Huru Hara Di Watu Kambang

Pendekar Rajawali Sakti

Karya Teguh S

HURU HARA DI WATU KAMBANG

SATU
TIDAK seperti biasanya, kota Kadipaten Watu Kambang kelihatan ramai. Hampir di setiap sudut kota terpancang umbul-umbul dan berbagai macam hiasan yang menyemaraki suasana. Semua orang dari berbagai kalangan, tumpah ruah di jalan utama yang membelah kota Kadipaten Watu Kambang menjadi dua bagian. Semua rakyat di kadipaten ini memang tengah melampiaskan kegembiraannya, karena akan mendapatkan seorang pengganti adipati yang sudah lanjut usia.

Semua orang sudah tahu, siapa pengganti Adipati Baka Witara itu. Pengganti adipati itu memang disambut gembira, karena mereka sudah mengenal baik. Dia adalah putra Adipati Baka Witara sendiri. Seorang pemuda gagah dan selalu dekat dengan siapa saja. Bahkan tidak pernah memandang derajat atau pangkat seseorang.

Keramaian yang berlangsung di istana kadipaten itu juga tidak kalah meriahnya. Terlebih lagi, Adipati Baka Witara mengadakan pertandingan adu kekuatan jago-jago pilihan di kadipaten ini. Mereka yang memiliki kemampuan tertinggi, akan diangkat sebagai pegawai pribadi adipati yang baru. Pertandingan itu berlangsung di halaman depan istana yang luas.

Saat itu, di atas panggung sedang berlaga dua orang jago kadipaten. Dan sampai tengah hari ini, sudah lebih dari sepuluh pertandingan dilangsungkan. Namun, belum juga ada yang berkenan di hati Raden Wikalpa, calon pengganti ayahnya yang akan menduduki jabatan adipati di Kadipaten Watu Kambang ini.

“Sudah sepuluh orang yang bertanding, Wikalpa. Apakah pilihanmu sudah kau dapatkan?” tanya Adipati Baka Witara.

“Belum,” sahut Raden Wikalpa yang duduk di samping ayahnya.

“Mereka semua berkemampuan tinggi, Wikalpa. Dan mereka adalah jago-jago pilihan yang ada di seluruh kadipaten ini,” jelas Adipati Baka Witara.

“Mereka memang tangguh, tapi tidak bisa menghilangkan keangkuhannya, Ayah. Aku tidak suka orang yang angkuh dan kasar,” Raden Wikalpa beralasan.

“Dalam suatu pertarungan, memang diperlukan keangkuhan, Wikalpa.”

“Tidak selamanya, Ayah. Kerendahan hati biasanya akan membawa kemenangan yang sesungguhnya.”

“Tapi mereka akan patuh pada perintahmu. Jika kau memerintahkan mereka, tak akan ada yang berani menentang.”

Raden Wikalpa hanya tersenyum saja. Saat itu pertarungan di atas panggung sudah berakhir, dan dimenangkan oleh seorang laki-laki berusia setengah baya. Tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya mencerminkan ketegasan dan kekerasan. Laki-laki setengah baya itu membungkuk memberi hormat pada Adipati Baka Witara dan putranya, kemudian berdiri tegak di atas panggung, bersikap menantang siapa saja.

“Siapa dia, Ayah?” tanya Raden Wikalpa. Matanya tidak berkedip mengamati laki-laki setengah baya di atas panggung itu.

“Jaran Amoksa,” sahut Adipati Baka Witara. “Dia jago terakhir, dan tidak terkalahkan sejak pertarungan tadi.”

“Dari mana asalnya?”

“Desa Gandul.Tepatnya, dari Padepokan GagakPutih.”

“Apakah ilmu olah kanuragannya hanya sampai di situ saja, Ayah?”

“Aku tidak tahu.”

Raden Wikalpa bangkit berdiri. Dipanggilnya pembawa acara yang berdiri di sudut dekat panggung. Laki-laki tua yang mengenakan baju putih panjang itu bergegas menghampiri. Tubuhnya dibungkukkan untuk memberi hormat pada Raden Wikalpa.

“Hamba menghadap, Raden.”

“Paman Legiwa, umumkanlah. Pertandingan ini akan dilanjutkan sampai tiga hari, dan terbuka pada siapa saja. Untuk sementara, boleh ditetapkan kalau Jaran Amoksa adalah pemenangnya. Maka, dia harus bersedia melayani siapa saja yang menantangnya,” ujar Raden Wikalpa.

“Hamba laksanakan, Raden.” Laki-laki tua yang dipanggil Paman Legiwa itu bergegas naik ke atas panggung. Kemudian dengan suara lantang, diumumkanlah perintah Raden Wikalpa tadi. Tentu saja pengumuman ini sangat mengejutkan, tapi disambut gembira.

Sementara Raden Wikalpa sudah kembali duduk di samping ayahnya. Saat itu Paman Legiwa sudah turun dari panggung. Bergegas dihampirinya Raden Wikalpa yang melambaikan tangannya memanggil.

“Hamba, Raden....”

“Perintahkan beberapa prajurit untuk mengumumkan hal itu ke seluruh pelosok kadipaten, dan buka pintu gerbang lebar-lebar. Biarkan seluruh rakyat menikmatinya,” kata Raden Wikalpa lagi.

“Hamba laksanakan, Raden,” sahut Paman Legiwa, bersikap penuh hormat.

“Satu lagi, Paman.”

“Hamba, Raden.”

“Sepuluh orang itu akan menjadi pengawalku, tapi harus tunduk pada pimpinannya nanti,” ujar Raden Wikalpa.

“Hamba, Raden”

“Beritahukan hal itu secepatnya. Ingat, pertarungan ini dilaksanakan selama tiga hari.”

Paman Legiwa kembali membungkuk memberi hormat, kemudian bergegas pergi. Raden Wikalpa menyandarkan punggungnya seraya menghembuskan napas panjang. Sedangkan ayahnya yang duduk di sampingnya, hanya tersenyum saja. Memang, sebenarnya adu ketangkasan ini sengaja diperintahkan agar dilaksanakan tertutup. Dia memang ingin menguji putranya ini yang sebentar lagi akan menggantikan kedudukannya.

Dan ternyata Raden Wikalpa tidak puas kalau adu ketangkasan ini tidak tersebar luas ke seluruh pelosok Kadipaten Watu Kambang ini. Dia ingin pengawal pribadinya nanti benar-benar seorang yang tangguh dan berkepandaian tinggi. Jadi, bukan orang pilihan yang ditentukan begitu saja. Tapi yang terpenting lagi, Raden Wikalpa menginginkan yang terbaik dalam arti keseluruhan.

“Kau yakin bisa mendapatkan orang yang kau inginkan, Wikalpa?” tanya Adipati Baka Witara.

Raden Wikalpa tidak menyahut, dan hanya tersenyum saja.

“Bagaimana kalau ada wanita yang ikut, dan ternyata sangat tangguh?” tanya Adipati Baka Witara lagi.

“Tidak ada bedanya, Ayah,” sahut Raden Wikalpa. “Kalau ada seorang wanita yang mampu dan pantas menduduki jabatan kepala pengawal, mengapa harus ditolak? Aku tidak pernah membedakan kedudukan antara laki-laki dan wanita.”

Adipati Baka Witara sempat menggelengkan kepalanya, tapi dalam hati sungguh mengagumi putranya ini. Seorang anak yang benar-benar sangat membanggakan dan membahagiakan hatinya.
Pendekar Rajawali Sakti
Keramaian di Kadipaten Watu Kambang, semakin semarak saja. Ini karena adanya pengumuman yang menggembirakan dari Raden Wikalpa. Bukan hanya rakyat yang menyambut gembira. Bahkan mereka yang merasa mempunyai kemampuan ilmu olah kanuragan mencoba untuk mengadu nasib menjadi pemimpin pengawal pribadi pemuda yang akan menduduki jabatan adipati Itu.

Begitu banyaknya peminat, sehingga membuat Adipati Baka Witara yang jadi pusing tujuh keliling. Masalahnya, waktu yang ditentukan Raden Wikalpa sudah terlewati, tapi belum semua peminat mendapat giliran menunjukkan kebolehannya. Dan terpaksa, waktu pertandingan diperpanjang hingga tidak terbatas. Karena sampai lima hari, belum juga ada yang berkenan di hati pemuda itu.

“Wikalpa, apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Adipati Baka Witara saat pertandingan sudah memasuki hari keenam.

Raden Wikalpa yang ditanya demikian hanya tersenyum saja. Dia tahu kalau ayahnya mulai tidak sabar lagi. Tapi pemuda itu tetap ingin menyelesaikan adu ketangkasan ini. Padahal dari daftar peminat yang sudah ada, tidak cukup sepuluh hari lagi untuk menyelesaikan pertandingan ini.

“Kemarin sudah datang utusan dari istana. Gusti Prabu sudah mendesak untuk mengangkatmu menjadi adipati, Wikalpa,” jelas Adipati Baka Witara.

“Tunggu saja sampai semua ini selesai, Ayah,” ujar Wikalpa kalem.

“Sampai kapan?” jelas sekali kalau nada suara Adipati Baka Witara mengandung ketidaksabaran lagi.

Raden Wikalpa tidak menyahut, tapi malah tersenyum saja. Bahkan pandangannya tetap tertuju ke arah panggung. Tampak di atas panggung yang cukup besar itu tengah berlaga dua orang anak muda yang memiliki kepandaian tanggung. Tidak heran kalau pertandingan itu sangat membosankan. Tapi itu berlangsung tidak lama, karena salah seorang sudah terjungkal keluar panggung.

Tak berapa lama kemudian, seorang gadis muda yang cantik, melompat naik ke atas panggung. Gerakannya sungguh ringan, sehingga tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya mendarat lunak di atas papan panggung. Matanya sempat mengerling sedikit pada Raden Wikalpa yang duduk di samping ayahnya.

“Siapa gadis itu, Paman?” tanya Raden Wikalpa pada laki-laki tua yang berdiri tepat di sampingnya.

“Dia mendaftarkan diri dengan nama Dewi Lanjani, Raden,” jawab Paman Legiwa.

“Hm..., berapa orang wanita yang ada di dalam daftar?”

“Hanya dua.”

“Siapa seorang lagi?”

Belum juga Paman Legiwa menjawab, tiba-tiba saja terdengar seruan keras dari arah panggung.

“Orang tua...! Kapan pertandingan ini dimulai...?”

Paman Legiwa langsung berpaling menatap gadis berbaju kuning yang berdiri di atas panggung. Raden Wikalpa juga menatap ke arah yang sama. Sedangkan Adipati Baka Witara, tampak kurang senang pada sikap gadis yang berdiri congkak dengan tangan bertolak pinggang di atas panggung.

“Silakan dimulai, Paman,” perintah Raden Wikalpa.

Paman Legiwa memerintahkan agar pertarungan segera dimulai. Dan sebelum suara laki-laki tua itu menghilang, gadis yang mengaku bernama Dewi Lanjani sudah melompat menerjang pemuda yang baru saja mengalahkan dua orang peserta itu.

“Heh...?!” pemuda itu terkejut bukan main. Buru-buru tubuhnya diegoskan ke kanan, menghindari pukulan keras yang dilontarkan Dewi Lanjani ke arah dadanya. Namun begitu pukulan keras bertenaga dalam cukup tinggi itu lewat, mendadak saja tubuh Dewi Lanjani berputar cepat, dan kakinya melayang deras.

Hal ini sama sekali tidak diduga oleh pemuda itu, sehingga tidak sempat lagi berkelit. Sepakan kaki Dewi Lanjani yang keras dan cepat luar biasa itu tak terbendung lagi, tepat menghantam dada pemuda yang belum sempat melakukan sesuatu.

Degkh!

“Akh...!” pemuda itu memekik keras. Seketika tubuhnya terlontar deras ke luar panggung. Seketika sorak sorai menggemuruh meledak, menyambut kemenangan gadis itu. Sungguh hanya sekali gebrak saja, lawannya sudah dibuat mengerang di tanah. Beberapa prajurit bergegas menghampiri pemuda itu, dan menggotongnya menjauhi arena pertandingan.

Dewi Lanjani berdiri tegak dan bersikap angkuh di atas panggung. Lagi-lagi matanya mengerling dan melemparkan senyuman pada Raden Wikalpa. Sikap gadis itu membuat Adipati Baka Witara jadi muak, dan perutnya terasa mual. Meskipun hanya diam saja, namun dalam hatinya berharap kalau gadis itu dapat dikalahkan dalam pertandingan selanjutnya. Sama sekali dia tidak menginginkan gadis itu menjadi ketua pengawal untuk putranya.

Namun harapan Adipati Baka Witara seperti pupus begitu saja. Karena beberapa orang telah mencoba, semuanya harus terpaksa terjungkal ke luar panggung. Tak ada satu pun lawan-lawan berikutnya yang mampu menandingi lebih dari dua jurus. Bahkan beberapa orang yang sudah mendaftar, terpaksa mundur melihat kedigdayaan gadis itu.

“Paman, dari mana dia berasal?” tanya Raden Wikalpa ingin tahu. Karena sudah lebih dari sepuluh orang yang mencoba, namun semuanya gagal.

“Dia tidak menyebutkan asalnya, Raden,” sahut Paman Legiwa.

“Hm..., apakah masih ada lagi yang harus dihadapinya?” tanya Raden Wikalpa.

“Masih tiga orang lagi, Raden.”

“Tiga orang lagi...?!” Raden Wikalpa tampak terkejut.

“Benar, Raden. Hampir semua peserta yang sudah mendaftar mengundurkan diri. Dan kini masih tersisa tiga orang lagi.”

“Hm...,” gumam Raden Wikalpa tidak jelas. “Lanjutkan pertarungan ini, Paman.”

“Hamba, Raden.”

Raden Wikalpa memiringkan tubuhnya, mendekati ayahnya yang duduk di samping sebelah kiri. Sementara itu Paman Legiwa sudah memanggil seorang peserta yang masih terdaftar. Muncullah seorang laki-laki berusia setengah baya yang bertubuh tinggi tegap dan berotot bersembulan keluar. Sebilah golok besar tersandang, berkilatan tertimpa cahaya matahari.

Meskipun tubuhnya besar, namun gerakannya sangat ringan ketika melompat ke atas panggung. Sedikit pun tidak terdengar suara begitu kakinya menjejak papan panggung itu. Paman Legiwa tadi memanggilnya dengan nama Buto Kampara.

“He he he.... Apakah pertandingan ini sudah bisa dimulai, Gusti Adipati?” terdengar berat sekali suara Buto Kampara.

“Silakan kalian mulai,” Paman Legiwa yang menyahut.

“He he he...,” Buto Kampara tertawa terkekeh seraya memutar tubuhnya, menghadap Dewi Lanjani.

Sementara itu, Adipati Baka Witara semakin muak saja menyaksikan pertandingan ini. Tapi dia masih mencoba bertahan di tempat duduknya, karena tidak ingin mengecewakan anaknya yang tampaknya menikmati sekali acara ini. Dan memang, Raden Wikalpa menggemari ilmu­-ilmu olah kanuragan tingkat tinggi. Pemuda itu akan belajar pada siapa saja yang memiliki kepandaian lebih tinggi darinya, tanpa peduli apakah ilmu yang dipelajari beraliran putih atau sesat.

Bagi Raden Wikalpa, semua ilmu olah kanuragan dan kesaktian yang ada di dunia ini tidak ada yang putih ataupun hitam. Semuanya sama saja. Hanya mereka saja yang menggolongkan demikian karena menggunakannya berdasarkan jalan masing-masing. Jadi, itu tinggal tergantung bagaimana orangnya. Malah bukannya tidak mungkin, orang yang memiliki ilmu dianggap sesat, justru akan digunakan untuk jalan kebaikan. Dan itu sering terjadi. Hanya saja, sebagian besar orang-orang kaum rimba persilatan menilai suatu ilmu dari sumber ilmu yang diperolehnya.

Sementara itu, pertarungan di atas panggung sudah dimulai. Tampak sekali kalau Buto Kampara sangat bernafsu untuk memenangkan pertarungan ini. Beberapa kali Dewi Lanjani dirangsek dengan jurus-jurus permainan goloknya yang cepat dan berbahaya sekali.

Namun Dewi Lanjani bukanlah gadis kosong yang begitu saja mudah ditaklukkan. Tingkat kepandaian yang dimilikinya cukup tinggi, sehingga sukar bagi Buto Kampara untuk cepat menjatuhkan gadis itu. Bahkan beberapa kali Buto Kampara terpaksa membanting tubuhnya menghindari serangan-serangan yang dilancarkan gadis itu.

“Lepas...!” tiba-tiba saja Dewi Lanjani berteriak nyaring.

Dan seketika itu juga tangannya dihentakkan ke pergelangan tangan Buto Kampara yang memegang golok. Hentakan tangan gadis itu demikian cepat dan keras sekali, karena disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Sesaat Buto Kampara terperangah, namun cepat menarik tangannya yang sudah terulur hendak menusukkan goloknya ke dada gadis itu. Namun gerakan Buto Kampara sedikit tertambat. Akibatnya....

Plak!

“Akh...!” Buto Kampara memekik tertahan. Dan sebelum laki-laki tinggi besar berotot itu menyadari apa yang terjadi, mendadak saja pergelangan tangannya terasa seperti remuk. Tanpa dapat dicegah lagi, golok yang tergenggam di tangannya itu mencelat ke udara.

“Hiyaaa...!” Buto Kampara bergegas melentingkan tubuhnya ke angkasa mengejar golok yang melayang deras, begitu terlepas dari genggaman tangannya.

“Hup! Yeaaah...!” Namun Dewi Lanjani tidak diam begitu saja. Dengan cepat gadis yang mengenakan baju warna kuning itu melesat mengejar Buto Kampara. Dan secepat itu pula pedangnya dibabatkan ke arah perut.

Bet! Cras!

“Aaakh...!” Untuk kedua kalinya Buto Kampara menjerit melengking tinggi. Sebelum laki-laki tinggi besar dan berwajah kasar penuh brewok itu bisa melakukan tindakan apa-apa, kembali Dewi Lanjani sudah memberi satu tendangan keras disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Tendangan menggeledek itu tak mungkin terbendung lagi, sehingga tepat mendarat keras di dada Buto Kampara.

Degkh!

“Akh...!” Lagi-lagi Buto Kampara memekik keras. Tubuh tinggi besar itu seketika terlempar deras ke bawah, dan langsung mendarat di tanah keras sekali. Tepat saat tubuh tinggi besar itu mendarat di tanah, Dewi Lanjani berhasil mengambil golok besar lawannya yang masih di udara. Dan ketika Buto Kampara tengah meregang nyawa, wanita itu langsung melemparkan golok pada pemiliknya. Akibatnya, golok itu menancap dalam di dada pemiliknya sendiri. Sebelum jeritan melengking Buto Kampara lenyap dari pendengaran, Dewi Lanjani sudah menjejakkan kakinya di atas papan panggung. Tangannya bertolak pinggang, bersikap angkuh sekali.

Pandangan Dewi Lanjani kini tertuju langsung pada Raden Wikalpa yang masih tetap duduk tenang di samping ayahnya. Pemuda itu kini memberi senyuman pada wanita yang telah berhasil baik mengatasi lawan-lawannya. Bahkan baru saja merobohkan seorang lawan yang tangguh dan berkepandaian cukup tinggi.

“Siapa lagi berikutnya, Paman?” tanya Raden Wikalpa. Pandangannya sedikit pun tidak berpaling dari gadis cantik berbaju kuning muda di atas panggung itu.

“Nyai Raka Wulung, Raden,” sahut Paman Legiwa.

“Hadapkan pada gadis itu,” perintah Raden Wikalpa.

“Baik, Raden.”

Paman Legiwa melangkah maju tiga tindak. Kemudian dengan suara keras dan lantang, dipanggilnya Nyai Raka Wulung untuk naik ke atas panggung menjadi lawan Dewi Lanjani berikutnya. Dan belum lagi suara Paman Legiwa menghilang dari pendengaran, mendadak saja sebuah bayangan merah berkelebat cepat. Tahu-tahu di atas panggung sudah berdiri seorang perempuan tua mengenakan baju panjang dan longgar berwarna merah menyala. Di tangan kanannya tergenggam sebatang tongkat berbentuk seekor ular merah yang menjulurkan lidahnya.

“Hik hik hik...!”

DUA

Setelah Paman Legiwa memberi isyarat, seketika itu juga Nyai Raka Wulung melompat menerjang Dewi Lanjani dengan tebasan tongkatnya. Deru angin yang ditimbulkan tongkat ular hitam sudah menandakan kalau perempuan tua berjubah merah itu berkepandaian tinggi sekali. Terutama tenaga dalamnya. Tidak heran kalau kebutan tongkatnya menimbulkan suara angin menderu bagai topan.

“Hup! Yeaaah...!” Gerakan Dewi Lanjani manis sekali, sehingga berhasil mengelakkan serangan perempuan tua itu. Dan sebelum Nyai Raka Wulung bisa menarik kembali tongkatnya, mendadak saja Dewi Lanjani sudah memberi satu hentakan tangan kanan yang cepat dan mengandung pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.

Bet!

“Ikh...!” Nyai Raka Wulung sempat terpekik kaget. Namun, cepat sekali tubuhnya diegoskan, sehingga sodokan gadis itu dapat dihindari dengan manis.

Bergegas Nyai Raka Wulung melompat ke belakang tiga tindak, begitu berhasil menghindarkan sodokan Dewi Lanjani. Tapi rupanya Dewi Lanjani tidak membiarkan begitu saja. Cepat sekali dia melompat sambil melontarkan pukulan dua kali berturut-turut. Pukulan yang dilontarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi itu sempat pula membuat Nyai Raka Wulung kerepotan tak karuan.

Bukan hanya sampai di situ saja Dewi Lanjani melancarkan pukulannya. Buktinya, kini dilanjutkan dengan tendangan keras menggeledek, yang kemudian disusul sodokan dan pukulan secara beruntun. Serangan gadis ini begitu cepat luar biasa, membuat Nyai Raka Wulung semakin terdesak.

“Setan!” dengus Nyai Raka Wulung geram. Perempuan tua itu cepat-cepat melompat ke belakang disertai tebasan tongkatnya yang dialiri tenaga dalam tinggi. Tebasan tongkat ular merah itu hampir saja menggedor Dewi Lanjani, kalau saja tubuhnya tidak cepat­cepat ditarik ke belakang. Gadis itu berputaran dua kali, sebelum menjejakkan kakinya di papan panggung pertandingan dengan manis.

Kini kedua wanita itu saling berdiri berhadapan, berjarak sekitar satu setengah tombak saja. Mereka saling menatap tajam. Gebrakan pertama yang cepat dan dahsyat itu, sungguh memukau semua orang di sekitar panggung. Sehingga suasana begitu senyap, seakan-akan semua orang ikut merasakan ketegangan yang dialami dua perempuan di atas panggung itu.

“Kau benar-benar hebat, Dewi Lanjani. Siapa gurumu?” agak dingin suara Nyai Raka wulung.

“Kau akan terkejut dan langsung kabur jika kusebutkan, NenekTua,” sahut Dewi Lanjani agak sinis.

“Phuih! Jurus ‘Angsa Menari’ yang kau pamerkan tadi memang ampuh. Tapi itu belum cukup tangguh untuk mengalahkan aku, Bocah!” dengus Nyai Raka Wulung.

Nyai Raka Wulung paling benci jika dipanggil nenek tua. Meskipun disadari kalau dirinya memang sudah tua, tapi dia paling tidak suka jika dipanggil seperti itu. Sebutan itu membuat darahnya seketika saja bergolak mendidih. Gerahamnya bergemeletuk menahan kemarahan yang meluap seketika. Namun nampaknya, perempuan tua itu masih mencoba untuk menahan diri dan bersikap sabar. Disadari kalau sekarang ini sedang berada di panggung pertandingan.

“Hm.... Kau sudah tahu jurus pertamaku, Nenek Tua. Tentu juga sudah tahu, dari mana aku mendapatkannya,” tetap sinis nada suara Dewi Lanjani.

“Meskipun datang dari neraka sekali pun, kau harus turun dari panggung ini, Bocah. Kau tidak pantas menduduki jabatan ketua pengawal!”

“Ha ha ha.... Siapa yang menginginkan itu? Kedatanganku justru untuk membunuh anak muda itu!” keras sekali suara Dewi Lanjani.

Kata-kata Dewi Lanjani yang begitu keras membuat semua orang yang berada di sekitar panggung terkejut setengah mati. Bahkan Adipati Baka Witara sampai terlonjak bangkit dari duduknya. Kata-kata Dewi Lanjani begitu keras dan terdengar jelas sekali. Memang, dalam suara itu terkandung pengerahan tenaga dalam yang tinggi.

Dan sebelum semua orang menyadari, Dewi Lanjani cepat sekali melesat ke arah Raden Wikalpa yang masih tetap duduk di kursinya. Lesatan gadis itu demikian cepat, sehingga tidak sempat disadari siapapun juga. Namun begitu Dewi Lanjani hampir mencapai Raden Wikalpa, mendadak saja....

Plak!

“Akh...!” Dewi Lanjani terpekik kaget. Gadis itu terpental balik, lalu berputaran di udara. Namun manis sekali kakinya mendarat di tanah. Dan bersamaan dengan itu, Raden Wikalpa sudah berdiri tegak di depannya. Entah kapan pemuda itu bergerak, tak ada seorang pun yang mengetahuinya.

“Bedebah...!” dengus Dewi Lanjani geram. Sungguh tidak disangka, ternyata pemuda yang kelihatan tenang dan tidak mempunyai daya itu mampu bergerak cepat di saat-saat yang genting itu. Hampir saja sodokan tangan kanan Raden Wikalpa tadi mendarat di dadanya, kalau saja Dewi Lanjani tadi tidak cepat menghentakkan tangan. Akibatnya kedua tangan mereka beradu keras.

Namun Dewi Lanjani sempat juga merasakan seluruh pergelangan tangannya seperti tersengat ribuan kala berbisa ketika beradu tangan dengan pemuda itu. Dan sampai sekarang masih merasa kesemutan. Gadis itu menyadari kalau Raden Wikalpa memiliki tingkat kepandaian dan tenaga dalam yang cukup tinggi.

“Siapa kau sebenarnya, Nisanak?” tanya Raden Wikalpa, agak dingin nada suaranya.

“Hhh! Manusia macam dirimu, tidak pantas mengetahui tentang diriku!” sahut Dewi Lanjani sinis.

Saat itu para prajurit dan jago-jago Kadipaten Watu Kambang ini sudah bergerak mengepung tempat itu. Terlebih lagi sepuluh orang jago yang baru saja disetujui Raden Wikalpa untuk menjadi pengawalnya. Mereka langsung saja berlompatan mengepung paling depan. Karena sudah mengetahui tingkat kepandaian gadis berbaju kuning itu, maka mereka langsung menghunus senjata masing-masing.

“Nisanak, mengapa kau hendak membunuhku? Apakah ada sesuatu yang salah pada diriku, sehingga ingin membunuhku?” tanya Raden Wikalpa lagi, masih bersikap sabar dan sopan.

“Tidak perlu bersikap merendah begitu, Wikalpa. Bersiaplah untuk mati...!” desis Dewi Lanjani semakin dingin suaranya. “Aku tidak akan gentar meskipun seluruh prajurit dan jago-jagomu dikerahkan.”

Setelah berkata demikian, Dewi Lanjani langsung melompat menyerang Raden Wikalpa. Lesatannya begitu cepat, bagaikan anak panah lepas dari busur. Namun hanya sedikit saja mengegoskan tubuh, Raden Wikalpa sudah berhasil menghindari satu pukulan keras menggeledek bertenaga dalam tinggi itu.

Dan sebelum Dewi Lanjani bisa menarik kembali pukulannya yang tidak menemui sasaran, Raden Wikalpa sudah mengibaskan tangannya, menyodok ke arah perut gadis itu. Sodokan yang cepat dan tidak terduga itu masih juga terlihat oleh Dewi Lanjani. Cepat sekali perut gadis itu ditarik ke belakang. Dan bersamaan dengan itu, diberikannya satu pukulan lurus ke arah wajah.

“Yeaaah...!”

“Uts!” Raden Wikalpa cepat-cepat menarik kembali sodokannya, lalu melompat mundur dua tindak ke belakang. Pada saat itu, sepuluh orang jago yang baru terpilih, sudah melompat menerjang Dewi Lanjani.

“Tahan...!” sentak Raden Wikalpa keras. Suara yang keras karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi membuat sepuluh orang jago itu seketika menghentikan serangannya. Mereka langsung berlompatan mundur sejauh lima langkah. Sementara Raden Wikalpa melangkah maju dua tindak.

“Sebaiknya kau cepat pergi, Nisanak. Ini lebih baik, sebelum kami bertindak kejam padamu,” tegas Raden Wikalpa setengah mengancam.

“Kau pikir aku akan mundur, heh...?! Tidak bakalan aku pergi sebelum kau mampus, Wikalpa!” dengus Dewi Lanjani ketus.

“Aku hanya memberi kesempatan sekali, Nisanak. Pergunakanlah sebelum aku mengambil tindakan,” kembali Raden Wikalpa memperingatkan gadis itu.

“Kau terlalu angkuh, Wikalpa...! Terimalah ini.... Hiyaaat!”

Seketika itu juga Dewi Lanjani melompat menerjang Raden Wikalpa sambil mencabut pedangnya. Raden Wikalpa sesaat terhenyak kaget. Namun cepat sekali kepalanya dirundukkan ketika pedang berwarna keperakan dan berkilatan tertimpa cahaya matahari itu berkelebat cepat ke arah kepala.

Wut! Pedang itu hanya sedikit saja lewat di atas kepala Raden Wikalpa. Dan sebelum pemuda itu sempat berbuat sesuatu, mendadak Dewi Lanjani sudah memberi satu tendangan keras dengan tubuh sedikit diputar yang bertumpu pada kaki sebelah.

“Yeaaah...!”

“Hap!” Secepat kilat, tubuh Raden Wikalpa melenting ke belakang. Pemuda itu berputaran dua kali di udara sebelum menjejak tanah berumput. Entah kapan pemuda itu bergerak, tahu-tahu di tangannya sudah tergenggam sebilah pedang pendek yang ujungnya bercabang dua.

“Yeaaah...!” Raden Wikalpa langsung mengebutkan pedangnya ke arah gadis berbaju kuning itu, tepat pada bagian dada. Dewi Lanjani yang sudah melompat hendak menerjang, jadi terkejut setengah mati. Buru-buru pedangnya dikibaskan di depan dada.

Trang!

Satu benturan keras dari dua bilah pedang menimbulkan suara keras berdentang. Percikan bunga api memendar saat dua mata pedang beradu, sedikit di depan Dewi Lanjani. Pada saat yang hampir bersamaan, Raden Wikalpa mengibaskan tangannya, menyodok perut gadis itu.

Bet! Begkh!

“Heghk...!” Dewi Lanjani mengeluh pendek. Sodokan tangan kiri Raden Wikalpa kali ini tepat menusuk perut Dewi Lanjani. Sodokan itu sangat keras, karena disertai hempasan tenaga dalam tinggi. Tampak Dewi Lanjani terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap perutnya. Raut wajah gadis itu mendadak saja memucat, dan gerahamnya bergemeletuk keras menahan kemarahan.

“Hih!” Dewi Lanjani segera cepat menggerak-gerakkan tangannya di depan dada kemudian menarik napas dalam­-dalam. Sebentar kemudian, gadis itu sudah kembali normal seperti semula.

“Hiyaaat...!” Bagaikan kilat, Dewi Lanjani kembali melompat menyerang Raden Wikalpa yang telah menduga kalau gadis itu akan tewas seketika. Namun, kini Dewi Lanjani malah kembali menyerang dahsyat. Dua kali gadis itu melontarkan pukulan ke arah RadenWikalpa.

“Hiyaaat...!”

“Upfs...!” Bergegas Raden Wikalpa mengegoskan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, sehingga dua pukulan beruntun dan cepat itu tidak sampai mengenai sasaran. Dan hal ini membuat Dewi Lanjani semakin geram. Gadis itu terus memberi serangan-serangan cepat dan mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Pertarungan antara Raden Wikalpa melawan Dewi Lanjani lebih seru daripada pertandingan-pertandingan tadi. Mereka sudah sama-sama mengeluarkan jurus-jurus dahsyat. Pertarungan itu berjalan cepat sekali, sehingga hanya dua bayangan yang terlihat berkelebat saling sambar.

“Akh...!” Tiba-tiba saja terdengar satu jeritan tertahan. Tampak Dewi Lanjani terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap dadanya. Dari sudut bibirnya mengalir darah kental. Sebelum gadis itu bisa menguasai keseimbangan tubuh, Raden Wikalpa sudah melesat cepat bagaikan kilat menerjangnya.

“Yeaaah...!” Raden Wikalpa melontarkan satu pukulan keras ke arah dada gadis itu. Begitu cepatnya serangan yang dilancarkan, sehingga Dewi Lanjani tidak mungkin menghindarinya.

Des!

“Akh!” Untuk kedua kalinya Dewi Lanjani terpekik keras. Gadis itu terpental ke belakang, lalu terjungkal keras ke tanah. Sebelum Dewi Lanjani bisa melakukan sesuatu, Raden Wikalpa sudah kembali melesat cepat ke arahnya. Tahu-tahu pemuda itu sudah berdiri di sampingnya. Cepat sekali Raden Wikalpa merenggut tubuh gadis itu hingga berdiri, lalu memutarnya. Dan kini pemuda itu sudah meringkus Dewi Lanjani dengan memutar tangannya ke punggung.

“Masukkan dia ke penjara!” sentak Raden Wikalpa dengan napas agak tersengal.

Paman Legiwa bergegas menggantikan. Seketika seorang prajurit kadipaten menghampiri sambil membawa rantai belenggu untuk tawanan. Prajurit itu membelenggu kedua tangan dan kaki Dewi Lanjani dengan rantai yang kuat dan cukup besar. Gadis itu sempat menatap tajam Raden Wikalpa penuh dendam. Kemudian, dia sudah tidak mampu lagi melakukan sesuatu, kecuali menuruti Paman Legiwa yang menggiringnya menuju penjara.

Raden Wikalpa kembali mendekati ayahnya yang masih tetap duduk di kursi bersikap tenang. Laki-laki tua itu tersenyum bangga menyambut anaknya. Sambil menghembuskan napas panjang, pemuda itu menghempaskan tubuhnya di kursi.

“Tangguh sekali gadis itu...,” desah Raden Wikalpa.

“Kau mengenalnya, Wikalpa?” tanya Adipati Baka Witara.

“Entahlah. Rasanya, baru kali ini aku melihatnya,” sahut Raden Wikalpa agak mendesah.

“Hm...,” Adipati Baka Witara hanya menggumam saja.

Tak berapa lama kemudian, Paman Legiwa sudah kembali lagi. Dia memberi hormat pada Adipati Baka Witara dan Raden Wikalpa, kemudian melaporkan kalau Dewi Lanjani sudah berada di dalam penjara yang dijaga empat orang prajurit. Laki-laki tua yang usianya hampir sebaya dengan Adipati Baka Witara itu kini menghampiri Raden Wikalpa yang memberi isyarat agar mendekat.

“Hamba, Raden...”

“Hadapkan Nyai Raka Wulung dan peserta lainnya padaku, sekarang,” perintah Raden Wikalpa.

“Hamba laksanakan segera, Raden.”

Paman Legiwa bergegas menghampiri Nyai Raka Wulung yang masih berada di atas panggung. Kemudian dipanggilnya seorang peserta lagi yang masih tersisa dan belum sempat melakukan pertarungan. Kedua peserta itu menghampiri Raden Wikalpa, kemudian berdiri tegak setelah memberi hormat pada pemuda itu.

“Siapa namamu?” tanya Raden Wikalpa seraya memandang seorang pemuda yang berdiri di samping Nyai Raka Wulung.

“Jaka Kumbara, Gusti,” jawab pemuda itu sopan.

Raden Wikalpa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya pemuda yang mungkin berusia sebaya dengannya. Wajahnya cukup tampan, dan kulitnya kuning langsat. Dia mengenakan baju warna putih bersih yang agak ketat, sehingga membentuk tubuh yang tegap, berotot. Pemuda yang mengaku bernama Jaka Kumbara itu seperti putra seorang bangsawan saja.

“Dari mana asalmu?” tanya Raden Wikalpa lagi.

“Desa Giri,” sahut Jaka Kumbara, tetap bersikap sopan.

Kembali Raden Wikalpa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu kalau Desa Giri masih termasuk wilayah Kadipaten Watu Kambang ini. Malah letaknya juga tidak terlalu jauh dari kota kadipaten ini. Dan kini Raden Wikalpa memandang Nyai Raka Wulung. Dia sudah mengenal namanya, tapi belum mengetahui asal perempuan tua itu.

“Nyai, mengapa kau ikut mendaftar jadi ketua pengawal khusus untukku?” tanya Raden Wikalpa.

“Hamba hanya ingin mengabdi, Raden,” sahut Nyai Raka Wulung, bersikap sopan. Berbeda sekali ketika berada di atas panggung tadi.

“Hm...! Kau sepertinya mengenal gadis itu tadi. Siapa dia sebenarnya?” tanya Raden Wikalpa menyelidik.

“Hamba tidak tahu, Raden. Tapi ilmu-ilmu yang dimilikinya hamba tahu betul. Ilmu-ilmu itu berasal dari si Raja Musang Hitam. Hamba tidak tahu, apakah gadis itu muridnya atau bukan, Raden,” sahut Nyai Raka Wulung.

“Hm..., baiklah. Aku rasa pertandingan ini tidak perlu diteruskan lagi...,” ujar Raden Wikalpa seraya berpaling pada Paman Legiwa.

Laki-laki tua yang berada di samping pemuda itu segera membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

“Umumkan kalau pertandingan sudah berakhir,” perintah Raden Wikalpa.

“Hamba laksanakan, Raden,” sahut Paman Legiwa.

Bergegas laki-laki tua itu melangkah menuju panggung. Raden Wikalpa kemudian bangkit berdiri setelah ayahnya berdiri. Pemuda itu memberi hormat saat Adipati Baka Witara melangkah meninggalkan tempat itu. Dan Adipati Baka Witara sempat melirik anaknya ini. Memang, Raden Wikalpa tahu kalau ayahnya ingin bicara dengannya, berdua saja.

“Kalian berdua tunggu di sini,” pesan Raden Wikalpa

pada kedua peserta yang tersisa itu.

“Baik, Raden.”

“Hamba, Gusti.”

Raden Wikalpa bergegas mengejar ayahnya yang sudah berjalan agak jauh meninggalkan arena pertandingan itu. Dengan langkah cepat, sebentar saja pemuda itu sudah mensejajarkan langkahnya di samping Adipati Baka Witara. Mereka berjalan agak pelahan menuju istana kadipaten yang tampak megah dan anggun.

“Kalau kau suka mengikuti saranku, sebaiknya pemuda itu yang dipilih, Wikalpa. Nyai Raka Wulung tidak pantas menduduki jabatan ketua pengawal,” tegas Adipati Baka Witara.

“Aku akan menguji mereka, Ayah,” ujar Raden Wikalpa.

“Apa lagi yang akan kau lakukan?” tanya Adipati Baka Witara tidak mengerti akan segala maksud anaknya ini.

Raden Wikalpa tidak menjawab, dan hanya tersenyum saja sambil terus mengayunkan kakinya di samping laki­-laki tua itu. Mereka kemudian memasuki bangunan besar dan megah itu. Sementara hari sudah merangkak memasuki senja. Sedangkan halaman depan istana kadipaten ini sudah mulai dikosongkan. Seluruh rakyat yang menyaksikan pertandingan tadi mulai meninggalkan tempat itu. Di samping itu, para prajurit pun sudah sibuk membereskan sekitarnya.

Tampak Paman Legiwa membawa Nyai Raka Wulung dan Jaka Kumbara ke bangsal keprajuritan yang berada di bagian kanan bangunan istana ini. Sementara Raden Wikalpa dan Adipati Baka Witara sudah lenyap di dalam Istana Kadipaten Watu Kambang ini.

********************

TIGA

....hanya menggelengkan kepalanya. Pemuda yang juga berjuluk Pendekar Rajawali Sakti memang selalu tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Tapi jika sudah terlibat, tidak akan ditinggalkan begitu saja sebelum semuanya tuntas. Sedangkan lain halnya dengan Pandan Wangi. Gadis ini selalu ingin tahu jika ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Bahkan persoalan sepele saja, pasti ingin tahu. Kalau sudah begitu, gadis yang berjuluk si Kipas Maut ini tak pernah tinggal diam, dan akan mencampuri persoalan.

Memang, Rangga mengakui kalau Pandan Wangi terlalu jeli jika memandang sesuatu persoalan. Bahkan sepertinya bisa menduga tepat, meskipun persoalan yang dihadapi masih mengambang. Hal ini kerap membuat Rangga kelabakan, karena Pandan Wangi sering kali tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Terpaksa Pendekar Rajawali Sakti yang harus turun tangan, jika keselamatan gadis ini mulai terancam.

“Sudah makannya, Pandan?” tanya Rangga.

“Sudah,” jawab Pandan Wangi singkat

Rangga memanggil laki-laki tua pemilik kedai ini. Setelah membayar semua makanan dan minuman yang dinikmati, kemudian kedua pendekar muda itu melangkah meninggalkan kedai. Pendekar Rajawali Sakti melompat naik ke punggung kudanya yang tertambat di depan kedai. Pandan Wangi mengikuti dengan gerakan indah dan ringan sekali.

Tak lama berselang, mereka sudah berkuda perlahan-lahan menyusuri jalan yang cukup lebar dan berdebu. Jalan ini membelah kota Kadipaten Watu Kambang seperti menjadi dua bagian. Mereka berkuda sambil menikmati keindahan kota yang jarang ditemui dalam pengembaraan. Selama ini mereka hanya bertemu desa-desa kumuh yang selalu menyediakan berbagai macam permasalahan.

“Rasanya aku ingin sekali hidup tenang, tanpa harus bergelut dengan berbagai macam persoalan dan kekerasan,” ujar Rangga. Nada bicaranya setengah bergumam, seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Kenapa tidak tinggal saja di istana...?” sambut Pandan Wangi.

“Aku tidak cocok tinggal di lingkungan istana, Pandan. Meskipun terlahir di sana, tapi seluruh kehidupanku berada di alam bebas.”

“Sudah tahu begitu, masih juga mengeluh,” rungut Pandan Wangi.

“Bukannya mengeluh. Aku hanya ingin sesekali menikmati ketenangan tanpa gangguan apapun juga,” Rangga beralasan.

“Kalau kau ingin, Kakang, cari tempat yang sepi dan tenang di gunung, atau di tengah hutan. Aku yakin, kau akan menikmati kesunyian alam tanpa ada gangguan apapun juga,” saran Pandan Wangi.

“Kadang-kadang kau pintar juga, Pandan,” puji Rangga.

“Huuu...,” Pandan Wangi mencibir senang mendapat pujian Pendekar Rajawali Sakti.

“Ayo, Pandan. Kita cari tempat yang kau maksud,” ajak Rangga, langsung saja menyetujui usul Pandan Wangi tadi.

“Heh...! Kau bersungguh-sungguh, Kakang?” Pandan Wangi malah terkejut.

Padahal, tadi gadis itu hanya asal bicara saja, tidak ada maksud bersungguh-sungguh. Tapi rupanya Rangga benar-benar menanggapinya. Dan sekarang Pendekar Rajawali Sakti malah ingin menikmati ketenangan yang diinginkannya. Tinggal Pandan Wangi yang kelabakan.

“Ayo, Pandan. Tunjukkan tempat yang nyaman padaku,” desak Rangga.

“Aku tidak tahu,” sahut Pandan Wangi.

“Kau pernah ke sini, bukan?”

“Iya, tapi....”

“Jangan bohongi aku, Pandan. Dulu kau bercerita kalau pernah tinggal di sini hampir tiga bulan. Pasti kau tahu seluk-beluk tempat ini,” desak Rangga lagi.

“Hhh...,” Pandan Wangi hanya mengeluh sambil mengangkat bahunya.

Gadis itu tidak bisa lagi menghindar. Dia memang pernah cerita pada Rangga kalau dulu pernah tinggal di Kadipaten Watu Kambang ini. Bahkan sampai tiga bulan lamanya. Kedatangan Rangga ke kadipaten ini juga atas permintaan Pandan Wangi. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti hanya menurutinya. Sekarang si Kipas Maut itu diminta untuk menunjukkan tempat yang tenang agar bisa menyendiri.

“Baiklah. Aku tahu tempat yang indah dan tenang dipinggiran kota,” kata Pandan Wangi menyerah.

“Kita ke sana sekarang, Pandan,” ajak Rangga.

“Ayo deh....”

Mereka kemudian menggebah cepat kudanya menuju tempat yang dimaksudkan Pandan Wangi. Rangga sengaja mengendalikan kudanya agar berada agak ke belakang dari kuda gadis itu. Diikuti saja, ke mana Pandan Wangi mengajaknya. Pendekar Rajawali Sakti itu sudah membayangkan suatu tempat yang indah dengan udaranya yang sejuk, nyaman, dan damai. Suatu perasaan wajar yang selalu didambakan setiap manusia di dunia ini.

********************

Rangga berdecak kagum menyaksikan keindahan alam yang ditunjukkan Pandan Wangi. Rasanya seperti berada di taman nirwana milik para Dewa Kahyangan. Begitu indahnya, sehingga Pendekar Rajawali Sakti itu baru tersadar setelah Pandan Wangi mencolek lengannya. Dan mendadak saja Rangga terkejut. Ternyata begitu berpaling, bukan hanya mereka berdua saja di tempat ini. Masih ada seorang lagi yang berdiri tegak di atas sebongkah batu besar yang tidak seberapa jauh dari kedua pendekar muda itu berdiri.

Rangga mengamati seorang perempuan yang tidak bisa dikatakan muda lagi. Namun, raut wajahnya masih kelihatan cantik, dengan bentuk tubuh indah. Begitu indahnya, sehingga sanggup membuat mata laki-laki tidak berkedip memandangnya. Wanita itu mengenakan baju merah muda yang agak ketat dan tipis sekali, sehingga memperlihatkan pakaian dalamnya yang juga agak tipis. Rangga sampai terpana memandanginya, dan kembali baru tersadar begitu Pandan Wangi menyikut iganya.

“Siapa kalian?! Untuk apa berada di sini?!” lantang sekali suara wanita itu, namun tidak menghilangkan kelembutannya.

“Siapa pun kami, tidak ada urusannya denganmu!” sahut Pandan Wangi ketus. “Tempat ini bebas didatangi siapa saja.”

“Sopan sedikit, Pandan,” tegur Rangga dengan suara agak berbisik.

“Ah! Ternyata kau cukup lembut juga, Bocah Bagus,” kata wanita itu disertai kerlingan mata pada Rangga.

Kerlingan itu membuat hati Pandan Wangi panas seketika. Bahkan darahnya langsung menggolak mendidih bagai terbakar. Wanita berbaju merah muda itu memang cantik, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Mungkin sudah mencapai empat puluh tahun. Hanya saja sikapnya yang begitu genit, sehingga membuat Pandan Wangi sengit melihat tingkahnya. Terlebih lagi, matanya tidak lepas-lepasnya memandangi Rangga dengan sikap menggoda.

“Perempuan jalang...,” desis Pandan Wangi tidak lahan lagi.

“Hi hi hi.... Rupanya teman gadismu ini besar juga cemburunya,” wanita cantik itu semakin membuat Pandan Wangi mengkelap panas.

Sama sekali si Kipas Maut yang sudah sesak napas tidak dipedulikannya. Wanita itu melompat turun dari batu. Gerakannya ringan dan indah sekali. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya dijejakkan sekitar dua langkah di depan Rangga. Senyumnya terkembang manis, sementara sepasang bola matanya berputar indah menggoda.

“Kakang, sini...!” sentak Pandan Wangi seraya menarik tangan Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti itu hampir saja terjatuh, namun cepat menguasai keseimbangan tubuhnya. Kini Rangga berada di belakang Pandan Wangi yang berkacak pinggang memasang muka merah menahan kemarahan dan cemburu yang menggelegak seketika setelah melihat tingkah wanita genit itu.

“Jangan coba-coba menggoda, ya...?!” sentak Pandan Wangi berang.

“He...?! Kenapa kau yang marah, Adik Manis?”

“Setan...! Aku bukan anak kecil!” bentak Pandan Wangi semakin berang.

“Kau memang sudah besar. Tapi..., aku rasa belum cukup pantas untuk Bocah Bagus ini.”

“Keparat...! Kurobek mulutmu, Iblis...!”

Pandan Wangi tidak dapat lagi mengendalikan kemarahannya. Dengan cepat sekali, si Kipas Maut itu menyentakkan tangan kanannya, memberi pukulan keras disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.

“Uts!” Namun hanya sedikit saja wanita itu memiringkan tubuhnya, pukulan Pandan Wangi tidak mengenai sasaran. Bahkan wanita itu manis sekali menyodokkan tangannya ke arah perut. Sodokan yang cepat dan tidak terduga membuat Pandan Wangi terkesiap. Buru-buru kakinya melangkah ke belakang, namun tidak ingat kalau Rangga berada di situ.

Hampir saja gadis itu menabrak Pendekar Rajawali Sakti, kalau saja pemuda berbaju rompi putih itu tidak segera menggeser kaki ke samping. Dan saat itu, wanita berbaju merah muda yang cantik ini kembali melontarkan satu pukulan lurus ke arah dada si Kipas Maut.

“Yeah...!”
“Hap!”
Bet!

Cepat sekali Pandan Wangi mencabut senjata kipasnya yang terselip di pinggang. Lalu dengan cepat pula, dikebutkan ke depan dadanya. Kebutan kipas baja putih yang langsung terkembang, membuat wanita berbaju merah muda itu terbeliak terkejut. Bergegas pukulannya ditarik kembali, sebelum mengenai kipas baja putih di tangan Pandan Wangi.

Pada saat itu, Pandan Wangi segera mempergunakan kesempatan yang sempit ini. Maka diberikannya serangan beruntun dan cepat sekali. Kipas Maut-nya berkelebat mengincar sasaran empuk tubuh wanita berbaju merah muda itu. Beberapa kali kipas Pandan Wangi hampir menyambar, namun manis sekali serangan itu berhasil dielakkan lawan.

“Hop! Yeaaah...!”

Tiba-tiba saja wanita cantik berbaju merah muda itu melentingkan tubuhnya ke belakang, lalu berputaran beberapa kali, tepat ketika Pandan Wangi mengebutkan kipasnya ke arah dada. Gerakan wanita itu membuat Pandan Wangi sempat terlongong juga. Tapi sebelum rasa terkejut si Kipas Maut itu hilang, mendadak saja wanita berbaju merah itu sudah menghentakkan tangannya begitu mendarat di tanah.

“Yeaaah...!”

“Awas...!” seru Rangga yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan itu.

Dari sela-sela jari tangan wanita itu meluncur sinar­-sinar merah berbentuk jarum halus ke arah Pandan Wangi. Bergegas tubuh si Kipas Maut melenting ke udara, dan berjumpalitan beberapa kali. Namun wanita itu terus cepat mengebutkan tangannya secara bergantian, mengikuti arah gerakan Pandan Wangi yang tengah berjumpalitan di udara.

Jarum-jarum halus berwarna merah itu terus meluncur deras seperti tidak pernah ada habisnya. Pandan Wangi semakin kelabakan saja. Beberapa kali kebutan kipas gadis itu berhasil merontokkan, namun jarum-jarum merah lainnya terus berdatangan mengincar tubuhnya.

“Hentikan...!” sentak Rangga tiba-tiba.

Seruan Pendekar Rajawali Sakti yang disertai pengerahan tenaga dalam, membuat wanita berbaju merah itu terkejut. Dan seketika itu juga serangan-serangannya dihentikan. Pada saat itu, Pandan Wangi cepat menjejakkan kakinya di tanah. Namun demikian, hampir saja dia melompat menerjang. Untung saja Rangga cepat mencekal pergelangan tangannya.

“Mundur kau, Pandan,” kata Rangga meminta.

“Kakang...,” Pandan Wangi ingin memprotes.

Tapi melihat mata Pendekar Rajawali Sakti mendelik, Pandan Wangi terpaksa mundur. Hanya saja hatinya menggerutu kesal dan tidak puas. Dia yakin kalau masih sanggup menandingi perempuan berbaju merah itu, meskipun tadi sempat terdesak sekali oleh serangan jarum-jarum merah. Meskipun hatinya kesal, tapi dia berterima kasih juga. Masalahnya Rangga cepat menghentikan ancaman, di saat dirinya hampir kehabisan napas menghindari serbuan jarum-jarum merah tadi. Dan tentu saja, Pandan Wangi hanya mengucapkannya dalam hati.

“Maaf, kalau kedatangan kami membuatmu terusik,” ucap Rangga, sopan.

“Hm.... Sama sekali aku tidak terusik. Tapi, gadismu itu...,” wanita berbaju merah itu melirik Pandan Wangi.

Pada saat yang sama, Pandan Wangi mendelikkan matanya. Si Kipas Maut itu benar-benar masih penasaran pada wanita genit yang telah membakar api kecemburuannya. Ingin rasanya Pandan Wangi menelannya mentah-mentah

“Berani merebut Kakang Rangga dariku..., kubunuh kau,” desis Pandan Wangi dalam hati.

Pandan Wangi semakin muak saja melihat tingkah wanita yang bertambah genit di depan Rangga. Dan hatinya juga kesal, karena tampaknya Rangga melayani. Bahkan sepertinya menikmati kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Pandan Wangi jadi menggerutu sendiri dalam hati, namun harus bisa menahan diri. Dia tidak ingin terjebak lagi di dalam kecemburuan yang tidak beralasan sama sekali. Pengalamannya bersama Rangga selama ini sudah membuktikan kalau kekasihnya itu memang setia, tidak mudah berpaling pada gadis mana pun juga.

“Boleh aku tahu, siapa namamu, Nisanak?” tanya Rangga.

“Kalau gadismu tidak keberatan,” sahut wanita itu diiringi senyuman menggoda.

“Tentu saja tidak. Iya kan, Pandan...?”

“Huh!” Pandan Wangi hanya mendengus saja.

Kembali Rangga menatap wanita cantik di depannya. Sedangkan wanita itu semakin genit saja. Bahkan memberikan kerlingan mata yang indah menggairahkan. Sengaja tubuhnya digerakkan gemulai saat melangkah mendekati Pendekar Rajawali Sakti. Dia berhenti setelah jaraknya tinggal sekitar dua langkah lagi. Saat itu juga. Rangga merasakan hidungnya mencium aroma semerbak yang menyebar dari tubuh wanita ini.

Aroma harum itu membuat jantung Rangga seakan­-akan berhenti berdetak. Namun Pendekar Rajawali Sakti mencoba menenangkan dirinya yang mendadak jadi tidak menentu. Dia sendiri tidak mengerti, mengapa tiba-tiba saja jadi begini. Mungkin karena keharuman yang menusuk hidung, sehingga membuatnya seperti terangsang.

“Ah! Sebaiknya, kami pergi saja. Ayo, Pandan...,” cepat­cepat Rangga melangkah mundur.

Pendekar Rajawali Sakti sadar kalau wanita itu jenis wanita penggoda laki-laki. Makanya, dia tidak ingin terjebak dalam arus rangsangan yang akan membuat dirinya sengsara dan menyesal seumur hidup. Bergegas Pendekar Rajawali Sakti pergi mengajak Pandan Wangi. Tentu saja gadis itu senang. Mereka segera melompat ke punggung kuda masing-masing, lalu cepat menggebahnya. Sementara wanita berbaju merah muda itu hanya memandangi saja dengan bibir menyunggingkan senyum.

“Ha ha ha...!” tiba-tiba saja wanita berbaju merah muda itu tertawa lepas terbahak-bahak.

Sementara Rangga dan Pandan Wangi sudah jauh meninggalkan tempat itu. Mereka memacu cepat kudanya, membuat kepulan debu di angkasa. Sementara wanita berbaju merah muda itu masih tetap berdiri memandangi kepergian sepasang anak muda tadi, hingga lenyap dari pandangan.

“Eh...!” wanita itu terperanjat ketika baru saja memutar tubuhnya.

Tahu-tahu di depannya kini sudah berdiri seorang gadis berwajah cantik, mengenakan baju warna kuning. Sebilah pedang bertengger di punggungnya. Wanita berbaju merah muda itu melangkah menghampiri sambil tersenyum.

“Siapa mereka, Bibi?” tanya gadis berbaju kuning itu.

“Ah, cuma orang kesasar saja,” sahut wanita yang dipanggil bibi.

Gadis berbaju kuning itu tidak bertanya lagi. Mereka kemudian berjalan berdampingan meninggalkan tempat itu. Sebuah tempat yang indah dengan bunga-bunga bermekaran, menyebarkan aroma harum semerbak.

EMPAT

“Sial...!” rutuk Rangga seraya melompat turun dari punggung kuda hitamnya.

Pandan Wangi juga ikut turun dari kuda. Sementara Rangga sudah menghenyakkan tubuhnya, duduk di bawah sebatang pohon yang cukup rindang. Dibiarkan saja Dewa Bayu melenggang, mencari rerumputan segar. Gemericik air sungai kecil yang menghadang di depan, seakan-akan mengundang dua ekor kuda itu untuk mendekatinya. Bahkan Pandan Wangi juga mendekati sungai itu.

Setelah membasuh wajah dan tangan, Pandan Wangi menghampiri Rangga yang tengah duduk bersandar di pohon. Kelopak mata Pendekar Rajawali Sakti itu terpejam. Pandan Wangi menempatkan dirinya duduk di samping pemuda itu. Dia ikut menyandarkan tubuhnya, merapat dengan pemuda berbaju rompi putih itu.

“Sepertinya semua tempat tidak ada yang memberi ketenangan...,” desah Rangga bernada mengeluh.

“Aku rasa masih banyak, Kakang,” Pandan Wangi tidak sependapat.

“Di mana...?” Rangga seakan-akan menuntut.

“Di surga,” kelakar Pandan Wangi.

“Huuu...,” dengus Rangga seraya memukul bahu gadis itu.

Tapi Pandan Wangi hanya tertawa saja. Dan memang, pukulan Rangga tidak keras. Malah, terasa lembut bagi gadis itu. Rangga hanya memberengut, tapi akhirnya tersenyum juga. Seketika pinggang gadis itu diraih, dan dibawanya ke dalam pelukan. Pandan Wangi jadi manja. Tubuhnya langsung dirapatkan ke tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiam diri saja. Dan baru saja Rangga hendak membuka mulut, mendadak telinganya mendengar derap langkah kaki kuda yang mendekati tempat ini. Pandan Wangi rupanya juga mendengar. Bergegas pelukannya pada Pendekar Rajawali Sakti dilepaskan. Kemudian duduknya bergeser menjauh. Saat itu muncul beberapa ekor kuda yang penunggangnya sebagian mengenakan seragam prajurit kadipaten dan sebagian lagi seperti orang dari kaum rimba persilatan.

Rangga bangkit berdiri begitu para penunggang kuda itu berhenti. Salah seorang yang mengenakan baju putih dan sudah cukup berumur, melompat turun. Laki-laki itu adalah Paman Legiwa, orang kepercayaan Adipati Baka Witara. Dihampirinya Rangga yang berdiri di dekat Pandan Wangi.

“Kisanak, boleh bertanya sedikit?” ujar Paman Legiwa sopan.

“Silakan,” sahut Rangga.

“Apakah Kisanak melihat dua orang wanita dan seorang laki-laki lewat di tempat ini?” tanya Paman Legiwa lagi.

“Tidak. Kami baru saja berada di tempat ini,” sahut Rangga tanpa berpikir lagi.

Dan memang, Pendekar Rajawali Sakti baru saja sampai di tempat ini. Sementara Paman Legiwa memandang Pandan Wangi, namun gadis itu hanya menggelengkan kepalanya saja.

“Hhh...,” Paman Legiwa menarik napas panjang.

“Bagaimana, Paman?” tanya salah seorang laki-laki bertubuh kekar yang menunggang kuda putih dan berkaki belang coklat.

“Kalian kembali saja ke istana. Laporkan pada Gusti Adipati semuanya,” sahut Paman Legiwa.

“Paman sendiri?” tanya orang itu lagi.

“Aku akan terus melanjutkan pencarian.”

“Kami ikut, Paman.”

“Tidak! Kalian harus kembali secepatnya. Keselamatan Gusti Adipati lebih penting dariku,” tegas Paman Legiwa.

Sekitar dua puluh orang berseragam prajurit dan dua belas orang berpakaian biasa, satu di antaranya adalah perempuan tua, tidak berbicara lagi. Dan kuda mereka segera digebah meninggalkan tempat itu, menuju ke Kadipaten Watu Kambang kembali. Tinggal dua orang yang tersisa selain Paman Legiwa sendiri. Mereka adalah perempuan tua berbaju merah dan seorang pemuda yang cukup tampan berbaju putih. Kedua orang itu yang dikenal bernama Nyai Raka Wulung dan Jaka Kumbara. Mereka melompat turun dari kuda masing-masing, kemudian menghampiri Paman Legiwa yang masih berada di depan Pendekar Rajawali Sakti dan si Kipas Maut.

“Maaf, Paman. Ada apa gerangan yang terjadi?” tanya Pandan Wangi ingin tahu.

“Kami kehilangan Raden Wikalpa, calon adipati kami,” sahut Paman Legiwa.

Suara laki-laki tua itu terdengar pelan sekali. Tampak jelas kalau wajahnya diliputi mendung yang mendalam. Sementara Pandan Wangi menatap Rangga. Sedangkan yang ditatap hanya membalas kosong, tanpa gairah sama sekali. Rangga tahu, dan bisa membaca arti tatapan gadis itu. Tapi kali ini Pendekar Rajawali Sakti memang sedang enggan melakukan sesuatu. Hanya satu yang diinginkannya, yakni bisa beristirahat tenang dan melupakan semua yang pernah dialami. Mencari ketenangan baru, untuk mengusir kejenuhan yang mulai melanda dirinya.

“Oh, ya. Jika Kisanak dan Nini melihat Raden Wikalpa, tolong beritahukan kami secepatnya di istana,” pesan Paman Legiwa.

“Akan kami usahakan, Paman,” sahut Pandan Wangi yang ikut memanggil laki-laki tua itu dengan sebutan paman.

“Terima kasih.”

Paman Legiwa membalikkan tubuhnya, kemudian menghampiri kudanya. Dengan gerakan indah dan ringan sekali, laki-laki tua itu melompat naik ke punggung kuda dan menggebahnya perlahan-lahan. Sedangkan Nyai Raka Wulung dan Jaka Kumbara saling berpandangan sejenak, kemudian sama-sama bergegas melompat ke punggung kuda masing-masing. Mereka terus mengikuti laki-laki tua yang sudah meninggalkan tempat itu lebih dahulu. Dari arah yang ditempuh, jelas kalau mereka tidak menuju kota Kadipaten Watu Kambang.

Paman Legiwa memacu cepat kudanya, meskipun hutan yang dilalui semakin terasa sempit, dengan pepohonan yang merapat dan bertaut menjadi satu. Namun laki-laki tua itu tetap saja memacu kudanya dengan kecepatan tinggi. Sementara Nyai Raka Wulung dan Jaka Kumbara susah-payah mengikuti sambil mengendalikan kudanya hati-hati. Mereka memang tidak selincah Paman Legiwa, karena memang belum terbiasa menunggang kuda. Hal ini bisa dimaklumi. Kebanyakan orang kalangan rimba persilatan memang lebih suka berjalan sambil berlatih ilmu meringankan tubuh. Hanya beberapa saja yang berpetualang menunggang kuda itupun yang merasa ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai taraf kesempurnaan.

Mereka kemudian tiba di suatu tempat yang sangat indah, seperti berada di dalam sebuah taman yang tertata apik. Paman Legiwa menghentikan lari kudanya. Sejenak matanya terpaku menyaksikan keindahan alam ini. Belum pernah tempat yang indah ini dilihatnya. Bahkan sama sekali dia tidak tahu kalau di wilayah Kadipaten Watu Kambang terdapat sebuah tempat yang begitu mempesona.

“Paman, awas...!” tiba-tiba terdengar seruan keras dari arah belakang.

Paman Legiwa terperanjat begitu mukanya dipalingkan ke kanan. Bergegas laki-laki tua itu melompat turun dari punggung kudanya, dan bergulingan beberapa kali di tanah. Saat itu juga, terdengar ringkik kuda yang keras.

Tampak kuda yang ditungganginya jatuh menggelepar di tanah. Di tubuhnya tertancap jarum-jarum halus berwarna merah.

“Hup!”

Paman Legiwa bergegas melompat bangkit berdiri. Namun sebelum bisa berdiri tegak, mendadak saja sebuah bayangan merah muda berkelebat cepat menyambar ke arahnya. Sesaat laki-laki tua itu terperangah. Namun sebelum keadaan dirinya sempat terkuasai, mendadak Paman Legiwa merasakan sesuatu yang keras menghantam dadanya.

Degkh!

“Akh...!” Paman Legiwa terpekik keras. Laki-laki tua itu terpental ke belakang sejauh dua batang tombak. Keras sekali tubuhnya menghantam tanah, lalu bergulingan beberapa kali. Seketika dari mulutnya menyemburkan darah kental agak kehitaman. Dan sebelum Paman Legiwa bisa bangkit berdiri, kembali bayangan merah muda itu meluruk deras ke arahnya. Namun sebelum sampai, Nyai Raka Wulung sudah lebih cepat lagi melesat dari punggung kudanya. Langsung dijegalnya bayangan merah muda itu.

“Hiyaaa...!”

“Hih!”

Glarrr...! Ledakan keras terjadi begitu dua bayangan yang berkelebat cepat itu saling berbenturan keras sekali. Tampak kedua bayangan itu saling berpentalan ke belakang. Nyai Raka Wulung yang menjegal bayangan merah muda itu langsung bergulingan di tanah. Sementara bayangan tadi manis sekali mendarat di tanah berumput, setelah berjumpalitan beberapa kali di udara.

Kini di depan Nyai Raka Wulung dan Paman Legiwa, sudah berdiri seorang wanita cantik yang bentuk tubuhnya indah menggiurkan. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, namun penampilannya masih mampu membuat mata laki-laki tidak berkedip memandangnya.

“Dewi Asmara Maut...,” desis Nyai Raka Wulung mengenali wanita cantik itu.

“Hik hik hik...!” wanita cantik berbaju merah muda yang dikenal berjuluk Dewi Asmara Maut itu tertawa mengikik.

Matanya sempat melirik Jaka Kumbara yang tengah membantu Paman Legiwa berdiri. Sudut ekor matanya sempat memberi kerlingan pada pemuda itu. Namun Jaka Kumbara tidak mempedulikan, karena perhatiannya tertumpah pada Paman Legiwa yang tampaknya mengalami luka dalam cukup parah juga. Sementara Nyai Raka Wulung sudah berada di samping Jaka Kumbara yang memapah Paman Legiwa berdiri.

“Bawa dia ke tempat aman. Perempuan iblis ini berbahaya sekali,” ujar Nyai Raka Wulung setengah berbisik.

“Hati-hatilah,” Jaka Kumbara memperingatkan. Pemuda itu membawa Paman Legiwa ke tempat yang agak jauh dan teduh, kemudian membantu laki-laki tua itu duduk bersila. Sementara Nyai Raka Wulung sudah bersiap untuk bertarung. Dia tahu, siapa perempuan cantik di hadapannya ini. Perempuan itu adalah salah satu tokoh rimba persilatan yang julukannya sudah kondang. Mereka yang berhadapan dengan wanita itu harus berpikir seribu kali sebelum mengambil tindakan. Terutama, laki­laki muda yang gagah dan tampan.

Sesuai julukannya, Dewi Asmara Maut selalu menyebarkan benih-benih asmara setiap kali singgah di suatu tempat. Dan setiap kali muncul, selalu saja ada korban berupa anak-anak muda yang cukup tampan dan gagah. Dan sebelum korbannya dibunuh, Dewi Asmara Maut akan memuaskan dirinya dulu dengan permainan asmara yang membuat setiap laki-laki tak mampu lagi berpikir waras.

“Hik hik hik...!”

“Hm....”

“Beruntung sekali bisa bertemu denganmu di sini, Ular Merah,” lembut sekali suara Dewi Asmara Maut. Tapi di balik kelembutannya, tersimpan suatu nada ancaman.

“Untuk apa kau datang ke sini?!” dengus Nyai Raka Wulung yang tadi dipanggil dengan julukan Ular Merah.

“Untuk apa...? Hik hik hik.... Tentu saja jauh-jauh datang ke sini untuk membawamu kembali, Ular Merah.”

“Phuih! Jangan sangkutkan aku lagi dengan perkumpulan setanmu!” bentak Nyai Raka Wulung ketus.

“Hm.... Kau sudah berani menghina perkumpulan, Ular Merah,” dingin sekali nada suara Dewi Asmara Maut. “Kau tahu, apa hukumannya bagi orang sepertimu...?”

“Meskipun kau wakil si Raja Musang Hitam, aku tidak akan gentar. Dewi Asmara Maut, majulah...! Kita selesaikan perbedaan ini dengan pertarungan,” tantang Nyai Raka Wulung.

“Kau memang harus mampus, Ular Merah. Aku khawatir, rahasia perkumpulan sudah kau bocorkan.”

Setelah berkata demikian, tangan Dewi Asmara Maut segera bergerak, kemudian disilangkan di depan dada. Saat itu juga Nyai Raka Wulung segera memutar tongkat merahnya perlahan-lahan sambil menggeser kakinya ke samping beberapa tindak. Disadari kalau lawan yang akan dihadapinya ini bukanlah tokoh sembarangan. Dewi Asmara Maut bukan saja pandai memikat laki-laki, tapi juga memiliki kemampuan yang sangat tinggi

“Tahan seranganku! Hiyaaat...!” seru Dewi Asmara Maut tiba-tiba. Bagaikan kilat, wanita cantik berbaju merah muda itu melompat menerjang Nyai Raka Wulung. Dua kali pukulannya yang keras bertenaga dalam tinggi dilontarkan. Namun lewat satu gerakan manis, Nyai Raka Wulung dapat menghindari serangan wanita berbaju merah itu.

Dan pada kesempatan lain, Nyai Raka Wulung sudah memberi serangan-serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Pertempuran antara dua wanita itu tidak dapat dihindari lagi. Karena sudah menyadari akan kemampuan satu sama lain, mereka tidak tanggung­tanggung lagi. Jurus-jurus yang dikeluarkan begitu dahsyat dan selalu mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Tidak mengherankan kalau sebentar saja keadaan di sekitar pertarungan jadi rusak berantakan.

Sementara tidak jauh dari tempat pertarungan, Jaka Kumbara masih berusaha menyembuhkan luka dalam yang diderita Paman Legiwa. Namun luka dalam itu demikian parah. Apalagi usia Paman Legiwa yang sudah memasuki ambang senja, sangat menyulitkan pemuda itu untuk menyembuhkannya.

“Sudah cukup, Jaka. Jangan terlalu membuang tenaga untukku,” kata Paman Legiwa menghentikan usaha Jaka Kumbara.

“Tapi lukamu cukup parah, Paman.”

“Kau sudah cukup meringankan, Jaka Kumbara. Yang penting tenagamu harus dihemat, karena masih banyak yang harus dihadapi nanti.”

Jaka Kumbara melepaskan kedua telapak tangannya dari punggung laki-laki tua itu. Kemudian duduknya pindah di depan Paman Legiwa yang bersila dengan tangan berada di atas lutut. Sementara pertarungan antara Dewi Asmara Maut melawan Nyai Raka Wulung masih terus berlangsung sengit. Jaka Kumbara sempat memperhatikan pertarungan itu sebentar.

“Siapa yang bertarung dengan Nyai Raka Wulung, Paman?” tanya Jaka Kumbara.

“Entahlah, aku tidak tahu,” sahut Paman Legiwa yang juga memperhatikan pertarungan itu.

Mereka memang tidak sempat memperhatikan percakapan yang terjadi antara Nyai Raka Wulung dan Dewi Asmara Maut tadi. Terlebih lagi, Jaka Kumbara harus memusatkan pikirannya pada penyembuhan luka dalam yang diderita Paman Legiwa. Sedangkan laki-laki tua itu seperti tidak mampu berbuat apa-apa karena lukanya.

“Tampaknya Nyai Raka Wulung sulit menandinginya, Paman,” duga Jaka Kumbara setengah bergumam, seakan­ akan berbicara pada dirinya sendiri.

“Kita lihat saja, Jaka.”

Dugaan Jaka Kumbara tidak meleset. Belum begitu lama dugaannya dilontarkan, sudah terlihat kalau Nyai Raka Wulung terdesak sekali. Beberapa kali terlihat Dewi Asmara Maut berhasil mendaratkan pukulan maupun tendangan keras. Untung saja hanya di bagian-bagian tubuh yang tidak membahayakan. Maka tak heran kalau Nyai Raka Wulung masih bisa melayaninya, walaupun semakin terdesak.

Jaka Kumbara yang hendak membantu perempuan tua itu cepat dicegah Paman Legiwa. Terpaksa niatnya diurungkan, dan hanya memperhatikan saja pertarungan itu. Hatinya kelihatan cemas melihat Nyai Raka Wulung kini menjadi bulan-bulanan, tanpa mampu lagi memberi serangan balasan.

“Yeaaah...!” Sambil berteriak keras, mendadak saja Dewi Asmara Maut melontarkan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi ke arah dada Nyai Raka Wulung. Namun perempuan tua itu masih mampu menghindarinya. Hanya saja kali ini dia tidak mungkin lagi mengelak ketika Dewi Asmara Maut mencabut pedangnya, dan langsung dikibaskan ke arah leher perempuan tua itu.

“Mampus! Yeaaah...!”

“Uts!” Cepat-cepat Nyai Raka Wulung mengibaskan tongkat untuk menangkis tebasan pedang yang begitu cepat bagai kilat

Trak!

“Akh...!” Nyai Raka Wulung terpekik agak tertahan. Belum lagi sempat mengusir rasa terkejut akibat tongkatnya terpotong dua, kembali datang serangan berupa tendangan keras menggeledek ke arah dada. Tendangan Dewi Asmara Maut yang cepat luar biasa itu, tak dapat dihindari lagi oleh Nyai Raka Wulung.

Des!

“Aaakh...!” Lagi-laki Nyai Raka Wulung menjerit keras. Begitu perempuan tua itu terlontar deras ke belakang, dengan cepat bagai kilat Dewi Asmara Maut melesat memburu. Dan secepat itu pula pedangnya ditusukkan ke arah dada perempuan tua itu.

Wut!

“Aaa...!”

Bruk! Nyai Raka Wulung terbanting keras ke tanah begitu pedang Dewi Asmara Maut menusuk perutnya hingga tembus ke punggung. Darah seketika mengalir deras dari perut dan punggung wanita tua itu. Hanya sebentar Nyai Raka Wulung mampu menggelepar dan mengerang, kemudian diam tak berkutik lagi.

“Keparat...!” desis Jaka Kumbara geram melihat Nyai Raka Wulung tewas. Tanpa menghiraukan larangan Paman Legiwa, pemuda itu cepat melompat menerjang Dewi Asmara Maut. Serangan yang dilancarkannya sungguh cepat luar biasa. Akibatnya, perempuan berbaju merah muda itu sejenak terperangah, namun cepat menghindari beberapa pukulan bertenaga dalam tinggi yang dilancarkan Jaka Kumbara.

“Upf...!” Paman Legiwa memaksakan diri untuk bangkit berdiri. Hatinya begitu khawatir melihat Jaka Kumbara menyerang Dewi Asmara Maut. Namun pertarungan itu tidak bisa lagi dicegah. Bahkan sudah berlangsung sengit sekali.

Jurus demi jurus berlalu cepat. Dan sudah mulai terlihat kalau Dewi Asmara Maut berada di atas Jaka Kumbara. Tingkat kepandaian wanita itu memang tinggi, dan sukar dicari tandingannya.

“Jaka, mundur...!” teriak Paman Legiwa keras.

Namun peringatan laki-laki tua itu tidak dihiraukan sama sekali. Jaka Kumbara terus mencecar Dewi Asmara Maut lewat serangan-serangan cepat dan dahsyat. Namun tampaknya wanita itu malah mempermainkan Jaka Kembara. Dia hanya berkelit dan menghindar tanpa sedikitpun menyerang.

Melihat ketampanan Jaka Kumbara, wanita itu langsung tertarik. Rasanya sayang sekali melepaskan pemuda ini begitu saja. Tidak heran kalau Dewi Asmara Maut hanya menghindar dan mengelak saja. Yang diinginkan hanyalah menguras habis tenaga Jaka Kumbara, sebelum melakukan serangan khusus yang sudah terbayang di dalam benaknya.

“Hiyaaa...!” Melihat pertarungan yang berjalan tidak seimbang itu, Paman Legiwa tidak dapat menahan diri lagi. Terlebih lagi saat melihat Dewi Asmara Maut mengerahkan jurus ‘Bunga Memikat Kumbang’. Paman Legiwa jadi terkejut, dan langsung mengetahui, siapa perempuan berwajah cantik yang bentuk tubuhnya indah menggairahkan itu. Seketika dia melompat menerjang, karena tidak ingin Jaka Kumbara jatuh ke dalam perangkap yang mulai ditebarkan wanita itu.

“Heh...?!” Dewi Asmara Maut agak terkejut juga begitu mendapatkan serangan dari laki-laki tua yang telah dibuatnya tidak berdaya tadi. Perhatiannya jadi terpecah, dan geram bukan main, karena rencananya untuk menaklukkan Jaka Kumbara dengan jurus ‘Bunga Memikat Kumbang’ yang sangat ampuh itu jadi terpecah sasarannya.

“Tua bangka keparat! Yeaaah...!”

Perhatian Dewi Asmara Maut terpaksa dialihkan. Dan kini segera dilancarkan serangan-serangan kilat dan dahsyat ke arah laki-laki tua itu. Serangan-serangan yang dilancarkannya memang sungguh dahsyat dan luar biasa. Maka dalam beberapa gebrak saja, Paman Legiwa sudah kewalahan. Dan pada suatu saat...

“Jebol...!” sentak Dewi Asmara Maut tiba-tiba.

Seketika itu juga, tubuhnya dimiringkan ke kanan sedikit. Dan dengan kecepatan luar biasa, wanita berbaju merah itu sudah memberi satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi sekali ke arah dada.

Des!

“Akh...!” Paman Legiwa memekik keras. Dalam keadaan terluka dalam, gerakan laki-laki tua itu memang tidak sempurna lagi. Bahkan cenderung lamban. Maka tidak heran kalau pukulan Dewi Asmara Maut tak dapat dihindari lagi. Laki-laki tua itu terpental deras ke belakang, dan baru berhenti setelah punggungnya menghantam sebatang pohon yang sangat besar.

“Iblis...!” desis Jaka Kumbara semakin geram. Pemuda itu benar-benar marah melihat Paman Legiwa tergeletak di bawah pohon. Dia tidak tahu apakah laki-laki tua itu masih hidup atau sudah mati, karena harus kembali sibuk menghadang serangan yang dilancarkan wanita cantik itu.

“Akh!” tiba-tiba saja Jaka Kumbara terpekik agak tertahan. Padahal Dewi Asmara Maut tidak memberikan satu pukulan pun! Seketika pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi kepalanya. Sementara Dewi Asmara Maut memain-mainkan kalung hitam yang melilit lehernya. Bibirnya tersenyum-senyum, dan bola matanya berputaran memandangi Jaka Kumbara yang mengerang sambil mengejang dan menggelepar.

“Ha ha ha...!” Dewi Asmara Maut tertawa terbahak­-bahak.

Saat itu Jaka Kumbara sudah tergeletak diam tak bergerak-gerak lagi, seperti sedang tertidur pulas. Dewi Asmara Maut segera menghampirinya. Tampak ayunan langkahnya begitu gemulai dan bibirnya menyunggingkan senyuman menawan. Sebentar dipandanginya pemuda itu, kemudian ringan sekali tubuh Jaka Kumbara diangkat, seperti mengangkat segumpal kapas saja.

“Hik hik hik..!” Sambil tertawa mengikik, Dewi Asmara Maut melesat cepat meninggalkan tempat itu sambil membawa Jaka Kumbara. Lesatannya sungguh cepat. Dan dalam sekejapan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas lagi. Dan kini keadaan di tempat itu pun kembali sunyi, seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

Alam yang semula indah dan sedap dipandang kini jadi hancur berantakan akibat pertarungan tadi. Tampak dua tubuh tergeletak. Yang seorang sudah tewas dengan perut berlumuran darah. Sedangkan yang seorang lagi...

“Ohhh..."

********************

LIMA

Pagi baru saja mengunjungi mayapada ini. Matahari masih mengintip malu-malu dengan pancaran sinarnya yang menyemburat dari balik sebuah gunung yang angkuh menjulang tinggi. Sementara kabut masih menyelimuti seluruh permukaan bumi ini, dan hanya sedikit saja yang tersibak. Di antara gumpalan kabut itu, tampak sesosok tubuh tua terseok-seok berjalan menuruni lereng gunung itu. Bajunya yang putih hampir tidak terlihat lagi warnanya, dikotori oleh debu dan darah kering.

Walaupun beberapa kali jatuh terguling, namun dengan susah-payah orang tua itu bangkit kembali. Bahkan melangkah lagi, walau dengan kaki terseret. Beberapa kali dia mengeluh sambil memegangi dadanya. Tampak darah masih mengucur pelahan dari sudut bibirnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan kepalanya terangkat ketika mendengar langkah kaki kuda yang sepertinya tidak jauh terdengar.

“Hoooi...!” teriak laki-laki tua itu sekeras-kerasnya. Namun kemudian dia terbatuk, dan jatuh bergulingan ditanah berumput yang masih basah olehembun.

“Hoooi...! Tolooong...!” laki-laki tua itu tidak mempedulikan nyeri yang menyerang dadanya, dan kembali berteriak keras.

Suara teriakannya menggema, menyelusup di antara pepohonan, lalu terpantul dinding-dinding bebatuan di lereng gunung ini. Laki-laki tua itu kembali terbatuk, dan berusaha bangkit berdiri. Namun sebelum bisa berdiri, terlihat dua ekor kuda berpacu cepat menuju ke arahnya, muncul dari gumpalan kabut yang mulai memudar.

“Tolong...,” rintih laki-laki tua itu. Tubuhnya langsung jatuh terkulai ketika dua orang penunggang kuda yang mungkin telah mendengar teriakan laki-laki tua itu tiba. Tampak seorang penunggang kuda mengenakan baju rompi putih dan berwajah tampan, melompat cepat turun dari punggung kudanya. Tubuhnya tegap berotot, menyiratkan keperkasaannya.

Sementara seorang lagi adalah wanita cantik. Bajunya biru muda, diimbangi oleh bentuk tubuhnya yang ramping. Dia bergegas mengikuti, memburu laki-laki tua yang tergeletak di tanah dalam keadaan terluka cukup parah.

“Paman Legiwa...,” desis gadis berbaju biru, mengenali laki-laki tua itu.

“Cepat cari air, Pandan,” perintah pemuda berbaju rompi putih.

Gadis berbaju biru yang ternyata memang Pandan Wangi, bergegas meninggalkan tempat itu untuk mencari air yang diminta pemuda tampan berbaju rompi pulih itu. Pemuda itu tak lain Rangga yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti. Dipindahkannya Paman Legiwa ke tempat yang agak nyaman, dan dibaringkannya perlahan-lahan sekali. Sebentar diperiksanya tubuh Paman Legiwa. Pada saat itu, Pandan Wangi sudah kembali lagi.

“Mana airnya?” tanya Rangga langsung.

“Tidak ada,” sahut Pandan Wangi seraya mengangkat bahunya.

Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Hutan ini memang subur, tapi di sekitarnya tidak ada sungai satu pun. Sementara Pandan Wangi berdiri saja di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Matanya memandangi laki-laki tua yang pernah bertemu dengannya tidak jauh dari tempat ini, dan masih di lereng gunung ini juga.

“Luka dalamnya cukup parah. Beberapa tulang iganya patah. Aku tidak mungkin bisa menolongnya, Pandan,” jelas Rangga seraya berpaling memandangi Pandan Wangi.

“Aku kenal seorang tabib di sini,” Pandan Wangi memberi harapan.

“Jauh?” tanya Rangga.

“Setengah hari berkuda. Itu pun kalau tidak ada halangan,” jawab Pandan Wangi.

“Percuma saja, Pandan Wangi. Belum sampai ke tempat tabib itu, dia pasti sudah tidak tertolong lagi. Kau lihat, mulutnya terus mengeluarkan darah.”

“Hentikan saja jalan darahnya, Kakang,” usul Pandan Wangi.

“Tidak ada gunanya, Pandan. Orang yang melakukan pukulan memiliki tenaga dalam tinggi. Apalagi arah pukulannya sempurna sekali, sehingga seluruh aliran jalan darahnya terbuka lebar. Kalau kututup dengan totokan, pernapasannya juga akan tersumbat, itu berarti mempercepat kematiannya.”

“Tapi kita harus coba menolongnya, Kakang,” desak Pandan Wangi.

Rangga terdiam beberapa saat, kemudian membalikkan tubuh laki-laki tua itu hingga menelungkup. Jari-jari tangan Pendekar Rajawali Sakti itu kemudian menekan-nekan punggung Paman Legiwa yang tidak sadarkan diri.

“Mungkin dengan cara ini masih bisa tertolong,” ujar Rangga agak mendesah.

“Apa yang kau lakukan tadi, Kakang?” tanya Pandan Wangi ingin tahu.

“Memperlambat aliran darah dan mengurangi rasa sakitnya. Tapi itu hanya untuk sementara saja. Mungkin sampai setengah hari,” jelas Rangga.

“Sudah cukup, Kakang. Ayo kita segera berangkat...!” seru Pandan Wangi cepat.

Gadis itu bergegas menghampiri kudanya, lalu melompat naik. Sebentar kemudian, dituntunnya kuda Pendekar Rajawali Sakti. Saat itu Rangga sudah memondong tubuh Paman Legiwa, dan langsung melompat naik ke punggung kudanya. Kemudian dengan cepat kuda hitamnya digebah.

“Hiyaaa!”

“Hiyaaa...!”

Seketika itu juga kedua ekor kuda itu berlari cepat menuju timur. Rangga sengaja berada di belakang Pandan Wangi yang mengetahui tempat tabib yang dimaksudkan. Mereka harus bergerak cepat agar laki-laki tua ini bisa tertolong. Sehingga kedua pendekar muda itu memacu cepat kudanya, tidak mempedulikan kalau jalan yang dilalui sangat lebat oleh pepohonan dan semak belukar. Mereka terus menggebah cepat kudanya.

********************

Rangga duduk mencangkung di sebuah balai-balai bambu, di beranda depan sebuah pondok kecil. Seluruh dindingnya terbuat dari anyaman bambu, dan atapnya dari daun-daun rumbia yang dirangkai rapat. Sementara di depan pondok itu terlihat Pandan Wangi tengah bermain-main bersama seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun. Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti itu menjulurkan kepalanya ke arah pintu pondok yang tertutup rapat.

Pemuda berbaju rompi putih itu bangkit berdiri ketika pintu pondok terbuka. Dari dalam muncul seorang laki­laki tua mengenakan jubah lusuh yang warnanya sudah memudar. Seluruh rambutnya sudah memutih semua. Janggutnya yang putih, terjuntai panjang sampai melewati lehernya.

“Bagaimana, Ki...?” tanya Rangga langsung.

“Keadaannya parah sekali. Hhh...! Untung belum terlambat dibawa ke sini,” sahut laki-laki tua itu.

Dari Pandan Wangi, Rangga tahu kalau laki-laki tua ini bernama Ki Raksapati. Dia seorang tabib yang sangat pandai, di samping seorang pertapa yang berilmu tinggi sekali. Laki-laki tua itu menghenyakkan tubuhnya di balai­-balai bambu yang tadi diduduki Rangga. Sementara Pendekar Rajawali Sakti itu pun duduk kembali di samping Ki Raksapati.

“Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Anak Muda,” ungkap Ki Raksapati dengan suara agak berat

“Apa, Ki?”

“Tahukah kau, siapa yang melukainya?” tanya Ki Raksapati dengan tatapan agak tajam, tertuju langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti yang berada di sampingnya.

“Kami menemukannya sudah demikian, Ki,” sahut Rangga.

“Hm.... Terlalu berani kalau dia sampai berurusan dengan Dewi Asmara Maut...,” suara Ki Raksapati seperti bergumam.

“Dewi Asmara Maut...? Siapa dia, Ki?” tanya Rangga.

Ki Raksapati belum menjawab, namun Pandan Wangi sudah datang menghampiri sambil menggendong bocah perempuan yang tadi bermain-main dengannya. Anak kecil itu langsung berpindah ke pangkuan Ki Raksapati. Kelihatannya dia begitu manja sekali. Sementara Rangga memberikan senyuman padanya.

“Bagaimana keadaannya, Kakang? Apa masih bisa disembuhkan?” tanya Pandan Wangi seraya duduk di samping Rangga.

“Mudah-mudahan,” sahut Rangga, langsung menoleh ke arah Pandan Wangi.

“Kemungkinan untuk sembuh memang ada. Tapi, aku tidak bisa menjamin akan pulih seperti semula,” Ki Raksapati mengakui secara jujur.

“Maksudmu?” Pandan Wangi ingin memastikan.

“Ada kemungkinan dia lumpuh, atau kehilangan kekuatannya sama sekali,” sahut Ki Raksapati.

“Begitu parah...?!” Pandan Wangi terkejut.

“Ya...! Itulah akibat pukulan ‘Tarian Bunga Berbisa’. Memang tidak langsung mematikan, tapi akibatnya sangat menyakitkan,” jelas Ki Raksapati.

Pandan Wangi memandang laki-laki tua itu dalam­dalam, kemudian beralih pada Rangga yang berada di sampingnya. Sedangkan yang dipandang hanya diam saja. Kembali si Kipas Maut itu menatap Ki Raksapati.

“Siapa yang melakukan itu, Ki?” tanya Pandan Wangi ingin tahu.

“Jurus ‘Tarian Bunga Berbisa’ hanya dimiliki Dewi Asmara Maut. Tapi aku tidak yakin kalau perempuan itu berkeliaran sampai ke daerah ini,” sahut Ki Raksapati, agak ragu-ragu nada suaranya.

Kembali Pandan Wangi menatap Rangga. Dia tahu kalau Pendekar Rajawali Sakti membutuhkan suasana tenang dan damai. Tapi tampaknya kali ini tidak ada kesempatan lagi untuk menikmati ketenangan yang diinginkannya. Pandan Wangi kasihan juga melihat kekasihnya yang tampaknya lelah sekali. Hampir setiap hari Pendekar Rajawali Sakti itu harus bergelut dengan segala macam kekerasan dan bergelimang darah. Dan itu memang sudah risiko seorang pendekar.

Memang, bagaimanapun digdayanya seorang pendekar, tetap saja tidak bisa melupakan kodratnya sebagai manusia biasa. Yang pasti, dirinya akan mengalami kelelahan dan kejenuhan. Dan ini bisa hilang dengan beristirahat dalam satu atau dua hari. Hanya saja, memang tidak mudah bagi seorang pendekar seperti Rangga untuk bisa tetap diam begitu saja, sementara satu persoalan menghadang di depannya.

“Pesanku pada kalian, jika ingin berhadapan dengan Dewi Asmara Maut, berhati-hatilah. Perempuan itu sangat licik. Terutama untukmu, Rangga. Kegemarannya pada anak-anak muda yang tampan dan gagah sangat besar. Yang pasti, korbannya tidak akan dilepaskan begitu saja dari cengkeramannya,” jelas Ki Raksapati.

“Pasti perempuan genit itu...,” desis Pandan Wangi langsung bisa menangkap kata-kata Ki Raksapati.

“Ah! Apakah kalian sudah pernah bertemu?” tanya Ki Raksapati agak terkejut mendengar desisan Pandan Wangi.

“Kalau yang kau maksudkan perempuan cantik berbaju merah muda, kami memang pernah bentrok. Aku benci melihat tingkahnya yang genit,” nada suara Pandan Wangi terdengar sengit. Gadis itu sempat melirik Pendekar Rajawali Sakti yang hanya diam saja mendengarkan.

“Ah...., sangat berbahaya bagi kalian. Terutama untukmu, Rangga. Mungkin kalian masih beruntung bisa terlepas darinya. Tapi aku yakin, itu hanya sementara saja. Yang jelas, dia pasti akan mencari kalian berdua,” kata Ki Raksapati agak mendesah.

“Itu lebih baik, Ki. Biar kubuat rusak wajahnya. Sembarangan saja mau...,” Pandan Wangi tidak melanjutkan.

Hampir saja si Kipas Maut itu membongkar sendiri hubungannya dengan Rangga. Untung dia masih bisa mengekang diri. Bahkan Rangga sudah mendelik pada gadis itu. Dan pada saat mereka tengah terdiam, mendadak saja dikejutkan oleh suara tawa mengikik yang menggema.

“Hik hik hik....”

Rangga dan Pandan Wangi langsung melompat keluar dari beranda depan pondok kecil itu. Gerakan mereka sungguh cepat dan ringan, dan tahu-tahu sudah berada di tengah-tengah halaman pondok. Suara tawa mengikik itu masih juga terdengar menggema, seakan-akan datang dari segala penjuru mata angin. Sementara Ki Raksapati tetap duduk di tempatnya sambil memeluk anak perempuan kecil yang ketakutan mendengar suara tawa itu.

“Hei, Pengecut...! Keluar kau...!” bentak Pandan Wangi lantang.

Bentakan si Kipas Maut itu seketika menghentikan tawa mengikik itu. Dan tiba-tiba saja sebuah bayangan merah muda berkelebat cepat ke arah kedua pendekar muda itu. Dan kini di depan mereka sudah berdiri seorang wanita cantik mengenakan baju agak ketat berwarna merah muda. Usianya memang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi. Namun wajah dan bentuk tubuhnya benar-benar membuat mata laki-laki tidak berkedip memandangnya.

“Sulit sekali mencarimu, Bocah Bagus,” ujar wanita itu seraya mengerling genit pada Rangga.

“Kakang Rangga tidak akan melayanimu, Perempuan Jalang!” sentak Pandan Wangi ketus.

“Ow...! Rupanya adik manis ini masih galak juga...,” wanita itu benar-benar meremehkan Pandan Wangi.

“Setan. Aku bukan anak kecil lagi!” bentak Pandan Wangi langsung meluap amarahnya.

“Sabar, Pandan...,” Rangga mencoba menyabarkan si Kipas Maut itu.

“Huh!” dengus Pandan Wangi.

Rangga melangkah maju dua tindak mendekati wanita berbaju merah muda dan cantik itu. Sementara, wanita itu semakin kelihatan genit saat Rangga memberi senyuman padanya. Hal ini membuat Pandan Wangi semakin geram saja. Meskipun gadis itu sangat percaya kalau Rangga seorang laki-laki yang tidak mudah terpikat, tapi Dewi Asmara Maut cantik sekali. Laki-laki mana pun pasti akan terpikat padanya. Dan Pendekar Rajawali Sakti juga manusia biasa, yang tidak mungkin luput dari nafsu kelaki-lakiannya.

“Kaukah yang berjuluk Dewi Asmara Maut?” tanya Rangga dengan suara lembut.

“Ah..., rupanya kau bisa cepat mengetahui tentang diriku, Bocah Bagus,” sahut wanita itu diiringi senyuman menawan dan kerlingan mata menggoda.

“Tentu saja. Siapa pun akan mencari kabar tentang wanita cantik yang pernah dijumpainya,” kata Rangga lagi.

“Kakang...!” sentak Pandan Wangi terkejut mendengar kata-kata Pendekar Rajawali Sakti.

“Gadismu marah lagi tuh.”

“Biarkan saja,” sahut Rangga.

“Keparat..!” geram Pandan Wangi langsung memuncak amarahnya.

Si Kipas Maut itu tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya. Sambil berteriak keras, gadis itu menerjang wanita cantik berbaju merah muda yang tak lain Dewi Asmara Maut. Senjata andalannya yang berupa sebuah kipas baja putih, langsung dicabut.

“Hiyaaa...!”

Bet!

Tiba-tiba Rangga mengebutkan tangannya, dan langsung menyambar perut Pandan Wangi. Kibasan itu membuat Pandan Wangi begitu terkejut, dan tidak bisa lagi mengelak

“Akh...!” Pandan Wangi terpekik agak tertahan. Gadis itu terpental balik ke belakang. Namun setelah melakukan putaran dua kali, kakinya mendarat manis sekali di tanah. Pandan Wangi menatap Rangga dengan sinar mata tidak percaya. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti sudah berdiri di samping Dewi Asmara Maut.

“Kakang.., kau...,” tercekat suara Pandan Wangi.

Benar-benar tidak bisa dipercayai, apa yang dilakukan Rangga padanya tadi. Pendekar Rajawali Sakti itu telah berubah dalam waktu singkat! Dan kini... Pandan Wangi jadi gusar, marah, dan tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Jelas sekali kalau Rangga benar-benar menyukai wanita itu. Bahkan membiarkan wanita cantik itu melingkarkan tangan ke pinggangnya. Rangga dipeluk manja. Wanita itu benar-benar menunjukkan kemesraan secara liar.

“Setan...!” desis Pandan Wangi menggeram. Ledakan api cemburunya seketika bergolak dalam dada. Hatinya marah, cemburu, kesal, juga tidak percaya. Yang jelas, berbagai macam perasaan berkecamuk dalam dadanya. Napasnya tersengal, wajahnya memerah bagai besi terbakar. Pandan Wangi tak mampu lagi menahan diri. Kembali dia melompat cepat penuh kemarahan menggelegak dalam dada.

“Hiyaaat..!”

Bet! Bet!

Pandan Wangi langsung memberi serangan beruntun dengan kebutan kipas ke arah Dewi Asmara Maut. Namun manis sekali, wanita cantik berbaju merah muda itu menghindari setiap serangan yang datang secara beruntun. Bahkan licik sekali, menjadikan Rangga sebagai tameng untuk dirinya. Maka beberapa kali Pandan Wangi terpaksa menarik cepat serangannya, karena tidak ingin melukai Pendekar Rajawali Sakti.

Yang membuat si Kipas Maut ini keheranan, Rangga sama sekali tidak bertindak apa-apa. Bahkan hanya diam saja dijadikan benteng hidup oleh Dewi Asmara Maut. Hal ini membuat Pandan Wangi jadi semakin geram. Timbul niatnya untuk menyerang Rangga Namun....

“Hentikan, Pandan....”

“Heh...?!” bukan main terkejutnya Pandan Wangi, sampai-sampai langsung melompat mundur beberapa tindak.

Suara itu jelas sekali terdengar di telinganya. Dan suara itu dikenalinya betul. Jelas itu adalah suara Rangga. Tapi, sama sekali tidak terlihat Rangga berbicara tadi

“Jangan berhenti, Pandan. Terus serang aku,” kembali terdengar bisikan halus di telinga Pandan Wangi.

Tentu saja gadis itu kebingungan. Tapi begitu Rangga mengerdipkan matanya, Pandan Wangi hampir tertawa dibuatnya. Namun, dirinya masih bisa dikendalikan. Dan dengan cepat, si Kipas Maut melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Kini Pandan Wangi bisa mengetahui, kalau sikap Rangga yang demikian ternyata tidaklah bersungguh-sungguh. Meskipun tidak mengetahui rencana sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti itu, tapi kerdipan mata tadi sudah memberikan suatu isyarat yang sekaligus membuat hati gadis itu jadi tenang.

“Hiya! Hiyaaa...!” Pandan Wangi terus menyerang Pendekar Rajawali Sakti, dan menganggapnya sebagai latihan saja. Meskipun menyerang sungguh-sungguh, tapi gadis itu yakin kalau tidak akan mungkin mampu mengalahkan Pendekar Rajawali Sakti. Untuk membuatnya terdesak saja, tidak akan bisa dilakukan. Menyadari hal ini, gadis itu tidak tanggung-tanggung lagi memberi serangan. Tentu saja kejadian ini membuat Dewi Asmara Maut tertawa kesenangan. Itu berarti tidak perlu lagi bersusah-payah memisahkan Rangga dari gadis itu.

“Biarkan aku pergi, Pandan. Percayalah! Aku tetap mencintaimu,” kembali Pandan Wangi mendengar bisikan halus.

Sambil terus menyerang, si Kipas Maut menganggukkan kepalanya. Dan ini dilakukan dalam waktu yang tepat, sehingga tidak terlihat sama sekali.

“Bagus. Sekarang, biarkan aku memukulmu. Kau boleh mengikutiku nanti. Jangan khawatir, aku akan menunjukkan jalan padamu,” kembali Pandan Wangi mendengar bisikan halus.

Dan sebelum gadis itu menyetujui, mendadak saja Rangga sudah memberi satu pukulan ke dada gadis itu. Tentu saja Pandan Wangi terkejut, tapi tidak bisa berkelit lagi. Dan memang, pukulan itu telak menghantam dadanya. Namun Pandan Wangi jadi terkejut bukan main. Ternyata dia tidak merasakan apa-apa setelah terkena pukulan, meskipun tubuhnya terpental deras ke belakang.

Pandan Wangi jatuh bergulingan di tanah beberapa kali, dan langsung diam menggeletak tak bergerak-gerak lagi. Sementara Dewi Asmara Maut tertawa terbahak-bahak kesenangan. Dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak dan memberi senyuman manis pada wanita itu.

“Ayo, Bocah Bagus. Kita tinggalkan tempat ini,” ajak Dewi Asmara Maut.

Rangga kembali tersenyum dan mengangguk. Mereka kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. Sementara Ki Raksapati bergegas menghampiri Pandan Wangi yang tergeletak di tanah. Saat itu Rangga dan Dewi Asmara Maut sudah jauh masuk ke dalam hutan. Mereka berjalan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga sebentar saja sudah tidak terlihat bayangannya.

“Pandan...,” agak tersedak suara Ki Raksapati.

“Aku tidak apa-apa, Ki,” jelas Pandan Wangi seraya membuka matanya.

“Oh..!” Ki Raksapati mendesah lega.

Pandan Wangi bangkit berdiri. Debu yang melekat di bajunya dikibaskan. Gadis itu menyelipkan kembali kipas andalannya ke balik ikat pinggang. Sementara Ki Raksapati memandangi, namun sinar matanya penuh diliputi berbagai macam tanda tanya atas kejadian yang baru saja disaksikannya.

“Kau benar tidak apa-apa, Pandan...?” tanya Ki Raksapati.

“Tidak. Tadi Kakang Rangga hanya berpura-pura saja. Pukulannya tidak terasa apa-apa, kok,” sahut Pandan Wangi seraya tersenyum.

“Tapi...,” Ki Raksapati tidak melanjutkan, lalu matanya memandang ke arah kepergian Rangga dan Dewi Asmara Maut tadi.

“Aku pergi dulu, Ki...,” pamit Pandan Wangi yang saat itu mendengar bisikan halus di telinganya.

Dan sebelum Ki Raksapati bisa menjawab, gadis itu sudah melesat cepat bagai kilat. Kini tinggal laki-laki tua itu yang terbengong tidak mengerti. Kepalanya digeleng­gelengkan sambil menghembuskan napas panjang.

“Hhh..., anak-anak muda sekarang....”

********************

ENAM

Rangga duduk di tepi pembaringan besar di dalam sebuah ruangan yang cukup luas dan tertata indah. Seluruh dindingnya dari belahan papan tebal berwarna coklat muda agak kemerahan, persis seperti buah mahoni. Sedangkan lantainya beralaskan permadani tebal yang warnanya sama dengan dinding. Ruangan ini seperti kamar seorang putri bangsawan.

Pendekar Rajawali Sakti itu tidak menyangka kalau di Puncak Gunung Jangkar ini ada sebuah bangunan megah seperti istana. Dan sekarang dirinya berada dalam salah satu ruangan bangunan itu. Juga tidak dimengerti, mengapa Dewi Asmara Maut membawanya ke bangunan yang katanya sebagai istananya ini. Hanya satu yang membuat Pendekar Rajawali Sakti itu merasa heran, sejak berada di tempat ini, tidak satu pun terlihat ada orang lain di sekitar bangunan yang cukup besar dan megah ini.

“Kakang....” Rangga tersentak ketika mendengar suara halus dari arah jendela yang tertutup rapat. Bergegas dia bangkit dari pembaringan itu, kemudian menghampiri jendela. Perlahan dan hati-hati Pendekar Rajawali Sakti itu membuka jendela kamar ini. Begitu terbuka, menyembul seraut wajah cantik.

“Pandan.... Bagaimana kau bisa tahu aku ada di kamar ini?” tanya Rangga.

“Nanti aku jelaskan. Cepat keluar dari sini,” sahut Pandan Wangi yang berada di luar jendela.

Rangga bergegas melompat ke luar. Gerakannya ringan sekali, sehingga tak terdengar suara sedikit pun saat kakinya menjejak tanah berumput. Pandan Wangi bergegas menutup kembali jendela itu, kemudian menarik tangan Rangga dan membawanya pergi menjauh. Mereka berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh.

Sepasang pendekar itu baru berhenti setelah cukup jauh dari bangunan besar dan megah itu. Rangga memutar tubuhnya, memandang ke arah bangunan besar bagai istana yang masih terlihat jelas, meskipun jaraknya sudah begitu jauh. Sedangkan Pandan Wangi berdiri di sampingnya.

“Seharusnya kau tidak datang secepat ini, Pandan,” ungkap Rangga.

“Mengapa? Menyesal...?” agak ketus suara Pandan Wangi

“Aku belum sempat melakukan apa-apa.”

“Jangan harap aku membiarkanmu bercumbu dengan perempuan itu!”dengus Pandan Wangi.

Rangga menghembuskan napas panjang. Memang sukar jika menyelesaikan satu persoalan yang dicampur perasaan cemburu. Jelas sekali kalau Pandan Wangi cemburu pada Dewi Asmara Maut. Dan ini ditunjukkannya secara jelas, tanpa ditutup-tutupi. Tapi Rangga bisa memaklumi. Memang, Dewi Asmara Maut sangat cantik, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Lekuk-lekuk tubuhnya sungguh menggairahkan. Rangga sendiri mengakui kalau wanita itu memang cantik dan menggairahkan sekali.

Tapi, ada sesuatu yang selalu menjadi pegangan kuat Pendekar Rajawali Sakti itu. Dia tidak bisa bermain cinta dengan wanita mana pun juga. Terlebih lagi sampai melangkah jauh. Belum sampai perbuatan kotor itu terjadi, pasti sudah diperingatkan oleh Rajawali Putih yang selalu mengawasi, meskipun dari tempat yang sangat jauh.

“Ada berapa orang di dalam sana, Kakang?” tanya Pandan Wangi.

“Tidak ada siapa-siapa,” sahut Rangga.

“Kau tidak melihat seorang pun di sana?” Pandan Wangi tidak percaya.

Rangga hanya menggelengkan kepalanya saja, seraya menatap gadis itu dalam-dalam. Tatapan itu seakan-akan hendak meyakinkan kalau memang tidak ada seorang pun di dalam bangunan berbentuk istana itu. Tapi rupanya Pandan Wangi tidak juga mau percaya.

“Lalu, apa kau juga melihat orang lain di sana, Pandan?” tanya Rangga.

“Ya, seorang gadis,” sahut Pandan Wangi.

“Siapa?”

“Mana aku tahu...,” sahut Pandan Wangi seraya mengangkat pundaknya.

Kembali mereka terdiam dengan pandangan lurus ke arah bangunan itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran masing-masing. Dan tampaknya perhatian Rangga mulai tertumpah pada masalah ini. Bahkan keinginannya untuk bisa menikmati ketenangan dalam satu atau dua hari saja seperti terlupakan.

“Mungkin sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini, Pandan,” ajak Rangga tiba-tiba.

“Heh...?!” Pandan Wangi tersentak kaget.

“Rasanya tidak ada gunanya berada di tempat ini. Kita tidak tahu, untuk apa dan ada urusan apa berada di sini,” kata Rangga lagi.

“Kau ini aneh, Kakang. Apakah kau sudah lupa perkataan Ki Raksapati...? Selama perempuan itu masih hidup, akan semakin banyak korban yang jatuh. Bisa-bisa semua anak muda di dunia ini habis olehnya,” tegas Pandan Wangi.

“Kau ingin membunuhnya?” tanya Rangga.

“Harus,” sahut Pandan Wangi mantap.

“Dengan alasan apa?”

Kali ini Pandan Wangi tidak menjawab. Memang mereka berdua tidak ada persoalan apa-apa terhadap Dewi Asmara Maut. Maka, tidak ada alasan untuk membunuh wanita itu. Kalau toh hanya karena persoalan cemburu, rasanya riskan sekali. Dan itu tidak perlu sampai terjadi pertumpahan darah.

“Merunduk, Pandan...!” desis Rangga tiba-tiba.

Pandan Wangi segera merundukkan kepalanya ketika melihat Dewi Asmara Maut keluar dari bangunan istana itu. Meskipun jarak mereka terlalu jauh, tapi bisa melihat jelas. Memang, puncak gunung ini merupakan padang rumput luas, sehingga bisa memandang jauh ke segala arah secara leluasa.

Jelas sekali kalau wanita berbaju merah muda itu sedang mencari sesuatu. Dan sudah bisa ditebak kalau Rangga lah yang dicari, karena kabur dari kamarnya. Dewi Asmara Maut tampak kesal. Tak lama kemudian, dari dalam bangunan itu keluar seorang gadis berbaju kuning, diikuti seorang laki-laki tua berjubah hitam. Pada tangan kanannya terdapat sebatang tongkat yang bagian ujungnya berbentuk kepala seekor musang.

Tak lama kemudian, dari dalam bangunan itu bermunculan orang-orang berpakaian segala bentuk, corak, dan warna. Melihat dari penampilan dan senjata yang tersandang, jelas kalau mereka semua dari rimba persilatan.

“Heran..., dari mana mereka berdatangan...?” gumam Pandan Wangi seperti bertanya pada dirinya sendiri.

Entah apa yang mereka bicarakan, terlalu jauh untuk bisa didengar. Bisa saja Rangga mempergunakan Ilmu ‘Pembeda Gerak dan Suara’. Tapi dikhawatirkan getarannya akan tertangkap. Bisa-bisa malah menimbulkan kesulitan. Pendekar Rajawali Sakti yakin kalau mereka rata-rata memiliki kepandaian tinggi. Hal ini bisa terlihat dari sorot mata dan penampilannya.

“Ayo, Pandan. Kita pergi,” ajak Rangga ketika orang-orang itu kembali masuk ke dalam bangunan megah bagai istana.

“Tunggu dulu,Kakang,”cegah PandanWangi.

“Ada apa lagi?”

“Aku jadi ingin tahu, apa yang mereka kerjakan di sini,” sahut Pandan Wangi.

“Jangan edan-edanan, Pandan...!” sentak Rangga dengan suara pelan.

Pandan Wangi tidak menanggapi. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti hanya bisa mendesah dan menggelengkan kepalanya saja. Memang sudah menjadi watak Pandan Wangi yang selalu saja ingin tahu, setiap kali tertarik pada suatu kejadian. Dan kali ini Rangga benar-benar khawatir jika rasa keingintahuan kekasihnya itu begitu menggebu. Sudah bisa diduga kalau orang-orang yang berada di dalam bangunan istana itu berasal dari rimba persilatan golongan hitam. Tentang apa yang mereka lakukan di sana, sebenarnya bukan urusannya. Tapi....

“Heh! Pandan...!”

Rangga tersentak ketika tiba-tiba Pandan Wangi melesat cepat mendekati bangunan besar dan megah itu. Namun gadis itu sudah tidak bisa dicegah lagi, karena sudah berlari jauh dan semakin mendekati bangunan megah itu. Rangga tak punya pilihan lain lagi. Maka dia cepat melompat dan berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh.

Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti. Tidak heran kalau sebelum Pandan Wangi mencapai bangunan istana itu, dia sudah berhasil mengejarnya. Rangga mengurangi kecepatan larinya, dan mensejajarkan diri di samping gadis itu.

“Kau gila, Pandan!” sentak Rangga.

Pandan Wangi hanya diam saja, tidak mempedulikan gerutuan pemuda berbaju rompi putih itu. Gadis itu terus berlari, dan melompat cepat bagai kilat begitu dekat bangunan itu. Dan kini, tahu-tahu si Kipas Maut itu sudah merapat di dinding. Secepat kilat, Rangga mengikuti. Hanya sekali lesatan saja, Pendekar Rajawali Sakti itu sudah berada di samping Pandan Wangi. Mereka merapatkan punggung ke dinding yang agak terlindung oleh tanaman rambat.

“Tunggulah aku di sini, Kakang,” pinta Panda Wangi.

“Mau ke mana?” tanya Rangga berbisik.

“Aku akan menyelidiki ke dalam.”

Rangga tidak sempat lagi mencegah, karena tubuh Pandan Wangi sudah melenting ke atas. Dan dengan ringan sekali, gadis itu hinggap di atap bangunan ini. Sementara Rangga hanya bisa memandangi sambil menarik napas dalam-dalam. Dan sebelum bisa berbuat sesuatu, Pandan Wangi sudah menghilang entah ke mana. Pendekar Rajawali Sakti itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

“Nekat..!” dengus Rangga dalam hati. Kembali Pendekar Rajawali Sakti itu memandang ke atap, tapi tidak lagi melihat Pandan Wangi lagi di sana. Pandangannya kini tertumbuk pada sebuah jendela. Di balik jendela itulah dirinya pernah berada, di sebuah kamar indah dan tertata apik.

“Apa yang harus kulakukan sekarang...?” Rangga bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu terdiam berpikir keras, kemudian melompat cepat dan ringan sekali mendekati jendela kamar itu. Sebentar telinganya ditempelkan ke daun jendela itu, lalu mendadak saja dia tersentak. Seketika wajahnya jadi berubah pucat, lalu kembali berubah memerah.

“Laknat..!” desis Rangga dalam hati. Pendekar Rajawali Sakti itu mendongak, lalu tubuhnya melenting ke atas. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, pemuda berbaju rompi putih itu hinggap di atap, tepat di atas kamar itu. Pelahan Rangga membuka atap yang terbuat dari belahan kayu yang dihaluskan. Hanya sedikit, tapi cukup untuk melihat ke dalam kamar itu.

Seketika dadanya berdebar keras. Bahkan seluruh aliran darahnya seperti berhenti mengalir, saat menyaksikan dua manusia berlainan jenis tengah berpacu dalam gelombang lautan birahi di atas ranjang. Desah napas dan rintihan lirih tertahan terdengar jelas menguak telinga. Rangga yang tak sanggup lagi menyaksikan adegan itu segera melompat menjauhi atap kamar. Sekali lesatan saja, Pendekar Rajawali Sakti itu sudah berada di bagian atap lain, di dekat cerobong asap.

“Hm...,” gumam Rangga pelahan. Tapi belum juga niatnya untuk masuk melalui cerobong asap terlaksana, entah dari mana mendadak saja pundaknya terasa ditepuk dari belakang. Dan belum juga kepala Pendekar Rajawali Sakti bisa menoleh, seketika satu hantaman keras mendarat di punggungnya. Rangga sadar betul kalau hatinya diliputi ketegangan, sehingga tak menyadari adanya bahaya.

Deghk!

“Akh...!” Rangga memekik tertahan. Pendekar Rajawali Sakti itu jatuh tersungkur, dan bergulingan di atap yang miring. Namun dia cepat melesat bangkit berdiri. Dan pada saat itu, sebuah bayangan hitam berkelebat cepat menerjang ke arahnya.

Slap!

“Uts...!” Rangga cepat memiringkan tubuhnya ke kanan, maka bayangan itu lewat sedikit di sampingnya. Seketika Rangga mengibaskan tangannya menyampok bayangan hitam itu. Namun tanpa diduga sama sekali, bayangan hitam itu mampu menghindar dengan manis sekali. Bahkan cepat berputar, dan kembali menyerang.

“Yeaaah...!” Tak ada pilihan lain bagi Pendekar Rajawali Sakti kecuali menghentakkan cepat kedua tangan ke depan sambil memutar tubuhnya menghadap bayangan hitam itu. Tak pelak lagi, tangan mereka berbenturan keras.

“Akh...!” Terdengar jeritan keras, tepat saat bayangan hitam itu terpental. Sedangkan Rangga sendiri sempat terdorong sekitar tiga langkah ke belakang. Seketika Pendekar Rajawali Sakti cepat melompat mengejar bayangan hitam itu, sebelum jatuh terguling ke tanah.

“Yeaaah...!”

Degkh! Kembali terdengar jeritan keras melengking tinggi begitu pukulan yang dilontarkan Pendekar Rajawali Sakti menghantam bayangan hitam itu. Deras sekali sosok tubuh berbaju hitam itu terpental jatuh ke tanah. Hanya sebentar tubuhnya mampu menggeliat, kemudian diam tak berkutik lagi.

Sementara Rangga berdiri tegak di pinggir atap. Pandangannya lurus pada sosok tubuh berbaju hitam yang tergeletak tak bernyawa di atas tanah berumput. Dari mulut, hidung, dan telinga orang itu mengucurkan darah. Tampak dadanya melesak ke dalam dengan tulang-tulang hancur terhantam pukulan Pendekar Rajawali Sakti yang mengandung pengerahan tenaga dalam sempurna tadi.

Pertarungan yang singkat itu rupanya membuat keributan juga. Dan sebelum Rangga bisa melakukan sesuatu, tampak dari dalam bangunan besar ini bermunculan orang-orang rimba persilatan. Mereka tampak terkejut begitu melihat sosok tubuh berbaju hitam tergeletak di dekat jendela.

“Itu dia di atas...!” Seorang laki-laki bertubuh tegap mengenakan pakaian kulit binatang menunjuk ke atap bangunan besar bagai istana ini. Maka sekitar delapan orang yang ada di situ seketika menengadahkan kepalanya ke arah Pendekar Rajawali Sakti yang masih berdiri di sana.

“Sial...!” dengus Rangga. Tidak ada kesempatan lagi bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk menghindar, karena delapan orang itu sudah berlompatan ke atap bangunan ini. Gerakan mereka yang ringan dan cepat, sudah menandakan kalau rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi.

“Hup!” Rangga bergegas melompat mundur beberapa tindak. Saat itu delapan orang rimba persilatan itu sudah berada di atas atap dan langsung bergerak mengepung. Seketika senjata mereka dimain-mainkan lincah sekali. Deru angin terdengar dari delapan penjuru. Perlahan-lahan Rangga memutar tubuh mengamati delapan orang yang sudah mengepungnya.

“Hhh! Terpaksa...!” desah Rangga berat di dalam hati. Memang Rangga tidak punya pilihan lain lagi selain menghadapi delapan orang ini. Padahal mereka tidak pernah saling bertemu, apalagi mengenal. Tapi tampaknya kedelapan orang ini tidak bersahabat. Buktinya sebelum Rangga sempat membuka mulut untuk bertanya, dua orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya sudah berlompatan menyerang.

“Hiyaaat..!”

“Yeaaah...!”

“Hap!” Kaki Rangga segera bergeser sedikit ke belakang, dan manis sekali tubuhnya diliukkan menghindari serangan dari dua arah itu. Namun sebelum tubuhnya sempat ditarik kembali, serangan berikut datang dari depan. Bahkan disusul dari arah belakang. Rangga benar-benar tidak diberi kesempatan untuk bicara lagi. Sedangkan untuk menarik napas sebentar saja, rasanya sulit sekali. Delapan orang ini menyerang secara bergantian dan cepat sekali dari delapan arah.

Serangan yang dilakukan delapan orang ini sungguh cepat dan berbahaya. Setiap pukulan, tusukan, dan tebasan senjata mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Akibatnya Pendekar Rajawali Sakti kerepotan juga menghadapinya. Malah beberapa kali terpaksa mengumpat, karena hampir saja terkena pukulan atau tebasan senjata lawan-lawannya. Namun sampai sejauh ini Pendekar Rajawali Sakti itu masih bisa mengimbangi, meskipun tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang.

“Aaakh...!” Mendadak saja terdengar jeritan panjang melengking tinggi. Tampak seorang yang mengeroyok Pendekar Rajawali Sakti terjungkal dengan kepala hampir terpisah. Darah seketika muncrat keluar dari lubang yang menganga di leher. Bukan hanya tujuh orang saja yang terkejut. Bahkan Rangga pun tersentak kaget, karena tadi tidak merasa memberi serangan.

Dan sebelum keterkejutan mereka lenyap, mendadak seorang lagi menjerit keras dan langsung terjungkal deras turun dari atap ini. Pada saat itu, Rangga melihat sebuah bayangan putih berkelebat cepat. Dan tak lama kemudian, kembali terdengar dua jeritan panjang melengking tinggi. Dalam waktu sebentar saja, sudah empat orang terjungkal tak bernyawa lagi.

“Hiyaaa...!” Merasa ada kesempatan untuk bisa selamat dari keroyokan ini, maka cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti melesat. Tubuhnya berputaran cepat menghajar dua orang sekaligus yang berada di dekatnya. Saat itu Rangga mengerahkan jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’ pada tingkatan yang terakhir, sehingga kedua kepalan tangannya memerah membara bagai besi terbakar.

“Akh!”
“Aaa...!”

Dua kali jeritan menyayat terdengar saling susul. Kemudian disambung oleh pekikan-pekikan panjang melengking tinggi. Dalam waktu singkat saja, tinggal dua orang yang masih hidup. Dan tampaknya mereka sudah gentar melihat enam orang sudah tergeletak tak bernyawa lagi. Namun sebelum mereka mengambil tindakan, Rangga sudah memberi satu pukulan keras lewat jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’.

Pada saat yang sama, bayangan putih itu menerjang yang seorang lagi. Sesaat kemudian kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi dan menyayat. Dalam waktu yang hampir bersamaan, kedua orang itu terjungkal deras ke bawah. Keras sekali tubuh mereka terbanting ke tanah berumput halus. Hanya sebentar mereka mampu menggeliat, sesaat kemudian sudah diam tak bernyawa lagi.

Rangga memutar tubuhnya, tepat ketika bayangan putih itu mendarat tidak jauh dari tempat berdirinya. Kini di depan Rangga berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Bajunya berwarna putih agak ketat, sehingga membentuk tubuhnya yang tegap, padat, dan berotot.

“Maaf, aku terpaksa ikut campur,” ucap pemuda itu, sopan sekali.

“Terima kasih. Kau datang tepat pada waktunya,” ucap Rangga merendah.

Padahal, Pendekar Rajawali Sakti itu masih mampu menghadapi delapan orang itu sendirian. Hanya saja dia tidak ingin jumawa. Yang jelas, dengan adanya pemuda itu pekerjaannya semakin ringan, dan tidak perlu menguras tenaga terlalu banyak.

“Kalau boleh kutahu, siapakah Kisanak ini?” tanya Rangga, sopan dan lembut sekali.

“Aku Wikalpa, dan kau sendiri?” pemuda itu kini balik bertanya.

“Rangga,”sahut Rangga memperkenalkan namanya.

“Hm..., sepertinya aku pernah mendengar namamu. Jika kau pernah singgah di Kadipaten....”

“Ah..., ya! Benar sekali. Pasti kau Raden Wikalpa, putra tunggal Adipati Baka Witara,” potong Rangga cepat

Pemuda berbaju putih ketat itu hanya tersenyum saja. Dia memang putra tunggal Adipati Baka Witara. Semua orang di seluruh Kadipaten Watu Kambang selalu memanggilnya dengan sebutan raden. Suatu sebutan yang hanya diberikan untuk bangsawan atau orang berdarah biru. Dan sebutan itu biasanya berlaku untuk putra keluarga istana, atau putra pembesar dan bangsawan. Tapi sebenarnya Raden Wikalpa tidak menyukai sebutan itu. Anggapannya dengan adanya sebutan itu justru akan menimbulkan jurang pemisah saja. Namun dia tidak bisa melarang dan memberontak. Sebutan itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu hingga sekarang ini.

“Kudengar, kau menghilang dari istana kadipaten. Boleh aku tahu, kenapa kau berada di tempat ini?” tanya Rangga kembali.

“Cukup panjang ceritanya. Tapi yang jelas, sebagian besar rencanaku sudah berjalan mulus,” sahut Raden Wikalpa.

Rangga mengangkat bahunya sedikit. Dia tahu kalau Raden Wikalpa merasa keberatan atas pertanyaannya. Namun keberatan itu hanya ditunjukkan lewat sikap dan kata-kata yang halus sekali, sehingga tidak sampai menyinggung perasaan lawan bicaranya.

“Raden, sebaiknya kita menyingkir dulu dari sini,” ajak Rangga yang merasa tempat ini kurang cocok bagi mereka untuk saling membagi pengalaman selama ini.

“Baiklah. Ayo!”

********************

TUJUH

Rangga tercenung memandangi bangunan megah yang berada cukup jauh di hadapannya. Sementara Raden Wikalpa sendiri hanya diam saja setelah menceritakan kalau Dewi Lanjani sengaja dilepaskan. Memang, calon adipati ini ingin mengetahui maksud sebenarnya, mengapa Dewi Lanjani hendak membunuhnya. Kemudian pemuda itu terus membuntuti Dewi Lanjani sampai ke puncak gunung ini, tapi menemui jalan buntu. Memang tidak mudah untuk menyelidiki lebih jauh lagi. Apalagi untuk masuk ke dalam bangunan istana itu.

Bangunan itu memang dijaga ketat, meskipun kelihatannya tidak ada seorang pun yang menghuni bangunan megah itu. Dan ini sudah dibuktikan sendiri oleh Rangga tadi, yang mencoba masuk ke dalam sana. Belum juga keinginannya sempat terlaksana, serangan sudah keburu datang.

“Temanku ada di dalam sana,” jelas Rangga pelan seperti untuk dirinya sendiri.

“Sama. Calon ketua pengawalku juga ada di dalam sana,” sahut Raden Wikalpa.

Rangga menatap pemuda yang berdiri di sampingnya.

“Aku melihat seorang wanita membawa Jaka Kumbara, calon ketua pengawalku. Aku sendiri tidak tahu, mengapa dia sampai bisa tidak berdaya begitu,” jelas Raden Wikalpa.

Rangga masih terdiam. Bisa ditebak, kalau wanita yang dimaksudkan pemuda ini pasti Dewi Asmara Maut. Seorang wanita yang memiliki ilmu untuk melemahkan dan memperdaya laki. Gairah laki-laki akan bangkit tanpa disadarinya. Hal ini pernah terjadi pada Pendekar Rajawali Sakti itu, meskipun masih mampu melawannya.

Dan Rangga sempat berada di dalam istana itu, atas keinginannya sendiri untuk mengikuti Dewi Asmara Maut. Kalau memang Raden Wikalpa selalu mengamati bangunan megah itu, tentu juga melihat Rangga masuk ke dalam bangunan itu.

“Kau melihatku pernah masuk ke sana?” tanya Rangga ingin tahu.

“Ya! Tampaknya kau akrab sekali dengan wanita itu,” sahut Raden Wikalpa tanpa berpaling sedikit pun.

“Semula aku hanya ingin menyelidiki saja. Tapi belum sempat melakukan sesuatu, Pandan Wangi sudah keburu datang. Dan sekarang dia berada di dalam sana,” Rangga mencoba menjelaskan.

Tentu saja Pendekar Rajawali Sakti tidak mengatakan kalau di dalam kamar itu hampir saja ia terlena dan tidak sadar oleh rangsangan yang diberikan Dewi Asmara Maut. Untung saja ada seseorang yang memanggil wanita itu. Entah untuk keperluan apa. Yang jelas, gadis yang memanggil, baru diketahui Rangga setelah Raden Wikalpa menceritakan tentang dirinya.

Pada saat itu, dari dalam bangunan megah terlihat sebuah bayangan biru berkelebat cepat keluar. Rangga sedikit tersentak begitu mengetahui kalau bayangan yang berkelebat itu ternyata Pandan Wangi. Dan sebelum Pendekar Rajawali Sakti itu sempat bergerak untuk menjemput, mendadak saja dari dalam bangunan istana itu juga berkelebat sebuah bayangan lagi yang langsung menghadang Pandan Wangi.

“Celaka...!” desis Rangga begitu melihat Pandan Wangi sudah diserang seorang laki-laki tua, berjubah kuning gading.

Belum berapa lama mereka bertarung, dari dalam bangunan istana itu bermunculan orang-orang bersenjata beraneka ragam bentuknya. Mereka berlarian cepat ke arah pertarungan itu. Tentu saja Rangga tidak bisa lagi menahan diri ketika Pandan Wangi mulai dikeroyok tidak kurang dari sepuluh orang.

Bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti melesat ke arah halaman depan bangunan istana. Cukup jauh juga jarak antara Rangga dengan tempat itu. Dan setibanya di sana, pemuda berbaju rompi putih itu langsung masuk dalam arena pertarungan. Segera dikerahkannya jurus-jurus dari rangkaian lima jurus ‘Rajawali Sakti’ yang dahsyat dan sukar dicari tandingannya.

Kedatangan Pendekar Rajawali Sakti membuat Pandan Wangi semakin bersemangat lagi. Bahkan gadis itu menggunakan dua senjata sekaligus. Kipas Maut di tangan kiri, dan Pedang Naga Geni berada di tangan kanannya. Dengan kedua senjata maut itu, Pandan Wangi seperti sosok malaikat pencabut nyawa.

Sementara Rangga masih menggunakan tangan kosong. Namun begitu, seorang lawan pun tidak berhasil mendesaknya, karena jurus-jurus yang dimainkan Pendekar Rajawali Sakti itu sangat cepat dan dahsyat luar biasa.

“Modar...!” seru Rangga tiba-tiba. Bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti itu melentingkan tubuhnya ke udara, lalu meluruk deras mempergunakan Jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’. Kedua kakinya bergerak cepat mengarah kepada salah seorang pengeroyoknya. Serangan yang cepat dan dahsyat itu tak bisa dihindari lagi. Sehingga....

Prak!

“Aaa...!” Jeritan panjang melengking seketika terdengar menyayat. Tampak orang yang menggunakan senjata rantai, berputaran sambil meraung-raung memegangi kepalanya. Dan sebelum orang itu sempat menyadari apa yang terjadi, Rangga sudah memberi satu pukulan keras lewat jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’.

“Yeaaah...!”

Des!

“Aaa...!” Kembali terdengar jeritan melengking tinggi. Seketika orang itu terjungkal keras menghantam tanah setelah terlontar sejauh tiga batang tombak. Hanya sebentar dia mampu menggelepar, kemudian diam tidak bergerak-gerak lagi.

Empat orang yang juga mengeroyok Pendekar Rajawali Sakti terkejut bukan main. Karena gerakan Rangga begitu cepat luar biasa, sehingga sukar diikuti pandangan mata biasa. Dan sebelum mereka bisa menyadari, Pendekar Rajawali Sakti sudah kembali bergerak. Tubuhnya melayang berputaran dengan tangan terentang lebar ke samping. Kali ini jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’ dikerahkan.

Tak lama kemudian, terdengar jeritan melengking dan menyayat saling sambut. Rangga yang sudah menguasai dengan sempurna jurus-jurus ‘Rajawali Sakti’, memang sukar ditandingi. Terlebih lagi oleh empat orang yang hanya memiliki kepandaian tanggung. Tak heran kalau mereka tidak sempat lagi menghindari serangan cepat dan dahsyat itu. Empat orang pengeroyok itu kini sudah menggelepar dengan dada koyak mengucurkan darah. Dengan jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’, kedua tangan Rangga memang seperti mata pedang saja. Tubuh manusia bisa terbelah bila terkena tebasannya!

Pada saat itu, Pandan Wangi juga sudah berhasil menjatuhkan tiga orang lawannya. Dan kini tinggal dua orang lagi yang tampaknya lebih tangguh dari yang lain. Terutama sekali laki-laki tua berbaju kuning gading yang memegang tongkat berkeluk tak beraturan itu.

“Serahkan satu padaku, Pandan...!” seru Rangga. Bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti itu melompat. Langsung diserangnya laki-laki tua berbaju kuning gading. Terjangan yang cepat dan tidak terduga itu membuat laki-laki tua berbaju kuning gading jadi kelabakan juga. Semampunya tongkatnya dikibaskan mencoba menghalau serangan Rangga yang cepat itu. Namun serangan-serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti itu memang dahsyat sekali. Tak heran dalam beberapa gebrakan saja, laki-laki tua berbaju kuning gading itu sudah terpekik terkena pukulan keras di dada.

“Akh...!”

“Nih, satu lagi... Hih! Yeaaah...!” teriak Rangga keras.

Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti itu melontarkan satu pukulan keras dari jurus ‘Pukulan Maut Paruh Rajawali’. Serangan yang datangnya sangat cepat dan mendadak itu tidak bisa lagi dihindari.

Degkh!

“Aaa...!” Laki-laki tua itu menjerit keras.

Tubuhnya yang kurus terbungkus baju kuning gading yang longgar, terpental deras menghantam sebatang pohon. Dan hanya sebentar saja tubuhnya mampu menggeliat, kemudian tak bergerak-gerak lagi. Pada saat yang sama, Pandan Wangi juga sudah menyelesaikan pertarungannya, setelah menusukkan pedangnya ke perut lawan. Gadis itu langsung melompat begitu melihat lawannya telah tewas. Segera dihampirinya Rangga yang tampaknya seperti sedang berpikir sesuatu.

Sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti sangat heran juga, sebab dedengkot penghuni bangunan istana itu tidak muncul. Padahal pasti suara pertarungan tadi terdengar sampai ke dalam. Timbullah berbagai dugaan dalam benak Rangga. Mungkinkah Dewi Asmara Maut tengah mengatur siasat untuk menjeratnya kembali? Atau mungkin sengaja mengorbankan anak buahnya untuk memenuhi hasratnya lebih dulu? Lalu, ke mana anak buah Dewi Asmara Maut yang lain. Apakah hanya sekian jumlahnya...?

“Kakang,” panggil Pandan Wangi.

“Ada apa?” tanya Rangga.

“Benarkah dia putra adipati?” Pandan Wangi balik bertanya.

“Tidak kuragukan lagi,” sahut Rangga

“Kalau begitu, harus kusampaikan padanya kalau orang-orang di dalam sana sedang merencanakan untuk menyerang Kadipaten Watu Kambang,” ungkap Pandan Wangi memberi tahu hasil penyelidikannya di dalam bangunan megah itu.

Rangga mengerutkan keningnya.

“Semula aku menduga kalau Dewi Asmara Maut yang memimpin. Tapi ternyata masih ada lagi, Kakang,” lanjut Pandan Wangi.

“Siapa?” tanya Rangga.

“Raja Musang Hitam.”

Kembali kening Rangga berkerut. Dia memang pernah mendengar julukan itu. Raja Musang Hitam adalah tokoh beraliran sesat yang sangat tinggi keandalannya. Selama ini dia selalu merajai rimba persilatan bagian timur. Dan Kadipaten Watu Kambang ini memang termasuk wilayah timur. Tapi apa maksud Raja Musang Hitam hendak menyerang Kadipaten Watu Kambang? Pertanyaan ini tiba-tiba saja timbul dalam benak Pendekar Rajawali Sakti itu. Satu pertanyaan yang belum bisa terjawab saat ini.

Rangga kemudian bergegas menghampiri Raden Wikalpa, diikuti Pandan Wangi. Pendekar Rajawali Sakti itu menyuruh Pandan Wangi untuk mengatakan apa saja yang diketahuinya selama berada di dalam bangunan megah bagai istana itu. Maka dengan gamblang, si Kipas Maut itu menceritakan semua yang diketahuinya.

“Raja Musang Hitam...,” desis Raden Wikalpa setengah bergumam.

“Kau mengenalnya, Raden?” tanya Rangga.

“Tidak. Tapi aku pernah mendengarnya,” sahut Raden Wikalpa.

Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Sebentar Raden Wikalpa memandang Pandan Wangi, dan sebentar kemudian beralih ke arah bangunan megah di depannya. Beberapa kali napasnya ditarik panjang-panjang, dan dihembuskannya kuat-kuat.

“Hm, aku ingat. Ayahku pernah bertarung dengannya ketika sama-sama masih muda. Dan aku sendiri belum lahir waktu itu. Memang, pernah kudengar kalau Raja Musang Hitam beberapa kali sering mencoba menyerang Kadipaten Watu Kambang, tapi tidak pernah berhasil. Hhh.... Rupanya kali ini dia ingin mengulangnya lagi,” ujar Raden Wikalpa, pelan suaranya.

“Kau tahu persoalannya?” tanya Rangga.

“Kalau tidak salah, karena memperebutkan ibuku,” sahut Raden Wikalpa.

“Dendam lama...,” desah Rangga dalam hati.

Tapi kini bukan lagi persoalan pribadi antara si Raja Musang Hitam dengan Adipati Baka Witara. Persoalan itu sudah melibatkan banyak orang dari kalangan persilatan. Dan kalau mereka sampai benar-benar menyerang, sudah pasti prajurit-prajurit kadipaten tidak akan sanggup menghadapinya.

Rangga sudah beberapa kali berhadapan, sehingga sudah bisa mengukur kekuatannya. Pendekar Rajawali Sakti itu juga sudah mengetahui tentang kekuatan prajurit-prajurit kadipaten. Yang pasti, tidak akan jauh berbeda dengan prajurit-prajurit kadipaten lainnya. Mereka biasanya hanya mengerti ilmu olah kanuragan yang sedikit saja. Jangankan prajurit kadipaten, prajurit yang kuat sekalipun tidak akan sanggup menghadapi orang-orang persilatan yang rata-rata berkemampuan tinggi.

“Aku harus bertindak lebih dahulu sebelum mereka menyengsarakan rakyat,” tekad Raden Wikalpa mantap.

“Jumlah mereka cukup banyak, Raden,” Pandan Wangi memberi tahu.

“Berapa orang?” tanya Raden Wikalpa.

“Mungkin dua puluh, tiga puluh, atau mungkin juga lebih dari lima puluh orang. Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, jumlah mereka cukup untuk menghancurkan sebuah kadipaten hanya dalam waktu satu hari saja.”

“Lalu, mengapa waktu kita bertempur di sana, mereka tidak menyerang kita semuanya?” tanya Raden Wikalpa lagi.

“Itu memang sengaja, Raden. Raja Musang Hitam memang tidak ingin mengorbankan pasukannya secara sia-sia. Yang penting baginya menyusun siasat, lalu sama-sama menghancurkan atau dihancurkan,” jelas Pandan Wangi.

Raden Wikalpa terdiam. Disadari kalau kekuatan prajurit Kadipaten Watu Kambang tidak seberapa. Sedangkan untuk meminta bantuan kerajaan, tidaklah mungkin. Masalahnya, Pandan Wangi bilang kalau mereka akan menyerang dua atau tiga hari lagi. Dan untuk meminta bantuan dari istana kerajaan, paling tidak membutuhkan waktu sedikitnya dua belas hari perjalanan pulang pergi.

“Kalian punya saran?” pinta Raden Wikalpa seperti putus asa.

Rangga dan Pandan Wangi saling berpandangan Dalam keadaan seperti ini, memang sukar untuk berpikir wajar. Terlebih lagi keadaan sudah begitu mendesak. Dan mereka semua tentu saja tidak menginginkan Kadipaten Watu Kambang yang tenteram, damai, dan makmur, hancur karena persoalan dendam pribadi.

Tapi yang jelas, Raden Wikalpa tidak akan mungkin membiarkan si Raja Musang Hitam memenggal leher ayahnya. Untuk melakukan pertarungan pun, rasanya Adipati Baka Witara tidak mampu lagi. Ini karena usianya yang sudah demikian lanjut. Terlebih lagi, sudah puluhan tahun Adipati Baka Witara tidak pernah melatih jurus-jurusnya lagi. Malah Raden Wikalpa pernah mengalahkannya dalam satu kali latihan. Apalagi sekarang harus menghadapi si Raja Musang Hitam yang sehari-harinya jelas selalu bergelut dengan kekerasan.

“Apa tidak sebaiknya hal ini diberitahukan Adipati Baka Witara saja,” Pandan Wangi memberikan saran.

“Bagaimana, Raden?” tanya Rangga agak mendesak.

Raden Wikalpa tidak segera menjawab, dan tampaknya sedang berpikir keras. Meskipun masalah ini menyangkut orang tuanya, tapi rasanya sungkan untuk melibatkannya. Dia ingin menyelesaikan persoalan ini tanpa melibatkan pihak kadipaten. Tapi calon adipati itu jadi berpikir juga setelah Pandan Wangi tadi memberitahukan kalau kekuatan musuh tidak mungkin dihadapi seorang diri saja.

“Kalian pasti berkemampuan tinggi. Bagaimana kalau kuminta untuk membantuku menumpas mereka...?” pinta Raden Wikalpa seraya memandangi Rangga dan Pandan Wangi bergantian.

Sedangkan yang dipandangi malah saling melontarkan pandangan. Permintaan Raden Wikalpa memang tidak pernah terpikirkan sama sekali. Terlebih lagi Rangga, yang sebenarnya lebih menyetujui pendapat Pandan Wangi untuk memberitahukan hal ini pada penguasa Kadipaten Watu Kambang ini. Namun tampaknya Raden Wikalpa ingin menyelesaikannya tanpa melibatkan seorang pun dari kadipaten.

“Raden, kalau hanya kita bertiga, rasanya tidak mungkin menghadapi mereka,” kilah Pandan Wangi yang sudah tahu persis kekuatan orang-orang di dalam bangunan istana itu.

“Memang. Tapi kita bisa melakukannya dengan cara mengurangi kekuatan mereka sedikit demi sedikit,” jelas Raden Wikalpa.

“Maksud Raden?” tanya Pandan Wangi tidak mengerti.

“Serang, lalu menghilang,” usul Raden Wikalpa.

Pandan Wangi masih belum bisa memahami, sedangkan Rangga sudah bisa menangkap maksud Raden Wikalpa. Memang cara seperti itu bisa saja dilakukan. Tapi itu akan membuat mereka semakin berang. Dan tentu saja ini bisa lebih berbahaya. Mungkin belum separuh kekuatan lenyap, sudah membuat mereka menyerang Kadipaten Watu Kambang secara brutal. Bahkan bukannya tidak mungkin, akan membalas lebih menyakitkan lagi. Sedangkan untuk saat ini saja, mereka sudah kehilangan kekuatan yang tidak sedikit. Dan Rangga sudah bisa menduga kalau saat ini mereka pasti tengah menyusun rencana dan kekuatan yang lebih berlipat ganda.

********************

DELAPAN

Malam sudah merayap menyelimuti seluruh permukaan puncak gunung ini. Kesunyian begitu terasa mencekam, setelah kabut mulai menggumpal tebal. Sementara itu, di salah satu ruangan di dalam bangunan megah bagai istana di puncak gunung ini, tampak Dewi Asmara Maut berdiri tegak membelakangi jendela besar yang terbuka lebar.

Pandangan wanita itu tidak berkedip menjilati seorang pemuda yang tergeletak di atas pembaringan. Perlahan-lahan wanita cantik yang sudah tidak muda lagi itu melangkah menghampiri pembaringan besar beralaskan kain sutra halus berwarna jingga. Kemudian tubuhnya dibaringkan di samping pemuda itu dengan posisi miring.

“Tidak kusangka, kau begitu kuat dan perkasa, Jaka Kumbara,” kata Dewi Asmara Maut lembut.

Pemuda tampan bertubuh tegap dan berotot itu membuka matanya. Bibirnya tersenyum melihat Dewi Asmara Maut sudah berada di sampingnya. Perlahan tangan pemuda yang memang Jaka Kumbara itu menjulur dan melingkar di pinggang yang ramping. Kemudian dipeluk dan langsung dilumatnya bibir Dewi Asmara Maut disertai gairah menggelegak.

“Ah...,” desah Dewi Asmara Maut lirih. Wanita itu menggeliat-geliat ketika jari-jari tangan Jaka Kumbara mulai menjelajahi bagian-bagian tubuhnya yang peka. Kembali bibirnya merintih dan mendesis, dan tubuhnya agak mengejang. Cepat sekali gairah wanita itu bangkit setelah mendapat cumbuan yang begitu liar, tapi menghanyutkan. Sampai-sampai tidak dirasakan lagi kalau Jaka Kumbara telah melepaskan pakaiannya. Hampir saja seluruh pakaian wanita itu terlepas semua, ketika terdengar ketukan pintu dari luar.

“Setan...!” maki Dewi Asmara Maut kesal. Didorongnya tubuh Jaka Kumbara hingga menggelimpang ke samping ketika dirinya akan dipeluk. Tapi pemuda itu malah menarik tangan Dewi Asmara Maut dan memeluknya kuat-kuat. Sementara ketukan di pintu kembali terdengar lebih keras. Dewi Asmara Maut mencoba melepaskan pelukan pemuda itu, tapi Jaka Kumbara malah memagut bibirnya. Bahkan melumatnya liar sekali.

“Hih!”

Dengan kasar sekali Dewi Asmara Maut mendorong tubuh pemuda itu. Dan segera saja dia melompat bangkit berdiri. Jaka Kumbara yang sudah tidak ingat dirinya lagi, mencoba memburu. Namun Dewi Asmara Maut sudah lebih dulu menotok pemuda itu hingga terkulai seketika. Bergegas wanita itu memungut pakaiannya, dan langsung cepat mengenakannya. Ketukan di pintu kembali terdengar keras.

“Tunggu...!” seru Dewi Asmara Maut. Sebentar wanita itu memandang Jaka Kumbara yang tergeletak lemas di pembaringan, kemudian bergegas menghampiri pintu kamar yang tertutup rapat. Dewi Asmara Maut kembali memandang Jaka Kumbara. Sebenarnya pemuda tampan yang begitu perkasa di atas ranjang itu disukainya. Dan baru kali ini seorang pemuda ditahannya sampai satu hari lebih. Biasanya, kalau sudah dinikmati keperkasaannya, langsung dicampakkan begitu saja.

Tapi kali ini Dewi Asmara Maut seperti merasa sayang melenyapkan Jaka Kumbara cepat-cepat. Terasa ada sesuatu yang lain dalam permainan asmara dengan pemuda itu. Suatu perasaan yang belum pernah dialaminya selama ini. Dewi Asmara Maut tidak jadi membuka pintu, tapi kembali menghampiri pemuda itu. Seketika diberikannya totokan beberapa kali.

“Tidak lama kau akan bisa bergerak lagi, Bocah Bagus,” kata Dewi Asmara Maut.

Wanita itu bergegas menghampiri pintu yang kembali diketuk keras, kemudian membukanya. Tampak seorang gadis berbaju kuning berdiri di ambang pintu kamar ini.

“Dewi Lanjani.... Ada apa?” agak kesal nada suara Dewi Asmara Maut.

“Maaf, Bibi Dewi. Raja Musang Hitam memanggilmu.”

“Hm.... Ada apa malam-malam begini memanggilku...?” Dewi Asmara Maut mengerutkan keningnya.

“Barangkali minta dipijat,” sahut Dewi Lanjani seraya tersenyum dikulum.

“Setan kau!” dengus Dewi Asmara Maut.

Dewi Lanjani hanya terkikik geli sambil beranjak pergi. Sedangkan Dewi Asmara Maut menutup pintu kamarnya, dan melangkah setelah gadis itu tidak terlihat lagi. Ayunan kakinya cepat dan bergegas menuju ujung lorong yang agak gelap ini. Tapi di dalam benaknya terus bertanya-tanya, tidak biasanya Raja Musang Hitam memanggilnya tengah malam begini.

Wanita itu berhenti melangkah di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Perlahan-lahan diketuknya pintu itu. Tak ada jawaban sama sekali dari dalam. Kemudian kembali diketuk lebih keras lagi.

“Masuk...!”

Dewi Asmara Maut melangkah masuk setelah terdengar suara berat dari dalam. Kemudian ditutupnya pintu kamar yang keadaannya tidak terlalu terang. Hanya sebuah pelita kecil yang menyala redup di sudut ruangan besar ini. Pandangan wanita itu langsung tertuju pada sesosok tubuh yang setengah terbaring di ranjang. Separuh tubuhnya tertutup kain berwarna biru tua. Dia seorang laki-laki yang berusia setengah baya, namun masih kelihatan gagah dan tegap.

“Kemarilah....”

Dewi Asmara Maut mendekat, lalu hanya berdiri saja di dekat pembaringan itu. Sedikit bibirnya digigit ketika tangan laki-laki itu menjulur dan meraba pahanya. Pelahan Dewi Asmara Maut naik ke atas ranjang itu, lalu tubuhnya direbahkan di sana.

“Malam ini kau tidur di sini, Dewi.”

Dewi Asmara Maut tidak menjawab, karena laki-laki setengah baya itu sudah melumat bibirnya, ganas dan liar sekali. Wanita itu memang tidak bisa menolak ajakan laki­-laki setengah baya yang dikenal berjuluk si Raja Musang Hitam ini, dan selalu tunduk dalam pelukannya.

“Ohhh...,” desah Dewi Asmara Maut.

Memang sudah menjadi kebiasaan si Raja Musang Hitam. Tak banyak bicara, tapi rangsangan dan cumbuan yang diberikan membuat wanita itu seketika merintih dan menggeliat sehingga tak mampu menguasai dirinya lagi. Di dalam kamar yang diterangi sebuah pelita kecil itu, hanya terdengar desah napas dan rintihan lirih. Tak ada kata-kata terucapkan, karena mereka langsung tenggelam dalam deburan ombak gairah yang berdebur meruntuhkan seluruh persendian.

********************

“Heh...?!” Raja Musang Hitam terperanjat ketika tiba-tiba terdengar suara-suara teriakan dan denting senjata beradu keras. Seketika laki-laki setengah baya itu melompat dari pembaringan, lalu cepat menyambar pakaian dan mengenakannya. Sementara Dewi Asmara Maut juga bergegas mengenakan pakaiannya kembali. Raja Musang Hitam segera menyambar tongkatnya dan melompat keluar dari kamar ini.

“Setan alas...!” umpat Dewi Asmara Maut seraya bergegas berlari keluar dari kamar ini. Wanita itu berlari-lari mengikuti Raja Musang Hitam. Mereka langsung keluar dari bangunan megah bagai istana itu. Betapa terkejutnya mereka begitu sampai di luar, karena suara-suara teriakan dan denting senjata beradu tadi sudah tidak terdengar lagi. Namun yang lebih mengejutkan, di pelataran bangunan besar ini sudah tergeletak mayat-mayat yang masih mengucurkan darah.

Raja Musang Hitam baru menyadari kalau gerombolannya kalah cepat. Waktu Rangga dan Pandan Wangi menyerbu ke sini, dia menyangka kalau dua pendekar itu pasti bisa dikalahkan. Makanya, laki-laki setengah baya itu tidak mengeluarkan seluruh anak buahnya.

“Bangsat! Mereka telah mendahului kita lagi!” sentak Raja Musang Hitam seraya memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan saling tumpang tindih.

“Masa kehancuranmu, Raja Musang Hitam....”

“Heh...?!” Bukan main terkejutnya Raja Musang Hitam begitu tiba-tiba terdengar suara menyahuti. Dan begitu kepalanya diangkat, tahu-tahu tidak jauh di depannya sudah berdiri dua orang pemuda dan seorang gadis.

“Siapa kalian?!” bentak Raja Musang Hitam.

“Aku putra Adipati Baka Witara,” sahut pemuda yang berdiri di tengah, yang ternyata memang Raden Wikalpa.

Sedangkan yang dua orang lagi tak lain adalah Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi. Rupanya mereka benar-benar melaksanakan rencana yang dicetuskan Raden Wikalpa. Menyerang secara diam-diam dan bertahap. Hanya saja pada pertarungan di depan pintu utama bangunan istana ini, seluruh penghuni keluar semua.

Untung semuanya sudah diperhitungkan secara matang, sehingga tidak ada kesukaran bagi mereka bertiga untuk membabat habis orang-orang itu. Terlebih lagi, Rangga telah menggunakan pedang pusakanya yang tak ada tandingannya di jagad ini. Pedang Rajawali Sakti memang sangat dahsyat dan luar biasa.

“Dewi Asmara Maut, perintahkan mereka semua keluar!” perintah Raja Musang Hitam. Dia menyangka anak buahnya masih berada di dalam.

“Tidak ada gunanya, Raja Musang Hitam. Semua anak buahmu sudah tidak ada lagi,” Raden Wikalpa yang menyahuti.

“Keparat..!” desis Raja Musang Hitam menggeram.

Saat itu, dari arah samping bangunan istana, Dewi Lanjani berlari-lari. Gadis itu tampak terkejut melihat Raden Wikalpa sudah berdiri berhadap-hadapan dengan Raja Musang Hitam.

“Dari mana saja kau?! Ke mana yang lain?!” tanya Raja Musang Hitam ketus, begitu melihat Dewi Lanjani.

“Keliling. Dan mereka..., mereka semua tewas,” sahut Dewi Lanjani seraya melirik Raden Wikalpa.

“Phuih...!” Raja Musang Hitam menyemburkan ludahnya.

Sementara, Raden Wikalpa tersenyum-senyum penuh kemenangan. Ternyata semua rencananya berjalan lancar. Dan sekarang tinggal tiga orang lagi yang harus dihadapinya.

“Terimalah kematianmu, Musang Hitam! Hiyaa...!”

Cepat sekali Raden Wikalpa melompat sambil mencabut pedangnya yang masih berlumuran darah. Seketika itu juga pedangnya dikebutkan ke arah dada si Raja Musang Hitam. Namun dengan gerakan manis, laki-laki setengah baya itu mengegoskan tubuhnya. Maka serangan Raden Wikalpa hanya menyambar tempat kosong.

Pada Saat yang sama, Dewi Asmara Maut sudah menyerang Pandan Wangi. Wanita itu memang memiliki satu persoalan yang belum terselesaikan dengan si Kipas Maut. Dewi Asmara Maut menganggap Pandan Wangi hanya sebagai penghalang dalam menjerat Pendekar Rajawali Sakti ke dalam pelukannya. Sementara itu, Dewi Lanjani kelihatan ragu-ragu untuk menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Keraguan gadis itu dapat diketahui Rangga.

“Kalau kau akan pergi, aku memberi kesempatan padamu,” kata Rangga.

Dewi Lanjani tidak menjawab, dan semakin kelihatan bimbang. Sementara dua pertarungan sudah berjalan sengit. Gadis itu menatap Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam, kemudian memandang ke arah pertarungan antara Raja Musang Hitam dan Raden Wikalpa.

“Sebaiknya kau bantu Raden Wikalpa. Dia tidak akan mampu menandingi Raja Musang Hitam,” kata Dewi Lanjani.

Rangga hanya tersenyum saja. Saat itu Dewi Lanjani menghampiri Pendekar Rajawali Sakti.

“Aku ingin agar dia hidup. Katakan, satu saat aku akan datang membalaskan dendam ayahku,” kata Dewi Lanjani setengah berbisik.

“Hm.... Raden Wikalpa membunuh ayahmu?” tanya Rangga.

“Dialah yang memberi perintah hukuman mati pada ayahku.”

“Kenapa?”

“Tanyakan saja padanya!” sahut Dewi Lanjani ketus.

“Siapa nama ayahmu?” tanya Rangga.

“Bromokati.” Dewi Lanjani langsung melesat pergi, tepat ketika Raja Musang Hitam mendaratkan satu pukulan tongkatnya ke punggung Raden Wikalpa.

“Akh...!” Raden Wikalpa terhuyung-huyung. Dan pada saat yang tepat, Raja Musang Hitam sudah melompat sambil menusukkan salah satu ujung tongkatnya yang runcing ke arah dada pemuda itu. Tak ada kesempatan lagi bagi Raden Wikalpa. Namun ketika ujung tongkat sedikit lagi menembus dada Raden Wikalpa, dengan cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti melompat. Langsung ditotoknya ujung tongkat laki-laki berbaju serba hitam itu.

Tak!

“Heh...?!” Raja Musang Hitam terperanjat. Buru-buru tongkatnya ditarik pulang ketika terasa bergetar terkena totokan jari Pendekar Rajawali Sakti yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi.

“Bantu Pandan Wangi, Raden,” ujar Rangga.

Sebelum Raden Wikalpa menjawab, Rangga sudah cepat melompat bagai kilat menyerang Raja Musang Hitam. Dua kali Pendekar Rajawali Sakti itu melontarkan pukulan beruntun, disertai pengerahan tenaga dalam yang tinggi sekali.

“Hiyaaat..!”

“Uts!” Bergegas Raja Musang Hitam mengegoskan tubuhnya ke samping, menghindari serangan Pendekar Rajawali Sakti itu. Namun sebelum bisa menarik kembali tubuhnya agar tegak, Pendekar Rajawali Sakti sudah memberi serangan cepat dan beruntun. Serangan-serangan itu demikian dahsyat, membuat Raja Musang Hitam kedodoran menghindarinya.

Sementara Raden Wikalpa sudah membantu Pandan Wangi menyerang Dewi Asmara Maut. Saat itu pagi sudah mulai datang menjelang. Rona merah menyemburat keluar dari balik gunung sebelah timur. Sedangkan pertarungan masih terus berlangsung sengit sekali. Entah sudah berapa jurus pertarungan itu berlangsung. Dan kini masih saja berlangsung semakin sengit. Hingga matahari semakin naik tinggi, pertarungan seperti tidak akan berhenti.

“Hup! Heyaaa...!” Tiba-tiba saja Raja Musang Hitam melompat ke belakang beberapa langkah. Tongkatnya ditancapkan di samping kakinya. Sedangkan Rangga berdiri tegak, menunggu apa yang akan dilakukan laki-laki setengah baya berbaju hitam itu. Beberapa saat mereka saling menatap tajam.

“Hm. Rupanya dia hendak mengeluarkan ilmu kesaktian,” gumam Rangga dalam hati. Dan memang, Raja Musang Hitam tengah memusatkan perhatiannya untuk mengerahkan aji kesaktiannya. Kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada. Kemudian tubuhnya dimiringkan sedikit ke kanan, lalu perlahan ditarik ke kiri dengan kaki terentang lebar. Begitu tubuhnya kembali tegak, tampak dari sela-sela jari tangannya mengepulkan asap hitam yang berbau tidak sedap.

“Hep...!” Rangga segera bersiap sambil menahan napas, lalu memindahkan pernapasannya ke perut. Kedua telapak tangannya dirapatkan di depan dada, lalu diangkat hingga sampai ke atas kepala. Kemudian kedua tangan itu ditarik cepat sampai sejajar pinggang.

“Yeaaah...!”

“Hup!” Tepat ketika kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti memancarkan sinar biru, Raja Musang Hitam melompat menerjang sambil menjulurkan kedua telapak tangannya yang terbuka lebar ke depan. Rangga segera melebarkan kakinya ke samping. Dan dengan cepat sekali tangannya dihentakkan ke depan, menyambut serangan laki-laki setengah baya itu.

“Aji ‘Cakra Buana Sukma’. Yeaaah...!” seru Rangga keras menggelegar.

Glarrr!

“Aaakh...!” Raja Musang Hitam menjerit melengking tinggi ketika kedua telapak tangannya beradu dengan telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti. Laki-laki berbaju hitam itu menggeliat-geliat dengan tangan melekat erat pada tangan Rangga. Sementara sinar biru langsung menyelimuti seluruh tubuh laki-laki setengah baya itu.

“Yeaaah...!” Mendadak saja Rangga berteriak keras. Dan seketika tangannya cepat dihentakkan, melebar ke samping. Secepat itu pula, kepala Raja Musang Hitam dikeprak dengan keras sekali.

Prak!

Blarrr...! Ledakan keras seketika terdengar menggelegar. Rangga langsung melompat mundur begitu tubuh Raja Musang Hitam meledak dan hancur seketika. Kepingan-kepingan tubuhnya bertebaran ke segala arah. Ledakan yang keras menggelegar itu membuat Dewi Asmara Maut yang tengah dikeroyok Pandan Wangi dan Raden Wikalpa jadi terkejut, dan lengah. Kesempatan ini tidak disia-siakan Raden Wikalpa. Seketika itu juga dia melompat cepat sambil menusukkan pedangnya tepat ke arah ulu hati wanita itu.

“Hiyaaat...!”

Crab!

“Aaa...!” Dewi Asmara Maut memang tidak sempat lagi berkelit. Tusukan pedang Raden Wikalpa begitu cepat dan kuat, karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Sebentar wanita itu masih mampu berdiri, kemudian setelah pedang Raden Wikalpa ditarik kembali, tubuh itu pun ambruk di tanah. Darah segar seketika mengalir dari dadanya.

“Hhh...!” Raden Wikalpa menarik napas panjang. Segera pedangnya yang berlumuran darah itu dimasukkan ke dalam sarungnya.

Saat itu Pandan Wangi sudah menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Kalau saja tidak cepat dicegah, pasti gadis itu sudah memeluknya. Sementara Raden Wikalpa masih berdiri mematung memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan. Baru pertama kali ini dia melakukan pertarungan yang begitu lama dan melelahkan. Tapi hatinya puas, karena bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus menyertakan orang-orang kadipaten.

Raden Wikalpa memutar tubuhnya dan langsung menghampiri Rangga dan Pandan Wangi. Sebentar pemuda itu memandangi Rangga, kemudian mengulurkan tangannya. Dengan hangat Pendekar Rajawali Sakti itu menyambutnya.

“Terima kasih. Sungguh tak kusangka kalau akan berhasil menghancurkan gerombolan pengacau kadipaten. Padahal, tadinya aku tak bermaksud ke arah itu. Aku hanya bermaksud menjalankan rencanaku saja,” ucap Raden Wikalpa, sedikit terharu.

“Sudah sewajarnya sesama manusia saling tolong, Raden,” ucap Rangga merendah. “Hm. Raden, ada persoalan yang masih mengganjal benakku. Tadi kau mengatakan bahwa tengah menjalankan rencana. Apa rencanamu itu?” desak Rangga kembali ketika teringat kalau Raden Wikalpa belum menceritakan semuanya.

“Tujuan utama, kau sudah tahu. Aku ingin mencari penyebab mengapa Dewi Lanjani ingin membunuhku. Tapi, sebenarnya rencana kedualah yang paling penting,” jelas Raden Wikalpa.

“Apa itu?” desak Rangga.

“Mencari dan menguji calon pengawal pribadiku.”

“Lho! Bukankah calon pengawal pribadimu ada di dalam istana itu?”

“Benar. Tapi dia sudah tak berdaya.”

“Lalu?”

“Aku sudah mendapatkan penggantinya!” tegas Raden Wikalpa.

“Siapa?” Rangga jadi ingin tahu.

“Diriku sendiri.”

Rangga tersentak, tapi langsung kagum terhadap pemuda itu. Betapa tidak? Jelas kalau pemuda itu sudah cukup dewasa untuk menjadi adipati. Sebab, sebagai seorang adipati sebenarnya tak perlu merisaukan adanya pengawal pribadi. Dan yang jelas, kepercayaan pada diri sendirilah yang diperlukan. Dan sebenarnya, hanya kepercayaan pada diri sendirilah yang menjadi pengawal pribadi seorang pemimpin. Masalahnya, banyak pengawal pribadi yang justru berkhianat pada junjungannya sendiri.

“Oh, ya. Ada pesan dari Dewi Lanjani, Raden,” kata Rangga.

“Hm..., ke mana dia?” Raden Wikalpa baru menyadari kalau Dewi Lanjani sudah tidak ada lagi.

“Dia akan datang kembali, khusus untuk menuntut balas atas kematian ayahnya yang bernama Bromokati,” kata Rangga menyampaikan pesan Dewi Lanjani.

Raden Wikalpa sedikit tersentak. Kini jelas sudah, mengapa Dewi Lanjani berniat ingin membunuhnya. Ternyata diri gadis itu diselimuti dendam. Bahkan dia sampai bergabung dengan Raja Musang Hitam dan Dewi Asmara Maut untuk melenyapkannya.

“Hm, ya. Kini aku ingat. Bromokati memang terpaksa kuhukum penggal. Dia sebenarnya seorang patih, tapi mencoba memberontak. Dan aku ditugaskan Gusti Prabu untuk menangkap dan menghukum mati. Tapi sungguh tak kusangka kalau dia memiliki seorang anak yang kini hendak membalas dendam padaku,” jelas Raden Wikalpa tanpa diminta.

“Kalau begitu kami tidak perlu ikut campur, Raden,” tegas Rangga.

“Ah! Kau sudah banyak membantuku. Memang sebaiknya persoalanku dengan Dewi Lanjani menjadi urusanku sendiri. Hm, kapan dia akan menemuiku?”

“Suatu saat, katanya.”

“Baiklah. Akan kutunggu dia.”

Mereka tidak berbicara lagi, kemudian perlahan meninggalkan tempat itu. Tiga orang itu berpisah setelah sampai di lereng gunung ini. Pandan Wangi sempat memberi tahu kalau Paman Legiwa sedang terluka dalam dan kini tengah berada dalam perawatan seorang tabib. Raden Wikalpa langsung menuju pondok tabib yang disebutkan Pandan Wangi.

“Mungkin sekarang aku bisa tenang, Pandan,” kata Rangga.

“Yah, mudah-mudahan saja ada persoalan lagi,” desah Pandan Wangi menggoda.

“Hus...!”

“Ha ha ha...!”

SELESAI

Thanks for reading Huru Hara Di Watu Kambang I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »