Titisan Anak Setan

Pendekar Rajawali Sakti

TITISAN ANAK SETAN


SATU
"Setan keparat! Kubunuh kau! Hih...!"
Buk!
"Akh!"

Bocah berusia sekitar sepuluh tahun itu jatuh berguling-gulingan, begitu punggungnya dihantam pukulan tangan kekar, di atas tanah yang berlumpur akibat hujan deras yang mengguyur bumi semalam. Mulutnya meringis menahan rasa nyeri pada tulang punggungnya. Namun sorot matanya terlihat begitu tajam, menatap seorang laki-laki setengah baya bertubuh kekar dan berotot yang memukulnya.

"Dasar anak setan! Mau melawan, heh...?!" bentak laki-laki kekar itu sambil mendelik, begitu melihat bocah itu menatapnya.

Tapi tampaknya bocah yang baru berusia sepuluh tahun itu seperti tidak mempedulikan bentakan keras menggelegar ini. Dia malah bangkit berdiri dengan mata tetap menatap tajam pada wajah yang sudah mulai ditumbuhi keriput itu.

"Setan! Hih...!"

Plak!

Tidak terdengar keluhan sedikit pun ketika telapak tangan laki-laki setengah baya itu menghajar wajah bocah laki-laki ini. Bahkan kepala bocah itu hanya bergerak sedikit saja, lalu kembali tegak dengan sorot mata semakin memerah tajam. Rasa-rasanya, bara api kemarahan sudah hampir meledakkan rongga dadanya.

"Dasar setan kecil! Kau benar-benar ingin mampus, heh...!"

Laki-laki kekar berusia setengah baya ini jadi semakin jengkel saja. Kakinya segera melangkah dua tindak ke depan. Tangannya yang sudah kembali terkepal, diangkat sampai ke atas kepala. Sambil menggeram, tangannya melepaskan pukulan ke arah kepala bocah berusia sepuluh tahun ini. Tapi....

"Hih!"
Plak!
"Ikh...!"

Laki-laki kekar setengah baya itu jadi terpekik kaget setengah mati, begitu tiba-tiba bocah bertubuh kurus ini cepat mengangkat tangannya ke atas kepala. Akibatnya tangan mereka beradu keras, tepat di atas kepala bocah ini. Bukan main terkejutnya laki-laki berbaju biru dengan sulaman benang halus keemasan ini. Seketika pergelangan tangannya terasa jadi nyeri. Seakan-akan seluruh tulang dipergelangan tangannya mendadak remuk, begitu habis berbenturan dengan tangan bocah itu.

Dan belum lagi hilang rasa keterkejutannya, mendadak saja bocah berusia sepuluh tahun itu menyeringai lebar sambil menggeram seperti seekor serigala. Seketika, kedua bola mata laki-laki kekar setengah baya ini jadi terbeliak lebar, melihat gigi-gigi yang kecil runcing seperti binatang. Dan belum juga bisa berpikir lebih jauh lagi, bocah itu sudah melompat cepat sambil memperdengarkan raungan yang begitu dahsyat mengerikan.

"Ghraaagkh...!"

Sementara laki-laki setengah baya itu hanya bisa terbeliak lebar, tidak mampu lagi berbuat sesuatu. Dan....

Bret!
"Aaa...!"

Satu jeritan panjang melengking tinggi seketika terdengar begitu menyayat di pinggiran Desa Marong ini. Tampak laki-laki kekar berusia setengah baya berpakaian biru bersulamkan benang emas yang sangat halus ini jatuh menggelepar di tanah yang becek dan berlumpur, begitu diterkam oleh bocah itu.

Darah mengalir keluar deras sekali dari lehernya yang berlubang, bagaikan dikoyak kuku-kuku tajam binatang buas. Sementara tidak jauh darinya, bocah kecil yang tidak mengenakan baju dengan tubuh kotor berlumpur itu berdiri tegak, memandangi tanpa berkedip. Bola matanya memancar kemarahan, menyiratkan kebengisan. Sedikit mulutnya menyeringai bagai hendak memperlihatkan baris-baris giginya yang runcing dan bertaring mengerikan!

"Ghragkh...!"

Sambil menggerung keras, bocah itu menerkam cepat ke atas tubuh orang yang kini tak berdaya di tanah. Sementara tangan kanannya yang berkuku runcing mengibas cepat sekali, hingga kuku-kukunya yang runcing bagai mata pisau itu merobek dada laki-laki kekar itu. Akibatnya, laki-laki itu kembali terpekik sambil mengejang dan menggelepar di tanah.

Dan tepat di saat kedua kaki yang kecil itu berdiri, orang berusia setengah baya ini sudah tidak bergerak-gerak lagi. Darah terus mengucur semakin banyak dari leher dan dadanya yang terkoyak cukup lebar. Sementara, bocah kecil itu terus memandangi dengan bola mata memerah.

Sebentar kemudian, bocah itu memutar tubuhnya berbalik. Lalu kakinya melangkah gontai meninggalkan sosok tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi. Dia terus berjalan menjauhi Desa Marong, dan langsung masuk ke dalam hutan yang tidak begitu lebat, tidak jauh dari desa ini. Sebentar saja, tubuhnya yang kecil sudah lenyap tidak terlihat lagi. Sementara dari arah desa, terlihat orang-orang berlarian menghampiri tempat kejadian itu setelah mendengar teriakan dan jeritan menyayat tadi. Dan mereka begitu terkejut, mendapat seorang laki-laki tergeletak tidak bernyawa lagi diatas tanah berlumpur ini. Lebih terkejut lagi, karena mereka kenal orang ini. Dia adalah Ki Mangunta, orang yang paling dikenal di Desa Marong. Karena Ki Mangunta memang seorang guru di Padepokan Bambu Kuning yang ada di desa ini.

********************

"Ini tidak bisa didiamkan. Orang yang membunuh Mangunta harus dicari!" geram seorang laki-laki bertubuh kurus, terbungkus pakaian jubah putih. Hambutnya yang tergelung ke atas juga suah berwarna putih semua. Dia adalah guru besar yang sekaligus juga pendiri Padepokan Bambu Kuning. Namanya, Eyang Rabang.

Kabar kematian Ki Mangunta yang sangat menyedihkan dan aneh itu cepat sekali menyebar sampai ke pelosok desa. Sehingga, semua orang membicarakannya, meski mayatnya sudah dikuburkan. Mereka tidak ada yang tahu, dengan siapa Ki Mangunta bertarung hingga tewas secara mengerikan seperti itu. Tapi dari tanda-tanda luka yang diderita sepertinya tubuh Ki Mangunta tercabik kuku-kuku binatang buas.

"Kalian semua menyebar ke setiap desa. Cari pembunuh keparat itu...!" perintah Eyang Rabang.

Hari itu juga semua murid Padepokan Bambu Kuning menyebar ke seluruh pelosok Desa Marong. Mereka harus mencari pembunuh Ki Mangunta yang tewas secara mengerikan, seperti tercabik binatang buas. Namun sampai matahari tenggelam di ufuk barat, tidak ada seorang pun yang bisa menemukan pembunuh aneh itu. Dan memang, tidak ada seorang pun yang melihat kejadian sebenarnya. Dan ini tentu saja membuat Eyang Rabang semakin geram. Tapi, laki-laki berusia enam puluh tahun itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Seluruh muridnya sudah dikerahkan untuk mencari, Namun memang pembunuh itu menghilang bagaikan setan.

Sementara malam telah merayap menyelimuti seluruh Desa Marong ini. Tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun tengah berjalan perlahan-lahan dengan kepala tertunduk, menyusuri jalan desa yang selalu becek berlumpur ini. Kedua kakinya yang kurus, terlihat gemetar menahan angin dingin yang berhembus kencang menusuk tulang. Dia terus berjalan perlahan-lahan. Sesekali dia berhenti di depan rumah, tapi terus berjalan lagi. Kepalanya tetap tertunduk, bagai mengikuti ayunan kakinya yang terseok penuh tanah lumpur.

Bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bertubuh kurus ini kembali menghentikan ayunan langkah kakinya, tepat di depan sebuah kedai yang cukup ramai dikunjungi orang. Sinar matanya yang sayu, memandangi orang-orang di dalam kedai yang cukup besar itu. Gelak tawa dan celotehan bersuara keras terdengar sampai keluar. Bau minuman arak pun mewarnai malam yang semakin bertambah larut. Beberapa saat lamanya dia masih berdiri mematung di depan kedai itu.

Lidahnya menjulur keluar, menjilati bibirnya sendiri yang pucat saat melihat seorang gadis cantik tengah menikmati sekerat paha ayam yang kelihatan gurih mengundang selera. Entah kenapa, gadis cantik berusia sekitar dua puluh tahun dan bertubuh ramping menggiurkan itu berpaling keluar. Dan pandangannya langsung bertemu sorot mata bocah di depan kedai ini. Santapannya jadi dihentikan. Sesaat wanita itu memandang bocah yang kelihatan kotor dan kedinginan itu.

"Kasihan dia. Pasti kelaparan dan kedinginan," gumam gadis itu perlahan.

Di depan meja gadis itu, terlihat duduk seorang pemuda yang berwajah tampan. Rambutnya panjang tergerai. Bajunya rompi putih, dengan pedang bergagang kepala burung tersampir di punggung. Mendengar gumaman yang perlahan itu, pemuda ini juga memandang keluar. Kemudian, tatapannya beralih pada wajah cantik didepannya.

"Ajak saja dia makan bersama kita, Pandan," ujar pemuda tampan yang bertubuh tegap dan berkulit putih ini.

"Kau tidak apa-apa, Kakang?" tanya gadis yang dipanggil Pandan itu.

Pemuda di depannya ini hanya tersenyum saja. Kalau melihat ciri-cirinya, jelas kalau pemuda itu adalah Rangga, yang di kalangan persilatan bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan gadis berbaju biru muda yang dipanggil Pandan Wangi, dikenal sebagai si Kipas Maut. Pandan Wangi lalu segera bangkit berdiri dari duduknya. Namun baru saja hendak melangkah, seorang laki-laki bertubuh gemuk berbaju dari kulit binatang melangkah keluar. Tampak di punggungnya tersampir sebilah golok berukuran sangat besar. Dia berdiri tegak di ambang pintu kedai ini sambil berkacak pinggang.

Alisnya yang tebal dan hitam kelihatan berkerut, hingga hampir menyatu di atas hidung. Dipandanginya bocah kecil yang masih tetap berdiri di depan kedai ini.

"Hey...! Pergi kau!" bentak laki-laki itu.

Semua orang yang ada di dalam kedai itu jadi tersentak kaget, dan langsung memalingkan wajah keluar kedai. Tampak di depan kedai ini berdiri seorang bocah lelaki bertelanjang dada. Tubuhnya kotor penuh tanah lumpur yang hampir mengering.

Saat itu, seorang wanita berusia hampir setengah baya yang wajahnya masih kelihatan cantik, bangkit berdiri dari kursinya. Dia melangkah menghampiri laki-laki gemuk yang masih berdiri berkacak pinggang di ambang pintu kedai ini.

"Lemparkan saja dia jauh-jauh, Gombala. Selera makan ku jadi hilang melihatnya," ujar wanita yang berbaju ketat warna merah ketus. Begitu ketatnya, hingga membentuk tubuhnya yang ramping.

"Sejak tadi aku memang sudah berpikir begitu. Pasti mereka semua juga jijik melihatnya," sahut laki-laki gemuk yang dipanggil Gombala ini.

Laki-laki kekar yang bernama Gombala langsung saja melangkah keluar mendekati bocah kecil itu. Sementara Pandan Wangi tadi sudah berdiri hendak menghampiri bocah itu untuk mengajaknya makan, jadi tersentak kaget mendengar ocehan tamu kedai ini. Matanya lalu melirik sedikit pada Rangga yang masih duduk di mejanya. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti hanya mengangkat bahu saja sedikit. Maka tanpa meminta pendapat lagi, Pandan Wangi segera melangkah keluar, seraya sedikit mendorong wanita setengah baya yang tadi menyuruh Gombala melempar bocah itu.

"Hey...?!"

Wanita itu jadi terkejut. Hampir saja tubuhnya tersuruk kalau tidak cepat ditangkap seorang pemuda tampan yang duduk dekat pintu. Melihat yang menyangga tubuhnya seorang pemuda berwajah tampan, wanita itu jadi tersenyum manis. Langsung dia lupa akan tindakan Pandan Wangi yang kasar padanya tadi.

Sementara Gombala sudah berada dekat di depan bocah kecil ini. Matanya yang bulat, mendelik bermaksud menakut-nakuti. Tapi bocah itu malah memandangnya dengan mata tajam.

"Heh...?!"

Gombala jadi tersentak juga mendapat sorot mata yang tajam dari bocah bertubuh kurus ini.

"Bocah setan...! Pergi kau! Aku jijik melihatmu...!" bentak Gombala kasar.

Tapi bocah itu hanya diam saja. Bahkan semakin tajam menatapnya.

"Setan! Mau melawan, heh...?!"

Laki-laki bertubuh gemuk ini sudah mengangkat tangannya. Dan begitu hendak diayunkan menghantam kepala bocah itu, tiba-tiba saja....

Tap!
"Eh...?!"

Gombala jadi tersentak kaget, begitu tiba-tiba pergelangan tangannya ada yang mencekal kuat-kuat. Dan belum juga sempat disadari, tahu-tahu tangannya sudah disentakkan kuat sekali. Akibatnya keseimbangan tubuhnya tidak bisa lagi dikuasai. Gombala kontan jatuh bergulingan di tanah yang lembab dan agak becek ini.

"Setan alas...! Phuih!"

Sambil memaki geram, Gombala cepat bangkit berdiri. Namun bibirnya yang tebal jadi menyeringai, begitu melihat seorang gadis berwajah cantik sudah berdiri disamping bocah kecil yang bertubuh kotor ini.

"He he he.... Ternyata bidadari kecil yang ingin main-main denganku," Gombala jadi terkekeh.

"Jangan ganggu anak ini!" sentak Pandan Wangi tegas.

"Eh...?! Kenapa kau ini...?! Apa dia adikmu...?"

"Kuperingatkan, sekali saja kau sentuh, tanganmu kubabat buntung!" ancam Pandan Wangi, tidak main-main.

"Ha ha ha...!"

Gombala jadi tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman gadis cantik yang kelihatannya lemah itu. Dia merasa, ancaman itu membuat tenggorokannya jadi tergelitik. Dan begitu suara tawanya terhenti, kakinya segera melangkah beberapa tindak mendekati. Lalu, tangannya menjulur hendak meraih kepala bocah itu. Tapi belum juga sampai, Pandan Wangi cepat mengibaskan tangan kirinya. Dan....

Pltak!
"Ikh...!"

Gombala jadi terpekik kaget. Sungguh tidak diduga kalau gadis cantik yang kelihatannya lemah itu bisa mengebutkan tangannya begitu cepat, hingga tidak diketahuinya sama sekali. Tahu-tahu, pergelangan tangan kanannya sudah terasa nyeri. Cepat-cepat tangannya ditarik kembali, dan melompat kebelakang dua langkah. Dipandanginya gadis cantik berbaju biru itu, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.

"Perempuan edan...! Mau coba-coba padaku, heh...!" geram Gombala jadi gusar.

Tapi, Pandan Wangi hanya tersenyum sinis saja. Sepertinya geraman laki-laki bertubuh gemuk ini tidak dipedulikan. Dengan cepat dicekalnya pergelangan tangan bocah itu, dan diajaknya masuk ke dalam kedai. Namun baru saja melangkah tiga tindak, Gombala sudah melesat cepat sekali menghadangnya. Langsung diberikannya satu pukulan yang cukup keras ke arah dada gadis yang berjuluk si Kipas Maut ini.

"Yeaaah...!"
"Hap!"

Namun manis sekali Pandan Wangi menangkis pukulan itu dengan tangan kiri.

Plak!
"Aaakh...!"

Dan kembali Gombala terpekik kaget, begitu pergelangan tangannya beradu dengan tangan lembut gadis ini. Seketika pergelangan tangannya bagaikan tersengat ribuan lebah berbisa, begitu habis berbenturan. Cepat-cepat tangan kanannya ditarik kembali, lalu melompat ke belakang dua langkah. Sementara, Pandan Wangi tersenyum sinis.

"Ayo, Adik Manis. Kau pasti lapar dan kedinginan. Di dalam sana cukup hangat dan banyak makanan. Kau bisa memilih sesukamu," ajak Pandan Wangi, tidak mempedulikan Gombala yang mendengus gusar setengah mati.

Gombala merasa dirinya diremehkan oleh gadis cantik yang kelihatannya lemah di mata orang banyak di dalam kedai. Napasnya pun langsung memburu dengan wajah seketika memerah. Tanpa mempedulikan siapa yang dihadapi, dia langsung saja melompat menghadang lagi, sebelum Pandan Wangi dan bocah itu bisa mencapai pintu kedai.

"Hiyaaa...!"
Sret!
Wut!

Segera saja Gombala mencabut goloknya yang besar, dan langsung dikebutkan dengan kecepatan sangat luar biasa ke arah leher gadis ini. Namun hanya sedikit saja Pandan Wangi menarik kepala ke belakang, ujung golok yang sangat besar ukurannya itu hanya lewat sedikit di depan tenggorokannya. Dan tanpa diduga sama sekali, si Kipas Maut ini menghentakkan tangan kirinya ke depan.

"Yeaaah...!"

Begitu cepat hentakan tangan kiri si Kipas Maut ini, sehingga Gombala tidak sempat lagi menyadari. Dan saat itu juga....

Diegkh!
"Akh...!"

Gombala jadi terpekik. Tubuhnya yang gemuk kontan terpental ke belakang, hingga menembus pintu kedai. Dan dia jatuh bergulingan di lantai kedai ini. Sebuah meja yang terlanda tubuhnya seketika hancur berkeping-keping. Sedangkan dua orang laki-laki tua yang tadi menempati meja itu, cepat melompat menghindar. Gerakan mereka cukup ringan juga, pertanda kedua laki-laki tua yang mengenakan baju jubah panjang berwarna biru tua itu memiliki kepandaian tidak rendah.

"Ghrrr...! Setan keparat...!" geram Gombala.

Saat itu, Pandan Wangi sudah sampai kembali ke mejanya. Bibirnya tersenyum begitu melihat Pendekar Rajawali Sakti memberi senyuman manis. Pemuda berbaju rompi putih itu mengambil sebuah kursi yang tidak jauh di sebelahnya, dan memberikannya pada bocah kecil ini.

"Terima kasih," ucap bocah itu pelan.

"Duduklah. Kau makan bersama kami," ajak Rangga lembut, seraya tersenyum manis.

Saat itu Gombala sudah melangkah menghampiri mereka. Wajahnya yang memang sudah kelihatan beringas sejak tadi, semakin terlihat begitu tajam memandang penuh nafsu membunuh pada Pandan Wangi. Malah, tangannya sudah meraba gagang goloknya, dan cepat menariknya. Lalu....

Jleb!

Gombala langsung menancapkan ujung goloknya ke meja yang ditempati Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi. Tapi sikapnya ini tidak dipedulikan sama sekali. Pandan Wangi malah mengambil sepotong daging ayam, dan mengigitnya dengan nikmat. Sementara, Rangga juga kelihatan tidak peduli. Malah dia meneguk minumannya hingga tandas. Sementara, bocah kecil yang tidak mengenakan baju itu juga sudah menikmati makannya. Sikap mereka yang tidak mau peduli itu, membuat Gombala semakin berang saja.

"Setan keparat...! Kalian meremehkan aku, ya...?! Hih!"

Sambil menggeram keras, Gombala mengangkat meja itu dan langsung membantingnya hingga hancur berkeping-keping. Tapi pada saat itu, Pandan Wangi sudah melesat cepat bagai kilat. Sementara, Rangga juga melesat begitu cepat sambil menyambar boah kecil itu. Dan tahu-tahu, mereka sudah duduk kembali di meja yang lain. Tentu saja, hal ini membuat Gombala semakin bertambah berang saja. Dia menggeram bagaikan seekor binatang buas melihat domba yang terlalu gesit mempermainkannya.

Sementara itu Rangga segera melambaikan tangannya pada laki-laki tua pemilik kedai ini. Laki-laki yang sudah berusia sekitar tujuh puluh lima tahun itu bergegas menghampiri, walau kelihatan takut melihat kemarahan Gombala yang beringas itu.

"Tolong sediakan makanan buat kami lagi, Ki. Usir juga lalat di kedaimu ini," kata Rangga tanpa melirik sedikit pun pada Gombala.

"Baik, Den. Tapi...."

Belum juga pemilik kedai itu bisa melanjutkan ucapannya, tahu-tahu tubuhnya sudah terangkat. Dan di belakangnya sudah berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Tubuhnya yang tinggi tegap dan kekar berotot, mencengkeram punggung pemilik kedai ini, hingga terangkat cukup tinggi dari lantai.

"Menyingkir kau, Ki Tua!" bentak pemuda itu kasar, sambil melemparkan laki-laki tua pemilik kedai itu, bagaikan melemparkan segumpal kapas.

Laki-laki tua pemilik kedai itu jadi menjerit, begitu tubuhnya terbanting keras sekali di atas meja. Akibatnya meja kayu itu hancur berantakan. Langsung dua orang pelayan menolongnya, dan membawanya masuk ke belakang kedai ini.

Sementara itu di meja yang ditempati Rangga, Pandan Wangi, dan bocah kecil bertubuh kurus itu sudah dikelilingi hampir seluruh pengunjung kedai ini. Demikian pula wanita setengah baya berwajah cantik yang tadi didorong Pandan Wangi di ambang pintu. Mereka semua menampakkan wajah tidak senang. Sementara, Gombala juga sudah berada tepat di depan Pandan Wangi duduk. Tapi, tampaknya kedua pendekar muda yang juga dikenai berjuluk Sepasang Pendekar dari Karang Setra itu hanya diam saja, seperti tidak peduli. Tapi, mereka sempat saling melemparkan pandangan sesaat.

"Hhh! Lalat di sini semakin banyak saja, Pandan," dengus Rangga agak berat nada suaranya.

"Ya," sahut Pandan Wangi agak mendesah.

"Sebaiknya, kita cari kedai lain saja," kata Rangga menyarankan.

"Apa tidak sebaiknya lalat-lalat ini diusir saja, Kakang?"

"Aku malas, Pandan. Tidak ada gunanya," sahut Rangga enggan.

"Yeaaah..., kita cari saja kedai lain."

Mereka serentak bangkit berdiri. Rangga mencekal pergelangan tangan bocah kecil itu. Tapi, langkah kedua pendekar muda ini jadi terhalang. Orang-orang yang tidak senang, atau mungkin teman-teman Gombala, tentu tidak mau melepaskan mereka begitu saja. Terlebih lagi, Pandan Wangi sudah membuat malu Gombala tadi.

"Bagaimana, Pandan?" tanya Rangga.

"Terobos saja, Kakang. Tidak sulit," sahut Pandan Wangi kalem. Saat itu juga....

"Hiyaaat..!"
"Yeaaah...!"

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Pandan Wangi langsung melompat sambil menghentakkan kedua tangannya ke depan dengan kecepatan bagai kilat. Maka dua orang yang berada tepat di depannya, seketika terpekik dengan tubuh terpental ke belakang. Saat itu juga, Rangga melesat cepat bagai kilat sambil menyambar tubuh bocah kecil itu. Kemudian Pandan Wangi juga langsung melesat mengikuti.

"Setan! Kejaaar...!" perintah Gombala geram.

Tapi sulit bagi mereka untuk mengejar kedua Pendekar muda dari Karang Setra yang langsung mengerahkan ilmu meringankan tubuh setinggi mungkin. Pandan Wangi dan Pendekar Rajawali Sakti sudah lenyap cepat sekali, seperti menghilang ditelan bumi. Sedikit pun tidak terlihat lagi bayangannya. Dan mereka jadi berhenti, begitu sampai di luar kedai ini. Gombala mengumpat, memaki-maki kesal. Dia begitu penasaran, bisa dibuat jatuh bangun hanya menghadapi seorang gadis cantik yang kelihatannya lemah itu.

"Setan! Kubunuh mereka kalau dapat! Ayo, kejar mereka terus!"

********************

DUA

Malam terus merambat semakin larut. Sementara itu Rangga dan Pandan Wangi segera menghentikan larinya, setelah berada di luar perbatasan Desa Marong sebelah barat. Rangga menurunkan bocah laki-laki yang sejak tadi dikepitnya dengan tangan kiri. Bocah itu tersenyum, memandangi wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan pemuda berbaju rompi putih ini membalas dengan senyum lebar pula. Sementara, Pandan Wangi sudah menghempaskan tubuhnya di atas sebatang pohon yang tumbang sambil menghela napas panjang.

"Kenapa, Pandan...?" tegur Rangga.

"Tidak apa-apa," sahut Pandan Wangi, pelan.

"Kau menyesal atas kejadian barusan?" tanya Rangga ingin tahu.

"Untuk apa disesali? Meskipun kita baru sedikit mengisi perut, tapi lumayan juga untuk melemaskan otot. Sudah lama aku tidak pernah bertarung lagi, Kakang," sahut Pandan Wangi seenaknya.

Pendekar Rajawali Sakti hanya tersenyum saja. Memang sudah ada tiga purnama ini mereka tidak menemukan tindak kejahatan. Bahkan selama pengembaraan ini, baru malam ini menemukan desa dan mengisi perut dengan makanan yang layak. Tapi kejadian barusan, membuat nafsu makan mereka jadi hilang. Dan tanpa disadari mereka sama-sama memandang bocah kecil yang bertubuh kotor penuh lumpur ini.

"Seharusnya aku memang tidak datang kesana tadi. Maaf, aku sudah merusak suasana makan kalian berdua," ucap bocah itu pelan.

"Bukan salahmu, Adik Kecil. Mereka-mereka itu memang lalat yang merasa dirinya lebih bersih dari orang lain. Tidak sepatutnya mereka bersikap begitu padamu. Kau juga manusia, bukan binatang menjijikkan," kata Pandan Wangi lugas.

"Aku memang menjijikkan. Mereka memang pantas berbuat begitu padaku. Semua orang juga akan berbuat begitu padaku. Tapi, kalian tidak jijik dan takut padaku," kata bocah itu lagi.

"Adik kecil, siapa namamu?" tanya Rangga seraya tersenyum.

"Wicana," sahut bocah itu pelan, menyebutkan namanya.

Malam-malam kau berkeliran. Apa tidak punya orangtua dan tempat tinggal?" tanya Rangga lagi.

Bocah berusia sepuluh tahun yang mengaku bernama Wicana itu hanya menggelengkan kepala saja sambil tertunduk. Sementara, Rangga dan Pandan Wangi jadi saling menatap sebentar. Dan kembali mereka mengarahkan pandangan pada bocah kecil yang masih duduk bersila dengan kepala tertunduk menekuri tanah berumput didepannya. Sedangkan Rangga duduk bersila di atas pohon kayu yang sudah tumbang ini.

"Kau orang dari Desa Marong juga?" tanya Rangga lagi.

"Bukan," sahut Wicana tetap pelan suaranya, sambil mengangkat kepalanya sedikit.

Dan Wicana menatap Pendekar Rajawali Sakti beberapa saat, lalu beralih pada Pandan Wangi. Sedikit dia menghela napasnya yang kecil. Begitu ringan hembusan napasnya, sehingga hampir tidak terdengar.

"Lalu, kau berasal dari mana?" desak Rangga.

"Aku tidak tahu," sahut Wicana tetap pelan suaranya.

"Tidak tahu...?" ujar Pandan Wangi seperti tidak percaya.

"Kau sudah cukup besar, Wicana. Paling tidak, bisa tahu tentang dirimu. Kau tentu tahu orang-tuamu, dan di mana tempat tinggalmu," kata Rangga lagi dengan suara lembut.

"Aku dan Pandan Wangi bermaksud baik, Wicana. Kalau kau masih punya orangtua, kami berdua akan mengantarkanmu kembali pada orangtuamu. Tapi kalau memang sudah tidak punya lagi, kami akan mencarikan orang tua yang baik untukmu. Paling tidak, masih ada hubungan saudara atau kerabat dengan orangtuamu. Atau mungkin, tetanggamu di desa asalmu sendiri."

"Aku tidak punya orangtua. Aku juga tidak tahu asal-usulku. Yang jelas, aku tahu-tahu sudah ada di dalam hutan. Aku pergi ke desa hanya untuk mencari hidup. Hanya itu saja...," kata Wicana tegas.

"Kau berkata sungguh-sungguh, Wicana?" tanya Pandan Wangi masih belum percaya.

Wicana mengangguk mantap.

"Kau berani sumpah?"

"Apa itu sumpah?" tanya Wicana tampak tidak mengerti.

"Janji," ujar Rangga memberi tahu.

Wicana terdiam sesaat, kemudian mengangguk.

Rangga dan Pandan Wangi kembali saling berpandangan, kemudian kembali menatap dengan sorot mata tidak mengerti pada bocah laki-laki bertubuh kurus dan kotor penuh tanah berlumpur ini. Sementara, yang dipandangi hanya diam saja. Sorot matanya yang kosong tertuju lurus ke depan, ke arah Desa Marong yang kelihatan sunyi seperti tengah terlelap tidur.

Sementara malam terus merayap semakin larut. Rangga sudah membuat api untuk mengusir hawa dingin yang semakin menggigilkan ini. Sedangkan Pandan Wangi sudah berpindah duduknya di samping Pendekar Rajawali Sakti. Dan Wicana tampak duduk bersila dengan tubuh tegak. Sikapnya seperti orang tengah bersemadi. Kelopak matanya tetap terbuka, namun pandangannya sejak tadi tertuju lurus kedepan. Kelihatannya, seperti ada yang tengah diperhatikan.

"Mereka datang...," ujar Wicana perlahan, seperti tidak sadar.

"Siapa yang datang, Wicana?" tanya Pandan Wangi agak tersentak kaget.

Wicana juga kelihatan tersentak kaget mendengar pertanyaan Pandan Wangi barusan. Langsung kepalanya berpaling menatap wajah cantik gadis itu. Kemudian tatapannya berpindah pada Pendekar Rajawali Sakti yang duduk bersila disamping si Kipas Maut ini.

"Maaf, aku harus pergi. Aku tidak ingin mencelakakan orang baik seperti kalian. Maaf...," ujar Wicana seraya bangkit berdiri.

"Wicana! Mau ke mana kau...?!" seru Pandan Wangi.

Tapi Wicana sudah berlari cepat, dan lenyap di dalam hutan yang langsung berbatasan dengan Desa Marong sebelah barat ini. Pandan Wangi yang sudah hendak bangkit akan mengejar, jadi mengurungkan niatnya. Rangga sudah menangkap pergelangan tangan gadis itu, dan memintanya duduk lagi.

"Tidak perlu dikejar, Pandan," ujar Rangga agak datar suaranya.

"Kenapa...? Dia masih kecil, Kakang. Kalau terjadi sesuatu dengannya di dalam hutan, bagai-mana...?" terdengar cemas sekali nada suara Pandan Wangi.

Rangga tidak langsung menjawab. Perlahan Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri, lalu melangkah dua tindak ke depan. Pandangan matanya tertuju lurus kedepan. Saat itu, terdengar lolongan anjing hutan yang sangat panjang dan memilukan dari kejauhan. Tapi, suara lolongan itu terasa seakan-akan dekat sekali di depan mereka. Pandan Wangi jadi berdiri juga, dan mendekati Pendekar Rajawali Sakti. Dan untuk beberapa saat, mereka jadi terdiam. Kedua pendekar itu seperti mendengarkan alunan lolongan anjing hutan yang begitu panjang, membuat hati terasa seakan tergiris mendengarnya.

"Ayo kita pergi," ajak Rangga tiba-tiba.

"Ke mana...?" tanya Pandan Wangi.

Tapi belum juga Rangga bisa menjawab, mendadak saja berkelebat beberapa bayangan di sekitar mereka. Dan tahu-tahu, kedua pendekar muda dari Karang Setra ini sudah terkepung sekitar sepuluh orang. Satu di antara mereka, adalah wanita berusia setengah baya berbaju warna merah muda yang cukup ketat. Sehingga membentuk tubuh yang indah dan ramping. Wajahnya juga masih kelihatan cukup cantik. Sedangkan yang lain adalah laki-laki dengan usia berbeda-beda. Dan mereka semua sudah langsung menghunus senjata masing-masing yang beraneka ragam bentuk dan ukurannya. Memang, merekalah orang-orang yang berada di kedai tadi. Tampak Gombala berdiri dekat di sebelah kiri wanita cantik berusia setengah baya yang masih kelihatan cantik itu.

"Mau pergi ke mana kalian, heh...?.'" bentak Gombala ketus.

"Ke mana saja kami suka. Apa urusanmu, pakai tanya segala...?" dengus Pandan Wangi, tidak kalah ketusnya.

"Jangan harap bisa pergi ke mana-mana, sebelum meninggalkan kepala kalian berdua! Ha ha ha...!"

Suara tawa Gombala langsung disambut teman-temannya dengan tawa terbahak-bahak juga. Sementara, Pandan Wangi dan Rangga hanya saling melemparkan pandangan saja. Mereka tahu, orang-orang seperti Gombala dan teman-temannya ini tidak akan mau berhenti kalau belum dibuat babak belur. Kedua pendekar itu sering berhadapan dengan orang-orang seperti ini. Dan mereka sudah tidak terkejut lagi menghadapinya.

"Apa yang kau inginkan, Gendut?" dengus Pandan Wangi, langsung menuding Gombala.

"Nyawamu, Cah Ayu. Tapi..., aku lebih menginginkan tubuhmu. Ha ha ha...!" sahut Gombala, kembali tertawa terbahak-bahak.

Dan yang lainnya juga ikut tertawa. Hanya wanita yang berada di sebelah Gombala saja yang tetap diam membisu. Matanya menatap dengansorot mata tajam sekali pada Pandan Wangi, seakan ingin membakar hangus tubuh si Kipas Maut itu dengan kilatan matanya.

"Boleh! Asal, kau bisa menjatuhkan aku, Gendut," tantang Pandan Wangi.

"Phuih! Kau benar-benar perempuan setan yang sombong! Rasakan nanti" dengus Gombala, jadi berang.

Pandan Wangi hanya tersenyum sinis saja. Sedangkan Gombala sudah melangkah hendak mendekati si Kipas Maut ini. Tapi ayunan kakinya jadi terhenti, begitu tangannya dicekal wanita setengah baya yang berada di sebelahnya.

"Dia bagianku, Gombala. Kau urus saja pemuda itu. Tapi, ingat jangan sampai mati dulu," ujar wanita itu, sambil menyimpan senyum penuh arti.

"Kau juga jangan membunuhnya, Rasemi," balas Gombala sambil mendengus.

Dan mereka sama-sama melangkah menghampiri lawan yang diinginkan. Sementara, yang lain tetap berada pada tempatnya, dengan sikap siap menyerang. Sedangkan Pandan Wangi dan Rangga masih tetap kelihatan begitu tenang. Walaupun mereka kini berhadapan dengan dua orang yang sudah menghunus senjata. Sementara delapan orang yang mengepung rapat dengan senjata terhunus, siap menunggu aba-aba.

"Hiyaaat..!"
"Yeaaah...!"
Hampir bersamaan, Gombala dan wanita setengah baya yang dipanggil Rasemi melompat menerjang lawan masing-masing. Tapi, tampaknya kedua pendekar muda dari Karang Setra itu sudah siap sejak tadi. Dan begitu mendapat serangan, mereka langsung bergerak cepat meliukkan tubuh untuk menghindar.

Sementara itu, dengan gerakan sedikit berputar Pandan Wangi melepaskan satu sodokan cepat, setelah berhasil menghindari tebasan pedang Rasemi yang mengarah ke leher. Begitu cepat sodokan tangan kirinya, sehingga Rasemi yang memandang enteng jadi tersentak kaget. Bahkan dia terlambat berkelit menghindarinya. Akibatnya sodokan tangan kiri Pandan Wangi tepat menghantam perutnya.

"Hegkh!"

Rasemi kontan terlenguh pendek. Tubuhnya langsung terbungkuk, merasakan mual pada perutnya. Saat itu juga, Pandan Wangi sudah melepaskan satu pukulan yang sangat keras, disertai sedikit pengerahan tenaga dalam ke wajah wanita ini.

Plak!
"Akh...!"

Rasemi jadi terpekik, begitu pukulan yang dilepaskan Pandan Wangi tepat menghantam wajahnya. Akibatnya, dia jadi terdongak ke atas. Lalu, kembali Pandan Wangi melepaskan satu tendangan menggeledek yang begitu cepat luar biasa, langsung menghantam dada wanita setengah baya yang masih kelihatan cantik ini.

"Aaakh...!"

Kembali Rasemi menjerit keras. Dan seketika, tubuhnya terpental sejauh dua batang tombak ke belakang. Salah seorang yang kebetulan berada di belakangnya, cepat menangkap tubuh wanita ini, hingga tidak sampai terjerembab ke tanah. Sementara itu, Rangga juga sudah bisa memasukkan satu pukulan keras ke dada Gombala. Akibatnya, laki-laki gemuk ini terjajar ke belakang sambil menjerit.

"Setan! Bunuh mereka...!" teriak Gombala geram setengah mati.

"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"

Seketika itu juga, delapan orang yang memang sejak tadi sudah siap menyerang, langsung berlompatan sambil berteriak-teriak. Namun pada saat itu juga, tiba-tiba terlihat sebuah bayangan berkelebat begitu cepat menyambar mereka. Begitu cepat bayangan ini bergerak, sehingga tidak ada seorang pun yang sempat menyadari lagi. Dan....

Bret!
"Akh!"
"Aaa...!"

Seketika itu juga, terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi yang begitu menyayat Tampak lima orang langsung jatuh terkapar dengan leher terkoyak berlumur darah. Mereka menggelepar di tanah sambil mengerang meregang nyawa, membuat yang lain jadi terlongong bengong tidak mengerti. Namun saat itu juga, terlihat lagi bayangan itu berkelebat cepat bagai kilat, membuat tiga orang ini menjerit kesakitan.

Ketiga orang itu langsung ambruk menggelepar dengan leher juga terkoyak cukup lebar. Tampak darah berhamburan dari leher mereka yang terkoyak. Hanya sebentar saja mereka bisa bergerak menggelepar, kemudian diam tak bergerak-gerak lagi. Gombala dan Rasemi jadi terbeliak melihat teman-temannya kini sudah bergelimpangan tidak bernyawa lagi. Sementara, bayangan itu tidak terlihat lagi sedikit pun juga.

Bukan hanya mereka saja yang terbelalak kaget tidak mengerti. Tapi Rangga dan Pandan Wangi juga jadi terlongong bengong. Saat itu, Gombala yang lebih dulu tersadar sudah cepat memutar tubuhnya, dan langsung berlari sambil berteriak-teriak keras seperti ketakutan melihat hantu.

"Silumaaan...! Setaaan...!"

Rasemi yang mendengar teriakan Gombala langsung tersentak sadar. Dan tanpa banyak bicara lagi, tubuhnya segera melesat pergi dari tempat itu. Tinggal Rangga dan Pandan Wangi saja yang masih tetap diam, memandangi tubuh-tubuh yang bergelimpangan di sekitarnya dengan leher terkoyak cukup lebar. Darah masih terlihat mengalir keluar menggenangi tanah berumput ini.

"Kau lihat, bayangan apa itu tadi, Kakang?" tanya Pandan Wangi begitu tersadar.

"Hhh...," Rangga hanya menghembuskan napas saja.

Walaupun Pendekar Rajawali Sakti tadi sempai melihat bayangan yang datang berkelebat begitu cepat tadi, tapi sangat sulit untuk bisa melihat jelas. Rangga tadi begitu terkejut. Sungguh tidak disangka kemunculan bayangan yang begitu cepat, langsung membantai habis orang-orang ini. Bahkan tak ada seorang pun yang bisa menyadarinya lagi lebih dulu.

"Aaauuu...!"

Saat itu terdengar lolongan anjing yang sangat panjang dan menyayat, membuat kedua pendekar muda itu jadi tersentak kaget. Lolongan anjing itu terdengar sangat dekat seakan-akan ada di sekitar tempat ini. Sesaat Rangga dan Pandan Wangi jadi saling berpandangan. Tak lama, terdengar suara bergemerisik semak belukar dari arah sebelah kanan. Maka cepat-cepat mereka memutar tubuhnya ke tanah. Dan....

"Wicana...."

Rangga dan Pandan Wangi mendesis bersamaan, begitu melihat seorang bocah kecil yang bertelanjang dada muncul dari dalam semak belukar. Bocah itu berhenti melangkah, dan memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar kedua pendekar itu. Kemudian, ditatapnya Rangga dan Pandan Wangi bergantian.

"Kalian tadi ingin tahu, dari mana aku berasal. Kalau masih ingin tahu, ikutlah aku," ajak Wicana, seperti tidak peduli pada mayat-mayat yang bergelimpangan.

Pandan Wangi dan Rangga saling melemparkan pandangan. Dan belum juga mereka bisa membuka mulut, Wicana sudah memutar tubuhnya dan terus melangkah masuk kembali ke dalam semak. Sebentar kedua pendekar muda dari Karang Setra ini memandangi, kemudian bergegas melangkah mengikuti.

Mereka terus berjalan cepat mengikuti ayunan langkah kaki kecil bocah itu, dan menyejajarkan ayunan kaki disampingnya. Semula, memang terasa cepat jalannya. Tapi setelah disejajarkan dan diapit dari kanan dan kiri, kedua pendekar itu merasakan langkah kaki Wicana jadi lambat.

Cukup jauh juga mereka berjalan menembus hutan yang tidak begitu lebat ini, sehingga cahaya bulan cukup mampu meneranginya. Dan begitu mereka tiba di tempat yang banyak batu-batuannya, Wicana berhenti melangkah. Tepat di depannya terdapat sebongkah batu paling besar, yang bagian atasnya pipih. Batu itu berbentuk bulat seperti sebuah altar persembahan. Rangga dan Pandan Wangi memandangi batu ini, searah dengan pandangan mata bocah laki-laki yang diapitnya.

"Dari batu itulah aku berasal," kata Wicana sambil menunjuk ke arah batu bulat pipih di depannya.

"Maksudmu, kau lahir di sana, Wicana?" tanya Pandan Wangi.

"Aku tidak tahu maksudmu...," ucap Wicana.

"Maksudku, ibumu melahirkan di atas batu Itu," Pandan Wangi menjelaskan, seraya melirik Rangga sedikit.

"Aku tidak punya ibu. Yang jelas aku tahu-tahu ada di sana. Dan batu itu tempat asalku. Jadi, itulah rumahku," sahut Wicana tegas.

"Kau ini aneh, Wicana. Semua orang pasti di lahirkan. Dan yang melahirkan itu seorang ibu. Jadi tidak mungkin muncul begitu saja dari dalam batu," kata Pandan Wangi semakin tidak mengerti ucapan-ucapan bocah ini.

"Aku berkata benar. Aku sudah ada di sana, dan tidak tahu apa itu lahir. Aku tidak tahu, siapa ibuku. Tahu-tahu, aku sudah ada di sana," kata Wicana lagi.

"Ya, sudahlah. Kami berdua tidak mau lagi meributkan soal asat usulmu. Yang penting sekarang, malam ini kita semua istirahat. Dan besok pagi, aku akan mencarikan orang yang bisa mengurusmu dengan baik. Kau tidak mau hidup sendirian di dalam hutan, kan...?" ujar Rangga tembut seraya menepuk pundak bocah ini.

Wicana hanya diam saja.

"Benar, Wicana. Aku tidak ingin lagi melihatmu terhina seperti sampah. Kau tidak mau jadi gelandangan, kan...?" sambung Pandan Wangi.

Wicana tetap diam, seakan tidak mendengar apa yang diucapkan kedua pendekar ini.

"Ayo, kita cari tempat nyaman untuk istirahat," ajak Rangga.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka kemudian melangkah meninggalkan tempat penuh batu. ini. Dan di sepanjang perjalanan, Wicana terus diam membisu. Sementara, dalam kepala Rangga dan Pandan Wangi masih terus bergayut teka-teki ten-tang bocah ini. Mereka benar-benar tidak mengerti tentang diri Wicana. Segala yang dibicarakan bocah ini, sama sekali sulit diterima akal. Bahkan sepertinya Wicana juga tidak mengerti setiap kata yang diucapakan mereka berdua.

Mereka kemudian menemukan sebuah goa yang tidak begitu besar, tapi kelihatannya cukup bersih. Rangga membuat api dari ranting-ranting kering yang dikumpulkannya di sekitar goa ini, membuat udara di dalam goa itu jadi terasa lebih hangat. Sementara, Pandan Wangi dan Wicana berbaring. Dan Rangga masih tetap duduk tidak jauh dari mulut goa. Pandangannya terus tertuju pada Wicana yang berbaring tidak jauh dari Pandan Wangi.

Kening Rangga jadi berkerut, begitu mendengar dengkur Wicana yang keras, seperti dengkur seekor serigala. Dan dengkuran itu rupanya membuat Pandan Wangi terbangun. Gadis itu langsung menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Dipandanginya Wicana yang tidur memeluk lutut sambil mendengkur seperti binatang. Tapi, tidak ada satu kata pun yang meluncur dari mulut mereka, walaupun terus memandangi dengan sinar mata dipenuhi keheranan dan segudang pertanyaan.

Menjelang pagi, Rangga dan Pandan Wangi baru bisa tidur. Mereka sampai tidak sadar, tidur di mulut goa dan jauh dari api unggun yang dibuat. Entah kenapa, mereka jadi tidak kuat lagi menahan rasa kantuknya, dan langsung jatuh tertidur dalam keadaan duduk bersandar pada dinding goa batu ini.

Mereka baru terjaga, begitu merasakan hangatnya sengatan cahaya matahari yang menerobos dari balik kerimbunan daun daun pepohonan. Mereka cepat berdiri, seperti baru tersentak sadar dari sebuah tidur yang sangat panjang.

"Kakang...!" sentak Pandan Wangi tiba-tiba, mengejutkan Rangga.

Gadis itu langsung menunjuk ke arah Wicana semalam tidur. Dan ternyata tempat itu sudah kosong. Tidak ada lagi bocah kecil yang semalam tidur mendengkur seperti seekor serigala di sana.

"Eh! Ke mana dia...?!" sentak Rangga seperti bertanya sendiri.

Sejenak kedua pendekar muda itu saling melemparkan pandang, kemudian sama sama bergegas berlari keluar dari dalam goa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ditelitinya tanah berumput di sekitarnya. Saat itu, keningnya jadi berkerut. Ternyata sedikit pun tidak terlihat ada jejak kaki disekitar mulut goa ini.

"Aneh.... Kenapa dia meninggalkan kita, Kakang?" tanya Pandan Wangi dengan suara terdengar menggumam, seperti ditujukan untuk diri sendiri.

Tentu saja Rangga tidak bisa menjawab perta-nyaan si Kipas Maut itu. Dia sendiri sama sekali tidak mengerti terhadap sikap dan tindakan bocah itu. Segalanya serba terbalut kabut kegelapan yang begitu tebal, hingga sulit sekali disibak. Rangga jadi penasaran. Kembali dimasukinya goa itu dan meneliti bekas tempat tidur Wicana semalam. Lalu, dia kembali keluar dari dalam goa itu dengan mata merayapi setiap jengkal tanah yang dipijak.

Tapi baru berjalan sekitar sepuluh langkah dari mulut goa, Pendekar Rajawali Sakti kembali berhenti. Dan kelopak matanya jadi menyipit. Perlahan tubuhnya merendah, dan menekuk lututnya hingga menyentuh tanah berumput cukup tebal ini. Tangannya meraba-raba rumput yang ada di depannya. Sementara, Pandan Wangi hanya memperhatikan saja. Sama sekali tidak dimengerti, apa yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti. Gadis itu jadi heran sendiri saat Rangga mencabut sejumput rumput dan menciumnya beberapa kali.

Perlahan Rangga bangkit berdiri lagi, namun masih terus meneliti tanah di sekitar. Dan kini, kembali kakinya terayun. Pandan Wangi bergegas mengikuti ayunan langkah pemuda berbaju rompi putih ini dari belakang. Sementara Rangga kembali berhenti, dan mencabut sejumput rumput Diciumnya lagi rumput itu berulang-ulang. Pandan Wangi jadi penasaran melihat perbuatan Pendekar Rajawali Sakti.

"Ada apa, Kakang? Kenapa kau ciumi rumput itu?" tanya Pandan Wangi tidak dapat lagi menahan rasa keingintahuannya.

Rangga berpaling sedikit ke kanan, menatap Pandan Wangi yang sudah berada di sebelah kanannya. Gadis itu semakin tidak mengerti saja melihat pandangan mata Rangga yang terasa aneh. Sedangkan Rangga sendiri sudah mengarah pandangan lurus ke depan.

"Sejak melihatnya pertama kali, aku sudah merasakannya. Dan perasaan itu semakin kuat saat berdekatan dengannya. Tapi aku belum yakin benar, walaupun apa yang dikatakannya sangat aneh...," ujar Rangga terdengar bergumam, seperti berkata pada diri sendiri.

"Apa maksudmu, Kakang?" tanya Pandan Wangi tidak mengerti.

Rangga tidak langsung menjelaskan. Ayunan langkahnya dihentikan, dan berpaling sedikit menatap Pandan Wangi yang berada di sebelahnya. Terlihat jelas sekali sorot mata Pendekar Rajawali Sakti sangat aneh, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun, Pandan Wangi bisa merasakan sesuatu yang tersembunyi itu dalam sinar mata Pendekar Rajawali Sakti. Sesuatu yang sudah bisa ditangkap sedikit artinya.

"Kau berpikir kalau Wicana itu anak siluman, Kakang...?" terdengar ragu-ragu nada suara Pandan Wangi.

"Entahlah, Pandan. Aku belum yakin benar. Tapi...," kata-kata Rangga terputus.

Tepat di saat kepala Pendekar Rajawali Sakti terangkat ke atas, terdengar jeritan panjang melengking tinggi yang begitu menyayat. Jeritan itu seperti jeritan seseorang menjelang ajalnya, sehingga membuat kedua pendekar muda ini jadi tersentak kaget.

"Ayo, Pandan. Hup...!"
"Hap!"

Tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung berlompatan cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Dan mereka terus berlari secepat angin, menembus hutan yang tidak begitu lebat ini, menuju arah datangnya jeritan tadi.

Rangga yang sudah menguasai ilmu meringankan tubuh sempurna, sudah barang tentu berlari lebih kencang daripada Pandan Wangi. Hingga dalam waktu tidak berapa lama saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah berhenti berlari. Dan dia jadi tertegun, begitu melihat tidak jauh di depannya tergeletak sesosok tubuh wanita dengan leher terkoyak berlumuran darah.

Belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa melangkah mendekati, Pandan Wangi sudah sampai di sampingnya. Dan gadis itu jadi terhenyak, begitu melihat sosok tubuh wanita muda tergeletak tidak bernyawa lagi. Lehernya tampak terkoyak begitu lebar, hingga kepalanya hampir terlepas. Perlahan mereka mendekati wanita yang jelas sudah tidak bernyawa lagi itu.

"Kakang..., lukanya sama seperti yang semalam," desis Pandan Wangi.

"Hm...," Rangga hanya menggumam saja sedikit.

"Jelas ini perbuatan orang yang sama, Kakang," tebak Pandan Wangi.

Rangga masih saja diam memperhatikan darah yang terus mengalir dari leher yang terkoyak lebar itu. Tidak ada sedikit pun jejak bekas pertarungan di sini. Dan tampaknya, wanita ini juga hanya seorang wanita desa biasa. Tak heran kalau tidak ada tanda-tanda bekas perlawanan sedikit pun juga. Sedangkan tidak jauh, terlihat seonggok ikatan ranting yang akan dijadikan kayu bakar.

Srek!
"Oh...?!"

Bukan hanya Rangga dan Pandan Wangi saja yang tersentak kaget begitu tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang. Tampak sebuah gumpalan semak pohon perdu bergerak sedikit. Maka cepat Rangga melompat ke dalam semak itu. Dan....

"Jangaaan...!"
"Eh...?!"

Hampir saja pukulan Pandan Wangi memecahkan batok kepala seorang anak perempuan berusia sekitar tiga belas tahun di dalam semak ini. Untung saja, gerak tangannya segera ditahan. Rangga cepat melompat keluar dari dalam semak itu, sambil menyambar tubuh anak perempuan ini. Dan Pendekar Rajawali Sakti kembali ke dekat Pandan Wangi. Perlahan diturunkannya bocah berbaju lusuh yang kelihatan ketakutan sekali ini. Wajahnya begitu pucat seperti tidak pernah teralirkan darah.

"Ibu...!"

Gadis kecil itu langsung berlari menghambur sambil menjerit. Langsung ditubruknya mayat wanita yang menggeletak sudah tidak bernyawa lagi. Dia menangis sambil memeluk wanita ini dan memanggil-manggil ibunya. Rangga dan Pandan Wangi jadi termangu diam mematung. Namun Pandan Wangi lebih cepat bertindak. Segera dihampirinya gadis kecil itu, dan pundaknya disentuh.

"Sudah..., nanti kami yang urus ibumu," ujar Pandan Wangi lembut.

Gadis itu mengangkat kepala, dan menatap Pandan Wangi dengan bola mata dipenuhi air be-ning. Si Kipas Maut itu jadi tidak dapat lagi me-nahan gejolak perasaannya. Direngkuhnya gadis itu ke dalam pelukannya. Sementara, Rangga hanya bisa memandangi dengan hati tidak menentu. Dan gadis kecil itu kembali menangis dalam pelukan Pandan Wangi.

Perlahan Rangga menghampiri Pandan Wangi, lalu berdiri di depannya. Kemudian dia berlutut, dan tangannya menjulur ke depan perlahan-lahan. Dielus-elusnya kepala gadis kecil itu. Sulit sekali, lidahnya digerakkan untuk memberi kata-kata yang menghibur. Sedangkan gadis kecil itu terus menangis dalam pelukan Pandan Wangi.

"Bawa dia, Pandan. Biar ibunya aku yang mengurus," ujar Rangga meminta.

Pandan Wangi mengangguk saja, kemudian melepaskan pelukan gadis itu dan membimbingnya menjauhi mayat ibunya. Sementara, Rangga masih memandangi mayat wanita yang masih kelihatan muda itu. Dan setelah menghembuskan napasnya, perlahan bangkit berdiri.

Pada saat yang sama, Pandan Wangi memba-wa gadis kecil itu ke bawah pohon yang cukup rindang, sehingga melindungi diri mereka dari sengatan matahari. Gadis itu masih terus menangis, walaupun tidak lagi memilukan seperti tadi. Hanya isaknya saja yang terdengar. Dan wajahnya masih disembunyikan di dada Pandan Wangi. Sementara, Rangga sudah mulai membuat lubang untuk mengubur jasad wanita yang tewas dengan leher terkoyak.

"Sudah diam.... Relakanlah kepergian ibumu," bujuk Pandan Wangi, mencoba menghibur.br/>
"Ibuuu...," isak gadis kecil itu merintih.

Pandan Wangi jadi menggigit bibirnya sendiri. Dipandanginya Rangga yang masih terus menggali tanah. Cepat juga Pendekar Rajawali Sakti membuat lubang, walaupun hanya menggunakan sepotong batang pohon sebesar pergelangan tangan. Sedikit pun tak terlihat adanya kelelahan, karena dikerjakan dengan pengerahan tenaga dalam. Sebentar saja lubang yang cukup besar sudah tersedia. Kemudian diangkatnya tubuh wanita itu, dan dimasukkannya ke dalam lubang dengan hati-hati. Sebentar dipandanginya wanita malang itu, kemudian mulai dikuburnya.

"Ibu...," kembali gadis kecil itu merintih.

"Sssht...!"

Pandan Wangi mencoba mendiamkan gadis ini dan terus memeluknya erat-erat. Sementara, Rangga terus bekerja menguruk kembali lubang kubu yang dibuatnya. Dan tidak berapa lama kemudian pekerjaan itu selesai. Kembali dihampirinya Panda Wangi. Lalu, tubuhnya dihempaskan duduk disamping si Kipas Maut sambil menghembuskan napas panjang. Sementara gadis kecil dalam pelukan Pandan Wangi masih menangis sesenggukan.

Cukup lama juga Pandan Wangi baru bisa mendiamkan tangis gadis kecil ini. Meskipun sesekali masih terdengar isaknya yang tertahan, tapi sudah tidak lagi berada dajam pelukan si Kipas Maut itu. Pandangan matanya tertuju pada gundukan tanah yang masih baru. Sesekali dia merintih, memanggil ibunya. Dan beberapa kali pula Rangga dan Pandan Wangi saling melemparkan pandang.

"Dik...," panggil Pandan Wangi lembut.

Gadis kecil itu berpaling, menatap Pandan Wangi.

"Apa yang terjadi pada ibumu?" tanya Pandan Wangi lembut, dan hati-hati sekali.

Gadis kecil itu masih sulit menjawab. Dihapusnya air mata dengan punggung tangannya. Perlahan kepalanya beralih menatap Rangga yang duduk memeluk lutut di samping Pandan Wangi. Kemudian, kembali ditatapnya si Kipas Maut itu.

"Bisa kau ceritakan, apa yang terjadi pada Ibumu...?" ujar Pandan Wangi lagi, lebih lembut.

"Ibu..., ibu dibunuh...," sahut gadis kecil itu tersendat di sela isaknya yang tertahan.

"Siapa yang membunuhnya?" tanya Pandan Wangi lagi, masih dengan suara lembut.

"Anak itu. Anak gembel yang sering keliaran di desa."

"Maksudmu...?" tanya Pandan Wangi lagi.

Gadis itu menggelengkan kepala, tidak mengerti pertanyaan Pandan Wangi.

"Anak itu sebesar siapa?" selak Rangga.

"Lebih tinggi daripada aku. Dia tidak pakai baju. Badannya penuh tanah, kotor.... Dia menerkam ibuku seperti binatang. Me..." gadis kecil itu kembali menangis.

"Ya, sudah.... Sudah...," Pandan Wangi kembali merengkuh ke dalam pelukannya.

Sementara, Rangga sudah bangkit berdiri. Rangga seperti mematung, memandang ke arah Desa Marong. Matanya melirik sedikit pada Pandan Wangi, setelah tangis gadis kecil itu mereda.

"Ayo kita antarkan dia pulang, Pandan," ajak Rangga.

Pandan Wangi mengangguk, kemudian mengajak gadis kecil itu berdiri. Dihapusnya air mata yang membasahi pipi gadis itu dengan lembut. Kemudian, tangannya digenggam erat-erat.

"Sudah jangan menangis lagi, ya...?" bujuk Pandan Wangi lembut.

Gadis kecil itu hanya mengangguk saja, namun sesekali masih terisak.

"Ayo, ku antarkan pulang," ajak Pandan Wangi. "Di mana rumahmu?"

"Tidak jauh. Di Desa Marong. Tapi...."

"Tapi kenapa?"

"Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Ada juga bibiku. Tapi, tinggalnya bukan di Desa Marong."

"Di mana?"

"Desa Mungkilan. Jauh dari sini."

"Kuantar pulang dulu, baru nanti kau kuantar ke rumah bibimu," kata Pandan Wangi berjanji.

"Terima kasih, Kak," ucap gadis kecil itu.

Pandan Wangi hanya tersenyum saja.

"Ayo...," ajak Rangga.

Mereka kemudian berjalan meninggalkan pinggiran hutan itu, terus menuju ke Desa Marong. Desa yang saat itu sedang gempar, karena semua penduduk menemukan delapan mayat tidak jauh dari perbatasan sebelah utara. Semua mayat itu ditemukan dengan leher berlubang, seperti dikoyak binatang buas. Dan semua penduduk desa itu tahu, mereka adalah orang-orang persilatan yang kebetulan saja semalam berada di desa ini hanya untuk singgah.

Sementara itu, Rangga, Pandan Wangi, dan gadis kecil yang sudah memperkenalkan diri bernama Samirah, sudah memasuki desa yang tidak begitu besar ini. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan mereka, kecuali seorang laki-laki tua berjubah putih. Dia tampak tengah memperhatikan dari ambang pintu sebuah rumah. Rambut, janggut, serta kumisnya sudah memutih semua. Kakinya lalu melangkah keluar dari Rangga dan Pandan Wangi sudah hampir melewati rumahnya. Dan dia sengaja berdiri di tengah jalan, seperti menghadang. Rangga tahu, orang tua itu sengaja menghadang, sehingga mereka kini berhenti berjalan. Sedangkan Pandan Wangi terus memegangi tangan Samirah erat-erat.

"Samirah, siapa mereka...?" laki-laki tua itu langsung menegur, dengan nada agak kasar.

"Kak Rangga dan Kak Pandan Wangi, Eyang. Mereka baru saja menolongku, dan menguburkan ibu," sahut Samirah.

"Heh...?! Menguburkan ibumu...?" laki-laki tua itu tampak terkejut.

"Ibu dibunuh anak gelandangan itu, Eyang." Samirah kembali terisak.

"Apa...?!"

Laki-laki tua itu jadi terlonjak, begitu terkejutnya. Hampir disambarnya tangan Samirah, kalau saja Rangga tidak segera mencegah.

Tunggu dulu, jangan ganggu Samirah. Dia masih berduka," cegah Rangga.

"Aku kakeknya. Dan aku harus tahu, apa yang terjadi," sergah orang tua itu.

Rangga jadi agak tertegun juga.

"Eyang Rambang memang masih terhitung kakekku, Paman Rangga," ujar Samirah cepat-cepat.

"Oh, maaf. Samirah tidak menceritakan tentang...."

"Ah, sudahlah.... Sebaiknya, kita bicarakan saja di dalam. Ayo...," selak orang tua yang ternyata bernama Eyang Rambang, guru besar Padepokan Bambu Kuning yang berada di Desa Marong ini.

Rangga dan Pandan Wangi tidak bisa menolak lagi. Mereka kemudian masuk ke dalam rumah yang cukup besar, berhalaman cukup luas ini. Kedua pendekar dari Karang Setra itu kemudian duduk di beranda depan rumah ini. Samirah tetap duduk di samping Pandan Wangi. Sedangkan Rangga dan Eyang Rambang duduk saling berhadapan.

"Samirah, bagaiman kejadiannya? Ceritakan padaku," pinta Eyang Rangga langsung.

Samirah lantas menceritakan semua peristiwa yang membuat ibunya mati terbunuh. Semua itu persis seperti yang diceritakan pada Rangga dan Pandan Wangi. Dan sesekali dia berhenti terisak, seraya menyusuri air mata dengan punggung tangannya. Selesai bercerita, gadis cilik itu langsung menangis memeluk Pandan Wangi.

"Hm..., jadi kalian baru mengenal Samirah disana...?" ujar Eyang Rambang agak menggumam.

"Benar, Eyang. Kami berdua sempat mendengar jeritannya. Tapi begitu sampai, ibunya Samirah sudah tidak bernyawa lagi," sahut Rangga.

"Terima kasih, kalian sudi menguburkannya," ucap Eyang Rambang.

"Maaf, Eyang. Kami terpaksa melakukannya tanpa seizinmu," ujar Rangga sopan.

"Itu lebih baik, daripada kau bawa ke sini, Anak Muda. Desa ini sedang kacau. Dalam beberapa hari ini, telah terjadi pembunuhan-pembunuhan yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Sampai sekarang, belum ada seorang pun yang tahu, siapa pelaku pembunuhan ini. Tapi.... Hm, kau kenali orang yang membunuh ibumu, Samirah?"

"Anak laki seusiaku, Eyang," sahut Samirah.

"Apa...?!"

Eyang Rambang jadi kaget setengah mati, mendengar yang membunuh ibunya Sumirah hanya seorang anak kecil. Matanya sampai mendelik, seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Sedangkan Samirah jadi tertunduk, menyembunyikan wajahnya di dada Pandan Wangi.

"Dia bukan anak biasa, Eyang. Di dalam tubuhnya, seperti mengalir darah siluman," jelas Pandan Wangi mencoba menengahi.

"Siluman...? Kau tahu dia, Anak Muda?"

"Tidak persis, Eyang. Aku sendiri masih menduga-duga. Belum ada bukti kuat kalau dia pelakunya," sahut Rangga.

"Kau tahu, Anak Muda. Belum lama ini, kami semua menemukan delapan orang mati dengan leher terkoyak. Semula dugaanku, ada binatang liar yang masuk ke desa ini. Tapi setelah delapan orang mati sekaligus, dugaanku jadi lain. Aku harus menemukan pembunuh itu, Anak Muda. Padepokan bisa hancur kalau kejadian ini dibiarkan berlarut-larut," tegas Eyang Rambang, terdengar gusar.

"Aku bisa mengerti, Eyang. Kita akan mencarinya bersama-sama," ujar Rangga.

Eyang Rambang jadi tersenyum mendengar kesediaan pemuda berbaju rompi putih ini. Sedangkan saat itu, Rangga tahu kalau delapan orang yang mati adalah orang-orang yang sempat bertarung dengannya semalam. Dan Rangga juga sudah bisa menduga, siapa pelaku pembunuhan keji itu.

EMPAT

Rangga dan Pandan Wangi tidak bisa menolak lagi, saat Eyang Rambang memintanya tinggal untuk sementara di rumahnya. Apalagi, kedua pendekar dari Karang Setra itu juga harus mencari anak laki-laki yang dicurigai sebagai biang keladi dari semua pembunuhan kejam yang terjadi dalam beberapa hari di Desa Marong. Sedangkan Samirah, kelihatannya begitu enggan tinggal di rumah kakeknya ini. Dan entah kenapa dia selalu ingin dekat dengan Pandan Wangi. Bahkan memilih tidur satu kamar dengan gadis berjuluk si Kipas Maut itu. Eyang Rambang tentu saja tidak ingin menambah kesedihan Samirah. Maka Samirah kemudian diizinkan tidur satu kamar dengan Pandan Wangi.

"Kakang, aku masih belum yakin kalau Wicana adalah pelaku pembunuhan itu...?" nada suara Pandan Wangi terdengar jelas ragu-ragu.

Saat itu, mereka tengah duduk berdua saja diberanda samping rumah Eyang Rambang, yang juga dijadikan sebuah padepokan untuk mengajar pemuda-pemuda Desa Marong berlatih ilmu olah kanuragan. Sementara dari arah bagian belakang, terdengar teriakan-teriakan murid Padepokan Bambu Kuning yang sedang berlatih.

Rumah Eyang Rambang memang sangat besar dan berhalaman sangat luas. Terlebih lagi di bagian belakang yang memang cocok dijadikan sebuah padepokan. Letak padepokan ini berada di tengah-tengah desa, sehingga menjadi keuntungan bagi Eyang Rambang. Dia tidak perlu sulit-sulit mencari murid. Desa Marong ini menyimpan banyak anak muda yang berbakat dalam ilmu olah kanuragan.

Dan baru-baru ini, Eyang Rambang mendapat ujian berat. Dengan adanya kejadian pembunuhan di Desa Marong, paling tidak dia harus bisa mengatasi persoalan pembunuhan yang terjadi secara beruntun, dengan luka sama pada setiap korbannya. Leher robek seperti terkoyak taring binatang buas.

"Tapi anak itu sangat aneh, Pandan," sahut Rangga.

"Aneh bagaimana, Kakang?" tanya Pandan Wangi tidak mengerti.

"Perhatikan saja sendiri. Bocah itu tidak tahu asal-usulnya. Bahkan tidak tahu, siapa orangtuanya. Dan dia mengaku kalau lahir dari batu. Juga waktu kupegang, badannya dingin seperti orang mati. Bicaranya juga tidak menentu. Malah, dia sering tidak mengerti apa yang kita bicarakan," ujar Rangga memaparkan perasaan anehnya pada anak kecil yang mereka tolong semalam.

"Memang semua itu kuperhatikan, Kakang. Memang aneh. Tapi, apa itu bisa menjadi patokan untuk menuduh kalau dia adalah pelakunya...?"

"Aku belum berpikir sampai ke sana, Pandan. Baru menduga-duga saja."

"Kakang! Semua orang tahu, anak itu gelandangan. Bahkan Eyang Rambang sendiri menga-lakan anak itu gelandangan di sini yang tidak punya orangtua dan tempat tinggal. Tapi..., ah! Mana mungkin anak selemah itu bisa jadi pembunuh, Kakang...," sergah Pandan Wangi kembali ragu-ragu.

"Kita lihat saja nanti, Pandan. Aku akan menyelidiki terus sampai tuntas," tegas Pendekar Rawajali Sakti.

"Ya! Kita memang harus menyelidiki dulu, dan jangan cepat menuduh hanya karena anak itu bersikap aneh."

Mereka jadi terdiam beberapa saat lamanya.

"Pandan..."

"Hm."

"Kau ingat, apa yang dikatakan Samirah?" tanya Rangga.

"Maksudmu, orang yang membunuh ibunya...?"

Rangga mangangguk.

Pandan Wangi hanya diam saja. Memang, Samirah menjelaskan ciri-ciri orang yang membunuh Ibunya. Katanya, pembunuh ibunya adalah anak laki-laki seusia dirinya. Juga, katanya anak itu gelandangan. Sedangkan semua orang di Desa Marong ini tahu, hanya ada satu anak gelandangan. Dan dia adalah Wicana saja di desa ini.

"Mungkin hanya mirip saja, Kakang," ujar, Pandan Wangi masih belum yakin.

"Ya, mudah-mudahan saja Samirah tak mengada-ada," kata Rangga agak mendesah.

Sementara itu, malam sudah jatuh menyelimura seluruh Desa Marong ini. Kesunyian begitu terasa di sini. Hanya nyanyian jangkrik dan serangga malam saja yang terdengar. Saat itu, Pandan Wangi bangkit berdiri.

"Mau ke mana, Pandan?" tegur Rangga.

"Menengok Samirah, apakah sudah tidur, Kakang," sahut Pandan Wangi.

Gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu terus saja melangkah meninggalkan Rangga seorang diri. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti masih duduk dibangku bambu yang ada di beranda samping rumah Eyang Rambang ini. Tapi tidak lama, dia sudah bangkit berdiri sambil menghembuskan napas panjang. Sedangkan teriakan-teriakan murid Eyang Rambang yang tengah berlatih masih terus terdengar.

"Sebaiknya aku keliling desa ini. Mudah-mudahan saja menemukan petunjuk," gumam Rangga di dalam hati.

Pemuda yang selalu berbaju rompi putih itu melangkah perlahan-lahan meninggalkan rumah Eyang Rambang yang juga dijadikan padepokan. Ayunan langkah Pendekar Rajawali Sakti terasa sangat ringan. Sehingga tidak terdengar suara sedikit pun saat kakinya menjejak tanah yang selalu lembab di desa ini.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Entah sudah berapa lama Rangga berjalan mengelilingi Desa Marong ini. Tanpa terasa, Pendekar Rajawali Sakti sudah sampai di tepi desa sebelah selatan. Tidak ada yang bisa dilihat di tempat ini, kecuali pepohonan yang menghitam berselimut kabut. Udara pun terasa begitu dingin, hingga menusuk tulang sumsum.

Namun di dalam kesunyian yang begitu mencekam, telinga Rangga yang setajam telinga elang menangkap suara tarikan napas yang begitu halus. Bahkan hampir saja tidak bisa tertangkap pendengaran telinganya. Dan belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa berpikir lebih panjang lagi, mendadak....

Slap!
"Upts...!"

Cepat-cepat Rangga memiringkan tubuhnya ke kanan, begitu merasakan adanya desir angin yang sangat halus dari arah sebelah kanan belakangnya. Tampak sebuah bayangan gelap berkelebat begitu cepat menyambar angin kosong di samping kanan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hap...!"

Rangga cepat-cepat menarik kakinya ke belakang tiga langkah, begitu bayangan yang berkelebat cepat bagai kilat itu sudah berputar balik. Bahkan kini langsung meluruk deras ke arahnya. Sebentar Rangga menunggu. Dan begitu bayangan itu mendekat, cepat sekali dilepaskannya satu pukulan tangan kanan, disertai pengerahan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

"Yeaaah...!"
Dugkh!
"Ikh...?!"

Rangga jadi terpekik kecil, begitu pukulannya membentur bayangan itu. Cepat Pendekar Rajawali Sakti melompat dan berputar ke belakang. Lalu, manis sekali kakinya menjejak tanah kembali. Langsung matanya menatap ke depan. Dan seketika itu juga, kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, seakan tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.

"Wicana..."

Sekitar satu batang tombak di depan Pendekar Rajawali Sakti itu, berdiri tegak seorang bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Tubuhnya yang kurus dan bertelanjang dada, kelihatan kotor penuh tanah berlumpur. Sorot matanya terlihat tajam, bagai sepasang bola api yang hendak membakar hangus Pendekar Rajawali Sakti.

"Ghrrr...!"
"Heh...?!"

Rangga jadi terkesiap kaget setengah mati, begitu tiba-tiba bocah kecil itu menggereng dan menyeringai. Paa saat menyeringai tampaklah baris-baris giginya yang runcing dan bertaring tajam bagai mata pisau. Dan jari-jari tangannya yang mengembang kaku di depan dada, terlihat ditumbuhi kuku yang panjang runcing berwarna hitam. Wicana yang beberapa hari lalu pernah dikenal Pendekar Rajawali Sakti begitu lembut dan lemah, sekarang kelihatan mengerikan sekali. Dia bagai sosok makhluk aneh yang sangat buas, dan siap membunuh apa saja yang bernyawa.

"Ghraaaugkh...!"

Tiba-tiba saja bocah kecil berusia sekitar sepuluh tahun itu menggeram dahsyat dan mengerikan. Dan saat itu juga, tubuhnya melesat cepat bagai kilat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Tampak kedua tangannya yang jari-jarinya berkuku runcing dan hitam mengembang kaku bagai hendak merobek pemuda berbaju rompi putih ini.

"Haiiit..!"

Rangga cepat-cepat memiringkan tubuhnya ke kiri, menghindari terjangan bocah aneh itu. Dan bagaikan kilat dilepaskannya satu tendangan keras, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna. Maka tendangan yang begitu cepat, telak menghantam bagian lambung bocah ini.

"Ghraugkh!"

Tapi Wicana hanya terlempar setengah batang tombak dan hanya menggerung sedikit saja. Bocah itu kembali berdiri tegak di atas kedua kakinya yang kecil. Padahal, tadi Rangga melepaskan pukulannya disertai tenaga dalam penuh. Bahkan sudah sangat sempurna tingkatannya. Tapi, sedikit pun pada bocah itu tidak terpengaruh.

"Edan...! Manusia apa setan anak ini...?" desis Rangga jadi keheranan sendiri.

"Ghrrr...!"

Sementara Wicana sudah kembali siap. Kedua tangannya direntangkan ke depan dengan jari-jari yang berkuku runcing sudah terkembang lebar, siap hendak mengoyak tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan kakinya melangkah mendekati. Dari bibirnya yang terus menyeringai, tidak henti-hentinya mengeluarkan gerungan yang bisa membuat jantung siapa saja yang mendengamya akan copot seketika.

"Siapa pun kau, keluarlah dari bocah ini! Dia tidak tahu apa-apa. Jangan siksa dia dengan segala dosa dan bebanmu...!" desis Rangga mencoba bicara.

"Ghrrr...!"

Tapi kata-kata Rangga hanya disahuti Wicana dengan gerengan saja. Dan kini, jarak mereka semakin dekat saja. Perlahan Rangga menarik kakinya ke belakang, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Disadari kalau gerakan anak itu begitu cepat dan sulit diduga. Dia tidak ingin kecolongan, dan terluka oleh kuku-kuku yang runcing dan hitam itu.

"Keluarlah kau...! Jangan ganggu anak ini!" sentak Rangga lagi.

"Ghrauuugkh...!"

Tiba-tiba saja Wicana meraung dahsyat. Dan seketika itu juga, tubuhnya melesat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepat gerakannya, sampai-sampai membuat Rangga terpana sesaat.

"Hap!"

Cepat-cepat Rangga menjatuhkan diri ketanah dan bergulingan beberapa kali, menghindari terjangan bocah aneh itu. Lalu dengan gerakan cepat dan manis sekali, Pendekar Rajawali Sakti melompat bangkit berdiri. Tapi baru saja kakinya menjejak ditanah, Wicana sudah kembali melompat menyerang. Kedua tangannya cepat dikibaskan, mengarah ke bagian-bagian tubuh Rangga yang sangat mematikan!

"Hap! Yeaaah...!"

Rangga cepat-cepat mengerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Tubuhnya kini meliuk-liuk menghindari setiap kibasan tangan yang berkuku runcing itu. Jurusnya diimbangi gerakan kaki yang lincah dan sulit diduga arahnya. Bahkan terkadang gerakannya seperti tidak beraturan. Terkadang dia akan jatuh, atau timbung seperti orang kebanyakan minum arak. Tapi sampai sejauh ini, Wicana belum juga bisa mendesak. Bahkan setiap serangannya mudah sekali dapat dipatahkan Pendekar Rajawali Sakti.

"Ghrauuugkh...!"

Wicana kembali menggerung dahsyat, sambil mendongakkan kepala ke atas. Dan kesempatan yang hanya sedikit ini, tidak lagi disia-siakan Pendekar Rajawali Sakti. Dengan kecepatan dahsyat, dilepaskannya satu tendangan keras disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai tingkatan kesempurnaan.

"Hiyaaa...!"

Begitu cepat tendangan yang dilepaskan Rangga, sehingga Wicana tidak sempat lagi menghindarinya. Dan....

Des!

Tendangan Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam dada Wicana yang kurus seperti kekurangan makan. Namun....

"Akh...!"

Rangga jadi terkejut setengah mati, begitu telapak kakinya mendarat di dada bocah ini. Cepat-cepat kakinya ditarik kembali, dan melompat sejauh beberapa langkah sambil berputaran di udara beberapa kali. Hampir Pendekar Rajawali Sakti tidak percaya terhadap pandangannya sendiri. Bocah bertubuh kurus yang kelihatannya sangat lemah itu, sama sekali tidak bergeming sedikit pun saat dadanya terkena tendangan menggeledek yang mengandung pengerahan tenaga dalam sempurna!

Bahkan Rangga sendiri yang merasakan kaki kanannya jadi nyeri. Seakan-akan tulang tulang kaki kanannya jadi remuk, akibat berbenturan dengan dada Wicana. Pendekar Rajawali Sakti segera menarik kakinya ke belakang beberapa langkah. Dipandanginya bocah laki-laki itu dengan sinar mata seperti tidak percaya. Memang, itu harus cepat disadari kalau semua ini bukan hanya mimpi, melainkan sebuah kenyataan yang harus dihadapi.

"Hap!"

Rangga kembali mempersiapkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Tampak sekali kalau Pendekar Rajawali Sakti mengerahkan jurus mautnya ini pada tingkat yang terakhir. Kedua kepalan tangannya yang berada di samping pinggang jadi berwarna merah menyala, bagai besi yang terbakar dalam tungku. Sementara Wicana tetap berdiri tegak, seperti tidak mempedulikan jurus dahsyat yang akan dikerahkan Pendekar Rajawali Sakti.

"Ghraugkh...!"

Kembali Wicana menggerung dahsyat sambil menghentakkan kedua tangannya yang seluruh jarinya mengembang ke depan. Dan saat itu juga, Rangga sudah melompat sambil berteriak keras menggelegar melakukan serangan lebih dulu.

"Hiyaaat...!"

Tapi, Pendekar Rajawali Sakti itu jadi terbeliak setengah mati. Wicana sama sekali tidak bergemin sedikit pun. Bahkan sikapnya seperti sengaja menanti serangan Pendekar Rajawali Sakti. Rangga ingin menarik kembali serangannya, tapi pukulan tangan kanannya sudah telanjur diayunkan. Dan....

Glarrr...!
"Akh...."

Rangga kontan terpental sangat deras ke belakang, begitu pukulan mautnya tepat menghantam dada bocah laki-laki kecil ini. Sementara, sedikitpun bocah itu tidak kelihatan bergeming. Bahkan bibirnya tersenyum melihat Rangga bergelimpangan di tanah, hingga menabrak beberapa batang pohon hingga tumbang. Bahkan sampai menghancurkan beberapa bongkahan batu. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti baru berhenti, tepat di depan sepasang kaki yang hampir tertutup jubah panjang berwarna putih bersih.

"Menyingkirlah, Anak Muda. Dia tidak akan bisa ditandingi dengan hanya mengandalkan jurus-jurus biasa yang kau miliki," ujar pemilik sepasang kaki berjubah putih itu.

Perlahan Pendekar Rajawali Sakti mengangkat kepalanya, dan memandang ke atas. Pendekar Rajawali Sakti lalu berdiri perlahan, terus memandangi wajah tua di depannya ini. Tapi orang tua berjubah putih yang rambutnya sudah memutih semua ini sudah mengetahui gerak jurusnya. Dan hal itu membuat Pendekar Rajawali Sakti jadi berpikir keras.

Untung saja benturan dan ledakan yang terjadi tadi tidak menimbulkan luka sedikit pun di tubuh pemuda ini. Bahkan setelah menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh, Rangga merasakan tidak ada yang aneh dalam tubuhnya. Dia segera menarik diri, menyingkir ke sebelah kanan. Seakan-akan, dia memberikan kesempatan pada orang tua ini untuk menghadapi bocah itu.

"Menyingkir yang jauh kataku, Anak Muda," terdengar agak membentak suara orang tua itu.

Orang tua itu langsung saja melangkah kedepan, menghampiri Wicana yang sejak tadi masih tetap berdiri tegak. Sorot mata bocah itu terlihat begitu tajam, menusuk langsung ke bola mata orang tua berjubah putih yang jaraknya semakin dekat saja. Tidak ada sepotong senjata pun yang tersandang pada tubuh orang tua itu, kecuali sebatang tongkat kayu untuk membantunya berjalan.

Orang tua yang rambutnya tergelung ke atas kepalanya itu berhenti melangkah, setelah jaraknya tinggal sekitar lima tindak lagi di depan bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun ini. Sementara anak itu tetap berdiri tegak, tidak bergeming sedikit pun.

"Wicana, keluar kau! Jangan kau rusak tubuh bocah tidak berdosa ini!" keras sekali suara orang tua berjubah putih ini.

"Ghrrr...! Kau tidak bisa lagi memerintahku, Eyang Bendowo. Tidak seperti dulu lagi! Ghrrr...!"

"Selama aku masih bisa bernapas, jangan harap bisa bebas terus-menerus menghancurkan bumi ini, Wicana," desis orang tua berjubah putih yang ternyata bernama Eyang Bendowo itu, tegas.

"Ghrrr...! Malam ini kau akan mampus, Eyang Bendowo!"

"Tidak akan, sebelum kau lenyap untuk selamanya, Wicana."

"Ghrrr! Bersiaplah, Eyang Bendowo!"

"Hap!"

Bet!

LIMA

Eyang Bendowo langsung melompat kekanan, sambil mengebutkan tongkat kayunya ke arah perut bocah kecil yang dirasuki iblis ini. Tapi dengan gerakan sangat manis dan indah, Wicana berhasil menghindari sabetan tongkat laki-laki tua berjubah putih itu.

Sementara, Rangga sudah duduk bersemadi di bawah pohon, untuk memulihkan tenaga setelah pertarungannya tadi. Tidak lama Pendekar Rajawali Sakti bersemadi, kini sudah bangun lagi. Dia langsung melihat Wicana ini tengah bertarung sengit melawan seorang laki-laki tua berjubah putih. Di dalam semadinya tadi, sayup-sayup Rangga masih bisa mendengar pembicaraan mereka tadi. Tapi dia tidak tahu, siapa orang tua berjubah putih itu. Dan, apa hubungannya dengan Wicana...?

Namun semua pertanyaan yang bergayut dalam kepala Pendekar Rajawali Sakti hanya tinggal beban saja. Dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak mungkin ikut terjun dalam pertarungan itu. Rangga hanya bisa diam saja dan terus menyaksikan pertarungan yang semakin meningkat dahsyat. Memang sangat aneh. Seorang laki-laki tua bertarung menyabung nyawa dengan seorang anak kecil berusia sepuluh tahun.

"Ghraugkh...!"

Sambil menggerung keras, tiba-tiba saja anak kecil itu melesat tinggi ke atas. Dan tubuhnya langsung menukik dengan kecepatan bagai kilat sambil mengibaskan tangannya yang kurus kecil itu ke kepala orang tua ini.

"Haiiit..!"

Namun dengan tangkas orang tua berjubah putih itu berkelit menghindar. Dan pada saat itu juga, tubuhnya dimiringkan ke kiri, hingga tangan kirinya menyentuh tanah. Dan secepat kilat dilepaskannya satu tendangan ke atas dengan kaki kanan.

"Yeaaah...!"
Diekh!

Di saat berada di udara, memang sulit bagi Wicana untuk bisa menghindar serangan balasan itu. Maka tak pelak lagi, tubuhnya jadi melambung tinggi terkena tendangan kaki kanan yang begitu keras dan menggeledek ini.

"Ghrauuugkh...!"

Namun bocah berusia sepuluh tahun itu cepat bisa menguasai keseimbangan tubuhnya. Beberapa kali tubuhnya berputaran di udara. Lalu manis sekali kakinya menjejak tanah kembali. Dan pada saat itu juga, tangan kiri Eyang Bendewo masuk ke dalam lipatan jubahnya. Begitu keluar, di dalam genggaman tangan itu terlihat sebuah benda berupa batu berbentuk segitiga yang memancarkan cahaya kehijauan.

"Aaargkh...!"

Wicana kontan menjerit dan menutupi wajah dengan kedua tangannya yang kecil, begitu melihatnya. Dia seperti tidak sanggup menantang cahaya kehijauan yang terpancar dari batu segitiga ditangan kiri orang tua berjubah putih itu.

"Ghrauuugkh...!"

Sambil menggerung dahsyat, Wicana tiba-tiba saja melesat cepat luar biasa sekali, meninggalkan tempat itu.

"Hey! Jangan lari kau...!" bentak Eyang Bendowo.

Tapi, lesatan Wicana begitu cepat sekali. Hingga belum sempat Eyang Bendowo melakukan sesuatu, bocah kecil itu sudah lenyap ditelan gelapnya malam.

"Setan...! Cepat sekali dia kabur...!" gerutu Eyang Bendowo, tampak kesal.

Orang tua itu memasukkan kembali batu segitiga berwarna kehijauan itu ke dalam lipatan jubah putihnya yang panjang dan agak longgar ini. Kemudian, kakinya lalu melangkah hendak pergi. Tapi baru saja terayun tiga langkah, dia berhenti lagi. Langsung tubuhnya diputar berbalik. Dan pandangannya langsung tertuju pada Pendekar Rajawali Sakti yang masih tetap berdiri tegak memandangi. Beberapa saat mereka terdiam dan hanya saling berpandangan saja. Dan perlahan kemudian, mereka sama-sama melangkah mendekati. Kini mereka berhenti pada jarak sekitar tiga langkah lagi.

"Terimalah salam hormatku, Eyang," ucap Rangga seraya menjura memberi hormat.

"Jangan bersikap begitu padaku, Anak Muda," ujar Eyang Bendowo, seraya mengangkat tangan kanannya yang memegang tongkat sedikit. Rangga kembali menegakkan tubuhnya. "Aku tahu siapa dirimu, Anak Muda. Tidak perlu kau jelaskan, kenapa kau bisa bentrok dengan bocah setan itu," kata Eyang Bendowo langsung.

Rangga agak terkejut juga, karena orang tua itu seperti sudah tahu tentang dirinya. Namun, dia tidak mau berpikir lebih jauh lagi.

"Maaf, apakah Eyang tahu siapa dia...?" tanya Rangga, dengan nada hati-hati.

"Ya, aku mengenalnya. Dan sudah bertahun-tahun aku mengejarnya. Tapi setiap kali berhasil mengalahkannya, dia selalu saja dapat menyelamatkan diri dengan meninggalkan raganya. Dan sekarang, dia menggunakan tubuh seorang bocah. Hhh! Perbuatannya sudah keterlaluan. Sama sekali tidak lagi menghargai sesama makhluk hidup." jelas sekali terdengar nada kekesalan pada suara Eyang Bendowo.

"Aku tidak mengerti maksud kata-katamu, Eyang," ujar Rangga.

"Sulit dimengerti, Anak Muda. Tapi bagimu yang sudah terkenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti, rasanya persoalan apa pun bisa dimengerti," sahut Eyang Bendowo.

Rangga kembali tertegun, karena orang tua ini sudah mengetahui dirinya. Padahal sama sekali namanya belum diperkenalkan. Tapi, Eyang Bendowo sudah mengetahuinya lebih dulu. Dan kembali Rangga tidak mau lagi memikirkannya, disadari kalau dirinya sudah sangat kondang. Maka tak heran kalau orang akan langsung bisa mengenali, dengan hanya melihat penampilannya. Memang tidak ada lagi pendekar di kolong langit ini yang menggunakan baju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung bertengger di punggung. Yang ada hanya Pendekar Rajawali Sakti!

"Tolong jelaskan siapa dia, Eyang. Dia sudah menimbulkan banyak korban di desa ini. Dan perbuatannya harus bisa kuhentikan," pinta Rangga tegas.

"Dia bukan siapa-siapa bagiku, Pendekar Rajawali Sakti," ujar Eyang Bendowo, kini terdengar pelan suaranya.

"Maksud, Eyang...?"
"Hhh...!"

Eyang Bendowo menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Seakan, dia begitu berat untuk mengatakannya. Sementara, Rangga terus menunggu penjelasan orang tua ini dengan sabar. Tapi, Eyang Bendowo malah terdiam seperti merenung. Tampak jelas sekali kalau raut wajahnya jadi berselimut mendung yang sangat tebal. Sehingga, membuat kening Pendekar Rajawali Sakti jadi berkerut.

"Kau ada hubungan keluarga dengannya, Eyang?" tebak Rangga, langsung.

"Tidak...," sahut Eyang Bendowo sedikit mendesah.

"Lalu?"
"Dia muridku."

"Murid...?!"

Rangga jadi terbeliak kaget tidak mengerti. Dipandanginya orang tua berjubah putih yang seperti pertapa ini. Sungguh belum bisa dipercaya kalau Wicana itu murid Eyang Bendowo ini. Dan sama sekali tidak ada bayangan dalam pikirannya.

"Ceritanya sangat panjang. Aku sendiri menyesal, karena telah mengangkatnya menjadi murid. Dan sekarang, dia membuatku susah. Sehingga aku terpaksa meninggalan pertapaanku, kembali mengarungi kehidupan dunia," terdengar lirih dan perlahan sekali suara Eyang Bendowo.

Sedangkan Rangga hanya diam saja. Dia tidak tahu, apa yang harus dikatakan lagi. Rasanya sulit sekali menggerakkan lidah, mengucapkan kata-kata untuk orang tua ini. Bisa dirasakan, bagaimana sakit hatinya kalau orang yang sudah dipercaya dan dibekali ilmu-ilmu, ternyata mengkhianatinya. Terlebih lagi, bagi seorang pertapa seperti Eyang Bendowo ini.

"Dia seorang anak malang. Dia kupungut, ketika tempat tinggalnya dihancurkan gerombolan perampok. Kedua orang tuanya, juga saudara-saudaranya mati terbunuh. Juga seluruh penduduk desa itu. Tidak ada yang hidup lagi, kecuali Wicana saja. Itu juga dalam keadaan terluka yang sangat parah. Semula aku sendiri sudah hampir tidak sanggup menyembuhkannya. Tapi, rupanya Sang Hyang Widi berkehendak lain. Wicana bisa bertahan hidup, dan kembali sehat. Kemudian aku mengajarkannya ilmu-ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kedigdayaan...," Eyang Bendowo mulai bercerita.

Sementara, Rangga tetap diam mendengarkan.

"Semula aku memang bangga sekali terhadapnya. Dia amat patuh, dan cepat menangkap semua pelajaran yang kuberikan. Tapi setelah usianya menjelang dewasa, sikapnya jadi berubah. Dia selalu menyendiri dan sering melamun. Kalau kutanya, tidak pernah dijawab. Hingga suatu saat, ketika aku turun gunung, diam-diam dia mencuri sebuah kitab pusaka milik warisan keluargaku dan mempelajarinya secara diam-diam. Kau tahu, kitab itu sangat berbahaya jika tidak digunakan secara benar. Dan Wicana tidak tahu bahayanya. Hingga pada akhir kitab, dia melakukan kesalahan yang seharusnya tidak boleh terjadi."

"Apa yang dilakukannya, Eyang?"

"Darah mudanya tergoda. Waktu melakukan semadi, muncul seorang wanita yang sangat cantik.

Sebenarnya, wanita itu hanya godaan saja. Tapi, dia tidak tahu dan tidak bisa mengendalikan di lagi. Akhirnya, Wicana masuk ke dalam perangkap. Dia telah berbuat maksiat dengan wanita itu, yang seharusnya tidak boleh dilakukan."

Rangga mengangguk-angguk. Langsung bisa dimengerti, apa yang dilakukan Wicana pada wanita jelmaan itu.

"Lalu...?"

"Setelah semua itu berakhir, Wicana baru sadar. Tapi, semuanya sudah terlambat dan harus menanggung akibatnya. Wicana harus berubah menjadi makhluk siluman setengah manusia dan setengah serigala. Aku yang cepat mengetahui, tidak ada pilihan lain lagi. Daripada dia membunuh banyak manusia hanya untuk memuaskan dahaga saja, maka dia harus kubunuh dengan tongkatku ini. Tapi tindakanku sebenarnya merupakan kesalahan paling parah yang pernah kulakukan selama hidupku. Aku lupa, dia tidak bisa mati dengan hanya sebatang tongkat bambu. Yang mati hanya tubuhnya saja, tapi rohnya tetap hidup. Dia akan mencari tubuh lain untuk membunuh setiap orang yang dijumpai. Dan kini, dia memakai tubuh bocah kecil yang tak berdosa sama sekali," papar Eyang Bendowo.

"Tapi dia tidak meminum darah korbannya, Eyang," ujar Rangga.

"Memang. Dalam keadaan seperti itu, dia tidak lagi membutuhkan darah. Dia sudah bisa hidup hanya dengan meminjam tubuh orang lain. Tapi, nafsunya untuk membunuh tidak akan pernah padam, seperti layaknya seekor serigala. Dia akan terus mencari korbannya. Sulit untuk bisa membunuhnya Pendekar Rajawali Sakti. Tidak ada satu senjata pun yang bisa membunuhnya, kecuali pusaka peninggalan warisan keluargaku. Senjata itu adalah Mustika Kumala Hijau ini," Eyang Bendowo lalu mengeluarkan batu segitiga berwarna hijau itu dari balik jubahnya. "Tapi selama ini, aku tidak pernah punya kesempatan untuk menggunakannya... Dan setiap kali kukeluarkan, Wicana selalu saja cepat bisa kabur."

"Kalau begitu, harus menggunakan cara yang lebih tepat, Eyang," ujar Rangga.

"Ya, memang harus menggunakan cara yang tepat. Hanya saja, cara itu belum kutemukan. Sedangkan aku hanya seorang diri saja menghadapinya," nada suara Eyang Bendowo terdengar mengeluh.

"Sekarang kau tidak sendiri lagi, Eyang," kata Rangga.

Eyang Bendowo tersenyum.

"Eyang, kalau bertemu lagi dengan Wicana, aku yang akan menghadapinya. Sementara, kau mencari celah yang tepat untuk menggunakan mustika itu," kata Rangga.

"Kau tidak akan bertahan lama menghadapinya, Rangga. Tubuhnya kebal terhadap segala macam pukulan dan tendangan. Bahkan dengansenjata sekali pun. Menggores kulitnya sedikit saja, sulit dilakukan."

"Aku akan berusaha, Eyang," ujar Rangga seraya tersenyum.

Entah kenapa, Pendekar Rajawali Sakti tersenyum. Dia sendiri tidak tahu, kenapa bisa tersenyum. Sedangkan wajah Eyang Bendowo berangsur cerah kembali. Kehadiran Pendekar Rajawali Sakti, seakan membawa titik cahaya yang menerangi hati orang tua ini. Eyang Bendowo serasa mendapatkan cahaya semangat kembali. Dia yakin, dengan bantuan Pendekar Rajawali Sakti, pasti bisa mengatasi Wicana yang setengah siluman itu.

********************

Malam terus merayap semakin larut. Eyang Bendowo tidak bisa lagi menolak ajakan Rangga untuk bermalam di rumah Kepala Desa Marong. Tubuh tuanya butuh istirahat yang nyaman malam ini, setelah begitu banyak menguras tenaga dalam pertarungannya dengan Wicana.

Sementara itu, cukup jauh di dalam hutan, tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, tengah duduk memeluk lututnya di depan seonggok api yang menyala tidak begitu besar. Api itu seakan-akan tidak sanggup mengusir udara dingin yang bertiup cukup kencang. Sehingga, anak kecil yang ternyata Wicana itu terpaksa harus memeluk lututnya sendiri. Tampak tubuhnya mulai menggeletar menahan udara dingin yang semakin menusuk menggigilkan ini.

"Hhh! Kalau saja Eyang Bendowo tidak ada... Hm.... Aku harus membunuh dulu orang tua itu. Dia selalu saja jadi penghalang," desis Wicana menggumam pelan, bicara sendiri.

Tubuh bocah yang bertelanjang dada itu semakin keras menggigil kedinginan. Namun, mendadak saja kepalanya ditegakkan. Telinganya yang tajam, mendengar suara rerumputan terinjak. Sebentar dia terdiam, lalu kepalanya cepat berpaling ke kanan. Saat itu, terlihat seorang pemuda melangkah menghampiri. Pemuda itu juga tampak terkejut melihat di dalam hutan ini ada seorang anak kecil, duduk kedinginan di dekat api. Dari sebuah busur dan sekantung anak panah yang dibawanya, bisa dipastikan kalau anak muda itu seorang pemburu.

"Sedang apa kau malam-malam di dalam hutan? Lari dari rumah ya...?" tegur pemuda pemburu itu.

Tapi, Wicana tidak menjawab. Hanya dipandanginya saja sinar mata yang agak sayu. Sedangkan pemburu muda itu semakin dekat saja. Tidak berapa lama kemudian, dia sudah berdiri di depan bocah laki-laki ini.

"Boleh aku duduk di sini...?" pinta pemuda itu.

Wicana hanya diam saja.

Pemburu yang masih berusia sekitar dua puluh lima tahun itu langsung duduk bersila di depan Wicana. Hanya onggokan api unggun kecil saja yang membatasi. Dibukanya tali pengikat kantung kulitnya. Lalu dikeluarkannya seekor kelinci yang gemuk, dengan leher berdarah seperti bekas tertembus panah.

"Kurasa ini cukup untuk mengisi perut kita berdua," kata pemburu itu lagi.

Tapi, Wicana masih tetap diam membungkam. Hanya dipandanginya saja pemburu berusia muda itu menguliti kelinci tangkapannya, dan memanggangnya di atas nyala api. Dia menambahkan ranting-ranting kering, hingga nyala api semakin bertambah besar. Sebentar saja aroma daging kelinci panggang ini sudah menyebar menusuk hidung, membuat perut terasa lapar minta diisi.

"Mau...?"

Pemburu muda itu menawarkan sambil memotong sekerat yang sudah matang. Wicana mengulurkan tangannya perlahan, menerima keratan daging kelinci itu dan langsung memasukkan ke dalam mulut. Tidak ada gerakan sedikit pun pada mulutnya. Sedangkan pemburu muda itu tidak memperhatikannya sama sekali. Dia begitu asyik menikmati panggangan daging kelinci hasil buruannya.

"Lagi...?"

Pemburu itu. menawarkan sekerat daging kelinci. Wicana menerimanya, dan langsung memasukkan ke dalam mulut. Dikunyahnya daging itu sebentar, lalu diam memandangi pemburu muda itu.

"Sejak tadi kau diam saja. Kau takut aku orang jahat? Jangan khawatir, Adik Kecil. Aku hanya pemburu biasa saja, dan bukan orang jahat," kata pemburu muda itu. "Namaku Karma. Dan kau siapa...?"

"Wicana," sahut Wicana, singkat.

"Kenapa kau berada di sini sendirian?" tanya pemburu muda yang memperkenalkan diri dengan nama Karma itu.

"Aku lari."

"Dari mana orangtuamu?"

Wicana menggelengkan kepala saja perlahan.

"Lalu...?"
"Dari guruku."
"Memangnya kenapa?"

Wicana tidak menjawab. Hanya dipandangi saja pemburu muda itu. Kali ini sorot matanya terlihat tajam, seakan hendak menembus langsung ke jantung dari sepasang bola mata anak muda yang duduk di depannya.

"Gurumu jahat?" tanya Karma lagi.
"Tidak"
"Lalu, kenapa lari?"
"Aku..., aku...," Wicana tidak melanjutkan.
"Kau kenapa, Wicana?"
"Ghrrr...!"

Wicana tidak menjawab, tapi malah menggereng seperti binatang buas.

"Heh.,.?!"

Karma jadi tersentak kaget. Begitu terkejutnya, sampai-sampai terlompat bangun dan melangkah ke belakang dua tindak. Sementara, Wicana tetap duduk diam memandangi dengan sorot mata begitu tajam. Sehingga, membuat Karma jadi bergidik juga melihatnya.

"Ghrrr...!"

Kembali Wicana menggereng perlahan, sambil menyeringai memperlihatkan baris-baris gigi yang runcing dan bertaring. Dan Karma jadi terbeliak lebar. Bahkan pikirannya seketika jadi buntu. Dia hanya berdiri diam terpaku memandangi bocah itu. Dan belum lagi bisa menyadari lebih jauh, Wicana sudah bangkit berdiri. Lalu....

"Ghrauuugkh...!"
"Heh...?!"

Karma hanya bisa terbeliak saja. Sebentar, Wicana sudah melompat sambil memperdengarkan raungan yang begitu dahsyat. Dan tahu-tahu, jari-jari tangannya yang berkuku runcing sudah menghujam begitu dalam ke leher pemburu ini.

"Aaakh...!"

Jeritan panjang dan melengking pun seketika terdengar memecah kesunyian hutan ini. Karma langsung jatuh terguling ke tanah. Semenara, Wicana melepaskan cengkeramannya dan cepat melompat ke belakang. Tampak darah mengalir dari leher Karma yang mulai koyak.

"Ghrrraugkh...!"

Wicana kembali menggerung, seraya melangkah menghampiri Karma yang masih menggelepar meregang nyawa. Kemudian, bocah itu melompat menerkam tubuh pemburu yang malang ini. Bagaikan seekor serigala yang kelaparan, taring-taringnya dihujamkan ke leher yang sudah koyak berlumuran darah ini.

"Srooop!"

Wicana segera menghirup darah pemburu ini dari lehernya. Sementara pemburu berusia muda itu sudah tidak lagi bergerak-gerak. Mati! Sedangkan, Wicana terus menghirup darah korbannya ini sampai puas. Dan setelah tidak ada lagi darah setetes pun yang rersisa, dia kemudian duduk sambil memeluk lutut di samping tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi. Seakan-akan tidak dipedulikan kalau di sebelahnya terbaring tubuh yang sudah tidak bernyawa.

"Hhh...!"

Sambil menghembuskan napas panjang, Wicana bangkit berdiri. Dipandanginya sebentar pemburu muda yang sudah tidak bernyawa dengan leher terkoyak lebar tanpa setetes darah pun yang tersisa. Wicana kembali menarik napas dalam-dalam, kemudian melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Tapi belum jauh berjalan, langkahnya sudah terhenti lagi.

Kepalanya lalu berpaling ke belakang, memandangi tubuh yang menggeletak tidak bernyawa. Dan sebentar kemudian, bocah laki-laki itu sudah kembali berjalan perlahan-lahan. Wicana terus berjalan. menembus hutan yangtidak begitu lebat, seakan tidak peduli dengan udara yang semakin dingin menusuk tulang. Dia terus jalan perlahan-lahan menuju Desa Marong.

"Aku yakin, Eyang Bendowo ada di Desa Marong. Hhh! Malam ini juga dia harus mati di tanganku," desis Wicana perlahan, bicara pada sendiri.

********************

ENAM

Sementara itu di dalam beranda depan rumah Kepala Desa Marong, Rangga, Eyang Bendowo, dan Eyang Rambang duduk beralaskan selembar tikar ditemani Pandan Wangi. Mereka semua mendengarkan cerita Eyang Bendowo mengenai Wicana yang bukan lagi manusia, tapi sudah menjadi siluman yang haus darah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang membuka suara, saat Eyang Bendowo bercerita. Mereka semua mendengarkan penuh perhatian.

Dan mereka semua masih tetap diam, walaupun Eyang Bendowo sudah tidak lagi bercerita. Dan kini, keadaan di beranda depan rumah kepala desa itu jadi sunyi. Cukup lama juga mereka terdiam membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Kalau memang dia tidak bisa dibunuh, lalu bagaimana cara melenyapkannya...?" nada suara Eyang Rambang seperti mengandung keputusasaan.

"Hanya Eyang Bendowo yang tahu, Ki," sahut Rangga sambil melirik Eyang Bendowo.

"Caranya, Eyang?" tanya Pandan Wangi yang sejak tadi diam saja.

"Inilah yang menjadi persoalannya sejak dulu. Keluargaku hanya mewariskan batu mustika saja. Dan aku tidak tahu, bagaimana cara menggunakannya. Sedangkan kitab yang menjadi petunjuk, sampai saat ini belum ditemukan. Aku tidak tahu, di mana Wicana menyembunyikannya," jawab Eyang Bendowo pelan.

Jawaban yang pelan namun sangat berarti itu membuat semua yang ada di beranda depan rumah Eyang Rambang ini jadi terdiam. Mereka saling melemparkan pandangan satu sama lain. Eyang Bendowo sendiri tidak tahu cara menggunakan batu mustika pemusnah ilmu setan yang sekarang ini dikuasai Wicana. Apa lagi yang lainnya...? Ini memang yang menjadi persoalannya sekarang, tepat seperti apa yang dikatakan Rangga. Harus ada cara yang paling tepat untuk menghadapi titisan anak setan itu.

Sementara malam terus merayap semakin larut. Sementara udara di sekitar Desa Marong ini semakin bertambah dingin. Dan angin pun bertiup kencang, membuat api pelita yang tergantung di tengah-tengah beranda depan ini jadi meliuk-liuk seperti ingin padam. Beberapa saat lamanya mereka semua kembali terdiam membisu. Dan tepat di saat itu, tiba-tiba terdengar jeritan panjang yang begitu menyayat.

"Heh! Apa itu...?.'" sentak Eyang Rambang.

Sementara Rangga yang lebih dulu tanggap, langsung melesat cepat bagai kilat. Hingga sebelum ada yang sempat menyadari, bayangan tubuh Pendekar Rajawali Sakti sudah lenyap tidak tedihat lagi. Sementara, mereka semua sudah berlarian keluar dari beranda ini.

"Mana Rangga?" tanya Eyang Bendowo.

Mereka jadi kebingungan, karena Rangga memang sudah tidak ada lagi. Dan saat itu, Eyang Bendowo melesat cepat bagai angin, menuju arah datangnya jeritan yang mengejutkan tadi. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuh yang dikuasai Eyang Bendowo, sehingga dalam sekejapan mata saja sudah lenyap dari pandangan mata.

Pandan Wangi yang sudah mau mengejar, cepat dicegah Eyang Rambanag. Sehingga, gadis itu terpaksa mengurungkan keinginannya.

"Tidak perlu semuanya pergi, Pandan. Kau tetap di sini bersamaku. Menjaga segala kemungkinan," kata Eyang Rambang.

Pandan Wangi hanya mengangguk saja. Namun begitu tubuh mereka hendak berbalik, mendadak saja terlihat sebuah bayangan berkelebat begitu cepat dari balik sebuah rumah. Maka seketika mereka jadi tersentak kaget. Dan tanpa bicara lagi, Pandan Wangi cepat melesat mengejar bayangan merah yang dilihatnya hanya sekilas itu. Eyang Rambang tidak mau ketinggalan. Dia cepat berlari kencang mempergunakan ilmu meringankan lubuh ke arah lain.

"Hup! Hiyaaa...!"

Begitu tinggi ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pandan Wangi. Sehingga hanya segenjot saja, tubuhnya sudah melesat naik ke atas sebuah rumah. Dan tubuhnya langsung melesat terus berlompatan dari satu atap rumah ke atap lainnya. Sekilas matanya masih sempat melihat seorang berbaju merah melesat begitu cepat sambil memanggul sesuatu yang kelihatannya cukup besar dan berat. Pandan Wangi mengempos seluruh kekuatan ilmu meringankan tubuhnya. Dan tubuhnya langsung meluruk deras mengejar orang yang semakin dekat saja jaraknya.

"Hiyaaat..!"

Dari atas atap sebuah rumah, Pandan Wangi menggenjot tubuhnya. Hingga kini dia meluruk deras ke arah orang berbaju merah yang masih terus berlari cepat itu, dan bisa melewati atas kepala buruannya. Dan....

"Berhenti!"
"Eh...?!"

Saat itu juga, Eyang Rambang sampai di tempat ini dari arah belakang Pandan Wangi. Rupanya laki-laki tua itu mengambil jalan pintas yang berlawanan. Eyang Rambang cepat-cepat menghampiri Pandan Wangi. Dan kedua bola matanya jadi terbeliak, begitu melihat orang yang berhadapan dengan si Kipas Maut ini.

"Rasemi.... Apa yang kau lakukan ini...?" desis Eyang Rambang mengenali wanita setengah baya yang masih kelihatan cantik itu.

"Huh! Ini semua gara-gara kau, Bocah Setan!" dengus perempuan yang ternyata Rasemi sambil menuding Pandan Wangi. "Kau harus mampus! Hiyaaat...!"

Sambil melemparkan buntalan kain yang disandangnya, Rasemi langsung melompat cepat menerjang Pandan Wangi. Satu pukulan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, dilepaskan cepat ke kepala si Kipas Maut itu.

"Haiiit..!"

Namun hanya mengegoskan kepala saja, pukulan Rasemi dapat dihindari Pandan Wangi dengan mudah. Bahkan si Kipas Maut itu cepat menarik tubuhnya, hingga miring ke kiri. Dan saat itu juga kaki kanannya cepat menghentak memberi satu tendangan keras menggeledek ke arah lambung.

"Ikh...?!"

Rasemi jadi terperanjat, tidak menyangka kalau Pandan Wangi bisa begitu cepat melancarkan serangan balasan. Cepat-cepat tubuhnya melenting ke atas. Namun tanpa diduga sama sekali, Pandan Wangi cepat menegakkan tubuhnya. Langsung dilepaskannya satu pukulan tangan kanan ke atas kepalanya, tepat di saat tubuh Rasemi berada di atas kepalanya. Begitu cepat gerakan Pandan Wangi, sehingga Rasemi tidak dapat lagi menghindarinya. Dan....

Diegkh!
"Akh...!"

Rasemi jadi terpekik, begitu pukulan Pandan Wangi yang cukup keras, walaupun tidak disertai pengerahan tenaga dalam, menghantam dada. Dan seketika wanita berusia setengah baya berbaju warna merah muda itu jadi terpental ke atas. Lalu keras sekali tubuhnya terbanting menghantam tanah. Saat itu, Pandan Wangi sudah melompat sebelum Rasemi bisa berbuat sesuatu.

"Hih!"
Jlek!
"Hegkh...!"

Rasemi hanya bisa terlenguh saja, begitu telapak kaki kiri Pandan Wangi menjejak lehernya. Sehingga kedua bola mata wanita setengah baya itu jadi mendelik. Dan Pandan Wangi terus menjejak leher wanita ini. Sementara, Eyang Rambang hanya memandangi pertarungan yang sudah jelas sekali bakal dimenangkan Pandan Wangi. Sekali tekan saja, pasti Rasemi tidak akan bisa melihat matahari lagi.

Namun pada saat itu, tiba-tiba saja melesat sesosok tubuh ke arah Pandan Wangi yang masih menjejakkan kaki kirinya ke tenggorokan Rasemi.

"Pandan, awaaas...!" seru Eyang Rambang tersentak. "Hiyaaat..!"

Bagaikan kilat, Eyang Rambang melompat memapak sosok tubuh yang hendak membokong Pandan Wangi. Kemudian langsung dilepaskannya satu pukulan yang sangat keras disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Hingga....

"Akh...!"
Bruk!

Bumi jadi bergetar begitu orang itu jatuh keras setelah tubuhnya terkena pukulan yang sangat dahsyat dan bertenaga dalam tinggi dari Eyang Rambang. Dan kini, sekitar delapan langkah di depan Eyang Rambang terduduk seorang laki-laki bertubuh gemuk seperti gentong.

"Gombala.... Hhh! Kalian tidak ada kapok-kapoknya, terus-menerus mengganggu dan menyengsarakan penduduk!" desis Eyang Rambang.

Sret!

Eyang Rambang langsung saja mencabut goloknya. Sementara tampak laki-laki gemuk yang hendak membokong Pandan Wangi dan ternyata Gombala, hanya mengkeret saja nyalinya. Perlahan Eyang Rambang melangkah mendekati. Goloknya yang berkilat tajam, sengaja digerak-gerakkan di depan dadanya. Sehingga, wajah Gombala jadi memucat.

"Aku bosan mengurusimu, Gombala. Sebaiknya kau memang harus mati saja," desis Eyang Rambang dingin.

"Hih!"

Tapi tiba-tiba saja tangan kanan Gombala bergerak cepat sekali. Dan dari tangan itu, meluncur beberapa benda ke arah Eyang Rambang. Akibatnya orang tua itu jadi terbeliak kaget.

"Hiyaaat...!"
Trang!
Bet!

Cepat sekali Eyang Rambang mengebutkan goloknya. Dan begitu bisa menangkis senjata rahasia yang dilemparkan Gombala, Eyang Rambang langsung memutar goloknya dengan kecepatan sungguh mengerikan. Akibatnya Gombala yang berada di depannya tidak dapat lagi menahan. Dan....

Cras!
"Aaa...!"

Gombala menjerit keras, begitu dadanya terhantam golok. Darah kontan mengalir keluar seperti air di sungai. Seketika itu juga Gombala ambruk menggelepar meregang nyawa. Tapi sebentar kemudian, tubuhnya sudah tidak bisa bergerak lagi. Sementara saat itu Pandan Wangi masih menjejak leher Rasemi.

"Hih!"

Pandan Wangi yang sejak tadi memang sudah tidak sabar, cepat menghentakkan kaki kirinya yang berada di tenggorokan Rasemi. Akibatnya wanita setengah baya itu jadi mendelik dan melenguh pendek. Selanjutnya, seluruh tubuh Rasemi terkulai lemah. Dan nyawanya seketika melayang dengan leher patah. Tampak darah mengalir dari sudut-sudut bibirnya.

"Setan-setan seperti mereka sudah pantas mati. Selalu saja memanfaatkan kesempatan untuk mengeruk keuntungan sendiri. Huh!" dengus Ki Rambang, sambil menyemburkan ludah ke wajah Gombala yang sudah tidak bernyawa lagi.

"Mereka penduduk sini juga, Eyang?" tanya Pandan Wangi.

"Ya! Tapi, mereka juga perampok," sahut Eyang Rambang.

Pandan Wangi menganggukkan kepala. Diambilnya buntalan kain yang tergeletak di dekat mayat Rasemi dan diserahkannya pada Eyang Rambang. Laki-laki tua itu menerimanya, lalu menyandang ke pundak.

"Aku akan mengembalikan barang ini, Pandan. Kau ingin ikut?" ujar Eyang Rambang.

"Tidak, Eyang. Aku mau menyusul Kakang Rangga," sahut Pandan Wangi seraya tersenyum.

"Baiklah. Hati-hati, Pandan," ujar Ki Rambang.

Lagi-lagi Pandan Wangi hanya tersenyum saja. Sementara Eyang Rambang sudah melangkah cepat meninggalkan gadis itu. Sebentar saja, tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. Sedangkan Pandan Wangi segera memandangi dua sosok tubuh yangg sudah tidak bernyawa lagi. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu kakinya terayun hendak meninggalkan tempat ini. Tapi baru saja terayun beberapa langkah....

"Kak...."
"Eh...?!"

Pandan Wangi jadi tersentak kaget, begitu tiba-tiba terdengar suara yang begitu lirih dari belakang. Cepat tubuhnya berbalik. Dan kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, begitu melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun tahu-tahu sudah berdiri di bawah pohon, tidak jauh dari mayat Gombala.

"Wicana...," suara Pandan Wangi jadi agak bergetar.

Pandan Wangi jadi ingat cerita Eyang Bendowo. Hatinya jadi terkesiap juga melihat wajah Wicana begitu pucat, dan pandangan matanya sayu seperti tidak lagi memiliki gairah kehidupan. Melihat keadaannya, memang membuat hati siapa akan tergiris. Tapi kalau mengingat anak ini sangat berbahaya tidak ada seorang pun yang akan mendekati.

"Boleh aku bicara denganmu, Kak.... Aku perlu seseorang yang sudi mengerti dengan keadaan diriku. Tolong, Kak. Tolong aku...," lirih sekali suara Wicana.

Pandan Wangi hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Memang sulit menjawab permintaan yang begitu memelas. Seakan, lidahnya jadi kelu seketika. Gadis itu hanya berdiri saja memandangi bocah bertubuh kurus seperti kurang makan ini.

"Tolong aku, Kak... Aku tidak kuat lagi terus-menerus seperti ini. Aku ingin seperti yang lain...," rintih Wicana begitu lirih dan memelas.

Namun Pandan Wangi masih tetap diam membisu. Entah, apa yang ada dalam kepalanya saat ini. Ingin diucapkannya sesuatu, tapi lidahnya terasa begitu kaku dan sulit diajak bicara. Sementara, wajah Wicana semakin terlihat pucat, seperti tidak teralirkan darah lagi. Dan sinar matanya juga semakin terlihat meredup, tanpa adanya cahaya kehidupan di sana.

"Hhh...!"

Pandan Wangi menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Dicobanya mencari kekuatan pada dirinya sendiri dan berusaha untuk bisa bersikap tenang menghadapi seorang bocah yang dalam tubuhnya tersimpan jiwa iblis dari seseorang yang salah menggunakan ilmu.

"Apa yang kau inginkan dariku, Wicana?" tanya Pandan Wangi dengan suara dibuat lembut dan tenang.

"Aku ingin kau membebaskan aku dari penderitaan ini, Kak. Sudah terlalu lama aku tersiksa. Aku ingin bebas, Kak...," sahut Wicana lirih.

"Aku tidak tahu, siapa kau sebenarnya, Wicana. Bagaimana aku bisa menolongmu...? Lagi pula, aku tidak tahu kesulitan apa yang sedang kau hadapi sekarang ini," kata Pandan Wangi, berusaha mengorek keterangan.

"Aku terbelanggu, Kak. Aku tidak kuasa menolak. Dia sangat kuat sekali...."

"Siapa yang membelenggumu?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Ng...."

Belum juga bocah itu menjawab pertanyaan si Kipas Maut barusan, mendadak saja kepalanya terdongak sambil memperdengarkan suara mendengung seperti lebah. Pandan Wangi jadi terperanjat, dan melompat ke belakang tiga langkah. Saat itu wajah Wicana terlihat jadi memerah. Bahkan sepasang bola matanya yang tadi kelihatan sayu tanpa cahaya, kini jadi memerah seperti sepasang bola api. Pandan Wangi jadi terkesiap melihat perubahan yang begitu cepat pada wajah anak kecil itu.

"Ghrrr...!"
"Eh...?!"

Begitu terkejutnya, sampai-sampai Pandan Wangi terlompat ke belakang sejauh lima langkah, saat Wicana menggeram bagaikan seekor serigala buas dan kelaparan. Sorot matanya terlihat begitu tajam, seakan-akan hendak menembus jantung Pandan Wangi. Akibatnya gadis yang dikenal berjuluk si Kipas Maut itu jadi terkesiap.

"Ghrauuugkh...!"
"Oh...?!"

Kedua bola mata Pandan Wangi jadi terbeliak lebar, saat Wicana menggerung dahsyat sambil memperlihatkan gigi-giginya yang runcing dan bertaring tajam. Dan belum juga hilang rasa keterkejutannya, mendadak saja Wicana sudah melompat menerjangnya sambil meraung keras. Dan akibatnya, jantung gadis itu seakan-akan berhenti seketika.

Namun belum saja jari-jari tangan Wicana yang berkuku runcing dan hitam itu bisa menyentuh leher Pandan Wangi, mendadak saja terlihat secercah cahaya merah meluruk deras menghantam tubuh kecil bocah laki-laki ini. Begitu cepatnya kilatan cahaya merah itu, sehingga sulit untuk diikuti pandangan mata biasa. Hingga....

Pras!
"Aaagkh...!"

Wicana meraung keras, begitu tubuhnya terhantam cahaya merah yang meluncur deras bagai kilat itu. Bocah berusia sekitar sepuluh tahun itu kontan terpental ke kanan dan jatuh keras menghantam tanah, hingga bergulingan beberapa kali. Namun dengan cepat dia bisa bangkit berdiri lagi!

"Ghrrr...!"
"Menyingkir kau, Pandan...!"
"Oh, Kakang...."

Pandan Wangi hanya bisa mendesis kecil begitu melihat Rangga tahu-tahu sudah berada di tempat ini. Rupanya cahaya merah yang tadi menghantam Wicana, dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti ini dalam pengunaan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir. Sehingga, pukulan itu bisa dilepaskan dari jarak yang cukup jauh. Bahkan angin pukulannya memancarkan cahaya merah bagai api!

Pandan Wangi bergegas melangkah ke belakang menjauhi tempat itu. Sementara, Rangga mengayunkan kakinya perlahan-lahan mendekati Wicana yang sudah berdiri tegak di atas kedua kakinya yang kecil dan kurus, seperti tulang terbalut kulit. Tubuhnya terlihat sedikit membungkuk, dan kedua tangannya yang berkuku runcing mengembang mengerikan di depan dada.

"Ghrauuugkh...!"

Sambil menggerung dahsyat, Wicana melompat cepat bagai kilat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, Rangga yang memang sudah siap sejak tadi manis sekali mengegoskan tubuhnya sedikit ke kiri. Dan begitu tubuh Wicana dekat, tangan kanannya, cepat sekali dihentakkan. Langsung diberikannya satu pukulan dahsyat menggeledek dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir.

Yeaaah...!"

Begitu cepat pukulan yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga Wicana tidak sempat lagi menghindarinya. Terlebih, tubuhnya saat itu sedang berada di atas. Dan pukulan itu tepat menghantam keras bagian lambungnya.

"Aaargkh...!"

Raungan yang sangat keras pun seketika terdengar memecah kesunyian malam di Desa Marong ini. Namun Wicana yang baru saja bergulingan akibat terhantam pukulan Pendekar Rajawali Sakti, bisa bangkit berdiri lagi. Bahkan langsung menyerang dengan kibasan tangan yang berkuku runcing itu. Rangga cepat-cepat membanting tubuhnya ke samping dan bergulingan beberapa kali, begitu tangan kiri Wicana mengibas ke arah kepala. Lalu dengan gerakan indah sekali, dia melompat bangkit berdiri. Sementara begitu gagal serangannya, Wicana kembali melesat cepat menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

"Ghrauuugkh...!"
"Oh...!"

Rangga jadi terkesiap mendapat serangan yang datang begitu cepat. Padahal, pukulannya tadi dilepaskan dengan pengerahan tenaga dalam sempurna. Bahkan sudah mencapai pada tingkatan terakhir. Tapi, bocah kecil itu sama sekali tidak mendapatkan luka. Bahkan kini sudah menyerang lagi dengan kecepatan luar biasa.

"Hapts!"

Cepat-cepat Rangga menarik tubuhnya kekanan, menghindari terjangan bocah ini. Tapi tanpa diduga sama sekali, Wicana cepat menghentakkan kaki kirinya kedada Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepat dan tidak terduga sama sekali, sehingga Rangga sama sekali tidak menyadarinya. Dan....

Des!
"Akh...!"

Rangga jadi terpekik, begitu kaki kecil Wicana menghantam telak dadanya. Akibatnya, Pendekar Rajawali Sakti terbanting keras ke tanah dan bergulingan beberapa kali. Namun dengan gerakan cepat dan manis, Rangga bisa bangkit berdiri, walaupun sedikit limbung.

"Ugkh...!"

Rangga jadi mengeluh merasakan dadanya begitu sesak. Dan pernapasannya juga jadi terganggu. Sementara Wicana sudah siap hendak menyerang kembali. Sedangkan Rangga masih berusaha menguasai pernapasannya. Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti melakukan gerakan-gerakan tangan di depan dada. Dan begitu jalan pernapasannya kembali seperti biasa, Wicana sudah melesat cepat bagai kilat melakukan serangan lagi, sambil memperdengarkan gerungan yang begitu keras dan dahsyat luar biasa.

"Ghrauuugkh...!"
"Hup! Yeaaah...!"

Cepat sekali Rangga melenting ke udara, Sehingga terjangan bocah kecil berusia sekitar sepuh tahun itu lewat di bawah telapak kakinya. Dua tubuhnya berputaran di udara, kemudian manis sekali menjejakkan kakinya kembali di tanah. Saat itu, Wicana sudah memutar tubuhnya berbalik. Dan dia langsung melesat menyerang lagi dengan kecepatan dahsyat.

"Hup! Hiyaaat...!"

Kembali Pendekar Rajawali Sakti melenting keudara dan berputaran beberapa kali, menghindari terjangan bocah yang memiliki kekuatan luar biasa itu. Dan begitu kakinya menjejak tanah lagi, Wicana sudah menyerang kembali. Rangga juga kembali melenting ke udara, hingga beberapa kali Wicana hanya lewat dibawah telapak kakinya.

TUJUH

Tindakan Rangga yang hanya menghindar dan seperti mempermainkannya, membuat Wicana kelihatan geram. Dia jadi menggerung-gerung marah dengan kedua bola mata semakin merah dan liar memandangi Pendekar Rajawali Sakti yang kini berdiri tegak sekitar satu batang tombak di depannya.

"Kenapa diam...?! Ayo serang aku, Anak Setan!"

Rangga sengaja memanasi. Sedangkan Wicana tampak semakin geram. Namun, sudut matanya melirik Pandan Wangi yang berdiri agak jauh dari Pendekar Rajawali Sakti. Dan ternyata, lirikan bocah itu bisa cepat diketahui Rangga. Maka sebelum Wicana bisa berbuat sesuatu, cepat sekali Rangga melompat ke depan Pandan Wangi.

"Kau tidak bisa memanfaatkan gadis ini, Wicana. Aku tahu, apa yang ada dalam kepalamu," terdengar sinis nada suara Rangga.

"Ghrrr...!"

Wicana hanya bisa menggeram, melihat rencananya memanfaatkan Pandan Wangi bisa cepat diketahui. Dan perlahan kakinya bergeser ke kanan. Sorot matanya masih terlihat begitu tajam menatap langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga sendiri tidak berkedip memperhatikan setiap gerak bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun itu.

Saat itu, muncul Eyang Bendowo dan Eyang Rambang bersama murid-muridnya. Mereka segera menghampiri Pandan Wangi yang berada tidak jauh di belakang Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga hanya melirik sedikit saja kehadiran mereka, tapi bibirnya terlihat menyunggingkan senyum tipis. Sementara, Wicana tampak semakin bertambah geram saja melihat keadaannya semakin tidak menguntungkan. Terlebih lagi, setelah Eyang Rambang memerintahkan murid-muridnya untuk mengepung. Sedangkan seperti sudah diperintahkan, rumah-rumah di sekitar tempat ini segera menyalakan pelita. Sehingga, keadaan yang semula begitu gelap gulita, kini jadi terang benderang oleh cahaya lampu pelita. Hanya saja, tidak ada seorang pun penduduk desa ini yang keluar dari dalam rumahnya. Mereka yang menaruh pelita di beranda, bergegas masuk kembali ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.

"Bersiaplah, Eyang. Aku akan menyerangnya,"! kata Rangga pelan, terdengar berbisik suaranya.

"Hati-hati, Rangga," bisik Eyang Bendowo memperingatkan.

Rangga hanya melirik sedikit pada pertapa tua itu. Dan bibirnya memberi senyuman tipis, seperti memberi ketenangan pada orang tua berjubah putih itu. Dan perlahan kakinya terayun mendekati bocah bertubuh kurus dan berlumur tanah berlumpur ini.

"Ayo, Anak Setan! Lawan aku. Kita bertarung sampai ada yang mati," tantang Rangga memanasi.

"Ghrrr...!"

Wicana menggeram sedikit, dengan sorot mata terlihat memerah tajam menatap langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Dan jarak mereka juga semakin bertambah dekat saja. Rangga baru berhenti melangkah, setelah jaraknya tinggal sekitar enam tindak lagi dari anak kecil itu.

"Bersiaplah, Anak Setan. Hiyaaat...!"

Sambil berteriak keras, Rangga menghentakkan tangan kanannya ke depan. Langsung diberikannya satu pukulan jarak jauh dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

Rangga memang tidak mau lagi tanggung tanggung menghadapi anak kecil yang kemampuannya sangat luar biasa ini. Pendekar Rajawali Sakti tahu, tubuh Wicana kebal terhadap segala jenis pukulan dan tendangan yang bertenaga dalam dahsyat sekalipun. Bahkan senjata apa pun juga tidak akan bisa menembus kulitnya yang kebal. Maka, pemuda berbaju rompi putih itu tidak lagi merasa sungkan menghadapinya. Sehingga langsung dilepaskannya satu pukulan dahsyat dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' tingkat terakhir.

"Ghrauuugkh...!"

Wicana cepat melenting ke atas, begitu seleret cahaya merah meluruk deras ke arahnya. Dan begitu cahaya merah itu lewat, cepat bagai kilat Wicana meluruk sambil menjulurkan kedua tangannya ke depan. Jari-jari tangan yang berkuku runcing hitam sudah terkembang, mengarah ke leher Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup! Yeaaah...!"

Namun tenang sekali, Rangga memiringkan tubuhnya ke kanan. Dan dengan cepat, dilepaskannya satu tendangan keras menggeledek, disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Begitu cepat tendangannya, sehingga Wicana tidak sempat lagi berkelit. Maka....

Diegkh!

Tepat sekali lambung Wicana terkena tendangan menggeledek bertenaga dalam sempurna dari Pendekar Rajawali Sakti.

"Ghrauuugkh...!"

Wicana terpental balik ke belakang sambil menggeram dahsyat. Namun dengan gerakan indah sekali, bocah berusia sepuluh tahun itu memutar tubuhnya beberapa kali di udara. Lalu, dia kembali meluruk deras dengan kedua tangan terjulur ke depan. Rangga jadi agak terkesiap juga, tapi cepat menarik kakinya ke kanan. Dan begitu hendak melepaskan pukulan ke dada, tanpa diduga sama sekali Wicana meliukkan tubuhnya di udara. Lalu begitu cepat tangan kirinya dikebutkan ke samping.

"Heh...?!"

Rangga jadi tersentak kaget setengah mati. Cepat-cepat tubuhnya dibuang ke tanah, menghindari kibasan tangan kiri bocah itu. Dan tubuhnya langsung bergulingan beberapa kali di tanah. Tapi begitu melesat bangkit berdiri, Wicana sudah kembali mengibaskan tangannya ke dada Pendekar Rajawali Sakti. Akibatnya pemuda berbaju rompi putih ini jadi terbelalak matanya.

"Haiiit..!"

Cepat-cepat Rangga melompat ke belakang, menghindari serangan yang begitu cepat dan sulit diduga. Sementara, Wicana terus mengejar sambil cepat mengebutkan kedua tangannya mengarah bagian-bagian tubuh Rangga yang mematikan.

"Edan! Hih...!"

Rangga tidak dapat lagi terus-menerus berlompatan menghindar. Begitu tangan kanan Wicana bergerak mengibas ke dada, cepat sekali tangan kirinya menghentak. Langsung ditangkisnya kibasan tangan kecil yang berlumpur tanah ini.

Tak
"Ikh...!"

Rangga jadi terpekik kaget setengah mati, begitu tangannya beradu dengan tangan kecil bocah ini. Sungguh tidak disangka kalau tangan kurus dan kelihatan lemah itu bagaikan sebatang besi baja yang teramat kuat. Dan akibatnya, tulang-tulang tangannya bagai terasa remuk. Begitu nyeri rasanya. Maka, Rangga cepat-cepat menarik tangannya kembali, lalu melompat ke belakang dua langkah. Tapi pada saat itu, Wicana sudah melompat sambil melepaskan satu tendangan yang begitu cepat dan menggeledek!

"Kakang, awaaas...!" teriak Pandan Wangi memperingatkan.

"Upts...!"

Cepat-cepat Rangga membanting tubuhnya ke tanah, lalu bergulingan beberapa kali. Dan dengan cepat pula, tubuhnya melenting ke udara. Setelah berputaran beberapa kali, kakinya menjejak manis sekali di tanah. Namun tepat pada saat itu, Wicana sudah meluruk deras dengan kedua tangan yang berkuku runcing bagai mata pisau mengarah lurus ke depan, ke leher Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, kali ini Rangga tidak bermaksud menghindarinya. Dia tetap berdiri tegak menanti, dengan sorot mata begitu tajam memperhatikan jari-jari tangan yang mengembang kaku mengancam batang leher.

"Oh...?!"

"Edan! Kenapa dia tidak menghindar...?"

Mereka yang menyaksikan jadi terkesiap, tidak mengerti apa yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti. Padahal, jelas sekali mereka melihat kalau Rangga tadi jatuh bangun menghadapi titisan anak setan ini. Sementara, Wicana sudah semakin dekat saja jaraknya. Sedangkan Rangga masih tetap berdiri tegak menanti.

"Ghrauuugkh...!"
"Hap! Hiyaaa...!"

Tepat ketika jari-jari tangan Wicana yang hitam dan runcing itu berada di depan tenggorokannya, Pendekar Rajawali Sakti cepat memiringkan kepala ke kanan. Dan seketika itu juga, kedua tangannya menghentak ke depan, memberi sodokan keras disertai pengerahan tenaga dalam sempurna. Begitu cepat hentakan tangannya, sehingga Wicana tidak sempat lagi menghindarinya. Dan....

Plak!
"Aaargkh...!"

Wicana meraung keras dan tubuhnya kontan terpental jauh ke belakang, begitu dadanya telak sekali mendapat hentakan kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan selagi tubuh bocah kecil itu melayang di udara, dengan kecepatan dahsyat Rangga melesat mengejar sambil melepaskan satu pukulan yang begitu keras disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

"Hiyaaat...!"
Duk!

Kembali Wicana memekik keras. Dan tubuhnya kontan terpental tinggi ke angkasa. Sementara, Rangga sudah menjejakkan kakinya kambali ke tanah. Cepat kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada, lalu tubuhnya dimiringkan sedikit ke kanan dan cepat ditarik kembali ke kiri. Kemudian, dia kembali berdiri tegak dengan kedua telapak tangan masih merapat di depan dada. Tampak semburat cahaya biru memancar di antara kedua telapak tangannya.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'...," desis Pandan Wangi langsung bisa mengenali gerakan Pendekar Rajawali Sakti.

Sementara, Wicana sudah mulai menukik deras ke bawah setelah berputaran beberapa kali di udara. Dan pada saat itu, Rangga berdiri tegak memandang ke atas, lalu....

"Aji 'Cakra Buana Sukma'! Yeaaah...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Rangga menghentakkan kedua tangannya ke atas kepala, tepat mengarah ke tubuh kecil yang meluruk deras di atas kepalanya. Dan seketika itu juga, dari kedua telapak tangannya melesat sinar biru yang terang menyilaukan mata. Begitu cepat sinar biru itu meluruk, hingga Wicana tidak sempat lagi menghindarinya.

Plas!
"Ghrauuugkh...!"

Raungan keras seketika terdengar menggelepar di angkasa, begitu tubuh bocah kecil itu terhantam cahaya biru yang keluar dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi Wicana terus meluncur turun dengan deras, lalu manis sekali menjejakkan kakinya di tanah. Dia mendarat, tepat sekitar lima langkah lagi di depan pemuda berbaju rompi putih ini. Meskipun seluruh tubuhnya terselimut cahaya biru, tapi Wicana masih mampu mengendalikan diri, dan bisa mendarat manis sekali ditanah.

Sementara, Pendekar Rajawali Sakti terus mengerahkan aji kesaktiannya yang dahsyat itu. Cahaya biru yang memancar keluar dari kedua telapak tangannya semakin banyak menggumpal menyelimuti tubuh kecil bocah laki-laki itu. Tapi tiba-tiba saja....

"Ghraaauuugkh...!"
Glarrr...!
"Akh...!"
"Oh...?!"
"Kakang...!"

Pandan Wangi jadi menjerit, begitu melihat Rangga terpental ke belakang sambil memekik keras agak tertahan. Sementara, Wicana terlihat berdiri tegak dengan kedua tangan terangkat tinggi ke atas kepala. Sedangkan cahaya biru dari aji 'Cakra Buana Sukma' sudah lenyap seketika. Tampak Rangga terbanting keras ke tanah, dan bergulingan beberapa kali. Sebatang pohon yang terlanda tubuhnya seketika hancur berkeping-keping!

"Ugkh...!"

Begitu berhenti, dari mulut Pendekar Rajawali Sakti menyembur darah kental berwarna agak kehitaman. Dengan tubuh yang limbung, Rangga berusaha bangkit berdiri. Sementara, Pandan Wangi yang mau memburu sudah dicegah Eyang Bendowo. Laki-laki tua itu cepat mencekal pergelangan tangan si Kipas Maut ini.

"Jangan...."
"Tapi..."

Pandan Wangi jadi serba salah. Gadis itu melihat Rangga terhuyung-huyung sambil menyeka darah di mulut dengan punggung tangan. Sementara, Wicana sudah bersiap menyerang lagi. Bocah itu melakukan beberapa gerakan kedua tangan, dan kakinya bergerak menggeser cepat menyusur tanah ke arah kanan. Dan....

"Ghrauuugkh...!"

Sambil meraung dahsyat, bocah kecil berusia sekitar sepuluh tahun itu melesat cepat bagai kilat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Sementara itu, Rangga masih berusaha menyeimbangkan keadaan tubuhnya. Sehingga, dia tidak punya kesempatan lebih banyak lagi, karena Wicana sudah menyerang cepat dan sulit diikuti pandangan mata biasa.

"Hih!"
Sret!
Cring!

Cepat-cepat Rangga meloloskan pedang pusakanya. Maka seketika itu juga cahaya biru berkilauan menyemburat dari mata Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Lalu dengan cepat pula pedangnya dikebutkan ke depan, tepat di saat tubuh kecil kurus itu berada dekat di depannya. Dan....

Cras!
"Aaargkh...!"

Wicana jadi menjerit keras, begitu ujung mata pedang yang memancarkan cahaya biru itu menebas tepat di dadanya. Akibatnya, Wicana terpental balik ke belakang dan jatuh bergulingan beberapa kali di tanah. Sementara, Rangga cepat-cepat melakukan gerakan-gerakan indah dengan pedang di tangan kanan.

"Hih!"

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti hendak menyerang, tiba-tiba saja....

"Rangga, tahan...!"

Rangga menahan langkah kakinya, begitu terdengar bentakan Eyang Bendowo. Dan begitu berpaling, laki-laki tua berjubah putih itu sudah melesat ke depan Pendekar Rajawali Sakti.

"Sekarang bagianku," ujar Eyang Bendowo.

"Hm... Hati-hati, Eyang," ucap Rangga agak menggumam.

"Menyingkirlah. Kau pasti terluka dalam,".kata Eyang Bendowo tanpa melirik sedikit pun juga.

Cring!

Rangga kembali memasukkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangka di punggung. Maka cahaya biru yang memancar dari pedang itu seketika lenyap dari pandangan. Pandan Wangi bergegas menghampiri Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau terluka, Kakang...?" terdengar cemas nada suara Pandan Wangi.

"Sedikit," sahut Rangga.

Sementara. itu, Eyang Bendowo sudah melangkah mendekati Wicana yang masih merintih menahan sakit pada dadanya. Tampak dada yang kurus itu terbelah, mengucurkan darah berwarna agak kehitaman. Rupanya, Pedang Pusaka Rajawali Sakti mampu juga merobek tubuh anak setan itu.

********************

"Saatmu sudah tiba, Wicana. Jangan kau rusak dirimu semakin parah. Kembalilah ke asalmu, terasa begitu dingin nada suara Eyang Bendowo.

"Tidak, Eyang. Tidak seorang pun bisa membunuhku. Aku akan tetap hidup...," tegas Wicana.

Suara bocah itu kali ini terdengar jelas bukan suara anak kecil. Jelas, suara itu adalah suara orang dewasa yang sudah terluka cukup parah. Beberapa pukulan dan tendangan keras bertenaga dalam tinggi yang diterima memang membuat keadaan dirinya semakin memburuk. Terlebih lagi, luka yang menganga di dadanya akibat tebasan pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga, keadaannya semakin bertambah lemah saja. Tapi itu bukan berarti Wicana bisa mudah ditaklukkan. Buktinya kegarangannya masih teriihat jelas pada sorot matanya yang tajam.

"Kembali, Wicana. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu. Tidak ada gunanya terus bertahan seperti itu. Kau akan bertambah parah dan menyiksa diri sendiri," kata Eyang Bendowo membujuk.

"Tidak.... Aku tidak akan takluk pada siapapun. Juga kau, Eyang. Maaf, aku harus membunuh...!" desis Wicana dingin menggetarkan.

"Sadarlah, Wicana...."

"Kau harus mati, Eyang. Mati...! Hiyaaat..!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Wicana melompat menerjang laki-laki tua berjubah putih itu. Sementara, Eyang Bendowo sendiri masih tetap berdiri tegak. Dan begitu Wicana sudah dekat cepat tangan kanannya dikeluarkan yang sejak tadi berada dalam lipatan jubahnya. Maka seketika itu juga, sebuah benda berwarna hijau berbentuk segitiga sudah tergenggam dalam telapak tangan kanannya.

"Akh...!"

Wicana jadi terpekik, melihat benda yang memancarkan cahaya hijau di tangan Eyang Bendowo. Cepat-cepat dia melompat kebelakang sejauh satu batang tombak dan menutupi matanya dengan kedua tangannya. Sementara, Eyang Bendowo segera melangkah mendekati perlahan-lahan.

"Kembali ke asalmu, Wicana. Tidak ada gunanya terus bertahan...," ujar Eyang Bendowo terus membujuk.

"Tidak! Hiyaaat..!"

Wicana rupanya sudah tidak mau lagi menuruti kata-kata gurunya ini. Tubuhnya langsung melompat tanpa mempedulikan laki-laki tua yang sudah memegang sebuah benda. Padahal, benda itu menjadi kematian bagi dirinya! Sambil berteriak keras menggelegar, Wicana kembali melompat dengan kecepatan kilat menerjang pertapa tua ini.

"Hih!"

Eyang Bendowo segera mengebutkan tangan kanannya yang memegang benda bercahaya kehijauan itu, dan langsung diarahkan ke dada bocah berusia sekitar sepuluh tahun ini.

Namun dengan gerakan indah sekali, Wicana meliukkan tubuhnya menghindari kibasan tangan kanan pertapa tua ini. Dan tanpa diduga sama sekali tangannya dikibaskan cepat bagai kilat Langsung disambarnya perut Eyang Bendowo. Begitu cepat gerakannya, sehingga Eyang Bendowo tidak sempat lagi menghindarinya. Dan....

Bret!
"Akh...!"

Eyang Bendowo terpekik, begitu jari-jari tangan Wicana yang berkuku runcing merobek perutnya. Akibatnya, tubuh orang tua itu terhuyung-huyung ke belakang, sambil memegangi perutnya yang robek terkoyak. Darah segar kontan mengucur membasahi jubah putihnya. Saat itu juga, Wicana terlihat melesat sambil meraung keras bagai seekor binatang buas yang terluka.

"Ghrauuugkh...!"
Begkh!

Kaki kanan Wicana tepat menghantam dada Eyang Bendowo dengan keras sekali. Akibatnya, laki-laki pertapa tua itu menjerit dan kontan terpental deras ke belakang. Sedangkan benda bercahaya hijau yang tergenggam di tangan kanannya terlempar tinggi ke angkasa.

"Ghraugkh.,.!"

Sambil menggerung keras, Wicana melesat ke angkasa. Cepat dikejarnya benda cahaya hijau yang sangat ditakuti ini. Memang, hanya benda itu saja yang mampu melenyapnya kehidupan. Tapi di saat yang bersamaan. Rangga telah melenting mengejar disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh yang sudah sangat sempurna.

"Hiyaaat..!"

Tepat ketika berada di depan Wicana, dengan kecepatan bagai kilat Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kaki kanannya. Langsung diberikannya satu tendangan yang begitu keras, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

"Yeaaah...!"

Tendangan yang sangat cepat dan tidak terduga itu, tidak dapat lagi dihindari Wicana. Bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun ini kontan meraung keras. Akibatnya, tubuhnya terpental jauh kebelakang. Sementara, Rangga terus meluncur tinggi ke angkasa, mengejar benda bercahaya kehijauan yang melayang di angkasa. Dan begitu berhasil menggapainya, cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti meluruk turun.

"Hap!"

Dengan gerakan indah sekali. Rangga menjejakkan kakinya kembali ke tanah. Dan saat yangbersamaan, Wicana juga mendarat ringan sekali tanah. Namun Rangga yang sudah menggenggam benda kematian titisan anak setan itu, cepat sekali melesat sambil mengibaskan tangan kanannya kearah kepala.

"Hiyaaat...!"
"Ghrrr..!"

Wicana cepat menggerakkan kepalanya, hingga kibasan tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti tidak sampai mengenainya. Dan tanpa dapat dilihat mata biasa, kaki kirinya dihentakkan, tepat ke perut pemuda berbaju rompi putih itu.

"Haiiit..!"

Namun, Rangga sudah lebih waspada menghadapi bocah kecil yang memiliki kekuatan luar biasa ini. Maka dengan manis sekali tubuhnya mengegos menghindari tendangan yang sangat keras ini. Lalu cepat-cepat kakinya ditarik ke belakang sejauh tiga langkah. Tapi, Wicana tidak mau melepaskan begitu saja. Sambil menggerung dahsyat, dia melompat dan melepaskan satu pukulan keras ke arah dada.

"Ghraugkh!"
"Hap!"

Rangga yang sudah tahu kekuatan bocah ini, tidak mau lagi mengambil bahaya. Cepat-cepat dia melompat ke samping. Kemudian kaki kirinya cepat dihentakkan sambil miring ke kanan dengan kecepatan penuh dan disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

"Yeaaah...!"

"Ghrrr!"

Sungguh sukar dipercaya, karena Wicana tidak berusaha menghindari sedikit pun juga. Bahkan dadanya yang berlumuran darah dibuka, membuat semua orang yang menyaksikan pertarungan jadi tersentak kaget setengah mati. Malah, Rangga juga.tidak bisa lagi menguasai tendangannya yang sudah terhentak begitu cepat Hingga....

Des!
"Akh...!"

Tepat ketika telapak kaki Rangga menghantam dada Wicana, tiba-tiba saja dada itu memancarkan cahaya merah yang membuat seluruh tulang kaki Pendekar Rajawali Sakti jadi nyeri seperti remuk. Dan seketika itu juga, tubuh Rangga terlempar ke belakang, lalu terbanting keras sekali ditanah.

"Lemparkan mustika itu, Rangga...!" teriak Eyang Bendowo tiba-tiba.

Tapi belum juga Rangga bisa berbuat sesuatu, seluruh tubuh Wicana tampak memancarkan cahaya merah. Dan tubuh bocah yang tadi kecil ini, cepat sekali berubah menjadi besar. Bahkan besarnya melebihi manusia biasa. Dan wajahnya juga berubah begitu mengerikan, seperti seekor serigala hutan yang liar dan ganas. Dari moncongnya menetes air liur yang kental dan menyebarkan bau busuk memualkan.

"Ghraaauuugkh...!"

Perubahan itu membuat mereka semua yang ada di tempat pertarungan ini jadi terlongong bengong. Sementara, Eyang Bendowo yang tidak sabar melihat Rangga hanya terpaku memandangi makhluk raksasa berwajah serigala itu cepat melompat mendekati Pendekar Rajawali Sakti.

"Hih!"

Begitu bisa merampas benda mustika berbentuk segitiga yang bercahaya kehijauan dari tagnan Pendekar Rajawali Sakti, secepat kilat Eyang Bendowo melompat menerjang makhluk raksasa berbentuk setengah manusia dan setengah serigala itu.

"Hiyaaat...!"
"Ghrauuugkh...!"

Namun, makhluk serigala raksasa itu hanya mengibaskan tangan kanannya saja sambil menggerung dahsyat. Sementara, Eyang Bendowo yang tidak menyangka sama sekali tidak sempat lagi menghindarinya. Maka tangan yang besar dan berbulu dengan jari-jari berkuku-kuku runcing itu keras sekali menghantam dadanya. Bahkan kuku-kuku runcing dan hitam itu langsung mengoyak dada laiki-laki pertapa tua ini.

Bret!
"Akh...!"
"Eyang...!"

"Keparat..! Kubunuh kau, Setan! Hiyaaat..!"

Rangga jadi geram setengah mati melihat keganasan makhluk ini. Sambil berteriak keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti melompat disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Langsung dilepaskannya satu pukulan menggeledek yang begitu keras, sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalam sempurna. Begitu cepat serangannya, sehingga makhluk setengah manusia dan serigala itu tidak dapat lagi berkelit menghindarinya. Akibatnya, pukulan Rangga tepat dan keras menghantam dadanya!

Der!
"Aaargkh...!"

Namun, makhluk ganas itu kelihatan masih mampu bertahan. Tubuh yang hanya terjajar beberapa langkah, dan langsung menyerang kembali.

"Hup!"

Rangga cepat-cepat melenting ke belakang dan berputaran dua kali, saat tangan kanan makhluk setengah serigala itu mengibas ke depan. Lalu, Pendekar Rajawali Sakti mendarat di sebelah Eyang Bendowo yang terduduk sambil mengatur pernapasannya. Tampak darah mengucur deras sekali dari dadanya yang terkoyak.

"Jangan beri kesempatan dia lari, Rangga. Itulah ujud aslinya. Kita harus segera mengenyahkan, sebelum dia menghancurkan seluruh jagat ini," kata Eyang Bendowo tersengat.

"Baik, Eyang," sahut Rangga. Pendekar Rajawali Sakti melangkah beberapa tindak ke depan. Lalu.... "Hiyaaat..!"

Sret!

Rangga yang sudah tidak mau tanggung-tanggung lagi, langsung saja mencabut pedang pusakanya. Lalu, Pendekar Rajawali Sakti berlarian mempergunakan jurus 'Seribu Rajawali', mengelilingi makhluk berwajah serigala dengan seluruh tubuh berbulu hitam ini. Begitu cepat gerakannya sehingga seakan-akan Pendekar Rajawali Sakti menjadi seribu orang jumlahnya.

"Hiya! Hiya! Hiyaaat..!"

Teriakan-teriakan Pendekar Rajawali Sakti juga jadi membahana bagai berada di sekelilingi tempat ini, membuat semua orang yang menyaksikan jadi kebingungan. Bahkan makhluk berwajah serigala itu juga kelihatan bingung menghadapi jurus 'Seribu Rajawali' yang dikerahkan Pendekar Rajawali Sakti.

Di saat itu, Rangga tiba-tiba saja melesat cepat bagai kilat dari arah samping kiri. Langsung pedang pusakanya yang memancarkan cahaya biru berkilauan ditebaskan ke leher makhluk berwajah serigala ini.

"Yeaaah...!"
Bet!
Cras!
"Aaargkh...!"

Makhluk raksasa berwajah serigala itu meraung keras, begitu pedang Rangga menebas lehernya. Dan belum lagi bisa berbuat sesuatu, Rangga sudah cepat sekali berpindah. Dan pedangnya langsung dihujamkan ke perut Wicana. Gerakan yang dilakukan dari jurus 'Seribu Rajawali' ini memang sangat membingungkan. Rangga bisa berpindah cepat luar biasa, hingga sulit bisa diduga dan diikuti pandangan mata biasa. Bahkan mereka yang sudah memiliki kepandaian tingkat tinggi pun masih sulit mengikuti arah gerakannya. Hingga, Pendekar Rajawali Sakti benar-benar seperti menjadi seribu orang jumlahnya.

Bres!
"Aaargkh...!"

Kembali terdengar raungan yang sangat keras, begitu ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti menghujam begitu dalam ke perut makhluk berwajah serigala ini. Saat itu juga, Rangga sudah berpindah lagi ke belakang. Dan kembali pedangnya ditebaskan kuat-kuat ke punggung Wicana. Darah pun berhamburan keluar dari tubuh yang sudah begitu banyak tertembus pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti.

Tapi, makhluk berwajah serigala dengan tubuh ditumbuhi bulu hitam ini masih tetap berdiri tegar, seperti tidak terpengaruh oleh luka-luka di tubuhnya yang terus mengucurkan darah. Bahkan semakin bertambah ganas saja, menggerung-gerung sambil mengibaskan kedua tangan dengan gerakan tubuh berputar. Sementara, Rangga terus menggunakan jurus 'Seribu Rajawali' sambil membabatkan pedangnya berulang-ulang. Entah sudah berapa sabetan dan hujaman pedang bercahaya biru itu, tapi makhluk berwajah serigala ini masih tetap saja tegar.

"Hiyaaat...!"

Tiba-tiba saja Eyang Bendowo melompat cepat bagai kilat masuk ke dalam pertarungan. Tindakannya begitu tiba-tiba, membuat Rangga jadi tersentak kaget. Cepat-cepat serangannya dihentikan dan melompat ke belakang dua langkah. Dan pada saat itu, Eyang Bendowo menghantamkan tangan kanannya yang menggenggam batu mustika berbentuk segitiga dan bercahaya hijau itu ke kepala makhluk berwajah serigala ini, tepat pada bagian kening.

Prak!
"Aaargkh...!"

Makhluk raksasa berwajah serigala kontan meraung keras sambil mengibaskan tangan kanannya ke depan dengan keras. Langsung dihajarnya tubuh Eyang Bendowo. Akibatnya, tubuh orang tua itu kontan terpental ke belakang.

"Akh...!" '
"Eyang...!"

Rangga jadi terpekik, dan cepat-cepat menghampiri Eyang Bendowo yang tergeletak di tanah dengan napas tersengal memburu. Sementara, makhluk berwajah serigala itu terus meraung-raung keras sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya yang besar dan berbulu. Dan tubuhnya jatuh tersungkur ke tanah sambil terus menggerung-gerung seperti kesakitan.

Namun, keanehan tiba-tiba saja terjadi. Seluruh tubuh makhluk berbentuk serigala setengah manusia itu tiba-tiba saja berselubung cahaya hijau. Dan perlahan-lahan, tubuhnya mengecil hingga sebesar anak kecil berusia sepuluh tahun. Seluruh bulu di tubuhnya juga menghilang perlahan-lahan. Dan wajah yang tadi berbentuk seperti serigala, berangsung-angsur berubah menjadi wajah seorang anak kecil berusia sepuluh tahun kembali.

"Ohhh...!"

Bocah berusia sekitar sepuluh tahun yang tidak mengenakan baju itu merintih lirih, lalu menggeletak diam tidak bergerak-gerak lagi. Mati! Tampak batu berbentuk segitiga yang bercahaya kehijauan menempel erat, tepat di keningnya. Sementara Eyang Bendowo yang kini sudah bisa berdiri lagi, melangkah tertahan menghampiri bocah itu. Sebentar diperhatikannya mayat bocah itu, kemudian berlutut di sampingnya. Diambilnya batu bercahaya kehijauan itu dari kening anak kecil ini. Sementara, Rangga hanya memperhatikan saja dari belakang.

"Maafkan aku, Wicana. Terpaksa aku harus membunuhmu...," ucap Eyang Bendowo lirih. "Dan kau, Bocah. Siapa pun kau, aku sangat menyesal atas kejadian semua ini. Tubuhmu menjadi wadah roh muridku yang sesat. Tapi, roh itu pun juga telah kembali ke asalnya. Kalau saja bisa, aku pasti akan menyelamatkanmu."

Sunyi sekali keadaan di sekeliling tempat ini. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Rangga yang berdiri di belakang Eyang Bendowo memalingkan wajah sedikit, saat mendengar langkah-langkah kaki menghampiri. Tampak Pandan Wangi dan Eyang Rambang melangkah cepat menghampiri, dan berdiri di samping kanan dan kiri Pendekar Rajawali Sakti.

"Eyang, sebaiknya kita makamkan saja anak ini," kata Rangga sambil menepuk pundak pertapa tua itu.

Perlahan Eyang Bendowo bangkit berdiri sambil memondong tubuh bocah itu. Tubuhnya lalu berbalik perlahan-lahan, dan kini berhadapan langsung dengan Pendekar Rajawali Sakti.

"Akan kubawa anak ini ke pertapaan," kata Eyang Bendowo.

"Jauh pertapaanmu, Eyang?" tanya Eyang Rambang.

Tapi Eyang Bendowo hanya tersenyum tipis saja, kemudian memutar tubuhnya perlahan. Dan dia terus melangkah sambil memondong tubuh bocah yang kurus itu. Kini tinggal Eyang Rambang, Rangga, dan Pandan Wangi yang berdiri mematung memandangi.

Sementara, malam terus merambat semakin larut saja. Perlahan-lahan bayangan tubuh Eyang Bendowo menghilang ditelan gelapnya malam. Saat itu, rumah-rumah di sekitar tempat pertarungan yang seperti lapangan ini mulai bermunculan orang-orang yang sejak tadi bersembunyi. Dan sebentar saja, sudah banyak orang yang keluar dari dalam rumah masing-masing.

Namun mereka hanya memandangi Pendekar Rajawali Sakti yang didampingi Pandan Wangi dan Eyang Rambang. Tidak ada seorang pun yang berani mendekati. Mereka semua memang telah melihat pertarungan yang sangat dahsyat tadi. Entah kenapa, mereka jadi merasa begitu segan terhadap pemuda berbaju rompi putih ini. Sedangkan Rangga sendiri terus memandang ke arah kepergian Eyang Bendowo, walaupun bayangan tubuh pertapa tua itu sudah tidak terlihat lagi.

"Kakang...," tegur Pandan Wangi sambil menyentuh sedikit pergelangan tangan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga berpaling sedikit menatap gadis yang berada di sebelahnya ini. Kemudian tatapannya beralih, berpaling lagi memandang pada Eyang Rambang.

"Orang-orang semakin banyak. Sebaiknya, kembali saja ke rumahku dulu," ajak Eyang Rambang.

Tanpa bicara lagi, mereka segera melangkah meninggalkan lapangan yang tidak begitu luas ini. Sementara, semua penduduk Desa Marong mulai menampakkan kegembiraannya. Dan malam yang semula terasa dingin, seketika berubah hangat oleh banyaknya orang berarak mengiringi Eyang Rambang dan sepasang pendekar muda dari Karang Setra yang berjalan dikawal murid-murid Eyang Rambang. Mereka mulai mengelu-elukan, membuat keadaan yang semula sunyi kini jadi gegap gempita dan semarak. Namun, baik Rangga maupun Eyang Rambang, tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka terus saja berjalan menuju rumah Eyang Rambang.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: HARGA SEBUAH KEPALA
Thanks for reading Titisan Anak Setan I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »