Intan Saga Merah

INTAN SAGA MERAH

SATU
"Auuu...!"

Lolongan anjing hutan terdengar begitu panjang memilukan membuat bulu-bulu kuduk empat anak muda yang tengah meronda di Desa Randu Sangit jadi meremang. Mereka duduk agak merapat, melingkari seonggok api unggun yang menyala tidak begitu besar. Api yang menghanguskan tumpukan ranting kering itu, seakan tidak dapat menghalau dinginnya malam ini.

"Auuu...!"

Kembali terdengar lolongan anjing. Dan kali ini terasa begitu dekat dengan keempat anak muda yang meronda itu. Sesaat mereka saling melempar pandang. Dan seperti ada yang memberi perintah, mereka sama-sama berdiri. Kembali mereka saling melempar pandang satu sama lain. Jelas sekali tersirat dari cahaya bola mata mereka, sesuatu yang begitu menakutkan. Bayang-bayang buruk langsung menyergap mereka tanpa dapat disembunyikan lagi

"Kang..., sebaiknya kita pulang saja. Aku takut..," desis salah seorang yang menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kain sarung kumal. Suaranya terdengar begitu pelan, seperti berbisik. Seakan-akan, ucapannya takut terdengar sampai jauh.

"Kita tidak bisa meninggalkan tempat ini, sebelum datang penggantinya," sahut anak muda yang berbaju merah menyala. Sebuah golok bergagang hitam tampak terselip di pinggangnya.

"Tapi, Kang...."

Belum lagi sanggahan itu bisa dilanjutkan, mendadak saja terasa ada hembusan angin yang cukup kencang. Begitu dinginnya, hingga menusuk tulang. Tak tahan dengan udara yang begitu dingin, keempat anak muda itu langsung berpindah saling merapatkan tubuh. Dan kembali mereka disergap oleh keheningan yang begitu mencekam. Malah, api unggun yang tadi menyala, kini padam oleh hembusan angun tadi.

"Hm.... Aku merasa ada orang di sekitar sini," kata anak muda berpakaian merah itu perlahan. Suaranya terdengar setengah berbisik, "Diamlah kalian..."

"Kang...."

Hampir bersamaan, ketiga anak muda yang lain mendesis ketakutan. Dan belum lagi ada yang bisa berbuat sesuatu, tiba-tiba saja....

Wusss...!

"Awaaas...!" Tepat di saat anak muda berbaju merah itu berteriak memperingati, terlihat sebuah bayangan biru berkelebat begitu cepat bagai kilat. Dan belum juga ada seorang pun yang bisa berbuat sesuatu....

"Aaaakh...!"

Terdengar jeritan panjang memilukan. Dan saat itu juga, salah seorang dan empat anak muda peronda ambruk menggelepar. Lehernya langsung terkoyak lebar, hingga hampir buntung. Darah segar kontan mengalir deras sekali dari leher yang berlubang menganga lebar. Hanya sebentar saja anak muda yang malang itu menggelepar, kemudian diam tidak berkutik-kutik lagi. Mati.

Sementara, ketiga anak muda yang lain jadi terbeliak lebar. Mereka seperti tidak percaya dengan apa yang dilihat barusan. Salah seorang dari teman mereka tiba-tiba saja menggeletak, tidak bernyawa lagi dengan leher berlubang mengucurkan darah segar.

"Cabut senjata kalian...!" sentak anak muda yang berbaju merah, lantang.

Sret! Slap...!

Begitu anak muda berbaju merah itu mencabut goloknya, kembali terlihat sebuah bayangan biru berkelebat begitu cepat bagai kilat. Sehingga hanya seberkas cahaya biru yang melesat begitu cepat melewati ketiga anak muda peronda itu. Dan....

"Aaaa...!"

Malam yang begitu hening, kembali dipecahkan oleh jeritan panjang dan melengking tinggi, mengiringi kematian seorang lagi anak muda peronda di Desa Randu Sangit. Dalam beberapa kejapan mata saja, sudah dua orang yang tergeletak tidak bernyawa lagi dengan leher berlubang besar mengeluarkan darah segar.

Dan saat itu juga, salah seorang yang masih tersisa langsung mengambil langkah seribu. Dia lari lintang pukang sambil berteriak sekuat kuatnya. Tapi baru saja berlari beberapa tombak, kembali terlihat kilatan cahaya biru yang begitu cepat, memotong arah lari anak muda itu. Dan....

Bret!

"Aaaa...!" Satu lagi terdengar jeritan yang begitu panjang dan melengking tinggi. Kemudian disusul ambruknya anak muda yang melarikan diri tadi ke tanah. Tampak darah segar mengalir begitu deras dari lehernya yang terkoyak lebar, seperti tercabik kuku-kuku harimau yang sangat tajam bagai mata pisau.

"Keparat..!" desis anak muda berbaju merah. Dia kini tinggal seorang saja.

Kegeraman memang menyelimuti hati anak muda ini. Tapi di balik hatinya, juga terselip rasa takut yang amat sangat. Goloknya kini sudah melintang di depan dada. Dan kedua bola matanya beredar ke sekeliling, merayapi sekitarnya yang terlihat begitu gelap.

Dan memang, malam ini terasa begitu gelap. Sedikit pun tak ada cahaya dari rembulan yang menyembunyikan diri di balik gulungan awan tebal menghitam. Ditambah lagi, tidak ada satu rumah pun yang menyalakan pelita. Hingga malam ini seluruh wilayah Desa Randu Sangit jadi terasa begitu gelap dan mencekam.

"Keluar kau, lblis Keparat...! Tampakkan dirimu...!" teriak anak muda itu lantang menggelegar suaranya. "Kalau berani, hadapi Banyugara, lblis Keparat..!"

Suara anak muda berbaju merah yang mengaku sebagai Banyugara itu hanya tertelan oleh sapuan angin malam yang menyebarkan udara dingin menggigilkan. Kembali pandangannya beredar ke sekeliling. Tapi, sedikit pun tidak ada tanda-tanda adanya orang lain di sekitarnya. Begitu sunyi dan mencekam keadaan sekelilingnya. Seakan-akan dia berada di tengah-tengah hutan yang begitu gelap, tanpa seorang pun yang menemani.

"Phuih! Ternyata kau hanya berani main belakang! Pengecut...!" teriak Banyugara. Suaranya masih lantang menggelegar. Dan belum lagi suara Banyugara menghilang dari pendengaran, mendadak saja...

"Ghrogkh...!"

"Heh...?!" Banyugara jadi kaget setengah mati, begitu tiba-tiba terdengar suara menggorok yang begitu keras dari belakangnya. Cepat tubuhnya berbalik. Dan pada saat itu juga...

"Hah ...?!"

"Ghraaaugkh...!"

Belum lagi Banyugara bisa memastikan apa yang ada di depannya, mendadak saja dari depan sudah melesat sebuah bayangan biru yang begitu cepat bagai kilat. Seketika kedua bola mata anak muda itu jadi terbeliak lebar dengan mulut ternga nga. Namun begitu bayangan biru itu sudah dekat, Banyugara cepat membanting tubuhnya ke tanah sambil mengibaskan golok ke depan

Bet!

Beberapa kali Banyugara bergulingan di tanah. Lalu dengan gerakan manis sekali, dia melompat bangkit berdiri. Namun belum juga kedua kakinya bisa mantap menjejak tanah kembali bayangan biru itu berkelebat cepat bagai kilat menenang ke arahnya.

"Haiiit. .!"

Tidak ada jalan lain lagi bagi Banyugara, kecuali harus membanting tubuhnya ke tanah dan bergulingan beberapa kali, untuk menghindari serangan bayangan biru itu.

"Hup!'

Bet!

Sambil cepat mengebutkan goloknya, Banyugara kembali melompat bangkit berdiri. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya langsung melesat cepat, mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang lumayan, pergi dari situ.

"Hiyaaa...!" Sambil berteriak keras, Banyugara melompati sebuah rumah yang beratapkan rumbia. Lalu manis sekali kedua kakinya menjejak tanah lagi, setelah melewati atap rumah itu. Dan dia terus berlari mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya. Sedikit kepalanya berpaling kebelakang. Dan memang, bayangan biru itu tidak mengejarnya.

"Aku harus cepat memberitahu Ki Saragating. Hiyaaa...!"

Banyugara mengempos seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuh, hingga bisa berlari begitu cepat. Dan arahnya jelas menuju rumah gurunya yang berada di sebelah timur Desa Randu Sangit ini.

"Ki...!"

Wusss!
Bruk!

Tepat begitu Banyugara tiba di depan pintu rumah Ki Saragating, kembali melesat kilatan cahaya biru yang begitu cepat juga, Banyugara jatuh terguling di lantai beranda rumah Ki Saragating yang terbuat dari belahan kayu pohon.

Teriakan Banyugara yang begitu keras, rupanya mengejutkan Ki Saragating yang berada di dalam. Cepat laki-laki tua itu membuka pintu. Dan kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, melihat muridnya menggeletak di lantai beranda depan rumahnya dengan leher terkoyak lebar mengucurkan darah.

"Banyugara...," desis Ki Saragating agak tertahan suaranya di tenggorokan. Belum juga Ki Saragating bisa berbuat sesuatu....

"Ghroooogkh...!"

"Oh...?!" Sulit untuk dilukiskan, bagaimana terkejutnya Ki Saragating ketika tiba-tiba saja terdengar suara menggorok yang begitu keras. Dan tepat pada saat itu, terlihat sebuah bayangan biru berkelebat cepat bagai kilat.

"Hup...!" Ki Saragating cepat-cepat melompat menghindari terjangan bayangan cahaya biru yang meluruk begitu cepat hendak menyerangnya.

Brak!

"Heh...?!" Kembali Ki Saragating terkesiap, begitu melihat pintu depan rumahnya hancur berkeping-keping terlanda cahaya biru yang baru saja dihindarinya. Sementara, dia sendiri kini sudah berada di halaman depan rumahnya. Sedangkan bayangan cahaya biru itu sudah tidak terlihat lagi, entah pergi ke mana tanpa dapat diketahui.

"Demi dewa-dewa di kayangan! Aku tidak tahu, makhluk apa itu...," desis Ki Saragating perlahan.

Sret! Criiing...!

Perlahan orang tua berjubah putih panjang itu meloloskan pedang dari sarungnya yang tersembunyi di balik jubahnya yang panjang dan longgar. Kilatan cahaya dari pedangnya tampak memendar, terjilat cahaya lampu pelita yang tergantung di tengah-tengah atap beranda depan rumahnya. Dan suasana jadi sunyi senyap, tanpa terdengar suara sedikit pun. Ki Saragating mengedarkan pandangannya berkeliling tapi sedikit pun tidak bisa melihat tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Begitu sunyi dan terasa mencekam, membuatnya harus bersikap lebih hati-hati lagi.

"Hm..." Ki Saragating menggumam perlahan sambil menggeser kakinya ke kanan.

Orang tua itu merasakan kesunyian yang begitu mencekam. Sehingga telinganya sedikit pun tidak mendengar apa-apa, kecuali detak jantungnya saja yang memburu, disertai dengus napas.

"Ghrogkh!"

"Heh...?!" Ki Saragating jadi tersentak kaget setengah mati, begitu tiba-tiba terdengar suara menggorok yang keras sekali dari belakang. Cepat tubuhnya berbalik. Dan pada saat itu juga, terlihat sebuah bayangan bercahaya biru berkelebat begitu cepat kearahnya. Seketika kedua bola mata orang tua itu jadi terbeliak lebar, dengan mulut ternganga. Tapi, Ki Saragating bisa cepat menguasai keadaan. Dan...

"Hap! Yeaaah...!"

Wut!

Sambil berteriak nyaring, Ki Saragating mengebutkan pedangnya ke depan, tepat di saat bayangan bercahaya biru itu dekat di depannya. Bersamaan dengan itu, tubuhnya diliukkan ke kiri hingga miring. Tapi Ki Saragating jadi terperangah. Pedangnya yang diikebutkan dengan kecepatan sangat tinggi, terasa hanya membabat angin saja. Sementara, bayangan cahaya biru itu sudah melesat begitu cepat ke atas kepalanya. Maka satu sambaran angin yang sangat kuat, disertai hembusan hawa panas menyengat seketika terasa bagai membakar kulitnya.

"Hup...!" Cepat-cepat Ki Saragating melompat jauh ke belakang dengan berputaran beberapa kali di udara. Lalu manis sekali kakinya menjejak di tanah, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Jelas, ilmu meringankan tubuhnya sudah demikian tinggi. Sementara, sekitar tiga batang tombak di depannya, terlihat segumpal cahaya biru yang begitu terang menyilaukan mata.

"Dewata Yang Agung...! Apa itu...?" desis Ki Saragating dengan mata terbeliak lebar.

Sulit bagi Ki Saragating untuk bisa melihat jelas, makhluk apa yang ada di depannya. Yang terlihat hanya gumpalan cahaya biru terang, dengan sebentuk tubuh yang sangat besar berada di tengah-tengah pancaran cahaya biru itu. Demikian terangnya, sampai-sampai rumah Ki Saragating tidak terlihat lagi.

Perlahan Ki Saragating menarik kakinya ke belakang beberapa langkah. Kedua bola matanya terus dipentang lebar, mencoba melihat sosok bentuk tubuh yang bersembunyi di balik gumpalan cahaya biru yang memancar terang menyilaukan mata.

Memang sulit bagi Ki Saragating untuk bisa melihat jelas. Bahkan cahaya biru yang memancar terang itu semakin menyakitkan matanya. Sehingga, pandangannya jadi mulai mengabur. Ki Saragating terus melangkah mundur perlahan-lahan. Sementara, sosok makhluk yang mengeluarkan cahaya biru terang itu tetap diam tidak bergeming sedikit pun.

"Oh...?!" Ki Saragating jadi tersedak, ketika punggungnya terasa menyentuh sesuatu yang keras. Sedikit kepalanya berpaling ke belakang. Ternyata sebatang pohon yang sangat besar berada tepat di belakangnya, menempel rapat pada punggungnya. Dan pada saat itu juga, makhluk yang memancarkan cahaya biru terang menyilaukan bergerak. Lalu...

Slap!

"Oh...?! Hup!" Cepat-cepat Ki Saragating membanting tubuhnya ke tanah. Dan tubuhnya langsung bergulingan beberapa kali, menghindari kilatan cahaya biru yang melesat begitu cepat bagai kilat. Maka cahaya biru terang itu pun langsung menghantam pohon yang berada tepat di belakangnya tadi.

Glaaar!

"Edaaan...!" Ki Saragating jadi merutuk sendiri dalam hati, begitu melihat pohon besar yang tadi di belakangnya seketika hancur berkeping-keping terlanda cahaya biru yang melesat ke arahnya. Bergegas dia melompat bangkit berdiri, dan menyilangkan pedangnya di depan dada. Sementara, makhluk bercahaya biru terang itu tetap berada di depan rumah laki-laki tua itu. Sedangkan Ki Saragating sendiri sudah kembali berdiri tegak, berjarak sekitar enam batang tombak dari makhluk itu.

Orang tua itu memang sengaja menjaga jarak, karena merasa kalau makhluk yang dihadapinya sangat berbahaya. Dia tidak tahu, makhluk apa di depannya ini, yang sudah menewaskan muridnya tadi. Perlahan Ki Saragating menggeser kakinya ke kanan. Namun, tatapan matanya tidak berkedip sedikit pun memandangi makhluk bercahaya biru terang di depannya. Dan tiba-tiba saja...

Wusss...!

Makhluk bercahaya biru terang itu melesat tinggi ke angkasa, dan terus meluncur deras bagai kilat melewati orang tua berjubah putih ini. Ki Saragating langsung merunduk dengan tubuh berputar Tapi. makhluk aneh bercahaya biru itu terus melesat cepat bagai kilat, seperti terbang di angkasa. Begitu cepatnya, hingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap tak terlihat lagi.

Dan pada saat itu juga, terlihat cahaya-cahaya obor yang bergerak menuju ke rumah Ki Saragating. Kemudian, terdengar suara-suara orang yang bercampur hentakan kaki semakin mendekat.

Ki Saragating segera memasukkan pedang ke dalam sarungnya di balik jubah putih yang dikenakannya. Tubuhnya lantas berputar memandangi orang-orang yang berdatangan ke rumahnya sambil membawa obor dan berbagai macam bentuk senjata.

"Oh! Untunglah mereka cepat datang...," desah Ki Saragating dalam hati.

Ki Saragating tahu, mereka yang datang adalah penduduk Desa Randu Sangit. Dia melihat yang berada paling depan adalah Ki Sampatan, Kepala Desa Randu Sangit ini. Mereka masuk ke halaman depan rumah Ki Saragating. Langsung dirubunginya orang tua ini. Sedangkan Ki Sampatan segera menghampirinya.

"Aku mendengar ada ribut-ribut di sini. Apa yang terjadi, Kakang?" tanya Ki Sampatan langsung.

"Entahlah, Sampatan. Aku sendiri serasa masih bermimpi. Tapi...," Ki Saragating tidak melanjutkan kata-katanya.

Orang tua itu langsung teringat muridnya yang masih tergeletak tidak bernyawa di beranda depan rumahnya. Bergegas dihampirinya mayat Banyugara yang tergeletak dengan leher terkoyak lebar hampir buntung. Darah sudah mulai membeku di sekitar lehernya yang menganga lebar. Semua orang yang ada di tempat itu jadi bergidik ngeri, melihat keadaan Banyugara. Mereka semua tahu, Banyugara bukan hanya murid tunggal Ki Saragating. Tapi, sudah seperti anak bagi orang tua yang rumahnya menyendiri dari rumah-rumah lain di Desa Randu Sangit ini.

Ki Saragating mengangkat tubuh murid tung-galnya, dan memeluknya dengan mata berkaca-kaca. Sementara, semua orang yang ada di sekitarnya hanya bisa diam memandangi. Ki Sampatan menghampiri orang tua ini. Sedangkan Ki Saragating sudah membaringkan lagi muridnya. Perlahan dia berdiri, dan langsung menatap Ki Sampatan dengan bola mata berkaca kaca. Tidak ada lagi yang bisa dikatakan pada kepala desa ini. Dan semua orang pun tidak ada yang membuka suara. Mereka hanya bisa memandangi dengan raut wajah memancarkan duka yang begitu mendalam.

********************

DUA

Bukan hanya Ki Saragating saja yang berduka kehilangan murid tunggal yang sudah dianggap anak. Semua penduduk Desa Randu Sangit pun berduka atas tewasnya tiga orang putra mereka yang bersamaan dengan Banyugara. Mereka tahu, anak-anak muda itu memang mendapat tugas ronda malam itu. Dan pagi ini, seluruh Desa Randu Sangit diselubungi kabut duka yang mendalam. Semua orang kini mengantar kepergian empat anak muda yang tewas ke tempat peristirahatan yang terakhir.

Sementara, Ki Saragating sendiri tidak keluar dari dalam rumahnya, setelah menguburkan jasad murid tunggalnya. Namun di saat matahari berada tepat di atas kepala, orang tua itu keluar dari dalam rumahnya. Ki Sampatan yang memang sejak tadi terus memperhatikan orang tua itu bergegas menghampiri Ki Saragating menghentikan ayunan kakinya, tepat setelah berada di luar pagar halaman rumahnya. Dia seperti menanti kedatangan Ki Sampatan yang menghampirinya dengan langkah lebar. Kepala Desa Randu Sangit itu berhenti melangkah, tepat sekitar tiga langkah lagi di depan orang tua yang dikenal sebagai pertapa ini.

"Mau ke mana kau, Kakang?" tegur Ki Sampatan halus.

"Mencari pembunuh muridku," sahut Ki Saragating pelan, seperti sudah tidak punya semangat hidup lagi.

"Kau tahu siapa orangnya, Kakang?" tanya Ki Sampatan lagi.

Ki Saragating tidak langsung menjawab. Dipandanginya kepala Jesa itu dengan sinar mata begitu redup, seperti tidak lagi memiliki cahaya kehidupan. Tatapan mata yang redup itu dibalas Ki Sampatan dengan sorot mata tajam. Ki Saragating menghembuskan napas panjang, lalu mengarahkan pandangannya jauh ke depan. Kembali dihembuskannya napas panjang yang terasa begitu berat. Sementara, Ki Sampatan terus memandanginya, seolah-olah ingin mencari jawaban dari semua kejadian berdarah semalam.

Ki Saragating memang belum menceritakan semua yang terjadi semalam di halaman rumahnya. Dia sendiri masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi, sampai muridnya tewas begitu mengerikan. Dan memang tidak ada seorang pun yang tahu betul kejadiannya. Ki Saragating sendiri masih diliputi seribu macam pertanyaan yang belum bisa terjawab. Dia tidak tahu, makhluk apa yang ditemuinya semalam.

"Kau menyembunyikan sesuatu padaku, Kakang...," kata Ki Sampatan, bemada mendesak.

"Tidak ada yang kusembunyikan padamu, Sampatan. Aku sendiri tidak tahu, harus mengatakan apa padamu. Semua yang terjadi padaku, seakan seperti sebuah mimpi buruk," sahut Ki Saragating pelan, seakan bicara pada diri sendiri.

"Siapa yang melakukan pembunuhan itu, Kakang?" tanya Ki Sampatan lagi.

"Entahlah.... Aku sendiri tidak yakin dengan yang kulihat semalam," sahut Ki Saragating, agak mendesah perlahan.

Nada suara laki-laki tua itu jelas kalau merasa tidak yakin dengan kata-katanya sendiri. Dan ini membuat kelopak mata Ki Sampatan jadi berkerut. Baginya Ki Saragating sudah seperti bukan orang lain saja. Orang tua ini sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Bahkan segala persoalan yang dihadapinya, selalu dibicarakan pada Ki Saragating.

Memang, Ki Saragating orang tertua di Desa Randu Sangit. Semua orang yang tinggal di desa ini begitu menghormatinya. Malah sepertinya segala persoalan yang ada, tidak akan terselesaikan kalau belum ditangani orang tua ini. Maka sudah barang tentu Ki Sampatan merasa begitu berat untuk melepas kepergian Ki Saragating, yang ingin mencari makhluk aneh pembunuh Banyugara serta tiga orang anak muda yang meronda bersamanya semalam.

"Ceritakan padaku, Kakang. Mungkin saja aku bisa membantumu," pinta Ki Sampatan.

"Kau hanya akan menertawakan aku saja, Sampatan. Sebaiknya kau tidak perlu tahu. Biar semua ini aku yang bereskan," tolak Ki Saragating dengan halus.

"Apa pun yang kau katakan, aku percaya padamu, Kakang," desak Ki Sampatan.

Ki Saragating hanya tersenyum saja. Namun senyumnya seperti dipaksakan. Begitu hampa. Dia tahu, kalau kepala desa itu hanya ingin tahu kejadian semalam yang sesungguhnya. Namun kalau diceritakan juga, belum tentu kepala desa ini akan percaya begitu saja. Bahkan bukannya tidak mungkin akan menganggap dirinya sudah gila.

Pembunuh Banyugara dan tiga orang anak muda lainnya itu memang bukan manusia biasa. Dia adalah sosok makhluk yang mengeluarkan cahaya biru terang. Entah makhluk apa itu.... Ki Saragating sendiri tidak tahu. Bahkan hampir saja membunuhnya, kalau Ki Sampatan dan semua orang Desa Randu Sangit tidak segera datang.

"Aku pergi dulu, Sampatan," pamit Ki Saragating.

"Ke mana kau akan pergi, Kakang?" tanya Ki Sampatan.

"Entahlah...," sahut Ki Saragating agak mendesah.

Tanpa bicara lagi, Ki Saragating langsung saja melangkah meninggalkan kepala desa itu. Dia terus berjalan perlahan-lahan menuju ke arah timur. Sementara, Ki Sampatan hanya memandangi saja dengan segudang pertanyaan berkecamuk dalam kepalanya. Sampai punggung orang tua itu tidak terlihat lagi, Ki Sampatan baru meninggalkan halaman depan rumah Ki Saragating.

********************

Sudah lebih satu purnama Ki Saragating mengembara mencari makhluk aneh bersinar biru yang sudah membunuh murid tunggalnya. Entah, sudah berapa desa dimasuki. Tapi belum juga ditemukan tanda-tanda, di mana makhluk aneh bersinar biru itu berada. Dan entah sudah berapa hutan dijelajahinya. Namun sampai hari ini, belum juga mendapatkan hasil yang diinginkan. Tapi Ki Saragating tidak juga berputus asa. Dia terus mengembara, menjelajahi tempat-tempat yang dianggap bisa bertemu pembunuh murid tunggalnya.

Dan senja ini, Ki Saragating baru saja keluar dari dalam hutan yang cukup lebat. Orang tua itu berhenti di tepi hutan, memandangi matahari yang sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Cahayanya yang semula begitu terik, kini terasa lembut menyapu kulit.

"Hhhh...! Ke mana lagi aku harus mencari...?" keluh Ki Saragating seperti putus asa.

Orang tua ini memang tidak tahu lagi, harus pergi ke mana mencari makhluk aneh itu. Di semua tempat yang sudah dilalui, sedikit pun tidak terlihat adanya tanda-tanda kalau makhluk aneh bersinar biru terang itu. Ki Saragating memutar tubuhnya ke kanan. Dan keningnya jadi berkerut, begitu melihat sebuah bukit batu yang tidak begitu tinggi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia tahu, itu Bukit Tangkup. Dan di balik bukit itu terletak Desa Randu Sangit. Sungguh tidak disangka kalau dia akan kembali lagi ke Desa Randu Sangit dalam waktu satu purnama selama pengembaraannya.

"Aku tidak tahu, kekuatan apa yang membawa langkahku sampai kembali ke Desa Randu Sangit...?" desis Ki Saragating perlahan, bicara pada din sendiri.

Tapi entah kenapa, orang tua ini merasakan bagai ada sesuatu yang mendesaknya begitu kuat untuk kembali ke Desa Randu Sangit. Bahkan tanpa disadari, kakinya terayun melangkah menuju Bukit Tangkup yang hanya terdiri dari tumpukan batu-batu cadas. Ki Saragating berhenti melangkah, setelah tiba di kaki bukit batu itu. Dan pada saat kakinya terhenti melangkah, tiba-tiba saja....

Glaaar...!

"Heh...?!" Ki Saragating Jadi tersentak kaget, begitu tiba-tiba terdengar ledakan sangat dahsyat menggelegar. Dan belum lagi rasa keterkejutannya hilang terlihat bongkahan batu membumbung tinggi ke angkasa, disertai kepulan debu yang menggumpal bagai gunung berapi memuntahkan seluruh isi perutnya. Begitu dahsyatnya, sampai tanah yang dipijak orang tua ini bergetar bagai diguncang gempa.

"Apa yang terjadi di sana...?" Tanpa berpikir panjang lagi, Ki Saragating langsung saja melesat mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah begitu tinggi. Begitu tingginya, hingga larinya seakan-akan tidak menjejak tanah. Bahkan begitu cepatnya, hingga dalam waktu tidak berapa lama saja sudah berada di puncak Bukit Tangkup ini. Sebentar Ki Saragating berhenti memandang ke balik bukit. Lalu...

"Hup! Hiyaaa...!" Sambil berteriak keras, Ki Saragating kembali melesat cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Begitu ringan tubuh orang tua itu meluncur turun dari atas puncak bukit ini, seperti seonggok kapas putih yang melayang tertiup angin.

"Hup! Yeaaah..!" Ki Saragating berlompatan dari satu batu ke batu lain dengan gerakan indah dan ringan sekali.

Dan beberapa kali tubuhnya harus berputaran di udara, sebelum ujung jari kakinya menotok permukaan batu. Kemudian tubuhnya kembali melenting indah sekali, menuruni bukit batu ini.

"Hap!" Ringan sekali Ki Saragating menjejakkan kakinya di atas permukaan batu yang sangat besar, di kaki Bukit Tangkup ini. Dan saat itu juga kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, dengan mulut ternganga.

"Jagad Dewa Batara...!" desis Ki Saragating seperti tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.

Tidak jauh dari tempat Ki Saragating berdiri sekarang ini, terlihat sebuah desa yang sudah hancur. Tidak ada satu rumah pun yang terlihat lagi berdiri tegak dengan utuh. Bahkan jelas sekali terlihat, tubuh-tubuh bergelimpangan tidak bernyawa lagi. Tampak batu-batu berserakan di setiap sudut desa.

"Hup!" Tanpa membuang-buang waktu lagi, Ki Saragating melesat turun dari atas batu besar ini. Ringan sekali gerakannya, saat melompat tadi. Dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya menjejak tanah. Kemudian langsung dia berlari cepat menuju desa yang terlihat sudah hancur itu. Dia tahu, itu adalah Desa Randu Sangit yang selama satu purnama ini ditinggalkannya

Begitu tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang tua ini. Sehingga dalam waktu tidak berapa lama saja, dia sudah tiba di Desa Randu Sangit. Kini, Ki Saragating menghentikan larinya. Kedua bola matanya jadi membesar, bagai tidak percaya dengan semua yang terpampang di depan matanya. Sulit baginya untuk bisa menduga, apa yang telah terjadi. Tampak mayat-mayat bergelimpangan di antara reruntuhan rumah dan batu-batu yang berserakan tidak teratur. Kelihatannya, desa ini bagai baru saja diguncang gempa yang sangat dahsyat. Sehingga, tidak ada seorang pun yang masih hidup lagi.

Perlahan Ki Saragating melangkah, memasuki desa yang sudah hancur porak-poranda. Setiap ayunan kakinya selalu menjumpai tubuh tergeletak sudah tidak bernyawa. Tapi yang membuat hatinya jadi tertegun, semua tubuh yang ditemui dalam keadaan leher terkoyak lebar hampir buntung. Tampak darah yang sudah mengering menggenang di sekitarnya.

"Oh...?!" Ki Saragating mempercepat langkah kakinya, ketika melihat kepulan asap tebal dari balik sebuah rumah yang sudah hancur tidak berbentuk lagi. Dan begitu sampai....

"Sampatan...," desis Ki Saragating terkesiap, saat melihat tubuh seorang laki-laki tua tergeletak di antara runtuhan kayu rumah yang sudah hancur.

Bergegas dihampirinya tubuh Ki Sampatan yang dikenalinya ini. Diangkatnya tubuh kepala desa itu. Tampak gerakan halus pada dadanya. Ki Saragating menghembuskan napas berat, saat mengetahui kepala desa itu masih bernapas. Cepat diberikannya beberapa totokan, lalu menyadarkannya perlahan-lahan, Ki Sampatan membuka kelopak matanya.

"Sampatan...," panggil Ki Saragating perlahan. Ki Saragating masih memangku kepala desa itu dengan pahanya. Tampak seulas senyum tersungging di bibir yang sudah kering agak membiru. Ki Saragating mencoba membersihkan debu yang melekat di wajah kepala desa itu.

"Apa yang terjadi di sini, Sampatan?" tanya Ki Saragating dengan suara agak tertahan.

"Malapetaka itu datang tengah malam, Kakang Saragating. Seluruh desa ini dihancurkannya tanpa sisa sedikit pun...," sahut Ki Sampatan dengan suara tersendat dan terputus-putus.

"Siapa dia, Sampatan?" tanya Ki Saragating lagi.

"Aku..., aku tidak tahu. Aku hanya melihat cahaya biru terang yang berkelebat menghancurkan semua rumah di sini. dan membunuh semua orang. Aku...," Ki Sampatan tidak melanjutkan.

Napas kepala desa ini tersengal-sengal dan sedikit terbatuk. Ki Saragating cepat memberi tiga totokan di sekitar dada kepala desa itu. Tampak tarikan napas Ki Sampatan kembali halus. Namun, pada bola matanya tidak lagi terlihat cahaya gairah kehidupan. Begitu redup. Bahkan seakan-akan tidak sanggup lagi untuk terbuka.

"Kenapa dia menghancurkan desa ini, Sampatan? Apa yang diinginkan di sini...?" tanya Ki Saragating lagi.

"Aku tidak tahu. Kejadiannya begitu cepat. Dan aku sendiri juga tidak sempat berbuat apa-apa...," sahut Ki Sampatan tersendat.

Kembali kepala desa itu terbatuk beberapa kali. Tampak cairan merah kental agak kehitaman keluar dari mulutnya. Ki Saragating tahu, usia kepala desa ini tidak akan lama lagi. Dan sebelum orang tua ini melontarkan satu pertanyaan lagi, Ki Sampatan sudah mengejang disertai semburan darah yang semakin banyak dari mulutnya. Lalu tidak berapa lama kepala desa itu menghembuskan napasnya yang terakhir. Ki Saragating hanya bisa menghembuskan napas panjang. Perlahan-lahan dibaringkannya tubuh Ki Sampatan di antara puing-puing reruntuhan rumahnya.

Perlahan Ki Saragating bangkit berdiri sambil memandangi tubuh Ki Sampatan yang terbujur tidak bernyawa lagi. Dan begitu banyak tubuh yang bergelimpangan, hanya Ki Sampatan saja yang tidak terkoyak lehernya. Sedangkan leher semua penduduk desa yang sudah tewas tampak terkoyak, hingga hampir buntung. Dan itu yang membuat mereka tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

"Hh! Apa pun yang diinginkan, dia harus mati sebelum menghancurkan desa-desa lain," desis Ki Saragating menggeram.

Tidak seperti satu bulan lalu Ki Saragating meninggalkan Desa Randu Sangit yang sudah hancur, entah kenapa sekarang ini kakinya terasa begitu berat melangkah. Bahkan sudah lama dia berdiri mematung, memandangi desa itu. Sementara malam sudah sejak tadi menyelimuti sekitarnya. Namun kegelapan tidak terlalu pekat, karena bulan kali ini bersinar penuh. Dan langit pun begitu semarak, ditaburi bintang bintang. Malam yang begitu indah, tapi sama sekali tidak dapat dinikmati lagi keindahannya.

Pandangan Ki Saragating beralih pada ham paran batu-batu cadas yang tidak jauh dari tempatnya berdiri ini. Dan ledakan yang terjadi siang tadi, jelas akibat hancurnya batu-batu itu. Tadinya, tempat itu berupa gundukan batu yang membukit. Tapi kini, sudah rata dengan tanah. Hanya batu-batu saja yang banyak terhampar di sekitarnya. Tapi yang jadi bahan pikirannya, kekuatan apa yang membuat gundukan batu cadas itu hancur hingga rata dengan tanah. Dan ketika pandangannya hendak beralih, tiba-tiba saja....

"Heh...?!" Hati Ki Saragating jadi terkesiap, ketika tiba-tiba terlihat secercah cahaya biru yang begitu terang berkelebat di angkasa dari balik pepohonan rimbun jauh di depannya.

"Hup! Hiyaaa...!"

Tanpa berpikir panjang lagi, Ki Saragating langsung melesat. Dia berlari dengan kecepatan tinggi, mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Dia terus berlari, menembus lebatnya pepohonan. Tubuhnya meliuk-liuk menghindari ranting-ranting pohon yang hampir merapat bagai hendak menyatu, yang dituju adalah arah kilatan cahaya biru yang dilihatnya sekejapan mata saja tadi.

Dan sebentar saja, orang tua itu sudah berada di sebuah padang rumput yang tidak begitu luas di dalam hutan ini. Ki Saragating langsung menghentikan larinya. Tampak di tengah-tengah padang rumput terlihat dua orang sedang bertarung sengit sekali. Walaupun mereka tampaknya menggunakan jurus-jurus silat tingkat tinggi dengan gerakan begitu cepat, tapi dalam pandangan mata Ki Saragating masih bisa terlihat jelas.

Mereka yang bertarung adalah seorang pemu-da melawan seorang laki-laki tua yang sebaya dengan dirinya. Hanya saja, laki-laki tua itu menge-nakan baju hitam yang ketat, hingga membentuk tubuhnya yang kurus seperti hanya tulang terbungkus baju hitam. Tapi, bukan orang tua itu yang menjadi perhatian Ki Saragating, melainkan lawannya yang masih berusia muda. Di tangan kanan anak muda itu tergenggam sebatang pedang yang memancarkan cahaya biru terang menyilaukan mata. Sehingga, keadaan di sekitar pertarungan itu jadi terang bagai siang hari saja.

"Oh, mungkinkah...?" desah Ki Saragating terputus.

Ki Saragating terus memperhatikan dua orang yang masih bertarung sengit itu. Namun tidak lama memperhatikan, dia sudah menduga kalau anak muda yang memegang pedang bercahaya biru terang itu kini sudah berada di atas angin. Bahkan beberapa kali tendangannya berhasil mendarat di tubuh lawannya yang jauh lebih tua. Dan ketika satu sabetan pedangnya hampir menebas leher orang tua berjubah hitam yang menjadi lawannya...

"Tahan...!" Tiba-tiba saja Ki Saragating berteriak lantang menggelegar. Dan langsung dia melompat cepat bagai kilat, disertai pengerahan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat tinggi. Hanya sekali lompatan saja, Ki Saragating sudah berada dekat dengan dua orang yang sedang bertarung.

Sementara pertarungan pun langsung terhenti begitu mendengar bentakan Ki Saragating yang begitu keras menggelegar bagai guntur. Ki Saragating cepat mengambil tempat di tengah-tengah, di saat kedua orang yang tadi bertarung itu saling berlompatan mundur.

"Kisanak, mundurlah...! Jangan mencampuri urusan yang bukan persoalanmu!" bentak orang tua berjubah hitam ketat. Dia memegang sebatang tongkat dengan ujung atasnya berbentuk tengkorak manusia.

"Berhadapan dengan dia bukan hanya urusanmu saja, Kisanak. Aku juga berhak memenggal batang lehernya, seperti yang sudah dilakukannya pada semua penduduk desaku," sahut Ki Saragating tegas.

Kata-kata yang dilontarkan Ki Saragating ba-rusan, membuat pemuda yang mengenakan baju rompi putih dan memegang pedang bercahaya biru jadi tersentak kaget. Begitu terkejutnya, sampai kakinya terjingkat ke belakang beberapa langkah. Sedangkan lawannya kelihatan langsung berbinar kedua bola matanya

"Ha ha ha ha...! Sungguh tidak kukira, ternyata kau berada di pihakku, Kisanak. Apa pun urusanmu padanya, aku tidak peduli. Tapi kalau kau ingin memenggal kepala bocah ini, sebaiknya kita gempur saja bersama-sama," sambut orang tua berjubah hitam itu.

"Itu lebih baik. Setan ini memang sulit dilawan sendiri," Ki Saragating juga menyambut gembira.

Dan tanpa banyak bicara lagi, kedua orang tua yang belum saling mengenal ini langsung saja berlompatan, mengepung anak muda yang mengenakan baju rompi putih itu. Dan pemuda itu tampaknya jadi tidak mengerti melihat kemunculan orang tua yang tiba-tiba saja memusuhinya tanpa alasan sama sekali.

"Seraaang...!" teriak Ki Saragating keras menggelegar. "Hiyaaat..!"

"Yeaaah...!"

********************

TIGA

Pemuda berbaju rompi putih itu jadi kelabakan juga, karena harus menghadapi serangan dari dua orang tua yang berkepandaian tinggi. Tubuhnya berjumpalitan sambil meliuk-liuk, menghindari setiap serangan yang datang dari dua jurusan dengan kecepatan tinggi. Namun itu tidak berlangsung lama, karena pemuda itu kini sudah bisa membalas dengan serangan dahsyat sekali.

Pedangnya yang memancarkan cahaya biru terang berkelebatan begitu cepat bagai kilat. Sehingga seakan-akan seluruh tubuh pemuda berbaju rompi putih itu terselubung cahaya biru yang begitu terang menyilaukan mata. Dan hal ini membuat dua orang laki-laki tua yang menjadi lawannya menjadi kesulitan untuk menyerang.

"Phuih...! Rupanya setan itu hanya manusia biasa yang masih bocah!" dengus Ki Saragating dalam hati.

Orang tua itu benar-benar menganggap anak muda yang sedang digempurnya ini adalah pembunuh muridnya, dan menghancurkan Desa Randu Sangit. Bahkan sampai membunuh semua penduduk desa itu sampai tidak tersisa seorang pun. Begitu percaya akan pendiriannya, Ki Saragating langsung memperhebat serangan-serangannya. Bahkan kini sudah menggunakan pedangnya!

Sedangkan orang tua berbaju hitam yang juga mempunyai persoalan dengan pemuda itu juga tidak mau kalah. Malah serangan-serangannya juga diperhebat. Kemunculan Ki Saragating tampaknya membuat semangat bertempurnya jadi bangkit berlipat ganda. Dan ini membuat pemuda berbaju rompi putih itu semakin sulit saja untuk menghadapinya. Beberapa kali orang tua berbaju hitam itu sudah terdesak dan jatuh bangun menghindari setiap serangan datang. Namun sampai sejauh ini masih bisa bertahan. Bahkan sesekali bisa melancarkan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya.

Dan pertarungan itu semakin bertambah dahsyat saja. Sementara, pemuda berbaju rompi pubh sudah hampir tidak terlihat lagi bentuk tubuhnya lenyap tertelan kilatan cahaya biru yang memancar dari pedangnya sendiri. Gerakan pemuda itu begitu cepat membuat dua orang laki-laki tua yang mengeroyoknya jadi kelabakan. Sulit bagi kedua orang tua itu untuk bisa memasukkan serangan. Bahkan mereka tidak tahu lagi di mana sasarannya berada. Namun pada saat itu, Ki Saragating merasakan sesuatu yang sangat aneh pada dirinya. Sesuatu yang belum pernah dirasakannya dalam pertarungan-pertarungan sebelumnya.

"Hh...! Kenapa seranganku jadi tidak terarah?

Perhatianku seperti terpecah...," dengus Ki Saragating dalam hati. Perasaan itu bukan hanya menyerang hati Ki Saragating. Tapi, juga dirasakan orang tua berjubah hitam yang juga menyerang pemuda berbaju rompi putih ini. Perhatiannya benar-benar sudah terpecah. Bahkan tanpa disadari sabetan pedangnya justru hampir menghantam batok kepala Ki Saragating. Untung saja Ki Saragating cepat melompat ke belakang menghindarinya.

"Gila! Apa kau ingin membunuhku, heh...?!" bentak Ki Saragating jadi gusar.

"Sial...!" Orang tua berbaju hitam itu juga jadi terkejut setengah mati. Maka cepat-cepat dia melompat ke belakang sambil berputaran beberapa kali di udara. Kini dia menjaga jarak sejauh satu batang tombak. Sementara anak muda tampan berbaju rompi putih yang menjadi lawannya berdiri tegak, dengan pedang tersilang didepan dada. Tatapan matanya terlihat begitu tajam, menyorot langsung ke bola mata orang tua berbaju hitam yang menjadi lawan pertamanya tadi.

Sementara Ki Saragating sendiri masih belum bisa mengerti dengan keadaan dirinya. Perhatiannya benar-benar terasa terpecah belah. Bahkan jiwanya hampir saja tidak bisa terkendali. Sungguh dia tidak tahu, ilmu apa yang digunakan pemuda itu. Sehingga, jiwa dan perhatian orang tua itu jadi terpecah belah dan sulit dikendalikan.

"Kisanak! Aku tidak ada urusan denganmu. Sebaiknya menyingkir sebelum aku berubah pikiran," terdengar dingin sekali nada suara pemuda berbaju rompi putih itu.

Kata-kata pemuda itu disertai dengan pandangan tajam tertuju langsung ke bola mata Ki Saragating. Kata-kata yang bernada dingin ini membuat Ki Saragating jadi bergetar juga hatinya. Entah kenapa, kata-kata itu terasa bagai menusuk langsung ke jantung. Kendati demikian wajahnya jadi merah juga. Ki Saragating merasa begitu diremehkan pemuda ini.

"Jangan besar kepala, Bocah! Kau banyak berhutang nyawa padaku. Hari ini harus ditentukan, kau atau aku yang harus masuk ke liang kubur!" bentak Ki Saragating lantang.

"Menyingkirlah dulu, Ki Kalau kau merasa berurusan denganku, sebaiknya diselesaikan nanti saja setelah urusanku dengan lblis Ular Hitam ini selesai," ujar anak muda itu agak lunak suaranya sekarang.

"Phuih! Tidak ada waktu untuk menunggu, Bocah Setan. Kau akan kabur kalau kuberi kesempatan!"

Pemuda berbaju rompi putih itu seperti sudah tidak sabar lagi. Tapi dari sorot matanya jelas terlihat kalau amarahnya diusahakan untuk tidak cepat terpancing. Dia merasa benar-benar belum mengenal orang tua berjubah putih ini. Tapi dari pertarungannya tadi, jelas kalau kemampuan orang tua berjubah putih ini tidak bisa dipandang rendah. Sedangkan dia sendiri harus menghadapi orang tua berbaju hitam yang dikenalnya sebagai lblis Ular Hitam.

"Maaf, Ki. Bukannya aku tidak mempedulikanmu. Tapi urusanku harus diselesaikan dulu dengan lblis Ular Hitam ini. Maaf...," ucap pemuda itu hormat, sambil menjura. Setelah berkata begitu, mendadak saja.... "Hiyaaat...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda berbaju rompi putih yang berwajah tampan bagai putra bangsawan ini langsung saja melesat cepat bagai kilat menerjang si lblis Ular Hitam. Begitu cepat serangannya, sehingga si lblis Ular Hitam jadi terperangah setengah mati. Dan tepat ketika pemuda berbaju rompi putih itu mengebutkan pedangnya, si lblis Ular Hitam langsung membanting tubuhnya ke tanah, bergelimpangan beberapa kali.

"Hup!" Cepat orang tua berbaju hitam itu melompat bangkit berdiri. Namun baru saja kakinya menjejak tanah, pemuda berbaju rompi putih itu sudah kembali melancarkan serangan cepat dan sangatdahsyat. Begitu cepatnya, membuat si lblis Ular Hitam terpaksa harus berjumpalitan menghindarinya.

Sementara, Ki Saragating yang tidak mendapat bagian dalam pertempuran, jadi terlongong bengong menyaksikan. Sulit baginya untuk langsung bisa masuk ke dalam pertempuran yang sudah menggunakan jurus-jurus tingkat tinggi. Dan dia hanya bisa berdiri terpaku, menyaksikan dengan tidak berkedip sedikit pun.

Dalam beberapa jurus pertarungan berlang-sung, sudah terlihat kalau orang tua berbaju hitam sudah demikian terdesak. Dan entah, sudah berapa kali pukulan maupun tendangan pemuda berbaju rompi putih berhasil mendarat di tubuhnya. Gerakan-gerakan orang tua berbaju hitam itu semakin kelihatan liar, tidak terkendali. Jurus-jurusnya pun semakin tidak beraturan lagi. Bahkan kini sama sekali tidak mampu lagi menguasai dirinya. Hingga....

"Hiyaaa...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, pemuda berbaju rompi putih itu melesat cepat bagai kilat. Dan tepat pada saat itu juga, kepalan tangan ka-nannya yang berwarna merah bagai terbakar berkelebat begitu cepat. Gerakannya benar-benar sukar diikuti pandangan mata biasa. Dan...

Blegkh!

"Aaaakh...!"

"Hiyaaa .!" Sambil berteriak keras menggelegar, kepalan tangan pemuda berbaju rompi putih itu berkelebat cepat. Dan....

Blegkh!

"Aaakh...!" Orang tua itu tidak dapat lag! menghindar. Pukulan tangan kanan yang berwarna merah membara itu tepat menghantam dadanya.

Orang tua berbaju hitam itu tidak dapat lagi menghindarinya. Pukulan tangan kanan yang berwarna merah membara itu tepat menghantam dadanya. Seketika, tubuhnya terpental jauh ke belakang sambil mengeluarkan jeritan panjang melengking.

Sementara, pemuda berbaju rompi putih yang menjadi lawannya sudah berdiri tegak dengan pedang tersilang di depan dada. Tatapan matanya begitu tajam, lurus ke arah orang tua berbaju hitam yang tengah berusaha bangkit berdiri, setelah tubuhnya menghantam tanah begitu keras.

"Hoeeekh...!"

Tampak segumpal darah kental berwarna agak kehitaman menyembur keluar dari mulut orang tua berbaju serba hitam itu. Dia terus berusaha berdiri, walaupun terhuyung-huyung. Dengan bantuan tongkatnya yang berbentuk ular, dia mampu berdiri kembali meskipun tidak tegak.

"Aku beri kesempatan padamu, lblis Ular Hitam. Kembalilah ke tanah leluhurmu. Dan, jangan coba-coba lagi mengacau Karang Setra, dingin sekali suara pemuda berbaju rompi putih itu terdengar.

"Phuuuh...!" Iblis Ular Hitam menyemburkan ludahnya yang bercampur darah kental. Walaupun masih tersirat kebencian dalam bola matanya, namun disadari kalau tidak akan mungkin lagi bisa bertarung menghadapi anak muda ini.

"Aku mengakui kalau kau lebih tangguh dariku, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, ini hanya sementara saja. Kelak aku akan datang lagi untuk memecahkan batok kepalamu!" ujar lblis Ular Hitam tidak kalah dingin.

Setelah berkata begitu, lblis Ular Hitam langsung berbalik. Cepat kakinya melangkah, pergi meninggalkan tempat ini. Sekilas matanya masih sempat melirik Ki Saragating yang tetap berdiri terpaku, tidak bergeming sedikit pun. Seakan dia masih terkesima menyaksikan pertarungan yang sangat dahsyat dari dua tokoh kosen rimba persilatan itu.

Pemuda berbaju rompi putih yang tadi dipang-gil Pendekar Rajawali Sakti, baru memutar tubuhnya setelah si Iblis Ular Hitam tidak terlihat lagi. Aku memang Pendekar Rajawali Sakti, tokoh kosen rimba persilatan yang bernama asli Rangga.

Pemuda itu kini berhadapan langsung dengan Ki Saragating. Dan pedang Pendekar Rajawali Sakti yang selalu memancarkan cahaya biru bila keluar dari warangka, kini sudah kembali tenggelam di balik punggung Pendekar Rajawali Sakti. Namun orang tua berjubah putih itu malah terdiam dengan mulut terkatup rapat.

"Maaf, Ki. Aku terpaksa tak menghiraukanmu sebentar," ujar Rangga. Sikap dan tutur katanya begitu sopan. "Kalau kau merasa punya persoalan denganku, aku rasa ini saat yang tepat untuk menyelesaikannya "

"Anak Muda! Siapa kau sebenarnya? Apakah kau benar yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti...?" Ki Saragating malah bertanya dengan nada suara terdengar ragu-ragu.

"Begitulah orang orang selalu menyebutku, Ki," sahut Rangga merendah, seraya memberi senyum manis.

"Oh! Maafkan aku yang buta dan hina ini, Pendekar Rajawali Sakti. Aku benar-benar tidak tahu...," ujar Ki Saragating seraya menjura.

"Ada apa ini, Ki...? Kenapa tiba-tiba bersikap begitu?" Rangga jadi terperanjat melihat perubahan sikap orang tua berjubah putih yang tadi tiba-tiba saja menyerangnya.

Bergegas Pendekar Rajawali Sakti menghampiri, dan menegakkan kembali tubuh Ki Saragating yang masih membungkuk memberi penghormatan. Sikap Rangga yang begitu lembut dan penuh hormat, membuat Ki Saragating jadi semakin malu hati. Dia benar-benar tidak tahu kalau pemuda berbaju rompi putih yang tadi dikira makhluk pembunuh muridnya, ternyata seorang pendekar digdaya pilih tanding yang namanya sudah begitu sering terdengar.

Bukan hanya sekali atau dua kali Ki Saragaiing mendengar cerita sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti dalam menegakkan keadilan. Bahkan pendekar muda itu selalu jadi panutan bagi murid tunggalnya yang kini telah tiada. Tapi, baru kali ini Ki Saragating bertemu langsung dengan orangnya. Entah, bagaimana perasaan Ki Saragating saat ini. Dia senang dapat bertemu langsung pendekar muda yang sudah kondang namanya. Tapi, hatinya juga malu karena tadi langsung menyerang dan menuduhnya sebagai pembunuh yang sedang dicarinya.

"Maafkan atas semua sikapku yang bodoh tadi, Pendekar Rajawali Sakti. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau orang yang selama ini menjadi panutan dalam hidupku. Bahkan segala sifat dan segala tindakanmu selalu kutanamkan pada muridku...," ujar Ki Saragating dengan suara agak ditekan pada kata-kata terakhirnya.

"Ah.... Sudahlah, Ki. Mari kita duduk dan bercakap-cakap di sana," ajak Rangga ke tempat yang lebih teduh.

Ki Saragating tidak menolak. Dia berjalan mengikuti pemuda berbaju rompi putih itu, menuju pohon besar yang tumbuh di pinggiran padang rumput ini. Mereka kemudian duduk bersila dan berhadapan di bawah pohon yang rindang, melindungi diri dari sengatan matahari yang kini sudah benar-benar terik membakar kulit.

"Kau seperti sedang mengalami tekanan, Ki," duga Rangga setelah beberapa saat terdiam.

"Aku memang sedang menghadapi persoalan yang tidak kecil, Pendekar...."

"Jangan panggil aku begitu, Ki," potong Rangga cepat, sebelum Ki Saragating menyelesaikan kalimatnya. "Panggil saja aku, Rangga."

"Tapi..."

"Aku lebih senang kalau kau sudi memanggil namaku saja, Ki," pinta Rangga mendesak.

"Baiklah, Rangga. Tapi, aku mohon maaf kalau terlalu lancang," ucap Ki Saragating masih dengan sikap merendahkan diri.

Rangga hanya tersenyum saja, melihat sikap orang tua ini. Memang bukan sekali ini Pendekar Rajawali Sakti menghadapi orang yang bersikap begitu hormat padanya, setelah tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi, memang Rangga tidak bisa berbuat apa-apa, walaupun sudah meminta yang sewajarnya saja. Memang sudah menjadi satu peraturan yang tidak bisa dibantah lagi dalam kalangan persilatan. Orang yang merasa dirinya lebih rendah dalam tingkat kepandaian, selalu bersikap hormat pada yang lebih tinggi. Walaupun, usianya jauh lebih muda.

"Ceritakan padaku, Ki. Persoalan apa yang sedang kau hadapi sekarang. Barangkali saja bisa kubantu," pinta Rangga sopan.

"Sudah lebih dari satu purnama ini aku mencarinya, Rangga. Tapi sampai sekarang, belum juga bertemu. Bahkan aku sempat menduga kalau kau adalah pelakunya. Maka dari itulah aku langsung menyerang. Maafkan aku, Rangga. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau..."

"Sudahlah, Ki. Jangan disesalkan lagi."

"Aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi harus pergi mencari. Sedangkan desa tempat tinggalku sudah dihancurkannya," sambung Ki Saragating dengan suara yang begitu sendu dan perlahan.

"Apa nama desamu, Ki?" tanya Rangga ingin tahu.

"Desa Randu Sangit," sahut Ki Saragating singkat.

"Hmmm..." Entah kenapa, Pendekar Rajawali Sakti jadi menggumam. Dan keningnya terlihat berkerut dengan kelopak mata menyipit. Sedangkan Ki Saragating tetap menundukkan kepala, memandangi rerumputan yang menjadi alas tempat duduknya. Dan untuk beberapa saat mereka terdiam membisu. Entah, apa yang ada dalam kepala masing-masing.

"Kau tahu desa itu, Rangga?" tanya Ki Saragating begitu mengangkat kepalanya. Tampak Pendekar Rajawali Sakti seperti tengah termenung.

"Ya...," sahut Rangga mendesah pelan.

Kini kelopak mata Ki Saragating yang jadi menyipit, memandangi raut wajah Rangga yang keli-hatan seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi, Pendekar Rajawali Sakti bisa cepat menguasai dirinya dengan senyum langsung terkembang. Namun Ki Saragating bisa merasakan kalau senyum Pendekar Rajawali Sakti itu demikian hambar. Bahkan terasa begitu dipaksakan.

"Aku lahir dan tinggal di desa itu. Aku punya seorang murid yang kuangkat menjadi anak. Tapi, kini semuanya sudah musnah. Tidak ada lagi yang tersisa sedikit pun. Muridku mati di depan rumahku sendiri. Dan desa itu sekarang. ," Ki Saragating tidak sanggup melanjutkan.

"Aku tahu, Ki," ujar Rangga juga pelan suaranya.

"Kau tahu...?!" Ki Saragating agak terperanjat.

"Ya... Baru pagi tadi aku ke sana dan melihat keadaannya. Aku sendiri tidak tahu, apa yang menjadi penyebabnya. Desa Randu Sangit seperti baru saja dilanda gempa yang begitu dahsyat," ujar Rangga.

"Bukan karena alam, Rangga. Tapi ada yang menghancurkannya," selak Ki Saragating.

"Kau tahu, Ki...?"

"Ya, aku tahu. Justru itu, aku selama satu purnama ini mengembara mencari orang yang melakukan semua itu. Aku merasa belum bisa tenang, kalau belum menghancurkan batok kepalanya. Tapi...," Ki Saragating tidak melanjukan.

"Tapi kenapa, Ki?" desak Rangga ingin tahu lebih jauh.

"Sulit bagiku untuk bisa memastikan, siapa orangnya. Aku hanya melihat kalau dia itu...," terasa sulit bagi Ki Saragating untuk menceritakannya dengan gamblang.

Ki Saragating memandangi Rangga dengan sinar mata sulit diartikan. Sedangkan Rangga sendiri tidak bisa memahami kesulitan yang terjadi pada diri orang tua ini. Hanya dibalasnya tatapan mata itu dengan sinar semakin ingin tahu. Rangga memang jadi semakin ingin tahu, setelah melihat ke adaan di Desa Randu Sangit. Terlebih lagi, setelah mendengar cerita Ki Saragating yang memang berasal dari desa itu.

"Apa yang kau lihat, Ki?" tanya Rangga ingin tahu.

"Aku tidak tahu, apakah dia itu manusia biasa atau setan dari neraka. Sulit untuk bisa melihat bentuknya. Hanya cahaya saja yang kulihat. Dan cahaya itu...," kembali Ki Saragating tidak meneruskan.

Kembali orang tua itu memandangi Rangga dengan sinar mata sulit diartikan. Sedangkan Rangga sendiri tetap menunggu kelanjutannya dengan membalas pandangan mata orang tua itu yang terasa aneh.

"Seperti apa cahaya yang kau lihat, Ki?" tanya Rangga tidak sabar menunggu.

"Persis seperti..., seperti pedang yang kau miliki," sahut Ki Saragating, agak ragu-ragu.

"Pedangku...?"

"Benar, Rangga. Cahaya itu mirip sekali dengan cahaya yang keluar dari pedangmu. Itu sebabnya, aku langsung menyerangmu tadi. Karena kukira kau orangnya, Rangga. Maafkan...."

Rangga jadi terdiam mendengar cerita Ki Saragating barusan. Sungguh tidak disangka kalau yang melakukan penghancuran Desa Randu Sangit bukan manusia biasa, tapi hanya sebuah cahaya biru terang yang mirip cahaya pedang pusakanya. Saat itu juga, Rangga merasa kalau dirinya terancam karena tidak sedikit orang yang sudah tahu kalau dirinya memiliki pedang yang bisa memancarkan cahaya biru terang!

Kalau Pendekar Rajawali Sakti menggunakan Pedang Pusaka Rajawali Sakti dengan jurus 'Pedang Pemecah Sukma', seluruh tubuhnya memang tergulung cahaya biru. Sehingga, yang tampak hanya kilatan cahaya biru yang menggumpal terang menyilaukan mata. Rangga benar-benar menyadari akan bahaya yang mengancam dirinya. Tadi saja.

Ki Saragating langsung menyangka dirinyalah yang telah melakukan penghancuran di Desa Randu Sangit. Sehingga Rangga langsung diserang tanpa banyak tanya lagi. Kalau sudah begitu kejadiannya, bukannya tidak mungkin seluruh tokoh persilatan akan bersikap seperti Ki Saragating.

"Maafkan aku, Rangga. Bukannya ingin membuat pikiranmu jadi susah. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya," ujar Ki Saragating, seperti bisa mengetahui jalan pikiran Pendekar Rajawali Sakti.

"Tidak apa, Ki. Aku malah senang kau bersedia memberitahukan ini padaku," sahut Rangga seraya mengembangkan senyum.

Perlahan Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri. Dan Ki Saragating mengikuti, berdiri di samping kirinya. Beberapa saat mereka terdiam membisu, tanpa bersuara sedikit pun. Tanpa bicara lagi, Rangga mengayunkan kakinya perlahan lahan. Ki Saragating memandangi punggung Pendekar Rajawali Sakti dengan berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Kemudian bergegas disusulnya Rangga dan langsung langkahnya disejajarkan di sebelah kiri Pendekar Rajawali Sakti.

Mereka terus berjalan tanpa bicara sedikit pun. Dan tanpa terasa, mereka justru berjalan menuju Desa Randu Sangit. Rangga baru menghentikan ayunan kakinya, setelah melewati perbatasan desa yang ditandai dua buah bangunan batu berbentuk candi kecil. Ki Saragating ikut menghentikan langkahnya. Dan dia berdiri saja, diam di samping sebelah kiri Pendekar Rajawali Sakti.

Keadaan di Desa Randu Sangit itu masih tetap sama, seperti ketika Ki Saragating datang. Sedikit pun tidak ada perubahan saat Pendekar Rajawali Sakti sampai di desa ini. Desa yang sudah hancur, tanpa ada satu rumah pun yang masih berdiri utuh. Mayat-mayat bergelimpangan di antara reruntuhan rumah serta batu-batuan yang berserakan hampir menutupi permukaan tanah desa ini. Begitu mengenaskan keadaannya.

"Ada yang kau cari di desa ini, Rangga?" tanya Ki Saragating agak ragu-ragu suaranya.

"Entahlah...," desah Rangga panjang.

Dan kembali mereka terdiam membisu, memandangi desa yang kini sudah rata dengan tanah. Angin yang bertiup mulai menyebarkan bau yang tidak sedap menusuk hidung. Sementara, matahari terus merayap semakin condong ke barat. Namun cahaya masih terasa terik, membakar tubuh tubuh yang bergelimpangan tidak bernyawa lagi.

********************

Udara malam ini terasa begitu dingin menusuk tulang. Rangga berdiri tegak di atas bukit batu, memandangi Desa Randu Sangit yang sudah rata dengan tanah. Sementara agak jauh di belakangnya Ki Saragating sudah mendengkur pulas dalam buaian mimpi. Api unggun yang menyala cukup besar, seakan tidak sanggup menghalau dinginnya malam ini. Entah sudah berapa lama Pendekar Rajawali Sakti berdiri mematung di atas bukit batu ini. Sedikit pun perhabannya tidak beralih dari Desa Randu Sangit.

"Hm.... Makhluk itu hanya berupa cahaya saja. Tentu kemunculannya kalau malam sudah datang. Sebaiknya, aku mencoba mencarinya," gumam Rangga dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti berpaling ke belakang, dan memandangi Ki Saragating yang masih terelap tidur. Tampak bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Entah apa arti senyumannya. Hanya dia sendiri yang bisa mengetahuinya.

"Hup!" Tiba-tiba saja Rangga melesat cepat bagai kilat. mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Begitu cepat lesatannya, hingga dalam waktu sekejapan mata saja sudah lenyap tertelan gelapnya malam.

Sementara Ki Saragating terus tertidur pulas, Rangga sudah berlari jauh menuruni lereng bukit yang berbatu ini. Dan sebentar saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah berada di tanah lapang berumput yang ada di kaki Bukit Tangkup ini. Larinya baru dihentikan setelah tiba di tengah-tengah padang rumput yang cukup luas ini. Sebentar kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan keadaan sekitarnya. Sunyi sekali. Tidak terlihat seorang pun di sekitar padang rumput ini. Bahkan suara serangga malam pun hampir-hampir tidak terdengar di telinganya.

"Hm...." Sambil menggumam perlahan, Rangga mendongak ke atas. Kemudian... "Suiiit..!"

Malam yang sunyi, tiba-tiba siulan yang begitu nyaring melengking tinggi. Bahkan nadanya aneh terdengar di telinga. Sementara Rangga tetap berdiri tegak dengan kepala mendongak ke atas, memandang langit yang kelam tanpa cahaya bulan maupun bintang.

"Hm.... Lama juga Rajawali Putih datang...," gumam Rangga perlahan.

Namun baru saja Pendekar Rajawali Sakti hendak memperdengarkan siulan saktinya lagi untuk memanggil burung rajawali raksasa tunggangannya, mendadak saja terlihat seekor burung meluncur cepat bagai kilat di angkasa. Rangga jadi tersenyum, melihat Rajawali Putih sudah datang memenuhi panggilannya.

"Ke sini, Rajawali...!" seru Rangga memanggil, sambil melambaikan tangan ke atas.

"Khraaagkh...!"

Sebentar saja Rajawali Putih sudah menukik turun deras sekali. Kemudian, burung raksasa itu mendarat tidak jauh di depan pemuda berbaju rompi putih. Meskipun tubuhnya sebesar bukit, tapi gerakannya saat mendarat begitu ringan. Rangga bergegas menghampirinya, kemudian memeluk lehernya seperti sudah begitu lama tidak bertemu.

"Hup!" Tanpa banyak bicara lagi, Rangga langsung melompat naik ke punggung burung rajawali raksasa ini. Ringan sekali gerakannya, bagai segumpal kapas tertiup angin. Dan tahu-tahu Pendekar Rajawali Sakti sudah berada di punggung burung rajawali raksasa tunggangannya.

"Ada yang ingin kucari malam ini, Rajawali. Tapi aku tidak tahu apa yang kucari," kata Rangga memberitahu.

"Khrrr...!"

"Memang aneh, Rajawali. Tapi, aku juga tidaktahu harus bagaimana menjelaskannya."

"Khraaagkh...!"

"Benar, Rajawali. Kelilingi saja daerah ini. Mungkin kita bisa mendapatkan sesuatu," kata Rangga lagi, sepertinya bisa mengerti setiap suara yang diperdengarkan Rajawali Putih.

"Khraaagkh...!" Sambil memperdengarkan suara serak dan keras menggelegar bagai guntur, Rajawali Putih langsung mengepakkan sayapnya. Dan sekali kepak saja, burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah melambung tinggi ke angkasa. Rangga terpaksa harus berpegangan erat pada bulu-bulu leher burung rajawali ini. Angin di atas memang begitu keras, hingga telinganya jadi terasa pekak.

Sudah cukup lama Rangga berputar-putar di angkasa bersama Rajawali Putih, tapi belum juga melihat adanya tanda-tanda makhluk bercahaya biru yang seperti diceritakan Ki Saragating. Sementara, malam terus merambat semakin larut. Dan udara di angksa ini pun semakin terasa dingin menggigilkan tubuh. Namun, bulu-bulu Rajawali Putih yang tebal sanggup menghangatkan tubuhnya.

"Kembali ke Bukit Tangkup, Rajawali," pinta Rangga, setelah merasa bdak ada gunanya lagi mencari makhluk bersinar biru seperti yang diceritakan Ki Saragating.

"Khraaagkh...!" Rajawali Putih langsung saja melesat ke Bukit Tangkup. Dan sebentar saja, burung rajawali raksasa itu sudah berada di atas bukit batu itu. Namun belum juga Rangga meminta Rajawali Putih turun, tiba-tiba saja matanya menangkap kilatan cahaya biru yang berkelebat begitu cepat dari balik bukit. Dan Pendekar Rajawali Sakti tahu, tempat itu adalah Desa Randu Sangit.

"Cepat ke Sana, Rajawali...!" pinta Rangga langsung, tanpa berpikir panjang lagi.

"Khraaagkh...!" Rajawali Putih segera meluncur ke arah Desa Randu Sangit yang ditunjuk Rangga. Begitu cepat lesatan terbang burung raksasa itu. Sehingga dalam sekejapan mata saja, sudah berada di atas desa yang hancur ini.

Rangga langsung meminta Rajawali Putih turun ke desa itu. Tanpa mendapatkan rintangan sedikit pun, Rajawali Putih mendarat manis sekali di tengah-tengah desa yang sudah hancur, rata dengan tanah.

"Hup!" Ringan sekali Rangga melompat turun dari punggung Rajawali Putih. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, sampai-sampai sedikit pun tidak terdengar suara saat kedua kakinya menjejak tanah yang hampir dipenuhi batu-batu ini. Rangga langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun hanya kegelapan saja yang ada di sekelilingnya. Cahaya biru yang tadi terlihat dari angkasa, kini sama sekali tidak terlihat lagi.

"Kau boleh pergi, Rajawali. Tapi jangan jauh-jauh dariku," ujar Rangga meminta Rajawali Putih meninggalkannya.

"Khrrr...!"

"Jangan mengkhawatirkan aku, Rajawali. Pergilah. Kau boleh datang, kalau memang aku dalam keadaan bahaya," kata Rangga lagi, seakan bisa mengetahui kecemasan burung raksasa itu.

"Khrrrkh...!" kembali Rajawali Putih mengkirik pelan.

Rangga jadi tertegun juga melihat sikap Rajawali Putih yang seakan begitu berat meninggalkannya. Sepertinya burung rajawali raksasa itu merasakan sesuatu kalau ada bakal mengancam jiwa pemuda ini. Suatu bahaya besar yang belum disadari Pendekar Rajawali Sakti. Namun melihat kesungguhan terpancar dari bola mata Rangga, Rajawali Putih akhirnya terbang juga meninggalkannya. Dia melambung tinggi ke angkasa, sampai hampir tidak terlihat lagi. Sementara, Rangga masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Dan kembali pandangannya beredar ke sekeliling. Masih tetap sunyi, tanpa sedikit pun terlihat adanya tanda-tanda kehidupan.

"Hmmm...." Entah kenapa, Rangga jadi menggumam sendiri. Dan perlahan kakinya terayun melangkah. Sorot matanya masih tetap tajam, mengamati keadaan sekitarnya yang begitu sunyi mencekam. Namun baru saja Pendekar Rajawali Sakti berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja....

"Ghrooogkh...!"

"Heh...?!" Rangga jadi tersentak kaget setengah mati begitu tiba-tiba terdengar suara menggorok yang sangat keras dari arah belakang. Cepat tubuhnya berbalik. Namun pada saat itu juga, terlihat secercah kilatan cahaya biru yang begitu cepat meluruk ke arahnya. Begitu cepatnya cahaya biru itu berkelebat, sehingga tidak ada lagi kesempatan bagi Rangga untuk bisa berkelit. Dan..

Diegkh!

"Akh...!" Rangga jadi terpekik begitu merasakan sesuatu yang teramat keras menghantam dadanya. Begitu keras, sampai-sampai tubuh Pendekar Rajawali Sakti terpental cukup jauh ke belakang. Lalu keras sekali tubuhnya terbanting menghantam tanah berbatu. Namun, Rangga cepat menggulirkan tubuhnya beberapa kali ke samping, kemudian cepat melompat bangkit berdiri. Indah sekali gerakannya. Pendekar Rajawali Sakti langsung berdiri tegak dengan kedua kakinya yang kokoh.

Pendekar Rajawali Sakti jadi tertegun. Pandangannya beredar ke sekeliling. Namun hanya ke gelapan saja yang ada disekitarnya. Sama sekali tidak terlihat ada orang lain di tempat ini. Keadaan seperti ini membuatnya jadi bertanya-tanya dalam hati. Sungguh sulit dimengerti. Baru saja mendapat serangan yang begitu dahsyat, tapi kini tidak seorang pun terlihat di sekitarnya. Bahkan sama sekali tidak terdengar apa pun. Begitu sunyi, sehingga serangan pun tidak terdengar. Hanya desir angin saja yang terdengar mengusik telinga.

"Kisanak, keluarlah. .! Aku tidak bermaksud buruk padamu. Tunjukkan dirimu...!"

Terdengar lantang sekali suara Rangga yang disertai pengerahan tenaga dalam itu, hingga menggema bagai terpantul dinding-dinding batu Tapi, ternyata tidak ada sahutan sedikit pun. Hanya desir angjn saja yang menyahuti seruan Pendekar Rajawali Sakti.

Dan ketika Pendekar Rajawali Sakti baru membuka mulut hendak bicara lagi, kembali terdengar suara menggorok yang begitu keras seperti gerungan seekor binatang buas. Begitu kerasnya, hingga membuat Rangga jadi terlompat ke belakang tiga langkah. Dan belum juga lenyap keterkejutannya, tiba-tiba di depannya membersit cahaya biru terang bagai keluar dari dalam tanah. Begitu terangnya, hingga Rangga terpaksa harus menutupi matanya dengan tangan. Tapi hanya sebentar saja Pendekar Rajawali Sakti merasa silau oleh cahaya biru terang yang tiba-tiba saja muncul di depannya. Dan kini, dia sudah terbiasa kembali.

"Dewata Yang Agung.... Cahaya apa ini...?" desis Rangga keheranan.

Rangga benar-benar heran melihat cahaya biru terang yang begitu sama dengan cahaya yang keluar dari pedang pusakanya. Tapi dirasakan, cahaya ini lebih terang dan menyilaukan mata. Bahkan memancarkan hawa yang sangat panas membakar. Akibatnya, terpaksa kakinya harus melangkah ke belakang beberapa tindak.

Dengan pengerahan aji 'Tatar Netra', penglihatan Pendekar Rajawali Sakti mampu menembus cahaya biru terang di depannya. Dan saat itu juga, dia jadi terkesiap. Sulit dipercaya, apa yang ada dalam pandangan matanya. Namun belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa berpikir lebih jauh lagi, mendadak saja makhluk bercahaya biru terang itu sudah bergerak cepat bagai kilat, disertai suara gerungan yang begitu dahsyat menggelegar.

"Ghraaaugkh...!"

"Hup!" Cepat Rangga melenting ke atas dan berputaran beberapa kali, menghindari terjangan makhluk bercahaya biru terang itu. Dan pada saat cahaya biru itu lewat di bawah tubuhnya, cepat bagai kilat Rangga mengibaskan tangan kanannya mempergunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Yeaaah...!"
Bet!
"Heh...?!"

Hampir Pendekar Rajawali Sakti tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kibasan tangannya ternyata bagai menghantam gumpalan asap yang tidak berarti sama sekali. Bergegas tubuhnya melesat berputaran di udara. Dan dengan manis sekali kakinya menjejak kembali di tanah. Namun baru saja kedua kakinya menjejak tanah, sudah terlihat kilatan cahaya biru meluruk deras sekali ke arahnya.

"Hap! Hiyaaa...!" Tidak ada kesempatan lagi bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk berkelit menghindarinya. Maka secepat itu pula kedua tangannya dihentakkan ke depan, melepaskan satu pukulan dahsyat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Seketika itu juga dari kedua kepalan tangannya melesat cahaya merah bagai api, menyambut kilatan cahaya biru itu. Dan...

Glaaar...!

Tepat ketika dua kilatan cahaya itu beradu, terdengar ledakan dahsyat menggelegar. Tampak Rangga terpental sejauh dua batang tombak ke belakang. Sementara gumpalan cahaya biru terang itu juga terpental cukup jauh ke belakang. Rangga berputaran beberapa kali di udara, sebelum kedua kakinya menjejak tanah lagi.

"Demi dewa-dewa yang bersemayam di kayangan! Apa pun namanya, makhluk ini sangat berbahaya. Aku harus bisa memusnahkannya sebelum jagad ini dihancurkan...," desis Rangga dalam hati.

Dari beberapa kali bentrokan tadi, Rangga sudah bisa mengetahui kalau makhluk bercahaya biru terang ini memiliki kekuatan dahsyat yang berbahaya bagi kelangsungan seluruh makhluk bumi ini. Dari serangan-serangannya tadi, jelas kalau makhluk bercahaya biru ini memiliki nafsu membunuh yang begitu besar. Dan tampaknya sangat sulit ditandingi.

Perlahan Rangga menggeser kakinya ke kanan. Kini kedua tangannya mulai melakukan gerakan-gerakan membuka jurus. Tatapan matanya begitu tajam tidak berkedip sedikit pun ke arah gumpalan cahaya biru terang di depannya. Namun gumpalan cahaya biru terang itu tidak bergerak sedikit pun. Sedangkan Rangga sudah berhenti bergeser ke kanan. Dan kini kedua tangannya tersilang di depan dada.

Perlahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti merubah tangannya hingga kini kedua telapaknya menyatu rapat di depan dada. Kemudian kakinya merentang ke samping, dan menekuk lututnya sedikit. Dari gerakannya yang perlahan itu, jelas kalau Rangga mulai mempersiapkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Sebuah ilmu kedigdayaan yang sampai saat ini begitu sulit dicari tandingannya.

"Aku tidak akan mungkin bisa menandinginya bila hanya menggunakan jurus-jurus biasa. Terpaksa aji 'Cakra Buana Sukma' harus digunakan," gumam Rangga bicara pada diri sendiri.

Perlahan Pendekar Rajawali Sakti menggerakkan tubuhnya hingga doyong kekanan, lalu kembali bergerak ke kiri. Dan begitu tubuhnya tegak lagi, tampak dari kedua telapak tangannya yang merapat di depan dada, menyemburat cahaya biru terang bagaikan hendak memberontak keluar. Beberapa saat Pendekar Rajawali Sakti menunggu. Kemudian....

"Ghraaagkh...!"

Bagaikan kilat, gumpalan cahaya biru terang itu melesat menerjang. Namun Rangga yang memang sudah siap sejak tadi, langsung menghentakkan kedua tangannya ke depan sambil berteriak keras menggelegar.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Yeaaah...!"

Slap!

Seketika itu juga meluncur cahaya biru yang terangnya tidak kalah dengan gumpalan cahaya dari tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan tepat pada satu titik.tengah, kedua cahaya yang berwarna biru terang menyilaukan itu bertemu. Seketika terjadi ledakan yang begitu dahsyat menggelegar.

Glaaaar...!
"Aaaargkh...!"
"Ukh...!"

Makhluk bercahaya biru terang itu tiba-tiba saja meraung keras, dengan tubuh terpental jauh ke belakang. Sedangkan Rangga terlenguh pendek. Tubuhnya sempat terdorong beberapa langkah ke belakang. Namun kedua bola mata Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba jadi terbeliak lebar. Tepat di saat keseimbangan tubuhnya baru saja bisa dikuasai, mendadak saja cahaya biru yang menjadi lawannya lenyap. Dan...

Wusss...!

"Hey...?!" Rangga jadi tersentak, ketika tiba-tiba cahaya biru terang itu berganti wujud menjadi sosok makhluk hitam, dan langsung melesat cepat bagai kilat. Begitu cepat lesatannya, hingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Dan Rangga sendiri tidak sempat lagi memperhatikan, walaupun sempat mengetahui arah kepergian makhluk hitam itu.

"Aku tidak boleh kehilangan jejaknya. Hup! Hiyaaa...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti langsung melesat cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Begitu sempurnanya, sehingga seakan-akan Pendekar Rajawali Sakti berlari di atas angin. Bahkan kedua telapak kakinya bagai tidak menjejak tanah sama sekali.

Rangga terus berlari kencang menuju perginya makhluk hitam jelmaan dari gumpalan cahaya biru itu tadi. Namun begitu jauh sudah berlari, makhluk hitam itu tidak juga terlihat. Dan Rangga terpaksa harus menghentikan larinya. Pandangannya langsung beredar ke sekeliling. Tidak ada yang dapat dilihat selain pepohonan yang cukup rapat di sekitarnya. Sedikit kepalanya didongakkan ke atas. Dan sekilas Pendekar Rajawali Sakti dapat melihat Rajawali Putih masih mengikutinya dari angkasa.

"Rajawali! Kau lihat perginya makhluk itu...?" seru Rangga bertanya dengan suara keras dan lantang, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

"Khraaagkh...!"

"Bagus! Ikuti dia terus!" seru Rangga gembira. Ternyata, Rajawali Putih dapat melihat perginya makhluk hitam itu. Dan burung raksasa itu langsung melesat sambil memperdengarkan suaranya yang serak dan keras bagai guntur membelah angkasa. Sementara, Rangga sendiri tanpa membuang-buang waktu lagi langsung berlari cepat mengikuti Rajawali Putih. Seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan pun langsung dikemposnya.

Sementara Rangga terus berlari mengejar makhluk hitam jelmaan dari gumpalan cahaya biru itu, malam pun terus merayap semakin larut. Dan angin yang menyebarkan udara dingin, sama sekali tidak dirasakan lagi. Rangga terus berlari kencang, mengikuti arah terbangnya Rajawali Putih di angkasa. Sesekali burung rajawali raksasa itu memperdengarkan suaranya, bagai memberi petunjuk arah pada Pendekar Rajawali Sakti.

Dan setelah beberapa saat lamanya berlari, Pendekar Rajawali Sakti tiba di sebuah dataran luas dan berbatu. Begitu menghentikan larinya, Rangga mendongakkan kepalanya ke atas. Tampak Rajawali Putih juga hanya berputar-putar saja di angkasa, tepat di atas kepala pemuda ini.

"Khraaagkh...!"

"Turunlah ke sini, Rajawali...!" seru Rangga meminta.

Rajawali Putih langsung menukik turun dengan kecepatan tinggi. Dan sebentar saja, burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu sudah mendarat tidak jauh di depan Rangga. Walaupun tubuhnya sebesar bukit, tapi begitu ringan sekali mendarat. Rangga bergegas menghampiri burung rajawali raksasa itu. Dan berdiri dekat di depannya.

"Kau kehilangan jejaknya di sini, Rajawali?" tanya Rangga.

"Khrrrr...!"

"Hmmm...." Pendekar Rajawali Sakti tahu, Rajawali Putih kehilangan jejak makhluk hitam itu di tempat ini. Dan Rangga langsung mengedarkan pandangan kesekeliling. Tidak ada yang bisa didapati di tempat ini. Sekitarnya hanya terdiri dari batu-batu berserakan. Rangga jadi teringat keadaan Desa Randu Sangit. Desa itu sekarang juga hampir dipenuhi batu-batu. Bahkan Bukit Tangkup yang berbatu juga sudah mulai terkikis.

"Apakah makhluk itu berasal dari batu...?" gumam Rangga jadi bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Memang sulit mencari jawabannya, karena makhluk itu kini lenyap bagai tenggelam di antara hamparan batu-batu. Bahkan Rajawali Putih sendiri kehilangan jejaknya di tempat yang penuh batu-batu ini. Rangga jadi termenung sendiri. Entah apa yang ada dalam kepalanya sekarang.

********************

LIMA

Semalaman penuh Rangga berada di daerah hamparan batu-batu di tengah hutan ini. Setiap sudut tempat ini sudah diperiksa, tapi tidak juga ditemukan tanda-tanda di mana makhluk hitam yang muncul dari gumpalan cahaya biru itu berada. Sementara, matahari sudah menampakkan diri di ufuk timur. Sedangkan Rangga masih merasa.penasaran, karena belum juga bisa mendapat petunjuk sedikit pun.

Pendekar Rajawali Sakti kini duduk mencangkung di atas sebongkah batu yang cukup besar, memandangi Rajawali Putih yang mendekam tidak jauh di depannya. Burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu juga seperti tidak tahu, apa yang harus dilakukannya. Dia benar-benar kehilangan jejak makhluk itu. Yang bisa dilakukan hanyalah membalas pandangan Rangga dengan kedua bola matanya yang besar dan memerah bagai gumpalan darah.

"Hup!" Ringan sekali Rangga melompat turun dari atas batu itu. Kakinya lantas melangkah menghampiri Rajawali Putih yang masih tetap mendekam diam dengan kepala hampir menyentuh batu-batu di depannya. Rangga berhenti melangkah, setelah dekat dengan kepala burung rajawali raksasa itu.

"Ayo, Rajawali. Kembali ke Bukit Tangkup," ajak Rangga.

"Khrrrr...!" Rajawali Putih langsung bangkit berdiri dan menaikkan kepalanya ke atas. Sedangkan Rangga sudah bersiap-siap, hendak melompat naik ke punggung burung raksasa itu. Tapi belum juga melompat tiba-tiba saja...

"Kakang...! Kakang Rangga...!"

Terdengar sebuah suara panggilan.

"Heh...?!" Rangga jadi tersentak kaget. Jelas sekali suara itu memanggil namanya. Namun terdengar begitu jauh, seperti datang dari dalam hutan yang ada di depannya. Sedikit kepalanya mendongak menatap wajah Rajawali Putih.

"Kau mendengar suara itu, Rajawali?" tanya Rangga.

"Khraaagkh..!"

"Benar, Rajawali. Aku juga menduga kalau yang memanggil Pandan Wangi," ujar Rangga serperti bisa mengerti suara yang dikeluarkan Rajawali Putih.

Pendekar Rajawali Sakti terdiam. Saat itu terdengar suara hentakan kaki-kaki kuda yang menuju ke arahnya. Tapi, keningnya jadi berkerut. Rupanya suara hentakan itu terdiri dari dua ekor kuda. Dan tidak lama kemudian, terlihat dua ekor kuda keluar dari dalam hutan. Tapi hanya seekor saja yang ditunggangi. Rangga.jadi tersenyum melihat penunggang kuda yang ternyata seorang gadis cantik berbaju biru muda. Tampak sebuah gagang pedang berbentuk kepala naga berwarna hitam menyembul dari balik punggungnya. Sementara di balik ikat pinggangnya yang kuning keemasan, terlihat sebuah kipas putih keperakan. Gadis itu menunggang kuda putih. Sedangkan di samping kanannya, mengikuti seekor kuda hitam yang tinggi dan gagah. Gadis itu memang Pandan Wangi, yang lebih dikenal berjuluk si Kipas Maut.

"Hooop...!" Pandan Wangi langsung menarik tali kekang kudanya, setelah dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti. Kuda putih itu meringkik keras, sambil mengangkat kedua kaki depannya ke atas. Sementara gadis penunggangnya segera melompat turun, sebelum terlempar dari punggung kuda putihnya. Manis sekali gerakannya saat melompat. Bergegas, dihampirinya Rangga yang masih tetap berdiri membelakangi Rajawali Putih.

"Dari mana kau tahu kalau aku ada di sini, Pandan?" Rangga langsung saja melontarkan pertanyaan.

"Dewa Bayu yang menunjukkan jalannya padaku," sahut Pandan Wangi, seraya melirik kuda hitam yang kini sudah di sebelah Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga hanya tersenyum saja, seraya menepuk lembut leher kuda hitam yang bernama Dewa Bayu. Kuda hitam itu hanya mendengus kecil sambil menganggukkan kepalanya sekali. Seakan binatang gagah ini ingin membenarkan ucapan Pandan Wangi tadi.

"Sudah selesai urusanmu di Desa Parunggu?" tanya Rangga lagi.

"Sudah. Tapi Danupaksi masih ada di sana. Katanya, masih ada yang akan diurus, sahut Pandan Wangi memberitahu.

"Masalah apa lagi?"

Pandan Wangi hanya mengangkat bahunya saja sedikit. Rangga juga tidak ingin banyak tanya lagi. Tubuhnya lantas diputar menghadapi Rajawali Putih. Ditepuknya sayap kiri burung rajawali raksasa itu. Sementara, Pandan Wangi hanya memperhatikan saja dengan bibir terkatup.

"Kau boleh pergi, Rajawali. Tapi jangan terlalu jauh dariku," ujar Rangga.

"Khhhhr...!" Rajawali Putih mengkirik perlahan, kemudian mengembangkan sayapnya. Langsung burung itu melesat naik ke angkasa sambil memperdengarkan teriakannya yang serak dan keras bagai guntur. Begitu cepat Rajawali Putih membumbung naik ke angkasa, sehingga sebentar saja sudah hampir lenyap di balik awan. Rangga kembali memutar tubuhnya, dan langsung melompat naik ke punggung Dewa Bayu. Tanpa diminta lagi, Pandan Wangi segera melompat naik ke punggung kuda putihnya.

Namun Rangga belum juga menggebah kuda nya, seakan begitu berat untuk pergi dari tempat berbatu yang panas ini. Sementara, Pandan Wangi hanya bisa memperhatikan dengan kening berkerut. Dirasakannya ada sesuatu yang membebani pikiran Pendekar Rajawali Sakti, hingga membuatnya jadi tertegun.

"Ada apa, Kakang?" tanya Pandan Wangj jadi penasaran ingin tahu.

"Tidak ada apa-apa," sahut Rangga agak tergagap. Kemudian...

"Ayo, Pandan. Hiyaaa...!" Rangga langsung saja menggebah kudanya. Seketika kuda hitam yang ditungganginya meringkik keras dan langsung melesat cepat bagai anak panah lepas dari busur. Sementara Pandan Wangi masih tertegun sesaat, namun cepat menggebah kudanya menyusul Pendekar Rajawali Sakti yang sudah jauh meninggalkannya.

Walaupun Rangga tidak sepenuhnya menggebah kudanya, tapi cukup sulit bagi Pandan Wangi untuk bisa mengejar. Lari kudanya baru bisa disejajarkan di samping kuda hitam Dewa Bayu, setelah Rangga memperlambat larinya. Mereka terus memacu kudanya dengan kecepatan sedang, menembus hutan yang tidak begitu lebat ini. Sedikit Pandan Wangi berpaling, menatap wajah Rangga. Rupanya Pandan Wangi sadar kalau arah yang dituju Pendekar Rajawali Sakti adalah Desa Randu Sangit.

"Kau tidak salah jalan, Kakang?" tanya Pandan Wangi tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti.

"Tidak," sahut Rangga, pendek. "Memangnya kenapa...?"

"Bukankah jalan ini menuju Desa Randu Sangit..?"

Rangga langsung berpaling mendengar Desa Randu Sangit disebut Pandan Wangi. Seketika lari kudanya dihentikan. Dan Pandan Wangi pun ikut menghentikan lari kuda putihnya. Maka untuk beberapa saat, mereka saling berpandangan dengan sinar mata begitu sulit diartikan. Hanya mereka sendiri saja yang bisa mengartikannya

"Kau tahu Desa Randu Sangit, Pandan?" tanya Rangga. Nada suaranya jelas terdengar penuh keheranan.

"Ya.... Aku melewatinya," sahut Pandan Wangi. "Tidak ada lagi yang bisa diperoleh di sana. Semuanya sudah hancur, seperti terkena gempa. Bahkan aku lihat begitu banyak penduduk yang mati tidak terurus. Sepertinya, tidak ada lagi penduduk desa itu yang masih hidup." Rangga hanya terdiam saja.

"Kakang! Apa ada yang sedang kau urus di sana?" tanya Pandan Wangi menebak.

Entah kenapa, Rangga jadi tersenyum mendengar pertanyaan si Kipas Maut ini. Kemudian kudanya didongakkan perlahan-lahan tanpa menjawab pertanyaan Pandan Wangi barusan. Dan gadis itu mengikuti, mensejajarkan langkah kaki kudanya di sebelah kiri Pendekar Rajawali Sakti. Kini mereka berkuda perlahan-lahan. Dan tanpa diminta lagi, Rangga menceritakan semua peristiwa yang terjadi di Desa Randu Sangit. Dan pada saat itu, Pendekar Rajawali Sakti jadi teringat Ki Saragating yang ditinggalkannya di puncak Bukit Tangkup.

"Hiyaaa...!" Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga langsung menggebah kudanya menuju Bukit Tangkup. Pandan Wangi bergegas mengikuti, cepat menggebah kudanya.

********************

"Ki...!" Rangga berteriak memanggil Ki Saragating, begitu sampai di puncak Bukit Tangkup. Di tempat inilah Ki Saragating semalam ditinggalkannya. Bergegas Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dari punggung kudanya, sebelum Dewa Bayu berhenti. Ringan sekali gerakannya. Dan tanpa merumbulkan suara sedikit pun kedua kakinya menjejak tanah berumput, tepat di sebelah onggokan debu bekas api unggun yang dibuatnya semalam. Onggokan debu itu masih mengepulkan asap tipis.

Sementara, Pandan Wangi sudah turun dari kudanya. Dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti sambil menuntun tali kekang kudanya. "Tidak ada, Kakang...," desis Pandan Wangi perlahan, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Hanya Ki Saragating satu-satunya yang masih hidup dari Desa Randu Sangit, Pandan. Semalam aku meninggalkannya di sini," kata Rangga memberitahu dengan suara terdengar pelan.

"Lalu ke mana perginya, Kakang...?" tanya Pandan Wangi seperti untuk diri sendiri.

Rangga hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan si Kipas Maut itu. Pandangannya terus beredar ke sekeliling. Pendekar Rajawali Sakti tidak tahu, ke mana perginya Ki Saragating. Seketika ada sedikit rasa sesal di dalam hatinya, karena telah meninggalkan orang tua itu seorang diri di tempat yang sunyi dan cukup membahayakan. Apalagi Bukit Tangkup ini cukup dekat dari tempat makhluk bercahaya biru itu menghilang semalam, ketika Pendekar Rajawali Sakti mengejarnya. Namun Rangga berharap tidak terjadi sesuatu pada diri Ki Saragating.

Di saat Pendekar Rajawali Sakti termenung memikirkan Ki Saragating, tiba-tiba saja terdengar suara serak yang begitu keras menggelegar bagai guntur di angkasa. Rangga langsung mendongak ke atas. Tampak Rajawali Puoh berputar-putar di atas kepalanya. Begitu kecil burung raksasa itu terlihat di angkasa. Pandan Wangi juga ikut mendongakkan kepalanya ke atas.

"Khraagkh...!"

"Oh...?!" Entah kenapa Rangga jadi tersedak, mendengar teriakan burung rajawali raksasa yang kelihatan kecil di angkasa itu. Dan tanpa bicara lagi, Pendekar Rajawali Sakti langsung saja melompat naik ke punggung kudanya. Pandan Wangi yang sudah begitu lama bersama-sama Pendekar Rajawali Sakti, tidak mau ketinggalan. Cepat dia melompat naik ke punggung kudanya.

"Hiyaaa...!" "Yeaaah...!"

Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu langsung saja menggebah cepat kudanya. Debudan daun-daun kering seketika berhamburan, tersepak kaki-kaki kuda yang dipacu cepat itu. Tampaknya Pandan Wangi agak kewalahan juga mengendalikan kudanya, untuk mengimbangi kecepatan lari Dewa Bayu yang ditunggangi Pendekar Rajawali Sakti. Sementara, Rangga sempat mendongakkan kepala ke atas. Tampak Rajawali Putih di angkasa sudah melesat begitu cepat bagai kilat.

"Hiya! Hiyaaa...!" Seperti lupa pada Pandan Wangi, Rangga menggebah kudanya semakin cepat. Akibatnya, Pandan Wangi benar-benar tertinggal jauh. Memang sulit bagi kuda biasa untuk bisa mengimbangi kecepatan lari Dewa Bayu yang memang bukan kuda biasa. Sehingga jarak pun semakin jauh saja dari Pendekar Rajawali Sakti. Dan akhirnya, Pandan Wangi benar-benar tidak melihat Rangga lagi. Hanya kepulan debu saja yang menjadi petunjuk bagi si Kipas Maut ini untuk terus mengikuti Rangga yang memacu kudanya bagai kesetanan.

Sementara Rangga terus memacu kudanya menuruni lereng Bukit Tangkup yang berbatu ini. Dan Dewa Bayu pun berlari begitu kencang bagai angin. Bahkan seakan-akan keempat kakinya tidak menjejak tanah yang berbatu di lereng bukit ini.

"Hiya! Yeaaah...!" Rangga semakin cepat menggebah kudanya begitu sampai di kaki bukit yang berupa sebuah hutan kecil dan tidak begitu lebat. Kecepatan lari Dewa Bayu tunggangannya pun semakin bertambah. Dan kini, yang terlihat hanya kelebatan bayangan hitam dan pulih saja. Begitu cepatnya, hingga dalam waktu sebentar saja Pendekar Rajawali Sakti sudah sampai di tepi hutan yang berbatasan langsung dengan Desa Randu Sangit.

"Hooop...!" Rangga langsung menarik tali kekang kudanya. Dan sebelum kuda hitam itu berhenti, Pendekar Rajawali Sakti sudah melompat turun dengan gerakan indah sekali. Dua kali Rangga berputaran di udara. Dan tanpa terdengar suara sedikit pun kedua kaki Pendekar Rajawali Sakti menjejak tanah.

"Hup!" Sepertii tengah mengejar sesuatu, Rangga langsung saja melesat cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Begitu sempurnanya, sehingga dalam sekejapan mata saja sudah jauh meninggalkan Dewa Bayu di tepi hutan.

"Hap!" Manis sekali Rangga melenting, dan langsung hinggap di atas sebongkah batu yang sangat besar. Seketika kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, begitu melihat Ki Saragating tengah bertarung melawan seorang wanita berbaju biru terang, yang bersenjatakan sebuah pedang di tangan kanan. Sementara di sekitarnya terlihat sekitar tiga puluh orang wanita berbaju serba biru, mengelilingi tempat pertarungan. Tampak jelas kalau Ki Saragating sudah terdesak hebat. Bahkan tidak mampu lagi melancarkan serangan. Laki-laki tua itu hanya bisa berkelit dan menghindari serangan yang dilancarkan wanita berbaju biru lawannya.

Dan tiba-tiba saja, Ki Saragating memekik keras dengan tubuh terpental ke belakang, begitu dadanya terkena satu pukulan keras yang dilancarkan lawannya. Pada saat itu juga, wanita berbaju biru itu melompat cepat sambil mengibaskan pedangnya yang diarahkan lurus ke leher orang tua ini. Namun di saat mata pedang yang berkilatan tajam itu hampir menebas leher Ki Saragating, tiba-tiba saja berkelebat satu kilatan cahaya biru yang begitu cepat. Dan tahu-tahu mata pedang wanita itu terhantam kilatan cahaya biru yang diikuti berkelebatnya bayangan putih.

Tring!

"Ikh...?!" Wanita itu jadi terpekik kaget. Cepat tubuhnya melenting ke atas, dan berputaran tiga kali sebelum menjejak tanah. Seketika, kedua bola matanya yang bulat jadi terbeliak lebar, begitu melihat seorang pemuda tampan berbaju rompi putih sudah berdiri tegak di depan Ki Saragating yang tengah berusaha bangkit berdiri. Tampak sebuah pedang bercahaya biru terang tergenggam di tangan kanan pemuda berbaju rompi putih yang tidak lain memang Pendekar Rajawali Sakti.

Cring! Dengan gerakan indah sekali, Rangga mema sukkan pedang pusakanya ke dalam warangka di punggung. Maka cahaya biru terang yang memancar dari pedangnya seketika lenyap dari pandangan. Sementara Ki Saragating sudah berdiri di sebelah kiri Pendekar Rajawali Sakti.

"Siapa wanita ini, Ki?" tanya Rangga tanpa berpaling sedikit pun, memandangi wanita berbaju biru yang ternyata masih berusia muda dan cantik. Rangga menilai, wanita itu pasti usianya belum mencapai tiga puluh tahun. Wajahnya tidak hanya cantik, tapi tubuhnya juga sangat ramping dan indah. Baju biru yang dikenakannya terbuat dari bahan sutera halus dan tipis. Sehingga, lekuk-lekuk tubuhnya terlihat jelas membayang. Dan ini membuat mata setiap laki-laki tidak akan berkedip memandangnya. Tapi bagi Rangga, pemandangan seperti itu tidak akan bisa menggoyahkan hatinya. Malah ditatapnya wanita itu dengan sinar mata tajam menusuk.

"Dia Nini Tunjung Arum, yang terkenal sebagai Ratu Bukit Berdarah, Rangga," sahut Ki Saragating memberitahu.

"Hm... Apa urusannya di sini, Ki? Dan kenapa kau bisa bertarung dengannya?" tanya Rangga lagi dengan suara agak menggumam.

"Aku tidak tahu. Mereka sudah ada di sini, dan langsung menyerang waktu aku sampai," sahut Ki Saragating, sambil menyeka darah di bibir dengan punggung tangan kiri.

Rangga mengangguk-anggukkan kepala, kemudian melangkah beberapa tindak mendekati wanita cantik berbaju biru terang yang bernama Nini Tunjung Arum. Dan dia juga lebih dikenal dengan julukan Ratu Bukit Berdarah. Pendekar Rajawali Sakti baru berhenti melangkah, setelah jaraknya tinggal sekitar lima depa lagi di depan Ratu Bukit Berdarah. Sedangkan Ki Saragating tetap berada di tempatnya dengan pedang tergenggam erat di tangan kanan. Diperhatikannya gadis-gadis muda yang ada di sekeliling tempat ini Mereka semua cantik, dan bersenjatakan tombak panjang.

ENAM

"Nisanak! Bukannya aku hendak turut campur dalam urusanmu. Tapi orang yang bertarung itu adalah sahabatku. Maka kuharap, kau sudi menjelaskan. Kenapa kau sampai menyerangnya...?" terdengar sopan dan lembut sekali nada suara Rangga.

"Dia sudah lancang berani masuk ke dalam wilayah kekuasaanku. Dan hukuman yang tepat hanya kematian. Kau juga, Kisanak! Kau sudah berani membela orang hukumanku. Jadi, kau juga harus mati," sahut Nini Tunjung Arum, ketus.

"Maksudmu, desa ini menjadi wilayah kekuasaanmu...?"

"Benar."

"Nisanak! Orang tua ini lahir dan tinggal di Desa Randu Sangit ini. Jadi, dia berhak datang ke sini tanpa ada seorang pun yang bisa melarangnya. Dan setahuku, kau bertempat tinggal di Bukit Berdarah yang letaknya jauh dari desa ini. Lantas, kenapa tiba-tiba saja sekarang mengatakan kalau Desa Randu Sangit ini menjadi wilayah kekuasaanmu...?" kembali Rangga meminta penjelasan.

"Itu bukan urusanmu!" bentak Nini Tunjung Arum sengit.

"Maaf, Nisanak. Desa Randu Sangit masih berada dalam wilayah Kerajaan Karang Setra. Jadi, masih ada yang berhak menguasainya. Maka kurasa, kau tidak bisa seenaknya datang, dan langsung menyatakan kekuasaan di sini. Maaf, bukannya aku hendak mencampuri. Tapi, apakah kau sudah mendapatkan izin dari pihak kerajaan...?"

"Setan...! Rupanya kau lancang juga, Kisanak. Baik! Aku tidak akan banyak bicara denganmu. Bersiaplah menerima hukuman dari kelancanganmu!" bentak Nini Tunjung Arum, semakin sengit.

Bet!

Langsung saja Ratu Bukit Berdarah mengebutkan pedangnya yang berkilatan putih keperakan ke depan dada. Sementara, Rangga sudah merasa tidak ada gunanya memberi peringatan pada wanita pemberang ini. Sekilas diperhatkannya keadaan sekelilingnya. Tampak gadis-gadis muda bertombak itu juga sudah siap, tinggal menunggu perintah menyerang.

"Sayang sekali... Sebenarnya, aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah gadis-gadis cantik seperti kalian. Tapi, tampaknya pemimpin kalian menginginkan begitu...," gumam Rangga pelan, seperti bicara pada diri sendiri. Dan baru saja Pendekar Rajawali Sakti mengatupkan bibirnya, Nini Tunjung Arum sudah berteriak lantang memberi perintah.

"Seraaang...!"

"Hiyaaat..!" "Yeaaah...!"

Tanpa diperintah dua kali, gadis-gadis cantik yang berbaju biru itu langsung saja berlompatan sambil berteriak keras. Sementara, Rangga sudah melompat kebelakang mendekati Ki Saragating. Namun belum juga gadis-gadis itu bisa melancarkan serangan, mendadak saja...

"Khraaagkh...!"

Bersama terdengarnya suara serak yang begitu keras menggelegar, terlihat satu bayangan besar meluruk deras dari angkasa. Dan ini membuat mereka semua yang ada di Desa Randu Sangit jadi tersentak kaget setengah mati. Mereka langsung mendongakkan kepala ke atas. Seketika, bola-bola mata mereka jadi terbeliak lebar begitu melihat seekor burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan meluruk deras dari angkasa.

"Khraaagkh...!"

"Rajawali...," desis Rangga perlahan, juga terkejut atas munculnya Rajawali Putih. Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa berbuat sesuatu Rajawali Putih sudah cepat mengebutkan sayapnya, membuat gadis-gadis muda berbaju biru yang hampir menyerang Rangga dan Ki Saragating jadi berpelantingan terkena sambaran sayapnya yang sangat lebar itu. Jeritan-jeritan melengking kesakitan pun seketika terdengar saling susul.

"Cukup, Rajawali...!" sentak Rangga tiba-tiba.

"Khraaagkh...!" Rajawali Putih langsung melesat naik, mem-bumbung tinggi keangkasa, begitu mendengar seruan Rangga yang keras. Dalam sekejapan mata saja, burung rajawali raksasa itu sudah jauh tinggi di atas awan. Dan kini yang terlihat hanya titik kecil keperakan.

Sementara gadis-gadis cantik pengikut Ratu Bukit Berdarah yang terkena serangan Rajawali Putih masih bergelimpangan sambil merintih lirih menahan sakit. Sedangkan Ratu Bukit Berdarah sendiri masih terlihat tercengang, atas kemunculan burung rajawali raksasa yang begitu tiba-tiba.

"Keparat..! Ilmu sihir macam apa yang kau gunakan, heh...?!" bentak Nini Tunjung Arum geram, begitu tersadar dari keterkejutannya. Tatapan mata wanita itu begitu tajam, langsung tertuju ke bola mata Rangga. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti sendiri kelihatan tenang. Tapi raut wajahnya menggambarkan kalau Rangga sebenarnya tidak suka atas kemunculan Rajawali Putih yang tidak diperintahkan tadi. Sungguh Rangga tidak ingin Rajawali Putih ikut campur hanya karena dirinya terancam. Padahal, Rangga merasa masih bisa mengatasi gadis-gadis itu. Tapi kemunculan Rajawali Putih tadi memang membuatnya jadi menghemat tenaga.

"Nisanak! Sebaiknya cepatlah pergi. Kembalilah ke tempat asalmu, sebelum lebih banyak lagi menderita kerugian," ujar Rangga masih dengan nada suara dibuat sopan.

"Phuih! Tidak bakalannya aku angkat kaki, setelah kau lukai pengikutku!" bentak Nini Tunjung Arum sengit.

"Ketahuilah, Nisanak Desa Randu Sangit ini bukan tempatmu. Dan..."

"Tutup mulutmu, Setan...!" bentak Nini Tunjung Arum lantang, memotong ucapan Pendekar Rajawali Sakti. "Rasakan ini! Hiyaaa...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Ratu Bukit Berdarah langsung saja cepat melompat menyerang. Dan pedangnya seketika dikebutkan, tepat mengarah ke leher Pendekar Rajawali Sakti.

"Hapts...!" Namun hanya sedikit saja Rangga mengegoskan kepala, tebasan pedang wanita cantik itu ber-hasil dihindari. Bahkan tanpa diduga sama sekali, Rangga melepaskan satu sodokan tangan kiri yang begitu cepat, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

"Ikh...?!" Ratu Bukit Berdarah jadi terkejut setengah mati. Cepat-cepat tubuhnya ditarik ke belakang lalu dia melenting dan berputaran, begitu Rangga menyusuli dengan satu pukulan tangan kanan yang keras menggeledek.

"Hap!" Manis sekali Nini Tunjung Arum menjejakkan kakinya di tanah berbatu ini. Dan begitu Rangga sudah melepaskan satu kibasan tangan kiri, cepat dihadangnya dengan kibasan pedangnya.

"Hap!" Namun tanpa diduga lagi, Rangga menarik tangan kirinya yang sudah menjulur dan langsung diputar ke atas. Tepat pada saat itu juga, tangannya dihentakkan ke depan, mengarah ke dada wanita cantik ini. Begitu cepat gerakannya, sehingga Ratu Bukit Berdarah tidak punya lagi kesempatan untuk menghindar. Dan....

Des!

"Akh...!" Ratu Bukit Berdarah terhuyung-huyung ke belakang, setelah dadanya terkena kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti. Seketika wajahnya jadi memerah, merasa malu. Karena baru beberapa gebrakan saja, sudah terkena kibasan tangan lawan. Terlebih lagi yang terkena tepat pada bagian gundukan lembut di dadanya. Maka amarahnya pun langsung memuncak.

"Kubunuh kau, Keparat! Hiyaaat..!" Sambil membentak nyaring, wanita cantik berbaju biru terang itu melompat sambil cepat mengebutkan pedangnya beberapa kali.

"Hup!" Mendapat serangan yang begitu gencar dan cepat, Rangga tidak punya pilihan lain lagi. Cepat dikerahkannya jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya berputaran, meliuk-liuk menghindari setiap tebasan pedang Ratu Bukit Berdarah. Sementara kedua kakinya bergerak lincah, membuat setiap serangan yang dilancarkan Ratu Bukit Berdarah tidak satu pun yang berhasil mencapai sasaran.

Tentu saja, mendapat kenyataan demikian amarah Nini Tunjung Arum jadi memuncak. Sambil berteriak-teriak keras, wanita itu terus menyerang dengan pedang yang berkelebat begitu cepat mengurung ruang gerak Pendekar Rajawali Sakti. Entah, berapa jurus Ratu Bukit Berdarah itu menyerang. Namun belum juga bisa mendesak lawannya.

Sedangkan Rangga sendiri tetap menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Malah sama sekali tidak melakukan serangan balasan. Dan memang, jurus itu hanya digunakan untuk menghindari serangan lawan. Dan herannya, jurus itu semakin lama tidak beraturan gerakannya. Seakan-akan, Rangga bertarung seperti orang kebanyakan menenggak arak. Tapi, tetap saja Nini Tunjung Arum kesulitan untuk memasukkan serangannya. Dan hingga sampai pada satu kesempatan.

"Hup! Hiyaaa...!" Bagaikan kilat, tiba-tiba saja Rangga melenting ke udara. Dan secepat kilat, tubuhnya menukik deras dengan kedua kaki bergerak cepat seperti berputar mengarah ke kepala Ratu Bukit Berdarah ini. Begitu cepatnya, serangan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa', membuat Ratu Bukit Berdarah jadi kelabakan.

"Haiiit...!" Cepat-cepat Nini Tunjung Arum mengebutkan pedangnya dengan gerakan berputar di atas kepala. Namun tanpa diduga sama sekali, Rangga memutar tubuhnya hingga kepalanya berada di bawah. Dan pada saat itu juga, tangan kirinya cepat mengibas mempergunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega', tepat mengarah ke pergelangan tangan kanan yang memegang pedang itu. Begitu cepatnya kibasan tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti, sehingga membuat Nini Tunjung Arum tidak sempat lagi menghindarinya.

Plak!

"Ikh...?!" Nini Tunjung Arum jadi terpekik kaget, begitu merasakan pergelangannya bagai tersengat ribuan lebah. Dan belum juga rasa keterkejutannya hilang, kembali Rangga mengibaskan tangan kirinya. Hingga...

Des!

"Akh...! Kembali Nini Tunjung Arum terpekik, begitu kibasan tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti menghantam bahu kanannya. Dan tak pelak lagi, pedang yang tergenggam di tangan kanannya terpental jauh.

"Yeaaah...!"

Belum juga Nini Tunjung Arum bisa menguasai diri, kembali Rangga sudah melepaskan satu pukulan keras, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat pertama. Dan pukulan itu memang tepat mendarat di dada Ratu Bukit Berdarah ini. Seketika wanita itu terpental kebelakang sejauh dua batang tombak sambil mengeluarkan jeritan agak tertahan.

Bruk! Keras sekali tubuh ramping wanita itu jatuh menghantam tanah berbatu ini. Sebentar Nini Tunjung Arum menggeliat, kemudian bangkit berdiri sambil meringis menahan sakit yang amat sangat pada seluruh tubuhnya. Tampak darah mengalir di sudut bibirnya yang merah. Sedikit tubuhnya terhuyung-huyung, begitu bisa bangkit berdiri.

Sementara, Rangga berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tidak jauh di sebelah kiri kakinya, tergeletak pedang Ratu Bukit Berdarah. "Sebaiknya tinggalkan tempat ini sebelum pikiranku berubah, Nini Tunjung Arum. Tidak ada gunanya terus bertahan di desa ini," kata Rangga terdengar agak dingin nada suaranya.

"Akan kubalas kekalahan ini...!" desis Nini Tunjung Arum sengit.

"Sudah jangan banyak omong! Cepat pergi kau...!" selak Ki Saragating, menyentak.

Nini Tunjung Arum mendelikkan matanya pada laki-laki tua itu, kemudian menatap tajam pada pemuda tampan yang baru saja membuatnya takluk. Sinar matanya begitu tajam, penuh rasa dendam yang amat sangat.

"Siapakah namamu...?!" sentak Nini Tunjung Arum sengit.

"Rangga," sahut Rangga singkat.

"Dengar, Rangga. Suatu saat kelak kau akan menyesal." Setelah berkata begitu, Nini Tunjung Arum langsung berbalik. Tapi belum juga berjalan, Rangga sudah memanggilnya. Perlahan tubuhnya diputar kembali.

"Ini pedangmu!" seru Rangga seraya menye-pak pedang yang tergeletak di samping kiri kakinya.

"Huh!" Sambil mendengus kesal, Nini Tunjung Arum menangkap pedangnya yang melayang tersepak kaki kiri Pendekar Rajawali Sakti. Sesaat ditatapnya pemuda itu tajam-tajam. Kemudian tubuhnya diputar, dan berjalan cepat meninggalkan desa ini. Gadis-gadis cantik yang menjadi pengikutnya bergegas mengikuti tanpa berkata apa pun. Sementara, Ki Saragating sudah menghampiri Rangga yang masih tetap berdiri tegak memandangi wanita-wanita cantik yang pergi meninggalkan Desa Randu Sangit ini.

"Aku curiga padanya, Rangga...," ujar Ki Saragating setelah Ratu Bukit Berdarah dan pengikutnya yang berjumlah cukup banyak tidak terlihat lagi.

"Maksudmu...?" tanya Rangga tidak mengerti.

"Jangan-jangan dia yang menjadi dalang dari semua keonaran ini, Rangga."

Rangga jadi mengerutkan keningnya. Tapi saat mendengar keragu-raguan pada nada suara Ki Saragating, dia jadi tersenyum juga. Kemudian kakinya diayunkan perlahan-lahan. Ki Saragating mengikuti Pendekar Rajawali Sakti, dan mensejajarkan langkahnya di sebelah kanan.

"Maaf, Rangga. Aku tadi terlalu cepat menduga," ucap Ki Saragating merasa bersalah.

Rangga hanya diam saja, seperri tidak mendengar ucapan Ki Saragating. Kakinya terus melangkah, tanpa bicara sedikit pun. Sementara Ki Saragating tetap mengikuti, mensejajarkan langkahnya di samping kiri Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau marah padaku, Rangga...?" tegur Ki Saragating masih dengan nada suara merasa bersalah.

"Tidak," sahut Rangga singkat.

"Tapi, kenapa diam saja?"

"Aku sedang memikirkan ucapanmu tadi, Ki," sahut Rangga pelan.

"Maksudmu...?" Ki Saragating tidak mengerti.

Beberapa saat Rangga diam membisu, seakan sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya. Terdengar hembusan napasnya yang panjang. Sementara, Ki Saragating masih tetap menunggu penjelasan Pendekar Rajawali Sakti.

"Terus terang, aku sebenarnya sudah sering mendengar sepak terjang Ratu Bukit Berdarah. Tapi baru tadi bertemu dengannya. Semua yang dilakukannya memang selalu menyulitkan orang lain...," nada suara Rangga terdengar terputus.

"Lalu, kenapa tadi dia dibiarkan pergi begitu saja?"

"Aku tidak punya alasan untuk bertindak lebih dari itu, Ki."

Ki Saragating hanya bisa mengangguk saja beberapa kali. Disadari pemuda ini seorang pendekar beraliran putih. Memang tidak sembarangan bagi Rangga untuk bisa memutuskan sesuatu. Dan bagi seorang pendekar sejati seperti Pendekar Rajawali Sakti, membunuh lawannya hanya jika menurutnya memang terpaksa. Nama besar kependekarannya akan hancur seketika, kalau sedikit saja melakukan kesalahan. Ki Saragating cepat menyadari, betapa beratnya memikul julukan pendekar.

"Rangga...," ujar Ki Saragating terputus. Rangga berpaling sedikit. "Bagaimana kalau kita tidak meninggalkan desa ini. Aku rasa, siapa pun orangnya yang menjadi makhluk bersinar biru itu, pasti belum meninggalkan desa ini," kata Ki Saragating langsung mengemukakan jalan pikirannya yang tiba-tiba itu.

"Hm...," Rangga jadi menggumam sedikit.

"Aku yakin, malam ini dia pasti muncul lagi di sini, Rangga," sambung Ki Saragating meyakinkan pendapatnya.

"Kau tahu, apa yang dicarinya di Desa Randu Sangit ini, Ki?" tanya Rangga seperti untuk diri sendiri.

Ki Saragating hanya menggeleng saja. Sampai saat ini, dia memang belum tahu apa yang sedang dicari makhluk aneh bersinar biru yang sudah menghancurkan Desa Randu Sangit sampai rata dengan tanah. Bahkan tidak seorang pun penduduk desanya yang dibiarkan hidup. Beruntung, hanya Ki Saragating yang masih tersisa hidup. Itu pun karena telah meninggalkan desa ini sebelum dihancurkan makhluk aneh itu.

"Rasanya aku juga punya pikiran yang sama denganmu, Ki. Tentu ada sesuatu yang sedang dicarinya di Desa Randu Sangit ini. Tapi...," Rangga tidak melanjutkan.

"Tapi kenapa, Rangga?" Ki Saragating minta diteruskan

"Aku tidak bisa meninggalkan Pandan Wangi begitu saja. Sebentar lagi, dia pasti datang," sahut Rangga.

"Siapa itu Pandan Wangi?" tanya Ki Saragating,

"Teman," sahut Rangga singkat, seraya tersenyum.

Dan baru saja bibir Pendekar Rajawali Sakti terkatup, terlihat kepulan debu membumbung tinggi ke angkasa dari depan. Tidak lama kemudian, terlihat dua ekor kuda berlari cepat menuju ke arah mereka. Tampak seorang gadis cantik berbaju biru muda tengah menunggang kuda putih, diikuti seekor kuda hitam yang tidak ada penunggangnya.

"Itu Pandan Wangi datang," kata Rangga memberitahu.

TUJUH

Malam sudah sejak tadi menyelimuti seluruh wilayah Desa Randu Sangit. Tidak seperti biasanya, udara malam ini terasa begitu dingin menusuk kulit. Bahkan angin pun terasa berhembus kencang. Dan langit tampak kelam menghitam. Dan rasanya, sebentar lagi seluruh desa ini akan tersiram hujan lebat. Namun keadaan alam yang seperti tidak menunjukkan keramahannya ini, sama sekali tidak mengusik Rangga, Pandan Wangi, dan Ki Saragating untuk meninggalkan Desa Randu Sangit. Mereka tetap berada di desa yang sudah hancur itu. Bahkan sengaja membuat api unggun yang besar, untuk memancing kemunculan makhluk aneh bersinar biru yang sampai saat itu masih diburu.

Namun sampai hampir tengah malam, belum juga terlihat tanda-tanda makhluk itu bakal muncul. Bahkan, suasana semakin bertambah sunyi senyap tanpa terdengar nyanyian serangga malam sedikit pun. Hanya desir angin malam saja yang terdengar menggemuruh, mengusik daun telinga. Sesekali terdengar lolongan anjing hutan yang panjang dan memilukan.

"Bulu kudukku meremang, Kakang..." desis Pandan Wangi agak bergetar suaranya.

"Kau merasakan sesuatu, Pandan?" tanya Rangga yang duduk di sebelah gadis berjuluk Kipas Maut.

"Entahlah...," sahut Pandan Wangi mendesah ragu-ragu.

Rangga memandangi wajah cantik gadis itu. Sedangkan yang dipandangi malah mengarahkan pandangan lurus ke depan. Jelas sekali kalau ada sesuatu yang dirasakan Pandan Wangi. Tapi dia sendiri tidak tahu, apa yang membuat hatinya mendadak jadi gelisah. Dan disaat kesunyian itu terasa semakin mencekam, tiba-tiba saja dua ekor kuda pendekar muda dari Karang Setra itu meringkik keras dengan suara gelisah.

"Hup!" Rangga langsung melompat bangkit berdiri, diikuti Ki Saragating dan Pandan Wangi. Ketegangan semakin menguasai diri mereka. Sementara kuda-kuda mereka terus gelisah, mendengus-dengus sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah yang berbatu. Sesekali kuda-kuda itu meringkik sambil mendongakkan kepala ke atas.

"Hati-hati...," desis Rangga memperingatkan. "Mungkin ini pertanda buruk buat kita."

Belum lagi kering kata-kata Pendekar Rajawali Sakti itu, tiba-tiba saja terlihat kilatan cahaya biru di angkasa. Seketika langit yang begitu kelam jadi terlihat terang tersiram cahaya biru yang melesat begitu cepat. Namun cahaya biru itu melintas hanya sebentar saja, maka keadaan di sekitar Desa Randu Sangit itu kembali gelap gulita terselimut kesunyian mencekam.

Dan sebelum mereka bisa berbuat sesuatu, kembali dikejutkan oleh terdengarnya suara menggorok yang begitu keras, diikuti suara tawa mengikik mengerikan. Ki Saragating dan dua orang pendekar muda dari Karang Setra ini jadi saling berpandangan. Suara-suara itu terdengar bagai berada dekat di sekeliling mereka. Tapi, tidak sedikit pun terlihat ada orang lain di tempat ini. Keadaannya masih tetap gelap, bagai berada dalam goa yang tak bercahaya sedikit pun. Hanya nyala api unggun saja yang menerangi sedikit di sekitar mereka.

Dan di saat mereka semua terdiam mencari sumber arah suara tawa tadi datang, mendadak saja tanah yang dipijak jadi bergetar. Seketika ketiga orang itu jadi tersentak kaget setengah mati. Dan belum juga rasa keterkejutan itu hilang tiba-tiba saja dari dalam tanah yang berbatu di depan mereka memancar cahaya biru terang yang menggumpal menyilaukan mata.

"Oh...?!" Pandan Wangi jadi terperangah melihat gumpalan cahaya biru terang yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah. Begitu terangnya, hingga membuat tempat itu jadi bagai siang hari. Bahkan cahaya api unggun pun tidak sanggup mengalahkan terangnya gumpalan cahaya biru itu. Namun di balik gumpalan cahaya biru itu, terlihat samar-samar sesosok tubuh tinggi besar. Sulit untuk bisa memastikan, sosok tubuh apa yang ada dalam gumpalan cahaya biru terang itu.

"Ghrooogkh...!"

Belum juga ada yang bisa menyadari, gumpalan cahaya biru terang itu sudah melesat cepat bagai kilat menerjang ketaga orang pendekar ini. Rangga yang lebih cepat tersadar, langsung berteriak lantang sambil mencabut pedang pusakanya.

"Awas kalian! Hiyaaa...!"

Cring! Bet!

"Ghraaagkh...!"

Kibasan Pedang Pusaka Rajawali Sakti yang juga memancarkan cahaya biru terang menyilaukan mata, membuat gerakan makhluk bersinar biru itu jadi terhambat. Sambil mengerang keras, makhluk itu melesat balik ke belakang. Sementara, Pandan Wangi dan Ki Saragating sudah berlompatan ke belakang dengan keterkejutan yang amat sangat.

"Hup!" Rangga cepat melompat ke depan sejauh lima langkah. Pedang pusakanya langsung disilangkan di depan dada. Sementara kedua kakinya dipentang lebar ke samping, dengan lutut agak tertekuk ke depan. Sengaja Rangga melompat ke depan, untuk melindungi Pandan Wangi dan Ki Saragating dari incaran makhluk bersinar biru ini. Dari sikapnya. sudah jelas kalau Pendekar Rajawali Sakti langsung mempersiapkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma' yang sangat tangguh dan dahsyat. Belum ada seorang tokoh persilatan pun yang mampu menandingi jurus 'Pedang Pemecah Sukma' ini.

"Siapa kau? Untuk apa menghancurkan desa ini...?" terdengar begitu dingin nada suara Rangga.

"Ghrrr...!" Tapi makhluk aneh bersinar biru itu hanya menggereng saja. Tampak sosok tubuh yang berada dalam gumpalan cahaya biru itu bergerak-gerak perlahan Kemudian....

"Ghraaagkh...!"

"Hup! Yeaaah...!"

Tepat ketika makhluk bersinar biru itu bergerak menyerang, Rangga langsung saja melenting tinggi-tinggi ke atas sambil menyabetkan pedangnya cepat bagai kilat. Ujung pedangnya tepat menghantam bagian tengah makhluk bercahaya biru itu. Namun Rangga jadi terkesiap. Karena dirasakannya seperti membabat gumpalan asap saja. Sama sekali tidak terasa pedangnya menyentuh benda apa pun.

"Hiyaaa...!" Rangga cepat memutar tubuhnya di udara, dan kembali menjejakkan kakinya manis sekali di tanah. Lalu secepat kilat, Pendekar Rajawali Sakti menghunjamkan pedangnya ke bagian tengah gumpalan cahaya biru. Dan....

"Hih!"

Bres!

"Aaaargkh...!" Makhluk aneh bercahaya biru terang itu kontan menggerung dahsyat, begitu ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti menghunjam tepat di bagian tubuhnya.

Sementara, Rangga sendiri cepat-cepat melompat ke belakang sambil berputaran beberapa kali untuk menjaga jarak. Tampak sosok makhluk yang berselubung cahaya biru itu menggeliat-geliat, seperti merasakan sakit akibat hunjaman Pedang Pusaka Rajawali Sakti tadi.

Sementara, Rangga sudah menyilangkan pedangnya di depan dada. Dan perlahan-lahan, kakinya bergerak menggeser ke kanan. Tatapan matanya begitu tajam, memperhatikan lawan anehnya ini.

"Hiyaaat...!" Sambil berteriak keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti melompat cepat bagai kilat disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Dan pada saat itu juga, pedangnya dikibaskan menggunakan jurus 'Pedang Pemecah Sukma' tingkat terakhir. Begitu cepat kibasannya, hingga yang terlihat hanya kilatan cahaya biru berkelebat menghantam gumpalan sinar biru.

Tepat ketika pedang Pendekar Rajawali Sakti menghantam makhluk bersinar biru itu, seketika terdengar ledakan dahsyat menggelegar bagai guntur memecah angkasa. Dan keanehan pun terjadi saat itu juga. Tampak gumpalan cahaya biru lenyap seketika. Dan kini, di depan Rangga berdiri sesosok makhluk bertubuh hitam berbulu seperti kera. Wajahnya pun lebih mirip kera. Namun pada bagian atas kepalanya, terlihat sepasang tanduk seperti kerbau. Ekor yang panjang dan berbulu hitam kasar, menjuntai dari belakang tubuhnya.

Rangga yang sudah kembali menjejakkan kaki nya di tanah, segera melangkah ke belakang sejauh satu batang tombak. Hampir tidak dipercaya, apa yang terjadi saat ini. Makhluk itu demikian mengerikan, dengan tinggi tiga kali lipat dari tinggi manusia biasa.

Makhluk aneh bertubuh raksasa itu tampak gontai, bagai hendak rubuh. Tampak tepat di antara kedua matanya yang terbelah, mengalirkan darah segar begitu deras hingga hampir menutupi wajahnya yang semakin kelihatan menyeramkan. Rupanya, tebasan pedang Rangga tadi sangat tepat menghantam bagian kepalanya. Sehingga cahaya biru yang menyelubungi seluruh tubuhnya lenyap seketika.

"Gila! Makhluk apa itu...?!" desis Ki Saragating terkesiap. Orang tua ini benar-benar tidak menyangka kalau di balik selubung cahaya biru terang itu, tersembunyi sesosok makhluk aneh mengerikan bagai datang dari nereka. Begitu mengerikan dan sulit dipercaya.

Sementara, Rangga sendiri sampai melangkah ke belakang beberapa tindak. Pendekar Rajawali Sakti sendiri hampir tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. Sosok makhluk yang sangat aneh dan baru sekali ini disaksikannya.

"Ghrrr...!" Makhluk aneh itu menggeram sambil melangkah menghampiri Rangga yang berdiri tegak, sejauh dua batang tombak lebih di depannya. Sorot matanya yang memerah, terlihat begitu tajam bagai sepasang bola api yang hendak membakar seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Tampaknya, dia begitu marah karena selubung birunya bisa dilenyapkan. Bahkan mendapat luka di kening akibat tebasan Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

"Ghraaagkh...!" Sambil meraung keras, makhluk itu mengangkat kedua tangannya ke atas. Sementara, Rangga tetap berdiri tegak dengan pedang tersilang di depan dada. Cahaya pedangnya seakan hampir menutupi seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan, makhluk aneh berbulu hitam itu semakin dekat saja jaraknya.

"Ghrauuugkh...!" Sambil menggerung dahsyat, makhluk aneh berbulu hitam itu melompat cepat bagai kilat sambil mengibaskan kedua tangannya. Dan pada saat itu juga, Rangga melenting ke atas sambil berputar Sehingga, serangan makhluk itu hanya menyambar angin.

"Yeaaah..!"

Wut!

Sambil berputaran di udara, Rangga mengibaskan pedangnya, tepat mengarah ke kepala yang bertanduk itu. Namun belum juga kilatan sinar biru pada pedang itu sampai, mendadak saja ...

Slap!

"Heh..?!" Cepat Rangga melenting dan berputaran ke belakang, begitu tiba-tiba kilatan cahaya emas menyambar tepat ke depan tubuhnya. Dan ini membuat serangannya pada makhluk aneh berbulu hitam itu terpaksa digagalkan.

Tepat saat kedua kaki Pendekar Rajawali Sakti menjejak tanah, di depan makhluk aneh berbulu hitam itu sudah berdiri seorang wanita berwajah cantik berbaju tipis warna biru terang. Begitu tipisnya, sehingga bentuk tubuhnya yang ramping terlihat jelas membayang.

Sementara Ki Saragating yang menyaksikan semua peristiwa itu jadi terbeliak kedua bola matanya. Dikenalinya betul wanita cantik yang tiba-tiba muncul menggagalkan serangan Pendekar Rajawali Sakti. Dialah yang siang tadi dicundangi Rangga. Dan sekarang, muncul menyelamatkan makhluk aneh berbulu hitam dari tebasan pedang Pendekar Rajawali Sakti.

"Suiiit..!" Tiba-tiba saja wanita cantik berbaju biru tipis yang dikenal sebagai Nini Tunjung Arum bersiul nyaring. Dan belum lagi siulannya menghilang dari pendengaran, bermunculan gadis-gadis cantik yang semuanya mengenakan baju biru. Dan mereka langsung mengepung tempat ini, dengan tombak terhunus.

Pandan Wangi bergegas mengajak Ki Saragating mendekati Rangga. Dan sebentar saja, Desa Randu Sangit yang sudah hancur ini dikepung gadis cantik bertombak panjang yang berjumlah puluhan orang. Dan kini sedikit pun tidak terdapat celah untuk bisa keluar dari kepungan yang sangat rapat itu.

"Tepat dugaanku, Rangga. Di belakang semua ini pasti si Ratu Bukit Berdarah," desis Ki Saragating agak menggeram suaranya.

"Hm... Tapi, dari mana makhluk itu bisa didapatnya...?" gumam Rangga seperti bertanya pada diri sendiri.

"Hik hik hik hik...!" Nini Tunjung Arum jadi terkikik melihat para pendekar itu jadi kebingungan. Suara tawa Ratu Bukit Berdarah yang kering dan mengikik itu seperti suara wanita lanjut usia. Padahal, wajah Nini Tunjung Arum begitu cantik, bagai gadis remaja berusia sekitar tujuh belas tahun. Dan malam ini, Ratu Bukit Berdarah kelihatan begitu cantik bagai dewi baru turun dari kayangan.

"Kalian tidak perlu bingung. Sudah sejak dari dulu aku selalu bersamanya. Dan baru kali ini aku keluar bersama, karena bantuannya sangat kubutuhkan," kata Nini Tunjung Arum kalem, sambil melirik sedikit pada makhluk aneh berbulu hitam yang ada di sebelah kirinya, agak sedikit ke belakang.

"Apa yang kau cari di desa ini, Nisanak?" tanya Rangga ingin tahu.

"Keabadian hidup," sahut Nini Tunjung Arum mantap.

"Tidak ada keabadian di dunia ini, Nini Tunjung Arum. Akan sia-sia saja usahamu. Semua yang ada di dunia ini tidak kekal," ujar Rangga seperti menggurui.

"Kau tahu apa, heh...?! Justru kehadiranmu di sini membuat semua rencanaku jadi berantakan. Kau harus bertanggung jawab! Hanya dengan da-rah dan nyawamu saja semua kegagalanku bisa kau bayar," bentak Nini Tunjung Arum sengit.

"Hm...." Kening Rangga jadi berkerut dengan suara menggumam pelan. Tuduhan Ratu Bukit Berdarah memang membuat hatinya jadi sakit. Tapi, Rangga masih bisa menahan diri. Sedangkan Pandan Wangi sudah mencabut senjata pusakanya berupa kipas baja putih yang ujung-ujungnya runcing seperti mata anak panah. Ki Saragating sendiri sudah meloloskan pedangnya. Tapi, mereka tidak ada yang berani bergerak, ketika melihat tangan Rangga sedikit terentang.

Sedikit Rangga berpaling ke belakang, menatap langsung Ki Saragating dengan sudut ekor matanya. Laki-laki tua berjubah putih yang sudah menggenggam pedangnya itu melangkah dua tindak ke depan, hingga berada dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti. Wajahnya disorongkan hingga mendekati wajah Rangga.

"Kau tahu apa yang dimaksudkannya, Ki?" tanya Rangga langsung dengan suara pelan setengah berbisik.

"Intan Saga Merah," sahut Ki Saragating juga pelan suaranya.

"Hm, apa itu..?" tanya Rangga lagi setengah menggumam.

"Batu Mustika Kehidupan, yang hanya ada satu di dunia ini. Tapi, tidak ada seorang pun yang tahu tempatnya. Tapi, memang pernah kudengar kalau batu itu akan muncul di Desa Randu Sangit. Hanya aku tidak tahu, kapan dan di mana pastinya batu Intan Saga Merah itu muncul," sahut Ki Saragating menjelaskan.

"Hm.... Jadi, itu permasalahannya?" gumam Rangga seperti bicara pada diri sendiri.

"Ya! Aku rasa memang itu, Rangga," sahut Ki Saragating juga menggumam suaranya.

Rangga hanya mengangguk angguk saja. Kini semua permasalahannya sudah bisa dimengerti. Nini Tunjung Arum yang lebih dikenal berjuluk Ratu Bukit Berdarah ternyata punya maksud, hingga bisa berbuat begitu keji dengan membantai seluruh penduduk Desa Randu Sangit. Pada hal yang diinginkan hanya sebuah batu mustika saja, sehingga sanggup melenyapkan orang-orang yang tidak berdosa dan tidak tahu permasalahan apa-apa.

Saat itu juga darah Rangga jadi bergolak mendidih. Bahkan sorot matanya semakin terlihat tajam, menusuk langsung ke bola mata Nini Tunjung Arum. Perlahan kakinya terayun ke depan dua langkah. Sementara, Ki Saragating sudah berada kembali di sebelah Pandan Wangi. Kini, Rangga berhadapan langsung dengan Nini Tunjung Arum yang masih didampingi makhluk aneh berbulu hitam peliharaannya.

********************

DELAPAN

"Ratu Bukit Berdarah! Kalau kau ingin membuat perhitungan denganku, sekaranglah saatnya!" tantang Rangga lantang.

"Hik! Kau akan mampus, Bocah!" dengus Nini Tunjung Arum sengit, menerima tantangan Rangga yang terbuka.

Tapi belum juga wanita ini melangkah, makhluk aneh berbulu hitam yang berada di sebelahnya sudah melompat begitu cepat bagai kilat, disertai geraman yang sangat dahsyat menggetarkan jantung. Begitu cepat terjangannya, hingga yang tetlihat hanya bayangan hitam saja berkelebat, meluruk ke arah Pendekar Rajawali Sakti!

"Hap! Yeaaah...!" Namun Rangga yang memang sudah siap sejak tadi, langsung saja menghentakkan kedua tangannya ke depan, tanpa sedikit pun menggeser kakinya, Dan seketika dikerahkannya jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Hingga tepat pada saat kedua tangannya menghentak ke depan, melesat kilatan cahaya merah bagai api. Lalu....

Splas!

"Aaargkh...!" Makhluk berbulu hitam seperti kera raksasa itu kontan meraung keras, begitu pukulan yang dilepaskan Rangga tepat menghantam dadanya. Seketika tubuhnya terlempar ke belakang, dan keras sekali menghantam tanah berbatu.

Belum juga makhluk mengerikan itu bisa bergerak bangkit, Pandan Wangi sudah melompat cepat bagai kilat sambil mengebutkan Kipas Mautnya ke arah leher makhluk mengerikan berbulu hitam pekat ini, sambil berteriak keras melengking tinggi.

"Hiyaaat..!"

Bet! Cras!

Tidak ada lagi kesempatan bagi makhluk berbulu hitam seperti kera raksasa itu untuk menghindari serangan dahsyat si Kipas Maut. Ujung-ujung kipas baja putih yang runcing seperti mata anak panah, seketika merobek lebar tenggorokannya. Maka darah pun muncrat berhamburan dari lehernya.

"Hap!" Sementara, Pandan Wangi sudah melenting kembali ke belakang dan berputaran beberapa kali di udara. Lalu, manis sekali kedua kakinya menjejak tanah lagi. Sedangkan makhluk aneh berbulu hitam pekat itu hanya sebentar saja menggelepar sambil mengerang, dan kini sudah bangkit kembali dengan gerakan cepat. Tapi belum juga bisa berbuat sesuatu, Ki Saragating sudah melompat dengan kecepatan kilat sambil mengebutkan pedangnya, tepat mengarah ke dada makhluk kera raksasa yang sangat mengerikan ini.

"Hiyaaa...!"

Bet!

Kembali makhluk kera raksasa berbulu hitam itu tidak dapat lagi mengelak serangan yang begitu cepat ini. Dan....

Cras!

"Aaaargkh...!" Kembali makhluk itu meraung keras, begitu pedang Ki Saragating merobek dadanya. Seketika darah kembali muncrat berhamburan deras. Serangan-serangan yang dilakukan Pandan Wangi dan Ki Saragating memang sangat cepat, hingga tidak ada seorang pun yang bisa menyadari lebih dulu.

Sementara makhluk kera raksasa itu terus menggerung-gerung merasakan sakit yang amat sangat pada dada dan leher, akibat dirobek dua buah senjata. Dan darah pun terus mengucur deras, seperti air mengalir di sungai.

Bruk! Keras sekali makhluk kera raksasa itu ambruk ke tanah, langsung menggelepar sambil menggerung-gerung. Dan seketika batu-batu di sekitarnya berpentalan menjauh. Dan tidak berapa lama kemudian, makhluk aneh itu mengejang kaku, lalu diam tidak bergerak-gerak lagi. Darah yang keluar memang begitu banyak, ditambah lagi lehernya sudah menganga akibat terkena sabetan senjata maut Pandan Wangi. Makhluk kera raksasa yang sempat menggemparkan itu akhirnya tewas dengan luka sangat parah.

"Keparat! Kubunuh kalian semua! Hiyaaat..!" Nini Tunjung Arum yang lebih cepat menya-dari, jadi begitu geram melihat makhluk peliharaannya sekarat mendapat serangan yang begitu cepat dan beruntun tadi. Dan akhirnya, makhluk itu menggeletak tak bernyawa lagi. Dan tanpa menghiraukan siapa yang sedang dihadapinya, wanita cantik yang berjuluk Ratu Bukit Berdarah itu langsung melompat dengan kecepatan kilat sambil berteriak keras menggelegar.

Namun belum juga serangannya sampai pada sasaran, Rangga sudah melenting ke udara memapak serangan Ratu Bukit Berdarah. Lalu dengan cepat sekali tangan kanannya dikebutkan meng-gunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.

Bet!

"Ikh...?!" Nini Tunjung Arum jadi terpekik kaget. Cepat-cepat tubuhnya dilentingkan berputar ke belakang. Namun pada saat itu juga, Rangga sudah gencar mencecarnya dengan mengebutkan kedua tangannya bagai sepasang sayap burung rajawali. Begitu cepat kibasan-kibasan kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti, membuat Nini Tunjung Arum terpaksa harus berjumpalitan di udara menghindarinya. Dan begitu wanita ini mendapatkan kesempatan, cepat tubuhnya melesat ke belakang. Lalu, manis sekali kedua kakinya kembali menjejak tanah.

"Serang mereka...!" seru Nini Tunjung Arum lantang menggelegar memberi perintah pada pengikutnya.

"Hiyaaa...!" "Yeaaah...!"

Seketika itu juga pengikut Ratu Bukit Berdarah yang semuanya gadis-gadis muda berwajah cantik langsung berlompatan menyerang Ki Saragating dan Pandan Wangi. Namun, kedua orang ini memang sudah siap sejak tadi. Dan begitu gadis-gadis itu berlompatan menyerang, Pandan Wangi dan Ki Saragating langsung saja menyambut dengan senjata masing-masing yang terhunus.

Pertempuran pun tak dapat dihindari lagi. Dan dalam waktu tidak berapa lama saja, sudah terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi, mengiringi ambruknya tubuh-tubuh ramping bersimbah darah. Nyatanya, sudah lima orang bergelimpangan tidak bernyawa lagi dengan darah membasahi tanah Desa Randu Sangit ini.

Sementara, Nini Tunjung Arum sudah kembali menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Pertarungan antara kedua orang ini juga tidak kalah dahsyatnya. Nini Tunjung Arum sendiri sudah mengerahkan jurus-jurus tingkat tinggi, sehingga membuat Rangga juga terpaksa harus mengerahkan paduan jurus-jurus rajawali yang sangat diandalkan.

Di lain tempat, Pandan Wangi dan Ki Saragating sudah bisa menguasai jalannya pertarungan. Walaupun dikeroyok gadis-gadis yang berjumlah cukup banyak ini, tapi memang tingkat kepandaian kedua orang itu memang belum bisa tertandingi. Tak heran kalau dengan mudah mereka berdua dapat mematahkan semua serangan, sehingga membuat gadis-gadis itu jadi tidak berdaya.

Jerit dan pekikan kematian pun terus terdengar saling sambut, disusul ambruknya tubuh-tubuh molek yang berlumuran darah. Sedangkan Rangga sendiri sudah mulai menggunakan senjata pusakanya. Pedang Pusaka Rajawali Sakti itu memancarkan cahaya biru terang, membuat malam yang pekat jadi terang benderang bagaikan siang hari. Sementara Nini Tunjung Arum juga sudah menggunakan pedangnya.

"Tahan jurus pamungkasku. Bocah! Hiyaaat..!" teriak Nini Tunjung Arum dengan suara keras menggelegar.

Dan bagaikan kilat, Ratu Bukit Berdarah melesat sambil cepat memutar pedangnya. Kini yang terlihat hanya kilatan cahaya keperakan bergulung-gulung, meluruk deras bagai hendak membelah seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti jadi beberapa bagian. Namun pada saat itu juga, Rangga mengerahkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'.

"Hiyaaa...!"

Bet! Cepat sekali Rangga mengebutkan pedangnya ke depan. Dan...

Tring!

"Ikh...?!" Nini Tunjung Arum jadi tersentak kaget sampai terpekik tertahan, begitu pedangnya membentur pedang Pusaka Rajawali Sakti. Cepat tubuhnya melenting kebelakang dengan berputaran beberapa kali di udara. Dan begitu kakinya menjejak tanah, kembali tubuhnya melesat menyerang pemuda berbaju rompi putih ini.

"Hiyaaat..!"

"Yeaaah...!"

Namun Rangga yang masih mengerahkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma', langsung saja berlompatan sambil mengebutkan pedangnya. Langsung dibalasnya setiap serangan Ratu Bukit Berdarah. Dan seperti sengaja, Rangga ingin mengadu pedangnya dengan pedang wanita itu. Tapi, tampaknya Nini Tunjung Arum tidak ingin menyambut pedang yang memancarkan cahaya biru terang itu dengan pedangnya sendiri.

Dan keputusannya ini justru membuatnya tidak sadar akan pengaruh jurus 'Pedang Pemecah Sukma' yang berbahaya. Hingga dalam waktu tidak berapa lama saja, gerakan-gerakan Nini Tunjung Arum jadi tidak terkendali. Bahkan dalam satu kesempatan yang begitu kecil, Rangga berhasil membabatkan pedangnya, tepat ke bagian tengah pedang Nini Tunjung Arum. Nyatanya, Ratu Bukit Berdarah itu memang tidak sempat lagi menghindarinya. Hingga....

Trang!

"Akh...?!" Nini Tunjung Arum jadi terpekik. Dan seketika kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, begitu melihat pedangnya terpenggal menjadi dua bagian tepat di tengah-tengah. Dan belum lagi sempat disadari apa yang terjadi pada pedang kebanggaannya, Rangga sudah melepaskan satu pukulan keras dengan tangan kiri lewat jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Begitu cepat pukulannya, hingga Nini Tunjung Arum tidak sempat lagi berkelit.

Diegkh!

"Aaaakh...!" Kembali Nini Tunjung Arum menjerit keras melengking tinggi, begitu dadanya telak sekali terkena pukulan Rangga. Dan seketika itu juga, tubuhnya jadi terpental sejauh dua batang tombak ke belakang.

Bruk! Keras sekali tubuh ramping Ratu Bukit Berdarah itu jatuh menghantam tanah berbatu di Desa Randu Sangit ini. Namun wanita itu cepat bangkit kembali, walaupun agak terhuyung-huyung. Cepat keseimbangan tubuhnya bisa dikuasai dengan melakukan beberapa gerakan dari kembangan jurus yang dimiliki. Sementara, Rangga berdiri tegak dengan pedang tersilang di depan dada.

"Phuih...!" Nini Tunjung Arum marah sambil membuang pedangnya yang sudah tinggal sepotong. Ditatapnya Rangga yang masih menggenggam pedang pusakanya di depan dada. Begitu tajam sorot matanya yang jadi memerah itu, hingga terlihat bagaikan sepasang bola api yang hendak menghanguskan seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

Cring! Melihat lawannya kini tidak bersenjata lagi, Rangga cepat memasukkan pedang pusakanya ke dalam warangka di punggung. Maka seketika itu juga, cahaya biru terang yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti lenyap. Dan kini keadaan di sekitarnya kembali diselimuti kegelapan.

"Aku akan mengadu jiwa denganmu...!" desis Nini Tunjung Arum menggeram dingin.

"Hm...." Rangga hanya menggumam saja sedikit. Sementara, Nini Tunjung Arum sudah membuat beberapa gerakan dengan kedua tangan, diikuti gerakan tubuhnya yang meliuk-liuk bagaikan ular. Namun, Rangga masih terlihat berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Kening Rangga agak berkerut juga melihat tubuh Nini Tunjung Arum perlahan-lahan menge-luarkan cahaya biru terang yang begitu mirip cahaya yang keluar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Dan lama-kelamaan, cahaya biru terang itu semakin banyak menggumpal menyelimuti seluruh tubuhnya. Dan yang terlihat kini hanya gumpalan cahaya biru saja yang berada didepan Pendekar Rajawali Sakti.

"Ajalmu sudah tiba, Pendekar Rajawali Sakti...!" desis Nini Tunjung Arum dingin menggetarkan.

"Hm.... Dia mulai mengerahkan ilmu kesaktiannya. Baiklah Akan kuhadapi dia dengan aji 'Cakra Buana Sukma'," gumam Rangga dalam hati.

"Hap...!" Pendekar Rajawali Sakti langsung saja mengerahkan ilmu kesaktiannya yang sangat diandalkan. Kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada, begitu kedua kakinya merentang kesamping, dengan lutut tertekuk ke depan. Dan perlahan-lahan, tubuh pemuda berbaju rompi putih ini bergerak ke kiri sambil mengatur jalan pernapasannya. Lalu tidak lama kemudian tubuhnya bergerak lagi ke kanan. Dan begitu tubuhnya kembali tegak, tampak di antara kedua telapak tangannya yang merapat di depan dada, memancar cahaya biru yang seakan-akan hendak memberontak keluar.

"Tahan ilmu pamungkasku! Hiyaaat...!" Sambil berteriak keras menggelegar, Nini Tunjung Arum langsung saja melompat cepat bagai kilat, menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Namun, Rangga yang sejak tadi sudah siap seketika menghentakkan kedua tangannya ke depan sambil berteriak keras menggelegar.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Yeaaah...!" Begitu cepatnya serangan-serangan itu terjadi, hingga

Glaaar...!

"Aaaa...!" Jeritan yang panjang dan melengking seketika terdengar nyaring dan menyayat, begitu cahaya biru yang memancar dari kedua telapak tangan Rangga menghantam gumpalan biru yang menyelubungi tubuh Nini Tunjung Arum.

Tampak gumpalan cahaya biru itu terpecah menyebar ke segala arah. Dan bersamaan dengan itu, tubuh Nini Tunjung Arum hancur berkeping-keping disertai ledakan dahsyat menggelegar. Dan Rangga langsung mencabut aji 'Cakra Buana Sukma', hingga cahaya biru yang memancar dari kedua telapak tangannya lenyap seketika.

Pendekar Rajawali Sakti jadi termangu, tidak menyangka kalau aji 'Cakra Buana Sukma' yang dikerahkannya akan berakibat seperti itu. Dan memang, tadi sempat dirasakan adanya penolakan ketika cahaya biru dari telapak tangan membentur selubung cahaya yang menutupi tubuh Ratu Bukit Berdarah. Namun justru daya penolakan itu membuat kekuatan aji 'Cakra Buana Sukma' jadi bertambah dengan sendirinya. Bahkan Rangga sendiri tidak dapat lagi mengendalikan. Dan akibatnya, sungguh sangat mengerikan! Tubuh Nini Tunjung Arum hancur bagai tergilas sebongkah batu yang sangat besar. Sampai-sampai tidak berbentuk lagi.

Sementara bersamaan dengan itu, Pandan Wangi berhasil menebaskan Kipas Mautnya ke leher lawan terakhirnya. Dan kini, tidak ada seorang pun pengikut Ratu Bukit Berdarah yang masih tersisa. Mayat-mayat gadis muda bergelimpangan saling tumpang tindih, dengan darah berhamburan menyebarkan bau amis menusuk hidung.

"Ki...?!" Pandan Wangi tiba-tiba terkejut, melihat Ki Saragating terhuyung-huyung dengan tubuh berlumur darah. Bergegas dihampiri orang tua itu dan langsung dipapahnya. Sementara Rangga masih berdiri terpaku di antara pecahan tubuh Nini Tunjung Arum. Pandan Wangi memapah Ki Saragating yang terluka menghampiri Pendekar Rajawali Sakti.

"Kakang...," panggil Pandan Wangi.

"Oh...?!" Rangga jadi tersentak kaget. Dan begitu berpaling, tampak Pandan Wangi tengah memapah Ki Saragating yang seluruh tubuhnya berlumuran darah. Bergegas dihampirinya, dan digantikannya Pandan Wangi yang tengah memapah orang tua ini. Rangga membawanya ke tempat yang agak jauh dari mayat-mayat gadis pengikut Ratu Bukit Berdarah. Mereka kemudian duduk di sana. Sementara, Pandan Wangi hanya berdiri saja di belakang Pendekar Rajawali Sakti.

"Hanya luka goresan saja di bahu kiriku, Rangga. Aku tidak apa-apa," kata Ki Saragating seraya mencoba tersenyum.

"Akan kusumbat aliran darahnya, Ki," kata Rangga.

Ki Saragating hanya diam saja, saat Rangga memberi beberapa totokan di sekitar bahu kirinya yang terluka. Dan memang, darah seketika berhenti mengalir Ki Saragating menarik napas dalam-dalam, begitu merasakan tubuhnya langsung terasa lebih enak, setelah mendapat totokan Pendekar Rajawali Sakti.

Memang cukup dalam juga luka Ki Saragating, hingga darah yang keluar cukup banyak. Dan Pandan Wangi langsung menghampiri. Dibalutnya luka di bahu kiri orang tua itu dengan kain yang disobeknya dari pakaian salah seorang pengikut Ratu Bukit Berdarah. Mereka kemudian sama-sama berdiri dan memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan saling tumpang tindih. Untuk beberapa saat, mereka terdiam membisu. Namun pada saat itu, mendadak saja...

Slap!

"Heh. ?! Apa itu...?!" sentak Rangga, ketika tiba-tiba saja terlihat seberkas cahaya merah melesat di angkasa begitu cepat bagai kilat.

Ki Saragating dan Pandan Wangi langsung mendongak. Sekilas mereka masih melihat kilatan cahaya merah tadi sebelum menghilang di antara rimbunnya pepohonan.

"ltulah yang dicari Nini Tunjung Arum. Bahkan semua orang persilatan selalu menginginkannya," jelas Ki Saragating.

"Intan Saga Merah...?" desis Pandan Wangi seperti bertanya pada diri sendiri.

"Benar, Nini Pandan. ltulah yang dimaksud dengan Mustika Kehidupan. Tapi sampai saat ini belum pernah ada seorang pun yang bisa memilikinya. Batu itu tiba-tiba saja muncul, dan selalu menghilang kalau ada orang yang berusaha mencarinya," jelas Ki Saragating lagi.

"Hmmm... Kau ingin memilikinya, Ki?" tanya Rangga memancing.

"Sedikit pun tidak pernah memimpikannya, Rangga," sahut Ki Saragating mantap.

Tanpa berkata apa-apa lagi. Ki Saragating melangkah meninggalkan dua orang pendekar muda dari Karang Setra ini. Kakinya terus melangkah tanpa berpaling lagi. Sementara, Rangga dan Pandan Wangi hanya memandangi saja.

"Mau ke mana kau, Ki?" seru Pandan Wangi bertanya.

"Mencari tempat yang tenang," sahut Ki Saragating tanpa menoleh lagi. Dan orang tua itu terus saja melangkah semakin jauh menuju timur Desa Randu Sangit ini. Sementara Rangga dan Pandan Wangi terus memandangi sampai orang tua itu lenyap dan pandangan.

"Ayo, Pandan," ajak Rangga.

Kedua pendekar muda itu pun melangkah meninggalkan desa yang sudah hancur ini. Sementara, di ufuk timur semburat cahaya merah jingga mulai terlihat membias. Dan kicauan burung pun mulai terdengar mengisi pagi. Rangga dan Pandan Wangi terus berjalan meninggalkan Desa Randu Sangit. Tanpa disadari justru mereka berjalan kearah jatuhnya cahaya merah dari Intan Saga Merah yang diyakini orang memiliki kekuatan untuk keabadian dalam hidup didunia.

"Kakang! Kau akan mencari mustika keabadian hidup itu...?" tanya Pandan Wangi tiba-tiba.

"Untuk apa? Toh aku sama sekali tidak percaya. Tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini. Pandan," sahut Rangga.

"Aku hanya bertanya saja, Kakang," ujar Pandan Wangi.

"Jangan-jangan kau tertarik?" pancing Rangga.

Pandan Wangi hanya menggeleng saja. Dan Rangga tersenyum lebar, melihat si Kipas Maut sama sekali tidak tertarik oleh pengaruh mustika yang dikatakan bisa membuat orang hidup abadi. Dan Rangga memang tidak akan percaya ada hidup yang abadi di dunia ini.

SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA: RAHASIA CINCIN MUSTIKA
Thanks for reading Intan Saga Merah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »