Prahara Darah Biru

Pendekar Rajawali Sakti

Prahara Darah Biru

SATU
Trang!

Dua bilah pedang beradu keras di udara, hingga menimbulkan percikan bunga api yang menyebar ke segala arah. Tampak dua orang laki-laki yang sama-sama memegang pedang, sama-sama melompat mundur. Mereka yang kelihatan sama-sama masih berusia muda, tampak berdiri saling berhadapan. Tatapan mata mereka begitu tajam, menusuk ke bola mata masing-masing. Pedang di tangan kanan, sama-sama menyilang di depan dada.

"Kakang, awas...!"

Tiba-tiba terdengar teriakan nyaring seorang wanita. Pemuda yang mengenakan baju warna putih cepat berpaling ke arah teriakan tadi. Tapi mendadak saja, terlihat seutas cambuk hitam berduri halus meluncur deras ke arahnya.

Ctar!

"Akh...!" pemuda berbaju putih itu terpekik.

Tubuh pemuda berbaju putih itu langsung terhuyung-huyung begitu ujung cambuk yang berduri halus mendarat tepat di dada sebelah kiri. Kulit dadanya seketika sobek, sehingga darah merembes keluar. Pemuda itu meringis merasakan pedih pada dadanya yang sobek cukup panjang akibat tersengat cambuk hitam berduri halus.

"Curang…!" geram pemuda berbaju putih sambil menatap seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun yang berdiri tegak memegang cambuk hitam tergulung di tangan kanannya.

"Bunuh dia...!" perintah laki-laki berbaju hitam yang memegang cambuk itu, lantang.

"Hiyaaat..!"

Sebelum perintah itu menghilang dari pendengaran, seketika itu juga pemuda berbaju kuning yang tadi ber-tarung melawan pemuda berbaju putih itu langsung me-lompat cepat sambil mengebutkan pedang yang berkilatan ke arah leher.

Wuk!

"Hih...!" Pemuda berbaju putih itu cepat mengangkat pedangnya, menangkis tebasan pedang pemuda berbaju kuning, Dan tepat di saat dua pedang beradu, laki-laki setengah baya berbaju hitam itu cepat bagai kilat mengebutkan cambuknya kembali.

Ctar!

"Akh...!" Pemuda berbaju putih itu langsung jatuh terguling ketika cambuk hitam berbulu halus menghantam kaki kanannya. Sementara, pemuda berbaju kuning sudah gencar sekali menusukkan pedangnya beberapa kali. Akibatnya, pemuda berbaju putih itu harus bergulingan menghindarinya.

"Hup! Yeaaah…!"

Begitu memiliki kesempatan, cepat pemuda berbaju putih itu melompat bangkit berdiri. Tapi baru saja kakinya menjejak tanah, kembali cambuk hitam itu meliuk cepat ke arahnya. Tapi, kali ini dia bisa berkelit dengan memiringkan tubuhnya ke kanan. Pada saat yang bersamaan, pemuda berbaju kuning sudah melompat sambil menusukkan pedang ke arah perut.

"Hiyaaat..!"

Begitu cepat serangan yang dilakukan, sehingga pemuda berbaju putih itu tidak sempat lagi menghindar.

Bresss?

Kedua bola mata pemuda berbaju putih itu jadi ter-belalak. Tubuhnya kontan agak terbungkuk. Sinar matanya seakan-akan menyiratkan ketidakpercayaan kalau perutnya sudah tertancap sebilah pedang. Dan begitu pedang yang menembus perutnya ditarik ke luar, seketika itu juga tubuhnya jatuh terguling ke tanah. Darah mengucur deras dari perutnya yang robek tertembus pedang tadi.

"Kakang...!" Seorang wanita berwajah cukup cantik berlari cepat memburu pemuda berbaju putih yang sudah tergeletak tak bergerak lagi di tanah berumput basah oleh embun.

Sedangkan laki-laki separuh baya berbaju hitam dan pemuda berbaju kuning malah tertawa terbahak-bahak. Suara tawa mereka disambut tawa sekitar tiga puluh orang laki-laki bertampang kasar yang mengelilingi tempat pertarungan tadi.

Sementara wanita muda yang mengenakan baju warna hijau muda hanya menangis sambil memeluk tubuh pemuda berbaju putih yang sudah tak bergerak lagi. Tiba-tiba saja, laki-laki separuh baya yang bersenjatakan cambuk di tangan kiri itu merenggut tangan gadis itu. Lalu, ditariknya hingga berdiri.

"Auwh...!" wanita itu terpekik kaget

"Ha ha ha...!"

"Lepaskan, Bajingan...!" bentak wanita itu berang.

"Kau semakin cantik kalau marah, Dewani. Ha ha ha...!"

"Lepaskan..!" Wanita muda itu terus memberontak, mencoba melepaskan cekalan tangan laki-laki setengah baya itu pada pergelangan tangannya. Tapi, usahanya hanya sia-sia saja. Tenaganya tidak mampu melepaskan cekalan tangan berotot kuat itu. Sedangkan laki-laki separuh baya ini semakin keras tawanya.

"Hup!"

"Auwh...!" Tiba-tiba saja gadis itu dipeluk pinggangnya, lalu cepat sekali laki-laki setengah baya itu melompat ke arah kuda hitam yang tidak jauh darinya. Wanita muda yang tadi dipanggil Dewani hanya menjerit-jerit, dan berusaha melepaskan diri.

Tapi laki-laki separuh baya itu sudah cepat menggebah kudanya. Sedangkan pemuda berbaju kuning hanya tertawa saja, lalu melompat naik ke punggung kudanya. Kemudian, tiga puluh orang yang juga berada di sana bergegas mengikutinya. Dan kini mereka sudah memacu cepat kudanya meninggalkan padang rumput yang tidak seberapa luas itu. Sesekali masih juga terdengar jeritan Dewani, dibarengi tawa terbahak-bahak.

Setelah tak terdengar lagi derap kaki kuda, dan tak terlihat lagi orang-orang itu, pemuda berbaju putih yang tergeletak dengan perut sobek tampak bergerak perlahan. Dia merintih lirih dan mencoba bangkit. Tapi belum juga tubuhnya terangkat sempurna, sudah ambruk lagi menggelimpang di tanah.

"Ohhh.... Aku tidak boleh mati di sini," desah pemuda itu lirih. Pemuda itu mendekap perutnya yang masih mengucurkan darah. Pandangannya begitu nanar, ke arah debu yang mengepul di kejauhan sana. Perlahan-lahan dia merayap, berusaha mendekati seekor kuda yang tertinggal di tempat itu.

"Putih..., kemarilah," ujar pemuda itu perlahan.

Kuda putih itu meringkik, dan mendengus-dengus. Kepalanya mendongak sedikit ke atas, lalu melangkah perlahan menghampiri pemuda itu. Seakan-akan binatang itu bisa mengerti panggilan tadi. Kepalanya ditundukkan, menyentuh kepala pemuda itu.

Perlahan-lahan pemuda berbaju putih ini mencoba bangkit. Bibirnya masih meringis menahan rasa sakit pada perutnya yang masih terus mengucurkan darah. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, dia merayap naik ke punggung kudanya. Kakinya menghentak sedikit, maka kuda putih itu melangkah perlahan. Tak ada lagi tenaga yang tersisa. Dan pemuda itu tertelungkup di punggung kudanya yang terus melangkah semakin cepat saja.

********************

Dewani menangis tertelungkup di atas sebuah balai-balai bambu, di dalam sebuah kamar berukuran kecil. Hanya ada sebuah jendela kecil berjeruji besi. Seluruh dindingnya terbuat dari batu yang cukup tebal. Sedangkan pintu kamar itu terbuat dari besi baja yang kuat dan sangat kokoh. Entah sudah berapa lama gadis itu menangis menguras air matanya. Beberapa kali bibirnya merintih lirih, menyebut nama seseorang yang tidak begitu jelas.

Tangisannya berhenti ketika tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka. Suara derit pintu yang terkuak, membuat Dewani bergegas bangkit. Wanita yang masih berusia cukup muda itu beringsut ke sudut balai-balai bambu ini. Tampak seorang gadis mengenakan baju yang begitu ketat berwarna merah menyala tengah melangkah masuk ke dalam kamar ini. Gadis itu cukup cantik wajahnya.

Seorang laki-laki bertubuh kekar dan berkulit agak hitam, tampak menutup lagi pintu itu. Dia berjaga-jaga di luar pintu yang sudah tertutup rapat kembali. Sedangkan gadis cantik berbaju merah tadi sudah melangkah menghampiri Dewani. Dengan senyum manis terulas di bibir, dia duduk di tepi balai-balai bambu yang hanya beralaskan selembar tikar lusuh. Sedangkan Dewani hanya diam saja sambil menyusut air matanya.

"Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi, Dewani. Aku benar-benar menyesalkan kejadian yang tidak menyenangkan ini," keluh gadis cantik itu, lembut suaranya.

"Jangan bermanis-manis di depanku, Lanjani! Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan padaku!" dengus Dewani, ketus.

Gadis cantik berbaju merah yang dipanggil Lanjani itu hanya tersenyum saja. Begitu manis senyumnya. Sama sekali hatinya tidak terlihat tersinggung mendapat ucapan yang begitu ketus tadi. Namun, Dewani malah memberengut. Bahkan menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian.

"Tentunya tidak enak berada dalam penjara seperti ini. Terkurung, dan tidak punya kebebasan sama sekali...," kata Lanjani seraya bangkit berdiri. Nada suaranya terdengar begitu ringan. Dia melangkah anggun mendekati jendela kecil yang berjeruji besi.

Sedangkan Dewani hanya diam saja. Sorot matanya masih tetap tajam, bersinar penuh kebencian pada wanita cantik berbaju merah menyala itu.

"Aku memang bisa berbuat apa saja padamu, Dewani. Bahkan bisa mudah membunuhmu. Tapi aku tidak ingin melakukan hal itu," kata Lanjani lagi.

Dewani hanya mendengus sinis.

"Seharusnya aku marah, karena kau telah mengecewakan harapanku. Kau yang kupercaya penuh melebihi kepercayaanku pada yang lain, ternyata begitu tega mengkhianatiku. Tapi aku tidak seburuk yang kau sangka, Dewani. Aku masih bisa memberi pengampunan padamu," lanjut Lanjani. Masih tetap terdengar lembut nada suaranya.

Dewani masih tetap diam membisu. Bibirnya menyunggingkan senyum yang terasa begitu getir. Air matanya kini benar-benar kering, seakan-akan tak ada lagi yang tersisa. Sorot matanya masih memancarkan kebencian yang amat sangat pada wanita cantik berbaju merah itu.

Perlahan Lanjani melangkah lagi, dan kembali duduk di tepi balai-balai bambu. Sinar matanya terlihat begitu lembut, bagai bola mata bayi tanpa dosa sedikit pun. Tapi di mata Dewani, justru bagaikan sepasang mata iblis. Dan senyuman yang manis itu, bagaikan seringai serigala kelaparan melihat seekor ayam betina gemuk.

"Aku masih memberi kesempatan padamu, Dewani. Dan kuharap kau tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan kali ini." ujar Lanjani lagi, masih tetap lembut suaranya. Tapi kali ini nadanya mengandung tekanan yang begitu penuh arti.

"Terima kasih," ucap Dewani sinis.

Lanjani kembali bangkit berdiri, kemudian melangkah mendekati pintu. Sebentar ditatapnya Dewani yang masih tetap duduk di sudut balai-balai bambu.

"Pengawal...!" seru Lanjani tidak begitu keras.

Krieeet…! Pintu kamar tahanan itu terbuka perlahan. Tak lama, muncul seorang laki-laki bertubuh tegap. Kulitnya agak gelap dan otot-ototnya bersembulan menampakkan kejantanannya. Tubuhnya terbungkuk sedikit, sambil meletakkan tangan kanan di depan dada.

"Pindahkan Dewani ke kamarnya, dan berikan emban yang baik. Dia bukan lagi tawanan di sini," Lanjani memberi perintah.

"Hamba. Kanjeng Ratu," sahut pengawal itu sambil memberi hormat kembali.

Setelah berkata demikian, Lanjani melangkah keluar dari ruangan tahanan ini. Kemudian, pengawal bertubuh tegap dan agak hitam itu melangkah masuk. Seorang pengawal lagi ikut melangkah masuk. Mereka kemudian membungkuk memberi hormat pada Dewani.

"Kami diperintahkan membawa Kanjeng Nini ke kamar yang sudah disiapkan," kata pengawal itu penuh rasa hormat.

Dewani beranjak bangkit dari balai-balai bambu itu. Bibirnya tersenyum sinis, memandangi dua orang laki-laki yang mengenakan baju bercorak sama itu. Kemudian kakinya melangkah perlahan keluar dari kamar tahanan ini. Dua orang laki-laki pengawal itu mengikuti dari belakang.

"Kenapa kalian masih saja patuh pada ratu iblis itu...?" dengus Dewani ketus, sambil terus melangkah menyusuri lorong yang cukup panjang dan lembab ini.

"Kanjeng Nini... Sebaiknya Kanjeng Nini Dewani tidak berkata seperti itu. Kanjeng Ratu Lanjani sudah cukup baik, tidak memberi hukuman," sergah pengawal berkulit agak gelap itu, dengan sikap penuh rasa hormat.

"Aku lebih senang kalau ratu iblis itu memberi hukuman padaku. Biar semua rakyat Batu Ampar tahu, siapa dia sebenarnya!" dengus Dewani masih bernada ketus.

Sedangkan kedua pengawal itu tidak berkata-kata lagi. Mereka terus berjalan mengikuti Dewani yang menuju keluar lorong ini. Mereka kemudian berbelok ke kanan, setelah melewati pintu yang dijaga dua orang pengawal bersenjata tombak panjang.

********************

Dewani mengayunkan kakinya perlahan-lahan mengelilingi bangunan istana yang sangat besar dan megah ini. Dalam hati, dia menggerutu melihat penjagaan di sekeliling istana ini begitu ketat. Sudah dua hari berada di dalam istana Batu Ampar ini, dan selama itu dicobanya mencari celah untuk bisa keluar tanpa diketahui. Tapi kesempatan yang diinginkan, sama sekali tidak nampak. Dan hatinya semakin kesal meskipun semua kebutuhannya bisa terpenuhi di sini.

Dua orang pengawal dan seorang emban, selalu siap melayani keperluannya. Tapi semua itu sama sekali tidak membuat hati Dewani terhibur. Gadis itu masih memikirkan nasib pemuda berbaju putih yang entah sudah mati, atau masih hidup sekarang ini. Dan selama dua hari ini, Dewani tidak pernah lagi bertemu Lanjani yang menjadi ratu dan penguasa penuh di Kerajaan Batu Ampar.

"Cambuk Setan...," desis Dewani tiba-tiba.

Ayunan kaki Dewani terhenti ketika melihat seorang laki-laki separuh baya berbaju hitam pekat tengah berjalan dari arah depan, ke arahnya. Di tangan kirinya tergenggam seutas cambuk hitam berbulu halus. Laki-laki separuh baya itu tersenyum-senyum begitu dekat dengan Dewani. Dan dia berhenti setelah berjarak sekitar tiga langkah lagi di depan gadis itu.

"Kenapa berhenti di sini? Teruskan saja jalanmu, Cambuk Setan," dengus Dewani ketus.

Sorot mata gadis itu begitu tajam penuh kebencian. Terbayang di matanya peristiwa di padang rumput beberapa hari lalu. Bayangan itu membuat Dewani semakin muak melihat tampang laki-laki separuh baya yang berjuluk si Cambuk Setan ini.

"He he he.... Kau tampak cantik sekali pagi ini, Dewani," puji si Cambuk Setan terkekeh, tidak mempedulikan keketusan Dewani padanya.

"Terima kasih. Aku tidak memerlukan pujianmu!" dengus Dewani tetap ketus.

"He he he.... Hm, aku tahu. Kau masih memikirkan Rapanca, kekasihmu itu, bukan...? Sudahlah, Dewani. Tidak perlu memikirkan anak muda gembel tidak tahu diri itu. Dia sekarang sudah jadi santapan cacing-cacing tanah." bujuk si Cambuk Setan diiringi tawanya yang terkekeh.

"Huh!" Dewani hanya mendengus ketus. Gadis itu cepat-cepat melangkah meninggalkan, tapi si Cambuk Setan malah mengikuti. Bahkan mensejajarkan ayunan langkahnya di samping Dewani. Sehingga membuat gadis itu semakin bertambah muak saja. Kembali dia teringat pada Rapanca, pemuda yang dicintainya. Tapi, Rapanca kini tidak ketahuan lagi nasibnya sekarang setelah dikeroyok si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak di padang rumput dekat hutan beberapa hari lalu.

"Setiap hari, kulihat kau selalu berjalan-jalan mengelilingi istana ini. Aku tahu, apa yang ada dalam pikiranmu, Dewani." kata si Cambuk Setan.

Dewani hanya diam saja. Kakinya terus terayun melangkah cepat-cepat. Tapi, si Cambuk Setan terus di sampingnya.

"Kalau mau, aku bisa membantumu keluar dari istana ini." kata si Cambuk Setan lagi.

Dewani langsung menghentikan langkah kakinya. Dia begitu terkejut mendengar kata-kata si Cambuk Setan barusan. Sungguh tidak disangka kalau yang dilakukannya selama dua hari ini bisa diketahui begitu cepat. Dan ini benar-benar mengejutkan.

"Kau benar-benar ingin keluar dari istana ini, Dewani...?" tanya si Cambuk Setan seperti ingin meyakinkan dirinya.

"Hm...," Dewani hanya menggumam saja perlahan.

"Aku bisa secara mudah membantumu. Asal kau bersedia menemaniku ma... "

Plak!

"Binatang...!" Dewani langsung berlari cepat meninggalkan si Cambuk Setan yang jadi terlongong seraya meraba pipinya.

Sama sekali tidak disangka kalau Dewani akan bertindak begitu. Padahal, tadi kata-katanya belum selesai. Tamparan Dewani begitu pedas terasa di pipinya. Tapi si Cambuk Setan merasakan hatinya lebih pedas dari tamparan gadis itu.

"Perempuan setan...! Awas kau...!" dengus si Cambuk Setan menggeram marah.

Sementara Dewani sudah jauh berlari, dan mengilang begitu masuk ke dalam bangunan istana dari pintu samping. Sedangkan si Cambuk Setan masih berdiri mematung sambil meraba-raba pipinya yang ditampar Dewani tadi. Begitu kerasnya, sehingga di pipi kiri si Cambuk Setan jadi memerah, bergambar telapak tangan.

DUA

Hidup di dalam sebuah istana yang megah dan serba ada, memang tidak selamanya membuat orang bisa bahagia. Hal ini dirasakan betul oleh Dewani. Meskipun segala kebutuhannya bisa tercukupi, tapi rasanya seperti hidup dalam penjara. Dan kehidupan yang dijalaninya di dalam Istana Batu Ampar, lebih menyakitkan daripada hidup di dalam penjara. Baginya, penjara lebih baik daripada berada dalam sangkar emas.

Sudah lebih dari dua purnama Dewani terpaksa menjalani kehidupan seperti itu. Dan selama itu pula, segala godaan sangat berat harus dihadapinya. Godaan itu bukan hanya datang dari si Cambuk Setan saja, tapi juga dari si Iblis Pedang Perak dan beberapa jago Istana Batu Ampar yang menjadi kaki tangan Lanjani, ratu di Kerajaan Batu Ampar.

"Aku akan berbuat nekat jika orang-orangmu masih juga menggangguku, Lanjani," desis Dewani mengancam, saat punya kesempatan bertemu wanita cantik penguasa Kerajaan Batu Ampar.

"Mereka hanya tertarik pada kecantikanmu saja, Dewani," Lanjani menanggapi begitu ringan, seakan-akan tidak mempedulikan pengaduan gadis ini.

"Kau seperti tidak peduli terhadap diriku, Lanjani...," desis Dewani menatap penuh curiga.

"Kalau aku tidak peduli, tentu kau tidak bisa bebas sekarang ini, Dewani," masih terdengar ringan nada suara Lanjani.

"Siapa bilang aku bebas...? Kau sudah merampas kebebasanku! Kau sudah membatasi ruang gerakku. Hhh...! Aku merasa lebih baik kalau aku ditempatkan dalam penjara, Lanjani," dengus Dewani begitu ketus suaranya.

"Tidak ada yang merampas kebebasanmu, Dewani. Dan aku juga tidak membatasi ruang gerakmu. Kau boleh berbuat apa saja di istana ini. Tapi, kau memang tidak diberi izin untuk keluar istana. Aku tidak mau kau mencuri kesempatan untuk lari lagi, seperti yang kau lakukan bersama si gembel Rapanca!" kali ini nada suara Lanjani terdengar tajam sekali.

"Kau pikir, aku akan terus menerima dan berdiam diri begitu saja, Lanjani..? Hhh...!" sinis sekali suara Dewani.

"Dengar, Dewani. Ini yang terakhir kali kau kuberi pengampunan. Jika kau ulangi lagi kebodohan yang sama, aku akan lepas tangan. Dan jangan harap aku bisa melindungimu lagi," desis Lanjani setengah mengancam.

"Gertakanmu tidak akan menggoyahkan hatiku, Lanjani," desis Dewani dingin.

"Kali ini kau tidak akan punya kesempatan, Dewani. Dan kuminta kau tidak lagi-lagi mencoba lari dari kerajaan ini. Tidak ada gunanya berbuat bodoh seperti itu."

Dewani hanya tersenyum sinis saja. Sementara, Lanjani bangkit berdiri dari duduknya di bangku taman kaputren yang letaknya di bagian belakang Istana Batu Ampar ini. Sebentar matanya menatap tajam pada Dewani yang masih tetap duduk diam sambil membalas tatapan penguasa Kerajaan Batu Ampar. Sesaat mereka saling menatap tajam sekali. Kemudian, Lanjani memutar tubuhnya berbalik. Lalu, dia melangkah cepat meninggalkan gadis itu.

Sementara Dewani masih tetap duduk di bangku taman kaputren itu. Matanya masih tetap menatap tajam pada Lanjani yang semakin jauh meninggalkannya. Kemudian, penguasa Kerajaan Batu Ampar itu menghilang di balik pintu taman kaputren ini. Dewani menarik napas dalam-dalam. Pandangannya kini beredar ke sekeliling, merayapi sekitar taman kaputren yang begitu indah dihiasi bunga-bunga bermekaran menyebarkan aroma harum menusuk hidung.

"Edan...! Sampai-sampai kaputren dijaga ketat begini. Hhh..., Lanjani benar-benar sudah keterlaluan. Istana ini dijadikan seperti benteng yang akan diserang musuh saja," desis Dewani dalam hati.

Memang, di sekitar taman kaputren ini terlihat beberapa orang berseragam prajurit pengawal yang berjaga-jaga bersenjata lengkap.

"Hhh.... Kalau saja aku bisa keluar dari sini...," desah Dewani lagi dalam hati.

Wajah gadis itu jadi berubah mendung. Sinar matanya begitu kosong, merayapi tanaman bunga yang bermekaran begitu indah. Tapi di mata Dewani, keindahan itu tidak bisa lagi dinikmati. Semua bunga yang ada dalam taman kaputren ini seakan hanya bunga bangkai yang berbau busuk. Tak ada lagi keindahan. Tak ada lagi keharuman dan semerbak wangi bunga-bunga. Yang ada hanya kemesuman bagai berada dalam neraka.

"Apa pun akibatnya, aku harus bisa keluar dari sini..," desis Dewani bertekad.

********************

Malam sudah begitu larut, tapi Dewani belum juga bisa memejamkan matanya. Entah, sudah berapa kali dia ber-jalan memutari kamarnya. Dan sudah beberapa kali pula matanya merayapi keluar, dari jendela kamar yang dibuka lebar. Keningnya terlihat berkerut begitu dalam, mencari cara untuk bisa keluar dari istana ini. Tapi sampai saat ini, belum juga bisa ditemukan cara yang terbaik.

"Huh! Siang malam istana ini selalu dijaga ketat. Bagaimana aku bisa keluar...?" dengus Dewani kesal dalam hati.

Tatapan matanya begitu tajam, merayapi para prajurit yang tidak berapa jauh dari jendela kamarnya. Ada sekitar enam orang prajurit yang menyandang senjata lengkap, bagai hendak menghadapi peperangan. Belum lagi sekelompok prajurit yang selalu meronda mengelilingi sekitar istana ini secara bergantian. Dewani benar-benar tidak lagi memiliki kesempatan. Tapi begitu menatap ke arah tembok benteng sebelah Timur, mendadak saja matanya jadi terbeliak lebar.

"Heh...?!" Hampir Dewani tidak percaya dengan penglihatannya. Di atas tembok yang cukup gelap dan agak terlindung oleh pohon beringin, terlihat seseorang bertubuh ramping. Bajunya berwarna kuning gading yang begitu ketat. Belum juga Dewani bisa melihat jelas, tiba-tiba saja sosok tubuh berbaju kuning itu sudah melesat cepat.

Begitu cepatnya gerakan sosok tubuh berbaju kuning itu, sehingga Dewani tidak bisa lagi melihat jelas. Tahu-tahu, terdengar suara-suara mengeluh pendek yang saling susul. Kembali bola mata gadis itu terbeliak, begitu melihat enam orang prajurit yang berjaga tidak jauh dari jendela kamarnya sudah tergeletak di tanah. Dan sebelum Dewani bisa menyadari apa yang baru saja dilihatnya, tiba-tiba saja sosok tubuh berbaju kuning itu sudah melesat ke arahnya. Kecepatannya begitu cepat luar biasa.

"Heh...?!" Dewani jadi tersentak kaget begitu tiba-tiba merasakan hembusan angin yang begitu keras. Gadis itu semakin terbeliak lebar begitu menyadari kalau di dalam kamarnya, tahu-tahu sudah ada seseorang berbaju kuning gading. Bajunya juga begitu ketat sehingga membentuk tubuhnya yang ramping. Sukar bagi Dewani untuk bisa mengenali, karena orang ini mengenakan sebuah caping lebar. Sehingga, seluruh wajahnya hampir tertutupi. Hanya bagian dagu dan sedikit bibirnya saja yang terlihat samar-samar.

"Siapa kau...?" tanya Dewani, agak bergetar suaranya.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sebaiknya bersiap-siaplah keluar dari sini. Sementara aku akan menarik perhatian para penjaga, kau keluar melewati benteng sebelah Timur," ujar sosok tubuh berbaju kuning gading itu datar. Dari nada suaranya, jelas kalau dia seorang wanita. "Kau bisa melompati tembok itu, bukan...?"

Dewani berpaling sebentar, menatap tembok benteng yang tingginya lebih dari dua batang tombak. Sedikitnya, dia memang pernah mempelajari ilmu olah kanuragan, dan ilmu meringankan tubuh. Tapi, gadis itu tidak yakin bisa melompati tembok benteng yang begitu tinggi. Jangankan mencoba, memikirkannya pun tidak pernah terlintas dalam benaknya. Dewani kembali menatap wanita aneh berbaju kuning gading itu.

"Aku tidak yakin bisa melakukannya. Aku belum pernah melompat setinggi itu," keluh Dewani, agak lirih nada suaranya.

"Kalau begitu, aku akan melemparkanmu ke sana," ujar wanita berbaju kuning gading itu.

"Heh...?!" Dewani jadi terkejut setengah mati.

"Kau tidak perlu khawatir, Dewani. Ada temanku yang akan menyambutmu di luar sana," jelas wanita aneh itu lagi.

Dan sebelum Dewani bisa berkata apa-apa lagi, tiba-tiba saja wanita aneh berbaju kuning gading itu sudah melompat cepat sambil menyambar tubuh Dewani. Gadis itu sampai terpekik kaget, tapi tidak bisa lagi melakukan sesuatu. Bahkan juga belum sempat disadarinya, begitu wanita berbaju kuning gading yang tidak ketahuan siapa sebenarnya, tiba-tiba sudah berada di dekat tembok benteng sebelah Timur. Pada saat itu, serombongan prajurit yang sedang meronda lewat di sana.

"Hei..!" bentak salah seorang prajurit itu ketika melihat mereka.

"Hup...!" Tanpa bicara sedikit pun, wanita aneh berbaju serba kuning yang begitu ketat itu melemparkan Dewani ke atas. Tubuh gadis itu melayang deras ke udara, seperti segumpal kapas yang tertiup angin. Gadis itu sampai menjerit ngeri begitu tubuhnya melayang ke udara, hingga melewati tembok benteng yang cukup tinggi.

Tepat di saat tubuh Dewani meluruk deras keluar benteng. sekitar dua puluh prajurit yang memergoki sudah berlarian ke arah wanita berbaju kuning gading itu. Tapi sebelum para prajurit penjaga mendekat, tiba-tiba saja wanita aneh berbaju kuning itu melepaskan selembar selendang berwarna kuning keemasan yang membelit pinggangnya.

"Hiyaaa...!"

Wukkk!

Cepat sekali wanita berbaju kuning gading itu mengebutkan senjatanya ke depan. Selendang kuning keemasan yang panjangnya lebih dari tiga batang tombak itu meluncur deras, menghajar tiga orang prajurit sekaligus yang berada paling depan. Ketiga prajurit itu menjerit melengking tinggi. Tubuh mereka langsung terpental ke belakang, menabrak beberapa prajurit yang berlari-lari cepat di belakang.

Dan sebelum prajurit-prajurit yang lain bisa bertindak, wanita aneh berbaju kuning gading itu sudah melompat ke depan sambil mengebutkan cepat selendangnya. Selendang kuning keemasan itu meluncur deras. Bahkan meliuk-liuk bagai seekor ular naga mengamuk, menghajar para prajurit itu.

Jeritan-jeritan panjang melengking tinggi terdengar seketika saling susul. Tampak beberapa prajurit kembali berpentalan, dan langsung ambruk tak mampu bangun lagi. Darah langsung mengucur dari tubuh-tubuh yang tersambar ujung selendang kuning keemasan itu.

"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"

Wanita berbaju kuning itu terus berlompatan sambil mengebutkan cepat selendangnya. Hingga, tak ada seorang prajurit pun yang mampu bertahan lagi. Beberapa orang prajurit yang memiliki kepandaian cukup, masih sempat berlompatan menghindar. Tapi mereka juga tidak bisa bertahan lebih lama lagi, karena serangan-serangan yang dilancarkan wanita aneh berbaju kuning gading itu demikian gencar dan cepat luar biasa. Hingga dalam waktu yang tidak berapa lama saja, dua puluh orang prajurit sudah bergelimpangan bersimbah darah tak bernyawa lagi.

"Phuih...!" Wanita aneh yang memakai caping besar hingga menutupi hampir seluruh wajahnya itu mendengus berat, saat melihat puluhan prajurit berlarian menuju ke arahnya.

Jeritan-jeritan dua puluh prajurit itu rupanya terdengar ke seluruh bagian istana ini. Sehingga, para prajurit yang bertugas jaga malam langsung berdatangan ke bagian Timur Istana Batu Ampar ini.

"Mustahil aku bisa menghadapi mereka semua...," desis wanita aneh itu menggumam perlahan.

Menyadari kalau tidak akan mungkin bisa menghadapi puluhan prajurit bersenjata lengkap, maka cepat sekali wanita aneh itu melentingkan tubuhnya ke udara. Lalu, manis sekali dia hinggap di atas tembok benteng yang tingginya lebih dari dua batang tombak. Dan tiba-tiba saja, tangan kanannya berkelebat cepat ke depan.

"Yeaaah...!" Saat itu juga, dari telapak tangannya meluncur beberapa buah benda bulat sebesar mata kucing berwarna kuning keemasan. Benda-benda bulat itu meluncur deras dan langsung menghantam tanah, tepat di depan para prajurit yang sedang berlarian ke arahnya.

Glarrr...! Ledakan-ledakan keras menggelegar seketika itu juga terdengar dahsyat begitu benda-benda bulat berwarna kuning keemasan menghantam tanah.

Beberapa prajurit yang berada di depan menjerit melengking tinggi, bahkan berpentalan ke belakang. Sedangkan prajurit-prajurit lain jadi terlongong melihat sekitar sepuluh prajurit seketika tewas. Tubuh mereka melepuh seperti terbakar, terkena ledakan dahsyat dari benda-benda kecil berwarna kuning keemasan yang dilepaskan wanita aneh bercaping dan berbaju kuning gading.

"Hup...!" Tanpa membuang-buang waktu lagi, wanita berbaju kuning gading itu cepat melompat turun dari atas tembok benteng ini. Gerakannya begitu ringan, sehingga tak ada suara sedikit pun yang terdengar saat kedua kakinya mendarat di luar tembok benteng. Kakinya mendarat tepat di depan Dewani yang kini sudah ditemani seorang laki-laki berjubah putih bersih. Sebatang tongkat tak beraturan bentuknya tampak tergenggam di tangan kanan. Dia juga mengenakan caping bambu berukuran lebar, seperti yang dikenakan wanita aneh berbaju kuning gading.

"Ayo cepat kita tinggalkan tempat ini," ajak wanita aneh berbaju kuning gading.

Tanpa membuang-buang waktu lagi mereka bergegas berlompatan naik ke atas punggung kuda. Memang ada tiga ekor kuda yang sudah menunggu di luar benteng sebelah Timur ini. Tak berapa lama kemudian, tiga ekor kuda sudah berpacu cepat meninggalkan benteng Istana Batu Ampar sebelah Timur.

********************

Lanjani begitu berang menerima laporan kalau Dewani berhasil meloloskan diri, dibantu seseorang yang tidak diketahui siapa adanya. Bahkan lebih dari tiga puluh orang prajuritnya tewas. Begitu berangnya, sehingga jago-jago Istana Batu Ampar ini diperintahkan untuk mengejar malam itu juga. Bahkan hampir seluruh prajurit dikerahkan untuk mengejar Dewani.

"Sudah kuperingatkan, tidak ada gunanya mempertahankan gadis itu tetap hidup, Lanjani. Bahkan bisa-bisa membahayakan kedudukanmu sebagai ratu yang berkuasa di Kerajaan Batu Ampar ini," kata si Cambuk Setan.

Lanjani hanya diam saja. Wajahnya tampak memerah, menahan kemarahan yang amat sangat dalam dadanya. Dia berdiri mematung di depan jendela, memandang lurus ke dalam kegelapan yang begitu pekat malam ini. Sambil menghembuskan napas panjang yang terasa begitu berat penguasa Kerajaan Batu Ampar itu memutar tubuhnya berbalik. Pandangannya langsung tertuju pada Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak yang berdiri berdampingan tidak berapa jauh darinya. Di dalam ruangan yang berukuran sangat luas dan megah ini, hanya ada mereka bertiga.

"Ini sudah ketiga kalinya Dewani membuat kesulitan buat kita." tegas Cambuk Setan, namun agak mendesah nada suaranya.

"Tapi aku tidak mungkin melenyapkannya begitu saja, Paman Cambuk Setan," tukas Lanjani pelan.

Begitu pelannya, hampir tak terdengar. Tapi dari nada suaranya, begitu jelas terasa kalau hatinya memendam kemarahan yang tak bisa lagi ditutupi. Tapi, kemarahannya itu juga mengandung suatu kecemasan.

"Kenapa tidak, Lanjani..? Kejadian yang sudah berulangkali ini sudah memberi satu alasan kuat bagimu untuk menyingkirkan Dewani selama-lamanya. Dan kedudukanmu akan semakin kokoh, tanpa harus dihantui bayang-bayang gadis itu lagi," selak Iblis Pedang Perak yang sejak tadi diam saja.

"Benar, Lanjani. Dengan lenyapnya Dewani, itu berarti tidak ada lagi yang bisa mengungkit dan memaksamu turun takhta. Kau akan semakin kuat bahkan bisa mengambil kerajaan-kerajaan kecil yang bertetangga dengan kita," sambung Cambuk Setan, begitu bersemangat. "Dengan adanya aku dan Iblis Pedang Perak tak ada satu kerajaan pun yang akan sanggup menandingi kekuatan Batu Ampar, Lanjani. Bahkan kau bisa menarik jago-jago rimba persilatan dengan kekayaanmu yang belimpah. Terlebih lagi, jika sudah bisa menguasai kerajaan-kerajaan lain. Akan semakin banyak upeti yang mengalir kepadamu."

Lanjani hanya diam saja seperti berpikir menyimak kata-kata yang diucapkan si Cambuk Setan barusan.

"Kau harus ingat cita-cita dan tujuanmu semula, Lanjani. Hanya kau satu-satunya yang bisa diharapkan untuk menjadi penerus cita-cita besar kami semua," bujuk Cambuk Setan lagi. "Bukan begitu, Pedang Perak..?"

"Benar," sahut Iblis Pedang Perak seraya menganggukkan kepala.

"Dan ini merupakan satu kesempatan besar yang tidak boleh disia-siakan begitu saja," kata Cambuk Setan lagi.

Sementara Lanjani masih tetap diam membisu. Sedangkan Cambuk Setan sudah membuka mulutnya, hendak bicara lagi Tapi belum juga suaranya keluar, tiba-tiba saja….

"Awas...!" seru Iblis Pedang Perak. "Hup...!"

"Uts...!" Lanjani cepat memiringkan tubuh ke kanan, begitu tiba-tiba si Iblis Pedang Perak melompat ke depannya. Dan cepat sekali, tangan Iblis Pedang Perak bergerak di samping wajah Lanjani. Wanita berwajah cantik, bertubuh sintal dan padat berisi itu jadi terbeliak begitu dalam genggaman tangan Iblis Pedang Perak tardapat sebatang anak panah berwarna kuning keemasan.

"Ada suratnya. Lanjani...." jelas Iblis Pedang Perak seraya menyerahkan anak panah yang tadi meluncur deras dari jendela, dan berhasil ditangkapnya.

Lanjani cepat mengambil anak panah itu. Memang, pada bagian tengah batang anak panah berwarna kuning keemasan itu terdapat selembar daun lontar yang terikat pita berwarna merah darah. Lanjani cepat-cepat melepaskan ikatan pita merah itu, dan membuka daun lontar yang tergulung pada batang anak panah.

"Setan…!" desis Lanjani, begitu membaca sebaris tulisan yang tertera di atas daun lontar itu.

"Ada apa, Lanjani?" tanya Cambuk Setan.

"Kau baca ini, Paman," ujar Lanjani seraya menyerahkan daun lontar itu.

Cambuk Setan segera mengambil lembaran daun lontar itu. Keningnya jadi berkerut begitu membaca sebaris tulisan yang begitu rapi, dan seperti ditulis menggunakan darah. Sementara, Iblis Pedang Perak yang juga melihat tulisan di dalam lembaran daun lontar itu menggumam membaca sebaris kalimat yang tertera di sana.

"Jangan bermimpi terlalu muluk. Kau tak berhak atas takhta Batu Ampar!" kata Iblis Pedang Perak mengulangi tulisan surat itu.

"Keparat…! Siapa yang berani berbuat edan seperti ini, heh...?!" Geram Cambuk Setan sambil meremas lembaran daun lontar itu.

"Siapa pun orangnya, sudah jelas surat itu ditujukan padaku, Paman," kata Lanjani, agak ditekan nada suaranya.

Cambuk Setan bergegas melangkah mendekati jendela. Pandangannya langsung diedarkan merayapi keadaan di luar jendela itu. Tapi yang ada di depan matanya hanya kegelapan saja. Hanya pohon-pohon yang menghitam, tanpa sedikit pun mendapat cahaya rembulan yang bersembunyi di balik awan hitam nan tebal.

"Kau lihat, siapa yang mengirim surat edan itu, Pedang Perak?" tanya Cambuk Setan seraya memutar tubuh, dan langsung menatap si Iblis Pedang Perak.

"Aku tidak sempat memperhatikan," sahut Iblis Pedang Perak.

"Hm... Aku merasa persoalan ini akan berbuntut panjang," gumam Cambuk Setan perlahan sambil memandangi anak panah berwarna kuning keemasan yang kini sudah berada dalam genggaman tangannya.

Laki-laki berusia setengah baya mengenakan baju warna hitam pekat itu, menatap cukup dalam pada Lanjani. Kemudian pandangannya beralih pada Iblis Pedang Perak yang juga tengah memandang ke arahnya.

"Kau kenali anak panah itu...?" tanya Cambuk Setan seraya menatap Iblis Pedang Perak dan Lanjani bergantian.

Mereka hanya menggeleng kepala saja.

"Pemilik panah ini pasti orang yang sama dengan yang membantu Dewani keluar dari istana ini," duga Cambuk Setan setengah menggumam.

"Bagaimana kau bisa memastikan, Paman Cambuk Setan?" tanya Iblis Pedang Perak.

"Kau ingat, apa yang dilaporkan para prajurit? Orang yang membantu Dewani menggunakan senjata selendang warna kuning emas. Bahkan saat meloloskan diri pun melepaskan beberapa buah senjata peledak yang berwarna kuning emas juga. Dan sekarang anak panah ini, juga berwarna kuning emas," Jelas Cambuk Setan.

"Hm..., benar juga," gumam Iblis Pedang Perak.

"Tapi, siapa dia sebenarnya, Paman?" tanya Lanjani ingin tahu.

"Aku pernah mendengar ada seorang tokoh kosen yang selalu menggunakan senjata berwarna kuning emas. Tapi..." jawaban Cambuk Setan terputus.

"Tapi kenapa, Paman?" desak Lanjani.

"Aku tidak percaya kalau dia sampai ikut campur dalam persoalan ini," desah Cambuk Setan perlahan.

"Kau tahu, siapa dia, Paman?" desak Lanjani lagi semakin ingin tahu.

"Di kalangan rimba persilatan, memang tidak ada lagi yang selalu menggunakan senjata berwarna kuning emas. Dan orang itu berjuluk Dewi Selendang Maut," jelas Cambuk Setan, hampir tak terdengar suaranya.

"Siapa...?!" sentak Iblis Pedang Perak hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Dewi Selendang Maut," ulang Cambuk Setan.

********************

TIGA

Memang sukar di percaya. Mereka semua tahu, Dewi Selendang Maut sudah lebih dari sepuluh tahun tidak lagi terdengar namanya. Bahkan semua orang di kalangan rimba persilatan sudah menduga kalau tokoh wanita tua yang memiliki kepandaian tinggi dan sukar dicari tandingannya itu sudah meninggal dunia. Atau paling tidak, sudah meninggalkan keganasan rimba persilatan.

Hal inilah yang membuat si Cambuk Setan dan Ibis Pedang Perak jadi terdiam membisu, tak berkata-kata lagi. Sedangkan Lanjani yang belum pernah mendengar tokoh wanita kosen itu hanya bisa memandangi dua orang jago andalannya. Dan untuk beberapa waktu tamanya, mereka tak ada yang berbicara sedikit pun. Semua terdiam seperti tersirep, hingga tak mampu lagi membuka suara sedikit pun.

"Bisa kalian jelaskan, siapa Dewi Selendang Maut itu…?" Lanjani tidak bisa juga menahan rasa keingintahuannya.

Baik si Cambuk Setan maupun Iblis Pedang Perak tidak ada yang menjawab. Mereka saling berpandangan beberapa saat, lalu sama-sama melepaskan napas panjang yang terasa begitu berat. Kemudian, mereka sama-sama memandang Lanjani yang juga tengah memandangi kedua laki-laki jago andalannya ini.

"Paman Cambuk Setan.... siapa Dewi Selendang Maut itu?" tanya Lanjani lagi, meminta penjelasan setelah melihat kedua jago andalannya kelihatan begitu cemas.

"Aku sendiri belum yakin kalau dia muncul lagi, dan mencampuri urusan ini...," ungkap si Cambuk Setan, agak mendesah nada suaranya.

"Kenapa kau berkata seperti itu, Paman?" desak Lanjani semakin penasaran.

"Karena sudah lebih dari sepuluh tahun dia tidak pernah kelihatan lagi. Bahkan kabar beritanya pun tidak pernah terdengar lagi. Semua orang memastikan kalau Dewi Selendang Maut sudah meninggal. Paling tidak, sudah meninggalkan dunia persilatan." kata si Cambuk Setan mencoba menjelaskan.

"Kalau memang sudah tidak ada lagi, kenapa kalian jadi kelihatan begitu cemas?"

"Lanjani…. Jika Dewi Selendang Maut benar-benar muncul lagi, tak ada seorang pun yang mampu menghadapinya. Bahkan aku sendiri sudah pasti tidak mampu menandinginya. Kepandaiannya begitu tinggi, dan sukar dicari tandingannya." jelas si Cambuk Setan, bernada mengeluh.

"Dewi Selendang Maut menghilang sepuluh tahun lalu, karena tidak ada lagi yang bisa menandinginya." sambung Iblis Pedang Perak.

Meskipun Iblis Pedang Perak masih berusia sekitar tiga puluh lima tahun, tapi pengetahuannya tentang tokoh-tokoh tua berkepandaian tinggi cukup luas juga. Malah bukan hanya tokoh-tokoh kosen yang menghilang baru sepuluh tahun. Yang hidup di atas seratus tahun lalu pun, diketahuinya juga. Bahkan dipelajarinya dengan seksama. Bukan hanya tingkatan kepandaiannya saja, tapi segala kepribadian golongannya pun dipelajari.

"Dewi Selendang Maut menghilang dari rimba persilatan setelah bertarung melawan Pendekar Bayangan Dewa. Hanya pendekar itu saja yang mampu menandingi kesaktiannya. Dalam pertarungan itu, tak ada yang tahu hasilnya. Dan mereka sama-sama tidak terdengar lagi namanya setelah pertarungan itu," jelas Ibis Pedang Perak lagi.

"Hm... Dari golongan apa dia?" tanya Lanjani.

"Sama seperti kami," sahut Iblis Pedang Perak.

"Kau tahu, di mana pertarungan itu terjadi?" tanya Lanjani begitu ingin tahu.

"Di Puncak Gunung Haling." sahut Iblis Pedang Perak lagi.

"Dan di sana pula mereka menghilang?" tanya Lanjani lagi.

"Kabarnya memang begitu," sahut Iblis Pedang Perak.

Lanjani tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tubuhnya berputar berbalik, lalu melangkah perlahan menuju pintu yang sejak tadi tertutup rapat.

Sementara itu, rona merah mulai membias di ufuk Timur. Memang, sudah sejak tadi telah terdengar suara kokok ayam jantan di kejauhan. Kicauan burung pun sudah begitu ramai terdengar. Pagi memang sudah datang. Dan itu berarti mereka semalaman penuh tidak memejamkan mata sedikit pun.

"Siapkan kuda kalian. Kita berangkat ke Gunung Haling," ujar Lanjani seraya membuka pintu.

"Eh...?!"

Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak jadi terperangah. Tapi sebelum mereka bisa berkata sesuatu, Lanjani sudah menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat. Kedua orang jago dari Kerajaan Batu Ampar itu hanya bisa saling berpandangan. Mereka benar-benar tidak mengerti terhadap keputusan yang begitu tiba-tiba dari junjungan mereka.

"Apa maksudnya dia ingin ke sana...?" tanya Iblis Pedang Perak seperti bertanya pada diri sendrri.

"Entahlah," sahut si Cambuk Setan mendesah. "Sebaik-nya ikuti saja keinginannya."

"Hhh...! Sukar sekali untuk bisa mengerti kepribadiannya," desah Iblis Pedang Perak.

Mereka tidak berkata-kata lagi, lalu melangkah meninggalkan ruangan itu dengan hati terus bertanya-tanya. Keputusan yang begitu mendadak dan tiba-tiba tadi, membuat mereka benar-benar tidak bisa memahami maksud dan kepribadian Ratu Lanjani yang menguasai Kerajaan Batu Ampar ini.

********************
Pendekar Rajawali Sakti


Siang itu udara terasa begitu panas. Matahari bersinar teramat terik, seakan-akan ingin membakar semua yang ada di atas permukaan bumi ini. Panasnya udara yang begitu menyengat, sangat terasa di Puncak Gunung Haling yang tampak gersang, penuh bebatuan. Hanya sedikit saja pepohonan yang tumbuh di sana.

Di puncak gunung yang gersang itu terlihat dua orang yang tengah menjalankan kudanya perlahan-lahan. Yang menunggang kuda berwarna hitam pekat dan berkilat, seorang pemuda berwajah tampan dengan tubuh tegap berotot. Bajunya rompi putih dengan sebuah gagang pedang berbentuk kepala burung menyembul di balik punggungnya.

Sedangkan seorang lagi yang menunggang kuda putih, adalah seorang gadis cantik berbaju biru. Sebuah gagang pedang berbentuk kepala naga berwarna hitam, menyembul dari balik punggungnya. Tampak di balik ikat pinggangnya yang berwarna kuning keemasan, terselip sebuah kipas berwarna putih keperakan. Bagian ujungnya berbentuk runcing, seperti mata anak panah berukuran kecil.

Melihat dari pakaian dan senjata yang disandang, sudah dapat dipastikan kalau mereka adalah Rangga dan Pandan Wangi. Di kalangan orang-orang persilatan, mereka lebih dikenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut. Kedua pendekar muda itu menghentikan langkah kaki kudanya, tepat di tengah-tengah Puncak Gunung Haling yang gersang ini.

"Ternyata tidak terlalu sulit mencapai puncak gunung ini, Kakang." ujar Pandan Wangi seraya turun dari punggung kudanya.

Sedangkan Rangga hanya tersenyum saja. Dengan gerakan ringan dan manis sekali, Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dari punggung kudanya. Mereka kemudian melangkah mendekati sebatang pohon beringin yang cukup rindang. Hanya pohon ini satu-satunya yang ada di tengah-tengah Puncak Gunung Haling yang gersang ini. Sedangkan pohon-pohon lainnya jauh dari sini. Memang sepanjang mata memandang, puncak gunung ini seperti sebuah gunung batu. Begitu banyaknya batu yang ber-serakan di sini, sehingga membuat udara jadi begitu panas menyengat.

"Kau yakin di sini tempatnya, Pandan?" tanya Rangga setelah berada di bawah naungan rindangnya pohon beringin, sehingga melindungi kedua pendekar muda itu dari sengatan sinar matahari yang begitu terik.

"Begitulah keterangan yang kuperoleh." sahut Pandan Wangi.

"Aku tidak melihat ada tanda-tanda orang pernah datang ke sini, Pandan," kata Rangga lagi seraya mengedarkan pandangan berkeliling.

"Tempat ini memang hanya dijadikan ajang adu kesaktian." jelas Pandan Wangi, seperti tahu betul akan tempat gersang ini. "Dan terakhir kali orang datang ke sini pada waktu sepuluh tahun yang lalu, ketika terjadi pertarungan antara Bibi Dewi Selendang Maut melawan Paman Pendekar Bayangan Dewa. Dan setelah itu, tidak ada lagi orang yang datang ke sini sampai sekarang."

"Jadi baru kita berdua saja yang datang ke sini selama sepuluh tahun ini, Pandan?" nada suara Rangga seperti bertanya.

"Sudah lebih dari sepuluh tahun, Kakang. Tapi, aku tidak tahu pasti tepatnya. Soalnya, ada juga orang yang mengatakan sudah lima belas tahun. Juga ada yang mengatakan sudah dua belas tahun."

Rangga hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Kembali pandangannya beredar ke sekeliling. Bola matanya jadi pedih, karena matahari yang memancar siang ini memang begitu terik. Sehingga, sekitar mereka seperti terdapat rintik-rintik air bagai berada di lautan lepas yang begitu luas tak bertepi. Angin yang berhembus kencang pun seakan-akan tidak mampu mengurangi sengatan matahari yang terus membakar apa saja.

"Lalu, apa sebenarnya tujuanmu ke sini, Pandan?" tanya Rangga yang memang belum diberi tahu tujuan gadis itu membawanya ke Puncak Gunung Haling.

"Aku hanya ingin mendapatkan kepastian saja," sahut Pandan Wangi.

"Maksudmu?"

"Kau tahu, Kakang, Antara Bibi Dewi Selendang Maut dan Paman Pendekar Bayangan Dewa masih ada hubungan darah persaudaraan. Dan dari keterangan yang kuperoleh, tinggal aku sendiri salah satu keponakannya yang masih hidup. Sedangkan kau tahu sendiri, tidak ada lagi sanak keluargaku yang masih ada," jelas Pandan Wangi tentang maksudnya datang ke Puncak Gunung Haling ini.

Rangga mengangguk-anggukkan kepala. Bisa dimengerti kalau Pandan Wangi memang selalu ingin mencari tahu tentang dirinya yang sebenarnya. Dan gadis itu memang sudah terpisah dari sanak keluarganya sejak masih bayi. Jadi, tidak mustahil jika keraguan akan dirinya masih begitu membayanginya. Bahkan sampai sekarang, gadis itu masih terus mencari di mana saja orang-orang yang masih terikat tali persaudaraan dengannya. Tapi, kebanyakan dari mereka memang sudah tidak ada lagi di dunla ini.

Itulah sebabnya, mengapa Pandan Wangi selalu memburu siapa saja jika memperoleh keterangan tentang keluarganya. Si Kipas Maut ini baru merasa puas jika sudah mendapatkan keterangan yang pasti dan jelas, meskipun setiap kali apa yang diperolehnya selalu mengecewakan.

"Mereka bersaudara, tapi kenapa sampai bertarung, Pandan?" tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.

"Waktu itu tidak ada lagi lawan yang bisa diperoleh, Kakang. Dan lagi, jalan yang ditempuh satu sama lain memang sangat berlawanan. Dari yang kudengar, Paman Pendekar Bayangan Dewa memang sudah lama mencari Bibi Dewi Selendang Maut. Dan Paman Pendekar Bayangan Dewa sudah bertekad hendak menghentikan sepak terjang Bibi Dewi Selendang Maut yang selalu merugikan dan menyengsarakan orang banyak. Aku rasa, memang tidak aneh jika mereka terus bertentangan. Hingga mereka akhirnya terpaksa bertarung di Puncak Gunung Haling ini. Dalam kehidupan rimba persilatan memang jarang sekali ditemui tali persaudaraan, Kakang. Dan itu seringkali kudengar dari kakek yang mengurusku sejak kecil. Meskipun, kenyataannya dia bukanlah kakekku yang sebenarnya," Jelas Pandan Wangi lagi.

"Kalau begitu, sebaiknya kita tidak terlalu lama berteduh di sini, Pandan. Lebih cepat mengetahui tempat pertarungan itu, aku rasa akan lebih baik lagi," kata Rangga seraya bangkit berdiri.

"Ya! Aku Juga sudah tidak sabar lagi. Kakang." sambut Pandan Wangi.

Rangga mengulurkan tangannya yang langsung disambut Pandan Wangi. Pendekar Rajawali Sakti membantu gadis ini bangkit. Mereka kemudian melangkah sambil menuntun tali kekang kuda masing-masing. Kedua pendekar muda itu berjalan perlahan-lahan sambil meneliti setiap jengkal bebatuan yang dilewati dengan penuh seksama.

"Kakang...." Pandan Wangi mencolek lengan Rangga, lalu menunjuk ke arah lereng gunung sebelah Selatan.

Rangga segera mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Pandan Wangi. Tampak di lereng gunung yang jarang ditumbuhi pepohonan, terlihat tiga orang penunggang kuda tengah mendaki lereng Gunung Haling ini. Lereng yang penuh bebatuan itu memang tidak mudah didaki. Terlebih lagi dengan menunggang kuda. Mereka harus hati-hati agar tidak tergelincir.

"Apa maksudnya mereka datang ke sini...?" desis Pandan Wangi seperti bertanya pada diri sendtri.

"Kau kenali mereka, Pandan?" tanya Rangga.

"Tidak," sahut Pandan Wangi. "Tapi dari pakaiannya..., mereka seperti orang-orang dari Kerajaan Batu Ampar, Kakang"

Rangga sedikit menyipitkan matanya. Diam-diam, dikerahkannya aji 'Tatar Netra' untuk melihat lebih jelas lagi ketiga penunggang kuda itu. Dua orang laki-laki dan seorang wanita yang mengenakan pakaian seperti layaknya rakyat Kerajaan Baru Ampar. Persis seperti yang dikatakan Pandan Wangi. Setiap kerajaan memang mempunyai ciri tersendiri dalam berpakaian. Dan mereka tahu, pakaian yang seperti itu biasanya dkenakan orang-orang Kerajaan Batu Ampar. Karena sebelum berada di sini, Rangga dan Pandan Wangi sempat singgah di sana.

"Sebaiknya kita menyingkir dulu dari sini, Kakang. Sebelum mereka melihat" usul Pandan Wangi.

"Kita ke gua itu," ajak Rangga sambil menunjuk sebuah mulut gua yang tidak begitu besar ukurarrnya.

"Mereka pasti akan ke sana jika melihatnya, Kakang."

"Tidak, kalau ditutupi batu"

Tanpa bicara lagi, mereka segera melangkah menuju gua batu yang berlumut dan tidak begitu besar itu Dan sudah barang tentu, kuda-kuda mereka tidak bisa masuk ke dalam sana. Sehingga, Rangga memerintahkan kuda hitamnya yang bernama Dewa Bayu untuk membawa pergi kuda putih milik Pandan Wangi.

Kedua kuda itu berpacu cepat meninggalkan Puncak Gunung Haling ini, melalui jalan Utara. Sehingga, alur jalan yang dilalui kedua kuda itu berlawanan dengan jalan yang dilalui ketiga orang yang dilihat Rangga dan Pandan Wangi.

Setelah berada di dalam gua batu, Rangga segera menutupinya dengan bebatuan yang banyak berserakan di sekitarnya. Sehingga, mulut gua itu benar-benar tertutup, dan hanya ada sedikit celah untuk mengintip ke luar. Sementara tiga orang penunggang kuda itu semakin mendekati Puncak Gunung Haling ini.

Ketiga penunggang kuda itu ternyata tak lain dari Ratu Lanjani, Iblis Pedang Perak dan si Cambuk Setan. Mereka langsung berlompatan turun dari punggung kuda masing-masing begitu sampai di bawah pohon beringin, di tengah-tengah Puncak Gunung Haling ini. Di bawah pohon itu, Rangga dan Pandan Wangi tadi sempat melepas lelah. Dan sekarang ketiga orang itu juga melepas lelah di sana, setelah melakukan perjalanan yang cukup berat mendaki Gunung Haling yang gersang dan penuh bebatuan ini.

"Di mana pertarungan itu berlangsung, Pedang Perak?" tanya Lanjani, seakan-akan tidak sabar lagi ingin tahu.

"Di sini. Pohon beringin ini satu-satunya yang dijadikan tanda untuk pertemuan itu," sahut Iblis Pedang Perak begitu yakin.

"Lebih dari sepuluh tahun. Tapi, pohon ini masih tetap saja hidup di tempat yang sangat gersang begini," desah Lanjani setengah menggumam.

"Jangan heran, Lanjani. Pohon beringin bisa hidup lebih dari seratus tahun," selak si Cambuk Setan.

"Aku tahu... Tapi, sama sekali di tempat ini tidak terlihat adanya tanda-tanda pernah dijadikan ajang pertarungan." sergah Lanjani.

"Pertarungan itu sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Sudah barang tentu, bekas-bekasnya juga hilang ditelan zaman," sahut si Cambuk Setan lagi.

"Sebenarnya, apa tujuanmu, Lanjani?" tanya si Cambuk Setan masih belum juga mengetahui tujuan yang sebenarnya dari keinglnan Lanjani yang terasa aneh itu.

"Dewi Selendang Maut," sahut Lanjani kalem, diiringi senyuman manis.

"Maksudmu...?"

"Pertarungan itu berakhir tanpa ada seorang pun yang mengetahul hasilnya. Dan di dalam pertarungan, hanya ada dua kemungkinan. Salah satu tewas, atau keduanya yang tewas. Sedangkan setelah pertarungan itu, mereka sama-sama menghilang tak jelas lagi kabar beritanya. Hal itu membuatku jadi berpikir, kalau keduanya lelah tewas. Atau paling tidak, sama-sama terluka parah yang tak mungkin bisa terobati lagi," Lanjani mengemukakan pendapatnya.

"Lalu..?" si Cambuk Setan masih belum juga mengerti.

"Kau kan tahu, aku cukup mahir menggunakan selendang sebagai senjata, Paman..." kata Lanjani, masih terdengar kalem nada suaranya.

"Oh... Jadi, maksudmu sebenarnya ingin mendapatkan Selendang Maut..?" si Cambuk Setan mulai bisa mengerti.

"Tepat, Paman. Dengan Selendang Maut, aku bisa memperdalam jurus-jurus permainan selendangku. Dan bukannya tidak mustahil kalau tingkat kepandaianku semakin bertambah berkat Selendang Maut itu"

"Sungguh, aku tidak pernah berpikir sampai ke situ," aku si Cambuk Setan tidak menyangka kalau Lanjani punya pikiran seperti itu.

"Itulah sebabnya, kenapa kuminta kalian menemaniku ke sini. Terutama kau, Pedang Perak. Kau yang lebih tahu tentang kejadian itu. Aku ingin kau membantuku mendapatkan Selendang Maut untukku," pinta Lanjani seraya menatap tajam pada Iblis Pedang Perak.

"Aku tidak bisa janji. Apalagi memastikan bisa memperolehnya, Lanjani. Tapi aku akan berusaha mencari Selendang Maut itu," tegas Iblis Pedang Perak mantap.

"Bagus. Memang itu yang kuharapkan, Pedang Perak"

Setelah berkata demikian, Lanjani kembali melompat naik ke punggung kudanya. Kemudian kudanya digebah sehingga berjalan perlahan-lahan menuju kembali ke arah kedatangannya semula tadi. Si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak bergegas mengikuti wanita cantik itu.

"Kita kembali dulu. Besok, baru kita mulai pencarian ini," ujar Lanjani setelah kedua jago andalannya berada di samping kanan dan kirinya.

Sementara tanpa diketahui. Rangga dan Pandan Wangi yang berada di tempat persembunyiannya. Dan jelas mendengar percakapan itu. Bahkan mereka terus memperhatikan sampai ketiga orang itu kembali menuruni Lereng Gunung Haling.

Kedua pendekar muda itu baru keluar dari tempat persembunyiannya setelah ketiga orang itu sudah cukup jauh menuruni Lereng Gunung Haling ini. Mereka berdiri tegak di depan mulut gua, memandangi Lanjani dan dua orang jago andalannya yang selalu setia mendampingi.

"Aku tahu, siapa wanita itu...," ungkap Rangga, agak menggumam nada suaranya.

"Siapa, Kakang?" tanya Pandan Wangi seraya berpaling menatap Pendekar Rajawali Sakti.

"Lanjani... Dia Ratu Batu Ampar." sahut Rangga, masih terdengar menggumam suaranya.

"Eh...?! Sejak kapan Batu Ampar dipimpin seorang ratu, Kakang?" tanya Pandan Wanoj terkejut.

"Sejak Prabu Jaya Permana meninggal karena sakit yang berkepanjangan. Tapi seharusnya bukan Lanjani yang menjadi ratu di sana. Masih ada orang lain yang lebih berhak. Tapi entah kenapa, justru Lanjani yang menduduki takhta. Dan kedua orang pengawalnya itu, hm.... Mereka adalah tokoh-tokoh persilatan dari golongan hitam. Mereka akan menjilat siapa saja untuk kepentingan dan kekayaan diri sendiri," jelas Rangga, masih terdengar perlahan nada suaranya.

"Sebenarnya, siapa yang berhak menduduki takhta Batu Ampar, Kakang?" tanya Pandan Wangi.

"Raden Kumala. Tapi, namanya menghilang begitu saja pada saat Prabu Jaya Permana wafat. Sedangkan yang tinggal hanya adiknya saja. Tapi, adiknya itu tidak punya hak untuk menduduki takhta selama Raden Kumala belum jelas nasib dan rimbanya. Kalau keadaan Raden Kumala sudah jelas, maka yang berhak menduduki takhta adalah adik perempuannya," kata Rangga menjelaskan.

"Rumit...," desah Pandan Wangi.

"Memang sulit dipahami cara dan tata kepemerintahan, Pandan."

"Tapi, kenapa justru Lanjani yang sekarang menduduki takhta? Apakah dia putri tertua Prabu Jaya Permana, Kakang?" tanya Pandan Wangi, jadi ingin tahu.

"Bukan," sahut Rangga.

"Bukan...? Lalu, siapa dia?"

EMPAT

Inilah sulitnya tata kepemerintahan. Tidak semua orang bisa mudah memahaminya. Itulah sebabnya, para putra mahkota yang dipersiapkan menggantikan ayahnya, sudah dibekali ilmu-ilmu tata kepemerintahan sejak masih berusia muda. Di samping juga, dibekali ilmu-ilmu keprajuritan dan ilmu-ilmu kesaktian. Dan tentu saja harus lebih tinggi daripada para panglimanya. Tapi memang, tidak semua putra mahkota memiliki keinginan mempelajari ilmu keprajuritan dan kesaktian. Bahkan tidak banyak yang justru menggemari pola kepemimpinan atau ilmu-ilmu sastra.

Hal itu dijelaskan Rangga secara gamblang, sehingga membuat kepala Pandan Wangi terasa begitu pening. Gadis itu memang sulit memahami ilmu-ilmu keprajuritan. Apalagi ilmu tata kepemerintahan. Dia sudah terbiasa mempelajari ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Dan itu sudah didapatkan sejak masih kecil .Tanpa terasa, mereka terus berbicara sambil berjalan menuruni Lereng Gunung Haling ini. Dengan demikian mereka semakin jauh meninggalkan puncak gunung itu.

"Kakang..." desis Pandan Wangi tiba-tiba. Gadis yang berjuluk si Kipas Maut itu mendadak menghentikan ayunan kakinya. Dan Rangga yang berjalan di sampingnya jadi ikut berhenti. Langsung ditatapnya Pandan Wangi dalam-dalam.

"Ada apa, Pandan?" tanya Rangga melihat Pandan Wangi hanya diam saja memandanginya.

"Kita sudah menjelajahi seluruh Gunung Haling dari bawah sampai ke puncaknya. Dan di puncak gunung ini, tidak ada yang bisa ditemukan selain...," Pandan Wangi menghentikan ucapannya.

"Selain apa, Pandan?" tanya Rangga ingin tahu.

"Hanya ada satu gua di puncak gunung itu. Dan letaknya tidak terlalu jauh dari tempat pertempuran Bibi Dewi Selendang Maut dan Paman Pendekar Bayangan Dewa," jelas Pandan Wangi, begitu sungguh-sungguh suaranya.

"Maksudmu...?"

"Apa tidak mungkin mereka, atau salah satu dari mereka, ada di dalam gua itu. Kakang," kata Pandan Wangi mengemukakan jalan pikirannya yang tiba-tiba saja muncul.

"Kau benar, Pandan...," desis Rangga agak tersentak. seperti baru diingatkan.

"Kita kembali lagi ke sana, Kakang," ujar Pandan Wangi.

"Ayolah," ajak Rangga.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, kedua pendekar muda itu berlari cepat ke Puncak Gunung Haling. Mereka mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi tingkatannya. Begitu cepatnya mereka berlari, sehingga yang terlihat hanyalah dua bayangan berkelebatan di antara pohon pohon dan bebatuan.

Begitu tingginya tingkat ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua pendekar muda itu, sehingga dalam waktu sebentar saja sudah tiba di Puncak Gunung Haling. Terlebih lagi Pendekar Rajawali Sakti, Ilmu meringankan tubuhnya memang sudah mencapai ringkat sempurna. Jadi tak heran kalau Rangga lebih dahulu sampai di depan mulut gua itu daripada si Kipas Maut.

Rangga berdiri tegak memandangi bagian dalam gua yang begitu pekat, sehingga cukup sulit menembus dengan pandangan mata biasa. Sementara Pandan Wangi sudah sampai di samping Pendekar Rajawali Sakti. Matanya juga memandangi ke dalam gua yang gelap gulita.

"Kita masuk, Kakang..." ajak Pandan Wangi.

"Kau jangan jauh-jauh di belakangku," kata Rangga. berpesan.

Pandan Wangi hanya mengangguk saja. Sedangkan Rangga sudah mulai melangkah memasuki goa yang tidak begitu besar itu. Atap gua ini memang cukup rendah, sehingga Rangga dan Pandan Wangi harus merunduk. Mereka terus melangkah perlahan-lahan menyusuri lorong gua yang gelap dan pekat ini.

"Hm.... Sulit juga menembus kegelapan di sini. Aku harus menggunakan aji 'Tatar Netra'," gumam Rangga dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti memang menggunakan aji 'Tatar Netra', sehingga bisa melihat jelas dan terang di dalam kegelapan yang begitu pekat ini. Rangga tertenyum saat berpaling ke belakang. Rupanya, Pandan Wangi tetap tidak jauh berada di belakangnya. Lorong gua ini semakin sempit dan kecil saja. Sehingga, mereka terpaksa harus merayap menyusurinya.

Rangga baru berhenti merayap ketika melihat ada titik cahaya tidak jauh di depannya. Kemudian bergegas dia merayap maju lagi, dan kembali berhenti begitu tiba di sebuah relung gua yang sangat besar dan terang benderang. Kedua pendekar muda itu baru bisa berdiri setelah berada di relung gua yang seperti sebuah ruangan.

"Kakang...," desis Pandan Wangi seraya mencolek lengan Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga berpaling menatap Pandan Wangi yang menunjuk ke kanan. Kelopak mata Pendekar Rajawali Sakti jadi menyipit ketika melihat sebuah pintu yang terbuat dari besi hitam yang tampak begitu kokoh. Bergegas kakinya melangkah menghampiri, lalu berdiri tegak merayapi pintu besi itu. Sedangkan Pandan Wangi terus mendampingi di sampingnya.

*** Krieeet...!

Perlahan-lahan Rangga membuka pintu besi itu. Suara berderit terdengar begitu tajam, menggelitik gendang telinga. Kelopak mata pemuda berbaju rompi putih ini kembali menyipit begitu mendapati di balik pintu ini ter-nyata terdapat sebuah taman yang begitu indah. Perlahan Rangga melangkah melewati pintu besi itu, diikuti Pandan Wangi yang juga jadi terlongong memandangi taman yang begitu indah.

Perlahan-lahan kaki mereka terayun memasuki taman itu. Segar sekali udara di dalam taman ini, membuat hati terasa begitu damai. Tapi kedamaian ini tidak berlangsung lama, karena tiba-tiba saja langkah Rangga berhenti. Kepalanya bergerak perlahan, menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu, kelopak matanya jadi menyipit. Terdengar suara menggumam kecil yang agak mendengus dari hidung.

"Ada apa, Kakang...?" tanya Pandan Wangi. Belum juga Rangga menjawab pertanyaan si Kipas Maut, tiba-tiba saja di sekitar mereka berkelebat beberapa tubuh yang langsung mengepung. Sebentar saja di sekeliling mereka sudah mengepung tidak kurang dari tiga puluh orang laki-laki berpakaian seragam kuning gading. Mereka semua menggenggam tombak panjang dan sebuah perisai berbentuk bulat seperti tudung. Tampaknya mereka seperti para prajurit sebuah kerajaan.

"Jangan...." cegah Rangga cepat ketika Pandan Wangi hendak mencabut senjata kipasnya.

Dua orang yang berada paling depan, bergerak menyingkir seperti membuka jalan. Dan dari belakang mereka tadi, terlihat seorang laki-laki tua berjubah putih. Kepalanya memakai caping berukuran besar, sehingga hampir menutupi seluruh wajahnya. Hanya bagian dagu dan sedikit bibir bawahnya saja yang terlihat. Orang itu melangkah mendekati Rangga dan Pandan Wangi, kemudian berhenti setelah berjarak sekitar lima langkah lagi. Di tangan kanannya tampak tergenggam sebatang tongkat yang tidak beraturan bentuknya.

"Kenapa kalian berada di sini? Dan apa maksud kalian masuk ke sini dari lorong rahasia?" tanya laki-laki berjubah putih itu, dingin nada suaranya.

"Aku Rangga, dan ini Pandan Wangi. Kami tersesat, dan tidak tahu kalau gua itu merupakan lorong rahasia. Maafkan, jika kehadiran kami dianggap mengganggu," ucap Rangga seraya membungkukkan tubuh sedikit, memberi penghormatan.

"Sikapmu cukup sopan, Anak Muda. Tapi aku sudah cukup berpengalaman dalam menghadapi segala macam sikap dan tingkah seperti ini," terasa begitu sinis ucapan laki-laki berjubah putih itu.

Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan dengan kening berkerut. Mereka kemudian kembali memandangi laki-laki berjubah putih yang wajahnya tidak jelas terlihat, karena tertutup caping bambu lebar. Dari tubuh dan nada suaranya, serta rambut yang sudah memutih, memang sudah bisa dipastikan kalau laki-laki ini sudah berumur lanjut.

"Kuminta kalian menjawab jujur, dan jangan membuat persoalan denganku di sini," ujar laki-laki berjubah putih itu dingin dan tegas. "Siapa yang mengirim kalian ke sini untuk memata-matai?"

"Sudah kukatakan dengan jujur. Kami hanya tersesat dan tidak tahu kalau gua itu merupakan...."

"Cukup!" bentak laki-laki tua berjubah putih itu memutuskan kata-kata Rangga.

Rangga jadi terdiam mendengar bentakan bernada ketus begitu. Kembali ditatapnya Pandan Wangi. Sedangkan gadis itu sudah menggenggam senjata kipas maut, meskipun belum tercabut dari balik sabuk berwarna kuning emas yang melilit pinggangnya.

"Jawab pertanyaanku dengan jujur, Anak Muda! Apakah kau dikirim ratu iblis itu...?" semakin dingin nada suara laki-laki tua berjubah putih ini.

"Ratu iblis...? Aku tidak mengenalnya," kening Rangga semakin dalam berkerut.

"Jangan berpura-pura. Anak Muda! Kedatanganmu ke sini sudah membuatku curiga. Dan sekarang kau berbelit-belit menjawab semua pertanyaanku. Aku tidak ingin menjatuhkan tangan kasar pada kalian berdua. Pergilah, sebelum pikiranku berubah," desis laki-laki tua berjubah putih itu, semakin dingin nada suaranya.

"Baiklah. Kami akan pergi dari sini." kata Rangga seraya mengangkat bahunya sedikit.

"Bagus! Kalian akan diantar keluar sampai gerbang."

Laki-laki tua berjubah putih itu menggerakkan tangan kirinya sedikit. Maka empat orang berseragam bagai prajurit itu bergerak mendekati Rangga dan Pandan Wangi. Mereka kemudian menggiring kedua pendekar muda itu. Pendekar Rajawali Sakti memang sengaja mengalah, dan tidak ingin membuat sesuatu yang tidak dinginkan. Sementara laki-laki tua itu memandangi sampai kedua pendekar muda itu jauh meninggalkan taman ini.

Setelah Rangga dan Pandan Wangi yang diringi empat orang berseragam bagai prajurit tidak terlihat lagi, laki-laki tua berjubah putih itu baru memutar tubuhnya dan melangkah. Sedangkan semua orang berpakaian bagai prajurit yang tadi mengepung Rangga dan Pandan Wangi, sudah meninggalkan taman itu sejak tadi. Ayunan langkah laki-laki tua berjubah pulih itu terhenti, ketika melihat seorang gadis cantik berlari-lari kecil menghampirinya. Dia diikuti seorang wanita berbaju kuning gading yang mengenakan caping bambu berukuran besar. Sama persis dengan yang dikenakan laki-laki tua berjubah putih ini.

"Siapa mereka itu tadi, Paman?" tanya gadis cantik itu, begitu manja sikapnya.

"Hanya dua tikus yang coba-coba menyusup ke sini," sahut laki-laki tua berjubah putih seraya membuka caping yang menutupi kepalanya.

Di balik caping besar itu ternyata tersembunyi seraut wajah tua yang begitu bersih dan bercahaya. Sinar matanya sangat tajam, tapi memancarkan satu keteduhan yang begitu damai. Seluruh rambutnya sudah memutih. Bahkan alis, kumis, dan jenggotnya juga sudah putih semua.

Wanita berbaju kuning gading di belakang gadis itu juga membuka capingnya. Dia ternyata sudah cukup berusia lanjut. Mungkin usianya sudah mencapai lima puluh tahun, atau bahkan sudah lebih. Namun garis-garis kecantikan, masih terlihat jelas pada wajahnya yang sudah mulai keriput. Meskipun bentuk tubuhnya masih cukup padat berisi, bagai gadis berusia dua puluh tahun.

"Bagaimana? Apakah kau sudah siap menerima pelajaran, Dewani?" tanya laki-laki tua berjubah putih itu sambil menepuk pundak gadis cantik yang ternyata memang Dewani.

"Aku siap, Paman," sahut Dewani mantap.

"Bagus. Aku dan Bibi Dewi akan menjadikanmu seorang pendekar wanita yang tangguh, dan tak ada tandingannya."

"Terima kasih, Paman."

"Ayo, kita ke tempat latihan"

********************

Sementara itu Rangga dan Pandan Wangi sudah cukup jauh meninggalkan gerbang yang berbentuk sebuah candi kecil dari batu. Mereka memandangi gerbang berbentuk candi itu. Empat orang laki-laki berseragam seperti prajurit yang tadi mengantarkan mereka, masih terlihat di situ. Sedangkan Rangga terus mengajak Pandan Wangi pergi. Dan mereka baru berhenti setelah gerbang candi tidak terlihat lagi.

"Kau tahu di mana ini, Kakang?" tanya Pandan Wangi seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Di bagian Barat Gunung Haling." sahut Rangga. Juga mengedarkan pandangan ke sekeliling.

"Tidak kusangka, ternyata Gunung Haling tidak seluruhnya gersang," desah Pandan Wangi setengah menggumam.

Rangga hanya diam membisu saja. Pandangannya terarah lurus ke kaki gunung ini. Terlihat jelas, kalau di kaki gunung sebelah Barat ini terdapat sebuah perkampungan yang tampaknya tidak besar. Meskipun, kelihatannya rumah-rumah yang berdri di sana cukup padat juga.

"Apakah itu yang dinamakan Desa Haling, Kakang?" tanya Pandan Wangi. Rupanya dia juga melihat ke arah perkampungan itu.

"Benar itu memang Desa Haling," sahut Rangga. "Kita ke sana, Kakang. Siapa tahu bisa diperoleh keterangan lebih banyak lagi tentang Paman Pendekar Bayangan Dewa dan Bibi Dewi Selendang Maut," ajak Pandan Wangi.

Rangga hanya mengangkat bahunya saja. Tapi belum juga mereka melangkah, tiba-tiba saja terdengar ringkik kuda, yang disusul terdengarnya derap langkah kaki kuda dari arah sebelah kanan. Tak berapa lama kemudian, muncul seekor kuda hitam yang disusul seekor kuda putih bersih berpelana sangat indah. Rangga dan Pandan Wangi tersenyum melihat kuda-kuda mereka datang, tepat di saat tengah diperlukan

"Hup!"

"Hap!"

Rangga dan Pandan Wangi langsung melompat ke punggung kuda, begitu dekat. Sebentar mereka saling berpandangan dan melempar senyum, kemudian sama-sama menggebah kuda menuju Desa Haling yang berada di kaki Gunung Haling ini. Mereka bisa cepat berpacu, karena lereng gunung ini begitu landai. Sedangkan pepohonan yang tumbuh pun tidak terlalu lebat.

********************

Waktu terus berjalan sesuai peredaran sang mentari yang mengelilingi mayapada ini. Waktu terus mengiringi langkah polah kehidupan yang ada di atas permukaan bumi ini. Waktu memang berjalan seakan-akan begitu cepat. Sementara Pandan Wangi yang harus mencari keterangan tentang paman dan bibinya, masih belum juga mendapat hasil yang diinginkan.

Sementara itu di lain tempat yang sangat rahasia letaknya. Dewani terus digembleng dengan berbagai macam ilmu olah kanuragan dan kesaktian dari dua orang tua aneh yang belum jelas jati diri mereka.

Di pihak lain, Lanjani juga belum putus asa untuk mendapatkan Selendang Maut dari Puncak Gunung Haling. Kini malam sudah cukup larut menyelimuti seluruh Kerajaan Batu Ampar. Lanjani masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih terus dibebani suatu peristiwa yang terjadi semalam di Istana Baru Ampar.

Istana yang megah itu kedatangan seorang tamu yang tak diundang. Kedatangannya bukan untuk suatu persahabatan. Tapi, justru meminta Lanjani untuk turun dari takhta, dan meninggalkan Kerajaan Batu Ampar ini. Bahkan semalam saja orang aneh itu sudah membunuh tidak kurang dari sepuluh prajurit ditambah dua orang jago istana, pengikut setia penguasa Kerajaan Batu Ampar. Bukan hanya kedatangan orang aneh itu yang membuat Lanjani jadi tidak bisa tenang malam ini.

Tapi, karena orang itu menyebut dirinya Dewi Selendang Maut. Dan memang, dia menggunakan senjata berupa selendang berwarna kuning keemasan. Inilah yang membuat Lanjani jadi bertanya tanya sendiri. Apa mungkin Dewi Selendang Maut masih hidup? Kalau pun memang masih hidup, untuk apa mencampuri urusan kerajaan ini? Bahkan meminta Lanjani turun takhta, dan menyerahkannya pada Dewani. Sedangkan sampai sekarang ini, Lanjani tidak tahu lagi di mana Dewani berada.

"Jangan-jangan, dia Dewani. Tapi.., ah! Tidak mungkin. Dewani tidak memiliki kepandaian yang begitu tinggi. Jangankan mengalahkan dua orang jagoku. Menghadapi prajurit rendahan saja, tidak akan mampu," desah Lanjani bicara sendiri.

Lanjani melangkah mendekati jendela. Perlahan-lahan dibukanya jendela kamar itu lebar-lebar. Tapi baru saja melepaskan tangannya dari jendela, mendadak saja....

Wuk!

"Eh...?! Uts!"

Lanjani jadi terkejut setengah mati. Cepat-cepat tubuhnya ditarik ke kiri, dan melompat menjauhi jendela itu. Memang, tiba-tiba saja sebuah benda tipis panjang berwarna kuning keemasan, melesat masuk dari jendela dan hampir saja menyambarnya. Dua kali Lanjani melakukan putaran, lalu manis sekali menjejakkan kakinya di lantai kamar ini. Pada saat itu, melesat sebuah bayangan masuk ke dalam kamar ini melalui jendela yang kini sudah terbuka lebar.

"Dewi Selendang Maut..." desis Lanjani dengan bola mata terbeliak lebar.

Memang, di depan Lanjani kini sudah berdiri seorang wanita berbaju kuning gading. Tampak selembar selendang berwarna kuning keemasan tergulung di tangan kanannya. Sukar mengenalinya, karena seluruh kepalanya tertutup caping bambu berukuran cukup besar. Dari bentuk tubuh ramping dan rambutnya yang panjang, bisa dipastikan kalau orang bercaping bambu itu adalah wanita.

"Keparat…! Berani benar kau menyelinap masuk ke kamar pribadiku...!" desis Lanjani berang.

"Begitu mudahnya kau mengatakan ini kamar pribadimu, Lanjani. Padahal, kau sama sekali tidak berhak tinggal di istana ini. Apalagi menguasainya, dan menduduki takhta." kata orang berbaju kuning gading yang semalam muncul mengenalkan diri bernama Dewi Selendang Maut.

"Lancang sekali bicaramu! Siapa kau sebenarnya..?!" dengus Lanjani dengan sinar mata yang begitu dingin dan tajam.

"Aku Dewi Selendang Maut. Kedatanganku untuk menggulingkanmu dari takhta yang memang bukan hakmu!" sahut wanita bercaping itu tidak kalah dinginnya.

"Setan keparat..!" desis Lanjani semakin berang.

"Kau kuberi waktu sampai besok. Jika tidak segera angkat kaki dari sini, semua begundal-begundal busukmu akan menghuni lubang kubur. Bahkan kau juga, Lanjani," desis Dewi Selendang Maut mengancam.

"Edan...!" desis Lanjani geram "Mampus kau! Hiyaaat...!"

Lanjani tidak bisa lagi menahan amarahnya yang menggelegak dalam dada. Tiba-tiba saja Ratu Batu Ampar itu melompat menerjang dengan kecepatan luar biasa. Secepat itu pula, dilontarkannya satu pukulan keras disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

"Hup!"

Tapi Dewi Selendang Maut sudah lebih cepat lagi bertindak. Begitu Lanjani menyerang cepat, Dewi Selendang Maut melesat keluar melompati jendela yang terbuka lebar. Sehingga, pukulan yang dilepaskan Lanjani hanya menghantam dinding kamar ini hingga jebol berantakan.

"Jangan lari kau, Setan...!" geram Lanjani menjerit. "Hiyaaat..!"

Cepat sekali Lanjani melompat ke luar, mengejar wanita bercaping bambu itu. Dan begitu kakinya menjejak tanah di luar kamar, secepat kilat dilepaskannya satu pukulan ke arah Dewi Selendang Maut yang juga baru saja menjejakkan kakinya di tanah.

"Uts!"

Cepat-cepat Dewi Selendang Maut menarik tubuhnya ke kiri, menghindari pukulan yang dilepaskan Ratu Batu Ampar. Lalu cepat sekali tubuhnya berputar, sambil melepaskan satu tendangan balasan menggeledek.

"Hait…!"

Lanjani bergegas melompat ke belakang sejauh dua langkah, sehingga tendangan berputar yang dilakukan Dewi Selendang Maut tidak sampai menghantam tubuhnya. Lanjani yang benar-benar sudah meluap amarahnya, tidak mau lagi memberi kesempatan Dewi Selendang Maut untuk meloloskan diri. Maka begitu terlepas dari serangan wanita bercaping bambu itu, cepat sekali tubuhnya melenting ke udara, dan melakukan salto beberapa kali. Lalu, dia meluruk deras ke arah kepala yang tertutup caping bambu itu.

"Hiyaaa...!"

Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, Lanjani cepat memberi satu pukulan lurus ke arah kepala yang tertutup caping bambu. Tapi tanpa diduga sama sekali, Dewi Selendang Maut bertindak di luar perhitungan Lanjani. Wanita berbaju kuning gading itu cepat melepaskan capingnya. Lalu, secepat kilat dilemparkannya ke udara, menyambut Lanjani yang meluruk deras di atas kepalanya.

Wuk!

"Heh...?!"

Lanjani jadi terbeliak setengah mati. Bahkan tidak punya kesempatan lagi untuk menarik serangannya. Dan seketika itu juga, pukulannya langsung menghantam caping bambu itu. Begitu keras dan dahsyat luar biasa!

Glarrr...!

Satu ledakan keras menggelegar terdengar begitu dahsyat, saat pukulan Lanjani yang mengandung tenaga dalam tinggi menghantam caping bambu itu. Lanjani terpaksa harus melentingkan tubuhnya, dan berputaran beberapa kali di udara. Lalu, manis sekali kakinya mendarat di tanah.

"Setan...!"

Lanjani jadi geram setengah mati begitu menyadari wanita yang mengaku Dewi Selendang Maut sudah tidak ada lagi di tempat ini. Pandangannya langsung beredar ke sekeliling. Tapi yang didapati hanya kegelapan malam saja. Tak ada seorang pun yang terlihat. Pada saat itu, terlihat beberapa orang prajurit berdatangan. Bahkan si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak juga berlari-lari cepat menghampiri Ratu Batu Ampar itu.

"Ada apa...? Kudengar ada suara ledakan di sini," tanya si Cambuk Setan begitu dekat di depan Lanjani.

"Dewi Selendang Maut. Dia datang lagi ke sini," sahut Lanjani, masih agak mendengus suaranya.

"Oh...! Lalu...?" selak Iblis Pedang Perak.

"Kabur," jawab Lanjani pendek.

"Akan kukejar dia." ujar Iblis Pedang Perak

Lanjani tidak sempat lagi mencegah. Iblis Pedang Perak sudah melompat cepat ke atas atap bangunan istana ini. Lalu, bayangan tubuhnya menghilang begitu melesat untuk yang kedua kalinya.

"Dia pasti belum jauh dari sini, Lanjani. Akan kukerahkan orang-orangku untuk mengejarnya," tegas si Cambuk Setan.

"Terserah kau, Paman. Aku ingin si keparat itu mampus!" dengus Lanjani seraya berbalik dan melangkah pergi.

********************

LIMA

Sementara itu, tidak jauh dari Kota Kerajaan Batu Ampar, tampak seorang wanita berbaju kuning gading tengah berlari-lari cepat menuju Gunung Haling. Gerakannya begitu lincah dan ringan, pertanda memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi. Dia terus berlari cepat sambil sesekali membetulkan kerudung yang menutupi wajahnya. Seakan-akan, wajahnya tidak ingin diketahui orang lain.

"Berhenti..!"

Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras menggelegar dan mengejutkan. Wanita berbaju kuning gading itu seketika menghentikan larinya. Kedua bola matanya yang indah dan bening bercahaya, jadi terbeliak begitu tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang laki-laki berusia muda. Pedangnya tampak tersampir di punggung. Ujung gagang pedang itu berbentuk kepala tengkorak berwarna putih keperakan.

"Iblis Pedang Perak...," wanita berbaju kuning gading itu mendesis, mengenali laki-laki muda yang menyandang pedang perak di punggungnya.

"Kau tidak bisa lari dariku, Nisanak," dengus Iblis Pedang Perak dingin menggetarkan.

Wanita berbaju kuning gading itu menggumam kecil. Bola matanya terlihat begitu tajam, merayapi wajah Iblis Pedang Perak. Perlahan kakinya bergeser ke kanan. Gerakan tangannya juga begitu perlahan saat melepaskan sehelai kain berwarna kuning keemasan yang melilit pinggangnya. Dipegangnya kedua ujung selendang kuning keemasan itu. Sorot matanya masih tetap tajam, seakan sedang mengukur tingkat kepandaian laki-laki muda di depannya ini.

"Aku tahu, kau bukan Dewi Selendang Maut. Siapa kau sebenarnya?! Dan, mengapa berani mengacau ketenangan Kanjeng Ratu Lanjani?!" dengus Iblis Pedang Perak lagi.

"Bagus, kalau kau menyangka begitu. Tapi, akan kau rasakan selendang mautku ini terlebih dahulu," desis Dewi Selendang Maut dingin.

Setelah berkata demikian. Dewi Selendang Maut langsung memutar-mutar selendang emasnya di atas kepala. Kakinya bergerak perlahan menyusur tanah ke kanan dan ke kiri. Iblis Pedang Perak jadi ternganga melihat gerakan-gerakan jurus 'Selendang Ekor Naga' yang diperlihatkan wanita berbaju kuning gading itu. Dia tahu, jurus itu sangat dahsyat. Bahkan merupakan salah satu jurus andalan Dewi Selendang Maut. Dan, tak ada seorang pun yang memiliki jurus itu, selain Dewi Selendang Maut sendiri.

"Oh. Dia benar-benar Dewi Selendang Maut ..." desah Iblis Pedang Perak dalam hati.

"Bersiaplah, Iblis Pedang Perak. Tunjukkan kebolehan pedang rongsokanmu," desis Dewi Selendang Maut dingin.

"Hiyaaat…!"

Cepat sekali Dewi Selendang Maut mengebutkan senjata andalannya yang begitu terkenal akan kedah-syatannya. Selendang berwarna kuning keemasan itu meluruk deras ke arah Iblis Pedang Perak yang masih terlongong, begitu melihat jurus 'Selendang Ekor Naga'.

"Uts! Hait…!"

Tapi begitu tersadar, Iblis Pedang Perak cepat-cepat melompat ke kanan. Sehingga, ujung selendang kuning keemasan itu. Tidak sampai mengenai tubuhnya. Namun selendang itu sudah meliuk seperti seekor ular naga, mangejar Iblis Pedang Perak. Terpaksa laki-laki muda itu harus berjumpalitan, dan bergulingan di tanah menghindarinya.

Selendang kuning keemasan itu meliuk-liuk indah, namun mengandung ancaman maut yang tak bisa dianggap main-main. Selendang itu bagai memiliki mata saja. Bergerak cepat mengejar ke mana saja Iblis Pedang Perak bergerak menghindar. Sedangkan Dewi Selendang Maut ikut berlompatan, berusaha memperpendek jarak. Sambil berlompatan, diputarinya Iblis Pedang Perak disertai kebutan selendangnya yang cepat dan lincah.

"Hiyaaat...!"

Tiba-tiba saja Iblis Pedang Perak melentingkan tubuhnya ke udara, begitu ujung selendang kuning keemasan meluruk deras mengincar kakinya. Dan sambi berputaran di udara, pedangnya cepat-cepat dicabut. Pedang berwarna keperakan yang berkilat tertimpa cahaya bulan itu kini sudah tergenggam di tangan Iblis Pedang Perak.

"Yeaaah...!"

Sambil berteriak keras menggelegar, Iblis Pedang Perak meluruk deras ke arah selendang kuning keemasan yang merentang lebar dan kaku. Lalu, cepat sekali pedangnya dikebutkan, tepat di bagian tengah selendang kuning keemasan itu.

Bret!

"Heh...?!"

Dewi Selendang Maut jadi terkejut setengah mati begitu selendangnya terpotong jadi dua bagian. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang. Sedangkan matanya terbeliak, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan. Sementara Iblis Pedang Perak sudah menjejakkan kakinya di potongan selendang yang tergeletak di tanah

"Hup! Yeaaah...!"

"Hei! Jangan lari kau..!"

Iblis Pedang Perak langsung melompat mempergunakan ilmu meringankan tubuh, begitu tiba-tiba saja Dewi Selendang Maut melesat begitu cepat hendak meninggalkan pertarungan. Tapi belum juga Dewi Selendang Maut berlari jauh, tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam berkelebat cepat memotong arah larinya. Untung saja wanita berbaju kuning gading itu cepat-cepat melentingkan tubuh, berputar ke belakang. Sehingga dia tidak sampai bertabrakan dengan bayangan hitam yang berkelebat begitu cepat memotong arah laritnya tadi.

"Satan...!" dengus Dewi Selendang Maut begitu kakinya menjejak tanah

Ctar!

Suara lecutan cambuk terdengar keras memecah kesunyian malam. Dewi Selendang Maut jadi semakin terbeliak begitu tiba-tiba di depannya sudah berdiri seorang laki-laki separuh baya, mengenakan baju hitam pekat. Seutas cambuk hitam berbulu halus tampak tergenggam di tangan kanannya. Pada saat itu, Iblis Pedang Perak sudah sampai. Langsung didekatinya laki-laki separuh baya yang memegang cambuk hitam itu.

"Rupanya hanya tikus kecil yang ingin coba-coba menggerogoti lumbung Kanjeng Ratu Lanjani," desis laki-laki berbaju hitam yang ternyata adalah si Cambuk Setan, dingin menggetarkan.

"Kita serang saja, Paman. Tidak perlu banyak bicara menghadapi tikus betina ini." dengus Iblis Pedang Perak yang masih penasaran dengan pertarungannya tadi.

Tanpa menunggu jawaban lagi, Iblis Pedang Perak langsung melompat cepat menyerang Dewi Selendang Maut. Secepat kilat pula pedangnya dibabatkan ke arah leher wanita berbaju kuning gading itu.

Wuk!

"Uts!"

Dewi Selendang Maut cepat-cepat menarik kepalanya ke belakang, sehingga hanya sedikit saja ujung pedang pemuda itu lewat di depan tenggorokannya. Belum lagi wanita berbaju kuning gading itu bisa menarik kepalanya kembali ke depan, tiba-tiba saja si Cambuk Setan sudah cepat mengebutkan cambuknya ke arah dada.

Ctar!

"Hup!"

Dewi Selendang Maut segera melentingkan tubuhnya, berputaran ke belakang menghindari sengatan cambuk hitam berbulu halus itu. Beberapa kali dia berputaran di udara sebelum kakinya menjejak tanah. Namun baru saja wanita itu menjejak tanah, Iblis Pedang Perak sudah kembali menyerang cepat luar biasa. Pedangnya berkelebatan cepat, sehingga yang terlihat hanya kilatan cahaya keperakan yang mengurung di sekitar tubuh Dewi Selendang Maut.

Wanita yang tidak kelihatan wajahnya itu, semakin kewalahan saja menghadapi serangan si Cambuk Setan yang membantu Iblis Pedang Perak. Menghadapi dua serangan yang begitu dahsyat, tentu saja Dewi Selendang Maut semakin kelihatan kewalahan. Dia terus terdesak semakin hebat. Bahkan tak mampu lagi memberi serangan balasan. Wanita berbaju kuning gading itu hanya bisa berlompatan, berjumpalitan menghindari setiap serangan yang datang secara beruntun itu.

"Hiyaaa..!"

Tiba-tiba saja, si Cambuk Setan melepaskan satu pukulan tangan kiri yang begitu keras, disertai pengerahan tenaga dalam tinggi itu dilakukan tepat di saat Iblis Pedang Perak melakukan serangan ke arah kaki Dewi Selendang Maut. Menghadapi serangan yang begitu bersamaan, Dewi Selendang Maut tak mampu lagi berkelit dari pukulan si Cambuk Setan. Sehingga...

Desss!

"Aaakh...!"

Tubuh Dewi Selendang Maut terpental deras ke belakang, begitu pukulan yang dilepaskan si Cambuk Satan telak menghantam tengah-tengah dadanya. Keras sekali pukulan itu, sehingga Dewi Selendang Maut terbanting ke tanah begitu keras disertai pekik kaget tertahan.

"Mampus kau! Hiyaaat..!"

Pada saat tubuh Dewi Selendang Maut telentang di tanah. Ibis Pedang Perak sudah melompat cepat disertai ancaman ujung pedangnya yang tertuju lurus ke arah dada. Sedangkan Dewi Selendang Maut hanya bisa terbeliak. Tak ada lagi kesempatan baginya untuk menghlndar. Pukulan yang mendarat di dadanya tadi, membuat jalan napasnya jadi tersumbat. Sedangkan dadanya terasa begitu nyeri.

"Oh, mati aku..." desah Dewi Selendang Maut. Dewi Selendang Maut memejamkan matanya, saat ujung pedang berwarna keperakan semakin dekat ke arah dadanya. Dan begitu ujung pedang itu hampir saja menembus dadanya, mendadak saja....

Trang!

"Ikh...?!"

Iblis Pedang Perak jadi terkejut setengah mati, begitu tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat menyentil pedangnya yang hampir saja menembus dada Dewi Selendang Maut. Lebih terkejut lagi, karena tangannya yang menggenggam pedang terasa jadi bergetar kesemutan. Cepat-cepat tubuhnya melenting ke belakang, sambil memindahkan pedangnya ke tangan kiti.

Sementara Dewi Selendang Maut sudah membuka matanya. Dia jadi tertegun melihat Iblis Pedang Perak berada sekitar satu setengah tombak darinya. Bahkan kedua bola matanya jadi terbeliak begitu di samping tubuhnya yang terbaring menelentang, berdiri seorang pemuda tampan. Bajunya rompi putih, dengan sebilah pedang bergagang kepala burung tersampir di punggungnya.

Pada saat itu muncul seorang gadis cantik berbaju biru muda dari balik sebatang pohon yang cukup besar. Gadis itu langsung menghampiri Dewi Selendang Maut. Dibantunya wanita berbaju kuning gading ini berdiri. Sementara, pemuda tampan berbaju rompi putih melangkah ke depan beberapa tindak. Sedangkan si Cambuk Setan sudah berdiri di samping Iblis Pedang Perak.

"Siapa kalian?" tanya Dewi Selendang Maut, setelah bisa berdiri, dia masih dipapah gadis cantik yang baru muncul tadi.

"Sebaiknya jangan banyak bicara dulu. Kita harus segera menyingkir dari sini." sahut gadis cantik berbaju biru itu.

"Cepat bawa dia pergi, Pandan." selak pemuda berbaju rompi putih tanpa berpaling sedekitpun.

"Baik, Kakang." sahut gadis cantik itu yang ternyata memang Pandan Wangi. "Ayo…"

Pandan Wangi memapah Dewi Selendang Maut menyingkir dari tempat pertarungan itu. Sementara, pemuda berbaju rompi putih yang tak lain adalah Pendekar Rajawali Sakti, masih berdiri tegak menghadapi si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak. Dari sudut ekor matanya. Rangga melihat Pandan Wangi sudah cukup jauh mem-bawa Dewi Selendang Maut menyingkir.

"Berani benar kau mencampuri urusanku, Anak Muda. Siapa kau sebenarnya…?!" desis si Cambuk Setan dingin menggetarkan.

Rangga tidak menjawab pertanyaan itu. Pada saat itu, terdengar ringkik kuda yang disusul derap kaki kuda yang dipacu cepat. Dan kini, suara-suara itu terdengar semakin menjauh. Dan tiba-tiba saja, Pendekar Rajawali Sakti melesat cepat bagai kilat.

"Hey….!"

Tak ada kesempatan lagi bagi si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak untuk mengejar, karena lesatan Rangga begitu cepat Sehingga dalam waktu sekejap mata saja, Pendekar Rajawali Sakti tak terlihat lagi bayangan tubuhnya.

"Keparat…! Siapa mereka...?!" geram Iblis Pedang Perak seperti bicara pada diri sendiri.

"Ayo kita kejar mereka, Paman," ajak Iblis Pedang Perak.

"Untuk apa?! Percuma saja kita mengejar. Mereka pasti sudah terlalu jauh dari sini." dengus si Cambuk Setan.

Iblis Pedang Perak jadi terdiam. Memang tidak ada gunanya lagi mengejar. Mereka pasti sudah jauh, dan lagi tidak tahu ke mana arah kepergiannya.

"Aku yakin, dia tidak akan bisa bertahan lama dengan pukulanku tadi," duga Cambuk Setan setengah menggumam nada suaranya.

"Kalau kedua orang itu menolongnya?"

"Hanya mereka yang memiliki tenaga dalam sempuma saja yang bisa melenyapkan hasil pukulanku, Pedang Perak. Karena, pukulanku tadi mengandung aji 'Guntur Geni'. Luka itu hanya bisa disembuhkan dengan hawa murni yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan."

"Kalau begitu, sebaiknya kita kembali saja ke istana, Paman," ajak Ibis Pedang Perak.

"Ayolah. Tidak ada gunanya lama-lama di sini. Toh dia pasti mampus oleh aji 'Guntur Geni'."

********************

Sementara itu di dalam hutan Lereng Gunung Haling, Pandan Wangi menghentikan lari kudanya. Gadis itu cepat melompat turun dari punggung kuda putihnya. Lalu, dibantunya Dewi Selendang Maut turun dari kuda putih itu juga. Pandan Wangi memapah wanita berbaju kuning gading itu, mendekati sebatang pohon yang cukup besar.

Kemudian dibaringkannya wanita ini di bawah pohon. Sebentar diperiksanya keadaan Dewi Selendang Maut yang tampak payah. Baru juga dia selesai memeriksa. Rangga muncul dari kegelapan dan kepekatan malam di dalam hutan yang tidak begitu lebat ini. Pandan Wangi cepat berpaling begitu Rangga sudah berada di sampingnya.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Rangga.

"Lukanya cukup parah," sahut Pandan Wangi.

Rangga memeriksa luka menghitam di dada Dewi Selendang Maut. Keningnya jadi berkerut, lalu menggumam perlahan. Kemudian, Pendekar Rajawal Sakti melepaskan kain selubung yang menutupi wajah wanita ini. Tampak di balik kain selubung berwarna kuning gading itu tersembunyi seraut wajah cantik yang tampak memucat. Kelopak matanya terpejam, dan tarikan napasnya begitu lemah, agak tersendat.

"Dia benar-benar Dewi Selendang Maut, Pandan?" tanya Rangga seraya menatap Pandan Wangi yang tengah merayapi wajah cantik yang tergolek di depannya.

"Aku..., aku tidak tahu. Aku belum pernah bertemu dengannya," sahut Pandan Wangi, jadi ragu-ragu nada suaranya.

"Hm...," gumam Rangga perlahan. Pendekar Rajawali Sakti memandangi wajah cantik yang memucat itu, kemudian beralih menatap Pandan Wangi. Si Kipas Maut itu jadi kelihatan ragu-ragu begitu mendapati wanita berbaju kuning gading yang mengaku berjuluk Dewi Selendang Maut ternyata masih muda. Bahkan mungkin usianya tidak terpaut jauh dengannya.

"Tidak mungkin Bibi Dewi Selendang Maut masih muda, Kakang. Paling tidak, usianya sudah lima puluh tahun," tegas Pandan Wangi seperti pada diri sendiri.

"Tapi, tadi kau dengar sendiri, Pandan. Dia menyebut dirinya sebagai Dewi Selendang Maut pada Iblis Pedang Perak," sanggah Rangga, Juga perlahan suaranya.

"Benar. Tapi..." masih terdengar ragu-ragu nada suara Pandan Wangi.

"Barangkali ini muridnya. Pandan..." tebak Rangga.

'"Tidak.... Bibi Dewi Selendang Maut tidak pernah mempunyai murid sampai pertarungannya dengan Paman Pendekar Bayangan Dewa. Setelah itu dia langsung menghilang begitu saja," bantah Pandan Wangi.

"Pertarungan itu telah berlangsung sepuluh tahun yang lalu, Pandan. Dan tak ada seorang pun yang menyaksikannya. Apalagi mengetahui hasil pertarungan itu. Mereka langsung menghilang, setelah kabar pertarungan mereka terdengar orang lain. Hm…. Apa betul mereka bertarung, Pandan?" kata Rangga jadi punya pikiran lain.

"Aku tidak tahu pasti, Kakang. Tapi memang itulah keterangan yang kuperoleh. Bahkan hampir semua orang mengetahui hal itu." sahut Pandan Wangi. "Kakang, sebaiknya kita selamatkan dia dulu. Nanti kita tanyakan dari mana jurus-jurus Dewi Selendang Maut didapatkan."

"Ya..., memang itu yang akan kulakukan. Rasanya tidak terlalu sulit. Dia hanya mendapat luka akibat pukulan tenaga dalam, meskipun cukup parah juga." desah Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti kemudian mengangkat tubuh Dewi Selendang Maut, hingga dalam keadaan duduk bersila Pandan Wangi memegangi dari belakang agar wanita berbaju kuning gading ini tidak jatuh. Sedangkan Rangga sudah duduk berada di depan Dewi Selendang Maut. Kelopak mata wanita itu masih juga terpejam. Dan tarikan napasnya terdengar semakin begitu lemah dan perlahan sekali.

Rangga membuka baju bagian dada wanita ini, kemudian memejamkan matanya. Lalu, dilakukannya gerakan-gerakan dengan kedua tangannya. Setelah menarik napas dalam-dalam, kedua telapak tangannya ditempelkan ke dada yang sudah terbuka i.tu Sementara, Pandan Wangi tetap duduk memegangi pundak wanita yang tidak sadarkan diri ini.

"Lepaskan, Pandan," ujar Rangga agak mendesis.

Pandan Wangi melepaskan pegangannya pada pundak Dewi Selendang Maut, kemudian menggeser duduknya ke samping. Sementara Rangga terus menyalurkan hawa murni ke dalam dada wanita ini. Pandan Wangi memalingkan muka, karena tak sanggup melihat kedua tangan Rangga menempel rapat di dada yang putih itu.

Rangga terus berusaha menyembuhkan luka di dada Dewi Selendang Maut lewat pengerahan hawa murni dari pusat tubuhnya. Seluruh tubuh Pendekar Rajawali Sakti terlihat bergetar. Sedangkan keringat terus semakin deras mengucur membasahi tubuhnya. Sementara itu, Pandan Wangi diam-diam menyingkir agak menjauh. Gadis itu kemudian membuat api unggun dari ranting yang banyak berserakan, untuk menghangatkan tubuhnya. Memang, udara malam ini terasa begitu dingin.

Cukup lama juga Rangga berusaha menyembuhkan wanita itu. Dan ketika tangannya dilepaskan dari dada yang terbuka lebar, seketika itu juga wanita yang mengaku bernama Dewi Selendang Maut jatuh tergulir ke tanah. Rangga cepat-cepat membetulkan keadaannya, dan menutup kembali dada yang terbuka lebar. Noda hitam di dada itu kini sudah tidak terlihat lagi. Dengan sehelai kain bekas penutup kepala Dewi Selendang Maut, disekanya darah di mulut wanita ini. Saat itu, Pandan Wangi sudah kembali duduk di samping Rangga yang telah menyelesai-kan pekerjaannya.

"Bagaimana, Kakang?" tanya Pandan Wangi.

"Ktta tunggu saja sampai besok pagi, Pandan. Parah sekali luka yang dideritanya. Aku tidak tahu, ajian apa yang digunakan lawannya di dalam pukulan itu," sahut Rangga, agak mendesah suaranya.

"Apa dia punya kesempatan untuk hidup, Kakang?" tanya Pandan Wangi lagi.

"Dia seperti mempunyai kekuatan aneh pada dirinya. Seperti satu kekuatan yang tercipta di luar kewajaran. Kalau kekuatan yang dimilikinya bisa bertahan, mungkin ada kesempatan untuk bisa hidup, Pandan"

"Aku tidak mengerti, kekuatan apa yang dimilikinya, Kakang?"

"Seperti ramuan yang berguna untuk mempercepat mengeluarkan hawa murni dan kekuatan tenaga dalam. Aku tidak tahu, ramuan apa itu. Tapi yang jelas, sebelumnya dia tidak memiliki apa-apa. Bahkan hawa murni dan kekuatan tenaga dalam alami yang dimilikinya begitu kecil sekali," Rangga mencoba menjelaskan, meskipun masih belum begitu yakin akan pendapatnya.

Pandan Wangi terdiam tidak bicara lagi. Dan mereka memang tidak ada yang membuka suara lagi, sambil duduk diam menunggui wanita yang masih belum juga sadarkan diri. Sementara malam terus merayap semakin larut. Dan udara di dalam hutan Lereng Gunung Haling ini semakin terasa dingin. Sehingga Rangga harus menambahkan ranting ke dalam api unggun untuk mengusir udara yang semakin dingin.

********************

ENAM

Lanjani memandangi potongan selendang kuning keemasan yang sempat dibawa Iblis Pedang Perak. Selendang itu memang terpotong oleh tebasan pedangnya. Ratu Kerajaan Batu Ampar itu kemudian memberikan polongan selendang kuning itu pada Iblis Pedang Perak lagi, lalu melangkah mendekati jendela. Dia kini berdiri di sana memandang matahari yang baru saja menyembul dari peraduannya.

"Kau yakin kalau itu bukan milik Dewi Selendang Maut, Pedang Perak?" tanya Lanjani seraya memutar tubuhnya membelakangi jendela.

"Kabarnya Selendang Maut sukar ditandingi senjata apa pun juga. Rasanya tidak mungkin kalau pedangku ini mampu memotongnya. Apalagi, tanpa pengerahan tenaga dalam penuh," jelas Iblis Pedang Perak. "Jelas kalau ini hanya selendang biasa yang bentuknya dibuat mirip dengan Selendang Maut"

"Jadi...?" Lanjani meminta penjelasan lagi.

"Aku berani bersumpah kalau dia bukan Dewi Selendang Maut yang asli." tegas Iblis Pedang Perak.

"Tapi, sewaktu bertarung dia memakai jurus-jurus Dewi Selendang Maut Pedang Perak, " selak si Cambuk Setan yang juga sempat bertarung dengan wanita yang mengaku berjuluk Dewi Selendang Maut itu.

"Itulah yang membuatku sampai sekarang jadi bertanya-tanya, Paman," desah Iblis Pedang Perak lagi.

"Apa tidak mungkin dia muridnya...?" gumam Lanjani seperti bertanya pada diri sendiri.

"Kemungkinan itu jelas ada. Sepuluh tahun Dewi Selendang Maut menghilang. Dan selama sepuluh tahun itu, bisa saja diisinya dengan menggembleng seorang murid. Meskipun, kepandaiannya tidak mungkin bisa menyamai dalam waktu sepuluh tahun," Iblis Pedang Perak menyambuti lagi.

Lanjani terdiam dengan kening sedikit berkerut. Dia teringat kata-kata Dewi Selendang Maut semalam. Bahkan menghubungkan dengan larinya Dewani yang sampai saat ini belum juga bisa diketahui rimbanya. Dewani lari berkat ditolong seorang wanita yang sama dengan yang muncul semalam.

Hal ini bukan hanya menambah beban pikirannya, tapi juga menimbulkan kecemasan. Karena, kedudukannya sebagai ratu di Kerajaan Batu Ampar ini benar-benar terancam. Di samping itu, dia juga jadi penasaran. Yang jelas, rahasia di balik Selendang Maut ingin segera diungkapnya. Karena, sudah dua kali orang yang mengaku Dewi Selendang Maut muncul di Istana Batu Ampar ini.

********************

Sementara itu di dalam hutan Lereng Gunung Haling, wanita berbaju kuning gading yang ditolong Rangga dan Pandan Wangi semalam sudah mulai siuman. Dia merintih lirih sambil menggeleng-gelengkan kepala. Perlahan kelopak matanya terbuka. Dia tampak terkejut begitu malihat Rangga dan Pandan Wangi duduk bersama di dekatnya. Wanita berbaju kuning gading itu bergegas bangkit, dan duduk di depan kedua pendekar muda itu.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rangga lembut disertai senyuman di bibir.

Wanita itu tidak segera menjawab. Dipandanginya Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Dia langsung ingat peristiwa yang terjadi semalam, saat maut sudah begitu dekat menghampirinya. Untunglah, pemuda tampan ber-baju rompi putih ini telah menyelamatkannya dari ujung pedang si Iblis Pedang Perak. Dan gadis cantik berbaju biru ini yang membawanya pergi dari tempat pertarungan semalam.

"Terima kasih atas pertolongan kalian yang telah menyelamatkan nyawaku," ucap wanita itu perlahan.

"Sudah selayaknya sesama makhluk hidup saling tolong menolong. Tidak perlu kau ucapkan itu, Nisanak," sahut Rangga, tetap lembut nada suaranya.

Wanita itu kembali memandangi Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Keningnya jadi berkerut, karena merasa belum pernah mengenal kedua pendekar muda yang telah menyelamatkan nyawanya dari maut semalam.

"Oh, ya Aku Rangga, dan ini Pandan Wangi... ," Rangga terlebih dulu memperkenalkan diri, seakan-akan bisa membaca jalan pikiran wanita itu.

"Kenapa kalian menolongku?" wanita itu malah ber-tanya, tanpa memperkenalkan dirinya.

"Karena kau mengaku sebagai Dewi Selendang Maut pada mereka," kali ini Pandan Wangi yang cepat menyahuti. "Tapi, aku yakin. Kau bukanlah Dewi Selendang Maut."

"Aku..., aku memang bukan Dewi Selendang Maut," pelan sekali suara wanita itu.

"Sudah kuduga..." desis Pandan Wangi pelan sekali, seperti untuk dirinya sendiri

"Lalu, siapa kau sebenarnya?" tanya Rangga ingin tahu.

"Dewani," sahut wanita itu menyebutkan namanya.

"Dewani..?!"

Kening Rangga jadi berkerut mendengar nama wanita ini. Dipandanginya wanita itu tajam-tajam, seakan-akan Pendekar Rajawali Sakti ingin meyakinkan kalau wanita yang ditolongnya semalam ini benar-benar Dewani seperti pengakuannya tadi.

"Kau kenal, Kakang?" tanya Pandan Wangi agak berbisik, melihat Rangga seperti terkejut, dan tidak percaya kalau wanita itu bernama Dewani.

"Pernah kudengar kalau mendiang Prabu Jaya Permana hanya mempunyai seorang putri yang bernama Dewani," ujar Rangga perlahan, seolah-olah bicara untuk dirinya sendiri. "Apakah kau putri Prabu Jaya Permana...?"

"Benar. Aku putri tunggal Ayahanda Prabu Jaya Permana." sahut Dewani membenarkan dugaan Pendekar Rajawali Sakti.

"Oh...," Rangga mendesah panjang. Sedangkan Pandan Wangi hanya memandangi Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata tidak mangerti. Sementara, Dewani hanya diam saja merayapi Rangga dan Pandan Wangi secara bergantian. Untuk beberapa saat, mereka hanya terdiam. Mereka jadi sibuk dengan pikiran masing-masing yang bergelut dalam kepala. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini.

"Kau putri seorang raja yang sudah mangkat, dan seharusnya sekarang menggantikan ayahmu menduduki takhta Kerajaan Batu Ampar ini. Tapi, kenapa malah berkeliaran menggunakan nama Dewi Selendang Maut?" Rangga kembali membuka suara seperti berbicara untuk dirinya sendiri.

"Sulit diceritakan. Dan aku tidak mungkin bisa menduduki takhta selama...," Dewani tidak melanjutkan ucapannya.

"Kau punya masalah?" desak Rangga. Dewani hanya tersenyum saja.

"Kami memang orang-orang luar, dan bukan rakyat Batu Ampar. Tapi jika kau mau menceritakan persoalan yang ada, mungkin aku dan Pandan Wangi bisa membantu menyelesaikannya," kata Rangga lagi.

"Tidak ada yang bisa membantu menyelesaikan persoalanku. Bahkan kedua guruku juga tak mungkin bisa membantu. Terlalu sulit, karena seluruh rakyat Batu Ampar seperti tidak peduli dengan keadaan dalam Istana. Mereka kini seakan-akan tidak lagi mengenalku. Hal ini sudah terjadi sejak aku masih kecil. Sedangkan aku sendiri tidak kuasa menolaknya. Sudah beberapa kali kucoba, tapi selalu kegagalan yang kualami semalam pun, aku sudah mencoba. Kenyataannya, hampir saja aku tewas jika kalian tidak cepat menolongku." jelas Dewani seakan-akan mengeluh

"Boleh kutahu, siapa kedua gurumu?" tanya Pandan Wangi menyelak.

Dewani tidak segera menjawab pertanyaan itu, dan malah memandangi si Kipas Maut dengan sinar mata yang sukar diartikan. Sedangkan Pandan Wangi membalas pandangan itu sambil menunggu jawaban atas pertanyaannya. Tapi tampaknya Dewani enggan menjawab pertanyaan si Kipas Maut barusan.

"Terus terang, sebenarnya aku dan Kakang Rangga sudah mengamati saat kau masuk ke dalam Istana Batu Ampar secara diam-diam. Dan kami tahu semua apa yang terjadi pada dirimu, termasuk pertarunganmu dengan Iblis Pedang Perak. Itu sebabnya, aku dan Kakang Rangga tidak ingin kau tewas di tangan mereka, karena julukan Dewi Selendang Maut kau gunakan. Dan aku sendiri sebenarnya tengah mencari orang yang julukannya kau gunakan." kata Pandan Wangi menjelaskan maksud pertanyaannya yang belum terjawab tadi.

"Dan yang terpenting, kau menggunakan jurus-jurus yang dimiliki Dewi Selendang Maut, meskipun belum menggunakan secara sempurna," sambung Rangga, bisa mengerti maksud Pandan Wangi yang ingin mengorek keterangan untuk mengetahui paman dan bibinya itu.

Sedangkan Dewani masih tetap diam, memandangi Rangga dan Pandan Wangi bergantian. Namun, sinar matanya mengandung kecurigaan. Dia jadi ingat, kalau kedua pendekar muda ini yang menyusup masuk ke dalam taman tempat tinggal kedua gurunya. Gadis itu bangkit berdiri tanpa bicara sedikit pun.

"Maaf, aku harus kembali," ucap Dewani langsung saja melangkah pergi.

Pandan Wangi bergegas bangkit berdiri. Dan baru saja hendak mengejar gadis itu, Rangga sudah keburu mencekal tangan si Klpas Maut ini. Mereka membiarkan Dewani melangkah cepat meninggalkannya. Gadis itu terus berjalan tanpa berpaling lagi, semakin masuk ke dalam hutan Lereng Gunung Haling ini. Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi hanya memandanginya saja sampai lenyap tak terlihat lagi.

"Kenapa kau membiarkannya pergi, Kakang?" tanya Pandan Wangi bernada tidak puas.

"Kau tidak mungkin bisa memaksanya, Pandan. Sebaik-nya kita ikuti saja secara diam-diam. Dia pasti kembali pada kedua orang gurunya yang dirahasiakan," sahut Rangga.

"Maksudmu...?" tanya Pandan Wangi, ingin lebih jelas lagi.

Rangga tidak menjawab. Kepalanya didongakkan ke atas, lalu menarik napas dalam-dalam. Sebentar kemudian terdengar suara siulan yang panjang dan bernada aneh. Pandan Wangi tahu, Rangga tengah memanggil Rajawali Putih. Seekor burung rajawali raksasa tunggangannya, selain kuda hitam Dewa Bayu.

********************

Dari ketinggian di atas awan, Rangga dan Pandan Wangi bisa leluasa memperhatikan Dewani yang berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Kening Pendekar Rajawali Sakti jadi berkerut, saat mengetahui Dewani memasuki sebuah bangunan batu berbentuk candi yang merupakan gerbang pembatas. Bangunan batu itu pernah dilewatinya bersama Pandan Wangi, ketika mereka secara tidak sengaja memasuki sebuah taman.

Dewani memang tidak terlihat lagi setelah masuk ke dalam gerbang berbentuk candi kecil itu. Sementara Rangga meminta Rajawali Putih menyusuri bagian Lereng Gunung Haling ini. Pendekar Rajawali Sakti jadi ingat ketika keluar dari taman itu diantar empat orang berpakaian seragam seperti prajurit. Mereka melalui sebuah lorong yang cukup panjang dan berliku-liku, seperti sebuah lorong di dalam tanah. Pendekar Rajawali Sakti yakin kalau tidak akan bisa memasuki taman itu lagi, kecuali lewat gua di Puncak Gunung Haling atau dari gerbang candi itu.

"Kakang, ada lembah di depan sana...!" seru Pandan Wangi seraya menunjuk

Rangga langsung mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Pandan Wangi. Matanya jadi menyipit, begitu melihat sebuah lembah yang dikelilingi tumpukan batu-batu melingkar, seperti membentuk sebuah cincin raksasa. Dan mereka jadi terkejut, karena di dalam lembah itu terdapat sebuah taman yang sangat indah. Keindahannya seperti taman Swargaloka tempat bersemayam para Dewata di Kahyangan. Dan taman itulah yang mereka masuki secara tidak sengaja beberapa waktu yang lalu.

"Rajawali Putih, kita turun di luar taman itu," perintah Rangga.

"Khraaaghk..!"

Rajawali Putih segera meluruk turun ke arah yang diinginkan Rangga. Kedua pendekar muda itu segera berlompatan turun, begitu Rajawali Putih mendarat tepat di dekat tumpukan batu yang melingkar membentuk cincin raksasa.

"Kau tunggu saja di sini, Rajawali Putih," kata Rangga berpesan.

"Khrrr...!" Rajawali Putih menganggukkan kepalanya, seraya mengkirik kecil.

Setelah berkata demikian, Rangga cepat melompat menaiki tumpukan batu-batu itu. Gerakannya sungguh ringan dan lincah. Pandan Wangi juga bergegas mengikuti, berlompatan mendaki tumpukan batu-batu yang begitu tinggi seperti sebuah bukit. Sementara Rajawali Putih mendekam diam, memperhatikan kedua pendekar muda yang terus berlompatan semakin tinggi.

"Hup!"

Manis sekali Rangga menjejakkan kakinya di puncak tumpukan batu itu. Kemudian tubuhnya dirundukkan, begitu melihat ke bagian dalam lembah yang dikelilingi tumpukan batu. Pada saat itu, Pandan Wangi sudah sampai di samping Pendekar Rajawali Sakti. Juga langsung diperhatikannya tanah di lembah itu.

"Itu Dewani, Kakang," desis Pandan Wangi seraya menunjuk.

"Hm...," Rangga hanya menggumam kecil.

Mereka melihat Dewani duduk bersila di depan dua orang tua yang juga duduk bersila berdampingan, di atas batu yang cukup besar dan pipih permukaannya. Tampak jelas sekali kalau mereka sedang membicarakan sesuatu.

"Kau bisa mendengar pembicaraan mereka, Kakang?" tanya Pandan Wangi

"Hm...," Rangga hanya menggumam saja.

Diam-diam Pendekar Rajawali Sakti menggunakan ilmu 'Pembeda Gerak dan Suara'. Maka, tentu saja semua percakapan Dewani dengan dua orang tua yang duduk bersila di atas batu itu bisa terdengar. Sementara Pandan Wangi hanya bisa memperhatikan saja, karena tidak memiliki ilmu 'Pembeda Gerak dan Suara' seperti Rangga. Dalam jarak yang jauh begitu, memang tidak mungkin bagi Pandan Wangi untuk bisa mendengar percakapan itu.

"Seharusnya kebodohan itu tidak perlu kau lakukan, Dewani. Ramuan itu belum cukup kuat untuk menghadapi mereka. Paling tidak masih perlu satu tahun lagi, jika kau rajin menggunakannya. Bahkan bukannya tidak mungkin, kepandaian yang kau miliki melebihi dari yang kami miliki berdua saat ini," jelas wanita berbaju kuning gading yang duduk di atas batu pipih itu. "Aku tidak mau lagi terulang peristiwa yang dialami Rapanca.... "

"Maafkan aku, Bibi," ucap Dewani lirih dengan kepala tertunduk menekuri rerumputan di depannya.

Dewani jadi ingat dengan pemuda berbaju putih yang hampir membawanya lari dari Istana Batu Ampar. Tapi nasib memang menentukan lain. Rapanca tewas kehabisan darah setelah sampai di tempat ini. Dewani benar-benar menyesali peristiwa itu. Terlebih lagi, sebenarnya dia sudah mulai menyukainya. Dan baru beberapa hari yang lalu Dewani baru tahu, kalau Rapanca ternyata salah seorang murid kedua tokoh kosen itu.

"Sudahlah. Yang penting, sekarang kau masih tetap hidup," ujar wanita separuh baya itu, tetap lembut suaranya.

"Dewani, siapa yang menolongmu semalam?" selak laki-laki tua berjubah putih. Dia duduk di samping wanita separuh baya berbaju kuning gading yang sama persis dengan yang dipakai Dewani.

"Aku tidak kenal, Paman. Tapi mereka pernah datang ke sini waktu itu. Kalau tidak salah, namanya Rangga dan Pandan Wangi," sahut Dewani seraya mengangkat kepala.

"Siapa tadi...?" selak wanita separuh baya, tampak agak terkejut.

"Rangga...," sahut Dewani

"Lalu yang seorang lagi?"

"Pandan Wangi"

Wanita separuh baya berbaju kuning gading itu tertegun mendengar jawaban Dewani yang begitu polos dan tegas. Entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Terlebih lagi, Dewani sudah menceritakan kalau Rangga dan Pandan Wangi sengaja mencari mereka. Bahkan menganggap mereka masih ada hubungan persaudaraan. Pandan Wangi menganggap mereka adalah paman dan bibinya yang sudah lama tidak bertemu, karena terlalu sibuk mengembara menjelajahi rimba persilatan

"Ada apa, Rayi Selendang Maut?" tanya laki-laki tua berjubah putih itu seraya berpaling menatapnya.

"Tldak... tidak ada apa-apa," sahut wanita separuh baya itu seraya menggelengkan kepala beberapa kali.

Mereka jadi terdiam. Laki-laki tua berjubah putih panjang menatap Dewani yang masih tetap duduk bersila di depannya. Sedangkan wanita separuh baya yang mengenakan baju kuning gading itu beberapa kali menarik napas panjang, dan menghembuskannya kuat-kuat.

"Kau pergi dulu, Dewani," ujar laki-laki berjubah putih.

"Baik, Paman," sahut Dewani.

Gadis itu bangkit berdiri. Setelah menjura memberi hormat, kakinya melangkah meninggalkan kedua orang tua ini. Mereka masih tetap diam sampai Dewani tidak terlihat lagi di taman itu. Dewani menghilang, setelah masuk ke dalam sebuah rumah yang berukuran cukup besar, dan terletak merapat dengan tumpukan batu di sebelah kanan taman ini.

"Aku tahu, apa yang kau pikirkan saat ini, Rayi Dewi. Mereka juga sudah memperkenalkan namanya padaku waktu itu," ungkap laki-laki tua berjubah putih itu, agak perlahan suaranya.

"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, Kakang Bayangan Dewa," sentak wanita separuh baya itu tampak terkejut.

Wanita itu ternyata memang Dewi Selendang Maut. Sedangkan laki-laki berjubah putih itu tak lain dari Pendekar Bayangan Dewa. Dua tokoh kosen rimba persilatan yang selama sepuluh tahun lebih telah menghilang, hingga tak ada seorang pun yang tahu rimbanya. Sementara itu Rangga yang mendengarkan semua percakapan jadi tertegun, setelah mengetahui kedua orang tua di dalam taman itu. Sungguh tidak dikira kalau mereka adalah Pendekar Bayangan Dewa dan Dewi Selendang Maut yang selama ini dicari Pandan Wangi.

"Aku tidak ingin mengatakannya padamu, karena belum yakin kalau dia keponakan kita. Rayi Selendang Maut. Aku ingin menyelidikinya lebih dulu, tapi setelah urusan kita di sini sudah selesai," jelas Pendekar Bayangan Dewa.

"Tinggal dia satu-satunya keluarga kita yang ada, Kakang. Kau tahu, aku sendiri sebenarnya sudah lama mencari. Aku ingin mewariskan seluruh ilmuku padanya. Hanya keponakan kita yang berhak menerima warisan ilmuku, Kakang," tegas Dewi Selendang Maut

"Aku juga berkeinginan sama denganmu, Rayi Dewi. Itu sebabnya, kenapa aku mengajakmu berdamai, dan membangun tempat ini untuk menggembleng keponakan kita itu. Mudah-mudahan kita berhasil menemukannya nanti," kata Pendekar Bayangan Dewa lagi.

"Lalu, bagaimana dengan Dewani?" tanya Dewi Selendang Maut

"Kita hanya menjalankan kewajiban dan janji saja. Dan itu harus dilaksanakan sampai selesai." sahut Pendekar Bayangan Dewa.

"Ya, aku tahu. Kita memang terikat janji. Dan lagi, Dewani memang bukan orang lain buat kita, Kakang. Baiklah, kita selesaikan dulu persoalan di sini, baru mencari Pandan Wangi bersama-sama." Dewi Selendang Maut mengambil keputusan.

"Itu lebih bagus, Rayi."

"Tapi kita harus ingat Kakang, Dewani hanya kita bekali saja dengan ilmu-ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Sedikit pun kita tidak boleh mencampuri urusannya dengan Lanjani. Biar mereka berdua saja yang menyelesaikannya. Itu urusan pribadi, dan kita tidak berhak mencampurinya." tandas Dewi Selendang Maut.

"Tentu saja. Aku juga tidak ingin mengotori tanganku dengan segala macam urusan kerajaan. Pengabdianku pada Prabu Jaya Permana sudah cukup. Dan sekarang, tinggal menuntaskan janjiku padanya untuk membekali putri tunggalnya dengan ilmu kedigdayaan," sambut Pendekar Bayangan Dewa.

"Hhh...! Kalau saja Prabu Jaya Permana tidak menikah dengan adik misanku, sudah pasti aku tidak akan melakukan ini, Kakang. Sayangnya, aku sudah berjanji pada adikku." desah Dewi Selendang Maut.

"Bagaimanapun juga, dia tetap keponakanmu, Rayi"

"Keponakanmu juga, Kakang."

"Tapi keponakan kita yang sebenarnya justru tidak ada."

"Itulah yang membuatku terus berpikir, Kakang. Sementara aku semakin tua, aku khawatir tidak punya kesempatan lagi."

"Aku rasa, sebaiknya kita curahkan saja seluruh perhatian pada Dewani. Dia cukup berbakat. Sehingga nanti tidak perlu lagi menggunakan ramuan. Biarkan masalahnya dengan Lanjani diselesaikan dulu. Lalu, dia kita gembleng secara alami, tanpa harus menggunakan ramuan yang bisa membuatnya menguasai segala ilmu dalam waktu singkat."

"Kau khawatir ramuanku akan membuatnya kecanduan, Kakang?"

"Semua ramuan obat selalu mengandung sampingan, Rayi. Kau lihat saja sendiri. Belum lama di sini, dia sudah berani menantang Lanjani yang kepandaiannya jauh lebih tinggi."

"Kau menginginkan aku menghentikan ramuan itu sekarang, Kakang?"

"Kalau kau setuju."

"Baiklah. Aku tidak akan menggunakannya lagi."

Pendekar Bayangan Dewa tersenyum. Memang sejak semula dia tidak setuju terhadap cara Dewi Selendang Maut yang menggunakan ramuan obat agar kekuatan orang bisa berlipat ganda. Bahkan bisa menyerap ilmu-ilmu kedigdayaan dalam waktu singkat, tanpa harus mempelajarinya bertahun-tahun. Tapi, tentu saja tidak bisa ber-tahan lama. Apa pun jenisnya, ramuan obat tidak bisa abadi.

Hal itu terbukti pada Dewani. Kekuatannya langsung sirna begitu pengaruh ramuan obat yang diberikan Dewi Selendang Maut hilang dalam dirinya. Dan ini yang sebenarnya tidak diinginkan Pendekar Bayangan Dewa. Tapi, hal itu tidak ingin dikatakannya terus terang pada Dewi Selendang Maut. Karena, baru sepuluh tahun ini mereka bisa hidup berdampingan secara damai. Dan itu semua berkat Prabu Jaya Permana yang bisa mendamaikan mereka, sehingga tidak terjadi pertarungan maut di Puncak Gunung Haling sepuluh tahun yang lalu. Tentu saja hal itu dilakukan secara rahasia. Hanya Prabu Jaya Permana yang tahu, selain mereka berdua. Jadi, sebenarnya pertarungan itu tidak ada.

********************

TUJUH

"Kau tunggu di sini," ujar Rangga sambil mcnepuk pundak Pandan Wangi.

"Kakang mau ke mana?" tanya Pandan Wangi. Rangga tidak menjawab. Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti melompat turun dari atas tumpukan batu-batu ini. Gerakannya begitu ringan dan cepat, pertanda ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai tingkat sempuma. Sementara Pandan Wangi tetap diam memperhatikan, meskipun jadi penasaran dan bertanya-tanya dalam hati.

Hanya beberapa kali lompatan saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah bisa mencapai tanah. Kemunculan Rangga yang begitu tiba-tiba itu, tentu saja membuat Pendekar Bayangan Dewa dan Dewi Selendang Maut jadi terkejut. Mereka cepat berlompatan menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Hanya dua kali melompat, maka mereka mendarat tepat sekitar lima langkah di depan Rangga yang baru saja menjejakkan kaki di tanah berumput taman ini.

"Tunggu...!" sentak Rangga berseru cepat begitu melihat dua tokoh tua itu hendak menyerangnya.

"Apa maksudmu datang lagi ke sini?" tanya Pendekar Bayangan Dewa langsung.

"Mari kita bicarakan ini secara baik-baik," jelas Rangga mencoba bersikap bersahabat.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak kenal siapa dirimu, Anak Muda." desis Dewi Selendang Maut, agak dingin nada suaranya.

"Memang di antara kita belum ada yang saling mengenal. Tapi aku yakin, Paman dan Bibi mengenali temanku," duga Rangga, masih tetap kalem dan sopan nada suaranya.

Dewi Selendang Maut dan Pendekar Bayangan Dewa jadi saling berpandangan. Mereka baru saja membicarakan hal ini, dan sekarang pemuda yang dibicarakan muncul begitu tiba-tiba. Tentu saja hal ini membuat mereka tadi sempat terkejut.

"Siapa temanmu itu?" tanya Dewi Selendang Maut agak tertahan nada suaranya.

"Pandan Wangi." sahut Rangga.

"Lalu...?"

Pertanyaan Dewi Selendang Maut terhenti ketika melihat Dewani datang menghampiri. Gadis itu sudah mangganti pakaiannya. Dan kini bajunya agak ketat dan berwarna merah muda. Begitu cocok dengan warna kulitnya yang putih dan halus. Dia tampak terkejut juga melihat Rangga. Tapi kakinya terus terayun, dan berhenti di samping Dewi Selendang Maut.

"Anak muda, sebaiknya tunda dulu pembicaraan ini. Malam nanti aku akan menemuimu," ujar Pendekar Bayangan Dewa.

"Di manapun kau berada di Gunung Haling ini aku pasti bisa menemukanmu, Anak Muda," sahut Pendekar Bayangan Dewa.

Rangga menatap Dewani sebentar, kemudian mengangguk. Setelah menjura memberi hormat, Pendekar Rajawali Sakti langsung melesat cepat menaiki tumpukan batu yang mengelilingi taman ini. Gerakannya sungguh ringan dan cepat. Sehingga dalam beberapa lompatan saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah sampai di puncak tumpukan batu. Sebentar kepalanya berpaling ke bawah, melihat Pendekar Bayangan Dewa, Dewi Selendang Maut, dan Dewani yang masih memandanginya di bawah.

Rangga bergegas menghampiri Pandan Wangi yang masih menunggunya. Kemudian diajaknya gadis itu pergi, tanpa menghiraukan pertanyaan Pandan Wangi yang begitu beruntun ingin mengetahui pembicaraan Rangga dengan dua orang tua di dalam taman itu. Pandan Wangi terpaksa mengikuti setelah Rangga berjanji akan menceritakannya nanti. Mereka kemudian meninggalkan tempat itu, menunggang Rajawali Putih.

"Benarkah mereka itu paman dan bibiku, Kakang?" tanya Pandan Wangi tidak sabaran lagi, begitu mereka sudah mengangkasa bersama Rajawali Putih Seekor burung Rajawali raksasa, tunggangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku tidak tahu pasti, Pandan. Tapi mereka memang benar berjuluk Pendekar Bayangan Dewa dan Dewi Selendang Maut," sahut Rangga.

"Oh! Syukurlah kalau mereka masih hidup. Tadinya aku tidak yakin kalau mereka masih hidup," desah Pandan Wangi gembira.

"Jangan terlulu gembira dulu, Pandan. Mereka memang mengharapkan kehadiran keponakannya yang hilang. Tapi, itu bukan berarti hanya kau saja keponakannya, Pandan," sergah Rangga.

"Apa.... apa maksudmu berkata begitu. Kakang?" tanya Pandan Wangi jadi berkerut keningnya.

"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin agar kau nanti bisa menghadapi kenyataan bila ternyata kau bukan keponakan mereka, Pandan," kata Rangga tanpa bermaksud menyinggung dan mematahkan semangat gadis ini. "Kau harus ingat yang sudah-sudah, Pandan."

"Aku tahu, Kakang. Seandainya mereka memang bukan paman dan bibiku, aku tidak akan merasa apa-apa. Percayalah. Segala macam kenyataan bisa kuhadapi. Sudah seringkali hal-hal seperti ini kuhadapi," tegas Pandan Wangi sambil memberi senyuman, seraya berpaling menatap Rangga yang berada di belakangnya.

Rangga juga tersenyum di dalam hati, Rangga semakin bangga terhadap gadis ini, yang selalu tabah dalam menghadapi segala macam cobaan hidup. Dan ini memang bukan yang pertama kali Pandan Wangi mencoba mencari keterangan tentang asal-usulnya yang belum jelas. Gadis itu begitu gigih ingin mengetahui tentang dirinya. Hal ini sangat diperlukan agar kehadirannya di Karang Setra bisa diterima, meskipun selama ini semua orang di Karang Setra tidak lagi mempertanyakan asal-usul dirinya. Tapi, Pandan Wangi tetap ingin asal-usulnya diketahui. Dan Rangga bisa memaklumi hal itu, sehingga selalu setia menemani.

"Oh ya, Pandan. Malam nanti Pendekar Bayangan Dewa akan menemui kita," kata Rangga memberi tahu.

"Oh, ya...? Di mana...?" tanya Pandan Wangi, begitu gembira nada suaranya.

"Di mana saja kita berada, asal masih tetap di Gunung Haling ini," sahut Rangga.

"Ah.. , senang sekali bila bisa cepat menyelesaikan semua ini," desah Pandan Wangi berharap.

Rangga bangkit berdiri begitu telinganya mendengar suara langkah kaki di kegelapan menuju ke arahnya. Pandan Wangi yang duduk di samping Pendekar Rajawali Sakti tadi, juga ikut berdiri. Malam ini memang begitu pekat. Dan udara pun terasa begitu dingin. Sehingga api unggun yang mereka buat, seperti tidak mampu mengusir kepekatan dan dinginnya udara malam ini.

Suara langkah kaki itu semakin jelas terdengar. Tak berapa lama kemudian, terlihat seorang laki-laki dan seorang perempuan berjalan agak cepat menghampiri kedua pendekar muda itu. Rangga segera menjura memberi penghormatan setelah dua orang tua itu berada dekat di depannya. Pandan Wangi mengikuti, membungkukkan tubuhnya sedikit memberi penghormatan.

"Ini temanmu yang bernama Pandan Wangi itu?" laki-laki tua berjubah putih yang tak lain adalah Pendekar Bayangan Dewa, langsung bertanya. Memang agak tajam nada suaranya. Dan kini matanya menatap lurus pada Pandan Wangi.

"Benar." sahut Rangga.

"Kenapa kau mencari kami?" selak Dewi Selendang Maut bertanya langsung pada Pandan Wangi.

Pandan Wangi tidak langsung menjawab, tapi malah menatap Rangga yang saat itu berpaling memandangnya. Memang pertanyaan Dewi Selendang Maut begitu langsung, dan seperti tidak suka kalau Pandan Wangi sedang mencarinya.

"Temanku ini mencari paman dan bibinya yang sudah lama menghilang tidak ketahuan kabar beritanya. Dan kami mendapat keterangan, mereka selalu malang melintang dalam rimba persilatan dengan nama Pendekar Bayangan Dewa dan Dewi Selendang Maut," jelas Rangga, mewakili Pandan Wangi yang tampaknya jadi sulit berbicara.

Pendekar Bayangan Dewa dan Dewi Selendang Maut saling berpandangan, mendengar penjelasan Rangga barusan. Memang mereka berdualah yang dijuluki Pendekar Bayangan Dewa dan Dewi Selendang Maut. Dan mereka memang sedang mencari keponakannya yang hilang. Tapi mereka belum mau mengakui Pandan Wangi sebagai keponakan mereka begitu saja.

"Siapa namamu?" tanya Dewi Selendang Maut kembali menatap Pandan Wangi.

"Pandan Wangi," sahut Pandan Wangi memperkenalkan diri.

"Lalu, siapa nama ayah dan ibumu?" tanya Dewi Selendang Maut lagi.

"Aku tidak tahu," sahut Pandan Wangi.

"Nama orang tuamu saja tidak tahu, bagaimana mungkin kau bisa mengakui kami sebagai sanak keluargamu...? Dari mana kau dapatkan semua keterangan itu?"

"Banyak orang yang mengatakannya begitu padaku." sahut Pandan Wangi, tetap tegas suaranya.

"Dan kau percaya begitu saja?"

Kali ini Pandan Wangi tidak menyahut. Matanya melirik Rangga yang hanya memandanginya saja, dengan sinar mata sukar diartikan. Kemudian kembali ditatapnya Dewi Selendang Maut dan Pendekar Bayangan Dewa bergantian.

"Aku memang tidak tahu, siapa kedua orang tuaku. Aku terpisah sejak lahir. Sedangkan orang yang merawat dan membesarkanku tidak pernah menceritakannya, sampai meninggal dunia. Tapi, dia sempat mengatakan kalau aku masih memiliki sanak keluarga yang saling berpencar. Dan katanya lagi, keluargaku keturunan kaum pendekar yang hidup mengembara tanpa jelas tempat tinggalnya," tutur Pandan Wangi mencoba menceritakan tentang kehidupannya.

"Kisah hidupmu memang sangat mirip keponakan kami yang hilang.'" kata Pendekar Bayangan Dewa. "Tapi, kami memerlukan bukti yang banyak sebelum mengakuimu sebagai keponakan kami. Kalau benar-benar yakin dan tidak punya maksud tertentu, kau harus bisa mencari bukti-bukti itu terlebih dahulu."

"Memang terus terang, kami juga tidak tahu banyak tentang keponakan kami yang hilang..." sambung Dewi Selendang Maut. "Dan kami tidak mau gegabah. Karena, sudah tiga orang gadis yang mengaku keponakanku. Seperti juga kau ini. Nisanak."

"Aku mengerti," desah Pandan Wangi perlahan.

"Maaf, kami tidak bisa lama lama berada di sini," ujar Pendekar Bayangan Dewa.

"Tunggu dulu..." cegah Pandan Wangi cepat.

"Ada yang ingin kau ketahui lagi?" tanya Dewi Selendang Maut.

"Boleh kutahu, siapa nama keponakan kalian yang hilang...?"

"Seperti kisahmu sendiri, Nisanak. Kami juga tidak tahu siapa namanya. Karena, sudah terpisah sejak dilahirkan. Kami hanya tahu kalau dia masih hidup, tapi entah berada di mana sekarang ini," sahut Pendekar Bayangan Dewa.

Pandan Wangi terdiam Rangga juga tidak membuka suara lagi.

"Semoga kau mendapatkan bukti-bukti kuat. Kami berdua akan senang bila kau memang keponakan kami yang hilang," ujar Pendekar Bayangan Dewa

Mereka kemudian berpamitan. Kali ini Pandan Wangi maupun Rangga tidak mencegah lagi. Pandan Wangi lang-sung menghempaskan tubuhnya di dekat api unggun sambil menghembuskan napas panjang. Sementara, Rangga masih berdiri mematung memandangi dua orang tua yang semakin jauh pergi, dan menghilang di kegelapan malam. Rangga baru duduk di samping Pandan Wangi setelah kedua orang tua itu tidak terlihat lagi.

"Kenapa mereka tidak mau mengakui, Kakang? Padahal mereka mengatakan kalau kejadiannya sama persis dengan yang kualami," keluh Pandan Wangi.

"Kau kecewa, Pandan...?" lembut sekali suara Rangga.

"Entahlah...," desah Pandan Wangi.

Rangga melingkarkan tangannya ke pundak gadis ini, dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Pandan Wangi menenggelamkan kepalanya di dalam dada Pendekar Rajawali Sakti yang bidang dan hangat. Untuk beberapa saat mereka jadi terdiam, tidak bicara lagi

"Aku bisa mengerti perasaanmu, Pandan. Kalau boleh kusarankan, sebaiknya kau tidak perlu lagi bersusah-susah mencari keterangan tentang asal-usulmu. Aku sama sekali tidak peduli pada semua itu. Aku hanya mempedulikan dirimu," hibur Rangga, lembut suaranya.

"Kau memang tidak peduli dengan asal-usulku. Kakang, Aku senang mendengarnya. Tapi, apa seperti itu yang diinginkan orang lain...? Terutama yang ada di Istana Karang Setra, dan seluruh rakyat Karang Setra. Mereka pasti ingin tahu, siapa aku sebenarnya. Dan dari mana aku berasal, serta keluarga dan sanak keluargaku. Mereka tidak akan menerimaku begitu saja, tanpa mengetahui asal-usulku, Kakang," tandas Pandan Wangi seraya melepaskan diri dari pelukan Pendekar Rajawali Sakti.

"Peduli setan dengan mereka semua, Pandan. Yang kuinginkan hanya dirimu, dan cintamu. Aku tidak peduli dengan omongan orang lain. Mereka tidak berhak mengatur hidupku. Aku bebas menentukan langkah hidupku sendiri, Pandan," tegas Rangga. "Percayalah padaku, Pandan. Siapa pun kau, dan dari mana kau berasal, cintaku padamu tidak akan pernah luntur. Hanya kaulah gadis satu-satunya yang ada di hatiku "

"Oh, Kakang..." desah Pandan Wangi terharu.

Pandan Wangi tak mampu lagi menahan keharuannya mendengar kata-kata Rangga yang begitu tegas dan sangat menyentuh relung hatinya. Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Rangga. Kembali mereka tidak berbicara, dan saling berpelukan, merasakan cinta yang begitu besar berkobar dalam dada.

Lama juga mereka terdiam tanpa bicara lagi. Perlahan Pandan Wangi melepaskan pelukannya. Mereka kini saling berpandangan dengan cinta terpancar lewat sinar mata. Begitu besarnya pancaran yang ada, sehingga tak ada satu pun penghalang yang bisa memisahkan mereka berdua.

"Kau dengar, Pandan ?" desis Rangga tiba-tiba. Suaranya begitu pelan sekali.

Belum juga Pandan Wangi bisa membuka mulutnya, tiba-tiba saja Rangga sudah melompat cepat bagaikan kilat Pendekar Rajawali Sakti langsung menembus ke dalam semak berukar. Tapi mendadak saja…..

"Jangan..!"

"Heh...?!"
********************

DELAPAN

"Dewani…!" desis Rangga terkejut.

Hampir saja Pendekar Rajawali Sakti menghantamkan pukulannya. Untung saja, gadis yang diam-diam menyelinap itu langsung menjerit. Rangga cepat melompat keluar dari dalam semak belukar sambil menarik tangan Dewani. Sehingga. gadis itu juga ikut keluar dari dalam semak. Pada saat itu, Pandan Wangi sudah menghampiri dan berdiri di samping Rangga. Sedangkan Dewani kini sudah berada di depan kedua pendekar muda ini.

"Apa yang kau lakukan di sini, Dewani?" tanya Rangga.

"Maaf, aku telah mengejutkan kalian. Tapi aku tidak bermaksud jahat. Aku justru ingin minta tolong pada kalian berdua." kata Dewani.

"Minta tolong….? Rangga jadi bcrkerut keningnya.

"Ya! Aku tidak tahu harus minta bantuan pada siapa lagi. Sedangkan persoalan ini harus diselesaikan secepatnya. Aku tidak ingin terus berlarut-larut, sementara seluruh rakyat Batu Ampar sudah mulai mempertanyakan tentang diriku." jelas Dewani

Rangga dan Pandan Wangi jadi saling berpandangan.

"Kalian pasti sudah tahu, siapa aku sebenarnya," kata Dewani lagi.

Rangga memang sudah tahu, siapa Dewani sebenarnya. Apalagi setelah mendengar semua pembicaraan Pendekar Bayangan Dewa dan Dewi Selendang Maut. Dan Pendekar Rajawali Sakti juga tahu, persoalan apa yang sedang dihadapi gadis ini. Haknya sebagai pewaris tunggal Kerajaan Batu Ampar telah terampas Lanjani, salah seorang anak dari selir ayahnya. Tentu saja Lanjani tidak berhak menduduki takhta Kerajaan Batu Ampar.

Rangga jadi sukar menentukan pilihannya. Sementara, pemuda itu juga harus menjaga perasaan Pandan Wangi yang saat ini sedang menghadapi suatu kekecewaan terhadap kenyataan pahit yang dihadapinya saat ini. Tapi, dia juga tidak ingin mengecewakan harapan Dewani yang terang-terangan meminta bantuannya untuk merebut kembali takhta yang kini dikuasai Lanjani secara tidak sah. Maka tidak mudah bagi Rangga untuk menentukan salah satu dari dua pilihan yang begitu sulit.

"Sebentar...." ujar Rangga pada Dewani.

Bergegas Pendekar Rajawali Sakti menarik tangan Pandan Wangi, dan membawanya menjauhi Dewani. Pandan Wangi mengikuti saja tanpa bertanya sedikit pun. Sedangkan Dewani tetap menunggu sambil memperhatikan Rangga yang sudah langsung berbicara pada Pandan Wangi. Pendekar Rajawali Sakti mengatakan persoalan yang sedang dihadapi Dewani saat ini, dan meminta pendapat Pandan Wangi dalam hal ini. Karena, memang sulit menentukan pilihan, mengingat keadaan Pandan Wangi yang tidak sedikit membutuhkan perhatiannya.

"Terima kasih atas perhatianmu yang begitu besar, Kakang," ucap Pandan Wangi setelah Rangga selesai menceritakan keadaan Dewani saat ini, hingga meminta bantuan pada mereka untuk mengembalikan takhta padanya. "Tapi, kau seorang pendekar, Kakang. Dan kau harus bisa menentukan pilihan yang tepat"

"Tapi..."

"Jangan lupakan kewajiban seorang pendekar, Kakang. Dan aku sendiri tidak peduli terhadap pribadiku sendiri. Bagiku, masalah pribadi bukan hambatan yang berarti untuk menjalankan tugas sebagai pendekar," tandas Pandan Wangi, cepat memutuskan ucapan Rangga.

Rangga jadi terdiam.

"Katakan pada Dewani, kau juga bersedia mambantunya. Tapi harus kau yakinkan dulu. Dan dia juga harus minta izin gurunya untuk meminta bantuan padamu, Kakang," usul Pandan Wangi.

"Mereka tidak akan mencampuri urusan ini, Pandan. Dewani memang mereka gembleng. Tapi untuk persoalan yang menyangkut kerajaan, mereka tidak mau ukut campur," jelas Rangga.

"Bagaimana kau bisa begitu yakin?"

"Aku dengar sendiri yang mereka katakan siang tadi."

"Kalau begitu, apa salahnya jika kita membantunya, Kakang...?"

"Kau benar-benar memiliki hati emas, Pandan," puji Rangga tulus.

"Simpan dulu pujianmu, Kakang. Sekarang katakan pada Dewani, kita bersedia membantunya," kata Pandan Wangi tidak ingin mendapat pujian.

Rangga tersenyum, lalu bergegas menghampiri Dewani yang menunggu di dekat api unggun. Sementara Pandan Wangi melangkah ringan menghampiri Rangga yang langsung berbicara pada Dewani. Betapa gembiranya gadis itu mendengar kesediaan Rangga membantu menyelesaikan persoalannya, untuk merebut kembali takhta yang sekarang diduduki Lanjani secara tidak sah. Mereka kemudian duduk menghadapi api unggun.

"Sejak semula aku memang sudah yakin, kalian bersedia membantuku," kata Dewani dengan sinar mata yang berbinar.

"Oh, ya...? Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Pandan Wangi.

"Dari cara kalian menolongku dari tangan Iblis Pedang Perak dan si Cambuk Setan," sahut Dewani.

"Aku rasa, itu hanya kebetulan saja," ujar Rangga merendah.

"Tidak. Dari caranya saja sudah menunjukkan kalau kalian adalah pendekar-pendekar tangguh dan digdaya. Aku yakin, kalian pasti memiliki kepandaian tinggi, dan mampu menghadapi Lanjani dan kedua orang kepercayaannya itu. Juga, dari cara kau masuk dan keluar dari tempat tinggal Paman Pendekar Bayangan Dewa."

Rangga hanya tersenyum saja. Hatinya benar-benar kagum pada pengamatan Dewani yang begitu tajam dan jeli. Sehingga gadis itu bisa begitu yakin, walau hanya dengan pengamatan yang tidak begitu jauh. Tidak heran jika dua orang tokoh kosen yang sudah menghilang dari rimba persilatan menyukai gadis ini. Bahkan menurunkan ilmu-ilmunya, meskipun belum seberapa. Tapi, itu sudah menjadikan suatu perubahan besar pada diri Dewani. Meskipun, sebagian besar karena pengaruh ramuan obat yang dibuat Dewi Selendang Maut.

"Sebaiknya, kalian tidur malam ini. Besok pagi akan kucoba dengan cara musyawarah. Mudah-mudahan tidak terjadi pertumpahan darah," ujar Rangga.

"Kalaupun terjadi, aku yakin kalian mampu menghadapi mereka," kata Dewani.

********************

Pagi-pagi sekali, di saat matahari baru saja menampakkan cahayanya di ufuk Timur, Dewani, Rangga dan Pandan Wangi sudah sampai di depan bangunan Istana Batu Ampar yang besar dan megah. Semua prajurit penjaga terkejut melihat kedatangan Dewani. Tapi, tak seorang pun yang berani menghampiri. Apa lagi menegurnya.

"Pengawal...!" panggil Dewani pada salah seorang prajurit penjaga.

Prajurit itu bergegas menghampiri, dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat begitu sampai di depan Dewani.

"Beri tahu Kanda Lanjani. Aku menunggunya di sini," perintah Dewani dengan suara lantang dan anggun.

"Hamba Kanjeng Nini...." sahut prajurit itu hormat.

Seselah menjura memberi hormat pengawal itu bergegas berlari-lari menaiki tangga istana. Tapi baru saja sampai di tengah-tengah tangga, dari dalam istana itu sudah muncul dua orang laki-laki. Prajurit itu jadi berhenti, dan segera membungkuk memberi hormat. Kedua laki-laki yang ternyata si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak melangkah menuruni anak-anak tangga.

"Minggir...! Hih" sentak Iblis Pedang Perak pada prajurit yang masih berdiri di tengah tangga.

Cepat sekali tangan Iblis Pedang Perak mengibas. Dan tahu-tahu, prajurit itu sudah terpental jatuh dari tangga. Tubuhnya bergulingan di tanah, lalu diam tak bergerak-gerak lagi. Mati. Begitu kerasnya kibasan tangan Iblis Pedang Perak, sehingga kepala prajurit itu remuk.

"Biadab...!" desis Pandan Wangi jadi geram melihat tindakan kejam Iblis Pedang Perak barusan.

Sementara itu Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak sudah sampai di ujung bawah tangga. Mereka terus melangkah menghampiri Dewani yang didampingi Rangga dan Pandan Wangi. Mereka baru berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar satu batang tombak lagi di depan gadis itu.

"Seharusnya kau tidak pertu datang lagi ke sini, Dewani. Kau hanya mengantarkan nyawa saja..." desis si Cambuk Setan dingin.

"Aku sudah ada di sini. Dan kuminta kalian tinggalkan negeri ini!" tegas Dewani lantang.

"Ha ha ha...! Kau tidak bisa mengusir mereka begitu saja, Dewani…!"

Dewani, Rangga, dan Pandan Wangi langsung mengarahkan pandangan ke pintu istana, begitu mendengar suara lantang dan menggelegar. Tampak di ambang pintu. berdiri Lanjani dengan sikap angkuh. Di belakangnya tampak berdiri berjajar enam orang laki-laki berperawakan kasar.

"Hup...!"

Ringan sekali gerakan Lanjani saat melompat. Tubuhnya berputaran beberapa kali di udara dengan manis sekali. Lalu tanpa menumbulkan suara sedikut pun, Lanjani mendarat tepat di depan si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak. Sementara enam orang laki-laki yang men-dampinginya, bergegas menuruni anak tangga istana. Mereka kemudian berdiri berjajar di belakang si Cambuk Setan dan Iblis Pedang Perak.

"Aku sudah terlalu banyak bermurah hati padamu, Dewani. Tapi, kau selalu saja membuat kesulitan bagi dirimu sendiri. Sekarang, aku tidak akan bermurah hati lagi padamu," ancam Lanjani dingin.

"Aku hargai kemurahan harimu, Lanjani. Tapi, aku tetap menginginkan agar kau angkat kaki dari sini. Bawalah semua begundal-begundal tengikmu itu!" dengus Dewani tidak kalah dinginnya.

"Kau semakin kurang ajar saja, Dewani!" geram Lanjani, langsung memerah mukanya. "Tangkap dia! Gantung di tengah alun-alun…!"

Belum lagi perintah Lanjani menghilang dari pendengaran, enam orang yang semuanya bersenjata golok berukuran besar langsung berlompatan ke depan. Salah seorang seketika mengibaskan goloknya ke arah dada Dewani. Tapi pada saat yang bersamaan, Rangga sudah menarik tangan Dewani sambil mengebutkan tangan kirinya untuk menyambut golok berukuran besar itu.

Tap!

"Hih!"

Hanya sekali sentakan saja, golok yang berhasil ditangkap itu terpental ke udara. Dan sebelum pemilik golok itu bisa menyadari, Rangga sudah mengirimkan satu tendangan keras yang langsung mendarat telak di dada orang itu.

Desss!

"Akh...!"

Laki-laki bertubuh besar dan kekar itu langsung terpental ke belakang sambil memekik keras agak tertahan. Pendekar Rajawali Sakti yang menginginkan bicara baik-baik, langsung menyadari kalau hal itu tidak mungkin dilakukan. Dan sebelum lima orang lainnya bisa berbuat lebih jauh, cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti sudah ber-lompatan cepat mempergunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangannya berkelebat cepat menyambar lima orang laki-laki bersenjata golok itu.

"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"

Pekikan-pekikan keras tertahan terdengar saling susul, diikuti berpentalannya lima tubuh kekar. Rupanya, sambaran tangan Rangga begitu cepat, dan sukar diikuti pandangan mata biasa. Hanya menggunakan satu jurus saja, enam orang itu sudah bergelimpangan tak bergerak-gerak lagi.

"Hup! Yeaaah...!"

Baru saja Rangga bisa menarik napas panjang, Iblis Pedang Perak sudah melompat cepat menyerangnya. Tapi sebelum Pendekar Rajawali Sakti bisa berbuat sesuatu, tiba-tiba saja Pandan Wangi sudah melentingkan tubuhnya begitu cepat untuk menyambut Iblis Pedang Perak. Si Kipas Maut segera mencabut senjata kipas maut andalannya, dan langsung dikebutkan ke arah dada Iblis Pedang Perak.

"Uts...!"

Buru-buru Iblis Pedang Perak mengegoskan tubuhnya, menghmdari serangan mendadak yang dilancarkan Pandan Wangi. Dan begitu kakinya menjejak tanah, pedangnya cepat dicabut. Saat itu, Pandan Wangi juga sudah mendarat di tanah beberapa langkah di depan Iblis Pedang Perak.

Sret!
"Yeaaah...!"
Bet!

Cepat sekali Iblis Pedang Perak mengebutkan pedangnya ke arah dada Pandan Wangi, Tapi dengan gerakan cepat dan indah, si Kipas Maut mengebutkan kipas baja putihnya. Langsung ditangkisnya tebasan padang berwarna keperakan yang berkelebat di depan dadanya.

Trang!

"Yeaaah...!"

Pada saat yang bersamaan, Pandan Wangi cepat melentingkan tubuhnya ke udara. Lalu sambil meluruk deras, dilepaskannya satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi ke tubuh Iblis Pedang Perak. Begitu cepat serangannya, sehingga Iblis Pedang Perak jadi terpaku tak dapat lagi menghindar.

Desss!

"Akh...!"

Iblis Pedang Perak terpental beberapa langkah ke belakang. Keras sekali tubuhnya menghantam tanah. Sementara itu, Pandan Wangi tidak mau membuang-buang waktu lagi. Cepat sekali diburunya Iblis Pedang Perak yang bergulingan di tanah. Tapi begitu kipas Pandan Wangi mengebut ke arah dada Iblis Pedang Perak, tiba-tiba....

Ctar...!

"Ikh...!"

Pandan Wangi jadi terkejut. Maka cepat-cepat tangannya ditarik begitu terlihat seutas cambuk hitam menggeletar hendak menyambar tangannya yang memegang kipas. Pada saat Pandan Wangi melompat ke belakang, Iblis Pedang Perak cepat-cepat melompat bangkit berdiri. Langsung pedangnya dikebutkan ke arah kaki si Kipas Maut itu.

"Hiyaaa...!"

"Hup!"

Manis sekali gerakan Pandan Wangi saat melenting menghindari tebasan pedang keperakan itu. Beberapa kali si Kipas Maut berputaran di udara, lalu manis sekali menjejakkan kakinya kembali di tanah. Namun baru saja kakinya menyentuh tanah, kembali si Cambuk Setan mengebutkan cambuk hitamnya ke arah gadis itu.

Ctar!
Tap!
"Heh...!"

Bukan main terkejutnya si Cambuk Setan. Karena tanpa diduga sama sekali, tiba-tiba Rangga melesat cepat. Langsung ditangkapnya ujung cambuk yang hampir saja merobek kulit tubuh Pandan Wangi.

"Cukup sudah kecuranganmu, Orang Tua...!" desis Rangga. "Hih...!"

Cambuk Setan jadi tersentak setengah mati, begitu tiba-tiba saja Rangga menghentakkan tangannya yang meng-genggam ujung cambuk itu ke atas. Seketika itu juga, tubuh si Cambuk Setan terlempar ke udara, tak sanggup menahan sentakan berkekuatan tenaga dalam sempurn itu.

"Hiyaaat..!"

Cepat sekali Rangga melesat ke udara mengejar si Cambuk Setan yang terlempar tanpa dapat mengendalikan keseimbangan tubuh. Sehingga ketika Rangga melepaskan satu pukulan begitu keras dan menggeledek dari jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', si Cambuk Setan tidak mampu lagi menghindar.

"Yeaaah...!"
Begkh!
"Aaa...!"
Satu jeritan panjang melengking tinggi terdengar begitu menyayat. Tampak si Cambuk Setan terpental deras. Tubuhnya keras sekali terbanting di tanah. Dari mulutnya kontan menyemburkan darah kental. Si Cambuk Setan mencoba bangkit berdiri, tapi langsung menggelimpang dan menggelepar mengejang. Kemudian, dia diam tak bergerak lagi. Tampak dadanya melesak masuk ke dalam akibat terkena pukulan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang dilepaskan Rangga.

Sementara itu, Pandan Wangi sudah kembali bertarung melawan Iblis Pedang Perak. Kali ini Pandan Wangi benar-benar menguasai jalannya pertarungan tanpa campur tangan si Cambuk Setan yang sudah dibereskan Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Rangga sendiri sudah melangkah menghampiri Lanjani. Ratu Kerajaan Batu Ampar itu wajahnya kini jadi memucat melihat orang-orang andalannya bisa dibereskan begitu mudah oleh pendekar-pendekar muda itu. Lain halnya dengan Dewani. Gadis itu tersenyum-senyum penuh kemenangan melihat ketang-guhan Rangga dan Pandan Wangi.

Tiba-tiba saja terdengar jeritan panjang melengking tinggi. Rupanya Iblis Pedang Perak tengah terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya yang bercucuran darah. Pada saat itu, Pandan Wangi sudah melompat cepat sambil mengebutkan kipas mautnya yang terbuat dari baja putih tipis berkilatan ke arah dada.

"Hiyaaat…!"
Bet!
"Hup...!"

Pandan Wangi cepat melompat ke belakang sejauh dua batang tombak. Sementara, Iblis Pedang Perak tampak berdiri kaku dengan kedua mata terbeliak lebar. Sebentar kemudian, tubuh laki-laki itu jatuh menggelimpang di tanah dengan tangan masih mendekap dada yang masih berlumuran darah.

Saat itu, tiba-tiba saja terdengar sorak-sorai begitu riuh dan gegap gempita. Tampak para prajurit yang sejak tadi memperhatikan pertarungan, berjingkrakan sambil mengangkat senjata tinggi-tinggi ke udara. Mereka bersorak sorai, menyambut kemenangan kedua pendekar itu menandingi orang-orangnya Lanjani yang sudah terkenal kekejamannya.

Melihat hal itu semua, Lanjani semakin pucat wajahnya. Ratu Kerajaan Batu Ampar itu mencoba melarikan diri. Tapi, Rangga sudah lebih dulu melompat, dan menghadang di depannya. Lanjani mencoba berlari, tapi Pandan Wangi juga sudah menghadangnya dari arah lain. Pada saat itu, para prajurit yang selama ini merasa tertekan dan dikungkung ketakutan, sudah bergerak maju mengepung. Demikian pula Dewani yang melangkah anggun menghampiri Lanjani. Ratu itu memang sudah tidak memiliki kekuatan dan daya lagi setelah orang-orangnya dihabisi Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut.

Halaman depan istana yang luas itu kini jadi padat oleh para prajurit yang semakin banyak berdatangan. Bahkan terlihat di beranda depan istana, para pembesar kerajaan yang memang tidak menyukai Lanjani berdiri berjajar memperhatikan. Mereka selama ini memang tidak bisa bertindak apa-apa, karena orang orang di sekeliling Lanjani begitu kuat. Sehingga, tak seorang pun yang bisa memberontak. Sudah tidak terhitung pembesar yang mencoba memberontak, langsung dihukum mati di tempat itu juga.

"Dewani.. Biarkan aku pergi. Aku janji tidak akan kembali lagi ke sini...." rintih Lanjani memohon.

"Sejarahmu sudah tamat, Lanjani. Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu di depan pengadilan kerajaan nanti." tegas Dewani, namun tetap anggun.

"Oh..."

"Tangkap dia!" perintah Dewani

Dua orang prajurit segera melangkah maju, dan meringkus Lanjani yang sudah tidak punya daya lagi. Sementara itu, diam-diam Rangga dan Pandan Wangi menyingkir menjauhi kerumunan para prajurit yang menggiring Lanjani ke dalam tahanan.

"Sebaiknya kita pergi dari sini, Kakang," ajak Pandan Wangi.

"Kau tidak ingin mencari bukti lagi, Pandan?" tanya Rangga.

"Untuk apa? Ketidakpedulianmu pada asal-usulku sudah membuatku bahagia. Aku tidak ingin lagi mencari keterangan tentang diriku. Bagiku yang terpenting adalah mendapatkan cintamu," sahut Pandan Wangi tegas.

Kalau saja tidak banyak orang di sini, pasti Rangga sudah memeluk gadis ini. Dan dia hanya menggenggam hangat tangan Pandan Wangi, penuh rasa cinta. Sepasang pendekar itu kemudian meninggalkan halaman istana. Sementara Dewani jadi celingukan mencari-cari kedua pendekar muda yang telah membantunya mengembalikan kerajaan ini padanya, tanpa harus menumpahkan darah dan nyawa, kecuali nyawa begundal-begundal Lanjani.

"Kakang Rangga...! Kak Pandan..!" seru Dewani begitu melihat Rangga dan Pandan Wangi sudah sampai di pintu gerbang.

Dewani bergegas berlari menghampiri kedua pendekar muda itu. Sementara Rangga dan Pandan Wangi terpaksa menghentikan langkahnya. Mereka berbalik menanti Dewani yang terus berlari menghampiri. Gadis itu terengah-engah begitu sampai di depan kedua pendekar muda yang telah menolongnya.

"Kalian mau ke mana?" tanya Dewani dengan napas masih tersengal.

"Kami harus melanjutkan perjalanan." sahut Rangga.

"Aku mohon kalian sudi tinggal di sini beberapa hari. Kalian menjadi tamu kehormatanku yang pertama," pinta Dewani berharap.

"Terima kasih. Tapi, kami harus segera pergi. Masih banyak yang harus dikerjakan," tolak Rangga halus.

Dewani tampak kecewa mendapat penolakan dari tawarannya, meskipun secara halus. Dan kekecewaan ini cepat diketahui Pandan Wangi.

"Baiklah, Dewani. Tapi hanya dua hari saja." kata Pandan Wangi tidak ingin mengecewakan gadis ini.

"Oh, terima kasih...," ucap Dewani, langsung cerah wajahnya.


SELESAI


Thanks for reading Prahara Darah Biru I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »