Kaum Pemuja Setan

Pendekar Rajawali Sakti

Karya Teguh S

KAUM PEMUJA SETAN

SATU
Pemandangan di Gunung Antang sungguh indah, dihiasi kabut tipis yang menyelimuti puncaknya. Cahaya matahari pagi menyemburat dari balik gunung, membuat suasana pagi ini terasa lebih indah. Suasana itu semakin semarak oleh kicauan burung bernyanyi, menggugah seluruh isi alam. Namun semua keindahan itu tiba-tiba dirusak oleh suara-suara teriakan keras dan ledakan dahsyat yang mengguncangkan bumi.

Sepertinya suara-suara itu datang dari sebelah Barat Gunung Antang, yang berbatu dan dipenuhi jurang serta tebing-tebing terjal yang rapuh. Tampak debu mengepul, membumbung tinggi ke udara, membuat pemandangan indah gunung itu agak terganggu. Dari kepulan debu itu terlihat dua orang yang berkelebat saling sambar bagai dua ekor burung elang berebut bangkai seekor kelinci.

"Modar...!"

Tiba-tiba saja salah seorang yang mengenakan baju biru ketat menghentakkan tangan kanannya ke depan. Dan hampir bersamaan waktunya, lawannya yang mengenakan baju merah menyala. Juga mengibaskan tangannya ke depan. Tak pelak lagj, dua pasang tangan beradu keras. Maka, terjadilah suatu ledakan dahsyat bagai letusan gunung.

Glarr!

"Akh!" orang yang mengenakan baju biru terpekik tertahan.

Tubuhnya terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak. Sebongkah batu cadas yang cukup besar, hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya yang besar dan tegap berotot itu. Sedangkan orang yang mengenakan baju merah bergambar seekor naga pada punggungnya, tampak berdiri tegak sambil bertolak plnggang.

Orang yang mengenakan baju biru itu berusaha bangkit berdiri. Tapi belum juga bisa bangkit, orang yang mengenakan baju merah sudah melompat sambil berteriak keras menggelegar.

"Hiyaaat..!"
Des!

Satu pukulan keras mendarat telak di dada orang berpakaian biru itu, sehingga kembali terjungkal keras ke tanah berbatu. Beberapa kali dia bergulingan. Sedangkan lawannya langsung memburu cepat Sebelah kaki kanannya mendarat tepat di dada

Bres!
"Aaa...!"

Satu jeritan panjang melengking tinggi menyertai orang berbaju biru itu terbang ke akhirat Hanya sebentar tubuhnya mampu menggelinjang, sesaat kemudian nyawanya telah melayang dari tubuhnya. Tampak dadanya remuk terinjak. Darah mengalir keluar dari mulut yang terbuka lebar. Sedangkan orang yang berbaju merah melompat mundur. Dipandangi mayat lawannya dengan sinar mata liar.

"Ha ha ha...!"

Sambil meninggalkan suara tawa lepas menggelegar, orang berbaju merah bergambar naga pada punggungnya itu melesat cepat bagai kilat meninggalkan Lereng Gunung Antang sebelah Barat. Sungguh luar biasa! Dalam waktu sekejap saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas. Hanya suara tawanya saja yang masih terdengar, dan lambat laun mulai menghilang terbawa angin pagi.

Tak ada yang menyaksikan kejadian itu, kecuali seorang gadis kecil yang melihat semuanya dari balik batu sebesar kerbau. Gadis berusia sekitar sepuluh tahun itu tidak bergerak sedikit pun. Matanya lidak berkedip memandangi sosok tubuh yang tergeletak tidak bergerak-gerak lagi. Baru saja gadis itu akan keluar dari tempat persembunyiannya, mendadak orang berbaju merah itu muncul kembali. Entah dari mana datangnya, yang jelas kini sudah berada di samping mayat yang tergeletak di antara bebatuaa

"Huh! Hampir aku lupa...!" dengus orang itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, digeledahnya seluruh tubuh lawannya yang sudah tergeletak jadi mayat Tapi mendadak saja wajahnya jadi berubah. Kemudian dia berdiri sambil bertolak pinggang. Sambil mendengus berat, ditendangnya mayat itu hingga menggelinding masuk ke dalam jurang berbatu yang tidak seberapa dalam.

"Setan keparat..!" umpatnya geram.

Laki-laki berbaju merah yang wajahnya cukuptampan itu, memandang ke sekeliling. Sorot matanya terlihat memancarkan kekerasan. Pandangannya kemudian terpusat pada sebongkah batu besar, di mana di situ terdapat seorang gadis cilik yang tengah bersembunyi.

"Huh! Ternyata ada monyet busuk bersembunyi di sini!" dengusnya menggeram.

Dan belum lagi laki-laki berbaju merah dan bergambar naga pada punggungnya itu bergerak, gadis kecil yang sejak tadi bersembunyi, mendadak berlari cepat Tentu saja laki-laki berbaju merah itu jadi berang, dan langsung melompat cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi.

Jleg!

Tahu-tahu orang berbaju merah itu sudah berdiri menghadang di depan gadis kecil itu.

"Ah...!" gadis itu memekik kecil.

Seketika wajahnya pucat pasi, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat Kedua bola matanya membeliak lebar. Tapi..., mendadak saja gadis kecil itu berdiri tegak, bersikap menantang. Tidak ada lagi gemetar ketakutan di tubuhnya, tak ada lagi rona pucat membias di wajahnya yang polos Bibirnya yang mungil, malah terkatuprapat Matanya tidak berkedip, menatap tajam laki-laki di depannya.

"He he he.... Ingin lari ke mana kau, bocah setan?" laki-laki itu tertawa terkekeh.

"Kau yang setan!" bentak gadis itu.

"He...!" laki-laki itu terhenyak mendengar bentakan yang begitu berani dari seorang gadis cilik.

Tapi hanya sebentar terpana, dan selanjutnya laki-laki itu sudah bergerak cepat hendak menerkam. Namun sungguh tidak diduga, gadis cilik yang kelihatan polos itu mampu berkelit begitu manis. Lalu secepat mungkin dia berlari menuruni lereng gunung yang berbatu. Gerak kakinya begitu lincah, seakan-akan sudah terbiasa di daerah berbatu terjal dan rapuh ini.

"Bocah setan! Keparat...!" geram laki-laki itu.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya melesat cepat bagai kilat mengejar, dan sekejap saja sudah kembali menghadang. Kemudian tangannya mengibas cepat hendak menyambar tubuh kecil mungil itu. Namun lagi lagi dia terjebak. Ternyata gadis itu bisa berkelit dengan manis. Hal ini membuat orang itu menggeram gusar.

"Mampus kau! Hih...!"

Dengan kemarahan yang meluap dalam dada, orang itu melompat sambil melepaskan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi. Sungguh luar biasa akibatnya! Gadis kecil itu tidak mampu lagi berkelit, dan dengan telak dadanya terhantam pukulan yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi itu. Tak dapat dihindari lagi, tubuh kecil itu terlontar jauh ke belakang.

"Aaa...!" satu jeritan melengking terdengar.

Tubuh kecil itu meluruk deras masuk ke dalam jurang yang sangat besar dan dalam. Kenyataan ini membuat laki-laki berbaju merah itu terperanjat. Semula dia tidak bermaksud sampai sejauh itu, dan hanya ingin melukai saja. Bergegas laki-laki itu memburu. namun tubuh kecil itu demikian deras meluruk ke dasar jurang yang dalam dan berbatu keras.

********************

"Sial! Kadal buduk...!" seorang laki-laki berbaju merah bergambar naga pada punggungnya mengumpat dan memaki habis-habisan.

Diedarkan pandangannya ke sekeliling. Jurang ini memang besar dan dalam, sehingga cukup sukar untuk bisa melihat dasarnya dari atas. Tapi diyakini kalau gadis itu tadi meluncur dalam jurang ini. Tapi sekarang setelah laki-laki itu berada di dasar jurang, tidak ada satu pun mayat teronggok. Apa lagi mayat gadis kecil itu....

"Mustahil bisa hilang begitu saja!" dengusnya kesal.

Ketika laki-laki itu mendongak ke atas, tampak matahari sudah cukup tinggi. Sinarnya yang hangat, cukup untuk menerangi bibir jurang ini sehingga terlihat dari bawah. Dia begitu yakin kalau gadis kecil tadi jatuh dari bibir jurang di atasnya. Dan kalau demikian, tentu mayatnya ada di tempat dia berdiri sekarang ini. Tapi di sini tidak ditemukan satu mayat pun.

Kembali laki-laki berbaju merah itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seketika kedua matanya menyipit begitu melihat salah satu tebing jurang. Ternyata di situ terdapat mulut gua kecil yang hampirtertutup sebongkah batu cadas hitam.

"Hup!"

Hanya sekali lesatan saja, orang itu sudah mencapai mulut gua. Sebentar diamati keadaan gua itu, kemudian melangkah masuk dengan hati-hati. Agak berkerut juga keningnya begitu berada di dalam gua. Ternyata perut gua ini cukup besar, dan nampaknya panjang sekali. Dengan sikap masih berhati-hati, kakinya melangkah menyusuri gua itu.

Semakin jauh masuk ke dalam, udara semakin lembab. Dan keadaannya juga bertambah gelap. Laki-laki berbaju merah ketat itu harus berjalan dengan merapat ke dinding gua. Cukup sukar berjalan di dalam gelap pekat seperti ini. Gua ini sangat panjang dan berliku. Tapi belum ada cabang satu pun yang ditemul

"Hmmm.... Gua ini seperti melingkar dan menanjak," laki-laki muda itu bergumam.

Orang berbaju merah itu terus berjalan pelahan dan hati-hati sekali. Tapi mendadak langkahnya berhenti. Di depan sana terlihat seberkas cahaya menyemburat dari sebuah celah. Sebentar diamati keadaan. Kemudian dengan sekali lesatan yang cepat dan ringan, dia sudah tiba di depan celah itu. Temyata itu merupakan sebuah pintu yang tidak begitu besar, berbentuk garis memanjang. Cukup lebat semak belukar yang menutupi.

Srek!

Hati-hati sekali disibakkan semak itu. Sebentar diamati keadaan di luar. Hanya sebuah hutan yang tidakbegitu rapat, ditumbuhi pohon-pohon kayu yang tidak beraturan letaknya. Laki-laki muda berbaju merah itu melompat keluar. Ringan sekali sepasang kakinya menjejak tanah yang tebal oleh daun kering. Kembali diedarkan pandangannya berkeliling. Dan perhatiannya kini terpaku pada sebuah perkampungan yang berada tidak seberapa jauh dari tempat ini. Yang ternyata adalah lereng sebelah Utara Gunung Antang.

Laki-laki muda berbaju merah itu mengayunkan kakinya menuju perkampungan yang kelihatannya tidak jauh. Tapi belum juga berjalan jauh, tiba-tiba saja bermunculan orang-orang bersenjata golok dan tombak. Sepuluh orang itu langsung mengepung sambil menghunus senjata.

"Hmmm..., siapa kalian? Dan mengapa mengepungku?" tanya laki-laki berbaju merah itu.

"Jangan banyak tanya! Pergi kau dari kampung ini, iblis!" bentak salah seorang yang kelihatan bertubuh kekar. Tangannya menggenggam sebilah golok besar, yang salah satu matanya bergerigi.

"Heh...?! Aku tidak tahu siapa kalian. Apa...."

"Cerewet! Serang...!"
"Hyaaa...!"
"Yeaaah...!"

Sepuluh orang itu langsung berlompatan menyerang demikian ganasnya. Laki-laki muda berbaju merah ketat itu tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bertanya. Terpaksa dia berlompatan, menghindari setiap serangan yang datang dari segala penjuru. Cukup repot juga, karena tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk balas menyerang Bahkan untuk mengambil napas saja rasanya tidak ada kesempatan lagi. Serangan-serangan itu datang bagai hujan. Gencar, dan sangat berbahaya.

"Kalian bersungguh-sungguh rupanya! Baik... Terima balasanku!" geram laki-laki itu sengit

Setelah melontarkan kata-kata, tubuhnya langsung melesat ke udara, tepat ketika sebatang tombak mengibas ke arah kakinya. Dengan menotok sedikit ujung tombak itu, dipinjam tenaga untuk melesat. Dua kali tubuhnya berputar di udara, lalu meluruk deras sambil melontarkan dua pukulan beruntun.

Buk! Buk!

Dua jeritan melengking terdengar, disusul ambruknya dua orang pengeroyok itu. Dan belum lagi hilang jeritan tadi, kembali disusul jeritan yang melengking tinggi. Sungguh cepat luar biasa gerakan orang berbaju merah itu. Cepat, dan tidak terduga sama sekali. Sebentar saja lima orang tergeletak tak bernyawa lagi.

Melihat tingkat kepandaian lawan yang sangat tinggi, mereka yang masih hidup mencoba melarikan diri. Namun orang berbaju merah itu tidak membiarkannya. Langsung dilepaskan beberapa buah senjata kecil berbentuk bintang segi delapan. Bintang berwarna merah itu meluncur deras menghajar mereka yang mencoba melarikan diri. Jeritan-jeritan melengking terdengar saling susul. Kembali tubuh-tubuh bergelimpangan berlumuran darah.

"Sial...!" rutuknya begitu melihat salah seorang berhasil melarikan diri.Orang yang memegang golok besar bergerigi itu demikian cepat berlari. Jelas, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki cukup tinggi. Dan orang berbaju merah itu hanya bisa mengumpat Kakinya menyepak salah satu mayat hingga terguling sejauh beberapa tombak. Kemudian kakinya melangkah cepat menuju perkampungan di Kaki Lereng Gunung Antang ini.

********************

Desa Antang memang tidak begitu besar, namun berpenduduk cukup padat juga. Letak rumah-rumahnya hampir berdempetan, sehingga penduduknya tidak memiliki halaman yang cukup. Hanya sebuah alun-alun yang berada di tengah-tengah desa menjadi tempat bermain anak-anak. Tapi ternyata ada salah satu rumah yang paling besar dan memiliki halaman luas di sekelilingnya. Halaman itu dikelilingi pagar bambu yang tidak begitu tinggi. Tapi nampaknya, sebagian besar sudah rapuh dimakan rayap.

Suasana di desa itu cukup tenang dan damai. Anak-anak bermain riang gembira di alun-alun yang beradadi tengah-tengah desa. Alun-alun itu sering dijadikan tempat pertemuan dan segala macam kegiatan. Tiba-tiba ketenangan itu terusik ketika seorang laki-laki memakai baju kotor dan penuh keringat, berlari cepat menuju rumah yang paling besar. Rumah besar itu memang satu-satunya di Desa Antang itu.

"Ki...! Ki Bawung...!" laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berotot itu berteriak-teriak sambil terus berlaricepat

Seluruh penduduk desa itu perhatiannya kontan tertumpah pada orang yang berlari sambil menghunus goloknya. Dan laki-laki itu terjatuh di anak tangga beranda depan rumah besar. Seorang laki-laki tua mengenakan baju putih panjang keluar dari dalam. Bergegas dihampiri, dan dibantunya laki璴aki muda itu berdiri. Segera dibawanya ke beranda.

"Jala Driya..., ada apa?" tanya laki-laki tua yang dikenal bemama Ki Bawung itu.

"Celaka, Ki.... Celaka...!" suara Jala Driya tersendat.

"Minum.... Minum dulu, tenangkan dirimu." Ki Bawung memberikan kendi yang langsung diterima Jala Driya. Air dingin dari kendi itu seketika berpindah ke tenggorokan Jala Driya. Sebentar diatur jalan napasnya. Keringat masih bercucuran deras membasahi wajah dan tubuhnya. Ki Bawung memandangi penduduk yang tahu-tahu sudah berkumpul memadati halaman rumahnya.

"Tidak ada apa-apa, kalian bubar saja!" agak keras suara Ki Bawung.

Dengan wajah masih menyiratkan rasa penasaran dan Keingintahuan, para penduduk itu meninggalkan rumah Ki Bawung. Tampak sekali dari sikap mereka yang begitu menghormati laki-laki tua itu. Ki Bawung kembali memandang Jala Driya yang kelihatan sudah tenang kembali.

"Ceritakan, apa yang terjadi?" tanya Ki Bawung.

"Dia, Ki... Iblis itu datang ke sini," sahut Jala Driya masih juga tersendat suaranya.

"Siapa?"

"Manusia ibris itu, Ki. Dia telah membunuh sembilan orang teman-temanku di Hutan Lorong Angin," sudah agak tenang suara Jala Driya.

"Siapa manusia iblis itu, Jala Driya? Bicaralah yang jelas!" agak membentak suara Ki Bawung.

"Dia, Ki... Dia...."

Belum juga Jala Driya bisa melanjutkan kalimatnya, tlba-tiba saja terdengar tawa terbahak-bahak yang menggelegar.

"Ha ha ha...!"

Ki Bawung membalikkan tubuhnya. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di tengah-tengah halaman rumahnya telah berdiri seorang pemuda mengenakan baju merah menyala, sambil bertolak plnggang. Sikap-nya begitu menantang. Sementara Jala Driya bergegas bangkit, dan berlindung di balik punggung Ki Bawung. Sedangkan laki-laki tua itu melangkah menuruni anak-anak tangga beranda rumahnya, dan baru berhenti setelah sampai di ujung anak tangga.

"Siapa Kisanak, dan apa keperluannya datang ke Desa Antang ini?" tanya Ki Bawung. Suaranya dibuat seramah mungkin.

"Hm.... Untuk apa kau tahu namaku, Orang Tua?! Monyet jelek itu pasti sudah menceritakan yang buruk-buruk tentang diriku!" dengus laki-laki berbaju merah itu seraya menuding Jala Driya.

Yang dituding semakin bertambah pucat wajahnya, namun sebentar kemudian berubah memerah. Sementara Ki Bawung masih kelihatan tenang dengan senyuman tersungging di bibimya yang hampir tertutup kumis putih panjang. Pada saat itu entah dari mana datangnya, tahu-tahu di sekitar halaman rumah Ki Bawung sudah dikelilingi laki-laki tua dan muda bersenjata beraneka macam.

"Hmmm..., penyambutan yang meriah!" gumam laki-laki muda berbaju merah, bergambar naga pada punggungnya, agak mendesis.

"Mereka hanya tertarik atas kedatangan Kisanak yang begitu tiba-tiba," ujar Ki Bawung kalem.

"Bagus juga. Aku senang mendapat sambutan seperti Ini. Dan itu berarti lebih banyak mempunyai kesempatan melatih jurus," agak sinis nada suara pemuda berbaju merah itu,

"Kisanak. Apa sebenarnya tujuanmu datang ke desa kami ini?" tanya Ki Bawung. Nada suaranya sudah terdengar kalau tengah menahan geram.

"Aku datang ingin mengambil gadis kecilku!" lantang jawaban pemuda berbaju merah dengan gambar naga di punggungnya itu.

"Gadis kecil...? Desa ini memang banyak gadis kecilnya. Tapi mereka sudah memiliki orang tua dan saudara. Gadis kecil mana yang dimaksud, Kisanak?"

"Percuma saja bersandiwara, Orang Tua. Di sekitar Gunung Antang ini, hanya ada satu desa yang ter-dekat. Cepat, serahkan dia padaku!" bentak pemuda itu sengit

"Aku tidak mengerti. Gadis mana yang kau ingjnkan, Kisanak?"

"Tua bangka bodoh!" geram pemuda itu merasa dipermainkan.

"Hmmm.... Kau mulai kurang ajar, Anak Muda. Rupanya kau kurang diberi pelajaran tata krama untuk menghadapi orang tua...!" desis Ki Bawung mulai kehilangan kesabarannya.

"Ha ha ha.... Aku ingin kau memberiku sedikit tata krama itu, Orang Tua!" tantang pemuda berbaju merah itu.

"Kau terlalu angkuh, Anak Muda. lngat, kau tidak bisa mengukur tingginya gunung dan dalamnya lautan!" desis Ki Bawung sengit.

"Banyak omong! Terimalah seranganku ini, tua bangka keparat! Hiyaaat..!"

Pemuda berbaju merah bergambar naga pada punggungnya itu langsung melompat menyerang, menggunakan jurus-jurus pendek yang cepat luar biasa. Sedangkan Ki Bawung menghadapinya dengan gerakan yang manis sekali. Tubuhnya digerak璯erakkan bagai seekor belut. Begitu licin dan sukar untuk didekati.

DUA

Pertarungan antara Ki Bawung melawan pemuda berbaju merah yang tidak dikenal itu berlangsung sengit. Masing-masing mengeluarkan jurus-jurus yang cepat dan sangat berbahaya. Tidak terasa, sudah dikeluarkan lebih dari dua puluh jurus, namun belum ada seorang pun yang kelihatan terdesak. Mereka sama-sama tangguh dan berkepandaian tinggi.

Jurus demi jurus berlalu cepat Dan pertarungan terus berlangsung sengit. Semua orang yang berada di pinggir halaman rumah yang luas itu, hanya bisa menonton sambil menahan napas. Mereka semua berharap agar Ki Bawung dapat memenangkan pertarungan, dan mengusir pemuda edan itu. Di antara para penduduk yang tengah menonton, terlihat seorang pemuda berambut panjang sebatas bahu, berada di bawah pohon kemuning.

Pemuda berbaju rompi putih itu tanpa berkedip mengamati jalannya pertarungan. Sedikit pun tidak didengarkan celotehan beberapa orang yang berada di dekatnya. Perhatian pemuda itu beralih ke arah jendela rumah yang terbuka. Di sana terlihat seorang gadis muda mengenakan baju biru langit yang tidak berkedip menyaksikan pertarungan. Wajahnya kelihatan begitu tegang. Demikian pula wanita setengah baya yang berada di sebelahnya. Wajahnya juga kelihatan tegang dan pucat.

Sementara pertarungan masih terus berlangsung sengit Bahkan kini, dua orang yang bertarung itu sama-sama mengeluarkan jurus-jurus andalan yang maut dan berbahaya. Bukan hanya teriakan yang terdengar, tapi juga deru angin dari lontaran pukulan serta ledakan keras. Setiap kali tangan beradu, terdengar suara ledakan dahsyat. Jelas, pertarungan mereka menggunakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi.

"Hup! Hiyaaa..."

Tiba-tiba saja pemuda berbaju merah itu melesat ke atas agak ke belakang. Tubuhnya berputar dua kali, lalu cepat sekali dikibaskan tangan kanannya. Tiga buah benda berbentuk bintang berwarna merah meluncur deras ke arah Ki Bawung.

"Curang!" dengus Ki Bawung. Cepat sekali laki-laki tua itu berjumpalitan menghindari terjangan senjata berbentuk bintang itu. Tapi pada saat sibuk menghindari serangan senjata rahasia itu, mendadak saja pemuda berbaju merah itu meluruk sambil melontarkan satu pukulan keras mengandung tenaga dalam tinggi ke arahnya.

"Hiyaaat...!"Ki Bawung tidak sempat lagi mengelak. Dan....

Buk!

"Heghk!" Ki Bawung melenguh pendek.

Pukulan bertenaga dalam tinggi itu tepat menghantam dadanya. Seketika itu juga Ki Bawung terlontar ke belakang sejauh tiga batang tombak, namun cepatmelompat berdiri. Tampak kedua kakinya bergetar, dan tubuhnya limbung. Dari sudut bibirnya mengucur darah kental.

"Ha ha ha...!" pemuda itu tertawa terbahak-bahak, sambil berdiri angkuh. Tangannya bertolak pinggang, bersikap penuh kemenangan.

"Phuih!" Ki Bawung menyemburkan ludahnya yang bercampur darah.

"Tidak ada yang bisa menandingi lblis Cakar Naga! Ha ha ha...!" ujar pemuda berbaju merah yang menyebut dirinya, lblis Cakar Naga. Suaranya begitu lantang.

Semua orang yang menyaksikan pertarungan itu menjadi terpana. Sungguh tidak disangka kalau Ki Bawung dapat ditaklukkan dengan mudah oleh seorang pemuda asing berbaju merah yang mengaku bernama lblis Cakar Naga itu. Tak ada seorang pun yang beranl membuka suara! Bahkan pelahan-lahan mereka bergerak mundur.

"Hayo! Siapa yang berani menantangku, maju...!" tantang lblis Cakar Naga.

Mendengar tantangan itu, para penduduk yang berada di sekeliling halaman rumah Ki Bawung, kontan berlartan meninggalkan tempat itu. Seketika hati mereka ciut menyaksikan orang yang selalu dihormati dan ditakuti dapat ditundukkan. Hanya Ki Bawung yang memiliki kepandaian tinggi di Desa Antang ini, dan itu disadari betul oleh seluruh penduduk desa ini

"Ha ha ha...!" lblis Cakar Naga tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan melihat orang-orang disekelilingnya lari terbirit-birit

Sementara itu Ki Bawung tengah berusaha mengurangi rasa sakjt pada dada dengan mengerahkan hawa murni dari pusat tubuhnya. Sedangkan lblis Cakar Naga sudah bersiap-siap hendak menyerang kembali. Tidak dipedulikan lagi keadaan lawannya yang sudah tidak berdaya, dan ldni tengah menyembuhkan diri dari luka dalam di dadanya.

"Kematianmu sudah dekat, tua bangka! Hiyaaat..!" seru lblis Cakar Naga lantang.

Dengan jari-jari tangan mengembang kaku, pemuda berbaju merah itu melompat menerjang Ki Bawung kembali. Tampak jari-jari tangan pemuda itu berubah berwarna merah bagai terbakar.

"Awas, Ki...!" seru Jala Driya memperingatkan.

"Hup!"

Buru-buru Ki Bawung membanting dirinya ke tanah, lalu bergulingan beberapa kali se belum melompat bangkit berdiri. Serangan lblis Cakar Naga hanya menghantam sebatang pohon beringin yang berdiri di tengah-tengah halaman.

Khraaakh...! Bruk!

Sungguh dahsyat pukulan lblis Cakar Naga. Beringin yang begitu besar kontan roboh sekerika. Dan yang lebih menakjubkan lagi, beringin itu seperti hangus terbakar! Daun-daunnya kering berguguran, dan seluruh batangnya menghitam jadi arang.

"Ghrrr...!" lblis Cakar Naga menggeram.

Sepasang bola matanya merah menatap tajam Jala Driya yang berada tidak jauh dari tangga beranda depan rumah. Sedangkan Jala Driya jadi bergetar hatinya, lalu perlahan bergerak ke samping.

"Hiya! Hiya! Hiyaaa...!"

Sambil berteriak keras, lblis Cakar Naga mengibaskan tangan kanannya ke arah Jala Driya. Maka meluncurlah tiga buah bintang merah segi delapan ke arah tubuh Jala Driya. Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu menjadi terpana disertai beliakan mata yang lebar. Namun belum juga senjata-senjata rahasia itu sampai pada sasaran, mendadak saja....

Tring! Tring! Tring...!

Tiga buah bintang merah itu langsung rontok jatuh ke tanah, tepat di ujung kaki Jala Driya. Bukan hanya Jala Driya yang keheranan, bahkan si lblis Cakar Naga serta Ki Bawung menjadi mendelik hampir tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Tiga senjata rahasia itu rontok pada saat hampir menembus tubuh Jala Driya.

"Setan alas...!" geram lblis Cakar Naga.

Perhatian pemuda berbaju merah dengan gambar naga pada bagian punggungnya itu langsung terpusat ke arah sebuah pohon kemuning. Di bawahnya, nampak seorang pemuda berbaju rompi putih dengan gagang pedang berbentuk kepala burung menyembul dari balik punggungnya. Ki Bawung dan Jala Driya juga menatap pemuda itu. Sepertinya mereka begitu yakin kalau pemuda itulah yang telah menggagalkan serangan si lblis Cakar Naga.
Pendekar Rajawali Sakti
"Phuih! Rupanya di sini banyak monyet keparat yang bisanya cuma main belakang!" dengus si lblis Cakar Naga.

Kata-kata itu jelas ditujukan untuk pemuda berbaju rompi putih yang tetap kelihatan tenang di bawah pohon kemuning. Sementara itu Jala Driya sudah meng-geser kakinya mendekati Ki Bawung. Sedangkan dari dalam rumah, terlihat dua orang wanita muncul. Yang seorang masih muda, sedangkan seorang lagi sudah berusia separuh abad. Mereka berdiri saja di ambang pintu depan. Saat itu Jala Driya sudah berada di samping Ki Bawung

"Hup! Hiyaaa...!"

Tiba-tiba lblis Cakar Naga berseru keras, dan seketika itu juga melesat ke arah beranda depan. Begitu cepat lompatannya, sehingga sukar untuk cepat disadari. Namun pada saat yang sama, melesat sebuah bayangan putih memotong laju lesatan si lblis Cakar Naga.

"Uts!"

lblis Cakar Naga melenrjngkan tubuhnya ke belakang, lalu berputaran dua kali sebelum menjejakkan kakinya dengan manis di tanah. Pemuda itu melirik ke arah pohon kemuning, tapi tidak ada lagi pemuda berbaju rompi putih di sana. Dan saat menoleh ke arah beranda, terlihat pemuda itu telah duduk di tangga beranda depan rumah Ki Bawung.

"Setan alas...!" geram lblis Cakar Naga gusar.

Pemuda berbaju merah itu merasa dirinya dipermainkan. Kegeramannya jadi tidak bisa ditahan lagi. Di geser kakinya ke kanan beberapa tindak. Tatapan matanya begitu tajam menusuk ke arah pemuda berbaju rompi putih yang masih tetap duduk seperti tidak mempedulikannya, bahkan malah asyik menggigit-gigit sebatang ranting kering di sudut bibirnya.

"Mampus kau! Hiyaaat..!"

Mendadak, lblis Cakar Naga menghentakkan kedua tangannya ke depan. Dari telapak tangannya meluncur secercah cahaya merah. Sinar merah itu terus meluruk deras ke arah pemuda berbaju rompi putih itu. Ledakan dahsyat sekerika terdengar saat sinar merah itu menghantam tangga beranda. Tak ada seorang pun yang melihat kalau pemuda berbaju rompi putih itu berusaha menghindar. Semua pasri menyangka kalau pemuda itu pasti hancur berkeping-keping bersama anak tangga yang berantakan dan tanah yang berlubang cukup besar.

Tapi semua mata jadi membeliak. Pada anak tangga lainnya, terlihat pemuda berbaju rompi putih itu masih tetap duduk tenang. Debu dan asap yang mengepul tebal memang menghalangi pandangan untuk beberapa saat Namun setelah semuanya memudar, baru terlihat jelas kalau, pemuda itu tidak mengalami satu 'apa pun. Bahkan kelihatannya begitu tenang dengan sikap seperti semula, duduk pada anak tangga di atasnya.

"Monyet buduk...!" umpat lblis Cakar Naga.

"Siapa dia, Ki?" tanya Jala Driya setengah berbisik.

"Entahlah, aku baru melihatnya," sahut Ki Bawung.

"Kelihatannya bukan pemuda desa ini, Ki," tebak Jala Driya.

"Hmmm...," gumam Ki Bawung lidak jelas. Sementara itu lblis Cakar Naga sudah kembali bersiap-siap hendak menyerang. Digerak-gerakkan kedua tangannya di depan dada. Kedua kakinya dipentang lebar ke samping, dan lututnya agak sedikit tertekuk. Pandangan matanya tajam, menusuk langsung ke arah pemuda berbaju rompi putih yang masih tetap duduk di anak tangga.

"Hooop...! Hiyaaa...!"
Blarrr...!

Suatu ledakan dahsyat kembali menggelegar ketika sinar merah meluruk bagai kilat menghantam anak tangga yang diduduki pemuda berbaju rompi putih itu. Tiga leret sinar merah menghantam berturut-turut, membuat seluruh tangga beranda depan itu hancur berantakan. Bangunan yang cukup besar dan tersusun dari belahan papan itu menjadi bergetar hebat

Debu mengepul tebal, bercampur asap kemerahan menghalangi pandangan mata. Ki Bawung dan Jala Driya menahan napas disertai pandangan tidak berkedip ke arah beranda depan rumah itu. Sedangkan lblis Cakar Naga berdiri tegak, bersikap penuh waspada. Wajahnya memerah, dan rahangnya terkatup rapat

Sedikit demi sedikit, debu dan asap yang berkepul mulai memudar. Dan di sana tidak lagi terlihat seorang pun. Bahkan dua wanita yang tadi berada di ambang pintu, tidak terlihat lagi. Kedua wanita itu sudah masuk ke dalam saat lblis Cakar Naga melakukan serangan hendak menerkam mereka, dan berhasil digagalkan pemuda berbaju rompi putih. Kini pemuda itu juga tidak tampak lagi.

"Ha ha ha...!" lblis Cakar Naga tertawa terbahak-bahak.

Dugaannya, serangan kali ini mendapatkan hasil yang memuaskan. Memang, terlalu sukar untuk menghindari serangan beruntun dan dahsyat itu. Hanya keajaiban saja yang bisa menyelamatkan pemuda berbaju rompi putih itu. Tapi mendadak saja tawa lblis Cakar Naga berhenti.

Tiba-tiba dari atas atap rumah Ki Bawung meluruk turun pemuda berbaju rompi putih. Sungguh ringan gerakannya, sehingga tidak menimbulkan suara sedikit pun saat kakinya mendarat sekitar tiga batang tombak di depan lblis Cakar Naga. Pemuda berbaju merah itu sampai terlonjak kaget, dan melompat mundur tiga langkah. Wajahnya langsung menyemburat merah, dan gerahamnya bergemeletuk menahan amarah yang meluap dalam dada.

"Keparat..!" lblis Cakar Naga menggeram marah.

"Sudah cukup kau pamerkan ilmu murahan padaku, Kisanak. Pergilah sebelum aku menjatuhkan tangan padamu!" usir pemuda berbaju rompi putih itu. Nada suaranya begitu dingin.

"Phuih! Kau yang harus enyah dari hadapanku!" dengus lblis Cakar Naga.

"Dengar, Kisanak. Aku tahu, apa yang kau cari. Gadis kecil itu tidak ada di sini. Dan kau salah sangka karena mereka tidak menyembunyikannya," kata pemuda itu lagi lebih tegas.

"Ha ha ha...! Kau pikir aku bodoh, heh?! Aku bukan bocah kecil yang bisa dikibuli" bentak lblis Cakar Naga.

"Tidak ada yang membohongimu, Kisanak."

"Phuih! Lagakmu memuakkan!"

"Kesabaranku ada batasnya, Kisanak!" dingin dan datar nada suara pemuda berbaju rompi putih itu.

"Dan kesabaranku sudah habis, kadal buduk!" balas lblis Cakar Naga.

"Hmmm..., rupanya aku terpaksa harus memaksamu keluar dari desa'ini."

Setelah berkata demikian, pemuda berbaju rompi putih itu langsung melompat menyerang menggunakan jurus-jurus pendek yang sangat cepat. Hal ini membuat Iblis Cakar Naga agak kelabakan sesaat, namun dengan cepat bisa menguasai keadaan. Pertarungan pun tidak dapat dihindari lagi.

Tampak sekali kalau pemuda berbaju rompi putih itu hanya berusaha agar orang berbaju merah itu agak menyingkir dari desa ini. Serangan-serangannya memang sangat berbahaya, namun sama sekali tidak diarahkan pada sasaran yang tepat.

Beberapa kali lblis Cakar Naga harus menerima pukulan, namun tidak merasakan akibat apa-apa dari pukulan itu. Dan lblis Cakar Naga tahu kalau lawannya ini tidak mengerahkan tenaga dalam pada setiap serangan-serangannya. Walaupun demikian, agak kerepotan juga, bahkan sukar baginya untuk menempatkan satu pukulan saja.

Gerakan-gerakan tubuh pemuda berbaju rompi putih itu sukar untuk ditebak. Bahkan sepertinya hanya gerakan-gerakan biasa saja yang begitu lamban dan tidak beraturan sama sekali. Kadang-kadang tubuhnya terlalu miring ke kanan atau ke kiri, dan juga terlalu membungkuk. Malah terkadang hampir jatuh. Juga gerakan kakinya terasa begitu lamban, namun sangat ringan dan sukar ditebak arahnya.

"Edan! Jurus apa yang dipakainya...?" rutuk lblis Cakar Naga dalam hati.

lblis Cakar Naga berusaha untuk mendesak dengan meningkatkan pola serangannya. Bahkan dikerahkan seluruh tenaga dalamnya. Setiap kali melontarkan pukulan, terdengar suara angin menderu bagai badai. Sungguh dahsyat pukulannya, dan berbahaya sekali. Namun pemuda berbaju rompi putih itu belum juga merubah gerakan-gerakannya.

"Kadal! Cacing tanah...!" lblis Cakar Naga mengumpat habis-habisan.

lblis Cakar Naga seperti kehilangan akal menghadapi jurus yang aneh dari lawannya kali ini. Sungguh sukar baginya mendaratkan satu pukulan saja Setiap kali pukulan yang dilepaskannya hampir mencapai sasaran, entah bagaimana menjadi meleset hanya sedikit saja. Hal ini membuatnya semakin geram. Bahkan mungkin bisa gila kalau begini terus.

"Hup...!"

Tiba-tiba saja lblis Cakar Naga melompat mundur sejauh dua batang tombak lebih. Dan secepat kilat dikibaskan tangan kanannya beberapa kali. Bintang-bintang berwarna merah segi delapan, meluncur deras bagai hujan ke arah pemuda berbaju rompi putih itu. Namun hanya dengan meliuk-liukkan tubuhnya serta menggeser kakinya ke kiri dan ke kanan, serbuan bintang merah segi delapan itu berhasil dihindari pemuda berbaju rompi putih itu.

"Nih! Terima jurus 'Seribu Bintang Merah ku'!" geram lblis Cakar Naga.

Laki-laki muda berbaju merah dan bergambar naga pada punggungnya itu segera merubah pola serangan. Dia berlompatan cepat memutari tubuh lawan sambil melontarkan bintang-bintang merah dengan cepat. Sungguh luar biasa! Bintang-bintang itu berhamburan dari segala arah. Dan pemuda berbaju rompi putih itu terpaksa berjumpalitan menghindarinya.

Namun tidak lama hal itu terjadi, karena tiba-tiba saja pemuda berbaju rompi putih itu berteriak keras. Seketika tubuhnya berputar cepat bagai gasing sambil merentangkan lebar kedua tangannya ke samping. Sekerika itu juga, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja bertiup angin kencang bagai terjadi topan. Maka bintang-bintang merah itu kontan berguguran, bahkan beterbangan tersapu angin.

"Hiyaaa...!"

Mendadak pemuda berbaju rompi putih itu berhenti berputar. Bagai kilat, dihentakkan kedua tangannya ke arah lblis Cakar Naga. Satu hembusan angin yang sangat kuat menghantam tubuh lblis Cakar Naga yang tidak sempat menghindar lagi. Dia begitu terpana karena bintang-bintang merahnya berguguran.

"Akh...!" lblis Cakar Naga terpekik keras agak tertahan.

Tubuhnya terlontar jauh ke belakang, lalu menghantam sebuah pohon besar hingga hancur berantakan. Namun dia cepat melompat bangkit berdiri. Tapi belum juga tubuhnya seimbang, pemuda berbaju rompi putih itu sudah menerjang sambil melepaskan dua pukulan beruntun. lblis Cakar Naga tidak bisa mengelak lagi. Kembali tubuhnya terlontar ke belakang begitu dua pukulan beruntun menghantam dada dan perut

"Hughk!"

lblis Cakar Naga memuntahkan darah kental dari mulutnya, dan sambil terhuyung-huyung berusaha bangkit berdiri. Seluruh rongga dadanya terasa sesak, dan perutnya mual bukan main. Saat itu dirasakan seperti tengah terbang ke akhirat. Pandangan matanya jadi mengabur berkunang-kunang. Digeleng-gelengkan kepalanya, berusaha untuk menghilangkan pening yang menyerang kepalanya akibat mual yang tidak tertahankan.

"Ughk! Kali ini kau boleh menang, monyet keparat! Ughk...!" dengus lblis Cakar Naga.

Setelah berkata demikian, lblis Cakar Naga melesat pergi. Cepat sekali lesatannya. Walau dalam keadaan terluka, masih juga mampu dikerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Ki Bawung dan Jala Driya bergegas menghampiri pemuda berbaju rompi putih yang sudah akan melangkah pergi. Terpaksa diurungkan langkahnya, karena Ki Bawung dan Jala Driya sudah lebih dahulu menghadang di depan.

"Kisanak, aku mohon jangan pergi dulu," ucap Ki Bawung meminta.

"Hm..," pemuda berbaju rompi putih itu menggumam tidak jelas.

"Aku mengucapkan terima kasih atas pertolongan Kisanak. Jika tidak keberatan, singgahlah sebentar," lanjut Ki Bawung.

"Sebenamya aku masih harus melanjutkan perjalanan. Tapi baiklah...," sahut pemuda berbaju rompi putih itu tidak bisa menolak undangan ramah ini

"Ah..., terima kasih. Mari, Kisanak."

Ki Bawung begjtu gembira karena pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya bersedia menerima undangan untuk singgah. Mereka kemudian berjalan menghampiri rumah yang tangga berandanya hancur berantakan digempur si lblis Cakar Naga. Tampak dari tiap jehdela rumah penduduk Desa Antang, bersembulan kepala-kepala yang hendak melihat pemuda yang telah menyelamatkan desa ini dari kehancuran

TIGA

Ki Bawung duduk bersila di ruangan depan rumahnya. Di belakangnya, duduk istri dan anak gadisnya. Sedangkan di sebelah kanan, duduk Jala Driya. Di depan mereka bersila seorang pemuda berwajah tampan, dan berambut gondrong sebatas bahu. Pemuda itu mengenakan baju rompi putih tanpa lengan. Sebilah pedang bergagang kepala burung tersampir di punggungnya.

"Hmmm.... Jadi Ki Bawung sendiri tidak tahu siapa dia, dan maksud kedatangannya...?" tanya pemuda itu setengah bergumam. Pertanyaan itu seperti untuk dirinya sendiri.

"Sama sekali aku tidak tahu, Nak Rangga," sahut Ki Bawung.

Mereka memang sudah saling memperkenalkan diri satu sama lain, dan sudah cukup lama memperbincangkan peristiwa yang tadi terjadi di halaman depan rumah ini. Pemuda berbaju rompi putih itu memang tidak lain dari Rangga yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Keberadaannya di Desa Antang ini memang secara kebetulan saja.

"Apakah Nak Rangga juga tidak tahu siapa dia?" tanya Ki Bawung.

"Tidak," sahut Rangga.

"Tapi, mengapa Nak Rangga mengatakan kalau gadis kecil yang dicarinya tidak berada di sini? Apakah Nak Rangga mengetahui di mana gadis kecil yang dicarinya?" pertanyaan Ki Bawung seperti menyelidik

"Aku tadi hanya bersiasat saja, Ki... Sebenarnya aku sendiri tidak tahu persis permasalahannya. Tadi aku hanya mendengar saat dia menyebut-nyebut gadis kecil," sahut Rangga bisa memaklumi nada menyelidik dari pertanyaan Ki Bawung.

"Dia memang menyebut-nyebut gadis kecil yang dicarinya di sini. Tapi..., siapa gadis kecil yang dicarinya..?" Ki Bawung seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Mungkin anaknya. Ayah," celetuk gadis yang berada di belakang Ki Bawung.

"Ya, mungkin juga," desah Ki Bawung. Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening. Sedangkan kepala Rangga tertunduk menekuri tikar pandan yang menjadi alas duduknya. Demikian pula Ki Bawung yang seperti tengah berpikir keras. Kemunculan orang yang mengaku bernama lblis Cakar Naga siang tadi memang membuat gempar seluruh penduduk Desa Antang ini. Bahkan sekarang menjadi bahan pemikiran serius dari orang-orang yang tadi sempat bertarung dengannya

Kemunculan yang tiba-tiba dan terasa aneh. Alasan yang dikemukakannya pun terasa aneh. lblis Cakar Naga mencari seorang gadis kecil. Padahal, gadis kecil itu tidak ada di sini. Dan semua orang tidak ada yang tahu, siapa gadis kecil yang dicarinya itu. Hanya dugaan-dugaan saja yang muncul di benak mereka semua.

"Jala Driya...," Ki Bawung menatap Jala Driya yang sejak tadi hanya diam saja.

"Oh.... Ada apa, Ki," Jala Driya langsung mengangkat kepalanya

"Kau yang pertama kali bertemu dengannya, bagaimana dia sampai bisa menyangka kalau gadis kecil yang dicarinya ada di sini?" tanya Ki Bawung.

"Aku tidak tahu, Ki. Dia muncul dari dalam Gua Lorong Angin. Seperti yang Ki Bawung perintahkan, jika ada orang yang keluar dari Gua Lorong Angin, harus dibunuh. Kami semua melaksanakan perintah itu, Ki. Tapi akibatnya sembilan orang temanku malah tewas," jelas Jala Driya.

"Lorong Angin...?!" Rangga nampak terkejut mendengar nama Lorong Angin disebut-sebut

"Benar, Den Rangga" sahut Jala Driya. "Kau seperti terkejut mendengarnya, Nak Rangga?" selidik Ki Bawung.

"Ah, tidak. Hanya saja, aku seperti pernah mendengar nama itu. Apakah dekat dari tempat ini?"

Tidak seberapa jauh," Jala Driya yang menyahut

"Mengapa kau memberi perintah untuk membunuh siapa saja yang keluar dari Lorong Angin, Ki?" tanya Rangga ingin tahu.

"Perintah itu sudah lama ada, Nak Rangga Mungkin sudah lebih sepuluh tahun. Dan kami selalu menjaganya, baik siang maupun malam..:," Ki Bawung mencoba menjelaskan.

"Kau yang memerintahkan itu, Ki?"

"Bukan! Kepala desa yang terdahulu lah yang memerintahkan," sahut Ki Bawung. "Aku hanya meneruskan amanatnya saja. Semua itu dilakukan untuk menjaga keamanan dan ketentraman Desa Antang

"Kenapa bisa begitu?" tanya Rangga semakin ingin tahu.

"Ceritanya sangat panjang, Nak Rangga. Tapi..., apakah kau bukan pendatang dari Lorong Angin?" nada suara Ki Bawung terdengar curiga.

"Tidak, Ki. Aku datang melewati sungai sebelah Utara Desa Antang ini," sahut Rangga.

"Dari Desa Muara?" Ki Bawung ingin kejelasan

"Benar," sahut Rangga.

"Oh.... Apakah kau datang ke sini karena diutus Ki Randung? Kepala Desa Muara itu...," tanya Ki Bawung lagi disertai tarikan napas panjang.

Rangga tidak menjawab, dan hanya tersenyum saja.

"Syukurlah kalau kau memang utusan dari Desa Muara. Sudah lama sekali aku meminta seorang murid utama dari Padepokan Muara. Rupanya permohonanku dikabulkan juga," agak mendesah suara Ki Bawung.

Rangga hanya diam saja. Dia merasa kalau di Desa Antang ini juga tengah terjadi sesuatu. Padahal, sama sekali Pendekar Rajawali Sakti itu tidak mengenal Ki Randung yang menjadi Kepala Desa Muara itu. Dan yang lebih penting lagi, Rangga bukan berasal dari Padepokan Muara. Pendekar Rajawali Sakti itu memang mengetahui kalau di Desa Muara ada sebuah padepokan yang cukup besar dan sangat terkenal, karena sering menciptakan pendekar tangguh berkepandaian tinggi. Rangga sendiri hanya beberapa hari saja berada di desa itu.

Hanya saja Pendekar Rajawali Sakti itu tidak ingin mengecewakan Ki Bawung yang nampaknya begitu gembira karena mengira Rangga utusan dari Desa Muara. Memang seorang pendekar dari Padepokan Muara yang sudah lama dinantikannya. Dan ini tentu dapat menguntungkan, karena Rangga mempunyai beberapa tanda tanya begitu mendengar Ki Bawung memerintahkan untuk membunuh siapa saja yang keluar dari dalam Gua Lorong Angin.

"Nak Rangga. Kau diutus ke sini, tentu gurumu sudah menceritakan perihal Desa Antang ini," kata Ki Bawung.

"Tidak, Ki," sahut Rangga.

"Juga tentang Gua Lorong Angin?" Ki Bawung seperti tidak percaya.

Rangga menggelengkan kepalanya.

"Ah..., mengapa mereka begitu ceroboh? Seharusnya memberitahukan lebih dahulu kepadamu. Atau..., ah mungkin mereka berharap agar aku yang menceritakan semuanya."

Rangga tersenyum. Dan memang ini kesempatan yang dinantikannya. Dengan begitu bisa didapatkan keterangan perihal Gua Lorong Angin. Terus terang, kedatangannya ke sini memang ingin ke Gua Lorong Angin itu. Tujuan yang tidak pasti dan masih menjadi beban pertanyaan di benaknya. Ini tentu saja menjadirahasia pribadinya. Dan tidak mungkin diceritakan hal sebenamya, mengapa dia datang ke Desa Antang ini kepada Ki Bawung. Sementara laki-laki tua ini, sudah begitu percaya kalau dirinya adalah utusan dari Desa Muara.

Mereka kini jadi melupakan lblis Cakar Naga. Dan Ki Bawung mulai menceritakan, mengapa kepala desa yang terdahulu memerintahkan untuk mengenyahkan siapa saja yang keluar dari dalam Gua Lorong Angin. Sedangkan Rangga mendengarkan penuh perhatian. Disimaknya setiap kata yang terucapkan dari bibir Ki Bawung. Sesekali Pendekar Rajawali Sakti itu bertanya kalau ada yang kurang jelas. Maka, Ki Bawung pun menjelaskannya dengan terperinci sekali.

********************

Rangga memandangi mulut gua yang hanya kelihatan seperti garis memanjang saja. Pendekar Rajawali Sakti itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak ada seorang pun yang terlihat di sekitar tempat ini. Dari ketinggian seperti ini, memang bisa memandang ke segala arah. Desa Antang terlihat jelas, dan nampak sunyi tenang. Rangga mendongakkan kepalanya ke atas. Saat itu terlihat sebuah bayangan hitam keperakan melayang-layang di angkasa. Pendekar Rajawali Sakti itu tersenyum.

"Kemarilah, Rajawali Putih...!" seru Rangga sambil melambaikan tangan.

"Khraghk...!"

Dari angkasa meluruk turun seekor rajawali raksasa berbulu putih keperakan. Rajawali Putih mendarat lunak di depan rangga. Diangguk-anggukkan kepalanya dengan sayap setengah terentang. Rangga menghampiri dan menepuk-nepuk leher burung raksasa itu.

"Hm..., jadi gua ini tembus ke sebelah Barat?" gumam Rangga seperti mengerti setiap isyarat yang digerakkan burung rajawali raksasa itu.

"Khrrrghk...!" Rajawali PuBh mengkirik seraya menganggukkan kepalanya.

"Apa saja yang ada di sana?" tanya Rangga.

Rajawali Putih menggelengkan kepalanya. kemudian mengembangkan sayap kanannya hingga menyampir menutupi tanah. Rangga memperhatikan sejenak, kemudian menatap bola mata burung raksasa itu.

"Berapa?" tanya Rangga. Rajawali Putih mematuk tanah di depannya satukali.

"Laki-laki atau perempuan?" Rajawali Putih mengangkat sebelah kaki kanannya, kemudian dengan paruh dipatuknya jari kaki yang paling tengah. Rangga memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Rajawali Putih dengan seksama. Diangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti semua yang diisyaratkan burung rajawali raksasa itu.

"Kita lihat kesana, Rajawali Putih. Hup...!" Ringan sekali gerakan Rangga. Tubuhnya melayang naik ke punggung Rajawali Putih. Setelah menepuk leher burung raksasa itu tiga kali, secepat kilat Rajawali Putih mengepakkan sayapnya, melesat naikdan membumbung tinggi ke angkasa. Sebentar saja Rajawali Putih sudah melayang di angkasa, dan Rangga berada di punggungnya.

Rangga mengarahkan pandangannya ke bawah. Setiap jengkal tanah diperhatikan dengan teliti. Sementara Rajawali Putih terus melayang menuju arah Barat Burung raksasa itu menukik setelah sampai pada bagian Gunung Antang yang bertebing curam dan berbatu. Banyak jurang terdapat di tempat ini. Rajawali Putih mendarat pada salah satu dataran berbatu yang agak rapuh. Rangga melompat turun dengan gerakan yang indah dan ringan sekali.

"Hmmm...," gumam Pendekar Rajawali Sakti itu. Tatapan matanya langsung tertuju pada sesosok tubuh yang tergolek di antara bebatuan. Darah yang melumuri tubuhnya.sudah mengering. Pelahan Rangga menghampiri mayat laki-laki berbaju agak ketat, berwama biru itu. Sebentar diperiksanya mayat itu, kemudian berdiri dan memandang berkeliling.

"Sayang sekali, dia sudah tewas. Hhh...! Siapa yang membunuhnya? Dan...!" Rangga tersentak, dan gumamannya seketika terhenti.

Pendekar Rajawali Sakti itu melompat ke tepi jurang yang tidak jauh dari tempat ini. Kakinya berdiri tegak di bibir jurang yang cukup besar dan dalam. Sukar untuk melihat dasar jurang yang gelap tertutup kabut itu. Matanya tajam meneliti sekitar bibir jurang ini. Kembali mulutnya bergumam dan kakinya berlutut mengambil pecahan batu.

"Batu ini seperti sengaja dipecahkan. Hmmm..,mudah-mudahan Ayu Nerang tidak tercebur dalam jurang ini," kembali Rangga bergumam.

Pendekar Rajawali Sakti itu berpaling, menoleh pada Rajawali Putih yang masih tetap mendekam di tempat pertama kali mendarat Burung rajawali raksasa itu juga menatap Rangga.

"Rajawali Putih, kemarilah!" panggil Rangga.

"Khraghk!"

Hanya. sekali lesatan saja, Rajawali Putih sudah berada di samping Rangga.

"Kita turun ke sana, tapi hati-hati," kata Rangga.

"Khrrrk...," Rajawali Putih mengkirik

Rangga melompat naik ke punggung burung rajawali raksasa itu. Sebentar kemudian Rajawali Putih sudah melayang di atas jurang yang menganga lebar. Setelah berputar tiga kali, kemudian pelahan-lahan bergerak turun, masuk ke dalam jurang. Rangga mengamati setiap tebing jurang yang terdiri dari batu-batu cadas berlumut tebal. Kelopak matanya sedikit menyipit saat melihat ada bekas jejak kaki yang tertera jelas pada lumut di tebing batu jurang ini

"Terus turun, Rajawali Putih," pinta Rangga.

Khrrrk..!"

Rajawali Putih terus mengepakkan sayapnya perlahan-lahan, lalu bergerak turun semakin jauh ke dalam jurang. Mata Rangga tidak lepas mengamati jejak kaki yang tertera pada tebing berbatu yang berlumut tebal itu. Jelas sekali kalau jejak kaki itu mengarah ke dasar jurang.

"Hup!"

Rangga melompat turun begitu sudah dekat ke dasar jurang. Jejak kaki masih nampak. Dan Pendekar Rajawali Sakti itu pun mengikuti jejak kaki yang terlihat Kakinya berhenti melangkah saat jejak kaki itu memasuki sebuah celah batu yang merupakan sebuah mulut gua. Dengan mengerahkan aji 'Tatar Netra', Pendekar Rajawali Sakti itu dengan leluasa dapat melihat ke dalam gua yang gelap.

"Hmmm..., gua ini panjang dan melingkar. Aku yakin kalau gua ini tembusan dari Gua Lorong Angin," gumam Rangga.

Rangga melangkah mundur tiga tindak. Kembali diamati sekeliling dasar jurang ini. Kabut yang demikian tebal menyulitkannya untuk bisa melihat jauh. Untung saja segera dipergunakan aji Tatar Netra. Tiba-tiba saja Rangga dikejutkan oleh suara menggerung yang keras mengge'tarkan.

"Ghrauuughk...!"

********************

Rangga terkejut bukan main, begitu tiba-tiba muncul sesosok makhluk mengerikan. Makhluk itu berbulu hitam pekat bagai seekor gorilla, tapi wajahnya lebih mirip seekor anjing hutan liar. Sepasang bola matanya bulat menyala bagai bola api.

Makhluk itu menggerung-gerung, memamerkan baris-baris giginya yang bertaring tajam mengerikan. Rangga melompat mundur beberapa tindak. Sedangkan makhluk yang tidak mungkin disebut manusia itu melangkah mendekat pelahan-lahan.

"Grhhh...!"

"Jika kau bukan makhluk buas, aku tidak bermaksud jahat padamu," jelas Rangga.

"Ghraughk...!" makhluk aneh bertubuh besar dan berbulu hitam itu menggerung keras.

Dan tiba-tiba saja makhluk itu melompat cepat sambil merentangkan tangan ke depan, siap hendak menerkam. Cepat sekali dia menerjang. Untuk sesaat Rangga terpana, namun cepat-cepat melompat ke samping dan menjatuhkan diri serta bergulingan di tanah berbatu lembab.

"Hup!"

Bergegas Rangga melompat bangkit berdiri. Namun belum juga bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, makhluk bertubuh macam gorilla dan bermuka seperti anjing hutan itu sudah kembali melompat menerjang ganas. Mulutnya menggerung dahsyat, membuat seluruh tebing jurang ini bergetar bagai hendak runtuh.

"Uts! Hiyaaa...!"

Rangga kembali melompat ke samping dan secepat kilat melayangkan satu tendangan geledek disertai pengerahan tenaga dalam yang tidak begitu tinggi.

Buk!

Tendangan Pendekar Rajawali Sakti itu tepat menghantam bagian samping kiri dada makhluk itu. Namun Rangga jadi terkejut, karena seperti menendang sebongkah batu cadas yang sangat keras bagai baja. Tulang-tulang kakinya menjadi nyeri bagai hendak patah. Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti itu melompat mundur. Sementara itu, makhluk aneh mengerikan kembali berbalik, langsung melompat menerjang sambil meraung keras.

"Gila! Makhluk apa ini...?" rungut Rangga dalam hati.

Rangga langsung melompat kembali ke samping begitu makhluk aneh mengerikan itu kembali menerjangnya. Sungguh luar biasa terjangan makhluk aneh itu! Sebongkah batu yang besarnya dua kali lipat dari besar badan kerbau, hancur berkeping-keping terlanda tubuhnya yang berbulu hitam pekat.

Kelihatan sekali kalau Pendekar Rajawali Sakti itu kewalahan menghadapi makhluk yang begitu kebal dan tidak mempan pukulan bertenaga dalam tinggi sekalipun. Sementara makhluk yang seluruh tubuhnya berbulu hitam itu terus menyerang Rangga dengan ganas. Sedikit pun lawannya tidak diberi kesempatan untuk balas menyerang. Rangga hanya bisa berkelit mempergunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajalb".

Sementara di lain tempat, terlihat Burung Rajawali Putih Raksasa hanya mendekam memperhatikan jalannya pertarungan aneh itu. Namun sesekali mengkirik, jika Rangga terlihat terdesak. Sama sekali burung raksasa itu tidak berusaha membantu, dan hanya jadi penonton saja.

Lain halnya dengan Rangga yang tengah sibuk menghindari setiap serangan makhluk aneh berbulu hitam pekat itu. Sambil berusaha untuk tidak terjamah, Pendekar Rajawali Sakti itu berpikir keras agar bisaterhindar dari pertarungan yang tidak mengenakkan ini. Dia tidak ingin membinasakannya, tapi juga harus bisa keluar dari dasar jurang ini.

"Rajawali, bersiaplah untuk terbang!" seru Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti itu bergerak mendekati Rajawali Putih yang masih saja mendekam tak bergeming. Dan begitu jaraknya tinggal sekitar dua batang tombak lagi, dengan kecepatan tinggi, Rangga melompat. Tubuhnya langsung hinggap di punggung burung rajawali raksasa itu.

"Cepat pergi dari sini, Rajawali!" perintah Rangga.

Tapi sungguh mengejutkan! Temyata Rajawali Putih sama sekali tidak bergerak, dan hanya mendekam memperdengarkan suara mengkirik lirih. Rangga jadi tidak mengerti akan sikap Rajawali Putih sahabatnya ini. Sementara makhluk aneh berbulu hitam dengan kepala seperti anjing hutan itu sudah semakin dekat saja.

"Ghrauughk...!"

Sambil menggerung keras, makhluk mengerikan itu melompat menerjang ke arah Rangga. Sepertinya tidak dipedulikan rajawali raksasa yang tetap mendekam' tak bergeming sedikit pun. Rangga jadi tidak mengerti akan sikap sahabatnya ini. Dan hatinya jadi terperangah, karena makhluk itu sudah menerkam cepat sekali. Namun belum juga makhluk itu sampai pada sasaran, mendadak Rajawali Putih menghentakkan kepalanya dengan paruh separuh terbuka mengarah ke tubuh makhluk hitam itu.

"Aaarghk..!" makhluk berbulu hitam pekat itu meraung keras.

Hantaman paruh Rajawali Putih raksasa itu tepat mengenai dadanya. Seketika itu juga makhluk aneh berkepala anjing hutan itu terpental cukup jauh ke belakang. Rangga jadi terpana menyaksikan kejadian yang begitu cepat dan tidak diduga sama sekali sebelumnya.

"Khraghk!"

Sambil berkaokan keras, mendadak saja Rajawali Putih melesat bagai kilat menerjang makhluk aneh yang bergelimpangan di atas bebatuan. Sayap Rajawali Putih mengibas keras menghantam makhluk itu, hingga menggerung keras dan kembali bergulingan. Dan sebelum makhluk itu bisa bangkit berdiri, Rajawali Putih sudah mencengkeram kuat dengan kedua cakarnya.

Wuttt

Bagai anak panah lepas dari busurnya, Rajawali Putih melambung tinggi ke angkasa. Dan pada ketinggian tertentu, dilepaskannya makhluk berbulu hitam yang bentuk kepalanya seperti anjing hutan itu. Tak pelak lagi, makhluk itu meluncur jatuh ke bawah demikian kerasnya.

"Aaarghk...!"
Bruk!

Seluruh dasar jurang bergetar saat tubuh berbulu hitam pekat itu menghantam tanah berbatu lembab yang berserakan di dasar jurang. Sebentar makhluk itu menggeliat sambil mengerang, kemudian bangkit berdiri. Namun belum juga bisa berdiri tegak Rajawali Putih sudah menukik, lalu menyambar dengan paruhnya. Itu pun masih disusul oleh kibasan sayapnya yang menghantam kepala makhluk itu.

"Aaargkh...!" kembali makhluk berbulu hitam itu meraung keras.

"Khraghk...!"

Rangga yang berada di atas punggung Rajawali Putih, dapat mengerti pekikan burung raksasa sahabatnya ini. Dan tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu melompat cepat sambil menghunus pedang pusakanya. Seketika, sekitar dasar jurang menjadi terang benderang oleh cahaya biru berkilau yang terpancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

"Terpaksa! Hiyaaa...!" Crab!

Hanya sekali tebas saja, Pedang Pusaka Rajawali Sakti sudah merobek dada makhluk berbulu hitam pekat dengan bentuk kepala seperti anjing hutan itu.

"Aaarghk...!" kembali makhluk itu meraung keras menggelegar.

"Satu lagi! Hiyaaat...!" teriak Rangga.

Wut!

Sambil mengerahkan tenaga dalam yang sudah mencapai taraf kesempurnaan, Pendekar Rajawali Sakti itu membabat leher makhluk berbulu hitam pekat itu. Tak ada lag! suara terdengar. Makhluk aneh mengerikan itu terpaku tegak, dan matanya membeliak lebar bagai sepasang bola api. Dan begitu kaki Ranggamelayang dan menghantam dada yang bertumuran darah, tubuh besar berbulu hitam itu ambruk dengan kepala menggelinding jauh.

Rangga berdiri tegak memandangi makhluk berbulu hitam yang menggeletak berlumuran darah dari dada dan lehernya yang terbabat buntung. Dimasukkan kembali pedang pusakanya ke dalam warangkanya di balik punggung. Pendekar Rajawali Sakti itu masih berdiri terpaku memandangi sosok makhluk mengerikan tanpa kepala itu, dan baru menoleh saat kepala Rajawali Putih menyorong padanya.

"Sebenamya aku tidak ingin membunuhnya, Rajawali Putih," kata Rangga bernada penuh penyesalan.

"Khrrr...," Rajawali Putih mengkirik lirih.

"Ya, aku mengerti. Makhluk itu memang buas...."

Belum juga Rangga menyelesaikan kahmatnya, tiba-tiba saja Rajawali Putih menggerung keras. Seketika kedua sayapnya mengepak beberapa kali. Kepalanya menengadah ke atas. Rangga langsung mendongakkan kepalanya ke atas, dan pada saat itu batu-batu tebing jurang ini berguguran

"Cepat, Rajawali Putih! Hup...!"

"Khraaaghk...!"

********************

EMPAT

Secepat Rangga berada di punggung Rajawali Putih, maka secepat itu pula burung raksasa itu langsung melesat membumbung tinggi ke angkasa. Kabut yang tebal di sekitar jurang tidak menghalangi penglihatan burung raksasa itu. Sedangkan di sekitarnya batu batu berguguran membuat seluruh jurang jadi bergetar.

"Tolooong...!" tiba-tiba saja terdengar jeritan melengking kecil.

"Tunggu, Rajawali!" sentak Rangga.

"Aduh! Tolooong...!" kembali terdengar jeritan kecil melengking.

Sebentar Rangga mencari arah sumber suara itu di antara suara gaduh bebatuan yang runtuh ke dalam jurang. Dengan mempergunakan aji 'Tatar Netra', Pendekar Rajawali Sakti itu segera dapat melihat seorang gadis kecil tengah berlindung dari reruntuhan batu, di bawah sebuah celuk batu tebing jurang ini.

"Ke sana, Rajawali...!" perintah Rangga menunjuk.

"Khraghk!"

Tanpa buang-buang waktu lagi, Rajawali Putih meluncur ke arah yang ditunjuk Rangga. Dan belum juga sampai pada tujuan, tiba-tiba saja sebongkah batubesar meluncur turun dengan derasnya.

"Awas...!" seru Rangga seraya melompat dari punggung Rajawali Putih.

"Khraghk!"

Manis sekali Rajawali Putih berkelit menghindari bongkahan batu besar yang runtuh itu. Sementara Rangga berlompatan sambil berpijak pada batu-batu yang berguguran. Dipergunakan pedangnya untuk melindungi diri dari hujan batu. Dengan susah payah, akhirnya Pendekar Rajawali Sakti itu berhasil mencapai celuk batu, yang di situ ada seorang gadis kecil di dalamnya. Gadis kecil itu tampak ketakutan, lalu beringsut lebih masuk ke dalam.

"Aku akan mengeluarkanmu dari sini, Adik Manis," bujuk Rangga.

"Kau..., kau bukan orang jahat itu?" suara gadis kecil itu agak tersendat

"Bukan," sahut Rangga seraya memberikan senyuman yang manis.

Walaupun masih ragu-ragu, tapi akhirnya gadis kecil itu mau juga. Rangga menggendongnya, dan memeluk erat tubuh gadis itu. Dengan pedang tergenggam di tanan kanan, Pendekar Rajawali Sakti Itu kembali melompat keluar. Beberapa kali Rangga berputaran di udara, lalu hinggap dengan manisnya di atas punggung Rajawali Putih yang menunggunya disertai perasaan cemas.

"Khraghk!"

"Cepat, Rajawali. Seluruh tebing jurang ini seperti akan runtuh!" seru Rangga keras.

"Khraghk...!" Rajawali Putih kembali melesat naik sambil meliuk-liukkan arah terbangnya untuk menghindari hujan batu yang semakin deras saja. Seluruh tebing bergetar dahsyat, dan jurang itu seolah-olah mengalami kehancuran. Cukup lama juga Rajawali Putih baru bisa keluar dari reruntuhan batu, dan langsung mendarat di tepi jurang. Rangga bergegas melompat turun sambil membawa gadis kecil dalam pelukannya.

Sungguh aneh. Di atas jurang ini tidak terasa ada getaran sedikit pun. Padahal di dalam jurang sana, bagaikan kiamat saja. Kalau tidak bergerak cepat, bisa-bisa hancur terkubur. Rangga melangkah ke bibir jurang, menyaksikan batu-batu yang masih berguguran mengepulkan debu bercampur kabut tebal. Suara gemuruh masih terdengar. Rangga berpaling, lalu menghampiri gadis kecil yang berdiri di depan Rajawali Putih. Gadis itu memandangi Pendekar Rajawali Sakti dengan sinar mata sukar untuk diartikan.

"Siapa namamu, Adik Manis?" tanya Rangga lembut seraya berlutut di depan gadis kecil itu

"Kakang, siapa?" gadis kecil itu malah balik bertanya.

"Namaku Rangga, dan itu sahabatku. Namanya Rajawali Putih," jelas Rangga sambil tersenyum.

Gadis kecil itu menoleh ke belakang, dan menjadi agak terkejut juga begitu melihat di belakangnya ada seekor burung rajawali raksasa. Namun rasa keterkejutannya hanya sebentar, kemudian bibirnya tersenyum. Rajawali Putih menjulurkan kepalanya. Tanpa ada rasa takut sedikit pun, gadis kecil itu memeluk kepala burung raksasa itu dengan hangatnya.

"Adik Manis...," panggil Rangga.

"Lucu sekali. Siapa namanya tadi?" gadis itu seperti tidak menghiraukan panggilan Rangga. "Rajawali Putih," sahut Rangga.

"Kau tentu burung yang luar biasa. Dan kau sendiri pasti punya kepandaian yang tangguh, Kakang," gadis itu berpaling pada Rangga yang masih berdiri di atas lututnya.

Rangga hanya tersenyum saja, namun ada sedikit keheranan. Seolah-olah gadis kecil ini mengetahui persis seluk beluk tentang ilmu olah kanuragan dan ilmu kesaktian. Rasa keheranannya berubah menjadi rasa penasaran. Rangga menghampiri gadis itu dan memegang lembut pundak gadis kecil itu.

"Siapa namamu, dan mengapa bisa berada dalam jurang?" tanya Rangga lembut.

"Oh! apakah aku belum memberitahukan namaku?" gadis itu seperti mempermainkan

"Belum," sahut Rangga jadi tersenyum geli.

"Namaku Ayu Nerang."

Seketika wajah Pendekar Rajawali Sakti berubah begitu nama gadis kecil itu disebutkan. Ditatapnya gadis berusia sekitar dua belas tahun itu dalam-dalam. Rangga merayapi dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Pakaian Ayu Nerang begitu kotor dan kumal. Bahkan beberapa bagian telah terkoyak. Tubuhnya juga kotor berdebu, namun tidak menghilangkah kecantikan wajahnya. Kulitnya putih halus bagai kulit seorang putri bangsawan, atau putri raja.

Rangga menghenyakkan tubuhnya, duduk bersandar pada seborigkah batu yang cukup besar. Ditariknya napas panjang dan dihembuskannya kuat-kuat Pendekar Rajawali Sakti itu masih memandangi Ayu Nerang yang kini sudah asyik becanda dengan Rajawali Putih. Dan tampaknya gadis itu cepat sekali akrab. Sedangkan Rajawali Putih kelihatan begitu menyukai gadis kecil itu.

"Apakah benar dia Ayu Nerang..?" desah Rangga dalam hati, bertanya pada dirinya sendiri.

********************

Rangga terpaksa membiarkan saja Rajawali Putih membawa Ayu Nerang mengangkasa, berputar-putar di sekitar Gunung Antang ini. Sementara pikiran Pendekar Rajawali Sakti itu sendiri masih disibukkan oleh berbagai pertanyaan mengenai gadis kecil yang mengaku bernama Ayu Nerang. Gadis kecil yang kini. ada di punggung seekor rajawali raksasa tampak gembira saat Rajawali Putih membawanya tinggi ke angkasa.

"Mayat laki-laki itu memang Paman Kumbayana. Tapi aku masih sangsi kalau gadis itu Ayu Nerang, meskipun... Siapa pun dia, harus kubuktikan apakah Ayu Nerang atau bukan," Rangga berbicara pada dirinya sendiri.

Rangga bangkit berdiri. Dan baru saja hendak langkahnya. Kini tahu-tahu di depan telah berdiri seorang perempuan tua bertubuh bungkuk sambil memegang tongkat yang tidak beraturan bentuknya. Wanita itu mengenakan baju kumal compang-camping dengan beberapa tambalan di beberapa bagian. Rambutnya yang putih tergelung ke atas dan sebagian dibiarkan meriap, hampir menutupi wajahnya yang keriput melangkah, mendadak saja sebuah bayangan berkelebat. Pendekar Rajawali Sakti itu menghentikan.

"Hik hik hik...," wanita tua itu terkikik.

"Hmmm....."

"Mau pergi ke mana kau, bocah setan!" serak dan kering suara perempuan tua itu.

"Aku tidak tahu, Nisanak" sahut Rangga kalem.

"Hik hik hik... Kalau begitu, kau harus ikut aku!"

"Ikut..?! Untuk apa? Aku masih punya urusan yang lebih penting."

"Kau telah menghancurkan istanaku, dan harus bertanggung jawab!" dingin nada suara perempuan tua itu.

"Nisanak aku tidak mengerti maksudmu. Lagi pula aku tidak kenal siapa dirimu," Rangga jadi heran juga.

"Aku Dewi Kalang Mayat, Ratu Lereng Antang ini! Dan kau harus bertanggung jawab karena berani menginjak daerahku dan menghancurkan istanaku" lantang suara perempuan tua itu.

"Nisanak, aku belum lama berada di sini. Dan lagi aku tidak tahu di mana letak istanamu. Maaf, mungkin kau salah duga," kilah Rangga.

"Hik hik hik... Pandai juga kau bersilat lidah, bocah setan! Semua rakyatku tahu kalau kaulah yang membunuh pengawal Dewa Agung sembahan kami. Akibatnya Dewa Agung murka dan menghancurkan istanaku serta seluruh rakyatku. Dewa Agung akan mengembalikan semuanya jika aku bisa menyerahkanmu padanya!"

"Aku semakin tidak mengerti, Nisanak," Rangga semakin bingung saja. Sama sekali tidak bisa dipahami semua kata-kata perempuan tua itu.

"Bodoh! Apa yang baru kau lakukan di dasar jurang sana, heh?!" bentak Dewi Kalang Mayat geram.

Rangga tersentak sampai melangkah mundur tiga tindak. Sungguh tidak disadari kalau makhluk aneh mengerikan yang ditemuinya di dasar jurang adalah pengawal Dewa Agung sesembahan perempuan tua, yang mengaku dirinya sebagai Ratu Lereng Antang. Kini Rangga mulai mengerti. Rupanya perempuan tua ini hendak menangkapnya, karena dianggap telah menghancurkan kehidupannya. Rangga menyadari kalau posisinya kini tidak menguntungkan. Apalagi sekarang berada di wilayah kekuasaan Dewi Kalang Mayat

"Satu lagi yang terberat bagimu, bocah. Kau telah membawa lari calon muridku, yang kusiapkan untuk menjadi ratu di Lereng Gunung. Antang ini. Calon penguasa rimba persilatan!" jelas Dewi Kalang Mayat lagi.

"Lagi-lagi kau membuatku bingung, Nisanak!" dengus Rangga agak jengkel

"Di mana gadis kecil itu kau sembunyikan?!" bentak Dewi Kalang Mayat

"Gadis kecil...?!" Rangga terperanjat

"Cepat katakan! Sebelum kesabaranku habis, bocah setan!" bentak Dewi Kalang Mayat

"Ayu Nerang, maksudmu?"

"Siapa lagi?! Hanya Ayu Nerang yang kutemukan di sini. Dia jatuh ke jurang dan berhasil kusembuhkan luka-luka dalamnya. Aku tidak mau tahu, penyebab dia jatuh ke jurang dan siapa yang melukainya. Aku hanya tahu, kedatangannya tepat saat Dewa Agung menjanjikan akan mendatangkan seorang gadis kecil untuk dijadikan Ratu Lereng Antang. Calon penguasa seluruh rimba persilatan!"

"Oh...!" Rangga mendesah terhenyak.

Kini Pendekar Rajawali Sakti baru mengerti. Ternyata gadis kecil itu memang Ayu Nerang, yang sedang dicarinya hingga sampai ke Lereng Gunung Antang ini, Dan rupanya Ayu Nerang sempat terjatuh ke dalam jurang. Tapi, siapa orangnya yang telah melukai gadis itu? Mungkinkan si lblis Cakar Naga? Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, Rangga sudah menemukan begitu banyak kejadian yang jadi berbagai macam pertanyaan di benaknya.

"Bocah, di mana gadis itu kau sembunyikan?!" bentat? Dewi Kalang Mayat lagi.

"Dia sudah pulang bersama sahabatku," sahut Rangga kalem.

"Keparat! Tidak ada seorang pun yang bisa membawa calon Ratu Lereng Antang!" geram Dewi Kalang Mayat

"Sebaiknya kau cari saja orang lain, Nisanak," saran Rangga.

"Setan belang! Kau pengacau semua ini. Kau harus bayar mahal, bocah!" geram Dewi Kalang Mayat

"Aku tidak berhutang apa pun padamu. Maaf, aku harus pergi."

Setelah berkata demikian, Rangga langsung melesat cepat bagai kilat. Namun Dewi Kalang Mayat juga bergegas mengejar. Sungguh luar biasa. Dalam waktu sekejap saja wanita tua itu sudah menghadang Pendekar Rajawali Sakti, sehingga membuat pemuda berbaju rompi pufih itu terkejut. Dihentikan larinya seketika itu juga.

"Dewa Agung memerintahku untuk membawamu. Tapi kalau membangkang, maka kau harus mampus, bocah!" dengus Dewi Kalang Mayat menggeram.

"Hm...," Rangga hanya bergumam saja.

"Bersiaplah untuk mati! Hiyaaat..!"

"Hup!"

********************

Rangga bergegas melompat ke samping menghindari terjangan perempuan tua yang mengaku Ratu Lereng Gunung Antang ini. Tapi belum juga Pendekar Rajawali Sakti itu menguasai keseimbangan tubuhnya, Dewi Kalang Mayat sudah melayangkan satu tendangan menyamping yang sangat cepat

"Uts!"

Bergegas Rangga menarik kakinya ke samping, maka tendangan itu lewat sedikit di depan iganya. Tapi Rangga merasakan adanya sambaran angin yang begitu kuat dan mengandung hawa panas menyengat. Buru-buru Pendekar Rajawali Sakti itu melompat mencari jarak. Namun pada saat kakinya menjejak tanah berbatu, Dewi Kalang Mayat kembali menyerangnya.

Pendekar Rajawali Sakti agak kewalahan juga melayani serangan-serangan Dewi Kalang Mayat yang begitu dahsyat dan cepat luar biasa. Setiap pukulan dan tendangannya mengandung tenaga dalam sangat tinggi, disertai hembusan hawa panas menyengat. Belum lagi tongkatnya yang tidak beraturan bentuknya itu. Rangga tidak mau mengambil resiko jika harus menghadang setiap kibasan tongkat itu. Sudah bisa dirasakan angin kibasannya yang sangat dahsyat luar biasa.

"Hiya...!"

Kini serangan datang kembali. Satu pukulan tongkat yang kuat mengarah ke kaki Rangga. Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti itu melompat ke atas, sehingga tebasan tongkat itu hanya lewat di bawah telapak kakinya. Sebongkah batu sebesar kerbau, hancur berkeping-keping tersambar tongkat yang mengenai sasaran itu. Dua kali Rangga berputaran di udara, dan langsung meluruk deras mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.

Tapi serangan Pendekar Rajawali Sakti itu tidak menghasilkan apa-apa, karena Dewi Kaiang Mayat mudah sekali menghindarinya. Bahkan perempuan tua itu mampu memberikan serangan balasan yang sangat dahsyat Malah hampir saja Rangga terkena sapuan tongkatnya yang sangat dahsyat

Pertarungan terus berlangsung semakin sengit Jurus demi jurus telah cepat terlewati. Namun belum ada tanda-tanda bakal ada yang terdesak. Mereka sama-sama tangguh dan memiliki kepandaian sangat tinggi. Daerah sekitar pertarungan menjadi tidak sedap lagi dipandang. Pohon-pohon bertumbangan, dan batu-batu hancurberkeping-keping. Kepulan debu menyulitkan pandangan mata. Namun pertarungan terus berlangsung Bahkan kelihatannya tidak akan berhenti dalam waktu yang singkat.

Tempat pertarungan berlangsung memang jauh dari pemukiman. Jadi tidak perlu dikhawatirkan ada orang-orang tidak berdosa terkena akibatnya. Memang tak ada yang tahu, kecuali seekor burung Rajawali Putih Raksasa yang menyaksikan dari angkasa. Di punggung Rajawali Putih duduk seorang gadis kecil yang juga tampaknya begitu seksama memperhatikan pertarungan itu.

"Kenapa mereka berkelahi...?" Ayu Nerang bergumam pelan, bertanya pada dirinya sendiri

"Khraghk!" Rajawali Putih menyahuti.

Tapi tentu saja Ayu Nerang tidak bisa mengerti. Dan gadis berusia sekitar dua belas tahun itu tetap memperhatikan jalannya pertarungan tanpa berkedip. Rajawali Putih memang sengaja tidak terlalu tinggi terbangnya. Dengan demikian Ayu Nerang dapat melihat jelas, meskipun yang disaksikannya hanya dua bayangan berkelebat saling sambar dalam kepulan debu.

Pada saat itu, terlihat Dewi Kalang Mayat melompat tinggi melewati kepala Rangga. Tongkat yang tidak beraturan bentuknya itu dikibaskan ke arah kepala. Cepat Rangga merunduk, sehingga tongkat itu lewat di atas kepalanya. Namun belum juga Pendekar Rajawali Sakti itu mengangkat kepalanya, tiba-tiba saja Dewi Kalang Mayat meluruk deras. Saat itu juga kakinya melayang mengarah ke punggung.

Buk!

Rangga tidak sempat lagi berkelit Satu tendangan keras mendarat di punggungnya, membuat Pendekar Rajawali Sakti itu tersuruk mencium tanah berbatu. Sambil berteriak keras, Dewi Kalang Mayat menusukkan ujung tongkatnya yang runcing. Buru-buru Rangga menggulirkan tubuh ke samping, sehingga tusukan ujung tongkat itu hanya menyerempet di samping bahunya.

Dewi Kalang Mayat tidak berhenti sampai di situ saja. Tusukan tongkatnya terus mencecar selagi Rangga berada di tanah. Namun Pendekar Rajawali Sakti masih bisa bergulir menghindari tusukan ujung tongkat Dewi Kalang Mayat

"Hup!"

Sampai pada suatu kesempatan, Rangga mengatupkan kedua telapak tangannya, menangkap ujung tongkat yang mengarah ke dada. Dan disertai pengerahan tenaga dalam sempurna, Pendekar Rajawali Sakti itu menghentakkan tongkat itu ke samping.

"Ikh!"

Dewi Kalang Mayat tersentak kaget, namun tidakbisa lagi menguasai keseimbangan tubuhnya. Pada saat .perempuan tua itu terhuyung, dengan cepat Rangga menggerinjang bangkit berdiri. Sekerika itu juga dilayangkan satu pukulan keras disertai pengerahan tenaga dalam yarig telah mencapai taraf kesempurnaan.

"Hiyaaa...!"

********************

LIMA

Dug!

"Akh!" Dewi Kalang Mayat memekik keras.

Pukulan Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam dada perempuan tua itu, dan membuatnya terpental ke belakang. Namun cepat sekali Dewi Kalang Mayat mampu menguasai diri, dan kini kembali bersiap. Kali ini Dewi Kalang Mayat bukan hendak mengeluarkan jurus, tapi akan mengeluarkan ajiannya.

Melihat kenyataan itu, Rangga tidak ingin tanggung-tanggung lagi untuk segera menghunus pedangnya. Sekerika sekitar tempat pertarungan menjadi terang benderang oleh cahaya biru yang memancar berkilau dari pedang pusaka itu. Sejenak Dewi Kalang Mayat tampak terkejut melihat pamor pedang di tangan Rangga. Namun hanya sesaat saja, karena telah kembali bersiap mengerahkan ilmu kesaktiannya.

"Hmmm.,.," gumam Rangga pelahan.

Melihat seluruh tongkat Dewi Kalang Mayat tiba-tiba berubah merah menyala bagai terbakar, Rangga segera merentangkan kedua kakinya ke samping. Tangan kirinya segera menggosok pedang yang tergenggam tangan kanan dan melintang di dada.

"Hiyaaa...!" tiba-tiba Dewi Kalang Mayat berteriak keras sambil menghentakkan kepala tongkatnya kedepan.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'...!" seru Rangga, juga mengibaskan pedangnya ke depan.

Seketika itu juga dua leret sinar meluncur deras dengan arah berlawanan. Sinar merah dan biru itu bertemu di titik tengah, dan memperdengarkan ledakan dahsyat menggelegar. Tampak kedua orang itu saling dorong menggunakan sinar masing-masing. Perlahan-lahan Dewi Kalang Mayat melangkah maju. Sedangkan Rangga hanya berdiri saja tidak bergeming sedikit pun. Dan kini malah ditarik pedangnya, dan dilintangkan ke depan dada.

Sedikit demi sedikit jarak mereka semakin dekat saja, dan pada akhirnya tinggal berjarak beberapa langkah lagi. Di situ kedua cahaya mulai membaur. Dewi Kalang Mayat mengikik sambil tersenyum sinis. Jelas sekali kalau cahaya biru mulai terdesak.

"Uh, hih!"

Rangga menghentakkan pedangnya yang tetap melintang di depan dada lebih ke depan lagi. Pada saat yang bersamaan, digosok mata pedang itu dengan tangan kirinya. Seketika cahaya biru yang memancar dari pedang itu, semakin terang dan berkilau.

"Eh...l"

Senyum di bibir Dewi Kalang Mayat mendadak saja hilang. Kedua bola matanya membeliak lebar, dan tubuhnya bergetar. Jelas sekali terlihat kalau cahaya merah mulai terdesak. Bahkan arus cahaya biru tampak lebih cepat daripada cahaya merah itu.

"Hih!" Dewi Kalang Mayat menambah kekuatanajiannya.

Tapi mendadak saja wajahnya jadi berubah. "Gila...! Kenapa tenagaku jadi seperti tersedot?" dengus Dewi Kalang Mayat dalam hati.

Beberapa kali Dewi Kalang Mayat mencoba menghentak, dan mengempos tenaganya. Namun setiap kali melakukan itu, arus tenaganya semakin deras mengalir. Perempuan tua itu tampak terbeliak ketika cahaya biru yang menggumpal dan membentuk bularan itu mulai menyelubungi kepala tongkatnya. Buru-buru Dewi Kalang Mayat hendak menarik tongkatnya, tapi menjadi terkejut. Ternyata tongkatnya seperti ada yang menahan.

"Oh..., tenagaku semakin berkurang. Setan! Ilmu apa yang dipakainya...?" lenguh Dewi Kalang Mayat dalam hati.

Beberapa kali Dewi Kalang Mayat mencoba melepaskan pengaruh ajian yang dikeluarkan Rangga. Tapi setiap kali dikerahkan tenaga, setiap kali pula dirasakan adanya aliran kuat yang menyedot tenaganya. Bahkan sekarang Dewi Kalang Mayat sudah sulit mengerahkan hawa murni. Bahkan juga sepertinya seluruh pusat kekuatannya tersumbat.

Oh, tidak...!" lenguh Dewi Kalang Mayat menyadari betapa dahsyatnya ajian yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti. "Aku harus bisa melepaskan diri!"

Dewi Kalang Mayat menghimpun tenaganya. Tiba-tiba saja dilepaskan pegangan tongkatnya, lalu mencoba melompat ke belakang. Tapi untuk ke sekian kalinya, perempuan tua itu jadi terbeliak.

Sukar untuk dipercaya. Kini telapak tangannya menempel kuat pada tongkatnya sendiri. Bahkan saat dihentakkan seluruh sisa tenaganya untuk melepaskan diri, malah seluruh kekuatannya tersedot. Keringat sebesar butir-butir jagung mulai merembes membasahi wajah dan lehernya. Sementara itu cahaya biru mulai menyelimuti tubuh Dewi Kalang Mayat yang sudah tidak bisa lagi berbuat sesuatu.

Dalam selubung sinar biru, Dewi Kalang Mayat menggeliat-geliat sambil berteriak-teriak dan meraung keras. Masih dicobanya untuk melepaskan tongkatnya, tapi telapak tangannya benar-benar menempel pada tongkat itu. Dewi Kalang Mayat benar-benar sudah tidak berdaya lagi. Bahkan kini tubuhnya mulai melorot turun dengan lemas. Hingga pada akhirnya tubuhnya jatuh menggeletak, tepat pada saat Rangga menarik ajiannya.

Trek!

Pendekar Rajawali Sakti itu memasukkan kembali Pedang Pusaka Rajawali Sakti ke dalam warangkanya di punggung. Maka cahaya biru langsung lenyap seketika. Sedangkan Dewi Kalang Mayat masih tergeletak tak berdaya lagi. Napasnya nampak lemah, dan wajahnya memucat Sinar matanya begitu redup tak bercahaya lagi Rangga hanya berdiri tegak memandangi wanita tua itu.

"Siapa kau sebenamya, Anak Muda? Kenapa tidak membunuhku, seperti yang mereka lakukan terhadap rakyatku?" pelan dan lirih sekali suara Dewi Kalang Mayat

"Namaku Rangga, dan hanya seorang pengembara," sahut Rangga.

"Aku tidak membunuhmu karena kau bukan musuhku. Dan lagi aku tidak melihat adanya keburukan pada dirimu."

"Kau salah, Anak Muda. Mereka semua membenciku dan seluruh rakyatku. Tak ada tempat bagi kami. Di mana kami berada, selalu diburu dan dimusnahkan."

"Kenapa?" tanya Rangga.

"Karena kami adalah Kaum Pemuja Setan. Kami semua bersekutu dengan iblis dari neraka. Kami selalu menolong mereka yang mempunyai dendam, napsu, dan keserakahan. Menyakiti, membunuh, dan menganiaya manusia adalah kesenangan."

Rangga hampir tidak percaya mendengarnya. Ditatapnya dalam-dalam wanita tua yang tergeletak tanpa tenaga lagi itu. Kini baru dimengerti, kenapa Ki Bawung memerintahkan seluruh warga desanya untuk membunuh siapa saja yang keluar dari Gua Lorong Angin. Rupanya gua itu merupakan jalan keluar orang-orang pemuja setan.

"Kau bisa menghancurkan istanaku serta seluruh rakyatku di sini, Anak Muda. Tapi itu bukan berarti Kaum Pemuja Setan musnah seluruhnya. Masih banyak yang berada di alam bebas saat ini. Dan mereka akan membangun kembali kejayaan bangsa kami, hik hik hik...!"

"Nisanak, mengapa kau ingin menjadikan Ayu Nerang sebagai ratu di Lereng Gunung Antang ini?" tanya Rangga.

"Karena aku tahu siapa gadis itu. Dan aku juga tahu maksud kedatanganmu ke sini. Aku ingin ada manusia baik-baik dan keturunan terhormat bisa menguasai dunia dengan hati dan jiwa terselimut napsu iblis. Aku ingin seluruh dunia tunduk pada Kaum Pemuja Setan!"

"Keinginanmu sungguh luar biasa, Dewi Kalang Mayat. Tapi selama hati dan jiwamu kotor, rasanya tidak akan berhasil," tegas Rangga.

"Kau memang manusia tanpa tanding, Rangga. Tidak percuma kalau Prabu meminta bantuanmu untuk membawa pulang putrinya," nada suara Dewi Kalang Mayat terdengar memuji.

"Masih banyak di dunia ini yang lebih segala-galanya daripada diriku, Nisanak," Rangga merendah.

"Mungkin nanti. Tapi untuk saat ini, kau adalah manusia tanpa tanding yang sukar untuk dikalahkan. Dan hati-hatilah, Rangga. Jika tidak membunuhku, kau akan mengalami kesulitan seumur hidup! Seluruh tokoh golongan hitam tidak akan menyukaimu! Dan kau akan selalu menghadapi bahaya, terutama dari orang-orang sealiran denganku," ancam Dewi Kalang Maut

Rangga hanya tersenyum saja. Sama sekali tidak dipedulikan ancaman itu. Setelah memberi salam, kemudian Pendekar Rajawali Sakti itu berbalik dan melangkah pergi. Sedangkan Dewi Kalang Mayat masih tetap tergeletak tak berdaya.

"Kau membutuhkan waktu empat puluh tahun untuk memulihkan kekuatanmu kembali, Dewi Kalang Mayat!" kata Rangga tanpa berpaling sedikit pun. Kakinya terus saja melangkah semakin cepat meninggalkan tempat itu.

"Kelak kau akan merasakan pembalasanku, bocah edan!" geram Dewi Kalang Mayat.

********************

Rangga mengayunkan kakinya pelahan-lahan melintasi jalan setapak yang melingkari Lereng Gunung Antang, menuju ke arah Hutan Gua Lorong Angin. Dia sudah berpesan pada Rajawali Putih untuk menunggu di Sana bersama Ayu Nerang. Pendekar Rajawali Sakti itu juga meminta agar Rajawali Putih memanggil Kuda Dewa Bayu, salah satu tunggangannya selain rajawali raksasa itu.

Rangga sengaja memilih kuda untuk melakukan perjalanan menuju Kerajaan Banyudana untuk membawa pulang Ayu Nerang ke istana. Janjinya pada Prabu Cakraningrat untuk mendapatkan kembali putri tunggalnya itu harus ditepati. Seperti apa yang dikatakan oleh Prabu Cakraningrat bahwa Ayu Nerang meninggalkan istana, memang bukan karena kemauannya sendiri. Gadis itu diculik oleh salah satu musuh Prabu Cakraningrat.

Sebenarnya Rangga tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain, kalau saja ketika itu tidak terlibat dalam persoalan besar yang hampir meruntuhkan Kerajaan Banyudana. Keterlibatannya juga secara tidak sengaja. Waktu itu Pendekar Rajawali Sakti menolong Prabu Cakraningrat dari keroyokan suatu gerombolan liar. Kemudian disusul terjadinya pemberontakan adik selir Prabu Cakraningrat sendiri, yang tidak puas karena hanya diberi wilayah kecil dan menjabat sebagai adipati.

"Berhenti...!"

Tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti dikejutkan suara bentakan keras menggelegar. Dan belum lagi hilang rasa terkejutnya, mendadak saja bermunculan sekitar sepuluh orang berjubah hitam yang semuanya memegang tongkat berwarna hitam pula Mereka langsung saja membuat lingkaran, mengepung pemuda berbaju rompi putih itu.

Rangga mengamati sepuluh orang yang sudah rapat mengepungnya. Rata-rata mereka sudah setengah baya, dan ada dua orang yang kelihatan sudah lanjut usia. Pendekar Rajawali Sakti itu memusatkan perhatiannya pada dua orang tua yang berdiri berdampingan. Dugaannya kedua orang itu mungkin bertindak sebagai pemimpin.

"Siapa kalian? Dan mengapa mengepung, menghalangi jalanku?" tanya Rangga.

"Kami sengaja mencegatmu di sini untuk menagih hutang, Anak Muda," sahut salah seorang dari laki-laki tua yang berada tepat di depan Rangga

"Hutang...?! Maaf, Kisanak. Hutang apa yang harus kubayar?" Rangga tidak mengerti.

"Nyawa!"

"Oh...!" Rangga tersedak kaget.

"Bersiaplah untuk mati, bocah!"

"Tunggu...!" sentak Rangga cepat-cepat. "Aku tidak mengenal kalian ini, jadi mana mungkin aku punya hutang nyawa? Barangkali kalian salah."

"Ternyata memang benar. Kau pandai sekali bersilat lidah. Tapi itu bukan berarti lepas dari kami, bocah!" dingin nada suara laki-laki berusia lanjut itu.

"Hmmm...," Rangga mengerutkan keningnya. Kata-kata orang itu seperti pernah didengarnya. Rangga mencoba untuk mengingat-ingat, dan menjadi tersentak. Kata-kata itu memang pernah didenganya yang terucap dari bibir Dewi Kalang Mayat. Rangga memandangi orang-orang yang mengepungnya Wajah mereka memang kasar. Bahkan pandangan matanya pun liar, mencerminkan kekejaman serta kebengisan. Dan tongkat yang dipegang itu.... Mirip dengan tongkat Dewi Kalang Mayat Rangga Hdak sangsi lagi Mereka adalah anak buah Dewi Kalang Mayat.

"Kalian pasti orang-orang pemuja setan," tebak Rangga dingin.

"Kau sudah tahu, bocah. Nah bersiaplah untuk mampus!" ancam orang tua itu dingin. "Kau harus membayar nyawa ratu kami! Seraaang...!"

Rangga tidak bisa lagi mengelak dari pertarungan. Sepuluh orang berbaju serba hitam itu sudah berlompatan menyerangnya. Baru beberapa jurus saja, Pendekar Rajawali Sakti itu sudah menduga kalau sepuluh orang lawannya ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Seranganerangannya cukup dahsyat dan berbahaya. Sukar ditebak arahnya

Menyadari kalau tidak akan mungkin mampu menandingi sepuluh orang itu hanya dengan menggunakan jurus-jurus tangan kosong, Pendekar Rajawali Sakti itu segera mencabut pedang pusakanya. Sekerika itu juga daerah di sekitar pertarungan menjadi terang benderang oleh cahaya biru berkilau yang memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti. "Hiyaaa...!"

Dengan pedang di tangan, Pendekar Rajawali Sakti bagai sosok malaikat maut yang siap mencabut nyawa. Pemuda berbaju rompi putih itu bergerak cepat menggunakan jurus-jurus andalan, paduan dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang digabung dan dikombinasikan menjadi beberapa jurus.

Sungguh dahsyat memang, sepuluh orang itu pun jadi kewalahan. Mereka jatuh bangun menghindari serangan yang dahsyat dan cepat luar biasa itu. Rangga tidak terlihat lagi. Hanya bayangan putih dan biru berkelebatan bagai kilat menyambar-nyambar.

Buk! Buk...!

Beberapa kali Rangga melepaskan pukulan, dan tepat menghantam beberapa orang hingga terjungkal. Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas melompat mundur, dan berdiri tegak dengan pedang melintang di depan dada. Kini terlihat lima orang tergeletak di tanah. Mereka berusaha bangkit meskipun tubuhnya limbung. Tampak dari mulut mengeluarkan darah kental. Sedangkan lima orang lagi seperti terpana dengan mulut ternganga.

"Aku tidak ada urusan dengan kalian semua! Dan sebaiknya, jangan coba-coba mengusik kehidupanku!" dingin nada suara Rangga. Kata-katanya begitu tegasberbau ancaman.

Sepuluh orang berbaju serba hitam itu saling berpandangan beberapa saat. Seorang yang sudah berusia lanjut yang rambutnya putih dan kumis panjangnya juga berwarna putih, melangkah tiga tindak ke depan. Tongkatnya dipegang dengan kedua tangan agak melintang di depan dada.

"Kata-katamu seperti seorang jago tanpa tanding, Anak Muda!" dingin nada suara laki-laki tua itu.

"Maaf! Bukan maksudku merendahkan kalian semua, tapi hanya mengingatkan. Di antara kita tidak ada persoalan yang patut dibesar-besarkan," kata Rangga bisa merasakan ketersinggungan lakiaki tua itu.

"Tidak ada urusan kau bilang...?! He! Dengar, Anak Muda! Kau telah membunuh pengawal Dewa Agung, membunuh Ratu Lereng Antang, dan menghancurkan tempat tinggal kami semua! Apa itu bukan urusan?! Kau berhutang banyak nyawa, bocah!" keras dan lantang suara laki-laki tua itu

"Dengar, Kisanak. Bukan bermaksud membela diri, tapi aku akan mengatakan yang sebenanya. Aku tidak bermaksud membunuh siapa pun, tapi hanya mempertahankan diri. Dan jika ingin tahu, aku hanya membuat Ratu Lereng Antang lumpuh dalam waktu empat puluh tahun. Jadi, sama sekali tidak membunuhnya!" Rangga mencoba menjelaskan.

"Siapa yang percaya omonganmu, bocah! Kami menemukan Ratu Lereng Antang sudah tewas dengan punggung tertembus tombak! Dan kau juga malah menggantungnya!"

"Apa...?!" Rangga terkejut setengah mati mendengar kemarian Dewi Kalang Mayat yang tertembus tombak dan tergantung.

Sungguh tidak dipercaya. Karena saat ditinggalkan, Dewi Kalang Mayat masih dalam keadaan hidup. Meskipun kekuatannya sudah lumpuh sama sekali akibat tersedot aji 'Cakra Buana Sukma'. Kalau mau, sebenamya Pendekar Rajawali Sakti bisa mengerahkan seluruh kekuatan aji 'Cakra Buana Sukma'. Dan akibatnya, Dewi Kalang Mayat bisa mati hancur jadi debu. Tapi Rangga hanya membuatnya lumpuh tanpa tenaga untuk waktu empat puluh tahun saja.

Tapi kini didengarnya perempuan tua itu telah tewas dengan tombak menembus punggungnya dan dalam keadaan tergantung. Sungguh tidak diketahuinya semua itu. Dan Rangga menyadari kalau tidak mungkin bisa menjelaskan hal yang sebenarnya. Sudah pasti Kaum Pemuja Setan ini tidak akan bisa mempercayai keterangannya, meskipun apa yang dikatakannya adalah benar.

********************

"Suiiit...!" tiba-tiba saja Rangga bersiul nyaring melengking tinggi.

Dan semua orang berbaju hitam itu menjadi terkejut. Belum sempat lagi mereka menyadari apa yang akan terjadi, tahu-tahu dari angkasa meluncur seekor rajawali raksasa berbulu putih keperakan.

Belum juga Rajawali Putih mencapai tanah, Rangga sudah melompat, dan hinggap di punggung burung raksasa itu. Rajawali Putih mengepakkan sayapnya, lalu mengambang tanpa naik ke angkasa. Sejenak Rangga mengamati orang-orang pemuja setan yang masih terpana melihat seekor rajawali raksasa yang mengangkasa membawa tubuh Rangga.

"Jika kalian masih penasaran, aku akan datang kembali setelah urusanku selesai nanti!" kata Rangga keras.

Setelah berkata demikian, Rangga menepuk leher Rajawali Putih. Seketika itu juga Rajawali Putih melesat membumbung tinggi ke angkasa. Tinggal sepuluh orang pemuja setan yang masih terbengong-bengong sampai burung raksasa itu lenyap dari pandangan mata. Sementara Rangga dan rajawali raksasa itu terus meluncur menuju Hutan Gua Lorong Angin.

"Cepat sekali kau datang, Rajawali Putih!" kata Rangga agak keras, melawan deru angin yang memeakkan telinga.

"Khraghk!" sahut Rajawali Putih.

"Oh.... Rupanya kau mengawasiku terus, ya?" Pendekar Rajawali Sakti seperti mengerti yang diucapkan burung raksasa tunggangannya itu.

"Khrrrk...!"

"Terima kasih, Rajawali Putih," ucap Rangga seraya menepuk leher burung itu tiga kali.

Rajawali Putih berkaokan keras sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Rangga mengelus-elus leher burung raksasa itu. Bibirnya tersenyum melihattingkah Rajawali Putih yang kesenangan karena dtpuji.

"Rajawali, di mana kau tinggalkan Ayu Nerang?" tanya Rangga teringat akan gadis kecil yang keselamatannya menjadi tanggung jawabnya.

"Khraghk!"

"Ayolah kita ke sana, Rajawali!" pinta Rangga.

Tanpa diminta dua kali, Rajawali Putih terus meluncur cepat bagai kilat, dan sebentar saja sudah di atas Hutan Lorong Angin. Rangga mengamati ke bawah. Keningnya agak berkerut saat melihat Gua Lorong Angin sudah terlewat tapi Rajawali Putih belum juga menukik turun. Dan kelopak mata Pendekar Rajawali Sakti itu menyipit, karena arah yang dituju Rajawali Putih adalah Kerajaan Banyudana.

Tampak Desa Muara sudah terlewat. Begitu juga lembah besar yang membatasi Kerajaan Banyudana dengan Gunung Antang. Rajawali Putih terus meluncur menuju ke kerajaan itu. Rangga jadi tidak mengerti, ke mana sebenarnya Rajawali Putih menuju? Tadi sudah ditanyakan, di mana burung raksasa ini meninggalkan Ayu Nerang. Disangkanya Rajawali Putih membawa gadis kecil itu ke Hutan Lorong Angin seperti yang dimintanya. Tapi ternyata tempat yang diinginkan sudah jauh terlewat di belakang

"Rajawali, kau mau ke mana?" tanya Rangga.

"Khraghk!" Rajawali Putih berkaokan keras.

Rangga kembali melihat ke bawah saat merasakan Rajawali Putih menukik turun. Dan sesaat kemudian, burung raksasa berbulu putih keperakan itu telah mendarat lunak di sebuah pa dang rumput yang tidakbegitu luas. Di sekelilingnya terlihat hutan yang cukup lebat Rangga tahu kalau tempat ini berada di sebelah Barat Kerajaan Banyudana, jadi tidak terlalu jauh untuk mencapai ke sana.

"Hup!"

Rangga melompat turun. Manis dan sangat ringan gerakannya. Tak ada suara sedikit pun saat kakinya menjejak tanah berumput tebal. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu mengamati keadaan sekitamya. Sepi.., tak ada seorang pun yang terlihat Bahkan binatang hutan saja seperti enggan menampakkan diri.

Baru saja Rangga hendak membuka mulut tibaiba telinganya mendengar suara gemerisik dari arah kanan. Langsung saja kepalanya menoleh. Terlihat sebuah gerumbul semak bergerak-gerak. Dan belum juga melakukan sesuatu, muncul seorang gadis kecil mengenakan baju biru yang sudah agak lusuh. Gadis itu berlari menghampiri, dan langsung memeluk Rajawali Putih.

"Hhh...!" Rangga menarik napas panjang.

Pendekar Rajawali Sakti itu menepuk pundak Ayu Nerang Pelahan gadis kecil berusia sekitar dua belas tahun itu melepaskan pelukannya pada Rajawali Putih. Kepalanya berpaling memandang Rangga yang sudah bertumpu pada lututnya.

"Kau tidak rindu pada ayah ibumu, Ayu Nerang?" tanya Rangga lembut.

Ayu Nerang tidak langsung menjawab, tapi malah menundukkan kepalanya. Rangga jadi heran juga melihat sikap gadis kecil ini. Sebentar dipandangi wajahAyu Nerang yang kelihatan berubah murung, kemudian berpaling menatap Rajawali Putih di belakang gadis itu.

"Ada apa, Ayu? Kenapa murung?" tanya Rangga seraya menggamit bahu gadis kecil itu.

Ayu Nerang masih diam sambil menundukkan kepala. Dibiarkan saja ketika Rangga merengkuh dan memeluknya. Gadis itu malah menyembunyikan wajahnya di dada Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga mendesah dan merapikan sebagian rambut yang jatuh menjuntai di kening gadis itu dengan ujung jari telunjuknya.

"Ada apa, Ayu? Mengapa tidak ingin kembali ke istana?" tanya Rangga sudah bisa merasakan kalau Ayu Nerang tidak ingin kembali ke istana.

"Siapa yang menyuruh Kakang mencariku?" tanya Ayu Nerang tanpa menjawab pertanyaan Rangga. Pelahan-lahan diangkat kepalanya menatap pemuda itu.

"Ayahmu," sahut Rangga.

"Ayahku? Di mana Kakang bertemu ayahku?"

"Di istana. Ibumu juga mengharapkan kau kembali, Ayu."

Ayu Nerang menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. Sinar matanya begitu redup menatap langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan-lahan dilepaskan pelukan Rangga. Perlahan-lahan pula kakinya melangkah menghampiri sebuah pohon yang rindang, lalu duduk bersandar di bawahnya. Pandangan matanya kosong dan begitu redup.

Rangga bangkit berdiri dan melangkah menghampiri gadis itu, kemudian duduk di sampingnya. Sementara Rajawali Putih sudah mendekam. Burung raksasa itu hanya memandangi saja dengan sinar mata yang sukar diartikan.

********************

ENAM

Rangga bangkit berdiri ketika mendengar suara ringkik kuda. Ditatapnya Rajawali Putih yang tengah mendongakkan kepalanya ke atas. Burung rajawali raksasa itu menatap Rangga dan menganggukkan kepalanya. Rangga berpaling ke arah datangnya suara langkah kaki kuda yang semakin terdengar jelas. Tak berapa lama, muncul seekor kuda hitam. Kuda itu merlngkik sambil mengangkat kaki depannya.

"Ah! Rupanya kau datang juga, Dewa Bayu," Rangga menyambut kedatangan kuda hitam itu.

Kuda itu menghampiri dan mendengus-dengus menyorongkan kepalanya pada Pendekar Rajawali Sakti. Sepertinya begitu rindu pada pemuda berbaju rompi putih itu. Rangga memeluk kepala kuda itu dan menepuk-nepuk lehemya. Sementara Ayu Nerang masih duduk sambil memperhatikan. Kuda hitam yang tampak bagus, tinggi kekar dan berotot. Ayu Nerang bangkit berdiri dan menghampiri.

"Kudamu, Kakang?" tanya Ayu Nerang sambil mengelus-elus kuda itu.

"Ya," sahut Rangga.

Rangga menghampiri Rajawali Putih. Sementara Ayu Nerang kelihatan begitu mengagumi Dewa Bayu. Dan nampaknya kuda hitam itu juga menyenangi gadis kecil ini.

"Rajawali Putih, kau bisa kembali sekarang. Kau akan kupanggil jika kubutuhkan kembali," kata Rangga.

"Khrrr...!" Rajawali Putih mengkirik pelahan. Sebentar burung rajawali raksasa itu menatap Dewa Bayu, dan tatapan itu dibalas oleh kuda hitam itu dengan anggukan kepala. Seolah-olah kedua hewan itu bisa saling mengerti. Kemudian Rajawali Putih mengepakkan sayapnya, lalu melambung tinggi ke angkasa.

hraghk!

Sekali lesatan saja burung rajawali raksasa berbulu keperakan itu sudah lenyap dari pandangan mata. Sesaat Rangga masih memandangi sahabatnya itu, kemudian melangkah menghampiri Dewa Bayu. Sementara Ayu Nerang masih berada di samping kuda hitam itu.

"Mau ke mana Rajawali Putih, Kakang?" tanya Ayu Nerang.

"Pulang," sahut Rangga.

"Pulang...?" Ayu Nerang mendongak ke atas. Tentu saja burung raksasa itu tidak akan terlihat lagi.

Ayu Nerang kembali menatap Rangga yang tengah membetulkan pelana di punggung Dewa Bayu. Kuda hitam itu memang selalu mengenakan pelana, dan Rangga akan memanggil bila membutuhkannya. Sebenarnya Rangga bisa saja memanggil kuda itu lewat siulan sakti. Tentu saja, nadanya akan berlainan kalau tengah memanggil Rajawali Putih. Tapi kali ini tidak

"Kau naik kuda ini, Ayu," kata Rangga.

"Aku...?" bola mata Ayu Nerang bersinar gembira.

Tanpa diminta dua kali, Ayu Nerang langsung melompat ke punggung kuda hitam itu. Tapi baru saja duduk di punggungnya, kuda hitam itu sudah meringkik keras seraya mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi! Ayu Nerang pun hampir terlempar jatuh! kalau saja Rangga tidak cepat-cepat memegangi tali kekang kuda itu.

"Tidak apa-apa, Hitam. Gadis ini sahabatku," kata Rangga bisa mengerti. Dan dia memang lupa belum memperkenalkan Ayu Nerang pada Dewa Bayu.

Meskipun tadi kelihatan jinak dan tampak menyukai Ayu Nerang, tapi kuda hitam itu tidak mudah untuk ditunggangi begitu saja. Kuda itu kembali bisa tenang setelah Rangga mengatakan kalau Ayu Nerang adalah sahabatnya.

"Kenapa dia, Kakang?" tanya Ayu Nerang polos.

"Tidak apa-apa. Hanya belum kenal saja," sahut Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti itu kemudian melangkah sambil menuntun kuda hitam itu. Sedangkan Ayu Nerang duduk di punggung kuda. Mereka berjalan tanpa berkata-kata lagi. Tapi belum berapa jauh berjalan, Ayu Nerang mencekal tangan Rangga. Hal ini membuat pemuda berbaju rompi putih itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh menatap gadis kecil di punggung kuda itu.

"Kenapa arahnya ke sini, Kakang?" tanya Ayu Nerang.

"Kita ke istana, Ayu. Ayah dan ibumu sudah menunggu. Mereka ingin sekali bertemu denganmu," jawab Rangga lembut

"Tidak! Aku tidak mau kembali ke istana!" sentak Ayu Nerang memasang wajah cemberut

Rangga jadi terkejut mendengar penolakan gadis kecil itu. Dipandangi dalam-dalam Ayu Nerang, dan dicobanya mencari sesuatu dalam bola mata kecil bulat itu Sedangkan yang ditatap tetap cemberut, menekuk wajahnya.

"Kenapa tidak mau kembali ke istana?" tanya Rangga ingin tahu.

"Pokoknya tidak mau!" sentak Ayu ketus.

"Tentu ada alasannya kenapa tidak mau pulang," desak Rangga.

Ayu Nerang tidak menjawab, tapi malah melompat turun dari punggung kuda hitam itu. Gerakannya sungguh indah. Meskipun ia jatuh karena belum memiliki keseimbangan tubuh yang sempurna, tapi dari gerakan melompatnya sudah dapat diketahui kalau Ayu Nerang pernah belajar ilmu olah kanuragan.

"Ayu, tunggu!" Rangga bergegas menghadang gadis itu yang sudah mengayunkan kakinya hendak pergi.

Ayu Nerang menghentikan langkahnya. Ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti itu dalamalam. Rangga berlutut, bertumpu pada kedua lututnya yang tertekuk menyentuh tanah. Dipegangnya lembut kedua bahu gadis itu. Ayu Nerang masih menatap tajam Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Bicaralah padaku, Ayu...," pinta Rangga memohon.

"Kenapa Kakang selalu ingin membawaku kembali ke istana? Apakah Kakang suruhan Gusri Prabu Cakraningrat?" ketus nada suara Ayu Nerang.

"Tidak, Ayu. Ayahmu hanya meminta bantuanku saja untuk membawamu pulang. Demikian pula ibumu. Dia sangat sedih saat kau pergi bersama Paman Kumbayana," pelan suara Rangga.

"Kakang kenal Paman Patih Kumbayana?" Ayu Nerang menatap curiga pada Rangga.

"Benar. Kami cukup lama bersahabat," sahut Rangga seenaknya. Padahal dia mengetahui Patih Kumbayana hanya dari ciri-cirinya yang disebutkan Prabu Cakraningrat saja.

"Kalau Kakang Rangga berteman dengan Paman Patih Kumbayana, mengapa Kakang masih juga terus mengajakku ke istana?" jelas sekali kalau nada suara gadis itu tidak mempercayai pengakuan Rangga baru-san.

"Aku dan Patih Kumbayana memang berteman baik, dan sudah lama tidak pernah bertemu. Aku terlalu sering mengembara, jadi sulit untuk bisa bertemu Patih Kumbayana. Waktu aku ingin menjumpainya, aku terkejut mendengar Patih Kumbayana menculik putri Prabu Cakraningrat, yaitu kau, Ayu. Dan Prabu Cakraningrat memintaku untuk membawamu pulang," jelas Rangga. Padahal semua yang dikatakannya barusan hanya rekaan saja agar Ayu Nerang mau mempercayainya.

Ayu Nerang tertunduk. Raut wajahnya berubah murung sekerika. Rangga mengamati dalam-dalam, dan semakin ingin tahu. Ada suatu pikiran terlintas di benaknya, dan ini membuatnya jadi penasaran akan sikap gadis kecil ini.

"Paman sekarang sudah tidak ada. Dia telah dibunuh," pelan suara Ayu Nerang, hampir tidak terdengar.

"Ya, aku tahu," desah Rangga.

"Kakang tahu?"

"Aku menemukan mayatnya. Tapi sudah kukubur," sahut Rangga.

"Kasihan Paman Patih Kumbayana. Seharusnya aku tidak meminta padanya untuk membawaku pergi. Tapi memang hanya Paman Patih Kumbayana yang sayang padaku," tetap pelan suara Ayu Nerang. Ada kesenduan pada nada suaranya.

"Ayah dan ibumu juga menyayangimu, Ayu," ujar Rangga.

"Tidak!" sentak Ayu sambil mengangkat kepalanya.

Tentu saja Rangga terkejut. Tidak disangka kalau Ayu Nerang akan begitu marah setelah mendengarkata-katanya. Wajah yang semula sendu, kini berubah garang. Rangga benar-benar tidak mengerti. Apa sebenamya yang tengah terjadi pada diri gadis kecil ini...?

********************

Rangga terpaksa mengurungkan keberangkatannya ke Istana Kerajaan Banyudana. Hatinya jadi penasaran dan ingin tahu, mengapa Ayu Nerang tidak bersedia diajak pulang ke istana? Meskipun masih berusia sekitar dua betas tahun, tapi Ayu Nerang mempunyai pola pikiran seperti gadis dewasa. Rangga yang sudah bergelut lama dalam rimba persilatan, semula tidak aneh lagi melihat Ayu Nerang mempunyai dasar-dasar ilmu olah kanuragaa Memang, tidak sedikit putri seorang bangsawan, atau putri raja yang mempelajari ilmu olah kanuragan sejak masih kecil.

Tapi yang membuat Pendekar Rajawali Sakti itu bertanya-tanya adalah sikap Ayu Nerang yang begitu keras tidak ingin kembali ke istana. Juga, sepertinya Ayu Nerang tidak mengakui kalau Prabu Cakraningrat dan permaisuri adalah orang tuanya. Dia selalu kelihatan berang dan benci jika mendengar nama Prabu Cakraningrat disebut-sebut.

Rangga memperhatikan Ayu Nerang yang tengah melahap seekor kelinci panggang yang ditangkapnya tadi. Bau harum daging kelinci panggang memang membuat perut berontak minta diisi. Tapi selera makan Rangga jadi berkurang akibat pikiran kusut, dan rasapenasaran yang bergejolak dalam dada. Dimakannya sedikit saja kelinci panggangnya, walaupun tanpa selera.

"Kok hanya sedikit makannya, Kakang?" tegur Ayu Nerang.

"Belum lapar," sahut Rangga seraya tersenyum.

"Buat aku saja, ya?" pinta Ayu yang telah menghabiskan seekor kelinci panggang besar.

Rangga memberikan kelinci panggang di tanganya. Gadis itu langsung menerima, dan memakannya dengan lahap. Sepertinya baru kali ini bisa menikmati makanan. Rangga hanya memperhatikan saja sambil terus berpikir, mencari jalan yang terbaik untuk mengorek isi hati gadis itu. Cukup sulit bagi Pendekar Rajawali Sakti, karena nampaknya Ayu Nerang enggan untuk membicarakan masalah dirinya. Terlebih lagi menyangkut Prabu Cakraningrat

"Sudah makannya?" ujar Rangga melihat Ayu Nerang telah menyelesaikan santapannya yang terakhir.

"Sudah," jawab Ayu Nerang seraya merebahkan dirinya, agak bersandar pada pohon dekat api unggun kecil.

Saat ini malam memang sudah jatuh" menyelimuti permukaan bumi. Dinginnya udara malam agak terusik oleh hangatnya api yang membakar ranting-ranting kering. Sementara Rangga masih tetap duduk sambil memandangi gadis kecil itu. Tampak dalam kilatan cahaya api, Ayu Nerang belum juga memejamkan matanya.

"Tidak tidur, Kakang?" tanya Ayu Nerang seraya menguap.

"Tidak," sahut Rangga. "Tidurlah, biar aku yang menjagamu."

"Kakang seperti memikirkan sesuatu," tebak Ayu Nerang seraya bangkit duduk dan memeluk lututnya.

Rangga hanya tersenyum saja. Untuk ke sekian kali, Pendekar Rajawali Sakti itu memuji daya tangkap Ayu Nerang. Gadis ini memang cerdas, dan selalu bisa tepat menebak perasaan orang lain.

"Kakang pasti masih penasaran, mengapa aku tidak mau kembali ke istana. Iya, kan?" lagi-lagi Ayu Nerang menebak tepat

Agak terkejut juga Rangga akan tebakan yang begitu tepat tak meleset sedikit pun. Hatinya memang masih penasaran dengan sikap gadis itu. Dan belum juga dikemukakan, Ayu Nerang sudah menebaknya dengan tepat sekali. Sepertinya dia bisa membaca jalan pikiran orang lain saja.

"Aku tahu kalau Kakang banyak berdusta padaku, tapi aku juga tahu kalau Kakang bukan orang jahat seperti mereka," tegas Ayu Nerang lagi.

"Siapa mereka?" tanya Rangga agak terkejut

"Banyak," sahut Ayu Nerang.

"Mereka yang menyekapmu di dalam jurang?" tebak Rangga.

"Justru mereka tidak jahat, Kakang. Mereka sangat baik, bahkan memanggilku Gusti Ratu. Tapi aku tidak suka, karena aku tidak diijinkan keluar dari dalam gua," agak memberengut wajah Ayu Nerang.

Rangga menarik napas panjang, dan menghembuskannya kuat-kuat. Tentu saja Dewi Kalang Mayat tidak mengijinkan Ayu Nerang keluar, karena gadis kecil ini dianggap sebagai utusan Dewa Agung yang hendak dijadikan ratu di Lereng Gunung Antang. Ratu bagi seluruh Kaum Pemuja Setan di seluruh muka bumi ini. Dan yang pasti, Ayu Nerang tidak mengerti. Rangga juga tidak ingin memberitahukannya.

"Lalu siapa yang kau maksud, Ayu?" tanya Ranga.

"Paman Cakraningrat. Mereka semua jahat karena menjebloskan Ayah ke dalam penjara!" tajam nada suara Ayu Nerang.

"Ayu..., jadi Prabu Cakraningrat itu bukan ayahmu?" lagi-lagi Rangga dibuat terkejut mendengar kata-kata gadis kecil ini Sungguh, tidak disangka kalau Prabu Cakraningrat bukan ayah gadis ini.

"Kakang tadi mengaku sebagai teman baik Paman Kumbayana. Tapi sekarang mengapa tidak tahu kalau Paman Cakraningrat bukan ayahku?" agak sinis juga nada suara Ayu Nerang. "Kakang pasti berdusta. Kakang tidak kenal Paman Parih Kumbayana. Iya, kan?"

Rangga tidak bisa lagi mengelak, dan hanya menganggukkan kepalanya saja. Dalam hati, Pendekar Rajawali Sakti itu benar-benar mengagumi Ayu Nerang yang memiliki daya tangkap luar biasa, melebihi gadis-gadis seusianya. Kata-kata yang meluncur dari bibirnya yang mungil begitu lancar, seolah-olah sudah dipikirkan masak-masak sebelumnya.

"Kenapa Kakang mendustaiku? Kenapa tidak terus terang saja?" ucapan Ayu Nerang seperti bernada menyesali atas dusta yang dibuat Rangga.

"Maaf, Ayu. Aku terlalu menganggapmu enteng. Ternyata kau bukan gadis kecil yang manja dan cengeng," Rangga mengakui dan menyesal.

"Sejak Kakang menolongku keluar dari dalam jurang, sudah kuduga kalau Kakang orang baik."

Rangga hanya tersenyum saja.

"Kakang pasti bukan orang dari Kerajaan Banyudana. Mengapa Kakang menolong orang jahat? Untuk apa Kakang mencariku? Apakah Paman Cakraningrat memberi uang banyak?" Ayu Nerang memberondong dengan beberapa pertanyaan sekaligus.

"Yang mana harus kujawab lebih dulu?" Rangga tersenyum berolok.

"Terserah!" sahut Ayu Nerang tidak tersenyum sedikit pun.

"Baiklah. Pertama, aku tidak pemah membantu orang jahat Kedua, aku mencarimu karena iba melihat ibumu terus menangis, dan ayahmu memintaku untuk mencari dan membawamu pulang. Entah mengapa, aku sendiri tidak tahu kalau ayahmu memintaku begitu. Dan yang ketiga, setiap yang kulakukan tidak berdasarkan imbalan apa pun. Apa lagi mengharapkan hadiah berupa harta. Cukup jelas...?" jelas Rangga sambil mengulum senyum. Sungguh mati, dia tidak tahu lagi harus berbuat bagaimana menghadapi gadis ini. Tapi yang jelas, Rangga kini memandang Ayu Nerang sebagai gadis yang berpikiran dewasa, meskipun usianya baru sekitar dua belas tahun.

"Asal tahu saja, apa yang Kakang lakukan padaku adalah salah!" tegas kata-kata Ayu Nerang.

"Oh...?!" Rangga mengerutkan keningnya.

"Orang yang Kakang tolong adalah pemimpin pemberontak. Dan gerombolan yang hendak menangkapnya, malah Kakang berantas. Kakang telah diperdaya oleh akal tipunya yang licik."

Rangga kontan terdiam dengan mulut agak ternganga. Sama sekali tidak disangka kalau kali ini Ayu Nerang berkata begitu gamblang dan jelas. Rangga memang sudah menceritakan tentang pertemuannya dengan Prabu Cakraningrat yang dikeroyok oleh segerombolan orang berpakaian serba biru. Saat itu Rangga menolong karena Prabu Cakraningrat mengatakan orang-orang itu hendak merampoknya, dan telah membunuh begitu banyak prajurit pengawalnya.

Tiba-tiba saja terlintas satu pikiran di benak Pendekar Rajawali Sakti, yang berdasarkan pengalamannya berkecimpung dalam rimba persilatan selama ini. Rangga kemudian menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Ayu Nerang. Ditatapnya dalam-dalam gadis kecil itu.

"Ayu, siapa yang membunuh Patih Kumbayana?" tanya Rangga, agak dalam suaranya.

"Aku tidak tahu siapa namanya. Tapi menurut Paman Patih Kumbayana, dia tangan kanannya Paman Cakraningrat yang juga adik iparnya," sahut Ayu Nerang.

"Kenapa dia begitu menginginkanmu? Hmmm..., maksudku Prabu Cakraningrat," tanya Rangga lagi.

"Karena aku putri Ayahanda Prabu," sahut AyuNerang.

"Putri Prabu Cakraningrat?

"Bukan' Dia bukan raja. Dia pemberontak, dan telah memenjarakan Ayahanda Prabu. Bahkan juga telah membunuh Ibunda Permaisuri. Tajam nada suara Ayu Nerang.

"Oh...!" lenguh Rangga panjang.

********************

TUJUH

Pagi baru saja menyingsing. Seekor kuda putih berlari cepat membelah jalan besar berdebu. Kuda yang dipacu bagai dikejar setan itu membuat debu membumbung tinggi ke udara. Pagi yang masih berkabut itu berubah menjadi gaduh oleh derap kaki kuda putih. Penunggangnya seorang pemuda berwajah cukup tampan mengenakan baju ketat berwarna putih.

Penunggang kuda itu mengarahkan lari kudanya menuju sebuah bangunan besar yang dikelilingi pagar tembok tinggi dan kokoh. Tampak di depan pintu gerbang yang terbuka lebar, dua orang berseragam prajurit membungkukkan tubuh ketika kuda putih itu melewatinya, menerobos masuk tanpa mengurangi kecepatan larinya.

"Hup!"

Penunggang kuda putih itu langsung saja melompat turun sebelum kudanya berhenti berlari. Ringan sekali lesatannya, pertanda memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, pemuda berbaju putih ketat itu memasuki bangunan besar yang temyata merupakan sebuah istana yang sangat megah.

Beberapa orang berseragam prajurit yang berpapasan, langsung membungkukkan tubuh memberi hormat Pemuda itu tidak menghiraukan sama sekali, dan terus saja melangkah cepat melintasi ruangan depan yang cukup besar beralaskan permadani tebal berwarna merah. Dia terus saja menerobos masuk ke dalam ruangan tengah yang lebih besar dan lebih indah lagi.

Tampak di ruangan tengah itu berkumpul beberapa orang. Mereka menghadap ke arah seorang laki-laki setengah baya yang duduk di kursi indah berukir, berlapiskan emas dan bertahtakan batu-batu permata. Pemuda berbaju putih itu bergegas menghampiri setelah memberi hormat dengan setengah membungkuk dan merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Semua orang yang ada di ruangan itu memperhatikannya.

Pemuda itu berdiri di depan laki-laki setengah baya yang duduk angkuh di singgasana, didampingi seorang wanita berparas cantik. Pakaiannya merah ketat dan agak tipis, sehingga membentuk lekuk tubuhnya yang indah.

"Ada apa, Naga? Kenapa kembali seorang diri?" berat suara laki-laki setengah baya yang duduk di singgasana itu.

"Ampunkan hamba, Kakang Prabu Cakraningrat. Hamba terpaksa kembali sendiri, bukan karena gagal melaksanakan tugas. Tapi ada yang lebih penting hendak hamba sampaikan," sahut pemuda berbaju putih Itu yang dipanggil Naga.

"Hm..., katakan," pinta Prabu Cakraningrat

"Kakang Prabu, hamba telah menemukan Ayu Nerang dan Patih Kumbayana. Mereka ada di Lereng Gunung Antang. Tapi...," Naga menghentikan kalimatnya.

"Teruskan, Naga," pinta Prabu Cakraningrat

"Hamba berhasil menewaskan Patih Kumbayana. Tapi, Ayu Nerang berhasil lolos karena ditolong seseorang. Hamba berusaha mengejar. Dan ternyata persembunyiannya di Desa Antang, tidak jauh dari Desa Muara, Kakang Prabu. Hamba sudah berusaha merebut kembali Ayu Nerang, tapi orang itu sangat tangguh. Terlebih lagi, kelihatannya seluruh penduduk desa itu melindunginya," kata Naga.

"Ki Bawung...," desis Prabu Cakraningrat "Dia memang selalu setia pada Kakang Natayuda. Terlebih lagi Ki Randung, Kepala Desa Muara yang juga Guru Besar Padepokan Muara."

"Kakang Prabu, selama ini hamba juga menyelidiki kalau kedua desa itu menampung para pelarian. Dan hamba juga tahu kalau Desa Antang selalu bermusuhan dengan Kaum Pemuja Setan yang tinggal di Gua Lorong Angin. Hamba sudah membuat sebuah malapetaka besar bagi Desa Antang, Kakang Prabu," sambung Naga.

"Hm, apa itu?"

"Hamba berhasil membunuh Ratu Lereng Antang dengan meminjam tombak dari Padepokan Muara. Dengan demikian hamba yakin, Kaum Pemuja Setan akan menyangka kalau Desa Antang dan Desa Muara bersatu hendak meruntuhkan mereka."

"Ha ha ha...!" Prabu Cakraningrat tertawa terbahak-bahak mendengar laporan pemuda berbaju putih itu.

Pemuda itu hanya tersenyum saja, dan sempat melirik orang-orang yang berada di ruangan itu Mereka semua hanya diam sambil menundukkan kepala. Tapi pemuda berbaju putih itu tidak menghi-raukannya, meskipun bisa merasakan kalau semua orang di ruangan ini tidak menyukai Iaporannya. Baginya, yang terpenting adalah Prabu Cakraningrat menyukainya. Pemuda itu juga melirik ke arah wanita cantik di samping Prabu Cakraningrat. Wanita itu hanya tersenyum disertai wajah cerah dan sinar mata berbinar terang.

"Bagaimana hasilnya, Naga?" tanya Prabu Cakraningrat setelah tawanya berhenti.

"Hamba tidak tahu, Kakang Prabu. Karena hamba langsung ingin memberitahukan hal ini. Tapi...," kembali Naga memutuskan kalimatnya.

"Ada apa lagi, Naga?"

"Di tengah jalan, hamba melihat Ayu Nerang bersama monyet keparat itu, Kakang Prabu," sambung Naga.

"Siapa?"

"Orang yang Kakang Prabu mintai tolong membawa Ayu Nerang ke sini," terdengar dingin nada suara Naga.

"Rangga, maksudmu?" Prabu Cakraningrat terlihat terkejut

"Benar! Dialah yang juga menghalangiku membawa Ayu Nerang waktu di Desa Antang."

"Rangga...," desis Prabu Cakraningrat "Di mana kau melihatnya?"

********************

Prabu Cakraningrat berjalan mondar-mandir dalam kamar peristirahatannya. Raut wajahnya nampak kusut Keningnya juga berkerut dalam, pertanda tengah dipenuhi berbagai macam pikiran. Laki-laki berusia separuh baya itu berdiri tegak di depan jendela yang terbuka lebar. Terdengar tarikan napasnya yang panjang Kepalanya berpaling ke belakang saat mendengar ketukan di pintu. Dan sebelum membuka mu-lut, pintu kamar ini terbuka. Muncul seorang wanita berparas cantik mengenakan baju merah yang ketat dan agak tipis.

"Dinda Ningrum...," desah Prabu Cakraningrat seraya membalikkan tubuhnya.

Wanita itu tersenyum, lalu melangkah menghampiri setelah menutup pintu kembali. Berdirinya begitu dekat dengan Prabu Cakraningrat Kemudian, dilingkarkan tangannya di leher laki-laki setengah baya itu.

"Tampaknya Kakang murung. Ada apa?" lembut suara Ningrum.

"Hhh...," Prabu Cakraningrat mendesah panjang. Dilepaskan rangkulan wanita itu, lalu kakinya melangkah menghampiri pembaringan. Sambil menghembuskan napas panjang, laki-laki setengah baya itu dudukdi tepi pembaringan. Ningrum menghampiri, kemudian menempatkan dirinya di samping laki-laki itu. Dengan manja digayutkan tubuhnya begitu rapat

"Kanda tidak perlu gelisah. Adikku pasti bisa membawa Ayu Nerang ke sini. Toh dia sudah tahu di mana anak setan itu sekarang," bujuk Ningrum masih tetap lembut suaranya.

"Aku percaya, Dinda. Tapi bukan itu yang menjadi beban pikiranku saat ini...," ujar Prabu Cakraningrat setengah mendesah.

"Apa yang kau pikirkan, Kanda?"

"Rangga."

"Hhh...! Kenapa anak itu menjadi beban pikiran? Bukankah Kanda sendiri yang memintanya untuk mencari Ayu Nerang? Kanda juga yang menyuruh adikku mengawasinya. Sekarang Ayu Nerang sudah ditemukannya, dan kini adikku sedang menjemputnya. Kenapa harus dipikirkan lagi?"

"Dinda.... Waktu melihat Rangga bertarung untuk membantuku menumpas sisa-sisa prajurit yang tetap setia pada Kanda Natayuda, sebenarnya sudah kurasakan kalau dia seorang pendekar kelana. Kepandaiannya pun sangat tinggi. Waktu itu aku hanya merasa saja, dan belum menyadari kalau sebenarnya dia adalah Pendekar Rajawali Sakti. Itu pun baru kuketahui dari Kakang Natayuda di penjara. Dia tidak sadar menggumamkan nama itu ketika aku menyebut nama Rangga. Dan nampaknya Kakang Natayuda gembira karena Ayu Nerang berada bersama Pendekar Rajawali Sakti itu," ungkap Prabu Cakraningrat mengemukakan ganjalan yang mengganggu benaknya.

"Pendekar Rajawali Sakti...," gumam Ningrum. "Manusia tanpa tanding pada saat ini."

"Itulah yang menjadi beban pikiranku saat ini, Dinda Ningrum."

"Kenapa? Bukankah dia tidak tahu maksud kita yang sebenamya?"

"Aku yakin sekarang dia sudah tahu, Dinda. Cobalah kau pikir. Kalau tidak tahu, tentu sudah membawa Ayu Nerang langsung ke sini. Tapi mengapa sekarang malah menetap di Padang Gajah? Mengapa tidak membawa Ayu Nerang ke sini?" Prabu Cakraningrat seperti bertanya sendiri.

Ningrum hanya diam. Pandangan matanya dalam ke arah wajah laki-laki di sampingnya. Sedangkan yang dipandangi hanya menatap lurus dan kosong ke depan. Untuk sesaat tidak ada yang berbicara. Ningrum bangkit berdiri dan melangkah mendekati jendela, lalu berdiri bersandar membelakangi jendela yang terbuka lebar.

"Kakang, bagaimanapun juga kita harus mendapatkan Ayu Nerang," tegas Ningrum.

"Itu pasti, Ningrum. Tapi...," kata-kata Prabu Cakraningrat terputus.

"Pendekar Rajawali Sakti itu...?" tebak Ningrum.

"Tidak ada jago-jago di Banyudana ini yang mampu menandinginya. Bahkan kehadirannya bisa menjadi ancaman terbesar bagi kita semua, Dinda Ningrum," ada sedikit nada keluhan pada suara Prabu Cakraningrat

"Yah.... Dan semua ini salahmu juga, Kakang. Sebelumnya sudah kuperingatkan, jangan melibatkan orang asing yang belum kita kenal dengan baik. Tapi kau malah berkeras hanya karena dia mampu seorang diri memporak-porandakan sisa-sisa prajurit yang membangkang," Ningrum menyalahkan laki-laki setengah baya itu.

"Waktu itu aku tidak tahu kalau dia sebenamya Pendekar Rajawali Sakti, Dinda. Aku begitu terpesona dengan ilmu olah kanuragannya yang tinggi."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Ningrum.

Prabu Cakraningrat tidak langsung menjawab, tapi hanya diam saja. Pandangannya kosong, lurus menatap ke depan. Beberapa kali ditarik napas panjang, mencoba melonggarkan rongga dadanya yang mendadak seperti terasa sesak. Memang tidak mudah untuk menyelesaikan persoalan ini. Masalahnya, yang harus dihadapi adalah seorang tokoh rimba persilatan kelas satu yang sukar dicari tandingannya saat ini.

Ningrum mengayunkan kakinya mendekati pembaringan kembali, kemudian duduk di samping laki-laki setengah baya itu. Dengan lembut dilingkarkan tangannya di pinggang, dan diberikannya satu kecupan tipis di pipi Prabu Cakraningrat

"Kanda ingat cerita Naga?" tanya Ningrum lembut dekat sekali di telinga Prabu Cakraningrat. Desah napasnya yang hangat menerpa di permukaan kulit wajah laki-laki setengah baya itu.

Prabu Cakraningrat mengangguk, dan memalingkan wajahnya menghadap pada wanita cantik ini. Begitu dekatnya, sehingga masing-masing dapat merasakan hembusan napas hangat yang menerpa wajah.

"Kita bisa memanfaatkan orang-orang dari Kaum Pemuja Setan itu, Kanda," kata Ningrum.

"Aku tidak mengerri maksudmu, Dinda."

"Kalau kau memperhatikan semua cerita Naga, pasri bisa mengerti maksudku, Kanda."

Prabu Cakraningrat memandangi wajah wanita ini dalam-dalam. Meskipun belum bisa dipahami, tapi diyakini kalau Ningrum sudah mendapatkan satu pemikiran yang bagus untuk menghadapi Pendekar Rajawali Sakti. Dia tahu kalau Ningrum seorang wanita yang berotak cerdas. Selalu saja bisa menemukan jalan keluar terbaik pada masaasa sulit seperti ini. Memang harus diakui, tanpa bantuan Ningrum, tidak mungkin Kerajaan Banyudana bisa dikuasainya. Bahkan sekarang dirinya sudah duduk sebagai raja di istana ini.

Prabu Cakraningrat melingkarkan tangannya dipinggang ramping itu, kemudian mengecup lembut bibir yang merah dan ranum itu. Ningrum membalas dengan melingkarkan tangannya di leher laki-laki yang lebih pantas menjadi ayahnya ini. Tak ada lagi yang berbicara. Pelahan-lahan tubuh mereka doyong, dan rubuh di atas pembaringan.

"Oh, Kanda...," rintih Ningrum seraya menggeliat

********************

Prabu Cakraningrat memandangi sepuluh orang berpakaian serba hitam yang duduk bersila di atas permadani tebal berbulu halus. Di samping laki-laki setengah baya itu Ningrum duduk dan selalu tersenyum. Prabu Cakraningrat beralih menatap Naga yang berada di samping sepuluh orang berpakaian serba hitam itu. Mereka itu dari Kaum Pemuja Setan yang sengaja diundang Prabu Cakraningrat Naga sendiri yang menghubungi mereka di Lereng Gunung Antang.

"Apakah Naga sudah mengatakan maksudku mengundang kalian ke sini?" tanya Prabu Cakraingrat Suaranya dibuat berwibawa.

"Hanya sedikit dan kami ingin lebih jelas lagi darimu," jawab salah seorang laki-laki dari sepuluh orang berpakaian serba hitam itu. Usianya telah lanjut Rambut, janggut, dan kumisnya telah putih semua.

"Baiklah. Aku yakin kalian semua sudah tahu siapa diriku Dan sekarang ini aku mempunyai masalah yang sangat pelik. Itu sebabnya kalian kuminta datang untuk membantu," jelas Prabu Cakraningrat.

"Ha ha ha...!" Laki-laki tua berbaju hitam itu tertawa terbahak-bahak. Sedangkan yang lain hanya tersenyum tipis. "Ketahuilah, Prabu Cakraningrat Kami adalah orang-orang yang selalu siap membantu siapa saja yang menyimpan kebencian. Apalagi orang sepertimu."

"Terima kasih," ucap Prabu Cakraningrat seraya melirik Ningrum yang duduk di samping kanannya. "Meskipun utusanmu hanya sedikit saja memberitahu padaku, tapi sudah bisa kumengerti maksudmu yang sebenamya, Prabu Cakraningrat," kata laki-laki tua itu lagi.

"Bagus. Apakah kalian akan menerima? Kini sudah kusiapkan hadiah yang sangat besar jika kalian bisa membunuh Pendekar Rajawali Sakti," sambut Prabu Cakraningrat gembira.

"Tentu saja kami menerima, Prabu Cakraningrat Tapi ada satu syarat yang harus dipenuhi."

"Katakan."

"Kami hanya minta Prabu menyerahkan gadis kecil yang kini bersamanya."

Prabu Cakraningrat langsung terdiam. Masalahnya, permintaan bantuan kepada sepuluh Kaum Pemuja Setan ini justru untuk mengambil Ayu Nerang. Dan sekarang, mereka malah meminta Ayu Nerang. Prabu Cakraningrat berpaling menatap Ningrum.

"Bocah itu tidak kita perlukan, Kanda Prabu. Yang diperlukan hanya selendang sutranya saja," tegas Ningrum setengah berbisik.

"Tapi, Dinda...," Prabu Cakraningrat agak keberatan.

"Lupakan kalau dia itu keponakanmu, Kanda. Yang kita butuhkan hanya selendang sutra ajaib itu. Kau bisa menguasai seluruh dunia dengan Selendang Sutra Sakti."

Prabu Cakraningrat diam beberapa saat Dipandangi sepuluh orang yang masih tetap duduk bersila beralaskan permadani berbulu halus bercorak kembang-kembang itu.

"Baiklah, aku menyetujui syaratmu," ucap Prabu Cakraningrat

"Jika demikian, sebaiknya kami segera mohon diri, Prabu Cakraningrat" ujar laki-laki tua itu seraya bangkit berdiri.

"Tunggu dulu!" cegah Prabu Cakraningrat Sepuluh orang berbaju hitam yang sudah hendak pergi, mengurungkan langkahnya.

"Kuminta pada kalian, bawalah Ayu Nerang lebih dahulu ke sini. Atau kalau tidak, selendang sutranya saja," jelas Prabu Cakraningrat

"Kalau hanya itu kami tidak keberatan, Prabu Cakraningrat Salah seorang saudaraku akan mengantarkan selendang surra itu padamu," sahut laki-laki tua itu.

Prabu Cakraningrat tersenyum puas. Semula dikira, orang-orang Kaum Pemuja Setan itu akan mempertahankan selendang sutranya sekalian. Tapi temyata dugaannya meleset. Mereka inginkan Ayu Nerang saja. Prabu Cakraningrat tidak mau tahu, mengapa mereka menginginkan gadis itu Yang penting baginya, bisa mendapatkan Selendang Sutra Sakti yang sudah lama diidam-idamkan. Di samping itu, dia bisa menyingkirkan satu-satunya penghalang terberat dalam mencapai cita-cita menguasai seluruh mayapada ini.

Prabu Cakraningrat bangkit dari singgasananya setelah sepuluh orang Kaum Pemuja Setan itu meninggalkan Balai Sema Agung ini. Wanita cantik di sampingnya juga ikut berdiri dan melangkah di sisi laki-laki setengah baya itu, didampingi enam orangpengawal. Mereka melewati sebuah lorong yang tidak begitu panjang, dan berakhir di sebuah ruangan luas beralaskan permadani berwarna merah berbulu halus.

"Kanda, kelihatannya kau tidak senang," tegur Ningrum.

"Terus terang, aku tidak suka kalau Ayu Nerang jatuh ke tangan manusia-manusia pemuja setan itu!" rungut Prabu Cakraningrat

"Tapi bukankah Kanda tadi sudah menyetujui permintaan mereka?"

"Aku memang terpaksa menyetujui. Huh...! Aku tidak mengerti, mengapa mereka menginginkan Ayu Nerang...?" rungut Prabu Cakraningrat

"Bagaimanapun juga, gadis itu adalah keponakanku. Aku lebih suka Ayu Nerang berada dalam penjara bersama ayahnya, daripada jatuh ke tangan manusia-manusia iblis itu!"

"Kanda sekarang seorang raja, dan bisa berbuat apa saja sesuka hati," kata Ningrum mulai merayu lagi.

Prabu Cakraningrat memandang dalam-dalam pada wanita cantik ini. Sekarang sudah dipahami, apa yang ada di dalam pikirannya. Sebentar kemudian diutusnya seorang pengawal untuk memanggil adik wanita ini yang bernama Naga, atau lebih dikenal berjuluk Iblis Cakar Naga. Entah siapa nama sebenarnya, yang jelas, laki-laki muda yang kadang memakai baju putih dan biru itu lebih senang dipanggil Naga.

Tidak lama berselang, laki-laki muda yang mengenakan baju putih ketat itu datang ke ruangan besar tempat Prabu Cakraningrat menunggu. Dibungkukkanbadannya sedikit kemudian duduk di sebuah kursi dari kayu jati berukir setelah Prabu Cakraningrat mempersilakannya. Prabu Cakraningrat sendiri duduk didampingi Ningrum.

"Adakah yang perlu hamba kerjakan, Kanda Prabu?" tanya Naga yang lebih dikenal berjuluk lblis Cakar Naga dengan sikap penuh hormat.

"Ada tugas penting untukmu, Naga," ujar Prabu Cakraningrat seraya melirik pada Ningrum.

lblis Cakar Naga memandang Prabu Cakraningrat dan Ningrum bergantian. Sedangkan Ningrum bangkit berdiri dan melangkah menghampiri pemuda itu. Diajaknya lblis Cakar Naga menjauh dari tempat itu. Bahkan Ningrum mengajaknya ke ruangan lain di sebelah. lblis Cakar Naga agak heran juga, karena Ningrum membawanya ke ruangan pribadi Prabu Cakraningrat yang tidak boleh dimasuki orang lain. Bahkan penjaga pun tidak ada di ruangan ini.

"Ada apa, Kak Ningrum?" tanya lblis Cakar Naga.

"Jangan panggil aku seperti itu, Naga!" sentak Ningrum mendelik.

"Oh, maaf. Tapi tidak ada yang mendengar di sini, bukan? Lagi pula kau belum resmi menjadi permaisurinya," kata lblis Cakar Naga seraya mengerling dan menyunggingkan senyum di bibir penuh arti.

"Siapa yang akan jadi permaisuri tua bangka itu?! Aku akan jadi ratu di sini, tahu!" rungut Ningrum.

"Keinginanmu akan terlaksana, Kak Ningrum. Selama aku masih ada, semua keinginanmu pasti terlaksana.

Ningrum tersenyum mendengar kata-kata adiknya ini. Mereka memang sudah lama merencanakan untuk menguasai Kerajaan Banyudana ini. Dan yang terlebih penting lagi, seluruh keluarga Prabu Natayuda harus dilenyapkan. Beliau memang telah terguling oleh adiknya sendiri. Adik dari seorang selir, yang tidak puas karena hanya diberi kedudukan sebagai adipati di sebuah daerah kecil.

"Baiklah, Kak. Tugas apa yang harus kujalankan sekarang?" tanya lblis Cakar Naga.

Pemuda itu tidak ingin berlarut-larut yang nantinya malah membuat Prabu Cakraningrat jadi curiga. Hal itu harus dicegah sampai seluruh istana dan wilayah Kerajaan Banyudana ini benar-benar bisa dikuasai. Mereka harus melaksanakan amanat yang telah ditinggalkan orang tua dan juga guru mereka.

Amanat penting itu tak mungkin dilupakan dan harus dilaksanakan! Mereka harus melenyapkan seluruh keluarga istana dan menguasai seluruh wilayah kerajaan ini tanpa terkecuali. Dendam yang diturunkan orang tua mereka yang merasa sakit hati karena Prabu Natayuda membuang dan melarang mereka kembali ke Kerajaan Banyudana untuk selama-lamanya. Hal itu terjadi karena satu kesalahan yang tidak disengaja. Gagal melindungi putra mahkota dalam perjalanan ke sebuah padepokan untuk menuntut ilmu. Prabu Natayuda memang hanya mempunyai dua anak. Ayu Nerang, dan kakak laki-lakinya yang semula dicalonkan sebagai pengganti ayahandanya. Tapi putra mahkota itu telah tewas dalam perjalanan menuju padepokan.

Bahkan seluruh prajurit yang mengawalnya juga tewas dibantai perampok. Hanya orang tua lblis Cakar Naga dan Ningrum yang selamat, yang pada waktu itu berpangkat panglima.

"Naga! Kau pasti sudah tahu tugas apa yang harus dilaksanakan," kata Ningrum.

"Mudah saja bagiku untuk melenyapkan Ayu Nerang, Kak Ningrum," sahut lblis Cakar Naga.

"Itu salah satunya. Tapi yang terpenting lagi, kau harus bisa menguasai Selendang Sutra Sakti itu. Dengan selendang itu seluruh dunia akan kukuasai. Bahkan seluruh rimba persilatan akan kukuasai!"

"Kak Ningrum memang lebih pantas, karena kau adalah wanita," lblis Cakar Naga tersenyum.

"Ingat, Naga. Hanya kita berdua yang tahu rencana ini. Katakan saja pada si tua bangka itu kalau kau mendapat tugas untuk membunuh semua manusia pemuja setan itu, dan kau menyanggupinya."

"Apakah mereka juga harus dilenyapkan, Kak?"

"Tidak perlu. Mereka tidak akan mampu menandingi Pendekar Rajawali Sakti. Carilah kesempatan untuk membawa Ayu Nerang ke sini, dan yang terpenting Selendang Sutra Sakti itu."

"Siap, Kak."

"Bagus! Kau memang adikku yang setia, Naga."

********************

DELAPAN

Pagi baru saja menyingsing. Matahari belum lagi bersinar penuh. Di sebuah padang rumput yang tidak begitu luas, terlihat Pendekar Rajawali Sakti tengah memadamkan api unggun bekas semalam. Di sekitarnya berserakan tulang-tulang ayam hutan dan kelinci bekas santapannya bersama Ayu Nerang. Pemuda berbaju rompi putih itu melirik Ayu Nerang yang masih melingkar di atas tumpukan daun kering sambil memeluk lututnya.

"Ayu..., bangun. Sudah siang..," Rangga menepuk-nepuk punggung tangan gadis itu.

"Ehhh...," Ayu Nerang menggeliat.

Sebentar gadis itu menggeliat-geliatkan tubuhnya. Dikucek-kucek matanya, kemudian bangun duduk. Sepasang bola matanya mengerjap, membiasakan dengan sinar matahari yang menghangati alam ini. Bibirnya tersenyum melihat Rangga duduk di sampingnya.

"Enak tidurmu semalam, Ayu?" tanya Rangga.

"Dingin," sahut Ayu.

"Ha ha ha...! Tidur di alam terbuka memang seperti ini, Ayu. Lain kalau tidur di kamar istana."

"Huuu..., Kakang. Ayu kan tidak ingin lagi pulang ke istana," Ayu Nerang memberengut

"lya..., iya. Aku tahu. Lalu, sekarang kau mau ke mana?" tanya Rangga.

"Aku tidak tahu. Pokoknya jangan bawa aku ke istana," agak merengek nada suara Ayu Nerang.

Rangga merengkuh pundak gadis itu ke dalam pelukannya. Ayu Nerang memang sudah menceritakan semua yang terjadi. Hati Pendekar Rajawali Sakti merasa iba melihat nasib yang diderita gadis kecil ini. Kehidupannya harus terlunta-lunta akibat keserakahan pamannya. Dan sebenarnya Pendekar Rajawali Sakti itu juga tidak ingin menyerahkan Ayu Nerang pada Prabu Cakraningrat. Bahkan ingin pula membebaskan Prabu Natayuda dari dalam penjara.

Saat Rangga baru saja bangkit berdiri, mendadak bermunculan orang berpakaian hitam. Seketika itu juga Ayu bergegas berdiri, dan berlindung di belakang Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga bergumam pelan seraya merayapi sepuluh orang berpakaian serba hitam itu. Rangga tahu betul bahwa mereka adalah Kaum Pemuja Setan dari Lereng Gunung Antang.

"Sudah kuduga, kau pasti bersama calon Ratu Lereng Gunung Antang," ujar salah seorang yang sudah tua.

Sepuluh orang Kaum Pemuja Setan itu langsung berlompatan mengepung Pendekar Rajawali Sakti dan Ayu Nerang.

"Bagus! Kalian telah berkumpul di sini. Itu berarti tidak perlu repot-repot menepuk dua lalat!" ketus nada suara laki-laki tua berbaju hitam yang berada tepat di depan Rangga.

"Kakang, jangan biarkan mereka membawaku. Aku tidak mau lagi disuruh makan daging mentah dan minum darah," tegas Ayu Nerang dari balik tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

"Tenanglah, Ayu. Kau tidak akan kembali pada mereka," bujuk Rangga menenangkan.

Pendekar Rajawali Sakti itu berpaling menatap kuda hitam yang kelihatan tenang merumput di bawah sebatang pohon beringin. Kemudian pemuda berbaju rompi putih itu bersiul pendek. Kuda hitam itu meringkik keras sambil mengangkat kepalanya. Sungguh luar biasa! Sekali lompatan saja, kuda itu sudah di samping Rangga.

Bergegas Rangga membantu Ayu Nerang naik ke punggung kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu. Kini dia segera bersiap-siap menghadapi sepuluh orang dari Kaum Pemuja Setan yang sudah mengepung ra-pat siap menyerang.

"Hitam, jaga Ayu Nerang baik-baik," pesan Rangga pada kuda hitam itu

Dewa Bayu meringkik seraya mengangguk-angukkan kepalanya.

"Berpeganganlah yang kuat, Ayu."

"Baik, Kakang."

Rangga menepuk leher kuda hitam itu tiga kali. Seketika Dewa Bayu meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya tiriggi-tinggj ke atas. Kalau saja Ayu Nerang tidak cepat-cepat berpegangan kuat-kuat, mungkin sudah terlempar jatuh. Dan belum juga rasa terkejut Ayu Nerang hilang, tiba-tiba saja Dewa Bayu sudah melompat bagai kilat melewati kepala salah seorang yang mengepung itu. Dan tanpa diduga sama sekali, dihentakkan kaki belakangnya, begitu kaki depannya menyentuh tanah. Bughk!

"Hegk!" orang itu mengeluh pendek.

Sepakan kuda hitam itu demikian keras, sehingga orang berbaju hitam itu terjungkal keras mencium tanah. Tentu saja kejadian yang tidak terduga ini membuat yang lain terkejut. Terlebih lagi saat melihat orang itu tidak bangun-bangun lagi, menelungkup di tanah berumput tebal. Tampak ada dua lubang pada punggungnya bagai tertembus senjata. Darah mengalir deras dari lubang di punggung itu

"Setan keparat! Monyet..! Seraaang...!" umpat laki-laki tua berambut putih itu seraya memerintah.

Kini tinggal sembilan orang pemuja setan itu yang hidup, dan langsung beriompatan menyerang Enam orang mengeroyok Rangga, dan tiga orang lainnya menyerang Dewa Bayu dengan Ayu Nerang berada di punggungnya.

Rangga yang sudah bersiap sejak tadi, tidak tanggung-tanggung lagi. Langsung dikeluarkan jurus-jurus dari lima rangkaian jurus 'Rajawali Sakti' yang sangat dahsyat Terlebih lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu sudah menyempurnakannya. Bahkan sudah dapat menggabungkan dan membuat bermacam-macam kombinasi. Sehingga dari lima jurus andalan 'Rajawali Sakti', bisa didapatkan begitu banyak jurus yang sangat dahsyat dan mematikan.

Meskipun Rangga bertarung tanpa mempergunakan senjata, namun bagi enam orang pemuja setan itu tidak mudah untuk mendesaknya. Bahkan jadi kewalahan menghadapi serangan-serangan Pendekar Rajawali Sakti yang begitu dahsyat Setiap pukulannya mengandung hawa panas disertai hembusan angin kencang yang membuat mereka menjadi kehilangan keseimbangan saat berusaha menghindar.

"Aku tidak punya banyak waktu! Sebaiknya menyingkirlah sebelum aku berubah pikiran!" seru Rangga tanpa menghentikan serangan-serangannya.

"Jangan banyak omong! Kau atau kami yang mati!" salah seorang lawan menyahuti.

"Kalian yang memaksa! Terimalah! Hiyaaat..!"

Seketika itu juga Rangga memperhebat serangannya. Setiap kali pukulan dilontarkan, selalu disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai pada taraf kesempumaan. Tahap yang sukar dicapai kaum rimba persilatan. Tentu saja hal ini membuat enam orang berbaju hitam itu bertambah kerepotan. Mereka jumpalitan menghindari setiap serangan yang datang. Terlebih lagi, saat ini Rangga mengerahkan jurus 'Seribu Rajawali' yang dipadukan dengan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Wuk!

Satu pukulan dilepaskan Pendekar Rajawali Sakti tepat pada saat seorang lawannya mencoba menghantamkan tongkatnya ke arah kepala. Pukulan Rangga yang begitu cepat tidak dapat dihindari lagi, tepat menghantam dada orang itu.

Buk!
"Akh!"

Satu jeritan keras tertahan mengiringi terjungkalnya orang itu. Seketika hidupnya berakhir. Cepat sekali Rangga memutar tubuhnya sambil melepaskan dua pukulan sekaligus. Kedua tangan yang sudah memerah akibat pengerahan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' yang sudah mencapai taraf terakhir itu tepat menghantam dua orang yang berada dekat dengannya.

Bugk! Des...!

Dua jeritan terdengar saling susul, kemudian dua tubuh berbaju hitam kontan menggelepar di tanah. Kembali Rangga cepat memutar tubuhnya, tapi tidak segera menyerang. Sebab, tiga orang lainnya kelihatan hanya terkesima melihat tiga temannya tewas hanya dalam dua gebrakan yang begitu cepat dan dahsyat. Gerakan Pendekar Rajawali Sakti itu memang sukar sekali diikuti pandangan mata biasa. Ini karena Rangga menggabungkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' dengan jurus 'Seribu Rajawali'.

Rangga sempat melirik kuda hitamnya. Rupanya Dewa Bayu itu juga sudah berhasil merobohkan dua penyerangnya. Tampak dua sosok mayat tergeletak di dekatnya dengan kepala pecah dan dada remuk. Kini tinggal empat orang yang masih hidup. Dua orang sudah berusia lanjut, sedangkan dua orang lainnya berusia sekitar empat atau lima puluh tahun.

"Kau benar-benar manusia tanpa tandingan saat ini, Pendekar Rajawali Sakti. Tingkat kepandaianmu sungguh sukar diukur," kata laki-laki tua yang berdiri paling depan. Sedangkan tiga lainnya berada di belakangnya.

"Hmmm...," Rangga hanya menggumam saja tidak jelas.

"Aku berpikir, mungkin memang sebaiknya di antara kita tidak pernah terjadi sesuatu yang saling mengganggu...," sambung laki-laki tua itu lagi.

"Bagus! Jika kalian masih sayang nyawa, sebaiknya segera enyah dari sini," sambut Rangga diiringi senyum.

"Kami akan pergi, tapi kau harus menyerahkan gadis kecil itu padaku," kata laki-laki tua itu.

"Jika menolak...?"

"Rangga! Sebaiknya kau bisa mengerti. Keberadaannya sangat berarti bagi kelangsungan Kaum Pemuja Setan, karena Dewa Agung sudah memilihnya menjadi ratu di Lereng Gunung Antang."

"Kalau memang demikian, tanyakan saja padanya sendiri," Rangga berpaling memandang Ayu Nerang yang masih duduk di punggung kuda hitam.

"Tidak! Aku bukan ratu kalian, manusia-manusia lblis!" sentak Ayu Nerang garang.

"Kalian dengar sendiri, bukan?" Rangga tersenyum.

"Tapi Dewa Agung sudah memilihmu! Dan lagi, kau akan menjadi penerus kami semua yang sudah tua-tua ini. Tugasmu adalah mengumpulkan Kaum Pemuja Setan yang tersebar entah di mana."

"Masa bodoh dengan Dewa Agung kalian!" dengus Ayu Nerang ketus.

"Sebaiknya kalian jangan memaksa," sergah Rangga seraya melangkah menghampiri gadis itu yang masih tetap duduk di punggung Dewa Bayu.

Laki-laki tua itu menatap tiga orang yang kini sudah berada di sampingnya mengapit Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, mereka serentak berlompatan ke arah Ayu Nerang.

"Hey...!" Rangga terkejut. Wut!

Bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti itu melompat sambil menarik pedang pusakanya. Seketika cahaya biru memancar dari Pedang Pusaka Rajawali Sakti itu. Tiga kali Rangga mengebutkan pedangnya. Dan....

Wut, wut, wut...!
Crab!
Bres!

Jeritan-jeritan melengking langsung terdengar menyayat. Dua kebutan Pendekar Rajawali Sakti tepat membelah dua orang yang melompat hendak menerkam Ayu Nerang. Sedangkan dua lagi berhasil berkelit menghindari. Namun belum sempat mereka melakukan sesuatu, Rangga sudah lebih cepat bergerak. Begitu cepat gerakannya, sehingga sukar diikuti pandangan mata biasa.

"Hiya!" Buk! Cras! "Aaa...!"

Satu orang langsung terjungkal ambruk begitu pedang bercahaya biru memenggal kepalanya. Sedangkan seorang lagi terhuyung-huyung terkena pukulan keras tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti itu, yang mengandung tenaga dalam sempurna.

Dan belum lagi orang itu sempat menguasai keseimbangan tubuhnya, Rangga sudah menyerang lagi dengan dahsyatnya. Dua kali dikebutkan pedangnya disertai satu pukulan keras mengarah ke kepala. Serangan yang begitu cepat dan tak mungkin dihindari lagi

"Aaa...!"

Orang terakhir dari Kaum Pemuja Setan itu menjerit keras melengking. Tubuhnya langsung tidak bergerak-gerak lagi begitu ambruk menyentuh tanah. Mati Dadanya terbelah mengucurkan darah segar.

"Hhh...!"
Trek!

Sinar biru langsung lenyap begitu Pedang Pusaka Rajawali Sakti kembali bersemayam di dalam warangkanya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga melompat ke punggung kudanya di belakang Ayu Nerang Langsung digebah kuda hitam itu agar cepat berlari

"Ke mana, Kakang?" tanya Ayu Nerang.

"Ke istana!" sahut Rangga.

"Apa...?!"

"Kita bebaskan ayahmu!"

********************

Rangga terkejut bukan main begitu tiba di depan Istana Kerajaan Banyudana. Suara hiruk pikuk terdengar dari dalam benteng istana. Pintu gerbang benteng tampak sudah jebol berantakan. Rangga terus menggebah kuda hitam agar berlari cepat menerobos masuk. Namun begitu melewati pintu gerbang, Rangga langsung menghentikan lari kudanya.

Di halaman depan istana tampak pertarungan sengit dua kelompok besar sedang berlangsung. Rangga tidak tahu masing-masing kelompok itu, dan hanya dapat bengong memandangi pertempuran itu dari punggung kudanya. Sedangkan Ayu Nerang juga kelihatan terkesima dengan mulut terbuka lebar.

"Apa yang terjadi, Ayu?" tanya Rangga.

"Aku tidak tahu," sahut Ayu Nerang. "Mungkin prajurit Ayahanda Prabu hendak merebut tahta kembali."

"Yang mana prajurit ayahmu?" tanya Rangga.

"Seragam biru. Tapi...," suara Ayu Nerang terputus.

Tampaknya gadis kecil itu juga kebingungan, karena tidak sedikit prajurit yang mengenakan seragam lain. Bahkan mereka yang mengenakan seragam sama juga saling bertarung. Memang tidak beraturan pertempuran ini. Sukar untuk membedakan, mana lawan dan mana kawan. Ayu Nerang sendiri jadi kebingungan, karena juga tidak bisa membedakan. Mereka yang mengenakan seragam prajurit berwarna biru juga saling berperang. Demikian pula mereka yang mengenakan seragam kuning, dan merah bersulamkan benang emas.

"Aku tidak tahu, mereka semua prajurit Ayahanda Prabu," sergah Ayu Nerang kebingungan.

"Hmmm...," gumam Rangga tidak jelas.

Ayu Nerang sendiri jadi kebingungan. Apa lagi Rangga yang memang tidak mengetahui yang mana prajurit sejati, dan yang mana prajurit pemberontak. Seragam yang dikenakan sama persis. Meskipun warnanya berbeda, tapi bentuknya sama. Dan mereka sekarang tengah berperang dengan sengitnya.

"Ayu, di mana letak penjara?" tanya Rangga.

"Di belakang, dekat tembok kaputren," sahut Ayu Nerang.

Rangga langsung melompat turun dari kudanya.

"Aku ikut, Kakang. Kau pasti tidak tahu di mana Ayahanda Prabu ditawan," seru Ayu Nerang.

Rangga mengurungkan niatnya untuk berlari cepat. Sementara Ayu Nerang sudah turun dari kuda hitam itu, dan langsung memegangi pergelangan tangan Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup!"

Bergegas Rangga menggendong Ayu Nerang. Maka seketika itu juga dia melompat bagai kilat menerobos arena pertempuran. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan, Rangga melesat cepat Yang terlihat kini hanya bayangan putih berkelebatan menerobos kancah pertempuran itu.

Dalam waktu sebentar saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah tiba di depan pintu penjara yang dijaga enam orang prajurit bersenjata terhunus. Cepat sekali gerakan Pendekar Rajawali Sakti itu, sehingga sebelum bisa menyadari apa yang teriadi, mereka sudah tertotok. Enam orang prajurit itu langsung roboh lunglai tak berdaya.

Rangga menurunkan Ayu Nerang dari gendongannya. Sesaat kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam, dijebolnya pintu penjara yang terbuat dari kayu jati tebal dan kokoh. Pintu penjara itu hancur berkeping-keping hanya dengan sekali pukul saja. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Rangga bergegas menerobos masuk ke dalam. Ayu Nerang melangkah cepat, mengikuti.

"Ayah...!" seru Ayu Nerang saat melihat seorang laki-laki tua bertubuh kurus dan berbaju kumal penuh sobekan.

Laki-laki tua itu mengangkat kepalanya. Sinar mata yang semula redup, seketika menjadi bersinar. Segera direntangkan kedua tangannya. Ayu Nerang berlari menghambur ke dalam pelukan laki-laki tua itu. Sementara Rangga hanya bisa memandangi tanpa bersuara sedikit pun. Cukup lama juga ayah dan anak itu saling berpelukan melepas rindu. Pelahan-lahan Ayu Nerang melepaskan pelukan.

"Ayahanda, para prajurit sedang bertempur. Aku tidak tahu, karena mereka semua mengenakan seragam prajurit," jelas Ayu Nerang, memberitahu situasi di depan istana.

"Oh...!" laki-laki tua yang tenyata adalah Prabu Natayuda itu terkejut

Dipandangi Rangga yang hanya berdiri saja memperhatikan. Rangga baru menghampiri setelah Ayu Nerang meminta Pendekar Rajawali Sakti itu memutuskan rantai yang membelenggu ayahnya. Tanpa banyak kesulitan, diputuskan rantai baja itu dengan Pedang Pusaka Rajawali Sakti.

Sesaat kemudian mereka sudah berjalan cepat setengah berlari keluar. Rangga kembali menggendong Ayu Nerang begitu tiba di luar, dan langsung melompat Semula Prabu Natayuda juga hendak dibawanya, tapi laki-laki tua itu menolak. Dan ternyata Prabu Natayuda masih mampu mengerahkan ilmu lari cepat diiringi ilmu meringankan tubuhnya yang cukup tinggi. Sebentar kemudian mereka sudah berada di beranda depan istana. Tampak sekali kalau Prabu Natayuda begitu terkejut melihat pertempuran yang terjadi antara para prajuritnya sendiri.

"Berhenti...!" seru Prabu Natayuda keras.

Teriakan yang disertai pengerahan tenaga dalam itu sungguh keras dan menggelegar bagai guntur di siang bolong. Maka, pertempuran itu berhenti seketika. Dan mereka yang bertempur menjadi terkejut begitu mengetahui Prabu Natayuda sudah berdiri didampingi putrinya dan seorang pemuda berbaju rompi putih. Mereka langsung membuang senjata. Mereka semua berlutut dengan kepala tertunduk.

"Bangkitlah! Dan ambil senjata kalian semua. Buat barisan menurut kelompok pasukan masing-masing!" perintah Prabu Natayuda. Suaranya penuh wibawa.

Para prajurit yang tadi bertarung, langsung bergerak mengikuri perintah. Mereka membuat barisan menurut kelompok yang dibedakan dari warna seragam yang dikenakan.

Tanpa ada yang menyadari, diam-diam Rangga menyelinap masuk ke dalam istana bersama Ayu Nerang. Gadis itu tidak mau ketinggalan di samping Pendekar Rajawali Sakti. Sementara Prabu Natayuda memberikan pengarahan pada prajurit-prajuritnya yang sempat terpecah, sedangkan Rangga dan Ayu Nerang memeriksa seluruh ruangan di dalam istana itu. Tapi yang dicari kini sudah tidak ada lagi di dalam. Mereka kembali keluar, tepat pada saat Prabu Natayuda selesai memberikan pengarahan. Para prajuritnya kini sudah bersatu setelah melihat rajanya sudah kembali dalam keadaan segar dan sehat

"Ayah...," Ayu Nerang menggamit lengan ayahnya.

"Ada apa, Ayu?" tanya Prabu Natayuda.

"Paman Cakraningrat sudah tidak ada," lapor Ayu Nerang.

Prabu Natayuda memandang Rangga yang berdiri di belakang gadis kecil ini.

"Benar, Gusti Prabu. Tadi hamba dan Gusti Putri Ayu Nerang sempat memeriksa ke dalam," kata Rangga membenarkan laporan Ayu Nerang.

"Hmmm... Para pengkhianat itu harus ditangkap dan diberi hukuman yang setimpal!" dengus Prabu Natayuda.

"Kau tidak perlu bersusah payah mencariku, Kakang!" tiba-tiba terdengar suara.

Prabu Natayuda, Ayu Nerang dan Rangga terkejut Mereka menoleh ke arah suara itu Keterkejutan mereka bertambah begitu melihat Cakraningrat

"Adi Cakraningrat kau harus mempertanggungawabkan perbuatanmu!" ujar Prabu Natayuda.

"Akan kutanggung semuanya asal kau mampu mengalahkanku!" tantang Cakraningrat

"Blar aku yang menghadapinya, Gusti Prabu," pinta Rangga.

Prabu Natayuda memandang Pendekar Rajawali Sakti Kemudian mengangguk. Rangga menjura memberi hormat blu melangkah menghampiri Cakraningrat . Belum juga Rangga melakukan sesuatu, mendadak saja Cakraningrat melompat sambil berteriak keras menerjang. Rangga segera berkelit menghindari serangan itu. Tapi Cakraningrat tidak memberi kesempatan lagi Dia terus mendesak dengan cepat dan dahsyat

"Hmmm...," Rangga bergumam pelan. Dalam beberapa jurus saja, Pendekar Rajawali Sakti sudah dapat mengukur tingkat kepandaian lawannya. Dan dengan satu lesatan secepat kilat Rangga melambung ke atas seraya mengerahkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Pemuda berbaju rompi putih itu menyambar Cakraningrat dengan kaki.

Des! Prak...!

"Aaa...." Cakraningrat menjerit keras.

Selagi rubuh Cakraningrat terhuyung sambil memegangi kepalanya, Rangga melepaskan lagi satu pukulan keras bertenaga dalam sempurna.

Dughk!

Tanpa bersuara sedikit pun, Cakraningrat terjungkal. Dia tewas dengan kepala pecah dan dada melesak remuk. Rangga menarik napas panjang, dan berbalik menghadap Prabu Natayuda.

"Kakang...!" seru Ayu Nerang seraya berlari dan langsung memeluk Rangga.

"Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu, Anak Muda. Kaulah pendekar pembela keadilan," ujar Prabu Natayuda.

"Ah! Hamba hanya orang biasa yang berjalan di jalur kebenaran, Gusti Prabu. Dan karena tugas telah selesai, maka hamba mohon pamit," ujar Rangga seraya memberi hormat

Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti melesat melewati kepala-kepala prajurit yang berbaris rapi di depan bangunan istana itu. Sebelum ada yang menyadari, Rangga sudah berada di punggung kuda hitamnya. Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu belum juga menggebah Dewa Bayu. Dipandangi Ayu Nerang yang berdiri di samping ayahnya. Gadis kecil itu juga menatap lurus. Tampak butiran air bening menggulir di pipinya.

Rangga mengangkat tangannya pada Ayu Nerang. Kemudian digebahnya kuda hitam itu dengan cepat bagai anak panah terlepas dari busur, kuda hitam itu melesat menerobos pintu gerbang yang hancur berantakan. Sekejap saja Dewa Bayu sudah lenyap di batik tembok benteng istana bersama Pendekar Rajawali Sakti yang kembali mengembara dengan tujuan memerangi keangkaramurkaan.

Sementara itu di dalam istana, Prabu Natayuda sudah sibuk membenahi aparatnya yang berantakan. Hal ini terjadi akibat pengkhianatan adik selirnya yang dihasut oleh seorang wanita cantik yang memiliki dendam pribadi.

Prabu Natayuda sendiri tidak tahu, apakah kerajaannya akan kembali terguncang, karena ada beberapa pengkhianat yang berhasil kabur dan belum tertangkap. Yang jelas langsung diperintahkan pengejaran yang dilakukan oleh para panglima pilihannya, disertai para prajurit terlatih yang memiliki kemampuan cukup tinggi. Sementara Rangga semakin jauh meninggalkan Kerajaan Banyudana untuk melanjutkan pengembaraannya kembali.

SELESAI

EPISODE SELANJUTNYA: PERMAINAN DI UJUNG MAUT
Thanks for reading Kaum Pemuja Setan I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »