Penari Berdarah Dingin

Pendekar Rajawali Sakti

Karya Teguh S

PENARI BERDARAH DINGIN

SATU
SELURUH rakyat Kadipaten Bojong Picung saat ini tumpah ruah memadati sepanjang jalan utama kadipaten yang tidak begitu besar itu. Sorak sorai bergema menyambut serombongan orang berseragam yang berkuda, mengawal sebuah kereta besar terbuka. Semua orang yang memadati pinggir jalan, mengelu-elukan sekitar tiga puluh orang yang berada di atas kereta itu.

Di antara penumpang kereta, terlihat enam orang wanita berwajah cantik dan bertubuh indah. Mereka itu memakai kemben dari kain halus berwarna cerah. Wanita-wanita itu mengumbar senyum dan sesekali melambaikan tangannya. Tampak duduk di depan dekat kusir kereta, seorang laki-laki berusia lanjut. Pakaiannya merah menyolok, dan berikat kepala berbentuk lancip tinggi. Bibirnya yang hampir tertutup kumis putih, selalu menyunggingkan senyum.

Rombongan kecil itu terus bergerak mengelilingi seluruh Kota Kadipaten Bojong Picung. Semakin dekat ke arah kadipaten, semakin banyak orang mema-dati jalan. Sehingga, laju rombongan itu agak tersendat. Hal ini membuat orang-orang berseragam prajurit yang berada di atas, bergegas menghalau orang-orang yang menghalangi jalan.

"Minggir...! Minggir...!"

Bentakan-bentakan keras terdengar di antara seruan-seruan orang yang mengelu-elukan penumpang kereta besar itu. Rombongan kecil itu terus mendekati pintu gerbang kadipaten yang dijaga ketat sekitar sepuluh orang prajurit bersenjatakan tombak panjang. Mereka bergegas membuka pintu gerbang, seraya berjaga-jaga menghadapi orang-orang yang mencoba menerobos masuk mengikuti rombongan kecil itu.

"Cepat, tutup pintunya...!" Terdengar teriakan keras bernada memerintah.

Pintu gerbang dari kayu jati tebal yang tinggi dan kokoh itu ditutup setelah rombongan kecil melewatinya. Sorak-sorai masih terdengar di luar benteng kadipaten. Sedangkan rombongan kecil itu terus bergerak mendekati sebuah bangunan besar dan indah yang dijaga ketat para prajurit bersenjata lengkap.

Rombongan itu langsung disambut penguasa Kadipaten Bojong Picung. Orang-orang yang berada di kereta terbuka dan cukup besar itu langsung dibawa ke dalam sebuah ruangan besar beralaskan permadani bulu yang tebal dan halus. Mereka duduk bersila, sedangkan sang adipati duduk di kursi berukir didampingi dua orang pengawal. Di samping Adipati, duduk seorang wanita cantik berbaju merah dari kain sutera halus yang agak ketat, sehingga membentuk tubuhnya yang ramping dan indah.

"Aku gembira akhirnya kau memenuhi undanganku, Ki Jawara," kata Adipati Anggara.

"Hamba merasa undangan ini sebagai suatu kehormatan, Gusti Adipati. Hamba membawa seluruh anggota, termasuk penari-penari utama," sahut Ki Jawura.

Adipati Anggara tersenyum, dan semakin lebar. Bola matanya berputar merayapi wanita-wanita cantik yang duduk di belakang laki-laki tua berbaju merah. Di belakang laki-laki tua itu, duduk berjajar beberapa laki-laki muda dan tua, yang terdiri dari para nayaga dan para penari pria.

"Kudengar, rombonganmu sudah cukup terkenal. Oleh karena itu, aku ingin melihat pertunjukanmu, Ki Jawura. Dengan demikian, aku secara khusus mengundangmu untuk main di sini, menghibur seluruh rakyatku selama tujuh malam penuh," jelas Adipati Anggara.

"Terima kasih, Gusti Adipati," ucap Ki Jawura seraya menyembah, merapatkan kedua tangannya di depan hidung.

Sikap Ki Jawura diikuti yang lainnya. Sehingga, membuat Adipati Anggara semakin senang, dan senyumnya juga semakin lebar menghiasi kecerahan wajahnya. Namun tidak demikian dengan wanita yang duduk di sampingnya. Wajahnya kelihatan tidak gembira, bahkan sedikit pun tidak tersenyum. Sikap wanita muda itu sama sekali tidak mendapat perhatian Adipati Anggara yang tengah bergembira akan kedatangan rombongan pimpinan Ki Jawura ini.

"Perjalanan yang kalian tempuh tentu sangat jauh dan melelahkan. Sudah kusediakan tempat untuk kalian beristirahat. Malam ini kalian akan tampil khusus untukku, dan keesokan hari baru bermain di alun-alun kadipaten," jelas Adipati Anggara lagi.

"Terima kasih, Gusti Adipati," ucap Ki Jawura penuh rasa hormat.

Dengan diantar dua orang prajurit dan seorang pelayan wanita, rombongan penari itu menuju tempat peristirahatan nya yang sudah disediakan. Sedangkan Adipati Anggara masih saja duduk di tempatnya didampingi wanita muda berparas cantik, dan berkulit putih halus.

"Kelihatannya kau tidak suka, Diah?" tegur Adipati Anggara baru menyadari sikap wanita itu.

"Ayahanda yang berkuasa di sini. Nanda tidak bisa berbuat apa-apa," sahut wanita berbaju merah itu yang bernama Diah Mardani. Nada suaranya terdengar keras.

"Kau anakku. Tentu saja kau bisa mengemukakan pendapatmu di sini. Sudah tentu rombongan penari itu tidak akan kupanggil, kalau kau tidak suka," kata Adipati Anggara seraya mengelus rambut Diah Mardani yang hitam dan panjang.

Gadis itu tidak menyahut. Diberikannya sembah kepada ayahnya itu dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung. Sebentar kemudian gadis itu pergi dari ruangan itu. Adipati Anggara menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak gadisnya ini.

*******************

Alunan gending begitu merdu ditabuh para nayaga yang duduk berjajar rapi di pojok ruangan besar, dalam bangunan megah Kadipaten Bojong Picung. Di tengah-tengah ruangan, terlihat enam wanita berwajah cantik yang memiliki tubuh ramping gemulai melengak-lenggok mengikuti irama gamelan yang ditabuh merdu menghanyutkan. Ruangan yang besar itu juga telah dipenuhi para tamu undangan Adipati Anggara.

Semua tamu tidak berkedip menyak-sikan lenggak-lenggok para penari yang begitu indah dan gemulai. Tampak di samping kiri Adipati Anggara, duduk Ki Jawura yang selalu mengangguk-angguk mengikuti irama gamelan. Bibirnya tidak pernah lepas dari senyuman. Sedangkan mata Adipati Anggara sendiri tidak lepas ke arah salah seorang penari yang mengenakan baju biru muda.

"Tampaknya Gusti Adipati menyukai salah seorang penariku," tebak Ki Jawura tiba-tiba setengah berbisik.

"Oh...!" Adipati Anggara terkejut

Buru-buru laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun itu berpaling menatap Ki Jawura yang juga tengah memperhatikannya. Adipati Anggara kembali memalingkan wajahnya memperhatikan enam penari wanita yang masih melengak-lenggok gemulai. Bahkan kini, beberapa tamu undangan mulai ikut menari di tengah-tengah ruangan besar ini.

"Siapa nama penarimu itu, Ki?" Tanya Adipati Anggara.

"Yang mana, Gusti?" Ki Jawura balik bertanya.

"Yang berbaju dan berselendang biru," sahut Adipati Anggara tanpa mengalihkan pandangannya ke arah wanita muda berwajah cantik yang sedang menari dengan salah seorang tamu undangan.

"Oh..., itu. Namanya Onila. Dia masih keponakan hamba, Gusti," sahut Ki Jawura, kemudian bibirnya semakin lebar tersenyum.

"Aku ingin kau tidak menyertakan dia menari, Ki," pinta Adipati Anggara.

"Kenapa, Gusti?" Tanya Ki Jawura agak terkejut juga. Sungguh tidak disangka kalau Adipati Anggara akan berkata begitu. Padahal tadi bayangannya lain.

"Hentikan saja dia, dan suruh duduk di sini," tegas Adipati Anggara.

"Baik, Gusti." Ki Jawura bergegas memberi hormat, lalu beranjak bangkit berdiri dan melangkah ke tengah ruangan. Laki-laki tua itu langsung mendekati wanita yang dimaksud Adipati Anggara. Dibisikkan sesuatu di telinga wanita cantik berbaju biru itu. Sebentar wanita itu menatap Adipati Anggara, lalu melangkah mengikuti Ki Jawura yang sudah lebih dahulu kembali ke tempatnya.

Wanita cantik yang disebutkan Ki Jawura tadi bernama Onila ini, berlutut di depan Adipati Anggara dan merapatkan kedua telapak tangannya di depan hidung. Wajahnya tertunduk, seperti tidak kuasa membalas sorot mata penguasa Kadipaten Bojong Picung ini.

"Duduklah di sampingku ini, Onila," ajak Adipati Anggara lembut.

Onila memandang Ki Jawura, dan laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya disertai sedikit kerdipan sebelah mata. Onila memberikan sembah, lalu beringsut duduk di samping Adipati Anggara yang duduk di kursi berukir indah. Wanita itu duduk bersimpuh di lantai dekat penguasa Kadipaten Bojong Picung itu.

Adipati Anggara memandangi wajah cantik di sampingnya lekat-lekat. Tidak lagi dipedulikan penari-penari lainnya. Sudah berganti-ganti para tamu undangan yang ikut menari, dan kelihatannya begitu puas. Wajah mereka berseri-seri. Sementara penabuh gamelan semakin giat membuat irama panas yang menambah semaraknya suasana malam ini.

"Onila, aku ingin kau menari khusus untukku. Hanya untukku," pinta Adipati Anggara.

"Gusti...," Onila terperanjat Langsung diangkat kepalanya, dan ditatapnya laki-laki setengah baya yang masih kelihatan gagah itu.

"Jika keberatan, aku tidak akan memaksa," kata Adipati Anggara lagi. Begitu lembut suaranya.

Onila tidak menjawab. Dipandangi wajah Ki Jawura yang kelihatannya juga kebingungan atas permintaan Adipati Anggara itu. Sukar bagi Ki Jawura memberi jawaban yang diminta Onila melalui tatapan mata. Melihat laki-laki tua itu hanya diam saja, Onila jadi tertunduk. Sementara pesta terus berlangsung semakin meriah.

Sampai jauh malam pesta di kadipaten itu belum juga berakhir. Bahkan semakin larut, suasana semakin semarak. Ki Jawura hanya, diam saja. Sesekali dilirik Onila yang tertunduk. Sedangkan Adipati Anggara tampaknya sudah tidak tertarik lagi pada suasana ini, tapi tidak ingin meninggalkan tempat sebelum pesta berakhir. Biar bagaimanapun tamu-tamu undangan nya harus dihormati, karena mereka tengah bergembira menghabiskan malam semarak penuh gelak tawa ini.
Pendekar Rajawali Sakti
Ki Jawura berjalan mondar-mandir di dalam kamar berukuran tidak terlalu besar. Beberapa kali ditariknya napas panjang, dan dihembuskannya kuat-kuat Sedangkan di tepi pembaringan, terlihat Onila duduk dengan kepala tertunduk dalam. Dimain-mainkan rambutnya yang hitam panjang bergelombang. Gadis itu masih mengenakan kebaya biru muda, dan berselendang biru tersampir di leher yang putih jenjang.

"Tidak kusangka kalau Gusti Adipati begitu cepat tertarik...," desah Ki Jawura. Segera dihentakkan tubuhnya di kursi yang berada di bawah jendela besar, sambil memandang Onila. "Hhh..., seharusnya...."

"Ki...!" sentak Onila memotong cepat. Diangkat kepalanya menatap pada laki-laki tua itu.

"Terus terang, sejak semula aku tidak suka dengan ini semua. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada dirimu, Gusti Ayu...."

"Jangan panggil aku Gusti Ayu, Ki!" potong Onila lagi lebih cepat.

"Tugas ini terlalu berbahaya. Dan sungguh tidak kusangka kalau Gusti Adipati justru memilihmu," keluh Ki Jawura.

"Aku suka tugas ini, Ki. Dan akan kulaksanakan sebaik-baiknya," kata Onila diiringi senyuman manisnya.

"Itulah yang kupikirkan," pelan suara Ki Jawura.

"Jangan khawatir, Ki. Aku pasti tidak akan tergoda. Aku tahu siapa itu Adipati Anggara," tegas Onila lagi.

"Mudah-mudahan kau bisa menjaga diri, Onila."

Onila tersenyum semakin manis. Sementara Ki Jawura melangkah keluar dari kamar ini. Onila terbaring menelentang memandangi langit-langit kamar. Sedikit pun, tidak ditoleh saat mendengar pintu kamar ini tertutup. Kepalanya baru berpaling setelah tidak terdengar lagi suara langkah Ki Jawura yang meninggalkan kamar ini.

Malam sudah beranjak pergi, berganti pagi. Pesta semalam membuat semua orang lelah, dan langsung tertidur. Namun tidak demikian halnya Onila. Gadis penari itu masih terjaga di pembaringan. Matanya menerawang jauh menembus langit-langit kamar yang dikapur putih. Pelahan gadis itu beranjak bangkit, lalu turun dari pembaringan. Tapi, Onila kembali duduk di tepi pembaringan itu.

Cukup lama juga Onila duduk diam merenung di tepi pembaringan, kemudian kembali bangkit berdiri dan melangkah keluar dari kamar ini. Sebentar ditengok ke kanan dan ke kiri setelah membuka pintu kamar. Ringan sekali kakinya terayun melangkah menyusuri lorong yang di kanan dan kirinya terdapat kamar-kamar yang pintunya tertutup rapat. Bagian belakang kadipaten ini memang lebih mirip sebuah rumah penginapan. Onila terus berjalan menyusuri lorong yang cukup panjang. Gadis itu baru berhenti melangkah setelah melewati batas lorong dengan bagian taman belakang kadipaten. Gadis itu mengernyitkan alisnya saat melihat di dalam taman belakang ada seorang wanita yang usianya sebaya dirinya.

Wanita berbaju biru muda itu menoleh, dan tampaknya terkejut begitu melihat Onila tahu-tahu sudah berada di taman belakang ini. Dipandangi Onila dalam-dalam. Sedangkan Onila mengayunkan kakinya mendekati, dan berhenti kira-kira lima langkah lagi jaraknya dari gadis muda berwajah sangat cantik itu.

"Apakah aku mengganggumu, Gusti Ayu?" Tanya Onila sopan, mengenali gadis cantik ini. Dia adalah Diah Mardani, putri tunggal Adipati Anggara.

"Ada apa kau datang ke sini?" Diah Mardani balik bertanya, dan nadanya agak ketus.

"Aku tidak bisa tidur, lalu berjalan-jalan mencari udara segar," sahut Onila dengan kening agak berkerut melihat sikap putri adipati ini.

"Banyak tempat yang bisa didatangi di kadipaten ini," masih terdengar ketus nada suara Diah Mardani.

"Jika Gusti Ayu tidak berkenan, sebaiknya aku segera pergi dari sini," kata Onila seraya membalikkan tubuhnya.

Tapi belum juga gadis penari itu melangkah pergi, Diah Mardani lebih dulu mencegahnya. Onila memutar tubuhnya kembali, menghadap putri tunggal adipati Itu. Sesaat mereka tidak berbicara, dan hanya saling pandang saja.

"Sudah berapa lama kau jadi penari?" Tanya Diah Mardani seraya duduk di kursi taman.

"Sejak kecil," sahut Onila masih tetap berdiri.

"Kau tidak berdusta?" Nada pertanyaan Diah Mardani jelas terdengar tidak percaya.

Pandangan mata gadis itu juga penuh selidik. Namun Onila bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya bertanya-tanya juga. Dia hanya diam, membalas tatapan penuh selidik itu agak tajam.

"Meskipun bukan seorang penari, tapi aku bisa membedakan antara yang sudah terbiasa menari dan yang bukan," kata Diah Mardani lagi.

"Apa maksud Gusti Ayu berkata demikian?" Tanya Onila.

"Ki Jawura mengakui kalau kau adalah keponakannya. Tapi kulihat antara kau dengan yang lain tidak begitu akrab. Bahkan kau lebih suka menyendiri, dan selalu dekat dengan Ki Jawura. Siapa kau sebenarnya, Onila?"

Onila terperanjat juga mendengar kata-kata yang begitu lancar, tegas, dan tanpa tedeng aling-aling lagi. Begitu lugas, seperti tidak memiliki beban apa-apa. Namun demikian, ada sedikit kegelisahan di hati gadis itu. Onila jadi tidak betah berlama-lama di sini.

"Mungkin Ayahanda atau yang lain bisa tertipu pandangannya! Tapi aku tidak! Dan kau tidak akan bisa melaksanakan niat yang terkandung di dalam kepalamu!" Ujar Diah Mardani lagi.

"Maaf, Gusti Ayu. Aku harus beristirahat," kata Onila seraya cepat-cepat memutar tubuhnya, meninggalkan taman belakang itu.

"Itu baru peringatan untukmu, Onila!" Tegas Diah Mardani diiringi senyuman sinis.

Onila mendengar kata-kata itu, tapi tetap menutup telinga. Kakinya berjalan meninggalkan taman belakang ini. Sedangkan Diah Mardani masih tetap duduk memandangi kepergian gadis penari itu. Bibirnya yang selalu basah dan merah, masih menyunggingkan senyuman. Entah apa arti senyuman itu, hanya dirinya sendiri yang tahu.

*******************

DUA

Siang ini udara terasa begitu panas menyengat. Matahari bersinar terik, seakan-akan hendak menghanguskan apa saja yang ada di atas permukaan bumi. Keadaan seperti ini membuat semua orang enggan berada di dalam rumah. Mereka lebih senang duduk-duduk berangin-angin di bawah pohon. Meskipun angin bertiup keras, namun tidak mampu mengurangi teriknya cahaya matahari.

Di halaman samping Kedaton Kadipaten Bojong Picung, tampak Diah Mardani tengah duduk di bawah pohon rindang yang melindungi kulitnya dari sengatan matahari. Gadis itu hanya ditemani dua orang emban pengasuh yang terkantuk-kantuk bersandar pada pohon. Sedangkan Diah Mardani tengah menggosok-gosok pedang keperakan yang berkilau tertimpa cahaya sinar matahari.

"Hhh...! Kerja kalian hanya tidur saja!" Rungut Diah Mardani seraya melirik dua emban pengasuhnya.

"Maaf, Den Ayu. Semalaman kami tidak bisa tidur," sahut seorang emban bertubuh gemuk dan berselendang kuning yang melingkari pinggangnya.

"Kalian pasti ikut menonton pertunjukan jelek itu, ya?" Dengus Diah Mardani ketus.

"Tidak, Gusti Ayu. Tapi suaranya membuat kami tidak bisa memejamkan mata," sahut emban yang bertubuh kurus.

Diah Mardani mendengus. Dimasukkan pedangnya ke dalam sarungnya, lalu digeletakkan pedang itu di samping. Pandangannya beredar ke sekeliling, dan langsung tertumbuk pada sebuah jendela kamar yang sedikit terbuka. Gadis itu tidak berkedip memandang ke dalam kamar dari jendela yang terbuka sedikit itu.

"Hm.... Ada apa Ayah berada di dalam kamar Onila...?" Gumam Diah Mardani bertanya pada dirinya sendiri.

Di dalam kamar itu memang terlihat Adipati Anggara duduk di tepi pembaringan. Tidak jauh di depannya, terlihat Onila yang duduk di sebuah kursi rotan. Entah apa yang tengah dibicarakan. Terlalu jauh bagi Diah Mardani untuk bisa mendengar percakapan di dalam kamar itu. Tapi matanya tetap tidak berkedip memandangi kedua orang di dalam kamar itu.

Diah Mardani menahan napas seketika saat melihat ayahnya bangkit berdiri dan menghampiri Onila. Jelas terlihat laki-laki setengah baya penguasa Kadipaten Bojong Picung itu merengkuh pundak Onila dengan kedua tangannya yang kekar dan membawanya berdiri. Begitu dekat jarak antara mereka, sehingga hampir tidak ada batas lagi. Diah Mardani buru-buru memalingkan muka saat kepala ayahnya tertunduk mendekati wajah Onila yang terdongak, ditopang jari laki-laki setengah baya itu.

"Dasar perempuan rendah!" Rungut Diah Mardani. Diah Mardani tidak tahu lagi, apa yang terjadi di dalam kamar itu. Memang, Adipati Anggara bergegas menutup jendelanya. Gadis itu segera bangkit berdiri, lalu melangkah cepat menghampiri kamar itu. Tidak tertahankan lagi deburan jantungnya yang bagaikan gempuran ombak di tepi pantai.

Namun belum juga gadis itu dekat dengan jendela kamar yang sudah tertutup rapat, mendadak saja sebuah bayangan berkelebat cepat menghadangnya. Kalau saja gadis itu tidak cepat-cepat melompat ke belakang, pasti bayangan merah itu sudah menyambar tubuhnya.

"Bedebah...!" Umpat Diah Mardani.

Gadis itu langsung meraba pinggangnya, dan langsung terkejut. Ternyata baru disadari kalau pedangnya tertinggal di bawah pohon. Dan belum lagi sempat melakukan sesuatu, bayangan merah itu sudah kembali cepat menerjang gadis itu. Buru-buru Diah Mardani mengambil sikap menghadang bayangan merah itu.

"Hiya...!"
Des!
"Akh..."

Diah Mardani terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak begitu bayangan merah menghantam tubuhnya. Beberapa kali gadis itu harus bergulingan di tanah. Namun begitu cepat bangkit berdiri, bayangan merah itu sudah kembali melesat cepat bagai kilat menerjangnya.

"Ah...!"

Putri Adipati Anggara itu tidak mungkin lagi berkelit. Dirasakan adanya hentakan kecil di bagian dada. Dan tak bisa dihindari lagi, tubuh gadis itu melorot turun, lalu ambruk lemas ke tanah. Sebelum gadis itu menyadari apa yang terjadi pada dirinya, bayangan merah itu sudah berkelebat cepat menyambar, lalu membawanya pergi. Begitu cepat gerakan bayangan merah itu, sehingga dua orang emban yang sejak tadi hanya bisa menonton, jadi terpana tak mampu berbuat apa-apa.

"Tolong...!" Tiba-tiba saja emban bertubuh gemuk berteriak keras begitu tersadar.

Teriakan yang keras itu mengejutkan semua orang yang berada di lingkungan bangunan besar itu. Emban satunya lagi juga berteriak-teriak menambah ributnya siang yang panas ini. Tak berapa lama saja, hampir semua orang di Istana Kadipaten Bojong Picung ini sudah tumpah ke tempat itu. Mereka berebutan bertanya pada dua orang emban pengasuh itu. Tentu saja kedua emban itu jadi kebingungan menjawabnya, belum lagi juga harus menenangkan din dari keterpanaan dari kejadian yang begitu cepat dan tidak terduga sama sekali.

*******************

Adipati Anggara murka bukan kepalang begitu mendapat laporan kalau putrinya diculik. Laki-laki setengah baya itu bergegas keluar dari kamar Onila, sedangkan gadis penari itu hanya tergolek saja di atas pembaringan dengan pakaian setengah terbuka. Dipandangi kepergian Adipati Anggara yang dikawal sekitar enam orang prajurit. Onila bergegas membereskan pakaiannya, lalu melompat bangkit dari pembaringan. Bergegas ditutup pintu yang terbuka itu dan kembali duduk di tepi pembaringan.

"Hhh..., untung saja...!" desah Onila seraya menarik napas panjang. Gadis itu mendongakkan kepalanya begitu mendengar ketukan pintu kamar dari luar.

"Masuk...!"

Pintu kamar itu terkuak, dan muncul Ki Jawura. Laki-laki tua itu bergegas masuk dan menutup pintu itu kembali. Dipandangi Onila yang rambutnya acak-acakan, tapi pakaiannya masih lengkap meskipun agak berantakan. Onila bisa mengerti pandangan Ki Jawura, lalu mempersilakan laki-laki tua itu duduk.

"Belum terjadi, Ki," desah Onila diiringi hembusan napasnya.

"Ingat, Onila. Jangan sampai kau terjebak rayuannya. Tugasmu di sini lebih penting dari...," Ki Jawura menghentikan ucapannya.

"Aku tahu, Ki," potong Onila cepat.

"Onila! Kau sudah mendengar kalau...."

"Sudah," celetuk Onila sebelum Ki Jawura menyelesaikan ucapannya.

Ki Jawura menghela napas panjang. Dipandanginya gadis itu dalam-dalam. Sedangkan yang dipandangi hanya kelihatan biasa saja. Dirapikan pakaian dan rambutnya. Tidak dipedulikan lagi pandangan mata laki-laki tua itu.

"Kejadian ini bisa menyulitkan kita, Onila," kata Ki Jawura seraya memalingkan mukanya.

Kecantikan dan keindahan tubuh Onila memang sangat mengundang, tidak peduli terhadap laki-laki berusia lanjut. Ki Jawura sendiri selalu mengalihkan pandangannya ke arah lain kalau sudah merasakan kelelakiannya tergoda. Pokoknya, jangan sampai dirinya tergoda kecantikan dan keindahan tubuh gadis itu. Dia sadar, siapa dirinya dan siapa Onila itu. Gadis itu harus dilindungi dari segala apa pun.

"Mudah-mudahan bukan orang kita yang melakukannya," desah Onila setelah selesai merapikan diri.

"Siapa yang tahu, Onila. Kudengar kau bertengkar dengan Diah Mardani pagi tadi," kata Ki Jawura.

Onila tersentak kaget Sungguh tidak disangka kalau Ki Jawura mengetahui tentang pertengkarannya dengan putri Adipati Anggara pagi tadi. Dan sekarang gadis itu diculik orang tidak dikenal. Onila menatap Ki Jawura dalam-dalam. Ingin diketahuinya, apakah laki-laki tua ini memandang lain terhadapnya. Tapi sangat sukar untuk melihat isi hati Ki Jawura. Terlalu datar raut wajahnya. Malah sinar matanya juga tidak pernah berubah.

"Separuh rombongan kita adalah orangmu. Dan aku tidak punya hak untuk mengawasi satu persatu. Maaf, Onila. Bukannya aku mencurigaimu dengan bertindak menculik Diah Mardani," ujar Ki Jawura seperti mengerti arti pandangan gadis cantik itu.

"Sebaiknya jangan bicarakan lagi persoalan penculikan ini, Ki. Masih banyak yang harus dilakukan," tegas Onila.

"Baik, Gusti Ayu. Hamba hanya menjalankan perintah," kata Ki Jawura seraya berdiri dan membungkukkan badannya memberi hormat.

"Ki Jawura...!" Sentak Onila melihat laki-laki tua Itu. "Sudah berapa kali kau kuperingatkan?!"

"Maaf, Onila," ucap Ki Jawura.

"Keluarlah!"

Ki Jawura membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar ini. Sedangkan Onila menghenyakkan tubuhnya di pembaringan, namun sebentar kemudian cepat bangun dan duduk di tepi pembaringan itu. Pada saat itu Adipati Anggara masuk ke dalam Onila masih duduk memandangi laki-laki setengah baya itu yang juga menatapnya dalam-dalam. Adipati Anggara menjatuhkan dirinya di kursi.

"Bagaimana, Gusti Adipati?" Tanya Onila tetap duduk di tepi pembaringan.

"Tidak ada jejak. Sudah ku sebarkan hampir seluruh prajurit kadipaten mencari Diah Mardani," sahut Adipati Anggara lesu.

"Apakah tidak ada yang melihat, Gusti?"

"Dua orang emban. Tapi mereka tidak tahu siapa yang menculik putriku. Mereka hanya mengatakan kalau si penculik memakai baju merah dan lari ke arah Barat."

"Mungkin mereka...," Onila tidak meneruskan kata-katanya.

"Kau tahu siapa orang itu, Onila?"

"Ah! Aku hanya seorang penari, Gusti, Aku tidak tahu apa-apa," sahut Onila buru-buru.

Adipati Anggara menarik napas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Dia bangkit berdiri, lalu menghampiri Onila. Sepasang tangannya yang kekar menggenggam erat bahu gadis itu. Onila menengadahkan kepalanya menatap wajah laki-laki setengah baya itu. Pelahan Adipati Anggara menundukkan kepalanya. Tapi belum juga dekat, Onila sudah mencegah dengan halus.

"Gusti harus memusatkan perhatian pada Gusti Ayu Diah," tolak Onila lembut.

"Hhh..." Adipati Anggara menghela napas panjang.

Laki-laki setengah baya penguasa Kadipaten Bojong Picung itu melepaskan tangannya dari bahu Onila. Dilangkahkan kakinya mundur dua tindak. Segera dibalikkan tubuhnya, kemudian melangkah keluar dari kamar ini. Tapi sebelum menutup pintu, kepalanya menoleh.

"Aku akan memintamu secara resmi pada Ki Jawura," tegas Adipati Anggara.

"Gusti...!" Onila tersentak kaget.

Namun Adipati Anggara sudah keluar dan menutup pintu kamar ini. Onila jadi terlongong mendengar ucapan terakhir adipati di Bojong Picung itu. Sesaat lamanya gadis itu hanya bisa ternganga.

"Oh..., tidak! Ini tidak boleh terjadi...!" desah Onila berat.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebentar kemudian dibanting tubuhnya menelentang di atas pemba-ringan. Sepasang bola matanya yang indah, menerawang jauh ke langit-langit kamar ini. Sungguh tidak diduga kalau Adipati Anggara akan mengucapkan kata-kata itu.

Cukup lama juga Onila membaringkan tubuhnya menelentang merayapi langit-langit kamar, kemudian menggelinjang bangkit dan keluar dari kamar ini. Entah lupa atau bagaimana, Onila tidak lagi menutup pintunya. Sehingga, dua orang penjaga pintu kamar itu terpaksa menutupnya setelah Onila berjalan jauh meninggalkan kamar yang diperuntukkannya beristirahat. Kamar yang terpisah dari rombongannya.

*******************

Sementara itu jauh di sebelah Barat Kadipaten Bojong Picung, tepatnya di Bukit Cangking, terlihat sebuah bayangan merah berkelebat cepat menyelinap dari satu pohon ke pohon lain. Di pundak kanannya tersampir sesosok tubuh ramping yang terkulai lemas tak berdaya. Rambutnya yang hitam panjang, bergerak dipermainkan angin mengikuti irama gerakan orang berbaju merah itu.

Arah yang dituju jelas, puncak bukit. Namun jalan yang dilalui sungguh tidak menguntungkan. Pepohonan begitu rapat dan mendaki sangat terjal. Belum lagi bebatuan di lereng bukit ini nampak rapuh dan mudah sekali longsor. Namun orang berbaju merah itu terus bergerak cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh."

"Eh...!" tiba-tiba saja orang itu tersentak kaget ketika tampak di depannya duduk seorang pemuda.

Kelihatannya pemuda berwajah tampan dan berambut panjang tergelung ke atas itu, juga terkejut dengan kedatangan orang berbaju merah. Masalahnya, orang itu memanggul sesosok tubuh ramping berpakaian sangat indah dari bahan sutra halus, dan beri sulamkan benang-benang emas. Pemuda itu sampai terlonjak berdiri.

"Kisanak, ada apa kau di sini?!" Kasar sekali teguran orang berbaju merah itu.

Pemuda itu tidak menyahuti. Dikerutkan alisnya hingga bertaut rapat. Dari bibirnya terdengar suara gumaman kecil yang tidak begitu jelas. Sepasang bola matanya sangat tajam merayapi wajah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun yang memondong seorang wanita di pundaknya.

"He, Anak Muda! Apa kau bisu?!" Bentak orang itu semakin kasar nada suaranya.

"Tidak," sahut pemuda itu kalem, namun bernada penuh ketegasan. "Minggirlah!" bentak orang itu lagi.

"Hm.... Kenapa begitu kasar, Ki sanak? Dan siapa yang kau bawa itu? Apakah terluka?" Tanya pemuda itu.

"Bukan urusanmu!" Bentak orang berbaju merah itu sengit.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, orang berbaju merah itu melompat cepat bagai kilat. Kalau saja pemuda berbaju rompi putih itu tidak bergegas menyingkir, pasti tubuhnya sudah terlanda. Begitu cepat lesatannya, sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.

"Hm...," pemuda itu menggumam pelan.

Wut!

Mendadak saja pemuda itu melesat ke arah perginya orang berbaju merah. Begitu cepatnya, sehingga bagai hilang saja. Sementara itu orang berbaju merah yang memondong sosok tubuh ramping di pundak, terus berlari cepat mendaki Lereng Bukit Cangkring ini. Cepat sekali gerakannya, sehingga dalam waktu tidak berapa lama saja sudah tiba di puncak.

Orang itu melemparkan tubuh yang dipanggulnya begitu saja ke tanah, kemudian mendekati sebongkah batu besar. Sebentar dipandangi batu itu, lalu kedua telapak tangannya ditekan kuat-kuat ke batu itu. Pelahan-lahan batu itu menggeser ke samping. Tampak sebuah mulut gua terpampang, setelah batu itu tergeser cukup lebar.

Dan begitu dia berbalik, langsung menyumpah. Entah kapan dan dari mana datangnya, tahu-tahu di tempat itu sudah berdiri seorang pemuda berwajah tampan dengan rambut panjang agak tergelung ke atas. Dia hanya mengenakan baju rompi putih, dan gagang pedangnya yang berbentuk kepala burung menyembul dari balik punggung.

"Kau lagi...! Mau apa kau ke sini?!" geram orang berbaju merah itu sengit.

"Hanya kebetulan lewat," sahut pemuda itu kalem, seraya melirik sosok ramping yang tergolek lemas di tanah. "Apakah gadis itu terluka?"

"Sudah kubilang, itu bukan urusan mu!" bentak orang berbaju merah itu semakin tidak senang.

Pemuda berbaju rompi putih itu tidak menghiraukan bentakan keras yang tidak bersahabat itu. Dihampirinya gadis yang tergolek di tanah, lalu diperiksa. Mulutnya bergumam pelan, lalu wajahnya berpaling pada orang yang berbaju merah. Tampak sekali kalau wajahnya memerah menahan kemarahan.

"Dia hanya tertotok jalan darahnya. Apakah kau yang melakukannya, Kisanak?" Tenang nada suara pemuda berbaju rompi putih itu.

"Sikapmu memuakkan sekali, Anak Muda! Aku paling tidak suka urusanku dicampuri orang asing!" Geram laki-laki berbaju merah itu.

"Bukannya hendak mencampuri, tapi nampaknya kau tidak bermaksud baik pada gadis itu," tetap kalem nada suara pemuda itu.

"Bedebah! Kau benar-benar memuak-kan!" Geram orang itu membentak kasar.

Tanpa berkata-kata lagi, laki-laki berbaju merah agak ketat itu melompat cepat bagai anak pariah lepas dari busur. Lesatan disertai lontaran dua pukulan bertenaga dalam tinggi itu sungguh cepat dan tidak terduga sama sekali. Sehingga pemuda berbaju rompi] putih itu tidak bisa berkelit lagi. Cepat-cepat diangkat tangannya ke depan, lalu disambut dua pukulan beruntun itu.

Des! Buk!

Mereka sama-sama terpental ke belakang begitu tangan masing-masing saling berbenturan keras. Tampak laki-laki berbaju merah itu bergulingan sejauh tiga batang tombak. Sedangkan pemuda berbaju rompi putih itu hanya terpental sejauh beberapa langkah saja.

"Setan alas...!" Geram orang berbaju merah itu sengit

Sedangkan pemuda berbaju rompi putih hanya menggumam pelan saja.

"Anak Muda! Siapa kau sebenarnya?!" Tanya orang berbaju merah itu kasar.

"Aku kira kau tidak perlu mengetahui namaku, Kisanak," sahut pemuda itu kalem.

"Phuih! Kau terlalu keras kepala, bocah! Kau akan menyesal mencampuri urusan Klabang Geni!" Ancam orang berbaju merah itu sambil menyombongkan namanya.

"Hm..., Klabang Geni.... Seharusnya kau berada di daerah Wetan. Kenapa sampai kesasar ke daerah Kulon...?" Pemuda berbaju rompi putih itu bergumam seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Heh! Kau tahu aku...?!" Klabang Geni nampak terkejut "Siapa kau sebenarnya, bocah?!"

"Asal kau tahu saja, Klabang Geni. Aku utusan khusus dari Kerajaan Karang Setra, dan sengaja datang untuk mencarimu!" tegas sekali kata-kata pemuda berbaju rompi putih itu

"Hua ha ha ha...!" Klabang Geni tertawa terbahak-bahak.

"Gusti Prabu memerintahkan aku untuk meminta tanggung Jawabmu, Klabang Geni!" tegas pemuda itu lagi.

"Kenapa bukan rajamu saja yang datang, heh?! Kenapa hanya mengirim tikus busuk padaku? Ha ha ha...!" Klabang Geni kembali terbahak-bahak.

Pemuda berbaju rompi putih itu hanya menggerung pelahan, melihat kecongkakan laki-laki berbaju merah yang bernama Klabang Geni itu.

"Bagaimana kau bisa mengetahui Raja Karang Setra, Klabang Geni?" Tanya pemuda berbaju rompi putih itu dingin.

"Nenek-nenek juga tahu. Raja Karang Setra adalah raja pengecut yang mengaku berjuluk Pendekar Rajawali Sakti! Dengar, bocah! Rajamu itu tidak lebih dari seorang pembual kelas teri. Semua orang tahu kalau Pendekar Rajawali sudah mampus seratus tahun yang lalu!"

Merah padam wajah pemuda itu, namun kelihatannya masih bisa menahan diri agar tidak terpancing. Tentu saja Klabang Geni tidak mengetahui Raja Karang Setra, karena memang belum pernah berjumpa sebelumnya. Dan dia tidak tahu kalau kini sedang berhadapan dengan seorang pemuda yang mengaku utusan khusus Kerajaan Karang Setra.

Klabang Geni tidak tahu kalau pemuda berbaju rompi putih itu adalah Rangga, berjuluk Pendekar Rajawali Sakti, yang juga seorang raja besar di Karang Setra. Tentu saja Rangga tidak mengatakan dirinya sebenarnya. Dia ingin memancing dulu, apakah benar Klabang Geni yang membunuh urusan pribadinya ke Kadipaten Bojong Picung? Dan kalau memang benar, apa maksudnya? Itu yang ingin diketahui Rangga hingga harus dirinya sendiri yang mencari Klabang Geni.

"Aku berani bertaruh, kau pasti belum pernah bertemu Prabu Rangga," kata pemuda berbaju rompi putih itu dingin nada suaranya.

"Phuih! Sebaiknya kau pulang saja, bocah! Dan katakan pada rajamu agar jangan mengganggu Kadipaten Bojong Picung!" dengus Klabang Geni.

"Sayang sekali! Aku harus kembali, tapi sambil membawa kepalamu, Klabang Geni." Dingin sekali suara Rangga.

"Keparat..! Kau tidak bisa dikasih ampun lagi, bocah!" geram Klabang Geni.

Setelah berkata demikian, Klabang Geni langsung melompat menerjang cepat. Pada saat yang sama, pemuda berbaju rompi putih itu menggeser kakinya sedikit ke samping, dan tubuhnya ditarik ke kiri. Terjangan Klabang Geni hanya sedikit meleset di samping tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu. Dan sebelum Klabang Geni bisa menarik pulang serangannya yang gagal, tangan Rangga sudah berkelebat cepat Dan....

Des!

"Akh...!" Klabang Gem memekik tertahan. Laki-laki berbaju merah menyala itu terpental beberapa langkah. Dan memang, tebasan tangan Rangga tepat mendarat pada bagian pinggang.

"Monyet keparat..!" umpat Klabang Geni geram.

Bet! Bet!

Klabang Geni kembali mempersiapkan dengan jurus lainnya. Dan Rangga sendiri sudah siap menanti serangan berikut. Pemuda itu kelihatan tenang, namun tatapan matanya sangat tajam menusuk langsung ke bola mata Klabang Geni.

"Hiyaaa...!"
"Hait!"

*******************

TIGA

Pertarungan antara Rangga melawan Klabang Geni tidak mungkin dihindari lagi. Mereka adalah tokoh tingkat tinggi rimba persilatan. Tidak heran, kalau masing-masing langsung mengerahkan jurus-jurus andalan yang sangat dahsyat dan mematikan. Buat Klabang Geni sendiri, dia begitu geram karena semula meremehkan pemuda itu. Tapi kini, sukar baginya untuk mendesak lawan.

Sementara tidak jauh dari tempat pertarungan, terlihat sosok tubuh ramping tergolek lemah tak berdaya di tanah berumput tebal. Meskipun tidak memiliki tenaga untuk bergerak, namun wanita itu masih bisa mengikuti pertarungan dua orang yang tak dikenalnya. Dia berusaha bergerak, namun seluruh ototnya terasa kaku dan sukar digerakkan. Gadis berwajah cantik itu hanya bisa mengeluh dalam hati dan memperhatikan jalannya pertarungan. Namun rasanya cukup sulit untuk melihat, karena pertarungan itu berjalan cepat. Sehingga, yang terlihat hanya dua bayangan yang berkelebatan saling sambar saja.

"Awas kaki...!"

Tiba-tiba saja terdengar teriakan peringatan keras menggelegar. Pada saat itu, sebuah bayangan putih berkelebat cepat menyusur tanah. Sedangkan bayangan merah melesat ke udara. Namun pada saat yang bersamaan, bayangan putih melesat juga ke udara.

Dug!

"Akh...!"

Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu sosok tubuh berbaju merah terpental dan jatuh bergulingan di tanah. Sedangkan pemuda berbaju rompi putih mendarat manis di tanah. Tepat pada saat kedua kakinya menjejak tanah, Klabang Geni menggelinjang bangkit berdiri. Tampak dari mulutnya mengeluarkan darah segar kemerahan.

"Keparat..!" umpat Klabang Geni seraya menyeka darah di mulut dengan punggung tangan.

Bet! Wut!

Klabang Geni menyilangkan tangannya di depan dada dengan jari-jari terkembang, Pelahan ditarik tubuhnya sehingga doyong ke kanan, kemudian pelahan-lahan pula ditarik tubuhnya ke kiri agak memutar ke belakang. Tampak napasnya ditarik dalam-dalam. Sedangkan matanya menatap tajam menusuk ke arah pemuda berbaju rompi putih di depannya.

Melihat lawannya bersiap-siap mempergunakan ilmu kesaktian, Pendekar Rajawali Sakti itu tidak tinggal diam. Segera dirapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Sebentar ditariknya napas panjang dan dalam, lalu pelahan-lahan tangannya ditarik ke samping dengan telapak tangan terkepal. Kedua kakinya dipentang lebar ke samping, tepat pada saat kedua tangannya terkepal di sisi pinggang.

"Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja Klabang Geni melesat menerjang Pendekar Rajawali Sakti itu. Terjangannya begitu dahsyat sehingga menimbulkan desiran angin yang sangat kuat, membuat daun-daun berguguran. Pada saat Klabang Geni menghentakkan tangannya ke depan, Rangga cepat-cepat mendorong kedua tangannya ke depan untuk menyambut serangan laki-laki berbaju merah itu.

"Hap!"
"Hiyaaa...!"
Glaaar. .!

Suatu ledakan keras terdengar bagai gunung meletus, tepat ketika dua pasang tangan beradu rapat.

"Aaakh...!" Klabang Geni menjerit keras.

Laki-laki berbaju merah itu terpental keras dan jatuh. Dua batang pohon yang terlanda tubuhnya langsung tumbang. Beberapa kali Klabang Geni bergulingan di tanah, tapi masih mampu bangkit berdiri meskipun agak limbung. Sedangkan Rangga masih tetap berdiri tegak, dan hanya terdorong dua langkah ke belakang.

Tampak sekali dari sinar matanya, Klabang Geni seperti tidak mempercayai apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Pemuda itu masih berdiri tegak tanpa mengalami luka sedikit pun. Sedangkan dirinya sendiri seperti remuk seluruh tulang tubuhnya. Bahkan badannya masih terasa sesak dan sulit mengatur napasnya. Tapi rasa penasaran membuatnya kembali melompat mendekati Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Hap!"
Tap!

Klabang Geni mengangkat kedua tangannya ke atas lalu menyilangkan tepat pada pergelangannya. Pelahan diturunkan tangannya sampai di depan dada. Tampak seluruh tubuhnya bercahaya merah membara bagai terbakar. Melihat itu Rangga bergerak mundur dua langkah. Tapi sikapnya masih terlihat tenang, bahkan bibirnya menyunggingkan senyuman dingin.

"Hiyaaat..!" Klabang Geni berteriak keras menggelegar. Secepat itu pula dihentakkan tangannya ke depan. Seleret sinar merah melesat mengarah pada Rangga yang masih berdiri tegak tak bergeming.

Glar...!

Kembali ledakan keras terdengar. Asap tebal seketika mengepul saat cahaya merah tadi menghantam tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

"Ha...!"

Bukan main terkejutnya Klabang Geni begitu asap tebal memudar. Tampak Rangga masih berdiri tegak pada tempatnya. Padahal jelas sekali kalau Pendekar Rajawali Sakti tadi terhantam sinar merah yang dilepaskan Klabang Geni. Bahkan pemuda berbaju rompi putih itu terlihat tersenyum tipis.

"Hiya! Hiya...!"

Klabang Geni jadi geram bukan main. Segera dihentakkan tangannya dua kali ke depan. Dan seketika dua cahaya merah bertebaran meluruk deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Kembali terdengar ledakan keras mengguntur dua kali berturut-turut Maka untuk kedua kali Klabang Geni ternganga melihat lawannya yang masih muda mampu menahan ajian kesaktiannya yang dahsyat.

"Hanya sampai di situ sajakah ilmu kesaktianmu Klabang Geni?" Rangga tersenyum penuh ejekan.

"Phuih!" Klabang Geni menyemburkan ludahnya.

Klabang Geni menggerak-gerakkan tangannya di depan dada. Kemudian melompat deras ke arah Rangga. Jari-jari kedua tangannya terkembang, menjulur ke depan. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti masih berdiri tegak tak bergeming sedikit pun. Maka, mudahlah bagi Klabang Geni untuk mendaratkan jari-jari tangannya yang mengembang kaku ke dada Pendekar! Rajawali Sakti.

"Hup"

Pada saat itu Rangga menghembuskan napas dan mencengkeram pundak Klabang Geni kuat-kuat Tampak cahaya biru menyelimuti seluruh tubuh Rangga sedangkan seluruh tubuh Klabang Geni berselimut cahaya merah.

Pelahan-lahan namun pasti, cahaya biru mulai menyelimuti seluruh tubuh Klabang Geni. Sehingga, cahaya merah memudar, dan akhirnya lenyap dari tubuh laki-laki berbaju merah itu. Klabang Geni menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri, namun jari-jari tangannya menempel erat pada dada Pendekar Rajawali Sakti.

"Aaa...!" Klabang Geni menjerit keras melengking.

"Hiyaaa...!"

Tiba-tiba saja Rangga mendorong tubuh Klabang Geni kuat-kuat. Akibatnya laki-laki berbaju merah itu terpental ke belakang sejauh dua batang tombak. Rangga sendiri melompat ke belakang sekitar tiga langkah. Tampak Klabang Geni menggeliat-geliat sambil merintih lirih. Sebentar kemudian laki-laki berbaju merah itu tak bergerak-gerak lagi. Tubuhnya kaku membiru, seperti habis tersengat ribuan ular berbisa.

"Hhh...," Rangga menarik napas panjang dan berat.

*******************

Pendekar Rajawali Sakti membebaskan totokan pada jalan darah gadis cantik yang tergeletak di tanah. Gadis itu langsung bangkit duduk. Sebentar digerak-gerakkan tubuhnya untuk melemaskan otot-otot yang terasa kaku. Dipandanginya mayat Klabang Geni yang terbujur kaku membiru, kemudian beralih pada pemuda tampan berbaju rompi putih yang baru saja membebaskannya dari totokan Klabang Geni.

"Terima kasih, kau telah menolongku," ucap gadis itu.

"Siapa kau? Dan kenapa diculik Klabang Geni?" Tanya Rangga lembut

"Aku Diah Mardani, putri Adipati Anggara di Kadipaten Bojong Picung," sahut gadis itu memperkenalkan diri.

"Totokan di tubuhmu tidak mempengaruhi jalan pendengaran. Jadi kau pasti mendengar semua yang kubicarakan dengan Klabang Geni," kata Rangga seraya menghentakkan tubuhnya bersandar pada sebatang pohon yang cukup rindang melindungi dirinya dari sengatan sinar matahari.

"Ya," sahut Diah Mardani setengah mendesah.

"Aku memang sedang mencari Klabang Geni, karena dia telah mencegat dan membunuh utusan pribadi Raja Karang Setra untuk Adipati Bojong Picung," jelas Rangga tanpa membuka siapa dirinya sebenarnya. Padahal, dia sendiri adalah raja di Karang Setra.

"Aku dengar semuanya. Dan kau adalah utusan khusus Prabu Rangga Pati Permadi," kata Diah Mardani.

Rangga memandangi wajah gadis cantik yang duduk tidak jauh didepan. Sedangkan yang dipandangi hanya tertunduk saja, dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Seakan-akan tidak ingin kecantikannya dipandangi pemuda itu. Atau dibiarkan saja pemuda tampan berbaju rompi putih itu menikmati wajahnya.

"Jika kau memang benar putri Adipati Anggara, aku ingin tahu. Apa benar di Kadipaten Bojong Picung ini terjadi pemberontakan?" Tanya Rangga yang juga sepertinya tengah menyelidiki kebenaran pengakuan gadis itu.

"Sepertinya kau tidak mempercayai aku, Kisanak," agak ketus nada suara Diah Mardani.

"Terus terang, kami semua di Karang Setra mendengar kalau di Kadipaten Bojong Picung terjadi pemberontakan dan usaha penggulingan kekuasaan. Dan ini pasti akan merembet sampai ke Kerajaan Karang Setra. Maka aku harus bersikap waspada dan tidak mudah percaya pada siapa pun. Aku harap kau mengerti, Nini Diah," jelas Rangga.

Diah Mardani hanya mengangkat bahunya saja.

"Nah! Kau mengaku sebagai putri Adipati Anggara. Apakah kau tahu adanya pemberontakan di kadipaten ini?" Rangga mengulangi pertanyaannya yang belum terjawab tadi.

"Tidak," sahut Diah Mardani.

"Tidak...?!" Pendekar Rajawali Sakti kelihatan terkejut mendengar jawaban Diah Mardani barusan.

"Keadaan di Kadipaten Bojong Picung aman-aman saja. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bakal ada pemberontakan," tegas Diah Mardani.

Rangga mengernyitkan alisnya hingga bertaut menjadi satu. Sesaat lamanya dipandangi gadis di depannya, kemudian bangkit berdiri seraya menghembuskan napas panjang dan agak berat. Diah Mardani juga ikut bangkit, lalu melangkah begitu Rangga mengayunkan kakinya meninggalkan tempat ini. Tak ada lagi yang bicara, mereka berjalan bersisian dengan pikiran masing-masing.

Cukup lama tidak ada yang berbicara. Sampai cukup jauh meninggalkan Puncak Bukit Cangking ini, masih belum ada yang membuka mulut terlebih dahulu. Mereka terus berjalan membelah kele-batan hutan, menuruni Lereng Bukit Cangking. Tapi mendadak saja Diah Mardani berhenti berjalan, lalu menatap lurus Pendekar Rajawali Sakti yang juga menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap gadis itu.

"Kisanak, selama ini Kadipaten Bojong Picung aman-aman saja. Tapi..," suara Diah Mardani terhenti

"Tapi, kenapa?" Tanya Rangga minta diteruskan.

"Aku tidak mengerti, kenapa Klabang Geni menculikku...?" Tanya Diah Mardani seperti untuk dirinya sendiri.

"Kalau kau cerdik, kau akan bisa menjawab sendiri," tegas Rangga.

"Pemberontakan...?!"

Diah Mardani memandangi Rangga dalam-dalam, seakan-akan tidak percaya kalau ada rencana makar di Kadipaten Bojong Picung. Kadipaten ini memang berada di wilayah Kerajaan Karang Setra. Gadis itu benar-benar tidak tahu kalau ada urusan datang ke kadipaten ini..

"Kisanak, apa yang dibawa utusan dari Karang Setra?" Tanya Diah Mardani.

"Sepucuk surat khusus Prabu Rangga untuk Adipati Anggara," sahut Rangga.

"Surat..?" Kembali Diah Mardani mengerutkan keningnya. "Kami mendengar akan adanya rencana makar. Itulah sebabnya Prabu Rangga mengirim urusan dan hendak menanyakan kebenaran berita itu langsung dari Adipati Anggara. Tapi di tengah jalan, urusan itu telah dicegat Klabang Geni. Tiga orang tewas dan seorang berhasil kembali dalam keadaan terluka parah, tapi akhirnya tewas juga ketika sampai di hadapan Prabu Rangga," jelas Rangga tanpa memberitahukan siapa dirinya sebenarnya.

Diah Mardani bungkam, mendengarkan penuh perhatian. Sungguh mati tidak diketahui kalau di Kadipaten Bojong Picung akan ada pemberontakan yang terencana. Dan rencana itu sudah tercium sampai ke Istana Karang Setra, sehingga Prabu Rangga sampai mengirim urusan khusus untuk menanyakan kebenaran berita itu.

"Kejadian itu semakin memperkuat dugaan kalau Kadipaten Bojong Picung benar-benar terancam," sambung Rangga.

"Dan kau dikirim khusus untuk menyelidiki kebenarannya?" sergah Diah Mardani.

"Bukan hanya itu. Aku juga harus melenyapkan Klabang Geni serta menghancurkan gerombolannya yang mungkin sudah menyebar dan menyusup ke dalam Kedaton Kadipaten Bojong Picung."

"Oh! Benarkah itu...?!"

"Semua baru dugaanku saja.

Kebenarannya memang harus dibuktikan terlebih dahulu."

"Kalau begitu, Ayahanda harus diberitahu secepatnya," kata Diah Mardani.

"Kau akan memberitahu pada ayahmu?"

"Tentu!" tegas jawaban Diah Mardani.

"Jika ayahmu tidak percaya?" Tanya Rangga ingin tahu.

"Aku yang akan bertindak sendiri."

"Ha ha ha...!"

Entah kenapa, tahu-tahu Rangga jadi tergelitik mendengar jawaban yang begitu tegas seperti tidak dipikir lebih dahulu. Diah Mardani jadi mendelik diperlakukan seperti itu. Tapi Rangga masih saja tertawa terbahak-bahak sambil melanjutkan berjalan. Putri Adipati Anggara menggerutu, lalu mengayunkan kakinya mengikuti langkah kaki Pendekar Rajawali Sakti di depannya.

"Kau boleh saja meremehkan, tapi lihat saja nanti!" rungut Diah Mardani.

"Aku memang pernah mendengar kalau putri Adipati Anggara gemar mempelajari ilmu olah kanuragan dan kesaktian. Tapi, rasanya belum cukup untuk menghadapi para pemberontak," kata Rangga tanpa bermaksud meremehkan.

"Kalau aku sanggup?"

"Aku akan mohon pada Prabu Rangga, agar kau dijadikan pendamping khusus Gusti Ayu Cempaka."

"Aku pegang janjimu, Kisanak!"

Tentu saja Diah Mardani senang kalau bisa dijadikan pendamping khusus adik tiri Raja Karang Setra yang sudah dikenal bukan saja kecantikannya, tapi juga tingkat kepandaiannya. Di samping itu, Cempaka juga berbudi luhur dan welas asih. Diah Mardani ingin sekali kenal dengan adik tiri laki-laki Prabu Rangga yang tampan dan juga berkepandaian tinggi. Sudah tidak terhitung lagi, berapa gadis putri pembesar yang mendekati Raden Danupaksi. Tapi, pemuda itu seperti belum melirik seorang gadis pun.

*******************

Bukan main gembiranya Adipati Anggara mendapati putri tunggalnya kembali dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Tapi di balik kegembiraan nya, hatinya terkejut karena Diah Mardani justru kembali bersama seorang pemuda berbaju rompi putih. Adipati Anggara tahu siapa pemuda itu, sehingga buru-buru membawanya ke ruangan khusus. Hanya mereka berdua saja yang memasuki ruangan itu, tanpa ada seorang pengawal pun di sana. Bahkan Diah Mardani sendiri dilarang ke ruangan khusus itu.

"Ampun, Gusti Prabu. Hamba tidak menyambut kedatangan Gusti Prabu secara layak," ucap Adipati Anggara seraya berlutut memberikan sembah.

"Bangunlah, Paman Adipati," kata Rangga lembut.

Adipati Anggara bangkit berdiri, bersikap penuh hormat. Tapi Rangga meminta untuk bersikap biasa saja, karena tidak ingin orang lain mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

"Diah Mardani sudah menceritakan semua peristiwanya. Dan sungguh hamba tidak menduga kalau Gusti Prabu sendiri yang akan datang, serta menolong putri hamba," ucap Adipati Anggara.

"Aku memang datang untuk menemuimu, Paman Adipati. Ada sesuatu yang hendak kutanyakan padamu," jelas Rangga.

"Hamba, Gusti Prabu."

"Aku mendapat kabar kalau ada rencana makar di sini. Itulah sebabnya aku mengutus empat orang yang membawa surat untukmu. Tapi mereka dicegat Klabang Geni. Tiga orang tewas seketika dan seorang berhasil kembali dalam keadaan luka parah, namun akhirnya juga tewas, Kejadian itu membuatku harus pergi sendiri untuk mengetahui kebenaran berita yang kudengar itu," kata Rangga.

"Ampun, Gusti Prabu. Hamba tidak mendengar di Kadipaten Bojong Picung ini, Keadaannya aman tentram, bahkan kemajuannya sangat pesat."

Rangga menggumam tidak jelas. Kakinya melangkah mendekati jendela yang terbuka lebar. Pendekar Rajawali Sakti itu memandang keluar. Sedangkan Adipati Anggara hanya berdiri saja tanpa bergeser sedikit pun, masih bersikap penuh rasa hormat. Pelahan Rangga membalikkan tubuhnya sambil menghembuskan napas panjang.

"Untuk apa kau membuat panggung besar di tengah alun-alun, Paman Adipati?" Tanya Rangga.

"Gusti..., panggung itu hamba buat untuk rombongan para penari yang hamba undang selama tujuh hari," jawab Adipati Anggara terus terang.

"Kau mengadakan pesta?"

"Hanya pesta kecil, Gusti. Rombongan penari hamba datangkan dari Desa Kuripan."

Rangga mengangguk-anggukkan kepala-nya. Memang sudah pernah didengarnya kalau di Desa Kuripan terkenal akan gadis penarinya yang cantik-cantik Desa itu memang seperti suatu tempat berkumpulnya rombongan penari dan kesenian rakyat lainnya. Mereka sudah terkenal sampai ke seluruh pelosok Kerajaan Karang Setra.

"Ampun, Gusti.... Jika Gusti Prabu tidak berkenan, hamba akan menghentikan pesta dan memulangkan seluruh rombongan penari," ujar Adipati Anggara.

"Tidak! Teruskan saja pestamu," tegas Rangga.

"Terima kasih, Gusti. Tapi...."

"Kau teruskan pesta, sementara aku akan menyelidiki terus sampai benar-benar yakin kalau tidak ada pemberontakan di sini," potong Rangga cepat.

"Hamba akan mengerahkan prajurit dan telik sandi, Gusti," kata Adipati Anggara.

"Tidak perlu, Paman Adipati. Bersikaplah wajar seperti tidak terjadi sesuatu. Tapi kau harus tetap waspada. Dan lebih waspada lagi dengan segala yang akan terjadi."

"Hamba, Gusti Prabu."

"Hm...."

*******************

Malam sudah beranjak semakin larut Udara yang dingin jadi tidak terasa oleh kehangatan suasana yang ditimbulkan rombongan penari pimpinan Ki Jawura. Semakin larut, semakin hangat suasananya. Ini karena irama gamelan yang ditabuh pada nayaga kelihatan semakin bergairah.

Namun semua itu seperti tidak dirasakan Onila yang hanya duduk saja di pinggir belakang panggung di antara para nayaga. Wajah gadis itu kelihatan murung, seolah-olah sudah jemu berada di tengah-tengah keramaian ini. Beberapa kali ditariknya napas panjang, tidak peduli dengan sorotan mata Ki Jawura yang selalu berada di sampingnya.

"Kau gelisah sekali malam ini, Onila," tegur Ki Jawura.

"Tidak, Ki," desah Onila seraya menghembuskan napas panjang.

"Apa sebenarnya yang kau pikirkan, Onila?" Ki Jawura tidak percaya pada jawaban Onila.

"Hhh...!" Onila mendesah berat.

Gadis itu melayangkan pandangannya ke depan panggung. Di sana, terlihat seorang pemuda berwajah tampan mengenakan baju rompi putih tengah duduk di kursi paling depan. Di sebelahnya duduk seorang gadis cantik mengenakan baju biru muda yang agak ketat sehingga memetakan bentuk tubuhnya yang ramping dan indah. ki Jawura mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan gadis penari itu. Kepalanya terangguk-angguk seperti bisa mengerti kegelisahan yang terjadi pada diri Onila.

"Aku juga sudah mendengar tentang pemuda itu. Kabarnya, dia utusan khusus Kerajaan Karang Setra," kata Ki Jawura agak pelan, seolah bicara untuk dirinya sendiri.

Onila kembali mendesah berat. Ditatapnya laki-laki tua yang duduk bersila di sampingnya. Sementara para nayaga terus memainkan gending yang berirama semakin cepat dan hangat. Para penari berlenggak-lenggok memancing suasana. Tidak sedikit lelaki yang ikut naik ke atas panggung, memilih para penari yang disukai.

"Aku ke belakang dulu, Ki," kata Onila seraya beranjak berdiri.

"Mau ke mana kau?" Tanya Ki Jawura.

"Aku tidak enak badan."

Onila terus saja melangkah menuruni panggung. Ki Jawura memperhatikan gadis itu yang terus saja berjalan menuju bagian samping kanan bangunan besar bagai istana kecil itu. Ki Jawura tidak lagi memperhatikan setelah tubuh ramping itu lenyap di balik tembok.

Sementara Onila terus berjalan cepat menyusuri tepi dinding yang cukup tinggi dan kokoh. Tak ada seorang pun yang terlihat di sekitar tempat itu. Perhatian semua orang tertumpah ke alun-alun, tempat suara irama gending masih terdengar hangat menghalau udara dingin yang berhembus kencang malam ini. Onila berhenti melangkah di samping sebuah jendela besar. Gadis itu menjulurkan kepalanya, memperhatikan ke dalam.

"Hm...," gadis itu bergumam pelan. Pelahan-lahan kembali dilangkahkan kakinya melintasi depan jendela itu. Langkahnya terus memasuki lorong yang di kiri dan kanannya terdapat kamar-kamar yang pintunya tertutup rapat. Ada empat orang prajurit berjaga-jaga di sana. Mereka membungkuk memberi hormat. Onila membalasnya dengan senyuman tipis. Gadis itu membuka salah satu pintu kamar, langsung masuk ke dalam. Terdengar suara pintu terkunci dari dalam. Empat orang prajurit yang menjaga lorong itu saling berpandangan.

"Kenapa Onila tidak menari...?" Tanya salah seorang prajurit.

"Mungkin Gusti Adipati tidak mengijinkan seperti kemarin," sahut satunya lagi.

"Kurang seru kalau Onila tidak menari," celetuk satunya lagi.

"Ah...! Penari lain juga cantik-cantik. Bahkan gerakannya lebih luwes dari Onila."

"Iya sih..., tapi kurang enak lah!"

Obrolan para prajurit itu terus berlangsung. Semakin lama obrolan itu semakin terdengar sungguh-sungguh. Bahkan kedengarannya lebih terpusat pada Onila. Mereka adalah para prajurit yang gemar melihat kesenian rakyat, sehingga bisa membedakan penari yang benar-benar luwes dengan penari yang seperti dipaksakan. Kini Onila mulai jadi pusat perhatian karena dinilai tidak seperti lima orang penari lainnya.

"Jangan-jangan si Onila itu bukan penari, Kang...," celetuk salah seorang prajurit yang masih muda.

"Hus! Jangan ngomong sembarangan!" dengus salah seorang prajurit yang berada di dekatnya.

"He, Kang. Sebelum jadi prajurit, aku dulu pernah ikut dalam rombongan penari. Jadi, aku tahu betul mana yang benar-benar penari dan yang bukan. Aku yakin Onila itu bukan penari tulen, Kang," prajurit muda itu bersikeras dengan pendapatnya.

Dan belum lagi ketiga prajurit lainnya bisa membuka suara, mendadak saja sebuah bayangan merah berkelebat cepat bagai kilat. Dan belum lagi bisa menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu mereka merasakan adanya sesuatu yang dingin menggorok leher. Sesaat kemudian, empat sosok tubuh prajurit terjungkal dengan leher terkoyak hampir putus. Darah mengucur deras membasahi lantai. Tak ada suara sedikit pun yang keluar. Empat orang prajurit itu langsung tewas seketika. Bayangan merah itu berkelebat cepat melintasi lorong belakang yang tidak begitu panjang itu.

*******************

Kegemparan terjadi di Istana Kadipaten Bojong Picung ketika empat orang prajurit ditemukan tewas dengan leher terpenggal hampir putus. Adipati Anggara langsung memerintahkan agar penjagaan diperkuat Dan dia melarang semua rombongan penari keluar dari kamarnya. Jelas, keselamatan para penari dan para nayaga adalah tanggung jawabnya. Bahkan Adipati Anggara menempatkan dua puluh prajurit di sekitar kamar peristirahatan mereka.

Adipati Anggara berjalan mondar-mandir di ruangan khusus pribadinya. Hanya ada Rangga dan Diah Mardani. di ruangan itu, dan tak ada seorang prajurit pun yang terlihat Rangga dan Diah Mardani duduk di kursi menghadap meja bundar beralaskan batu pualam putih berkilat. Adipati Anggara berdiri membelakangi jendela. Raut wajahnya tampak kusut, dan matanya lesu menatap Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku tidak mengerti, mengapa mereka memilih Kadipaten Bojong Picung sebagai pusat pemberontakan...?" keluh Adipati Anggara seperti bertanya pada dirinya sendiri.

"Kelemahan," sahut Rangga tanpa diminta.

Kalau saja tidak ada Diah Mardani dan teringat pesan Rangga, Adipati Anggara sudah menjatuhkan diri di depan Pendekar Rajawali Sakti yang juga Raja Karang Setra. Kadipaten Bojong Picung ini berada di dalam wilayah Kerajaan Karang Setra, maka sudah tentu Adipati Anggara berada di bawah Rangga.

"Diah, kau bisa pergi sebentar?" Pinta Adipati Anggara merasa sungkan berbicara dengan Rangga di depan putrinya.

Diah Mardani memandang Rangga yang mengangguk sedikit, kemudian beranjak bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan ini. Tinggal Adipati Anggara dan Rangga yang masih berada di ruangan yang cukup besar dan indah ini. Adipati Anggara langsung berlutut di lantai begitu pintu tertutup. Sementara Diah Mardani telah lenyap di balik pintu.

"Ampun, Gusti Prabu. Adakah kesalahan dalam kepemimpinan hamba selama ini?" Pelan sekali suara Adipati Anggara.

"Tidak. Aku tidak melihat adanya kesalahan dalam kepemimpinanmu, Paman Adipati," kata Rangga penuh kewibawaan. "Bangunlah, duduk dekatku disini."

Adipati Anggara memberikan sembah dengan merapatkan kedua tangannya di depan hidung, kemudian beranjak bangkit berdiri dan menghampiri Pendekar Rajawali Sakti itu. Sebelum duduk di samping pemuda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu, sekali lagi dia memberikan sembah hormatnya. Dengan sikap agak sungkan, Adipati Anggara duduk di samping Rangga.

"Aku hanya melihat kelemahan pada kemampuan prajurit-prajuritmu," jelas Rangga lagi.

"Apa yang harus hamba lakukan, Gusti Prabu?" Tanya Adipati Anggara penuh rasa hormat.

"Tidak ada," sahut Rangga seraya bangkit berdiri. Pendekar Rajawali Sakti itu berjalan mendekati jendela dan memandang keluar.

Pada saat itu terlihat adanya sebuah bayangan berkelebat menjauhi jendela. Rangga tersenyum tipis dan membalikkan tubuhnya memandang laki-laki setengah baya itu.

"Satu hal lagi, Paman Adipati. Kau tidak menekankan kedisiplinan di sini," kata Rangga seraya melangkah keluar dari ruangan ini.

Adipati Anggara hanya termangu dan mulutnya terbuka lebar. Sungguh tidak dimengerti, apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti barusan. Sementara Rangga sudah keluar dari ruangan itu, dan terus berjalan ke bagian samping bangunan besar dan megah ini. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis saat melihat sosok tubuh ramping mengenakan baju biru muda duduk di bangku taman. Sebatang pohon rindang menaungi dari sengatan cahaya matahari pagi.

Rangga menghampiri gadis itu yang ternyata adalah Diah Mardani. Gadis itu tampak terkejut begitu Rangga menyentuh pundaknya. Wajahnya langsung bersemu merah, dan tubuhnya agak bergetar. Buru-buru ditundukkan kepalanya, tidak sanggup membalas tatapan mata pemuda berbaju rompi putih itu.

"Apa yang kau dengar tadi, Diah?" Tanya Rangga lembut

"Aku..., aku,..," Diah Mardani tergagap.

Gadis itu meluruk turun dari kursi, lalu berlutut d depan Rangga. Dirapatkan kedua tangannya di depan hidung untuk memberi sembah pada Raja Karang Setra itu. Rangga tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Digamitnya pundak Diah Mardani dan dibawanya berdiri. Namun sikap gadis itu jadi berubah Jauh. Dan Rangga membawanya duduk kembali di kursi. Dia sendiri juga duduk di kursi itu.

"Ampun, Gusti. Hamba telah berlaku tidak sopan," ucap Diah Mardani yang baru mengetahui kalau pemuda yang menolongnya dari cengkeraman Klabang Geni adalah Raja Karang Setra, yang berarti adalah junjungannya.

"Ah, sudahlah. Tidak perlu kau bersikap seperti Itu, Diah," kata Rangga diiringi senyumannya.

"Hamba hanya ingin tahu, Gusti, Hamba..., hamba...."

"Kau sudah tahu siapa aku, Diah, Sekarang kuminta janganlah bersikap seperti itu padaku. Bersikaplah wajar dan seperti biasanya. Itu akan memudahkan aku membekuk gerombolan pemberontak yang sudah merasuk ke dalam keraton ini," Rangga mencoba memberi pengertian gadis itu.

Diah Mardani hanya mengangguk saja.

"Diah..."

Belum juga Rangga bisa meneruskan ucapannya, mendadak saja sekelebatan terlihat adanya sebuah bayangan melesat cepat ke atas atap. Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan mata. Namun meskipun hanya melihat sekejap, Rangga sudah yakin kalau bayangan tadi telah mendengar dan mengetahui keberadaan dan siapa dirinya yang sebenarnya.

"Kau di sini saja, Diah. Hup..!"

Bagai kilat, Rangga melesat mengejar ke arah bayangan tadi berkelebat. Tinggal Diah Mardani melongo takjub, memperhatikan Pendekar Rajawali Sakti berkelebat bagai kilat. Tahu-tahu bayangan tubuh pemuda berbaju rompi putih itu sudah lenyap dari pandangan matanya.

Hanya sejenak Diah Mardani tertegun kagum, sesaat kemudian sudah berlari cepat ke arah perginya Pendekar Rajawali Sakti itu. Diah Mardani memang bukanlah gadis manja. Dia ternyata juga memiliki ilmu olah kanuragan yang cukup tinggi. Bahkan ilmu meringankan tubuhnya juga sudah cukup tinggi, sehingga bisa bergerak cepat bagai tidak menjejak tanah.

*******************

Slap! Slap...! Beberapa kali lompatan saja, Rangga sudah bisa membayangi bayangan merah yang berkelebat cepat bagai kilat. Seketika Pendekar Rajawali Sakti itu melentingkan tubuhnya di udara, lalu berputaran beberapa kali melewati kepala orang itu.

Jleg!

"Berhenti...!" bentak Rangga keras begitu kakinya menjejak tanah di depan orang berbaju merah ketat.

Rangga memperhatikan orang berbaju merah yang wajahnya hampir tertutup kain merah. Hanya kepala bagian atas saja yang terlihat, dengan sepasang bola mata bulat indah dan bening. Orang itu berhenti berlari. Kelihatan sekali dari sinar matanya kalau hatinya terkejut melihat Rangga tahu-tahu sudah berdiri menghadang di depan.

"Siapa kau?! Apa maksudmu menyelinap di sini?!" Bentak Rangga bertanya.

"Kau tidak perlu ikut campur urusanku, Pendekar Rajawali Sakti!" Dengus orang itu.

Dari suaranya, Rangga sudah bisa memastikan kalau orang berbaju merah itu adalah wanita. Tapi menyadari kalau wanita berbaju merah itu memiliki kepandaian yang tidak rendah, Rangga harus hati-hati menghadapinya. Buktinya, hampir saja tadi tidak bisa mengejar. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki wanita berbaju merah ini cukup tinggi, dan sudah pasti ilmu olah kanuragannya juga tidak rendah.

"Kau terlalu serakah, Rangga. Tidak seharusnya Bojong Picung dijadikan daerah kekuasaan Karang Setra. Dan kami semua tidak akan membiarkan orang-orang tamak dari Karang Setra menguasai Bojong Picung!" terdengar dingin nada suara wanita itu.

"Hm..., siapa kau sebenarnya?" Tanya Rangga mulai bisa meraba maksud wanita berbaju merah ini.

Dari kata-katanya, Rangga sudah bisa menebak kalau wanita berbaju merah ini tidak sendirian berada di dalam lingkungan Kedaton Kadipaten Bojong Picung. Rangga kini mendapat bukti kalau berita yang didengarnya ternyata benar. Memang, di Kadipaten Bojong Picung tengah terjadi penyusunan kekuatan untuk memberontak terhadap, Kerajaan Karang Setra.

"Kau tidak perlu tahu siapa diriku, Rangga. Tapi yang perlu diketahui, kami adalah para ksatria yang akan membebaskan Bojong Picung dari cengkeraman manusia-manusia tamak Karang Setra sepertimu!" Ketus jawaban wanita berbaju merah itu.

"Hmmm.... Aku yakin, kau adalah korban dari hasutan orang tidak bertanggung jawab," gumam Rangga seraya menggeser kakinya ke kanan.

"Dan kau harus mampus, Rangga!" Setelah berkata demikian, wanita berbaju dan bercadar merah itu langsung melesat sambil berteriak keras, menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Begitu cepat serangannya, sehingga Rangga tidak punya kesempatan berkelit. Satu pukulan keras mendarat telak di bahu kanan Pendekar Rajawali Sakti. Akibatnya pemuda berbaju rompi putih itu terpental ke belakang

"Hup!"

Cepat sekali Rangga menggelinjang bangkit. Pada saat itu, serangan sudah kembali datang. Bergegas Rangga melompat ke kanan, maka serangan itu hanya lewat tanpa mengenai sasaran. Dan cepat sekali Rangga memutar tubuhnya sambil melayangkan satu tendangan keras ke arah punggung, selagi lawannya belum sempat memperbaiki posisi tubuh.

Dug!

"Akh...!" wanita berbaju merah itu memekik tertahan dan seketika terhuyung limbung.

Tendangan Rangga memang begitu keras. Meskipun tidak disertai pengerahan tenaga dalam, namun cukup membuat wanita itu meringis kesakitan. Dan belum lagi dia bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, kembali Rangga sudah melompat menerjang disertai kiriman satu pukulan keras bertenaga dalam tidak penuh.

"Hait..!"

Cepat-cepat wanita itu berkelit dengan membanting tubuhnya ke samping dan bergulingan beberapa kali. Dan secepat itu pula dia melompat bangkit sambil melontarkan satu pukulan keras ke arah pinggang lawan.

"Uts!" Rangga menarik tubuhnya sedikit ke samping, Sehingga pukulan wanita bercadar merah itu luput dari sasaran. Namun belum juga wanita itu bisa menarik pulang tangannya, Rangga sudah cepat mengibaskan tangannya. Dan...

Tap...!

"Ikh!" wanita berbaju merah itu memekik tertahan. Dia berusaha memberontak, mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Rangga yang begitu kuat. Sebelah tangannya yang bebas, segera dilayangkan ke wajah Pendekar Rajawali Sakti. Namun cepat sekali Rangga mengegoskan kepalanya, dan secepat itu pula tangan sebelah lagi menangkap tangan wanita itu tepat di depan wajahnya.

"Lepaskan...!" sentak wanita itu sambil memberontak mencoba melepaskan diri.

"Kau cukup tangguh, Nisanak. Tapi terlalu angkuh!" ujar Rangga agak tersengal.

"Uh!"

Sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya wanita berbaju merah itu menarik kedua tangannya yang dicekal kuat pemuda berbaju rompi putih itu. Begitu kuat tangannya ditarik, dan pada saat itu Rangga mengendorkan pegangannya. Akibatnya wanita itu terpental, karena tarikan tenaga dalamnya sendiri.

"Akh...!"
Brak!

Sebuah pilar besar hancur berantakan terlanda tubuh ramping terbalut baju merah menyala itu. Rangga tersenyum melihat wanita itu menggeliat berusaha bangkit Kalau saja tidak tertutup kain merah, sudah pasti mulutnya terlihat meringis merasakan sakit di sekujur tubuh.

Pada saat itu, terlihat Diah Mardani dan sekitar dua puluh orang prajurit berlarian menghampiri. Di antara mereka juga terlihat Adipati Anggara. Di belakang mereka menyusul lagi sekitar tiga puluh prajurit yang berlarian cepat dengan tombak dan pedang terhunus.

"Hup!"

Cepat sekali Rangga melompat, dan kakinya langsung menjejak dada wanita berbaju merah yang masih, tergeletak di antara puing-puing reruntuhan pilar. Dia berusaha menggeliat, namun pijakan kaki Pendekar Rajawali Sakti begitu kuat. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, karena sekelilingnya sudah terkepung sekitar lima puluh orang prajurit Adipati Anggara dan Diah Mardani menghampiri.

"Bangun!" Bentak Adipati Anggara di saat Rangga memindahkan kakinya dari tubuh wanita itu.

Sambil mendengus kesal, wanita berbaju merah itu bangkit berdiri. Adipati Anggara yang wajahnya berang dan matanya berkilat, bergerak mendekati.

"Hih!"
Bret!

Cadar merah yang menutupi wajah wanita itu seketika terbuka dijambret Adipati Anggara dengan kasar. Tampak seraut wajah cantik yang tersembunyi di balik cadar merah itu. Adipati Anggara langsung menggelinjang dua tindak ke belakang begitu mengenali wajah cantik itu. Demikian juga Diah Mardani yang nampak begitu terkejut

"Kau..., Karsini...?!" Agak tertahan suara Adipati Anggara.

"Ya! Aku memang Karsini!" Ketus nada suara wanita itu.

Sementara Rangga yang menyaksikan, jadi tidak mengerti. Dipandangi wanita berbaju merah itu beberapa saat, kemudian beralih pada Adipati Anggara dan Diah Mardani.

"Bawa dia ke penjara!" Perintah Adipati Anggara. Dua orang prajurit langsung bergerak meringkus wanita yang dikenali Adipati Anggara sebagai Karsini. Wanita berbaju merah itu langsung dibawa para prajurit ke penjara. Sedangkan Adipati Anggara tampak gundah, seperti tidak sanggup menerima tatapan mata Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan Diah Mardani sudah berjalan pelahan meninggalkan tempat ini. Kepala gadis itu tertunduk, seperti ada beban berat di kepalanya. Rangga menghampiri Adipati Anggara, lalu berdiri sekitar dua langkah di depan laki-laki setengah baya itu.

"Siapa dia, Paman Adipati?" Tanya Rangga.

"Namanya Karsini. Dia dulu bekas seorang penari dan pernah menjadi selirku. Tapi sudah tiga tahun ini menghilang dan tak ada kabar beritanya lagi," Adipati Anggara mencoba menjelaskan.

Rangga tidak bertanya lagi. Diayunkan kakinya meninggalkan Adipati Anggara yang dikawal enam orang prajurit. Pendekar Rajawali Sakti itu terus berjalan tanpa menoleh lagi. Sedangkan Adipati Anggara menghembuskan napas panjang dan terdengar begitu berat. Dia tahu kalau pengakuannya tadi tidak menyenangkan hati junjungannya.

Meskipun seorang raja, tapi Rangga tidak menyukai adanya selir. Dia masih teringat akan kehidupan ayahnya yang memiliki banyak selir. Akibatnya, lahirlah anak-anak yang bisa dikatakan terlantar sekarang ini. Akibatnya dari selir juga, bisa menyebabkan perpecahan dan perang saudara. Itu semua dialami Rangga ketika pertama kali kembali ke tanah kelahirannya. Maka, dia bersumpah untuk tidak memiliki selir seorang pun.

Namun begitu, Rangga tidak melarang para Adipati, demang, ataupun pembesar lainnya untuk memiliki selir. Hanya saja, mereka juga merasa sungkan bila memiliki selir dan diketahui rajanya. Hingga tak ada seorang pun dari pembesar Istana Kerajaan Karang Setra yang memiliki selir. Mereka memang merasa tidak patut, mengingat rajanya sendiri tidak memiliki selir barang seorang pun.

"Hhh...! Untuk apa Karsini muncul? Apakah hendak mempermalukan aku di depan Gusti Prabu...?" keluh Adipati Anggara dalam hati.

*******************

LIMA

Malam sudah demikian larut. Seluruh penghuni Kedaton Kadipaten Bojong Picung sudah terlelap dalam buaian mimpi. Hanya para prajurit yang mendapat tugas jaga saja yang masih terlihat di tempat-tempat penjagaan. Sejak terbunuhnya empat orang prajurit, Adipati Anggara melarang para penari dan nayaga untuk melanjutkan kebolehan nya di atas panggung. Namun demikian, rombongan itu belum diijinkan meninggalkan keraton.

Malam ini suasana terasa sunyi sekali. Angin berhembus kencang menyebarkan udara dingin yang membekukan tulang. Beberapa prajurit penjaga mulai merapatkan tubuhnya ke dinding, mencoba melindungi diri dari gempuran angin dingin. Bahkan beberapa di antaranya mulai terkantuk-kantuk tak kuat menahan gempuran udara dingin yang membuat kelopak mata terasa begitu berat Namun beberapa saat kemudian, terlihat kalau seluruh penjaga merasakan kantuk yang amat sangat. Bahkan dua orang penjaga di pintu depan keraton sudah mendengkur. Demikian pula beberapa penjaga di sekitar benteng!

Sementara itu di dalam sebuah kamar, terlihat Rangga tengah duduk bersila dengan mata setengah terpejam di atas pembaringan. Pelahan-lahan dibuka matanya, lalu kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Pendekar Rajawali Sakti kemudian menggelinjang melompat bangkit dari pembaringannya.

"Hmmm..., Ilmu Sirep" gumam Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti itu bisa merasakan adanya hawa lain dari suatu ajian yang dapat membuat orang terlelap sampai batas waktu yang sangat lama. Menyadari kalau ajian itu menyebar, Rangga bergegas keluar dari kamarnya. Harinya langsung terkejut begitu melihat para penjaga istana sudah mendengkur dalam tidur.

Rangga terus berjalan mengelilingi seluruh bangunan besar itu. Semua prajurit yang bertugas sudah tertidur lelap. Tak seorang pun yang masih terjaga. Pendekar Rajawali Sakti itu mulai memutar otaknya, dan bagai kilat melesat naik ke atas atap.

"Hmmm.,., tak ada apa-apa," gumam Rangga dalam hati. "Tapi.... Heh...?!"

Tiba-tiba Rangga melihat sebuah bayangan berkelebat di bagian belakang bangunan megah itu. Tanpa menunggu waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu melentingkan tubuhnya mengejar bayangan yang dilihatnya hanya sekilas itu. Sebenarnya mudah sekali bagi Rangga untuk mengejar. Namun, pemuda berbaju rompi putih itu sengaja menjaga jarak dan terus memperhatikan bayangan merah itu bergerak.

"Hm..., mau apa dia ke penjara...?" gumam Rangga dalam hati.

Rangga merapatkan tubuhnya ke dinding saat melihat orang berpakaian serba merah itu sudah sampai di depan pintu penjara. Empat orang prajurit penjaga sudah tergeletak mendengkur di depan pintu penjara. Tampak orang berbaju merah itu menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu membuka pintu penjara yang terbuat dari lempengan baja tebal. Bunyi derik daun pintu tidak dihiraukan lagi, seolah-olah begitu yakin tidak ada orang yang melihatnya.

Sementara di tempat persembunyiannya, Rangga masih mengawasi. Pendekar Rajawali Sakti masih tetap tidak bergerak meskipun orang berbaju merah itu sudah masuk ke dalam ruangan penjara itu. Tak berapa lama kemudian, orang itu keluar lagi bersama seseorang yang juga berbaju merah. Rangga tahu kalau orang yang dibawa keluar itu adalah Karsini yang siang tadi ditangkapnya.

"Hmmm..., akan ku ikuti mereka," gumam Rangga dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas melentingkan tubuhnya begitu dua orang berpakaian merah berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. Di malam yang gelap dan dingin ini, terlihat dua bayangan merah berkelebatan cepat melompati bagian Barat tembok benteng Kadipaten Bojong Picung. Tidak jauh di belakangnya terlihat satu bayangan putih yang bergerak cepat menjaga jarak.

Tak ada seorang pun dari kedua orang yang berkelebat itu menyadari, kalau semua tindakannya selalu diamati sepasang mata bulat bercahaya dari balik tempat yang cukup tersembunyi dan gelap. Pemilik sepasang mata itu juga mengikuti, namun tetap menjaga jarak di tempat-tempat yang terlindung dari cahaya bulan. Sosok tubuh berpakaian gelap itu seperti sengaja menjauh dari Pendekar Rajawali Sakti, namun tidak terlalu jauh dari dua orang berbaju merah yang terus bergerak ke arah Barat

Namun begitu tiba di Kaki Bukit Cangking, mendadak saja Pendekar Rajawali Sakti itu berhenti berlari. Dan secepat itu pula tubuhnya melambung tinggi, lalu hinggap dengan manisnya di atas dahan pohon yang cukup tinggi dan rimbun. Pada saat yang tidak terlalu lama, terlihat seseorang berpakaian gelap berkelebat cepat, tepat di bawah pohon tempat Rangga hinggap.

"Diah.... Mau apa dia ke sini...?" Rangga agak tercenung begitu mengenali orang berpakaian hitam yang sudah jauh mengejar dua orang berbaju merah yang kini tengah mendaki lereng bukit.

Meskipun orang berpakaian hitam itu selalu menjaga jarak, namun Pendekar Rajawali Sakti masih juga bisa mengetahui kehadirannya. Dan dia sengaja menunggu di atas pohon untuk mengetahui siapa orang lain yang sama-sama membuntuti dua orang berbaju merah itu. Rangga sendiri baru mengetahui setelah berada di luar perbatasan sebelah Barat Kadipaten Bojong Picung.

"Hmmm.... Apakah dia punya ilmu penangkal aji 'Sirep'? Atau..., ah! Aku harus mengungkap semua ini! Hup!"

Rangga bergegas melompat turun, dan langsung berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Sekejap saja bayangan tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu sudah lenyap ditelan kegelapan malam.

*******************

Puncak Bukit Cangking tampak sunyi sepi. Kabut menggumpal tebal menye-limuti seluruh permukaan puncak bukit itu. Angin berhembus kencang sehingga udara semakin dingin. Embun pun semakin menebal membasahi daun-daun dan rerumputan. Namun keadaan alam yang tampak tidak ramah itu tidak menghalangi dua orang berpakaian serba merah untuk mendaki sampai ke Puncak Bukit Cangking. Mereka terus berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh, meskipun sudah sampai di puncak bukit

Mereka baru berhenti setelah tiba di depan sebuah mulut gua yang gelap dan hampir tertutup semak belukar kering. Kedua orang berbaju merah itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu yang seorang melangkah masuk ke dalam gua. Sedangkan seorang lagi tetap tinggal di depan mulut gua. Dia mengenakan selembar cadar merah yang agak tipis, sehingga menyamarkan wajahnya. Hanya sepasang bola matanya yang terlihat bersinar tajam memandang ke satu arah.

"Hmmm.... Rupanya ada tamu datang ke sini," gumamnya pelahan.

"Bicara dengan siapa, Gusti Ayu?" terdengar suara dari dalam gua.

"Ada tamu tak diundang datang ke sini, Nyai Karsini," sahut orang bercadar merah itu.

Dari nada suaranya, jelas kalau orang itu wanita. Tapi karena wajahnya tertutup cadar, memang agak sukar dikenali. Saat itu dari dalam, keluar seorang wanita cantik mengenakan baju merah. Tampak sebuah pedang tersampir di pinggang. Wanita itu tidak lain adalah Karsini, salah seorang bekas selir Adipati Anggara.

"Hmmm..., tampaknya dia tidak bermaksud baik. Biar kuhadapi sendiri, Gusti Ayu," pinta Karsini setengah bergumam.

"Hati-hatilah! Mungkin dia itu utusan dari Karang Setra."

"Dengan Keris Kyai Lumajang, hamba yakin bisa menghadapinya, Gusti Ayu."

Wanita bercadar merah itu menepuk pundak Karsini, kemudian melangkah masuk ke dalam gua. Sedangkan Karsini mengayunkan kakinya pelahan-lahan. Sepasang bola matanya berputar mengamati sekeliling. Langkahnya berhenti tepat di tengah-tengah lapangan berumput di depan gua. Pandangannya lurus menatap langsung ke arah sebuah pohon besar. Sebentar diangkat kedua tangannya ke atas kepala. Lalu sambil merapatkan kedua telapak tangan, dipentang kakinya lebar-lebar ke samping.

Pelahan-lahan tangannya bergerak turun sampai ke depan dada. Tampak seluruh tubuhnya menjadi bersinar merah bagai terbakar. Kemudian kedua tangannya terbuka bergerak ke samping pinggang.

"Hiyaaa...!" Sambil berteriak keras, Karsini menghentakkan tangan kanannya ke depan. Sedangkan tangan kiri tetap di samping pinggangnya. Seketika seleret sinar merah meluncur deras ke arah pohon besar di depannya.

Glaaar...!

Ledakan keras terjadi bersamaan dengan hancurnya pohon besar yang terlanda sinar merah dari telapak tangan Karsini. Pada saat bersamaan, melesat sesosok tubuh terbalut baju berwarna gelap. Tahu-tahu di depan Karsini sudah berdiri seseorang yang mengenakan baju warna biru tua yang ketat Tampak sebilah pedang tersampir di punggungnya.

"Hm.... Ternyata yang datang tikus dari Bojong Picung," gumam Karsini agak mendengus setelah mengetahui orang yang tadi bersembunyi di balik pohon besar yang sudah hancur berkeping-keping.

Karsini menggeser gagang keris yang terselip di pinggang. Tangan kanannya sudah meraba gagang pedang. Sedangkan orang berbaju biru gelap itu hanya berdiri tegak sambil menatap tajam. Dia seorang wanita cantik, berambut tergelung ke atas. Bagian belakang rambutnya terkepang panjang hampir ke pinggang. Gadis itu memang Diah Mardani.

"Mimpimu sudah berakhir, Karsini. Hentikan semua pikiran kotor di kepalamu!" Dengus Diah Mardani dingin.

"Ha ha ha...! Bocah masih bau kencur sudah berani menggertak ku. Ha ha ha...!" Karsini tertawa terbahak-bahak.

ertawalah sepuasmu, Karsini. Sebentar lagi kau akan merasakan kepedihan di dalam neraka!" Tetap dingin nada suara Diah Mardani.

"Phuih! Lagakmu seperti orang yang berkepandaian tinggi saja! Kau jangan terlalu bangga bisa menghalau aji 'Sirep'. Itu bukanlah ukuran untuk bisa berhadapan denganku!" sentak Karsini.

Sret! Karsini mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya. Sedangkan Diah Mardani tetap berdiri tegak tak bergeming sedikit pun. Sedangkan bola matanya bersinar tajam, memperhatikan setiap gerak wanita berbaju merah di depannya.

ahan seranganku, bocah! Hiyaaat...!" seru Karsini keras.

"Hait!" Secepat Karsini melompat menerjang, secepat itu pula dikibaskan pedangnya ke arah dada. Namun Diah Mardani lebih cepat lagi menarik kakinya ke belakang beberapa langkah. Dan tanpa diduga sama sekali diayunkan satu tendangan keras begitu ujung pedang lewat di depan dadanya.

"Uts!" Buru-buru Karsini melentingkan tubuhnya ke belakang, menghindari sapuan kaki Diah Mardani yang begitu cepat dan keras. Dan sebelum Karsini bisa berdiri tegak, putri Adipati Anggara itu sudah melompat menerjang sambil mengirimkan dua pukulan beruntun yang mengandung tenaga dalam cukup tinggi.

"Hup! Hup! Hiyaaa...!"

"Edan!" rungut Karsini.

Wanita berbaju merah menyala itu berjumpalitan menghindari terjangan Diah Mardani yang begitu dahsyat. Hampir saja serangan itu tidak bisa dibendung. Untung Karsini cepat-cepat melentingkan tubuhnya ke udara, dan bersalto beberapa kali sebelum menjejakkan kakinya agak jauh di depan Diah Mardani.

"Bagus! Ternyata kau mengalami kemajuan pesat,; Diah!" dengus Karsini sambil mengatur jalan nafasnya.

"Hmmm...," Diah Mardani hanya tersenyum tipis.

"Sungguh aku suka melawan muridku sendiri. Ayo, majulah!" dingin sekali nada suara Karsini.

"Aku bukan muridmu!" bentak Diah Mardani.

"Paling tidak, kau bisa menangkal aji 'Sirep' yang di dilepaskan Gusti Ayu...," ucapan Karsini bernada terputus.

"Hh! Aku tahu, orang yang kau panggil Gusti Ayu itu, Karsini. Dan sebentar lagi, Gusti Ayumu itu akan mampus di tanganku!" Tegas Diah Mardani.

"Kau terlalu besar kepala, Diah! Seharusnya kau bercermin, siapa dirimu sebenarnya!"

"Aku tahu. Tapi aku bukan manusia rendah sepertimu!" Sentak Diah Mardani langsung memerah wajahnya.

"Ha ha ha...!" Karsini tertawa terbahak-bahak. "Kau tidak lebih rendah daripada kotoran binatang, Diah!"

"Keparat! Kurobek mulutmu, perempuan setan!! Hiyaaat..!"

Diah Mardani tidak kuasa lagi menahan amarahnya. Dia langsung melompat menerjang sambil mencabut pedangnya. Cepat sekali dikibaskan pedangnya ke arah dada Karsini. Namun wanita berbaju merah bekas selir Adipati Anggara itu lebih cepat melompat ke samping sambil mengibaskan pedangnya untuk menangkis tebasan pedang Diah Mardani.

Tring!
"Ah...!"
"Hiyaaat..!"
Bug!

Karsini terpental beberapa tombak begitu satu tendangan keras mendarat tepat di dadanya. Dan pedangnya pun juga terpental jauh ke udara. Sungguh cepat serangan yang dilakukan Diah Mardani, sehingga membuat Karsini tidak mampu membendung lagi. Karsini terhuyung-huyung sambil menekap dadanya bagai daun kering terhempas angin.

Sedangkan Diah Mardani sudah bersiap kembali, mengerahkan jurus lain. Sementara Karsini buru-buru menggerakkan tangan, mencoba mengatur jalan napasnya yang mendadak terasa sesak bagai tersumbat Dari sudut bibirnya mengalir darah kental akibat tendangan yang sangat keras di dadanya tadi.

"Phuih!"

Karsini menggeram. Hatinya juga masih diliputi keterkejutannya karena Diah Mardani bisa membuatnya terpental. Sungguh tidak disangka kalau gadis itu mengalami kemajuan sangat pesat. Karsini tidak ingin lagi memandang ringan pada gadis itu. Maka segera disiapkan jurus ampuhnya. Pelahan-lahan ditarik Keris Kyai Lumajang dari sabuk pinggangnya.

"Heh...?!" Diah Mardani terperanjat melihat senjata di tangan lawan, bahkan sampai terlompat mundur beberapa tindak ke belakang.

"Kau terkejut melihat keris ini, Diah!" Karsini ten senyum sinis.

"Dari mana kau dapatkan Keris Kyai Lumajang? Tanya Diah Mardani tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Ha ha ha...!" Karsini hanya tertawa saja terbahak-bahak.

"Kau pasti...."

"Tak perlu menebak-nebak, Diah! Mampus kau! hiyaaat...!"

Karsini cepat memotong kata-kata Diah Mardani dan secepat itu pula melompat menerjang putri Adipati Anggara, penguasa Kadipaten Bojong Picung. Dengan Keris Kyai Lumajang berada dalam genggaman, Karsini kelihatan penuh percaya diri. Menyerang dan mendesak, tanpa memberi kesempatan sedikit pun pada Diah Mardani untuk mengambil napas. Namun gadis itu bukanlah gadis sembarangan, dan ternyata masih, mampu menandingi jurus-jurus dahsyat yang dimainkan Karsini.

Pertarungan terus berjalan semakin sengit. Sementara tidak jauh dari tempat itu, di tempat yang tea sembunyi, sepasang mata tengah mengawasi sejak tadi tanpa berkedip sedikit pun. Sedangkan dari dalam gua juga terlihat beberapa pasang mata mengawasi jalannya pertarungan itu.

Jurus demi jurus berlalu cepat Namun dua orang yang bertarung itu tetap saja tangguh. Bahkan sukar untuk memastikan siapa yang bakal terdesak. Semakin jauh pertarungan itu, semakin dahsyat jurus-jurus yang dikerahkan. Tempat sekitar pertarungan sudah porak poranda bagai diamuk ribuan gajah murka. Batu-batu bertebaran ke mana-mana, pohon-pohon hancur bertumbangan, malang melintang tak tentu arah.

Memasuki jurus kedua puluh, Diah Mardani mulai kelihatan kewalahan membendung gempuran Karsini yang menggenggam Keris Kyai Lumajang. Senjata berkeluk yang ujungnya runcing berwarna hitam legam itu mengeluarkan uap yang semakin lama semakin menebal. Sekeliling daerah pertarungan mulai dihinggapi bau busuk yang tidak sedap dan memualkan.

"Ugh...!" Diah Mardani mulai kelihatan limbung. Beberapa kali gadis itu melenguh berusaha menahan gempuran bau busuk yang menyengat hidungnya. Tampak sekali kepalanya selalu digeleng-gelengkan, berusaha mengusir bau busuk yang keluar dari Keris Kyai Lumajang dari tangan Karsini.

"Ha ha ha...! kau tidak akan mampu menghadapi Keris Kyai Lumajang, Diah!"

"Hup...!" Diah Mardani melompat mundur sejauh dua batang tombak. Segera ditekan perutnya yang terasa mual. Wajahnya yang putih, nampak memucat dengan bola mata berputar.

"Hoek!" Diah Mardani memuntahkan cairan kekuningan bercampur gumpalan darah kental. Wajah gadis itu semakin terlihat pucat pasi. Bibirnya juga mulai membiru. Sedangkan Karsini terus tertawa terbahak-bahak sambil mengibas-ngibaskan kerisnya yang mengepulkan asap.

"Saatnya kau mampus, Diah! Hiyaaat..!"

Bagai seekor camar menyambar ikan di laut, Karsini melompat cepat sambil menghunus ujung keris ke arah dada Diah Mardani. Sedangkan gadis putri Adipati Bojong Picung itu hanya bisa membeliak. Dia masih sibuk menghalau rasa mual dan pening yang menyerang semakin dahsyat.

Bet! Trang...!

Mendadak saja, tepat di saat ujung Keris Kyai Lumajang hampir menghunjam dada Diah Mardani, sebuah bayangan putih bercampur kilatan cahaya biru berkelebat memapak serangan Karsini.

"Akh...! Karsini terpental ke belakang sejauh beberapa tombak. Tiga kali dia berjumpalitan di udara sebelum mendarat manis di tanah. Wanita berbaju merah itu mendengus kesal sambil menyemburkan ludahnya. Kedua matanya membelalak lebar begitu di depan Diah Mardani sudah berdiri seorang pemuda berbaju rompi putih dengan gagang pedang berbentuk kepala burung bertengger di balik punggung.

"Pendekar Rajawali Sakti...," desis Karsini hampir tidak terdengar suaranya.

Pemuda berwajah tampan berbaju rompi putih itu menggeser kakinya mendekati Diah Mardani yang sudah jatuh berlutut di tanah. "Kau terluka, Diah?" Tanya Rangga sambil menepuk pundak Diah Mardani.

"Hhh...!" Hanya keluhan panjang saja yang keluar dari bibir gadis itu.

"Menyingkirlah. Pulihkan dulu kekuatanmu," kata Rangga lagi lebih lembut

Diah Mardani mengangkat kepalanya, lalu pelahan bangkit berdiri dibantu Rangga. Dengan langkah terhuyung sambil memegangi dada dan perutnya, gadis itu berjalan menjauhi tempat itu. Sedangkan Rangga masih berdiri tegak di tempatnya. Sebentar diliriknya Diah Mardani yang sudah duduk bersila di bawah pohon.

Pandangannya kemudian beralih pada Karsini. Wanita berbaju merah bekas selir Adipati Anggara itu masih menghunus Keris Kyai Lumajang. Namun senjata berkeluk berwarna hitam pekat itu sudah tidak lagi mengepulkan uap beracun.

*******************

ENAM

Dua tindak Rangga melangkah maju. Sikapnya begitu hati-hati dan waspada sekali terhadap senjata di tangan Karsini. Pendekar Rajawali Sakti itu sudah menyaksikan kehebatan keris berwarna hitam legam itu, meskipun Karsini tidak menggunakan secara benar. Kalau saja tenaga dalam wanita itu sudah mencapai tingkat tinggi, tentu akan lebih berbahaya lagi senjata itu.

"Hm. Kau bisa saja membekuk ku dengan mudah kemarin, Rangga. Tapi sekarang, jangan harap bisa mengalahkan aku!" dengus Karsini dingin.

"Karsini, kenapa kau ingin memberontak pada Karang Setra?" Tanya Rangga.

"Aku tidak ada urusan dengan Karang Setra!" sentak Karsini berang.

"Kau mencoba membuat kekacauan di Kadipaten Bojong Picung. Itu sama saja mengusik ketenangan Kerajaan Karang Setra," kata Rangga, suaranya masih tenang.

"Dengar, Pendekar Rajawali Sakti. Ini urusan pribadiku dengan Adipati Anggara. Dan bukan denganmu atau Kerajaan Karang Setra. Bahkan aku tidak peduli dengan Kadipaten Bojong Picung!" masih terdengar keras suara Karsini.

"Urusan pribadimu dengan Adipati Anggara bisa diselesaikan secara pribadi. Tapi tindakanmu yang sudah membuat keresahan harus ditanggung seluruh rakyat. Dan aku sendiri yang akan menangani," tegas kata-kata Rangga.

Karsini terdiam. Meskipun tadi sempat sesumbar, tapi dia berpikir juga bahwa yang dihadapi adalah Pendekar Rajawali Sakti yang bukan manusia sembarangan. Tingkatan kepandaiannya sukar diukur dan dicari tandingannya. Bahkan dia sempat mendengar pembicaraan pemuda itu dengan Diah Mardani, sebelum berhasil dibekuk dan dijebloskan ke dalam tahanan. Karsini menyadari kalau dirinya kini sedang berhadapan dengan Raja Karang Setra yang juga seorang pendekar digdaya.

Pelahan-lahan Karsini bergerak mundur ke belakang mendekati mulut gua. Sementara malam sudah berganti menjelang pagi. Rona merah mulai terlihat menyemburat di ufuk Timur. Sebentar lagi Puncak Bukit Cangking itu akan terang benderang oleh siraman cahaya sang surya. Karsini berhenti mundur setelah tidak berapa jauh lagi di depan mulut gua.

Dan Rangga terus memperhatikan tanpa berkedip. Dia tahu kalau di dalam gua itu ada beberapa orang bersembunyi sambil memperhatikan. Pendekar Rajawali Sakti Itu bisa merasakan adanya hembusan napas halus meskipun keadaan di dalam gua begitu gelap. Malah sukar ditembus pandangan mata biasa.

Belum lagi Rangga sempat membuka mulut, dari dalam gua bermunculan sekitar enam orang berpakaian merah menyala. Mereka semua mengenakan cadar merah tipis, sehingga menyamarkan wajahnya. Hanya mata saja yang tak tertutupi. Enam orang bercadar merah itu berdiri di belakang Karsini. Masing-masing di pinggang tergantung sebilah pedang panjang. Karsini memasukkan kembali Keris Kyai Lumajang ke dalam warangkanya.

"Rupanya kau juga menghimpun kekuatan, Karsini," ujar Rangga setengah bergumam.

"Mereka semua orang yang punya urusan pribadi dengan Adipati Anggara," tegas Karsini.

"Kau selalu menyebut urusan pribadi. Apa yang telah dilakukan Adipati Anggara? Kalau pun dia melakukan kesalahan dan penyelewengan dalam menjalankan tugas sebagai adipati, kau atau teman-temanmu ini bisa mengadukan hal ini pada Raja Karang Setra. Dengan caramu bertindak sendiri seperti ini bisa menimbulkan keresahan yang akan membawamu dalam kemelut besar. Kau dan teman-temanmu bisa dituduh akan melakukan makar terhadap kewibawaan pemerintah Kerajaan Karang Setra," lantang suara Pendekar Rajawali Sakti.

"Karsini, siapa dia?" salah seorang yang berdiri paling kiri bertanya setengah berbisik.

"Dia utusan khusus Prabu Rangga Pati Permadi. Sahut orang yang berdiri tepat di belakang Karsini. Nada suaranya menunjukkan kalau dia itu seorang wanita.

"Bukan. Justru dia sendirilah Prabu Rangga," kata, Karsini.

Tampak sekali sinar mata enam orang yang berada di belakang Karsini begitu terkejut mendengar kalau pemuda berbaju rompi putih itu adalah Raja Karang Setra. Sedangkan Karsini sendiri hanya menatap tajam pada Rangga. Dia seperti sedang memikirkan kata-kata Pendekar Rajawali Sakti itu tadi. Sementara enam orang berbaju merah yang semuanya mengenakan cadar di wajahnya, saling berpandangan satu sama lain. Entah apa yang ada dalam benak mereka saat itu. Sementara Rangga hanya memperhatikan saja sinar mata mereka.

"Karsini. Sebaiknya kita menyingkir dulu dari sini," usul orang yang berada paling kiri lagi.

mmm...," gumam Karsini tidak jelas.

"Ayolah, Karsini. Jangan membuang-buang waktu lagi di sini," bujuk seorang lagi.

"Baiklah," desah Karsini.

"Pendekar Rajawali Sakti, mungkin belum saatnya kita saling berhadapan. Masih ada yang harus kukerjakan,"

Setelah berkata demikian, Karsini langsung melesat pergi. Enam orang berbaju merah di belakangnya juga bergegas melesat mengikuti. Sedangkan Rangga sama sekali tidak berusaha mengejar, tapi malah membalikkan tubuhnya dan menghampiri Diah Mardani yang kini sudah bisa berdiri kembali. Raut wajah gadis itu mulai kelihatan Segar setelah berhasil mengusir uap racun.

*******************

Diah Mardani berlutut dan memberi sembah begitu Rangga sudah berada di depannya. Pendekar Rajawali Sakti itu menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membawa Diah Mardani berdiri. Namun gadis itu hanya tertunduk saja, tak berani mengangkat wajahnya.

"Bagaimana keadaanmu, Diah?" Tanya Rangga lembut.

"Untung racun itu belum merasuk ke dalam. Hamba masih bisa mengeluarkannya dengan bersemadi, Gusti Prabu," sahut Diah Mardani.

"Ah! Kau masih saja memanggilku begitu, Diah. Aku lebih suka kalau dipanggil dengan sebutan Kakang daripada Gusti Prabu," ujar Rangga.

"Tapi, Gusti...."

"Baiklah. Jika kau tidak mau, maka akan kuperintahkan kau memanggilku kakang!"

Diah Mardani mengangkat wajahnya dan memandang lekat-lekat pemuda tampan berbaju rompi putih itu. Rangga tersenyum dan mengangkat alis kanannya sedikit. Diah Mardani kembali tertunduk. Pelahan-lahan dianggukkan kepalanya. Memang tidak mudah untuk memanggil sebutan lain pada seorang raja. Tapi Rangga sudah memerintahkannya demikian. Dan perintah seorang raja tidak bisa diabaikan begitu saja.

Namun bagi Diah Mardani perintah itu sangat berat dan sukar dilaksanakan. Baginya lebih baik mendapat perintah menghancurkan gerombolan perampok atau pemberontak daripada harus memanggil seorang raja dengan sebutan yang sukar diterima telinga. Bahkan bisa menimbulkan permasalahan besar!

"Ayo kita pulang, Diah," ajak Rangga,

"Baik, Gusti," sahut Diah Mardani.

"O o o.... Kau bisa dihukum gantung karena tidak mentaati perintah, Diah," Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.

"Maaf, tapi....."

"Memang sukar, tapi harus dibiasakan."

"Tapi kenapa Gusti Prabu menghendaki begitu?" Tanya Diah Mardani masih sukar untuk memanggil Rangga dengan tidak menyebut Gusti Prabu.

"Karena aku bukan seorang raja di sini. Kau boleh memanggilku begitu kalau berada di istana. Tapi di sini, aku orang biasa, seorang pengembara, dan seorang pendekar. Bukan raja! Kau harus bisa membedakan semua itu, Diah," jelas Rangga.

"Di mana pun adanya, raja tetap raja, Gusti."

"Mungkin yang lain begitu, Tapi aku tidak. Ah, sudahlah.... Tidak ada gunanya mempermasalahkan hal itu lagi, Diah. Kau bisa menghilangkan sebutan Gusti padaku, bukan?" pinta Rangga.

api hamba takut jika Ayahanda tahu."

"Kau boleh memanggilku begitu. Tidak depan ayahmu. Tapi kalau berdua dan berada di luar keraton, jangan sekali-sekali memanggilku Gusti Prabu. Mengerti, Diah?"

"Mengerti, Gusti..."
"Eee..., Gusti lagi."
"Maaf, Kakang."
"Nah! Begitu kan, lebih enak."

Diah Mardani hanya tersenyum saja. Diayunkan kakinya mengikuti Rangga yang sudah berjalan lebih dulu. Tapi Pendekar Rajawali Sakti itu malah menunggu dan mensejajarkan langkahnya di samping Diah Mardani. Rangga tidak peduli meskipun sikap gadis itu kelihatan canggung. Bahkan selalu membiasakan agar Diah tidak bersikap canggung dan menjaga jarak.

"Oh, ya. Kau tentu mendengar semua yang dikatakan Karsini tadi. Kau tahu, ada persoalan apa antara Karsini dan teman-temannya dengan ayahmu?" Tanya Rangga kembali menjurus pada persoalan yang tengah dihadapi sekarang ini.

"Aku tidak tahu, Kakang," sahut Diah Mardani mulai terbiasa.

"Kau tahu kalau Karsini bekas selir ayahmu, bukan?"

ahu. Bahkan dia yang pertama kali mengajari menunggang kuda dan ilmu olah kanuragan," sahut Diah Mardani.

"Bagaimana dia bisa berpisah dengan ayahmu?

"Aku tidak tahu, Kakang. Hampir tiga tahun, aku hanya mendengar kabar kalau Karsini menghilang.'

"Menghilang:..?!"

"Awalnya, waktu Karsini hendak mengunjungi orang tuanya di Desa Hargaling, tapi di tengah jalan dihadang gerombolan perampok. Tiga puluh prajurit yang mengawalnya tewas semua. Demikian pula sebagian pelayan. Tapi Karsini dan beberapa pelayan menghilang. Ayahanda sudah berusaha mencari, tapi tidak juga diketemukan. Hingga...."

"Dia muncul lagi sekarang ini?" potong Rangga.

"Benar, Kakang."

"Aneh.... Belum pernah aku mendengar ada gerombolan perampok di wilayah ini," gumam Rangga seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Memang aneh, Kakang. Perampok-perampok itu beraksi hanya sekali itu saja. Dan sampai kini tidak pernah lagi terdengar ada perampokan setelah kejadian itu, meskipun para prajurit yang dikerahkan tidak bisa menemukannya."

"Hm..., mengapa kau begitu memusuhi Karsini?"

"Karena dia merebut cinta Ayahanda, dan yang menyebabkan Ibunda meninggal," sahut Diah.

"Diah! Ibumu meninggal sekitar empat tahun lalu. Dan aku tahu itu, meskipun tidak bisa menghadiri saat pemakamannya. Aku juga tahu kenapa ibumu meninggal," jelas Rangga.

"Apa yang Kakang ketahui, pasti sama seperti yang orang lain katakan. Padahal kenyataannya sama sekali berbeda."

"Maksudmu?"
"Ibu tewas terbunuh."
"Oh...?!" Rangga terhenyak kaget.

Pendekar Rajawali Sakti itu sampai memandangi Diah Mardani dalam-dalam. Hampir tidak dipercaya kalau pendamping Adipati Anggara tewas terbunuh. Sedangkan yang didengarnya tentang kematian itu adalah karena penyakit. Bahkan Adipati Anggara sendiri yang melaporkannya begitu. Tapi sekarang yang didengar lain. Bahkan begitu mengejutkan sekali. Rangga menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Diah Mardani yang juga berhenti berjalan.

"Sudah kuduga, Kakang pasti tidak akan percaya seperti yang lainnya," kata Diah Mardani seolah mengeluh.

"Bukannya tidak mempercayai, Diah. Tapi...."

"Tidak ada bukti," potong Diah Mardani cepat "Semua orang selalu berkata seperti itu padaku. Tapi aku tetap yakin kalau Ibu terbunuh. Bahkan pembunuhnya masih berkeliaran sampai sekarang. Malah sepertinya Ayahanda melindungi."

"Siapa pembunuhnya, Diah?" Tanya Rangga bernada memancing.

"Karsini," sahut Diah Mardani.

"Oh..," lagi-lagi Rangga terkejut

"Karsini dulu juga seorang penari," jelas Diah Mardani lagi.

Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya, dan kembali melangkah perlahan. Diah Mardani mengikuti di samping kanan Pendekar Rajawali Sakti itu. Kini Rangga mengerti, mengapa Diah Mardani begitu membenci para penari yang kini berada di Kedaton Kadipaten Bojong Picung. Rangga bukannya tidak mempercayai semua yang diutarakan gadis itu, tapi memang sukar untuk membuktikan. Lagi pula apa yang dilakukan Diah Mardani masih dilandasi perkataan hati. Bukan dari akal pikiran.

*******************

Kadipaten Bojong Picung kembali gempar. Tempat penyimpanan senjata ternyata telah terbongkar. Dengan demikian seluruh senjata yang tersimpan, hilang tanpa tersisa satu pun juga. Bahkan seluruh kuda di istal juga ikut lenyap. Padahal semalam Rangga dan Diah Mardani mengejar seseorang yang membebaskan Karsini dari penjara. Sama sekali tidak diketahui kalau pada waktu yang bersamaan ada orang menjarah hingga seluruh senjata di ruangan penyimpanan senjata lenyap.

Adipati Anggara sendiri semakin kusut. Terlebih lagi begitu mendapat laporan kalau tahanannya ikut hilang. Tidak mungkin prajuritnya diperintahkan untuk mencari, karena semua kuda tidak ada lagi di istal. Sukar dipercaya! Dalam waktu semalaman saja, seluruh kuda dan senjata lenyap tanpa tersisa.

"Aku yakin, semalam kita sengaja dijebak, Kakang," duga Diah Mardani di depan pintu ruangan penyimpanan senjata yang jebol berantakan.

Rangga yang sedang mengamati ruangan itu membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu. Kakinya melangkah menghampiri Diah Mardani. Dipandangi gadis itu sebentar, lalu Rangga berjalan keluar. Diah Mardani mengikuti dan mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Rajawali Sakti. Mereka berhenti di depan istal yang sudah kosong tanpa seekor kuda pun tertambat di sana. Beberapa prajurit mondar mandir bersama kesibukan masing-masing.

"Rombongan penari itu pasti terlibat, Kakang," tebak Diah Mardani lagi.

"Jangan berprasangka buruk, Diah," Rangga memperingatkan.

"Sejak mereka datang, aku memang sudah curiga. Apalagi pada orang yang bernama Onila," rungut Diah Mardani.

Rangga menatap gadis itu yang sedang memandang ke satu arah tanpa berkedip. Pendekar Rajawali Sakti mengalihkan pandangannya ke arah yang sama dengan tatapan Diah Mardani. Tampak di depan jendela sebuah kamar, seorang wanita berwajah cantik tengah membenahi rambutnya yang panjang dan hitam berkilat. Didekatnya berdiri seorang laki-laki tua yang mengenakan baju dan ikat kepala kuning.

"Kau terlalu terbawa emosi, Diah," kata Rangga.

"Naluriku berkata demikian, Kakang. Dan naluriku tidak pernah berdusta," tegas Diah Mardani mantap.

Rangga kembali melangkah meninggalkan kandang kuda. Diah Mardani mengikuti di samping. Namun pandangan gadis itu sesekali masih tertuju pada wanita yang duduk di depan jendela sebuah kamar bersama seorang laki-laki tua. Entah apa yang dibicarakan karena terlalu jauh untuk bisa mendengar.

"Ayahanda pernah membawa Onila dan Ki Jawura melihat-lihat sekeliling keraton. Bahkan yang seharusnya tidak boleh diketahui orang lain diperlihatkan juga," jelas Diah Mardani lagi.

tu bukan alasan untuk mencurigai mereka, Diah."

"Menurutku itu merupakan alasan kuat, Kakang. Tidak ada seorang pun yang mengetahui ruangan penyimpanan senjata kecuali Ayahanda dan para pemimpin pasukan serta pengurus senjata. Kau lihat sendiri, Kakang. Ruangan itu tersamar. Bahkan menyatu di tengah-tengah bangsal keprajuritan. Tidak ada yang menyangka kalau itu merupakan ruang penyimpanan senjata, kecuali mereka yang mengetahui,". Diah Mardani mengemukakan alasannya.

"Hmmm...," Rangga menggumam tidak jelas.

Apa yang dikatakan Diah Mardani memang tidak bisa disangkal lagi. Dan Rangga memang mengerti kalau ruangan penyimpanan senjata biasanya tersamar dan tidak ada yang bisa menduga. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya. Sedangkan Diah Mardani mengatakan kalau Adipati Anggara memperlihatkan sekeliling keraton itu pada Onila dan Ki Jawura. Bahkan tempat yang seharusnya dirahasiakan juga diperlihatkan. Cukup beralasan juga kalau putri Adipati Anggara itu mencurigai Onila.

Rangga mencoba menghubung-hubungkan semua yang telah terjadi di Kadipaten Bojong Picung ini. Semuanya dihubungkan dengan cerita, dugaan, dan kecurigaan Diah Mardani. Pendekar Rajawali Sakti itu agak terkejut juga begitu menyadari semua berkaitan erat. Dan memang tidak disangka kalau apa yang diceritakan Diah justru sangat erat kaitannya dengan semua peristiwa ini.

Rangga langsung menemui Adipati Anggara di ruangan khusus setelah mengantarkan Diah Mardani ke dalam kamar pribadinya. Adipati Anggara tampak kusut, karena sampai siang ini belum ada seorang prajurit pun yang melapor tentang kuda-kuda yang hilang.

"Apakah kedatanganku mengganggu, Paman?" Tanya Rangga melihat wajah Adipati Anggara begitu kusut.

"Oh, tidak.... Tidak, Gusti," sahut Adipati Anggara terburu-buru.

Adipati Anggara langsung berdiri dari kursinya dan berlutut memberi sembah dengan merapatkan kedua tangan di depan hidung. Rangga menghentakkan tubuhnya duduk di kursi di depan Adipati Anggara. Pendekar Rajawali Sakti itu mempersilakan Adipati Anggara duduk di depannya. Mereka duduk berhadapan, dibatasi sebuah meja bundar beralaskan batu pualam putih.

"Paman, keadaan kadipaten sedang tidak menentu. Tapi mengapa Paman mengadakan pesta dan memanggil rombongan penari?" Tanya Rangga langsung tanpa basa-basi lagi.

"Ampun, Gusti. Semula suasana di kadipaten aman tentram. Tapi mendadak saja terjadi kekacauan begini," sahut Adipati Anggara, penuh rasa hormat

"Kau tentu masih ingat, apa yang kukatakan," kata Rangga.

"Hamba, Gusti."

"Suasana yang aman dan tentram merupakan pangkal kelengahan yang menjadikan suatu kelemahan. Akibatnya, akan timbul sikap masa bodoh dan kurang waspada," jelas Rangga.

"Ampun, Gusti Prabu. Hamba memang menyadari akan hal itu," ujar Adipati Anggara.

"Tapi kenapa hal ini sampai terjadi, Paman?"

"Gusti Prabu, hukumlah hamba yang telah lengah dan gagal memimpin kadipaten. Hamba mengaku bersalah, Gusti. Hukumlah hamba..," Adipati Anggara menjatuhkan diri, berlutut di depan kaki Rangga.

"Hukuman tidak akan menyelesaikan suatu permasalahan, Paman Adipati. Bangunlah. Busungkan dada, lalu hadapi semua dengan kejantanan dan pikiran terang," tegas Rangga berwibawa.

"Oh, Gusti...."

"Tidak ada gunanya mengeluh dan menyesali diri, Paman. Kesalahan merupakan cambuk menuju kebenaran."

Setelah berkata demikian, Rangga bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan pribadi adipati itu. Sementara Adipati Anggara masih berlutut, dan masih menundukkan kepala. Dia tetap saja berlutut meskipun Rangga sudah lenyap di balik pintu. Agak lama juga Adipati Anggara berlutut di lantai, lalu pelahan-lahan berdiri dan melangkah keluar. Wajahnya sudah tidak lagi kusut, dan matanya kini bersinar penuh semangat kehidupan yang semula hampir padam, kini tersulut kembali. Bahkan semakin berkobar. Kata-kata Rangga merupakan setitik api yang membakar semangat hidupnya kembali.

*******************

TUJUH

Malam sudah merangkak semakin jauh. Kegelapan menyelimuti seluruh permukaan bumi Kadipaten Bojong Picung. Tidak seperti biasanya, malam ini langit begitu pekat tersaput awan hitam yang menggumpal menghalangi sinar rembulan dan kerlipnya bintang. Suasana malam kelihatannya begitu mencekam, ditambah tiupan angin kencang menderu, menyebarkan hawa dingin menggigilkan tubuh.

Namun suasana malam yang tidak ramah itu, tidak menghalangi Pendekar Rajawali Sakti untuk meronda di sekeliling Kedaton Kadipaten Bojong Picung. Pemuda yang selalu mengenakan baju rompi putih itu sudah dapat menyimpulkan kalau berita mengenai adanya makar di kadipaten ini belum bisa dibuktikan kebenarannya. Hanya saja, memang ada masalah lain yang semakin gawat karena menyangkut keselamatan Adipati Anggara sendiri. Dan itu akibat dari persoalan pribadi yang belum bisa diketahuinya sampai saat ini.

"Hmmm..., tampaknya aku harus mempercayai cerita Diah Mardani," gumam Rangga dalam hati.

Perhatian Pendekar Rajawali Sakti itu tidak pernah lepas ke arah kamar Onila yang berada di bagian belakang bangunan megah Kedaton Kadipaten Bojong Picung. Ada beberapa kamar lagi yang semuanya ditempati rombongan penari dan penabuh nayaga pimpinan Ki Jawura. Mereka memang belum diijinkan meninggalkan keraton sampai masalah ini selesai. Paling tidak, setelah membekuk orang yang mencoba merongrong kewibawaannya.

Tapi mendadak saja perhatian Rangga beralih ke sebuah sudut yang cukup gelap dan terlindung oleh tembok tebal dan tinggi. Kegelapan itu semakin terasa dengan adanya pohon beringin besar yang berdaun rimbun hampir menyentuh tanah. Rangga mengerahkan aji 'Tatar Netra' untuk mengetahui orang yang bersembunyi itu.

"He! Mau apa dia di sini?"

Rangga benar-benar terkejut begitu mengetahui, siapa orang yang bersembunyi di dalam kegelapan itu. Hampir tidak dipecayai penglihatannya sendiri. Tapi yang dilihat memang kenyataan. Pendekar Rajawali Sakti itu tidak dapat lagi menahan diri, dan langsung melesat cepat bagai kilat Hanya dua kali lesatan saja, Rangga sudah mencapai tempat persembunyian orang itu.

Jleg!
"He...

Betapa terkejutnya orang itu begitu tiba-tiba saja di depannya muncul Pendekar Rajawali Sakti. Tubuhnya sampai terlonjak melompat ke belakang beberapa tindak. Bola matanya membeliak lebar dan mulutnya ternganga, namun tak ada suara sedikit pun yang keluar. Sedangkan Rangga berdiri tegak dengan pandangan mata tajam, lurus menyoroti wajah orang itu.

"Ka..., ka..., Kakang...," tersendat dan gugup sekali orang itu.

"Apa yang kau lakukan di sini, Danupaksi? Tanya Rangga tajam.

"Aku.., Aku...," laki-laki muda yang ternyata memang Danupaksi itu tergagap menjawab pertanyaan Rangga.

Pucat pasi seluruh wajah pemuda itu, dan rasanya tidak sanggup membalas tatapan mata Pendekar Rajawali Sakti. Kepalanya tertunduk dalam, dan tubuhnya agak gemetar seperti pencuri yang kepergok. Rangga menghampiri adik tirinya itu, lalu membawanya ke tempat yang cukup terlindung. Dia tidak ingin kehadiran Danupaksi di Kedaton Kadipaten Bojong Picung ini diketahui orang lain. Rangga bisa menduga kalau kehadiran Danupaksi yang tidak disangka-sangka ini, pasti punya alasan tertentu dan bersifat amat pribadi.

"Sudah berapa lama kau berada di sini?" Tanya Rangga.

"Sehari setelah Kakang berangkat dari istana," sahut Danupaksi.

"Kau sudah melalaikan amanatku, Danupaksi."

"Aku ingat, Kakang. Tapi...," terputus ucapan Danupaksi.

"Tapi kenapa?" Desak Rangga ingin tahu.

"Maaf, Kakang. Ini masalah pribadi," pelan sekali suara Danupaksi. Kepalanya tertunduk dalam, tak sanggup membalas sorot mata kakak tirinya itu.

"Danupaksi.! Kau tahu apa yang sedang terjadi di sini, bukan? Dan kau juga tahu, kenapa aku berada di Kadipaten Bojong Picung ini. Kuharap kau jangan menambah-nambah persoalan lagi," tegas kata-kata Rangga.

"Aku tahu, Kakang. Tapi aku tidak bisa hanya berdiam diri di istana sambil mendengar kabar," kata Danupaksi seraya mengangkat kepalanya pelahan.

"Katakan, apa persoalan pribadimu," pinta Rangga

Danupaksi tidak langsung menjawab. Dirayapi nya wajah Pendekar Rajawali Sakti itu dalam kegelapan. Terdengar tarikan napas yang panjang disusul hembusan kuat. Rangga mengamati raut wajah adik tirinya itu. Sebelumnya, belum pernah Danupaksi terlihat begitu gundah, seakan-akan menyimpan beban berat yang sukar dipikul. Berbagai macam dugaan mengalir di benak Pendekar Rajawali Sakti, namun tidak ada satu pun terlintas pikiran buruk. Dia memang begitu percaya pada adik tirinya ini,

"Kau sudah tidak lagi menganggapku kakak, Danupaksi? Katakan, apa yang membuatmu datang ke sini?" desak Rangga.

"Onila," kata Danupaksi pelan. Begitu pelan suaranya sehingga hampir tidak terdengar.

"Onila...? Gadis penari itu maksudmu, Danupaksi? Ada apa dengannya?" Rangga memberondong berbagai macam pertanyaan. Benar-benar tidak dimengerti, apa masalahnya antara Danupaksi dengan Onila.

"Sebenarnya aku sendiri tidak percaya, Kakang. Tapi setelah kuselidiki...," kata-kata Danupaksi terputus. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya, disertai desahan panjang dan terasa begitu berat

"Katakan semua yang kau ketahui, Danupaksi, terdengar lembut suara Rangga.

Danupaksi tidak segera membuka suara, dan hanya memandang bola mata Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Seakan-akan hatinya hendak minta kekuatan untuk membuka mulutnya.

"Ada hubungan apa kau dengan Onila?" Tanya Rangga, setelah melihat Danupaksi hanya diam saja.

"Kakang...," desah Danupaksi hampir tidak terdengar suaranya.

"Sudah berapa lama kau kenal dengannya?" Tanya Rangga yang sudah begitu yakin kalau antara Danupaksi dan Onila punya hubungan yang tidak diketahui.

"Tiga bulan," sahut Danupaksi pelan.

"Kau mencintainya?" desak Rangga.

"Hmmmmmm."

"Entahlah, Kakang."

Rangga menepuk pundak adik tirinya itu, kemudian mengajaknya meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan berdampingan tanpa berkata-kata lagi. Danupaksi berjalan sambil menundukkan kepala. Sedangkan Rangga sempat melirik ke arah kamar Onila yang sudah gelap.

*******************

Pagi-pagi sekali Adipati Anggara sudah berdiri di depan pintu kamar Onila. Di belakangnya berdiri Rangga, Danupaksi, dan Diah Mardani serta tiga puluh orang prajurit Kadipaten Bojong Picung. Adipati Anggara memandang Rangga sejenak, kemudian mengetuk pintu kamar itu. Tak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar. Adipati itu segera memperkeras ketukan di pintu, tapi tetap tidak ada sahutan.

Rangga melangkah maju dan mendorong pintu itu. Pelahan pintu yang terbuat dari kayu jati berukir itu terkuak lebar. Semua yang ada di tempat itu jadi tercengang, karena keadaan kamar ternyata kosong. Adipati Anggara bergegas menerobos masuk ke dalam. Ketika dia membuka lemari, tak ada sepotong pakaian pun di dalam lemari itu.

"Bedebah!" geram Adipati Anggara.

"Periksa kamar lainnya!" perintah Rangga. Tanpa ada yang membantah Semua prajurit yang menunggu di luar kamar bergegas memeriksa kamar-kamar lainnya. Adipati Anggara keluar dari dalam kamar, tepat saat para prajurit datang memeriksa kamar-kamar lain. Mereka semua melaporkan kalau seluruh kamar dalam keadaan kosong. Tak ada seorang pun terlihat

"Danupaksi! Kerahkan sebagian prajurit, susul mereka ke Desa Kuripan!" perintah Rangga tegas.

"Baik, Kakang Prabu," sahut Danupaksi seraya memberi hormat.

Bergegas Danupaksi melangkah pergi sambil membawa beberapa prajurit yang ada. Kemudian, dikumpulkan sebagian prajurit, lalu bergegas berangkat menuju Desa Kuripan. Mereka semua berjalan kaki, kecuali Danupaksi yang datang membawa kuda. Sementara Rangga meminta Adipati Anggara untuk mengatur penjagaan di sekitar keraton.

"Kakang...!" panggil Diah Mardani ketika Rangga bergegas melangkah keluar.

Rangga menoleh sedikit, namun tidak menghentikan ayunan kakinya. Diah Mardani berlari-lari mengejar, dan mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau akan ke mana, Kakang?" Tanya Diah Mardani.

"Mengejar mereka, mungkin belum begitu jauh," sahut Rangga tanpa menghentikan ayunan kakinya.

"Aku ikut," pinta Diah Mardani.

"Kau diperlukan di sini, Diah."

"Tapi...."

"Tunggu Danupaksi kembali. Kalau mereka tidak ada di Desa Kuripan, kau bisa menyusulku ke Bukit Cangking bersama Danupaksi," ujar Rangga semakin mempercepat langkahnya.

"Ka...."

"Ini perintah!" potong Rangga cepat.

"Hamba, Gusti," buru-buru Diah Mardani memberi hormat dengan merapatkan kedua tangannya di depan hidung. Diah Mardani seakan-akan baru tersadar kalau Pendekar Rajawali Sakti itu adalah raja, sekaligus junjungannya yang harus dipatuhi segala perintahnya. Gadis itu langsung berhenti melangkah mengikuti Rangga yang tidak berhenti mengayunkan kakinya keluar.

Putri Adipati Anggara itu masih berdiri mematung memandangi punggung Rangga hingga lenyap di balik tembok. Dia masih saja berdiri mematung meskipun bayangan tubuh Pendekar Rajawali Sakti sudah tidak terlihat lagi. Pelahan-lahan sepasang kaki yang indah itu terayun melangkah. Terdengar suara tarikan napas panjang dan terdengar begitu berat

"Diah..."

"Oh!" Diah Mardani terkejut ketika mendengar panggilan dari belakang.

Gadis itu menoleh, dan tampak Adipati Anggara menghampiri. Ayunan kakinya lebar-lebar, seperti tergesa-gesa. Diah Mardani berhenti berjalan dan menunggu sampai ayahnya dekat. Dia kembali melangkah pelahan setelah laki-laki setengah baya itu berada di sampingnya.

"Kau lihat Rang..., eh! Gusti Prabu, Diah?" Tanya Adipati Anggara.

"Kakang Rangga pergi," sahut Diah Mardani.

"Kakang...?!" Adipati Anggara terkejut mendengar Diah Mardani menyebut kakang pada Rangga.

"Maksudku Gusti Prabu, Ayah," buru-buru Diah Mardani meralat ucapannya.

"Ke mana perginya?" Tanya Adipati Anggara tidak mempersoalkan kekeliruan anak gadisnya tadi.

"Entahlah. Katanya, akan mengejar mereka," sahut Diah Mardani masih bernada lesu.

Adipati Anggara merayapi raut wajah anak gadisnya itu. Sedangkan yang dipandangi seakan-akan tidak mengetahui, dan tetap saja berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Namun karena Adipati Anggara terus memandangi, gadis itu jadi jengah juga. Langkahnya terhenti. Segera dibalikkan tubuhnya membalas pandangan ayahnya. Untuk beberapa saat mereka hanya saling melemparkan pandangan dengan jalan pikiran masing-masing.

"Aku tahu apa yang merisaukan hatimu, Diah. Aku hanya minta kau bisa menyadari dirimu sendiri. Jangan berharap terlalu melambung jauh," ujar Adipati Anggara seraya menepuk pundak putrinya.

"Ayah...," hanya itu yang bisa keluar dari bibir mungil Diah Mardani. Gadis itu sudah bisa menebak, ke mana arah pembicaraan ayahnya ini.

"Dia seorang raja dan sudah mempunyai calon permaisuri meskipun masih belum jelas asal usulnya. Masih banyak pemuda yang sepadan denganmu," jelas Adipati Anggara lagi.

"Aku tidak ada apa-apa, Ayah. Sungguh...!" kilah Diah Mardani.

"Aku harap begitu, Diah. Jangan menambah-nambah kemelut lagi. Ayah tidak ingin membuat Gusti Prabu murka dan kecewa untuk kedua kali."

"Aku berjanji, Ayah," ucap Diah pelan.

Adipati Anggara tersenyum, lalu menepuk-nepuk pundak putrinya lembut Kemudian dia kembali berjalan meninggalkan gadis itu seorang diri. Tinggal Diah Mardani kembali tercenung memikirkan pembicaraan singkat namun penuh arti itu.

"Yaaah.... Aku memang sudah berharap terlalu banyak. Ah, Kakang..., kenapa kita dipertemukan dalam keadaan seperti ini? Kenapa kau bukan seorang pendekar saja? Seandainya kau hanya pemuda desa, aku tidak peduli. Tapi..., ahhh...," Diah Mardani menggeleng-gelengkan kepalanya.

Diah Mardani tidak bisa lagi mendustai dirinya sendiri. Hatinya sudah tergetar akan ketampanan, kegagahan dan tindak-tanduk Pendekar Rajawali Sakti. Namun harus disadari kalau pemuda yang sudah menyemai benih cinta di hatinya itu tidak akan mungkin bisa dimiliki. Terlalu jauh jurang pemisah yang menghalangi, tak mungkin dapat diseberangi. Dan itu sangat disadari. Namun tidak mudah baginya untuk menutup kembali pintu hati yang sudah terkuak tanpa disadari itu.

"Kakang..., mungkinkah aku hanya dapat mengenang dan bermimpi saja? Tidakkah Hyang Widi membuka mata untuk hati kita berdua? Oh, Dewata Yang Agung...," desah Diah Mardani lirih. Begitu pesannya seakan-akan hanya desiran angin yang terdengar. Halus dan lembut sekali.

*******************

Sementara itu jauh di luar perbatasan Kadipaten Bojong Picung, tampak Danupaksi dan para prajurit kadipaten yang menyertainya tengah bertarung sengit membendung serangan orang-orang yang semuanya mengenakan baju dan cadar tipis merah.

Tampak sekali kalau Danupaksi begitu kerepotan, karena kemampuan para prajurit kadipaten yang menyertainya begitu rendah. Mereka seperti tidak mampu membendung gempuran orang-orang berbaju merah yang wajahnya tertutup cadar. Danupaksi seperti bertarung sendiri melawan satu pasukan prajurit terlatih. Peluh sudah bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, namun serangan orang-orang itu tidak ada hentinya.

Sudah lebih dari separuh prajurit yang tergeletak tak bernyawa lagi. Darah bersimbah membasahi bumi. Sedangkan dari pihak lawan, hanya beberapa saja yang menggelimpar berlumuran darah. Danupaksi benar-benar cemas melihat keadaan para prajurit yang semakin kedodoran menahan gempuran orang-orang tak dikenal ini. Jerit kematian terus terdengar membahana ditingkahi denting senjata beradu, dan teriakan-teriakan pertarungan.

Mundur! Selamatkan diri kalian..!" seru Danupaksi keras sambil mengibaskan cepat pedangnya.

Danupaksi terus berteriak-teriak memerintahkan para prajurit Kadipaten Bojong Picung agar mundur. Sedangkan dia sendiri sibuk membendung gempuran orang-orang berbaju merah yang nampaknya tidak ingin membiarkan para prajurit bisa bernapas lagi esok hari. Mereka terus saja menggempur dengan brutal.

Tidak mudah bagi Danupaksi untuk menyelamatkan para prajurit Kadipaten Bojong Picung. Mempertahankan diri dari gempuran lawan saja sudah memaksanya memeras keringat. Dalam pertempuran seperti ini, tidak mungkin digunakan ilmu kesaktian. Lagi pula orang-orang berbaju merah itu tidak memberi kesempatan untuk merapalkan ajian. Danupaksi terpaksa hanya menggunakan jurus-jurus untuk mempertahankan diri sambil berusaha melindungi para prajurit yang semakin berkurang jumlahnya.

"Mundur...! Mundur...!" teriak Danupaksi memberi perintah.

Semua prajurit berusaha bergerak mundur dan menyelamatkan diri. Namun, orang-orang berbaju merah itu terus saja mendesak dan tidak memberi kesempatan. Danupaksi semakin geram, dan langsung diperhebat jurus-jurusnya. Pedangnya berkelebatan cepat diimbangi gerakan-gerakan lincah. Namun lawannya seperti tidak ada habis-habisnya, meskipun tidak sedikit yang menggelepar bersimbah darah terbabat pedang adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu.

Namun pada saat yang semakin kritis, mendadak saja orang-orang berbaju merah tiba-tiba berpelantingan ke udara. Jerit pekik melengking terdengar menyayat saling susul. Pola serangan mereka mendadak saja jadi tidak beraturan. Suasana semakin bertambah kacau dan tidak menentu.

"Mundur...!" teriak Danupaksi memberi perintah pada para prajurit yang dibawanya.

Kesempatan yang baik ini memang dimanfaatkan Danupaksi untuk menyelamatkan sisa prajurit Kadipaten Bojong Picung yang masih bertahan hidup. Tanpa menunggu waktu lagi, para prajurit itu segera bergerak mundur. Danupaksi sendiri bergegas melompat keluar dari arena pertarungan. Tampak orang-orang berbaju merah tengah terpusat perhatiannya pada sesosok bayangan putih yang berkelebat cepat menyambar-nyambar bagai kilat

"Kakang..," desis Danupaksi begitu mengenali bayangan putih yang tengah mengamuk mengobrak-abrik orang-orang berbaju merah.

"Suit..!" Tiba-tiba saja terdengar siulan keras melengking tinggi. Seketika itu juga orang-orang berbaju merah yang mengenakan cadar berlompatan meninggalkan tempat pertempuran. Begitu cepat dan mendadak sekali, sehingga dalam waktu sebentar saja semuanya sudah pergi. Tinggal seorang pemuda berbaju rompi putih berdiri tegak di antara mayat-mayat bergelimpangan berlumuran darah. Danupaksi bergegas menghampiri.

"Kakang...!" seru Danupaksi Pemuda berbaju rompi putih yang ternyata Rangga berpaling seraya memutar tubuhnya. Danupaksi bergegas membungkuk memberi hormat pada kakak tirinya itu. Bagaimanapun juga Rangga adalah Raja Karang Setra, walaupun kesehariannya adalah pendekar.

"Bagaimana kau bisa bentrok dengan mereka, Danupaksi?" Tanya Rangga.

"Tiba-tiba saja mereka menghadang, Kakang. Mereka tidak mengatakan apa-apa, dan langsung mengepung dan menyerang tanpa memberi kesempatan. Oh, aku malu.... Malu sekali, Kakang. Aku tidak mampu melindungi para prajurit," keluh Danupaksi.

"Bukan kesalahanmu, Danupaksi. Kemampuan mereka memang lebih tinggi daripada prajurit kadipaten. Inilah salah satu kelemahan Adipati Anggara yang tidak mempedulikan kemampuan prajuritnya," jelas Rangga.

"Ya..., mereka memang bukan prajurit Karang Setra yang tangguh dan berkemampuan tinggi," desah Danupaksi

"Sebaiknya kau perintahkan mereka pulang, Danupaksi. Biar kita saja yang mengejar pemberontak-pemberontak itu," tegas Rangga memberi perintah dengan halus.

"Baik, Kakang," sahut Danupaksi seraya memberi hormat.

Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang hanya Danupaksi yang tidak pernah meninggalkan sikapnya yang seperti itu. Tapi tidak demikian Cempaka. Gadis itu begitu manja dan tidak menganggap Rangga sebagai raja kecuali di dalam istana. Danupaksi bergegas memerintahkan sisa-sisa prajurit Kadipaten Bojong Picung untuk kembali ke keraton, setelah itu kembali menemui Rangga. Setelah para prajurit itu bergerak kembali ke keraton, Rangga dan Danupaksi bergegas berlari cepat mengejar orang-orang berbaju merah. Tentu saja ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan.

*******************

DELAPAN

Hampir saja Danupaksi jatuh pingsan ketika Rangga memanggil Rajawali Putih. Adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu seperti berada di alam mimpi melihat seekor burung rajawali raksasa yang bagai bukit tingginya. Akalnya masih belum bisa mempercayai meskipun sudah mengangkasa, duduk di punggung rajawali raksasa sahabat Pendekar Rajawali Sakti itu. Sedangkan Rangga sendiri tidak mempedulikan. Perhatiannya tercurah penuh, untuk mencari letak sarang gerombolan pemberontak yang telah gagal dengan rencana pertamanya menggulingkan Adipati Anggara secara halus.

"Itu dia, Rajawali! Turun di balik bukit sana!" seru Rangga tiba-tiba.

"Khraghk!"

Rajawali putih raksasa menukik turun ke balik sebuah bukit kecil yang ditunjuk Rangga. Belum juga burung raksasa itu mencapai tanah, Rangga sudah melompat turun. Sedangkan Danupaksi baru turun setelah rajawali raksasa itu mencapai tanah. Pemuda itu masih memandangi disertai perasaan tidak percaya dan seperti mimpi.

"Kau boleh pergi, Rajawali. Temui Dewa Bayu dan katakan aku membutuhkannya di sini," kata Rangga.

"Khraghk!"

Rajawali putih mengepakkan sayap lebarnya, kemudian dengan sekali lesatan saja sudah membumbung tinggi di angkasa. Danupaksi memandangi kepergian burung raksasa itu hingga lenyap di balik awan.

"Ayo...," ajak Rangga seraya menepuk pundak adik tirinya itu.

"Oh!" Danupaksi tergagap.

"Ada apa, Danupaksi?" Tanya Rangga melihat sikap adik tirinya yang seperti orang bodoh.

"Oh tidak... tidak apa-apa, Kakang," sahut Danupaksi

"Suatu saat kau akan lebih mengenalnya, Danupaksi," kata Rangga seraya tersenyum. Dia mengerti, kenapa Danupaksi bersikap seperti itu.

"Sejak kapan Kakang punya tunggangan begitu?" Tanya Danupaksi seraya mengayunkan kakinya mengikuti langkah Pendekar Rajawali Sakti yang sudah lebih dahulu berjalan.

Rangga tidak langsung menjawab, tapi terus saja berjalan. Pertanyaan Danupaksi hanya dijawab lewat senyuman saja. Kemudian kedua pemuda itu sudah berjalan mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Kalau saja mau, Rangga bisa meninggalkan Danupaksi karena ilmu meringankan tubuhnya lebih tinggi dari yang dimiliki Danupaksi. Tapi itu saja sudah membuat Danupaksi terpaksa mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengimbangi ilmu yang dimiliki Pendekar Rajawali Sakti.

"Kenapa berhenti di sini, Kakang?" Tanya Danupaksi begitu Rangga berhenti

"Kita tunggu di sini," sahut Rangga.

"Apakah mereka akan lewat tempat ini?" Tanya Danupaksi lagi.

"Perkiraan ku begitu, Danupaksi," sahut Rangga.

Danupaksi tidak bertanya lagi, lalu memandang lurus ke satu arah. Tanpa disadari, Rangga memperhatikannya sejak tadi. Pendekar Rajawali Sakti itu melangkah mundur menghampiri sebatang pohon yang cukup rindang. Perhatiannya masih tertuju pada Danupaksi yang masih tetap berdiri memandang ke satu arah tanpa berkedip.

"Apa yang kau pikirkan, Danupaksi?" Tanya Rangga.

"Oh...!" Danupaksi tersentak kaget

"Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku mengerti kau terjebak sehingga tidak menyadari apa yang kau perbuat," kata Rangga lembut nada suaranya.

api, Kakang. Karena kesalahanku lah Keris Kyai Lumajang jatuh ke tangan manusia-manusia setan itu!" Agak tertekan nada suara Danupaksi.

Tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan dan kelalaian, Danupaksi. Apalagi kau masih muda dan kurang berpengalaman dalam menghadapi seorang wanita yang penuh tipu daya licik," kata Rangga bijaksana.

"Bagaimanapun aku merasa bersalah, Kakang. Aku harus merebut kembali Keris Kyai Lumajang dan membunuh Onila!" tegas kata-kata Danupaksi.

"Bukankah kau mencintai gadis itu, Danupaksi?" pancing Rangga.

Tidak!" sahut Danupaksi tegas.

"Justru aku membencinya karena telah menipu dan memperdayaiku, Kakang."

"Onila melakukan hal itu karena mendapat tekanan dari Karsini, atau mungkin ada orang lain yang lebih berpengaruh di belakangnya. Sedangkan Keris Kyai Lumajang sekarang berada di tangan Karsini, bukan pada Onila atau siapa pun. Terus terang, aku sendiri sebenarnya juga terkejut begitu melihat Keris Kyai Lumajang berada di tangan Karsini. Hanya saja aku tidak mau gegabah," papar Rangga.

"Aku merasa berdosa sekali tidak bisa menjaga pusaka Eyang Resi Wanapati, Kakang," lirih suara Danupaksi

"Sudahlah, Danupaksi. Bukan dengan keluhan atau penyesalan untuk mendapatkan Keris Kyai Lumajang kembali. Tapi dengan perbuatan dan tekad yang bulat," Rangga membakar semangat adik tirinya itu.

"Kau benar, Kakang. Apa pun yang terjadi, Keris Kyai Lumajang peninggalan guruku harus kurebut kembali," tekad Danupaksi.

Rangga tersenyum melihat Danupaksi kembali bersemangat. Mendadak saja Pendekar Rajawali Sakti itu melompat cepat bagai kilat menyambar Danupaksi dan membawanya pergi dari tempat itu. Tentu saja hal ini mengejutkan Danupaksi. Tapi, pemuda itu belum bisa membuka suara begitu Rangga tahu-tahu sudah berpijak pada sebatang dahan pohon bersamanya. Dan belum lagi Danupaksi bertanya, matanya sudah terbentur pada satu rombongan kecil berwarna merah di balik lebatnya pepohonan lereng bukit ini.

*******************

"Kendalikan dirimu," cegah Rangga berbisik sambil mencekal tangan Danupaksi.

Danupaksi membatalkan niatnya untuk mencegat rombongan yang seluruhnya mengenakan baju merah itu, Mereka sudah demikian dekat. Bahkan sebagian sudah berada di bawah pohon tempat Rangga dan Danupaksi berada. Dan sekarang sudah ada yang melewatinya. Danupaksi hanya bisa memandangi sambil menahan napas. Gelegak di dadanya begitu mengguruh melihat orang yang berjalan paling depan. Ada tiga orang. Yang dua orang wanita muda dan cantik, sedangkan seorang lagi adalah laki-laki berusia lanjut Rambut dan janggutnya telah memutih semua.

Rangga dan Danupaksi tetap berada di atas pohon tanpa memperdengarkan suara sedikit pun. Mereka mempergunakan ilmu meringankan tubuh agar dahan pohon yang dipijak tetap bergoyang tertiup angin tanpa menimbulkan gerakan mencurigakan sedikit pun. Sampai orang-orang berbaju merah yang jumlahnya lebih dari lima puluh itu lewat, mereka masih tetap berlindung pada daun-daun pohon yang lebat itu.

"Hup...!"

Ringan sekali Rangga melompat turun dari atas pohon. Danupaksi bergegas mengikuti. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Danupaksi sudah mencapai tingkat cukup tinggi, sehingga mampu mendarat tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

"Bagaimana sekarang, Kakang?" Tanya Danupaksi.

"Aku tahu ke mana mereka pergi," sahut Rangga. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu berlari cepat diikuti Danupaksi yang langsung mengerahkan penuh Ilmu meringankan tubuhnya. Dia tahu, siapa dan sampai di mana tingkat kepandaian Pendekar Rajawali Sakti itu. Maka kini Danupaksi tidak tanggung-tanggung lagi mengimbanginya, jika tidak ingin tertinggal jauh.

Mereka terus berlari cepat menerobos lebatnya hutan di Lereng Bukit Cangking. Rangga sengaja memilih jalan memutar, karena sudah merasa pasti tujuan orang-orang berbaju merah yang hendak memberontak itu. Sedangkan Danupaksi hanya mengikuti saja dari belakang, dan berusaha agar tidak tertinggal jauh.

"Mereka sudah tertinggal jauh di belakang, Kakang," kata Danupaksi begitu bisa mensejajarkan langkahnya di samping Rangga.

"Sebentar lagi," sahut Rangga terus saja berlari cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh.

Rangga baru berhenti berlari setelah sampai di depan sebuah gua yang hampir tertutup semak belukar. Hanya sekali lesatan saja, Pendekar Rajawali Sakti itu mencapai bagian atas gua itu.

"Hup!"

Danupaksi bergegas mengikuti, lalu berputaran di udara dua kali. Dan dua kali pula ditotoknya ranting pohon untuk membantu tenaga lesatan agar mencapai bagian atas gua itu. Ringan sekali kakinya mendarat di samping Pendekar Rajawali Sakti yang sudah mulai bergerak lagi.

"Kau terlalu banyak bersenang-senang di istana, Danupaksi," tegur Rangga tanpa mengurangi kecepatan ayunan langkahnya.

Danupaksi tidak menyahut sedikit pun. Memang diakui kalau jarang berlatih sejak tinggal di Istana Karang Setra. Kini pemuda itu baru merasakan kalau kemampuannya menurun. Tapi karena tidak ingin terlihat lemah, dia terus saja mengikuti Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga memberi isyarat dengan merentangkan tangannya sambil berhenti berjalan. Danupaksi bergegas menghampiri dan berdiri agak merunduk di samping Rangga yang juga merunduk melindungi diri di dalam semak. Hampir Danupaksi tidak percaya kalau gua yang tadi dilihatnya ternyata tembus ke sebuah tempat yang terlindung dinding-dinding batu. Tempat itu bagai sebuah lembah kecil. Hanya dari gua itulah jalan masuknya.

"Inikah tempat persembunyian mereka, Kakang?" Tanya Danupaksi setengah berbisik.

"Benar," sahut Rangga.

"Hebat sekali. Cocok untuk sarang penyamun," puji Danupaksi tulus.

Rangga mengedarkan pandangannya, meneliti keadaan lembah kecil itu. Tidak mudah untuk mencapai ke sana kalau tidak melalui gua yang hanya satu-satunya di Puncak Bukit Cangking ini. Lembah itu dikelilingi tebing batu curam dan berlumut tebal. Seorang yang berilmu tinggi sekalipun tidak akan gegabah untuk menuruninya. Otak Rangga terus berputar mencari jalan agar bisa masuk tanpa melalui gua.

Memang tidak terlalu dalam lembah itu, namun sukar dimasuki. Rangga berpaling memandang Danupaksi. Baginya tidak ada masalah untuk menuruninya, tapi tidak demikian dengan Danupaksi. Lembah itu kelihatan sunyi. Dan rumah-rumah yang berdiri juga seperti tidak berpenghuni. Namun itu bukan berarti bisa seenaknya saja memasukinya. Kesunyian merupakan jebakan sangat ampuh, bagi orang yang kurang waspada.

"Aku akan menunggu di sini, Kakang," kata Danupaksi bisa mengerti arti pandangan Rangga.

"Kau bisa kembali ke mulut gua, Danupaksi. Hadang siapa saja yang mencoba keluar nanti," perintah Rangga.

"Lalu, bagaimana mereka yang hendak masuk?" Tanya Danupaksi.

"Biarkan saja masuk," sahut Rangga.

"Apa tidak sebaiknya dihadang saja, Kakang?" Usul Danupaksi.

"Jangan tolol, Danupaksi!" Sentak Rangga.

Danupaksi langsung diam.

"Cepatlah pergi sebelum mereka sampai. Kau masih bisa bersuara burung, bukan?" ujar Rangga.

"Masih, Kakang," sahut Danupaksi.

"Tirukan suara burung kalau mereka sampai," pinta Rangga.

"Baik, Kakang." Danupaksi bergegas pergi dari tepi lembah di Puncak Bukit Cangking ini.

Sementara Rangga kembali mengamati keadaan di dalam lembah sekali lagi. Kemudian dituruninya tebing lembah yang berbatu curam dan berlumut licin. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh ditambah jurus yang pernah diajarkan Satria Naga Emas, Rangga menuruni tebing itu. Memang tidak begitu sukar bagi Pendekar Rajawali Sakti yang sudah menguasai jurus-jurus 'Naga Emas' yang beraneka macam dan kegunaannya. (Untuk lebih jelas, baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam kisah Asmara Maut)

*******************

"Hup!" Rangga melompat ringan begitu mendekati dasar lembah di Puncak Bukit Cangking. Begitu ringannya sehingga tak terdengar suara sedikit pun saat kakinya menjejak tanah berumput kering. Namun belum juga Pendekar Rajawali Sakti itu bisa berdiri tegak, mendadak....

Wut! Sing...!

"Uts...!" Sebuah ruyung kecil meluruk deras bagai kilat mengancam tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Cepat sekali pemuda berbaju rompi putih itu memiringkan tubuhnya sedikit seraya mengibaskan tangannya ke depan dada.

Tap! Ruyung kecil itu ditangkap dengan dua jari Pendekar Rajawali Sakti. Dan secepat itu pula Rangga mengebutkan tangannya, melemparkan ruyung itu ke arah datangnya tadi.

Slap! Sebuah bayangan berkelebat ke udara tepat saat ruyung itu menembus sebuah bilik rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Tahu-tahu di depan Rangga sudah berdiri seorang laki-laki tua mengenakan jubah dan ikat kepala berwarna merah. Rambut dan janggutnya sudah memutih semua. Tangannya menggenggam sebatang tongkat yang tak berbentuk sama sekali. Rangga menggeser kakinya sedikit kesamping. Kedua matanya begitu tajam memperhatikan laki-laki tua di depannya.

"He he he.... Rupanya kau memang hebat, Anak Muda. Pantas saja semua muridku tidak ada yang mau berhadapan denganmu," kata laki-laki tua berjubah merah itu.

"Siapa kau, Orang Tua?" Tanya Rangga.

"Kau memang tidak pernah tahu tentang diriku, Anak Muda. Tapi aku tahu siapa dirimu. He he he...!" laki-laki tua berjubah merah itu terkekeh.

Suara tawanya begitu kering dan tidak sedap terdengar di telinga. Digeser kakinya ke samping beberapa tindak, namun tatapan matanya begitu tajam menusuk. Sedangkan Rangga masih berdiri kokoh dan kelihatannya begitu tenang. Perhatiannya juga tidak lepas pada laki-laki tua itu. Gerakan kakinya ketika menggeser begitu ringan. Jelas kalau laki-laki tua berjubah merah itu memiliki kepandaian yang tidak bisa dipandang enteng.

"Aku kagum akan kepekaanmu, Anak Muda. Sayang sekali kita harus bertemu secepat ini, tidak seperti yang kuharap dan kurencanakan," kata laki-laki tua itu lagi

"Kisanak! Siapa kau ini sebenarnya?" Tanya Rangga lagi "Kenapa kau ingin memberontak pada Kerajaan Karang Setra?"

"He he he.... Rupanya kau ingin tahu, Rangga. Dengarkan baik-baik. Aku bernama Ki Jagatnata, kakak ibu adik tirimu. Kau puas...?" laki-laki tua itu menjelaskan jati dirinya.

"Oh...," Rangga mendesah.

Sungguh tidak disangka kalau laki-laki tua ini adalah paman tirinya juga. Dan sekarang baru dimengerti permasalahannya. Rupanya Ki Jagatnata tidak senang kemenakannya tersingkir dari Karang Setra. Maka dia hendak membalas dendam dengan mengacaukan Kerajaan Karang Setra. Pilihannya memang tepat. Dia memulai dari Kadipaten Bojong Picung yang begitu lemah dalam segala hal, tapi sangat makmur dan kaya akan hasil bumi.

"Aku akan memberimu kesempatan hidup jika kau bersedia turun tahta dan memberikannya pada kemenakanku yang berhak atas Karang Setra!" tegas Ki Jagatnata mulai terdengar dingin nada suaranya.

"Siapa kemenakanmu itu?" Tanya Rangga.

"Onila," sahut Ki Jagatnata.

"Oh...," lagi-lagi Rangga mendesah.

Kini Rangga benar-benar mengerti. Ternyata Ki Jagatnata sudah mempersiapkan hal ini sebelumnya secara matang. Apalagi seluk beluk keluarga Istana Karang Setra diketahui betul sampai ke akar-akarnya. Rupanya dia juga mengetahui tentang kehebatan Pedang Pusaka Pendekar Rajawali Sakti, sehingga harus menandinginya dengan Keris Kyai Lumajang yang begitu ampuh dan sukar dicari tandingannya. Untuk mendapatkan keris itu, Onila berhasil memperdaya Danupaksi yang memegang keris peninggalan mendiang gurunya. Suatu rencana rapi, tapi sayang sudah tercium sebelum melangkah jauh.

"Hanya ada dua pilihan, Rangga. Turun dari tahta, atau mampus di sini!" Ki Jagatnata memberikan pilihan yang tidak mudah.

"Aku tidak memilih keduanya, Ki Jagatnata. Bahkan aku tidak akan memberikan Karang Setra begitu saja padamu, juga pada yang tidak berhak!" Tegas jawaban Rangga.

"Kalau begitu, bersiaplah untuk mati, Rangga!" Setelah berkata demikian, Ki Jagatnata langsung memutar cepat tongkatnya di depan dada. Rangga sampai berjingkrak beberapa langkah ke belakang. Putaran tongkat itu menimbulkan deru angin dahsyat bagai topan, ditambah lagi pancaran hawa panas yang menyengat.

"Hmmm.... Kau langsung memulai dengan ilmu kesaktian, Ki Jagatnata," gumam Rangga.

"Menghadapimu, tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak dan percuma!" sahut Ki Jagatnata.

Laki-laki tua itu tiba-tiba saja menghentakkan tongkatnya ke depan. Seketika itu juga dari ujung tongkat yang tumpul memercik bola-bola api yang langsung meluncur ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Hiyaaa...!" Secepat kilat Rangga melompat ke samping menghindari bola-bola api itu. Ledakan menggelegar terdengar dahsyat ketika bola-bola api itu menghantam tebing batu yang mengelilingi lembah ini. Belum juga Rangga bisa berdiri tegak, bola-bola api itu sudah datang kembali dengan cepatnya. Terpaksa Rangga berjumpalitan menghindari bola-bola apt itu.

Beberapa kali Rangga berhasil menghindari bola-bola api yang keluar dari ujung tongkat Ki Jagatnata. Dan pada serangan yang entah ke berapa kalinya, Pendekar Rajawali Sakti itu tidak menghindar sama sekali. Dia berdiri tegak di atas sebongkah batu besar yang menjorok keluar dari dinding tebing.

Glaaar...! Ledakan keras kembali menggelegar begitu bola api menghantam batu yang dipijak Rangga. Asap tebal mengepul menghalangi pandangan mata. Ki Jagatnata tersenyum menyangka kalau Pendekar Rajawali Sakti sudah hancur bersama batu yang dipijaknya. Namun senyumnya langsung lenyap.

"Edan...!" dengus Ki Jagatnata terkejut.

Dari kepulan asap dan debu, Rangga meluncur ke luar dari atas sebongkah batu yang dipijaknya tadi. Begitu cepatnya meluncur, sehingga membuat Ki Jagatnata terperangah sesaat Tapi buru-buru dibanting tubuhnya ke tanah dan bergulingan beberapa kali. Secepat laki-laki tua itu melompat berdiri, secepat itu pula kembali melepaskan bola apinya.

"Hiyaaa...!" "Hup!"

Rangga melentingkan tubuhnya ke udara dan berputaran beberapa kali. Terdengar ledakan keras di belakang. Batu yang dipijaknya hancur berkeping-keping terhantam bola api yang dilepaskan Ki Jagatnata. Tepat pada saat itu, Rangga sudah mendarat manis di tanah, sekitar tiga batang tombak jauhnya dari Ki Jagatnata.

"Phuih! Hiyaaat..!" Bukan main marahnya laki-laki tua berjubah merah itu melihat Rangga berdiri tegak bertolak pinggang.

"Terimalah aji pamungkas ku, Pendekar Rajawali Sakti! Hiyaaat!"

Rangga masih berdiri tegak tak bergeming. Segera dirapatkan kedua tangannya di depan dada. Kemudian pelahan kedua tangannya naik ke atas kepala, lalu pelahan turun hingga sampai ke pinggang. Tepat pada saat Ki Jagatnata melompat dengan jari-jari terkembang, Rangga merentangkan tangannya yang sudah terselimut cahaya biru bagai bola.

"Hiyaaa...!" Ki Jagatnata menghujamkan jari-jari tangannya yang membara bagai terbakar ke dada Pendekar Rajawali Sakti.

Pada saat yang sama, Rangga mencengkeram pundak laki-laki tua itu kuat-kuat. Cepat sekali sinar biru menjalar menyelimuti seluruh tubuh Ki Jagatnata, Pendekar Rajawali Sakti itu mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma yang semakin disempurnakan tingkatannya.

"Aaakh...!" tiba-tiba saja Ki Jagatnata berteriak keras.

Tubuh laki-laki tua itu menggeliat-geliat, berusaha melepaskan diri. Namun semakin kuat tenaga dikerahkan semakin kuat pula tenaganya tersedot. Darah mulai mengucur dari hidung dan sudut matanya. Seluruh rongga mulutnya sudah dipenuhi darah yang menetes keluar. Ki Jagatnata semakin keras menggeliat.

"Hiyaaa...!" tiba-tiba saja Rangga berteriak keras. Mendadak dilepaskan cengkeraman tangannya, dan begitu cepat dikibaskan tangan kanannya menghantam kepala Ki Jagatnata.

Prak! Ki Jagatnata tak bisa lagi bersuara. Kepalanya hancur berantakan menyemburkan darah segar. Hanya sesaat laki-laki tua itu mampu berdiri tegak, kemudian langsung roboh dan tewas seketika. Rangga melompat mundur dua tindak. Dipandanginya tubuh yang terbujur tak bernyawa lagi. Darah terus mengalir dari kepala yang hancur berantakan.

"Maaf, aku terpaksa membunuhmu," ucap Rangga pelan.

Pendekar Rajawali Sakti itu bergegas melompat ke mulut gua yang menjadi penghubung lembah ini dengan luar. Cepat sekali gerakan Pendekar Rajawali Sakti itu, dan terus menembus lorong gua yang gelap dan tidak begitu panjang. Sebentar saja Rangga sudah sampai di mulut gua lainnya. Dan betapa terkejut hatinya begitu melihat di depan sana terjadi pertarungan sengit.

Sepasang bola mata Pendekar Rajawali Sakti itu semakin terbeliak lebar begitu mengenali siapa yang tengah bertarung itu. Mereka adalah orang-orang berbaju merah yang akan memberontak terhadap Kerajaan Karang Setra dengan alasan masing-masing. Dan yang sekarang mereka hadapi adalah para prajurit Karang Setra. Tampak Danupaksi tengah bertarung sengit. Dan di dekatnya.... Ini yang membuat Rangga hampir tidak percaya.

"Pandan Wangi..," desis Rangga. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu langsung melompat terjun dalam kancah pertempuran. Munculnya Pendekar Rajawali Sakti ternyata merupakan api semangat bagi para prajurit Kerajaan Karang Setra yang langsung dipimpin Pandan Wangi. Tentu saja hal ini membuat lawannya jadi kalang kabut. Mereka jadi tidak menentu, dan sebagian malah berusaha melarikan diri.

"Berhenti...!" seru Rangga tiba-tiba dengan suara lantang disertai pengerahan tenaga dalam sangat tinggi.

Seketika itu juga pertarungan terhenti. Para prajurit Karang Setra bergegas membentuk lingkaran mengepung daerah ini. Sedangkan orang-orang berbaju merah yang terperangkap dalam kepungan, menjadi kehilangan semangat. Danupaksi dan Pandan Wangi bergegas menghampiri Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Menyerahlah kalian! Tidak ada lagi pemimpin kalian di sini!" lantang suara Rangga.

Orang-orang berbaju merah itu saling berpandangan satu sama lain. Sadar kalau tidak ada lagi yang memimpin, segera dijatuhkan senjata mereka masing-masing. Rangga memberi isyarat pada para prajurit Karang Setra yang segera bergerak meringkus mereka.

"Hmmm..., di mana Onila dan Karsini?" tanya Rangga.

"Kak Pandan berhasil membunuh Karsini, Kakang. Tapi Onila berhasil kabur," jelas Danupaksi memberitahu.

Rangga tidak bertanya lagi, lalu memandang berkeliling. Cukup banyak juga mayat yang bergelimpangan. Di antara mayat-mayat itu terlihat mayat Ki Jawura dan para penabuh nayaga serta beberapa wanita penari. Mereka semua sebenarnya adalah pengikut Ki Jagatnata yang menyamar jadi rombongan penari dan menyusup ke Kadipaten Bojong Picung. Rangga menatap Pandan Wangi yang berdiri di sampingnya.

"Bagaimana kau bisa sampai ke sini, Pandan?" Tanya Rangga.

"Dewa Bayu yang membawaku ke sini," sahut Pandan Wangi diiringi senyuman manisnya.

Rangga hanya tersenyum getir. Dia memang telah meminta Rajawali Putih untuk memanggil Dewa Bayu, tapi sama sekali tidak teringat kalau Dewa Bayu berada di istal istana. Dan Pandan Wangi yang sudah mengetahui semua ini tentu tidak mengalami kesulitan lagi. Mudah baginya mencapai Bukit Cangking ini, karena hanya kurang dari setengah hari bisa dicapai dari Karang Setra.

"Kau akan mengejar Onila, Danupaksi?" Tanya Rangga penuh arti.

"Jika Kakang mengijinkan," sahut Danupaksi.

"Kenapa begitu?"

"Keris Kyai Lumajang sudah kudapatkan kembali, dan aku tidak peduli dengannya," sahut Danupaksi seraya menunjukkan Keris Kyai Lumajang yang sudah berada di pinggangnya.

"Aku memberi kebebasan padamu, Danupaksi."

erima kasih, Kakang. Pengejaran itu akan kulakukan setelah aku membereskan pemberontak-pemberontak ini," jelas Danupaksi.

"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya cepat bawa mereka ke Karang Setra atau ke Kadipaten Bojong Picung. Uruslah mereka tanpa aku harus turun tangan, Danupaksi. Dan jika hendak mengejar Onila, lakukanlah atas namamu sendiri," kata Rangga bisa memaklumi perasaan adik tirinya ini.

Terima kasih, Kakang," ucap Danupaksi.

Danupaksi bergegas memerintahkan para prajurit yang dibawa Pandan Wangi untuk menggiring para pemberontak yang menyerah. Adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu kemudian menunggang kudanya. Sedangkan Rangga dan Pandan Wangi masih berada di tempat itu, di samping kuda masing-masing. Mereka memandangi Danupaksi yang berkuda memimpin para prajuritnya menggiring para tawanan yang sudah terbelenggu.

"Apa sebenarnya yang terjadi di sini, Kakang?" Tanya Pandan Wangi.

"Nanti aku ceritakan. Yuk...?!"

Pandan Wangi mengangkat pundak, kemudian naik ke punggung kudanya. Rangga juga melompat naik ke punggung kuda hitam. Sebentar mereka saling berpandangan, kemudian menjalankan kuda pelahan-lahan meninggalkan Puncak Bukit Cangking ini. Pandan Wangi menagih kembali keingintahuannya, tapi Rangga masih belum bersedia bercerita. Dan ini membuat Pandan Wangi jadi penasaran, tapi tidak mendesak lagi.

SELESAI

EPISODE SELANJUTNYA: SANG PENAKLUK
Thanks for reading Penari Berdarah Dingin I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »