Asmara Bernoda Darah

Pendekar Rajawali Sakti

ASMARA BERNODA DARAH


SATU
SEORANG gadis memacu kencang kudanya sambil sesekali melihat ke belakang. Pada jarak sepuluh tombak lebih, terlihat lima orang laki-laki bertampang seram tengah mengejarnya disertai nafsu membunuh di atas kudanya.

“Heaaa...! Hus, hus...!”

“Gadis keparat! Berhenti, dan kembalikan barang-barang yang kau curi!” teriak seorang laki-laki brewok yang berkuda paling depan di antara keempat temannya. Suaranya terdengar keras, berusaha mengalahkan gemuruhnya derap kaki kuda.

“Huh! Ambillah sendiri kalau kalian mampu!”

“Awas kau! Sekali tertangkap, jangan harap bisa lepas dari tanganku!”

“Hi hi hi...! Jangan banyak omong! Kau tak akan mampu menangkapku!” Bukan main geramnya laki-laki brewok itu mendengar jawaban gadis di depannya.

Sambil mengeretakkan rahang, kudanya dipacu cepat Keempat orang temannya pun mengikutinya. Kuda-kuda mereka tampak sudah terengah-engah, namun kelima orang itu tak mempedulikannya. Bahkan terus menggebahnya, sehingga hewan-hewan itu berlarian seperti dikejar setan saja. Menyadari kalau orang-orang itu benar-benar berniat mengejar, hati gadis ini mulai ciut juga. Dengan berbesar hati kudanya digeprak kuat-kuat, hingga meringkik kesakitan.

Memang, kuda yang ditunggangi para pengejar berseragam hitam itu adalah kuda pilihan. Begitu gagah, dan kuat untuk dipacu kencang dalam waktu yang lama. Sebaliknya kuda yang ditunggangi gadis itu hanyalah kuda biasa. Tak heran walaupun telah dipacu kencang, tapi masih juga hampir terkejar. Bahkan hewan itu tiba-tiba meringkik keras dan tersungkur ketika kaki depannya tersandung sebuah batu sebesar kepala kerbau. Untungnya, gadis itu cepat melompat Tubuhnya lalu bersalto beberapa kali, dan mendarat manis di atas tanah.

“Kuda sial!” maki gadis itu kesal. Diliriknya kelima pengejarnya, sebelum berlari sekencang-kencangnya dari tempat itu. Kudanya yang meringkik-ringkik kesakitan dan berusaha untuk bangkit kembali pun ditinggalkannya.

“Ha ha ha...! Sekarang mau lari ke mana kau?! Kali ini jangan harap bisa lolos dariku!” seru laki-laki berwajah brewok sambil tertawa-tawa. Maka kelima orang bertampang seram itu dengan penuh semangat terus memacu kudanya untuk mengejar gadis itu. Meskipun telah berlari sekuat tenaga, rasanya gadis itu tak mungkin bisa lolos dari mereka. Apalagi, ketika laki-laki brewok itu memerintahkan keempat temannya untuk menyebar dan mengepung si gadis.

“Setan!” gadis itu memaki ketika melihat dari arah samping, salah seorang pengejarnya semakin mendekat. Dia berlari ke depan. Tapi dari ujung sebelah kiri, salah seorang pengejarnya telah menghadangnya. Kemudian berturut-turut dari samping kanan dan belakang. Kini gadis berbaju merah itu terkepung rapat. Mulutnya menyumpah serapah tak habis-habisnya. Disembunyikannya bungkusan kain kecil yang tadi digenggamnya di tangan kiri, ke dalam bajunya yang agak longgar. Dan langsung pedangnya dicabut, siap menghadapi segala kemungkinan.

“He he he...! Mau lari ke mana kau sekarang?!” ejek laki-laki brewok.

“Tikoro! Astaga, gadis itu cantik juga rupanya! Sebaiknya jangan buru-buru dibunuh!” kata seorang teman laki-laki berwajah brewok yang bertubuh kurus sambil menelan ludah dan wajah penuh nafsu.

“Ha ha ha...! Boyang! Matamu bisa juga melihat gadis cantik. Kau pikir, aku sebodoh itu dengan buru-buru membunuhnya? Dia akan merasakan kehangatanku dulu, sebelum mampus!” sahut laki-laki brewok yang dipanggil Tikoro. Dan melihat penampilannya, kelihatannya orang yang bernama Tikoro adalah pemimpin laki-laki berseragam hitam ini. Karena kelihatannya, dia begitu dihormati oleh yang lainnya.

“Ha ha ha...! Bolehlah, Tikoro. Karena kau pemimpin kami, biarlah kau yang pertama. Dan kami akan rela bila hanya mendapat sisanya!” sahut laki-laki lain, yang bertubuh pendek.

Hei?! Apakah kau berminat juga pada barang bagus ini, Selarong?” tanya laki-laki yang dipanggil Boyang dengan nada mengejek.

Sementara dua orang yang lain terbahak mendengar kata-kata itu. Mereka semua tahu, bahwa laki-laki pendek yang dipanggil Selarong selama ini kurang perkasa terhadap wanita. Hal itu sering dikeluhkan pada teman-temannya. Padahal, istrinya dua orang dengan wajah cukup lumayan. Dan kalau ketidakmampuannya melayani istri-istrinya dikeluhkan, teman-temannya sering mengejek. Kata mereka, kedua istrinya sudah buruk dan tua, hingga tak mampu membangkitkan gairahnya lagi. Padahal, itu hanya olok-olok saja. Dan sebenarnya, kedua istri Selarong justru masih muda.

“Tutup mulut kotor kalian! Cuihhh!” dengus gadis itu sambil meludah dengan wajah berang.

“Hei? Galak juga dia! Tikoro! Biarkan aku meringkusnya!” seru Boyang yang agaknya sudah tak sabar. Boyang langsung melompat dari punggung kudanya dan mencabut keris yang terselip di pinggang.

“Gadis liar! Menyerahlah, agar aku tak berbuat lebih kasar hingga melukai kulitmu yang halus itu!” kata Boyang keras.

“Phuih! Tutup mulutmu yang bau itu. Kau boleh menangkapku, setelah aku menjadi bangkai!”

“He he he...! Semakin galak sikapmu, justru membuat semangatku lebih menggebu untuk memelukmu. Kuperingatkan sekali lagi, lebih baik menyerah saja. Siapa tahu, Juragan Waluya mau mengampunimu. Kami pasti akan melindungimu dari hukumannya,” sahut Boyang seraya tersenyum kecil.

“Huh! Jangan harap! Menyingkirlah kau dari hadapanku, Keparat!”

“Sial! Kalau begitu, kau memang tak ingin diperlakukan baik-baik. Awas kau!” Boyang mendengus garang.

“Hup!” gadis itu bergerak lincah menghindar ketika Boyang cepat menyerang.

“Hm.... Bagus! Rupanya, kau memiliki sedikit kepandaian. Tapi di depanku, jangan harap bisa berlagak!” geram Boyang semakin kalap.

“Jangan banyak omong, Anjing Busuk! Ke sinilah kalau tak ingin lehermu kupenggal!”

“Kurang ajar! Yeaaa...!”

“Uts...!” Boyang semakin kalap saja ketika gadis itu mampu menghindari serangannya. Bahkan sesekali ujung pedang gadis itu sempat menyambar leher dan jantungnya. Kalau saja gerakannya tidak gesit, niscaya nyawanya sudah melayang sejak tadi. Memang, nyata-nyata gadis itu hendak menghabisi nyawanya.

“Boyang! Apakah aku perlu turun tangan untuk meringkus gadis itu? Kulihat kau malah bermain-main saja!” kata Tikoro, sinis.

“Tak perlu! Sebentar lagi gadis binal ini pasti akan kuringkus!” sahut Boyang.

“Huh! Kenapa tidak kalian berlima saja yang maju sekaligus, agar lebih mudah aku memotes leher kalian!” cetus gadis itu, mengejek.

“Setan! Tikoro, biarkan mulut gadis liar itu ku- bungkam saja!” dengus Selarong.

Rupanya hatinya sudah langsung panas mendengar ejekan gadis itu. Maka tanpa mempedulikan larangan Boyang, Selarong sudah langsung melompat dan ikut menyerang gadis berbaju merah itu.

“Yeaaa...!”

Melihat dirinya dikeroyok dua orang, gadis itu sama sekali tak menunjukkan ketakutannya. Bahkan perlawanannya semakin gigih dengan putaran pedangnya yang tertuju ke arah lawan. Boyang sebenarnya tak suka melihat Selarong membantunya. Tapi dia harus menjaga gengsi di depan Tikoro yang merupakan pemimpinnya. Karena bisa jadi gadis itu nantinya malah menghajar dirinya. Buktinya sepintas saja terlihat kalau ilmu alat gadis itu amat lihai. Untuk itulah dia tak melarang Selarong, dan terus memusatkan perhatian terhadap gadis itu.

“Jatuh!” sentak Selarong sambil mengayunkan kepalan tangan ke dada gadis itu. Dan pada saat yang sama, Boyang menusukkan kerisnya ke bahu. Namun, gadis itu cepat memutar pedangnya, menangkis senjata lawan. Sementara tangan kirinya memapak serangan Selarong.

Trang!
Plak!
“Akh!”

Terdengar keluhan bernada kesakitan, begitu gadis itu memapak serangan Selarong. Dari sini bisa dilihat kalau tenaga dalamnya masih kalah dibanding lawannya.

“Ha ha ha...! Kau pikir dirimu hebat mampu mengalahkan kami? Jangan harap!” ejek Selarong, ketika melihat gadis itu meringis kesakitan sambil memegang tangan kirinya.

“Yeaaa...!” Dan belum juga gadis itu mengatur keseimbangan tubuhnya, tiba-tiba Selarong melesat cepat bagai kilat sambil melepaskan sebuah pukulan tangan kanan. Tak ada waktu lagi bagi gadis itu untuk menghindar, kecuali memapaknya dengan tangan kanan, dengan gerakan dari bawah ke atas. Padahal, kuda-kudanya masih belum sempurna.

Plak

Kembali gadis itu terjajar beberapa langkah ke belakang. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan Selarong. Cepat-cepat tubuhnya meluncur seraya melepaskan sodokan tangan kiri ke arah dada gadis itu. Dan...

Des!
“Akh!”

Gadis berbaju merah itu menjerit kesakitan ketika sodokan Selarong berhasil mendarat di dadanya. Kembali gadis itu terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya yang terkena sodokan Selarong dengan tangan kiri. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan Boyang. Senjatanya dengan cepat memapas pedang di genggaman gadis itu hingga terlepas.

Trang!
“Ugh!”

Gadis itu kembali mengeluh kesakitan. Telapak tangannya kontan terasa perih akibat papasan senjata lawan. Sementara, pada saat yang sama Selarong kembali meluruk, dan langsung menotok gadis itu.

Tuk!
“Ahhh...!”

Gadis itu kontan ambruk ke tanah tanpa daya sambil mengeluh. Dadanya masih terasa nyeri. Sementara, wajahnya tetap menunjukkan kegarangan ketika kelima orang itu tertawa terbahak-bahak.

“Ha ha ha...! Apa kataku?! Percuma saja kau melawan. Kalau sejak semula menyerah, tentu kami akan memperlakukanmu baik-baik. Tapi sayang, kau telah membuatku marah. Maka jangan harap kami akan melepaskanmu begitu saja,” kata Selarong.

“Bagus, Selarong. Kau memang bisa diandalkan,“ sahut Tikoro, seraya turun dari kudanya dan menghampiri gadis itu. Laki-laki brewok itu lalu berjongkok dan mengangkat dagu gadis itu. Kemudian dipandanginya gadis itu sambil menyeringai buas penuh nafsu.

“Sayang! Wanita cantik sepertimu, kenapa harus mencuri....”

“Phuih! Majikanmu tukang peras rakyat! Jadi, sudah sepatutnya aku mengambil sedikit bagian darinya. Itu lebih terpuji daripada mencekik orang-orang melarat!”

“He he he...! Siapa yang peduli alasanmu...,” sahut Tikoro pelan. Pelan-pelan tangan Tikoro menyelusup ke balik baju gadis itu untuk mengambil kantung kecil yang tadi disembunyikan. Namun sebelum hal itu dilakukan, tangannya dengan nakal mempermainkan dua buah bukit kecil yang padat berisi, sehingga merangsang nafsu birahinya.

“Jahanam keparat! Phuih! Hentikan perbuatan kotormu, Anjing Busuk..! Aouw...!” gadis itu kontan menjerit sambil memaki-maki tak karuan.

“He he he...! Memakilah sepuas hatimu. Tapi sebentar lagi, kau akan merasakan hal yang lebih dari itu,” kata Tikoro sambil tertawa-tawa kecil dan melempar kantung yang didapat ke arah Selarong.

“Tikoro, jangan lama-lama bermain dengannya. Kedua lututku sudah gemetar tak tahan!” sahut Selarong ketika melihat Tikoro telah membopong gadis itu dan membawanya ke semak-semak.

“Tenanglah, Selarong. Kau akan mendapat giliran setelah aku. Ingin kulihat, apakah kau mampu menaklukkan gadis liar ini. Mudah-mudahan saja kau nanti bisa menjadi laki-laki tulen!”

Mendengar itu, meledaklah tawa ketiga teman-temannya. Sementara, Selarong sendiri hanya bisa tersenyum-senyum kecil di antara teriakan-teriakan gadis dalam bopongan Tikoro. Wajah keempat orang itu tampak tegang. Masing-masing menelan ludah, sambil membayangkan kenikmatan yang akan didapat Tikoro. Bahkan teriakan-teriakan gadis itu terasa membangkitkan gairah kelelakian mereka. Sementara di balik semak-semak terdengar desah dan dengusan geram. Meskipun tak terlihat apa yang terjadi, namun keempat orang itu bisa menduga apa yang sedang terjadi di balik semak-semak. Tikoro memang buas terhadap wanita. Bahkan tak pernah bermain lembut, sehingga membuat jantung keempat temannya semakin berdegup kencang.

“Aouw! Keparat busuk, lepaskan aku! Lepaskaaan...! Jahanam! Aku bersumpah akan membunuhmu...! Aouw...! Lepaskan! Lepaskaaan...!”

“He he he...! Tenanglah, Manis. Nanti setelah segalanya beres, kau akan kami lepaskan dan pergi bebas ke surga! He he he...!”

“Kisanak, lepaskan gadis itu...!” Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, terdengar suara bentakan.

“Heh?!” Tikoro kontan terkejut, dan langsung menghentikan perlakuannya terhadap gadis itu. Dan belum juga dia sempat mencari orang yang membentak, mendadak....

Des!
“Aaakh...!”

Tikoro kontan menjerit kesakitan dan terpental ke belakang ketika sebuah tendangan menghantam wajahnya. Begitu keras, sehingga membuatnya terjungkal sampai beberapa tombak.

Sementara keempat teman Tikoro yang tak jauh dari semak-semak itu juga terkejut menyaksikan tahu-tahu di balik semak-semak berdiri tegak sepasang muda-mudi. Yang seorang adalah pemuda berambut panjang terurai. Wajahnya tampan, mengenakan baju rompi putih. Sebatang pedang berhulu kepala burung tampak menyembul di balik punggungnya.

Sedangkan di sebelahnya seorang gadis cantik berkulit putih. Rambutnya panjang. Dan bajunya ketat berwarna biru. Tampak sebuah kipas baja putih terselip di pinggangnya yang ramping. Sementara, di punggungnya menyembul sebatang pedang bergagang kepala naga.

“Keparat! Ingin mampus rupanya orang ini!” maki Selarong garang.

“Siapa kalian?!” bentak Boyang tak kalah garangnya.

“Kami hanya pengembara yang muak melihat tingkah laku bajingan-bajingan busuk seperti kalian!” sahut pemuda berbaju rompi putih itu.

Tikoro yang bajunya sudah tak karuan, cepat membenahi dan berdiri tegak di hadapan kedua orang muda itu. Wajahnya tampak gusar. Sementara masih terlihat tetesan darah di bibirnya yang pecah terkena tendangan pemuda berbaju rompi putih itu. Sedangkan sorot matanya tajam penuh kebencian dan dendam.

“Bocah keparat! Siapa kau, sehingga berani mengganggu kesenangan orang?! Apa sudah bosan hidup, heh?!”

“Hm.... Rupanya telingamu tuli karena nafsu setanmu sudah sampai ke ubun-ubun...!” gumam pemuda tampan itu.

“Keparat!” maki Tikoro, mendengar jawaban itu. Dia bermaksud menghajar pemuda itu dengan mencabut goloknya yang terselip di pinggang. Tapi....

“Tikoro! Diamlah. Biar aku yang akan menghajar bocah sombong ini,” cegah Selarong seraya maju ke depan. Langsung ditatapnya pemuda itu dengan sinis.

“Kakang Rangga, rasanya tanganku sudah gatal ingin menghajar bajingan-bajingan busuk ini. Izinkanlah aku memberi pelajaran pada mereka,” sahut gadis berbaju biru kepada pemuda yang tak lain Rangga, alias Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga tersenyum kecil sambil mengangguk. “Baiklah, Pandan. Tapi jangan terlalu keras. Aku khawatir, mereka malah tak sempat tobat nantinya....”

“Setan! Majulah kalian berdua. Hadapi aku kalau memang punya kepandaian!” bentak Selarong semakin kesal saja.

“Hi hi hi...! Manusia cebol! Kau pikir dirimu punya derajat berhadapan dengannya?! Ke sinilah kau, agar tubuhmu bisa kubuat rata,” ejek Pandan Wangi atau yang dikenal sebagai si Kipas Maut.

“Huh! Tahan serangan...!”

“Hup! Uts...! Kurang cepat, Cebol!” ejek gadis berbaju biru itu ketika berhasil menghindari serangan lawan.

“Kuntilanak sial! Jangan menyesal kalau nanti ku telanjangi!”

“Hi hi hi...! Otakmu kotor sekali. Rupanya kau senang menunjukkan kebugilan. Baiklah, akan ku kabulkan keinginanmu,” sahut Pandan Wangi.

Selesai berkata demikian, si Kipas Maut segera mencabut kipas bajanya. Langsung diserangnya lawan dengan gencar. Selarong terkejut melihat serangan gadis itu yang lihai bukan main. Selama bertarung, dia memang jarang sekali menggunakan senjata. Ilmu silat tangan kosongnya sudah sangat hebat. Dan walaupun menghadapi lawan bersenjata, dia masih mampu melumpuhkannya. Tapi menghadapi gadis ini, sungguh merasa kewalahan juga. Dan dalam waktu dua jurus saja, dia terlihat sudah terdesak hebat.

“Yeaaa...!” “Gadis keparat! Lihat kaki...!”

“Pandan, awas...!” teriak Rangga, ketika lawan melancarkan sebuah tipuan maut.

Saat itu, Selarong mencoba memapak kibasan kipas maut Pandan Wangi. Namun papakan itu rupanya hanya tipuan saja. Karena dengan cepat Selarong menunduk, seraya memberi sapuan kaki. Namun, Pandan Wangi yang mendengar peringatan Rangga segera mencelat ke atas. Sehingga sambaran kaki lawan hanya mengenai angin kosong saja. Bahkan Pandan Wangi kembali menukik dengan putaran kipasnya. Keadaan Selarong memang tak memungkinkan lagi. Untung pada saat yang tepat, Tikoro langsung melompat untuk melindungi temannya, di samping menyerang Pandan Wangi.

“Yeaaa....!”

Sementara, Pandan Wangi juga menyadari keadaannya. Maka tubuhnya cepat berputar bagai gangsing. Dan tanpa bisa dicegah lagi, kipasnya menyambar baju Selarong hingga koyak. Dan secepat itu pula, Pandan Wangi mengebutkan kipasnya ke arah Tikoro. Dan....

Cras!
“Aaakh!”

Tikoro menjerit kesakitan ketika kipas maut Pandan Wangi merobek perutnya.

“Pergilah dari sini kalau masih ingin selamat Jika tidak, maka kepalamu akan menggelinding saat ini juga!” dengus Pandan Wangi, begitu melihat sinar kegentaran pada wajah lawan-lawannya.

Sementara Tikoro tampak meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang robek mengeluarkan banyak darah. Sedangkan Selarong malah seperti orang bengong, memandangi bajunya yang koyak sehingga hampir telanjang.

DUA

Sambil bersungut-sungut geram, Tikoro mengajak teman-temannya untuk pergi secepatnya. Dia memang tak punya pilihan, selain pergi meninggalkan tempat itu.

“Nisanak! Ingatlah baik-baik! Urusan kita belum selesai. Suatu saat, aku akan menagih hutang ini berikut bunganya!” kata Tikoro mengancam, sebelum berlalu.

“Aku akan menunggu kapan saja kau suka. Nah, pergilah cepat dari hadapanku, sebelum aku muntah melihat tampang busuk kalian!” bentak Pandan Wangi sambil menahan geli melihat Selarong yang menutupi bagian tubuhnya yang terbuka di sana sini, akibat babatan kipas mautnya.

“Hm.... Bagus, Pandan! Kemajuanmu semakin pesat saja...,” puji Rangga.

“Kalau bukan karena petunjukmu, mana mungkin aku menghadapi mereka, Kakang,” sahut Pandan Wangi.

“Ah, sudahlah. Mari kita lihat gadis itu,” ujar Rangga, seraya melangkah hendak menolong gadis yang tadi hendak dinodai Tikoro.

Rangga mengurungkan niatnya untuk mendekati, ketika melihat keadaan gadis itu yang tampak sudah bugil. Hal itu bisa dimaklumi Pandan Wangi. Maka cepat dihampiri dan membebaskan totokan gadis itu. Lalu ditutupinya bagian tubuh terlarang milik gadis itu dengan bekas cabikan bajunya. Namun, tetap saja pada bagian-bagian tubuh yang lain masih tersingkap jelas.

“Tak apalah bila hanya untuk sementara. Nanti setiba di desa yang terdekat, kami akan membelikanmu baju yang pantas...,” kata Pandan Wangi menghibur.

“Oh, terima kasih atas pertolongan kalian. Aku tak tahu, bagaimana harus membalasnya. Kalau tak ada kalian, entah bagaimana nasibku...,” ujar gadis itu terharu.

Pandan Wangi tersenyum, lalu mengulurkan tangannya penuh persahabatan. “Namaku Pandan Wangi. Dan itu temanku. Mari ku perkenalkan kau padanya,” ajak Pandan Wangi mendekati Pendekar Rajawali Sakti yang duduk di atas sebatang pohon tumbang, membelakangi mereka.

“Aku Nawang Sari...,” sahut gadis itu memperkenalkan diri sebelum mengikuti Pandan Wangi dari belakang.

“Kakang....!”

“Hm...,” gumam Rangga seraya berbalik. Pendekar Rajawali Sakti sedikit terkejut melihat cara berpakaian gadis itu. Tapi mengingat apa yang terjadi barusan, hal itu bisa dimakluminya.

“Rangga...!”

“Nawang Sari...!” gadis yang bernama Nawang Sari itu mengulurkan tangan, menyambut uluran tangan Rangga.

Nawang Sari tersekat. Diam-diam dikaguminya ketampanan pemuda itu. Dan tak terasa, jantungnya berdetak kencang. Ada gejolak hangat yang menjalar pada setiap pembuluh darahnya, hingga membuatnya tak sadar kalau belum melepaskan jabatan tangannya.

“Eh, ng.... Maaf...,” Pendekar Rajawali Sakti berucap lirih. Rangga jadi salah tingkah sendiri dan cepat melepaskan genggaman tangannya. Apalagi di situ ada Pandan Wangi. Jelas, dia tak mau membuat kekasihnya cemburu. Namun, Rangga harus mengakui juga kalau Nawang Sari cukup cantik. Bibirnya merah merekah. Sepasang alis matanya tebal bagai semut beriring. Tubuhnya sintal. Sempat terlihat oleh Rangga betapa dada gadis itu yang menyembul sedikit di balik bajunya yang ala kadarnya. Tak heran kalau sifat kelaki-lakiannya tergoda, sehingga jantungnya sempat berdetak keras.

“Nah, Nawang. Sekarang kau bebas dari ancaman mereka. Apakah kau ingin kami antarkan pulang...?” tanya Pandan Wangi, menawarkan.

Mendengar itu, terlihat wajah Nawang Sari berubah muram. Tubuhnya lalu berbalik dengan wajah tertunduk dalam.

“Ada apa? Apakah kau tak ingin pulang?” tanya Pandan Wangi.

“Aku..., aku tak tahu harus ke mana....”
“Kau tak punya keluarga...?”
Nawang Sari menggeleng lemah.
“Orangtua?”

“Aku hidup sebatang kara tanpa sanak saudara. Hidupku berkelana dari satu tempat, ke tempat lain tanpa tujuan pasti....”

“Hm...,” Pandan Wangi bergumam sambil memandang Rangga. Sementara Rangga diam tak memberi tanggapan. “Bagaimana, Kakang...?”

“Terserah kau saja....” Pandan Wangi bisa merasakan, apa yang dirasakan gadis itu. Dan sebenarnya, nasibnya tak jauh beda dengan dirinya sendiri. “Nawang, kau boleh ikut kami untuk sementara waktu. Tapi setelah itu, kau mesti menentukan jalan hidupmu sendiri....”

Nawang Sari mengangguk cepat, meskipun tak mengerti apa yang dimaksud gadis cantik berbaju biru itu. Di hatinya tersembul satu kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan. Dan yang pasti karena untuk beberapa waktu akan merasa aman berada di tengah-tengah penolongnya.

********************


Telaga Sampang dikenal sebagai tempat yang indah dan ramai. Untuk ke tempat itu hanya setengah hari perjalanan dari Kotaraja Kerajaan Gautama, yang merupakan kerajaan kecil di bawah kekuasaan Kerajaan Tirtasura. Telaga itu sendiri memang diketahui sebagai jalur lalu lintas perdagangan. Juga sebagai jalan pintas dari dan ke Kotaraja Kerajaan Gautama. Tak heran bila tempat itu banyak dikunjungi, baik oleh pendatang dari luar daerah, maupun dari negeri asing. Dan letaknya juga sangat dekat dengan pelabuhan, tempat bersandar kapal-kapal besar dari negeri asing.

Setelah membeli pakaian untuk Nawang Sari, Pendekar Rajawali Sakti, Pandan Wangi, dan Nawang Sari menuju sebuah kedai. Begitu memasuki kedai yang cukup ramai itu, semua orang yang ada di dalam kedai serentak memandang mereka. Namun Rangga tak merasa heran. Bahkan bisa menduga arti pandangan itu. Tampaknya, mereka iri melihat pemuda berbaju rompi putih itu datang bersama dua gadis cantik.

“Kakang! Aku jadi risih dengan pandangan orang-orang itu,” bisik Pandan Wangi, ketika mereka telah duduk pada sebuah meja yang memiliki empat buah kursi”

“Tenang sajalah. Toh, mereka tak mengganggu kita....”

“Kau bisa tenang. Tapi, kami mana bisa...!” rungut Pandan Wangi setengah kesal.

Rangga hanya tertawa kecil.

“Betul, Pandan. Kita toh tak punya urusan dengan mereka. Buat apa dipedulikan!” timpal Nawang Sari.

Pandan Wangi hanya bisa menahan rasa kesal. Sejak tadi, hatinya memang panas melihat kelakuan Nawang Sari. Sepanjang perjalanan, sepertinya dia berusaha memancing perhatian Rangga. Nawang Sari selalu berjalan di samping pemuda itu, sambil mengajak bicara, berkelakar, tertawa-tawa, dan sesekali mencubit genit. Dan yang membuatnya bertambah kesal, Rangga sepertinya tak berusaha mengelak atau menunjukkan ketidaksukaannya. Dan ini membuat kobaran api cemburu dalam dada Pandan Wangi semakin menyala saja.

“Kakang, tadi aku benar-benar terkejut bercampur senang, ketika mengetahui kalau kau ternyata Pendekar Rajawali Sakti yang kesohor itu. Sudah lama sekali aku ingin bertemu dan melihat orang yang julukannya amat menghebohkan. Dan tak sangka kalau hari ini aku bisa bicara berdekatan,” ujar Nawang Sari dengan bola mata berbinar-binar.

“Nawang, kau mengatakan kalau hanya orang biasa dan sama sekali tak mengerti orang-orang persilatan. Lalu, bagaimana mungkin bisa tahu kalau Kakang Rangga adalah Pendekar Rajawali Sakti?” tanya Pandan Wangi sambil menyembunyikan kecemburuan hatinya.

“Hm.... Mungkin kalian tak akan percaya kalau kuceritakan bahwa setiap anak kecil di pelosok desa sekalipun, akan mengenal julukan Pendekar Rajawali Sakti. Julukan itu tidak hanya dikenal orang-orang persilatan, tapi juga orang awam seperti aku ini!” sahut Nawang Sari.

Rangga hanya tersenyum enteng saja mendengar pujian gadis itu, yang terasa berlebihan dan terlalu membesar-besarkan.

“Apakah kau tak tahu kalau julukanku juga dikenal semut-semut yang ada di lubang paling dalam?” kata Rangga berkelakar.

“Kakang. Aku berkata yang sebenarnya!”

“Ssst! Pelankan nada suaramu sedikit Jangan sampai mengganggu pengunjung yang lain,” tegur Rangga mengingatkan, ketika melihat gadis itu berusaha meyakinkan, sehingga tanpa sadar bersuara cukup keras.

Namun, ternyata percuma saja. Ketika mata Pendekar Rajawali Sakti melirik sekilas, tampak seorang laki-laki bertubuh kekar berkulit coklat kehitam-hitaman sudah menghampiri mereka. Di punggungnya terlihat sebilah golok yang besar dan panjang. Dia langsung berdiri di tepi meja sambil meletakkan telapak tangan kanannya. Sementara matanya menatap tajam ke arah Nawang Sari.

“Pucuk dicinta ulam tiba! Susah payah aku mencari, ternyata kau datang menghampiri!” kata laki-laki itu. Suaranya terdengar berat dan bercampur serak. Rangga jadi tak enak hati. Dan hatinya sudah merasa tak senang melihat sikap laki-laki berwajah kasar itu.

“Kisanak, tidak bisakah bersikap sedikit sopan?” tegur Rangga, halus. Laki-laki itu mendengus seraya memandangi Pendekar Rajawali Sakti tajam-tajam sambil menyeringai buas.

“Bangsat! Apakah kau ingin mampus, heh?!” bentak laki-laki dengan suara menggelegar, seraya langsung melayangkan kepalan tangannya. Rangga cepat memiringkan kepala. Langsung dihantamnya pergelangan tangan laki-laki itu dengan tangan kiri.

Tak!
“Akh!”

Laki-laki itu menjerit kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa akan patah. Sedangkan matanya langsung melotot garang.

“Dasar maling! Sudah sepantasnya kau berteman dengan bajingan! Kalian bertiga patut mampus!”

Laki-laki itu langsung mencabut goloknya. Dan seketika hendak dihantamkan ke kepala Rangga. Rangga cepat memiringkan tubuhnya ke kanan untuk menghindari sambaran senjata lawan.

Wuuut!

Golok itu lewat di depan Pendekar Rajawali Sakti. Dan begitu golok itu terus melaju, Rangga masih sempat melayangkan sebelah kakinya, untuk mengait kaki Nawang Sari yang menjadi sasaran golok. Akibatnya, gadis yang sedang duduk itu jadi terjerembab ke lantai. Tapi dengan begitu, nyawanya selamat dari ancaman golok. Pandan Wangi sendiri sudah menjatuhkan diri ke lantai, dan cepat bangkit dengan wajah marah.

“Bajingan tak tahu aturan! Datang mengganggu dan mencari urusan! Apa sudah bosan hidup, heh?!” bentak Pandan Wangi.

“Huh! Tahu apa kau dengan urusanku?! Kalau tak senang, boleh angkat kaki dari sini. Tapi, tinggalkan dulu gadis keparat ini untuk kucincang!” dengus laki-laki berwajah kasar itu sambil menunjuk Nawang Sari.

Semula, Pandan Wangi sudah ingin melabrak laki-laki kasar itu saja. Tapi, Rangga cepat menahannya. Dan Pendekar Rajawali Sakti segera memandang laki-laki itu dengan wajah penuh tanda tanya.

“Kisanak! Apa maksudmu akan menahan dan menyakiti temanku ini?”

“Huh, pura-pura tak tahu! Baiklah ku ingatkan lagi, agar semua orang mengetahui kebusukan temanmu ini. Dia telah mencuri patung kucing yang dikeramatkan perguruan kami. Dan perlu kalian tahu, patung itu amat berharga karena keseluruhannya terbuat dari emas murni,” jelas laki-laki itu.

Rangga seketika memandang Nawang Sari. “Benarkah apa yang dikatakannya?”

“Dusta! Dia penipu. Aku sama sekali tak mengenalnya. Apalagi, perguruannya. Sungguh mustahil kalau aku mencuri seperti yang dikatakannya!” sanggah Nawang Sari sengit.

“Keparat! Percuma berdebat dengan kalian! Hei, Perempuan Busuk! Kau pikir mataku sudah rabun, sehingga tak mengenalmu?!” bentak laki-laki itu seraya mengayunkan kepalan tangannya.

Rangga tersentak kaget. Nawang Sari akan celaka kalau tak segera ditolong. Maka....

“Yeaaa...!”
Plak!

“Sabar, Kisanak ...”

Bukan main gusarnya lelaki itu ketika Rangga kembali ikut campur dengan menangkis serangannya. “Kurang ajar! Majulah semuanya agar aku lebih mudah memecahkan batok kepala kalian bertiga!”

Maka tanpa mempedulikan cegahan Rangga, laki-laki itu cepat menyerang. Pertarungan tak dapat dielakkan lagi di dalam ruangan kedai itu. Pemilik kedai sudah sejak tadi berteriak-teriak cemas melihat kedainya berantakan. Meja dan kursi jungkir balik tak karuan. Beberapa pengunjung malah sudah lebih dulu menyelamatkan diri, keluar dari dalam kedai ini.

Sambil berusaha mengelak, berkali-kali Rangga mencoba menyadarkan. Tapi, agaknya laki-laki itu betul-betul keras kepala. Maka terpaksa Rangga meladeninya kalau tak ingin celaka disambar golok lawan yang bertubi-tubi mengincarnya. Lalu dengan satu lompatan ringan, Rangga keluar dari dalam kedai untuk menghindari kerusakan yang lebih parah lagi.

“Keparat! Jangan harap bisa kabur dariku!” bentak laki-laki bertampang seram itu seraya menyusul.

“Kisanak! Jangan khawatir. Aku tak akan lari sebelum urusan ini selesai,” sahut Rangga pendek.

“Mampus!”

Namun, Rangga cepat bergeser ke samping kiri. Tubuhnya seperti akan jatuh ke tanah, dengan gerakan kaki indah melompat ke sana kemari. Jelas, Pendekar Rajawali Sakti mempergunakan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’. Akibatnya, golok lawan hanya menyambar-nyambar tempat kosong saja.

“Uts!”
Wut! Wut!
“Setan!”

Laki-laki itu bertambah gusar, menyadari serangannya tak juga membuahkan hasil. Berkali-kali dia menggeram hebat sambil mengayunkan goloknya. Sementara dari mulutnya tak henti-hentinya keluar makian kasar.

“Hm.... Ternyata Kakang Rangga memang bukan orang sembarangan. Baru kali ini aku menyaksikan kehebatannya!” puji Nawang Sari sambil berdecak kagum melihat pertarungan itu.

Pandan Wangi yang berada di sebelahnya tak memberi tanggapan apa-apa mendengar pujian itu. Sementara, ada rasa curiga yang mulai tumbuh terhadap gadis itu. Kenapa laki-laki itu begitu yakin kalau Nawang Sari terlibat dalam pencurian benda pusaka perguruannya? Diakah yang melakukannya? Ataukah ada orang lain yang mirip, atau barangkali laki-laki itu mengada-ada?

“Pandan, aku berani bertaruh. Sesaat lagi orang itu pasti akan dapat dirobohkan Kakang Rangga!” seni Nawang Sari, berseri.

“Kenapa kau begitu yakin? Orang itu memiliki ilmu olah kanuragan yang cukup tinggi....”

“Hei?! Masak kau tidak melihat? Meskipun dia bersenjata, tapi Kakang Rangga mampu mendesaknya.“

Apa yang dikatakan Nawang Sari memang benar. Meski lawan bersenjata, tapi perlahan-lahan Rangga berhasil mendesak. Bahkan kini tubuhnya bergerak cepat, ketika lawan mengayunkan golok.

“Yeaaa...!”
Plak!

Ayunan golok lawan berhasil dipapak Pendekar Rajawali Sakti dengan kibasan tangan kiri yang disertai pengerahan tenaga dalam. Senjata itu kontan terpental dari genggaman saat pergelangan tangannya terkena pukulan Rangga. Dan belum lagi laki-laki itu menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba satu tendangan keras menyodok perutnya.

Begkh!
“Aaakh...!”

Laki-laki bertampang kasar itu kontan menjerit kesakitan. Tubuhnya terjerembab beberapa langkah disrtai suara berdebuk keras. Dia berusaha cepat bangkit, tapi satu tendangan lagi menghajar rahangnya. Diegkh! Kembali laki-laki itu tersungkur. Dari mulutnya tampak mengucur darah segar, karena dua buah giginya tanggal. Laki-laki itu masih berusaha bangkit, tapi telapak kaki Rangga telah lebih cepat menekan perutnya dengan keras.

“Kisanak! Aku tak mempunyai urusan denganmu. Dan selamanya pun, hal itu tak kuinginkan. Tapi kau terlalu memaksa. Maka kini pilihan ada di tanganmu. Kalau kau masih ingin melanjutkan pertarungan, kau akan celaka sekarang. Tapi bila ingin menyudahinya, kau boleh pergi!” ujar Rangga dengan nada dingin.

“Huh! Kau boleh membunuhku sesuka hatimu. Tapi, jangan harap aku akan menyudahi persoalan ini begitu saja!” dengus laki-laki itu.

“Hm, baiklah kalau itu keinginanmu!”

Rangga menggeram sambil menekan perut lawan perlahan-lahan semakin kuat. Wajah laki-laki itu kontan berkerut menahan sakit. Sementara orang-orang yang menyaksikan kejadian tak jauh dari tempat itu sudah menduga kalau tak lama lagi nyawa laki-laki keras kepala itu pasti akan melayang. Sedangkan Pandan Wangi memalingkan wajah, tak tega melihat semua itu. Beda halnya dengan Nawang Sari. Gadis itu malah membuka kelopak matanya lebar-lebar.

“Kakang Rangga, mengapa tak cepat-cepat dihabisi saja nyawanya? Orang itu jahat dan tak tahu aturan. Kalau kau mengampuninya, tentu dia akan membuat kekacauan nantinya!” teriak Nawang Sari.

Rangga sebenarnya tak bersungguh-sungguh membunuh lawannya, meski hatinya geram bukan main melihat kekerasan hati laki-laki itu. Dia hanya ingin memberi pelajaran, agar laki-laki itu tak main-main dengan ucapannya. Namun sebelum hal itu berlanjut, sayup-sayup terdengar suara derap kaki kuda yang bergemuruh memasuki wilayah itu. Orang-orang berteriak-teriak sambil berlari serabutan menyelamatkan diri.

“Celaka! Orang-orang asing itu menyerang ke sini!”

“Lari! Lari...!”
“Heh?!”

TIGA

Rangga terkejut melihat tak lebih dari tiga puluh orang bersenjata golok besar bergerak cepat memacu kudanya. Bahkan mereka langsung menyerang penduduk yang berada paling dekat, dan membunuh tanpa ampun. Pekik kematian disertai bergelimpangannya beberapa tubuh mewarnai tempat itu. Para penduduk saling menyelamatkan diri. Dan sebagian lagi ragu-ragu untuk bergerak atau melawan.

“Pandan! Jaga Nawang Sari. Aku akan menghentikan orang-orang gila itu!” teriak Rangga sambil melompat cepat menghampiri gerombolan itu.

“Hati-hati Kakang...!”
“Yeaaa...!”

Rangga langsung mengamuk sejadi-jadinya, menghantam orang-orang yang sedang membantai penduduk yang tak tahu apa-apa. Akibatnya beberapa orang yang memang berkepandaian rendah itu terjungkal disertai jerit kesakitan. Maka dalam waktu singkat saja Rangga telah menjadi pusat perhatian gerombolan itu.

“Berhenti...!” Terdengar salah seorang di antara mereka berteriak keras. Dan tak lama, gerombolan itu terlihat menghentikan kekejamannya. Lalu dengan patuh, mereka membentuk barisan. Salah seorang penunggang kuda yang berpakaian mewah dilapisi rompi besi, menghampiri Rangga. Dan kudanya dihentikan persis ketika jaraknya tinggal lima langkah lagi.

“Hm.... Ternyata ada juga orang yang bernyali macan di tempat ini. Siapa kau sebenarnya?” tanya orang berbaju lapis rompi besi dengan suara berat dan serak.

Pada jarak dekat seperti ini, Rangga dapat melihat jelas kalau cara berpakaian mereka berbeda dengan penduduk negeri ini. Wajah serta kulit mereka pun amat berbeda. Logat bahasanya pun terdengar asing dan terpatah-patah. Rangga sudah cepat menduga kalau mereka adalah pendatang dari suatu negeri yang cukup jauh di seberang lautan. Tapi apa perlunya mereka ke sini dan membunuh penduduk yang tak tahu apa-apa?

“Kisanak! Aku hanya salah seorang penduduk yang tak suka melihat tindakan kalian yang biadab!”

“Ha ha ha...! Jawaban polos yang dilakukan pahlawan-pahlawan kesiangan. Hm.... Kuhargai sikapmu itu. Nah, menyingkirlah dari tempat ini dan jangan mencampuri urusan kami!”

Rangga tertawa kecil mendengar kata-kata orang itu. “Hm.... Bicaramu sungguh keterlaluan, Kisanak. Kulihat kau bukan orang negeri ini. Dan kalian amat asing bagi kami. Seharusnya, kalian yang datang dari jauh bisa menjaga sikap dan bersikap sopan. Tapi, yang kalian lakukan malah sebaliknya. Jadi mana mungkin aku bisa mendiamkan begitu saja,” kata Rangga, tenang.

“Huh! Kalau begitu, terimalah kematianmu!” dengus orang itu seraya memberi isyarat. Seketika, serentak tujuh orang pengikut laki-laki asing itu bergerak mengepung Rangga dengan senjata terhunus.

“Yeaaa...!”

Rangga segera bergerak lincah memainkan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’ untuk menghindari serangan orang-orang asing itu yang gencar dan teratur. Kelihatannya jurus-jurus yang mereka mainkan sedikit asing. Terlalu banyak gerakan yang kelihatannya tak berguna. Namun justru hal itu untuk memancing lawan agar terkecoh. Sedikit saja Rangga lengah, maka serangan kilat akan menghabisinya dalam waktu singkat.

Wut!

Dua pasang senjata lawan mengincar leher. Maka Pendekar Rajawali Sakti cepat menundukkan kepala. Tapi saat itu juga, dua buah senjata lawan kembali menebas pinggang. Rangga melompat ke samping. Namun pada saat yang sama mendadak dua buah senjata lawan yang lain menghunus punggung dan dadanya. Sementara ujung senjata lawan yang lain menyambar kedua kakinya.

“Yeaaa...!”

Tanpa banyak berpikir lagi Rangga cepat melenting ke atas, dan berputaran beberapa kali. Dan begitu menukik turun, cepat dimainkannya jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’. Dan yang dituju adalah sasaran yang terdekat dengannya.

Wuttt!
Tak!

Kedua kaki Pendekar Rajawali Sakti cepat bergerak menyambar pergelangan lawan, sehingga membuat senjata di tangan orang itu terlepas.

“Aaakh...!”

Orang itu kontan memekik kesakitan. Begitu mendarat, Rangga bermaksud menghajar kepala dengan tendangan kakinya yang lain. Namun, sebuah ayunan senjata lawan yang lain cepat bergerak hendak memapas tulang kakinya. Terpaksa Rangga mengangkat kakinya dan langsung menghajar tengkuk satu lawannya lagi dengan sebelah kakinya.

“Uts...!”
Diegkh!

Orang itu langsung tersungkur sambil menjerit kesakitan. Dan Rangga tak mau kepalang tanggung lagi. Ketika tubuhnya kembali berkelebat, cepat dilepaskannya dua pukulan beruntun menggunakan ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’ tahap pertama, disertai pengerahan tenaga dalam sempurna.

“Yeaaa...!”
Plak!
Begkh!
“Aaa...!”

Dua orang kembali terjungkal terkena tendangan dan sodokan kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti. Begitu berhenti berkelebat, Rangga cepat berdiri tegak memandang ke arah laki-laki asing yang masih menunggang kuda. Dan agaknya, dialah pemimpin dari gerombolan ini. Wajahnya terlihat geram. Sementara kumis tipisnya yang panjang bergerak-gerak menandakan gejolak hatinya. Mendadak, dengan satu lompatan manis dia telah langsung menyerang Pendekar Rajawali Sakti.

“Yeaaa...!”

Sebuah serangan kepalan tangan lawan bergerak cepat ke arah wajah Pendekar Rajawali Sakti. Namun cepat bagai kilat Rangga memiringkan kepala. Lalu tubuhnya cepat berputar. Dan dengan kepalan kiri, dihantamnya dada lawan.

“Hiyaaa...!”
“Hup!”

Tapi orang asing itu sudah mencelat ke atas. Sementara kedua kakinya berputar melepaskan tendangan ke arah Rangga. Namun Rangga cepat membuang diri hingga rata dengan tanah. Dan dalam keadaan telentang, kakinya memapak tendangan lawan.

Bugkh!
“Ugh...!”

Terdengar lawan mengeluh kesakitan ketika kedua kakinya beradu dengan kaki Pendekar Rajawali Sakti. Dan Rangga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Cepat tubuhnya bangkit dan langsung melenting ringan. Cepat dikejarnya lawan yang terhuyung-huyung ke belakang. Kepalan tangan kanannya langsung disodokkan ke arah dada. Namun lawan segera memiringkan tubuhnya. Tapi pada saat tegak kembali, tendangan Rangga sudah melayang ke arah pinggang sekeras-kerasnya.

Begkh!
“Aaakh...!”

Pemimpin gerombolan itu kontan menjerit kesakitan ketika tubuhnya terhantam tendangan Pendekar Rajawali Sakti, hingga tersungkur ke tanah.

“Bunuh dia!” teriak orang itu memberi perintah.

Bagai tanggul jebol yang langsung memuntahkan air bah, maka lebih dari dua puluh orang asing itu bergerak menyerang. Rangga jadi terkesiap, dan mundur dua langkah. Seketika pedang pusakanya dicabut. Maka, saat itu juga memancar sinar biru yang menerangi tempat itu. Melihat hal itu lawan-lawannya tercekat beberapa saat. Betapa pamor pedang pusaka itu memancarkan perbawa yang kuat.

Sebenarnya, Pendekar Rajawali Sakti hanya dalam keadaan terpaksa saja bila mengeluarkan pedang pusakanya. Dan apa yang dilakukan, sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti, agar tidak jatuh korban lagi.

“Mundur...!” perintah pemimpin gerombolan orang asing itu, begitu melihat pamor Pedang Rajawali Sakti.

Seketika para pengikutnya yang masih tersisa, segera berlari dan melompat ke punggung kuda masing-masing. Dan mereka langsung melarikan diri dari tempat itu mengikuti pemimpinnya yang telah lebih dulu menggebah kudanya. Rangga membiarkan mereka pergi. Namun beberapa penduduk yang sejak tadi bersembunyi karena takut, tiba-tiba melemparkan senjatanya.

Akibatnya, dua orang yang berada paling belakang kontan terjengkang jatuh dari kuda, setelah tertembus golok. Sedangkan sisanya berhasil kabur. Memang, sudah sejak lama para penduduk merasa terkekang dan terancam keselamatannya oleh gerombolan orang asing itu. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak, karena memang tidak berdaya. Baru setelah gerombolan itu dibuat kalang-kabut oleh Pendekar Rajawali Sakti, mereka mulai berani. Bahkan telah timbul semangat untuk mengusir gerombolan itu

“Kakang, kau tak apa-apa?” Pandan Wangi menghampiri Rangga dengan wajah cemas. Rangga menoleh, lalu menggeleng lemah. Matanya melirik sekilas pada Nawang Sari. Gadis itu tampak berjalan ringan, menghampiri Rangga.

“Wah! Kau hebat sekali, Kakang. Gerombolan itu mampu kau hajar sampai tunggang-langgang!”

Rangga tersenyum kecil. Dilihatnya beberapa orang menghampiri sambil tersenyum ramah. Salah seorang laki-laki berkumis tipis dan berusia sekitar tiga puluh tahun, mendekat dan mengulurkan tangan kepada Pendekar Rajawali Sakti.

“Kisanak! Aku Prawiro Seno. Atas nama teman-teman, aku mengucapkan terima kasih atas segala bantuanmu dalam mengusir orang-orang asing itu!”

“Tak perlu berterima kasih, Kisanak. Sudah jadi kewajibanku untuk menolong orang yang lemah. O, ya. Namaku Rangga,” kata Rangga merendah.

“Ah, kami sudah tahu. Kau pasti Pendekar Rajawali Sakti yang tersohor itu?!”

“Ah! Hanya julukan kosong saja, Kisanak. Sudahlah, yang penting gerombolan itu sudah terusir.”

Rangga memang jadi rikuh juga mendengar pujian yang dirasanya terlalu berlebihan. Maka buru-buru pembicaraan itu dialihkannya.

“Kisanak, siapakah orang-orang itu? Dan, apa maksudnya melakukan kekacauan di sini?”

“Hm.... Rupanya kau belum tahu apa yang sedang terjadi di sini, Pendekar Rajawali Sakti?”

“Panggil aku Rangga saja,” pinta Rangga.

“Baiklah. Begini, Rangga. Pasukan orang asing dari negeri seberang itu telah mendarat di sini. Mereka cukup banyak di pantai utara negeri ini. Tujuan mereka adalah ingin menguasai negeri ini. Mereka lalu memecah beberapa rombongan untuk menguasai desa satu persatu. Sementara pihak kerajaan bukannya tak tahu kedatangan mereka. Tapi seperti diketahui, saat ini prajurit-prajurit kerajaan tengah dikerahkan untuk menghalau serangan dari kerajaan besar yang berada di sebelah timur pulau ini. Dan rupanya, kesempatan ini digunakan orang-orang asing itu untuk menyerbu ke sini.”

Orang yang mengaku bernama Prawiro Seno itu terdiam sesaat. Tampak matanya membayangkan penderitaan yang amat berat. Sebuah penderitaan dari orang-orang yang terjajah.

“Maka Gusti Prabu lalu meminta bantuan dari para pemuda dan seluruh rakyat yang mampu berjuang bahu-membahu dengan prajurit-prajurit kerajaan, untuk menghalau orang-orang asing itu. Rangga! Kau orang persilatan yang memiliki kepandaian hebat. Banyak sudah pendekar yang berjuang mengusir orang-orang asing itu. Dan, apakah kau berminat bergabung bersama mereka?”

Rangga terdiam sejenak mendengar penjelasan Prawiro Seno. Hatinya merasa tergugah. Dan seketika rasa kemanusiaannya yang tinggi timbul, seiring jiwa kependekarannya yang mulai berkobar.

“Kisanak! Di mana saja orang-orang asing itu saat ini berada?”

Prawiro Seno segera menjelaskan, sepanjang yang diketahuinya.

“Baiklah. Terima kasih atas penjelasanmu. Jangan khawatir, aku akan menyumbangkan apa yang bisa kulakukan untuk negeri ini, agar orang-orang asing itu selekasnya angkat kaki!” sahut Rangga.

“Ah! Aku bersyukur mendengar kata-katamu itu, Rangga. Teman-teman yang lain tentu akan bangkit semangatnya bila mengetahui kalau pendekar besar sepertimu turut berjuang membebaskan negeri ini dari ancaman orang-orang asing itu. Nah, Rangga. Selamat berjuang. Kami harus cepat-cepat bergabung dengan barisan lainnya!”

Prawiro Seno menyalami tangan Rangga, sebelum berlalu meninggalkan tempat itu. Beberapa orang yang bersamanya turut pula menjabat tangan Pendekar Rajawali Sakti. Sementara Rangga hanya memandang mereka sekilas, sebelum Pandan Wangi menyadarkannya.

“Kau bersungguh-sungguh dengan kata-katamu, Kakang?” tanya Pandan Wangi.

“Eh, apa?” Rangga tersentak.

Sebelum Pandan Wangi melanjutkan, Nawang Sari telah mendekat. “Kakang Rangga! Untuk apa bersusah-payah membantu pihak kerajaan? Apakah kau memperoleh sesuatu dari mereka? Kalau kau tewas dalam pertempuran itu, mana mungkin mereka nantinya mengurus jenazahmu!” kata Nawang Sari sinis.

“Aku tak pernah mengharap imbalan atas apa yang telah kuperbuat, Nawang. Semua apa yang kulakukan, tak lebih dari pengabdianku sebagai pendekar. Sekarang, negeri ini sedang terancam. Dan selama ini, rakyat merasa aman di bawah pemerintahan raja yang sekarang. Maka, apabila orang-orang asing itu berhasil merebut negeri ini dan mendirikan kekuasannya, belum tentu mereka akan memperhatikan rakyat. Bahkan tidak mungkin mereka akan menindas rakyat dan mengeruk segala kekayaan yang dimiliki. Contoh yang jelas telah kita lihat tadi. Tanpa belas kasihan, mereka seenaknya menyerbu dan membunuh penduduk yang tak tahu apa-apa,” kilah Rangga.

Nawang Sari terdiam dan tak meneruskan kata-katanya.

********************

Malam telah menyelimuti alam Kotaraja Gautama. Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti, Pandan Wangi, dan Nawang Sari belum menemukan tempat menginap. Bahkan perkampungan yang terdekat pun tak terlihat di depan mata. Maka terpaksa mereka bermalam di tepi sebuah hutan. Kini Rangga tampak tengah menghadapi api unggun tanpa menoleh pada kedua gadis itu. Pikirannya masih terpusat pada kejadian tadi siang.

Saat ini, ingin rasanya dia terbang dan menghajar orang asing itu satu persatu. Tapi dengan adanya kedua gadis ini, langkahnya terasa berat. Hal inilah yang akan diutarakannya kepada Pandan Wangi. Pendekar Rajawali Sakti melirik sekilas gadis itu. Tampak Pandan Wangi tertidur nyenyak beralaskan rumput di sebelahnya. Dan Rangga jadi tak tega untuk meninggalkannya begitu saja. Dan ketika melihat ke arah Nawang Sari, gadis itu pun juga tertidur pulas bersama mimpi-mimpinya.

Pendekar Rajawali Sakti menghela napas pendek, kemudian beranjak agak menjauhi mereka. Bulan di langit terlihat separoh, terselubung awan hitam. Di sekelilingnya terbias cahaya redup. Sekilas Rangga mendongak, lalu pandangannya kembali ke arah semula. Dia kini duduk pada sebuah batu yang cukup besar. Lama Pendekar Rajawali Sakti termenung sendiri.

“Kau belum tidur juga, Kakang?” tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan.

“Heh?!”

“Jangan kaget! Aku hanya....”

“Pandan! Kenapa kau tak tidur? Apa kau tidak merasa letih oleh perjalanan tadi siang?”

Gadis itu diam tak menjawab, lalu duduk di sebelah Rangga. Dipandanginya bulan sekilas, sebelum beralih memandang kekasihnya.

“Sejak tadi kuperhatikan, kau nampak gelisah terus. Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

Rangga mendesah kecil. Sulit baginya untuk mengatakan, apa yang terkandung dalam hatinya. Selama beberapa lama bersama Pandan Wangi, rasanya ada yang mengusik hatinya. Entah apa, dia sendiri tidak tahu. Yang jelas, Pendekar Rajawali Sakti merasa semakin sayang saja pada gadis itu. Kadang, terbayang dalam benaknya bila berumah tangga dengan Pandan Wangi, dan melupakan petualangannya. Namun, jiwa kependekarannya menuntut lain. Masih banyak keangkaramurkaan yang membentang di depan mata, dan mana mungkin ditinggalkannya? Dan itu membutuhkan tenaganya, ketimbang bersenang-senang di Kerajaan Karang Setra.

“Apa yang kau pikirkan, Kakang?” tanya Pandan Wangi lembut.

“Pandan, sudah berapa lama kita berpetualang meninggalkan Karang Setara?” tanya Rangga.

“Cukup lama juga, Kakang. Kurang lebih dua bulan....”

“Hm.... Rasanya aku sudah lama tidak mendengar kabar tentang Karang Setra. Kalau kau sudi, maukah....”

“Aku mengerti, Kakang...,” potong Pandan Wangi sambil menunduk. Suasana sepi menyelimuti mereka untuk beberapa saat

“Aku rasa sudah saatnya bagi kita untuk berpisah. Dan aku ingin agar kau pergi ke Karang Setra. Tunggulah aku di sana. Dan aku sendiri akan pergi untuk membasmi orang-orang asing yang telah menjajah negeri ini,” ujar Rangga.

Pandan Wangi memandang wajah kekasihnya dengan wajah muram. “Mengapa kau tidak mengajakku, Kakang?” tanya Pandan Wangi. Rangga mendesah kecil.

“Maafkan aku, Pandan. Bukannya aku tidak mau mengajakmu. Tapi, aku ingin mendengar kabar Karang Setra dari mulutmu sendiri. Kau bersedia, kan?”

Pandan Wangi diam membisu. Rangga lalu mendekati gadis itu.

“Aku tak perlu berpamitan pada Nawang Sari. Jelaskanlah esok hari...,” ujar Rangga.

“Apakah Kakang akan pergi malam ini juga?”

Rangga mengangguk. Pandan Wangi segera berbalik dan menatap pemuda berbaju rompi putih itu. Ada gejolak perasaan di hatinya yang sulit ditahan. Sementara, Rangga bisa melihat dengan jelas kedua belah pipi gadis itu yang basah deh air mata. Dan tiba-tiba saja Pandan Wangi memeluknya erat, dan memberi ciuman ke bibirnya. Dan Rangga membalasnya tak kalah hangat. Sebentar mereka saling berpagutan, kemudian saling menatap.

“Pergilah, Kakang. Tugas telah menanti. Jangan kecewakan semua pendekar. Aku tak bisa menghalangi, meski berat melepaskanmu...,” lirih suara Pandan Wangi tanpa melepaskan pelukannya.

Rangga tak tahu, apa yang dirasakan gadis itu saat ini. Wajah Pandan Wangi disandarkan di bahu Rangga yang terasa hangat oleh air mata. Pemuda itu masih terdiam sampai Pandan Wangi kembali mengangkat wajahnya.

“Pergilah, Kakang...!” ujar Pandan Wangi haru.

“Jaga dirimu baik-baik....”

Pandan Wangi menganggukkan kepala.

“Kau tentu bisa menjelaskan kepada Nawang Sari nanti, bukan?"

“Jangan khawatir, Kakang.”

“Aku pergi, Pandan...”

Pandan Wangi kembali menganggukkan kepala. Kali ini Rangga tak menoleh lagi. Tubuhnya sudah berkelebat cepat, dan sesaat saja sudah lenyap dari pandangan. Pandan Wangi lama mematung dengan perasaan tak menentu. Matanya menatap kosong ke depan, pada kegelapan malam. Suara burung hantu dan kepak sayap kelelawar seperti ingin mengusiknya dari lamunan. Desir angin malam menyapu lembut wajah Pandan Wangi.

Hatinya kontan tersentak dari lamunan seraya bergegas melangkah pelan ke tempatnya. Api unggun telah padam meninggalkan sisa-sisa arang yang masih membara. Dan pandangannya langsung tertuju ke arah Nawang Sari tadi berada. Tapi kini gadis itu telah lenyap entah ke mana. Pandan Wangi jadi bingung, dan memanggil-manggil nama gadis itu dengan suara keras. Tapi, tak juga terdengar sahutan. Dugaannya, mungkin Nawang Sari tengah buang air kecil. Namun sampai ditunggu lama, gadis itu belum juga muncul. Pandan Wangi semakin gelisah.

"Ke mana gadis itu? Apakah ada orang lain yang menculiknya? Ah, mustahil! Kakang Rangga memiliki ilmu ‘Pembeda Gerak dan Suara’. Tentu dia bisa mengetahui kehadiran orang lain di sini. Hei? Jangan-jangan gadis itu diam-diam mengikuti Kakang Rangga."

Pandan Wangi berkata sendiri dalam hati. Pandan Wangi bingung harus bertindak apa. Maka diputuskannya untuk menyusul Rangga, dan memastikan apakah dugaannya itu benar.

********************

EMPAT

Apa yang diduga Pandan Wangi memang benar. Tadi, ketika dia bersama Rangga menjauh dari tempat itu, diam-diam Nawang Sari yang sejak tadi berpura-pura tidur segera bangkit dan mendengar pembicaraan mereka. Rangga yang saat itu memang sedang tak memusatkan pikiran padanya, tentu saja tak mengetahui kehadiran gadis itu. Dan ketika Rangga pergi dari tempat itu, Nawang Sari sudah langsung mengikutinya.

Namun sejauh itu, meski semua ilmu larinya telah dikerahkan, Rangga belum bisa terkejar. Nawang Sari kesal. Sepanjang malam gadis itu terus berlari, sampai akhirnya kehilangan jejak Rangga sama sekali. Tapi dasar gadis liar, pikirannya langsung menduga kalau Rangga tentu akan langsung menuju tempat para pejuang di Kotaraja Gautama yang dijarah orang-orang asing.

Maka ke sanalah tujuan Nawang Sari sekarang. Matahari semakin meninggi di atas cakrawala. Meski belum tepat benar di atas kepala, namun sengatannya sudah mulai terasa di ubun-ubun. Nawang Sari merasakan matanya telah berat dan tubuhnya mulai letih. Gadis itu berniat mencari-cari sumber mata air untuk menyegarkan tubuh. Mujur baginya, sebab tak jauh dari situ terdapat sebuah sungai yang mengalir bening. Nawang Sari segera mencari tempat yang agak tersembunyi dari pandangan orang, sambil menyusuri tepian sungai.

Tiba di suatu tempat yang banyak ditumbuhi pepohonan, dia terkejut sambil memandang tak percaya. Tampak tidak begitu jauh, seorang pemuda yang sudah dikenalnya sedang timbul tenggelam berkecipak di air, sambil berenang ke sana kemari. Nawang Sari buru-buru bersembunyi di balik sebuah batu, sambil terus memperhatikan dengan seksama. Jantungnya terasa berdegup kencang dan wajahnya tampak berseri ketika yakin, siapa pemuda itu.

“Kakang Rangga...,” gumam Nawang Sari senang. Gadis itu lalu tersenyum kecil.

Matanya yang nakal kemudian mencari-cari pakaian pemuda itu. Dan setelah ditemukannya, dengan mengendap-endap diambilnya. Gadis itu kembali bersembunyi di tempatnya tadi sambil menunggu pemuda itu selesai mandi. Memang, setelah seharian berlari menembus malam, Rangga merasa perlu untuk menyegarkan diri di sungai. Cukup lama tubuhnya berendam, dan kini bersiap untuk naik.

“Hei?! Ke mana pakaianku? Pedangku? Astaga!” Rangga terkejut begitu melihat pakaian serta pedangnya yang ditinggal di tepi sungai telah lenyap. Rangga mencari-cari di ujung sungai kalau-kalau terhanyut, namun tak terlihat juga. Hatinya mulai curiga. Pendengarannya segera ditajamkan, kalau-kalau mendengar sesuatu. Dan ternyata tidak salah.

“Sobat yang bersembunyi di balik batu itu, keluarlah. Aku tahu kau di sana!” Sementara itu, Nawang Sari tersenyum nakal. Sengaja dia diam untuk beberapa saat.

“Nisanak! Apakah kau yang menyembunyikan pakaianku?” tanya Rangga, sudah langsung menebak kalau yang bersembunyi di balik batu sebesar badan kerbau itu seorang wanita. Kali ini, Nawang Sari keluar dari persembunyiannya sambil tersenyum-senyum dan mengacungkan pakaian serta pedang Pendekar Rajawali Sakti. Dan Rangga hanya menggelengkan kepala ketika mengenali gadis itu.

“Nawang Sari, apa-apaan ini? Cepat kembalikan pakaianku!” dengus Rangga, kesal.

“Hi hi hi...! Kakang, kau seperti tikus dalam got Ambillah sendiri kalau bisa!”

“Nawang Sari, jangan bercanda. Ayo, cepat kembalikan pakaianku!”

“Tidak!”

“Apa maksudmu? Apakah kau ingin melihatku bugil di depanmu?”

“Hi hi hi...! Apakah kau berani melakukannya? Coba saja!”

Rangga kesal mendengar jawaban yang dirasa mempermainkan dirinya. Pemuda itu menjadi heran, bagaimana mungkin Nawang Sari berani bicara begitu? Biasanya, gadis-gadis akan malu dan langsung merah wajahnya bila mendengar ancaman begitu dari seorang laki-laki. Tapi, Nawang Sari malah senyum-senyum seperti menantang.

“Sudahlah, Nawang. Kembalikanlah pakaianku. Aku bisa kedinginan kalau begini terus....”

“Aku akan mengembalikan pakaian dan pedangmu, asal kau mau mengabulkan permintaanku,” kata Nawang Sari.

“Permintaan apa?”

“Katakanlah dulu kalau Kakang akan mengabulkannya!”

“Bagaimana mungkin aku bisa mengabulkannya sebelum mengetahui apa yang kau inginkan? Kalau kau mau menyuruhku bunuh diri, bagaimana mungkin kukabulkan?!”

“Hi hi hi...! Tidak. Aku tak akan menyuruhmu melakukan itu. Ayo, katakan kalau kau akan mengabulkannya.“

Rangga berpikir sesaat, sebelum menganggukkan kepala.

“Sungguh!”

“Dasar nakal! Tidak cukupkah jawabanku itu?!” Rangga mulai kesal melihat tingkah gadis itu.

“Apa? Kau memakiku? Lebih baik tak usah kukembalikan pakaian dan pedang ini!” sahut Nawang Sari sambil memutar tubuh dan melangkah pelan.

“Hei, Nawang! Baiklah. Aku akan mengabulkan permintaanmu!” teriak Rangga akhirnya. Gadis itu kembali berbalik sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Nah, begitu kan lebih baik....”

“Ayo, cepat katakan. Apa maumu? Dan setelah itu, kembalikan pakaian dan pedangku!”

“Eit, sabarlah sebentar. Hal ini mungkin berat bagimu. Aku hanya ingin agar kau mengajakku ke mana saja kau pergi....”

Rangga terdiam mendengar permintaan gadis itu.

“Bagaimana, Kakang? Kau pasti menyanggupinya, bukan?”

“Tak mungkin kalau selamanya.”

“Kalau begitu, baiknya pakaian dan pedangmu ini kubawa saja....”

Rangga berpikir cepat sebelum gadis itu melangkah pergi lagi. “Baiklah. Aku akan mengabulkan permintaanmu....”

“Sungguhkah?!” bola mata gadis itu berbinar senang.

Rangga menganggukkan kepala, walau terpaksa.

“Kau seorang pendekar besar. Dan aku yakin, kau pasti akan selalu menepati janji,” kata Nawang Sari, seraya meletakkan pakaian dan pedang Rangga di tepi sungai.

Rangga melotot garang ketika melihat gadis itu masih memperhatikannya pada jarak lima langkah.

“Hei! Apakah kau masih penasaran ingin melihatku bugil? Ayo, ke sana dan jangan menoleh sedikit pun!”

“Eh, apa? Oh, baiklah...,” kata Nawang Sari, tampak gugup dan buru-buru berbalik. Dia kemudian melangkah menjauhi tempat itu ketika Rangga melompat dari dalam sungai dan buru-buru berpakaian.

“Sudah...?” Rangga diam saja sambil menyibakkan rambutnya. Gadis itu menoleh sekilas, dan tersenyum lega. Lalu, dihampirinya Rangga ketika telah berpakaian.

“Kenapa kau bisa tiba di sini?”

“Hm.... Kebetulan saja, karena langkah kakiku menuntunku ke sini....”

Rangga menatap gadis itu tajam-tajam.

“Kenapa? Ada yang aneh? Pandan Wangi mengatakan kepadaku tentang kepergianmu. Dan aku pun merasa tak mau mengganggunya. Jadi, aku menentukan sendiri langkah serta jalan hidupku,” kata Nawang Sari berusaha mengusir praduga di benak Rangga tentang dirinya.

“Sejak kapan kau pergi?”

“Ya, sejak tadi malam tentunya!” sahut Nawang Sari pendek.

“Dan kau tiba di tempat ini sejak tadi?”

“Kata siapa? Aku baru saja tiba dan melihat kau sedang mandi di sini.”

Rangga tersenyum tipis, lalu berjalan pelan. Sementara Nawang Sari mengikuti di sebelahnya. “Nawang! Untuk perempuan lemah yang tak memiliki kemampuan ilmu olah kanuragan sepertimu, jalan di waktu malam adalah sangat membahayakan. Kemudian yang kedua, jarak tempat itu ke sini cukup jauh. Rasanya mustahil kau dapat menempuh perjalanan dalam waktu secepat ini. Hm.... Apa lagi yang akan kau sembunyikan dariku...?”

“Aku tak menyembunyikan apa-apa darimu. Kenapa? Apakah kau tak mempercayai ceritaku?”

“Lalu bagaimana caranya kau bisa tiba di sini secepat ini? Atau barangkali kau ingin mengatakan kalau memiliki ilmu terbang?”

“Aku..., aku. Eh..., aku menunggang kuda....”

“Menunggang kuda?”

“Kenapa? Aneh? Apakah tidak boleh seorang gadis desa dan lemah sepertiku menunggang kuda?”

“Kau gadis desa yang istimewa dan tak umum. Entahlah. Aku banyak tak mengerti ceritamu...,” gumam Rangga tersenyum kecil sambil menggeleng lemah.

“Aku tak memintamu untuk mempercayai ceritaku, Kakang.”

“Lalu apa gunanya memintaku untuk selalu mengajakmu ke mana saja aku pergi?”

“Karena..., karena..., ah! Begitu kejamkah hatimu terhadap gadis malang sepertiku? Aku tak tahu, ke mana harus pergi. Dan saat ini, hanya kaulah satu-satunya yang bisa kupercaya. Apakah aneh bila kemudian aku merasa kalau kaulah satu-satunya orang yang kuanggap dekat denganku dan memperhatikan hidupku?”

Rangga terdiam tanpa menghentikan langkahnya.

“Kakang Rangga! Apakah kau keberatan dengan permintaanku itu? Aku betul-betul tak tahu harus kemana. Berjalan seorang diri bagi gadis lemah sepertiku sangat membahayakan. Dan itu pernah ku alami. Kalau saja kau tak cepat datang, entah bagaimana nasibku menanggung malu yang tiada terkira...,” ratap Nawang Sari lirih dan terisak kecil.

Rangga menoleh sekilas. Tampak gadis itu menutup wajahnya sambil berlari kecil menjauh. Lalu kesedihannya ditumpahkan di bawah sebatang pohon. Mau tak mau, Rangga menjadi iba dan menggeleng pelan. Didekati dan ditepuknya bahu gadis itu lembut.

“Sudahlah, kenapa untuk soal itu saja kau menangis...?”

“Bagimu mungkin tak terlalu memusingkan. Tapi, apakah kau bisa merasakan bagaimana aibnya bila seorang gadis telah kehilangan kehormatannya? Hidup pun tak lebih mulia dibanding seonggok sampah yang menjijikkan!” dengus Nawang Sari sengit di antara isak tangisnya.

Rangga terdiam. Sulit, apa yang harus dilakukannya dalam keadaan begini. Bicara salah dan diam pun terasa menyiksa. Akhirnya, Rangga hanya bisa mondar-mandir sambil mendesah pelan dengan wajah bingung. Sesekali dilihatnya gadis itu. Barangkali saja tangisnya sudah reda. Nawang Sari terdiam, namun wajahnya masih menekuri batang pohon. Dan Rangga jadi ragu-ragu untuk menegurnya.

“Sudahlah, Nawang. Maafkan kalau kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu....” Nawang Sari diam tak memberikan jawaban. “Ayolah. Mari kita lanjutkan perjalanan....”

“Kau harus berjanji dulu.”

“Tadi memenuhi permintaanmu, dan sekarang harus berjanji lagi. Lalu, sebentar lagi apa?” tanya Rangga bernada kesal.

“Kau pasti sangat membenciku, Kakang...,” lirih suara Nawang Sari, seperti tak mempedulikan kata-kata Rangga.

“Tidak. Kenapa aku mesti membencimu...?”

“Sungguh, kau tak membenciku?” Nawang Sari berbalik dan langsung menatap Rangga dalam-dalam.

Dan pemuda itu berusaha tersenyum manis, seraya membalas tatapan Nawang Sari.

“Jawablah pertanyaanku, Kakang....”

“Aku harus jawab apa?”

“Kau membenciku, bukan?”

“Tidak!”

“Kalau kau tak membenciku, berarti kau..., kau menyukaiku...?”

“Apa maksudmu, Nawang Sari? Bicaramu semakin membuatku bingung saja. Sudahlah, lupakanlah hal itu...,” Rangga berbalik lalu melangkah pelan.

Nawang Sari mengikuti kembali di sampingnya. “Apakah Pandan Wangi itu kekasihmu...?”

“Kenapa kau tanyakan hal itu?”

“Aku hanya ingin tahu. Tidak boleh? Hm, aku semakin yakin kalau kau mencintai Pandan....”

Rangga tersentak juga mendengar ucapan gadis itu. Dipandangnya Nawang Sari agak lama. “Nawang Sari. Rasanya aku memang harus berterus terang padamu. Antara aku dengan Pandan Wangi memang mempunyai hubungan khusus. Dan itu sudah terjalin cukup lama,” kata Rangga, berterus terang.

“Oh, apa?!” Nawang Sari terkejut seraya memalingkan muka. Makin kuat dugaannya kalau Pandan Wangi memang kekasih Rangga. Semalam dia telah melihat Rangga dicium Pandan Wangi. Dan kini, Rangga mengakui kalau sudah menjadi kekasih Pandan Wangi.

“Nawang! Kau kenapa?!” Tanpa sadar Rangga menarik kedua bahu Nawang Sari hingga wajah mereka saling bertemu. Namun belum lagi Rangga mendapat jawabannya, tiba-tiba terdengar bentakan keras.

“Nawang Sari! Hm.... Bagus benar perbuatanmu itu!”

“Heh?!”

“Sidarta...?!” desis Nawang Sari ketika mengenali orang yang hadir di tempat itu.

Tampaklah seorang pemuda gagah bertubuh tinggi kekar, tengah berdiri tegak pada jarak sepuluh tombak di belakang mereka. Kedua tangannya disilangkan di depan dada. Rambutnya yang pendek dan kaku, diikat sehelai kain merah. Kulitnya sawo matang agak kehitam-hitaman, dan wajahnya terlihat kasar.

“Nawang Sari, kemari kau!” bentak pemuda itu keras.

“Huh! Sidarta, kau pikir siapa dirimu hingga berani membentak keras padaku?!” dengus Nawang Sari sengit.

“Hm, bagus. Rupanya kau telah kepincut bocah ini. Asal kau tahu, Nawang. Siapa pun orang yang telah berani mendekatimu, maka mesti berhadapan denganku!”

“Hi hi hi...! Sidarta, kau boleh saja bermimpi. Tapi, aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Hm.... Kenapa kau merasa menjadi kekasihku. Padahal, melihat tampangmu saja aku sudah jijik!”

“Kurang ajar!” pemuda yang dipanggil Sidarta itu memaki seraya mendekati. Sidarta langsung memandang tajam ke arah Rangga, dan menuding sinis.

“He, Bocah? Pergilah dari hadapanku sebelum kuhajar! Karena ulahmu, Nawang Sari berani berkata kasar begitu. Ayo, pergi! Atau perlu kutendang?!"

“Kisanak, jaga kata-katamu itu. Aku sama sekali....” Kata-kata Rangga terpaksa berhenti ketika dengan gusar Sidarta sudah langsung mengayunkan kepalan tangannya.

“Mampus!"

Tapi Rangga cepat memapak pukulan Sidarta dengan telapak tangan kirinya yang mengembang.

Tap!

Tiba-tiba, Sidarta memutar tubuhnya. Sementara, tangan kirinya mengibas ke arah pelipis. Namun, Rangga cukup jeli. Cepat-cepat kepalanya ditundukkan untuk menghindarinya. Mendapat serangannya gagal, Sidarta semakin kalap saja. Maka langsung tendangannya diayunkan serta pukulan bertubi-tubi. Melihat serangan bertubi-tubi ini, Rangga jadi kesal juga. Apalagi sebelumnya sikap pemuda itu begitu sombong. Bahkan sama sekali tak memandang sedikit pun padanya.

Hal itu sudah cukup membuat Rangga ingin memberi pelajaran. Maka ketika satu serangan Sidarta meluncur menghantam ke arah muka, Rangga cepat menangkis dengan tangan kirinya. Bahkan langsung ditangkapnya pergelangan tangan lawan. Lalu dengan kecepatan yang sulit diduga, lutut kanannya bergerak menghajar perut lawan, setelah menarik tangan Sidarta.

“Hih!”
Bugk!
“Ugkh...!”

Sidarta mengeluh kesakitan. Dan dalam keadaan tangan masih tergenggam, Sidarta kontan terbungkuk. Kesempatan ini digunakan Rangga untuk mengangkat tubuhnya ke belakang. Langsung dibantingnya Sidarta dengan keras ke tanah. Kembali Sidarta berteriak kesakitan, lalu berusaha bangkit dengan gemas. Namun Pendekar Rajawali Sakti lebih cepat bergerak. Langsung dilepaskannya satu tendangan cepat, menghajar dagu Sidarta.

Diegkh!
“Ugkh...!”

Kembali Sidarta tersungkur dengan beberapa buah gigi tanggal serta bibir pecah mengeluarkan darah. Wajahnya mencium tanah dengan keras.

“Kisanak, kukira cukuplah pelajaran ini agar lain kali kau bisa bersikap sopan pada orang lain!” dengus Rangga dingin, sambil menatap tajam pemuda itu.

Sidarta mendengus geram. Hajaran Rangga tadi sudah cukup membuat nyalinya ciut dan tak berani mencoba menyerang kembali. Sorot matanya tajam bergantian memandang Rangga dan Nawang Sari. Sambil mengusap darah yang keluar dari bibirnya, dia mendengus sinis.

“Baiklah. Aku mengaku kalah. Kau boleh berbuat apa saja terhadap Nawang Sari. Tapi, ingat! Dia tetap milikku. Dan tak kuizinkan seorang pun untuk mendekatinya. Tidak juga kau! Hari ini kau boleh menang. Tapi nanti, aku akan datang lagi untuk menagih kepalamu!”

Rangga tak melayani amarah yang dilontarkan Sidarta. Dibiarkannya pemuda itu pergi, meski Nawang Sari hendak bergerak memungut sebuah batu. Maksudnya, hendak dilemparkan ke arah Sidarta.

“Kenapa, Kakang? Kau terlalu berbaik hati pada orang yang akan berbuat kurang ajar padamu!”

“Siapa yang berbuat kurang ajar? Kau terlalu banyak membuat persoalan. Siapa sebenarnya kau ini?” tanya Rangga kesal, menatap gadis itu curiga.

Nawang Sari tersedak. Tampak wajah Rangga telah berubah dingin. Dan ini memang disengaja Rangga, karena tidak ingin memberi harapan pada gadis itu.

“Nawang Sari, aku tak ada waktu untuk meladenimu. Selamat tinggal!” kata Rangga langsung berbalik, dan melesat cepat bagai kilat.

Nawang Sari diam saja saat Rangga hilang ditelan lebatnya hutan. Entah apa yang dirasakan gadis itu saat ini. Matanya kosong menatap ke arah Rangga yang sudah hilang dari penglihatannya. Tubuhnya berdiri tegak dengan air mata berlinang pelan membasahi pipinya yang halus.

********************

LIMA

Seorang laki-laki tampak duduk bersila di ruang tengah rumahnya sambil memejamkan kedua mata. Tubuhnya yang kurus tampak masih terlihat gagah. Padahal rambut di kepalanya telah memutih semua. Lebih dari setengah hari dia bersikap demikian. Dan ketika pendengarannya yang tajam merasakan kehadiran seseorang di tempatnya, matanya dibuka dan langsung menatap tajam ke depan.

Tampaklah halaman luas dan lebar dipenuhi pepohonan. Suasananya tampak sepi. Sesekali angin bertiup menerbangkan dedaunan kering yang sudah layu dan menguning kecoklatan. Kelelawar tampak beter-bangan satu persatu dari tempatnya, mengisyaratkan sesaat lagi senja akan berganti malam.

“Nawang Sari, kaukah itu...?”

Tak lama seseorang masuk dari pintu depan dengan langkah lesu. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Tanpa banyak bicara tubuhnya langsung disandarkan ke dinding dekat pintu.

“Kenapa wajahmu begitu kusut? Ada persoalan yang membebani pikiranmu?” tanya orang tua itu. Gadis yang tak lain Nawang Sari itu diam tak menjawab.

“Kau bentrok lagi dengan orang lain?”

Nawang Sari tetap membisu. Sementara orang tua yang sebenarnya bernama Ki Paladiga itu beranjak dari duduknya dan mendekati Nawang Sari.

“Sudah berapa kali kukatakan, jangan suka mengganggu orang lain. Sikapmu itu amat buruk dan tak terpuji. Cobalah menjadi orang baik dengan menjaga segala tingkah lakumu....”

“Bukan karena persoalan itu, Eyang...!” sahut Nawang Sari, kesal.

“Lalu apa?”

“Eyang harus membantuku!”

Ki Paladiga menggeleng pelan. Murid satu- satunya ini memang amat disayanginya. Bahkan sudah dianggapnya sebagai anak sendiri. Tapi, Nawang Sari memang sangat bengal dan suka sekali memamerkan kepandaian ilmu silat yang dipelajari untuk menguji orang lain. Di samping itu, sifatnya juga tak terpuji. Dia suka mencuri barang-barang berharga milik orang lain. Telah beberapa kali Ki Paladiga mendapat teguran dari berbagai kalangan, atas kelakuan muridnya. Untungnya, kebanyakan dari mereka hanya memandang siapa dirinya, sehingga mau menyelesaikan persoalan secara baik-baik.

“Persoalan apa lagi yang kini menyusahkan hatimu? Kau mencuri barang berharga lagi?”

“Bukan!”

“Lalu apa?” desah Ki Paladiga.

“Eyang harus menghajar seorang pemuda yang sangat ku benci!”

“Hm, ini pasti salahmu!”

“Apakah Eyang tak percaya padaku? Pemuda itu sangat kurang ajar. Dia..., dia telah menodaiku!”

“Apa?!” sepasang alis orang tua itu kontan terangkat tinggi mendengar penuturan muridnya.

“Aku sama sekali tak mengganggunya. Datang-datang, dia menghajar dan bermaksud meringkusku. Tentu saja aku melawan. Tapi kepandaiannya sangat tinggi, sehingga dengan leluasa nafsu kotornya dilampiaskan kepadaku...,” lanjut Nawang Sari sambil menitikkan air mata.

“Kurang ajar! Katakan, siapa pemuda itu?!”

Dengan terisak-isak, Nawang Sari berusaha menyebut nama seseorang. “Dia dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti...!”

“Apa?!” untuk kedua kalinya Ki Paladiga dibuat terkejut oleh penuturan muridnya. Setahunya, Pendekar Rajawali Sakti bukanlah orang sembarangan. Rasanya, tak seorang pun tokoh-tokoh persilatan yang tak mengenal julukan itu. Ki Paladiga jadi terdiam beberapa saat lamanya. Rasanya, Pendekar Rajawali Sakti tak mungkin akan berbuat hina yang dituturkan muridnya.

Apakah Nawang Sari berdusta, dan hanya ingin memancingnya untuk membela? Siapa tahu dia hanya mencari gara-gara lebih dulu, lalu dengan mudah dikalahkan pemuda itu. Dan kini, dia mengadu yang tidak-tidak? Tapi, jangankan Nawang Sari. Dia sendiri rasanya belum tentu mampu melawan pemuda yang julukannya kian menjulang dan disegani tokoh-tokoh persilatan.

“Bagaimana, Eyang? Kau tentu mau menghajarnya, bukan?”

“Nawang, aku curiga....”

“Heh! Apakah kali ini Eyang tak percaya kalau aku berkata yang sebenarnya?!” Nawang Sari sudah langsung memotong ucapan gurunya dengan nada ketus.

“Dengarlah, Nawang. Pendekar Rajawali Sakti bukanlah orang sembarangan. Aku memang sayang padamu. Tapi dalam hal ini, aku tak bisa berbuat apa-apa. Ada beberapa hal yang menyebabkannya. Pertama, aku tak begitu yakin dengan ceritamu. Dan yang kedua, meskipun kukerahkan seluruh kepandaianku, rasanya tak akan mampu mengalahkannya,” ujar Ki Paladiga.

“Huh! Percuma saja aku memiliki guru yang berilmu tinggi, kalau hanya menghadapi Pendekar Rajawali Sakti saja sudah ciut nyalinya!” dengus Nawang Sari kesal.

“Nawang, jaga mulutmu! Sejak kapan kau berani berkata kasar begitu pada gurumu?! Hm.... Semakin lama segala tingkahmu kubiarkan, kelihatannya malah semakin buruk saja. Mulai sekarang, kau tak boleh lagi keluar dari tempat ini!” bentak Ki Paladiga tegas.

“Apakah Eyang bermaksud menyekapku selama bertahun-tahun di sini?” terdengar sinis suara Nawang Sari.

“Kalau kurasa perlu, mengapa tidak?!”

“Tidak! Kau tak berhak melarangku. Lebih baik, bunuh saja aku daripada disekap terus- menerus. Hidupku pun kini sudah tak berguna lagi. Aku tak takut mati, Eyang. Ayo, bunuhlah aku. Daripada kau menyekapku di sini!” teriak gadis itu, kalap.

“Nawang Sari, diamlah! Diam...!” Ki Paladiga mencoba menenangkan muridnya.

“Aku tak akan diam selama persoalanku belum beres! Tak malukah Eyang mengetahui muridnya dinodai orang lain secara paksa?! Apakah Eyang akan berdiam diri saja dan menunggu tokoh-tokoh persilatan mempermalukan Eyang?!” sentak Nawang Sari lagi, bernada memohon.

“Baiklah. Tenanglah dulu. Persoalan ini akan kuselesaikan nanti dengan pikiran jernih....”

“Tidak! Aku ingin mendengar keputusan Eyang sekarang juga. Apakah Eyang akan mendiamkan persoalan ini, atau menyelesaikannya sampai tuntas?”

“Baiklah. Kita akan membereskan sampai tuntas....”

“Eyang akan menghajarnya?” Ki Paladiga menghela napas pendek.

“Sudah kukatakan tadi, percuma saja seluruh kepandaianku di hadapan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi kalau memang begitu keras niatmu untuk membalas perlakuannya, aku bisa menunjukkan padamu orang yang tepat untuk melakukannya....”

“Apa maksud Eyang?”

“Ada seorang tokoh berilmu tinggi yang telah lama mengasingkan diri dari dunia persilatan. Rasanya, saat ini hanya orang itulah yang mampu mengalahkan Pendekar Rajawali Sakti. Namanya, Ki Sembung Prana. Mintalah padanya agar dia mau mengajarimu beberapa jurus ilmu silat Jika dia tak mau membantumu, kau harus membujuknya. Tapi ingat, orang tua itu tak mudah dibujuk. Jadi, kau harus pandai-pandai membujuknya...,” jelas Ki Paladiga.

Wajah Nawang Sari kontan berseri-seri senang mendengar penjelasan gurunya. Dicatatnya baik-baik pesan gurunya. Terutama, tentang tempat tinggal orang yang dimaksud Ki Paladiga.

********************

Pendekar Rajawali Sakti
Sementara itu, di lain tempat, Sidarta terus berlari membawa dendam di hatinya. Rasa sakit akibat dicundangi Pendekar Rajawali Sakti seperti tak dirasakannya. Di suatu tempat di ujung Desa Kutipan, Sidarta tersungkur persis di muka sebuah halaman rumah yang tak terlalu luas. Dia berusaha bangkit sambil berjalan tertatih-tatih menuju rumah itu.

“Guru...!” panggil Sidarta lirih. Pintu ternyata tak terkunci. Dan Sidarta terus melangkah ke dalam. Tapi baru saja hendak membuka pintu, sesosok tubuh tinggi besar telah berdiri tegak di muka pintu. Sorot matanya tampak tajam dan wajahnya terlihat seram. Tampak bopeng-bopeng memenuhi seluruh permukaan kulit wajahnya.

“Guru, tolonglah aku...,” lirih suara Sidarta.

“Hm, kenapa kau?” suara laki-laki berusia lebih dari lima puluh tahun itu terdengar keras dan berat.

“Aku telah dihajar dan dihina seseorang....”

“Duduklah. Tenangkan hatimu, dan ambil napas perlahan-lahan. Baru setelah itu, ceritakan apa yang terjadi.”

Sidarta menghela napas. Dia beringsut lebih ke dalam, kemudian duduk bersila sambil mengatur pernafasannya. Orang tua itu sendiri duduk tepat di hadapannya sambil memperhatikan muridnya tanpa berkedip. Sebenarnya orang tua yang wajahnya penuh bopeng dan berambut kaku ini adalah Wangsa Naraya. Dia adalah salah seorang tokoh persilatan golongan hitam yang memiliki gelar Gagak Hitam Pemakan Bangkai. Ilmunya sangat tinggi dan disegani orang-orang persilatan. Sifatnya garang dan gampang naik darah. Dan dia tak ingin orang lain memiliki kelebihan dari dirinya.

“Nah, ceritakan apa yang telah menimpamu?” tanya Ki Wangsa Naraya setelah melihat wajah Sidarta lebih tenang dari semula.

“Seseorang telah merebut Nawang Sari...!”

“Hm, aku tak heran. Dari semula, gadis itu tak menyukaimu. Tapi, kenapa kau masih bersikeras juga...?”

“Tapi ini sangat menyakitkan, Guru. Dia pergi bersama seorang pemuda yang berkepandaian tinggi. Bahkan sengaja menghinaku!”

“Lalu kau dapat dikalahkan?”

Sidarta mengangguk lemah sambil menundukkan wajah lesu.

“Hm.... Ini lebih tak mengherankan lagi. Kau memang murid yang malas dan tak sabaran. Ilmumu belum seberapa. Apalagi, pelajaran yang kuberikan masih kurang. Tapi, mengapa kau sudah berani mengumbarnya di luar sana. Kau hanya mempermainkanku saja!” dengus Ki Wangsa Naraya.

“Tapi ini bukan sekadar mempermalukan ku saja, Guru. Tapi juga menyangkut dirimu!” sahut Sidarta, memulai memutar otak untuk mencari alasan memancing kemarahan gurunya.

“Apa maksudmu?”

“Orang itu tahu kalau aku adalah muridmu. Ala-sannya mengalahkanku bukan sekadar karena Nawang Sari, melainkan karena ingin menjatuhkan namamu...!” kata Sidarta, berdusta.

“Apa katamu?! Kurang ajar! Siapa orang itu? Ayo, cepat katakan! Biar kupatahkan batang lehernya!” bentak Ki Wangsa Naraya murka.

Sidarta tersenyum-senyum kecil dalam hati, melihat gurunya terpancing ceritanya. Sidarta tahu betul, bagaimana caranya agar gurunya mau ikut campur dalam urusannya.

“Aku..., aku tak sempat menanyakannya, Guru. Tapi kalau kusebutkan ciri-cirinya, mungkin Guru mengenalnya...,” sahut Sidarta kembali.

“Ayo, cepat katakan! Siapa tokoh persilatan yang tak kukenal?!”

Sidarta lalu menyebutkan ciri-ciri pemuda yang telah mengalahkannya. Kening Ki Wangsa Naraya tampak berkerut dalam, berusaha mengingat-ingat ciri-ciri yang disebutkan muridnya. Namun tak berapa lama....

“Hm, pantas saja kau tak mampu mengalahkannya....”

“Kenapa, Guru? Apakah Guru mengenalnya...?”

“Pemuda yang kau hadapi itu adalah Pendekar Rajawali Sakti!”

Sidarta terpaku beberapa saat lamanya mendengar keterangan gurunya.

“Dia memang berilmu tinggi dan sulit diukur kepandaiannya...!”

“Jadi bagaimana, Guru? Apakah kau akan mendiamkan saja dirimu dihina begitu rupa? Dia bahkan berani menantangmu!”

“Huh! Percuma aku dijuluki Gagak Hitam Pemakan Bangkai kalau menghadapi bocah ingusan itu saja nyaliku sudah ciut. Justru kesempatan inilah yang sangat kutunggu-tunggu. Telah lama aku ingin mematahkan kesombongan pemuda itu. Tapi, tak punya alasan tepat untuk menantangnya. Dan kebetulan dengan adanya persoalanmu ini, aku mempunyai alasan tepat untuk menjajalnya!” geram Ki Wangsa Naraya.

“Kalau begitu, buat apa ditunda lagi, Guru?”

“Diam kau! Kau pikir bisa mengakaliku? Kalau aku menghajar pemuda itu, bukan karena ingin membelamu. Tapi, karena memang sudah lama aku menunggu saat-saat seperti ini!”

Nyali Sidarta mengkeret mendengar bentakan gurunya. Tapi, apa pun yang dikatakan gurunya tak dipedulikan. Yang jelas, pemuda yang telah mempermalukannya di depan Nawang Sari harus mampus. Cepat atau lambat, tak perlu dipersoalkan. Dan dia tahu betul watak gurunya. Kalau ada sesuatu yang mengganjal hatinya, tak pernah sampai ditunda sekian lama. Pasti akan diselesaikan segera. Dan Pendekar Rajawali Sakti adalah ganjalannya!

********************

ENAM

Rasa cinta Nawang Sari pada Rangga perlahan-lahan berubah menjadi rasa benci yang meluap-luap dalam hatinya. Selama ini, siapa laki-laki yang tak tunduk terhadap rayuannya? Wajahnya cantik dan tubuhnya menggiurkan. Setiap laki-laki waras pasti akan berusaha mendekati dan berharap memilikinya. Dan Nawang Sari yang cerdik dan nakal, senang sekali melihat banyak lelaki yang tergila-gila padanya. Bahkan dia malah sengaja mempermainkan mereka. Tapi dengan Rangga, Nawang Sari betul-betul kena batunya.

Pemuda itu kelihatan tak begitu menggebu terhadapnya. Bahkan sampai dia sendiri yang menyatakan cintanya. Namun, dengan seenaknya pula pemuda itu menolak. Bukan main panasnya hati Nawang Sari. Padahal, rasa cintanya kepada Rangga bukanlah cinta pura-pura semata. Hatinya betul-betul jatuh cinta pada Rangga, pemuda yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Maksud hati Nawang Sari meminta bantuan gurunya bukanlah untuk membunuh pemuda itu. Melainkan, untuk meringkusnya. Dia ingin membuat pembalasan yang menyakitkan.

Tapi karena gurunya merasa tak mampu menghadapi Pendekar Rajawali Sakti, hatinya sedikit kecewa. Untunglah Ki Paladiga menunjukkan tempat seseorang yang bernama Ki Sembung Prana berada. Konon menurut gurunya, Ki Sembung Prana adalah seorang tokoh tua yang selama malang melintang dalam dunia persilatan tak pernah terkalahkan.

"Tapi, bagaimana aku harus menaklukkannya jika menurut guru Ki Sembung Prana sama sekali tak mau peduli dengan segala urusan dunia persilatan" Gumam Nawang Sari dalam hati ragu-ragu, setelah dalam perjalanan menuju tempat orang yang disebutkan gurunya itu.

Sepanjang jalan, Nawang Sari memeras otak. Dicarinya cara untuk membujuk orang tua itu agar mau membantu atau mengajarkan barang beberapa jurus ilmu olah kanuragan, agar bisa mengalahkan dan meringkus Pendekar Rajawali Sakti.

“Hm, walau bagaimanapun, aku harus mendapatkan sesuatu darinya. Dengan cara apa pun!” gumam Nawang Sari membulatkan tekadnya.

Setelah berjalan kira-kira dua hari lamanya, Nawang Sari tiba di suatu perbukitan sunyi yang jauh dari keramaian manusia. Nawang Sari ragu melangkah. Matanya beredar ke sekeliling tempat itu yang kelihatan permai, namun sedikit menyeramkan. Banyak terdapat pepohonan besar yang batangnya tak bisa dipeluk dua tangan orang dewasa sekalipun.

Selain sunyi, tempat itu pun tak terlalu terang karena terlindungi oleh cabang serta ranting-ranting pohon yang banyak bergerumbul. Dan di satu sudut yang berdekatan dengan sebatang pohon besar, tampaklah sebuah pondok kecil yang hanya satu-satunya di tempat itu. Nawang Sari segera melangkah mendekati.

“Sampurasun, adakah orang di dalam? Aku pengelana tersesat yang ingin menumpang menginap barang satu atau dua hari...!” sapa Nawang Sari, dengan suara sedikit keras.

Baru saja kata-katanya selesai, tiba-tiba sudah berdiri tegak seseorang di belakangnya sambil menepuk bahunya. Kehadiran orang itu sama sekali tak diketahuinya. Bahkan lebih halus dari angin yang bertiup. Tentu saja hal itu membuat Nawang Sari terlonjak kaget dan buru-buru menoleh.

“Heh?!”

“Siapa kau, Nduk Dan, apa yang kau kerjakan di tempat sunyi ini?”

“Eh, ng.... Apa..., apakah Kakek pemilik pondok ini?” tanya Nawang Sari gugup.

Di hadapan gadis itu telah berdiri seorang laki-laki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun lebih. Walau begitu, tubuhnya masih terlihat kekar, meski beberapa bagian terlihat keriput-keriput yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya bersih dengan kumis tipis yang sudah memutih seperti rambut di kepalanya. Namun sorot matanya lembut, menusuk sanubari orang yang melihatnya. Seperti apa yang dirasakan Nawang Sari saat ini. Orang tua itu mengangguk.

“Kau belum menjawab pertanyaanku?” tegur orang tua itu, mengingatkan dengan suara lembut.

“Ah! Aku Nawang Sari. Ada pun tujuanku ke sini mencari seseorang yang bernama Ki Sembung Prana....”

“Cah ayu, kau tengah berhadapan dengan orang yang kau maksudkan saat ini...!”

“Oh! Jadi, kakekkah orang yang bernama Ki Sembung Prana?! Terimalah salam hormatku...!” Nawang Sari menjatuhkan diri dan bersujud di dekat kaki orang tua itu.

“Berdirilah, Cah Ayu! Aku tak mengerti, untuk apa hal ini kau lakukan....”

“Aku tak akan berdiri, sebelum mendengar penegasanmu untuk mengangkatku menjadi muridmu...!” sahut Nawang Sari langsung.

Ki Sembung Prana terdiam. Terdengar helaan nafasnya yang halus lewat kedua bahunya yang terangkat pelan. “Sayang sekali, Cah Ayu. Kalau kau hendak berguru, maka kau telah datang pada orang yang salah. Aku tak memiliki apa-apa untuk menurunkan kepandaianku...!”

“Tolonglah aku, Ki. Aku berjanji akan menjadi muridmu yang berbakti dan mematuhi segala perintahmu. Apa pun yang kau perintahkan padaku, akan kulakukan segera....”

“Aku tak meragukan tekadmu itu, Cah Ayu. Tapi perlu kukatakan sekali lagi agar kau ketahui, bahwa kau telah datang pada orang yang salah. Aku orang tua lemah yang bodoh, dan tak memiliki apa-apa untuk kuajarkan padamu. Mudah-mudahan, kau bisa mengerti...,” sahut Ki Sembung Prana arif.

“Ki Sembung Prana! Namamu telah termahsyur di mana-mana. Dan hal itu bukanlah nama kosong belaka. Setiap orang yang mendengar namamu, pasti akan menghormatinya. Kau disegani seluruh kalangan persilatan. Lalu, apakah kau masih ingin mengatakan lagi kalau kau orang tua yang lemah dan bodoh...?”

“Hm.... Dari mana kau dapatkan cerita kosong itu?”

“Ki, itu bukan cerita kosong. Semua orang sudah tahu....” Ki Sembung Prana mengerutkan dahi untuk beberapa saat Lalu tanpa banyak bicara, dilewatinya gadis itu dan terus melangkah ke dalam.

“Ki Sembung Prana, aku mohon kemurahan hatimu...!” Nawang Sari tersekat. Dicobanya untuk menyusul orang tua itu ke dalam.

“Maaf, Cah Ayu. Kukira ucapanku tadi sudah jelas!” potong orang tua itu sambil menutup pintu.

Nawang Sari berusaha mengetuknya beberapa kali. “Ki Sembung Prana, aku akan menunggu di muka pintu ini sampai kau bersedia mengangkatku menjadi muridmu...!”

Tak terdengar sahutan dari dalam. Sementara, Nawang Sari mulai gelisah. Kalau di perjalanan hatinya merasa yakin akan mampu menaklukkan hati orang tua itu, maka kali ini dia sedikit kecewa. Orang tua inilah satu-satunya harapan untuk membalaskan sakit hatinya pada Pendekar Rajawali Sakti. Walau bagaimanapun, dia harus mampu membujuknya. Tapi dengan cara bagaimana?

Nawang Sari melangkah pelan dan duduk di atas sebuah batu yang tak jauh dari pintu itu, sambil memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk membujuk orang tua itu. Apakah dia akan menunjukkan kekerasan hatinya dengan terus menunggu di muka pintu ini?

Bagaimana kalau ternyata hati orang tua itu tetap keras kepala dan tak peduli? Gadis itu terus berpikir keras. Dan kini, ingatannya tertuju pada Bunga Asmara Dewa. Dan bunga itu memang dari hasil curiannya. Nawang Sari memang terkenal nakal dan suka mencuri benda-benda berharga milik seseorang. Dan gurunya sendiri, Ki Paladiga, tahu akan hal itu.

Di antara orang-orang atau tokoh-tokoh persilatan yang mengetahui kalau gadis itu muridnya, maka sudah langsung mendatanginya untuk meminta pertanggung-jawaban. Dan kalau sudah demikian, Nawang Sari tak punya pilihan lagi selain mengembalikan barang-barang yang dicurinya. Tapi banyak juga yang gentar oleh kebesaran nama Ki Paladiga. Sehingga bila Nawang Sari berhasil mencuri barang-barang milik mereka, jarang sekali bisa kembali lagi.

Sementara tentang Bunga Asmara Dewa, bunga itu memang sangat berkhasiat untuk membangkitkan nafsu birahi seseorang. Dan ketika itu, banyak orang memperebutkannya karena nilainya sangat mahal. Tidak hanya sulit dicari, tapi juga tak sembarang orang mengetahui tempatnya. Dan suatu saat, Nawang Sari secara kebetulan bertemu dua orang yang tergesa-gesa memacu kudanya.

Niat Nawang Sari pada mulanya hanya sekadar merampok, karena melihat kedua penunggang kuda itu membawa sebuah buntalan. Disangkanya, mereka memiliki barang berharga. Maka langsung dicegatnya dua orang penunggang kuda itu. Lalu, dengan paksa direbutnya buntalan itu dari tangan mereka.

Meskipun keduanya mempertahankan mati-matian, tapi Nawang Sari berhasil melumpuhkan mereka dan merampas buntalan itu. Dan dia memang tak berniat membunuh. Gadis itu langsung melarikan diri. Dan setelah jauh dari mereka, barulah buntalan itu dibukanya. Ternyata, isinya adalah sekuntum bunga yang bening di antara kepingan uang emas.

Dan sebenarnya, Nawang Sari tak tahu kalau bunga itulah yang dicari-cari orang. Belakangan, barulah diketahui, ketika mendengar cerita orang mengenai ciri-cirinya yang sama persis dengan bunga yang kini berada di tangannya.

“Hm.... Apakah perlu bunga ini kugunakan untuk menaklukkannya?” kata Nawang Sari pelan, mengakhiri lamunannya. Nawang Sari masih ragu melakukannya. Karena kalau hal itu harus dilakukan, berarti mempertaruhkan harga dirinya. Gadis cerdik itu masih berharap Ki Sembung Prana mau berubah pikiran. Maka seharian itu hatinya dikeraskan untuk tetap tak beranjak dari tempat itu.

Tapi apa yang diharapkan rasanya tak akan terwujud. Buktinya sampai jauh malam, Ki Sembung Prana sedikit pun tak membuka pintu, tanpa peduli dengan apa yang dilakukannya. Nawang Sari menggigil kedinginan karena udara di tempat itu memang amat dekat dengan pegunungan. Dan ketika malam tiba, dinginnya bukan kepalang.

“Orang tua sial! Dia sama sekali tak peduli padaku. Rasanya meskipun aku sampai mati di sini, dia tetap tak akan peduli. Tapi aku harus bisa menaklukkannya. Aku harus bisa mendapatkan kepandaiannya!” tegas Nawang Sari membulatkan tekad di hatinya.

Sudah tidak dipikirkan lagi akibat apa pun, selain keinginannya tercapai. Nawang Sari beranjak, lalu mengulurkan sesuatu dari balik bajunya. Kini, sekuntum bunga yang telah berwarna kuning kecoklatan tergenggam dalam tangannya. Bunga itulah yang disebut Bunga Asmara Dewa, yang telah lama disimpan hingga menjadi layu. Tapi meski begitu, khasiatnya tetap tak berubah.

Gadis itu lalu membuat perapian dengan bantuan batu pemantik, setelah mengumpulkan ranting-ranting kering. Begitu api berkobar, satu persatu kelopak Bunga Asmara Dewa itu diceburkan ke dalam gejolak nyala api. Dan sesaat saja, tercium bau harum semerbak di sekitar tempat itu, sehingga mampu membuat seseorang terhanyut dalam khayalan yang memabukkan.

Sementara itu, Ki Sembung Prana tengah duduk bersila memusatkan pikiran seperti yang telah biasa dilakukannya setiap malam. Kelopak matanya terpejam dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Dalam keadaan begitu, aliran darahnya terasa mengalir teratur ke seluruh bagian tubuh. Dan lewat pernapasan yang teratur, dikumpulkannya hawa murni yang berpusat di bawah perut untuk dialirkan ke seluruh bagian tubuh. Dalam keadaan demikian, pikirannya seakan-akan kosong sehingga mampu menenangi jiwanya.

“Heh?!” Ki Sembung Prana tersentak kaget ketika penciumannya mengendus sesuatu dan langsung merasuk dalam pikirannya. Bau harum itu begitu semerbak, dan dengan cepat membangkitkan gairah kelelakiannya.

“Celaka!” Ki Sembung Prana tersentak kaget.

Laki-laki tua itu berusaha menahan pengaruh yang mulai menjalar di setiap pembuluh darahnya. Namun semakin mencoba untuk menahan, perasaan tak menentu seperti tak tertahan terus menyerang. Tubuhnya mulai gemetar dan helaan nafasnya mulai tak beraturan. Perlahan-lahan orang tua itu bangkit dan berjalan menuju pintu depan.

Memang, setinggi apa pun ilmu seseorang, tak bakalan mampu mengalahkan pengaruh harumnya Bunga Asmara Dewa. Akibatnya, tak heran kalau Ki Sembung Prana menjadi kalang-kabut menerima pengaruh itu.

“Ki Sembung Prana! Aku kedinginan di luar. Tidak adakah sedikit belas kasihanmu untuk mempersilakanku masuk...?” lirih suara Nawang Sari di depan pintu.

Ki Sembung Prana membuka pintu. Ditatapnya gadis itu beberapa saat dengan sorot mata aneh. “Masuklah...!” ujar orang tua itu lembut.

Nawang Sari melangkah pelan. Sedang Ki Sembung Prana membimbingnya sambil memegangi bahunya. “Kau tentu lelah seharian berada di luar. Istirahatlah di tempat tidurku...,” lanjut Ki Sembung Prana lagi, begitu telah berada di dalam kamarnya.

Lagi-lagi Nawang Sari tak membantah. Tubuhnya lalu dibaringkan di tempat tidur, sementara Ki Sembung Prana menyelimutinya. Tapi dalam benaknya mulai bergejolak pikiran-pikiran tak menentu terhadap gadis itu. Ki Sembung Prana berusaha sekuat mungkin menahannya, dan bermaksud meninggalkan gadis itu sendirian.

“Ki, aku takut sendirian. Kamar ini gelap dan me-nyeramkan. Kau di sinilah menemaniku,” ujar Nawang Sari, yang mulai dirasuki khasiat Bunga Asmara Dewa sambil mencekal pergelangan tangan Ki Sembung Prana. Ki Sembung Prana diam mematung sambil menatap Nawang Sari. Sorot matanya semakin menunjukkan kegelisahan. Dan helaan nafasnya semakin tak terkendali lagi. Apalagi ketika Nawang Sari mulai menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu perlahan-lahan bajunya mulai dibuka sambil memandang Ki Sembung Prana dengan tatapan mesra.

“Ki Sembung, aku kedinginan sejak di luar tadi. Maukah kau menemaniku tidur di sini...?”

Ki Sembung Prana tetap mematung. Pandangannya mulai kosong, tanpa berkedip ketika melihat tubuh Nawang Sari yang tanpa sehelai benang pun. Apalagi saat Nawang Sari mendekat, dan mulai membuka pakaian orang tua itu satu persatu. Ki Sembung Prana seperti tak kuasa mencegahnya. Urat syarafnya kian menegang dan aliran darahnya kian mengalir hingga membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

“Cah ayu...!” terdengar lirih suara orang tua itu. Ki Sembung Prana menepis kedua tangan gadis itu. Lalu dengan cepat pakaiannya dibuka sendiri. Sepasang matanya jalang menatap keindahan lekuk-lekuk tubuh Nawang Sari. Kemudian dengan satu gerakan cepat, disambarnya tubuh molek itu dan dihempaskannya ke tempat tidur. Nawang Sari sendiri seperti tak kuasa menolak. Dia hanya bisa mendesah pelan sambil sesekali merintih lirih.

“Ki Sembung, cepatlah berikan sesuatu padaku. Bangkitkanlah gairahmu.... Reguklah kenikmatan di malam dingin ini....”

Ki Sembung Prana diam tak menjawab. Hanya dari mulutnya saja yang mengeluarkan geraman halus. Tak dipedulikan lagi erangan-erangan gadis itu. Tubuhnya langsung menghimpit, seperti hendak menyatu dengan gadis itu. Berkali-kali mulutnya menggeram hebat, diiringi rintihan halus Nawang Sari.

Di luar, malam semakin kelam dan dingin merasuk tulang. Suara burung malam terdengar berbaur teriakan penghuni hutan yang tak jauh dari pondok itu. Beberapa kelelawar yang tadi hinggap di tepi atap, tiba-tiba melesat terbang sambil mengeluarkan suara.

Dari luar terdengar helaan napas memburu dan jerit kecil seseorang yang berbaur derit kayu dipan yang beraturan. Kemudian ketika terdengar lenguhan panjang, suasana kembali sepi. Dari dalam satu ruangan dalam pondok itu hanya terdengar helaan napas lelah!

********************

Pagi-pagi sekali saat terbangun, Ki Sembung Prana tersentak kaget mendapati dirinya tidur tanpa sehelai benang pun. Sedang di sebelahnya tertidur seorang gadis cantik yang kemarin berdiri di muka pintu pondoknya. Tubuhnya pun dalam keadaan sama. Ki Sembung Prana mulai mengingat-ingat peristiwa yang terjadi semalam.

“Astaga?! Apa yang telah kulakukan tadi malam?!” sentak Ki Sembung Prana.

Nawang Sari mulai sadar dari tidurnya, begitu mendengar seruan kaget orang tua itu. Dan ketika mendapati dirinya dalam keadaan polos, buru-buru disambarnya selimut untuk menutupi tubuhnya. Matanya langsung memandang lekat ke arah Ki Sembung Prana dengan rasa kemarahan yang meluap.

“Kau..., kau.... Apa yang telah kau lakukan terhadap diriku? Ki Sembung Prana! Tak kusangka, kau telah memperdayakan diriku. Kukira kau tokoh terhormat yang menjunjung tinggi kesusilaan. Tapi kini, terbukti bahwa kau tak lebih dari seorang laki-laki hidung belang terkutuk!” maki Nawang Sari, mulai menyusun siasatnya.

Dan sebenarnya dia sadar, kalau dirinya juga telah tersirep harum Bunga Asmara Dewa. Gadis itu juga mendekap wajahnya, dan menangis tersedu-sedu.

“Cah ayu! Jangan sembarangan bicara! Semua ini karena ulahmu sendiri. Kaulah yang menyebabkan semua ini terjadi!” bantah Ki Sembung Prana sengit.

“Mustahil! Kau hanya mencari-cari alasan. Kaulah yang membawaku masuk ke sini, dan memaksaku melakukan perbuatan terkutuk itu. Dan kini, dengan seenaknya berusaha mengelak!”

“Hm.... Kau sungguh cerdik, Cah Ayu. Kau pikir, aku tak tahu apa yang kau perbuat. Bau harum yang memabukkan itu semalam bukan bau harum biasa. Tapi, berasal dari suatu bunga yang berkhasiat untuk membuat pikiran manusia dikacaukan hawa nafsunya sendiri....”

“Kau bisa saja bicara apa pun. Tapi yang jelas, kau telah memaksaku untuk melakukan perbuatan terkutuk itu. Dan kau harus mempertanggungjawabkannya. Kalau tidak, aku akan katakan pada seluruh tokoh persilatan tentang apa yang kau lakukan malam tadi terhadapku!” ancam Nawang Sari.

Ki Sembung Prana tercekat. Padahal, selama ini dia mengasingkan diri dari dunia persilatan, adalah untuk menjauhkan diri dari segala fitnah dan cerita-cerita buruk yang bisa menjatuhkan namanya. Laki-laki tua itu adalah tokoh terpandang dan disegani. Semua tokoh persilatan dari berbagai golongan menaruh hormat padanya, karena sikap dan perbuatannya yang selalu adil dan bijaksana. Di samping itu, telah banyak orang yang menjadikannya sebagai tokoh panutan. Dan kini, bila gadis ini betul-betul melaksanakan ancamannya, habislah nama baiknya. Dan dia bakal jadi sorotan orang banyak serta mendapat caci-maki. Lalu, ingin ditaruh di mana mukanya?

“Kau tak bisa melakukan itu...,” lirih suara Ki Sembung Prana.

“Kenapa tidak? Hidupku kini terhina dan menjadi orang yang terbuang, akibat perbuatanmu itu. Sedangkan kau, jangankan mau bertanggung jawab, tapi malah berusaha balik menuduhku yang tidak-tidak!” sahut Nawang Sari sengit.

Ki Sembung Prana terdiam beberapa saat lamanya memikirkan kata-kata gadis itu.

“Kau boleh saja tak mau bertanggung jawab atas segala perbuatanmu itu, asal dengan satu syarat Kau harus mengajarkan kepandaianmu kepadaku! Kalau menolak, maka sepulang dari tempat ini aku akan mengadukan hal ini dan menyebarkannya kepada semua orang...,” ancam Nawang Sari, memecah keheningan.

Ki Sembung Prana tersenyum kecil. Mengertilah dia kini. Ternyata, gadis ini memang sengaja menjebaknya. Tapi keadaannya kini semakin terpojok. Kalaupun mau bertanggung jawab dengan mengawini gadis ini, maka berarti tetap saja akan membuat nama baiknya tercemar. Tokoh-tokoh persilatan tentu akan bertanya-tanya, apa gerangan sebabnya sehingga orang setua dirinya mengawini seorang gadis belia yang cantik? Banyak orang tahu, bahwa sejak masih muda dia tak pernah memiliki seorang istri. Dan kini, kenapa tiba-tiba pada usia setua ini pikirannya berubah? Bukankah nanti orang akan menyangka kalau dirinya telah berubah?

“Hm.... Setelah sekian lama, kini terpaksa aku harus membatalkan janji untuk tidak mencampuri segala urusan dunia persilatan. Baiklah, Cah Ayu. Kau menang. Aku tak punya pilihan lain. Tapi, kau harus pegang janjimu....”

Mendengar itu, bukan main senangnya hati Nawang Sari. “Kau tak perlu khawatir, Ki. Setelah selesai pelajaran yang kau berikan padaku, maka saat itu pula aku tak akan pernah mengungkit-ungkit persoalan tadi malam. Dan kau terbebas dari segala tanggung jawab serta ancamanku tadi!”

********************

TUJUH

Sudah tiga hari lebih Pandan Wangi berkelana dari satu desa ke desa lain untuk mencari jejak Rangga. Namun sejauh ini jejak pemuda itu belum juga ditemuinya. Pandan Wangi tahu betul, ke mana tujuan Rangga. Pendekar Rajawali Sakti tak lain ingin membantu para pejuang untuk mengusir orang-orang asing dari negeri ini. Setiap desa yang disinggahinya, telah diperkirakan sebagai tempat yang dituju orang-orang asing itu.

Namun kebanyakan dari tempat yang disinggahi, hanya sedikit pejuang yang tersisa. Dan itu pun kebanyakan dari mereka akan kembali ke induk pasukannya. Dari cerita-cerita penduduk desa itulah Pandan Wangi mendengar sepak terjang Rangga. Dan hal ini diam-diam membuatnya merasa bangga. Mereka selalu memuji-muji pemuda bergelar Pendekar Rajawali Sakti itu, karena berhasil membuat orang-orang asing yang menjarah desa lari tunggang-langgang.

Siang ini, matahari teras panas menyengat Tanah menjadi kering dan daun-daun layu di pepohonan beterbangan, manakala angin bertiup kencang. Pandan Wangi kini bersandar di bawah sebatang pohon sambil melepas lelah. Kulit tubuhnya yang putih kini terlihat kemerah-merahan. Beberapa tetes peluh tampak membasahi kening dan tubuhnya.

“Hm.... Ke manakah Kakang Rangga?” bisik gadis itu lirih.

Batin Pandan Wangi terasa getir. Dan rasa cemburu tak terasa menyusup dalam hati bila membayangkan saat ini Rangga tengah berduaan dengan Nawang Sari. Rasa penyesalannya timbul dan tak habis-habis mengutuk diri sendiri. Kenapa dia mau saja disuruh Rangga untuk pergi ke Karang Setra?

“Amboi...! Seorang gadis cantik tengah termenung-menung sendiri di siang terik begini...!” tiba-tiba terdengar suara yang menyentak lamunan Pandan Wangi.

“Heh?!” Pandan Wangi langsung menoleh ke arah sumber suara. Tiba-tiba di belakangnya telah berdiri seorang laki-laki cebol yang tingginya hanya sebatas pinggang. Melihat dari raut wajahnya, tampak laki-laki ini masih muda. Matanya tajam seperti hendak menelanjangi seluruh tubuh gadis itu. Dan senyumnya selalu terkembang nakal. Tapi melihat cara berpakaian dan raut wajahnya, tampaknya dia bukan penduduk asli sini. Bahkan lebih mirip orang-orang asing yang dulu pernah dihajar Rangga.

"Siapa kau?!” tanya Pandan Wangi bernada tak suka.

“He he he...! Perkenalkan. Namaku, Ceng Ho. Orang-orang di tempatku menyebutku sebagai Dewa Cebol Periang. Sebaliknya, siapa kau. Dan, kenapa siang-siang melamun di tempat ini? Bukankah lebih baik kalau menemaniku? He he he...! Tak kusangka di negeri ini aku bisa menemukan bidadari secantikmu!” sahut laki-laki yang mengaku bernama Ceng Ho atau Dewa Cebol Periang itu.

Walaupun kata-kata yang diucapkan Ceng Ho enteng saja, tapi Pandan Wangi tetap tak menyukainya. Orang ini sepintas terlihat seperti orang baik-baik. Namun siapa tahu di balik itu menyimpan maksud-maksud buruk.

“He, Ceng Ho.... Namaku Pandan Wangi. Nah! Karena tak ada urusan denganmu, aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus kukerjakan secepatnya....”

“Eee, mau ke mana? Kenapa harus buru-buru? Kau pasti berbohong padaku. Mana mungkin ada urusan, kalau ternyata kau masih menyempatkan diri termenung-menung di sini. Ayo, temanilah aku sejenak,” ajak Ceng Ho sambil menghalangi langkah Pandan Wangi yang ingin berlalu darinya.

Pandan Wangi menaikkan alis. Wajahnya sudah tak ramah seperti tadi, tapi lebih mirip rasa kesal dan jengkel. “Kisanak! Aku tak ada waktu untuk menemanimu. Harap kau maklum saja. Lagi pula, siapa bilang aku bermenung-menung? Aku hanya sedang berpikir. Dan hal itu tak ada urusannya sedikit pun denganmu!” sahut Pandan Wangi cepat.

“Ha ha ha...! Gadis cantik yang cerdas. Aku semakin suka saja kepadamu. Dan kalau Ceng Ho sudah suka, maka kau tak boleh ke mana-mana sebelum kuizinkan.”

“Apa maksudmu?”

“Sederhana saja. Kau tak boleh pergi ke mana-mana, sebelum aku mengizinkannya!” tegas Ceng Ho dengan wajah mulai sungguh-sungguh.

“Heh! Apa hakmu berkata begitu?” tanya Pandan Wangi geram.

“Rasanya tak perlu hak untuk bicara begitu. Tapi cukup kau ketahui, kau tak akan bisa pergi ke mana-mana sebelum menemaniku beberapa saat!”

“Cebol! Aku tak mengerti maumu. Tapi kalau kau hendak bermain kekerasan, maka kau boleh berbuat sesuka hatimu setelah aku jadi mayat!” dengus Pandan Wangi kesal.

“Baik! Rupanya kau memang perlu dikerasi!” Maka dengan gerakan gesit, Ceng Ho melesat cepat bagai kilat, hendak menyambar Pandan Wangi. Namun, gadis itu cepat waspada. Langsung saja dia membuang diri, menghindari serangan laki-laki cebol itu.

“Yeaaa...!”
Wuuut!

Serangan Ceng Ho luput. Dan Pandan Wangi cepat bangkit kembali. Kini mereka saling menatap tajam. Kecepatan gerak orang bertubuh cebol itu sungguh membuat kagum Pandan Wangi. Dan diam-diam hatinya merasa khawatir. Satu jurus saja baru berlangsung, namun sudah terasa ada tekanan berat yang dilakukan orang bertubuh cebol itu.

Gadis itu segera menyadari kalau orang cebol ini tak bermaksud melukainya. Karena dari beberapa serangannya, terlihat dia hanya melancarkan gerakan totokan saja. Agaknya, orang itu bermaksud meringkusnya hidup-hidup. Di samping itu, Pandan Wangi merasa kalau ilmu kedigdayaannya masih di bawah Ceng Ho. Namun, di hatinya tidak ada kegentaran sedikit pun.

“Hm.... Boleh juga kepandaianmu. Tapi coba tahan jurus ‘Burung Penari Menghina Elang’ ku!” kata Ceng Ho sambil terkekeh.

“Huh! Keluarkanlah seluruh kepandaianmu. Aku tak akan gentar sedikit pun!” dengus Pandan Wangi.

“Hiyaaat..!”

Tubuh Ceng Ho bergerak cepat menyerang, membuat Pandan Wangi terkesiap. Kali ini, lawan agaknya betul-betul mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Namun Pandan Wangi bukanlah gadis sembarangan. Ilmu silatnya juga sudah cukup tinggi, kendati sedikit di bawah lawannya. Dan kalau Pandan Wangi gadis lemah, mungkin sudah sejak tadi berhasil dijatuhkan lawan. Namun, rupanya kini kepandaian Pandan Wangi tak berarti banyak saat Ceng Ho mengeluarkan jurus ‘Burung Penari Menghina Elang’.

Dari awal jurus itu saja, sudah terlihat kalau Pandan Wangi mulai terpojok. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk menghindari serangan lawan dengan mengerahkan seluruh kemampuannya. Tapi gerakan Ceng Ho luar biasa cepatnya dan sulit sekali diimbangi. Dalam suatu kesempatan, Ceng Ho terus melancarkan serangan-serangannya.

Dan dengan suatu gerak tipu manis, tangan kirinya bergerak menyambar leher. Maka cepat-cepat Pandan Wangi memapak dengan tangan kanan. Namun sebelum terjadi benturan, Ceng Ho telah menarik pulang serangannya. Akibatnya tubuh Pandan Wangi jadi melintir, menyambar angin kosong. Sementara, kesempatan itu digunakan Ceng Ho untuk melesat ke atas. Tak ada kesempatan bagi Pandan Wangi untuk menghindar. Maka....

“Jatuh...!”
Tuk!
“Ohhh...!”

Pandan Wangi mengeluh pelan. Memang, Ceng Ho berhasil menotok urat bahunya hingga gadis itu ambruk tak berdaya. Kemudian, kakinya telah mendarat di tanah.

“Ha ha ha...! Sudah kukatakan, kau tak akan bisa pergi ke mana-mana. Tapi, kau masih juga tak percaya!” kata Ceng Ho sambil terkekeh dan bertolak pinggang menatap gadis itu.

“Keparat! Lepaskan aku! Aku masih sanggup menghadapimu dalam seribu jurus sekalipun!” teriak Pandan Wangi marah.

“Ha ha ha...! Kau memang gadis yang memiliki kepandaian hebat. Dan aku percaya kata-katamu itu. Tapi saat ini, aku tak tertarik untuk bertarung denganmu. Karena, ada hal lain yang membuatku lebih tertarik. Aku ingin menikmati tubuhmu yang menggiurkan!” sahut Ceng Ho sambil tertawa-tawa kecil.

Kemudian dengan tiba-tiba, Ceng Ho menubruk tubuh Pandan Wangi, hingga kini telah berada dalam pondongannya. Dan langsung dibawanya tubuh Pandan Wangi berlari dari tempat itu.

“Cebol keparat! Lepaskan aku! Mau kau bawa ke mana aku?! Lepaskan...?!” Pandan Wangi hanya bisa berteriak-teriak memaki.

Ceng Ho menghentikan langkahnya ketika tiba di suatu tempat yang banyak ditumbuhi semak-semak. Dibaringkannya tubuh Pandan Wangi di tanah. Dan sambil menyeringai lebar, tangannya mulai meraba-raba beberapa bagian tubuh gadis itu.

“He he he...! Tenang-tenang sajalah. Aku sedang mencari tempat aman untuk kita berdua. Nah! Kukira, di sini cukup aman!” sahut Ceng Ho.

“Keparat busuk! Hentikan perbuatan kotormu! Keparat..! Hentikan...! Aow, setan laknat!” Pandan Wangi semakin kalap, berteriak dan memaki-maki Ceng Ho.

Pandan Wangi semakin keras menjerit ketika pada bagian dadanya yang mencuat, seenaknya digerayangi tangan-tangan nakal laki-laki cebol itu. Ceng Ho agaknya sudah tak bisa menahan gejolaknya lagi. Tanpa mempedulikan teriakan dan makian gadis itu, dirabanya dengan kasar tubuh gadis itu. Tentu saja Pandan Wangi semakin menjerit-jerit tak karuan. Sumpah serapah dan makian tak terhitung lagi keluar dari mulutnya.

Tapi, Ceng Ho malah semakin kurang ajar saja. Dengan geram dan penuh nafsu, digumulnya gadis itu. Teriakan dan makian gadis itu seperti membuat nafsunya kian bergejolak saja. Hati Pandan Wangi sudah mulai putus asa. Percuma saja menjerit-jerit, namun Dewa Cebol Periang semakin tambah beringas saja. Air matanya mulai menetes membasahi pipi.

Tapi sebelum semuanya menimpa gadis itu, tiba-tiba terlihat tubuh Dewa Cebol Periang melayang ke depan sambil menjerit keras. Dan sebelumnya, memang ada sekelebat bayangan putih yang melesat cepat.

“Aaakh...!”

Dan tahu-tahu saja di dekat Pandan Wangi telah berdiri tegak seorang pemuda tampan berbaju rompi. Rambutnya panjang terurai. Tampak di punggungnya tersampir sebuah gagang pedang berhulu kepala burung. Siapa lagi orang itu kalau bukan Pendekar Rajawali Sakti?

Rangga tampak berdiri tegang dengan napas menderu. Dadanya turun naik, dan wajahnya memerah. Mulutnya mendesis geram, dengan geraham bergemeletuk. Jelas, kemarahannya telah sampai ke ubun-ubun melihat Pandan Wangi diperlakukan tidak senonoh. Siapa yang tidak geram melihat kekasihnya dibuat seperti itu?

“Kakang...! Oh, syukurlah kau cepat datang...!”

Pendekar Rajawali Sakti segera melepaskan totokan gadis itu. Dan Pandan Wangi tak tahu, bagaimana caranya menumpahkan rasa haru di hatinya. Begitu merasa terbebas, langsung dirangkulnya Rangga seperti ingin menumpahkan gejolak hatinya. Dan gadis itu menangis sesenggukan di bahu Pendekar Rajawali Sakti.

“Pandan..., kau.., kau...?” tiba-tiba Rangga mele-paskan pelukannya.

“Kenapa, Kakang?”

“Pakaianmu....”

“Oh!” Pandan Wangi terperanjat kaget. Baru disadari kalau saat itu pakaiannya sudah tak karuan bentuknya. Buru-buru dia berlari dan bersembunyi di balik semak untuk merapikan pakaian.

Sementara itu, Ceng Ho yang tadi terpental terkena tendangan Rangga, langsung bangkit kembali. Wajahnya garang dengan sorot mata tak suka melihat kehadiran Rangga yang tiba-tiba.

“Setan! Siapa kau, hingga berani mencampuri urusanku?!” bentak Ceng Ho keras.

“Aku?! Biadab busuk! Aku yang akan mencabut nyawamu!” balas Rangga begitu geram melihat Pandan Wangi diperlakukan tidak senonoh.

Dan sudah menjadi janjinya dalam hati, akan membunuh siapa saja bila ada yang berbuat kurang ajar terhadap Pandan Wangi. Hatinya memang sangat geram melihat tingkah si cebol itu. Lebih-lebih ketika tampangnya mirip orang-orang asing yang beberapa hari lalu dihajarnya. Maka rasa kesal di hatinya kini bercampur perasaan geram dan marah.

“Keparat! Jiwamu benar-benar licik, dan hanya berani main belakang!”

“Kini kita sudah saling berhadapan. Apa lagi yang ditunggu? Dan yang pasti, kau harus mampus di tanganku!” tantang Rangga tak peduli ejekan lawan.

“Huh! Bocah dungu, terimalah bagianmu...!” Selesai berkata begitu, Ceng Ho langsung melompat sambil mengirim satu serangan bertenaga dalam kuat ke arah Rangga.

“Yeaaa...!”

Sekilas Rangga sudah bisa merasakan kalau serangan lawan bukan sembarangan. Makanya, dia tak mau menganggap remeh. Dan tubuhnya langsung bergerak cepat menghindar. Namun, Ceng Ho yang bertubuh cebol bagaikan bola karet gerakannya cepat dan gesit. Akibatnya, untuk beberapa saat Rangga sedikit terdesak. Namun itu tidak berlangsung lama. Kini Pendekar Rajawali Sakti mulai membalas serangan sambil mengeluarkan rangkaian jurus Rajawali Sakti.

“Hiyaaa...!”

Pada suatu kesempatan tubuh Ceng Ho berputar sambil mengayunkan sebelah kakinya ke rahang Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gesit, Rangga mengelak. Langsung ditangkapnya pergelangan kaki lawan.

Plak!
Wut!

Dan dengan kekuatan penuh, Rangga memutar-mutar tubuh Ceng Ho. Lalu....

Des!
“Akh!”

Ceng Ho terpekik nyaring ketika tubuhnya dihantamkan ke sebatang pohon yang cukup besar. Begitu Rangga melepaskan pegangannya, maka tubuh Dewa Cebol Periang langsung jatuh ke tanah. Namun, laki-laki cebol itu cepat bangkit berdiri, walaupun agak sempoyongan. Tubuhnya terasa sakit bukan main. Pernafasannya pun sedikit sesak. Bahkan beberapa kali memuntahkan darah segar. Tulang dadanya terasa nyeri dan isi perutnya seperti diaduk-aduk.

Dan belum juga Ceng Ho bersiap, Rangga telah bergerak cepat Langsung dikirimkannya serangan keras berupa tendangan bertenaga dalam tinggi. Ceng Ho yang belum dap betul menjadi terkesiap bukan kepalang.

“Hiyaaa..."
Begkh!
“Aaah...!”

Kembali Dewa Cebol Periang terpekik nyaring, dan kembali jatuh bergulingan di tanah. Tampak begitu tubuhnya berhenti bergulingan, Ceng Ho kembali memuntahkan darah. Sementara Rangga berdiri memandangi dengan sikap sinis.

“Kisanak! Seharusnya kau mampus! Kau telah begitu berani bermaksud kotor terhadap kekasihku. Namun, rupanya Sang Hyang Widhi menghendaki lain!” kata Rangga, geram.

Ceng Ho memandang Rangga sekilas, lalu menundukkan wajahnya. “Kau memang hebat dan aku mengaku kalah. Kau boleh berbuat apa saja padaku. Dan sebelum aku mati, sebutkan julukanmu!” sahut Ceng Ho mantap.

“Orang menjulukiku Pendekar Rajawali Sakti...!”

Ceng Ho mendongakkan kepala, dan langsung memandang Rangga seperti tak percaya apa yang baru didengarnya. “Hm.... Kaukah orangnya? Kedatanganku ke sini justru hendak menemuimu, karena kau membuat gentar prajurit-prajurit kerajaanku. Tapi, tak disangka kau mengalahkanku dengan mudah. Nah, Kisanak. Kalau kau berniat membunuhku, aku sudah siap. Bagiku untuk hidup pun saat ini sudah tak berguna lagi. Aku tak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan kepadaku untuk membunuhmu,” kata Ceng Ho.

“Kisanak, terlalu enak bagimu untuk kubunuh. Tiga jalan darah di tubuhmu akan kutotok. Sehingga darahmu berhenti mengalir. Dan kau akan merasakan kesakitan yang hebat. Tapi kalau kau memiliki tenaga dalam kuat, pasti bisa membebaskan diri sebelum sore nanti!

Hiyaaat!”
Tuk! Tuk! Tuk!
“Ohhh...!”

Ceng Ho mengeluh pelan dengan suara lirih. Tubuhnya kontan terasa lemas tak bertenaga, dan tak mampu digerakkan. Segera diketahui kalau pemuda itu memang tidak membunuhnya. Namun, tiga kali totokan yang dilakukan pemuda itu begitu kuat menyengatnya.

“Pendekar Rajawali Sakti! Lebih baik bunuh saja aku daripada disiksa begini!” lirih suara Ceng Ho.

Tapi Rangga sudah tak mempedulikannya lagi. Tubuhnya cepat berkelebat bersama Pandan Wangi, meninggalkan tempat itu. Sementara Ceng Ho hanya berteriak-teriak memanggilnya. Namun keduanya telah menghilang jauh. Laki-laki cebol itu terus berteriak-teriak, ketika merasakan sakit yang amat sangat di tubuhnya!

********************

DELAPAN

Di sebuah pinggiran hutan, Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi berjalan bersama-sama. Begitu bertemu sebuah sungai yang airnya sangat jernih, mereka berhenti. Dan Rangga segera membasuh wajah sambil meneguk air, sekadar membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

Sementara, Pandan Wangi diam memperhatikan sambil bersandar di bawah pohon. Suasana di tempat ini begitu sunyi. Namun kesunyian itu tiba-tiba dipecahkan oleh kehadiran dua sosok tubuh yang berkelebat cepat menghampiri. Rangga langsung bangkit dan bersiaga, ketika dua sosok itu telah berada tepat di hadapannya. Salah seorang memang pernah dikenalnya.

Pemuda itulah yang pernah dicundanginya ketika sedang jalan bernama Nawang Sari. Sedang di sebelahnya terlihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya penuh bopeng, dan tubuhnya tinggi besar.

“Sidarta! Bocah inikah yang kau ceritakan itu?!” tanya orang tua itu pada pemuda di sampingnya.

“Benar, Guru. Pemuda sok jago inilah yang telah menghinamu!”

“Hm...!” orang tua itu mendehem kecil sambil menatap Rangga dengan sorot mata tajam menusuk.

“Kisanak! Siapakah kau sebenarnya, dan ada urusan apa ke tempat ini?” tanya Rangga, datar. Rangga sebenarnya sudah bisa membaca gelagat buruk, tapi pura-pura tak tahu.

“Pendekar Rajawali Sakti! Sungguh gegabah kau berani menghina dan menantangku! Aku Wangsa Naraya yang bergelar Gagak Hitam Pemakan Bangkai. Memang tak termahsyur julukanmu. Tapi, hari ini jangan harap kau bisa bertingkah di depan hidungku!”

Rangga tak merasa heran kalau mendengar kemarahan orang tua itu, sebab kedatangan orang yang berjuluk Gagak Hitam Pemakan Bangkai itu bersama pemuda yang bernama Sidarta. Pemuda itulah yang pernah menaruh dendam padanya. Tapi, ada urusan apa hingga orang tua itu mengatakan kalau Rangga meng-hina dan menantangnya? Jelas, Sidartalah yang melebih-lebihkan ucapannya agar orang tua itu mau turun tangan dan membalaskan sakit hatinya.

“Kisanak! Tak kusangka hari ini mendapat kehormatan bisa bertemu Gagak Hitam Pemakan Bangkai yang terkenal itu. Tapi, agaknya kau salah sangka. Aku sama sekali tak pernah menghinamu, apalagi berani menantangmu,” sahut Rangga.

“Huh! Setelah bertemu denganku, kini nyalimu mulai ciut dan berkata begitu. Tapi jangan harap kata-katamu bisa kupercayai. Bersiap dan cabutlah pedangmu. Siapa pun orangnya yang berani menghina dan menantangku, tak akan luput dari kematian!” dengus Ki Wangsa Naraya, kalem.

Setelah berkata begitu, Ki Wangsa Naraya langsung membuka jurus tangan kosongnya. Sedangkan Rangga mendesah kecil sambil memberi isyarat pada Pandan Wangi agar waspada.

“Guru! Hajarlah pemuda sombong itu, sementara biarlah gadis di sebelahnya menjadi bagianku!” ujar Sidarta sambil menyeringai buas kepada Pandan Wangi.

“Kisanak! Agaknya kau memang tak bisa diajak bicara baik-baik, meski kepalamu telah memutih. Silakan mulai. Dan aku akan menghadapimu dengan tangan kosong saja sepertimu!” sahut Rangga mulai geram melihat tingkah mereka.

“Ha ha ha...! Bagus! Ingin kulihat, sampai di mana kesombongan dan kehebatanmu yang sering digembar-gemborkan orang!” Ki Wangsa Naraya tertawa girang.

Mereka mulai bersiap memasang kuda-kuda. Begitu juga halnya Pandan Wangi ketika Sidarta bersiap-siap akan meringkusnya. Gadis itu tersenyum sekilas melihat wajah lawannya yang penuh keyakinan akan dapat mengalahkannya.

Namun sebelum terjadi pertarungan di antara mereka, tiba-tiba melesat sesosok tubuh ramping di tempat itu. Dan tahu-tahu telah berdiri tegak seorang ga-dis di dekat mereka.

“Ki Wangsa Naraya! Minggirlah! Aku punya urusan pribadi yang harus kuselesaikan dengan Pendekar Rajawali Sakti!”

“Heh?!”

“Nawang Sari...!” seru keempat orang itu nyaris bersamaan.

Sosok tubuh yang baru tiba itu memang Nawang Sari. Dan pandangannya langsung menghunjam tajam ke arah Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Kemudian, kakinya melangkah pelan mendekati Pendekar Rajawali Sakti.

“Kau! Aku bersumpah akan membunuhmu. Maka hari ini, terimalah kematianmu!” tuding Nawang Sari ke arah Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti sebenarnya menyadari, apa yang membuat gadis itu berubah. Apa lagi kalau bukan soal cinta? Dan Rangga sebenarnya bukan hanya kesal. Bahkan dia sudah mulai tidak suka melihat tingkah laku gadis itu. Tapi sebelum Rangga menyahut, dan sebelum Nawang Sari melakukan serangan, Ki Wangsa Naraya telah melompat sambil mengirimkan serangan ke arah gadis itu.

“Gadis liar tak tahu sopan! Sejak kapan kau berani bertingkah di depanku?!” bentak Ki Wangsa Naraya geram.

“Yeaaa...!”

Gagak Hitam Pemakan Bangkai langsung melepaskan serangan berupa kibasan tangan. Ki Wangsa Naraya begitu yakin akan mampu menjatuhkan gadis itu. Sebab selama ini, dia tahu betul kalau kepandaian Nawang Sari tak berbeda jauh dengan Sidarta. Tapi....

Plak!
“Akh...?!

Alangkah terkejutnya orang tua itu ketika merasakan tenaga dalam kuat dari gadis itu. Begitu habis menangkis, tangannya kontan terasa seperti kesemutan. Bahkan tubuhnya sempat terjajar beberapa tombak. Kesempatan ini cepat digunakan Nawang Sari untuk menyodok dada orang tua itu, sehingga terdengar suara tulang berderak patah.

Prak!

Belum lagi Ki Wangsa Naraya menyadari apa yang terjadi, tubuh gadis itu terus mencelat menyerangnya kembali. Maka walaupun dalam keadaan kepayahan, orang tua itu berusaha menghindarkan diri, dengan berjungkir balik. Namun agaknya Nawang Sari tak main-main dengan serangannya.

“Yeaaa...!”

Dan begitu Ki Wangsa Naraya bangkit, Nawang Sari melepaskan tendangan lurus ke arah dagunya.

Diegkh!
“Aaa...!”

Kembali Ki Wangsa Naraya menjerit nyaring ketika tubuhnya bagai seonggok karung yang melayang terkena tendangan gadis itu. Dan begitu ambruk ke tanah, dari mulutnya menyembur darah segar berkali-kali. Wajahnya pucat pasti dan nafasnya memburu tak berdaya. Ki Wangsa Naraya menggeliat, lalu diam tak berkutik lagi. Mati.

“Perempuan sial! Kau harus bayar nyawa guruku!” bentak Sidarta sambil melompat menyerang Nawang Sari.

Gadis itu hanya perlu sedikit berkelit, maka serangan Sidarta hanya menyambar angin kosong. Begitu tubuh Sidarta lewat, langsung dilepaskannya satu pukulan telak ke dada.

Begkh!
“Aaakh...!”

Sidarta menjerit keras ketika tubuhnya terbanting, begitu terkena pukulan Nawang Sari. Seketika dadanya terasa nyeri. Dan kini gadis itu tahu-tahu telah berdiri di depannya.

“Pergi kau dari sini, dan jangan mencampuri urusanku! Kalau tidak, kau akan mampus lebih dulu!” ujar Nawang Sari.

Sidarta meringis kesakitan sambil bangkit berdiri. Dipandanginya gadis itu dengan sinar mata tak percaya. Dengan sekali hajar, dia dapat dijatuhkan dengan mudah. Kini baru disadari. Kalau gurunya saja dapat dibuat tak berdaya, apalagi dirinya? Maka dengan tertatih-tatih, Sidarta berlalu dari situ sambil membopong tubuh gurunya yang telah tewas.

Sementara, Nawang Sari sama sekali tak peduli. Kini langsung ditatapnya Rangga dengan sorot mata penuh kebencian, tanpa mempedulikan Sidarta yang membawa mayat gurunya pergi dari situ.

“Kini giliranmu!” dengus Nawang Sari dingin.

“Nawang Sari! Apa-apaan kau ini?! Tiba-tiba datang, malah bermaksud buruk pada orang yang pernah menolongmu. Apakah kau tak tahu berterima kasih?!” sentak Pandan Wangi. Dan memang, gadis itu tak tahu masalahnya kalau Nawang Sari menyimpan dendam dan kebencian di hati.

“Diam kau! Tahu apa kau tentang persoalanku dengan kekasihmu ini. Dia harus mampus di tanganku!” potong Nawang Sari langsung dengan bentakan.

Bukan main geramnya Pandan Wangi mendengar jawaban gadis itu. Dia sudah langsung bergerak mendekati sambil menuding garang. “Nawang Sari! Kau boleh sombong dengan kepandaian yang kau miliki saat ini. Tapi, bukan berarti aku takut setelah kau berhasil menghajar kedua orang itu!”

“Hei? Apa maumu?! Kau ingin mampus di tanganku? Sinilah maju!”

“Setan!”

“Tahan, Pandan!” teriak Rangga mencegah kekasihnya.

“Biarkan, Kakang. Gadis liar ini mesti diberi pelajaran agar tak seenaknya buka mulut!”

“Sabarlah. Dia bukan Nawang Sari yang pernah kau kenal dulu. Gadis ini telah dipenuhi nafsu dalam dadanya untuk membunuh semua orang. Aku tak mau kau terbawa-bawa dendamnya nanti!” Pandan Wangi tak bisa berbuat apa-apa mendengar kata-kata Rangga, meski hatinya kesal bercampur geram.

Rangga lalu menatap tajam Nawang Sari. “Nawang Sari! Apakah aku pernah bermusuhan denganmu? Apakah karena persoalan itu kau bermaksud membunuhku? Kulihat perkembanganmu beberapa hari saja telah jauh pesat. Entah apa yang kau lakukan. Namun, agaknya kau bersungguh-sungguh ingin membunuhku. Kenapa?”

“Jangan banyak bicara, Pendekar Rajawali Sakti! Yang jelas, aku telah mengorbankan harga diriku, agar dapat membunuhmu. Dan hari ini, kalaupun mesti mati, aku tak peduli. Asal, kau pun mati bersamaku!” dengus Nawang Sari.

“Nawang Sari! Sampai sejauh itukah dendammu padaku? Apakah tak sedikit pun kau bisa mengerti? Cobalah....”

“Aku tak perlu khotbahmu, tapi nyawamu! Yeaaa...!”

Rangga menghentikan ucapannya ketika tiba-tiba gadis itu menyerang dengan cepat.

“Uts...!”

Bukan main terkejutnya Rangga melihat serangan yang begitu tiba-tiba. Tidak ada waktu lagi baginya, kecuali menangkis pukulan gadis itu.

Plak!
“Heh?!”

Kembali Pendekar Rajawali Sakti menjadi terkejut ketika tangannya terasa kesemutan luar biasa. Sudah bisa diduga, kehebatan tenaga dalam Nawang Sari saat ini. Buktinya, tubuhnya sempat terjajar beberapa langkah.

“Hiyaaa...!” Nawang Sari seperti orang kesetanan. Diserangnya Rangga bertubi-tubi sambil mengerahkan segenap kepandaian yang dimiliki saat ini. Agaknya, gadis itu benar-benar menghendaki nyawanya.

Melihat itu tentu saja Rangga tak bisa mendiamkannya begitu saja. Berkali-kali gadis itu coba diperingatkan. Namun, Nawang Sari sama sekali tak mengindahkannya. Bahkan terus menyerangnya tanpa henti. Sementara, Rangga sendiri tak bisa terus-terusan menghindar. Angin serangan Nawang Sari terasa kuat sekali. Bahkan mampu membuat kulit tubuhnya seperti diiris-iris. Rangga sendiri tak mengerti, dengan cara apa gadis ini memperoleh kemajuan yang begitu pesat dalam beberapa hari saja.

Kalau saja pemuda itu tahu, dia tak menjadi heran. Kenyataannya, Ki Sembung Prana memang telah menyalurkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki kepada gadis itu, di samping ilmu olah kanuragan lainnya. Dalam ilmu silat, orang tua itu hanya memberi jurus-jurus terpenting saja. Dan memang, Nawang Sari merasa kalau jurus-jurus lainnya tak begitu penting, karena bermaksud cepat-cepat menamatkan pelajarannya. Dan tujuannya sudah tentu agar bisa membalaskan sakit hati pada Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga bukannya tak menyadari kelemahan gadis itu. Meskipun tenaga dalamnya kuat, tapi kecepatan geraknya masih kalah setingkat di bawahnya. Lagi pula, gerakan-gerakan yang dilakukan gadis itu masih terlihat kaku. Kalau orang yang mempunyai kepandaian rendah, tentu tak akan bisa melihat kekurangan gadis itu. Tapi pandangan Pendekar Rajawali Sakti yang jeli langsung memanfaatkan kelemahan gadis itu. Dan pada satu kesempatan, langsung dikirimkannya serangan bertenaga kuat, diiringi bentakan nyaring.

“Yeaaa...!”

Namun, Nawang Sari tidak tinggal diam. Kedua tangannya cepat dijulurkan ke depan dengan telapak terbuka. Langsung disambutnya serangan Pendekar Rajawali Sakti. Maka....

Blar!
“Aaakh...!”

Rangga menjerit keras ketika pukulannya seperti menghantam dinding baja yang sangat tebal. Tubuhnya kontan terpental, lalu jatuh berdebuk keras di tanah.

“Kakang...!”

“Pandan! Awas jangan mendekat!” teriak Rangga memperingatkan. Pandan Wangi buru-buru menghentikan langkahnya.

Sementara Nawang Sari terus bergerak mengirim serangan ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Melihat hal ini, Pandan Wangi bertindak nekat. Maka buru-buru dia bergerak kembali untuk melindungi pemuda itu dari serangan lawan. Tapi Nawang Sari sudah bisa membaca gelagat itu. Seketika, serangannya pada Pendekar Rajawali Sakti dihentikan. Lalu, langsung dipapaknya serangan Pandan Wangi.

Plak!
“Aaakh...!”

Pandan Wangi terpekik. Dan tubuhnya kontan terlempar keras sejauh dua tombak sambil memuntahkan darah segar. Tenaga dalam yang dikerahkan Nawang Sari dalam papakan tadi memang bukan sembarangan. Seluruh tenaga dalamnya telah dikerahkan, sehingga Pandan Wangi sampai terpental dan memuntahkan darah segar.

“Pandan...!
Hup!”

Rangga menjerit mencemaskan nasib Pandan Wangi. Tapi Nawang Sari sudah kembali menyerang. Maka terpaksa Pendekar Rajawali Sakti menyelamatkan diri dengan melenting ke udara dan bersalto beberapa kali. Padahal, rasa nyeri terasa di dadanya. Kemudian dengan satu gerakan manis, Pendekar Rajawali Sakti berhasil bertengger di cabang pohon. Tak terdengar suara sedikit pun saat kakinya bertengger. Nawang Sari tak memberi kesempatan lagi. Langsung dikejarnya Rangga ke atas.

“Yeaaa...!”
Prak!

Cabang-cabang pohon itu kontan hancur berentakan terkena hajaran gadis itu. Tapi, tubuh Rangga telah lebih dulu mencelat dan menukik turun. Bukan main geramnya gadis itu. Kembali dia turun ke bawah. Tampak Rangga telah berdiri tegak dengan sorot mata tajam. Masih terlihat bekas tetesan darah di sudut bibirnya yang telah dihapus.

“Nawang Sari, kau sudah kelewat batas. Aku tahu, kau memiliki aji ‘Selubung Naga’. Dan ajian itu hanya dimiliki oleh satu orang, yaitu Ki Sembung Prana. Memang hebat ajian itu. Bahkan tak ada tandingan. Tak heran bila pukulanku tadi balik menyerangku. Tapi sayang, justru ajian itu kau gunakan untuk mengumbar nafsu iblismu. Balas dendam mengumbar kebencian bukan satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah, Nawang. Ada cara lain yang lebih baik, jika kau mau berpikir jernih,”

Rangga mencoba menasihati kembali. Nawang Sari hanya membisu saja. Namun, matanya tatap nyalang ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Kelihatannya, dia sudah tidak sabar ingin melenyapkan Pendekar Rajawali Sakti.

“Hm, kau pasti telah berhasil mengecoh Ki Sembung Prana. Sebegitu murahkah dirimu? Sudahlah, Nawang. Urungkan saja niatmu itu. Aku sudah tahu kelemahan ajian itu. Terus terang, aku tak mau bertarung denganmu,” lanjut Rangga dengan suara lunak, namun mengandung ketegasan.

“Huh! Mengocehlah sesuka hatimu. Tapi, jangan harap aku akan mengurungkan niatku. Sekarang, terimalah kematianmu!” sentak Nawang Sari.

Rangga mendesah kesal sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Nawang Sari yang keras kepala. Lalu....

Cring!

Pendekar Rajawali Sakti langsung mencabut pedang dengan cepat. Dan saat itu juga terlihat seberkas sinar biru menerangi tempat itu. Lalu dengan cepat, Rangga menggosok-gosok mata pedangnya dari pangkal hingga ke ujungnya. Perlahan-lahan dari mata pedang keluar gumpalan cahaya biru bersama asap putih bergulung-gulung. Tak lama kemudian, gumpalan cahaya biru itu telah menyebar ke tangan Pendekar Rajawali Sakti. Lalu....

Cring!

Pedang Pusaka Rajawali Sakti kembali dimasukkan Pendekar Rajawali Sakti ke dalam warangkanya di punggung.

“Bersiaplah menghadapi aji pamungkas ku. Hiyaaa!” Nawang Sari sudah melesat cepat sambil melepaskan aji Selubung Naga

Sementara, Pendekar Rajawali Sakti hanya berdiri tegak menanti. Dan begitu serangan lawan mendekat, maka... “Aji Cakra Buana Sukma...!”

Pendekar Rajawali Sakti langsung menghentakkan kedua tangannya yang terbuka, begitu serangan Nawang Sari meluncur tiba. Dan...

Glarrr!
“Aaakh...!”

Satu ledakan keras terjadi begitu dua kekuatan dahsyat beradu pada satu titik. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti terjajar dua langkah ke belakang. Sedangkan tubuh Nawang Sari terlempar beberapa tombak, diiringi pekik kesakitan. Kemudian, dengan keras tubuhnya jatuh berdebuk di tanah. Tubuh gadis itu masih terbungkus sinar biru dari aji Cakra Buana Sukma yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti.

Sesaat Nawang Sari menggelepar kesakitan, kemudian diam tak bergerak lagi. Dan begitu sinar biru itu hilang perlahan-lahan, tubuh Nawang Sari langsung meledak dan hancur berkeping-keping. Rangga diam mematung sambil memandangi serpihan-serpihan. tubuh gadis itu. Tatapannya seperti tak percaya kalau Nawang Sari telah dibunuhnya.

“Sudahlah, Kakang. Dia memang menginginkannya. Sebaiknya, lekas kita tinggalkan tempat ini...,” hibur Pandan Wangi, sambil menahan rasa nyeri di dadanya.

Rangga mengangguk lemah. Kemudian, diraihnya pundak Pandan Wangi. Lalu, mereka sama-sama meninggalkan tempat itu sambil berangkulan. Ada tugas lain yang masih menanti bagi kedua pendekar dari Karang Setra itu.

S E L E S A I

EPISODE BERIKUTNYA: PELANGI LEMBAH KAMBANG
Thanks for reading Asmara Bernoda Darah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »