Penyamaran Raden Sanjaya

Pendekar Rajawali Sakti

PENYAMARAN RADEN SANJAYA


SATU
SEORANG pemuda tampan berompi putih tengah berdiri tegak di sebuah lembah. Udara siang ini tidak begitu panas. Angin bertiup sepoi-sepoi, mempermainkan rambut panjang milik pemuda tampan itu. Melihat raut wajahnya yang tegang, bisa ditebak kalau dia tengah berpikir keras. Sepertinya, dia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.

“Hm.... Untuk mencapai Lembah Naga ini saja, tidak mudah. Lalu, mengapa si Bayangan Putih mengajakku bertarung di sini? Aku jadi tidak mengerti, untuk apa sebenarnya Bayangan Putih mengajakku bertarung? Padahal masih banyak tantangan yang harus kuhadapi,” gumam pemuda berompi putih, yang di balik punggungnya tampak menyembul gagang pedang berbentuk kepala burung.

Semua pikiran itu sepertinya menghantui benaknya. Memang, melihat dari ciri-cirinya, jelas kalau pemuda itu adalah Rangga atau lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti. Keberadaannya di tempat ini adalah untuk memenuhi undangan si Bayangan Putih yang mengajak bertarung. Sebagai tokoh persilatan, pantang bagi Pendekar Rajawali Sakti menolak tantangan.

Namun biar bagaimana pun, otaknya terus bekerja keras untuk mencari jalan keluar agar pertarungan dapat dihindari. Atau paling tidak, jangan sampai ada yang mati. Dan yang lebih dipikirkan lagi, mengapa harus dengan pertarungan kalau hanya untuk mengadu ilmu?

“Kalau sesama pendekar saling bertarung, bukanlah membuat tokoh-tokoh sakti golongan hitam tertawa? Aku jadi benar-benar tidak mengerti keinginan si Bayangan Putih itu. Sedikit pun tidak ada rasa gentar dalam diriku. Tapi, untuk apa bentrok dengan sesama golongan putih?” tanya Rangga dalam hati.

Hampir setengah harian Rangga berdiri mematung sambil memandang sebuah kampung yang kelihatan sepi bagai tak berpenghuni. Seperti sebuah kampung mati. Tak terlihat seorang pun di sana. Bahkan sepertinya, seekor binatang pun enggan hidup di kampung itu. Entah, apa sebabnya.

“Aneh...,” gumam Rangga perlahan.

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti hendak melangkah, tiba-tiba gerumbul semak di depannya bergerak-gerak. Sebentar kemudian, muncul seorang pemuda yang tubuhnya berlumur darah. Sebentar pemuda itu terhuyung-huyung, lalu jatuh begitu sampai di depan Rangga.

“Tolong...,” rintih pemuda itu lirih.

Rangga cepat-cepat menghampiri. “Siapa kau? Dan, kenapa bisa begini?” tanya Rangga.

“Aku.... Aku Risman, dari Kampung Rapak. Mereka menghancurkan kampungku. Tolong, Tuan. Tolong kami...,” rintih pemuda yang mengaku bernama Risman, memelas.

“Apa yang terjadi?” tanya Rangga.

“Mereka merampok, membunuh, dan menculik gadis-gadis desa. Akh!”

Pendekar Rajawali Sakti mengguncang-guncang tubuh berlumur darah yang sudah tak bergerak-gerak lagi. Sebentar diperiksanya keadaan Risman, lalu mulutnya mendesah panjang.

“Hhh..., pingsan. Terlalu banyak darah yang keluar.”

Rangga memondong tubuh Risman. Kemudian, dibawanya tubuh tak berdaya itu, dan dibaringkannya di bawah pohon rindang. Dengan caranya sendiri, diobatinya luka-luka di tubuh pemuda itu. Setelah cukup lama Rangga menunggui, akhirnya Risman sadar juga. Keadaan tubuhnya tampak masih lemah. Rangga kemudian mencegah agar Risman tidak terlalu banyak bergerak dulu.

“Oh..., Tuan siapa?” tanya Risman.

“Aku Rangga. Berbaringlah dulu. Lukamu cukup parah,” ujar Rangga disertai senyumnya.

Risman memandangi luka-luka di tubuhnya yang sudah terbalut. Tidak ada lagi bercak-bercak darah yang melekat. Sebentar dipandanginya Rangga yang duduk bersila di sampingnya. Senyuman tipis tetap tersungging di bibir Pendekar Rajawali Sakti.

“Terima kasih atas pertolonganmu,” ucap Risman, pelan.

“Berterima kasihlah pada Sang Hyang Widi yang telah menyelamatkanmu,” sahut Rangga merendah.

“Tuan pasti seorang pendekar,” tebak Risman.

Rangga hanya tersenyum.

“Oh...!” Risman beringsut, lalu duduk bersandar pada sebatang pohon yang cukup besar dan rindang, sehingga melindungi dirinya dari sengatan matahari yang sudah mulai garang lagi.

“Kenapa kau sampai terluka?” tanya Rangga, setelah melihat Risman cukup pulih untuk diajak bicara.

“Aku berusaha melawan, tapi mereka terlalu tangguh,” desah Risman lirih.

"Mereka? Mereka siapa?”

“Gerombolan perampok yang menamakan diri Gagak Item,” sahut Risman.

“Berapa orang kekuatan mereka?”

“Banyak. Aku tidak tahu pasti jumlahnya. Yang pasti, mereka sangat kejam. Ah...! Aku tidak tahu lagi, apakah masih ada yang hidup selain diriku.”

Pendekar Rajawali Sakti memandang kampung di depan sana. Pantas, kampung itu kelihatan sepi bagai tak berpenghuni. Rangga agak terkejut ketika melihat banyak burung pemakan bangkai yang seperti sedang pesta di sana. Suaranya ribut dan memekakkan telinga. Risman hanya menunduk, tak kuasa menyaksikan pesta burung-burung itu.

“Apa masih ada kerabatmu di sana?” tanya Rangga.

Risman menggeleng lemah.
“Kau hidup sendiri?”
“Tidak. Ada kakakku, tapi....”
"Kenapa?”

“Aku tidak tahu nasibnya lagi. Mereka telah menculik Ningsih, dan aku tidak bisa menolongnya,” semakin lirih suaranya.

Titik-titik air bening tampak menggulir di pipinya. Rangga tidak lagi bertanya. Dibiarkannya saja Risman menghabiskan air matanya. Rasanya memang tidak pantas bertanya terus-menerus dalam suasana seperti ini. Apalagi, Risman masih sulit ditanyai.

********************

Hati Rangga tersayat ketika menyaksikan pemandangan Desa Rapak. Mayat-mayat membusuk, sehingga menyebarkan aroma tidak sedap, memualkan perut. Anehnya dari sekian banyak mayat, tak ada mayat wanita muda seorang pun di sana. Semua terdiri dari laki-laki, anak-anak, dan perempuan-perempuan tua. Benar-benar pemandangan yang tidak sedap dipandang mata. Keadaan mayat-mayat itu tidak ada yang utuh. Semuanya rusak, tak dapat dikenali lagi. Bahkan beberapa rumah tampak sudah hangus jadi arang.

Sementara, Risman yang berjalan di samping Pendekar Rajawali Sakti, tidak henti-hentinya menutup hidung. Dia tidak sanggup lagi melihat pemandangan yang mengenaskan ini. Rangga mengajak Risman meninggalkan Desa Rapak. Mereka berhenti setelah agak jauh, namun bau busuk masih juga tercium.

Sementara, burung-burung pemakan bangkai mulai berdatangan kembali, bersama anjing-anjing liar yang keluar dari hutan. Pendekar Rajawali Sakti mengajak Risman semakin jauh meninggalkan desa yang sudah porak-poranda dan tak berpenghuni itu. Mereka kembali berhenti, setelah bau busuk tidak tercium lagi.

“Aku sungguh tidak mengerti, mengapa masih ada orang yang begitu tega membantai habis seluruh desa,” gumam Rangga perlahan.

“Mereka memang kejam!” dengus Risman, sedikit ditahan suaranya.

“Di mana mereka tinggal?” tanya Rangga.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi kata orang-orang, sarang mereka dinamakan Bukit Gagak,” sahut Risman.

“Letaknya?”

Risman menggelengkan kepala, karena memang tak tahu persis letak bukit itu. Itu pun hanya dengar-dengar dari cerita orang saja.

“Apa setiap merampok mereka selalu bertindak seperti itu?” tanya Rangga lagi.

“Biasanya tidak,” sahut Risman. “Tapi, karena kemarin ada seorang pendekar yang mencoba melawan, sehingga Gerombolan Gagak Item jadi marah. Akibatnya, mereka membantai semua penduduk.”

“Kau tahu, siapa pendekar itu?”
“Tidak. Dia kabur setelah menderita luka parah.”
“Laki-laki atau perempuan?”

“Perempuan. Makanya, semua gadis-gadis di Desa Rapak diculik.”

Rangga mulai mengerti sekarang. Rupanya, ada pendekar tanggung yang coba-coba bertindak. Atau mungkin, salah seorang murid padepokan yang sedang berlibur. Kalau memang pendekar, mustahil bisa terluka parah hanya untuk melawan segerombolan perampok. Rasa-rasanya, tak ada seorang pendekar pun yang sudi melarikan diri, dengan mengorbankan sekian banyak nyawa. Itu hanya terjadi kalau yang berbuat adalah tokoh dari golongan hitam.

“Aku yakin, kau seorang pendekar,” tegas Risman, menatap Rangga agak tajam. “Kau bersedia membantuku membebaskan mereka yang diculik?”

“Bagaimana caranya membebaskan, kalau kau sendiri tidak tahu sarang mereka?” agak sinis suara Rangga.

“Kita bisa mencari keterangan di desa-desa lain,” sahut Risman tegas.

“Kau bisa melakukannya?” Rangga masih kurang yakin.

“Kenapa tidak? Lebih baik mati daripada kejahatan didiamkan!”

Pendekar Rajawali Sakti kagum juga terhadap sikap tegas Risman. Dalam hati, dia tersenyum dan memuji. Hal ini membuat Rangga jadi tertarik untuk membantu Risman. Pendekar Rajawali Sakti kemudian mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah ini dulu, baru setelah itu menghadapi tantangan si Bayangan Putih di Lembah Naga.

“Desa mana tujuan pertamamu?” tanya Rangga.

“Mungkin Desa Mayang. Konon, di sana sering terjadi perampokan,” sahut Risman.

“Apakah di sana ada yang kau kenal?”

“Hampir semua penduduk Desa Mayang kukenal baik, karena kami bertetangga.”

“Kalau begitu, ayo kita berangkat,” ajak Rangga.

Risman tersenyum. Kakinya lalu terayun menuju Desa Mayang yang tidak berapa jauh lagi. Rangga mengikuti di sampingnya. Kening Pendekar Rajawali Sakti seketika berkerut, karena Risman ternyata menggunakan ilmu meringankan tubuh. Rangga kemudian mengimbangi di samping ingin mengukur, sampai di mana tingkat ilmunya. Dan Pendekar Rajawali Sakti jadi tersenyum, karena ilmu Risman masih jauh di bawah tingkatannya.

“Di mana kau belajar ilmu olah kanuragan?” tanya Rangga.
“Oh!” Risman terkejut begitu ditanya seperti itu.
“Aku belajar dari mendiang ayah.”
“Hm. Beliau sudah tewas?”
“Ya. Sewaktu melawan Gerombolan Gagak Item.”
“Hm.... Kau dendam?”
“Mungkin.”

Rangga berhenti melangkah begitu di depannya terhampar sebuah perkampungan yang lumayan ramai. Risman juga menghentikan langkahnya. Sejenak mereka diam dan memandang lurus ke depan.

“Itu Desa Mayang?” tanya Rangga ingin menegaskan.

“Benar. Rasanya tidak pantas disebut desa. Terlalu besar dan ramai,” sahut Risman, sedikit menjelaskan.

“Kita cari penginapan dulu,” usul Rangga.

“Tidak perlu. Aku punya teman yang pasti bersedia kalau rumahnya ditempati sementara,” tolak Risman.

“Baiklah. Tapi kalau dia tidak mau, jangan dipaksa.”

“Tenang saja. Dia sahabat baikku.”

Kemudian mereka melangkah memasuki perbatasan desa. Setiap langkah, Rangga mengedarkan pandangannya. Memang keadaan di sini tidak pantas kalau disebut desa. Terlalu besar dan ramai. Pantasnya desa ini disebut dengan kadipaten. Rumah-rumah penduduknya juga bagus dan besar. Dan lagi, rasanya tak sulit mendapatkan rumah makan atau penginapan, karena sepanjang jalan utama dipenuhi dua sarana bagi para pengembara itu.

Rangga mengikuti ke mana Risman berjalan. Tidak sedikit yang menegur Risman. Yang kemudian dibalasnya dengan senyum ramah. Bahkan kelihatannya Risman begitu dihormati. Mereka kemudian berhenti begitu sampai di sebuah rumah yang agak menyendiri. Rumah itu tidak begitu besar. Dinding-dindingnya terbuat dari belahan papan, sedang atapnya terbuat dari rumbia. Sejenak Rangga mengamati keadaannya yang sepi dan tenang.

“Tunggu sebentar di sini,” ujar Risman.

“Kau akan ke mana?” tanya Rangga, mencegah tangan Risman yang akan melangkah.

“Aku akan menemui temanku dulu,” sahut Risman.

Rangga tidak mencegah lagi, dan dia kembali mengamati keadaan sekitarnya. Tak lama, Risman sudah keluar dari pintu depan bersama seorang laki-laki dan seorang wanita yang masih muda. Mereka mengenakan pakaian sederhana, sebagaimana layaknya keluarga petani. Rangga menghampiri, karena mereka berdiri saja di depan rumah.

“Rangga! Ini teman karibku. Badil dan istrinya, Sadiah,” jelas Risman, mengenalkan.

Rangga menganggukkan kepala. Dua orang di samping Risman juga balas mengangguk dengan bibir menyunggingkan senyum.

“Tadi sudah kuceritakan maksud kita, dan mereka mengizinkan kita menginap di sini sampai kapan saja,” lanjut Risman.

“Maaf, jadi merepotkan,” sambung Rangga.

“Tidak apa-apa,” sahut Badil juga ramah.

“Antara aku dan Risman memang sudah seperti saudara. Lebih-lebih keadaan Risman sekarang ini. Dan aku wajib menolongnya. Bukan begitu, Sadiah?”

“Benar! Anggap saja seperti di rumah sendiri,” sambung Sadiah sambil tersenyum.

“Terima kasih,” hanya itu yang diucapkan Rangga.

“Mari masuk. Pasti kalian telah lelah sekali menempuh perjalanan jauh,” ajak Badil.

“Iya! Aku juga ingin mendengar, bagaimana kejadiannya,” sambung Sadiah.

“Nanti kuceritakan,” janji Risman.

********************

Malam baru saja datang. Udara dingin berselimut kabut terasa menusuk sampai tulang sumsum. Namun, Desa Mayang masih tetap ramai, karena banyak penduduk yang menikmati keindahan alam. Lampu-lampu pelita dan cahaya api obor menambah semarak suasana. Rangga juga tidak ingin ketinggalan. Dia berjalan-jalan sepanjang jalan utama, menikmati udara malam. Hampir setiap sudut desa tampak ramai. Laki-laki, perempuan, besar kecil berbaur jadi satu.

Benar-benar bagai sebuah sorga dunia saja layaknya. Rangga sempat berpikir, jarak Desa Mayang ini tidak begitu jauh dengan Desa Rapak yang beberapa hari lalu hancur berantakan. Tapi sepertinya desa ini tak terpengaruh sedikit pun. Dan tampaknya kejadian di desa sebelah merupakan hal biasa. Tak seorang pun yang membicarakannya.

“Uts!” Rangga melompat ketika seorang laki-laki mabuk hampir menabraknya.

“He, Monyet! Apa tidak punya mata?! Minggir!” bentak laki-laki itu mendengus. Dari mulutnya tercium bau arak yang sangat kuat.

“Maaf,” hanya itu yang diucapkan Rangga, karena enggan melayani orang mabuk.

“Maaf, maaf. Huh! Kau harus bayar mahal seguci arakku yang jatuh!”

Rangga mengerutkan keningnya, karena memang sama sekali tidak bersentuhan. Tapi, nyatanya ada seguci arak yang jatuh dan pecah berantakan. Jelas, itu karena orang di depannya sedang mabuk, hingga tidak sadar kalau sedang membawa seguci arak. Rangga yang malas mengurusi orang mabuk, melengos dan melangkah pergi.

“He, Monyet! Ganti dulu arakku, atau...!” Rangga tetap berjalan. “Kau ingin mati rupanya! Hiyaaa...!”

Orang itu langsung menerjang. Rangga cepat berbalik dan memiringkan tubuhnya. Sehingga terjangan itu lewat sedikit di sampingnya. Dengan sedikit ayunan tangan, Rangga mencoba menepuk pundak orang itu. Tapi tanpa diduga, dengan cepat orang itu berkelit.

“He he he...! Ingin coba-coba melawan Macan Lembah Iblis, heh?!” orang itu terkekeh.

Lagi-lagi Rangga mengernyitkan alis. Dia heran, karena tiba-tiba saja orang itu tidak mabuk. Kuda-kudanya begitu kokoh, tak sedikit pun tampak goyah. Mukanya merah, dan tatapannya tajam.

“Siapa kau, Monyet Jelek?!” tanya si Macan Lembah Iblis.

“Maaf, aku tidak ada waktu,” kata Rangga kembali membalikkan tubuh.

“Bangsat!” geram si Macan Lembah Iblis.

Tiba-tiba kedua tangan laki-laki itu mendorong ke depan. Mendadak Rangga merasakan satu dorongan kuat dari belakang. Dengan cepat dia melompat dan berputar di udara. Sebuah gubuk kecil kontan hancur berantakan. Rangga ringan sekali menjejakkan kakinya di depan si Macan Lembah Iblis.

“Aku tidak segan-segan membunuhmu Monyet Jelek!” dengus si Macan Lembah Iblis menggeram.

“Apa yang kau inginkan? Kalau ingin uang, aku tidak punya!” balas Rangga tidak kalah sengitnya.

“Bukan uang, tapi nyawamu!”

“Hm...,” Rangga menggumam. Alis Pendekar Rajawali Sakti agak merapat. Matanya tajam meneliti tongkrongan orang tinggi dan besar berwajah kasar di depannya.

“Bersiaplah, Anak Muda!”

Setelah berkata demikian, si Macan Lembah Iblis langsung melompat sambil berteriak nyaring. Sementara Rangga hanya menggeser kakinya sedikit, dan cepat mengangkat tangannya.

Plak!

Kaki yang mengarah ke depan langsung ditepak keras oleh Pendekar Rajawali Sakti.

“Phuih!” Macan Lembah Iblis mendengus geram. “Rupanya kau punya isi juga, Bocah!”

“Maaf, aku tidak suka ribut,” sahut Rangga bersikap mengalah.

“He he he.... Lagakmu seperti seorang pendekar saja! Kau tahu, siapa yang ada di depanmu, heh? Aku si Macan Lembah Iblis! Tidak ada seorang pun yang lolos kalau aku menginginkan darahnya!” ancam si Macan Lembah Iblis, congkak.

"Tapi tidak begitu denganku,” sambut Rangga kalem.
“Setan alas! Kau menantangku, Bocah?!”
“Terlanjur.”
“Tahan seranganku! Hiyaaa...!”

DUA

Si Macan Lembah Iblis melompat sambil mencabut goloknya yang besar berwarna hitam pekat. Begitu Rangga melangkah mundur dua tindak, ternyata sabetan golok yang begitu dahsyat itu hanya menyambar angin kosong. Kalau bukan Pendekar Rajawali Sakti, mungkin baru kena angin sambaran goloknya saja sudah lari terbirit-birit. Tapi tidak demikian halnya dengan Rangga yang malah semakin tenang.

Melihat lawannya mampu menandingi sampai lima jurus, si Macan Lembah Iblis jadi semakin geram. Serangannya diperhebat sambil terus menyumpah. Sekitar pertarungan telah porak-poranda terkena kibasan golok si Macan Lembah Iblis. Beberapa orang yang berada di sekitarnya cepat-cepat menyingkir mencari selamat. Hanya beberapa orang berkemampuan agak tinggi yang masih menyaksikan jalannya pertarungan.

Bahkan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai arena judi. Mereka masing-masing memilih jagonya dengan bayaran sejumlah uang. Dan sebenarnya Rangga mendengar pertaruhan itu, meskipun dalam keadaan tengah bertarung. Maka seketika hatinya jadi geram. Ternyata, penduduk desa ini telah terjangkiti penyakit yang merusak moral.

“Awas kaki...!” teriak Rangga sambil menyampokkan kakinya ke kaki lawan.

“Uts!” si Macan Lembah Iblis menghindarinya dengan cepat. Tapi belum si Macan Lembah Iblis sempat memperbaiki keadaannya, tiba-tiba tangan kanan Rangga sudah menyodok ke depan. Laki-laki kasar itu tidak punya pilihan lain. Segera tubuhnya mengegos sambil mengayunkan golok dengan cepat ke tangan Rangga.

Tap!

Rangga menjepit golok itu kuat-kuat di antara kedua jarinya. Si Macan Lembah Iblis kontan terkejut. Segera seluruh tenaganya dikerahkan untuk melepaskan goloknya. Tapi golok itu bagai dijepit oleh baja yang amat kuat, hingga si Macan Lembah Iblis sampai berkeringat. Padahal, seluruh tenaga dalamnya sudah dikerahkan, tapi sedikit pun tak bergeming.

“Hih!”

Rangga menghentakkan tangannya ke bawah. Begitu kuat dan cepatnya, sehingga si Macan Lembah Iblis sampai tertarik ke depan. Begitu tubuhnya doyong secepat kilat Rangga mengayunkan kakinya ke depan.

Buk! “Hugh!”

Si Macan Lembah Iblis mengeluh pendek. Telak sekali kaki Rangga mendarat di dada si Macan Lembah Iblis. Akibatnya pegangan pada gagang goloknya terlepas dengan tubuh terhuyung-huyung ke belakang. Belum lagi keseimbangan tubuhnya dikuasai, secepat kilat Rangga menjentikkan jemarinya yang mengepit golok. Maka, seketika golok itu meluncur deras ke arah si Macan Lembah Iblis.

“Aaakh...!” Si Macan Lembah Iblis menjerit melengking tinggi. Dada si Macan Lembah Iblis kontan tertancap senjatanya sendiri. Tubuhnya langsung ambruk, dan menggelepar di tanah. Darah tampak mengucur deras dari dadanya. Sejenak Rangga memandangi tubuh yang sudah tak bergerak-gerak lagi, kemudian kakinya terayun meninggalkan tempat itu.

Setelah Rangga pergi, orang-orang yang menyaksikan kejadian ini keluar, dan langsung mengerumuni mayat si Macan Lembah Iblis. Macam-macam gumaman terdengar saling sambut. Yang menang bertarung, tertawa-tawa senang. Sedangkan yang kalah menggerutu karena jagonya tewas.

Tak seorang pun yang mempedulikan ke mana Pendekar Rajawali Sakti pergi. Bagi mereka, seorang pendatang yang memperlihatkan kebolehannya merupakan satu tontonan biasa. Lain halnya Rangga. Kejadian barusan membuatnya jadi lebih banyak berpikir. Dia makin heran atas keadaan Desa Mayang yang dianggapnya aneh dan tidak wajar. Baru kali ini Rangga menemukan sebuah desa yang memiliki keanehan tersendiri.

********************

“Kau pulang larut sekali malam tadi.”

Pendekar Rajawali Sakti menoleh dan tersenyum begitu melihat Risman sudah duduk di sampingnya. Rangga memang pulang hampir pagi. Dan semua penghuninya sudah terlelap. Namun tidak diduga kalau Risman bisa mengetahui kedatangannya.

“Ke mana saja kau semalam?” tanya Risman lagi

“Jalan-jalan,” jawab Rangga, singkat.

“Kudengar, ada keributan semalam. Katanya si Macan Lembah Iblis tewas bertarung melawan seorang pendekar muda yang baru singgah di sini. Aku yakin pasti kau yang bertarung semalam,” duga Risman.

Rangga kaget dibuatnya. Begitu cepat berita itu tersiar. Sampai pagi-pagi begini, Risman sudah tahu apa yang terjadi semalam.

“Kau tahu, siapa si Macan Lembah Iblis itu?”
“Tidak,” sahut Rangga singkat.
“Dia adalah salah satu pengawal orang terpandang di desa ini,” jelas Risman.
“Maksudmu, kepala desa?”

“Lebih dari itu. Selain kepala desa, juga saudagar dan tuan tanah yang sangat kaya.”

“Hm. Siapa namanya?”
“Orang memanggilnya Gusti Pragala.”
“Lalu, apa yang membuatmu cemas?”

“Gusti Pragala pasti tidak akan menerima kematian pengawalnya. Masalahnya si Macan Lembah Iblis adalah kaki tangannya yang paling diandalkan dan dipercaya.”

“Kau takut?”

“Untuk apa? Semua orang menganggapmu hanya pendatang yang kebetulan singgah. Tak seorang pun yang tahu kalau kau ada di sini,” tegas Risman.

“Kecuali aku!” tiba-tiba terdengar suara keras menggelegar.

Rangga dan Risman kontan menoleh ke arah suara itu. Mereka cukup terkejut oleh suara yang bagai guntur tadi. Tampak di tengah-tengah halaman rumah berdiri seorang laki-laki tinggi besar. Dadanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan bulu-bulunya yang hitam lebat. Di pinggangnya tergantung sebilah pedang panjang dan besar bergagang perak. Wajahnya bengis dan kasar, penuh ditumbuhi brewok.

Perlahan-lahan Rangga bangkit berdiri, diikuti Risman. Pendekar Rajawali Sakti melangkah mendekati orang yang berdiri tegak dan angkuh di depan. Langkahnya baru berhenti setelah jaraknya tinggal satu batang tombak lagi. Matanya tajam merayapi orang di depannya. Agak berkerut juga kening Rangga ketika melihat tampang yang menyeramkan, persis raksasa kelaparan.

“Maaf. Apakah aku pernah mengenalmu, Kisanak?” Rangga membuka suara lebih dahulu. Mungkin saja ingatannya terlupa, barangkali dia pernah mengenal orang itu. Makanya dia bertanya seperti itu.

“Aku Rakyan Buto! Kedatanganku ke sini untuk menuntut balas atas kematian adikku semalam!” jawab Rakyan Buto.

“Hm. Jadi Macan Lembah Iblis itu adikmu?” tanya Rangga tenang sekali.

“Benar! Dan kau berhutang nyawa padaku!”

“Maaf. Aku tidak sengaja membunuhnya. Dialah yang ingin membunuhku. Dan aku hanya membela diri.”

“Phuih! Membela diri atau bukan, kau harus membayar nyawa adikku!”

Rangga melirik Risman yang kini sudah didampingi Badil dan istrinya. Wajah suami istri itu tampak begitu ketakutan, sampai-sampai lutut mereka gemetar. Hanya Risman yang kelihatan tenang. Bahkan matanya tajam mengawasi laki-laki tinggi besar yang ternyata bernama Rakyan Buto.

“Bersiaplah, Bocah!” sentak Rakyan Buto.

Setelah berkata demikian, Rakyan Buto langsung mencabut pedangnya. Sinar keperakan yang menyilaukan langsung berpendar begitu pedang keluar dari warangka. Sementara Rangga melangkah mundur dua tindak, bersiap-siap dengan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’.

Perlahan-lahan tangannya berubah jadi berwarna merah bagai terbakar. Pendekar Rajawali Sakti tidak mau tanggung-tanggung, karena sudah bisa menilai kalau lawan yang dihadapi memiliki ilmu yang tidak rendah. Maka langsung dikerahkannya jurus ke empat dari rangkaian lima jurus ‘Rajawali Sakti’.

“Hiyaaa...!” Rakyan Buto berteriak nyaring. Pada saat yang sama, tubuh tinggi besar itu melompat sambil mengibaskan pedangnya. Sinar putih keperakan berkelebat ke arah leher Rangga. Namun dengan sedikit menarik kepala, kibasan pedang itu lewat di depan lehernya. Dan belum lagi Rangga bisa berbuat sesuatu, kaki Rakyan Buto sudah melayang ke pinggang. Maka dia segera melompat, seraya mengirimkan satu tendangan keras ke arah kepala. Rakyan Buto merunduk cepat. Pertarungan tampak jadi berlangsung makin sengit. Masing-masing mengeluarkan ketinggian ilmunya.

Sementara, Rangga masih tetap mengerahkan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Sedangkan Rakyan Buto sudah menghabiskan tidak kurang dari lima jurus. Memasuki jurus keenam, Rakyan Buto semakin cepat dan berbahaya. Pedangnya berkelebat mengurung tubuh Rangga. Begitu cepatnya bergerak, sehingga yang terlihat hanya bayangannya. Bahkan ruang gerak Pendekar Rajawali Sakti sepertinya tertutup oleh kelebatan sinar-sinar keperakan dari pedang Rakyan Buto.

Rangga mengerahkan tingkatan terakhir dari jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Sinar yang keluar dari kedua tangannya semakin memancar mengalahkan sinar pedang Rakyan Buto. Sinar-sinar merah meluncur ke sana kemari, mengarah tubuh Rakyan Buto yang jadi kerepotan menghindarinya.

“Hiyaaa...!”
“Akh!”

Mendadak, Pendekar Rajawali Sakti berteriak keras. Bersamaan dengan itu, kedua tangannya bergerak cepat ke atas dan ke bawah, disertai putaran tubuhnya yang cepat bagai gasing. Sinar merah yang keluar dari telapak tangannya memancar ke segala arah. Dan salah satunya menghantam tangan kanan Rakyan Buto yang menggenggam pedang.

Rakyan Buto langsung melompat mundur. Pedangnya seketika terlepas dan tangan kanannya, hangus terbakar mengeluarkan asap tipis berwarna merah. Rakyan Buto meringis memegangi sebelah tangannya yang kini mati.

“Kurang ajar!” geramnya marah.

“Aku masih memberimu kesempatan hidup. Pergilah, jangan ganggu ketenangan kami!” ancam Rangga, dingin sekali.

“Phuih! Pantang bagiku mundur sebelum mencabut nyawamu!” dengus Rakyan Buto.

“Hm.... Rupanya kau termasuk orang yang keras kepala,” kata Rangga, sengit

“Sudah saatnya mengadu nyawa, Bocah!”

Rakyan Buto langsung merenggangkan kakinya. Kemudian, kedua tangannya merentang ke depan. Bibirnya sedikit meringis saat memaksakan tangan kanannya terangkat. Perlahan-lahan kedua tangannya diturunkan, lalu ditarik dengan siku tertekuk di samping dada. Rangga mengerutkan kening seperti pernah melihat jurus ilmu kesaktian itu. Tapi, entah di mana?

Dan belum memperoleh jawaban, mendadak seberkas sinar kuning meluncur cepat ke arahnya. Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti melompat. Maka sinar kuning itu hanya menghantam sebatang pohon hingga hancur.

“Edan!” dengus Rangga. “Aku tidak boleh main-main. Dia benar-benar ingin membunuhku!”

Saat sinar kuning yang kedua kembali meluncur, mau tak mau secepat kilat Rangga mengerahkan ilmu ‘Cakra Buana Sukma’. Yang langsung didorong dengan tangannya ke depan. Dua sinar saling bertemu di satu titik. Sinar biru dan kuning tampak saling mendorong, adu kekuatan. Beberapa saat, mulai kelihatan kalau sinar kuning semakin terdesak mundur. Padahal, Rakyan Buto sudah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong sinar biru. Tapi usahanya sia-sia. Ternyata sinar biru itu semakin kuat mendorong. Hingga akhirnya, seluruh sinar kuning lenyap dari pandangan. Bahkan kini kedua tangan Rakyan Buto telah diselimuti sinar biru.

“Hih, akh!” Rakyan Buto menggeliat. Terasa sekali kalau tenaga Rakyan Buto semakin tersedot keluar. Semakin mencoba untuk bertahan, semakin kuat tenaganya tersedot.

“Hiya...!” tiba-tiba Rangga berteriak nyaring. Suatu ledakan keras terdengar, seketika itu juga sosok tubuh Rakyan Buto terlontar ke belakang, kemudian sosok tubuh itu menggeliat-geliat meregang nyawa. Mati! Akibat terkena pukulan ilmu pamungkas Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga menarik kembali ajiannya. Sebentar ditariknya napas panjang. Sementara benaknya masih diliputi pertanyaan mengenai ilmu yang pernah dikenal beberapa waktu lalu. Sepertinya, ilmu seperti itu pernah dihadapinya. Tapi entah di mana, kapan dan dengan siapa. Belum sempat terjawab, Risman sudah berlari-lari ke arahnya. Risman berdiri sekitar tiga langkah di depan Rangga. Sementara Badil dan istrinya mengikuti. Mata mereka menatap Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar yang sulit dilukiskan.

“Keadaan kita sudah tidak aman lagi,” pelan suara Risman terdengar.

“Ya! Gusti Pragala pasti akan mengirim jago-jagonya ke sini,” lanjut Badil.

“Sebaiknya, kau segera pergi sebelum tubuhmu dicincang,” sambung Sadiah.

Rangga hanya mendesah seraya mengayunkan langkahnya menuju rumah kecil itu. Dia berbalik, lalu duduk di lantai beranda yang terbuat dari papan. Pikirannya tidak terpusat pada kekhawatiran ketiga orang itu, tapi masih tertuju pada ilmu yang tadi dikerahkan Rakyan Buto. Rangga yakin sekali kalau pernah bentrok dengan seseorang yang memiliki ilmu kesaktian seperti itu. Hanya saja, tingkatannya lebih kuat dan dahsyat.

********************

Pendekar Rajawali Sakti

Malam telah merayap naik. Udara di sekitar Desa Mayang semakin dingin. Sejak sore Rangga keluar rumah ingin menyelidiki keadaan desa yang menurutnya punya ciri khas tersendiri. Sementara di beranda depan, Risman duduk ditemani Badil dan istrinya.

Sejak Rangga pergi, tak seorang pun yang bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Risman menghela napas panjang, sebelum meneguk kopinya yang sudah dingin. Matanya merayapi sekitarnya. Hanya kegelapan saja yang nampak menyelimuti bagai di tengah-tengah kuburan. Onggokan debu dari tubuh Rakyan Buto, perlahan-lahan mulai terkikis terbawa angin malam.

“Aku belum yakin kalau dia Pendekar Rajawali Sakti,” gumam Badil memecah kesunyian.

“Kau tidak lihat pedang di punggungnya tadi, Kakang?” Risman membantah dugaan Badil.

“Tidak sedikit senjata yang memiliki gagang berbentuk kepala burung. Menurut keterangan yang kudengar, pedang Pendekar Rajawali Sakti memancarkan sinar biru yang sangat terang dan menyilaukan mata,” tegas Badil.

“Kau sudah melihat saat dia menggunakan pedang itu, Risman?” tanya Sadiah ikut bicara.

“Belum,” sahut Risman terus terang.
“Nah! Kenapa kau begitu yakin?”
“Dari ciri-cirinya!” Risman tetap pada pendiriannya.
“Aku hanya mengingatkanmu, Risman,” kata Badil.
“Terima kasih,” ucap Risman.
Beberapa saat mereka kembali terdiam.

“Sudah dua tokoh sakti tewas di tangannya. Dan mereka bukanlah orang sembarangan. Aku jadi sangsi, semuanya akan gagal,” Sadiah bergumam pelan.

“Hilangkan keraguanmu, Sadiah! Kita harus selalu bersikap wajar sebelum yakin bahwa dia benar-benar Pendekar Rajawali Sakti!” celetuk Badil.

“Iya, kalau benar. Kalau salah?”

“Masih ada waktu. Dan kukira pemuda itu bisa diandalkan. Lihat saja! Rakyan Buto yang begitu sakti dan tidak ada tandingannya tewas di tangannya?!” Risman mencoba meyakinkan.

“Rakyan Buto dan Macan Lembah Iblis masih jauh tingkatannya dibandingkan...,”

Sadiah tidak meneruskan kata-katanya. Mereka seketika mengalihkan pandangan ke depan. Tampak Pendekar Rajawali Sakti berjalan santai ke arah mereka. Rangga tersenyum dan mengangguk begitu kakinya menginjak lantai beranda yang terbuat dari belahan papan. Tanpa dipersilakan lagi, dia duduk di samping Risman.

“Dari mana?” tanya Sadiah lembut.

“Jalan-jalan,” sahut Rangga.

“Bagaimana menurutmu keadaan desa ini?” tanya Badil basa-basi.

“Menyenangkan! Seperti bukan sebuah desa. Terlalu besar dan ramai, bagai kadipaten.”

“Memang begitu keadaannya. Mungkin nanti desa ini juga akan berubah jadi kadipaten, atau bisa jadi kerajaan kecil,” celetuk Risman agak bergumam.

Risman mengalihkan wajah saat menyadari tengah dipandangi oleh Badil dan Sadiah.

“Yah, memang pantas desa ini diubah jadi kadipaten,” sambut Rangga polos.

Ketiga orang itu saling berpandangan. Tatapan mata Sadiah sedikit tajam memandang mata Risman. Sementara, Rangga bangkit. Setelah berbasa-basi sebentar, kakinya melangkah ke dalam rumah. Tubuhnya terasa pegal-pegal. Dia ingin menikmati istirahat sejenak untuk melemaskan otot-ototnya.

“Risman, jaga mulutmu!” sentak Sadiah tertahan, begitu Pendekar Rajawali Sakti sudah tak terlihat lagi.

“Maaf, aku keterlepasan bicara,” sahut Risman.

“Huh! Untung dia tidak curiga,” dengus Badil pelan.

“Mudah-mudahan saja begitu, sampai rencana kita terlaksana,” gumam Sadiah.

Risman mengangkat bahunya, lalu beranjak meninggalkan beranda. Langkahnya tertahan ketika Sadiah memanggil.

“Mau ke mana kau?” Sadiah balik bertanya.

“Keluar, cari hiburan,” sahut Risman kalem.

“Ingat! Kau harus hati-hati, Risman!” Badil mengingatkan.

“Jangan khawatir! Aku bisa jaga diri!”

Risman kembali melangkahkan kakinya. Tinggal Badil dan Sadiah di situ. Mata mereka lurus menatap punggung Risman yang semakin menghilang ditelan kegelapan malam.

“Anak itu perlu diawasi, Kakang,” kata Sadiah pelan.

“Aku percaya, dia sudah cukup dewasa, sehingga bisa memilih mana yang harus dikerjakan dan ditinggalkan,” sahut Badil kalem.

“Tapi....”

“Ah, sudahlah. Tidak perlu dicemaskan. Mungkin di dalam kepalanya ada rencana yang tidak kita ketahui. Buah pikirnya selalu cemerlang,” ada nada pujian pada suara Badil.

“Terserahlah. Tapi kau harus ingat, Kakang. Mulutnya gampang terbuka!”

“Sebaiknya, kau istirahat saja,”

Badil tidak mempedulikan kekhawatiran Sadiah. Wanita ayu berkulit kuning langsat itu mengangkat pundaknya, lalu melangkah masuk. Badil menghela napas panjang begitu tubuh Sadiah lenyap di balik pintu. Sebentar dia masih duduk di kursi bambu, kemudian beranjak masuk juga. Keadaan di dalam rumah lengang sekali. Cahaya yang ada hanya sebuah pelita dari buah jarak kecil yang tergantung di tengah-tengah ruangan depan. Sementara malam merayap larut, angin pun semakin dingin berhembus.

********************

Risman terkejut ketika tiba-tiba langkahnya dihadang lima orang bertampang sangar yang masing-masing menggenggam tongkat panjang. Dan begitu berbalik, ternyata di belakangnya sudah muncul lima orang lagi, bersenjatakan tongkat juga. Dan, tiba-tiba muncul, masing-masing dari samping kanan dan samping kiri.

Kini Risman dikepung tidak kurang dua puluh orang. Beberapa saat Risman berputar memandang wajah-wajah pengepung yang tidak dikenalnya. Menyesal dia hanya membawa pisau-pisau kecil yang tersembunyi di balik ikat pinggangnya.

“Siapa kalian? Dan apa maksudnya menghalangi jalanku?” tanya Risman bersikap waspada.

“Kau tidak perlu tahu tentang kami! Saat ini, kau hanya boleh menyebut nama leluhurmu!” jawab salah seorang dingin.

“Aku tidak kenal kalian. Apa urusannya sehingga kalian menginginkan nyawaku?” Risman sudah bisa mengerti maksud orang-orang ini.

“Kau pengkhianat, Risman!”
“Aku...?!”

Belum sempat Risman meneruskan kalimatnya, tiba-tiba empat orang sudah melompat sambil mengayunkan tongkatnya yang panjang. Risman cepat melompat sambil menangkis tongkat-tongkat yang mengancam tubuhnya. Beberapa saat pertarungan berlangsung, sudah kelihatan kalau kepandaian Risman jauh di atas keempat penyerangnya.

Pada satu kesempatan, ketika salah seorang menyodokkan tongkat dari samping kanan, Risman cepat menarik tubuhnya ke belakang. Lalu secepat kilat tangannya menangkap tongkat itu, dibarengi satu tendangan telak yang langsung menghajar perut penyerangnya.

“Hugh!” orang itu mengeluh tertahan.

Gerakan Risman begitu cepat, tahu-tahu tongkat panjang itu sudah berpindah ke tangannya. Belum lagi orang itu sempat menyadari apa yang terjadi, Risman langsung mengayunkan tongkat rampasannya dengan deras sekali ke arah kepala si pemilik tongkat.

Trak!

Orang itu kontan meraung keras sambil memegangi kepalanya yang pecah oleh tongkatnya sendiri. Sebentar dia mampu berdiri, sebelum tubuhnya ambruk menggelepar di tanah. Risman menyilangkan tongkat rampasannya di depan dada, begitu melihat salah satu lawannya tewas dengan kepala pecah.

“Serang...!”

Satu teriakan keras terdengar diikuti berlompatannya sepuluh orang lainnya. Kini Risman dikurung rapat dari segala penjuru. Mereka memutar-mutar tongkat, dan mengebut-ngebutkan hingga di sekitarnya tercipta angin menderu-deru bagai terjadi badai topan. Risman menggerakkan kakinya berputar sambil menggerak-gerakkan tongkat. Matanya tajam mengawasi setiap orang yang mengepungnya. Tiga belas orang kini bergerak memutar, sambil memainkan tongkat.

“Mulai...!” Begitu terdengar teriakan keras, mereka semua berlompatan sambil mengayunkan tongkat.

Sementara Risman memutar tongkat rampasannya dengan cepat bagai baling-baling, sehingga menjadikan perisai bagi dirinya.

Trak, trak, trak!

Suara-suara tongkat beradu memekakkan telinga, ditingkahi teriakan semangat pertempuran. Risman agak kewalahan juga menghadapi banyak pengeroyok, meskipun rata-rata kepandaiannya berada di bawah.

“Hih!”

Risman mengebutkan tangannya seketika.

“Aaakh...!” Satu jeritan melengking terdengar begitu sebuah cahaya keperakan berkelebatan dari tangan kiri Risman yang bergerak cepat. Rupanya satu pisaunya telah digunakan untuk mengurangi daya tahan penyerangnya. Belum lagi hilang jeritan tadi, tak lama disusul jeritan lain berturut-turut.

Satu persatu, tubuh-tubuh penyerang itu bergelimpangan dengan beberapa bagian tubuh tertancap pisau kecil dari perak murni. Dalam waktu tidak berapa lama saja, sudah lima mayat tergeletak dengan tubuh tertancap pisau. Melihat hal ini, para penyerangnya jadi gentar juga. Mereka serentak berlompatan mundur dengan sikap tetap waspada.

“Hm.... Sebaiknya kalian menyingkir sebelum semua kuhabisi!” dengus Risman dingin bergetar.

“Phuih! Jangan berbangga hati dulu, Pengkhianat! Hadapi aku!”

Sebuah bayangan merah berkelebat cepat. Tahu-tahu di depan Risman berdiri seorang laki-laki tua berjubah merah longgar. Wajahnya kurus berkeriput, dengan mata merah menatap tajam tak berkedip. Seluruh rambutnya sudah berwarna putih tergulung ke atas. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat berwarna merah berkeluk-keluk bagai ular.

Risman melangkah mundur dua tindak. Dia tahu siapa yang kini berdiri di depannya. Seorang yang dikenal berjuluk Setan Jubah Merah, tokoh sakti dan sulit dicari tandingannya. Tongkat merahnya sungguh dahsyat, dan mengandung racun yang bekerja cepat dan sangat mematikan. Risman bergidik, dan ragu akan kemampuannya. Sungguh disadari, siapa lawan yang akan dihadapi.

“Mundur!” Setan Jubah Merah merentangkan tangannya. Orang-orang bertongkat itu langsung melangkah mundur. Sedangkan Setan Jubah Merah maju mendekat dan berhenti, setelah jaraknya tinggal tiga langkah di depan Risman. Kedua bola matanya yang merah, menatap tajam.

“Aku diperintahkan untuk membawamu, Risman. Kau harus diadili di depan ketua agung!” datar suara Setan Jubah Merah terdengar.

“Tidak semudah itu, Setan Jubah Merah!” dengus Risman.

“Sayang sekali. Aku diperintahkan untuk membawamu hidup-hidup,” gumam Setan Jubah merah agak menggeram.

“Dan aku akan membunuhmu di sini!” tantang Risman.

Setan Jubah Merah menggeram keras. Kata-kata Risman membuatnya marah sekali. Maka tanpa banyak kata lagi, langsung diserangnya anak muda itu dengan jurus-jurus pendek tangan kosong. Sedangkan Risman melayaninya dengan sungguh-sungguh. Dia sadar kalau kepandaiannya jauh di bawah si Setan Jubah Merah.

Sehingga, jurus mautnya terpaksa harus dikerahkan. Agak kerepotan juga Setan Jubah Merah menghadapi jurus-jurus tangan kosong Risman yang begitu cepat dan sangat berbahaya. Dia segera melompat ke udara, lalu cepat menukik sambil mengayunkan kakinya.

Risman yang tidak menyangka akan mendapat bokongan, tidak bisa lagi mengelak. Tendangan Setan Jubah Merah telak mendarat di punggungnya, sehingga membuatnya terjungkal beberapa langkah ke depan. Buru-buru tubuhnya berbalik dan bersiap-siap. Sementara Setan Jubah Merah berdiri tegak mengawasi.

“Hih!” Risman mengangkat tangan kanannya ke atas, lalu perlahan-lahan diturunkan dengan gemetaran. Kemudian, tangan itu berhenti di depan mukanya. Sedangkan tangan kiri menyilang di depan dada. Melihat Risman mengeluarkan jurus andalan terakhirnya, Setan Jubah Merah segera mengimbanginya.

“Hiyaaa...!"

Risman melompat sambil memekik nyaring. Setan Jubah Merah juga melompat cepat. Kedua tangan Risman bergerak cepat selagi di udara. Sementara Setan Jubah Merah mengimbanginya dengan menggerakkan tangannya dengan cepat pula.

Des!

Satu pukulan keras mendarat di dada Risman tanpa mampu menangkis lagi. Tubuh Risman langsung menukik deras ke tanah. Tubuhnya bergulingan beberapa kali, sebelum mampu bangkit dengan sempoyongan. Setan Jubah Merah mendarat manis di tanah. Dia berdiri tegak sambil bertolak pinggang dengan bibir tersenyum meremehkan.

“Ikat dia!” perintah Setan Jubah Merah.

Empat orang langsung melompat maju sambil mengeluarkan seutas tambang. Mereka cepat memutar-mutar tambangnya dan melemparkan ke arah Risman. Dua tambang berhasil dihindari. Tapi satu tambang lain telah membelit lengan kanannya, dan satu lagi mengikat kaki kiri. Belum juga Risman sempat berbuat sesuatu, dua tambang lagi sudah menjerat tangan dan kakinya yang masih bebas.

Bruk!

Tak ampun lagi, Risman jatuh dengan kaki dan tangan terikat. Sia-sia dia memberontak, karena ikatan itu begitu kuat membelenggu. Bahkan dadanya semakin terasa sesak setiap kali tenaganya dikerahkan un-tuk melepaskan diri.

“Seret!” perintah Setan Jubah Merah.

Dua orang memegangi tambang. Sementara dua lagi mengikuti dari belakang. Sedangkan dua orang lagi menyeret dari depan. Risman benar-benar tidak berdaya lagi dibuatnya. Si Setan Jubah Merah tertawa-tawa mengikuti dari belakang.

“Lepaskan! Kubunuh kalian semua!” teriak Risman terus meronta-ronta.

“Diam, Bocah!” bentak Setan Jubah Merah.

“Kau akan menyesal, Setan Jubah Merah!” geram Risman.

“Jangan menggertak, Bocah. Kalau bukan ketua agung yang memerintah, sudah sejak tadi kubunuh kau, Pengkhianat!” Setan Jubah Merah tidak kalah gertak.

“Phuih!” Risman meludah geram.

“Ha ha ha...!” Setan Jubah Merah hanya tertawa saja terbahak-bahak.

Risman terus diseret, tanpa mampu berbuat apa-apa lagi. Punggungnya jadi babak belur dan terasa perih, mungkin akibat terseret. Mulutnya meringis saat beberapa ranting tajam menusuk punggungnya. Hingga sepanjang jalan yang dilalui darah berceceran bercampur debu.

“Kubunuh kau, Setan Jubah Merah! Kubunuh kauuu...!” teriak Risman berulang-ulang.

“Ha ha ha...!” Setan Jubah Merah hanya tertawa saja.

Risman hanya bisa berteriak-teriak melampiaskan kemarahannya, namun apa dayanya lagi? Dia tahu, apa yang akan diterima kalau sudah dihadapkan pada ketua agung nanti. Dan itu memang sudah diperhitungkannya sejak semula. Hanya saja, sungguh tidak disangka kalau sampai secepat ini.

Dalam hati, dia mengumpat habis-habisan karena tidak membawa senjata tadi. Kalau saja Risman membawa senjata pusaka, rasanya hal seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Paling tidak, dia masih bisa meloloskan diri sebelum mereka berhasil menangkapnya. Dalam hati, dia mengutuk dirinya sendiri! Kenapa begitu tolol meninggalkan pusaka di rumah!

Otaknya terus berputar, mencari cara agar dapat meloloskan diri. Tapi keadaannya saat ini memang tidak menguntungkan. Begitu banyak yang mengawal. Belum lagi ada si Setan Jubah Merah yang berjalan di ujung kakinya. Keadaan Risman kali ini benar-benar terjepit, tidak ada celah untuk membebaskan diri.

Sementara, malam makin larut. Angin dingin berhembus lebih kencang, membawa titik-titik embun yang jatuh ke tanah. Sedangkan segala kegiatan malam Desa Mayang tampaknya mulai memudar. Beberapa kedai sudah terlihat tutup. Lampu-lampu penerang jalan sudah banyak dipadamkan. Risman terus diseret melintasi jalan utama. Tak seorang pun yang mau peduli. Siapa orang yang tidak kenal Setan Jubah Merah? Mencampuri urusan Setan Jubah merah, sama saja menyerahkan nyawa sia-sia.

********************

Rangga membasuh mukanya di pancuran yang terletak di belakang rumah. Kepalanya menoleh ketika mendengar suara langkah halus menghampirinya. Bibirnya langsung tersenyum begitu melihat Sadiah datang membawa sekeranjang cucian.

“Pagi-pagi begini sudah ingin mencuci?” tegur Rangga ramah.

“Sudah biasa,” sahut Sadiah, seraya meletakkan keranjang cuciannya.

“Oh. Ya. Aku tidak melihat Risman pulang semalam. Ke mana dia, ya?” Rangga seperti bertanya pada diri sendiri.

“Ah! Paling-paling, ke rumah Surti,” sahut Sadiah, acuh.
“Surti? Siapa dia?” tanya Rangga.
“Biasa,” masih acuh jawaban Sadiah.

Rangga jadi berkerut keningnya. Sulit dimengerti jawaban Sadiah yang bernada tidak mau tahu itu. Belum Rangga bertanya lebih lanjut, Badil datang menghampiri. Laki-laki tinggi tegap berkulit sawo matang itu langsung menyeret Rangga begitu sampai. Tentu saja sikap Badil yang aneh ini semakin membuat Pendekar Rajawali Sakti jadi kebingungan. Sadiah juga mengikuti, tidak peduli pada cuciannya yang sudah basah.

Badil langsung saja membawa Rangga ke dalam rumah. Segera ditutupnya semua pintu dan jendela. Sebentar sebelah matanya mengintip keluar dari celah-celah daun jendela. Kemudian, tubuhnya berbalik menghadapi Rangga yang hanya berdiri saja tak mengerti atas sikap Badil yang aneh ini. Sadiah juga berdiri saja di samping Pendekar Rajawali Sakti.

“Ada apa?” tanya Rangga tidak sabar.

“Celaka!” suara Badil agak tertahan di kerongkongan. Napasnya juga jadi tersengal.

“Celaka? Apa yang terjadi?!” tanya Sadiah mendekati suaminya.

“Risman! Aduh..., celaka besar. Bisa kiamat, nih urusannya!”

“Tenang! Apa yang terjadi pada Risman?” Rangga berusaha menenangkan.

Sadiah menuangkan air kendi ke dalam gelas, dan menyerahkannya pada Badil. Laki-laki itu meneguk air yang diberikan istrinya dengan tangan gemetaran. Sebentar napasnya diatur agar lebih tenang sedikit. Lalu, dia duduk di kursi menghadapi meja bundar yang ada di tengah-tengah ruangan ini.

“Ceritakan, apa yang terjadi terhadap Risman?” tanya Rangga.

“Orang-orang mengatakan kalau Risman semalam ditangkap,” suara Badil sudah terdengar lebih tenang.

“Ditangkap? Ditangkap siapa?” nada suara Sadiah terdengar cemas.

“Setan Jubah Merah,” sahut Badil.

Sadiah memekik kecil sambil mendekap mulutnya. Kedua bola matanya berputar seperti tidak percaya pada pendengarannya sendiri. Sejak semalam Risman memang belum pulang. Malah, baru saja Rangga menanyakan. Sadiah duduk dekat Badil. Tangannya menggenggam tangan suaminya erat-erat. Tatapannya lurus menusuk langsung ke bola mata laki-laki tegap itu.

“Kau tidak bergurau kan, Kakang?” tanya Sadiah masih tidak percaya.

“Aku sungguh-sungguh, Sadiah. Semalam Risman ditangkap. Kedua tangan dan kakinya diikat, lalu diseret melalui jalan utama desa. Itu yang kudengar dari orang-orang,” jelas Badil. Suaranya terdengar sungguh-sungguh.

“Apa ada yang melihat?” tanya Sadiah lagi.

“Banyak. Malah Surti juga melihat.”

“Lalu?”

Badil tidak langsung bisa menjawab, karena tidak tahu lagi harus berkata apalagi. Ini memang sudah jadi bahan pikirannya, begitu Risman mengemukakan maksudnya pada mereka. Dan kini, apa yang dikhawatirkan jadi kenyataan. Maka, tidak mustahil mereka berdua akan ikut terlibat. Perlahan-lahan kepala Badil terangkat. Matanya langsung tertuju pada Rangga yang masih tetap berdiri di tempatnya. Sadiah juga memandang ke arah yang sama. Dari tatapan mata mereka, jelas terpancarkan satu permintaan yang sulit diucapkan oleh kata-kata.

Pendekar Rajawali Sakti menghampiri dan duduk di depan suami istri itu. Beberapa saat lamanya mereka hanya membisu. Tidak ada yang berusaha memulai percakapan. Hanya sinar mata saja yang banyak mengatakan sesuatu. Sesuatu yang terkandung di dalam hati, namun sulit dikeluarkan.

“Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Rangga. Suaranya terdengar datar, tanpa tekanan sama sekali.

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Rangga. Suami istri itu hanya saling pandang saja. Berat rasanya bagi mereka untuk mengatakan yang sebenarnya pada Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan sekali Sadiah menganggukkan kepala. Kemudian Badil menatap pemuda yang duduk di depannya dengan sorot mata agak tajam.

“Apakah kau benar-benar Pendekar Rajawali Sakti?” Badil malah bertanya.

Rangga tersenyum dan mengangguk. Hatinya diliputi berbagai macam pertanyaan yang belum juga terjawab. Dia tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Dan, mengapa Badil meragukan kalau dirinya Pendekar Rajawali Sakti? Memang tidak semua orang kenal Rangga. Lebih-lebih, Badil yang hanya seorang petani menurut pengakuannya sendiri.

“Apa buktinya kalau kau Pendekar Rajawali Sakti?” Badil masih belum percaya juga.

“Terus terang, aku tidak mengerti apa sebenarnya yang kau inginkan?” Rangga semakin bingung jadinya.

“Kami membutuhkan seorang pendekar pilih tanding. Dan menurut keterangan yang kudapat, hanya ada seorang pendekar yang bisa membantu. Dialah Pendekar Rajawali Sakti,” tegas juga kata-kata Badil, seperti bukan seorang petani biasa saja.

“Hm.... Aku jadi semakin tidak mengerti,” gumam Rangga.

“Kau akan mengerti kalau dirimu benar-benar seorang pendekar pilih tanding, seperti yang kami butuhkan saat ini,” celetuk Sadiah.

“Kalau aku bukan pendekar yang kalian butuhkan?” Rangga memberi pilihan juga.

“Terpaksa kami meninggalkanmu di sini,” tegas jawaban Badil.

“Lantas, apa yang kau ketahui tentang Pendekar Rajawali Sakti?” pancing Rangga.

“Dia memiliki pedang sakti yang bisa memancarkan sinar biru. Memang, ciri-cirinya ada semua padamu. Tapi aku belum yakin kalau belum menyaksikan Pedang Pusaka Pendekar Rajawali Sakti!” sahut Badil.

“Baiklah, lihat!”

Sret!

Rangga meloloskan pedang pusaka dari warangka di punggung. Seketika itu juga, ruangan ini jadi terang benderang oleh sinar biru yang terpancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Badil dan Sadiah kontan ternganga menyaksikan pamor pedang yang begitu dahsyat. Sebentar kemudian Rangga memasukkan kembali pedangnya, sebelum Badil dan Sadiah hilang rasa takjubnya.

“Kau sudah melihat sendiri. Nah! Masih belum percaya juga?” dengus Rangga.

“Baiklah! Aku percaya, kau memang Pendekar Rajawali Sakti,” sahut Badil.

“Tidak ada seorang pendekar pun yang memiliki pedang seperti itu,” sambung Sadiah.

“Nah! Sekarang katakan, apa sebenarnya yang terjadi pada kalian?” desak Rangga agak dingin suaranya.

Sebentar Badil menarik napas panjang sebelum menjawab permintaan Pendekar Rajawali Sakti. Diliriknya Sadiah yang duduk di sampingnya. Sedangkan Sadiah hanya menganggukkan kepala dengan bibir tersenyum tipis.

Rangga menunggu sabar dengan mata tetap tajam menatap Badil yang masih diam. Dia memang tengah mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk dikeluarkan. Sementara, Sadiah bangkit berdiri dan melangkah ke belakang. Tidak lama, wanita itu kembali lagi bersama baki di tangannya. Baki itu tertutup kain berwarna merah tua, dan berenda benang emas. Sadiah meletakkan baki itu di atas meja, kemudian duduk di samping Badil.

“Aku dan Sadiah sebenarnya bukan suami istri,” Badil memulai.

“Ya! Sebenarnya kami dua orang pelarian. Seperti juga Risman,” sambung Sadiah.

“Hm, teruskan,” pinta Rangga agak kaget juga.

“Berminggu-minggu kami mencari pendekar pilih tanding, tapi belum juga berhasil. Suatu saat, aku mendengar kalau saat ini ada seorang pendekar pilih tanding yang sangat digdaya. Aku mencari keterangan lebih jelas. Dan ternyata pendekar itu adalah kau sendiri, Rangga,” lanjut Badil.

“Lantas, apa yang harus kukerjakan?” tanya Rangga.

“Membantu kami membebaskan Gusti Prabu,” sahut Sadiah.

Rangga mengerutkan keningnya. Pendekar Rajawali Sakti semakin tidak mengerti saja dengan semua yang dialaminya saat ini. Semua yang diketahui, semakin membuatnya bingung dan bertanya-tanya. Belum begitu jelas, apa sebenarnya yang terjadi. Dan, siapa sebenarnya Badil, Sadiah, dan Risman?

“Bisa kalian ceritakan lebih jelas?” pinta Rangga.

“Sebenarnya, Risman adalah putra mahkota Kerajaan Bantar. Namanya pun bukan Risman, tapi Raden Sanjaya. Dan aku sendiri seorang panglima, namaku Panglima Gadalarang. Sedangkan Sadiah, aslinya bernama Putri Kencana Wungu, kakak putra mahkota Raden Sanjaya.” Badil menjelaskan siapa sebenarnya mereka bertiga.

“Dulu, Desa Mayang ini sebenarnya sebuah kerajaan kecil bernama Kerajaan Bantar. Makanya, keadaannya tidak seperti sebuah desa biasa. Bahkan lebih daripada kadipaten,” sambung Sadiah atau Putri Kencana Wungu.

“Kenapa bisa jadi seperti sekarang ini?” tanya Rangga mulai sedikit mengerti.

“Kira-kira tiga tahun yang lalu, segerombolan pemberontak mengacau Kerajaan Bantar ini. Mereka merampas istana, dan menggulingkan Gusti Prabu Bantar Kencana. Mereka menduduki singgasana sampai sekarang. Sebenarnya, kami sudah berusaha merebut kembali, tapi Gagak Item terlalu tangguh. Belum lagi, para pengawalnya yang rata-rata memiliki tingkatan tidak rendah. Akhirnya kami tinggal bertiga dan memutuskan untuk mencari bantuan dari para pendekar beraliran putih. Yaaah..., seperti yang kau lihat. Usaha kami masih belum berhasil. Sudah banyak para pendekar dan tokoh sakti golongan putih yang mencoba membantu. Tapi, semuanya tidak ada yang berhasil,” Badil, yang sebenarnya Panglima Gadalarang, menceritakan awal mulanya.

“Kakang Sanjaya kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Gagak Item. Dia menyamar sebagai seorang pengembara beraliran hitam, dan memakai nama Risman, sedangkan aku jadi Sadiah. Dengan begini, kami masih bisa bertahan hidup sampai sekarang sambil menyusun kekuatan baru,” sambung Putri Kencana Wungu.

“Aku tidak tahu, mungkin penyamaran Risman sudah terbongkar. Dan ini bisa mencelakakan kita semua. Rencana yang telah kami susun selama satu tahun bisa berantakan,” Panglima Gadalarang sedikit mengeluh.

Rangga mengangguk-anggukkan kepala, mulai mengerti semuanya. Pantas, mereka bertiga seperti menyimpan sesuatu yang sangat dirahasiakan. Dan keadaan desa ini begitu aneh. Tidak mencerminkan sebuah desa, tapi lebih mirip sebuah kadipaten atau kerajaan kecil. Rangga jadi ingat kata-kata Risman. Putra mahkota yang sebenarnya bernama Raden Sanjaya itu pernah keterlepasan bicara. Dan itu mendapat sorotan mata tajam dari Panglima Gadalarang dan Putri Kencana Wungu.

Kini Pendekar Rajawali Sakti mulai mengerti segalanya. Rupanya, Risman saat itu memang ingin melepaskan diri dari Gerombolan Gagak Item. Namun nasibnya malang, karena mendapat cidera ketika berusaha membantu rakyat desa yang diamuk Gerombolan Gagak Item. Memang Raden Sanjaya tidak tega rakyatnya dibasmi seperti binatang. Syukur dia masih bisa melarikan diri, dan diselamatkan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi, kini entah bagaimana nasibnya.

“Apakah selama itu Gerombolan Gagak Item tidak mengenali kalian?” tanya Rangga masih tanda tanya juga.

“Tidak! Tidak seorang pun yang bisa mengenali, kecuali rakyat kami sendiri. Dan selama ini, rakyat kami tutup mulut. Bahkan banyak membantu memberi keterangan. Beberapa di antaranya yang masih muda-muda, rela mengangkat senjata membentuk barisan,” jelas Panglima Gadalarang.

“Bagaimana mungkin tidak ada yang mengenali kalian?”

“Saat peristiwa pemberontakan berlangsung, aku, Raden Sanjaya, dan Putri Kencana Wungu tengah mengunjungi ayahanda Prabu Bantar Kencana di Kerajaan Magada. Kami sendiri baru tahu dari salah seorang punggawa yang berhasil lolos sampai ke Magada,” jelas Panglima Gadalarang lagi.

“Hm.... Apa ada orang kerajaan yang terlibat dalam pemberontakan ini?” tanya Rangga lagi.

“Ada, namanya Patih Batang Kati. Dia memang sangat berminat untuk menjadi raja,” sahut Putri Kencana Wungu.

“Tidak masuk akal kalau dia tidak mengenali kalian,” gumam Rangga pelan.

“Patih Batang Kati tewas dibunuh Gagak Item,” tegas Putri Kencana Wungu.

“Oh!” Rangga terkejut.

“Patih Batang Kati hanya diperalat. Dan setelah Kerajaan Bantar runtuh, dia tidak dipakai lagi dan dibunuh. Kini yang menguasai seluruh Kerajaan Bantar si Gagak Item. Kemudian, kerajaan ini diganti namanya jadi Desa Mayang,” jelas Panglima Gadalarang.

“Hm...,” Rangga menggumam seraya mengangguk-anggukkan kepala.

“Sekarang kami baru punya kekuatan sekitar dua ratus orang pemuda sukarela. Mereka kini tengah menjalani gemblengan ilmu keprajuritan di Gunung Panggang, di bawah bimbingan Panglima Bagar Lintang dan beberapa punggawa Kerajaan Magada,” Panglima Gadalarang menjelaskan lagi.

“Berapa kekuatan Gerombolan Gagak Item?” tanya Rangga.

“Lebih dari seratus orang,” sahut Panglima Gadalarang.

“Ah! Kekuatanmu sudah lebih dari cukup!” seru Rangga.

“Memang, kalau mereka semua para prajurit. Tapi mereka bukan prajurit, dan hanya pemuda biasa yang merasa terinjak dan setia pada Gusti Prabu Bantar Kencana. Mereka tidak mengerti sama sekali tata keprajuritan. Kekuatan lima ratus orang juga tidak akan mampu menandingi seratus orang anak buah Gagak Item yang rata-rata memiliki kepandaian tidak rendah, dan sudah berpengalaman dalam medan pertempuran,” kata Panglima Gadalarang.

Rangga mengangguk-anggukkan kepala lagi. Kata-kata Panglima Gadalarang memang benar. Tidak mungkin pemuda desa digembleng ilmu keprajuritan dalam waktu singkat. Bahkan untuk menandingi mereka yang sudah berpengalaman dalam medan pertempuran. Satu pekerjaan bunuh diri, kalau hal ini dipaksakan. Mereka terus berbicara panjang lebar, dan Rangga lebih banyak bertanya, yang kemudian dijawab Panglima Gadalarang bergantian bersama Putri Kencana Wungu. Mereka baru berhenti, setelah hari menjelang senja. Rangga sudah banyak mendapat penjelasan, dan kini sudah benar-benar mengerti permasalahannya.

********************

EMPAT

Sementara itu di sebuah bangunan megah yang dikelilingi tembok besar dan tinggi bagai sebuah benteng, tampak seorang laki-laki bertangan buntung duduk di kursi bertahtakan manik-manik indah, berlapiskan emas murni. Laki-laki itu sudah berumur, tapi masih kelihatan gagah. Sinar matanya tajam menatap seorang pemuda berpakaian koyak dan kotor berdebu. Bercak-bercak darah kering masih melekat di tubuhnya. Dari raut wajahnya yang kotor penuh bercak darah, dapat diketahui kalau pemuda itu adalah Risman, yang sebenarnya Raden Sanjaya.

“Memalukan! Benar-benar memalukan!” geram laki-laki bertangan buntung itu.

Dialah Wiratma yang sekarang memakai nama Gagak Item, dan juga bergelar Gusti Pragala. Perlahan-lahan kepala Raden Sanjaya terangkat. Sinar matanya sangat tajam, menerobos langsung ke bola mata Gagak Item.

“Rapi sekali cara kerjamu. Sehingga, begitu lama aku sampai tidak tahu siapa kau sebenarnya. Raden Sanjaya..., Putra Mahkota Kerajaan Bantar yang perkasa, cerdik, dan lihai menyamarkan diri. Sayang..., sayang sekali kau harus berhadapan dengan Gagak Item!”

“Kau pikir aku takut? Phuih!” Raden Sanjaya menyemburkan ludahnya sengit.

“Ha ha ha..., tikus kecil yang malang,” Gagak Item menggeleng-gelengkan kepala. Suara tawa lepas berderai, memenuhi ruangan besar yang indah ini. Raden Sanjaya berdiri tegak, meskipun kedua tangannya terikat ke belakang. Tatapan matanya masih tajam, dan raut wajahnya menegang memancarkan ke-bencian yang sangat. Gerahamnya bergemeletuk menahan amarah. Raden Sanjaya merasakan rongga dadanya jadi sesak, menahan rasa marah yang bergolak.

“Setan Jubah Merah!” panggil Gagak Item keras. Setan Jubah Merah melangkah maju beberapa tindak ke depan. Badannya dibungkukkan sedikit untuk memberi hormat.

“Pergi ke rumah petani Badil! Seret dia ke sini sekarang juga!” perintah Gagak Item.

“Jangan!” sentak Raden Sanjaya cepat. “Dia tidak bersalah! Jangan ganggu dia!”

“Kerjakan perintahku, cepat!” bentak Gagak Item.

Setan Jubah Merah berlalu setelah memberi hormat. Raden Sanjaya ingin mencegah, tapi empat orang bersenjata tombak sudah menghadang, dan menempelkan ujung mata tombak di tubuhnya. Raden Sanjaya menggereng murka, namun tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya matanya saja yang menatap tajam, penuh amarah pada Gagak Item.

“Kubunuh kau, Gagak Item!” geram Raden Sanjaya menggereng bagai kerbau terluka.

“Ha ha ha...!”

Gagak Item hanya tertawa saja mendengar ancaman Raden Sanjaya. Ancaman itu dianggapnya hanya di mulut saja. Mana mungkin Raden Sanjaya bisa melakukan, sedang sekarang dalam keadaan tangan terikat dan ditodong empat batang tombak. Gagak Item menjentikkan jemarinya. Maka, empat orang yang menghunus tombak panjang ke tubuh Raden Sanjaya langsung menggiringnya keluar dari ruangan agung Istana Bantar ini.

Sementara suara tawa Gagak Item terus terdengar bersamaan dengan tergiringnya Raden Sanjaya. Anak muda itu menyumpah serapah tanpa mampu berbuat apa-apa. Raden Sanjaya digiring terus ke bagian belakang istana megah ini. Dia tahu, jalan ini menuju ke dalam tahanan bawah tanah. Di sepanjang jalan, para penjaga berseragam serba hitam berdiri berjajar dengan tombak terhunus di tangan.

Raden Sanjaya mengamati wajah-wajah para penjaga itu. Beberapa di antaranya, dikenali sebagai prajurit Kerajaan Bantar dulu. Dan yang mengenal Raden Sanjaya, hanya bisa menundukkan muka saja. Pintu tahanan terbuka, menimbulkan suara bergernyit mengilukan hati. Udara lembab dan pengap langsung menyergap begitu kaki Raden Sanjaya menginjak lantai tahanan ini. Dia terus digiring, melewati lorong gelap yang hanya diterangi obor kecil yang menancap di dinding.

“Akh!” Raden Sanjaya memekik kaget ketika tiba-tiba salah seorang yang berjalan di belakangnya mendorong keras. Belum lagi Raden Sanjaya bisa berbuat sesuatu, terdengar suara pintu dari besi baja tebal ditutup rapat. Seketika, ruangan itu jadi gelap. Hanya bias cahaya obor dari luar pintu saja yang menerangi samar-samar. Raden Sanjaya berusaha bangun berdiri, dan menggerak-gerakkan tangannya yang sudah terlepas dari ikatan. Pergelangan dan jari-jari tangannya terasa pegal dan kesemutan.

Sebentar matanya menerawang membiasakan diri dalam keadaan gelap begini. Beberapa saat diamatinya sekitar ruangan yang pengap dan lembab ini. Dua ekor tikus berebut sesuatu di pojok ruangan. Raden Sanjaya terkejut begitu melihat seorang lelaki tua tergolek di lantai ruangan. Bergegas dihampirinya laki-laki itu.

“Paman...!” Raden Sanjaya memekik tertahan begitu mengenali laki-laki tua yang kini sudah berada dalam pelukannya.

Dua ekor tikus lari terbirit-birit meninggalkan suara ribut yang menyakitkan telinga. Raden Sanjaya memeriksa denyut nadi dan aliran darah lelaki itu. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya begitu mengetahui kalau lelaki tua ini masih hidup. Hanya saja denyut nadinya lemah, dan hampir tak terasa. Sejenak lelaki tua itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu kelopak matanya mulai terbuka perlahan.

“Ra... de... nnn...,” lemah sekali suaranya. Namun ada seulas senyuman di bibir yang kering pecah-pecah.

“Paman..., Paman Nara Soma.... Oh! Syukur, Paman masih hidup,”

Raden Sanjaya gembira melihat abdi setia penasihat Gusti Prabu Bantar Kencana ternyata masih hidup. Raden Sanjaya menggotong tubuh tua kurus itu, la-lu meletakkannya di atas dipan kayu yang sudah reyot, bunyi deritnya terdengar. Putra Mahkota Kerajaan Bantar membuka ikat kepalanya, dan membersihkan luka-luka di tubuh Paman Nara Soma. Tampak satu jari kelingkingnya putus digerogoti tikus.

Sebentar Raden Sanjaya mengamati setiap sudut ruangan. Tak ada satu celah pun yang dapat menghubungkan dengan luar. Ruangan ini biasanya memang digunakan untuk menahan penjahat kelas berat yang siap dihukum mati. Tidak ada jalan sedikit pun untuk meloloskan diri. Dan ketika dia melangkah ke sudut, ada tetes-tetes air mengucur kecil dari langit-langit.

Raden Sanjaya melepas sabuk kulitnya yang besar, untuk dibuat corong. Ditadahinya titik-titik air yang jatuh dari tempat itu, dengan cepat dibawanya ke Paman Nara Soma. Seteguk demi seteguk tenggorokan laki-laki tua itu dialiri air. Beberapa kali Raden Sanjaya menuangkan air ke mulut yang kering pecah-pecah dan membiru itu, sampai Paman Nara Soma menolak air yang diberikan pemuda ini.

“Cukup, Raden. Terima kasih,” masih lemah suara Paman Nara Soma.

Raden Sanjaya menempatkan bokongnya di pinggir dipan kayu ini. Bunyi bergerit terdengar begitu menerima berat tubuh Raden Sanjaya. Sepertinya dipan kayu lapuk ini begitu menderita menerima beban begitu berat dari dua orang laki-laki malang.

“Bagaimana kau bisa masuk sini?” tanya Paman Nara Soma dengan suara bergetar lirih.

“Ceritanya panjang, Paman,” sahut Raden Sanjaya tertunduk.

“Ceritakanlah,” pinta Paman Nara Soma.

Tanpa diminta dua kali, Raden Sanjaya menceritakan semuanya hingga sampai masuk tahanan. Juga diceritakannya tentang Panglima Gadalarang dan Putri Kencana Wungu yang kini mungkin menunggunya di rumah bersama Pendekar Rajawali Sakti. Sampai di situ, ceritanya dihentikan.

Paman Nara Soma diam merenung begitu Raden Sanjaya menuntaskan ceritanya. Lama mereka hanya diam membisu. Suara desahan berat terdengar menghembus dari hidung Paman Nara Soma.

“Mudah-mudahan mereka selamat,” gumam Paman Nara Soma lirih.

“Ya, mudah-mudahan,” desah Raden Sanjaya.

********************

Matahari merayap perlahan menuju peraduannya. Sinar kuning kemerahan memancar lembut seolah ingin mengucapkan selamat datang pada sang Dewi Malam. Sementara itu, Rangga tengah membelah kayu di samping rumah kecil yang terpencil dari rumah lainnya. Keringat tampak mengucur membasahi wajah dan lehernya. Otot-otot tangannya bersembulan saat kapaknya terayun.

Rangga menghentikan ayunan kapaknya ketika mendengar langkah kaki ringan di belakang. Diturunkannya kapak yang sudah terangkat, lalu menoleh. Bibirnya menyunggingkan senyum melihat Putri Kencana Wungu sudah berdiri di belakangnya membawa baki berisi kendi dan gelas dari bahan tanah liat.

“Istirahat dulu,” kata Kencana Wungu lembut. Senyumnya begitu menawan merekah merah.

Rangga kemudian duduk di atas tumpukan kayu bakar. Kapak besar masih tergenggam di tangan kirinya. Sedangkan Kencana Wungu menghampiri dan menyodorkan baki pada pendekar muda dan digdaya itu. Rangga mengambil gelasnya, dan Putri Kencana Wungu menuangkan air dari dalam kendi. Rangga tidak jadi meneguk air di dalam gelas yang sudah terangkat mendekati bibirnya. Kepalanya mendongak, dan menoleh ke kiri dan kanan. Telinganya yang tajam mendengar langkah-langkah kaki ringan, mendekati rumah ini. Segera dia bangkit dan melangkah tiga tindak ke depan. Kapak besar pembelah kayu masih tergenggam di tangannya. Putri Kencana Wungu menghampiri dan berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti. Wanita itu tampak keheranan melihat sikap yang aneh pada diri Rangga.

“Ada apa?” tanya Kencana Wungu.

“Di mana Panglima Gadalarang?” Rangga malah balik bertanya.

“Aku di sini,” terdengar sahutan dari samping kanan. Rangga menoleh.

Sementara panglima muda itu menghampiri, lalu berdiri di samping Putri Kencana Wungu. Rangga memiringkan kepalanya, ketika suara langkah kaki itu semakin jelas terdengar dari segala arah. Tangan kanannya terentang memberi isyarat agar Putri Kencana Wungu dan Panglima Gadalarang diam di tempat.

“Ambilkan pedangku,” kata Rangga, berbisik.

Panglima Gadalarang melangkah mundur, seraya mengulurkan tangannya untuk menjumput Pedang Rajawali Sakti dari tumpukan kayu bakar. Kemudian diserahkannya pedang itu pada Pendekar Rajawali Sakti. Segera Rangga mengenakan kembali di punggungnya, sedangkan tangan kanannya kembali memegang gagang kapak besar pembelah kayu.

“Kita kedatangan tamu,” kata Rangga pelan.

“Siapa?” tanya Putri Kencana Wungu agak bergetar suaranya.

Pertanyaan itu belum terjawab, tiba-tiba muncul sekitar dua puluh orang bersenjata tombak panjang dari balik pepohonan. Di antaranya tampak ada seorang mengenakan baju serba merah. Mereka langsung mengepung dengan sikap jelas tidak bermaksud baik. Rangga memandangi para pengepungnya yang semuanya mengenakan pakaian hitam bersulamkan gambar burung gagak dari benang emas di bagian dada. Sedangkan yang mengenakan jubah merah menggenggam sebatang tongkat berwarna merah juga. Pendekar Rajawali Sakti bisa memastikan kalau orang ini memiliki kepandaian yang tidak rendah.

“Hati-hati. Orang itulah yang bernama Setan Jubah Merah,” bisik Panglima Gadalarang.

“Hm...,” Rangga hanya bergumam.

“Siapa di antara kalian yang bernama Badil?” tanya si Setan Jubah Merah. Suaranya besar dan lantang.

“Aku!” Rangga cepat menyahut.

Panglima Gadalarang melongo hanya diam, karena Rangga sudah memberi isyarat dengan kerlingan mata.

“Ketua Agung Gagak Item memerintahkan agar kau ikut ke istana!” kata Setan Jubah Merah congkak.

“Kenapa bukan dia saja yang ke sini?”

“Kurang ajar! Kuperintahkan, letakkan senjata sebelum kugunakan cara kasar!” geram Setan Jubah Merah.

“Kata-katamu sudah cukup kasar. Dan orang-orang yang mengepung itu, kurasa pertanda satu tantangan. Bukankah begitu?” kata-kata Rangga terdengar tenang dan lembut, tapi sangat menyakitkan telinga.

“Monyet busuk! Rupanya, kau ingin cara kasar, heh?!” dengus Setan Jubah Merah menggeram.

“Aku juga bisa bertindak kasar,” tantang Rangga.

Trek!

Setan Jubah Merah menjentikkan jemarinya. Seketika, empat orang langsung menyerang dengan menyodokkan tombak ke arah Rangga. Hanya dengan memiringkan tubuhnya, pendekar Rajawali Sakti menangkap satu tombak dari arah depan. Sedangkan kaki kanannya melayang menyepak tombak satunya lagi. Sementara jari tangan kirinya menjentik ujung tombak yang datang dari arah kiri. Dan satunya lagi berhasil dielakkan melewati atas kepala.

Rangga cepat memutar tubuhnya. Kaki kanannya cepat melayang bersamaan dengan berputarnya tubuh. Maka empat orang itu kontan mengeluh pendek. Mereka terdorong mundur dan terjungkal deras. Di dada mereka tampak tergambar tapak kaki yang merah. Sebentar mereka mampu bertahan, untuk kemudian ambruk dan tidak bangun-bangun lagi. Mereka memang bukan lawan Pendekar Rajawali Sakti. Maka hanya dengan sekali gebrakan, empat orang langsung roboh terkena tendangan maut dari jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’.

“Bedebah!” geram Setan Jubah Merah melihat empat anak buahnya tewas dalam sekejap.

Kembali Setan Jubah Merah menjentikkan jemarinya. Kini sepuluh orang berlompatan ke depan. Rangga melirik Panglima Gadalarang dan Putri Kencana Wungu sambil mengegoskan kepala ke arah bayangan merah. Kini, Rangga tidak perlu lagi khawatir. Perhatiannya juga dipusatkan pada pengeroyoknya. Tapi, pengamatannya dari dua orang yang kini sudah berdiri dekat tumpukan kayu bakar tidak lepas. Sambil berteriak nyaring, sepuluh orang itu merangsek secara bersamaan dan bergelombang. Rangga yang sudah jemu dan muak melihat tingkah mereka, langsung mengerahkan jurus ‘Seribu Rajawali’. Kapak besar di tangannya terayun cepat, seirama gerakan kaki dan tubuhnya. Jeritan dan pekik kesakitan terdengar saling sambung, disusul berjatuhannya tubuh-tubuh manusia dengan dada robek dan kepala hampir putus terbabat mata kapak yang besar dan tajam. Maka dalam satu gebrakan saja, tidak kurang dari enam orang sudah tewas berlumuran darah.

“Mundur!” teriak Setan Jubah Merah menggeram marah.

Empat orang yang selamat, segera melompat mundur bersamaan. Sementara itu Setan Jubah Merah langsung mencelat menerjang Pendekar Rajawali Sakti dengan jurus-jurus tongkat mautnya. Rangga segera melayani hanya dengan kapak pembelah kayu di tangan. Maka terjadilah pertarungan alot, cepat, dan mematikan. Begitu cepatnya mereka bertarung, hingga sulit diikuti penglihatan mata biasa. Yang tampak hanyalah kelebatan-kelebatan bayangan merah dan putih saling menerjang dan bertahan.

Dalam waktu tidak berapa lama, Setan Jubah Merah sudah menghabiskan sepuluh jurus. Sedangkan, Rangga baru mengeluarkan dua jurus dari lima rangkaian jurus ‘Rajawali Sakti’. Dan kini, Rangga mengerahkan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Maka, seketika kedua tangannya berubah jadi merah membara bagai terbakar. Setiap lontaran pukulannya, mengandung hawa panas luar biasa yang menyengat kulit.

“Gila! Ilmu apa yang dipakai?” dengus Setan Jubah Merah terkejut.

Buru-buru laki-laki berpakaian merah itu melompat mundur. Matanya tajam menatap Rangga yang berdiri tegak dengan tangan menjuntai di samping tubuhnya. Kapak Pendekar Rajawali Sakti juga telah menggeletak di ujung kakinya.

Kini Rangga segera mengerahkan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Setan Jubah Merah memutar tongkatnya dengan cepat. Sambil berteriak keras diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti. Namun yang diterjang pun tidak bergeming. Dan ketika ujung tongkat Setan Jubah Merah hampir menyodok dadanya, cepat Pendekar Rajawali Sakti menangkapnya.

Tap!

Jepitan kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti bagai sebuah penjepit baja yang amat kuat. Setan Jubah Merah makin terkejut, karena tongkatnya terasa bagaikan menancap pada sebongkah batu cadas yang amat keras. Sedikit pun tongkat itu tidak bergeming, meskipun kekuatan tenaga dalamnya sudah dikerahkan penuh. Setan Jubah Merah segera menggunakan akal licik. Dikerahkannya racun melalui tongkat merahnya. Dan begitu racun itu menyentuh telapak tangan, seketika tubuh Pendekar Rajawali Sakti bergetar. Langsung disadari kalau lawannya menyalurkan racun yang dahsyat dan mematikan lewat tongkatnya.

“Aji Cakra Buana Sukma...!” teriak Rangga tiba-tiba.

Seketika, tangan yang semula berwarna merah menyala berubah biru terang berkilau. Tentu saja perubahan yang cepat itu sangat mengejutkan Setan Jubah Merah. Tongkatnya berusaha ditarik, tapi malah semakin terjepit di telapak tangan Rangga. Setan Jubah Merah berusaha melepaskan tangannya dari tongkat itu, tapi malah jadi kaget setengah mati. Kedua tangannya seperti terpatri pada tongkatnya sendiri!

“Akh!” Setan Jubah Merah memekik tertahan. Cahaya biru yang keluar dari tangan Pendekar Rajawali Sakti mulai merayap menyelimuti tongkat merah itu. Bahkan semakin lama semakin mendekati tangan Setan Jubah Merah. Laki-laki berpakaian serba merah itu akan menendang, tapi kedua kakinya terasa begitu berat, bagai terpaku di tanah saja.

“Gila!” dengus Setan Jubah Merah kehilangan akal. Segala cara sudah ditempuh, tapi tidak satu pun yang berhasil. Keringat telah membanjiri wajah dan lehernya. Paras mukanya jadi berubah-ubah. Sebentar pucat, sebentar kemudian memerah bagai kepiting rebus. Dia benar-benar putus asa. Jiwanya kacau, otaknya tak mampu lagi diajak berpikir. Bahkan seluruh aliran darahnya jadi terbalik arah. Cahaya biru merayap menyelimuti seluruh tubuh Setan Jubah Merah. Juga dirasakan kalau seluruh tenaga tersedot. Setan Jubah Merah benar-benar tidak berdaya menghadapi serangan aji ‘Cakra Buana Suka’.

“Akh! Aaakh...!” Setan Jubah Merah menjerit melengking. Tubuh laki-laki berpakaian serba merah itu menggeliat-geliat bagai dirubung jutaan semut merah. Kemudian tubuhnya menegang meregang nyawa. Mati! Rangga segera menarik kembali ajiannya. Kemudian, ditatapnya sebentar tubuh Setan Jubah Merah itu. Semua orang yang ada di tempat itu melongo keheranan. Beberapa orang yang tadi mengepung, langsung melarikan diri. Hanya sekitar lima orang yang langsung membuang senjatanya dan berlutut menyerahkan diri.

********************

LIMA

Brak!

Gagak Item menggebrak meja keras-keras. Wajahnya merah padam menahan amarah. Hampir tidak dipercayanya kalau Setan Jubah Merah kalah oleh orang yang konon hanyalah petani dusun. Padahal Setan Jubah Merah adalah salah seorang yang paling diandalkan. Sementara, lima orang yang kembali membawa berita kematian Setan Jubah Merah hanya menunduk.

Pandangan Gagak Item beralih pada tiga orang yang berdiri di belakang. Mereka bertubuh tegap, dengan wajah mencerminkan kekasaran dan kekejaman. Mereka dikenal berjuluk Tiga Golok Iblis. Di pinggang mereka masing-masing terselip sebilah golok besar yang salah satu matanya bergerigi.

“Kalian bertiga, seret petani dungu itu ke sini!” perintah Gagak Item.

Tiga Golok Iblis membungkukkan badan. Dan tanpa banyak bicara, mereka segera meninggalkan ruangan. Gagak Item atau Gusti Pragala memerintahkan lima orang yang masih duduk bersimpuh ikut serta. Walau hatinya seperti diliputi rasa kegentaran, mereka beranjak pergi.

“Aku tidak yakin kalau dia hanya petani biasa,” terdengar suara lembut dari belakang.

Gagak Item menoleh, dan menghampiri seorang wanita cantik mengenakan pakaian ketat berwarna merah muda yang telah berdiri di ambang pintu. Bibir merahnya menyunggingkan senyum menggoda. Gagak Item meletakkan tangannya yang hanya sebelah di bahu wanita itu. Mereka kemudian melangkah masuk. Dengan tumit kaki kiri, Gagak Item menutup pintu. Wanita itu terus melangkah mundur dan duduk di tepi pembaringan yang beralaskan kain sutra biru muda yang halus dan tipis. Dengan gerakan lembut menggoda, dilepaskannya baju Gagak Item, dan dilemparkannya begitu saja ke lantai.

“Lupakan dulu persoalanmu, Kakang Gagak Item. Biarkan mereka yang mengurusi tikus itu,” lembut sekali suara wanita itu.

“He he he.... Kau selalu bisa membuatku terangsang, Nini Bawuk,” rayu Gagak Item terkekeh.

Wanita yang dipanggil Nini Bawuk itu hanya tersenyum. Direbahkan dirinya di pembaringan. Perlahan-lahan jari-jari tangannya yang lentik halus melepaskan pakaiannya sendiri. Sebentar bajunya diputar-putar dilemparkannya sembarangan.

“He he he...!” Gagak Item terkekeh.

Nini Bawuk menggeser tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Tubuhnya yang indah, terbalut kulit halus putih menggiurkan. Gagak Item duduk di tepi pembaringan. Tangannya diletakkan di paha wanita itu. Dia masih terkekeh dengan mata liar, merayapi wajah dan tubuh yang tergolek menantang di pembaringan.

“Aaa...,” Nini Bawuk mengeluh lirih.

Tubuhnya menggeliat, membuat gerakan-gerakan membangkitkan gairah. Sepasang tangan yang halus lembut itu menggamit leher Gagak Item, dan menariknya kuat-kuat. Akibatnya, Gagak Item langsung jatuh menyuruk. Seketika itu juga, bibir mereka menyatu rapat. Liar dan buas sekali Gagak Item melumat bibir yang berdecak-decak membangkitkan gairah. Jari-jari tangan Gagak Item bagaikan bermata saja, menjelajahi bagian-bagian tubuh Nini Bawuk yang paling peka.

Wanita itu mengerang lirih. Tubuhnya menggeliat-geliat di bawah himpitan tubuh yang besar berlengan satu. Keringat mulai mengalir membasahi seluruh tubuh mereka. Tidak ada lagi kata-kata yang terucapkan. Semua berganti desahan dan rintihan lirih, mengikuti irama gerakan tubuh yang menyatu rapat. Untuk sesaat mereka larut, dan melupakan semua kekalutan yang sedang terjadi. Mereka sama-sama menempuh puncak kenikmatan dunia.

“Kakang..., ah!” Nini Bawuk memekik tertahan.

Sebentar tubuh wanita itu mengejang, lalu terkulai lemah bersimbah keringat. Gagak Item meringis, dan mendesah panjang. Tubuhnya bergulir dari atas tubuh Nini Bawuk. Wanita itu menarik kain sutra biru yang tadi tercampakkan. Segera ditutupinya tubuhnya dan tubuh Gagak Item yang tergolek di sampingnya. Gerak dada Gagak Item semakin teratur. Keringat masih mengalir di dadanya yang bidang berbulu lebat.

“Kakang...,” Nini Bawuk mendesah lirih. Diletakkannya kepalanya di dada Gagak Item.

“Kau hebat, Nini Bawuk,” desah Gagak Item di sela-sela dengus napasnya yang belum teratur penuh.

“Kau juga perkasa,” balas Nini Bawuk.

Gagak Item memejamkan matanya rapat-rapat, membayangkan peristiwa yang baru dialaminya. Peristiwa yang membuat detak jantungnya jadi berdebar lebih cepat dari biasa. Peristiwa yang membuatnya mabuk, dan melupakan semua yang tengah melanda di sekitarnya. Nini Bawuk benar-benar seorang wanita hebat. Hebat dalam menaklukkan laki-laki di atas ranjang, juga hebat dalam pertarungan.

Nini Bawuk bisa lembut menggairahkan di atas ranjang, tapi bisa buas dan liar bagai seekor singa betina dalam pertarungan. Nini Bawuk tidak akan pernah puas hanya oleh satu laki-laki saja. Dan dia memang seperti ular, tidak peduli dengan siapa dan berada di mana. Yang penting, gairahnya bisa terpuaskan. Lebih-lebih, kalau mendapatkan pemuda tampan dan gagah. Dia tidak akan puas kalau belum menundukkan di atas ranjang.

Keadaan di dalam kamar yang indah ini sunyi. Gagak Item mendengkur kelelahan. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Perlahan-lahan Nini Bawuk bangkit berdiri. Sebentar dipandanginya Gagak Item yang sudah pulas mendengkur. Kemudian pakaiannya dikenakannya lagi. Nini Bawuk lalu melangkah perlahan-lahan, keluar dan pergi entah ke mana. Sementara, Gagak Item masih tetap lelap dalam buaian mimpi indah bersama wanita-wanita cantik yang mengelilinginya.

********************

Sementara itu, di dalam tahanan bawah tanah, Paman Nara Soma sudah kelihatan segar. Meskipun, keadaan tubuhnya masih lemah. Dia sudah bisa duduk bersandar di atas dipan kayu yang reyot. Sedang Raden Sanjaya duduk melonjor di lantai.

“Paman tahu, di mana mereka menyembunyikan Ayahanda Prabu?” tanya Raden Sanjaya setelah agak lama berdiam diri.

“Aku tidak tahu, Raden. Entah bagaimana nasibnya, apakah Gusti Prabu sudah mati atau masih hidup. Sejak peristiwa itu, aku dimasukkan ke dalam penjara ini sampai sekarang,” Paman Nara Soma berkata pelan. Ada nada kesenduan dari suaranya.

“Ibu?” tanya Raden Sanjaya lagi.

“Ibunda Permaisuri berhasil menyelamatkan diri bersama beberapa pengawal, dayang dan juga beberapa mentri,” sahut Paman Nara Soma menjelaskan.

“Apakah beliau tidak ke Magada?” Raden Sanjaya menggelengkan kepala. Sejak mendengar berita runtuhnya Kerajaan Bantar, dia tidak pernah lagi bertemu ayah dan ibunya. Saat itu juga, dia masih memikirkan keselamatan kakaknya. Putri Kencana Wungu yang kini mungkin masih berada di rumah kecil di pinggir batas Kerajaan Bantar yang kini menjadi Desa Mayang.

“Raden...,” suara Paman Nara Soma terputus di kerongkongan.

Bersamaan dengan itu, pintu kamar tahanan ini terkuak perlahan. Di ambang pintu, tampak berdiri seorang wanita berpakaian ketat warna merah muda. Sehingga, membentuk lekuk tubuhnya yang indah menggairahkan. Di belakangnya berdiri dua orang laki-laki bertubuh tinggi tegap berwajah kasar, menyandang pedang di punggung. Wanita cantik itu melangkah masuk, sementara dua orang laki-laki yang mengawalnya menjaga di depan pintu.

Wanita yang tidak lain adalah Nini Bawuk ini menutup pintu yang terbuat dari baja tebal dan kuat. Dengan tersenyum dipandangnya Raden Sanjaya. Gairahnya meletup-letup mendapatkan ketampanan dan kegagahan Raden Sanjaya.

“Mau apa kau ke sini?” sinis suara Raden Sanjaya.

“Kenapa kau selalu bersikap begitu padaku, Sanjaya? Aku datang bermaksud baik padamu,” Nini Bawuk tersenyum manis.

“Heh! Sedikit pun aku tidak pernah percaya pada kata-kata manismu.”

“Kau boleh tidak percaya padaku. Tapi, kau harus percaya kalau aku sudah melihat ayahmu!”

Raden Sanjaya bangkit berdiri. Matanya nyalang menatap tajam Nini Bawuk. Dia melangkah mendekat, dan mencekal erat-erat tangan wanita cantik itu. Nini Bawuk tidak bergeming sedikit pun, dan malah tersenyum manis meskipun pergelangan tangannya terasa sakit.

“Di mana ayahku?” tanya Raden Sanjaya dingin.

“Ada! Dia sehat,” sahut Nini Bawuk kalem.

Dengan halus Nini Bawuk melepaskan cengkeraman tangan itu. Tubuhnya segera berbalik dan mendekati pintu. Dari lubang persegi, matanya mengawasi dua orang yang menjaga di depan pintu. Perlahan-lahan tangannya membuka pintu. Dua orang itu menoleh, tapi....

Des, des!

Kedua orang itu hanya bisa mengeluh sebentar. Begitu cepatnya Nini Bawuk melancarkan pukulan telak ke dada mereka. Seketika dua orang bertubuh tinggi besar ambruk dengan dada merah bergambar lima jari tangan. Nini Bawuk melancarkan ilmu ‘Tapak Wisa’ yang sangat mematikan. Tak seorang pun sanggup menandinginya.

Raden Sanjaya terkejut melihat Nini Bawuk merobohkan dua orang penjaga hanya sekali pukul saja. Dia tidak mengerti terhadap sikap wanita jalang ini. Sanjaya tahu betul, siapa Nini Bawuk. Tokoh wanita yang sangat tinggi ilmunya memang sangat kejam, dan selalu bertingkah aneh. Kalangan rimba persilatan bingung untuk menentukan golongannya. Dia bisa kejam melebihi tokoh sakti beraliran hitam manapun, tapi kadang kala juga membantu pihak yang lemah.

Hanya satu yang tidak bisa dihilangkan dalam diri Nini Bawuk. Kegemarannya bermain asmara dengan setiap laki-laki yang diinginkannya tidak pernah bisa hilang. Setiap kali menolong, selalu ada pamrihnya. Dan Raden Sanjaya menyadari itu. Dia tahu, wanita itu pasti menginginkan dirinya untuk bergumul di atas ranjang.

“Ikuti aku!” kata Nini Bawuk menoleh.

Raden Sanjaya mendekati Paman Nara Soma, dan membantunya berdiri. Mereka keluar dari kamar tahanan. Bukan main terkejutnya Raden Sanjaya ketika Nini Bawuk menyerahkan sebilah pedang yang tergantung di pinggangnya. Raden Sanjaya ragu-ragu menerimanya. Dia tahu, pedang ini hanya senjata biasa yang sering digunakan prajurit.

“Kau butuh senjata. Penjagaan di sini sangat ketat,” kata Nini Bawuk setengah memaksa.

Raden Sanjaya menerima pedang itu dan mengikat di pinggangnya. Paman Nara Soma mengambil pedang yang berada di punggung salah seorang penjaga. Laki-laki tua itu menolak uluran tangan Raden Sanjaya yang ingin membantunya berjalan. Kini dia sudah merasa mampu dan sehat untuk bertindak sendiri. Mereka kembali berjalan, tapi tidak menuju keluar. Raden Sanjaya tahu, Nini Bawuk akan membawanya pada ruang penjara yang berada paling ujung. Mungkin, di situ ayahnya dikurung.

“Raden, hati-hati,” bisik Paman Nara Soma pelan.

“Ya,” sahut Raden Sanjaya juga berbisik. Tak seorang penjaga pun yang ada di sepanjang lorong penjara. Mereka bisa leluasa melangkah hingga sampai ke ujung. Nini Bawuk berhenti di depan sebuah pintu yang terbuat dari besi baja kasar dan kokoh. Dibukanya kunci pintu dan dikuakkannya perlahan-lahan. Bunyi berderit terdengar menggema saat pintu terbuka. Tampak satu ruangan yang cukup indah terpampang.

“Ayah...!” seru Raden Sanjaya begitu melihat seorang laki-laki tua dengan rambut dan jenggot putih semua.

Laki-laki tua itu mengangkat kepalanya. Sinar matanya langsung berbinar begitu melihat Raden Sanjaya melangkah masuk dan mendekati. Sebentar mereka hanya saling pandang, lalu berpelukan penuh kerinduan.

“Ayah...,” Raden Sanjaya melepaskan pelukannya. Kedua bola matanya berkaca-kaca menatap lurus mata tua yang juga berkaca-kaca. Namun, sinar mata itu memancarkan satu pengharapan.

“Bagaimana kau bisa sampai ke sini?” tanya Prabu Bantar Kencana terbata-bata.

“Ceritanya panjang, Ayah,” sahut Raden Sanjaya

Prabu Bantar Kencana menatap Paman Nara Soma yang berdiri di ambang pintu di samping Nini Bawuk. Saat matanya menatap wanita cantik itu, raut wajahnya langsung berubah kecut.

“Dialah yang menolongku. Dan sekarang, kita harus keluar dari tempat ini,” buru-buru Raden Sanjaya menjelaskan.

“Hm.... Kau tahu siapa perempuan itu?” ketus suara Prabu Bantar Kencana. Matanya tetap menatap tajam pada Nini Bawuk.

“Aku tahu, Ayah,” sahut Raden Sanjaya. Kemudian dibisikkannya sesuatu di depan telinga ayahnya. Kini Prabu Bantar Kencana mengangguk-anggukkan kepala.

“Kita akan punya banyak waktu,” kata Nini Bawuk tiba-tiba.

“Mari, Ayah,” ajak Raden Sanjaya.

Prabu Bantar Kencana berdiri. Sebentar matanya masih menatap tajam pada Nini Bawuk yang sudah melangkah keluar. Kemudian laki-laki tua itu berjalan tegap didampingi Raden Sanjaya dan Paman Nara Soma. Mereka meninggalkan kamar tahanan yang cukup indah. Nini Bawuk tidak mengajak keluar, tapi malah terus masuk ke dalam lorong ini. Semakin dalam mereka berjalan, semakin sempit keadaan lorong bawah tanah ini. Tidak ada penerangan sama sekali, sehingga mereka harus merayap merapat ke dinding.

“Hm..., rupanya dia sudah tahu rahasia lorong ini,” gumam Prabu Bantar Kencana dalam hati.

Ujung lorong tahanan bawah tanah merupakan sebuah jalan rahasia. Letaknya di dalam hutan, dan agak keluar dari Kerajaan Bantar atau kini Desa Mayang. Lorong itu berakhir pada mulut gua yang tertutup batu besar. Tapi, Nini Bawuk dengan mudah menggeser batu yang beratnya mungkin lima puluh kali lipat dari berat tubuhnya. Sepotong bulan langsung menyambut mereka dengan cahayanya yang lembut keemasan. Angin malam mengusap bagai hendak mengucapkan selamat datang di dunia bebas. Prabu Bantar Kencana menarik napas dalam-dalam, menghirup udara sebanyak-banyaknya.

“Sekarang tugasku sudah selesai. Kalian bisa berjalan terus ke arah timur. Di sana, akan kalian temui sebuah pondok kecil tempat Gusti Permaisuri tinggal bersama beberapa dayang dan pengawal,” jelas Nini Bawuk.

“Tunggu!” cegah Raden Sanjaya begitu Nini Bawuk membalikkan tubuh hendak berlalu.

“Aku hanya bisa menolong kalian sampai di sini,” kata Nini Bawuk tanpa berbalik lagi.

“Kenapa kau menolong kami?” tanya Raden Sanjaya.

“Kau akan tahu nanti,” jawab Nini Bawuk, terus melangkah masuk ke dalam lorong bawah tanah.

Prabu Bantar Kencana menahan tangan putranya yang hendak mencegah Nini Bawuk pergi. Wanita itu kembali menutup batu penyumpal mulut gua kecil yang langsung berhubungan dengan lorong bawah tanah. Raden Sanjaya memandangi wajah ayahnya, kemudian beralih menatap Paman Nara Soma. Sikap Nini Bawuk memang membuat pikiran Raden Sanjaya tidak tenang. Rasanya tidak mungkin kalau wanita ini menolong tanpa pamrih apa-apa. Hampir semua orang tahu dia seorang tokoh wanita yang sangat licik dan kejam. Beberapa saat lamanya ketiga orang itu masih berdiri tanpa berkata sedikit pun.

“Aku tidak mengerti, kenapa Nini Bawuk menolong kita?” Raden Sanjaya seperti bertanya pada diri sendiri.

“Sudahlah, Sanjaya. Kita akan mengetahuinya nanti. Yang penting sekarang, kita harus percaya kata-katanya dulu. Mari kita berangkat,” ajak Prabu Bantar Kencana.

“Ayah masih kuat berjalan?” Raden Sanjaya mencemaskan keadaan ayahnya.

“Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan Paman Nara Soma?”

“Jangan cemaskan aku,” tegas Paman Nara Soma.

Mereka kemudian bergerak mengikuti petunjuk Nini Bawuk. Hutan ini tidak terlalu lebat, sehingga tidak begitu sulit untuk dilalui. Apalagi ditambah penerangan dari sinar bulan yang memancar penuh. Sepanjang perjalanan, mereka membisu. Lain halnya Raden Sanjaya. Kepalanya masih dipenuhi tanda tanya oleh sikap Nini Bawuk yang aneh. Dia tidak percaya kalau wanita jalang itu menolongnya tanpa mengharapkan balas jasa.

Dari pancaran sinar matanya, bisa diartikan kalau dirinyalah yang akan menebus semua pertolongan ini. Ya! Nini Bawuk tidak akan mengharapkan apa-apa, selain seorang pemuda tampan dan gagah sebagai imbalannya. Bergidik juga Raden Sanjaya membayangkan kalau harus melayani Nini Bawuk di atas ranjang.

Tanpa terasa, mereka sudah jauh berjalan. Dan hutan yang dilalui semakin rapat saja. Raden Sanjaya terpaksa menggunakan pedang untuk membuka jalan. Mereka berhenti ketika di depan menghadang sebuah danau kecil. Raden Sanjaya mengedarkan pandangannya berkeliling. Matanya nanar begitu melihat sebuah pondok kecil berdiri di tepi danau, agak tersembunyi letaknya. Tampak beberapa orang bersenjata berjaga-jaga di sekitar pondok itu.

“Itu pasti pondok yang ditunjukkan Nini Bawuk,” gumam Raden Sanjaya.

“Ya! Mereka adalah para pengawal istana,” sambung Prabu Bantar Kencana.

“Tunggu!” Paman Nara Soma mencegah begitu Raden Sanjaya dan ayahnya akan mendekati pondok. Tapi terlambat.

Ternyata orang-orang bersenjata itu sudah keburu melihat. Mereka serentak berlompatan mengurung tiga orang ini sambil menghunus tombak dan pedang, dengan sikap penuh kecurigaan. Prabu Bantar Kencana maju dua tindak ke depan. Dia bisa mengenali pakaian yang dikenakan orang-orang ini. Pakaian prajurit pengawal Istana Kerajaan Bantar.

“Kalian lihat baik-baik, siapa aku!” suara Prabu Bantar Kencana terdengar berwibawa.

“Gus... Gusti Prabu....” Salah seorang yang mungkin pemimpinnya, langsung menjatuhkan diri berlutut. Mereka yang juga bisa mengenali orang-orang yang kini berdiri, langsung menjatuhkan diri berlutut.

Prabu Bantar Kencana tersenyum melihat para prajurit pengawal istananya masih setia dan bisa mengenali, meskipun sudah tiga tahun tidak bertemu.

“Bangunlah kalian,” ujar Prabu Bantar Kencana.

“Maafkan hamba, Gusti Prabu,” ucap salah seorang yang berlutut persis di depan Prabu Bantar Kencana. Dari pakaian yang dikenakannya, sudah jelas kalau dia seorang punggawa tinggi.

“Di mana permaisuriku?” tanya Prabu Bantar Kencana.

“Di dalam pondok.”

Prabu Bantar Kencana mengayunkan langkahnya mendekati pondok, diikuti Raden Sanjaya dan Paman Nara Soma. Prajurit pengawal yang jumlahnya tidak kurang dari lima belas orang mengikuti dari belakang. Mereka tidak lagi menghunus senjata.

Sementara, Prabu Bantar Kencana berdiri sebentar di depan pintu pondok sebelum membukanya. “Dinda...,” agak bergetar suara laki-laki tua itu begitu melihat seorang wanita duduk di pembaringan dikelilingi enam dayang-dayang.

“Kanda...!” Raden Sanjaya memalingkan muka, tidak sanggup menyaksikan pertemuan yang begitu mengharukan. Prabu Bantar Kencana memeluk istrinya erat-erat. Tidak terasa, setitik air bening menggulir di pipinya yang mulai keriput. Lama mereka berpelukan melepaskan rindu. Para dayang dan prajurit pengawal yang menyaksikan, hanya menundukkan kepala. Di antaranya malah ada yang menitikkan air mata haru.

“Lihat, siapa yang bersamaku,” kata Prabu Bantar Kencana setelah melepaskan pelukannya.

“Sanjaya..., anakku...,” desah Gusti Permaisuri.

“Ibu...!” Raden Sanjaya tidak dapat lagi menahan air matanya yang memang sejak tadi akan bobol tumpah.

Pemuda itu menangis dalam pelukan ibunya. Beberapa prajurit langsung keluar dan berjaga-jaga di luar. Sedangkan Prabu Bantar Kencana meminta para dayang meninggalkan ruangan. Tinggal Paman Nara Soma yang masih berdiri di depan pintu yang sudah tertutup rapat. Setelah agak lama melepaskan pelukan pada ibunya, Raden Sanjaya duduk di samping wanita setengah baya yang masih kelihatan cantik ini. Prabu Bantar Kencana juga duduk di sampingnya. Sementara Paman Nara Soma tetap berdiri di tempatnya.

“Di mana kakakmu?” tanya Gusti Permaisuri pada Raden Sanjaya.

“Ada. Dia selamat,” sahut Raden Sanjaya menekan suaranya. Sengaja dia berkata begitu untuk menenangkan hati ibunya.

“Kenapa tidak kau bawa saja sekalian?”

“Dia sedang membangun kekuatan untuk merebut kembali tahta ayah, Bu.”

“Dengan siapa?” tanya Prabu Bantar Kencana yang baru mempunyai kesempatan bertanya.

“Panglima Gadalarang, dibantu seorang pendekar pilih tanding,” sahut Raden Sanjaya.

Tanpa diminta, diceritakannya semua yang dilakukannya selama ini. Semua yang diceritakan sama dengan apa yang dikatakan pada Paman Nara Soma waktu di dalam kamar tahanan di bawah tanah. Ada sinar kebanggaan terpancar di mata Prabu Bantar Kencana mendengar cerita Raden Sanjaya. Sedangkan wanita setengah baya yang duduk di sampingnya terus menitik air mata.

“Besok aku akan menjemput mereka semua, dan mengirim utusan ke Magada untuk meminta bantuan prajurit,” kata Raden Sanjaya setelah selesai bercerita.

“Bagus!” sambut Prabu Bantar Kencana langsung.

“Paman bisa ikut denganku besok,” pinta Raden Sanjaya.

“Hamba selalu siap, Raden,” sahut Paman Nara Soma.

“Nah! Kalau begitu, sekarang istirahatlah. Sebelum matahari terbit, kalian sudah bisa melaksanakan pekerjaan yang berat ini,” kata Prabu Bantar Kencana.

Paman Nara Soma memberi hormat, lalu berbalik. Dibukanya pintu pondok sebelum melangkah keluar. Raden Sanjaya mengikutinya, tapi langkahnya tertahan karena ibunya memanggil.

“Kau tidur di dalam sini, Sanjaya.”

“Aku ingin menghitung kekuatan yang ada di sini,” sahut Raden Sanjaya terus saja melangkah keluar.

“Biarkan, Dinda. Aku bangga memiliki putra gagah seperti dia,” ujar Prabu Bantar Kencana.

Sesaat kemudian, di dalam pondok itu sunyi sepi. Beberapa prajurit masih tetap berdiri di depan pintu dan sekitar pondok. Sedang Raden Sanjaya duduk menghadap api unggun bersama Paman Nara Soma. Dia bicara mengenai semua yang sudah direncanakan bersama Panglima Gadalarang dan kakaknya, Putri Kencana Wungu.

********************

ENAM

Raden Sanjaya terkejut melihat rumah kecil yang selama ini jadi tempat tinggalnya, ternyata tinggal puing-puing. Asap dari bara api masih mengepul, pertanda rumah kecil itu baru saja habis terbakar. Tak seorang pun terlihat di sekitar tempat ini. Hanya beberapa mayat berpakaian hitam bergelimpangan tak tentu arah. Bahkan ada yang tertimbun puing yang masih membara merah.

Pandangan mata Raden Sanjaya tertumbuk pada seorang yang duduk di atas batu membelakanginya. Meskipun membelakangi, Raden Sanjaya bisa mengenalinya. Orang itu mengenakan baju rompi putih, dengan pedang berkepala burung di punggung.

“Rangga...!” seru Raden Sanjaya memanggil.

Orang yang duduk di atas batu memang Pendekar Rajawali Sakti. Rangga langsung berbalik tanpa merubah sikap duduknya. Saat melihat Raden Sanjaya berdiri didampingi seorang laki-laki tua berjubah putih, Rangga langsung melayang. Kemudian mendarat ringan di depan Raden Sanjaya.

“Apa yang terjadi di sini? Di mana Panglima Gadalarang dan Putri Kencana Wungu?” tanya Raden Sanjaya memberondong.

Rangga tidak segera menjawab. Tatapan matanya tertuju pada Paman Nara Soma yang berdiri di samping Raden Sanjaya. Kemudian, pandangannya beralih pada pemuda di depannya.

“Oh! Aku lupa mengenalkan. Dia Paman Nara Soma. Penasihat dan kepercayaan Ayahanda Prabu,” Raden Sanjaya mengerti arti pandangan Rangga. “Paman, ini Pendekar Rajawali Sakti yang kuceritakan.”

Paman Nara Soma mengangguk kecil. Bibirnya menyunggingkan senyum penuh persahabatan. Rangga membalas anggukan pula.

“Apa yang terjadi di sini?” tanya Raden Sanjaya mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab.

“Mereka datang semalam, dan membakar rumah ini,” sahut Rangga kalem.

“Lantas....?”

“Panglima Gadalarang dan kakakmu selamat. Mereka kini ada di tempat latihan prajurit.”

Raden Sanjaya menarik napas. Dadanya terasa lega mendengar kakaknya selamat. Sejak kemarin dalam tahanan, dia sudah mengkhawatirkan keselamatan mereka semua. Kini, perasaannya benar-benar lega.

“Aku sengaja menunggu di sini untuk memberitahumu,” lanjut Rangga.

“Kau tahu aku akan ke sini?” tanya Raden Sanjaya heran.

“Seseorang memberi tahu dengan ini.” Rangga menyerahkan sepucuk surat yang terikat pada sebatang anak panah. Raden Sanjaya menerima benda itu, dan membaca isi suratnya. Bibirnya menyunggingkan senyum setelah mengetahui isinya.

“Kau tahu, siapa yang mengirimkan ini?” tanya Raden Sanjaya.

“Tidak,” sahut Rangga.

“Dia pasti Nini Bawuk,” Raden Sanjaya sedikit bergumam.

Rangga mengerutkan keningnya sedikit. Raden Sanjaya bercerita sedikit mengenai Nini Bawuk dan pengalamannya selama ini, sampai bisa keluar dari kamar tahanan bersama Paman Nara Soma dan ayahnya. Juga diceritakan tentang tempat tinggal ibunya yang sekarang tanpa ada yang ditutupi. Raden Sanjaya percaya penuh kalau Rangga berada di pihaknya.

Saat mereka berbicara, mendadak terdengar suara riuh dibarengi langkah-langkah kaki mendekati. Tampak dari arah timur, terlihat serombongan manusia berpakaian seragam bagai prajurit berjalan berbaris mengikuti empat orang penunggang kuda. Dua di antara penunggang kuda itu adalah Putri Kencana Wungu dan Panglima Gadalarang. Sedangkan dua orang lagi patih dari Kerajaan Magada. Seragam yang dikenakan orang-orang di belakangnya juga berbeda, terpisah jadi dua kelompok.

Sudah dapat dipastikan kalau yang satu pasti prajurit Kerajaan Bantar, sedangkan lainnya dari Magada. Raden Sanjaya tersenyum lebar melihat kekuatan prajurit yang jumlahnya hampir mencapai seribu orang itu. Tak lama kemudian mereka tiba di tempat Raden Sanjaya, Rangga, dan Paman Nara Soma menunggu.

“Kenapa ayah tidak ikut?” Putri Kencana Wungu langsung bertanya begitu sampai.

“Dari mana kau tahu tentang ayah?” tanya Raden Sanjaya sambil menduga-duga.

“Seseorang yang tidak kuketahui memberikan surat melalui panah padaku,” sahut Putri Kencan Wungu.

“Hm..., lagi-lagi dia. Apa maksudnya?” gumam Raden Sanjaya perlahan. Dugaannya sudah jelas kalau semua ini seperti diatur Nini Bawuk.

“Siapa dia?” tanya Putri Kencana Wungu.

“Aku baru menduga,” sahut Raden Sanjaya tak berterus terang.

Tiga orang prajurit datang menuntun tiga ekor kuda. Masing-masing diserahkan pada Rangga, Raden Sanjaya, dan Paman Nara Soma. Kini ada tujuh orang menunggang kuda. Yang dipimpin langsung Raden Sanjaya. Rombongan yang cukup besar itu langsung bergerak, begitu Raden Sanjaya memberi aba-aba.

********************

Pagi-pagi sekali, setelah beristirahat semalaman di tepi danau tempat tinggal Prabu Bantar Kencana dan permaisurinya, prajurit-prajurit yang dipimpin Raden Sanjaya bergerak menuju ke Kerajaan Bantar yang diubah namanya oleh Gagak Item menjadi Desa Mayang. Dan kini, pagi itu di setiap pelosok terjadi pertempuran sengit. Raden Sanjaya bertarung bagai banteng luka, mengamuk dan membabat orang-orang Gagak Item.

Maka tak heran kalau sedikit demi sedikit para prajurit yang dipimpin langsung putra mahkota Kerajaan Bantar itu mendekati benteng istana. Di sini mereka terhalang tembok benteng yang tebal dan tinggi. Bahkan prajurit-prajurit Gagak Item menghujani mereka dengan anak-anak panah dari atas tembok benteng. Raden Sanjaya terpaksa menghentikan perlawanan dan mencari siasat untuk menembus benteng itu.

Sementara itu, Prabu Bantar Kencana yang selalu didampingi permaisuri dan putrinya, Putri Kencana Wungu, tersenyum bangga melihat rakyatnya memanggul senjata apa saja yang dimiliki untuk membantu perjuangan. Mereka bertekad merebut kembali tahta kerajaan yang selama tiga tahun diduduki Gagak Ireng alias Wiratma.

“Bagaimana, Ayah? Mungkinkah kita menembus benteng itu?” Raden Sanjaya meminta pendapat Prabu Bantar Kencana.

Prabu Bantar Kencana tidak langsung menjawab. Matanya tajam menatap ke arah pintu gerbang yang tertutup rapat. Sementara, para prajurit sudah berbaur dengan rakyat yang masih setia pada rajanya, berjaga-jaga menunggu perintah.

“Hm.... Sebaiknya, kita melalui jalan rahasia saja,” usul Paman Nara Soma teringat lorong tahanan bawah tanah.

“Jangan!” sentak Prabu Bantar Kencana. “Terlalu berbahaya melewati jalan ke sana.”

“Lantas, apa yang harus kita lakukan? Berdiam diri di sini, menunggu sampai mereka yang ada di dalam benteng mati kelaparan?” Raden Sanjaya tidak sabaran lagi.

Belum lagi Prabu Bantar Kencana memberi jawaban, Rangga berdiri dari duduknya di samping Panglima Gadalarang. Tubuhnya berbalik, menatap langsung ke arah pintu gerbang benteng yang tertutup rapat. Tatapannya beralih ke atas benteng. Tampak beberapa orang berlindung dengan panah siap ditembakkan. Mereka menjaga sekeliling benteng, tak ada satu celah pun yang bisa diterobos.

“Rangga...! Mau ke mana?” teriak Raden Sanjaya begitu melihat Pendekar Rajawali Sakti melangkah.

“Persiapkan prajuritmu. Aku akan menembus benteng itu!” sahut Rangga terus melangkah.

“Gila! Dia bisa mati konyol!” dengus Paman Nara Soma.

“Dia seorang pendekar, Paman. Dia tahu apa yang harus dilakukan,” Panglima Gadalarang menenangkan.

Raden Sanjaya segera mengumpulkan para kepala pasukan dan memerintahkan untuk bersiap-siap. Sedangkan Panglima Gadalarang mengikuti langkah Rangga dari jarak cukup jauh. Sementara itu, Pendekar Rajawali Sakti sudah berdiri tegak tak jauh dari pintu gerbang.

Sret!

Cahaya biru berkilau membias begitu Pendekar Rajawali Sakti mencabut pedangnya yang langsung disilangkan di depan dada. Kedua kakinya terpentang lebar dengan pandangan mata tajam, ke arah pintu. Semua orang yang menyaksikan berdebar-debar menunggu apa yang akan dilakukan Pendekar Rajawali Sakti.

“Aji Pedang Pemecah Sukma...!” mendadak Rangga berteriak lantang.

Bersamaan itu, Pendekar Rajawali Sakti berlari cepat sambil memutar-mutar pedangnya di atas kepala. Maka orang-orang di atas benteng, langsung memuntahkan anak-anak panah ke arah pendekar muda. Benar-benar menakjubkan! Tak ada satu batang anak panah pun yang sanggup mendekati tubuhnya. Semua rontok begitu saja saat terkena pancaran sinar biru yang bergulung-gulung dari Pedang Rajawali Sakti. Dan ketika jaraknya tinggal dua batang tombak di pintu gerbang, Pendekar Rajawali Sakti melompat seraya mengibaskan pedangnya ke depan. Pekikan keras terdengar disusul ledakan dahsyat, begitu pedangnya menghantam pintu gerbang yang tebal dan kokoh.

“Serang...!”

Raden Sanjaya memberi perintah begitu pintu gerbang hancur berantakan. Teriakan-teriakan terdengar bersamaan dengan menghamburnya para prajurit gabungan. Raden Sanjaya dengan kuda tunggangannya melaju cepat bagai anak panah lepas dari busurnya. Kemudian menyusul Panglima Gadalarang, Paman Nara Soma, dan dua orang patih perang dari Kerajaan Magada. Di belakangnya, tidak kurang dari seribu prajurit dibantu rakyat menyerbu seraya meneriakkan pekik-pekik peperangan.

Tidak terhitung lagi, berapa yang jatuh tersungkur tertembus anak panah sebelum mencapai pintu. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat. Sementara itu, di dalam benteng Pendekar Rajawali Sakti tengah mengamuk dengan pedang di tangan menghadapi puluhan orang berpakaian hitam yang mengeroyoknya.

“Rangga...! Hiyaaa...!”

Raden Sanjaya langsung melompat dari punggung kuda begitu sampai di halaman dalam istana.

“Bagus!” seru Rangga melihat Raden Sanjaya sudah terjun dalam pertarungan. Panglima Gadalarang, Paman Nara Soma, dan dua orang patih dari Magada sudah terlibat dalam pertempuran. Tak sedikit para prajurit gabungan yang berhasil menerobos masuk ke dalam benteng. Pekik peperangan dan jerit kematian berbaur jadi satu. Tidak terhitung lagi jumlah korban yang jatuh.

Namun peperangan terus berkobar sengit. Rangga yang sibuk menghadapi para pengeroyoknya, sempat melihat seorang perempuan cantik berbaju merah muda tipis keluar dari dalam istana. Maka, Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat dan membabatkan pedangnya ke arah para prajurit. Kemudian, dia berteriak keras seraya melenting tinggi dan meluruk ke arah wanita cantik itu.

“Aku lawanmu, Iblis!” geram Rangga begitu kakinya menjejak tanah di depan wanita cantik yang tidak lain Nini Bawuk.

“Oh...! Kau tampan sekali, Anak Muda,” Nini Bawuk tersenyum manis. Bola matanya berbinar menatap wajah Rangga yang tampan.

“Di mana Wiratma?” tanya Rangga yang bisa memastikan si pembuat kerusuhan ini.

“Hi hi hi.... Tidak ada yang bernama Wiratma di sini,” sahut Nini Bawuk terkikik genit.

Belum lagi Rangga membuka mulut, mendadak sebuah bayangan berkelebat cepat. Tahu-tahu, Raden Sanjaya sudah berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti. Matanya tajam menyorot ke arah Nini Bawuk. Sedang wanita cantik itu makin berseri melihat kedatangan Raden Sanjaya. Bibirnya berdecak menahan gairah yang meluap-luap dalam dada. Nini Bawuk memang selalu bergairah bila melihat pemuda gagah dan tampan.

“Nini Bawuk! Aku akan membayar hutangku sekarang!” dengus Raden Sanjaya.

“Bagus! Mari ke dalam,” sambut Nini Bawuk.

“Tidak perlu! Keluarkan senjatamu. Kita lunasi semua hutang di sini!” sentak Raden Sanjaya.

Merah padam muka Nini Bawuk. Gerahamnya bergemeletuk menahan marah yang bergolak dalam dada. Kata-kata Raden Sanjaya merupakan tantangan langsung tanpa tedeng aling-aling.

"Phuih! Kau tahu, apa arti kata-katamu, Sanjaya?” geram Nini Bawuk.

“Mati untukmu!” sahut Raden Sanjaya dingin.

“Edan!”

“Bersiaplah, Nini Bawuk!”

********************

Meskipun Raden Sanjaya pernah ditolong Nini Bawuk, tidak sudi percaya pada perempuan jalang itu. Lebih baik mati daripada harus melayani Nini Bawuk di tempat tidur. Raden Sanjaya langsung menyerang dengan jurus-jurus pedang yang cepat dan berbahaya. Namun, Nini Bawuk bukanlah lawan Raden Sanjaya. Semua serangan pemuda itu ternyata bisa dikandaskan di tengah jalan.

Sementara, Rangga mengawasi jalannya pertarungan yang sudah berlangsung lebih dari lima jurus. Bisa dipastikannya kalau Raden Sanjaya tidak akan unggul menghadapi Nini Bawuk. Memasuki jurus ke delapan, Raden Sanjaya sudah mulai kewalahan. Serangannya sudah ngawur. Bahkan semakin terdesak. Suatu saat, ketika Nini Bawuk mengarahkan pukulan ke kepala, Raden Sanjaya langsung merunduk. Tapi dengan cepat Nini Bawuk mengibaskan kaki kanannya ke arah pinggang. Raden Sanjaya yang tidak menyadari akan mendapat serangan beruntun demikian cepat, tidak dapat mengelak lagi.

“Hugh!” Raden Sanjaya mengeluh pendek. Tubuhnya langsung sempoyongan. Belum juga pemuda tampan itu menguasai keseimbangan tubuhnya, satu pukulan keras disertai tenaga dalam mendarat di dada. Raden Sanjaya terjengkang ke belakang sejauh satu batang tombak. Nini Bawuk langsung melompat hendak menjejakkan kakinya di dada pemuda itu, tapi serangannya terhalang oleh Rangga yang cepat melompat menghadang. Terpaksa Nini Bawuk melenting kembali ke belakang.

“Pimpin prajuritmu. Biar dia kubereskan!” ujar Rangga.

Raden Sanjaya bangkit. Bibirnya meringis menahan sakit pada pinggang dan dadanya. Napasnya agak tersengal, tapi segera diaturnya. Sementara, Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat sambil mengibaskan pedangnya menggunakan jurus ‘Rajawali Sakti’ yang keempat, yaitu jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali Sakti’ tingkat pertama. Dengan pedang pusaka di tangan, jurus itu terlihat sangat dahsyat. Bahkan bisa menyamai tingkatan yang terakhir.

Mendapat serangan beruntun yang tersusun rapi, Nini Bawuk jadi kelabakan. Beberapa kali tubuhnya jatuh bangun menghindari serangan ganas Pendekar Rajawali Sakti. Saat mendapat kesempatan sedikit, Nini Bawuk melompat mundur. Matanya tajam menatap Pendekar Rajawali Sakti yang sudah bersiap-siap mengerahkan ilmu ‘Pedang Pemecah Sukma’.

Sret!

Nini Bawuk meloloskan senjatanya berupa sebuah pedang pendek. Senjata bermata dua bagai garpu raksasa itu memancarkan sinar kuning keemasan. Dua tokoh sakti kini berhadapan dengan mengerahkan ilmu andalan masing-masing. Tapi Rangga, belum mengeluarkan ilmu andalannya yang terakhir.

“Hiya...!"
“Yeaaah...!”

Sambil berteriak nyaring, mereka saling terjang. Rangga mengarahkan pedangnya lurus ke depan. Sedangkan Nini Bawuk cepat mengibaskan pedangnya.

Trang, tring!

Dua senjata pusaka beradu di udara. Dan bersamaan dengan itu, kaki Pendekar Rajawali Sakti melayang cepat menghantam perut. Nini Bawuk memekik tertahan. Tubuhnya kontan jatuh, tapi dengan cepat bisa menguasai diri. Dan begitu kaki Rangga menapak bumi, wanita itu langsung menyerang dengan ilmu andalannya. Dua sinar berkelebat cepat mengurung tubuh. Begitu cepatnya pertarungan, sehingga tubuh mereka bagai hilang tertelan dua sinar yang bercampur aduk.

“Aji Cakra Buana Sukma...!” teriak Rangga keras dan tiba-tiba.

Seketika itu juga Pendekar Rajawali Sakti menempelkan pedangnya ke pedang bermata dua milik Nini Bawuk. Tentu saja wanita cantik itu kaget setengah mati, karena mendadak senjatanya terasa bagai terpatri erat pada pedang lawannya. Maka seluruh tenaga dalamnya segera dikerahkan untuk menarik pulang senjatanya. Tapi semakin mengerahkan tenaga dalamnya, semakin banyak tenaganya tersedot habis.

“Ih!” Nini Bawuk melepaskan genggamannya pada tangkai pedang. Dan dia benar-benar terkejut, karena telapak tangannya tidak terlepas. Nini Bawuk menggeliat, berusaha melepaskan diri dari tarikan yang begitu menyedot tenaganya. Sedangkan cahaya biru yang menggumpal di ujung pedang Pendekar Rajawali Sakti perlahan-lahan merayap menyelimuti pedang Nini Bawuk.

“Setan! Ilmu apa yang dipakai?” dengus Nini Bawuk cemas.

Seluruh tubuh dan wajah wanita cantik ini basah bersimbah keringat. Wajahnya sebentar memucat dan sebentar merah padam bagai kepiting rebus. Seluruh tubuh Nini Bawuk bergetar menahan arus tenaga sedotan yang bisa menguras tenaganya yang bisa mengakibatkan mati lemas. Perlahan namun pasti, sinar biru yang memancar bergulung-gulung dari Pedang Rajawali Sakti menyelimuti tubuh Nini Bawuk. Dan begitu seluruh tubuh wanita itu terselubung sinar biru, Rangga berteriak nyaring sambil menyentakkan pedangnya. Seketika, terdengar ledakan keras bersamaan dengan terlontarnya tubuh Nini Bawuk yang menggeliat-geliat meregang nyawa. Yang tak lama kemudian nyawanya terpisah dari raganya. Mati!

Rangga mendesah panjang sambil memasukkan pedang pusaka ke dalam warangkanya. Matanya memandang berkeliling. Tampak pertempuran masih terus berlangsung sengit. Sementara, terlihat orang-orang berpakaian hitam mulai terdesak. Bahkan beberapa di antaranya mencoba melarikan diri. Tapi para prajurit yang dipimpin langsung Raden Sanjaya tidak membiarkan mereka lolos. Semua dibabat habis tanpa mengenal ampun.

Sekelebat Rangga melihat sebuah bayangan putih di atas atap. Tanpa membuang waktu lagi, langsung tubuhnya melenting dengan menggunakan jurus ‘Sayap Rajawali Sakti Membelah Mega’. Tubuhnya kini jadi ringan bagaikan kapas. Dan dalam sekejap mata, Rangga sudah berada di atap. Matanya yang tajam bagai mata elang, masih sempat melihat bayangan putih meluruk ke balik tembok benteng bagian belakang.

Rangga langsung mengejar. Diyakini kalau bayangan putih itu adalah Wiratma atau Gagak Item. Tidak ada yang mengetahui, ke mana Rangga pergi. Hanya Prabu Bantar Kencana dan Paman Nara Soma saja yang sempat bisa melihat kepergian Rangga. Sementara pertempuran sudah berhenti. Sisa-sisa orang yang merebut Kerajaan Bantar segera meletakkan senjata. Mereka merasa kalau pemimpinnya sudah melarikan diri, jadi tak ada gunanya melawan lagi.

“Di mana Rangga, Paman?” tanya Raden Sanjaya. Keringat masih mengucur deras di sekujur tubuhnya.

“Dia sudah pergi,” sahut Paman Nara Soma.

“Pergi? Ke mana?” desak Raden Sanjaya.

“Mengejar Gagak Item, ke arah sana!” Paman Nara Soma menunjuk benteng bagian belakang, ke arah Rangga mengejar bayangan putih.

Raden Sanjaya langsung melompat ke arah yang ditunjuk Paman Nara Soma. Panglima Gadalarang juga segera melompat mengejar.

“Sanjaya, tunggu!” teriak Putri Kencana Wungu.

“Kencana Wungu...!”

Prabu Bantar Kencana terkejut melihat putrinya sudah melompat mengejar adiknya dan Panglima Gadalarang. Tapi, Putri Kencana Wungu cepat menghilang di balik tembok. Prabu Bantar Kencana memerintahkan Paman Nara Soma untuk mengejar sambil membawa beberapa prajurit, tapi dicegah dua orang patih perang dari Magada. Mereka kemudian mengikuti, disertai tidak kurang dari lima puluh orang prajurit

********************

TUJUH

Tubuh Pendekar Rajawali Sakti bagai seekor burung yang terbang dari puncak pohon yang satu ke puncak pohon lainnya. Tatapannya tajam mengamati ke bawah, ke arah bayangan putih yang terlihat berkelebat dari balik pohon yang lebat. Menyadari kalau begini terus akan kehilangan jejak, Rangga segera mengempos tenaganya dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai titik kesempurnaan.

Bagaikan seekor rajawali hendak menyambar mangsa, tubuh Pendekar Rajawali Sakti menukik deras ke arah bayangan putih di bawah. Saat ini Rangga mengerahkan jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’. Tidak dapat dibayangkan, betapa terkejutnya si Gagak Item atau Wiratma alias Gusti Pragala begitu melihat Pendekar Rajawali Sakti sudah berdiri menghadangnya.

“Cukup, Wiratma! Perbuatanmu sudah melampaui batas!” sentak Rangga menggeram.

“He he he.... Ada ular mencari penggebuk rupanya,” Wiratma hanya tertawa terkekeh.

“Ya! Ular itu adalah kau!”

Merah padam wajah Wiratma. Maka seketika segera dibukanya jurus mautnya. Dia sadar, siapa yang berada di depannya sekarang. Seorang pendekar muda yang pernah bertarung dengannya, dan membuntungi tangannya. Wiratma tidak mau memandang remeh. Baginya, kehilangan satu tangan sudah cukup sebagai peringatan keras.

Rangga yang sudah muak oleh tingkah polah Wiratma, tidak mau tanggung-tanggung. Segera dikeluarkannya senjata pusakanya. Maka, seketika itu juga keremangan di dalam hutan jadi berubah terang benderang oleh sinar biru yang memancar dari Pedang Rajawali Sakti.

Meskipun sudah pernah melihat pedang itu, tapi Wiratma masih terkejut melihat kedahsyatan pamornya. Kakinya melangkah mundur satu tindak, dan bergeser ke kiri. Tatapannya tajam memandang ke ujung pedang yang memancarkan sinar biru berkilauan.

“Lihat pedang!” teriak Rangga tiba-tiba.

Bersamaan bentakan itu, tubuh Rangga berkelebat cepat seraya mengibaskan pedangnya ke arah dada lawan. Wiratma langsung melompat, menghindari tebasan pedang Pendekar Rajawali Sakti. Langsung dibalas serangan itu dengan menusukkan goloknya yang bergerigi ke arah lambung Rangga. Tapi dengan manis sekali Rangga berhasil mengelakkannya.

Pertarungan terus berlangsung begitu cepat. Masing-masing saling menyerang dan menghindari. Dalam waktu tidak berapa lama, mereka sudah menghabiskan sekitar delapan jurus. Dan ini sangat disadari Rangga, kalau Wiratma bukanlah lawan enteng. Dia tidak tahu kalau Wiratma bertarung sangat hati-hati dan selalu menghindari bentrokan senjata secara langsung.

Setelah pertarungan berjalan lebih dari lima belas jurus, Rangga mulai tampak senang. Karena Wiratma harus selalu berkelit dan berusaha untuk tidak berbenturan senjata. Maka serangannya makin diperhebat dengan jurus-jurus andalan. Hingga beberapa kali Wiratma harus jungkir balik menghindari setiap kibasan pedang.

Satu saat, Rangga melenting tinggi ke udara. Kemudian dengan cepat sekali tubuhnya menukik tajam dengan ujung pedang lurus mengarah ke kepala lawan. Wiratma melompat ke kanan, sambil merundukkan kepalanya. Tapi tidak diduga sama sekali, pedang Pendekar Rajawali Sakti berbalik arah begitu cepat ke arah pinggang.

“Ikh!” Wiratma memekik tertahan, dan buru-buru membanting tubuh ke tanah. Belum lagi tubuhnya menyentuh tanah, mendadak kaki Pendekar Rajawali Sakti terayun deras. Wiratma tidak sanggup lagi menghindar. Tendangannya yang disertai pengerahan tenaga dalam sempurna itu langsung menghantam iganya. Wiratma mengeluh pendek begitu terasa kalau tulang-tulang iganya seperti patah.

“Setan!” dengus Wiratma menggeram.

“Mampus kau, Wiratma!” bentak Rangga keras.

Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti mengibaskan pedangnya ke arah leher. Kali ini, Wiratma yang keseimbangan tubuhnya belum penuh, tidak punya pilihan lain. Segera senjatanya diangkat untuk memapak pedang lawan.

Tring!

Dua senjata pusaka beradu keras, sehingga menimbulkan pijaran bunga api memercik ke segala arah. Wiratma langsung memutar senjatanya. Tapi Rangga malah cepat membalikkan pedangnya sehingga masuk ke dalam gerigi tajam golok Wiratma.

“Hih!”

Wiratma berusaha menarik senjatanya. Tapi usaha Wiratma sia-sia. Ternyata Rangga sudah lebih dulu mengerahkan aji ‘Cakra Buana Sukma’. Dengan demikian, kedua pedang pusaka itu menempel erat bagai terpatri. Wiratma melepaskan genggamannya pada tangkai senjatanya, namun kontan terkejut. Ternyata telapak tangannya menempel erat pada tangkai senjatanya sendiri.

Sekuat tenaga dia berusaha menarik tangannya yang terpatri erat pada tangkai senjatanya sendiri. Tapi semakin kuat mengerahkan tenaga, semakin terasa kalau tenaganya tersedot. Sinar biru dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti mulai bergulung-gulung bergumpal jadi satu dan merayap mendekati tangan Wiratma yang menempel erat pada tangkai senjatanya sendiri.

Hal ini membuat Wiratma semakin melebarkan kelopak mata. Seluruh paras wajahnya menegang dan memucat. Apa yang dikhawatirkan jadi kenyataan. Semua yang dimiliki telah dikeluarkan, tapi tak mampu membendung arus aji ‘Cakra Buana Sukma’.

Rangga menoleh ketika mendengar langkah-langkah kaki mendekati. Dari balik pepohonan, muncul Raden Sanjaya diikuti Panglima Gadalarang. Lalu, tidak lama kemudian para prajurit kerajaan Magada dipimpin dua orang patih perangnya juga muncul. Terakhir kali, datang Putri Kencana Wungu.

“Kakang Rangga...!” panggil Putri Kencana Wungu keras.

“Jangan dekat!” sentak Rangga melihat gadis itu melangkah mendekati.

“Kakang, hentikan. Biar kami yang mengadili orang ini,” kata Putri Kencana Wungu.

Rangga menahan arus aji ‘Cakra Buana Sukma’. Sinar biru yang sudah menggulung seluruh tangan Wiratma jadi terhenti gerakannya. Tapi laki-laki bertangan satu itu tetap tak mampu berbuat apa-apa. Seluruh tenaganya terkuras habis. Hanya dari kekuatan aji ‘Cakra Buana Sukma’ yang membuatnya masih mampu berdiri. Wiratma memandang orang-orang yang sudah mengepung di sekelilingnya. Perlahan-lahan, Putri Kencana Wungu melangkah mendekati. Raden Sanjaya juga ikut mendekati Pendekar Rajawali Sakti.

“Jangan dekat, Kencana Wungu. Kau bisa celaka nanti!” Rangga memperingatkan.

“Hentikan, Kakang. Tidak ada gunanya membunuh orang itu,” kata Putri Kencana Wungu. Suaranya begitu memelas.

“Dia sangat berbahaya. Tidak pantas hidup lebih lama lagi!” sahut Rangga dingin.

“Kencana Wungu...,” Raden Sanjaya menahan tangan gadis itu.

Melihat sinar mata Putri Kencana Wungu yang begitu mengharap, Rangga jadi ragu-ragu. Dipandangnya Raden Sanjaya yang menatap Wiratma dengan sinar penuh kebencian. Memang, kakak beradik ini sangat berbeda sekali sifatnya. Putri Kencana Wungu mendalami segi hukum dan pemerintahan, sedangkan Raden Sanjaya lebih senang menggeluti ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian.

Rangga kemudian melepaskan aji ‘Cakra Buana Sukma’. Maka seketika tubuh Wiratma jatuh ke tanah. Dan bersamaan dengan itu, Raden Sanjaya melompat cepat sambil mengibaskan pedangnya ke leher Wiratma. Tanpa dapat dicegah lagi, mata pedang Raden Sanjaya memenggal leher Wiratma yang sudah tak berdaya lagi. Kepala Wiratma kontan menggelinding bersamaan dengan ambruknya tubuh yang hanya memiliki satu lengan itu.

“Sanjaya!” pekik Putri Kencana Wungu keras.

Raden Sanjaya berdiri tegak dengan pedang berlumuran darah di dekat tubuh Wiratma yang sudah tak bernyawa lagi. Pemuda itu menatap Putri Kencana Wungu tajam. Sementara para prajurit yang mengepung memasukkan senjatanya kembali ke dalam sarungnya.

“Terlalu! Kau membunuh orang yang sudah tidak berdaya!” dengus Putri Kencana Wungu.

“Dia tidak pantas hidup, Kencana Wungu. Untuk apa harus diadili? Toh, akhirnya juga harus mati di tangan algojo!” Raden Sanjaya balas menggeram.

“Tapi bukan begitu caranya, Sanjaya! Ingat! Kau seorang putra mahkota, yang harus bertindak adil dan berpikir lebih dulu sebelum mengambil tindakan!”

“Dia sudah mati. Tidak ada gunanya diributkan!” Raden Sanjaya tidak ingin memperpanjang persoalan.

“Sikapmu seperti bukan seorang putra mahkota saja!” gerutu Putri Kencana Wungu.

Raden Sanjaya hanya tersenyum tipis dan melangkah mendekati Pendekar Rajawali Sakti. Sedikit pun tidak mempedulikan ocehan kakaknya.

“Aku tidak tahu, harus mengucapkan apa padamu,” kata Raden Sanjaya pelan.

Rangga hanya tersenyum.

“Silakan mampir ke istana, Rangga,” pinta Raden Sanjaya ingin menjamu Rangga. “Ayahanda sangat berterima kasih atas bantuanmu ini.”

“Aku ada janji, Sanjaya. Seseorang telah menungguku di Lembah Naga,” tolak Rangga halus.

“Di Lembah Naga? Tempat yang sangat sulit dicapai?” tanya Raden Sanjaya heran. “Untuk apa kau ke sana?”

“Memenuhi tantangan seseorang.”

Dan tanpa diduga sama sekali, tubuh Pendekar Rajawali Sakti sudah mencelat ke atas, lalu hilang tanpa diketahui ke mana perginya. Tentu saja semua orang yang ada di situ jadi terperangah keheranan. Termasuk, Raden Sanjaya, Putri Kencana Wungu, dan Panglima Gadalarang. Mereka jadi celingukan mencari-cari Rangga.

“Aku tidak yakin kalau dia manusia biasa,” gumam Raden Sanjaya pelan.

“Barangkali titisan dewa yang memberantas kejahatan di muka bumi ini,” sambung Panglima Gadalarang.

“Mungkin juga,” desah Raden Sanjaya.

********************

Ke mana sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti pergi? Memang sudah jadi kebiasaannya, setiap kali menyelesaikan satu masalah, selalu menghilang begitu saja. Jarang sekali mau berlama-lama kalau tidak ada kepentingan mendesak.

Ya..., kali ini Rangga si Pendekar Rajawali Sakti harus memenuhi janjinya pada Bayangan Putih untuk bertarung. Sebuah perjanjian gila penuh maut mempertaruhkan nyawa. Sebenarnya Rangga enggan bertarung dengan sesama pendekar dalam satu golongan. Tapi karena Bayangan Putih memaksa, apa boleh buat. Perjanjian itu harus dipenuhinya. Bukan untuk mencari orang yang pantas disebut pendekar nomor satu, tapi hanya ingin memenuhi janji sebagai pendekar sejati!

Rangga terus mengerahkan ilmu lari cepat menuju ke Lembah Naga, tempat perjanjian itu akan berlangsung. Puncak Bukit Naga yang membelakangi Lembah Naga sudah kelihatan dari tempat Rangga berlari. Begitu cepat dan sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, sehingga yang tampak hanyalah sekelebatan bayangan putih meluncur dari balik pohon yang satu ke pohon lainnya.

Mendadak Rangga berhenti berlari ketika tiba-tiba sebuah bayangan biru berkelebat cepat memotong di depannya. Tubuhnya melenting ke udara dan berputaran dua kali, sebelum kakinya menjejakkan tanah ringan tanpa suara.

“Pandan...!” seru Rangga terkejut begitu melihat didepannya berdiri seorang gadis cantik berpakaian ketat serba biru

Gadis itu tersenyum manis. Wajahnya mencerminkan kecerahan bisa bertemu lagi dengan Pendekar Rajawali Sakti. Kakinya terayun gemulai mendekati pemuda itu. Bibirnya yang selalu merah basah, terus menyunggingkan senyum manis.

“Bagaimana kabarmu, Kakang?” sapa Pandan Wangi lembut.

“Baik,” sahut Rangga singkat. Pendekar Rajawali Sakti masih terpana setengah tidak percaya bisa bertemu kekasihnya lagi.

“Kapan kau berangkat dari Karang Setra?” tanya Rangga.

“Belum lama. Baru seminggu,” sahut Pandan Wangi, lembut suaranya.

Rangga mengalihkan pandangannya ke Bukit Naga, kemudian kepalanya menengadahkan ke langit. Bulan terlihat hampir penuh. Besok malam, bulan purnama penuh. Dan itu berarti harus sudah berada di Lembah Naga yang berada di Lereng Bukit Naga untuk memenuhi perjanjiannya dengan si Bayangan Putih.

“Kau tampak terburu-buru sekali. Ada yang dikejar?” tanya Pandan Wangi tanpa mengalihkan perhatian pada wajah tampan di depannya.

“Tidak,” sahut Rangga. Pandangan tetap ke arah Bukit Naga.

“Ada apa di bukit itu?” tanya Pandan Wangi, juga menatap ke arah Bukit Naga.

“Seseorang menungguku di sana,” pelan suara Rangga.

“Seseorang? Siapa?”

“Bayangan Putih.”

“Bayangan Putih? Untuk apa dia menunggumu disana?”

Rangga mengalihkan tatapan pada gadis di depannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis. Perlahan-lahan diceritakannya pertemuannya dengan Bayangan Putih. Juga, mengenai perjanjian gila yang terpaksa disetujui. Pandan Wangi menatap Pendekar Rajawali Sakti setengah tidak percaya. Dia tahu, siapa Bayangan Putih yang merupakan seorang tokoh sakti beraliran putih pilih tanding. Rasanya tidak masuk akal kalau Bayangan Putih menantang Pendekar Rajawali Sakti, yang sudah jelas satu aliran.

“Sebenarnya aku tidak ingin bertarung sesama pendekar golongan putih,” kata Rangga setelah lama terdiam. Suaranya terdengar pelan penuh penyesalan.

“Aku tahu, Bayangan Putih memang keras. Kau tidak perlu menyesali perjanjian itu,” kata Pandan Wangi mencoba menasihati.

Rangga tersenyum tipis. Kakinya terayun, kembali melangkah menuju Bukit Naga yang dikelilingi lembah besar dan dalam. Pandan Wangi bergegas mengikuti di samping Pendekar Rajawali Sakti. Mereka terus berjalan tanpa banyak bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Mereka berjalan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga dalam waktu sebentar saja sudah jauh meninggalkan tempat pertemuan tadi. Mereka berhenti berjalan setelah dekat dengan Lembah Naga. Di depan tampak terhampar padang rumput yang luas, berlatar belakang bukit terselimut kabut tebal.

“Di sana kau akan menghadapi Bayangan Putih, Kakang?” tanya Pandan Wangi.

“Benar,” sahut Rangga singkat. Matanya tetap lurus memandang hamparan padang rumput yang luas bagai permadani.

“Aku tidak melihat seorang pun di sini. Barangkali si Bayangan Putih belum datang,” Pandan Wangi sedikit bergumam. Rangga hanya tersenyum saja. Tubuhnya dihenyak-kan, bersandar pada sebatang pohon yang cukup besar dan melindungi dari hempasan angin lembah yang dingin dan kencang. Pandan Wangi ikut duduk di samping Pendekar Rajawali Sakti.

“Ada yang mendengar tentang perjanjian itu, Kakang?” tanya Pandan Wangi.

“Entahlah. Aku sendiri tidak tahu,” sahut Rangga ragu-ragu.

“Kalau begitu, sebaiknya aku tidak menampakkan diri,” kata Pandan Wangi.

“Tidak perlu. Bayangan Putih pasti akan memilihmu sebagai saksi.”

“Kalau dia tidak ingin ada orang lain yang menyaksikan?”

“Apa boleh buat, kau harus pergi.”

“Heh...,” Pandan Wangi mengeluh panjang.

“Jangan khawatir. Aku yang akan memintamu untuk jadi saksi nanti.” Rangga tahu, gadis ini kecewa.

“Sungguh?” senang sekali Pandan Wangi mendengarnya.

Dia memang tertarik untuk menyaksikan pertarungan tingkat tinggi, walaupun sudah malang melintang dalam rimba persilatan bersama Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan ikut pula melatih ilmu olah kanuragan bagi prajurit-prajurit Karang Setra. Pertarungan dua pendekar sakti tentu akan menarik sekali, karena masing-masing pasti tidak ada yang mau mengalah. Pertarungan juga bisa berjalan panjang kalau dimulai dari jurus-jurus dasar.

Sementara malam merayap larut. Udara pun bertambah dingin membekukan tulang. Rangga menggeser tubuhnya agak rebah. Dipergunakannya ilmu pelepas jiwa untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku. Sebentar kemudian, dia duduk bersila, kedua telapak tangannya diletakkan di lutut. Kelopak matanya terpejam rapat.

Pandan Wangi tahu, kekasihnya tengah menjalankan semadi untuk menenangkan diri. Suatu cara yang khas seorang pendekar dalam beristirahat. Semadi lebih utama daripada tidur. Dalam semadi, kewaspadaan masih bisa terjaga penuh. Lain halnya kalau tidur. Seluruh panca indera tertutup, dan sudah pasti kewaspadaan jadi hilang.

“Aku akan melihat-lihat keadaan sebentar,” gumam Pandan Wangi seraya bangkit berdiri.

“Hm...,” Rangga hanya bergumam saja.

Pandan Wangi mengayunkan langkah pelan-pelan, tidak ingin mengganggu semadi Rangga. Sesaat Rangga membuka kelopak matanya sedikit, dan tersenyum melihat Pandan Wangi berjalan mengelilingi lembah yang sangat luas itu. Kemudian kelopak matanya ditutup, kembali bersemadi menyatukan jiwa dengan alam sekitar. Tapi kewaspadaan dirinya tidak berkurang terhadap segala kemungkinan.

********************

DELAPAN

Hari masih terlalu pagi. Matahari baru saja mengintip dari balik Bukit Naga. Di tengah-tengah Lembah Naga tampak berdiri seorang laki-laki berpakaian ketat serba putih, membentuk tubuhnya yang tegap. Pandangannya lurus ke puncak bukit. Entah kapan datangnya, tahu-tahu si Bayangan Putih sudah ada di Lembah Naga ini.

Rangga bangkit dari duduknya setelah semalam bersemadi. Sebentar ditariknya napas dalam-dalam, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Kemudian kakinya melangkah pelan-pelan menghampiri si Bayangan Putih. Mendengar suara langkah mendekati, Bayangan Putih membalikkan tubuhnya. Rangga terus melangkah, dan berhenti setelah jaraknya dari Bayangan Putih tinggal tiga langkah. Mereka kini berdiri berhadapan.

“Kau bawa teman, Pendekar Rajawali Sakti?” pelan suara Bayangan Putih menyapa.

“Untuk saksi,” sahut Rangga.

“Bagus! Aku juga sudah berpikir untuk mengambil saksi, tapi tidak mendapatkan seorang pun yang pantas,” sambut Bayangan Putih.

Rangga melirik Pandan Wangi yang berdiri mengawasi dari jarak cukup jauh. Pendekar Rajawali Sakti tersenyum dan menganggukkan kepala sedikit. Pandan Wangi membalas anggukkan kepala, dan mengambil tempat duduk di bawah pohon.

“Jauh-jauh aku datang dari timur, hanya untuk bertemu denganmu. Bagaimana? Kau punya tambahan usul?” Bayangan Putih memberi kesempatan.

“Tidak,” sahut Rangga cepat-cepat dan tegas.

“Kalau begitu, aku akan mengusulkan.”

“Silakan. Apa usulmu?”

“Kita saling uji, dan langsung pada jurus andalan dan ilmu kesaktian tingkat tinggi. Tidak perlu basa-basi, tidak perlu sungkan dan tidak ada rasa belas kasihan. Kita bertarung seperti layaknya dua orang bermusuhan. Bagaimana?”

“Boleh,” Rangga setuju.

Dia memang tidak ingin mengemukakan sesuatu yang bisa disalah-artikan. Pendekar Rajawali Sakti harus menjaga agar tetap tidak terjadi permusuhan sungguhan, yang nantinya bisa berakibat buruk.

“Bagus! Kalau begitu, kita bertarung sampai salah satu di antara kita ada yang tewas!”

Rangga tersentak kaget. Sungguh tidak disangka kalau Bayangan Putih menginginkan hal itu. Mana mungkin Pendekar Rajawali Sakti tega membunuh Bayangan Putih? Pantang bagi Rangga untuk mencelakakan sesama pendekar golongan putih, apa lagi sampai membunuhnya. Tapi semua sudah terlambat. Usul yang dikatakan Bayangan Putih sudah disetujui. Pantang bagi seorang pendekar menjilat ludah yang telah dimuntahkan.

“Kau kelihatan tidak setuju, Rajawali Sakti...?” Bayangan Putih menatap tajam pada bola mata Rangga.

“Tidak. Apa pun yang kau katakan, aku tetap setuju!” tegas suara Rangga.

“Bagus! Kau memang seorang pendekar sejati. Aku senang bisa berkenalan denganmu. Mati pun aku tidak akan menyesal. Apalagi, mati di tangan seorang pendekar sejati!” Bayangan Putih tersenyum lebar. Rangga memiringkan kepala sedikit, dan seketika matanya agak menyipit. Tiba-tiba saja terdengar sesuatu yang aneh. Dan apa yang didengar Rangga rupanya juga didengar si Bayangan Putih pula.

“Hm.... Ada tamu tak diundang,” gumam Rangga.

Serentak mereka menoleh ketika gerumbul semak bergoyang. Belum lagi dua pendekar itu bergerak, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat di atas kepala. Tahu-tahu, Pandan Wangi sudah berdiri menghadang di gerumbul semak itu.

“Tahan...!” terdengar bentakan keras, disusul munculnya seorang pemuda tampan dan gadis cantik dari dalam semak belukar itu.

“Raden Sanjaya..., Putri Kencana Wungu!” desis Rangga langsung menghampiri.

Memang, yang datang adalah Raden Sanjaya dan Putri Kencana Wungu. Sementara itu Bayangan putih juga ikut menghampiri. Dia berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Pandan Wangi memasukkan lagi kipas mautnya ke balik ikat pinggang.

“Untuk apa kalian datang ke sini?” tanya Rangga.

“Aku ingin jadi saksi pertarungan kalian,” sahut Putri Kencana Wungu gembira.

“Bagus!” sambut Bayangan Putih gembira.

“Makin banyak saksi, makin bagus!”

“Aku tidak akan mencampuri urusan kalian, hanya ingin menyaksikan siapa di antara kalian yang memang pantas disebut pendekar nomor satu,” lanjut Raden Sanjaya.

Rangga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka memang mengetahui tentang pertarungan itu. Dan Bayangan Putih rupanya mengizinkan mereka untuk menyaksikan. Pendekar Rajawali Sakti hanya mengangkat pundaknya, dan kembali ke tengah-tengah lembah, tempat pertarungan itu akan dilaksanakan. Rangga duduk bersila. Perlahan-lahan matanya terpejam. Syarat yang diajukan Bayangan Putih membuatnya gelisah. Maka, dia ingin menenangkan diri dengan bersemadi, memohon petunjuk Sang Dewata Agung. Meminta keselamatan dirinya dan si Bayangan Putih.

********************

Malam telah larut. Kegelapan menyelimuti sekitar Lembah Naga. Sinar bulan yang keemasan, memancar penuh di langit. Wajahnya yang bulat bersinar, tampak redup. Seolah-olah menyayangkan adanya pertarungan dua pendekar di Lembah Naga. Suasananya sungguh mencekam. Bahkan angin seperti tak berhembus. Semua binatang malam seperti turut gelisah menyaksikan jalannya pertempuran. Sekeliling lembah seperti dirundung nestapa. Sunyi, bagai tak berpenghuni.

Dua pendekar pilih tanding sudah saling berhadapan di tengah-tengah Lembah Naga ini. Mereka menanti saat-saat yang tepat di tengah malam, saat bulan berada di atas kepala. Sedangkan agak jauh, nampak berdiri beberapa orang mengawasi. Semua yang ada di lembah ini ikut merasakan kegelisahan. Sulit bagi mereka untuk menentukan, siapa di antara dua pendekar itu yang akan unggul. Kedua pendekar itu sama-sama sakti dan digdaya.

“Kau gelisah, Pendekar Rajawali Sakti?” Bayangan Putih memecah kesunyian.

“Tidak,” sahut Rangga tegas.

“Masih ada waktu untuk memilih.”

“Pantang bagiku mundur sebelum bertarung.”

“Bagus! Kalau begitu bersiaplah, Rajawali Sakti,” Bayangan Putih tersenyum sinis.

“Silakan, kuberi kau kesempatan lebih dulu,” kata Pendekar Rajawali Sakti.

“Tahan seranganku sampai sepuluh jurus, Rajawali Sakti.”

“Silakan!” Bayangan Putih mendongakkan kepala ke atas, memandang bulan yang berada tepat di atas kepala. Kemudian kakinya merenggang, memasang kuda-kuda untuk memulai jurus pertama. Rangga juga sudah bersiap-siap menerima serangan dari si Bayangan Putih.

“Tahan serangan, yeaaah...!”

Bayangan Putih berteriak nyaring membelah keheningan. Bersamaan dengan itu, tubuh Bayangan Putih mencelat cepat bagai sebatang anak panah lepas dari busurnya. Langsung diserangnya Pendekar Rajawali Sakti dengan jurus-jurus tangan kosong yang cepat dan berbahaya. Begitu cepat jurus-jurus yang dimainkannya, sehingga yang tampak hanyalah kelebatan bayangan putih.

“Hm...,” Rangga bergumam kecil. Pukulan-pukulan yang dilepaskan Bayangan Putih sungguh dahsyat. Angin pukulannya saja mampu menghancurkan pohon besar, dan meluluhkan batu sebesar kerbau. Begitu cepatnya pertarungan berjalan, sehingga lima jurus sudah terlewati. Dan Rangga memang tidak mau membalas sebelum Bayangan Putih mencapai sepuluh jurus. Pendekar Rajawali Sakti hanya menangkis dan berkelit. Dan memang, belum ada satu pukulan pun yang berhasil disarangkan Bayangan Putih ke tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

“Cukup!” sentak Rangga tiba-tiba. Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat keluar dari arena pertarungan.

Bayangan Putih juga menghentikan serangannya. Jelas sekali kalau paras wajahnya memerah. Sudah sepuluh jurus Bayangan Putih menyerang, tapi tidak satu pukulan pun yang mengenai sasaran. Sedangkan sekitar lembah ini sudah porak-poranda akibat pertarungan yang baru berlangsung sepuluh jurus.

“Kau hebat, Rajawali Sakti. Sepuluh jurus sudah kumainkan, dan satu pun tidak kau balas seranganku,” kata Bayangan Putih memuji tulus.

“Aku memberi kesempatan padamu lima jurus lagi, Bayangan Putih,” kata Rangga kalem.

“Tidak! Kini kau yang menyerang. Kuberi kesempatan dua puluh jurus!” balas Bayangan Putih.

“Baiklah. Dalam lima jurus kau tidak bisa kujatuhkan, aku mengaku kalah!” sahut Rangga.

“Silakan mulai, Rajawali Sakti!”

“Bersiaplah!” Rangga membuka jurus pertama dari lima rangkai jurus ‘Rajawali Sakti’. Dia juga membuka jurus ‘Cakar Rajawali’ tahap yang pertama.

“Lihat tangan!” teriak Rangga sambil menerjang.

“Uts!” Bayangan Putih kaget menerima serangan begitu dahsyat dari Pendekar Rajawali Sakti. Cepat tubuhnya berkelit dan membuang diri ke samping. Tapi belum juga tubuhnya sempurna, serangan sudah cepat datang lagi. Bayangan Putih terpaksa berlompatan jungkir balik menghindari setiap serangan jurus ‘Cakar Rajawali’ yang dahsyat dan bertahap.

“Jurus kedua!” teriak Rangga.

Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya menjadi ‘Sayap Rajawali Sakti Membelah Mega’. Kedua tangannya terkembang lebar. Gerakan-gerakan tangannya begitu cepat mengibas ke arah bagian-bagian tubuh Bayangan Putih yang sangat mematikan. Serangan yang digabung datang dari segala arah. Hal ini membuat Bayangan Putih agak kewalahan, karena serangan Rangga sulit diduga arahnya. Kadang-kadang berada di bawah, dan sekejap kemudian berpindah menyerang dari atas.

Dua jurus berlalu, tapi Bayangan Putih masih sanggup menandingi. Sampai pada tahapan terakhir dari jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’, Bayangan Putih masih mampu bertahan. Rangga tersenyum juga melihat Bayangan Putih mampu bertahan menghadapi dua dari lima rangkaian jurus ‘Rajawali Sakti’!

“Jurus ketiga!” seru Rangga langsung mengubah jurusnya.

Kali ini Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat tinggi ke udara. Langsung dikeluarkannya jurus ‘Rajawali Sakti Menukik Menyambar Mangsa’, jurus lanjutan dari jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’. Kedua kakinya bergerak cepat sambil menukik tajam ke arah kepala Bayangan Putih.

Wut, wut!
“Ikh!”

Bayangan Putih langsung menjatuhkan diri ke tanah, menghindari kepalanya dari telapak kaki Rangga. Dan begitu melompat bangkit, Rangga sudah memberi sodokan tangan kanan ke arah perut. Bayangan Putih kontan melotot. Buru-buru tangannya dikibaskan untuk menangkis sodokan yang cepat itu.

Trak!

Dua tangan beradu keras di depan perut Bayangan Putih. Seketika Bayangan Putih meringis. Pergelangan tangannya kontan terasa kesemutan waktu beradu tadi. Dia langsung melompat mundur sambil meringis. Rangga berdiri tegak, tidak melanjutkan serangannya. Dia tahu, Bayangan Putih sedang merasakan sakit pada pergelangan tangannya. Ditunggunya sampai Bayangan Putih kembali siap menerima serangan kembali. Sebenarnya kalau Rangga mau, bisa saja mencecar. Yang kemungkinan Bayangan Putih akan jatuh pada jurus ke tiga. Tapi, jiwa kependekaran yang dimiliki Rangga tidak mengizinkan menyerang lawan yang belum siap.

“Bagaimana?” tanya Rangga.

“Kau hebat, Rajawali Sakti. Dalam tiga jurus, kau mampu membuatku goyah. Tapi itu bukan berati kau sudah menang!” sahut Bayangan Putih sedikit mendengus.

“Masih dua jurus lagi, Bayangan Putih,” Rangga menawarkan.

“Hm.... Kau masih merasa sungkan rupanya,” gumam Bayangan Putih kurang senang.

Rangga hanya tersenyum, kemudian bersiap-siap mengeluarkan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’, jurus keempat dari lima rangkaian jurus ‘Rajawali Sakti’. Bahkan jurusnya dikerahkan pada tahap terakhir. Begitu jurus itu dikerahkan, mendadak kedua tangannya jadi berubah merah menyala bagai terbakar. Bayangan Putih mendelik melihat jurus yang dikeluarkan Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan langsung melompat mundur sambil mengangkat tangannya ke depan.

“Tunggu!” sentak Bayangan Putih keras.

“Hm..., ada apa?” tanya Rangga.

“Belum saatnya mengeluarkan ilmu kesaktian, Rajawali Sakti!”

“Ini pengaruh dari jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Tidak ada unsur kesaktian dalam jurus ini. Kau akan merasakannya nanti setelah bertarung, Bayangan Putih,” jelas Rangga.

“Hm...,” Bayangan Putih menyipitkan matanya.

Rangga menggerak-gerakkan tangan, kaku, dan tubuhnya memamerkan gerakan dari jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Melihat gerakan-gerakan itu, Bayangan Putih baru percaya kalau Rangga memang belum mengerahkan ilmu kesaktian.

“Bagaimana?” tanya Rangga.

“Teruskan!”

“Tahan seranganku, Bayangan Putih!” seru Rangga.

Begitu selesai berkata, Pendekar Rajawali Sakti cepat melontarkan pukulan ke arah dada. Bayangan Putih memiringkan tubuhnya ke kiri. Tapi tanpa diduga sama sekali, tangan kanan Rangga berputar menyampok ke pinggang. Bayangan Putih memekik tertahan, dan buru-buru melompat mundur. Dua serangan yang begitu cepat dan berantai, gagal. Namun, Bayangan Putih sempat merasakan angin pukulan yang panas menyengat.

Rangga terus melompat memberi serangan-serangan beruntun. Cahaya merah berkelebat mengurung tubuh Bayangan Putih. Udara dingin di sekitar lembah ini berubah panas, akibat pengaruh jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’ yang dikeluarkan Rangga. Semakin lama, udara di sekitar pertarungan makin menyengat. Bayangan Putih merasakan dadanya sesak, dan kulitnya seperti terbakar. Begitu perih dan menyakitkan!

“Awas kepala!” tiba-tiba Rangga berteriak nyaring.

Secepat kilat Bayangan Putih merunduk, begitu tangan kiri Rangga melayang ke arah kepala. Namun rupanya itu hanya tipuan saja, karena tangan kiri Rangga cepat berbalik arah menuju dada. Bayangan Putih terkejut, buru-buru tubuhnya ditarik ke belakang. Dan pada saat itu, Rangga mengibaskan kakinya cepat, menyampok kaki Bayangan Putih.

“Ikh!” seru Bayangan Putih melompat.

Tiba-tiba tangan kanan Rangga melayang deras ke arah perut. Dan tanpa dapat dicegah lagi, pukulan maut itu bersarang di perut Bayangan Putih. Maka, kontan tubuh laki-laki berpakaian serba putih itu terguling.

Rangga berdiri tegak menanti Bayangan Putih bangkit. Namun, Bayangan Putih terus menggeletak. Setelah agak lama, baru dia bangkit perlahan-lahan. Tampak pada bagian dada dan perutnya tergambar tapak tangan berwarna merah bagai terbakar.

“Ugh! Hebat! Hebat kau, Rajawali Sakti,” suara Bayangan Putih tersengal.

“Maaf. Apakah kau merasakan sesuatu di perut?” tanya Rangga.

“Hanya panas. Ugh!” sahut Bayangan Putih.

“Bersemadilah dulu barang sebentar,” kata Rangga mendekati.

Bayangan Putih duduk bersila. Kedua telapak tangannya segera dirapatkan di depan dada. Kedua kelopak matanya terpejam rapat. Rangga menempelkan tangannya ke perut yang tergambar telapak tangan yang bersarang akibat jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’!

Asap tipis kemerahan mengepul dari telapak tangan yang menempel di perut. Bayangan Putih meringis, lalu membuka matanya perlahan-lahan. Rangga melepaskan tangannya setelah warna merah di perut itu hilang tak berbekas. Peluh mengucur deras di wajah Bayangan Putih. Sementara Pendekar Rajawali Sakti sudah duduk bersila di depannya. Dibiarkannya Bayangan Putih memulihkan tenaganya dulu.

“Ugh! Aku mengaku kalah, Rajawali Sakti,” kata Bayangan Putih pelan. “Kau mampu menjatuhkanku dalam empat jurus. Aku berani bertaruh, kalau pertarungan ini dilanjutkan aku akan mati di tanganmu.”

“Kita belum mencapai pada ilmu kesaktian, Bayangan Putih,” Rangga seolah-olah mengingatkan kesombongan Bayangan Putih.

“Tidak! Aku tidak akan mampu menandingi aji ‘Cakra Buana Sukma’ milikmu, Rajawali Sakti. Apalagi, Pedang Rajawali mu itu!” sahut Bayangan Putih mengakui kekalahannya.

Rangga bangkit berdiri, dan mengulurkan tangannya membantu Bayangan Putih berdiri. Pengaruh dari ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’ belum hilang sepenuhnya di tubuhnya. Untung saja Rangga mengerahkannya tidak penuh. Kalau saja dengan kekuatan penuh, pasti perut Bayangan Putih sudah jebol berantakan.

“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.

“Kembali ke timur. Aku harus lebih banyak lagi memperdalam jurus-jurusku. Kelak, aku akan menantangmu kembali, Rajawali Sakti,” sahut Bayangan Putih.

“Kutunggu tantanganmu,” sahut Rangga tersenyum.

“Sampai ketemu lagi, Rajawali Sakti!”

Bayangan Putih langsung melompat dan meninggalkan lembah ini. Rangga memandangi disertai senyuman di bibir. Tubuh Bayangan Putih hilang di balik pepohonan. Sementara itu, matahari mulai menampakkan diri dari balik Bukit Naga yang terselimut kabut tebal. Rangga masih berdiri mematung, memandang ke arah Bayangan Putih pergi.

Pandan Wangi menghampiri dan berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Raden Sanjaya bersama Putri Kencana Wungu juga berdiri di dekat Rangga. Beberapa saat mereka semua terdiam, memandang ke arah lenyapnya Bayangan Putih.

“Apakah dia tidak dendam padamu, Kakang?” tanya Pandan Wangi seraya menoleh menatap wajah tampan di sampingnya.

“Tidak,” sahut Rangga tanpa menoleh sedikit pun.

“Kenapa kau tidak membunuhnya, Kakang?” celetuk Putri Kencana Wungu polos. Sejak tadi, matanya menatap Rangga dengan sinar penuh kekaguman.

Rangga menoleh. Kepalanya menggeleng-geleng perlahan. “Dia bukan orang jahat, Adikku,” kata Rangga tersenyum manis.

“Tapi, dia menantangmu.”

“Seseorang yang menantang bertarung, belum tentu jahat. Pertarungan bukan hanya untuk saling membunuh, tapi juga untuk saling menguji. Hanya satu yang harus kau pahami dalam-dalam, Kencana Wungu. Ilmu olah kanuragan dan ilmu kesaktian bukanlah untuk membunuh, tapi untuk membela diri dari orang-orang jahat,” Rangga memberi petuah.

“Kakang sudi memberiku beberapa jurus, kan?”

“Tentu, Adikku,” sahut Rangga.

“Sungguh? Kapan?”

“Nanti, kalau tugasku sudah selesai,” sahut Rangga.

“Kapan?”

“Kencana...,” Raden Sanjaya menarik tangan adiknya.

Rangga tersenyum. Dia merasa Putri Kencana Wungu sungguh-sungguh ingin mempelajari beberapa jurus darinya. Pendekar Rajawali Sakti jadi teringat saat masih kecil dulu. Dia juga gemar mempelajari ilmu olah kanuragan. Dan selalu menuntut untuk diajarkan, di samping banyak membaca kitab yang menulis tentang ilmu-ilmu olah kanuragan dan falsafah hidup.

“Maafkan kelancangan adikku, Rangga,” kata Raden Sanjaya.

“Tidak apa. Aku memang berniat untuk memberikan beberapa jurus padanya,” sahut Rangga.

“Hm. Kalau begitu, aku harus mempersiapkan diri mulai sekarang,” sambut Putri Kencana Wungu gembira.

“O ya, bagaimana kalau kita mampir ke Istana Bantar dulu, Pandan? Sekalian bertemu Gusti Prabu Bantar,” usul Pendekar Rajawali Sakti.

Pandan Wangi menganggukkan kepalanya. Melihat ini semua, Raden Sanjaya dan Putri Kencana Wungu merasa sangat gembira. Mereka berhasil mengajak kedua pendekar muda digdaya itu mengunjungi Istana Bantar.

Tepat ketika matahari berada di atas kepala tampak empat sosok bayangan berjalan perlahan-lahan meninggalkan Lembah Naga. Rangga menggandeng tangan Pandan Wangi, sementara Raden Sanjaya berjalan beriring dengan adiknya, Putri Kencana Wungu. Empat sosok bayangan itu semakin lama semakin mengecil. Hingga akhirnya lenyap di kejauhan.

S E L E S A I

BERIKUTNYA: ISTANA MAUT
Thanks for reading Penyamaran Raden Sanjaya I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »