Kemelut Hutan Dandaka

Pendekar Rajawali Sakti

KEMELUT HUTAN DANDAKA


SATU
KEMARAU panjang yang melanda negeri ini telah berlangsung hampir dua bulan penuh. Banyak mata air yang jadi kering. Sedangkan sungai-sungai hanya berisi sedikit air, namun dipergunakan banyak orang untuk kebutuhan sehari-hari. Tanah di berbagai tempat terlihat retak-retak dan rumput-rumput telah kering meranggas. Daun-daun pohon mulai layu dan menguning, kemudian rontok tertiup angin.

Sehingga di sepanjang tempat terdapat timbunan sampah daun-daun kering yang berserakan. Dekat sebuah lembah, terdapat sebuah jalan yang cukup lebar. Jalan itu memang menghubungkan satu desa ke desa lainnya. Sementara dari kejauhan terlihat seseorang tengah menunggang kuda yang dikendarai lambat-lambat. Ketika sudah dekat, terlihat jelas kalau penunggang kuda itu adalah seorang gadis cantik berkulit putih bersih, dan berbaju biru muda.

Di pinggangnya terselip sebuah kipas berwarna keperakan. Sementara di pinggangnya tersampir sebilah pedang bergagang kepala naga berwarna hitam. Sesekali gadis itu terlihat menyeka keringat yang terus mengucur di dahi dan pelipisnya.

“Kau telah, Putih? Sebentar lagi kita akan mencari sebuah mata air, agar kau bisa minum sepuas-puasnya,” kata gadis itu lembut sambil menepuk-nepuk leher kudanya.

Gadis yang tak lain Pandan Wangi itu turun dari kudanya. Kemudian matanya beredar ke sekeliling sambil memayungi dahinya dengan telapak tangan.

“Ah! Ternyata nasibmu memang baik, Putih! Aku melihat sebuah anak sungai di sebelah sana! Mari kita ke sana, cepat!” seru Pandan Wangi girang, seraya cepat melompat ke punggung kudanya.

Agaknya kuda berbulu putih tunggangan Pandan Wangi itu mengerti betul, apa yang dibicarakan majikannya. Dia berlari kencang ke tempat yang ditunjuk gadis berjuluk si Kipas Maut itu. Begitu tiba, ternyata di tempat itu terdapat sebuah anak sungai yang berair sejuk dari bening.

“Ayo. Putih! kau harus minum sepuas-puasnya. Perjalanan kita memang tak jauh lagi. Tapi, hanya di sinilah kau bisa mendapatkan air yang begini sejuk dan amat menyegarkan!” ujar Pandan Wangi.

Tangannya segera menyiduk air, kemudian meneguknya. Gadis itu pun kemudian membasuh wajahnya dan kedua belah tangan untuk menyegarkan tubuhnya. Begitu selesai menyegarkan tubuhnya, Pandan Wangi melangkah ke sebuah batu di bawah pohon dan duduk dengan tenang.

Matanya lalu beredar ke sekitar tempat itu. Sekilas diperhatikan kudanya yang masih membasahi tenggorokkan dengan air sungai. Pandan Wangi merenung sendiri sambil bersandar pada batang pohon yang daun-daunnya telah rontok.

Seharusnya, dua minggu lalu Rangga kembali ke Karang Setra. Karena kabarnya ada berita yang mengatakan kalau Ki Lintuk yang merupakan patih di Kerajaan Karang Setra tengah sakit keras. Rangga sendiri pada saat ini tengah menumpas gerombolan perampok yang sering mengganggu ketenteraman para penduduk Desa Sabrang Lor, yang juga masih bagian Kerajaan Karang Setra.

Maka dimintanya Pandan Wangi agar kembali ke Karang Setra untuk menjenguk Ki Lintuk. Dan Pandan Wangi akan bertemu Rangga di Desa Pahing Rimbun, sepulangnya dari kerajaan. Kini desa itulah yang sedang dituju Randan Wangi.

“Mudah-mudahan Kakang Rangga telah menyelesaikan tugasnya...” desah Pandan Wangi, lirih.

“Hieeeh...!"
“Heh?!”

Pandan Wangi tersentak kaget ketika si Putih terlihat meringkik halus beberapa kali. Buru-buru didekati dan ditepuk-tepuknya leher hewan itu, untuk menenangkannya.

“Diam, Putih! Diam! Ada apa? Apa yang kau dengar?”

Si Putih kembali meringkik halus. Kali ini lebih mirip desah napasnya yang mengisyaratkan keresahan.

“Hm.... Mungkin kau sudah tak betah di sini, ya? Baiklah. Mari kita berangkat!” ujar Pandan Wangi seperti bicara sendiri, sambil melompat ke punggung kudanya. Setelah menggebah, dia berlalu dari tempat itu.

Namun baru saja kuda itu berlari, mendadak Pandan Wangi mendengar suara seperti ada perkelahian hebat. Seketika hatinya tergelitik untuk mengetahui, apa yang telah terjadi. Maka, si Putih segera dipacu ke arah sumber suara pertarungan.

“Ayo, Putih! Mari kita lihat, apa yang sedang terjadi!”

Ketika tiba di tempat kejadian, Pandan Wangi melihat dua orang laki-laki berwajah seram tampak tengah dikeroyok sekitar sepuluh orang prajurit kerajaan. Kedua orang itu bertelanjang dada. Wajahnya yang seram, masih pula dihiasi cambang bauk serta bekas luka-luka. Yang seorang berambut tipis, sedangkan yang seorang lagi botak.

Pandan Wangi segera mengambil tempat bersembunyi, begitu turun dari kudanya. Sementara, matanya terus mengamati apa yang terjadi.

“Menyerahlah kalian, Perampok-perampok rendah! Kalian telah menjebol penjara dan membunuh banyak prajurit kerajaan. Dan sekarang tak ada lagi jalan keluar buat kalian!” bentak salah seorang prajurit kerajaan, yang agaknya pemimpin dari pasukan itu.

“Ha ha ha...! Sura Darma! Kau boleh mengoceh sesuka hati! Tapi jangan harap kami akan menyerah begitu saja. Pergilah kalian dari sini. Dan, biarlah kami berlalu, sebelum kalian mati di tanganku!” sahut laki-laki berkepala botak, dengan suara tinggi

“Kebo Koneng! Jangan ikut-ikutan saudaramu si Supit Gadar! Kalau kau bersedia menyerah, tentu hukumanmu akan diperingan. Ayo! Menyerahlah, sebelum kesabaranku hilang!” bentak pemimpin pasukan yang dipanggil Sura Darma dengan suara lantang.

“He he he...! Kau dengar itu, Kebo Koneng? Apakah kau ingin menyerah, sesudah kita bersusah-payah kabur dari penjara?!” kata laki-laki berambut tipis yang ternyata bernama Supit Gadar dengan nada menyindir.

“Ha ha ha...! Menyerah! Phuihhh! Lebih baik mati daripada diseret si Sura Darma keparat ini!” tegas laki-laki botak yang dipanggil Kebo Koneng sambil meludah ke tanah.

“Hm.... Rupanya tak ada jalan lain untuk membujuk kalian, selain menggunakan cara kekerasan!” dengus Supit Gadar menggeram.

“Huh! Kau bisa berbuat apa terhadap kami? Mengandalkan pasukanmu yang keropos ini?! Lebih baik pulang sajalah, Sura Darma. Kau tak akan berhasil menangkap kami!” sahut Supit Gadar, mencemooh.

“Kurang ajar! Ayo, kepung mereka dan tangkap hidup atau mati!” teriak Sura Darma memberi perintah pada pasukannya.

Tanpa menunggu perintah dua kali, sepuluh orang prajurit kerajaan yang sejak tadi sudah geram, langsung kembali menyerbu ke arah dua buronan itu.

“Yeaaah...!”

Namun karena yang dihadapi para prajurit berkepandaian rendah, maka mudah saja bagi Kebo Koneng dan Supit Gadar dalam menghindari sergapan. Bahkan dengan mudah pula mereka cepat melepaskan pukulan dan tendangan ke arah prajurit-prajurit yang terdekat.

Prak!
Des!
“Aaa...!”
“Aaakh..!”

Seketika terdengar pekik kesakitan dan jerit menyayat, yang disusul robohnya dua orang prajurit.

“Ayo, Kebo Koneng! Mari kita berpesta kembali. Hancurkan keroco-keroco ini agar tahu diri!”

Duk!
“Aaa...!”

Kembali seorang prajurit terjungkal begitu terkena pukulan dua buronan itu. Kebo Koneng dan Supit Gadar terus melompat ke sana kemari menghindari ayunan pedang enam prajurit kerajaan yang masih tersisa. Namun dengan mudah mereka berkelit dan membalas tanpa belas kasihan. Sejak pertarungan tadi, sekali tangan mereka terayun, maka satu atau dua orang prajurit tewas diiringi pekik kesakitan. Kalau tidak kepala yang remuk, maka tulang dada mereka melesak ke dalam terkena pukulan bertenaga dalam kuat.

“Kurang ajar! Kebo Koneng, ayo hadapi aku!” bentak Sura Darma begitu melihat prajuritnya ada yang terjungkal lagi. Maka dia segera melompat menyerang lawan. “He he he...! Bagus! Kenapa tidak sejak tadi saja turun tangan langsung? Kau hanya membuat anak buahmu menjadi korban saja,” sambut Kebo Koneng.

“Jangan banyak mulut kau! Pecah kepalamu!” sahut Sura Darma seraya mengayunkan pedangnya ke batok kepala lawan yang botak itu.

“Uts! Tidak semudah itu, Setan!” Kebo Koneng berhasil menghindari sabetan pedang lawan dengan merunduk sedikit.

“Bedebah! Yeaaah...!”

Dengan gerakan lincah, Kebo Koneng kembali meladeni permainan pedang lawan. Meski bertangan kosong, namun gerakannya sama sekali tak mengalami kesulitan. Begitu gesit dan lincah, tanpa sedikit pun tersentuh pedang lawan. Bahkan serangan-serangan balasan yang dilakukannya terkadang membuat Sura Darma kaget dan gelagapan. Apalagi, serangan yang tiba-tiba itu menimbulkan desir angin kuat.

“Ha ha ha...! Kau harus berguru sepuluh tahun lagi untuk bisa menangkapku. Sura Darma. Tapi sayang kesempatanmu sudah tak ada lagi, sebab hari kematianmu telah ditentukan saat ini!” ejek Kebo Koneng.

“Huh! Jangan harap, Kebo Koneng! Justru kaulah yang akan mampus hari ini!” sahut Sura Darma yakin.

Kebo Koneng tertawa-tawa menyambuti ucapan Sura Darma. Padahal, Sura Darma adalah salah seorang dari tujuh panglima perang yang dimiliki Kerajaan Pandarakan. Sebagai panglima tentu saja kepandaiannya tak rendah. Dan kalau kedua buronan itu sampai bisa ditangkapnya. tentu saja Raja Pandarakan akan memberi penghargaan khusus baginya.

Hal itulah yang menyebabkan Panglima Sura Darma harus mengeluarkan segenap kemampuannya untuk meringkus lawan, hidup atau mati! Tapi yang dihadapinya saat ini adalah Kebo Koneng dan Supit Gadar yang termasuk penjahat kelas kakap

Pada saat Raja Pandarakan memerintahkan agar kedua orang itu ditangkap kembali, maka Panglima Sura Darma menawarkan diri. Padahal, panglima lain bermaksud mengawaninya. Namun, Panglima Sura Darma meyakini diri kalau mampu menangkap kedua buronan itu, dengan ditemani sepuluh prajurit kerajaan. Akhirnya tugas penangkapan kedua orang buronan itu sepenuhnya diberikan kepadanya.

Dan yang terjadi saat itu adalah kekeliruan besar yang pernah diambil panglima kerajaan itu. Buktinya, sisa prajurit yang kini hanya menghadapi Supit Gadar tampak sangat kewalahan. Bahkan dalam beberapa saat saja terdengar kembali jerit kematian prajuritnya. Apa lagi Supit Gadar memiliki jurus pukulan yang dahsyat. Siapa pun yang terkena pukulan 'Kelabang Api', pasti akan hangus terbakar. Kalaupun lawan memiliki tenaga dalam kuat, maka nyawanya pun tak akan selamat. Memang pukulan itu amat beracun!

Melihat keadaan anak buahnya terus berjatuhan, maka Panglima Sura Darma menjadi lengah. Maka kesempatan itu dimanfaatkan betul oleh Kebo Koneng untuk menghajar lawan, dengan melepaskan satu pukulan tangan lurus.

Panglima Sura Darma cepat berusaha berkelit sambil menangkis dengan tangannya, begitu serangan lawan terus melaju mengincar perutnya. Namun kepalan tangan Kebo Koneng yang sebelah lagi cepat menghajar lurus ke dadanya.

Begkh!
“Ugkh...!”

AKibatnya, Panglima Sura Darma terjungkal ke tanah beberapa tombak sambil mengeluh kesakitan

“Sekarang mampuslah kau, Sura Darma!” bentak Kebo Koneng sambil melompat mengirim serangan susulan. “Yeaaah...!”

Belum lagi Panglima Sura Darma mampu bangkit berdiri, kembali datang serangan. Maka tubuhnya segera berguling-guling untuk menyelamatkan diri. Tapi Kebo Koneng terus-menerus mengejarnya bagai orang kesetanan. Dia yakin betul kalau tak lama lagi lawannya akan binasa secara menyakitkan.

“Kini tiba saat kematianmu!” bentak Kebo Koneng ketika tubuh Panglima Sura Darma membentur sebuah baru yang cukup besar

Laki-laki berusia dua puluh sembilan tahun itu hanya bisa memejamkan matanya, dengan sikap pasrah. Saat ini Kebo Koneng tampak telah me-lompat ke arahnya sambil mengayunkan tangan. Sebentar lagi kepala atau dada Kebo Koneng akan hancur berantakan dihantam pukulan lawan yang tak mungkin lagi bisa dihindari

“Yeaaah...!” Tanpa ada yang menyadari, tiba-tiba sebuah bayangan biru berkelebat cepat ke arah Kebo Koneng. Lalu....

Plak!
“Setaaan…!” Kebo Koneng tersentak begitu di depannya tahu tahu telah berdiri seorang gadis cantik berpakaian ketat berwarna biru. Sebuah kipas baja putih terselip di pinggangnya. Sedangkan di balik punggungnya, menyembul sebuah gagang pedang berbentuk kepala naga. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Pandan Wangi?

“Siapa kau, Cah Ayu?! Dan, mengapa kau mencampuri urusan kami?” bentak Kebo Koneng.

“Aku Pandan Wangi. Dan orang-orang menjulukiku si Kipas Maut. Kudengar kau bernama Kebo Koneng. dan merupakan seorang buronan kerajaan. Hm.... Kalau memang demikian, menyerahlah sebelum kupaksa dengan kekerasan!” sahut Pandan Wangi, lantang.

“Apa? Menyerah? Ha ha ha...!” Kebo Koneng terbahak bahak mendengar kata-kata Pandan Wangi.

“Kurang ajar! Kenapa kau tertawa?!”

“Aku menertawakanmu, yang sok menjadi pahlawan kesiangan,” ejek Kebo Koneng.

“Bedebah! Rupanya kau memang pantas menghuni penjara kerajaan. Baik. Rasakanlah!” dengus Pandan Wangi jengkel sambil mencabut kipas mautnya. Langsung diserangnya Kebo Koneng.

Wut! Wut!
“Uhhh...!”

“Nih! Makan ketawamu sepuas-puasnya?” bentak Pandan Wangi sambil terus menyerang lawan dengan ganas.

Kebo Koneng tersentak kaget merasakan keganasan sambaran kipas maut Pandan Wangi. Kalau pada mulanya gadis itu dianggap enteng, maka saat ini Kebo Koneng kalang-kabut sendiri jadinya. Dan Pandan Wangi tak sedikit pun memberi kesempatan padanya.

“Hiaaat..!”

Pada suatu kesempatan Pandan Wangi menyabetkan kipasnya ke arah dada lawan. Melihat serangan ini, Kebo Koneng cepat mengelak ke kiri, seraya mencoba menangkis tangan lawan yang memegang kipas. Namun tanpa diduga sama sekali, Pandan Wangi menarik pulang serangannya, dan langsung memutar ke arah perut. Dengan gugup, Kebo Koneng mencoba mundur selangkah. Namun, terlambat. Karena....

Cras!

“Uhhh!" Kebo Koneng mengeluh kesakitan ketika ujung kipas baja lawan sempat menggores perutnya sedikit. Seketika laki-laki berkepala botak ini menggeram buas. Wajahnya seketika memerah menahan amarah. Bahkan sorot matanya tajam menusuk. Sambil menggertakkan rahang, mulutnya berkomat-kamit seperti membaca mantera. Kemudian, terlihat kedua tangannya bergerak-gerak seperti hendak melancarkan jurus mautnya.

“Heh?" Pandan Wangi tersentak kaget ketika melihat kedua tangan lawan sebatas siku tampak berubah berwarna keungu-unguan. Hawa racun berbau busuk mulai menyeruak menyengat hidungnya. Maka Pandan Wangi segera berhati-hati untuk menghadapi segala kemungkinan.

“Yeaaah...!” Kebo Koneng berteriak serak seperti seekor gagak. Seketika, dia langsung melompat menyerang lawan.

Wut!

Dalam keadaan seperti itu, gerakan Kebo Koneng tampak semakin gesit. Bahkan serangannya pun ganas bukan main. Sepertinya sama sekali tak ada rasa kegentaran melihat kehebatan kipas yang diayunkan gade cantik itu. Dan kini, tiba-tiba Kebo Koneng menyodok mengancam pertahanan lawan. Berkali-kali Pandan Wangi dibuat tersentak. Buru-buru dia melompat menghindari uap beracun yang ditimbulkan angin serangan dari kibasan kedua tangan lawan.

Sementara itu, Panglima Sura Darma begitu dirinya lepas dari maut menjadi terkejut sesaat melihat penolongnya. Tapi kemudian, dia cepat bertindak membantu sisa anak buahnya menyerang Supit Gadar, Namun meskipun begitu, beberapa kali Panglima Sura Darma harus jungkir balik menyelamatkan selembar nyawanya dari serangan lawan yang bertubi-tubi.

“Ha ha ha...! Hei, Sura Darma! Mana kehebatanmu?! Ayo! Tunjukkanlah padaku. Bukankah kau ingin menangkapku? Ayo, tangkaplah kalau kau bisa!” ejek Supit Gadar terkekeh.

“Kurang ajar!” Panglima Sura Darma hanya bisa memaki geram.

Panglima Kerajaan Pandarakan itu menyadari kalau anak buahnya yang tinggal segelintir itu tak bisa diharapkan untuk berbuat banyak. Lagi pula, di pihaknya telah banyak jatuh korban. Dan jika dia memaksakan diri, bukan mustahil lawan yang tak kenal ampun itu akan melenyapkannya Panglima Sura Darma yang masih menggenggam pedangnya erat-erat, memandang lawan dengan sorot mata tajam.

“Supit Gadar, aku akan mengadu jiwa denganmu!”

“Ha ha ha.... Uts!”

Tawa Supit Gadar seketika terhenti ketika Panglima Sura Darma telah melompat menyerang dengan jurus-jurus terhebat yang dimilikinya. Supit Gadar hanya terkejut sejenak, namun kembali terkekeh sedah mempermainkan lawan.

“He he he...! Dengan ilmu pedang pasaran begini kau ingin menangkap kami? Phuih! Kau harus berguru sepuluh tahun lagi, Sura Darma!”

“Huh!” Panglima Sura Darma hanya mendengus geram mendengar ejekan lawannya itu. Tapi, agaknya Supit Gadar bermaksud membuktikan ucapannya itu. Tubuhnya berputar cepat ketika lawan menikamkan ujung bilah pedang ke arahnya. Dan tiba-tiba....

Plak!

“Aaa...!” Panglima Sura Darma terpekik keras ketika pergelangan tangannya yang menggenggam pedang tersampok. Bahkan pedangnya kini terlepas dari genggaman. Dan belum lagi hilang rasa kagetnya, satu sodokan keras menghantam perut.

Duk!

Kembali panglima itu memekik kesakitan dengan tubuh terjungkal keras. Melihat lawan terjungkal. Supit Gadar cepat akan melanjutkan serangan untuk menghabisi lawannya. Namun....

“Suiiit..!”

Tiba-tiba terdengar siulan panjang melengking, membuat Supit Gadar seketika menghentikan gerakannya.

“Heh?!” Bukan hanya Supit Gadar yang terkejut. Kebo Koneng pun sampai tersentak pada saat itu juga. Bahkan serangannya pada Pandan Wangi juga di hentikan.

DUA

“Suara suitan itu kukenal betul!” seru Kebo Koneng sambil menoleh ke arah Supit Gadar.

“Celaka! itu suara Eyang Guru. Kita harus menemuinya segera!” sahut Supit Gadar.

“Astaga! Ayo, Supit Gadar! Mari cepat kita tinggalkan mereka!” timpal Kebo Koneng. Laki-laki berkepala botak itu segera melesat meninggalkan Pandan Wangi yang jadi bingung tak mengerti.

Sementara Supit Gadar langsung menyusul. Dan mereka kini bergerak cepat, lalu menghilang di balik bukit kecil yang tak jauh dari situ.

Pandan Wangi dan Panglima Sura Darma hanya terpaku menatap kedua orang aneh itu tanpa berkata apa-apa lagi. Pandan Wangi sendiri akhirnya dikejut-kan langkah kaki Panglima Sura Darma yang mendatanginya sambil memberi hormat.

“Nisanak, terima kasih atas pertolongan yang kau berikan. Namaku Sura Darma, panglima dari Kerajaan Pandarakan.”

“Hm.... Aku Pandan Wangi....”

“Apakah Nisanak yang berjuluk si Kipas Maut?”

“Begitulah orang-orang memanggilku…”

“Ah! Sungguh aku beruntung bisa berkenalan dengan seorang pendekar hebat seperti Nisanak.”

Pandan Wangi hanya tersenyum kecil. “Ah..., tak perlu membesar-besarkan. Aku ini hanya orang kebanyakan saja. Paman Panglima, apa yang telah terjadi sehingga kau bentrok dengan kedua orang tadi?” tanya Pandan Wangi. Sebenarnya, Pandan Wangi sudah tahu kalau dua orang tadi adalah buronan. Namun, dia sengaja bertanya begitu agar dikira baru saja datang.

“Mereka adalah buronan yang telah menjebol penjara....”

“Buronan? Hm, kulihat mereka memiliki kepandaian tinggi. Apakah Paman Panglima tak meminta bantuan dari panglima lain?”

“Sudah. Namun para panglima lain sedang sibuk memadamkan pemberontakan. Sedangkan sisanya ada yang memimpin perang melawan kerajaan dari timur. Dan lagi, mereka tak punya tenaga yang cakap dan terampil untuk menangkap kedua buronan itu...,” sahut Panglima Sura Darma.

Apa yang dikatakan panglima itu sebenarnya sedikit banyak diketahui Pandan Wangi. Tapi benarkah begitu sibuknya mereka, sehingga terpaksa mengirimkan Panglima Sura Darma untuk menangkap kedua orang buronan itu?

Tentu saja hal itu menjadi ganjalan dalam benak Pandan Wangi. Dan si Kipas Maut yang telah lama tinggal di Karang Setra, tentu sedikit banyak mengerti siasat perang serta kepemerintahan. Menceritakan keadaan gawat dalam suatu kerajaan, seperti yang diceritakan Panglima Sura Darma, sebenarnya amat tabu diutarakan pada orang luar. Apalagi orang yang baru dikenal seperti diri Pandan Wangi. Lalu kenapa Panglima Sura Darma berani memberikan alasan demikian padanya? Apakah salah bicara dan sekadar ngawur! Ataukah, terlalu percaya pada Pandan Wangi karena telah menolongnya barusan?

“Hm, begitu...,” sahut Pandan Wangi.

“Nisanak, kami sangat mengagumi kepandaian serta sepak terjangmu selama ini. Sebenarnya adalah suatu hal yang tak pantas kalau kami meminta pertolongan kepadamu. Tapi, kedua buronan itu adalah pengacau. Mereka sering mengganggu ketenteraman penduduk. Dan sebagai seorang pendekar, sudikah kau menolong kami atas nama kebenaran dan ketenteraman rakyat yang tak berdaya...?” pinta Panglima Sura Darma lirih.

Pandan Wangi tersenyum kecil sambil mengalihkan pandangan. “Aku tak berjanji. Masalahnya, aku sendiri ada sesuatu yang harus dikerjakan.”

“Apakah itu, Nisanak? Mungkin kami bisa membantu.”

“Tidak. Ini soal pribadi. Aku telah membuat perjanjian dengan seorang kawan untuk bertemu di Desa Palung Rimbun dalam waktu dekat ini. Hm..., kalau aku menyalahi janji yang kusetujui....” Pandan Wangi tak meneruskan kata-katanya. Sebaliknya, matanya malah menatap ke arah Panglima Sura Darma.

“Ya, aku mengerti..,” sahut Panglima Sura Darma pelan.

Keduanya terdiam untuk beberapa saat

“Mereka mendadak pergi karena sesuatu. Kira-kira tahukah Nisanak, apa yang menyebabkan mereka meninggalkan kita...?” tanya Panglima Sura Darma, kembali membuka pembicaraan.

“Entahlah. Ada suitan panjang yang menyebabkan mereka meninggalkan kita....”

“Aku pernah mendengar kalau kedua orang itu memiliki guru yang berkepandaian tinggi. Bahkan kejahatannya melebihi mereka. Kalau tak salah, namanya Nini Towok. Perempuan tua itu tak berperasaan dan kejam. Juga mempunyai kebiasaan aneh, yaitu suka menculik pemuda tampan untuk dijadikan pemuas nafsu iblisnya...”

“Hm, lalu?” Pandan Wangi sedikit tertarik mendengar penuturan Panglima Sura Darma.

“Kedua buronan itu kemungkinan besar bergabung dengan gurunya seperti dulu. Mereka akan membuat keonaran. Dan... semua orang menjadi resah kini.”

Pandan Wangi tergugah hatinya mendengar cerita itu. Apalagi ketika Panglima Sura Darma kembali menambahkan sederetan cerita kekacauan sebelumnya, yang dilakukan guru dan kedua muridnya. Kini hatinya mulai bimbang. Sebenarnya kalau mau jujur, sejak tadi hati Pandan Wangi sudah tergerak dan berniat membantu mereka menangkap kembali kedua buronan itu. Tapi bagaimana janjinya dengan Rangga?

Bagaimana kalau Pendekar Rajawali Sakti telah tiba di desa itu dan menunggunya. Padahal, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangkap kembali kedua buronan itu. Rangga pasti kesal dan marah. Itu tak seberapa. Bagaimana kalau dia kesal dan akhirnya pergi mengembara sendiri?

“Paman Panglima, bisakah kau menambah jumlah prajurit dalam penangkapan nanti terhadap mereka?”

“Bisa! Oh! Apakah kau bersedia membantu kami?” tanya Panglima Sura Darma.

Pandan Wangi mengangguk.

“Oh! Terima kasih atas kesediaanmu, Nisanak!”

“Sudahlah. Tapi, tolong perintahkan seorang prajuritmu untuk menunggu kedatangan temanku di Desa Palung Rimbun.”

“Tentu saja.”

Setelah menceritakan ciri-ciri Rangga, mereka pun kembali bergerak. Seorang prajurit menuju ke Desa Palung Rimbun, dan dua orang lagi ke istana untuk meminta bantuan tenaga.

********************

Seorang perempuan tua bertubuh kurus mengenakan selendang di pinggangnya. tampak tengah berdiri di depan dua orang lelaki yang tengah duduk bersila. Wajahnya tampak lonjong dengan sepasang kelopak mata cekung. Tulang pipinya menonjol. Dan ketika bota matanya melotot seperti saat ini, terlihat amat mengerikan. Daun telinganya digantungi anting-anting berbentuk gelang yang agak besar. Melihat kulitnya yang banyak ditumbuhi keriput, paling tidak usianya telah mencapai enam puluh tahun lebih. Dialah perempuan tua yang bernama Nini Towok.

“Hm, dasar bocah-bocah goblok! Kenapa kalian bisa tertangkap oleh kecoa-kecoa busuk itu, heh?!”

Kedua laki-laki bertampang seram yang duduk bersila di depannya hanya menundukkan kepala. Sedikit pun mereka tak berani menengadahkan wajah.

“Ayo jawab. Tolol?!” maki Nini Towok.

“Eh! Ng... anu Eyang Guru. Me.... mereka terlalu tangguh dan berjumlah banyak...,” sahut laki-laki yang berambut tipis dengan nada takut. Dan dia memang Supit Gadar. Sementara yang seorang lagi sudah pasti Kebo Koneng.

“Tangguh dan berjumlah banyak, heh...?!” perempuan tua itu seperti ingin menegaskan pendengarannya

“Be..., betul, Eyang Guru. Tanya saja pada Kebo Koneng!”
“Betul begitu, Kebo?!”
“Be..., betul, Eyang...”
“Setan!”

Nini Towok mendengus, seraya mencelat sedikit. Maka....

Duk! Begkh!
“Aaakh...!”

Kedua orang itu kontan terjungkal. Karena tiba-tiba sekali perempuan tua itu menendang mereka secara bersamaan dengan keras.

“Kemari kalian!”

“Ba..., baik, Eyang..!” sahut Kebo Koneng dan Supit Gadar berbarengan sambil tertatih-tatih melangkah mendekati perempuan tua itu. Mereka kemudian kembali duduk bersila dengan sikap hormat

“Ada yang berani menentang hukuman dariku tadi?!”

“Ti... tidak, Eyang...!”

“Hm..., bagus! Kalau tidak, hari ini juga kalian lebih baik mampus. Sebenarnya hukuman itu terlalu ringan. Phuih! Kalian hanya membuat aku malu saja. Apa kata orang nanti?! Kedua murid Nini Towok ditangkap dan dipenjarakan? Cuh! Cuh!” perempuan tua itu meludah berkali-kali sambil berkacak pinggang.

“Ta..., tapi kami hanya sebentar, Eyang. Bukankah Eyang lihat, kini kami telah kembali bebas?” tanya Supit Gadar membela diri.

“Hi hi hi...! Kau pintar bicara, Supit Gadar. Betul katamu. Kalian kini sudah bebas. Kalau tidak, he...! Aku akan menyatroni penjara kalian. Dan.... “

“Membebaskan kami, Eyang?” sahut Kebo Koneng, mencoba sedikit tersenyum.

“Semprul! Aku akan mengamuk di sana dan mencekik orang-orang yang telah memenjarakan kalian. Kemudian setelah kalian kutemukan, maka akan kucekik sampai mampus!” dengus Nini Towok

Mendengar perkataan itu, nyali Supit Gadar dan Kebo Koneng jadi mengkeret dan diam membisu. Mereka tahu betul, kalau sang Guru suka angin-anginan, namun selalu membuktikan ucapannya. Kalau dia mengatakan ingin mencekik, maka betul-betul dicekiknya orang yang dimaksud!

“He? Tadi kudengar ada suara pertarungan. Apa yang telah terjadi? Apakah para prajurit istana mengejar kalian?”

“Betul, Eyang. Tapi kami berhasil membuat mereka ketakutan!” sahut Supit Gadar, bernada cerah. Dugaan mereka hati sang Guru akan senang. Maka, pasti perempuan tua itu akan memuji. Atau paling tidak, tak akan memaki-maki.

“Hi hi hi...! Mereka betul-betul takut pada kalian, heh?!”

“Betul, Eyang. Mereka tak kuampuni dan banyak yang telah mampus di tanganku!” seru Supit Gadar.

“Semprul! Kalau begitu, kenapa mereka masih kulihat berkeliaran dan mencari-cari kalian, heh?!”

Kebo Koneng dan Supit Gadar kembali menundukkan wajah dan diam seribu bahasa.

“Phuih! Mereka tidak takut pada kalian, bukan?!”

“Eh! Ka..., kalau tadi Eyang tak memanggil kami, tentu mereka telah mampus tercincang...,” sahut Supit Gadar.

“Hm.... Jadi, kalian bermaksud untuk menghajar mereka?”
“Tentu saja, Eyang!”
“Bagus! Nah, kerjakanlah sekarang!”
“Sekarang, Eyang?” tanya Supit Gadar tak percaya.
“Semprul! He! Apakah penjara itu membuat telinga kalian jadi tuli?!”
“Eh! Ti.., tidak, Eyang...!” sahut kedua murid itu serempak.
“Kalau begitu, lekas pergi!”
“Ba.... baik, Eyang!”
“Eit, tunggu dulu!” bentak Nini Towok ketika keduanya hendak berbalik.
“Ada apa, Eyang...?”

“Hm... Kalian harus membalas terhadap orang-orang yang telah menangkap kalian itu. Semuanya!” tandas Nini Towok.

“Pasti, Eyang!” sahut Kebo Koneng dan Supit Gadar cepat.
“Satu lagi!”
“Apa itu, Eyang?”

“Semprul! Apa kalian tak sabar dan ingin buru-buru pergi dari hadapanku. heh?!”

“Eh! Mana kami berani berniat begitu, Eyang...!” sahut keduanya lirih.

“Kalau begitu, dengarkan baik-baik dan jangan sampai lupa!”
“Ba.... baik, Eyang!”
“Bawakan kebiasaanku...!”
“Pemuda gagah, Eyang?” tanya Supit Gadar seperti mengerti betul apa yang dimaksud gurunya.
“Semprul! Apa lagi kalau bukan itu?!”
“Tentu, Eyang! Tentu!” sahut Supit Gadar.

“Nah! Kalau begitu, lekas pergi dari mukaku! Awas! Jangan sampal tertangkap lagi. Kalau tertangkap, tak ada ampun lagi. Kalian akan mampus di tanganku! Ingat itu!”

“Kami ingat, Eyang...!” sahut keduanya cepat.

“Sudah! Sana pergi!”

Setelah menjura hormat, kedua laki-laki bertampang seram itu segera berlalu. Mereka melewati jalan-jalan kecil yang berliku dan lembah-lembah kecil serta pohon-pohon yang lebat. Tempat itu adalah sebuah hutan yang cukup luas dan terkenal angker. Dan orang-orang biasa menyebutnya sebagai Hutan Dandaka!

********************

Sepasang anak muda tampak tengah berjalan pelan-pelan, seperti tak hendak terburu-buru. Yang pemuda mengenakan baju hijau dan berikat kepala merah. Sedangkan yang wanita mengenakan baju kuning muda dengan rambut dikuncir. Menilik dari gerak-gerik dan wajah, usia mereka paling tidak sekitar dua puluh dan delapan belas tahun. Wajah pemuda bertubuh tegap itu cukup tampan, dengan rambut sebahu. Sedangkan yang wanita berkulit coklat muda dan berwajah manis

Melihat dari cara berpakaian, jelas kalau mereka bukanlah orang kebanyakan. Paling tidak, mereka berasal dari kalangan persilatan. Apalagi, di pinggang pemuda itu terselip sebuah kapak bermata dua. Sedang di pinggang wanita itu juga terselip sebuah pedang pendek.

Sambil berjalan, pemuda itu sesekali mencuri pandang ke arah gadis di sebelahnya. Demikian pula sebaliknya. Dan mereka sama-sama memalingkan wajah dengan perasaan malu, ketika pandangan mereka bertemu.

“Ratih...!” akhirnya si pemuda memberanikan membuka suara, menyebut nama gadis itu.

“Hm...”

“Kau betul tidak menyesal kalau kelak kita sudah menikah...?”

“Kenapa mesti menyesal, Kakang Yudha?” gadis bernama Ratih itu malah balik bertanya.

“Aku orang tak berada. Sedangkan kau... ah! Orang tuamu adalah seorang saudagar terpandang di kotaraja. Apakah mereka tak malu mempunyai seorang menantu sepertiku?” kata pemuda yang ternyata bernama Yudha.

“Kakang. kenapa hal itu dipersoalkan lagi? Bukankah Kakang telah mengetahui jawabanku? Atau, mestikah aku mengulanginya sampai seribu kali?” sahut Ratih sambil tersenyum manis.

Dan Yudha pun ikut tersenyum. “Aku hanya merasa malu.“
“Kau malu karena aku kekasihmu, Kakang?”
“Oh, tidak! Bukan itu maksudku.”
“Lalu apa?” Ratih pasang wajah cemberut.
“Karena kau seorang gadis cantik, terpandang, dan anak keluarga kaya...”
“Kakang, apakah kau tak yakin akan cintaku?”
“Kenapa kau berkata demikian?”
“Bicaramu sepertinya mengatakan demikian!
Yudha tersenyum manis sambil memandang wajah Ratih lekat-lekat.

“Jangan bicara seperti itu, Ratih. Seperti aku mencintaimu, maka begitulah keyakinanku akan cintamu kepadaku....”

“Betul?”
Yudha mengangguk.

“Kalau begitu, jangan lagi bicara tentang perbedaan yang ada di antara kita! Mau kan?”

“Hm.... Kalau kau menginginkan sesuatu, bagaimana mungkin aku tak mengabulkannya?”

“Aku tak mau kalau Kakang melakukannya karena terpaksa!” sahut Ratih bernada kesal.

“Baiklah. Aku akan mencoba menutup mata terhadap soal itu.”

“Jangan mencoba, tapi harus!”
“Baik. Harus!”
“Nah, begitu lebih baik...,” sahut Ratih sambil tersenyum lebar.

Yudha tersenyum. Sengatan matahari di siang yang terik ini, seperti tak dirasakan dua insan yang sedang dimabuk asmara itu. Langkah kaki mereka terasa ringan, sambil tertawa-tawa kecil.

“Kau tak letih?” tanya Yudha, ketika peluh di wajah Ratih terlihat mulai bercucuran.

“Tidak, Apakah Kakang sudah merasa lelah?”

“Hm... Kalau saja kau bersedia dijemput orang tuamu dengan mengendarai kereta kuda, tentu tak akan merasa tersiksa begini berjalan kaki.”

“Kakang! Aku lebih suka berjalan kaki, asalkan bersamamu.”

“Tapi bukankah orang tuamu juga mengajakku kalau kau dijemput?”

“Tapi tak seindah kalau kita melakukan perjalanan berdua.”

“Hei?! Diam-diam ternyata kau pintar juga, ya?” sahut Yudha sambil tersenyum kecil.

Ratih tampak tersipu-sipu. Namun tiba-tiba....

“Ha ha ha...! Sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, rasanya dunia ini hanya milik mereka berdua. Tapi siapa yang mengatakan begitu, sementara yang lain pun ingin mencicipinya!”

“Heh?!” kedua anak muda itu tersentak ketika terdengar seseorang berkata dengan suara lantang.

Mendadak saja, berkelebat dua sosok bayangan ke arah mereka. Dan kini di depan mereka telah berdiri dua orang berwajah seram dan bertelanjang dada.

“Siapa kalian?!” tanya Yudha datar dengan tatapan curiga.

“Ha ha ha...! Dua bocah yang manis-manis ini sangat menggugah seleraku, Kebo Koneng!”

“Betul, Supit Gadar! Terlebih lagi, gadis itu. Hm, aku sangat menginginkannya. Biarlah kau tangkap pemuda itu untuk Eyang Guru. Sedangkan gadis cantik ini, bagianku!”

“Kukira selama ini kau buta, Kebo. Tapi matamu liar juga kalau melihat gadis cantik! Ha ha ha...! Jangan mau enaknya saja kau!” sergah Supit Gadar sambil terkekeh.

Kedua orang itu terkekeh-kekeh seperti tak mempedulikan sepasang remaja ini untuk sementara waktu. Tentu saja hal itu membuat Yudha dan Ratih menjadi semakin curiga dan tak senang.

“Kisanak! Kalau kalian memang tak ada keperluan, kami hendak melanjutkan perjalanan kami. Silakan tertawa sepuas hati!” sentak Yudha.

Setelah berkata demikian. Yudha menggandeng lengan Ratih dan bermaksud melangkah menghindari mereka. Namun dengan serta merta, kedua orang itu melompat menghalangi.

“Phuihhh! Kau pikir bisa mengoceh seenak perut saja terhadap kami?!”

Langkah Yudha dan Ratih terpaksa kembali berhenti, dan mereka langsung memandang satu persatu dua laki-laki berwajah seram itu secara bergantian dengan sorot mata menunjukkan ketidak-senangan. Yang membentak tadi memang Supit Gadar. Kini matanya tampak melotot garang dengan mulut menyeringai lebar seperti hendak menelan bulat-bulat kedua pasang remaja itu.

“Kisanak! Aku tak mengerti, apa yang kalian inginkan. Kalau kalian hendak merampok, kami tak punya barang-barang yang berharga. Kalaupun ada urusan, kita pun belum pernah bertemu sebelumnya. Jadi, mana mungkin kami punya urusan dengan kalian!” sahut Yudha semakin tegas.

“Kalian harus ikut kami! Ayo cepat!” bentak Supit Gadar.

Sementara, Kebo Koneng malah maju mendekati gadis di hadapannya dan bermaksud memeluknya.

“Kurang ajar!”

“Uts! Galak juga rupanya kau. Cah Ayu? Tapi, sabarlah. Sesaat lagi kau akan terlena dalam pelukanku!” sahut Kebo Koneng sambil terkekeh-kekeh ketika gadis itu menghindar dengan sengit. Tapi Kebo Koneng tak berhenti sampai di situ. Dengan gerakan gesit, kembali dia melompat sambil menyerang secepat kilat.

Melihat kekasihnya dalam bahaya, tentu saja Yudha tak mau tinggal diam. Segera dia melompat untuk melindungi gadisnya.

“Eit! Biarkan mereka bermain-main sejenak. Kau bagianku!” sergah Supit Gadar sambil menyerang pemuda itu

Yudha tersentak kaget dan buru-buru menghindari serangan lawan. Tapi, Supit Gadar tak mau memberi hati. Bahkan merangsek habis-habisan

“Hiyaaat…!” Tubuh Yudha Jungkir balik menghindari serangan lawan. Maka dengan geram segera dicabutnya kapak, dan bermaksud balas menyerang lawan. Namun melihat hal itu. Supit Gadar malah melecehkannya.

“Ha ha ha...! Bocah bau kencur! Ilmu silatmu memang cukup lumayan. Tapi sayang. Kau masih mentah. Lihat serangan!”

Kata-kata yang dikeluarkan Supit Gadar bukanlah omong kosong belaka. Dengan gerakan lincah, dengan mudah serangan lawan bisa dihindari. Kemudian tiba-tiba tubuhnya menyusup lewat celah yang tak disangka-sangka. Akibatnya, Yudha gelagapan untuk menghindari serangan balik lawan. Dan ketika terdengar teriakan kecil Ratih, perhatian Yudha seketika terganggu. Maka tentunya itu ber-akibat buruk baginya. Karena tiba-tiba Supit Gadar mencelat ke arahnya. melepaskan serangan.

Tuk!

“Aaah...!” Yudha mengeluh kecil dengan tubuh terkulai lemas, ketika totokan lawan mendarat di bahunya.

Supit Gadar sendiri cepat menyambar dan memanggul Yudha ke atas pundak, kemudian memandang ke arah Kebo Koneng yang telah lebih dulu melumpuhkan Ratih.

“Brengsek kau, Kebo! Ternyata kau memang rakus sekali. Mari kita bawa bocah ini untuk Eyang Guru. Dan setelah itu, aku akan bersabar menunggu giliranku untuk mendekap kelinci cantik itu!”

“Ha ha ha…! Mari kita berangkat!“

********************

TIGA

Seorang penunggang kuda hitam melambatkan lari kudanya ketika telah memasuki mulut Desa Palung Rimbun. Dia adalah seorang pemuda berwajah tampan dan berbaju rompi putih. Di balik punggungnya tampak menyembul sebuah gagang pedang berbentuk kepala burung. Pemuda itu terus menjalankan lambat-lambat kudanya, setelah memasuki desa ini.

Suasana Desa Palung Rimbun tampak sepi. Padahal, hari telah siang. Bisa jadi karena di tempat itu segala macam kegiatan perdagangan tak begitu ramai. Itu juga disebabkan jarak antara satu rumah dengan rumah lain agak berjauhan. Dari sini bisa tercermin kalau penduduk desa itu masih tergolong sedikit. Dan melihat banyaknya sawah di desa itu, bisa diduga kalau mata pencaharian penduduknya adalah bertani. Dan siang terik begini, bisa jadi mereka masih berkutat dengan lumpur. Atau sedang beristirahat di dangau-dangau sambil menikmati santap siang.

Tapi ternyata di depan sana ada juga seseorang yang tengah mengerjakan sawahnya. Dan kebetulan pemuda itu akan melintasinya. Pemuda itu terus menjalankan kudanya, hampir melintasi petani di depannya. Begitu dekat, kepalanya mengangguk sambil tersenyum kecil. Petani itu juga mengangguk, seraya membuka tudung kepalanya. Langsung dia memberi hormat pada pemuda itu.

“Kisanakkah yang bernama Rangga...?” tanya petani itu setelah memberi hormat

“Hei? Dari mana kau tahu namaku?” tanya pemuda tampan itu yang tak lain Rangga, agak heran.

“Aku sebenarnya salah seorang prajurit di negeri ini. Dan aku mendapat pesan dari seseorang untuk menunggu Kisanak di sini “

“Siapa yang menyuruhmu?”

“Panglima Sura Darma. Dan itu atas keinginan kawan Kisanak yang bernama Pandan Wangi... “

“Heh?! Pandan Wangi? Di mana dia sekarang?”

Utusan itu kemudian menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Rangga. Dan pemuda yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu mengangguk-angguk tanda mengerti

“Lalu, kenapa kau berpakaian seperti petani?”

“Hanya menjaga agar tak terlalu menyolok di mata penduduk. Lagi pula dengan berpakaian seperti ini, aku bebas bergerak...”

Rangga kembali mengangguk. Tapi pikirannya tak bergeming dari persoalan Pandan Wangi. Gadis itu terlalu ceroboh bertindak! Atau, barangkali benar seperti apa yang dikatakan prajurit ini, bahwa semua itu tak lepas dari permintaan Panglima Sura Darma agar Pandan Wangi mau membantunya?

“Apakah Kisanak bermaksud menyusulnya ke sana?” tanya prajurit itu

“Tentu saja. Kau tahu tempat mereka, bukan?”

Prajurit itu mengangguk cepat.

“Hm.... Kalau begitu, kita jangan membuang waktu lagi. Naiklah di belakangku, dan tunjukkan padaku di mana mereka berada.”

“Baiklah...!” sahut prajurit itu. Prajurit itu lalu melompat ke belakang Rangga yang berada di alas kuda bernama Dewa Bayu. Dan mereka langsung melaju cepat Rangga memang mengkhawatirkan keselamatan kekasihnya. Sebab menurut apa yang diceritakan prajurit ini, kedua tokoh yang dikejar itu memiliki kepandaian tinggi. Meskipun mendapatkan tambahan pasukan dari kerajaan, rasanya Pendekar Rajawali Sakti tetap tak yakin kalau mereka bisa mengatasi kedua buronan itu. Tak heran bila Dewa Bayu dipacu kuat-kuat sehingga melesat kencang bagai dikejar setan. Namun belum lama Rangga menggebah kudanya. Tiba tiba...

“Hiyaaat...!”
Plarrr!
“Yeaaah...!”

Dua bayangan mendadak melesat menyerang, setelah melepaskan pukulan jarak jauh yang menimbulkan gemuruh kecil serta desir angin kencang. Melihat hal ini, Rangga cepat melompat dari punggung kudanya, lalu mendarat manis di tanah.

“Kisanak! Kau pegang tali kendali ini kuat-kuat! Kudaku akan menurut padamu!” teriak Rangga

“Kisanak! Kau mau ke mana...?”

Pertanyaan prajurit itu tak sempat terjawab, karena Rangga telah melesat cepat menghadang lawan-lawannya yang terus melesat ke arahnya. Sementara, prajurit itu terus mengendalikan Dewa Bayu, berhenti pada jarak sekitar lima tombak dari tempat Rangga yang kini sudah bertarung.

Pendekar Rajawali Sakti tampak tengah sibuk mempertahankan diri dari serangan-serangan gencar yang dilakukan kedua penghadangnya. Namun sedikit pun tak terlihat kalau Rangga kewalahan. Tubuhnya begitu lincah, bergerak ke sana kemari menghindari serangan-serangan. Dan tiba-tiba, tubuh Rangga melompat ke atas dan berputar beberapa kali menjauhi lawan-lawannya. Kemudian tubuhnya meluncur turun dan mendarat mantap sekali di tanah. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuhnya, sehingga tak terdengar suara saat kakinya mendarat. Langsung ditatapnya tajam-tajam dua orang penghadangnya dalam jarak tiga tombak lebih di depannya.

“Siapa kalian?! Dan, apa maksud kalian menyerang kami dengan tiba-tiba?!” tanya Rangga dengan nada tak senang.

Di depan Pendekar Rajawali Sakti kini berdiri tegak dua orang laki-laki yang berbeda usia. Yang seorang berusia sekitar lima puruh lahun lebih. Wajahnya berjenggot panjang. Tubuhnya agak sedikit gemuk dan di tangannya menggenggam senjata arit. Sedangkan yang berusia lebih muda, sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi, namun berukuran sedang. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat pendek. Kini keduanya juga menatap tajam ke arah Rangga dengan wajah sinis.

“Phuih! Antek-antek kerajaan! Kalian harus mampus di tangan kami!” dengus laki-laki yang lebih tua sengit.

“Hm.... Apa maksudmu dengan antek-antek kerajaan?” tanya Rangga bingung.

Kedua orang itu kemudian memandang ke arah prajurit yang masih berada di atas kuda. Memperhatikan mereka sejak tadi.

“Meski dia berpakaian lusuh begitu, jangan harap bisa mengelabui kami!” desis orang tua itu geram, sambil menunjuk si prajurit

“Kisanak! Kami sedang terburu-buru. Dan aku sama sekali tidak tahu, apa yang kalian inginkan. Kalau memang tak ada urusan yang lebih penting, harap kalian sudi memberi jalan,” sahut Rangga masih bernada sopan dan tak bermaksud meladeni keinginan mereka.

“Hm. Kalian telah berada di sini, dan jangan harap bisa pergi begitu saja!” sahut orang yang lebih muda.

“Apa maksudmu...?”
“Kalian harus mampus!”

Rangga berusaha menahan sabar mendengar kata-kata yang diucapkan kedua penghadangnya. Namun kedua orang itu agaknya tak mau mendengar penjelasannya. Bahkan sama sekali tak peduli dengan niat baiknya untuk menyelesaikan persoalan secara damai. Melihat keadaan itu, Rangga tersenyum sambil memandang ke arah si prajurit. Lalu, Rangga segera bersuit nyaring. Maka, Dewa Bayu yang seperti mengerti arti siulan itu langsung meringkik dan melesat cepat sehingga nyaris melemparkan prajurit yang masih di atas punggungnya. Untung saja dia sempat berpegangan kuat-kuat

“Huh! Jangan dikira dia bisa kabur begitu saja!” desis orang tua itu. Langsung dia melompat hendak mencegah lari Dewa Bayu. Namun sigap sekali Rangga menghalangi dengan gerakan tak kalah cepat

“Orang tua! Bukankah kau ingin berurusan denganku? Nah, biarkan dia pergi!"

“Kurang ajar! Hih...!”

Orang tua itu langsung menyerang Rangga dengan sebuah pukulan pendek. Untung saja Pendekar Rajawali Sakti cepat bergerak menghindar ke kiri. Namun, orang tua itu seperti tidak memberi kesempatan. Dia terus merangsek Pendekar Rajawali Sakti dengan serangan-serangan dahsyat dan mematikan.

Tapi seperti biasanya, Rangga langsung bisa menghindari dengan pengerahan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Akibatnya, orang tua itu semakin geram, karena tak ada satu pun serangannya yang mendarat di tubuh lawan. Sungguh tidak disangka kalau lawan mampu bergerak secepat itu. Meskipun senjata aritnya berkelebat cepat dan bermaksud melukai lawan, tapi hal itu hanya sia-sia belaka.

Bahkan pada satu kesempatan, Rangga melepaskan serangan balik begitu orang tua itu baru saja mengkelebatkan aritnya. Begitu tiba-tiba datangnya, sehingga orang tua itu tak bisa menghindari kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti yang demikian cepat. Maka....

Bugkh!
“Hugkh...!”

Orang tua itu kontan terjajar beberapa langkah ke belakang sambil mengeluh pendek. Padahal, kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti tidak disertai pengerahan tenaga dalam. Hanya saja, memang cukup keras.

Tentu saja hal itu tak bisa didiamkan kawannya. Dia segera bertindak membantu. Namun sebelum terjadi, Rangga telah melesat cepat meninggalkan mereka dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang telah mencapai kesempurnaan. Dan kedua orang itu hanya bisa saling berpandangan dengan wajah kesal.

********************

Pasukan yang dipimpin Panglima Sura Darma telah memasuki suatu wilayah yang diperkirakan sebagai sarang kedua buronan yang bernama Supit Gadar dan Kebo Koneng. Mereka kini memang berada di pinggir hutan yang lebat dan jarang didatangi manusia. Konon, tempat itu dipercaya sebagai sarang makhluk halus yang sering mengganggu manusia. Bahkan bukan hanya itu. Setiap orang yang lewat, jarang ada yang bisa kembali.

Namun, Panglima Sura Darma mana bisa mempercayai kabar kosong itu begitu saja. Sebagai seorang prajurit sejati, tugasnya harus dijalankan dengan baik dan tuntas. Dan dari apa yang pernah diketahuinya. di dalam hutan inilah kedua orang buronan itu diperkirakan berada. Sebab, guru mereka yang bernama Nini Towok memang tinggal di situ.

Dan Panglima Sura Darma memang telah menambah kekuatan pasukannya. Makanya, dia bertekad untuk meringkus dua buronan kerajaan itu. Prajurit yang diperintah untuk memanggil pasukan kerajaan memang telah kembali bersama sekitar tiga puluh orang. Dan mereka langsung bergabung dengan Panglima Sura Darma.

“Semua siap! Kita telah memasuki kawasan Hutan Dandaka!” teriak Panglima Sura Darma memperingatkan anak buahnya.

Mereka segera menggenggam erat senjatanya masing-masing sambil menajamkan penglihatan dan pendengaran. Suasana seketika menjadi sepi. Hanya derap langkah kaki kuda saja yang menyapu padang rumput di bawahnya.

“Apakah Paman Panglima yakin kalau mereka bersembunyi di tempat ini?” tanya Pandan Wangi halus.

“Mereka tak akan pergi jauh dari sisi gurunya,” sahut Panglima Sura Darma setengah ragu.

“Dua orang murid yang setia tentunya...” Panglima Sura Darma hanya tersenyum pahit.

“Sebaiknya pasukan dibagi dua, Paman. Kalau boleh biar kupimpin sebagian ...” lanjut Pandan Wangi menawarkan diri.

Panglima Sura Darma memandangnya heran. Tapi, Pandan Wangi tetap berusaha meyakinkan.

“Percayalah, aku pernah melakukan hal ini sebelumnya. Tapi kalau memang Paman tak percaya, tak apa...”

“Bukan begitu. Tapi, bukankah kalau membagi dua pasukan berarti akan mengurangi kekuatan kita?”

“Bukankah mereka hanya berdua? Dan mungkin bertiga, bila guru mereka muncul. Mereka bukan pasukan besar. Jadi, kusarankan agar para prajuritmu tak kacau-balau nantinya.”

Panglima Sura Darma berpikir sesaat, sebelum menyetujui usul Pandan Wangi. Namun baru saja mereka membagi dua kelompok pasukan, tiba-tiba terdengar suara tawa nyaring yang menyelimuti sekitar tempat itu.

“Hi hi hi..! Sungguh tak disangka, anjing berani mendatangi penggebuk!”

“Ha ha ha..! Hei, Sura Darma! berani mati kau datang ke Hutan Dandaka ini, he?!”

Bersamaan dengan suara itu, melesat dua sosok tubuh. Dan tahu-tahu di hadapan mereka telah berdiri dua laki-laki bertampang seram. Seketika semua pasukan segera bersiaga dan menghentikan langkah. Panglima Sura Darma dan Pandan Wangi hanya memandang tajam kepada dua sosok tubuh yang telah mereka kenal itu.

“Kebo Koneng dan Supit Gadar! Menyerahlah secara baik-baik. Dan jangan paksa kami untuk bertindak keras untuk menangkap kalian!” bentak Panglima Sura Darma.

“Apa? Menyerah?! Ha ha ha....! Kau ini tolol sekali, Sura Darma. Tidakkah kau tahu, sedang berada di mana saat ini? Hei! Seharusnya kaulah yang menyerah, dan gorok lehermu sendiri!” sahut Supit Gadar sambil tertawa mengejek.

“Sura Darma! Tahu dirilah sedikit! Kalau kemarin, kami masih memberi kesempatan padamu untuk tidak mengganggu kami lagi. Tapi, kau memang keras kepala. Dan hari ini, jangan harap kami akan mengampuni lagi. Kau dan anak buahmu akan mampus!” timpal Kebo Koneng geram.

“Kisanak berdua! Kalian adalah buronan kerajaan. Menyerahlah secara baik-baik, atau aku akan meringkus kalian saat ini juga!” gertak Pandan Wangi dengan suara nyaring

“Ha ha ha! Bocah ayu, kau membuatku gemas saja. Bicaramu lancang sekali. Kalau tadi aku berniat memenggal kepalamu, maka biarlah kutunda barang sesaat, agar kita bisa bermain sejenak berdua saja. Wajahmu yang cantik itu, sayang sekali bila harus dilukai tanganku!” sahut Supit Gadar menganggap remeh.

“Kurang ajar! Huh! Kau pikir dirimu sudah hebat karena telah membunuh banyak prajurit kerajaan?! Terimalah bagianmu hari ini!” bentak Pandan Wangi. seraya memberi perintah pada para prajurit untuk menyerang Supit Gadar.

“Yeaaah…!”

“Ringkus orang itu hidup atau mati!” teriak Panglima Sura Darma memberi perintah pada prajuritnya untuk meringkus Kebo Koneng.

Panglima Sura Darma dan Pandan Wangi tahu kalau lawan-lawannya memiliki kemampuan tinggi dan sulit ditaklukkan. Tapi mereka telah menemukan akal untuk mengatasi. Pada saat prajurit-prajurit kerajaan mengeroyok mereka, maka di saat itulah masing-masing mendesak Supit Gadar dan Kebo Koneng dengan serangan serangan hebat.

Supit Gadar dan Kebo Koneng memang memiliki kepandaian tinggi. Namun menghadapi tekanan sedemikian rupa. agaknya mereka kewalahan juga. Ruang gerak mereka terbatas, dan tak sedikit pun kesempatan untuk balas menyerang. Mereka terpaksa jungkir balik untuk menyelamatkan selembar nyawa.

“Bangsat! Huh! Kalian akan menerima balasannya!”

“Jangan banyak bicara kau! Yeaaah...!” bentak Pandan Wangi sambil mengayunkan kipasnya ke arah leher Supit Gadar.

“Uts! Yeaaah...!”

EMPAT

Mendadak Supit Gadar berteriak nyaring sambil mengayunkan tangan kanannya. Seketika melesat secercah sinar kuning ke arah Pandan Wangi. Seketika Pandan Wangi tersentak kaget melihat kelebatan sinar kuning kemerahan yang mengancam pertahanannya. Buru-buru gadis itu melompat ke samping. Menghindarinya. Namun...

“Aaakh...!”

Salah seorang prajurit yang kebetulan di belakang ternyata menjadi sasaran begitu Pandan Wangi menghindar. Orang itu kontan memekik kesakitan. Bahkan sekujur tubuhnya langsung menghitam seperti luka bakar. Tubuhnya lalu ambruk ke tanah dan bergulingan ke sana kemari sambil melolong kesakitan. Tidak berapa lama kemudian, dia diam tak berkutik lagi.

“Ha ha ha..! Kenapa ? Kau mulai takut heh...?!” ejek Supit Gadar ketika melihat Pandan Wangi terlongong bengong. Bahkan semua prajurit juga menghentikan serangan dengan wajah bingung

Belum lagi habis rasa keterkejutan mereka, mendadak kembali terdengar pekikan dari arah lain. Tampak dua orang prajurit kerajaan yang tergabung dalam kelompok Panglima Sura Darma terhuyung-huyung. Begitu mengerikan nasib yang menimpa mereka. Kulit keduanya tampak melepuh dan lumer. Bahkan tulang-tulangnya mulai terlihat, perlahan-lahan tubuh mereka hancur menjadi potongan-potongan berbagai ukuran. Seketika hal itu membuat nyali para prajurit jadi ciut. Dan mereka jadi terpaku beberapa saat.

“Ayo! Bukankah kalian ingin menangkap kami? Kenapa sekarang ragu-ragu...? Ke sini cepat..!” bentak Kebo Koneng dengan sikap jumawa

“Keparat! Kau pikir aku takut dengan gertakanmu?! Huh! Kau rasakan balasanku!” bentak Pandan Wangi sengit.

Tubuh si Kipas Maut segera melesat cepat sambil menyabetkan ujung kipas mautnya ke leher. Namun Supit Gadar cepat menghindarinya dengan mudah sambil terkekeh pelan. Tidak seperti tadi, kali ini Pandan Wangi mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki untuk menjatuhkan lawan secepatnya. Sehingga meskipun sesekali Supit Gadar mengumbar pukulan maut namun hingga saat ini belum berhasil melukainya.

“Kenapa diam?! Ayo, serang dia lagi...!” teriak salah seorang prajurit.

Serentak para prajurit lain seperti disentak dan langsung menyerang kedua buronan Itu. Demikian pula halnya Panglima Sura Darma dan para prajuritnya. Dengan semangat masih menyala-nyata, mereka kembali menyerang lawan.

“Yeaaah...!”

“Hm... Kecoa-kecoa busuk tidak berguna! Kalian kira bisa menangkap kami? Phuih! Kalian hanya bermimpi!” desis Kebo Koneng geram.

Laki-laki berkepala botak itu segera mengumbar pukulan-pukulan mautnya beberapa kali. Akibatnya prajurit yang berada paling dekat dan tak mampu menghindari menjadi sasaran. Mereka langsung berjatuhan, dan tak mampu bangkit kembali.

“Hi hi hi..! Dasar murid-murid goblok! Menghadapi cacrng-cacing tidak berguna saja, begitu lama! Coba lihat ini...!” Mendadak terdengar suara nyaring melengking Lalu...

Wusss...!

Tiba-tiba bertiup angin berhawa panas menyengat yang menyambar pasukan yang dipimpin Panglima Sura Darma.

“Aaa...!”

Bersamaan dengan itu, terlihat beberapa orang prajurit melayang bagai sehelai daun kering tertiup angin disertai jeritan kesakitan.

Pada saat yang sama, Kebo Koneng mengambil kesempatan baik, saat semangat Panglima Sura Darma mulai bergetar, dan perhatiannya terganggu oleh kejadian itu.

“Yeaaah...!”

Sambil mem bentak nyaring, laki-laki berkepala botak itu menghantamkan pukulan mautnya. Panglima Sura Darma jadi tersentak kaget dan berusaha menghindar sambil mengayunkan sebelah tangannya. Tapi...

Plak!
“Aaa...!”

Panglima Sura Darma kontan memekik kesakitan dengan tubuh terjajar beberapa langkah ke belakang. Tangannya seperti tersundut besi panas. Belum lagi habis rasa terkejutnya, tiba-tiba satu serangan lawan mengancam batok kepalanya.

Prak!

Panglima Kerajaan Pandarakan itu hanya sempat mengeluh pendek begitu kepalan tangan Kebo Koneng mendarat telak di kepalanya. Tubuhnya langsung ambruk, dan kulitnya meleleh bagai terbakar. Demikian pula tulang-tulangnya yang jadi hancur seperti dihantam godam.

Sementara itu, ketika serangkum angin panas tadi menerpa prajurit-prajurit yang dipimpin Pandan Wangi, banyak prajurit yang terlempar sambil menjerit kesakitan. Sedangkan gadis itu jadi terkejut dan berusaha mempertahankan diri. Namun, Supit Gadar tampaknya tak ingin memberi kesempatan lagi. Dan dia sudah terus menghujani serangan bertubi-tubi ke arah gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu.

“Yeaaah...!”

Dan ketika baru saja Pandan Wangi menghindari sebuah serangan, sudah menyusul lagi serangan berikut. Jari-jari tangan Supit Gadar yang membentuk kepala ular, melepaskan sebuah patukan ke punggung Pandan Wangi. Maka cepat-cepat gadis itu merunduk sambil memapak.

Plak!

Melihat dari serangannya, rupanya Supit Gadar memang tidak berniat membunuhnya. Buktinya ketika memapak tadi, tenaga dalam yang dikeluarkan laki-laki itu tidak begitu tinggi.

Namun rupanya serangan itu hanya sebuah tipuan belaka. Begitu serangannya luput. Supit Gadar tiba-tiba mencelat ke atas dengan kecepatan mengagum-kan. Dan ketika berada di udara, tangan kanannya yang membentuk paruh ular menotok cepat. Dan....

Tuk!

“Ohhh...!” Pandan Wangi langsung jatuh lunglai di tanah, begitu punggungnya tertotok

“Ha ha ha...! Kini kau bisa berbuat apa padaku. Cah Ayu?” ejek Supit Gadar terbahak bahak

“Keparat licik! Lepaskan totokan ini, atau kuhajar kau!” maki Pandan Wangi sambil melotot lebar. Namun, tubuhnya tak mampu digerakkan lagi.

“Ha ha ha...! Gertakanmu boleh juga, Cah Ayu. Tapi apakah kau tidak menyadari, kalau kini sudah tidak berdaya lagi? Aku bisa berbuat apa saja yang kusuka. Coba lihat. Sebentar lagi, kecoa-kecoa itu akan rata dengan tanah,” sahut Supit Gadar sambil tertawa penuh kemenangan. Lalu, dia melangkah mendekati Pandan Wangi. Kembali gadis itu ditotok hingga pingsan.

Apa yang dikatakan Supit Gadar memang tidak salah. Tampak Kebo Koneng mengamuk dahsyat menghabisi sisa-sisa prajurit yang sudah kehilangan pemimpinnya. Beberapa orang berusaha menyelamatkan diri, namun tidak diberi kesempatan sedikit pun juga. Akibatnya seluruh prajurit yang berjumlah sekitar tiga puluh orang itu tewas tidak tersisa dalam keadaan mengerikan, terkena pukulan maut yang diepaskan Kebo Koneng.

“Hm, habis sudah riwayat kalian!” dengus Kebo Koneng sambil berkacak pinggang dan wajah tak berperasaan.

“Huh! Tidak pantas kau berbangga begitu. Goblok!”

“Eh, ng,.. Eyang Guru...”

Kebo Koneng dan Supit Gadar baru tersadar kalau guru mereka telah berada di tempat itu sambil mencibir. Serentak mereka menghampiri dan berlutut sambil menjura memberi hormat.

“He! Semprul! Kenapa kau bunuh Cah bagus tadi?” bentak wanita yang tak lain Nini Towok, sambil melotot garang kepada Kebo Koneng.

“Bocah yang mana, Eyang?” Kebo Koneng takut-takut

“Matamu! Ya, bocah cakep yang kau remukkan kepalanya itu!”

“Oh! Itu Sura Darma. Eyang,”

“Huh! Siapa yang peduli namanya..? Kenapa kau bunuh dia, heh?! Padahal, dia gagah dan cocok untukku!”

“Eh, ng.... Dia.... dia amat berbahaya kalau dibiarkan hidup. Eyang, sebab itu lebih baik dibunuh saja.”

“Semprul! Siapa yang mengatakan itu padamu, hah?! Tidak ada seorang pun di jagat ini yang berbahaya di depanku! “

“Maafkan aku. Eyang.”

“Maaf. maaf...! Heh! Pilihlah hukumanmu sendiri. Kutendang sampal isi perutmu muncrat, atau kau carikan lima orang seperti dia hari ini juga! “

“Ba.... baik, Eyang “
“Baik apa?”
“Aku pilih yang kedua”
“Bagus! Nah, sekarang minggat dari mukaku!”
“Se.... sekarang juga, Eyang?”
“Semprul! Kapan lagi. he...?!”

“Ba.... baik, Eyang.” sahut Kebo Koneng terus berlari terbirit-birit dari tempat itu setelah menjura memberi hormat

Sementara, Nini Towok memandangnya sekilas, kemudian berpaling pada Supit Gadar. “Kenapa tidak kau bunuh saja perempuan itu, heh?!”

“Eh... ng,...”

“Hm... Kau akan bersenang-senang dulu dengannya?” tanya Nini Towok dengan suara dingin. Supit Gadar hanya mengangguk saja sambil menyeringai kecil. Dan Nini Towok hanya memandangnya sekilas

“Tapi setelahnya nanti akan kubunuh dia,” kata Supit Gadar sebelum gurunya berkata.

Nini Towok hanya menggumam tak jelas, kemudian memandang gadis itu. “Hm.... Cantik juga dia. Pandai kau memilih perempuan,” kata perempuan tua itu.

Sedangkan Supit Gadar hanya terkekeh kecil mendengarnya.

“Hei?! Senjatanya itu mengingatkan aku pada seseorang. Siapa gadis ini?” tanya Nini Towok dengan sorot mata tajam ke arah Supit Gadar

“Ti... tidak tahu. Eyang.”

“Semprul! Dasar murid goblok. Coba ingat-ingat gadis yang bersenjatakan kipas baja berwarna putih keperakan. Ng… Ya, ya. Aku ingat sekarang, Dia si Kipas Maut!” agak berteriak suara Nini Towok. Bola mata perempuan tua itu tampak berbinar-binar tajam, kemudian tertawa panjang mengikik.

Supit Gadar jadi terheran-heran sendiri melihatnya, tapi tidak berani menegur.

“He. Supit Gadar. Bawa gadis ini ke rumah, dan jaga jangan sampai lepas.”

“Eh! Untuk apa. Eyang?”

“Goblok! Tidak tahukah kau, kalau gadis ini kekasih Pendekar Rajawali Sakti...?”

“Eh, kekasihnya...? Lalu, apa hubungannya dengan kita?”

“Dasar tolol! Sudah lama sekali aku memimpikan bisa bertemu bocah yang kabarnya berkepandaian hebat itu. Kalau dia tahu kekasihnya berada di tanganku, tentu akan ke sini mencari.”

“Jadi…, jadi aku tidak boleh memiliki gadis ini?”

“Edan! Kalau sampai kau menyentuh rambutnya saja, batok kepalamu kupecahkan. Dia milikku! Dan setelah Pendekar Rajawali Sakti berhasil kutaklukkan, baru kau boleh berbuat apa saja padanya. Mengerti kau, Supit Gadar...?”

“Iya.... iya. Eyang.”

“Bagus. Sekarang bawa dia ke pondok"

Supit Gadar menelan ludahnya. Kemudian dia melangkah dan berhenti dekat Pandan Wangi. Segera dipanggulnya tubuh gadis yang telah pingsan itu. Namun, dia tidak segera melangkah kembali.

“Kenapa? Kau tidak senang mendengar keputusanku?!” bentak Nini Towok, seperti bisa merasakan apa yang dipikirkan muridnya.

“Eh, mana berani aku berpikir begitu, Eyang....”
“Heh! Kau pikir aku bodoh...?”
Supit Gadar hanya terdiam saja.

“Kau bisa mencari sepuluh perempuan secantik dia. Tapi khusus untuk yang ini, jangan coba-coba. Mengerti...?!”

“Mengerti, Eyang”
Namun, belum lagi guru dan murid itu melangkah jauh, tiba-tiba saja....
“Nini Towok, berhenti kau!”
“Heh...?!”

Nini Towok dan Supit Gadar tersentak. Mereka langsung berhenti melangkah, dan menoleh. Tampak di depan mereka tahu-tahu sudah berdiri tegak dua orang laki-laki. Yang seorang bertubuh tinggi memakai baju merah. Pada tangannya tampak ter-genggam sebilah pedang berukuran besar. Sedangkan yang seorang lagi bertubuh pendek. Tangannya memegang bandul besi berduri tajam. Kini keduanya memandang guru dan murid itu dengan sorot mata tajam menusuk.

“Hm.... Soreang dan Rudapaksi. Apa yang kalian inginkan, hingga jauh-jauh datang ke tempatku ini?” tanya Nini Towok tenang, langsung mengenali.

“Nini Towok! Sebenarnya aku tidak ingin mengganggumu dan menyudahi saja urusan lama kita. Tapi kedua muridmu sungguh keterlaluan. Mereka menculik putri Soreang dan murid perempuanku. Dan kami tidak bisa membiarkan begitu saja. Kau boleh lepas tanggung jawab, tapi serahkan kedua muridmu untuk dihukum!” sahut laki-laki pendek kekar berusia sekitar empat puluh tahun. Namanya, Rudapaksi.

“Benar! Kalau kau melindungi mereka, berarti memang sengaja mengorek luka lama. Dan kami harus menuntut balas atas perlakuan kedua muridmu!” sambung laki-laki bertubuh tinggi, yang bernama Soreang.

Mendengar ucapan mereka, Nini Towok seketika tercekat dengan wajah heran. Kemudian terlihat dia tergelak sendiri. Sikapnya benar-benar meremehkan kedua orang itu.

“Soreang dan Rudapaksi. Kalian pikir aku ini pengasuh anak kecil, heh?! Kedua muridku sudah tua bangka. Dan mereka bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri. Lalu untuk apa kalian mengungkit-ungkit peristiwa lama? Ingin menantangku lagi, he?! Boleh...!” balas Nini Towok sambil berkacak pinggang.

Perempuan tua itu memang penaik darah dan mudah tersinggung. Sedikit pun tidak boleh merasa dikecilkan oteh orang lain. Dan dari apa yang diucapkan Soreang dan Rudapaksi, bisa disimpulkan kalau mereka sengaja datang membawa persoalan lama untuk menggertaknya. Sebenarnya, apa persoalan mereka dahulu?

Memang, Nini Towok adalah seorang perempuan yang mempunyai kebiasaan aneh. Sejak muda, dia paling suka bermain cinta dengan jejaka-jejaka gagah dan berwajah tampan. Hal itu dilakukan dengan mengobral diri seperti pelacur rendahan. Nafsunya seperti tidak pernah puas oleh hanya seorang pemuda. Dan dia terus berganti-ganti pasangan sampai usianya mendekati tua.

Namun sejalan dengan kebiasaan buruknya, maka banyak pula pemuda yang menaruh hati padanya. Bahkan tidak jarang yang berasal dari kalangan persilatan berkepandaian tinggi jatuh cinta padanya. Maka dengan rayuan mautnya, Nini Towok berhasil membujuk mereka agar sudi mengajarkan ilmunya. Perempuan itu tidak peduli, apakah pemuda yang menyintainya termasuk dalam golongan sesat atau lurus. Baginya, yang penting mendapat ilmu baru.

Pada mulanya tidak ada seorang pun yang tahu tentang perbuatannya. Namun akhirnya hal itu menjadi tanda tanya, dan berlanjut menjadi kecurigaan. Hal itu terjadi ketika banyak pemuda yang dekat dengannya, kemudian hilang tak ketahuan lagi ke mana rimbanya. Dan ketika dua orang pemuda yang pernah dekat dengannya berhasil meloloskan diri, gegerlah semua orang mendengar ceritanya.

Ternyata, Nini Towok selalu membunuh semua kekasihnya setelah puas mereguk kenikmatan sekaligus mendapat ilmu baru. Dan kedua orang pemuda itu adalah Soreang dan Rudapaksi, yang masing-masing kini memang telah berusia setengah baya.

Tentu saja hal itu membuat banyak kalangan persilatan menjadi murka. Mengingat Nini Towok kini berkepandaian tinggi, maka secara beramai-ramai mereka bermaksud menghajar perempuan jalang itu. Memang, Nini Towok berhasil dihajar sampai babak belur. Bahkan nyaris saja tewas kalau tidak sempat melarikan diri.

Dan sejak itu, Nini Towok tidak pernah lagi muncul dalam kancah dunia persilatan. Sampai akhirnya, kedua muridnya membuat keributan belakangan ini. Orang-orang segera mengetahui kalau mereka murid Nini Towok, karena ilmu silat dan pukulan maut yang dimiliki berciri-ciri sama.

“Nini Towok! Kau memang keterlaluan dan tidak bisa dikasih hati. Kalau memang hal itu yang diinginkan, baiklah. Aku tidak akan sungkan-sungkan lagi bertindak!” dengus Rudapaksi geram. Bandul besinya segera diayunkan, siap menghajar perempuan tua itu.

“Hi hi hi...! He, Rudapaksi dan Soreang! Berani betul kalian menantangku. Sudah bosan hidup, he...?!” ejek Nini Towok bernada merendahkan.

Dan begitu bandul besi berduri itu mengancam kepalanya....

“Uts!”

Nini Towok cepat merunduk, menghindari sambaran bandul berduri Rudapaksi. Namun saat itu juga Rudapaksi sudah melesat sambil melepaskan tendangan kilat. Namun, Nini Towok menyambutnya dengan tangkas. Sambil merunduk, ditangkisnya tendangan itu dengan sebelah tangannya

Plak!
Wut!

Begiru berhasil menangkis, kepalan tangan Nini Towok yang sebelah lagi cepat menghantam lurus ke dada. Seketika Rudapaksi tersentak. Maka buru-buru dia membuang diri sambil menarik bandul berdurinya kembali. Dan begitu bangkit berdiri, bandul berdurinya kembali dikelebatkan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Swing!
“Yeaaah...!”

Nini Towok cepat melesat ke udara seraya berputaran beberapa kali. Tubuhnya lalu menukik turun, dan terus menerkam ke arah lawan. Pertarungan antara mereka memang berlangsung cepat dan sengit.

Sementara itu Soreang menyadari kalau Rudapaksi tidak unggul bila sendirian menghadapi perempuan tua ini. Maka tanpa diminta lagi, dia langsung saja melompat hendak membantu. Namun sebelum hal itu dilakukan, Supit Gadar sudah lebih dulu menghadang, setelah meletakkan tubuh Pandan Wangi di tanah.

“Eit! Jangan coba-coba, selama aku masih di sini! Biarkan mereka bermain-main. Dan kau, boleh bermain denganku.”

“Keparat! Kebetulan sekali memang kau yang kuharapkan. Kucincang tubuhmu, Jahanam!” geram Soreang sambil mengacungkan pedangnya di tangan kanan.

Supit Gadar segera meladeninya dengan gerakan yang gesit. Sambaran-sambaran pedang Soreang dapat dielakkan dengan mudah. Bahkan sesekali balas menyerang. Akibatnya. laki-laki bertubuh besar itu tersentak kaget.

“Hiyaaat..!”

Bukan main geramnya Soreang melihat keadaan itu. Sama sekali tidak diperkirakan kalau murid Nini Towok ini memiliki kepandaian yang tidak berada di bawahnya. Bahkan bisa jadi kepandaiannya sendiri masih di bawah Supit Gadar.

Dan baru saja Soreang akan melipatgandakan serangannya, mendadak saja....

“Aaa...!”

Tiba-tiba terdengar pekikan kesakitan Rudapaksi. Sekilas terlihat kakinya melangkah terhuyung-huyung dengan kepala berlumuran darah. Bahkan bandul besi berdurinya sudah terlempar jauh. Tidak berapa lama kemudian, terlihat Nini Towok melontarkan satu pukulan jarak jauh disertai kebengisannya. Akibatnya, Rudapaksi terlempar jauh dengan nyawa putus sebelum menyentuh tanah.

Melihat kesadisan itu, Soreang jadi lengah. Dan kelengahan Soreang harus dibayar mahal. Supit Gadar yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu langsung menghantamkan pukulan mautnya yang bernama 'Pukulan Kelabang Api'.

Wusss!

Pukulan yang mengeluarkan cahaya kuning kemerahan itu menderu cepat ke arah lawan. Soreang tersentak dan buru-buru membuang tubuhnya ke samping. Namun tidak urung bahu kirinya terkena hantaman pukulan.

“Uts!”
Plak!

Soreang kontan meringis kesakitan. Sementara, Supit Gadar terus bergerak cepat tanpa memberi hati sedikit pun juga. Meski Soreang berusaha membabatkan pedangnya, namun mudah sekali dapat dielakkan. Sebaliknya, telapak tangan Supit Gadar malah meluncur deras ke arah batok kepalanya.

Prak!
“Aaa...!”

Soreang kontan terpekik, begitu batok kepalanya jadi sasaran telapak tangan lawan. Tubuhnya terhuyung-huyung dengan kepala retak dan mengucurkan darah. Namun rupanya serangan Supit Gadar tidak berhenti di situ saja. Buktinya....

“Yeaaah...!”
Des!

Tubuh Soreang terjungkal dan tidak sempat berteriak lagi, begitu Supit Gadar mencelat melepaskan pukulan mautnya. Saat itu juga Soreang ambruk ke tanah. Sedangkan Supit Gadar langsung berkacak pinggang.

“Sudah, tinggalkan saja mereka. Ayo kita berangkat,” sentak Nini Towok, seraya melesat pergi menembus kegelapan Hutan Dandaka.

“Baik, Eyang.” sahut Supit Gadar, langsung menyambar tubuh Pandan Wangi. Dan langsung melesat, mengikuti jejak gurunya.

********************

LIMA

Sebuah gerobak pedati yang ditarik seekor kuda terlihat berlari kcncang seperti dikejar sesuatu. Kusirnya seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Kepalanya botak dan dipenuhi kudis. Tubuhnya kekar dan bertelanjang dada. Pada wajahnya tampak dipenuhi cambang bauk. Tak salah lagi. Dialah Kebo Koneng, murid Nini Towok yang sedang mendapat tugas edan dari gurunya.

Sementara di dalam pedati bergeletakan dua sosok pemuda dalam keadaan tidak berdaya. Tubuh mereka kekar dan berwajah tampan. Sedangkan wajah Kebo Koneng tampak gelisah penuh kekesalan. Sambil menengadah menatap langit, sesekali mulutnya mendesah kesal. Waktunya tidak lama lagi. Sementara dia baru mendapatkan dua pemuda. Padahal gurunya meminta lima orang pemuda. Dan kalau kembali tanpa memenuhi syarat itu, jangan harap mendapat ampunan dari gurunya. Bahkan bisa jadi nyawanya malah terancam.

Tak berapa lama kemudian, Kebo Koneng memasuki sebuah mulut desa. Seketika laju pedatinya dihentikan dan diamankannya di tempat yang tersembunyi agar tidak diketahui orang lain. Kemudian, dia berjalan kaki memasuki desa itu, menyusuri sebuah sungai kering.

Namun belum jauh berjalan, tampak terlihat seorang laki-laki cebol berjanggut panjang berwarna putih, dengan tenangnya duduk memancing di tepi sungai. Kebo Koneng melirik sekilas. Tampak orang tua itu meletakkan umpannya di genangan air yang dangkal sekali. Bahkan dasar airnya pun terlihat Kebo Koneng jadi geli sendiri, menganggap orang tua cebol itu tidak waras pikirannya.

“Ssst... Awas, jangan mendekat dulu. Umpanku mengena!” seru laki-laki tua bertubuh cebol itu sambil meletakkan telunjuk ke bibir.

Dahi Kebo Koneng jad berkerut. Masalahnya, laki-laki cebol itu sama sekall tidak menoleh kepadanya. Lagi pula, sedikit pun tidak terlihat kalau umpannya sedang dimakan ikan. Tak lama kemudian, Kebo Koneng berjalan hati-hati.

“Sial! Dasar tuli...!” maki laki-laki cebol itu.

Kebo Koneng tersentak. Makian orang tua itu pasti ditujukan padanya, karena tidak ada orang lain lagi selain dirinya.

“He, Orang Tua! Siapa yang kau maki...?!” bentak Kebo Koneng gusar.

“Setan! Betul-betul tuli orang ini. Disuruh diam, malah tambah ribut!” dengus si cebol, tetap tanpa menoleh sedikit pun. Wajahnya masih cermat menatap mata kailnya.

“Kurang ajar! He, Cebol! Jangan sembarangan bicara. Atau, kau ingin mulutmu yang bau itu kurobek..!”

Mendengar bentakan itu, si cebol bukannya menoleh dan menunjukkan kemarahan, tapi malah tertawa-tawa. Sepertinya, kata-kata Kebo Koneng dianggapnya sangat lucu. Tentu saja hal itu membuat hati Kebo Koneng semakin panas. Dihampirinya orang tua itu. Dan dengan geram, ditedangnya sekuat tenaga.

Wut!

“Sudah tuli, eh, malah kurang ajar lagi! Dasar setan goblok!” bentak laki-laki cebol itu, seraya menghindari dengan merebahkan tubuhnya.

“Keparat...!” Kebo Koneng semakin geram saja, ketika melihat si cebol melesat, lalu duduk tenang di sebuah cabang pohon yang berada di atasnya.

“Mukamu yang keparat, Goblok!” balas si cebol sambil memaki lagi.

Kebo Koneng mendengus geram. Kemarahannya semakin meluap. Mendadak, tangan kanannya disorongkan ke atas sambil membentak keras. “Mampus...!”

Prasss!

Selarik sinar ungu langsung melesat ke atas, menghantam orang cebol itu. Akibatnya, cabang pohon yang diduduki hancur berantakan, tapi tubuh si cebol sendiri telah lenyap entah ke mana.

“He he he...! Ternyata tidak sia-sia si kuntilanak Nini Towok itu mengajarimu pukulan 'Penghancur Tulang'. Pukulan itu memang hebat, tapi hanya untuk batang kayu. Tapi kalau untuk tubuhku, kau harus belajar sepuluh tahun lagi, Bocah....”

Kebo Koneng jadi terkejut dan berbalik ketika tahu-tahu si cebol sudah berada di belakangnya. Lebih kaget lagi ternyata pukulan yang barusan dilancarkannya diketahui si cebol. Dipandangrnya orang tua itu tajam-tajam. Mungkinkah dia teman Eyang Guru...? Tapi, Eyang Guru pernah berkata kalau tidak memiliki teman seorang pun. Semua tokoh persilatan telah memusuhinya. Baik dari golongan lurus, maupun dari golongan sesat.

“Hei, Orang Tua Cebol! Siapa kau sebenarnya?! Dan, dari mana kau tahu pukulan yang kukerahkan tadi...?!” tanya Kebo Koneng dengan suara serak bernada curiga.

“He he he...! Dasar bocah goblok! Kau pikir di kolong langit ini siapa yang tidak tahu segala yang dimiliki gurumu, heh?! Ilmu kuntilanak yang haus perjaka itu bukan rahasia lagi, Tolol!”

“Kurang ajar! Berani kau menghina guruku! Kuhajar kau, Cebol Sial!”

“He he he..! Aku jadi sangsi apakah kau mampu menghajarku, Bocah Tolol! Ayo ke sinilah kalau ingin kepalamu kukemplang!” sahut orang tua cebol itu, terus mengejek.

“Keparat! Hiyaaat..!”

“Uts! Seranganmu kurang bermutu. Kau harus belajar sepuluh tahun lagl,” ledek laki-laki cebol itu, seraya mengelak.

“Phuih! Tutup mulutmu! Sebentar lagi akan kurobek mulutmu!”

“He he he...!”

Berkali-kali Kebo Koneng melepaskan serangan-serangan bertubi-tubi, namun sedikit pun tidak ada yang membuahkan hasil. Orang tua bertubuh cebol itu betul-betul membuktikan ejekannya. Bahkan sama sekali tidak memandang sebelah mata pada serangan maupun pukulan maut yang dilancarkan Kebo Koneng, Malah, serangan baliknya membuat Kebo Koneng jadi tersentak kaget.

“Huh!” Kebo Koneng mencoba menghindar dari sodokan kaki lawan, dengan memiringkan tubuhnya ke kiri. Namun laki-laki cebol itu melepaskan sabetan tangan kiri yang menderu ke arah dada lawan. Tidak ada kesempatan bagi Kebo Koneng untuk menghindar.

Desss!

“Aaakh...!” Kebo Koneng kontan menjerit kesakitan sambil terhuyung-huyung ke belakang begitu terhantam pukulan telak.

“Apa kataku? Ilmu yang kau miliki masih mentah, tapi sudah sok jago!” ejek orang tua cebol itu

Maka semakin gusar saja Kebo Koneng mendengar kata-kata laki-laki cebol itu. Satu hal yang membuatnya penasaran adalah, bagaimana mungkin lawannya mampu memasukkan pukulan? Padahal selama ini, dia beranggapan ilmu silatnya sudah cukup hebat. Betapa tidak...? Sebab, gurunya sendiri yang mengatakannya. Tapi si cebol ini, sama sekali tidak merasakan kesulitan menghadapinya. Bahkan terlihat memandang rendah sekali.

“Orang tua! Maaf, aku tidak bisa meladenimu lebih lama. Kalau tidak punya urusan lain, sudah sejak tadi kepalamu kupecahkan. Kapan-kapan kita teruskan urusan kita,” kata Kebo Koneng dengan nada mengalah.

“Ha ha ha...! Siapa yang peduli dengan urusanmu? Kau sendiri mengganggu urusanku!”

“He, urusanmu yang mana yang kuganggu...?”

“Dasar goblok! Hei! Bukankah kau tadi melihat aku sedang apa?” tuding orang tua cebol itu. Matanya mendelik garang, persis seperti sedang memarahi bocah yang berbuat salah.

“Orang tua! Mungkin kau telah pikun, atau sudah gila. Mana ada orang memancing di air yang dalamnya kurang dari sejengkal? Lagi pula, mana ada ikan di tempat seperti itu? Dan lagi, aku tidak pernah mengganggu urusan memancingmu, heh...?!” sahut Kebo Koneng merasa menang.

“Dasar tolol! Siapa yang mengatakan kalau aku sedang memacing ikan...?”

Kebo Koneng tersedak. Seketika kejengkelannya semakin menjadi-jadi mendengar jawaban ngawur si cebol yang mau menang sendiri saja.

“Orang tua sinting! Siapa pun tahu kalau alat yang kau gunakan itu untuk memancing, Kalau tidak, apa urusannya kau berada di sini sambil memegang alat pancingmu...?”

“Dasar otak bebal! Kau sendiri yang mengatakan kalau tempat ini tidak layak untuk memancing. Jadi, mana mungkin aku memancing ikan seperti yang kau duga. Aku tidak setolol dirimu, bocah!”

“Jadi apa yang kau kail?” tanya Kebo Koneng, mencoba menahan sabar.

Orang tua cebol itu hanya terkekeh kecil. “Apakah kau tidak melihat, apa yang kudapat?"

Kebo Koneng jadi mengernyitkan dahinya

“Ha ha ha...! Dasar bocah dungu. Aku sudah mendapat kakap jelek yang kepalanya botak penuh koreng, dan badannya bau seperti tahi kebo. Nah, itulah yang kudapatkan,” sahut orang tua cebol itu sambil terkekeh.

Bukan main kalapnya Kebo Koneng mendengar kata-kata itu. Jadi, dirinya yang dimaksud orang tua cebol ini?

“He. Cebol! Apa yang kau inginkan dariku?!” bentak Kebo Koneng garang.

“Kepalamu yang jelek itu untuk kutendang.” sahut orang tua cebol itu.

“Keparat!”
“Heh! Memakilah sepuasmu....”

“Huh! Rupanya harus kupecahkan dulu kepalamu, sebelum aku pergi!” dengus Kebo Koneng. Langsung dia melompat dan menyerang orang tua cebol itu.

“He he he...! Berani juga rupanya kau...”
“Yeaaa...!”

Kembali Kebo Koneng menyerang lawannya dengan kalap dan bertubi-tubi. Agaknya dia bermaksud menghabisi jiwa laki-laki cebol itu dalam waktu singkat. Tapi, hal itu ternyata tidak mudah. Karena selain gesit dan lincah, orang tua cebol itu sendiri kelihatan tenang-tenang saja. Sedikit pun tak terlihat kalau terdesak. Bahkan tampaknya sengaja mempermainkan lawan dengan terus-menerus mengelak untuk menguras tenaga Kebo Koneng. Dan dia hanya sekali balas menyerang, untuk membuat lawan terkejut dan jungkir balik menyelamatkan diri.

“Hiyaaat...!”

Dan ketika Kebo Koneng menyerang dengan melepaskan tendangan setengah putaran, laki-laki cebol itu memapaknya dengan tangan kanan.

Plak!

Mendapat papakan seperti itu, tubuh Kebo Koneng jadi melintir berbalik. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan si cebol. Dengan gerakan cepat, tubuhnya melesat sambil melepaskan saatu pukulan keras ke perut.

Diegk!
“Aaakh!”

Kebo Koneng kembali terpekik, ketika perutnya terkena hajaran telak lawannya. Tubuhnya langsung terhuyung-huyung ke belakang diiringi tawa orang tua cebol itu.

“He he he...! Ayo, keluarkan segala kemampuan yang kau miliki! Umbarlah pukulan 'Penghancur Tulang' yang kau miliki itu untuk menghadapiku!” ledek si cebol.

“Keparat! Kau harus mati. Cebol!” dengus Kebo Koneng cepat kembali menyerang lawan dengan garang.

“Hup! Bagus..!”
“Yeaaa...!”

“Uts...! Hebat! Pukulan “Penghancur Tulang'mu lagi-lagi hanya mengenai angin. Kenapa? Apa kau sudah takut menghadapiku? He he he...!”

“Setan!”

“Hei?! Jangan memaki! Lebih baik, pecahkan kepalamu yang bodoh dan jelek itu!”

“Sial!”
“Ha ha ha...!”
“Hiyeaa…!”

“Hm.... Kini bersiaplah menerima kematianmu!” dengus orang tua cebol itu sambil memasang wajah bengis. Begitu selesai bicara, laki-laki cebol itu tampak membuka jurus dan mulai melancarkan serangan cepat bertenaga dalam kuat ke arah Kebo Koneng

“Yeaaa...!”
“Uts!”

Kebo Koneng langsung jungkir balik menghindari diri dari serangan lawan yang bertubi-tubi. Dan begitu bangkit kembali, lagi-lagi datang sebuah serangan. Terpaksa Kebo Koneng harus memapaknya, karena untuk menghindar sudah tidak mungkin. Maka....

Plak!

Tubuh Kebo Koneng terjajar beberapa langkah begitu tangannya beradu dengan tangan si cebol. Bahkan tangannya terasa nyeri seperti kesemutan. Dari sini bisa dilihat kalau tenaga dalamnya kalah jauh.

Sementara itu, begitu melihat lawannya terjajar, si cebol segera berlari menyusur tanah. Langsung dilepaskannya satu pukulan telak ke dada, begitu dekat dengan lawannya.

Bugk!
“Aaakh...!”

Kembali Kebo Koneng memekik ketika satu pukulan telak bersarang di dadanya. Tubuhnya langsung terpental dengan isi dada terasa seperti remuk. Tapi serangan orang tua cebol itu tak berhenti sampai di situ. Sebelum tubuh Kebo Koneng menyentuh tanah, tubuhnya telah lebih dulu melesat kembali sambil mengirim serangan susulan. Kali ini, agaknya bisa dipastikan kalau nyawa Kebo Koneng berada di ambang neraka. Namun, belum juga serangannya mendarat di tubuh Kebo Koneng, mendadak....

“Ki Dara Pincung, harap kau sudi memberikan kesempatan padaku untuk menghukum si keparat itu!” Tiba-tiba terdengar bentakan kecil dan nyaring.

“Siapa?!”

Laki-laki cebol itu seketika menghentikan serangannya. Tiba-tiba saja tidak jauh dari situ berdiri sesosok laki-laki tua berkumis dan berjanggut panjang yang telah memutih. Sorot matanya yang lembut, namun menunjukkan kegarangan dan kebencian yang memuncak terhadap Kebo Koneng. Orang tua gagah bertubuh agak kurus itu membawa sebilah pedang di punggungnya. Tubuhnya lalu membungkuk memberi salam penghormatan kepada orang tua cebol yang dipanggil Ki Dara Pincung

“Oh! Kukira siapa. Tidak tahunya sobatku. Ki Ageng Kunir. Hm.... Ada urusan apa kau dengan kecoa busuk ini. Ki?” tanya Ki Dara Pincung bernada ramah, setelah menghentikan serangan mautnya pada Kebo Koneng.

“Mereka sudah menewaskan kedua muridku,” sahut laki-laki tua yang dipanggil Ki Ageng Kunir geram.

“Hm. Dari mana kau tahu itu?”

“Sebentar lagi, si keparat itu akan mengaku...”

Ki Dara Pincung hanya mendiamkan saja ketika Ki Ageng Kunir mendekati Kebo Koneng dengan wajah geram.

“He, Keparat! Apa kau tidak mengaku sudah mencelakai dua muridku...?” bentak Ki Ageng Kunir dengan sorot mata tajam.

“Oh! Siapa... siapa kau...?” tanya Kebo Koneng berusaha bangkit sambil mendekap dadanya yang terasa sakit bukan main.

“Aku Ki Ageng Kunir. Nah, apakah kau masih mau mengelak...?"

Pada dasarnya Kebo Koneng adalah orang yang tolol dan tidak tahu banyak seluk-beluk tokoh persilatan. Dia juga tidak punya teman, selain Supit Gadar. Jadi tidak pernah terpikir dalam benaknya kalau perbuatannya selama ini berakibat buruk dan ada orang yang menagih hutang nyawa. Maka ketika Ki Ageng Kunir berkata demikian, dia hanya semakin bingung saja. Sama sekali tidak dimengerti apa maksud perkataan orang ini

“Keparat! Kau masih pura-pura, heh...?!” geram Ki Ageng Kunir sambil mengayunkan kaki kanannya.

Tak!
"Akh...!“

Kebo Koneng menjerit keras ketika dagunya dihajar Ki Ageng Kunir. Tubuhnya sampai terjungkal ke belakang dengan beberapa buah gigi tanggal. Sehingga mulutnya berlumur darah Ki Ageng Kunir segera mendekati sambil berkacak pinggang.

“Aku tak peduli kau mampu atau tidak melawanku. Tapi, kau akan mampus kalau tak mengaku juga!”

“Eh…! Aku…, aku tak tahu apa yang kau maksud..."

“Sial! Hei! Muridku yang laki-laki ditemukan mati dengan muka pucat. Sedangkan muridku yang perempuan pun demikian, setelah dinodai dengan keji. Mayat mereka dibuang begitu saja di bawah jurang Hutan Dandaka. Nah, apakah kau akan mengelak?!"

“Eh! Apa..., apakah murid-muridmu itu adalah pemuda bersenjata kapak dan gadis bersenjata pedang...?”

“Nah! Ternyata ingatanmu masih baik, bukan? Hih!”

Begkh!
“Akh...!”

Kebo Koneng kembali terkapar di tanah, begitu mendapat hantaman keras. Lagi pula, Ki Ageng Kunir tak ingin Kebo Koneng mati begitu saja. Dia memang harus disiksa dulu, dan harus mati pelan-pelan. Rasanya keenakan baginya bila langsung mati.

“Ayo, bangkit! Lawanlah aku jangan mereka yang bau kencur dan tak tahu apa-apa! Ayo, lawan gurunya ini!”

Wut!
Des!

Ki Ageng Kunir kembali menghajar Kebo Koneng, namun tidak disertai tenaga dalam. Dan agaknya dia tak memberi kesempatan sedikit pun kepada Kebo Koneng. Amarahnya ditumpahkan kepada Kebo Koneng. Dia tak peduli, apakah Kebo Koneng melawan atau tidak.

Laki-laki berkepala botak penuh koreng itu berkali kali menjerit kesakitan. Tubuhnya yang memang sejak tadi sudah lemah, semakin tak berdaya saja

“Ayo, lawan! Bangun dan keluarkan seluruh ilmu silatmu yang hanya buat menakut-nakuti muridku yang masih bau kencur dan tak bisa apa-apa!” teriak Ki Ageng Kunir jengkel.

Sekujur tubuh Kebo Koneng terasa luluh lantak dan amat tak berdaya. Darah telah mengucur dari kepala, hidung, mulut, dan telinganya. Jerit kesakitan seperti tak pernah berhenti keluar dari mulutnya. Namun, belum terlihat tanda-tanda kalau Ki Ageng Kunir akan menyudahi siksaannya. Agaknya orang tua itu masih garam bercampur dendam atas kejadian yang menimpa kedua muridnya.

Sementara, Ki Dara Pincung sandal hanya terkekeh kekeh kecil sambil menggeleng melihat perbuatan sobatnya. Namun....

“Orang tua busuk, hentikan perbuatanmu! Akulah lawanmu!”

“Hah?!”

Seketika kedua orang tua itu tersentak. Dan begitu mereka berbalik, tampak laki-laki berambut tipis berwajah penuh cambang bauk sudah berdiri di depan mereka. Tubuh orang itu bertelanjang dada. Sorot matanya tajam menusuk, dan hawa amarah terlihat jelas di wajahnya.

“Hm... Kau pasti kawannya juga!” bentak Ki Ageng Kunir garang

“Benar Namaku Supit Gadar!”

ENAM

“He he he...! Ini yang namanya ular mendatangi penggebuk!” sahut Ki Dara Pincung sambil terkekeh-kekeh

Sebaliknya, Ki Ageng Kunir wajahnya tampak semakin kelam dan sorot matanya bertambah garang. Perlahan-lahan namun pasti, dihampirinya laki-laki yang baru tiba di tempat itu

“Hm.... Jadi kau pun muridnya si Nini Towok? Bagus!” dengus laki-laki tua itu dingin

“Dua orang tua bangka busuk! Apakah kalian tak malu mengerubuti seorang yang telah tak berdaya?!”

“Mana lebih busuk ketimbang dua orang berjiwa binatang yang menewaskan dua orang muridku yang tak bersalah secara kejam?”

“Apa maksudmu?” tanya Supit Gadar sambil mengerutkan dahi.

“Jangan bertanya! Tapi, akui saja perbuatan biadab kalian!”

“Kisanak! Aku semakin tak mengerti, apa yang tengah kau bicarakan?”

“He he he… Maling biasanya lebih suka lempar batu sembunyi tangan. Tapi bau busuk yang disembunyikan pasti akan tercium orang lain!” sindir Ki Dara Pincung acuh tak acuh.

“Orang tua cebol! Apa maksud kata-katamu itu? Yang kutahu kalian hanya dua orang tua hina yang melakukan pengeroyokan terhadap temanku. Dan kini, kalian malah mencari alasan untuk memojokkanku! Phuih! Sungguh perbuatan memalukan!”

“He he he.. ! Pintar kau bicara, Bocah. Tapi lebih banyak busa yang keluar dari mulutmu yang bercampur bau busuk dan amat menjijikkan” sahut Ki Dara Pincung tenang

“Kurang ajar! Heh, Orang Tua! Tak usah banyak berbasa-basi segala. Apa yang kalian inginkan sebetulnya?!” dengus Supit Gadar semakin geram.

“Kalau aku. Ingin langsung mengemplang kepalamu. Dan temanku, barangkali ingin mengorek jantungmu buat dijadikan kalung di lehernya,” sahut Ki Dara Pincung masih terus bersikap tenang.

“Setan!”

“Hei! Jangan banyak memaki. Sini kau, biar kukemplang!

Supit Gadar tak bisa menahan amarahnya lagi. Dan begitu kata-kata orang tua cebol itu selesai, tubuhnya langsung melesat mengirim serangan bertenaga kuat

“Yeaaa...!”

“Ki Dara Pincung! Biarkan aku yang mengemplang anak sok jago ini!” dengus Ki Ageng Kunir sambil melompat memapak serangan Supit Gadar

“Hm... Terserah kau saja. Sobat!” Dan...
Plak!
Wut!

Supit Gadar tersentak kaget ketika telapak tangannya beradu dengan tangan lawan. Terasa perih, dan membuat jantungnya bergetar tak menentu. Memang masih belum disadarinya, apa yang menyebabkan. Yang jelas dia mulai menduga kalau lawan memiliki kemampuan yang tak bisa dianggap remeh. Apalagi ketika orang tua itu bukannya menahan serangannya, tapi malah berbalik ganas menyerang secara bertubi-tubi.

“Hm… Ilmu silatmu lumayan hebat, Orang Tua. Siapa kau sebenarnya?”

“Siapa yang peduli pujianmu, Kutu Busuk?! Aku hanya peduli nyawamu untuk menebus kematian kedua muridku yang telah kalian bunuh dengan keji."

“Kedua muridmu...? Ya…, ya. Aku ingat seorang pemuda dan seorang gadis berwajah manis. Eh! Tahukah kau, Orang Tua? Gadis itu amat menawan dan membuat gairahku nyaris tak berhenti. Dia cukup memuaskan kami berdua.” Supit Gadar tersenyum-senyum kecil ketika mengatakan hal itu. Supit Gadar memang bermaksud memancing kemarahan lawannya yang memang telah memuncak. Dan kalau sudah begitu, biasanya perhatiannya akan kacau-balau. Tapi, sebenarnya Supit Gadar salah perhitungan. Meskipun Ki Ageng Kunir semakin geram mendengar kata-kata Supit Gadar, justru serangan-serangannya semakin ganas dan berbahaya.

“Binatang keparat! Kau akan mampus lebih dahulu!”

“Uts! “

Supit Gadar memang berhasil mengelakkan satu pukulan tangan kanan lawan. Namun, ternyata tendangan kaki Ki Ageng Kunir lebih cepat lagi menyambar ke arah perutnya.

Des!
“Aaakh...!”

Supit Gadar terjajar limbung disertai pekik kesakitan. Sementara itu Ki Ageng Kunir melompat, tanpa memberi kesempatan kepada lawan.

“Yeaaa…! Uts, Setan!”

Ki Ageng Kunir memaki geram sambil membuang tubuhnya ke samping, ketika Supit Gadar dalam keadaan bahaya begitu masih sempat melepaskan pukulan mautnya, ‘Kelabang Api’. Selarik sinar merah kekuningan yang berhawa panas itu menderu dan nyaris menghantam tubuh Ki Ageng Kunir kalau tak sempat dihindari.

“He he he...! Hati-hati kau, Kunir. Salah salah kau malah nanti yang dicundangi bocah itu dengan pukulan picisannya!” teriak Ki Dara Pincung mengingatkan sambil tertawa-tawa kecil.

“Terima kasih, Pincung! Mudah-mudahan kau sendiri juga tak lengah. Salah salah pukulan busuknya itu merebus dirimu!” sahut Ki Ageng Kunir tersenyum lebar.

“Sial!” jawab Ki Dara Pincung menggerutu kesal.

Ki Ageng Kunir terkekeh kecil. Tapi tiba-tiba....

“Akh...!“
“Hah?!”

Mendadak mereka semua yang ada di situ di kejutkan oleh jerit tertahan Kebo Koneng. Dan ternyata seseorang telah muncul di tempat itu, dan langsung memancung leher Kebo Koneng yang telah tak berdaya dengan bengis.

Supit Gadar tersentak kaget. Padahal walaupun terkejut, saat itu juga Ki Ageng Kunir melancarkan serangan pukulan maut berisi tenaga dalam penuh. Maka....

Begkh!
“Aaakh!”

Tak ayal lagi, Supit Gadar memekik kesakitan dengan tubuh terjungkal menyemburkan darah segar dari mulutnya. Dada kirinya seperti remuk dan jantungnya pecah terkena hantaman lawan. Begitu jatuh di tanah, tubuhnya menggelepar-gelepar sesaat, kemudian diam tak bergerak gerak lagi. Mati.

“Bidara Condong! Hm... kukira siapa,” sahut Ki Dara Pincung bernada datar, ketika melihat kehadiran seorang laki-laki berambut gondrong dengan dahi lebar dan ubun-ubun botak. Pedang besarnya masih berlumur darah. Dan matanya tajam memandang kedua orang tua itu sekilas.

“Aku tak peduli siapa kalian. Tapi, siapa pun yanq berurusan dengan Nini Towok, mesti mampus di tanganku!” sahut laki-laki berpakaian serba hitam dan kalung penuh kepala tengkorak yang dipanggil Bidara Condong. Setelah berkata demikian. Bidara Condong langsung pergi meninggalkan mereka.

“Manusia aneh tak beradat!” umpat Ki Dara Pincung.

Ki Ageng Kunir hanya tersenyum kecil. “Ki Dara Pincung, terima kasih atas bantuanmu Maaf, aku harus pergi ke Hutan Dandaka sekarang juga untuk meminta pertanggungjawaban Nini Towok,” ucap Ki Ageng Kunir bersiap pergi.

“He, tunggu dulu!”

“Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan, Ki?”

“Sial! Memangnya kau saja yang berurusan dengan kuntilanak itu? Ayo, berangkat!” sahut orang tua cebol itu sambil melesat pergi.

Ki Ageng Kunir menggeleng pelan sambil tersenyum kecil, mengikuti orang tua cebol di sampingnya.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Sementara di tempat lain, Nini Towok tengah memandang Pandan Wangi sambil menyeringai kecil. Suasana ruangan itu agak temaram. Dan satu-satunya cahaya yang menerangi hanya obor kecil yang tergantung di dinding pondok. Sehingga, perempuan tua itu tak terlalu memperhatikan perasaan geram yang terbias di wajah Pandan Wangi. Gadis itu memang sudah siuman, namun masih dalam keadaan tertotok.

“He he he...! Sebentar lagi kekasihmu akan datang ke sini...!”

“Huh! Jangan terlalu yakin! Dia tak peduli sama sekali!”

“Hm, begitu? Kalau sampai besok dia tak datang, kau akan kuserahkan pada kedua muridku!” sahut Nini Towok dingin.

Pandan Wangi bergidik ngeri mendengar kata-kata Nini Towok. Betapa tidak! Terbayang sesuatu pengalaman nista yang akan dialaminya. Terbayang dalam ingatannya ketika bola mata Supit Gadar yang rakus menjilati seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki. Padahal, melihat wajah jelek dan menakutkan itu saja, perutnya sudah mual. Apalagi kalau setan itu sampai menggerayangi tubuhnya. Mungkin Pandan Wangi akan pingsan, karena tak kuat menahan amarah dalam ketidakberdayaannya

Nini Towok sendiri agaknya perempuan cerdik. Dia tahu Pandan Wangi hanya ditotok oleh Supit Gadar. Meskipun totokan itu kuat, namun gadis itu bukan wanita sembarangan. Tenaga dalamnya cukup kuat, sehingga bisa jadi akan mampu melepaskan diri secara diam-diam. Dia berpura-pura tetap tidak berdaya, kemudian membokong di saat lengah. Itulah sebabnya, gadis ini diikat dalam sebuah tonggak. Kedua tangan dan kaki Pandan Wangi diikat kuat-kuat dengan tambang dari oyot-oyot pohon yang lentur dan tidak mudah putus.

“Hi hi hi.! Kenapa kau diam? Takut...?” ejek Nini Towok sambil terkikik pelan.

“Phuih! Apa yang kutakutkan padamu?”

“O, tentu.... Tentu saja kau tidak takut padaku. Aku percaya. Tapi ketika dua muridku menggerayangi tubuhmu, apa kau masih tidak takut juga ? Hi hi hi..."

“Perempuan setan! Kau benar-benar terkutuk. Manusia binatang...!” maki Pandan Wangi geram.

Nini Towok hanya terkikik mendengar makian yang dilontarkan Pandan Wangi. Dan sebenarnya, dia tidak tahu kalau kedua muridnya tak akan muncul lagi di hadapannya.

“Hi hi hi..! Memakilah sepuasmu, sehingga akan semakin membuatku senang.”

“Dasar binatang!”

“He?! Kau akan lihat sendiri, apa kekasihmu itu lebih baik dariku...?”

“Huh! Mudah-mudahan kau akan mampus ditangannya.”

“Hi hi hi..! Begitukah kau menilaiku? Nini Towok bukanlah orang sembarangan, Cah Ayu. Dan kekasihmu hanya kelinci nakal yang akan memuaskan rasa laparku saja. Apa susahnya menangkap seekor kelinci...?”

“Kau terlalu sombong, Perempuan tua. Kau belum mengenal Pendekar Rajawali Sakti.”

“Hm, kenapa tidak? Aku sudah banyak mendengar cerita mengenai kekasihmu. Bahkan aku pernah melihatnya juga. Tapi ya.... tentu saja dia tidak mengenaliku. Karena saat itu, aku tidak memperkenalkan diri.”

“Apa kau tak malu pada dirimu sendiri?”

“Malu...? Kenapa harus malu?” Nini Towok malah balik bertanya.

“Berkacalah di mata air sana. Dan kau akan melihat kulit-kulit tubuhmu yang sudah keriput dimakan usia. Sangat tidak pantas perempuan seusiamu mempunyai pikiran kotor pada pemuda-pemuda belia. Kau bukan saja berpikiran kotor, tapi perbuatanmu amat menjijikkan. Tidakkah terbersit dalam hatimu untuk menyadari kekeliruanmu? Atau, barang kali memang kau gila dan memiliki kelainan...?”

Nini Towok memandang tajam ke arah Pandan Wangi. Wajahnya yang tadi cerah, tiba-tiba berubah tegang. Bahkan menakutkan. Tanpa sadar, Pandan Wangi jadi bergidik ngeri membayangkan wajah perempuan tua yang mengerikan itu.

“Hm... Kau tahu apa tentang kehidupan Cah Ayu..? Hidupmu hanya dipenuhi kesenangan dan kemewahan belaka. Pernahkah kau merasakan kesengsaraan. dijauhi semua orang, dan hidup dalam penderitaan lahir batin? Coba bayangkan dan pikir, apa kira-kira yang akan kau lakukan bagi kehidupanmu sendiri dan bagi orang lain yang memusuhimu?” tanya Nini Towok dingin.

Pandan Wangi terdiam. Dipandangnya perempuan tua itu sekilas. Kemudian, kepalanya menunduk lesu. Kata-kata perempuan tua itu dikeluarkan lewat nada yang pahit dan getir. Tapi sebenarnya apa yang dituduhkan perempuan tua ini terhadap Pandan Wangi tidak semuanya benar. Dan mungkin Pandan Wangi bisa menyadari, kalau penderitaan yang pernah dialaminya, tidak setara dengan penderitaan Nini Towok. Tapi benarkah begitu? Paling tidak bisa dirasakannya lewat nada suara dan sorot mata perempuan tua itu.

“Hhh ... itu masa lalu. Dan setiap orang mempunyai masa lalu yang berbeda.'' lirih sekali suara Nini Towok meneruskan kata-katanya.

Pandan Wangi semakin merasakan kegetiran yang dialami perempuan tua itu lewat helaan napas dan nada suaranya.

“Sudahlah. Ada baiknya kau bersiap-siap, Cah Ayu,” mendadak Nini Towok berdiri tegak

Pandan Wangi merasakan kalau perempuan tua ini sedang menunggu seseorang. Atau, mungkin beberapa orang. Mungkin juga kedua muridnya. Dan...

“Nini Towok! Keluar kau, Perempuan Jalang!”

Pandan Wangi tersentak dan mengangkat kepala ketika terdengar bentakan dari luar. Namun, perempuan tua itu malah tampak tersenyum. Kemudian sambil memandangnya sekilas, dia berjalan menuju pintu.

“Mereka telah datang...."
“Siapa mereka?” tanya Pandan Wangi.
Nini Towok diam membisu.

Pandan Wangi tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Lewat celah-celah dinding, yang terlihat hanya suasana gelap di luar yang berubah terang. Sementara di luar, beberapa orang tampak membawa obor. Senja memang baru saja berlalu. Namun, suasana di hutan ini seperti malam pekat

Nini Towok menyeringai dingin di depan pintu sambil memandangi mereka satu persatu. Tampak lebih dari sepuluh tokoh persilatan sudah mengepung pondoknya rapat-rapat. Wajah mereka tampak garang dan penuh amarah, yang terlihat oleh cahaya obor.

“Nini Towok! Tidakkah kau merasa jera akibat perbuatanmu di masa lalu?! Dan kini, kau bersama kedua muridmu membuat kekacauan di mana-mana. Hm.... Kami tidak bisa mendiamkan begitu saja. Dan kau akan menerima hukumannya!” kata salah seorang pembawa obor itu dengan suara lantang.

“Sudira! Apakah aku pernah berjanji pada kalian untuk mengaku kalah? Hm... Kalian terlalu gegabah memasuki wilayahku. Pulanglah kalian semua, sebelum aku bertindak tegas!”

“Perempuan hina! Apa kau pikir kami takut oleh ancamanmu itu? Kau dan murid-muridmu adalah pengacau dan patut dilenyapkan dari muka bumi ini. Suruh kedua muridmu itu menyerahkan diri, juga kau...!” sahut laki-laki yang tadi dipanggil Sudira.

“Hm.... Tidak semudah apa yang kau katakan itu, Sudira. Kau boleh menangkapku dan juga kedua muridku, setelah melangkahi mayatku. Kali ini, aku tidak akan lari begitu saja dari kalian. Siapa yang ingin mampus lebih dulu, silakan maju!” tegas Nini Towok bernada mengancam.

“Kurang ajar...!”

“Sudira! Sudah jangan banyak mulut lagi. Biar kami yang akan meringkus kuntilanak keparat ini!” sungut salah seorang dengan geram. Orang itu langsung melompat ke arah Nini Towok. Sedangkan golok besar di tangannya cepat diayunkan, mengincar tubuh perempuan tua itu.

“Cokro! Hati-hati kau...!” teriak Sudira memperingatkan.

“Jangan khawatir, akan kupersembahkan kepala kuntilanak ini pada kalian!” kata laki-laki yang baru saja menyerang, dan ternyata bernama Cokro.

“Hi hi hi...! Bukankah kalau kepalamu saja yang lebih dulu kutendang?” sambut Nini Towok sambil menghindar dan balas menyerang, dengan ayunan kakinya yang menendang kepala lawan.

Wut!
Bet!
“Uts..! Shaaa!”

Laki-laki bertubuh besar bernama Cokro itu mengelak dengan gesit. Lalu langsung dibalasnya serangan Nini Towok dengan ayunan golok besarnya ke arah kaki lawan. Namun, Nini Towok lebih cepat lagi menarik kakinya. Dan dengan tubuh berputar, dia melompat melewati kepala lawannya, bermaksud menghajar ubun-ubun.

“Yeaaah...!”
“Hup!”

Melihat serangan itu, Cokro cepat berkelit ke samping sambil membabatkan goloknya ke atas. Tapi siapa sangka kalau sabetannya hanya membelah angin belaka, karena lawan sudah lenyap entah ke mana. Cokro celingukan mencari-cari, seperti orang kebingungan. Namun mendadak....

Des!
“Aaakh...!”

Tiba-tiba satu tendangan keras menghantam ulu hatinya. Laki-laki bertubuh besar itu kontan memekik kesakitan. Tendangan yang dilakukan ujung kaki perempuan tua itu keras bukan main, sehingga membuatnya terjungkal. Namun belum lagi Cokro sempat memperbaiki keadaan, tendangan selanjutnya yang tidak terduga sama sekali tidak mampu dielakkan lagi. Maka....

“Yeaaah...!”
Diegh.... Krek!
“Aaa...! “
“Cokro...!”

Ujung kaki Nini Towok tepat mendarat telak pada tulang lehernya, hingga terdengar tulang berderak patah. Tubuh Cokro terlempar dan persis jatuh di depan orang-orang itu, dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Sudira dan yang lainnya berseru kaget dan menghampin Cokro.

“Kita hajar kuntilanak itu sama-sama!” teriak Sudira memberi perintah, begiru telah memastikan kalau Cokro telah tewas.

“Hancurkan perempuan Iblis itu...!”
“Yeaaa...!”
“Hiyaaa...!”

Nini Towok hanya mendengus meremehkan melihat mereka maju berbarengan. Bahkan dia masih tampak tenang-tenang saja ketika serangan lawan dekat. Baru ketika hampir menyambar tubuhnya, dia melompat ke atas dan langsung berputaran beberapa kali. Dan dengan gerakan manis sekali, dia sudah mendarat di belakang barisan orang-orang itu. Dan langsung dihajarnya salah seorang yang berada di dekatnya.

Begkh!
“Akh!”
“Sial..!”
“Hati-hati! Kuntilanak ini semakin lihai saja...!”

Pertarungan yang tidak seimbang pun berlangsung sengit. Namun Nini Towok sama sekali tidak memperlihatkan kegentarannya. Malah dengan bengis dan kejam sekali, dihajarnya lawan satu persatu tanpa kenal ampun.

********************

TUJUH

Hari telah menjelang senja. Kegelapan mulai menyergap sekitar pinggiran Hutan Dandaka. Pada saat ini, tampak Pendekar Rajawali Sakti bersama seorang prajurit dari Kerajaan Pandarakan sudah tiba di pinggiran hutan ini. Tempat Pandan Wangi dan Panglima Sura Darma serta pasukannya menunggu. Namun suasana terlihat sepi dan tidak seorang pun terlihat.

“Apakah kau yakin mereka berada di sini?” tanya Rangga cemas.

“Aku yakin sekali.”

“Lalu, ke mana mereka sekarang?”

Prajurit itu tidak mampu menjawab, dan hanya mencari-cari lewat pandangan matanya.

“Cobalah, ingat-ingat. Barangkali kau lupa,” ujar Rangga lagi.

“Tidak. Aku yakin di sinilah mereka akan menunggu kita"

“Hm....” Rangga bergumam pelan.

“Aku.... Aku tidak berdusta. Kisanak”

“Ya, ya. Aku mengerti. Mungkin mereka sudah berpindah. Dan sebaiknya kita cari di sekitar sini,” sahut Rangga sambil menarik tali kekang kudanya. Dan mereka kini berkeliling, memutari tempat itu

“Lihat..! Ada apa di sana?!” tunjuk prajurit itu ketika melihat banyak sekali burung pemakan bangkai yang beterbangan di depan.

Melihat itu, dada Rangga jadi berdebar-debar tidak menentu. Jantungnya berdetak lebih kencang lagi. Dia memang mengkhawatirkan nasib Pandan Wangi. Harapannya, mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu pada gadis itu.

“Haaa..! Ayo, Dewa Bayu. Bawa kami ke sana secepatnya!” teriak Rangga sambil menepuk leher kudanya.

Kuda berbulu hitam itu melesat cepat bagai kilat. Dan sebentar saja, mereka sudah berada di tempat itu. Prajurit itu langsung tersentak kaget ketika melihat seluruh prajurit kerajaan yang menyertai Panglima Sura Darma telah tewas tanpa nyawa lagi. Rangga buru-buru melompat turun dari punggung kudanya, dan mencari-cari kalau-kalau Pandan Wangi ikut menjadi korban.

“Tidak ada. Ke mana dia...?” dests Rangga.
“Ada apa, Kisanak?” tanya prajurit itu.
“Pandan Wangi. Dia tidak ada di antara mayat-mayat ini,” sahut Rangga.
“Apakah kemungkinan dia ... dia diculik?”
“Apa...?! Keparat!”
Prak!

Prajurit itu terlonjak kaget ketika Rangga menghantamkan sebuah batu yang ada di dekatnya hingga hancur berantakan. Wajahnya tampak menyiratkan kegeraman yang memuncak.

“Tunjukkan padaku, di mana mereka berada,” pinta Rangga.
“Mereka...?”
“Kedua orang itu!” bentak Rangga kesal.

“Eh...! Me..., mereka pasti berada di dalam Hutan Dandaka,” sahut prajurit itu dengan tubuh gemetar dan suara tercekat di tenggorokan.

“Mari kita berangkat,” ajak Rangga, sambil melompat ke punggung kudanya.

“Ta... tapi...”

“Tapi apa? Apa kau akan mendiamkan saja semua ini terjadi? Sebagai seorang prajurit sejati sudah selayaknya kau membela kebenaran. Mereka semua mati demi menjalankan tugas. Lalu apa yang kau ragukan lagi? Ayo Ikut!”

“Di... di sana tempat tinggal Nini Towok.”
“Siapa Nini Towok?”
“Guru kedua buronan itu.”
“Huh! Siapa yang peduli padanya...?”
“Dia kejam dan berilmu sangat tinggi. A.... aku....”

“Hm.... Kau takut...? Nah, kau boleh pergi. Tapi, tunjukkan padaku letak Hutan Dandaka dan di mana persisnya sarang mereka.”

“Eh! Hutan Dandaka berada di depan mata kita, Kisanak. Tapi sarang mereka aku tidak tahu. Mungkin di dalam hutan itu.”

Rangga memandang ke depan. Tampak tidak jauh dari tempatnya berdiri, Rangga melihat segerumbulan pepohonan besar yang lebat dan gelap. Pendekar Rajawali Sakti mendesah pelan dan diam-diam menggerutu kesal. Hutan itu begitu luas, dan tanpa petunjuk jelas. Mau tidak mau, dia harus menjelajahinya.

“Betul kau tidak mau ikut?”

“Eh! Aku..., harus melaporkan hal ini ke kerajaan,” sahut prajurit itu menemukan alasan

“Baiklah. Kau boleh kembali dengan berjalan kaki,” kata Rangga.

“Berjalan kaki?” tanya prajurit itu terperanjat.

Jarak yang mereka tempuh dengan berkuda saja, sudah begitu jauh. Apalagi sepanjang perjalanan tidak terlihat sedikit pun ada mata air. Tanah-tanah retak dan pepohonan gundul. Dan dia kini harus berjalan di malam hari.

“Ya, berjalan kaki.” tegas Rangga.

Setelah berkata begitu, Rangga langsung saja memacu kudanya kencang-kencang.

“Kisanak, tunggu dulu...! Aku ikut saja!” teriak prajurit itu.

Tapi Rangga sudah melesat jauh. Dan seandainya mendengar, Pendekar Rajawali Sakti mana mau peduli lagi? Dia memang paling tidak suka pada orang penakut yang hanya mementingkan keselamatan sendiri. Padahal jelas sekali kalau tugas menangkap kedua buronan itu terletak di tangannya. Dan dia adalah salah seorang prajurit di bawah pimpinan Panglima Sura Darma yang masih tersisa.

********************

Mencari sarang dua buronan yang sebenarnya telah tewas di hutan luas ini, bukanlah pekerjaan mudah. Bahkan Dewa Bayu tidak bisa membantu banyak, sebab banyak sekali cabang serta ranting pohon rendah yang mengganggu perjalanan. Sehingga tidak jarang Pendekar Rajawali Sakti harus turun, lalu memilih berjalan kaki sambil menuntun kudanya.

Sudah sejauh ini Pendekar Rajawali Sakti berjalan, namun tidak terdengar tanda-tanda akan terlihat sarang kedua buronan itu. Udara malam semakin dingin. Dan kegelapan menyelimuti tempat itu. Malah Rangga harus mengerahkan indera pendengarannya yang tajam untuk mengawasl keadaan sekitarnya.

“Hieeeh...!”

Mendadak saja, Dewa Bayu meringkik, Rangga menajamkan pendengarannya sambil menepuknepuk leher kuda hitamnya. Memang, telinga Pendekar Rajawali Sakti mendengar ribut-ribut seperti orang tengah bertarung.

“Ya! Aku juga mendengarnya, Dewa Bayu.” ujar Rangga sambil mengikuti sumber suara yang didengarnya.

Tidak berapa lama Rangga berjalan, terlihat cahaya terang di ujung jalan. Dan sambil mengendap-endap, Rangga segera menuju sebuah pertarungan yang memang terjadi. Tampak seorang perempuan tua bertubuh kurus tengah dikerubuti beberapa orang. Namun perempuan tua itu tampak tidak terdesak sama sekali. Bahkan dari beberapa sosok mayat yang bergelimpangan di dekat pertarungan, Rangga bisa menduga kalau perempuan tua itu berada di atas angin. Diakah yang bernama Nini Towok?

“Hi hi hi…! Sudira! Sebentar lagi, kau dan anak buahmu akan mampus di tanganku!”

“Kuntilanak keparat! Kau boleh berkata apa saja. Tapi, jangan harap kami akan melepaskanmu!”

“Hi hi hi...! Boleh juga semangatmu, Sudira! Yeaaah...!”

Perempuan yang yang memang Nini Towok itu langsung melepaskan pukulan jarak Jauh andalannya yang bernama pukulan 'Penghancur Tulang'. Sementara, Sudira memang bisa menghindar. Namun....

Plak!
Plak!
“Akh...!”

Beberapa orang kontan memekik kesakitan dengan tubuh terhuyung-huyung begitu terhantam pukulan jarak jauh Nini Towok. Dan mereka langsung ambruk ke tanah dalam keadaan tubuh mengerikan. Sekujur kulit tubuh mereka hancur menjadi kecil-kecil, itulah akibat menggiriskan dari pukulan maut yang disertai aji 'Penghancur Tulang' yang dilancarkan Nini Towok.

“Perempuan iblis! Kau kira kami takut dengan ajianmu itu?! Huh...!” dengus Sudira. kembali berniat melancarkan serangan lewat jurus andalannya.

“Hi hi hi..! Sudira! Kau goblok sekali berani mengandalkan pukulan tidak berguna itu,” ejek Nini Towok sambil tertawa nyaring

“Yeaaah...!”

Sudira tidak mempedulikan ocehan perempuan tua itu. Disertai bentakan nyaring, dilepaskannya pukulan-pukulan mautnya lewat Jurus 'Pukulan Kembang Merah' berkekuatan tenaga dalam tinggi.

Pada saat yang bersamaan pula beberapa orang anak buah Sudira segera menggabungkan kekuatan menjadi satu. Namun dengan gerakan lincah sekali. Nini Towok berkelit menghindar. Bahkan kembali melepaskan pukulan jarak jauhnya.

“Hiyaaat...!”

Nini Towok menyentakkan kedua tangannya ke depan. Maka seketika meluruk secercah cahaya kuning dari kedua tangannya. Sinar kurang itu terus meluruk, dan...

Pras!
“Aaa...!”

Kembali beberapa orang kontan terpekik dan ambruk di tanah terkena pukulan jarak jauh yang dilancarkan perempuan tua itu. Mereka berkelojotan sesaat, lalu diam tak berkutik lagi. Sudira menggeram sengit. Kini, jumlah mereka tinggal bertiga. Dia tidak yakin, apakah mampu mengalahkan lawannya yang tangguh ini.

“Kenapa, Sudira? Kau mulai takut setelah kehilangan anak buahmu...?” ejek Nini Towok.

“Huh! Siapa yang takut menghadapimu? Aku akan mengadu jiwa denganmu, Nini Towok!” dengus Sudira geram. Bersamaan dengan itu, Sudira bersiap-siap melancarkan serangan. Kemudian sambil membentak nyaring, tubuhnya melesat cepat ke arah lawan diikuti dua orang temannya.

“Hiyaaat..!”

“Hm.... Manusia-manusia tidak berguna! Kalian memang lebih baik mampus saja!” dests perempuan tua itu dengan wajah menyiratkan kebengisan.

“Yeaaah...!”

Nini Towok kembali melepaskan pukulan jarak jauhnya, yang disusul meluncurnya dua buah sinar berwarna kuning dari kedua tangannya yang dihentakkan, tak ada yang tahu kalau Nini Towok melepaskan dua ajian sekaligus. Aji Penghancur Tulang dan aji Kelabang Api. Maka...

Prak!
Plak!
“Aaah...!”

Kejadian itu cepat sekali. Dan tahu-tahu, terdengar keluh kesakitan dari ketiga lawannya. Tubuh mereka langsung ambruk ke tanah tanpa nyawa lagi. Dua orang kepalanya pecah terkena aji Penghancur Tulang. Sedangkan Sudira sendiri hangus terbakar terkena hantaman pukulan jarak jauh yang disertai aji Kelabang Api yang sangat dahsyat itu.

“Chuih! Orang-orang tidak berguna seperti kalian memang harus mati!” dengus Nini Towok sambil meludah dan berkacak pinggang.

“Ya! Mereka memang layak mampus, seperti juga kau...!”

“Heh...?!”

Nini Towok tersentak kaget dan berbalik, ketika tiba-tiba ada yang menyahuti ucapannya. Matanya jadi menyipit dan menyorot tajam ke arah laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun berpakaian serba hitam yang sudah berdiri di belakangnya. Wajah orang itu lebar dan hidungnya bulat. Rambutnya panjang dan acak-acakan, seperti tak pernah diurus. Di lehernya terdapat untaian kalung dari tengkorak kepala manusia. Dengan pedang besar di pinggangnya, laki-laki itu tampak lebih menyeramkan. Apalagi saat mendengus geram seperti saat ini.

“Bidara Condong! Ada maksud apa kau jauh-jauh datang ke tempatku ini?” tanya Nini Towok dingin. saat mengenali orang yang baru datang itu.

“Untuk meminta kepalamu!”

“Hi hi hi..! Kau sekarang terlihat makin galak saja. Apalagi dalam keadaan menggeram begitu. Mana rasa sayangmu yang dulu? Apakah sekarang kau tidak menyayangiku lagi?” suara Nini Towok terdengar merdu merayu

Tapi laki-laki bernama Bidara Condong itu tidak tersenyum sedikit pun. Bahkan di wajahnya terbias perasaan geram yang memuncak.

“Perempuan liar! Jangan kau sebut-sebut lagi soal itu. Tidak cukupkah kau menewaskan kakakku?! Kau bujuk dan kau jerat dia, hingga kau berpaling dariku. Kemudian setelah itu, dia kau jadikan korbanmu. Dan kini, kau coba-coba merayuku. Phuih! Tua Bangka Keparat! Cobalah berkaca. Tubuhmu sudah peot dan wajahmu telah berkeriput. Meskipun kau masih semuda dulu. jangan harap bisa membujukku lagi. Apalagi dengan keadaanmu sekarang”

“Hi hi hi..! Sifatmu sejak dulu tak pernah berubah, Bidara. Kau tetap tegas dan gagah. Tapi, kenapa baru sekarang kau menginginkan kematianku? Kenapa tidak sejak dulu...?” sindir Nini Towok.

“Kalau dulu, itu kuanggap persoalan kalian. Lagi pula, aku masih sakit hati pada Kakang Narasoma. Tapi kini, persoalan menjadi lain. Seorang anakku diculik, saat aku tidak berada di rumah. Dan ketika kutahu kalau kedua penculik itu muridmu, tahulah aku kalau kaulah penyebabnya! Kaulah yang memerintahkan kedua muridmu untuk menculik anakku, sekadar pemuas nafsu iblismu. Dan setelah itu, dengan seenak udelmu mayatnya kau buang begitu saja. Hhh! Kau harus mampus, di tanganku, Perempuan Jahanam!” geram Bidara Condong. Suaranya terdengar bergetar menahan geram. Malah giginya terlihat bergemeretuk.

Setelah berkata begitu, Bidara Condong langsung mencabut pedangnya yang besar. Langsung diserangnya perempuan tua ini. “Mampus kau! Hiyaaat..!”

“Hup!”

Nini Towok cepat menghindar dengan gerakan lincah. Disadari betul kalau lawannya kali ini bukanlah orang sembarangan. Bidara Condong memiliki tenaga dalam kuat. Itu dapat terlihat dari angin serangannya yang menimbulkan hantaman kuat. Bahkan mampu membuat lawan sedikit bergetar, meskipun tidak mengenal sasaran.

Maka, Nini Towok merasa perlu berhati-hati menghadapinya. Dia tidak berani mengadu tenaga secara langsung, kalau tidak ingin celaka. Sebab kalau ternyata tenaga lawan lebih tinggi, dialah yang akan rugi. Tapi bila dibandingkan Bidara Condong, ilmu meringankan tubuhnya lebih tinggi setingkat. Sehingga, setiap serangan lawan mampu dihindari dengan gesit.

“Hm. Setelah sekian lama, ternyata kemajuanmu sangat pesat. Perempuan Keparat. Dan yang pasti, itu hasil perbuatan keji. Kau pandai menyerap semua ilmu korban-korbanmu'“ kata Bidara Condong sambil menghentikan serangannya.

“Hi hi hi... Kau sungguh bodoh, Bidara. Itu namanya kecerdikan! Bukan licik.”

“Tapi bukan berarti kalau aku tidak mampu mengalahkanmu.”

“Hm. Kenapa banyak mulut? Kalau memang mampu, buktikanlah.”

“Apa susahnya? Buktinya kedua muridmu sudah mampus. Dan sekarang tinggal kau sendirian.”

“Apa katamu...?!” tanya Nini Towok, kaget
“Kedua muridmu sudah mampus!”
“Bangsat! Kau yang membunuh mereka?”
“Sayang, hanya seekor bagianku.” sahut Bidara Condong kalem.

Bidara Condong berkata demikian dengan harapan perempuan tua ini akan marah. Apalagi menggunakan sebutan seekor. Dan berarti sudah penghinaan yang kelewatan sekali. Sementara, Nini Towok memang kelihatan marah sekali. Tapi bukan karena makian kata-kata seekor itu, melainkan...

“Setan! Berani benar kau mendahului aku!”

Dan kini gantian Bidara Condong yang merasa terkejut. Guru macam apa perempuan ini? Mendengar muridnya tewas dan disamakan dengan binatang, tapi malah menjawab seperti itu. Seolah dia tidak rela kalau orang lain yang menghukum kedua muridnya, karena memang bermaksud menghukumnya sendiri. Bidara Condong jadi heran. Apakah di antara mereka memang tidak sejalan? Bidara Condong buru-buru menepiskan pertanyaan terakhirnya. Dia tahu betul, perempuan tua ini sangat licik.

“Yeaaah...!”

Kini terlihat, serangan Nini Towok semakin gencar dan hebat saja. Segenap kecepatan geraknya dikerahkan untuk menghajar lawan. Akibatnya, Bidara Condong jungkir balik dibuatnya. Bahkan dalam satu kesempatan dia nyaris terkena hajaran perempuan tua itu kalau tidak buru-buru menjatuhkan diri ke bawah.

Belum juga Bidara Condong bangkit, perempuan tua itu sudah menyusuli dengan serangan selanjutnya. Maka sambil bergulingan. Bidara Condong buru-buru melepaskan ajiannya yang bernama Klambang Mekar. Ajian mengandung hawa dingin yang mampu membuat tubuh lawan membeku dan pembuluh darahnya pecah itu ternyata dihadapi Nini Towok dengan pukulan jarak jauh Penghancur Tulang disertai kekuatan penuh. Maka....

Glarrr...!

Sebuah ledakan dahsyat terdengar ketika dua ajian berbeda jenis itu beradu pada satu titik. Kemudian....

“Akh!”

Bidara Condong tiba-tiba memekik kesakitan. Tubuhnya yang memang sudah berada di tanah langsung terpental sambil memuntahkan darah segar. Bukan saja karena pukulannya tidak mampu melukai lawan, tapi justru ajiannya sendiri malah berbalik menyerangnya. Sambil menjerit-jerit kesakitan. Bidara Condong menggelepar di tanah. Tapi, Nini Towok tidak memberi kesempatan sedikit pun. Bahkan tubuhnya sudah melompat sambil berputar, dan kembali menghantamkan pukulan mautnya.

“Yaaah...!“
Pratt

Bidara Condong tak bersambat lagi ketika tubuhnya remuk tak berbentuk. Kulit tubuh dan tulang-tulangnya hancur dihantam pukulan maut lawannya. Nyawanya kontan terlepas dari badan.

“Hhh! Pukulan maut yang hebat. Sayang, Bidara Condong sangat gegabah dan menganggap enteng...”

Tiba-tiba terdengar suara bernada mengejek. Nini Towok melirik garang. Memang sudah disadarinya kehadiran dua sosok tubuh itu, saat tadi bertarung melawan Bidara Condong. Namun karena mereka tidak bertindak apa-apa, dia mendiamkan begitu saja. Dan kini jelas bisa diketahui, siapa mereka.

“Dara Pincung dan Ageng Kunir! Mau apa kalian datang ke sini?” tanya Nini Towok.

“Meminta pertanggungjawabanmu...!” Ki Ageng Kunir yang menyahuti

“Hm... Dan kau, Kakek Cebol?”

“Aku? Hm Aku hanya rindu saja padamu. Telah lama kita tidak bertemu. Beginikah sikapmu pada kenalan lama...?”

“Huh, Cebol Licik! Kau pikir aku tidak tahu maksudmu dengan berpura-pura baik begitu?!”

“Hm.... jadi. kau tahu maksudku yang sebenarnya? Baguslah...” sahut orang tua bertubuh cebol itu.

“Bukankah kau ingin membalaskan sakit hatimu karena muridmu tergila-gila padaku?” ejek Nini Towok sambil tersenyum sinis.

“Kau salah, Kuntilanak. Bukan dia, melainkan kaulah yang tergila-gila padanya. Dan karena memang gila, kau perkosa dan kau bunuh bocah bau kencur itu.”

“Hm... Siapa bilang dia bau kencur? Dia pemuda hebat yang luar biasa.”

“He he he.. ! Dasar perempuan iblis, ya tetap iblis. Hari ini kau tidak akan bisa lari lagi dari tanganku!”

“Hi hi hi..! Akan kulihat sampai di mana kehebatanmu, Tua Bangka Cebol!”

DELAPAN

Ki Dara Pincung sudah bersiap membuka jurus. Namun....

“Sobat! Biar aku yang lebih dulu menghajar perempuan iblis ini,” cegah Ki Ageng Kunir.

“Huh! Apa pedulinya...? Kau mau maju menggepruknya sekalian pun aku tidak peduli. Yang jelas, dia musti mampus di tanganku!” sahut orang tua cebol itu tanpa tedeng aling-aling lagi.

“Tapi, Sobat...”

“Heh! Kau ingin mengatakan itu tidak adil? Persetan dengan keadilan. Kalau kau juga ikut menggepruk perempuan sial ini, silakan saja!”

Ki Ageng Kunir jadi ragu-ragu bergerak. Meskipun dia urakan, tapi masih memegang peraturan pokok kalau mengeroyok lawan bukanlah perbuatan terpuji. Tapi belum lagi orang tua cebol itu bergerak menyerang lawan, tiba-tiba saja terdengar satu suara dari ambang pintu pondok gubuk Nini Towok.

“Kisanak, apakah tidak lebih baik kalau kita undi saja siapa yang lebih berhak menggepruk perempuan itu...?”

“Siapa kau?!” bentak Ki Dara Pincung garang.

Tampaklah seorang pemuda tampan berambut panjang. Bajunya rompi berwarna putih. Di punggungnya tersampir sebuah gagang pedang berbentuk kepala burung. Dan di sebelahnya, terlihat seorang gadis cantik berbaju biru muda. Dia memang Pendekar Rajawali Sakti bersama Pandan Wangi.

Memang, ketika Nini Towok tengah bertarung malawan Sudira, diam-diam Rangga mendatangi pondok yang dilihatnya. Pendekar Rajawali Sakti memang curiga terhadap pondok itu, dan langsung memeriksanya. Ternyata di situ dia mendapatkan Pandan Wangi dalam keadaan terikat dan tertotok di tiang. Maka langsung dibebaskannya gadis itu.

Nini Towok yang melihat, mendadak saja wajahnya jadi kelihatan geram. Dan buru-buru tangannya berkacak pinggang sambil melotot garang. “Bocah sial! Jadi kaukah yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti..?!” tanya Nini Towok.

“Begitulah orang-orang memanggilku.” sahut pemuda berbaju rompi putih itu, merendah.

“Bagus. Akhirnya kau datang juga. Tapi sungguh gegabah perbuatanmu dengan melepaskan tawananku. Maka, kaulah yang akan menggantikannya sekarang juga!” sambung Nini Towok sambil melompat menyerang pemuda itu.

“Sial! Kau pikir aku ini apa, heh...?!” bentak Ki Dara Pincung tiba-tiba, merasa tidak dipedulikan perempuan tua itu.

Tidak peduli kalau saat ini Nini Towok tengah menyerang Pendekar Rajawali Sakti, langsung diserangnya perempuan tua itu dengan gencar. Akibatnya, perhatian Nini Towok jadi terpecah menjadi dua. Dan hal itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi Ki Dara Pincung adalah tokoh tersohor yang memiliki kepandaian tinggi.

Dulu saja, kepandaiannya sudah sedemikian tinggi. Entah saat ini. Dan sifatnya yang ugal-ugalan, sering membuat Nini Towok keteter. Dia memang tidak peduli sopan santun segala macam. Maka begitu dianggap remeh, tidak menyambut tantangannya, langsung dihajarnya perempuan tua itu habis-habisan.

Akan halnya Pendekar Rajawati Sakti, dia langsung menghentikan serangannya ketika Ki Dara Pincung ikut membantu. Padahal hatinya geram dan amarahnya memuncak karena perlakuan kedua murid perempuan tua itu terhadap Pandan Wangi. Dan Pendekar Rajawali Sakti hanya menunggu kesempatan saja, bila Nini Towok tak bisa dikalahkan.

Berkali-kali Nini Towok dibuat jatuh bangun oleh serangan Ki Dara Pincung yang berkepandaian tinggi. Laki-laki cebol itu tidak memberi kesempatan sedikit pun. Namun sebagai seorang tokoh berkepandaian tinggi. Nini Towok masih mampu membebaskan dari tekanan lawan. Tubuhnya tiba-tiba melenting ke atas dan berputaran beberapa kali. Kemudian tubuhnya meluruk turun dan mendarat manis di tanah, langsung memasang kuda-kuda. Ditatapnya tajam-tajam Ki Dara Pincung dalam jarak dua tombak.

“Mau memamerkan pukulan mautmu itu, heh...?!” ejek Ki Dara Pincung, ketika Nini Towok hendak melepaskan pukulan Penghancur Tulang yang sangat dibanggakannya. Rupanya laki-laki cebol itu sudah bisa membaca gerakan lawan.

“Hih!” Nini Towok tidak mempedulikan ejekan Ki Dara Pincung. Kedua telapak tangannya yang terbuka, cepat dihentakkan ke depan. Maka seketika meluruk cepat secercah sinar kuning dari kedua telapak tangannya, ke arah laki-laki cebol itu.

“Uts!” Namun dengan manis sekali, Ki Dara Pincung menghindar. Lalu langsung dibalasnya serangan itu dengan pukulan maut yang mengeluarkan cahaya kebiru-biruan bagai nyala api hendak menyambar.

Werrr!
Glarrr!

Sebuah ledakan dahsyat terdengar begitu dua buah sinar beradu pada satu titik. Nini Towok terperanjat kaget ketika tubuhnya terjajar beberapa langkah. Ajian lawan memang nyaris membuatnya tewas. Untung saja tenaga dalamnya sudah cukup tinggi. Namun saat itu juga tubuh Ki Dara Pincung terjengkang ke belakang dengan mulut meringis. Rupanya tenaga dalamnya kalah sedikit di banding Nini Towok.

“Ayo, hadapi aku lagi. Perempuan jalang!” bentak Ki Dara Pincung, begitu berhasil menguasai keseimbangannya.

“Cebol keparat! Kau akan mampus di tanganku!” bentak Nini Towok geram, setelah berhasil mengatur jalan napasnya.

“Jangan banyak bicara! Ayo, buktikan...!” sambut Ki Dara Pincung tidak kalah garangnya.

“Yeaaah...!”

Orang tua cebol itu tersentak kaget ketika Nini Towok kembali gencar menyerang. Agaknya, Nini Towok menyadari kalau sudah dikelilingi lawan-lawan tangguh yang siap menunggu giliran. Maka tanpa membuang-buang kesempatan lagi, seluruh kemampuan yang dimiliki dikerahkan untuk menekan habis-habisan. Sehingga tidak heran kalau dalam beberapa saat saja, Ki Dara Pincung mulai terdesak hebat. Dan ketika Nini Towok mengibaskan tangan yang mengancam kepala. Ki Dara Pincung cepat memapaknya.

Plak!

Namun, Ki Dara Pincung salah perhitungan. Dikira sehabis mengibaskan tangan, Nini Towok akan melepaskan tendangan setengah lingkaran. Ternyata....

Des!
“Aaakh...!”

Ki Dara Pincung menjerit kesakitan begitu satu pukulan Nini Towok telak menghantam dadanya, sehingga membuatnya terjungkal. Rupanya bukan tendangan yang hendak dilancarkan Nini Towok, tapi sebuah sodokan tangan kiri yang dilepaskan sambil berputar. Untung saja, dia masih sempat membuat beberapa lompatan. Tapi, Nini Towok sudah mengejarnya dengan serangan susulan. Terpaksa Ki Dara Pincung bergulingan untuk menyelamatkan selembar nyawanya.

“Yeaaah...!”

Ki Dara Pincung terus bergulingan, tanpa mempunyai kesempatan membalas. Pada saat yang sama, Nini Towok terus melancarkan pukulan jarak jauh dengan tenaga dalam penuh. Selarik sinar kuning terus meluruk cepat secara beruntun memburu tubuh Ki Dara Pincung. Namun tokoh tua bertubuh cebol itu memang bukan tokoh kemarin sore. Maka dengan gerakan mengagumkan, tubuhnya melenting ke atas, ketika Nini Towok baru saja melepaskan pukulan lewat aji Penghancur Tulang.

Namun baru saja kakinya mendarat, kembali secercah cahaya kuning meluncur deras ke arahnya. Tak ada kesempatan bagi Ki Dara Pincung untuk menghindar, kecuali memapaknya. Maka...

Cras!

Glarrr!

Seketika terdengar ledakan berdentam dahsyat begitu kedua pukulan andalan mereka beradu. Tak lama kemudian, terdengar jeritan pendek salah seorang di antara mereka. Mereka tampak sama-sama terlempar ke belakang.

Namun, nasib malang menimpa Ki Dara Pincung. Dia tewas seketika dengan tubuh hancur dan berceceran di tanah. Sementara, Nini Towok sendiri mendapat luka cukup parah. Dari mulutnya darah tidak henti-hentinya mengalir. Bola matanya yang sayu diusahakan untuk segera menatap tajam ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya yang terlempar dan limbung ketika adu kesaktian terjadi, diusahakan untuk berdiri tegak.

“Apakah kau ingin membalaskan sakit hatimu? Silakan. Aku sudah siap,” tantang perempuan tua itu dengan suara bergetar.

Rangga tersenyum pahit melihat keadaan lawannya. Di satu pihak, kejengkelannya belum terobati. Namun di pihak lain, dia tidak mungkin berhadapan dengan lawan yang sudah tidak berdaya. Bagaimana mungkin Pendekar Rajawali Sakti bisa membunuh lawan dalam keadaan demikian...?

“Ayo! Apa kau takut menghadapiku...? Huh! Tidak kusangka ternyata Pendekar Rajawali Sakti hanya julukan kosong belaka. Kau tidak lebih dari seorang pengecut!” teriak Nini Towok dengan suara parau dan diapaksakan untuk tetap tegar.

“Nini Towok! Kau bukanlah lawanku.” sahut Rangga pelan.

“Chiuhhh! Omong kosong! Itu hanya untuk menutupi kepengecutanmu! Ayo! Cabut pedangmu, dan hadapi aku!” bentak Nini Towok keras sambil meludah.

Rangga hanya menggeleng lemah dan berbalik sambil menggandeng Pandan Wangi. Mereka berjalan pelan meninggalkan tempat itu.

“Bocah sial! Apa kau pikir aku tidak mampu menghadapimu? Huh! Terimalah kematianmu...!” bentak Nini Towok sambil melompat bermaksud menyerang. Tapi di tengah jalan, malah tubuh Nini Towok sendiri yang terhempas sambil memuntahkan darah segar.

“Hoeeekh!”

Rangga memandang sekilas, kemudian melihat Ki Ageng Kunir juga tidak bertindak apa-apa. Bisa dirasakan kalau orang tua itu juga mempunyai dendam yang hebat pada Nini Towok. Tapi, dia berusaha menahan diri karena melihat keadaan lawan yang sudah terluka dalam yang amat parah.

“Keparat! Ayo lawan aku! Lawan aku!” jerit Nini Towok keras-keras dengan sesekali memuntahkan darah kental.

Agaknya perempuan tua itu merasa tersinggung betul, karena dianggap rendah oleh Pendekar Rajawali Sakti yang tidak meladeni bertarung dan meninggalkannya begitu saja. Dan hal itu sudah merupakan penghinaan yang hebat dirasakan Nini Towok. Dalam kemarahan dan jengkel, luka dalam yang dideritanya semakin bertambah parah saja.

Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti menghentikan langkahnya. Wajahnya segera dipalingkan pada perempuan tua itu. “Nini Towok! Tanpa bertarung denganku pun, nyawamu sudah tidak akan tertolong lagi. Perbuatanmu sungguh keji dan nista. Jadi, sudah sepatutnya kau menerima siksaan seperti ini. Membunuhmu lebih cepat hanya akan meringankan penderitaanmu saja. Dan kau memang harus merasakan sakitnya dosa yang sudah kau perbuat selama ini,” kata Rangga kalem, seraya berbalik bersama Pandan Wangi.

“Ke..., keparat! Keparat kau ! Hoeeekh!”

Tanpa diketahui Rangga dan Pandan Wangi, sebuah bayangan berkelebat ke arah Nini Towok. Lalu....

Bles!
“Aaa..!”
“Heh?!”

“Tidak baik membiarkan penderitaan orang yang sedang sekarat...” gumam Ki Ageng Kunir sambil mencabut pedangnya dari tubuh Nini Towok. Rupanya orang tua itu tidak sampai hati membiarkan Nini Towok tersiksa di ambang kematiannya. Kemudian, Ki Ageng Kunir memberi salam penghormatan dan langsung meninggalkan tempat itu.

Rangga hanya menggeleng saja begitu menyadari apa yang dilakukan orang tua itu. Memang, tanpa basa-basi lagi dia tadi langsung menghunjamkan pedangnya ke punggung kin Nini Towok, dan tepat menembus jantung. Kini Nini Towok sudah terbebas dari siksaan. Tubuhnya yang sejak tadi tertelungkup, diam tidak bergerak-gerak lagi. Mati.

“Kakang, tindakan orang tua itu kejam sekali,” desks Pandan Wangi.
“Kenapa? Kau tidak setuju?'' tanya Rangga,
“Nini Towok bukan binatang”
“Berarti kau membelanya? Padahal, dia sudah menahanmu.”

“Sebelum semuanya tiba di sini, dia bercerita mengenai kepahitan hidup yang dialami. Hatiku tersentuh. Aku menduga, pastilah segala kejahatan yang dilakukannya sekadar pelampiasan hidupnya yang selama ini tidak pernah bahagia.”

“Nini Towok itu seorang penjahat licik. Dan lebih dari itu, sifatnya aneh dan menjijikkan. Orang seperti itu tidak layak dipercaya,” sergah Rangga.

“Tapi aku menganggap kesungguhan di wajahnya saat menuturkan ceritanya, Kakang.”

“Orang seperti itu memang pandai bersandiwara. Apa anehnya...?”

“Aku juga mengerti itu, Kakang. Tapi sepintar-pintarnya orang berbicara, sinar matanya justru akan berbicara lain. Dan aku wanita, sama seperti dirinya. Bisa kurasakan, apa yang diceritakannya padaku,” Pandan Wangi tetap membela pendapatnya.

“Sudahlah, Pandan. Tidak baik membicarakan orang yang telah mati, kan...?”

“Aku hanya tidak menyetujui cara orang tua itu tadi.”

“Lalu, apa itu berarti kau setuju dengan caraku?”

“Membiarkan keadaannya tersiksa begitu, padahal kita tahu kalau usianya tidak akan bertahan lama? Hm itu tindakan yang lebih kejam lagi.” sahut Pandan Wangi.

“Lalu apa yang kau inginkan? Membiarkannya hidup dan membuat kerusuhan di mana-mana?”

“Ya, tidak...”
“Lalu?”
“Mestinya ada cara lain untuk menyadarkan perbuatannya.”

“Berarti kau tidak pernah mendengar cerita tentang kehidupannya. Nini Towok itu sudah pernah membuat kekacauan beberapa puluh tahun lalu, sehingga diserbu banyak tokoh persilatan. Sampai akhirnya, dia melarikan diri. Dalam pelarian, seharusnya dia bertobat. Tapi, ternyata tidak. Bahkan malah berusaha bangkit lagi dan mendidik dua orang murid yang sama bejatnya. Nah! Orang seperti itukah yang diharapkan bisa sadar dan bertobat...?”

“Iya, iya… Kau memang selalu tidak mau kalah kalau bicara denganku,” sungut Pandan Wangi.

“Selagi bicaramu tidak benar, masak aku mesti mengalah.”

“Dasar mau menang sendiri!” Pandan Wangi meninju pundak kekasihnya.

Tapi Rangga cepat menangkap, dan menariknya. Dalam sekejap saja gadis itu sudah berada dalam dekapannya.

“Dasar jahil!” dengus Pandan Wangi sambil melepaskan pelukan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga hanya terkekeh saja. Kemudian, dia bersuit kecil. Tidak berapa lana terlihat seekor kuda hitam yang tadi disembunyikan di tempat yang agak jauh datang menghampiri.

“Ayo, cepat kita tinggalkan tempat ini. Kita cari kudamu, Pandan.” ajak Rangga.

“Astaga…! Aku baru ingat. Si Putih ke mana, Kakang?”

“Nanti kita cari sama-sama. Nanti juga ketemu. Aku yakin Dewa Bayu bisa mendapatkan si Putih untukmu lagi,” sahut Rangga.

Tidak berapa lama, kuda hitam Dewa Bayu sudah berpacu membawa kedua pendekar muda itu. Larinya demikian kencang bagaikan angin. Pandan Wangi memeluk erat-erat pinggang Pendekar Rajawali Sakti, bila tidak ingin terlempar jatuh.

“Hiya! Hiya! Hiyaaa...!”

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: RAHASIA DARA IBLIS
Thanks for reading Kemelut Hutan Dandaka I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »