Setan Pedang Perak

Pendekar Rajawali Sakti

Karya Teguh S

SETAN PEDANG PERAK

SATU
"Hiya! Hiyaaa...!"

Debu mengepul tinggi ke udara, tersepak kaki kuda coklat belang putih yang dipacu cepat oleh seorang pemuda berbaju biru tua. Pemuda itu terus menggebah kudanya dengan kecepatan tinggi, sambil berteriak kencang. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Memang ada kekhawatiran terlintas di wajahnya. Dari kejauhan tampak debu mengepul tinggi ke angkasa. Pemuda berbaju biru tua itu semakin kencang memacu kudanya.

Tidak dipedulikan lagi kudanya yang sudah kelelahan. Demikian pula debu dan keringat yang membasahi tubuhnya. Kudanya terus digebah. Menuju sebuah lembah yang di tengah-tengahnya terdapat bangunan besar yang dikelilingi gelondongan kayu pohon yang besar dan tinggi, membentuk pagar. Bangunan itu lebih mirip benteng pertahanan, atau padepokan. Tapi melihat letaknya yang terpencil di tengah-tengah lembah, bangunan itu layak disebut sebuah sarang salah satu partai persilatan.

"Hiya! Hiyaaa...!"

Pemuda itu kembali menggebah kudanya saat menoleh ke belakang. Terlihat gerombolan orang berkuda yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang itu semakin mendekati. Itulah yang dikhawatirkannya. Pemuda itu memang tengah dikejar-kejar karena suatu persoalan. Jarak mereka semakin dekat, membuat udara kian pengap oleh debu yang mengepul tinggi di angkasa.

"Hiegh...!"

Tiba-tiba saja kuda yang ditunggangi pemuda berbaju biru tua itu meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Kuda coklat belang putih itu ber-henti seketika. Malah penunggangnya nyaris terpelanting, kalau saja tidak cepat melompat turun dari punggung kudanya. Dua kali dia berputaran di udara. Kemudian mudah sekali kakinya mendarat di tanah, tidak jauh dari kudanya yang menggelepar-gelepar di tanah. Tampak pada bagian pinggul binatang itu tertancap sebatang anak panah yang cukup dalam. Sebentar kemudian kuda itu diam tidak bergerak-gerak lagi.

"Keparat...!" desis pemuda itu geram.

"Cepat...! Tangkap dan bunuh iblis itu...!" terdengar teriakan keras.

Dua puluh orang berkuda yang mengejar tadi serentak melompat, sebelum tunggangan mereka berhenti berpacu. Gerakan mereka sungguh indah dan ringan sekali. Dapat dipastikan rata-rata memiliki ilmu olah kanuragan yang cukup tinggi. Dengan golok terhunus, mereka mengepung pemuda itu dari segala arah.

"He... he... he.... Kau tidak akan dapat lari lagi, Bocah Keparat!" dengus laki-laki setengah baya yang berdiri tepat di depan pemuda berbaju biru tua itu.

Dia terkekeh-kekeh memamerkan baris-baris giginya yang hitam dan nyaris ompong. Tangannya memegang sebilah golok besar yang berkilatan dijilat cahaya matahari. Sedangkan pemuda berbaju biru tua itu pandangannya beredar ke sekeliling. Pengepungnya yang rata-rata bersenjatakan golok beraneka ragam, siap menunggu perintah. Pemuda berbaju biru tua itu mencabut pedangnya yang sejak tadi tersampir di pinggang. Tampak sebilah pedang keperakan yang panjang dan sangat tipis, berkilatan tertimpa cahaya matahari.

"Sudah kukatakan, jangan harap bisa melarikan diri, Palaka," tegas laki-laki setengah baya berbaju hijau daun itu.

"Hm.... Aku tidak melarikan diri, Guritan! Aku hanya menghindari keroyokanmu! Kalau kau berani, hadapilah aku secara jantan!" bentak pemuda yang dipanggil Palaka itu.

"Ha... ha... ha...," laki-laki setengah baya yang bernama Guritan itu hanya tertawa saja, lalu memberi aba-aba melalui jentikan dua jarinya.

Seketika dari empat jurusan, empat orang langsung berlompatan ke depan sambil berteriak keras. Kini pemuda berbaju biru tua makin terkepung rapat. Kaki mereka bergeser, sambil memainkan golok di depan dada.

"Haaat!" "Hiyaaat..!"

Dua orang yang berada di samping kanan dan di depan, langsung melompat sambil menebaskan goloknya ke arah Palaka. Secepat kilat pemuda itu mundur satu langkah, lalu tubuhnya dimiringkan ke kiri. Tebasan golok dari samping kanan hanya menyambar tempat kosong. Secepat golok itu lewat, secepat itu pula Palaka menghentakkan kakinya ke kanan. Dan kembali tubuhnya ditarik mundur, menghindari sabetan golok dari depan.

"Uts...!" Palaka buru-buru memiringkan tubuhnya ke kanan ketika datang satu serangan lagi dari samping kiri. Namun belum sempat tubuhnya diseimbangkan, datang serangan lain dari belakang. Kemudian dibarengi serangan dari arah kanan dan depan. Empat orang itu menyerang bertubi-tubi, disertai permainan golok yang cepat dan sangat gencar. Mereka menyerang secara bergantian, dan dalam tempo cepat.

Hal ini membuat Palaka kewalahan menghadapinya. Tidak ada kesempatan baginya untuk balas menyerang. Bahkan untuk mengambil napas saja, terasa sukar sekali. Ruang geraknya benar-benar tertutup. Tak ada celah sedikit pun untuk keleluasaan geraknya. Semuanya tertutup oleh kelebatan golok yang cepat. Sehingga hanya kilatan sinar keperakan yang tampak berkelebatan mengurung tubuh Palaka.

Deghk! Palaka terkejut ketika tiba-tiba sebuah tendangan keras mendarat di punggungnya. Dan begitu tubuhnya terjajar ke depan, sebilah golok menyambar cepat bagai kilat. Namun pemuda berbaju biru tua itu cepat-cepat mengibaskan pedangnya untuk menyampok tebasan golok yang mengarah ke dada.

Trang! Bunga api memercik saat dua senjata beradu keras yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Seketika Palaka merasakan pergelangan tangannya nyeri saat pedangnya beradu dengan golok salah seorang penyerangnya. Palaka menyadari kalau tenaga dalam yang dimilikinya seimbang dengan tenaga dalam lawannya. Itu berarti dirinya harus waspada dan berhati-hati dalam menghadapi mereka yang rata-rata memiliki tenaga dalam sama.

"Hiyaaa...!" Tiba-tiba saja sebelum Palaka bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, seorang lawan telah melancarkan serangan kilat. Goloknya yang besar dan berkilat, berkelebat mengincar dada pemuda berbaju biru tua itu. Secepat kilat Palaka mundur satu langkah, sehingga tebasan golok itu lewat di depan dadanya. Namun belum juga posisi tubuhnya bisa ditarik kembali, satu tendangan keras dari arah kanan, meluncur cepat sekali. Dalam posisi sulit seperti ini Palaka tidak sempat lagi menghindar.

Deghk!

"Akh...!" Palaka memekik keras agak tertahan. Kembali pemuda itu terhuyung karena bahunya terhantam tendangan keras mengandung pengerahan tenaga dalam yang cukup tinggi. Pada saat tubuhnya terhuyung, datang lagi satu serangan golok yang mengarah ke lehernya. Cepat sekali datangnya serangan itu, sehingga Palaka tidak bisa menghindar.

"Mati aku...," desah Palaka dalam hati. Pada saat yang genting itu, tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat cepat menyambar orang yang menebaskan golok ke leher Palaka.

Des!

"Akh�!" orang itu memekik keras, tepat saat tubuhnya terpental jauh ke belakang. Tiga orang lainnya terperanjat. Namun sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, bayangan putih itu kembali berkelebat cepat menyambar mereka. Kembali terdengar jeritan melengking panjang saling susul. Ketiga orang itu mental jauh ke belakang dan tersuruk di tanah. Hanya sebentar mereka mampu menggeliat. Sesaat kemudian, sudah tak bernyawa lagi. Bukan hanya para pengepung Palaka yang terperanjat menyaksikan kejadian itu. Bahkan pemuda itu terpaku dan mulutnya ternganga lebar, melihat empat tubuh tergeletak dengan leher koyak berlumuran darah. Empat orang itu tewas seketika. Kesunyian langsung mewarnai tempat ini.

"Ha... ha... ha...!"

Tiba-tiba terdengar tawa menggelegar memecah kesunyian yang terjadi. Semua orang yang berada di tempat itu kembali terkejut. Mereka kebingungan, karena tawa itu terdengar tanpa ada orangnya. Malah suara tawa itu menggema ke segala penjuru.
Pendekar Rajawali Sakti
"Hantu...!" teriak salah seorang tiba-tiba. Seketika itu juga yang lainnya berlarian pontang-panting mengikuti orang itu. Mereka melompat ke punggung kuda masing-masing, dan langsung menggebahnya meninggalkan tempat itu.

"Hei! Kembali...!" teriak Guritan.

Tapi tak ada seorang pun yang mengindahkan teriakan Guritan. Menyadari hanya tinggal seorang diri di tempat ini, Guritan tidak ingin ambil risiko. Cepat dia berlari dan melompat naik ke punggung kudanya.

"Hiyaaa!" Guritan langsung mengebah cepat kudanya. Debu langsung membumbung tinggi ke angkasa ketika kuda hitamnya melesat kencang meninggalkan Palaka yang kini tinggal seorang diri di tempat sunyi ini.

"Hm...," Palaka menggumam kecil. Pandangan pemuda berbaju biru tua itu beredar ke sekeliling. Tak seorang pun terlihat di tempat yang sunyi ini. Suara tawa menggelegar itu pun sudah tidak terdengar lagi, tepat saat Guritan pergi menyusul teman-temannya.

"Aku tidak tahu, siapa dirimu. Tapi jika kau bermaksud baik, keluarlah. Kita bisa bicara baik-baik," kata Palaka, agak lantang suaranya.

Untuk sesaat suasana sunyi sepi. Tak terdengar suara sedikit pun kecuali angin yang berhembus perlahan menebarkan udara dingin. Palaka mengedarkan pandangannya berkeliling. Telinganya dipasang tajam-tajam agar bisa mendengar suara sekecil apa pun, tapi tetap saja tidak terdengar apa-apa.

Namun tidak lama kemudian, terdengar siulan yang tidak beraturan bunyinya. Suara itu datang dari arah belakang pemuda berbaju biru tua itu. Perlahan-lahan Palaka memutar tubuhnya, dan langsung terperanjat. Ternyata di depannya sudah duduk seorang pemuda berbaju putih bersih agak ketat. Sama dengan Palaka, dia juga mengenakan ikat kepala berwarna putih. Wajahnya cukup tampan, dan kulitnya kuning langsat. Tapi ketampanan wajahnya ternoda oleh luka codet memanjang yang membelah pipi kanannya, hingga batas bibir. Palaka memandangi pemuda yang usianya tidak berbeda jauh darinya. Atau mungkin juga masih sebaya. Sedangkan pemuda berbaju putih itu tampak tidak mempedulikan. Bibirnya yang agak monyong terus mengalungkan siulan yang tidak beraturan iramanya.

"Kau tadi yang membunuh mereka...?" tanya Palaka langsung menebak.

"Hanya sekadar menyelamatkan nyawamu. Kelihatannya kau perlu bantuan," sahut pemuda berbaju putih itu kalem.

"Aku memang terdesak. Tapi tidak ada niatan di hatiku untuk membunuh mereka. Kau menambah beban persoalanku saja!" dengus Palaka kurang senang dengan pertolongan pemuda itu.

"Kendalikan dulu dirimu, Palaka...," masih terdengar tenang suara pemuda berbaju putih itu.

Palaka tersentak kaget. Betapa tidak...? Laki-laki muda berbaju putih ini mengetahui namanya. Dari mana pemuda itu mengetahui namanya...? Pertanyaan ini yang mengganggu benak Palaka, di balik keterkejutannya yang amat sangat.

"Dari mana kau mengenalku...?!" tanya Palaka, agak keras suaranya.

"Tidak terlalu sukar untuk mengetahui namamu, Palaka. Bahkan aku juga tahu tujuanmu datang ke daerah ini. Kau hendak menuju lembah itu, bukan...?" masih terdengar tenang nada suara pemuda berbaju putih itu. Bahkan sedikit pun tidak berpaling memandang Palaka yang berdiri tidak seberapa jauh di depannya.

Sementara itu Palaka terus memandangi. Tatapan matanya memancarkan ketidakpercayaan kalau pemuda yang belum dikenalnya ini mengetahui tentang dirinya. Bahkan mengetahui tujuannya datang ke lembah ini. Mendadak saja ada perasaan khawatir di hatinya, yang memancar lewat sorot matanya.

"Bagaimana kau bisa tahu tentang diriku? Siapa kau sebenarnya?" tanya Palaka. Nada suaranya terdengar tajam.

"Aku Sangaji. Tentang dirimu, kuketahui dari seseorang yang patut dipercaya. Itu sebabnya aku langsung datang ke sini. Tapi kedatanganku rupanya agak sedikit terlambat," sahut pemuda berbaju putih itu kalem.

"Siapa yang mengatakan itu padamu?" kejar Palaka ingin tahu.

"Sayang sekali, aku sudah berjanji untuk tidak mengatakannya padamu."

"Lalu, apa maksudmu menemuiku?" tanya Palaka lagi.

"Hanya untuk mengatakan agar kau jangan ke lembah sana. Terlebih lagi benteng itu," sahut Sangaji ringan seraya menunjuk ke arah benteng di tengah lembah sana.

"He...! Kau tidak bisa seenaknya melarangku!" bentak Palaka sengit.

"Aku hanya menyampaikan amanat saja. Terserah jika kau tidak sudi mendengarnya," terdengar ringan sekali suara Sangaji.

"Huh! Kau sudah menambah persoalanku, malah sekarang akan membuat persoalan lagi!" dengus Palaka memberengut.

Palaka membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Tujuannya sudah jelas, lembah yang terletak di bawah lereng tebing itu. Sama sekali tidak dihiraukan peringatan pemuda berbaju putih yang mengaku bernama Sangaji itu.

"Kau pasti akan memerlukan aku, Palaka. Aku akan menunggu di sini," ujar Sangaji setengah berteriak.

Palaka benar-benar tidak peduli lagi. Malah semakin dipercepat ayunan kakinya. Pemuda berbaju biru tua itu berjalan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sehingga dalam waktu singkat sudah menempuh perjalanan begitu jauh.

Sementara Sangaji masih tetap duduk bersandar pada pohon. Dipandanginya Palaka yang semakin menjauh. Tampak di bibir tipisnya terulas senyuman kecil. Palaka menghentikan ayunan langkahnya ketika tiba di depan pintu gerbang benteng yang berada di tengah-tengah lembah ini. Pemuda itu seketika tertegun melihat daun pintu gerbang benteng telah hancur berantakan. Perlahan-lahan kakinya terayun memasuki benteng itu. Dan kini, dia kembali tertegun. Bola matanya terbeliak lebar.

"Apa yang terjadi di sini...?" desis Palaka dalam hati.

Kakinya terayun kembali semakin jauh memasuki benteng itu. Matanya beredar ke sekeliling. Tampak dua buah bangunan besar yang berada di dalam lingkaran benteng itu sudah hancur tidak berbentuk lagi. Bau anyir darah tercium menusuk hidung, terbawa hembusan angin yang cukup kencang.

Perlahan-lahan pemuda itu melanjutkan langkahnya. Beberapa kali kakinya terpaksa harus melangkahi mayatmayat yang bergelimpangan tak tentu arah. Palaka dapat mengenali sebagian besar mayat-mayat itu dari pakaiannya, kecuali beberapa mayat yang berjubah putih.

"Oh...! Eyang...!" sentak Palaka ketika matanya tertumbuk pada sesosok tubuh yang terbaring di antara tumpukan balok yang menghitam hangus.

Bergegas Palaka menghampiri sosok tubuh tua berjubah putih yang tertelungkup itu. Ketika tubuh laki-laki tua dibalikkan, pemuda itu terkejut. Ternyata sebagian wajah mayat laki-laki tua itu sudah hancur. Bergegas diletak-kannya kembali mayat laki-laki tua yang tadi dipanggilnya eyang itu. Untuk beberapa saat dipandanginya mayat laki-laki tua itu. Lalu, ditariknya napas panjang, dan terasa berat sekali.

"To... looong...!" tiba-tiba terdengar rintihan lirih.

Palaka langsung memalingkan kepalanya ke arah suara rintihan lirih itu. Tak ada yang bergerak, meskipun banyak mayat yang bergelimpangan.

"Siapa di situ...?" kembali terdengar rintihan lirih.

"Di manakah kau, Kisanak?" tanya Palaka, agak keras suaranya.

"Di sini...."

Palaka langsung menghampiri ketika melihat sepotong tangan menyembul dari reruntuhan balok kayu dan batu yang tengah bergerak-gerak lemah. Gerakan tangan itu baru terhenti begitu Palaka dekat.

"Paman...!" sentak Palaka begitu melihat adanya gambar seekor macan tercetak pada tangan yang kotor berlumuran darah kering dan debu.

Bergegas pemuda itu mengangkat balok-balok kayu dan bebatuan yang menimbun laki-laki yang dipanggil paman oleh Palaka. Puing-puing itu dilemparkannya begitu saja, tidak peduli kalau jatuh menimpa mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Palaka semakin bersemangat saat sudah bisa menyingkirkan sebagian reruntuhan yang menimbun seorang laki-laki setengah baya.

"Paman..., Paman Tirta...," panggil Palaka seraya membersihkan kotoran dan darah kering di wajah laki-laki setengah baya itu.

"Ohhh...," laki-laki setengah baya itu hanya mampu merintih lirih.

Palaka bergegas mengambil tempayan yang berada tidak jauh dari tempat itu. Airnya masih ada setengah.

"Ohhh.... Apakah kau Palaka...?" terdengar lirih suara Paman Tirta.

"Benar. Aku Palaka, Paman," sahut Palaka sambil terus membawa tempayan.

Paman Tirta kembali merintih lirih, kemudian terbatukbatuk. Laki-laki setengah baya itu mencoba bangkit duduk, tapi Palaka cepat-cepat mencegah.

"Palaka, cepatlah kau pergi dari sini sebelum mereka datang kembali," ujar Paman Tirta pelan, hampir tidak terdengar. "Kau tidak usah mengobatiku, Palaka! Percuma...! Aku telah terkena racun...!"

"Apa yang terjadi di sini, Paman?" tanya Palaka tidak peduli dengan peringatan laki-laki setengah baya itu.

"Oh.... Palaka..., cepatlah kau pergi. Mereka pasti akan datang lagi ke sini."

"Siapa mereka, Paman? Apa yang mereka inginkan di sini?" tanya Palaka mendesak.

"Oh...," Paman Tirta mendesah seraya menghembuskan napas panjang. Tubuhnya tampak semakin lemah.

"Paman...."

"Palaka! Pergilah ke Karang Setra. Temui Pendekar Rajawali Sakti di sana...," suara Paman Tirta terputus.

"Paman...!"

"Katakan padanya tentang keadaan di sini. Berikan cincin ini padanya. Dia pasti bisa mengerti jika cincinku kau berikan padanya...," setelah berkata demikian, Paman Tirta terbatuk-batuk.

"Paman...."

"Cepatlah pergi, dan jangan sampai ada yang tahu kedatanganmu ke sini!"

Paman Tirta kembali terbatuk-batuk. Kali ini dari mulut-nya menyemburkan darah kental berwarna kehitaman bercampur cairan hijau kekuningan. Palaka terkejut melihatnya.

"Paman...!" sentak Palaka ketika kepala laki-laki setengah baya itu terkulai.

Diguncang-guncangkan tubuh laki-laki setengah baya itu sambil terus memanggil namanya. Tapi Paman Tirta sudah tidak bernyawa lagi. Telapak tangan Palaka mengusap wajah pamannya itu. Sebentar pemuda berbaju biru tua itu tertunduk, kemudian melepaskan cincin dari jari manis laki-laki setengah baya itu.

"Akan kulaksanakan amanatmu yang terakhir, Paman," ujar Palaka lirih.

Perlahan-lahan pemuda berbaju biru tua itu bangkit. Tubuh laki-laki setengah baya yang sudah tidak bernyawa masih dipandanginya. Kemudian kakinya melangkah perlahan, meninggalkan benteng yang sudah tidak berbentuk itu. Hanya bagian pagarnya saja yang masih kelihatan utuh. Tapi seluruh bagian dalamnya sudah tidak beraturan lagi. Sungguh pemandangan yang tidak sedap dipandang mata.

"Kasihan kalian...," desah Palaka lirih.

********************

DUA

Pagi masih terlalu dini. Matahari belum menampakkan dirinya, meskipun kokok ayam jantan sudah sejak tadi terdengar saling sambut. Kicauan burung menambah semaraknya pagi yang masih gelap ini. Kegelapan memang masih menyelimuti Desa Gadakan. Sebuah desa yang tidak terlalu besar, dan terletak di Kaki Gunung Gadakan, atau lebih tepat bila dikatakan berada di lereng gunung.

Semua penduduk desa itu masih terlelap dalam buaian mimpi. Udara yang teramat dingin ini membuat orang malas beranjak dari pembaringan. Tapi tidak demikian halnya seorang pemuda berambut panjang agak tergelung sedikit ke atas. Dia malah berjalan perlahan-lahan sambil menuntun seekor kuda hitam yang tinggi dan tegap berotot.

Sambil terus berjalan menikmati kesegaran udara pagi hari, pemuda tampan berbaju rompi putih itu terus melangkah tenang. Padahal kegelapan masih menyelimuti sekitarnya, ditambah udara dingin menusuk kulit. Seakan-akan, semuanya bukanlah penghalang untuk melangkahkan kakinya.

"Hiegh...! Hgrrr...."

Tiba-tiba saja kuda hitamnya meringkik keras dan mendengus-dengus sambil mengangguk-anggukkan kepala. Sementara kaki depannya dihentak-hentakkan. Pemuda berbaju rompi putih itu menghentikan ayunan kakinya. Matanya memanearkan keheranan memandangi kudanya yang mendadak gelisah itu.

"Hsss..., diam...," pemuda itu berusaha meredakan kegelisahan kudanya. Namun kuda hitam itu malah meringkik keras sambil meronta, mencoba melepaskan pegangan tali kekangnya. Pemuda itu semakin keheranan. Namun sebelum sempat diketahui penyebabnya, mendadak secercah cahaya kemerahan berkelebat bagai kilat menuju ke arahnya.

"Hup! Hiyaaa...!"

Secepat kilat pemuda berbaju rompi putih itu melompat ke atas sambil menepuk punggung kudanya. Tepat saat tubuhnya melesat, kuda itu langsung melompat deras ke samping. Cahaya kemerahan itu lewat, tidak berhasil menyentuh sasaran. Dengan gerakan ringan, pemuda berbaju rompi putih itu mendarat di tanah setelah berputaran beberapa kali.

Sebentar pemuda itu melirik kuda hitamnya yang sudah menepi. Binatang itu kelihatan tenang kembali. Malah kini tengah merundukkan kepalanya masuk ke saluran air, di tepi jalan ini. Pemuda berbaju rompi putih itu mengedarkan pandangannya berkeliling, dan langsung tertuju ke arah datangnya sinar kemerahan tadi.

"Hm...," gumamnya perlahan. Saat kudanya hendak dipanggil mendadak dari depan kembali melesat seberkas cahaya kemerahan. Pemuda berbaju rompi putih itu langsung memiringkan tubuh sedikit ke kanan, sementara tangan kirinya bergerak cepat menghadang cahaya kemerahan itu.

Tap! Pemuda tampan itu langsung mengamati benda yang berhasil ditangkapnya. Benda itu sebesar telapak tangan bayi berwarna kemerahan dan berbentuk lempengan seperti piring. Saat matanya mengarah ke depan, terlihat sebuah bayangan berkelebat cepat. Seketika itu juga tangan kirinya dihentakkan, untuk melemparkan benda bulat pipih berwarna kemerahan itu.

Benda kemerahan itu melesat cepat bagai kilat, langsung menembus kegelapan pagi buta ini. Seketika itu juga, terdengar jeritan melengking tinggi, disusul ambruknya sesosok tubuh yang keluar dari dalam semak belukar.

"Hup...!" Pemuda tampan itu langsung melompat. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya mendarat manis di dekat sosok tubuh yang tergeletak tak bernyawa. Tampak benda kemerahan itu tertanam dalam di tenggorokannya. Darah merembes keluar dari tenggorokan yang tertancap benda berbentuk lempengan itu.

Namun sebelum mayat itu sempat diperiksa, mendadak dari dalam kegelapan bermunculan beberapa sosok tubuh berbaju putih. Pemuda tampan berbaju rompi putih itu bergegas melompat ke belakang beberapa tindak. Semen-tara sosok-sosok tubuh yang bermunculan itu langsung bergerak membuat lingkaran mengepung. Jumlahnya tidak kurang dari tiga puluh orang, dan semuanya berseragam putih ketat Masing-masing memegang tombak panjang merah bermata tiga.

"Siapa kalian...?" tanya pemuda itu. Namun sebelum mendapat jawaban, pemuda itu kembali dikejutkan oleh munculnya seorang laki-laki kurus mengenakan jubah longgar berwarna kuning. Tubuhnya agak bungkuk, disangga sebatang tongkat hitam berkeluk yang tergenggam di tangannya.

"He... he... he...!" laki-laki tua berjubah kuning itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Eyang Bangkal...," desis pemuda berbaju rompi putih itu perlahan. Rupanya dia mengenali laki-laki tua di hadapannya.

"Kita bertemu lagi, Pendekar Rajawali Sakti. He... he... he...," laki-laki tua bungkuk yang dikenal bernama Eyang Bangkal itu kembali terkekeh, yang lebih mirip sebuah seringai.

"Hm...," pemuda berbaju rompi putih yang memang Pendekar Rajawali Sakti hanya menggumam kecil saja.

Pemuda itu membalas tatapan Eyang Bangkal dengan tajam pula. Sedikit pun kelopak matanya tidak berkedip. Mereka memang pernah bertemu, bahkan sempat bentrok di Gunung Gadakan ini.

"Serang...!" tiba-tiba saja Eyang Bangkal berteriak lantang memberi perintah.

"Hiya...!" "Hiyaaa...!"

Seketika itu juga orang-orang berbaju putih itu berlompatan menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Tombak mereka berkelebatan cepat, menusuk ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Sambil berteriak keras menggelegar, Pendekar Rajawali Sakti bergerak memutar tubuhnya. Maka seketika itu juga jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' dikerahkan.

Cepat sekali gerakan yang dilakukan Rangga. Kedua tangannya bergerak secepat kilat diikuti gerakan tubuh yang meliuk-liuk dan gerakan kaki yang begitu lincah, cepat luar biasa. Dalam beberapa gebrakan saja, sudah terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi. Dan kini tampak beberapa sosok tubuh berbaju putih bergelimpangan di tanah dengan kepala pecah. Dalam waktu singkat saja, sudah lima orang tergeletak tak bernyawa.

"Hup! Yeaaah...!"

Sambil berteriak keras melengking, pendekar muda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu melentingkan tubuhnya ke angkasa. Tubuhnya diputar indah sekali di udara, kemudian meluruk deras ke arah kudanya yang berada di tepi jalan. Manis sekali Pendekar Rajawali Sakti hinggap di punggung kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu.

"Hieeeghk...!" Dewa Bayu meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi.

Rangga mengendalikan kudanya agar bisa tenang. Sebentar kemudian dipandanginya orang-orang yang berada tidak seberapa jauh di depan. Dan kini tatapan matanya begitu tajam menusuk langsung pada Eyang Bangkal.

"Kau akan menyesal jika terus mencari urusan denganku, Eyang Bangkal," tegas Rangga, dingin nada suaranya.

"Kau harus dilenyapkan, Pendekar Rajawali Sakti! Kau selalu menjadi penghalangku...!" geram Eyang Bangkal.

Tapi geraman orang tua itu tidak dihiraukan sama sekali. Rangga cepat memutar kudanya, dan langsung menggebah dengan kecepatan tinggi. Kuda hitam itu melesat bagai kilat, hingga dalam sekejap sudah lenyap dari pandangan mata.

"Jangan lari kau...!" teriak Eyang Bangkal geram setengah mati.

Tapi bayangan kuda hitam yang ditunggangi Pendekar Rajawali Sakti itu sudah tidak terlihat lagi. Eyang Bangkal memaki-maki sambil menghentak-hentakkan tongkatnya ke tanah. Kemudian, matanya merayapi mayat anak buahnya yang tergeletak di tanah. Sementara itu matahari mulai menyemburat, mengintip malu-malu. Sinarnya yang kemerahan, begitu lembut menyapu seluruh permukaan alam ini.

"Ayo kembali!" sentak Eyang Bangkal kesal. Laki-laki tua bungkuk berjubah kuning itu langsung melesat cepat meninggalkan tempat itu, diikuti orang-orang berbaju putih pekat. Sebentar saja tempat itu sudah sunyi. Dan kini hanya tinggal lima sosok mayat yang tergeletak dengan kepala hancur berantakan.

********************

Sampai matahari tepat di atas kepala, Rangga baru menghentikan lari kudanya. Tampak sebuah sungai yang cukup besar menghadang di depan. Pendekar Rajawali Sakti itu melompat turun dari punggung kudanya, lalu berjalan menghampiri sungai yang terlihat jernih airnya itu. Namun ketika tangannya dicelupkan, mendadak air sungai itu bergolak mendidih mengepulkan uap tipis kebiruan.

"Akh...!" Rangga memekik keras tertahan. Buru-buru tangannya diangkat keluar dari dalam sungai. Pendekar Rajawali Sakti itu melompat mundur dua tindak. Seketika matanya memandangi tangan yang berubah memerah. Tangannya terasa panas sekali bagai terbakar. Rangga merasakan panas itu menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.

"Uh! Aaakh...!" kembali Rangga memekik keras tertahan. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu bergetar ketika panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya semakin tak tertahankan lagi. Buru-buru ia duduk bersila dan menggerak-gerakkan tangannya cepat di depan dada. Lalu kedua telapak tangannya merapat di depan dada.

"Hap! Hsss...!"

Perlahan Rangga memejamkan mata. Tubuhnya masih terasa panas dan bergetar, meskipun tidak sehebat tadi. Namun mendadak saja....

Desss!

Satu tendangan yang bertenaga dalam tinggi, tiba-tiba mendarat di punggungnya. Seketika tubuhnya terguling beberapa kali di tanah. Sebelum Pendekar Rajawali Sakti itu sempat bangkit, satu tendangan yang sangat keras dari penyerang gelap itu kembali tiba. Dan kemudian, beberapa tendangan lagi susul-menyusul menghajar tubuhnya, tanpa sedikit pun dia mampu menghindar. Pada saat itu Pendekar Rajawali Sakti benar-benar tidak berdaya melawan rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sehingga tidak mampu melawan sama sekali. Rangga merasakan pepohon di sekelilingnya berputar. Kemudian dia pun tak ingat apa-apa lagi. Pingsan! Tak lama setelah itu, bermunculan orang-orang berjubah putih yang wajahnya tertutup tudung berbentuk kerucut.

"Angkat dia," perintah orang yang membokong Pendekar Rajawali Sakti tadi. Dua orang bergerak maju, lalu mengangkat tubuh Rangga yang sudah tidak sadarkan diri. Dada yang ber-gerak lemah turun naik, menandakan kalau pemuda berbaju rompi putih itu masih hidup. Tanpa banyak bicara lagi, lima orang berjubah putih panjang hingga menggeser tanah itu bergerak meninggalkan tepian sungai. Salah seorang sempat melemparkan sebuah benda berbentuk seperti bola yang besarnya sekepalan tangan ke arah sungai. Bola berwarna keperakan itu langsung melesak begitu menyentuh permukaan air sungai.

Suara ledakannya terdengar menggelegar, membuat bumi yang dipijak berguncang dahsyat. Namun getaran dan ledakan itu tidak membuat lima orang berjubah putih panjang itu menghentikan ayunan langkahnya. Mereka terus melangkah menembus kelebatan hutan.

Kuda Dewa Bayu yang semenjak tadi memperhatikan majikannya dibuat tak berdaya, segera meringkik keras sambil menengadahkan kepalanya. Sesaat kemudian, kuda hitam itu berlari cepat bagaikan anak panah melesat dari busur. Begitu cepatnya binatang liu berlari, sehingga dalam waktu singkat sudah lenyap dari pandangan mata.

********************

Sementara itu, kuda hitam tunggangan Pendekar Rajawali Sakti sudah sampai di perbatasan gerbang Kotaraja Karang Setra. Kuda yang bernama Dewa Bayu itu terus berpacu cepat menuju istana kerajaan yang berada di tengah-tengah pusat kota. Orang-orang yang melihat kuda itu berlari cepat tanpa penunggang, jadi bertanya-tanya. Bahkan dua orang prajurit penjaga pintu gerbang istana, buru-buru membuka pintu begitu melihat kuda tunggangan rajanya kembali tanpa ada orangnya.

Hanya saja para prajurit itu tidak terkejut lagi melihat Dewa Bayu kembali sendiri tanpa Pendekar Rajawali Sakti. Memang sudah sering kuda itu keluar masuk sendirian. Bahkan bisa lebih satu purnama kuda itu menghilang, kemudian tiba-tiba muncul lagi tanpa penunggang, meskipun punggungnya terpasang pelana. Namun kehadiran kuda hitam yang kelihatannya terburu-buru itu tidak seperti biasanya.

"Hieeeghk...!" Kuda hitam itu langsung meringkik keras begitu tiba di depan istana. Beberapa prajurit yang kebetulan bertugas di sana, tentu saja terkejut, karena kuda itu kelihatan liar sekali. Binatang itu melonjak-lonjak sambil meringkik keras. Beberapa kali diangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi sambil meringkik keras.

Keributan di depan istana itu membuat semua orang yang berada di dalam, berlarian keluar. Tampak Danupaksi dan Cempaka juga bergegas berlari ke luar. Mereka ter-kejut melihat tingkah laku Dewa Bayu. Sejenak mereka saling berpandangan. Sementara sekitar dua puluh orang prajurit sudah mengelilingi kuda itu dengan tambang tergenggam di tangan.

"Mau apa kalian di situ...? Minggir...!" bentak Cempaka keras.

Para prajurit langsung membungkukkan badannya memberi hormat, lalu bergegas menyingkir jauh. Cempaka melangkah tegap menghampiri kuda hitam yang mendengus-dengus seraya menganggukkan kepalanya berulang-ulang. Sedikit demi sedikit, Cempaka mendekati kuda hitam itu.

Melihat Cempaka menghampiri, Dewa Bayu berangsur jinak. Kakinya melangkah menghampiri gadis berbaju merah muda ketat yang dihiasi beberapa sulaman benang emas pada bahunya. Kuda hitam itu menyorongkan kepalanya pada Cempaka yang langsung memeluk penuh kasih sayang.

"Ada apa, Dewa Bayu?" tanya Cempaka lembut seraya membelai-belai kepala kuda hitam pekat berkilat itu.

Dewa Bayu mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kakinya dihentak-hentakkan ke tanah. Cempaka yang berusaha untuk mengerti isyarat kuda itu, jadi kebingungan sendiri. Memang tidak ada yang bisa mengerti isyarat yang diberikan Dewa Bayu selain Pendekar Rajawali Sakti.

Menyadari kalau Cempaka kebingungan, kuda itu menggigit ujung baju gadis itu. Segera diseretnya Cempaka hingga ke dekat punggung. Kemudian kuda itu merendahkan tubuhnya, lalu kepalanya menoleh ke belakang. Dan dengan ujung moncongnya, ditepuk-tepuknya punggungnya sendiri.

"Kau menyuruhku naik...?" tanya Cempaka dengan kening berkerut dalam.

Kuda hitam itu terangguk-angguk.

"Ah, tidak.... Aku tidak berani menunggangimu," tolak Cempaka seraya bergerak mundur.

Tapi kuda itu lebih cepat menggigit ujung baju gadis itu. Kembali Cempaka jadi kebingungan juga. Belum ada seorang pun yang menunggangi kuda ini, yang memang tidak bisa ditunggangi siapa pun. Dia akan lebih liar daripada kuda liar yang ada di bukit, jika ada orang yang tidak dikenal berusaha menungganginya.

"Baik.... Baik, tapi aku tidak mau bertanggung jawab. Kau yang menyuruhku, Dewa Bayu," kata Cempaka menyerah.

Cempaka segera naik ke punggung kuda hitam itu, sambil memegangi tali kekangnya. Tapi belum juga sempurna duduknya di punggung kuda itu, mendadak saja Dewa Bayu meringkik keras dan langsung melesat cepat keluar dari halaman depan Istana Karang Setra.

"Aaah...!" Cempaka menjerit terkejut. Buru-buru tali kekang kuda itu dipegangi erat-erat. Sementara para prajurit yang menyaksikan, bergegas menghadang sebelum kuda itu mencapai pintu gerbang. Tapi kuda itu malah melompat tinggi, melewati barisan kepala para prajurit. Cempaka sampai berteriak karena merasa ciut hatinya berada di punggung kuda ini.

"Buka pintunya...!" teriak Cempaka keras. Dua prajurit penjaga pintu gerbang itu malah berdiri tegak, sambil mengarahkan ujung tombak ke depan. Cempaka jadi geram. Padahal, kuda ini sebentar lagi sampai. Tapi, mendadak saja Dewa Bayu melompat tinggi.

"Aaah...!" jerit Cempaka melengking. Bukan hanya Cempaka saja yang merasa ngeri. Bahkan semua prajurit dan pembesar istana yang menyaksikan harus menahan napas. Kuda Dewa Bayu tunggangan Pendekar Rajawali Sakti itu melompat tinggi, dan terus meluncur melewati gerbang istana yang tinggi. Sebentar kemudian, kuda itu menghilang di balik benteng yang mengelilingi bangunan istana.

"Siapkan kudaku, cepat...? Kejar kuda itu...!" teriak Danupaksi menggelegar.

Sebentar saja, pintu gerbang terbuka tebar. Maka dari arah samping istana sebelah kanan, berhamburan sekitar lima puluh prajurit dan dua tamtama serta seorang panglima memacu kudanya dengan cepat keluar dari istana ini. Danupaksi sendiri langsung melompat ke punggung kuda putihnya begitu seorang pengurus kuda datang membawa tunggangannya. Langsung saja pemuda itu menggebah cepat kudanya.

"Hiya! Hiyaaa...!"

********************

TIGA

Cempaka memegangi tali kekang kuda hitam itu kuat-kuat. Tubuhnya terguncang-guncang mengikuti irama derap kaki kuda yang berlari cepat bagai terbang saja. Sama sekali kuda hitam tunggangan kakak tirinya itu tidak bisa dikendalikan. Kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu terus berlari seperti tak mempedulikan raut wajah Cempaka yang pucat pasi. Meskipun gadis itu memiliki tingkat kepandaian tinggi, tapi belum pernah menunggang kuda demikian cepat.

"Pelankan larimu, Dewa Bayu...!" seru Cempaka keras di dekat telinga kuda hitam itu.

Tapi permintaan gadis itu tidak dipedulikan sama sekali. Dewa Bayu terus berlari kencang, membuat kepulan debu di angkasa. Cempaka berpaling ke belakang, agar berharap ada yang mengikutinya. Ternyata itu hanya sia-sia belaka, karena tak ada seorang prajurit pun yang terlihat menyusulnya. Dan disadari betul kalau kecepatan lari kuda ini tidak ada tandingannya. Meskipun ada prajurit yang mengejar, tapi tidak akan mungkin bisa menyusul. Jangankan menyusul. Mendekat saja tidak akan mungkin. Cempaka jadi pasrah. Diturutinya saja, ke mana kuda ini membawa pergi. Namun pegangannya pada tali kekang kuda hitam ini tidak ingin dikendorkan.

"Kau akan membawaku ke mana...?" tanya Cempaka sambil mengurangi rasa takutnya.

Kuda hitam itu terus saja berlari, seakan-akan tidak mendengar suara penunggangnya yang begitu keras, mengalahkan suara derap langkah kakinya. Memang cukup jauh perjalanan yang ditempuh. Setelah melewati Kaki Gunung Gadakan, kuda itu memutari kaki gunung ini, dan terus menuju ke arah bukit yang bersebelahan dengan gunung ini. Kuda itu baru berhenti setelah sampai di tepi sungai yang cukup besar dan berair jernih. Sungai itu bagaikan sebuah pembatas antara Gunung Gadakan dengan bukit di seberang sana.

"Hup!" Cempaka langsung saja melompat turun dari punggung kuda hitam itu. Sebentar dipandanginya sungai yang terbentang di depannya, kemudian beralih pada kuda hitam yang mendengus-dengus sambil menghentak-hentakkan kakinya di tanah berumput berbatu kerikil. Sebentar Cempaka mengamati kuda hitam itu, lalu meng-hampirinya.

"Ada apa?" tanya Cempaka.

Kuda hitam itu masih mendengus-dengus menghentak-hentakkan kaki depannya ke tanah. Sejenak Cempaka mengamati kuda itu, kemudian mengarahkan pandangan-nya pada tanah berumput yang dipenuhi kerikil itu. Kelopak matanya agak terbeliak, begitu melihat kerikil itu berwarna merah dan rerumputan di sekitarnya hangus bagai terbakar. Namun yang lebih mengejutkan lagi, di antara batu-batu kerikil itu tercecer untaian kalung berbentuk segitiga yang memiliki beberapa lingkaran di tengah-tengahnya. Cempaka memungut kalung itu, dan memandanginya beberapa saat.

"Kakang Rangga...," desis Cempaka sambil memandangi sekitar tepian sungai ini. Kini diyakini kalau Rangga mendapatkan kesulitan. Pantas saja Dewa Bayu membawanya ke sini. Dan dengan ditemukannya kalung segitiga yang memiliki beberapa lingkaran di tengah itu, Cempaka semakin yakin kalau Rangga membutuhkan pertolongan.

Meskipun Pendekar Rajawali Sakti memiliki kepandaian tinggi, namun bagaimanapun juga tetap manusia biasa. Dan tak seorang pun di dunia ini yang memiliki kesempurnaan dalam hal ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Cempaka semakin menajamkan penglihatannya, mengamati tanah berumput yang banyak kerikil itu.

"Hm...," Cempaka menggumam kecil ketika melihat ada jejak kaki pada rerumputan yang kelihatannya masih baru. Tanpa ragu-ragu lagi, gadis itu mengikuti jejak-jejak kaki yang tertera cukup jelas di tanah berumput kering ini. Sedangkan Dewa Bayu mengikuti dari belakang. Kuda itu mendengus-dengus, dan kaki depannya selalu dihentak-hentakkan saat melangkah mengikuti ayunan kaki Cempaka di depannya.

"Sebaiknya kau tunggu saja di sini, Dewa Bayu. Mudah-mudahan ada prajurit yang datang," kata Cempaka.

Kuda hitam itu mendengus kecil, kemudian tidak lagi mengikuti gadis itu. Sedangkan Cempaka terus mengayunkan kakinya perlahan-lahan mengikuti jejak yang tertera jelas di tanah berumput. Gadis itu berjalan dengan kepala tertunduk agak dalam. Matanya tidak berkedip mengamati jejak-jejak yang ditelusurinya.

"Hm..., jejak ini berhenti di sini," gumam Cempaka saat tidak melihat jejak lagi.

Jejak langkah kaki itu memang terputus tepat di tengah hutan yang tidak seberapa lebat ini. Cempaka mengangkat kepalanya, lalu pandangannya beredar ke sekeliling. Tak ada lagi petunjuk, ke mana jejak itu menuju. Sedangkan tempat ini hanya dipenuhi pepohonan besar dan kecil serta semak belukar yang kelihatannya sudah mengering.

Namun belum juga gadis itu memperoleh petunjuk, mendadak terdengar suara mendesing dari arah samping kanan. Cepat sekali Cempaka menarik tubuhnya ke belakang ketika melihat seberkas cahaya kemerahan berkelebat deras ke arahnya. Kilatan cahaya itu lewat sedikit di depan tubuhnya. Namun, gadis itu merasakan adanya hawa panas yang sangat menyengat ketika benda ber-warna merah itu lewat.

"Hup...!"

Buru-buru Cempaka melentingkan tubuhnya ke belakang sambil berputaran dua kali. Namun baru saja kakinya mendarat, mendadak sebuah bayangan putih berkelebat cepat menyambar ke arahnya.

"Hup! Yeaaah...!"

Cempaka bergegas melompat kembali ke belakang, lalu memutar tubuhnya beberapa kali ketika melihat bayangan keperakan berkelebatan di sekitar tubuhnya. Adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu tak sempat lagi memperhatikan. Karena, belum sempat menarik napas panjang, muncul lagi satu bayangan putih yang langsung menyerangnya pula.

"Hup! Hiyaaa...!"

Kembali Cempaka melentingkan tubuhnya ketika cahaya keperakan berkelebat mengarah ke kakinya. Gerakan tubuh gadis itu sungguh ringan, sehingga tahu-tahu sudah di atas dahan pohon. Kini Cempaka dapat melihat jelas kalau di bawahnya ada dua orang berpakaian putih panjang hingga ke kaki. Seluruh kepalanya tertutup kain berbentuk kerucut. Sehingga mukanya tidak begitu jelas terlihat, karena penutup kepala itu cukup besar.

"Hap...!"

Cempaka langsung melentingkan tubuhnya ketika secercah cahaya merah kembali meluncur deras ke arahnya. Beberapa kali gadis itu berjumpalitan di udara, kemudian manis sekali mendarat di tanah, berjarak sekitar dua batang tombak dari dua orang berbaju putih itu.

Namun sebelum Cempaka bisa melakukan sesuatu, dua orang berpakaian aneh itu kembali menyerangnya. Sungguh aneh! Mereka bertarung tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Bahkan setiap gerakannya sangat halus, sehingga tak terdengar suara sedikitpun. Padahal bajunya lebar dan panjang berkibaran tersapu angin.

Bet!

Cempaka tersentak ketika tiba-tiba saja salah seorang mengebutkan tangannya. Bergegas gadis itu melompat ke samping. Namun pada saat itu, seorang lagi sudah ber-gerak cepat seraya melepaskan pukulan bertenaga dalam cukup tinggi.

Deghk!

"Akh...!" Cempaka terpekik agak tertahan. Pukulan orang berbaju putih aneh itu tidak bisa dihindari lagi, dan tepat menghantam bahu kanan Cempaka. Akibat-nya gadis itu terhuyung-huyung ke belakang. Pada saat itu, salah seorang mengeluarkan tambang dari balik lipatan bajunya.

Sambil melompat cepat, orang berbaju putih itu melemparkan tambangnya. Dengan cepat ujung tambang itu ditangkap oleh kawannya. Seketika mereka bergerak cepat memutari tubuh Cempaka yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kini tahu-tahu tubuhnya sudah terlilit tambang. Cempaka tidak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya lagi, kemudian jatuh tersuruk. Tanpa berbicara sedikit pun, dua orang berpakaian putih aneh itu langsung berlari masuk ke hutan menyeret tubuh Cempaka yang tak berdaya terlilit tambang. Gadis itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun jeratan tambang itu kuat sekali.

"Akh...!" Cempaka memekik tertahan ketika sebongkah batu besar membentur kepalanya.

Seketika itu juga Cempaka tak sadarkan diri. Tubuh gadis itu terus diseret ke dalam hutan. Namun, yang jelas gadis itu tak tahu, ke mana dirinya dibawa pergi.

********************

Sementara itu di tepian sungai, Danupaksi baru saja sampai bersama beberapa orang prajurit dan panglima. Pemuda itu langsung melompat turun dari punggung kuda begitu melihat kuda hitam tunggangan Pendekar Rajawali Sakti berada sendirian di tepi sungai itu. Binatang itu mendengus-dengus seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Bergegas Danupaksi menghampiri kuda itu.

"Dewa Bayu, di mana Cempaka?" tanya Danupaksi.

Kuda hitam itu mendengus-dengus seraya menghentak-hentakkan kaki depannya ke tanah. Danupaksi langsung memandang ke tanah. Keningnya berkerut ketika melihat tanah berumput itu banyak terdapat jejak kaki yang masih baru.

"Kalian ikuti jejak ini...!" seru Danupaksi memberi perintah.

Perintah adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu diteruskan oleh dua orang panglima kepada para prajuritnya. Serentak mereka melaksanakan perintah, langsung bergerak mengikuti jejak yang tertera cukup jelas di tanah berumput kering ini. Sedangkan Danupaksi sendiri berjalan di depan. Tidak dipedulikan lagi kudanya yang ditinggal di tepi sungai. Seorang prajurit bergegas mengambil kuda pemuda itu dan menuntunnya.

Sementara Dewa Bayu mengayunkan langkahnya mengikuti Danupaksi dari belakang. Jejak yang tertera di tanah berumput itu demikian jelas terlihat, sehingga mereka bisa cepat bergerak. Sebentar saja mereka sudah sampai di dalam hutan. Di tempat ini, jejak-jejak itu semakin nyata. Terutama di tempat Cempaka bertarung melawan dua orang berbaju putih yang berbentuk aneh.

"Hm...!" Danupaksi menggumam dengan kening agak berkerut. Pemuda yang mengenakan baju warna putih itu langsung mengetahui kalau di tempat ini baru saja berlangsung pertarungan. Danupaksi jadi cemas, karena tidak menemukan adik tirinya di sini. Sedangkan jejak yang ditemukannya sangat jelas terlihat.

"Ke sini...!" Tiba-tiba salah seorang prajurit berseru keras. Seketika itu juga Danupaksi menghampiri prajurit itu. Matanya terbeliak begitu melihat rerumputan patah-patah, hampir rata dengan tanah. Danupaksi semakin bertambah cemas. Jelas sekali kalau itu adalah bekas-bekas seseorang yang terseret. Dengan hati diliputi kecemasan yang amat sangat, Danupaksi bergegas melangkah cepat mengikuti alur jejak yang begitu jelas tertera di tanah. Jejak itu semakin jauh masuk ke hutan.

"Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa dengan dirimu, Cempaka...," desah Danupaksi dalam hati.

"Awas...!" tiba-tiba salah seorang panglima yang berjalan di belakang Danupaksi, berteriak keras.

Begitu Danupaksi mengangkat kepalanya, tampak sebuah sinar kemerahan meluncur deras ke arahnya.

"Hup!" Buru-buru tubuh pemuda itu dimiringkan ke kanan, maka benda berwarna kemerahan itu langsung melesat lewat sedikit di depan dadanya. Hanya saja, sayangnya benda kemerahan itu menghantam dada salah seorang prajurit yang berada di belakang Danupaksi. Prajurit yang sial itu menggeletar beberapa saat, kemudian ambruk di tanah. Sebentar kemudian dia telah kehilangan nyawanya. Dadanya berlubang tertembus benda berwarna kemerahan tadi. Tampak darah mengucur deras dari dadanya.

"Waspada...!" seru Danupaksi. Namun seruan pemuda berbaju putih itu, langsung disambut oleh munculnya orang-orang berpakaian aneh berwarna putih. Ada enam orang, tapi wajah mereka tidak terlihat jelas. Seluruh kepala mereka terselubung kain putih berbentuk kerucut yang menyatu dengan jubahnya.

Dan sebelum Danupaksi dan para prajuritnya bisa berbuat sesuatu, lima orang berpakaian serba putih itu langsung bergerak cepat tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Satu orang menerjang Danupaksi, sedangkan lima orang lainnya menyerang para prajurit yang masih diliputi keterkejutan. Seketika itu juga terdengar jeritan melengking tinggi, disusul bergelimpangannya tubuh-tubuh prajurit. Sungguh luar biasa!

Dalam sekali gebrak saja, sudah sepuluh orang prajurit yang tewas dengan dada dan leher terkoyak lebar. Sementara Danupaksi tidak sempat lagi memperhatikan para prajuritnya. Karena, pemuda itu sendiri sibuk menghadang serangan-serangan yang dilancarkan orang berjubah putih panjang dan longgar itu. Sementara jeritan-jeritan melengking tinggi, semakin sering terdengar menyayat.

"Keparat..!" geram Danupaksi ketika sempat melirik ke arah para prajuritnya.

Bagaimana tidak geram? Karena dalam waktu sebentar saja, sudah lebih dari separuh prajuritnya bergelimpangan tak bernyawa. Darah menggenang membanjiri tanah berumput kering di hutan ini. Lima orang berpakaian putih aneh itu, sangat cepat gerakannya. Sehingga para prajurit tidak sempat lagi berbuat banyak.

Sesaat Danupaksi lengah. Maka kelengahan ini membuat dirinya celaka. Pemuda berbaju putih ketat itu tidak menyadari ketika lawannya mendaratkan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi ke dada. Tubuh Danupaksi terhuyung-huyung ke belakang seraya mendekap dada yang mendadak sesak dan nyeri sekali. Tulang-tulang dadanya seakan-akan patah terkena pukulan bertenaga dalam tinggi tadi. Selagi Danupaksi terjajar, orang berpakaian aneh itu, sudah melompat cepat bagai kilat menerjang pemuda itu.

"Cukup...!" tiba-tiba saja terdengar bentakan keras.

Seketika orang-orang berbaju putih itu langsung menghentikan serangannya. Mereka langsung melompat mundur, berdiri berjajar dengan kepala agak tertunduk seperti sengaja menyembunyikan wajahnya. Danupaksi yang dadanya masih terasa nyeri dan sesak, mencoba memperhatikan raut wajah seorang laki-laki muda berpakaian warna putih ketat. Pemuda yang baru muncul itu berdiri tegak di atas sebongkah batu yang cukup besar. Danupaksi agak bergidik juga melihat wajah yang sebenarnya tampan, namun dirusak oleh luka memanjang yang membelah pipi kanannya.

"Danupaksi! Jika kau mencari Cempaka, aku akan membebaskannya setelah dia menjalani hukuman kelancangannya memasuki wilayahku tanpa ijin. Tapi jika hendak mencari Rangga, maka yang kau dapatkan hanya kematian...!" lantang dan tegas sekali kata-kata pemuda itu.

Danupaksi ingin berkata, tapi dadanya terasa. Seakan-akan kata-katanya berubah menjadi desahan. Namun, pandangan matanya begitu tajam menusuk ke bola mata pemuda berbaju putih dengan luka codet yang membelah pipi kanannya. Dan belum sempat Danupaksi bersuara, pemuda itu langsung melesat, lenyap bagai tertelan bumi. Pada saat yang sama, enam orang berpakaian aneh berwarna putih itu juga menghilang tak tahu ke mana. Begitu cepatnya bergerak, sehingga tak ada seorang pun yang bisa mengetahui kepergian mereka.

"Uh...!" Danupaksi mendengus, menghembuskan napas panjang. Sakit di dadanya begitu mengganggu sekali. Paling tidak dibutuhkan waktu satu hari penuh untuk bersemadi agar kesehatannya pulih. Pemuda itu memandangi para prajuritnya yang tinggal tujuh orang. Sementara seorang panglimanya tewas. Tanpa berkata apa-apa lagi, Danupaksi mengayunkan kakinya meninggalkan tempat itu.

Sisa prajurit itu bergerak lesu mengikuti Danupaksi. Begitu banyak yang tewas, dan Danupaksi tidak ingin mengambil risiko terlalu tinggi. Paling tidak, dia sudah mengetahui kalau Rangga dan Cempaka kini menjadi tawanan seorang pemuda bermuka codet yang tidak diketahuinya.

"Aku harus mencari cara untuk bisa membebaskan mereka," tekad Danupaksi dalam hati.

********************

EMPAT

Cempaka menggeliatkan tubuhnya sambil merintih lirih. Perlahan-lahan kelopak matanya terbuka, lalu dikerjapkan sebentar. Dan kini matanya kembali terbuka lebar. Gadis itu mengedarkan pandangannya berkeliling. Baru disadari kalau dirinya berada di suatu ruangan sempit yang seluruh dindingnya dari batu hitam yang berlumut tebal.

"Oh...," Cempaka kembali merintih lirih ketika sadar kalau kedua tangan dan kakinya terikat rantai kuat-kuat.

Gadis itu hanya bisa terbaring menelentang, karena lehernya juga terikat rantai yang menyatu dengan pembaringan batu yang ditidurinya. Cempaka hanya bisa menggerak-gerakkan kepala saja. Itu pun tidak terlalu bebas. Belenggu yang menjerat leher, membuat kebebasannya jadi sangat terbatas.

Cempaka berusaha mengingat-ingat peristiwa yang dialaminya. Yang diingat, dirinya diseret oleh orang ber-pakaian aneh. Kepalanya sempat terantuk batu, selanjutnya dia tidak sadarkan diri.

"Mungkin inilah sarang manusia-manusia aneh itu...," gumam Cempaka dalam hati. "Tapi..., apakah Kakang Rangga juga ada di sini...?"

Cempaka belum bisa menjawab pertanyaannya sendiri ketika terdengar suara berderit. Gadis itu sedikit memalingkan mukanya. Dari sudut ekor mata, dia bisa melihat pintu ruangan sempit ini terbuka perlahan-lahan.

Dari balik pintu besi baja hitam itu, muncul sosok berpakaian putih yang bentuknya aneh. Orang itu berjalan perlahan menghampiri Cempaka yang terbaring dengan tangan, kaki, dan leher terbelenggu rantai. Orang ber-pakaian serba putih panjang dan longgar itu berdiri tepat di samping Cempaka. Tidak mudah untuk mengenali, karena kerudung berbentuk kerucut yang dikenakan menutupi hampir seluruh kepalanya.

"Seharusnya kau tidak perlu datang ke sini, Cempaka," ujar orang itu.

Meskipun Cempaka sudah berusaha melihat, tetap saja tidak bisa dikenalinya wajah yang berada di balik kerudung berbentuk aneh itu.

"Siapa kau?" tanya Cempaka dengan suara yang agak tajam.

"Sayang sekali, saat ini aku tidak bisa menunjukkan jati diriku padamu, Cempaka," sahut orang itu. "Tapi aku sangat menyesalkan atas tindakanmu yang gegabah."

Cempaka diam saja. Matanya disipitkan berusaha untuk bisa melihat jelas wajah orang berkerudung putih itu, tapi hanya kegelapan saja yang tampak. Sepertinya wajah orang ini terselubung kain hitam di balik kerudung putihnya.

"Kau akan kulepaskan jika bersedia berjanji untuk tidak kembali lagi ke sini. Terlebih lagi mencari Rangga," ada sedikit tekanan pada suaranya ketika menyebut nama Rangga.

"Di mana Kakang Rangga?!" tanya Cempaka, agak keras suaranya.

"Aku tidak bisa menjelaskannya padamu, Cempaka. Yang perlu kau ketahui tidak lama lagi Rangga akan mati!"

"Tidak mungkin...!" desis Cempaka menggeram. "Tidak mungkin kau dan teman-temanmu bisa menghadapinya!"

"Bicaralah sepuasmu, Cempaka. Nanti kau akan melihat mayatnya saja."

"Biadab...! Lepaskan aku! Biar kubunuh kau...!" teriak Cempaka berang.

Orang berpakaian aneh itu hanya diam saja. Beberapa saat dia hanya berdiri mematung, kemudian tubuhnya berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

"Lepaskan aku...! Kubunuh kau...!" teriak Cempaka berapi-api. Cempaka benar-benar berang setelah mendengar kalau orang-orang aneh itu akan melenyapkan Rangga selama-selamanya.

"Aku harus keluar dari tempat ini. Mereka tidak boleh membunuh Kakang Rangga...!" desis Cempaka.

Tapi begitu menyadari dirinya terbelenggu, gadis itu mendesah panjang dan berat. Tidak mungkin Cempaka bisa melepaskan diri dari belenggu ini. Rantai yang membelenggu tangan, kaki, dan lehernya begitu kuat. Namun Cempaka berusaha melepaskan belenggu itu dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.

"Uh...!" Cempaka mendengus kencang. Meskipun seluruh kekuatan tenaga dalamnya sudah dikerahkan, tapi rantai yang membelenggunya tetap sulit diputuskan. Bahkan pergelangan tangannya kini terasa sakit sekali. Kini Cempaka menghentikan usahanya. Keringat sudah membanjiri sekujur tubuhnya yang terbelenggu.

********************

Entah sudah berapa lama Cempaka berada dalam ruangan batu yang sempit ini. Yang pasti, tubuhnya terasa semakin lemas. Sedikit pun tak ada makanan atau air masuk ke mulutnya. Dia juga tidak tahu apakah hari sudah berganti atau belum. Ruangan batu ini tidak ada lubang sedikit pun, sehingga terasa pengap. Hanya sebuah pelita kecil yang menerangi ruangan ini. Sama sekali tak ada cahaya matahari masuk ke dalam ruangan ini.

Krieeet!

Cempaka memalingkan kepalanya sedikit ketika pintu yang terbuat dari besi baja hitam itu terbuka. Sebentar kemudian muncul seorang laki-laki muda mengenakan baju ketat warna putih, diiringi enam orang berpakaian aneh yang berwarna putih juga. Mereka menghampiri, lalu berdiri mengelilingi altar batu yang di atasnya terbaring tak berdaya tubuh ramping berbaju merah muda yang berhiaskan sulaman benang emas pada bagian bahunya.

Trek!

Laki-laki muda yang pipi kanannya terdapat luka membentuk garis memanjang itu, menjentikkan ujung jarinya. Dua orang berpakaian aneh berwarna putih, seketika bergerak mendekati Cempaka. Kemudian mereka membuka belenggu yang mengikat tangan, kaki serta leher gadis itu. Dan sebelum Cempaka merasakan kebebasan, mendadak salah seorang menggerakkan jari tangannya beberapa kali. Seketika itu Cempaka merasakan tubuhnya semakin lemas, kemudian tidak sadarkan diri lagi.

"Bawa gadis ini ke dalam hutan, dan tinggalkan di sana," perintah pemuda yang mukanya terdapat luka codet di pipi kanan itu.

Tak ada yang bersuara sedikit pun. Dua orang segera menggotong tubuh Cempaka dan membawanya keluar. Dua orang lagi mengikuti dari belakang. Sedangkan sisanya masih berada di ruangan itu bersama pemuda yang mengenakan baju putih ketat. Mereka kemudian meninggalkan ruangan itu setelah empat orang yang membawa Cempaka sudah tidak terlihat lagi. Pintu baja hitam kembali tertutup rapat, saat ruangan batu itu kosong.

********************

Siang itu udara begitu panas. Matahari bersinar terik, tanpa awan yang menghalangi. Cempaka merintih lirih ketika terasa adanya sesuatu yang dingin melekat di keningnya. Perlahan-lahan kelopak mata gadis itu terbuka. Ketika matanya melihat seraut wajah yang tidak dikenalnya sama sekali, dia langsung menggerinjang bangkit duduk.

"Siapa kau? Mengapa aku ada di sini...?" tanya Cempaka seraya memandangi pemuda berbaju biru tua yang duduk tidak jauh di depannya.

"Namaku Palaka. Dirimu kudapatkan tengah tak sadarkan diri di hutan ini," jelas pemuda berbaju biru tua itu. Suaranya lembut, diiringi senyuman.

"Ohhh...," Cempaka mendesah panjang seraya memegangi keningnya yang terasa agak pening.

Gadis itu mencoba kembali mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya. Ya...! Kini dia ingat kalau sebelumnya berada di suatu tempat yang pengap dan sempit. Kemudian, Cempaka tidak tahu lagi kelanjutannya, karena langsung tidak sadarkan diri ketika belenggunya dibuka setelah mendapat beberapa totokan pada dadanya. Kini dia berada di dalam hutan bersama seorang pemuda yang tidak dikenal sama sekali. Cempaka memandangi pemuda berbaju biru yang mengaku bemama Palaka itu.

"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Cempaka. Kali ini suaranya tidak lagi ketus.

"Lumayan juga. Semalaman kau tidak sadar. Dan baru tengah hari begini kau sadar," jawab Palaka.

"Ohhh...," lagi-lagi Cempaka mengeluh lirih. Gadis itu merasakan perutnya melilit, minta diisi. Tubuhnya menggeliat sambil meringis, menahan rasa perih yang mendadak saja menyerang, setelah mengetahui kalau semalaman tidak sadarkan diri.

"Kenapa? Sakit..?" tanya Palaka melihat gadis itu meringis sambil menggeliatkan tubuhnya.

"Tidak...," sahut Cempaka seraya meringis sambil menekan perutnya.

"Lalu...?"

"Lapar," sahut Cempaka yang sudah tidak dapat bertahan lagi.

"Ha... ha... ha...!" Palaka tertawa terbahak-bahak.

Sedangkan Cempaka memberengut saja, tapi akhirnya tertawa juga. Palaka mengambil buntalan kain lusuh yang berada di belakang tubuhnya, kemudian menyodorkannya pada Cempaka. Tentu saja gadis itu jadi keheranan. Dipandanginya Palaka dalam-dalam.

"Ada bekal di situ. Makan saja," jelas Palaka.

Cempaka mengambil buntalan kain itu, kemudian membuka ikatannya. Kembali dipandanginya Palaka yang tersenyum-senyum saja. Ada beberapa bungkusan daun waru di dalam buntalan kain ini. Palaka mengulurkan tangannya, kemudian mengambil satu bungkus. Cempaka jadi bengong, karena Palaka langsung membuka bungkusan daun waru itu. Ternyata, di dalamnya berisi nasi dan lauk. Melihat Palaka begitu nikmat makannya, Cempaka meng-ambil sebungkus. Kini mereka mulai menikmati makanan itu.

"Kenapa banyak sekali bungkusannya?" tanya Cempaka melihat ada lima bungkus bekal yang dibawa Palaka.

"Semalaman kau tidak sadarkan diri Apalagi aku tidak tahu, sudah berapa hari kau berada di sini. Pasti perutmu lapar sekali," sahut Palaka seenaknya.

Cempaka tersenyum-senyum saja. Meskipun sehari-harinya tinggal di dalam lingkungan istana, tapi makan di atas daun dan duduk di tanah berumput begitu terasa nikmat sekali. Terlebih lagi, perutnya memang kosong. Tidak terasa Cempaka sudah menghabiskan dua bungkus nasi itu.

"Ambil saja lagi kalau kurang," kata Palaka menawarkan.

"Sudah cukup. Terima kasih makannya," sahut Cempaka.

"Kalau kau suka arak, minum saja. Guci itu masih penuh."

Lagi-lagi Cempaka tersenyum. Dalam hatinya mengatakan kalau pemuda itu itu baik dan juga ramah sekali. Tanpa malu-malu lagi, diambilnya guci arak itu dan lalu dibuka tutupnya. Sedikit arak itu ditenggak, kemudian disodorkan pada Palaka. Pemuda berbaju biru tua itu menerima dan langsung menenggaknya. Cempaka mem-perhatikan jakun pemuda itu yang turun naik pada saat tenggorokannya dilewati cairan mak manis itu.

"Kau berasal dari Desa Gadakan, ya?" tanya Cempaka.

"Bukan," sahut Palaka.

"Kupikir kau berasal dari sana. Habis, arak itu berasal dari sana, sih. Dan lagi, aku bisa membedakan arak dan tempat asalnya," jelas Cempaka.

"Aku memang beli dari sana. Tidak jauh dari sini," sahut Palaka lagi.

"Lalu, kau berasal dari mana?" tanya Cempaka ingin tahu.

"Dari Lembah Teratai," sahut Palaka lagi.

"Lembah Teratai...?!" Cempaka tersentak mendengar nama lembah itu.

"Benar, kenapa...? Tampaknya kau terkejut sekali mendengar lembah itu."

"Apakah kau berasal dari Padepokan Guruwatu?"

Palaka tidak langsung menjawab, tapi malah memandangi Cempaka dalam-dalam.

"Hampir semua orang di padepokan itu aku mengenalnya. Terutama Eyang Langsara," jelas Cempaka yang bisa membaca adanya kecurigaan pada sorot mata pemuda berbaju biru tua itu.

"Siapa kau sebenarnya, Nisanak?" tanya Palaka, agak dalam nada suaranya.

"Aku Cempaka, berasal dari Karang Setra. Kau pasti tahu Karang Setra kalau memang berasal dari Lembah Teratai," tegas Cempaka.

"Bagaimana kau bisa mengetahui tentang Padepokan Guruwatu?" tanya Palaka lagi.

"Ha... ha... ha.... Kau ini aneh, Palaka. Tentu saja aku mengetahui tentang padepokan itu, karena Kakang Rangga bersahabat baik dengan Paman Tirta dan Eyang Langsara."

"Rangga.... Kau juga tahu tentang Pendekar Rajawali Sakti itu...?!"

Kini gantian Cempaka yang terperanjat bengong melihat raut wajah Palaka yang teriongong dan mulut terbuka lebar. Untuk beberapa saat mereka tidak berbicara. Masing-masing diliputi berbagai macam ketidak-mengertian. Namun dari sorot mata mereka, terpancar sinar kecurigaan. Mereka sama-sama mengalami kejadian yang membuat mereka harus saling mencurigai.

"Cempaka, apa hubunganmu dengan Rangga?" tanya Palaka lagi.

"Dia kakakku," sahut Cempaka.

"Apa...?!"

********************

Bukan main terperanjatnya Palaka begitu mendengar pengakuan Cempaka yang tidak terduga sama sekali. Pemuda itu memang tidak mengetahui tentang keluarga Pendekar Rajawali Sakti. Dia hanya diminta Paman Tirta untuk pergi ke Karang Setra dan menemui Rangga di istana. Pemuda itu juga tidak tahu, siapa Rangga yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Yang diketahuinya, Pendekar Rajawali Sakti adalah sahabat baik guru-gurunya di Padepokan Guruwatu yang terletak di Lembah Teratai.

"Ada apa, Palaka? Mengapa begitu terkejut sekali?" tanya Cempaka.

"Bagaimana bisa kupercayai kalau kau adiknya Rangga?" Palaka malah balik bertanya.

Cempaka jadi mengerutkan keningnya. Gadis itu tidak mengerti atas sikap pemuda yang cukup tampan ini. Dipandanginya Palaka dalam-dalam dengan benak dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Gadis itu benar-benar tidak mengerti, kenapa akhir-akhir ini begitu banyak orang yang mempunyai hubungan dengan Pendekar Rajawali Sakti...? Bukan hanya hubungan baik saja, tapi juga hubungan yang berdasarkan balas dendam. Dan sekarang ini ada seorang pemuda yang tampaknya juga sedang mencari Pendekar Rajawali Sakti.

"Cempaka! Jika kau memang benar adik Rangga, pasti tahu di mana dia sekarang," tegas Palaka.

"Untuk apa kau bertanya demikian?"

"Aku harus bertemu dengannya. Ada sesuatu yang penting dan harus kusampaikan secepatnya," sahut Palaka.

"Belakangan ini memang banyak yang mencari Kakang Rangga. Apakah kau ingin membalas dendam?"

"Tidak. Justru aku jauh-jauh mencarinya ke sini karena ada hal penting yang menyangkut Padepokan Guruwatu."

"Sayang sekali, saat ini Kakang Rangga tidak jelas berada di mana...," desah Cempaka.

"Kau tidak tahu di mana dia...?" ada nada kekecewaan pada suara Palaka.

"Mungkin ada di Gunung Gadakan ini. Tapi aku tidak tahu pastinya," sahut Cempaka sendu.

Cempaka teringat ketika berada di dalam sebuah kamar batu yang sempit dan pengap. Sayangnya gadis itu tidak tahu di mana tempat itu terletak. Padahal dia yakin kalau Rangga ditawan di tempat itu.

"Palaka! Apakah kau benar-benar ingin bertemu Kakang Rangga?" tanya Cempaka tiba-tiba, setelah cukup lama saling berdiam diri.

Palaka hanya menganggukkan kepalanya saja.

"Kau membawa pesan dari Eyang Langsara?" tanya Cempaka lagi.

"Bukan, tapi dari Paman Tirta," sahut Palaka.

"Saat ini, sebenarnya aku juga sedang mencari Kakang Rangga. Tapi aku menemukan jalan buntu...."

Tanpa ragu-ragu lagi, Cempaka menceritakan kejadian yang sebenarnya, hingga berada di hutan ini. Gadis itu juga berterus terang kalau Pendekar Rajawali Sakti itu kemungkinan ditawan orang-orang berjubah putih dan berkerudung kain berbentuk kerucut.

Palaka mendengarkan penuh perhatian. Meskipun gadis itu sudah menyelesaikan ceritanya, Palaka masih diam saja dengan kening agak berkerut dalam. Memang, pemuda itu agak terkejut mendengar dugaan Cempaka kalau Pendekar Rajawali Sakti kini tertawan. Siapa saja yang mendengarnya, pasti tidak akan mempercayai hal ini. Terlebih lagi jika sudah mengenal jauh tentang diri Pendekar Rajawali Sakti. Apakah mungkin seorang pendekar digdaya yang tingkat kepandaiannya sukar dicari tandingannya itu bisa tertawan...? Ataukah ini hanya gurauan saja? Memang sukar dipercayai. Dan ini membuat Palaka tertarik untuk membuktikannya.

"Di mana kau pertama kali bertemu mereka?" tanya Palaka setelah cukup lama juga berdiam diri.

"Kau akan ke sana...?"

"Akan kubuktikan apakah ceritamu itu benar atau tidak"

"Aku juga tidak percaya." "Kalau begitu, kita buktikan sama-sama."

"Baik! Ayo kita berangkat sekarang."

********************

LIMA

Di suatu tempat yang masih berada di daerah Gunung Gadakan, Rangga berdiri terkulai dengan tangan serta kaki terentang terikat rantai. Bahkan seluruh tubuhnya terlilit rantai baja hitam yang menyatu dengan dinding batu di belakangnya. Sebuah ruangan batu yang tidak seberapa besar menjadi sebuah kurungan buat Pendekar Rajawali Sakti.

Meskipun matanya terbuka, tapi kepala pemuda berbaju rompi putih itu terkulai lemas bagai tak memiliki tenaga. Perlahan-lahan kepalanya diangkat. Terdengar suara rintihan lirih, nyaris tidak terdengar. Pendekar Rajawali Sakti mengedarkan pandangannya berkeliling, kemudian memandangi tubuhnya sendiri.

"Uh...!" Pendekar Rajawali Sakti berusaha melepaskan belenggu pada seluruh tubuhnya, tapi rantai baja hitam itu sungguh kuat dan keras. Beberapa kali kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan, tapi selalu gagal.

Rangga menghentikan usahanya ketika mendengar suara derit pintu. Buru-buru kepalanya dirundukkan hingga terkulai, dan digunakannya pernapasan perut Maka kini seluruh otot-ototnya jadi lemas bagai dalam keadaan pingsan.

Rangga tetap diam dengan kepala terkulai. Telinganya mendengar suara langkah kaki yang mendekati, dan berhenti tepat di depannya. Dengan sudut ekor mata yang setengah terpejam, Pendekar Rajawali Sakti bisa mengetahui siapa yang datang. Tapi dia tertegun begitu mendengar kembali langkah kaki dari enam orang terdengar memasuki ruangan ini. Dan suara itu berhenti tidak jauh di depannya.

"Dia masih belum sadar juga," terdengar suara setengah bergumam.

Rangga sempat terkejut ketika mengenali suara itu. Jelas, itu suara seorang laki-laki muda yang di pipi kanan-nya terdapat luka codet memanjang. Ya, laki-laki itu pasti Sangaji. Pemuda itu memang pernah dipecundangi Pendekar Rajawali Sakti beberapa purnama yang lalu.

"Pandan, apakah kau mengenal pemuda itu?" tanya Sangaji.

Hampir saja Rangga mengangkat kepalanya ketika nama Pandan Wangi disebut. Betapa tidak? Sebab, mengapa kini Pandan Wangi bersekongkol dengan Sangaji. Itukah cara Pandan Wangi membalas dendam pada dirinya, karena cemburu melihat Rangga akrab dengan seorang wanita yang belum dikenalnya? Apakah Pandan Wangi terpedaya oleh Sangaji? Atau memang sengaja ingin melenyapkan Pendekar Rajawali Sakti? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Rangga. Tapi, belum juga terjawab, tiba-tiba....

"Dia.... Oh, tidak...! Kalian... kalian tidak boleh membunuh Kakang Rangga!" Pandan Wangi jadi histeris.

Gadis itu melangkah mundur beberapa tindak. Dipandanginya wajah-wajah yang berada di sekitarnya. Seketika itu juga raut wajahnya berubah menegang. Pandan Wangi menyadari kekeliruannya selama ini. Dia merasa terpedaya oleh Sangaji dan Eyang Bangkal. Gadis itu dirayu untuk mengikuti segala rencana mereka, yang menyebutkan tujuannya akan menangkap seorang tokoh sesat. Sehingga dia mau saja melakukan perintah dari pemuda yang pipinya codet itu. Kini setelah mengetahui 'tokoh sesat' itu adalah Rangga, gadis itu marah sekali. Dia merasa ditipu mentah-mentah. Sorot matanya begitu tajam menusuk langsung ke wajah-wajah yang berada di dalam ruangan berdinding batu ini. Salah satu di antaranya adalah Eyang Bangkal.

"Kubunuh kalian semua. Hiyaaat...!" teriak Pandan Wangi keras melengking tinggi.

"Pandan...!" sentak Sangaji terperanjat. Tapi si Kipas Maut itu sudah melompat menyerangnya sambil melontarkan dua pukulan beruntun disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Uts...!" Sangaji langsung mundur satu tindak. Kemudian secepat kilat tubuhnya dimiringkan ke kiri dan ke kanan, menghindari serangan yang dilancarkan Pandan Wangi. Begitu cepatnya Pandan Wangi menyerang, sehingga membuat orang-orang yang berada di ruangan ini terpana. Dan sebelum ada yang menyadari apa yang terjadi, Pandan Wangi sudah memutar cepat tubuhnya. Sungguh luar biasa kecepatannya. Seketika pedangnya sudah tercabut, dan langsung dikibaskan ke arah lima orang yang masih terpana dengan kejadian yang cepat ini.

"Awas...!" teriak Sangaji memperingatkan. Kelima orang yang memiliki kepandaian tinggi itu buru-buru berlompatan mundur, menghindari tebasan pedang Pandan Wangi yang begitu cepat luar biasa. Namun malang bagi dua orang berpakaian putih yang berada di belakang agak ke samping dari Eyang Bangkal. Mereka tidak sempat lagi menghindar, sehingga pedang si Kipas Maut itu langsung menyambar dadanya.

Jeritan panjang melengking saling susul terdengar, bersama ambruknya dua orang berbaju putih itu. Darah langsung menyemburat keluar dari dada yang sobek terbabat pedang berwarna merah itu. Pandan Wangi yang dalam keadaan mengamuk masih sempat melihat isyarat dari kerdipan mata Rangga yang menyuruhnya kabur. Tentu saja gadis itu terkejut bukan main, karena tidak menyangka kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak pingsan seperti yang diduga semua orang.

Agak lama juga dipikirkannya arti dari kerdipan mata Pendekar Rajawali Sakti, namun karena sering berjalan bersama-sama, Pandan Wangi segera mengerti arti kerdipan mata Rangga yang menyuruhnya keluar dari tempat itu.

"Hiyaaat..!" Sambil berteriak nyaring, Pandan Wangi melentingkan tubuhnya. Maka seketika itu juga diterobosnya pintu keluar sambil membabatkan pedangnya beberapa kali. Kembali terdengar jeritan melengking tinggi, lalu terlihat lagi tiga orang berpakaian serba putih menggelepar di tanah. Dada dan leher mereka tertebas pedang si Kipas Maut.

"Pandan...!" panggil Sangaji berteriak lantang. Tapi Pandan Wangi sudah lenyap keluar dari ruangan berdinding batu ini.

Sementara Eyang Bangkal hanya bisa melongo melihat lima orang anak buahnya tewas hanya dalam beberapa gebrakan saja.

"Kejar gadis itu! Bunuh bila melawan...!" seru Sangaji berang.

Empat orang langsung bergerak cepat keluar. Sedangkan Eyang Bangkal masih berdiri terpaku merayapi lima mayat anak buahnya yang tewas terbabat pedang Pandan Wangi. Saat itu Sangaji bersungut-sungut memaki-maki. Kemudian dipandanginya Rangga yang masih terkulai. Keningnya langsung berkerut melihat wajah yang tertunduk lemas itu memucat bagai tak teraliri darah.

Bergegas pemuda berbaju putih ketat, dengan luka codet membelah pipinya itu menghampiri. Langsung dipegangnya pergelangan tangan Pendekar Rajawali Sakti itu. Hampir saja Sangaji terlonjak mundur begitu merasakan pergelangan tangan Rangga begitu dingin. Segera jari-jari tangannya ditempelkan di leher dan sekitar dada pemuda berbaju rompi putih itu. Dan kali ini dia benar-benar terlonjak mundur beberapa tindak.

"Mustahil...!" desis Sangaji. Sangaji memandangi Rangga yang terkulai dengan seluruh tubuh terbelenggu rantai baja hitam terikat ke dinding. Kepalanya bergerak menggeleng-geleng beberapa kali. Pandangan matanya memancarkan ketidakpercayaan. Tapi, buktinya Pendekar Rajawali Sakti sepertinya memang sudah tewas.

"Ada apa, Sangaji...?" tanya Eyang Bangkal yang masih berada di ruangan ini.

"Mustahil...! Tidak mungkin aku salah meramu obat!" desis Sangaji dengan nada suara sumbang.

Eyang Bangkal melangkah mendekati Rangga, kemudian memegang leher pemuda berbaju rompi putih itu. Eyang Bangkal melepaskan tangannya, maka kepala Rangga kembali terkulai lemas. Laki-laki tua bertubuh kurus agak bungkuk yang mengenakan jubah kuning itu memandangi wajah Sangaji yang tampak kebingungan.

"Aku tidak akan membunuhnya, sebelum dia kusiksa. Aku tidak menginginkan cara kematian yang begitu mudah untuknya!" geram Sangaji. Kepalanya menggeleng-geleng beberapa kali.

"Tapi dia sudah mati, Sangaji," tegas Eyang Bangkal pelan.

"Setan! Hiyaaat...!"

Sangaji melampiaskan kekesalan dengan menghantamkan pukulan ke dinding di sampingnya. Demikian dahsyat pukulan pemuda bermuka codet itu, sehingga....

Blarrr! Dinding batu yang tebal hitam berlumut itu hancur terkena pukulan bertenaga dalam tinggi. Suara ledakan terdengar memekakkan telinga. Debu mengepul menambah sesaknya udara di ruangan yang memang sudah pengap ini. Dinding batu itu berlubang cukup besar.

"Buang dia ke hutan!" dengus Sangaji berang.

Pemuda berbaju putih ketat yang pipi kanannya terdapat luka codet itu, langsung melangkah keluar sambil menghentakkan kaki saat melangkah. Sedangkan Eyang Bangkal masih tertegun sejenak. Walaupun dirinya ter-masuk tokoh tua yang berilmu tinggi, tapi masih juga terkagum-kagum melihat kekuatan pukulan Sangaji tadi. Dinding batu yang begitu tebal dan kuat itu, langsung hancur berkeping-keping hanya sekali pukul saja.

"Lepaskan dia," perintah Eyang Bangkal pada anak buahnya.

Tanpa banyak bicara, empat orang berpakaian serbah putih, langsung bergerak maju. Mereka melepaskan rantai yang membelenggu seluruh tubuh Rangga, kemudian menggotongnya. Eyang Bangkal berjalan paling depan, diikuti empat orang berpakaian serba putih yang meng-gotong tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Masih ada sekitar lima belas orang lagi mengikuti dari belakang. Mereka semua mengenakan pakaian serba putih dengan golok terselip di pinggang.

Mereka langsung keluar menyusuri lorong yang tidak begitu panjang. Ketika tiba di luar, hutan lebat langsung menghadang. Eyang Bangkal berjalan paling depan diikuti anak buahnya menembus kelebatan hutan. Empat orang masih menggotong tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang kelihatan pucat dan terkulai.

"Ayo, cepat..!" Eyang Bangkal memerintah anak buahnya untuk bergerak lebih cepat.

Mereka bergerak cepat menerobos hutan, hingga akhirnya sampai di tepi sebuah sungai. Di sinilah beberapa hari yang lalu mereka menjebak Rangga dengan menaburkan ramuan yang membuat orang tidak sadarkan diri, hanya dengan menyentuh air sungai itu saja. Bahkan jika tidak memiliki daya tahan tubuh yang kuat, bisa langsung tewas seketika. Apalagi bila meminumnya. Tapi air sungai ini bisa normal apabila ditaburkan obat penangkalnya yang berbentuk bulatan sebesar kepalan tangan bayi berwarna keperakan.

"Ceburkan dia ke sungai, biar disantap buaya liar," perintah Eyang Bangkal.

Empat orang yang menggotong Pendekar Rajawali Sakti itu, segera mendekati sungai. Tubuh Rangga diayun-ayunkan, lalu dilemparkan dengan kekuatan penuh. Tubuh pemuda berbaju rompi putih itu melayang ke tengah sungai. Namun sebelum tubuhnya menyentuh air, men-dadak saja kembali terangkat naik dan melayang ke tepi.

"Heh...?!" Eyang Bangkal terbeliak kaget. Demikian pula orang-orang berpakaian serba putih yang berjumlah hampir dua puluh orang itu. Mereka seketika terpaku dengan mata membeliak lebar tidak berkedip.

Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu terus melayang perlahan-lahan menuju ke tepi, kemudian mendarat di tepian sungai. Perlahan Rangga membuka mata, lalu menyunggingkan senyuman tipis. Wajahnya tidak lagi memucat. Dan tubuhnya juga tidak membiru. Pendekar Rajawali Sakti langsung mengayunkan kakinya ke depan beberapa langkah, kemudian berhenti setelah jaraknya dengan Eyang Bangkal tinggal dua batang tombak lagi.

"Heh...?! Bagaimana mungkin kau bisa hidup lagi...?!" agak bergetar suara Eyang Bangkal.

"Bukannya hidup lagi, Eyang Bangkal. Tapi aku memang belum mati," jawab Rangga kalem. Bibirnya tetap menyunggingkan senyuman tipis.

"Tidak...! Mustahil jika belum mati!"

"Seharusnya kau mengetahui apa yang kulakukan, Eyang Bangkal. Dengan menghentikan aliran darah dan menyumbatnya dengan hawa murni, ditambah pengaturan pernapasan melalui perut, maka orang akan seperti mati. Kau pun bisa melakukannya. Tapi sayang, kau dan Sangaji tidak bisa berpikir jernih. Bahkan malah cepat panik dan tidak tenang menghadapi persoalan," Ranga menjelaskan.

"Setan...! Kau menipuku!" geram Eyang Bangkal baru menyadari.

Memang apa yang dikatakan Rangga barusan benar adanya. Setiap orang yang berkecimpung dalam rimba persilatan pasti bisa melakukannya. Terlebih lagi jika sudah menguasai pengerahan hawa murni secara sempurna. Tak akan sulit mengelabui orang hingga tampak seperti sudah mati.

"Aku tidak menipu, Eyang Bangkal!" tegas Rangga sambil bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.

Bukan main geramnya Eyang Bangkal karena merasa dirinya terpedaya. Sebagai tokoh rimba persilatan, lebih baik kalah dalam pertarungan daripada terpedaya oleh akal cerdik seperti ini. Sesuatu yang sangat memalukan. Terlebih lagi yang memperdaya adalah seorang tokoh rimba persilatan yang tergolong muda dibandingkan dengan dirinya yang sudah banyak pengalaman.

"Kau harus mampus, Bocah Setan! Hiyaaat..!"

"Hap...!"

********************

ENAM

Kemarahan Eyang Bangkal benar-benar meluap kali ini. Dengan satu lesatan cepat, diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti. Namun serangan-serangan yang dilancarkan laki-laki tua setengah bungkuk itu, mampu diredam Rangga.

Sekarang, beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti itu memberi serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Setiap kali Rangga balas menyerang, Eyang Bangkal tampak kewalahan menghindarinya. Beberapa kali serangan balik yang dilancarkan Rangga nyaris mengenai sasaran. Namun rupanya laki-laki tua berjubah kuning gading itu masih mampu menghindari. Malah kecepatan-nya sungguh luar biasa.

"Hup...!"

Eyang Bangkal melompat ke belakang, tepat ketika Rangga memberi satu pukulan keras ke arah dada. Laki-laki tua berjubah kuning gading itu berputar beberapa kali di udara, kemudian dengan manis mendarat dekat anak buahnya. Eyang Bangkal merebut tongkat yang dipegang salah seorang anak buahnya. Tongkat yang berkeluk tidak beraturan itu langsung diputar-putar, membelah-belah udara kosong.

Wuk! Wuk! Wuk...!

Suara putaran tongkat itu demikian dahsyat, menimbulkan hembusan angin yang cukup kencang. Daun-daun pohon di sekitar Eyang Bangkal berguguran terkena hembusan anginnya. Saat itu juga, Rangga menggerakkan kedua tangannya di depan dada.

"Hiyaaa...!" Eyang Bangkal berteriak nyaring.

"Yeaaah...!" pada saat yang sama, Rangga juga memekik keras.

Kedua tokoh persilatan itu sama-sama melompat menyerang. Cepat sekali Eyang Bangkal mengebutkan tongkat ke arah dada Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan tenang Rangga berhasil menghindari tebasan tongkat itu. Dan tanpa diduga sama sekali, tangannya menghentak ke depan.

Bet!

"Ufs...!" Eyang Bangkal buru-buru melentingkan tubuhnya, lalu beberapa kali berputaran di udara. Namun pada saat yang sama, Rangga juga melentingkan tubuhnya seraya mem-beri satu tebasan tangan kanan lewat pengerahan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'.

Eyang Bangkal terkejut setengah mati. Tak ada kesempatan lagi untuk berkelit. Buru-buru diangkat tongkatnya, guna menangkis tebasan tangan Pendekar Rajawali Sakti itu.

Trak!

Kedua orang itu berpentalan ke belakang begitu tangan dan tongkat beradu keras. Beberapa kali mereka berjumpalitan di udara sebelum mendarat di tanah.

"Heh...?!"

Eyang Bangkal terkejut setengah mati begitu melihat tongkatnya tinggal sepotong. Sedangkan potongan lainnya berada di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Dan sebelum lenyap rasa terkejutnya, tiba-tiba Rangga melemparkan potongan tongkat itu disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

Wus!

Potongan tongkat itu meluncur deras ke arah Eyang Bangkal. Buru-buru laki-laki tua bungkuk itu memiringkan tubuhnya menghindari potongan tongkatnya sendiri. Maka potongan tongkat itu terus meluncur, lewat di samping tubuh Eyang Bangkal.

"Aaa...!" Tiba-tiba saja terdengar jeritan panjang menyayat. Tampak salah seorang anak buah Eyang Bangkal ambruk di tanah. Dadanya tertembus potongan tongkat yang dilemparkan Pendekar Rajawali Sakti tadi.

"Edan...!" dengus Eyang Bangkal marah. Eyang Bangkal membuang potongan tongkatnya. Dipandanginya Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak dengan tenangnya.

"Serang! Bunuh dia...!" seru Eyang Bangkal lantang.

Seketika itu juga orang-orang berjubah putih, berlompatan menerjang Pendekar Rajawali Sakti sambil berteriak-teriak dan mengayun-ayunkan goloknya. Namun sebelum sampai, mendadak saja orang-orang berjubah putih itu menjerit melengking tinggi. Dan tahu-tahu mereka telah bergelimpangan sambil mengerang. Tampak pada tubuh, kepala, serta leher mereka, tertancap ranting-ranting kering. Tidak kurang dari enam orang yang menggelepar di tanah sambil merintih dan mengerang kesakitan. Sedangkan yang lainnya jadi terbeliak, menghentikan terjangannya pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Kakang...!" tiba-tiba terdengar seruan keras.

Rangga langsung berpaling ke arah datangnya suara itu. "Cempaka...."

Seorang gadis mengenakan baju merah muda, tampak berlari-lari menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Di belakangnya mengikuti seorang pemuda berbaju biru tua, dengan buntalan kain pada bahu kirinya. Gadis yang ternyata Cempaka itu, berhenti setelah dekat dengan Rangga.

"Jangan bengong, Kakang. Bajingan-bajingan itu harus dihabisi," Cempaka memperingatkan.

Dan belum juga Rangga sempat membuka suara, Cempaka sudah melompat menerjang orang-orang berjubah putih itu. Gerakannya cepat, dan tak terbendung lagi. Langsung saja dilepaskannya beberapa pukulan keras secara beruntun.

Seketika itu juga terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi. Sementara itu Rangga belum berbuat apa-apa. Sebentar dipandanginya Cempaka yang tengah mengamuk menghajar orang-orang berpakaian serba putih itu. Kemudian perhatiannya dialihkan pada Eyang Bangkal. Rupanya laki-laki tua berjubah kuning gading itu hendak kabur. Melihat gelagat kepengecutan Eyang Bangkal, secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti melompat.

"Hiyaaat..!"

Tahu-tahu Rangga sudah berdiri di depan Eyang Bangkal, sehingga laki-laki tua itu terkejut setengah mati. Namun belum hilang rasa terkejutnya, mendadak saja Rangga sudah memberi satu pukulan lurus disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai kesempurnaan ke arah dada. Serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti sangat cepat sehingga tak bisa dihindari lagi.

Deghk!

"Akh...!" Eyang Bangkal memekik keras. Pukulan Rangga tepat menghajar dadanya. Akibatnya laki-laki tua berjubah kuning gading itu terpental ke belakang sejauh lima tombak. Namun sebelum tubuhnya menghantam tanah, Pendekar Rajawali Sakti sudah kembali melompat cepat. Seketika dikerahkannya jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali

"Yeaaah...!" teriak Rangga menggelegar.

Des!

"Aaa...!" untuk kedua kalinya Eyang Bangkal menjerit keras melengking tinggi. Tubuh laki-laki tua berjubah kuning gading itu langsung menghantam tanah ketika pukulan Rangga telak menghajar dadanya kembali. Laki-laki tua itu kini mengerang dan menggeliat menahan sakit. Namun hanya sebentar saja mampu menggeliat, kemudian Eyang Bangkal langsung diam tak bernyawa lagi. Dadanya melesak masuk dan hancur. Tampak dari mulutnya mengalir darah segar.

"Hehhh...!" Rangga menghembuskan napas panjang. Pendekar Rajawali Sakti itu memalingkan kepalanya pada Cempaka. Dan rupanya pedang gadis itu baru saja membabat lawan terakhir hingga tewas seketika. Sambil menyarungkan pedangnya kembali, Cempaka bergegas menghampiri pemuda berbaju rompi putih itu. Dia berhenti setelah jaraknya hingga dua langkah lagi. Rangga sempat melirik pemuda yang datang bersama adik tirinya ini.

"Kau tidak apa-apa, Kakang...?" agak terengah suara Cempaka.

"Tidak," sahut Rangga.

"Tapi wajahmu kelihatan agak pucat."

Rangga hanya tersenyum saja. Ditepuknya bahu gadis itu, lembut sekali. Wajahnya memang masih terlihat sedikit memucat, karena aliran darahnya belum begitu sempurna. Masalahnya, cukup lama aliran darahnya tertahan. Mungkin kalau tidak segera dibawa ke luar, Pendekar Rajawali Sakti itu tidak akan bisa terselamatkan lagi. Apalagi hambatan pada jalan darahnya tidak segera dibuka.

"Apa yang kau lakukan di sini, Cempaka?" tanya Rangga seraya melirik pemuda yang berdiri agak jauh.

"Mencari Kakang," sahut Cempaka agak manja.

"Untuk apa mencariku? Aku bukan anak kecil lagi, Cempaka...."

"Aku tahu. Tapi, kau tiba-tiba saja menghilang, sementara Kuda Dewa Bayu pulang sendiri dan langsung meringkik-ringkik terus. Dialah yang membawaku ke sini," jelas Cempaka.

"Hm...." Pendekar Rajawali Sakti hanya bergumam kecil. Kembali Rangga melirik pemuda yang masih berdiri di tempatnya.

"Siapa dia?" tanya Rangga jadi ingin tahu.

"Oh, iya.... Aku sampai lupa," sentak Cempaka, langsung ingat dengan pemuda yang bersamanya ke tempat ini.

Cempaka melambaikan tangannya memanggil pemuda berbaju biru tua itu. Maka pemuda yang bernama Palaka itu berjalan menghampiri. Cempaka langsung memperkenalkan begitu Palaka sudah dekat Rangga menyalami pemuda itu diiringi senyuman penuh persahabatan.

"Kakang Palaka sengaja datang ke sini karena ingin bertemu denganmu, Kakang," kata Cempaka memberitahu.

"Oh.... Kau datang dari mana?" tanya Rangga.

"Lembah Teratai," sahut Palaka.

"Lembah Teratai...?!" Rangga mengerutkan keningnya. Pendekar Rajawali Sakti itu langsung teringat kepada sahabatnya yang tinggal di lembah itu. Di situ terdapat sebuah padepokan silat yang bernama Padepokan Guruwatu. Memang sudah lama Rangga tidak singgah ke lembah itu, terutama ke Padepokan Guruwatu.

"Kau murid Padepokan Guruwatu?" tanya Rangga ingin memastikan.

"Benar," sahut Palaka.

"Bagaimana keadaan Eyang...?" Rangga tidak meneruskan pertanyaannya saat melihat ada perubahan pada air muka Palaka.

Beberapa saat Rangga memperhatikan wajah Palaka yang kini tertunduk terselimut duka. Pendekar Rajawali Sakti jadi keheranan. Berbagai pikiran dan dugaan langsung memenuhi benaknya.

"Apa yang terjadi dengan Padepokan Guruwatu?" tanya Rangga langsung menduga.

"Eyang Guru tewas. Dan...," Palaka tidak melanjutkan.

"Ada apa, Palaka? Apa yang telah terjadi...?!" desak Rangga.

Sebentar Palaka terdiam sambil menarik napas dalam-dalam. Kemudian kepalanya terangkat seraya menghembuskan napas perlahan-lahan. Dipandanginya Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga kemudian membawa Palaka ke tempat yang lebih teduh dan nyaman. Sedangkan Cempaka hanya mengikuti saja tanpa membuka suara sedikit pun.

"Ceritakan, apa yang telah terjadi, Palaka...?" pinta Rangga.

Tanpa diminta dua kali, Palaka langsung menceritakan apa yang telah dijumpainya di sana. Juga, diserahkannya cincin yang diberikan Paman Tirta pada Pendekar Rajawali Sakti. Rangga menerima cincin itu dan menggenggamnya erat-erat. Kini baru dipercayainya cerita Palaka. Dia tahu kalau Paman Tirta tidak akan pernah melepaskan cincin ini kalau belum meninggal.

Dan sekarang cincin ini telah terlepas dari jari tangannya. Itu berarti, Paman Tirta memang telah meninggal. Hanya sayangnya, Palaka tidak mengetahui, siapa yang menghancurkan Padepokan Guruwatu itu. Karena pada saat kejadian itu, dia sedang ditugaskan untuk menumpas para perampok yang dipimpin Guritan. Pemuda berbaju biru tua itu juga menceritakan pertemuannya dengan seorang pemuda yang pipi kanannya dibelah oleh luka memanjang, pada saat dirinya sedang diserang oleh Guritan dan anak buahnya.

"Sangaji...," desis Rangga dalam hati. Dikenalinya betul pemuda yang disebutkan ciri-cirinya oleh Palaka. "Lalu berhasilkah kau menumpas gerombolan perampok itu?"

"Tidak. Mereka terlalu tangguh dan banyak jumlahnya. Malah aku hampir tewas kalau tidak ditolong pemuda berwajah codet itu."

"Kau ditolong olehnya?" tanya Rangga heran. "Hm... dia pasti sudah merencanakan semua ini dan sengaja menolong agar kau bisa melaporkannya padaku!"

Pendekar Rajawali Sakti langsung mengetahui, siapa yang menghancurkan padepokan milik sahabatnya. Memang bukan hanya Palaka yang melaporkan tentang kehancuran sebuah padepokan silat. Seingat Rangga sudah tiga kali, dan ini yang keempat dia mendapatkan laporan yang sama. Dan padepokan-padepokan yang hancur itu adalah milik sahabatnya. Rangga jadi geram. Ternyata Sangaji dan para begundalnya bukan saja mendendam, tapi juga menghancurkan sahabat-sahabat Pendekar Rajawali Sakti.

Dan ini tentu saja tidak bisa didiamkan begitu saja. Seluruh aliran darah di tubuh Pendekar Rajawali Sakti mendidih seketika. Terlebih lagi Sangaji ternyata telah berhasil mempengaruhi Pandan Wangi agar membenciya. Dan itu tidak pernah terjadi sebelumnya terhadap gadis itu. Tidak mungkin Pandan Wangi bisa marah hanya karena cemburu. Tapi sekarang Rangga tidak tahu, ke mana kekasihnya pergi dalam keadaan terguncang jiwanya. Yang dia tahu, Pandan Wangi telah menyadari kesalahannya. Terbukti dari tindakan gadis itu melawan para pengikut Sangaji di saat terbelenggu.

********************

Cempaka memandangi bangunan tua yang kelihatan begitu angker tak terurus. Pepohonan rambat hampir menutupi dinding-dindingnya. Sementara Rangga membuka pintu bangunan yang seluruhnya terbuat dari batu itu. Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam dengan hati-hati sekali.

Keadaan di dalam bangunan ini sangat kotor. Debu tebal bertebaran di lantai. Hampir seluruh dindingnya dipenuhi sarang laba-laba. Bahkan tidak jarang mereka menemukan bangkai binatang maupun kotorannya. Udara dalam sini memang begitu pengap, membuat dada terasa sesak. Mereka terus masuk lebih ke dalam lagi. Kemudian melewati sebuah lorong pendek yang di kanan kirinya terdapat pintu yang sudah hancur. Tapi ada beberapa pintu yang terbuat dari besi baja hitam, dan semuanya dalam keadaan tertutup. Rangga membuka setiap pintu yang tertutup itu.

Pendekar Rajawali Sakti berhenti di depan sebuah pintu kamar. Beberapa saat dia tertegun. Di kamar inilah dirinya dikurung oleh Sangaji dan para begundalnya. Tapi Cempaka justru memandangi kamar yang berada di sebelahnya. Gadis itu ingat, karena juga pernah dikurung di dalam kamar ini beberapa hari yang lalu.

"Kelihatannya mereka sudah tidak ada lagi di sini, Kakang," tegas Cempaka.

"Ya.... Mari kita keluar," ajak Rangga, agak mendesah suaranya.

Mereka kembali berjalan keluar dari bangunan tua itu. Cempaka langsung menari napas dalam-dalam begitu berada di luar bangunan yang pengap dan kotor itu. Sementara Palaka yang sejak tadi menunggu di luar, bergegas menghampiri.

"Ada yang kau lihat, Palaka?" tanya Rangga langsung begitu Palaka dekat.

"Aku menemukan jejak-jejak kaki kuda," jawab Palaka. "Dan kelihatannya menuju Selatan."

"Mereka ke Karang Setra, Kakang...," desis Cempaka, agak bergetar suaranya.

"Mereka harus dicegah sebelum sampai ke kota!" desis Rangga, terdengar dalam suaranya.

Pendekar Rajawali Sakti itu langsung saja melesat pergi tanpa berkata-kata lagi. Begitu sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, sehingga dalam sekejap mata, bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi.

"Kakang, tunggu...!" seru Cempaka.

Tapi teriakan gadis itu hanya terbawa angin saja. Rangga tidak kelihatan lagi bayangannya, lenyap ditelan lebatnya hutan ini. Cempaka mengarahkan pandangannya pada Palaka yang masih berada di sampingnya. Tapi, yang dipandangi hanya mengangkat bahu saja. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka langsung berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Karena hutan ini begini lebat, tentu saja kecepatan lari mereka terhambat. Bahkan beberapa kali harus menyibakkan pohon rambat yang begitu tebal dan rapat.

"Ikuti aku, Cempaka!" seru Palaka. Pemuda yang memakai baju biru itu langsung melesat ke atas. Dengan ringan kakinya hinggap di atas dahan pohon. Lalu tubuhnya kembali dilentingkan, dan hinggap lagi di dahan pohon lainnya.

"Hup...!" Cempaka langsung melompat mengikuti Palaka. Ringan juga gerakan gadis itu yang berkelebat dari satu cabang, ke cabang pohon lainnya. Dan gadis itu tidak mau kalah. Dia malah berlompatan di puncak pohon. Melihat itu, Palaka langsung mengikuti. Mereka bagaikan dua burung yang saling berkejaran di atas pohon. Gerakan mereka sungguh cepat dan ringan, sehingga yang terlihat hanya dua bayangan berkelebatan dari satu pohon ke pohon lain.

"Palaka, tunggu...!" teriak Cempaka tiba-tiba.

Palaka langsung berhenti dan berpaling. Pada saat itu, Cempaka melesat turun. Tanpa membuang waktu lagi, Palaka segera mengikuti. Cepat sekali gerakan pemuda itu. Tidak heran dalam sekejap sudah berada di samping Cempaka yang telah mendarat lebih dahulu. Palaka sempat tertegun begitu melihat gadis berbaju biru muda tengah bertarung sengit melawan lima orang.

"Itu Kak Pandan. Kita harus membantunya, Palaka," tegas Cempaka.

"Siapa dia?" tanya Palaka.

Tapi pertanyaan itu tidak terjawab, karena Cempaka sudah melompat cepat dan langsung terjun dalam kancah pertempuran. Pedang gadis itu segera dicabut, dan langsung dikibaskan ke salah seorang yang mengeroyok Pandan Wangi.

Ikutnya Cempaka dalam pertarungan ini, membuat empat orang yang mengeroyok Pandan Wangi jadi terpecah. Tentu saja hal ini membuat keuntungan bagi si Kipas Maut itu. Dengan padang di tangan kanan dan kipas baja putih yang menjadi ciri khasnya di tangan kiri, Pandan Wangi semakin meningkatkan tempo pertarungan begitu melihat kehadiran Cempaka yang langsung membantunya. Sementara itu, Palaka masih berdiri menyaksikan pertarungan. Dia tidak tahu, mengapa tiba-tiba saja Cempaka membantu gadis berbaju biru muda itu.

"Palaka..., cepat bantu aku...!" teriak Cempaka selagi bisa melirik ke arah Palaka.

"Baik...!" sahut Palaka keras. "Hiyaaat..!"

Palaka langsung melompat ke dalam kancah pertempuran. Hal ini semakin membuat empat orang itu jadi kalang kabut. Menghadapi Pandan Wangi sendirian saja, mereka sudah mendapatkan kesulitan. Apalagi dengan adanya bantuan dari dua orang yang memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi. Maka empat orang itu semakin kewalahan saja.

"Lari...!" Tiba-tiba salah seorang berteriak keras. Seketika itu juga, empat orang itu berhamburan melarikan diri. Namun Cempaka sempat mengibaskan pedangnya cepat ke arah salah seorang lawan dan tak bisa dihindari lagi. Ujung pedang Cempaka menghantam bahu kanan orang itu.

Cras!

"Aaa...!" orang yang memakai baju warna putih itu menjerit keras. Darah langsung mengucur dari luka di bahunya. Dan pada saat tubuh lawan limbung, Cempaka melompat sambil berteriak nyaring. Seketika pedangnya ditusukkan ke arah dada orang itu.

"Cempaka, jangan...!" seru Pandan Wangi.

Crab!

"Aaa...!" Peringatan Pandan Wangi terlambat datangnya. Atau mungkin Cempaka tidak menghiraukannya. Sehingga pedang gadis itu menembus dada orang berbaju putih itu hingga tembus ke punggung. Sambil melirik Pandan Wangi, Cempaka mencabut pedangnya dan langsung disarungkan kembali ke warangkanya di punggung.

"Tidak seharusnya kau membunuh setiap lawanmu, Cempaka," dengus Pandan Wangi mengomel.

"Maaf, Kak," sahut Cempaka menyadari kekeliruannya.

Pandan Wangi menghampiri adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu. Sedangkan Palaka masih saja berdiri tidak seberapa jauh di samping Cempaka.

"Siapa mereka tadi, Kak?" tanya Cempaka.

"Seharusnya aku yang tanya padamu. Untuk apa kau berkeliaran di tempat ini...?" Pandan Wangi malah balik bertanya.

"Aku mencari Kakang Rangga," sahut Cempaka. "Kak Pandan sendiri, kenapa berada di sini...?"

"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sini."

"Hm..., Kak Pandan lihat Kakang Rangga lewat sini?" tanya Cempaka lagi.

idak," sahut Pandan Wangi singkat.

"Padahal Kakang Rangga menuju Karang Setra mengejar seseorang. Dan pasti tadi lewat sini," kata Cempaka agak bergumam, seperti bicara pada dirinya sendiri.

Wajah Pandan Wangi sedikit berubah, namun cepat-cepat disembunyikannya. Ada perasaan bersalah di dalam hati gadis itu yang kelewat cemburu, sehingga hampir saja mencelakakan Pendekar Rajawali Sakti. Namun ada kegembiraan, karena ternyata Rangga berhasil mengelabui Sangaji dan lolos dari sana. Rasa bersalah, kegembiraan, dan juga keheranan bercampur menjadi satu di dalam hatinya.

"Ada apa, Kak...?" tegur Cempaka.

"Oh! Tidak ada apa-apa," buru-buru Pandan Wangi menyahuti. "Oh, iya. Ke arah mana Kakang Rangga pergi?"

"Selatan," sahut Cempaka. "Palaka menemukan jejak kaki kuda, dan Kakang Rangga langsung mengikuti."

"Jejak kaki kuda...?" Pandan Wangi mengernyitkan alisnya.

"Iya. Memangnya, kenapa...?"

"Tidak apa-apa. Ayo, Cempaka. Sebaiknya kita susul sebelum terlambat."

Tanpa membuang-buang waktu, mereka langsung berlari cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Pandan Wangi mengimbangi ilmu meringankan tubuh Cempaka yang masih satu tingkat di bawahnya. Dia berlari di samping gadis itu. Sementara Palaka mengikuti saja dari belakang.

"Siapa dia, Cempaka?" tanya Pandan Wangi setengah berbisik sambil terus berlari di sampingnya.

"Murid Padepokan Guruwatu yang hendak menemui Kakang Rangga," sahut Cempaka.

"Apa keperluannya murid Padepokan Guruwatu ke sini?" Pandan Wangi seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Kenapa tidak kau tanyakan saja padanya, Kak. Aku juga tidak begitu paham," sahut Cempaka.

"Nanti saja," desah Pandan Wangi.

"Atau tanyakan pada Kakang Rangga nanti," balas Cempaka lagi.

Pandan Wangi langsung terdiam. Dia sendiri masih bingung, apakah berani bertemu muka lagi dengan Rangga atau tidak. Kesalahan yang diperbuatnya kali ini cukup besar. Pandan Wangi tidak tahu, apa yang akan dikatakannya jika bertemu Rangga.

Pandan Wangi benar-benar menyesal karena tidak bisa mengendalikan diri dari kecemburuan. Dia begitu mudah terbawa emosi. Padahal mungkin Rangga sedang membicarakan hal yang penting dengan Bidadari Bintang Emas! Ah, semoga lain kali dia tidak membuat kesalahan lagi. Dia harus percaya sepenuhnya pada Rangga.

Sementara mereka terus bergerak cepat menuju Karang Setra. Kedua gadis itu masih tetap berlari di depan. Sedangkan Palaka hanya mengikuti dari belakang sambil mengimbangi ilmu meringankan tubuh yang digunakan kedua gadis itu.

********************

DELAPAN

Rangga berdiri tegak di puncak bukit. Pandangannya lurus ke arah Kerajaan Karang Setra. Matanya tidak berkedip meneliti setiap sudut kota yang selalu ramai itu. Dari ketinggian puncak bukit ini, Pendekar Rajawali Sakti dapat melihat jelas setiap sudut kota. Bahkan bangunan istana yang megah itu pun terlihat jelas bagian-bagiannya.

"Tidak ada tanda-tanda kalau Sangaji akan menyerang Kota Karang Setra," gumam Rangga dalam hati.

Memang suasana kota kelihatan tenang dan damai. Tak terlihat sedikit pun tanda-tanda kalau akan terjadi sesuatu. Rangga jadi ragu-ragu juga. Terlebih, sikap Sangaji yang dinilainya begitu jantan dan ksatria. Rasanya tidak mungkin kalau Sangaji akan melakukan tindakan bodoh menyerang kota. Karena, paling tidak membutuhkan angkatan perang yang tidak sedikit jumlahnya dan harus terlatih baik untuk bisa meruntuhkan Kerajaan Karang Setra. Angkatan Perang Karang Setra memang terkenal kuat dan tangkas.

Mendapat pikiran seperti itu, Pendekar Rajawali Sakti langsung menuruni bukit. Gerakannya cepat dan ringan sekali meskipun tidak mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Bahkan kakinya seolah-olah tidak menyentuh tanah saat melangkah.

"Sudah diperoleh yang kau cari, Rangga...?" tiba-tiba terdengar teguran lembut.

Rangga langsung menghentikan ayunan kakinya. Tubuhnya diputar sedikit dan kepalanya berpaling ke arah suara tadi. Tampak seorang gadis berwajah cantik bagai bidadari turun dari kahyangan, sedang duduk menyendiri di bawah pohon yang cukup rindang.

"Bidadari Bintang Emas...?" gumam Rangga mengenali gadis cantik yang selalu mengenakan baju kuning warna emas.

Sementara ciri lain gadis itu adalah selalu membawa senjata yang berbentuk bintang berwarna kuning keemasan. Wanita inilah yang membuat Pandan Wangi cemburu bukan main. Sebab sudah beberapa kali Rangga bertemu dengannya. Pendekar Rajawali Sakti menghampiri, kemudian duduk di atas sebatang pohon yang tumbang tidak jauh di depan Bidadari Bintang Emas. Untuk beberapa saat lamanya, mereka tidak berbicara. Rangga memandangi sekelilingnya, kemudian beralih pada gadis cantik di depannya.

"Kau tahu apa yang sedang kucari, Bidadari Bintang Emas?" tanya Rangga bernada memancing.

Bidadari Bintang Emas tertawa renyah. Merdu sekali suara tawanya, sehingga membuat hati siapa saja yang mendengarnya akan terhibur. Rangga sampai menelan ludahnya sendiri saat melihat baris-baris gigi yang rapi dan putih bagai mutiara.

"Tak ada seorang pun yang bisa menyembunyikan sesuatu dariku, Pendekar Rajawali Sakti," kata Bidadari Bintang Emas. Memang tokoh satu ini terkenal banyak tahu hal-hal rahasia.

Rangga hanya tersenyum saja.

"Hanya membuang-buang waktu saja jika masih tetap berada di sini, Pendekar Rajawali Sakti," kata Bidadari Bintang Emas lagi. Masih tetap lembut dan merdu sekali suaranya.

"Aku memang sudah menduga kalau dia tidak mungkin datang ke kota," tegas Rangga pelan. Rangga sudah menduga sebelumnya kalau Bidadari Bintang Emas pun pasti tahu persoalan yang sedang dihadapinya.

"Kenapa kau tidak mencarinya di tempat lain?"

"Sudah. Tapi dia seperti lenyap begitu saja."

"Kau akan menghadapi kesulitan besar, Rangga. Dan harus hati-hati menghadapinya. Bisa saja kecerdikanmu akan mengelabuinya. Tapi jangan disangka kalau Sangaji itu orang pandir. Tipu dayanya banyak sekali untuk mengelabui dan mempermainkan orang lain. Bahkan mampu merebut tahta tanpa sedikit pun meneteskan darah orang lain."

"Oooh.... Ck ck ck...," Rangga berdecak kagum mendengar keterangan tentang Sangaji dari gadis cantik ini.

Keistimewaan Bidadari Bintang Emas ini memang sukar dicari tandingannya. Dia bisa mengetahui persis tentang pribadi orang. Bahkan sampai hal yang terkecil sekalipun! Di samping itu, Bidadari Bintang Emas juga memiliki kemampuan ilmu olah kanuragan dan kesaktian yang tinggi. Jadi tidak mudah pula menaklukkan gadis ini.

"Rupanya kau tahu banyak tentang Sangaji, Bintang Emas," kata Rangga setengah bergumam.

"Tidak juga. Aku hanya sedikit mengenalnya," sahut Bidadari Bintang Emas, agak sedikit ditahan pada kata-kata yang terakhir.

Meskipun hanya sebentar, namun Pendekar Rajawali Sakti bisa menangkap adanya perubahan pada wajah gadis yang selalu mengenakan baju berwarna kuning keemasan itu. Namun Rangga tidak ingin mengungkit-ungkit lebih jauh lagi, meskipun memang ada sesuatu yang disembunyikan Bidadari Bintang Emas. Apalagi tidak seperti biasanya gadis ini begitu memperhatikan dan mengikuti terus perkembangan sesuatu persoalan yang bukan menyangkut dirinya. Suatu hal yang belum pernah dilakukan oleh Bidadari Bintang Emas pada orang lain. Apalagi orang itu dianggap sebagai musuhnya.

Meskipun belum pernah bentrok secara langsung, tapi Rangga pernah mendengar kalau Bidadari Bintang Emas pernah menantangnya. Menurutnya, Pendekar Rajawali Sakti adalah salah satu musuhnya yang harus bertarung dengannya. Hal ini untuk menentukan siapa di antara mereka yang lebih tinggi kepandaian dan kedigdayaannya dalam ilmu olah kanuragan maupun ilmu kesaktian.

"Rangga! Mungkin Sangaji sudah tidak ada lagi di wilayah Karang Setra ini. Sebaiknya lupakan saja persoalan ini," ujar Bidadari Bintang Emas setelah cukup lama berdiam diri.

Rangga hanya tersenyum saja mendengar peringatan gadis ini. Tapi kali ini, Pendekar Rajawali Sakti bisa menangkap adanya nada permintaan, meskipun tidak diucapkan secara langsung.

"Dia memang tidak akan diam dan puas sebelum maksudnya tercapai. Tapi aku khawatir jika apa yang diinginkannya tercapai, maka seluruh rimba persilatan akan merasa kehilangan sekali," sambung Bidadari Bintang Emas.

"Ah! Kenapa kau berkata seperti itu, Bintang Emas?"

"Karena kau akan sukar menghadapinya. Dia bukan lagi Sangaji yang dulu, tapi sekarang dia adalah si Setan Pedang Perak," Bidadari Bintang Emas memberi tahu.

"Ha... ha... ha...!" Rangga tertawa terbahak-bahak.

"Kau bisa saja tertawa, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi jangan menyesal nantinya," agak dingin nada suara Bidadari Bintang Emas kali ini.

"Maaf. Bukannya aku ingin merendahkan dan meremehkanmu, Bintang Emas. Tapi hatiku merasa tergelitik mendengar kalau Sangaji adalah si Setan Pedang Perak," jelas Rangga.

Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti itu tergelitik. Memang, dia tahu siapa si Setan Pedang Perak yang sesungguhnya. Karena, tokoh itu sudah tewas dalam pertarungan dengannya beberapa purnama yang lalu. Dan dia juga tahu kalau si Setan Pedang Perak tidak mempunyai keturunan.

Tapi, mendadak saja Pendekar Rajawali Sakti itu jadi tertegun. Kini baru diingat, ternyata pemuda yang memiliki dendam di hatinya itu mengenakan pakaian yang sama persis dengan si Setan Pedang Perak. Bahkan bukan hanya warnanya, tapi juga potongan serta bentuk pakaian. Dan yang tidak pernah diperhatikannya, pemuda yang ada luka codet di pipi kanannya itu juga memiliki sepasang pedang yang menyembul di balik punggung. Rangga menepak keningnya sendiri. Kini baru disadari kalau Sangaji membawa pedang yang sama persis bentuknya dengan pedang si Setan Pedang Perak. Dan...

"Aaah...," Rangga mendesah panjang seraya mendongakkan kepalanya memandang langit.

Kemudian kepalanya digeleng-gelengkan disertai hembusan napas panjang dari terasa berat sekali. Sedangkan Bidadari Bintang Emas hanya memperhatikan, disertai senyuman manis di bibir. Dia sepertinya mengetahui semua yang sedang dipikirkan Rangga saat ini. Pendekar Rajawali Sakti memandangi Bidadari Bintang Emas dalam-dalam.

"Siapa sebenarnya Sangaji itu...?" tanya Rangga seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena baru sadar kalau waktu itu sempat terkena ramuan racun Setan Pedang Perak yang sudah terkenal keampuhannya. Dan dikenali betul jenis racun itu walaupun tidak berarti banyak bagi dirinya yang kebal terhadap segala jenis racun. Memang, racun itu tidak mematikan, dan hanya membuat orang yang terkena jadi tidak sadarkan diri. Paling tidak, untuk waktu dua atau tiga hari lamanya. Dan tentu saja racun itu milik si Setan Pedang Perak. Tak ada seorang pun yang bisa memiliki dan menguasai, baik cara membuatnya maupun menggunakannya dengan tepat.

"Sangaji adalah si Setan Pedang Perak," tegas Bidadari Bintang Emas, pelan suaranya.

Rangga semakin dalam memandangi gadis berbaju kuning keemasan itu. Kalau Sangaji benar si Setan Pedang Perak, lalu siapa yang bertarung dengannya tiga purnama yang lalu,..? Rangga semakin tidak mengerti dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Herannya lagi, kenapa Sangaji tidak memberi perlawanan ketika Rangga melukai pipinya hingga membekas dan membuat wajahnya jadi kelihatan menyeramkan. Terlalu banyak pertanyaan yang sukar dijawab yang muncul dalam kepala Pendekar Rajawali Sakti.

Pada saat itu Bidadari Bintang Emas bangkit berdiri. Sebentar tubuhnya digeliat-geliatkan, menimbulkan gerakan-gerakan indah yang membuat Rangga sempat tidak berkedip memperhatikannya. Wajah dan bentuk tubuh gadis itu memang luar biasa cantiknya. Bahkan seorang laki-laki yang kuat mentalnya, tentu hatinya akan bergetar juga bila menatap gadis berbaju kuning keemasan itu. Rasanya sulit untuk menyamai kecantikan Bidadari Bintang Emas. Gadis ini benar-benar bagai seorang bidadari. Selain memiliki wajah cantik, bentuk tubuhnya indah menggiurkan.

"Kenapa kau memandangku begitu?" tegur Bidadari Bintang Emas agak ketus.

"Ah, tidak...," sahut Rangga buru-buru memalingkan mukanya ke arah lain, sehingga tidak bisa mengetahui senyuman tipis yang tersungging di bibir indah gadis itu.

"Kau memang tampan dan berkemampuan tinggi, Rangga. Tapi ingatlah, kalau kau sudah memiliki kekasih," kata Bidadari Bintang Emas seperti bisa membaca pikiran Rangga.

Kata-kata Bidadari Bintang Emas barusan, membuat Rangga tersentak seperti diingatkan. Bukan saja diingatkan pada Pandan Wangi, tapi juga diingatkan karena sempat mempunyai pikiran kotor pada diri gadis itu. Rangga langsung berpaling memandang ke arah Bidadari Bintang Emas. Namun betapa terperanjatnya begitu mengetahui kalau gadis berbaju kuning keemasan itu sudah tidak ada lagi. Entah ke mana perginya.

Memang tidak ada yang tahu kalau Bidadari Bintang Emas pernah punya hubungan dengan Sangaji. Dan karena kepandaian pemuda itu masih di bawahnya, mau tak mau Sangaji merasa minder. Tapi setelah memakai julukan si Setan Pedang Perak, Bidadari bintang Emas berniat menyambung kembali hubungannya dengan Sangaji.

"Gadis yang aneh...," desah Rangga pelan.

********************

Rangga memandangi Puncak Gunung Gadakan yang selalu terselimut kabut tebal. Seakan-akan, kabut itu merupakan tabir misteri yang menantang siapa saja untuk mengungkapnya. Di puncak gunung yang berkabut itulah dia pernah bertemu Sangaji yang kata Bidadari Bintang Emas adalah si Setan Pedang Perak yang asli. Namun Pendekar Rajawali Sakti tidak mau mempercayai begitu saja, karena yakin kalau si Setan Pedang Perak sudah tewas dalam pertarungan dengannya.

Meskipun begitu, Pendekar Rajawali Sakti jadi penasaran juga. Dia ingin mengetahui lebih jauh lagi, siapa sebenarnya Sangaji itu...? Apakah memang benar dia adalah si Setan Pedang Perak? Kalau memang benar, siapa sebenarnya yang tewas tiga purnama yang lalu? Terlalu banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran Rangga saat ini. Dan semua pertanyaan itu merupakan tantangan yang menarik baginya. Rangga bertekad untuk bisa membongkar semua misteri yang kini menghadangnya.

Trang! Tring!

"Heh...?!" Rangga tersentak ketika tiba-tiba saja terdengar suara senjata beradu tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Malah, kadang-kadang diwarnai oleh teriakan-teriakan keras sebuah pertarungan.

"Hup...!" Rangga melesat cepat bagai kilat. Begitu cepatnya, sehingga yang terlihat hanya bayangan putih berkelebatan menuju ke sumber suara pertarungan yang didengarnya. Hanya beberapa kali lesatan dan lari yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, Rangga bisa mencapai tempat pertarungan dalam waktu sebentar saja.

Hampir saja Pendekar Rajawali Sakti terbeliak begitu melihat Pandan Wangi, Cempaka, dan Palaka tengah bertarung sengit. Lawan mereka adalah empat orang tokoh persilatan yang bergabung dengan Sangaji, dalam usahanya membalas dendam pada Pendekar Rajawali Sakti. Mereka juga dibantu orang-orang berpakaian serba putih. Rangga tahu kalau mereka yang berpakaian serba putih dan bersenjata golok itu adalah murid Eyang Bangkal. Sedangkan Eyang Bangkal sendiri sudah tewas.

Rangga memandangi Pandan Wangi yang bertarung mempergunakan senjata pusakanya berupa kipas baja putih yang bagian ujungnya runcing. Perhatian pemuda berompi putih itu beralih pada Cempaka. Gadis itu bertarung mempergunakan sebilah pedang, yang memang ahli mempermainkan senjatanya.

Lain lagi dengan Palaka. Murid dari Padepokan Guruwatu itu hanya bertarung dengan tangan kosong saja. Pemuda itu berhadapan dengan orang-orang berpakaian serba putih. Namun meskipun dikeroyok sekitar sepuluh orang, Palaka masih mampu bertahan. Bahkan serangan balasan yang berupa pukulan serta tendangan, membuat lawan lawannya kerepotan juga.

Pendekar Rajawali Sakti hanya memperhatikan saja jalannya pertarungan dari jarak yang tidak seberapa jauh. Dia memang tidak ingin terjun dalam pertarungan itu, karena Pandan Wangi, Cempaka, dan Palaka masih bisa mengatasi lawan-lawannya.

"Akh...!" Tiba-tiba saja Rangga dikejutkan satu teriakan keras agak tertahan. Pendekar Rajawali Sakti langsung melayangkan pandangan ke arah datangnya suara tadi. Tampak Pandan Wangi terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya. Pada saat itu terlihat salah seorang lawannya yang mengenakan baju putih dan celana putih sebatas lutut, sudah melompat cepat. Senjatanya berupa kapak yang bagian ujungnya berbentuk seperti mata tombak, terayun ke arah gadis itu.

"Hiyaaa...!"

Wut!

Ketika kapak itu menyambar, cepat sekali gadis berbaju biru muda itu mengegoskan kepalanya ke samping. Maka tebasan kapak itu lewat sedikit di depan mukanya. Namun sebelum gadis itu bisa melakukan sesuatu, dari arah samping kanannya sudah melesat orang lainnya yang mengenakan baju merah. Tombak panjangnya yang bermata tiga diayunkan, dan langsung ditusukkan ke arah dada Pandan Wangi.

Untuk kali ini, Pandan Wangi tak mungkin bisa menghindar lagi. Karena pada saat yang sama, dari arah depannya juga berkelebat sebilah pedang. Sementara pada saat itu, perhatian Pandan Wangi tengah terpusat pada penyerangnya yang berada di depan. Maka, mana mungkin sempat memperhatikan adanya serangan gelap yang datang dari arah samping.

"Yeaaah...!"

Melihat keselamatan Pandan Wangi terancam, Rangga langsung melompat. Dan seketika itu juga ujung jarinya dijentikkan pada mata tombak yang sedikit lagi menancap di dada si Kipas Maut itu.

Tring!

"Heh...! Orang berbaju merah yang menggunakan senjata tombak itu, terkejut setengah mati. Tombaknya terpental balik dan dirinya terjajar sekitar tiga langkah ke belakang. Laki-laki berusia sekitar enam puluhan tahun yang dikenal berjuluk si Tombak Mayat itu langsung melompat mundur, ketika melihat Pendekar Rajawali Sakti tahu-tahu sudah berdiri di samping Pandan Wangi.

Bahkan dua orang lainnya yang juga bertarung melawan si Kipas Maut itu juga langsung berlompatan mundur beberapa tindak. Demikian pula sekitar delapan orang berpakaian serba putih yang membantu mengeroyok gadis berbaju biru itu. Seketika mereka menghentikan serangannya.

"Berhenti...!" teriak Rangga keras dan tiba-tiba. Bentakan Pendekar Rajawali Sakti yang dikeuarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi itu sangat luar biasa akibatnya.

Seketika pertarungan yang berlangsung terhenti. Bahkan seorang tokoh persilatan yang sedang bertarung melawan Cempaka juga bergegas melompat mundur mendekati temannya yang lain. Mereka saling berpandangan satu sama lainnya untuk beberapa saat. Sementara Palaka dan Cempaka juga bergegas bergabung dengan Pandan Wangi dan Rangga. Sedangkan orang-orang berbaju putih, sudah bergerak membuat lingkaran mengurung mereka semua.

"Untung kau cepat datang, Kakang," ujar Cempaka yang sudah berada di samping kakak tirinya itu.

Rangga hanya melirik saja sedikit pada Cempaka, kemudian melangkah maju dua tindak. Pandangan matanya tajam menusuk ke arah empat orang laki-laki yang memiliki dendam pribadi pada Pendekar Rajawali Sakti. Rangga mengenali betul satu persatu. Mereka memang pernah bentrok dengannya, tapi tak ada satu pun yang memiliki kepandaian tinggi untuk bisa menandingi Pendekar Rajawali Sakti.

"Sebenarnya aku sudah enggan berurusan dengan kalian. Tapi rupanya kalian tidak bisa menerima kebaikan, dan selalu mencari kesempatan untuk menghabisiku...!" terdengar dingin sekali nada suara Rangga.

Empat orang laki-laki yang rata-rata usianya sudah hampir setengah baya, bahkan ada yang lebih itu, saling berpandangan satu sama lain. Mereka memang menyadari sudah beberapa kali berusaha, namun selalu gagal. Bahkan Pendekar Rajawali Sakti masih memberi ampunan padanya.

"Sekarang aku tidak ingin banyak bicara lagi, dan kuserahkan nasib pada kalian sendiri untuk menentukannya!" tegas Rangga bernada mengancam.

Dua orang segera bergerak mundur, tapi dua orang lagi masih tetap berdiri pada tempatnya. Mereka adalah si Tombak Mayat dan si Kapak Iblis yang kemudian saling berpandangan sejenak dengan sudut ekor mata masing-masing.

"Dulu kau boleh berbangga, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi sekarang, jangan harap bisa mengalahkanku!" bentak si Tombak Mayat lantang.

"Hari ini kau akan jadi santapan cacing tanah, Pendekar Rajawali Sakti...!" sambung si Kapak Iblis menggeram.

"Majulah, jika hal itu membuat kalian puas," sambut Rangga seraya merentangkan tangannya ke samping.

"Hiyaaat..!"

"Yiaaah...!"

Kedua orang itu langsung berlompatan menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Senjata mereka dikebutkan dengan cepat, mengarah ke beberapa bagian tubuh Rangga. Namun rupanya pemuda berbaju rompi putih itu sudah siap menerima serangan. Begitu dua senjata mengarah ke tubuhnya, dengan manis sekali badannya meliuk menghindari serangan dahsyat itu. Rangga langsung menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib yang seringkali digunakan dalam menghadapi lawan.

Serangan yang dilancarkan kedua orang itu sungguh cepat dan dahsyat Rangga memang merasakan adanya suatu kemajuan yang dicapai kedua orang itu. Tebasan dan tusukan senjatanya mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi, sehingga menimbulkan deru angin.

"Hup...!" Mendadak saja tubuh Rangga melenting ke atas ketika tombak bermata tiga mengibas ke arah kaki. Lalu cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti itu menukik seraya mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Dua kali tubuhnya berputaran di udara, lalu kakinya cepat diarahkan ke kepala si Tombak Mayat.

"Hiyaaa...!"

Prak!

"Aaakh...!" si Tombak Mayat menjerit melengking tinggi begitu kaki Pendekar Rajawali Sakti menghantam keras kepalanya. Dan sebelum jeritan melengking tinggi itu hilang, seketika itu juga Rangga merubah jurusnya menjadi 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Satu pukulannya langsung diarahkan ke arah si Kapak Iblis. Serangan Rangga yang begitu cepat dan tidak terduga itu tak dapat terhindarkan lagi. Sehingga...

Des!

"Aaa...!" si Kapak Iblis menjerit keras. Dalam waktu hampir bersamaan, kedua orang itu menggelepar di tanah.

Si Tombak Mayat menggelepar sambil memegangi kepalanya yang pecah. Tampak darah merembes keluar dari sela-sela jari tangannya yang memegangi kepala. Sedangkan si Kapak Iblis hanya sebentar saja menggelepar, kemudian nyawanya melayang. Tampak dadanya memerah dan melesak ke dalam akibat terkena 'Pukulan Maut Paruh Rajawali. Kedua tokoh persilatan yang menyimpan dendam di hati itu kini tergeletak tak bernyawa lagi.

Melihat dua orang berkepandaian cukup tinggi itu tewas dengan mudah, orang-orang berpakaian serba putih seketika itu juga berlarian kabur sambil membuang goloknya. Sementara dua orang lagi masih berdiri terpaku, kemudian juga segera pergi dengan cepat.

********************

"Kakang...." Cempaka langsung menghambur, memeluk Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan yang dipeluk malah menatap Pandan Wangi yang tengah menundukkan kepalanya. Seakan-akan tidak sanggup membalas sorot mata pemuda yang sangat dicintainya itu.

Dengan halus sekali, Rangga melepaskan pelukan Cempaka, kemudian menghampiri Pandan Wangi yang masih menundukkan kepalanya. Rangga berdiri sekitar dua langkah di depan gadis berbaju biru itu. Sementara Cempaka menghampiri Palaka, dan langsung menarik tangan pemuda itu untuk diajak menjauh.

Pandan Wangi memang sudah menceritakan semuanya pada Cempaka. Dan gadis itu ikut prihatin dengan apa yang telah terjadi. Bahkan Cempaka menganjurkan agar Pandan Wangi mengakui saja kesalahannya pada Rangga. Memang tidak mudah, tapi hanya itu satu-satunya cara yang harus dilakukan Pandan Wangi.

"Pandan," terdengar lembut suara Rangga memanggil nama si Kipas Maut.

Perlahan-lahan kepala Pandan Wangi terangkat. Mereka langsung bertatapan. Namun gadis itu kembali menundukkan kepalanya begitu sorot mata Pendekar Rajawali Sakti menatap tajam kepadanya. Dan sebelum kepala si Kipas Maut itu tertunduk benar, Rangga sudah menyentuh dagu gadis itu dengan ujung jari. Lalu dengan lembut dagu berbentuk indah itu diangkatnya. Maka mau tak mau, Pandan Wangi harus menatap bola mata pemuda itu.

"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa padaku, Pandan. Aku tahu semuanya. Anggaplah semua ini sebagai satu pelajaran yang baik untuk kita semua," ujar Rangga dengan suara lembut sekali.

Pandan Wangi masih terdiam membisu. Bibirnya bergetar seakan-akan hendak mengatakan sesuatu. Namun tak ada sepatah kata pun yang terucapkan. Pandan Wangi tidak tahu, apa yang harus diucapkannya. Terlalu banyak kata-kata terlintas di benaknya, namun tak satu pun bisa diungkapkan. Lidahnya mendadak jadi kaku seketika.

"Aku menyadari kalau di antara kita ada perbedaan. Tapi itu bukanlah suatu persoalan yang perlu dibesar-besarkan. Tidak ada dua makhluk hidup yang sama dan serupa di dunia ini. Paling tidak, pasti ada perbedaannya walau hanya sedikit sekali. Dan perbedaan itulah yang membuat manusia bisa bersatu hingga memperbanyak keturunan untuk memenuhi bumi ini," jelas Rangga lagi.

"Maafkan aku, Kakang. Aku mengaku bersalah," ucap Pandan Wangi, lirih dan agak bergetar suaranya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pandan. Bukan hanya kau yang memiliki kesalahan. Tapi aku juga," ungkap Rangga.

"Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi jika saja aku bisa menahan diri," kata Pandan Wangi menyesal.

"Kau tidak usah menyesali apa yang telah terjadi, Pandan. Semua yang terjadi sudah digariskan Hyang Widi. Jadi kita tidak boleh menghindarinya, terlebih menyesali," Rangga menasihati.

"Yaaah..., memang apa yang telah terjadi di dunia ini sudah kehendak Hyang Widi," desah Pandan Wangi.

"Dan yang pasti, dari semua kejadian ini, kita bisa memetik hikmahnya," sambung Rangga seraya memberikan senyum.

Pandan Wangi jadi ikut tersenyum. Seketika hilang sudah perasaan cemas dan keraguannya akan sikap Rangga yang diduga akan membencinya. Ternyata dugaannya selama ini meleset jauh. Rangga yang sekarang, masih seperti Rangga yang dulu. Bahkan sekarang lebih matang dan lebih bijaksana. Baik dalam sikap, sifat, dan perbuatannya. Pandan Wangi semakin merasa kecil dan tak berarti di hadapan Pendekar Rajawali Sakti ini. Seketika itu pula, rasa cintanya semakin bertambah besar.

Entah ada dorongan apa, tiba-tiba saja Pandan Wangi memeluk Pendekar Rajawali Sakti. Langsung diberikannya kecupan hangat di pipi Rangga dan juga di bibir pemuda itu. Rangga jadi gelagapan. Buru-buru pelukan gadis itu dilepaskan. Matanya sempat melirik Cempaka dan Palaka yang berada tidak seberapa jauh. Tampak sekali kalau Cempaka langsung memalingkan muka begitu Pandan Wangi memeluk Rangga.

"Ada Cempaka, Pandan," bisik Rangga.

"Oh...!" Pandan Wangi tersentak.

Seketika wajah Pandan Wangi memerah begitu sadar kalau di tempat ini bukan hanya mereka berdua saja, tapi juga ada Cempaka dan Palaka. Buru-buru Pandan Wangi menjauhkan diri. Wajahnya segera dipalingkan untuk menyembunyikan rasa malu akibat tidak bisa menahan luapan kegembiraan yang menyelimuti perasaannya.

"Yuk...?" ajak Rangga seraya menggamit lengan Pandan Wangi.

"Ke mana?" tanya Pandan Wangi seraya menepiskan tangan Rangga dengan halus.

"Tidak enak membiarkan mereka di sana," sahut Rangga seraya ekor matanya menunjuk Cempaka dan Palaka.

Pandan Wangi seperti tak sanggup melihat Cempaka. Ada terselip rasa malu karena luapan kegembiraan tadi. Sungguh tidak disadari ada orang lain di tempat ini selain mereka berdua. Dan ini baru pertama kali gadis itu mencium Rangga di depan orang lain. Kalau saja bisa, ingin rasanya Pandan Wangi menyembunyikan wajah di balik bajunya.

Pandan Wangi mengikuti ayunan kaki Pendekar Rajawali Sakti yang menghampiri adik tirinya dan Palaka. Si Kipas Maut itu masih menundukkan kepalanya begitu berada di samping Cempaka. Sementara itu Rangga menghampiri Palaka dan mengajaknya berjalan. Pandan Wangi bergegas mengikuti, dan sepertinya tidak ingin tertinggal jauh dari Pendekar Rajawali Sakti. Atau mungkin juga ingin menghindari ledekan Cempaka, karena tahu kalau gadis itu paling pintar menggoda.

"Kak Pandan...."

Pandan Wangi agak tersentak ketika Cempaka tiba-tiba memanggilnya. Bahkan Cempaka menarik tangannya agar tidak terlalu cepat berjalan. Sepertinya gadis itu memang sengaja agar Pandan Wangi tidak terlalu dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti.

"Ada apa?" tanya Pandan Wangi, berdebar.

idak apa-apa," sahut Cempaka.

Pandan Wangi sempat melirik gadis itu, dan tampak Cempaka tersenyum-senyum dikulum. Seketika itu juga wajah Pandan Wangi langsung memerah bagai kepiting rebus. Gadis itu buru-buru memalingkan mukanya, memandang ke arah lain. Jantungnya semakin keras berdebar. Dia tahu kalau Cempaka mulai melancarkan aksi untuk menggoda. Dan ini yang sejak tadi dicemaskan Pandan Wangi.

"Kak.... Rasanya ciuman itu bagaimana sih?" tanya Cempaka. Suaranya terdengar pelan setengah berbisik.

Seketika itu juga Pandan Wangi merasakan jantungnya copot. Tidak mungkin pertanyaan konyol itu dijawab. Dan dia tahu kalau itu merupakan awal malapetaka kecil yang akan dihadapinya. Memang, dulu dirinya seorang gadis yang nakal dan agak liar. Tapi Pandan Wangi yang sekarang bukanlah Pandan Wangi yang dulu. Kalau saja gadis ini masih seperti dulu, tentu pertanyaan konyol itu akan dijawab konyol juga.

"Kapan-kapan ajari aku ya, Kak?" kata Cempaka lagi semakin lebar senyumannya.

"Edan...!" dengus Pandan Wangi dalam hati.

Cempaka tersenyum lebar melihat wajah Pandan Wangi memerah. Bahkan jadi tidak bisa menahan tawanya lagi saat melihat Pandan Wangi menggerutu kecil.

"Sudahlah, Cempaka. Nanti kau juga akan merasakannya sendiri," Pandan Wangi mulai meledek.

"Sama siapa...."

"Tuuuh...," Pandan Wangi menunjuk Palaka yang berjalan di depan bersama Rangga.

"Edan!" dengus Cempaka seraya meninju bahu Pandan Wangi.

Pandan Wangi jadi tertawa terbahak-bahak karena bisa membalas godaan gadis itu. Dan Cempaka juga ikut tertawa, membuat Rangga dan Palaka jadi berpaling. Tapi mendadak saja kedua gadis itu berhenti tertawa.

********************

Baru saja Rangga menghenyakkan tubuhnya di kursi kamar pribadinya di Istana Karang Setra, mendadak terdengar ketukan di pintu. Rangga mendengus seraya memandang ke arah pintu yang tertutup rapat tapi tidak terkunci itu. Memang sukar bila berada di istana ini untuk beristirahat. Makanya Rangga lebih senang mengembara, dibanding berada dalam istana yang megah ini.

"Masuk...!" seru Rangga.

Pintu kamar yang terbuat dari kayu jati tebal dan berukir itu, perlahan-lahan terbuka. Ternyata Danupaksi yang muncul. Terlihat dua orang prajurit penjaga berada di samping kiri dan kanan pintu. Rangga memberi isyarat untuk menutup pintu kembali. Danupaksi bergegas menutup pintu, kemudian menghampiri Raja Karang Setra itu.

"Ada apa?" tanya Rangga tanpa beranjak dari kursinya.

"Ampun, Kakang Prabu...."

"Yang wajar saja!" sentak Rangga melihat Danupaksi memberi sembah padanya dengan merapatkan kedua tangan di depan hidung.

"Tapi ini di...."

"Aku tahu, kau boleh bersikap begitu di depan orang lain. Tapi di sini tidak ada siapa-siapa," potong Rangga cepat.

"Maaf, Kakang."

"Katakan, apa yang hendak kau sampaikan?"

"Hanya ingin menyampaikan ini"

Danupaksi mengeluarkan sebuah gulungan daun lontar dari balik lipatan bajunya. Langsung diserahkannya pada Pendekar Rajawali Sakti, Rangga cepat menerimanya. Segera dibukanya pita merah tua yang mengikat gulungan daun lontar itu. Matanya tidak berkedip memandangi daun lontar itu. Kemudian daun lontar itu digulung kembali, dan langsung ditatapnya Danupaksi. Sedangkan yang ditatap hanya sedikit tertunduk.

"Kau sudah tahu isinya, Danupaksi?" tanya Rangga.

Danupaksi hanya menggelengkan kepala.

"Siapa yang membawa surat ini?" tanya Rangga.

"Seorang rakyat biasa yang sehari-harinya mencari kayu bakar di hutan," sahut Danupaksi

. Rangga bangkit berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju jendela yang dibuka lebar. Dia berdiri tegak di depan jendela itu sambil memandang lurus ke depan. Sedangkan Danupaksi hanya memperhatikan dengan benak diliputi berbagai macam pertanyaan. Karena sikap Pendekar Rajawali Sakti mendadak berubah begitu selesai membaca surat itu.

"Apa isi surat itu, Kakang?" tanya Danupaksi seraya menghampiri Rangga yang sudah berdiri di depan jendela yang dibuka lebar-lebar.

antangan," sahut Rangga seraya memberi gulungan surat daun lontar itu.

Danupaksi menerima gulungan surat itu, kemudian membukanya. Sebentar dibacanya surat yang hanya berisi beberapa kalimat saja. Kemudian, matanya tertuju pada Rangga yang tengah mengarahkan pandangan ke arah Puncak Gunung Gadakan. Dari jendela kamar ini, memang bisa terlihat pemandangan indah di puncak gunung yang selalu terselimut kabut itu.

"Kau mengenali orang yang mengirim surat itu, Danupaksi?" tanya Rangga lagi.

Kini Pendekar Rajawali Sakti tahu, kalau sekarang ini Sangaji hanya seorang diri. Para pengikutnya sudah kabur entah ke mana, dan tidak sedikit yang tewas di dalam pertarungan. Dan Rangga sendiri masih belum yakin kalau Sangaji adalah si Setan Pedang Perak.

"Dia masih muda. Tubuhnya kotor serta pakaiannya lusuh. Ada bekas luka di pipi kanannya. Juga...."

"Sangaji...," desis Rangga memutuskan ucapan Danupaksi.

Desisan yang seperti tidak sadar terucapkan, membuat Danupaksi memandangi Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Sedangkan Rangga langsung memutar cepat tubuhnya. Kembali wajahnya mengalami perubahan. Kemudian adik tirinya itu dipandangi dalam-dalam. Tiba-tiba saja Rangga memberi beberapa totokan pada dada Danupaksi Akibatnya pemuda itu tersentak kaget dan memekik tertahan.

"He...?" Dan sebelum Danupaksi sadar akan apa yang baru saja dilakukan Pendekar Rajawali Sakti itu, tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terasa jadi panas. Dan semakin lama semakin panas bagai terbakar. Seluruh tubuh Danupaksi memerah, dan mengepulkan asap tipis berwarna kemerahan.

"Hih!"

Tiba-tiba saja Rangga menghentakkan telapak tangan kanannya yang terbuka.

Deghk!

Telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti itu langsung menghantam dada Danupaksi. Akibatnya, pemuda itu terpental ke belakang dan menghantam dinding. Seluruh dinding ruangan ini bergetar begitu punggung Danupaksi menghantamnya. Pemuda berbaju putih dan bercelana biru itu langsung melorot jatuh ke lantai.

"Hoeeekh...!"

Danupaksi berdahak dan memuntahkan darah kental bercampur cairan merah kehijauan yang mengepulkan uap tipis. Tiga kali pemuda itu memuntahkan darah disertai cairan kental, kemudian pada muntahan yang keempat, baru keluar darah segar.

"Hih...!" Kembali Rangga memberi totokan di dada pemuda itu. Danupaksi tidak lagi bisa bersuara, karena sudah begitu lemas. Pandangan matanya sayu terarah pada Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak di depannya. Seluruh tubuhnya terasa lemas, dan kepalanya jadi pening. Namun panas yang tadi dirasakan, mendadak saja lenyap.

"Apa yang kau lakukan padaku, Kakang?" tanya Danupaksi, lemah suaranya.

"Kau terkena hawa racun yang disebarkan Sangaji," sahut Rangga.

"Ohhh...," Danupaksi mendesah panjang dan lirih.

"Siapa saja yang bertemu dengannya?" tanya Rangga.

Danupaksi menyebutkan beberapa nama.

"Setelah kau sehat, lakukan apa yang baru saja kulakukan padamu. Minta bantuan Ki Lintuk dan beberapa patih yang bertenaga dalam tinggi. Jelaskan pada mereka sebelum kau melakukannya," jelas Rangga seraya melangkah keluar dari kamar ini.

Danupaksi hanya bisa mengangguk saja. Masih belum dipercayai apa yang baru dalaminya. Tapi melihat cairan yang keluar dari dalam perutnya, pemuda itu harus bisa mempercayai kata-kata Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan-lahan Danupaksi bangkit berdiri setelah Rangga lenyap di balik pintu. Tangannya digerak-gerakkan untuk menyalurkan tenaga dalam dan hawa murni. Tubuhnya kini mulai terasa segar kembali. Bergegas pemuda itu keluar dari kamar kakak tirinya. Langkahnya cepat, karena harus melaksanakan perintah Rangga secepatnya sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

********************

"Ha... ha... ha...!"

Rangga hanya menggumam kecil ketika suara tawa keras menggelegar itu tiba-tiba saja terdengar. Padahal dirinya baru saja tiba di Puncak Gunung Gadakan. Suara tawa itu menggema, seakan-akan datang dari segala penjuru mata angin. Namun pandangan Pendekar Rajawali Sakti diarahkan ke satu arah, tempat terdapatnya sebuah dinding batu yang cukup tinggi dengan sebuah lubang berada pada tengah-tengahnya.

Pendekar Rajawali Sakti menepuk-nepuk leher kuda hitamnya yang bertubuh tinggi tegap berotot. Dan seperti bisa mengetahui keinginan Pendekar Rajawali Sakti, kuda itu melangkah menjauh. Sepertinya kuda yang bernama Dewa Bayu itu bisa juga merasakan situasi yang tengah terjadi di puncak gunung yang selalu terselimut kabut ini.

Sementara itu, jauh di belakang Rangga, terlihat Pandan Wangi dan Cempaka serta Palaka yang berdiri di samping kuda masing-masing. Mereka sengaja ikut untuk melihat pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti melawan si Setan Pedang Perak.

Pada saat itu tampak berkelebat sebuah bayangan putih memotong di depan Pendekar Rajawali Sakti. Dan tahu-tahu di depan pemuda berbaju rompi putih itu sudah berdiri seorang laki-laki muda. Pakaiannya serba putih dan ketat. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai pada bagian belakangnya. Sedangkan rambut atas kepalanya digelung, dihiasi pita putih. Tampak dua gagang pedang menonjol keluar dari balik punggungnya. Dia berdiri tegak sambil menatap tajam Pendekar Rajawali Sakti.

"Sangaji, apa maksudmu memakai julukan Setan Pedang Perak?" tanya Rangga langsung.

"Akulah Setan Pedang Perak, Pendekar Rajawali Sakti," sahut Sangaji tegas. Bahkan nada suaranya terdengar dingin sekali.

"Kau pikir aku tidak tahu siapa Setan Pedang Perak, Sangaji," terdengar sinis nada suara Rangga.

"Ha... ha... ha...! Baiklah! Aku mengaku sebagai Setan Pedang Perak, karena akulah pewaris tunggalnya. Kau tahu, Setan Pedang Perak adalah pamanku! Dan kini aku sudah menguasai lebih baik dari pemiliknya sendiri. Sekarang aku akan menagih nyawa pamanku...!" geram Sangaji.

"Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan yang tepat, Sangaji. Pamanmu adalah tokoh sesat yang harus dilenyapkan!"

"Aku tidak peduli apa alasanmu! Sekarang kita tentukan, siapa di antara kita yang paling berarti di dunia ini!"

Setelah berkata demikian, Sangaji langsung merentangkan tangannya seraya menggeser kaki kanan sedikit ke depan. Lalu cepat sekali, pemuda itu menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah, seperti kepakan sayap seekor burung. Dan Rangga tahu kalau itu merupakan jurus andalan si Setan Pedang Perak. Pendekar Rajawali Sakti yang sudah bertarung melawan si Setan Pedang Perak sesungguhnya, tidak akan menganggap enteng Sangaji. Segera disiapkannya jurus andalan yang pertama kali didapatkan dalam penguasaan ilmu olah kanuragan.

"Hiyaaat..!"

"Yeaaah...!"

Kedua pemuda yang sudah bersiap dengan jurus masing-masing, langsung berlompatan saling menerjang. Dan mereka bertemu di udara pada satu titik. Cepat sekali tangan mereka bergerak saling menyerang dan menangkis. Suatu pertarungan di udara yang sangat cepat dan luar biasa. Hingga pada suatu ketika, masing-masing melepaskan satu pukulan lurus ke arah dada. Tak ada seorang pun yang berusaha menangkis, sehingga langsung telak mengenai sasaran masing-masing.

Des! Beghk!

Tak ada pekikan yang terdengar. Tubuh kedua pemuda itu sama-sama terpental ke belakang, dan berputaran beberapa kali di udara. Lalu dengan manis, mereka menjejakkan kaki di tanah. Dan seketika, Sangaji mencabut kedua pedang peraknya.

Tring!

Pemuda berbaju putih ketat itu, mengadukan pedangnya hingga menimbulkan percikan bunga api. Melihat pedang yang pernah dihadapinya tiga purnama yang lalu, Rangga tidak ingin mengambil risiko terlalu tinggi.

Sret!

Pendekar Rajawali Sakti itu pun langsung saja mencabut senjata pusakanya. Seketika itu juga cahaya biru berkilauan menyemburat begitu Pedang Rajawali Sakti keluar dari warangkanya.

"Hiyaaat..!" Kembali Sangaji melompat menyerang cepat bagai kilat.

"Hap! Yeaaah...!" Rangga langsung mengebutkan pedangnya begitu dua pedang Sangaji berkelebatan di depan wajah dan dadanya. Dua benturan senjata terdengar menimbulkan ledakan dahsyat. Namun mereka masih terus mempergunakan jurus-jurus mautnya yang terkenal dahsyat serta ampuh itu.

Jurus demi jurus berlalu cepat Dan semakin lama pertarungan berjalan semakin seru dan seimbang. Sementara tiga orang yang menyaksikan, beberapa kali menarik napas panjang. Mereka tentu saja mengharapkan agar Rangga bisa memenangkan pertarungan itu. Namun mereka juga menyadari kalau lawan Pendekar Rajawali Sakti itu juga memiliki kepandaian tinggi. Dan yang pasti Rangga akan mengalami kesukaran untuk menyudahi pertarungan ini.

Tanpa terasa, pertarungan sudah berjalan lebih dari tiga puluh jurus. Namun masing-masing masih kelihatan tangguh. Belum ada tanda-tanda kalau pertarungan akan berakhir. Waktu terus berjalan tanpa mempedulikan peristiwa yang sedang berlangsung di puncak gunung itu. Tak terasa, siang pun berganti senja, dan terus berganti malam. Namun pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti dan Sangaji, masih terus berlangsung. Memang tak ada yang menghentikan pertarungan itu.

Sementara Palaka sudah membuat api unggun untuk menghangatkan udara dingin yang membekukan tubuh. Sudah satu hari satu malam, namun pertarungan itu belum juga berakhir. Entah sudah berapa ratus jurus dikeluarkan. Malam yang dingin, kembali berganti pagi. Hingga matahari sampai sepenggalan, pertarungan itu masih terus berlangsung sengit.

Sedangkan tiga orang yang menyaksikan malah kelihatan lelah, karena tidak memicingkan mata sekejap pun. Mereka tidak ingin tertinggal meski hanya satu jurus saja. Baru kali ini disaksikan satu pertarungan yang berlangsung begitu lama tanpa mengenal lelah atau istirahat.

"Hup!"

"Haps...!"

Tepat di saat matahari hampir tenggelam di balik cakrawala belahan Barat, kedua pemuda yang tengah bertarung sengit itu melompat mundur beberapa tindak.

Tring!

Sangaji membuang kedua pedangnya ke belakang. Melihat lawannya melemparkan senjata, Rangga segera memasukkan pedang pusaka ke dalam warangkanya, lalu melepaskannya dari punggung. Segera dilemparkannya pedang itu ke belakang. Pada saat itu, Pandan Wangi melesat bagaikan kilat.

Tap!

Gadis itu menangkap pedang yang dilemparkan Rangga, lalu melesat ke arah dua orang yang menunggunya. Pandan Wangi memegangi pedang Pendekar Rajawali Sakti. Sementara kedua pemuda yang saling berdiri berhadapan, sudah mempersiapkan ilmu pamungkas. Tampak sekali kalau Rangga mengeluarkan aji 'Cakra Buana Sukma' tanpa menggunakan pedang sebagai sarananya. Karena, ajian itu memang sudah dikuasainya dengan sempurna.

"Hiyaaa...!" tiba-tiba Sangaji berteriak menggelegar sambil melompat deras. Kedua tangannya terbuka lurus ke depan.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'...! Yeaaah...!" pekik Rangga keras menggelegar.

Blarrr! Ledakan dahsyat terdengar menggelegar begitu tangantangan mereka yang terbuka lebar, saling berbenturan. Namun tak ada seorang pun yang terpental. Kedua telapak tangan mereka saling menyatu rapat dengan kaki agak merentang berpijak pada tanah. Tampak cahaya biru mulai menjalar dari tangan Pendekar Rajawali Sakti ke tangan Sangaji.

Perlahan namun pasti, sinar biru itu terus merayap. Dan Sangaji mulai berkeringat. Tubuhnya agak bergetar merasakan ajian yang dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti. Wajah pemuda itu mulai memerah. Tampak jelas kalau dia tengah berusaha mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menahan gempuran aji 'Cakra Buana Sukma' yang dahsyat.

"Akh...!" tiba-tiba saja Sangaji menjerit keras. Pemuda berpipi codet itu menggeliat-geliat dan berusaha melepaskan tangannya dari telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Namun semakin keras berusaha, semakin sukar untuk melepaskan diri. Bahkan tenaganya terasa tersedot keluar tanpa dapat dikendalikan lagi. Sementara cahaya biru semakin menyelimuti dirinya.

"Aaa...!" Sangaji memekik keras melengking.

"Yeaaah...!" tiba-tiba saja Rangga berteriak keras menggelegar. Dan seketika itu juga tangannya ditarik. Dan dengan cepat sekali, tangannya dihentakkan, tepat menghantam kepala pewaris si Setan Pedang Perak itu.

Glarrr! Seketika itu juga tubuh Sangaji hancur berkeping-keping. Pada saat yang sama, Rangga melompat mundur. Dipandanginya kepingan tubuh Sangaji yang sudah tidak berbentuk lagi. Rangga menarik napas panjang sambil mundur beberapa tindak. Kepalanya menoleh ketika mendengar seruan memanggil namanya.

"Kakang....!"

Rangga tersenyum, dan tidak bisa menolak ketika Pandan Wangi dan Cempaka berebut memeluknya. Pendekar Rajawali Sakti hanya merentangkan tangannya saat dipeluk dua orang gadis yang sangat dicintainya itu. Sementara Palaka hanya memandangi dengan bibir tersenyum. Sungguh senang hatinya melihat Pendekar Rajawali Sakti bisa memenangkan pertarungan panjang dan mendebarkan ini. Hatinya juga begitu haru melihat adanya kasih sayang dan cinta pada keluarga pendekar itu.

"Palaka, untuk sementara kau tinggal saja di istana. Bahkan untuk selamanya pun tidak apa-apa," kata Rangga seraya melepaskan pelukan kedua gadis yang sedang dilanda kegembiraan itu.

"Terima kasih," ucap Palaka sambil menyambut uluran tangan Rangga, disertai senyuman lebar dan penuh persaudaraan.

"Terima saja, Palaka," desak Pandan Wangi seraya melirik Cempaka.

Sedangkan yang dilirik hanya mencibir saja. Palaka tak mungkin menolak permintaan itu. Matanya juga sempat melirik Cempaka, namun kemudian kepalanya mengangguk.

"Ayo, kita kembali ke istana," ajak Rangga.

SELESAI

KISAH SELANJUTNYA: SATRIA BAJA HITAM
Thanks for reading Setan Pedang Perak I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »