Istana Maut

Pendekar Rajawali Sakti

ISTANA MAUT


SATU
SIANG ini udara sangat cerah. Tiupan angin semilir, menebarkan kesejukan bagi penghuni mayapada. Langit tampak bersih, tanpa awan sedikit pun menggantung. Sinar matahari yang terik, tak terasa lagi karena tersapu hembusan angin. Dalam suasana seperti ini, rasanya enggan untuk melakukan kegiatan. Orang akan lebih senang bermalas-malasan di bawah pohon, sambil menikmati keindahan alam.

Suasana seperti ini tidak dilewatkan begitu saja oleh seorang pemuda berwajah tampan berbaju putih tanpa lengan. Dia duduk bersandar di bawah sebatang pohon beringin yang berdaun rindang, menaungi dirinya dari sengatan matahari. Bibirnya tersenyum-senyum menyaksikan dua ekor burung bangau saling berebut katak yang terdapat di tengah sawah. Pikiran iseng seketika terlintas di benaknya. Dipungutnya sebutir kerikil di dekatnya, lalu dengan kuat dilemparkan ke arah dua ekor bangau yang sedang berebut makanan.

"Ha ha ha...!" pemuda itu tertawa terbahak-bahak kesenangan melihat burung bangau begitu terkejut dan terbang tinggi meninggalkan makanan yang diperebutkan. Kembali tubuhnya disandarkan di pohon. Tapi belum sempat memejamkan mata, mendadak terasa ada sesuatu yang menimpa kepalanya. Pemuda itu meraba kepalanya, ada sesuatu yang lembek di situ.

"Heh...?!" dia terkejut begitu melihat tangannya sudah penuh kotoran burung. Cepat-cepat kepalanya didongakkan. Kembali terlihat sesuatu jatuh ke arahnya. Maka buru-buru kepalanya ditarik ke samping.

"Sial...!" rutuk pemuda itu mendengus. Lebih gusar lagi begitu melihat jauh di atas kepalanya, ada dua ekor burung bangau tengah beterbangan berputar-putar. Pemuda itu mengambil kerikil, dan langsung dilemparkan ke arah dua burung bangau putih itu.

"Jangan pergi kau...!" teriak pemuda itu geram. Tapi begitu melihat burung-burung itu malah sengaja mempermainkannya, dia malah jadi tertawa terbahak-bahak. Pemuda itu jadi teringat kalau tadi telah menjahili burung itu. Yaaah..., ternyata binatang juga punya naluri yang begitu tajam. Bahkan mampu membalasnya.

Pemuda berbaju rompi putih itu berlari menuju sungai yang tidak jauh di depannya. Langsung kepalanya dicuci di air sungai yang nampak jernih. Tapi begitu hendak kembali ke tempatnya, hatinya jadi tertegun karena di bawah pohon itu sudah duduk seorang laki-laki tua bertubuh kurus yang mengenakan baju kumal seperti gembel. Dia mendengus, tapi tidak mengusir orang tua itu. Malah diambilnya tempat lain. Namun dia jadi terkejut, karena orang tua itu bangkit dan menghampirinya.

"Boleh aku duduk menemanimu di sini, Anak Muda?" pinta laki-laki tua itu sopan.

"Silakan," sahut pemuda itu singkat.

"Terima kasih," ucap laki-laki tua itu. Laki-laki berpakaian kumal itu menyandarkan tubuhnya di pohon, lalu menjulurkan kakinya ke depan sambil menghembuskan napas panjang.

Sedangkan pemuda di sampingnya hanya melirik saja. Pada saat yang sama, laki-laki tua itu juga melirik ke arahnya.

"Boleh ku tahu namamu, Anak Muda?" pinta laki-laki tua itu lagi. Sikapnya masih tetap sopan. Bahkan suaranya begitu lembut dan ramah meskipun terdengar sedikit serak.

Pemuda itu hanya diam saja. Tapi keningnya sedikit berkerut, seakan-akan permintaan orang tua itu terasa aneh terdengar di telinganya.

"Oh, maaf. Jika aku ingin mengetahui seseorang, tentunya terlebih dahulu memperkenalkan diri," kata orang tua itu lagi, tetap sopan suaranya terdengar.

Sedangkan pemuda berbaju rompi putih di sampingnya tetap saja diam membisu. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Yang jelas, dia sedang mengamati dan menduga-duga, siapa laki-laki tua ini.

"Orang-orang biasa memanggilku si Tua Gila," laki-laki tua itu memperkenalkan dirinya.

"Hhm...," pemuda itu hanya menggumam kecil saja.

"Aku sendiri sudah tidak tahu lagi, siapa namaku yang sebenarnya," sambung si Tua Gila itu lagi.

Sedangkan pemuda tampan berbaju rompi pu-tih di sampingnya masih tetap diam membisu, seakan-akan enggan berbicara. Pandangannya malah lurus ke depan, merayapi hamparan sawah yang nampak gersang, bagai lama tak terjamah tangan para petani.

"Kau pasti tidak percaya kalau aku digelari si Tua Gila, Anak Muda," kata laki-laki tua itu lagi.

"Aku percaya," sahut pemuda itu pelan.

"Kalau begitu, kau bersedia memperkenalkan dirimu, bukan?"

Pemuda itu tersenyum. Memang lucu juga laki-laki tua ini. Caranya mendesak begitu aneh. Dan bibir yang keriput hampir tertutup kumis itu selalu menyunggingkan senyuman lebar, seakan-akan ingin memperlihatkan giginya yang sudah keropos dan hitam.

"Panggil saja aku Rangga," sahut pemuda berbaju rompi putih yang ternyata adalah Pendekar Rajawali Sakti.

"He he he...," si Tua Gila malah terkekeh.

"Kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu?" Rangga jadi tidak senang juga.

"Jangan tersinggung, Anak Muda. Aku tertawa karena senang. Ternyata apa yang kucari selama ini terlaksana juga," kata si Tua Gila.

"Kau mencariku? Untuk apa...?" Rangga terperanjat. Pemuda berbaju rompi putih itu memandangi si Tua Gila dalam-dalam. Sungguh hatinya sangat terkejut begitu mendengar laki-laki tua ini memang sedang mencarinya. Untuk apa? Sedangkan selama ini mereka belum pernah berjumpa. Bahkan baru kali ini bertatapan muka.

"Cukup sulit juga mencarimu, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi usahaku ternyata tidak sia-sia. Sang Hyang Widi rupanya mengabulkan juga keinginanku," ungkap si Tua Gila.

"Untuk apa kau mencariku, Ki?" tanya Rangga menghormati orang tua ini, karena memanggilnya dengan sebutan 'Ki'

"He he he...," si Tua Gila malah terkekeh.

Rangga jadi semakin heran, karena si Tua Gila tidak menjawab pertanyaannya. Bahkan malah bangkit berdiri dan melangkah pergi. Rangga ikut bangkit berdiri dan mengikutinya. Langkahnya disejajarkan di samping orang tua aneh ini.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Ki," kata Rangga menagih jawaban.

"Sebaiknya ikut saja denganku, Pendekar Rajawali Sakti," kata si Tua Gila. Kali ini suaranya terdengar serius.

"Ke mana?" tanya Rangga.

"Nanti juga akan tahu," sahut si Tua Gila kalem.

"Hm.... Kau membuat teka-teki, Ki," gumam Rangga.

"Hanya sedikit permainan saja, Pendekar Rajawali Sakti."

"Untuk apa?"

"He he he...," lagi-lagi si Tua Gila terkekeh.

Rangga tidak bisa lagi mendesak. Meskipun penasaran, tapi rasanya tidak mungkin mendesak orang tua itu. Mereka terus berjalan berdampingan tanpa bicara lagi. Memang tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Dan Rangga semakin bertanya-tanya saat mengenali jalan yang kini dilaluinya. Jelas, jalan ini menuju Hutan Jabung. Sebuah hutan yang sangat lebat, terletak di lereng Bukit Jabung. Hanya ada satu perkampungan di sekitar bukit ini, tapi sudah tidak ada penghuninya lagi.

Entah kenapa, Rangga sendiri tidak tahu. Dia tadi sempat melintasi perkampungan itu. Sama sekali Pendekar Rajawali Sakti tidak tertarik, karena memang sering menemukan perkampungan kosong yang ditinggalkan penduduknya. Terlalu banyak alasan yang diberikan orang-orang untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain. Dan mereka biasanya menjarah tempat baru untuk mendapatkan hidup yang lebih layak lagi.

Mereka terus berjalan mendekati hutan yang sudah terlihat keangkerannya, meskipun belum memasukinya. Hutan ini seperti tidak pernah terjamah tangan manusia. Pepohonan yang tumbuh begitu rapat, seakan-akan tidak memberi kesempatan bagi siapa saja yang ingin menjamah. Begitu rapatnya, sehingga sinar matahari tidak dapat menembus menyinari tanah.

Begitu menginjakkan kakinya di tepi hutan itu, mendadak saja sebuah benda berwarna kemerahan meluncur deras kearah mereka berdua. Rangga yang sejak tadi memang sudah waspada, langsung melentingkan tubuhnya sambil berseru memperingatkan si Tua Gila. Tapi sungguh tidak disangka sama sekali. Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu si Tua Gila sudah menangkap benda itu dengan kedua jarinya. Rangga yang baru saja menjejakkan kakinya di tanah, langsung menghampiri.

"Rupanya mereka sudah menunggu kita di sini, Rangga," jelas si Tua Gila seraya menunjukkan benda yang ditangkapnya.

Benda itu berbentuk bulat panjang seperti sebatang ranting berwarna merah. Kedua ujungnya runcing, dan panjangnya tidak lebih dari sejengkal saja. Rangga mengambil benda itu dari tangan si Tua Gila, dan sebentar mengamati. Ternyata benda itu terbuat dari logam yang sangat keras.

"Siapa mereka, Ki?" tanya Rangga.

"Partai Naga," sahut si Tua Gila.

"Siapa itu Partai Naga?" tanya Rangga lagi.

Tapi belum juga pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti terjawab, mendadak saja dari dalam hutan bermunculan orang-orang berbaju hitam yang ketat. Pada bagian dada terdapat gambar seekor naga. Mereka berjumlah sekitar sepuluh orang, dan berpenampilan hampir mirip. Yang lain pada tubuh mereka hanyalah di bagian lengan. Mereka menggunakan gelang yang tidak sama jumlahnya.

Delapan orang memakai gelang satu buah. Tapi dua orang lagi memakai gelang berjumlah dua dan tiga buah. Dua orang itu berdiri paling depan, sedangkan delapan orang lagi berada di belakang. Mereka semua membawa sepasang tongkat pendek berwarna merah. Dan di pinggang masing-masing tergantung sebilah pedang yang gagangnya berbentuk kepala seekor naga.

"Sudah kuduga, kau pasti akan datang lagi, Tua Gila!" kata salah seorang yang mengenakan gelang tiga buah.

"Aku memang akan datang lagi untuk menumpas kalian!" dengus si Tua Gila dingin.

Sepuluh orang itu tertawa terbahak-bahak, tanpa sedikit pun memandang sebelah mata pada pemuda yang berdiri di samping si Tua Gila agak ke belakang sedikit. Sementara itu, Rangga hanya diam saja memperhatikan. Dia tidak tahu, siapa sepuluh orang ini, dan apa hubungannya dengan si Tua Gila.

Trek!

Orang yang memakai gelang tiga buah pada pergelangan tangan kanannya, membenturkan dua tongkat yang dipegangnya. Seketika juga delapan orang yang berada di belakangnya segera berlompatan maju ke depan. Mereka serentak menyilangkan kedua tongkatnya di depan dada. Sedangkan si Tua Gila tenang-tenang saja. Bahkan bibirnya malah menyunggingkan senyuman tipis.

"Serang...!" tiba-tiba saja orang yang memakai gelang tiga buah itu berteriak lantang memberi perintah.

"Hiyaaa...!"
"Yeaaa...!"

Serentak delapan orang yang hanya mengenakan gelang sebuah itu berlompatan sambil berteriak-teriak keras. Mereka langsung menyerang si Tua Gila dengan sepasang tongkat yang berkelebat cepat

"Hup." Yeaaah....!

Cepat sekali si Tua Gila mengibaskan tangannya sambil cepat memutar tubuhnya seraya mendorong dada Rangga ke belakang hingga terdorong ke belakang. Si Tua Gila bergerak cepat dengan meliuk-liukkan tubuhnya menghindari setiap serangan gencar. Malah sesekali juga memberi serangan balasan.

Pendekar Rajawali Sakti

Sementara Rangga hanya dapat menyaksikan saja pertarungan yang tidak seimbang sama sekali. Seorang tua dikeroyok delapan orang bersenjata sepasang tongkat berwarna merah menyala. Kedua ujung tongkat itu sangat runcing dan pipih. Tapi tampaknya si Tua Gila mampu menghadapi keroyokan lawan-lawannya. Bahkan kini orang tua berjubah kumal itu mampu mendesak. Beberapa kali pukulan dan tendangannya berhasil disarangkan ke tubuh lawan-lawannya. Akibatnya, mereka berjumpalitan dan bergelimpangan di tanah sambil mengaduh kesakitan, tapi cepat bangkit. Bahkan kembali menyerang ganas. Sepasang tongkat merah mereka tetap merupakan ancaman yang berarti bagi si Tua Gila.

"Hiyaaa...!" Tiba-tiba saja si Tua gila berteriak keras menggelegar. Dan bersamaan dengan itu, tubuhnya melenting ke udara, kemudian cepat sekali menukik ke bawah sambil melontarkan beberapa pukulan cepat mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi.

Saat itu juga terdengar beberapa jeritan melengking tinggi, disusul bertumbangannya beberapa tubuh yang langsung menggelepar di tanah. Tampak dari mulut mereka keluar darah segar. Mereka bergelimpangan sambil merintih kesakitan. Sementara lima orang lainnya begitu terkejut melihat kejadian yang cepat dan tidak terduga sama sekali.

Namun sebelum menyadari apa yang terjadi, si Tua Gila sudah kembali bergerak cepat bagai kilat. Dilontarkannya beberapa pukulan bertenaga dalam tinggi. Kembali terdengar jeritan melengking tinggi saling sambut. Maka lima orang itu jatuh menggelepar di tanah sambil merintih kesakitan.

"Keparat..!" geram orang yang memakai gelang tiga buah. Seketika orang itu melompat menerjang si Tua Gila. Sambil berteriak melengking tinggi, dilepaskannya dua pukulan sekaligus ke arah dada si Tua Gila. Namun laki-laki tua itu rupanya lebih cepat lagi mengibaskan tangannya ke depan. Sehingga, benturan dua pasang telapak tangan tidak bisa dihindari lagi.

Blarrr.... Ledakan keras menggelegar terdengar ketika dua pasang telapak tangan beradu di udara. Tampak si Tua Gila maupun orang berbaju hitam yang memakai tiga buah gelang itu terpental jauh ke belakang. Mereka kini sama-sama bergulingan di tanah, namun cepat bisa bangkit berdiri. Mereka kembali bersiap melakukan pertarungan.

Sementara itu, delapan orang yang tergeletak di tanah, tidak ada yang bergerak lagi. Tewas dengan tubuh membiru. Darah yang keluar dari mulut semakin banyak, dan kini berubah menjadi kehitaman, juga sangat kental. Saat itu si Tua Gila dan orang bergelang tiga buah sudah bersiap melakukan pertarungan kembali.

"Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"

Hampir bersamaan mereka berlompatan menerjang ke depan. Dan pada saat yang sama pula, orang yang bergelang dua yang sejak tadi hanya diam saja, segera melakukan serangan. Cepat-cepat tangan kanannya dikibaskan setelah memindahkan tongkatnya ke tangan kiri. Saat itu terlihat sebuah benda merah sepanjang jengkal melesat bagai kilat ke arah si Tua Gila. Rangga yang menyaksikan kecurangan orang itu, tidak bisa tinggal diam begitu saja.

"Hup! Hyeaaa...!"

Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti melemparkan benda yang masih berada di tangannya. Sebuah benda yang sama dengan yang dilempar orang bergelang dua buah itu. Seketika kedua benda yang bentuk dan ukurannya sama persis itu saling beradu di udara, langsung hancur jadi debu karena sama-sama dilontarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi.

Orang yang menggunakan gelang dua buah itu jadi terkejut bukan main melihat senjata rahasianya hancur sebelum mencapai sasaran. Bahkan kini si Tua Gila sudah menyerang orang berbaju hitam yang bagian dadanya bergambar naga. Sambil memperhatikan orang bergelang dua itu, Rangga juga memperhatikan jalannya pertarungan.

Dan tampaknya si Tua Gila memang berada jauh di atas lawannya. Terbukti baru beberapa jurus saja pertarungan itu berlangsung, si Tua Gila berhasil mendesak lawan-lawannya. Bahkan beberapa kali berhasil menyarangkan pukulan bertenaga dalam tinggi. Hal ini membuat lawan semakin kewalahan menghadapi laki-laki tua itu.

Hingga suatu ketika, satu pukulan si Tua Gila berhasil bersarang di dada orang bergelang tiga itu. Akibatnya, orang itu terjajar ke belakang. Dan belum sempat lawan menyentuh tanah, si Tua Gila sudah kembali melompat sambil berteriak keras menggelegar, dibarengi pukulan bertenaga dalam tinggi sekali.

"Hiyaaat...!"
Desss!

"Aaa...!" orang bergelang tiga itu menjerit melengking tinggi. Pukulan pamungkas si Tua Gila tepat menghantam dada lawan hingga melesak masuk ke dalam. Orang itu memuntahkan darah kental berwarna kehitaman, lalu ambruk tewas seketika. Si Tua Gila membalikkan tubuhnya menghadap satu orang lagi.

Tapi belum juga bertindak, orang itu sudah berbalik cepat, langsung melarikan diri masuk ke hutan. Cepat sekali gerakannya, sehingga sekejap saja sudah tidak terlihat lagi bayangannya. Si Tua Gila hendak mengejar, tapi Rangga cepat mencegahnya.

"Tunggu...!" Si Tua Gila mengurungkan niatnya untuk mengejar satu orang yang berhasil lolos itu. Tubuhnya kembali berbalik, disertai sorot mata yang tajam menatap Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga tajam pula membalas tatapan itu.

"Tidak ada gunanya mengejar, Ki!" tegas Rangga.

"Dia akan memberi tahu yang lain, Rangga. Dan ini bisa menyulitkan kita," dengus si Tua Gila.

"Maaf, Ki. Aku tidak melihat ada kesulitan apa-apa. Barangkali mereka hanya penyamun-penyamun kecil yang lagi sial nasibnya," ujar Rangga mencoba berolok.

"Ini bukan waktunya berolok, Rangga!" sentak si Tua Gila kesal.

Rangga menelan ludahnya sendiri mendengar sentakan laki-laki tua itu. Sungguh tidak disangka kalau, sikap si Tua Gila ini begitu cepat menganggapnya orang dekat. Bahkan seperti sudah bertahun-tahun mengenal Pendekar Rajawali Sakti.

"Ayo, kita jalan lagi!" ajak si Tua Gila.

"Ke mana?" tanya Rangga.

"Kau ternyata terlalu banyak tanya, Rangga. Apakah kau tidak bisa melihat adanya bahaya besar menghadang di depan?! Suatu malapetaka besar akan terjadi dan akan menghancurkan dunia ini!" agak keras suara si Tua Gila itu.

"Heh...?! Aku tidak mengerti maksudmu...? Rangga terhenyak tidak mengerti. Sungguh sulit bagi Pendekar Rajawali Sakti memahami maksud si Tua Gila ini. Semua perkataannya membuat Pendekar Rajawali Sakti kebingungan sendiri. Sedangkan si Tua Gila sudah kembali melangkah memasuki hutan.

"He...! Tunggu...!" seru Rangga seraya mengejar.

Si Tua Gila terus saja berjalan cepat memasuki Hutan Jabung yang sangat lebat dan terlihat angker itu. Rangga mensejajarkan langkahnya di samping laki-laki tua aneh itu. Ingin rasanya Pendekar Rajawali Sakti bertanya. Tapi begitu melihat raut wajah tua di sampingnya selalu memberengut, niatnya segera diurungkan. Benaknya terus dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Hal itu membuat Rangga jadi semakin penasaran, ingin segera mengetahui jawabannya.

Mereka meneruskan perjalanan tanpa banyak bicara lagi. Semakin jauh berjalan, semakin rapat hutan ini. Dan perjalanan pun semakin terasa sulit, sehingga mereka harus menyibakkan semak dan pepohonan kecil. Bahkan terkadang harus memutari pohon besar yang tidak bisa dipeluk oleh sepuluh orang dewasa yang saling berpegangan tangan merentang sekalipun.

"Ke mana tujuan kita sebenarnya, Ki?" tanya Rangga. Pendekar Rajawali Sakti tidak betah hanya membisu saja begitu. Terlebih lagi, dirinya kini diliputi berbagai macam pertanyaan atas sikap si Tua Gila yang dirasakan sangat aneh. Namun saat ini si Tua Gi-la belum juga menjelaskan tujuannya pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Ki, ke mana tujuanmu sebenarnya...?" Rangga jadi tidak sabaran.

"Sudah kubilang, jangan banyak tanya!" bentak si Tua Gila.

"Kalau begitu, lebih baik aku tidak mengikutimu!" dengus Rangga gusar.

Pendekar Rajawali Sakti menghentikan langkahnya, dan malah duduk di atas akar yang menyembul keluar dari dalam tanah. Maka mau tak mau si Tua Gila berhenti juga. Dipandanginya Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Ada tersirat kegusaran pada sinar matanya, tapi Rangga tidak peduli. Bahkan malah merebahkan tubuhnya bersandar pada batang pohon itu.

"Baiklah, akan kujelaskan," kata si Tua Gila akhirnya menyerah juga.

"Itu lebih bagus," sambut Rangga seraya tersenyum.

DUA

Si Tua Gila mengambil tempat, lalu duduk di depan Pendekar Rajawali Sakti. Wajahnya masih kelihatan kesal, karena tidak menyenangi keadaan ini. Suatu keadaan yang sangat terpaksa sekali, tapi harus diceritakan juga pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Nah! Ceritakanlah, kenapa dan untuk apa kau mencariku?" desak Rangga.

"Aku mencarimu karena ada perlu," sahut si Tua Gila.

"Bisa kau jelaskan, bukan?"

"Huh! Sebenarnya aku paling tidak suka kepepet begini. Tapi karena kau terus mendesak, ya terpaksa."

Rangga diam saja. Senyuman tipis penuh kemenangan tersungging di bibirnya. Tapi diakuinya kalau si Tua Gila itu cukup sulit untuk didesak.

"Terus terang, sebenarnya aku paling tidak suka mendapat tugas seperti ini," kata si Tua Gila memulai.

"Tugas...?" Rangga mengerutkan keningnya.

"Aku diberi tugas untuk mencari dan membawamu pada mereka. Karena, mereka semua berkeyakinan kalau kaulah yang mampu menghadapinya saat ini. Tidak ada seorang pendekar pun yang sanggup. Sudah banyak yang mencoba, tapi semua gagal. Bahkan mereka tewas tanpa ada yang bisa melihat mayatnya lagi"

"Siapa yang memberimu tugas mencariku?" tanya Rangga.

"Semua orang," sahut si Tua Gila.

"Apa maksudmu dengan semua orang?" Rangga tidak mengerti.

"Ya mereka itu! Sudah lama mereka tidak menyukaiku. Dan sekarang, begitu mendapat kesulitan, mereka memberiku tugas seperti ini. Huh! Sungguh menjengkelkan!"

"Kenapa mereka tidak menyukaimu, Ki?" tanya Rangga ingin tahu. Padahal, Pendekar Rajawali Sakti sendiri belum tahu, siapa yang dimaksudkan si Tua Gila ini.

"Mereka selalu menganggapku gila! Bahkan tidak ada seorang pun yang suka mendekatiku," sahut si Tua Gila.

"Lalu, siapa mereka yang kau maksudkan itu, Ki?" tanya Rangga lagi.

"Ah!' Nanti kalau sudah sampai di sana kau juga akan tahu," sahut si Tua Gila.

Rangga mengangkat bahunya. Meskipun belum begitu jelas, tapi Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa bertanya lebih jauh lagi, karena si Tua Gila sudah berdiri dan kembali berjalan. Terpaksa pemuda berbaju rompi putih itu ikut berdiri dan melangkah di samping laki-laki tua ini. Hati Pendekar Rajawali Sakti semakin penasaran, karena si Tua Gila tadi mengatakan kalau sudah banyak para pendekar yang tewas tanpa diketahui lagi mayatnya.

Rangga menduga tentu ada sesuatu yang sangat gawat, sehingga laki-laki tua ini jauh-jauh mencarinya. Tapi peristiwa apa? Pertanyaan ini yang belum terjawab, karena si Tua Gila tampaknya tidak ingin mengatakan hal itu. Dan pertanyaan itu terus terbawa dalam perjalanan ini.

********************

Perjalanan yang diperkirakan si Tua Gila akan menemukan banyak rintangan, ternyata meleset. Kalau toh menemukan rintangan, itu tidak berarti sama sekali. Paling-paling hanya dicegat orang-orang berbaju hitam dengan gambar seekor naga pada bagian dadanya. Itu pun hanya tiga kali. Dan setiap kali Rangga menanyakan siapa mereka dan apa maksudnya, si Tua Gila hanya menjawab, anggota Partai Naga. Hanya itu yang dikatakan si Tua Gila, tidak lebih.

Setelah menempuh perjalanan selama dua hari dua malam, akhirnya mereka sampai di bagian lereng Bukit Jabung sebelah Timur. Keadaannya sungguh jauh berbeda dengan di sebelah Barat. Pemandangannya sangat indah, dan tidak berkesan angker.

Rangga memandangi sebuah bangunan besar yang seluruh dindingnya terbuat dari batu. Bangunan itu bentuknya seperti istana. Namun jika melihat keadaannya, seperti sudah lama tidak pernah dihuni lagi. Pohon-pohon rambat menjalar sampai ke bagian atap. Dan keadaannya begitu kotor. Di sekelilingnya tumbuh subur rerumputan liar, serta batang-batang pohon mati.

"Ayo...," ajak si Tua Gila.

Rangga menuruti saja, lalu berjalan di samping laki-laki tua aneh ini. Mereka berjalan menuju bangunan besar bagai istana itu. Tapi si Tua Gila mengajaknya memutar begitu dekat dengan batang-batang pohon mati. Dan sepertinya, pohon-pohon itu memang sengaja diletakkan untuk membatasi daerah sekitar bangunan besar dari batu itu dengan daerah luar.

Mereka kemudian sampai di bagian belakang bangunan itu. Sama sekali Rangga tidak melihat adanya makhluk hidup di sekitarnya. Jangankan manusia, binatang pun tidak ada sama sekali. Keadaan seperti ini membuat Pendekar Rajawali Sakti jadi bertanya-tanya. Bangunan apakah itu? Dan, ke mana penghuninya?

Namun pertanyaan Rangga terjawab juga ketika sampai di tepi sebuah sungai. Di situ, tampak seorang tukang rakit seperti sudah menunggu kedatangan mereka, yang kemudian langsung menyongsong dengan rakitnya yang siap berangkat. Tak ada percakapan sedikit pun selama menyeberangi sungai dengan rakit bambu.

Setelah sampai di seberang, mereka kembali melanjutkan perjalanan, yang kali ini menanjak. Mereka menaiki undakan dari tanah yang di kanan dan kiri terdapat batu-batu dan pepohonan lebat. Setiap langkah perjalanan, Rangga mengamati sekitarnya. Kening pemuda berbaju rompi putih itu berkerut begitu sampai pada sebuah lembah yang tidak begitu besar. Seluruh permukaan lembah itu dipadati rumah, dan ditambah sebuah bangunan besar yang dikelilingi pagar tembok dari batu cukup tinggi.

"Si Tua Gila datang...!"

Terdengar seruan keras dari arah lembah. Saat itu juga muncul orang-orang dari dalam rumah dan sekitar lembah. Sebentar saja tempat itu telah dipenuhi orang, yang kemudian berhamburan menghampiri si Tua Gila dan Pendekar Rajawali Sakti. Tentu saja dua orang itu jadi kebingungan, karena tadi tidak melihat seorang pun di sekitarnya. Dan sekarang, bermunculan orang-orang begitu mereka datang.

Rangga semakin tidak mengerti dan menjadi bingung melihat semua orang mengerumuninya. Bahkan mereka saling berebut mengajukan berbagai pertanyaan, karena pertanyaan yang datang begitu beruntun dan sukar ditanggapi.

"Minggir! Minggir...!"

Terdengar bentakan keras dari belakang kerumunan orang itu. Seketika semua langsung menyingkir. Dan bagai diatur, mereka membentuk jalan. Tampak sekitar dua puluh orang berpakaian seragam bagai prajurit mengapit seorang laki-laki muda berwajah tampan dan berbaju indah dari bahan sutera halus. Pemuda itu melangkah tenang menghampiri si Tua Gila dan Pendekar Rajawali Sakti.

"Lama sekali kau pergi, Ki," kata pemuda itu. Suaranya terdengar lembut dan halus bagai suara wanita bangsawan

Si Tua Gila berlutut dan menundukkan kepalanya dengan kedua telapak tangan merapat di depan hidung. Melihat sikap si Tua Gila begitu hormat pada pemuda itu, Rangga langsung menduga kalau pemuda tampan berpakaian indah itu tentu sangat dihormati dan berpengaruh besar di sekitar lembah ini. Dalam hati Pendekar Rajawali Sakti bertanya-tanya, tempat apakah ini?

Kalau disebut sebuah desa, rasanya kurang cocok, meskipun keadaan di sekitarnya tidak lebih dari sebuah desa besar. Namun orang-orang berpakaian prajurit, dan pemuda tampan ini...? Tampaknya pakaiannya lebih mirip seorang raja, atau setidaknya seorang putra mahkota.

"Ampunkan hamba, Raden. Tidak mudah menemukan orang yang kita perlukan sekarang ini," jelas si Tua Gila, penuh rasa hormat.

"Tapi kau berhasil, bukan?" tetap lembut nada suara pemuda tampan itu.

"Benar, Raden. Inilah orangnya yang kita perlukan," si Tua Gila menunjuk Pendekar Rajawali Sakti yang tetap berdiri di sampingnya.

Pemuda tampan berbaju indah dari bahan sutera halus itu mengamati Rangga dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Keningnya agak berkerut, seakan-akan tidak percaya kalau pemuda yang berusia tidak berbeda jauh dengannya ini adalah yang dicari.

"Raden, inilah yang bernama Pendekar Rajawali Sakti," jelas si Tua Gila, seakan-akan bisa mengerti keraguan pemuda itu.

"Aku tidak bisa menentukan di sini. Yang lebih berhak menentukan adalah Ayahanda Prabu," lanjut pemuda itu.

Setelah berkata demikian, pemuda tampan itu membalikkan tubuh, lalu berjalan pergi. Si Tua Gila menjawil lengan Rangga, kemudian melangkah di belakang pemuda berbaju indah itu. Rangga mengikuti di samping si Tua Gila. Tampak dua puluh orang berseragam prajurit mengawal mereka dari belakang. Juga orang yang tadi berkerumun, berbondong-bondong mengikuti.

Namun mereka semua begitu tertib, walaupun tidak ada yang mengatur. Mereka menuju bangunan besar yang dikeliling pagar tembok tinggi bagai benteng pertahanan. Dua orang berseragam prajurit yang menjaga pintu gerbang, segera membuka pintu. Hanya pemuda itu, dan si Tua Gila saja yang masuk.

Sedangkan yang lain menunggu di luar benteng. Dua penjaga menutup kembali pintu gerbang benteng itu, mencegah orang-orang yang berkerumun ikut masuk. Tak ada seorang pun yang mencoba mendorong ingin ikut masuk, dan hanya menunggu dengan tertib sekali.

Sementara si Tua Gila dan Rangga yang ikut masuk bersama pemuda tampan tadi, sudah tidak terlihat lagi oleh mereka. Entah apa yang terjadi di dalam sana, tak seorang pun tahu meskipun di wajah mereka tersirat suatu harapan dan kecemasan.

********************

Rangga mengamati keadaan dalam bangunan yang tidak begitu besar ini, namun memiliki penataan ruangan yang begitu indah dan sedap dipandang mata. Persis seperti istana kecil. Beberapa orang berseragam prajurit terlihat di ruangan ini, bersikap berjaga-jaga. Pendekar Rajawali Sakti ikut duduk di lantai beralaskan permadani tebal berbulu halus, saat si Tua Gila duduk di situ.

Pemuda tampan yang bersama mereka juga duduk di depan si Tua Gila. Mereka semua menghadap sebuah kursi dengan sandaran tinggi terbuat dari kayu jati berukir sangat indah. Kursi itu masih kosong. Di dinding belakang kursi terukir sebuah lambang, yang seperti lambang kerajaan. Semua orang di ruangan itu menundukkan kepalanya ketika seorang laki-laki setengah baya datang dari pintu samping. Dia didampingi seorang wanita cantik yang mengenakan baju biru muda.

Laki-laki setengah baya itu duduk di kursi berukir indah, sedangkan wanita yang mendampinginya di sebelah kanan agak ke depan. Seketika semua orang mengucapkan salam sembah. Dan kini Rangga baru tahu, ternyata ini adalah sebuah kerajaan kecil. Dan laki-laki itu adalah rajanya.

"Kau sudah kembali, Tua Gila?" tanya laki-laki setengah baya yang ternyata bernama Prabu Yudanegara.

"Hamba, Gusti Prabu," sahut si Tua Gila seraya memberi sembah dengan merapatkan kedua tangan di depan hidung.

"Lalu, bagaimana tugas yang kau jalankan?" tanya Prabu Yudanegara lagi.

"Hamba sudah melaksanakannya dengan baik, Gusti Prabu," sahut si Tua Gila masih bersikap hormat.

"Bagus! Lalu, mana orangnya?"

"Di sebelah hamba ini, Gusti Prabu."

Prabu Yudanegara memandang pemuda berbaju rompi putih yang duduk di samping si Tua Gila. Kepalanya mengangguk-angguk dan bibirnya menyungging senyuman. Lalu kembali dipandangnya si Tua Gila.

Sedangkan laki-laki tua itu hanya cengar-cengir saja tanpa sebab. Seketika hilang semua ketegangannya.

"Pemuda ini bernama Rangga, Gusti Prabu. Hamba yakin, dialah yang disebut Pendekar Rajawali Sakti," tegas si Tua Gila.

"Gusti Prabu...," selak pemuda tampan yang duduk bersimpuh di depan si Tua Gila tiba-tiba.

"Ada apa, Sambung Wulung?" terdengar lembut suara Prabu Yudanegara.

"Ampun, Gusti Prabu. Apakah tidak sebaiknya dibuktikan terlebih dahulu, barangkali saja dia bukan Pendekar Rajawali Sakti" usul pemuda yang dipanggil Sambung Wulung itu.

"Benar, Gusti Prabu. Kita semua belum tahu, dan belum pernah bertemu Pendekar Rajawali Sakti. Untuk lebih meyakinkan, sebaiknya diuji dahulu," sambung seorang laki-laki tua berjubah putih yang seluruh rambutnya sudah memutih.

Prabu Yudanegara memandangi laki-laki tua berjubah putih itu lekat-lekat. Sedangkan yang dipandangi buru-buru memberi sembah, lalu berdiri disamping kanan singgasana bersama yang lainnya.

Rangga melirik laki-laki tua itu sedikit, dan langsung menduga kalau laki-laki itu pasti seorang pembesar kerajaan atau paling tidak memegang suatu jabatan penting di kerajaan ini.

"Hm..,, bagaimana cara mengujinya," tanya Prabu Yudanegara setengah bergumam.

"Gusti Prabu, kita semua sering mendengar sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti, tapi belum pernah melihat secara langsung. Banyak cara untuk membuktikannya," celetuk Sambung Wulung cepat.

"Baiklah. Kuserahkan pengujiannya padamu, Sambung Wulung. Dan aku minta dengan cara sewajarnya, tanpa harus mengada-ada," kata Prabu Yudanegara.

"Baik, Gusti Prabu." Sambung Wulung memberikan sembah, kemudian bangkit berdiri.

Sebentar ditatapnya si Tua Gila dan Rangga bergantian, kemudian melangkah meninggalkan ruangan ini. Semua orang memandangnya, tidak tahu apa yang akan dilakukan pemuda tampan itu. Tidak berapa lama kemudian, pemuda itu sudah kembali lagi. Kini di pinggangnya tergantung sebilah pedang. Dan di tangannya memegang sebatang tombak panjang yang bagian ujungnya berbentuk seperti keris. Tubuhnya dibungkukkan untuk memberi hormat pada Prabu Yudanegara.

Saat itu si Tua Gila berdiri dan berjalan ke tepi ruangan. Demikian pula orang-orang yang tadi duduk di lantai tengah ruangan. Tinggal Pendekar Rajawali Sakti yang masih berada di tengah ruangan ini. Pemuda berbaju rompi putih itu berdiri dengan sikap tenang tanpa sedikit pun tersinggung atas sikap pemuda yang bernama Sambung Wulung itu. Malah Rangga memberi penghormatan dengan sedikit anggukan kepala. Kemudian Pendekar Rajawali Sakti membungkukkan badannya memberi hormat pada Prabu Yudanegara.

"Aku harap, kau bersedia menerima pengujian ini, Kisanak," kata Sambung Wulung.

"Silakan," jawab Rangga tenang. Sambung Wulung menggeser kakinya perlahan memutari tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak di tengah-tengah ruangan. Dengan sudut ekor mata, diamatinya setiap gerakan yang dilakukan Sambung Wulung.

"Yeaaah...!" tiba-tiba Sambung Wulung berteriak keras. Cepat sekali pemuda itu melompat ke depart Pendekar Rajawali Sakti sambil menusukkan ujung tombaknya ke arah perut.

Namun Rangga hanya menggeser kakinya sedikit saja sambil memiringkan tubuh, sehingga tusukan tombak itu hanya menyambar angin kosong di depan perut Pendekar Rajawali Sakti. Tetapi tanpa diduga, Rangga mengibaskan tangannya dengan cepat sebelum Sambung Wulung bisa menarik pulang senjatanya.

"Yeaaah...!" Trak!

Semua orang yang berada di ruangan itu terlongong melihat tombak Sambung Wulung patah jadi dua, hanya sekali pukul oleh tangan kosong saja. Bahkan Sambung Wulung sendiri jadi terpana, sehingga tidak sempat lagi menghindar ketika tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti mendorong dadanya. Sambung Wulung terjajar kebelakang, dan terhuyung-huyung. Untung Rangga hanya mendorongnya, sehingga pemuda itu tidak mengalami luka sedikitpun. Tapi Sambung Wulung malah mendengus, dan membuang potongan tombaknya.

Sret! Sambung Wulung mencabut pedang yang tergantung di pinggang. Pedang itu berkilatan menyilang di depan dada. Kakinya cepat digeser menuju ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Pedangnya lurus ke depan bergerak-gerak bergetar ke kiri dan ke kanan. Sedangkan Rangga tetap berdiri tegak sambil mengamati gerakan ujung pedang pemuda itu.

"Hiyaaat...!" "Hap!" Cepat sekali Rangga merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada begitu ujung pedang Sambung Wulung hampir menyentuh dadanya. Ujung pedang itu terjepit kuat-kuat oleh telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hih!" Sambung Wulung berusaha menarik pedangnya yang terjepit di kedua telapak tangan Rangga, namun usahanya hanya sia-sia. Walaupun sudah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, tapi tetap saja pedang itu tidak bergeming. Merah padam seluruh wajah pemuda itu. Sekali lagi dihentakkan pedangnya dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimiliki. Namun apa yang terjadi...?

Trak! "Ah...!" Sambung Wulung tersentak kaget. Tubuh pemuda itu terpental ke belakang ketika pedangnya patah jadi dua bagian. Pemuda itu jatuh terduduk di lantai. Kembali suara mendengung terdengar di ruangan ini. Mereka semua terkejut melihat Sambung Wulung dua kali terpedaya. Saat itu Rangga cepat melompat, dan langsung mengulurkan tangannya pada Sambung Wulung.

Pemuda itu memandangi Pendekar Rajawali Sakti, kemudian menyambut uluran tangan itu. Dengan sekali hentak saja, Sambung Wulung sudah berdiri. Mereka kemudian menghadap Prabu Yudanegara dan membungkukkan badan memberi hormat. Prabu Yudanegara tersenyum-senyum dan mempersilakan Sambung Wulung untuk meninggalkan tempat ini. Pemuda itu kembali memberi hormat, kemudian melangkah ke samping, mendekati laki-laki tua berjubah putih yang berdiri di sebelah kanan Prabu Yudanegara.

********************

Sambung Wulung duduk mencangkung di bawah pohon yang cukup rindang di belakang bangunan yang dijadikan tempat tinggal Prabu Yudanegara. Matanya melirik ketika seorang wanita muda dan cantik menghampirinya.

Wanita itu mengenakan baju ketat berwarna merah muda, sehingga membentuk tubuhnya yang ramping dan sedap dipandang mata. Wanita itu duduk di sebelahnya sehingga Sambung Wulung harus menggeser sedikit duduknya, memberi tempat pada wanita itu.

Untuk beberapa saat mereka berdiam diri saja. Terdengar tarikan napas panjang disertai hembusan kuat dari hidung Sambung Wulung.

"Kenapa Kakang murung di sini? Semua orang sedang berpesta di istana," tanya wanita itu, lembut suaranya.

"Aku malas, Arsih!" kata Sambung Wulung.

"Aneh..., biasanya Kakang paling senang kalau Ayahanda Prabu mengadakan pesta."

"Tapi kali ini aku tidak menyukai pesta itu!"

"Kenapa? Apa karena Kakang dikalahkan Pendekar Rajawali Sakti?"

"Huh!" Sambung Wulung mendengus.

"Seharusnya Kakang tidak melakukan pengujian itu. Dia Pendekar Rajawali Sakti atau bukan, itu urusannya. Lagi pula kalau memang digdaya, tentu orang-orang Partai Naga bisa dikalahkan."

"Aku ingin mempermalukan si Tua Gila itu, Arsih!"

"Tapi malah Kakang sendiri yang dipermalukan, bukan...?"

Kembali Sambung Wulung mendengus. Hatinya begitu kesal karena dapat dikalahkan pemuda berbaju rompi putih yang mengaku bernama Rangga. Dan semua orang kini menyanjung dan menghomatinya, seperti tamu agung saja. Dan kini, tidak ada seorang pun yang mempedulikan dirinya lagi. Padahal dia adalah menantu Prabu Yudanegara, suami dari Rara Ayu Arsih, putri tunggal penguasa Kerajaan Mandalika ini.

"Arsih, apakah Ayahanda Prabu marah padaku?" tanya Raden Sambung Wulung.

"Kenapa Kakang tanyakan itu?" Rara Ayu Arsih malah balik bertanya.

"Aku hanya ingin tahu saja, Arsih."

"Kelihatannya Ayahanda Prabu biasa-biasa saja, Kakang," jelas Rara Ayu Arsih setengah menggumam.

"Hhh...! Dia memang tangguh. Tapi aku yakin, dia pasti akan tewas seperti yang lainnya. Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan Partai Naga, apalagi masuk ke dalam istana maut itu. Hm.... Pendekar Rajawali Sakti...," Raden Sambung Wulung menggumam, seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Apa yang kau katakan, Kakang?!" Rara Ayu Arsih terkejut mendengar gumaman suaminya ini.

"Ah, tidak! Aku hanya bicara sendiri saja," sahut Raden Sambung Wulung.

"Huh! Kakang sudah ikut ikutan si Tua Gila! Bicara sendiri seperti orang gila!" rungut Rara Ayu Arsih.

Raden Sambung Wulung hanya tersenyum. Tangannya dilingkarkan di pinggang ramping wanita itu. Rara Ayu Arsih jadi manja. Maka tubuhnya dirapatkan dan kepalanya diletakkan di bahu suaminya ini. Sesaat mereka terdiam, tak ada yang mengeluarkan suara.

Saat itu terdengar suara orang tertawa, kemudian bernyanyi dan tertawa lagi. Raden Sambung Wulung dan Rara Ayu Arsih melepas pelukannya, dan sama-sama berpaling ke arah suara itu. Tampak si Tua Gila berjalan gontai sambil tertawa-tawa membawa seguci arak. Sambung Wulung bangkit, lalu berkacak pinggang sambil memasang wajah angker.

"Hei...!" bentak Raden Sambung Wulung keras.

Si Tua Gila terkejut, langsung berhenti mengoceh. Buru-buru badannya dibungkukkan begitu melihat Raden Sambung Wulung bersama istrinya ada di halaman belakang istana kecil ini.

Raden Sambung Wulung menghampiri, matanya mendelik memandangi si Tua Gila yang tampaknya mabuk, kebanyakan minum arak.

"He he he..., Raden. Maaf, hamba tidak tahu kalau Raden dan Gusti Ayu ada di sini," ucap si Tua Gila seraya terkekeh, sambil melirik Rara Ayu Arsih yang juga menghampiri dan berdiri di samping suaminya.

"Mau apa kau ke sini? Memata-mataiku, ya?!" bentak Raden Sambung Wulung keras.

"Ah, tidak...! Tidak, Raden. Maaf, kalau Raden dan Gusti Ayu merasa terganggu," sahut si Tua Gila seraya terkekeh.

Laki-laki tua berjubah lusuh itu meneguk araknya, lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangan. Tetesan arak membasahi jubahnya yang sudah berwarna pudar, kotor, penuh debu.

Raden Sambung Wulung mendengus melihat tingkah si Tua Gila ini. Sikap laki-laki tua itu seakan-akan tidak menghormati sama sekali. Bahkan sedikit pun tidak memandang sebelah mata padanya, tapi terlihat begitu hormat pada Rara Ayu Arsih.

"Pergi sana!" bentak Raden Sambung Wulung yang merasa muak melihat sikap si Tua Gila ini.

"He he he.... Maaf, Raden. Aku sedang mencari udara segar, rasanya sumpek di dalam terus," sahut si Tua Gila seenaknya.

"He! Apa kau bilang...?!" Raden Sambung Wulung langsung geram bukan main mendengar si Tua Gila hanya menyebut dirinya dengan aku saja, bukan dengan sebutan hamba yang biasanya dilakukan orang lain.

"He he he...," si Tua Gila hanya terkekeh. Tanpa mempedulikan kemarahan Raden Sambung Wulung, si Tua Gila malah duduk di bawah pohon kemuning yang sedang berbunga.

Raden Sambung Wulung semakin gusar melihat tingkah laki-laki tua itu. Sambil mendengus marah, dihampiri dan langsung dilayangkannya satu tendangan keras ke tubuh si Tua Gila. Tapi sungguh tidak disangka sama sekali, si Tua Gila malah bergulingan. Padahal, tendangan Raden Sambung Wulung tidak mengenai tubuhnya. Tentu saja hal ini membuat pemuda itu semakin geram.

"Kakang, sudah...!" cegah Rara Ayu Arsih begitu suaminya hendak menendang laki-laki tua itu lagi.

"Dia sudah berlaku kurang ajar padaku, Arsih!" dengus Raden Sambung Wulung.

"Sudahlah, jangan dilayani lagi," bujuk Rara Ayu Arsih, lembut.

Raden Sambung Wulung memandang bola mata wanita cantik itu, kemudian menatap si Tua Gila yang masih tenang-tenang saja duduk di bawah pohon menikmati araknya. Bahkan kini bernyanyi-nyanyi kecil menembangkan kidung yang tidak jelas arti dan kata-katanya.

"Ki! Kau bisa meninggalkan tempat ini, bukan? Cobalah cari tempat lain yang lebih indah dari sini," kata Rara Ayu Arsih lembut membujuk.

"Hamba, Gusti Ayu...," sahut si Tua Gila seraya memberi hormat dengan merapatkan kedua tangannya di depan hidung. Dengan sikap penuh hormat, si Tua Gila bangkit dan berjalan meninggalkan halaman belakang istana kecil ini. Sikapnya pada Rara Ayu Arsih membuat Raden Sambung Wulung semakin muak saja.

"Huh!"

********************

TIGA

Siang ini udara begitu panas. Terik sinar matahari seakan-akan hendak membakar seluruh permukaan bumi. Tak ada angin yang berhembus mengusir panas barang sedikit. Udara yang demikian panas, bukanlah penghalang bagi laki-laki tua berjubah kumal yang berjalan gontai menyusuri tepian sungai. Sebatang tongkat dari ranting kering dikibas-kibaskan ke rerumputan sekitarnya. Sesekali diteguknya arak dari guci tanah liat.

Laki-laki tua berjubah kumal yang ternyata si Tua Gila itu berhenti tepat di tepi sungai. Dipandanginya sebuah bangunan besar seperti istana yang tidak dikelilingi benteng. Sekeliling bangunan istana itu hanya berupa padang rumput luas, dan pepohonan mati yang bertumpuk tak beraturan.

Slap! Tiba-tiba saja sebuah benda berwarna merah melesat bagai kilat ke arahnya. Si Tua Gila langsung memutar tubuhnya sambil mengibaskan ranting kering yang tergenggam di tangannya.

Trak! Benda merah itu mental terkena sabetan ranting kering di tangan si Tua Gila. Tapi ranting itu pun hancur, jadi debu seperti terbakar. Si Tua Gila melempar ranting yang sebagian sudah hancur.

"Setan! Siapa berani main-main denganku, heh?!" geram si Tua Gila jengkel. Tapi begitu laki-laki tua itu melirik ke arah benda merah tertancap dalam pada pohon, bola matanya membeliak lebar. Ternyata benda merah itu berbentuk batangan sepanjang satu jengkal tangan. Warnanya merah, dan kedua ujungnya runcing. Tampak salah satu ujungnya tertancap dalam pada pohon.

"Partai Naga...," desis si Tua Gila pelan. Dan belum sempat laki-laki tua itu melakukan sesuatu, mendadak dari balik semak dekat sungai bermunculan orang-orang berbaju hitam yang terdapat gambar naga pada bagian dada. Mereka semua memakai gelang berjumlah tiga buah pada pergelangan tangan kanan.

Si Tua Gila memutar tubuhnya mengamati orang-orang berbaju hitam yang sudah mengepungnya. Mereka semua juga mengenakan ikat kepala warna hitam, dan berjumlah sekitar lima belas orang. Satu di antara mereka memakai gelang berjumlah lima buah. Dan si Tua Gila tahu kalau orang yang memakai gelang sejumlah itu telah memiliki kemampuan tinggi. Memang, semakin banyak memakai gelang, semakin tinggi tingkat kepandaian maupun kedudukan dalam partai.

"He he he...!" si Tua Gila terkekeh, meredakan perasaan tidak menentu dalam dadanya.

"Kau sudah terlalu banyak ikut campur persoalan ini, Ki Sara Denta! Aku tidak tahu, berapa banyak yang sudah kau ketahui tentang Partai Naga," kata orang yang memakai gelang berjumlah lima buah. Orangnya masih terlihat muda, padahal usianya sudah sekitar tiga puluh lima tahun. Dan lagi, wajahnya juga terbilang tampan. Namun, sorot matanya begitu tajam menusuk, memancarkan cahaya kebengisan dan kekejaman. Bibir yang tipis, tidak pernah menyunggingkan senyum.

"Kau tahu nama asliku? Siapa kau sebenarnya?" agak kaget juga si Tua Gila, karena orang itu menyebut nama aslinya yang sudah lama dilupakan orang.

"Aku Parang Kati yang ditugaskan untuk membungkam kegiatanmu, Ki Sara Denta!" tegas kata-kata orang itu seraya memperkenalkan dirinya.

"Hm..., dari mana kau tahu tentang diriku?" tanya Ki Sara Denta yang lebih dikenal dengan si Tua Gila.

"Kau tidak perlu tahu, dari mana aku mengetahui tentang dirimu, Ki Sara Denta. Yang perlu diketahui adalah, sekarang juga kau harus mati!" dingin sekali nada suara Parang Kati.

"He he he...!" Ki Sara Denta atau si Tua Gila hanya terkekeh saja.

"Bersiaplah untuk mati, Ki Sara Denta!" Setelah berkata demikian, orang yang mengaku bernama Parang Kati itu menjentikkan ujung jarinya. Maka empat orang langsung melompat ke depan Ki Sara Denta sambil mencabut sepasang tongkat pendek dari balik sabuk. Begitu tangkasnya mereka memamerkan kebolehan dalam permainan sepasang tongkat pendek.

"He he he...!" Ki Sara Denta hanya terkekeh. Laki-laki tua itu seperti mendapatkan suatu tontonan yang mengasyikkan, seolah-olah bukan sedang menghadapi bahaya. Bahkan dia malah duduk di tanah, seraya meneguk arak dari guci yang dibawa. Tapi baru sekali teguk saja, arak itu sudah habis. "Huh! Kenapa tadi aku tidak membawa yang baru..?" dengus si Tua Gila. Sama sekali si Tua Gila tidak mempedulikan sekelilingnya.

Hal ini membuat mereka yang mengepung dengan senjata terhunus di tangan jadi meringis. Masalahnya, orang yang dikepung malah tenang-tenang saja. Bahkan malah mengoceh sendiri sambil mencakar-cakar tanah.

"Serang...!" perintah Parang Kati yang gusar melihat tingkah si Tua Gila.

Hiyaaa...!"
"Yeaaah...!"

Empat orang yang memang sudah memamerkan jurus-jurusnya, langsung berlompatan menyerang si Tua Gila. Tampak beberapa pasang tongkat berkelebatan cepat mengurung laki-laki tua itu. Namun sungguh sulit dipercaya, ternyata si Tua Gila malah meliuk-liukkan tubuhnya seperti orang mabuk, masih dalam posisi duduk di tanah. Yang lebih mengherankan, serangan keempat orang itu tidak mampu mendesak lawan. Bahkan tidak satu pun serangannya yang berhasil mengenai sasaran. Mereka tidak saja keheranan, tapi juga geram dan penasaran sekali.

"Semua! Serang si Tua Gila itu...!" teriak Parang Kati geram. Seketika itu juga yang lain berlompatan menyerang si Tua Gila.

Namun belum sempat menjarah tubuh laki-laki tua itu, si Tua Gila sudah cepat melentingkan tubuhnya, lalu berjumpalitan di udara beberapa kali. Maka secepat itu pula, Parang Kati mengibaskan tangannya ke arah si Tua Gila.

Slap! Seketika terlihat sebuah benda merah sepanjang jengkal meluncur berputar ke arah si Tua Gila. Sungguh mengejutkan, benda yang dilempar Parang Kati itu lenyap dalam putaran tubuh si Tua Gila. Dan sebelum orang bergelang lima buah itu sadar akan apa yang terjadi, mendadak benda merah yang dilepaskannya tadi kembali meluncur deras ke arahnya. Bahkan lebih cepat dari lemparannya tadi.

"Setan! Hup...! Hyaaa...!" Parang Kati cepat mengegoskan tubuh, sehingga senjatanya lewat sedikit di samping tubuhnya, dan menancap di tanah hingga tak terlihat lagi.

Pada saat itu si Tua Gila meluncur deras ke arah Parang Kati, lalu mendarat ringan di depan orang bergelang lima buah itu. Namun sebelum laki-laki tua berkumis tebal dan berjubah kumal itu melakukan sesuatu, mendadak dari arah belakang berlompatan orang-orang Partai Naga. Mereka langsung cepat menyerang dengan sepasang tongkat merahnya. Ki Sara Denta cepat memutar tubuhnya sambil mengibaskan tangan ke arah para pembokongnya itu.

"Aaa...!" "Aaakh!" Dua kali terdengar jeritan melengking tinggi, maka dua orang berbaju hitam bergambar naga pada dadanya menggelepar bersimbah darah. Tampak lehernya terkoyak, bagai terkena cakaran seekor harimau buas.

Ki Sara Denta kembali cepat memutar tubuhnya menghadap Parang Kati. Seketika itu juga tangannya digerakkan cepat mengarah ke wajah laki-laki berbaju hitam yang bergelang lima itu

"Hup!" Buru-buru Parang Kati melompat mundur, sehingga serangan jari-jari tangan si Tua Gila tidak mengenai wajahnya. Namun belum lagi lawan bisa berdiri tegak, Ki Sara Denta sudah melompat kembali menerjang. Kedua jari-jari tangannya terkembang menegang kaku, siap mencakar tubuh lawan.

"Hiyaaa...!" Secepat kilat Parang Kati mencabut senjatanya berupa sepasang tongkat pendek berwarna merah dari balik sabuk pinggangnya. Dan, secepat itu pula dikibaskan ke arah kedua tangan Ki Sara Denta yang mengembang kaku, bagai sepasang cakar burung elang.

"Hap...!" Ki Sara Denta cepat menarik pulang tangannya. Pada saat itu mereka yang tadi sempat terancam, langsung berlompatan menyerangnya dengan ganas lagi. Terpaksa Ki Sara Denta mengalihkan perhatiannya pada orang-orang yang mengeroyoknya. Kali ini mereka benar-benar tidak memberi kesempatan bagi si Tua Gila untuk lolos dari kepungan. Mereka menyerang secara bergantian dan tidak pernah berhenti.

Ki Sara Denta kali ini kewalahan juga, karena serangan yang datang dari segala penjuru sangat gencar. Belum lagi habis satu serangan, datang serangan berikut yang kemudian disusul serangan-serangan lain yang tidak kalah dahsyat. Rata-rata mereka memang memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga tidak heran kalau si Tua Gila begitu kelabakan menghadapinya. Terlebih lagi, kali ini Parang Kati ikut menyerang, membantu yang lain sambil berteriak-teriak memberi semangat.

"Modar...!" Tiba-tiba secepat kilat Parang Kati menghentakkan tongkatnya ke arah kepala si Tua Gila, disusul satu tendangan keras menggeledek ke arah perut. Bersamaan dengan itu, Ki Sara Denta tengah menghindari sebuah serangan yang datang dari arah samping kanan. Akibatnya tidak mungkin lagi baginya menghindari serangan yang dilancarkan Parang Kati.

"Uts!" Ki Sara Denta mencoba menghindari tebasan tongkat yang mengarah ke kepalanya, namun tidak bisa lagi menghindari tendangan kaki Parang Kati yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Desss! "Akh!" Ki Sara Denta memekik keras agak tertahan. Si Tua Gila itu terjajar ke belakang sejauh dua tombak. Seketika itu pula, salah seorang yang berada di belakang menghantamkan tongkat ke punggungnya. Akibatnya laki-laki tua itu kembali terpekik, dan tersungkur jatuh mencium tanah. Belum juga Ki Sara Denta sempat melakukan sesuatu, datang lagi satu serangan tongkat yang cepat, menusuk ke arah lambung.

Namun Ki Sara Denta sempat bergulingan, sehingga terhindar dari tusukan tongkat merah sepanjang lengan itu. Tapi belum sempat bangkit, satu tendangan keras mendarat di tubuhnya. Akibatnya si Tua Gila kembali bergulingan sambil mengaduh keras. Pada saat yang cepat, Parang Kati mengibaskan tangannya. Maka sebuah batangan kecil logam merah yang di kedua ujungnya runcing, kembali melesat ke arah si Tua Gila yang masih bergulingan di tanah.

"Yeaaah...!" Begitu cepat Ki Sara Denta memutar tubuhnya, lalu melenting ke atas menghindari senjata rahasia berwarna merah itu. Namun Parang Kati tidak membiarkannya lolos dari tangannya begitu saja, Maka, cepat-cepat dia melompat sambil mengibaskan kedua tongkatnya ke tubuh laki-laki tua itu.

"Hiyaaa...!"

Bret! "Akh!" Ki Sara Denta memekik keras. Salah satu ujung tongkat pendek Parang Kati berhasil merobek bahu kanan laki-laki tua itu. Seketika darah langsung mengucur deras dari bahu yang terkoyak cukup besar. Ki Sara Denta kembali terjatuh bergulingan di tanah. Dua orang dari Partai Naga berlompatan seraya menghunjamkan tongkatnya ke tubuh si Tua Gila itu. Namun, rupanya laki-laki tua ini sangat gesit. Dengan cepat sekali tubuhnya berkelit sambil melayangkan satu tendangan keras bertenaga dalam tinggi.

"Aaa...!" Satu jeritan melengking tinggi terdengar, disusul terpentalnya satu orang yang hampir membuat tubuh si Tua Gila terpanggang. Dan sebelum seorang lagi bisa melakukan sesuatu, si Tua Gila sudah kembali melompat bangkit sambil melontarkan satu pukulan keras bertenaga dalam sangat tinggi. Dan memang, orang itu tidak mampu lagi mengelak, sehingga dadanya terkena pukulan bertenaga dalam tinggi.

"Aaa...!" Kembali terdengar satu jeritan panjang melengking tinggi, disusul terpentalnya satu tubuh ke angkasa, lalu terbanting keras ke tanah. Orang itu tewas seketika sebelum menyentuh tanah. Kejadian yang begitu cepat ini membuat yang lain terkejut bukan main. Mereka memang tidak menyangka kalau laki-laki tua ini masih mampu menghindar dalam keadaan yang sulit sekalipun. Bahkan sekarang kembali memberi perlawanan ganas bagaikan seekor beruang marah, karena sarangnya dirusak.

"Berhenti...!" Tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar, sehingga membuat mereka yang sedang bertarung langsung berhenti. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di belakang mereka sudah berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Pakaiannya rompi berwarna putih bersih. Kakinya begitu kokoh berdiri tegak dengar tangan terlipat di depan dada.

"Rangga...!" desis Ki Sara Denta, gembira melihat kedatangan Pendekar Rajawali Sakti. Bergegas dihampirinya Rangga tanpa menghiraukan orang-orang Partai Naga yang bergerak menjauh, begitu melihat kedatangan Pendekar Rajawali Sakti. Parang Kati merentangkan tangan kanannya meminta semua tetap di tempat. Ditatapnya pemuda berompi putih yang kini berdiri di samping Ki Sara Denta.

"Siapa kau?!" bentak Parang Kati tajam.

"Apakah mereka orang-orang Partai Naga, Ki?" Rangga malah bertanya pada Ki Sara Denta. Sedikit pun tidak dipedulikan pertanyaan orang berbaju hitam yang bergelang lima buah itu.

"Benar," sahut Ki Sara Denta seraya menatap Parang Kati.

"Hm.... Mengapa mereka mengeroyokmu, Ki?" tanya Rangga lagi.

"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu, karena tiba-tiba saja mereka datang dan langsung menyerangku," sahut Ki Sara Denta lagi.

Rangga menatap laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun yang mengenakan gelang lima buah pada pergelangan tangan kanannya. Sedangkan yang dipandangi, malah membalas tajam sekali. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, seraya memberi isyarat pada yang lain untuk bersiap menyerang jika diperintahkan.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kisanak" dingin dan datar sekali nada suara Parang Kati, menagih jawaban dari pertanyaannya tadi.

"Aku Rangga, sahabat orang tua yang kalian keroyok secara pengecut," sahut Rangga tidak kalah dingin.

"Oh.... Jadi, kau ingin membela tua bangka keparat itu, heh? Boleh! Kau akan tahu, bagaimana rasanya berhadapan dengan anggota Partai Naga," terdengar ketus suara Parang Kati. Setelah berkata demikian. Parang Kati menjentikkan ujung jari tangan kanannya. Maka serentak mereka yang berada di sampingnya langsung berlompatan membuat lingkaran mengepung dua orang itu. Sambil tersenyum tipis, Rangga mengamati dengan sudut ekor matanya. Dari cara melompat saja, sudah bisa diukur sampai di mana tingkat kepandaian orang-orang Partai Naga ini.

"Aku tidak ingin bertarung dengan kalian. Sebaiknya, kalian pergi saja se belum aku mengambil tindakan!" dengus Rangga.

"Phuih! Serang keparat itu!" teriak Parang Kati setelah meludah, mengungkapkan kesengitannya.

Seketika itu juga, orang-orang Partai Naga langsung berlompatan menyerang sambil berteriak keras menggelegar. Rangga yang sudah memperhitungkan semua ini, langsung menarik tangan si Tua Gila. Segera dibawanya orang tua itu melesat cepat ke udara lalu manis sekali mendarat di bagian luar kepungan. Mereka yang serentak berlompatan menyerang, jadi bengong. Ternyata sasarannya begitu cepat menghilang. Dan sebelum mereka menyadari akan apa yang terjadi, mendadak saja Rangga menghentakkan tan-gannya ke depan.

"Yeaaah...!" Seketika itu juga tercipta badai yang sangat dahsyat, sehingga orang-orang Partai Naga terkejut bukan main. Mendadak tubuh mereka berhamburan tersapu angin badai yang diciptakan Pendekar Rajawali Sakti. Tidak hanya itu saja, mereka pun beterbangan bagai daun kering jatuh dari tangkainya. Bahkan ada yang jatuh sampai ke seberang sungai yang tidak begitu besar. Demikian pula yang terjadi pada Parang Kati. Pemuda bergelang lima buah itu juga terpental ke udara, dan tersangkut pada cabang pohon di seberang sana. Namun dia cepat melompat turun, tepat saat Rangga menghentikan ajiannya. Suatu aji kesaktian yang tidak berbahaya, tapi mampu mengobrak-abrik seratus orang prajurit sekaligus! Dan inilah yang digunakan Pendekar Rajawali Sakti untuk mengusir orang-orang yang tidak dikehendakinya.

"Ha ha ha...!" si Tua Gila tertawa terbahak-bahak melihat lawan-lawannya tadi berjumpalitan di udara. Bahkan ada yang bergelimpangan di seberang sungai.

"Kisanak! Tunggu pembalasanku...!" teriak Parang Kati berang. Parang Kati mengacungkan kepalan tangannya ke arah Pendekar Rajawali Sakti, tapi hanya dibalas dengan senyum saja.

Sedangkan Ki Sara Denta masih tertawa terbahak-bahak. Laki-laki tua itu seolah-olah tidak mempedulikan luka di bahunya walau masih mengucurkan darah. Orang-orang Partai Naga cepat bergerak pergi. Sementara Rangga memandangi kepergian mereka yang menuju bangunan besar bagai istana tak terpakai lagi itu. Mereka lenyap setelah memutari bangunan istana itu. Rangga segera mengalihkan pandangannya pada si Tua Gila yang baru berhenti tertawa.

"He he he...! Untung kau cepat datang, Rangga kata si Tua Gila, diiringi suara tawanya yang terkekeh.

"Aku memang sengaja mencarimu, Ki," sahut Rangga.

"Oh, ada perlu?"

"Bukan aku, tapi Prabu Yudanegara," sahut Rangga.

"Mau apa mencariku? Bukankah tugas yang diberikan padaku sudah selesai?" si Tua Gila seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Mana aku tahu, Ki. Cepatlah kau temui," sahut Rangga seraya mengangkat bahunya.

"Ada apa lagi, sih...?!" dengus si Tua Gila seraya melangkah.

"Ki...," panggil Rangga seraya mengejar.

"Kau terluka, sebaiknya kau obati dulu luka-mu."

"Hanya luka kecil, dan aku sudah menghentikan darahnya," sahut si Tua Gila.

Luka di bahu laki-laki tua itu memang sudah tidak mengucurkan darah lagi. Rangga melihat kalau luka itu tidak terlalu berbahaya, dan tidak lama juga akan mengering. Terlebih lagi, bagi seorang macam si Tua Gila ini, luka seperti itu tidak berarti baginya.

Mereka terus berjalan menuju lembah, yang sekarang dijadikan pusat kerajaan. Bagi Pendekar Rajawali Sakti sendiri, adanya kerajaan di lembah kecil itu merupakan suatu pertanyaan besar. Sayangnya, kesempatan untuk bertanya belum ada. Sedangkan Si Tua Gila, jika ditanya selalu saja mengelak dan selalu saja mengatakan, nanti juga tahu sendiri.

********************

EMPAT

Ki Sara Denta menghampiri Rangga yang menunggu di bawah pohon, di luar benteng bangunan Istana Kerajaan Mandalika ini. Dengan wajah muram langsung dijatuhkan dirinya, duduk di samping pemuda berbaju rompi putih ini.

"Ada apa, Ki? Apa yang dikatakan Prabu Yudanegara padamu?" tanya Rangga yang keheranan melihat mimik wajah laki-laki tua ini. Tidak seperti biasanya, wajah si Tua Gila ini selalu cerah, kini tampak murung. Itu terjadi setelah dia keluar dari istana. Bahkan beberapa kali dia mendengus, menarik napas panjang dan menghembuskan kuat-kuat.

"Huh! Mengapa semua orang membenciku? Bahkan Gusti Prabu sendiri jadi tidak menyukaiku lagi..! keluh Ki Sara Denta.

"Ada apa, Ki?" tanya Rangga sabar.

"Prabu Yudanegara menyuruhku agar ikut denganmu," sahut Ki Sara Denta seraya menatap Pendekar Rajawali Sakti.

"Ikut denganku...?" Rangga jadi tidak mengerti

"Benar. Aku, harus selalu menyertaimu."

"Memang apa yang harus kulakukan? Lagi pula aku tidak tahu, kenapa kau bawa aku sampai ke sini. Aku tidak melihat ada sesuatu yang harus kukerjakan di sini, selain urusanmu dengan orang-orang yang menamakan dirinya Partai Naga," tegas Rangga.

"Bukan urusanku, tapi mereka sengaja melibatkan diriku!" dengus Ki Sara Denta, agak sengit nada suaranya.

"Kau selalu bermain teka-teki denganku, Ki. Sebaiknya ceritakan saja persoalannya padaku. Dengan begitu kita bisa cepat menyelesaikannya," kata Rangga lembut.

"Inilah yang membuatku merasa aneh, Rangga. Gusti Prabu menyuruhku mencari dan membawamu ke sini, tapi sampai sekarang kau belum tahu apa tugasmu," kembali Ki Sara Denta mengeluh.

"Prabu Yudanegara memang tidak mengatakan apa maksudnya padaku, Ki. Kenapa tidak kau saja yang mengatakannya padaku?"

"Aku tidak berhak. Lagi pula, aku sudah dilarang untuk tidak banyak bicara padamu."

"Siapa yang melarangmu?" tanya Rangga jadi semakin penasaran.

"Gusti Prabu sendiri," sahut Ki Sara Denta.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu."
"Aneh...," desis Rangga bergumam.
Ki Sara Denta tidak diizinkan untuk mengatakan apa-apa, sedangkan Prabu Yudanegara sendiri tidak mau mengatakan apa-apa sampai sekarang ini. Jadi untuk apa sebenarnya si Tua Gila ini mencari Pendekar Rajawali Sakti. Keanehan memang sangat terasa sekali sejak Rangga menginjakkan kakinya di lembah ini. Bahkan sejak pertemuannya dengan laki-laki ini.

Saat mereka sedang berdiam diri dalam kebingungan, Raden Sambung Wulung menghampiri bersama dua orang pengawal. Ki Sara Denta maupun Rangga diam saja, duduk memandangi pemuda itu.

"Aku datang hanya menyampaikan pesan dari Gusti Prabu Yudanegara untuk kalian berdua," kata Raden Sambung Wulung tanpa basa-basi lagi.

"Katakan saja," ujar Ki Sara Denta serasa enggan menanggapi.

Raden Sambung Wulung mendelik gusar pada laki-laki tua ini. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Sikap si Tua Gila ini memang tidak pernah berubah. Sedikit pun tidak ada rasa hormat meskipun di depan Prabu Yudanegara, sikap Ki Sara Denta pada pemuda ini tetap saja begitu.

Dan ini menjadi perhatian Rangga sejak semula. Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak mau ambil peduli. Dia hanya menduga, tentu di antara mereka terjadi sesuatu, sehingga si Tua Gila tidak pernah punya rasa hormat pada Raden Sambung Wulung, walaupun pemuda itu adalah menantu Prabu Yudanegara.

"Gusti Prabu meminta kalian berdua berangkat sekarang juga," kata Raden Sambung Wulung. Setelah berkata demikian, Raden Sambung Wulung berbalik dan melangkah pergi. Ki Sara Denta hanya mendengus saja. Dia melirik tajam pada pemuda yang berjalan dikawal dua orang prajurit itu.

"Huh" Ki Sara Denta mendengus.

"Kita harus berangkat ke mana, Ki?" tanya Rangga.

"Ke neraka!" sahut Ki Sara Denta, sengit.

"Ha ha ha...!" Rangga tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban yang dianggapnya hanya lelucon itu. Tapi mendadak saja tawa Pendekar Rajawali Sakti itu terhenti begitu melihat si Tua Gila ini diam saja dengan wajah muram.

"Yuk, Ki...," ajak Rangga seraya menepuk pundak si Tua Gila. Rangga bangkit dan menggerak-gerakkan tubuhnya, menghilangkan rasa pegal. Ki Sara Denta ikut bangkit walau tampak lesu. "Ayo, kita pergi," ajak Rangga lagi.

"Ke mana?" tanya Ki Sara Denta.

"Katanya ke neraka...? Ayolah, sebelum malam datang." Rangga masih juga berolok-olok. Sedangkan Ki Sara Denta hanya mendengus saja. Kakinya diayunkan mengikuti langkah Pendekar Rajawali Sakti.

********************

Kening Rangga berkerut ketika Ki Sara Denta membawanya ke bangunan besar yang tampak tidak terurus lagi. Dipandanginya bangunan itu dalam-dalam. Entah kenapa, Pendekar Rajawali Sakti merasakan adanya sesuatu yang menyelimuti bangunan itu. Sesuatu yang dirasakan seperti menyimpan misteri.

Sementara Ki Sara Denta hanya terdiam saja sampingnya. Wajah laki-laki tua itu kelihatan menegang, sepasang bola matanya tidak berkedip memandangi istana tua yang berdiri kokoh di depannya. sejenak mereka hanya saling pandang saja, tidak berbicara sedikit pun.

"Untuk apa kita ke sini, Ki?" tanya Rangga.

"Di sinilah nerakanya, Rangga," sahut Ki Sara Denta.

Rangga mengerutkan keningnya memandangi Tua Gila itu dalam-dalam. Benar-benar sulit dimengerti apa yang dimaksud Ki Sara Denta barusan. Pendekar Rajawali Sakti mengalihkan pandangannya pada bangunan di depannya.

"Sudah banyak yang mencoba, tapi mereka tidak pernah kelihatan keluar lagi. Entah bagaimana nasib mereka di dalam sana," kata Ki Sara Denta, agak mengeluh nada suaranya.

"Siapa yang kau maksudkan, Ki?" tanya Rangga.

"Para pendekar yang diundang oleh Prabu Yudanegara," sahut Ki Sara Denta.

Rangga terdiam. Perasaannya yang tajam, langsung menduga kalau di dalam istana ini terjadi sesuatu. Suatu misteri yang menantang Rangga untuk segera menyingkapnya. Misteri yang sudah terasakan olehnya ketika pertama kali melihat istana itu. Apakah ini yang dinamakan istana maut itu?

Rangga bertanya-tanya dalam hati. Hal itu memang sudah didengarnya dari orang-orang di lembah sana, kalau istana itu merupakan istana maut yang sudah banyak meminta korban nyawa. Tapi sampai saat ini Pendekar Rajawali Sakti tidak tahu, bagaimana caranya istana ini bisa meminta korban manusia. Keadaannya memang sungguh mengerikan, dan terkesan angker. Tapi tidak terlihat seorang pun yang tinggal di dalam istana ini. Suasananya begitu sunyi, tak ada tanda-tanda kehidupan, baik di luar maupun di dalam.

"Aku akan melihat ke dalam, Ki," kata Rangga ingin tahun.

"Kau akan mati begitu berada di dalam, Rangga," sergah Ki Sara Denta.

"Bagaimana kau bisa memastikannya, Ki? Sedangkan tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui datangnya kematian. Kau tidak ingin ikut masuk?" Rangga tersenyum.

"Tidak," sahut Ki Sara Denta tegas.

"Kenapa?"

"Kalau aku masuk ke sana, dan kemudian mati, maka tidak ada lagi yang bisa disuruh untuk mencari pendekar-pendekar oleh Prabu Yudanegara," sahut Sara Denta lagi.

"Hm.... Jadi selama ini kau selalu berkelana untuk mencari para pendekar, dan kemudian menyuruh mereka masuk ke dalam istana ini. Begitu?" tebak Rangga langsung bisa menangkap. Ki Sara Denta tidak menjawab.

"Sudah berapa pendekar yang kau undang dan masuk ke sana?" tanya Rangga, agak tajam nada suaranya.

"Entahlah. Aku tidak pernah menghitung," sahut Ki Sara Denta setengah mendesah.

"Semua, kau yang mengundangnya?" Tanya Rangga lagi. Kembali Ki Sara Denta terdiam, dan hanya menganggukkan kepala saja.

"Hhh...!"Rangga menghembuskan napas panjang. Pendekar Rajawali Sakti jadi berpikir keras. Sungguh tidak diduga kalau Ki Sara Denta sudah begitu banyak mengundang pendekar. Dan mereka disuruh masuk ke dalam istana ini tanpa diketahui maksudnya. Dan sekarang giliran Pendekar Rajawali Sakti mengalami hal yang serupa. Dia diminta masuk ke dalam istana itu, tanpa diketahui maknanya.

"Jelaskanlah padaku, Ki. Kenapa kau mengundang para pendekar dan menyuruhnya masuk ke istana itu?" desak Rangga meminta penjelasan.

"Bukan aku yang mengundang, Rangga. Tapi, Gusti Prabu. Beliau jugalah yang meminta mereka masuk ke istana itu. Aku hanya menjalankan tugas saja, diperintah untuk mencari para pendekar. Dan yaaah..., hanya itu yang kuketahui, Rangga," keluh Ki Sara Denta menjelaskan kedudukannya.

"Hm..., lalu apakah kau sudah pernah mencoba masuk ke sana?" tanya Rangga.

"Belum," sahut Ki Sara Denta terdengar ragu-ragu.

"Kenapa?" tanya Rangga ingin tahu.

"Aku belum ingin mati, Rangga," sahut Ki Sara Denta.

"Kau belum pernah masuk ke sana, bagaimana kau tahu akan mati?" desak Rangga jadi curiga.

"Mereka yang masuk ke sana tidak pernah keluar lagi. Dan setiap kali mereka masuk, aku selalu mendengar jerit kesakitan, lalu tidak terdengar suara apa-apa lagi. Aku selalu menunggu di sini sampai beberapa hari. Kemudian utusan Gusti Prabu Yudanegara datang, dan memerintahkan aku untuk mencari pendekar lagi," jelas Ki Sara Denta.

"Kemudian kau pergi, lalu datang lagi ke sini bersama pendekar-pendekar yang selanjutnya disuruh masuk ke istana itu. Begitu?" selak Rangga cepat.

Ki Sara Denta hanya menunduk tidak menjawab. Dari raut wajahnya jelas terlihat penyesalan atas apa yang telah dilakukannya selama ini. Dipandanginya Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam, seakan-akan meminta pengertiannya atas apa yang telah dikerjakannya selama ini. Sementara Rangga hanya menggelengkan kepala tanpa berkata apa-apa.

"Sebenarnya aku tidak suka melakukan pekerjaan mi, Rangga. Tapi itu tidak bisa kutolak, dan itu harus kulakukan. Karena..., ah...!" Ki Sara Denta tidak melanjutkan kata-katanya lagi.

"Teruskan, Ki," pinta Rangga. "Kenapa perintah. itu tidak bisa kau tolak, padahal kau sendiri tidak ingin melakukannya?"

"Aku.... Aku tidak bisa menolak perintah Gusti Prabu, Rangga."

Rangga kembali menarik napas dalam-dalam memandangi laki-laki tua di depannya ini. Sungguh tidak diduga kalau ada orang yang begitu setia, sehingga tidak bisa menolak suatu perintah, meskipun hatinya menolak. Dan, Pendekar Rajawali Sakti memang belum bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Semuanya masih terselimut misteri dan belum bisa diungkapkan secara dini. Sedangkan laki-laki tua ini tidak mau mengatakannya secara gamblang dan terus terang, karena dirinya sendiri juga tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya saat ini.

Sementara senja sudah merayap turun ke pelukan bumi, tapi Pendekar Rajawali Sakti sampai saat ini belum bisa memecahkan misteri yang mengganjal hatinya. Sedangkan Ki Sara Denta sudah tidak bisa lagi didesak untuk mengatakan yang sebenarnya. Memang, laki-laki tua yang selalu dipanggil si Tua Gila itu sudah bersumpah kalau dirinya tidak tahu apa-apa. Dia hanya menjalankan perintah saja dari Prabu Yudanegara.

Matahari sudah condong di belahan Barat Dan sinarnya yang semula terik, kini tidak terasa lagi menyengat kulit. Suasana di sekitar pelataran istana tua itu jadi remang-remang, karena sinar matahari semakin meredup. Keindahan rona jingga matahari yang hampir tenggelam di balik peraduannya, tidak ternikmati oleh dua orang yang masih terpaku di depan bangunan istana itu.

"Aku akan masuk ke sana, Ki," kata Rangga setelah berpikir beberapa saat lamanya.

"Rangga...?!" Ki Sara Denta tampak terkejut mendengar keputusan Pendekar Rajawali Sakti itu.

Sedangkan Rangga hanya tersenyum saja, lalu menepuk lembut pundak si Tua Gila itu. Sebentar kemudian kakinya melangkah mendekati istana tua yang tidak terurus itu. Sementara Ki Sara Denta hanya bisa menyaksikan dengan wajah diliputi kecemasan yang amat sangat. Sungguh, laki-laki tua itu tidak menginginkan adanya korban lagi di dalam bangunan istana itu.

"Rangga...!" panggil Ki Sara Denta keras.

Rangga berpaling tanpa membalikkan tubuhnya. Pada saat itu berkelebat secercah cahaya kemerahan ke arah si Tua Gila. Pendekar Rajawali Sakti terkejut bukan main.

"Awas...!" teriak Rangga keras. "Hup! Yeaaah...!" Seketika itu juga Rangga melesat ke arah datangnya cahaya kemerahan yang mengancam tubuh Ki Sara Denta.

Secepat kilat laki-laki tua itu menjatuhkan dirinya bergulingan di tanah beberapa kali. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti yang mencoba menghentikan arus benda berwarna merah itu, terlambat sedikit. Akibatnya, benda itu terus meluncur ke arah si Tua Gila yang sedang bergulingan di tanah. Meskipun sudah berusaha sekuat daya, namun benda berwarna merah itu masih juga menyambar bagian paha kiri si Tua Gila.

"Akh...!" Ki Sara Denta menjerit keras agak tertahan.

"Ki...!" seru Rangga terkejut. Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti meluruk memburu Ki Sara Denta yang sedang bergulingan di tanah. Tampak sebuah benda merah menancap pada bagian paha kirinya. Ki Sara Denta berusaha bangkit, namun kembali jatuh bergulingan sambil memekik keras agak tertahan.

"Ki...,"Rangga langsung menghampiri dan menyanggah tubuh laki-laki tua itu.

"Ugkh! Kakiku...," keluh Ki Sara Denta seraya memegangi paha kirinya yang tertancap sebuah senjata berwarna merah sepanjang satu jengkal.

Rangga merasakan tubuh si Tua Gila ini mendadak jadi panas, dan keringat menitik deras di keningnya. Betapa terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti begitu melihat wajah Ki Sara Denta mendadak membiru dan seluruh bola matanya memutih.

"Oh...!" desis Rangga terkejut. Pendekar Rajawali Sakti langsung mengetahui kalau Ki Sara Denta terkena senjata beracun yang kerjanya sangat cepat. Cepat-cepat tubuh laki-laki tua itu direbahkan, lalu dicabutnya senjata sepanjang jengkal berwarna merah yang menancap di paha kiri si Tua Gila. Darah berwarna merah kehijauan langsung menyembur keluar dari luka di pahanya.

"Akh!" Ki Sara Denta memekik tertahan.

Rangga membuang senjata beracun itu, kemudian menekan luka di paha Ki Sara Denta. Tekanan yang begitu kuat, membuat laki-laki tua itu menjerit keras sambil menggeliat-geliat kesakitan. Sedangkan Rangga terus menekan kuat-kuat luka di paha itu dengan telapak tangan kanannya. Tampak asap tipis mengepul dari sela-sela jari tangan Pendekar Rajawali Sakti.

Sementara si Tua Gila terus menjerit-jerit kesakitan sambil menggeliat-geliat, seperti ayam yang disembelih lehernya. Tampak dari mulutnya mengeluarkan darah kental kehitaman yang bercampur cairan hijau kekuning-kuningan. Dari luka yang ditekan Rangga juga mengucurkan darah bercampur cairan hijau kekuning-kuningan.

"Hih!" Rangga menekan keras luka di paha si Tua Gila itu, kemudian menepak-nepaknya, lalu melepaskan tangannya dari luka itu. Seketika darah merah segar muncrat keluar. Cepat-cepat diberikannya dua totokan pada sekitar luka, maka darah berhenti mengalir seketika itu juga.

Sementara Ki Sara Denta sudah terkulai tidak sadarkan diri. Terlalu berat penderitaan yang dideri-tanya saat ini. Pendekar Rajawali Sakti menghembus kan napas panjang sambil menjatuhkan diri, duduk di samping si Tua Gila itu. Sebentar dipandanginya laki-laki tua yang menggeletak tidak sadarkan diri. Kemudian pandangannya beralih pada istana di depan.

"Hhh...!"

********************

Malam telah menyelimuti sekitar istana tua yang kelihatannya tidak berpenghuni itu. Sementara Rangga menunggu Ki Sara Denta yang belum sadarkan diri. Serangan gelap yang terjadi sore tadi, membuat Pendekar Rajawali Sakti berpikir seribu kali untuk meninggalkan si Tua Gila. Sudah beberapa kali laki-laki tua itu mendapat serangan dari orang-orang yang menamakan dirinya Partai Naga. Rangga sendiri tidak mengerti, mengapa justru Ki Sara Denta yang selalu menjadi sasaran, dan bukan dirinya atau orang lain.

Pendekar Rajawali Sakti seketika teringat kata-kata si Tua Gila, meskipun belum begitu jelas. Namun setelah dihubung-hubungkan dengan semua peristiwa yang terjadi, Rangga bisa mengambil kesimpulan kalau sebenarnya orang yang menamakan diri Partai Naga tidak menghendaki di-rinya ada di tempat ini. Dan mereka seperti menyalahkan Ki Sara Denta, sehingga mencoba membunuhnya dengan berbagai cara.

"Hm.... Siapa sebenarnya mereka...?" tanya Rangga dalam hati. Pertanyaan seperti itu terus mengganggu pikiran Rangga selama ini. Tetapi Pendekar Rajawali Sakti sekarang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selama si Tua Gila belum siuman. Rangga merasa dirinya seperti seorang buruan yang tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu pemburu datang untuk mencincang tubuhnya. Posisi seperti ini yang tidak pernah disukainya.

Srek! Rangga terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara berkeresek dari balik semak yang. berasal dari arah belakangnya. Kepalanya cepat berpaling ke arah sumber suara. Dan secepat kilat, Pendekar Rajawali Sakti melompat masuk ke dalam semak yang berada di belakangnya.

"Jangan..!"

Betapa terkejut Rangga begitu melihat yang disergap ternyata seorang wanita muda berusia sekitar delapan belas tahun, dan nyaris melayangkan pukulan. Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti melompat bangkit sambil menjambret tangan gadis itu hingga ikut berdiri juga.

"Siapa kau?" tanya Rangga seraya mengamati gadis yang cukup cantik ini.

"Aku.... Aku...," gadis itu meringis kesakitan.

Rangga melepaskan cekalannya pada pergelangan tan-gan gadis itu, lalu mundur dua tindak. Sedangkan gadis itu masih meringis menahan sakit pada pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram kuat oleh Pendekar Rajawali Sakti. Segera tangannya yang terasa sakit diurut-urut. Pendekar Rajawali Sakti teringat akan Ki Sara Denta yang ditinggalkannya. Bergegas dia keluar dari semak sambil membawa gadis yang hampir saja menjadi sasaran kejengkelannya tadi. Tapi begitu sampai di sana, alangkah terkejutnya Rangga karena orang tua yang biasa dipanggil si Tua Gila itu sudah tidak ada lagi di tempat

"He...?! Di mana dia...?!" Pendekar Rajawali Sakti mengedarkan pandangannya berkeliling. Tak ada tanda-tanda sama sekali kalau Ki Sara Denta pergi dari tempat ini. Dan seingatnya, si Tua Gila belum sadarkan diri. Rangga langsung menatap tajam gadis muda di sampingnya.

"Gara-gara kau...!" dengus Rangga melampiaskan kegusarannya pada gadis itu.

"He...! Kenapa kau marah padaku...?" gadis itu mendelik, tidak menerima dirinya dijadikan sasaran kemarahan.

"Siapakah kau ini?" tanya Rangga, agak dingin nada suaranya.

"Talia," sahut gadis itu menyebutkan namanya.

"Kenapa kau berada di sini?" tanya Rangga lagi.

"Aku..., aku mencari ayahku. Kau tahu di mana ayahku berada? Kulihat, dia ke sini bersamamu siang tadi." Rangga mengamati gadis itu lekat-lekat.

"Siapa ayahmu?" tanya Rangga lagi

"Ki Sara Denta."

Pendekar Rajawali Sakti terhenyak mendengar nama Ki Sara Denta disebut Yang lebih mengejutkan lagi, gadis ini mengaku kalau Ki Sara Denta adalah ayahnya. Sedangkan selama ini Pendekar Rajawali Sakti tidak mengetahui secara pasti tentang diri si Tua Gila itu. Melihat tingkahnya yang selalu konyol dan tidak mengenal santun itu, Rangga menduga kalau si Tua Gila hidup sebatang kara. Siapa nyana, sekarang ada seorang gadis berparas cukup cantik mengaku sebagai anak Ki Sara Denta.

LIMA

Rangga menghenyakkan tubuhnya, dan langsung terduduk lemas setelah gadis itu meyakinkan kalau dirinya benar-benar putri si Tua Gila yang kini lenyap entah ke mana. Hilangnya Ki Sara Denta yang begitu cepat dan tidak terduga, menimbulkan suatu kesimpulan kalau ada seseorang yang menculiknya. Dan tentu orang itu memiliki tingkat kepandaian tinggi. Mustahil kalau orang biasa bisa lenyap begitu saja sambil membawa seseorang yang sedang terluka dalam waktu yang begitu singkat.

"Jadi kau benar anak Ki Sara Denta...?" Rangga seakan-akan ingin menegaskan dirinya pada gadis itu.

"Benar," sahut gadis itu yang mengaku bernama Talia.

"Aku bersamanya di lembah sana selama beberapa hari. Lalu, kenapa aku tidak bertemu denganmu?" tanya Rangga menyelidik

"Aku memang tidak ikut ke lembah. Ayah selalu melarangku ikut ke sana," sahut Talia.

"Kenapa?" tanya Rangga ingin tahu.

"Katanya di sana hanya tinggal orang-orang gila."

Rangga terkejut juga mendengar keterangan gadis ini. Timbul rasa ingin tahu di hatinya. Pendekar Rajawali Sakti juga berharap agar gadis yang mengaku putri si Tua Gila ini bisa memberi banyak petunjuk untuk mengungkapkan misteri yang sedang dihadapinya ini.

"Talia, memang benar aku tadi bersama ayahmu di sini Tapi sekarang, tidak lagi. Ayahmu lenyap begitu kau muncul tadi," kata Rangga mencoba menjelaskan dengan hati-hati.

"Hilang...!?" Talia seperti tidak percaya.

"Ayahmu terluka...."

"Oh, tidak...!" sentak Talia agak histeris. Gadis itu menutupi wajah dengan kedua tangannya. Sedangkan Rangga tidak bisa meneruskan penjelasan tentang hilangnya si Tua Gila. Pendekar Rajawali Sakti hanya bisa menarik napas panjang melihat gadis itu menangis sesenggukan mendengar ayahnya lenyap di tempat ini.

Rangga hanya mendiamkan dan membiarkan Talia menumpahkan air mata sepuas-puasnya. Bahkan ketika gadis itu merangkul dan memeluknya, Pendekar Rajawali Sakti membiarkan tanpa berusaha untuk meredakan tangis gadis ini. Lama juga Talia menangis di dada Pendekar Rajawali Sakti, hingga baju pemuda itu basah. Gadis itu mulai tenang setelah dengan lembut Rangga memegang pundaknya. Perlahan-lahan kepalanya diangkat dan air matanya dihapus dengan ujung baju. Gadis itu menarik napas panjang, mencoba mengurangi kesedihannya.

"Aku akan mencari ayahmu sampai dapat. Aku janji," kata Rangga mencoba menenangkan gadis itu.

"Aku yang salah. Seharusnya, aku memang tidak datang ke sini tadi," rintih Talia lirih, masih terdengar terisak.

"Aku mengerti, kau pasti mencemaskan ayahmu,! ujar Rangga lembut.

"Ya.... Setiap kali ayah mendapat tugas, aku selalu cemas. Apalagi sekarang ini. Ayah selalu mendapat tugas yang begitu berat. Bahkan ayah sering mengeluh kalau sebenarnya tidak ingin menjalankan tugas itu, tapi tidak berani menentang kehendak Gusti Prabu." Talia memandang wajah pemuda tampan berbaju rompi putih di depannya. Sedangkan yang dipandang hanya tersenyum saja.

"Kenapa kau mau diajak ayah ke sini?" tanya Talia seperti menyesalkan kehadiran Pendekar Rajawali Sakti di daerah ini.

Rangga tidak menjawab, dan hanya tersenyum saja seraya berdiri. Talia ikut berdiri di samping pemuda berbaju rompi putih itu. Mereka tidak bicara lagi, dan masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun pandangan mereka tidak lepas dari bangunan istana tua yang tampak angker itu. Rangga menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat.

Pendekar Rajawali Sakti berpaling, memandang gadis cantik berbaju biru di sampingnya. Pada saat yang sama, Talia juga memalingkan mukanya. Maka, mau tak mau pandangan mereka bertemu pada satu titik. Perlahan-lahan Talia menundukkan kepalanya. Tampak dalam keremangan cahaya rembulan, wajah gadis itu bersemu merah dadu.

"Sebaiknya kau pulang saja, Talia. Aku janji akan membawa pulang ayahmu dalam keadaan sehat," bujuk Rangga.

Talia mengangkat kepalanya, dan kembali menatap Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Sedangkan Rangga sendiri membalasnya dengan lembut.

"Kau berjanji akan membawa ayah pulang padaku?" tanya Talia seakan tidak percaya pada ucapan Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku janji," sahut Rangga setengah berbisik.

"Terima kasih." Tiba-tiba saja gadis itu memeluk, dengan tangan melingkar di leher pemuda berbaju rompi putih itu. Akibatnya Rangga sedikit kelabakan. Namun hanya sebentar Talia melakukan hal itu, kemudian melepaskan kembali dan berbalik. Gadis itu langsung berlari meninggalkan tempat ini, menuju hutan yang cukup lebat.

Pendekar Rajawali Sakti memandangi kepergian Talia yang sebentar saja sudah lenyap ditelan kelebatan hutan dan kegelapan malam. Tapi, mendadak Pendekar Rajawali Sakti tersadar kalau dirinya tidak tahu, di mana gadis itu tinggal. Jadi bagaimana mungkin dia akan membawa ayahnya nanti?

Namun Rangga jadi tersenyum sendiri. Tentu saja hal itu mudah dilakukan jika bisa menemukan kembali si Tua Gila. Dan persoalannya sekarang, di mana sebenarnya si Tua Gila itu berada...?

********************

Perlahan Rangga melangkah mendekati pintu masuk bangunan istana tua itu. Pintu yang terbuka lebar itu seakan-akan memang sengaja diperuntukkan bagi dirinya. Rangga berhenti setelah sampai di ambang pintu. Sebentar diamatinya keadaan dalam yang begitu gelap, tanpa penerangan sedikit pun. Padahal malam ini langit cerah, dan bulan bersinar penuh tanpa terhalang awan sedikit pun, Namun cahaya rembulan rupanya tidak sanggup menerobos sampai ke dalam bangunan istana tua ini.

Rangga melangkah satu tindak memasuki bangunan ini. Tapi sebelum kakinya menyentuh lantai, mendadak dia tersentak. Langsung saja kakinya ditarik kembali ke belakang, mundur dua tindak. Keningnya berkerut memandangi lantai bangunan istana yang gelap dan menghitam. Tidak ada kilatan cahaya sedikit pun seperti lantai-lantai bangunan istana lain yang biasanya terbuat dari batu pualam putih berkilat.

"Hm.... Lantai ini mengandung hawa racun yang sangat kuat, namun kerjanya tidak begitu cepat. Bahkan bisa di kata kan lambat," gumam Rangga dalam hati.

Meskipun Pendekar Rajawali Sakti kebal terhadap segala jenis racun, namun dia tidak mau sembarangan terhadap satu jenis racun. Bagaimanapun juga, dirinya sadar kalau hanya manusia biasa, yang tidak akan mungkin terhindar dari kenaasan. Rangga teringat akan pengalamannya yang pernah keracunan sehingga tidak bisa mengingat dirinya sendiri.

Rangga memandangi pintu bangunan istana yang besar sekali, dan tidak ada penutupnya. Kembali kakinya melangkah mundur beberapa tindak, lalu dengan cepat melompat, melesat masuk sambil berteriak keras.

"Hiyaaa...!" Ilmu yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti memang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Terlebih lagi ilmu meringankan tubuhnya yang begitu sempurna, sehingga lesatannya begitu cepat bagai kilat. Dalam sekejap mata saja, Rangga sudah masuk ke dalam. Tubuhnya melayang deras dengan kedua tangan merentang lebar ke samping. Pendekar Rajawali Sakti rupanya tengah mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega' pada tahapan yang terakhir, diimbangi ilmu meringankan tubuh.

Maka tak heran kalau dia bisa melayang bagai kapas tertiup angin. Namun begitu, Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa melayang selamanya seperti seekor burung. Paling tidak harus ada pijakan untuk memantapkan tubuhnya.

"Hap!" Rangga menjejakkan kakinya di tengah-tengah ruangan sambil mengerahkan tenaga dalam yang digabung pengerahan hawa murni yang berpusat pada sumber kekuatan dalam tubuh. Kini seluruh tubuhnya terasa jadi dingin. Namun....

"Akh...!" Entah kenapa, mendadak saja Rangga memekik keras tertahan. Saat itu bagian telapak kakinya terasa jadi panas membara, seolah-olah berada di atas bara api. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti melentingkan tubuhnya, dan langsung melesat keluar. Namun sebelum Pendekar Rajawali Sakti sampai di pintu luar, mendadak dari bagian atas pintu itu meluncur jeruji yang begitu cepat menutup jalan. Rangga terkejut bukan main, dan seketika berusaha untuk menarik tubuhnya. Namun terlambat. Karena dia melesat dengan kekuatan penuh, akibatnya Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa lagi menghindari benturan dengan pintu jeruji itu.

Brak! "Akh...!" Rangga menjerit keras. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti keras sekali terpental balik ke belakang, dan tidak bisa dicegah lagi. Tubuhnya jatuh bergulingan di lantai yang hitam pekat dan dingin itu. Seketika Rangga merasa kan seluruh tubuhnya jadi panas bagai terbakar. Dia sadar betul kalau racun yang tersebar di seluruh lantai istana ini sudah merambat ke tubuhnya. Namun berkat kesempurnaan hawa murni yang dimiliki, racun itu tidak sampai masuk dalam jaringan darahnya. Atau mungkin memang belum sampai. Dan Rangga tidak yakin kalau dirinya mampu bertahan lama, meskipun memiliki kekebalan tubuh terhadap segala jenis racun. Tapi di dalam istana ini racunnya sungguh dahsyat dan kuat.

"Hup! Yeaaah...!"
Sret! Cring!

Sambil berteriak keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti melompat ke atas sambil mencabut Pedang Rajawali Sakti yang tersimpan dalam warangkanya di punggung. Seketika itu cahaya biru yang memancar dari pedang itu menerangi seluruh ruangan ini.

"Hiyaaa...!" Rangga meluruk cepat ke bawah sambil mengayunkan pedangnya disertai pengerahan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Suatu jurus yang dahsyat dan menjadi andalan dalam setiap pertarungan.

Glarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi ketika Pedang Rajawali Sakti menghantam lantai istana. Dan seketika, seluruh bangunan istana ini bergetar hebat bagai diguncang gempa dahsyat.

"Hiyaaat..!" Kembali Rangga menghantamkan pedangnya dl sertai pengerahan tenaga dalam yang sangat sempurna. Untuk kedua kalinya terdengar ledakan menggelegar seperti gunung meletus, sehingga bangunan istana ini semakin dahsyat berguncang. Akibatnya beberapa dindingnya ambruk, menimbulkan suara bergemuruh disertai getaran keras. Rangga menjejakkan kakinya sedikit ke lantai, lalu cepat melentingkan tubuhnya. Kini Pendekar Rajawali Sakti melesat sambil mengayunkan pedangnya dua kali ke arah pintu berjeruji besi itu.

"Hiaaat..!"
Crang...!

Pintu jeruji baja itu hancur berantakan terbabat pedang bercahaya biru yang menyilaukan mata itu. Pendekar Rajawali Sakti langsung melesat keluar, dan jatuh bergulingan di tanah beberapa kali. Cepat-cepat dia melompat bangkit dan memasukkan pedangnya ke dalam warangka di punggung, lalu secepat itu pula duduk bersila sambil merapatkan kedua tangannya di depan dada. Sebentar napasnya ditarik dalam-dalam, dan ditahannya agak lama. Tampak asap kehitaman mengepul dari ujung kepala. Dan kini seluruh tubuhnya bersinar merah membara, seperti besi terbakar.

"Yeaaah...!" Sambil berteriak keras melengking tinggi, Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan tangannya ke samping. Lalu dengan cepat tangannya ditarik ke depan, dan bergerak perlahan sebelum ditarik panjang, Perlahan matanya terbuka. Dan kini Pendekar Rajawali Sakti bangkit dengan keadaan tubuh segar. Matanya memandangi bangunan istana di depannya. istana maut itu tidak lagi berguncang, tetap kokoh berdiri tegar, seperti menantang Pendekar Rajawali Sakti untuk menaklukkannya.

"Hhh...!" Rangga menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat.

********************

Semalaman Pendekar Rajawali Sakti memutari seluruh bagian luar istana ini. Sama sekali tidak diketemukan celah yang bisa digunakan untuk masuk tanpa melalui pintu depan. Seluruh dinding bangunan ini terbuat dari batu keras. Sementara pagi sudah menjelang, sedangkan Rangga belum bisa melakukan sesuatu. Kembali Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak di depan pintu depan bangunan istana dari batu itu.

"Hm, tidak heran kalau tidak ada seorang pun yang sanggup memasukinya...," gumam Rangga perlahan. Pendekar Rajawali Sakti seketika teringat akan si Tua Gila yang juga tidak berani masuk ke dalam istana ini. Memang alasan yang dikemukakannya cukup kuat. Tapi, Rangga mendapatkan sesuatu dari kata-kata Si Tua Gila itu. Pendekar Rajawali Sakti bisa merasakan kalau laki-laki tua itu menyimpan sesuatu, dan sepertinya sudah mengetahui kalau seluruh lantai istana itu mengandung racun yang dahsyat dan sangat mematikan.

Saat Pendekar Rajawali Sakti sedang berpikir keras, tiba-tiba terdengar derap langkah kuda yang semakin jelas dan dekat. Sebentar pandangannya beredar berkeliling, lalu tubuhnya cepat melesat ke sebatang pohon yang cukup tinggi dan lebat daunnya. Pendekar Rajawali Sakti langsung lenyap ditelan kerimbunan daun pohon itu. Kakinya hinggap di sebuah dahan yang cukup terhalang. Tapi dari tempat ini, bisa melihat jelas ke sekitar bangunan istana maut itu.

Tidak lama kemudian, dari arah lembah tempat Kerajaan Mandalika berdiri, muncul beberapa orang berkuda. Rangga menghitung dalam hati. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang, ditambah seorang yang berkuda paling depan. Pendekar Rajawali Sakti mengenali betul pemuda yang berkuda paling depan. Dialah Raden Sambung Wulung, menantu Prabu Yudanegara.

Rombongan berkuda itu berhenti tepat di depan bangunan istana maut ini. Sedangkan Rangga yang berada di atas pohon, berada tidak seberapa jauh dari mereka. Pendekar Rajawali Sakti bisa melihat dan mendengar jelas apa yang dibicarakan, tanpa harus mempergunakan aji 'Pembeda Gerak dan Suara'. Suatu ilmu yang bisa mendengarkan suara dari jarak jauh, dan bisa membedakan jenis-jenis suara sekecil apa pun.

"Hm, apa yang mereka lakukan di sini...?" tanya Rangga dalam hati. Pendekar Rajawali Sakti memandangi Raden Sambung Wulung yang turun dari punggung kudanya, diikuti seorang laki-laki tua berjubah putih. Mereka berdiri berdampingan memandangi bangunan Istana itu. Sedangkan orang-orang yang berpakaian prajurit, masih berada di punggung kuda masing-masing. Begitu tangan Raden Sambung Wulung memberi aba-aba, para prajurit langsung turun dari punggung kuda.

"Istana ini semakin parah keadaannya, Eyang Wiratma," kata Raden Sambung Wulung setengah bergumam.

"Benar, Raden," sahut laki-laki tua berjubah putih yang dipanggil Eyang Wiratma tadi.

"Mari, Eyang. Kita lihat ke dalam. Aku ingin lihat mayat si manusia sombong itu," ajak Raden Sambung Wulung seraya mengayunkan kakinya menghampiri Istana maut itu.

"Hati-hati, Raden. Aku melihat Pendekar Rajawali Sakti itu tidak seperti pendekar-pendekar lainnya," ujar Eyang Wiratma memperingatkan. Raden Sambung Wulung hanya tersenyum saja, dan terus melangkah semakin mendekati pintu masuk istana maut itu.

Sementara Rangga yang berada di atas pohon, terus memperhatikan dengan hati bertanya-tanya. Pendekar Rajawali Sakti terkejut juga melihat Raden Sambung Wulung dan Eyang Wiratma memasuki bangunan tua itu, tanpa khawatir kalau lantainya sudah tersebar racun yang sangat ganas.

Namun tidak lama mereka berada di dalam, dan kini sudah keluar kembali dengan langkah cepat dan wajah merah padam. Raden Sambung Wulung langsung melompat ke punggung kuda, dan secepat itu menggebahnya, meninggalkan pelataran istana maut ini. Eyang Wiratma dan para prajurit yang menyertainya bergegas mengejar.

Sementara Rangga yang memper-hatikan dari tempat persembunyian, jadi heran juga. Berbagai macam pertanyaan dan dugaan muncul di benaknya seketika setelah melihat kejadian yang berlangsung barusan.

ENAM

Rangga baru saja melompat turun dari pohon, hendak membuntuti rombongan Raden Sambung Wulung. Tapi, tiba-tiba dari dalam semaksemak muncul seorang gadis cantik berbaju biru. Rangga terkejut melihat kemunculan gadis ini. Seketika niatnya untuk membuntuti Raden Sambung Wulung diurungkan. Pendekar Rajawali Sakti menghampiri gadis yang ternyata adalah Talia.

"Talia...," desis Rangga seraya memandangi gadis itu dalam-dalam. "Kenapa kau berada di sini?"

"Aku ingin membantumu, Kakang," sahut Talia.

"Membantuku...? Apa yang bisa kau lakukan di tempat ini?"

"Aku memang tidak bisa apa-apa, tapi pasti bisa membantumu menghancurkan mereka," tenang sekali jawaban Talia.

Rangga semakin dalam memandangi gadis ini, dan jadi mendengus dalam hati. Gadis ini tidak berbeda jauh dengan ayahnya, yang selalu bermain teka-teki membingungkan. Tapi jawaban Talia barusan sudah mengisyaratkan kalau dirinya tahu banyak tentang semua yang terjadi di sekitar daerah ini.

"Apa yang kau ketahui tentang mereka, Talia?" tanya Rangga setelah berpikir sejenak.

"Tentang Partai Naga itu...?" Talia seperti ingin menegaskan.

"Jadi kau juga mengetahui tentang Partai Naga itu?" Rangga agak terkejut juga kala Talia menyebut nama Partai Naga. Sedangkan selama ini, si Tua Gila juga selalu menyebut-nyebut partai itu, khususnya sejak mereka bertemu dan saling mengenal diri. Dan sekarang, gadis ini juga menyebut nama partai itu.

Talia mengangguk membenarkan pertanyaan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga semakin ingin tahu, karena diyakini kalau Partai Naga erat kaitannya dengan persoalan ini. Hanya saja Pendekar Rajawali Sakti belum tahu, siapa dan di mana tempat persembunyian Partai Naga itu. Mereka selalu muncul tiba-tiba, tanpa diketahui pasti. Bahkan perginya juga tiba-tiba seperti hantu saja.

"Apa saja yang kau ketahui tentang Partai Naga?"' tanya Rangga lebih lanjut.

"Mereka adalah musuh besar ayah. Padahal ayah sendiri tidak pernah menganggap mereka musuh," jelas Talia.

"Kenapa mereka memusuhi ayahmu?" tanya Rangga lagi.

"Kekuasaan," sahut Talia kalem.

"Maksudmu?" Rangga tidak mengerti.

"Dulu ayah seorang panglima perang yang paling disayangi Prabu Yudanegara. Sudah banyak ayah melakukan peperangan dan berhasil gemilang. Tapi setelah semuanya berakhir, ayah tersingkir dari jabatannya. Bahkan beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan, tapi selalu gagal. Tapi ayah tidak ingin memperpanjang urusan, dan memilih diam dengan berpura-pura gila. Memang, ayah tersingkir selamanya dari istana. Tapi tersingkirnya ayah, malah membuat bencana besar bagi seluruh kerajaan ini," Talia mengisahkan perjalanan hidup ayahnya.

Sementara Rangga terus mendengarkan penuh perhatian. Walaupun perebutan kedudukan dan kekuasaan adalah hal yang tidak terlalu aneh, tapi bagi Pendekar Rajawali Sakti adalah suatu hal yang menarik. Baik itu kerajaan besar maupun kerajaan kecil.

"Orang Partai Naga-lah yang menginginkan ayah tersingkir untuk selamanya. Dan sekarang, mereka menguasai seluruh Kerajaan Mandalika ini," sambung Talia.

"Oh...!" kali ini Rangga benar-benar terkejut.

"Ada apa, Kakang?"

"Tidak, teruskan saja," sahut Rangga.

"Mereka bahkan menjadikan Prabu Yudanegara sebagai raja boneka yang bisa dikendalikan. Prabu Yudanegara memang tidak mungkin digulingkan, karena akan membuat seluruh rakyat marah. Maka, kemudian dibuat suatu malapetaka bagi seluruh rakyat dengan merubah istana ini menjadi istana maut yang selalu merenggut nyawa siapa saja yang berani memasukinya. Bahkan juga disebarkan kabar bohong, bahwa di dalam istana ini sekarang dihuni makhluk buas yang tidak bisa mati dan selalu makan daging manusia. Mereka memang bisa mengelabui Prabu Yudanegara maupun seluruh rakyat, tapi tidak bisa mengelabui ayah. Itulah sebabnya mereka selalu mencari perkara dan berusaha menyingkirkan ayah secara halus agar tidak terlihat jelas di mata Prabu Yudanegara."

Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Disimaknya semua cerita yang dikisahkan gadis berbibir mungil ini. Pendekar Rajawali Sakti seperti tak puas-puasnya memandangi bibir yang indah itu, seolah-olah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ada suatu daya tarik tersendiri kala bibir itu bergerak-gerak meluncurkan kata-kata. Sedangkan gadis itu tidak menyadari kalau Rangga memandangi bibirnya.

"Kenapa memandangiku terus, Kakang?" gadis itu tersadar juga.

"Oh, tidak...," Rangga jadi tergagap. Pendekar Rajawali Sakti buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Malu juga rasanya karena dipergoki sedang memandangi seraut wajah cantik dengan bibir indah mengagumkan. Kecantikan yang dimiliki Talia memang terletak pada bibirnya yang indah dan selalu basah memerah.

"Hhh...!" Rangga menghembuskan napas kuat-kuat. Pendekar Rajawali Sakti mencoba menghilangkan pikiran buruk yang tiba-tiba saja memenuhi benaknya. Semalam, daya tarik yang dimiliki Talia memang tidak begitu diperhatikan. Tapi siang ini, Rangga sungguh tidak bisa menghindar lagi. Begitu terpesonanya, sehingga tanpa disadari Pendekar Rajawali Sakti telah menikmati kecantikan gadis itu lewat pandangan matanya.

********************

Rangga mengayunkan kaki mendekati bangunan istana maut itu. Begitu sampai di ambang pintu, masih terasa adanya hawa racun di lantai istana ini. Sementara Talia menunggu, berjarak agak jauh. Gadis itu hanya memperhatikan saja. Rangga memutar tubuhnya, kembali menghampiri Talia yang masih tetap menunggu.

"Apakah ayah ada di dalam sana, Kakang?" tanya Talia langsung begitu Rangga sampai di depannya. "Tidak," sahut Rangga seraya mengangkat bahunya.

"Tidak...?" Talia seperti tidak percaya.

"Semalam aku sudah mencoba masuk. Tapi..., yaaah. Istana itu memang maut. Tidak heran jika ayahmu sendiri tidak berani memasukinya," jelas Rangga.

"Kalau tidak ada di sana, lalu di mana?" tanya Talia seperti untuk dirinya sendiri.

"Entahlah, Talia. Aku sendiri tidak tahu, di mana ayahmu sekarang berada," sahut Rangga.

"Kasihan ayah...," keluh Talia lirih. Gadis itu memandangi Pendekar Rajawali Sakti dengan wajah mendung dan sinar mata seakan-akan berharap.

Rangga hanya bisa menarik napas panjang tanpa dapat berbuat sesuatu. Masalahnya, dirinya sendiri tidak tahu, di mana sekarang Ki Sara Denta berada. Tak ada yang bisa dilakukan Pendekar Rajawali Sakti saat ini. Dia sudah mencari ke sekeliling bangunan istana ini, tapi si Tua Gila tetap tidak ditemukan. Rangga menjadi iba melihat Talia yang begitu berharap. Padahal, dia sudah berjanji untuk membawa ayahnya kembali padanya. Tapi sampai saat ini, belum ditemukan tanda-tanda di mana si Tua Gila itu berada.

Beberapa saat Pendekar Rajawali Sakti hanya merenung, memikirkan segala kemungkinan. Tiba-tiba Rangga tersentak. Pendekar Rajawali Sakti baru ingat kalau Raden Sambung Wulung atau yang juga menantu Prabu Yudanegara itu datang dan masuk ke istana bersama seorang laki-laki tua yang diketahuinya bernama Eyang Wiratma. Tapi, kedua orang itu tetap segar bugar saat keluar dari istana itu. Sedangkan seluruh lantai istana itu sudah tercemar racun yang dahsyat dan sangat mematikan. Keadaan ini membuat Rangga jadi bertanya-tanya sendiri.

"Ayo, Talia...," ajak Rangga seraya menarik tangan gadis itu.

"He...! Mau ke mana...?" sentak Talia yang tertarik, dan hampir tersungkur. Untung dia cepat-cepat berlari mengikuti Pendekar Rajawali Sakti.

Mereka terus berjalan cepat setengah berlari menuju lembah di seberang sungai. Talia menahan langkahnya ketika mereka sampai di tepi sungai. Rangga pun terpaksa ikut menghentikan langkahnya. Ditatapnya dalam-dalam gadis di sebelahnya yang seakan-akan enggan menyeberangi sungai di depan sana. Sementara Talia melepaskan cekalan tangan Rangga, lalu melangkah mundur dua tindak. Pendekar Rajawali Sakti jadi heran melihat sikap Talia yang jelas-jelas tidak ingin menyeberangi sungai ini.

"Ada apa, Talia?" tanya Rangga.

"Aku tidak mau ke sana!" sahut Talia

"Kenapa...?" tanya Rangga tidak mengerti atas sikap gadis ini.

"Pokoknya aku tidak mau ke sana!" bentak Talia keras.

Rangga jadi tertegun dan terus memandangi gadis ini. Sungguh tidak dimengerti, mengapa sikap Talia mendadak berubah? Rangga menghampiri, lalu dengan lembut tangannya diletakkan di bahu gadis itu. Sedangkan Talia hanya memandangi dengan sinar mata tajam, menusuk langsung ke bola mata pemuda berompi putih itu.

"Kau tidak mau ke sana, tentu punya alasan, bukan?" desak Rangga membujuk lembut.

"Apakah kau ingin aku mati di sana...?!" sentak Talia sengit. Ketus sekali nada suaranya.

Kening Rangga berkerut mendengar jawaban yang bernada ketus itu. Sungguh tidak diduga kalau Talia akan berkata seketus itu. Tapi yang membuat Pendekar Rajawali Sakti tertegun bukan keketusannya, tapi pernyataannya yang lugas dan tegas.

"Aku menunggu saja di sini. Kau saja yang ke sana, Kakang. Kau lebih bebas di sana, daripada aku" ujar Talia kembali lembut suaranya.

Rangga mengangkat bahunya. Meskipun gadis ini tidak bersedia menjelaskan, namun Rangga tidak ingin mendesak lagi. Sudah bisa ditebak kalau ketidakinginan Talia ke lembah itu disebabkan ceritanya sendiri. Gadis itu telah mengatakan kalau orang-orang di lembah sana gila dan haus kekuasaan serta nafsu duniawi. Mengingat cerita Talia, Pendekar Rajawali Sakti agak bingung untuk menentukan siapa lawan dan siapa kawan. Namun ada satu cara untuk mengatasi semua persoalan ini. Dan itu pun sudah ditentukan dari mana harus memulainya.

"Baiklah. Kau tunggu saja di sini," kata Rangga menyerah.

Talia hanya mengangguk. Untuk beberapa saat Pendekar Rajawali Sakti memandangi Talia, kemudian membalikkan tubuhnya. Namun belum juga melangkah pergi, mendadak dari dalam sungai bersembulan kepala-kepala manusia, yang kemudian langsung berlompatan keluar. Rangga cepat menarik tangan Talia ke belakang. Mereka yang baru muncul dari dalam sungai itu mengenakan baju hitam, dan ada gambar naga di dadanya. Semuanya juga memakai gelang yang tidak sama jumlahnya pada pergelangan tangan kanan. Sama sekali Pendekar Rajawali Sakti tidak mengenali mereka, kecuali satu orang. Dialah Parang Kati, orang yang memakai gelang berjumlah lima buah.

"Hm.... Rupanya kau belum mampus juga, Pendekar Rajawali Sakti!" dengus Parang Kati dingin.

"Jika hanya racun yang kalian taburkan di istana itu, belumlah cukup untuk membunuhku," sahut Rangga tidak kalah dinginnya.

"Bagus! Aku senang ada orang yang bisa lolos dari dalam istana maut. Tapi kali ini kau tidak mungkin bisa lolos. Ha ha ha...!" Parang Kati tertawa terbahak-bahak.

Rangga hanya mendengus saja. Memang kali ini orang-orang yang dibawa Parang Kati berjumlah tiga kali lipat, dan sudah siap dengan sepasang tongkat merah di tangan. Rangga mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ternyata dirinya sudah terkepung oleh orang-orang berbaju hitam dengan gambar naga pada dadanya. Hanya Parang Kati yang mengenakan gelang berjumlah lima. Sedangkan yang lainnya hanya mengenakan gelang berjumlah di bawah lima. Ini berarti hanya Parang Kati-lah yang memiliki kepandaian lebih tinggi dibanding yang lainnya.

Rangga dan Talia benar-benar sudah terkepung, dan sudah tidak ada celah untuk meloloskan diri. Jumlah mereka begitu banyak, tidak kurang dari seratus orang. Ini merupakan jumlah kesatuan prajurit kerajaan. Rangga menghembuskan napasnya kuat-kuat beberapa kali. Diliriknya Talia yang kelihatannya begitu tenang, seakan-akan tidak mempedulikan kepungan orang-orang berbaju hitam ini.

"Kau bisa menghadapi mereka, Talia?" tanya Rangga ragu-ragu terhadap kemampuan gadis ini.

"Lihat saja nanti," sahut Talia kalem.

"Kalau begitu, bersiaplah. Kita akan menggempur mereka lebih dahulu. Hm.... Kita harus melewati yang depan dan terus menyeberangi sungai. Bagaimana, Talia?" bisik Rangga meminta pendapat gadis itu.

"Yaaah..., memang tidak ada jalan lain lagi," Talia mengangkat bahunya sedikit.

Hanya ada satu jalan untuk bisa lolos dari kepungan, yaitu dengan menyeberangi sungai. Dengan demikian mereka dituntut untuk menggunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Memang, sungai ini tidak mungkin diseberangi oleh orang yang hanya memiliki tingkat kepandaian tanggung. Inilah yang membuat Rangga berpikir, karena tidak tahu, sampai di mana tingkat kepandaian yang dimiliki Talia. Kalau untuk dirinya sendiri, melompati jurang yang lebar pun tidak ada persoalan. Apalagi sungai seperti ini. Tapi bagaimana dengan Talia...?

"Ayo, Kakang. Kita mulai," desis Talia berbisik.

Tiba-tiba saja Talia melompat secepat kilat sambil berteriak nyaring melengking tinggi. Tubuhnya yang ramping, meliuk dan berputaran di udara dengan gerakan indah. Tindakan Talia ini membuat Parang Kati dan yang lainnya jadi terkejut. Mereka segera berlompatan hendak memapak gadis itu. Namun sebelum bisa menyambar tubuh Talia, Rangga sudah lebih dahulu melompat sambil melontarkan beberapa pukulan kilat bertenaga dalam tinggi.

"Yeaaah...!"
Desss!
Bugkh!"

Pukulan-pukulan yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti mengenai beberapa orang hingga berjumpalitan jatuh sebelum mencapai tubuh Talia.

Sedangkan gadis itu terus berjumpalitan di udara, melewati beberapa kepala. Sekali Talia menukik turun, kemudian dengan ujung jari kakinya menotok tanah di tepi sungai. Kini tubuhnya kembali melenting menyeberangi sungai. Indah sekali gerakannya. Gadis itu berputaran di udara, kemudian menotok permukaan air sungai sekali, lalu kembali melesat. Talia selamat sampai di seberang sungai.

Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti harus menghadapi beberapa orang yang menyerangnya, sebelum melesat menyeberangi sungai. Dan kini hanya sekali lompat saja, Rangga sudah berhasil sampai di seberang sungai.

"Kejar...! Jangan biarkan mereka lolos...!" teriak Parang Kati memberi perintah.

Rangga dan Talia tertegun melihat orang-orang Partai Naga itu serentak melemparkan tongkat merahnya ke dalam sungai. Lalu, mereka berlompatan ke atas tongkat yang mengambang di permukaan air. Sungguh menakjubkan. Mereka bisa meluncur cepat di atas permukaan sungai hanya dengan bertumpu pada sebatang tongkat yang biasa dijadikan senjata dalam pertarungan.

"Ayo, Kakang...!" ajak Talia.

"Hm...," Rangga hanya menggumam kecil. Pendekar Rajawali Sakti membungkuk sedikit dan menjumput beberapa batu kerikil. Dan dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Pendekar Rajawali Sakti melemparkan batu-batu kerikil tadi. Batu-batu itu meluncur deras ke arah orang-orang Partai Naga yang sedang meluncur di atas permukaan sungai.

"Aaa...!" Jeritan-jeritan melengking tinggi terdengar, disusul berjatuhannya orang-orang itu ke dalam sungai. Batu-batu kerikil yang dilemparkan Rangga tepat menghantam mereka. Tindakan Pendekar Rajawali Sakti rupanya dapat menghambat pengejaran.

Tentu saja hal ini membuat Talia senang. Gadis itu menjumput beberapa kerikil, lalu melemparnya ke arah mereka diselingi pengerahan tenaga dalam tinggi. Jeritan-jeritan tinggi menyayat, kembali terdengar. Dan kini orang-orang berbaju hitam yang di dadanya terdapat gambar seekor naga itu berjatuhan ke dalam sungai. Air sungai yang semula jernih, seketika berubah warnanya menjadi merah karena tercemar darah.

Talia terus melemparkan batu-batu kerikil sambil tertawa-tawa kesenangan. Sedangkan Rangga yang menyaksikan tingkah gadis itu tersenyum-senyum geli, dan tidak lagi melemparkan batu kerikil.

"Mundur...!" teriak Parang Kati yang masih berada di seberang sungai.

Orang-orang dari Partai Naga itu berbalik kembali ke seberang sungai. Sebentar saja hampir separuh jumlah mereka sudah mengambang di sungai.

"Ha ha ha...! Ayo, maju kalian kalau berani...!" tantang Talia dengan suara lantang. Tampak di seberang sungai sana, Parang Kati memaki-maki sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Wajahnya memerah menahan kemarahan yang amat sangat. Dua kali dia berhadapan dengan Pendekar Rajawali Sakti, dan dua kali pula menderita kekalahan yang menyakitkan.

"Kubunuh kalian! Dengar...! Kubunuh kalian...!" teriak Parang Kati sambil mengacungkan kepalan tangannya. Amarahnya memuncak luar biasa karena kekalahan yang menyakitkan ini.

Sedangkan Rangga hanya tersenyum-senyum saja. Sementara Talia terus tertawa terbahak-bahak sambil mengejek menantang agar mereka menyeberangi sungai. Pada saat itu, Parang Kati melompat ke sungai. Tindakan orang bergelang lima buah itu diikuti yang lainnya. Mereka semua berlompatan masuk ke sungai yang sudah berwarna merah oleh darah itu.

Seketika Talia menghentikan tawanya. Sedangkan Rangga mengamati ke sungai dengan sinar mata tajam tanpa mengerjap sedikit pun. Orang-orang dari Partai Naga itu tidak muncul-muncul lagi. Mereka seperti tenggelam ke dalam sungai!

"Mereka tidak timbul lagi, Kakang...," desis Talia setengah berbisik. Gadis itu juga mengamati permukaan sungai yang berwarna merah oleh darah. Sepasang bola mata yang bulat bening itu tidak berkedip memperhatikan permukaan sungai. Sedangkan Rangga hanya diam saja, namun benaknya terus berputar.

"Kau tunggu di sini, Talia," kata Rangga.

"He! Kau mau ke mana...?" tanya Talia tersentak. Tapi Rangga tidak menjawab. "Kakang...!" sentak Talia terkejut.

Tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti melompat ke dalam sungai. Talia kebingungan ditinggal sendirian. Gadis itu mencari-cari Rangga yang sudah tidak kelihatan lagi setelah menceburkan diri ke dalam sungai yang bernoda darah itu.

"Kakang...!" teriak Talia memanggil. Tapi Rangga sudah tidak timbul lagi. Gadis itu jadi cemas juga, di samping takut berada seorang diri di tempat ini. Talia teringat akan kata-kata ayahnya jangan sekali-kali menginjakkan kaki ke seberang sungai ini. Apalagi sampai ke lembah sana.

"Aku menyusul, Kakang...!" seru Talia. "Hiyaaa...!" Byurrr...!

Tanpa berpikir panjang lagi, Talia langsung menceburkan diri ke dalam sungai, mengikuti Rangga. Sebentar kepala Talia menyembul ke permukaan, kemudian tidak timbul-timbul lagi. Sementara permukaan air sungai terus mengalir, membawa serta tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa.

********************

TUJUH

Sama sekali Rangga tidak menyangka kalau sungai ini begitu dalam, bagai tak berdasar. Pendekar Rajawali Sakti terus menyelam semakin dalam. Tidak ada kesulitan baginya berada di dalam air seperti ini. Dengan ilmu yang didapat dari Satria Naga Emas, Pendekar Rajawali Sakti bisa bernapas seperti layaknya di darat. Bahkan gerakannya begitu cepat dan lincah bagaikan ikan lumba-lumba.

"Hm...," Rangga bergumam dalam hati. Penden-garannya yang tajam dapat menangkap suara lain dari arah belakang. Rangga terkejut ketika berpaling. Tampak tidak jauh di belakangnya, Talia sedang berenang cepat mengejar.

"Talia...," desis Rangga dalam hati. Wajah gadis itu sudah memerah, karena terlalu lama berada dalam air. Cepat Rangga memburu, dan menangkap tangannya. Pendekar Rajawali Sakti memandangi sekitarnya. Matanya langsung tertumbuk pada sebuah mulut gua yang berada di dasar sungai ini. Cepat dia berenang ke arah gua itu. Tanpa pikir panjang lagi, Rangga terus menerobos ke dalam gua. Ternyata gua ini tidak terlalu panjang, dan sepertinya mengarah ke atas. Sambil mencekal tangan Talia, Pendekar Rajawali Sakti terus menembus air dalam gua ini.

"Ah...!" Talia langsung menarik napas dalam-dalam begitu kepalanya menyembul ke permukaan air. Napasnya tersengal dan wajahnya memerah karena terlalu lama menahan napas.

Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti tidak sedikit pun terpengaruh. Dia terus menyeret gadis itu ke tepi, dan membantunya naik.

"Hm...," lagi-lagi Rangga menggumam saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata mereka kini berada dalam sebuah ruangan batu, atau lebih tepat dikatakan gua yang cukup besar ukurannya. Seluruh dindingnya terdiri dari batu cadas keras berwarna hitam, di seluruh permukaannya ditumbuhi lumut tebal. Pendekar Rajawali Sakti menyipitkan matanya ketika melihat ada undakan batu di sebelah kanan.

Namun belum sempat melangkah, telinganya tiba-tiba mendengar suara orang berbicara. Suara itu jelas dari dalam mulut gua yang terdapat undakan batu menuju ke atas. Rangga cepat menarik tangan Talia, lalu dibawanya ke balik sebongkah batu besar yang tidak jauh dari air yang membentuk danau kecil di dalam gua ini.

Sementara Talia yang sedang berusaha mengatur jalan napasnya, jadi tersentak kaget. Tapi belum juga mengungkapkan kekesalannya, tubuhnya sudah tertarik ke balik batu besar. Pada saat itu, dari lorong yang berundak, muncul dua orang laki-laki. Yang seorang masih terlihat muda, sedangkan seorang lagi sudah tua. Tidak jauh di belakang mereka menyusul dua orang lagi yang rata-rata berusia sekitar tiga puluh lima tahun.

"Raden Sambung Wulung...," desis Rangga dalam hati. Pendekar Rajawali Sakti mengenali pemuda yang berjalan di sisi laki-laki tua berjubah putih. Dan Rangga juga mengenali mereka semua. Yang tua adalah Eyang Wiratma, sedangkan dua orang di belakang mereka adalah para patih Kerajaan Mandalika. Rangga tidak perlu lagi berpikir tentang keberadaan mereka di tempat ini. Jelas, mereka adalah orang-orang Partai Naga. Hanya saja, untuk apa mereka memusuhi rajanya sendiri...?

Pertanyaan inilah yang menjadi beban dalam benak Pendekar Rajawali Sakti. Mereka berjalan menyeberangi danau kecil di tengah-tengah ruangan batu ini dengan menggunakan seutas tambang yang merentang di atasnya. Rata-rata semua memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, sehingga tidak ada kesulitan berjalan di atas seutas tambang. Buktinya, sebentar saja sudah sampai di seberang.

Baik Rangga maupun Talia, jadi tertegun begitu melihat dinding gua di seberang danau terbelah, bergeser ke samping. Ketika keempat orang itu melewatinya, dinding itu kembali bergerak menutup. Rangga bergegas melompat keluar diikuti Talia yang sudah bisa menguasai napasnya kembali. Dan wajahnya pun tidak lagi terlihat merah.

"Sudah kuduga, pasti" mereka biang keladinya!" dengus Talia.

"Ayo, Talia...," ajak Rangga seraya menggamit lengan gadis itu.

"He! Mau ke mana lagi...?" tanya Talia.

Rangga tidak menjawab, dan terus berjalan cepat menuju lorong batu yang berundak itu. Perlahan-lahan mereka berjalan meniti undakan batu yang melingkar-lingkar menuju ke atas. Keadaan di situ cukup terang, karena dalam jarak tertentu terdapat obor yang terpancang di dinding. Cukup panjang juga lorong berundak ini, sehingga membuat Talia kelelahan. Dan kini napasnya kembali tersengal.

"Istirahat dulu, Kakang," desah Talia agak tersengal.

Rangga menatap gadis itu dalam-dalam. Meskipun diakui kalau gadis ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tapi sikap manjanya masih melekat. Buktinya baru berjalan segitu saja sudah mengeluh minta istirahat. Sedangkan undakan ini sepertinya masih terlalu jauh. Pendekar Rajawali Sakti memandangi lorong yang terus berundak menuju ke atas ini.

"Sebentar lagi, ayo...," ajak Rangga seraya menarik tangan gadis itu.

"Istirahat sebentar saja, Kakang...," rengek Talia.

Rangga mengeluh di dalam hati. Segera punggungnya disandarkan ke dinding lorong batu ini. Tangan kirinya menekan sebongkah batu yang menonjol keluar. Tapi mendadak saja Pendekar Rajawali Sakti terkejut... "Heh...!

Dinding batu yang disandari Pendekar Rajawali Sakti bergerak menggeser, memperdengarkan suara gemuruh. Cepat Rangga melompat berbalik. Bukan hanya dirinya saja yang terkejut. Bahkan Talia sampai ternganga melihat dinding lorong ini bergerak ke samping. Tampak di depan mereka terdapat sebuah lorong lain yang tampaknya cukup panjang. Pada setiap jarak tertentu, pada dinding terpancang obor yang kelihatannya tidak pernah padam. Rangga dan Talia saling berpandangan sejenak, kemudian memasuki lorong itu. Dinding batu kembali bergerak menggeser menutup. Mereka berjalan perlahan-lahan menyusuri lorong itu.

"Ke mana ini...?" tanya Talia seperti untuk dirinya sendiri.

"Entahlah," desah Rangga setengah berbisik.

Mereka terus berjalan menyusuri lorong yang diterangi cahaya obor. Hingga akhirnya mereka sampai pada ujung lorong. Rangga jadi tertegun. Ternyata ujung lorong ini buntu. Tak ada jalan lain, karena di depannya menghadang dinding batu yang cukup tebal.

"Kita terjebak, Kakang," kata Talia agak mengeluh.

"Tempat ini penuh rahasia, Talia. Aku yakin ada jalan keluar dari sini," hibur Rangga.

Rangga mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, mencari-cari kemungkinan adanya suatu rahasia untuk mencapai jalan keluar dari lorong buntu ini. Semua dinding, lantai, dan atap lorong ini terbuat dari batu berlumut. Pendekar Rajawali Sakti meraba-raba setiap jengkal dinding. Keningnya berkerut ketika merasakan adanya hembusan angin saat tangannya meraba bagian bawah dinding. Cepat Rangga mengorek batu-batuan di bawah dinding batu ini. Memang cukup keras. Tapi jika mempergunakan tenaga dalam yang dipadu jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', Pendekar Rajawali Sakti berhasil membuat lubang sebesar kepalan tangan pada bagian bawah dinding batu itu. Tampak seberkas cahaya menyemburat masuk.

"Mundur, Talia...," perintah Rangga. Pendekar Rajawali Sakti juga bergerak mundur beberapa langkah. Sedangkan Talia berada di belakangnya. Rangga merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Sebentar matanya terpejam. Kemudian tepat saat kelopak matanya terbuka, kedua tangannya dihentakkan ke depan sambil berteriak lantang.

"Hiyaaa...!"
Glarrr...!

Ledakan keras terdengar ketika dari kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti meluncur seberkas sinar yang langsung menghantam dinding batu didepannya. Seketika dinding batu itu hancur berkeping-keping menimbulkan gumpalan debu yang menyebar sehingga napas jadi sesak.

Talia terbatuk-batuk kecil. Tangannya dikibas-kibaskan di depan hidung, mencoba mengusir debu dari reruntuhan dinding batu itu.

Setelah debu menghilang, tampak di depan terdapat sebuah ruangan besar berlantai hitam pekat. Bergegas Rangga melompat ke ambang pintu yang tadi berupa dinding batu. Talia yang hendak menerobos cepat-cepat ditahannya. Ternyata Pendekar Rajawali Sakti langsung bisa merasakan adanya hawa racun yang tersebar di ruangan itu. Dan memang, ruangan ini merupakan salah satu ruangan di dalam istana maut!

"Ada apa?" tanya Talia.

"Ruangan ini beracun," sahut Rangga.

"Oh..!" Talia terkejut "Jadi...?"

"Ya! Lorong ini tembus ke istana," jelas Rangga.

"Terus, bagaimana ini...?" tanya Talia cemas.

Belum juga Pendekar Rajawali Sakti bisa menjawab, tiba-tiba terdengar suara mendesing dari arah belakang. Cepat tubuhnya berbalik sambil mendorong Talia ke samping. Gadis itu terkejut, dan tidak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya. Akibatnya dia terjajar hingga merapat ke dinding. Pada saat itu terlihat dua buah benda berwarna merah melesat bagai Kilat.

"Hap!" Cepat sekali Rangga mengibaskan tangannya, menangkap dua senjata berbentuk batangan pendek berukuran sejengkal berwarna merah itu. Lalu dengan cepat pula dilontarkannya kembali ke arah semula. Dua senjata yang kedua ujungnya runcing itu melesat lebih cepat dari semula, membuat gerakan berputar. Dan...

"Aaakh...!" "Aaa...!" Dua jeritan melengking tinggi terdengar menyayat, menggema terpantul dinding lorong batu ini. Sebentar kemudian terlihat dua sosok tubuh berbaju hitam terjungkal bergelimpangan. Rupanya tubuh mereka tertembus senjatanya sendiri yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti. Sebentar kedua orang berbaju hitam yang bagian dadanya bergambar naga itu menggeliat, kemudian diam tak berkutik lagi.

Belum juga Rangga bisa bernapas lega, tiba-tiba atap lorong batu ini terbuka. Seketika dari atap itu berhamburan manusia-manusia berbaju hitam. Mereka semua memegang sepasang tongkat pendek berwarna merah yang pada kedua ujungnya runcing. Panjangnya tidak lebih dari sehasta. Mereka langsung saja menyerang Pendekar Rajawali Sakti dan Talia. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, kecuali menghadapi sekitar dua puluh orang berbaju hitam ini.

"Yeaaah...!" Menyadari kalau harus juga melindungi Talia, Rangga tidak punya pilihan lain lagi. Cepat-cepat pedang pusakanya dicabut dari dalam warangka di punggung. Cahaya biru berkilau, seketika menyemburat menyilaukan mata. Dengan Pedang Rajawali Sakti, Rangga bagai malaikat maut pencabut nyawa. Setiap kali pedangnya dikibaskan, terdengar jeritan melengking tinggi dan menyayat. Kemudian, disusul ambruknya tubuh berlumuran darah.

Dalam keadaan terdesak begini, Rangga memang tidak punya pilihan lain lagi. Tebasan pedangnya tak bisa terbendung lagi. Bahkan yang coba-coba menangkis, langsung terpental dengan tongkat terpotong jadi dua bagian. Bukan itu saja. Arus pedang Pendekar Rajawali Sakti juga tidak bisa terbendung, dan terus membabat pemilik tongkat itu. Akibatnya mereka terjungkal ambruk ke lantai lorong gua ini.

Sementara Talia yang berada di belakang Pendekar Rajawali Sakti jadi menganggur, karena orang-orang berbaju hitam tidak ada yang bisa menembus pertahanan pemuda berbaju rompi putih itu. Satu persatu mereka bergelimpangan berlumuran darah. Jumlah yang banyak, dalam waktu sebentar sudah berkurang lebih dari separuhnya. Mereka jadi gentar juga, sehingga agak ragu-ragu menyerang.

Pada saat itu, dari atas langit-langit lorong yang kini terbuka, meluncur seorang berbaju putih longgar, Jatuhnya tepat di belakang Talia, dan dengan cepat pula menotok punggung gadis itu. Talia yang belum menyadari, hanya bisa terpekik tertahan, dan langsung jatuh lunglai. Namun sebelum tubuhnya menyentuh dasar lorong gua, orang berjubah putih itu sudah menyangganya. Dia langsung melesat naik sambil memondong tubuh Talia yang lemas tertotok jalan darahnya.

"Talia...!" sentak Rangga terkejut. Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti meluncur mengejar orang berjubah putih yang membawa Talia, Namun beberapa batang tongkat pendek berwarna merah meluncur mengancamnya. Rangga cepat mengibaskan pedangnya sambil terus melentingkan tubuh ke atas. Tepat ketika atap lorong itu bergerak menutup, Rangga sudah melewatinya.

"Talia...!"

Rangga jadi celingukan karena kini sudah berada di sebuah hutan, tepat di samping bangunan istana maut. Orang berjubah putih yang membawa Talia, sudah lenyap tidak ketahuan ke mana perginya. Selagi Pendekar Rajawali Sakti kebingungan, mendadak matanya menangkap sebuah bayangan putih berkelebat di dalam hutan. Secepat kilat, tubuhnya melesat mengejar.

Namun kembali Pendekar Rajawali Sakti kehilangan jejak. Ternyata bayangan putih itu cepat sekali menghilang. Tubuh Rangga melenting ke atas, dan hinggap di cabang pohon yang paling tinggi. Dari ketinggian ini, pandangannya beredar ke sekeliling. Tapi bayangan putih yang membawa Talia tidak juga bisa terlihat.

"Setan...!" geram Rangga gusar bukan main. Pendekar Rajawali Sakti kembali meluruk turun ke bawah. Namun begitu kakinya menjejak tanah, tiba-tiba saja dari dalam tanah bermunculan manusia-manusia berbaju hitam bergambar naga pada dadanya. Mereka langsung berlompatan menyerang.

Sejenak Rangga tersentak kaget. Namun cepat sekali tubuhnya berputar, langsung melontarkan beberapa pukulan bertenaga dalam sangat sempurna. Begitu cepatnya Rangga bergerak, sehingga pukulannya tidak terbendung lagi. Terdengar jeritan melengking tinggi saling susul. Kemudian tampak beberapa tubuh bergelimpangan di tanah dengan mulut menyemburkan darah segar. Rangga yang sedang dihinggapi kemarahan, langsung meluapkannya pada orang-orang berbaju hitam itu.

"Hiyaaa! Yeaaah...!"
Desss!
Bugkh!
"Aaa...!"

Dengan mempergunakan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', Rangga mengamuk bagai banteng liar. Gerakannya sungguh cepat luar biasa. Bahkan setiap pukulan yang dilepaskan, selalu meminta korban nyawa. Sebentar saja orang berbaju hitam yang berjumlah dua puluh orang itu, tewas tak tersisa lagi. Bau anyir darah langsung meresap ke hidung.

Mata Pendekar Rajawali Sakti memandangi mereka yang tergeletak tak bernyawa lagi. Mereka semua mengenakan gelang berjumlah satu buah, sehingga jelas hanya memiliki kepandaian tidak begitu tinggi. Tidak heran kalau Rangga mudah sekali menghancurkannya.

Perlahan Rangga mengayunkan kakinya meninggalkan tempat itu. Matanya tajam memandang ke sekitarnya. Bahkan tanah berumput yang dilalui tidak luput dari perhatian. Namun sampai jauh berjalan, tidak juga ditemukan adanya tanda-tanda bekas orang berjalan. Rangga mendengus kesal, sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Pendekar Rajawali Sakti jadi semakin kesal. Ternyata kini baru disadari kalau dirinya hanya berputar-putar saja di sekitar bangunan istana maut yang masih berdiri tegak dengan angkuhnya. Pemuda berbaju rompi putih itu berdiri tegak memandangi bangunan istana maut yang tampak angker itu.

"Hiyaaa...!" Tiba-tiba Rangga menghentakkan kedua tangannya sambil berteriak keras menggelegar. Maka seketika dari kedua telapak tangannya meluncur dua berkas sinar merah membentuk bola api yang langsung menghantam dinding istana maut. Ledakan dahsyat terdengar, bersama hancurnya istana itu. Beberapa kali Rangga melontarkan bola-bola api. Memang, kemarahannya dilampiaskan pada bangunan istana maut itu.

"Ha ha ha...!"

Rangga menghentikan lontaran bola apinya ketika terdengar suara tawa terbahak-bahak yang begitu keras menggema. Pendekar Rajawali Sakti memutar tubuhnya, mencoba mencari sumbernya. Namun suara tawa itu seperti datang dari segala penjuru mata angin. Dan Rangga langsung bisa menebak kalau pemilik suara tawa itu pasti memiliki tenaga dalam tinggi

"Siapa kau? Keluar...!" bentak Rangga keras.

"Ha ha ha...!"

DELAPAN

"Eyang Wiratma...," desis Rangga ketika melihat seorang laki-laki tua berjubah putih keluar dari balik sebatang pohon di depannya.

Laki-laki tua yang dikenal bernama Eyang Wiratma itu berjalan menghampiri Rangga, dan berhenti setelah jaraknya sekitar dua langkah lagi di depan Pendekar Rajawali Sakti.

"Jadi kau dalang dari semua ini...?" gumam Rangga seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Kau salah jika menyangka demikian, Pendekar Rajawali Sakti," bantah Eyang Wiratma, terdengar kalem nada suaranya. "Bukan aku yang merencanakan semua ini, karena ada yang lebih tinggi lagi dariku. Sedangkan aku hanya sekadar membantu saja, menyediakan pasukan khusus yang tangguh dan dapat diandalkan serta dipercaya penuh."

"Apa pun alasanmu, untuk apa kau lakukan semua itu?" tanya Rangga ingin tahu.

"Kekuasaan!" sahut Eyang Wiratma tegas. "Kau tahu apa itu kekuasaan? He he he...! Semua orang di dunia ini pasti menghendaki kekuasaan. Dan kau juga tidak mungkin menghindari keinginan itu, Pendekar Rajawali Sakti!"

"Kekuasaan apa yang kau inginkan?" tanya Rangga mulai tidak senang.

"Seluruh wilayah kerajaan ini. Bahkan seluruh dunia!" sahut Eyang Wiratma pongah.

"Hm.... Karena itu kau membantai para pendekar?" tebak Rangga langsung.

"Ha ha ha...! Kau memang terlalu cerdik, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi kau tidak bisa mengalahkan aku!"

Rangga menggumam kecil. Sedangkan Eyang Wiratma menggeser kakinya ke belakang beberapa tindak. Mereka saling menatap tajam, seakan-akan sedang mengukur kekuatan satu sama lain.

Laki-laki tua berjubah putih itu menggeser kakinya ke samping beberapa tindak, dan berhenti setelah jaraknya sekitar dua batang tombak dari Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku tahu, saat ini kau adalah pendekar, digdaya yang tidak tertandingi. Tapi itu bukanlah penghalang besar bagiku, Pendekar Rajawali Sakti. Kau boleh saja berbangga karena dapat lolos dari istana maut, tapi tidak akan luput dari kematian!" terdengar dingin nada suara Eyang Wiratma.

Rangga hanya diam saja memperhatikan laki-laki tua itu yang sudah mencabut senjatanya berupa tongkat pendek berwarna merah menyala. Ujung-ujung tongkat itu dipegang dengan kedua tangannya, lalu perlahan ditarik hingga sepanjang rentangan tangannya.

Wuk! Wuk...! Tangkas sekali tongkatnya dikebutkan, kemudian diputar-putar cepat bagai baling-baling. Kini bentuk tongkat itu jadi hilang, dan yang terlihat hanya bulatan lingkaran merah membentuk perisai. Memang sepertinya permainan tongkat itu tidak berarti. Tapi mendadak saja, Rangga merasakan adanya aliran hawa panas yang semakin lama semakin menyengat kulit.

"Hawa racun..." desis Rangga perlahan.

Memang dari tongkat merah itu memancar hawa racun yang mengandung udara panas menyengat kulit, yang semakin lama semakin terasa. Meskipun disadari kalau dirinya memiliki kekebalan terhadap segala jenis racun, tapi Pendekar Rajawali Sakti mencoba menandinginya dengan mengerahkan hawa murni yang dipusatkan pada aliran jalan darah. Rangga tetap berdiri tenang, dan tak sedikit pun terpengaruh oleh serangan hawa racun yang dibuat oleh Eyang Wiratma melalui senjata tongkat merahnya.

Sikap Pendekar Rajawali Sakti itu membuat kening Eyang Wiratma jadi berkerut juga. Serangannya semakin diperhebat, disertai pengerahan seluruh kekuatan untuk melumpuhkan pemuda berbaju rompi putih itu. Wajah laki-laki tua itu sampai memerah, karena seluruh kekuatannya dikerahkan dalam menyalurkan hawa racun dari tongkat merah kebanggaannya.

"Hm...!" Rangga tersenyum melihat laki-laki tua itu semakin memperhebat serangannya.

"Bocah setan...!" geram Eyang Wiratma merasa kewalahan juga. Tiba-tiba saja laki-laki tua berjubah putih itu berteriak nyaring melengking tinggi. Maka seketika tubuhnya melesat cepat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Sungguh luar biasa serangannya kali ini. Tongkat merah yang dikebutkan tiga kali itu menimbulkan suara angin menderu bagai topan.

"Hiyaaat...!"
"Yeaaah...!"

Tepat ketika ujung tongkat Eyang Wiratma meluruk ke arah dada, cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti merapatkan kedua tangannya di depan dada. Dan,...

"Hih!"
Tap!

Ujung tongkat yang runcing berwarna merah menyala itu terjepit erat di kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Hal ini membuat Eyang Wiratma terkejut setengah mati. Dicobanya untuk menarik pulang tongkatnya, namun jepitan tangan Rangga begitu kuat. Akibatnya, sukar baginya untuk melepaskan tongkat itu. Eyang Wiratma mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, tapi tetap saja jepitan itu tidak bergeming sedikit pun.

"Hih! Hiyaaa...!" Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, Eyang Wiratma menghentakkan tongkatnya kuat-kuat. Pada saat yang bersamaan, kakinya menendang ke arah perut Pendekar Rajawali Sakti.

Tapi manis sekali Rangga mengegoskan tubuhnya, sehingga tendangan itu hanya lewat di samping pinggang. Pada saat yang sama, Rangga menghentakkan tangannya ke atas tanpa melepaskan jepitan pada ujung tongkat merah itu.

"Hiyaaa...!"
Wut!

"Whaaa...!" Eyang Wiratma terpekik kaget ketika tiba-tiba tubuhnya melayang terangkat ke udara. Dan tanpa dapat dicegah lagi, laki-laki tua itu terpental jauh melambung tinggi ke angkasa.

Namun begitu tubuhnya berada di udara, tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti mengejar sambil mengerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.

"Hiyaaat...!" Rangga berteriak keras melengking. Dua kali tangan Rangga mengibas ke tubuh laki-laki tua berjubah putih itu.

Sementara Eyang Wiratma sendiri tidak bisa lagi menguasai keseimbangan tubuhnya. Dengan demikian tidak mungkin lagi serangan Pendekar Rajawali Sakti dihindarinya. Maka, tepat sekali kedua tangan Rangga yang mengembang lebar berkelebat membabat tubuh Eyang Wiratma.

"Aaa...!" Eyang Wiratma menjerit melengking tinggi. Tubuh laki-laki tua itu meluncur turun ke bawah.

Dan sebelum sempat menyentuh tanah, Rangga sudah cepat mengejar. Pendekar Rajawali Sakti meluruk deras disertai pengerahan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Sepasang kakinya bergerak cepat, langsung menghantam kepala Eyang Wiratma.

Tak ada lagi jeritan yang terdengar. Laki-laki tua itu sudah tewas sebelum tubuhnya menghantam tanah. Ringan sekali Rangga menjejakkan kakinya di tanah. Ditariknya napas panjang, seraya memandangi mayat laki-laki tua berjubah putih itu.

Rangga memutar tubuhnya, langsung memandang pohon tempat Eyang Wiratma muncul tadi. Dengan sekali lesat saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah mencapai pohon itu. Perlahan pohon itu diputari. Seketika matanya terbeliak melihat Talia tergeletak di tanah dengan tubuh hampir tertutup dedaunan kering.

"Talia...!" Bergegas Rangga mengangkat tubuh gadis itu, dan membawanya ke tempat yang lebih baik. Dibaringkannya kembali gadis itu. Sebentar Rangga memeriksa tubuh Talia, kemudian menggerakkan jari-jari tangannya ke beberapa bagian tubuh gadis itu.

"Ohhh...!" Talia merintih seraya menggeleng-gelengkan kepala. Gadis itu langsung menggerinjang bangkit duduk begitu tersadar dari pengaruh totokan. Dipandanginya Rangga dalam-dalam, kemudian beralih pada seorang laki-laki tua berjubah putih yang tergeletak berlumuran darah tidak jauh dari tempat ini. Kembali Talia mengalihkan pandangannya ke arah Rangga yang juga tengah memandang padanya. Kelihatan sekali kalau gadis itu hendak meminta penjelasan.

"Apa yang terjadi padaku, Kakang?" tanya Talia. Talia mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan langsung terpaku pada bangunan istana yang hancur berantakan. Bangunan itu tidak berbentuk lagi, dan telah hancur berkeping-keping menjadi puing-puing yang tak bisa ditempati lagi.

"Kau terkena totokan pada jalan darahmu," jelas Rangga.

"Oh! Kita harus membebaskan ayah secepatnya, Kakang. Ayah ada di lembah," kata Talia.

"Dari mana kau tahu?" tanya Rangga.

"Eyang Wiratma yang mengatakannya padaku. Dia sempat membebaskan totokan pada bagian kepalaku. Katanya, sebentar lagi ayah akan mati. Mereka kemudian akan menguasai seluruh wilayah Kerajaan Mandalika, setelah menggulingkan Prabu Yudanegara. Tapi yang jelas, mereka ingin membunuhmu lebih dulu agar tidak menjadi penghalang," tutur Talia.

"Kau sudah tahu, lalu kenapa pakai tanya segala?" dengus Rangga.

"Maksudku hanya ingin meyakinkan saja, Kakang. Soalnya tadi aku antara sadar dan tidak," sahut Talia beralasan.

Rangga bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada gadis itu. Talia langsung menerimanya dengan bibir mengulas senyuman manis. Gadis itu bangkit berdiri dibantu Pendekar Rajawali Sakti.

"Talia. Kau tahu, siapa biang keladi semua ini?" tanya Rangga seraya mengayunkan kakinya meninggalkan tempat itu.

"Sambung Wulung," sahut Talia yang berjalan di samping Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau yakin?"

"Sejak semula aku sudah yakin kalau dialah biang keladinya. Hanya saja aku belum punya bukti kuat. Dan ayah sendiri juga sudah tahu kalau Sambung Wulung selalu membuat keonaran di Kerajaan Mandalika ini."

"Kenapa ayahmu pura-pura tidak tahu?" tanya Rangga ingin tahu.

"Sengaja, karena tidak ingin menyakitkan hati Gusti Prabu. Ayah terlalu menghormati dan mencintainya. Apalagi Sambung Wulung menantu satu-satunya Gusti Prabu yang sangat disayang. Ayah sudah berkorban banyak. Tapi, rupanya Sambung Wulung selalu saja mengusik kehidupan ayah. Padahal ayah sendiri juga, sudah berjanji tidak akan mencampuri urusannya dalam menggulingkan tahta Gusti Prabu Yudanegara."

"Aku bisa menghargai kesetiaan ayahmu, Talia," ujar Rangga agak bergumam.

"Ya.... Ayah memang terlalu setia pada Gusti Prabu, tapi kadang-kadang membuatku jengkel. Kalau saja ayah mau, sudah dari dulu si keparat itu mampus!' agak jengkel terdengar nada suara Talia.

Rangga terdiam. Memang sukar dicari nilai kesetiaan seseorang. Ki Sara Denta rela mengorbankan segalanya demi kesetiaannya pada Prabu Yudanegara. Bahkan rela dihina dengan berpura-pura menjadi gila. Semua itu dilakukan agar Prabu Yudanegara tetap menduduki tahta.

Raden Sambung Wulung memang tidak akan mungkin menduduki tahta selama Prabu Yudanegara belum mangkat. Apalagi untuk merebut tahta secara kekerasan. Karena, itu akan membangkitkan kemarahan seluruh rakyat Kerajaan Mandalika. Tidak ada gunanya menjadi raja jika rakyat tidak menyukai, bahkan malah membencinya. Bisa-bisa setiap hari yang diurusi hanya pemberontakan saja.

Tapi rupanya pemuda itu tidak sabar lagi. Terlebih lagi setelah merasa gagal menyingkirkan Pendekar Rajawali Sakti. Memang matang rencana Raden Sambung Wulung. Dia tahu kalau Ki Sara Denta memiliki banyak teman dari kalangan pendekar. Bahkan Prabu Yudanegara sendiri menganggap seluruh pendekar di dunia ini adalah sahabatnya. Raden Sambung Wulung sengaja melenyapkan para pendekar untuk mengurangi kekuatan yang akan dihadapi.

Ya! Caranya adalah mencemarkan seluruh lantai istana dengan racun. Hal itu bisa dilakukan berkat bantuan Eyang Wiratma yang memang terkenal pembuat racun ganas. Dan sekarang Pendekar Rajawali Sakti tinggal menangkap biang keladinya.

********************

Raden Sambung Wulung terkejut ketika tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti muncul di depannya. Saat itu dia tengah bercengkerama bersama istrinya, putri tunggal Prabu Yudanegara. Keterkejutan Raden Sambung Wulung semakin bertambah ketika Talia muncul juga.

"Kau terkejut, Sambung Wulung...?" terdengar sinis nada suara Talia.

"Talia..., seharusnya kau sudah mati!" desis Raden Sambung Wulung.

"Itu perkiraanmu, Sambung Wulung. Racun yang kau berikan pada minumanku tidak berarti sama sekali bagi diriku. Kau lupa, Sambung Wulung. Eyang Guru telah memberiku ilmu untuk memunahkan segala jenis racun yang kau pelajari," ketus kata-kata Talia.

"Setan...! Seharusnya kupenggal kepalamu, Talia!" geram Raden Sambung Wulung. Raden Sambung Wulung melirik Rara Ayu Arsih yang berada di sampingnya. Terlintas satu pikiran licik di benaknya. Dengan cepat tangannya hendak menjambret pergelangan tangan wanita itu.

Namun belum juga tangannya sampai, mendadak saja Rangga menghentakkan kakinya, menendang kerikil yang ada tepat di ujung jari kakinya. Batu kerikil itu melesat bagai kilat menghantam pergelangan tangan Raden Sambung Wulung.

"Akh...!" Raden Sambung Wulung terpekik. Dia langsung menarik tangannya kembali.

Sementara itu, cepat sekali Talia melompat menyambar tubuh Rara Ayu Arsih hingga mereka jatuh bergulingan menjauhi Raden Sambung Wulung.

"Ada apa ini...?!" sentak Rara Ayu Arsih tidak mengerti. Wanita cantik itu buru-buru bangkit berdiri. Tapi belum juga berlari ke arah suaminya. Talia sudah mencekal tangannya. Wanita itu mencoba memberontak, tapi cekalan tangan Talia begitu kuat.

"Nanti akan ku jelaskan, Gusti Ayu," kata Talia.

"Talia...! Kau putri Panglima Sara Denta, bukan...?" "Benar, Gusti Ayu. Nanti kujelaskan persoalannya," sahut Talia lembut.

Sementara Talia menjelaskan persoalannya, Raden Sambung Wulung berteriak memanggil pengawal. Tapi yang datang bukan prajurit pengawal kerajaan, melainkan orang-orang berpakaian serba hitam yang pada bagian dadanya terdapat gambar naga. Bukan hanya Rangga dan Talia yang terkejut, tapi juga Rara Ayu Arsih juga terkejut melihat kemunculan orang-orang berbaju hitam itu.

"Serang mereka! Semuanya...!" seru Raden Sambung Wulung lantang.

"Kakang...!" sentak Rara Ayu Arsih terkejut mendengar perintah suaminya barusan.

"Kau juga harus mati, Arsih! Ha ha ha...!"

Tidak kurang dari seratus orang berpakaian serba hitam itu berlompatan menyerang Rangga, Talia, dan Rara Ayu Arsih. Tentu saja wanita yang tidak mengetahui tentang ilmu olah kanuragan itu jadi terbeliak tidak percaya. Tapi tangkas sekali, Talia selalu menyelamatkannya dari ancaman senjata orang-orang berbaju hitam yang menyerang ganas. Sementara Rangga juga sudah harus menghadapi keroyokan dari orang yang jumlahnya begitu besar.

"Hiyaaat..!"
Sret!

Pendekar Rajawali Sakti langsung, mencabut Pedang Rajawali Sakti. Seketika sinar biru menyemburat menyilaukan mata. Rangga kini tidak tanggung-tanggung lagi. Langsung dikerahkannya jurus 'Pedang Pemecah Sukma' yang belum ada tandingannya sampai saat ini. Dengan pedang di tangan dan disertai jurus dahsyat itu, Rangga bagaikan malaikat maut pencabut nyawa.

Pedang bersinar biru itu berkelebat cepat tak terbendung lagi, ditambah gerakan tubuh yang lincah dan cepat. Setiap kali pedang itu berkelebat, tiga atau empat nyawa melayang. Belum lagi pukulan-pukulan dahsyatnya yang mengandung pengerahan tenaga dalam sempurna. Tentu saja hal ini membuat para penyerangnya tak mampu lagi mendekati Pendekar Rajawali Sakti.

Melihat orang-orangnya jadi kacau berantakan, Raden Sambung Wulung mencoba melarikan diri. Namun tindakannya cepat diketahui Rangga yang memang sejak tadi terus memperhatikannya. Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti melesat melewati beberapa kepala sambil membabatkan pedangnya. Jeritan-jeritan menyayat masih terdengar saling sahut. Sementara Talia juga tidak mau kalah. Gadis itu mengamuk sambil melindungi Rara Ayu Arsih yang semakin pucat wajahnya.

"Mau lari ke mana kau...?!" bentak Rangga begitu menjejakkan kakinya di depan Raden Sambung Wulung.

Pemuda itu jadi pucat wajahnya. Disadari kalau kemampuannya tidak akan sanggup menandingi Pendekar Rajawali Sakti. Dan sebelum menantu Prabu Yudanegara itu melakukan sesuatu, Rangga sudah bergerak cepat mengibaskan pedangnya ke arah leher pemuda itu. Sesaat Raden Sambung Wulung terbeliak, dan tidak mampu berkelit lagi. Akibatnya....

Cras!

"Aaa...!" Raden Sambung Wulung menjerit keras menyayat. Sebentar menantu Prabu Yudanegara itu masih mampu berdiri tegak, kemudian ambruk dengan leher terbabat hampir buntung. Darah langsung muncrat keluar dari leher yang menganga lebar. Raden Sambung Wulung menggeliat beberapa saat, kemudian diam tak bergerak-gerak lagi.

Pada saat itu terdengar teriakan-teriakan keras yang datang dari arah istana kecil di lembah ini. Tampak para prajurit Kerajaan Mandalika berlarian sambil mengacung-acungkan pedang di atas kepala. Melihat kedatangan para prajurit itu, orang-orang berbaju hitam bergambar naga di dada, langsung berlompatan kabur. Tapi para prajurit yang sebagian menunggang kuda itu langsung mengejar. Sementara itu terlihat Prabu Yudanegara memacu cepat kudanya. Dia langsung melompat turun menghampiri putrinya.

"Ayah...!" seru Rara Ayu Arsih. Wanita itu langsung memeluk dan menangis dalam pelukan Prabu Yudanegara.

Sementara Talia menghampiri Pendekar Rajawali Sakti yang sudah memasukkan pedangnya kembali ke dalam warangka di punggung.

"Ayah sudah tahu semuanya. Tabahlah, Anakku...," ucap Prabu Yudanegara lembut.

Rara Ayu Arsih masih menangis terisak dalam pelukan ayahnya. Sementara Prabu Yudanegara memandang Pendekar Rajawali Sakti dan Talia. Kedua mata laki-laki tua itu merembang berkaca-kaca.

"Terima kasih...," ucap Prabu Yudanegara agak tersendat. "Seharusnya aku sudah bertindak dari dulu. Sudah lama aku menaruh kecurigaan padanya, tapi belum punya bukti kuat. Yaaah, semuanya memang sudah digariskan sang Hyang Widi". Rangga dan Talia hanya diam saja. "Talia, kau bisa menemui ayahmu di istana," sambung Prabu Yudanegara lagi.

Talia memandang Rangga sejenak. Sementara Pendekar Rajawali Sakti hanya menganggukkan kepalanya sedikit. Talia membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Prabu Yudanegara, kemudian berlari kecil menuju istana kecil di lembah ini. Sedangkan Prabu Yudanegara semakin erat memeluk putrinya.

Diam-diam Rangga mengayunkan kakinya meninggalkan tempat ini. Bibirnya tersenyum melihat tangis kebahagiaan dari semua penghuni lembah ini, meskipun ada seseorang yang berduka karena kehilangan suaminya. Suami yang mengkhianati kepercayaan, demi mencapai kekuasaan.

Ya! Kekuasaan, harta, dan kedudukan memang membuat orang silau.

S E L E S A I

Ikuti Petualangan Pendekar Rajawali Sakti Berikutnya dalam Episode RATU BUKIT BRAMBANG

Bagikan:

Previous
Next Post »