Selendang Sutra Emas

Pendekar Rajawali Sakti

SELENDANG SUTERA EMAS



SATU
"Yeaaah...!"
Glarrr!

Teriakan-teriakan keras terdengar saling sambut, disusul ledakan dahsyat menggelegar yang memecah kesunyian pagi ini. Tampak gumpalan asap membumbung tinggi ke angkasa dari balik sebuah bukit batu yang gersang. Tak lama kemudian....

"Aaa...!" Jeritan panjang melengking tinggi terdengar begitu menyayat, menggema karena dipantulkan batu-batuan yang memenuhi bukit itu. Tampak sesosok tubuh tak berdaya melayang deras ke dalam jurang. Keras sekali tubuhnya menghantam bebatuan, hingga kepalanya hancur. Darah seketika berhamburan, membasahi batu-batu di dasar jurang kering itu. Sementara seorang laki-laki bertubuh kekar hanya memandangi sambil bertolak pinggang dari atas sebongkah batu yang cukup besar.

"Ha ha ha...." Laki-laki bertubuh tinggi kekar dan berkulit hitam bagai arang itu tertawa terbahak-bahak sambil memandangi orang yang sudah tewas di dasar Jurang. Tawanya berhenti ketika telinganya mendengar langkah menghampiri dari belakang.

Perlahan tubuhnya berputar berbalik, dan langsung membungkuk. Kemudian dia melompat turun dari atas batu, begitu seorang wanita muda berwajah cantik datang menghampiri. Bajunya yang ketat berwarna merah, membentuk tubuhnya yang ramping dan indah dipandang mata. Langkahnya berhenti setelah jaraknya tinggal enam langkah lagi. Tampak empat orang gadis cantik berbaju kuning mendampingi di belakangnya.

"Mana Selendang Sutera Emas itu, Gajah Ireng?" tanya wanita cantik berbaju warna merah ketat itu. Suaranya terdengar datar dan dingin sekali. Sedikit pun tak terdengar ada tekanan pada nada suaranya. Malah tatapan matanya begitu tajam, seakan-akan hendak menembus langsung ke bola mata laki-laki berkulit hitam yang dipanggil Gajah Ireng. Bibirnya yang merah dan berbentuk indah itu pun tidak mengukir senyum sedikit pun.

"Maaf, Nyai. Selendang itu mungkin jatuh bersamanya ke jurang," sahut Gajah Ireng.

"Bodoh! Cepat ambil...!" bentak wanita cantik berbaju merah itu lantang.

"Baik, Nyai." Bergegas Gajah Ireng membungkukkan tubuhnya, dan segera berputar. Kemudian, kakinya melangkah menuruni tebing jurang yang cukup terjal dan berbatu ini. Begitu ringan gerakannya, pertanda ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkat tinggi. Sebentar saja Gajah Ireng sudah sampai di dasar jurang. Langsung dihampirinya sosok tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi dengan kepala hancur. Ternyata, sosok tubuh itu adalah seorang wanita tua. Begitu Gajah Ireng membalikkan tubuh wanita tua itu, kedua bola matanya jadi mendelik tiba-tiba.

"Keparat,!" Sambil menggeram, Gajah Ireng mengambil sebuah, kotak kayu yang tutupnya sudah terbuka. Tadi, kotak itu tertindih tubuh perempuan tua itu. Dan kini, tampaknya kotak itu tidak ada isinya sama sekali. Bergegas Gajah Ireng kembali naik ke atas jurang, langsung menghampiri wanita cantik berbaju merah yang masih menunggu didampingi empat orang gadis cantik dengan sebilah pedang di punggung.

"Mana...?" wanita itu langsung saja bertanya sambil menyodorkan tangannya.

"Maaf, Nyai. Kotak itu sudah tidak ada lagi isinya," sahut Gajah Ireng sambil membungkukkan tubuh sedikit. Dengan tangan agak bergetar, Gajah Ireng menyerahkan kotak kayu yang diambilnya dari dasar jurang.

Wanita cantik berbaju merah itu segera mengambilnya dengan kasar. Dan begitu tutup kotak kayu itu dibuka, wajahnya seketika berubah merah. Kedua matanya terbeliak lebar, menatap ke dalam kotak kecil yang kosong sama sekali.

"Setan...!" Sambil mendengus geram, wanita itu membanting kotak kayu berukuran kecil itu ke atas bebatuan hingga hancur berkeping-keping. Tatapannya langsung tertuju pada Gajah Ireng yang masih berdiri dengan kepala tertunduk dan tubuh sedikit membungkuk.

"Maafkan aku, Nyai Selasih. Aku...."

"Sudah!" sentak wanita cantik berbaju merah yang ternyata bernama Nyai Selasih.

Nyai Selasih mengayunkan kakinya sambil mendengus mendekati bibir jurang yang berbatu. Sedikit kepalanya dijulurkan, melongok ke dasar jurang. Kemudian tubuhnya berputar berbalik, dan kembali melangkah melewati Gajah Ireng. Wajahnya masih kelihatan merah, seperti menahan marah. Sedangkan kepala Gajah Ireng sama sekali tidak terangkat, dan tetap tertunduk.

"Dengar, Gajah Ireng! Aku tidak sudi lagi mendengar alasan apa pun juga. Cari Selendang Sutera Emas sampai dapat. Dan, jangan kembali sebelum dapat. Mengerti...?!" tegas Nyai Selasih dengan suara lantang menggetarkan jantung.

"Mengerti, Nyai," sahut Gajah Ireng seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Ingat! Kalau dalam waktu satu pekan selendang itu belum juga didapat, tahu sendiri akibatnya!" sambung Nyai Selasih bernada mengancam.

Gajah Ireng hanya diam saja sambil menundukkan kepala. Sementara, Nyai Selasih sudah memutar tubuhnya berbalik, lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan puncak bukit batu itu diiringi empat orang gadis pengawalnya. Gajah Ireng baru menegakkan tubuhnya kembali setelah Nyai Selasih dan empat orang gadis pengawalnya tidak terlihat lagi.

"Hhh...! Apa yang harus kulakukan sekarang? Ke mana lagi Selendang Sutera Emas harus kucari...?" desah Gajah Ireng. Suaranya terdengar lesu. Sambil menghembuskan napas panjang, laki-laki berkulit hitam itu menghempaskan tubuhnya, duduk di atas batu di tepi jurang. Pandangannya langsung saja tertuju pada perempuan tua yang masih tergeletak tak bernyawa lagi di dasar jurang.

"Hanya tiga orang murid Nyai Langis. Hm..., apa mungkin Selendang Sutera Emas sudah diserahkannya pada salah seorang muridnya...? Tapi, dia juga punya tiga saudara. Hhh...! Rasanya tidak mungkin dalam waktu satu pekan harus mencari mereka semua. Sedangkan tempat tinggal mereka sangat berjauhan," gumam Gajah Ireng berbicara pada diri sendiri.

Beberapa kali ditariknya napas dalam-dalam, dan dihembuskannya kuat-kuat. Cukup lama juga Gajah Ireng duduk mematung di pinggiran jurang berbatu itu. Dan saat matahari sudah naik cukup tinggi, baru laki-laki berkulit hitam itu bangkit berdiri sambil menghembuskan napas panjang dan terasa berat. Pandangannya masih terus tertuju ke dasar jurang, tempat tergoleknya mayat perempuan tua yang kepalanya hancur berlumur darah.

"Baiklah. Aku akan menemui mereka satu persatu. Dan kuharap, tidak ada seorang pun yang memaksaku untuk mengotori tangan dengan darah lagi. Tapi..., ah! Masa bodoh! Apa pun akan kulakukan asalkan Selendang Sutera Emas bisa kuperoleh...," desah Gajah Ireng mengambil keputusan.

Sebentar laki-laki berkulit hitam itu mendongak menatap matahari. Kemudian, tubuhnya berputar dan berjalan. Ayunan kakinya tampak cepat dan panjang-panjang, meninggalkan bibir jurang di atas bukit batu ini. Dihampirinya seekor kuda yang sejak tadi terlihat seperti menunggu.

"Hup!" Dengan gerakan ringan sekali, Gajah Ireng melompat naik ke atas punggung kuda berwarna coklat belang putih. Dan sekali sentak saja, kuda itu langsung berlari cepat menuruni lereng bukit batu ini.

"Hiya! Hiya! Hiya...!" Gajah Ireng memacu cepat kudanya. Padahal jalan yang dilalui adalah lereng bukit batu yang cukup terjal. Berkat kemahirannya dalam mengendarai kuda, jalan seperti itu seperti tidak ada apa-apanya bagi Gajah Ireng. Laki-laki berkulit hitam itu baru berbelok ke arah Timur, setelah mencapai kaki bukit yang sudah mulai ditumbuhi pepohonan.

Kuda coklat belang putih itu terus dipacu cepat bagaikan dikejar setan. Sementara, matahari terus merayap naik semakin tinggi, mengikuti kepergian laki-laki bertubuh tinggi kekar dan berotot tanpa mengenakan baju.

********************

Menjelang senja, Gajah Ireng baru menghentikan lari kudanya. Dengan gerakan ringan sekali, dia melompat turun. Begitu tinggi ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, sehingga sedikit pun tidak menimbulkan suara saat kakinya menjejak tanah berumput di samping kanan kudanya.

"Hm...," sedikit Gajah Ireng menggumam. Pandangan mata laki-laki berkulit hitam itu sedikit pun tak berkedip ke arah sebuah bangunan di tengah-tengah hutan yang dikelilingi pagar tinggi dari kayu gelondongan. Pada bagian atasnya berbentuk runcing, seakan-akan mencegah orang luar masuk ke dalam lingkungan bangunan yang menyerupai sebuah benteng pertahanan itu.

Sebentar Gajah Ireng mengedarkan pandangannya berkeliling, kemudian mengayunkan kakinya melangkah menghampiri bangunan bagai benteng pertahanan itu. Ayunan kakinya begitu mantap. Dan kedua matanya sedikit pun tidak berkedip memandang ke arah pintu gerbang yang dijaga dua orang bersenjata tombak dan golok terselip di pinggang.

"Berhenti...!" Gajah Ireng sama sekali tidak menghentikan ayunan langkahnya, walaupun salah seorang penjaga yang masih berusia sekitar delapan belas tahun sudah memerintahkan berhenti. Kedua penjaga yang masih berusia muda itu saling berpandangan sejenak, kemudian melangkah ke depan bersamaan. Dan mereka berhenti setelah berjarak tinggal beberapa langkah lagi. Langsung tombak mereka disilangkan, dengan sikap menghadang langkah Gajah Ireng.

"Berhenti!" bentak salah seorang penjaga lagi. Gajah Ireng baru menghentikan langkah, setelah jaraknya tinggal sekitar tiga langkah lagi. Sorot matanya begitu tajam menatap wajah kedua penjaga itu bergantian. Sedikit mulutnya menggumam, dan tiba-tiba saja...

"Yeaaah...!" Bet! Wuk!
"Aaakh!" "Aaa...!"

Dua kali jeritan panjang menyayat seketika terdengar begitu Gajah Ireng mengebutkan tangan sambil mencabut goloknya dengan kecepatan sukar diikuti pandangan mata biasa. Kedua penjaga itu langsung ambruk dengan dada terbelah tersabet golok. Darah kontan berhamburan keluar dengan deras sekali. Hanya sebentar saja kedua penjaga itu menggelepar, kemudian diam tak bergerak-gerak lagi. Mati!

"Maaf! Aku akan membabat habis siapa saja yang mencoba menghalangi niatku," desis Gajah Ireng sambil mengayunkan kakinya, mendekati pintu gerbang. Tapi belum juga sampai, pintu yang terbuat dari gelondongan kayu berukuran cukup besar dan tinggi itu sudah terbuka. Dan dari dalamnya, bermunculan sekitar sepuluh orang pemuda yang semuanya memegang tombak, dan golok terselip di pinggang masing-masing. Mereka tampak sangat terkejut melihat dua orang temannya sudah tergeletak tak bernyawa dengan dada terbelah lebar mengeluarkan darah.

"Ada apa ini?! Siapa kau...?!" bentak salah seorang yang berada paling depan.

"Aku Gajah Ireng, ingin bertemu Ki Wirasaba," sahut Gajah Ireng lantang. "Dan kuharap, kalian tidak membuat kesulitan sendiri."

"Keparat...! Kau yang membunuh dua orang teman kami, heh...?!" bentak pemuda itu lagi. Wajah pemuda itu kelihatan memerah menahan marah. Sedangkan Gajah Ireng hanya menatap tajam. Sementara, sembilan orang lainnya sudah menerobos keluar. Mereka langsung berpencar, mengurung laki-laki separuh baya bertubuh kekar berotot tanpa mengenakan baju itu.

Hanya dengan sudut ekor matanya, Gajah Ireng memperhatikan sepuluh orang pemuda yang sudah mengepung rapat. "Huh...!" Sedikit Gajah Ireng mendengus, lalu mendadak saja.... "Hiyaaa...!" Bagaikan kilat, Gajah Ireng tiba-tiba melompat ke depan sambil mengebutkan goloknya yang sudah berlumuran darah. Luar biasa! Kecepatannya sangat sulit diikuti pandangan mata biasa. Begitu cepat gerakannya, sehingga dua orang yang berada di depannya tidak sempat lagi mengambil tindakan menghindar. Dan...

Bret! Crak!
"Aaa...!" "Aaakh...!

Dua kali jeritan panjang melengking kembali terdengar, disusul ambruknya dua orang pemuda. Mereka memang tidak sempat lagi menghindari serangan Gajah Ireng yang begitu cepat bagai kilat. Dan hal ini membuat delapan orang pemuda lainnya jadi terperangah. Dan sebelum mereka bisa berbuat sesuatu, Gajah Ireng sudah kembali bergerak cepat sambil mengebutkan goloknya beberapa kali.

"Hiyaaa...!" Bet! Wuk!

Begitu golok berkelebat, kembali terdengar jeritan-jeritan panjang melengking menyebarkan hawa kematian. Dan seketika tubuh-tubuh bersimbah darah bertumbangan, menggelepar meregang nyawa. Hanya dalam beberapa gebrakan saja, sepuluh orang pemuda sudah tidak ada lagi yang bisa bangkit berdiri.

"Hm...," Gajah Ireng menggumam perlahan. Sebentar laki-laki berkulit hitam itu memandangi tubuh-tubuh yang bergelimpangan tak bernyawa lagi di sekitarnya.

Kemudian, kakinya terayun mantap mendekati pintu gerbang yang sudah terbuka cukup lebar. Sebentar dia berhenti melangkah, setelah sampai di ambang pintu. Sorot matanya yang tajam, beredar merayapi bagian dalam bangunan bagai benteng pertahanan ini. Kemudian, perlahan-lahan kakinya kembali terayun memasuki pagar berbentuk benteng itu.

Tapi baru saja melewati pintu beberapa langkah, tiba-tiba saja puluhan batang tombak sudah berhamburan ke arahnya.

"Hup! Hiyaaa...!" Gajah Ireng tidak ingin lagi membuang-buang waktu. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi, tubuhnya melenting ke udara sambil cepat memutar goloknya. "Yeaaah...!"

Tring! Trak!

Tombak-tombak yang berhamburan di sekitar tubuh Gajah Ireng seketika berpatahan terkena sambaran goloknya. Begitu cepat dan ringan gerakannya sehingga tak satu tombak pun yang bisa menyentuh tubuhnya.

"Hap!" Gajah Ireng baru bisa menjejakkan kakinya kembali setelah tidak ada lagi tombak yang datang menghampiri. Namun dia jadi mendengus, karena di sekelilingnya sudah mengepung sekitar tiga puluh orang pemuda dengan golok terhunus di tangan. Begitu rapat kepungan ini, sehingga tidak ada sedikit pun celah untuk bisa meloloskan diri.

"Menghadapi keroyokan seperti ini, tidak mungkin aku menggunakan jurus-Jurus biasa," gumam Gajah Ireng dalam hati.

Cring!

Manis sekali Gajah Ireng memasukkan kembali goloknya yang sudah berlumuran darah ke dalam warangka di pinggang. Kemudian kakinya ditarik perlahan-lahan hingga terpentang ke samping. Perlahan pula tubuhnya direndahkan sampai kedua lututnya tertekuk ke depan. Lalu....

"Hap!" Bersamaan merapatnya kedua telapak tangan di depan dada, Gajah Ireng melompat kecil sambil merapatkan kedua kakinya kembali. Dan semua orang yang mengepungnya jadi terbeliak. Ternyata kedua telapak kaki Gajah Ireng tidak lagi menyentuh tanah! Dia mengambang, seperti kapas dipermainkan angin. Dan belum juga ada yang menyadari, Gajah Ireng sudah merentangkan kedua tangannya ke samping. Dan....

"Yeaaah...!" Sambil berteriak keras menggelegar, tiba-tiba saja tubuh Gajah Ireng berputar cepat Bahkan bentuk tubuhnya tidak terlihat lagi. Dan pada saat itu, dari lingkaran bayangan tubuh laki-laki separuh baya ini mengeluarkan percikan-percikan api yang menyebar ke segala arah.

"Awas...!"

Begitu cepatnya percikan-percikan api itu meluncur, sehingga tidak sedikit pemuda yang mengepung Gajah Ireng menjadi sasaran. Seketika Itu, jeritan-jeritan panjang melengking dan menyayat kembali terdengar saling sambut. Sebentar kemudian, tampak tubuh-tubuh yang sudah hangus terbakar mulai ambruk satu persatu. Percikan-percikan api itu juga membakar beberapa bangunan kecil yang ada di dalam lingkungan pagar berbentuk benteng pertahanan ini.

Sebentar saja, api sudah berkobar cukup besar, melahap beberapa bangunan yang tidak jauh dari Gajah Ireng. Sedangkan pemuda-pemuda yang memiliki kepandaian lebih, harus berjumpalitan. Mereka memang harus menghindari percikan-percikan bunga api yang terus keluar dari lingkaran bayangan tubuh Gajah Ireng yang terus berputar cepat.

"Cukup...!"

DUA

Gajah Ireng langsung berhenti, begitu terdengar bentakan keras menggelegar. Akibatnya, tanah di tengah hutan ini seakan-akan bagai diguncang gempa. Tampak di ujung undakan tangga rumah yang paling besar berdiri seorang laki-laki berusia sekitar tujuh puluh lima tahun. Jubah putih panjang yang dikenakannya berkibar-kibar tertiup angin, memperlihatkan sebilah pedang berwarna kuning keemasan di pinggangnya.

Sementara, Gajah Ireng berdiri tegak dengan tangan kanan sudah menggenggam gagang goloknya. Walaupun, belum dicabut dari warangkanya. Sementara di sekitarnya, tidak kurang dari dua puluh orang tergeletak dengan tubuh menghitam hangus bagai arang. Dari tiga puluh orang lebih yang mengepungnya, kini tinggal sekitar sepuluh orang saja yang masih hidup.

"Hm.... Kau yang bernama Ki Wirasaba?" tanya Gajah Ireng langsung sambil mengayunkan kakinya. Dihampirinya orang tua berjubah putih yang berdiri di ujung atas beranda depan bangunan berukuran cukup besar itu.

"Benar! Dan kau siapa?! Kenapa mengacau di padepokanku?" sahut orang tua berjubah putih yang ternyata Ki Wirasaba.

"Kedatanganku memang hendak bertemu denganmu, Ki Wirasaba. Tapi, murid-muridmu mencoba menghalangiku. Maaf, kalau aku terpaksa harus membungkam mereka," kata Gajah Ireng, agak datar nada suaranya.

"Rasanya, aku belum pernah bertemu denganmu, Kisanak. Apa keperluanmu hendak bertemu denganku?" agak menggumam pelan suara Ki Wirasaba.

"Kedatanganku bukan bermaksud berdebat mulut, atau membahas ilmu kedigdayaan denganmu. Tapi kedatanganku untuk mengambil Selendang Sutera Emas. Dan kuharap, kau tidak bertindak yang bisa membuatmu menyesal sampai keliang kubur," tegas Gajah Ireng dengan suara cukup lantang.

"Heh...?! Apa katamu...?!" Ki Wirasaba tampak terkejut. Begitu terkejutnya, sampai-sampai Ki Wirasaba terlompat hingga turun dari undakan beranda. Namun begitu, sedikit pun tak ada suara yang ditimbulkan saat kakinya menjejak tanah di ujung bawah undakan. Dan kini, jaraknya dengan Gajah Ireng hanya sekitar tujuh langkah lagi.

"Aku hanya bicara sekali saja, Ki Wirasaba. Aku juga terpaksa membunuh saudara perempuanmu, tapi tidak menemukan Selendang Sutera Emas padanya. Sedangkan yang kutahu, kau adalah adik kandung Nyai Langis. Nah! Sekarang, serahkan Selendang Sutera Emas itu padaku. Dan, jangan coba-coba memaksaku bertindak lebih keras lagi. Lihat murid-muridmu ini. Aku tidak ingin kau bernasib sama dengan mereka," tegas Gajah Ireng, bernada mengancam.

"Keparat..,! Setan neraka mana yang mengirimmu, heh...?! Berani benar kau umbar mulut di depanku?!" desis Ki Wirasaba menggeram marah.

Wajah laki-laki tua berjubah putih itu terlihat memerah menahan geram. Bahkan kedua tangannya sudah terkepal erat, sampai otot-ototnya bersembulan. Namun, tampaknya Ki Wirasaba masih mencoba menahan din. Dia seperti kurang percaya kalau kakak kandungnya sudah tewas di tangan tamu tak diundang ini. Tapi melihat lebih dari separuh muridnya tewas dengan mudah, Ki Wirasaba tidak berani sembarangan. Terlebih lagi, memandang enteng pada laki-laki kekar yang memperkenalkan diri sebagai Gajah Ireng ini.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu, Ki. Sebaiknya cepat katakan, di mana Selendang Sutera Emas disimpan," desak Gajah Ireng tidak sabar lagi.

"Selendang itu tidak ada padaku. Kalau kau menginginkannya, minta saja pada pemiliknya," sahut Ki Wirasaba, agak mendengus berang.

"Jangan coba-coba membohongiku, Ki Wirasaba. Nyai Langis sudah mati, dan Selendang Sutera Emas tidak ada padanya. Pasti kau yang menyimpannya, Ki. Serahkan saja padaku, dan jangan memaksaku untuk bertindak lebih kasar lagi," sambut Gajah Ireng tegas, bernada mengancam.

"Edan,..! Lancang benar mulutmu, Kisanak," geram Ki Wirasaba.

"Kesabaranku sudah habis, Ki," Gajah Ireng memperingatkan.

"Sudah kukatakan, Selendang Sutera Emas tidak ada padaku! Sebaiknya, cepat angkat kaki dari sini. Jangan sampai aku menjatuhkan tangan pada orang edan sepertimu!" bentak Ki Wirasaba berang.

"Kau sudah memaksaku, Ki."

"Phuih! Muak rasanya melayani sesumbarmu!" dengus Ki Wirasaba sambil menyemburkan ludahnya.

"Yeaaah...!" Tiba-tiba saja Gajah Ireng menghentakkan tangan kanannya ke samping. Maka seketika itu juga, dari telapak tangannya meluncur sebuah bola api yang langsung menghantam sebuah bangunan di samping rumah besar di depannya.

Glarrr...!! Ledakan keras seketika terdengar menggelegar. Bola api yang meluncur keluar dari telapak tangan Gajah Ireng, seketika menghancurkan rumah berukuran tidak seberapa besar itu. Api langsung saja berkobar, melahap kepingan bangunan rumah itu.

"Keparat...!" geram Ki Wirasaba, langsung memuncak amarahnya.

"Kalau kau sayang padepokanmu, sebaiknya serahkan saja Selendang Sutera Emas padaku," desis Gajah Ireng dingin.

"Keparat busuk! Mampuslah kau, hiyaaat..." Ki Wirasaba tidak dapat lagi menahan kemarahannya. Bagaikan kilat, dia melompat menerjang sambil melepaskan satu pukulan dahsyat menggeledek, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hait!!" Namun hanya mengegoskan tubuh sedikit saja ke samping, Gajah Ireng berhasil menghindari serangan kilat Ki Wirasaba. Lalu dia cepat-cepat melompat ke kanan, begitu merasakan hembusan angin pukulan mengandung hawa panas menyengat bagai hendak membakar seluruh tubuhnya.

"Hih!" Gajah Ireng langsung melakukan beberapa gerakan dengan kedua tangannya. Dan pada saat itu, Ki Wirasaba sudah cepat memutar tubuhnya. Dan secepat kilat pula ditepaskannya satu tendangan sambil memutar tubuhnya, mengarah langsung ke dada Gajah Ireng.

"Hap!" Tapi Gajah Ireng kali ini tidak berusaha menghindari serangan itu. Bahkan malah mengangkat tangan kanannya, dan menangkis tendangan keras menggeledek yang mengandung pengerahan tenaga sangat tinggi itu. Hingga tak pelak lagi, kaki kiri Ki Wirasaba beradu keras dengan tangan kanan Gajah Ireng. Dua kekuatan mengandung tenaga dalam tingkat tinggi beradu keras sekali.

"Hup!" "Hap!"

Mereka sama-sama berlompatan mundur untuk membuat jarak. Beradunya dua kekuatan tenaga dalam, membuat mereka sama-sama tidak mau gegabah. Saat itu juga, mereka sudah saling mengetahui tingkat kekuatan tenaga dalam yang dimiliki.

"Hiyaaat..!"
"Hup! Yeaaah...!"

Hampir bersamaan, Gajah Ireng dan Ki Wirasaba melompat ke atas. Dan secara bersamaan pula, kedua tangan mereka saling menghentak ke depan. Hingga tak pelak lagi, dua pasang telapak tangan yang sama-sama mengandung kekuatan tenaga dalam beradu keras di udara. Begitu kerasnya, hingga menimbulkan ledakan dahsyat menggelegar bagaikan ledakan gunung berapi. Tampak mereka sama-sama terpental ke belakang, dan berputaran di udara beberapa kali. Namun begitu menjejakkan kaki, Gajah Ireng langsung saja melesat cepat bagai kilat menyerang laki-laki tua berjubah putih itu. Sedangkan saat itu Ki Wirasaba baru saja menjejakkan kakinya di tanah. Sesaat hatinya terkesiap menerima serangan yang begitu cepat.

"Uts...!" Cepat-cepat Ki Wirasaba menarik tubuhnya ke kiri, menghindari pukulan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi dari Gajah Ireng. Dan begitu tangan kanan Gajah Ireng lewat di samping tubuhnya, cepat-cepat Ki Wirasaba menghentakkan tangannya. Langsung diberikannya sodokan keras bertenaga dalam ke arah lambung.

"Hait..!" Namun dengan gerakan manis sekali, Gajah Ireng meliukkan tubuhnya. Sehingga, sodokan yang diberikan Ki Wirasaba tidak sampai mengenai sasaran. Dan pada saat itu juga, tubuhnya melenting berputar ke belakang satu kali. Tepat di saat itu pula kedua kakinya dihentakkan, tepat mengarah ke dada Ki Wirasaba yang kosong. Begitu cepat tindakannya sehingga Ki Wirasaba tidak sempat lagi menghindar. Terlebih lagi, tangannya masih menjulur ke depan dan belum sempat ditarik pulang. Sehingga...

Diegkh! "Akh...!"

Ki Wirasaba terpekik keras agak tertahan. Begitu kerasnya tendangan yang dilepaskan Gajah Ireng, sehingga membuatnya terpental sampai sejauh tiga batang tombak. Melihat gurunya terpental, sepuluh orang murid Ki Wirasaba yang masih tersisa langsung saja berlompatan sambil mencabut golok masing-masing. Tanpa diperintah lagi, mereka menyerang Gajah Ireng dari segala penjuru. Sebentar saja, Gajah Ireng sudah dipaksa berjumpalitan menghindari serangan-serangan golok yang begitu cepat dari segala penjuru.

"Hap! Yeaaah...!" Srett! Bet!

Cepat sekali Gajah Ireng mencabut goloknya, dan langsung dibabatkan pada salah seorang penyerangnya yang terdekat. Begitu cepat sabetan goloknya, sehingga sulit sekali dihindari.

Cras! "Aaa...!" "Hiyaaa..."

Gajah Ireng tidak menghiraukan satu korbannya yang menjerit keras, begitu dadanya terbelah oleh sabetan goloknya yang berukuran cukup besar. Bagaikan kilat, Gajah Ireng berlompatan sambil membabatkan goloknya cepat sekali. Seketika itu juga jeritan panjang melengking dan menyayat terdengar saling sambut, disusul ambruknya tubuh-tubuh berlumuran darah terkena sabetan golok Gajah Ireng. Sementara itu, Ki Wirasaba sudah bangkit berdiri lagi. Namun pada saat bisa berdiri tegak....

"Aaa...!" "Heh...?!" Wirasaba jadi terperanjat bukan main begitu mendengar jeritan melengking tinggi yang terakhir. Kedua bola matanya jadi terbeliak lebar, manakala melihat semua muridnya sudah tidak ada lagi yang berdiri tegak. Hanya dalam waktu sebentar saja, Gajah Ireng sudah menghabisi sepuluh orang murid, hingga tak seorang pun yang masih bisa bernapas lagi. Semuanya tewas dengan luka-luka yang menganga lebar, membuat darah deras sekali berhamburan keluar.

"Keparat..! Kubunuh kau, Iblis! Hiyaaat..!" Wirasaba benar-benar tidak dapat lagi menahan kemarahannya. Sambil melompat, langsung saja pedangnya yang sejak tadi tergantung di pinggang dicabut. Secepat kilat pula pedangnya yang berwarna kuning keemasan disabetkan ke arah leher Gajah Ireng

"Hait..!" Namun hanya sedikit saja Gajah Ireng mengegoskan kepalanya, tebasan pedang Ki Wirasaba manis sekali berhasil dielakkan. Tapi belum juga Gajah Ireng bisa menarik kepalanya tegak kembali, Ki Wirasaba sudah melancarkan serangan cepat dan dahsyat kembali. Pedangnya berkelebat sangat cepat, berputar mengancam dada.

"Hup!" Gajah Ireng tidak punya kesempatan menghindar lagi. Cepat-cepat goloknya diangkat, untuk menangkis tebasan pedang yang berwarna kuning keemasan.

Tring! "Hup!" "Hap!"

Mereka sama-sama berlompatan mundur sambil memegangi pergelangan tangan masing-masing. Tampak mulut Ki Wirasaba meringis merasakan nyeri pada pergelangan tangannya yang memegang pedang. Sementara, Gajah Ireng langsung bisa menguasai keadaan, walaupun seluruh tangannya yang memegang golok terasa cukup nyeri dan bergetar.

"Phuih! Hiyaaa...!" Sambil menyemburkan ludahnya, Gajah Ireng kembali melompat secepat kilat melakukan serangan. Goloknya yang berukuran cukup besar dan masih berlumuran darah, dikibaskan cepat sekali ke arah dada Ki Wirasaba. Namun dengan gerakan manis sekali, laki-laki tua berjubah putih itu berhasil menghindarinya. Dan sambil melompat ke belakang, pedangnya dikibaskan ke depan. Tapi pada saat itu juga, Gajah Ireng sudah memutar goloknya. Hingga tak pelak lagi, satu benturan keras dari dua senjata terjadi lagi.

Trang...!

"ikh..." Ki Wirasaba jadi terpekik kaget. Hampir saja pedangnya terpental, untung segera dipindahkan ke tangan kiri. Namun pada saat yang tepat, Gajah Ireng sudah melepaskan satu tendangan kilat sambil memiringkan tubuhnya sedikit ke kin. Begitu cepatnya serangan susulan Gajah Ireng, sehingga Ki Wirasaba tidak sempat lagi menghindar. Dan...

Plak! "Akh...!" Ki Wirasaba benar-benar terperanjat setengah mati. Tendangan Gajah Ireng ternyata tidak diarahkan ke tubuhnya, tapi ke pergelangan tangan kiri yang masih menggenggam pedang. Begitu keras tendangan itu sehingga Ki Wirasaba tidak dapat lagi mempertahankan senjatanya. Pedang berwarna kuning keemasan itu langsung terpental, melambung tinggi ke udara.

Sementara, Ki Wirasaba cepat-cepat melompat ke belakang. Dan laki-laki tua itu jadi terlongong, seperti tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi pada dirinya sekarang ini. Pergelangan tangan kirinya kini seperti remuk, terkena tendangan keras menggeledek tadi. Namun belum juga Ki Wirasaba bisa berbuat lebih banyak lagi, Gajah Ireng sudah melesat menyerang kembali. Goloknya yang berlumuran darah langsung dikibaskan ke arah dada.

"Hait..!" Hampir saja golok itu membelah dada, kalau saja Ki Wirasaba tidak segera menarik tubuhnya ke belakang. Hanya beberapa rambut saja ujung golok berlumuran darah itu lewat di depan dada. Namun tanpa diduga sama sekali, Gajah Ireng melompat tanpa menjejak tanah lagi. Begitu cepat lesatannya, sehingga sulit disaksikan mata biasa.

"Hiyaaa...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Gajah Ireng melepaskan satu pukulan menggeledek dengan tangan kiri ke perut. Tapi, pukulan itu masih juga berhasil dihindari Ki Wirasaba dengan merundukkan tubuhnya sedikit ke depan. Dan pada saat tubuh laki-laki tua berjubah putih itu terbungkuk, Gajah Ireng cepat-cepat melepaskan satu tendangan keras, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Yeaaah...!" Begitu cepat tendangan yang dilakukan Gajah Ireng, sehingga Ki Wirasaba tidak sempat lagi menghindar. Telapak kaki Gajah Ireng telak sekali menghantam wajah Ki Wirasaba. Akibatnya, orang tua itu meraung keras sambil memegangi wajahnya. Tampak darah merembes dari sela-sela jari tangannya. Dan saat itu juga, Gajah Ireng tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di saat Ki Wirasaba tengah merasakan sakit pada wajahnya, Gajah Ireng sudah melompat sambil membabatkan golok.

"Hiyaaat...!" Bet!

Ki Wirasaba yang tidak mungkin bisa menghindar lagi, benar-benar menjadi sasaran empuk golok berlumuran darah milik Gajah Ireng. Dan...

Bres! "Aaa...!" Jeritan panjang melengking tinggi seketika terdengar menyayat, tepat di saat mata golok Gajah Ireng membelah dada Ki Wirasaba. Darah seketika muncrat dengan deras, membasahi bumi. Dan tampaknya, Gajah Ireng belum merasa puas juga. Maka sekali lagi, goloknya dikibaskan, dan kali ini diarahkan ke leher. Begitu cepat gerakannya, sehingga sulit dilihat. Tahu-tahu saja tebasan golok itu sudah mencapai sasaran.

Bruk! Belum juga Gajah Ireng bisa berbuat sesuatu lagi, tahu-tahu Ki Wirasaba sudah ambruk ke tanah dengan kepala menggelinding. Darah langsung saja berhamburan dari leher yang sudah tidak berkepala lagi.

Cring!

Gajah Ireng segera memasukkan goloknya kembali ke dalam warangka di pinggang, kemudian melompat masuk ke dalam rumah berukuran cukup besar. Sama sekali tidak dihiraukannya tubuh Ki Wirasaba yang sudah terbujur kaku tanpa kepala lagi. Darah terus mengucur keluar dari lehernya yang buntung.

Sementara di sekitarnya bergelimpangan mayat murid-muridnya yang tewas di tangan Gajah Ireng. Cukup lama juga Gajah Ireng berada di dalam. Dan begitu keluar, terdengar umpatan dan makiannya yang bernada kesal. Tampak wajahnya memerah, dan tubuhnya agak menggeletar. Dia berdiri tegak di ujung bawah tangga beranda. Sorot matanya begitu tajam merayapi mayat-mayat yang bergelimpangan di depannya.

"Phuuuih... Selendang itu benar-benar tidak ada di sini! Huh...." dengus Gajah Ireng sambil menendang satu tubuh yang berada di dekatnya. Tubuh tak bernyawa itu kontan melambung dan terpental cukup jauh. Kemudian perlahan Gajah Ireng memutar tubuhnya, dan perlahan pula melangkah mundur. Dan tiba-tiba saja....

"Hiyaaa....'" Gajah Ireng berteriak keras menggelegar. Tepat pada saat itu kedua tangannya dihentakkan ke depan. Dua buah bola api langsung saja meluncur cepat ke arah rumah berukuran besar itu.

Glarrr... Ledakan keras terdengar menggetarkan tanah, begitu dua bola api menghantam bangunan rumah padepokan itu. Sementara, Gajah Ireng seperti tidak ada puasnya. Semua bangunan yang berdiri diledakkan. Bahkan pagar gelondong kayu yang mengelilingi padepokan ini pun dihancurkan, hingga sedikit pun tidak ada yang tersisa. Sebentar saja padepokan yang didirikan Ki Wirasaba itu hancur tanpa tersisa lagi.

"Phuih! Tidak ada seorang pun yang boleh menghalangiku! Mereka yang coba-coba, harus mampus!" dengus Gajah Ireng sambil berkacak pinggang memandangi kobaran api yang melahap seluruh bangunan padepokan ini. Sementara, api terus berkobar semakin besar. Sedangkan Gajah Ireng sudah melangkah meninggalkan tempat itu. Kembali dihampiri kudanya yang masih tetap setia menunggu. Dengan gerakan sangat indah dan ringan, Gajah Ireng melompat naik ke punggung kudanya. Sebentar dipandanginya kehancuran padepokan yang didirikan Ki Wirasaba. Kemudian...

"Hiya! Yeaaah...!" Gajah Ireng langsung saja menggebah kudanya hingga berlari cepat bagai dikejar setan. Kuda coklat belang putih itu terus saja berlari kencang menuju Selatan. Entah ke mana lagi tujuan Gajah Ireng untuk mencari Selendang Sutera Emas.

********************

TIGA

Matahari belum lagi bergulir ke arah Barat, ketika tiga orang penunggang kuda terlihat merambah lebarnya hutan. Arah tujuan mereka jelas menuju padepokan Ki Wirasaba. Kuda-kuda itu dikendalikan perlahan-lahan dan tampaknya mereka tidak tergesa-gesa. Tapi mendadak saja, mereka sama-sama menghentikan langkah kudanya. Bahkan satu sama lain saling melemparkan pandangan, setelah menatap ke arah kepulan asap hitam yang kelihatannya tidak jauh lagi di depan.

"Paman Wirasaba...," desis salah seorang, agak bergetar suaranya.

"Hiyaaa...!" "Yeaaah...!" "Yaaa...!"

Mereka langsung saja menggebah kencang kudanya. Seketika debu dan daun-daun kering berhamburan terbang tersepak kaki-kaki kuda yang dipacu cepat bagai dikejar setan. Ketiga penunggang kuda itu terus memacu kudanya semakin cepat saja, tidak peduli dengan pepohonan yang semakin rapat saja.

"Hooop...!"

Hampir bersamaan, ketiga penunggang kuda itu menghentikan lari kudanya. Dan secara bersamaan pula, mereka berlompatan setelah tiba di depan sebuah bangunan berbentuk seperti benteng yang sudah hancur terbakar. Satupun tak terlihat bangunan yang masih berdiri. Semuanya sudah hangus jadi arang. Asap hitam masih tertihat mengepul ke angkasa. Dan api juga masih terlihat di beberapa tempat.

Ketiga penunggang kuda yang semuanya masih berusia muda itu berdiri terpaku di depan tunggangannya masing-masing, memandang puing-puing hitam bekas padepokan Ki Wirasaba. Salah seorang yang mengenakan baju warna merah menyala, mengayunkan kakinya perlahan. Dilewatinya sesosok mayat yang dadanya terbelah lebar mengeluarkan darah. Dua orang lainnya segera mengikuti.

"Apa yang telah terjadi di sini...?" desis salah seorang yang ternyata gadis berwajah cantik. Bajunya berwarna kuning gading dan agak ketat. Dia seperti bertanya pada diri sendiri. Sebilah pedang tergantung di pinggang ramping gadis itu.

Sedangkan dua orang lagi yang ternyata pemuda-pemuda tampan, hanya diam saja sambil mengedarkan pandangan ke sekeliiing. Sepanjang mata memandang, hanya puing-puing kehancuran dan mayat-mayat yang bergelimpangan saling tumpang tindih. Satu pun tak ada yang masih bernapas. Semuanya sudah tewas dengan luka-luka mengerikan, berlumur darah segar.

"Kakang, ke sini...!" seru gadis berbaju kuning gading itu. Dua orang pemuda yang terpisah dari gadis cantik itu langsung berpaling. Bergegas gadis cantik berbaju kuning gading itu dihampiri. Mereka langsung terpaku begitu melihat tubuh Ki Wirasaba terbujur kaku, terhimpit sebuah balok kayu yang sudah menghitam jadi arang. Asap masih mengepul dari balok kayu yang terbakar hangus.

"Paman...," desis pemuda yang mengenakan baju warna merah menyala.

Ketiga anak muda itu langsung berlutut dengan wajah tertunduk, diselimuti mendung kedukaan. Tak ada seorang pun yang membuka suara, apa lagi berbuat sesuatu. Seluruh tulang persendian mereka seakan-akan lumpuh seketika, seperti tak bisa digerakkan lagi. Kesunyian begitu terasa mencekam di reruntuhan padepokan Ki Wirasaba itu. Begitu sunyinya, hingga suara langkah kaki yang mendekati reruntuhan padepokan jelas sekali terdengar. Dan mungkin karena terlalu larut dalam kedukaan, hingga tidak seorang pun menyadari kalau ada orang datang menghampiri.

"Tidak perlu ditangisi. Yang sudah pergi, biarkanlah pergi dengan tenang...,"

"Heh...?!" Ketiga anak muda itu terkejut sekali, begitu tiba-tiba terdengar suara yang sangat berat dari arah belakang. Cepat mereka bangkit berdiri dan berbalik.

Namun begitu melihat seorang pemuda berwajah tampan dan berbaju rompi putih, dengan sebilah pedang tersembul di balik punggung, mereka langsung saja berlutut sambil merapatkan kedua tangan di depan hidung. Di samping pemuda tampan berbaju rompi putih itu, berdiri seorang gadis cantik. Bajunya warna biru muda dan sangat ketat, sehingga membentuk tubuhnya yang ramping dan indah menggiurkan. Di pinggangnya terselip sebuah kipas dari baja putih berwarna keperakan. Sedangkan di punggungnya menyembul sebuah gagang pedang berbentuk kepala naga berwarna hitam mengkilat.

"Bangunlah kalian. Tidak pantas bersikap begitu padaku," ujar pemuda tampan berbaju rompi putih itu. Nada suaranya terdengar sangat lembut.

Perlahan ketiga anak muda yang masih berusia sekitar dua puluh tahun itu bangkit berdiri. Sekali lagi, mereka memberi hormat dengan membungkukkan tubuh sedikit, dan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung. Sedangkan pemuda tampan berbaju rompi putih itu hanya tersenyum saja, lalu perlahan melangkah lebih mendekat.

"Apa yang terjadi di sini?" tanya pemuda tampan berbaju rompi putih itu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Entahlah. Kami sendiri tidak tahu, apa yang terjadi. Kami juga baru sampai di sini, dan keadaannya sudah seperti ini," sahut pemuda yang berbaju merah ketat, dengan sebilah pedang tersandang di punggung.

"Sebaiknya kita kuburkan saja dulu semuanya," kata pemuda berbaju rompi putih itu mengajak.

Tidak ada seorang pun yang membantah. Mereka segera saja mengumpulkan mayat-mayat yang berserakan. Kemudian, mereka membuat lubang-lubang dan menguburkan mayat-mayat itu satu persatu. Tak ada seorang pun yang membuka suara saat menguburkan. Dan terakhir, mereka baru menguburkan jasad Ki Wirasaba.

********************
Selendang Sutra Emas


Sampai hari menjadi gelap, mereka baru selesai menguburkan jasad Ki Wirasaba dan semua muridnya. Kelelahan begitu terlihat di wajah-wajah mereka yang terselimut duka. Hanya seorang saja yang kelihatan tenang, yakni pemuda berbaju rompi putih itu. Dia kelihatannya tidak ingin ikut larut dalam selimut duka. Pemuda itu berdiri di dekat gadis cantik yang mengenakan baju agak ketat berwarna biru muda. Dan gadis itu juga kelihatan tenang, walaupun dari sorot matanya memancarkan kedukaan, meskipun tidak sedalam yang dialami dua orang pemuda dan seorang gadis yang datang lebih dulu ke padepokan ini.

"Kalau saja kita tidak singgah dulu di Desa Welasih, mungkin peristiwa ini tidak akan terjadi Pandan," kata pemuda berbaju rompi putih itu pelan.

"Tapi, Kakang. Tidak mungkin mereka yang sedang dilanda kesusahan ditinggalkan begitu saja. Hhh...! Mungkin semua ini sudah menjadi suratan takdir, Kakang. Tidak mungkin kita bisa melawan takdir yang sudah ditentukan Sang Hyang Widi," sergah gadis cantik berbaju biru muda yang dipanggil Pandan.

Gadis itu memang Pandan Wangi. Dan di kalangan rimba persilatan, dia lebih dikenal sebagai si Kipas Maut. Sedangkan pemuda yang mengenakan baju rompi putih tak lain adalah Rangga, dan juga dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Mereka memang sepasang pendekar muda yang telah menggemparkan rimba persilatan. Dan sampai saat ini, tidak ada seorang tokoh persilatan pun yang bisa menandingi kedigdayaan Pendekar Rajawali Sakti.

"Yaaah.... Semua memang sudah menjadi suratan takdir. Dan tak ada seorang pun yang bisa menentang kehendak Sang Hyang Widi," desah Rangga perlahan.

Mereka kembali terdiam. Sedangkan ketiga anak muda yang duduk melingkari api unggun, tidak berbicara sedikit pun juga. Kepala mereka terlihat tertunduk, menekuri tanah berumput yang sudah mulai basah tersiram embun.

"Bisa kau duga, siapa kira-kira pelaku pembantaian ini, Kakang?" tanya Pandan Wangi sambil berpaling menatap wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti.

"Sulit," sahut Rangga agak mendesah. "Masalahnya, luka-luka yang ada pada mereka hanya luka biasa. Seperti terkena senjata tajam biasa. Tapi, memang cukup dalam. Dan yang pasti dilakukan oleh orang yang memiliki tenaga dalam tinggi"

"Tapi kukira, itu bukan luka karena sabetan pedang, Kakang," kata Pandan Wangi lagi.

"Memang..."
"Golok...?"
"Kelihatannya begitu"
"Hm...," Pandan Wangi menggumam perlahan.

"Kau bisa mengenalinya?" tanya Rangga sambil menatap dalam-dalam kedua bola mata si Kipas Maut.

"Terlalu banyak yang menggunakan senjata golok, Kakang. Sulit untuk menentukan, siapa orangnya. Tapi aku yakin, orang itu pasti memiliki kepandaian tinggi. Buktinya murid-murid Ki Wirasaba bisa dibantai habis. Bahkan bisa membunuh Ki Wirasaba. Pasti ilmunya lebih tinggi daripada Ki Wirasaba," kata Pandan Wangi lagi.

"Kau berbicara, sepertinya yang melakukan ini hanya satu orang, Pandan," desis Rangga terus menatap dalam bola mata si Kipas Maut

"Semua luka yang ada sama bentuknya, Kakang. Dan aku yakin, hanya satu senjata saja yang digunakan. Dan itu berarti hanya satu orang saja yang melakukannya," jelas Pandan Wangi.

"Hm..., pengamatanmu sangat tajam, Pandan," puji Rangga tulus.

Pandan Wangi hanya tersenyum saja menerima pujian tulus itu. Pandangannya dilayangkan jauh ke depan, seakan-akan ingin menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba saja menyemburat membakar kedua pipinya yang berkulit halus. Pendekar Rajawali Sakti sudah melihat perubahan warna pada pipi itu, namun tak menginginkan Pandan Wangi terus begitu. Sambil menghembuskan napas panjang, Pendekar Rajawali Sakti melangkah menghampiri ketiga anak muda yang masih tetap duduk melingkari api unggun.

Gadis berwajah cukup cantik yang mengenakan baju kuning gading, segera menggeser duduknya begitu melihat Rangga menghampiri. Dan Pendekar Rajawali Sakti langsung saja duduk di samping gadis ini. Sedangkan dua orang pemuda yang lain sudah duduk berdampingan, hanya memandang saja. Sementara, Pandan Wangi juga melangkah menghampiri, lalu duduk di samping Pendekar Rajawali Sakti.

"Apa rencana kalian besok?" tanya Rangga memecah kesunyian yang terjadi beberapa saat.

"Entahlah, Gusti Pra...."

"Ssst..!" Rangga cepat-cepat memutuskan ucapan pemuda berbaju merah menyala itu. Jari telunjuknya bergoyang-goyang di depan bibirnya yang memperdengarkan suara mendesis seperti ular. "Kuminta, kalian tidak lagi memanggilku dengan sebutan seperti itu. Panggil saja seperti Pandan Wangi memanggilku," pinta Rangga.

"Tapi...."

"Tidak ada tapi-tapi," selak Rangga cepat.

Kedua pemuda yang masih berusia sekitar dua puluh satu tahun itu hanya saling melempar pandangan saja. Sedangkan gadis yang duduk di samping Rangga, hanya menundukkan kepala, seakan-akan tidak berani membalas pandangan kedua pemuda yang berada di depannya.

"Kalian harus tahu. Kakang Rangga bila di luar kerajaan, bukanlah Prabu Rangga Pati Permadi, atau Raja Karang Setra. Tapi, Rangga yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Dan sudah tentu kalian tidak perlu lagi memanggilnya Gusti Prabu. Cukup panggil saja Kakang Rangga," selak Pandan Wangi memberi tahu.

"Dan itu lebih bagus lagi," sambung Rangga sambil melemparkan senyum manis. Tidak ada seorang pun yang membuka suara. "Bagaimana, Anggita...?" Rangga berpaling, langsung menatap gadis cantik berusia sekitar delapan belas tahun yang duduk di sebelahnya.

"Terserah yang lain saja," sahut gadis cantik berbaju kuning gading yang dipanggil Anggita.

"Rahtama...? Suryadanta...?" Rangga menatap dua orang pemuda di depannya.

"Baiklah, kalau memang itu yang diinginkan. Tapi maaf, jangan dianggap kalau kami tidak tahu sopan dan tata krama," sahut pemuda berbaju merah menyala yang bernama Rahtama.

"Bagus! Aku senang mendengarnya," sambut Rangga seraya tersenyum lebar. "Nah..., apa kalian besok akan melanjutkan perjalanan untuk menemui guru kalian?"

"Ya! Kami harus segera ke Bukit Batu. Nyai Langis pasti sudah lama menunggu," sahut Rahtama.

"Kalau begitu, sebaiknya kalian istirahat saja. Malam masih terlalu panjang. Dan perjalanan ke Bukit Batu perlu waktu seharian penuh dari sini," jelas Rangga.

"Lalu, kau sendiri...?" tanya Rahtama, terdengar agak kaku nada suaranya.

"Aku dan Pandan Wangi akan terus mendampingi kalian sampai ke Bukit Batu," sahut Rangga.

"Terima kasih," ucap Rahtama. "Tapi, seharusnya Kakang Rangga tidak perlu bersusah-susah begitu. Kami sanggup jaga diri masing-masing," kata Anggita.

"Jangan bersikap sungkan begitu, Anggita. Apa yang kulakukan sekarang ini, tidak sebanding dengan yang telah dilakukan guru kalian," balas Rangga.

"Tapi... " Anggita masih tetap akan menolak.

"Sudahlah... Sebaiknya, kau tidur saja. Kau kelihatan yang paling lelah sekali," selak Rangga memutuskan ucapan gadis itu.

"Ayo, Anggita. Kita cari tempat yang nyaman buat tidur," ajak Pandan Wangi, setelah pinggangnya kena sikut Pendekar Rajawali Sakti. Anggita tidak bisa menolak. Gadis itu bangkit berdiri begitu Pandan Wangi berdiri. Dan mereka melangkah pergi, mencari tempat yang lebih nyaman untuk beristirahat.

Sementara Rangga, Rahtama dan Suryadanta masih tetap duduk menghadapi api unggun yang mulai mengecil nyala apinya.

"Kalian tidurlah. Biar aku yang menjaga malam ini," kata Rangga menyuruh kedua pemuda itu beristirahat

"Biar aku saja, Kakang," tolak Rahtama.

"Baiklah...," desah Rangga seraya mengangkat pundaknya sedikit. Rangga memang tidak ingin memaksa. Dan tubuhnya segera direbahkan, tak jauh dari api unggun yang nyala apinya semakin meredup. Sedangkan Rahtama tetap duduk sambil menambahkan beberapa ranting kering ke dalam api.

Sementara Suryadanta sudah melingkar di bawah pohon. Dan malam pun terus merayap semakin bertambah larut. Tak terdengar lagi suara percakapan. Yang ada hanya suara desiran angin menggesek dedaunan. Dan sesekali terdengar lolongan anjing hutan di kejauhan.

"Hhh...!" Rahtama menggeliatkan tubuhnya yang terasa begitu penat. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling, kemudian bangkit berdiri. Lalu, tubuhnya digerak-gerakkan sebentar, mencoba mengurangi rasa penat. Pandangan matanya kemudian tertuju pada Pandan Wangi dan Anggita yang tidur berdampingan sambil memeluk lutut. Udara malam ini memang terasa begitu dingin, hingga Rahtama harus sering menambahkan ranting-ranting kering ke dalam api, agar terasa sedikit lebih hangat. Pemuda itu kembali duduk dekat api unggun yang mulai menyala besar kembali. Tangannya menjulur hendak mengambil daging ayam hutan panggang. Tapi belum juga berhasil meraih, tiba-tiba saja...

Wusssh!!
"Heh...?!"

Cepat-cepat Rahtama menarik tangannya, begitu merasakan adanya angin mendesir mengarah ke tangannya. Dan saat itu, terlihat sebuah benda sepanjang tiga jengkal tengah meluncur hampir menyambar tangannya. Tapi pada saat itu, terlihat sebuah bayangan berkelebat begitu cepat sekali, sehingga Rahtama tidak sempat lagi melihat. Dan tahu-tahu, di samping pemuda itu sudah berdiri Pendekar Rajawali Sakti. Di tangan kanannya sudah tergenggam sebatang anak panah bermata dari perak putih yang berkilat

"Bangunkan yang lain, Rahtama," perintah Rangga dengan suara agak berbisik.

"Baik," sahut Rahtama.

Tanpa diperintah dua kali, Rahtama segera membangunkan Suryadanta, Pandan Wangi, dan Anggita. Mereka langsung saja menghampiri Pendekar Rajawali Sakti, dan berdiri di belakangnya. Tak ada seorang pun yang berbicara. Sedangkan Rangga memusatkan perhatiannya ke arah datangnya anak panah bermata perak putih di tangan kanannya.

"Kisanak! Jika kau bermaksud baik, keluarlah...!" seru Rangga, terdengar lantang suaranya. Suara yang disertai pengerahan tenaga dalam itu terdengar keras dan menggema. Bahkan sempat menggetarkan pepohonan yang tumbuh cukup rapat di sekitarnya, sehingga membuat daun-daun sampai berguguran.

"He he he...!" Tiba-tiba saja terdengar tawa terkekeh kering.

Sulit untuk menemukan sumber arah suara itu, karena terdengar menggema seperti datang dari segala penjuru mata angin. Hanya Rangga saja yang tetap mengerahkan pandangannya ke satu arah. Sedangkan mereka yang berada di belakangnya malah mengedarkan pandangan ke sekeliling, seperti berusaha mencari arah tawa terkekeh yang terdengar menggema dan sangat kering.

Belum lagi hilang suara tawa terkekeh kering itu, tiba-tiba saja berkelebat sebuah bayangan begitu cepat, ke arah Rahtama yang berada agak ke samping kiri Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepatnya berkelebat, sehingga membuat Rahtama jadi terlongong seperti melihat bayangan setan saja. Tapi belum juga bayangan itu bisa menyambar tubuh Rahtama, dengan kecepatan kilat Pendekar Rajawali Sakti sudah melesat memapak.

Buk!

Seketika itu juga, terdengar benturan keras sekali. Lalu, terlihat bayangan hitam itu terpental balik ke belakang. Sedangkan Rangga tampak melesat ke udara, dan berputaran beberapa kali. Dan dengan ringan sekali Pendekar Rajawali Sakti kembali menjejakkan kakinya di tanah. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuhnya, sehingga sedikit pun tidak terdengar suara saat kakinya menjejak tanah yang penuh dedaunan kering.

"Mundur kalian semua," desis Rangga, agak datar nada suaranya.

Pandan Wangi segera menarik tangan Anggita dan Suryadanta ke belakang, Rahtama juga bergegas menggeser kakinya ke belakang, menjauhi Pendekar Rajawali Sakti.

Sementara sekitar dua batang tombak di depan pemuda berbaju rompi putih itu terlihat seorang laki-laki tua berjubah hitam yang tubuhnya sudah terlihat membungkuk. Di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat kayu yang tidak beraturan bentuknya. Tampak seuntai kalung berbentuk kepala tengkorak melingkar di lehernya. Cukup sulit untuk mengenali wajahnya, karena hampir seluruhnya tertutup rambut yang sudah memutih dan panjang.

Namun dari balik rambut yang putih itu terlihat sorotan sepasang mata merah yang be-gitu tajam, menatap Pendekar Rajawali Sakti. Sorotannya bagai sepasang bola api yang hendak membakar hangus seluruh tubuh pemuda itu.

"Aku tidak berurusan denganmu, Pendekar Rajawali Sakti! Minggir kau...!" bentak laki-laki tua berjubah hitam itu kasar.

"Siapa kau, Kisanak? Kenapa kau ingin menyerang sahabatku?" tanya Rangga tidak menghiraukan bentakan laki-laki tua itu.

"Aku Setan Tengkorak Hitam. Apa pun yang kulakukan, bukan urusanmu!" sahut laki-laki tua itu bernada mendengus kasar.

"Setan Tengkorak Hitam. Hm..., namamu sudah pernah kudengar. Tapi, apa urusanmu dengan sahabatku ini...?" suara Rangga terdengar agak menggumam.

"Sudah kukatakan, itu bukan urusanmu!"

"Apa pun yang menjadi urusan sahabatku, juga menjadi urusanku, Kisanak."

"Ghrrr...!" Setan Tengkorak Hitam menggeram dingin. Sorot mata orang yang berjuluk Setan Tengkorak Hitam itu tampak merah. Bahkan terlihat semakin tajam saja. Seakan-akan hendak menembus langsung bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan kakinya bergeser ke kanan. Sekilas matanya melirik Rahtama dan kedua adik seperguruannya yang kini sudah berada agak jauh. Lalu, kembali ditatapnya Rangga yang masih berdiri tegak dengan sikap tenang sekali.

"Kenapa kau membela bocah-bocah keparat itu, Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Setan Tengkorak Hitam. Suaranya masih terdengar mendesis kering.

"Semua sahabatku selalu kubela, Kisanak," sahut Rangga kalem."

"Walaupun mereka pencuri busuk...?"

"Pencuri...?" Entah kenapa, tiba-tiba saja Setan Tengkorak Hitam tertawa terbahak-bahak.

Begitu keras tawanya, sehingga membuat telinga siapa saja yang mendengarnya jadi terasa sakit. Dan suara tawa itu semakin terdengar keras menggelegar. Rangga yang sudah malang-melintang dalam rimba persilatan, langsung bisa merasakan kalau tawa itu disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Sedikit Pendekar Rajawali Sakti melirik ke belakang. Tampak Rahtama, Suryadanta, dan Anggita mulai menggeletar tubuhnya sambil menutup telinga dengan kedua telapak tangan. Sementara, Pandan Wangi sudah merapatkan kedua tangannya di depan dada.

"Hentikan tawamu, Kisanak!" desis Rangga dingin menggetarkan.

"Ha ha ha...!" Tapi, Setan Tengkorak Hitam terus saja tertawa terbahak-bahak. Bahkan tawanya yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi itu semakin terdengar dahsyat dan menggelegar. Saat itu, bumi mulai terasa berguncang. Dan pepohonan pun sudah mulai berguguran daun-daunnya.

Sementara, Rangga sudah membuat beberapa gerakan dengan kedua tangannya, lalu dirapatkan di depan dada.

"Hap! Yeaaah...!" Sambil berteriak keras menggelegar, tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan kedua tangannya ke depan. Seketika itu juga, terdengar suara mendesir yang cukup keras. Sehingga, Setan Tengkorak Hitam jadi tersentak kaget. Dan begitu merasakan adanya kekuatan dorongan yang begitu dahsyat, cepat-cepat tubuhnya melenting ke udara. Maka, seketika itu juga suara tawanya lenyap, begitu tubuh laki-laki tua itu melesat ke angkasa.

EMPAT

"Hap!" Begitu ringan Setan Tengkorak Hitam menjejakkan kakinya di tanah yang ditutupi dedaunan. Sedikit pun tak ada suara saat kakinya menjejak tanah. Dari sini bisa dinilai kalau Setan Tengkorak Hitam itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tidak bisa dipandang rendah. Dan itu berarti juga tingkat kepandaiannya sudah demikian tinggi.

"Aku akui, kau memang tangguh, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi aku benar-benar tidak ingin urusan-ku dicampuri orang lain. Ini persoalan pribadiku, antara bocah-bocah keparat itu denganku," kata Setan Tengkorak Hitam dingin.

"Persoalan pribadi...? Tapi kenapa kau sepertinya ingin membunuh mereka?" tanya Rangga ingin tahu.

"Memang sudah sepantasnya mereka mampus!" dengus Setan Tengkorak Hitam.

"Hm...." Sekilas Rangga melirik Rahtama, kemudian berpindah pada Suryadanta dan Anggita. Dengan ujung jari tangannya, Pendekar Rajawali Sakti memanggil Rahtama. Dan tanpa diucapkan lagi, pemuda itu segera menghampiri Rangga. Lalu diambilnya tempat di sebelah kanan Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau mengenalnya, Rahtama?" tanya Rangga seraya menatap Setan Tengkorak Hitam.

"Ya," sahut Rahtama, singkat.

"Hm.... Kau punya urusan apa dengannya, sampai ingin membunuhmu?" tanya Rangga lagi.

Tapi, kali ini Rahtama tidak langsung menjawab. Malah, ditatapnya orang tua bertubuh bungkuk itu dengan sorot mata yang begitu dingin. Sosok orang tua berbaju jubah hitam panjang dan mengaku berjuluk Setan Tengkorak Hitam itu juga malah membalas tatapan Rahtama dengan sorot mata merah dan tidak kalah tajamnya.

"Katakan saja terus terang padaku, Rahtama. Apa urusanmu dengannya?" tanya Rangga lagi. Kali ini, pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti terdengar mendesak.

Sementara, Suryadanta dan Anggita sudah melangkah menghampiri. Dan mereka kini berdiri sekitar tiga langkah lagi di belakang Rahtama. Sedangkan Pandan Wangi masih tetap di tempatnya, tapi terus saja memperhatikan sambil memasang telinga tajam-tajam.

"Bukan aku atau adik-adik seperguruanku yang memulai, Kakang. Tapi dia yang mencari perkara lebih dulu," tuding Rahtama.

"Bocah setan...!" desis Setan Tengkorak Hitam geram, mendapat tudingan tajam dari Rahtama. "Kubunuh kau, hih...!"

"Tunggu...!" sentak Rangga mencegah. Tapi belum juga cegahan Rangga menghilang dari pandangan, Setan Tengkorak Hitam sudah menghentakkan tangan kanannya ke belakang. Lalu begitu cepat sekali tangan kanannya dikebutkan ke depan. Saat itu juga terlihat sebatang anak panah meluncur deras ke arah Rahtama. Tapi belum juga anak panah berkepala perak putih itu bisa menembus kulit tubuh Rahtama, Rangga sudah cepat sekali mengebutkan tangannya.

"Hap!" Tak! Anak panah itu langsung terpental jauh begitu terkena kebutan tangan Pendekar Rajawali Sakti. "Masih banyak cara untuk menyelesaikan persoalan, Kisanak. Dan kuharap, kau bisa menahan diri sedikit," sentak Rangga tegas.

"Aku tidak perlu nasihatmu, Pendekar Rajawali Sakti. Minggir kau! Atau kau juga ingin mampus, heh,..?!" dengus Setan Tengkorak Hitam menggeram kasar.

"Aku hanya ingin membantu menyelesaikan per-soalanmu dengan mereka, Kisanak," kata Rangga masih mencoba bersabar, walaupun sikap si Setan Tengkorak Hitam jelas-jelas sangat kasar.

"Aku tidak perlu bantuanmu! Minggir...!" bentak Setan Tengkorak Hitam kasar.

Baru saja Rangga hendak membuka mulutnya, Rahtama sudah menyentuh pundaknya.

"Biarkan kami bertiga yang menghadapinya, Kakang. Dia tidak akan puas sebelum melampiaskan kemarahannya," pinta Rahtama.

"Diam sajalah, Rahtama. Biar saja kuselesaikan sendiri," tolak Rangga halus, tapi bernada tegas.

"Bagus! Biar kalian semua maju bersama-sama!" dengus Setan Tengkorak Hitam dingin.

"Hm...," Rangga hanya menggumam perlahan saja.

"Ayo, maju kalian semua! Biar tubuh kalian kujadikan makanan cacing-cacing tanah!" bentak Setan Tengkorak Hitam menantang kasar.

"Kenapa harus menggunakan kekerasan, Kisanak?" Rangga masih saja mencoba bersabar, dan tidak ingin terjadi pertarungan.

"Tutup mulutmu, Bocah! Ayo lawan aku...!" bentak Setan Tengkorak Hitam kasar.

"Hm...!"
"Yeaaah...."

"Mundur kalian! Hup...!" Setelah menyuruh Rahtama dan kedua adik seperguruannya mundur, Rangga cepat melompat ke depan. Langsung dihadangnya terjangan Setan Tengkorak Hitam. Tepat begitu Setan Tengkorak Hitam menghentakkan kedua tangannya ke depan, saat itu juga Rangga menghentakkan kedua tangannya ke depan pula. Hingga tak pelak lagi, dua pasang telapak tangan yang mengandung tenaga dalam tinggi tepat beradu pada titik tengah.

Plak!
"Hup!"
"Yeaaah...!"

Tampak mereka saling berlompatan mundur sambil berputaran beberapa kali di udara. Dan secara bersamaan, mereka menjejakkan kaki di tanah berdaun kering ini. Namun belum juga Rangga bisa menguasai keseimbangannya, Setan Tengkorak Hitam sudah kembali melompat melancarkan serangan.

"Hiyaaat..!"
"Hap! Yeaaah...!"

Tidak ada pilihan lain lagi bagi Pendekar Rajawali Sakti. Serangan-serangan si Setan Tengkorak Hitam harus dihadapinya. Terlebih lagi, kekuatan tenaga dalam laki-laki tua itu dahsyat sekali. Dan Rangga sudah bisa mengukur kalau Rahtama dan kedua adiknya tidak akan mungkin mampu menandinginya.

Maka pertarungan pun tidak dapat dihindari lagi. Serangan-serangan Setan Tengkorak Hitam memang dahsyat luar biasa. Setiap pukulannya mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Begitu tingginya, sehingga setiap pukulannya menimbulkan hempasan angin yang begitu kuat, di samping mengandung hawa panas sangat menyengat. Bukti kedahsyatan pukulan-pukulan yang dilepaskan Setan Tengkorak Hitam adalah hancurnya beberapa pohon.

Dan tampaknya, laki-laki tua berjubah hitam itu tidak ingin memberi kesempatan pada Pendekar Rajawali Sakti untuk balas menyerang. Serangan-serangan dahsyat dan gencar terus dilancarkan, sehingga membuat Rangga terpaksa harus berjumpalitan menghindarinya. Dan dari gerakan-gerakan menghindar yang dilakukan Rangga, sudah bisa dipastikan kalau yang digunakannya saat ini adalah jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'.

"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"

Setan Tengkorak Hitam semakin meningkatkan serangannya lebih dahsyat lagi. Bahkan sudah mulai menggunakan tongkatnya untuk menyerang. Ujung runcing tongkat kayu berbentuk tak beraturan itu seringkali hampir membuat kulit tubuh Pendekar Rajawali Sakti tergores. Tapi memang Rangga bukanlah pendekar sembarangan. Walaupun terdesak terus, tapi tetap saja terasa sulit bagi si Setan Tengkorak Hitam untuk mendaratkan tongkatnya.

"Hup!" Tiba-tiba saja Setan Tengkorak Hitam melompat ke belakang sejauh lima langkah.

Sementara, Rangga berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Saat itu, Rahtama dan kedua adik seperguruannya sudah kembali berada di dekat Pandan Wangi. Dan mereka benar-benar merasa berada di tempat yang cukup aman.

"Kau tinggal pilih, Pendekar Rajawali Sakti. Aku atau kau yang lebih dulu masuk ke lubang kubur," desis Setan Tengkorak Hitam, dingin dan menggetarkan.

"Hm..." Tapi Rangga hanya menggumam saja perlahan. Dan....

"Hiyaaa...!"
"Hait..!"

Bagaikan kilat, Setan Tengkorak Hitam melompat sambil mengebutkan tongkat kayunya yang berujung runcing. Namun hanya mengegos sedikit saja, Rangga berhasil menghindarinya. Dan kakinya segera bergeser ke samping, begitu Setan Tengkorak Hitam melepaskan satu tendangan keras menggeledek disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Yeaaah...!"
"Haps!"

Hanya sedikit saja tendangan Setan Tengkorak Hitam lewat di depan dada Pendekar Rajawali Sakti. Dan cepat bagai kilat, Rangga melepaskan satu pukulan turus sambil memiringkan tubuhnya. Begitu cepat pukulannya, sehingga tidak ada kesempatan bagi Setan Tengkorak Hitam untuk menghindar. Karena tidak ada pilihan lain, maka Setan Tengkorak Hitam cepat-cepat mengebutkan tongkatnya. Langsung ditangkisnya pukulan Pendekar Rajawali Sakti.

Plak! Trak!

"Heh...?!" Kedua bola mata Setan Tengkorak Hitam jadi terbeliak lebar, Ternyata tongkatnya patah jadi dua bagian, setelah membentur kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti. Maka, bergegas dia melompat ke belakang.

Tapi belum juga kakinya bisa menjejak tanah, Rangga sudah melesat cepat bagai kilat. Sebuah tendangan keras menggeledek langsung dilepaskan begitu cepat, hingga sukar diikuti pandangan mata biasa.

"Uts...!" Setan Tengkorak Hitam buru-buru meliukkan tubuhnya, menghindari tendangan menggeledek yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Tapi belum juga bisa meluruskan tubuhnya kembali, Rangga sudah melepaskan satu pukulan keras dari jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali.

"Hiyaaa...!" Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti, sehingga Setan Tengkorak Hitam tidak sempat lagi menghindar. Dan....

Desss..! "Akh...!"

Pukulan yang dilepaskan Rangga tepat menghantam dada laki-laki tua berjubah hitam itu. Begitu kerasnya pukulan tadi, sehingga Setan Tengkorak Hitam terpental jauh ke belakang. Dan lontarannya baru berhenti setelah menghantam sebatang pohon yang langsung hancur terlanda tubuh laki-laki tua agak bungkuk ini.

"Ugkh! Hoeeek...!" Segumpal darah kental agak kehitaman langsung menyembur dari mulut si Setan Tengkorak Hitam. Sambil memegangi dadanya, laki-laki tua berjubah hitam itu berusaha bangkit berdiri. Tapi belum juga bisa berdiri sempurna, Rangga sudah kembali melepaskan satu pukulan keras disertai pengerahan tenaga dalamnya yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan.

"Hiyaaa...!" Namun belum juga pukulan Pendekar Rajawali Sakti mendarat di tubuh si Setan Tengkorak Hitam, mendadak saja....

"Kakang, jangan...!"

"Upfs...!" Cepat-cepat Rangga melenting ke belakang, dan berputaran dua kali sambil menarik kembali serangannya. Wajahnya langsung berpaling, begitu kakinya menjejak tanah.

Sementara Tengkorak Hitam hanya bisa berdiri lemas sambil berusaha mengatur pernapasannya yang tersengal. Rasanya, dadanya bagai terhimpit sebongkah batu yang sangat besar. Memang keras sekali pukulan yang diterimanya tadi. Kalau saja tidak memiliki kepandaian tinggi, pasti sekarang ini si Setan Tengkorak Hitam sudah menggeletak dengan dada hancur remuk.

Saat itu Anggita terlihat melangkah cepat, setengah berlari menghampiri Rangga yang tengah berpaling menatapnya. Gadis itu berdiri di samping kanan Pendekar Rajawali Sakti. Sebentar ditatapnya wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti, kemudian beralih pada Setan Tengkorak Hitam. Sementara, Rahtama dan Suryadanta juga sudah menghampiri, diikuti Pandan Wangi dari belakang. Mereka berdiri mengapit Rangga. Sedangkan Setan Tengkorak Hitam hanya berdiri saja dengan napas tersengal sambil memegangi dadanya yang terkena pukulan keras bertenaga dalam sempurna dari Pendekar Rajawali Sakti tadi.

"Sudah, Kakang. Jangan diteruskan," kata Anggita memohon.

"Hm...," Rangga hanya menggumam saja dengan kening berkerut. Dipandanginya gadis berwajah cukup cantik ini.

Sementara, Anggita melangkah menghampiri Setan Tengkorak Hitam yang kini sudah duduk bersila. Laki-laki berjubah hitam itu masih mencoba mengatur pernapasannya yang masih terasa begitu sesak. Gadis itu langsung saja duduk di depannya. Saat itu pula, Rahtama dan Suryadanta menghampiri. Kedua pemuda itu juga duduk di depan laki-laki tua ini. Secara bersamaan, mereka merapatkan kedua telapak tangan, dan meletakkannya di depan hidung.

"Heh...?! Apa-apaan ini...?" Rangga jadi tersentak kaget melihat sikap ketiga anak muda itu. Memang sulit dimengerti, karena tiba-tiba saja sikap Rahtama dan kedua adik seperguruannya jadi berubah. Padahal, tadi si Setan Tengkorak Hitam begitu marah dan hendak membunuh ketiga anak muda itu Tapi sekarang, setelah si Setan Tengkorak Hitam sudah terluka dalam, ketiga anak muda itu malah menunjukkan sikap seperti seorang murid pada gurunya. Inilah yang membuat Rangga jadi tidak mengerti.

"Ada apa dengan mereka, Kakang? Kenapa mereka...?" Rangga merentangkan tangannya sedikit, membuat pertanyaan Pandan Wangi jadi terputus. Perlahan kedua pendekar muda itu melangkah lebih mendekat.

Sementara, Setan Tengkorak Hitam sudah mulai bersemadi untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita, akibat pertarungannya melawan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan, Rahtama, Suryadanta, dan Anggita masih tetap duduk bersimpuh di depan laki-laki tua berjubah hitam ini. Perlahan Rahtama berpaling ke belakang. Pandangannya langsung tertuju pada wajah Pendekar Rajawali Sakti. Kemudian, dia bangkit berdiri dan menghampiri pemuda berbaju rompi putih itu. Sedangkan kedua adiknya masih tetap duduk bersimpuh menunggui Setan Tengkorak Hitam yang sedang bersemadi.

"Maafkan kami, Kakang. Sebenarnya....!"

"Tidak perlu kau yang menjelaskan, Rahtama...!" Ucapan Rahtama seketika terputus, ketika tiba-riba saja Setan Tengkorak Hitam bangun dari semadinya.

Laki-laki tua itu langsung saja berdiri dan melangkah menghampiri Rahtama yang berpaling ke arahnya. Sementara, Suryadanta dan Anggita juga bangkit berdiri. Mereka ikut melangkah, lalu mengambil tempat di belakang laki-laki tua berjubah hitam yang tampaknya sudah pulih kembali.

"Sebenarnya, namaku bukan Setan Tengkorak Hitam. Tapi Randaka. Dan aku bukan orang lain bagi mereka bertiga. Nyai Langis, guru mereka, adalah kakakku. Jadi, aku termasuk guru mereka juga," jelas Setan Tengkorak Hitam yang sebenarnya bernama Randaka.

"Benar, Kakang. Paman Randaka tadi hanya mengujimu saja. Tidak lebih," sambung Rahtama.

"Menguji..? Untuk apa?!" tanya Rangga meminta penjelasan.

"Paman Randaka hanya ingin memastikan kalau kami bertiga tidak salah menemuimu jauh-jauh ke Karang Setra," jelas Rahtama.

"Sebentar...," selak Pandan Wangi yang sejak tadi hanya diam saja. Mereka semua langsung mengarahkan pandangan pada gadis cantik berbaju biru yang dikenal berjuluk si Kipas Maut. Sementara, Pandan Wangi menggeser kakinya semakin mendekati Rangga. "Kuharap, salah satu dari kalian menjelaskan semuanya. Dan aku tidak ingin ada lagi permainan yang berbahaya seperti tadi. Kalian tahu, Kakang Rangga tadi bisa saja membunuh Paman Randaka," tegas Pandan Wangi, meminta penjelasan.

"Maaf, Nini. Hanya dengan jalan itu aku baru bisa percaya, kalau pilihan murid-murid kakakku memang tidak salah," sahut Paman Randaka.

"Maksudmu memilih Kakang Rangga itu untuk apa, Rahtama?" tanya Pandan Wangi lagi.

Rahtama tidak langsung menjawab. Matanya melirik sedikit pada Paman Randaka, kemudian beralih pada kedua adik seperguruannya yang terdiam saja sejak tadi. Dan kini malah menatap Pandan Wangi, dan terakhir pada Rangga yang sejak tadi memang tengah memandang.

"Ceritakan semuanya, Rahtama. Jangan sampai ada yang terlewat," ujar Paman Randaka.

"Baiklah...," desah Rahtama sambil menghembuskan napas panjang-panjang. "Tapi, sebelumnya kukabarkan pada Paman, kalau Paman Wirasaba telah tewas."

"Apa...?!" Paman Randaka tersentak, bagai mendengar petir di siang bolong.

Kemudian, Rahtama menceritakan apa yang dili-hatnya bersama adik-adik seperguruannya, Pendekar Rajawali Sakti, dan Pandan Wangi. Sementara, laki-laki separuh baya itu tampak tabah. Walaupun tidak menangis, tapi jelas terlihat kalau wajahnya terselimut mendung kedukaan. Setelah Rangga menghibur dengan kata-kata lembut, barulah Paman Randaka bisa mengangkat wajahnya. Benar-benar tabah laki-laki ini.

Rangga kemudian mengajak semuanya duduk di dekat api yang sudah mengecil nyalanya. Ditambahkannya beberapa ranting kering, agar api kembali menyala besar untuk mengusir udara dingin yang menusuk sampai ke tulang. Mereka semua duduk melingkari api unggun yang kini sudah menyala cukup besar, menghangatkan udara malam yang sangat dingin ini. Dan kini, Rahtama benar-benar bersiap memulai ceritanya.

LIMA

"Seperti yang ku utarakan di istana, kami memang sengaja datang menemuimu di istana Karang Setra, Kakang Rangga. Dan memang, tujuan ke sana karena diutus guru kami yang bernama Nyai Langis. Kami datang memang untuk meminta bantuan padamu, untuk mencari Selendang Sutera Emas milik guru kami yang hilang," Rahtama memulai menceritakan semua tujuannya menemui Pendekar Rajawali Sakti di Istana Kerajaan Karang Setra.

"Ya! Kau sudah mengatakannya di istana," selak Pandan Wangi. "Tapi, kenapa kalian membutuhkan bantuan Kakang Rangga? Sedangkan kalian memiliki kepandaian tinggi. Terutama, Paman Randaka."

"Sebenarnya, kami juga tidak ingin merepotkan orang lain, Nini. Tapi, yaaah.... Semua ini kami lakukan karena terpaksa. Orang yang mencuri Selendang Sutera Emas berkepandaian sangat tinggi. Dan kami semua tidak sanggup menandingi kepandaiannya. Jadi, terpaksa harus mencari pendekar tangguh yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi lagi," Paman Randaka yang menjelaskan pertanyaan Pandan Wangi.

"Sebentar...," selak Rangga. "Bisa kalian jelaskan, seperti apa Selendang Sutera Emas itu? Apakah selendang itu sangat penting artinya bagi kalian?"

"Bukan untuk kami, Pendekar Rajawali Sakti," sahut Rahtama.

"Memang bukan untuk kami. Tapi, selendang itu merupakan benda pusaka yang sangat penting artinya bagi guru kami," sambung Anggita.

"Nyai Langis...?"

"Benar. Tanpa Selendang Sutera Emas, semua kepandaian yang dimiliki Nyai Langis tidak ada artinya. Dan dengan mudah sekali guru kami bisa dikalahkan musuh, karena sebagian jiwanya sudah dipindahkan ke dalam selendang itu," sambung Rahtama.

"Hm...," gumam Rangga perlahan.

"Kakang, kalau begitu keselamatan Nyai Langis sedang terancam," desis Pandan Wangi setengah berbisik.

Rangga hanya diam saja. Sedangkan pandangannya menerawang jauh ke depan. Sementara, semua orang yang duduk melingkari api unggun ini memandanginya.

"Di mana Nyai Langis menunggu kalian?" tanya Rangga sambil menatap Rahtama.

"Puncak Bukit Batu," sahut Rahtama.

"Hm..... Kalian di sini saja. Dan besok pagi baru ke sana," kata Rangga sambil bangkit berdiri.

"Kau sendiri mau ke mana...?" tanya Anggita.

Tapi, Pendekar Rajawali Sakti tidak sempat mendengar pertanyaan gadis itu karena sudah melesat begitu cepat. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuhnya, sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan mata. Begitu cepatnya, seakan-akan Pendekar Rajawali Sakti bagaikan tertelan bumi saja.

"Mau ke mana dia?" tanya Paman Randaka.

"Ke Bukit Batu," sahut Pandan Wangi.

"Malam-malam begini...?" selak Anggita terpana.

Namun Pandan Wangi hanya tersenyum saja mendengar pertanyaan gadis itu. Dan memang, tidak ada seorang pun dari mereka yang tahu kalau Rangga memiliki seekor burung rajawali raksasa yang bisa dikendarai ke mana saja dalam waktu singkat. Hanya Pandan Wangi saja yang tahu. Dan si Kipas Maut itu juga langsung bisa menebak kalau Pendekar Rajawali Sakti pasti menuju Bukit Batu menggunakan Rajawali Putih, yang sekaligus gurunya.

"Paman, kita harus segera menyusul," kata Suryadanta.

"Tanyakan dulu pada Nini Pandan Wangi. Kalau dia bilang tidak perlu, kalian tidak perlu memaksa," sahut Paman Randaka kalem.

"Tapi...."

"Sudahlah, kalian tidur saja. Besok pagi, baru kita pergi sama-sama ke Bukit Batu," selak Pandan Wangi cepat, memutuskan ucapan Suryadanta.

Meskipun masih diliputi kecemasan dan ketidakmengetian, tapi tak ada seorang pun yang bisa membantah lagi. Sementara, Pandan Wangi sudah bangkit berdiri dan melangkah menjauhi api unggun. Paman Randaka juga berdiri, dan berjalan mengikuti si Kipas Maut. Dia ikut duduk, begitu Pandan Wangi duduk di atas sebatang pohon mati yang sudah roboh. Sementara, Rahtama dan kedua adiknya masih saja duduk di dekat api unggun.

"Kenapa kau kelihatan begitu tenang, Nini?" tanya Paman Randaka ingin tahu sikap Pandan Wangi yang seperti tidak peduli atas kepergian Rangga seorang diri ke Bukit Batu.

"Paman sendiri, kenapa juga kelihatan tenang?" Pandan Wangi malah balik bertanya.

"Aku harus bisa bersikap tenang di depan mereka, Nini Pandan," sahut Paman Randaka beralasan.

"Dan kau sendiri?"

"Sudah lama sekali aku selalu bersama-sama Kakang Rangga. Dan aku tahu apa yang dilakukannya tidak akan membahayakan dirinya. Kalaupun terjadi sesuatu, aku yakin Kakang Rangga bisa mengatasi," sahut Pandan Wangi kalem.

"Tampaknya kau begitu percaya pada kemampuannya, Nini Pandan," ujar Paman Randaka.

"Ya...," sahut Pandan Wangi agak mendesah.

"Aku memang seringkali mendengar tentang dia, Nini Pandan. Dan kudengar, dia memiliki burung raksasa yang bisa ditunggangi. Benarkah itu, Nini..?"

Pandan Wangi hanya mengangguk saja.

"Apakah kepergiannya ke Bukit Batu sekarang ini juga menggunakan tunggangannya itu?" tanya Paman Randaka ingin meyakinkan diri.

"Aku rasa begitu, Paman," sahut Pandan Wangi kalem.

"Sungguh hebat dia," puji Paman Randaka.

Lagi-lagi Pandan Wangi hanya tersenyum mendengar pujian itu. Sementara, Paman Randaka sudah berdiri lagi.

"Tidurlah, Nini. Biar aku yang menjaga malam ini," kata Paman Randaka.

"Terima kasih, Paman," sahut Pandan Wangi.

Saat Paman Randaka berlalu, Anggita tampak menghampiri si Kipas Maut. Sedangkan Pandan Wangi sudah membaringkan tubuhnya. Kedua tangannya terlipat di bawah kepala, untuk dijadikan bantal. Anggita langsung saja merebahkan tubuhnya di samping si Kipas Maut. Hanya sedikit Pandan Wangi melirik, kemudian mengangkat kepalanya sedikit.

Ditatapnya Paman Randaka yang kini tengah berbincang-bincang dengan Rahtama dan Suryadanta. Tampaknya, ketiga laki-laki itu sudah memutuskan untuk tidak tidur malam ini. Pandan Wangi kembali melirik Anggita, namun gadis itu sudah memejamkan matanya. Tapi Pandan Wangi tahu, Anggita belum tidur. Atau paling tidak tengah berusaha untuk bisa tidur lelap.

"Hhh.." Sambil menghembuskan napas panjang-panjang, Pandan Wangi memejamkan matanya. Gadis itu juga ingin sekali tidur. Tubuhnya sudah terasa begitu penat, setelah seharian penuh terguncang-guncang di atas punggung kuda. Bahkan senja tadi, sampai malam harus menggali lubang untuk menguburkan Ki Wirasaba dan semua muridnya yang tewas.

********************

Sementara itu, Rangga yang pergi malam itu juga ke Bukit Batu, memang memanggil Rajawali Putih untuk mengantarkannya. Dengan demikian Pendekar Rajawali Sakti bisa cepat sampai ke tempat tujuan. Bahkan hanya dalam waktu sebentar saja, sudah tiba di atas puncak Bukit Batu. Beberapa kali Rangga meminta Rajawali Putih memutari puncak bukit itu. Dan memang sesuai dengan namanya, bukit itu hanya terdiri dari batu-batu saja. Satu pun tidak terlihat adanya pepohonan yang tumbuh di sana. Tapi di sekitar kaki bukit, begitu lebat pepohonan yang tumbuh.

"Turun di sana, Rajawali!" seru Rangga sambil menunjuk ke sebuah batu sebesar kerbau yang berada tepat di tengah-tengah puncak Bukit Batu.

"Khraaagkh...!" Rajawali Putih langsung meluruk ke arah yang ditunjuk Rangga. Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejapan mata saja sudah tiba di tempat yang diinginkan Rangga.

Dengan gerakan manis sekali, Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dari punggung rajawali raksasa tunggangannya. Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti, sehingga sedikit pun tidak menimbulkan suara saat kakinya menjejak bebatuan di atas bukit ini. Sebentar pandangannya beredar ke sekeliling. Tak ada tanda-tanda kehidupan sedikit pun di sekitar puncak bukit ini. Sepanjang mata memandang, hanya bebatuan saja yang tampak. Bahkan hanya desir angin saja yang terdengar, menyapu telinganya.

"Khrrrk...!"

Rangga berpaling begitu mendengar Rajawali Putih mengkirik kecil sambil menjulurkan kepala melewati bahu pemuda berbaju rompi putih itu. "Ada apa, Rajawali?" tanya Rangga sambil memandangi wajah burung rajawali raksasa itu.

"Khrrr...!"

"Hm...." Sebentar Rangga mencoba memahami. Keningnya sedikit berkerut, dan kelopak matanya jadi menyipit. Kemudian, pandangannya diarahkan, sejajar juluran kepala burung rajawali raksasa berbulu putih keperakan itu.

"Hup!" Bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti melompat. Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuhnya. Sehingga hanya sekali lompatan saja, dia sudah sampai di tepi sebuah jurang yang ada di tengah-tengah puncak bukit ini.

"Heh...?!" Bukan main terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti saat menjulurkan kepalanya ke bawah. Tampak di dasar jurang yang berbatu, tergeletak sesosok tubuh perempuan tua dengan kepala hancur dan dada terbelah. Darah yang keluar sudah membeku. Dan tidak jauh dari tubuh wanita tua itu, terlihat seekor anjing hutan tengah mengendap-endap mendekati. Bau anyir darah rupanya menarik perhatian binatang liar pemakan daging itu.

"Oh, tidak... Binatang keparat itu tidak boleh menjamah tubuhnya," desis Rangga dalam hati. Terkesiap hati Rangga saat melihat anjing hutan semakin mendekati sosok tubuh perempuan tua yang tergeletak tak bernyawa lagi di dasar jurang batu itu. Dan lebih terkesiap lagi, begitu melihat bukan hanya satu ekor yang datang. Tapi, masih ada beberapa ekor lagi. Cepat Rangga berpaling ke belakang, menatap Rajawali Putih yang masih mendekam membelakangi sebongkah batu yang besarnya hampir sama dengan tubuh burung rajawali raksasa itu.

"Rajawali! Usirlah anjing-anjing liar itu!" seru Rangga sambil menunjuk ke dasar jurang.

"Khraaagkh...!"

"Hup! Yeaaah...." Secepat Rajawali Putih melesat, secepat itu pula Rangga meluruk turun ke dasar jurang. Begitu ringan sekali gerakannya, seakan-akan kedua kakinya tidak menjejak bebatuan sama sekali. Dan tepat di saat Rangga mencapai dasar jurang, seekor anjing hutan sudah melompat hendak menerkam tubuh perempuan tua yang kepalanya telah pecah itu.

"Hiyaaat..!" Tapi Rangga lebih sigap lagi. Dengan kecepatan luar biasa, Pendekar Rajawali Sakti melompat sambil melepaskan satu tendangan keras tanpa tenaga dalam sedikit pun juga. Begitu cepat tindakannya sehingga tendangannya tepat menghantam tubuh anjing hutan itu. Tapi baru saja anjing hutan itu terpental, datang seekor lagi yang langsung melompat hendak menerkam Pendekar Rajawali Sakti.

"Heyaaa...!! " Belum juga anjing hutan itu sampai, Rangga sudah lebih dulu melesat. Langsung diberikannya satu pukulan keras, tanpa disertai pengerahan tenaga dalam sedikit pun juga. Anjing hutan itu menlengking begitu tubuhnya terkena pukulan keras Pendekar Rajawali Sakti. Dan pada saat yang bersamaan, dari angkasa meluruk deras Rajawali Putih.

"Khraaagkh...!" Sambil berkaokan keras, burung rajawali raksasa itu mengebutkan sayapnya ke arah anjing-anjing hutan yang semakin liar saja. Kesempatan ini tidak disia-siakan Rangga. Dengan cepat sekali pemuda itu melompat, dan langsung menyambar tubuh perempuan tua yang sudah tidak bernyawa lagi

"Hup! Hiyaaa...!" Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan, Rangga langsung melesat tinggi ke udara. Dan dengan manis sekali, Pendekar Rajawali Sakti hinggap di atas punggung Rajawali Putih sambil memondong tubuh perempuan tua itu.

"Cepat pergi dari sini, Rajawali!" seru Rangga.

"Khragkh...!" Wusss! Hanya sekali mengepakkan sayapnya saja, Rajawali Putih sudah melambung tinggi ke angkasa. Sementara di dasar jurang, anjing- anjing hutan melolong-lolong sambil menengadahkan kepalanya. Sedangkan Rajawali Putih sudah tinggi melambung ke angkasa, dan terus melesat ke arah Selatan.

"Terus saja ke balik bukit sana, Rajawali!" seru Rangga sambil menunjuk sebuah bukit kecil di depannya.

"Khragkh...!" Tidak jauh di balik bukit itu, Pandan Wangi, Paman Randaka dan ketiga orang murid Nyai Langis tengah menunggu. Tapi, sudah tentu Rangga tidak membawa Rajawali Putih sampai ke sana. Dan memang, Pendekar Rajawali Sakti sudah punya tempat untuk mendarat. Dan yang pasti, tidak akan ada seorang pun yang tahu. Rangga memang selalu memilih tempat yang sepi kalau bersama Rajawali Putih.

"Khragkh...!"

"Ada apa, Rajawali,..?" tanya Rangga.

"Khragkh...!"

Rangga jadi kelihatan bingung, tidak tahu apa yang dilihat Rajawali Putih sebenarnya, hingga berkaokan begitu keras. Dan tampaknya, burung rajawali raksasa itu gelisah sekali. Apa sebenarnya yang dilihat Rajawali Putih dari angkasa...?

"Heh...?! Apa itu...?" Kedua kelopak mata Rangga jadi terbelalak lebar. Ternyata Pendekar Rajawali Sakti melihat sebuah pertarungan di tengah-tengah hutan, tempat Pandan Wangi, Paman Randaka, dan ketiga orang murid Nyai Langis menunggu. Jelas sekali terlihat dari angkasa, mereka tengah bertarung sengit melawan puluhan orang.

"Edan..!! Dengan siapa mereka bertarung...?" desis Rangga bertanya sendiri dalam hati. Dari angkasa, Pendekar Rajawali Sakti terus memperhatikan. Jelas sekali terlihat kalau yang dihadapi sahabat-sahabatnya berjumlah sangat besar. Dan Pandan Wangi sendiri kelihatannya sudah mengeluarkan kedua senjata mautnya. Dan itu berarti lawan-lawan yang dihadapi tidak sembarangan. Paling tidak, memiliki tingkat kepandaian yang tidak rendah.

"Rajawali, bubarkan mereka semua," perintah Rangga.

"Khraaagkh...!" Rajawali Putih langsung saja meluruk turun dengan deras sekali sambil berkaokan keras. Dan begitu dekat, sayapnya dikepak-kepakkan beberapa kali, sambil terus berkaokan keras memekakkan telinga. Kemunculan burung rajawali raksasa itu tentu saja membuat mereka yang tengah bertarung jadi terkejut setengah mati. Dan sebentar saja, mereka jadi kehilangan kendali. Bahkan beberapa orang terlihat berpentalan terkena sambaran sayap Rajawali Putih yang sangat besar dan kokoh. Sementara, Pandan Wangi berlompatan mendekati Paman Randaka dan ketiga murid Nyai Langis.

"Cepat kalian menyingkir. itu Kakang Rangga...!" seru Pandan Wangi

"Ayo, cepat menyingkir...!" teriak Paman Randaka.

Meskipun masih kebingungan, ketiga murid Nyai Langis langsung berlompatan menyingkir. Mereka mengikuti Pandan Wangi dan Paman Randaka yang sudah lebih dulu keluar dari kancah pertarungan. Sementara, Rangga yang berada di atas punggung Rajawali Putih, baru bisa menarik napas lega setelah melihat semua sahabatnya sudah berada di tempat yang aman.

"Usir mereka semua, Rajawali. Tapi, jangan sampai ada yang terbunuh!" perintah Rangga lagi.

"Khraaagkh...!" Rajawali putih terus berputaran sambil mengepakkan sayapnya yang lebar. Akibatnya orang-orang yang tadi menggempur sahabat-sahabat Pendekar Rajawali Sakti jadi berpelantingan tak tentu arah. Mereka berusaha sebisa mungkin menghindari amukan burung rajawali raksasa.

Teriakan-teriakan keras menggema saling susul, ditingkahi erangan kesakitan. Sebentar saja, mereka semua sudah berlarian meninggalkan tempat itu. Dan Rangga segera memerintahkan Rajawali Putih untuk mendarat. Meskipun bertubuh hampir sebesar bukit, burung rajawali raksasa itu bisa mendarat ringan bagai segumpal kapas. Rangga langsung melompat turun sambil tidak melepaskan tubuh perempuan tua dari pondongannya, yang dibawa dari puncak Bukit Batu.

"Nyai...!" Anggita menjerit keras, dan langsung menghambur begitu Rangga menurunkan tubuh perempuan tua itu dari pondongannya. Gadis cantik berbaju kuning gading itu menubruk tubuh yang sudah kaku tak bernyawa lagi, sesaat setelah Rangga menaruhnya di atas tanah berumput yang dibasahi embun.

Saat itu, Rahtama dan Suryadanta menghampiri. Kedua pemuda itu berdiri mematung di belakang Anggita, dengan pandangan mata nanar dan berkaca-kaca. Paman Randaka dan Pandan Wangi melangkah menghampiri Rangga yang jadi terlongong melihat Anggita menangis sambil memeluk tubuh perempuan tua yang dibawa dari Bukit Batu. Sungguh sama sekali tidak diketahuinya kalau perempuan tua yang diba-wanya ini adalah Nyai Langis, guru ketiga anak muda itu. Dan memang, Rangga belum pernah mengenal Nyai Langis.

"Di mana kau temukan jasadnya, Rangga?" tanya Paman Randaka, agak parau suaranya.

"Di dalam jurang, di puncak Bukit Batu," sahut Rangga.

"Tampaknya sudah lama meninggalnya," desah Pandan Wangi menyelak.

"Ya! Dia kutemukan sudah seperti itu," sahut Rangga, juga mendesah suaranya.

Keheningan kembali menyelimuti mereka semua. Tak ada seorang pun yang membuka suara, kecuali isak tangis Anggita yang tertahan. Sementara, Rahtama dan Suryadanta masih tetap berdiri mematung, tidak tahu lagi harus berbuat apa. Walaupun tidak ada setitik pun air mata yang keluar, tapi sudah pasti mereka begitu berduka mendapatkan gurunya sudah tak bernyawa lagi.

ENAM

Perlahan Anggita bangkit berdiri, dan perlahan pula berpaling ke belakang memandangi kedua kakak seperguruannya yang tengah berbincang-bincang dengan Paman Randaka, Pandan Wangi, dan Pendekar Rajawali Sakti. Kembali wajahnya berpaling memandangi pusara gurunya.

Sementara, matahari sudah naik cukup tinggi. Setelah berdiri mematung di samping makam Nyai Langis cukup lama, gadis itu baru memutar tubuhnya dan melangkah menghampiri yang lain. Pandan Wangi langsung menghampiri, dan melingkarkan tangannya ke pundak Anggita. Memang, di antara mereka semua hanya Anggita yang kelihatannya begitu terpukul atas kematian Nyai Langis. Kedua matanya jadi membengkak karena semalaman penuh menangis. Dan tangisnya baru berhenti setelah jasad gurunya dikebumikan.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Rangga? Nyai Langis sudah tidak ada. Dan kita tidak tahu, di mana pencuri Selendang Sutera Emas itu berada," kata Paman Randaka.

"Apa pun yang akan terjadi, aku tetap akan mencari Selendang Sutera Emas itu. Walaupun nyawa taruhannya," desis Rahtama tegas.

"Aku akan meletakkan selendang itu di samping jasad Nyai Guru."

"Bagaimana kau akan mencari si pencuri itu, Rahtama?" tanya Paman Randaka.

Rahtama tidak langsung menjawab. Memang, sekarang ini bukan hanya dia saja yang tidak tahu keberadaan si pencuri Selendang Sutera Emas. Tapi memang semuanya tidak ada yang tahu. Terlebih lagi, Rangga dan Pandan Wangi. Kedua pendekar muda dari Karang Setra itu benar-benar tidak tahu tentang hal ini. Bahkan belum pernah melihat bentuk Selendang Sutera Emas itu.

"Paman! Sebagian jiwa Nyai guru Langis ada pada Selendang Sutera Emas itu. Aku yakin, Nyai Guru Langis belum seutuhnya meninggal. Nyai Guru pasti bisa bangkit lagi kalau selendang itu sudah didapatkan kembali," kata Rahtama mantap.

"Gurumu sudah meninggal, Rahtama. Sebaiknya relakan saja kepergiannya," kata Paman Randaka.

"Tidak, Paman. Meskipun Nyai Guru tidak bisa bangkit lagi, tapi aku harus membalas kematiannya," sentak Rahtama tegas.

"Hm.... Aku yakin, orang yang membunuh Nyai Guru Langis pasti juga yang membunuh Paman Wirasaba dan murid-muridnya."

"Dia bisa mengalahkan guru dan paman gurumu, Rahtama. Pasti kepandaianmu tidak ada seujung kuku baginya. Bagaimana kau bisa membalaskan kematiannya...?"

"Aku siap mati untuk itu, Paman," tegas Rahtama.

"Ya! Aku juga, Paman. Demi baktiku pada Nyai Guru, nyawaku akan kukorbankan," sahut Suryadanta.

"Kami bertiga akan menuntut balas kematian Nyai Guru, Paman," sambung Anggita. Suaranya masih terdengar agak bergetar, karena kesedihannya.

Paman Randaka tidak bisa berkata-kata lagi melihat tekad anak-anak muda itu. Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi hanya diam saja mendengarkan semua pembicaraan itu. Tapi dalam hati, Pendekar Rajawali Sakti memuji tekad keras dari anak-anak muda itu. Memang, tidak ada yang lebih terpuji dari tindakan seorang murid, selain menunjukkan bakti setianya. Sekalipun nyawa harus dikorbankan demi darma bakti pada guru yang telah membimbing dan membekali ilmu-ilmu kedigdayaan.

Dan memang, sejak Rahtama dan adik-adik seperguruannya menemui Rangga di Istana Karang Setra, sudah beberapa kali mendapat serangan orang-orang yang tidak dikenal. Seperti serangan tadi. Mereka hampir dibuat kalang-kabut oleh serangan dari orang-orang tak dikenal. Untung saja, Pendekar Rajawali Sakti cepat datang bersama Rajawali Putih. Mereka memang tahu, orang-orang itu menginginkan Selendang Sutera Emas.

Apalagi sekarang ini kabar tentang selendang sakti itu sudah tersebar luas di kalangan orang-orang persilatan. Sehingga, tidak sedikit dari mereka yang haus benda-benda sakti untuk memburunya. Tapi entah kenapa, justru murid-murid Nyai Langis yang dikira menyimpan Selendang Sutera Emas itu.

Rangga sendiri jadi penasaran dan ingin tahu, seperti apa Selendang Sutera Emas itu. Rasa penasarannya inilah yang membuatnya selalu mengkuti ketiga murid Nyai Langis itu, di samping juga ingin membantu mendapatkan kembali Selendang Sutera Emas. Tapi, sampai mereka menguburkan jasad Nyai Langis, belum juga diperoleh petunjuk sedikit pun juga, tentang keberadaan Selendang Sutera Emas itu.

"Sebaiknya, kita ke padepokan Nyai Langis saja. Siapa tahu di sana kita memperoleh petunjuk," saran Pandan Wangi.

"Sejak Selendang Sutera Emas hilang, tidak ada seorang pun yang datang lagi ke sana. Dan memang, Nyai Guru Langis melarang kami datang ke sana, sebelum Selendang Sutera Emas ditemukan," kata Rahtama.

"Di mana letak padepokan guru kalian?" tanya Rangga.

"Sebelah Timur Bukit Batu, tidak jauh dari bukit itu. Dan Bukit Batu dijadikan tempat berlatih kami," jelas Rahtama.

"Sebaiknya, kalian semua memang pergi ke sana. Biar aku yang menjaga dari atas," kata Rangga.

Mereka semua serentak memalingkan wajah menatap Rajawali Putih yang berada tepat di belakang Pendekar Rajawali Sakti. Rajawali Putih mengkirik kecil sambil mengangguk-anggukkan kepala, seakan-akan mengerti semua pembicaraan itu tadi.

"Bagaimana...?" tanya Pandan Wangi.

Semua mengangkat pundak. Langsung saran yang diberikan Rangga tadi disetujui. Dan mereka memang sudah begitu percaya pada Rajawali Putih. Semalam saja dengan mudah mampu membubarkan pertarungan, tanpa ada seorang pun yang terluka parah. Apalagi, sampai terbunuh. Memang kalau yang belum mengenal, bisa mati berdiri bila melihat Rajawali Putih. Burung tunggangan Pendekar Rajawali Sakti itu memang sangat menyeramkan.

"Sebaiknya, berangkat saja sekarang. Aku rasa, menjelang senja nanti sudah sampai di padepokan Nyai Langis," kata Rangga.

"Ayo, kita berangkat sekarang," ajak Pandan Wangi.

Rangga baru melompat naik ke punggung Rajawali Putih, setelah yang lain bergerak menuju ke Padepokan Nyai Langis. Dan sebentar saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah mengangkasa. Dari atas awan, matanya terus memperhatikan kelima orang yang bergerak cepat menembus lebatnya hutan. Memang dengan berkuda seperti itu, perjalanan jadi lebih singkat. Sebentar saja mereka sudah keluar dari hutan, dan terus menuju Bukit Batu. Lalu, mereka menyusuri kaki bukit menuju ke Timur.

Sementara dari angkasa, Rangga sudah melihat sebuah bangunan sederhana yang letaknya tidak jauh di sebelah Timur Bukit Batu. Sebuah bangunan yang tidak begitu besar, dan tampak sunyi sekali, karena memang tidak lagi ditempati. Tapi keadaannya masih tetap kelihatan bersih dan rapi.

"Turun di sini, Rajawali!" pinta Rangga sambil menunjuk ke arah bangunan sederhana yang letaknya cukup terpencil. "Tapi jangan terlalu dekat. Firasatku mengatakan kalau ada orang di dalam rumah itu."

"Khraaagkh...!"

Rangga meminta Rajawali Putih meninggalkan tempat itu, setelah hinggap di tanah. Tapi Rajawali Putih juga diminta agar tidak terlalu jauh. Setelah Rajawali Putih kembali mengangkasa, baru Rangga melangkah menghampiri bangunan yang terbuat dari belahan papan kayu yang sangat sederhana bentuknya. Tapi begitu jaraknya tinggal sekitar dua batang tombak lagi dari pintu, mendadak saja....

Wusss!

"Heh...?! Uts!" Cepat-cepat Rangga memiringkan tubuhnya ke kiri, begitu tiba-tiba dari sebuah jendela terbuka yang berada di sebelah kanan pintu, meluncur sebatang tombak yang begitu cepat. Tombak ini melesat, lewat sedikit di samping tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Dan belum juga pemuda berbaju rompi putih itu bisa tegak kembali, dari jendela yang terbuka cukup lebar itu kembali terlihat beberapa batang tombak berhamburan dengan kecepatan luar biasa ke arahnya.

"Hup! Yeaaah...!" Cepat-cepat Pendekar Rajawali Sakti melenting ke udara. Dan dengan mempergunakan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega' dihalaunya tombak-tombak yang berhamburan di sekitar tubuhnya. Kedua tangannya bergerak begitu cepat, diimbangi gerakan tubuh yang sangat indah. Sehingga tak satu pun tombak-tombak yang berhasil menyentuh tubuhnya. Bahkan tidak sedikit yang berpatahan terkena sambaran kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti yang bergerak begitu cepat bagai sepasang sayap rajawali.

"Hap!" Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti, sehingga sedikitpun tidak menimbulkan suara saat kakinya menjejak tanah kembali. Dan tombak-tombak itu pun tidak lagi terlihat berhamburan dari balik jendela bangunan rumah padepokan itu. Rangga berdiri tegak dengan sikap waspada penuh. Tatapan matanya begitu tajam tanpa berkedip sedikit pun.

"Siapa di dalam?! Keluar...!" seru Rangga dengan suara lantang menggelegar. Tak ada sahutan sedikit pun juga. Tapi tidak berapa lama kemudian....

Slap!

"Hup...!" Tepat di saat sebuah bayangan meluncur cepat keluar dari jendela, Rangga langsung melenting ke belakang dan berputaran be berapa kali. Begitu indah gerakannya. Bahkan manis sekali kakinya menjejak ke tanah kembali. Saat itu juga keningnya jadi berkerut, begitu melihat seorang wanita muda berwajah cantik sudah berdiri tegak sekitar dua batang tombak di depannya.

"Siapa kau, Kisanak?! Apa keperluanmu datang ke sini?" tanya wanita muda dan cantik berbaju merah menyala yang ketat itu. Meskipun suaranya terdengar halus dan lembut, tapi di balik suaranya tersimpan nada yang sangat dingin.

Dan belum juga Rangga bisa menjawab, pintu bangunan padepokan Nyai Langis sudah terbuka. Dan dari dalam, muncul empat orang gadis cantik yang semuanya mengenakan baju warna kuning, dengan sebilah pedang tergantung di pinggang. Keempat gadis itu mengambil tempat di belakang wanita cantik berbaju merah menyala yang keluar lebih dulu.

"Dengar, Kisanak. Kalau kau tidak ada keperluan di sini, sebaiknya segera pergi," kata wanita cantik berbaju merah itu dingin.

"Aku tidak kenal kalian semua. Apakah kalian murid Nyai Langis...?" tanya Rangga kalem. Tapi, nada suaranya jelas mengandung kecurigaan.

"Heh...?! Kau kenal Nyai Langis? Apa hubunganmu dengannya?" wanita cantik berbaju merah itu tampak terkejut atas pertanyaan Rangga.

"Aku ingin bertemu dengannya. Ada sesuatu yang hendak kusampaikan padanya," sahut Rangga memancing.

"Apa yang ingin kau sampaikan?"

"Sayang sekali, aku harus menyampaikan langsung pada orangnya, dan tidak bisa diwakili. Karena, ini menyangkut sebuah benda pusaka yang tidak ada bandingannya di jagat raya ini," sahut Rangga, terus memancing.

"Hm.... Benda apa itu?"

"Selendang Sutera Emas."

"Heh...?!" Bagaikan tersambar petir, wanita cantik berbaju merah itu begitu terkejut. Bahkan sampai terlompat ke belakang dua langkah. Namun sesaat kemudian, tatapnya Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata begitu tajam, seperti tengah menyelidik. Sedangkan Rangga kelihatan begitu tenang.

"Di mana Selendang Sutera Emas itu? Apa ada padamu?" tanya wanita cantik berbaju merah menyala itu tidak sabar.

"Kau ini siapa?! Aku tidak bisa memberikan Selendang Sutera Emas itu pada siapa pun juga, selain Nyai Langis atau murid-muridnya yang dipercayakan."

"Aku Nyai Selasih, orang kepercayaan Nyai Langis. Kau bisa menyerahkan Selendang Sutera Emas padaku. Nyai Langis sedang bersemadi, dan tidak bisa diganggu siapa pun juga," kata wanita cantik itu. Nada suaranya kelihatan dibuat-buat, agar kelihatan tegas.

"Hm...," Rangga menggumam kecil dengan kelopak mata sedikit menyipit. Jelas sekali apa yang dikatakan wanita cantik yang mengaku Nyai Selasih itu hanya bualan saja. Dan pancingan Pendekar Rajawali Sakti benar-benar mengenai sasaran. Kecurigaan yang sejak tadi sudah tumbuh, kini semakin menebal saja. Rangga yakin, wanita-wanita cantik ini pasti segelintir orang-orang yang menginginkan Selendang Sutera Emas. Dan tampaknya, Nyai Selasih tidak menyadari kalau pemuda tampan berbaju rompi putih itu sedang menjebaknya.

"Maaf. Setahuku, hanya tiga orang saja murid Nyai Langis. Dan hanya satu orang saja yang wanita...," kata Rangga, tetap tenang nada suaranya.

"Kisanak...! Berikan Selendang Sutera Emas itu padaku! Cepat..!" sentak Nyai Selasih mulai tidak sabar.

"Maaf. Aku tidak bisa memberikannya padamu atau siapa pun juga. Aku harus menyerahkan pada pemiliknya, atau murid-muridnya," tegas Rangga.

"Keparat..! Serahkan selendang itu atau kau ingin mampus, heh...?" geram Nyai Selasih tidak dapat lagi menahan kemarahannya. Dan sikap yang ditunjukkan wanita cantik berbaju merah menyala itu sudah membuat Rangga semakin tidak percaya saja. Diyakini wanita-wanita cantik ini adalah beberapa dari mereka yang sedang memburu Selendang Sutera Emas milik Nyai Langis yang hilang dicuri orang.

Tapi, Rangga juga tidak bisa memastikan, apakah mereka juga telah membunuh Nyai Langis, Ki Wirasaba, dan semua muridnya. Tapi kalau dilihat dari senjata yang tersandang, rasanya memang tidak mungkin kalau mereka yang melakukan semua pembunuhan itu. Jelas, luka-luka yang ada adalah akibat tebasan senjata golok. Sedangkan wanita-wanita ini menyandang senjata berbentuk pedang.

"Cepat serahkan Selendang Sutera Emas itu!" bentak Nyai Selasih, mulai terdengar kasar suaranya.

"Maaf, aku...!"

"Setan...! Serang dia...!" geram Nyai Selasih memerintah dengan suara lantang menggelegar.

"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"
"Hap!"

Cepat Rangga melompat ke belakang, begitu tiba-tiba saja empat orang gadis yang berada di belakang Nyai Selasih berlompatan sambil mencabut pedang masing-masing. Sebentar saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah dikepung dari empat penjuru oleh empat orang gadis cantik yang semuanya menghunus pedang.

"Hm...," gumam Rangga perlahan. Pendekar Rajawali Sakti langsung bisa menilai, sampai di mana tingkat kepandaian keempat orang gadis cantik ini dari cara melompat tadi. Begitu indah dan ringan gerakannya, pertanda memiliki kepandaian yang tidak bisa dipandang rendah. Dan Rangga yakin, wanita cantik berbaju merah yang bernama Nyai Selasih itu memiliki kepandaian lebih tinggi daripada keempat gadis cantik pengawalnya.

"Hiyaaa...!" "Yeaaah...!"

Tanpa diperintah lagi, empat orang gadis cantik yang semuanya mengenakan baju warna kuning gading itu langsung berlompatan menyerang Pendekar Rajawali Sakti secara bersamaan, dari empat jurusan. Tapi, bukanlah Rangga kalau hanya mendapat serangan seperti itu sudah gentar. Dan pemuda berbaju rompi putih itu segera menggeser kakinya sedikit ke depan. Lalu dengan gerakan manis sekali tubuhnya di-rundukkan, menghindari sabetan sebatang pedang yang datang dari sebelah kiri.

Wuk! "Yeaaah...!"

Begitu mata pedang lewat di atas kepala, cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti memutar tubuhnya. Dan begitu salah seorang gadis yang di depan sudah begitu dekat, satu kaki Pendekar Rajawali Sakti cepat menghentak, tepat mengarah ke perut. Begitu cepat sentakan kaki kanannya, sehingga gadis berbaju kuning itu jadi terperangah. Namun belum juga telapak kaki Rangga bisa menghantam perut gadis itu, tiba-tiba saja....

Bet! "Uts...!"

Hampir saja kaki Pendekar Rajawali Sakti terbabat putus, kalau tidak segera ditarik. Salah seorang gadis pengawal Nyai Selasih begitu cepat mengebutkan pedang, untuk menyelamatkan temannya yang teran-cam tendangan dahsyat Pendekar Rajawali Sakti tadi. Dan belum juga Rangga bisa berdiri tegak, dari arah belakang sudah datang lagi satu serangan yang begitu cepat luar biasa. Suara desingan pedang melayang membuat Pendekar Rajawali Sakti cepat-cepat merundukkan tubuhnya. Maka, tebasan pedang dari arah belakang itu hanya lewat di atas kepala.

"Hup...!" Cepat-cepat Rangga melompat ke depan dua langkah, dan langsung melenting ke udara begitu kakinya menjejak tanah. Pada saat yang bersamaan, em-pat orang gadis yang mengeroyoknya berlompatan me-nyerang kembali sambil cepat membabatkan pedang secara bergantian.

"Hiyaaa...!" Beberapa kali Rangga melakukan putaran di udara, kemudian kembali meluruk ke bawah dan menjejakkan kakinya ke tanah. Kini, jaraknya dengan keempat gadis pengeroyoknya sekitar satu batang tombak. Tapi, keempat gadis yang semuanya mengenakan baju warna kuning itu cepat memutar tubuhnya berbalik, dan mereka langsung berlompatan hendak mengurung Pendekar Rajawali Sakti kembali.

"Hup! Yeaaah...!"

Dengan cepat sekali Rangga sudah melenting ke udara. Dan bagaikan kilat tubuhnya meluruk deras, menyongsong keempat gadis cantik itu. Sungguh sukar diikuti pandangan mata biasa, tahu-tahu Rangga sudah melepaskan pukulan-pukulan keras mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Dan gadis-gadis itu tidak sempat lagi menghindari serangan yang datang begitu cepat luar biasa. Sedangkan saat itu, me-reka semua sedang berlompatan hendak melakukan serangan, tapi Rangga sudah lebih dulu menyerang. Dan...

Des!
Buk!
"Akh.."
"Hegkh...!"

Dua orang gadis langsung terpental ke belakang, begitu terkena pukulan keras bertenaga dalam tinggi yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan dua orang lagi berhasil menghindar dengan melenting ke atas dan berputaran beberapa kali. Manis sekali Rangga kembali menjejakkan kakinya di tanah, dan langsung saja berhadapan dengan Nyai Selasih. Wanita cantik berbaju merah itu jadi terpana melihat empat gadis pengawalnya dibuat tidak berdaya menghadapi pemuda tampan yang berbaju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung rajawali di punggung.

Sementara, dua orang gadis merintih sambil berusaha bangkit berdiri dibantu dua orang gadis lain yang berhasil menghindari serangan kilat Pendekar Rajawali Sakti tadi. Tampak dari sudut bibir kedua gadis cantik berbaju kuning itu mengeluarkan darah agak kental. Memang cukup keras juga pukulan yang dilepaskan Rangga, walaupun hanya disertai pengerahan tenaga dalam tidak penuh.

"Siapa kau sebenarnya?!" tanya Nyai Selasih begitu terbangun dari keterpanaannya.

"Hm...," Rangga hanya menjawab dengan gumaman kecil saja.

TUJUH

Perlahan Rangga menggeser kakinya beberapa langkah ke depan, lebih dekat dengan Nyai Selasih. Sementara, empat orang gadis yang semuanya berwajah cantik dan mengenakan baju warna kuning gading sudah berada di belakang wanita cantik berbaju merah menyala itu. Tampak dua orang gadis yang terkena pukulan Rangga tadi, masih berusaha mengatur jalan pernapasannya.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, Nisanak. Siapa kau, dan apa tujuanmu menguasai pondok Nyai Langis ini...?" terdengar dingin sekali nada suara Rangga. Sorot mata Pendekar Rajawali Sakti terlihat begitu tajam, seakan-akan hendak menembus langsung ke dalam hati Nyai Selasih lewat dua bola matanya yang bening dan indah. Dan tatapan Rangga yang begitu tajam, dibalas Nyai Selasih dengan tidak kalah tajamnya. Seakan-akan, mereka berdua sedang mengukur tingkat kepandaian masing-masing.

"Aku tahu, kau memiliki kepandaian tinggi, Kisanak. Tapi tidak ada gunanya dipamerkan di depanku," desis Nyai Selasih, tidak kalah dingin.

"Hm...," lagi-lagi Rangga menggumam kecil.

"Kau baru boleh bertanya padaku, kalau mampu mengalahkanku, Kisanak," kata Nyai Selasih lagi.

Kening Pendekar Rajawali Sakti jadi berkerut mendengar kata-kata Nyai Selasih yang begitu dingin dan mengandung nada tantangan. Perlahan kakinya bergeser ke kiri beberapa langkah, tapi Nyai Selasih malah mengikuti arah geserannya. Perlahan Nyai Selasih menarik tangannya, dan meletakkan di atas gagang pedang yang tersampir di pinggang. Kemudian gagang pedangnya digenggam erat-erat.

Sedangkan Rangga hanya memandang saja tangan yang sudah menggenggam pedang itu. Walau belum tercabut dari warangka. Dan suasana pun terasa begitu tegang. Sementara, empat orang gadis berbaju kuning gading yang tadi bertarung melawan Pendekar Rajawali Sakti sudah mulai menyingkir menjauh. Mereka tahu, tidak berapa lama lagi pasti akan terjadi pertarungan sengit antara dua tokoh sakti yang memiliki ilmu-ilmu kedigdayaan tinggi.

Sret! Cring!

"Oh...?!" Rangga sempat terkesiap begitu Nyai Selasih mencabut pedangnya. Seketika itu juga, menyemburat cahaya terang yang menyilaukan dari seluruh mata pedang di tangan Nyai Selasih. Begitu terangnya, sampai-sampai Rangga harus menyipitkan kelopak matanya. Kemudian kakinya ditarik ke belakang beberapa langkah, namun pada saat itu juga....

"Hiyaaat...!"

"Heh...?! Hup!" Bukan main terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti ketika tiba-tiba saja Nyai Selasih melompat begitu cepat bagai kilat. Pedangnya juga langsung dibabatkan ke leher pemuda berbaju rompi putih itu.

Wuk! "Uts...!" Cepat-cepat Rangga menarik kepala ke belakang, hingga tubuhnya jadi agak doyong ke belakang untuk menghindari tebasan pedang wanita cantik berbaju merah itu. Dan bergegas Pendekar Rajawali Sakti melompat ke belakang sejauh lima langkah, begitu ujung pedang yang memancarkan cahaya menyilaukan mata itu lewat di depan tenggorokannya.

"Hap...!"
"Hiyaaa...!"

Tapi, Nyai Selasih tampaknya tidak sudi membiarkan Pendekar Rajawali Sakti mengambil kesempatan untuk balas menyerang. Dengan cepat sekali dia kembali melompat menyerang, sebelum Rangga benar-benar siap. Tapi, kebutan pedang yang begitu cepat kembali dapat dihindari Rangga dengan mudah. Dan Nyai Selasih kelihatannya jadi semakin berang saja.

"Hiya! Hiya! Hiyaaa...."

Beberapa kali Nyai Selasih mengebutkan pedangnya, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi sekali. Begitu tinggi tingkat tenaga dalamnya, sehingga setiap pedangnya bergerak berkelebat, selalu menimbulkan deru angin keras menggetarkan jantung.

Tapi, Rangga bukanlah anak kemarin sore yang mudah gentar mendengar kebutan senjata yang begitu dahsyat. Walaupun tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang, tapi dengan jurus Sembilan Langkah Ajaib, serangan-serangan itu bisa dihindari dengan manis dan tangkas sekali.

Dan serangan-serangan yang dilancarkan Nyai Selasih pun semakin dahsyat saja. Begitu cepat sekali pedangnya berkelebat, sehingga cahaya yang memancar dari pedangnya tampak menutupi seluruh tubuhnya. Dan ini membuat Rangga semakin sulit untuk membalas. Sedikit pun tidak ada kesempatan untuk membalas menyerang baginya.

"Hup! Hiyaaa..."

Tiba-tiba saja Rangga melenting tinggi-tinggi ke udara, tepat di saat Nyai Selasih membabatkan pedangnya ke arah kaki. Dan begitu berada di atas kepala, bagai kilat Pendekar Rajawali Sakti meluruk deras. Kedua kakinya bergerak berputar begitu cepat, mengarah ke kepala wanita cantik yang seluruh tubuhnya sudah berselubung cahaya berkilatan dari pedang di tangan kanan.

"Heh...?!" Wuk!

Begitu terkejutnya Nyai Selasih mendapat serangan yang begitu cepat dan tiba-tiba dari Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga tanpa disadari, pedangnya dikebutkan ke atas kepala. Namun tanpa diduga sama sekali, Rangga malah berputar begitu cepat. Dan tahu-tahu Pendekar Rajawali Sakti sudah berdiri di depan wanita berbaju merah itu. Lalu sebelum Nyai Selasih bisa menyadari, tiba-tiba saja Rangga sudah menghentakkan tangan kanannya dengan kecepatan luar biasa ke arah dada.

"Yeaaah...!" Begkh!

"Akh...!" Begitu keras dan cepat pukulan yang dilepaskan Rangga, sehingga Nyai Selasih tidak sempat lagi menghindar. Dan pukulan yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi itu tepat menghantam dada, membuat wanita itu terpekik dan langsung terpental jauh ke belakang. Begitu kerasnya, hingga tiga batang pohon yang terlanda tubuh Nyai Selasih hancur seketika. Dan wanita itu berhenti melayang setelah menghantam sebongkah batu sebesar kerbau, sampai hancur berkeping-keping. Nyai Selasih terkapar dengan mulut penuh darah di antara pecahan batu. Sementara, Rangga berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Nyai...!" Empat orang gadis pengawal Nyai Selasih segera berhamburan menghampiri. Mereka langsung menjatuhkan diri, berlutut mengelilingi wanita cantik yang masih tergeletak dengan mulut berlumur darah. Memang sungguh dahsyat pukulan yang dilepaskan Rangga. Tadi, Pendekar Rajawali Sakti mempergunakan jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali yang disertai tenaga dalam tinggi, walaupun tidak sepenuhnya. Sedikit pun Nyai Selasih tidak bergerak, dan ini membuat empat orang gadis pengawalnya jadi kebingungan. Namun, tiba-tiba saja mereka bangkit berdiri. Pandangan mereka langsung tertuju begitu tajam sekali ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Keparat..! Bunuh dia...!" seru salah seorang gadis itu.

"Hiyaaa...!" "Yeaaah...!"

Bagaikan singa-singa betina yang sedang murka, keempat gadis cantik itu berlompatan menyerang Rangga. Pedang mereka langsung berkelebat cepat mengarah ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Namun dengan gerakan begitu manis, Pendekar Rajawali Sakti berlompatan sambil meliuk menghindari setiap serangan yang datang.

"Hiyaaa...!" Cepat sekali Rangga merubah jurusnya dari jurus Sembilan Langkah Ajaib ke jurus Sayap Rajawali Membelah Mega. Kedua tangannya terpentang lebar dan bergerak begitu cepat, menyambar keempat gadis-gadis yang menyerangnya. Demikian cepat serangannya, sehingga keempat gadis cantik itu tidak dapat lagi menghindar. Jeritan-jeritan tertahan kesakitan pun seketika terdengar saling sambut, disusul bergelimpangannya gadis-gadis itu.

Sementara, Rangga kembali berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sedangkan keempat gadis itu tidak ada lagi yang bisa bangkit berdiri. Mereka bergelimpangan sambil merintih menahan sakit pada tubuhnya, akibat terkena kebutan kedua tangan Rangga yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Dan pada saat itu, datang Pandan Wangi yang diikuti Paman Randaka dan ketiga murid Nyai Langis.

Rangga berpaling sedikit begitu telinganya mendengar langkah kaki kuda menghampiri. Tampak mereka yang datang berlompatan turun dari punggung kuda masing-masing, dan bergegas menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Mereka tampak kebingungan melihat di sekitar tempat itu ada lima orang wanita cantik bergelimpangan dengan mulut penuh berlumur darah. Sedikit pun tak terlihat luka pada tubuh mereka, tapi tak ada seorang pun yang bergerak lagi.

"Siapa mereka, Kakang...?" tanya Pandan Wangi sambil mengedarkan pandangan memandangi wanita-wanita yang bergelimpangan.

"Aku tidak tahu, siapa mereka sesungguhnya. Mereka sudah ada di sini, dan menginginkan Selendang Sutera Emas milik Nyai Langis," sahut Rangga.

"Aku kenal perempuan itu...!" sentak Paman Randaka tiba-tiba, sambil menunjuk Nyai Selasih.

Bukan hanya Rangga dan Pandan Wangi yang terkejut dan langsung berpaling ke arah yang ditunjuk Paman Randaka. Bahkan ketiga murid Nyai Langis langsung berpaling menatap wanita berbaju merah yang tergeletak tak bergerak-gerak di antara reruntuhan pecahan batu yang tadi terlanda tubuhnya.

"Maksud, Paman. Nyai Selasih...?" tanya Rangga ingin mematikan.

"Benar! Perempuan laknat itu," sahut Paman Randaka, agak mendengus suaranya.

"Aku tahu betul, siapa dia. Hm... Pasti dia yang membunuh Nyai Langis."

"Siapa dia sebenarnya, Paman?" tanya Rahtama, agak gusar nada suaranya.

Belum juga Paman Randaka bisa menjawab, Nyai Selasih terlihat mulai bergerak sambil merintih kecil. Disekanya darah yang menggumpal memenuhi rongga mulutnya. Perlahan kedua kelopak matanya mulai mengerjap terbuka, lalu bergerak bangkit perlahan-lahan.

"Ohhh...!?" Nyai Selasih jadi terperanjat, begitu melihat di sekitarnya sudah ada orang lain, selain Pendekar Rajawali Sakti. Cepat tubuhnya menggerinjang bangkit berdiri, namun jadi limbung. Seketika tangan kanannya mendekap dada erat-erat. Dan belum juga bisa berdiri tegak kembali, segumpal darah kental berwarna agak kehitaman tersembur dari mulutnya.

"Hoeeek...!" Tubuh Nyai Selasih kembali limbung, lalu jatuh terduduk dengan napas terengah. Sepertinya, rongga dadanya terhimpit sebongkah batu yang sangat besar. Pandangan matanya pun jadi nanar berkunang-kunang. Kembali dicobanya bangkit berdiri. Tapi belum juga tubuhnya bisa diangkat, kembali terjatuh. Sedikit suara rintihan kecil terdengar. Kemudian, wanita itu kembali menggeletak diam tak sadarkan diri.

"Dia terluka dalam. Tolong pindahkan ke dalam," ujar Rangga meminta.

"Tapi...," Rahtama ingin membantah. Namun sebelum bantahan pemuda itu selesai, Rangga sudah bergerak tanpa bicara lagi. Langsung saja tubuh wanita cantik berbaju merah menyala itu diangkat, dan dibawa masuk ke dalam pondok Nyai Langis.

Sementara yang lain hanya memandangi saja, tidak mengerti semua yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Pandan Wangi yang sudah mengerti benar dengan watak Rangga, segera mengangkat salah seorang gadis yang menggeletak dekat dengannya. Dan kakinya melangkah mengikuti Pendekar Rajawali Sakti yang masuk ke dalam pondok

"Ayo, angkat yang lain," perintah Paman Randaka.

Tanpa bisa membantah lagi, ketiga murid Nyai Langis itu mengikuti jejak Rangga dan Pandan Wangi. Hanya Anggita saja yang tidak mendapat bagian, dan hanya mengkuti dari belakang. Tapi, kelihatan jelas kalau kening gadis itu berkerut. Mungkin masih belum mengerti dengan semua yang dilakukan para pendekar digdaya itu. Jelas sekali, wanita-wanita itu bisa tidak sadarkan diri karena bertarung dengan Rangga tadi. Tapi, justru pendekar itu malah ingin menolongnya.

Memang sulit memahami watak seorang pendekar. Terlebih lagi, kalau seorang pendekar besar dan digdaya seperti Pendekar Rajawali Sakti. Bagi Anggita yang belum berpengalaman dalam rimba persilatan, apa yang dilakukan Rangga memang tidak bisa dimengerti akal sehatnya. Tapi memang tidak ada kesempatan baginya untuk bisa mengerti. Sementara di dalam pondok, Rangga, Pandan Wangi, dan Paman Randaka sudah mulai sibuk mengobati wanita-wanita itu. Sedangkan ketiga murid Nyai Langis hanya bisa menyaksikan tanpa mampu berbuat apa-apa.

********************

Nyai Selasih dan keempat gadis pengawalnya hanya bisa duduk bersimpuh di depan Pendekar Rajawali Sakti yang didampingi Pandan Wangi. Sedangkan Paman Randaka dan ketiga murid Nyai Langis duduk di belakang kedua pendekar muda dan digdaya dari Karang Setra itu. Tampak sekali, kesehatan wanita-wanita itu sudah pulih kembali, walaupun wajah mereka masih kelihatan pucat. Namun, terlihat jelas kalau sorot mata Nyai Selasih seperti menyimpan dendam pada Pendekar Rajawali Sakti yang telah menjadikannya pecundang.

"Kenapa kau tidak membunuh saja kami semua, Kisanak? Kami akan merasa lebih terhormat kalau mati di tangan pendekar berilmu tinggi," kata Nyai Selasih dengan sorot mata begitu tajam, seakan-akan hendak menembus ke dalam mata Pendekar Rajawali Sakti.

"Terlalu banyak alasan untuk tidak mengirim orang sepertimu ke neraka, Nyai Selasih. Dan aku tidak bisa membunuh orang yang aku tidak tahu alasannya," tenang sekali jawaban Rangga.

"Itu juga bukan alasan orang yang sudah lama berkecimpung dalam rimba persilatan, Kisanak. Aku tahu, siapa dirimu. Jurus-jurus yang kau perlihatkan tidak ada duanya di dunia ini. Kau pasti yang dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Hm... Ternyata hanya seperti itu seorang pendekar ternama yang ditakuti. Tidak mau membunuh lawannya yang sudah kalah," terasa begitu dingin nada suara Nyai Selasih.

Tapi Rangga hanya tersenyum saja mendengarnya. Dan diakui kata-kata yang diucapkan Nyai Selasih tadi bisa membuat darah siapa saja yang mendengarnya jadi bergolak mendidih. Namun tidak demikian halnya dengan Rangga yang memang dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Rangga sama sekali tidak terpancing, bahkan membalasnya dengan senyum.

Lain halnya dengan Pandan Wangi, Paman Randaka, dan ketiga murid Nyai Langis. Mereka sudah begitu geram melihat sikap yang ditunjukkan Nyai Selasih. Terlebih lagi, kata-katanya yang mengandung tantangan terbuka pada Rangga tadi. Namun mereka tidak bisa berbuat sesuatu, melihat Rangga hanya diam saja. Bahkan tersenyum tenang mendapatkan tantangan yang begitu terbuka tadi.

"Nyai! Kau tahu, di mana Nyai Langis sekarang berada...?" tanya Rangga setelah terdiam sesaat.

Pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti jelas sekali tidak menghiraukan tantangan yang diberikan Nyai Selasih tadi. Tapi bagi wanita cantik yang mengenakan baju merah menyala itu, pertanyaan Rangga barusan merupakan sebuah jawaban pasti dari tantangannya. Dan bibirnya jadi tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sebuah senyuman yang mengandung banyak arti.

"Kau berada di pondok Nyai Langis. Tentu kau tahu, bagaimana Nyai Langis sekarang...," kata Rangga dengan suara terdengar seperti terputus.

"Ya, aku sudah tahu," sahut Nyai Selasih sambil tersenyum sinis.

"Kau tahu, siapa yang membunuhnya?" tanya Rangga, agak ditekan suaranya.

"Tahu," tegas Nyai Selasih. Bibir wanita itu masih saja menyunggingkan senyuman sinis. Sedangkan sorot matanya begitu tajam menatap ketiga murid Nyai Langis yang duduk bersila di belakang Rangga. Tampak jelas sekali kalau ketiga murid Nyai Langis itu berusaha menahan diri mendengar jawaban-jawaban yang ketus dari wanita ini.

Sebentar kemudian, pandangan Nyai Selasih kembali beralih pada wajah tampan Rangga. Meskipun sorot matanya masih tetap terlihat tajam, namun senyuman di bibirnya sudah berubah, begitu pandangannya kembali bersarang di wajah tampan Pendekar Rajawali Sakti.

"Siapa yang membunuh Nyai Langis?" tanya Rangga tetap dengan nada suara ditekan.

"Gajah Ireng," sahut Nyai Selasih diiringi senyum di bibir.

"Siapa itu Gajah Ireng?" selak Rahtama dengan suara terdengar gusar. Tapi Nyai Selasih hanya menjawab pertanyaan itu dengan tawa kecil saja. Dan ini membuat Rahtama semakin bertambah gusar saja. Maka, mendadak saja dia bangkit berdiri, dan langsung melompat menerjang perempuan cantik berbaju merah menyala itu.

"Perempuan keparat! Kubunuh kau! Hiyaaat..!"

Sret! Bet!

"Hait..!"

Cepat sekali Rahtama mencabut pedangnya sambil melompat menerjang. Langsung pedangnya dibabatkan ke leher Nyai Selasih. Tapi hanya menarik kepala sedikit saja, Nyai Selasih bisa menghindarinya. Dan sabetan pedang pemuda itu hanya lewat di depan tenggorokan saja.

"Yeaaah...!" Tapi, Rahtama tidak berhenti sampai di situ saja. Cepat sekali pedangnya diputar, dan langsung ditusukkan ke arah dada. Dan tepat pada saat itu, Nyai Selasih merapatkan kedua telapak tangan di depan dada. Sehingga, ujung pedang Rahtama yang hampir menembus kulit dada yang membusung indah itu berhasil dijepit kuat.

"Hih...!" Sambil mengerahkan tenaga dalam, Rahtama mencoba menarik pedang dari jepitan kedua telapak tangan Nyai Selasih. Dan pada saat yang bersamaan, Nyai Selasih menghentakkan kedua tangan ke depan sambil melepaskan jepitannya pada pedang pemuda itu. Hingga tak pelak lagi, tubuh Rahtama terpental deras ke belakang.

"Hiyaaa...!" Untung saja pada saat yang gawat, Rangga melompat cepat Langsung ditangkapnya tubuh Rahtama yang hampir saja menghantam tiang yang berdiri di tengah-tengah ruangan depan pondok Nyai Langs. Manis sekali Rangga menjejakkan kakinya di lantai, dan menurunkan Rahtama dari pondongannya.

"Tahan, Rahtama...!" sentak Rangga sambil mencekal tangan Rahtama yang sudah terangkat naik hendak menyerang Nyai Selasih lagi.

"Huh!" Rahtama mendengus kesal. Lalu tangannya diturunkan lagi setelah Rangga melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan yang menggenggam pedang. Kemudian satu langkah Rangga maju ke depan. Sementara, Nyai Selasih dan keempat gadis pengawalnya sudah berdiri dengan sikap menantang. Saat itu, mereka yang tadi duduk di belakang Rangga juga sudah berdiri. Sikap mereka tampak siaga, menghadapi pertarungan yang bisa saja terjadi, mengingat suasana sudah demikian panas.

DELAPAN

"Hup!" "Hiyaaa...!" Begitu Nyai Selasih melesat keluar dari dalam pondok ini, keempat gadis pengawalnya juga mengikuti.

Sementara Rangga masih tetap berdiri tegak, Pandan Wangi, Paman Randaka, Suryadanta, dan Anggita sudah berlompatan mengejar Nyai Selasih dan keempat orang gadis pengawalnya.

"Hup! Hiyaaa....'" Rahtama juga bergegas keluar. Sedangkan Rangga masih tetap berdiri tegak memandangi mereka yang kini sudah berdiri saling berhadapan di tengah-tengah halaman yang cukup luas di depan. Dengan ayunan kaki yang begitu tenang, Pendekar Rajawali Sakti melangkah ke luar. Dan dia berdiri saja di ujung tangga beranda depan pondok yang berukuran cukup besar ini.

"Tahan...!!" Keras sekali teriakan Rangga, tepat di saat mereka yang berada di luar hendak bertarung. Bentakan yang disertai pengerahan tenaga dalam sempurna itu membuat mereka semua yang ada di tengah-tengah lapangan langsung berpaling ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup!" Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga hanya sekali lesatan saja, Rangga sudah berdiri tegak di tengah-tengah, antara dua kelompok yang sudah saling bersitegang ini. Rangga berdiri tegak, tepat di antara Nyai Selasih dan Paman Randaka yang berdiri saling berhadapan.

"Kuminta kalian semua bisa menahan diri. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah tanpa diketahui sebab-sebabnya," terdengar lantang sekali suara Pendekar Rajawali Sakti.

Tak ada seorang pun yang membuka suara. Mereka semua mengarahkan pandangan pada pemuda tampan yang selalu mengenakan baju rompi warna putih itu.

Dan pada saat itu, dari arah jalan setapak yang menuju pondok ini, terlihat seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap tanpa baju tengah berjalan. Ayunan kakinya man tap dan lebar-lebar. Seketika, pandangan semua orang yang ada di tengah-tengah halaman depan pondok mendiang Nyai Langis jadi tertuju pada laki-laki berusia separuh baya yang menyandang sebilah golok berukuran cukup besar di pundak kanan.

"Ada apa ini, Nyai Selasih...?" tanya laki-laki bertubuh tinggi tegap dan tidak mengenakan baju, begitu dekat dengan Nyai Selasih.

"Tanyakan saja pada mereka, Gajah Ireng," sahut Nyai Selasih sambil mencibirkan bibirnya ke arah Pendekar Rajawali Sakti dan orang-orang yang ada di belakang pemuda tampan berbaju rompi putih itu.

"Ah! Sudahlah, Nyai. Biarkan saja mereka. Yang penting, Selendang Sutera Emas yang kau inginkan sudah kudapatkan," kata laki-laki bertubuh tinggi tegap yang ternyata Gajah Ireng.

"Oh! Benarkah itu...? Mana selendang itu, Gajah Ireng?" kedua bola mata Nyai Selasih langsung berbinar bercahaya.

"Ada! Tapi, kau harus penuhi dulu janjimu, Nyai," sahut Gajah Ireng kalem.

"Aku tidak pernah ingkar, Gajah Ireng. Serahkan dulu Selendang Sutera Emas itu padaku, baru anak dan istrimu akan kubebaskan," sahut Nyai Selasih.

"Di mana mereka, Nyai?"

"Mereka ada di tempat yang aman dan nyaman. Kau tidak perlu khawatir, Gajah Ireng. Kalau selendang itu sudah kau serahkan, baru kuberitahukan tempatnya. Oh, ya di mana kau dapatkan selendang itu? Dan siapa yang mencurinya?"

"Selendang itu kutemukan di perguruan milik adik bungsu Nyai Langis, karena memang dititipkan di sana. Dan tanpa kekerasan yang berarti, aku berhasil mengambil selendang itu. Bodoh sekali wanita itu. Dia pergi bersemadi dengan hanya meninggalkan murid-murid keroco. Maka mudah sekali aku menyusup ke perguruannya untuk mengambil selendang itu," jelas Gajah Ireng.

Gajah Ireng melepaskan kantung kulit yang diikatkan di pinggangnya dengan sulur pohon. Tapi begitu tangannya menjulur hendak menyerahkan kantung kulit itu, mendadak saja sebuah bayangan berkelebat begitu cepat. Dan tahu-tahu, kantung kulit tangan Gajah Ireng sudah lenyap.

"Heh...?!" Bukan hanya Gajah Ireng yang terbeliak kaget. Bahkan Nyai Selasih sampai terlompat ke belakang dua langkah. Dan begitu mereka berpaling, tampak Paman Randaka sudah memegang kantung kulit yang tadi berada di tangan Gajah Ireng. Laki-laki tua bertubuh agak bungkuk dan berbaju jubah panjang warna hitam itu cepat-cepat membuka kantung kulit itu. Dan dari dalamnya dikeluarkannya sebuah selendang sutera berwarna kuning keemasan yang berkilatan tertimpa cahaya matahari.

"Setan keparat! Berikan selendang itu...!" bentak Gajah Ireng berang.

Wuk!

Langsung saja Gajah Ireng mengebutkan goloknya ke depan. Kedua tangannya yang kokoh dan berotot menggenggam tangkai golok dengan erat Ujung goloknya diarahkan ke dada Paman Randaka. Sementara, Nyai Selasih juga berang melihat Selendang Sutera Emas yang diimpikannya kini jatuh ke tangan laki-laki tua berjubah hitam yang dikenal bernama Paman Randaka.

"Bunuh dia, Gajah Ireng!" bentak Nyai Selasih gusar.

"Ghrrr...!" Gajah Ireng menggereng bagaikan seekor binatang buas. Perlahan kakinya melangkah menghampiri Paman Randaka yang sudah memasukkan kembali Selendang Sutera Emas ke dalam kantung kulit harimau. Dan Paman Randaka sendiri cepat-cepat melangkah mundur begitu melihat Gajah Ireng sudah mendekati dengan golok terhunus ke arahnya.

"Hiyaaa...!" Sambil berteriak keras menggelegar, Gajah Ireng melompat begitu cepat menerjang Paman Randaka. Goloknya yang berukuran sangat besar diayunkan disertai pengerahan tenaga dalam penuh, hingga menimbulkan suara angin menderu bagai topan.

Wuk! "Haiiit..!"

Tapi dengan gerakan ringan dan manis sekali, Paman Randaka berhasil menghindari sabetan golok berukuran besar itu. Dan Gajah Ireng tidak berhenti sampai di situ saja. Dengan cepat sekali goloknya ditarik, dan langsung dibabatkan ke arah kepala laki-laki tua berjubah hitam itu sambil berteriak keras menggelegar.

"Hiyaaa...!"

"Hup! Yeaaah...!" Namun pada saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Rangga melesat bagai kilat, hingga sukar sekali diikuti pandangan mata biasa. Begitu cepatnya, hingga tidak ada seorang pun yang bisa melihat kalau Pendekar Rajawali Sakti menjentikkan ujung jarinya, tepat pada ujung golok Gajah Ireng yang hampir saja membelah kepala Paman Randaka.

Tring! "Ikh...!"

Hampir saja golok di tangan Gajah Ireng terlepas, kalau saja tidak segera dipindahkan ke tangan kiri. Cepat-cepat laki-laki tinggi besar itu melompat ke belakang sambil berputar beberapa kali di udara, sebelum kakinya kembali menjejak tanah. Mulutnya menggereng seperti seekor singa terluka, begitu melihat Rangga tahu-tahu sudah berdiri di depan Paman Randaka.

"Ghrrr...!"

"Tahan...! Tidak seharusnya kau menyerang orang yang tidak bersalah, Paman," ujar Rangga, agak keras suaranya.

"Minggir kau, Bocah!" bentak Gajah Ireng.

"Sekilas, kudengar percakapanmu dengan Nyai Selasih tadi," kata Rangga kalem. "Paman..., aku ingin membantumu. Tapi, kuminta tahanlah dirimu sedikit saja."

"Hm...," Gajah Ireng menggumam perlahan. Sedikit matanya melirik Nyai Selasih yang kelihatan jadi begitu gusar dengan turun tangannya Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu, Rangga sudah melangkah mendekati Gajah Ireng dengan sikap tenang. Senyuman manis pun tersungging di bibirnya.

"Aku tahu, kenapa kau bertindak di luar keinginanmu, Paman. Tapi, setidaknya sekarang ini kau bisa melihat lebih jauh lagi. Kau tahu, Paman. Ketiga orang itu adalah murid Nyai Langis, pemilik tunggal Selendang Sutera Emas. Sedangkan Paman Randaka adalah saudara kandung Nyai Langis. Jadi, memang lebih pantas kalau mereka yang memegang selendang itu, setelah Nyai Langis meninggal. Sedangkan kau mendapatkan selendang itu hanya untuk diserahkan pada Nyai Selasih. Apakah kau yakin, kata-katanya bisa dipercaya...? Kau percaya kalau anak istrimu sekarang ini dalam keadaan sehat dan aman?"

Gajah Ireng tidak bisa berkata-kata lagi mendengar penuturan Rangga yang begitu tegas dan bijaksana. Sedikit matanya melirik Nyai Selasih. Jelas sekali, wajah wanita cantik itu tampak memerah.

"Semua putusan sekarang ada padamu, Paman Gajah Ireng. Dan aku tidak akan mencampuri urusan ini. Tapi kalau ada yang bertindak curang, terpaksa aku akan ikut turun tangan," kata Rangga lebih tegas lagi. Berkali-kali Gajah Ireng memandang Rangga dan Nyai Selasih bergantian. Dan perlahan tubuhnya diputar berbalik menghadap wanita cantik yang mengenakan baju warna merah menyala cukup ketat itu. Sorot matanya begitu tajam, menembus langsung ke bola mata Nyai Selasih yang indah.

"Katakan, di mana anak dan istriku sekarang, Nyai...?" desis Gajah Ireng dingin menggetarkan.

"Kau tidak bisa menggertakku, Gajah Ireng!" bentak Nyai Selasih berang, "Turuti perintahku, atau kau ingin anak dan istrimu mampus...!"

"Perempuan setan...! Kubunuh kau bila sampai menyakiti mereka!" desis Gajah Ireng geram.

"Berikan dulu Selendang Sutera Emas itu padaku, baru kuberi tahu keberadaan anak dan istrimu," kata Nyai Selasih masih bertahan.

"Tidak! Katakan dulu, di mana mereka!" bentak Gajah Ireng.

Nyai Selasih tersenyum tipis. Sementara, Gajah Ireng semakin kelihatan bertambah berang saja melihat sikap wanita cantik itu. Sambil menggereng bagai harimau, kakinya melangkah mendekati wanita itu. Dan tiba-tiba saja....

"Perempuan keparat! Kubunuh kau! Hiyaaat..!"

Wuk!

Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, tiba-tiba saja Gajah Ireng membabatkan goloknya ke arah kepala Nyai Selasih. Tapi hanya sedikit Nyai Selasih menarik kepala ke belakang, sabetan golok yang berukuran cukup besar itu tidak sampai mengenai sasaran.

"Yeaaah...!" Dan tanpa diduga sama sekali, tiba-tiba saja Nyai Selasih menghentakkan kaki kanannya sambil memutar tubuhnya sedikit. Begitu cepatnya tendangan yang dilepaskan wanita itu, sehingga Gajah Ireng tidak sempat lagi menghindar. Terlebih lagi, saat itu seluruh perhatian dan kekuatannya tersalurkan pada goloknya yang dibabatkan ke arah kepala tadi. Hingga....

Des! "Hugkh...!"

Gajah Ireng mengeluh pendek begitu tendangan Nyai Selasih bersarang telak di perutnya. Dan di saat tubuhnya terbungkuk, cepat sekali Nyai Selasih melepaskan satu pukulan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Begitu cepat pukulannya, sehingga Gajah Ireng tidak sempat lagi berkelit menghindar. Dan...

Des! "Akh...!" Gajah Ireng langsung terpental begitu wajahnya terkena pukulan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Tubuh tinggi besar dan berkulit hitam itu terpental sejauh dua batang tombak ke belakang, dan hampir saja jatuh telentang kalau saja Rangga tidak segera melompat menahannya. Tapi, wajah laki-laki berkulit hitam itu sudah berlumuran darah akibat terkena pukulan yang begitu keras luar biasa dari Nyai Selasih tadi.

"Kau memang sudah tidak ada gunanya lagi, Gajah Ireng. Sudah saatnya kau mampus! Hiyaaat..!"

Sambil berteriak nyaring melengking tinggi, Nyai Selasih melesat begitu cepat bagai kilat. Dan saat itu juga, pedangnya dicabut dan langsung dibabatkan kearah leher Gajah Ireng.

Namun pada saat yang tepat, Rangga cepat merampas golok yang masih tergenggam di tangan laki-laki berkulit hitam itu. Lalu dengan cepat sekali golok itu dikebutkan untuk melindungi leher pemiliknya dari sabetan pedang Nyai Selasih.

Trang!

"Ikh...!" Nyai Selasih jadi terpekik kecil begitu pedangnya membentur golok yang kini berada di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Cepat-cepat wanita itu melompat ke belakang. Kedua bola matanya jadi terbeliak lebar begitu melihat pedangnya kini tinggal separuh. Begitu sempurna tenaga dalam yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti, sehingga bisa membabat buntung pedang di tangan Nyai Selasih. Dan belum juga perempuan berbaju merah menyala itu bisa menghilangkan keterpanaannya, mendadak saja Rahtama sudah melompat begitu cepat sekali sambil mengebutkan pedang.

"Hiyaaat..." Bet!

Begitu cepatnya serangan yang dilakukan Rahtama, sehingga Nyai Selasih tidak sempat lagi berkelit. Terlebih lagi, saat itu dia masih terpana karena pedang kebanggaannya terpenggal hanya oleh sebuah golok yang sebenarnya tidak berarti sama sekali. Tapi, di tangan Pendekar Rajawali Sakti, golok itu benar-benar bagaikan membabat sebuah batang pisang yang sangat rapuh. Sementara itu, kebutan pedang Rahtama sudah hampir mendekat Dan....

Wuk! Cras!

"Aaa...!" Jeritan panjang melengking tiba-tiba saja terdengar begitu menyayat. Saat itu, Nyai Selasih tersentak. Dan begitu disadari, dadanya sudah terbelah mengeluarkan darah segar. Hampir tidak dipercayai dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dan belum juga bisa menyadari semua yang telah terjadi, Rahtama sudah membabatkan pedangnya kembali sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dengan penuh.

"Hiyaaa...!"

Bet! Cras!

Kali ini, Nyai Selasih tidak menjerit sedikit pun. Tubuh wanita itu hanya bisa berdiri terpaku dengan kedua bola mata terbeliak lebar. Bahkan mulutnya tampak ternganga, walaupun tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Beberapa saat kemudian, tubuhnya jadi limbung. Dan tepat begitu Rahtama menjejakkan kakinya kembali di tanah, tubuh Nyai Selasih sudah terguling jatuh. Seketika, kepalanya terpisah dari leher. Darah langsung menyembur dari leher yang kini sudah tidak berkepala lagi.

"Mampus kau, huh...!" dengus Rahtama sambil menyemburkan ludahnya.

Sementara itu, empat orang gadis pengawal Nyai Selasih hampir saja mengambil langkah seribu kalau saja Pandan Wangi tidak cepat melompat menghadang bersama Rangga.

"Katakan! Di mana kalian menahan anak dan istri Paman Gajah Ireng?" tanya Rangga langsung dengan nada suara begitu dingin dan menggetarkan.

"Di..., di pondok Nyai Selasih," sahut salah seorang gadis, tergagap.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Gajah Ireng yang tahu-tahu sudah berada di samping Pendekar Rajawali Sakti.

"Baik..., baik-baik saja."

"Kalian harus ikut mengantar ke sana!" dengus Gajah Ireng.

Empat orang gadis itu saling berpandangan, kemudian sama-sama menganggukkan kepala. Gajah Ireng langsung saja memutar tubuhnya berbalik, setelah mengucapkan terima kasih pada Rangga dan menyalaminya. Empat orang gadis anak buah Nyai Selasih yang kini sudah tidak memiliki pegangan lagi itu tidak bisa lagi berbuat lain, selain mengikuti Gajah Ireng meninggalkan pondok peninggalan Nyai Langis.

Sementara itu, Paman Randaka dan ketiga murid Nyai Langis menghampiri Rangga dan Pandan Wangi yang tengah memandangi kepergian Gajah Ireng bersama keempat orang gadis pengawal Nyai Selasih.

"Kenapa kau lepaskan dia, Kakang Rangga? Bukankah dia yang membunuh Nyai Guru kami?" tanya Rahtama seperti tidak puas karena Rangga membiarkan Gajah Ireng pergi begitu saja.

"Dia melakukannya karena terpaksa dan mendapat tekanan. Jadi, menurutku dia tidak bersalah," sahut Rangga mencoba menjelaskan.

Rahtama dan kedua adik seperguruannya tidak bisa membantah lagi. Mereka percaya, semua yang dilakukan Pendekar Rajawali Sakti tentu dari hasil pemikiran yang matang. Sedangkan Paman Randaka hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Di dalam hati, dipujinya keluhuran hati Pendekar Rajawali Sakti yang bisa menilai begitu cepat, dan bertindak sangat bijaksana.

"Rahtama! Ini milik gurumu dan kalian semua. Jadi, sudah sepantasnya kalau kalian yang menyimpannya," kata Paman Randaka sambil menyerahkan Selendang Sutera Emas yang masih tersimpan di dalam kantung dari kulit harimau.

"Tidak. Biar saja Paman Randaka yang menerimanya," tolak Rahtama halus dan tegas.

"Selendang Sutera Emas ini tidak ada gunanya bagiku. Dan hanya bisa digunakan oleh wanita," kata Paman Randaka, juga menolak.

"Kalau begitu, hanya Anggita saja yang berhak menerimanya," sentak Pandan Wangi mengambil jalan tengah.

"Tapi...," Anggita juga ingin menolak.

"Tidak ada alasan lagi untuk menolak, Anggita. Hanya kau satu-satunya yang berhak mewarisi benda pusaka ini," kata Paman Randaka cepat.

Anggita jadi kebingungan. Tapi begitu Paman Randaka menyerahkan kantung kulit berisi benda pusaka yang diributkan itu, gadis ini tidak dapat menolaknya lagi.

Dan setelah semuanya bisa terselesaikan, Rangga dan Pandan Wangi bergegas mohon diri. Meskipun Paman Randaka dan ketiga murid mendiang Nyai Langis mencoba menahan, tapi Pendekar Rajawali Sakti tetap ingin meneruskan petualangannya. Maka, kepergian Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa ditahan lagi. Dengan menunggang kuda, Rangga mengajak Pandan Wangi untuk menemui Rajawali Putih yang masih menunggu di tempat yang sudah ditentukan.

S E L E S A I

Thanks for reading Selendang Sutra Emas I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »