Tengkorak Hitam

TENGKORAK HITAM

SATU
SIANG ini teramat panas. Tanah kelihatan merekah kekurangan air. Rerumputan meranggas kering kerontang. Bangkai-bangkai binatang tampak bergeletakkan di sepanjang jalan tanah berdebu yang panas terbakar matahari. Entah, sudah berapa lama kemarau ini berlangsung, seolah tidak akan pernah berakhir. Langit selalu terlihat bening, tanpa sedikit pun awan menggantung. Angin yang bertiup, menyebarkan udara kering. Sehingga tidak ada satu makhluk pun yang bisa bertahan hidup di claerah ini.

Namun di bawah sengatan matahan yang panas dan tanah merekah ini, terlihat sepasang kaki kekar melangkah tegap menelusuri jalan tanah berdebu yang pecah terbakar teriknya sang Mentari. Sepasang kaki kekar milik seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun itu, seakan tidak peduli pada keadaan sekelilingnya. Kakinya terus melangkah terayun mantap, dengan tatapan mata tajam tertuju lurus ke depan. Seakan-akan ada satu harapan yang sedang dituju laki-laki berbadan tegap dan berbaju dari kulit binatang itu di depan sana.

Wajah yang seharusnya tampan, tidak lagi terlihat ketampanannya, karena tertutup debu yang melekat bercampur keringat. Entah, sudah berapa hari tubuhnya tidak pernah dibersihkan lagi. Rambut-rambut kasar sudah terlihat hampir memenuhi seluruh wajahnya. Tapi, keadaan dirinya sama sekali tidak dipedulikaa Dia terus berjalan dengan ayunan kaki mantap, menapak tanah merekah terbelah dibakar terik matahari. Namun tiba-tiba saja, ayunan langkahnya terhenti. Seketika, kepalanya bergerak miring ke kiri.

"Hm.... Aku seperti mendengar suara aliran air dari sebelah kiri...," gumam laki-laki itu perlahan, bicara pada diri sendiri.

Sebentar laki-laki berbaju kulit binatang itu terdiam, menajamkan pendengarannya. Suara gemericik air yang semula hanya sayup-sayup, kini semakin jelas sekali mengusik telinganya. Entah kenapa, tiba-tiba saja bibirnya yang sudah kering dan pecah-pecah menyunggingkan sebuah senyum tipis. Kemudian, kakinya kembali terayun menghampiri arah gemericik air yang terdengar tadi. Semakin jelas suara itu terdengar, semakin cepat saja ayunan langkah kakinya.

"Ah! Tidak salah pendengaranku. Ada sungai di depan sana...," desah laki-laKi itu gembira. Tanpa membuang-buang waktu lagi, laki-laki muda berbaju kulit binatang berbulu putih itu langsung berlari cepat, menghampiri sungai kecil yang berada tidak begitu jauh lagi di depannya. Namun belum juga sampai ke sungai itu, tiba-tiba saja....

”Wusss...!" "Heh...?! Hup!"

Cepat pemuda itu melompat sambil memutar tubuhnya ke belakang, begitu tiba-tiba terlihat sebatang tombak panjang melesat begitu cepat dari depan. Dan tombak itu menancap tepat di tanah, tempat dia berdiri tadi. Lalu kakinya manis sekali menjejak kembali di tanah. Namun belum juga bisa menarik napas, dari balik bebatuan yang ada di tepian sungai kecil itu berlompatan lima orang laki-laki berusia lanjut, dengan pakaian sudah compang-camping tidak berbentuk lagi.

Mereka semua menggenggam tombak kayu yang cukup panjang ukurannya. Gerakan-gerakan mereka begitu ringan. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun juga, kaki mereka menjejak secara bersamaan, sekitar tujuh langkah lagi di depan pemuda ini. Lima orang tua itu seperti gelandangan saja. Tapi, dari cara bergerak tadi, sudah bisa dipastikan kalau mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Ilmu meringankan tubuh mereka sudah cukup tinggi tingkatannya. Hingga tidak menimbulkan suara sedikit pun saat melompat dari balik batu, dan menjejakkan kakinya di tanah tadi.

"Siapa kalian? Kenapa tiba-tiba menyerangku..?" tanya pemuda berbaju kulit binatang itu dingin nada suaranya.

"Pergilah, Orang Asing! Kami tidak mengharapkan kedatanganmu di sini!" bentak salah seorang, kasar.

"Maaf.... Apakah kedatanganku mengganggu kalian?" tanya pemuda itu, mencoba ramah. Namun, tetap terdengar dingin nada suaranya.

"Semua orang yang datang ke tempat ini hanya akan membawa bencana. Sebaiknya, cepat pergi, sebelum kami bertindak keras padamu!" bentak orang tua itu lagi, masih dengan suara kasar.

"Aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya ingin melepaskan dahaga saja. Boleh minta sedikit air sungai itu...?"

"Air itu milik kami. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya. Sebaiknya, cepat pergi, Anak Muda. Jangan membuat kesabaran kami hilang!"

Kening pemuda berbaju kulit binatang itu jadi berkerut Walaupun masih bisa bertahan tanpa air, tapi untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh dan harus melintasi daerah sangat kering ini, rasanya dia tidak akan mungkin bisa bertahan lebih lama lagi. Sekarang pun, tenggorokannya sudah terasa begitu kering. Mungkin hanya dengan setetes air saja, bisa menambah daya tahannya dalam melanjutkan perjalanan, agar bisa keluar dari daerah yang sangat gersang ini. Tapi, tampaknya tenggorokannya yang kering tidak mudah begitu saja disegarkan. Lima orang tua ini sudah tentu tidak akan membiarkan air sungai itu tersentuh olehnya.

"Kisanak! Aku hanya menginginkan sedikit saja air sungai itu. Dan aku akan segera pergi dari sini tanpa harus membuat kerugian pada kalian," kata pemuda itu lagi, masih mencoba tidak bermain kasar.

"Sudah kukatakan, tidak ada air untukmu. Anak Muda! Cepatlah pergi, sebelum kepalamu terpisah dari leher!"

"Hm..." Kembali kening pemuda itu jadi berkerut, mendengar ancaman yang tidak bisa dipandang main-main lagi. Dan tampaknya, lima orang tua ini juga tidak suka berbaik hati untuk membagi airnya. Sedikit pemuda itu mengangkat bahunya, kemudian melangkah menuju sungai, tanpa mempedulikan lima orang tua yang langsung mendelik.

"Anak muda keparat...! Rupanya kau keras kepala juga, heh...?!" bentak salah seorang dari lima orang tua itu geram.

Tapi pemuda berbaju kulit binatang berbulu pu tih itu Bdak lagi mempedulikannya Kakinya terus saja melangkah, melewati kelima orang tua itu. Tapi belum juga sampai ke sungai, lima orang tua itu sudah cepat berlompatan menghadangnya. Malah salah seorang langsung saja memberi sodokan tangan kiri yang sangat cepat dan keras ke arah dada.

"Haiiit...!" Namun dengan gerakan gesit sekali, pemuda itu berhasil menghindari sodokan orang tua berbaju compang-camping dan kotor itu. Dan sambil memutar tubuhnya, dilepaskannya serangan balasan berupa satu pukulan keras, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi pada orang tua yang menyerangnya tadi

"Hap!” Namun orang tua itu tidak berusaha berkelit menghindarinya. Bahkan pukulan itu langsung ditangkis dengan tangan kiri, hingga pukulan tangan kanan pemuda ini jadi menghantam tangan kiri orang tua ini dengan keras.

Plak! "Ikh...?! Pemuda itu jadi terpekik kaget. Cepat dia melompat ke belakang beberapa langkah. Tapi, orang tua itu juga tersentak kaget setengah mati. Sungguh tidak disangka kalau kekuatan tenaga dalam yang dimiliki pemuda ini sungguh luar biasa. Malah bibirnya sampai meringis ketika tubuhnya melompat ke belakang dan berputaran di udara tiga kali, sebelum menjejak tanah.

Empat orang tua lainnya juga tampak terkejut melihat adu kekuatan tenaga dalam tadi. Mereka juga tidak menyangka kalau pemuda itu memiliki kekuatan tenaga dalam tinggi.

"Seraaang...!"

Belum lagi lenyap teriakan orang tua yang tadi mengadu kekuatan tenaga dalam, empat orang tua lainnya langsung cepat berlompatan menyerang secara bersamaan. Namun, pemuda berbaju kulit binatang itu memang bukanlah pemuda sembarangan. Dengan gerakan-gerakan tubuh yang begitu indah, semua serangan dari empat orang tua ini berhasil dielakkannya. Bahkan cepat bisa melancarkan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Akibatnya, orang-orang tua itu jadi terkejut setengah mati. Sungguh tidak disangka kalau mereka akan mendapat balasan yang begitu hebat.

"Beri dia pelajaran! Hiyaaat...!"

"Yeaaa...!"

Kini pemuda itu dikeroyok lima orang tua yang semuanya menggunakan senjata tombak Tentu saja dia juga tidak mau mati konyol di tempat gersang yang sangat asing bagi dirinya. Maka pedangnya yang sejak tadi tersandang di punggung cepat dicabut. Kini kilatan cahaya putih keperakan dari pedang itu tampak bergulung-gulung cepat sekali, menyambar setiap hujaman tombak yang mengancam tubuhnya.

Tring! Trang! "Ikh...?!"

Pemuda itu jadi terkejut setengah mati, ketika pedangnya beberapa kali berbenturan dengan tombak-tombak lawannya. Sungguh tidak disangka kalau tombak-tombak yang kelihatannya terbuat dari kayu rapuh, ternyata memiliki kekuatan tidak kalah dari besi baja. Dan setiap kali terjadi benturan, tangan pemuda itu terasa jadi bergetar. Saat itu juga, cepat disadari kalau lima orang tua yang menjadi lawannya ini, memiliki kepandaian yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

"Awas kaki...!" Tiba-tiba saja, salah seorang laki-laki tua itu membentak nyaring. Dan tombaknya langsung dikebutkan berputar, menyambar ke arah kaki. Namun, pemuda itu manis sekali melompat menghindarinya. Dan pada saat itu juga, tanpa diduga sama sekali orang tua lainnya sudah melompat sambil melepaskan satu pukulan keras dengan tangan kiri dari arah samping kanan.

"Huphs...!" Cepat-cepat pemuda itu menarik tubuhnya ke belakang, hingga pukulan orang tua itu hanya lewat di depan dada. Namun, ketika satu tendangan lawan lain meluncur deras dari arah belakang tidak bisa lagi dihindarinya. Hingga...

Dugkh! "Akh...!"

Keras sekali tendangan yang mendarat di punggung pemuda itu, hingga membuatnya jatuh tersungkur. Tubuhnya langsung bergulingan di tanah yang kering dan berdebu ini, namun cepat bisa bangkit berdiri kembali. Dan belum juga bisa menegakkan tubuhnya, salah seorang lawan sudah melompat cepat bagai kilat Bahkan langsung melepaskan satu tendangan menggeledek, disertai teriakan keras menggelegar.

"Hiyaaat..!"

Begitu cepat serangan itu berlangsung, hingga pemuda berbaju kulit binatang yang belum juga siap ini tidak dapat lagi menghindarinya. Dan....

Duk! "Akh...!" Kembali pemuda itu memekik keras, begitu tendangan bertenaga dalam cukup tinggi mendarat telak di dadanya. Seketika tubuhnya terpental cukup jauh ke belakang, dan jatuh menghantam tanah dengan keras. Maka kembali terdengar suara pekikan agak tertahan. Beberapa kali tubuhnya bergulingan di tanah.

Dan pada saat itu juga, lima orang tua ini sudah berlompatan secara bersamaan. Dan bersamaan pula, mereka menjejakkan kaki di sekeliling pemuda berbaju kulit binatang itu. Ujung tombak mereka yang runcing dan terhunus, langsung menempel di dada yang terbuka dan menggeletak menelentang di tanah. Namun, tidak seorang pun yang menghujamkan tombak, sehingga pemuda itu jadi tak mengerti tanpa bisa berbuat sesuatu. Dan dia hanya bisa mendelik matanya memandangi wajah-wajah tua keriput yang siap menghujamkan tombak ke dadanya.

"Kenapa tidak membunuhku...?! Ayo, lakukan! Kalau itu yang kalian inginkan!" bentak pemuda itu, pasrah.

Tapi, tetap saja tidak ada seorang pun yang menghujamkan tombaknya. Malah mereka menarik kakinya ke belakang, dan menarik tombak dari dada pemuda itu. Sikap orang-orang tua itu membuat pemuda ini jadi tidak mengerti. Dia beringsut sedikit, lalu perlahan-lahan bangkit berdiri. Sambil meraih pedangnya yang tergeletak di sampingnya, perlahan dia kembali berdiri tegak. Kedua bola matanya yang tajam, memandangi wajah lima orang tua yang kini sudah kembali berada di depannya, berjarak sekitar lima langkah saja. Mereka juga memandangi pemuda itu dengan sinar mata tidak kalah tajamnya.

"Kenapa kalian tidak membunuhku? Apa kalian tidak berani lagi membunuh orang kalah...?" desis pemuda itu, dingin bernada mengejek.

"Kau memang keras kepala, Anak Muda. Tapi kepandaianmu sangat kami hargai Dan, orang sepertimulah yang kami tunggu-tunggu sejak lama," kata orang tua yang berdiri di tengah-tengah.

"Apa maksudmu...?" tanya pemuda itu jadi tidak mengerti

"Dengar, Anak Muda. Kami adalah lima orang tua yang sudah kehilangan masa kejayaan, dan tidak bisa lagi menikmati indahnya dunia. Kami terpaksa harus mengasingkan diri ke tempat yang kering dan mematikan ini. Terus terang, kami berlima membutuhkan seorang anak muda sepertimu. Berbakat, keras kepala, dan punya keberanian yang tidak dimiliki orang lain."

Pemuda itu hanya diam saja mendengarkan. Namun, masih belum juga bisa dipahami kata-kata orang tua yang mengenakan baju wama hitam, kotor, dan compang-camping itu. Sedangkan empat orang tua lain hanya diam saja. Seakan, mereka tidak punya hak untuk bersuara.

"Sudah beberapa orang yang datang ke sini dan membutuhkan air dari sungai ini. Tapi, mereka semua langsung lari tunggang langgang begitu mendengar ancaman kami. Dan ternyata, kau tidak. Anak Muda.... Kau malah menentang kami, dan bisa menahan lima jurus. Pemuda sepertimulah yang diharapkan bisa mewarisi ilmu-ilmu kami, dan meneruskan cita-cita kami untuk menguasai seluruh rimba persilatan," lanjut orang tua itu.

"Apa...?!" Pemuda itu jadi tersentak kaget setengah mati, mendengar kata-kata orang tua yang tadi menjadi lawannya bertarung. Sungguh tidak disangka, kalau lima orang tua yang memiliki kepandaian sangat tinggi ini, sebenarnya sedang mencari seorang murid yang bisa mewarisi ilmu-ilmunya. Entah, perasaan apa yang ada dalam dada pemuda itu. Dipandanginya wajah-wajah tua itu satu persatu. Sinar matanya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Berlututlah kalau kau memang ingin mewarisi ilmu-ilmu dari lima Pemimpin Partai Tengkorak Hitam yang pernah menguasai lima penjuru dunia persilatan," kata orang tua berbaju hitam compang-camping itu dengan suara agak berat.

"Oh...?!" Entah kenapa, pemuda itu jadi terlongong bengong. Seakan tidak dipercayai kalau sekarang benar-benar menghadapi sebuah kenyataan. Bukan hanya mimpi belaka! Tidak pernah terlintas dalam angan-angannya, bisa bertemu lima Pemimpin Partai Tengkorak Hitam yang namanya sangat ditakuti semua tokoh persilatan di lima penjuru rimba persilatan di muka bumi ini.

Namun, memang sudah sepuluh tahun ini nama Partai Tengkorak Hitam menghilang dari rimba persilatan. Tidak ada seorang pun yang tahu, apa sebabnya. Semua orang hanya tahu kalau kakuatan Partai Tengkorak Hitam dilima penjuru rimba persilatan sudah dihancurkan para pendekar golongan putih yang bergabung menjadi satu. Dan selama sepuluh tahun ini, tidak ada seorang pun yang pernah lagi mendengar keberadaan mereka. Tapi sekarang, mereka berada di tempat ini, di daerah gersang yang sedikit pun tidak ada napas kehidupannya Dan mereka kini berhadapan dengan seorang pemuda tangguh, yang diharapkan bisa mewarisi ilmu-ilmu mereka.

"Bagaimana, Anak Muda...? Kau bersedia menjadi murid kami, dan mewarisi ilmu-ilmu gabungan dan lima Pemimpin Partai Tengkorak Hitam .?" tanya orang tua itu, setelah cukup lama terdiam membisu.

"Aku... aku tidak tahu...,'' ujar pemuda itu jadi tergagap. Pemuda berbaju kulit binatang itu memang kelihatan kebingungan sekali. Sulit untuk langsung bisa memutuskan, menerima atau menolak tawaran lima orang tua yang dalam waktu sepuluh tahun lalu menguasai seluruh rimba persilatan ini.

Memang sulit untuk bisa memutuskan, karena semua orang tahu, siapa orang-orang tua ini Mereka tentulah orang-orang yang sangat kejam. Bahkan kekejamannya melebihi iblis-iblis neraka. Mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja yang tidak disukai. Bahkan kesalahan yang hanya sedikit saja, membuat nyawa manusia melayang.

Itulah sebabnya, kenapa para pendekar golongan putih begitu membenci. Tak heran kalau para pendekar bergabung menjadi satu, menghancurkan partai mereka di lima penjuru dunia persilatan. Malah, tak sedikit dari pengikut Partai Tengkorak Hitam yang memberontak, karena tidak tahan menerima perlakuan kejam kelima orang tua ini. Mereka memang tak segan-segan membunuh anak buahnya sendiri, walau hanya sedikit saja kesalahan yang dilakukan.

"Bagaimana, Anak Muda...? Kau bersedia menerima tawaranku?" desak orang tua itu lagi.

"Kalau aku menerima, apa yang harus kulakukan?" pemuda itu malah balik bertanya.

"Membangun kembali masa kejayaan Partai Tengkorak Hitam."

"Lalu...?"

"Hanya kau pemimpin tunggalnya. Karena, tidak lama lagi kami berlima akan meninggalkan dunia ini. Kau bisa mengumpulkan sisa-sisa pengikut setia kami yang kini tercerai berai."

"Hm.... Bagaimana mereka tahu aku yang menjadi pemimpinnya nanti?"

"Kau akan mendapatkan sebuah tanda kepemimpinan tertinggi dari kami berlima. Dengan tanda itu, mereka semua tidak ada yang berani lagi menentang semua perintahmu. Kau akan kami jadikan seorang pemimpin besar. Bukan hanya menguasai lima penjuru rimba persilatan, bahkan seluruh dunia persilatan. Kau akan menguasai semua raja yang ada di muka bumi ini. Partai Tengkorak Hitam akan kembali bangkit di tanganmu, Anak Muda."

Pemuda itu jadi terdiam membisu Keningnya tampak berkerut. Entah, apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Sedangkan lima orang tua yang dikenal sebagai Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu masih tetap sabar menunggu jawaban.

"Baiklah. Tawaran kalian kuterima," kata pemuda itu akhirnya.

"Bagus...." Lima orang tua itu tersenyum cerah, mendengar kesediaan anak muda ini menjadi muridnya. Seketika pemuda itu langsung menjatuhkan diri, berlutut di depan lima orang tua Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu.

"Guru... Terimalah sembah hormat muridmu”

"Ha ha ha...!"

Lima orang tua itu tertawa terbahak-bahak, melihat sikap murid tunggal mereka. Suara tawa keras mereka menggema bagai hendak meruntuhkan langit. Sedangkan anak muda berbaju kulit binatang itu masih tetap berlutut, dengan kedua telapak tangan merapat di depan dada. Dan tubuhnya baru bangkit berdiri setelah diperintahkan salah seorang guru barunya.

"Mulai sekarang, kau menjadi pewaris tunggal Partai Tengkorak Hitam," kata laki-laki tua berbaju hitam yang pada bagian punggungnya bergambar kepala tengkorak berjumlah lima.

"Siapa namamu?" tanya orang tua yang pakaiannya bergambar kepala tengkorak berjumlah empat.

"Bragata."

"Dengar, Bragata. Kau tidak boleh tahu nama kami yang sebenarnya. Kau hanya boleh memanggil kami dengan sebutan Eyang, berdasarkan urutan. Aku Eyang Lima..."

"Aku Eyang Empat."

"Dan aku...,"

Lima orang tua itu masing-masing menyebutkan nama panggilannya. Sementara pemuda yang mengaku bernama Bragata hanya memandangi saja satu persatu. Tidak sulit untuk membedakan, walaupun semua mengenakan baju warna hitam. Karena di punggung mereka tertera gambar kepala tengkorak yang jumlahnya berlainan. Mungkin. Gambar itu yang menunjukkan tingkatan kepemimpinan mereka. Semakin banyak jumlahnya, semakin tinggi tingkatannya.

"Aku bersumpah akan selalu mematuhi perintahmu, Eyang," ucap Bragata.

"Ha ha ha...!"

********************

DUA

Dunia persilatan memang sejalan dengan warna kehidupan. Hitam dan putih. Ada kejahatan dan kebaikan. Tidak pernah damai dan tenteram sepanjang zaman. Walaupun sudah banyak partai besar golongan hitam yang hancur, tapi masih saja ada yang tumbuh kembali. Bahkan, partai kecil beraliran hitam pun tidak sedikit jumlahnya, membuat dunia persilatan terus bergolak.

Di sisi lain, tidak sedikit bermunculan pendekar muda beraliran putih yang berkepandaian tinggi. Dan semua pertentangan itu membuat dunia persilatan semakin ramai, penuh segala macam persaingan. Sehingga, membuat tanah tidak pernah kering oleh siraman darah yang selalu tumpah setiap saat.

Dan kini dunia para pendekar penegak keadilan kembali digemparkan oleh munculnya Partai Tengkorak Hitam yang pada masa dua puluh tahun lalu pernah pudar namanya. Kelompok itu semakin hari semakin bertambah besar dan kuat. Bahkan, mereka kini sudah menguasai empat penjuru rimba persilatan, dengan jumlah yang semakin bertambah besar.

Kelompok-kelompok kecil golongan hitam satu persatu mulai menggabungkan diri dengan Partai Tengkorak Hitam, selalu membuat keonaran di mana-mana. Mereka selalu bertindak kejam, tidak peduli yang dihadapi. Siapa pun yang mencoba menentang, tidak pernah diberi kesempatan hidup lagi. Bahkan dalam waktu tidak begitu lama, sudah tidak terhitung lagi, berapa jumlah pendekar yang mati di tangan pemimpin tunggal mereka. Lebih jauh lagi, tidak sedikit padepokan silat yang dihancurkan!

Munculnya Partai Tengkorak Hitam yang semakin bertambah kuat, tentu saja membuat semua tokoh persilatan golongan putih jadi resah. Bahkan, kabar tentang partai aliran hitam itu juga sampai di Karang Setra. Raja Karang Setra yang juga dikenal dengan nama Rangga yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti, kelihatan gelisah mendengar kekuatan Partai Tengkorak Hitam. Walaupun belum menjarah sampai ke Karang Setra, tapi kemunculan mereka yang semakin kuat itu cukup menggegerkan juga. Dan ini harus diwaspadai.

"Beberapa hari ini kau kelihatan gelisah saja Kakang. Apa yang membuat hatimu resah....'' tegur Pandan Wangi, ketika sore itu melihat Rangga duduk sendiri di dalam taman Istana Karang Setra.

Memang, sudah sejak pagi tadi Rangga duduk menyendiri di sana. Bahkan tidak mengisi perutnya barang sedikit pun juga. Pendekar Rajawali Sakti yang juga Raja Karang Setra ini memalingkan kepala sedikit, mencoba tersenyum saat melihat, Pandan Wangi yang sudah berada di sampingnya. Duduknya segera bergeser sedikit, memberi tempat pada gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut.

Pandan Wangi mengambil tempat di samping Rangga. Diperhatikannya wajah Pendekar Rajawali Sakti yang tampak gelisah sekali. Jelas, ada sesuatu yang membuatnya jadi resah begitu.

"Kau sudah mendengar apa yang sedang terjadi di luar sana, Pandan...?" ujar Rangga, malah balik bertanya.

"Maksudmu...?" Pandan Wangi tidak mengerti.

"Kabar yang selama beberapa hari ini, membuat semua orang dilanda ketakutan," kata Rangga, mencoba menjelaskan pertanyaannya tadi.

"Tentang munculnya Partai Tengkorak Hitam itu, Kakang...?" Pandan Wangi ingin memperjelas.

Rangga hanya mengangguk sedikit saja. Dan Pandan Wangi menghembuskan napas panjang. Gadis ini kini tahu, apa yang menjadi penyebab keresahan hati Raja Karang Setra itu. Rupanya kemunculan Partai Tengkorak Hitam-lah yang membuatnya jadi gelisah seperti ini.

Memang, dalam beberapa hari saja, Partai Tengkorak Hitam yang dalam waktu dua puluh tahun lalu sudah musnah, kini kembali bangkit menjadi sebuah partai golongan hitam yang teramat kuat. Bahkan jumlah pengikutnya lebih besar daripada jumlah prajurit sebuah kerajaan besar sekalipun.

"Aku juga sudah mendengar banyak tentang mereka, Kakang. Dan kabarnya. Partai Tengkorak Hitam sekarang ini hanya dipimpin satu orang saja. Tidak seperti ketika dua puluh tahun lalu. Ada lima orang pemimpinnya. Tapi, tampaknya mereka sekarang lebih besar lagi. Bahkan hampir menguasai seluruh penjuru rimba persilatan," jelas Pandan Wangi.

"Itulah yang membuatku jadi tidak tenang, Pandan. Tindakan mereka terlalu brutal Walaupun aku sendiri belum melihat, tapi terus terang saja, aku tidak bisa tinggal diam terus di sini. Aku harus keluar menghancurkan mereka, sebelum semuanya semakin bertambah parah," kata Rangga agak bergetar nada suaranya.

"Kapan kau akan pergi?" tanya Pandan Wangi ikut semangat.

"Malam ini," sahut Rangga langsung, tanpa berpikir lagi.

"Kalau begitu, aku menyiapkan kuda dulu, Kakang," kata Pandan Wangi.

Belum juga Rangga bisa bersuara, Pandan Wangi sudah bangkit berdiri. Dan kakinya langsung melangkah, meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti sendiri di dalam taman. Sebentar saja, gadis itu sudah tidak terlihat lagi bayangannya. Dan Rangga segera bangkit berdiri, lalu melangkah meninggalkan taman ini. Tampak ada perubahan pada raut wajahnya. Kini pada wajahnya tidak lagi terlihat kegundahan.

Rangga terus melangkah tegap memasuki istananya yang megah ini. Dua orang prajurit penjaga pintu taman segera membungkukkan tubuh memberi hormat. Pendekar Rajawali Sakti langsung menuju kamarnya, dan segera mengunci pintu kamar itu setelah berada di dalam. Entah, apa yang dilakukannya di dalam kamar itu.

Sementara itu dari ujung lorong, terlihat Cempaka dan Danupaksi berjalan beriringan menuju kamar peristirahatan Raja Karang Setra itu. Mereka berhenti melangkah, setelah tiba di depan pintu kamar yang tertutup. Dua orang penjaga di samping pintu kamar itu segera membungkuk memberi hormat. Dan Danupaksi langsung mengetuk pintu kamar itu.

"Siapa...?"

"Hamba, Gusti Prabu. Danupaksi dan Cempaka."

"Masuk."

Kedua adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu segera membuka pintu kamar, lalu melangkah masuk ke dalam. Mereka melihat Rangga sudah kembali mengenakan pakaian pengembaraannya, dengan Pedang Pusaka Rajawali Sakti sudah tersandang dipunggung. Mereka tampak heran melihat Raja Karang Setra ini sudah siap hendak melakukan pengembaraannya kembali. Padahal, baru satu pekan berada di istana ini.

"Kakang akan pergi...?" tanya Cempaka langsung.

"Benar, malam ini juga aku harus pergi," sahut Rangga seraya merapikan diri.

"Tapi baru tujuh hari Kakang berada di sini. Kenapa sekarang akan pergi lagi...?" ujar Cempaka, seakan ingin mencegah kepergian kakak tirinya.

Rangga hanya tersenyum saja, lantas melang kah menghampiri kedua adik Arinya. Kemudian diajaknya mereka duduk, melingkari meja kecil yang terbuat dari kayu jati berukir. Dipandanginya mereka satu persatu dengan bibir terus menyunggingkan senyum.

"Ada sesuatu yang harus kukerjakan di sana, Cempaka. Dan ini kurasakan sangat penting dan tidak bisa ditunda lagi," kata Rangga coba menjelaskan.

"Tapi, Kakang...."

"Aku sama sekati tidak mengkhawatirkan kerajaan ini, selama kalian berdua masih tetap tinggal di sini. Kalian tentu bisa memahami tugasku di dunia persilatan. Aku sama sekali tidak bisa berpangku tangan dan berdiam diri di balik dinding Istana ini, sementara di luar sana begitu banyak orang yang membutuhkan bantuan. Pahamilah aku, Cempaka.... Aku memang bukan seorang raja yang baik. Jiwaku memang tidak berada dalam istana ini. Dan aku lebih bisa merasakan kedamaian jiwa, bila berada di luar istana. Di sanalah kehidupanku, Cempaka. Bukan di dalam istana ini...," kata Rangga mencoba meminta pengertian adik tirinya.

Cempaka hanya diam saja membisu. Walaupun sebenarnya ingin selalu bersama-sama kakak tirinya, tapi dia harus bisa menyadari kedudukan Rangga yang sebenarnya. Sebagai seorang pendekar, sudah barang tentu Rangga tidak mungkin tenis menerus berada dalam istana, walaupun sebenarnya seorang raja. Dan kedudukannya di istana ini, sudah dilimpahkan pada kedua adik tirinya. Mereka berdualah yang selama ini memimpin Karang Setra. Sedangkan Rangga sendiri, lebih banyak hidup dalam pengembaraan, daripada tinggal dalam istananya yang megah.

"Aku pergi malam ini," kata Rangga sambil bangkit berdiri.

"Bersama Kak Pandan, Kakang...?" selak Danupaksi yang sejak tadi diam saja.

"Ya," sahut Rangga, seraya tersenyum.

"Ke mana tujuanmu sekarang, Kakang? Kalau ada sesuatu yang mendesak di sini, aku bisa lebih mudah menghubungimu," tanya Danupaksi.

"Ke. arah matahari terbit," sahut Rangga.

"Tidak ada tujuan yang pasti?" desak Danupaksi.

"Aku akan terus berjalan ke arah matahari terbit, sampai kembali lagi ke sini," sahut Rangga, kembali tersenyum.

Danupaksi kembali terdiam. Memang sulit bisa dipastikan, ke mana seorang pengembara pergi melangkah. Dan biasanya, seorang pengembara tidak pernah punya tujuan pasti. Tapi memang seperti biasa, tidak akan sulit menghubungi Rangga, walaupun tidak jelas tahu ada di mana. Danupaksi cukup mengirimkan utusan untuk menghubungi Pendekar Rajawali Sakti. Dan biasanya sebelum utusan itu bisa menemukannya, justru Rangga yang menemui utusan itu lebih dulu.

"Aku pergi dulu," pamit Rangga.

Danupaksi dan Cempaka tidak bisa lagi mencegah. Mereka mengantarkan Pendekar Rajawali Sakti sampai ke bagian belakang istana ini. Ternyata di sana Pandan Wangi sudah menunggu dengan dua ekor kuda tunggangan masing-masing yang sudah siap pelananya. Sementara saat ini, malam sudah jatuh menyelimuti seluruh wilayah Kerajaan Karang Setra ini. Rangga dan Pandan Wangi keluar dari istana itu melalui jalan rahasia di belakang istana, diantar kedua adik tiri Pendekar Rajawali Sakti.

********************

Malam sudah sangat larut, ketika Rangga dan Pandan Wangi sampai di luar perbatasan Kerajaan Karang Setra. Namun kuda mereka masih terus dipacu cepat, semakin jauh meninggalkan kerajaan yang selalu damai dan tenteram itu, karena dikelilingi para pendekar berkepandaian tinggi. Sehingga, tidak mudah bagi pihak luar untuk mengacau. Sementara kedua pendekar muda dari Karang Setra yang sudah ternama di kalangan orang-orang persilatan itu, terus memacu cepat kudanya, menyeberangi sebuah padang rumput yang tidak begitu luas, dan langsung menerobos masuk hutan.

Sang Dewi Malam sudah berada tepat di atas kepala, ketika sepasang pendekar muda itu tiba di tepi sebuah sungai kecil, yang merupakan tepi hutan yang baru saja dilewati. Saat itu Rangga menghentikan lari kudanya, tepat di tepian sungai kecil ini. Pandan Wangi juga ikut menghentikan lari kudanya.

Dan sesaat mereka saling berpandangan, kemudian Rangga melompat turun dari punggung kuda hitam tunggangannya. Bergegas Pandan Wa ngi ikut turun dan langsung melangkah menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Dan untuk sesaat, mereka terdiam. Pandangan mereka tertuju ke seberang sungai yang tidak begitu dalam di depan.

"Kau dengar sesuatu, Pandan?" tanya Rangga tiba-tiba, dengan suara pelan dan agak ditekan.

"Ya, seperti suara pertarungan," sahut Pandan Wangi, juga pelan suaranya.

"Arahnya dari seberang sungai ini, Pandan. Aku rasa cukup jauh dari sini," kata Rangga mengira-ngira.

Pandan Wangi hanya membisu saja. Dan tanpa bicara lagi, mereka kembali berlompatan naik ke punggung kuda masing-masing, dan langsung cepat menggebahnya. Diseberanginya sungai yang tidak begitu besar ini. Sebentar saja, mereka sudah berada di seberang sungai. Kuda mereka terus digebah cepat menuju arah sumber suara yang terdengar sayup-sayup.

"Hiya! Hiyaaa...!"

Rangga semakin cepat menggebah kudanya, saat suara yang terdengarnya semakin jelas. Sehingga Pandan Wangi yang menunggang kuda putih jadi tertinggal. Memang, tidak mungkin bisa mengimbangi lari kuda hitam tunggangan Pendekar Rajawali Sakti. Karena, kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu bukanlah kuda sembarangan. Sedangkan Rangga yang menunggangnya terus semakin cepat menggebahnya.

"Hiya! Hiyaaa...!"

Rangga terus memacu kudanya semakin cepat, ketika tidak jauh di depannya terlihat kobaran api dari sebuah desa kecil yang sering disinggahinya, setiap kali pergi mengembara. Dan suara jeritan-jeritan serta denting senjata beradu yang ditingkahi teriakan-teriakan pertarungan, begitu jelas terdengar. Tampaknya semua orang di desa itu sedang mempertahankan desanya yang digempur orang-orang tidak dikenal.

"Hup! Hiyaaat...!"

Begitu sampai, Rangga langsung melompat dari punggung kudanya yang masih terus berlari cepat. Kuda hitam itu seketika menghentikan larinya, sambil meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, begitu penunggangnya tidak ada lagi di punggungnya. Sedangkan Rangga sendiri sudah berlompatan, menghajar orang-orang berpakaian serba hitam yang sedang menyerang desa itu.

"Menyingkir kalian semua...! Selamatkan keluarga kalian masing-masing...!" seru Rangga, menyuruh penduduk desa yang sedang bertempur untuk menyingkir.

"Hiyaaat...!" Cring! Bet!

Menyadari jumlah lawan yang sangat besar, Rangga langsung mencabut pedang pusakanya. Hingga seketika itu juga, malam yang semula begitu gelap jadi terang benderang oleh cahaya yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

"Hiyaaat...!" Sambil berteriak lantang menggelegar, Rangga melompat menerjang orang-orang berpakaian serba hitam. Pedangnya berkelebatan begitu cepat, membuat jeritan-jeritan melengking tinggi terdengar menyayat saling sambut.

Dan pada saat itu, terlihat Pandan Wangi sudah sampai di desa ini. Gadis itu langsung menerjang orang-orang berbaju serba hitam dari punggung kudanya. Dengan senjata kipas andalannya, dia mengamuk sambil mengendalikan kuda putih tunggangannya. Semua penduduk Desa Kandaga yang melihat munculnya dua orang pendekar muda tangguh yang sudah dikenal baik itu, langsung bersorak gembira.

Seketika semangat mereka bangkit Dan mereka tidak mau tinggal diam begitu saja, walaupun Rangga sudah menyuruh menyingkir. Sambil berteriak-teriak penuh semangat, mereka membantu kedua pendekar muda itu menghajar orang-orang yang menyerang desanya. Maka jeritan-jeritan kematian pun yang semakin sering terdengar saling bersahutan. Dan tubuh-tubuh bermandikan darah semakin banyak berjatuhan saling tumpang tindih.

Rangga yang melihat semua penduduk Desa Kandaga terus merangsek membela desa kelahirannya, tidak bisa lagi mencegah. Maka gerakan-gerakannya semakin dipercepat membuat tubuhnya bagai lenyap ditelan gulungan cahaya biru yang memancar dari mata pedangnya.

"Hiya! Hiya! Yeaaah...!"

Serangan-serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti memang sulit dibendung lagi. Terlebih, Pandan Wangi ikut terjun ke dalam pertarungan. Sehingga, membuat orang-orang asing berpakaian serba hitam itu jadi kalang kabut. Dan pada saat itu, terdengar suara teriakan memberi perintah yang sangat lantang menggelegar.

Dan ternyata teriakan itu membuat orang-orang berpakaian serba hitam lari tunggang langgang meninggalkan desa ini. Namun beberapa di antaranya masih ada juga yang ambruk, terkena lemparan tombak maupun golok para penduduk.

Cring! Rangga langsung memasukkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di punggung. Saat itu, Pandan Wangi sudah turun dari kudanya. Langsung dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti, bersamaan dengan seorang laki-laki tua berjubah putih yang juga menghampiri Rangga sambil menggenggam sebilah golok berlumuran darah. Sementara semua penduduk desa tampak bersorak sorai gembira dapat mengusir para penyerang itu.

"Sungguh kebetulan kalian datang tepat pada waktunya. Kalau tidak, pasti desa ini sudah rata dengan tanah," kata orang tua berjubah pulih yang ternyata Kepala Desa Kandaga. Namanya Ki Kahuri.

Kepala Desa Kandaga itu memang sudah sangat kenal pada kedua pendekar muda ini. Karena, mereka memang sering singgah di desa ini. Hanya saja, dia tidak tahu kalau kedua pendekar muda itu berasal dari Karang Setra. Rangga dan Pandan Wangi juga sudah mengenal baik dengan orang tua ini

"Siapa mereka itu, Ki?" tanya Rangga langsung.

"Mereka itu yang disebut Partai Tengkorak Hitam," sahut Ki Kahuri memberi tahu.

"Oh...," Rangga hanya bisa mendesah saja. Memang baru kali ini Rangga bisa bertemu langsung partai golongan hitam yang sudah menggemparkan dunia persilatan dalam kemunculannya yang baru seumur jagung. Rupanya, mereka sudah begitu dekat dengan Karang Setra. Buktinya mereka malam ini hampir saja menghancurkan Desa Kandaga, yang merupakan desa terdekat dengan Kerajaan Karang Setra.

"Mereka pasti akan kembali lagi dengan kekuatan lebih besar. Mereka sudah sampai ke sini, setelah menghancurkan Desa Lampik dan Desa Seratak," jelas Ki Kahuri lagi.

Rangga hanya mengangguk-angguk saja. Memang jelas sekali, kalau orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam itu sedang menuju Karang Setra. Tapi untunglah, Rangga lebih cepat menghadang di Desa Kandaga ini. Kalau mereka sampai bisa menghancurkan desa ini, tentu akan mudah bisa masuk ke Karang Setra. Karena, tinggal desa ini saja yang menjadi pintu gerbang masuk ke Karang Setra.

"Ki.... Sebaiknya tenangkan dulu pendudukmu. Dan singkirkan mayat-mayat ini. Nanti kita bicara lebih banyak lagi di rumahmu," kata Rangga.

"Baik, Den. Aku senang kalau kalian berdua bersedia tinggal di desa ini, sampai pengacau-pengacau itu tidak ada lagi. Aku yakin, mereka tidak akan puas sebelum bisa menghancurkan desa ini. Apalagi, tujuan mereka ke Karang Setra. Mereka hendak menguasai Karang Setra," kata Ki Kahuri.

Seketika itu juga, seluruh aliran darah di tubuh Rangga jadi berdesir cepat. Tapi, Ki Kahuri tidak sempat melihat perubahan wajah Pendekar Rajawali Sakti, karena sudah meninggalkannya. Laki-laki setengah baya itu kembali ke penduduknya yang masih dilanda ketakutan. Hanya Pandan Wangi yang bisa melihat perubahan raut wajah Pendekar Rajawali Sakti. Dan menggenggam tangannya erat-erat. Seakan, ingin diberinya kekuatan pada pemuda yang dicintainya ini. Rangga hanya tersenyum sedikit. Segera tubuhnya berbalik, dan melangkah menghampiri kudanya. Pandan Wangi mengikuti langkah Pendekar Rajawali Sakti sambil menuntun kuda tunggangannya.

"Pandan.... Sebaiknya kau kembali ke Karang Setra malam ini juga," kata Rangga setelah berada di samping kuda tunggangannya.

"Untuk apa...?" tanya Pandan Wangi terkejut tidak mengerti.

"Beritahu Danupaksi untuk melipat gandakan penjagaan di setiap perbatasan. Mungkin mereka bukan hanya dari sini masuknya. Aku tidak ingin Karang Setra membara," kata Rangga, langsung memerintah.

"Lalu kau sendiri?" tanya Pandan Wangi lagi, meminta penjelasan lebih jauh.

"Aku akan berusaha menghadang mereka dari sini. Kalau perlu, menghancurkannya," sahut Rangga tegas.

"Hanya seorang diri...?"

"Sejak kapan kau meragukan kemampuanku, Pandan? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Sebaiknya, cepat kembali ke Karang Setra. Katakan pada Danupaksi untuk segera mempersiapkan seluruh prajurit. Dan katakan, aku meminta satu pasukan prajurit pilihan ke desa ini secepatnya," perintah Rangga tegas.

Pandan Wangi tidak bisa lagi bersuara. Bisa dirasakan apa yang sedang terjadi di dalam dada Pendekar Rajawali Sakti. Dan tanpa banyak bicara lagi, gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu langsung melompat naik ke punggung kudanya. Sejenak ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti, lalu digebahnya kuda putih itu cepat meninggalkan Desa Kandaga ini.

Kepergian Pandan Wangi tentu saja mendapat perhatian dari Ki Kahuri. Kepala Desa Kandaga itu bergegas menghampiri Rangga yang rrasih berdiri di samping kudanya. Rangga hanya melirik saja sedikit, saat menyadari Ki Kahuri sudah berada di sampingnya.

"Akan ke mana Nini Pandan Wangi, Den?" tanya Ki Kahuri langsung.

"Ke Karang Setra," sahut Rangga singkat, tanpa berpaling sedikit pun juga.

"Untuk apa?"

"Memberitahu pihak istana untuk bersiap-siap menghadapi orang-orang Partai Tengkorak Hitam. Aku juga meminta prajurit dari sana, untuk menjaga desa ini, Ki," jelas Rangga singkat.

"Oh! Kau cepat sekali bertindak, Den. Mereka memang kuat dan banyak sekali. Perlu satu pasukan prajurit terlatih untuk menghadapi mereka. Aku yakin, para prajurit Karang Setra mampu menghancurkan mereka," kata Ki Kahuri gembira.

"Semua penduduk desa ini akan kukerahkan untuk membantu, Den."

Rangga hanya tersenyum kecil saja, tapi terasa hambar sekali. Pendekar Rajawali Sakti sudah bisa menilai, bagaimana kekuatan orang-orang Partai Tengkorak Hitam Walaupun hanya sebentar saja memukul mundur mereka, tapi sudah bisa mengukur kekuatannya. Partai Tengkorak Hitam memang terdiri dari orang-orang persilatan yang berkepandaian tidak bisa dipandang sebelah mata.

Apalagi, mereka sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi segala macam bentuk pertempuran. Entah kenapa, Rangga sendiri jadi ragu akan kemampuan prajuritnya sendiri dalam menghadapi Partai Tengkorak Hitam. Tapi, Raja Karang Setra ini sendiri tidak ingin orang-orang berhati iblis itu sampai menginjakkan kakinya di Karang Setra.

********************

TIGA

Pagi-pagi sekali, di saat matahari baru saja menampakkan cahaya di ufuk timur, pasukan prajurit Karang Setra yang berjumlah dua ratus orang sudah berada di Desa Kandaga ini. Mereka dipimpin langsung oleh Panglima Wirasaba. Namun orang tua itu sama sekali tidak memandang Rangga sebagai raja di desa ini. Dan memang selalu begitu yang terjadi kalau Rangga berada di luar istananya. Rangga tidak mau diperlakukan sebagai raja, kalau sedang mengembara.

Pendekar Rajawali Sakti langsung membawa Panglima Wirasaba ke rumah Ki Kahuri, setelah menempatkan prajuritnya diperbatasan desa ini yang dilalui orang-orang Partai Tengkorak Hitam semalam. Ki Kahuri begitu senang sekali menerima kedatangan Rangga dan Panglima Wirasaba yang merupakan panglima tertinggi di Kerajaan Karang Setra.

Namun, Rangga, dan Panglima Wirasaba tidak lama berada di rumah kepala desa ini, karena harus kembali bergabung bersama para prajurit penjaga perbatasan yang sudah mendirikan tenda-tenda di sana. Sementara, pemuda-pemuda desa yang memang sudah diperintahkan Ki Kahuri, ikut membantu memperkuat prajurit yang akan menyelamatkan desa ini dari kehancuran orang-orang Partai Tengkorak Hitam.

"Kau datang tidak bersama Pandan Wangi, Paman. Di mana dia...?" tanya Rangga langsung, begitu berada dalam tenda yang disediakan untuk Panglima Wirasaba.

"Raden Danupaksi meminta Nini Pandan Wangi membantunya mengatur penjagaan di seluruh gerbang masuk ke Karang Setra," sahut Panglima Wirasaba.

"Apakah sudah ada tanda-tanda mereka berada di sekitar Karang Setra, Paman?" tanya Rangga lagi.

"Belum," sahut Panglima Wirasaba.

"Aku hanya berharap, mereka memang hanya melalui desa ini saja. Sehingga kita bisa lebih mudah memukul mundur mereka," ujar Rangga agak mendesah, seperti bicara pada diri sendiri.

"Mudah-mudahan saja begitu, Gusti Prabu," sahut Panglima Wirasaba.

"Jangan menyebutku begitu, Paman. Panggil saja aku Rangga. Kau tahu, kan..? Aku tidak ingin semua orang di desa ini tahu, siapa aku sebenarnya, " kata Rangga, langsung menegur.

"Oh, maaf," ucap Panglima Wirasaba jadi tersipu.

"Ah, sudahlah.... Yang penting sekarang, kita hrus mempersiapkan diri menghadapi serangan mereka. Aku berfirasat malam nanti mereka akan kembali menyerang desa ini," kata Rangga tidak ingin memperpanjang.

"Tapi yang kudengar, mereka tidak selalu bergerak malam hari, Rangga. Kapan pun mereka mau, pasti akan menyerang dan menghancurkan desa atau kota-kota yang dilalui. Mereka sepertinya ingin menguasai seluruh dunia ini," kata Panglima Wirasaba yang rupanya sudah tahu tentang Partai Tengkorak Hitam.

"Kalau begitu, semua prajurit harus tetap disiagakan siang dan malam," kata Rangga.

"Memang begitu yang diperintahkan Raden Danupaksi," sambung Panglima Wirasaba.

Rangga mengangguk-angguk. Rupanya Danupaksi juga begitu cepat menanggapi akan bahaya ini. Adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu langsung menyiagakan seluruh prajurit Karang Setra. Tindakan yang diambil Danupaksi membuat Rangga menjadi lebih lega perasaannya.

"Aku pergi dulu, Paman," kata Rangga sambil bangkit berdiri.

Dan sebelum Panglima Wirasaba bisa bertanya, Rangga sudah melangkah keluar dari tenda. Sementara, Panglima Wirasaba mengikuti dari belakang. Seorang prajurit langsung menghampiri Pendekar Rajawali Sakti sambil menuntun kuda hitam Dewa Bayu. Rangga menerima tali kekang kuda tunggangannya, dan cepat melompat naik. Sebentar ditatapnya Panglima Wirasaba, kemudian kudanya diputar berbalik.

"Hiyaaa...!" Tanpa banyak bicara lagi, Rangga langsung menggebah cepat kudanya meninggalkan pcrbatasan Desa Kandaga yang kini dijaga dua ratus orang prajurit dari Karang Setra, dipimpin langsung Panglima Wirasaba. Sengaja Rangga menelusuri arah yang dilalui orang-orang Partai Tengkorak Hitam semalam. Masih begitu jelas terlihat jejak-jejak mereka yang terus menembus hutan.

"Hooop...!" Rangga menghentikan lari kudanya, setelah tiba di tengah hutan. Kemudian Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dengan gerakan begitu ringan. Begitu banyak jejak kaki tertera di dalam hutan ini, dan sangat jelas terlihat. Sambil menuntun kudanya, Rangga berjalan mengikuti jejak-jejak kaki itu yang semakin jauh masuk ke dalam hutan ini. Kembali Pendekar Rajawali Sakti berhenti, setelah sampai di tepi hutan. Tampak di depannya sebuah padang rumput yang sangat luas, membentang bagai tidak bertepi.

Seketika itu juga seluruh aliran darahnya berdesir, begitu melihat di tengah-tengah padang rumput itu berdiri sebuah bangunan berbentuk benteng yang sangat besar. Dan di tengah-tengah benteng itu, terlihat sebuah umbul-umbul berwarna hitam, yang bagian tengahnya bergambar tengkorak manusia dengan dua buah pedang tersilang.

"Tengkorak Hitam...," desis Rangga perlahan.

Sama sekali Rangga tidak menduga kalau Partai Tengkorak Hitam sudah mendirikan benteng pertahanan, tidak jauh dari Karang Setra. Padahal, hanya dibutuhkan setengah hari saja untuk sampai ke Karang Setra dari tempat ini. Sementara, halangan satu-satunya adalah Desa Kandaga. Walaupun sekarang sudah diperkuat dua ratus prajurit pilihan, tapi masih juga terselip keraguan di dalam hati Pendekar Rajawali Sakti melihat bangunan benteng di tengah padang rumput itu sangat besar.

Sudah tentu benteng itu bisa memuat ribuan orang. Sedangkan jumlah prajurit Karang Setra seluruhnya tidak sampai tiga ribu orang. Kalau digempur dengan kekuatan sangat besar, apalagi mereka dari kalangan persilatan, rasanya sulit untuk bisa bertahan Rangga bisa menyadari ancaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata ini. Bahkan Suatu ancaman yang bisa membuat runtuhnya Karang Setra, dari orang-orang yang berada di bawah naungan Panji Tengkorak Hitam.

"Tidak kusangka rnereka begitu besar kekuatannya, " gumam Rangga bicara pada diri sendiri.

Cukup lama juga Pendekar Rajawali Sakti mengamati keadaan sekitar bangunan benteng di tengah padang rumput yang luas bagai tidak bertepi ini. Sunyi sekali keadaannya, seperti tidak berpenghuni sama sekali. Tapi dia yakin, tempat itu terjaga sangat ketat, dan tidak mungkin bisa mudah didekati. Mereka yang ada di dalam benteng itu sudah barang tentu bisa cepat mengetahui, siapa saja yang datang. Bangunan seperti benteng pertahanan itu berdiri di tengah-tengah padang rumput yang sangat luas, hingga tidak mungkin didekati secara sembunyi-sembunyi.

"Hm, ada yang keluar...," kembali Rangga menggumam.

Terlihat pintu benteng itu terbuka perlahan-lahan. Kemudian, tampak serombongan orang berpakaian serba hitam keluar dari dalam bangunan berpagar tinggi dari balokan kayu pohon yang sangat kokoh itu. Entah, berapa orang yang keluar. Tapi yang pasti, jumlah mereka lebih dari seratus orang. Dan mereka semua menunggang kuda. Saat itu juga, jantung Rangga seakan jadi berhenti berdetak, melihat rombongan kuda yang ditunggangi orang berpakaian serba hitam bergerak menuju ke arahnya dengan cepat.

"Uh! Mereka akan menyerang Desa Kandaga lagi," dengus Rangga dalam hati.

Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, cepat Rangga melompat naik ke punggung kudanya. Lalu, digebahnya Dewa Bayu dengan kecepatan tinggi. Langsung diterobosnya hutan yang tidak begitu lebat ini. Sementara, rombongan orang berbaju serba hitam dari Partai Tengkorak Hitam terus bergerak menuju Desa Kandaga seperti dugaan Rangga tadi. Sedangkan Rangga sendiri sudah terlalu jauh memacu kudanya, menembus hutan yang tidak begitu lebat ini. Begitu cepat Dewa Bayu berlari, hingga sebentar saja sudah dekat dengan perbatasan Desa Kandaga.

Rangga melihat semua prajurit Karang Setra yang ditempatkan di desa itu masih tetap berjaga-jaga. Dan terlihat Panglima Wirasaba berada di antara prajuritnya bersama Ki Kahuri. Melihat kedatangan Rangga yang memacu cepat kudanya, mereka bergegas menghampiri.

"Hup!" Rangga langsung melompat turun dari punggung kudanya, setelah berada dekat di depan Panglima Wirasaba dan Ki Kahuri. Kuda hitam tunggangannya berhenti cepat sekali, tanpa mengeluarkan ringkikan sedikit pun juga.

"Ada apa, Rangga? Kenapa seperti dikejar setan...?" tanya Panglima Wirasaba langsung.

"Siapkan semua prajuritmu, Paman. Mereka sedang menuju tempat ini," kata Rangga memberi-tahu.

"Apa...?!" Ki Kahuri jadi terbeliak mendengar laporan Pendekar Rajawali Sakti. Sungguh tidak disangka kalau Partai Tengkorak Hitam akan menyerang kembali malam ini juga. Padahal, menurut perkiraannya mereka tentu akan datang kembali besok malam.

Sementara itu Panglima Wirasaba sudah mengumpulkan seluruh prajuritnya yang ada. Kemudian diaturnya para prajurit untuk mengadakan penyergapan di perbatasan desa ini. Sebentar saja, semua prajurit Karang Setra sudah tidak terlihat lagi, bersembunyi di balik pohon dan gerumbul semak untuk menyergap orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam.

Panglima Wirasaba kembali menghampiri Rangga setelah merasa prajuritnya sudah menempati tempat yang diinginkan. Sedangkan Ki Kahuri sendiri sudah pergi untuk mengamankan penduduknya, setelah mendapat perintah dari Pendekar Rajawali Saka. Malam itu juga, Desa Kandaga kembali terlihat riuh oleh suara orang-orang yang bergerak menjauhi desa ini, ke tempat yang lebih aman dari jangkauan pertempuran yang pasti bakal terjadi. Ki Kahuri sendiri bersama para pemuda desa sudah siap membantu para prajurit Karang Setra yang akan menyergap orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam.

"Berapa orang kekuatan mereka, Rangga?" tanya Panglima Wirasaba.

"Mungkin lebih dari seratus orang," sahut Rangga.

"Hm," Panglima Wirasaba hanya menggumam sedikit.

"Tapi jangan menganggap enteng mereka, Paman. Mereka orang-orang persilatan yang kemampuannya sudah pasti berada di atas rata-rata kemampuan prajurit terlatih. Kau harus membuat siasat, agar mereka tidak sampai menjarah desa ini. Juga tidak mengorbankan prajurit terlalu banyak," kata Rangga memberi pendapat.

"Aku tahu, Rangga. Itu sebabnya, aku persiapkan pasukan panah lebih dulu, untuk menghadang mereka di depan. Kalau jumlah mereka sudah berkurang, baru kukerahkan pasukan penyerbu dari segala arah. Bahkan aku sudah mengatur, supanya mereka berada di tengah-tengah," kata Panglima Wirasaba memberitahukan semua siasatnya.

"Bagus! Aku ingin mereka semua musnah, agar pemimpin mereka berpikir seribu kali untuk menyerang Karang Setra. Mereka harus tahu kalau Karang Setra tidak semudah yang dikira untuk diserang begitu saja," sambut Rangga mantap.

"Aku akan hancurkan siapa saja yang mencoba mengganggu ketenteraman Karang Setra, Rangga," tegas Panglima Wirasaba.

Rangga tersenyum senang mendengarnya. Dan saat itu terdengar suara menggemuruh dari hentakan kaki-kaki kuda yang dipacu cepat dari dalam hutan. Dan tidak lama kemudian, terlihat orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam bermunculan dari dalam hutan sambil memacu kudanya begitu cepat. Mereka berteriak-teriak sambil mengangkat senjata masing-masing. Gerakan mereka begitu cepat, seperti hendak menyerang sebuah benteng pertahanan.

"Pasukan panah, siaaap...!" teriak Panglima Wirasaba langsung memberi perintah.

Saat itu juga, dari balik pepohonan bermunculan para prajurit Karang Setra dengan anak panah terpasang dibusur. Sekitar dua puluh orang prajurit pemanah sudah siap menunggu perintah. Sedangkan Panglima Wirasaba menunggu sampai orang-orang berpakaian serba hitam itu berada dalam jangkauan anak panah prajuritnya.

"Seraaang...!" teriak Panglima Wirasaba tiba-tiba. Suaranya keras dan lantang menggelegar.

Dan seketika itu juga, puluhan batang anak panah berhamburan menghujani orang-orang berkuda yang semuanya berbaju hitam gelap. Serangan panah itu sama sekali tidak terduga, sehingga mereka yang berada di depan tidak sempat lagi menghindarinya. Dan malam ini, kembali dipecahkan oleh jeritan-jeritan menyayat mengiringi kematian. Ringkikan kuda berbaur menjadi satu dengan teriakan-teriakan pembangkit semangat pertempuran.

Namun sungguh tidak diduga sama sekali. Walau dihadang puluhan panah yang meluncur bagai hujan itu, mereka tetap bergerak maju penuh semangat. Tidak dipedulikan lagi teman-teman mereka yang berjatuhan tertembus panah. Dan pada saat mereka sudah masuk ke dalam perangkap yang dibuat, Panglima Wirasaba langsung memberi perintah dengan suara lantang menggelegar bagai guntur membelah angkasa.

"Seraaang...!"

"Hiyaaa...!" "Yeaaah...!"

Seketika itu juga, dari balik gerumbul semak belukar dan pepohonan berlompatan prajurit-prajurit Karang Setra dari segala arah. Kemunculan para prajurit, tentu saja membuat orang-orang berpakaian serba hitam ini jadi terkejut setengah mati. Tapi, mereka tidak sempat lagi berbuat sesuatu. Prajurit-prajurit pilihan dari Karang Setera itu begitu cepat bergerak, menyerang dari segala penjuru. Maka, pertarungan tidak dapat lagi dihindari.

Sedangkan pasukan panah sudah tidak lagi melepaskan anak-anak panahnya. Mereka kini sudah siap dengan pedang di tangan, menunggu perintah dari panglimanya. Jeritan-jeritan panjang melengking mengiringi kematian terdengar saling sambut, ditingkahi denting senjata dan teriakan-teriakan pembangkit semangat bertempur.

Tampak dalam waktu tidak begitu lama, orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam sudah tidak berdaya lagi menghadapi gempuran prajurit pilihan Kerajaan Karang Setra. Mereka juga mendapat kesulitan untuk keluar dari ajang pertarungan ini. Sepertinya, semua sudut sudah dikuasai para prajurit. Tapi, beberapa orang berhasil juga melepaskan diri dari ajang pertarungan. Mereka yang berhasil lolos segera memacu cepat kudanya kembali ke benteng pertahanan di tengah padang rumput yang ada di balik hutan itu.

"Mereka tidak mau menyerah juga, Rangga," desis Panglima Wirasaba, saat melihat orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam yang sudah berkurang jauh jumlahnya masih saja tetap mencoba bertahan. Padahal, mereka sudah tidak mungkin lagi memenangkan pertarungan ini.

"Sudutkan mereka ke hutan," perintah Rangga. Tanpa menunggu diperintah dua kali, Panglima Wirasaba segera berteriak memberi perintah untuk menyudutkan lawannya ke hutan. Maka kini semua prajurit segera mengatur tempat masing-masing sambil terus merangsek lawan. Sedikit demi sedikit orang-orang berpakaian serba hitam itu bergerak mundur mendekati hutan.

"Siapkan pasukan panah, Paman," ujar Rangga memberi perintah lagi.

Panglima Wirasaba segera berteriak memberi perintah pada pasukan panah.

"Perintahkan prajuritmu mundur," perintah Rangga lagi.

"Munduuur...!" teriak Panglima Wirasaba.

"Serang mereka dengan panah, Paman!"

"Pasukan panah, seraaang...!"

Wusss! Wing...! Crab! Jleb!

"Aaa...!" Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi seketika itu juga terdengar, saat prajurit panah Karang Setra menghujani orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam. Begitu cepat serangan itu berlangsung, hingga tidak ada satu pun yang sempat menyadari. Hingga dalam waktu yang tidak lama, mereka semua sudah ambruk tertembus panah yang mematikan.

Sedangkan Panglima Wirasaba segera memerintahkan prajuritnya untuk berhenti menyerang. Seketika itu juga, suasana jadi sunyi tanpa terdengar suara pertarungan sedikit pun juga. Sementara Rangga yang masih tetap didampingi Panglima Wirasaba, memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan saling tumpang tindih di tempatnya. Dalam pertarungan itu, hanya sepuluh orang prajurit yang terbunuh. Dan, hanya lima orang saja yang menderita luka ringan.

Siasat yang dijalankan Panglima Wirasaba memang sangat handal. Sehingga, tidak perlu mengorbankan banyak prajurit untuk menghancurkan orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam.

"Singkirkan mereka, Paman. Sementara, aku akan mengawasi sarang mereka lagi," kata Rangga sambil melompat naik ke punggung kudanya.

Tanpa banyak bicara lagi, Panglima Wirasaba segera memerintahkan prajuritnya untuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Sedangkan saat ini, Rangga sudah memacu kudanya dengan cepat, meninggalkan perbatasan Desa Kandaga, langsung masuk ke dalam hutan yang tidak seberapa lebat itu. Sementara itu, Ki Kahuri mengerahkan penduduk desanya untuk membantu prajurit Karang Setra menyingkirkan mayat-mayat itu.

Ketika semua sibuk membersihkan ajang pertarungan dari mayat-mayat yang bergelimpangan, Rangga sudah kembali berada di tepi padang rumput untuk mengawasi benteng pertahanan Partai Tengkorak Hitam. Pendekar Rajawali Sakti masih sempat melihat sekitar lima belas orang yang berhasil lolos dari kepungan prajurit Karang Setra, kembali masuk ke dalam benteng di tengah padang rumput itu.

"Biar mereka terbuka matanya, kalau tidak mudah menyerang Karang Setra...!" dengus Rangga, bernada sinis.

********************

EMPAT

Tidak ada seorang pun lagi yang keluar dari dalam bangunan berbentuk benteng di tengah padang rumput itu, sampai matahari naik tinggi menerangi jagad raya ini. Sementara, Rangga masih tetap mengawasi dari tempat yang cukup tersembunyi. Dan di sampingnya kini sudah ada Panglima Wirasaba bersama Pandan Wangi yang datang kembali ke Desa Kandaga pagi-pagi tadi, dengan membawa tambahan prajurit sebanyak tiga ratus orang.

Pandan Wangi sendiri sudah mengamati semua gerbang masuk ke Karang Setra. Dan gadis itu tahu kalau tidak ada satu kelompok pun dari Partai Tengkorak Hitam di sana. Mereka memang semua berada di tempat ini. Partai Tengkorak Hitam mencoba menyerang Karang Setra dari Desa Kandaga, karena memang bisa dikatakan sangat lemah pertahanannya. Untung saja, Rangga dan Pandan Wangi cepat mengetahui. Sehingga, mereka tidak sempat mendekati Karang Setra. Dan tampaknya, mereka kini benar-benar mendapat rintangan berat untuk menaklukan Karang Setra.

"Kakang, apa tidak sebaiknya kita pusatkan saja pertahanan di sekitar daerah ini..?" ujar Pandan Wangi memberi saran.

"Tidak mudah bertahan di tempat terbuka seperti ini, Pandan. Mereka bisa dengan mudah menerobos dari bagian lain. Aku kira, bertahan di Desa Kandaga lebih baik. Mereka tidak akan bisa masuk dari arah lain. Hanya hutan ini satu-satunya yang bisa dilewati," kata Rangga langsung menentang saran Pandan Wangi.

"Benar, Nini Pandan. Hutan ini diapit jurang-jurang yang dalam, dan tidak bisa dilalui seorang pun. Kalau mereka memilih menyerang dari sebelah timur, harus melewati bukit itu lebih dulu," sambung Panglima Wirasaba, seraya menunjuk sebuah bukit batu yang menjulang tinggi di sebelah timur.

"Kalau mereka pergi juga ke sana, itu lebih baik lagi, Paman. Mudah bagi kita untuk menghancurkannya. Karena di sana ada lembah buntu yang bisa digunakan untuk menyudutkan mereka," sambung Rangga.

"Benar, Gusti. Tapi yang pasti, mereka tidak bodoh untuk ke sana, dan tentu akan terus berusaha menggempur dari sini. Karena, jalan ini yang termudah ke Karang Setra," kata Panglima Wirasaba lagi

"Tapi kalau mereka melalui sebelah barat, bagaimana...?" tanya Pandan Wangi.

"Aku sudah mengirim seorang utusan untuk Danupaksi, agar memusatkan pertahanan di sebelah barat. Di sana memang mudah dilaluinya," jelas Rangga.

"Benar, Gusti Prabu. Tapi, mereka harus menyeberangi Sungai Nagarawi lebih dulu. Jadi, sudah tentu prajurit kita bisa mudah menghalau mereka, sebelum sampai menyeberangi sungai," selak Panglima Wirasaba. "Aku kira, mereka tidak akan menempuh jalan lain lagi. Mereka pasti akan tetap menyerang dari sini dengan segala cara. Apalagi, mereka sudah mendirikan benteng pertahanan di sini. Sudah pasti semua kekuatan sekarang berada di tempat ini."

"Kalau begitu, kenapa kita tidak menyerang saja lebih dulu, Paman?" kembali Pandan Wangi memberi saran.

"Tidak semudah seperti bayanganmu, Pandan. Kau lihat sendiri keadaannya. Belum juga sampai ke sana, pasti prajurit kita sudah habis dibantai dengan panah," kata Rangga.

Pandan Wangi jadi tertegun. Memang serba sulit keadaan ini. Mereka tidak bisa menyerang benteng itu. Tapi, orang-orang di dalam benteng itu juga mendapat kesulitan untuk menyerang Karang Setra. Karena, memang hanya satu jalan ini yang mudah untuk masuk ke Karang Setra. Sedangkan untuk melalui jalan lain, mereka tentu tidak mau mendapat bahaya yang terlalu besar. Dan Pandan Wangi cepat menyadari keadaannya.

"Kakang, coba lihat di sana...!" seru Pandan Wangi seraya menunjuk ke kanan.

Rangga dan Panglima Wirasaba segera melayangkan pandangan ke arah yang ditunjuk si Kipas Maut. Seketika kedua bola mata mereka jadi tercengang, melihat serombongan orang berpakaian serba hitam yang begitu besar jumlahnya, bergerak menuju benteng Partai Tengkorak Hitam. Dan saat itu, pintu pagar benteng terbuka lebar. Rombongan orang-orang berpakaian serba hitam yang berjumlah sangat besar itu langsung masuk ke dalam benteng pertahanan di tengah-tengah padang rumput yang sangat luas ini.

Tampak di antara mereka terlihat sebuah kereta kuda yang sangat indah, ditarik delapan ekor kuda putih. Di dalam kereta itu, duduk seorang pemuda berwajah tampan, berpakaian indah seperti seorang raja yang dikawal ratusan orang berpakaian serba hitam. Tak lama rombongan itu pun masuk ke dalam bangunan benteng di tengah padang rumput ini. Pintu gerbang benteng itu kembali tertutup perlahan-lahan, setelah semuanya masuk.

Entah berapa jumlah mereka yang baru datang itu. Tapi, Rangga sudah bisa memperkirakan kalau jumlah mereka lebih dari dua ratus orang. Dan semuanya tertampung di dalam benteng yang sangat besar itu. Untuk beberapa saat, mereka bertiga jadi terdiam. Tidak bisa dibayangkan, berapa jumlah kekuatan Partai Tengkorak Hitam yang ada di dalam benteng itu. Sedangkan mereka yakin, jumlah itu mungkin belum ada setengahnya dengan mereka yang masih berada di seluruh penjuru rimba persilatan. Rangga jadi berdecak sambil menghembuskan napas panjang.

”Kakang.... Apakah kita mampu menghadapi mereka...?" ujar Pandan Wangi dengan nada terdengar ragu, melihat kekuatan lawan yang begitu besar.

"Hhh...!" Rangga tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia hanya menghembuskan napas panjang-panjang dan begitu dalam. Pendekar Rajawali Sakti sendiri juga tidak tahu, apakah jumlah prajurit Karang Setra yang mungkin hanya kurang dari setengahnya bisa menghadang orang-orang Partai Tengkorak Hitam? Sebuah pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Tapi yang pasti, kejayaan Karang Setra kini benar-benar terancam. Apakah Pendekar Rajawali Sakti mampu mempertahankan tanah kelahirannya dari kehancuran...?

Sementara mereka bertiga tengah terdiam membisu, dari arah lain muncul rombongan lagi dan orang-orang berpakaian serba hitam yang jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah tadi. Mereka juga masuk ke dalam benteng itu. Dan saat itu juga, terdengar sorak-sorai yang gegap gempita dari dalam benteng. Tidak lama kemudian, kembali terlihat satu rombongan lain lagi datang ke benteng dengan jumlah tidak kalah besar. Dan kali ini, mereka tidak masuk ke dalam benteng, melainkan mendirikan tenda tenda di sekeliling benteng yang mungkin sudah padat.

Pintu gerbang pun kini terbuka lebar-lebar. Mereka kini benar-benar bagai pasukan prajurit sebuah kerajaan yang sangat besar, hendak menggempur Karang Setra. Entah, berapa ribu orang yang ada sekarang. Sedangkan saat ini masih saja ada yang berdatangan, walau lebih sedikit. Dan Rangga sudah memperkirakan kalau jumlah mereka lebih dari sepuluh ribu orang. Hal ini tentu saja membuat hatinya semakin gelisah saja. Dibanding kekuatan prajurit Karang Setra yang hanya berjumlah tidak lebih dari dua ribu, rasanya sangat sulit menghadapi gempuran Partai Tengkorak Hitam yang berlipat ganda itu.

"Ah! Apa akalku sekarang...?" desah Rangga dalam hati.

Kali ini Rangga benar-benar diliputi kegelisahan yang amat sangat, melihat jumlah yang akan menyerang tanah kelahirannya demikian besar. Bahkan berlipat ganda daripada prajurit yang ada di Karang Setra. Dan Pendekar Rajawali Sakti sendiri, tidak mungkin bisa menghadapi orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam seorang diri saja. Walaupun dirinya seorang pendekar digdaya pilih tanding, tetap saja seorang manusia yang memiliki keterbatasan.

Rangga hanya bisa memerintahkan Panglima Wirasaba untuk menarik sebagian besar prajurit Karang Setra ke Desa Kandaga. Karena, memang hanya dari desa ini saja orang-orang Partai Tengkorak Hitam bisa masuk ke Karang Setra. Bahkan Danupaksi dan Cempaka juga sudah berada di desa ini bersama para panglima Kerajaan Karang Setra. Danupaksi sendiri mengerahkan satria-satria Karang Setra, untuk memperkuat pertahanan di Desa Kandaga ini.

Sehingga desa yang semula selalu sunyi, kini ramai dihuni para prajurit dari Karang Setra dan para satria yang dibawa Danupaksi. Sedangkan Rangga sendiri tidak lepas, selalu mengamati segala bentuk kegiatan yang terjadi di sekitar bangunan besar berupa benteng yang dihuni orang-orang Partai Tengkorak Hitam itu.

"Hhh...! Mungkinkah ini akhir dari kejayaan Karang Setra...?" desah Rangga mengeluh lirih.

"Belum, Kakang," tandas Pandan Wangi Rangga melirik sedikit pada gadis cantik yang selalu mendampinginya. Terdengar tarikan napasnya yang begitu dalam dan terasa berat. Sedangkan Pandan Wangi sendiri hanya memandangi raut wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga. Bisa dirasakan keresahan yang melanda hati pemuda ini. Keresahan yang teramat sulit digambarkan dengan kata-kata.

Beberapa kali Karang Setra dilanda kerusuhan dan serangan dari luar. Tapi, tidak sehebat kali ini. Dan selama itu, mereka selalu dapat menghalau para perusuh yang mencoba mengganggu ketenteraman kerajaan ini. Rangga sendiri sebelumnya belum pernah terlihat resah seperti sekarang. Seakan-akan sudah bisa dibayangkan, apa yang bakal terjadi pada kerajaan yang didirikan dengan pengorbanan darah itu.

"Kau lihat, Pandan.... Jumlah mereka lebih dari lima kali lipat jumlah prajurit yang kumiliki. Dan mereka rata-rata dari kalangan persilatan yang sudah berpengalaman dalam segala bentuk pertempuran," ujar Rangga lagi bernada mengeluh.

"Tapi kita memiliki banyak satria yang berkepandaian tinggi, Kakang," sambung Pandan Wangi, kembali memberi dorongan semangat.

"Hanya lima puluh orang satria yang ada di Karang Setra sekarang ini, Pandan. Dan itu tidak cukup untuk menghadapi ribuan orang yang sudah berpengalaman dalam pertempuran."

"Kakang... Kenapa kau jadi ragu dengan kekuatan sendiri...? Kau seperti bukan seorang pendekar yang kukenal," dengus Pandan Wangi agak sinis nada suaranya.

"Hhh...!" Rangga menghembuskan napas panjang. Sedikit Pendekar Rajawali Sakti kembali melirik gadis cantik di sebelahnya ini. Entah kenapa, hatinya jadi begitu ragu untuk bisa mempertahankan Karang Setra sekarang ini. Perasaan yang sama sekali belum pernah ada dalam hati sebelumnya. Rangga sendiri tidak tahu, apa yang menjadi penyebab dari kegundahan hatinya.

Sementara Pandan Wangi sendiri cepat bisa menangkap kegundahan itu. Dan ini membuat si Kipas Maut menjadi gusar. Seakan-akan kegagahan yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti sudah sirna dari dalam dirinya. Dan gadis itu tidak ingin Rangga kehilangan-semua yang dimiliki selama ini.

"Kakang.... Apa tidak sebaiknya kita mencoba mengurangi jumlah kekuatan mereka...?" ujar Pandan Wangi memberi usul.

"Maksudmu?" tanya Rangga tidak mengerti.

"Seperti yang sudah-sudah, Kakang. Menghancurkan sedikit demi sedikit, sambil menggoyahkan keyakinan mereka," sahut Pandan Wangi mencoba menjelaskan.

Rangga terdiam dengan kening sedikit berkerut. Sebentar dipandanginya wajah Pandan Wangi. Kemudian tatapannya beralih kearah bangunan benteng besar yang berdiri di tengah-tengah padang rumput dan dikelilingi ratusan tenda itu. Jelas sekali kalau saat itu Rangga sedang merenungkan kata-kata Pandan Wangi barusan. Kata-kata yang mengingatkan dirinya sebagai seorang pendekar digdaya, yang tidak pernah kehilangan akal.

Dan tiba-tiba saja, seulas senyuman mengukir bibirnya yang sejak tadi selalu berkerut mencerminkan keresahan. Lalu, kepalanya berpaling, kembali menatap Pandan Wangi dengan wajah cerah. Saat itu juga. Pandan Wangi memberi senyuman lebar. Entah, apa arti senyuman gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu.

"Kau benar, Pandan. Memang hanya dengan jalan itu kita bisa mengusir mereka dari sini," ujar Rangga, bernada penuh semangat kembali.

"Kita berdua saja pasti mampu membuat mereka harus berpikir seribu kali untuk menyerang Karang Setra, Kakang," kata Pandan Wangi, terus mengobarkan api semangat Pendekar Rajawali Sakti yang sudah kembali menyala.

"Ya.... Seperti biasa.... Kita berdua yang akan menghadapi mereka," ujar Rangga semakin lebar senyumnya.

Pandan Wangi langsung mengangguk setuju.

"Ayo, Pandan. Kita cari tempat lapang dan jauh dari penglihatan orang lain," ajak Rangga.

"Untuk apa?" kali ini Pandan Wangi yang jadi tidak mengerti.

"Untuk mengurangi dan membuat gentar hati mereka, kita membutuhkan bantuan Rajawali Putih. Kita obrak-abrik mereka, lalu kita pergi menghilang untuk sementara. Begitu seterusnya, sampai mereka gentar. Lalu kita pergi dari sini," kata Rangga menjelaskan rencananya.

"Bagus, Kakang. Mereka pasti tidak mampu menahan gempuran Rajawali Putih," sambut Pandan Wangi gembira.

"Ayo, Pandan. Selagi masih pagi, kita hancurkan mereka sedikit demi sedikit, sampai tuntas semuanya."

Pandan Wangi mantap menganggukkan kepala Dan tanpa banyak bicara lagi, mereka kemudian bergerak cepat meninggalkan tempat itu.

Tepat pada saat kedua pendekar muda itu menghilang ditelan lebatnya hutan, muncul Panglima Wirasaba bersama Danupaksi dan Cempaka. Mereka tampak heran, tidak melihat Rangga dan Pandan Wangi berada di tempat ini. Padahal, mereka tahu Pandan Wangi dan Rangga selalu berada di tempat ini mengawasi bangunan benteng yang menjadi markas Partai Tengkorak Hitam. Tapi belum juga mereka bisa menghilangkan rasa keheranannya, tiba-tiba saja Cempaka sudah berseru sambil menunjuk ke langit.

"Lihat...!"

"Oh...?!"

"Khraaagkh...!"

Di langit yang bening dengan sedikit awan berarak tertiup angin, terlihat seekor burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan yang melesat begitu cepat dari arah selatan. Dan burung rajawali raksasa itu langsung menukik turun dengan kecepatan kilat menuju tengah hutan. Begitu cepatnya, hingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap. Binatang itu bergerak bagai menembus bumi di tengah hutan lebat, yang menjadi pembatas dari Desa Kandaga dengan padang rumput yang kini sudah dikuasai orang-orang Partai Tengkorak Hitam.

Namun tidak lama menghilang di tengah hutan, burung raksasa berbulu putih keperakan itu sudah kembali terlihat. Dia melesat tinggi ke angkasa dengan kecepatan bagai kilat, disertai teriakan yang begitu keras bagai guntur membelah angkasa. Tampak di punggung burung rajawali raksasa itu duduk Rangga dan Pandan Wangi. Mereka kini langsung melesat cepat sekali hingga menembus awan. Sebentar saja burung rajawali raksasa itu sudah berputar-putar di atas bangunan benteng yang berada di tengah-tengah padang rumput ini.

Sementara, Panglima Wirasaba, Danupaksi, dan Cempaka terus mengawasi dengan mata tidak berkedip dan dada berdebar keras. Mereka ingin tahu, apa yang akan dilakukan Rangga dan Pandan Wangi bersama burung rajawali putih raksasa tunggangan Pendekar Rajawali Sakti.

Sementara Rangga yang berada dipunggung Rajawali Putih, terus mengawasi bagian dalam benteng itu. Kini sudah dapat diketahui persis, bagaimana kekuatan yang dimiliki Partai Tengkorak Hitam. Dan keyakinan dalam hatinya semakin bertambah kuat. Tidak mungkin prajurit Karang Setra menghadapi mereka dengan jumlah yang begitu besar. Dan kekuatan itu harus dikurangi seperti yang diusulkan Pandan Wangi tadi.

"Siapkan senjatamu, Pandan," ujar Rangga meminta.

"Baik," sahut Pandan Wangi, langsung mencabut pedangnya. Sedangkan senjata Kipas Mautnya tetap terselip di pinggang.

"Serang mereka yang ada di dalam benteng, Rajawali!" seru Rangga langsung memberi perintah.

"Khraaagkh...!" Tanpa diperintah dua kali, burung rajawali raksasa itu langsung berteriak nyaring. Dan bagaikan kilat, dia meluruk deras ke bawah. Teriakan Rajawali Putih yang begitu keras bagai guntur membelah angkasa, membuat orang-orang yang berada dalam benteng itu jadi terkejut setengah mati.

Dan begitu mendongak ke atas, seketika itu juga kedua bola mata mereka jadi terbeliak lebar dengan mulut ternganga. Seakan tak dipercayai apa yang sedang disaksikan. Dan belum juga rasa keterkejutan mereka lenyap, Rajawali Putih sudah berada tepat di atas kepala mereka semua. Sayapnya yang lebar dan kokoh langsung dikibaskan. Sementara Rangga sendiri sudah melesat turun dari punggung burung rajawali raksasa itu, sambil mencabut senjata pedang pusaka dari punggung.

"Kau tetap bersama Rajawali Putih, Pandan. Hyaaat...!" teriak Pendekar Rajawali Sakti memberi perintah.

Tring! Bet!

Seketika itu juga, kilatan cahaya biru terang menyilaukan yang memancar dari pedang pusaka itu berkelebat begitu cepat sekali bagai kilat, membabat beberapa orang yang berada dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepatnya serangan Itu hingga beberapa orang tidak dapat lagi berkelit menghindar. Dan mereka langsung menjerit nyaring, dengan tubuh terbelah terbabat Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang memancarkan cahaya biru terang berkilauan.

"Khraaagkh...!"

"Hiyaaat...!" Sementara Rajawali Putih terus berkelebatan sambil cepat mengibaskan kedua sayapnya. Rangga juga berlompatan sambil mengecutkan pedang dengan kecepatan bagai kilat. Kini jeritan-jeritan melengking tinggi yang begitu menyayat semakin sering terdengar saling bersahutan.

Sedangkan Pandan Wangi sendiri tidak mau ketinggalan. Sambil berdiri mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang tinggi di atas punggung Rajawali Putih, pedangnya juga cepat dikebutkan membabat orang-orang berbaju serba hitam itu.

"Hup! Yeaaah...!" Rangga kembali melesat tinggi ke atas. Langsung kakinya menjejak di punggung Rajawali Putih dengan manis dan ringan sekali, setelah berhasil merobohkan puluhan orang dalam waktu singkat.

"Cepat pergi, Rajawali...!" seru Rangga keras.

"Khraagkh...!" Tanpa diminta dua kali, Rajawali Putih langsung melesat tinggi ke angkasa, disertai jeritan yang begitu keras memekakkan telinga. Begitu cepat lesatannya, hingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap di balik awan yang menggantung di angkasa. Sementara kilatan cahaya biru yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti juga lenyap di angkasa.

Sementara itu, mereka yang berada dalam benteng jadi kalang kabut, melihat begitu banyak yang ambruk bergelimang darah mendapat serangan mendadak yang begitu cepat dan tidak terduga. Hanya dalam waktu singkat saja, hampir seratus orang yang mati bersimbah darah. Rasa terkejut masih tersirat di wajah mereka. Namun tidak seorang pun yang bisa berbuat sesuatu. Dan beberapa orang terlihat mendongakkan kepala ke atas, seakan ingin memastikan kalau burung rajawali raksasa yang ditunggangi sepasang anak muda itu tidak akan kembali lagi.

Dan saat itu, dari seberang padang rumput tempat benteng besar itu berdiri, terlihat Danupaksi dan Cempaka yang didampingi Panglima Wirasaba, gembira melihat raja mereka sudah mulai melakukan serangan ke benteng Partai Tengkorak Hitam dengan menunggang burung rajawali raksasa. Walaupun tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam benteng itu, tapi mereka sudah bisa menduga kalau tidak sedikit korban yang jatuh di sana.

"Huh! Biar mata mereka terbuka, siapa itu Kakang Rangga...," dengus Cempaka.

"Tapi itu akan membuat mereka jadi murka, Nini dan mereka tentu akan menyerang balas habis-habisan," ujar Panglima Wirasaba jadi cemas.

”Kakang Rangga pasti akan menghalau mereka dengan burung rajawalinya, Paman. Tidak ada seorang pun yang bisa menandingi burung rajawali raksasa tunggangan Kakang Rangga," bantah Cempaka, tetap mengagungkan kakak tirinya.

"Aku percaya, Nini Cempaka," ujar Panglima Wirasaba.

"Kalau sudah percaya, kenapa masih ragu pada Kakang Rangga, Paman?" terdengar agak sinis nada suara Cempaka.

"Bukannya meragukan kemampuan Gusti Prabu. Tapi, aku hanya khawatir kalau tindakannya tadi akan membuat keadaan semakin bertambah parah."

"Aku yakin, Kakang Rangga sudah memperhitungkan semuanya, Paman."

"Mudah-mudahan saja begitu," desah Panglima Wirasaba.

Sementara Danupaksi sendiri tetap diam, seperti tidak mendengarkan semua perdebatan itu. Tatapan matanya terus terarah pada bangunan benteng di tengah padang rumput di depannya. Tampak orang-orang yang berada di luar benteng sudah ada yang masuk ke dalam. Jelas mereka tengah terlanda kekacauan di sana. Dan terlihat juga mereka tampak seperti bersiap-siap bertempur.

Sementara di angkasa, tidak lagi terlihat Rajawali Putih yang ditunggangi Rangga dan Pandan Wangi. Burung rajawali raksasa itu seakan sudah pergi jauh, dan tidak akan kembali lagi. Namun di saat ketegangan sedang melanda hati Danupaksi, tiba-tiba saja....

"Khraaagkh...!"

"Lihat...!" seru Cempaka tiba-tiba sambil menunjuk ke angkasa. Saat itu, terlihat Rajawali Putih seperti muncul dari dalam gumpalan awan yang menggantung di angkasa. Tapi, burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu tidak menyerang orang-orang Partai Tengkorak Hitam, melainkan hanya berputar-putar saja di atas bangunan besar berbentuk benteng pertahanan itu, sambil mengeluarkan suara keras memekakkan telinga, bagai hendak meruntuhkan padang rumput di bawahnya.

"Khraaakh...!" Di atas punggung burung rajawali raksasa itu, terlihat Rangga berdiri tegak dengan tangan terlipat di depan dada. Aneh! Tidak terlihat Pandan Wangi di sana. Padahal tadi ketika muncul-dan menyerang, Pandan Wangi ada bersama Pendekar Rajawali Sakti. Tapi sekarang, gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu tidak ada lagi di sana. Sementara itu, bukan hanya mereka yang berada dalam bangunan benteng itu saja yang mendongakkan kepala ke atas. Bahkan orang-orang yang berada di luar benteng pun ikut melihat ke alas, ke arah burung rajawali raksasa yang berputar-putar di angkasa.

Sementara Rangga masih tetap beidlrl dengan gagah di punggung burung rajawali raksasa tunggangannya, bagai seorang dewa yang hendak menghancurkan Partai Tengkorak Hitam. Namun tidak lama Rajawali Putih dan Rangga muncul di angkasa, sudah kembali melesat tinggi dengan kecepatan bagai kilat. Lalu mereka menghilang begitu menembus gumpalan awan yang menggantung di langit.

Mereka tidak muncul-muncul lagi, membuat semua orang yang menjadi anggota Partai Tengkorak Hitam jadi bertanya-tanya. Bahkan Danupaksi, Cempaka, dan Panglima Wirasaba sendiri jadi bertanya-tanya. Sulit dimengerti, apa yang diinginkan Rangga dengan menampakkan diri bersama Rajawali Putih di angkasa tadi, tanpa melakukan tindakan apa-apa.

********************

LIMA

Sementara itu, di dalam bangunan yang hanya satu-satunya di dalam benteng di tengah-tengah padang rumput itu, terlihat seorang pemuda tampan. Berdiri tegak di depan jendela besar sambil mendongakkan kepala memandang ke langit. Tidak jauh di belakangnya, terlihat tiga orang laki-laki berusia setengah baya yang bertubuh kekar duduk bersila di lantai memandangi.

Pemuda berbaju kulit binatang yang tidak lain Bragata itu baru berbalik, setelah cukup lama berdiri di depan jendela menatap ke langit yang cerah dan hanya sedikit awan saja. Langsung dipandanginya tiga orang yang duduk di lantai tidak jauh di depannya. Kemudian kakinya melangkah mendekati sebuah kursi dengan ukiran indah, lalu duduk dikursi itu dengan wajah kelihatan berselimut mendung. Ketiga orang yang masih tetap duduk bersimpuh di lantai itu terus memandangi.

Mereka adalah tiga orang yang pertama kali ditaklukan Bragata setelah menguasai ilmu-ilmu dari lima orang Pemimpin Partai Tengkorak Hitam, hingga menjadi pengikutnya yang paling setia. Sedangkan Bragata sendiri, tidak mengangkat seorang pun menjadi pendampingnya. Apalagi orang kepercayaan. Tapi, tiga orang bersaudara itu yang memang paling dekat dengannya. Mereka adalah Rapari, Raluga, dan Rakapi yang semuanya memegang senjata berupa pedang berujung dua seperti lidah ular. Dan mereka bertiga memang dikenal sebagai si Tiga Iblis Pedang Ular.

"Dia itukah yang disebut Pendekar Rajawali Sakti...?" ujar Bragata seperti bertanya pada diri sendiri.

"Benar, Yang Mulia. Dia itu satria utama Karang Setra," sahut Rapari.

"Tingkat kepandaiannya sangat tinggi, sukar dicari tandingannya sampai saat ini," sambung Ratuga.

"Dan kabarnya, dia juga Raja Karang Setra. Tapi, dia lebih sering pergi mengembara. Sementara, tampuk pimpinan digantikan adik tirinya. Namanya Danupaksi. Namun, tingkat kepandaiannya masih berada jauh di bawah satria itu, Yang Mulia," sambung Rakapi menjelaskan.

"Hm.... Bagaimana kekuatan prajuritnya sendiri?" tanya Bragata dengan nada suara setengah nenggumam.

"Itulah persoalannya, Yang Mulia. Meskipun jumlahnya sedikit, tapi mereka memiliki kepandaian bertempur yang tidak bisa dianggap enteng. Belum lagi, mereka memiliki para ksatria yang berkepandaian tinggi. Karang Setra memang dikelilingi para ksatria yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Itu sebabnya, walaupun hanya merupakan sebuah kerajaan kecil, tapi sangat disegani kerajaan-kerajaan lain. Bahkan beberapa kerajaan yang sudah kita taklukan, sangat menyegani Karang Setra. Sehingga tidak ada yang berani menggempurnya. Sudah beberapa kali Karang Setra mendapat serangan dari luar, tapi tidak ada yang berhasil menaklukannya," jelas Rapari panjang lebar.

"Kalian begitu banyak mengenal seluk beluk Karang Setra. Tapi, aku melihat kalian seperti gentar menghadapinya. Kenapa...?" terdengar agak dalam nada suara Bragata.

Tatapan mata pemuda itu pun terlihat begitu tajam, menyoroti wajah ketiga orang yang tetap duduk bersimpuh di lantai, tidak jauh di depannya. Dan mereka langsung menundukkan kepala, seakan menyembunyikan rasa kegentaran dalam hati yang sudah terbaca Pemimpin Tunggal Partai Tengkorak Hitam itu. Hingga untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang membuka suara untuk menjawab pertanyaan Ketua Partai Tengkorak Hitam.

"Seluruh kekuatan yang kumiliki, sekarang sudah berkumpul di sini. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi kalian untuk gentar menaklukan Kerajaan Karang Setra. Dan satria yang menjadi kebanggaan Karang Setra, biar menjadi bagianku. Kalian hanya memimpin semua pasukan menyerang prajurit Karang Setra. Bahkan kalau perlu, membumihanguskan semuanya," terdengar agak lantang suara Bragata.

"Baik, Yang Mulia," sahut Tiga Iblis Pedang Ular serempak seraya menganggukkan kepala bersamaan.

"Satria itu sudah mulai berani menyerang ke sini. Dan kita kehilangan hampir seratus orang. Maka sudah sepantasnya kalau harus membalas, menunjukkan kekuatan kita yang sesungguhnya. Hancurkan Desa Kandaga hari ini juga. Kerahkan orang-orang kalian yang terbaik," perintah Bragata.

Tanpa diperintah dua kali, tiga orang laki-laki yang sudah dikenal di kalangan rimba persilatan itu segera memberi hormat pada Ketua Partai Tengkorak Hitam. Kemudian mereka bergegas keluar, meninggalkan ruangan berukuran cukup besar ini. Sedangkan Bragata sendiri bangkit berdiri, lantas melangkah ke jendela. Dari jendela ini, tampak terlihat tiga orang yang dikenal sebagai Tiga Iblis Pedang Ular tengah mengumpulkan orang-orang terbaiknya di tengah lapangan benteng itu.

Ada sekitar lima ratus orang langsung terkumpul dengan kuda masing-masing. Dan mereka juga sudah siap dengan senjata. Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah bergerak keluar dari dalam benteng itu dengan menunggang kuda. Tampak berkuda paling depan adalah si Tiga Iblis Pedang Ular.

Mereka bergerak cepat, menuju Desa Kandaga yang merupakan gerbang termudah untuk masuk ke Karang Setra. Tapi, kini bukan lagi menjadi gerbang termudah bagi orang-orang yang tergabung dalam Partai Tengkorak Hitam, karena ratusan prajurit pilihan Karang Setra sudah membuat benteng pertahanan di sana.

********************

cerita silat online serial pendekar rajawali sakti

Sementara itu, Danupaksi, Cempaka, dan Panglima Wirasaba yang sejak tadi terus memperhatikan semua kegiatan yang terjadi di sekitar benteng pertahanan Partai Tengkorak Hitam, sudah barang tentu mengetahui kedatangan orang-orang Partai Tengkorak Hitam yang dipimpin si Tiga Iblis Pedang Ular menuju Desa Kandaga ini.

Danupaksi segera memerintahkan Panglima Wirasaba agar mempersiapkan prajurit untuk menyambut mereka. Tanpa diperintah dua kali, Panglima Wirasaba segera mengumpulkan prajurit-prajurit pilihannya. Langsung dibentuknya sebuah pertahanan di tepi hutan yang langsung berbatasan dengan Desa Kandaga.

Dan pada saat yang sama, Rangga yang masih berada di angkasa bersama Rajawali Putih, terus mengawasi gerakan orang-orang Partai Tengkorak Hitam yang semakin dekat dengan Desa Kandaga. Sementara, dipinggiran Desa Kandaga prajurit-prajurit Karang Setra yang langsung dipimpin Danupaksi sudah siap menyambut serangan orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam.

Mereka semua sudah siap dengan senjata masing-masing. Bahkan pasukan panah pun sudah ditempatkan pada tempatnya, sehingga bisa menghancurkan para penyerang. Teriakan-teriakan pembangkit semangat bertempur sudah terdengar, bagai hendak mengoyak habis seluruh rimba yang menjadi perbatasan dari Desa Kandaga ini.

Dan kepulan debu bercampur daun-daun kering pun sudah mulai terlihat membubung tinggi ke angkasa. Hentakan-hentakan kaki kuda yang dipacu cepat menembus hutan, bagai hendak meruntuhkan bumi ini. Namun, tidak terlihat sedikit pun kegentaran di wajah para prajurit Karang Setra yang terus menanti, menunggu perintah dari pimpinannya.

Sementara, barisan terdepan Partai Tengkorak Hitam sudah mulai terlihat keluar dari dalam hutan. Sambil berteriak-teriak keras menggelegar, mereka terus memacu cepat kudanya, meluruk deras menyerang desa kecil yang menjadi gerbang masuk ke Kerajaan Karang Setra.

"Seraaang...!"
"Hancurkan...!"
"Hiyaaa...!"
"Yeaaa...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, orang-orang yang semuanya berbaju hitam bergambar tengkorak di punggung itu, langsung saja merangsek, menyerang Desa Kandaga yang sudah terjaga ratusan prajurit pilihan Karang Setra. Mereka berteriak-teriak sambil mengayun-ayunkan senjata, dan menggebah cepat kudanya. Sehingga membuat debu dan daun-daun kering beterbangan, membubung tinggi keangkasa. Hentakan-hentakan kaki kuda yang begitu menggemuruh, membuat jantung siapa saja yang mendengar pasti akan bergetar. Tapi, seluruh prajurit Karang Setra sedikit pun tidak terlihat gentar. Bahkan tampaknya mereka seperti sudah tidak sabar lagi menunggu perintah untuk menyerang.

"Perintahkan pasukan panah untuk menghambat mereka, Paman," perintah Danupaksi, pada Panglima Wirasaba yang berada di sampingnya.

"Baik, Gusti," sahut Panglima Wirasaba. Dan seketika itu juga, teriakan Panglima Wirasaba yang keras menggelegar pun terdengar bagai guntur hendak membelah mayapada. Sebuah teriakan yang begitu keras karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi yang sejak tadi sudah ditunggu-tunggu seluruh prajurit Karang Setra. Dan belum juga menghilang teriakan Panglima Wirasaba dari pendengarannya, pasukan panah yang berjumlah lebih dari seratus orang langsung cepat melepaskan anak-anak panah.

Swing...! Crab!

"Aaakh...!" Trak!

Seketika itu juga, ratusan anak panah berhamburan menghujani orang-orang berpakaian serba hitam. Dan mereka yang tidak sempat menghindar, harus terpental dari punggung kuda dengan anak panah menembus tubuh. Tapi, tidak sedikit yang berhasil menangkis serangan panah itu dengan senjata.

Dan rupanya, prajurit panah dari Kerajaan Karang Setra memang sudah terlatih baik. Mereka cepat sekali bisa melepaskan anak-anak panah, bagai tidak akan pernah habis dari kantung kulitnya. Sehingga bukan lagi ratusan anak panah yang menghujani, tapi ribuan yang datang meluruk bagai hujan yang sulit dapat dibendung lagi.

Maka kini jeritan-jeritan melengking tinggi mengiringi kematian pun semakin sering terdengar saling bersahutan. Dan memang gerakan orang-orang berpakaian serba hitam itu jadi terhambat oleh hujan panah ini. Bahkan terlihat tiga orang pemimpin mereka yang dikenal berjuluk si Tiga Iblis Pedang Ular tidak dapat lagi berbuat lebih jauh, untuk menyelamatkan orang-orangnya yang jadi kalang kabut tidak terkendalikan lagi.

Hanya dalam waktu singkat saja, sudah terlihat lebih dari seratus orang dari Partai Tengkorak Hitam yang ambruk bergelimpangan dengan tubuh tertembus panah. Dan gerakan mereka benar-benar terhambat sekarang, tidak mungkin lagi bisa bergerak maju untuk menyerang Desa Kandaga yang menjadi gerbang masuk utama ke Kerajaan Karang Setra.

"Serang mereka dari sayap kiri, Paman," perintah Danupaksi yang tidak lepas mengawasi pertarungan dari atas punggung kudanya.

"Baik, Gusti," sahut Panglima Wirasaba.

Tanpa menunggu perintah dua kali, Panglima Wirasaba segera berteriak untuk memerintahkan prajuritnya yang berada di sebelah kiri agar langsung menyerang. Dan teriakan-teriakan pertempuran pun seketika terdengar membahana gegap gempita dari para prajurit Karang Setra yang berhamburan keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka langsung meluruk deras, menyerang orang-orang Partai Tengkorak Hitam yang saat itu memang sudah tidak terkendalikan lagi.

"Hiyaaa...!"
"Bunuh mereka semua...!"
"Hajaaar...!"
"Seraaang...!"
"Yeaaah...!"

Sementara dari angkasa, Rangga tersenyum melihat keadaan begitu cepat dapat dikuasai para prajurit Karang Setra yang tidak seluruhnya diterjunkan dalam pertempuran. Walau dengan jumlah yang lebih sedikit, tapi memang diakui kalau siasat yang dijalankan Danupaksi sangat ampuh untuk memukul mundur lawan. Pertarungan tidak lama berjalan.

Sementara orang-orang Partai Tengkorak Hitam segera bergerak mundur, saat merasakan tidak mungkin lagi meneruskan penyerangannya, sedangkan si Tiga Iblis Pedang Ular yang menjadi pemimpin dalam penyerangan pun juga merasakan ketangguhan dari pertahanan para prajurit Karang Setra. Kini mereka segera berteriak, memerintahkan orang-orangnya untuk mundur. Sedikit demi sedikit, orang-orang berpakaian serba hitam itu bergerak mundur, kembali masuk ke dalam hutan. Di tinggalkannya teman-teman mereka yang gugur dalam pertempuran.

Hanya dalam waktu tidak begitu lama, lebih dari setengah jumlah mereka yang menyerang tewas di tangan para prajurit Karang Setra. Sementara Panglima Wirasaba segera memerintahkan prajuritnya untuk menghentikan pertarungan, setelah mendapat perintah dari Danupaksi. Dibiarkannya saja orang-orang berpakaian serba hitam itu kembali ke benteng pertahanan yang ada di tengah-tengah hutan ini.

"Kau hebat, Danupaksi. Siasatmu mampu memukul mundur mereka...."

"Oh...?!" Danupaksi terkejut, saat tiba-tiba saja terdengar suara lembut seorang wanita dari belakangnya. Dan bibirnya langsung tersenyum, begitu melihat Pandan Wangi tahu-tahu sudah di belakangnya di atas punggung kuda putih.

Gadis cantik yang dikenal berjuluk si Kipas Maut segera menghampiri Danupaksi yang masih duduk di punggung kudanya. Sementara, Panglima Wirasaba sudah berada di tengah-tengah para prajuritnya. Segera diperintahkannya seluruh prajurit yang masih hidup untuk membersihkan tempat ini dari mayat-mayat yang bergelimpangan. Dan sebagian lagi merawat para prajurit yang terluka.

"Sejak kapan kau ada di sini, Kak Pandan?" tanya Danupaksi setelah Pandan Wangi berada di sebelah kirinya.

"Sejak tadi," sahut Pandan Wangi singkat, sambil memberikan senyum kecil yang manis.

"Kau melihat semua pertempuran tadi?" tanya Danupaksi lagi.

"Pengaturan siasatmu pun aku tahu, Danupaksi."

Entah kenapa, Danupaksi jadi tersenyum mendengar jawaban si Kipas Maut itu. Dan kepalanya mendongak ke atas. Tampak Rajawali Putih masih berada di angkasa, bersama Rangga yang berada dipunggungnya. Samar-samar Danupaksi melihat lambaian tangan Pendekar Rajawali Sakti di angkasa. Dan pemuda itu langsung tersenyum. Dia tahu, kakak tirinya memberikan salam selamat atas keberhasilannya memukul mundur orang-orang Partai Tengkorak Hitam yang akan menyerang kerajaan mereka.

"Sejak tadi aku tidak melihat Cempaka. Di mana dia, Danupaksi?" tanya Pandan Wangi setelah beberapa saat terdiam membisu.

"Aku menyuruhnya kembali ke istana, menjaga segala kemungkinan, Kak Pandan," sahut Danupaksi.

"Hm, bagus.... Memang istana tidak boleh dikosongkan dalam keadaan seperti ini. Berapa kekuatan prajurit yang kau.tempatkan di istana?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Sekitar lima ratus orang," sahut Danupaksi menjelaskan. "Juga di setiap pintu masuk, ditempatkan sedikitnya seratus orang prajurit untuk berjaga-jaga, ditambah dua puluh orang satria pilihan. Sebagian besar satria kubawa ke sini. Dan sisanya, kutempatkan di sekitar istana."

"Kau lebih cocok menjadi Maha Patih daripada seorang raja, Danupaksi," puji Pandan Wangi.

"Terima kasih...," hanya itu yang bisa diucapkan Danupaksi, menerima pujian si Kipas Maut.

Pandan Wangi juga memberi senyuman manis sekali. Di dalam hati, dia memang memuji tulus melihat kepandaian Danupaksi dalam mengatur siasat pertempuran. Entah, semua itu didapatkan dari mana. Tapi memang, Danupaksi sangat berbakat dalam mengatur para prajurit di medan laga. Dan kepandaiannya membuat Rangga sangat mempercayakan untuk menggantikannya memimpin Karang Setra, setiap kali pergi mengembara bersama gadis itu.

"Aku pergi dulu, Danupaksi," ujar Pandan Wangi berpamitan.

"Kau mau ke mana, Kak?" tanya Danupaksi, sebelum Pandan Wangi sempat menggebah kudanya.

"Menemui Kakang Rangga," sahut Pandan Wangi "Hiyaaa...!"

Gadis cantik berbaju biru muda yang dikenal berjuluk si Kipas Maut langsung menggebah kencang kudanya, masuk ke dalam hutan. Sementara Danupaksi tidak dapat lagi mencegah kepergiannya. Dan pemuda itu langsung sibuk membantu Panglima Wirasaba mengatur para prajuritnya untuk kembali berada pada tempatnya dalam mempertahankan gerbang masuk ke Kerajaan Karang Setra ini. Danupaksi segera merubah keberadaan mereka, hingga tidak mungkin bisa dipelajari pihak lawan yang pasti akan menggempur kembali.

Sementara itu, Pandan Wangi sendiri sudah sampai di pinggiran padang rumput yang ada di tengah-tengah hutan ini. Di sanalah benteng pertahanan Partai Tengkorak Hitam berdiri tegak, bersama ribuan pengikutnya yang semuanya mengenakan pakaian serba hitam, bergambar kepala tengkorak berwarna putih di punggungnya.

Dan baru saja Pandan Wangi turun dari punggung kuda, terdengar suara bergemirisik dari daun-daun kering yang terpijak sepasang kaki Pandan Wangi cepat berpaling ke belakang. Dan bibirnya langsung mengukir senyum manis, saat melihat Rangga datang menghampiri dengan berjalan kaki. Entah, berada di mana Rajawali Putih yang tadi bersama-sama pemuda itu

"Bagaimana...? Sudah ada gerakan lagi di sana?" tanya Rangga langsung, begitu sampai di samping kanan Pandan Wangi.

"Aku juga baru sampai di sini, Kakang. Belum sempat memperhatikan mereka," sahut Pandan Wangi.

"Tampaknya mereka sedang mempersiapkan penyerangan lagi, Pandan," ujar Rangga agak menggumam.

"Ya, kelihatannya memang begitu,” sambut Pandan Wangi juga pelan suaranya.

Mereka memang melihat kesibukan yang terjadi di sekitar benteng pertahanan Partai Tengkorak Hitam. Tampak orang-orang berpakaian serba hitam yang berjumlah ribuan dan bersenjatakan lengkap sudah berbaris rapi di depan bangunan besar berbentuk benteng pertahanan. Bahkan terlihat puluhan pedati berbaris di bagian belakang. Rupanya, kali ini mereka akan menyerang dengan kekuatan penuh.

"Lihat, Kakang. Bukankah itu pemimpinnya...?" seru Pandan Wangi agak keras suaranya.

"Hm...," Rangga rianya menggumam saja sedikit.

Mereka memang melihat seorang pemuda berbaju kulit binatang, keluar dari dalam bangunan benteng. Dia dikawal tiga orang yang tadi memimpin penyerangan ke Desa Kandaga. Pemuda itu menunggang seekor kuda putih yang gagah, dengan sebilah pedang tersampir di punggung Saat itu juga, terdengar sorak-sorai dari semua orang berpakaian serba hitam yang berbaris rapi di depan benteng pertahanan Partai Tengkorak Hitam. Mereka mengelu-elukan pemimpin mereka yang berada di punggung kuda putih, dikawal si Tiga Iblis Pedang Ular.

"Pandan! Beritahu Danupaksi untuk bersiap-siap menghadapi pertempuran besar. Tampaknya mereka akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk menyerang kita," kata Rangga langsung memberi perintah.

"Baik, Kakang...."

Tanpa diperintah dua kali, Pandan Wangi langsung melompat naik ke punggung kudanya. Segera kudanya digebah cepat. Sementara, Rangga sendiri bergegas meninggalkan tempat itu, kembali ke tempat Rajawali Putih ditinggalkan tadi.

Sementara orang-orang Partai Tengkorak Hitam yang kini langsung dipimpin ketua tunggal mereka, sudah mulai bergerak menuju Desa Kandaga. Dan memang, tepat dugaan Rangga. Mereka kini mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk bisa menembus pertahanan para prajurit yang menjaga gerbang masuk ke Kerajaan Karang Setra.

ENAM

Terkesiap juga hati Danupaksi, saat melihat kekuatan Partai Tengkorak Hitam yang muncul dari dalam hutan. Walaupun sudah tahu seberapa besar jumlah kekuatan mereka, tapi tetap saja membuat seluruh aliran darahnya bagai terbalik. Bahkan semua prajurit yang sudah berada pada tempat masing-masing, sempat terpaku melihat jumlah kekuatan lawan yang berlipat ganda dari jumlah yang ada sekarang ini.

Walaupun lawan yang akan dihadapi begitu kuat dan besar, sedikitpun tidak ada kegentaran tersirat di wajah para prajurit Karang Setra. Sementara, Danupaksi yang didampingi Panglima Wirasaba, tampak tegar menanti serangan datang di punggung kuda. Dan hentakan-hentakan kaki kuda yang dipacu cepat, semakin jelas terdengar menggetarkan bumi.

Teriakan-teriakan pembangkit semangat pertempuran pun terus terdengar saling sambut. Tampak orang-orang berpakaian serba hitam yang semuanya menunggang kuda semakin dekat saja jaraknya dengan perbatasan Desa Kandaga. Sementara, para prajurit Karang Setra sudah siap menunggu perintah dengan senjata terhunus.

"Pasukan panah, seraaang...!" seru Panglima Wirasaba begitu mendapat perintah dari Danupaksi.

Dan seketika itu juga, puluhan prajurit panah yang sudah siap sejak tadi langsung melepaskan anak-anak panah dengan cepat, menyambut kedatangan barisan terdepan orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam itu. Hujan panah yang datang cepat, membuat mereka yang berada di depan tidak sempat lagi menghindarinya. Maka jeritan-jeritan menyayat pun seketika terdengar saling sambut, mengiringi ambruknya tubuh-tubuh berbaju hitam dari atas punggung kuda.

Walaupun dihujani anak panah dengan gencar, tapi orang-orang Partai Tengkorak Hitam tidak gentar. Mereka terus maju, menggebah cepat kudanya sambil berteriak-teriak mengangkat senjata di atas kepala. Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi pun semakin sering terdengar saling sambut. Dan ketika Panglima Wirasaba sudah mengangkat tangannya hendak memberi perintah pada prajuritnya, tiba-tiba saja....

"Khraaagkh...!"

"Lihat...! Kakang Rangga datang dengan Rajawali Putih...!" seru Pandan Wangi sambil menunjuk ke atas.

Memang pada saat itu, terlihat seekor burung rajawall raksasa berbulu putih keperakan meluncur cepat bagai kilat dari angkasa, disertai suara menggemuruh bagai guntur membelah angkasa. Di punggungnya, terlihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan sebilah pedang bercahaya biru terang menyilaukan mata tergenggam di tangan kanan. Pemuda itu tak lain Rangga, dan dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti.

"Hancurkan mereka, Rajawali...!"

"Khraaagkh...!" Sambil mengeluarkan suara serak dan keras menggelegar memekakkan telinga.

Rajawali Putih langsung meluruk deras. Segera disambarnya orang-orang berpakaian serba hitam yang berada pada barisan terdepan. Kepakan sayapnya yang lebar, membuat mereka tidak bisa menahannya. Maka tubuh-tubuh remuk berlumuran darah berpentalan tersambar kedua sayap burung rajawali raksasa itu. Bahkan kedua cakarnya dan paruhnya ikut menghajar orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam. Sementara Rangga berdiri tegak dengan kedua kaki kokoh di atas punggung tunggangannya.

"Hup! Hiyaaat...!"

Begitu mendapat kesempatan, cepat bagai kilat Pendekar Rajawali Sakti melompat dari punggung burung rajawali raksasa tunggangannya. Dan seketika Itu juga, pedang pusakanya yang memancarkan cahaya biru terang langsung dikibaskan cepat dan beruntun, membuat orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam yang berada dekat dengannya tidak sempat lagi menyelamatkan diri. Mereka kontan menjerit, begitu tubuhnya tertebas pedang pusaka yang sangat dahsyat.

"Seraaang...!" Saat itu juga Danupaksi berteriak memberi perintah prajuritnya, untuk membantu Pendekar Rajawali Sakti dan burung rajawali raksasa tunggangannya.

Seketika itu juga, ratusan prajurit Kerajaan Karang Setra berlarian menyerang orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam. Teriakan-teriakan keras pembangkit semangat bertempur kini berbaur menjadi satu dengan jeritan-jeritan menyayat, mengiringi tubuh-tubuh yang ambruk bersimbah darah.

Sementara Danupaksi, Panglima Wirasaba, dan Pandan Wangi juga sudah menggebah kudanya, merangsek para penyerang dari Partai Tengkorak Hitam. Dengan senjata masing-masing mereka menghajar para penyerang bagai banteng murka. Ringkikan kuda membuat suasana di pinggiran Desa Kandaga ini semakin hiruk-pikuk tidak menentu.

Walaupun jumlah para prajurit jauh lebih sedikit, tapi sangat sulit bagi orang-orang Partai Tengkorak Hitam untuk menembus pertahanan, terlebih lagi, Rangga dan Rajawali Putih ikut terjun memperkuat barisan para prajurit Karang Setra. Sehingga semakin sukar bagi orang-orang Partai Tengkorak Hitam bisa menerobos pertahanan itu.

Dan sedikit demi sedikit, mereka terpaksa harus bergerak mundur menjauhi tempat pertempuran. Tampak jelas sekali kalau mereka benar-benar tidak mampu menggempur para prajurit Karang Setra, walau dengan jumlah berlipat ganda.

"Munduuur...!"

Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras menggelegar dari arah belakang orang-orang berpakaian serba hitam. Dan seketika itu juga, mereka langsung memutar kudanya yang langsung dipacu cepat meninggalkan kancah pertarungan.

Saat itu juga, Panglima Wirasaba memerintahkan prajuritnya untuk berhenti menyerang. Tidak ada lagi orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam yang tersisa ditempat pertempuran ini. Dan jumlah mereka begitu banyak sekali yang gugur. Sedangkan hanya sekitar lima puluh orang prajurit saja yang gugur dalam pertarungan sengit tadi.

Sementara Rangga sendiri berdiri tegak di antara mayat-mayat yang berserakan saling tumpang tindih, dengan pedang pusaka memancarkan cahaya biru terang tersilang di depan dada. Tidak jauh di sebelah kiri, terlihat Pandan Wangi yang menggenggam kedua senjata pusakanya. Di tempat lain yang agak jauh, terlihat Panglima Wirasaba bersama Danupaksi berada di punggung kuda memandangi lawan mereka yang tenis menghilang di balik lebatnya hutan di depan.

Cring!

Rangga memasukkan pedang pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di punggung. Pandan Wangi |uga menyimpan kedua senjata pusaka. Lalu, dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti, dan berdiri di sebelah kirinya. Sejenak mereka saling berpandangan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ditatapinya mayat-mayat yang bergelimpangan saling tumpang tindih di sekitarnya.

Sementara di tempat lain, Danupaksi dan Panglima Wirasaba sudah mulai mengatur para prajuritnya untuk membersihkan tempat pertarungan dari mayat-mayat yang berserakan. Rangga dan Pandan Wangi menyingkir ke garis belakang. Pendekar Rajawali Sakti sempat mendongakkan kepala ke atas. Bibirnya jadi tersenyum melihat Rajawali Putih sudah berada tinggi di angkasa. Tapi burung rajawali raksasa tidak meninggalkannya.

"Kalau begini terus, bisa habis prajurit Karang Setra, Kakang," ujar Pandan Wangi terdengar lirih sekali suaranya.

"Hhh...!" Rangga hanya menghembuskan napas panjang saja.

Raja Karang Setra ini juga tidak ingin kehilangan prajuritnya begitu banyak dalam menghadapi orang-orang yang berada di bawah panji Partai Tengkorak Hitam. Walaupun kemampuan prajurit dapat diandalkan, tapi tidak mungkin bisa bertahan terus menerus menghadapi gempuran lawan yang berjumlah sangat banyak. Bagaimanapun juga, manusia tentu memiliki segala macam keterbatasan. Dalam pertempuran tadi saja, sudah cukup banyak mereka kehilangan prajurit. Walaupun, dapat memukul mundur pihak lawan.

Sulit diramalkan, apakah prajurit-prajurit Karang Setra dapat bertahan, jika mendapat serangan kembali dengan jumlah yang sudah berkurang. Rangga sendiri tidak dapat membayangkannya. Tapi untuk mengadakan penyerangan, sudah barang tentu tidak mungkin dilakukan. Pertahanan mereka begitu kuat. Terlebih lagi, mereka memiliki benteng pertahanan yang terjaga ketat dengan persenjataan lengkap.

Pada saat kedua pendekar muda itu sedang terdiam, terlihat Panglima Wirasaba datang menghampiri tergesa-gesa. Laki-laki berusia setengah baya dengan keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, langsung berlutut di depan Pendekar Rajawali Sakti. Langsung diberikannya sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

"Ada apa, Paman?" tanya Rangga dengan nada suara sangat berwibawa.

"Ampun, Gusti Prabu. Hamba kedatangan seorang utusan prajurit dari istana. Dia menyampaikan kabar, kalau di perbatasan sebelah utara telah datang satu pasukan berjumlah besar dari Kerajaan Pringgading," lapor Panglima Wirasaba.

"Hm.... Mau apa mereka?" tanya Rangga dengan kening berkerut.

"Mereka datang untuk membantu kita. Gusti Prabu. Bahkan Prabu lndrata sendiri yang memimpin prajurit itu," lapor Panglima Wirasaba lagi.

Rangga jadi terdiam beberapa saat dengan kening berkerut. Memang kemunculan Partai Tengkorak Hitam sudah membuat resah seluruh kerajaan di muka bumi ini. Bukan itu saja. Para tokoh persilatan golongan putih pun sudah dilanda keresahan. Terlebih lagi hanya dalam beberapa hari saja. Bahkan sudah menguasai beberapa wilayah kerajaan di wilayah selatan. Dan sekarang, mereka berusaha menguasai wilayah kulon. Tapi, ternyata mereka justru malah terbentur di Karang Setra, sebuah kerajaan pertama yang dipilih untuk ditaklukkan.

Sedangkan Kerajaan Pringgading sendiri, letaknya memang berbatasan dengan Karang Setra. Dan kalau Karang Setra jatuh di tangan Partai Tengkorak Hitam, sulit bagi Kerajaan Pringgading untuk bisa mempertahankan wilayahnya. Rupanya, ini yang membuat Prabu Indrata, Raja Pringgading, tergerak hatinya untuk memperkuat barisan prajurit Karang Setra. Karena, dia juga tidak ingin wilayah kerajaannya jatuh ke tangan orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam yang kekejamannya sudah terkenal itu, walaupun belum ada satu purnama kemunculannya.

"Kirim utusan segera, Paman. Kalau mereka memang ingin membantu, segeralah datang ke sini," perintah Rangga.

"Baik, Gusti Prabu," sahut Panglima Wirasaba, seraya memberi sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

Bergegas Panglima Wirasaba meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti. Dihampirinya seorang utusan dari istana yang menunggu di samping kudanya. Hanya sebentar saja Panglima Wirasaba berbicara, lantas prajurit utusan itu sudah langsung melompat naik ke punggung kudanya. Cepat sekali kudanya digebah hingga berlari kencang meninggalkan Desa Kandaga ini.

Rangga memandangi utusan ini hingga lenyap di tikungan jalan yang langsung menuju Kota Kerajaan Karang Setra. Kemudian dihembuskannya napas panjang. Lalu kepalanya berpaling menatap Pandan Wangi. Kemudian pandangannya beralih kepada Danupaksi yang duduk bersandar di bawah pohon bersama empat orang panglima. Entah, apa yang dibicarakan di sana. Tampaknya Danupaksi sedang merencanakan sesuatu untuk menempatkan prajurit-prajuritnya dalam menghadapi serangan Partai Tengkorak Hitam.

"Mudah-mudahan saja raja-raja lainnya yang bertetangga dengan kita, tergerak hatinya mengikuti Gusti Prabu lndrata," desah Pandan Wangi pelan, seperti bicara pada diri sendiri.

Rangga berpaling sedikit, lantas menatap gadis cantik kekasihnya. Terdengar hembusan napas panjangnya. Selama berdiri, memang Karang Setra baru kali ini mendapat serangan dari musuh yang kekuatannya begitu besar. Juga, baru kali ini mendapat bantun dari kerajaan lain. Tapi memang, sebenarnya itu yang sangat diharapkan. Dengan penyatuan kekuatan, mereka akan semakin bertambah besar dan kuat Dan bukannya tidak mungkin mereka akan menghancurkan Partai Tengkorak Hitam sampai ke akar-akarnya.

"Kakang! Apa tidak sebaiknya kita mengirimkan utusan pada kerajaan-kerajaan lain yang menjadi sahabat kita...?" usul Pandan Wangi selelah beberapa saat lamanya terdiam membisu.

"Tidak perlu, Pandan," sahut Rangga tegas.

"Tapi kita memang membutuhkan bantuan, Kakang. Dengan jumlah prajurit sekarang ini, tidak mungkin bisa bertahan lebih lama lagi. Sedangkan kau tahu sendiri, jumlah mereka begitu besar. Dan tadi, kulihat datang lagi satu rombongan besar memperkuat barisan mereka," kata Pandan Wangi agak keras suaranya.

"Aku tidak akan mengirimkan utusan untuk meminta bantuan. Pandan. Tapi kalau mereka datang dan ingin bergabung, tidak akan kutolak. Biarkan mereka berpijak pada pendiriannya sendiri. Dan aku tidak ingin mengusik ketenteramannya," tandas Rangga tetap pada pendiriannya.

"Tapi, Kakang. Kalau Karang Setra jatuh, mereka juga akan terancam."

"Tidak, Pandan...," ujar Rangga seraya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Aku tidak akan membiarkan Karang Setra runtuh. Walaupun harus mati, asalkan Karang Setra tetap berdiri tegak."

Pandan Wangi jadi terdiam mendengar kata-kata yang bernada tegas. Memang sulit bisa melemahkan hati Pendekar Rajawali Sakti. Walau dalam keadaan sulit bagaimanapun juga, Rangga memang tidak akan pernah mengemis meminta bantuan. Dan segala kesulitannya akan ditanggulangi sendiri. Hatinya begitu yakin kalau semua ini dapat teratasi, tanpa harus mengganggu ketenteraman kerajaan tetangganya. Malah sedikit pun tidak terbetik di dalam hatinya untuk mengusik ketenteraman mereka.

"Ayo, Pandan. Kita awasi mereka lagi. Kalau mereka kembali bergerak akan menyerang, kita bisa tahu dengan cepat. Sehingga bisa mempersiapkannya dengan cepat pula," ajak Rangga seraya bangkit berdiri.

Pandan Wangi hanya mengangguk. Dan kini mereka melangkah bersisian tanpa bicara lagi. Para prajurit yang dilewati langsung membungkukkan tubuh memberi hormat. Meskipun saat ini Rangga hanya mengenakan baju rompi putih seperti seorang pendekar pengembara, tapi semua prajurit Karang Setra tetap saja mengenalinya sebagai Raja Karang Setra. Sehingga mereka tetap bersikap hormat pada pemuda itu. Dan Rangga juga tidak bisa melarang lagi. Bahkan Panglima Wirasaba sendiri tidak bisa lagi bersikap biasa pada pemuda itu, karena di tempat ini begitu banyak prajurit berkumpul.

"Kakang, kau akan ke mana...?" teriak Danupaksi saat melihat Rangga dan Pandan Wangi hendak pergi. Bergegas Danupaksi meninggalkan empat orang panglimanya. Langsung dihampirinya kedua pendekar muda yang menjadi tulang punggung kejayaan Karang Setra itu.

Rangga dan Pandan Wangi menghentikan langkahnya, menunggu sampai Danupaksi dekat. Adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu langsung memberi hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan dada, begitu sampai di depan kedua pendekar ini.

"Aku akan mengamati mereka, Danupaksi. Kau tetap di sini bersama Panglima Wirasaba. Kalau Prabu lndrata dan prajuritnya datang, terimalah dengan baik. Biarkan dia menempatkan prajuritnya di mana saja semaunya, asal tidak keluar dari Desa Kandaga ini," kata Rangga langsung memberi amanat.

"Baik, Kakang Prabu," sahuat Danupaksi dengan sikap hormat.

"Kalau ada yang datang lagi untuk bergabung, terima saja. Asal, kau kenal dan mengetahui siapa mereka. Tak usah peduli, apakah itu dari pihak kerajaan tetangga, orang-orang persilatan, atau orang orang dari padepokan silat. Kau harus menerima maksud baik mereka dengan tangan terbuka," pesan Rangga lagi.

Danupaksi kembali menganggukkan kepala.

"Nah! Aku pergi dulu. Kalau aku tidak kembali sampai senja nanti, jangan gusar dan jangan mengirim seorang pun untuk mencari. Aku akan berusaha melemahkan mereka. Kau yang menjadi pimpinan utama di sini, Danupaksi. Bertindaklah adil pada siapa pun juga," pesan Rangga lagi.

"Aku akan jalankan semua pesanmu, Kakang Prabu," sahut Danupaksi sambil memberi sembah hormat lagi.

Rangga tersenyum dan menepuk pundak adik tirinya. Kemudian diajaknya Pandan Wangi meninggalkan Desa Kandaga ini. Danupaksi mengiringi kepergian mereka dengan pandangan mata. Sudah bisa diduga, apa yang akan dilakukan Rangga dan Pandan Wangi untuk melemahkan kekuatan pihak lawan. Dan dia hanya bisa berharap, semoga kedua pendekar itu tidak mendapatkan kesulitan berarti.

Sementara itu, di dalam benteng pertahanannya, Bragata kelihatan berang menghadapi kenyataan yang sama sekali tidak diduga. Tidak disangka, tindakannya akan mendapat batu sandungan begitu besar dari sebuah kerajaan kecil yang dianggapnya lemah. Untuk menembus masuk ke wilayahnya saja, sudah terasa begitu sulit. Padahal, prajurit Karang Setra hanya sedikit. Tapi kemampuannya dalam medan pertempuran sungguh tidak bisa dipandang sebelah mata.

Begitu geramnya, hingga Bragata menarik semua pengikutnya yang masih tersebar untuk memperkuat benteng ini. Kini jumlah mereka semakin berlipat ganda. Kekuatan para prajurit Karang Setra membuat Bragata jadi penasaran, dan ingin menaklukkannya. Dia sudah bertekad harus menaklukan kerajaan kecil yang sudah membuat gentar pengikutnya.

Sementara jauh di luar benteng besar itu, tampak Rangga dan Pandan Wangi terus mengamati dari tempat yang cukup tersembunyi Mereka tampak tertegun, melihat jumlah kekuatan lawan yang semakin bertambah besar saja. Bahkan masih saja berdatangan orang-orang berpakaian serba hitam, dari segala penjuru. Dan kini, padang rumput yang luas itu penuh tenda yang berdiri. Yang dihuni orang-orang dari Partai Tengkorak Hitam. Mereka bagaikan sebuah laskar yang sangat besar, ingin menggempur sebuah kerajaan kuat. Begitu besarnya, membuat Rangga jadi meragukan kekuatan prajuritnya sendiri.

"Aku jadi khawatir, Kakang...," desah Pandan Wangi tiba-tiba, mengemukakan perasaan harinya.

"Hhh...!" Rangga tidak bisa mengeluarkan sapatah kata pun juga. Hanya dihembuskannya napas panjang yang terasa begitu keras. Memang, bukan hanya Pandan Wangi saja yang merasa cemas melihat keadaan seperti ini. Rangga juga tidak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya. Hatinya khawatir, Karang Setra akan jatuh ke tangan orang-orang liar yang tergabung dalam Partai Tengkorak Hitam. Sedangkan mereka sudah menguasai seluruh wilayah selatan. Dan sekarang, mereka mencoba menguasai wilayah kulon ini, melalui Karang Setra yang menjadi batu sandungan terbesar.

"Aku rasa, walaupun menggabungkan tiga kerajaan, tidak akan sanggup menghadapi mereka, Kakang," ujar Pandan Wangi lagi, dengan suara masih tetap pelan bernada cemas.

"Aku harus menghancurkan mereka, Pandan," desah Rangga juga pelan suaranya.

"Caranya...?" tanya Pandan Wangi.

"Hhh...!" Kembali Rangga tidak bisa menjawab pertanyaan si Kipas Maut, kecuali hanya menghembuskan napas panjang saja yang terasa begitu berat. Sukar baginya untuk mengemukakan, apa yang menjadi ganjalan dalam hatinya sekarang ini. Sedangkan dia sendiri belum mendapatkan cara terbaik, untuk menghancurkan orang-orang Partai Tengkorak Hitam. Terlalu besar jumlahnya dan tidak mungkin diserang hanya seorang diri saja.

"Pandan.... Sebaiknya kau bantu Danupaksi. Aku merasa bukan hanya dari Kerajaan Pringgading yang datang membantu. Peristiwa ini sudah cepat tersebar luas. Orang-orang dari rimba persilatan pun pasti datang ke sini. Kau bantu saja Danupaksi mengatur mereka, Pandan," kata Rangga meminta.

"Lalu kau sendiri...?" tanya Pandan Wangi.

Rangga tidak langsung menjawab. Entah kenapa, bibirnya hanya tersenyum saja mendapat pertanyaan itu. Dan Pandan Wangi sendiri tidak menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi. Tanpa berkata apa pun, tubuhnya segera berbalik dan melangkah meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti seorang diri di tepi padang rumput yang menjadi pusat pertahanan Partai Tengkorak Hitam. Rangga hanya berpaling sedikit, melihat Pandan Wangi yang terus melangkah pergi meninggalkannya tanpa berkata apa pun juga.

"Hm.... Aku coba melemahkan mereka dengan caraku sendiri. Kurasa, mereka perlu digempur lebih dulu, sebelum bisa menyerang lagi," gumam Rangga bicara pada diri sendiri.

TUJUH

Entah berapa lama Rangga berdiri tegak memandangi benteng pertahanan Partai Tengkorak Hitam. Sedikit pun kedua bola matanya tidak dikedipkan. Sedikit napasnya berhembus. Kemudian kedua tangannya terkepal erat, dan perlahan-lahan bergerak naik hingga sejajar pinggang. Dan perlahan-lahan pula, kedua kakinya bergerak merentang ke samping. Sorot matanya masih terlihat begitu tajam, seakan hendak menembus pagar benteng yang tinggi dan kokoh di tengah-tengah padang rumput sangat luas itu.

"Hooop...!" Kembali Pendekar Rajawali Sakti menarik napas dalam-dalam, dan menahannya hingga urat-urat lehernya bersembulan keluar. Wajahnya pun jadi memerah seperti kepiting rebus. Beberapa saat pemuda itu tidak bergerak seperti patung batu. Lalu... "Aji Bayu Bajra! Yeaaa...!"

Wusss!

Tepat ketika Rangga berteriak sambil menghentakkan kedua tangan dengan jari-jari terbuka lebar, seketika itu juga terjadi hempasan badai topan dahsyat disertai angin menderu begitu keras menggetarkan jantung, menghantam seluruh padang rumput itu. Sehingga bagai hendak menggulung rata dengan tanah. Badai topan ciptaan Pendekar Rajawali Sakti membuat semua orang-orang di padang rumput itu jadi terkejut setengah mati.

Tapi belum juga bisa menghilangkan rasa terkejutnya, sudah terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi dari mereka yang terhempas tiupan angin topan yang sangat dahsyat ini. Tubuh-tubuh mereka kontan berhamburan bagai segumpal kapas yang tertiup angin. Bahkan pepohonan pun ikut tercabut dari akarnya, beterbangan menghantam tenda-tenda dan orang-orang yang sedang dilanda kebingungan.

Sementara Rangga yang berada tidak seberapa jauh dari tepi padang rumput, terus mengerahkan aji kesaktiannya hingga semakin dahsyat saja. Akibatnya angin topan yang ditimbulkannya bagai hendak menghancurkan semua yang ada di sekitar padang rumput itu.

"Hiyaaa...!"

Beberapa kali Rangga berteriak keras mengngerahkan aji kesaktiannya semakin bertambah hebat saja. Entah berapa lama Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan 'Aji Bayu Bajra' yang sangat dahsyat, karena disertai pengerahan tenaga dalam penuh dan sempurna. Dan tiba-tiba saja kedua tangannya dihentakkan ke bawah. Maka seketika itu juga, badai topan yang mengamuk sangat dahsyat berhenti, tepat ketika kedua tangan pemuda berbaju rompi putih itu sudah kembali terkepal erat di samping pinggang.

"Hmmm... Rangga menggumam sedikit, melihat hasil pengerahan 'Aji Bayu Bajra'.

Sungguh dahsyat luar biasa. Padang rumput itu jadi porak poranda hanya dalam waktu singkat diterjang badai topan buatannya tadi. Bahkan tidak ada satu tenda pun yang terlihat masih berdiri dengan utuh. Namun, Rangga jadi heran. Karena, tidak melihat ada kerusakan sedikit pun pada bangunan benteng besar yang berdiri di tengah-tengah padang rumput itu. Sedangkan disekelilingnya begitu rusak, seperti baru saja diterjang ratusan gajah liar yang marah, karena kehidupannya terusik tangan-tangan jahil manusia.

Mayat-mayat tampak bergelimpangan di sekitar benteng itu. Mereka mati dengan kepala hancur, atau tubuh remuk terhantam batu-batuan dan pepohonan. Bahkan tidak sedikit yang mati terhimpit pohon atau bebatuan, akibat terjangan angin badai topan ciptaan Pendekar Rajawali Sakti tadi. Tapi, ternyata Rangga masih melihat ada yang tetap hidup dan kembali bangkit berdiri lagi.

Hanya saja tak seorang pun yang kelihatannya selamat dari amukan badai topan, yang tidak mendapatkan luka. Mereka yang masih hidup semuanya menderita luka yang tidak bisa dianggap ringan. Melihat kenyataan itu, Rangga jadi tersenyum. Dengan mengerahkan 'Aji Bayu Bajra', jumlah kekuatan lawan sudah bisa dikurangi.

"Sedikit demi sedikit akan kuhancurkan mereka semua...," desis Rangga dengan suara menggumam pelan.

Dari tempat yang cukup tersembunyi, Rangga terus memperhatikan orang-orang berpakaian serba hitam. Dan dari dalam benteng, bermunculan teman-teman mereka. Tampaknya, mereka begitu terkejut melihat keadaan di sekitar bagian luar bentengnya. Hanya beberapa saat saja terjadi badai topan, sudah membuat tempat pertahanan jadi porak poranda seperti ini. Saat itu, Rangga melihat Bragata keluar dari dalam bentengnya. Dan tampaknya, hatinya begitu geram melihat orang-orangnya bergelimpangan tak bernyawa lagi, dengan kepala dan tubuh hancur akibat terserang badai topan tadi.

"Keparat...! Ini pasti perbuatan Pendekar Rajawali Sakti. Huh! Akan kubunuh dia dengan tanganku sendiri...!" dengus Bragata, geram setengah mati.

Kedua bola mata pemuda itu tampak memerah, menerawang nyalang beredar ke sekelilingnya. Seakan-akan ada yang tengah dicarinya. Dan tidak lama kemudian, pandangannya tertuju langsung ke tempat Rangga berada, di balik lebatnya semak belukar dan batu-batu menjulang cukup tinggi, yang banyak berserakan di sepanjang pinggiran padang rumput ini.

Saat itu juga seluruh aliran darah di dalam tubuh Rangga jadi berdesir kuat. Seakan, dia sudah merasa kalau tempat persembunyiannya sudah diketahui.

"Keluar kau, Pendekar Rajawali Sakti...! Hadapi aku..!" seru Bragata dengan suara keras dan lantang menggelegar, karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hm.... Rupanya dia sudah tahu tentang diriku...," gumam Rangga dalam hari. Tapi Rangga sengaja tidak segera keluar memenuhi tantangan Pemimpin Partai Tengkorak Hitam. Hanya diperhatikannya saja pemuda itu dari tempat persembunyiannya.

Sementara itu, Bragata sendiri terus melangkah semakin mendekati tempat persembunyian Pendekar Rajawali Sakti. Seakan-akan, dia sudah tahu tempat persembunyian Rangga. Tapi dari kedua bola matanya yang begitu tajam nyalang ke sekeliling, Rangga tahu kalau Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu belum tahu tempat persembunyiannya.

"Phuih...! Aku tahu, di mana kau bersembunyi, Pendekar Rajawali Sakti! Keluarlah kau, kalau tidak ingin seluruh tubuhmu kuhancurkan...!" bentak Bragata geram, bernada mengancam.

Tapi Rangga tetap saja diam di tempat persembunyiannya dengan bibir mengulum senyum. Dia tahu, Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu belum tahu tempat persembunyiannya. Dan sepertinya, Rangga memang sengaja ingin mempermainkannya dulu, seperti ingin membuat kesabaran Bragata hilang.

Sementara Bragata sendiri sudah berhenti melangkah, tidak jauh dari pinggiran padang rumput ini. Kedua bola matanya tetap nyalang, menyorot tajam mencari Rangga. Dan pendengarannya tampak ditajamkan. Tapi memang tidak mudah mengetahui keberadaan Pendekar Rajawali Sakti, walaupun jarak mereka cukup dekat. Dan Rangga sendiri mengerahkan pemindahan jalan napas melalui perut. Sehingga sulit bagi Bragata untuk mengetahui tempat persembunyiannya. Dan ini tampaknya membuat Bragata semakin geram saja. Dia benar-benar merasa dipermainkan kali ini. Namun ketika Bragata baru saja kembali mengayunkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba saja....

"Khraaagkh...!"

"Heh...?!" Cepat sekali Bragata berpaling ke belakang. Dan kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, ketika tiba-tiba saja seekor burung rajawali raksasa menukik cepat bagai kilat ke arah benteng pertahanannya, sambil mengeluarkan suara sangat keras bagai guntur membelah angkasa.

Bukan hanya Bragata saja yang terkejut melihat kemunculan burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu. Bahkan Rangga sendiri sampai terlonjak keluar dari tempat persembunyiannya. Sungguh, burung rajawali raksasa tunggangannya tidak diperintahkan untuk menyerang benteng pertahanan Partai Tengkorak Hitam. Tapi, tidak ada kesempatan lagi untuk mencegah. Rajawali Putih sudah mengamuk, menghajar pengikut Partai Tengkorak Hitam yang berada di luar benteng.

Gerakan-gerakannya sungguh cepat luar biasa, hingga tidak ada seorang pun yang sanggup mengelakkannya. Dan saat itu juga, terdengar jeritan-jeritan melengking tinggi yang begitu menyayat, dari mereka yang terkena sambaran kedua sayap burung rajawali raksasa itu. Hingga dalam waktu sebentar saja, sudah puluhan orang yang ambruk bergelimpangan dengan tubuh atau kepala remuk berlumuran darah.

"Keparat...! Kubunuh kau burung setan...!" geram Bragata.

Tapi baru saja Bragata berbalik, Rangga sudah melesat cepat sekali, hingga melewati atas kepala pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu. Dan manis sekali tepat sekitar lima langkah lagi di depan Bragata. Kemunculan Rangga yang begitu tiba-tiba itu, tentu saja membuat Bragata jadi tersentak kaget setengah mati. Sehingga, dia sampai terlompat ke belakang tiga langkah.

"Phuih...! Akhirnya kau muncul juga, Pendekar Rajawali Sakti...!" desis Bragata sambil menyemburkan ludah dengan sengit.

Sementara itu, di sekitar benteng Rajawali Putih terus mengamuk, menghajar orang-orang berbaju serba hitam itu. Jeritan-jeritan kematian terus terdengar saling sambut, disertai teriakan-teriakan dari mereka yang berusaha menghadang. Kegaduhan itu membuat hari Bragata jadi bimbang. Terlebih lagi, ketika melihat orang-orangnya sama sekali tak mampu menghadapi serangan burung rajawali raksasa yang bergerak bagai kilat. Setiap gerakannya selalu menimbulkan korban tidak sedikit. Hingga, mayat-mayat pun semakin banyak bergelimpangan, tanpa dapat dicegah lagi. Sedangkan di depannya, berdiri tegak seorang pendekar muda yang menjadi punggung Kerajaan Karang Setra.

"Seharusnya memang kau dulu yang kumusnahkan, Pendekar Rajawali Sakti. Baru kerajaanmu kuhancurkan...!" dengus Bragata dingin menggetarkan.

"Kau hanya bermimpi bisa menghancurkan Karang Setra," balas Rangga tidak kalah dingin.

"Akan kubuktikan, kalau aku yang terkuat di seluruh jagad raya ini!" bentak Bragata lantang.

Rangga hanya tersenyum tipis mendengar keangkuhan itu. Dan kedua tangannya sudah terkepal, dengan kaki sedikit direntangkan. Sementara Bragata sendiri sudah meloloskan pedangnya, dan dikebutkan dengan gerakan cepat sekali, hingga tersilang di depan dada. Kilatan pedang itu memang bisa membuat jantung siapa saja yang melihatnya jadi bergetar. Tapi Rangga hanya tersenyum saja.

"Cabut pedangmu, Keparat...!" bentak Bragata sengit.

"Menghadapimu, tidak perlu menggunakan senjata," sahut Rangga kalem.

Tapi, sambutan Pendekar Rajawali Sakti yang datar itu malah membuat seluruh darah dalam tubuh Bragata jadi bergolak mendidih. Gerahamnya bergemeletuk menahan kemarahan yang sudah memuncak sampai ke ujung kepala. Dan seluruh wajahnya memerah seperti terbakar.

"Tahan seranganku, Pendekar Rajawali Sakti! Hiyaaat...!" Sambil membentak keras menggelegar, Bragata langsung saja melompat menyerang dengan kebutan pedang yang begitu dahsyat, mengarah langsung ke batang leher Pendekar Rajawali Sakti.

Bet! "Haiiit.!"

Namun hanya sedikit saja Rangga mengegoskan kepala, sabetan pedang lawan hanya lewat sedikit di depan tenggorokan. Dan dengan gerakan manis sekali. Rangga memutar tubuhnya, dan langsung dibungkukkan sedikit. Kedua tangannya langsung dikibaskan dengan mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.

"Yeaaah...!"
Wut!

"Heh...?! Hup!" Bragata sama sekali tidak menduga mendapat serangan balik yang sangat cepat luar biasa itu. Cepat tubuhnya melenting ke belakang, sambil berputar dua kali. Namun baru saja kedua kakinya menjejak tanah, Rangga sudah melepaskan serangan lagi dengan melompat sambil memberikan satu pukulan dahsyat bertenaga dalam sempurna dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Hingga. Angin pukulannya saja menimbulkan semburat cahaya merah bagai api yang hendak melumat seluruh tubuh lawannya.

"Hup!" Cepat-cepat Bragata melenting tinggi-tinggi ke atas, menghindari serangan Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga pukulan Rangga yang begitu dahsyat hanya menghantam tanah kosong belaka. Seketika itu juga terdengar ledakan dahsyat, akibat kilatan cahaya merah yang memancar dari kepalan tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti yang menghantam tanah.

Tampak tanah yang terkena pukulan dahsyat terbongkar, membuat debu beterbangan ke angkasa, membentuk sebuah jamur raksasa. Sementara Bragata sudah kembali menjejakkan kakinya di tanah, setelah melakukan beberapa kali putaran di udara.

Seketika itu juga kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, melihat tanah yang terkena pukulan maut Pendekar Rajawali Sakti tadi terbongkar, membentuk sebuah lubang besar bagai kuburan gajah. Sulit dibayangkan jika pukulan itu sampai mengenai tubuh manusia. Mungkin akan hancur berkeping-keping seperti tanah!

"Phuih...!" Bragata menyemburkan ludahnya, untuk menghilangkan kegentaran yang tiba-tiba saja menjalar dalam hatinya melihat kedahsyatan dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Dan perlahan kakinya bergeser ke kanan, sambil mempermainkan pedangnya di depan dada.

Sedangkan Rangga sendiri tetap berdiri tegak, dengan mata tajam memperhatikan setiap gerakan Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu.

"Hiyaaat..!" Sambil mengeluarkan teriakan keras menggelegar, Bragata kembali melompat menyerang. Dan kali ini pedangnya langsung dikebutkan cepat dan beruntun.

Dan ini membuat Rangga terpaksa harus berjumpalitan menghindarinya. Tapi dengan mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib', tidak satu pun serangan Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu yang bisa menyentuh tubuhya. Gerakan-gerakan Rangga sangat aneh, seperti bukan gerakan-gerakan seorang pendekar. Sama sekali tidak beraturan. Tapi, itu yang membuat Bragata semakin sulit memasukkan serangannya.

Jurus demi jurus berlalu. Namun Bragata belum juga bisa mendesak Pendekar Rajawali Sakti. Semua serangan yang dilancarkannya bisa dipatahkan dengan mudah. Dan ini membuatnya semakin geram saja. Maka serangan-serangannya pun semakin diperhebat, beruntun dan cepat bdyal lillal Uuglln cepat gerakan-gerakannya, hingga bentuk tubuh dan pedangnya bagai lenyap dari pandangan. Yang terlihat kini hanya kilatan cahaya pedang yang bergulung-gulung, mengikuti kelebatan bayangan dari pakaian yang dikenakan Bragata.

Sedangkan Rangga sendiri masih tetap menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' yang semakin sulit diikuti arah gerakannya. Dan tingkatan jurus juga semakin naik, mengikuti perkembangan jurus-jurus yang di gunakan lawannya.

"Phuih! Hiyaaat..!" Bragata benar-benar geram mendapati lawan yang hanya bisa menghindar, tanpa balas serangan sedikit pun juga. Sedangkan dia sendiri sudah menghabiskan lebih dari dua puluh lima jurus, namun belum juga bisa mendesak. Apalagi membuat lawannya tidak berdaya. Semakin gencar serangan nya dilancarkan, semakin sulit saja untuk mendekati Pendekar Rajawali Sakti.

Sementara gerakan gerakan Rangga juga semakin tidak beraturan saja, seperti orang yang kebanyakan menenggak arak memabukkan.

"Hup...!"

Hingga pertarungan sudah mencapai tiga puluh jurus, Bragata melompat keluar menghentikan serangan Lalu manis sekali kakinya menjejak kembali di tanah. Tampak keringat bercucuran deras membasahi sekujur tubuhnya. Dan napasnya juga mulai terdengar memburu dan tersengal.

Sedangkan Rangga tampak seperti tidak melakukan pertarungan saja. Sedikit pun tidak terlihat keringat di wajahnya. Bahkan tarikan napasnya juga semakin tetap teratur perlahan. Tampak seulas senyum tipis mengukir bibirnya, sehingga membuat seluruh darah di tubuh Bragata jadi bergolak mendidih.

"Aku bosan bermain-main seperti anak kecil, Pendekar Rajawali Sakti. Sebaiknya kita tentukan saja, siapa di antara kita berdua yang lebih dulu masuk lubang kubur," desis Bragata dingin menggetarkan, dengan napas masih terdengar memburu cepat.

"Hm, baik... Aku terima tantanganmu, Bragata," sambut Rangga kalem.

"Phuih...!" Cring!

Bragata memasukkan pedangnya kembali ke dalam warangka di pinggang. Kemudian dilakukannya gerakan-gerakan perlahan dengan kedua tangan disertai liukan tubuh yang begitu indah sekali. Seakan, dia sedang melakukan sebuah tarian yang sangat indah.

Sementara, Rangga sendiri masih tetap berdiri tegak memperhatikan tiap gerakan lawannya. Tapi tiba-tiba saja kakinya ditarik ke belakang beberapa langkah, dengan kening berkerut. Saat itu juga Pendekar Rajawali Sakti merasakan adanya hawa racun yang menyebar keluar dari gerakan-gerakan kedua tangan Bragata. Racun itu semakin terasa kuat dan mematikan. Cepat-cepat Pendekar Rajawali Sakti memindahkan jalan pernapasannya ke perut. Dan dia segera bersiap melayani tantangan Pemimpin Partai Tengkorak Hitam ini dengan lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang digabung-gabungkan.

"Haaap! Yeaaah...!"

"Hiyaaat...!"

Pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan Pemimpin Partai Tengkorak Hitam kembali berlangsung sengit. Kali ini, Rangga memang tidak hanya berkelit dan menghindari serangan saja. Juga diberikannya serangan-serangan dahsyat yang membuat Bragata jadi kelabakan.

Dalam beberapa jurus saja, sudah tiga kali Bragata terpaksa harus merasakan pukulan Pendekar Rajawali Sakti yang keras dan bertenaga dalam tinggi. Tapi, Pemimpin Partai Tengkorak Hitam Itu masih mampu memberi perlawanan gigih, walaupun dari sudut bibirnya sudah mengalirkan darah segar.

Dan pada saat pertarungan sedang berlangsung sengit, terdengar hentakan-hentakan kaki kuda yang dipacu cepat dari dalam hutan. Tidak lama kemudian, terlihat pasukan gabungan prajurit dari Kerajaan Karang Setra dan kerajaan-kerajaan lain yang ditambah orang-orang rimba persilatan, tengah memacu kuda dengan cepat ke padang rumput yang menjadi pusat pertahanan Partai Tengkorak Hitam. Di antara mereka terlihat Danupaksi, Pandan Wangi, dan Panglima Wirasaba.

"Seraaang...!" "Hancurkan mereka...!"

Teriakan-teriakan keras bernada perintah terdengar, mengalahkan hentakan-hentakan kaki kuda yang dipacu cepat disertai teriakan-tenakan pembangkit semangat bertempur, seketika pecah memenuhi angkasa di atas padang rumput yang luas ini. Pasukan prajurit gabungan dari beberapa kerajaan, ditambah orang-orang rimba persilatan itu langsung meluruk, menyerang benteng Partai Tengkorak Hitam. Maka pertempuran pun tidak dapat dielakkan lagi.

Serangan dari para prajurit yang dibantu orang-orang rimba persilatan, membuat Bragata yang sedang bertarung jadi lengah. Dan kelengahan yang hanya sekejap saja, tidak disia-siakan Pendekar Rajawali Sakti. Dengan gerakan cepat laksana kilat, pendekar yang juga Raja Karang Setra ini langsung melompat sambil melepaskan satu pukulan dahsyat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna. Begitu cepat pukulannya, hingga Bragata tidak sempat lagi berkelit menghindarinya. Dan...

Begkh! "Aaa...!"

Bragata jadi menjerit keras, begitu pukulan Rangga tepat menghantam dadanya. Seketika tubuh Pemimpin Partai Tengkorak Hitam kontan terpental jauh ke belakang deras sekali, bagai dilemparkan sepasang tangan raksasa. Dan dengan keras pula tubuh pemuda itu menghantam sebongkah batu sebesar kerbau, hingga batu itu hancur berkeping-keping. Bragata jatuh bergulingan di tanah berumput yang sudah dibasahi darah ini. Di antara mayat-mayat yang bergelimpangan saling tumpang tindih.

"Hoeeekh...!"

Segumpal darah kental berwarna agak kehitaman terlempar keluar dari mulut Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu. Beberapa kali kepalanya digeleng-gelengkan, mencoba mengusir rasa pening yang menyerang kepala, akibat pukulan dahsyat menggeledek yang mendarat di dadanya tadi. Perlahan dicobanya bangkit berdiri lagi. Dengan bertumpu pada ujung pedangnya yang ditancapkan ke tanah, Bragata berhasil berdiri lagi. Tampak pada dadanya sudah menghitam hangus seperti terbakar, bekas pukulan dahsyat yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti tadi.

"Phuuuh...!" Segumpal darah kembali menyembur keluar, ketika Bragata memuntahkannya sambil mendenguskan napas berat. Perlahan tubuhnya ditegakkan kembali sambil menarik napas dalam-dalam. Dan tiga kali kepalanya menggeleng lagi. Dadanya yang terasa begitu sesak, membuat kepalanya jadi berkunang-kunang. Tapi, tampaknya dia tidak mau menyerah begitu saja, menghadapi lawan yang sangat tangguh ini. Meskipun dalam pertarungan tadi semua jurus yang diterima dari para Pemimpin Partai Tengkorak Hitam terdahulu sudah dikeluarkan, tapi tetap saja sulit untuk bisa menandingi tingkat kepandaian Pendekar Rajawali Sakti.

Bet! Wut...!

Bragata kembali memainkan pedangnya di depan dada, setelah merasakan tarikan napasnya kembali seperti semula. Kemudian mata pedangnya ditempatkan sejajar garis hidungnya sendiri. Begitu tajam tatapan matanya, menyorot ke bola mata Rangga yang berada sekitar tujuh langkah di depannya. Dan perlahan-lahan pedangnya diangkat tinggi-tinggi, hingga seketika itu juga dari ujung mata pedangnya meluruk secercah cahaya merah bagai api yang begitu cepat ke arah Rangga.

"Hup! Yeaaah...!"

Cepat sekali Rangga melenting ke atas, menghindari serangan mendadak dari lawannya. Maka cahaya merah seperti api yang meluncur keluar dari ujung pedang Bragata, lewat sedikit saja di bawah telapak kaki Rangga. Sementara, pemuda berbaju rompi putih itu masih berjumpalitan, berputaran be berapa kali di udara, kemudian kedua kakinya kembali menjejak tanah. Tapi belum juga tubuhnya bisa ditegakkan kembali, sudah datang lagi serangan dari Pemimpin Partai Tengkorak Hitam.

Claaarkh! "Haiiit...!"

Rangga cepat membanting tubuhnya ke tanah, langsung bergulingan beberapa kali menghindari serangan dahsyat itu. Dan cepat Pendekar Rajawali Sakti melopat bangkit berdiri kembali, tepat di saat Bragata sedang menyiapkan serangan berikutnya.

"Hap!" Rangga cepat-cepat merapatkan kedua telapak tangan di depan dada, dengan kedua kaki merentang lebar ke samping. Cepat dilakukan gerakan tubuh yang indah sekali. Dan ketika tubuhnya kembali tegak, tampak semburat cahaya biru terang menyilaukan mata memancar di antara kedua telapak tangan Rangga. Jelas, Rangga akan menghadapi lawannya ini dengan ilmu kesaktian pamungkas yang sangat dahsyat dan belum ada tandingannya.

"Hiyaaa...!" Tiba-tiba saja Bragata kembali melancarkan serangan, dengan mengebutkan pedang ke depan sambil berteriak keras menggelegar bagai guntur. Dan seketika itu juga, seleret cahaya merah meluncur deras bagai kilat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Dan pada saat itu pula....

"Aji Cakra Buana Sukma...! Yeaaah...!" Sambil berseru nyaring, Rangga menghentakkan kedua tangannya ke depan, dengan kedua kaki berdiri tegak terbuka lebar. Dan seketika itu juga, dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti meluncur secercah cahaya biru terang yang menyilaukan mata. Begitu cepatnya, hingga kedua sinar yang berlawanan berbenturan tepat di titik tengah. Seketika, terdengar ledakan dahsyat menggelegar.

Glarrr...!

"lkh...?!" Bragata jadi terpekik dan terdorong ke belakang beberapa langkah, begitu serangannya dihadang Pendekar Rajawali Sakti. Ledakan keras akibat benturan cahaya berkekuatan tinggi itu membuat cahaya merah yang memancar dari pedang Bragata seketika lenyap, setelah berpendar ke segala arah.

Sementara cahaya biru terang yang memancar dari kedua telapak tangan Rangga terus meluruk deras ke arah Pemimpin Partai Tengkorak Hitam ini. Begitu cepat lesatan cahaya biru terang itu, membuat Bragata tidak sempat lagi menghindarinya.

"Akh...!"

Pekikan agak tertahan langsung terdengar, ketika cahaya biru yang memancar dari kedua telapak tangan Rangga menggulung seluruh tubuh Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu. Tampak Bragata menggeliat-geliat di dalam selubung cahaya biru yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sekuat tenaga dicobanya untuk melepaskan diri dari selubung cahaya biru terang ini. Tapi semakin kuat berusaha, semakin besar pula tenaganya mengalir keluar.

Hingga akhirnya, Bragata tidak dapat lagi menguasai kekuatannya sendiri yang terus mengalir keluar tanpa dapat dicegah lagi. Keadaan ini tentu saja membuatnya jadi kelabakan. Tapi apa yang terjadi sebenarnya belum juga disadari. Dan dia terus berusaha melepaskan belenggu cahaya biru yang semakin lama semakin menyakitkan. Seluruh tubuhnya bagai dihimpit bongkahan batu. Bahkan kekuatannya yang terus mengalir keluar deras semakin sulit dikendalikan.

"Ugkh...!" Bragata jadi mengeluh. Sekujur tubuhnya sudah dirasakan semakin melemas dan tidak bertenaga lagi. Gerakan-gerakannya pun semakin melemah juga. Sedangkan kekuatan dalam tubuhnya terus mengalir keluar tanpa dapat dicegah lagi.

Sementara, Rangga sudah mulai melangkah mendekati perlahan-lahan. Malah cahaya biru yang memancar dari kedua telapak tangannya semakin banyak menggulung seluruh tubuh Pemimpin Partai Tengkorak Hitam ini.

"Hooop...! Yeaaah...!" Tiba-tiba saja Rangga berteriak keras menggelegar. Dan seketika itu juga, bagaikan kilat Pendekar Rajawali Sakti melompat sambil mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti dari dalam warangka di punggung. Begitu cepat sekali kebutan pedang itu, hingga yang terlihat hanya kilatan cahaya biru yang berkelebat bagai kilat menebas batang leher Bragata.

Cras! "Hegkh!"

Hanya sedikit keluhan keluar dari mulut Bragata dengan tubuh berdiri mematung dan kedua bola mata terbeliak serta mulut ternganga lebar. Sementara di bagian batang lehernya terlihat guratan kecil berwarna merah yang melingkari. Sedangkan Rangga sudah berada sejauh lima langkah di depan, dengan pedang pusaka yang bercahaya biru terang tetap tergenggam di tangan kanan.

Bruk!

Tiba-tiba saja tubuh Bragata ambruk ke tanah. Tampak kepalanya menggelinding, terpisah dari batang lehernya. Dan seketika itu juga darah muncrat keluar dengan deras sekali dari batang leher yang sudah tidak berkepala lagi. Sedikit pun tidak ada gerakan pada tubuh Pemimpin Partai Tengkorak Hitam itu. Dia tewas seketika, begitu lehernya tersambar Pedang Pusaka Rajawali Sakti tadi.

"Bragata mati...!"

Entah siapa yang meneriakkannya. Dan teriakan itu terdengar keras seperti berada dekat di samping Rangga, sehingga membuat orang-orang berpakaian hitam yang tergabung dalam Partai Tengkorak Hitam jadi tersentak kaget. Akibatnya, semangat bertempur mereka seketika lenyap.

Sementara, Rangga masih berdiri tegak memandangi tubuh lawannya yang sudah tergeletak tidak bernyawa lagi dengan kepala buntung di depannya. "Hhh...!"

Cring!

Sambil menghembuskan napas panjang, Rangga memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di punggung.

Sementara, pertempuran masih terus berlangsung di sekitar benteng Partai Tengkorak Hitam. Tapi sudah terlihat jelas, kalau pasukan gabungan dari beberapa kerajaan yang membantu Karang Setra kini menguasai jalannya pertempuran. Sementara sebagian orang-orang Partai Tengkorak Hitam sudah mulai berusaha melarikan diri. keluar dari kancah pertempuran. Tapi sulit bagi mereka untuk melarikan diri, karena kini sudah sangat jauh berkurang jumlahnya.

Dan di saat semuanya serba kacau, terlihat tiga orang keluar dari dalam benteng bagian belakang dengan menunggang kuda. Mereka tentu saja si Tiga Iblis Pedang Ular. Karena begitu melihat keadaan tidak mungkin bisa dipertahankan lagi, mereka memilih meninggalkan pertempuran menyelamatkan nyawa sendiri. Sementara orang-orang terus berusaha bertahan, walau tidak mungkin lagi bisa memenangkan pertempuran, setelah pemimpinnya tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti.

Kepala Rangga tampak mendongakkan ke atas, melihat Rajawali Putih melayang berputar-putar di angkasa. Rupanya burung rajawali raksasa itu langsung meninggalkan pertarungan, ketika para prajurit datang menyerang markas Partai Tengkorak Hitam. Pandangan Pendekar Rajawali Sakti segera beralih pada Pandan Wangi yang berkuda menghampirinya, keluar dari kancah pertarungan.

Gadis cantik dan digdaya yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu langsung melompat turun dari punggung kuda, setelah berada dekat di depan Pendekar Rajawali Sakti ini. Dan dia berdiri tegak di samping kiri pemuda yang juga kekasihnya sambil memegangi tali kekang kuda.

"Bagaimana kau bisa membawa mereka semua ke sini, Pandan?" tanya Rangga langsung ingin tahu tentang kedatangan para prajurit ke padang rumput yang menjadi pusat pertahanan Partai Tengkorak Hitam.

"Aku melihat Rajawali Putih turun, Kakang. Dan kudengar jeritan-jeritan dari sini. Aku langsung tahu kalau kau sedang menggempur mereka dengan bantuan Rajawali Putih. Makanya, aku langsung mengajak Danupaksi ke sini. Tapi, ternyata mereka semua malah ingin ikut," jelas Pandan Wangi.

Rangga mengangguk-angguk, bisa menerima alasan Pandan Wangi membawa semua prajurit menyerang Partai Tengkorak Hitam.

"Kau sendiri tidak apa-apa, Kakang?" tanya Pandan Wangi sambil memperhatikan wajah tampan di sampingnya yang bersimbah keringat.

"Tidak. Aku tidak apa-apa," sahut Rangga sambil memberi senyum sedikit.

"Aku tadi melihat pertarunganmu dengan Bragata. Sangat dahsyat! Aku sendiri sempat cemas, sebelum kau mengeluarkan 'Aji Cakra Buana Sukma'," kata Pandan Wangi langsung mengeluarkan isi hatinya.

"Dia memang tangguh, Pandan. Tapi sayang, kepandaiannya tidak digunakan pada jalan yang benar," ujar Rangga setengah mendesah.

Sementara, pertarungan sudah tidak lagi sehebat tadi. Sudah banyak orang Partai Tengkorak Hitam yang menyerah. Dan tidak sedikit pula yang berhasil melarikan diri. Tap, banyak pula yang tewas dengan tubuh bermandikan darah.

Tampak Danupaksi, Panglima Wirasaba, dan para raja yang membantu prajurit Karang Setra, sudah tidak lagi bertarung. Tinggal para prajurit saja yang masih terus merangsek, tanpa kenal ampun lagi. Hingga semua orang Partai Tengkorak Hitam yang tersisa menyerah, pertarungan baru berhenti.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: HANTU PUTIH MATA ELANG
Thanks for reading Tengkorak Hitam I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »