Manusia Bertopeng Hitam

Cerita Silat Pendekar Rajawali Sakti
Karya Teguh S
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Episode
Manusia Bertopeng Hitam


Pendekar Rajawali Sakti

SATU

UDARA malam itu terasa begitu dingin menggigit tulang. Hujan deras yang mengguyur bumi Desa Malayasati hampir seharian tadi tak mampu menguak gelapnya langit yang tertutup kabut tebal. Orang-orang pun enggan keluar rumah. Kecuali sesosok tubuh berpakaian serba hitam yang tengah melangkah ringan di jalanan yang sepi dan becek penuh genangan air.

Sepasang kaki yang tengah melangkah itu terayun ringan bagai tak menapak tanah becek. Langkah kakinya nyaris tak terdengar sedikit pun, Di depan sebuah rumah besar berhalaman luas dengan tembok tinggi yang mengelilinginya, sepasang kaki itu menghentikan langkahnya. Tampak oleh si empunya sepasang kaki itu pintu pagar yang tertutup rapat. Pandangannya lalu terhenti pada dua orang yang meringkuk tertidur di lantai beranda.

Mendadak sesosok tubuh yang berpakaian serba hitam itu melenting ke udara, berputar dua kali, lalu meluruk dengan cepat ke arah dua orang yang ada di hadapannya. Begitu kakinya menyentuh lantai, tangannya bergerak cepat dan menyambarnya. Kedua orang itu belum sempat menyadari keadaan, mereka hanya sempat mengeluh pendek, lalu roboh dengan kepala pecah.

"Hmm…." sesosok tubuh berpakaian serba hitam itu menggumam pelan.

Sepasang kakinya yang terbalut kain hitam ketat, kembali melangkah ringan melintasi beranda depan yang hanya diterangi sebuah pelita kecil. Langkahnya yang ringan tak bersuara, menandakan orang itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Langkahnya terhenti saat mencapai depan pintu. Perlahan-lahan tangannya terangkat ke depan.

"Hih!"

Dari kedua telapak tangannya yang terbuka, keluar asap tipis yang menggumpal meluncur ke arah pintu. Kemudian, perlahan-lahan pintu terkuak tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Kakinya lalu melangkah memasuki ruangan.

"Hm, rumah ini sangat besar. Aku harus memeriksa setiap kamar yang ada. Aku yakin dia ada di dalam rumah ini," gumamnya perlahan.

Dia lalu memasuki sebuah kamar yang terdekat. Nalurinya begitu tepat. Seorang laki-laki bertubuh tambun tergolek dalam tidur yang lelap dengan seorang perempuan cantik yang punggungnya terbuka lebar.

"Tidurlah kau dengan lelap, babi gendut! Aku tak akan membuatmu bangun lagi." orang itu mendengus sambil matanya menatap liar. Lalu perlahan-lahan dia mengambil pisau dari balik bajunya yang hitam pekat.

Namun mendadak laki-laki yang hendak ditikamnya secepat kilat menyentakkan tangannya.

Plak! Keras sekali sentakan tangannya. Lalu disusul gerakan tangan kanannya menyodok perut.

"Huk!" orang yang berpakaian serba hitam itu mengeluh pendek. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang.

"Bedebah! Siapa kau?" bentak lelaki itu sambil melompat turun dari pembaringan.

Meskipun tubuhnya tambun seperti tong, gerakannya amat gesit dan menyulitkan lawannya. Orang yang perpakaian serba hitam itu mendengus seraya menyilangkan pisaunya di depan dada. Dia mulai pasang kuda-kuda dan membuka jurus. Lawannya pun tidak tinggal diam, sambil berpikir mencari tahu siapa gerangan orang yang kurang ajar berani menyatroninya.

"Buka topengmu, bangsat! Apa urusanmu datang kemari?"

"Kau tak perlu tahu siapa aku, Badaraka. Aku datang diutus dewa keadilan untuk mencabut nyawamu," dingin sekali suara orang bertopeng yang berpakaian serba hitam itu.

"Setan! Apapun alasanmu, kau telah lancang memasuki kamar pribadiku. Kau harus mampus!" geram Badaraka.

Seketika Badaraka menyerang dengan jurus-jurus pendek tangan kosong. Rupanya orang bertopeng hitam itu pun telah menyiapkan jurus-jurus andalannya, sehingga dengan mudah serangan-serangan Badaraka dapat dipatahkannya. Bahkan kemudian beberapa kali dia berhasil mendesak lawannya ke sudut kamar. Hingga pada suatu kesempatan, Badaraka terjungkal setelah perutnya terkena tendangan maut. Beruntung dia sempat mengegoskan badannya ketika lawannya menggebrak dengan loncatan ke arah bagian vitalnya.

Suara gaduh oleh pertarungan di kamar itu membangunkan si perempuan cantik dari tidurnya yang lelap. Ia menjerit ketakutan dan mencoba meloncat dari pembaringan seraya memegangi kain untuk menutupi tubuhnya. Orang bertopeng yang berpakaian serba hitam itu tangannya segera bertindak cepat. Dan sebuah pisau meluncur bagai anak panah lepas dari busurnya.

"Aaakh...!" perempuan cantik itu hanya bisa menjerit tertahan begitu pisau tepat menancap di dadanya.

"Ratih...!" seru Badaraka terkejut.

Badaraka jadi lengah, dan kesempatan yang sedikit itu dimanfaatkan oleh lawannya. Secepat kilat dia meloncat menghajar Badaraka dengan tendangan dan pukulan mautnya. Badaraka kembali terjungkal dan sebuah pisau yang tertancap di lehernya membuatnya menggelepar dan tak bernapas lagi.

Orang bertopeng yang berpakaian serba hitam itu menolehkan kepalanya demi mendengar teriakan dan langkah-langkah kaki yang berlari semakin dekat dan jelas terdengar. Dia melompat menerjang jendela, lalu tubuhnya melenting tinggi melewati pagar tembok rumah lawannya yang telah binasa.

Orang-orang yang memburu ke arah kamar, langkahnya mendadak tertahan demi melihat dua sosok tubuh terbujur bersimbah darah. Kengerian begitu terpancar dari wajah-wajah mereka. Beberapa saat mereka seperti mematung di pintu kamar. Baru ketika seorang lelaki muda menerobos masuk, mereka bergerak ke arah jendela yang jebol.

"Bedebah! Siapa yang melakukan ini?" geram anak muda itu seraya mengepalkan tinjunya.

"Kejar! Cari, jangan sampai anjing itu lolos!" perintahnya berang.

Orang-orang yang mendengar perintahnya langsung berlompatan ke luar melalui jendela yang jebol. Di tangan mereka masing-masing tergenggam golok. Anak muda itu kemudian berlutut di samping mayat Badaraka. Tangannya mencabut pisau yang tertancap di leher. Sesaat dia memperhatikan pisau berlumuran darah yang tergenggam di tangannya. Matanya beralih pada perempuan yang tergeletak di pembaringan dengan kakinya terjuntai di lantai. Belum sempat dia bergerak untuk mencabut pisau yang tertancap di dada perempuan itu, terdengar seseorang berteriak memanggil namanya.

"Santika, apa yang terjadi?"

Anak muda yang dipanggil Santika itu menoleh. Dia langsung bangkit berdiri. Seolah tak membutuhkan jawaban, lelaki muda yang barusan datang itu memandangi dua sosok tubuh yang sudah tak bernyawa. Sejenak dia terdiam, kemudian pandangannya beralih pada Santika.

"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya berang. "Seharusnya Kakang lebih tahu dari aku. Bukankah Kakang Banulaga yang bertugas jaga malam?" Santika menatap tajam pada Banulaga yang tidak lain adalah kakaknya sendiri.

"Ini sudah lewat tengah malam. Tugasku sudah digantikan Wadalika," sergah Banulaga.

"Wadalika tewas di depan."

"Apa?!"

Belum lagi hilang rasa terkejut Banulaga, salah seorang yang diperintah mengejar si pembunuh muncul dari balik jendela. Dia langsung membungkuk hormat.

"Tuan Muda, seluruh kekuatan telah dikerahkan, tapi tidak juga berhasil menemukan orang itu."

"Cari terus! Pembunuh Itu harus ditangkap!"

"Baik, Tuan Muda."

********************

Kematian Badaraka membuat seluruh penduduk Desa Malayasati gempar. Badaraka terkenal sebagai juragan kaya yang menguasai hampir seluruh tanah, sawah ladang dan perkebunan di desa ini. Orang-orang pun sudah bisa menduga bahwa si pembunuh pasti bukan orang sembarangan dan memiliki ilmu silat yang tinggi. Mereka tahu kalau Badaraka juga memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, dan puluhan centeng selalu menjagai rumahnya siang malam. Tapi tak ada yang mampu menghadang sepak terjang pembunuh misterius itu.

Kejadian di desa itu pun lalu terdengar sampai ke pelosok-pelosok desa lainnya. Kematian Badaraka membuat bekas lawan maupun kawannya memperhitungkan si pembunuh yang misterius itu. Tak terkecuali para penduduk yang mempunyai anak perempuan. Mereka tahu benar kalau Badaraka mata keranjang dan gemar memakan daun muda. Mereka dicekam ketakutan kalau-kalau si pembunuh malah lebih kejam dan bejad dari Badaraka.

"Apa kau sudah mengerahkan orang-orangmu untuk mencari pembunuh ayahmu?" tanya Widura, sahabat kental Badaraka yang juga tuan tanah dari Desa Batujajar.

"Sudah, tapi orang-orangku kehilangan jejak."

"Aku menyesal sekali, seharusnya malam itu aku tahan ayahmu agar ia menginap di rumahku."

Banulaga tersenyum masam. Dia tahu betul siapa Widura ini. Laki-laki setengah baya yang tak jauh beda dengan ayahnya. Laki-laki yang juga senang menyabung ayam, main perempuan dan menghamburkan uangnya di meja judi.

Banulaga tahu kalau ayahnya baru pulang waktu larut malam dengan menggandeng seorang perempuan ke kamarnya. Dan hatinya benar-benar dibuat geram dan penasaran, karena ayahnya mati saat lugasnya baru saja digantikan oleh orang lain.

"Sudah hampir sore, aku harus kembali," kata Widura pamitan.

"Terima kasih atas kedatangan Paman Widura kemari," ucap Banulaga.

"Sama-sama. Kalau perlu apa-apa hubungi aku,"

"Baik. Sekali lagi terima kasih, Paman," Banulaga mengiringi Widura sampai ke luar pintu. Seorang laki-laki muda menyongsong sambil menuntun kuda. Widura segera melompat. Kedua orang itu langsung memacu kudanya masing-masing keluar halaman rumah besar itu.

Banulaga menarik napas panjang. Pandangannya merayapi keadaan sekitarnya. Tampak beberapa orang berjaga-jaga di setiap sudut. Banulaga memang telah menyuruh orang-orangnya untuk tetap waspada sekaligus mencari pembunuh ayahnya. Banulaga terkejut begitu membalikkan tubuhnya, tahu-tahu Santika sudah berdiri di ambang pintu.

"Ke mana saja kau?" tanya Banulaga.

"Di dalam," sahut Santika sambil melangkah ke luar.

"Santika, mau ke mana?"

"Ke luar!" sahut Santika acuh.

"Santika!"

Tapi Santika tetap saja berjalan ke luar, menghampiri kudanya yang tertambat di pohon. Dalam sekejap saja dia sudah menggebah kudanya meninggalkan tempat itu.

"Anak setan!" Banulaga hanya bisa mendengus kesal.

********************

Sejak kematian Badaraka, praktis semua kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya jatuh ke tangan Banulaga. Berbeda dengan adiknya, Santika, Banulalaga mewarisi hampir semua sifat-sifat ayahnya. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bukan hanya kegemaran pada perempuan-perempuan cantik, tapi tingkah polahnya melebihi kekejaman ayahnya.

"Badrun..!" Banulaga berteriak keras.

Orang yang dipanggil datang terbungkuk-bungkuk menghampiri Banulaga yang berdiri bertolak pinggang dengan congkak di depan pintu.

"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Badrun.

"Tuan Muda. Panggil aku Tuan Besar, tahu!" bentak Banulaga mendelik.

"Maaf, Tuan Besar. Saya sering lupa," Badrun nyengir.

"Sudah kau siapkan kuda?" Banulaga tak memperdulikannya lagi, dia terus saja melangkah melewati beranda.

"Sudah, Tuan Besar," sahut Badrun mengiringi langkah majikannya.

"Hm," Banulaga menggumam kecil.

Badrun buru-buru mendahului Banulaga. Dia mendekati seekor kuda putih berbadan tinggi besar dengan pelana bersulamkan benang emas. Lalu menuntun kuda itu ke arah tuannya.

Seperti ingin memperlihatkan ilmu meringankan lubuhnya, Banulaga melompat ke atas punggung kudanya. Tangannya menarik tali kekang. Sekilas dia melirik Badrun yang masih berdiri di sampingnya.

"Ambil kudamu, ikut aku," kata Banulaga.

"Hendak ke mana, Tuan Besar?"

"Ikut! Jangan banyak omong!" Banulaga setengah membentak.

"Iya, iya.., baik, Tuan Besar."

Badrun segera berlari kecil ke belakang rumah besar itu. Tidak lama kemudian dia kembali dengan menunggang seekor kuda hitam. Kedua kuda itu segera berpacu kencang meninggalkan halaman rumah. Dua orang penjaga pintu gerbang yang bersenjatakan golok segera membungkukkan badannya memberi hormat.

Di sepanjang jalan desa, Banulaga mengendalikan kudanya dengan sikap angkuh. Tidak sedikitpun bibirnya menyunggingkan senyum. Juga tak mengangguk ketika penduduk di sepanjang jalan desa yang dilewatinya membungkukkan badannya.

Banulaga menjentikkan jarinya seraya menghentikan laju kudanya. Matanya yang tajam menatap lurus pada sebuah rumah di antara lebatnya pepohonan. Sebuah rumah berdinding anyaman bambu dan beratapkan rumbia. Badrun menghentakkan perut kudanya mendekati Banulaga yang tak lepas lepasnya memandangi rumah yang ada di hadapannya.

"Kau tahu, rumah siapa Itu?" tanya Banulaga pelan.

"Yang mana, Tuan Besar?" Badrun malah bertanya lagi.

"Itu, goblok!"

"Oh..., Itu. Rumahnya Pak Karta. Memangnya kenapa Tuan?"

"Hm..., tidak."

Banulaga menghentakkan kudanya kembali. Namun baru saja kuda putih kesayangannya melangkah beberapa tindak, ia menghentikan kudanya seketika. Dari pintu rumah Pak Karta yang terkuak itu muncul seorang perempuan muda dengan bakul bambu di pinggang kirinya. Mata Banulaga melotot, tak lepas-lepasnya memandangi perempuan muda itu. Perempuan itu berparas ayu. Banulaga tahu dibalik kainnya yang ketat ada sesuatu yang montok dan merangsang birahinya. Perempuan yang dipandanginya terkejut menyadari ada dua lelaki asing tengah menjilati tubuhnya dengan pandangan penuh birahi. Bibirnya yang tipis merekah terbuka, membuat Banulaga menelan ludah. Ia seperti melihat dewi dari kahyangan. Badrun pun jadi ikut mendelik menatap liar tubuh si gadis.

"Badrun, anak perawan siapa dia?" tanya Banulaga berbisik

"Barangkali anaknya Pak Karta, Tuan Besar," sahut Badrun.

"Kenapa barangkali?" Banulaga tak puas dengan Jawaban pembantunya.

"Saya sendiri baru melihatnya, Tuan."

"Hmmm... sejak kapan Pak Karta punya anak perawan?" Banulaga seperti bertanya pada dirinya sendiri. Lalu perhatiannya kembali pada perempuan ayu yang kini sudah melangkah melewati pekarangan samping rumah. Banulaga menelan ludah yang membasahi tenggorokannya.

Tiba-tiba saja muncul seorang lelaki tua dari arah samping belakang rumah. Laki-laki dengan pakaian dan celana longgar hitam itu langsung membungkuk begitu melihat Banulaga berada di depan rumahnya.

"Orang tua itu Pak Karta, Tuan Besar," ucap Badrun. Lalu tanpa disuruh majikannya, dia setengah berteriak memanggil, "Kemari kau, tua bangka!"

Yang dipanggil buru-buru mendekat sambil membungkukkan badannya. Badrun lalu menoleh pada tuannya, seolah-olah menyilakan tuannya untuk mengorek keterangan tentang perempuan muda itu. Banulaga pun cepat menangkap maksud pembantunya. Ia menatap tajam pada Pak Karta.

"Apakah ada yang salah pada diri saya, Tuan?" Pak Karta bertanya dengan membungkukkan badan penuh hormat dengan suara bergetar.

"Tidak," sahut Banulaga cepat.

Banulaga melirik pada Badrun, kemudian dia melompat turun dari kudanya. Badrun juga berbuat yang sama, lalu mengambil alih tali kekang kuda majikannya untuk ditambatkan bersama-sama dengan kudanya sendiri.

"Dengan siapa kau tinggal di sini?" tanya Banulaga tanpa rasa hormat sediktipun pada orang yang lebih tua umurnya.

"Saya..., saya tinggal sendiri di sini, Tuan," jawab Pak Karta gugup.

"Kau berdusta, heh?"

Pak Karta mengangkat kepalanya. Matanya melirik pada Badrun yang baru selesai menambatkan kuda. Tampak gagang golok menyembul keluar di pinggang laki-laki bertubuh hitam itu. Raut muka Pak Karta seketika menampakkan ketakutan.

"Siapa perempuan yang tadi keluar dari rumahmu?" tanya Banulaga keras.

"Oh! Tu... Tuan sudah melihatnya?" orang tua itu kaget

"Anakmu?"

"Bu... bukan. Eh... iya, Tuan" gugup sekali Pak Karta menjawab.

"Jawab yang benar!" bentak Badrun kasar.

"Eh... anu, Tuan, dia... dia anak saya."

"Hm...." Banulaga mengernyitkan alisnya. Matanya tajam dan agak liar menatap ke wajah lelaki tua yang ada di depannya. Kemudian terbayang kembali wajah perempuan muda yang membangkitkan birahinya. "Cepat panggil anakmu kemari!"

"Dia... dia masih kecil, Tuan!" Pak Karta berusaha menolak secara halus.

Trak!

Badrun menghentakkan gagang goloknya dengan keras. Pak Karta mengkeret melirik ke arah sumber suara itu.

"Ba... baik Tuan, saya panggilkan."

Banulaga sudah tak sabar, napasnya sudah naik turun tak karuan. Badrun pun tersenyum kecil menyaksikan tuannya salah tingkah. Tak lama kemudian mereka melihat Pak Karta dan anak perempuannya tengah berjalan menuju ke arahnya.

Sampai Pak Karta dan perempuan muda itu berdiri di hadapannya, matanya tak berkedip merayapi keindahan dan kecantikan yang menggelorakan birahinya.

"Siapa namamu, gadis ayu?" tanya Banulaga tersenyum menyeringai.

"Mega Lembayung," sahut si perempuan datar.

"Ah, nama yang cantik, secantik orangnya," desah Banulaga merayu.

"Terima kasih."

"Pak Karta, aku bermaksud memboyong putrimu," kata Banulaga tanpa basa-basi.

Merah padam muka Mega Lembayung mendengar kata-kata itu. Sedangkan Pak Karta kebingungan mendengar permintaan yang sejak tadi ia cemaskan. Mega Lembayung lalu menatap tajam Banulaga. Hatinya penuh kemarahan dan kebencian. Tatapan matanya yang tajam mengagetkan Banulaga. Selama ini belum ada seorang pun yang berani menatap wajahnya sedemikian rupa, apalagi seorang perempuan.

Banulaga meremehkan tatapan itu. Dia lalu melangkah menghampiri Mega Lembayung. Tangannya terulur hendak menjamah. Tapi baru saja tangannya bergerak, tiba-tiba Mega Lembayung menyentakkan tangannya. Begitu keras sentakan tangannya, hingga tubuhnya terdorong ke samping dua langkah. Belum sempat Banulaga membalas, Mega Lembayung menyampok kakinya.

Buk!

Banulaga terpental dan jatuh terduduk di tanah. Badrun yang menyaksikan kejadian itu, langsung menghunus goloknya. Sementara Banulaga melompat bangkit berdiri. Bibirnya meringis menahan geram.

Baru kali ini dia kena batunya. Gadis itu terrryata punya kepandaian yang tak bisa diremehkan.

"Perempuan laknat!" geram Banulaga sengit "Badrun, ringkus dia!"

Badrun meloncat tepat di hadapan perempuan muda itu. Pak Karta langsung mundur menjauh. Wajahnya pucat dan tubuhnya gemetaran. Kengeriannya makin bertambah manakala golok Badrun berkilat terkena sinar matahari. Sementara Mega Lembayung menyingsingkan kainnya hingga terlihat celana pangsinya.

********************

DUA

"He he heehe...." Badrun terkekeh dengan mulut menyeringai. Sikapnya benar-benar meremehkan Mega Lembayung. Goloknya yang terhunus dia masukkan kembali ke dalam sarungnya sambil matanya terus memandangi lawannya, seolah-olah ingin menunjukkan kalau tanpa golok pun dia bisa meringkusnya.

Tangannya terulur hendak mengangkat tangan gadis itu, namun dengan cepat Mega Lembayung menyentakkannya.

"Uts!"

Badrun cepat-cepat menarik tangannya kembali, dan segera meloncat meringkus lawannya. Mega Lembayung memutar tubuhnya sedikit, lalu dengan cepat kaki kanannya melayang ke arah perut Badrun yang menganggap remeh lawannya, tak dapat lagi mengelak. Tendangan perempuan muda itu amat telak dia rasakan.

Pembantu Banulaga itu mengeluh pendek. Tubuhnya terjengkang beberapa langkah ke belakang. Bibirnya meringis menahan sakit di perutnya, dan pandangan matanya terasa kabur. Badrun lalu mencoba bangkit dan menggerak-gerakkan tangannya.

"Hiaaat...!"

Sambil berteriak nyaring Badrun melompat seraya mengirimkan pukulan pendek. Mega Lembayung memiringkan tubuhnya sedikit, dan tangannya terangkat menangkis pukulan. Dua tangan itu beradu keras. Badrun meringis merasakan tulang tangan kirinya seperti remuk. Kali ini dia tak bisa menganggap remeh lagi pada Mega Lembayung.

Sesaat Mega Lembayung memperhatikan lawannya. Hingga detik ini dia hanya bermaksud mempertahankan diri. Lalu dia melihat lawannya mulai membuka jurus-jurus andalannya. Diapun tidak tinggal diam.

Badrun mulai kembali menyerang dengan jurus-jurus tangan kosong. Dia mengirimkan pukulan tipuan dengan tangan kanannya. Tapi secepat kilat Mega Lembayung berhasil menangkisnya dengan tangan kiri, lalu tangan kanannya mendorong ke depan, disusul dengan tendangan kakinya bertubi-tubi. Badrun jadi kelabakan. Dia bergegas mundur, namun dia masih merasakan dorongan angin dari tendangan Mega Lembayung. Badrun bersalto dua kali sebelum kakinya menjejak tanah.

"Phuih!" dengus Badrun menyemburkan ludahnya.

Sret!

Tanpa malu-malu lagi Badrun mencabut goloknya. Dia lalu melompat ke depan beberapa langkah, lalu menyerang lawannya dengan jurus-jurus pendek dan cepat Goloknya berkelebatan mengurung gadis itu. Namun sampai lima jurus telah ia kerahkan, Mega Lembayung tak tersentuh sedikitpun oleh ujung goloknya yang tajam dan berkilat-kilat. Bahkan beberapa kali pinggangnya terkena sodokan kaki lawannya.

Memasuki jurus ke sepuluh, Badrun mulai terdesak. Dia tak punya kesempatan lagi untuk menyerang. Goloknya seperti tumpul dan mati. Tepat memasuki jurus ke duabelas, dia kecolongan, kaki kanan Mega Lembayung menendang pinggangnya yang kosong. Badrun melenguh pendek, dan tubuhnya terdorong ke samping. Belum lagi dia sempat menguasai diri, datang lagi serangan cepat dan beruntun dari lawannya.

"Akh!" Badrun memekik tertahan.

Saat laki-laki berkulit hitam legam itu hilang keseimbangannya, Mega Lembayung menggebrak dengan cepat ke arah dada. Badrun terjengkang roboh ke tanah. Darah segar menyembur dari mulutnya. Dadanya terasa amat sesak. Sulit untuk bernapas.

Badrun tengah berusaha bangkit, ketika gadis itu menjerit keras dengan kaki tersentak ke depan. Kakinya nyaris menghantam kepala Badrun, ketika mendadak sebuah sinar keperakan meluncur ke arahnya. Mega Lembayung melenting ke belakang menghindari sinar keperakan itu yang ternyata sebuah golok.

"Pengecut!" dengus Mega Lembayung geram.

"Kau memang tidak bisa diajak senang, perempuan setan!" geram Banulaga.

"Phuih! Kau bisa berbuat semaumu pada gadis lain. Tapi jangan harap bisa memangsaku!"

"Kau memang cantik, tapi mulutmu kotor!"

"Tidak lebih kotor dari dirimu sendiri, bangsat!"

Banulaga menahan geram dan darahnya mendidih. Kalau saja bukan perempuan cantik yang ada di hadapannya, perempuan muda itu pasti sudah mati oleh jarum-jarum beracunnya. Atau wajahnya sudah robek terkena sepasang golok peraknya. Perempuan muda itu sudah telanjur membangkitkan birahinya, hingga terasa sayang kalau dia bunuh sebelum dinikmati kehangatan tubuhnya.

Banulaga meraba pinggangnya. Tangan kanannya lalu menarik ikat pinggang yang melilit. Tampak sebuah cambuk dari bahan kulit yang dipintal dengan urat kuat tergenggam di tangannya. Suara cambuk itu menggelegar ketika Banulaga mengebutkannya. Mega Lembayung beringsut mundur dua tindak. Sepasang bola matanya yang indah menatap tajam pada cambuk yang tergenggam di tangan Banulaga.

Banulaga segera menyerang Mega Lembayung dengan cambuknya. Mega Lembayung berlompatan menghindari ujung cambuk yang bergerak cepat mencecar tubuhnya. Sementara dua pasang mata lainnya melihat dengan caranya yang berbeda. Badrun melihatnya dengan senyum yang mengejek, tanpa rasa malu telah dipecundangi oleh seorang perempuan muda. Tapi sepasang mata lainnya begitu cemas dan ketakutan melihat pertempuran itu dari balik sebatang pohon. Pak Karta mulai meraba apa yang akan terjadi pada diri Mega Lembayung.

Tiba-tiba tercium bau busuk yang menusuk hidung dan amat memualkan. Cambuk Banulaga itu ternyata beracun. Semakin gencar cambuk itu menghajar lawannya, baunya semakin menyengat dan memabukkan. Mega Lembayung sudah tak bisa menguasai diri, tubuhnya limbung mencium bau busuk semakin memecah terkena cambuk bertubi-tubi.

Tap!

Perlawanan Mega Lembayung pun tampaknya mati ketika ujung cambuk membelit tangan kanannya, lalu terangkat dan disentakkan dengan keras oleh Banulaga yang mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Tubuh Mega Lembayung tersentak keras dan terbanting ke tanah.

"Ha ha ha...!" Banulaga tertawa puas melihat lawannya tak berdaya.

Beruntung Mega Lembayung memiliki kekuatan dan kepandaian yang lumayan, hingga sentakan cambuk itu tak sampai merenggut jiwanya. Sementara tak jauh dari tempatnya, tubuh Pak Karta tergeletak pingsan. Tubuhnya yang ringkih tak mampu menahan bau busuk cambuk Banulaga. Dia muntah-muntah sebelum akhirnya tergeletak lemas

Mega Lembayung berusaha menghimpun kekuatannya kembali. Dia mencoba bangkit, tapi Banulaga segera menyambar tubuhnya dengan lecutan cambuknya. Pinggang Mega Lembayung pun terbelit tanpa bisa mengelak. Banulaga menarik cambuk itu kuat-kuat sambil memutarkan badannya, dan tubuh perempuan muda yang malang itupun kembali roboh.

Banulaga tertawa terbahak bahak melihat korban keganasannya berkutat sendiri berusaha melepaskan belitan cambuk di tubuhnya. Dia seperti tengah menonton adegan lelucon.

Pinggang Mega Lembayung terbelit oleh cambuk yang sangat bau dan beracun. Kemudian Banulaga menarik cambuk itu kuat-kuat sambil memutarkan badannya, dan tubuh perempuan muda yang malang itupun tersentak mengikuti gerakan tubuh Banulaga.

"Badrun!" Banulaga menjentikkan jarinya. Badrun yang sedari tadi ikut terkekeh-kekeh melihat adegan itu langsung menghampiri sambil menuntun kuda putih kesayangan tuannya. Dia sudah hapal betul apa yang yang akan diperguat Banulaga jika menghadapi musuh-musuhnya yang sudah tak berdaya.

Banulaga pun langsung melompat ke atas punggung kuda tanpa melepaskan gagang cambuknya. Tubuh Mega Lembayung tersentak, terseret sempoyongan, lalu tersungkur sampai cambuk itu terlepas sendiri dari tubuhnya yang memar dan penuh luka cambukan.

"Ha ha ha...! Perempuan tolol! Rupanya kau lebih suka dengan caraku begini, heh?" Banulaga tertawa ngakak dari atas kudanya, lalu menoleh pada tubuh Pak Karta yang masih tergeletak pingsan, "Ikat tua bangka itu di pohon!"

Badrun terkekeh sambil melangkah menghampiri laki-laki tua itu, lalu digelandang dengan kakinya ke sebuah pohon. Mega Lembayung yang melihatnya, mencoba bangkit dan berlari mendekat.

"Iblis kejam!"

Tar!

Lecutan cambuk kembali mengenai tubuhnya, lalu ia roboh seketika.

Badrun mulai mengikat tangan Pak Karta. Lalu dengan tambang panjang dia mengikat leher laki-laki tua itu. Sedang ujung satunya lagi dia ikatkan ke batu sebesar dua kali kepala manusia.

Batu itu diletakkan di atas tonggak kayu, lalu di limbungkan dengan tongkat yang dibelitkan dengan tambang yang mengikat leher Pak Karta. Sedikit saja pak tua itu siuman dan menggerakkan kepalanya, tongkat itu akan menarik batu terjatuh ke tanah, dan leher Pak Karta pun akan tercekik.

"He he he...," Badrun terkekeh melihat hasil pekerjaannya yang sempurna, lalu mendekati Mega Lembayung yang sudah berdiri dengan cambuk yang membelit dadanya.

"Kau juga akan bernasib sama, Nona Manis. Kecuali kalau kau mau Jadi... he he he...," Badrun kembali terkekeh.

"Cuih!" Mega Lembayung menyemburkan ludahnya, dan,tepat menemplok di muka Badrun.

"Sompret!" Badrun jadi geregetan. Tangannya sudah terangkat hendak menampar.

"Badrun!" sentak Banulaga cepat.

Badrun mendengus seraya menurunkan tangannya kembali. Dengan muka cemberut dan menahan dongkol dia menyeka ludah di mukanya. Laki-laki berkulit hitam legam itu menghampiri kudanya yang tertambat di pohon. Matanya melirik Mega Lembayung sebelum meloncat ke punggung kudanya.

"Hiya!"

"Hiya!"

Tras!

Tiba-tiba saja cambuk yang membelit dada Mega Lembayung terputus begitu Banulaga menyentakkan tali kekang kudanya. Banulaga terkejut dan segera melenting dari punggung kudanya. Badrun segera mengejar kuda putih tunggangan tuannya ini.

"Bangsat!" geram Banulaga.

Dengan amarah yang memuncak, dia membuang cambuknya yang sudah butut. Sedang Mega Lembayung bergerak bangkit sambil melepaskan sisa cambuk yang melilit di tubuhnya. Tak jauh dari gadis itu, berdiri seorang pemuda tampan berpakaian rompi putih dengan pedang bergagang kepala burung menyembul di pinggangnya. Pemuda itu tak lain dari Pendekai Rajawali Sakti. Dia lalu menolong Mega Lembayung melepaskan belitan cambuk.

"Terima kasih," ucap Mega Lembayung.

Rangga, alias Pendekar Rajawali Sakti itu hanya tersenyum tipis. Matanya tak lepas menatap Banulaga yang sudah mencabut golok peraknya. Tampak wajah Banulaga yang merah padam menahan amarah. Kemudian terdengar suara langkah kuda mendekati mereka. Badrun muncul dengan menuntun kuda putih dari atas punggung kudanya, dan segera meloncat turun begitu melihat tuannya tengah memandang orang asing yang belum dikenalnya. Tangannya langsung mencabut golok.

"Siapa kau? Berani mencampuri urusanku!" bentak Banulaga sengit.

"Aku Rangga," sahut Rangga tenang. "Aku tidak suka melihat kekejaman berlangsung di depan mataku."

"Setan alas!"

"Menyingkirlah, Nona. Bebaskan orang tuamu," kata Rangga lembut.

"Hati-hati, orang itu kejam sekali," Mega Lembayung mengingatkan.

"Hm," Rangga hanya tersenyum kecil.

"Badrun!" Banulaga menjentikan jarinya.

Badrun langsung melompat menyerang dengan goloknya. Rangga hanya memiringkan tubuhnya sedikit, dan tebasan golok itu lewat di sampingnya. Secepat kilat tangan Pendekar Rajawali Sakti itu mengibas ke arah dada. Namun Badrun sudah lebih dulu bergerak ke kiri dan kibasan tangan Rangga lewat di tempat yang kosong.

Kembali Badrun mengayunkan goloknya ke arah kepala, dan Rangga mengangkat tangan kanannya. Tap! Golok Badrun berhasil dijepit dengan dua jari tangan. Badrun berusaha menarik goloknya ke luar dari jepitan jari yang bagaikan sebuah penjepit baja itu. Rangga menggerakkan jarinya sedikit, dan...

Trak!

Golok yang dijepit patah jadi dua. Badrun terkesima menatap goloknya yang patah itu. Dan belum sempat ia mengalihkan perhatian, mendadak kaki Rangga sudah melayang deras menghantam dadanya.

Badrun terjengkang sejauh kira-kira dua batang tombak ke belakang. Dari mulutnya memuncrat darah segar. Dan belum lagi dia sempat bangun, Rangga sudah melompat bagai kilat, dan kakinya langsung menjepit leher laki-laki berkulit hitam legam itu.

"Hih!"

Trak

Badrun tak mampu lagi bersuara. Tulang lehernya langsung patah. Hilang sudah nyawa dari badannya. Rangga lalu memandang Banulaga yang masih terkesima melihat kematian pembantunya yang hanya dengan sekali gebrak saja. Banulaga cepat mengalihkan perhatiannya pada Rangga. Dengan cepat dia meloncat sambil mengibaskan golok kembarnya.

Rangga berkelit menghindari serangan cepat dua golok kembar keperakan itu. Serangan Banulaga itu amat gencar dan dahsyat. Dua golok di tangannya berkelebatan cepat, hingga yang terlihat hanya dua berkas sinar putih keperakan yang mengurung tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu.

Banulaga telah mengerahkan kekuatannya hingga jurus ke sepuluh. Namun belum sedikitpun tubuh Rangga terkoyak oleh golok kembarnya. Tampaknya Pendekar Rajawali Sakti ini belum melayaninya secara sungguh-sungguh. Dia hanya berkelit sekedar menghindari setiap serangan yang dilancarkan Ranulaga. Tiba-tiba Banulaga menyatukan goloknya ke tangan kiri.

"Hiaaa...!"

Banulaga meloncat sambil melontarkan jarum-jarum mautnya yang beracun. Rangga terbeliak sesaat, lalu secepat kilat tubuhnya melenting berputaran di udara menghindari jarum-jarum beracun yang datangnya bagai hujan. Rangga benar-benar dibuat kerepotan dengan serangan-serangan jarum-jarum itu. Dia berjumpalitan di udara sambil matanya mencari-cari celah untuk membalas.

Dan kesempatan itu pun datang ketika Banulaga kehabisan jarum-jarum mautnya. Hanya sesaat memang, dan itu juga cukup bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk membalas serangan. Secepat kilat dia meluruk deras ke arah Banulaga. Rangga langsung mengerahkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Kakinya bergerak cepat dan berputar mengancam kepala lawan.

"Setan!" dengus Banulaga seraya menjatuhkan tubuhnya ke tanah.

Serangan Rangga luput di tengah jalan. Dan begitu kakinya mendarat, secepat kilat Banulaga mengibaskan goloknya. Kembali Pendekar Rajawali Sakti harus melompat menghindari tebasan golok itu. Banulaga buru-buru bangkit, dan memisahkan golok kembarnya lagi. Kini kedua tangannya menggenggam senjata. Saat itu juga dia kembali menyerang dengan dahsyat

Rangga segera mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Dengan Jurus itu Banulaga jadi kerepotan, karena setiap pukulan yang dilontarkan lawannya, menimbulkan hawa panas yang sangat menyengat kulit, yang diiringi dorongan angin pukulannya yang kencang, sehingga menyulitkan Banulaga untuk bergerak.

Menyadari kekuatan dirinya yang tak bakal mampu menandingi kesaktian Pendekar Rajawali Sakti dalam beberapa gerakan lagi, Banulaga segera melenting dan meloncat ke punggung kudanya. Secepat kilat dia menggebah kuda putih tunggangannya. Rangga berdiri tegak memandang kepergian Banulaga.

"Hm," Rangga menggumam pelan, lalu membalikkan tubuhnya. Matanya langsung memandang Mega Lembayung yang tengah menyadarkan orang tuanya. Rangga segera menghampiri dan segera memeriksa keadaan Pak Karta. Kemudian dia mengangkat dan membawa tubuh orang tua yang malang itu ke depan rumahnya. Pak Karta dibaringkan di balai-balai yang terbuat dari bambu.

"Ayahmu tidak apa-apa, cuma pingsan" kata Rangga. Lalu dia memijit bagian tangan dan tengkuk Pak Karta sebentar.

"Terima kasih, kau telah menyelamatkan kami," ucap Mega Lembayung. Kepalanya tetap tertunduk menatap wajah laki-laki tua yang tergolek di hadapannya.

"Sudah menjadi kewajiban manusia untuk menolong sesamanya," Rangga merendah.

Mega Lembayung mengangkat kepalanya, wajahnya menatap paras tampan di depannya. Rangga memberikan senyum simpatiknya dengan sedikit anggukan kepala.

"Siapa orang itu, dan kenapa dia menyiksa kalian?" tanya Rangga.

Belum lagi Mega Lembayung menjawab, terdengar suara batuk-batuk. Seketika dua pasang mata mengalihkan tatapannya pada Pak Karta yang sudah mulai siuman. Lelaki tua berbadan ringkih itu berusaha duduk. Mega Lembayung segera membantu mengangkat tubuhnya. Laki-laki tua itu duduk bersandar.

Sebentar dia mengatur napasnya, kemudian menatap Rangga yang masih berdiri di depannya.

"Dia yang menolong kita, Kek," Mega Lembayung menjelaskan.

"Siapa namanmu, Kisanak?" tanya Pak Karta.

"Rangga," sahut Rangga tersenyum ramah.

"Terima kasih, kau telah menolong kami yang tak berdaya ini."

"Ah, cuma kebetulan saja," Rangga merendah.

"Hm..., tampaknya kau bukan penduduk desa ini. Apakah kau seorang pengembara?"

"Benar, Pak. Saya cuma pengembara yang mencari hidup dari satu tempat ke tempat lainnya."

Pak Karta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan mendadak dahinya berkerut melihat sesosok mayat tergeletak di depan rumahnya. Kembali matanya menatap Rangga dan Mega Lembayung bergantian. Dia lalu menarik napas panjang.

"Seharusnya tadi kau tak usah ke luar, Mega," Pak Karta bergumam pelan seolah menyesali apa yang telah terjadi.

Lelaki tua itu mendesah perlahan. Kematian Badrun di depan rumahnya tentu akan berbuntut panjang. Lebih-lebih persoalannya langsung di tangan Banulaga yang mengangkat dirinya sebagai pengganti Badaraka. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Banulaga tentu tidak akan tinggal diam begitu saja.

"Maaf, Kek. Kedatanganku membuatmu susah," terdengar pelan suara Mega Lembayung.

"Semuanya sudah terjadi. Banulaga tentu akan kembali lagi menuntut balas."

"Aku akan menghadapinya, Kek."

"Tidak! Kau tak akan sanggup menghadapi orang-orangnya Banulaga. Mereka orang-orang yang kejam dan sangat tinggi kepandaiannya."

"Maaf, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Rangga menyela.

Pak Karta memandang Pendekar Rajawali Sakti itu. Lalu mengalihkan pandangannya pada Mega Lembayung.

"Sebaiknya kalian segera pergi meninggalkan desa ini Lebih-lebih kau, anak muda. Kau telah membunuh Badrun, meskipun niatmu hanya menolongku dan Mega. Banulaga tidak akan membiarkan begitu saja orang yang membunuh pembantunya, dan membuatnya kehilangan muka," Pak Karta berujar lirih.

"Siapa Banulaga itu, Pak?"

"Dia pewaris dan pengganti ayahnya, Badaraka. Ayah dan anaknya tidak jauh berbeda, mereka senang melampiaskan nafsunya pada setiap perempuan cantik yang ditemuinya. Bahkan Kepala Desa sendiri tunduk padanya. Dia bisa berbuat apa saja yang dia kehendaki, termasuk perempuan cantik yang sudah bersuami sekalipun, dia tidak peduli," kata Pak Karta menjelaskan.

Rangga mengangguk kecil. Kini dia sudah bisa memahami persoalan yang sebenarnya. Lalu sekilas sudut matanya melirik Mega Lembayung yang masih duduk di tepi balai-balai bambu. Dalam hati kecilnya, iapun mengagumi kecantikan Mega Lembayung yang nyaris menjadi korban kebuasan Banulaga.

"Mega cucuku yang tinggal satu-satunya. Baru seminggu dia tinggal di sini bersamaku. Dan sejak dia berada di sini aku sudah mengkhawatirkan keselamatannya. Tapi memang tinggal akulah satu-satunya yang dia miliki. Ayahnya meninggal terbunuh saat mempertahankan istrinya yang diboyong paksa oleh Badaraka. Ya, ibunya juga tewas bunuh diri karena merasa malu dirinya sudah ternoda. Sekarang putranya juga ingin mengambil paksa, seperti yang dilakukan ayahnya pada ibu Mega," suara Pak Karta semakin lirih saat menyudahi ceritanya.

"Kek..," Mega memegang tangan keriput kakeknya.

"Maafkan kakekmu, Mega. Aku memang merahasiakan ini padamu. Baru sekarang aku terpaksa menceritakannya," ujar Pak Karta menatap kosong.

Rangga memandangi Mega Lembayung. Keningnya sedikit berkerut mendengar cerita Pak Karta mengenai anak gadis ini. Cerita yang sangat mirip dengan perjalanan hidupnya. Dia sepertinya tengah melihat satu kilas balik dari riwayat hidupnya sendiri yang dialami Mega saat ini. Dia bisa memahami perasaan yang tengah bergayut di hati cucu Pak Karta ini.

"Belum lama Badaraka dikuburkan. Hanya sebentar penduduk Desa Malayasati ini menarik napas lega, dan sekarang mereka seperti menanti perjalanan panjang bagaikan neraka yang tak berujung," kembali Pak Karta berkata pelan.

"Sudahlah, Kek. Apapun yang akan terjadi aku akan menghadapinya," kata Mega Lembayung lembut.

Pak Karta hanya tersenyum pahit.

********************

TIGA

Kematian Badrun dan kegagalannya mendapatkan Mega Lembayung membuahkan dendam kesumat di hati Banulaga. Sebagai penguasa dan pewaris Badaraka, harga dirinya terasa dilecehkan begitu saja oleh Pendekar Rajawali Sakti.

Banulaga mondar-mandir di beranda depan rumahnya. Hatinya penuh luapan emosi. Seorang centengnya pun menjadi sasaran kekesalannya dengan sebuah tendangan keras karena lamban menambatkan kudanya. Sesaat kemudian dia berteriak memanggil salah seorang kaki tangannya.

"Japra!"

Laki-laki yang dipanggil Japra itupun membungkukkan badannya. Dia melangkah mendekati Banulaga yang bertolak pinggang.

"Kau dan Sarkam pergi ke Gunung Kanji. Bilang pada Resi Maespati, kalau aku membutuhkan kedatangannya. Sekaligus kau ke Bukit Genting menemui Iblis Selaksa Racun. Katakan aku yang meminta dia datang!" kata Banulaga.

"Sekarang, Tuan?" tanya Japra sopan.

"lya, sekarang!"

"Permisi, Tuan."

Japra melangkah pergi meninggalkan ruangan depan yang luas itu. Tatapan Banulaga beralih pada seorang lagi yang berdiri di sudut halaman. Banulaga memanggil dengan ujung jarinya. Laki-laki bermata picek itu mendekati. Tidak sedikitpun dia membungkuk seperti Japra.

"Aku perlu bantuanmu, Setan Mata Satu," kata Banulaga pelan suaranya.

"Katakan saja, apa yang harus aku lakukan?" berat sekali suara Setan Mata Satu terdengar.

"Lenyapkan siapa saja yang ada di rumah Karta dan bawa Mega Lembayung ke sini," kata Banulaga tegas.

"Ha ha ha...!" Setan Mata Satu tertawa keras mendengar tugas yang diberikan padanya.

Kalau saja bukan Setan Mata Satu yang tertawa mungkin sudah dirobek mulutnya. Dia tahu siapa Setan Mata Satu, orang kepercayaan ayahnya yang memiliki kesaktian sangat tinggi. Dia tak segan-segan membunuh siapa saja yang mencoba menghalangi sepak terjangnya walaupun dia seorang perempuan Membunuh orang baginya sama saja dengan menekuk batang leher ayam.

"Kalau cuma itu persoalannya, kenapa kau harus memanggil gurumu dan pamannya?" ada nada ejekan dari Setan Mata Satu.

"Kau akan tahu kalau sudah berhadapan dengannya, Setan Mata Satu," dengus Banulaga sengit.

"Apakah dia raja setan? Atau dewa yang menyamar jadi manusia?" Setan Mata Satu bertanya lagi dengan nada meremehkan.

"Bukan! Aku tidak sedang bercanda, Setan Mata Satu. Dia masih sangat muda dan memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Kalau aku tak salah, julukannya Pendekar Rajawali Sakti."

Setan Mata Satu seperti tak percaya mendengarnya. Nama itu seperti pernah dikenalnya. Beberapa saat dia tercenung. Benar! Nama Pendekar Rajawali Sakti bukanlah nama kosong dan sembarangan. Nama yang sudah terkenal, seorang pendekar pilih tanding yang sudah banyak mengalahkan tokoh-tokoh sakti rimba persilatan. Sampai saat ini kesaktian Pendekar Rajawali Sakti belum ada yang bisa menandinginya. Rasanya mustahil kalau pendekar itu bisa nyasar sampai ke sini.

Seratus orang yang kepandaiannya sama dengan dirinya pun belum tentu bisa mengalahkan kesaktian Pendekar Rajawali Sakti. Pantas saja Banulaga sampai-sampai mengundang guru dan paman gurunya untuk datang.

"Kenapa? Kau kelihatan terkejut mendengarnya, Setan Mata Satu. Apakah kau gentar?" kali ini Banulaga mengejek.

"Phuih! Tidak ada kata gentar bagi Setan Mata Satu!" dengus Setan Mata Satu, "Aku justru heran kenapa kau keturunan Badaraka yang sakti tak bisa berbuat apa-apa menghadapinya,"

Deg!

Panas hati Banulaga mendengarnya. Setan Mata Satu memang pintar membalikkan omongan dari keadaan yang sebenarnya. Dia sendiri sebenarnya gentar. Banulaga menahan emosinya.

"Kalau begitu, laksanakan tugasmu sekarang juga."

"Tidak sekarang!"

"Kenapa? Kau takut?"

"Tidak, untuk menghadapi Pendekar Rajawali Sakti aku harus meminta bantuan saudaraku."

Banulaga tersenyum senang mendengarnya. Sejak tadi dia ingin mengutarakannya. Tapi kalau Setan Mata Satu sendiri yang mengatakannya, tidak ada alasan lagi untuk meminta. Banulaga tahu siapa yang dimaksud Setan Mata Satu. Kakak kandung Setan Mata Satu sendiri yang kini tinggal di pesisir Pantai Selatan.

"Aku yakin, Kakang Raja Ular mau membantu," kata Setan Mata Satu.

"Kalau begitu, berangkatlah sekarang juga,"

"Bukan aku, tapi seorang utusan yang akan membawa suratku,"

"Terserah, apa yang kau anggap baik, lakukan saja."

"He he he..." Setan Mata Satu terkekeh.

********************

Saat itu, Japra dan Sarkam yang diutus untuk menemui Resi Maespati telah sampai di Gunung Kanji. Perjalanan dari Desa Malayasati ke Gunung Kanji hanya memakan waktu setengah hari berkuda. Tidak ada hambatan berarti yang ditemui mereka sepanjang perjalanan.

Mereka hampir tak berkedip memandang laki-laki tua dengan janggut dan kumis lebat. Seluruh rambutnya dibiarkan bergerai tak teratur. Pakaiannya lusuh kecoklat-coklatan seperti tak pernah ketemu air. Rasanya tidak pantas orang yang penampilannya seperti gembel itu dipanggil resi.

"Hm..., kau utusan dari muridku?" tanya Resi Maespati, suaranya terdengar pelan dan serak. Matanya merah dan tajam bagai elang menatap tak berkedip pada Japra yang berdiri paling depan.

"Benar, Resi," sahut Japra sambil membungkuk hormat.

"Apa tandanya kalau kau utusan Banulaga?"

"Ini."

Japra mengeluarkan sebuah cincin bermata cubung hitam dari balik saku bajunya, lalu diberikannya pada Resi Maespati. Sesaat lelaki tua yang berbaju kumal itu memandangi cincin yang sudah berpindah ke tangannya. Kepalanya lalu terangguk-angguk sambil memasukkan cincin itu ke dalam saku bajunya yang longgar.

Bola mata yang bulat merah itu kembali menatap tajam Japra dan Sarkam bergantian. Sepertinya dia tengah meyakinkan dirinya bahwa kedua orang itu benar-benar utusan Banulaga dari Desa Malayasati.

"Ada apa dia memanggilku?"

"Tuan Banulaga tidak menjelaskan, Tapi dugaan hamba mungkin ada hubungannya dengan kematian Tuan Besar Badaraka," sahut Japra.

"Bicara yang benar!" bentak Resi Maespati tak percaya.

"Maaf, Resi. Sudah empat hari yang lalu Tuan Besar Badaraka tewas terbunuh di...."

"Kurang ajar!" ucapan Japra terpotong oleh Resi Maespati yang tampak geram.

Wajah tua yang lusuh itu berkerut menegang. Sepasang matanya semakin merah menyala, giginya pun bergemeletuk rapat. Lalu dadanya mengembang naik, mencoba menahan amarahnya yang kian memuncak. Japra dan Sarkam yang melihatnya jadi merasa ngeri dan ketakutan sendiri. Mereka seolah melihat raja hutan yang terluka dan siap menerkam mangsanya.

Bagaimanapun Badaraka dan kedua anaknya Banulaga dan Santika, adalah murid-murid kesayangannya. Bahkan antara dirinya dan Badaraka masih adi hubungan darah. Resi Maespati adalah kakak misan dari orang tua Badaraka, sehingga kedua anak Badaraka itu memanggilnya dengan sebutan Eyang Guru. Dan hanya pada ketiga orang bapak dan anak itulah dia mewariskan segenap ilmu yang dimilikinya selama ini.

Lama sekali Resi Maespati terdiam. Dadanya yang mengembang perlahan-lahan turun, bersamaan dengan amarahnya yang sedikit mulai berkurang. Tatapannya kembali kosong.

"Siapa pembunuhnya?" tanya Resi Maespati dingin.

"Belum terungkap, Resi. Kami berusaha sekuat tenaga untuk melacaknya, tapi kami sama sekali tak menemukan jejaknya," sahut Japra yang diikuti anggukan kepala Sarkam membenarkan.

"Sebaiknya kau segera ke Bukit Genting. Katakan kalau aku juga segera menemui Banulaga."

"Tuan Banulaga juga sudah memerintahkan begitu, Resi."

Japra dan Sarkam segera bangkit hendak mohon diri, tapi langkahnya terlihat bimbang.

"Tunggu apa lagi?!"

"Ng..., anu. Anu, Resi... maaf, cincin itu...."

"Huh!"

Resi Maespati mendengus, lalu tangannya merogoh saku bajunya. Japra segera menangkap cincin yang dilemparkan sang resi ke arahnya.

Resi Maespati masih berdiri mematung di depan Pondoknya sepeninggal Japra dan Sarkam. Tatapannya menerawang jauh, entah apa yang tengah bergayut dalam benaknya.

********************

Empat orang tokoh sakti dunia persilatan itu saling berpandangan satu sama lain, begitu Banulaga selesai menceritakan bagaimana ayahnya mati terbunuh. Wajah-wajah mereka membiaskan rasa dendam yang membara.

"Hm..., lantas hanya untuk meringkus seorang pembunuh kau mengundang kami?" Raja Ular bertanya setengah merendahkan Banulaga, sekaligus mengesankan kesombongan.

"Bukan itu saja, dalam kejadian terpisah seorang pembantuku pun mati terbunuh."

"Kau kalah?" sinis suara Resi Maespati bertanya.

"llmunya sangat tinggi, aku tidak sanggup menandinginya," sahut Banulaga polos.

"Kau kenal dia sebelumnya?" tanya Resi Maespati lagi.

"Tidak..., aku baru kali ini bentrok dengannya. Kalau aku tidak salah, orang itu dijuluki Pendekar Rajawali Sakti."

Keempat tamu yang tengah dijamu Banulaga itu tercenung sesaat. Mereka sepertinya tengah mencari tahu tentang nama yang baru terucap oleh Banulaga.

"Orangnya masih muda, selalu berbaju rompi putih.... Benar?" tanya Raja Ular.

Banulaga cuma mengangguk membenarkan.

"Tidak salah," celetuk Setan Mata Satu. "Aku pernah mendengar nama Pendekar Rajawali Sakti. Sepak terjangnya harus diperhitungkan. Sudah banyak tokoh-tokoh sakti yang tewas di tangannya."

"Ya, aku juga pernah melihatnya bertarung di Bukit Setan," sambung Raja Ular.

"Kau juga ikut bertarung?" tanya Iblis Selaksa Racun.

"Tidak, untuk apa ikut bertarung? Aku tidak punya kepentingan sama sekali. Aku cuma kebetulan lewat dan sempat melihat beberapa jurus saja. Itu pun langsung selesai."

"Itu berarti kau sudah mengukur tingkat kepandaiannya, kan?" sergah Resi Maespati cepat.

"Sulit..," Raja Ular menggeleng-gelengkan kepalanya.

Resi Maespati dan Iblis Selaksa Racun mengerutkan alisnya. Mereka tahu siapa Raja Ular ini, seorang yang sudah memiliki nama kondang dalam dunia persilatan, dan tak bisa dipandang sebelah mata. Kalau Raja Ular saja tak sanggup mengukur kepandaiannya, tentulah Pendekar Rajawali Sakti itu mempunyai tingkat kepandaian yang sangat tinggi.

Suasana di beranda rumah itu lalu sepi tanpa suara. Mereka larut dalam alam pikirannya masing-masing. Suasana sepi itu baru terpecah bersamaan dengan lewatnya seseorang di pelataran rumah.

"Japra!" Banulaga berteriak memanggilnya.

Japra yang tengah lewat di pelataran rumah itu segera menghampiri, lalu membungkuk memberi hormat.

"Ada apa, Tuan?"

"Kau tahu di mana Santika sekarang?" tanya Banulaga.

"Tidak, Tuan."

"Cepat kau cari. Katakan aku dan Resi Maespati mencarinya!"

"Baik, Tuan. Segera saya berangkat." Japra mohon diri.

Beberapa saat suasana di beranda rumah itu kembali sepi. Lalu terdengar suara Resi Maespati yang seperti bergumam pada dirinya sendiri.

"Apa tidak mungkin yang membunuh Badaraka Pendekar Rajawali Sakti itu?"

"Tidak," sanggah Setan Mata Satu cepat "Pendekar Rajawali Sakti tidak pernah muncul secara diam-diam. Lagipula antara Badaraka dan Pendekar Rajawali Sakti itu tidak ada persoalan apa-apa."

"Lalu kenapa dia membunuh Badrun?"

"Sebenarnya itu masalah pribadiku," kata Banulaga pelan.

Dengan sedikit menahan malu Banulaga menceritakan kejadian yang dia alami bersama Badrun, yang akhirnya mati terbunuh di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Semua kepala tergeleng-geleng mendengarnya. Banulaga benar-benar menuruni sifat ayahnya yang gemar perempuan-perempuan cantik. Lain halnya dengan Resi Maespati, meskipun kepalanya tergeleng-geleng, tapi bibirnya yang tertutup misai lebat itu tersenyum simpul.

Pada masa mudanya, Resi Maespati sendiri dalam setiap langkah pengembaraannya tak lepas dari soal perempuan. Sepertinya dia menyimpan dendam yang terpendam dengan mereka, perempuan-perempuan cantik yang membangkitkan gairahnya. Dan ini dia turunkan pada Badaraka, murid kesayangannya yang kini telah tiada. Rupanya tanpa dia ajarkan, Banulaga menuruni sifat dirinya dan ayahnya.

"Lantas, apa yang harus kami perbuat untukmu?" tanya si Raja Ular.

"Melenyapkan Pendekar Rajawali Sakti dan mencari pembunuh ayahku," sahut Banulaga.

"Lalu, untuk apa kau punya centeng dan pembantu puluhan orang?" terdengar nada sinis dari si Raja Ular.

Banulaga tersenyum kecut Pertanyaan bodoh! gerutunya dalam hati. Tak mungkin mereka diundang kalau dia sendiri mampu menghadapinya.

"Kakang, sebaiknya tidak terlalu banyak tanya. Kita sudah banyak berhutang budi pada Badaraka," sergah Setan Mata Satu yang tak enak dengan sikap kakaknya ini.

"Hm, baiklah. Demi mendiang Badaraka, aku akan mempertaruhkan nyawa untukmu," kata si Raja Ular.

"Terima kasih," ucap Banulaga pelan.

********************

EMPAT

Resi Maespati mencegah langkah Santika yang baru pulang ketika pembicaraan di beranda rumah itu usai. Adik Banulaga satu-satunya itu terkejut melihat Resi Maespati yang berdiri di depannya. Buru-buru dia berlutut memberi hormat pada gurunya. Resi Maespati menyentuh pundak Santika dan memintanya berdiri.

"Kapan Eyang Resi datang?" tanya Santika.

"Siang tadi," sahut Resi Maespati tenang.

"Maaf, aku tidak tahu kalau Eyang mau datang sini. Aku tidak bisa menyambut," kata Santika.

"Tidak apa, aku datang atas undangan kakakmu."

"Kakang Banulaga?" Santika mengernyitkan alisnya.

"Untuk apa Kakang Banulaga meminta Eyang datang?"

"Mencari pembunuh ayahmu."

Santika terdiam. Matanya menatap lurus pada Resi Maespati, lalu tertunduk dalam-dalam. Sudah lima hari ayah mereka dikuburkan. Dan selama itu tidak ada lagi kejadian yang meminta korban. Kenapa baru sekarang Banulaga mau mencari pembunuhnya? Bukankah itu sudah terlambat? Santika jadi tak mengerti dengan sikap kakaknya. Tiga hari setelah kematian ayah mereka, Banulaga langsung mengangkat diri sebagai penggantinya tanpa mengajaknya berunding terlebih dahulu.

Dan kini dia mengundang guru mereka untuk mencari pembunuhnya. Santika melirik ke dalam, tampak beberapa orang sedang duduk berbincang-bincang di ruangan tengah. Santika tahu siapa mereka, kecuali satu yang tidak dia kenal. Orang yang mengenakan pakaian hijau lumut dengan tongkat berkepala ular di tangannya.

"Mereka semua diundang Banulaga," kata Resi Maespati seolah mengerti apa yang tengah dipikirkan Santika saat ini.

"Siapa orang yang bertongkat ular itu?" tanya Santika.

"Si Raja Ular, kakaknya Setan Mata Satu."

"Hm...," Santika menggumam tak jelas.

"Aku mau bicara sedikit denganmu, Santika," kata Resi Maespati.

Santika tak menolak ketika Resi Maespati mengajaknya menuju ke arah samping rumah. Mereka lierjalan beriringan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, dan baru berhenti melangkah setelah jauh berada di bagian belakang rumah yang banyak ditumbuhi pepohonan dengan cahaya yang menerangi.

"Seharian kau tak berada di rumah. Ada urusan apa?" Resi Maespati membuka suara lebih dulu.

"Bosan," sahut Santika acuh.

"Bosan? Lantas ke mana saja kau pergi seharian?"

"Ke mana saja, asalkan tidak melihat Banulaga."

"He! Kau ada masalah apa dengan kakakmu?" Resi Maespati terkejut .

"Aku tak mau ribut dengan saudaraku sendiri. Rasanya lebih baik menghindar daripada harus membunuhnya," ringan sekali Santika menjawab.

Resi Maespati semakin terkejut. Sama sekali dia tidak tahu kalau dalam hati Santika tersimpan bara yang sewaktu-waktu bisa berkobar besar.

"Kau mau mengatakan persoalanmu padaku, Santika?" pinta Resi Maespati.

"Mungkin, tapi percuma saja aku mengatakannya. Eyang Resi pasti lebih memihak Kakang Banulaga daripada aku."

"Kenapa kau berkata begitu?"

"Karena aku tidak bisa seperti Ayah atau Banulaga. Aku bukan seperti mereka yang senang menghancurkan hidup wanita, yang senang mengadu domba dan melihat penderitaan orang lain bagai menonton pertunjukan. Eyang Resi bisa melihat sendiri, bagaimana kehidupan penduduk yang setiap hari membanting tulang menggarap sawah ladang. Semuanya hanya untuk membayar hutang yang mencekik leher. Belum lagi mereka menjual tanah dan sawah ladang dengan harga yang tidak pantas, dan terpaksa menggarapnya dengan upah yang tidak memadai. Apakah aku salah kalau aku ingin merombak semua yang telah dilakukan ayah berpuluh-puluh tahun?" begitu bersemangatnya Santika berbicara, menumpahkan semua isi hatinya.

Resi Maespati terdiam mendengar tutur kata yang teratur dan penuh semangat. Sedikitpun dia tidak menyalahkan Santika, tapi memang harus diakui kalau dirinya tidak menginginkan Santika merombak yang sudah ada. Sejak masih kecil dan belajar ilmu olah kanuragan, Santika memang sudah menampakkan pola berpikir dan tingkah laku yang berbeda dengan prinsipnya. Dan sekarang semuanya terbuka jelas.

"Maaf, Eyang Resi. Aku tidak bisa mendukung semua yang akan Kakang Banulaga lakukan. Aku telah memilih jalan hidupku sendiri, ketenangan dan kedamaianlah yang aku inginkan," kata Santika seraya berlalu.

Resi Maespati hanya bisa memandangi punggung Santika tanpa dia bisa mencegahnya. Sementara sepasang mata lainnya turut memandang kepergian Santika dan Resi Maespati yang masih berdiri mematung dari rerimbunan pohon yang tak jauh dari dua orang yang baru dilihatnya selesai berbicara.

"Dari mana saja, Eyang?" tegur Banulaga begitu kaki Resi Maespati menginjak beranda rumah.

"Jalan-jalan menghirup udara segar," sahut Resi Maespati terus melangkah.

"Aku lihat tadi Santika masuk ke kamarnya. Apakah Eyang Resi sudah menemuinya?" tanya Banulaga seraya mengikuti langkahnya.

"Sudah," sahut Resi Maespati pendek.

"Sejak kematian ayahanda, dia banyak berubah," gumam Banulaga pelan.

"Kau tidak pernah menanyakannya?"

"Sudah, tapi dia tidak pernah mau menjawab."

"Hm...," Resi Maespati cuma bergumam.

"Malam sudah sangat larut Sebaiknya Eyang istirahat saja. Kamar sudah disiapkan untuk Eyang," kata Banulaga sambil menunjuk sebuah kamar yang pintunya masih terbuka.

Resi Maespati tidak berkata apa-apa, dan langsung melangkah ke kamarnya. la tersenyum begitu tangannya membuka pintu. Tampak sesosok tubuh ramping tergolek di atas pembaringan. Tubuh yang indah itu hanya tertutup selembar kain sutra merah muda yang halus dan tipis. Keindahan dan lekuk-lekuk tubuhnya begitu jelas terlihat di keremangan cahaya pelita. Tubuh yang ramping dan sintal itu begitu menggairah kan. Resi Maespati menutup pintu dan...

********************

Suara jeritan melengking begitu jelas terdengar. Disusul pekikan tertahan, lalu..., buk! Seperti ada sesuatu yang terjatuh ke tanah. Suara-suara gaduh dan teriakan pun saling susul menyusul. Orang-orang seisi rumah Banulaga pun berhamburan mencari sumber suara yang mengagetkan, yang ternyata dari kamar Banulaga.

"Banulaga! Ada apa? Apa yang terjadi?" terdengar suara Resi Maespati.

"Akh!" kembali terdengar suara pekikan tertahan dari dalam kamar.

Seketika itu juga pintu kamar hancur berantakan disusul dengan berlompatannya Resi Maespati, Iblis Selaksa Racun, Setan Mata Satu dan si Raja Ular ke dalam kamar. Tampak Banulaga terduduk di pinggir ranjang dengan tangan kiri memegangi bahu kanannya. Darah merembes keluar dari sela-sela jari.

Pada saat itu juga sebuah bayangan hitam berkelebat cepat menembus jendela hingga hancur berantakan. Resi Maespati langsung meloncat mengejar bayangan hitam itu, disusul Iblis Selaksa Racun dan si Raja Ular. Sedang Setan Mata Satu membantu Banulaga berdiri. Setan Mata Satu tengah mengobati Banulaga ketika ketiga orang yang mengejar bayangan hitam itu muncul kembali.

"Bagaimana?" tanya Setan Mata Satu.

"Dia seperti malaikat. Cepat sekali menghilang," sahut Resi Maespati.

Laki-laki tua yang berwajah lusuh itu melirik ke arah pembaringan. Tampak sebuah belati tertancap di leher perempuan muda yang tubuhnya setengah telanjang. Iblis Selaksa Racun cepat tanggap. Dicabutnya belati itu, lalu diamatinya sesaat.

"Beracun," dengusnya.

Dia bergegas menghampiri Banulaga dan memeriksa lukanya. Keningnya berkerut melihat warna kebiruan di sekitar goresan luka yang memanjang. Iblis Selaksa Racun cepat menekan luka itu dengan tangannya. Banulaga menjerit keras merasakan bahunya yang terasa panas membakar. Dia mencoba bertahan sekuat tenaga, tapi kemudian pingsan bersamaan dengan tangan Iblis Selaksa Racun terangkat. Darah merah kebiru-biruan keluar deras dari goresan lukanya yang memanjang. Iblis Selaksa Racun bergumam tak jelas.

Dia mengeluarkan sebungkus bubuk putih dari saku baju, lalu tangan kirinya menaburkan bubuk itu tepat di bagian luka. Asap tipis mengepul kemudian terlihat lalu perlahan-lahan luka itu mengering dan darah berhenti mengalir. Iblis Selaksa Racun mendesah panjang sambil memasukkan kembali sisa bubuk itu ke dalam saku bajunya.

"Racun yang hebat. Sangat cepat kerjanya," gumam Iblis Selaksa Racun.

"Beruntung Banulaga punya kekuatan tubuh yang lumayan, hingga nyawanya bisa tertolong."

"Apakah sudah ke luar semua racunnya?" tanya Setan Mata Satu.

"Sudah, cuma lukanya tidak bisa hilang."

Beberapa saat keheningan mencekam seisi kamar Itu Tidak seorang pun yang membuka suara. Mereka tengah menelusuri jalan pikirannya masing-masing tentang pembunuh misterius yang bergerak cepat dan tak bisa dihadangnya. Mereka punya pandangan yang sama meski tak terucapkan.

"Kau bisa melihat wajahnya, Kakang Maespati?" tanya Iblis Selaksa Racun.

"Tidak," sahut Maespati.

"Seluruh mukanya tertutup selubung hitam."

"Hm...," ketiga orang lainnya bergumam bersamaan.

********************

Munculnya manusia bertopeng hitam yang misterius itu membuat orang-orang Banulaga bertambah geram. Apalagi ketika ditemukannya mayat Sarkam yang mati terbunuh dengan kepala pecah. Sarkam yang pernah bersama Japra diutus Banulaga untuk menemui Resi Maespati dan ketiga tokoh lainnya itu tergeletak di samping kandang kuda tuannya.

Banulaga merasa seperti dipermainkan dan dipecundangi, lalu hampir semua centeng dan anak buahnya menjadi korban amarahnya yang memuncak. Banulaga dan empat tokoh yang menjadi tamunya tak menemui apa-apa yang bisa dijadikan petunjuk dari tubuh Sarkam. Japra yang biasanya berdua dengan Sarkam pun mengaku pada tuannya kalau dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia memang sedang tidak mendapat giliran jaga ketika temannya itu mati terbunuh.

Berbeda dengan kejadian yang dialami Banulaga, kali ini tidak ada satu belati pun yang menancap pada tubuh Sarkam. Tapi kematian Sarkam yang hanya selisih dua malam berselang membuat Banulaga dan orang-orangnya tetap yakin kalau dua peristiwa terakhir ini semuanya dilakukan oleh si Manusia Bertopeng Hitam.

Resi Maespati dan ketiga tokoh lainnya tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menggembleng Banulaga dengan ilmu-ilmu yang mereka miliki dan menjadi andalannya. Mereka yakin benar, kalau si Manusia Bertopeng Hitam akan datang kembali untuk melenyapkan Banulaga. Seorang pembunuh berilmu tinggi dan berdarah dingin tentu tidak akan berbuat setengah-setengah untuk menghabisi setiap korban yang diincarnya.

Sementara kakaknya terus mengasah ilmunya, Santika nyaris tak pernah kelihatan batang hidungnya. Dini hari menjelang fajar, dia sudah menggebah kudanya dan baru pulang ke rumah saat Banulaga dan tamu-tamunya tengah tertidur lelap. Banulaga yang sebenarnya merasa tidak enak pada tamu-tamunya atas sikap adiknya ini tidak lagi peduli. Dendam kesumatnya pada si Manusia Bertopeng Hitam juga membuat otaknya tak lagi dijejali oleh bayangan Mega Lembayung dan si Pendekar Rajawali Sakti.

Dua puluh satu hari pun berlalu sejak kejadian yang menimpa Banulaga. Resi Maespati dan ketiga tokoh lainnya merasa sudah cukup berbuat banyak untuk menurunkan semua ilmu dan kepandaiannya pada putra sulung Badaraka itu. Dan kini, mereka seperti sudah tidak sabar untuk membekuk si Manusia Bertopeng Hitam.

Malam sudah menjelang larut, namun Banulaga dan keempat tamu yang sudah menjadi gurunya itu masih duduk-duduk di beranda tengah. Mereka sepertinya tengah merundingkan rencana-rencana yang akan mereka lakukan.

"Banulaga, bagaimana dengan orang-orangmu? Maksudku, yang kau tugasi untuk mengawasi rumah si Karta dan gerak-gerik adikmu, Santika?" tanya Resi Maespati.

"Hmmm...," Banulaga bergumam. "Pendekar Rajawali Sakti seperti angin, lenyap tidak berbekas... langkah Santika pun sulit diraba," katanya pelan.

"Sejak kematian Sarkam pun tidak ada korban lagi..., kita kehilangan jejak si Manusia Bertopeng Hitam yang misterius itu," Setan Mata Satu berucap, menyambung kata-kata Banulaga.

"Aku kira...," Iblis Selaksa Racun angkat bicara, "Selagi kita semua masih berada di sini, Manusia Bertopeng Hitam itu tidak akan muncul lagi. Paling tidak untuk sementara."

"Lantas, apa usulmu?" tanya si Raja Ular.

"Rencana kita tetap, jangan biarkan Manusia Bertopeng Hitam itu mengajak kucing-kucingan..., lalu melecehkan wibawamu di mata orang-orang desa ini, Banulaga," Iblis Selaksa Racun mengalihkan perhatiannya pada Banulaga sesaat, lalu kembali berujar, "Tapi sebaiknya kita berpencar.... Kita harus membagi tempat dan tugas kita masing-masing, lalu menyatu pada sasaran yang kita tuju..." Iblis Selaksa Racun berkata tenang mengajukan usulnya.

Semuanya lalu terdiam untuk beberapa saat lamanya. Sementara sepasang telinga yang tak jauh dari beranda rumah itu pun seperti menunggu apa yang akan dibicarakan lagi.

"Japra!" suara Banulaga memecahkan heningnya suasana beranda rumah itu. Yang dipanggil segera menghampiri sambil membungkukkan badannya.

"Kau periksa seluruh ruangan dalam, lalu periksa sekeliling rumah, semua teman-temanmu harus ada di tempatnya. Lalu lakukan apa yang aku perintahkan padamu siang tadi…, mengerti?"

"Baik, tuan…" Japra lalu bergegas meninggalkan tempat Banulaga dan keempat tokoh sakti itu berkumpul.

Sementara di balik misainya, bibir Resi Maeaspati menyunggingkan senyuman, dia tahu apa yang dimaksudkan Banulaga pada Japra. Anak Badaraka ini memang persis bapaknya, tidak mungkin tahan berhari-hari tanpa perempuan, dan dia menyuruh Japra untuk menyediakannya.

Sepeninggal Japra, pembicaraan di beranda rumah pun berlanjut ketika Resi Maespati membuka suaranya yang tenang dan berat

"Bukan aku tidak percaya dengan orang-orangmu, Banulaga..., tapi aku rasa, sebaiknya kita bicara di ruangan dalam saja. Paman Iblis Selaksa Racun tidak keberatan, kan?" Resi Maespati mengakhiri ucapannya sambil menoleh ke arah Iblis Selaksa Racun, yang ditatap pun mengangguk kecil. Iblis Selaksa Racun bangkit diikuti yang lainnya.

Pembicaraan mereka di ruangan dalam nyaris tidak terdengar. Mereka berbicara satu sama lain dengan lirih dan tekanan yang datar Dan sepasang telinga lainnya pun terpaksa merapatkan tubuhnya ke dinding ruangan dalam. Pembicaraan mereka baru usai ketika malam telah begitu larut. Wajah-wajah yang tampak lelah itu pun segera memasuki kamarnya masing-masing, lalu terdengar suara pintu tertutup saling susul menyusul.

Tidak lama setelah Banulaga dan keempat tamu dan gurunya berangkat ke peraduan, terdengar suara derap langkah kaki kuda yang semakin lama semakin jelas terdengar. Banulaga yang sudah berhasrat untuk menggauli tubuh montok yang ada di hadapannya, tidak lagi peduli pada kehadiran Santika yang memacu kudanya sampai di rumah. Tarsa, salah seorang pembantu setianya segera menghampiri Santika yang baru turun dari kudanya, lalu diterimanya tali kekang kuda untuk ditambatkan.

"Hm..., terima kasih, Tarsa. Aku selalu merepotkanmu pada saat orang lain sedang nyenyak tidur," sopan sekali ucapan Santika. Tarsa tersenyum kecil sambil membungkukkan badan.

Santika lalu melangkahkan kakinya menuju ke bagian belakang rumah lewat arah samping, seperti biasanya dia lakukan jika pulang ke rumah sudah larut malam. Sesosok bayangan hitam segera berkelebat cepat begitu menyadari kehadiran Santika. Beruntung Santika tidak sempat memergokinya. Bayangan hitam itu lenyap ditelan kegelapan malam.

Di pembaringannya Santika tidak bisa langsung tertidur. Pikiran dan benaknya menerawang jauh... membayangkan kehidupan penduduk di Desa Malayasati yang sempat dia amati. Kehidupan mereka bagaikan roda pedati yang tak bisa berputar karena terperosok jalanan yang berlubang. Penderitaan mereka karena keperluan sehari harinya yang sulit didapat, menjadi semakin bertambah manakala mereka ingat akan kewajibannya membayar hutang-hutang dengan bunga yang mencekik leher pada orang-orang suruhan Banulaga.

Dan melihat kehadiran Santika dengan pembawaannya yang tenang dan menyiratkan kedamaian, penduduk seperti melihat keadaan yang bertolak belakang dan sulit mereka mengerti. Sungguh suatu keadaan yang kontras jika mereka membandingkan sikap Banulaga, yang tidak lain kakak kandung Santika sendiri. Banulaga dan kaki tangannya tidak segan-segan menghajar mereka dengan cambuk bila mereka tidak bisa membayar hutangnya yang sudah lewat tempo.

Penduduk seperti tidak percaya manakala mereka melihat sendiri Santika yang tak segan-segan membagikan beberapa bonggol uang untuk mereka. Mereka seperti mulai melihat sinar kehidupan yang akan merubah nasib mereka menjadi lebih baik. Apalagi beberapa hari belakangan ini Banulaga dan orang-orangnya tidak pernah muncul lagi menggedor rumah-rumah mereka. Penduduk tidak tahu kalau selama ini Banulaga dipusingkan oleh kehadiran Manusia Bertopeng Hitam, juga Pendekar Rajawali Sakti yang telah mempecundanginya. Dan kini dia hendak menuntut balas...

********************

LIMA

Langit di sekitar kaki bukit itu sejuk cerah. Angin bertiup sepoi-sepoi di antara pepohonan, seolah hendak membagi kesejukannya pada siapa saja yang ditemuinya. Dengan disirami sinar mentari pagi, sesosok tubuh tengah memacu kudanya dengan kencang. Sesosok tubuh dengan paras yang tampan itu kemudian memperlambat langkah kudanya, lalu berhenti di bawah pohon yang rindang menakala dilihatnya sesosok tubuh yang ramping berlari-lari kecil menuju ke arahnya.

"Kakang Santika!" gadis ayu pemilik tubuh ramping itu menyapanya.

Pemuda itu lalu meloncat turun dari kudanya. Tangannya menggapai bahu si gadis. Beberapa saat lamanya mereka saling berdiam diri sambil saling menggenggam tangan.

"Adakah yang mengganggumu selama aku pergi, Mega?" tanya Santika lembut.

"Tidak," sahut gadis yang ternyata Mega Lembayung. "Hanya...."

"Hanya apa?"

"Rumah kakekku selalu diamati...."

"Kau mengenali mereka?"

"Ya. Orang-orangnya Banulaga. Hanya seorang yang tidak aku kenal "

Santika tidak bertanya lagi. Dia tahu siapa yang dimaksud Mega Lembayung. Tentulah dia si Raja Ular. Dengan beberapa orang-orangnya Banulaga menugaskan si Raja Ular untuk mengawasi rumah Pak Karta. Banulaga rupanya masih penasaran dan mengira Pendekar Rajawali Sakti akan muncul lagi. Meskipun kematian Badrun sudah lama berlalu. Santika sendiri hanya sekali bertemu dengan Pendekar Rajawali Sakti. Itu pun Mega yang memperkenalkannya.

"Kakang...," tampak ragu-ragu Mega mau berkata.

"Ada apa?" tanya Santika sambil matanya menatap lembut pada wajah Mega yang jelas terlihat cemas,

"Aku khawatir hubungan kita diketahui Banulaga. Apalagi kudengar dia sedang dibayang-bayangi oleh Manusia Bertopeng Hitam. Juga rasa dendamnya pada Pendekar Rajawali Sakti tentu akan dia lampiaskan padamu, apalagi dia gagal mendapatkan aku."

"Seandainya dia pun tahu, aku tidak akan membiarkan kau jatuh ke tangannya. Percayalah Mega, aku akan menghadapi Banulaga, meski empat orang tokoh sakti kini ada di belakangnya."

"Aku percaya, Kakang. Hanya sayangnya…"

"Kenapa...?"

Belum sempat Mega Lembayung membuka mulutnya, mendadak mereka dikejutkan oleh sebuah tombak yang meluncur deras, menancap di ujung kaki Santika. Belum lagi hilang rasa terkejut mereka, mendadak muncul Banulaga yang diiringi Setan Mata Satu dan lima orang kaki tangannya.

Santika menarik tangan Mega Lembayung hingga tubuhnya berada di belakang tubuh Santika. Santika berdiri dengan sikap menunggu apa yang akan terjadi.

"Santika, kau tahu siapa yang ada di belakangmu?" tanya Banulaga dingin.

"Untuk apa kau bertanya begitu?" Santika sudah tidak segan lagi bersikap menantang.

"Phuih! Berani kau bersikap begitu padaku, Santika!?"

"Sejak dulu aku pun sudah tidak menyukai sikapmu. Maaf, aku mau pergi."

Santika menggamit tangan Mega Lembayung dan mengajaknya pergi. Namun baru beberapa langkah, mendadak lima orang bersenjata golok sudah mengepung. Santika mendengus melihat wajah-wajah kasar yang sudah amat dikenalnya. Wajah-wajah yang sama sekali tidak disukainya. Kini mereka berdiri dengan golok terhunus seperti musuh.

"Hati-hati, Mega. Mereka memiliki kepandaian yang cukup tinggi," bisik Santika.

"Aku tahu, Kakang," sahut Mega juga berbisik.

"Tinggalkan Mega di sini, dan kau boleh pergi!" seru Banulaga tanpa malu-malu lagi.

"Iblis!" seru Santika geram. "Banulaga, aku serahkan Mega kalau kau bisa melangkahi mayatku!"

"Anak tak tahu diuntung, berani kau menantangku, heh?!" geram Banulaga. Seketika itu juga dia mencabut sepasang golok kembarnya.

"Majulah, Banulaga!" tantang Santika.

Banulaga memberi isyarat pada lima orang yang mengurung Santika dan Mega. Seketika itu juga mereka berlompatan sambil mengibaskan goloknya. Santika yang sudah hapal tingkat kepandaian mereka tidak lagi sungkan-sungkan. Dia langsung mengerahkan jurus 'Ekor Naga Menggempur Gunung Karang'.

Pukulan-pukulan Santika begitu cepat dan berubah-ubah arahnya. Setiap pukulan yang dilancarkan memberikan dorongan angin yang kuat dan hawa dingin yang menusuk tulang. Salah seorang lawannya yang nekad maju, tak ayal lagi tubuhnya terlontar ke belakang, lalu ambruk tertelentang. Keempat orang lainnya jadi ragu-ragu untuk melancarkan serangannya. Pukulan-pukulan Santika yang kuat itu membuat sekitar tempat pertarungan itu menjadi berantakan. Batu-batu hancur terkena pukulan yang nyasar, dan debu-debu beterbangan menghalangi mata.

"Awas, Kakang...!" tiba-tiba Mega Lembayung memekik keras.

Seketika itu juga Santika merunduk begitu merasakan angin deras datang dari arah belakangnya. Dan sebuah golok berkelebat cepat di atas kepalanya. Bersamaan dengan itu tangan kirinya bergerak cepat bagaikan kilat dan menghantam perut pembokong itu.

"Huk!" orang itu mengeluh pendek. Tubuhnya terjajar ke belakang.

Tanpa membuang kesempatan lagi Santika mengerahkan tenaga dalamnya dengan sebuah kibasan kakinya ke arah dada. Orang yang membokongnya itu terjungkal ke belakang, lalu roboh setelah punggungnya menghantam pohon besar hingga bergetar. Dari hidung dan mulutnya mengucur darah segar. Sesaat dia menggeliat, lalu diam tak bergerak lagi.

********************

"Mundur!" Setan Mata Satu tiba-tiba membentak keras.

Empat orang bergolok yang memang sudah gentar menghadapi Santika ini, langsung melompat mundur. Setan Mata Satu melenting dan bersalto di udara, berputar dua kali, lalu mendarat tepat beberapa langkah di depan Santika. Bola matanya yang tinggal sebelah merayapi Santika dan Mega Lembayung bergantian.

"Aku minta kau mengalah pada kakakmu, Santika," kata Setan Mata Satu.

"Aku juga minta padamu untuk tidak ikut campur tangan dalam urusan ini, Setan Mata Satu," balas Santika dengan dingin.

"Hm..., aku tidak akan mencampuri kalau kau tidak membunuh orang-orangku."

"Mereka yang memaksaku membunuh!"

"Dengar, Santika. Banulaga itu kakakmu, dia yang menguasai Desa Malayasati ini. Mega sudah selayaknya membaktikan diri pada penguasa di mana dia tinggal. Lebih-lebih orang tuanya bekerja di ladang Banulaga. Santika, tidak sepatutnya kau merintangi maksud kakakmu."

"Kau pintar bicara, Setan Mata Satu. Aku tidak rela menyerahkan kekasihku hanya untuk dimangsa manusia-manusia liar macam binatang! Sekali lagi, jangan kau campuri urusan ini, lebih baik kau cari biji matamu yang hilang sebelah itu!"

Deg!

Hati Setan Mata Satu panas seketika menerima penghinaan semacam itu. Tapi dia masih bisa menyadari keadaan.

"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Jangan salahkan aku kalau kau sampai celaka di tanganku, Santika," Setan Mata Satu masih bisa bicara dengan dingin dan datar.

Santika mencopot sepasang gelang pualamnya. Kedua tangannya kini menggenggam gelang putih yang berkilat itu. Dia paham benar siapa yang akan dihadapinya sekarang. Seorang manusia setengah iblis yang tidak akan berkedip membunuh orang. Santika juga menyadari kalau dirinya tidak akan mampu menandingi si Setan Mata Satu ini. Tapi demi gadis yang dicintainya, dia rela mempertaruhkan nyawanya.

Tiba-tiba Setan Mata Satu mengibaskan tangannya ke depan, dan seketika itu pula meluncur seberkas sinar keemasan dari telapak tangannya. Santika melompat sambil mendorong tubuh Mega Lembayung. Sinar itu menghantam tempat yang kosong. Santika bergulingan di atas tanah, dan secepat kilat dia bangkit kembali. Sementara Mega Lembayung terpisah beberapa langkah di sebelah kanannya.

Setan Mata Satu kembali melancarkan serangan. Santika berlompatan menghindari sambaran-sambaran sinar keemasan yang meluncur deras dari telapak tangan Setan Mata Satu. Santika menyadari kalau tenaganya tak akan mampu terus bertahan berlompatan menghindari serangan Setan Mata Satu yang amat gencar dan berbahaya ini.

"Hiaaat...!"

Saat itu juga tubuhnya melenting dan berputar di udara tiga kali. Dengan satu dorongan tenaga dalamnya yang kuat, Santika meluncur deras dengan kedua tangan terkepal ke depan. Seluruh jari-jari tangannya terlindung gelang pualam putih yang tergenggam.

"Uts!"

Setan Mata Satu menggeser kakinya ke samping sambil memiringkan tubuhnya untuk menghindari terjangan Santika. Namun belum sempat dia memperbaiki posisi, mendadak Santika berputar cepat dengan tangan terentang. Setan Mata Satu kaget, lalu cepat dia membanting dirinya ke tanah sambil terus bergulingan menjauh.

Setan Mata Satu melakukan salto dan bangkit berdiri. Tapi begitu kakinya menjejak tanah, Santika sudah kembali menyerang dengan jurus-jurus pendek yang cepat ke arah lawannya, hingga Setan Mata Satu sama sekali tidak menyangka kalau Santika yang masih muda dan kelihatan lemah itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi. Gerakan-gerakan dari setiap jurus yang dikeluarkannya begitu sulit diikuti pandangan mata.

"Hup!"

Setan Mata Satu melompat ke atas, lalu berputar dua kali sambil melontarkan kembali serangan berupa sinar keemasan yang keluar dari tangannya. Saat Santika menghindari muntahan sinar dari atas dengan jatuh bangun, mendadak Setan Mata Satu menukik cepat seraya mengirimkan pukulan mautnya.

Santika tak sempat lagi menghindar, secepat kilat mengangkat tangan kanannya mencegat pukulan maut itu. Santika terjengkang sekitar dua tombak ke belakang, dan Setan Mata Satu sendiri bergulingan di atas tanah karena terdorong oleh cegatan tangan Santika. Dalam sekejap saja mereka sudah saling berhadapan.

"Hmmm...," Setan Mata Satu bergumam pelan.

Dia tak menyangka Santika akan mampu mencegat pukulannya, bahkan tanpa cidera sedikitpun. Santika tetap kelihatan tegar. Setan Mata Satu tak menyangka kalau lawannya yang jauh lebih muda itu ternyata mampu menandinginya lebih dari dua puluh jurus.

"Kenapa berhenti, Setan Mata Satu? Apakah kau gentar dan takut kehilangan biji matamu yang tinggal satu-satunya itu?" ejek Santika memanasi.

"Phuih! Kurang ajar, kau berani menghinaku, heh?! Jangan pongah dulu, Santika Semua yang kukeluarkan tadi belum ada seujung kuku pun!" dengus Setan mata Satu menutupi rasa terkejutnya.

"Kalau begitu, keluarkan saja semua ilmu simpananmu!" kembali Santika menantang.

"Tahanlah aji 'Pukulan Karang Samudra'ku!" bentak Setan Mata Satu.

Setan Mata Satu langsung merentangkan kedua kakinya lebar-lebar, lalu kedua lututnya ditekuk. Kedua tangannya menyilang di depan dada. Lalu perlahan-lahan tangannya bergerak terbuka, bersamaan dengan menyempitnya kedua kaki. Tampak kedua tangan Setan Mata Satu berubah menjadi merah membara bagai terbakar.

Santika tidak tinggal diam melihat lawannya benar-benar mengeluarkan jurus pamungkasnya. Santika segera merapal aji 'Gelang Menghalau Petir'. Dia menggosok kedua gelang pualam putihnya. Seketika itu juga gelang di tangannya memancarkan sinar hijau yang semakin lama semakin menyilaukan dan memedihkan mata.

"Yeaaah...!" Setan Mata Satu berteriak nyaring.

"Hiaat..!" Santika pun mulai menyerang.

Mereka melompat ke depan hampir bersamaan, dan akhirnya kedua pasang tangan mereka saling berbenturan keras. Suara ledakan dahsyat terdengar menggelegar memecah udara. Bunga-bunga api pun memercik ke segala arah. Dan tubuh Santika dan Setan Mata Satu saling terpental ke belakang dengan keras.

"Kakang...!" Jeritan Mega Lembayung melengking kencang.

********************

ENAM

Tubuh Santika terpental keras meluncur deras melewati puncak pepohonan. Dan ketika tubuhnya sedang meluruk, sebuah bayangan berkelebat cepat menyambar tubuh Santika, lalu menghilang bagai sinar yang lenyap tanpa bekas.

Sementara itu tubuh Setan Mata Satu juga terloncat keras menghantam dinding batu hingga menimbulkan benturan yang teramat dahsyat... lalu terbanting ke tanah. Tubuh Setan Mata Satu tak bergerak sesaat, lalu terlihat dia menggelang-gelengkan kepalanya sebentar sambil berusaha bangkit. Tubuhnya terhuyung-huyung sempoyongan, dan perlahan-lahan dapat berdiri kembali dengan tegak. Mulutnya penuh dengan darah, dan dari hidungnya mengalir darah kehitaman.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Banulaga yang langsung menghampiri begitu tubuh Setan Mata Satu membentur dinding batu.

"Tidak," sahut Setan Mata Satu. "Bagaimana Santika?"

"Hilang."

"Hilang...?"

"Ya, seseorang telah menyambar tubuhnya dan membawanya pergi."

"Lalu, Mega Lembayung?"

Banulaga tersentak kaget, lalu....

"Aaakh...!"

Banulaga terkesiap. Baru saja dia menoleh ke arah Mega Lembayung, seorang kaki tangannya roboh dengan belati tertancap di lehernya. Lalu tubuh bertopeng hitam menyambar tubuh Mega Lembayung. Banulaga menahan geramnya, Manusia Bertopeng Hitam itu muncul lagi. Kali ini dia membawa tubuh gadis yang selama ini diincarnya. Tiga orang kaki tangannya yang tersisa hanya terpaku melihat Manusia Bertopeng Hitam itu memanggul tubuh Mega Lembayung dengan kecepatan tinggi

"Kurang ajar!" Setan Mata Satu mengumpat tanpa bisa berbuat apa-apa.

Banulaga dan Setan Mata Satu benar-benar merasa dipermainkan. Dua orang muncul sekaligus tanpa diduga-duga dan menggagalkan niatnya.

"Aku yakin, si Pendekar Rajawali Sakti-lah yang menyambar tubuh Santika tadi. Kali ini dua orang musuh kita datang pada saat yang bersamaan, Pendekar Rajawali Sakti dan Manusia Bertopeng Hitam." Banulaga berucap dengan bibir rapat dan gigi yang bergemeletuk menahan geram.

"Heh! Cepat kalian cari Mega Lembayung!" bentak Banulaga pada anak buahnya. Ketiga orang yang diperintah itu bergerak cepat ke arah Mega Lembayung yang dibawa pergi oleh Manusia Bertopeng Hitam. Mereka tak bisa berbuat lain kecuali melakukan perintah tuannya, meskipun sebenarnya nyali mereka sudah hilang sama sekali.

"Aku khawatir kau mendapat luka dalam yang serius," kata Banulaga setelah mereka tinggal berdua.

"Aku tidak apa-apa. Aku justru mengkhawatirkan keselamatan Santika," sahut Setan Mata Satu.

"Mampus pun aku tidak peduli!" dengus Banulaga.

"Bagaimanapun dia adikmu, Banulaga. Aku menyesal telah mengeluarkan aji 'Pukulan Karang Samudra.' Ajian itu sangat dahsyat, selama ini belum ada seorang pun yang mampu bertahan hidup terkena ajian itu."

"Ah, sudahlah. Yang penting sekarang, kita harus mendapatkan Mega Lembayung," sergah Banulaga tidak peduli lagi soal Santika

"Kau saja yang cari. Aku mau semedi dalam tiga hari ini," sergah Setan Mata Satu.

Banulaga melongo mendengar penolakan Seta Mata Satu. Dia tidak bisa berbuat apa-apa melihat laki-laki tinggi besar itu berlalu dari hadapannya. Banulaga menghentakkan kakinya kesal setelah punggung Setan Mata Satu lenyap di balik kerimbunan pepohonan.

"Huh! Kenapa tidak kubunuh saja Santika tadi!" dengus Banulaga sengit.

Banulaga membalikkan tubuhnya Kakinya terayun mendekati kuda yang tertambat di pohon. Dia tahu kuda itu milik Santika. Seekor kuda coklat bertubuh kekar hadiah dari ayahnya ketika Santika lulus ujian tingkat pertama dalam ilmu kanuragan.

Sesaat lamanya Banulaga tercenung memegang tali kekang kuda milik adiknya itu. Dia masih belum bisa mengerti, bagaimana Santika yang sedari kecil belajar ilmu olah kanuragan dan kesaktian pada guru yang sama, mampu menandingi tingkat kepandaian Setan Mata Satu. Terlebih lagi saat dia melihat Santika mengeluarkan ajian 'Gelang Menghalau Petir'. Karena sepanjang yang diketahuinya, Santika belum pernah mempelajari ilmu itu. Dan gelang pualam putih itu...? Bukankah gelang sakti milik ayah mereka? Dia tidak tahu bagaimana Santika bisa mendapatkan benda pusaka yang selama ini dia juga menginginkannya.

"Hup!"

Banulaga meloncat ke atas punggung kuda, lalu menggebahnya dengan cepat meninggalkan tepian danau menuju Desa Malayasati. Dia memacu kudanya bagaikan kesetanan, hingga debu-debu mengepul beterbangan.

********************

Tak seorang pun tahu ke mana Santika dan Mega Lembayung pergi dibawa penolongnya. Juga Pak Karta yang setengah mati dipaksa Banulaga dan orang-orangnya untuk memberi tahu di mana cucunya kini berada.

Muka dan sekujur tubuh Pak Karta penuh berlumuran darah. Kedua tangannya terikat di beranda depan rumahnya. Kakinya lemas tidak lagi mampu men han beban tubuhnya. Seluruh wajahnya telah berubah kebiru-biruan dan penuh benjolan-benjolan luka memar. Pakaiannya terkoyak-koyak menampakkan kulit yang bergurat bekas cambukan rotan.

"Mudah saja bagiku untuk membunuhmu, tua bangka. Semudah aku membalikkan telapak tangan. Tapi kau calon mertuaku, kau akan bahagia jika Mega Lembayung jadi istriku. Katakan di mana anakmu berada?" Banulaga mencoba mengambil hati Pak Karta.

Pak Karta tetap saja membungkam. Kepalanya lemas tak berdaya. Dia sudah tak mampu mengeluarkan barang sepatah katapun. Kata-kata Banulaga pun seperti hilang tertiup angin. Dan Banulaga pun menjadi gusar.

"Di mana Mega?" bentak Banulaga gusar.

Pelan-pelan kepala Pak Karta terangkat, dia seperti mendapat kekuatan. Namun matanya tetap redup, meski di balik itu terpancar sinar kebencian yang menyesak hingga ke dasar hatinya.

"Phuih!"

Pak Karta menyemburkan ludah yang bercampur darah dari rongga mulutnya. Ludah yang bercampur darah segar dan kental itu tepat memuncrat ke muka Banulaga.

Banulaga terkesiap sesaat Lalu tangannya dengan cepat melayang ke muka keriput itu beberapa kali. Darah segar memuncrat dan membasahi tangan Banulaga. Lalu kepala laki-laki tua itupun kembali terkulai.

"Ikat, dan seret dia keliling kampung! Biar semua orang tahu bagaimana nasibnya kalau berani menentang Banulaga!"

Dua orang bertubuh kekar langsung bergerak Mereka membuka ikatan tangan Pak Karta, lalu mengikatnya kembali dengan tambang yang panjang dan kuat. Seorang lainnya sudah siap di atas punggung kuda dengan ujung tambang di tangannya.

Banulaga melompat ke punggung kuda putih tunggangannya. Sebentar dia menyeka sisa darah yang masih menempel di mukanya. Lalu dengan satu isyarat saja, orang yang memegang ujung tali itu menggebah kudanya mengikuti langkah kuda Banulaga yang bergerak cepat.

Nasib pak tua itu benar-benar ada di tangan Banulaga. Dia diseret mengelilingi kampung dengan sorot mata penduduk yang begitu iba menyaksikannya. Mereka yang melihatnya hanya mampu mengelus dada, tak sanggup menyaksikan tubuh tua yang malang itu lebih lama. Tak seorang pun yang dapat memastikan apakah tubuh yang tua renta itu masih dapat bernapas. Darah dan debu yang menempel jadi satu di tubuhnya tak bisa lagi untuk mengenali keadaannya

Mendadak tali yang mengikat lelaki tua itu terputus, ketika tubuhnya yang terseret itu melewati tepi hutan. Tubuh tua itu terguling-guling dengan tangannya yang masih terikat kencang. Orang-orang Banulaga yang mengiringinya langsung berlompatan turun dari kudanya.

Mereka segera mengepung sesosok tubuh yang tak lain si Manusia Bertopeng Hitam. Golok-golok mereka yang terhunus seperti siap menebas kepala Manusia Bertopeng Hitam itu yang sudah berdiri di dekat tubuh pak Parta yang tergeletak tak berdaya.

"Hmmm..., dengan cara seperti ini kau baru datang secara jantan, meski kau tak berani menunjukkan batang hidungmu yang sesungguhnya, Manusia Bertopeng Hitam. Aku tak perlu repot-repot mencarimu untuk membalaskan kematian ayahku, juga ketololanmu yang gagal membunuhku."

"Tutup mulutmu, Banulaga! Kelak jika tiba saatnya, kau akan tahu siapa aku yang sesungguhnya. Sekarang kau hanya berani dengan orang-orang yang lemah tak berdaya. Hm..., aku ingin tahu kepandaianmu yang sesungguhnya, Banulaga."

"Keparat! Bunuh dia!" Banulaga berteriak lantang dengan darah yang mendidih.

Orang-orang Banulaga yang mengepung Manusia Bertopeng Hitam itu bergerak cepat Namun secepat kilat, Manusia Bertopeng Hitam melenting ke udara, lalu mendarat di tempat yang cukup jauh dari tubuh Pak Karta. Golok orang-orang Banulaga itu hanya berkelebat menebas angin. Lalu bergerak cepat ke arah Manusia Bertopeng Hitam yang telah berdiri kembali.

"Hiaaat... Hiya...!"

Orang-orang Banulaga itu segera merangsek si Manusia Bertopeng Hitam. Mendapat serangan beruntun dari segala penjuru, orang bertopeng hitam itu berkelit dan berlompatan sambil sesekali membalas serangan. Manusia Bertopeng Hitam itu bertarung tanpa mengeluarkan senjata belati andalannya. Tapi sampai beberapa gebrakan berlalu, tak seujung golok pun yang berkelebat bagai kilat itu menyentuh kulit tubuhnya.

"Lepas!" teriak orang bertopeng hitam itu tiba-tiba.

Bagaikan kilat, tangannya bergerak cepat menyampok salah seorang pengeroyoknya yang terdekat. Gerakan tangannya yang cepat tak bisa dihindari lagi. Seorang dari pengeroyok itu menjerit kaget, dan goloknya melayang ke udara. Dia merasakan pergelangan tangannya patah dan terasa nyeri.

Belum lagi dia berbuat sesuatu, mendadak sebelah kaki Manusia Bertopeng Hitam itu mendarat tepat di dada. Tak ampun lagi pengeroyok yang nyalinya cukup besar itu terjungkal ke tanah dengan mulutnya memuntahkan darah. Dan pada saat yang bersamaan, seorang lagi mengibaskan goloknya dari arah samping kiri. Manusia bertopeng itu memutar tubuhnya dengan kaki terayun cepat.

Buk!

Kaki orang bertopeng ilu mendarat di perut, lalu tangan kanannya meringkus tangan orang yang memegang golok. Dengan sekali tekukan, tangan itu patah. Tangan orang bertopeng hitam itu cepat menyambar golok yang hampir jatuh ke tanah. lalu....

Bet!

"Aaakh...!" jeritan melengking terdengar. Orang bertopeng hitam itu cepat melepaskan kempitannya, dan penyerangnya langsung roboh dengan leher hampir putus terbabat goloknya sendiri yang kini berpindah tangan. Dalam satu gebrakan saja, dua orang pengeroyoknya kehilangan nyawa. Kini tinggal enam orang lagi yang masih mengepung.

"Sebaiknya kalian pergi, aku malas jadi tukang jagal manusia. Biarkan tuanmu menyelesaikan urusannya sendiri denganku!" dengus orang bertopeng hitam itu.

"Serang, bunuh dia!" teriak Banulaga memerintah.

"Yeaaah...!"

Tiba-tiba salah seorang melompat sambil mengibaskan goloknya. Orang bertopeng hitam itu segera berkelit memiringkan tubuhnya sedikit, golok di tangan kanannya langsung dia babatkan ke arah perut. Teriakan mengerang terdengar menyayat, disusul tubuh yang roboh menyemburkan darah segar dari perutnya yang terkoyak. Orang bertopeng hitam itu menyilangkan golok rampasannya di depan dada.

"Seraaang...!" Banulaga kembali memerintahkan orang-orangnya.

Seketika itu juga lima orang yang tersisa langsung merangsek. Kali ini jelas terlihat kalau Manusia Bertopeng Hitam itu bukan tandingan mereka. Dalam waktu singkat saja dua orang lagi terjungkal bermandikan darah.

Banulaga mulai terlihat watak pengecutnya. Dia langsung menggebah kudanya meninggalkan tempat itu. Orang bertopeng itu mendengus kesal. Ketiga orang yang semakin gencar menyerangnya tak memungkinkan dia mengejar Banulaga.

"Maaf, aku tidak ada urusan dengan kalian!" seru orang Bertopeng Hitam itu, lalu tubuhnya melenting, berputar di udara, dan mendarat tepat di dekat tubuh Pak Karta. Secepat kilat dia menyambar tubuh tua yang tak berdaya itu dan membawanya pergi meninggalkan lawan-lawannya.

"Ayo, kembali!" seru salah seorang. Ketiga orang itu langsung melompat ke punggung kudanya masing-masing, meninggalkan lima sosok tubuh yang tergeletak tak bernyawa. Beberapa orang penduduk yang melihat pertarungan itu dari kejauhan begitu tercekam, lalu menarik napas lega ketika tubuh tua Pak Karta disambar dengan cepat oleh penyelamatnya.

********************

Dua hari lamanya Pak Karta tidak sadarkan diri. Dan kini pada hari yang ketiga, dia mulai membuka matanya perlahan-lahan, lalu kembali tertutup manakala sinar matahari yang menyelinap dari pintu rumah menerpa wajahnya. Kepalanya kemudian mulai terlihat bergerak-gerak. Kesadarannya tampak mulai pulih kembali.

"Kakek...," sapaan halus terdengar di telinganya.

Pelan-pelan kelopak mata lelaki tua bertubuh ringkih itu terbuka. Dilihatnya seraut wajah cantik yang tersenyum lembut di depannya. Bibir Pak Karta lalu tersenyum bergetar. Sesaat lamanya matanya menatap lekat wajah yang selama ini memberinya harapan dan semangat hidup.

"Mega...," desis Pak Karta lemah.

"Oh, Kek...," Mega Lembayung tak kuasa lagi menahan air matanya.

Mega menjatuhkan wajahnya memeluk tubuh lelaki tua itu. Bersamaan itu pula pintu terkuak, lalu muncul sesosok tubuh berwajah tampan mendekati dua insan yang tengah saling berpelukan.

"Sudah siuman, Kek?" tanyanya lembut.

Pak Karta tersenyum dan mengangguk lemah melihat pemuda tampan yang masih berdiri di samping balai-balai bambu. Mata tuanya mengitari pemandangan yang ada di depannya. Sebuah bilik berdinding bambu yang tidak begitu besar, namun terlihat bersih dan rapi. Pandangannya lalu beralih kembali pada wajah Mega dan pemuda tampan itu bergantian.

"Maaf atas perlakuan kakakku yang kasar, hingga Kakek mengalami nasib yang menyedihkan seperti ini," kata pemuda tampan itu lembut.

Kepala Pak Karta menggeleng lemah. Bibirnya yang pucat menyunggingkan senyuman. Perlahan-lahan dia sudah bisa merekam kembali kejadian yang menimpanya. Sebelumnya dia tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah sesosok bayangan hitam mengangkat tubuhnya. Dan yang dia tahu kini, tubuhnya tengah tergolek lemah, lalu cucunya Mega Lembayung dan pemuda tampan yang tak lain adalah Santika ada di dekatnya.

"Di mana kita sekarang, Mega?" suara Pak Karta bertanya lemah.

"Di tempat yang aman, Kek," sahut Mega lembut.

Lalu terlihat oleh Pak Karta sesosok tubuh lainnya yang juga berwajah tampan dengan pakaiannya berompi putih dan sebuah pedang bergagang kepala burung yang tidak lain adalah Pendekar Rajawali Sakti.

"Terima kasih, kau pasti yang menyelamatkan aku," kata Pak Karta.

"Bukan aku, Kek," sahut Rangga seraya menolehkan wajahnya ke wajah Mega Lembayung, seolah meminta cucu Pak Karta ini untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Mega cepat tanggap.

"Maaf, Kek. Seseorang berpakaian serba hitamlah yang membawa Kakek kemari. Dia pula yang telah menolongku ketika aku dan Kakang Santika nyaris terbunuh oleh Banulaga dan orang-orangnya, tapi belum sempat aku mengucapkan terima kasih, orang yang berpakaian serba hitam itu pergi...," Mega menjelaskan dengan lirih.

"Benar, Kek," sambung Santika. "Dan akulah yang diselamatkan oleh Pendekar Rajawali Sakti ini...." Santika lalu menunjuk Rangga, Pendekar Rajawali Sakti itu hanya tersenyum merendah, yang dibalas oleh anggukan dan senyuman tipis Pak Karta.

"Terima kasih, Rangga. Untuk kedua kalinya kami berhutang budi padamu," ucap Pak Karta.

"Sudah menjadi kewajiban kita untuk menolong sesamanya, Kek," Rangga mengucapkan kata-kata yang sama ketika pertama kali menolong kakek dan cucunya ini.

Pak Karta kembali menyunggingkan senyumnya. Sesaat lalu suasana hening menyelimuti mereka. Ke empat orang yang ada di balik bilik bambu itu seperti tengah merenungi apa yang selama ini telah terjadi....

Terdengar bibir Pak Karta bergumam pelan, lalu wajahnya memandang ke arah Santika. Santika pun lalu seperti menunggu apa yang akan diucapkan Pak Karta. Namun beberapa saat bibirnya seperti terkunci, lalu pandangannya beralih pada cucunya, Mega Lembayung.

"Kakang Santika banyak membantu," kata Mega Lembayung seolah tahu apa yang tengah tersirat dalam benak kakeknya, "...dia telah menyediakan kamarnya untukku bersembunyi sampai keadaannya benar-benar aman dan tenang...."

"Benar, Kek. Aku sendiri tidak menyukai sikap ayahku dan Kakang Banulaga, dan aku tidak rela Mega Lembayung menjadi korban kebuasannya," sambung Santika.

"Semuanya sudah terjadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain aku berterima kasih padamu, Santika, dan kau, Rangga... dengan saksi Yang Maha Kuasa dan kalian bertiga yang ada di sini, aku berterima kasih juga pada orang yang telah menyelamatkan aku dari amukan Banulaga yang kejam dan telah menyiksaku... tolong sampaikan ucapan terima kasihku jika kalian bertemu dengan orang itu lagi...," Pak Karta mengakhiri ucapannya dengan nada lirih memetas.

"Kedudukan kita Juga semakin sulit, karena Kakang Banulaga sudah tak menganggapku sebagai saudara lagi. Dia sudah memandangku sebagai musuhnya," Santika mengeluarkan isi hatinya.

Rangga yang sedari tadi lebih banyak diam, tak kuasa pula untuk menahan isi hatinya.

"Benar, kata Kakek. Aku pun memahami posisimu, Santika," sesaat Rangga menoleh ke wajah Santika, "... tapi kita harus tetap berjuang demi kebenaran dan keadilan... untuk itu perkenankanlah aku mohon diri...."

Pak Karta, Mega Lembayung dan Santika terkejut mendengarnya.

"Kakang hendak ke mana?" tanya Mega Lembayung

"Percayalah, aku akan tetap berusaha berjuang bersama kalian... dan aku rasa kita tak boleh memberi kesempatan kepada Banulaga untuk menyusun kekuatannya kembali...," ketiga orang itu tercenung sesaat, dan bibir mereka tak sanggup berucap memandang kepergian Pendekar Rajawali Sakti itu.

Beberapa saat lamanya ketiga orang yang berada di dalam bilik bambu itu saling bertatapan satu sama lain. Mereka membenarkan ucapan Rangga... bahwa banyak tantangan yang harus mereka hadapi, dan mereka harus bersiap-siap kembali...

********************

TUJUH

Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti belum lagi melangkah jauh, ketika mendadak enam orang dengan golok terhunus telah mengepungnya. Darah Rangga pun berdesir cepat, matanya segera menyapu wajah pengepungnya satu per satu, nampak olehnya wajah-wajah yang keras dan sangar tengah menatapnya tajam. Wajah Rangga pun menegang sesaat, lalu kembali berubah teduh. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.

"Aku hendak menuju ke Desa Malayasati, ada urusan apa kalian menghalangi langkahku?" tanya Rangga tenang, meski nalurinya menyatakan kalau mereka adalah orang-orang Banulaga, yang tentu maksudnya sudah bisa diduga.

"Hmmm... kaukah si Pendekar Rajawali Sakti?" tanya si pengepung yang berada tepat di hadapan Rangga. Orang itu tampaknya tak memerlukan jawaban, dia langsung menyambung pertanyaannya sendiri, "Ketahuilah, majikanku tidak ingin orang lain, apalagi kau yang jelas-jelas bukan orang desa ini, untuk mencampuri urusan pribadinya."

Rangga tersenyum mengejek. "Kau pintar-pintar bodoh, rupanya. Orang yang punya urusan pribadi tentu tidak akan menyuruh orang lain. Dan aku tidak peduli dengan urusan majikanmu, tapi kekejaman dan ketidakadilan tak akan kubiarkan merajalela di depanku,... Menyingkirlah kalian, agar tanganku tak lagi menghilangkan nyawa orang-orang dungu yang hanya bisa menurut perintah majikannya."

"Kurang ajar! Rupanya kau tidak bisa diajak bicara baik-baik, sekarang terimalah ajalmu!" teriak orang itu lantang, sambil tangan kanannya terangkat memberi perintah kepada kelima orang lainnya untuk menyerang.

Dengan sigap kedua kaki Rangga meloncat, tubuhnya melayang sesaat menghindari kibasan golok yang berkelebat cepat, lalu bersalto dua kali sebelum kakinya mendarat tepat di belakang punggung lawan-lawannya. Dengan tumpuan kaki kanannya Rangga memutarkan tubuhnya sedikit, lalu secepat kilat kakinya melompat menghajar punggung dua orang sekaligus.

Dua orang yang terkena tendangan di punggungnya, nasibnya begitu mengenaskan, tubuh mereka yang terdorong ke depan terkena sabetan golok temannya sendiri. Seorang dari mereka mukanya hancur oleh sabetan golok yang menebas mulut dan pelipisnya, sedang seorang lainnya mengerang sesaat ketika lehernya nyaris putus, lalu roboh tak bergerak lagi.

Empat orang lainnya terhenyak kaget, terbayang kengerian di wajah-wajah mereka, apalagi dua orang di antara mereka yang goloknya bersimbah darah. Dua orang teman mereka tewas hanya dalam satu gebrakan saja. Lalu seperti dibakar dendam, mereka kembali menyerang Rangga. Secepat kilat Rangga merundukkan badannya, tangannya bergerak menyambar pergelangan tangan kanan orang yang paling depan, lalu dengan satu tekukan tangan yang disertai egosan kakinya, dia melemparkan tubuh lawannya itu tepat menghantam dada seorang temannya.

Tubuh kedua orang itu langsung roboh bertindihan ke tanah. Dan pada saat itu pula, Rangga membungkukkan badannya menghindari kibasan golok seorang lagi dari belakang, sambil kaki kirinya menggibas lutut lawan, dan orang itu jatuh merunduk dengan kepalanya menghantam lebih dulu ke tanah, dan segera Rangga pun menyadari kalau masih ada seorang lainnya yang hanya berdiri mematung tanpa berbuat apa-apa melihat teman-temannya roboh tak berdaya.

"Hmmm...," Rangga menatap tajam pada seorang yang tersisa, "kau rupanya bersikap ksatria..., mau menghadapiku secara jantan tanpa keroyokan...,"

"Tunggu," orang yang berdiri mematung itu membuka mulutnya. "Aku berdiri di pihak kebenaran dan keadilan, meskipun aku hanya cecunguknya Banulaga," orang itu kembali bersuara tanpa menghiraukan Rangga yang masih diam terpaku.

"Siapa kau?" tanya Rangga sopan.

"Berhati-hatilah, Rangga." Orang itu malah tak menjawab, "empat orang tokoh sakti kini ada di belakang Banulaga... teruskanlah niatmu, biar aku berbuat dengan caraku sendiri." Sejurus kemudian orang itu menatap lekat-lekat pada Rangga.

Rangga terkesiap sesaat, ketika otaknya mulai menemukan titik terang. Orang ini pastilah si Manusia Bertopeng Hitam yang kini dalam wujud sebenarnya.

"Dan ingat!" kembali orang itu berucap, "... kematian Banulaga adalah bagianku!" Orang itu kemudian berkelebat cepat meninggalkan Rangga dan lima tubuh lainnya yang tergeletak tak bernyawa.

Beberapa saat lamanya Rangga tercenung. Dia tahu pasti kalau orang itulah si Manusia Bertopeng Hitam yang tengah diburu Banulaga dan orang-orangnya setelah kematian Badaraka.

"Rangga...!"

Sebuah teguran mengagetkannya, lalu Rangga menoleh, dilihatnya Santika dan Mega Lembayung tengah berlari mendekat ke arahnya.

Santika dan Mega Lembayung tertegun menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan mengerikan. Lalu perlahan-lahan wajah keduanya terangkat menatap Rangga. Mereka mengerti apa yang telah terjadi. Karena tak lama setelah kaki Rangga melangkah meninggalkan bilik bambu itu, mereka telah melihat beberapa sosok tubuh membayangi kepergian Pendekar Rajawali Sakti itu, namun mereka tak bisa ikut berbuat banyak menyadari keadaan tubuh tua Pak Karta yang lemah.

"Mega dan Santika, tolong uruskan mayat-mayat mereka," Rangga berkata pelan, lalu tubuhnya bergerak cepat meninggalkan tempat itu. Mega dan Santika hanya sempat memandangi punggung Pendekar Rajawali Sakti itu.

Seandainya Rangga mau menjelaskan semuanya yang telah terjadi, Santika tentu tidak akan penasaran lagi apabila mengetahui siapa Manusia Bertopeng Hitam yang sebenarnya, karena seperti yang diucapkan oleh orang itu sendiri, dia kini adalah cecunguknya Banulaga, kakaknya Santika.

Santika pun kemudian terkejut manakala matanya tertumbuk pada sesosok tubuh yang amat dikenalnya, tubuh Tarsa, pembantunya yang setia dan kini tergeletak tak bernyawa. Darahnya lalu berdesir, dia tahu pasti, Tarsa pasti tak bisa menolak perintah Banulaga, yang mengantarkannya menemui nasib naas.

Matahari pun mulai terbenam ke ufuk Barat. Angin mulai berhembus dingin menemani kedua orang yang tengah mengurus mayat-mayat itu.

********************

Pagi itu udara terasa begitu sejuk menyentuh pori-pori kulit, sinar matahari yang terhalang oleh awan tipis dan hembusan angin yang lembut, membuat orang-orang di Desa Malayasati seperti tengah menikmati kedamaian dan ketenangan.

Sesosok tubuh tegap dan berparas tampan terlihat tengah mengayunkan langkahnya dengan ringan dan tenang. Baju rompi putih yang senantiasa dikenakannya, menarik perhatian orang-orang di jalan yang dilewatinya. Setiap langkahnya seperti meninggalkan tanda tanya, Pendekar Rajawali Sakti pemilik sesosok tubuh itu pun cepat menyadari. Keadaan dirinya membuat orang-orang di desa ini ingin mengenakan pakaian yang sebagus miliknya. Rangga pun melangkahkan kakinya lebih cepat, lalu kakinya berbelok melangkah memasuki sebuah kedai yang terlihat asri. Di depannya sebuah bangunan besar seolah berdiri pongah menantang. Bangunan besar itu sebuah rumah berhalaman luas dengan tembok tinggi tebal menyerupai sebuah benteng.

Dari tempat duduknya Rangga sekilas menatap ke pintu gerbang rumah itu, lalu kembali matanya beralih pada pelayan kedai, seorang perempuan muda dengan guratan-guratan di wajahnya yang masih menyiratkan keayuan. Rangga lalu memesan seguci arak.

"Tunggu sebentar, bisakah Anda menemani saya duduk di sini?" pinta Rangga begitu melihat wanita itu hendak beranjak pergi meninggalkannya.

Wanita itu tidak menjawab. Dia langsung duduk di depan Rangga. Hanya sebuah meja kayu kecil yang membatasi keduanya. Sejenak Rangga memperhatikan wanita di hadapannya yang kini tengah tertunduk.

"Siapa namamu?" tanya Rangga.

"Kanti," sahutnya pelan. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang terpaksa.

"Kau penduduk desa ini?" tanya Rangga lagi.

Perlahan-lahan kepala Kanti terangkat. Matanya menatap bola mata Rangga Lalu kepalanya menggeleng pelan, rasa takut dan cemas terlihat jelas di wajahnya.

"Kau juga bukan orang sini?" tanya Kanti lirih, setelah beberapa saat lamanya dia terdiam.

"Ya, cuma kebetulan saja aku lewat sini," sahut Rangga sambil mengajak Kanti tersenyum.

"Kalau begitu sebaiknya kau cepat pergi." Rangga terkejut, dilihatnya wajah Kanti yang menoleh ke sana kemari seperti takut ada yang memergoki.

"Kenapa?"

"Tuan Besar telah memerintahkan bahwa siapa saja pendatang baru yang tidak punya keluarga di sini harus diusir. Kalau tidak, akan dibunuh," Kanti menerangkan setengah berbisik.

"Tuan Besar! Siapa dia?"

"Tuan Banulaga, penguasa Desa Malayasati ini. Dia memiliki semua kedai dan penginapan di sini, juga sebagian besar tanah desa. Dia bagaikan raja kecil yang semua perintahnya harus ditaati."

Rangga menganggukkan kepalanya. Kemudian dari sudut ekor matanya dia melihat pintu gerbang rumah besar itu terbuka. Lalu muncul lima orang penunggang kuda yang diikuti tidak kurang dari sepuluh orang penunggang kuda lainnya. Mereka langsung bergerak ke arah Timur.

"Yang di depan itu Tuan Banulaga," kata Kanti seperti tahu jalan pikiran Rangga yang masih terlihat memandangi rombongan berkuda itu dengan sudut ekor matanya.

"Hmmm..., masih muda dan tampan," gumam Rangga.

"Ya, memang tampan, tapi kejam," suara Kanti tertekan.

"Lantas yang lainnya?" Rangga jadi tertarik ingin tahu.

"Yang empat orang, undangan khusus Tuan Besar. Mereka semua berilmu tinggi dan sakti. Sedangkan yang lainnya cuma kaki tangan Banulaga, yang dia peralat untuk memeras penduduk dan mencari perempuan-perempuan cantik kegemarannya. Mereka amat sadis dan kejam."

"Tampaknya kau tahu persis," gumam Rangga. Matanya menatap lurus pada perempuan muda depannya.

Kanti yang ditatap begitu, jadi menunduk mukanya dalam-dalam. Seperti ada kesedihan da duka yang tengah bergayut di dadanya. Lalu perlaha lahan dia mengangkat wajahnya, menatap Rangga sesaat, lalu....

"Dua tahun aku disekap di sana. Selama itu aku harus melayani nafsu setan mereka. Yah..., setelah aku tak dibutuhkan lagi, aku dibuang dan dicampakkan di sini. Mestinya aku lega keluar dari neraka, tapi di sini juga tidak kalah mengerikan. Aku seperti sapi perahan mereka, entah berapa laki-laki yang sudah meniduriku."

"Kau tidak berontak? Melarikan diri, misalnya?"

"Untuk apa? Percuma saja, Banulaga seperti mempunyai seribu mata dan Jala yang tak mungkin bisa dilewati begitu saja, sekali mereka melarikan diri. Tiang gantungan pun menanti, atau menjadi santapan ular-ular berbisa."

Darah Rangga berdesir mendengar sebegitu jauh perlakuan Banulaga dan orang-orangnya terhadap penduduk yang tak berdaya.

"Kanti...!" tiba-tiba terdengar suara teriakan keras.

Rangga dan Kanti cepat menoleh ke arah datangnya suara. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar penuh berewok bertolak pinggang menatap tajam pada Rangga dan Kanti.

"Celaka,..," Kanti mendesah dengan wajahnya yang pucat pasi.

"Siapa dia?" tanya Rangga yang melihat Kanti begitu ketakutan, lalu matanya beralih pada sesosok tubuh tinggi besar itu.

"Dia..., Suro Bledek. Dia orang kepercayaan Tuan Banulaga yang mengurusi semua rumah penginapan dan kedai minum, juga rumah perjudian di desa ini."

Laki-laki tinggi besar berwajah kasar itu melangkah mendekat. Dengan sentakan kasar dia merenggut tangan Kanti, hingga perempuan itu sempoyongan, lalu dengan satu dorongan tangannya yang kuat dia membanting tubuh Kanti ke tanah. Dan belum sempat ia bangun, perempuan malang itu hendak ditendangnya, tapi mendadak...

"Aaakh...!" Suro Bledek menjerit keras.

Saat kakinya hampir mendarat di tubuh Kanti, Rangga dengan cepat menyambar guci arak di mejanya, lalu dilemparkannya tepat mengenai tulang kering kaki Suro Bledek. Tentu saja lelaki yang seperti gorilla ini meraung menahan sakit di kakinya terkena lemparan guci yang begitu keras.

"Monyet buduk!" maki Suro Bledek sengit.

Sret!

Suro Bledek mencabut goloknya yang besar dan berkilat. Dengan teriakannya yang nyaring dia menggibaskan goloknya ke arah leher Rangga. Hanya dengan sedikit menarik tubuhnya ke belakang, Rangga itu mengelakkan tebasan golok itu. Bibirnya tersenyum mengejek, yang memancing kembali amarah Suro Bledek.

Gagal menebas leher Rangga, Suro Bledek mengerang panjang, lalu dengan gerakan-gerakan cepat, dia menggibaskan kembali goloknya ke beberapa bagian tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga hanya berkelit mengelak tanpa merubah posisi tubuhnya menghindari serangan gencar Suro Bledek. Bahkan pada satu kesempatan, dengan pangkal tangan kanannya yang terbuka dia menghantam keras tangan kanan lawannya sehingga goloknya terlepas.

Belum lagi Suro Bledek menyadari keadaan, mendadak tangan kanan Rangga mencekal tangannya dengan satu tarikan ke depan, tubuhnya yang terdorong maju dihadang dengan hantaman lutut yang dahsyat tepat mengenai ulu hatinya, lalu jatuh berdebum ke tanah.

"Bajingan!" geram Suro Bledek seraya bangkit, daya tahan tubuhnya sungguh luar biasa.

Amarahnya tak lagi bisa dikendalikan, dia tidak dapat lagi melihat siapa yang dihadapinya, dengan mendengus kencang dia melompat menerkam Pendekar Rajawali Sakti itu. Gerakan dan terjangan tubuhnya yang lamban dengan mudah dapat dipatahkan oleh Rangga. Tubuh Suro Bledek pun kembali terjungkal ke belakang menabrak meja hingga hancur berantakan, ketika tangan kanan Rangga kembali menghantam dadanya. Kekuatannya yang hanya mengandalkan tenaga luar tak mampu menandingi Pendekar Rajawali Sakti.

"Nekad!" dengus Rangga begitu melihat Suro Bledek hendak menerjang lagi.

Kali ini Rangga Tidak lagi memberi hati. Begitu serangan Suro Bledek datang, dengan cepat dia membungkukkan tubuhnya melewati ketiak lawannya, dan dengan cepat tangan kirinya menghantam tengkuk, lalu disusul lutut kirinya menghajar perut. Belum sempat Suro Bledek berbuat apa-apa, Rangga sudah mencocor kepalanya dengan jurus 'Cakar Rajawali'.

Bles!

"Aaakh...!" Suro Bledek mengerang panjang. Beberapa saat lelaki bertubuh tinggi besar itu berputar memegangi kepalanya yang bocor dan retak. Darah bercucuran keluar merembes melalui jari-jari tangannya, lalu tubuhnya ambruk ke tanah. Cuma sebentar Suro Bledek sempat menggeliat, lalu tak bergerak lagi.

Rangga memandang sekelilingnya, tampak orang-orang berkerumun menyaksikan pertarungan yang tak seimbang itu. Sementara Kanti berdiri di pojok dengan tubuh menggigil ketakutan

"Tuan...," panggil Kanti bergetar begitu Rangga melangkahkan kakinya ke luar.

Rangga menghentikan langkahnya dan menoleh. Kanti bergegas menghampiri dengan air matanya yang deras membasahi pipinya yang putih kemerahan. Sinar matanya seakan-akan memohon perlindungan.

"Tolonglah aku, Tuan. Mereka pasti akan membunuhku. tolong Tuan...," pinta Kanti memelas.

Rangga menarik napasnya dalam-dalam. Dia bisa memahami kedudukan perempuan ini sekarang, apalagi berpasang-pasang mata telah melihat pertarungannya dengan Suro Bledek. Pendekar Rajawali Sakti itu lalu mengangguk pelan.

Tanpa berkata sepatah kata pun, dia menggamit tangan Kanti meninggalkan kedai dan orang-orang yang diam mematung menyaksikannya. Rangga berjalan cepat, hingga Kanti harus berlari-lari kecil mengimbanginya.

Orang-orang di sekitar kedai pun tak lama kemudian pergi bubar. Tidak ada yang mau mengambil resiko dihajar Banulaga dan orang-orangnya untuk menceritakan kejadian itu dan menunjukkan di mana Kanti dan Pendekar Rajawali Sakti berada.

********************

Banulaga menahan geram dan sulit menerima kenyataan kalau Suro Bledek, salah seorang kepercayaannya tewas dengan mengenaskan. Musuh-musuhnya sudah mulai terang-terangan merongrong kewibawaannya di depan orang banyak. Karena bagaimanapun kejadian ini akan membuat nyali penduduk Desa Malayasati bangkit, dan itu berarti akan menghancurkan kekuasaannya pelan-pelan tapi pasti. Hanya orang bodoh yang mau kekuasaannya musnah begitu saja.

Saat Banulaga diliputi keberangan, mendadak muncul Japra, salah seorang yang dia suruh melacak jejak Santika, Mega Lembayung, dan Pendekar Rajawali Sakti. Japra segera membungkukkan badannya, lalu dengan gemetar dia berujar.

"Maaf, Tuanku, Pendekar Rajawali Sakti... dia... dia ada di rumah Pak Karta."

Mata Banulaga memerah seketika, raut mukanya menegang. Terbayang kembali olehnya wajah Badrun yang mati terbunuh.... Lalu dia sendiri yang tak bisa berbuat banyak menghadapi pendekar itu. Mulut Banulaga kemudian tertutup dengan giginya bergemeletuk keras.

"Di mana lima orang lainnya?" tanya Setan Mata Satu memecahkan suasana tegang.

"Mereka semua tewas, Tuan.... Saya sendiri tak sempat membopong Mega, karena dihadang oleh Santika dan Manusia Bertopeng Hitam. Sementara Pendekar Rajawali Sakti itu tak mampu diringkus oleh Tarsa dan yang lainnya, malah kelima orang itu kemudian tergeletak satu persatu dengan belati tertancap di lehernya."

Suasana hening sesaat, Banulaga dan Resi Maespati serta ketiga orang tokoh sakti lainnya saling berpandangan satu sama lain.

"Dia harus mati. Sudah banyak orang-orangku yang tewas di tangannya," geram Banulaga.

"Santika, Mega dan Pak Karta kemudian mengambil jalan terpisah, Tuan..., hanya Pendekar Rajawali Sakti dan... yah, Kanti, Tuan... ada di rumah Pak Karta," Japra kembali menjelaskan dengan lutut bergetar.

"Kalau begitu, biar aku sendiri yang meringkus monyet itu!" dengus Setan Mata Satu.

"Berangkatiah, bawa kepalanya ke sini!" Setan Mata Satu tak banyak bicara lagi. Dia langsung melangkah pergi diiringi pandangan mata Banulaga. Tak lama kemudian Banulaga memandang ke arah Japra.

"Ikuti Setan Mata Satu, dan segera beritahu hasilnya!" perintah Banulaga.

"Baik, Tuan," Japra segera mengikuti langkah Setan Mata Satu dari kejauhan.

Banulaga kemudian kembali menatap kosong ke depan. Pikirannya menerawang jauh, membayangkan apa yang akan terjadi. Dia tidak menyangsikan kesaktian Setan Mata Satu. Tapi diapun cemas, karena yang akan dihadapinya adalah seorang pendekar pilih tanding yang sukar diukur tingkat kepandaiannya. Dan karena itu pula dia menyuruh Japra untuk mengawasinya dari kejauhan. Dia tidak ingin korban di pihaknya bertambah, lalu lawannya bebas berkeliaran mempermalukan dan melecehkan kekuasaannya di mata penduduk tanpa dia sendiri dapat meringkusnya langsung.

Mata Banulaga kemudian menatap si Raja Ular yang tengah berdiri bersandar di pilar beranda depan. Banulaga menghampiri kakak Setan Mata Satu itu, sementara Resi Maespati dan Iblis Selaksa Racun hanya mengawasi dari tempat duduknya. Tampak wajah Resi Maespati begitu tenang, seolah-olah tidak sedang terjadi apa-apa. Dan tidak ada yang tahu, kalau pembicaraannya dengan Santika sedikit banyak mempengaruhi diri sang resi.

"Kau tidak ikut bersama Setan Mata Satu, Raja Ular?" tanya Banulaga. Nadanya berharap agar si Raja Ular ikut serta menghadapi Pendekar Rajawali Sakti, hingga dia tak begitu cemas menghadapi kemungkinan lain.

"Jangan kau sangsikan adikku. Tunggu saja, dia pasti datang membawa kepala pesananmu," sahut si Raja Ular tenang.

"Sama sekali aku tidak sangsi, hanya saja...." Banulaga tidak meneruskan ucapannya.

Si Raja Ular menatap tajam. Keningnya sedikit berkerut.

"Dia hampir kalah ketika bertarung melawan Santika!" Banulaga mengemukakan kecemasannya.

"Mustahil!" dengus si Raja Ular.

"Kau boleh tanyakan sendiri nanti kalau Setan Mata Satu selamat."

Si Raja Ular Tidak berkata apa-apa lagi, kecuali matanya menatap tajam Banulaga yang segera pergi meninggalkannya masuk ke dalam rumah. Sungguh dia tidak percaya kalau Setan Mata Satu hampir kalah menghadapi Santika, yang belum banyak pengalaman dalam rimba persilatan. Ah, mungkin saja Setan Mata Satu mengalah karena yang dihadapi masih terhitung majikannya sendiri, si Raja Ular menghibur diri.

Raja Ular pun kembali tenang. Dia Justru berpikiran kalau Banulaga sendiri yang takut, lalu memutar balikkan keadaan yang sebenarnya.

"Hhh...," Raja Ular mendesah panjang, kemudian kakinya melangkah melintasi halaman rumah yang luas menuju pintu gerbang yang dijaga enam orang bersenjata golok dan tombak. Dua orang langsung membuka pintu melihat si Raja Ular mendekat. Yang lainnya membungkukkan badan.

"Kalian berdua ikut aku," kata Raja Ular menunjuk dua orang yang membukakan pintu.

"Ke mana, Tuan?" tanya salah seorang.

"Cari hiburan."

Kedua orang itu saling pandang, lalu mengangguk seraya mengikuti langkah si Raja Ular.

"Hei, mau ke mana?" tanya salah seorang yang ditinggal.

"Jangan banyak tanya, kalian jaga saja!" bentak si Raja Ular tanpa menoleh.

Dua orang yang mengikutinya pun tersenyum senang.

"Di mana tempat yang paling enak?" tanya si Raja Ular tetap tanpa menoleh.

"Saya tahu, Tuan," kata salah seorang yang kelihatannya masih muda dengan rambut kucai.

"Kau jalan duluan."

"lya, Tuan."

Kedua orang itu mendahului berjalan di depan, tapi si Raja Ular malah menariknya. Dan mereka berjalan beriringan dengan si Raja Ular di tengah-tengah seperti raja. Semua orang yang berpapasan langsung menyingkir sambil membungkukkan badan memberi hormat.

"He he he...," si Raja Ular terkekeh dalam hati.

********************

DELAPAN

Setan Mata Satu memandangi sebuah rumah berdinding bambu yang tampak sepi tak berpenghuni. Naluri dan pendengarannya yang tajam seolah membisikkan kalau di dalam rumah itu ada penghuninya. Setan Mata Satu pun segera melenting tinggi ke udara, lalu hinggap dengan ringan di atas atap.

Baru saja kakinya menjejak atap, mendadak atap itu jebol berbarengan dengan munculnya seorang pemuda berompi putih yang tak lain adalah Pendekar Rajawali Sakti. Setan Mata Satu terkejut, namun dengan cepat dia dapat menguasai dirinya kembali. Dua orang itu kini saling berhadapan di atas atap.

"Hebat, kau bisa mengetahui kehadiranku," gumam Setan Mata Satu.

"Mau apa kau mendatangiku seperti maling?" tanya Rangga sinis.

"Aku ke sini sengaja mencarimu. Kau banyak berhutang nyawa pada majikanku!"

"Hmmm..., tak kusangka Banulaga mempunyai begitu banyak anjing.''

"Bangsat! Lancang sekali mulutmu," dengus Setan Mata Satu geram.

"Menghadapi anjing buduk sepertimu, tidak perlu kata-kata sopan."

"Kurobek mulutmu, keparat!"

Seketika itu juga Setan Mata Satu meloncat ke depan dan menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Pertarungan pun tak bisa dihindari lagi, suatu pertarungan tangan kosong tingkat tinggi berlangsung di atas atap. Sampai beberapa jurus Rangga hanya ingin menjajaki lebih dulu kekuatan lawannya dengan jurus-jurus tangan kosong yang ringan, namun gerakannya cepat dan sulit diikuti mata.

Setan Mata Satu belum sedikitpun bisa menyentuh tubuh Rangga, meski sudah lebih dari sepuluh jurus ia kerahkan. Dan Rangga pun belum terpancing untuk mengeluarkan jurus andalannya, sampai beberapa saat lamanya dia hanya berusaha mengelak tanpa membalas serangan, hingga membuat Setan Mata Satu geram merasa seperti dipermainkan.

"Phuih! Nama besar Pendekar Rajawali Sakti rupanya cuma kosong, dan cuma bisa menghindar saja!" dengus Setan Mata Satu kesal dan mencoba memancing.

"Begini saja kau belum bisa menyentuh kulitku," balas Rangga tak kalah pedas.

"Bangsat! Kau akan merasakan jurus 'Tangan Maut'ku."

"Keluarkan saja semua jurus andalanmu."

Setan Mata Satu semakin berang. Segera dia mengeluarkan jurus 'Tangan Maut yang amat berbahaya. Gerakan-gerakannya cepat dan penuh tipuan. Namun Pendekar Rajawali Sakti belum terpancing untuk mengeluarkan rangkaian lima jurus 'Rajawali Sakti'nya, dia masih meladeni Setan Mata Satu dengan senyum tersungging di bibir.

Pendekar Rajawali Sakti akhirnya menyadari kalau jurus 'Tangan Maut' dari lawannya tak bisa lagi remehkan, bahkan beberapa kali dia jatuh ban kerepotan menghindari serangan-serangan gencar yang amat dahsyat. Dan dengan melentingkan tubuhnya, Rangga atau Pendekar Rajawali Sakti itu melompat turun ke pelataran rumah Pak Karta. Tak mungkin baginya untuk mengeluarkan jurus-jurus andalan di tempat yang kurang leluasa.

Dua orang itu kini telah berhadapan kembali pelataran. Rangga mulai memusatkan perhatiannya lalu perlahan-lahan tapi pasti dia mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', dan pertarungan ya sesungguhnya pun dimulai.

"Hiaaat...!"

Tiba-tiba Rangga berteriak keras, disusul gerakan kakinya yang cepat menyusur tanah, dua tangannya mengibas cepat ke arah leher dan dada. Setan Mata Satu melompat menghindari serangan maut berhawa panas itu, namun begitu kakinya menjejak tanah, dengan cepat kaki Rangga menyampoknya.

Tidak ada pilihan lain bagi Setan Mata Satu, kecuali melentingkan tubuhnya ke atas, tapi berbarengan dengan itu Rangga menghantamkan tangan kanannya ke depan, mendarat tepat ke perut Setan Mata Satu tanpa bisa dihindari lagi.

"Huk!"

Setan Mata Satu mengeluh pendek, dua kali dia berputar di udara, lalu menjejak tanah sejauh dua batang tombak. Setan Mata Satu segera mengerahkan aji 'Pukulan Karang Samudra', jurus pamungkasnya, dan Rangga pun segera mengeluarkan penangkalnya, yaitu aji 'Cakra Buana Sukma' tanpa menggunakan pedang Rajawali Sakti.

"Yeaaah...!"

Tubuh Setan Mata Satu melompat ke depan, meluruk ke arah Pendekar Rajawali Sakti, dan disambut oleh kedua tangan lawannya.

Des!

Dua pasang tangan berbenturan keras, sinar merah dan biru terpancar jelas, kedua tokoh sakti itu berdiri saling berhadapan dengan tangannya saling menempel dan mendorong satu sama lain. Dua cahaya merah dan biru itu berbaur menjadi satu. Dua pasang mata mereka saling bertatapan tajam, tampak wajah Setan Mata Satu yang menegang, juga wajah Pendekar Rajawali Sakti yang tegang mulai berkeringat deras.

Lama sekali mereka saling mengadu kekuatan dengan ilmu kesaktian pamungkasnya masing-masing. Perlahan-lahan kaki Setan Mata Satu merembes ke dalam tanah. Sebaliknya Rangga tetap berdiri dengan telapak kakinya seperti tidak menginjak tanah.

"Hih!"

Setan Mata Satu menarik tangannya, wajahnya yang sudah semakin memerah dan menegang, menjadi semakin membara, manakala merasakan tangannya seperti terpatri tanpa bisa dilepas.

"Celaka, tenagaku tersedot!" geram Setan Mata Satu dalam hati.

Sementara perlahan-lahan kaki Rangga semakin meninggi tak menyentuh tanah, tubuhnya pun menjadi miring dengan tangannya menempel kencang, menyedot tenaga lawannya. Itulah ilmu 'Cakra Buana Sukma' tingkat akhir tanpa pedang Rajawali Sakti.

Kini keadaannya jadi benar-benar terbalik. Rangga berada tepat di atas kepala Setan Mata Satu dengan tubuh terbalik. Tubuh Setan Mata Satu perlahan-lahan semakin amblas ke dalam tanah berbarengan dengan tenaganya yang mulai habis.

"Hih!"

Rangga menekan kuat-kuat, dan seketika tubuh Setan Mata Satu semakin amblas sebatas pinggang. Setan Mata Satu benar-benar tak berdaya. Dan saat itu juga Rangga memukulkan tangannya ke arah dada Setan Mata Satu.

Dan....

"Aaakh...!"

Setan Mata Satu mengerang panjang. Tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti yang mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', bagaikan sebuah palu godam menghantam dada Setan Mata Satu. Dan akhirnya tubuh Setan Mata Satu yang masih tertanam itu terkulai tak bergerak-gerak lagi.

Rangga berdiri tegak menarik napas panjang. Matanya menatap tajam pada tubuh yang tertanam ke tanah sampai batas pinggang. Kemudian ia beranjak dari tempat itu menuju ke rumah Pak Karta

Dia berhenti sesaat ketika dilihatnya pintu rumah terkuak. Kanti yang muncul langsung menjerit ketika matanya melihat ke arah tubuh Setan Mata Satu yang tertanam di tanah.

"Siapkan pakaianmu segera," kata Rangga begitu melihat Kanti yang sudah mulai tenang.

"Untuk apa?" tanya Kanti heran.

"Engkau harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini segera."

"Ke mana?" tanya Kanti tak mengerti.

"Kembali ke desamu," sahut Rangga.

"Tidak mungkin. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di sana. Kedua orang tuaku sudah lama meninggal."

"Kalau begitu pergi saja ke Gunung Sumbing. Kau akan menemui sebuah danau di sana. Di sekitar situ kau cari gubuk yang dihuni teman-temanku. Katakan apa yang terjadi di sini, dan aku yang menyuruhmu datang pada mereka."

"Lalu, kau sendiri hendak ke mana?"

"Menemui Banulaga," sahut Rangga singkat

Kanti tidak bersuara lagi

"Berangkat saja sekarang. Tidak ada waktu lagi"

Selesai berkata begitu, Rangga langsung meloncat. Sebentar saja tubuhnya berkelebat, lalu menghilang dari pandangan Kanti.

Kanti pun bergegas masuk ke dalam rumah Pak Karta untuk mempersiapkan segala perbekalannya untuk di perjalanan nanti. la harus cepat-cepat meninggalkan tempat itu karena ia tahu Banulaga dan pengikutnya tidak akan tinggal diam melihat Setan Mata Satu tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Terlebih lagi ketika melihat mayat Setan Mata Satu yang masih tertanam di halaman rumah Pak Karta. Ia jadi merinding bulu kuduknya membayangkan tubuh yang tewas mengerikan itu.

********************

Setelah ia menempuh perjalanan yang tidak memerlukan waktu yang lama, ia tiba di tempat yang disebutkan oleh Rangga. Kanti memandangi keadaan di sekitar tepian Danau Gunung Sumbing. Matanya lalu tertumbuk pada sebuah gubuk berdinding bambu dan beratapkan rumbia. Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya menuju gubuk itu yang terselip di antara bukit-bukit batu. Sepasang bola matanya mengawasi sekitar gubuk itu. Pintu gubuk itu tertutup rapat Namun dia melihat pelataran gubuk yang sempit itu bersih dan terawat. Pasti mereka masih tinggal di sini, bisik Kanti dalam hati. Langkah kaki Kanti hampir mencapai pintu, ketika mendadak

"Aaakh!!" Kanti memekik tertahan.

Sesosok tubuh meloncat dan berdiri tepat di depannya.

"Tuan Muda...," bibir Kanti terucap pelan begitu mengenali sosok tubuh itu ternyata Santika.

"Dari mana kau tahu tempat ini?" tanya Santika.

"Rangga," sahut Kanti.

"Rangga...!?" Mega Lembayung yang sudah berdiri di samping Santika tersentak kaget.

"Dia yang menyuruhku datang ke sini,"

"Di mana kau ketemu dia?" tanya Santika sambil melangkah mendekati Kanti.

"Di kedai minum...."

Kanti lalu menceritakan semua kejadian yang dia alami bersama Rangga, juga tentang pertarungan Pendekar Rajawali Sakti itu dengan seseorang.

"Bagaimana ciri-ciri orang itu?" tanya Santika.

"Orangnya tinggi besar, berpakaian rapi seperti bangsawan, hanya...."

"Teruskan," desak Mega, "Matanya cuma sebelah."

"Setan Mata Satu..," desis Santika.

"Lalu, bagaimana kelanjutannya?" tanya Pak Karta yang ikut bicara.

"Rangga dapat mengalahkannya, bahkan membunuhnya," sahut Kanti lagi.

"Sekarang Rangga di mana?" tanya Mega

"Katanya ia akan ke rumah Banulaga," jawab Kanti.

"Apakah ia meninggalkan pesan...?" tanya Santika.

"Tidak. Dia hanya menyuruhku ke sini untuk menemui kalian," jawab Kanti lagi.

"Gawat!" seru Pak Karta mendesah.

Mega dan Santika memandang Pak Karta yang berdiri tegak di belakang mereka. Laki-laki tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.

"Apa maksud Kakek?" tanya Santika.

"Rangga pasti pergi ke rumahmu untuk membuat perhitungan dengan Banulaga dan pengikutnya," jelas Pak Karta.

Santika dan Mega Lembayung tersentak. Mereka saling pandang tanpa mengatakan apa-apa. Pelan-pelan tatapan Santika beralih pada Kanti.

"Kau di sini saja bersama Kakek Karta dan Mega, aku akan menyusul Rangga."

"Tapi...," suara Kanti seperti tercekat di kerongkongan.

"Jangan khawatir, tempat ini aman. Tidak ada seorang pun yang tahu."

Santika segera berlalu meninggalkan ketiga orang itu. Pak Karta hanya bisa memandangi kepergian Santika dengan mata berkaca-kaca. Kengerian akan apa yang akan terjadi begitu jelas tergambar di raut wajahnya. Ketiga orang itu lantas bergegas masuk ke gubuk.

"Kau tidak membohongi kami, kan?" tanya Pak Karta sedikit menaruh curiga. Dia tahu siapa Kanti. Wanita yang selama dua tahun menjadi piaraan Badaraka, kemudian dicampakkan ke kedai menjadi pemuas nafsu lelaki hidung belang, Pak Karta tahu persis, ketika musibah datang menimpa orang tuanya Mega.

"Aku memang perempuan kotor. Hidupku tidak pernah bersih. Tapi aku masih punya naluri dan akal sehat," lirih suara Kanti.

"Maaf, kalau kata-kataku menyinggung perasaanmu. Dalam keadaan seperti ini, aku harus waspada dan tidak mudah percaya pada siapa saja," ujar Pak Karta lirih.

"Aku mengerti, Pak Karta. Aku pun dulu juga mengalami nasib yang naas, karena perbuatan Badaraka semasa ia masih hidup. Tapi waktu itu aku selalu berharap akan ada orang yang bisa melenyapkan kekejaman Badaraka dan cecunguknya," ucap Kanti lirih membayangkan masa lalunya.

Suasana di dalam bilik bambu pun kemudian hening.

********************

Banulaga mondar-mandir di beranda rumah dengan tangannya sebentar-sebentar mengepal keras. Sementara ketiga orang lainnya memandang ke pelataran rumah dengan perasaan yang sulit ditebak. Mereka seperti tengah menunggu sesuatu yang belum jelas hasilnya.

Malam sudah menjelang larut, dan hampir menjelang tengah malam. Berarti ini adalah hari yang kedua kalinya sejak Setan Mata Satu pergi meninggalkan Banulaga dan ketiga orang itu. Namun hingga kini belum ada juga kabar beritanya. Banulaga mencemaskan kemampuan Setan Mata Satu menghadapi si Pendekar Rajawali Sakti. Japra, orang pertama yang dia perintahkan untuk mengawasi Setan Mata Satu pun belum kembali. Dan kini, dia mengharapkan Sadim akan muncul membawa kabar.

"Bagaimana pendapatmu, Eyang Resi?" tanya Banulaga.

"Hmm." Resi Maespati yang ditanya bergumam sesaat, "...sulit. Tunggu saja sampai malam ini. kalau Setan Mata Satu belum muncul juga, kita tidak bisa hanya menunggu."

"Benar," kata Iblis Selaksa Racun. "Tidak ada jalan lain, kita masing-masing tidak bisa lagi bertindak sendiri-sendiri..."

"Hmmm..., percuma nama besar yang kita punyai!'" tukas Raja Ular sengit.

Ketiga orang lainnya memandangi Raja Ular. Mereka kemudian seperti menunggu kakak Setan Mata Satu itu memberikan pendapatnya.

"Menurutku...."

Belum sempat si Raja Ular melanjutkan ucapannya, mereka dikejutkan dengan kedatangan Sadim.

"Tuan...!" Sadim semakin dekat dengan tubuh sempoyongan, "... dia... dia... Japra, Tuan...," tak sanggup lagi Sadim berkata, tubuhnya ambruk ke tanah, dan seketika terlihat sebuah belati menancap tegak di tubuhnya.

"Bangsat!" geram Banulaga, matanya menatap tajam pada sebilah belati di punggung Sadim. Tak lama kemudian mereka saling bertatapan satu sama lain.

"Japra...?" dengus si Raja Ular, lalu dia menoleh ke arah Banulaga. "Kau mengenali belati itu?"

"Persis, belati itu seperti yang menancap di tubuh ayahku... ini pasti perbuatan si Manusia Bertopeng Hitam!" geram Banulaga.

"Si Manusia Bertopeng Hitam itu pasti Japra, cecungukmu sendiri, Banulaga...," kata Iblis Selaksa Racun menimpali.

Banulaga kembali menahan geram. Edan! Dia benar-benar merasa tolol, Manusia Bertopeng Hitam itu ternyata cecunguknya sendiri. Beberapa saat suasana tegang menyelimuti pelataran rumah itu.

"Tenang, Banulaga," ucap Resi Maespati sambil menepuk bahu Banulaga, "kau tidak bisa berpikir dengan tenang dalam suasana seperti ini."

Suara Resi Maespati yang berwibawa, sedikit menurunkan amarah Banulaga yang sudah amat memuncak. Dia mulai terlihat bisa mengatur napasnya, meski batinnya bergolak hebat.

Banulaga kemudian seperti tengah membayangkan apa yang terjadi. Sebuah pertarungan yang tak mungkin terelakkan. Dan... ah, mata Banulaga seolah redup. Dia mulai berpikir kalau kematian akan pula menjemputnya. Meski masih ada tiga orang tokoh sakti di belakangnya, tapi diapun tahu... Pendekar Rajawali Sakti, Santika, dan si Japra alias Manusia Bertopeng Hitam itu tentu akan bersatu. "Banulaga, suruh pembantumu mengurus mayat itu," tegur Resi Maespati pelan.

Banulaga sedikit terkejut, lalu berteriak memanggil dua orang pembantunya. "Urus mayat ini!"

"Baik Tuan," dua orang pembantunya menyahut bersamaan.

Suasana di beranda rumah kembali sunyi. Banulaga yang sudah bisa menurunkan emosinya melangkah ke beranda, lalu duduk di sebuah kursi kayu yang menghadap tepat ke arah Resi Maespati. Dan keempat orang itu pun kembali berjalan dalam pikirannya masing-masing.

Si Raja Ular terlihat mulai gusar. Kedatangan Sadim dengan belati tertancap di tubuhnya, membuatnya mulai was-was dengan nasib adiknya, si Setan Mata Satu. Ia mulai mengakui kebenaran Banulaga, kalau musuh-musuhnya tak bisa dipandang dengan sebelah mata. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara teriakan yang menggelegar.

"Hai, Banulaga. Keluar kau! Aku datang membawa pesan terakhir dari cecungukmu si Setan Mata Satu."

Banulaga dan ketiga orang lainnya terkejut mendengar suara yang bernada tantangan itu.

"Bangsat!" teriak si Raja Ular geram karena ia merasa dipermalukan atas suara itu yang mengabarkan kematian adiknya si Setan Mata Satu.
********************

SEMBILAN

Si Raja Ular langsung melenting ke luar. Dia berdiri tegak di tengah-tengah halaman yang luas dikelilingi tembok tinggi dan tebal. Banulaga, Resi Maespati dan Iblis Selaksa Racun pun sudah berdiri berjajar di belakangnya. Sementara malam terus merayap dengan sinar rembulan yang menerangi, dan halaman rumah Banulaga yang luas itu semakin terang oleh cahaya puluhan obor yang tertancap di beranda rumah dan sekeliling tembok.

"Setan keparat! Keluar kau!" teriakan si Raja Ular terdengar menggema di keheningan malam di antara dinding-dinding tembok yang tinggi. Raja Ular nampak tidak bisa lagi menahan amarahnya.

Keadaan kembali sunyi. Tak ada sahutan. Sementara satu per satu orang-orang Banulaga mulai melangkah ke luar menuju halaman. Mereka mengambil posisi di belakang tokoh-tokoh sakti itu dengan golok terhunus. Banulaga pun telah siap dengan sepasang golok kembarnya. Hanya Resi Maespati dan Iblis Selaksa Racun yang tak bersenjata. Kedua tokoh sakti ini memang hanya mengandalkan ilmu silat tangan kosong dan kesaktiannya.

Pandangan mata si Raja Ular menebar ke sekeliling dengan tajam, telinganya pun terpasang penuh. Namun beberapa saat lamanya si penantang itu tak menampakkan batang hidungnya. Suasana pun semakin sunyi dan tegang.

"Pendekar Rajawali Sakti, keluar kau! Jangan bersembunyi seperti tikus got!" teriak si Raja Ular keras. Teriakannya yang disertai pengerahan tenaga dalam kembali menggema ke segala penjuru. Beberapa saat kembali hening....

"Aku di sini...!"

Seketika semua menoleh ke atas. Dan sebuah bayangan melayang dari atap, melakukan salto dua kali, lalu meluncur cepat ke tanah. Si Pendekar Rajawali Sakti pun berdiri dengan gagah di hadapan Raja Ular. Gerakannya yang cepat tanpa menimbulkan suara sedikitpun menunjukkan tingkatan ilmunya yang benar-benar tinggi, hingga yang melihatnya terkesima takjub.

"Aku datang untuk menghukum kelaliman kalian!" suara Pendekar Rajawali Sakti terdengar mantap dan berwibawa.

"Setan! Apa kau kira dirimu dewa, heh?!"

"Jangankan dewata... manusia dan binatang sekalipun muak melihat tingkah polah kalian!"

"Keparat! Kurobek mulutmu!"

Si Raja Ular langsung memutar tongkatnya yang berkepala ular cobra. Deru angin semakin mengguruh dahsyat bersamaan tongkat itu berputar. Orang-orang Banulaga yang berada di belakang tokoh-tokoh sakti itu pun mencari tempat berlindung, mereka tak mau menanggung resiko tubuhnya terhempas oleh angin yang semakin kencang bagai topan.

Tubuh Rangga tak bergeming sedikitpun. Bibirnya masih sempat menyunggingkan senyuman yang mengejek, hingga memancing Raja Ular lebih ganas lagi memainkan tongkatnya. Mendadak kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti mendorong ke depan, dan seketika dari telapak tangannya yang terbuka meluncur sinar kebiruan.

Blar!... Suara ledakan menggelegar keras begitu sinar kebiruan menghantam tongkat ular yang berputar cepat bagai baling-baling itu, lalu tubuh Raja Ular pun terpental ke belakang. Dia menggeram keras, lalu berteriak nyaring. Tubuhnya meluncur deras dengan ujung tongkat terhunus ke depan.

"Bagus, majulah, biar lebih mudah kupecahkan batok kepalamu!"

Pendekar Rajawali Sakti menggeser kakinya sedikit, lalu memiringkan tubuhnya ke kiri, dan benturan keras pun terdengar ketika tangan kanannya menyampok tongkat berkepala ular itu. Tubuh si Raja Ular terlihat limbung, namun dengan cepat dia menguasai diri.

Raja Ular tercenung sesaat. Selama ini belum ada seorang pun lawannya sanggup menahan tongkat saktinya Tapi kali ini tongkat saktinya tak berarti apa-apa. Pendekar Rajawali Sakti masih mampu berdiri dengan tegar.

"Hmmm... aku harus menggunakan jurus 'Sengatan Cobra Hitam'," gumam si Raja Ular.

Resi Maespati tertegun melihat si Raja Ular membuka jurus 'Sengatan Cobra Hitam'. Dia tahu kalau itu adalah jurus simpanan yang hanya akan dikerahkan kalau si Raja Ular benar-benar menghadapi lawan yang sulit ditandingi.

Rangga sadar kalau jurus yang akan dikeluarkan si Raja Ular kali ini amat berbahaya Dia segera membuka jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali', satu jurus tingkat akhir dari rangkaian jurus Rajawali Sakti. Dalam waktu singkat kedua telapak tangannya berubah merah membara bagai terbakar. Sementara tangan si Raja Ular berubah menjadi hitam kelam dengan matanya semakin bulat mengecil.

"Sss...," si Raja Ular mendesis dengan lidahnya yang bercabang menjulur bagai ular. Dia lalu menyerang Pendekar Rajawali Sakti yang juga sudah siap dengan jurus andalannya. Pertarungan adu kesaktian segera terjadi. Gerakan-gerakan si Raja Ular lebih banyak ke bawah, dia mengegoskan tubuhnya sebelum tiba-tiba melenting menyerang lawannya dari atas.

Rangga yang sudah banyak menghadapi tokoh rimba persilatan tidak kaget lagi dengan jurus yang tengah dikerahkan oleh si Raja ular. Dia selalu lebih dulu menguji kehebatan lawannya sebelum bertindak dan mengetahui kelemahannya, namun dengan tetap waspada tanpa mengendurkan pertahanan diri.

Pendekar Rajawali Sakti tidak menghindar begitu tubuh Raja Ular melenting ke atas, lalu dengan cepat meluruk menyerangnya. Dengan sigap dia menangkap dan menghentakkan tongkat yang menuju ke arah dadanya. Raja Ular pun terkejut, sama sekali tak menyangka Pendekar Rajawali Sakti akan mampu mencegat serangannya. Raja Ular segera berusaha menarik kembali tongkatnya, tapi cekalan tangan lawannya begitu kuat. Kedua tokoh sakti itu saling berhadapan berpegangan tongkat.

"Hsss...!" Raja Ular mendesis keras.

Rangga dapat merasakan ada getaran dan hawa dingin menjalar dari tongkat yang dipegangnya. Dia tahu kalau tongkat lawannya mengandung racun berbahaya yang bekerja sangat cepat dan mematikan. Seketika itu juga dia mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'. Perlahan-lahan tangannya yang memerah berubah menjadi biru berkilauan. Cahaya biru itu merambat menyelimuti tubuhnya, lalu terkumpul kembali ke tangannya.

"Hsss, ahk!" Raja Ular merasakan ada sesuatu yang menarik-narik di dalam tubuhnya. Satu tarikan yang semakin lama semakin kuat dia rasakan.

Raja Ular terkejut begitu menyadari kalau kekuatan itu mulai menyedot tenaga dalamnya. Raja Ular berusaha menarik tongkatnya, tapi sia-sia, setiap tarikan tangannya semakin menyedot tenaga dalamnya sendiri.

Raja Ular pun segera menghimpun hawa racun yang terkandung di dalam tubuhnya, lalu dia emposkan ke tongkat. Seketika itu juga racun tersedol ke tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

"Huh, licik!" dengus Rangga.

Beruntung tubuh Pendekar Rajawali Sakti sudah kebal terhadap segala jenis racun. Tapi untuk menjaga kemurnian aji 'Cakra Buana Sukma', dia mengeluarkan racun yang berada di tubuhnya melalui mulut. Asap hitampun lalu tampak mengepul, dan langsung hilang tersapu angin

"Edan!" dengus si Raja Ular. Dia seperti tidak percaya melihat kenyataan itu.

"Huh!" Rangga menyemburkan racun dari mulutnya dengan kencang ke wajah Raja Ular.

"Akh!" Raja Ular terkejut.

Buru-buru dia mencoba melepaskan kembali tangannya dari tongkat, tapi tangannya seolah-olah sudah terpatri. Raja Ular segera menyadari kalau tenaga dalamnya tersedot oleh Pendekar Rajawali Sakti. Asap racun yang berasal dari tubuhnya sendiri kini mengepul di depan mukanya.

"Aaakh...!" Raja Ular menjerit melengking. Racun itu berbalik menyerang dirinya sendiri, lalu bekerja dengan cepat melelehkan tubuhnya. Dia menggeliat-geliat meregang nyawa. Pendekar Rajawali Sakti menghentakkan pegangannya pada tongkat. Seketika itu juga tubuh si Raja Ular terjerembab ke tanah.

Tubuh Raja Ular yang sudah tak bernyawa itu kemudian mencair, hingga berubah tinggal tengkorak. Suasana di halaman rumah Banulaga pun dicekam oleh kengerian.

********************

Tidak lama setelah tubuh Raja Ular berubah menjadi tengkorak, mendadak muncul Santika. Lalu menyusul si Manusia Bertopeng Hitam yang sudah berdiri di atas tembok halaman. Tubuh Manusia Bertopeng Hitam itu melenting di udara, lalu mendarat tak jauh dari tubuh Raja Ular yang sudah menjadi tengkorak.

Dendam kesumatnya yang sudah memuncak membuat Banulaga langsung meloncat menyerang Manusia Bertopeng Hitam. Namun lawannya meladeni dengan tenang, dia seperti sudah memperhitungkan kemampuan Banulaga. Sedangkan Iblis Selaksa Racun menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Santika yang belum mendapat lawan, menatap Resi Maespati. Sedikit pun dia tidak gentar kalau terpaksa harus melawan gurunya sendiri.

"Aku sudah menduga, kau pasti masih hidup," kata Resi Maespati tersenyum tipis.

"Hyang Widi masih belum menghendaki nyawaku, Eyang Resi. Dan aku datang bukan sebagai saudara," tenang suara Santika, meski menyiratkan nada permusuhan.

Eyang Resi Maespati tersenyum. Dia masih bisa menangkap kata-kata hormat dari muridnya ini. Meskipun dia seorang Resi yang berjalan pada jalur sesat, tapi jiwa kearifannya masih terlihat jelas. Tokoh sakti inipun tak menghendaki kalau dia harus bertarung dengan Santika. Bagaimanapun Santika adalah murid dan cucunya, meskipun cuma cucu angkat.

"Maaf, jika Eyang Resi tidak senang, aku rela mati di tangan Eyang, bagaimanapun Eyang adalah orang yang telah membimbingku. Aku rela mati demi kebenaran dan keadilan"

"Sama sekali aku tidak menyalahkanmu, Santika. Aku tahu, aku selama ini telah berada di jalan yang sesat. Berhari-hari aku berada di sini, aku terus berpikir, yah, rasanya tidak pantas aku disebut resi. Sebutan itu terlalu suci bagiku. Mungkin dengan perantaraan dirimu, Hyang Widi membuka mata hatiku."

Santika seperti tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Dia tahu benar jalan hidup gurunya selama ini. Dan kata-kata gurunya ini, meluncur perlahan dan teratur bagai seorang yang arif bijaksana tanpa noda dan dosa dunia.

"Aku tidak menyalahkanmu kalau kau tidak mempercayai kata-kataku, Santika. Aku berkata jujur dan keluar dari lubuk hatiku yang selama ini beku tertutup nafsu iblis," lanjut Resi Maespati.

"Maaf, Eyang," ucap Santika pelan.

Resi Maespati tersenyum lebar. Dia memaklumi sikap muridnya ini. Perlahan-lahan tangannya merogoh ke balik bajunya yang kumal. Lalu terlihat sebuah badik berlapiskan emas murni tergenggam di tangannya.

Santika tahu itu adalah senjata pusaka kebanggaan dan andalan gurunya. Dengan senjata itu Resi Maespati kebal terhadap semua senjata dan racun. Napas dan hidup Resi Maespati ada pada badik itu.

"Kau tentu tahu kalau aku tidak bisa lepas dari senjata pusaka ini. Nyawaku ada di dalamnya." Resi Maespati menghampiri Santika. Dengan bibir menyunggingkan senyum, Resi Maespati menyodorkan badik itu pada Santika yang masih memandang tak mengerti.

"Terimalah, benda ini lebih bermanfaat jika berada di tanganmu," kata Resi Maespati pelan. Santika pun perlahan-lahan mulai menyadari sikap gurunya, lalu tangannya menjulur menerima badik itu.

Sementara itu, Banulaga yang tengah bertarung dengan Manusia Bertopeng Hitam, sempat memperhatikan apa yang diperbuat oleh Resi Maespati. Dia pun cepat melemparkan jarum-jarum beracun ke arah tubuh Manusia Bertopeng Hitam, dan ketika lawannya tengah berusaha menghindar, dengan cepat dia meloncat ke arah Resi Maespati dan Santika, lalu satu dari sepasang golok kembarnya menyambar tubuh Santika, namun dengan sigap Resi Maespati mendorong tubuh Santika, dan...

Cras!

Resi Maespati yang sudah hilang kesaktiannya, roboh oleh golok Banulaga. Darah langsung menyembur keluar dari dada yang robek dan terbelah lebar.

"Eyang Resi...!" pekik Santika terkejut

Bergegas Santika memburu dan memeluk tubuh yang terkapar mandi darah. Napas Resi Maespati mulai tersengal. Tebasan golok Banulaga yang dalam merobek jantungnya. Sesaat Banulaga sendiri tercenung dia seperti tersadar akan apa yang baru saja terjadi.

"Eyang...," rintih Santika lirih.

"Jangan sedih, Santika. Gunakan badik pusaka itu pada jalan yang benar dan lurus... dan satu lagi pesanku..." Santika cepat tanggap, di dekatkan telinganya pada mulut Resi Maespati, "jaga bagian pusarmu, di situ kelemahanmu...," lalu tubuh Resi Marspati pun terkulai lemah... Dia mati di pelukan muridnya sendiri.

Wajah sedih Santika yang menatap tubuh gurunya perlahan-lahan terangkat. Matanya menatap tajam pada Banulaga.

"Biadab! Bangsat'" geram Santika. Seketika Santika melompat menerjang Banulaga yang masih diam terpaku. Terjangan yang cepat disertai amarah itu meluncur deras. Banulaga yang terlambat menyadari, tidak bisa lagi menghindar... tubuhnya terjengkang ke belakang oleh kaki Santika yang mendarat di dadanya.

Santika pun terlihat semakin garang. Dia menggeram sesaat, tangannya menggenggam erat badik pemberian gurunya... dan dia pun melompat kembali ke arah Banulaga...

"Tunggu...!"

Santika tersentak, badik yang nyaris ia babatkan ke tubuh Banulaga pun tertahan Kemudian terlihat olehnya Manusia Bertopeng Hitam menghampiri.

"Aku tak ingin kau membunuh Banulaga dengan penyesalan, Santika...," si Manusia Bertopeng Hitam berkata dingin, sesaat menatap Santika, lalu menoleh pada Banulaga yang sudah berdiri kembali.

"Siapa kau?" tanya Santika penasaran.

Bret!

Santika dan Banulaga sama-sama terkejut. Orang yang telah membuka topeng hitamnya itu sama sekali tak dikenalnya. Juga bukan Japra yang disebutkan oleh Sadim sebelum kematiannya.

"Aku Sagar," orang itu berkata dingin, lalu matanya menatap Banulaga dan Santika berganti-ganti. "Aku adik angkat Japra.... Ayah dan ibu angkatku mati oleh orang-orang Badaraka," orang itu lalu menarik napasnya dalam-dalam, "...dan bersama Kang Japra aku membunuh ayahmu, Banulaga," orang itu menghentikan ucapannya kembali, lalu menatap tajam pada Banulaga, yang ditatapnya pun menahan geram. "Dan kau, Santika..., kau adalah anak Parti, perempuan yang dimangsa oleh kebuasan Badaraka, ayahmu mati membela kehormatan istrinya... tapi Badaraka mengambilmu sebagai anak angkatnya, dan adikmu...," orang itu seperti tercekat kerongkongannya, lalu mendadak muncul Japra.

"Benar, Santika, Sagar ini adikmu, yang dirawat oleh orang tuaku," kata Japra lirih. Sejenak Santika dan Sagar saling berpandangan...

Dan mendadak mereka dikejutkan oleh Banulaga yang meloncat kabur. Melihat itu, Sagar alias Manusia Bertopeng Hitam segera melemparkan belatinya. Dan...

"Aaakh...!"

Banulaga mengerang panjang... Sebuah belati menancap tepat di tengkuknya, lalu tubuhnya pun berdebum jatuh ke tanah.

********************

Sementara itu Iblis Selaksa Racun yang tengah bertarung dengan Pendekar Rajawali Sakti, langsung gentar begitu menyadari tinggal dia sendiri yang masih hidup. Dia sudah mengerahkan segenap kemampuannya hingga berpuluh-puluh jurus, tapi belum juga mampu membuat lawannya kewalahan. Bahkan Pendekar Rajawali Sakti itu beberapa kali membuatnya berlompatan jungkir balik menghindari kibasan-kibasan goloknya yang cepat.

Beberapa saat lamanya Pendekar Rajawali Sakti hanya memainkan pedangnya dengan cepat, dia merasa belum perlu untuk mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Dan tiba-tiba dia menyadari kalau Iblis Selaksa Racun berusaha mundur mendekati tembok sambil menghindari kibasan goloknya. Tapi Pendekar Rajawali Sakti segera menyodok perut lawannya.

Dugaannya tepat, Iblis Selaksa Racun melentingkan tubuhnya meloncati tembok bangunan itu, tapi sebelum tubuhnya melewati tembok tiba-tiba...

"Aaakh...!" Iblis Selaksa Racun menjerit tertahan. Tubuhnya menabrak tembok sebentar, lalu roboh dengan punggung menganga lebar berlumuran darah segar. Pedang Rajawali Sakti telah menamatkan riwayatnya.

Rangga menarik napasnya pelan, sebentar matanya memandangi tubuh Iblis Selaksa Racun. Dia pun menoleh begitu suara lembut terdengar memanggilnya. Terlihat oleh Rangga, Mega Lembayung dan Pak Karta berjalan mendekat ke arahnya. Di belakangnya menyusul Santika dan dua orang yang tak dikenal oleh Pendekar Rajawali Sakti itu.

Orang-orang Banulaga pun kemudian mendekati Rangga dan kelima orang lainnya, mereka yang berjumlah puluhan berlutut dengan kepala tertunduk.

"Hukuman apa yang pantas untuk mereka?" tanya Santika meminta pendapat.

"Sudah berapa lama mereka mengabdi di sini?" Rangga balik bertanya.

"Sudah cukup lama, sejak aku remaja," sahut Santika.

"Menurutku, mereka urusan kalian yang di sini. Maaf, aku tak mau mencampuri urusan pribadi kalian," kata Rangga tegas.

"Lepaskan saja mereka, biar mereka menentukan jalan hidupnya sendiri...," terdengar suara lembut berwibawa dari arah belakang.

"Kakek...," desis Mega Lembayung begitu menoleh.

"Kalian boleh meninggalkan tempat ini," kata Santika tegas. Tapi orang-orang itu masih tetap bertahan di tempatnya, hingga mengundang geram Santika dan yang lainnya.

"Hm... baik," kata Santika pelan, "kalau kalian masih mau mengabdi padaku... hilangkan sikap pongah kalian, mengerti?!"

Semua kepala yang tertunduk langsung terangkat hampir bersamaan. Bekas orang-orang Banulaga itu lalu membungkuk memberi hormat, dan tanpa diperintah lagi mereka segera mengurus mayat-mayat yang berserakan di halaman rumah.

Santika dan yang lainnya pun terkejut manakala mereka menyadari Pendekar Rajawali Sakti tak lagi berada di tempatnya. Sesaat mereka terdiam, lalu hanya bergumam pelan, sepertinya mengucapkan terima kasih pada Pendekar Rajawali Sakti.


SELESAI

SELANJUTNYA PENGANTIN BERDARAH
Thanks for reading Manusia Bertopeng Hitam I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »