“Rupanya mereka tahu diri, bahwa tidak ada gunanya membantu si Sanjaya itu!” sambung Ki Rampengan.

“Dengan begitu jalanmu akan mulus untuk memenangkan pertandingan besok, Ki Mugeni!” tambah Ki Sadang, memberi semangat.

“Terima kasih....”

“Dan kau, Brajadenta! Apakah yakin mampu mengalahkan putri si Sanjaya itu?” tanya Ki Rampengan.

“Akan kukalahkan dia dengan mudah!” sahut pemuda itu, mantap.

“Ha-ha-ha...! Tidak percuma kau menjadi murid si Cakar Maut!” seru Ki Mugeni disertai tawa bangga.

Mendengar pujian itu, Ki Rampengan tersenyum bangga.

“Dan Santang Praja?” tanya Ki Sadang.

Mendengar nama putranya yang seorang lagi disebut, senyum Ki Mugeni seketika hilang. Kekesalannya tadi, agaknya masih tersisa.

Santang Praja yang juga hadir di ruangan itu bukannya tidak menyadari kekesalan ayahnya. Sejak tadi kepalanya hanya menunduk saja.

“Aku tidak akan mengecewakan ayahku,” desah Santang Praja, akhirnya.

“Kau harus mengalahkan lawanmu!” tandas Ki Rampengan.

“Ya!” sahut pemuda itu mengangguk.

“Kalau kau kalah darinya, lebih baik tidak usah menjadi anakku!” ancam Ki Mugeni.

Pemuda itu menunduk.

“Jangan terlalu keras, Ki. Santang Praja tidak mutlak salah....”

Mendengar pembelaan Ki Rampengan itu, Ki Mugeni agaknya tidak berusaha untuk terus memuntahkan kekesalannya. Terlebih lagi, ketika Brajadenta mencairkan suasana.

“Menurut Santang Praja, mereka bertemu seorang tokoh muda yang membela Baladewa. Apakah Ayah mengenalnya?”

“Tidak.”

“Rasa-rasanya aku ingat tokoh yang diceritakan Santang Praja,” sahut Ki Rampengan, sambil mengingat-ingat sesuatu.

“Siapa, Ki?” tanya Ki Sadang.

“Pendekar Rajawali Sakti! Ya! Dialah orangnya!” seru si Cakar Maut menegaskan.

“Pendekar Rajawali Sakti? Hm.... Pantas Santang Praja dan yang lain dibuat bulan-bulanan,” gumam Brajadenta.

“Dia pendekar besar dan berkepandaian hebat. Kalau Baladewa meminta bantuannya, maka keadaan kita tidak akan menguntungkan,” sambung Ki Sadang, masygul.

“Ki Sadang! Bicara apa, Kisanak?! Meski seribu Pendekar Rajawali Sakti yang membantu mereka, kita punya si Cakar Maut di sini. Apakah Kisanak hendak merendahkan beliau?!” seru Ki Mugeni kesal.

“Maaf, Ki Mugeni. Bukan maksudku merendahkan Ki Rampengan. Aku hanya sekadar menyampaikan, apa yang sering dibicarakan orang-orang.”

“Berita terkadang terlalu dilebih-lebihkan. Dan kita tidak usah khawatir. Pendekar Rajawali Sakti hanya anak kemarin sore. Buat apa ditakutkan?!” sambung Ki Rampengan.

Nada bicara orang tua itu tampak sinis, dengan mata memandang tajam pada Ki Sadang. Sepertinya, dia tidak senang karena merasa dikecilkan.

Ki Sadang sendiri jadi salah tingkah, dan tidak enak hati. Namun dalam suasana seperti itu, lagi-lagi Brajadenta buka suara dan mencairkan suasana.

Meski bergurau pada si Cakar Maut yang penaik darah dan sering mau menang sendiri, ternyata tidak membuat pikiran Brajadenta sempit. Pemuda itu kelihatan pintar, dan pandai menciptakan suasana yang akrab. Sehingga pelan-pelan suasana yang tadi tegang, kembali seperti semula. Penuh persahabatan.

EMPAT

Bukan main cemas dan khawatirnya Imas Pandini, ketika menyongsong Baladewa di gerbang depan. Tampak wajah Baladewa masih terlihat memar, bekas luka.

“Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya gadis itu.

“Sudahlah... Aku tidak apa-apa,” sahut Baladewa, berusaha menyembunyikannya.

Pemuda itu segera turun dari punggung kudanya. Kemudian salah seorang murid mengambil kudanya untuk dibawa ke dalam istal.

Sementara Imas Pandini agaknya masih penasaran. Segera diikutinya langkah adiknya yang langsung memasuki bangunan utama Perguruan Rebung Koneng.

“Mereka, bukan? Orang-orang Perguruan Pedang Kilat itu?!” tuding Imas Pandini yakin, sambil menjajari langkah Baladewa.

“Sudahlah.... Aku tidak merasakan apa-apa. Eh! Ada cerita menarik yang akan kuceritakan!” sahut Baladewa, kalem.

“Baladewa! Jangan mengalihkan perhatian! Ceritakan pada kami, siapa yang telah menganiayamu?”

Pemuda itu menarik napas panjang begitu tiba di ruangan besar tempat ayahnya menunggu. Diliriknya gadis itu beberapa saat. Kemudian kepalanya berpaling pada ayahnya yang duduk di kursi mengawasi mereka. Dan pemuda itu segera menjura memberi hormat pada Ki Sanjaya, Ketua Perguruan Rebung Koneng yang sekaligus ayahnya.

Kemudian Baladewa menceritakan semua yang terjadi terhadap dirinya, termasuk pertemuannya dengan Pendekar Rajawali Sakti. Semula semua yang mendengarkan tampak diliputi kegeraman. Namun ketika nama Pendekar Rajawali Sakti disebut-sebut, Ki Sanjaya langsung melengak kaget.

“Pendekar Rajawali Sakti?” sebut Ki Sanjaya sedikit berseri wajahnya, begitu Baladewa selesai dengan ceritanya.

Sementara Imas Pandini serta murid-murid Perguruan Rebung Koneng lainnya yang hadir di ruangan ini, seperti hampir tak percaya mendengar cerita Baladewa.

“Iya. Memang dia! Hanya sayang. Pendekar Rajawali Sakti tidak bersedia membantu kita,” sahut Baladewa cepat. Seketika air muka pemuda itu muram ketika melanjutkan kata-katanya.

“Sudahlah. Kita akan menghadapi mereka dengan segala kemampuan yang dimiliki,” desah Ki Sanjaya, berusaha menanamkan rasa percaya diri pada anak-anaknya dan murid-muridnya.

“Tapi dia memberiku pelajaran-pelajaran yang berharga, Ayah.” Kembali Baladewa menceritakan pengalamannya bersama Pendekar Rajawali Sakti.

“Wah! Kau sungguh beruntung, Baladewa!” seru salah seorang murid utama, setelah Baladewa menyelesaikan ceritanya. Orang ini bernama Wiriaraja, salah seorang murid utama Ki Sanjaya.

“Ya! Kau sungguh beruntung!” sahut yang lain, bernada gembira.

Ki Sanjaya pun bukan tidak merasakannya. Sehingga wajahnya kian berseri-seri saja.

“Dengan begitu, agaknya kau telah menjadi murid Pendekar Rajawali Sakti. Apakah kau tidak lupa tata krama menghormati guru?” tanya Imas Pandini.

“Tentu saja tidak! Aku menganggapnya sebagai guruku. Dan aku memberi hormat sebagaimana mestinya. Tapi dia menolak. Bahkan menganggapku sebagai kawan biasa saja,” jelas Baladewa.

“Hm.... Dia adalah pendekar yang rendah hati,” sambung Ki Sanjaya lirih.

Murid-murid Perguruan Rebung Koneng mengangguk membenarkan. Demikian pula Baladewa dan Imas Pandini.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Malam telah semakin larut. Hampir semua penghuni Perguruan Rebung Koneng terlelap dibuai mimpi. Pekarangan kelihatan sepi. Dua orang murid tampak tengah berjaga di dekat pintu gerbang. Entah apa yang tengah dikerjakan dalam gubuk kecil yang digunakan sebagai pos kecil itu.

Di beranda depan bagian atas bangunan perguruan ini Ki Sanjaya menarik napas dalam-dalam dengan kedua tangan terlipat di dada. Tangan kanannya menggenggam sebilah pedang yang warangkanya terbuat dari bambu kuning. Lama dia termenung. Sesekali kepalanya mendongak ke langit, memandangi bintang-bintang yang berkelip-kelip. Kemudian kembali memandang kosong ke depan seraya menghela napas.

“Kenapa Ayah tidak tidur?”

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan orang tua berusia enampuluh empat tahun itu. Orang tua itu berbalik. Dan dia tersenyum lebar melihat Imas Pandini berdiri. Kemudian, gadis itu mendekat.

“Tidak apa-apa. Ayah hanya belum mengantuk. Kau sendiri, kenapa belum tidur?!” tanya Ki Sanjaya, balik bertanya.

“Sama seperti Ayah. Aku pun belum mengantuk,” sahut Imas Pandini, pelan.

Ki Sanjaya menarik napas panjang. Dipandanginya putrinya ini sesaat. Kemudian perhatiannya dialihkan pada bintang-bintang di langit.

“Ayah kelihatan gelisah,” usik gadis itu.

“Kau melihatku begitu?” kata orang tua itu tersenyum, seraya memandang kembali pada putrinya.

“Ayah memikirkan pertarungan esok hari?” duga putrinya itu.

Ki Sanjaya kembali menarik napas panjang, kemudian mengangguk perlahan.

“Soal apa? Apakah Ayah tidak pasrah dengan apa yang akan terjadi esok hari?”

“Justru itu yang kupikirkan. Termasuk, kalian....”

“Kami baik-baik saja. Ayah tidak usah khawatir!”

“Entahlah, mereka cukup kuat. Aku khawatir, kalian tidak akan kuat menanggung malu menelan kekalahan,” desah Ki Sanjaya, seperti hilang semangatnya.

“Kami telah pikirkan soal itu. Lagi pula Ayah tidak perlu berkecil hati. Bukankah kemajuan Baladewa amat pesat? Dia pasti mampu mengalahkan lawannya,” tandas Imas Pandini.

“Mungkin saja. Tapi, kau sendiri...?”

“Aku tidak apa-apa. Aku siap menghadapi siapa pun!”

“Brajadenta bukan lawan ringan, Anakku. Dia murid si Cakar Maut. Sudah menjadi cerita sejak ratusan tahun lalu, jurus-jurus ‘Cakar Maut’ tak tertandingi. Cepat dan kejam. Aku khawatir terjadi hal-hal buruk terhadapmu.”

“Sebaiknya Ayah singkirkan jauh-jauh prasangka itu. Aku mampu menghadapinya, meski dia memiliki jurus-jurus pemberian dewa sekalipun!”

Ki Sanjaya tersenyum seraya memegang kedua bahu putrinya. “Kau masih hijau, Nak. Kau belum banyak tahu, bagaimana hebatnya jurus-jurus ‘Cakar Maut’ yang telah menjadi cerita sejak dahulu, siapa pun yang menguasai jurus-jurus itu, selama ini belum terkalahkan. Kalau Brajadenta bisa menjadi murid Ki Rampengan, itu tidak lain karena di antara keluarga mereka ada hubungan saudara,” jelas Ki Sanjaya.

“Demikian hebatnyakah jurus-jurus itu, sehingga tak ada yang mampu menandinginya?” tanya Imas Pandini.

“Bila dia telah mampu menguasai jurus-jurus puncak, maka orang itu akan berubah liar laksana iblis. Itulah sebabnya, maka jurus itu dikatakan jurus ‘Cakar Maut’.”

“Menurut Ayah, apakah Pendekar Rajawali Sakti tidak mampu mengimbanginya?”

“Entahlah. Pendekar Rajawali Sakti memang hebat dan terkenal. Tapi selama ini antara keduanya belum pernah bentrok. Tapi kenapa kau tanyakan hal itu? Kita sudah tahu pendiriannya. Dan dia tidak ingin ikut campur dalam soal ini,” ujar Ki Sanjaya.

“Ya! Aku tahu, Ayah,” sahut Imas Pandini, lesu.

“Aku hanya merasa tidak enak, entah kenapa...,” desah orang tua itu.

“Tentang apa, Ayah?”

“Mimpi yang mungkin hanya sekadar firasat.”

“Mimpi apa, Ayah?”

Ki Sanjaya tidak langsung menjawab, melainkan kembali memalingkan wajahnya disertai tarikan napas panjang. “Kulihat disekeliling perguruan ini kabut hitam menyelimuti. Mayat-mayat berserakan di mana-mana. Kemudian kudengar tangismu yang amat memilukan. Mimpi ini terjadi tiga malam berturut-turut. Dan tadi, aku kembali bermimpi seperti itu,” kata Ki Sanjaya.

Sesaat detak jantung gadis itu terasa berhenti mendengar penuturan ayahnya. Mimpi Ki Sanjaya seperti menjalar dari telinga langsung ke hati serta pikiran. Namun begitu dihirupnya udara dalam-dalam, seperti hendak memompakan kepercayaan diri dan menghibur ayahnya.

“Itu hanya mimpi, Ayah. Tak ada gunanya kita mempercayai kembang tidur. Sebab hanya merusak diri saja. Sudahlah, lebih baik ayah kembali tidur dan lupakan semua itu!”

“Itu bukan mimpi biasa, Anakku. Tiga kali berturut-turut aku bermimpi. Lebih mirip sebagai suatu isyarat atau pertanda. Lagi pula, setelah itu aku tidak bisa memejamkan mata. Mimpi itu terus terbayang.”

Imas Pandini tidak tahu lagi harus bicara apa, mendengar kata-kata ayahnya.

“Lebih baik kau tidur. Jaga kesehatanmu. Sebab, esok kau harus bertanding,” ujar Ki Sanjaya.

“Seharusnya Ayah yang mesti menjaga kesehatan. Ayah adalah penentu utama. Bila Ayah kalah, maka semangat yang lain akan turun.”

“Ayah terbiasa tidak tidur malam. Dan itu sama sekali tidak mengganggu keadaan tubuhku.”

“Apakah Ayah akan berdiam diri di sini sampai pagi?”

Sebelum orang tua itu menjawab, mendadak....

“Aaa...!”

“Heh?!” Tiba-tiba terdengar jerit tertahan dari arah bawah sana. Tampak dua murid Ki Sanjaya yang berjaga di dalam pos dekat pintu gerbang, terjungkal roboh.

“Hup!” Ki Sanjaya cepat melompat ke bawah dengan gerakan ringan begitu matanya yang tajam melihat sesosok bayangan hitam hendak melompat keluar.

“Jahanam keparat! Kau kira bisa kabur seenaknya saja! Hih!” bentak Ki Sanjaya, langsung menarik keluar pedangnya.

Sring!

Wuuut!

Pedang di tangan Ki Sanjaya cepat sekali berkelebat, menyambar ke arah sosok bayangan itu. Namun bayangan itu ternyata mampu menghindari sambaran pedang Ki Sanjaya dengan gerakan melenting ke belakang yang mengagumkan. Bahkan begitu kakinya mendarat dia mampu balas menyerang dengan tangan kosong.

“Heaaa!”

Ki Sanjaya terkesiap. Sosok berpakaian hitam dengan wajah terselubung kain hitam itu bergerak ke bagian bawah. Dan tahu-tahu telah menyodok perutnya sebelum sempat mengibaskan pedang.

“Uts!” Masih untung orang tua itu sempat berjumpalitan ke belakang. Namun angin serangan itu kuat bukan main, sehingga sempat membuat perutnya mual. Ketua Perguruan Rebung Koneng itu sadar kalau lawan yang dihadapi bukanlah tokoh sembarangan. Makanya, dia tidak melanjutkan serangan.

“Siapa kau?! Apa maksudmu malam-malam begini menyatroni tempatku?!” hardik Ki Sanjaya seraya mengawasi sosok berbaju hitam.

“Ha-ha-ha...! Tua bangka busuk! Ternyata kau lincah juga, ya? Tapi dengan kepandaian seperti itu, kau tidak ada artinya sedikit pun bagiku,” ejek sosok itu merendahkan.

Ki Sanjaya memperhatikan dengan seksama. Sosok berbaju hitam itu bertubuh sedang, dengan penutup wajah dari kain hitam, yang terlihat hanya sepasang matanya saja.

Sementara itu, melihat kehadiran tamu yang tidak diundang dan telah membuat kekacauan dengan membunuh dua orang murid perguruan, membuat murid-murid yang lain tersentak. Mereka yang tadi terlelap, seketika terjaga kemudian cepat melompat keluar dan berkumpul di halaman depan. Demikian pula Imas Pandini, serta Baladewa yang telah tiba di sana lebih dulu.

“Ha-ha-ha...! Sungguh hebat, sungguh hebat...! Dalam waktu singkat, murid-muridmu telah berkumpul mendengar sedikit keributan!” sambung orang bertopeng itu.

“Tidak usah banyak bicara, Pengacau Busuk! Kau telah membunuh dua orang muridku! Maka kau harus bertanggung jawab!” desis Ki Sanjaya geram.

“Kau bisa berbuat apa terhadapku, Sanjaya. Apa kau kira dengan seluruh muridmu ini mampu menghalangi kepergianku? Aku bisa datang dan pergi sesuka hatiku, tanpa seorang pun boleh menghalangi!” sahut orang bertopeng itu, meremehkan.

“Hm.... Kau mengenalku. Berarti kau bukan orang jauh! Tapi siapa pun adanya kau, jangan harap akan kulepaskan begitu saja. Tidak perlu kukerahkan murid-muridku untuk meringkusmu. Aku sendiri masih sanggup!” sahut Ki Sanjaya, tak kalah garang. Setelah berkata begitu, Ki Sanjaya langsung melompat menyerang.

“Heaaat!”

Wuuut!

Pedang orang tua itu kembali menyerang orang bertopeng. Kali ini Ki Sanjaya tidak mau bertindak kepalang tanggung. Langsung dikerahkan jurus ‘Hujan Buluh Mengurung Rimba’, sebuah jurus terhebat yang dimiliki. Kelebatan pedangnya laksana hujan lebat yang menyapu apa saja tanpa berhenti. Sehingga orang awam pun akan menyangka kalau orang bertopeng itu tidak akan lolos.

Tapi yang terjadi sungguh membuat murid-murid perguruan ini tidak percaya. Dengan mudah orang bertopeng itu menghindar di antara kelebatan pedang Ki Sanjaya. Bahkan tahu-tahu orang bertopeng itu merunduk ke bawah seraya menyentil senjata Ki Sanjaya.

Tak!

“Heh?!” Ki Sanjaya kaget bukan kepalang, melihat senjatanya seperti menghantam benda keras bukan main. Bagaimana mungkin orang bertopeng itu mampu berbuat sedemikian? Menahan ayunan pedangnya yang bertenaga dalam kuat, hanya dengan sentilan kuku? Malah Ki Sanjaya merasakan tangannya bergetar. Itu menandakan kalau orang bertopeng ini memang memiliki tenaga dalam di atasnya.

Dan keterkejutan Ki Sanjaya harus dibayar mahal. Begitu dia lengah, orang bertopeng itu mengibaskan tangannya. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Breeet!

“Hugkhkkk...!” Ki Sanjaya kontan memekik, begitu cakaran orang bertopeng menyayat tenggorokannya. Darah kontan mengucur deras dari luka di lehernya yang robek. Dan belum sempat dia berbuat apa-apa, satu hantaman keras mendarat di dadanya.

Begh!

“Aaakh...!” Orang tua itu terjungkal ke belakang bagai selembar daun kering. Setelah menggelepar sesaat, dia tewas.

“Ayaaah...!”

“Guru...!”

Bukan main kagetnya Imas Pandini dan Baladewa serta murid-murid Perguruan Rebung Koneng. Mereka serentak menghampiri jenazah Ki Sanjaya yang terbujur kaku. Namun sebagian murid-murid lainnya langsung kalap melihat keadaan itu. Maka seketika, mereka mengurung dan menyerang orang bertopeng itu.

“Yeaaat!”

Namun yang dihadapi murid-murid perguruan itu ternyata berkepandaian tinggi. Sehingga meski pedang-pedang berseliweran ke arahnya, dengan mudah orang bertopeng itu menghindar. Bahkan balas menyerang dengan ganas.

Wut! Bret!

“Aaa...!” Dalam waktu singkat saja, lebih dari lima murid Perguruan Rebung Koneng tewas. Dan itu terus bertambah cepat, seiring amukan hebat orang bertopeng itu.

“Keparat terkutuk! Akulah lawanmu! Akan kubunuh kaaau...!” teriak Baladewa, dengan suara menggelegar. Pemuda itu agaknya tidak kuat lagi menahan amarah. Maka secepat kilat pedangnya dicabut. Langsung dia melompat menyerang.

Wut! Bet!

“Uts! Ha-ha-ha...! Boleh juga permainan pedangmu, Bocah. Tapi kau masih mentah. Dan ini sama sekali tidak berguna bagiku!” dengus orang bertopeng itu, seraya tertawa mengejek.

Ucapan itu terdengar sombong. Tapi, agaknya orang bertopeng itu tidak main-main. Tiba-tiba saja tubuhnya bergerak cepat. Dan ...

Wuuut!

“Hih!” Tubuh orang bertopeng itu lenyap dari sambaran pedang Baladewa. Dan tahu-tahu, suatu hantaman keras menyambar dada putra bungsu Ki Sanjaya.

Des!

“Aaa...!” Baladewa terpekik. Tubuhnya terbanting keras ke belakang sambil menyemburkan darah segar.

“Baladewa...!” jerit Imas Pandini, kaget. Gadis itu bergegas memburu adiknya yang tengah sekarat. Namun hanya sempat memeluknya sekejap, karena kemudian Baladewa menghembuskan napasnya yang terakhir. Gadis itu menjerit dan menangis seraya mendekap jenazah adiknya erat-erat.

Sementara, orang bertopeng itu sudah berkelebat meninggalkan tempat ini, setelah membinasakan beberapa murid Perguruan Rebung Koneng yang coba menghalanginya. Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dengan suara tawanya yang bergema nyaring.

********************

LIMA

Berita kematian Ki Sanjaya memang mengejutkan. Bukan hanya penduduk yang berada di sekitar perguruan itu. Tapi, juga sampai ke telinga Ki Mugeni. Meski bermusuhan, tapi bukan kematian Ki Sanjaya yang diinginkannya. Dia ingin mengalahkan Ketua Perguruan Rebung Koneng dalam pertandingan yang jujur. Padahal, itu akan terjadi hari ini. Tapi dengan adanya kejadian itu, membuat segalanya berantakan.

Bersama beberapa murid, tamu-tamu, serta kedua putranya, Ki Mugeni ikut berkunjung ke pekuburan. Sikapnya berusaha untuk tidak peduli mendapatkan pandangan sinis murid-murid Perguruan Rebung Koneng. Bahkan dia berdiri di tempat yang tidak begitu jauh dari Imas Pandini yang saat itu tengah menunduk dengan air mata meleleh pelan-pelan, memandangi dua buah gundukan tanah di depannya.

“Kami ikut berduka atas kematian beliau...,” ucap Ki Mugeni, lirih.

Namun gadis itu seperti tidak mempedulikannya. Jangankan menyahut. Menoleh pun tidak.

“Kita memang bermusuhan. Tapi, percayalah.... Bukan hal seperti ini yang kuinginkan,” lanjut Ketua Perguruan Pedang Kilat itu.

Imas Pandini diam saja dengan bibir terkatup rapat. Kesedihan hatinya belum lagi larut. Dan meski kata-kata Ki Mugeni cukup menaruh perhatian, tetapi belum cukup mengusiknya.

Ki Mugeni menarik napas panjang, kemudian memberi penghormatan kepada kedua gundukan tanah yang masih baru. Perbuatannya itu diikuti tamu-tamu, kedua putranya, dan murid-muridnya.

Tidak berapa lama setelah memberi penghormatan, mereka meninggalkan tempat itu diikuti pandangan sinis beberapa orang murid utama Perguruan Rebung Koneng.

“Orang-orang licik yang berhati busuk!” dengus salah seorang murid utama yang berada di dekat Imas Pandini.

Gadis itu masih tetap membisu seraya menaburkan lagi beberapa bunga harum pada dua pusara di depannya. Melihat itu, yang lainnya tidak berani mengusik. Dan, mereka hanya mendiamkan saja, sampai gadis itu berdiri dan mengajak berlalu dari pekuburan.

“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Imas?” tanya Wiriaraja, salah seorang murid utama Ki Sanjaya.

“Aku akan balas kematian mereka!” dengus Imas Pandini.

“Tapi bagaimana caranya? Kita tidak tahu siapa dia. Juga seandainya tahu, bagaimana mungkin kita bisa membalaskan kematian Guru dan Baladewa? Orang itu berkepandaian tinggi. Seluruh murid dikerahkan, tidak akan mampu meringkusnya,” ujar Wiriaraja lagi, bernada putus asa.

“Aku tahu itu, Kakang Wiriaraja.”

“Lalu, apa rencana kita?”

“Kita harus pakai akal.”

“Maksud Imas?”

“Aku akan minta bantuan Pendekar Rajawali Sakti!” sahut Imas Pandini mantap.

“Apakah dia bersedia? Bukankah kita sama-sama mendengar dari Baladewa, bahwa beliau tidak akan ikut campur dalam urusan ini?”

“Benar! Tapi sekarang persoalannya berbeda. Baladewa terbunuh. Dan sedikit banyak, adikku pernah mendapat pelajaran darinya. Sehingga boleh dikatakan, Pendekar Rajawali Sakti itu gurunya. Apakah seorang guru akan mendiamkan saja muridnya tewas tanpa sebab-sebab yang jelas?” kilah Imas Pandini, meyakinkan.

“Tapi apa dia mau menerima alasan seperti itu?”

“Aku akan memaksanya!”

“Imas...,” kata Wiriaraja, terdengar ragu-ragu.

“Tidak ada cara lain, Kakang. Aku harus meminta pertolongannya. Kalau dia menolak, aku akan terus memaksa!” tegas gadis itu.

Wiriaraja terdiam. Langkah yang akan di ambil putri mendiang gurunya itu mungkin tidak berkenan di hatinya. Tapi seperti yang dikatakan Imas Pandini, mereka memang tidak punya cara lain.

“Baladewa telah berusaha menghubungi kawan-kawan Ayah. Namun tak seorang pun yang bersedia membantu. Mereka telah termakan fitnah yang dilontarkan pihak Ki Mugeni. Kita tidak punya jalan lain, Kakang...” lanjut gadis itu, menekankan kembali keputusannya.

“Kalau sudah begitu keputusanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kita memang menyadari tidak mampu melawan mereka dengan kekuatan seperti sekarang,” sahut Wiriaraja lesu.

“Terima kasih, Kakang. Kuharap yang lain pun bisa mengerti.”

“Aku yakin mereka mengerti. Kapan rencananya kau akan berangkat menemui Pendekar Rajawali Sakti?”

“Hari ini juga!”

“Pendekar Rajawali Sakti sulit ditemui. Bagaimana caranya kau menemuinya?”

“Baladewa menceritakan padaku, bahwa Pendekar Rajawali Sakti pernah mengundang ke tempatnya....”

“Di mana?”

“Istana Karang Setra.”

“Istana Karang Setra? Apa maksudnya? Apakah dia panglima di kerajaan itu? Atau, barangkali rajanya?”

“Entahlah. Aku sendiri tak tahu banyak. Siapa pun dia, dan apa pun jabatannya, tidak akan membuat surut tekadku!”

“Aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Pendekar Rajawali Sakti mau membantu kita.”

“Terima kasih. Kalau begitu aku bergegas saja. Karang Setra cukup jauh dari sini. Dan sebelum malam, aku harus tiba di sebuah desa untuk menginap,” ujar gadis itu, seraya bergegas ke perguruan mereka untuk berkemas.

********************

Menjelang senja rasanya Pendekar Rajawali Sakti akan tiba di Karang Setra. Sehingga, langkah kudanya dipercepat. Tapi begitu melewati tepi sebuah hutan kecil, Rangga tertegun. Di depannya terlihat seorang laki-laki kurus menghadapi keroyokan lima orang. Hebatnya, laki-laki tua itu menghadapi keroyokan itu dengan sebelah tangan saja. Karena tangan kirinya buntung.

“Heaaat!”

Wuuut!

Tubuh laki-laki buntung itu bergerak lincah menghindar, lalu balas menyerang. Tapi kelima lawannya agaknya bukan orang sembarangan. Kepandaian mereka cukup tinggi. Terlebih lagi menggunakan senjata golok. Sehingga, cukup membuat orang tua itu kerepotan.

Sementara, Rangga memperhatikan penuh perhatian. Kelihatannya orang tua itu cukup lincah menggunakan tangannya yang tinggal sebelah. Tapi tidak demikian kedua kaki yang kelihatan lemah, seperti orang lumpuh yang terseret-seret.

Mulanya, kelemahan tidak diperhatikan lawan-lawannya. Tapi salah seorang dari mereka agaknya mulai mengamati, setelah serangan pada bagian atas tidak menemui sasaran.

“Serang bagian bawah...!” teriak orang itu mengingatkan.

“Yeaaa!”

Keempat orang lainnya segera menyerang gencar ke bagian bawah tubuh, membuat orang tua itu terkesiap. Karena rahasianya terbongkar, dia berusaha menghindar mati-matian. Tapi memang dasar kedua kakinya tidak mampu bergerak cepat, maka akibatnya mesti ditanggung sendiri. Sehingga....

Plak!

“Aaakh...!” Sebelah kaki orang tua itu kena tersapu salah seorang lawannya, hingga membuatnya mengeluh tertahan. Pada saat itu juga seorang lawan yang lain menyodok perutnya dengan lutut.

Des!

“Aaakh...!” Kembali orang tua itu terpekik dan terhuyung-huyung ke belakang.

“Yiaaat!”

Melihat kesempatan ini dua orang lawan lainnya segera melompat bersamaan. Langsung mereka melepaskan tendangan ke arah orang tua itu. Untung saja, laki-laki buntung itu berhasil menangkis dan langsung mengelak.

Plak!

Wut!

Tapi pada saat laki-laki buntung itu mengelak, kembali datang satu tendangan kilat dari salah seorang lawannya lagi. Begitu cepat datangnya serangan, dan...

Des!

“Aaakh...!” Laki-laki tua bertangan buntung itu kontan terpekik dengan tubuh terbanting di tanah, begitu tendangan yang sangat cepat tadi mendarat di dadanya.

“Habisi dia!”

Belum juga orang tua itu bangkit, sudah terdengar teriakan bernada perintah dari salah seorang pengeroyok.

“Heaaa!”

“Ohhh...!” Laki-laki tua bertangan buntung itu terkesiap. Dan matanya hanya terpejam, pasrah menerima nasib, ketika para pengeroyoknya telah siap menghabisi dengan senjata di tangan.

Tapi saat itu juga....

“Pengecut hina, hentikan perbuatan kalian!”

“Heh?!” Kelima orang itu terkejut. Namun belum tuntas keterkejutan mereka, berkelebat cepat satu sosok bayangan putih. Dan begitu mereka menoleh, satu sambaran kaki sosok bayangan itu menghantam mereka.

Uts! Dua orang berhasil mengelak. Tapi dua lainnya....

Des!

“Akh...!” Dua pengeroyok kontan tersungkur ketika muka mereka terhantam tendangan sosok bayangan putih itu.

“Kurang ajar! Siapa kau?!” bentak pengeroyok yang agaknya bertindak sebagai pemimpin, ketika tahu-tahu sosok bayangan putih itu sudah mendarat mantap didepannya.

Dia adalah seorang pemuda tampan berbaju rompi putih. Di punggungnya tampak tersampir sebilah pedang bergagang kepala burung. Siapa lagi pemuda itu kalau bukan Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti.

“Kau tidak perlu tahu! Pergilah kalian!” sahut Rangga dingin dengan tatapan tajam.

“Setan! Kau kira tengah berhadapan dengan siapa, He? Aku Gagak Lumayung, penguasa Hutan Loyang! Semua orang akan berpikir dua kali bila mengusik urusanku!” ujar salah seorang pengeroyok yang berperawakan besar.

“Dengan siapa pun aku berhadapan, jika di depanku ada ketidakadilan, aku tidak akan tinggal diam!” sahut Pendekar Rajawali Sakti, kalem.

“Keparat!” dengus Gagak Lumayung, menggeram penuh amarah. Dengan serta-merta Gagak Lumayung memberi isyarat pada anak buahnya. Seketika mereka melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

“Yeaaat!”

Wut! Bet!

Beberapa buah golok berseliweran ke arah Rangga, namun mampu dihindari dengan gesit. Pendekar Rajawali Sakti lantas mencelat ke atas, lalu menukik tajam kebawah. Salah seorang pengeroyok bersiap hendak menebas. Namun sebelum hal itu dilakukannya, kepalan tangan Rangga telah lebih dulu menggedor dadanya.

Begkh!

“Aaagkh!” Orang itu terjungkal ke belakang disertai jerit kesakitan. Tidak sampai di situ saja tindakan Pendekar Rajawali Sakti. Ketika salah seorang lawannya menyerang, pemuda itu kembali mengibaskan kaki.

Des!

“Oaaakh...!” Kontan orang itu terjungkal disertai semburan darah segar. Dia berusaha bangkit, namun dadanya terasa sesak sekali.

Rangga terus melompat dan berjumpalitan ketika dua golok menebasnya dari arah berlawanan. Begitu berada di udara, dua kakinya terbuka lebar, dan tepat menghantam muka kedua lawan.

Duk! Bug!

“Akh.... Akh...!” Mereka terpekik disertai muntahan darah segar. Keduanya terjungkal bersamaan.

“Yeaaat!”

Baru saja Rangga menjejakkan kakinya di tanah, Gagak Lumayung melompat menerjang sambil mengayunkan golok tepat ke dada. Namun Pendekar Rajawali Sakti sudah bergeser sedikit ke samping. Kemudian sebelah tangannya menangkap pergelangan tangan laki-laki itu.

Tap!

Saat itu juga lutut Pendekar Rajawali Sakti menghantam ke pangkal lengan Gagak Lumayung hingga golok di tangan lawan terlepas. Dan lutut itu langsung menghantam ke dada.

Des!

“Ugh...!”

Kemudian Rangga menyusuli dengan pukulan tangan kiri ke arah leher.

Tak!

“Aaagkh...!” Gagak Lumayung kontan terjungkal kebelakang sambil memuntahkan darah segar. Dia berusaha bangkit, namun sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main.

“Pergilah! Atau barangkali ingin kutambah beberapa kali lagi?!” ancam Pendekar Rajawali Sakti.

“Eh! Ti..., tidak,” sahut Gagak Lumayung lirih.

Dia lantas memberi isyarat pada anak buahnya. Dan segera mereka menggotongnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan tergopoh-gopoh.

Pendekar Rajawali Sakti tersenyum dingin seraya mengikuti mereka beberapa saat dengan pandangan matanya. Kemudian dihampirinya orang tua itu untuk membantu berdiri.

“Siapa namamu, Ki? Dan apakah kau tidak apa-apa?” tanya Rangga.

“Aku Linggawisnu. Terima kasih atas bantuanmu, Nak. Kalau kau tidak ada, pasti aku telah terbujur kaku di sini...,” sahut orang tua bernama Linggawisnu, lemah.

“Siapa mereka? Dan, kenapa mereka mengeroyokmu, Ki?”

“Ah! Mereka hanya berandalan tengik yang hendak merampas perbekalanku!” umpat Ki Linggawisnu sambil memungut buntalan kain yang sempat tercecer.

“Mudah-mudahan kejadian tadi membuat mereka kapok,” gumam Rangga.

“Kalau saja kedua kakiku tidak lemah, mereka tidak akan bisa berbuat seenaknya padaku!” dengus Ki Linggawisnu, penuh kegeraman.

“Kuperhatikan sejak tadi, kau sepertinya sulit menggerakkan kedua kaki. Kenapa kedua kakimu?”

Ki Linggawisnu langsung menyingkap celana hingga ke pangkal paha. Saat itu juga Rangga terkejut ketika melihat pangkal paha orang tua itu hanya tinggal tulang-tulangnya saja, dengan sedikit daging yang kehitam-hitaman.

“Aku terpaksa menotok kedua belah bagian kaki itu agar racunnya tidak menjalar ke mana-mana. Kemudian, dagingnya kukerat sebelum menular ke bagian lain. Tapi itu pun tidak menolong banyak, meski jiwaku selamat. Dan, beginilah jadinya. Seumur hidup aku berusaha melawan racun ganas di kedua kaki ini,” jelas Ki Linggawisnu.

“Racun apa gerangan yang membuatmu demikian?”

“Cakar Maut.”

“Cakar Maut?!” ulang Rangga sedikit terkejut.

“Kenapa kau kelihatan terkejut? Apakah belum pernah mendengar nama itu?”

“Bukan begitu. Kemarin, aku bertemu seseorang. Dia menceritakan, bahwa Cakar Maut akan datang ke daerahnya,” sahut Rangga singkat.

“Celaka! Mereka akan celaka semua...!” sentak Ki Linggawisnu, juga terkejut.

“Celaka bagaimana yang kau maksudkan, Ki?”

“Korban-korban akan berjatuhan di tangannya...!”

Rangga memandang orang tua itu dengan wajah heran.

“Si Cakar Maut selalu mencari korban setiap dua hari sekali, sebagai tumbal dari kepandaiannya yang dahsyat itu!” jelas Ki Linggawisnu.

Rangga mengangguk mengerti. “Jadi, kau pun pernah bertarung dengannya?” tanya Rangga.

“Ya. Tapi, sayang. Dia dapat mengalahkanku. Orang itu memang hebat!”

Pendekar Rajawali Sakti terdiam beberapa saat. Dia terbayang kata-kata Baladewa yang ditemuinya kemarin, yang mengatakan bahwa si Cakar Maut membantu orang-orang Perguruan Pedang Kilat.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Ki Linggawisnu membuyarkan lamunan Pendekar Rajawali Sakti.

“Kawanku dalam bahaya. Aku harus menolongnya,” sahut Rangga, cepat.

“Kau akan menolongnya? He-he-he...! Apa kau sudah bosan hidup, Anak Muda?”

“Kenapa kau berkata begitu?”

“Bukankah sudah kukatakan, aku saja tidak mampu menghadapinya. Bahkan terpaksa harus kehilangan sebelah tangan, serta kedua kaki yang hampir lumpuh. Apalagi kau! Lebih baik tidak usah cari penyakit dengannya,” jelas Ki Linggawisnu, berusaha meyakinkan.

Rangga hanya tersenyum. “Menurutmu, apakah si Cakar Maut itu tokoh sesat?” tanya Rangga setelah beberapa saat.

“Dia bukan hanya tokoh sesat. Tapi, manusia bejat! Bukan hanya lawan-lawannya saja yang dibantai. Tapi, kawan sendiri pun rela dibunuhnya. Orang itu membunuh tanpa sebab, dan semata-mata menuruti hawa nafsu belaka, selain untuk tumbal ilmu iblisnya itu,” sahut Ki Linggawisnu.

“Menurutmu apakah orang sepertinya harus dibasmi walau nyawa taruhannya?”

“Tentu saja! Tapi, hanya orang sinting yang mau berurusan dengannya.”

“Tapi, aku bukan orang sinting.”

“Kau tidak akan menantangnya, bukan?”

“Mungkin saja. Aku khawatir keselamatan mereka. Dan bisa jadi, aku akan turun tangan bila si Cakar Maut mengusik mereka.”

“Mereka? Siapa yang kau maksud?”

“Kawanku itu....”

“Kau memang gila, Anak Muda! Kau akan mengorbankan jiwamu demi seorang kawan?”

“Kebatilan harus dilawan meski nyawa taruhannya. Bila tidak ada yang berani melawannya, maka orang-orang akan terus dilanda bahaya dengan kehadirannya. Harus ada yang bertindak!” sahut Pendekar Rajawali sakti, tegas.

“Kupuji semangat dan keberanianmu. Tapi sebelum bertindak, pikirkanlah baik-baik. Masih ada waktu untuk mempertimbangkan niatmu itu. Cakar Maut bukanlah tokoh biasa. Mungkin saja kau memiliki kepandaian hebat. Tapi, kau bukan tandingannya,” kata Ki Linggawisnu, bernada prihatin melihat sikap Rangga.

Rangga tersenyum. “Terima kasih atas perhatianmu, Ki. Tapi aku akan tetap ke sana.”

“Hm.... Kau memang keras kepala. Apa boleh buat? Terserah kamu jika memang niatmu sudah bulat. Aku telah memperingatkanmu.” Ki Linggawisnu itu menggeleng lemah seraya menghela napas panjang.

“Jangan khawatir, Ki. Aku bisa jaga diri,” ujar Rangga tersenyum.

“Bagaimanapun, aku berterima kasih atas pertolonganmu, Anak Muda. Mudah-mudahan kau selamat.”

“Ah.... Lupakanlah, Ki.”

********************

ENAM

Ketika hari sebentar lagi akan gelap, Pendekar Rajawali Sakti memutuskan untuk mampir dan menginap di desa terdekat. Dan bila perjalanannya dilanjutkan, mungkin tengah malam baru akan tiba di Perguruan Rebung Koneng.

Di desa pertama yang dilalui, Pendekar Rajawali Sakti singgah di sebuah kedai makan untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Kedai itu kecil namun cukup ramai pengunjungnya. Dan Rangga mengambil tempat di sudut kanan kedai itu.

Saat pandangannya beredar ke sekeliling, Rangga melihat seorang gadis berwajah cantik dengan sebilah pedang dan buntalan kecil yang tengah duduk tak jauh di sebelah kanannya. Melihat senjata itu saja bisa ditebak kalau gadis itu tidak bisa dibuat main-main. Mungkin karena itu pula tidak ada seorang pun yang berani mengusiknya.

“Makan apa, Den?” tanya seorang laki-laki setengah baya dengan nada ramah. Rupanya, dialah pelayan kedai ini.

Rangga menyebutkan pesanannya.

“Aden kelihatan lelah. Habis melakukan perjalanan jauh?” tanya pelayan kedai itu seraya mempersiapkan pesanan pemuda itu.

“Iya,” sahut Rangga, singkat.

“Jika bermaksud bermalam, kami memiliki beberapa buah kamar lagi yang bisa disewakan.”

“Oh, ya? Terima kasih. Aku memang bermaksud menginap barang semalam.”

“Harganya tidak mahal! Mau ke mana tujuanmu, Den?”

“Desa Ganur....”

“Desa Ganur? Apa yang akan kau cari di sana?” Wajah pelayan kedai itu sedikit kaget ketika mendengar jawaban Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga jelas dapat mengamatinya, sebab saat itu si pelayan kedai tengah menyediakan hidangan pesanannya. “Seorang kawan,” sahut Rangga singkat. Bagi Pendekar Rajawali Sakti pelayan kedai ini kelewat ramah, hingga terkesan ingin tahu urusan orang.

“Kelihatannya Aden seorang ahli silat. Sebaiknya hati-hati! Di sana tengah berkecamuk perang antara dua perguruan. Yaitu, Perguruan Rebung Koneng dengan Perguruan Pedang Kilat. Baru saja terdengar berita bahwa Ketua Perguruan Rebung Koneng serta putranya tewas secara aneh!”

“Apa?! Tewas? Siapa nama putra Ketua Perguruan Rebung Koneng itu?”

“Siapa, ya? Ng.... Kalau tidak salah... Baladewa. Ya, Baladewa!”

“Baladewa tewas...?” gumam Rangga tercenung mendengarnya.

“Kenapa? Apakah Aden mengenalnya?”

“Dia kawanku. Siapa yang membunuhnya?”

Belum juga pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti terjawab gadis yang tadi duduk di sebelah kanannya berpaling dan memperhatikannya dengan seksama.

“Entahlah.... Tak seorang pun yang tahu. Kabarnya mereka terbunuh oleh orang bertopeng.”

Rangga kembali terdiam. Selera makannya kontan hilang mendengar berita itu. Dan laparnya seketika lenyap entah ke mana.

“Benarkah kau masih memiliki beberapa kamar? Tolong tunjukkan, karena aku bermaksud menginap,” pinta Rangga pada si pelayan kedai.

“Eh, benar! Ayo...!” ajak pelayan kedai itu dengan wajah berbinar.

Yang dikatakan kamar, ternyata adalah rumah pelayan kedai itu sendiri yang berukuran cukup besar. Di sana sini terlihat kamar yang bersekat-sekat dengan pintu menuju luar. Sehingga apabila si penyewa hendak keluar, tidak mesti melewati rumah induk.

Ruangan kamar kelihatan kotor dan tempat tidurnya pun tidak kokoh. Sebagian kayunya kelihatan sudah lapuk. Banyak sarang laba-laba yang berada di sudut ruangan. Namun melihat keadaan rumah-rumah penduduk yang tadi dilewati, rasanya pondokan seperti ini memang sudah memadai. Tak satu pun rumah-rumah penduduk disini mengesankan kalau mereka tergolong orang mampu. Dan baru saja Pendekar Rajawali Sakti akan merebahkan diri....

Tok! Tok!

“Siapa?” tanya Rangga dari dalam kamar.

Tak terdengar jawaban. Rangga menyangka mungkin si pelayan kedai itu yang akan membawakan sesuatu baginya. Entah bantal yang bagus, atau air minum. Buru-buru dia bangkit dan membukakan pintu. Kini tampak seraut wajah yang tidak diduga muncul, dengan kepala tertunduk.

“Nisanak siapa? Dan ada keperluan apa denganku?” tanya Rangga, setelah mengamati sosok di depannya.

Ternyata, dia adalah gadis cantik yang tadi duduk di bangku kedai sebelah kanan Rangga. Perlahan-lahan, gadis itu mengangkat wajahnya.

“Kisanak... Pendekar Rajawali Sakti?” tanya gadis itu, berkesan hati-hati.

“Benar. Siapa Nisanak ini?” sahut Rangga, kemudian balik bertanya.

“Aku Imas Pandini. Kakak Baladewa,” jawab gadis yang ternyata Imas Pandini, putri Ketua Perguruan Rebung Koneng yang telah meninggal dunia itu.

“Oh, benarkah?!”

Imas Pandini mengangguk. Lalu dia melangkah masuk, ketika pemuda itu mengajaknya ke dalam dan menutup pintu kembali.

“Eh! Ng..., kau mendengar cerita pelayan kedai itu, bukan?”

Imas Pandini mengangguk.

“Apakah itu benar?”

Gadis itu kembali mengangguk.

“Siapa yang membunuhnya?”

Imas Pandini tidak langsung menjawab. Wajahnya tampak muram, dan bola matanya berkaca-kaca.

“Maaf, aku tidak bermaksud membangkitkan kedukaanmu,” ucap Rangga, pelan.

“Tidak apa-apa,” sahut gadis itu seraya menyeka air matanya yang mulai bergulir di pipi.

Rangga mendiamkannya beberapa saat.

“Mungkin kehadiranku tidak pantas di sini. Dan mungkin juga akan menuduhku perempuan rendah. Tapi aku sungguh-sungguh membutuhkan pertolonganmu...!” kata Imas Pandini dengan suara serak bercampur isak tangis halus.

“Aku tidak menganggapmu begitu. Percayalah! Pertolongan apa yang kau inginkan dariku?”

“Aku ingin agar kau mencari pembunuh adik dan ayahku itu. Dan, membalaskan dendam kami...!” pinta gadis itu dengan suara bergetar.

Imas Pandini menatap penuh harap pada pemuda di depannya. Bola matanya tampak berair, seperti ingin memastikan jawaban pemuda itu sekarang juga.

“Kau harus membantu kami! Aku tidak mau dengar bila kau menolaknya. Hanya kau satu-satunya harapanku untuk menuntut balas atas kematian mereka berdua!” desak gadis itu dengan suara sedikit lantang.

“Tapi, Imas! Aku....”

“Tidak! Aku tidak mau dengar penolakanmu! Apa pun yang kau inginkan, akan kupenuhi. Asal, kau memenuhi keinginanku!” tukas Imas Pandini cepat.

“Tenanglah, Imas....”

“Aku tidak akan tenang, sebelum kau mengabulkan permintaanku!” potong gadis ini cepat. Suara Imas Pandini terdengar mulai keras. Sehingga, Rangga jadi tidak enak hati, khawatir bila ada yang mencurigai mereka berdua dalam satu kamar.

Dan benar saja! Pendengaran Pendekar Rajawali Sakti yang demikian tajam mendengar suara mencurigakan di balik dinding depan kamarnya. Tanpa banyak bicara lagi, Rangga beranjak disertai ilmu meringankan tubuhnya ke dinding. Lalu... Salah satu telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti cepat menampar dinding yang dicurigai.

Plak!

“Adooouw!” Tiba-tiba terdengar seseorang menjerit dari arah luar. Dan Imas Pandini yang semula tak mengerti maksud Rangga, jadi kaget. Isak tangisnya mendadak berhenti, berganti dengan perasaan terkejut.

“Ayo kita keluar!” ajak Rangga.

“Ke mana?”

Pendekar Rajawali Sakti tidak menjawab, melainkan bergegas keluar. Sementara Imas Pandini mengikutinya dari belakang. Mereka masih sempat melihat si pengintip tadi lari tunggang-langgang, tapi Rangga tidak mempedulikannya.

Begitu berada di luar, Pendekar Rajawali Sakti bersuit nyaring. Sebentar saja, tampak kuda hitam bernama Dewa Bayu menghampiri.

“Kau berkuda?” tanya Rangga, begitu Dewa Bayu di sisinya mendengus-dengus kecil.

“Eh, ya...!” sahut Imas Pandini.

“Ambillah. Kita akan melakukan perjalanan malam ini juga!”

“Ke mana?”

“Kenapa bertanya lagi? Tentu saja ke tempatmu.”

“Oh, sungguhkah? Kau bersedia menolong kami?!” seru gadis itu dengan wajah gembira.

Rangga mengangguk.

Gadis itu setengah berlari mengambil kudanya. Sementara, Rangga kembali menemui pelayan kedai pemilik rumah sewaan itu. Setelah membayar secukupnya, dia menunggu Imas Pandini.

“Kenapa buru-buru, Kisanak? Kamar belum lagi dipakai?” tanya si pemilik kedai, yang ternyata mengikuti Rangga dari belakang.

Rangga tidak menjawab. Tapi begitu melihat Imas Pandini menghampiri, pemilik kedai merasa maklum.

“Kalau cuma untuk itu, ada kamar tertutup yang bisa kusediakan, Kisanak,” ujar si pelayan kedai sambil mesem-mesem.

“Apa maksudmu?” tanya Rangga sinis.

“Eh, bukankah kalian akan mencari tempat yang aman agar tidak terganggu...?” kata si pelayan kedai.

Sring!

Imas Pandini langsung mencabut pedang. Dan, cepat sekali ujungnya menempel ke tenggorokan pemilik kedai itu.

“Sekali lagi bicara kotor, akan kutebas lehermu!” dengus gadis itu geram.

“Eh! Ampun..., ampun, Nisanak! Aku tidak bermaksud begitu. Ampunkan kelancanganku...!” ratap si pemilik kedai, langsung mengkeret hatinya.

“Huh!” Gadis itu masih mendengus, meski pedangnya telah disarungkan kembali.

“Kisanak! Sebaiknya kau jangan sering-sering berpikir buruk begitu. Jagalah mulutmu, dan jangan asal bicara!”

“Eh, ba... baik.”

“Ayo, Imas. Kita bergegas!”

Gadis itu mengangguk. Dan segera melompat ke punggung kudanya. Dan dia segera menggebah tunggangannya, ketika Pendekar Rajawali Sakti telah berjalan cukup jauh.

********************

Imas Pandini masih merasa takjub mendengar dan melihat kesediaan pemuda itu membantunya. Apakah karena terharu melihatnya? Atau, barangkali memang telah berniat sejak semula? Ingin rasanya hal itu ditanyakannya. Namun, dia khawatir kalau pemuda itu mengurungkan niat gara-gara itu.

Hari telah malam, ketika kedua anak muda itu telah jauh dari desa yang disinggahi tadi. Dan sejak tadi Pendekar Rajawali Sakti diam saja. Tidak ada yang dibicarakan, sehingga membuat gadis itu jadi salah tingkah.

“Kau lelah?” tanya Pendekar Rajawali Sakti, memecah keheningan.

“Eh, apa?!” Imas Pandini terkesiap.

Rangga tersenyum. “Kau lelah?” ulang Rangga.

“Tidak,” sahut gadis itu singkat.

“Sebentar lagi malam semakin larut, hawa dingin akan bertambah.”

“Kalau kita berkuda cepat, maka sebelum tengah malam akan sampai,” jelas Imas Pandini.

“Kau yakin tidak lelah?” tanya Rangga lagi, ingin memastikan.

“Tidak. Aku masih kuat...!” sahut gadis itu cepat. Tiba-tiba gadis itu menoleh. Langsung dipandangnya pemuda itu dengan muka kasihan.

“Atau barangkali kau yang lelah?” tanya Imas Pandini.

Rangga kembali tersenyum seraya menggeleng. “Tidak.”

“Maaf, aku amat merepotkanmu,” ucap gadis ini lirih sambil menunduk.

“Tidak.”

“Aku ingin agar persoalan ini cepat selesai.”

“Menurutmu, siapa kira-kira yang melakukan pembunuhan terhadap mereka?”

“Aku tidak bisa menduga. Tapi mungkin saja pihak Perguruan Pedang Kilat.”

“Bagaimana luka mereka? Apakah akibat senjata tajam. Atau....”

“Tidak! Mereka luka akibat cakaran. Mengerikan sekali...! Seperti cakar seekor harimau besar,” potong Imas Pandini cepat, memberi penjelasan.

“Hm....” Rangga mulai menduga-duga.

“Kenapa? Apakah kau bisa mengenali luka seperti itu?”

“Belum.”

“Apakah tidak mungkin orang yang memiliki serangan khas seperti itu adalah si Cakar Maut?”

“Cakar Maut? Dia telah berada di sana?”

“Ya! Almarhum ayahku telah mengatakan kalau dia memiliki ilmu silat hebat dan tak tertandingi...!”

“Aku pernah dengar itu.”

Imas Pandini melirik Pendekar Rajawali Sakti. “Ayahku juga mengatakan, bahwa kau hebat.”

Rangga tersenyum. “Itu bohong. Aku hanya manusia biasa yang juga bisa mati seperti yang lainnya,” sahut Rangga merendah.

“Apakah itu berarti kau tidak yakin bisa mengalahkan si Cakar Maut?”

“Kenapa kau menanyakannya?”

“Entahlah. Pada malam terbunuhnya Ayah, kami tengah bercakap-cakap. Ayah kelihatan gelisah. Sudah tiga malam beliau bermimpi buruk. Banyak hal yang kami bicarakan. Tentang si Cakar Maut, juga tentangmu. Sebelum akhirnya, orang bertopeng itu muncul dan mengacaukan segalanya,” jelas Imas Pandini.

“Dia menggunakan jurus cakar...?”

“Kelihatannya begitu. Dia mampu menahan pedang ayahku dengan jari-jarinya,” lanjut Imas Pandini.

“Orang itu pasti memiliki tenaga dalam hebat...,” gumam Pendekar Rajawali Sakti.

“Kelihatannya begitu,” tambah Imas Pandini, pelan.

Kedua anak muda itu terdiam beberapa saat.

“Kalau boleh kutahu, apa penyebab pertikaian perguruanmu dengan orang-orang Pedang Kilat itu?” tanya Rangga.

“Entahlah, kami tidak tahu pasti. Hanya saja, ketika pada suatu malam di desa ada keramaian, murid-murid Perguruan Pedang Kilat yang saat itu ada di sana, menyalahkan murid-murid Perguruan Rebung Koneng. Mereka mengatakan, salah seorang dari pihak kami memukul murid Perguruan Pedang Kilat. Tapi ketika ayahku mendesak muridnya untuk berkata jujur, ternyata murid itu berani bersumpah kalau tidak pernah mengusik siapa pun. Sejak itu, pertikaian kecil-kecilan sering terjadi,” jelas Imas Pandini.

“Sebelum itu apakah ada suatu peristiwa yang penting antara kedua belah pihak?” desak Rangga, semakin tertarik.

“Memang ada.”

“Apa itu?”

“Beberapa bulan sebelumnya, Ki Mugeni datang dan bermaksud melamarku untuk putra tertuanya. Tapi, Ayah menolaknya.”

“Dan kau?”

“Semula aku tidak tahu apa alasan Ayah. Tapi setelah beliau mengatakannya, aku baru mengerti dan bisa menerima keputusan beliau.”

“Kalau boleh kutahu, apa alasan ayahmu?”

“Ayah mengatakan, mereka bukan keturunan baik-baik. Terlebih lagi, putra Ki Mugeni yang hendak dijodohkan padaku. Yaitu, Brajadenta yang tengah berguru pada tokoh sesat, si Cakar Maut. Ayah tahu, si Cakar Maut dengan ilmu iblisnya itu bisa menimbulkan malapetaka bagi siapa saja,” jelas Imas Pandini.

“Ayahmu benar. Dia punya alasan kuat.”

“Dari mana kau bisa tahu?”

“Aku bertemu seseorang yang menjadi korban ilmu si Cakar Maut. Dia cerita banyak tentang tokoh sesat itu. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk memenuhi permintaan Baladewa.”

“Dia tentu akan gembira kalau mengetahui kau memenuhi permintaannya.”

“Sayang.... Anak itu telah tiada...,” ucap Rangga, getir.

Imas Pandini terdiam. Dan perasaan sedih itu kembali menyelinap ke hatinya. Rangga bukannya tidak menyadarinya, ketika melihat bola mata Imas Pandini yang berkaca-kaca diterangi sinar rembulan.

“Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih,” ucap Rangga, lirih.

“Tidak apa,” sahut Imas Pandini.

Mereka kembali terdiam. Dan yang terdengar hanya derap langkah kuda yang berjalan pelan. Namun ketika salah satu ada yang hendak bicara....

“Awaaas!” Tiba-tiba Rangga berteriak sambil mendorong tubuh Imas Pandini di sebelahnya.

“Ohhh...!” Imas Pandini terjungkal dari punggung kudanya. Sedang Pendekar Rajawali Sakti sendiri menjatuhkan diri ketika satu sosok bayangan menyambar ke arah mereka dengan cepat.

Siuuut!

Begitu sambarannya gagal, sesosok bayangan tadi berbalik cepat. Dan kali ini sasarannya semakin jelas. Pendekar Rajawali Sakti.

“Heaaat...!

Rangga cepat bagai kilat melenting ke belakang untuk menghindari terjangan sosok bayangan hitam yang terus menyerangnya. Bahkan baru saja kakinya menjejak tanah, satu kibasan tangan menderu ke dadanya. Cepat Rangga menangkis.

Plak!

“Hah?!” Bukan main terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti ketika merasakan tangannya seperti menghantam sebatang besi. Rangga mengkertak rahang, ketika sosok itu telah menyerangnya kembali dengan cepat dan ganas.

Plak! Plak!

Wuuut!

Dua hantaman lawan berhasil ditangkis Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan kini Rangga balas menyerang dengan menyodokkan kepalan tangan kanan ke dada. Namun sosok berbaju hitam dengan topeng sebagai penutup wajah itu melompat ke belakang dengan gesit meski Pendekar Rajawali Sakti melanjutkan serangan dengan tendangan kaki kiri.

“Heaaat...!” Disertai bentakan nyaring, Pendekar Rajawali Sakti berkelebat mengejar sosok bertopeng hitam itu. Sesaat terjadi saling serang dan tangkis pada jarak dekat dengan cepat sekali. Dari situ, Pendekar Rajawali Sakti bisa menyadari kalau kedua tangan sosok berbaju hitam itu membentuk cakar yang kelihatan keras. Bahkan tercium bau racun ganas yang sempat menusuk hidung. Maka buru-buru pernapasannya dipindahkan ke perut.

“Hih!” Kini sosok bertopeng kain hitam itu melepaskan pukulan jarak jauh yang amat cepat dan dahsyat. Tampak dua larik sinar kekuningan meluruk deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti disertai angin menderu tajam.

“Uts! Sial...!” desis Pendekar Rajawali Sakti, seraya menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan.

TUJUH

Bukan saja pukulan itu cepat luar biasa. Tapi, juga mengandung racun hebat luar biasa. Baunya menusuk hidung, serta hawa panas menyengat menjadi pertanda kalau pukulan itu mengandung racun ganas. Bahkan batang pohon yang terkena pukulan itu seketika ambruk. Daun-daunnya dengan cepat menjadi layu dan kering.

“Heat!”

Begitu melenting bangkit, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kedua tangannya ke depan dengan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Saat itu juga dari kedua telapak tangannya yang terbuka melesat dua sinar berwarna merah bara dan berhawa panas.

Namun, sosok berpakaian serba hitam ini agaknya tidak gentar mendapat serangan dua cahaya merah yang bergerak cepat ke arahnya. Tubuhnya langsung melenting ke udara

Tapi, secepat itu pula Pendekar Rajawali Sakti berkelebat menyerangnya dari jarak dekat. Barulah, orang bertopeng itu benar-benar terkejut. Dalam keadaan di udara, mana mungkin bisa menghindar. Apalagi serangan Pendekar Rajawali Sakti benar-benar cepat. Akibatnya....

Begkh!

“Akh...!” Orang bertopeng itu menjerit tertahan begitu dadanya terhantam pukulan Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya kontan melayang ke belakang. Tapi, dia masih sempat mematahkan lontaran tubuhnya dengan berjumpalitan. Kemudian dia mendarat di tanah dengan bahu turun naik dengan cepat. Itu menandakan pernapasannya kacau akibat pukulan Pendekar Rajawali Sakti tadi.

“Hebat juga kau! Tapi, tidak usah sombong! Sebab, aku masih memberi kesempatan padamu untuk hidup!” dengus orang bertopeng itu.

“Kisanak! Aku tidak mengerti bicaramu. Tapi yang jelas hidup matiku tidak tergantung padamu,” sahut Pendekar Rajawali Sakti enteng.

“Keparat! Rupanya kau benar-benar sombong!” desis orang bertopeng itu langsung menerjang Pendekar Rajawali Sakti dengan serangan kilat.

“Huh!” Rangga mendengus sinis, bersiap menangkis serangan. Begitu serangan mendekat, kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti bergerak cepat.

Plak! Plak!

Bet!

“Uhhh....” Pendekar Rajawali Sakti sadar, kalau kali ini orang bertopeng itu bermaksud menjatuhkannya. Maka untuk itu Rangga pun telah bersiaga. Ketika kedua tangan orang bertopeng terpentang hendak menyambar ke arahnya, dia menjatuhkan diri sambil bergulingan.

“Hup! Yeaaa...!” Dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti melenting, dan langsung berjumpalitan dua kali ke atas. Kemudian tubuhnya menukik tajam menyerang orang bertopeng laksana seekor Rajawali yang hendak menerkam mangsa. Orang itu kelihatan agak gugup. Dan sebisanya, dia menangkis.

Plak!

Baru saja orang bertopeng itu menangkis, Pendekar Rajawali Sakti sudah mengayunkan sebelah kaki. Masih untung dia mampu mencelat ke belakang. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti yang sudah makin gemas terus mengejar dengan satu hantaman dahsyat yang tak terelakkan lagi.

Begkh!

“Aaakh...!” Orang bertopeng itu mengeluh kesakitan ketika kepalan Pendekar Rajawali Sakti bersarang di dadanya dengan cepat. Tubuhnya terus meluncur. Namun begitu mendarat ditanah, dia langsung berkelebat melarikan diri. Sebentar saja, tubuhnya lenyap dalam kegelapan malam.

“Kenapa diam saja?! Orang itu pembunuh Ayah dan adikku!” seru Imas Pandini merasa gemas, melihat pemuda itu mendiamkan saja lawannya lolos.

“Tenang saja, Imas! Tenanglah,” ujar Rangga seraya menangkap pergelangan tangan Imas Pandini yang hendak mengejar orang bertopeng itu.

“Kau membiarkan dia lepas begitu saja? Padahal, orang itu ada di depan hidungmu sendiri?!” desis gadis itu jengkel.

“Imas, tenanglah! Dia akan datang lagi padamu. Percayalah! Dia akan datang lagi!” sentak Rangga berulang-ulang.

“Huh!” Imas Pandini bersungut-sungut kesal seraya memalingkan wajahnya. Hatinya masih jengkel dan tidak mudah hilang begitu saja meski menyadari kalau memang tidak berhak memaksa pemuda itu.

Tetapi dia yakin, orang bertopeng tadi adalah pembunuh ayah serta adiknya. Dan, bukankah untuk urusan itu pemuda ini datang ke tempatnya?

“Dia terluka dalam akibat pukulanku. Akan kita selidiki, siapa orang di balik topeng itu. Kalau dalam sehari atau dua hari tidak muncul, maka berarti memang dia pembunuh Ayah dan adikmu. Tapi kalau dia muncul pada malam berikutnya, berarti bukan dia pembunuh yang kita cari,” jelas Pendekar Rajawali Sakti seraya melompat ke punggung kudanya.

Imas Pandini mengikuti, dan tidak banyak bicara.

“Maaf, mungkin kau sangat kecewa padaku. Tapi kita tidak boleh salah membunuh orang,” lanjut Rangga menjelaskan jalan pikirannya.

Imas Pandini masih diam membisu. Dan itu membuat Rangga jadi tidak enak hati.

“Kedatanganku kali ini atas undanganmu. Kalau saja Baladewa masih ada, aku mungkin masih bisa menekan rasa sungkan. Tapi kali ini, kaulah tuan rumahnya. Biarlah kuselesaikan ini dengan caraku sendiri. Dan rasanya, tidak perlu kau menjadi tuan rumah bagiku.”

Gadis itu menoleh. Dan wajahnya tampak murung. “Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu merasa asing.”

Imas Pandini tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan tertunduk lesu.

“Aku tahu, kau sedih dan juga kesal melihat sikapku tadi. Tapi selain alasan yang telah kukatakan tadi, kita pun harus mempertimbangkan akibat-akibat lain. Mungkin dia menjebak, atau memancing. Dan kalau itu benar, maka sia-sialah kedatanganku ke sini...,” kata Pendekar Rajawali Sakti.

“Sudahlah.... Soal itu aku tidak marah. Maafkan sikapku kalau tidak menyenangkanmu.”

“Tidak apa....”

Mereka kembali terdiam untuk beberapa saat.

“Sebentar lagi kita sampai,” ujar gadis itu membuka pembicaraan kembali.

“Di depan itu?” tunjuk Rangga ke arah sebuah bangunan bertingkat yang seluruhnya dipagar rapat oleh kayu-kayu setinggi dua tombak. “Ya.”

Wajah Imas Pandini berkerut heran begitu memasuki halaman perguruan. Saat ini, malam sudah larut. Tapi, murid-murid Perguruan Rebung Koneng kelihatan sibuk. Sementara cahaya obor dari halaman begitu banyak. Gadis itu buru-buru ke dalam. Beberapa murid terkejut, namun segera menarik napas lega begitu mengetahui siapa yang muncul.

“Ada apa? Kenapa kalian berkumpul tengah malam begini?” tanya Imas Pandini.

Pertanyaan gadis itu sedikit terjawab, ketika melihat beberapa sosok mayat bergelimpangan yang dikumpulkan di satu tempat. Buru-buru menghampirinya. Dan wajahnya pun kembali terkejut.

“Siapa? Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?!” desis Imas Pandini seraya memandang murid-murid Perguruan Rebung Koneng yang berada di dekatnya.

“Orang bertopeng itu, Den,” sahut salah seorang dari mereka.

“Bangsat terkutuk itu?! Dia datang lagi? Jahanam...!” desis Imas Pandini memaki.

Wajah gadis itu berubah kelam. Hawa amarah telah menguasai isi dadanya. Napasnya terasa sesak. Namun begitu, dia masih berusaha untuk menahan diri.

“Den Imas...,” sapa salah seorang murid.

“Hm, ya. Ada apa?”

“Banyak murid yang merasa takut. Mereka..., mereka bermaksud pergi esok hari,” lapor murid itu.

“Pergi? Kalian akan meninggalkanku seorang diri, setelah peristiwa ini?!” seru gadis itu dengan suara nyaring.

Murid-murid Perguruan Rebung Koneng menunduk ketika Imas Pandini memandangi satu-persatu.

“Di mana kesetiaan kalian? Apakah nyali kalian telah ciut menghadapi tantangan seperti ini?!” lanjut gadis itu.

Tidak ada seorang pun yang berani angkat kepala dan buka mulut. Semuanya tertunduk, membisu. Sementara gadis itu masih bersungut-sungut kesal.

“Biar aku bicara pada mereka,” kata Rangga pelan.

“Terserah kamu saja....”

“Kisanak semua.” Pendekar Rajawali Sakti mulai bicara pada mereka. “Kehadiranku di sini adalah atas kehendak Imas Pandini. Adapun tujuannya, agar aku membantu mengatasi petaka yang menimpa orang-orang di sini. Untuk itu, aku berharap kalian mau bekerja sama. Jika kalian ketakutan, maka mungkin saja keinginan orang itu berhasil. Yaitu, memang sengaja menakut-nakuti murid Perguruan Rebung Koneng. Dan, akhirnya kalian berpecah-belah. Itukah yang diinginkan Ki Sanjaya? Tentu tidak, bukan? Telah banyak yang menjadi korban. Dan kita harus membalasnya. Agar mereka yang telah mendahului tidak mati sia-sia.”

Rangga mengakhiri kata-katanya, kemudian memandang mereka satu-persatu. Sepertinya, dia hendak meyakinkan bahwa kata-katanya tadi bisa menyadarkan semangat mereka yang kendor untuk berkobar kembali.

“Orang bertopeng itu memiliki ilmu tinggi. Dan kami tidak ada harapan untuk bisa meringkusnya. Apalagi membunuhnya,” sahut salah seorang murid bernada lesu.

“Hanya satu orang. Sedangkan jumlah kita banyak. Lantas, apakah tidak mungkin bisa meringkusnya?”

“Itu telah dicoba. Dan hasilnya, malah Ki Sanjaya dan Baladewa tewas, ditambah beberapa murid lainnya. Lalu belum lama orang itu muncul, dan menewaskan beberapa murid lainnya. Apakah ini berarti kita akan menyediakan diri sebagai korbannya secara percuma?”

“Tidak! Kita akan melawannya. Dan aku akan membantu kalian!”

“Apa yang bisa kau bantu? Guru kami saja tewas di tangannya.”

“Tidakkah kalian tahu, siapa pemuda ini?!” teriak Imas Pandini dengan suara nyaring.

Semua murid Perguruan Rebung Koneng terdiam. Dan memang sebenarnya tak seorang pun yang tahu siapa pemuda yang bersama putri almarhum Ki Sanjaya itu.

“Dia adalah Pendekar Rajawali Sakti! Pernahkah kalian mendengar nama itu?”

“Pendekar Rajawali Sakti? Benarkah...?!”

Murid-murid Perguruan Rebung Koneng itu terkejut. Dan di antaranya saling bergumam dengan suara ribut seperti kawanan lebah.

“Bagaimana keputusan kalian sekarang?” tanya Imas Pandini.

“Apakah dia yakin bisa mengalahkan orang bertopeng hitam itu?” tanya salah seorang murid Perguruan Rebung Koneng.

“Ya! Apakah Pendekar Rajawali Sakti mampu mengalahkan iblis bertopeng hitam itu?” tanya yang lain mengikuti.

“Aku telah melihat sendiri. Dan dia mampu mengalahkannya! Sebelum tiba di sini, kami dihadang orang bertopeng hitam itu. Dan dia terlibat pertarungan dengan Pendekar Rajawali Sakti. Orang itu kemudian kabur, setelah Pendekar Rajawali Sakti menghajarnya!” sahut Imas Pandini, mantap.

“Oh, maaf!” tukas Rangga cepat, “Apa yang dikatakan Imas memang benar. Tapi, itu bukan berarti aku menjanjikan mampu mengalahkannya. Aku hanya berusaha. Dan itu harus dibantu kalian semua. Karena seperti kalian juga, aku adalah manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan. Bila tidak ada kerja sama di antara kita, maka aku akan sulit bekerja sendiri. Tapi bila kalian membantu, segalanya akan terasa ringan dan mudah!”

“Apa yang kau katakan benar! Kami akan mendukungmu!” sahut satu suara.

“Ya! Kita akan mendukungnya! Lagi pula ini adalah persoalan kita. Kita harus mendukungnya!” sambut yang lain.

Kemudian serentak semua murid Perguruan Rebung Koneng memberi dukungan satu-persatu. Imas Pandini tersenyum haru. Diajaknya dua orang murid Perguruan Rebung Koneng serta Pendekar Rajawali Sakti ke dalam ruangan utama. Sedang, yang lain membereskan mayat-mayat kawannya yang tadi masih berserakan.

“Kakang Wiriaraja telah gugur secara ksatria. Maka, kalian berdua kuanggap sebagai murid utama. Oleh sebab itu yakinkan sekali lagi pada murid-murid lainnya agar mereka bersatu. Kita tidak boleh berpecah-belah. Orang-orang Pedang Kilat memang menginginkan hal itu!” ujar Imas Pandini, begitu berada di dalam ruangan utama.

“Akan kami usahakan, Den!” sahut salah seorang murid utama.

“Bagus, Setiaki dan Darmaja! Ingat! Mereka tidak boleh mati sia-sia!” Imas Pandini kembali menegaskan.

Dan kedua murid utama itu mengangguk cepat.

“Lalu langkah apa yang akan kita lakukan sekarang, Den?” tanya murid yang dipanggil Darmaja.

Imas Pandini menoleh kepada Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga pun agaknya cepat tanggap. “Begini, Darmaja,” kata Pendekar Rajawali Sakti. “Seperti yang tadi dikatakan Imas, aku memang telah berhadapan dengan orang bertopeng itu. Kurasa setelah mengacau di sini, dia menghadang kami berdua. Jarak kami dengan tempat ini sedikit jauh. Mestinya dia harus kabur ke tempat utara. Tapi hal itu tidak dilakukannya. Orang bertopeng itu berlari ke selatan!” tuding Rangga.

Kedua orang itu berpikir sebentar. Demikian pula halnya Imas Pandini.

“Tahukah kalian, apa yang ada di selatan sana?”

“Itu tempat Perguruan Pedang Kilat...!” seru Imas Pandini.

“Nah! Aku pun berpikir begitu.”

“Apa maksudmu?”

“Kurasa bukan hanya aku yang berpikir, bahwa semua ini ada kaitannya dengan permusuhan kalian berdua. Sebab yang menjadi sasaran hanya perguruan ini....”

“Ya! Aku tidak mendengar kehebohan penduduk di sekitar desa ini akibat ulah orang bertopeng itu!” sahut murid utama yang bernama Setiaki.

“Nah! Berarti kecurigaan pertama kita tujukan pada mereka!”

“Lalu tindakan kita?” tanya Imas Pandini.

“Apakah pertandingan yang pernah disebutkan Baladewa padaku kini menjadi batal?”

“Tidak jelas. Tapi dengan adanya kejadian yang menimpa kami, agaknya mereka tidak pernah mempersoalkan itu lagi,” sahut Setiaki.

“Kalau begitu pergilah besok pagi-pagi sekali ke tempat mereka. Katakan, pertandingan itu kita laksanakan esok hari!”

“Tapi....”

“Jangan memotong dulu, Imas!” sahut Rangga cepat “Aku tahu, mungkin kau khawatir siapa yang akan menghadapi mereka. Aku yang akan menggantikan Ki Sanjaya melawan Ki Mugeni. Aku juga yang akan menggantikan Baladewa, serta aku juga yang akan menggantikanmu untuk menghadapi lawanmu!”

“Itu tidak bisa! Aku harus menghadapi lawanku sendiri!” tukas Imas Pandini.

“Imas! Jangan salah menilai. Aku tidak bermaksud merendahkan kemampuanmu. Dengan cara seperti itu, aku ingin memancing kemarahan mereka. Bukan tidak mungkin si Cakar Maut pun akan turun tangan. Saat itu akan kulihat, apakah memang dia orang bertopeng itu atau bukan!” jelas Rangga.

“Bagaimana cara mengenalinya?”

“Aku mengenali dari jurus-jurusnya. Juga, pancaran matanya. Dan yang lebih penting, aku telah membuat ciri khusus padanya.”

“Apa itu?”

“Goresan luka di lehernya. Itu kulakukan dengan kuku. Dan luka seperti itu tidak mudah hilang meski kecil dan kelihatan tak berarti!”

Imas Pandini mengangguk. Dan diam-diam dia merasa bersalah, karena tadi tidak percaya terhadap rencana Rangga yang melepaskan orang bertopeng itu. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Ini urusan antara kami dan mereka. Ki Mugeni tentu tidak suka orang lain ikut campur tangan,” kata Imas Pandini.

“Kenapa tidak kau katakan kalau aku pamanmu?”

“Ki Mugeni tahu semua saudara ayahku.”

“Kalau begitu, katakan saja aku saudara ibumu!”

“Itu lebih tidak mungkin. Sesungguhnya, antara almarhumah Ibu dan Ki Mugeni masih ada pertalian saudara meski jauh. Tapi, itu tidak membuat Ki Mugeni tak mengenal saudara-saudara almarhumah ibuku. Dia mengenalnya dengan baik.”

“Kalau begitu, katakan saja aku calon suamimu!” sahut Rangga enteng.

Wajah gadis itu seketika bersemu merah mendengar jawaban Pendekar Rajawali Sakti. Dan tanpa sadar, dia jengah sendiri sambil menundukkan kepala.

“Benar! Aku setuju!” sahut Setiaki.

“Ya. Aku pun setuju. Brajadenta pasti akan geram bukan main mendengar ini!” timpal Darmaja.

“Nah! Bagaimana, Imas?” tanya Rangga.

“Ya, terserah saja,” sahut gadis itu, pelan.

********************

DELAPAN

Ki Mugeni sama sekali tidak menyangka kalau pemuda berbaju rompi putih itu mengalahkan dua murid utamanya dengan mudah. Bahkan kurang dari satu jurus. Dan yang lebih membuatnya tidak habis pikir, pemuda itu pun mampu mengalahkan Santang Praja. Juga, dengan waktu singkat!

“Siapa lagi yang akan melawanku?” tanya pemuda tampan berambut panjang yang memakai rompi putih itu, seperti hendak memancing kemarahan lawan.

Brajadenta yang duduk di sebelah Ki Mugeni menggeram sinis. Kalau saja ayahnya tidak melarang, ingin rasanya dia turun tangan menghadapi pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti.

“Biar aku yang memberi pelajaran padanya!” sahut Ki Rampengan alias si Cakar Maut yang sejak tadi sudah mengepal-ngepalkan kedua tangan menahan geram.

“Belum saatnya, Ki. Biar aku saja yang menghadapinya,” sahut Ki Mugeni, langsung bangkit dan mengambil pedangnya.

Ketua Perguruan Pedang Kilat itu melangkah lebar kehalaman perguruan seraya menatap tajam-tajam Pendekar Rajawali Sakti. Jelas dia amat geram pada pemuda yang dinilainya angkuh ini. Berani-beraninya mengajukan diri sebagai lawan tunggal untuk menghadapi mereka semua! Dan yang membuat hatinya panas adalah, ketika murid-murid Perguruan Rebung Koneng yang hadir di tempat itu, bersorak-sorai gembira begitu melihat Rangga menjatuhkan lawan-lawannya.

“Sialan. Kau boleh lebih dulu, Anak Muda!” dengus Ketua Perguruan Pedang Kilat itu.

“Kau lebih tua dariku, Ki. Silakan!” ujar Pendekar Rajawali Sakti yang sudah menggenggam pedang yang disodorkan salah seorang penyelenggara pertandingan ini.

Tanpa basa-basi lagi Ki Mugeni menyerang Rangga dengan mengerahkan kepandaiannya. Pedangnya langsung berkelebat menyambar.

“Heaaa!”

“Uts!” Rangga cepat mengelak dengan menggeser kakinya ke samping seraya mengibaskan pedangnya untuk menangkis serangan.

Trang!

Wut!

Baru saja senjata mereka beradu, pedang Pendekar Rajawali Sakti berkelebat menyambar ke arah leher. Ki Mugeni terkesiap. Cepat-cepat tubuh diputar. Namun pedang pemuda itu terus mengikutinya. Bahkan saat dia melompat untuk menjatuhkan diri, Pendekar Rajawali Sakti mengikuti gerakannya. Dan tahu-tahu, telah menghunuskan pedang ke leher. Maka cepat Ki Mugeni memapak senjata pemuda itu.

Trang!

Namun pedang Pendekar Rajawali Sakti terus berputar, dan kembali ke tempat semula mengancam leher.

“Ini pertandingan jujur, Ki Mugeni. Kalau tidak, akan kutebas lehermu sejak tadi!” desis pemuda itu.

Ki Mugeni mengeluh tertahan dengan wajah pucat menahan malu. Di depan sekian banyak muridnya, dia tidak mampu mengalahkan pemuda itu. Bahkan ujung pedang mengancam lehernya.

Hal itu tidak terlalu mengherankan. Sebab melalui dua murid sebelumnya, serta setelah berhadapan dengan Santang Praja, Rangga lebih banyak tahu ciri khas ilmu silat lawan-lawannya yang memang bersumber dari Ki Mugeni. Sehingga tidak sulit baginya untuk mematahkan perlawanan mereka.

“Akulah lawanmu, Keparat! Heyaaa...!” Dalam pada itu, Brajadenta segera melompat seraya membentak nyaring.

Wut!

Pendekar Rajawali Sakti cepat mendorong tubuh Ki Mugeni, dan langsung mengibaskan pedang menyambut serangan. Tapi dengan lincah Brajadenta berkelit. Dan dia bermaksud meneruskan serangan. Namun sebelum dilakukan, Pendekar Rajawali Sakti telah lebih dulu bergerak menyerang.

“Heaaa...!”

“Hup!” Brajadenta coba bertahan dan balas menyerang. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak mau memberi kesempatan sedikit pun. Dia terus menyerang dengan gencar. Ujung pedangnya berkelebatan cepat menyulitkan Brajadenta. Putra tertua Ki Mugeni itu menggeram, kemudian melompat tinggi. Begitu berada di udara, cepat tubuhnya meluncur ke arah Pendekar Rajawali Sakti dengan kedua tangan terpentang setelah melempar pedang.

“Yeaaat!”

“Hm.... Kau mau mempergunakan jurus ‘Cakar Maut’? Baik, akan kuladeni apa kemauanmu!” desis Pendekar Rajawali Sakti.

Pada saat yang sama, kedua tangan yang membentuk cakar itu mencoba menyambar dada dan leher Rangga. Namun dengan gesit, Pendekar Rajawali Sakti menangkisnya.

Plak! Plak!

Bahkan Rangga balas menyerang seraya menyodokkan kepalan tangan kanan. Kemudian cakar tangan kirinya menyambar leher Brajadenta.

“Apa kau kira hanya kalian saja yang bisa bangga dengan jurus ‘Cakar Maut’? aku pun mampu melakukannya! Sesungguhnya orang-orang yang memiliki jurus ‘Cakar Maut’ seperti kalian, hanyalah pengecut-pengecut yang bersembunyi dibalik topeng!” desis Rangga mengejek.

“Keparat! Akan kutunjukkan padamu, bagaimana kami mengurus bedebah sombong sepertimu!” dengus Brajadenta semakin geram.

Brajadenta bermaksud mendesak Rangga dengan mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya. Namun hal itu ternyata tidak mudah. Sebab Pendekar Rajawali Sakti bukanlah lawan yang mudah dikalahkannya begitu saja.

Kini Brajadenta baru sadar kalau jurus ‘Cakar Maut’ yang dibanggakannya tidak mampu mendesak Pendekar Rajawali Sakti. Padahal, jurus yang membuat kedua tangannya sedikit menghitam dan berhawa racun ganas itu sangat mematikan, bila mengenai anggota tubuh lawan. Dan Pendekar Rajawali Sakti agaknya mengetahuinya. Sehingga dengan gesit mampu menghindar, lalu balas menyerang lewat tendangan-tendangan gencar.

“Hih!” Rangga melompat ke atas menghindari sambaran kedua cakar Brajadenta. Dan bersamaan dengan itu, sebelah kaki Pendekar Rajawali Sakti menyambar ke arah dada. Brajadenta berkelit ke belakang. Namun, Rangga ternyata bergerak berputar. Lalu, kakinya yang satu lagi menghantam muka Brajadenta dengan telak.

Diegh!

“Aaakh...!” Putra Ki Mugeni itu mengeluh tertahan, dan berusaha agar tidak roboh.

“Heaaa...!” Namun Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak ingin memberi kesempatan sedikit pun. Tubuhnya terus melesat mengejar. Tangan kirinya merobek baju lawan dibagian leher.

Brettt!

Kemudian Rangga cepat menyusuli dengan kepalan tangan kanan yang menghantam dada.

Begh!

“Aaah...!” Brajadenta terjungkal roboh disertai pekik kesakitan. Dari mulutnya menyembur darah segar akibat luka dalamnya. Beberapa giginya rontok dan berdarah. Demikian pula dari lubang hidungnya, akibat tendangan Rangga. Bahkan membuat tulang hidungnya patah.

“Itu belum seberapa dibanding kekejianmu terhadap Perguruan Rebung Koneng!” desis Rangga. Pendekar Rajawali Sakti kemudian mengedarkan pandangannya kesekeliling. Tampak orang-orang yang melihat pertandingan itu terkejut.

“Kau adalah orang bertopeng yang menyerang kami tadi malam! Aku kenali tatapan matamu, dan jurus-jurusmu. Aku kenali juga goresan di lehermu yang tidak kau sadari! Kau mungkin saja pembunuh keparat yang menyebabkan kematian Ki Sanjaya dan Baladewa, serta beberapa murid Rebung Koneng lainnya!” lanjut pemuda itu lantang, begitu kembali menatap Brajadenta.

Mendengar itu murid-murid Perguruan Rebung Koneng jadi heboh. Mereka berteriak-teriak marah. Sedang Ki Mugeni dan murid-muridnya terkesiap. Untuk sesaat, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Selamanya mereka yang mempelajari jurus ‘Cakar Maut’, selalu meminta korban darah untuk kelanggengan ilmunya. Dan di tempat ini, cuma kau dan gurumu yang celaka itu! Kalian berdua telah mencari korban terhadap orang-orang Perguruan Rebung Koneng, karena di antara kalian memang telah ada pertikaian!” teriak Pendekar Rajawali Sakti lantang.

“Bocah keparat! Kau kira bisa berlagak jago dengan cara-caramu itu? Boleh jadi kau bisa menjatuhkan mereka. Tapi kepadaku, jangan coba-coba!” dengus si Cakar Maut yang agaknya sudah tidak bisa menahan sabar lagi.

Sejak tadi Ki Rampengan alias si Cakar Maut memang sudah marah dan gusar melihat kelakuan pemuda yang dianggapnya sombong dan besar mulut. Hanya saja, dia masih merasa malu dan sedikit segan pada Ki Mugeni serta beberapa tamunya. Dia merasa sebagai tamu yang sungkan bila ikut campur dalam pertandingan ini. Tapi dengan adanya sindiran-sindiran tajam yang dilontarkan Pendekar Rajawali Sakti, membuatnya seperti punya alasan untuk tampil ke arena pertandingan. Bahkan tubuhnya langsung berkelebat menyerang Pendekar Rajawali Sakti!

“Heaaa...!”

Pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan si Cakar Maut tidak dapat dielakkan lagi. Ki Rampengan menyerang dengan cepat. Agaknya dia ingin menjatuhkan Pendekar Rajawali Sakti secepatnya, agar orang-orang yang berada di tempat itu menyadari siapa dirinya sebenarnya. Namun si Cakar Maut jadi kecewa sendiri, sebab pemuda yang menurut perkiraannya mudah ditaklukkan, ternyata cukup gesit. Bahkan mampu mengimbangi gerakannya. Hal ini tentu saja membuatnya semakin geram saja.

“Hih! Mampus kau, Bocah Gendeng!” dengus si Cakar Maut, geram sambil menghentakkan tangan kanannya ke depan.

Dalam pada itu, Ki Rampengan telah melepaskan pukulan maut yang berbentuk cahaya kuning. Cahaya itu terus melesat cepat ke arah Rangga disertai aroma busuk yang menyengat hidung.

“Awas! Racun...!” teriak orang-orang yang berada di sekitar tempat itu.

Segera orang-orang itu berdesak-desakan mundur dan menjauhi arena pertarungan. Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti melenting keatas sambil mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang memancarkan cahaya biru berkilauan.

Sring!

Glaaar!

Pukulan Ki Rampengan yang luput dari sasaran, menghantam salah satu batang pohon hingga hancur berantakan. Daun-daunnya langsung kering dan layu dalam waktu singkat. Tentu saja hal itu mengagetkan mereka yang menyaksikan.

“Astaga! Pendekar Rajawali Sakti akan binasa di tangannya!” seru seorang murid Perguruan Rebung Koneng.

Imas Pandini yang mendengar seruan itu diam membisu dengan hati penuh harap dan cemas. Kalau saja pemuda itu tewas, dia pasti akan merasa bersalah. Sebab, persoalan ini sama sekali tidak ada sangkut-paut dengannya!

Sementara itu Rangga sama sekali belum merasa terdesak oleh serangan gencar si Cakar Maut. Dia masih mampu berkelit lincah ke sana-kemari.

“Ki Rampengan! Ajalmu sudah didepan mata. Apakah kau tidak ingin mengakui dosa-dosa yang telah kau lakukan?” tanya Pendekar Rajawali Sakti, dingin.

“Bocah busuk! Bicara apa kau?! Kaulah yang akan mampus di tanganku!”

“Hm.... Jurus ‘Cakar Iblis’ yang kau miliki memang terkenal. Dan menurut sebagian orang memang sangat hebat! Tapi aku belum melihat kehebatannya, selain perbuatanmu yang pengecut dan menyerang pihak lawan dengan menggunakan topeng. Tapi, jangan kira tidak ada yang mengetahui perbuatan busukmu!”

“Bocah gendeng, bicaramu semakin ngawur! Barangkali karena ajal akan menjemputmu sebentar lagi!” desis Ki Rampengan, berusaha mendesak dengan serangan-serangan gencar.

Kedua tangan si Cakar Maut perlahan-lahan berubah merah membara laksana bara api hingga sebatas siku. Raut mukanya pun memancarkan bias menggiriskan laksana iblis neraka. Dengan kedua tangan terpentang dan muka berkerut geram penuh amarah, dia bermaksud merobek-robek Pendekar Rajawali Sakti dalam waktu singkat.

“Heaaa...!” Kembali Ki Rampengan menghentakkan tangan kanannya. Maka kembali sinar kuning ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gerakan melenting ringan Rangga mampu menghindarinya. Dan akibatnya pagar kayu di halaman luar rumah Ki Mugeni hancur berantakan dihajar pukulan jarak jauh itu. Sudah barang tentu hal ini semakin membuat Ki Rampengan geram bukan main.

“Bocah busuk! Apakah kebisaanmu hanya menghindar seperti monyet?! Ayo, lawan aku kalau memang mampu!” bentak Ki Rampengan alias Cakar Maut.

“Sayang sekali, apa yang ingin kulawan darimu? Aku hanya ingin berhadapan dengan tokoh yang telah membunuh Ki Sanjaya dan Baladewa. Kata orang, dia hebat dan sakti mandraguna. Bila berhadapan dengan orang itu, tentu akan puas sekali hatiku,” sahut Rangga, berusaha untuk terus memancing kemarahan.

“Keparat! Aku mampu membuat kau mampus seperti si tua Sanjaya dan putranya itu!”

“Kau mampu melakukannya seperti orang bertopeng itu? Silakan saja...!” cibir Pendekar Rajawali Sakti.

Ki Rampengan adalah tokoh yang berwatak kasar dan mau menang sendiri. Maka mendengar pemuda itu menganggap enteng dirinya, sudah membuatnya gusar sekali.

“Kalau kau mau tahu, akulah orang bertopeng yang kau maksudkan! Aku yang membunuh si Sanjaya dan putranya itu!” ujar Ki Rampengan lantang. Dan tanpa sadar dia telah membuka kedoknya sendiri.

“Kau? Mana mungkin? Apakah berarti muridmu tidak ikut andil? Sebab, aku yakin dia yang menyerangku tadi malam, setelah memporak-porandakan Perguruan Rebung Koneng.”

“Huh! Apa pedulimu?! Yang jelas, si Sanjaya mampus ditanganku. Demikian pula putranya. Dan kau pun akan mampus di tanganku!” desis si Cakar Maut geram.

“Begitukah...?” sahut Pendekar Rajawali Sakti disertai senyum dingin. Kemudian mendekatkan pedang pusakanya kewajah yang saat itu penuh perbawa! “Cakar Maut! Aku telah bersumpah akan membunuh mereka yang telah membunuh Baladewa. Bersiaplah menjemput ajalmu!” desis Pendekar Rajawali Sakti dingin.

“Bocah keparat! Kesombonganmu akan berakhir di tanganku!” bentak Ki Rampengan geram seraya melompat menyerang.

“Hih!”

Rangga tidak berdiam diri. Tubuhnya langsung berkelebat menyambut serangan. Pedang Pusaka Rajawali Sakti bergerak menyambar pinggang. Namun dengan gesit, Ki Rampengan mengelak dengan bergerak ke atas. Tapi saat itu juga, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan tangannya melepaskan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’, dalam jarak dekat.

Dan pukulan yang bergerak cepat, membuat si Cakar Maut kelabakan. Dengan susah payah dia menjatuhkan diri ke bawah. Dan saat itu juga senjata Pendekar Rajawali Sakti menyambar secepat kilat.

Crasss!

“Aaakh...!” Ki Rampengan kontan memekik keras. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dengan darah mengucur deras dari luka di dada. Dan Pendekar Rajawali Sakti tak memberi ampun lagi. Langsung dikirimkannya satu tendangan keras ke arahnya.

Des!

“Aaa...!” Nyawa si Cakar Maut langsung melayang dari tubuhnya, sebelum mencapai tanah.

“Guru...!” Bersamaan dengan itu Brajadenta terkejut dan berteriak keras seraya menghampiri mayat gurunya. Wajahnya tampak kalap. Amarahnya menggelegak ketika melihat gurunya telah menjadi mayat. Seketika dia berpaling dan langsung melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. “Kau harus mampus keparat! Yeaaat...!”

Tapi Rangga bertindak tidak kepalang tanggung. Tubuhnya cepat berkelebat menyambar dengan pedangnya, menyambut kedua tangan Brajadenta yang terpentang membentuk cakar. Dan...

Brues!

“Aaa...!” Pemuda itu memekik keras. Tubuhnya langsung terjungkal ke belakang dengan darah mengucur deras dari luka di perutnya yang terkoyak lebar akibat tebasan senjata Pendekar Rajawali Sakti. Masih sempat dia memandang penuh dendam ke arah Rangga dengan kedua tangan meregang, sebelum akhirnya diam tidak berkutik.

Rangga termangu sesaat. Dan dia masih belum sadar sepenuhnya setelah Ki Mugeni dan yang lainnya merubungi mayat Brajadenta dengan bersimbah air mata. Pendekar Rajawali Sakti baru tersadar, ketika melihat Imas Pandini ikut dalam kerumunan. Gadis itu berjongkok memandangi mayat Brajadenta. Wajahnya tampak muram dan sedih.

Trek!

Pendekar Rajawali Sakti menyarungkan pedangnya di punggung. Masih sempat dia bertatapan dengan Imas Pandini yang memandang kosong. Lalu pelan-pelan gadis itu kembali memandangi mayat Brajadenta. Tidak ada sedikit pun yang menunjukkan pernyataan terima kasih terhadap Pendekar Rajawali Sakti yang telah membunuh dua orang yang telah banyak membunuh murid-murid Perguruan Rebung Koneng. Bahkan yang telah menyebabkan kematian adik serta ayahnya!

Rangga melangkah pergi tanpa menghiraukan mereka diiringi pandangan mata beberapa murid Perguruan Rebung Koneng. Dia tidak peduli, apakah gadis itu senang atau benci tindakannya. Kalau ternyata Imas Pandini tidak suka, toh hal itu tidak membuat hatinya merasa bersalah. Karena gadis itu sendiri yang memintanya untuk membantu menyelesaikan persoalan tentang pembunuhan terhadap ayah dan saudaranya, serta beberapa orang murid Perguruan Rebung Koneng. Dan Rangga yakin, di lubuk hati Imas Pandini yang paling dalam, terselip rasa cinta terhadap Brajadenta, pemuda yang hendak melamarnya itu.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: ISTANA TULANG EMAS
Thanks for reading Cakar Maut I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »