Warisan Berdarah

Pendekar Rajawali Sakti

Karya Teguh S

MUTIARA DARI SELATAN

SATU
SUARA gamelan mengalun merdu ditabuh para nayaga yang duduk berjajar di sebuah panggung besar. Malam yang biasanya gelap gulita, tampak terang benderang oleh cahaya api obor yang terpancang di setiap sudut halaman besar sebuah rumah yang di padati orang. Segala macam tingkah dan celoteh di sertai derai tawa terdengar semarak mengimbangi alunan gamelan.

Suasana malam ini terasa begitu hangat, meskipun angin saat itu berhembus kencang menaburkan udara dingin menusuk kulit. Keceriaan terlihat di wajah semua orang yang memenuhi halaman dan bagian dalam rumah besar itu. Bukan hanya orang dewasa saja, bahkan anak-anak pun ikut menikmati kegembiraan itu.

"Beruntung sekali anak Ki Murad ya, Kang...?" terdengar gumaman seseorang yang berdiri agak terlindung di sudut halaman dekat pohon beringin.

"Hm...," orang bertubuh gemuk dan berperut buncit, hanya menggumam saja. Pandangan matanya tidak lepas ke arah sepasang mempelai yang duduk di pelaminan berwajah cerah penuh senyum.

"Seharusnya kaulah yang duduk di situ, Kang Wregu, Bukan si Wiraguna...!" agak tertahan nada suara anak muda itu.

Lelaki yang diajak bicara hanya diam saja. Sepasang bola matanya tidak berkedip memandangi mempelai yang duduk didampingi kedua orang tua masing-masing. Begitu banyak tamu yang hadir, karena mempelai wanita adalah anak orang terpandang di Desa Kali Wungu ini.

Namanya, Ki Danupaya. Orang tua laki-laki mempelai wanita itu tidak hanya sebagai saudagar kaya tapi juga sangat berkuasa. Ki Danupaya benar-benar melebihi kepala desa sendiri. Bahkan kalau kepala desanya tidak disukai maka dengan mudah dia bisa menggantikannya.

"Ayo kita pulang, Situyu," ajak Wregu seraya membalikkan rubuh dan melangkah di samping Wregu. Kedua laki-laki berusia muda itu berjalan bersisian tanpa banyak bicara lagi.

Sementara malam semakin larut. Tapi orang-orang yang menghadiri pesta pernikahan itu, terus saja berdatangan. Bahkan semakin jauh malam, semakin meriah saja suasananya. Bukan hanya penduduk desa ini saja yang berdatangan, tapi juga dari penduduk desa-desa lain. Kalau saja bukan orang yang terpandang dan mempunyai kekuasaan, mungkin pesta itu tidak akan semeriah ini.

Suara gamelan terus mengalun membuat suasana semakin hangat dan meriah. Para penari terus berlenggak-lenggok mengikuti irama gamelan yang ditabuh para nayaga di atas panggung. Sementara di sudut lain terlihat dua orang wanita muda dengan wajah cukup cantik duduk di sebuah bangku di bawah pohon kemuning. Pandangan mereka juga tidak berkedip ke arah sepasang mempelai yang tidak henti-hentinya memberikan senyum pada setiap tamu yang hadir.

"Mereka kelihatan bahagia sekali, Rukmini," ujar salah seorang yang mengenakan baju merah muda cukup ketat.

"Hanya sebentar," desah wanita berbaju biru yang dipanggil Rukmini. "Tidak lama juga akan menderita. Lihat saja nanti, Selasih."

"Aku bisa mengerti perasaanmu, Rukmini. Kalau aku jadi kau, sudah kubunuh si Wiraguna sebelum naik ke pelaminan!" agak mendesis suara wanita yang bernama Selasih.

"Seumur hidup, tidak akan hilang rasa sakit di hatiku ini, Selasih."

"Bukan hanya kau. Tapi banyak gadis lain yang berperasaan begitu. Aku tahu betul, siapa itu Wiraguna. Apalagi ayahnya...," sambung Selasih.

Rukmini menoleh, menatap sahabatnya. Ada sebentuk senyuman tipis menghiasi bibirnya yang tipis dan merah menggoda. Sejak kecil mereka sudah bersahabat, dan tak ada satu pun yang menjadi rahasia di antara dua orang itu. Bahkan sampai ke hal-hal yang bersifat pribadi sekalipun, selalu terbuka.

"Kuharap, ini malam terakhir mereka bisa tertawa dan tersenyum bahagia," desah Rukmini.

"Harus!" sambut Selasih mantap agak mendesis.

Kedua wanita muda itu saling berpandangan. Entah kenapa, mereka sama-sama melemparkan senyuman tipis dan hambar, kemudian bangkit berdiri. Kini mereka telah melangkah meninggalkan keramaian itu, tanpa ada yang bicara lagi. Mereka tidak lagi memperdulikan semua yang terjadi, semua keramaian, keceriaan, dan senda gurau serta tawa lepas yang memecah keheningan malam ini.

Malam yang membuat semua orang ceria, tertawa bahagia. Tapi ada beberapa orang yang tampak tidak menikmati semua itu. Terutama mereka yang merasa punya hubungan, atau merasa dirugikan atas semua pesta hajat yang besar dan meriah ini. Entah apa yang terjadi, hanya mereka sendiri yang tahu.

********************

Malam masih terlalu dingin. Namun kehangatan masih bisa juga menyelimuti sekitar rumah besar milik Ki Danupaya. Meskipun sepasang mempelai sudah tidak berada lagi di pelaminan, namun masih saja banyak tamu yang belum beranjak dari tempatnya. Bahkan Ki Danupaya sendiri belum juga beranjak, dan tengah dikelilingi sahabat-sahabatnya.

Dinginnya udara malam juga tidak terasa di dalam sebuah kamar yang cukup besar dengan penataan apik sehingga terlihat indah. Dua tubuh tergolek bersimbah keringat di atas pembaringan yang beralaskan kain sutra halus berwarna merah muda. Desah napas memburu dan rintihan lirih masih terdengar mengganggu gendang telinga. Mereka tidak lagi mempedulikan suara-suara bising di luar sana. Juga tidak mempedulikan angin dingin yang menyusup masuk dari celah-celah jendela.

"Ah...!" tiba-tiba saja salah seorang memekik tertahan. Dan tubuh yang berada di atas, mengejang sesaat. Kemudian mendesah panjang sambil menjatuhkan dirinya yang bersimbah keringat ke samping. Sesaat lamanya suasana di dalam kamar itu hening sepi. Tarikan-tarikan napas mulai terdengar teratur.

Brak!

Tiba-tiba saja jendela kamar itu terhempas kencang, membuat sepasang insan yang tengah tergolek berpelukan itu terlonjak kaget. Dan belum lagi disadari apa yang terjadi, tahu-tahu sebuah bayangan hitam berkelebat masuk. Arahnya langsung ke pembaringan, diikuti kelebatannya satu cahaya keperakan. Dan belum ada yang bisa menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu...

"Aaa...!" satu jeritan melengking terdengar keras menyayat. Tak berapa lama, terdengar keluhan tertahan. Bayangan hitam itu kembali berkelebat melompat keluar dari jendela yang terbuka berantakan. Tampak di pundaknya memanggul sesosok tubuh yang terbungkus kain selimut tebal.

Tak ada yang mengetahui. Semua kejadian itu sangat cepat, sukar untuk diikuti mata. Suasana di dalam kamar itu kembali hening, tak terdengar satu mata pun di sana. Sementara di luar, suara tawa dan kelakar masih terdengar riuh mengimbangi alunan merdu suara gamelan.

"Nurmi...!" terdengar suara panggilan dari luar kamar, diikuti ketukan pintu berulang-ulang. Suara panggilan dan ketukan itu semakin sering dan keras terdengar. Tapi tak ada sahutan sama sekali. Suara ketukan itu seketika berubah menjadi gedoran keras. Pintu kamar itu bergetar hebat, dan...

Brak!

"Nurmi...!" pekik seorang laki-laki setengah baya yang tiba-tiba saja muncul di ambang pintu kamar itu. Laki-laki setengah baya berbaju indah bersulam itu langsung menerobos masuk. Kedua bola matanya membeliak begitu mendapati sesosok tubuh terbujur kaku dengan leher terbabat hampir putus. Darah mengalir membasahi pembaringan. Laki-laki setengah baya itu bergegas lari ke jendela yang terbuka lebar.

"Penjaga...!" serunya keras. Tidak berapa lama, enam orang laki-laki muda bersenjata golok di pinggang berhamburan masuk. Dan mereka semua terperangah begitu melihat dipembaringan terbujur sesosok tubuh yang lehernya hampir putus berlumuran darah.

Tidak berapa lama kemudian, muncul seorang laki-laki tua berjubah putih panjang membawa tongkat yang bagian kepalanya bulat berkilat.

"Wiraguna...! Oh..., tidak...!" sentak laki-laki tua berjubah putih panjang itu, langsung memburu ke pembaringan. Laki-laki tua itu seperti tidak percaya apa yang dilihatnya. Kemudian ditubruknya tubuh terbujur itu, dan diguncang-guncangnya disertai rintihan keras.

Beberapa orang mulai berdatangan memadati kamar itu. Dan mereka yang mengetahui, langsung terpekik tertahan. Kesunyian langsung mengurung seluruh kamar ini. Dan tiba-tiba saja suara gamelan dan canda tawa di luar sana terhenti seketika. Malam yang semula semarak itu, seketika jadi sunyi sepi. Wajah murung dengan sorot mata setengah tidak percaya terpancar dari orang yang memadati ruangan itu. Seorang laki-laki setengah baya yang pertama kali masuk, menghampiri laki-laki tua yang tengah menangisi tubuh terbujur di pembaringan.

"Ki Murad...," pelan suara laki-laki setengah baya itu seraya menepuk pundak Ki Murad.

Laki-laki tua berjubah putih itu menoleh, lalu bangkit berdiri. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka melangkah ke luar menyeruak kerumunan itu. Dan beberapa orang langsung bergerak mengurus mayat yang terbujur kaku itu, di atas pembaringan. Sebagian lagi melangkah ke luar sambil menundukkan kepala dan mengunci mulut rapat-rapat. Ki Danupaya membawa Ki Murad ke ruangan tengah yang tampak sepi. Mereka duduk dengan kepala tertunduk lesu.

Beberapa orang mulai bermunculan, dan langsung duduk bersimpuh di depan kedua laki-laki yang duduk di kursi berukir yang memiliki sanda-ran tinggi itu. Tak ada yang membuka suara sedikit pun. Kepala mereka semua tertunduk menekuri lantai. Saat semua orang sedang terdiam sambil tertunduk, tiba-tiba...

Slap! Sebatang anak panah melesat cepat dari luar jendela.

"Uts!" Ki Murad langsung mengegoskan kepalanya, maka anak panah itu menancap tepat di sandaran kursinya. Semua orang yang berada di ruangan itu tersentak kaget. Empat orang bergegas melompat ke luar melalui jendela. Sedang Ki Murad mencabut anak panah itu. Sebentar dipandangi, lalu diserahkannya pada Ki Danupaya. Laki-laki setengah baya itu menerimanya, dan membuka ikatan daun lontar pada batang anak panah itu.

"Keparat...!" geram Ki Danupaya setelah mem-baca sebaris kalimat pada daun lontar itu Dengan wajah merah padam, Ki Danupaya menyerahkan lembaran daun lontar itu pada Ki Murad.

Seketika itu juga wajah laki-laki tua. berjubah putih itu memerah. Gerahamnya bergemeletuk setelah membaca sebaris kalimat yang tertera pada daun lontar di tangannya. Seluruh ototnya menegang, dan daun lontar itu hancur diremas tangannya. Ki Murad segera bangkit berdiri.

"Jangan sendiri, Ki...!" seru Ki Danupaya seraya berdiri.

"Si Keparat itu hanya menginginkan aku, Ki Danupaya," tegas Ki Murad seraya mengayunkan kakinya.

"Anakmu sudah tewas, Ki. Sekarang orang itu menculik anakku. Bagaimanapun juga, aku harus ikut!" tegas kata-kata Ki Danupaya.

Ki Murad tidak berkata-kata lagi dan terus saja melangkah ke luar. Sementara Ki Danupaya memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk ikut. Sedangkan sisanya mengurus mayat Wiraguna, dan menjaga rumahnya itu. Tidak lama berselang, tampak sekitar dua belas ekor kuda berpacu cepat keluar dari gerbang rumah besar itu. Orang masih banyak berkumpul, tapi tak ada seorang pun yang membuka suara. Mereka hanya memandangi saja kepergian Ki Murad dan Ki Danupaya bersama sepuluh orang anak buahnya.

********************

Dua belas ekor kuda berpacu cepat memasuki sebuah padang rumput di sebelah Timur Desa Kali Wungu. Sebuah bukit terpampang terlihat kelam terselimut kabut di seberang padang rumput yang tidak seberapa luas itu. Ki Murad yang berpacu paling depan, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Maka semua kuda di belakangnya itu berhenti berpacu seketika.

Ki Danupaya yang selalu berada di samping laki-laki tua berjubah putih itu, segera menghentikan lari kudanya. Dia segera menoleh dan menatap Ki Murad yang bergerak turun dari punggung kudanya.

"Tak ada siapa-siapa di sini," gumam Ki Danupaya segera turun dari kudanya, lalu berjalan menghampiri laki-laki tua di samping kanannya.

"Hm...," Ki Murad hanya menggumam sedikit.

Tempat ini memang sepi. Apalagi malam masih menyelimuti sekitarnya. Hanya desir angin yang terdengar mengusik gendang telinga. Suara gemerisik dedaunan menambah ketegangan semua orang yang berada di padang rumput itu. Tampak Ki Murad menggeleng-gelengkan kepalanya pelahan-lahan, mencoba mendengarkan setiap gerakan suara yang halus di sekitarnya.

"Aku merasa ini hanya permainan saja, Ki," kata Ki Danupaya lagi.

Ki Murad menoleh menatap laki-laki setengah baya di sampingnya. Keningnya sedikit berkerut dan matanya agak menyipit Kemudian dihembuskan napas panjang, dan dialihkan pandangannya ke arah bukit di depan.

"Aku yakin, orang yang melakukan perbuatan ini pasti menyimpan dendam. Mungkin juga dendam padamu, atau padaku. Dan anak-anak kita yang menjadi sasarannya," kata Ki Danupaya lagi.

"Apa pun alasannya, aku tidak bisa menerima kenyataan ini semua!" tegas kata-kata Ki Murad.

"Bukan hanya kau. Bahkan aku seperti ditantang! Tidak bakalan aku diam saja!" sambung Ki Danupaya.

Ki Murad yang akan membuka mulutnya lagi, langsung mengurungkan niatnya begitu matanya menangkap gerakan bayangan putih tengah melintasi padang rumput yang cukup luas ini. Bayangan itu terus bergerak ringan menuju ke arahnya, dan semakin lama semakin jelas terlihat. Ternyata bayangan itu datang dari seorang laki-laki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun.

Wajahnya cukup tampan. Rambutnya panjang meriap dan sedikit tergelung ke atas. Selembar kain putih mengikat bagian keningnya. Baju yang dikenakannya berwarna putih tanpa lengan dengan bagian dada terbuka hingga ke perut. Baju itu melambai-lambai dipermainkan angin. Pemuda itu berhenti melangkah setelah dekat di depan dua belas orang yang berdiri bersikap menghadang.

"Oh, maaf. Bolehkah aku lewat...?" ucap pemuda itu ramah.

"Hm..., siapa kau?" dengus Ki Murad dingin. Tatapan matanya begitu tajam menusuk, meneliti sekujur tubuh pemuda di depannya.

"Aku seorang pengembara, dan hendak ke desa di depan sana," sahut pemuda itu tetap ramah dan sopan.

"Aku tidak tanya ke mana tujuanmu. Yang kutanyakan, siapa namamu?" bentak Ki Murad.

"Hm...," pemuda itu mengerutkan keningnya mendengar bentakan laki-laki tua berjubah putih yang nampak tidak ramah padanya.

"Anak muda, siapa kau sebenarnya. Dan apa maksudmu datang ke sini?" tanya Ki Danupaya agak ramah.

"Namaku, Rangga, dan hanya seorang pengembara. Aku tidak ada tujuan yang pasti," sahut pemuda itu.

"Anak muda, namaku Danupaya. Aku ingin tanya sekali lagi padamu," kata Ki Danupaya lagi.

"Silakan," ucap Rangga.

"Apakah kau melihat ada orang lain di sekitar tempat ini selain kami?" tanya Ki Danupaya.

"Sekitar tengah malam tadi, aku memang melihat ada seseorang lewat di kaki bukit sana...," Rangga menunjuk bukit di belakangnya.

"Apakah dia membawa seseorang?" serobot Ki Murad tidak sabaran.

"Tidak. Dia hanya sendiri saja."

"Laki-laki atau perempuan?"

"Tidak jelas. Aku hanya melihat dari jauh. Hm..., ada apa rupanya?"

"Tidak ada apa-apa, Anak Muda. Terima kasih atas keteranganmu," ucap Ki Danupaya seraya melirik pada Ki Murad.

Tanpa berkata apa-apa lagi, kedua laki-laki itu bergegas melompat ke punggung kudanya masing-masing. Dan sepuluh orang yang berada di belakang, juga bergegas melompat naik ke kudanya. Sebentar saja mereka sudah menggebah kudanya dengan cepat. Derap lari kuda terdengar menggetarkan jantung.

Sementara pemuda berbaju rompi putih itu hanya memandangi saja. Pemuda yang bernama Rangga dan lebih di kenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti itu hanya mengangkat bahunya, kemudian kembali berjalan sambil bersiul kecil berirama tidak jelas. Sementara rombongan berkuda itu semakin jauh menyeberangi padang rumput, menuju ke bukit yang berdiri megah terselimut kabut. Sedangkan pemuda itu terus saja melangkah menuju ke Desa Kali Wungu.

********************

DUA

Semua orang di Desa Kali Wungu selalu membicarakan kejadian malam itu di rumah Ki Danupaya. Peristiwa yang sangat mengejutkan dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bukan hanya orang-orang tua, bahkan anak-anak muda pun ikut membicarakan peristiwa yang merenggut nyawa Wiraguna. Sebenarnya putra tunggal Ki Murad ini memang beruntung dapat mempersunting putri Ki Danupaya, seorang saudagar kaya di Desa Kali Wungu ini.

Tapi, nasib ternyata lebih menentukan. Sudah tiga hari peristiwa itu berlalu, tapi masih terlalu hangat untuk dilupakan begitu saja. Masalahnya, Nurmi belum juga diketemukan dan tidak diketahui nasibnya sampai sekarang. Tidak ada seorang pun yang tahu, siapa pembunuh Wiraguna dan penculik Nurmi. Waktu itu semua orang tengah sibuk berpesta.

Bukan hanya di rumah, di kedai, atau di ladang. Bahkan di sungai pun gadis-gadis membicarakan tentang peristiwa pembunuhan dan penculikan itu. Mereka selalu bertanya-tanya tentang hilangnya Nurmi Tapi ada juga yang merasa gembira atas kematian Wiraguna. Dan tidak sedikit yang menyesalkan kejadian itu. Terlalu banyak tanggapan yang terlontarkan, dan semuanya hanya menduga-duga saja.

"Tolooong...!" tiba-tiba saja siang yang tenang itu pecah oleh suara teriakan seorang wanita. Dan tampak seorang perempuan setengah baya berlari-lari dengan baju sobek dan kain kedodoran. Pe-rempuan itu terus berteriak-teriak sambil berlari ken-cang. Teriakan yang keras itu mengagetkan semua orang. Baik yang berada di sungai, di rumah, ataupun di ladang.

"Tolooong...!" teriak perempuan itu sekeras-kerasnya. Sebatang akar yang menyembul ke permukaan tanah mengganjal kaki wanita itu, hingga jatuh bergulingan di tanah berumput. Wanita setengah baya itu berusaha cepat bangkit, tapi tiba-tiba saja sebuah bayangan sudah berkelebat cepat.

"Akh!" wanita itu terpekik tertahan. Kedua bola matanya membeliak lebar, dan mulutnya ternganga. Belum sempat bisa melakukan sesuatu, mendadak saja terlihat kilatan cahaya keperakan yang langsung menyambar leher wanita itu.

"Aaa...!" Satu jeritan melengking terdengar, disusul ambruknya wanita itu ke tanah. Darah mengucur deras dari lehernya yang terbabat hampir buntung. Sebentar tubuhnya menggelepar, kemudian diam tidak bergerak-gerak lagi.

Terlihat seseorang berdiri tegak memandangi wanita setengah baya yang sudah jadi mayat itu, kemudian berkelebat cepat bagai kilat. Seketika bayangannya lenyap bagai ditelan bumi. Pada saat yang sama, orang-orang berdatangan ke tempat itu. Dan mereka langsung terperangah begitu melihat seorang wanita setengah baya menggeletak dengan leher koyak berlumur darah segar yang masih mengalir deras. Dari kerumunan orang, menyentak seorang laki-laki setengah baya.

"Nyai...!" sentak laki-laki setengah baya yang ternyata adalah Ki Danupaya.

Laki-laki setengah baya yang selalu memakai baju indah dari bahan sutra halus itu, bergegas berlutut dan memeriksa tubuh wanita yang dikenal bernama Nyai Mirta. Dan semua penduduk Desa Kali Wungu sering memanggilnya Nyai Murad. Wanita itu memang istri Ki Murad.

Saat Ki Danupaya bangkit berdiri, menyeruak seorang laki-laki tua dari kerumunan orang-orang. Sesaat dia terpaku, lalu menubruk wanita itu. Ki Danupaya hanya tertunduk, tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Semua orang yang berkerumun pun terdiam. Tak ada satu suara pun yang terdengar. Semua kepala tertunduk.

Laki-laki tua berjubah putih itu bangkit berdiri sambil memondong wanita itu. Sebentar bola matanya yang berkaca-kaca menatap Ki Danupaya, lalu kakinya terayun pelahan-lahan. Orang-orang yang berkerumun bergegas menyingkir, memberi jalan. Sukar untuk dilukiskan, bagaimana perasaan Ki Murad saat ini mendapati istrinya tewas dengan leher koyak. Baru beberapa hari kehilangan putranya yang baru saja melangsungkan pernikahan, kini juga harus kehilangan istrinya.

Sementara Ki Danupaya memperhatikan dengan bibir bergetar dan tubuh menggelegar menahan geram. Dilayangkan pandangannya ke sekeliling, lalu bergegas melangkah menyusul sahabatnya itu. Langkah kaki Ki Danupaya berhenti seketika saat matanya, menangkap sosok pemuda berbaju rompi putih yang berdiri di bawah sebatang pohon besar. Pemuda yang pernah ditemuinya di padang rumput dekat Bukit Mangun. Hanya sebentar Ki Danupaya menatap, kemudian kembali melangkah cepat menyusul Ki Murad.

Orang yang berkerumun, kembali bubar menuju arahnya masing-masing. Beberapa celotehan terdengar. Sebentar saja, tempat itu menjadi sunyi kembali. Hanya seorang pemuda berbaju rompi putih yang masih duduk di bawah pohon. Pemuda itu baru bangkit berdiri setelah semua orang tidak terlihat lagi. Dia melangkah menghampiri tempat Nyai Murad tadi tergeletak tewas. Pandangan matanya tertuju langsung pada seuntai kalung bergambar tengkorak dan bulan sabit. Kalung itu hampir tertutup tanah, sehingga sukar dilihat dalam sepintas saja.

"Hm...," pemuda itu bergumam pelan.

********************

Suasana di Desa Kali Wungu semakin diliputi hawa maut. Tewasnya Nyai Murad oleh seseorang yang belum diketahui, sepertinya merupakan lanjutan dari malapetaka sebelumnya. Peristiwa mengerikan secara beruntun itu kini menjadi pembicaraan hangat, di samping menimbulkan beberapa macam dugaan dan pertanyaan. Tidak mudah untuk mencari pelaku dua pembunuhan itu. Apalagi seminggu setelah tewasnya Nyai Murad, tidak ada lagi peristiwa mengerikan terjadi. Dan para penduduk pun sudah mulai melupakannya.

Tapi tidak demikian dengan Ki Murad. Laki-laki tua itu tidak pernah tenang. Karena, setelah peristiwa yang meminta nyawa istri dan anaknya, dia selalu menerima ancaman. Setiap hari, kehidupannya selalu dihantui ancaman.

"Keparat...!" geram Ki Murad. Laki-laki tua berjubah putih itu meremas daun lontar yang baru saja diterima dari salah seorang muridnya. Daun lontar itu ditemukan menancap di ujung anak panah pada tiang beranda depan rumahnya. Hampir setiap hari Ki Murad selalu menerima ancaman yang bernada sama. Tapi tidak diketahui, siapa pengirim surat ancaman itu.

Ki Murad memandangi muridnya yang berjumlah sepuluh orang. Mereka rata-rata masih muda, dan berseragam biru tua. Di punggung masing-masing tersampir sebilah pedang. Mereka duduk bersila dengan kepala tertunduk.

"Ini sudah jelas! Bajingan itu sengaja mengincarku!" dengus Ki Murad menahan geram.

"Mungkin salah seorang dari musuh kita, Ki," celetuk salah seorang yang duduk paling kanan.

"Siapa pun dia, tidak boleh didiamkan terlalu lama!"

"Benar, Ki!" sambut sepuluh murid Ki Murad serempak.

"Mungkin inilah saatnya kalian harus berhadapan secara sungguh-sungguh. Perlihatkan bakti kalian pada ku," ujar Ki Murad menatap tajam murid-muridnya yang berjumlah sepuluh orang itu.

"Kami siap mengorbankan nyawa, Ki!" sahut sepuluh orang pemuda itu serempak.

Ki Murad terangguk-angguk. Hatinya merasa bangga terhadap kesetiaan muridnya yang hanya berjumlah sepuluh orang itu. Dia memang sengaja tidak mengambil murid banyak-banyak. Baginya, jumlah yang sedikit bisa menurunkan ilmunya lebih baik, dan bermutu tinggi. Murid-murid Ki Murad memang terkenal cukup tangguh dalam ilmu olah kanuragan. Mereka rata-rata satu tingkat di atas orang-orang Ki Danupaya.

"Hi hi hi...!" tiba-tiba saja terdengar suara tawa mengikik.

Ki Murad langsung menggerinjang bangkit dari duduknya. Demikian juga sepuluh orang muridnya, Sesaat mereka saling berpandangan. Dan tanpa menunggu perintah lagi, sepuluh orang berpakaian biru tua itu berlompatan ke luar. Ki Murad sendiri langsung melesat cepat bagaikan kilat melalui jendela yang terbuka lebar. Mereka semua terperanjat begitu tiba di luar rumah yang tidak begitu besar ini.

Tampak di tengah-tengah halaman yang tidak begitu luas, berdiri seseorang berpakaian merah menyala sambil membawa sebatang tongkat. Orang itu mengenakan tudung besar yang hampir menutupi wajahnya. Namun dari bentuk tubuhnya yang terbungkus baju merah ketat, dapat dipastikan kalau orang itu adalah wanita. Demikian pula kulit tangan dan kaki yang putih halus, sudah menandakan kalau wanita itu masih berusia muda.

"Hm.... Siapa kau, Nisanak! Apa keperluanmu datang ke tempatku?" tanya Ki Murad dengan tatapan mata tajam menusuk. Laki-laki tua berjubah putih itu berdiri tegak di depan sepuluh orang muridnya yang berdiri berjajar dan bersikap penuh kewaspadaan.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku, Ki Murad. Aku datang untuk membunuhmu!" sahut orang itu ketus.

Srer! Sepuluh orang yang berada di belakang Ki Murad, langsung mencabut pedangnya. Sementara orang bertudung bambu lebar itu kelihatan tenang saja. Nampak bibirnya yang merah menyunggingkan senyuman tipis mengejek. Ki Murad merentangkan tangannya sedikit, mencegah murid-muridnya agar tidak bertindak gegabah.

Laki-laki tua berjubah putih itu memandangi wanita bercaping yang mengenakan baju merah menyala itu. Sudah bisa ditebak kalau wanita itu memiliki kepandaian yang tidak bisa dianggap remeh. Terbukti kedatangannya secara terbuka dan langsung menantang.

"Aku tidak kenal siapa dirimu, Ni sanak. Mengapa datang-datang ingin membunuhku?" nada suara Ki Murad masih terdengar ramah, meskipun hatinya sudah geram.

"Karena kau berlaku curang!" masih bernada ketus jawaban wanita itu.

"Curang...? Aku tidak mengerti maksudmu, Ni sanak."

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, karena tinggal kau yang belum mampus!" Setelah berkata demikian, wanita berbaju merah yang wajahnya hampir tertutup tudung bambu itu langsung menggerakkan tongkatnya.

"Tunggu...!" sentak Ki Murad mencegah.

"Tidak ada waktu lagi, Ki Murad. Bersiaplah untuk mari! Hiyaaat..!" Wanita itu langsung melompat sambil mengebutkan tongkatnya ke depan. Sungguh dahsyat kebutan tongkat itu. Belum juga sampai ke arah sasaran, angin kebutannya telah terasa menderu bagai angin topan.

"Hup!" Ki Murad bergegas melompat ke belakang, Dan sepuluh orang muridnya langsung berlompatan ke samping, membentuk lingkaran mengepung wanita berbaju merah itu.

Gagal dengan serangan pertamanya, wanita itu segera menyerang dahsyat kembali. Ki Murad berlompatan, berkelit, menghindari sambaran tongkat putih yang begitu dahsyat. Setiap kebutannya menimbulkan suara angin menderu disertai hawa panas menyengat kulit.

Ki Murad sadar, kalau wanita itu sungguh-sungguh ingin membunuhnya. Serangan-serangannya begitu dahsyat dan cepat luar biasa. Lengah sedikit saja bisa berakibat fatal. Laki-laki berjubah putih itu melompat mundur sejauh tiga batang tombak begitu ada kesempatan. Langsung dicabut pedangnya yang selalu tergantung di pinggang. Pedang berwarna keperakan itu berkilatan tertimpa cahaya matahari.

"Hiyaaat..!" Wanita berbaju merah itu kembali menyerang disertai satu teriakan keras. Ki Murad bergegas mengangkat pedangnya, menyampok tebasan tongkat putih berujung runcing itu. Tak pelak lagi, dua benda beradu keras di udara.

Trang! Pijaran api memercik dari kedua senjata yang beradu keras itu. Ki Murad langsung mengibaskan pedangnya ke bawah, namun wanita itu cepat sekali memutar tongkatnya. Akibatnya, kembali dua senjata itu beradu, hingga menimbulkan pijaran api memercik ke segala arah. Satu percikan api menyambar atap rumah. Sepuluh orang murid Ki Murad, tersentak melihat kobaran api mulai melahap atap rumah gurunya. Sejenak mereka berpandangan, lalu lima orang bergegas berlompatan berusaha memadamkan api yang mulai membesar itu.

Sementara Ki Murad masih bertarung sengit melawan wanita berbaju merah. Jurus demi jurus berlalu cepat, tapi wanita berbaju merah dan bercaping besar itu masih juga tangguh. Bahkan jurus-jurusnya semakin dahsyat dan berbahaya. Beberapa kali Ki Murad harus berpelantingan di udara, menghindari terjangan lawannya. Hingga suatu saat...

"Akh...!" tiba-tiba saja Ki Murad terpekik keras tertahan. Satu tendangan telak, tepat mendarat di dada laki-laki tua itu, hingga terjengkang sejauh dua batang tombak ke belakang. Saat Ki Murad terhuyung-huyung, wanita itu sudah melompat sambil mengibaskan tongkatnya yang berujung runcing.

"Hiyaaat..!"

"Uts!" Buru-buru Ki Murad mengegoskan tubuhnya. Tapi ujung tongkat berwarna putih itu masih juga menggores bahunya. Darah langsung merembes ke luar. Ki Murad kembali terhuyung, melangkah mundur beberapa tindak.

"Mampus kau! Hiyaaat..!" teriak wanita itu melengking tinggi. Bagaikan kilat, wanita berbaju merah itu melompat cepat menghunus ujung tongkat ke arah dada.

Saat itu keadaan Ki Murad tidak menguntungkan sama sekali. Rasanya tidak ada waktu untuk menghindar. Laki-laki tua itu terperangah sambil membeliakkan matanya. Cepat sekali ujung tongkat putih itu mengarah ke dadanya. Namun belum juga ujung tongkat itu mengenai dada Ki Murad, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat bagaikan kilat. Dan...

Trak! "Akh!" wanita itu memekik tertahan, dan tubuhnya mencelat ke belakang.

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan Ki Murad sudah berdiri seorang pemuda memakai baju putih tanpa lengan. Bagian dadanya dibiarkan terbuka lebar. Sebilah pedang bergagang kepala burung bertengger di punggungnya.

"Keparat..!" geram wanita itu. Wanita berbaju merah itu langsung melompat sambil berteriak keras. Cepat sekali dikebutkan tongkatnya, sehingga yang terlihat hanya bayangan putih berkelebat mengarah ke tubuh pemuda berbaju rompi putih itu.

Namun manis sekali pemuda itu mengelakkannya. Bahkan saat tangan kanannya bergerak mengibas, wanita itu memekik keras tertahan. Kembali wanita itu terdorong ke belakang beberapa langkah. Tampak dari sudut bibirnya mengalir darah kental. Sebelah tangan memegangi dadanya. Rupanya kibasan tangan pemuda berbaju rompi putih itu tepat mengenai dadanya. Wanita itu menggeram marah.

"Phuih!" wanita itu menyemburkan ludahnya. Tiba-tiba saja tubuhnya melesat cepat bagaikan kilat, dan tahu-tahu lenyap di antara pepohonan yang rimbun di samping rumah Ki Murad. Pemuda berbaju rompi putih itu mendesah panjang, lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada laki-laki tua berjubah putih itu. Dibungkukkan tubuhnya sedikit kemudian kembali diputar tubuhnya. Kini kakinya melangkah pergi tanpa berkata-kata sedikit pun.

"Tunggu...!" seru Ki Murad mencegah.

Pemuda berbaju rompi putih itu menghentikan langkah, dan memutar tubuhnya. Kembali dia menghadap ke arah Ki Murad yang masih tetap berdiri pada tempatnya.

"Rasanya kita pernah bertemu. Hm.... Siapa kau, Anak Muda?" tanya Ki Murad setengah bergumam.

Pemuda tampan berbaju rompi putih itu hanya tersenyum saja. Sedangkan Ki Murad melangkah menghampiri. Sementara lima orang murid laki-laki berjubah putih yang berusaha memadamkan api, sudah menyelesaikan pekerjaannya. Untung saja hanya bagian atap depan yang terbakar, dan tidak sampai merambat lebih jauh lagi. Mereka segera bergabung dengan yang lainnya.

Ki Murad baru teringat. Dia memang pernah bertemu pemuda yang tadi telah menyelamatkan nyawanya. Ya..., dia ingat! Mereka bertemu di tepi padang di Kaki Bukit Mangun. Laki-laki tua itu juga melihat pemuda itu saat. istrinya ditemukan tewas terbunuh di tepi hutan. Ki Murad kemudian mengajaknya ke dalam rumah, dan pemuda itu tidak bisa menolak. Mereka kemudian duduk di ruangan tengah. Sementara sepuluh orang murid Ki Murad, membetulkan atap yang hangus terbakar.

"Kalau tidak salah, kau pernah menyebutkan namamu. Hm.... Rangga.... Benar bukan?" tebak Ki Murad mencoba mengingat-ingat.

"Benar, Ki," sahut pemuda itu mengangguk ramah.

"Ah...! Kau seorang pengembara, dan kepandaianmu tinggi sekali. Aku senang bisa berkenalan lebih dekat lagi denganmu," ujar Ki Murad.

Rangga hanya tersenyum saja.

"Kau bisa mengusir bajingan itu. Tentu kepandaianmu lebih tinggi darinya...," sambung Ki Murad lagi.

"Ah! Hanya kebetulan saja, Ki," sahut Rangga merendah.

"Nak Rangga, dari manakah asalmu? Apakah kedatanganmu ke sini karena memang ada keperluan?" tanya Ki Murad tanpa bermaksud menyelidik.

"Hanya kebetulan lewat saja, Ki. Dan asalku tidak tentu," sahut Rangga ramah. Tentu saja tidak ingin diungkapkan tentang diri sebenarnya.

"Kau seorang pengembara berkepandaian tinggi. Tentu kau seorang pendekar. Apa julukanmu, Nak Rangga?" tanya Ki Murad ingin tahu.

"Pendekar Rajawali Sakti," sahut Rangga.

"Oh...!" seketika bola mata Ki Murad berbinar begitu mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti. Laki-laki tua berjubah putih itu memandangi pemuda di depannya tanpa berkedip. Sepertinya ingin dipastikan kalau pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya tadi adalah seorang pendekar yang sudah ternama dan sangat digdaya. Apalagi dicari tandingannya. Pendekar yang sangat disegani, baik lawan maupun kawan. Ki Murad hampir tidak percaya kalau kini tengah duduk bersama seorang pendekar yang selalu menjadi buah bibir orang-orang rimba persilatan.

"Ada apa, Ki? Apa ada yang aneh pada diriku?" tegur Rangga merasa jengah dipandangi seperti itu.

"Oh, tidak.... Hanya aku...," Ki Murad jadi tergagap.

"Kenapa, Ki?" desak Rangga.

"Aku merasa mendapat kehormatan karena kedatangan seorang pendekar besar dan digdaya. Namamu sering kudengar, dan aku selalu mengagumi segala sepak terjangmu yang sudah banyak membasmi keangkaramurkaan," ungkap Ki Murad sambil tersenyum bangga karena bisa duduk bersama dan berbincang-bincang dengan seorang pendekar ternama saat ini.

"Kau terlalu memujiku, Ki," ucap Rangga agak tersipu.

"Aku berkata sebenarnya, Nak Rangga. Sudah sepatutnya aku menyambutmu penuh rasa hormat. Lagi-lagi Pendekar Rajawali Sakti itu hanya tersenyum saja. Memang tidak disangkal kalau namanya saat ini selalu menjadi buah bibir orang-orang rimba persilatan. Bahkan biasanya, mereka langsung mengenali begitu berhadapan dengannya. Dengan baju rompi putih dan pedang bergagang kepala burung di punggung, adalah menjadi satu ciri khas Pendekar Rajawali Sakti.

"Seharusnya kau bisa ku kenali saat pertama kali bertemu, Nak Rangga. Tapi memang dasar sudah tua, dan...," suara Ki Murad terputus.

Rangga mengernyitkan keningnya melihat perubahan pada air muka laki-laki tua di depannya. Mendadak saja Ki Murad jadi merenung dan wajahnya mendung. Sedangkan bola matanya berkaca-kaca. Tapi itu hanya sebentar. Ki Murad menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat, seakan hendak melepaskan ganjalan yang tiba-tiba membuat dadanya sesak.

"Nampaknya kau sedang dilanda kesulitan, Ki," ujar Rangga hari-hati.

"Hhh...!" Ki Murad hanya mendesah panjang. Laki-laki tua berjubah putih itu menatap Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Beberapa kali ditarik napas panjang dan dihembuskannya kuat-kuat, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dan Rangga juga tidak ingin mendesak, dan hanya diam memperhatikan raut wajah yang selalu berubah-ubah itu. Wajah yang terselimut kabut hitam.

********************

TIGA

Malam baru saja menyelimuti bumi, namun suasana di Desa Kali Wungu telah demikian sunyi. Suasana yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Keadaan yang mencekam itu dikarenakan dalam beberapa hari ini terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Ki Danupaya. Terlebih lagi setelah peristiwa pahit yang menimpa Ki Murad. Laki-laki tua itu hampir tewas kalau saja tidak ditolong Pendekar Rajawali Sakti.

Malam gelap terselimut kabut ini begitu sunyi. Tidak terlihat seorang pun di luar rumah. Namun di jalan yang tidak terlalu besar dan berdebu, terlihat seseorang berpakaian merah menyala tengah berjalan sambil membawa tongkat putih yang terayun-ayun di sampingnya. Jika dilihat dari kulit tangan dan bentuk tubuhnya, jelas orang itu pastilah wanita. Hanya saja wajahnya tidak terlihat karena hampir tertutup tudung tikar yang cukup besar. Orang itu berjalan ringan, dan pandangannya lurus ke depan.

"Berhenti...!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras.

Wanita berbaju merah yang bertudung tikar di kepalanya itu langsung berhenti melangkah. Dia hanya menoleh sedikit saat telinganya mendengar langkah kaki dari arah belakangnya.

"Hm.... Dua tikus Danupaya...," gumam wanita itu pelahan.

Dan memang benar. Dua orang anak buah Ki Danupaya tengah menghampiri dan langsung menghadang di depan wanita bertudung tikar pandan itu. Masing-masing menggenggam gagang golok yang ma-sih terselip di pinggang.

"Siapa kau? Malam-malam begini masih ke-luyuran!" bentak salah seorang yang berkumis lebat.

"Hm...," wanita itu hanya menggumam saja. Dan, tiba-tiba saja wanita itu bergerak cepat seraya mengibaskan tongkatnya bagaikan kilat.

Dua orang anak buah Ki Danupaya terperanjat kaget, karena tiba-tiba orang di depannya menyerang tanpa berkata-kata lagi. Dan belum sempat melakukan sesuatu, ujung tongkat wanita itu sudah menyambar leher mereka. Dua jeritan panjang melengking terdengar hampir bersamaan. Sesaat kemudian, dua sosok tubuh menggelepar di tanah dengan leher hampir putus dan mengucurkan darah segar.

Wanita bertudung bambu itu memandangi sebentar, lalu kembali melangkah tenang setelah dua orang yang menghadangnya tidak bergerak-gerak lagi. Jeritan menyayat dari dua orang anak buah Ki Danupaya, rupanya mengejutkan semua penduduk Desa Kali Wungu ini. Tapi tidak ada seorang pun yang berani ke luar. Mereka hanya mengintip saja dengan mata membeliak lebar begitu mendapati dua sosok mayat menggeletak.

Apalagi saat mendapati pula seorang wanita berbaju merah dan bertudung besar tengah berjalan ringan menuju kediaman Ki Danupaya. Rumah besar milik saudagar kaya itu memang sudah tidak seberapa jauh lagi. Dan tentu saja, jeritan panjang melengking tadi terdengar jelas sampai ke sana. Tampak pintu gerbang yang semula tertutup rapat, seketika terbuka. Maka berhamburanlah sekitar sepuluh orang dan dalam pintu pagar bagai benteng itu.

Tapi belum juga mereka jauh meninggalkan tempat itu, mendadak wanita berbaju merah menyala itu sudah melentingkan tubuhnya cepat. Dan seketika saja terdengar jeritan-jeritan melengking saat bayangan merah disertai kilatan cahaya putih berkelebatan bagai kilat ke arah sepuluh orang yang baru keluar dari gerbang kediaman Ki Danupaya. Sukar dipercaya. Dalam waktu singkat saja, sepuluh orang itu sudah tergeletak tak bernyawa dengan leher koyak hampir buntung. Dan wanita berbaju merah itu kembali melangkah tenang, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu pada dirinya. Langkahnya ringan mendekati pintu gerbang kediaman Ki Danupaya.

"Hm...," wanita itu bergumam pelan. Tiba-tiba saja tubuhnya melesat ke udara, lalu mendadak lenyap tanpa bekas. Sungguh tinggi ilmu meringankan tubuhnya. Bisa bergerak cepat melebihi kilat. Bayangannya saja sudah lenyap tak terlihat lagi. Tak ada seorang pun yang tahu, ke mana arah perginya. Bahkan orang-orang di atas pagar yang sudah siap membidik anak panah, jadi bengong keheranan. Mereka mencari-cari tanpa meninggalkan tempatnya. Namun orang berbaju merah itu seperti lenyap ditelan bumi.
Pendekar Rajawali Sakti
Ki Danupaya terperanjat begitu menerima laporan sepuluh orang anak buahnya tewas. Lebih terkejut lagi saat mendengar orang yang membunuhnya lenyap di depan pintu gerbang rumahnya. Laki-laki setengah baya itu bergegas menuju ke kamar istrinya yang selalu mengurung diri di dalam kamar, sejak putri mereka diculik saat pesta pernikahannya. Hingga kini belum ada kabar berita tentang hilangnya Nurmi yang tanpa jejak sama sekali. Ki Danupaya menggedor keras pintu kamar istrinya. Memang keselamatan istrinya selalu dikhawatirkan sejak terbunuhnya istri Ki Murad di tepi hutan.

"Nyai...! Buka pintunya, Nyai...!" seru Ki Danupaya keras sambil menggedor pintu kamar itu.

Tidak ada sahutan sama sekali. Ki Danupaya semakin cemas. Di gedornya pintu itu semakin keras, sambil terus memanggil istrinya agar membuka pintu. Agak lama juga, dan akhirnya pintu kamar itu terbuka pelahan. Tampak seorang wanita yang belum begitu tua usianya berdiri di ambang pintu. Wanita yang berusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu menggeser ke samping. Ki Danupaya menerobos masuk, langsung menghampiri jendela yang terbuka sedikit. Di longoknya keadaan di luar, lalu ditutup jendela itu rapat-rapat. Ki Danupaya menghampiri wanita yang hanya mengenakan kemben saja.

"Ada apa, Kakang?" lembut suara Nyai Danupaya bertanya.

"Si Keparat itu ada di sini. Aku cemas terhadap mu, Nyai," sahut Ki Danupaya.

"Tidak ada siapa-siapa di sini," kata Nyai Danupaya. "Lagi pula, apa yang diinginkan di sini?"

"Aku tidak tahu. Yang jelas dia telah membunuh sepuluh orang anak buahku," kata Ki Danupaya.

Nyai Danupaya mendesah panjang. Dihampirinya pembaringan, dan direbahkan dirinya di sana. Ki Danupaya menghampiri dan duduk di tepi pembaringan. Di pandanginya wajah istrinya yang nampak lesu dengan sinar mata redup tanpa gairah. Meskipun Nurmi bukan anak kandungnya, tapi Nyai Danupaya sangat menyayangi. Dia adalah istri muda Ki Danupaya. Sedangkan ibu Nurmi sendiri telah meninggal saat anak itu berusia tujuh tahun. Dan Nyai Danupaya sendiri masih memiliki seorang anak gadis yang baru berusia delapan belas tahun, yang saat ini bersama kakeknya di Pertapaan Jati Wangi.

Ki Danupaya menoleh saat mendengar suara ketukan di pintu. Dan pintu kamar itu memang tidak tertutup. Seorang laki-laki muda berdiri di ambang pintu, lalu menjura memberi hormat. Ki Danupaya hanya menganggukkan kepalanya sedikit.

"Semua penjaga sudah disebar, Gusti. Tapi orang itu tidak ada. Mungkin sudah pergi," lapor pemuda itu.

"Kalau begitu, lipat gandakan penjagaan. Terutama di sekitar rumah ini!" perintah Ki Danupaya.

"Baik, Gusti," sahut pemuda itu seraya membungkuk memberi hormat.

Ki Danupaya mengibaskan tangannya sedikit, maka pemuda itu bergegas pergi. Segera ditutupnya pintu kamar ini. Ada sedikit desahan terdengar dari hidung laki-laki setengah baya itu. Sementara Nyai Danupaya masih terbaring dengan mata menerawang jauh ke langit-langit kamar.

"Sudahlah, Nyai. Aku pun tidak tinggal diam begitu saja. Kita berdoa saja, mudah-mudahan anak kita selamat," kata Ki Danupaya mencoba menghibur.

"Bisa kau biarkan aku sendiri saja, Kakang?" pinta Nyai Danupaya.

Ki Danupaya merayapi wajah istrinya sesaat, kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke luar. Sedangkan Nyai Danupaya masih terbaring. Matanya kembali menerawang jauh, menatap langit-langit kamar. Sedikit pun kepalanya tidak berpaling meskipun mendengar suara pintu kamar tertutup kembali. Suasana di dalam kamar kembali sunyi, tanpa terdengar satu suara pun.

********************

Malam terus merambat semakin larut. Suasana di Desa Kali Wungu semakin terasa sepi. Sementara orang-orang Ki Danupaya menjaga penuh kewaspadaan. Tidak jauh dari rumah besar saudagar kaya itu terlihat seseorang berdiri di bawah pohon, terlindung dari cahaya sang dewi malam. Seorang laki-laki muda yang wajahnya cukup tampan. Rambut yang sebatas bahu, tergerai sedikit tergulung ke atas dengan ikat kepala berwarna putih.

Udara malam yang dingin, bagai tidak terasa meskipun pemuda itu hanya mengenakan baju rompi putih yang bagian dadanya dibiarkan terbuka lebar. Dia tetap berdiri tegak merapatkan tubuhnya di batang pohon yang melindunginya dari cahaya bulan. Sedikit pun matanya tidak berkedip mengamati rumah besar yang dijaga cukup ketat itu. Setiap ada gerakan, selalu menjadi perhatiannya.

"Hm... Dia tidak keluar lagi..," pemuda berbaju rompi putih itu bergumam pelan. Pandangan matanya beralih ke ujung jalan ketika mendengar suara derap seekor kuda putih yang dipacu cepat melintasi jalan berdebu. Derap kaki kuda menghantam tanah, terdengar keras di malam yang sepi ini. Pemuda itu mengernyitkan dahinya saat mengenali penunggang kuda putih itu.

"Ki Murad... Mau apa ke sini...?" bisiknya pelan.

Penunggang kuda putih itu memang Ki Murad. Seorang laki-laki tua yang selalu mengenakan jubah putih panjang. Sebilah pedang tergantung di pinggangnya. Sementara pemuda berbaju rompi putih yang masih berdiri di bawah pohon, terus saja mengawasi. Kerut di keningnya semakin dalam saat mengetahui penunggang kuda itu menuju rumah Ki Danupaya. Dua orang penjaga pintu gerbang, bergegas membuka pintu begitu melihat Ki Murad datang. Tanpa menghentikan laju kudanya, laki-laki tua berjubah putih itu terus menerobos masuk.

Pada saat itu, pemuda berbaju rompi putih yang lebih dikenal sebagai Pendekar Rajawali Sakti, melesat tinggi ke udara. Dan dengan manisnya hinggap di atas dahan yang cukup tinggi. Dari dahan pohon ini bisa terlihat jelas ke bagian dalam halaman besar yang dikelilingi tembok tinggi bagai benteng itu. Tampak Ki Murad melompat turun dari kudanya setelah sampai di depan beranda yang disangga dua buah pilar.

Dari dalam muncul Ki Danupaya yang langsung menyongsongnya. Mereka kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara di atas pohon tidak jauh dari tembok benteng, Pendekar Rajawali Sakti masih mengamati. Pemuda berbaju rompi putih itu mengerahkan ilmu 'Pembeda Gerak dan Suara' untuk mendengarkan pembicaraan dua orang yang cukup disegani di Desa Kali Wungu ini.

"Dia sudah berani menjarah ke sini lagi, Kakang Murad," terdengar suara Ki Danupaya.

"Hm..., ya. Aku sudah dengar. Itu sebabnya aku langsung cepat-cepat ke sini," sahut Ki Murad setengah bergumam.

"Oh! Dari mana kau tahu?" Ki Danupaya agak terkejut. Begitu cepat kabar yang sampai, sehingga Ki Murad bisa cepat mengetahui. Padahal jarak dari rumah ini ke rumah Ki Murad cukup jauh.

"Seorang muridku melihat kejadian di luar sana, dan langsung melaporkannya padaku," sahut Ki Murad kalem.

"Sepuluh orang, Kakang. Ditambah dua orang yang sedang meronda," lirih suara Ki Danupaya.

"Yang kita hadapi sekarang orang berilmu tinggi, Adi Danupaya. Dia juga sudah mendatangiku, bahkan hampir saja aku tewas."

"Oh...!" lagi-lagi Ki Danupaya tersentak kaget.

"Tapi seorang pendekar menyelamatkan nyawaku," lanjut Ki Murad.

"Siapa dia, Kakang?" tanya Ki Danupaya.

"Pemuda yang kita jumpai di padang rumput dekat Bukit Mangun," sahut Ki Murad lagi.

Ki Danupaya terdiam dengan kepala agak tertunduk. Keningnya sedikit berkerut, berusaha mengingat-ingat pemuda yang ditemui di padang rumput dekat Bukit Mangun. Seorang pemuda berwajah tampan dengan ikat kepala putih dan rambut meriap sedikit tergelung ke atas. Baju rompinya berwarna putih, dan gagang pedang berbentuk kepala burung menyembul dari balik punggungnya. Agak lama juga Ki Danupaya berdiam diri sambil mengingat-ingat. Dan akhirnya teringat juga. Dia pernah bertemu pemuda itu saat kematian istri Ki Murad di tepi hutan. Pelahan-lahan Ki Danupaya mengangkat kepalanya, langsung menatap pada laki-laki tua berjubah putih yang duduk di depannya.

"Namanya Rangga. Dia terkenal dengan julukan Pendekar Rajawali Sakti," kata Ki Murad, seakan bisa membaca arti pandangan Ki Danupaya.

"Pendekar Rajawali Sakti...," desis Ki Danupaya pelan. Begitu pelannya, hampir tidak terdengar suaranya.

"Pernah kau dengar nama itu, Adi Danupaya?" dalam sekali nada suara Ki Murad.

"Ya. Aku sering mendengar tentang seorang pendekar yang selalu menumpas keangkaramurkaan. Tapi..., ah! Rasanya aku tidak yakin...," Ki Danupaya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kau akan percaya kalau sudah berbicara dengannya, Adi Danupaya. Tapi sayang..., dia sudah pergi," ujar Ki Murad.

"Apakah kau minta bantuannya, Kakang?" tanya Ki Danupaya setelah agak lama berdiam diri saja.

"Tidak," sahut Ki Murad pelan.

"Kenapa? Saat ini kita benar-benar sedang membutuhkan bantuan seorang pendekar digdaya. Mengapa sekarang kau sia-siakan kehadiran seorang pendekar digdaya hadir di desa ini? Kalau kau yakin pemuda itu Pendekar Rajawali Sakti, kenapa tidak meminta bantuannya? Aku yakin, kalau memang benar-benar Pendekar Rajawali Sakti, dia pasti bersedia membantu sekaligus melenyapkan si keparat itu!"

"Aku rasa belum perlu, Adi Danupaya."

"Belum perlu katamu...?!" Ki Danupaya terperanjat "Orang yang kita hadapi berilmu sangat tinggi, Kakang. Aku sendiri belum tentu mampu menandinginya. Kau lihat, dua belas orang anak buahku tewas hanya dalam waktu singkat. Bahkan dia bisa menghilang seperti setan!" agak keras nada suara Ki Danupaya.

"Kau mulai panik, Adi Danupaya...," pelan suara Ki Murad.

"Aku tidak tahu." dengus Ki Danupaya. "Yang jelas, setiap hari aku selalu diliputi ketegangan. Coba kau lihat istriku tidak pernah lagi ke luar kamar sejak Nurmi hilang. Hanya denganku saja mau bicara, itu pun hanya sebentar! Benar-benar seperti berada di dalam neraka saja...!" keluh Ki Danupaya.

"Bukan hanya kau. Tapi seluruh penduduk desa ini merasa begitu. Terlebih lagi aku, Adi Danupaya. Istri dan anakku tewas!"

Ki Danupaya terdiam menundukkan kepalanya. Memang masih saja disesali sikap Ki Murad yang tidak meminta bantuan Pendekar Rajawali Sakti. Padahal, pendekar muda dan digdaya itu ada di desa ini. Meskipun belum yakin kalau pemuda berbaju rompi putih itu adalah Pendekar Rajawali Sakti, tapi pada saat seperti ini benar-benar dibutuhkan seseorang yang berkemampuan tinggi untuk menghadapi perusuh yang sudah mengambil nyawa beberapa orang, dan membuat semua orang resah.

Sementara, Pendekar Rajawali Sakti yang berada di atas dahan di luar pagar benteng, telah mendengar semua pembicaraan kedua orang itu. Pemuda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu, melesat turun dengan gerakan indah tanpa suara sedikit pun. Hanya sekali lesatan saja, pemuda itu sudah lenyap ditelan kegelapan malam, bersamaan keluarnya Ki Murad dari rumah besar kediaman Ki Danupaya.

********************

Ki Murad memacu kudanya dengan kecepatan tinggi ke arah Timur. Kuda putih itu berlari bagai dikejar setan. Hentakan kakinya yang menyepak debu, terdengar keras memecah keheningan malam yang gelap ini.

"Heh...!" tiba-tiba saja laki-laki tua berjubah putih itu tersentak kaget. Kuda putih yang ditungganginya meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya. Setengah mati Ki Murad mencoba mengendalikannya, tapi kuda putih itu jadi semakin liar. Kuda itu terus meringkik keras dan berlompatan bagai melihat hantu.

"Hup!" Ki Murad melompat turun, ketika kuda putihnya ambruk. Tampak sebuah benda berbentuk mata tombak menancap di leher kuda itu. Sejenak Ki Murad memandangi, namun tiba-tiba saja dikejutkan oleh suara tawa mengikik.

"Hi hi hi..!"

Laki-laki tua berjubah putih itu langsung melompat mundur ketika tiba-tiba saja sebuah bayangan merah berkelebat di depannya. Tahu-tahu di situ sudah berdiri seseorang berpakaian ketat berwarna merah menyala. Hampir seluruh kepalanya tertutup tudung besar sehingga wajahnya hampir tak terlihat. Hanya bagian bibir dan dagu saja yang tampak.

"Kau lagi...!" dengus Ki Murad langsung bersiaga.

"Kali ini tak ada yang bisa menyelamatkan nyawamu, Ki Murad!" tegas wanita berbaju merah itu dingin.

"Hm...," Ki Murad hanya menggumam saja.

"Bersiaplah untuk mati, tua bangka!"

"Tunggu...!" sentak Ki Murad keras.

"Kau ingin memperlambat kematianmu, Ki Murad...?!" dengus wanita itu dingin.

"Ni sanak, mengapa kau begitu ingin membunuh ku? Siapa kau sebenarnya?" tanya Ki Murad masih diliputi rasa penasaran terhadap orang berbaju merah yang wajahnya selalu ditutupi tudung besar itu.

"Sudah kukatakan, tua bangka! Kau tidak perlu tahu siapa diriku!" bentak wanita berbaju merah itu ketus.

"Hm..., kau selalu menyembunyikan diri di balik tudung bambu. Apa maksudmu sebenarnya, Ni sanak?" Ki Murad masih juga mendesak.

"Membunuhmu! Hiyaaa...!" Wanita bertudung itu langsung melompat sambil mengebutkan tongkat putihnya. Kebutan yang begitu dahsyat menimbulkan suara angin menderu bagai badai.

Ki Murad bergegas melompat mundur sambil mencabut pedangnya. Cepat sekali dikibaskan pedangnya, mengganjal serangan tongkat putih itu.

Trang! Satu benturan keras terjadi, dan mereka sama-sama berlompatan mundur sejauh beberapa langkah, namun kembali berlompatan saling menyerang. Ki Murad yang menyadari kalau lawannya tidak main-main, tidak ingin ambil resiko. Langsung saja digunakan jurus-jurus yang dahsyat dan mematikan. Gerakan-gerakan laki-laki tua berjubah putih itu demikian cepat, sukar diikuti mata biasa.

Namun wanita berbaju merah yang tidak pernah membuka tudungnya itu, dapat mengimbangi. Bahkan tidak jarang membalas serangan dalam keadaan sulit sekalipun. Jurus-jurus yang di gunakannya juga tidak kalah dahsyat. Setiap serangan yang dilancarkan mengandung hawa maut. Jurus demi jurus berlalu cepat. Tidak terasa, lebih dari dua puluh jurus telah terlewati. Tapi sejauh ini belum ada seorang pun yang kelihatan terdesak. Masing-masing sudah mengeluarkan jurus-jurus andalannya.

Pertarungan itu disertai gerakan yang cepat luar biasa, sehingga yang terlihat hanya dua bayangan merah dan putih berkelebatan saling sambar dalam kegelapan malam. Tempat sekitar pertarungan sudah tidak berbentuk lagi. Pohon-pohon tumbang, dan batu-batuan pecah berantakan. Belum bisa dipastikan, siapa yang bakal unggul dalam pertarungan itu. Dan sekarang mulai terlewati jurus ketiga puluh, namun masih belum juga ada tanda-tanda yang terdesak.

Ki Murad yang pernah bertarung melawan wanita ini, dan hampir saja tewas, tidak sudi bermain-main lagi. Sudah bisa diukur tingkat kepandaian lawannya. Paling tidak, seimbang atau setingkat lebih tinggi darinya atau malah sebaliknya. Hal ini sangat disadarinya. Tapi wanita berbaju merah yang tidak pernah melepaskan tudungnya, sepertinya juga menyadari kalau lawannya sangat tangguh. Dia bertarung sangat hati-hati, meskipun gerakannya cepat luar biasa. Jurus-jurusnya juga demikian dahsyat, sukar untuk diketahui arah serangannya.

Beberapa kali Ki Murad kecolongan. Bahkan hampir tewas di ujung tongkat putih itu, tapi masih mampu diatasi. Sesekali masih mampu pula dia membalas dengan tidak kalah dahsyatnya. Kini mereka bukan lagi bertarung menggunakan jurus-jurus, tapi sudah masuk pada adu ilmu kesaktian. Pada saat memasuki ajian yang ke sepuluh, mendadak Ki Murad tersentak kaget.

"Heh...!" "Hiyaaa...!" Wanita bertudung itu sudah melancarkan serangannya. Tampak dari ujung tongkat putihnya meluncur seberkas sinar kuning kemerahan. Sinar itu langsung meluruk ke arah Ki Murad yang tengah terkesiap.

"Hup!" Bergegas laki-laki tua berjubah putih itu melompat menghindar, tapi gerakannya terlambat. Akibatnya sinar kuning kemerahan itu menghantam bahu kanannya. Ki Murad terpekik tertahan, dan tubuhnya terlontar jauh menabrak dua batang pohon hingga tumbang. Ki Murad berusaha bangkit, tapi langsung memuntahkan darah kental kekuningan. Seluruh tangan kanannya terasa kaku dan sukar digerakkan.

"Ha ha ha...! Mampus kau, tua bangka...!" wanita itu tertawa terbahak-bahak.

"Phuih! Siapa kau? Ada hubungan apa kau dengan...." Tapi sebelum habis ucapan Ki Murad, wanita berbaju merah itu sudah melompat sambil menghujamkan ujung tongkatnya. Ki Murad cepat menggulirkan tubuhnya ke samping, maka ujung tongkat itu menancap di tanah. Tapi cepat sekali wanita itu memutar tubuhnya, dan kembali menyerang ganas.

Trak! Tiba-tiba saja, di saat ujung tongkat wanita Itu hampir menghunjam dada Ki Murad, mendadak sebuah bayangan berkelebat. Langsung bayangan itu membuat tongkat wanita itu terpental balik. Disusul pekikan tertahan. Bergegas wanita berbaju merah itu melompat mundur sambil buru-buru menyilangkan tongkatnya di depan dada. Sementara Ki Murad berusaha bangkit meskipun sebagian tubuhnya mulai terasa kaku. Tampak di depannya berdiri seorang pemuda berambut panjang. Pakaiannya rompi putih dengan gagang pedang berkepala burung menyembul dari punggungnya.

"Rangga...," desis Ki Murad mengenali pemuda itu.

"Setan belang...! Lagi-lagi kau halangi maksud ku!" dengus wanita itu geram.

"Hm.... Seorang pendekar sejati tidak akan menganiaya orang tua yang sudah tidak berdaya lagi," ujar Rangga lembut.

"Phuih! Kemarin aku menghindar karena tidak ingin ada orang lain ikut campur urusanku. Tapi kau terlalu congkak untuk diberi ampun, anak setan!" geram wanita itu sengit.

"Dan aku pun tidak akan ikut campur jika kau tidak bertindak kejam, Ni sanak," sahut Rangga. kalem.

"Phuih! Seharusnya kau mampus, anak setan! Tapi waktuku terlalu berharga untuk mengurusi mu!" wanita itu menoleh pada Ki Murad. "Dan kau, tua bangka! Kali ini kau boleh merasa beruntung!" Setelah berkata demikian, wanita berbaju merah itu melesat cepat dan langsung lenyap menembus kegelapan malam.

Rangga menarik napas panjang, kemudian memutar tubuhnya menghadap Ki Murad yang berdiri bertopang pada pedangnya. Pendekar Rajawali Sakti itu menghampiri, lalu memeriksa luka di bahu Ki Murad. Tampak bahu kanan laki-laki tua itu seperti hangus terbakar. Jubah putih di bagian bahunya koyak bagai termakan api.

"Lukamu cukup parah, Ki," ujar Rangga seraya membantu Ki Murad duduk bersandar di pohon yang tumbang.

"Apa yang akan kau lakukan, Nak?" tanya Ki Murad saat Rangga menyobek baju di bahu kanannya.

"Akan ku coba mengurangi lukamu," sahut Rangga.

"Percuma saja, Nak. Tidak ada yang bisa menyembuhkan luka dari.... Akh!" ucapan Ki Murad terputus.

Saat itu Rangga menepuk pundak yang hangus bagai terbakar itu. Tampak tangan yang menempel erat di bahu itu bergetar. Ki Murad meringis merasakan hawa panas yang menjalar dari bahunya. Seketika darah berwarna kekuningan merembes keluar dari bahunya.

"Akh...!" Ki Murad memekik keras. Laki-laki tua itu terkulai, dan langsung jatuh pingsan.

********************

EMPAT

Hangatnya sinar matahari membangunkan Ki Murad dari pingsannya. Laki-laki tua itu mulai merintih, dan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah semalaman tidak sadarkan diri. Ki Murad menggerinjang berusaha bangkit berdiri, tapi sebuah tangan mencegahnya. Laki-laki tua berjubah putih itu kembali berbaring. Sebentar dikerjapkan matanya, memandang seraut wajah tampan di dekatnya.

"Nak Rangga, berapa lama aku pingsan?" tanya Ki Murad pelan.

"Semalaman," sahut Rangga.

"Uh!" Ki Murad mencoba bangkit.

"Berbaringlah dulu, Ki. Biarkan darahmu mengalir lebih baik lagi," kata Rangga tanpa mencegah lagi.

"Uh! Bagaimana bisa kau sembuhkan aku, Rangga?" tanya Ki Murad setelah bisa duduk bersandar di pohon tumbang.

"Hanya dengan hawa mumi," sahut Rangga diiringi senyuman tipis. "Lukamu cukup parah, tapi belum terlambat untuk disembuhkan."

"Terima kasih," ucap Ki Murad, hampir tidak terdengar suaranya.

Rangga merayapi wajah laki-laki tua itu yang mendadak saja jadi mendung. Pendekar Rajawali Sakti itu menggeser duduknya lebih mendekat "Ada apa, Ki?" tanya Rangga ingin tahu.

"Entahlah...!" desah Ki Murad berat "Aku tidak yakin...."

"Apa yang dipikirkan, Ki?" desak Rangga.

"Orang itu," sahut Ki Murad pelan.

"Yang melukaimu?"

"Ya. Aku kenal betul aji 'Mata Kilat' yang melukai ku. Aku begitu terpana, sehingga tidak keburu menghindar lagi. Aku tidak tahu, ada hubungan apa dia dengan Dewi Iblis...," nada suara Ki Murad terdengar bergumam.

"Siapa Dewi Iblis itu?" tanya Rangga semakin ingin tahu.

"Seorang tokoh wanita yang sangat tinggi kepandaiannya. Sampai saat ini belum ada yang bisa menandinginya. Tapi...," ucapan Ki Murad terputus.

"Kenapa, Ki?" desak Rangga.

"Hampir dua puluh tahun aku tidak pernah lagi mendengar namanya, bahkan sepertinya menghilang begitu saja."

"Apakah dia seorang tokoh hitam, Ki?" Rangga meminta kejelasan.

"Lebih dari itu, Rangga. Dia seorang iblis yang tidak pernah berkedip saat membunuh lawannya. Tidak peduli siapa yang dihadapi. Seorang petani yang tidak bisa ilmu olah kanuragan pun akan dibunuh kalau tidak menyenangkan hatinya."

"Hm...," Rangga menggumam pelan. Sedangkan Ki Murad diam seraya menerawang jauh ke depan. Tampaknya masih belum dipercaya kalau orang yang hampir menewaskannya dua kali itu mempunyai salah satu ajian dahsyat yang dulu sangat ditakuti. Ajian andalan milik seorang tokoh wanita yang mendapat julukan Dewi Iblis.

"Kenapa dia ingin membunuhmu, Ki?" tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.

"Itulah yang membuatku tidak habis mengerti, Rangga. Sejak kejadian malam itu, aku selalu dihantui oleh ancaman-ancaman," sahut Ki Murad mengeluh.

"Kejadian malam itu...? Kejadian apa, Ki?"

"Hm. Kau pasti tidak tahu, Anak Muda. Baiklah, akan kuceritakan semuanya."

Dengan singkat, Ki Murad kemudian menceritakan peristiwa yang bermula dari kematian anaknya pada malam pesta pernikahan. Dan kejadian-kejadian lain yang datang secara beruntun, hingga istrinya tewas di tepi hutan. Pada saat itu, Rangga memang ada. Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu belum mengerti dan hanya diam saja melihat Ki Murad memondong mayat istrinya. Rangga hanya diam mendengarkan sampai laki-laki tua berjubah putih itu selesai bercerita. Untuk beberapa saat lamanya, kebisuan menyelimuti mereka dengan pikiran berkecamuk. Beberapa kali terdengar tarikan napas panjang dari dua orang yang duduk bersila saling berhadapan itu.

"Rasanya mustahil kalau semua yang dilakukannya itu tanpa alasan yang pasti, Ki," ujar Rangga setengah bergumam.

"Itulah yang menjadi beban pikiranku selama ini. Sama sekali tidak ku mengerti kenapa dia melakukan semua itu pada keluargaku? Aku sendiri tidak tahu siapa dia sebenarnya," sambung Ki Murad bernada seperti mengeluh.

"Apa dia pernah mengucapkan sesuatu, Ki?" tanya Rangga.

Ki Murad tidak langsung menjawab. Keningnya sedikit berkerut, mencoba mengingat-ingat semua perkataan wanita berbaju merah yang wajahnya hampir tertutup tudung bambu. Sebentar kemudian laki-laki tua itu menatap lurus ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti

"Ya, aku ingat! Dia menuduhku berlaku curang. Aneh.... Aku sendiri tidak mengerti maksudnya. Seumur hidup, belum pernah aku berlaku curang pada siapa pun," setengah bergumam nada suara Ki Murad.

"Mungkin kau pernah punya perjanjian, Ki," tebak Rangga.

"Perjanjian...?" Ki Murad menatap dalam-dalam pemuda di depannya.

"Aku hanya menduga-duga saja, Ki..."

Ki Murad termenung beberapa saat. Benar-benar sulit dimengerti dugaan Pendekar Rajawali Sakti itu. Tapi dia berusaha mengingat-ingat, kalau-kalau pernah punya perjanjian dengan seseorang. Tapi rasanya dia tidak pernah terikat janji satu pun.

"Perjanjian...," gumam Ki Murad pelan, hampir tidak terdengar suaranya.

********************

Ki Murad memandangi rumahnya yang tinggal puing-puing habis terbakar. Asap masih mengepul tipis dari kayu-kayu yang hangus. Laki-laki tua itu hampir tidak percaya mendapati sepuluh orang muridnya sudah tergeletak jadi mayat dengan leher koyak hampir buntung. Tak ada seorang pun yang hidup, dan semua bangunan hancur rata dengan tanah.

"Biadab...!" desis Ki Murad menggeretak menahan marah.

"Ki...," Rangga menepuk pundak laki-laki tua itu.

"Iblis keparat itu benar-benar ingin menghancurkanku tanpa sisa!" geram Ki Murad.

"Tenangkan dirimu, Ki. Jangan terbawa arus...," ujar Rangga mencoba menenangkan amarah laki-laki tua itu.

Ki Murad menatap dalam-dalam Pendekar Rajawali Sakti, kemudian menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Seluruh rongga dadanya serasa sesak bagai terhimpit batu yang sangat besar dan berat. Wajahnya merah padam menghadapi kenyataan seperti ini. Tinggal dia sendiri yang masih hidup. Dan entah kapan, wanita berbaju merah itu pasti akan datang merenggut nyawanya. Ki Murad menyadari kalau kepandaiannya masih di bawah perempuan berbaju merah itu. Dua kali dia hampir tewas. Kalau saja tidak ditolong Pendekar Rajawali Sakti ini, entah apa jadinya.

"Kau lihat, Rangga. Mereka adalah muridku yang setia. Aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Kini semuanya telah tewas. Iblis keparat itu harus kubunuh! Harus...!" geram Ki Murad memuncak amarahnya.

"Tidak dalam keadaan marah begini, Ki. Kemarahan bisa mengakibatkan kelengahan yang sangat fatal," kata Rangga mengingatkan.

"Rangga, aku tidak tahu lagi. Apa yang harus kulakukan? Aku mohon padamu, Rangga. Hentikan iblis terkutuk itu," ujar Ki Murad bagai seorang yang sudah putus asa.

Rangga hanya tersenyum saja.

"Meskipun kepandaiannya di atasku, tapi aku tidak takut mati. Bagaimanapun juga harus kubalas kematian mereka semua. Mereka adalah orang-orang yang kucintai," sambung Ki Murad.

"Aku mengerti perasaanmu, Ki," ucap Rangga pelan.

Ki Murad mendesah panjang. Dihempaskan tubuhnya, duduk di atas sebongkah batu yang tidak be gitu besar. Pandangannya nanar merayapi puing-puing dan mayat sepuluh orang muridnya yang berserakan di tanah. Sesak seluruh rongga dadanya menyaksikan semua kehancuran ini. Bertahun-tahun sepuluh orang itu digembleng dan akan dipersiapkan untuk terjun dalam rimba persilatan, tapi kini hancur. Tak ada lagi yang tersisa.

Laki-laki tua berjubah putih itu bangkit berdiri setelah menarik napas dalam-dalam. Kemudian dicabut pedangnya, dan mulai menggali tanah. Sementara Rangga hanya memperhatikan saja tanpa berkata se-dikit pun. Ki Murad menggali tanah dengan mengerahkan seluruh tenaganya tanpa berhenti. Sebentar saja keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya.

"Kau belum pulih benar, Ki," kata Rangga mengingatkan luka yang diderita Ki Murad.

"Mereka harus segera dikuburkan, Rangga," dengus Ki Murad.

"Biar aku yang mengerjakannya."

Ki Murad berhenti menggali. Dia mendongak menatap Pendekar Rajawali Sakti itu. Sudah dua lubang digali, dan ini yang ketiga baru sebatas lutut. Rangga menghampiri dan mengulurkan tangannya. Sebentar Ki Murad memandangi, kemudian menerima uluran tangan itu, dan melompat naik. Ki Murad melangkah mundur setelah berada di atas lubang.

Rangga menggerak-gerakkan tangannya di depan dada, kemudian berteriak keras. Dihentakkan kedua tangannya beberapa kali ke depan. Suara ledakan terdengar dahsyat. Seketika debu mengepul ke udara. Sukar untuk dimengerti. Tiba-tiba saja di depan mereka sudah tersedia sepuluh lubang yang cukup dalam!

Meskipun Ki Murad seorang tokoh tua, tapi masih juga merasa heran dan kagum. Tanpa berkata apa-apa lagi, Rangga mulai menguburkan satu persatu mayat murid Ki Murad. Dengan kekuatan ilmu tenaga dalam yang sudah mencapai taraf kesempurnaan, Pendekar Rajawali Sakti itu mampu menguburkan sepuluh mayat dalam waktu tidak berapa lama saja. Sementara Ki Murad hanya bisa memandangi penuh kekaguman.

"Kau hebat, Rangga. Aku yakin, kau pasti mampu menandingi iblis keparat itu," puji Ki Murad setelah Rangga selesai menguburkan sepuluh mayat.

Rangga hanya tersenyum saja. Diputar tubuhnya dan dilangkahkan kakinya menghampiri laki-laki tua berjubah putih itu. Sejenak dipandangi wajah tua di depannya, kemudian kakinya bergeser ke samping dan terus berjalan. Ki Murad bergegas memburu, lalu mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Rajawali Sakti.

"Mau ke mana, Rangga?" tanya Ki Murad.

"Apa yang kau inginkan dariku?" Rangga malah balik bertanya.

Ki Murad tersenyum, lalu menepuk pundak Pendekar Rajawali Sakti itu. Mereka terus berjalan tanpa berbicara lagi. Sementara matahari sudah naik semakin tinggi. Sinarnya yang terik sangat menyengat kulit, namun kedua orang itu terus berjalan dengan mulut terkunci rapat.

********************

Berita tentang tewasnya sepuluh orang murid Ki Murad serta terbakarnya rumah laki-laki tua yang selalu memakai jubah putih itu cepat tersebar luas. Dan berita itu sampai ke telinga Ki Danupaya. Segera diutus beberapa orang anak buahnya untuk menyelidiki kebenarannya. Dan begitu orang-orangnya kembali membawa berita kebenaran itu, Ki Danupaya langsung terhenyak lemas di kursinya.

"Apa kau menemukan mayat Ki Murad?" tanya Ki Danupaya dengan mata kosong menatap seorang yang memberi laporan.

"Tidak. Bahkan kami hanya menemukan sepuluh kuburan yang kelihatannya masih baru," sahut laki-laki yang nampak masih muda itu.

"Aku tidak mengerti, apa keinginan orang itu? Kenapa membantai habis orang-orang yang ada hubungannya dengan Kakang Murad?" gumam Ki Danupaya seperti bicara kepada dirinya sendiri.

"Barangkali ada unsur dendam, Gusti," celetuk pemuda yang mengenakan baju kuning, dan bagian dada terbuka itu. Tampaklah pada dada yang bidang itu bulu-bulu dada yang lebat menghitam.

"Dendam...? Lalu, apa hubungannya denganku? Kenapa mesti menculik anakku dan juga mengincar ku? Bahkan membunuh belasan orang-orangku!" agak tinggi nada suara Ki Danupaya.

Pemuda berkumis tebal yang duduk di lantai itu, hanya diam saja. Sedangkan tiga orang yang duduk di belakangnya tidak membuka mulut sedikit pun. Mereka semua tahu, apa yang sedang terjadi pada majikannya ini.

Sejak peristiwa malam itu, Ki Danupaya memang tidak pernah tenang. Terlebih lagi sekarang ini istrinya masih belum mau keluar dari kamar pribadinya. Tidak heran kalau Ki Murad selalu uring-uringan, karena tidak ada lagi yang bisa diajak bicara.

"Gusti...," terdengar ragu-ragu suara pemuda itu.

"Hm.... Ada apa, Gandil?" agak dingin nada suara Ki Danupaya.

"Maaf, Gusti. Apa tidak sebaiknya seluruh desa kita geledah. Barangkali saja bisa ditemukan petunjuk untuk mengetahui di mana dan siapa orang itu," kata Gandil mengajukan saran.

"Aku tidak akan melibatkan seorang penduduk pun, Gandil. Sudah terlalu banyak korban yang jatuh. Aku tidak ingin menambah korban lagi," Ki Danupaya menolak usul anak buahnya itu.

"Tapi, Gusti.... Pagi tadi seorang penduduk ditemukan tewas," lapor Gandil.

"Apa...?!" Ki Danupaya terkejut bukan main.

"Maaf, Gusti. Baru sekarang bisa dilaporkan," ucap Gandil.

"Edan! Apa sebenarnya keinginannya? Mengapa penduduk jadi sasaran juga?!" geram Ki Danupaya semakin tidak mengerti.

Dan belum juga pertanyaan Ki Danupaya bisa terjawab, tiba-tiba saja sebatang anak panah melesat masuk menerobos jendela. Anak panah itu tepat menancap di samping kepala laki-laki setengah baya itu. Ki Danupaya langsung menggerinjang melompat bangkit. Hanya dengan sekali lesatan saja, dia sudah mencapai jendela yang jaraknya cukup jauh. Pada saat itu, terlihat satu bayangan merah berkelebat ke atas atap.

"Kejar dia...!" perintah Ki Danupaya.

Gandil dan ketiga temannya langsung melompat bangkit. Mereka bergegas melompat ke luar, langsung melesat ke atas atap. Sementara Ki Danupaya memutar tubuhnya, lalu melangkah menghampiri kursi yang didudukinya tadi. Tampak sebatang anak panah berwarna merah tertancap pada sandaran kursi. Laki-laki setengah baya itu mencabut anak panah, dan memperhatikan sebentar. Tergores sebaris kalimat pada batang anak panah itu.

"Jangan ikut campur kalau ingin selamat!"

"Keparat...!" geram Ki Danupaya. Laki-laki setengah baya itu mengangkat kepalanya. Saat itu Gandil dan ketiga temannya kembali, dan langsung membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

"Tidak perlu melapor! Kalian pasti gagal mengejarnya!" sergah Ki Danupaya berang.

"Maaf, Gusti," ucap Gandil.

"Kalian pergi ke tempat Ki Murad. Katakan kalau aku datang sendiri menemuinya!" perintah Ki Danupaya.

"Baik, Gusti." Gandil dan ketiga temannya kembali menjura memberi hormat, kemudian bergegas melangkah ke luar. Sedangkan Ki Danupaya bergegas masuk ke ruangan dalam rumahnya yang besar dan indah bagai sebuah istana.

********************

LIMA

Di sebelah Timur Lereng Bukit Mangun, tampak Ki Murad tengah berdiri memandang matahari terbit. Sepasang matanya tidak berkedip, menatap lurus ke satu arah. Sepertinya sedang menunggu seseorang di tempat ini. Sedangkan tidak jauh di belakangnya, berdiri Pendekar Rajawali Sakti di bawah naungan sebatang pohon yang cukup rindang untuk melindungi dirinya dari sengatan sinar matahari pagi.

Wajah pemuda berbaju rompi putih itu mendadak agak menegang ketika menangkap sesosok tubuh bergerak cepat menuju ke arahnya. Sosok tubuh bungkuk mengenakan jubah warna merah menyala. Sedangkan Ki Murad lebih tegang lagi. Beberapa kali digeser gagang pedangnya yang tergantung di pinggang. Mereka terus mengamati sosok tubuh yang semakin mendekat itu.

Tampak seorang wanita tua bertubuh bungkuk menggenggam sebatang tongkat berkepala tengkorak manusia. Rambutnya yang tidak teratur, meriap hampir menutupi wajahnya yang keriput. Wanita tua berjubah merah menyala itu berhenti tepat sekitar dua batang tombak di depan Ki Murad. Dia melirik Rangga yang tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya.

"Cukup lama aku menunggu kedatanganmu, Dewi Iblis," ucap Ki Murad datar.

"Hi hi hi...!" wanita tua bertubuh bungkuk yang dipanggil Dewi Iblis itu tertawa mengikik.

Sementara Ki Murad menggeser kakinya ke kanan. Dengan sudut ekor matanya sempat diliriknya Pendekar Rajawali Sakti. Hatinya sedikit tenang mengetahui pemuda berbaju rompi putih itu masih berada di tempat.

"Hik hik hik...! Belum pernah kuterima undangan dari seseorang. Apakah kau sudah mampu menandingiku, sehingga berani mengundangku?" terlalu kering nada suara Dewi Iblis.

"Kuharap kau tidak salah paham dulu, Nyai Dewi. Aku mengundangmu bukan untuk bertarung. Ada satu pertanyaan yang ingin kuketahui jawabannya darimu," kata Ki Murad, melunak nada suaranya.

"Huh! Aku paling benci dengan pertanyaan!" dengus Dewi Iblis.

"Ini penting, Nyai Dewi."

"Penting bagimu, tapi memuakkan untukku!"

"Maaf, Nyai. Jika tidak keberatan, apakah Nyai Dewi mempunyai murid?" Ki Murad tidak peduli terhadap gerutuan perempuan tua berjubah merah itu.

"Kau sudah berani mengusik pribadiku, Ki Murad!" dengus Dewi Iblis kurang senang.

"Bukan maksudku mengusik urusan pribadimu, Nyai Dewi. Aku bertanya seperti itu karena belakangan ini ada seseorang yang mengacau desa ku. Dia menggunakan aji Mata Kilat. Dan yang kuketahui, hanya kaulah yang memiliki ajian itu," kata Ki Murad lagi

"Setan tua! Kau menuduhku...!" bentak Dewi Iblis keras.

"Tunggu, Nyai..!" cegah Ki Murad cepat-cepat ketika Dewi Iblis sudah menggerakkan tongkatnya.

"Kau sudah menuduhku, Ki Murad. Dan ini merupakan penghinaan bagiku. Kau harus mampus, setan tua!" geram Dewi Iblis.

Setelah berkata demikian, Dewi Iblis berteriak keras. Tubuhnya segera melompat menerjang sambil mengebutkan tongkatnya ke arah Ki Murad. Tapi belum juga ujung tongkat perempuan tua itu sampai pada sasaran, mendadak saja sebuah bayangan putih berkelebat cepat memapak serangan itu.

Tak!

"Hm...!" Dewi Iblis mendengus seraya menarik pulang tongkatnya. Perempuan tua itu menatap tajam seorang pemuda berbaju rompi putih yang tahu-tahu sudah berdiri di depan Ki Murad. Dia menggereng dalam dengan sinar mata tajam menusuk.

Sedangkan Rangga hanya berdiri tenang sambil melipat tangan di depan dada. "Jangan mengotori namamu yang sudah penuh lumpur, Dewi Iblis!" ujar Rangga dingin.

"Pendekar Rajawali Sakti...! Jangan ikut campur urusanku!" bentak Dewi Iblis.

"Kau sudah berjanji untuk tidak terjun kembali ke dunia ramai, Dewi Iblis," tetap dingin nada suara Rangga.

"Kau yang membuatku keluar, Rangga! Untuk apa kau membawaku ke sini? Untuk orang tua tidak tahu adat ini...?!" bentak Dewi Iblis.

"Hm.... Rupanya kau tidak pernah mau mendengar kata-kataku lagi, Dewi Iblis!" kata-kata Rangga bernada setengah mengancam.

Dewi Iblis terdiam, namun sorot matanya tetap tajam penuh kemarahan. Kedatangannya ke Lereng Bukit Mangun ini memang atas permintaan Pendekar Rajawali Sakti. Memang mereka pernah bertemu sebelumnya dalam suatu pertarungan yang panjang dan melelahkan. Pemuda berbaju rompi putih itu memang berhasil mengalahkannya, tapi tidak membunuhnya. Bahkan memberi kesempatan untuk memperbaiki segala tindakannya. Dewi Iblis berjanji untuk tidak kembali terjun ke dunia persilatan lalu menyepi di Puncak Bukit Mangun ini. Tidak heran kalau Rangga bisa cepat menemuinya.

"Aku tahu, orang yang selama ini membuat kekacauan di Desa Kali Wungu bukan dirimu. Kuketahui itu dari bekas pukulan aji 'Mata Kilat' yang belum sempurna. Maka itulah sebabnya kuminta kau ke sini agar lebih jelas persoalannya. Bukan untuk mengumbar nafsu!" agak keras nada suara Rangga.

"Hhh...! Apa keinginanmu sebenarnya?" dengus Dewi Iblis mulai lunak setelah ingat kalau dirinya tidak akan unggul menghadapi pemuda itu.

"Hanya pernyataan mu!" tegas Rangga.

"Apa yang harus kukatakan?"

"Tentang orang yang memiliki ajian mu."

"Aku tidak tahu!" dengus Dewi Iblis.

"Dia bukan muridmu?" Rangga menatap dalam-dalam wanita tua bungkuk berjubah merah itu.

"Aku tidak pernah mempunyai murid seorang pun!" lantang dan cukup tegas jawaban Dewi Iblis.

Rangga menggeser kakinya ke samping, lalu menoleh pada Ki Murad yang hanya diam saja. Semua pertemuan ini memang sudah direncanakan Pendekar Rajawali Sakti itu, dan Ki Murad hanya menurut saja. Sungguh tidak disangka kalau Dewi Iblis yang dulu pernah menggemparkan dunia persilatan, kini tunduk kepada seorang pemuda yang usianya jauh berbeda. Dunia persilatan memang aneh, dan sering tidak mudah dimengerti akal sehat manusia.

"Rangga! Aku bersumpah bahwa aku tidak mempunyai murid seorang pun. Tidak pernah sekalipun aku mengingkari janji untuk kembali terjun dalam rimba persilatan. Meskipun selama hidupku selalu di lumuri darah dan dosa, tapi pantang melanggar janji!" tegas kata-kata Dewi Iblis.

"Hm.... Aku percaya padamu, Dewi Iblis," gumam Rangga pelan.

"Akan kubuktikan, Rangga!" janji Dewi Iblis tegas.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Memenggal kepala bangsat itu, dan menyerahkannya padamu!" tegas jawaban Dewi Iblis.

Rangga melirik Ki Murad. Laki-laki tua berjubah putih itu menganggukkan kepalanya sedikit. Pendekar Rajawali Sakti kembali berpaling memandang pada perempuan tua bungkuk berjubah merah di depannya.

"Baiklah. Kuterima tawaranmu. Jika memang benar dia bukan salah seorang suruhanmu, kau bisa bebas malang melintang di dalam rimba persilatan. Tapi jika kudengar kau membuat keonaran, maka tidak segan-segan kupenggal kepalamu!" mantap nada suara Rangga kali ini.

"Huh! Aku tidak perlu jaminan mu, Rangga!" dengus Dewi Iblis.

Rangga tersenyum kecut. Memang keras watak Dewi Iblis, karena sudah terbiasa malang melintang di dalam rimba persilatan. Terlebih lagi perempuan tua ini masuk dalam golongan hitam. Sudah menjadi watak tokoh golongan hitam yang tidak pernah lunak. Tapi Rangga kagum juga kepada perempuan tua itu, karena masih ingin memperbaiki sisa hidupnya. Dan ini kesempatan baik bagi Dewi Iblis untuk membuktikan keteguhan pendiriannya yang tidak mengingkari janji pada Pendekar Rajawali Sakti.

********************

Rangga memandangi kepergian Dewi Iblis yang menuju Desa Kali Wungu. Perempuan tua itu bertekad untuk membekuk orang yang telah membuatnya terpaksa keluar lagi dari pengasingannya. Sementara Ki Murad hanya diam saja. Sama sekali tidak dimengerti semua rencana Pendekar Rajawali Sakti itu. Baginya kemunculan Dewi Iblis akan menambah rumit persoalan saja. Perempuan tua itu sudah sangat terkenal segala macam tindakan kekejamannya.

"Masih ku sangsikan kejujurannya, Rangga," ujar Ki Murad.

"Lihat saja nanti," sahut Rangga seraya mengayunkan kakinya melangkah pergi.

Ki Murad mengikuti dan mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Memang masih belum bisa dipahami maksud Rangga sebenarnya. Terlebih lagi dengan melibatkan seorang tokoh hitam yang sudah terkenal kekejamannya. Meskipun Rangga sudah menjamin kalau Dewi Iblis sudah ditaklukkannya dan akan melupakan masa lalunya, tapi Ki Murad masih juga khawatir. Memang besar resikonya. Bahkan keselamatan penduduk menjadi taruhannya. Namun Ki Murad hanya bisa diam saja. Dia terlalu mempercayai kemampuan Pendekar Rajawali Sakti.

"Kalau ternyata dia sendiri pelakunya, Rangga?" tanya Ki Murad.

"Tidak ada ampun lagi baginya," tegas Rangga.

"Hhh,..! Aku yakin, orang itu menggunakan aji Mata Kilat. Hanya saja jurus-jurusnya tidak ada yang sama dengan Dewi Iblis," ucapan Ki Murad bernada bergumam, seakan-akan sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Rangga menghentikan ayunan kakinya. Ditatapnya Ki Murad dalam-dalam. Baru kali ini Ki Murad berkata begitu yang sepertinya tidak yakin kepada dirinya sendiri. Sedangkan yang ditatap hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelahan lahan.

"Maaf, Rangga. Kejadian ini membuatku serasa gila!" ujar Ki Murad.

"Sudahlah," desah Rangga kembali melanjutkan langkahnya.

Namun baru saja mereka berjalan beberapa tindak, mendadak saja sebuah bayangan merah berkelebat. Tahu-tahu di depan mereka sudah berdiri seorang wanita berbaju merah dan bertudung lebar menutupi hampir seluruh kepalanya. Rangga dan Ki Murad langsung menghentikan langkahnya.

"Kau sudah terlalu jauh mencampuri urusanku, Pendekar Rajawali Sakti!" dengus wanita itu dingin.

"Aku selalu mencampuri setiap kejahatan!" sahut Rangga mantap.

"Kejahatan? Ha ha ha...!" wanita itu tertawa terbahak-bahak.

Rangga menggeser kakinya sedikit ke samping, seraya memberi isyarat pada Ki Murad untuk menyingkir. Laki-laki tua berjubah putih itu melangkah mundur beberapa tindak. Sementara wanita berbaju merah yang kepalanya tertutup tudung bambu, masih tertawa tergelak-gelak.

"Kau bicara tentang kejahatan, Pendekar Rajawali Sakti. Tanyakan pada tua bangka itu. Aku atau dia yang melakukan kejahatan?!" ujung tongkat wanita itu mengarah pada Ki Murad.

"Jangan memutarbalikkan kenyataan, perempuan iblis!" geram Ki Murad sengit.

"Ha ha ha...! Wajahmu pucat sekali, Ki Murad. Apa kau takut jika rahasiamu terbongkar?" ejek wanita itu ketus.

"Phuih! Kau coba-coba memutar lidah!" dengus Ki Murad.

"Kau lihat, Pendekar Rajawali Sakti. Sikapnya seperti kucing kepergok nyolong ikan," sinis nada suara wanita itu.

"Kubunuh kau, keparat...!" geram Ki Murad.

"Tahan!" bentak Rangga begitu Ki Murad sudah bersiap-siap hendak menyerang.

Laki-laki tua berjubah putih itu mengurungkan niatnya yang ingin menyerang perempuan berbaju merah itu. Namun tatapan matanya begitu tajam menusuk. Napasnya mendengus-dengus bagai seekor kuda yang dipacu cepat. Gerahamnya bergemeletuk menahan geram.

"Ni sanak, bisa kau jelaskan persoalan yang sebenarnya?" pinta Rangga, lunak nada suaranya.

Wanita bertudung itu tidak langsung menjawab. Dipalingkan mukanya ke arah Ki Murad. Dari balik tudung lebar ditatapnya laki-laki tua itu, kemudian kembali berpaling pada Pendekar Rajawali Sakti. Agak lama juga dia berdiam diri. Mungkin sedang mempertimbangkan permintaan pemuda yang selalu memakai baju rompi putih itu.

"Ikut aku, tapi dia jangan!" wanita itu menunjuk pada Ki Murad.

Tanpa menunggu jawaban lagi, wanita bertudung itu melesat cepat bagai kilat. Sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tertelan kelebatan hutan. Sejenak Rangga menatap Ki Murad, kemudian melompat mengikuti arah kepergian wanita bertudung itu.

"Rangga, tunggu...!" seru Ki Murad cepat-cepat.

Rangga yang baru saja melompat, langsung berhenti. Dia berbalik menghadap laki-laki tua itu. Ki Murad melangkah menghampiri.

"Dia akan menjebakmu, Rangga," ujar Ki Murad memperingatkan.

"Kembalilah ke penginapan, Ki. Aku menyusul nanti," kata Rangga seraya berbalik.

"Rangga...!" Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu sudah lebih dulu melesat mengejar Wanita bertudung bambu yang sudah tidak terlihat lagi.

Sementara Ki Murad hanya berdiri terpaku memandang arah kepergian Rangga. Laki-laki tua itu menarik napas panjang, kemudian melangkah pelan menuju Desa Kali Wungu. Sejak kediamannya terbakar habis, dia memang tinggal di penginapan milik sahabatnya di Desa Kali Wungu.

"Hhh.... Mudah-mudahan Rangga tidak terpen-garuh," desah Ki Murad terus berjalan.

********************

Rangga berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Begitu cepatnya bergerak, sehingga yang terlihat hanya bayangan putih berkelebatan menyelinap di antara pepohonan. Dalam waktu tidak berapa lama saja, wanita bertudung itu sudah terlihat. Larinya juga demikian cepat menembus lebatnya hutan di Lereng Bukit Mangun ini.

Kening Rangga agak berkerut juga saat mengetahui arah yang dituju wanita berbaju merah menyala itu. Dikenali betul arah itu, yang ternyata menuju Puncak Bukit Mangun sebelah Selatan. Dan itu berarti ke tempat Dewi Iblis mengasingkan diri selama ini. Tapi Rangga terus mengikuti sambil menjaga jarak. Dan pandangannya tidak berpaling sedikit pun ke arah wanita yang terus berlari cepat di depannya.

Pendekar Rajawali Sakti itu menghentikan larinya begitu melihat wanita itu juga berhenti tepat di tepi sebuah sungai kecil yang mengalir tenang dan jernih. Rangga mengayunkan kakinya menghampiri. Dikenali betul bahwa ini tempat tinggal Dewi Iblis selama dalam pengasingan dirinya. Tampak di seberang sungai, sebuah pondok kecil berdiri di antara bebatuan dan pohon jarak. Pendekar Rajawali Sakti itu berhenti setelah jaraknya tinggal beberapa langkah lagi di bela-kang wanita itu.

"Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Rangga.

Wanita bertudung itu tidak langsung menjawab, tapi hanya memutar tubuhnya menghadap pada Pendekar Rajawali Sakti. Pelahan kepalanya terangkat, dan pelahan pula tangannya terangkat. Segera dibukanya tudung yang selama ini menutupi kepalanya. Rangga melangkah mundur tiga tindak. Hampir tidak dipercaya dengan apa yang dilihatnya. Di balik tudung besar itu terdapat seraut wajah cantik, dihiasi sepasang bola mata indah bercahaya bening.

"Kau tentu tidak mengenal diriku, tapi aku mengenalmu lebih dari yang kau duga, Rangga," lembut sekali suara wanita itu.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Rangga.

"Apakah itu penting?" wanita itu malah balik bertanya.

"Jika ingin membuktikan bahwa dirimu tidak bersalah, kurasa perlu kau sebutkan nama dan alasanmu berbuat seperti ini," kata Rangga mantap.

"Aku selalu bertahan untuk tidak memperkenalkan diri pada siapa pun sebelum si bangsat tua bangka itu mati...!" agak tertekan nada suara wanita itu. "Tapi karena kau sudah melibatkan orang yang paling kuhormati, maka tidak ada jalan lain bagiku untuk menyelamatkan orang-orang yang aku kasihi. Orang-orang yang kuhormati melebihi rasa cinta dan hormat ku pada diriku sendiri."

"Apa hubungannya kau dengan Dewi Iblis?" Rangga langsung bisa menebak arah tujuan pembicaraan wanita berbaju merah menyala itu.

Wanita itu tidak langsung menjawab. Diputar tubuhnya, lalu berjalan menyusuri sungai kecil ini. Rangga mengikuti sambil tetap menjaga jarak. Mereka berjalan pelahan-lahan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian berhenti setelah sampai pada sebuah jembatan dari seutas tambang yang terikat di pohon untuk menyeberangi sungai kecil ini. Memang tidak pantas jika disebut jembatan. Tapi memang hanya itulah yang dapat menghubungkan dengan seberang sungai sana.

"Hup!" Wanita berbaju merah dengan tudung tersampir di punggung itu melompat ke atas tambang. Kakinya bergerak lincah menyusuri tambang dari sabut kelapa itu. Sungguh lincah dan ringan sekali gerakannya, bahkan tambang yang dilalui tidak bergerak sedikit pun!

Rangga memperhatikan sampai wanita itu tiba di seberang. Kemudian dilentingkan tubuhnya. Dan begitu kakinya menyentuh tambang dengan ujung jari kakinya, ditotoknya tambang itu. Lalu diputar tubuhnya di udara dua kali. Manis sekali Pendekar Rajawali Sakti itu mendarat di seberang tanpa menyusuri tambang itu.

"Ilmu meringankan tubuhmu sempurna sekali, Pendekar Rajawali Sakti," ujar wanita itu memuji dengan tulus.

"Tidak lebih tinggi darimu...," sahut Rangga sengaja memutus ucapannya.

Wanita itu tersenyum, lalu menghenyakkan tubuhnya di atas sebongkah batu yang tidak begitu besar. Matanya menerawang jauh ke seberang sungai. Sedangkan Rangga tetap berdiri dengan jarak sekitar dua batang tombak jauhnya. Tampak sekali kalau Pendekar Rajawali Sakti itu masih menjaga jarak.

"Rasanya memang tidak enak kalau berbicara tanpa mengetahui nama masing-masing. Tidak adil.... Aku sudah tahu namamu, sedangkan kau sendiri belum tahu siapa diriku," kata wanita itu seperti bicara pada dirinya sendiri.

Rangga hanya menggumam kecil. Hampir tidak terdengar suara gumamannya. Ditatapnya dalam-dalam wajah yang cantik dengan bibir indah yang selalu nampak merah menantang.

"Kau bisa memanggilku Nurmi, Rangga," kata wanita itu memperkenalkan diri.

"Nurmi...? Bukankah itu nama putri Ki Danupaya?" agak tersentak juga Rangga mendengar nama wanita itu. Rangga sudah mengenal nama-nama yang ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu dari Ki Murad. Dan salah satunya adalah Nurmi, putri Ki Danupaya yang hilang diculik pada saat malam pernikahan. Dia sudah tahu semuanya dari Ki Murad yang menceritakan awal kejadiannya secara gamblang dan terbuka.

"Benar. Aku memang putri Ki Danupaya. Orang yang terpandang di Desa Kali Wungu. Bahkan desa-desa lain di sekitar Bukit Mangun ini," tenang sekali nada suara Nurmi.

"Aku sudah mendengar semua tentang dirimu, Nurmi. Hm.... Kenapa kau lakukan itu semua?" tanya Rangga tidak mengerti.

"Rangga. Tadi kau tanya tentang hubunganku dengan Dewi Iblis, bukan?" Nurmi mengingatkan.

"Ya..."

"Dewi Iblis adalah adik kakekku yang memimpin sebuah padepokan atau sering disebut Pertapaan Jati Wangi. Jadi aku adalah cucunya," jelas Nurmi.

"Hm..., jadi kau mendapatkan beberapa ilmu kesaktian darinya?" tebak Rangga.

"Benar. Dan itu kudapatkan sebelum Dewi Iblis kau taklukkan. Setelah itu, aku tidak pernah lagi bertemu meskipun tahu tempat tinggalnya. Dewi Iblis selalu menghindar dan tidak suka ditemui siapa pun juga."

Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kini mengerti, mengapa wanita bertudung ini selalu menghindarinya. Mungkin juga Nurmi sudah diberitahu agar tidak bentrok dengan Pendekar Rajawali Sakti. Tapi Rangga belum merasa puas. Sampai saat ini memang masih belum ditemukan alasan kebenaran semua tindakan Nurmi, hingga tega membunuh dan mengancam ketentraman orang tuanya sendiri.

"Lalu, dari mana kau dapatkan kepandaian yang lain?" tanya Rangga.

"Kakekku," sahut Nurmi singkat.

"Hm.... Jadi itu sebabnya mengapa Ki Murad tidak mengenali jurus-jurusmu," gumam Rangga, seolah bicara pada dirinya sendiri.

"Tak ada yang tahu. Apalagi ayahku."

"Ibumu...?"

"Jangan sangkut pautkan ibuku!" sentak Nurmi.

"Oh...?!" Rangga terkejut. Sungguh tidak disangka kalau wanita ini bisa berang jika ibunya disangkutpautkan dalam masalah ini.

"Dia bukan ibuku!" dengus Nurmi dengan wajah berang. "Ibuku sudah lama meninggal. Semua gara-gara manusia-manusia keparat itu!"

"Oh, maafkan. Aku tidak tahu," ucap Rangga.

"Sudahlah, kubawa kau ke sini agar tahu semua permasalahannya. Dan kuharap jangan mencampuri urusanku. Kau sudah terlalu jauh, Rangga. Dan sekarang kau libatkan juga nenekku yang tidak tahu apa-apa. Kau membuat semua rencanaku jadi berantakan!" dengus Nurmi sengit.

"Rencana apa?" tanya Rangga menyelidik.

"Melenyapkan keparat-keparat itu!" sahut Nurmi mantap.

"Maksudmu..., Ki Murad?" tebak Rangga.

"Bukan hanya dia!"

"Oh...?!" lagi-lagi Rangga terkejut. Rangga memang sudah tahu sekarang, siapa orang bertudung yang telah membuat hampir seluruh penduduk Desa Kali Wungu resah. Tapi maksud Nurmi sebenarnya memang belum diketahuinya. Wanita itu selalu mengelak, dan meminta Pendekar Rajawali Sakti itu tidak ikut campur dalam persoalan ini.

********************

ENAM

"Mustahil..!" geram Ki Danupaya seraya menggebrak meja di sampingnya.

Wajah laki-laki setengah baya itu nampak merah padam bagai udang rebus. Sepasang bola matanya menatap tajam Ki Murad yang duduk di depannya. Tidak ada orang lain di ruangan tengah yang cukup besar ini, selain mereka berdua. Sesaat suasana di ruangan itu sunyi sepi. Ki Danupaya bangkit berdiri dan berjalan pelahan-lahan menuju ke jendela. Sebentar dia menatap keadaan di luar, lalu memutar tubuhnya menatap pada Ki Murad yang masih tetap duduk di kursinya.

"Tidak mungkin anakku sendiri yang melakukan ini semua!" dengus Ki Danupaya tidak percaya.

"Kau boleh saja tidak percaya, Adi Danupaya. Tapi kulihat dan kudengar sendiri percakapan mereka di Puncak Bukit Mangun sebelah Selatan," kata Ki Murad meyakinkan.

Ki Danupaya diam membisu, namun pandangannya tetap tajam menusuk langsung ke bola mata laki-laki tua yang tetap duduk di kursinya.

"Semula memang aku akan langsung kembali, tapi niatku berubah karena merasa khawatir kalau-kalau Pendekar Rajawali Sakti terjebak. Tapi yang kusaksikan malah membuatku hampir pingsan. Jelas sekali kalau orang itu adalah Nurmi. Putrimu!" ujar Ki Murad mantap.

"Bagaimana mungkin suaminya sendiri dibunuh?! Sedangkan dia di..." ucapan Ki Danupaya terputus.

"Bukan diculik seperti yang kita duga selama ini, Adi Danupaya. Tapi sengaja menghilang untuk mengelabui kita semua," selak Ki Murad cepat.

Kembali Ki Danupaya terdiam. Masih belum dipercaya sepenuhnya laporan Ki Murad kalau orang yang selama ini membuat rusuh adalah putrinya sendiri. Memang sukar untuk dipercaya. Nurmi membunuh suaminya sendiri, tepat pada saat malam pertama pernikahan mereka. Dan kini membuat rusuh dengan membunuh istri Ki Murad, membantai anak buah ayahnya sendiri, dan bahkan membumihanguskan kediaman mertuanya. Ki Danupaya menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Sukar baginya untuk menerima dan mempercayai semua ini.

"Kakang Murad. Setahuku Nurmi tidak memiliki ilmu olah kanuragan. Apalagi sampai bisa mempecundangimu. Tidak mungkin, Kakang. Mustahil...!" ujar Ki Danupaya masih tidak bisa mempercayai.

"Beberapa kali aku bentrok dengannya, Adi Danupaya. Dan yang terakhir sempat ku kenali salah satu ajiannya. Aji Mata Kilat milik Dewi Iblis, bibimu sendiri!" kata Ki Murad masih mencoba meyakinkan Ki Danupaya.

"Kau jangan membawa-bawa bibiku, Kakang. Sudah lama Bibi Dewi tidak pernah kelihatan lagi setelah ditaklukkan Pendekar Rajawali Sakti," nada suara Ki Danupaya terdengar tidak senang.

"Itulah masalahnya sekarang, Adi Danupaya."

"Apa maksudmu, Kakang?"

"Dewi Iblis takluk oleh Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Nurmi mempunyai aji Mata Kilat yang sangat dahsyat. Padahal yang ku tahu, Dewi Iblis tidak memiliki murid seorang pun. Apalagi wanita itu telah berjanji untuk tidak terjun kembali dalam dunia persilatan, setelah dikalahkan Pendekar Rajawali Sakti. Aku merasa mereka bersekongkol..." Ki Murad menduga-duga.

"Bersekongkol...? Apa maksudmu, Kakang?" Ki Danupaya semakin tidak mengerti.

"Lihatlah kenyataan yang ada, Adi Danupaya. Kau membunuh istrimu di depan Nurmi. Meskipun saat itu masih berumur tujuh tahun, tapi ingatannya tentang kejadian itu tidak pernah lepas. Kemudian kau menikahi seorang wanita yang tidak pernah akur dengan Nurmi. Anak itu tertekan. Terlebih lagi setelah kau mengeluarkan wasiat untuk menyerahkan semua ini sepenuhnya pada istrimu. Aku yakin kalau Nurmi berusaha mencegah, karena semua yang kau milik adalah milik kakeknya yang seharusnya diturunkan padanya," ujar Ki Murad panjang lebar menyingkap latar belakang kehidupan sahabatnya ini.

"Kakang, apa yang kulakukan ini semua demi kau juga. Semua itu terjadi dan kau mengetahui, bahkan ikut mendukungnya. Istriku itu sepupu mu. Sengaja kuwariskan seluruh harta ku padanya agar bisa digunakan untuk membiayai maksudmu, menggulingkan Gusti Adipati. Itu semua sudah rencana kita, Kakang, Aku rela mengorbankan semuanya demi memperoleh kadipaten," Ki Danupaya tidak suka disalahkan begitu saja.

"Dan kau tidak sadar kalau hanya sebagai menantu yang tidak berhak sepenuhnya atas seluruh harta ini. Hhh...! Kalau saja kau turuti nasihatku, tidak akan jadi begini," ada nada keluhan pada suara terakhir Ki Murad.

"Kau gila, Kakang. Mana mungkin aku membunuh Nurmi? Anak itu satu-satunya senjata bagiku untuk tetap menguasai Desa Kali Wungu, dan desa-desa lainnya. Bahkan seluruh desa di kadipaten ini. Tanpa Nurmi, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kau sudah mengetahui hal itu, bukan...?!" agak keras nada suara Ki Danupaya.

Ki Murad menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Memang pelik persoalan yang dihadapi sekarang ini. Mereka berdua bagaikan berada di ujung tanduk saja. Sedikit saja tergelincir, tamatlah sudah semua yang telah dibangun dengan segala daya dan upaya. Kedua laki-laki itu menoleh hampir bersamaan ketika mendengar suara langkah kaki halus.

Tampak seorang wanita berwajah cukup cantik dan berbaju ketat indah, muncul dari sebuah kamar. Wanita itu melangkah menghampiri kursi di dekat Ki Murad dan duduk anggun di sana. Ki Murad menundukkan kepalanya sedikit, memberi hormat pada istri Ki Danupaya ini.

"Sudah kudengar semua pembicaraan kalian berdua," kata wanita itu pelan, hampir tidak terdengar suaranya.

"Nyai Canting...," desis Ki Danupaya agak terkejut juga.

Laki-laki setengah baya itu melangkah menghampiri dan duduk di samping istrinya. Sesaat suasana di ruangan itu sunyi senyap. Tak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Ki Murad dan Ki Danupaya memandangi wanita yang bernama Nyai Canting ini. Wanita yang usianya jauh lebih muda dari suaminya.

"Kakang! Tidak kusangka kalau kau menikahi ku hanya karena maksud tertentu. Aku benar-benar kecewa, Kakang...," lirih suara Nyai Canting.

"Nyai...," tercekat suara Ki Danupaya di tenggorokan.

"Jangan memberi alasan apa pun, Kakang. Aku sudah tahu dan sudah mendengar semuanya. Aku tidak ingin terlibat, dan tidak suka disalahkan. Aku tidak pernah membujukmu, dan tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Apalagi untuk membenci Nurmi dan adiknya. Katakan itu pada semuanya, Kakang," kata Nyai Canting, agak tersendat suaranya.

Setelah berkata demikian, Nyai Canting bangkit berdiri dan melangkah pelahan-lahan meninggalkan tempat itu. Ki Danupaya bergegas bangkit dan mengejarnya. Sementara Ki Murad hanya duduk saja dengan wajah kusut.

********************

"Nyai...!" panggil Ki Danupaya terus mengejar. Laki-laki setengah baya itu mencekal pergelangan Nyai Canting kuat-kuat, dan membalikkan tubuh wanita itu sehingga menghadap padanya. Ditatapnya dalam-dalam bola mata yang bening agak berkaca-kaca itu.

"Nyai..., kau mau ke mana?" tanya Ki Danupaya dibuat lembut suaranya.

"Pergi," sahut Nyai Canting singkat.

"Ke mana?"

"Pulang."

"Pulang?! Pulang ke mana? Ini rumahmu, Nyai!"

"Kau lupa, Kakang. Ini bukan rumahku, dan bukan milikmu. Aku akan kembali ke asalku dulu. Mudah-mudahan pondokku masih berdiri," Nyai Canting tersenyum kecut.

"Dengarkan dulu penjelasanku, Nyai...!"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Kakang. Maaf, aku harus pergi. Aku tidak ingin terlibat dengan segala macam urusan kotormu!" tegas Nyai Canting.

Setelah berkata demikian, dengan halus Nyai Canting melepaskan cekalan Ki Danupaya. Dia melangkah mundur tiga tindak, kemudian berbalik dan terus berjalan ke luar. Ki Danupaya hendak mengejar, tapi mendadak saja pundaknya ada yang menahan. Dia menoleh. Tampak Ki Murad tahu-tahu sudah berada di belakangnya. Ki Danupaya tidak jadi mengejar istrinya yang terus berjalan semakin jauh meninggalkannya.

"Biarkan dia pergi, Adi Danupaya," ujar Ki Murad.

"Tapi...."

"Canting memang tidak perlu terlibat persoalan. Dia sudah cukup menerima beban," ujar Ki Murad.

Ki Danupaya diam saja memandang kepergian istrinya yang semakin jauh. Nyai Canting sudah melewati gerbang, dan menghilang di balik pintu gerbang yang dijaga dua orang anak buah Ki Danupaya. Laki-laki setengah baya itu menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat.

"Ingat semua yang telah kita bina dengan susah payah, Adi Danupaya. Aku tidak ingin hanya karena seorang wanita kau jadi...," suara Ki Murad terputus.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking tinggi. Tampak dua orang penjaga pintu gerbang menggelepar dengan dada terbelah berlumuran darah. Kedua laki-laki itu terperanjat saat melihat seorang perempuan tua agak bungkuk mengenakan jubah merah sudah berdiri di tengah-tengah halaman rumah ini. Sebatang tongkat berkepala tengkorak manusia tergenggam erat di tangan kanannya. Sebentar saja, di sekitar halaman yang luas itu sudah berdiri sepuluh orang bersenjata golok terhunus mengepung wanita tua yang dikenal berjuluk Dewi Iblis.

Sementara di dalam rumah, Ki Murad dan Ki Danupaya hanya saling berpandangan sesaat. Kemudian Ki Danupaya melangkah hendak ke luar. Tapi baru saja berjalan dua tindak, Ki Murad sudah mencegah dengan mencekal tangannya. Terpaksa Ki Danupaya berhenti melangkah, lalu berpaling menatap laki-laki tua berjubah putih itu.

"Dia tamuku, Kakang," ucap Ki Danupaya seraya melepaskan halus cekalan Ki Murad.

"Kedatangannya sudah menunjukkan tidak bersahabat," desis Ki Murad.

Ki Danupaya hanya tersenyum saja, kemudian melangkah ke luar. Sedangkan Ki Murad hanya berdiri saja memandangi dari dalam. Memang cukup jelas memandang ke halaman depan dari ruangan tengah ini, tapi tidak begitu jelas bila melihat ke dalam dari luar.

********************
Sementara itu Ki Danupaya sudah sampai di depan rumahnya. Di turuninya anak-anak tangga beranda depan rumah besar bagai istana kecil itu. Dia kemudian berhenti di depan Dewi Iblis setelah jaraknya tinggal sekitar dua batang tombak lagi. Sementara tiga puluh orang anak buahnya sudah mengepung tempat ini dengan senjata terhunus.

"Kedatanganmu tiba-tiba sekali, Bibi Dewi," ucap Ki Danupaya setelah memberi isyarat agar seluruh anak buahnya menyingkir.

"Hm.... Aku senang dengan cara sambutanmu yang hangat," gumam Dewi Iblis tersenyum tipis.

"Maaf. Mereka belum mengetahuimu, Bibi Dewi," ucap Ki Danupaya.

"Aku datang memang bukan untuk dikenal mereka, karena memang tidak ada perlunya mengenalku!" ketus nada suara Dewi Iblis.

"Ada keperluan apakah sehingga Bibi jauh-jauh datang ke sini?" tanya Ki Danupaya masih tetap berusaha ramah, meskipun sikap Dewi Iblis jelas-jelas tidak bersahabat.

"Mencari anakmu!" tajam jawaban Dewi Iblis.

"Anakku...?!" Ki Danupaya berkerut juga kening. Ki Danupaya tampak kebingungan. Mata laki-laki setengah baya itu melirik ke kanan dan ke kiri, lalu menoleh ke belakang.

Tampak di balik tembok, Ki Murad berlindung mengawasi. Dia tahu kalau sahabatnya itu tengah mendengarkan semua pembicaraannya dengan perempuan tua yang dulu dikenal sebagai tokoh hitam yang sangat kejam.

"Mana dia, Danupaya? Dia telah lancang menjual namaku! Membuatku lebih terhina di depan Pendekar Rajawali Sakti! Berikan anak setan itu padaku!" lantang suara Dewi Iblis.

"Bibi..., aku tidak mengerti maksudmu? Mengapa tiba-tiba ingin bertemu Nurmi?" agak bergetar nada suara Ki Danupaya. Laki-laki setengah baya itu tahu betul siapa yang sedang dihadapinya ini. Meskipun cukup lama Dewi Iblis menghilang, tapi bukan berarti kepandaiannya ikut hilang. Bahkan mungkin semakin dahsyat saja.

"Dia sudah lancang menggunakan ajian yang ku berikan untuk membunuh orang. Anak setan itu telah merusak janji ku pada Pendekar Rajawali Sakti!" masih lantang nada suara Dewi Iblis.

"Ajian...?! Ajian apa...? Setahuku, Nurmi tidak pernah belajar ilmu olah kanuragan, apalagi ilmu kesaktian. Bibi, siapa yang mengatakan hal itu pada mu?"

"Temanmu yang ada di dalam!" sahut Dewi Iblis seraya melirik ke dalam rumah.

Ki Danupaya terkejut bukan main. Ternyata wanita tua ini mengetahui kalau Ki Murad ada di dalam. Dan pada saat Ki Danupaya menoleh ke belakang, Ki Murad melangkah keluar. Laki-laki berjubah putih itu berdiri di beranda. Tangan kanannya sudah memegang gagang pedang meskipun belum tercabut dari sarungnya di pinggang.

Ki Danupaya benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi. Baru saja Ki Murad melaporkan kalau orang yang selama ini membuat kekacauan adalah Nurmi, dan sekarang Dewi Iblis mencari anak itu karena merasa namanya dicemarkan. Terlebih lagi, saat ini perempuan tua itu sedang terikat perjanjian pada Pendekar Rajawali Sakti. Perjanjian setelah ditaklukkan oleh pemuda itu.

"Bibi, mungkin ini hanya salah paham saja. Sebaiknya kita bicarakan baik-baik di dalam," kata Ki Danupaya mencoba meredakan amarah wanita berjubah merah itu.

"Kau jangan berpura-pura bodoh, Danupaya! Telah kudengar semua pembicaraanmu tadi. Dan memang sudah kuduga sebelumnya kalau Nurmi yang melakukan semua itu. Asal tahu saja, aku tidak menyalahkannya. Justru aku ingin memberi pelajaran padamu, juga teman setanmu itu. Aku mencari Nurmi agar dia bertanggung jawab setelah mencemarkan namaku di depan Pendekar Rajawali Sakti!" tegas kata-kata Dewi Iblis.

Seketika itu juga wajah Ki Danupaya memerah pucat. Demikian juga Ki Murad yang berada di beranda. Mereka semua tahu kalau Dewi Iblis tidak main-main. Dan yang lebih dikhawatirkan, kepandaian perempuan berjubah merah itu tidak akan bisa tertandingi. Kepandaiannya jauh lebih tinggi dari mereka berdua. Bahkan seluruh anak buah Ki Danupaya jika dikerahkan, tidak akan bisa membendungnya.

"Aku tidak punya waktu lagi, Danupaya. Mungkin kalian berdua bisa melihat matahari pagi besok kalau Nurmi bisa diserahkan padaku!" kata Dewi Iblis.

"Nurmi tidak ada di rumah ini, Bibi Dewi. Dia diculik beberapa hari yang lalu," kata Ki Danupaya.

"Semua orang berkata begitu! Huh....! Kau pikir aku percaya bualan kosong mu?!" dengus Dewi Iblis.

"Aku berkata yang sebenarnya, Bibi. Nurmi diculik saat malam pernikahannya," Ki Danupaya berusaha menjelaskannya.

"Satu lagi kesalahanmu, Danupaya! Kau menikahkan anakmu tanpa memberitahukan ku!" gerutu Dewi Iblis.

"Maaf, Bibi," hanya itu yang bisa diucapkan Ki Danupaya agar wanita bungkuk berjubah merah itu tidak meluap amarahnya. Bagaimanapun juga, harus bisa dihindari bentrokan yang pasti tidak akan menguntungkan baginya.

"Dengan siapa Nurmi kawin?" tanya Dewi Iblis kasar.

"Putra sahabatku ini," sahut Ki Danupaya menunjuk Ki Murad.

"Dasar manusia bejad! Kalian memperalat anak untuk kepentingan pribadi!" gerutu Dewi Iblis yang sudah mengetahui semua maksud-maksud Ki Danupaya.

Ki Danupaya hanya diam saja. Di depan wanita bungkuk itu, rasanya memang tidak mungkin untuk membusungkan dada. Baginya lebih baik merendah untuk keselamatan diri, daripada mati sia-sia di tangan Dewi Iblis. Semula hatinya sudah gembira saat mendengar kekalahan Dewi Iblis di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Sungguh tidak dinyana sama sekali kalau pemuda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu tidak membunuhnya, bahkan membiarkan hidup.

Kini Dewi Iblis muncul kembali, dan membuat Ki Danupaya jadi gelisah. Laki-laki setengah baya itu tidak pernah khawatir meskipun Dewi Iblis sudah mengetahui semua maksud-maksud tersembunyinya. Karena memang sebenarnya wanita tua agak bungkuk berjubah merah itu tidak pernah mau tahu segala urusan Ki Danupaya. Baginya yang terpenting cucunya tidak disakiti. Itulah sebabnya, mengapa Ki Danupaya mempertahankan Nurmi agar tidak dibunuh, meskipun anak itu menyaksikan pembunuhan yang dilakukannya terhadap istrinya sendiri. Semua itu dilakukan hanya karena ambisinya yang tinggi untuk menguasai suatu wilayah kadipaten.

"Danupaya, kali ini kau kuberi kesempatan untuk bisa bernapas sampai besok. Ingat...! Sebelum matahari terbenam besok, kau harus sudah mendapatkan Nurmi!"

Setelah berkata demikian, Dewi Iblis langsung melesat pergi. Sungguh tinggi ilmu meringankan tubuhnya. Dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap. Ki Danupaya mendesah panjang, seakan ingin melonggarkan rongga dadanya yang sejak tadi terasa sesak. Laki-laki setengah baya itu memutar tubuhnya dan melangkah pelahan menuju ke beranda rumahnya. Langkahnya terhenti setelah berada di depan Ki Murad. Sejenak kedua laki-laki itu saling berpandangan, kemudian berjalan masuk tanpa berkata apa-apa lagi.

********************

TUJUH

Sepertinya tidak ada yang dapat dilakukan Pendekar Rajawali Sakti untuk menyelesaikan kemelut yang terjadi di Desa Kali Wungu. Semua persoalan itu hanya bersifat pribadi dan terbatas pada lingkungan keluarga saja. Tanpa melibatkan seorang penduduk pun yang tidak tahu menahu. Kalaupun pun ada penduduk yang terbunuh, itu dilakukan Nurmi karena terpaksa. Salah seorang penduduk waktu itu tanpa sengaja melihat wajahnya saat wanita itu membuka tudung.

Nurmi, tidak ingin dirinya diketahui sebelum kehancuran keluarganya. Hanya satu yang tidak bisa dimengerti Rangga, yakni jalan pikiran Nurmi yang dianggapnya tidak waras. Membunuh suaminya sendiri dan menteror kehidupan keluarga ayahnya. Padahal wanita itu tidak ingin mencelakakan ayahnya sendiri. Yang ingin dibunuh hanya Ki Murad agar terpisah untuk selama-selamanya dari Ki Danupaya. Tidak ada maksud lain lagi.

"Kau masih belum percaya kalau bukan aku yang membunuh Wiraguna, Rangga?" ucap Nurmi sambil memain-mainkan kakinya ke dalam sungai.

"Kalau bukan kau, lalu siapa?" tanya Rangga yang berdiri membelakangi wanita itu.

"Adikku," sahut Nurmi.

"Adikmu...?" Rangga terkejut tidak percaya.

"Benar. Aku memintanya datang tepat pada tengah malam pesta pernikahanku. Sengaja tidak kukunci jendela agar adikku mudah masuk ke dalam kamar dan membunuh Wiraguna, lalu pura-pura menculikku," jelas Nurmi.

"Kenapa dia lakukan itu?" tanya Rangga seraya membalikkan tubuhnya menghadap Nurmi.

"Wiraguna telah mengecewakannya. Adikku telah direnggut kehormatannya dan ditinggalkan begitu saja. Bajingan itu memang mata keranjang. Sudah banyak gadis yang terpedaya dan terenggut kehormatannya."

"Lantas kenapa kau rela dinikahkan?"

"Hanya itu jalan satu-satunya. Aku rela berkorban asal musuh besar keluargaku musnah. Sudah lama Ki Murad hendak menghancurkan keluargaku, dan setelah sahabatnya bisa menikahi ibuku barulah dilancarkan aksinya."

"Kenapa dia menginginkan kehancuran keluarga mu?" tanya Rangga terus menyelidik dan membuat Nurmi mengatakan terus terang apa adanya dan tanpa ditutup-tutupi.

"Persoalan lama. Dia selalu kalah dalam mendapatkan pengaruh dan kekuasaan. Oleh sebab itu dia sengaja bekerja sama dengan ayahku sebelum menikahi ibuku. Mereka ingin menggunakan harta kekayaan keluargaku untuk ambisi pribadinya yang gila," jelas Nurmi.

"Apa tujuannya?" tanya Rangga ingin tahu.

"Merebut kadipaten."

"Edan!" desis Rangga agak kaget juga mendengarnya.

Beberapa saat lamanya mereka terdiam membisu, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sementara itu matahari terus merayap menggulir ke arah Barat. Sinarnya yang semula terik, kini terasa lembut menyapu kulit. Angin mulai menghembus kencang menaburkan hawa dingin menggigilkan tulang. Nurmi mengangkat kakinya keluar dari dalam sungai, lalu melompat ringan ke tepi sungai kecil ini.

"Nurmi, dimana adikmu sekarang?'' tanya Rangga

"Di Pertapaan Jati Wangi," sahut Nurmi. "Aku memintanya untuk tidak terus terlibat, biar semuanya ku tanggung sendiri. Harus ada satu orang yang nantinya bisa mewarisi kejayaan keluarga. Aku merasa kalau semua yang kulakukan sangat berbahaya, bahkan nyawa taruhannya. Dan mungkin juga tidak bisa mencegah darah ayah melumuri tanganku."

"Kenapa? Toh dia ayahmu juga, bukan?"

"Dia yang membunuh ibuku!"

"Oh...!" lagi-lagi Rangga terkejut. Sungguh mati Rangga tidak menyangka kalau semua persoalannya begitu banyak kaitannya. Bahkan persoalan yang sudah berjalan entah berapa tahun. Yang pasti, sebelum Nurmi lahir ke dunia ini. Rasa iba mulai menjalar di hati Pendekar Rajawali Sakti itu, setelah mengetahui beban penderitaan wanita ini. Masih terlalu muda bagi Nurmi untuk menanggung semua itu.

Tidak heran kalau wanita itu tekun mempelajari ilmu olah kanuragan dan kesaktian tanpa setahu ayahnya. Rupanya dendam sudah membara di hatinya sejak melihat sendiri pembunuhan yang dilakukan ayahnya terhadap ibunya. Terlebih lagi setelah mengetahui maksud-maksud buruk yang tersirat di benak Ki Danupaya dan Ki Murad. Dan dendam yang terpendam tahunan itu rupanya meledak juga.

"Sekarang kau sudah mengetahui semua permasalahannya, Rangga. Kuminta jangan melibatkan diri dalam persoalan ini," kata Nurmi setelah cukup lama berdiam diri.

"Memang tidak ada perlunya mencampuri urusan mu, Nurmi. Tapi kau akan berhadapan dengan Dewi Iblis, bibimu sendiri," sahut Rangga bernada sedikit menyesal.

"Seharusnya tidak perlu melibatkan dia, Rangga," Nurmi juga menyesali.

"Maaf aku terlalu gegabah, percaya saja terhadap cerita Ki Murad," ucap Rangga menyesal.

"Yaaah..., aku harap Bibi Dewi tidak sempat bertemu denganku sebelum Ki Murad tewas. Aku akan menyerahkan diri padanya nanti," desah Nurmi.

"Kenapa?"

"Aku telah melanggar pesannya untuk tidak mengeluarkan ilmu yang diajarkan. Aku terpaksa, Rangga. Akibatnya Ki Murad mengetahui."

"Sudahlah Nurmi. Akan kujelaskan nanti pada Dewi Iblis," janji Rangga.

"Mudah-mudahan Bibi Dewi mau mengerti." "Ya," desah Rangga pendek.

********************

Rangga terjaga dari tidurnya ketika mendengar suara ribut-ribut. Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas mengerinjang bangkit, lalu mengintip dari celah-celah jendela. Tampak Nurmi tengah beradu mulut dengan Dewi Iblis. Jelas sekali pembicaraan yang terdengar. Dan Rangga jadi terkejut, karena Dewi Iblis memang diam-diam memberikan pelajaran ilmu olah kanuragan dan ilmu kesaktian pada Nurmi untuk membalas kematian ibunya yang dilakukan ayahnya sendiri. Juga untuk membunuh Ki Murad yang telah mengecewakan wanita tua itu selagi masih muda dulu. Jelas sekali terdengar, kalau antara Dewi Iblis dan Ki Murad pernah terjalin hubungan asmara.

Baru bisa dimengerti, kenapa Nurmi menuduh Ki Murad curang, licik! Semua itu dimaksudkan karena Ki Murad meninggalkan Dewi Iblis dalam keadaan hamil. Ki Murad malah menikah dengan wanita lain dan menghasilkan seorang putra. Persoalan yang saling berkaitan dan sangat pelik.

"Kau benar-benar telah mengecewakan aku, Nurmi. Tidak ada hukuman lain bagimu kecuali mati!" terdengar suara Dewi Iblis.

"Bi...."

"Bersiaplah untuk mati, Nurmi! Hiyaaat..!"

"Bi...!" Tapi Dewi Iblis sudah melontarkan satu pukulan keras ke dada Nurmi yang tidak berkelit sedikit pun. Akibatnya wanita itu terjengkang ke belakang sejauh tiga batang tombak.

"Heh...!" Rangga terkejut melihat kejadian itu. Seketika Pendekar Rajawali Sakti itu melesat ke luar menerobos jendela kamar ini. Tepat pada saat itu kepala tongkat Dewi Iblis yang berbentuk tengkorak manusia mengibas mengarah ke kepala Nurmi. Bagaikan kilat Rangga melentik dan mencabut pedang pusaka Rajawali Sakti. Dia tahu betul kalau tongkat itu terlalu berbahaya bila hanya ditandingi tangan kosong, meskipun dikerahkan tenaga dalam penuh.

Secercah cahaya biru berkelebat cepat bagaikan kilat, langsung memapak tongkat Dewi Iblis. Satu benturan keras terjadi hingga menimbulkan ledakan menggelegar bagai gunung meletus. Dewi Iblis memekik keras tertahan, dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh tiga batang tombak. Dua kali tubuhnya berputaran di udara sebelum mendarat manis di tanah. Sedangkan Rangga langsung menjejakkan kakinya di samping Nurmi yang menggeletak dengan mulut berlumuran darah.

"Cukup, Dewi Iblis!" seru Rangga keras.

"Eh...!" Dewi Iblis terkejut setengah mati begitu mengetahui yang menggagalkan serangannya adalah pemuda berbaju rompi putih yang dulu pernah menak-lukkannya.

"Kau tidak apa-apa, Nurmi?" tanya Rangga seraya menoleh sedikit pada wanita yang masih terduduk di sampingnya.

"Uh...! Dadaku seperti remuk," dengus Nurmi merintih tertahan. Ditekap dadanya yang terkena pukulan telak bertenaga dalam tinggi. Napasnya tersengal, terasa sulit sekali bernapas.

Rangga memalingkan mukanya kembali menatap pada Dewi Iblis. Begitu tajam pandangan mata Pendekar Rajawali Sakti itu. Sementara Dewi Iblis menggeser kakinya beberapa langkah ke depan. Sikapnya begitu waspada, karena telah tahu siapa pemuda berbaju rompi putih itu. Meskipun usianya jauh lebih muda, namun tingkat kepandaiannya berada di atasnya. Terlebih lagi pedangnya itu. Dewi Iblis tahu kalau tadi Rangga menggunakan pedang pusakanya untuk menggagalkan serangannya.

Memang cepat sekali gerakan Pendekar Rajawali Sakti itu. Secepat kilat dicabut pedang, secepat itu pula dimasukkannya kembali ke dalam warangkanya. Begitu cepatnya, sehingga sukar untuk diikuti pandangan mata biasa. Sepertinya Rangga tidak mengeluarkan pedang pusakanya tadi.

"Kau pernah berjanji padaku, Dewi Iblis. Dan aku juga tidak akan lupa kata-kataku sendiri...!" terasa dingin dan datar nada suara Rangga.

Dewi Iblis hanya mendengus saja. Tentu saja dia tidak akan melupakan janjinya sendiri, dan kata-kata yang diucapkan Rangga waktu itu. Dan disadari betul kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak akan menarik kembali ucapan yang sudah dilontarkan. Dewi Iblis merasa kalau saat ini, mau tidak mau harus bertarung kembali melawan Pendekar Rajawali Sakti sampai pada hembusan napasnya yang terakhir.

"Kau telah menyalahgunakan kepercayaan yang kuberikan padamu, Dewi Iblis. Rasanya sukar bagiku untuk memberi kesempatan lagi padamu," kata Rangga lagi.

"Phuih! Majulah, bocah...! Kau pikir aku gentar padamu?! He he he...!" Dewi Iblis mendengus langsung terkekeh.

"Bagus! Itu berarti kau sudah siap ke neraka!" semakin dingin suara Rangga.

"Banyak omong! Hiyaaat..!" Dewi Iblis melompat menerjang sambil mengebutkan tongkatnya, disertai pengerahan tenaga dalam sangat tinggi.

Saat itu Rangga hanya menggeser kakinya sedikit dan menarik tubuhnya ke belakang. Kibasan tongkat itu lewat di depan dadanya. Rangga bisa merasakan angin kibasannya yang begitu dahsyat. Bergegas dilentingkan tubuhnya ke atas, melewati kepala perempuan tua bungkuk berjubah merah itu.

"Hiya...!" Cepat sekali Rangga menggerakkan kakinya, dan menggunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Tapi rupanya Dewi Iblis sudah menyadari akan serangan itu, dengan cepat diputar tongkatnya di atas kepala. Rangga terpaksa memutar tubuhnya, dan meluruk turun ke belakang tubuh wanita bungkuk itu. Secepat kilat dilepaskan satu pukulan ke punggung Dewi Iblis. "Hiyaaa...!"

"Uts!" Dewi Iblis memutar tongkatnya ke belakang, melindungi punggungnya dari pukulan Pendekar Rajawali Sakti. Dan cepat-cepat diputar tubuhnya sambil mengayunkan tongkatnya ke arah kaki pemuda berbaju rompi putih itu. Manis sekali Rangga melompat, dan melayangkan satu tendangan menggeledek ke arah kepala Dewi Iblis.

"Hup! Hiyaaa...!" Dewi Iblis menghindar dengan melentingkan tubuhnya ke belakang sambil mengibaskan ujung tongkatnya yang runcing. Tapi saat itu Rangga sudah melepaskan satu pukulan keras bertenaga dalam sempurna dibarengi pengerahan aji 'Bayu Bajra'. Suatu ajian yang dahsyat membawa angin pukulan bagai gelombang badai topan menghancurkan gunung!

"Hiyaaa...!"

"Akh...!" Dewi Iblis memekik keras tertahan. Perempuan tua bungkuk berjubah merah itu tak mampu lagi menahan gempuran Rangga yang begitu dahsyat. Apalagi keadaan tubuhnya berada di atas tanah. Tak ampun lagi, tubuh tua bungkuk itu meluncur deras ke belakang, menghantam dinding batu cadas hingga hancur berantakan. Bumi serasa berguncang. Sementara itu batu-batu cadas tiba-tiba berguguran menimpa tubuh Dewi Iblis.

Rangga berdiri tegak memperhatikan batu-batu yang berjatuhan menimbun Dewi Iblis. Suara bergemuruh masih terdengar memekakkan telinga disertai guncangan yang cukup keras pada tanah. Rangga masih berdiri tegak sampai tidak ada lagi batu-batu yang berguguran. Tampak gundukan batu besar dari kecil membentuk sebuah bukit batu kecil di atas bukit.

Rangga menarik napas panjang, kemudian berpaling pada Nurmi yang sudah bisa bangkit berdiri. Pemuda berbaju rompi putih itu menghampiri. Sedangkan Nurmi hanya diam mematung memandangi tumpukan batu yang menimbun Dewi Iblis. Entah apa yang ada di dalam hati wanita itu. Bibirnya terkatup rapat dengan pandangan lurus tak berkedip. Rangga menepuk lembut pundaknya. Nurmi berpaling, menatap redup.

"Meskipun dia jahat, tapi selalu baik padaku," ujar Nurmi lirih.

"Maaf...."

"Tidak perlu disesali, Rangga. Aku tahu, kau melakukannya demi kebenaran," potong Nurmi cepat.

Wanita itu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi pelahan-lahan. Sementara Rangga memandangi sejenak, lalu ikut berjalan menyusul.

********************

Suasana di Desa Kali Wungu tampak tenang. Namun ketenangan itu bukan berarti ketentraman. Seluruh rumah terkunci rapat, dan tak ada seorang pun yang terlihat berada di luar. Hanya dua orang saja yang berjalan menyusuri jalan tanah berdebu membelah desa itu. Mereka adalah Rangga dan Nurmi. Wanita itu berjalan sekitar sepuluh tombak di depan Pendekar Rajawali Sakti. Sebuah tudung bambu besar menutupi kepalanya.

Sedangkan Rangga memperlambat langkahnya setelah Nurmi berada tak jauh di depan pintu gerbang sebuah rumah besar yang tertutup rapat. Tak ada seorang pun yang terlihat menjaga. Wanita berbaju merah dengan tudung bambu bertengger di kepalanya itu berhenti sekitar sepuluh langkah lagi jaraknya. Diangkat kepalanya, dan tampaklah empat orang di atas tembok benteng dengan anak panah siap terpasang di busur.

"Hm...," Nurmi menggumam pelahan.

Wut! Sing...!

Tiba-tiba saja empat orang di atas tembok itu melepaskan anak panah dengan cepat. Anak-anak panah itu meluruk bagaikan hujan, menghunjam ke arah Nurmi. Namun gadis itu lincah sekali bisa mengelak-kan serbuan anak panah itu. Dia berlompatan cepat sambil memutar tongkat putihnya, menghalau serbuan anak panah yang datang bagai hujan.

Sementara dari tempat yang cukup jauh, Rangga menyaksikan tanpa berkedip. Semula dia ingin membantu. Tapi melihat Nurmi masih mampu mengatasi, Pendekar Rajawali Sakti itu mengurungkan niatnya. Pertarungan itu diperhatikan saja sambil berjaga-jaga kalau ada yang bermain curang.

"Hiyaaat...!" Tiba-tiba saja wanita berbaju merah dengan kepala tertutup tudung besar itu melesat ke atas sambil memutar tongkat putihnya, membuat perisai bagi dirinya sendiri. Lesatannya bagus dan cepat luar biasa, sehingga empat orang di atas tembok benteng itu tidak bisa berbuat apa-apa.

Bagaikan kilat, Nurmi mengibaskan tongkatnya menghajar empat orang itu. Jerit pekik melengking terdengar sating sambut, disusul ambruknya empat sosok tubuh dari atas tembok benteng itu. Tampak Nurmi berdiri tegak dengan tongkat putih menyilang di depan dada. Pandangannya tajam beredar mengamati bagian dalam halaman yang cukup luas, dan di kelilingi pagar tembok yang cukup tinggi dan kokoh ini.

"Ki Murad...! Keluar kau...!" lantang suara Nurmi. "Jangan hanya bisa bersembunyi di balik punggung monyet buduk!" Suara yang disalurkan lewat pengerahan tenaga dalam itu bergema terbawa angin.

Cukup lantang, dan pasti seluruh penduduk Desa Kali Wungu ini mendengar semua. Tampak dari balik jendela dan pintu rumah-rumah yang berdekatan dengan kediaman Ki Danupaya, menyembul beberapa kepala yang melongok ke luar. Tak ada yang berani ke luar, begitu melihat seseorang berbaju merah menyala berdiri tegak di atas tembok benteng yang mengelilingi bangunan besar bagai istana itu.

"Hm...," Nurmi bergumam pelan. Dari balik tudung yang besar, bibirnya tersenyum melihat sekitar sepuluh orang bersenjata tombak bermunculan keluar dari dalam bangunan besar itu. Mereka berlompatan ke halaman dan memamerkan keahliannya menggunakan tombak panjang bermata berkilat tertimpa cahaya matahari.

"Hup...!" Indah sekali Nurmi melesat turun. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, wanita itu mendarat tepat di tengah-tengah lingkaran sepuluh orang bersenjata tombak terhunus. Nurmi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, merayapi sepuluh orang yang terus bergerak memutarinya sambil memain-mainkan tombak.

Saat itu tampak sebuah bayangan putih berkelebat, dan tahu-tahu sudah berada di atas atap. Tampak di situ berdiri seorang pemuda berbaju rompi putih, yang ternyata adalah Pendekar Rajawali Sakti. Dia duduk dengan enaknya di atap, menonton Nurmi yang di kepung sepuluh orang bersenjata tombak panjang.

"Hiyaaa...!" "Yeaaah...!" Teriakan-teriakan keras terdengar, disusul berlompatannya sepuluh orang yang menyerang Nurmi dari berbagai jurusan.

"Hait...!" Gesit sekali gerakan wanita berbaju merah itu menghindari setiap serangan yang datang dari segala penjuru. Tongkat putihnya berkelebatan cepat diimbangi gerakan kaki dan tubuhnya yang lincah cepat luar biasa. Dalam beberapa gebrak saja, tampak dua orang terjungkal menimbulkan suara pekikan melengking tinggi. Darah bersimbah membasahi tanah berumput halus dan terawat rapi itu.

Nurmi bertarung bagai singa betina kehilangan anaknya. Tongkat putihnya berkelebat cepat menyebarkan hawa maut. Teriakan-teriakan pertempuran, kini bercampur pekik tertahan kesakitan. Itu pun masih diikuti jeritan melengking dari tubuh-tubuh yang bergelimpangan dan menggelepar bersimbah darah. Sepuluh orang itu memang bukan lawan Nurmi. Sehingga dalam waktu tidak berapa lama saja sudah lebih dari separuhnya yang tergeletak tidak bernyawa lagi.

Pada saat jumlah mereka tinggal tiga orang lagi, dari dalam rumah kembali bermunculan sekitar dua puluh orang bersenjata terhunus berbagai jenis. Mereka langsung berlompatan menyerang wanita berbaju merah itu. Mereka yang baru muncul, rupanya memiliki kepandaian yang lebih tinggi. Sehingga Nurmi kelihatan cukup repot juga menghadapinya, meskipun masih mampu mengimbangi.

Tapi pada jurus-jurus berikutnya, kelihatan kalau Nurmi amat terdesak. Beberapa kali tubuhnya harus menerima pukulan yang cukup keras, sehingga membuatnya bergulingan di tanah. Pada saat keadaan Nurmi semakin tidak menguntungkan, mendadak dari atap bangunan besar dan megah itu meluncur bayangan putih, yang langsung menghajar orang-orang itu. Jerit dan pekik kesakitan terdengar membahana saling sambut, disusul oleh berpentalannya orang yang mengeroyok wanita bertudung itu.

"Rangga...," desis Nurmi mengenali orang yang menolongnya pada saat yang tepat.

********************

DELAPAN

"Kau temui ayahmu di dalam. Dia ada di ruangan depan," kata Rangga memberitahu.

Hampir bersamaan, Pendekar Rajawali Sakti itu memukul roboh salah seorang yang mencoba membokongnya dari belakang. Nurmi yang mendengar ucapan Rangga, bergegas melentingkan tubuhnya melewati beberapa kepala. Masih sempat diayunkan tongkatnya, membuat dua orang menjerit keras sambil memegangi kepalanya yang terhantam senjata wanita itu.

Sementara Rangga terus mengamuk sambil bergerak mendekati beranda depan. Sedangkan Nurmi sudah tiba lebih dahulu. Wanita berbaju merah itu berdiri tegak di tengah-tengah beranda depan yang disangga dua buah pilar besar. Tatapan matanya tajam dan lurus ke depan.

Dari dalam rumah itu muncul seorang laki-laki setengah baya mengenakan baju putih dengan ikat kepala juga putih bersih. Di tangan kirinya tergenggam sebilah pedang yang masih terbungkus sarungnya. Tidak berapa lama berselang, keluar lagi seorang laki-laki tua berjubah putih menyandang pedang di pinggang. Di belakangnya mendampingi enam orang tubuh tinggi besar dengan dada telanjang.

"Bagus! Berkumpullah di sini, agar aku tidak perlu susah payah meminta tanggung jawab kalian semua!" terdengar dingin nada suara Nurmi.

"Bisa kau buka tudungmu, Nurmi?" agak bergetar suara Ki Danupaya. Laki-laki itu langsung mengenali suara anaknya.

"Hhh...! Ternyata kau tidak melupakan suaraku, Ki Danupaya!" dengus Nurmi seraya membuka tudungnya.

"Tentu saja, Anakku," sahut Ki Danupaya berusaha lembut.

"Phuih! Tidak pantas kau menyebutku anak, keparat!" geram Nurmi.

"Nurmi...."

"Aku bukan anakmu! Aku tidak punya ayah sepertimu!" sentak Nurmi memotong cepat.

"Nurmi, sadarlah.... Kau dalam kesulitan besar, Anakku. Kendalikan dirimu," bujuk Ki Danupaya.

"Kesulitanku merupakan awal kehancuran kalian!" lantang suara Nurmi.

"Percuma kau membujuknya, Adi Danupaya. Bocah ini sudah dirasuki iblis!" celetuk Ki Murad.

"Sebaiknya bercerminlah dulu, Ki Murad. Dirimu sendiri tidak lebih busuk dari iblis neraka!" desis Nurmi sengit.

"Bocah lancang! Mulutmu harus diajar tata krama!" geram Ki Murad.

"Juga otakmu, tua bangka!" balas Nurmi sengit.

Trek!

"Tahan, Kakang!" sentak Ki Danupaya begitu dilihatnya Ki Murad mencabut pedang.

Tapi Ki Murad sudah tidak bisa lagi menahan diri. Terlebih lagi saat mengingat nyawa anak dan istrinya, serta sepuluh orang murid kesayangannya yang tewas. Dengan teriakan keras, Ki Murad melesat sambil mengibaskan pedangnya ke leher Nurmi.

"Uts! Hait...!" Bergegas Nurmi melompat sambil mengegoskan tubuhnya ke samping. Tapi belum juga bisa berdiri sempurna, kembali datang serangan yang tidak kalah dahsyatnya. Wanita berbaju merah itu terpaksa mengibaskan tongkatnya. Dan...

Trang! "Akh...!" Ki Murad terpekik tertahan begitu pedangnya membentur tongkat putih milik Nurmi. Tapi wanita berbaju merah itu juga terpental mundur sejauh lima langkah. Sebentar mereka saling menatap, lalu berlompatan seraya memberikan serangan menggunakan jurus-jurus maut.

Sementara itu di halaman depan, Rangga sudah membereskan lawan-lawannya. Dia berjalan tenang mendekati arena pertarungan antara Nurmi melawan Ki Murad. Nurmi yang bertarung dengan hati terselimut dendam dan amarah, jadi tidak bisa mengontrol dirinya. Akibatnya dia lupa memperhitungkan pertahanannya. Wanita itu terus menyerang dan ini diketahui Ki Murad yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan. Laki-laki tua berjubah putih itu men-gambil kesempatan pada saat Nurmi menyerang tanpa mengindahkan pertahanan dirinya sendiri, sehingga...

"Jebol!" seru Ki Murad tiba-tiba. Seketika itu juga tangan kiri Ki Murad menghentak ke depan setelah pedangnya berhasil menghalau tusukan tongkat putih wanita yang berselimut dendam dan amarah itu. Hantaman tangan kiri Ki Murad tidak bisa terhindarkan lagi dan...

"Akh...!" Nurmi terpekik keras. Tubuh ramping terbalut baju merah ketat itu terjungkal keras ke belakang, dan bergulingan beberapa kali di tanah. Bagaikan kilat, Ki Murad melompat sambil berteriak keras melengking, menghunus ujung pedang ke depan. Saat itu posisi Nurmi memang tidak menguntungkan sekali, dan tidak mungkin bisa berkelit Tapi...

Trang!

"Eh...!" Ki Murad terperanjat kaget. Buru-buru laki-laki tua itu mundur. Dan tiba-tiba saja di depan Nurmi sudah berdiri seorang pemuda berwajah tampan mengenakan baju rompi putih yang bagian dadanya dibiarkan terbuka lebar.

"Pendekar Rajawali Sakti..." desis Ki Murad. Agak bergetar suaranya, begitu mengenali orang yang baru saja menyelamatkan nyawa Nurmi.

Sementara itu Nurmi sudah bisa bangkit berdiri, meskipun masih sedikit limbung. Sebentar diatur napasnya, mengalirkan hawa mumi untuk mengusir rasa sesak yang mengganjal dadanya. Dari sudut bibirya mengalir darah kental. Untung saja pukulan Ki Murad tadi tidak bertenaga dalam penuh, sehingga Nurmi masih bisa bertahan. Tapi tak urung masih terasa sakit pada rongga dadanya.

"Rangga..., kenapa kau bela bocah keparat itu?" agak keras nada suara Ki Murad.

"Aku akan berada di pihak yang benar, Ki Murad," sahut Rangga kalem, namun nada suaranya terdengar datar.

"Sudah jelas bocah iblis itu yang bersalah! Mengapa kau malah membelanya?!"

"Beberapa hari yang lalu, mungkin aku berpendapat begitu. Tapi sekarang justru tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya sedikit pun, Ki Murad. Sayang sekali, sandiwara mu yang hebat itu tidak bisa mengelabuiku terus-menerus," masih terdengar tenang suara Rangga.

"Dengar, Pendekar Rajawali Sakti...! Bocah setan itu adalah keturunan manusia iblis, dan selamanya akan menjadi iblis berbentuk manusia. Jika berpihak padanya, sama saja kau melumuri nama besarmu dengan darah iblis!" lantang suara Ki Murad.

"Hmm..." Rangga hanya berguman saja dengan mata agak menyipit.

"Jangan dengarkan omongannya Rangga, dia itu manusia licik! Mulutnya sangat berbisa...!" sentak Nurmi ketus.

"Ha... ha... ha...! Kau akan cari pengaruh rupanya, bocah setan!" keras sekali suara Ki Murad.

Rangga jadi terdiam, dia kebingungan juga, karena satu sama lain saling membenarkan dirinya sendiri. Pada saat Pendekar Rajawali Sakti itu diliputi kebimbangan, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda. Dan mendadak saja pintu gerbang benteng rumah ini hancur. Tampaklah dua ekor kuda putih menerobos masuk pintu gerbang diikuti sekitar enam orang berkuda. Semua orang yang berada di tempat ini langsung menoleh.

"Kakek...," desis Nurmi mengenali laki-laki tua yang menunggang kuda putih di samping seorang wanita muda berbaju merah, hampir sama dengan yang dikenakan Nurmi.

Para penunggang kuda itu berlompatan turun. Tampak wanita muda berbaju merah itu bergegas menghampiri Nurmi. Sedangkan laki-laki tua yang membawa tongkat, melangkah ringan menghampiri Ki Danupaya yang masih saja berdiri di ujung tangga beranda depan.

"Sudah kudengar semua yang terjadi di sini, Danupaya. Aku harap secepatnya kau tinggalkan desa ini!" tegas kata-kata laki-laki tua itu.

"Kenapa kau ikut campur urusan ini, Eyang Baraga?!" sergah Ki Murad menyeletuk.

Laki-laki tua bertongkat itu hanya mendengus kecil. Langsung diputar tubuhnya, menatap tajam Ki Murad. Sementara Ki Danupaya hanya diam saja, kemudian melangkah mendekati Ki Murad dan berdiri di sampingnya.

"Sejak semula sudah kuduga kehadiranmu di desa ini akan membawa malapetaka...!" dingin nada suara laki-laki tua yang dipanggil Eyang Baraga itu.

"Ha ha .ha...!" Entah kenapa, tiba-tiba saja Ki Murad tertawa terbahak-bahak. Ki Murad menjentikkan tangannya, maka empat orang yang masih berada di tangga beranda, langsung melontarkan benda-benda kecil berwarna kuning keemasan ke arah Eyang Baraga.

"Bedebah! Licik...!" dengus Eyang Baraga meng-geram. Laki-laki tua itu mengebutkan tangannya, dan langsung cepat memutar tongkatnya bagai baling-baling. Benda-benda kecil berbentuk mata panah itu berguguran sebelum mengenai sasarannya. Pada saat yang sama, Ki Murad melesat cepat bagaikan kilat sambil mengebutkan pedangnya ke arah Nurmi.

"Nurmi, awas...!" seru Rangga tersentak kaget. Tapi peringatan Pendekar Rajawali Sakti itu terlambat, Nurmi yang tengah terpana oleh satu pola serangan yang begitu cepat dan tidak terduga sama sekali, hanya terkesiap sehingga ujung pedang Ki Murad menggores bahunya, walaupun wanita itu sempat memiringkan tubuhnya ke kanan.

"Akh!" Nurmi memekik tertahan. Darah langsung merembes keluar dari luka di bahu wanita itu. Rangga yang melihat kelicikan itu, jadi geram setengah mati. Dengan satu teriakan keras, langsung menyerang Ki Murad. Seketika dicabutnya pedang pusaka dari warangkanya. Saat itu juga cahaya biru membias terang dari mata Pedang Rajawali Sakti.

"Hiyaaat...!" Tidak tanggung-tanggung lagi, Rangga langsung mengeluarkan jurus 'Pedang Pemecah Sukma'. Jurus yang sangat dahsyat dan sukar untuk ditandingi. Terlebih lagi Rangga juga mengerahkan tenaga dalamnya yang sudah mencapai tahap kesempurnaan. Begitu cepatnya pedang itu berkelebat, sehingga Ki Murad tidak sempat lagi berkelit. Buru-buru diangkat pedangnya, memapak pedang yang memancarkan cahaya biru menyilaukan itu.

Trang!

"Akh...!" Ki Murad terpekik keras. Laki-laki tua itu jadi terperangah, karena pedang andalannya terbabat buntung! Dan belum lagi bisa menguasai dirinya, Pendekar Rajawali Sakti sudah kembali mengibaskan pedangnya. Ki Murad bergegas melompat mundur, tapi gerakannya kalah cepat. Akibatnya....

"Aaa...!" Ki Murad menjerit melengking tinggi. Tak dapat dihindarkan lagi. Pedang Rajawali Sakti kini telah mengoyak dalam dada laki-laki tua berjubah putih itu. Darah seketika muncrat bersamaan dengan ambruknya tubuh tua itu ke tanah. Hanya sebentar Ki Murad mampu menggelepar, sesaat kemudian diam tidak bernyawa lagi.

Sementara pada waktu yang bersamaan, Eyang Baraga juga sudah membereskan empat orang yang menyerangnya secara curang. Empat orang itu menggeletak berlumuran darah. Mereka semua memandang Ki Danupaya yang bergerak mundur sambil melintangkan pedangnya di depan dada. Sementara Nurmi meringis saat adiknya membebat luka di bahunya.

"Rasanya sudah cukup menahan kesabaranku selama ini, Danupaya. Rupanya kau tidak bisa lagi diberi kesempatan untuk merubah diri menjadi benar," kata Eyang Baraga, terdengar dingin nada suaranya.

"Kau pikir aku takut...?! Ayo maju kalian semua! Keroyok aku...!" sentak Ki Danupaya sambil mencabut pedangnya. Sret!

"Aku hargai ambisi mu untuk menjadi adipati yang disegani, Danupaya. Tapi cara dan jalan yang kau tempuh dengan bergabung bersama Murad, jelas tidak bisa ku benarkan. Bahkan tega-teganya membunuh istrimu sendiri dan menjual anakmu demi ambisi pribadi. Kau fitnah diriku sebagai pemberontak, hingga harus terpaksa meninggalkan Desa Kali Wungu ini. Hhh...! Rasanya sudah cukup tingkah polah mu, Danupaya," kata Eyang Baraga pelan. Nada suara laki-laki tua itu terdengar menyesali semua kelakuan Danupaya.

Sementara Rangga hanya mendengarkan saja tanpa membuka mulut sedikit pun. Diam-diam Pendekar Rajawali Sakti itu bergerak mundur beberapa langkah. Pedang pusakanya sudah kembali bersemayam dalam warangkanya.

"Jika kau melakukan semua ini dengan cara yang baik dan benar, tentu aku akan membantumu, Danupaya. Tapi cara yang kau lakukan membuat perutku mual!" sambung Eyang Baraga.

"Ha ha ha...! Kau pikir aku bodoh, setan tua? Kau paksa diriku untuk menikahi puterimu yang sudah hamil dan punya anak satu tanpa ayah. Kau pikir aku puas dengan harta yang kau berikan, walaupun dengan janji harus pergi setelah anak-anak setan itu berusia dewasa? Ha ha ha...! Bodoh...! Benar-benar dungu kau, setan tua!" lantang kata-kata Ki Danupaya.

Ucapan Ki Danupaya membuat Nurmi dan adiknya jadi memerah wajahnya. Tentu saja kata-kata itu langsung ditujukan pada diri mereka berdua. Dan mereka benar-benar terkejut

"Eyang..., benarkah itu?" tanya Nurmi dengan suara agak bergetar.

Eyang Baraga menatap tajam penuh geram pada Ki Danupaya. Pelahan kemudian kepalanya terangguk membenarkan.

"Jadi...," suara Nurmi terputus. "Kenapa Eyang tidak mengatakannya padaku?"

"Aku terlalu sayang pada kalian semua. Percayalah, apa yang kulakukan demi kalian berdua, Cucu-cucuku," Eyang Baraga mencoba menjelaskan.

"Eyang jahat..!" desis Nurmi. Tiba-tiba saja wanita itu melompat cepat dan berlari kencang menerobos pintu gerbang yang hancur berantakan.

"Nurmi...!" seru Eyang Baraga terkejut

"Kak...!" Tapi Nurmi sudah lenyap tidak terlihat lagi. Eyang Baraga menggeram keras. Seketika dia pat menerjang Ki Danupaya. Begitu cepat terjangannya, sehingga Ki Danupaya tidak sempat lagi berkelit. Keras sekali tongkat laki-laki tua itu menghantam kepala Ki Danupaya.

"Prak! "

"Aaa...!" Ki Danupaya menjerit melengking tinggi.

"Mampus kau, bajingan tengik!" geram Eyang Baraga.

Belum lagi tubuh Ki Danupaya yang kepalanya hancur jatuh ke tanah, Eyang Baraga sudah melompat ke punggung kudanya. Sekali gebah saja, kuda putih itu melesat lari bagai anak panah lepas dari busur. Gadis berbaju merah yang ternyata adik Nurmi, bergegas menyusul dengan kudanya. Demikian juga orang-orang yang tadi datang bersama mereka. Pada saat itu, tak seorang pun yang menyadari kalau sejak tadi Rangga sudah tidak berada di tempat itu. Sementara, Ki Danupaya telah tergeletak tak bernyawa dengan ke-pala hancur.

********************

Nurmi terus berlari tanpa mempedulikan air mata yang berlinangan membasahi pipinya. Dia memang pernah mendengar kalau dirinya bukan anak Ki Danupaya, tapi semua itu selalu dianggap sebagai kabar burung. Tapi setelah Eyang Baraga mengakui meskipun tanpa kata-kata, hatinya begitu hancur. Sungguh tidak disangka sama sekali kalau kelahirannya ke dunia ini tanpa diketahui siapa ayahnya sesungguhnya.

"Nurmi...!" terdengar panggilan keras dari arah belakang.

Nurmi terus berlari semakin kencang mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi tingkatannya. Dia terus berlari menerobos masuk ke dalam Hutan Bukit Mangun. Tapi tiba-tiba saja wanita itu berhenti ketika mendadak di depannya menghadang seorang pemuda berwajah tampan mengenakan baju rompi putih. Wanita itu menoleh ke belakang. Tak ada seorang pun terlihat mengejarnya. Kembali kepalanya berpaling sambil buru-buru menghapus air matanya.

"Kenapa kau lari, Nurmi?" tanya Rangga.

"Pergilah, Rangga.... Biarkan aku sendiri...," tersendat suara Nurmi.

Rangga tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya. Dihampiri dan digamitnya tangan wanita itu. Rangga kemudian mengajaknya melangkah. Nurmi menurut saja, bahkan juga tidak menolak ketika Rangga membawanya duduk di bawah pohon rindang yang melindungi mereka dari sengatan matahari. Nurmi hanya tertunduk saja. Kini air matanya sudah kering, namun masih kelihatan sembab pada matanya.

"Nurmi..., kau sudah tahu kalau Ki Danupaya itu bukan ayahmu. Tapi kenapa bersikap seperti anak kecil begini? Tidak seharusnya melarikan diri dan menyalahkan kakekmu begitu saja...."

"Tidak ada gunanya kau berkata seperti itu, Rangga," potong Nurmi cepat sebelum Rangga menyelesaikan ucapannya.

"Sejak pertama kali mengenalmu, aku sudah kagum padamu, Nurmi. Aku tidak ingin rasa kagumku kau rusak begitu saja karena sikap kekanak-kanakan mu. Berpikir lah secara dewasa, jernih, dan tidak mengikuti perasaan hati. Aku yakin kau bisa menarik hikmah dari semua yang telah terjadi," lembut sekali nada suara Rangga. Nurmi hanya diam tertunduk.

"Aku yakin, sikap yang diambil kakekmu ada alasan tertentu demi kebaikanmu dan adikmu. Aku juga yakin kalau kakekmu tahu siapa ayahmu sebenarnya," sambung Rangga.

"Kalau tahu, mengapa tidak mengatakannya dari dulu? Kenapa malah mengawinkan ibu dengan bajingan keparat itu?" agak keras suara Nurmi.

"Kenapa tidak kau tanyakan itu pada Eyang Baraga?" Rangga malah membalikkan pertanyaan.

Nurmi menatap Pendekar Rajawali Sakti itu dalam-dalam. Pertanyaan Rangga yang sedikit itu langsung menggetarkan hatinya. Ya..., kenapa tidak ditanyakan langsung pada Eyang Baraga? Kenapa harus melarikan diri dan membenci orang tua itu? Apa yang dikatakan Rangga barusan memang tidak ada salahnya. Pelahan wanita itu menundukkan kepalanya.

"Ayo, kuantar menemui kakekmu," ajak Rangga. Sebentar Nurmi mengangkat kepalanya dan menatap dalam-dalam pada bola mata pemuda itu, kemudian bangkit berdiri. Rangga ikut bangkit, tapi belum juga mereka mengayunkan kaki, terdengar suara derap langkah kaki kuda menuju ke arahnya. Tak lama kemudian beberapa ekor kuda menuju tempat itu. Tampak Eyang Baraga diikuti sekitar enam orang penunggang kuda. Laki-laki tua itu langsung melompat turun sebelum kudanya berhenti. Bergegas dihampirinya Nurmi yang berdiri didampingi Pendekar Rajawali Sakti.

"Nurmi...," agak tertahan suara Eyang Baraga di tenggorokan. Terasa kaku sikap kakek dan cucu ini. Sementara Rangga bergerak menyingkir ke belakang, membiarkan mereka berdua saja. Sedangkan enam orang yang ikut serta bersama Eyang Baraga hanya berdiri saja di tempat yang agak jauh, di samping kudanya masing-masing.

"Maafkanlah aku, Nurmi. Kau boleh membenciku, tapi dengarlah dulu penjelasanku," kata Eyang Baraga setelah agak lama juga terdiam.

Nurmi hanya diam saja. Masih sulit rasanya untuk membuka suaranya. Entah apa yang ada dalam relung hatinya saat ini, hanya dirinya sendiri yang bisa mengetahuinya. Yang jelas sikap Nurmi masih terlihat kaku.

"Sengaja kulakukan ini semua karena tidak ingin mengecewakan ayahmu. Memang semua ini kesalahanku yang terlalu angkuh dan keras kepala. Padahal aku tahu kalau antara ibumu dengan ayahmu saling mencintai. Mereka ku pisahkan saat ibumu mengandungmu. Tapi rupanya mereka masih tetap berhubungan tanpa sepengetahuanku. Hingga setahun setelah kau lahir, ibumu mengandung lagi. Aku tidak bisa menanggung beban malu terus-menerus. Maka ku putuskan menikahkan ibumu dengan pemuda pilihanku yang sebenarnya sudah kuketahui wataknya. Tapi memang hanya dia yang bersedia, tapi dengan satu syarat, seluruh harta kekayaanku harus jatuh ke tangannya. Syarat itu kuterima, tapi dengan satu perjanjian pula. Seluruh harta akan jatuh kepadamu kalau kau sudah dewasa, dan Danupaya menyetujuinya. Tapi, sama sekali tidak kuketahui maksud sebenarnya yang terkandung dalam dada laki-laki keparat itu," Eyang Baraga menjelaskan dengan suara agak terbata-bata.

"Di mana ayahku sekarang?" tanya Nurmi.

"Tanpa setahuku, rupanya ayahmu mencoba membawa lari ibumu dari tangan Danupaya, tapi ketahuan. Akhirnya dia tewas di tangan anak buah Danupaya. Sebulan setelah peristiwa itu, Danupaya membunuh ibumu. Saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena Danupaya sudah menyebar fitnah. Aku dituduh menghimpun kekuatan dan akan memberontak pada kerajaan. Terpaksa aku lari dengan membawa adikmu, tapi tidak sempat membawamu, Nurmi."

Nurmi kembali diam. "Di mana adikku sekarang?" tanya Nurmi setelah cukup lama berdiam diri. "Kembali ke pertapaan," sahut Eyang Baraga.

"Eyang..., maafkan aku," lirih ucapan Nurmi.

Eyang Baraga tersenyum dan merengkuh cucunya dalam pelukan. Untuk sesaat mereka saling berpelukan. Tak ada yang menyadari kalau Rangga telah meninggalkan tempat itu diam-diam. Nurmi melepaskan pelukan kakeknya, lalu menoleh ke arah Rangga tadi berdiri. Tapi wanita itu jadi kebingungan.

"Eh...! Mana dia...?" tanya Nurmi seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Siapa, Nurmi?" tanya Eyang Baraga.

"Rangga," sahut Nurmi.

"Kekasihmu?"

"Ah, Eyang...," wajah Nurmi menyemburat merah dadu.

"Ayolah kita pulang," ajak Eyang Baraga. Nurmi mengangguk dan melangkah di samping kakeknya.

Sesekali wanita itu melayangkan pandangannya ke sekeliling. Dia berharap bisa melihat Pendekar Rajawali Sakti, tapi sampai jauh berjalan, Rangga tidak terlihat lagi. Nurmi hanya bisa mengucapkan terima kasih dalam hati saja. Kalau bukan karena Pendekar Rajawali Sakti, entah apa jadinya dia sekarang ini. Mungkin selama hidupnya akan berkelana tanpa tujuan pasti, membawa kehampaan hati. Tapi sekarang... paling tidak dimiliki suatu harapan untuk masa depannya.


SELANJUTNYA: KAUM PEMUJA SETAN
Thanks for reading Warisan Berdarah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »