Misteri Rimba Keramat

MISTERI RIMBA KERAMAT

SATU
Hari belum terlalu siang. Sinar matahari masih terasa hangat menyapu kulit seorang penunggang kuda berusia sekitar dua puluh dua tahun melewati ujung sebuah desa kecil, dan kini dihadapannya menghadang sebuah hutan lebat. Bila telah melewati hutan lebat ini, maka beberapa saat kemudian dia akan sampai di tujuan. Pemuda berbaju merah itu mendongak ke atas, lalu memandang ke sekeliling sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan.

“Hm.... Menurut apa yang kudengar, jalan yang akan kutempuh melewati pinggiran hutan. Aku akan melewatinya sebelum hari mulai gelap agar kabar ini dapat tersebar,” tekad pemuda yang menunggang kuda coklat itu dalam hati.

Pemuda berbaju merah itu menghela kudanya lambat-lambat untuk memberi kesempatan pada hewan itu untuk sedikit beristirahat. Beberapa orang penduduk yang habis mencari kayu bakar di pinggiran hutan, memandangnya dengan heran. Satu dua orang tidak membuat penunggang kuda itu bertanya-tanya. Namun ketika hampir rata-rata orang memandangnya dengan tatapan aneh, mau tidak mau membuatnya curiga juga.

“Kenapa mereka memandangku seperti itu? Apakah selama ini mereka tidak pernah melihat orang asing berkeliaran di sini?” batin pemuda itu dengan perasaan tidak enak.

Dihampirinya salah seorang penduduk untuk mencari keterangan. Paling tidak untuk menjawab pertanyaan, mengapa sikap penduduk di sini seperti mencurigainya.

“Kisanak, kenapa orang di kampung ini memandangku dengan tatapan aneh?” tanya pemuda itu tanpa turun dari punggung kuda, pada seorang laki-laki tua yang menuntun bocah perempuan berusia lima tahun.

Laki-laki tua itu tidak langsung menjawab. Matanya lantas memandang ke arah hutan lalu beralih ke arah pemuda itu.

“Apakah kau akan menempuh hutan ini…?” orang tua itu malah balik bertanya,

“Ya! Itu adalah jalan terdekat menuju Desa Giring Sewu. Sebenarnya ada apa, Orang Tua,” tanya pemuda itu lagi.

“Anak muda, sebaiknya urungkan niatmu. Carilah jalan memutar...,” saran laki-laki tua itu.

“Hm, kenapa harus begitu, Orang Tua? Waktuku hanya sedikit. Lantas, kenapa dengan hutan itu?”

“Agaknya kau memang pendatang, sehingga tidak tahu-menahu mengenai keangkeran hutan ini...,” sahut orang tua itu sambil menggeleng lemah.

“Angker? Hm… Apa yang membuat hutan itu menjadi angker...?”

“Tidak ada seorang pun yang selamat, bila berada di dekat Rimba Keramat. Apalagi, bila berada di dalamnya!” jelas orang tua itu.

“Ah, aku jadi semakin tertarik. Apa sebenarnya yang membuat hutan itu begitu angker?” kata pemuda itu, sedikit jumawa.

“Maaf, tidak bisa kujelaskan. Tapi kalau ingin selamat, sebaiknya carilah jalan lain....” Setelah berkata begitu, si orang tua melanjutkan perjalanan, seraya menuntun bocah kecil itu dengan tergesa-gesa.

“Ha-ha-ha...! Ada-ada saja! Bualan orang desa memang selalu dibesar-besarkan. Aku tetap akan lewat hutan itu. Akan kubuktikan bahwa yang dikatakannya hanya omong kosong belaka!” desis pemuda itu sambil terkekeh kecil.

Pemuda itu segera menghela kudanya. Maka seketika itu juga binatang berbulu coklat ini berlari kencang. Dalam waktu beberapa saat saja, dia sudah berada dekat sekali dengan hutan lebat yang bernama Rimba Keramat. Dan kini, pemuda itu menghentikan lari kudanya.

“Hm.... Inikah yang dikatakan hutan angker? Ah, kelihatannya sama sekali tidak menakutkan. Paling-paling hanya hewan buas. Dan itu hal yang biasa. Tapi berada di pinggirnya begini, mana mungkin hewan-hewan buas itu akan mengusik...,” celoteh pemuda itu seperti berkata pada diri sendiri.

Kembali kudanya dihela dengan kencang, melintasi pinggiran hutan lebat di dekatnya. Bola matanya sesekali melirik. Yang ada di sekelilingnya memang suasana gelap saja. Suasana terasa sepi. Bahkan kicau burung dan unggas hutan pun seperti tidak terdengar. Namun tiba-tiba....

Slap!

“Hei?!” Pemuda itu seketika terkejut setengah mati, begitu tiba-tiba berkelebat bayangan hitam di depannya yang begitu cepat. Seketika lari kudanya dihentikan hingga membuat binatang itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Seperti tidak percaya pada pandangan matanya sendiri, maka wajahnya diusap beberapa kali setelah kudanya bisa ditenangkan.

Slap!

Mendadak melesat kembali sebuah bayangan cahaya keperakan yang begitu cepat bagai kilat ke arahnya. Namun pemuda itu tidak kalah sigap. Dia langsung melompat dari punggung kuda, dan langsung berputaran di udara. Sehingga, kilatan cahaya keperakan itu hanya lewat di bawah tubuhnya.

“Hiiih!” Dan baru saja kakinya mendarat di tanah, kembali berkelebat dua buah sinar keperakan ke arahnya dengan deras. Pemuda itu menggeram. Dia yakin, kali ini dia tidak akan salah lihat lagi. Jelas ada beberapa orang yang tidak menyukai kehadirannya dan ingin melenyapkannya. Dan sebelum dua buah sinar keperakan itu mengancam dirinya, pemuda itu sudah dalam keadaan siaga. Lalu....

Sring!

Begitu golok yang terselip di pinggang tercabut, pemuda itu mengibasnya ke depan. Seketika dua sinar keperakan yang ternyata dua buah senjata rahasia pembokongnya bisa ditangkis.

Trak! Trak!

Namun pemuda itu jadi tersentak kaget. Bahkan telapak tangannya jadi terasa perih dan terkelupas. Himpitan tenaga dalam pembokongnya sungguh hebat. Malah terlihat mata goloknya jadi gompal. Maka, sadarlah dia kalau nyawanya mulai terancam. Senjata sosok-sosok yang tersembunyi ternyata memang berisi tenaga dalam tinggi. Jelas, para pembokongnya memiliki kepandaian tinggi.

Dan belum lagi pemuda itu bisa menghilangkan rasa sakit pada tangannya, mendadak melesat cepat bagai kilat tiga sosok berpakaian hitam. Begitu cepat gerakan mereka, sehingga pemuda itu hanya terkesiap saja. Dan....

Cras!

“Aaakh...!” Pemuda itu menjerit kesakitan, ketika kaki kirinya putus disambar senjata salah seorang penyerangnya. Belum lagi dia berusaha menghindar, sebuah tusukan telak menyodok dada kirinya.

Bresss!

“Aaa...!” Pemuda itu kembali memekik tertahan begitu dadanya tertembus golok panjang. Tubuhnya kontan ambruk bermandikan darah. Beberapa saat terlihat pemuda itu menggelepar meregang nyawa, lalu diam tidak bergerak lagi. Nyawanya lepas dari raga!

“Tidak ada seorang pun yang boleh mendekati Rimba Keramat! Hanya mereka yang sudah bosan hidup yang boleh ke sini!”

Terdengar seseorang mendengus dari salah seorang berpakaian serba hitam yang berhasil menyarangkan goloknya di dada pemuda itu. Dia kemudian melesat, disusul dua sosok tubuh berpakaian serba hitam menembus kegelapan hutan lebat itu. Lalu suasana kembali sepi, seperti tak pernah terjadi apa-apa.

********************

Hari sudah siang, namun keadaan sebuah kedai makan di Desa Sindang masih tampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang menyantap makanan di meja masing-masing. Sehingga ketika seorang pemuda tampan berbaju rompi putih memesan makanan, pesanannya bisa datang cepat. Pemuda tampan dengan pedang bergagang burung itu duduk di pojok ruangan, matanya melirik ke samping kiri. Tampak seorang gads berambut panjang terlihat acuh saja, sama sekali tidak dipedulikan keadaan sekitarnya. Gadis cantik berbaju serba putih dengan pedang bertengger di punggungnya itu memakai ikat kepala juga berwarna putih. Sikapnya terlihat galak. Bibirnya yang tipis menandakan kalau dia tidak akan segan-segan memaki orang yang tidak disukainya. Dan agaknya, perhatian pemuda berbaju rompi putih itu masih tertuju pada gadis berpakaian putih, yang kini tengah dihampiri seseorang. Lalu....

“Kurang ajar! Apa matamu buta, heh?!” maki gadis itu garang, ketika laki-laki yang menghampirinya sempat menyenggol bahunya. Ternyata laki-laki itu mabuk, hingga jalannya terhuyung-huyung.

“He-he-he...! Gadis cantik, bahenol... he he-he...!”

Bukannya takut, pemuda itu malah terkekeh-kekeh sambil menenggak arak dalam guci kecil pada genggaman tangan kanannya. Namun mendadak saja....

Plak!
Bruakkk!

Tiba-tiba tangan gadis berbaju putih itu bergerak cepat, menampar pipi pemuda bertampang seram itu. Kelihatannya enteng saja. Namun lelaki pemabuk itu sampai tersungkur menghantam meja di dekatnya, disertai jeritan kesakitan dan bunyi bangku-bangku yang berpatahan. Sejenak laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir rasa pening yang menyerangnya. Lalu dia berusaha bangkit berdiri. Dan ketika berdiri tegak, terlihat bekas tamparan si gadis membiru di pipinya. Wajah laki-laki pemabuk itu meringis, namun tetap cengengesan tanpa merasa bersalah.

“Berani lancang sekali lagi, kubunuh kau!” desis gadis itu mengancam seraya beranjak dari mejanya.

Setelah selesai memaki, gadis itu melangkah untuk membayar makanannya. Lalu, dia segera angkat kaki keluar dari kedai itu. Sementara pemuda berbaju rompi putih yang duduk di pojok ruangan kedai hanya tersenyum kecil sambil menyelesaikan santapannya. Namun sesaat kembali perhatiannya beralih lagi ketika mendengar pertengkaran di luar kedai.

Seorang pemuda berpakaian perlente tampak terlibat pertengkaran dengan gadis berbaju putih yang baru keluar dari kedai tadi. Di dekat mereka terlihat beberapa orang bertubuh tegap dengan tampang kasar berdiri mengelilingi. Melihat itu rasanya memang tidak menjadi heran. Sebab sikap gadis itu memang galak seperti yang terlihat di dalam kedai tadi.

“Huh! Pulanglah kau pada bapakmu. Dan, katakan. Aku tidak suka dipaksa! Kau juga boleh katakan itu pada orangtuaku!” sentak gadis itu, sinis.

Wajah gadis berpakaian serba putih itu tampak garang bercampur kesal. Suaranya agak lantang, sehingga mau tidak mau membuat beberapa orang yang berada disekitarnya memalingkan muka ke arah mereka,

“Ssst...! Jangan keras-keras, Andini! Kau hanya akan menarik perhatian orang saja...!” Pemuda berwajah tampan dan berpakaian rapi itu memberi isyarat dengan telunjuk ke bibir.

Namun agaknya bukan membuat gadis itu menghentikan sikapnya, tapi malah berkacak pinggang dengan mata melotot lebar, “Apa?! Biar orang-orang mendengar! Biar setiap orang di kolong jagad ini tahu urusan kita! Apa yang bisa kau lakukan?! Aku bebas melakukan apa yang kusuka. Juga, bebas memilih apa yang kuinginkan! Tidak seorang pun yang boleh mengatur hidupku...!" sentak gadis yang ternyata bernama Andini dengan suara lebih keras.

Mendengar kata-kata yang keras, wajah pemuda perlente itu tampak kurang senang. Dia mendengus kecil, lalu memandang tajam gadis itu dengan wajah merah mengkelap.

“Andini! Jangan memaksaku! Aku bisa marah dan bertindak keras padamu...!” sentak pemuda itu.

“O.... Kau ingin main kekerasan, heh?! Hm.... Keturunanmu memang selalu begitu. Tapi, jangan coba-coba. Sebab, bukan hanya kau saja yang bisa keras!” sahut Andini sambil mencibir sinis.

Pemuda perlente itu tampaknya mulai hilang kesabarannya. Diberinya isyarat pada orang-orang bertampang seram di dekatnya. Maka dalam sekejap, lima orang itu mengurung Andini.

“Andini! Sekali lagi kuperingatkan, lebih baik kau ikut kami secara baik-baik. Atau, aku terpaksa harus bertindak keras dengan memaksamu. Aku berkuasa melakukannya, Andini! Apalagi, kedua orangtuamu telah mengizinkannya!”

“Hei, Aditya...! Jangan dikira aku takut gertakanmu. Kau boleh coba kalau ingin mampus!” geram Andini dengan sikap tidak kalah garang.

“Bereskan dia!” ujar pemuda yang dipanggil Aditya pendek sambil mengibaskan tangan untuk memberi isyarat pada kelima anak buahnya.

Sring!

“Ayo, majulah kalian kalau ingin mampus!” desis Andini sambil mencabut pedang.

Kelima orang laki-laki bertampang seram itu menjadi bingung sendiri. Mereka serentak memandang Aditya dengan harapan mendapat petunjuk bagaimana caranya menangani gadis ini.

“Apakah kalian tidak mampu menangkapnya tanpa melukai, heh?!” sentak Aditya kesal dengan mata melotot garang.

“Eh! Baik, Den! Akan kami bereskan secepatnya!” sahut salah seorang.

Kelima orang itu langsung menyergap. Namun Andini agaknya tidak mau tinggal diam.

“Huh! Lebih baik kalian pergi. Dan, tinggalkan aku sendiri. Asal tahu saja, aku tidak segan-segan mencelakakan kalian!” kata si gadis memperingatkan.

“Nini Andini, kami diperintahkan menangkapmu. Dan, orangtuamu pun telah menyetujui. Jadi kenapa masih bersikeras? Ikutlah dengan baik-baik. Pasti kami juga akan memperlakukan dengan baik!” bujuk salah seorang.

“Huh, tutup mulut kalian!”

“Baiklah kalau demikian. Maaf! Rasanya tidak ada jalan lain. Terpaksa kami menggunakan cara kekerasan...,” sahut orang itu.

“Hiiih!” Andini agaknya sudah tidak bisa menahan jengkelnya. Maka langsung pedangnya diayunkan, menyambar kelima orang yang hendak meringkusnya.

“Uts...!”
“Hup!”

Kelima orang anak buah pemuda perlente itu menghindar dengan gesit. Melihat gerakannya, jelas kalau mereka bukan orang sembarangan. Paling tidak memiliki ilmu olah kanuragan yang cukup lumayan. Namun ilmu olah kanuragan gadis itu juga tidak kalah. Bahkan terhitung bagus. Lebih-lebih lagi permainan pedangnya. Nyatanya, kelima orang bertampang seram itu memang masih belum mampu menyentuhnya. Meski begitu, Andini juga belum mampu mendesak meski telah mengerahkan segenap kemampuannya.

Setelah salah seorang berhasil menghindari tebasan pedang Andini, kelima laki-laki bertampang seram itu menghentikan serangan. Dalam keadaan masih terkepung, gadis itu mengedarkan pandangannya kesekeliling. Sorot matanya terlihat begitu tajam.

“Apakah kalian tidak mampu meringkusnya lebih cepat?!” hardik Aditya kesal, melihat anak buahnya masih belum mampu meringkus Andini.

“Hei?! Kenapa bukan kau saja yang turun tangan?! Apa kau takut kujatuhkan di depan orang banyak?!” sahut Andini, langsung mengarahkan pandangannya pada Aditya.

Aditya tersenyum kecil. “Andini! Kutahu, kemampuanmu jauh di bawahku. Jadi jangan coba-coba memancing kemarahanku...”

“Huh, Mulut Besar! Sebaiknya kalian cepat pergi dari hadapanku sebelum pedangku memakan korban!” dengus Andini sambil mencibir sinis.

Aditya agaknya tidak bisa menerima kata-kata Andini. Raut wajahnya kontan berubah geram. Matanya yang bulat, langsung melotot seperti hendak keluar. “Bedebah! Agaknya kau sengaja membuatku marah! Baiklah kalau itu yang kau inginkan!” dengus pemuda itu pelan dengan wajah berkerut geram.

“Huh!” Andini hanya mendengus geram.

Dan seketika Aditya melompat menyerang dengan sebuah pukulan keras. Namun Andini memang telah siap sejak tadi. Seketika dia membuka jurusnya dengan pedang tersilang di atas kepala. Lalu....

Wuttt!
“Uts!”

Ujung pedang gadis itu menyambar dada Aditya. Namun pemuda itu cepat bagai kilat menarik pulang pukulannya. Tubuhnya langsung melenting ke belakang, lalu mendarat manis di tanah. Pada saat yang bersamaan, kelima anak buahnya berusaha menyergap gadis itu dari belakang. Maka cepat-cepat Andini memutar tubuhnya, sambil mengebutkan pedangnya.

Bet! Bet!

Begitu cepat pedang itu menyambar, membuat kelima laki-laki bertampang seram itu terkesiap. Mereka langsung melompat ke belakang beberapa tindak. Dan belum juga gadis itu menarik napas lega, Aditya kembali menyerangnya. Cukup terkejut juga Andini. Namun dengan gerakan cepat gadis itu mengebutkan tangan kirinya, memapak tendangan keras Aditya.

Plak!

Melihat bibir Aditya yang tersenyum dengan gerakan yang seadanya, dapat diduga kalau serangan itu sesungguhnya hanya tipuan. Begitu tendangannya terpapak, Aditya cepat memutar tubuhnya. Dan secepat kilat tangan kanannya berkelebat. Begitu cepat serangannya, sehingga....

Tuk! Tuk!

Totokan yang dilancarkan tangan kanan Aditya tidak mampu dielakkan Andini. Tubuhnya kontan terkulai ambruk di tanah seperti tidak bertulang. Bola matanya melotot garang ketika Aditya menghampirinya, langsung dipondongnya gadis itu.

“Keparat! Lepaskan aku! Lepaskaaan...!” maki Andini geram.

“Hm.... Lebih baik tidak usah berteriak, Andini. Tidak ada seorang pun yang berani menolongmu,” sentak pemuda itu.

“Keparat kau, Aditya! Setan! Lepaskaaan aku...! Lepaskan! Atau, kuhajar kau nanti...!” Andini kembali memaki-maki. Namun Aditya sama sekali tidak mempedulikannya.

Apa yang dikatakan Aditya memang tidak salah. Meski banyak orang yang menyaksikan kejadian itu, namun tidak ada seorang pun yang berani menolong Andini. Kebanyakan dari mereka sama sekali tidak peduli. Dan sebagian lagi, sebenarnya ingin membantu. Namun melihat wajah yang lain terlihat ketakutan, jelas ada alasannya.

Memang setiap orang di Desa Sindang, pasti kenal siapa Aditya. Pemuda perlente itu adalah putra Ki Balung Geni, panglima yang berkuasa di seluruh Kadipaten Piyungan. Dan Desa Sindang ini termasuk wilayah kadipaten itu. Sementara Ki Balung Geni terkenal bukan saja karena kepandaiannya yang hebat, tapi juga kejam dan ganas. Dia tidak akan segan-segan menghukum siapa saja yang tidak disukainya. Maka tidak heran bila tak seorang pun yang berani membantu gadis itu, meski di dalam hati sebenarnya menaruh belas kasihan.

“Ayo, mari cepat pergi!” teriak Aditya, memerintahkan kelima bawahannya untuk segera pergi dari tempat ini, setelah memandang ke sekeliling. Tampaknya memang tidak ada seorang pun yang berani menghentikan niatnya. Namun baru saja mereka berjalan tiga langkah....

“Kisanak! Tidak baik rasanya bertindak seperti itu. Bukankah itu sama artinya penculikan...?”

Mendadak terdengar suara teguran halus dari belakang, membuat Aditya serta kelima pembantunya segera berbalik. Tampak seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan senjata pedang berhulu kepala burung bertengger di punggung, berdiri tidak jauh di hadapan mereka.

“Kaukah yang barusan menegurku...?” tanya Aditya meyakinkan. Wajahnya langsung dipasang angker.

“Bukannya menegur. Tapi mengingatkanmu agar bertindak sopan terhadap wanita,” sahut pemuda itu tenang.

“Kurang ajar! Tahukah kau, siapa aku?! Sungguh lancang berani berkata begitu...!” dengus Aditya sambil melotot garang, menusuk langsung kemata pemuda berbaju rompi putih itu.

“Kau tak lebih dari penculik rendah yang selalu memaksakan kehendak,” sahut pemuda berbaju rompi putih itu enteng.

Wajah Aditya makin merah mendengar kata-kata pemuda itu. Dipandangnya tajam-tajam pemuda itu. Kemudian bibirnya tersenyum kecil, seperti hendak mengejek. “Kisanak! Mungkin kau orang baru di sini, sehingga tidak tahu siapa aku. Nah! Sebelum menyesal, kusarankan lebih baik tinggalkan tempat ini. Karena, aku adalah putra Panglima Balung Geni, yang menjadi panglima besar di seluruh Kadipaten Piyungan ini!” kata Aditya menjelaskan dengan nada sombong.

Sebenarnya Aditya berharap pemuda berbaju rompi putih itu akan pucat ketakutan. Bahkan buru-buru berlutut memohon ampun dan meninggalkan tempat itu, setelah tahu kehebatan pengaruh ayahnya. Tapi, yang terjadi sungguh di luar dugaannya. Pemuda berbaju rompi putih itu tetap berdiri pada tempatnya. Bahkan sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan. Malah kedua tangannya tetap terlipat di depan dada. “Hm.... Jadi kau putra Panglima Balung Geni? Hm, bagus. Mestinya sebagai putra pembesar, kau harus menjaga sopan-santun yang dapat membuat malu ayahmu. Bukannya malah sebaliknya. Kau jelas mencoreng arang di mukanya, Kisanak,” sahut pemuda berbaju rompi putih itu enteng.

“Tutup mulutmu! Kau tidak berhak bicara seperti itu. Kau kira siapa dirimu, hingga berani menasihatiku!” sentak Aditya dengan wajah garang. Langsung kelima pembantunya diberi isyarat untuk menghajar pemuda itu.

Bersamaan dengan itu kelima anak buah Aditya langsung menyerang pemuda berbaju rompi putih itu. Berbeda pada saat mereka hendak meringkus Andini. Kali ini mereka tidak peduli, apakah pukulan dan tendangan mereka akan melukai pemuda itu atau tidak. Lebih-lebih lagi melihat majikan mereka begitu marah. Maka bisa dibayangkan, bagaimana mereka menyerang pemuda berbaju rompi putih itu. Seluruh tenaga dan kemampuan yang dimiliki langsung dikerahkan.

“Yeaaa...!”
Bet! Wut!

Pemuda berbaju rompi putih itu hanya berkelit dengan meliuk-liukkan tubuhnya di antara serangan lawan-lawannya. Dan tahu-tahu tubuhnya menyelinap. Kelima orang bertampang seram itu jadi terkejut. Mereka sama sekali tidak bisa melihat, ke mana pemuda itu menghindar. Dan tahu-tahu....

Duk! Begkh...!
“Aaakh...!”

Kelima orang anak buah Aditya kontan memekik keras, dengan tubuh terjungkal. Karena tiba-tiba saja satu hantaman keras telah mendarat melanda di dada masing-masing.

“Heh?!” Aditya terkejut bukan main melihat kejadian di depan matanya. Betapa tidak, hanya sekali gebrak semua anak buahnya tersungkur oleh pemuda berbaju rompi putih itu. Dari sini sudah bisa diduga, pasti pemuda itu bukan sembarangan orang. Apalagi bila melihat anak buahnya yang berkepandaian tidak rendah. Mata Aditya sampai tidak berkedip memandang pemuda berompi putih itu.

“Kisanak! Siapa kau sebenarnya...?” tanya Aditya. Nada suaranya kali ini terdengar agak lunak.

“Aku hanya seorang pengembara biasa yang kebetulan lewat Namaku Rangga...,” jawab pemuda berbaju rompi putih itu.

DUA

Dia memang Rangga, yang di kalangan persilatan lebih terkenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti.

“Hm. Rangga.... Di mana pernah kudengar nama itu?” tanya Aditya, seperti untuk diri sendiri sambil mengingat-ingat.

Aditya terus berusaha mengingat-ingat. Telunjuknya sampai di tempelkan dikeningnya. Namun sudah demikian berusaha, tetap tidak berhasil. Akhirnya dia memang menyerah.

“Baiklah. Aku memang tidak mengenalmu. Rangga. Kepandaianmu cukup hebat. Tapi itu bukan ukuran kalau kau hendak nekat mencampuri urusan orang. Pergilah! Dan, jangan campuri urusanku!”

“Kisanak! Gadis itu jelas tidak suka perlakuanmu. Tapi masih saja berkeras kalau tindakanmu benar. Dan aku tak bisa membiarkannya begitu saja,” sahut Rangga tenang.

“Kau lihat orang-orang? Mereka diam saja tanpa berani mengusik, karena tahu kalau tindakanku benar!” kilah Aditya.

“Mereka diam karena takut, bukan karena membenarkan tindakanmu!” balas Rangga.

“Setan! Menyingkirlah kalau tidak kau akan berurusan dengan prajurit kadipaten. Dan, kau bisa dihukum berat karena hendak melarikan calon istriku!”

“Hm, calon istrimu? Menarik sekali...,” gumam Rangga sambil tersenyum kecil.

“Bohong! Siapa sudi menjadi istrimu?! Phuih! Pemuda ceriwis! Seenaknya saja berkata begitu. Aku tidak sudi menjadi istrimu! Aku tidak sudi! Turunkan aku! Turunkaaan...!” teriak Andini yang masih dalam bopongan Aditya. Nada suaranya terdengar geram sambil memaki berulang kali.

“Kau dengar? Dia sama sekali tidak sudi menjadi istrimu. Nah bukankah ini namanya pemaksaan?” kata Rangga tenang seraya tersenyum mengejek.

“Bedebah! Mulutmu memang harus kurobek, baru kau akan diam!” geram Aditya seraya menurunkan tubuh Andini. Kemudian, dia mengambil ancang-ancang untuk menyerang.

“Kisanak! Jangan paksa aku. Lebih baik, pikirkanlah tindakanmu...,” Rangga memperingatkan.

“Yeaaa...!”

Namun, Aditya tidak mempedulikannya lagi. Sebagai jawabannya, langsung kepalan tangan kanannya disodokkan ke arah dada Pendekar Rajawali Sakti. Cepat bagai kilat Rangga mengegoskan tubuhnya ke kiri, seraya memapak pukulan itu disertai pengerahan tenaga dalam lumayan. Serangan pertama Aditya dapat ditangkis dengan mantap oleh Rangga. Dan belum juga dia melancarkan serangan kembali, kaki kanan Pendekar Rajawali Sakti cepat menekuk dan disodorkan ke perut Aditya.

Desss!

“Aaakh...!” Pemuda perlente itu kontan menjerit kesakitan. Tubuhnya jadi tertekuk dan terjajar beberapa langkah dengan wajah berkerut menahan nyeri. Namun karena merasa malu dan penasaran, dia kembali menyerang Pendekar Rajawali Sakti dengan hantaman tangan kanan ke leher.

Rangga sedikit menggeser tubuhnya ke kiri sambil menangkis kepalan tangan yang mengarah ke lehernya. Dan seketika itu juga pergelangan tangan kanannya langsung menyodok ke arah dada. Begitu cepat gerakannya. Sehingga....

Dess!

“Aaakh...!” Kembali Aditya terjungkal sambil menjerit kesakitan begitu pergelangan tangan Pendekar Rajawali Sakti mendarat di dadanya, hingga terasa nyeri bukan main. Dia langsung terjungkal ke tanah, namun cepat bangkit kembali. Tampak wajahnya meringis dengan langkah terhuyung-huyung.

“Kenapa kalian diam saja, heh?! Hajar dia...!” bentak Aditya pada kelima pembantunya, sambil menunjuk Pendekar Rajawali Sakti.

Meski nyali ciut dan wajah takut-takut, namun kelima laki-laki bertampang seram itu tidak berani membantah. Mereka langsung menyerang Rangga dengan senjata terhunus.

“Yeaaa...!”

“Hm....” Rangga mendengus pelan. Tubuhnya langsung melenting sambil berputaran dua kali. Kepalanya ditekuk sedemikian rupa untuk menghindari sebuah tebasan senjata, sementara tangan kirinya menghantam ke arah pergelangan tangan lawan. Dan pada saat yang bersamaan, kedua kakinya berputar cepat sekali menghantam lawan-lawannya yang lain.

Duk! Tak! Des!
“Aaakh...!”

Kelima orang itu kembali terjungkal sambil menjerit kesakitan. Tubuh mereka terjerembab sejauh lima langkah dari Pendekar Rajawali Sakti. Sebagian berusaha bangkit kembali, meski menahan rasa sakit yang hebat. Sedang dua orang di antaranya menggelepar-gelepar kesakitan.

Sementara penduduk desa yang menyaksikan pertarungan sampai berdecak kagum, sekaligus merasa khawatir. Tapi, Rangga sendiri tenang-tenang saja seraya menepis-nepis debu yang melekat di tubuhnya. Malah dia langsung menghampiri Andini untuk membebaskan totokan.

“Nisanak, kini kau bebas. Dan sebaiknya, pergilah dari sini secepatnya...,” ujar Rangga, begitu selesai membebaskan totokan ditubuh Andini.

Setelah berkata demikian. Pendekar Rajawali Sakti berbalik. Kakinya lantas menghampiri kuda hitamnya yang tertambat di depan kedai. Dan dengan gerakan indah sekali. Rangga melompat ke punggung kuda yang bernama Dewa Bayu. Lalu dengan tenang sekali. Dewa Bayu digebah perlahan-lahan, pergi dari tempat itu.

“Kisanak! Urusan kita belum selesai! Kau akan merasakan balasannya nanti...!” teriak Aditya mengancam, ketika Rangga belum jauh berkuda.

Pendekar Rajawali Sakti langsung menghentikan Dewa Bayu. Kemudian, kepalanya menoleh ke belakang seraya tersenyum kecil. “Kau boleh mencariku kapan saja suka. Atau silakan menangkapku dengan bantuan seluruh prajurit dikadipaten ini,” sahut Rangga enteng. Lantas kembali Dewa Bayu digebah, untuk melanjutkan perjalanan.

Aditya hanya bisa memaki sambil menghentak-hentakkan kaki. Pemuda itu tidak mampu berbuat apa-apa untuk mencegah kepergian Rangga. Dan saat ini, rasa malu yang amat sangat harus ditanggungnya. Putra panglima kadipaten yang selama ini dihormati, ditakuti, dan tidak pernah sekali pun ada yang membantah kata-katanya, harus mengalami kejadian pahit. Dipermalukan di depan orang banyak oleh seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya.

Bahkan ketika Andini melompat ke punggung kudanya, dan memacunya dengan kencang, Aditya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa memandang dengan sinar mata menyorot tajam. Arah yang dituju gadis itu jelas mengejar pemuda berbaju rompi putih yang telah menolongnya.

Rangga tidak berusaha mempercepat atau memperlambat lari Dewa Bayu ketika tahu sedang dibuntuti gadis yang ditolongnya. Hanya bibirnya saja yang tersenyum kecil. Sebenarnya kalau mau, Pendekar Rajawali Sakti bisa memacu kudanya bagai lesatan anak panah. Karena, kuda yang ditunggangi memang bukan sembarangan. Lama Rangga menunggu, ternyata tidak ada yang ingin diperbuat Andini. Dia hanya mengikuti saja.

“Heaaa...!” Tiba-tiba Rangga menghela kudanya dengan lebih kencang. Dan ternyata, gadis itu berbuat sama. Namun kuda yang ditunggangi Pendekar Rajawali Sakti adalah Dewa Bayu. Jadi mana mampu kuda yang ditunggangi Andini bisa menyejajarkan. Maka ketika kuda Dewa Bayu berlari semakin kencang, gadis itu terkesiap. Dalam sekejap, dia telah kehilangan jejak dan tidak tahu ke mana lenyapnya pemuda itu.

“Hm, ke mana dia...?” gumam Andini dalam hati sambil mengedarkan pandangan kesekeliling.

Beberapa saat gadis itu menghentikan langkah kudanya. Matanya lantas terpaku pada jejak-jejak tapak kuda di tanah. Dan kembali kudanya dijalankan pelan-pelan, menelusuri jejak yang ada di hadapannya. Tapi semakin jauh ditelusuri maka semakin jauh pula dia dari kampung halamannya. Kemudian kudanya dihentikan, karena tahu-tahu saja jejak di hadapannya menghilang. Dan belum juga bisa berpikir lebih jauh....

“Nisanak, apa sebenarnya yang kau cari...?” Tiba-tiba terdengar sebuah suara dibelakang gadis itu.

“Hei...?!” Gadis itu terkejut dan segera memalingkan muka ke kanan. Tampak di kanannya berdiri tenang seorang pemuda berbaju rompi putih yang telah menolongnya.

Pemuda itu tersenyum kecil, lantas menghampiri sambil menuntun kudanya. “Apakah yang kau cari? Barangkali aku bisa membantu...?” sapa Rangga ramah.

“Eh, tidak. Tidak ada apa-apa!” sahut Andini cepat dengan wajah bersemu merah, menahan malu.

“Hm.... Kau berada cukup jauh dari rumahmu. Ini sangat berbahaya....”

“Aku memang tidak ingin kembali ke rumah!” sahut Andini cepat.

“Jadi kau ingin kabur?”

“Begitulah....”

“Tentu ada alasannya, bukan?”

Gadis itu terdiam tidak menjawab seraya memalingkan muka ke arah lain.

“Maaf, kalau kata-kataku menyinggung perasaanmu....”

“Tidak. Tidak apa-apa....”

“Sebenarnya apa urusanmu dengan pemuda tadi? Benarkah kau ini calon istrinya...?” tanya Rangga mencoba mengalihkan perhatian.

“Ceritanya panjang...,” desah Andini, lalu memandang Rangga dengan sayu, “Kisanak. Terima kasih atas pertolonganmu tadi....”

“Sudahlah. Lupakan saja....”

“Tapi kini kau akan menjadi buronan mereka. Panglima Balung Geni tentu tidak akan tinggal diam, setelah tindakanmu pada putranya...,” sahut gadis itu cemas.

“Mungkin sudah takdir Hyang Widhi kalau itu menjadi urusanku. Mereka boleh melakukan apa saja yang disukai....”

“Orang-orang itu kejam dan tidak segan-segan berbuat seenaknya. Kau tentu akan celaka!” jelas Andini dengan wajah semakin cemas.

“Kenapa harus takut? Toh mati di tangan Hyang Widhi,” sahut Rangga enteng.

Andini menggeleng lemah, seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia jadi berpikir, apakah pemuda ini tidak waras? Atau barangkali bosan hidup? Andini kembali menghela napas pendek. Jelas para prajurit kadipaten saat ini tengah mencari pemuda di depannya atas perintah Panglima Balung Geni. Dan.... Dirinya adalah pokok pangkal persoalan ini. Jadi, mana bisa membiarkan pemuda yang menolongnya ini sengsara seorang diri.

“Kisanak! Sebaiknya kita pergi jauh-jauh dari tempat ini!” usul Andini mengingat hal itu.

“Pergi? Ke mana...? Lagi pula, kenapa harus kita? Aku sendiri bisa pergi ke mana saja...,” sahut Rangga.

“Tidakkah kau mengerti kalau jiwamu terancam?” kata Andini dengan wajah kesal.

Rangga tersenyum kecil. “Nisanak, setiap saat jiwaku terancam. Rasanya, kau tak perlu mencemaskan diriku. Nah, aku permisi dulu. Kau boleh pergi ke mana saja yang kau suka...,” ujar Rangga tanpa maksud menyombongkan diri. Pendekar Rajawali Sakti segera melompat ke atas punggung kudanya. Langsung digebahnya Dewa Bayu perlahan-lahan.

Gadis itu segera mengikuti dari belakang ketika Rangga menjalankan kudanya baru beberapa tindak. Terpaksa langkah Dewa Bayu dihentikan. Dan kepalanya langsung menoleh ke arah Andini.

“Nisanak, apakah kau tidak punya tujuan lain...?” tanya Rangga.

Gadis itu menggeleng lemah. “Tapi kau tidak bisa mengikuti aku terus-menerus!” agak keras suara Rangga.

“Aku tidak mengikutimu!” sahut gadis itu ketus ketika merasa harga dirinya tersinggung. Sikapnya jadi langsung berubah terhadap pemuda itu.

“Baiklah kalau begitu....” Rangga langsung menghela kudanya agar berlari kencang.

Gadis itu hanya mendengus sinis. Dan ketika dilihatnya pemuda itu telah menjauh, segera diikutinya dari belakang. Namun seperti tadi, Andini tidak mampu mengikutinya. Bahkan beberapa saat kemudian, pemuda itu telah lenyap dari pandangannya. Gadis itu kembali mendesah kesal dan memaki berkali-kali. Lalu diteruskan saja kudanya melaju ke arah yang tidak menentu.

********************

Hari telah malam ketika sebuah rombongan orang berkuda berada di tepi Hutan Rimba Keramat. Seorang yang berada di depan, dan agaknya menjadi pimpinan rombongan, memberi isyarat pada keempat kawannya.

“Kita berhenti dan bermalam di sini saja...,” ujar laki-laki tinggi yang menjadi pemimpin rombongan, seraya melompat turun dari punggung kudanya, diikuti yang lainnya.

“Tapi, Ki Brantas! Kita toh sudah menyelidiki tempat ini. Dan lagi, apakah tempat ini aman bagi kita...?” tanya seorang kawannya, dengan wajah curiga seraya memandang ke sekeliling.

Laki-laki bertubuh besar berpakaian serba hijau yang dipanggil Ki Brantas itu tertawa lebar. “Sobirin, apakah kau mulai takut, heh?” ledek Ki Brantas yang berusia setengah baya ini.

“Bukan begitu, Ki. Tapi firasatku mengatakan kalau tempat ini tidak aman...!” kilah Sobirin. “Bukan begitu, Jalung?”

“Betul, Ki. Aku pun merasakan hal yang sama...!” timpal orang yang dipanggil Jalung.

Ki Brantas memandang mereka berdua dengan wajah tidak percaya. “Sobirin dan kau, Jalung! Kita adalah orang bayaran. Apakah ada sejarahnya kalau orang bayaran takut dengan maut?” balas Ki Brantas.

“Bukan begitu, Ki. Tapi ini soal lain...!” sahut Sobirin.

“Soal apa? Hantu? Sudahlah! Jangan mengada-ada. Sudah puluhan kali aku keluar masuk hutan, tapi tidak pernah bertemu hantu. Sebaiknya, kalian cari kayu-kayu kering untuk api unggun. Dan aku akan menguliti hewan-hewan yang berhasil kita tangkap untuk makan malam nanti...,” ujar Ki Brantas, mencoba menepis semua bayangan-bayangan kecemasan di hati kedua kawannya. Sementara dua orang kawan mereka yang lain hanya terdiam, seperti mendukung kata-kata Ki Brantas.

Sobirin dan Jalung terdiam beberapa saat, kemudian melangkah pelan mencari ranting-ranting kering yang bisa dipungut di sekitar tempat itu. Sementara Ki Brantas dan dua orang laki-laki yang sama-sama memakai baju hitam itu mengeluarkan daging kelinci dan ayam hutan yang tadi berhasil diperoleh.

Di lain tempat, tidak jauh dari Ki Brantas dan dua orang berpakaian hitam itu berada, Sobirin dan Jalung mulai mengumpulkan kayu-kayu kering. Dan ketika Sobirin hendak melangkah mengambil sepotong kayu lagi....

Set!

“He, apa itu?!” sentak Sobirin tiba-tiba, ketika pandangannya melihat sesuatu berkelebat cepat di depannya.

“Kau pun melihatnya, Sobir?!” tanya Jalung. Sobirin tidak menjawab. Dan pandangannya langsung terarah pada kawannya itu dengan wajah tegang. Demikian pula halnya Jalung. Tanpa sadar, mereka melangkah mundur perlahan-lahan. Dan baru saja mereka melangkah beberapa tindak....

“Ha ha ha...!” Terdengar suara ketawa menggema, lalu disusul tawa yang lain pada arah berlawanan. Bahkan kemudian, kembali bersambung dengan suara tawa lain lagi dari berbagai arah.

“Hei?!”

“Apa itu?!”

Tidak hanya Sobirin dan Jalung yang kaget setengah mati. Malah Ki Brantas dan dua orang kawannya sampai bangkit berdiri. Mereka semua memandang ke segala arah, namun tidak ada satu pun yang bisa dilihat selain kegelapan malam, serta dedaunan dan ranting-ranting pohon yang bergoyang-goyang ditiup angin. Sesekali terdengar kelebatan kelelawar yang melayang cepat, dan nyaris menyambar ke arah mereka.

“Siapa itu...?!” bentak Ki Brantas garang.

Blep! Blep!

“Awas serangan gelap...!” teriak Ki Brantas memperingatkan, ketika mendadak berkelebat beberapa sinar keperakan berhawa panas ke arah mereka. Kelima orang itu cepat melompat menghindar.

“Hup!”

“Hiiih...!” Baru saja menjejak tanah, kembali terasa ada serangan gelap mengancam mereka. Terpaksa mereka kembali berlompatan menyelamatkan diri sebisanya. Dari gerakan yang ringan dan gesit, bisa diduga, kalau mereka bukanlah orang sembarangan. Namun menghadapi serangan seperti itu, mereka sempat dibuat kewalahan juga. Dan buktinya....

Tup!

“Aaa...!” Tiba-tiba salah seorang memekik kesakitan sambil memegangi tengkuknya ketika seberkas sinar keperakan menghantamnya. Sementara yang lain menjadi bingung. Sebab orang itu sama sekali tidak terluka. Begitu secara cepat tubuhnya membiru. Kemudian kaku tidak bergerak. Mati!

“Gila! Si Warsito terkena senjata rahasia beracun! Hati-hati...!” desis Ki Brantas geram seraya memperingatkan ketiga kawannya. Dan belum lagi kering kata-kata Ki Brantas, mendadak kembali berkelebat dua sinar keperakan ke arah mereka.

“Yeaaa...!” Ki Brantas mencoba menangkis dengan busur di tangan.

Trak!

“Aaakh...!” Seketika senjata itu patah menjadi empat bagian. Bahkan Ki Brantas sendiri jadi menjerit kesakitan, karena sebuah sinar keperakan luput dari tangkisannya. Bahkan langsung menyambar perutnya.

“Aaa...!” Jerit kesakitan kembali terdengar. Kali ini dialami kawannya yang berbaju hitam. Dan kedua orang itu ambruk tanpa dapat dicegah lagi. Tubuh Ki Brantas dan kawannya yang seorang lagi membiru. Dan mereka langsung kaku tak bernyawa lagi.

“Celaka! Kita tidak akan bisa selamat. Lebih baik cepat pergi dari sini!” teriak Sobirin. Bergegas dia berlari ke arah kudanya. Dan dengan gerakan cepat melompat ke punggung kuda dan terus menggebahnya meninggalkan tempat itu.

Demikian juga Jalung. Dia tidak mau tewas secara aneh, sekaligus mengerikan. Dan memang, mereka tidak tahu harus berhadapan dengan siapa.

“Heaaa...!”

“Ha ha ha...! Begitu lebih baik kalau ingin selamat. Rimba Keramat bukan milik semua orang. Dan, tidak sembarangan bisa masuk ke sini. Menjauh, berarti melepaskan diri dari malapetaka...!”

Tiba-tiba terdengar suara menggema yang nyaring, memantul ke segala arah. Sobirin dan Jalung bukannya tidak mendengar. Namun mereka terus memacu kencang kudanya, ke mana saja asal selekasnya menjauh dari tempat itu.

TIGA

Di Kadipaten Piyungan, tepatnya di ruangan utama yang tertata indah, wajah Panglima Balung Geni tampak geram. Beberapa kali dia mendengus sambil mengepalkan kedua tangan. Lalu pandangannya tertuju pada seorang laki-laki setengah baya yang duduk tidak jauh di depannya.

“Ki Wibisana! Kenapa bisa jadi begini? Bukankah kau telah menyetujui perkawinan putrimu dengan putraku?” Nada suara Panglima Balung Geni terdengar datar. Namun semua yang hadir dalam ruangan itu bisa melihat kalau raut wajahnya yang kelihatan marah dan kurang senang.

“Maaf, Kanjeng Panglima. Hamba sendiri tidak mengerti, mengapa dia berbuat demikian. Tapi hamba akan mencoba membujuknya. Jangan khawatir, dia pasti tidak akan ke mana-mana...,” sahut laki-laki setengah baya berjenggot yang dipanggil Ki Wibisana.

“Hm.... Sebaiknya kau yakinkan padaku. Beberapa orang prajurit telah mencari dan menemukan jejaknya jauh di ujung wilayah kadipaten,” ujar Panglima Balung Geni.

“Percayalah. Dia akan kembali pulang...,” Ki Wibisana berusaha meyakinkan.

“Lalu, siapa pemuda yang usil dan ikut campur tangan itu?” tanya Panglima Balung Geni.

“Hamba sendiri belum mengetahuinya, Kanjeng Panglima. Hamba telah mengutus anak buah hamba untuk mencari tahu, siapa pemuda itu sebenarnya. Begitu hamba mengetahui, maka Kanjeng Panglima orang pertama yang hamba beritahu!” tegas Ki Wibisana.

“Aku telah perintahkan para prajurit untuk mengejar dan menangkapnya hidup-hidup! Orang itu harus dihadapkan padaku. Aku harus tahu, siapa orang yang berani bertingkah menentangku!”

“Mestinya dia orang baru dan tidak tahu adat! Atau juga, pemuda yang bosan hidup...!” timpal Ki Wibisana, bernada kesal.

Suasana kembali sunyi. Panglima Balung Geni masih memperlihatkan perasaan geramnya. Dan kalau sudah begitu, maka tidak ada seorang pun yang berani buka suara. Dan belum juga ada yang bersuara, seorang pengawal masuk ke dalam. Setelah menjura memberi hormat, dia memberitahukan bahwa ada yang ingin bertemu Ki Wibisana. Orang tua itu memandang sejenak ke arah Panglima Balung Geni. Dan setelah panglima itu mengangguk pelan, lelaki setengah baya itu mohon diri untuk keluar dari ruangan. Dengan langkah lebar-lebar, Ki Wibisana meninggalkan ruangan itu. Dan setelah melewati beberapa prajurit yang menjaga pintu yang dilalui, dia melihat dua orang tengah menunggunya.

“Sobirin! Dan kau Jalung! Ada apa ke sini? Mana yang lain?” tanya Ki Wibisana ketika mengetahui siapa kedua orang yang ingin bertemu dengannya.

“Mereka tewas, Ki...!” sahut Sobirin dengan wajah pucat.

“Ada apa? Apa yang terjadi...?!” tanya orang tua itu kaget.

Sobirin segera menceritakan apa yang. telah menimpa mereka. Sebenarnya, Sobirin dan Jalung memang ditugaskan untuk mencari keterangan tentang Rimba Keramat. Yang ditunjuk sebagai pemimpin adalah Ki Brantas, karena kepandaiannya lebih tinggi. Dan ternyata di Rimba Keramat mereka telah mendapat bukti nyata, walaupun harus mengorbankan tiga nyawa. Rimba Keramat pasti menyimpan rahasia, karena orang-orang yang berani mendekati pasti tewas di sana. Ki Wibisana tampak terkejut sekali. Untuk sesaat dia terdiam.

“Sudahlah. Sekarang kalian pulang ke rumah masing-masing. Ini upah kalian!” ujar laki-laki setengah baya itu seraya memberi masing-masing sebuah kantung berisi kepingan uang perak.

“Terima kasih, Ki. Kalau begitu kami permisi dulu...,” pamit Sobirin sambil menjura memberi hormat.

Ki Wibisana mengangguk. Dan ketika orang suruhan itu telah berbalik, dia kembali ke dalam ruangan utama tempat Panglima Balung Geni menunggu.

Ki Wibisana berbisik pelan pada Panglima Balung Geni. Terlihat panglima itu mengangguk pelan. Setelah Ki Wibisana kembali ke tempat duduknya, Panglima Balung Geni menepuk tangan tiga kali. Maka seketika semua orang yang berada diruangan mengerti maksudnya. Dan mereka segera mohon diri, dan satu persatu pergi dari ruangan ini.

“Berita apa yang kau bawa...?” tanya sang Panglima ketika orang-orang telah berlalu.

“Begini, Kanjeng Panglima. Sebaiknya, urusan tentang Andini kita tunda dulu. Karena ada masalah yang lebih penting lagi. Barusan dua orang anak buah hamba melaporkan kejadian yang mereka alami. Dugaan kita ternyata benar. Rimba Keramat memang bukan saja semata angker, tapi ada sesuatu yang disembunyikan disana,” jelas Ki Wibisana.

“Harta karun yang pernah kau ceritakan?”

Ki Wibisana mengangguk cepat.

“Bagaimana kau tahu?”

“Tiga orang anak buahku tewas. Dan kata yang selamat, ada sesuatu yang menyerang mereka. Seperti manusia, tapi tidak jelas bentuknya,” lanjut Ki Wibisana.

“Kau yakin mereka tidak tahu urusan harta karun itu?”

“Yakin, Kanjeng Panglima. Hanya satu orang yang tahu, yaitu Ki Brantas. Tapi orang itu telah tewas....”

Panglima Balung Geni terdiam beberapa saat lamanya, kemudian memandang tajam Ki Wibisana. “Lalu apa yang harus kita lakukan..,?”

“Kenapa tidak langsung menyerbu saja ke sana?”

“Gila! Apa urusannya? Bisa-bisa Adipati Piyungan ini akan mengetahui perbuatan konyolku ini!” sentak Panglima Balung Geni.

“Tentu saja jangan membawa prajurit kadipaten. Kita harus menyewa orang-orang bayaran...,” usul Ki Wibisana.

“Hm...” Panglima Balung Geni menggumam sedikit, sambil tersenyum kecil. Sepertinya, dia mengerti jalan pikiran Ki Wibisana.

“Berarti aku harus mengeluarkan biaya lagi, bukan?” tanya Panglima Balung Geni lagi.

“Biayanya sedikit. Bahkan tidak ada apa-apanya bila dibanding harta karun itu!” sahut Ki Wibisana cepat.

“Baiklah. Aturlah baik-baik. Nanti anak buahku akan memberikan segala keperluan yang kau butuhkan untuk mendapatkan orang-orang tangguh!” ujar Panglima Balung Geni.

“Sudah tentu, Kanjeng Panglima! Hamba akan bekerja sebaik-baiknya!” sambut Ki Wibisana.

“Tapi ingat, Wibisana! Jika mengkhianatiku. Sekali saja kau mengkhianati, jangan harap bisa lari ke mana-mana!” kata sang Panglima mengingatkan.

“Astaga! Apakah Kanjeng Panglima tidak mempercayai hamba? Kepala ini yang akan menjadi taruhannya!” sahut Ki Wibisana berusaha meyakinkan panglima itu.

“Hm, aku percaya padamu. Kerjakanlah urusan ini secepatnya. Dan, beritahu hasilnya. Dan ingat juga! Soal anakmu itu harus segera dituntaskan!”

“Baik, Kanjeng Panglima. Kalau demikian, hamba mohon diri!” sahut Ki Wibisana seraya menghatur sembah. Lalu dia bangkit berdiri dan angkat kaki dari ruangan itu.

********************

Seorang gadis cantik di atas punggung seekor kuda tampak terus bersungut-sungut dan mendesah berkali-kali. Wajahnya tampak geram dan kesal. Bahkan kudanya dilarikan kencang-kencang.

Hari telah menjelang sore. Namun, gadis itu belum juga menemukan desa terdekat. Telah beberapa buah desa dilewatinya, namun gadis berambut panjang itu agaknya tidak peduli. Bahkan sama sekali tidak berminat untuk berhenti sekadar melepas lelah. Dan ketika senja mulai turun, dia terpaksa berhenti mencari tempat bermalam. Kini lari kudanya segera dihentikan.

“Sial! Ke mana aku harus menginap...?” rutuk gadis cantik itu, kesal.

Tidak mengherankan kalau gadis itu sebenarnya tidak biasa bepergian. Sehingga, baginya tidak terbiasa tidur di alam terbuka. Dan inilah pengalaman pertamanya. Tak heran kalau hal ini membuatnya sangat kebingungan.

Gadis itu lantas turun dari punggung kudanya. Sambil menuntun kudanya, kakinya melangkah ke sebatang pohon. Dibiarkan kudanya merumput tidak jauh darinya. Dia kembali duduk di bawah pohon. Matanya tak luput menatap kudanya yang asyik merumput.

Belum berapa lama gadis itu memperhatikan, mendadak muncul dua orang laki-laki bertampang seram di depannya. Seketika, gadis itu bangkit berdiri. Sementara kedua orang itu langsung menyeringai lebar. Salah seorang yang mata kanannya picak dan bercambang brewok tebal, langsung mendekat Tangannya langsung terulur, ingin menarik lengan gadis itu.

“He he he...! Mimpi apa aku semalam? Hari ini seorang bidadari tiba-tiba saja datang tanpa diduga!”

Untung gadis itu cepat bertindak. Langsung ditepisnya tangan yang sudah terulur itu.

Plak!

“Setan busuk! Jangan coba-coba bermain gila. Atau, pedangku ini akan menebas lehermu!” hardik gadis itu dengan wajah garang seraya mencabut pedangnya.

Sring!

“Hei? Ternyata galak juga dia! Coba lihat, Kuntara. Alangkah galaknya bidadari ini!” kata laki-laki bermata picak itu pada kawannya yang bernama Kuntara.

Kuntara yang bertubuh kurus dan berbaju jubah hitam, agaknya lebih pendiam dari kawannya yang brewok itu. Dipandanginya gadis itu.

“Bentar! Hati-hati kau! Coba perhatikan gadis ini baik-baik!”

“Hm.... Apa lagi yang harus kuperhatikan? Wajahnya cantik dan pinggangnya ramping. Bahkan kulit tangannya halus. Ah, sudahlah. Aku tidak sabar lagi ingin mendekapnya!” sergah laki-laki picak dan brewok lebat yang dipanggil Bentar.

“Sabarlah sebentar. Coba perhatikan baik-baik...,” ujar Kuntara.

Bentar menuruti apa yang dinginkan kawannya. Tapi kemudian, kepalanya menggeleng. “Hm, apa yang harus kuperhatikan? Apa dikiranya dia sebangsa kuntilanak yang berkeliaran di sore hari?” tanya Bentar, agak meledek.

“Bukan begitu. Gadis ini agaknya calon istri Aditya, putra Panglima Balung Geni. Bukankah mereka menyediakan hadiah besar bagi yang berhasil membawanya pulang?” seru Kuntara.

“Huh! Apa urusannya dengan hadiah itu?! Yang kuinginkan sekarang, mendekapnya erat-erat. Hm.... Tubuhnya indah. Dan..., ah! Biar kutangkap dia sekarang!” desah Bentar dengan wajah bernafsu dan menyeringai lebar.

“Dasar tolol! Daripada susah payah ke Rimba Keramat mencari harta karun yang belum tentu didapat, bukankah lebih baik mendapatkan harta yang sudah di depan mata!” sergah Kuntara.

“Kau akan membawa ke tempat Panglima Balung Geni?!” tanya Bentar dengan wajah kecewa.

“Tentu saja!” sahut Kuntara cepat.

“Brengsek!” maki Bentar kesal.

“Heh! Jangan terburu kesal. Kita akan mengembalikannya setelah menikmati tubuhnya lebih dulu!” lanjut Kuntara seraya tertawa lebar.

“He he he...! Kukira kau sudah kerasukan malaikat! Kalau begitu, biarlah kuringkus dia sekarang,” sahut Bentar seraya melompat menyerang gadis yang tidak lain adalah Andini, putri Ki Wibisana.

“Keparat-keparat busuk! Kalian kira bisa semudah itu menangkapku?! Huh! Kalian cari mampus saja!” dengus Andini geram seraya mengibaskan pedangnya.

Wuk!

“Uts! Galak juga gadis ini! Kau semakin membuatku bergairah saja. Lebih baik menyerah saja. Dan, turuti apa kataku. Dengan begitu, kami akan memperlakukanmu baik-baik!” kata Bentar setelah berkelit dengan memutar tubuhnya ke kanan. Langsung dibalasnya serangan itu dengan satu tendangan keras ke arah pinggang Andini.

“Uhhh...!” Gadis itu terkejut bukan main. Cepat bagai kilat dia berusaha melompat ke kiri sebisanya. Tangan yang masih menggenggam pedang berkelebat menyambar ke arah leher Bentar. Namun Bentar agaknya sudah bisa membaca gerakannya. Cepat-cepat kepalanya menunduk sehingga pedang gadis itu hanya menyambar angin. Dan secepat itu pula, tangan kanannya menangkap pergelangan tangan Andini. Langsung ditekuknya tangan itu ke belakang dengan cepat. Sedangkan tangan kirinya menangkap lengan gadis itu yang satu lagi. Dan dengan cepat langsung dipeluknya gadis itu erat-erat.

“Ha ha ha...! Sekarang mau ke mana kau?! Ayo! Jangan coba-coba melepaskan diri atau melawan. Sebab, aku bisa bertindak keras padamu. Lebih baik menurut saja,” kata Bentar, merasa senang.

“Setan! Bajingan keparat! Lepaskan aku! Lepaskaaan...!” maki gadis itu berusaha memberontak sekuat tenaga.

Belum juga kering kata-kata gadis itu, tiba-tiba tangannya yang masih memegang pedang dihantam Bentar kuat-kuat.

Plas!

Begitu habis menghantam, tangan Bentar langsung menggerayang ke arah baju gadis itu. Lalu....

Bret!

“Aow...! Jahanam cabul! Kubunuh kau! Kubunuh kau...!” teriak Andini semakin keras ketika bajunya robek di bagian depan.

Kuntara menelan ludah melihat pemandangan indah di depan matanya. Bukit kembar indah milik Andini yang putih mulus langsung dijilati dengan matanya. Kedua lututnya goyah dan isi kepalanya mendadak panas. Apalagi ketika melihat sebelah tangan Bentar merayap ke dada gadis itu dengan gemas.

“Jahanam! Lepaskan aku! Keparat! Kubunuh kau...! Cuihhh!”

Andini berusaha berontak dengan sekuat tenaga sambil memaki dan meludah berkali-kali. Namun cengkeraman laki-laki bermata picak itu semakin kuat, sehingga membuatnya tak berdaya.

Isi dada gadis itu kian bergemuruh dengan kemarahan yang semakin meluap-luap atas perlakuan orang-orang ini. Dan dalam ketidakberdayaannya ini, terasa sedikit penyesalan kenapa harus meninggalkan rumah dan pergi tanpa tujuan. Dan hal itu tentu saja membuat hatinya tercabik-cabik bagai disayat sembilu.

Dalam keputusasaan dan rasa penyesalan Andini, mendadak sebuah bayangan putih berkelebat cepat bagai kilat. Kuntara sempat terkejut, namun tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan....

Begkh! Des!

“Aaakh...!” Tiba-tiba saja dilihatnya Bentar menjerit kesakitan tersambar bayangan putih itu. Tubuhnya terjungkal ke tanah beberapa langkah.

“Perbuatan kalian benar-benar rendah dan biadab. Sangat menjijikkan dan membuatku ingin muntah!” geram seorang pemuda berbaju rompi putih yang kini sudah berdiri di depan Andini.

“Oh, kau...?!” Gadis itu terkejut dan wajahnya tampak girang begitu mengetahui siapa penolongnya.

Tanpa peduli lagi gadis itu berlari. Langsung dipeluknya pemuda itu untuk meluapkan perasaan ham dan gembiranya.

“Oh! Syukur kau datang tepat waktunya. Mereka..., mereka...,” desah Andini.

“Nisanak, sudahlah. Semuanya telah berlalu. Biar mereka jadi urusanku...,” sahut pemuda yang tak lain Rangga alias Pendekar Rajawali Sakti dengan nada menghibur.

“Bocah sial! Siapa kau, heh?! Sudah bosan hidup rupanya berani mengganggu kesenangan orang?!” bentak Bentar dengan wajah garang.

“Kisanak berdua, kuingatkan pada kalian. Jangan lagi melakukan perbuatan rendah di depanku!” dengus Rangga.

“Bedebah...!” Bentar dan Kuntara memaki berbarengan. Mereka amat disepelekan pemuda itu. “Yeaaa...!”

Bentar dan Kuntara langsung mencabut golok dan sama-sama menerjang ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Namun begitu kakinya menjejak tanah, dengan cepat sekali Rangga melesat ke atas sambil berputaran. Dan Pendekar Rajawali Sakti kembali melesat dengan kaki melepaskan hantaman ke arah dagu kedua lawannya dalam penggunaan jurus 'Sepasang Sayap Rajawali Membelah Mega'.

Kedua orang itu terkejut bukan main. Namun mereka berhasil melompat ke belakang. Tendangan Pendekar Rajawali Sakti memang kuat bukan main. Bahkan masih terasa desiran angin tajam yang menandakan kalau tendangannya dialiri tenaga dalam tinggi. Itu saja sudah membuktikan bahwa saat ini kedua orang itu tengah berhadapan dengan tokoh digdaya.

Belum juga keterkejutan itu hilang, mendadak pemuda berbaju rompi putih ini sudah berkelebat cepat, dengan jurus yang sama. Begitu cepat gerakan Pendekar Rajawali Sakti saat mengibaskan tangannya. Sehingga kedua orang itu tak mampu menghindarinya. Dan....

Plak! Plak!
Des...!

“Aaakh...!” Kontan Bentar dan Kuntara memekik hampir bersamaan. Tubuh mereka langsung terjungkal terkena hantaman Pendekar Rajawali Sakti. Masing-masing pada bagian dada dan perut.

“Hiyaaa...!” Kedua orang itu baru saja hendak bangkit sambil mendekap dada dan perut yang terasa nyeri bukan main. Namun Pendekar Rajawali Sakti telah kembali menyerang. Maka sebisanya mereka mencoba memapak sambil mengayunkan senjata masing-masing.

Namun tanpa diduga sama sekali, tangan Pendekar Rajawali Sakti malah menyampok ke arah kibasan kedua senjata itu. Bahkan dengan cepat bagai kilat, kakinya langsung melepaskan tendangan setengah melingkar. Lalu....

Tak! Des...!

“Aaakh...!” Kembali kedua orang itu menjerit kesakitan dan kembali terjungkal ke tanah beberapa langkah dengan senjata terpental dari genggaman masing-masing.

Sementara Rangga sudah berbalik dan hendak kembali melompat menyerang. Namun....

“Kisanak, cukuplah. Kami menyerah kalah dan harap kau sudi mengampuni kami...!” teriak Kuntara dengan nada memelas, sambil berusaha bangkit.

Rangga hanya menatap tajam sambil melipat tangan di depan dada. “Bajingan tengik seperti kalian mestinya tidak boleh dibiarkan hidup...!” dengus Rangga.

“Eh, ampun! Ampunilah selembar nyawa kami, Kisanak! Kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini...!” sahut keduanya serentak. Tubuh mereka menggigil dengan wajah pucat ketakutan.

“Kakang, eh...! Lebih baik kedua orang ini dibuat mampus saja!” sergah Andini dengan nada garang.

“Eh! Jangan..., oh! Tidak! Tidak! Ampunilah kami, Kisanak! Kami bersumpah tidak akan melakukan perbuatan seperti itu lagi...!” sahut keduanya semakin pucat begitu mendengar kata-kata Andini.

“Nah! Kalau begitu, minta maaflah pada gadis ini. Kalian telah melakukan perbuatan kotor terhadapnya!”

Tanpa disuruh dua kali, keduanya langsung berlutut di kaki Andini sambil memohon ampunan dengan nada memelas. Sedangkan gadis itu agaknya sulit menerimanya. Namun Rangga bukannya tidak mengetahuinya.

“Nisanak! Mengampuni jiwa seseorang adalah perbuatan mulia dan sangat terpuji...!” sindir Pendekar Rajawali Sakti halus.

Meski hatinya masih jengkel dan geram, namun agaknya kata-kata pemuda itu masuk juga di hatinya. “Huh! Pergi cepat dari mukaku...!” hardik Andini garang.

Tanpa banyak bicara lagi, keduanya segera meninggalkan tempat itu. Namun sesekali mereka berdua masih sempat mencuri pandang ke arah Pendekar Rajawali Sakti seolah tidak percaya kalau dengan mudah dapat ditaklukkan begitu mudah.

EMPAT

“Kakang, eh...! Bolehkah aku memanggilmu kakang?” tanya Andini sambil menunduk malu...

“Kau boleh memanggil apa saja yang kau suka...,” sahut Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti saat ini tengah mengumpulkan ranting kering yang banyak berserakan di tempat itu untuk dijadikan api unggun. Memang, saat ini hari telah gelap. Dan gadis itu cepat menangkap apa yang hendak dilakukan Rangga. Maka dia mulai ikut mengumpulkan kayu-kayu kering di dekatnya.

“Kakang, siapakah kau sebenarnya? Kepandaianmu tinggi sekali. Apakah julukanmu?” tanya Andini, memberondong.

“Aku hanya pengembara, Nisanak. Kepandaian yang kumiliki tidak sebanding dengan pendekar-pendekar lain,” sahut Rangga merendah.

“Iya.... Tapi, kau kan punya julukan. Apa julukanmu?” desak Andini.

“Rasanya itu tak perlu, Nisanak,” elak Pendekar Rajawali Sakti.

“Tapi..., eh! Tunggu! Ayahku pernah bercerita tentang seorang pendekar pengembara yang selalu memakai baju rompi putih dan menyandang pedang bergagang kepala burung rajawali, julukannya.... Ya! Pendekar Rajawali Sakti! Kau pasti si Pendekar Rajawali Sakti! Betul kan, Kakang!” desah Andini kian menjadi.

Rangga kagum juga dengan daya ingat gadis ini. Sebentar ditatapnya Andini, lalu bibirnya tersenyum. Dan tanpa berkata-kata lagi Rangga berbalik melangkah ke bawah pohon dan berjongkok untuk membuat api unggun.

Sementara, Andini yang sudah merasa yakin kalau saat ini bersama Pendekar Rajawali Sakti segera menyusul pemuda itu. Gadis itu lalu menumpukkan kayu kering yang diperolehnya di dekat perapian, lalu duduk tidak jauh dari Pendekar Rajawali Sakti. Sesekali, matanya mencuri pandang pada pemuda tampan di sebelahnya.

“Ah! Ini suatu kebanggaan yang tak terkira. Ternyata aku bisa bertemu Pendekar Rajawali Sakti...!” seru Andini tidak dapat menyembunyikan perasaan senangnya.

“Sudahlah, Nisanak. Apa bedanya aku dengan pendekar-pendekar lain? Aku kira sama saja,” ujar Rangga, jadi jengah juga.

“Bukan begitu, Kakang. Karena, yang jelas namamu begitu banyak dikagumi orang. Gadis-gadis di desaku tak ada yang tidak mengenalmu. Dan rata-rata pemudanya juga ingin menjadi orang hebat sepertimu. Meski, sebenarnya jarang sekali yang pernah berhadapan denganmu....”

Rangga hanya tersenyum enteng seraya menambahkan beberapa batang ranting kering ke perapian. Sejenak suasana jadi hening, ketika tidak ada yang berbicara.

“Oh, ya.... Siapa namamu, Nisanak?” tanya Rangga, memecah kebisuan.

“Andini...,” sahut gadis itu sambil tersenyum cerah. “Dan nama aslimu siapa?”

“Rangga...,” sahut Rangga, pendek, “Oh, ya. Kenapa kau kabur dari rumah...?”

Gadis itu tidak langsung menjawab. Namun terlihat perubahan pada wajahnya yang kini cemberut bercampur kesal. “Orangtuaku hendak lekas-lekas menjodohkanku...!”

“Dengan pemuda yang di depan kedai itu?”

Andini mengangguk.

“Kalian pasangan yang cocok. Kenapa kau kelihatan begitu membencinya...?”

“Huh! Aku muak melihat tampangnya! Siapa pun di desa kami akan tahu kalau pemuda itu mata keranjang dan tidak bisa dipercaya. Dia suka mempermainkan wanita. Meski wajahnya tampan dan ayahnya orang berpangkat, tidak sudi aku kawin dengannya!” dengus Andini.

“Tapi orangtuamu setuju...?”

“Justru orangtuaku yang rajin menawarkanku padanya! Huh! Dia kira aku barang dagangan!”

“Setiap orangtua ingin anaknya bahagia....”

“Tapi yang satu ini terbalik. Karena justru aku akan sengsara!”

“Kenapa kau berkata begitu?” tanya Rangga heran.

“Ayahku bekerja pada Panglima Balung Geni. Dan untuk mencari muka dan kepercayaan, maka beliau telah menjodohkanku dengan pemuda ceriwis anak panglima itu tanpa sepengetahuanku. Dan itu membuatku kesal sekali. Sebab, aku sama sekali tidak menyukainya!”

Rangga terdiam dan mencoba memahami perasaan gadis itu. Dan gadis itu pun bersikap sama. Keduanya memandang api unggun yang menyala, menerangi sekitarnya untuk beberapa saat. Sementara malam semakin merayap dan dingin mulai menyengat.

“Dan kini agaknya mereka telah menawarkan hadiah bagi yang berhasil membawaku pulang...,” lanjut Andini dengan nada setengah bergumam.

“Dan memberi hadiah bagi yang berhasil membawa kepalaku...?” sahut Rangga seraya tersenyum geli.

Andini memandang ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Dan tidak seperti pertama kali ditolong, sekarang bisa dimengerti pemuda itu sangat menganggap enteng ancaman Panglima Balung Geni. Sebab, sepasukan prajurit kadipaten belum tentu mampu menangkap Pendekar Rajawali Sakti!

Andini jadi merasa bangga dan aman dengan Pendekar Rajawali Sakti. Bibirnya lantas tersenyum haru. Ditatapnya pemuda itu. Namun tatapannya sulit diartikan.

“Kenapa Kakang Rangga kembali. Padahal, bisa saja kau meninggalkanku begitu saja. Apalagi tadinya kita tidak pernah saling kenal...?” tanya Andini seraya menunduk. Suaranya terdengar perlahan, seperti ingin memancing isi hati pemuda itu.

Rangga hanya tersenyum. Lalu, dipandangnya gadis itu. “Aku tahu, kau berada dalam kesulitan. Dan membantu orang yang tengah kesulitan rasanya tidak ada salahnya...,” sahut Pendekar Rajawali Sakti agak pelan suaranya.

“Hanya itu...?”

“Untuk hal lain, rasanya aku tidak berhak. Malah bisa jadi perbuatanku salah. Misalnya memisahkan dua orang yang sudah dijodohkan,” ledek Rangga. Entah kenapa. Pendekar Rajawali Sakti ingin sekali meledek Andini. Kalau sudah begini dia jadi teringat Pandan Wangi yang ditinggalkannya di Karang Setra. Kalau sedang merutuk, gadis ini mirip Pandan Wangi.

“Huh! Siapa sudi menjadi kekasihnya!” dengus Andini dengan wajah memberengut.

Rangga jadi tertawa melihat raut wajah Andini yang tengah kesal. Dia merasa, seperti tengah berhadapan dengan Pandan Wangi saja.

“Kakang...?” panggil Andini ketika mereka kembali terdiam untuk beberapa saat.

“Hm....”

“Apakah kau punya kekasih...?” tanya Andini, memberanikan diri sambil memandang wajah pemuda itu. Seolah ingin diketahuinya apa jawaban pemuda itu. Paling tidak memperhatikan perubahan wajahnya atas pertanyaan itu.

Rangga mendesah pelan, disertai senyum terkembang di bibir. Dan belum sempat menjawab pertanyaan itu....

Set! Set!

“Andini, awas!” Dengan satu gerakan cepat bagai kilat, Pendekar Rajawali Sakti menerkam gadis itu. Tentu saja ini membuat Andini terkejut. Dia ingin berteriak, untung saja Rangga sudah memperingatkannya.

Crab! Crab!

Rangga tidak sempat memperhatikan, apa yang melesat ke arah mereka karena terus bergulingan sambil memeluk tubuh gadis itu. Sementara pendengarannya yang tajam masih saja mendengar beberapa senjata rahasia lain yang masih terus mengejar mereka berdua dengan cepat sekali. Begitu serangan mereda. Pendekar Rajawali Sakti cepat melenting ke atas. Lalu manis sekali kakinya mendarat di tanah.

“Siapa pun orangnya, kalau ingin bergabung silakan! Jangan main sembunyi begitu!” teriak Pendekar Rajawali Sakti lantang menggelegar.

Namun tidak terdengar satu pun sahutan. Pendekar Rajawali Sakti segera mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil mengerahkan aji 'Pembeda Gerak dan Suara', Rangga memang mendengar adanya desah napas yang begitu lembut dari beberapa orang.

“Baiklah! Kalau itu yang kalian inginjan. Peringatanku hanya berlaku sekali. Kalau kalian tidak keluar juga, terima akibatnya. Aji 'Bayu Bajra'! Hiyaaa...!”

Pendekar Rajawali Sakti langsung menyorongkan telapak tangannya sambil membentak keras. Seketika itu juga serangkum angin kencang berkekuatan dahsyat menyapu ke satu arah, menerbangkan apa saja yang menjadi sasaran. Jelas, arahnya adalah tempat senjata rahasia yang tadi meluncur deras. Begitu dahsyat angin yang bertiup, membuat pohon-pohon berderak patah, bahkan ada yang sampai tercabut ke akar-akarnya. Tanah serta bebatuan ikut terlontar. Tak lama kemudian....

Prasss...!

“Sial!”

Terdengar beberapa orang memaki, yang disusul berkelebatnya empat sosok tubuh dari tempat berasalnya senjata rahasia tadi. Sementara itu Rangga berdiri tegak dan Andini bersembunyi di belakangnya. Pendekar Rajawali Sakti memandang keempat lelaki bertampang seram di hadapannya sambil tersenyum kecil. Dua orang berambut panjang dengan kumis tebal, sementara dua orang lagi berambut pendek.

“Hm.... Apakah kalian tidak ada pekerjaan sehingga senang mengganggu ketenangan orang...?!” cibir Rangga.

“Bocah brengsek! Serahkan gadis itu. Dan, menyerahlah kau untuk menerima hukuman!” hardik salah seorang yang bersenjatakan sepasang trisula.

“Apakah kalian tidak punya tata krama? Datang tanpa permisi, lalu mau main paksa,” sindir Pendekar Rajawali Sakti.

“Keparat! Kau tentunya belum kenal dengan si Maung Lugai, heh?!” bentak laki-laki bersenjata trisula yang terselip di kedua pinggangnya. Tangan kirinya berkacak pinggang dan tangan kanannya memelintir kumisnya yang tebal. Matanya melotot lebar seperti hendak keluar. Dari sikapnya, jelas kalau dia sangat memandang rendah terhadap pemuda berbaju rompi putih ini.

“Oh! Jadi kaukah yang bernama Maung Lugai? Hm, tentu saja aku mengenalmu. Kau adalah maling picisan yang beberapa waktu lalu dihajar orang satu desa...,” ledek Rangga memanasi.

“Keparat! Rupanya kau perlu diberi pelajaran, heh?! Hm.... Kau akan menyesal. Bocah!” sentak laki-laki bersenjata trisula yang berjuluk si Maung Lugai seraya melompat menyerang.

“Hup!” Rangga hanya melompat menghindar, menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya meliuk-liuk indah, menghindari setiap pukulan lawannya. Dan pada satu kesempatan, Pendekar Rajawali Sakti bermaksud hendak memberi pelajaran pada si Maung Lugai. Maka ketika laki-laki berkumis tebal itu melancarkan serangan berupa kibasan tangan kanan ke wajah. Pendekar Rajawali Sakti cepat bagai kilat memapaknya.

Plak!

“Uhhh...!” Maung Lugai terpekik, merasakan tangannya seperti menghantam baja keras. Namun dia jadi penasaran. Tidak dipedulikan lagi tangannya yang terasa nyeri. Bahkan langsung mengirimkan tendangan disertai tenaga dalam tinggi ke arah batok kepala Rangga. Namun Rangga bukannya tidak membaca gerakan itu, maka langsung ditangkisnya. Dalam perkiraan Maung Lugai, lengan pemuda itu akan patah.

Plak!

“Aaakh...!” Namun, yang terjadi justru mengejutkan hatinya. Tulang kaki Maung Lugai seperti menghantam balok besi, dan membuatnya kembali mengeluh kesakitan. Dan belum lagi hilang keterkejutannya, Maung Lugai kembali mendapat serangan dari pemuda itu berupa tendangan mengarah ke wajah.

Namun begitu, dia masih mampu menghindarinya dengan melenting kebelakang. Dan belum lagi kakinya menjejak tanah, kembali datang serangan yang demikian cepat bagai kilat. Maung Lugai semakin terkejut saja. Sungguh tidak disangka kalau pemuda itu masih mampu mengirim serangan susulan. Sebisanya, laki-laki berkumis tebal itu memapak. Tapi Maung Lugai kecele. Ternyata Pendekar Rajawali Sakti yang telah menggunakan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' telah menarik pulang serangannya. Dan cepat bagai kilat jurusnya dirubah menjadi 'Sepasang Sayap Rajawali Membelah Mega' tingkat pertama. Langsung tangannya mengibas, menghantam dada Maung Lugai tanpa dapat dihindari lagi.

Diegkh!

“Aaakh...!” Laki-laki bertampang seram itu kontan terjungkal beberapa langkah dengan isi dada terasa remuk.

“Hei?!” Melihat Maung Lugai terjungkal ke tanah, sudah barang tentu membuat ketiga kawannya yang menyaksikan menjadi terkejut. Maung Lugai bukanlah tokoh sembarangan. Kepandaiannya cukup tangguh. Bahkan hanya tokoh-tokoh kelas satu saja yang mampu menjatuhkannya.

Sementara, Maung Lugai telah kembali bangkit dengan wajah geram bercampur amarah meluap. Hatinya benar-benar panas, dipermalukan di depan kawan-kawannya.

“Haram jadah! Kucincang kau keparat...!” hardik Maung Lugai garang. Langsung sepasang trisulanya dicabut.

Set!

“Yeaaah...!” Maung Lugai langsung melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Namun tubuh Rangga telah melesat tinggi ke atas, sehingga serangan itu hanya menyambar angin. Dan agaknya Pendekar Rajawali Sakti bertekad untuk tidak mau berlama-lama bertarung. Begitu tubuhnya meluruk turun langsung dilepaskannya satu tendangan keras. Maka Maung Lugai memapak tendangan itu dengan mengebutkan trisulanya.

Wuuut...!

Namun kembali Maung Lugai dibuat terkejut! Ternyata Pendekar Rajawali Sakti menarik pulang tendangannya. Bahkan tubuhnya langsung berputaran di udara, dan kembali menjejak tanah dengan manis sekali. Sungguh di luar dugaan. Pendekar Rajawali Sakti langsung melepaskan tendangan cepat, begitu kakinya menjejak tanah.

Plak!

Trisula itu terlepas dari genggaman tangan Maung Lugai. Namun tangannya yang satu lagi cepat menikam ke arah punggung Rangga yang belum sempat berbalik. Maka dengan gerakan cepat Rangga membungkuk ke kanan. Seketika kaki kirinya melepaskan tendangan berputar menghantam pangkal lengan Maung Lugai.

Laki-laki berkumis tebal itu terkejut bukan main. Bahkan ketika tendangan Pendekar Rajawali Sakti berturut-turut tiga kali menghantam dada kanan dan kirinya serta perut, dia tak mampu menghindar lagi. Maung Lugai kontan memekik kesakitan. Tubuhnya terjerembab lima langkah di tanah. Darah kental tampak menetes dari sudut bibir dan hidungnya.

Sementara Pendekar Rajawali Sakti hanya memandangi lawannya yang masih terbaring di tanah. Tangannya terlipat di depan dada, seperti membiarkan lawannya untuk bangkit kembali. Kali ini ketiga kawan Maung Lugai tidak terkejut, mereka menyadari pemuda itu memiliki kepandaian tinggi.

“Kisanak! Siapa kau sebenarnya...?” tanya salah seorang dari ketiga kawan Maung Lugai. Kakinya lantas melangkah, mendekati Pendekar Rajawali Sakti. Nada suaranya terdengar datar, dan tidak segarang Maung Lugai tadi. Bahkan ada terkesan menghormat dan segan.

“Namaku Rangga...,” sahut pemuda itu datar.

“Rangga...? Hm sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Hm, ya! Jangan-jangan, kau adalah Pendekar Rajawali Sakti! Betul?” tanya orang itu berusaha meyakinkan. Terlihat wajahnya sedikit kaget. Namun rasa kagetnya berusaha ditekan sedemikian rupa, agar pemuda itu tidak tahu.

“Begitulah orang memanggilku, Kisanak. Dan sebaliknya, kalian siapa? Lalu, apa yang kalian kehendaki?” Pendekar Rajawali Sakti balik bertanya.

“Kawanku yang telah kau jatuhkan itu. bernama Maung Lugai. Dan aku sendiri Gandi Sumangsa. Sedang kawanku yang memakai ikat kepala hitam bernama Seta. Sementara yang berambut panjang bernama Wikura. Kami berempat adalah orang-orang upahan Ki Wibisana, ayah Andini. Beliau membayar kami untuk mendapatkan dan membawa Andini pulang...,” jelas orang yang mengaku bernama Gandi Sumangsa dengan nada lebih ramah.

“Kisanak! Sebenarnya aku tidak ikut campur dalam soal ini. Tapi, biarlah Andini yang berhak memutuskan. Nah, silakan kalian tanya sendiri padanya...,” ujar Rangga.

“Tidak! Aku tidak ingin kembali! Katakan pada ayahku. Kalau masih berkeras menjodohkanku dengan pemuda keparat itu, lebih baik tidak usah bertemu denganku selamanya! Anggap saja aku bukan putrinya lagi!” sentak Andini garang, sebelum Gandi Sumangsa berkata apa-apa.

“Nini Andini! Ayahmu mengutus kami, karena beliau saat ini tengah sakit keras dan merindukan kehadiranmu...,” bujuk laki-laki yang di pinggangnya terlihat berjejer pisau kecil.

“Huh! Kau kira aku anak kecil yang gampang ditipu?! Kalau beliau sakit, mudah-mudahan itu menjadi pelajaran baginya supaya tidak berkawan lagi dengan para bajingan!” dengus Andini makin berani.

“Jangan berkata seperti itu, Nini Andini. Ayahmu orang baik dan terhormat. Demikian pula kawan-kawannya. Kau sungguh beruntung memiliki ayah sepertinya....”

“Kisanak! Apa pun yang kau katakan, jangan harap aku kembali. Dan selama ayahku masih berniat mengawinkan aku dengan putra Panglima Balung Geni, sampai kapan pun aku tidak sudi! Katakan padanya. Aku tidak akan kembali lagi selama pendirian ayahku tidak berubah!” tandas Andini.

Gandi Sumangsa tidak mampu berkata apa-apa lagi mendengar keputusan si gadis. Dia memandang si pemuda dengan nada putus asa.

“Rangga! Kuharap kau bisa mengerti. Ini demi kebaikannya sendiri. Orang tua mana yang ingin anaknya sengsara. Maka demikian pula halnya Ki Wibisana. Mumpung dia bersamamu, harap kau bisa membujuknya dan melunakkan pendiriannya...,” pinta Gandi Sumangsa.

Pendekar Rajawali Sakti memandang Andini sejenak, lalu beralih pada Gandi Sumangsa. “Kisanak! Seperti apa yang kukatakan tadi, aku tidak ikut campur tangan dalam soal ini. Termasuk, permintaanmu tadi. Maaf, aku tidak bisa melaksanakannya. Andini punya sikap. Dan pendiriannya kuhargai. Kau boleh membawanya kalau dia suka. Tapi, harap jangan memaksa secara tidak sopan seperti yang pernah dilakukan anak Panglima Balung Geni,” sahut Rangga, kalem.

“Rangga! Kuhargai kedudukanmu sebagai seorang pendekar besar. Dan kuharap, kau bisa bersikap bijaksana. Menghalangi kami yang hendak membawa anak dari Ki Wibisana yang telah membayar kami, apakah itu tindakan bijaksana?” sindir Gandi Sumangsa.

“Tentu saja tidak. Tapi, gadis itu sama sekali tidak mau diajak pulang untuk dijodohkan,” kilah Rangga.

Gandi Sumangsa terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa. Untuk memaksa, jelas dia tidak punya nyali. Meski jumlah mereka ditambah tiga kali lipat, belum tentu mampu mengalahkan Pendekar Rajawali Sakti.

“Ki Gandi Sumangsa! Kembalilah pada orangtua gadis ini. Dan katakan, gadis ini tidak bisa dipaksa...!” lanjut Rangga menegaskan.

Gandi Sumangsa memandang ketiga kawannya, lalu menghela napas sesaat. “Hm.... Baiklah. Kalau demikian, agaknya tidak ada pilihan lain bagi kami. Nini Andini! Kami akan sampaikan pesanmu pada Ki Wibisana. Tapi masih ada waktu untuk berubah pikiran...,” desah Gandi Sumangsa.

“Kisanak! Keputusanku tidak bisa ditawar-tawar lagi!” sahut Andini tegas.

Gandi Sumangsa kembali menghela napas berat. Lalu setelah memberi salam hormat, mereka berbalik dan meninggalkan tempat itu sambil memapah Maung Lugai yang belum pulih keadaannya. Sementara Andini masih memandang kepergian mereka dengan sorot mata penuh kebencian. Sedangkan Rangga telah melangkah tenang dan duduk di depan perapian. Dilemparkannya satu atau dua batang ranting ke dalam api yang tengah menyala.

Setelah orang-orang suruhan Ki Wibisana itu telah benar-benar jauh, Andini berbalik. Kakinya lantas menghampiri ke arah Rangga berada. “Kakang Rangga, terima kasih atas pembelaanmu...,” ucap gadis itu lirih, ketika duduk di hadapan Pendekar Rajawali Sakti. Jarak mereka hanya terhalang oleh perapian saja.

Rangga tersenyum kecil, lalu memandang wajah gadis itu. “Kau telah mantap dengan keputusanmu?” tanya Rangga.

“Perlukah aku mengulanginya di depanmu kembali?”

Rangga kembali tersenyum seraya menggeleng pelan. “Yah! Paling tidak, kau punya pendirian. Dan kalau memang dianggap benar, maka wajib dipertahankan...,” desah Rangga.

“Terima kasih, Kakang...,” sahut si gadis dengan wajah cerah dan senyum indah.

LIMA

Kabar mengenai keangkeran Rimba Keramat telah banyak diketahui orang. Dan selama ini, berita itu diterima dengan simpang siur. Sebagian orang mempercayai kalau Rimba Keramat dihuni makhluk halus yang buas dan kejam. Sementara yang lainnya, berpendapat kalau ada sesuatu, yang disembunyikan di dalam Rimba Keramat. Dan pendapat yang belakangan itulah agaknya yang menyebabkan kehadiran banyak tokoh persilatan di tempat ini.

Kini lebih dari dua puluh orang tokoh persilatan telah mengepung Rimba Keramat. Beberapa orang berkumpul menjadi satu kelompok. Sementara yang lain berpencar. Ada yang sendiri-sendiri, ada yang berdua. Untuk sesaat agaknya tidak ada seorang pun yang akan melakukan tindakan. Sedangkan dari arah lain juga mulai berdatangan tokoh-tokoh persilatan. Mereka datang bersama. Suatu harapan bahwa di dalam Rimba Keramat tersimpan harta karun yang tiada terkira nilainya. Dan memang, berita ini pernah dihembus-hembuskan beberapa orang secara rahasia. Dan akhirnya, menjadi kabar burung.

“Hm.... Lebih baik kita mulai! Kalau tidak mereka akan mendahuluinya!” desis salah seorang. Dia tergabung dalam suatu kelompok yang berjumlah sembilan orang.

“Betul katamu, Cakra! Sebaiknya kita lebih dulu ke dalam, sebelum yang lainnya mendahului!” sahut seorang yang bertubuh jangkung, berpakaian coklat.

“Bagaimana dengan para penghuni rimba ini?” tanya kawannya yang bertubuh lebih kecil, dengan wajah khawatir.

“Sukma Gering! Kau boleh pulang dan tidur terus sambil memeluk istrimu kalau masih takut cerita-cerita gila mengenai hantu penghuni rimba ini!” sahut laki-laki yang dipanggil Cakra geram.

“Tapi...,” orang yang dipanggil Sukma Gering hendak berkilah.

“Aaah, sudahlah! Kita dibayar Ki Wibisana bukan untuk berdebat, tapi mendapatkan harta karun itu!” potong Cakra.

“He he he...! Sungguh mulia hatimu. Cakra. Betulkah bila harta karun itu didapat, lalu akan diserahkan pada Ki Wibisana?” ejek salah seorang yang bertubuh bulat, terbungkus pakaian biru.

“Sial kau, Tambak Wulung! Kau kira aku begitu dungu, hingga mau menyerahkan harta berlimpah ruah di dalam hutan sana pada si tua bangka bodoh itu? Huh! Dia boleh menunggu sampai kiamat!” sahut Cakra memaki, seraya melangkah mendekati hutan.

Laki-laki bertubuh bulat yang dipanggil Tambak Wulung, kemudian melangkah lebar, mengikuti Cakra yang telah lebih dulu menerobos semak-semak di pinggir hutan. Melihat apa yang dilakukan kesembilan orang itu, yang lain segera menyusul satu persatu dari arah yang sedikit berbeda. Mereka tampak siap dengan senjata masing-masing. Sikap mereka juga tampak siaga akan segala kemungkinan buruk yang akan menimpa.

“Huh, Setan! Kuntilanak dan segala hantu keparat! Hanya orang-orang dungu yang mempercayai takhyul...!” dengus Cakra berkali-kali, untuk membakar semangat sebagian kawan-kawannya yang mulai ketakutan begitu telah semakin masuk ke dalam Rimba Keramat.

“He he he...! Sebaiknya memang ada kuntilanak. Tapi, berwajah seperti bidadari. Jadi aku akan betah berada di rimba ini meski harus sepuluh abad!” timpal Tambak Wulung.

“Jangan berkata begitu. Setan-setan suka marah kalau kita menganggap rendah...!” kata Sukma Gering mengingatkan.

“Sukma Gering! Kenapa kau tadi ikut, heh?! Bukankah lebih baik mendekap istrimu yang montok itu?!” ejek yang lain.

Mereka semua tertawa terbahak. Namun Sukma Gering sama sekali tidak tersinggung. Matanya jelalatan memandang ke kiri dan kanan, lalu ke atas dan ke bawah. Dia selalu bersiaga akan segala kemungkinan dengan tangan kanan tidak lepas dari hulu goloknya.

“Tenanglah, Sukma Gering. Tidak ada apa-apa di hutan ini, selain harta karun yang akan kita peroleh. Kau tidak perlu takut Jika ada hantu yang akan mengganggumu, biar akan kucekik sampai mati!” kata seorang kawannya. Dan baru saja orang itu selesai bicara, mendadak...

“Uhhh!” Laki-laki bertubuh sedang berpakaian merah itu kontan mengeluh kesakitan. Tubuhnya ambruk dan langsung membiru. Di lehernya terlihat semacam buluh bambu yang halus. Nyawanya seketika melayang dari tubuhnya!

“Hei...?!” Bukan main terkejutnya delapan orang yang lain, melihat keadaan itu. Cakra dan beberapa orang memeriksa keadaan kawannya yang tewas. Sementara tiga orang lainnya berjaga-jaga dengan sikap waspada. Benar saja! Karena....

Set! Set!
Tap!

“Aaa...!” Seketika terdengar tiga jeritan saling sambut, disusul robohnya tiga orang lagi. Mereka langsung meregang nyawa seraya memekik tertahan. Bahkan tubuh mereka kontan membiru terkena serangan senjata berupa buluh bambu yang berisi racun ganas!

“Keparat! Siapa yang berani berbuat begini, heh?! Keluar dan tunjukkan tampangmu...!” bentak Cakra garang. Belum saja kering bentakan Cakra, mendadak....

Plup!

“Heh?!” Cakra cepat bagai kilat melompat ke samping, ketika terasa angin mendesir halus ke arahnya. Sebagai orang berpengalaman dalam rimba persilatan, dia bisa merasakan serangan gelap ini sangat berbahaya. Benar saja. Baru saja dia menghindar....

“Aaakh...!” Akibatnya sungguh hebat. Dua orang yang berada di belakang Cakra langsung menjerit kesakitan dan ambruk di tanah terkena serangan gelap itu. Mereka langsung meregang nyawa seperti tiga orang sebelumnya.

“Haram jadah! Waspada! Kita menghadapi serangan gelap dari pengecut-pengecut yang tidak berani menunjukkan mukanya!” desis Cakra geram memperingatkan dua orang kawannya yang tersisa, begitu telah bersiaga kembali.

“Aaakh...!”
“Hei...?!”

Pada jarak yang tidak begitu jauh, terdengar beberapa jeritan panjang saling susul. Agaknya, bukan hanya rombongan mereka saja yang mengalami musibah. Tapi, juga menimpa tokoh lain yang sama-sama memasuki Rimba Keramat ini. Beberapa orang yang melihat keadaan itu sudah menjadi ciut nyalinya. Mereka langsung mengambil langkah seribu dengan meninggalkan tempat ini. Namun orang macam Cakra justru malah semakin penasaran. Mereka jadi ingin secepatnya menyingkap latar belakang pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.

“Hiiih...!”

Di tengah-tengah rasa penasarannya, mendadak sesosok tubuh berpakaian hitam terkesiap sebentar, namun cepat melesat bagai kilat menyambar ke arah Cakra. Sehingga menimbulkan desir angin kencang. Cakra berkelit ke samping. Dan belum juga dia bersiap, kembali berkelebat bayangan hitam disertai satu sambaran benda berkilatan ke pinggang. Bukan main terkejutnya laki-laki ini melihat serangan sosok bayangan itu yang cepat bukan main. Langsung dia menjatuhkan diri ke tanah. Namun sesuatu benda keras masih sempat menghantam perutnya bagian kiri.

Tak!

“Aaakh...!” Cakra menjerit kesakitan sambil terus bergulingan di tanah.

“Cakra, aku tidak bisa ikut. Aku kembali pulang...!” teriak kawannya yang tak lain Sukma Gering.

Laki-laki itu langsung lari terbirit-birit meninggalkan Cakra yang tengah bergulingan. Dan begitu Cakra bangkit berdiri, langsung datang serangan bertubi-tubi dari sosok tubuh berpakaian hitam.

Sementara itu, Sukma Gering yang telah berlari terbirit-birit, mendadak terjungkal ke tanah disertai jerit kesakitan. Karena ternyata, walaupun tengah menyerang Cakra, sosok berpakaian hitam itu sempat memainkan senjatanya. Seketika, tubuh Sukma Gering membiru terkena racun ganas dari senjata orang berpakaian serba hitam itu.

Begitu buruannya tewas, sosok berpakaian hitam itu langsung melenting ke belakang dengan gerakan cepat. Lalu manis sekali kakinya mendarat di tanah, untuk menjaga jarak kalau-kalau lawan yang lainnya melancarkan serangan.

Kini di hadapan Cakra, berdiri sesosok tubuh pendek sebatas pinggang berpakaian serba hitam. Kepalanya agak besar dan rambutnya panjang sepunggung. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat kecil dari perak, sebesar jari kelingking. Pada ujung-ujungnya mempunyai lubang, hingga tongkat itu seperti berongga. Bisa diduga, apa yang menyebabkan kematian orang-orang itu. Jelas, itu adalah senjata sumpit beracun dari perak yang digunakan manusia bertubuh cebol.

“Pengecut cebol! Kau telah membunuh kawan-kawanku! Kini, terima bagianmu...!” desis Cakra garang.

Tanpa peduli lagi. Cakra langsung menyerang dengan satu kibasan tangan. Sementara manusia cebol itu agaknya tidak banyak bicara. Sama sekali tidak ditimpalinya kata-kata itu. Namun tubuhnya cepat mengegos ke kanan, lalu mengayunkan tangannya menghantam kearah kepala Cakra sambil melompat.

Wuttt!

“Uts!” Cakra cepat bagai kilat menundukkan kepala. Namun masih terasa angin serangan yang berdesir menyambar di atasnya. Lalu tubuhnya dijatuhkan ke tanah dan bergulingan, seraya mencabut goloknya. Dia langsung berdiri, bersiap menghadapi serangan berikut.

Benar saja. Sosok bertubuh cebol itu sudah mengejarnya, dengan satu tendangan bertenaga dalam tinggi. Melihat hal ini Cakra segera bertindak cepat. Langsung goloknya dikelebatkan, mengincar kaki laki-laki cebol itu.

Bet!

“Uts!” Cepat sekali si cebol menarik pulang serangannya. Dan dia langsung berputaran menghindari tebasan golok Cakra. Bahkan tangan kanannya cepat merogoh ke satu baju bagian dalam. Dan sambil melayang di udara, dimasukkan sesuatu ke dalam sumpitnya. Lalu....

Plup! Plup!

Maka seketika itu juga jarum-jarum yang sangat halus melesat ke arah Cakra. Laki-laki itu cepat menjatuhkan diri ke tanah, langsung bergulingan menghindari senjata rahasia ini. Beberapa kali dia memang bisa menghindari. Tapi....

Clap!

“Uhhh...!” Tidak urung beberapa buah jarum beracun menancap di punggung kiri Cakra. Laki-laki itu kontan mengeluh tertahan. Namun dia berusaha bangkit berdiri. Dan belum juga berdiri kokoh, laki-laki cebol yang telah mendarat di tanah, langsung melepaskan tendangan ke arah dadanya. Begitu cepat gerakannya, sehingga....

Desss...!

“Aaa...!” Tubuh Cakra terjungkal beberapa langkah diiringi jerit kematian begitu dadanya terhantam tendangan bertenaga dalam tinggi. Dan ketika ambruk di tanah, tubuhnya langsung membiru tanpa bergerak-gerak lagi. Mati!

“Huh! Hanya memiliki kepandaian rendah saja sudah mau berlagak di Rimba Keramat!” dengus si manusia cebol itu.

Sebentar laki-laki yang usianya sudah cukup tua itu memandang ke sekeliling. Dan telinganya pun mendengar beberapa jerit kematian saling susul. Tampak orang-orang yang tadi banyak menuju hutan ini, sekarang lari ketakutan menyelamatkan diri.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

“Setan! Agaknya mereka telah mencium harta karun di Rimba Keramat ini...!” dengus seorang laki-laki bertubuh besar, berpakaian hitam juga. Senjatanya berupa golok besar. Wajahnya tampak berkerut geram dan sepasang matanya melotot lebar. Usianya kira-kira lima puluh lima tahun.

“Benar, Ki Warkolo. Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya seorang laki-laki bersenjatakan kapak. “Sebaiknya, kita tanyakan pada Ki Boncel,” ajak laki-laki bertubuh besar dan berpakaian hitam yang dipanggil Ki Warkolo.

Manusia cebol yang ternyata bernama Ki Boncel itu terdiam beberapa saat. Tangan kirinya mengusap dagunya yang dihiasi beberapa jenggot menjuntai. “Hm.... Sesudah ini, pasti akan banyak lagi yang bermunculan. Sementara ini kita belum juga menemukan harta karun itu...,” gumam Ki Boncel pelan. “Ki Yudha Paksa! Coba keluarkan petunjuk itu!”

Laki-laki setengah baya dengan kepala memakai blangkon yang dipanggil Ki Yudha Paksa itu mengeluarkan selembar kulit kambing dari saku baju. Diperhatikannya dengan seksama gambar-gambar yang tertera di atasnya. Serentak yang lain segera mendekati Ki Yudha Paksa yang menyandang senjata keris itu. Sementara laki-laki bersenjata kapak. Yang oleh kawan-kawannya sering dipanggil Baureksa tampak mengerutkan keningnya. Dia berdiri disebelah saudara kembarnya yang bernama Baugorha yang bersenjatakan gada berduri.

Kelima orang ini sebenarnya tidak dikenal dalam dunia persilatan. Sepak terjang mereka pun belum pernah terdengar. Bahkan kehadiran mereka agaknya baru diketahui hari ini oleh para tokoh persilatan, setelah terdengar kabar kalau di Rimba Keramat terdapat harta karun.

“Huh! Sudah tujuh tahun kita berusaha memecahkan rahasia peta harta karun itu. Tapi, belum juga menemukan titik terang!” Ki Warkolo bersungut-sungut kesal.

“Hm.... Aku tetap yakin kalau harta itu berada di dekat lumpur maut. Tepatnya, di sekitar pohon beringin besar, tidak jauh dari situ...,” gumam Ki Yudha Paksa, seperti tidak menghiraukan kekesalan kawannya.

“Sejak dulu kau selalu berkata seperti itu. Tapi, mana hasilnya?! Entah sudah berapa kali kita jelajahi daerah itu, tapi hasilnya tetap nihil!” sahut Ki Warkolo.

“Aku hanya tidak tahu, apa arti panah yang menunjuk ke atas ini? Apa kita harus mencarinya ke langit? Di atas pohon beringin ini, jelas tidak ada apa-apa selain sarang burung liar...,” lanjut Ki Yudha Paksa seperti pada diri sendiri.

Dan belum juga habis beda pendapat itu, mendadak Ki Boncel memberi isyarat pada keempat kawannya dengan menempelkan telunjuk ke bibir. Seketika mereka segera bersiaga sambil menajamkan pendengaran. Memang saat itu terdengar gemerisik dedaunan. Dan bersamaan dengan itu, berkelebat tiga sosok tubuh dengan ringan, lalu mendarat manis beberapa tombak di depan mereka.

“Ha ha ha...! Jadi inikah hantu-hantu yang berkeliaran di Rimba Keramat...?!” kata seseorang sambil memperdengarkan tawa nyaring.

Kini tiga orang laki-laki bertubuh tegap dan bersenjatakan pedang berdiri tegak dengan mata menyorot tajam. Rata-rata usia mereka tiga puluh tahun.

“Hm.... Tiga Pedang Bermata Perak...! Apa yang kalian lakukan, sehingga jauh-jauh datang ke Rimba Keramat...?” tanya Ki Boncel, sinis.

“Ha ha ha...! Manusia cebol! Agaknya kau kenal juga dengan kami. Hm, bagus! Terus terang, kedatangan kami ke sini karena mendengar bahwa rimba ini dihuni hantu-hantu kejam. Tapi, mana mungkin Tiga Pedang Bermata Perak akan percaya?! Dan kabar lain yang terdengar, ratusan tahun lalu, Ki Welas Asih meninggalkan harta kekayaan yang berlimpah ruah. Dan konon katanya, harta itu ditinggal di rimba ini...!” sahut satu dari tiga laki-laki berjuluk Tiga Pedang Bermata Perak mewakili kedua kawannya.

Laki-laki itu bertubuh agak tinggi. Namanya, Sutageling. Sementara yang berkumis tipis, bernama Sampu Awang. Sedangkan yang terakhir sering dipanggil Somadipura. Nama-nama asli itu agaknya jarang dikenal oleh kalangan persilatan, kecuali julukan mereka sebagai Tiga Pedang Bermata Perak!

“Jadi kalian mengincar harta itu, heh?!” tuding Ki Boncel tanpa basa-basi.

“Pintar juga rupanya kau! Kudengar, harta itu konon tidak akan bisa dimakan tujuh turunan. Bagaimana kalau kita bekerjasama. Dan setelah ditemukan, kita bagi rata...?” tawar Sutageling.

“Tiga Pedang Bermata Perak! Huh! Sebaiknya kalian lekas tinggalkan tempat ini! Kami tidak sudi bekerjasama dengan kalian! Apa yang kau katakan hanya omong kosong belaka. Tahu apa kau dengan segala cerita harta karun itu!” tukas Ki Warkolo, sebelum Ki Boncel menjawab tawaran itu.

“Hm.... Kawanmu ini rupanya memang bodoh, Cebol!”

“Kisanak! Apa yang dikatakannya benar. Kalianlah yang bicara ngawur. Dalam hal ini tidak ada kerjasama. Dan oleh karena itu, tidak ada pula yang perlu dibagi...,” sanggah Ki Boncel.

Mendengar itu, wajah Tiga Pedang Bermata Perak tampak berubah. Jelas, mereka agaknya tidak bisa menerima begitu saja jawaban Ki Boncel.

“Kisanak! Jangan main-main denganku! Sekali kami mengatakan kerjasama, tapi kalian telah menampiknya. Itu penghinaan! Dan siapa pun yang berani menghina kami, tidak akan selamat!” geram Sutageling.

“Ha ha ha...! Tiga Pedang Bermata Perak bisanya hanya menakuti orang!” ejek Ki Yudha Paksa sambil ketawa lebar.

“Tiga cacing kurap, pergilah kalian! Perutku mual melihat tingkah kalian yang sok jago!” timpal Baureksa sudah tidak bisa menahan jengkel.

Mendengar kata-kata bernada menghina. Tiga Pedang Bermata Perak semakin marah dengan dada bergemuruh. Baru kali ini mereka dihina sedemikian rupa. Begitu marahnya, sehingga napas mereka sampai mendengus-dengus.

“Setan! Kalian telah berani menghina Tiga Pedang Bermata Perak! Hanya orang-orang sudah bosan hidup yang berani menghina kami!” dengus Sutageling.

“Kalian yang bosan hidup!” sergah Ki Warkolo.

“Rimba Keramat adalah kekuasaan kami. Dan tidak ada seorang pun yang selamat bila telah memasukinya. Tidak juga cacing-cacing kurap seperti kalian!”

“Keparat! Ingin mampus rupanya, heh...?!” Sutageling menggeram seraya mencabut pedang.

Sring!

Tindakan itu diikuti Sampu Awang dan Somadipura. Dan tentu saja Ki Boncel dan kawan-kawan tidak mau tinggal diam. Mereka langsung melompat, membuat barisan teratur. Mereka sudah mengepung, dan siap dengan senjata masing-masing.

Sebenarnya, nama Tiga Pedang Bermata Perak cukup menggetarkan kalangan persilatan. Mereka bertiga yang berasal dari Gunung Kampret ini memiliki kepandaian cukup tinggi. Bahkan bisa disejajarkan dengan tokoh-tokoh kelas satu. Maka tidak heran kalau Tiga Pedang Bermata Perak begitu menganggap enteng kelima lawannya.

Dan kelima penghuni Rimba Keramat bukannya tidak menyadari. Namun mereka agaknya ingin memetik keuntungan dari kelengahan Tiga Pedang Bermata Perak yang terlalu menganggap rendah. Ki Boncel dan kawan-kawannya, memang bukanlah tokoh tersohor di kalangan rimba persilatan. Namun, bukan berarti kepandaiannya dianggap rendah!

“Yeaaah...!”

Tiga Pedang Bermata Perak melompat bersamaan membentuk jurus serangan yang disebut 'Pedang Perak Membelah Bumi'. Jurus ini amat mengandalkan kekompakan penyerangan. Dan masing-masing, memiliki serangan hebat dan mengandalkan kegesitan bergerak. Bila salah seorang gagal menyerang, maka yang lain segera melompat menyerang.

Trang!

Wuuut!

Beberapa saat saja pertarungan tidak dapat dihindari lagi. Tampak Ki Boncel dan kawan-kawannya terpontang-panting menyelamatkan diri menghadapi jurus 'Pedang Perak Membelah Bumi'.

“Ha ha ha...! Hanya begini kemampuan penguasa Rimba Keramat?! Tapi masih ada kesempatan untuk menerima tawaranku, sebelum kalian celaka!” ejek Sutageling sambil terus menyerang.

“Phuih! Apa hebatnya jurusmu?! Kau akan lihat, bagaimana kami mematahkannya!” dengus Ki Boncel menyahut. Manusia cebol itu lalu melenting kebelakang untuk mendapatkan jarak, diikuti keempat kawannya.

“Kawan-kawan! Perlihatkan pada mereka, bagaimana kehebatan jurus 'Iblis Membelah Awan'...!”

Keempat kawan Ki Boncel segera merubah serangan. Kali ini, mereka memusatkan perhatian pada lawan masing-masing. Ki Boncel menghadang Sutageling. Ki Warkolo dan Ki Yudha Paksa bersiap menerima serangan Sampu Awang. Sedangkan si kembar Baureksa dan Baugorha, menghadapi Somadipura.

“Yeaaa...!”

ENAM

Dengan jurus 'Iblis Membelah Awan', kali ini keadaan jadi berbalik. Tampak Tiga Pedang Bermata Perak perlahan-lahan mulai kerepotan. Serangan-serangan yang semula kompak, ternyata dapat dipatahkan Ki Boncel dan kawan-kawan. Dan tentu saja hal ini membuat Sutageling marah bukan main. Dia mendengus geram, seraya mencoba memperhebat serangan. Namun sampai sejauh ini dia belum bisa menekan manusia cebol itu.

“He he he...! Kukira kepandaian Tiga Pedang Bermata Perak sangat hebat. Nyatanya, hanya setahi kuku...!” ejek Ki Boncel sambil sesekali melepaskan senjata rahasia yang mengandung racun itu.

Plup!

“Uts...!” Senjata rahasia Ki Boncel memang amat merepotkan Sutageling. Sebab sedikit saja terkena, akibatnya sangat parah. Itu bisa dirasakan dari angin sambarannya yang terasa panas bukan main. Dan ini membuat Sutageling harus berjumpalitan di udara, untuk menghindarinya.

“Kurang ajar! Kau kira aku tidak bisa memecahkan batok kepalamu, heh!” dengus Sutageling, begitu mendaratkan kakinya di tanah.

“He he he...! Kini bertambah lagi kepandaian Tiga Pedang Bermata Perak, menjadi bermulut besar...,” sahut Ki Boncel terkekeh-kekeh.

Tubuh cebol itu tiba-tiba melesat cepat, melepaskan tendangan menggeledek bertenaga dalam dahsyat.

“Keparat!” maki Sutageling. Seketika tubuh Sutageling melompat ke belakang untuk menghindari satu tendangan keras Ki Boncel. Dan begitu kakinya kembali mendarat di tanah, langsung kedua tangannya dihentakkan. Maka terlepaslah pukulan jarak jauh yang amat diandalkan Sutageling.

“Yeaaa...!”
Prasss!

Tampak selarik cahaya keperakan meluruk kencang ke arah Ki Boncel. Laki-laki bertubuh kerdil itu sempat terkejut. Namun, dia buru-buru menjatuhkan diri dan terus bergulingan. Rupanya, serangan Sutageling tidak berhenti begitu saja. Pukulan jarak jauhnya terus dilontarkan. Dan ini membuat Ki Boncel harus melenting ke atas. Akibat yang ditimbulkannya sungguh hebat Tanah tempat Ki Boncel bergulingan langsung berlubang besar, menimbulkan ledakan dahsyat terkena pukulan jarak jauh itu.

Begitu berada di udara, Ki Boncel menggeram. Langsung dia melepaskan senjata rahasia lewat sumpit peraknya. Melihat hal itu, Sutageling menghentikan serangan jarak jauh. Tubuhnya langsung berputaran untuk menghindari senjata beracun itu. Namun kesempatan yang hanya sebentar itu tidak disia-siakan Ki Boncel. Dan....

“Hiiih...!” Ki Boncel langsung menghentakkan telapak tangan kanannya yang terbuka, begitu mendarat di tanah. Seketika dari telapaknya meluncur cahaya kemerahan yang menderu deras ke arah Sutageling. Laki-laki itu terkejut bukan kepalang. Untuk menghindari, jelas tidak mungkin. Apalagi tubuhnya tengah berada di udara. Maka dipapaknya sinar kemerahan itu dengan pukulan jarak jauhnya.

“Heyaaa...!”

Sutageling langsung menghentakkan tangan kanannya ke depan. Maka dari telapaknya yang terbuka meluruk cahaya keperakan yang menyambut sinar kemerahan yang dilepaskan Ki Boncel.

Glarrr!

Ledakan keras terdengar menggelegar, begitu dua sinar berbeda jenis bertemu di tengah-tengah. Begitu dahsyatnya sampai tubuh Sutageling terlempar beberapa tombak. Sedangkan Ki Boncel hanya terjajar beberapa langkah.

Untung saja, Sutageling mampu mematahkan daya lontar tubuhnya, hingga tidak sampai menabrak pohon di belakangnya. Dan dia berhasil menjejak tanah dengan geraian indah dan mantap.

“Setan!” maki Sutageling geram. Langsung pedangnya dikibaskan, kembali melancarkan serangan.

“Uts!” Sementara Ki Boncel melenting ke atas, juga melancarkan serangan. Namun, rupanya Sutageling ingin bertindak hati-hati dengan tidak melayani serangan balik laki-laki bertubuh cebol itu. Maka serangannya langsung ditarik kembali. Kemudian cepat menjatuhkan diri ke tanah dan bergulingan beberapa kali.

Sebatang pohon besar kontan tumbang hancur berantakan, terkena pukulan Ki Boncel yang berhasil dihindari Sutageling. Namun sebelum Sutageling bangkit berdiri, Ki Boncel sudah cepat menempelkan senjatanya di mulut. Sehingga....

Plup!

“Aaakh...!” Kali ini serangan Ki Boncel tidak mampu dihindari. Sutageling langsung menjerit keras begitu jarum-jarum halus beracun menghantam dada kirinya. Namun, ternyata jarum-jarum beracun itu telah menembus kulit tubuhnya, dan langsung menyerang jantung. Ki Sutageling hanya mampu menggelepar beberapa saat, kemudian nyawanya melayang!

“Heh?!” Sampu Awang dan Somadipura terkejut bukan main melihat kematian Sutageling.

“Setan cebol, kubunuh kau...!” bentak Sampu Awang geram. Tanpa mempedulikan lawannya, dia melompat menyerang Ki Boncel.

Tapi tentu saja Ki Warkolo dan Ki Yudha Paksa yang menjadi lawan-lawan. Sampu Awang tidak membiarkannya begitu saja. Golok Ki Warkolo dikelebatkan ke arah perut. Sementara, keris Ki Yudha Paksa menusuk ke leher.

“Uts...!” Meski dalam keadaan seperti itu, namun Sampu Awang masih mampu menghindari dua serangan yang datang ke arahnya. Tubuhnya cepat meliuk. Namun sebelum dia bersiap kembali sumpit perak Ki Boncel telah menunggu. Maka seketika terdengar desir halus berhawa panas yang meluncur ke arah Sampu Awang. Dan....

“Aaakh...!” Sampu Awang menjerit kesakitan, begitu dadanya tertembus jarum-jarum halus yang dilepaskan Ki Boncel. Tenaganya seketika menjadi lemah sekali. Tubuhnya langsung terhuyung ke belakang lalu roboh tak berkutik lagi.

“Mampus...!” dengus Ki Boncel sinis. “Bereskan yang satu ini secepatnya!” Ki Boncel langsung melompat menyerang Somadipura yang tinggal seorang diri. Sementara Ki Warkolo dan Ki Yudha Paksa menyusul, dan ikut mengeroyok. Tentu saja hal ini membuat Somadipura kerepotan. Menghadapi Baureksa dan Baugorha saja, sudah membuatnya harus berjuang mati-matian. Dan kini harus menghadapi lima orang sekaligus. Maka dalam waktu sekejap saja, mudah sekali Somadipura terdesak.

Tampak tubuh Somadipura bergulingan menghindari sambaran keris Ki Yudha Paksa. Dan belum juga bisa bangkit berdiri kembali datang sambaran golok Ki Warkolo. Kembali tubuhnya digulingkan menjauhi lawan. Dan begitu mendapat kesempatan, dia segera bangkit berdiri. Namun baru saja kedua kakinya menjejak tanah, Ki Boncel telah melepaskan jarum-jarum beracun yang dilepaskan lewat sumpit peraknya ke arah dada. Bersamaan itu pula, hantaman kapak Baureksa meluruk ke arah leher. Maka....

Plup!
Cras!
“Aaa...!”

Somadipura langsung memekik kesakitan dengan leher nyaris putus tersambar kapak Baureksa. Darah langsung menyembur keluar membasahi bumi. Dan begitu ambruk ke tanah dia tewas saat itu juga. Bahkan tubuhnya langsung membiru akibat jarum beracun yang dilepaskan Ki Boncel.

“Huh! Hanya segitu kemampuan mereka...!” dengus Ki Boncel seraya menatapi tubuh-tubuh orang yang menjadi lawan mereka. Lalu diajak keempat kawannya untuk meninggalkan tempat itu.

Dalam sekejap tempat ini menjadi sepi, setelah kelima orang itu berkelebat cepat dan hilang di kerimbunan pohon. Hanya mayat-mayat manusia yang bergeletakan, menyebarkan bau anyir darah yang bercampur hawa racun menusuk hidung!

********************

Wajah Ki Wibisana jelas kurang senang menerima laporan yang diberikan oleh orang-orang suruhannya. Berkali-kali dia mendesah kesal. Namun keempat orang suruhannya tenang-tenang saja. Malah, sama sekali tidak merasa kalau apa yang dijelaskan menjadi beban bagi diri sendiri.

“Pendekar Rajawali Sakti...? Hm.... Apa maunya ikut campur dalam urusanku ini...?”

“Ki Wibisana! Pendekar Rajawali Sakti sendiri mengatakan kalau tidak ikut campur. Dan Andini juga menegaskan, bahwa tidak akan pulang sebelum kau merubah pendirian...,” sahut salah seorang.

“Huh! Apa bedanya? Dengan melindungi putriku, sama artinya mencampuri urusan orang. Seharusnya kau memaksa Andini pulang jika Pendekar Rajawali Sakti telah menyerahkan urusan padanya. Kau tahu apa yang harus kukatakan pada Panglima Balung Geni kalau begini jadinya?!” tegas Ki Wibisana, agak keras.

“Dengan kata lain, kau menyuruh kami memaksanya dengan cara apa pun...?” tanya salah seorang lagi, seperti ingin menegaskan.

“Hei, Gandi Sumangsa! Apa kau tuli? Aku tidak peduli, bagaimana cara kalian membawanya ke sini. Asal, tidak melukainya. Titik!” nada bicara Ki Wibisana mulai agak keras.

Mereka yang melapor pada Ki Wibisana memang Gandi Sumangsa dan ketiga kawannya. Mereka sebenarnya memang bukan suruhan orang tua itu. Mereka hanya terikat bayaran, selagi pekerjaan yang dibebankan belum selesai. Jadi bukan berarti bisa dikasari begitu rupa. Apalagi nada bicara orang tua itu mulai keras. Bagaimana pun mereka adalah orang-orang bebas yang mempunyai pergaulan kasar.

Gandi Sumangsa segera berdiri. Lalu dikeluarkannya kantung berisi uang yang diberikan Ki Wibisana sebagai upah untuk membawa pulang putrinya. Diletakkannya kantung uang itu di meja dekat Ki Wibisana.

“Ki Wibisana! Kau boleh berkata apa saja. Tapi, ingat! Kami bukan bawahanmu. Dan kami tidak makan gaji buta yang kau berikan setiap bulan. Kalau tidak suka hasil kerja kami, kau boleh terima uangmu kembali!”

Apa yang dilakukan Gandi Sumangsa diikuti ketiga kawannya sambil mendengus sinis. Mereka segera berbalik hendak meninggalkan ruangan. Namun, Ki Wibisana segera menyadari kekeliruannya. Maka dia cepat bangkit.

“Gandi Sumangsa! Ah, maafkan kata-kataku yang terdengar kasar. Tapi, percayalah. Aku tidak bermaksud begitu. Ayo, duduklah kembali. Karena, masih banyak yang akan kita bicarakan. Lupakan soal tadi. Dan, terimalah hak kalian ini kembali...,” bujuk Ki Wibisana sambil tersenyum bebas. Segera diserahkannya kantung uang pada masing-masing orang itu.

Gandi Sumangsa diam saja. Sedangkan ketiga kawannya mendengus kesal. Namun, Ki Wibisana agaknya pandai mengambil hati. Wajahnya dibuat semanis mungkin, seolah-olah kekesalan dan kemarahannya tadi sirna tanpa bekas.

“Ayo, duduklah kembali! Ayo, Maung Lugai. Juga kau, Seta dan Wikura...!” lanjut orang tua itu mempersilakan mereka kembali ke tempat duduknya semula.

Keempat orang itu agaknya tidak kuasa menolak. Mereka menurut saja meski di hati mereka masih menyimpan rasa jengkel melihat perubahan sikap orang tua itu yang demikian cepat. Baru saja tad memperlihatkan air muka kesal dan marah, kini berubah ramah penuh senyum.

“Ki Wibisana! Apa lagi yang ingin kau bicarakan? Bukankah kami sudah tidak mampu menjalankan tugas yang kau berikan...?” tanya Gandi Sumangsa.

“Ah, tenanglah. Sebaiknya kita lupakan soal putriku. Lagi pula, dia berada di tangan yang aman. Nah! Aku punya tugas baru bagi kalian....”

“Tugas apa?” tanya Gandi Sumangsa.

“Mengantar kami ke Rimba Keramat.”

“Apa?!” Gandi Sumangsa dan tiga kawannya sedikit terkejut mendengar keinginan orang tua itu.

“Kenapa? Kenapa kalian kaget? Apakah ada sesuatu yang aneh dengan tugas itu?”

“Ki Wibisana! Belakangan ini tempat itu banyak didatangi kaum rimba persilatan, setelah terdengar kabar burung yang mengatakan kalau di dalam Rimba Keramat tersimpan harta karun yang tiada ternilai harganya. Tapi, tidak semudah itu untuk mendapatkannya. Sepanjang yang kuketahui, telah banyak korban sebelum mereka berhasil menemukan harta karun itu. Mereka tewas dibunuh penghuni Rimba Keramat. Dan belakangan, jumlah yang tewas semakin banyak, bersamaan dengan semakin santernya berita mengenai harta karun itu, Ki Wibisana! Kau tidak kekurangan harta benda. Lalu, apa yang ingin kau kerjakan di sana?”

“Tidak tahukah kalian kalau aku bekerja pada Panglima Balung Geni...?” sahut Ki Wibisana, balik bertanya seraya tersenyum lebar.

“Tentu saja kami tahu....”

“Nah, Panglima Balung Geni melihat kalau kejadian di tempat itu sudah tidak benar lagi. Bahkan hanya mengantar nyawa percuma. Tempat itu akan terus menjadi kolam darah, sebelum segala sesuatunya dibereskan. Nah! Untuk itu, beliau merasa terpanggil dan ingin membereskannya. Beliau ingin membuktikan kalau tempat itu memang menyimpan harta karun atau bukan. Setelah mengetahuinya, tentu pertumpahan darah bisa dihentikan...,” jelas Ki Wibisana.

“Rimba Keramat tidak begitu jauh. Dan rasanya, seluruh kawula di kadipaten ini tahu tempatnya. Lalu, untuk apa lagi tugas kami?”

“Tentu saja sebagai pengawal kami!”

“Kami?”

“Ya! Aku dan sang Panglima.”

Wajah Gandi Sumangsa tampak semakin bingung mendengar jawaban orang tua itu. “Bukankah Kanjeng Panglima mempunyai prajurit yang terlatih dan berjumlah banyak? Mereka tentu diikutsertakan, karena ini tugas negara. Kenapa masih membutuhkan pengawal kami?”

“Pihak kadipaten tidak ingin terlihat menyolok. Dan sebelumnya, ingin mengetahui apakah berita itu benar atau tidak. Maksudnya agar tidak terjadi salah paham di mata kawula terhadap kadipaten. Untuk itu kita melakukan perjalanan seperti orang biasa. Kanjeng Panglima hanya dikawal beberapa prajurit kadipaten yang berpakaian seperti tokoh persilatan,” jelas Ki Wibisana.

“Ya, ya.... Aku mengerti...,” potong Gandi Sumangsa seraya mengangguk.

“Syukurlah kalau begitu....”

“Lalu, kapan kita berangkat?”

“Persiapkan diri kalian besok pagi. Sore nanti, aku akan menghadap Kanjeng Panglima untuk membicarakan soal ini!”

“Baiklah...,” sahut Gandi Sumangsa seraya berdiri.

Keempat orang itu segera menjura, lalu berbalik. Sebentar kemudian mereka pergi dari ruangan itu. Namun sesaat orang-orang suruhannya menghilang di balik pintu ruangan, wajahnya kembali kusut sambil mendesah kesal berkali-kali.

********************

Andini sebenarnya tidak menyetujui usul Rangga yang akan mendatangi Adipati Lokawarman. Karena menurutnya, itu hanyalah pekerjaan sia-sia. Bahkan sama artinya menyerahkan diri, setelah bersusah-payah terus menghindar dari kejaran anak buah Panglima Balung Geni yang selalu berada di mana-mana.

“Kakang! Jika kau memang tidak suka lagi kuikuti, aku bisa berjalan sendiri...,” kata gadis itu lirih, sekaligus menyatakan ketidaksetujuannya terhadap niat Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga tersenyum manis. Dia mengerti, apa yang dipikirkan gadis itu. Tapi Pendekar Rajawali Sakti memang tidak punya pilihan lain. Karena meninggalkan Andini, sama saja melepaskan anak kijang yang belum mengerti ganasnya rimba. Jelas, gadis itu bisa celaka. Tapi mengajaknya ikut serta, itu lebih menyiksa perasaan Pendekar Rajawali Sakti. Andini selalu berusaha mendekatkan diri dan menunjukkan perhatian selama beberapa hari ini. Tentu saja Rangga mengerti apa arti semuanya itu. Tapi mana mungkin pemuda ini bisa terus-terusan bertahan? Apalagi, ada Pandan Wangi yang selalu setia menantinya di Karang Setra.

“Nini Andini, aku akan coba bicara dengan Adipati Lokawarman...,” tandas Rangga untuk melunakkan pendirian gadis itu. “Siapa tahu sang Adipati sudi mendengar, lalu mencari jalan untuk memecahkan persoalan....”

“Percuma saja. Panglima Balung Geni amat dekat dengan beliau. Dia tentu tidak membiarkan Kakang berlalu begitu saja menghadap Adipati, tanpa berurusan dengannya!” sanggah Andini ketus.

“Bukankah itu sangat kebetulan?”

“Kebetulan bagaimana? Kau bisa celaka, Kakang. Panglima Balung Geni bukanlah orang baik-baik. Dia kejam dan suka berbuat seenak hati. Kau dengar sendiri, rakyat di seluruh kadipaten ini amat membencinya. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa...,” ujar Andini berapi-api.

“Apakah Adipati Lokawarman membiarkannya begitu saja?”

“Siapa yang tahu? Mungkin iya, mungkin juga tidak....”

“Bagaimana bisa begitu?”

“Yaaah.... Mungkin beliau tahu dan mendiamkannya saja. Berarti beliau setuju. Dan dengan begitu, jelas dia juga berwatak buruk. Yang kedua, beliau tidak mengetahui apa yang dilakukan panglimanya. Jadi, hanya menerima laporan-laporan yang baik saja,” jelas gadis itu.

“Apakah Adipati Lokawarman sering turun menemui rakyatnya....?”

Andini menggeleng cepat. “Selama sepuluh tahun aku mengerti soal kehidupan, bisa dihitung dengan jari satu tangan, berapa kali beliau menemui kawulanya....”

“Hm.... Dia bukanlah adipati yang bijaksana, meski belum tentu buruk,” gumam Rangga.

“Ha ha ha...! Kau ini seperti seorang raja yang hendak memecat bawahan saja! Apa yang bisa kita lakukan kalau memang adipati itu bersikap demikian?” kata Andini yang diiringi tawa gelak.

“Yang jelas dia harus diganti!” sahut Rangga enteng, seperti menyambut ejekan gadis itu. Namun pada dasarnya Pendekar Rajawali Sakti berkata sungguh-sungguh.

Dan hal itu sudah membuat tawa Andini semakin panjang saja. “Apakah kau tidak yakin kalau raja yang berkuasa di negeri ini mengetahui perbuatan adipati itu?” tanya Rangga, setelah gadis itu selesai dengan tawanya.

“Raja? Apa kau kira begitu mudah mengabarkan kebobrokan seorang pejabat. Hm.... Jangan-jangan baginda raja pun mungkin tengah bersenang-senang dengan selirnya yang cantik-cantik!” kata-kata Andini terdengar sinis.

“Dari mana kau tahu? Apakah kau pernah bertemu sendiri dengan rajamu?” tanya Rangga tersenyum kecil.

Gadis itu menggeleng. “Apa bedanya dengan raja-raja yang lain? Bukankah perbuatan yang mereka lakukan hampir sama?”

Hampir-hampir kuping Rangga merah mendengar kata-kata Andini yang terdengar keras. Jelas Andini seperti menyamaratakan tingkah polah semua raja. Dan Rangga sendiri adalah Raja Karang Setra yang tak ingin disamakan dengan raja-raja lain di seluruh jagad ini.

“Seorang raja yang baik, harus tahu apa yang dialami rakyatnya. Dan untuk itu, dia harus terjun sendiri melihat rakyatnya, serta tidak mengandalkan laporan-laporan bawahannya!” tukas Pendekar Rajawali Sakti.

“Sudahlah, Kakang. Bicaramu membuatku semakin gila saja...,” desah Andini.

“Tapi kau tidak bisa menjawab. Dan itu berarti benar. Maka, ikutlah ke kadipaten. Dan biarkan, aku menjelaskannya pada sang Adipati. Mudah-mudahan beliau mau mendengar kata-kataku....”

Andini terdiam, lalu memandang pemuda itu beberapa saat. “Kakang! Tahukah kau, betapa bahayanya bila kita berada di sana? Panglima Balung Geni tentu tidak akan membiarkanmu begitu saja. Apalagi kehadiranmu bersamaku...,” ujar gadis itu.

“Itulah yang kuinginkan. Aku ingin tahu, apakah Panglima Balung Geni akan mempersoalkan ini di hadapan Adipati Lokawarman. Ingin kulihat, bagaimana sikapnya nanti. Nah! Tenang saja. Biar kubereskan semua ini!” tandas Rangga.

Andini diam saja tidak menjawab.

“Itu berarti kau setuju, kan? Nah! Ayo kita berangkat sekarang juga...,” ajak Rangga seraya tersenyum kecil.

TUJUH

Rangga bukannya tidak memikirkan kekhawatiran Andini, bila Panglima Balung Geni melihat kehadiran mereka! Andini khawatir, akan terjadi pertumpahan darah. Kini tampak Rangga datang menghampiri Andini, setelah tadi ditinggalkannya untuk beberapa saat di depan bangunan megah Kadipaten Piyungan. Bibir Rangga tersenyum-senyum, seperti telah mendapat suatu rencana.

“Kenapa Kakang tersenyum-senyum begitu...?” tanya Andini.

“Apakah kau lebih suka aku marah...?” sahut pemuda itu menggoda.

“Maksudku, sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakan. Atau....”

Bola mata gadis itu agak membesar. Dan meski Andini tersenyum mengejek, namun Rangga bisa menduga apa yang hendak dikatakan gadis itu.

“Kau curiga padaku kalau aku memberitahukan mata-mata Panglima Balung Geni untuk menangkapmu dengan mengharap imbalan hadiah?” ledek Pendekar Rajawali Sakti.

“Siapa tahu!”

Belum juga pembicaraan itu berakhir. Rangga dan Andini segera berpaling ketika pintu gerbang bangunan megah yang dikelilingi pagar tinggi ini terbuka. Bergegas Pendekar Rajawali Sakti dan Andini melompat turun dari kuda masing-masing. Lalu, dihampirinya dua orang pengawal yang berpakaian prajurit menyambut dengan hormat.

“Silakan, Gusti Prabu. Kanjeng Adipati telah menunggu...,” kata mereka.

“Terima kasih...,” sahut Rangga. Sementara itu dua orang pengurus kuda di kadipaten ini telah membawa kuda-kuda mereka untuk dibawa ke istal di samping istana.

“Kakang....”

“Ssst...!” Rangga memberi isyarat agar gadis itu tidak banyak bicara.

“Kakang! Mengapa mereka kelihatan hormat betul padamu?” tanya Andini membandel. Tidak dipedulikan peringatan Rangga.

“Aku hanya memberitahu pada adipati secara diam-diam, agar Panglima Balung Geni tidak mencegat kita. Tapi mana kutahu soal penyambutan ini...,” bisik Rangga pelan seraya tersenyum kecil.

Sebenarnya Rangga tadi meninggalkan Andini di depan istana kadipaten memang untuk memberitahukan kehadirannya pada Adipati Lokawarman. Dan agar rahasia sebagai Raja Karang Setra tidak diketahui Andini, Rangga meminta agar penyambutan itu dilakukan biasa-biasa saja. Tapi nyatanya, apa yang didapat Rangga malah sebaliknya.

Sementara itu dari istana keluar seorang laki-laki setengah baya berpakaian indah. Dia didampingi seorang laki-laki berpakaian panglima dan dua orang laki-laki berusia lanjut. Siapa lagi mereka kalau bukan Adipati Lokawarman, Panglima Balung Geni, dan dua orang penasihat kadipaten. Wajah adipati itu tampak cerah. Namun ketika pemuda berbaju rompi putih itu semakin mendekat, mendadak wajahnya pucat pasi. Demikian pula kedua penasihatnya. Sedangkan Panglima Balung Geni sama sekali tidak mengerti, kenapa Adipati Lokawarman terlihat amat ketakutan. Bahkan malah bersujud bersama kedua penasihatnya, diikuti yang lain.

Memang, Kadipaten Piyungan ini masih termasuk wilayah Karang Setra. Tak heran kalau Adipati Lokawarman begitu hormat pada Rangga yang memang sudah dikenalnya. Sedangkan Panglima Balung Geni sendiri belum pernah melihat wajah Raja Karang Setra itu. Dan dia memang tergolong panglima baru di Kadipaten Piyungan.

“Kanjeng Gusti Prabu, maafkan hamba yang hanya menyambut seadanya. Ampuni kesalahan kami...!” ratap Adipati Lokawarman dengan nada memelas.

Sementara itu Andini memandang heran. Dia seperti tidak percaya. Tampak pemuda itu menurunkan tangan kanannya, untuk mengangkat bahu Adipati Lokawarman.

“Paman Adipati Lokawarman, bangunlah. Sebaiknya jangan bersikap begitu!” seru pemuda itu dengan suara lembut berwibawa.

“Kanjeng Gusti Prabu, hamba tidak bisa berpura-pura. Hamba siap melayani Paduka!” tegas Adipati Lokawarman cepat seraya mempersilakan tamunya masuk kedalam.

Kemudian laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu segera memberi perintah pada bawahannya untuk segera menyiapkan segala perjamuan besar-besaran bagi tamu agungnya. Dan segera ditemaninya Rangga masuk ke dalam disertai kedua penasihatnya. Sementara Panglima Balung Geni yang sejak tadi membisu menundukkan kepala, juga bergegas mengikuti.

“Kanjeng Gusti Prabu, hari ini merupakan kehormatan bagi hamba menerima kedatanganmu. Tapi, mengapa Kanjeng Gusti Prabu berpakaian seperti seorang pendekar begini...?” tanya Adipati Lokawarman.

“Apakah aku tidak boleh berpakaian seperti ini?” tanya Rangga seraya tersenyum.

“Ah! Tentu saja Paduka lebih mengetahui maksudnya. Hamba hanya sama sekali tidak menyangka kalau Kanjeng Gusti Prabu yang bakal datang. Dan karena caranya seperti ini, pasti ada sesuatu yang salah pada hamba. Mohon petunjuk. Kanjeng Gusti Prabu...!” ujar Adipati Piyungan ini.

Rangga kembali tersenyum. “Paman Adipati! Tidak sia-sia kau menjabat kedudukan ini. Karena selain cepat tanggap, kaupun berotak cerdik. Tapi nyatanya kau terlalu sibuk dengan urusanmu, sehingga melupakan rakyatmu. Lalu apakah seorang yang bersifat demikian patut menjadi seorang adipati...?”

Wajah Adipati Lokawarman tertunduk lesu dengan keadaan pucat. “Kanjeng Gusti Prabu, mohon petunjuk serta ampunan darimu...!”

“Hm.... Kau tahu, siapa gadis yang bersamaku ini...?”

“Eh?! Hamba pernah dengar sedikit. Apakah dia Gusti Ayu Pandan Wangi...?”

Andini yang sejak tadi membisu, tidak mampu berkutik menghadapi keadaan ini. Bahkan semakin kaget lagi ketika menyadari siapa sebenarnya pemuda berbaju rompi putih ini. Dia tidak berani mengangkat wajahnya dan tetap menunduk seribu bahasa. Tidak pernah disangka kalau pemuda yang selama beberapa hari ini berada di dekatnya, adalah penguasa negeri ini.

Sementara Rangga hanya tersenyum mendengar dugaan Adipati Lokawarman. “Bukan. Dia adalah salah satu contoh kesewenang-wenangan bawahanmu!” tandas Rangga.

Mendengar kata-kata Raja Karang Setra ini, Panglima Balung Geni semakin tidak berani mengangkat wajahnya. Dia merasa pasti, lambat laun kata-kata pemuda itu akan tertuju padanya. Dan baru disadari kalau pemuda itu adalah Raja Karang Setra.

“Kanjeng Gusti Prabu! Hamba semakin tidak mengerti. Mohon penjelasan Paduka...,” desah Adipati Lokawarman.

“Paman Adipati, gadis ini kutolong karena seseorang hendak memaksanya untuk dijadikan istri. Orangtua Andini agaknya setuju. Namun, gadis ini sama sekali tidak menyukainya. Aku bukan membela, namun tidak menyukai sikap kesewenang-wenangan yang ditunjukkan pemuda yang hendak memaksanya. Tahukah, ternyata bukan hanya pemuda itu yang suka berbuat sesuka hatinya. Melainkan juga bapaknya. Banyak rakyat yang bercerita padaku kalau mereka bagai raja kecil yang berkuasa. Dan orang seperti itu sudah sepatutnya mendapat hukuman setimpal. Coba katakan padaku, hukuman apa yang pantas bagi seorang pejabat yang bertindak sewenang-wenang...?!” tegas Rangga, berapi-api.

“Kanjeng Gusti Prabu! Orang itu benar-benar tidak layak dan patut mendapat hukuman berat!” sahut adipati itu cepat.

“Nah! Tahukah kau, siapa orang yang kumaksud?”

Adipati Lokawarman menggeleng. “Tangkaplah panglima mu ini. Dan, hukumlah dia sesuai kesalahannya!”

Mendengar kata-kata Rangga, bukan main kagetnya Adipati Lokawarman. Demikian juga semua orang yang hadir dalam ruangan utama kadipaten. Terlebih-lebih, Panglima Balung Geni sendiri. Selama ini. Panglima Balung Geni dikenal tegas dan tidak segan-segan menindak mereka yang berbuat salah. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa menudingnya demikian? Tapi, mana mungkin perintah Raja Karang Setra bisa ditolak. Maka adipati itu langsung memerintahkan para prajurit untuk menangkap Panglima Balung Geni.

“Tangkap Panglima Balung Geni...!”

Semua orang yang berada di ruangan ini serentak menolehkan kepala ke arah Panglima Balung Geni. Sementara, beberapa pengawal telah mulai bergerak, hendak meringkus panglima itu.

“Tidak! Siapa pun yang ingin mampus, boleh coba menangkapku!” sergah Panglima Balung Geni.

Panglima Kadipaten Piyungan itu langsung melompat dari kursinya. Pedangnya sudah terhunus dengan sikap mengancam. Wajahnya garang penuh kemarahan. Dan sepasang matanya menatap tajam penuh kebencian pada pemuda berbaju rompi putih yang amat disanjung tinggi oleh semua orang yang ada di kadipaten ini.

Tidak heran bila Panglima Balung Geni berani berbuat gegabah seperti itu. Karena dia yakin, meski seluruh prajurit kadipaten dikerahkan, belum tentu mampu menangkapnya. Panglima ini tahu betul, sampai di mana kekuatan seluruh prajurit kadipaten. Dan meski pemuda berbaju rompi putih ini seorang raja yang berkuasa, tapi kelihatannya biasa-biasa saja kemampuannya. Apalagi kalau sampai bisa menangkapnya. Berpikir demikian tubuh Panglima Balung Geni langsung melompat hendak menangkap Rangga.

“Yeaaa...!”

Namun perhitungan panglima itu agaknya salah besar. Dikira, pedang pemuda itu sekadar hiasan belaka. Dan kalaupun memiliki kepandaian, paling hanya seujung kuku. Maka dengan seluruh tenaga dalam yang dimiliki, dia bermaksud menjatuhkan Rangga hanya sekali gebrak. Nyatanya, Pendekar Rajawali Sakti cepat berdiri. Langsung dicengkeramnya kedua tangan panglima itu dengan ketat Lalu dipelintirnya ke belakang. Dan seketika lutut kanan Rangga menghantam telak ke punggung.

Tap!

“Aaakh...!” Panglima Balung Geni kontan menjerit kesakitan. Tubuhnya jatuh terduduk, dengan mulut meringis.

“Adipati! Beginikah sikap panglimamu? Jika benar dia tidak bersalah, tentu tidak akan keberatan ditangkap. Dan aku tidak pernah menghukum seseorang tanpa alasan yang kuat Hm.... Panglima ini sudah kelewat batas. Tentukanlah hukuman yang setimpal atas perbuatannya itu!” ujar Rangga sambil tetap memelintir tangan Panglima Balung Geni.

“Ampun, Kanjeng Gusti Prabu. Hamba akan melaksanakan segala titah sebaik-baiknya!” sahut Adipati Lokawarman cepat dengan wajah murka melihat perbuatan panglimanya.

Dengan segera Adipati Lokawarman memerintahkan prajurit-prajuritnya mengambil Panglima Balung Geni yang kini telah ditotok Rangga dengan kuat Dengan cepat para prajurit meringkus panglima itu, dan membawanya ke penjara bawah tanah. Kini suasana kembali tenang, ketika para prajurit yang membawa Panglima Balung Geni menghilang dari ruangan ini.

“Paman Adipati! Sebagai pejabat yang bertanggung jawab terhadap keamanan daerahnya, kau telah gagal menjalankan kewajibanmu. Para rakyat resah. Dan kini, terbetik berita kalau daerah di sebelah selatan wilayahmu menjadi ajang perebutan sesuatu yang sia-sia. Manusia mengantar nyawa secara percuma. Tidakkah kau mengetahuinya. Dan di mana tanggung jawabmu?!” tanya Rangga, setelah kembali duduk di kursinya.

“Ampun, Paduka Yang Mulia. Hamba..., hamba mengaku salah...,” sahut Adipati Lokawarman dengan wajah semakin pucat dan tubuh gemetar.

“Hm.... Kudengar daerah itu disebut Rimba Keramat. Dan konon, belakangan ini banyak orang berdatangan setelah mendengar kabar kalau di sana tersimpan harta karun yang melimpah ruah. Akibatnya, sungguh hebat. Karena, orang berduyun-duyun untuk mendapat bagian dari harta yang belum tentu benar...,” gumam Rangga, seperti bicara sendiri.

“Kanjeng Gusti Prabu.... Hamba baru saja hendak mengerahkan para prajurit untuk membereskan soal itu...,” desah Adipati Lokawarman.

“Bagus! Lakukanlah segera!” sahut Rangga sambil tersenyum lebar.

“Baik, Kanjeng Gusti Prabu...!” sahut adipati itu cepat. Namun akhirnya Adipati Lokawarman kebingungan sendiri. Siapa yang akan memimpin para prajurit kadipaten untuk mengamankan daerah itu, jika Panglima Balung Geni telah ditangkap? Tapi, Adipati Lokawarman tidak kehilangan akal. Maka langsung dipanggilnya tangan kanan Panglima Balung Geni untuk diberi tugas mengamankan daerah di sekitar Rimba Keramat.

“Kanjeng Gusti Prabu, ampunkan segala kesalahan hamba...,” ratap Adipati Lokawarman seraya bersujud beberapa kali, ketika di ruang utama kadipaten ini tinggal Rangga, Adipati Lokawarman, dan Andini.

“Paman Adipati. Bangunlah! Tidak patut berbuat begitu sampai berkali-kali. Purnama bulan depan, datanglah ke istana kerajaan. Hari itu aku akan putuskan, apa yang harus kulakukan terhadapmu!” ujar Pendekar Rajawali Sakti.

Adipati Lokawarman segera bersimpuh kembali, dan mengangguk cepat. Sementara, Rangga segera berdiri, sambil mengajak berdiri Adipati Piyungan ini dengan menyentuh bahunya. Laki-laki setengah baya itu juga lantas berdiri, dan langsung melangkah ketika Rangga sudah mengayunkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu. Langsung disejajarkannya langkah pemuda itu sampai di depan halaman kadipaten ini.

“Jangan lupa! Antarkan gadis ini ke rumah orangtuanya. Dan, titipkan pesanku padanya, agar tidak memaksakan kehendak pada anak gadisnya. Andini berhak menentukan pilihan sendiri!” lanjut Rangga, langsung menghampiri kudanya yang telah disediakan pengurus kuda istana.

“Baik, Kanjeng Gusti Prabu....”

Sementara itu, Andini sudah pula berdiri di samping Adipati Lokawarman. Rangga memandang sejenak ke arah gadis itu.

“Andini, kembalilah ke rumah orangtuamu. Hidup di luaran tidak mudah dan banyak ancaman...,” ujar Rangga, seraya melompat ke punggung kudanya.

“Baik, Kanjeng Gusti Prabu...,” sahut Andini, tanpa mengangkat wajahnya sedikit pun. Nada suaranya halus dan pelan sekali. Bahkan nyaris tidak terdengar.

“Syukurlah. Rukun-rukunlah bersama orangtuamu. Nah! Aku pergi dulu...,” pamit Rangga seraya menghela kudanya. Seketika kuda hitam bernama Dewa Bayu melesat kencang dari tempat itu, meninggalkan beribu pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh mereka yang berada d situ. Terlebih-lebih, bagi Andini dan Adipati Lokawarman sendiri.

Andini tidak menyangka kalau pemuda yang beberapa hari ini bersamanya dan diam-diam telah memikat hatinya, adalah penguasa negeri ini! Siapa yang bisa menahan kejutan begitu hebat? Padahal, di hatinya semula penuh dengan bunga-bunga. Dan kini... terasa sepi, kosong, lalu hening!

Sementara Adipati Lokawarman sendiri merenungi nasibnya. Apa yang akan diterimanya nanti? Berapa lama dia akan menjabat sebagai adipati? Mimpi apa dia, sehingga semua ini berlangsung begitu mendadak?

********************

Peristiwa yang terjadi di Rimba Keramat memang sangat santer. Berapa banyak tokoh persilatan yang tewas sia-sia memperebutkan harta karun yang belum terbukti keberadaannya. Dan hal itu tak membuat surut nyali mereka. Bahkan semakin banyak tokoh persilatan yang berkumpul untuk mengadu nasib. Malah, tidak jarang di antara sesama turut berkelahi, untuk memperebutkan kesempatan lebih dulu masuk ke dalam Rimba Keramat.

Kini, tampak dua orang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun melompat ringan di antara cabang pepohonan di dekat Rimba Keramat. Dan kedua orang itu adalah sekian dari banyaknya tokoh persilatan yang hendak memburu harta karun di Rimba Keramat. Tak ada seorang pun yang tahu, apa yang mereka lakukan. Ilmu meringankan tubuh yang mereka pergunakan luar biasa. Padahal, beberapa tokoh persilatan yang banyak berkumpul di dekat Rimba Keramat ini bukan orang sembarangan. Rata-rata mereka telah memiliki nama besar dikalangan persilatan.

Yang seorang bersenjata tongkat baja berujung lancip. Kelihatan tak ada yang aneh dengan senjatanya. Di kalangan rimba persilatan, orang ini bernama Sadewa. Sementara itu, kawannya yang melesat di sebelahnya memiliki kumis agak tebal. Wajahnya gagah. Tangannya memegang batang bambu kuning sepanjang lima jengkal. Seperti Sadewa, senjata yang digenggamnya lebih mirip pikulan. Orang ini dikenal bernama Sudewo. Meski memiliki nama yang hampir mirip, tapi mereka bukanlah saudara kembar. Kalangan persilatan mengenal mereka sebagai Iblis Tunggal Bermuka Dua. Karena, ke mana-mana mereka selalu berdua. Begitu juga kalau tengah bertarung.

“Biarkan saja mereka saling membunuh satu sama lain. Mereka memang orang-orang tolol yang tidak punya otak!” desis Sadewa, seraya menyeringai lebar.

Memang dia telah mendengar kalau beberapa orang mulai saling bunuh satu sama lain untuk memperebutkan harta karun yang belum lagi diperoleh.

“Hi-hi-hi...! Keledai-keledai dungu yang malang. Mereka kira bisa memiliki harta pusaka itu...,” sahut Sudewo.

“Hati-hati, Sudewo! Jangan sampai kelima penunggu Rimba Keramat ini mengetahui kehadiran kita. Pasang pendengaranmu tajam-tajam, lalu kerahkan ilmu 'Cecak Terbang' pada tingkat tertinggi...!” Sadewa memperingatkan.

“Beres. Jangan khawatir...!”

Pada suatu tempat yang tidak begitu luas di tengah Rimba Keramat, mereka berhenti melesat. Lalu, mereka melayang turun dengan ringan. Keduanya memperhatikan ke sekelilingnya. Dan setelah mengetahui keadaan telah aman, maka Sadewa melangkah mendekati pohon beringin yang tidak jauh dari tempat itu. Ditelitinya satu persatu akar-akar yang menonjol di permukaan tanah. Lalu ketika menemukan sebuah akar yang berbentuk busur, diperhatikannya sejenak ke kanan pada jarak tiga langkah. Kemudian, mereka sama-sama berjongkok, dan meraba akar-akar itu.

“Kau yakin ini tempatnya?” tanya Sudewo ragu.

“Jangan khawatir, Sobat. Masa kanak-kanakku banyak kuhabiskan di hutan ini, sebelum ayahku terbunuh. Dari beliaulah aku tahu tentang harta karun itu,” sahut Sadewa.

Bola mata Sudewo berbinar gembira mendengar jawaban kawannya. “Hm.... Gum tentu akan gembira bila kita memberikan sebagian harta itu padanya. Bukankah kau ingin sekali membalas budi kebaikannya yang telah mengangkatmu menjadi murid, setelah sekian tahun menjadi gembel? Heh?! Aku tidak sabar untuk melihat harta itu. Tapi, apakah benar-benar harta itu ada? Apakah dulu semasa ayahmu hidup kau pernah melihatnya?” kata Sudewo.

Sadewa menggeleng lemah, sambil menarik akar yang lebih kecil perlahan-lahan. Dan tiba-tiba pada jarak tiga langkah di sebelah kanannya terlihat tanah melesak ke dalam, bagaikan ruang bawah tanah yang memiliki dua daun pintu.

Sadewa buru-buru menghampiri langsung dikuaknya lubang itu lebih lebar. Kini tampak sebuah lubang sedalam satu kaki, di bawah dua buah daun pintu yang terbuat dari batu setebal setengah jengkal. Dengan terburu-buru tangan kanannya merogoh ke dalam. Dan seketika wajahnya berbinar girang, ketika berhasil menggapai sebuah peti kecil. Begitu tangannya dibawa keluar, tampak sebuah kotak kecil berukir seluas satu kali satu setengah jengkal. Tebalnya, setengah jengkal.

“Ha ha ha...! Akhirnya harta ini akan kita miliki juga...!” teriak Sadewa kegirangan, seraya bangkit berdiri.

“Ayo, lekas kita kembali dan keluar dari sini!” ajak Sudewo.

“Pergilah kau lebih dulu, Sudewo...,” ujar Sadewa sambil terus memperhatikan peti dalam genggamannya.

“Heh? Lalu, apa yang akan kau lakukan di sini?” tanya Sudewo, heran.

“Aku....” Sadewa terdiam sejenak, “Aku ingin mengenang arwah ayahku lebih dulu....”

“Hm.... Kalau begitu, biarlah kutemani!” sahut Sudewo cepat.

“Tidak! Aku ingin sendiri. Pergilah kau lebih dulu, nanti aku akan menyusul.”

“Tapi....”

“Tidak apa-apa. Aku bisa menjaga diriku sendiri....”

“Sadewa! Kelima orang itu amat berbahaya. Apalagi, kalau mereka memergokimu. Kau akan kewalahan menghadapi mereka berlima...,” wajah Sudewo tampak cemas.

“Percayalah, aku bisa mengatasi mereka. Nah, pergilah cepat!”

“Baiklah...,” sahut Sudewo dengan berat hati.

Sudewo sama sekali tidak menyadari niat jahat Sadewa yang mulai menari-nari, ketika peti itu telah ditemukannya. Memang sebenarnya Sadewa sendiri yang akan memiliki peti itu sendiri. Dan mereka tidak akan pernah kembali ke tempat yang telah ada dalam perjanjian mereka semula. Dengan demikian terlintas dalam benaknya untuk menguasai harta itu seorang diri.

DELAPAN

Namun sebelum Sudewo melangkah, mendadak....

“Keparat busuk! Bagus! Kalian telah bekerja penuh semangat. Nah, kini berikan peti itu!”

Tiba-tiba terdengar bentakan garang yang disusul berkelebat lima sosok tubuh. Dan seketika Sudewo dan Sadewa diserang dengan ganas.

“Yeaaa...!”
Plup!

Sudewo dan Sadewa cepat melompat sambil mengibaskan senjata masing-masing.

“Hiiih!”

“Sadewa, awas..! Perhatikan orang yang menggunakan senjata sumpit beracun...!” teriak Sudewo, memperingatkan setelah terbebas.

“Ya, aku tahu!”

“Keparat! Berikan peti itu padaku...!” teriak seorang laki-laki cebol. Dia tak lain dari Ki Boncel bersama keempat kawannya, yakni Ki Warkolo, Ki Yudha Paksa, Baureksa, dan Baugorha.

Dengan golok besarnya Ki Warkolo bersama Ki Yudha Paksa mendesak Sudewo mati-matian, dan langsung mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki. Sedangkan Ki Boncel yang dibantu si kembar Baureksa dan Baugorha, mengerubuti Sadewa.

Wuuut!

Tongkat baja berujung runcing di tangan Sadewa berputaran sedemikian rupa untuk menghalau serangan sambil menyerang balik. Angin sambaran senjatanya demikian kuat. Ujungnya yang runcing tampak berkelebat-kelebat seperti hendak merobek kulit. Dan ini membuat ketiga lawannya terkejut bukan main. Maka Baureksa dan Baugorha mencoba menangkisnya.

Trak! Trak!
“Uhhh...!”

Kembali kedua laki-laki kembar itu terkejut. Tangan mereka terasa kesemutan hebat, begitu kedua senjata beradu. Kalau saja tidak buru-buru melompat ke samping niscaya ujung tongkat Sadewa akan merobek dada. Untung saja, serangan Ki Boncel banyak membantu. Apalagi, sumpit perak beracunnya amat merepotkan Sadewa.

Plup!
“Uts...!”

Nyaris jarum-jarum halus beracun itu menyambar ke tengkuk Sadewa kalau saja tidak cepat menghindar dengan membungkukkan kepala. Sementara pada saat itu juga, kapak di tangan Ki Baureksa menderu ke pinggang.

“Yeaaa...!” Sadewa cepat menangkis dengan tongkatnya.

Trak!

“Hiiih!” Dan dia bermaksud balas menyerang. Namun, Baugorha telah melepaskan satu hantaman berupa pukulan jarak jauh. Maka dengan terpaksa Sadewa melompat ke atas, menghindar.

Sementara itu agaknya Ki Boncel menunggu-nunggu saat seperti itu. Seketika tubuhnya langsung mencelat mengejar Sadewa yang berjumpalitan di udara, sambil melepaskan sumpit beracun. Sedang di belakangnya menyusul Baureksa dengan kapak mautnya.

Plup!
Werrr!

Sambil berputaran di udara, Sadewa menghentakkan kedua tangannya ke arah jarum-jarum beracun yang mengancamnya. Angin menderu kencang langsung meluruk, ketika tangan Sadewa terhentak ke depan dalam melepaskan pukulan jarak jauh. Seketika jarum-jarum beracun itu terpental. Bahkan sebagian mengancam Baureksa.

Cras!

“Aaakh...!” Baureksa menjerit, namun masih sempat melemparkan kapaknya. Begitu cepat gerakannya, sehingga Sadewa tak mampu menghindari. Dan....

Crap!

“Aaakh...!” Sadewa kontan menjerit kesakitan, begitu kapak Baureksa membobol perutnya. Tangan kanan yang memegang senjata langsung mendekap luka yang mengucurkan darah. Sedang tangan kirinya terus menjepit peti. Tubuh Sadewa terhuyung-huyung ke belakang. Keadaannya betul-betul sulit. Dan dia terus melompat ke sana kemari, menghindari serangan Baugorha dan Ki Boncel.

Sementara itu tubuh Baureksa telah sempoyongan. Dan begitu ambruk di tanah dia menggelepar-gelepar menahan racun ganas yang merambat cepat ke seluruh aliran darah dan jantung. Dalam sekejap saja, tubuhnya diam tidak berkutik. Nyawanya pun melayang dengan tubuh membiru!

Melihat Baureksa tewas, Baugorha semakin geram. Dia langsung melompat, mendesak Sadewa yang sudah terluka. Dan memang, saat inilah yang ditunggu Ki Boncel.

“Yeaaa...!”

Namun, Sadewa menyadari kalau tidak akan luput dari serangan. Maka dia bertekad mati bersama. Sehingga ketika Baugorha melompat sambil menghantamkan gadanya, Sadewa langsung menunduk. Lalu seketika tongkatnya dikebutkan ke arah pinggang. Begitu cepat gerakannya, dan....

Bret!

“Aaa...!” Baugorha kontan memekik nyaring begitu tongkat Sadewa menyambar pinggangnya hingga nyaris putus. Tubuhnya langsung ambruk bermandikan darah, dan tewas beberapa saat kemudian.

Sementara itu, Sadewa sudah langsung melemparkan tongkatnya ke arah Ki Boncel. Namun laki-laki cebol itu mudah menghindarinya dengan melenting ke atas. Bahkan langsung balik menyerang.

Plup!
Wusss...!

Begitu cepat serangan sumpit Ki Boncel, sehingga Sadewa yang baru saja melepaskan serangan, tidak mampu bangkit lagi. Maka....

Clap!

“Aaakh...!” Sadewa langsung menjerit keras dengan tubuh terhuyung-huyung, ketika jarum-jarum beracun menembus jantungnya. Tepat ketika Ki Boncel mendarat manis di tanah, Sadewa ambruk dengan tubuh membiru. Begitu mendarat Ki Boncel segera melompat. Langsung direbutnya peti di tangan Sadewa.

“Ha ha ha...! Akhirnya harta karun itu menjadi milikku! Ha ha ha...!”

Manusia cebol itu terus ketawa kegirangan, seperti anak kecil yang baru mendapat mainan kesukaannya. Namun ketika hendak melompat meninggalkan tempat itu, tiba-tiba berkelebat satu bayangan putih yang begitu cepat.

“Kisanak! Hentikan pertumpahan darah ini Kalian hanya memperebutkan pepesan kosong belaka!”

Terdengar bentakan keras menggelegar, ketika bayangan putih itu telah mendarat tepat dua tombak di hadapan Ki Boncel.

Seketika, pertarungan yang terjadi antara Sudewo melawan Ki Warkolo dan Ki Yudha Paksa terhenti. Dan mereka semua yang hadir langsung mengalihkan perhatian ke arah asal suara. Terlebih lagi, Ki Boncel. Laki-laki cebol itu kontan berubah geram melihat ada orang usil di depannya.

“Kurang ajar! Siapa kau...?!” bentak Ki Boncel geram, sambil mengamati seorang pemuda tampan berbaju rompi putih, dengan pedang berhulu kepala burung rajawali di punggung. Mata laki-laki kerdil itu terus merayap dari ujung kaki, sampai ujung rambut.

“Kisanak! Namaku, Rangga. Kedatanganku hanya untuk mengingatkan kalau kalian hanya memperebutkan harta benda yang tiada artinya!” ujar pemuda yang tak lain Pendekar Rajawali Sakti lantang.

“Huh! Manis benar bicaramu! Kau kira aku bisa percaya begitu saja? Peti ini berisi harta yang tak ternilai harganya. Tujuh tahun aku mencarinya. Dan setelah kutemukan, enak saja kau berkata begitu. Kau pasti salah satu di antara mereka yang ingin mengincar harta ini. Kusarankan, sebaiknya pergi dari sini sebelum mampus!” ancam Ki Boncel geram.

Belum sempat Rangga menjawab terdengar suara teriakan-teriakan yang saling susul-menyusul. Rupanya, orang-orang rimba persilatan yang mengincar harta karun mulai banyak berkumpul di tempat ini. Bahkan mereka langsung mengepung Rangga. Memang, agaknya sebagian besar mengenal betul pemuda berbaju rompi putih itu.

“Hei? Bukankah itu Pendekar Rajawali Sakti?!” seru seseorang.

“Betul! Mau apa dia ke sini?” sahut seseorang.

“Mungkin dia mengincar harta itu juga!” jawab yang lain.

“Celaka! Saingan kita bertambah berat kali ini!” celoteh yang lain, menggerutu kesal.

“Huh! Persetan dengan Pendekar Rajawali Sakti! Biar mereka saling bunuh, dan kita akan memetik hasilnya!” timpal yang lain, sambil mendengus geram.

Agaknya kata-kata terakhir orang tadi, membuat yang lain tidak segera turun tangan untuk merebut peti dalam genggaman Ki Boncel. Mereka sadar kalau pemuda berbaju rompi putih itu memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Demikian pula laki-laki cebol itu, dan dua orang temannya yang tersisa. Kalau mereka saling bunuh, tentu kesempatan akan terbuka lebih lebar. Sebab, saingan yang memiliki kepandaian tinggi akan berkurang.

“Hm.... Jadi kau Pendekar Rajawali Sakti? Bocah! Pergilah kau! Meski namamu setinggi langit, tidak bakalan aku takut padamu. Sebaiknya, sayangi jiwamu. Nah, pergilah sebelum terlambat!” ujar Ki Boncel seraya mendengus sinis.

“Kisanak! Harap tidak salah menduga. Aku sama sekali tidak menginginkan harta yang kau katakan. Tapi melihat banjir darah hanya karena memperebutkan pepesan kosong, adalah suatu tindakan keji dan sia-sia...,” sahut Rangga.

“Lalu, apa maumu?” tantang Ki Boncel.

“Bukalah peti itu. Dan, tunjukkan pada semua orang yang berada di sini bahwa sebenarnya kalian mengorbankan nyawa sia-sia....”

“Ha ha ha...! Enak saja bicaramu. Bocah. Setelah kubuka peti ini, maka kau akan merampasnya dariku. Huh! Langkahi mayatku lebih dulu!” dengus Ki Boncel sinis.

“Biar kubereskan orang ini, Ki!” geram Ki Warkolo yang agaknya sudah naik pitam mendengar tingkah Pendekar Rajawali Sakti.

“Ya, ya.... Bereskan cepat! Setelah itu, kau susul aku ke tempat persembunyian kita. Harta ini akan kita bagi berdua,” sahut Ki Boncel cepat.

“Yeaaa...!”

Belum juga kering kata-kata Ki Boncel, Ki Warkolo langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Golok besar di tangannya cepat menyambar ganas seperti hendak mencincang pemuda itu.

“Uts!” Rangga menghindar dengan melompat ke atas cepat bagai kilat Sehingga serangan itu hanya menyambar angin. Namun, rupanya Ki Warkolo terus mengejar. Pendekar Rajawali Sakti sadar kalau lawannya ini memiliki kepandaian tinggi. Sehingga dia tidak ragu-ragu lagi mengerahkan gabungan dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti'. Maka begitu kedua kakinya menyentuh tanah, saat itu juga tubuhnya kembali mencelat sambil mengayunkan tendangan keras. Begitu cepat gerakannya, sehingga Ki Warkolo yang masih mengejar jadi terkesiap. Karena untuk menghindar sudah tak mungkin lagi, maka buru-buru tangannya mengibas hendak memapak tendangan Pendekar Rajawali Sakti.

Plak!

Ki Warkolo menjerit keras begitu tangannya yang memegang golok membentur kaki Pendekar Rajawali Sakti yang berisi tenaga dalam tinggi. Seketika golok itu terlepas dari genggaman dan mencelat entah ke mana. Dan belum lagi habis rasa terkejutnya, kaki Rangga kembali menyapu keras ke arah dada.

Des!

“Aaakh...!” Tidak ampun lagi Ki Warkolo kembali menjerit keras. Tubuhnya kontan terjungkal beberapa langkah disertai semburan darah segar. Dan begitu ambruk di tanah, Ki Warkolo tidak berkutik lagi. Mati!

Melihat Ki Warkolo tewas, Ki Boncel hendak melarikan diri. Namun belum juga jauh berkelebat, Pendekar Rajawali Sakti sudah melenting kembali dengan gesit. Seketika Rangga menghadang jalan manusia cebol yang tampak begitu terkejut.

“Aku tidak ingin bertindak keras padamu. Maka selesaikanlah persoalan ini dengan baik. Buka peti itu, dan perlihatkan pada semua orang bahwa di dalamnya tidak terdapat apa-apa!” ujar Pendekar Rajawali Sakti menegaskan.

“Persetan dengan ocehanmu...! Hiyaaat..!” bentak Ki Boncel. Laki-laki cebol itu langsung menghantam Pendekar Rajawali Sakti dengan pukulan mautnya.

“Uts...!” Rangga cepat bagai kilat melompat sehingga pukulan itu terus menghantam sebatang pohon hingga hancur berantakan.

Namun serangan Ki Boncel tidak berhenti sampai di situ. Begitu serangannya gagal, dia langsung melompat menerjang. Bahkan langsung mengerahkan tenaga dalam tinggi dalam pukulannya.

Bagaimanapun laki-laki cebol ini menyadari kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa dipandang enteng. Maka untuk itu, dia tidak mau berlaku ayal-ayalan. Sedikit saja lengah, bukan tidak mungkin pemuda itu akan menjatuhkannya. Sehingga harta karun yang sudah tujuh tahun diburu, harus lepas begitu saja dalam sekejap? Maka tidak heran bila Ki Boncel menggunakan segala cara untuk menghabisi pemuda itu secepat mungkin.

Tampak Pendekar Rajawali Sakti kerepotan juga menghadapi amukan Ki Boncel yang mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki. Dan ini agaknya membuat Rangga menjadi kesal juga.

“Kisanak! Kau terlalu memaksaku. Maaf, aku harus mempertahankan diri...,” sentak pemuda itu seraya mencabut Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

Sring!

“Heh?!" Seberkas sinar biru seketika terpancar dari batang pedang Pendekar Rajawali Sakti. Dan ini sungguh membuat Ki Boncel terkejut bukan main. Demikian pula mereka yang menyaksikan. Mereka semua terlongong bengong, tanpa ada seorang pun yang berani mampu untuk mengeroyok Pendekar Rajawali Sakti.

Ternyata sinar kebiruan yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti membuat Ki Boncel menjadi lengah. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan Pendekar Rajawali Sakti. Maka dengan tiba-tiba. Rangga cepat berkelebat sambil membabatkan pedangnya dengan gerakan cepat bukan main. Ki Boncel jadi terkesiap. Untuk mengelak, rasanya memang tidak mungkin. Maka dengan sebisanya, dipapaknya kibasan pedang bercahaya biru berkilauan itu dengan sumpit peraknya.

Tras!

Ki Boncel semakin terkesiap ketika sumpit perak di tangannya kontan putus sebatas genggaman, begitu menghantam pedang Pendekar Rajawali Sakti. Dan belum habis rasa terkejutnya, satu tendangan keras bukan main telah menghantam dadanya.

Dugkh!

“Aaakh...!” Ki Boncel memekik keras dengan tubuh terjungkal dua tombak, begitu tendangan Pendekar Rajawali Sakti telak menghantam dadanya. Tampak darah menggelegak dari mulutnya yang ternganga. Peti di tangannya pun langsung terlepas dan jatuh ke tanah. Begitu ambruk di tanah, Ki Boncel langsung menggelepar-gelepar meregang nyawa. Sebentar kemudian, tubuhnya diam tak berkutik lagi.

Sementara itu Rangga segera menghampiri peti yang tergeletak di tanah. Kemudian dia berdiri tegak dengan tangan kiri mengacungkan peti yang baru saja dipungutnya sambil memandang ke sekeliling. Tangan kanannya memasukkan pedang ke warangkanya. Maka, sinar biru berkilauan kini tenggelam kembali dalam sarungnya.

“Kisanak semua! Hari ini kita akan melihat benda yang selama ini menjadi rebutan dan telah mengorbankan begitu banyak jiwa. Kalau benar peti ini berisi harta karun, maka aku bersumpah akan membagikannya pada orang miskin. Dengan begitu, mudah-mudahan pertumpahan darah bisa dihindari...!” teriak Rangga lantang.

Rangga langsung membuka peti ditangannya yang terkunci rapat. Dan dengan sekali sentak, kunci yang terbuat dari baja itu putus. Seketika, dibukanya tutup peti lebar-lebar. Lalu, ditunjukkannya isi peti pada semua orang yang ada ditempat ini.

“Heh? Kosong...?!” mereka tersentak-kaget.

“Kosong? Mustahil...!” desis yang lain tidak percaya.

Rangga tersenyum kecil. Lalu diraihnya secarik kulit kambing yang berada di dalam peti itu. Diperhatikan sesaat secarik kulit binatang yang berisikan tulisan tangan.

Harta yang paling berharga ada pada orang yang berbudi, tidak sombong dan serakah, serta saling tolong terhadap sesama. Selalu tunduk dan patuh pada perintah dan larangan Yang Maha Kuasa.

ttd
Ki Welas Asih


Rangga membaca tulisan itu keras-keras, sehingga membuat yang lain semakin kaget bukan main.

“Apa?! Mustahil! Tidak mungkin!” teriak salah seorang seraya merampas tulisan berikut isi peti itu dari tangan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga membiarkannya saja. Diperhatikannya orang itu meneliti isi tulisan dengan seksama. Kemudian, matanya memandang geram. Dan tiba-tiba saja, dibantingnya peti itu keras-keras.

“Tidak mungkin! Kalian semua gila!” teriak orang itu.

“Itulah harta karun yang ditinggalkan Ki Welas Asih. Siapa berminat boleh mengambilnya. Dan yang tidak, harap segera meninggalkan tempat ini...!”

Tanpa bicara satu persatu segera melangkah gontai meninggalkan Rimba Keramat. Dan kini Rimba Keramat kembali sepi, seperti tak pernah terjadi apa-apa. Hanya mayat-mayat yang bergeletakan di tanah yang menjadi saksi bisu atas segala yang terjadi di Rimba Keramat.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: PEMBERONTAKAN DI KERTALOKA
Thanks for reading Misteri Rimba Keramat I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »