Sabuk Penawar Racun

Cerita Silat Pendekar Rajawali Sakti
Karya Teguh S
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Episode
Sabuk Penawar Racun


Pendekar Rajawali Sakti

SATU

PAGI baru saja menyingsing. Matahari masih enggan menampakkan dirinya. Hanya rona merah jingga yang membias dari balik gunung sebelah Timur. Namun di pagi yang masih tertutup kabut itu terlihat seorang pemuda berwajah tampan dan berkulit kuning langsat, tengah duduk bersila di atas sebongkah batu besar yang hitam berkilat.

Titik-titik keringat mengucur membasahi wajah dan badannya yang telanjang. Otot-otot bersembulan keluar, menambah ketegapan tubuhnya. Kedua tangannya terus melakukan gerakan-gerakan jurus pengerahan hawa murni dari pusat tubuhnya. Tidak jauh dari pemuda itu, tampak seorang laki-laki tua mengenakan baju jubah panjang berwarna merah.

Laki-laki tua itu tidak berkedip memandangi pemuda yang tengah melatih tenaga dalamnya. Sebatang tongkat berkeluk berbentuk ular, diketuk-ketukkan ke tanah dekat ujung jari kakinya. Bibirnya yang hampir tertutup kumis putih, bergerak-gerak seperti membaca sesuatu. Perlahan-lahan diangkat tongkatnya, lalu ujung tongkat yang berbentuk kepala ular itu diarahkan pada pemuda di atas batu.

"Hih! Hiyaaa...!"

Laki-laki tua berjubah merah itu menghentakkan tongkatnya kuat-kuat. Dan dari mata ular yang berwarna merah itu memancarlah seleret cahaya merah, langsung meluruk deras ke arah pemuda itu, sehingga membuat pemuda tersebut terperangah sesaat. Tapi dengan kecepatan luar biasa, dia melompat dengan posisi masih tetap duduk bersila.

Glarrr!

Sebongkah batu sebesar kerbau, hancur berkeping-keping begitu sinar merah yang meluncur dari mata tongkat ular itu menghantam batu tempat pemuda tampan tadi duduk bersila di atasnya. Suara ledakannya begitu dahsyat Debu dan kepingan batu beterbangan di udara, bercampur kabut tebal.

Di antara kepulan debu dan reruntuhan batu itu terlihat seorang pemuda berjumpalitan beberapa kali, kemudian dengan manis kakinya menjejak tanah. Namun dia langsung duduk bersila kembali dengan telapak tangan merapat di depan dada. Kepalanya tetap tertunduk menekuri tanah di depannya.

"He he he...! Bagus! Bagus..., Kalaban. Tenaga dalammu kini telah pulih kembali," laki-laki tua berjubah merah itu terkekeh seraya menghentak-hentakkan ujung tongkatnya ke tanah.

Namun pemuda yang memang adalah Kalaban itu tetap duduk bersila menekuri tanah di depannya. Laki-laki tua berjubah merah itu melangkah menghampiri, kemudian duduk bersila di depan Kalaban.

"Cukup, Kalaban. Tidak perlu kau teruskan semadimu," kata laki-laki tua berjubah merah itu.

"Eyang...," ujar Kalaban seraya mengangkat kepalanya.

"Kau sudah kembali sempurna seperti semula, Kalaban. Tidak ada lagi bekas-bekas luka dalam di tubuhmu. Hanya saja, latihlah jurus-jurusmu saja agar lebih mantap dan sempurna. Hm..., kau akan kubimbing untuk menyempurnakan jurus-jurusmu," ujar laki-laki tua berjubah merah itu.

"Terima kasih, Eyang Girindra," ucap Kalaban seraya memberi hormat.

"He he he.... Kau anak yang baik, Kalaban. Hhh...!" ujar laki-laki tua yang ternyata bernama Eyang Girindra, seraya menarik napas panjang.

"Ada apa, Eyang?" tanya Kalaban sambil memperhatikan raut wajah Eyang Girindra yang mendadak saja jadi berubah mendung.

"Tidak ada apa-apa, Kalaban. Oh, ya..., bagaimana kau sampai bentrok dengan orang-orang Kerajaan Galung?" tanya Eyang Girindra, tanpa menghiraukan pertanyaan Kalaban.

"Aku hanya menuntut hak, Eyang," sahut Kalaban.

"Hak...!? Hak apa?"

"Intan Kemuning, putri tunggal Patih Giling Wesi mengadakan sayembara. Isi sayembara itu, siapa yang berhasil mengalahkannya, maka berhak atas Kerajaan Galung. Dan aku berhasil mengalahkannya. Tapi semua perjanjian yang dibuatnya itu diingkari sendiri Eyang. Aku dan guru-guruku terpaksa merebutnya secara paksa dengan menduduki Istana Galung lalu mengusir Prabu Galung dan semua pembesar istana. Sebenarnya yang kuinginkan hanya Intan Kemuning saja, Eyang. Dia harus jadi istriku. Hanya itu...," jelas Kalaban.

"Hm.... Lalu, siapa pemuda yang hampir membunuhmu itu?" tanya Eyang Girindra lagi.

"Aku baru sekali bentrok dengannya, Eyang. Dia berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Aku tidak tahu, siapa dia sebenarnya. Tiba-tiba saja muncul bersama pasangannya lalu menghancurkan orang-orangku," sahut Kalaban.

"Pasangannya...?!" Eyang Girindra mengerutkan keningnya dalam-dalam.

"Benar, Eyang. Pendekar Rajawali Sakti menunggang seekor burung rajawali raksasa yang sangat dahsyat. Demikian pula dengan pasangannya. Aku tidak tahu pasti, siapa pasangannya itu."

"Hm...," Eyang Girindra bergumam tidak jelas.

"Ada apa, Eyang?" tanya Kalaban.

"Tidak..., tidak apa-apa," sahut Eyang Girindra cepat.

Tapi raut wajah laki-laki tua itu kelihatan mendung. Kemudian dia bangkit berdiri dan melangkah pelahan-lahan. Kalaban juga berdiri. Diperhatikannya wajah laki-laki tua itu yang juga guru dari Empat Bayangan Iblis Neraka. Jelas sekali kalau laki-laki tua berjubah merah itu jadi gundah mendengar penjelasan Kalaban. Entah apa yang membuat hati Eyang Girindra jadi gundah!

********************

Sementara itu jauh dari Gunung Sendir, tepatnya di sebelah Barat, terdapat suatu lembah yang cukup dalam dan luas yang dinamakan Lembah Neraka. Suasana di dalam lembah itu memang bagai di dalam neraka. Seluruh batu dan tanahnya berwarna merah bagai terbakar. Bahkan pohon dan rerumputan pun berwarna merah. Udaranya sangat panas menyengat. Tidak ada seorang pun yang sanggup hidup di dalam lembah itu. Bahkan semut pun enggan untuk memijakkan kakinya di sana. Sebuah lembah yang tidak memiliki sumber air sedikit pun!

Tidak ada daun atau buah-buahan yang dapat dimakan. Semua buah dan daun yang ada di Lembah Neraka mengandung racun yang sangat mematikan. Di situ pun juga terdapat suatu danau berwarna merah yang airnya juga mengandung racun. Tidak ada seekor ikan pun yang hidup di danau itu.

Tapi di tengah-tengah danau itu terdapat sebuah bangunan yang sangat megah bagai istana. Bangunan besar itu seperti ditopang oleh tiang-tiang yang sangat besar dan kokoh. Pintu dan jendelanya juga sangat besar. Bangunan itu seperti istana raksasa. Ukurannya sepuluh kali lipat dari bangunan istana di mana pun juga. Namun anehnya, seluruh bangunan itu berwarna merah.

Sinar matahari yang memancar terik, membuat seluruh bangunan istana itu bagai terbakar. Bahkan seluruh lembah pun seperti terpanggang api. Udara di sekitarnya semakin terasa panas menyengat Benar-benar suatu tempat bagai neraka.

"Khraghk...!" tiba-tiba saja terdengar suara keras menggelegar di angkasa.

Dan sebentar kemudian, terlihat sebuah bayangan hitam pekat yang sangat besar meluncur turun dari angkasa. Bayangan hitam itu terus menukik deras menuju bangunan istana berwarna merah di tengah-tengah danau, lalu meluruk masuk melalui pintu depan yang sangat besar.

"Khraghk...!"

Kini di dalam ruangan yang sangat besar dan tinggi, terlihat seekor burung rajawali hitam raksasa. Burung itu berjalan gontai menghampiri sebuah ranjang yang sangat besar ukurannya. Di atas ranjang beralaskan kain merah muda dari bahan sutra halus itu tergolek seorang wanita berbaju hitam. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkan terurai. Wajahnya yang cantik dan putih mulus itu terlihat pucat.

Gadis itu membuka kelopak matanya sedikit, menampakkan bola matanya yang redup dan tanpa gairah. Bibirnya yang pucat, bergetar membentuk senyuman yang teramat dipaksakan. Wanita itu memang tidak lain dari Putri Rajawali Hitam. Sedangkan burung rajawali hitam raksasa, mendekam di samping pembaringan. Kepalanya diletakkan di samping wanita Itu.

"Khrrrk...!" Rajawali Hitam mengkirik lirih. Sepasang bola matanya memandang sayu pada Putri Rajawali Hitam.

"Jangan sedih, Hitam. Aku pasti sembuh," lemah sekali suara Putri Rajawali Hitam.

"Khraghk!"

"Tidak, Hitam. Kau tidak boleh meminta bantuan pada Rajawali Putih. Aku tidak ingin bertemu lagi dengan Pendekar Rajawali Sakti. Kau harus bisa merasakan perasaanku, Hitam," ada nada kesenduan pada suara Putri Rajawali Hitam.

Setetes air bening menggulir dari sudut mata yang sayu itu. Putri Rajawali Hitam buru-buru menghapus air matanya. Dia tidak ingin mengenang masa-masa manisnya bersama Pendekar Rajawali Sakti. Masa-masa yang sebenarnya sangat dirindukannya untuk terulang kembali.

Rajawali Hitam menggosok-gosokkan kepalanya di dada wanita itu. Sedangkan Putri Rajawali Hitam memeluknya dengan perasaan haru. Dia tahu kalau Rajawali Hitam juga terkenang dengan pasangannya.

Dan perasaan mereka memang sama. Tapi Putri Raja' wali Hitam tidak ingin memanjakan perasaannya, meskipun saat ini sebenarnya membutuhkan pertolongan untuk menyembuhkan luka-luka dalam tubuhnya. Luka yang mengandung racun lemah, namun dapat membuatnya tewas pelahan-Iahan.

"Ya! Aku tahu, Hitam. Tapi aku tidak ingin mereka mengetahui tentang diriku," pelan suara Putri Rajawali Hitam.

"Krrrkh...!"

"Aku akan berusaha menyembuhkan diriku sendiri. Jangan khawatir, Hitam. Aku pasti bisa sehat kembali seperti semula."

Putri Rajawali Hitam berusaha bangkit, tapi hanya mampu untuk duduk saja. Itu pun sudah membuatnya banjir keringat Belum lagi tubuhnya yang terasa begitu panas. Kepalanya pening, dan matanya berkunang-kunang. Tapi Putri Rajawali Hitam memaksakan diri untuk bersemadi.

Baru saja Putri Rajawali Hitam menyalurkan hawa mumi, mendadak seluruh tubuhnya bagai terbakar! Tiba-tiba saja dia memuntahkan darah kental kehitaman dua kali. Putri Rajawali Hitam tidak bisa lagi mengendalikan dirinya, lalu ambruk terkulai di atas pembaringan. Dadanya bergerak cepat dengan napas tersengal. Keringat semakin banyak membasah: seluruh tubuhnya.

"Oh..., aku tidak mampu lagi. Racun ini sudah menguasai seluruh aliran darahku...," keluh Putri Rajawali Hitam lirih.

"Khrrrkh...!" Rajawali Hitam mengkirik lirih.

Putri Rajawali Hitam hanya bisa mengeluh panjang. Matanya semakin sayu menatap burung raksasa itu. Tapi tiba-tiba burung itu bergerak keluar. Dia ingin mencegah Rajawali Hitam pergi, tapi seluruh tubuhnya terasa lemas dan lidahnya jadi kaku. Rajawali Hitam sudah melesat pergi meninggalkan suara berkaokan keras memekakkan telinga.

"Apakah aku harus bertemu lagi dengan Rangga...? Ah...! Tidak, dia tidak boleh tahu siapa diriku," desah Putri Rajawali Hitam lirih.

Pada saat yang sama, Rajawali Putih tengah melayang terbang di angkasa bersama Rangga yang berada di punggungnya. Setiap hari mereka mengangkasa untuk mencari Rajawali Hitam yang pergi membawa wanita berbaju hitam bernama Putri Rajawali Hitam. Di samping itu, dia juga berharap bisa bertemu dengan Kalaban.

Rangga telah merasakan hebatnya ilmu olah kanuragan yang dimiliki Kalaban ketika bentrok dengan laki-laki itu. Setiap pukulan, apalagi tongkat peraknya, mengandung hawa racun yang bekerja lambat, tapi sangat berbahaya dan dapat mematikan. Waktu itu Putri Rajawali Hitam beberapa kali terkena pukulan dan sabetan tongkat Kalaban (Untuk lebih jelasnya, silakan baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam kisah Sepasang Rajawali). Dan Rangga sudah dapat menduga kalau saat ini Putri Rajawali Hitam pasti membutuhkan bantuan untuk mengeluarkan racun yang mengendap di dalam tubuhnya.

"Rajawali Putih, ke mana lagi kita harus mencari?" tanya Rangga. Ada nada keputusasaan di dalam suaranya.

"Khraghk!" Rajawali Putih menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sebaiknya kita turun dulu di sana!" usul Rangga.

Rajawali Putih segera meluruk turun ke arah sebuah bukit kecil yang ditunjuk Pendekar Rajawali Sakti Itu. Sebentar dia berputar mengelilingi bukit itu, kemudian mendarat lunak di sebelah Selatan. Tempat yang tidak curam dan terlindung oleh lebatnya pepohonan. Rangga melompat turun dari punggung rajawali raksasa itu. Sebentar dia menggeliat-geliatkan tubuhnya, mengusir rasa pegal karena hampir setengah harian duduk di punggung Rajawali Putih. Pinggangnya seperti mau patah saja.

"Rajawali, sebaiknya kau kembali saja ke Lembah Bangkai. Biar aku sendiri saja yang mencari pasanganmu Itu," kata Rangga mengusulkan.

"Khraghk...!"

"Tidak. Aku tidak mungkin melukainya. Aku hanya ingin meminta agar dia menjauhimu," kata Rangga bisa mengerti perasaan Rajawali Putih.

"Krrrhk...!"

"Iya, aku janji."

Rajawali Putih mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah memekik keras, dia melesat tinggi ke angkasa. Sebentar saja sudah jauh membumbung, kemudian lenyap tak berbekas ditelan gumpalan awan. Sementara Rangga masih berdiri memandang sekitarnya.

Pandangan Pendekar Rajawali Sakti itu tertuju langsung ke arah kaki bukit sebelah Selatan. Tampak sebuah perkampungan kecil dan kelihatan sepi. Rangga mengayunkan kakinya menuruni bukit menuju ke perkampungan itu. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru. Namun bola matanya tidak lepas mengamari keadaan sekitarnya.

"Hm..., ada perambah hutan di sana." gumam Rangga begitu melihat seorang laki-laki tua dan seorang anak gadis kecil sedang memunguti ranting-ranting kering yang kemudian ditumpuk dan dikumpulkan di situ.

Rangga menghampiri perambah hutan itu. Di situ sudah ada dua ikat ranting kering yang sudah berdiri, dan masih banyak lagi yang bertumpuk. Gadis kecil itu mengikat ranting-ranting dengan kulit kayu, ataupun dengan sulur yang banyak terdapat di sekitar hutan bukit ini. Laki-laki tua bertubuh kurus itu mengangkat kepalanya setelah Rangga dekat.

"Banyak perolehannya, Pak?" tegur Rangga ramah.

"Oh! Lumayan, Den. Hari ini cerah, jadi cukup lumayan juga mendapatkan kayu bakar," sahut laki-laki tua itu.

"Hm..., boleh aku tanya, Pak?"

"Tentu saja, Den."

"Apa nama bukit ini?"

"Bukit Kiambang, Den...," sahut perambah hutan itu.

"Rangga, Pak. Namaku Rangga," Rangga memperkenalkan diri mendengar nada suara perambah hutan itu seperti ingin tahu.

"Oh..., Den Rangga mau ke mana?" tanya perambah hutan itu.

"Aku seorang pengembara, Pak. Jadi tidak ada tujuan yang pasti."

Perambah hutan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Bola matanya yang kecil mengaman Pendekar Rajawali Sakti dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Sepertinya sedang menilai penampilan pemuda di depannya ini. Sedangkan gadis kecil yang mengikat ranting, menghampiri perambah hutan itu.

"Sudah banyak, Yah. Pulang yuk...?" ajak gadis kecil itu.

"Oh, iya..., iya. Permisi, Den," ucap perambah hutan itu.

"Sebentar, Pak. Mari kubantu," kata Rangga.

"Tidak usah, Den."

Tapi Rangga tidak peduli dengan penolakan itu.

Langsung saja diangkat dua ikat ranting yang cukup besar, dan dipanggulnya di pundak. Sedangkan laki-laki tua itu memanggul yang seikat lagi. Gadis kecil itu menenteng bekal makanan yang terbungkus kain kumal.

"Wah, Den Rangga ini kuat sekali. Bapak jadi tidak enak," ujar perambah hutan itu yang berjalan di samping Rangga.

"Tidak apa-apa, Pak. Pekerjaan ini sering kulakukan," kata Rangga seraya memberikan senyum. "Adik kecil ini, siapa namanya?" tangan Pendekar Rajawali Sakti itu mengusap kepala gadis kecil yang berjalan di depannya.

"Namaku Seruni, Kang," jawab gadis kecil itu polos.

"Seruni...!" rungut perambah hutan itu.

"Tidak apa-apa, Pak. Aku suka dipanggil Kakang, daripada sebutan untuk orang bangsawan."

"Tapi, Den...."

"Panggil saja Rangga, Pak," pinta Rangga ramah.

"Ah...," perambah hutan itu hanya mendesah. "Kalau begitu kau bisa memanggilku Ki Biran."

Rangga tersenyum lebar dan mengangguk sedikit, lalu menggamit tangan gadis kecil itu dan menggandengnya. Gadis Itu kelihatan senang, seraya melangkah lincah di samping Pendekar Rajawali Sakti. Meskipun memanggul dua ikat ranting yang cukup banyak, tapi Rangga tidak kelihatan lelah. Bahkan mampu mengikuti Seruni yang berlari-lari menuju desa di Kaki Bukit Kiambang ini.

"Hm..., pemuda itu begitu sopan. Pasti seorang pendekar golongan putih...," gumam Ki Biran dalam hati.

********************

DUA

Ayam jantan berkokok saling bersahutan menyambut datangnya sang mentari pagi. Desa Kiambang yang semalam lelap terselimut kabut, mulai bangkit dan hidup kembali. Di depan rumah Ki Biran, terlihat Rangga sibuk membelah kayu bakar. Sejak Rangga tinggal di pondok kecil itu, persediaan kayu bakar Ki Biran tidak pernah kurang, bahkan sepetak ladang di belakang rumah sudah dipaculi, dan ditanami tanaman palawija.

"Kang Rangga! Istirahatlah dulu...!" terdengar suara kecil dari arah belakang.

Rangga menoleh, tampak Seruni menghampiri sambil membawa kendi dan sepiring pisang goreng. Rangga menerimanya dengan bibir tersungging senyuman. Dia mengambil satu dan minum air langsung dari dalam kendi tanah liat itu. Seruni tampak tersenyum senang.

"Kau yang buat sendiri pisang goreng ini, Seruni?" tanya Rangga.

"Habis, siapa lagi? Setiap hari aku yang masak, mencuci, dan membersihkan rumah," Seruni menyombong.

"Bagus! Pisang gorengnya enak. Boleh minta satu lagi?"

"Nih!" Seruni menyodorkan piring kayu. Rangga mengambil sebuah pisang goreng lagi yang masit mengepulkan uap panas. "Semua juga tidak apa-apa. Kang."

"Jangan ah! Nanti ayahmu tidak kebagian."

"Jangan khawatir, Kang. Buat Ayah, sudah ku siapkan, kok."

"Kau sendiri?"

"Ini...!"

Rangga tertawa melihat Seruni mengambil sepotong pisang goreng dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Pipi gadis kecil itu jadi menggembung, sehingga kelihatan wajahnya lucu. Mereka tidak tahu kalau dari balik jendela, Ki Biran memperhatikan sejak tadi. Namun terlihat sepasang bola matanya merembang berkaca-kaca.

Tiga hari Rangga berada di rumah ini, dan selama itu pula hubungannya dengan Seruni bertambah akrab. Dan tampaknya Seruni begitu menyukai Rangga, bahkan menganggapnya seperti kakak kandung sendiri. Seperti pagi ini, mereka bersenda gurau dan bercanda begitu riangnya. Diam-diam Rangga sekilas menangkap adanya seseorang di balik jendela rumah itu.

"Sebentar, Seruni," kata Rangga, seraya menurunkan gadis kecil itu dari pangkuannya.

Seruni hanya bisa memandang tanpa berkata-kata lagi. Sementara Rangga melangkah menghampiri jendela yang terbuka lebar. Ki Biran yang tidak menyadari akan kedatangan Rangga, buru-buru menghapus air matanya. Rangga agak terkejut juga melihat laki-laki tua itu seperti habis menangis. Dia kini berdiri di depan Jendela.

"Ada apa, Ki? Mengapa' menangis?" tanya Rangga.

"Tidak..., tidak apa-apa. Aku hanya terkenang saja," sahut Ki Biran agak tergagap.

"Terkenang...?" Rangga melirik Seruni yang telah asyik bermain boneka kayunya.

"Ah, sudahlah. Lupakan saja, Rangga," Ki Kran mengelak.

Rangga ingin bertanya lagi, tapi laki-laki tua itu sudah berbalik dan meninggalkannya. Sesaat Pendekar Rajawali Sakti itu berdiri termangu menatap ke dalam rumah melalui depan jendela. Hatinya berkata, pasti ada sesuatu yang tersembunyi di dalam diri Ki Biran, Mustahil laki-laki tua itu menangis tanpa sebab. Rangga mengalihkan pandangannya pada Seruni, dan gadis kecil itu kebetulan menoleh padanya.

"Ayo kita main lagi, Kakang...!"ajakSeruni riang.

Rangga tersenyum dan melangkah menghampiri. Seruni berlari-lari kecil menuju ke bagian samping kanan pondok ini. Rangga mengikuti, namun pikirannya masih tertuju pada Ki Biran. Tapi begitu berada di samping kanan rumah, pendengarannya yang tajam mendengar suara pertengkaran di samping kiri rumah.

"Hm.... Sepertinya suara Ki Biran...," gumam Rangga dalam hati.

Belum sempat Pendekar Rajawali Sakti itu berpikir lebih jauh, mendadak terdengar suara jeritan melengking. Seketika itu juga Rangga melompat melewati atap rumah, langsung meluruk turun ke samping kiri rumah itu Dan pada saat yang bersamaan, terlihat sebuah bayangan merah berkelebat cepat, langsung menghilang di balik lebatnya pepohonan.

"Ki...!" Rangga terkesiap begitu melihat Ki Biran telah tergeletak. Darah mengucur deras dari dadanya.

"Ayah...!" tiba-tiba saja Seruni muncul.

Rangga menoleh, dan menggamit tubuh gadis kecil itu. Seruni berusaha berontak sambil menjerit-jerit memanggil ayahnya. Agak kewalahan juga Pendekar Rajawali Sakti menghadapi Seruni yang histeris. Tidak ada jalan lain lagi buat Rangga. Ditotoknya jalan darah gadis kecil itu, sehingga Seruni jatuh terkulai tak berdaya.

"Ki...!" Rangga bergegas menghampiri Ki Biran setelah merebahkan Seruni di tempat yang teduh.

Ki Biran masih bisa bernapas, meskipun darah semakin banyak keluar dari dadanya yang berlubang. Rangga berusaha menghentikan darah dengan meno-tok jalan darah di sekitar luka Itu. Tampak wajah Ki Biran demikian pucat: Dipindahkannya laki-laki tua itu ke tempat yang teduh, dan dibaringkan di balai-balai bambu.

"Ki...," pelan suara Rangga.

"Rangga..., tolong selamatkan Seruni...," ucap Ki Biran lirih.

"Bertahanlah, Ki. Aku akan berusaha menyelamatkanmu," ujar Rangga.

"Percuma. Rasanya aku tak kuat lagi. Jaga Seruni.... Bawa dia pergi jauh-jauh dari sini. Tolong, Rangga. Antarkan pada bibinya yang tinggal dekat Lembah Neraka...."

"Ki...!"

Rangga menarik napas panjang. Sedangkan Ki Biran langsung menghembuskan napasnya yang terakhir. Darah yang keluar begitu banyak, dan totokan Rangga hanya sementara saja sifatnya. Darah kembali mengucur tidak tertahankan lagi. Sebentar dipandangi tubuh Ki Biran yang dingin, tidak bernyawa lagi, kemudian dihampirinya Seruni yang masih tergolek tidak sadarkan diri akibat totokan pada jalan darahnya.

"Ayah...!" Seruni kontan melompat begitu Rangga membuka totokanya.

Gadis kecil itu menangis menggerung-gerung memeluk mayat laki-laki tua yang selama ini merawat dan membesarkannya. Sementara Rangga hanya terpaku memandang. Sebentar menarik napas panjang dan berat, lalu memandang ke sekelilingnya. Mendadak keningnya jadi berkerut melihat beberapa penduduk desa ini hanya menonton dari jarak yang cukup jauh. Tidak ada seorang pun yang datang menghampiri.

"Hm..., aneh! Mereka seperti ketakutan," gumam Rangga dalam hati.

Orang-orang yang berada di kejauhan itu memang menyiratkan wajah ketakutan. Jumlah mereka semakin banyak, tapi tidak ada seorang pun yang menghampiri. Bahkan tidak ada kata-kata yang terdengar. Keadaan yang aneh ini membuat Rangga jadi bertanya-tanya dalam hati. Sementara Seruni masih menangisi kema-tian ayahnya.

"Kakang...," lirih suara Seruni. Gadis itu menoleh memandang Rangga.

Seruni berlari dan memeluk Pendekar Rajawali Sakti itu. Tidak ada yang dapat dilakukan Rangga selain membalas pelukan itu. Dibiarkan saja gadis kecil itu menumpahkan air matanya dalam pelukannya. Entah kenapa, seketika saja dia jadi kehilangan kata-kata. Lidahnya terasa kelu, sulit untuk digerakkan. Hanya tangannya saja membelai lembut kepala Seruni.

********************

"Kita akan ke mana, Kakang?" tanya Seruni yang berjalan di samping Rangga.

"Ke Lembah Neraka," sahut Rangga.

Saat itu mereka sudah jauh meninggalkan Desa Kiambang. Hampir satu harian berjalan, tapi hanya sekali mereka berhenti untuk beristirahat sambil mengisi perut Dan kelihatannya Seruni sudah teramat letih. Keringat mengucur deras dari wajahnya yang kemerahan. Rangga mengajak gadis kecil itu berhenti setelah tiba di tepi sebuah sungai kecil.

"Kakang...," pelan suara Seruni. Kakinya sengaja dimasukkan ke dalam air sungai.

"Ada apa, Seruni?" tanya Rangga seraya duduk di samping gadis kecil itu. Batu yang mereka duduki cukup besar, dan agak menjorok ke dalam sungai.

"Mau apa kita ke Lembah Neraka?" tanya Seruni polos.

"Entahlah. Aku hanya menuruti pesan ayahmu, yang mengatakan bahwa tempat tinggal bibimu tidak jauh dari lembah itu," sahut Rangga.

"Bibi...!?" Seruni mengerutkan keningnya. Tampaknya terkejut mendengar dirinya masih mempunyai seorang bibi.

"Iya, kenapa?" tanya Rangga.

"Ayah tidak pernah bilang kalau aku punya Bibi. Di mana letaknya Lembah Neraka itu, Kakang?"

Rangga tidak segera menjawab, karena bingung harus menjawab apa. Sedangkan dia sendiri belum tahu, di mana letak Lembah Neraka. Mendengar namanya saja baru kali ini. Dan sebelum berangkat, dia memang sudah bertanya pada penduduk Desa Kiambang. Tapi tidak ada seorang pun yang bersedia mengatakan letak Lembah Neraka. Dan setiap kali Rangga bertanya, kelihatannya mereka malah ketakutan. Rangga sendiri jadi heran akan sikap para penduduk desa itu.

"Masih jauh letaknya, Kakang?" tanya Seruni lag setelah melihat Rangga diam saja.

"Mudah-mudahan tidak," sahut Rangga pelan.

"Kakang kok tidak yakin?"

"Seruni... Aku sendiri tidak tahu di mana letak Lembah Neraka itu. Mendengar namanya saja baru kali ini. Itu pun dari ayahmu sebelum meninggal," jelas Rangga terpaksa berterus terang.

"Ayah tidak mengatakan letaknya?" Seruni jadi penasaran.

"Tidak," sahut Rangga. "Ayahmu hanya berpesan saja agar aku membawamu ke sana. Hanya itu."

Seruni terdiam menunduk. Gadis kecil itu seperti tengah berpikir. Sementara Rangga segera membasuh mukanya dengan air sungai. Setelah dirasakan cukup segar, dia mengangkat wajahnya, dan langsung menatap Seruni yang masih merenung.

"Ada apa, Seruni?" tanya Rangga lembut.

"Tidak ada apa-apa, Kakang. Aku hanya...," Seruni memutuskan ucapannya.

"Hanya apa?" desak Rangga.

"Aku hanya sedikit heran akan sikap Ayah," pelan sekali suara gadis kecil itu.

"Heran kenapa?" Rangga semakin ingin tahu.

Meskipun Seruni masih berusia sekitar delapan atau sembilan tahun, tapi kelihatan sangat cerdik. Cara berpikirnya seperti sudah berusia belasan tahun saja. Mungkin dari cara hidup yang menuntutnya harus berpikir lebih dewasa dari usia sebenarnya. Dan Rangga bisa menangkap ada sesuatu di dalam diri gadis kecil ini.

"Selama ini aku tidak tahu siapa ibuku. Dan setiap kali kutanyakan tentang Ibu, Ayah selalu mengelak. Bahkan Ayah tidak pernah menceritakan kalau punya saudara. Dalam sehari-hari, aku dilarang bermain-main bersama teman sebayaku. Setiap hari harus ikut Ayah mencari kayu bakar ke hutan, berburu, menyediakan makanan, dan berlatih ilmu silat. Aku tidak punya teman seorang pun, Kakang," Seruni seperti mengeluh.

Rangga agak terkejut juga mendengar keluhan gadis kecil ini. Dirapatkan duduknya, lalu dipeluknya Seruni dengan hangat Hatinya tersentuh mendengar cerita Seruni. Sama sekali tidak disangka kalau kehidupan gadis kecil ini begitu keras! Jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak seusianya. Bahkan sepertinya terlalu dipaksakan untuk lebih cepat dewasa. Memang beberapa kali Rangga melihat Ki Biran mengajarkan jurus-jurus ilmu olah kanuragan pada gadis kecil ini. Dan menurutnya, Ki Biran terlalu keras dalam mendidik Seruni.

Memang patut diakui kalau cara berpikir dan segala tindakan Seruni tidak seperti bocah kecil lagi. Seharusnya dia belum bisa dibebani dengan segala macam kewajiban yang tidak semestinya. Namun demikian, ilmu olah kanuragan yang dimiliki Seruni, sudah cukup untuk melawan sepuluh orang anak seusianya. Bahkan yang lebih besar darinya sekalipun belum tentu dapat mengalahkannya. Di dalam tubuh gadis kecil ini memang mengalir suatu tenaga dalam murni yang jarang dimiliki oleh anak-anak lainnya. Dan ini memang harus dikembangkan.

"Ayo, jalan lagi," ajak Rangga setelah cukup lama mereka beristirahat "Mudah-mudahan kita menemukan desa sehingga bisa bertanya, jalan menuju ke Lembah Neraka."

Seruni mengangguk, dan mereka kembali meneruskan perjalanan. Dalam hari, Rangga bertekad untuk menemukan Lembah Neraka, dan menyerahkan Seruni pada bibinya di sana. Dia ingat, masih ada satu pekerjaan lagi yang belum terselesaikan.

********************

Tiga hari Rangga dan Seruni berjalan keluar masuk hutan, akhirnya baru hari ini menemukan sebuah perkampungan yang cukup besar dan ramal Melihat keadaannya, tidak pantas kalau perkampungan ini disebut desa. Tempat ini lebih pantas kalau dinamakan sebuah kota kecil Suasananya begitu ramai, dan rumah-rumahnya juga bagus-bagus.

Rangga memutuskan untuk tinggal beberapa hari di desa yang bernama Desa Sendir ini. Letaknya memang persis di Kaki Gunung Sendir. Pendekar Rajawali Sakti itu memilih penginapan yang tidak begitu besar. Dia mendapatkan sebuah kamar yang jendelanya langsung menghadap ke jalan. Pemilik rumah penginapan ini seorang perempuan setengah baya bertubuh gemuk, sehingga menampakkan lehernya yang berlipat-lipat.

Rumah penginapan ini tidak begitu ramai. Ada sekitar sepuluh kamar yang disewakan. Tapi hanya tiga kamar saja yang terisi. Seruni kelihatan senang karena bisa tidur di pembaringan lagi, setelah selama tiga hari terpaksa harus tidur di alam terbuka. Bahkan pemah Juga tidur di dalam goa yang mereka temukan dalam perjalanan. Gadis kecil itu segera naik ke pembaringan. Mungkin perjalanan yang panjang ini sangat melelahkan, sehingga dia langsung jatuh tertidur begitu naik ke pembaringan.

"Kasihan..., kelihatannya dia letih sekali," gumam Rangga memandangi gadis kecil itu.

Rangga baru saja menyelimuti Seruni ketika pintu kamar sewaannya diketuk dari luar. Sebentar dia menoleh ke arah pintu, kemudian melangkah mendekati. Seorang wanita muda berwajah cantik telah berdiri di depan pintu ketika Rangga membukanya. Wanita itu memberikan senyum seraya menganggukkan kepalanya sedikit Rangga membalasnya dengan anggukan kepala juga, tapi sempat pula memperhatikan wanita Itu.

"Ada keperluan apa?" tanya Rangga ramah.

"Tidak," sahut wanita itu kalem.

Kening Rangga berkerut juga mendapat jawaban seperti itu. Mau apa wanita ini mengetuk pintu kalau tidak ada perlunya? Dan belum lagi Rangga bisa menjawab pertanyaan yang terbetik dalam hatinya, wanita berbaju biru muda itu telah melangkah masuk. Rangga hanya dapat menggeser kakinya ke samping. Namun matanya tak berkedip memperhatikan tingkah laku wanita itu.

"Kudengar di sini ada seorang pemuda menyewa kamar dengan seorang gadis kecil," kata wanita itu seraya memandang Seruni yang tetap pulas.

"Siapa kau?" tanya Rangga mulai curiga melihat pedang yang tergantung di pinggang gadis itu.

"Namaku Gita Raka," wanita itu memperkenalkan diri dengan sikap tenang.

"Aku, Rangga. Apa maksudmu datang ke sini?"

Sekarang, wanita yang mengaku bernama Gita Raka itu hanya tersenyum saja, kemudian duduk di tepi pembaringan. Tangannya yang berjari lentik, mengusap-usap kening Seruni. Bibirnya yang selalu merah, tidak lepas menyunggingkan senyuman manis, kemudian beralih pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Siapa nama anakmu?" Gita Raka malah bertanya.

"Seruni," sahut Rangga tidak keberatan wanita itu menyangka Seruni adalah anaknya.

"Nama yang cantik, secantik orangnya. Kau tentu bahagia mempunyai anak secantik itu"

"Terima kasih," ucap Rangga. "Aku selalu iri melihat kebahagiaan orang lain, tapi tidak pernah membenci orang yang berbahagia. Yah..., kebahagiaan memang bisa datang dengan cepat, tapi juga bisa hilang secepat datangnya kebahagiaan itu sendiri," kata Gita Raka seraya bangkit dan melangkah ke jendela.

"Nisanak, apa maksudmu berkata demikian?" kecurigaan Rangga semakin mendalam.

Rangga jadi teringat akan kelebatan bayangan merah bersamaan dengan terlukanya Ki Biran yang nenyebabkan kematiannya. Sampai saat ini dia tidak tahu, siapa pembunuh laki-laki tua yang baik hati itu. Dan sekarang muncul seorang wanita yang bersikap mencurigakan sekali. Wanita yang mengaku bernama Gita Raka ini juga mengenakan baju merah, meskipun warnanya merah muda. Sedangkan Rangga saat Itu tidak melihat jelas bayangan yang berkelebat cepat itu.

"Aku tidak bermaksud buruk padamu. Lebih-lebih pada gadis kecilmu itu. Aku hanya ingin memperingatkanmu saja," masih terdengar tenang kata-kata Gita Raka.

"Nisanak...."

Belum lagi Rangga dapat meneruskan kata-katanya, mendadak sebatang tongkat berwarna keperakan melesat masuk dari jendela. Kalau saja Gita Raka tidak cepat-cepat berkelit, tongkat itu pasti bisa menembus ke tubuhnya. Tongkat keperakan itu menancap tepat di dinding kamar sewaan ini. Rangga bergegas melompat. Dia ingin keluar, tapi niatnya diurungkan mengingat keselamatan Seruni.

Gita Raka melompat menghampiri tongkat kecil keperakan itu, lalu mencabutnya dari dinding. Ada gulungan daun lontar terikat pita merah pada tongkat perak itu. Gita Raka menyerahkannya pada Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu menerimanya, dan segera membuka ikatan pita merahnya.

"Jangan campuri urusanku. Serahkan gadis cilik itu!"

Rangga membaca sebaris kalimat yang tertulis pada daun lontar itu. Pendekar Rajawali Sakti itu memandang ke luar melalui jendela yang terbuka. Tidak ada yang patut dicurigai di luar sana. Begitu banyak orang di depan rumah penginapan ini, hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing. Pandangan pemuda itu beralih pada Gita Raka.

"Penderitaan mulai datang. Hati-hatilah," kata Gita Raka kalem.

"Heh...!" Rangga terperanjat

Tapi belum sempat Pendekar Rajawali Sakti itu minta penjelasan, Gita Raka sudah melesat keluar lewat jendela kamar yang terbuka lebar. Rangga tidak bisa mencegah lagi Wanita misterius itu sudah lenyap, bercampur dengan orang yang memadati jalan di depan sana.

"Aneh.... Siapa dia...?" Rangga bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Kembali dibacanya tulisan bernada mengancam pada daun lontar, kemudian dipandangi tongkat pendek sepanjang jengkal jari tangan itu. Rangga semakin tidak mengerti dengan persoalan yang sedang dihadapinya sekarang. Semua kejadian begitu cepat datangnya, dan tidak sempat disadari. Sebentar kemudian pandangannya beralih pada Seruni Gadis kecil itu masih tidur lelap.

"Hm..., ada apa dengan Seruni? Siapa yang menginginkannya? Untuk apa...?" macam-macam pertanyaan bergalut di benak Rangga. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Kini Rangga sadar. Bukan saja sukar menemukan Lembah Neraka, tapi juga harus menjaga keselamatan Seruni. Kini hanya satu keterangan. Ada orang yang menginginkan Seruni. Tapi, siapa? Dan untuk apa...?

********************

TIGA

Hanya satu hari Rangga berada di Desa Sendir yang keadaannya sudah menyerupai sebuah kota. Memang sengaja ditinggalkan desa itu secepatnya, karena sudah dirasakan tidak aman lagi untuk Seruni, gadis kecil yang harus diselamatkan dari incaran seseorang. Rangga sendiri belum tahu, untuk apa orang itu menginginkan Seruni.

Pagi-pagi sekali, di saat matahari belum terbit penuh, Rangga sudah mengajak Seruni meninggalkan rumah penginapan itu. Mereka berjalan menuju ke arah Gunung Sendir bagian Selatan. Dalam keremang-an cahaya matahari, Gunung Sendir terlihat begitu angker. Kabut tebal pun menyelimuti seluruh puncaknya. Belum begitu banyak orang yang terlihat kecuali beberapa saja yang sudah berada di depan rumahnya. Mereka hanya melirik saja pada dua orang yang berjalan di pagi buta itu

"Kakang, katanya akan lama di sini. Kok sudah pergi lagi?" tanya Seruni polos.

"Kita harus cepat sampai di Lembah Neraka, Seruni," sahut Rangga lembut-. Dia kasihan juga melihat gadis kecil ini begitu lelah dan masih mengantuk.

"Apa Bibi mengenaliku, Kakang?" tanya Seruni, ragu-ragu nada suaranya.

"Tentu! Bibimu pasti mengenali dan bersedia menerimamu," jawab Rangga membesarkan hati gadis kecil itu.

"Benarkah itu, Kakang?" Seruni meminta kepastian.

Rangga hanya tersenyum dan mengusap kepala gadis kecil itu. Tapi kelihatannya Seruni belum puas, dan masih ragu-ragu apakah bibinya bersedia menerimanya. Sedangkan selama ini dia belum pernah tahu, apalagi melihatnya. Baru sekarang Seruni tahu kalau masih punya saudara.

Mereka terus berjalan tanpa berbicara lagi Sementara matahari semakin terik memancarkan sinarnya. Mereka semakin jauh meninggalkan Desa Sendir, dan kini sudah memasuki hutan di Lereng Gunung Sendir. Hutan yang tidak begitu lebat, sehingga tidak menyulitkan Rangga untuk mengajak jalan Seruni. Sepanjang perjalanan, perhatian Rangga tidak lepas ke wajah gadis kecil yang berjalan di sampingnya.

Jelas sekali kalau Seruni tidak menikmati perjalanan ini. Wajahnya selalu mendung, tidak memancarkan sinar kegairahan. Ayunan kakinya lambat, dan selalu menundukkan kepalanya. Rangga yang tidak tahan melihat kemurungan gadis kecil itu, segera berhenti melangkah dan menggamit pundak Seruni.

"Kau sedih, Seruni?" tanya Rangga lembut.

"Tidak," sahut Seruni seraya menggeleng lemah.

Dicobanya menatap bo!a mata Rangga, tapi sinar matanya begitu redup tak bercahaya.

"Wajahmu begitu murung. Aku tahu kau menyimpan sesuatu. Katakanlah, Adik Manis. Apa yang kau pikirkan...?" bujuk Rangga lembut.

Seruni hanya menggeleng saja, kemudian melangkah lagi. Rangga hanya memperhatikan saja dengan hati diliputi berbagai macam perasaan dan pertanyaan. Sejak meninggalkan rumah penginapan tadi, Seruni kelihatan murung dan tidak bersemangat lagi menempuh perjalanan ini. Rangga yakin kalau gadis kecil itu memiliki suatu beban yang membuatnya murung.

"Seruni...," panggil Rangga seraya mengejar.

Seruni menghentikan langkahnya, tapi tidak membalikkan tubuhnya. Rangga berdiri di depan gadis kecil itu, kemudian berlutut dan menggenggam pundak Seruni Ditatapnya dalam-dalam gadis kecil itu, tapi yang ditatap malah menundukkan muka.

"Ada apa, Seruni..?" desak Rangga lembut.

Seruni tidak langsung menjawab, tapi malah mengangkat mukanya dan langsung menatap ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti itu. Bibirnya yang kecil masih terkatup rapat, namun bola matanya terlihat merembang. Setitik air bening menggulir di pipinya yang halus kemerahan. Rangga tersentak kaget melihat Seruni menangis. Dihapusnya air mata yang menggulir itu dengan ujung jarinya.

"Kakang..," suara Seruni tercekat di tenggorokkan.

Rangga semakin tidak mengerti. Dibiarkan saja gadis kecil itu memeluk dan menangis sesenggukan di bahunya. Pendekar Rajawali Sakti tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Tidak tahu, apa yang mesti dilakukan. Baru kali ini dia mendapatkan seorang bocah kecil yang begitu malang. Dan kini bocah itu menangis dalam pelukannya, tanpa diketahui apa sebabnya.

"Seruni...," halus sekali Rangga melepaskan pelukan gadis kecil itu.

Lembut sekali Pendekar Rajawali Sakti itu menghapus titik-titik air bening di pipi yang halus kemerahan. Namun Seruni masih sesenggukan, sedangkan air matanya terus berlinang tidak henti-hentinya. Rangga mengajaknya duduk di sebuah pohon tumbang. Sebuah pohon besar menaungi mereka dari sengatan terik matahari. Agak lama juga Seruni baru bisa tenang. Namun sesekali masih terdengar isaknya.

Untuk beberapa saat lamanya Rangga masih belum bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mengungkap sikap Seruni yang aneh. Menangis tanpa lelas penyebabnya. Sementara gadis kecil itu masih terdiam. Sesekali masih terdengar isaknya. Dengan punggung tangannya, dihapus sisa-sisa air mata yang membekas di pipinya.

"Kau sudah tenang, Seruni?" tanya Rangga Iembut.

Seruni tidak menjawab, tapi malah menoleh dari menatap pemuda di sampingnya. Sepasang bola matanya masih terlihat merembang. Raut wajahnya masih terlihat mendung.

"Ada apa...?" tanya Rangga lembut.

"Kakang! Benarkah aku punya Bibi di dekat Lembah Neraka?" tanya Seruni seraya menatap dalam ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti.

"Ayahmu yang mengatakan begitu," sahut Rangga ragu-ragu.

"Kakang percaya?" tatapan mata Seruni semakin dalam.

Rangga benar-benar terperanjat mendengar pertanyaan itu, sehingga membuatnya berdiri dan menatap tajam ke bola mata gadis kecil itu. Pertanyaan Seruni barusan mengisyaratkan kalau gadis kecil itu mengetahui letak Lembah Neraka, dan ingin kejelasan maksud ayahnya mengirimkannya ke sana. Rangga semakin tidak mengerti akan gadis kecil ini. Macam-macam pertanyaan berkecamuk di benaknya.

"Seruni, apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Rangga.

"Sejak kecil aku tidak tahu siapa ibuku. Aku diperlakukan Ayah seperti seorang tawanan saja. Tidak boleh bermain bersama anak-anak lain, tidak boleh pergi sendirian. Bahkan diharuskan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat dan berlatih ilmu olah kanuragan setiap hari. Setiap orang yang melihatku, selalu memandang penuh kebencian. Apa Kakang tidak memperhatikan sikap penduduk Desa Kiambang ketika Ayah meninggal?"

Untuk kesekian kalinya Rangga tersentak Kata-kata Seruni begitu lancar, bagaikan air sungai mengalir. Kata-kata Itu seolah-olah membangunkan Pendekar Rajawali Sakti dari tidur panjangnya. Terus terang, dia memang memperhatikan sikap para penduduk Desa Kiambang, tapi tidak pernah berpikir sampai ke situ. Dan rupanya Seruni lebih jeli dan tajam perasaannya.

"Seruni, ceritakan semuanya tentang diri dan ayahmu," pinta Rangga lembut membujuk.

"Sudah kuceritakan semuanya," sahut Seruni polos.

"Benar. Tapi, ada yang kau sembunyikan, bukan?" tebak Rangga langsung.

Gadis kecil itu masih juga diam.

"Katakan, Seruni. Kenapa berpura-pura tidak tahu? Katakan saja yang menjadi ganjalan di hatimu sekarang. Aku pasti akan membantumu," desak Rangga berjanji.

"Benar Kakang bersedia membantuku?" Seruni ingin meyakinkan.

"Aku janji," mantap suara Rangga.

Gadis kecil itu kembali diam. Sepertinya sedang mempertimbangkan janji Rangga padanya. Sebentar dia menarik napas panjang, kemudian berdiri dan melangkah perlahan-lahan. Rangga masih tetap diam memperhatikan.

"Ayo, Kakang. Kita ke Lembah Neraka " ajak Seruni tanpa menoleh. Kakinya yang kecil terus terayun melangkah.

Rangga mengangkat bahunya, kemudian mensejajarkan ayunan kakinya di samping kanan gadis kecil itu. Namun ketika mereka berjalan tidak seberapa jauh, mendadak sebuah cahaya keperakan berkelebat cepat bagai kilat ke arah pemuda itu.

"Hup!"

Rangga langsung melompat cepat seraya menggamit tubuh Seruni. Begitu indahnya gerakan Pendekar Rajawali Sakti itu, sehingga cahaya keperakan itu melesat mengenai sasaran yang kosong. Rangga berjumpalitan dua kali di udara sebelum kakinya menjejak tanah dengan indahnya. Diturunkan gadis kecil yang berada di ketiaknya.

"Berlindung di sana," perintah Rangga seraya menunjuk sebongkah batu besar.

Seruni segera berlari menuju ke batu yang ditunjuk Pendekar Rajawali Sakti. Namun belum juga mencapai batu itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan merah ke arah Seruni. Sesaat Rangga terperangah, namun bagaikan kilat melesat hendak menyambar tubuh gadis kecil itu.

Namun gerakan Rangga terlambat hanya sekejapan mata saja. Tiba-tiba saja tubuh Seruni sudah lenyap, bersamaan dengan lenyapnya bayangan merah itu Sekilas Rangga masih melihat bayangan merah itu melesat masuk ke dalam hutan.

"Hup, hiyaaa...!"

Seketika itu juga Rangga melesat mengejar disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh. Ilmunya sudah mencapai taraf kesempurnaan, sehingga tubuhnya bergerak bagaikan kilat saja. Namun sayangnya, bayangan merah itu tetap tidak terlihat lagi. Rangga menghentikan pengejarannya. Sebentar dia mendongak ke atas, lalu tubuhnya melenting tinggi ke atas. Manis sekali kakinya hinggap di salah satu cabang pohon yang paling tinggi.

Sambil mengerahkan aji 'Tatar Netra', Pendekar Rajawali Sakti itu mengedarkan pandangannya berkeliling. Namun sejauh mata memandang, hanya kehijauan dan kelebatan hutan yang tampak. Tidak sedikit pun terlihat adanya kelebatan bayangan merah. Bayangan merah itu bagaikan lenyap ditelan bumi.

Baru saja Rangga akan melompat turun, mendadak terlihat gerumbul semak bergerak-gerak tidak jauh darinya. Dengan mengerahkan aji 'Tatar Netra', diperhatikan gerumbul semak itu. Dan terlihatlah sesosok tubuh mengendap-endap di antara gerumbul semak belukar Itu.

"Gita Raka...," desis Rangga, ketika mengenali orang yang mengendap-endap di gerumbul semak itu. "Ha.., apa yang dikerjakannya di sini...?"

Rasa penasaran yang meliputi dirinya, membuat Pendekar Rajawali Sakti itu melesat turun ke bawah. Tubuhnya melayang cepat bagai seekor burung rajawali, langsung menuju ke arah gerumbul semak itu.

"Oh...!"
"Gita...!"

Gita Raka terkejut sekali begitu tiba-tiba Rangga muncul di depannya, sehingga sampai terlonjak ke belakang beberapa langkah. Wajahnya pucat bercampur merah. Namun begitu mengenali siapa yang tiba-tiba muncul, wajahnya langsung berubah biasa kembali. Bahkan dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Apa yang kau kerjakan di sini?" tanya Rangga langsung.

"Kau sendiri,..?" Gita Raka malah balik bertanya.

"Aku bertanya padamu, Gita!" rungut Rangga sengit.

Gita Raka tidak menggubris rungutan bernada membentak itu, tapi malah mengedarkan pandangannya berkeliling. Keningnya agak berkerut, kemudian menatap langsung ke bola mata pemuda di depannya.

"Mana Seruni?" tanya Gita Raka lagi.

"Jangan berlagak bodoh, Nisanak! Seharusnya akulah yang bertanya seperti itu padamu!" bentak Rangga semakin sengit. Rasa curiga pada wanita berbaju merah muda itu membuat dirinya berkeyakinan bahwa Gita Raka-lah yang membawa kabur Seruni ladi.

"Apa yang terjadi terhadap Seruni?" Gita Raka malah bertanya tajam. Tatapan matanya begitu menusuk.

Rangga terhenyak mendengar pertanyaan bernada ketus bercampur kecemasan Itu. Kelopak matanya agak menyipit melihat tatapan mata yang begitu tajam menusuk ke arahnya.

"Aku tidak percaya kalau kau tidak tahu apa yang terjadi," nada suara Rangga masih terdengar penuh kecurigaan, meskipun dalam hatinya mulai diliputi kebimbangan dengan wanita berbaju biru muda itu.

"Aku tidak main-main, Rangga. Apa yang terjadi pada Seruni?" agak membentak suara Gita Raka.

"He...!?" Rangga terkejut

"Oh, Dewata Yang Agung.... Ternyata apa yang selama ini kucemaskan akan terjadi juga. Seruni..., maafkan aku...," keluh Gita Raka seraya mendongak ke atas.

Rangga semakin terhenyak tidak mengerti akan sikap Gita Raka. Mendadak saja wanita itu berubah, dan mengeluh lirih. Siapa sebenarnya wanita berbaju merah muda ini? Dan apa hubungannya dengan Seruni? Kelihatannya Gita Raka begitu menyesali akan kejadian yang telah menimpa diri gadis kecil itu.

Dan belum lagi Rangga dapat menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk dalam benaknya, Gita Raka tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut dan menangis sesenggukan. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Sedangkan Rangga hanya terpaku tidak mengerti terhadap sikap wanita itu. Saat ini rasanya dia tengah dihadapkan pada satu kejadian yang sukar untuk dipahami.

Semua yang terjadi dan dilihatnya sungguh sulit dimengerti. Semua orang yang ditemui menyimpan sesuatu, dan sikapnya pun sungguh aneh! Sebentar marah, sebentar sedih, dan sebentar kemudian sudah bergembira lagi. Pertama Rangga sudah bingung akan sikap Seruni. Dan kini, dia juga harus menghadapi sikap Gita Raka yang sama sekali tidak dimengerti. Apa sebenarnya yang tengah terjadi? Rangga menepuk lembut pundak Gita Raka. Kepala wanita itu perlahan-lahan terangkat naik. Tampak air mata berlinangan membasahi seluruh wajahnya.

"Ada apa ini...? Kenapa semua orang yang kujumpai menjadi aneh begini?" Rangga mengeluh agak kesal

"Rangga, tolong katakan di mana Seruni? Katakan, apa yang terjadi pada anak itu?" pinta Gita Raka setelah dapat menenangkan diri.

"Katakan dulu, siapa kau sebenarnya? Mengapa begitu mencemaskan Seruni?" Rangga balik mendesak.

"Tolonglah aku, Rangga. Apa yang terjadi pada Seruni? Di mana dia...?"

Rangga menarik napas panjang-panjang. Gita Raka benar-benar mencemaskan keadaan Seruni. Bahkan terus mendesak tanpa bersedia mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya, meskipun Rangga sudah mendesaknya.

"Baiklah...," desah Rangga mengalah. "Saat ini, aku tidak tahu di mana Seruni berada. Dia tiba-tiba saja menghilang. Aku sudah berusaha mengejar dan mencarinya, tapi Seruni dan bayangan merah itu seperti lenyap ditelan bumi."

"Oh...," Gita Raka mengeluh panjang.

"Sekarang katakan, siapa kau sebenarnya, dan ada hubungan apa dengan Seruni?" kini berbalik Rangga yang mendesak.

Gita Raka tidak langsung menjawab, tapi malah beranjak bangkit dan berbalik. Perlahan-lahan kakinya terayun melangkah menuju ke sebuah batu yang tidak begitu besar, kemudian duduk menjuntai di atas situ. Rangga masih berdiri memperhatikan dengan sikap menunggu tidak sabar.

"Hhh...!" lagi-lagi Gita Raka menarik napas panjang dan berat.

"Sembilan tahun aku menunggu...," Gita Raka mulai membuka suara. "Waktu yang tidak pendek. Sekarang, setelah semua yang kutunggu hampir terlaksana, kini malah berantakan. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mereka sudah mendapatkannya lebih dahulu, dan tidak mungkin aku dapat melihatnya lagi," ada nada keluhan pada suara Gita Raka.

Rangga serius mendengarkan, kemudian duduk di sebatang pohon yang miring hampir rubuh. Pandangannya tidak terlepas pada wanita berbaju merah muda di depannya. Sementara Gita Raka menghapus air matanya yang masih menitik.

"Aku sangat menyayanginya, tapi tidak kuasa untuk memilikinya. Dan sekarang mereka telah memilikinya secara paksa. Tidak ada harapan lagi untukku melihat Seruni...," Gita Raka kembali menangis.

"Gita..., apakah kau ibunya Seruni?" tanya Rangga menebak.

Gita Raka menggeleng lemah. Kembali dihapus air matanya. Dia mencoba menenangkan diri kembali dengan menarik napas dalam-dalam

"Lantas, siapa kau sebenarnya?" desak Rangga.

"Aku adik kandung ibunya," sahut Gita Raka pelan, hampir tidak terdengar suaranya.

"Jadi...!" suara Rangga terputus di tenggorokan.

"Kedua orang tua Seruni sudah tiada, dan sejak bayi Ki Biran-lah yang mengasuhnya. Aku tidak menduga kalau laki-laki tua itu sangat mengasihi Seruni, bahkan mengangkatnya sebagai anak," ujar Gita Raka, mulai tenang nada suaranya.

"Kau sudah tahu itu, mengapa tidak mengambil dan merawatnya?" tanya Rangga.

Tidak semudah itu, Rangga. Ki Biran adalah saudara sepupu Eyang Girindra, seorang tokoh tua yang sangat digdaya dan tinggal di Puncak Gunung Sendir. Ki Biran memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dan aku tidak bisa menandinginya. Lebih-lebih harus menandingi Eyang Girindra. Tidak ada seorang pun yang mampu, Rangga."

"Hm..., aneh juga.... Kenapa sebelum dia meninggal justru ingin agar aku memberikan Seruni pada bibinya yang tinggal di dekat Lembah Neraka?" Rangga seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Ki Biran menyadari kalau selama ini hanya diperbudak kakak sepupunya. Dia tahu kalau Eyang Girindra adalah tokoh beraliran hitam, makanya Seruni berusaha dipertahankannya. Tapi dia tidak mampu menandingi kepandaian sepupunya itu."

"Jadi..., kau tahu kejadian di rumah Ki Biran?" agak terkejut juga Rangga mendengarnya.

"Benar! Saat itu aku berada tidak jauh dari rumah itu Dan memang sudah beberapa hari ini aku mengamatinya. Ya..., sejak kau datang. Maaf, Rangga. Semula kusangka kau adalah orang suruhan Eyang Girindra untuk menculik Seruni. Itulah sebabnya kenapa kau kubuntuti terus hingga sampai ke sini. Sekarang aku yakin kalau kau tidak bermaksud jahat pada Seruni setelah anak itu mengatakannya padaku."

Untuk kesekian kalinya Rangga terperangah kaget. Sama sekali tidak disangka kalau Seruni pernah berhubungan dengan Gita Raka. Rangga mencoba mengingat-ingat saat Seruni tidak berada dalam pengawasannya. Ya..., dia ingat! Saat di rumah penginapan!! Ketika itu tengah malam Seruni terbangun dan minta diantarkan ke belakang. Katanya, akan buang air. Rangga mengantarkannya sampai di pintu belakangi rumah penginapan.

Hanya di situ saja dia terpisah dari Seruni, dan waktunya pun tidak terlalu lama. Dan rupanya kesempatan itu digunakan Gita Raka untuk menemuinya. Itu berarti Seruni memang sudah mengenal wanita ini. Sekarang Rangga jadi mengerti, mengapa Seruni menangis tanpa diketahui sebabnya. Rupanya gadis kecil itu sudah menyadari kalau dirinya dalam keadaan bahaya, dan tidak yakin dapat sampai ke Lembah Neraka.

"Kenapa saat itu kau tidak membawanya saja, Gita?" tanya Rangga ingin tahu.

"Tidak! Aku tidak mungkin bisa membawa Seruni ke tempat tinggalku di dekat Lembah Neraka. Di sana bukan tempatku lagi. Ada orang lain yang kini menguasai tempat itu. Bahkan telah membunuh guruku."

"Tapi kau bisa membawa Seruni ke mana saja kau suka, bukan?"

"Terlalu berbahaya, Rangga. Aku harus menemukan suatu tempat yang aman lebih dahulu, dan sementara itu aku juga harus membuntutimu sambil mencari tempat untuk tinggal kami. Ada tiga orang anak buahku yang kini sedang mencari tempat tinggal vang aman dari tidak pernah dimasuki orang."

"Aneh juga kau ini, Gita. Kau belum mengenal betul siapa diriku, tapi sudah begitu mempercayaiku,' kembali Rangga bergumam seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Tidak aneh, Rangga. Aku tahu, kau seorang pendekar digdaya tanpa tanding yang sudah sangat ternama. Kau bergelar Pendekar Rajawali Sakti...."

"He! Dari mana kau tahu?" Rangga terlonjak kaget.

"Semua orang yang bergelimang dalam rimba persilatan pasti sudah bisa mengenalimu, meskipun belum pernah melihatnya secara langsung. Pendekar Rajawali Sakti selalu memakai baju rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung di punggung. Masih muda, gagah, dan selalu berkata lembut bagai seorang bangsawan. Semua itu ada pada dirimu, Rangga. Meskipun kau memperkenalkan dirimu pada diriku dengan nama Rangga, tapi aku sudah tahu siapa kau sebenarnya."

Rangga hanya bisa mengangkat bahunya. Memang disadarinya kalau nama Pendekar Rajawali Sakti sudah demikian kondang. Hampir semua orang sudah pernah mendengar sepak terjangnya dalam dunia persilatan. Namun begitu, dia masih juga merasa kaget kalau masih ada orang yang mengenalinya. Padahal, Rangga belum memperkenalkan diri.

"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rangga.

"Aku tidak tahu. Sekarang aku tidak lagi punya tempat tinggal, sedangkan Seruni juga sudah terlepas lagi dari tangan...," ada nada keluhan dalam suara Gita Raka.

"Kenapa tidak kau coba untuk merebut kembali?' usul Rangga.

"Percuma...," Gita Raka menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Percuma...?! Kenapa?"

"Aku tahu siapa yang mengambil Seruni. Mustahil untuk dapat memperolehnya kembali," ujar Gita Raka, putus asa.

"Kau sayang pada Seruni, Gita?"

"Ya, tentu saja aku sangat menyayanginya," sahut Gita Raka cepat. "Sejak dulu diam-diam aku selalu menemui Seruni Bahkan gadis itu selalu mengharapkan agar aku bisa membawanya pergi. Tapi...."

"Kenapa?"

"Kalaupun Seruni bisa kudapatkan kembali, Eyang Girindra pasti tidak akan tinggal diam. Kalau bukan dia yang turun sendiri untuk merebutnya, pasti murid-muridnya. Hhh..., guru dan murid sama-sama bejad!"

Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sudah mengerti sekarang persoalannya. Hanya saja yang belum bisa dipahami, untuk apa mereka saling memperebutkan Seruni? Dan selagi mendapat pertanyaan itu dalam benaknya, mendadak di angkasa terdengar suara mendesir yang begitu cepat, dan disusul berkelebatnya sebuah bayangan hitam besar.

Ketika Rangga mendongak ke atas, sekelebatan, terlihat sebuah benda hitam besar melayang di angkasa. Keningnya jadi berkerut melihat benda hitam itu melesat cepat bagaikan kilat Meskipun hanya sekejapan mata saja, namun Pendekar Rajawali Sakti itu sudah bisa menangkap jelas bentuk bayangan hitam itu.

"Rajawali Hitam...," desisnya dalam hati.

EMPAT

"Gita, kembalilah ke Desa Kiambang atau ke Desa Sendir. Akan kubawa Seruni kembali padamu. Maaf, aku tidak punya waktu lagi...!" kata Rangga cepat-cepat.

"Heh...!"

Belum lagi Gita Raka sempat berkata, Rangga sudah melesat cepat meninggalkannya. Begitu cepatnya Pendekar Rajawali Sakti itu pergi, sehingga dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah tidak terlihat lagi. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Rangga memang sudah mencapai taraf kesempurnaan, sehingga kecepatan berlarinya sukar untuk diikuti mata biasa.

Rangga berlompatan dari satu puncak pohon ke puncak pohon lain. Sedangkan pandangan matanya tidak lepas ke arah bayangan hitam yang melayang tinggi di angkasa. Dengan mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya, Pendekar Rajawali Sakti itu berusaha mengikuti benda hitam yang dilihatnya, dan dikenalinya sebagai Rajawali Hitam, pasangan Rajawali Putih tunggangannya.

"Hm..., dia terbang sendirian. Di mana Putri Rajawali Hitam...?" gumam Rangga bertanya dalam hatinya sendiri.

Dengan menggunakan aji 'Tatar Netra', Rangga mampu melihat jelas Rajawali Hitam. Memang, di punggung burung rajawali raksasa itu tidak ada penunggangnya. Pendekar Rajawali Sakti itu terus berlompatan dengan kecepatan penuh, mengikuti arah yang dituju Rajawali Hitam.

"Khraghk...!"

Rajawali Hitam rupanya mengetahui kalau dirinya diikuti. Dia menoleh dan langsung berbalik dengan cepat. Bagaikan kilat, burung raksasa itu meluruk deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Tentu saja hal ini membuat Rangga terkejut setengah mati. Namun dengan sigap dia melentingkan tubuhnya, meluruk ke bawah sambil berlompatan menghindari terjangan burung raksasa itu.

"Hup...!"

Manis sekali Pendekar Rajawali Sakti menjejakkan kakinya di tanah. Kalau saja tidak cepat-cepat menghindar tadi, pasti tubuhnya remuk terlanda burung raksasa itu. Namun kini Rangga jadi tertegun karena Rajawali Hitam malah mendekam dengan kepala hampir merunduk menyentuh tanah.

"Khrrrk...!" Rajawali Hitam mengkirik pelahan.

"Hm.... Apa yang kau inginkan dariku, Rajawali Hitam?" tanya Rangga bergumam. Namun kedengarannya seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Khrrr...!" kembali Rajawali Hitam mengkirik lirih.

Rangga memperhatikan kepala burung raksasa yang bergerak-gerak ke atas dan ke bawah secara pelahan, lalu menoleh ke belakang dan kembali menjulur ke depan. Sepasang sayapnya dikepak-kepakkan, sehingga menimbulkan suara angin menderu keras.

"Aku tidak mengerti maksudmu. Tapi kalau kau bermaksud tidak baik padaku, jangan harap aku akan diam saja, Rajawali Hitam," kata Rangga setengah mengancam.

"Grahk...!" Rajawali Hitam menggeleng-gelengkan kepalanya.

Rangga kembali memperhatikan gerak-gerak kepala burung raksasa itu. Keningnya agak berkerut, berusaha untuk dapat menangkap maksudnya. Agak sukar juga untuk memahaminya. Tapi, sedikit banyak, setiap gerakan dan suara yang dikeluarkan hampir mirip dengan Rajawali Putih. Tentu saja Rangga sedikit demi sedikit bisa memahaminya.

"Hm..., kau membutuhkan pertolonganku. Apa ini bukan hanya jebakan saja?" Rangga masih tetap curiga.

"Khraghk!"

"Baiklah. Tapi kalau kau berniat buruk, aku tidak segan-segan membunuhmu, Rajawali Hitam."

"Grahk...!"

"Pergilah dulu, aku akan mengikutimu."

Rajawali Hitam mengegoskan kepalanya ke belakang, dan mematuki punggungnya sendiri. Rangga bisa mengerti kalau burung raksasa itu menginginkan agar dirinya naik ke punggungnya. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu berpikir, tapi kemudian melompat juga ke punggung Rajawali Hitam.

"Khraghk...!"

Dengan beberapa kali kepakan sayap saja, Rajawali Hitam sudah membumbung tinggi ke angkasa. Dan Rangga terpaksa berpegangan erat pada leher burung raksasa itu. Kalau biasanya dia menunggang burung Rajawali Putih, tapi kali ini menunggang pasangannya, Rajawali Hitam! Rangga tidak mau lagi banyak bicara. Rajawali Hitam terus terbang dengan cepat menuju ke satu arah yang belum pernah dikenalnya.

Kecepatan terbang Rajawali Hitam sungguh luar biasa. Dalam waktu yang tidak berapa lama, sudah berada di atas sebuah lembah yang sangat aneh. Lembah itu seluruhnya berwarna merah bagai terbakar. Pohon, batu, dan tanah di lembah itu semuanya berwarna merah! Udaranya pun sangat panas menyengat. Rangga tidak tahu, apa nama lembah itu.

Lembah yang sangat aneh. Di sekelilingnya tidak ida kejanggalan. Pohon-pohon tetap berwarna hijau pada daunnya. Bahkan begitu subur dan rapat. Hanya lembah itu saja yang berwarna merah bagai terbakar. Kening Rangga agak berkerut begitu merasakan Rajawali Hitam menukik turun, dan makin berkerut lagi begitu melihat sebuah bangunan besar dan megah. Letaknya di tengah-tengah sebuah danau yang ada di lembah itu.

"Khraghk...!" Rajawali Hitam berkaokan keras.

"Hup!" Rangga melompat turun sebelum kaki Rajawali Hitam menyentuh dasar lembah itu.

Sejenak Pendekar Rajawali Sakti itu memandangi bangunan di depannya. Sebuah bangunan yang sangat besar dengan daun pintu dan jendela yang juga besal ukurannya. Bangunan yang seluruhnya berwarna merah ini bagaikan sebuah istana yang dihun raksasal Dan anehnya, letaknya tepat berada di tengah-tengah danau yang airnya juga berwarna merah. Asap tipis mengepul dari permukaan danau itu.

Kreeek...!

Rangga sempat menahan napas juga saat pintu berukuran sangat besar di depannya terbuka sendiri Rajawali Hitam segera melenggang masuk ke dalam. Sementara Pendekar Rajawali Sakti itu masih tetap berdiri tak bergeming. Dan baru saja kakinya akan melangkah, terdengar suara dari dalam. Suara yang lembut dan begitu halus.

"Kau sudah datang, Rajawali Hitam?"

"Khrrr...!"

"Sudah kukatakan, tidak ada gunanya mencari Pendekar Rajawali Sakti. Dia tidak akan bisa menyembuhkan lukaku ini...."

Sementara Rangga yang masih berada di luar, hanya mendengarkan saja. Dia kini tahu kalau Putri Rajawali Hitam ada di dalam, dan dalam keadaan terluka. Dugaannya sudah pasti, wanita itu membutuhkan pertolongan untuk menyembuhkan lukanya. Tapi ini membuat Rangga ragu-ragu, karena belum yakin kalau Putri Rajawali Hitam berada di dalam golongan putih.

Namun Rangga segera teringat dengan salah satu ajaran Pendekar Rajawali, yang dibacanya dari buku peninggalan tokoh besar yang hidup seratus tahun lalu. Sebagai seorang pendekar, menolong orang lemah adalah satu kewajiban. Lebih-lebih jika orang itu dalam keadaan terluka dan benar-benar membutuhkan pertolongan. Dalam menolong tidak boleh memandang apakah dia itu orang jahat atau orang baik, apakah itu orang berada atau orang tidak punya.

Setiap pertolongan, pasti mendapatkan balasan. Dan tidak boleh menyesal jika tidak menerima balasannya. Pendekar sejati tidak selayaknya mengeluh akan balasan. Ada satu kalimat yang tidak pernah terlupakan Rangga sampai saat ini. "Jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu. Membantu seseorang bukan untuk mengharapkan imbalan...."

Mengingat semua itu, hati Rangga menjadi mantap. Maka diayunkan kakinya memasuki bangunan besar bagai istana raksasa itu. Sejenak dia tertegun begitu melewati ambang pintu. Tampak Rajawali Hitam mendekam di samping sebuah ranjang besar dan indah. Di atas ranjang itu tergolek lemah seorang wanita berwajah cantik dan pucat. Wanita itu masih mengenakan baju hitam ketat. Sebuah cadar hitam tipis tergolek di sampingnya. Rangga mengenali wanita Itu, dan ini yang membuatnya terpaku.

"Intan Kemuning...," tanpa sadar Rangga mendesis.

"Oh...!" wanita cantik yang tergolek di atas pembaringan itu terkejut.

Buru-buru diambil cadar hitam di sampingnya, tapi Rangga sudah menghampiri dan keburu mengenali wajahnya. Wanita yang memang Intan Kemuning Itu tidak jadi menutupi wajahnya dengan cadar hitam. Kini Rangga sudah berdiri di samping pembaringan besar itu. Hampir tidak dipercaya dengan apa yang dilihatnya kini. Sukar untuk dipercaya. Wanita yang selama ini menjadi beban pikirannya, ternyata amat dikenalnya. Dia itu putri seorang patih yang telah membuat suasana Kerajaan Galung jadi porak-poranda.

"Kakang...," lemah sekali suara Intan Kemuning. Gadis itu berusaha bangkit rapi keadaan rubuhnya demikian lemah. Rangga buru-buru mencegah, lalu duduk di tepi pembaringan. Tanpa diketahui, Rajawali Hitam menyingkir ke luar. Mungkin burung raksasa ingin memberi kesempatan pada dua manusia itu untuk berdua saja.

"Kau terluka, Intan?" tanya Rangga setelah cukup lama berdiam diri.

"Ya...," lirih sekali jawaban Intan Kemuning.

Rangga menjulurkan tangannya, dan memeriksa tubuh gadis itu. Keningnya agak berkerut setelah mengetahui kalau di dalam tubuh Intan Kemuning telah menjalar sejenis racun yang sangat lambat kerjanya, namun mematikan! Hanya saja yang membuat Rangga sukar untuk mengerti, racun yang mengendap di dalam aliran darah gadis itu sukar dicari obatnya.

Rangga yang mengerti akan segala macam jenis racun dan kebal pada segala racun, bisa cepat mengetahui jenis racun itu. Tapi, dia tidak berani mengobati lewat penyaluran hawa murni atau pengobatan lain yang biasa digunakan untuk mengeluarkan racun dari tubuh seseorang. Racun jenis ini hanya bisa punah oleh orang yang melepaskannya. Obatnya pun hanya satu! Itu pun hanya dimiliki oleh orang yang memiliki jenis racun itu juga.

"Apakah yang melukaimu Kalaban, Intan?" tanya Rangga yang sebenarnya sudah tahu kalau gadis itu luka akibat pukulan Kalaban.

"Benar, Kakang," sahut Intan Kemuning pelan. Rangga menarik napas panjang. Dia tahu siapa orang yang disebutkan Intan kemuning. Pendekar Rajawali Sakti itu juga pernah bentrok dengannya. (Memang saat itu Kalaban mengeluarkan suatu jurus lyang mengandung hawa racun lemah, namun sangat dahsyat akibatnya. Saat itu Rangga belum menyadari kalau Kalaban sempat melontarkan racun itu pada Intan Kemuning yang menggunakan nama Putri Rajawali Hitam.

"Maafkan aku, Intan. Aku tidak bisa mengeluarkan racun di dalam tubuhmu. Hanya Kalaban yang bisa, karena hanya dia yang mempunyai penawarnya. Tapi kau masih mampu bertahan untuk beberapa hari," jelas Rangga.

"Oh...," Intan Kemuning mendesah lirih.

"Jangan khawatir. Intan. Akan kucari Kalaban dan meminta obat penawarnya. Kalau perlu dengan cara paksa!" janji Rangga.

"Oh, Kakang.... Aku tidak tahu lagi harus berkata apa kepadamu. Aku selalu membuatmu repot," keluh Intan Kemuning.

"Ah, sudahlah. Yang penting sekarang kau tetap berada di sini. Aku pasti kembali membawa obat penawar itu. Percayalah," Rangga meyakinkan.

"Terima kasih, Kakang. Seandainya kau gagal, aku sudah pasrah," ucap Intan Kemuning.

"Jangan putus asa, Intan. Kau bukan lagi Intan yang dulu kukenal. Kau sekarang seorang pendekar wanita yang tangguh dan digdaya," Rangga membesarkan hati gadis itu.

"Aku bukan pendekar, Kakang. Jiwaku masih kotor. Aku menyesal telah berlaku bodoh, sehingga membuat banyak orang menderita."

"Tapi apa yang kau perbuat juga tepat, Intan. Meskipun harus membayarnya dengan mahal sekali. Aku kagum padamu."

"Oh, Kakang...."

Intan Kemuning tidak kuasa membendung rasa harunya. Sejak meninggalkan Kerajaan Galung dan menetap di sini bersama Rajawali Hitam, baru kali ini dia mendengar kata-kata lembut dan menyanjung. Biasanya yang selalu didengar hanya caci maki dan sumpah serapah orang-orang yang menyesali perbuatannya. Mengundang tokoh-tokoh rimba persilatan dan mengajaknya bertarung dengan hadiah yang sebenarnya tidak perlu diucapkan.

Saat itu Intan Kemuning memang terlalu jumawa akan dirinya yang katanya telah menguasai berbagai macam ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Dia jadi tinggi hati dan menganggap kecil semua orang di matanya, sehingga berani mempertaruhkan Istana Kerajaan Galung untuk sekedar memuaskan hatinya. Tapi semua kesombongan itu terhenti saat mendapatkan lawan yang sangat tangguh dan akhirnya berhasil mengalahkannya. Dia ingin mengingkari janjinya, dan melarikan diri sampai dikejar-kejar anak buah Empat Bayangan Iblis Neraka dan Kalaban yang begitu ingin memperistrinya.

Suatu saat, Intan Kemuning tidak bisa lagi lari dari kejaran Empat Bayangan Iblis Neraka dan tokoh-tokoh hitam rimba persilatan yang pernah dikalahkannya dalam pertarungan. Terpaksa dihadapinya lawan-lawannya itu, namun dia kalah dalam pertarungan. Intan lebih memilih mati daripada harus menjadi istri Kalaban, murid Empat Bayangan Iblis Neraka. Gadis itu menceburkan diri ke dalam Lembah Ular Berbisa yang sangat ditakuti semua orang.

Namun maut rupanya belum menginginkan gadis itu. Seekor burung rajawali raksasa menyelamatkan dan membawanya ke Lembah Neraka ini. Di lembah ini dia menyembuhkan luka-lukanya dan memulihkan keadaan tubuhnya. Bahkan Rajawali Hitam juga memberi jurus-jurus dan ilmu kesaktian yang cukup tinggi dan tangguh, sehingga Intan Kemuning semakin tinggi tingkat kepandaiannya.

Sejak itulah selalu dikenakannya baju hitam dengan cadar menutupi wajahnya. Intan Kemuning kemudian menggunakan nama Putri Rajawali Hitam. Dia kembali ke Kerajaan Galung untuk membalas kekalahannya yang menyakitkan. Tapi rupanya hari sial masih membuntutinya. Dia dapat dikalahkan Kalaban, dan kini menderita dan dibayangi maut.

Di Lembah Neraka ini Intan Kemuning bisa mengetahui asal-usul burung Rajawali Hitam yang menolong dan memberikannya ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Bahkan dia juga tahu kalau ada rajawali raksasa lain di dunia ini. Semua itu diketahuinya dari buku-buku yang dia sendiri tidak tahu siapa penulisnya. Semua buku itu didapatkan di dalam bangunan istana megah ini.

Kini Rangga sudah tahu siapa sebenarnya Putri Rajawali Hitam itu. Tokoh yang sempat menggetarkan rimba persilatan bersama burung rajawali raksasa tunggangannya. Seorang gadis cantik yang dulu dikenali dan sempat ditolongnya dari cengkeraman Bidadari Sungai Ular. Namun sekarang gadis itu tengah menghadapi maut yang jelas akan merenggut nyawanya secara pelahan-lahan. Tidak ada pilihan lagi bagi Pendekar Rajawali Sakti selain mencari Kalaban untuk meminta obat penawar, akibat racun yang dilepaskannya pada Intan Kemuning atau Putri Rajawali Hitam.

"Aku pergi dulu, Intan. Kau jangan kemana-mana sampai aku kembali," kata Rangga berpamitan.

"Kau akan ke mana, Kakang?" tanya Intan Kemuning.

"Mencari obat penawar racun untukmu," sahut Rangga.

"Jangan, Kakang! Terlalu berbahaya! Kau bisa celaka nanti," cegah Intan Kemuning. Dia tahu, siapa Kalaban itu. Lebih-lebih bila menghadapi Eyang Girindra, guru dari Empat Bayangan Iblis Neraka, sekaligus gurunya Kalaban yang tentu saja tingkat kepandaiannya sukar diukur.

Rangga hanya tersenyum saja dan menepuk punggung tangan gadis itu. Intan Kemuning menggamit tangan Rangga dan menggenggamnya erat-erat, seakan-akan tidak ingin dilepaskan lagi. Dengan sinar mata yang redup, ditatapnya langsung bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Terlalu banyak kata-kata yang terucapkan dari matanya, namun sukar untuk dikeluarkan.

"Kakang...," pelan suara Intan Kemuning.

"Ya, ada apa?" lembut suara Rangga.

"Dulu Kakang pernah mengatakan kalau aku akan mendapatkan seorang pangeran. Apakah itu benar, Kakang?" ujar Intan tetap menggenggam tangan Rangga.

"Tentu. Kau tentu akan mendapatkannya," sahut Rangga seraya menelan ludahnya.

Rangga jadi ingat dengan kata-katanya sendiri pada gadis itu. Suatu kalimat yang sebenarnya diucapkan hanya untuk menghibur, tapi malah membuat Intan Kemuning berharap banyak padanya. Kini gadis itu seakan-akan menagih kata-kata yang pernah diucapkan Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku berharap pangeran itu ada di dekatku saat ini," kata Intan Kemuning pelan.

Lagi-lagi Rangga hanya mampu menelan ludahnya. Intan Kemuning memang cantik, dan memiliki ilmu yang cukup tinggi. Tapi bukan karena itu Rangga tidak dapat menjawab. Dia masih sulit untuk melupakan Pandan Wangi, yang tewas di pelukannya. Gadis yang pertama kali membuka pintu hatinya. Dan sekarang Rangga tidak bisa memberi harapan pada setiap gadis. Hatinya seakan-akan telah tertutup rapat untuk gadis mana pun juga!

"Kau masih terlalu lemah, Intan. Istirahatlah dulu. Aku pasti kembali membawa obat penawar racun itu," hanya itu yang bisa diucapkan Rangga.

"Kakang..."

"Ssst..., jangan terlalu banyak bicara. Kau harus menghemat tenaga," potong Rangga cepat-cepat.

Intan Kemuning diam. Didekatkan tangan Pendekar Rajawali Sakti ke bibirnya. Dengan lembut dikecup jari-jari tangan pemuda itu. Rangga membiarkan saja. Apalagi ketika Intan Kemuning memelukk tangannya erat-erat ke dada. Tidak dipungkiri lagi, saat itu aliran darah Rangga seperti berbalik. Dan jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Rangga tidak ingin berlarut-larut Dilepaskan tangannya dengan halus, lalu beranjak berdiri

"Aku pergi dulu, Intan," bisik Rangga lembut.

Intan Kemuning tidak menyahut. Namun dari sinar matanya yang redup, dia berharap banyak pada Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga bergegas berbalik dan melangkah keluar. Rajawali Hitam sudah menunggu di depan pintu bangunan megah bagai istana raksasa itu.

Tanpa membuang-buang waktu lagi. Rangga bergegas melompat naik kepunggung Rajawali Hitam. Tanpa diperintah lagi, burung raksasa itu melesat tinggi ke angkasa. Namun baru saja melewati tepian Lembah Neraka, mendadak dia menukik turun dengan deras. Rangga terkejut karena sayap Rajawali Hitam terkatup rapat. Buru-buru dia melompat turun sebelum Rajawali Hitam mencapai tanah. Lalu, dengan mengerahkan jurus 'Ekor Naga Melibat Gunung', disangganya tubuh Rajawali Hitam sehingga tidak jatuh keras ke tanah.

"Khrrrhk...!" Rajawali Hitam mengkirik lirih. Rangga segera memeriksa tubuh burung raksasa itu. Terlihat ada luka memar pada bagian sayap kanannya. Dan luka itu berwarna merah kebiruan. Rangga tahu kalau Rajawali Hitam juga terkena pukulan beracun milik Kalaban.

"Kau juga terluka, Rajawali Hitam," desis Rangga.

"Khrrrkh...!"

"Sebaiknya kau kembali saja. Aku bisa memanggil Rajawali Putih," kata Rangga lagi.

Rajawali Hitam berusaha menggerakkan sayapnya, namun gerakannya sangat lemah dan tidak bisa lagi membumbung ke angkasa. Rangga tahu kalau racun yang mengendap di dalam tubuh Rajawali Hitam sudah meluas ke jaringan syarafnya. Jelas, ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup burung raksasa itu.

Rangga bergegas menotok beberapa bagian tubuh Rajawali Hitam disertai penyaluran hawa murni. Rajawali Hitam itu berkaokan keras, lalu mengepakkan sayapnya dengan kuat Burung raksasa itu melesat cepat kembali ke Lembah Neraka. Totokan berhawa murni dari Pendekar Rajawali Sakti hanya bersifat sementara agar Rajawali Hitam bisa kembali ke Lembah Neraka.

"Hhh..., kasihan sekali kalian. Aku janji akan mendapatkan obat penawar itu, walau apa pun yang akan terjadi...," bisik Rangga dalam hati.

********************

LIMA

Saat itu, tidak jauh dari Lembah Neraka, tampak seorang laki-laki gemuk menunggang kuda putih, sedangkan keempat kakinya warna hitam. Baju yang dikenakannya cukup mewah, meskipun sudah kotor oleh debu. Laki-laki gemuk itu memacu kudanya dengan kecepatan sedang, namun kelihatannya binatang itu mendengus-dengus kelelahan. Sedangkan titik-titik keringat membasahi sekujur tubuh laki-laki gemuk itu.

"Hooop...!" laki-laki gemuk itu menghentikan laju kudanya ketika melihat sebuah pondok kecil berada di antara pepohonan.

Dengan gerakan ringan dan cukup indah, dia melompat turun dari punggung kudanya. Kuda itu pun segera minum di dalam kubangan kecil. Laki-laki gemuk itu melangkah mendekati sebatang pohon besar yang tinggal sedikit daunnya. Dia berdiri bersandar pada pohon itu. Napasnya masih tersengal, dan keringat membanjiri tubuhnya.

Pandangan matanya tidak lepas ke arah pondok kecil yang hanya sekitar tiga tombak lagi jauhnya. Pondok kecil itu kelihatan sepi bagai tidak berpenghuni. Daun-daun kering bertebaran menyemaki sekitar pondok Itu. Laki-laki gemuk Itu mengayunkan kakinya menghampiri pondok itu. Namun belum juga sampai, mendadak sebatang tombak panjang melesat dari arah pondok itu.

"Ih, hup..!

Laki-laki gemuk itu bergegas melentingkan tubuhnya, berputar ke belakang. Tombak itu meluruk lewat di bawah tubuhnya. Dan belum lagi kakinya sempal menjejak tanah, tiga batang anak panah meluruk dera ke arahnya. Laki-laki gemuk itu segera mencabut pedangnya, lalu diputar cepat membentuk perisai! Maka, tiga batang anak panah itu pun rontok terbabat pedang yang berputar cepat bagai baling-baling.

"Hhh! Ada-ada saja...!" dengus laki-laki gemuk itu begitu kakinya menjejak tanah.

"Ha ha ha...!" terdengar tawa menggelegar.

"Hm..., Girindra...," gumam laki-laki gemuk itu.

"Bagus! Akhirnya kita bertemu juga di sini, Patih Giling Wesi!"

Suara itu terdengar bersamaan dengan munculnya seorang laki-laki tua berjubah merah. Tidak berapa lama, sesosok tubuh lain melesat keluar dari dalarri pondok. Laki-laki gemuk itu memang Patih Giling Wesi. Saat ini, dia memang tengah mencari Intan Kemuning hingga sampai ke tempat ini.

Patih Giling Wesi tidak terkejut lagi melihat seorang pemuda tampan berbaju putih bersih bagai seorang ningrat, muncul dari dalam pondok itu. Dia kenal betul dengan pemuda itu.

"Rupanya kau masih hidup, Kalaban!" dingin suara Patih Giling Wesi.

"Aku tidak akan mati sebelum mendapatkan putrimu, Patih Giling Wesi!" sahut Kalaban tidak kalah dinginnya.

"Sampai kapan pun kau tidak akan bisa mendapatkan anakku, bocah setan!"

"Ha ha ha...!" Kalaban hanya tertawa saja. "Mampus kau, keparat!"

Kalaban langsung melompat menerjang laki-laki gemuk dari Kerajaan Galung itu. Terjangan yang sangat cepat dan bertenaga dalam penuh itu dengan manis dapat dihindari Patih Giling Wesi. Dan pada saat, tubuhnya miring ke kanan mengelakkan terjangan itu, satu sodokan keras diarahkan ke perut.

"Uts!"
Tak!

Patih Giling Wesi terlonjak kaget begitu tangannya membentur tangan Kalaban saat menangkis sodokan itu. Bergegas dia melompat mundur ke belakang. Seluruh persendian tangannya seperti tersengat ribuan kala berbisa. Tulang-tulangnya menjadi kaku, dan nyeri rasanya. Patih Giling Wesi langsung menyadari kalau tenaga dalamnya kalah jauh dibanding pemuda itu.

"Ha ha ha...! Kau akan mampus, Patih Giling Wesi" Kalaban tertawa terbahak-bahak.

"Tidak semudah itu kau membunuhku, Anak Muda!" dengus Patih Giling Wesi seraya mencabut pedangnya yang tadi sempat dimasukkan ke dalam sarungnya.

Setelah berkata demikian, Patih Giling Wesi cepat melompat menerjang sambil mengibaskan pedangnya Kalaban menarik perutnya ke belakang sehingga jadi agak membungkuk. Ujung pedang Patih Giling Wesi sedikit lagi pasti akan membabat perut Kalaban.

Gagal dengan serangan pertamanya, Patih Giling Wesi segera melancarkan serangan-serangan dahsyatnya. Setiap serangannya mengandung tenaga dalam tinggi. Namun Kalaban bukan anak kemarin sore. Dia selalu dapat menghindari serangan itu. Bahkan mampu memberikan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Sementara tidak berapa jauh dari tempat pertarungan itu, Eyang Girindra memperhatikan dengan mata tidak berkedip.

Dari bibir tipis yang tertutup kumis putih, laki-laki tua berjubah merah itu tersenyum. Kepalanya terangguk-angguk penuh kepuasan melihat muridnya mampu menandingi Patih Giling Wesi. Bahkan serangan-serangan balasannya mampu membuat patih gemuk itu harus jungkir-balik menghindarinya. Entah sudah berapa jurus berlalu dengan cepat Tampaknya pertarungan masih berjalan seimbang.

"Awas kepala...!" seru Kalaban tiba-tiba dengan keras.

"Sret"

Bersamaan dengan keluarnya tongkat putih keperan dari balik ikat pinggangnya, Kalaban segera mengibaskan tongkat itu ke arah kepala Patih Giling Wesi. Tongkat berwarna keperakan itu langsung menunjang dan berkelebat cepat ke arah kepala.

"Uts!"

Patih Giling Wesi merundukkan kepalanya sedikit, menghindari tebasan tongkat keperakan itu. Tapi belum juga bisa mengangkat kepalanya kembali, mendadak saja sebelah kaki kanan Kalaban menghentak ke depan. Tendangan keras yang cepat disertai pengerahan tenaga dalam penuh itu tidak dapat dielakkan lagi.

"Ugh!"

Patih Giling Wesi mengeluh pendek. Seketika saja dadanya terasa sesak, dan tulang-tulangnya seperti remuk kena tendangan keras bertenaga dalam cukup penuh itu. Tubuhnya terlontar deras ke belakang. Sebongkah batu besar kontan hancur berkeping-keping terbentur tubuh gemuk itu. Patih Giling Wesi berusaha bangkit kembali, namun tubuhnya sempoyongan. Dari mulutnya meluncur segumpal darah kental.

"Ha ha ha...! Sebutlah nama leluhurmu sebelum kukirim ke neraka, Patih Giling Wesi!" ujar Kalaban pongah.

"Phuih!" Patih Giling Wesi menyemburkan ludahnya yang bercampur darah.

Dengan tubuh masih terhuyung-huyung, dicobanya untuk menyerang pemuda itu kembali. Pedangnya berkelebat cepat ke arah leher. Namun manis sekali Kalaban menghindarinya dengan menarik lehernya ki belakang. Dan tiba-tiba tongkat perak Kalaban bergerak cepat bagaikan kilat menghajar iga Patih Gilini Wesi.

Kembali Patih Giling Wesi terpental ke samping Tulang iganya benar-benar patah kali ini. Beberapa kali dia bergulingan di tanah, dan dengan cepat berusaha bangkit kembali. Namun baru saja dapat bangkit datang lagi satu pukulan keras ke arah wajahnya yang disusul sebuah pukulan telak mengjajar dadanya.

"Hiyaaa...!" Kalaban berteriak keras seraya mengibaskan tongkatnya ke arah kepala laki-laki gemuk itu.

Patih Giling Wesi yang sudah tidak berdaya lagi hanya mampu membeliak melihat tongkat perak itu meluncur deras ke arah kepalanya. Saat itu dirasakan nyawanya sudah melayang dari badan. Dan pada saat yang genting itu, tiba-tiba satu bayangan putih berkelebat cepat memapak ayunan tongkat perak Kalaban.

Trak!

"Akh!" Kalaban memekik tertahan.

Tongkatnya terpental jauh ke udara. Tiba-tiba Eyang Girindra melesat cepat mengejar tongkat itu dan langsung meluruk turun setelah berhasil menangkap tongkat muridnya. Dengan sigap, kakinya menjejak tanah di samping Kalaban. Tampak pemuda itu masih dihinggapi rasa terkejut seraya mengurut pergelangan tangannya.

"Kau tidak apa-apa, Paman Patih?" tanya seorang pemuda tampan mengenakan baju rompi putih, yang tahu-tahu sudah berdiri di samping Patih Giling Wesi.

"Rangga...," desis Patih Giling Wesi begitu mengenali pemuda itu. "Syukurlah kau cepat datang...."

"Siapa orang yang bersama Kalaban itu?" tanya Rangga seraya melirik laki-laki tua berjubah merah yang berdiri di samping Kalaban.

"Dia Eyang Girindra, gurunya Kalaban dan Empat Bayangan Iblis Neraka," jelas Patih Giling Wesi.

"Hm...," Rangga menggumam tidak jelas.

Pendekar Rajawali Sakti itu berdiri tegak membelakangi Patih Giling Wesi. Pandangannya tajam, langsung tertuju pada Eyang Girindra. Sesaat kemudian tatapan matanya beralih pada Kalaban. Dia harus meminta obat penawar racun untuk Intan Kemuning pada pemuda telengas Itu.

"Kebetulan sekali kita berjumpa di sini, Kalaban," kata Rangga kalem, namun bernada sinis.

"Ya, memang kebetulan sekali! Kau bisa membayar hutangmu, Pendekar Rajawali Sakti!" sambut Kalaban dingin.

"Dan kau pun harus membayar hutang atas penderitaan rakyat Kerajaan Galung, Kalaban!" balik Rangga ketus.

"Setan! Mampus kau...!" geram Kalaban seraya merebut tongkat peraknya dari tangan Eyang Girindra.

"Tahan, Kalaban!" sentak Eyang Girindra merentangkan tangannya mencegah serangan pemuda itu. Kalaban tidak jadi menyerang Pendekar Rajawal Sakti.

Sementara Eyang Girindra melangkah ke depan tiga tindak. Tatapan matanya begitu tajam tidak berkedip. Sebatang tongkat diketuk-ketukkan ke tanah dekat ujung jari kakinya. Rangga yang memperhatikan sejak tadi, sudah bisa mengukur tingkat kepandaian laki-laki tua berjubah merah itu. Jelas dia harus hati-hati menghadapinya.

"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya, Anak Muda. Tapi kau sudah membunuh empat orang murid kesayanganku. Seharusnya kau kubunuh untuk membayar nyawa murid-muridku. Hanya saja kali ini aku akan memberimu kelonggaran. Dan sebaiknya, cepat tinggalkan tempat ini," kata Eyang Girindra kalem, namun nada suaranya mengandung ancaman.

"Terima kasih atas kebaikanmu, Orang Tua. Tapi maaf, aku tidak bisa pergi begitu saja karena masih ada urusan dengan muridmu itu," sahut Rangga tegas.

"Eyang, biar kubunuh setan keparat itu!" bentak Kalaban tidak sabar.

"Diam kau, Kalaban!" bentak Eyang Girindra.

"Persetan!"

Kalaban tidak bisa lagi mengekang amarahnya. Tanpa menghiraukan bentakan gurunya, dia langsung melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Tongkat peraknya berkelebat cepat mengarah ke kepala pemuda berbaju rompi putih itu.

"Hait...!"

Rangga mengegoskan tubuhnya kesamping, seraya tangannya dengan cepat berkelebat memapak tongkat perak itu. Satu benturan keras terjadi, hingga menimbulkan suara seperti ada sesuatu yang patah. Bukan saja Kalaban yang tersentak kaget, bahkan Eyang Girindra pun sampai ternganga melihatnya.

Betapa tidak! Tongkat perak kebanggaan Kalaban, patah jadi dua setelah membentur tangan Pendekar Rajawali Sakti. Padahal tongkat perak itu bukan tongkat biasa! Tongkat itu mampu menggempur sebongkah batu besar hingga hancur berkeping-keping. Tapi di tangan pendekar muda itu, hanya bagaikan sebatang ranting kayu kering yang tak berguna sama sekali.

"Sayang sekali. Barang mainan itu tidak pantas dipamerkan di hadapanku," kata Rangga sinis.

"Keparat...!" geram Kalaban sengit. "Kubunuh kau, setan!"

"Kalaban! Tahan!" Eyang Girindra menyentakkan tangan muridnya.

Kalaban menggeram kesal. Sepasang bola matanya berbinar berapi-api menatap Rangga. Dibuangnya potongan tongkat perak kebanggaannya. Dengan perasaan yang sukar untuk diungkapkan, Kalaban melangkah mundur dua tindak.

"Apa yang kau inginkan dari muridku, Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Eyang Girindra, agak ketus nada suaranya.

"Obat Penawar Racun Merah!" sahut Rangga datar.

"Ha ha ha...!" Kalaban tertawa terbahak-bahak "Bagus! Itu berarti sebentar lagi kau akan mati pendekar keparat!"

"Racun itu bukan untukku, Kalaban"

Kalaban kontan berubah wajahnya. Semula dia sudah senang karena dikiranya tubuh Pendekar Rajawali Sakti mengidap Racun Merahnya yang dilepaskan ketika bertarung di halaman Istana Galung. Tapi nyatanya pendekar muda itu meminta obat penawar bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang lain.

"Pendekar Rajawali Sakti! Kau tahu tentang Racun Merah, itu berarti kau sudah tahu apa akibatnya kata Eyang Girindra.

"Ya, aku tahu. Itulah sebabnya aku mencari muridmu ini!" sahut Rangga.

"Obat penawar itu tidak ada padaku!" celetuk Kalaban.

"Hm...," Rangga menggumam sengit.

"Benar, Pendekar Rajawali Sakti Kalaban memang memiliki jurus 'Pukulan Racun Merah', tapi tidak memiliki obat penawarnya. Sedangkan aku sendiri kehilangan obat itu beberapa tahun yang lalu," jelas Eyang Girindra.

Rangga tidak bisa mempercayai keterangan itu. Ditatapnya dalam-dalam dua orang di depannya secara bergantian. Kemudian pandangannya beralih pada Patih Giling Wesi yang masih duduk dengan sikap bersemadi.

Tapi kata-kata Eyang Girindra barusan sepertinya bernada sungguh-sungguh. Dan ini membuat Rangga jadi berpikir juga. Kembali ditatapnya Kalaban. Namun mengingat keadaan Intan Kemuning yang begitu parah, dia bertekad untuk mendapatkan obat penawar Racun Merah.

au boleh tidak percaya padaku, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Racun Merah memang hanya bisa dihilangkan oleh obat penawarnya. Tapi obat itu hilang beberapa tahun lalu," kata Eyang Girindra lagi, coba untuk meyakinkan.

"Bisa kupercaya kata-katamu itu, Eyang Girindra?" sinis nada suara Rangga.

"Percaya atau tidak, itu hakmu!" celetuk Kalaban ketus.

"Hm..., rasanya bisa kupercayai kata-katamu, Eyang Girindra. Tapi muridmu itu...."

"Phuih! Kau memang selalu mencari-cari perkara denganku!" geram Kalaban.

Setelah berkata demikian, Kalaban cepat melompat seraya melontarkan satu pukulan yang begitu dahsyat. Rangga tahu kalau pemuda itu mengeluarkan jurus 'Pukulan Racun Merah'. Satu jurus yang luar biasa dahsyatnya. Herannya, Pendekar Rajawali Sakti itu tidak bergeming sedikit pun! Dengan tenang di angkat tangannya kedepan, menerima serangan jurus 'Pukulan Racun Merah'.

"Hiyaaa...!"
"Yaaa...!"

Satu ledakan keras terjadi begitu dua pasang telapak tangan saling berbenturan. Seketika itu juga tubuh Kalaban terlempar jauh ke belakang, hingga menghantam sebatang pohon besar yang kemudian hancur berkeping-keping. Sedangkan Rangga masih tetap berdiri tegak dengan tangan melipat di depan dada.

Kalaban bergegas bangkit kembali. Dia menggeram keras bagai seekor harimau kelaparan melihat seonggok daging. Digerak-gerakkan tangannya dengan cepat, kemudian berlari kencang sambil berteriak keras melengking. Kalaban tidak lagi menghiraukan peringatan gurunya. Kembali diserangnya Rangga lewat jurus-jurus andalannya.

Menghadapi serangan dahsyat itu, Rangga menggunakan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib'. Suatu jurus permainan kaki yang dipadukan dengan ilmu meringankan tubuh. Gerakan-gerakan kaki Rangga begitu cepat dan lincah, diimbangi gerak tubuh yang lentur. Dia meliuk-liuk bagai seekor belut!

Beberapa kali serangan Kalaban hampir mengenai tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Namun pada saat pukulannya tinggal seujung rambut lagi, Rangga mengelak dengan manis sekali. Hal ini membuat Kalaban semakin geram dibuatnya. Diperhebat jurus-jurusnya, dengan pengerahan tenaga dalam penuh.

"Hih!"

Pada saat tangan Kalaban menyodok ke arah dada, dengan cepat Rangga memapaknya dengan tangan kanan, disertai satu sodokan keras ke arah perut. Kalaban tidak sempat lagi menghindarinya karena terlalu memusatkan perhatiannya pada penyerangan. Akibatnya, sodokan itu telak mengenai perutnya.

"Hugh!" Kalaban mengeluh pendek. Tubuhnya terjajar beberapa langkah ke belakang. Pada saat yang tepat. Rangga cepat melompat seraya melontarkan satu tendangan lurus ke depan. Dan begitu kaki kanannya hampir mengenai dada Kalaban, Eyang Girindra melompat memapak serangan itu.

"Hait!"

Buru-buru Rangga menarik pulang kakinya, lalu melenting ke belakang. Manis sekali kakinya mendarat di tanah. Eyang Girindra berdiri tegak membelakangi muridnya yang masih terbungkuk memegangi perutnya. Sodokan tangan kiri Rangga begitu keras, membuat perutnya mual.

"Cukup, Pendekar Rajawali Sakti!" bentak Eyang Girindra. "Jangan seenaknya membunuh muridku di depan mataku!"

"Maaf, aku rasa dia sendiri yang menginginkan kematiannya," sahut Rangga dingin.

"Hm..., kau sudah membunuh empat orang muridku. Seharusnya kau kubunuh, Pendekar Rajawali Sakti. Sampai saat ini aku masih bisa mengampunimu. Tapi jika Kalaban kau bunuh juga, itu berarti harus berhadapan denganku!" Rangga tahu kalau kata-kata itu bernada ancaman serius. Dalam hati dikaguminya juga sikap Eyang Girindra yang bisa menelaah dari setiap peristiwa yang terjadi, dan tidak mengambil keputusan secara sepihak. Rangga pun dapat memaklumi ancaman itu. Setiap guru pasti akan membela muridnya, walaupun murid itu sendiri melakukan kesalahan.

Tapi mengingat ada nyawa yang harus diselamatkan, Rangga menyimpan dulu rasa kagumnya. Bagaimanapun juga dia harus mendapatkan obat penawar Racun Merah. Jurus 'Pukulan Racun Merah' hanya dimiliki Eyang Girindra dan Kalaban. Jadi, hanya mereka berdua sajalah yang dapat memberikan obat penawar itu.

"Kalaban, ayo kita tinggalkan tempat ini," ajak Eyang Girindra.

"Eyang...," Kalaban akan membantah.

"Tinggalkan tempat ini, kataku!" bentak Eyang Girindra keras.

Kalaban tidak bisa membantah lagi. Dibalikkan tubuhnya setelah menatap tajam penuh kebencian dan rasa dendam pada Rangga. Tapi baru saja mereka berjalan beberapa tindak, Rangga sudah berseru...

"Tunggu dulu!"

Eyang Girindra menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Pendekar Rajawali Sakti itu kembali. Sedangkan Kalaban menggerutu kesal.

"Apa lagi yang kau inginkan, Anak muda?" tanya Eyang Girindra.

"Di mana kau sembunyikan Seruni?" tanya Rangga yang tiba-tiba teringat pada gadis kecil yang harus dilindungi keselamatannya.

"Seruni...?! Siapa itu?" Eyang Girindra kembali bertanya.

"Kau jangan berpura-pura, Eyang Girindra! Bukankah kau yang menculik Seruni! Di mana dia?"

"Maaf, aku tidak ingin menambah persoalan lagi. Ayo, Kalaban."

"Hey, tunggu...!"

Tapi Eyang Girindra sudah melompat cepat seraya menyambar tangan Kalaban. Begitu cepatnya dia melesat, sehingga dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan. Rangga ingin mengejar, tapi tiba-tiba teringat akan keadaan Patih Giling Wesi. Niatnya pun langsung diurungkan.

Sementara Patih Giling Wesi masih duduk di bawah pohon. Kedua matanya terpejam rapat, dan sikapnya begitu tenang bersemadi. Rangga kemudian duduk di depan laki-laki gemuk itu. Dia tidak ingin mengganggu semadi Patih Giling Wesi. Luka-luka yang diderita laki-laki gemuk itu cukup parah, sehingga butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Namun dengan cara bersemadi, luka-luka itu bisa disembuhkan tanpa menunggu sampai beberapa hari.

ENAM

Rangga semakin tidak mengerti akan keadaan yang tengah terjadi saat ini. Sepertinya setiap persoalan datang beruntun tanpa henti-hentinya. Belum selesai satu persoalan, muncul lagi persoalan lainnya. Dan yang membuat Rangga pening, semua yang dihadapinya selalu berkaitan erat Dan itu harus diselesaikan satu persatu.

Hari sudah berganti senja. Sebentar lagi malam pasti akan datang, tapi Patih Giling Wesi belum juga bangun dari semadinya. Rangga menggeser duduknya mendekati. Dijulurkan tangannya hendak memeriksa keadaan luka-luka yang diderita patih dari Kerajaan Galung itu. Mendadak, keningnya berkerut dalam. Buru-buru ditarik kembali tangannya.

"Racun Merah...!" desis Rangga terkejut Sama sekali tidak diduga kalau Patih Giling Wesi terkena 'Pukulan Racun Merah' yang amat dahsyat. Rangga benar-benar kelabakan saat ini. 'Pukulan Racun Merah' sulit untuk ditangkal. Sedangkan penangkal satu-satunya hanya ada pada pemilik jurus itu. Tapi Eyang Girindra telah mengatakan kalau obat penawar Racun Merah hilang darinya beberapa tahun lalu.

"Gita Raka...!" tiba-tiba Rangga tersentak, teringat dengan wanita muda misterius yang ditemuinya.

Ya.... Gita Raka bercerita kalau Seruni diculik oleh Eyang Girindra. Sedangkan laki-laki tua berjubah merah itu tidak mengakui, bahkan tidak kenal dengan orang yang bernama Seruni. Rangga jadi berpikir keras, mencoba untuk menelaah semua kejadian yang dialaminya. Dicobanya untuk merangkai setiap kejadian yang ditemui.

Memang rasanya mustahil kalau Eyang Girindra berada di sini, jauh dari tempat tinggalnya di Puncak Gunung Sendir. Sedangkan Seruni tadi tidak bersamanya di tempat ini. Tidak mungkin laki-laki berjubah merah itu meninggalkan Seruni sendirian di Puncak Gunung Sendir. Lagi pula, untuk apa dia menculik seorang gadis kecil? Adakah sesuatu pada Seruni sehingga diperebutkan?

Rangga melayangkan pandangannya berkeliling. Sesaat matanya terpaku ke arah pondok kecil yang tidak jauh dari tempat ini. Dia tahu kalau tempat Ini tidak berapa jauh dari Lembah Neraka, dan masih termasuk dalam wilayah lembah angker itu. Rangga jadi teringat akan kata-kata terakhir Ki Biran yang berpesan agar membawa Seruni pada bibinya di dekat Lembah Neraka.

Mendadak, Pendekar Rajawali Sakti tersentak kaget begitu telinganya mendengar rintihan lirih tidak jauh darinya. Segera ditatapnya Patih Giling Wesi.

Tapi, laki-laki gemuk itu tampak diam bersemadi. Dan rintihan lirih itu terus terdengar di telinganya.

"Pondok itu...!" desis Rangga.

Slap...!

Seketika itu juga tubuh Pendekar Rajawali Sakti melesat ke arah pondok kecil itu. Begitu cepatnya berkelebat, tahu-tahu sudah berada di dalam pondok. Senja yang remang-remang, membuat pandangannya agak terhalang di dalam pondok. Namun masih bisa terlihat sesosok tubuh kecil tergolek di lantai beralaskan daun tikar pandan.

"Seruni...!"

Rangga bergegas menghampiri gadis kecil itu, dan memindahkannya ke atas dipan bambu. Gadis kecil itu memang Seruni. Dia merintih lirih dengan mata terpejam. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu memeriksa keadaan tubuh Seruni, lalu menarik napas lega. Ternyata tidak ada luka-luka dalam maupun luar yang ditemukan. Rangga menyalurkan sedikit hawa murni pada tubuh gadis itu. Perlahan-lahan Seruni mulai sadarkan diri.

"Kakang..!" Seruni langsung bangun dan memeluk erat Rangga.

"Ssst...," Rangga berusaha meredakan tangis gadis kecil itu. Dengan lembut dilepaskan pelukannya.

Seruni masih menangis sesenggukan. Rangga duduk di tepi dipan bambu. Dia menghapus lembut air mata di pipi Seruni yang halus kemerahan. Sedikit demi sedikit Seruni mulai bisa tenang. Namun sesekali masih terdengar tangisnya yang lirih.

"Mereka, Kakang.... Mereka sangat kejam...!" isak Seruni kembali menangis.

"Ssst... Tenanglah, Seruni. Bicaralah yang tenang. Apa yang terjadi pada dirimu...?" Rangga masih berusaha menenangkan gadis kecil itu.

Seruni belum bisa menjawab dengan tenang. Dia terus sesenggukan. Mungkin apa yang tadi dialami masih membekas dalam ingatannya. Rangga tidak tahu lagi, apa yang harus dilakukannya. Tidak mudah menenangkan seorang gadis kecil yang tengah dilanda kemelut. Rangga segera teringat pada Patih Giling Wesi yang kemudian dipindahkannya ke dalam pondok kecil itu. Sementara Patih Giling Wesi kembali bersemadi dekat api unggun, mencoba mengurangi menjalarnya racun di dalam tubuhnya.

"Kakang...," pelan suara Seruni memanggil.

Rangga menoleh memandang gadis kecil itu. Kelihatannya Seruni sudah mulai tenang, dan tidak lagi menangis. Air matanya pun sudah kering.

"Ya..., ada apa?" tanya Rangga lembut.

Seruni melepaskan sabuk yang melilit pinggangnya. Sabuk tebal dari kulit binatang. Dari coraknya sudah dapat ditebak kalau sabuk itu terbuat dari kulit harimau. Seruni memberikan sabuk itu pada Rangga yang terpaku keheranan tidak mengerti.

"Apa ini?" tanya Rangga seraya menerima sabuk itu.

"Mereka menginginkan ini, tapi tidak tahu kalau yang dicari ada di dalam sabuk ini," jelas Seruni.

Sejenak Rangga mengamati sabuk kulit harimau itu. Keningnya sedikit berkerut mendapati ada kantung di dalam sabuk itu. Dirogohnya kantung itu. Ternyata, di dalamnya terdapat beberapa butir pil berwarna merah kehijau-hijauan. Ada sekitar dua puluh pil yang besarnya tidak lebih dari sebuah biji saga.

"Ayah memberikan sabuk ini padaku. Katanya, sabuk ini jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Tapi aku percaya kalau Kakang bukan orang jahat," kata Seruni.

"Kau tahu, benda apa ini?" tanya Rangga.

"Tentu. Ayah pernah bilang kalau itu adalah pil Penawar Racun Merah," sahut Seruni.

"Pil Penawar Racun Merah...?!" Rangga mendesis pelan.

"Ada apa, Kakang?" tanya Seruni ketika melihat raut wajah Pendekar Rajawali Sakti yang langsung berubah.

"Tidak..., tidak ada apa-apa," sahut Rangga cepat-cepat. "Seruni! Kau tahu, dari mana ayahmu mendapatkan pil ini?"

Belum juga Seruni menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar tawa menggelegar dari luar pondok. Rangga kontan melompat turun dari dipan bambu itu. Bergegas dilemparkan sebutir pil pada Patih Giling Wesi. Pil itu tepat jatuh di telapak tangannya. Patih Giling Wesi terbangun dari semadi, dan memandang Pendekar Rajawali Sakti yang mengangguk kecil. Patih Giling Wesi tidak berpikir panjang lagi, dan langsung menelan pil itu.

"Ah...!" Patih Giling Wesi mengeluh pendek.

Seketika itu juga badannya terasa panas. Keringat sebesar-besar butiran jagung menitik deras membasahi wajahnya. Buru-buru dirapatkan tangannya di depan dada, namun cepat dicegah Rangga. Sementara tawa di luar pondok terus terdengar menggelegar. Jelas kalau tawa itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.

"Seruni...!" Rangga tersentak ketika mendengar suara jeritan kecil.

Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas melompat ke arah Seruni yang menggelepar tidak mampu menahan gempuran gelombang suara bertenaga dalam cukup tinggi. Rangga segera memberikan totokan di sekitar telinga gadis kecil itu. Maka Seruni pun menjadi tenang setelah mendapat totokan.

"Hup, hup...!"

Rangga menggerak-gerakkan tangannya di depan dada. Kemudian menarik napas panjang. Sesaat kemudian, kedua tangannya menghentak cepat ke depan. Suatu gelombang keras meluncur dai dari kedua telapak tangannya. Ternyata Pendekar Rajawal Sakti mengeluarkan aji 'Bayu Bajra'

"Aaa..,!" satu jeritan melengking terdengar bersamaan dengan hancurnya pintu pondok.

Secepat kilat Rangga melompat ke luar. Suasana malam yang gelap menyambut Pendekar Rajawali Sakti itu. Matanya yang tajam langsung beredar ke sekeliling. Tampak sesosok tubuh menggeletak berlumuran darah.

"Hiyaaa...!"
"Hait...!"

Rangga melompat dua langkah ke belakang ketika dari arah samping seseorang melompat sambil menggenggam sebilah golok terhunus. Serangan yang cepat itu dengan manis dapat dielakkan, bahkan kepalan tangan Pendekar Rajawali Sakti berhasil menggedor dada orang itu.

"Akh...!" orang itu memekik keras. Tubuhnya terlontar jauh ke belakang.

Hanya sebentar dia mampu bergerak menggeliat, kemudian diam tidak berkutik. Dadanya melesak ke dalam. Rangga berdiri tegak memandang tajam ke sekeliling. Tidak terdengar sedikit pun suara yang mencurigakan, kecuali deru angin malam yang kencang membawa udara dingin menusuk tulang.

"Kakang...!" tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam pondok.

"Hiyaaa...!"

Rangga langsung melompat masuk ke dalam pondok. Tapi baru saja melewati pintu pondok, sebuah bayangan merah berkelebat cepat menyongsongnya. Begitu cepatnya bayangan merah itu berkelebat, sehingga Pendekar Rajawali Sakti itu tidak bisa lagi berkelit. Dadanya telak kena hajar bayangan merah itu.

"Ugh!" Rangga mengeluh pendek. Tubuhnya terlontar beberapa tombak ke belakang.

Dua kali Rangga berputaran di udara, kemudian manis sekali kakinya menjejak tanah. Pada saat itu, bayangan merah kembali berkelebat cepat bagai kilat menyambarnya. Kali ini Rangga sudah siap, dan cepat-cepat memiringkan tubuhnya ke kiri seraya melayangkan satu pukulan keras bertenaga dalam penuh. Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu pun kecewa, karena bayangan merah itu berhasil mengelak.

"Senjata rahasia...!" Rangga mendesis terperangah.

Bayangan merah itu melontarkan beberapa puluh senjata kecil seperti jarum. Padahal dia masih berkelebat cepat di saat menghindari pukulan maut Pendekar Rajawali Sakti. Seketika itu juga Rangga berlompatan ke belakang seraya memutar tubuhnya menghindari serbuan senjata rahasia itu.

Pada saat Pendekar Rajawali Sakti itu sibuk menghindari terjangan jarum-jarum kecil itu, bayangan merah kembali bergerak cepat menerjangnya. Tentu saja hal ini membuat Rangga makin kewalahan. Ternyata bayangan merah itu menyerang disertai lontaran jarum-jarum kecilnya.

"Bedegul...!" geram Rangga sengit. Menghadapi serangan beruntun disertai serbuan senjata rahasia itu, Rangga tidak punya pilihan lain lagi. Segera dikerahkan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' diseling jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Dengan dua jurus yang saling susul itu, keadaan kini menjadi seimbang.

"Hap...!"

Rangga melompat mundur ketika ada kesempatan.

"Eyang Girindra...!" desis Rangga begitu mengenali bayangan merah itu.

"Serahkan sabuk harimau itu padaku, Bocah!" bentak Eyang Girindra.

Rangga melompat mundur dua tindak ke belakang. Kelopak matanya agak menyipit menatap tajam pada laki-laki tua di depannya. Wajah dan bentuk pakaiannya memang mirip Eyang Girindra. Tapi orang itu lebih kecil dan kurus.

"Kau bukan Eyang Girindra! Siapa kau sebenar nya?!" dengus Rangga.

"Hi hi hi...!" orang itu tertawa mengikik menyeramkan.

Rangga menggeser kakinya ke samping mendekati pintu pondok. Pada saat itu dari dalam pondok, Seruni keluar sambil menyangga Patih Giling Wesi. Meskipun sudah meminum pil Penawar Racun Merah, keadaan Patih Giling Wesi belum sempurna benar. Tapi kondisi tubuhnya sudah mulai membaik.

"Hati-hati, Rangga. Dia sangat licik," ujar Patih Giling Wesi memperingatkan.

"Siapa dia, Paman Patih?" tanya Rangga yang sudah berada di sampingnya.

"Dia...."

Belum juga Patih Giling Wesi menjawab tuntas, mendadak saja orang berbaju merah yang wajahnya mirip Eyang Girindra itu mengelebatkan tangan kanannya. Maka dari balik lengan bajunya yang longgar, meluncur beberapa jarum kecil berwarna keemasan.

"Hiyaaa...!"

Secepat kilat Rangga melompat ke depan, dan menghentakkan kedua tangannya ke depan. Bersamaan dengan itu, dari mulutnya meluncur teriakan keras yang menyebutkan suatu nama ilmu kesaktian.

"Aji Bayu Bajra'...!"

Jarum-jarum kecil keemasan itu kontan berbalik ke arah pemiliknya begitu terhempas udara keras yang keluar dari sepasang telapak langan Pendekar Rajawali Sakti. Tentu saja hal ini membuat orang berjubah merah itu jadi kelabakan. Sebisanya dia berjumpalitan menghindari serbuan senjatanya sendiri.

"Setan belang! Keparat kau. Rangga...!" umpat orang itu menggeram marah.

Belum lagi orang berjubah merah itu sempat menjejakkan kakinya di tanah, Rangga sudah melompat cepat bagaikan kilat ke arahnya. Lompatan Pendekar Rajawali Sakti itu demikian cepatnya, dan tahu-tahu sudah berada di atas kepala orang berjubah merah.

"Ikh...!" orang berjubah merah itu memekik kaget. Buru-buru dirundukkan kepalanya seraya dijatuhkan tubuhnya ke tanah. Tapi sambaran tangan kiri Rangga berhasil juga menjambak rambutnya. Saat Rangga terhenyak kaget, karena rambut orang itu copot bersama kepalanya. Bergegas Pendekar Rajaw Sakti meluruk turun.

"Topeng...!" desis Rangga terkejut begitu melihat benda yang ada dalam genggamannya!

Rangga lebih terkejut lagi ketika melihat orang berjubah merah itu. Ternyata di balik wajah tua laki-laki, tersembunyi seraut wajah cantik. Orang berjubah merah itu menggeram sengit. Dibuka jubahnya dari dicampakkan begitu saja ke tanah. Kini jelas, siapa yang berada di balik bentuk Eyang Girindra itu.

TUJUH

"Gita Raka...," Rangga mendesis setelah mengenali wanita berbaju merah muda yang telah menyamar jadi Eyang Girindra.

"Keparat kau, Rangga! Serahkan sabuk harimau itu padaku!" dengus Gita Raka menggeram.

"Sabuk ini tidak ada gunanya untukmu, Gita Raka," ujar Rangga ketus. Dia benar-benar kesal terhadap wanita itu yang telah mempermainkannya.

"Aku perlu sabuk itu! Cepat, serahkan padaku!"

"Hm..., ini hanya sabuk biasa. Apa yang kau inginkan dari sabuk harimau ini?" Rangga berusaha memancing.

"Jangan berpura-pura, Rangga. Sabuk itu menyimpan obat Penawar Racun Merah."

"Aneh... Kau sudah tahu, mengapa tidak diambil ketika Seruni kau culik? Kau sudah beberapa kali bertemu, bukankah bisa mengambilnya dengan mudah? Mengapa baru sekarang kau ingin merebutnya?" Rangga seperti bicara sendiri.

"Kalau aku tahu sejak dulu, untuk apa susah-susah? Sudahlah...! Berikan sabuk itu padaku!"

Rangga berpikir sejenak. Sebentar dipandangi sabuk kulit harimau ditangannya, kemudian pandangannya beralih pada Gita Baka. Tampaknya wanita itu sangat membutuhkan obat penawar racun yang tersimpan dalam sabuk harimau ini. Tapi berhubung Patih Giling Wesi sudah memperingatkan, Rangga jadi bersikap hati-hati. Dia tidak mau begitu saja mempercayainya.

"Rangga...," panggil Patih Giling Wesi.

Rangga menoleh sedikit, lalu melangkah mundur menghampiri laki-laki gemuk itu. Patih Giling Wesi sudah mampu berdiri tegak meskipun keadaannya masih lemah. Sedangkan Seruni tetap memegangi tangannya.

"Aku tahu siapa dia, Rangga. Dia adalah murid tunggal si Raja Topeng, Keahliannya memang membuat topeng yang dapat mirip dengan wajah seseorang. Di samping itu kelicikan dan kejahatannya sudah terkenal. Pasti pil penawar Racun Merah akan digunakannya untuk kejahatan," kata Patih Giling Wesi dengan napas masih tersengal.

"Benar, Kakang," sambung Seruni. "Dialah yang menculik dan memaksaku untuk menyerahkan pil penawar Racun Merah. Dia jahat, Kakang. Untung saja pil itu tersimpan dalam sabukku, sehingga tidak diketahuinya!"

"Bukankah dia itu bibimu, Seruni?" tanya Rangga.

"Bukan!" sahut Seruni cepat.

"Justru dia yang membunuh bibiku, dan menyamar menjadi Bibi. Bibiku selalu memakai bunga anggrek Jingga di telinganya. Sedangkan dia tidak tahu kebiasaan bibiku itu, sehingga tidak memakainya. Aku tahu betul walaupun dia memakai kedok berupa wajah Bibi."

"Setan kecil! Tutup mulutmu...!" bentak Gita Raka berang.

"Hm...," Rangga menggumam tidak jelas. Diliriknya Gita Raka dengan tajam.

Kini bagi Pendekar Rajawali Sakti sudah jelas semua duduk persoalannya. Rupanya Gita Raka memang pernah menemui Seruni dengan menyamar sebagai bibi gadis kecil ini. Tapi Seruni terlalu cerdik untuk dibodohi. Diam-diam Rangga mengagumi juga kecerdikan Seruni. Rangga memindahkan pil-pil penawar Racun Merah ke dalam saku sabuknya sendiri, kemudian menimang-nimang sabuk kulit harimau itu.

"Kau perlu sabuk ini, kan? Nih, terimalah!" ucap Rangga seraya melemparkan sabuk kulit harimau itu pada Gita Raka.

"Setan..,!" geram Gita Raka merasa dipermainkan.

Tentu saja sabuk kulit harimau itu tidak berarti lagi tanpa pil penawar Racun Merah di dalamnya. Dengan sengit perempuan cantik itu mencabut pedangnya. Cepat sekali pedangnya dikibaskan pada sabuk kulit harimau itu, hingga terbelah jadi dua potong. Tepat ketika dua potong sabuk kulit harimau jatuh ke tanah, Gita Raka melompat menerjang Rangga. Ujung peelangnya bergerak menusuk ke arah dada.

"Menyingkir kalian!" seru Rangga keras. Seketika itu juga dia melompat ke atas, lalu meluruk deras mempergunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Tusukan pedang Gita Raka menyambar tempat kosong. Tapi, dengan cepat dikelebatkan pedangnya ke atas, melindungi kepalanya dari tendangan kaki Pendekar Rajawali Sakti.

"Hiyaaa...!"

Rangga menarik kakinya, lalu berputar dua kali di udara. Dengan cepat dia meluruk turun, kemudian hinggap di belakang Gita Raka. Satu sodokan keras diarahkan ke punggung wanita itu. Gita Raka memekik tertahan. Buru-buru digeser kakinya ke samping, menghindari sodokan itu seraya memutar pedangnya ke belakang membabat ke arah pinggang. Tapi Rangga dengan manis sekali menarik mundur tubuhnya. Ujung pedang Gita Raka hanya lewat di depan perut Pendekar Rajawali Sakti.

"Bagus! Rupanya kau tangguh juga, Gita Raka," kata Rangga memuji.

"Jangan banyak omong!" rungut Gita Raka sengit.

Wanita itu kembali menyerang lewat jurus-jurusnya yang dahsyat dan mematikan. Pada saat itu, dari balik pepohonan dan gerumbul semak belukar, muncul sekitar sepuluh orang yang menghunus senjata golok. Mereka serentak berlompatan mengepung Patih Giling Wesi dan Seruni.

"Bunuh mereka...!" seru Gita Raka keras.

"Setan kodok...!" geram Rangga melihat sepuluh orang bersenjata golok itu mengeroyok Patih Giling Wesi.

Pada saat itu Rangga tidak mungkin membantu Patih Giling Wesi yang berusaha bertarung sambil melindungi Seruni. Serangan-serangan Gita Raka demikian tajam dan dahsyat. Wanita itu benar-benar tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menggunakan kesempatan keluar dari pertarungan. Rangga benar-benar geram begitu melihat Patih Giling Wesi terguling kena tendangan salah seorang pengeroyoknya.

"Hiyaaat...!" tiba-tiba saja terdengar satu teriakan keras bersuara kecil.

Tampak Seruni mengeluarkan sebuah selendang berwarna merah muda dari balik bajunya, dan langsung diputar-putarnya dengan cepat. Gerakannya begitu lincah. Selendang itu seperti hidup di tangannya. Sepuluh orang pengeroyok yang semula memandang ringan pada Seruni, kini jumpalitan menghindari sambaran selendang yang meliuk-liuk bagaikan ular itu.

Rangga sendiri cukup kagum melihat kelincahan Seruni memainkan selendang merah mudanya. Sungguh tidak disangka kalau gadis kecil itu memiliki kepandaian yang lumayan, sehingga mampu memporakporandakan sepuluh orang pengeroyoknya. Sementara Patih Giling Wesi yang sudah dapat bangkit kembali, segera membantu gadis kecil itu. Dengan pedang perak, diserangnya pengeroyoknya dengan cepat.

"Bagus! Kalian bisa menghadapi mereka...!" seru Rangga gembira melihat Patih Giling Wesi dan Seruni tampaknya mampu menghadapi lawan-lawannya itu.

Lain halnya dengan Gita Raka. Wanita cantik itu kelihatan marah menyaksikan sepuluh orang anak buahnya yang tidak berdaya menghadapi bocah kecil dan seorang laki-laki tua yang belum sembuh benar dari lukanya. Gita Raka sendiri tidak bisa berbuat banyak, karena Pendekar Rajawali Sakti telah melancarkan serangan-serangan yang begitu cepat dan dahsyat.

Keadaan benar-benar terbalik sekarang. Dua orang anak buah Gita Raka sudah menggeletak berlumuran darah. Sedangkan Gita Raka sendiri harus jatuh bangun menghindari gempuran Pendekar Rajawa Sakti. Hanya sesekali saja dia mampu membalas serangan, tapi itu pun dapat dimentahkan sebelum mencapai sasaran. Gita Raka benar-benar kewalahan menghadapi gempuran Pendekar Rajawali Sakti. Jurus-jurus andalan sudah dikeluarkan, tapi serangan lawannya belum juga mampu dipatahkan

"Hiyaaat...!" tiba-tiba Gita Raka berteriak keras seraya melompat tinggi ke atas.

"Hap, hiyaaa...!"

Rangga juga ikut lompat ke atas. Dalam keadaan di udara, Rangga mengerahkan satu pukulan keras bertenaga dalam sangat sempurna. Sedangkan Gita Raka mengimbanginya dengan mengerahkan pukulan andalannya. Satu benturan keras mengakibatkan ledakan dahsyat di udara.

"Aaa...!" Gita Raka menjerit melengking.

Tubuhnya yang ramping itu terpental, dan jatuh dengan keras ke tanah. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti bergegas turun dan mendarat lunak tidak jauh dari wanita ahli menyamar itu. Tampak Gita Raka berusaha bangkit kembali, namun terhuyung-huyung. Mulut dan hidungnya mengucurkan darah segar.

********************

Sementara itu di lain tempat, pertarungan antara Patih Giling Wesi dan Seruni dalam menghadapi para pengeroyoknya, masih berlangsung sengit. Tapi sudah lebih dari separuh anak buah Gita Raka terjungkal tewas. Selendang merah muda di tangan Seruni cukup dahsyat, bahkan terlalu kuat untuk satu tebasan golok.

Meskipun masih berusia di bawah sepuluh tahun, tapi Seruni sudah digembleng dengan beberapa jurus ilmu olah kanuragan. Ki Biran selalu menempanya dengan keras, dan sekarang ada manfaatnya. Begundal-begundal macam anak buah Gita Raka tidak mampu menghadapinya.

"Hiya, hiya, hiyaaa...!" Seruni berteriak keras beberapa kali.

Dengan lincah dan bertenaga penuh, dikibaskan selendang merah mudanya membabat sisa anak buah Gita Raka. Orang-orang bersenjata golok itu terpaksa harus jumpalitan dengan darah mengucur deras dari tubuhnya. Selendang itu bagai sebilah pedang yang mampu memenggal leher hanya sekali kebutan saja.

"Setan! Kalian harus mampus...!" geram Gita Raka. Amarahnya memuncak melihat sepuluh orang anak buahnya tewas di tangan seorang gadis cilik.

Sambil, berteriak keras, Gita Raka melompat menerjang Seruni. Namun Rangga lebih cepat lagi bertindak. Sebuah pukulan bertenaga dalam luar biasa, telah menghambat terjangan Gita Raka. Akibatnya gadis itu terpental jauh ke belakang. Dua kali dia memuntahkan darah segar sebelum bisa bangkit kembali. Sementara Rangga sudah berdiri tegak di depan Seruni dan Patih Giling Wesi. Akibat pertarungan tadi, keadaan Patih Giling Wesi terlihat letih. Rasanya tidak akan mampu jika harus bertarung kembali.

"Awas, Kakang...!" seru Seruni tiba-tiba.

Rangga yang baru berbalik, langsung berputar sambil mengibaskan tangannya. Pada saat itu, Gita Raka sudah melompat cepat seraya mengerahkan kekuatan terakhirnya. Kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam dadanya.

"Aaa...!" Gita Raka menjerit keras. Tubuhnya terlontar jauh ke belakang, dan menghantam sebongkah batu besar hingga hancur berantakan. Hanya sesaat Gita Raka mampu bergerak, kemudian diam tak berkutik. Nyawa telah melayang dari tubuhnya. Rangga berdiri terpaku memandangi mayat wanita itu. Sebenarnya tak ada maksud untuk menewaskannya.

"Hhh..., syukurlah dia tewas," desah Patih Giling Wesi.

Rangga membalikkan tubuhnya, dan langsung menatap laki-laki gemuk itu. Desahan pelan Patih Giling Wesi membuatnya penasaran. Siapa sebenarnya Gita Raka, dan ada hubungan apa dengan Patih Giling Wesi yang tampaknya kenal betul dengannya?

"Sudah lama aku ingin agar dia lenyap dari muka bumi, Rangga...," kata Patih Giling Wesi yang menangkap arti pandangan mata Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Hm.... Kau tahu banyak tentang Gita Raka, Paman Patih," ujar Rangga bergumam.

"Sebanyak yang diketahui Seruni," jawab Patih Giling Wesi seraya melirik Seruni.

Rangga menatap gadis kecil itu. Seruni hanya diam, dan kepalanya tertunduk. Pelahan-lahan Pendekar Rajawali Sakti itu mendekatinya dan duduk di depan Seruni. Kebisuan mencekam di dalam pondok kecil

"Seruni...," lembut suara Rangga.

Seruni mengangkat kepalanya, langsung menatap ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Sinar matanya begitu redup, namun banyak mengandung makna yang sukar dipahami. Bibirnya yang tipis kemerahan bergerak-gerak. Seolah-olah hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang terucapkan.

"Jangan desak dia, Rangga," kata Patih Giling Wesi.

"Kenapa? Ada apa dengan Seruni?" tanya Rangga tidak mengerti.

Patih Giling Wesi tidak menyahut, tapi malah berdiri dan melangkah ke luar pondok. Sebentar Rangga menatap Seruni dan laki-laki gemuk itu bergantian, kemudian juga bangkit berdiri dan melangkah keluar pondok. Patih Giling Wesi berdiri sambil bersandar pada tiang beranda. Rangga menghampirinya dan berdiri di sampingnya.

"Kasihan anak itu. Selama hidupnya, selalu dirundung penderitaan," kata Patih Giling Wesi pelan, seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.

Rangga hanya diam saja, dan tidak ingin menebak-nebak. Semua yang ada pada diri Seruni, maupun semua kejadian yang dialami ternyata masih menjadi beban pertanyaan.

"Aku tahu siapa sebenarnya Seruni. Dia sebenarnya anak seorang panglima yang tewas ketika menumpas gerombolan perampok yang dipimpin si Raja Topeng, guru dari Gita Raka. Waktu itu ayah Seruni dapat memberantas gerombolan itu, karena dibantu seorang tokoh sakti yang kemudian tewas di tangan si Raja Topeng. Tapi si Raja Topeng pun tewas terkena 'Pukulan Racun Merah' yang dilepaskan tokoh sakti itu...," Patih Giling Wesi menghentikan ceritanya.

"Teruskan, Paman," pinta Rangga.

"Aku tidak tahu siapa tokoh sakti itu. Tapi dari kabar yang kudengar, dia adalah saudara seperguruan Eyang Girindra. Tokoh itu memiliki obat penawar 'Pukulan Racun Merah' yang dicuri dari Eyang Girindra. Hal itu dilakukan karena Eyang Girindra telah mencuri dari gurunya setelah meracuninya lebih dahulu lewat minuman. Semasa tokoh sakti itu masih hidup, dia sempat memberikan obat penawar 'Pukulan Racun Merah' pada pengawal pribadi panglima yang kemudian membawa Seruni yang saat itu masih berusia sekitar tujuh tahun...," kembali Patih Giling Wesi menghentikan ceritanya.

Rangga hanya diam saja menunggu kelanjutannya.

"Kau tahu Rangga. Orang yang sempat meminum obat itu akan kebal terhadap 'Pukulan Racun Merah' seumur hidupnya, selain bisa disembuhkan dari pukulan itu. Gita Raka menginginkannya untuk menghancurkan Eyang Girindra yang dianggap sebagai penyebab kematian gurunya. Oleh sebab itulah, mengapa dia menculik Seruni. Gadis itu disangkanya menyimpan pil itu."

"Hm..., aneh. Bukankah gurunya tewas bukan oleh Eyang Girindra? Mengapa mendendam padanya?" tanya Rangga.

"Memang benar. Tapi kalau diingat bahwa gurunya tewas di tangan saudara seperguruan Eyang Girindra, jelas dendamnya akan dilampiaskan pada laki-laki berjubah merah itu. Masalahnya, saudara seperguruan Eyang Girindra itu kan sudah tewas."

"Hm..., jadi benar yang menculik Seruni adalah Gita Raka. Dan gadis itu memanfaatkan wajah Eyang Girindra untuk menyamar. Hm..., sungguh licik sekali dia."

"Semua orang akan gembira mendengar kematiannya, Rangga. Sepak terjang Gita Raka selama ini selalu membuat penderitaan bagi orang banyak," ujar Patih Giling Wesi.

"Tapi kita jangan bergembira dulu, Paman Patih. Eyang Girindra dan Kalaban masih hidup. Mereka juga pasti tidak akan diam saja sebelum mendapatkan obat penawar 'Pukulan Racun Merah' ini," Rangga mengingatkan.

"Memang benar. Tapi sebelum ini dia belum yakin kalau Seruni memiliki benda itu. Jadi, tidak akan mungkin ke sini lagi. Pondok ini memang milik bibinya Seruni yang tewas di tangan Gita Raka, yang kemudian menyamar jadi bibinya Seruni."

"Kapan itu terjadi?"

"Belum lama. Aku sempat melihat kuburannya di belakang pondok ini. Kelihatannya memang masih baru. Yaaah..., paling-paling baru beberapa hari."

"Hm.. Aku mengerti sekarang...!" selak Rangga tiba-tiba.

"Ada apa, Rangga?" tanya Patih Giling Wesi.

"Pasti Gita Raka menculik dan membawa Seruni ke tempat ini untuk memancing kehadiran Eyang Girindra, setelah dia tidak menemukan apa-apa pada diri Seruni Kemudian, Gita Raka meniupkan kabar bahwa Seruni-lah yang menyimpan pil penawar Racun Merah, dan sekarang gadis cilik itu ada di tempat ini," Rangga menghentikan sebentar penjelasannya.

"Lalu?" desak Patih Giling Wesi. Dalam hati, diakui pula ketajaman pemikiran Rangga.

"Eyang Girindra yang mendengar kabar itu, mulai terpancing. Ketika dia datang ke sini hanya mendapatkan Seruni, tanpa memperoleh apa yang diharapkan. Hm.... Aku yakin, maksud Gita Raka memancing Eyang Girindra ke sini, sebenarnya hanyalah untuk melampiaskan dendamnya. Hm..., licik juga dia," jelas Rangga, mengakhiri.

"Benar, Rangga! Untung kita cepat datang ke sini, sehingga pancingan itu berantakan Huh! Kalau saja salah satu di antara mereka berhasil menemukan pil penawar Racun Merah yang disimpan Seruni, entah apa jadinya dunia persilatan saat ini!" kata Patih Giling Wesi menambahkan.

Rangga terdiam. Apa yang dikatakan Patih Giling Wesi memang benar. Tidak ada seorang pun yang sanggup menandingi kehebatan 'Pukulan Racun Merah', kecuali dirinya sendiri yang kebal terhadap segala jenis racun. Jurus 'Pukulan Racun Merah' tidak ada artinya sama sekali bagi dirinya.

Pendekar Rajawali Sakti itu mendesah panjang. Dia sudah mendapatkan obat yang dicarinya, dan kini harus segera menemui Putri Rajawali Hitam yang tengah sekarat karena terkena jurus 'Pukulan Racun Merah'. Tapi mengingat Patih Giling Wesi dan Seruni yang keadaannya belum lagi bisa dikatakan aman, pikirannya jadi bimbang. Masalahnya, dia tahu keinginan Putri Rajawali Hitam yang tak akan mau dirinya diketahui orang lain.

Lebih-lebih oleh Patih Giling Wesi. Mana mungkin Putri Rajawali Hitam bersedia menemui ayahnya! Dia telah membuat kecewa ayahnya, sehingga menyebabkan seluruh Kerajaan Galung porak-poranda akibat perbuatannya yang kekanak-kanakan. Pada saat Rangga tengah kebingungan, tiba-tiba terdengar suara keras dari angkasa.

"Rajawali...," desis Rangga dalam hati. Jelas dia kenal suara itu

"Suara apa itu...?" tanya Patih Giling Wesi.

"Paman, aku akan pergi sebentar," kata Rangga tanpa menjawab.

"Kau mau ke mana?" tanya Patih Giling Wesi.

Tapi Rangga tidak sempat lagi menjawab. Dia segera melompat dan berlari cepat meninggalkan pondok itu. Pada saat yang sama, Seruni keluar dari dalam pondok. Rupanya juga mendengar suara keras di angkasa tadi. Tampak, di angkasa melayang seekor burung raksasa berwarna keperakan. Namun kedua orang itu tidak menyadarinya.

"Ke mana Kakang Rangga, Paman?" tanya Seruni.

"Pergi," sahut Patih Giling Wesi singkat.

"Kita harus menyusulnya, Paman!"

"Seruni..!"

DELAPAN

Namun Seruni sudah berlari kencang. Patih Giling Wesi tidak punya pilihan lain lagi. Bergegas disusulnya gadis kecil itu. Mereka berlarian mengikuti arah yang dituju Pendekar Rajawali Sakti. Tapi Patih Giling Wesi tidak tahu, ke mana tujuan mereka. Dia tidak sempat lagi bertanya, atau mencegah gadis kecil itu, dan hanya bisa mengikuti dengan perasaan tidak menentu.

Rangga langsung melompat tinggi ke udara begitu Rajawali Putih menukik turun. Belum juga burung raksasa itu mencapai tanah, Rangga sudah hinggap di punggungnya. Rajawali Putih kembali melesat ke angkasa dengan kecepatan kilat, dan langsung menuju ke Lembah Neraka.

Pendekar Rajawali Sakti itu tahu kalau kedatangan Rajawali Putih yang tiba-tiba merupakan satu peringatan baginya. Paling tidak, burung raksasa itu sudah merasakan adanya bahaya mengancam pasangannya, Rajawali Hitam. Memang di antara kedua burung raksasa itu sudah tertanam satu ikatan batin yang sukar untuk dipisahkan kembali. Dan salah satu dapat merasakan bila pasangannya mendapatkan ancaman bahaya.

"Khraghk...!" Rajawali Putih menukik deras begitu sampai di atas Lembab Neraka.

Hawa panas langsung menerpa begitu mendekati lembah yang selalu berwarna merah bagai terbakar itu. Rangga agak terkejut juga begitu melihat Eyang Girindra dan Kalaban tengah berusaha mengalahkan Rajawali Hitam. Mereka berdua memang telah mendengar kabar bahwa Putri Rajawali Hitam ada di sini.

Putri Rajawali Hitam adalah satu tokoh yang ikut menghancurkan ambisi Kalaban dalam menduduki Istana Galung. Oleh sebab itu, Eyang Girindra dan Kalaban berniat membunuhnya.

Sementara itu Rajawali Hitam tampak kewalahan, karena tidak dapat terbang lagi akibat terkena Pukulan Racun Merah ketika bertarung melawan Kalaban di Istana Galung

"Khraghk...!"
"Hup, hiyaaat...!"

Rangga segera melompat turun sebelum Rajawali Putih tiba di dasar lembah itu. Eyang Girindra dan Kalaban tampak terkejut melihat kedatangan Pendekar Rajawali Sakti yang menunggang seekor burung raksasa berwarna putih keperakan Mereka serentak berlompatan menjauhi Rajawali Hitam.

Rangga berdiri tegak di belakang Rajawali Hitam. Tampak sekali kalau burung raksasa itu semakin terluka parah akibat menghadang gempuran dua tokoh sakti. Bergegas Rangga menghampiri dan mengambil sebutir pil penawar Racun Merah. Dimasukkan pil itu ke dalam mulut Rajawali Hitam.

"Khrrrkh...," Rajawali Hitam mengkirik lirih, seakan-akan hendak mengatakan sesuatu!

"Khraghk...!" Rajawali Putih berkaokan keras.

"Rajawali Putih, hadang mereka. Usahakan jangan sampai terkena pukulannya!" seru Rangga.

"Khraghk!"

Rangga bergegas melompat masuk ke dalam bangunan besar bagai istana raksasa itu. Sementara Rajawali Putih sudah bergerak menyambar Eyang Girindra dan Kalaban. Gerakannya begitu cepat bagai kilat, sehingga membuat dua tokoh sakti itu kerepotan. Sementara Rajawali Hitam hanya bisa diam memandangi sambil memulihkan tenaganya.

Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti kini sudah berada dalam ruangan besar bagai istana megah di Lembah Neraka ini. Tampak Intan Kemuning masih tergolek lemah tanpa daya di pembaringan. Rangga bergegas menghampiri dan mengeluarkan dua butir pil berwarna merah kehijauan itu, dan langsung memasukkannya ke dalam mulut Intan Kemuning.

"Kakang...," masih lemah suara Intan Kemuning.

"Semadilah sebentar. Kau akan pulih kembali, Intan," kata Rangga.

"Kau berhasil mendapatkan obat itu, Kakang?" tanya Intan Kemuning.

"Berkat doamu," sahut Rangga merendah seraya membantu gadis itu duduk.

"Apa yang terjadi di luar?"

"Rajawali Putih sedang menghadang Eyang Girindra dan Kalaban"

"Hitam...?"

"Dia tidak apa-apa. Sebentar juga pulih keadaannya."

"Oh..., syukurlah. Dia juga terluka yang sama denganku."

"Aku tahu, Intan. Nah, sekarang bersemadilah. Gunakan hawa murni untuk mempercepat penyembuhanmu."

"Terima kasih, Kakang."

"Aku akan melihat ke luar sebentar."

Intan Kemuning mengangguk lemah Dibiarkan saja Rangga pergi, meskipun hatinya ingin sekali berlama-lama bersama pemuda tampan yang selalu dirindukan dan diimpikannya. Dia memang harus segera bersemadi untuk memulihkan keadaannya. Intan Kemuning segera menyiapkan diri untuk bersemadi, menyalurkan hawa murni ke seluruh jaringan jalan darahnya.

********************

Sementara itu di luar, Rajawali Putih masih mencoba menghadang Eyang Girindra dan Kalaban, Rangga yang baru keluar, langsung melompat terjun dalam pertarungan. Tapi pada saat yang sama, satu pukulan telah berhasil disarangkan Eyang Girindra ke tubuh Rajawali Putih. Rajawali raksasa itu menggerung keras bagai hendak meruntuhkan lembah ini. Tubuhnya terpental keras, dan menghantam batu besar hingga hancur berantakan!

"Rajawali...!" pekik Rangga terkejut.

Dengan cepat Rangga melompat hendak menghampiri, namun Kalaban lebih cepat lagi menghadang seraya mengirimkan satu pukulan keras bertenaga dalam cukup tinggi. Rangga tidak mungkin menghindari pukulan itu, karena perhatiannya terpusat penuh pada Rajawali Putih. Pendekar Rajawali Sakti memekik keras, dan tubuhnya terpental jauh ke belakang.

Hantaman dari jurus 'Pukulan Racun Merah' yang dilepaskan Kalaban demikian keras, sehingga membuat tubuh Pendekar Rajawali Sakti bergulingan di tanah sejauh tiga batang tombak. Pada saat yang sama, Eyang Girindra sudah melompat ke arah Rajawali Putih dengan ujung tongkat yang runcing terhunus.

"Khraghk...!"

Pada saat yang kritis itu, Rajawali Hitam melesat cepat bagaikan kilat, langsung menerjang Eyang Girindra. Laki-laki tua berjubah merah itu terkejut setengah mati. Buru-buru dibuang dirinya ke samping, sehingga terjangan Rajawali Hitam menemui tempat kosong.

"Hiyaaat...!"

Rangga yang segera bisa bangkit kembali, melompat cepat ke arah Rajawali Putih. Burung raksasa itu mengkirik lirih di atas puing-puing batu merah yang terkena hantaman tubuhnya. Dan belum lagi Rangga bisa mencapai Rajawali Putih, Kalaban sudah melontarkan senjata rahasianya.

Wut!
"Hap...!'
Sret!

Rangga yang tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya, segera mencabut senjata pusakanya. Sebuah pedang yang memancarkan cahaya biru berkilauan. Seketika itu juga seluruh Lembah Neraka menjadi terang benderang oleh sinar biru yang terpancar dari pedang Pendekar Rajawali Sakti.

"Hiya, hiya, hiyaaat...!"

Rangga mengebutkan pedangnya dengan cepat, merontokkan puluhan senjata rahasia yang ditebarkan Kalaban. Dan belum lagi Kalaban hilang rasa terpananya melihat pedang di tangan Rangga, Pendekar Rajawali Sakti itu sudah melompat deras seraya mengebutkan pedangnya ke arah leher pemuda itu.

"Uts!"

Kalaban cepat tersadar. Buru-buru dijatuhkan tubuhnya ke tanah, dan bergulingan beberapa kaki. Bergegas dia bangkit kembali, dan langsung bersiap-siap. Rangga yang sudah dilanda kemarahan, kali ini tidak lagi memberikan kesempatan pada lawannya. Kemarahannya begitu memuncak melihat Rajawali Putih terluka, hingga tidak dapat lagi bergerak.

"Mampus kau, setan! Hiyaaa...!" teriak Rangga keras.

Kalaban terkesiap melihat pedang bercahaya biru menyilaukan itu berkelebat cepat ke depan mukanya. Tapi dengan gerakan cepat, ditarik mundur kepalanya. Namun pemuda itu masih juga merasakan adanya satu dorongan kuat yang membuat tubuhnya terpental ke belakang. Rupanya Rangga mengerahkan tenaga dalam penuh sewaktu mengibaskan pedangnya. Akibat yang ditimbulkan adalah angin yang begitu kuat, hingga tubuh Kalaban terpental jauh.

"Khraghk!"

Saat itu terdengar satu seruan keras dari Rajawali Hitam. Dalam kondisi yang belum begitu sempurna, kembali Rajawali Hitam terkena pukulan telak dari Eyang Girindra. Rajawali Hitam terpental dan menghantam sebuah pohon besar hingga hancur berantakan. Eyang Girindra tidak lagi mempedulikan burung raksasa itu. Dia bergegas melompat ke arah bangunan istana. Tapi pada saat yang tepat, dari dalam melesat sebuah bayangan hitam.

"Setan!" Eyang Girindra mengumpat sambil melentingkan tubuhnya ke belakang.

"Tidak semudah itu kau membunuhku, setan tua!"

Eyang Girindra menggeram sambil mengumpat memaki-maki melihat Intan Kemuning atau yang berjuluk Putri Rajawali Hitam sudah tegak berdiri, dan bersikap menantang. Sebatang pedang hitam bergagang kepala burung, tergenggam melintang di depan dada. Sementara Rangga masih bertarung sengit menghadapi Kalaban. Meskipun berada di atas angin, tapi tidak mudah bagi Pendekar Rajawali Sakti melumpuhkan perlawanan Kalaban.

Sementara itu di bibir Lembah Neraka, Patih Giling Wesi menggendong Seruni menuruni lembah itu. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, tidak sukar bagi laki-laki gemuk itu menuruni lembah yang cukup terjal. Sementara Seruni yang berada dalam gendongannya, juga mengerahkan ilmu meringankan tubuh agar Patih Giling Wesi lebih leluasa bergerak.

Tidak berapa lama, mereka sudah sampai di dasar lembah. Seruni segera melompat turun dari gendongan Patih Giling Wesi. Gadis kecil itu bertari cepat menghampiri pertarungan yang tengah berlangsung sengit. Kalau saja Patih Giling Wesi tidak cepat menarik tangannya, mungkin Seruni sudah menerjunkan diri ke dalam pertarungan.

"Lepaskan, Paman!" Seruni berusaha memberontak.

"Jangan bodoh, Seruni Kau akan membuat kesulitan bagi mereka!" ujar Patih Giling Wesi.

"Tapi..."

Belum lagi Seruni meneruskan bantahannya, terdengar suara Rangga yang keras.

"Seruni! Lemparkan ujung selendangmu ke sini!"

"Baik, Kakang...!"

Seruni segera melemparkan ujung selendangnya ke arah Rangga. Sedangkan satu ujung lainnya dipegangnya erat-erat. Selendang merah muda itu meluruk deras, dan langsung ditangkap Rangga yang tengah menghadapi Kalaban. Rangga menyelipkan tiga butir pil ke dalam lipatan selendang itu, lalu melemparkannya kembali pada Seruni yang segera menariknya pulang.

"Berikan pada Rajawali!" perintah Rangga.

"Apa...?" Seruni kurang mendengar.

"Kemarikan selendangmu, Seruni," pinta Patih Giling Wesi seraya merebut selendang itu dari tangan Seruni.

Patih Giling Wesi sempat melihat Rangga telah menyelipkan sesuatu pada lipatan ujung selendang itu. Dan benar saja! Ada tiga butir pil pada lipatan selendang itu. Bergegas Patih Giling Wesi mengambilnya dan memberikan selendang itu pada Seruni. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Patih Giling Wesi berlari menghampiri Rajawali Putih. Tapi sejenak dia bingung, karena di tangannya ada tiga butir pil.

"Dua untuk Putih, satu Hitam...!" seru Rangga bisa mengetahui kebimbangan Patih Giling Wesi, meskipun dalam keadaan bertarung sengit.

Patih Giling Wesi menghampiri Rajawali Putih. Jelas sekali kalau dia gemetar ketakutan melihat burung raksasa itu. Tapi dengan hati bulat, diberanikan dirinya dan disodorkan dua pil pada Rajawali Putih.

"Hihhh...," Patih Giling Wesi bergidik juga ketika kepala Rajawali Putih menjulur dan mematuk kedua pil di tangannya.

Patih Giling Wesi bergegas menghampiri Rajawali Hitam dan memberikan pil yang tinggal sebutir lagi, kemudian bergegas berlari mendekati Seruni kembali. Sesekali dia masih melirik pada sepasang burung raksasa itu. Rasa ngeri dan takut masih melandanya. Betapa tidak! Seumur hidupnya baru kali ini melihat burung rajawali sebesar itu!

Sementara Rangga yang melihat Sepasang Rajawali sudah menelan pil penawar Racun Merah, jadi lebih tenang. Dan kini dipusatkan perhatiannya pada pertarungannya melawan Kalaban. Dengan pedang pusaka di tangan dan dalam keadaan perhatian tidak terpecah, serangan-serangan Rangga semakin dahsyat dan sukar untuk ditandingi.

"Celaka! Bisa mati aku...!" desah Kalaban dalam hati. Hatinya mulai dihinggapi perasaan gentar.

Kalaban melirik pada gurunya yang menghadapi Intan Kemuning. Dia berusaha mencari kesempatan untuk melarikan diri. Dan kesempatan itu datang ketika Rangga mengibaskan pedangnya ke arah kaki. Dengan cepat Kalaban melesat ke udara, lalu berusaha kabur. Tapi pada saat itu Seruni lebih cepat bertindak.

"Hap, Hiyaaat...!"

Gadis kecil itu melontarkan selendangnya, dan langsung melibat kaki Kalaban. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, Seruni menarik selendangnya ke bawah. Kalaban terperanjat. Jelas dia tidak punya kesempatan lagi menahan hentakan itu. Tubuhnya meluncur deras ke bawah. Pada saat yang tepat. Patih Giling Wesi pun melompat sambil mengibaskan pedangnya.

"Hiaaat...!"

"Aaa...!" Kalaban menjerit melengking.

Tebasan pedang Patih Giling Wesi merobek dada pemuda itu. Dan belum lagi tubuh Kalaban mencapai tanah, satu tebasan lagi membuat lehernya hampir terpenggal putus. Seketika itu juga nyawanya melayang. Tubuh Kalaban menghantam tanah, tanpa nyawa melekat lagi di badan. Darah mengucur deras dari dada dan lehernya.

"Hup!"

Seruni menarik kembali selendangnya, dan langsung dililitkan ke pinggang. Patih Giling Wesi berdiri tegak memandangi mayat Kalaban. Sementara Rangga hanya bisa menarik napas panjang. Patih Giling Wesi berbalik dan menghampiri Seruni.

"Kau hebat, Anak Manis," puji Patih Giling Wesi.

"Paman juga," balas Seruni polos.

Saat itu Rangga tidak sempat lagi memperhatikan keakraban yang terjadi antara Patih Giling Wesi dan Seruni Perhatiannya sudah beralih pada pertarungan antara Intan Kemuning melawan Eyang Girindra.

"Khraghk...!"

Rajawali Hitam yang sudah pulih keadaannya! langsung melesat cepat bagaikan kilat menerjang Eyang Girindra. Terjangan Rajawali Hitam sungguh tidak diduga sama sekali, sehingga laki-laki tua itu tidak sempat lagi berkelit. Sambaran sayap burung raksasa itu membuat Eyang Girindra terpental beberapa tombak jauhnya.

"Mampus kau, hiyaaat...!" pekik Intan Kemuning.

Bagaikan seekor burung rajawali, Intan Kemuning melompat tinggi ke angkasa. Tiba-tiba tubuhnya menukik deras dengan ujung pedang tertuju langsung ke arah dada Eyang Girindra. Rangga yang melihat kejadian itu, sudah paham kalau Intan Kemuning menggunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa Jurus yang sama persis dengan yang dimilikinya.

"Hait!"

Eyang Girindra berusaha menangkis serangan itu dengan mengibaskan tongkatnya. Tapi sungguh di luar dugaan, pedang hitam Intan Kemuning berbelok arah, dan berkelebat cepat ke arah leher. Perubahan itu membuat Eyang Girindra terkesiap. Buru-buru ditarik mundur tubuhnya, tapi kibasan pedang itu sangat cepat luar biasa! Sehingga...

Cras!

"Aaa...!" Eyang Girindra menjerit keras.

Darah segar langsung muncrat dari leher yang terbabat hampir buntung. Belum lagi tubuh laki-laki tua berjubah merah itu ambruk, satu tendangan menggeledek didaratkan Intan Kemuning ke dadanya. Tidak ampun lagi, tubuh Eyang Girindra terjungkal roboh membentur dinding bangunan istana.

Hanya sebentar Eyang Girindra mampu bergerak, kemudian diam tidak berkutik lagi. Darah mengucur deras dari lehernya yang hampir buntung. Sedangkan dadanya melesak masuk ke dalam. Intan Kemuning menarik napas panjang Dimasukkan pedangnya ke dalam warangkanya di punggung. Gadis itu berbalik dan matanya langsung terbeliak begitu melihat ayahnya ada di situ bersama seorang gadis kecil di samping Pendekar Rajawali Sakti.

"Ayah...," desis Intan Kemuning seraya membuka cadar hitamnya.

Saat itu Patih Giling Wesi seperti tidak percaya pada penglihatannya. Mulutnya ternganga lebar, dengan mata terbuka tidak berkedip. Sedangkan Intan Kemuning jadi salah tingkah. Dia tidak tahu lagi apa yang dilakukannya.

"Intan, Anakku...," desah Patih Giling Wesi seakan-akan baru tersadar dari mimpi.

"Ayah..."

Patih Giling Wesi merentangkan tangannya seraya melangkah ke depan Intan Kemuning tidak kuasa lagi membendung rasa haru dan kerinduannya. Dia berlari dan jatuh dalam pelukan ayahnya, dan langsung menumpahkan tangisnya. Patih Giling Wesi pun tidak kuasa lagi membendung air matanya.

Sementara Seruni yang menyaksikan kejadian itu hanya bengong tidak mengerti. Sebentar matanya menatap Patih Giling Wesi yang berpelukan dengan Intan Kemuning, kemudian beralih pada Rangga di sampingnya. Rangga sendiri hanya bisa meneguk air ludahnya karena haru melihat pertemuan itu.

"Maafkan aku. Ayah," ucap Intan Kemuning setelah melepaskan pelukannya.

"Lupakan saja. Anakku. Ayah senang kau masih tetap hidup," ujar Patih Giling Wesi terharu.

"Intan sudah membuat Ayah susah."

"Tidak, Anakku. Semua yang terjadi bukan kesalahanmu. Aku juga turut bersalah. Yang sudah terjadi, biarlah berlalu, sekarang..."

"Ayah..," Intan Kemuning memutuskan kata-kata ayahnya. "Intan tidak mungkin kembali lagi ke Kerajaan Galung. Intan tidak sanggup bertemu dengan Gusti Prabu. Biarkan Intan di sini bersama Rajawali Hitam."

"Rajawali Hitam...?!" suara Patih Giling Wesi tercekat.

"Benar. Rajawali Hitam-lah yang telah menyelamatkan aku dari maut. Dia juga yang membuatku semakin sempurna. Rasanya tidak bisa lagi aku berpisah darinya, Ayah," jelas Intan Kemuning.

"Benar, Paman. Intan Kemuning sudah menjadi bagian dalam hidup Rajawali Hitam. Seperti juga halnya denganku yang tidak bisa terpisah dengan Rajawali Putih. Kami adalah pasangan dari Sepasang Rajawali," sambung Rangga seraya menghampiri.

"Aku tidak mengerti maksud kalian...?" Patih Giling Wesi kebingungan.

"Nanti kujelaskan. Sekarang masuk dulu, Ayah,"' sahut Intan Kemuning. "Ini istanaku, juga istana Ayah."

"Rangga...," Patih Giling Wesi menatap pada Pendekar Rajawali Sakti.

"Maaf, bukannya aku menolak. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Masih banyak yang harus kukerjakan," tolak Rangga halus. Dia bisa mengerti keinginan Patih Giling Wesi dan Intan Kemuning.

Saat itu mereka seperti lupa terhadap gadis kecil yang banyak membantu dalam masalah ini. Dan Seruni yang merasa tersisih, melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Tapi Rangga cepat teringat, begitu pula Patih Giling Wesi. Mereka segera mengejar dan menghentikan langkah gadis kecil itu. Intan Kemuning pun ikut mendekati.

"Seruni, kau mau ke mana?" tanya Rangga lembut.

"Pergi," sahut Seruni singkat dan pelan.

"Kau jangan pergi, Anak Manis. Aku akan mengangkatmu sebagai anak," kata Patih Giling Wesi.

Seruni memandang laki-laki gemuk itu, kemudian memandang Rangga yang tersenyum dan mengangguk. Tentu saja Rangga senang mendengar keinginan Patih Giling Wesi, sebab gadis cilik itu bisa aman dan terlindung bila berada dalam istana. Bahkan Seruni bisa lebih baik lagi mengembangkan ilmunya yang sudah dimiliki.

"Benar, Dik. Kau akan menjadi pengganti diriku. Tinggallah bersama Ayah di istana," sambung Intan Kemuning.

"Istana...?!" Seruni mengerutkan keningnya.

"Iya! Di sana masih ada saudaramu yang lain. Kau masih punya Paman dan Bibi. Bahkan kau masih punya seorang adik sepupu yang sebaya dengan usiamu," kata Patih Giling Wesi.

"Benarkah itu, Paman?"

"Akan kau buktikan sendiri nanti."

"Sungguh...?!" Seruni kelihatan gembira. Dia menoleh ke arah Rangga tadi berdiri, tapi Pendekar Rajawali Sakti sudah lenyap.

Seruni celingukan mencari-cari. Bahkan Patih Giling Wesi dan Intan Kemuning mendongakkan kepalanya ke atas. Tampak Rajawali Putih melayang-layang di angkasa bersama Rangga di punggungnya.

"Ah! Kakang..., mungkin ini sudah takdir kita untuk selalu berpisah," gumam Intan Kemuning lirih.

"Kakang Rangga...!" teriak Seruni keras begitu mendongak ke atas.

"Tinggallah bersama Paman Patih, Seruni! Kelak aku akan mengunjungimu!" seru Rangga keras.

"Khraghk...!" Rajawali Putih berkaokan keras.

"Khraghk...!" Rajawali Hitam menyambutnya.

Rajawali Putih melesat cepat membumbung tinggi ke angkasa. Sekejap saja bayangannya lenyap ditelan awan. Patih Giling Wesi memeluk pundak Intan Kemuning dan Seruni.

Memang ada sesuatu yang hilang pada diri mereka. Tapi pertemuan Ini membuat mereka bahagia, meskipun pada akhirnya harus berpisah kembali. Tapi Patih Giling Wesi tidak akan merasa gelisah lagi, karena sudah mengetahui keadaan dan tempat tinggal anaknya. Sewaktu-waktu dia bisa berkunjung ke tempat ini.

"Selamat berpisah, Kakang Rangga...," desis Intan Kemuning pelan.


SELESAI

EPISODE SELANJUTNYA JAGO DARI MONGOL
Thanks for reading Sabuk Penawar Racun I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »