Durjana Pemetik Bunga

Cerita Silat Pendekar Rajawali Sakti
Karya Teguh S
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Episode
Durjana Pemetik Bunga


Pendekar Rajawali Sakti

SATU

TIUPAN suara seruling mengalun merdu menyanyikan lagu-lagu rakyat. Seakan-akan suara itu untuk menyongsong terbitnya sang mentari pagi dari ufuk timur. Alunan suara merdu itu menyusup ke lembah-lembah, gunung-gunung, dan danau-danau seperti memanggil seluruh isi mayapada untuk menikmati alunan itu.

Suara alunan merdu itu datang dari sebuah bukit yang tidak jauh dari Desa Jati Ireng. Mungkin karena ili sekitar bukit itu terdapat banyak pohon jati yang batangnya berwarna hitam pekat, maka penduduk desa itu menamakannya Bukit Jati Ireng.

Tampak seorang pemuda berkulit kuning langsat dengan baju indah berwarna biru muda, duduk di atas sebongkah batu hitam. Jari-jemarinya yang lentik bagai jari-jemari perempuan, menari-nari lincah di atas lubang-lubang kecil pada sebatang bambu berwarna kuning gading. Bibirnya yang merah bagai bibir seorang gadis, agak monyong meniup seruling itu. Dari situlah asal suara itu datang.

"Indah..., indah sekali," tiba-tiba satu suara merdu lain terdengar.

"Oh!" pemuda itu terkejut, langsung menghentikan permainan serulingnya.

Pemuda itu tersenyum manis begitu melihat seorang gadis cantik telah berdiri di sampingnya. Pakaiannya sederhana. Di tangannya terdapat sebatang bambu besar dengan tali pada ujung-ujungnya. Jelas sekali kalau gadis itu habis mengambil air dari pancuran yang tidak jauh dari tempat itu.

"Siapa kau, Gadis Ayu?" tanya pemuda itu. Suaranya lembut dan halus, indah didengar.

"Oh! Maaf. Aku telah mengganggumu," mendadak saja paras cantik gadis itu bersemu merah. Buru-buru ditundukkan kepalanya.

"Aku Kamandaka. Siapa namamu, Gadis Ayu?" pemuda itu memperkenalkan dirinya.

"Aku..., aku, Rara Inten," jawab gadis itu agak gugup.

"Kau penduduk. Desa Jati Ireng?" tanya Kamandaka.

"Benar Kau sendiri?"

"Di mana aku suka, di situlah tempat tinggalku."

"Pengembara, maksudmu?"

"Boleh dikatakan begitu."

Rara Inten menatap sebuah gubuk kecil yang sangat sederhana. Dia sering lewat tempat ini jika mengambil air di pancuran. Kemarin gubuk itu belum ada. Tapi sekarang sudah berdiri di antara dua batang pohon yang menjadi tiang depannya.

"Itu tempat tinggalku. Baru aku dirikan kemarin sore," Kamandaka seperti mengetahui jalan pikiran gadis itu.

"Kenapa kau tinggal di tempat terpencil begini?" Tanya Rara Inten tidak mengerti.

"Aku suka kesunyian. Tempat ini sangat indah, aku suka alam di sini. Kau suka keindahan juga, kan?"

"Ya," sahut Rara Inten.

"Rara..., Rara Inten...!" tiba-tiba terdengar panggilan.

Sebelum Rara Inten menyahut, muncul seorang gadis lain mengenakan kemben. Sebagian dada dan bahunya terbuka lebar. Kain yang dikenakannya kelihatan basah. Gadis itu membawa sekeranjang cucian. Dia tampak terkejut sekali melihat Rara Inten berdua dengan seorang pemuda tampan di tempat sunyi.

"Rara, ayo pulang. Sudah siang!" ajak gadis itu.

"Kakang Kamandaka! Ini Sari, temanku. Rumahnya tidak jauh dari rumahku," kata Rara Inten memperkenalkan gadis yang baru datang itu.

"Senang sekali dapat berkenalan dengan dua orang gadis cantik sekaligus," sambut Kamandaka tersenyum manis. Bola matanya sedikit nakal menyorot pada bahu Sari yang terbuka.

Sari hanya tersenyum, sedikit tersipu. Ditutupi bahunya yang menjadi sorotan mata Kamandaka. Desa Jati Ireng memang terkenal memiliki gadis-gadis cantik. Tidak heran jika banyak pemuda kaya dari kota sering singgah ke desa itu sehabis pulang berburu. Bahkan banyak dari mereka yang enggan pulang karena kecantol dengan salah seorang gadis Desa Jati Ireng. Tidak sedikit pula gadis desa itu yang hidup senang di kota setelah menikah dengan pemuda kaya dari kota. Bukan mustahil kalau kehidupan di Desa Jati Ireng begitu makmur, tidak kalah dengan kehidupan di kota-kota besar.

"Rara! Ayo pulang," ajak Sari setengah berbisik.

"Kakang Kamandaka, kami pulang dulu! Sudah siang," pamit Rara Inten.

"Silakan. Tentunya orang tua kalian telah cemas menunggu," sahut Kamandaka tetap lembut suaranya.

Sari segera menarik tangan Rara Inten. Kedua gadis itu melangkah pergi diiringi pandangan mata Kamandaka yang tersenyum-senyum sendirian. Agak cepat Sari berjalan sambil menarik tangan Rara Inten melintasi jalan setapak di Bukit Jati Ireng ini, sehingga Rara Inten kesulitan mengimbanginya.

"Pelan-pelan, Sari!" sentak Rara Inten seraya melepaskan pegangan temannya itu.

Sari berhenti sebentar, lalu melanjutkan langkahnya pelan-pelan sekali. Sebentar dia menoleh ke belakang. Tampak Kamandaka masih duduk di atas batu hitam memandang ke arahnya. Sari jadi kikuk ketika Kamandaka menganggukkan kepalanya sedikit. Buru-buru dialihkan pandangannya ke depan.

"Dia masih ada di situ, Sari?" tanya Rara Inten.

"Masih," sahut Sari kaget juga. Ternyata Rara Inten memperhatikannya.

"Dia tampan, ya?" gumam Rara Inten seolah-olah bicara untuk dirinya sendiri.

"Iya. Tapi kamu sudah punya tunangan!" serobot Sari mengingatkan.

"Kamu naksir?" ledek Rara Inten.

"Ih, sembarangan!"

Hampir setiap hari jika ada kesempatan, Rara Inten dan Sari selalu berbincang-bincang dengan Kamandaka di tempat yang sama ketika pertama kali mereka bertemu. Sari yang lincah dan mudah bergaul tampak lebih akrab dengan Kamandaka daripada Rara Inten yang agak pendiam. Rara Inten tahu kalau Sari menyukai pemuda itu. Tapi juga disadari kalau dirinya sudah terikat tali pertunangan, sehingga selalu menjaga jarak. Paling tidak untuk memberi kesempatan pada Sari agar lebih sering bertemu dengan Kamandaka Berdua saja.

Pagi ini Sari sengaja pergi ke pancuran seorang diri. Lain seperti biasanya yang selalu bersama-sama dengan Rara Inten. Entah kenapa, dia ingin sendiri saja bertemu dengan pemuda tampan yang telah menarik hatinya dalam beberapa hari ini. Gadis itu melangkah pelan-pelan. Matanya selalu melirik gubuk kecil di Bukit Jati Ireng.

"Kakang...! Kakang Kamandaka...!" panggil Sari berteriak begitu melihat Kamandaka keluar dari gubuknya.

Kamandaka tersenyum memandangi Sari yang berlarilari kecil menghampirinya. Dia berdiri saja di depan pintu gubuknya yang dibiarkan terbuka lebar. Wajah Sari tampak memerah ketika tiba di depan pemuda itu.

"Kok sendiri Mana temanmu?" tanya Kamandaka.

"Tunangannya datang jadi Rara Inten tidak bisa ke sini," jawab Sari berdusta.

"Dia sudah bertunangan?" Kamandaka tampak terkejut sekali.

"Benar! Dengan pemuda kota. Putra seorang Menteri Kerajaan Pasir Batang," Sari menjelaskan.

"Ah, beruntung sekali dia. Dapat putra seorang menteri kerajaan," desah Kamandaka.

"Kelihatannya kau akan pergi, Kakang?" Sari mengalihkan pembicaraan.

"Tidak," sahut Kamandaka tersenyum manis.

Sari juga membalas senyuman itu dengan manis pula.

"Mari, masuk?" ajak Kamandaka.

Tanpa diminta dua kali, Sari melangkah masuk ke dalam gubuk itu. Kamandaka tersenyum dan mengikutinya dari belakang, lalu menutup pintu gubuknya. Sari mengamati bagian dalam gubuk ini yang tidak berkamar. Tidak ada perabotan sama sekali, kecuali sebuah dipan bambu beralaskan anyaman tikar pandan menutup rerumputan kering dan sebuah pelita kecil menempel pada dinding bambu yang dilapisi kulit kayu. Sari kini duduk di atas dipan itu.

"Tidak ada apa-apa di sini. Kau pasti tidak suka," kata Kamandaka seraya duduk di samping gadis itu.

"Aku suka! Bersih, nyaman, dan tenang," sahut Sari, lagilagi tersenyum manis.

"Tidak seindah rumahmu, kan?"

"Kau tahu rumahku?" agak terkejut juga gadis itu.

"Tidak terlalu sulit mengetahui seluk-beluk Desa Jati Ireng."

"Desa Jati Ireng memang kecil. Tidak heran kalau dalam beberapa hari saja kau sudah paham seluk-beluknya."

"Termasuk gadisnya yang cantik."

"Ah...," Sari mendesah.

Gadis itu jadi kikuk ketika tangan Kamandaka merangkul pundaknya. Rona merah menyemburat di wajahnya ketika merasakan hangatnya desah nafas pemuda itu menerpa wajahnya. Seluruh tubuh Sari menggelepar ketika satu kecupan lembut mendarat di pipinya yang putih halus kemerahan.

Bukan hanya di pipi. Ternyata bibir Kamandaka mulai menjelajah ke leher dengan ciuman-ciumannya yang hangat menghanyutkan. Seluruh aliran darah gadis itu seperti berbalik, ketika bibir Kamandaka menyentuh bibirnya. Baru pertama kali ini Sari merasakan belaian dan kecupan seorang pemuda. Dia tidak tahu, apa yang harus dilakukan? Sementara itu jari-jemari Kamandaka mulai liar menjelajahi tubuh gadis itu.

"Oh..., Kakang..," desah Sari lirih.

"Kau cantik sekali, Sari," desah Kamandaka lembut di telinga gadis itu.

Lagi-lagi Sari mendesah lirih. Kedua matanya terpejam saat merasakan jari-jari tangan Kamandaka mulai mempreteli kancing bajunya satu per satu. Sari tidak mampu lagi menolak ketika Kamandaka merebahkan tubuhnya di balai-balai bambu itu.

Sari benar-benar larut dalam buaian kenikmatan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Beberapa kali bibirnya mendesiskan rintihan lirih. Beberapa kali pula tubuhnya menggelinjang menggeletar. Tidak ada lagi kata-kata yang terucapkan, Sari benar-benar hanyut, lupa akan segala-galanya. Hingga pada suatu ketika....

"Oh, okh!" Sari memekik tertahan.

Kedua mata gadis itu membeliak lebar. Tanpa terasa setetes air bening menggulir dari sudut matanya. Dia menggigit-gigit bibir bawahnya, berusaha meredam isak tangisnya yang hampir pecah. Sari tidak tahu apakah harus marah, sedih, menyesal, atau bahagia. Semuanya sudah terjadi tanpa dapat dicegah lagi.

Perlahan-lahan gadis itu meraih kain yang teronggok di ujung kakinya. Ditutupi tubuhnya saat tubuh Kamandaka bergulir ke samping dengan keringat membanjiri tubuhnya. Air mata semakin deras mengalir membasahi pipinya, tapi tidak sedikit pun suara yang terdengar. Hanya bahu yang terbuka lebar saja tampak terguncang-guncang menahan isak tangis.

"Apa yang kau tangisi, Anak Manis?" tanya Kamandaka sambil mengenakan kembali pakaiannya. Senyum kepuasan tersungging di bibirnya yang selalu merah menawan.

Sari tidak menjawab, dan segera membenahi diri. Dia berlari ke luar. Kamandaka tidak mengejar, tapi malah tersenyum. Dia masih duduk di tepi dipan bambu, dan tidak peduli dengan nasib gadis itu lagi. Yang penting telah merasa puas karena telah berhasil merebut mahkota tanpa paksaan sedikit pun.

********************

Sejak peristiwa itu, Sari kelihatan sering menyendiri dan selalu melamun. Beberapa kali Rara Inten mengajaknya ke pancuran, tapi selalu ditolaknya. Perubahan menyolok pada Sari membuat Rara Inten heran. Tidak seperti biasa temannya selalu murung menyendiri. Biasanya Sari selalu periang dan mudah bercanda. Hal itu juga menjadi pertanyaan orang tua Sari.

"Sari! Ke pancuran, yuk," ajak Rara Inten pagi itu.

"Malas, ah," tolak Sari acuh.

"Kamu sakit?" tanya Rara Inten penuh selidik.

Sari hanya menggeleng saja.

"Beberapa hari kamu tidak mau lagi ke pancuran. Kenapa?" tanya Rara Inten lagi.

"Tidak apa-apa. Aku hanya malas saja," sahut Sari seenaknya.

Rara Inten tidak percaya kalau Sari malas ke pancuran. Dipandangi wajah temannya itu dengan mata tak berkedip. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh mata yang redup itu. Sesuatu yang tidak diketahui tapa pun juga, kecuali Sari dan Kamandaka.

"Setiap hari Kakang Kamandaka menanyakanmu," kata Rara Inten pelan.

"Kau bertemu dengannya...?" mendadak wajah Sari berubah.

"Iya, setiap kali aku ke pancuran. Katanya dia rindu, ingin ketemu denganmu lagi," sahut Rara Inten

"Ah...," desah sari. Wajahnya kembali murung.

Gadis itu kembali teringat peristiwa yang baru pertama kali dialaminya. Peristiwa yang membuatnya merasa malu untuk bertemu siapa saja. Dirinya seperti merasa kotor dan sangat tercemar. Disesali dirinya yang lemah, tidak mampu menolak bujukan iblis. Masa-masa suram telah membayang di matanya. Tidak ada pemuda yang bersedia menikahi gadis yang sudah terenggut mahkotanya

"Rasanya, tidak ada pemuda yang sudi mengambilku, Rara. Kau beruntung, Rara. Aku iri padamu, pelan suara Sari.

"Jangan bilang begitu. Sari. Aku yakin, pasti akan ada seorang pemuda yang akan meminangmu. Siapa tahu, lebih tampan dan lebih segala-galanya daripada tunanganku," hibur Rara Inten.

"Tidak..., tidak mungkin," semakin lemah suara Sari. Kepalanya digeleng-gelengkan beberapa kali. Pandangan matanya kosong tak bercahaya.

"Kenapa tidak? Kau cantik dan... "

"Rara...!" Sari memotong kata-kata Rara Inten dengan cepat.

Rara Inten terdiam. Dipandanginya temannya dengan benak dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Sementara Sari hanya menunduk menekun tanah di ujung jari kakinya. Rara Inten menggeser duduknya lebih dekat. Tangannya membelai-belai lembut rambut Sari yang hitam pekat bergelombang.

"Kita sudah lama bersahabat, Sari. Sejak kecil kita selalu bersama-sama baik suka maupun duka. Kita selalu berbagi rasa. Aku tahu kau sedang mengalami kesulitan. Aku pun juga ikut merasakan kesulitanmu," lembut suara Rara Inten.

"Kau baik sekali, Rara," desah Sari lirih.

"Di antara kita tidak pernah ada rahasia. Aku tidak yakin kau menyembunyikan rahasia padaku. Katakanlah, Sari. Apa yang membuatmu sedih?" bujuk Rara Inten.

Sari menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin diceritakan aib memalukan yang telah menimpa dirinya. Di desa ini tidak pernah terjadi seorang gadis terenggut mahkotanya sebelum menikah. Apakah harus diceritakannya aib ini pada Rara Inten, meskipun telah bersahabat karib sejak kecil? Tidak! Sari tidak akan pernah menceritakan semua yang dialaminya bersama Kamandaka pada siapa pun. Dia tidak ingin mencoreng muka keluarga karena kelemahannya sendiri yang tidak mampu menolak bujukan setan.

"Sudah siang, Sari. Aku ke pancuran dulu. Kau mau ikut?" ajak Rara Inten lagi.

"Tidak," jawab Sari pelan.

"Aku pergi dulu, ya."

Sari mengangguk lemah. Dibiarkan saja sahabatnya itu pergi meninggalkannya sendirian. Sampai Rara Inten pergi ke pancuran, Sari masih tetap duduk di bawah pohon soka dengan bunga-bunganya yang merah dan berdaun lebat. Dia baru beranjak masuk ke rumahnya setelah matahari tepat di atas kepala.

Saat matahari berada di belahan ufuk Barat, Sari melangkah pelan-pelan di Bukit Jati Ireng. Matanya terus memandang ke gubuk kecil di antara dua batang pohon yang mengapitnya. Pelan namun pasti langkah kakinya menuju gubuk kecil nan sederhana itu, dari baru berhenti setelah berada di depan gubuk itu. Sari kelihatannya ragu-ragu untuk lebih dekat lagi. Dia hanya berdiri mematung dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan. Suasana di sekitar Bukit Jati Ireng tampak sunyi, sementara matahari semakin condong ke arah Barat. Mendadak gadis itu tersentak kaget ketika merasakan pundaknya ditepuk seseorang dari belakang.

"Oh!" Sari langsung membalikkan tubuhnya.

"Apa khabarmu, Manis?"

Bibir Sari seperti terkunci melihat Kamandaka sudah berada di depannya sekarang. Hanya dipandangi wajah tampan pemuda itu dengan bibirnya yang selalu merah tersenyum menawan. Sinar matanya yang indah membuat gadis itu terpaku bagai terhipnotis. Dia lupa akan tujuannya semula datang ke bukit itu.

"Aku tahu, kau pasti rindu padaku," kata Kamandaka lembut suaranya.

"Aku..., aku...." suara Sari jadi tersekat di tenggorokkan.

Dan sebelum gadis itu bisa menguasai dirinya, Kamandaka lebih cepat lagi menyumpal bibir gadis itu dengan bibirnya. Tentu saja Sari gelagapan, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan pemuda itu. Tapi semakin berusaha keras, semakin kuat pelukan Kamandaka. Bahkan ciuman-ciuman pemuda itu semakin liar dan hangat menjelajah di seluruh wajah dan leher gadis itu

Sari tidak mampu lagi bertahan. Perlawanannya makin mengendur, dan akhirnya tidak berontak sama sekali. Bahkan kini malah membalas semua cium-ciuman yang diberikan Kamandaka. Sari benar-benar lupa, bahkan tidak menolak ketika Kamandaka menggiringnya masuk ke dalam pondok. Dia juga tidak menolak ketika tubuhnya dibaringkan di atas dipan bambu beralaskan anyaman tikar pandan.

Sari tidak mampu lagi menolak. Apa yang terjadi waktu itu, kini terulang lagi sekarang. Dia hanya bisa menangis saat tubuh Kamandaka bergulir ke samping lengan tubuh bersimbah keringat dan senyum kepuasan.

"Manis...," tangan Kamandaka menarik tangan Sari yang akan bangkit. Tubuh gadis itu hanya terbungkus kain seadanya. Beberapa bagian tubuhnya yang terbalut kulit putih mulus terbuka mengintip keluar.

Sari hanya duduk saja di tepi dipan bambu, dengan punggung tangannya dihapus titiktitik air bening di pipinya. Gadis itu tidak bergeming meskipun tangan Kamandaka melingkar di pundaknya yang terbuka lebar. Dia juga tidak menggubris saat pemuda itu merapatkan tubuhnya, dan memeluk dari belakang.

"Jangan...!" sentak Sari lirih ketika tangan Kamandaka berusaha menyentuh dua bukit kembar itu. Buru-buru dirapikan kainnya.

"Kau cantik sekali, Manis. Sungguh menggairahkan," bisik Kamandaka dekat telinga gadis itu.

"Kakang...," suara Sari terputus.

"Apa yang ingin kau katakan. Manis? Katakanlah!"

"Kau.., kau harus mengawini aku," agak tergetar suara Sari.

"Kawin...?" Kamandaka tertawa seraya melepaskan pelukannya, dan beranjak turun dari dipan.

"Jangan kau buat aku menderita, Kakang. Aku masih gadis saat kau menjamah tubuhku," serak dan tersendat suara Sari. Air bening mulai menitik lagi dari sudut matanya.

"Aku tidak memaksamu, kan? Kau datang sendiri ke sini. Kau serahkan tubuhmu dengan sukarela. Ah. Lucu sekali kalau aku harus mengawinimu!" seenaknya saja Kamandaka bicara.

"Tapi...!"

"Sudahlah...! Salahmu sendiri, mengapa tidak menolak waktu itu! Aku tidak pernah memaksa seorang wanita. Kalau kau menolak, aku juga tidak akan menjamahmu!"

"Kau..., kau kejam!" Sari tidak kuasa lagi membendung tangisnya. Seketika itu juga tangisnya meledak.

"Untuk apa kau menangis? Aku menikmati tubuhmu, dan kau juga merasakan kenikmatan dariku. Adilkan? Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Dan lagi aku tidak mengundangmu ke sini. Kau sendiri yang datang menyerahkan tubuhmu!" tidak lagi terdengar nada lembut pada suara Kamandaka.

"Kejam! Kau..., kau..., Iblis!" dengus Sari di sela isak tangisnya.

"Terserah apa katamu," sambut Kamandaka.

Sari langsung beranjak bangun. Ditatapnya dengan tajam pemuda tampan di depannya. Tanpa banyak bicara lagi, gadis itu berlari ke luar pondok diiringi senyum lebar Kamandaka. Sari terus berlari, tidak peduli dengan pakaiannya yang acak-acakan. Sementara itu Kamandaka tertawa renyah penuh kemenangan.

********************

DUA

Jeritan melengking memecah kesunyian di pagi buta ini. Jeritan itu berasal dari rumah Sari. Tampak Nyi Gadung berdiri lemas di depan pintu kamar anaknya yang terbuka lebar. Sesekali jeritan masih terdengar dari mulutnya yang terbuka. Ki Gadung datang tergopoh-gopoh dan terperanjat begitu melihat tubuh Sari tergantung di tiang kamar.

"Ki...! Ki Gadung...!" terdengar panggilan dari luar disertai gedoran pintu.

Ki Gadung bergegas ke luar dan membuka pintu rumahnya, Tampak beberapa orang tetangga, baik laki-laki maupun perempuan telah berkerumun di depan rumahnya.

"Tolong...! Tolong, anakku!" rintih Nyi Gadung berlarian, langsung memeluk suaminya.

Dua orang laki-laki muda bertubuh tegap segera menerobos masuk. Mereka terperangah kaku saat melihat tubuh Sari tergantung di kamar. Tanpa banyak bicara lagi, kedua laki-laki itu cepat memutuskan angkin yang mengikat leher Sari, dan membaringkan tubuh gadis itu di pembaringannya.

"Sari, anakku...," rintih Nyi Gadung langsung menubruk tubuh putrinya.

Beberapa orang sudah berkerumun di depan pintu kamar. Ki Gadung tampak terduduk lemas di kursi dekat pintu kamar. Pandangan matanya kosong ke depan, seperti orang linglung yang tidak tahu lagi harus berbuat apa. Beberapa tetangga mulai kasak-kusuk menduga-duga. Dan sebagian lagi segera mengurus jenasah Sari. Nyi Gadung terus-menerus dihibur beberapa perempuan tua di kamar lain. Sementara itu Ki Gandung tetap duduk lesu tanpa semangat.

Sementara Rara Inten yang langsung datang begitu mendengar Sari gantung diri, menangis meraung-raung memeluk mayat sahabatnya. Kalau saja ibunya tidak segera membawa pergi ke luar, mungkin bisa seharian ia menangisi mayat sahabatnya itu.

Pagi ini seluruh penduduk Desa Jati Ireng tumpah ruah di rumah Ki Gadung. Berita tentang kematian Sari karena gantung diri tersebar cepat sampai ke seluruh pelosok desa.

Beberapa dugaan dan tanggapan bermunculan, Desa Jati Ireng belum pernah mengalami kejadian yang begitu menggemparkan. Seorang gadis mati Gantung diri! Desa Jati Ireng terkenal aman, tenteram, dan makmur. Tidak mengherankan kalau kematian Sari yang tragis itu membuat seluruh penduduk desa itu gempar.

"Beberapa hari ini, Sari memang kelihatan murung," kata salah seorang penduduk yang memadati Halaman rumah Ki Gadung.

"Apa dia punya persoalan?" yang lain menduga-duga.

"Sepertinya memang iya. Tapi sahabat dekatnya saja tidak tahu persoalan apa yang membuat Sari murung belakangan ini."

"Rara Inten, maksudmu?"

"Siapa lagi? Semua orang tahu kalau mereka bersahabat karib sejak masih kecil"

"Ada apa, ya...?"

Semua orang bertanya-tanya. Dan kini perhatian mereka semua terpusat pada Rara Inten. Sahabat kental Sari. Hal ini membuat Rara Inten kebingungan karena semua orang selalu menanyakan tentang Sari terhadapnya. Rara Inten sendiri tidak tahu. Dia tidak bisa menjawab apa-apa, selain kata tidak tahu. Tapi tidak seorang pun yang percaya begitu saja. Semua orang yakin kalau Rara Inten mengetahui betul persoalannya.

Rara Inten semakin kelabakan karena Kepala Desa Jati Ireng ikut pula menanyainya. Kepala desa yang bernama Ki Parungkit itu khusus datang ke rumah Ki Gadung. Dimintanya satu kamar khusus untuk menanyai Rara Inten yang didampingi ibunya, Nyi Masaha. Sedangkan kepala desa didampingi seorang bayan yang bernama Sangkuni.

"Semua orang di desa ini tahu kalau kau sangat dekat dengan Sari...," ujar Ki Parungkit pelan, namun terdengar penuh kewibawaan.

"Kami memang dekat satu sama lain, Ki. Tapi aku tidak tahu persoalan yang dihadapinya. Sari tidak pernah mengatakan yang sebenarnya, jika ditanya, serobot Rara Inten sebelum Ki Parungkit selesai berkata.

"Sari punya kekasih?" tanya Bayan Sangkuni langsung menebak.

Rara Inten tidak segera menjawab karena memang dia tidak tahu Sari punya kekasih. Yang diketahuinya, sikap Sari begitu berubah setelah akrab dengan Kamandaka yang menetap dekat pancuran di Bukit Jati Ireng. Tapi Rara Inten tidak yakin kalau Sari jatuh cinta pada pemuda itu. Memang, Rara Inten sering melihat mereka berduaan. Tapi dia sama sekali tidak punya pikiran buruk. Rara Inten hanya menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman biasa saja.

Tapi, Rara Inten juga ingat. Setiap kali dia menyebut nama Kamandaka di depan Sari, wajah gadis itu berubah menegang. Bahkan beberapa hari sebelum meninggal gantung diri, Rara Inten sering mengajak Sari ke pancuran. Tapi ajakan itu selalu ditolaknya. Mungkinkah cinta Sari ditolak Kamandaka, lalu nekat bunuh diri?

"Dua minggu yang lalu kami berkenalan dengan seorang pemuda tampan di Bukit Jati Ireng dekat pancuran. Tapi aku tidak yakin kalau pemuda itu penyebab kematian Sari," kata Rara Inten pelan suaranya.

"Sari mencintainya?" desak Ki Parungkit.

"Aku tidak tahu. Tapi aku sering melihat mereka jalan berdua," Rara Inten mengakui.

"Siapa nama pemuda itu?" tanya Bayan Sangkuni.

"Kamandaka," sahut Rara Inten.

"Kamandaka...," desis Bayan Sangkuni mengulangi nama itu beberapa kali.

"Ada apa, Sangkuni?" tanya Ki Parungkit.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin dia ada di sini Tapi...," Bayan Sangkuni seperti bicara untuk dirinya sendiri.

"Kau mengenalnya, Sangkuni?" tanya Ki Parungkit lagi.

"Sebaiknya kita ke Bukit Jati Ireng, Ki. Kalau memang benar Kamandaka si Durjana Pemetik Bunga pasti dialah penyebab kematian Sari!" seru Bayan Sangkuni langsung bangkit berdiri.

Bayan Sangkuni segera melangkah ke luar kamar diikuti Ki Parungkit. Sedangkan Rara Inten bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh Bayan Desa Jati Ireng itu. Bergegas gadis itu ikut ke luar didampingi ibunya.

"Kalian semua, ambil kuda dan senjata! Ikut aku" perintah Bayan Sangkuni menunjuk beberapa pemuda yang ada di halaman rumah Ki Gadung.

Tanpa ada yang membantah, sekitar dua puluh orang pemuda segera mengambil kuda masing-masing. Salah seorang di antaranya membawa dua ekor kuda yang kemudian diserahkan pada Bayan Sangkuni dan Ki Parungkit.

"Aku ikut" seru Ki Gadung yang telah siap dengan golok di pinggang. Dia juga sudah siap di atas punggung kudanya.

"Baiklah. Tapi ingat, jangan berbuat gegabah, sahut Bayan Sangkuni tidak bisa menolak.

Atas saran Ki Parungkit, Rara Inten ikut serta didampingi ayahnya. Tidak kurang tiga puluh orang berkuda bergerak menuju ke Bukit Jati Ireng. Sementara matahari sudah cukup tinggi, tepat di atas kepala, sinarnya yang terik mengiringi tiga puluh orang berkuda itu menuju ke Bukit Jati Ireng.

Ki Parungkit dan Bayan Sangkuni berjalan di tengah mengapit Rara Inten. Gadis itu menjadi penunjuk jalan menuju ke tempat tinggal Kamandaka. Dalam hati, Rara Inten tidak percaya kalau pemuda itu penyebab kematian Sari. Perilaku Kamandaka sangat sopan. Tidak ada tanda-tanda kalau pemuda itu orang jahat. Lagi pula, kalau hanya persoalan cinta, tidak mungkin Sari bunuh diri. Pasti ada persoalan yang sangat berat dan tidak terpecahkan, sehingga gadis itu mengambil jalan pintas.

Sepanjang perjalanan, Rara Inten terus berpikir dan menduga-duga. Pendiriannya tetap pada keyakinannya semula. Sungguh sulit dipercaya kalau Sari bunuh diri hanya karena cintanya ditolak Kamandaka. sementara rombongan kecil itu semakin dekat ke Bukit Jati Ireng. Dari kejauhan, gubuk Kamandaka sudah terlihat, dan seperti sepi-sepi saja.

Itu pondoknya. Dia tinggal di situ," kata Rara Inten menunjuk rumah kecil yang sederhana sekali.

"Sepi.., apakah dia sudah kabur?" gumam Bayan sangkuni.

"Kau tunggu di sini, Rara. Biar kami yang menyelesaikan persoalannya," kata Ki Parungkit.

Rara Inten tidak membantah. Dihentikan laju kudanya diikuti ayahnya dan lima orang pemuda bersenjata golok di pinggang. Sementara Ki Parungkit, Bayan Sangkuni, dan Ki Gadung terus mendekati pondok kecil itu diikuti beberapa pemuda. Apakah dugaan Bayan Sangkuni benar?

********************

"Kamandaka! Keluar kau!" teriak Bayan Sangkuni lantang.

Tidak ada sahutan sama sekali. Suara Bayan Sangkuni yang keras dan lantang, bergema terpantul batu-batuan dan pepohonan. Rumah kecil itu masih tetap sepi, seperti tidak berpenghuni. Pintunya pun tertutup rapat.

"Kalian datang membawa senjata sambil berteriak-teriak seperti tidak mengerti kesopanan," tiba-tiba terdengar suara halus lembut.

Semua orang yang ada di situ serentak menoleh. Tampak Kamandaka tengah duduk tenang di atas batu hitam. Di tangannya tergenggam suling berwarna kuning gading.

"Sudah kuduga. Kau pasti si Durjana Pemetik Bunga!" dengus Bayan Sangkuni.

"Apa maksud kalian datang ke sini?!" tanya Kamandaka yang lebih dikenal dengan julukan si Durjana Pemetik Bunga.

"Kau harus bertanggung jawab atas kematian anakku!" bentak Ki Gadung.

"Anakmu? Siapa anakmu?" tanya Kamandaka kalem.

Kamandaka tersenyum melihat Rara Inten juga ada di tempat ini, tapi agak jauh. Sudah bisa diduga, kedatangan orang-orang itu pasti ada hubungannya dengan Sari. Kamandaka tetap tenang meskipun sudah dapat memastikan kalau Sari mati bunuh diri karena merasa malu telah ternoda.

"Anakmu memang cantik dan menggairahkan," tenang sekali Kamandaka berkata.

"Kurang ajar! Kau apakan anakku, heh?" geram Ki Gadung memuncak amarahnya.

"Dia datang sendiri padaku. Aku tidak pernah memaksa untuk menyerahkan tubuhnya padaku. Ah..., sayang sekali kalau harus mati terlalu cepat. Aku tidak akan bisa melupakan tubuhnya yang indah menggairahkan."

"Setan! Kubunuh kau, Bangsat...!"

Ki Gadung tidak dapat lagi mengendalikan amarahnya. Sambil mencabut golok, dia langsung melompat dari punggung kudanya. Cepat sekali gerakan tubuh orang tua itu, dalam sekejap saja goloknya sudah berkelebat mencecar tubuh Kamandaka atau si Durjana Pemetik Bunga.

Namun serangan yang begitu cepat dan beruntun, dengan mudah dapat dielakkan Kamandaka. Bahkan tanpa diduga sama sekali satu pukulan telah bersarang di dada Ki Gadung. Laki-laki tua itu memekik tertahan. Tubuhnya terjengkang deras ke belakang menghantam batu hitam yang cukup besar.

"Bunuh, setan keparat itu...!" seru Bayan Sengkuni keras.

Seketika itu juga pemuda yang jumlahnya tidak kurang dari dua puluh orang itu serentak berlompatan dengan golok terhunus. Mereka segera menyerang dan mengepung Kamandaka. Tapi si Durjana Pemetik Bunga itu dengan mudah dapat melayani. Bahkan beberapa orang pengeroyoknya jungkirbalik kena pukulan dan tendangan telak Kamandaka.

"Aku muak mengurusi cacing-cacing macam kalian!" dengus Kamandaka.

Setelah berkata demikian, Kamandaka segera memutar tubuhnya cepat bagaikan gasing. Orangorang yang mengeroyoknya langsung berpentalan dan menggeliat-geliat di tanah. Golok-golok mereka beterbangan tidak tentu arah. Kamandaka berdiri tegak dengan senyum tidak lepas tersungging di bibirnya.

"Enyahlah kalian dari hadapanku, sebelum aku berubah pikiran!" bentak Kamandaka dingin

Sebelum mereka bisa berbuat lebih banyak, tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik. Suara tawa nyaring berirama merdu itu bagaikan datang dari segala arah. Senyum di bibir Kamandaka semakin lebar mendengar suara tawa itu. Lain halnya dengan Ki Parungkit dan Sangkuni. Seketika itu juga wajah mereka pucat pasi bagai tak dialiri darah lagi.

Belum hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba di samping Kamandaka telah berdiri seorang perempuan muda dan cantik, mengenakan pakaian serba merah menyala. Di telinganya terselip setangkai bunga mawar merah. Wanita cantik itu menatap tajam pada orang-orang yang tadi sempat bertarung dengan si Durjana Pemetik Bunga.

"Celaka, Dewi Mawar Merah...!" desah Sangkuni. wajahnya masih pucat.

"Kenapa mereka memusuhimu, Kakang?" tanya Dewi Mawar Merah lembut pada Kamandaka.

"Ah, hanya persoalan sepele," jawab Kamandaka kalem.

Dewi Mawar Merah menatap Rara Inten dengan tajam.

"Bukan dia, tapi temannya," kata Kamandaka yang mengerti arti tatapan tajam wanita cantik itu.

"Dia juga cantik. Kau tidak tertarik, Kakang?" ada nada tidak senang pada suara Dewi Mawar Merah. "Mungkin nanti," kalem saja jawaban Kamandaka.

Sementara itu Bayan Sangkuni memberi isyarat pada para pemuda untuk segera menyingkir. Beberapa di antaranya cepat kabur setelah naik ke punggung kuda. Sebagian lagi menggotong tubuh Ki Gadung, sedikit demi sedikit Ki Parungkit, Bayan Sangkuni, dan yang lainnya bergerak mundur.

"Kenapa kau diamkan saja mereka, Kakang?" tanya Dewi Mawar Merah setelah orang-orang itu pergi.

"Biarlah. Mereka akan berpikir dua kali jika akan ke sini lagi," sahut Kamandaka tetap kalem.

Dewi Mawar Merah tersenyum tipis, kemudian ayunkan langkahnya memasuki pondok kecil tempat bernaung Kamandaka. Pemuda yang berjuluk si Durjana Pemetik Bunga itu, mengikuti dari belakang. Dewi Mawar Merah memandangi ruangan kecil yang di dalamnya hanya terdapat dipan bambu dan sebuah dipan saja.

"Sepertinya kau tidak dapat hidup tanpa ranjang... gumam Dewi Mawar Merah.

"Kau ingin mencobanya, Adik Dewi?"

"Ah! Selalu itu saja yang kau pikirkan!" rungut Dewi Mawar Merah memberengut manja.

"Tapi kau suka, kan...?"

"Ih...!"

Kamandaka tahu kalau wanita cantik itu hanya pura-pura menolak. Buktinya, ketika Kamandaka mulai memeluk dan menciuminya, Dewi Mawar Merah malah membalasnya dengan gairah yang menggelora, Di dalam pondok kecil itu kini tidak terdengar percakapan lagi. Hanya desir angin yang terdengar menyusup masuk melalui celah-celah dinding.

Sementara itu matahari terus bergulir ke arah Barat. Dua manusia berlainan jenis di dalam pondok kecil itu tidak peduli lagi akan sekelilingnya. Mereka terlalu asyik dengan nafsu setannya. Tidak ada yang bisa melarang mereka. Bahkan nyamuk pun seperti enggan mengganggu.

********************

"Sudah berapa gadis yang kau dapatkan di sini?" tanya Dewi Mawar Merah sambil merapikan pakaiannya

"Baru satu," jawab Kamandaka polos.

"Satu...!?" Dewi Mawar Merah seperti tidak percaya.

"Iya, kenapa? Tidak percaya?"

"Nama besarmu akan hancur kalau begitu," ejek Dewi Mawar Merah.

"Aku sedang tak tertarik," desah Kamandaka dengan enaknya.

"Kau pasti memikirkan Pendekar Rajawali Sakti!" tebak Dewi Mawar Merah langsung.

"Aku belum bisa tenang sebelum memenggal kepalanya!" terasa dingin nada suara Kamandaka.

"Dia bukan lawanmu. Kakang. Aku sendiri belum tentu bisa menandinginya. Pendekar Rajawali Sakti sulit diukur tingkat kepandaiannya. Tidak sedikit tokoh sakti takluk padanya."

"Itu sebabnya, kenapa aku memintamu dan semua teman-teman kita berkumpul di sini."

"Maksudmu?"

"Berapa teman kita yang masih hidup?" Kamandaka balas bertanya.

"Hanya lima, termasuk aku dan kau!"

"Jadi..., tinggal tiga lagi?"

"Betul. Hanya itu yang bisa kuhubungi."

"Siapa saja?"

"Si Datuk Arak, Iblis Muka Hitam, dan si Cakar Beracun."

Kamandaka mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia kenal betul dengan nama-nama yang baru saja disebutkan Dewi Mawar Merah. Nama-nama yang tidak asing lagi dalam rimba persilatan. Mereka adalah tokoh-tokoh persilatan golongan hitam. Kamandaka sedikit terhibur mendengar nama-nama itu.

"Bagaimana?" Dewi Mawar Merah meminta pendapat.

"Tidak mengecewakan. Aku yakin, kita berlima pasti bisa menghadapi Pendekar Rajawali Sakti," sambil Kamandaka tersenyum, kemudian mengecup bibir wanita itu dengan lembut.

Dewi Mawar Merah malah melingkarkan tangannya ke leher pemuda tampan itu. Bahkan memagut bibir Kamandaka dengan ganas dan liar penuh gairah. Jari-jari tangan Kamandaka mulai nakal menjelajahi tiap lekuk tubuh perempuan itu. Tiba-tiba aksinya berhenti begitu mendengar suara keras dari luar pondok itu.

"Belum puaskah kalian bermesraan di dalam...?"

"Datuk Arak...," desis Dewi Mawar Merah mengenali suara itu.

"Sialan! Tidak boleh orang senang sedikit!" rutuk kamandaka.

"Lain waktu bisa diteruskan, Kakang," hibur Dewi Mawar Merah seraya memberikan kecupan pada pipi pemuda itu.

Kamandaka beranjak bangkit dari dipan bambu. Sebentar dirapikan pakaiannya, kemudian melangkah ke luar pondok. Tampak seorang laki-laki tua dengan pakaian kumuh dan kotor duduk bersandar di bawah sebatang pohon rindang. Di tangannya mencekal seguci arak besar, dan di pinggangnya pun tergantung guci yang juga besar ukurannya. Laki-laki tua itu bertubuh kurus kering, tapi perutnya buncit seperti wanita hamil. Mungkin karena kebanyakan menegak arak!

"He he he...," Datuk Arak terkekeh setelah menenggak cairan dari dalam guci yang dicekalnya.

"Selamat datang di Bukit Jati Ireng, Datuk Arak," sambut Kamandaka hangat dan ramah.

"Hik! Sudah kau sediakan arak manis kesukaanku Setan Kecil?" Datuk Arak tidak menggubris sambutan hangat Kamandaka.

"Jangan khawatir. Lihat di atasmu!" sahut Kamandaka kalem.

Datuk Arak langsung terkekeh melihat beberapa buah guci besar bergantungan pada cabang-cabang pohon di atasnya. Dihitungnya dalam hati. Ada sepuluh guci besar yang pasti berisi arak manis kesukaannya. Tanpa banyak bicara, mendadak tubuh tua itu melenting tinggi ke udara, lalu kembali lagi dengan kedua tangan mencekal masing-masing dua guci besar. Cepat sekali gerakannya, tahu-tahu sudah duduk di bawah pohon tadi.

"Aaah..., harum sekali baunya. Pasti arak terbaik yang pernah kudapatkan," desah Datuk Arak sambil menciumi satu per satu mulut guci yang telah dibuka tutupnya.

"Khusus kusediakan untukmu, Datuk Arak," kata Kamandaka.

"He he he..., kau memang bocah setan yang bisa mengerti keinginanku. Tidak percuma aku menganggapmu saudara!" sambut Datuk Arak gembira.

Laki-laki tua yang kurus dan berperut buncit itu mulai mencicipi empat guci arak yang diambil dari atas pohon. Masih ada enam lagi yang belum diambil.

Bibirnya berdecak-decak, dan kepalanya terangguk-angguk kegirangan merasakan nikmatnya, arak yang disiapkan Kamandaka. Sesekali terdengar suara tawanya yang terkekeh panjang pendek.

"Apa perlunya kau mengundangku ke sini, Bocah setan?" tanya Datuk Arak setelah menenggak araknya.

"Nanti akan kujelaskan. Tunggulah sampai yang lain datang," sahut Kamandaka.

"Kalau masalah perempuan, lebih baik aku pergi saja!" rungut Datuk Arak yang mengetahui persis watak Kamandaka.

"Mudah-mudahan benar," sahut Kamandaka sengaja membuat tekateki.

"He he he , kau membuat teka-teki, Bocah Setan Baiklah, aku suka teka-tekimu. Tapi aku ingin berakhir dengan kesenangan pula!" sambut Datuk Arak terkekeh kesenangan.

"Aku jamin, kau pasti suka permainan ini. Seratus guci arak akan kusediakan untukmu kalau semuanya sudah berakhir!" janji Kamandaka.

"Aku pegang janjimu, Bocah Setan!"

Kamandaka hanya tersenyum saja.

********************

TIGA

Suasana Desa Jati Ireng tampak lain dari biasanya, seluruh pelosok desa tampak sepi. Kedai-kedai pun seperti enggan untuk buka. Yang lebih menyolok, ternyata para gadis tidak ada yang berani ke luar rumah sendirian. Kabar tentang adanya Kamandaka atau si Durjana Pemetik Bunga telah tersebar luas. Apalagi ditambah dengan munculnya Dewi Mawar Merah. Perempuan cantik itu sangat kejam dan sukar dicari tandingannya saat ini.

Saat matahari berada di puncak paling tinggi pada garis edarnya, tampak seekor kuda hitam berjalan lambat-lambat di jalan utama Desa Jati Ireng. Penunggangnya seorang pemuda berambut panjang dengan ikat kepala putih. Dia mengenakan baju rompi yang juga warna putih. Gagang pedang berbentuk kepala burung rajawali, tampak menyembul dari balik punggungnya. Jelas sudah, bahwa penunggang kuda itu adalah Pendekar Rajawali Sakti, atau Rangga.

Di depan kedai yang kebetulan buka tapi sepi pengunjung, Rangga menghentikan langkah kaki kudanya. Hanya dua orang saja yang kelihatan duduk di sana selain seorang laki-laki tua pemilik kedai. Rangga turun dari kudanya, lalu melangkah tegap memasuki kedai itu. Diambilnya tempat agak ke sudut.

Dua orang pemuda yang duduk di situ memperhatikannya sejak Rangga datang hingga tengah menikmati makanannya kini. Pendekar Rajawali Sakti itu tahu betul kalau dirinya tengah diperhatikan. Tapi tidak ambil peduli karena takut selera makannya berkurang.

"Sepi sekali desa ini. Ke mana penduduknya. Pak?" tanya Rangga pada pemilik kedai itu.

"Ada," jawab pemilik kedai itu.

"Apa nama desa ini?" tanya Rangga lagi.

"Desa Jati Ireng," jawab pemilik kedai itu lagi.

"Ki Sarman...!" panggil salah seorang pemuda yang ada di kedai itu.

"Maaf, sebentar," pamit pemilik kedai yang di panggil Ki Sarman.

Laki-laki tua berambut putih seluruhnya itu menghampiri dua pemuda yang tidak begitu jauh dari Rangga. Salah seorang pemuda itu berbisik-bisik pada Ki Sarman. Laki-laki tua itu kelihatan manggut-manggut saja. Tak lama kemudian, kedua pemuda itu beranjak pergi setelah melirik Rangga sebentar. Pendekar Rajawali Sakti itu kelihatan acuh, seolah-olah tidak memperhatikan sama sekali.

Ki Sarman kembali menghampiri Rangga, lalu duduk di hadapannya. Rangga hanya melirik sedikit sambil mencuci tangannya di mangkuk kecil dari tanah liat bakar. Sebelah kakinya diangkat naik ke bangku yang didudukinya. Matanya sempat melirik dua pemuda tadi yang kini berdiri agak jauh dari kedai.

"Ada penginapan di desa ini, Ki?" tanya Rangga yang kini menyebut 'Ki' pada Ki Sarman Mungkin maksudnya agar lebih akrab.

"Tidak ada. Den. Tapi kalau Aden mau, bisa menempati kamar belakang kedai ini. Aku juga tinggal di sini sendirian," sahut Ki Sarman ramah.

"Sendirian? Keluarga Aki di mana?"

"Aku sudah lama hidup sendirian. Istri Aki telah lama meninggal. Anak tidak punya. Ada juga saudara, tapi jauh sekali tinggalnya."

"Kalau begitu, bolehlah. Aku juga tidak lama tinggal di sini," kata Rangga menyetujui. "Berapa satu harinya?"

"Jangan dipikirkan, Den. Aki sih tidak pernah pasang tarif. Terserah Aden saja ingin memberi berapa."

Rangga hanya tersenyum saja.

"Aden datang dari mana?" tanya Ki Sarman sambil membereskan meja bekas makan Rangga.

"Dari Karang Setra, Ki," jawab Rangga terus terang.

"Wah! Jauh sekali! Perlu satu pekan berkuda baru sampai ke sini. Tujuannya ke mana. Den ...,?

"Rangga! Panggil saja aku Rangga, Ki," kata Rangga yang sebenarnya risih dipanggil 'Den'.

"Den Rangga akan ke mana tujuannya?" kata Ki Sarman mengulangi pertanyaannya lagi.

"Entahlah, Ki. Ke mana saja kuda hitamku melangkahkan kaki, ke situlah aku pergi," jawab Rangga mendesah.

Ki Sarman mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah dipahaminya kalau pemuda itu adalah seorang pengembara yang tidak punya tujuan pasti Memang banyak pengembara yang singgah ke desa ini. Jadi sebenarnya, kedatangan Rangga tidak lagi menjadi perhatian. Tapi dalam situasi sekarang ini, kedatangan Pendekar Rajawali Sakti itu tentu saja mendapat pengamatan dua orang pemuda yang tadi berada di kedai ini. Mereka terus mengamati dari jarak yang cukup jauh.

Rangga paham betul kalau dirinya tengah diawasi sama sekali tidak ambil peduli. Pendekar Rajawali Sakti itu malah meminta Ki Sarman untuk mengantarnya ke kamar yang akan disewa. Dengan senang hati laki-laki tua itu mengantarkannya. Di mana-mana sama saja, sebuah kedai makan sering menyediakan kamar untuk bermalam.

Sebenarnya Ki Sarman memilihkan kamar yang agak ke belakang. Tapi Rangga justru memilih yang paling depan, sehingga bisa melihat langsung ke arah jalan dengan leluasa lewat jendela. Ki Sarman tidak bisa menolak. Tamu, baginya adalah raja yang harus dilayani sebaik mungkin agar senang dan betah. Dari kamar ini Rangga dapat lebih jelas lagi melihat dua orang pemuda yang terus mengawasinya.

"Tolong beri makan kudaku, Ki," kata Rangga sebelum Ki Sarman keluar dari kamar itu.

"Jangan khawatir, Den. Aki juga punya banyak kuda. Pasti kuda Den Rangga akan terawat baik oleh pemelihara kudaku," sahut Ki Sarman.

"Terima kasih," ucap Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti itu segera menutup pintu kamarnya begitu Ki Sarman berlalu. Juga, dikuncinya pintu kamar ini. Sebentar Rangga mengamati keadaan kamar yang cukup besar dan lumayan baik.

"Hm, tidak mungkin aku ke luar melalui jendela. Bisa-bisa malah ketahuan oleh dua orang anak muda itu," kata Rangga dalam hati, tapi kemudian tersenyum ketika melihat ke atas.

"Hup!"

Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu melenting ke atas dan hinggap di palang balok Dengan hati-hati sekali, dibukanya genting kamar itu, kemudian tubuhnya kembali melenting ke luar setelah lubang di genting cukup untuk tubuhnya.

********************

Dua orang pemuda yang mengamati kedai Ki sarman, sangat terkejut ketika tiba-tiba saja di belakang mereka telah berdiri orang yang tengah diawasi. Ke dua orang itu sampai terlonjak begitu Rangga menepuk pundak mereka.

"Ada yang salah pada diriku, Kisanak?" tanya Rangga ramah dan bersahabat.

Kedua orang itu tidak langsung menjawab, tapi hanya saling pandang saja.

"Kalau kalian tidak menyukai kehadiranku di sini, sekarang juga aku akan pergi," kata Rangga seraya berlalu.

"Tunggu!" cegah salah seorang.

Rangga berhenti melangkah, langsung berbalik.

"Siapa kau, dan apa tujuanmu datang ke sini?? Tanya seorang lagi.

"Aku Rangga, dan ke sini hanya singgah sebentar. Siapa Kisanak berdua?" Rangga balas bertanya setelah memperkenalkan diri.

"Aku Somad. Dan ini temanku, Mirad," salah seorang yang bernama Somad juga memperkenalkan diri. "Kami berdua adalah petugas keamanan desa, yang harus selalu waspada terhadap setiap pendatang."

"Oh, apakah selalu begitu?" tanya Rangga sedikit heran mendengar keterangan itu.

"Ya, tidak selalu. Tapi dalam beberapa hari ini kami dituntut untuk lebih waspada lagi," jawab Mirad menjelaskan.

"Hm..., tampaknya desa ini sedang mengalami sesuatu...," gumam Rangga menduga-duga.

"Kelihatannya kau memang orang asing yang tidak tahu menahu keadaan di sini," Somad juga bergumam.

"Kalau kalian berdua percaya, aku memang tidak tahu keadaan di sini. Aku hanya singgah dan aku meneruskan perjalanan setelah cukup beristirahat."

"Kau seorang pendekar?" selidik Mirad.

"Ah, bukan...," jawab Rangga merendah. "Aku hanya pengembara biasa yang mencari hidup dari satu desa ke desa lain."

"Kau membawa senjata Pengembara yang membawa senjata, tentulah pendekar," Mirad tetap pada pendiriannya.

"Besok atau lusa, aku akan meninggalkan desa ini. Permisi," pamit Rangga yang tidak menggubris kecurigaan Mirad.

Pendekar Rajawali Sakti itu terus saja melangkah ke kedai Ki Sarman. Sedangkan dua orang pemuda itu memandangi dengan dipenuhi berbagai macam tanda tanya. Mereka masih berdiri di situ meski Rangga telah pergi, masuk dalam kamarnya.

"Kamu percaya dengan keterangannya, Somad?" Tanya Mirad yang masih mencurigai Rangga.

"Entahlah," jawab Somad sambil mengangkat bahunya.

"Aku curiga. Jangan-jangan dia teman Kamandaka yang akan ke Bukit Jati Ireng, lalu singgah dulu di sini." Mirad mengemukakan kecurigaannya.

"Tapi dia kelihatan sangat sopan dan tidak bermaksud buruk pada penduduk desa ini," bantah Somad

"Menilai seseorang jangan dari luarnya, Somad. Coba kau lihat Kamandaka! Katakata dan sikapnya selalu lembut dan sopan, tapi hatinya busuk melebihi Iblis!"

"Aku melihat ada sinar kejujuran di matanya, tidak liar seperti Kamandaka!" sergah Somad membantah.

"Ingat tugas kita, Somad. Kita tidak boleh percaya begitu saja terhadap orang asing!" Mirad mengingatkan temannya.

"Aku tahu, Mirad. Aku juga tidak bermaksud lalai dalam tugas. Tapi aku yakin kalau dia tidak bermaksud buruk datang ke sini. Malah sepertinya, aku dapat wangsit kalau dia seorang pendekar tangguh yang diutus Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan Jati Ireng!"

"Ah! Kau terlalu banyak mengkhayal!" rungut Mirad.

"Aku bukan mengkhayal, Mirad. Kau jangan salah paham dulu. Aku sepertinya pernah mengenal ciri-ciri orang itu...," Somad mengerutkan keningnya seolah-olah tengah mengingat-ingat sesuatu.

"Sudahlah! Bagaimanapun juga, kita harus tetap mengawasi gerak-geriknya. Kau di sini saja, Somad. Aku akan melaporkannya kepada Paman Bayan Sangkuni!" kata Mirad yang tidak ingin memperpanjang perdebatannya.

"Sebaiknya, aku saja yang pergi. Kau mencurigainya bukan? Nah, lebih tepat kalau kau saja yang mengawasi!" selak Somad.

"Cepatlah, sebelum dia pergi!" Mirad mengalah.

"Jangan ke manamana! Aku akan segera kembali!" pesan Somad.

"Sudah, cepat sana!"

********************

"Ada apa Somad? Kau datang berlarilari seperti dikejar setan saja!" tanya Ki Parungkit ketika melihat Somad tergopohgopoh menghampirinya.

"Ada yang ingin kulaporkan, Ki," jawab Somad dengan napas terengah-engah.

"Apa ada gadis yang bunuh diri lagi?" tebak Bayan sangkuni yang juga berada di rumah kepala desa itu.

"Bukan..., bukan itu."

"Lalu, apa?"

"Di kedai Ki Sarman ada seorang pemuda asing yang kami curigai sebagai teman si Durjana Pemetik Bunga!"

"Siapa pemuda itu?" tanya Ki Parungkit.

"Dia mengaku bernama Rangga. Katanya, hanya ingin singgah dalam pengembaraannya," Somad menjelaskan. "Terus terang, Ki. Aku sebenarnya tidak mencurigainya. Dia kelihatannya orang baik-baik, dan hanya kebetulan saja singgah di sini. Tapi Mirad tetap mencurigainya, Ki. Dia kini masih mengawasi pemuda itu tidak jauh dari kedai Ki Sarman.""

"Rangga..., Rangga...," Bayan Sangkuni bergumam beberapa kali menyebut nama Rangga. Keningnya berkerut, pertanda tengah berusaha mengingat-ingat.

"Kau kenal nama itu, Sangkuni?" tanya Ki Parungkit.

"Sebentar," desah Bayan Sangkuni. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya...."

Ki Parungkit dan Somad hanya diam menunggu penjelasan Bayan Sangkuni. Mereka tahu kalau Bayan Sangkuni cukup berpengalaman dan berpengetahuan luas baik di dalam maupun di luar dunia persilatan. Dia juga banyak memiliki hubungan ke luar. Hampir seluruh tokoh dunia persilatan dikenal baik olehnya.

Lama juga Bayan Sangkuni berpikir, mencoba mengingat-ingat. Perlahan-lahan kepalanya terangkat ke atas, kemudian terdengar desahannya yang panjang dan berat.

"Rasanya tidak mungkin..." gumam Bayan Sangkuni pelan.

"Apa yang tidak mungkin, Sangkuni?" tanya Parungkit.

"Beberapa waktu yang lalu, di Karang Setra diadakan penobatan raja pertama Karang Setra. Yang aku dengar, raja muda itu telah dua puluh tahun menghilang bertepatan dengan terjadinya peristiwa pembegalan di Lembah Bangkai, atau tepatnya di sekitar Danau Cubung," masih terdengar pelan suara Bayan Sangkuni.

"Maksudmu, peristiwa pembegalan yang menimpa Gusti Adipati Karang Setra oleh gerombolan Iblis Lembah Tengkorak?" Ki Parungkit menegaskan. Peristiwa itu memang pernah didengarnya dari mulut ke mulut.

"Benar!" sahut Bayan Sangkuni "Putra tunggal Gusti Adipati Karang Setra hilang, lalu setelah dua puluh tahun berlalu muncul kembali di Karang Setra.?

"Ya..., ya...! Aku juga dengar penobatan raja muda itu. Kadipaten Karang Setra kini menjadi sebuah kerajaan...." Ki Parungkit mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu, apa hubungannya?"

"Putra Gusti Adipati itu bernama Rangga Pati parmadi."

"Jadi...

"Aku sendiri belum yakin kalau pemuda itu adalah Raja Karang Setra. Atau mungkin juga dia...." Bayan Sangkuni tidak melanjutkan kata-katanya.

Ki Parungkit dan Somad menunggu penjelasan selanjutnya sedikit tidak sabar.

"Ayo, kita temui dia!" ajak Bayan Sangkuni segera bangkit berdiri.

Ki Parungkit hanya mengangkat bahunya saja. bersama Somad, diikutinya Sangkuni yang telah melangkah ke luar. Tapi, begitu kaki mereka melewati pintu depan rumah kepala desa itu, mendadak seorang perempuan tua berlari lari sambil menangis melolong.

"Nyi Kati...! Ada apa?" tanya Ki Parungkit.

"Tolong, Ki... Anakku..., si Tole...."

"Kenapa anakmu?!"

"Jatuh ke jurang sebelah Selatan Bukit Jati Ireng!"

"Huh! Ada-ada saja!" rungut Bayan Sangkuni.

"Sangkuni, kau terus saja menemui pemuda itu. Biar aku dan Somad yang akan mendong anak itu," kata Ki Parungkit

"Hati-hatilah! Daerah itu dekat pancuran tempat si Durjana Pemetik Bunga berdiam! Sebaiknya, ambil jalan memutar saja!" pesan Bayan Sangkuni.

"Ya, aku tahu," sahut Ki Parungkit. "Ayo, Nyi!" lanjutnya kepada Nyi Kati.

Bayan Sangkuni menggeleng-gelengkan kepalanya memandangi kepergian Ki Parungkit bersama Somad dan Nyi Kati. Ada-ada saja. Persoalan satu belum juga selesai, malah muncul persoalan lain! Bayan Sangkuni menarik napas panjang-panjang, kemudian diayunkan langkahnya mendekati kuda yang tertambat di bawah pohon rindang. Tidak berapa lama kemudian, laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu telah memacu kudanya menuju kedai Ki Sarman.

********************

EMPAT

Sementara itu di Bukit Jati Ireng, Kamandaka yang lebih dikenal sebagai si Durjana Pemetik Bunga, cukup puas akan kedatangan Datuk Arak, Iblis Muka Hitam, dan Cakar Racun, yang diundang secara khusus ke bukit ini. Meskipun Dewi Mawar Merah hanya mendapat tiga orang saja yang bersedia datang, tapi Kamandaka tidak menyangsikan tokoh-tokoh itu. Mereka adalah orang-orang rimba persilatan yang sudah punya nama besar.

Malam ini, bulan bersinar penuh. Kamandaka dan teman-teman undangannya duduk berkumpul mengelilingi api unggun kecil dengan seekor rusa di atasnya, bau harum daging rusa panggang menyebar, membangkitkan selera. Kamandaka memandangi satu per satu tamu undangannya itu. Tampak Datuk Arak duduk bersandar pada sebatang pohon yang di atasnya bergantungan guci-guci arak.

Iblis Muka Hitam duduk tidak jauh dari Datuk Arak. Laki-laki yang wajahnya hitam itu melempar-lemparkan batu kerikil ke sembarang arah. Jika ada orang lain memandangnya, pasti akan terheran-heran melihat kulit mukanya yang hitam, tapi bagian lain dari tubuhnya kuning kecoklat-coklatan. Sedangkan Cakar beracun sedang menggosok-gosokkan kukunya yang cukup panjang. Dia sudah kelihatan tua, tapi tidak setua datuk Arak. Pandangan matanya masih sangat tajam dan mengandung kebengisan. Dewi Mawar Merah duduk merapat pada Kamandaka, tidak peduli pada sekelilingnya.

"Sebenarnya, apa maksudnya kau mengundangku ke sini, Kamandaka?" tanya Iblis Muka Hitam. Suaranya terdengar besar dan berat.

"Apa kau masih menunggu orang lain lagi?" timpal Cakar Racun tidak sabar.

"Tidak. Hanya kalian bertigalah yang kuperlukan," sahut Kamandaka kalem.

"Kalau begitu, katakan apa maumu?" dengus Datuk Arak.

"Kalian semua pasti kenal dengan Pendekar Rajawali Sakti," kata Kamandaka.

Datuk Arak, Iblis Muka Hitam, dan Cakar Racun saling berpandangan tidak mengerti. Siapa yang tidak kenal Pendekar Rajawali Sakti? Seorang pendekar pilih tanding yang sulit dicari lawannya saat ini. Mereka jadi bertanya-tanya. Apa hubungannya Pendekar Rajawali sakti dengan undangan Kamandaka ini?

"Tidak mudah bagiku untuk menemukannya. Kalau toh aku berhasil menemukan, tapi tidak mudah untuk mencabut nyawanya. Itulah sebabnya, mengapa aku meminta kalian bertiga datang ke sini. Maksudku, untuk membantu menagih hutang pada Pendekar Raja Wali Sakti," kata Kamandaka. Nada suaranya terdengar serius.

"Jangan bertele-tele, Kamandaka! Langsung saja pada tujuanmu!" rungut Iblis Muka Hitam.

"Pendekar Rajawali Sakti berhutang nyawa padaku!" lanjut Kamandaka.

"He he he...," Datuk Arak terkekeh, segera di tenggak araknya beberapa teguk. "Aku tahu sekarang. Kau pun pasti ingin membalas kematian saudara perempuanmu, kan?"

"Benar, Datuk Arak! Hidupku tidak akan tenang sebelum minum darah Pendekar Rajawali Sakti!" seru Kamandaka.

Sesaat keheningan menyelimuti mereka. Semua tahu apa yang terjadi terhadap saudara perempuan Kamandaka. Memang permasalahannya bersifat pribadi. Tapi bagi mereka semua tidak mengenal istilah pribadi. Apalagi keberadaan Pendekar Rajawali Sakti membuat ruang gerak mereka menjadi sempit.

Mereka semua tidak menyangka kalau Klenting Kuning bisa tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti Mereka tahu siapa Klenting Kuning itu. Dia itu perempuan cantik yang wataknya tidak jauh berbeda dengan adiknya, Kamandaka. (Baca: Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode: Iblis Wajah Seribu).

Semua orang di rimba persilatan tahu kalau Iblis Wajah Seribu atau Klenting Kuning memiliki ilmu yang dapat menaklukkan laki-laki. Tidak seorang pun yang sanggup menolak jika Klenting Kuning menggunakan ilmu itu. Lawan pasti tunduk dan lupa akan dirinya sendiri. Juga ilmunya yang lain yaitu ilmu yang bisa merubah rupa serta penampilannya sekehendak hatinya. Tapi..., mengapa di hadapan Pendekar Rajawali Sakti ilmu-ilmu itu seperti tidak berarti sama sekali?

"Tapi, bukankah dia mati di tangan si Kipas Maut?" kata lblis Muka Hitam ragu-ragu.

"Benar, Iblis Muka Hitam. Kakakku memang mati di ujung pedang si Kipas Maut. Tapi waktu itu Pendekar Rajawali Sakti ada di sana membantunya. Dan lagi tidak mungkin kakakku dapat dipecundangi oleh si Kipas Maut tanpa campur tangan Pendekar Rajawali Sakti?!" jelas Kamandaka.

Ketiga tokoh golongan hitam itu manggut-manggut seolah membenarkan ucapan Kamandaka yang diucapkan dengan nada geram itu.

"Kalau dia mati di tangan kita, seluruh dunia persilatan dengan mudah dapat kita kuasai!" seru Dewi Mawar Merah yang sejak tadi diam saja.

"He he he..., jangan mengkhayal macam-macam dulu. Tingkat kepandaian Pendekar Rajawali Sakti sukar diukur. Kita berlima tidak mungkin bisa menandinginya, kecuali...," Datuk Arak tidak melanjutkan kata-katanya, tapi malah tertawa terkekeh-kekeh.

"Kecuali apa, Datuk Arak?" desak Kamandaka.

"Kecuali kalau kalian bisa merebut pedang pusakanya!" sahut Datuk Arak sambil terkekeh.

Semuanya terdiam. Mustahil bagi mereka merampas pedang pusaka Rajawali Sakti dari tangan Rangga. Mendadak saja pandangan mereka tertuju pada Dewi Mawar Merah. Tentu saja wanita cantik itu kelabakan dipandangi begitu. Dia dapat mengerti arti pandangan mereka semua. Sudah barang tentu mereka mengandalkannya untuk merebut pedang pusaka Pendekar Rajawali Sakti itu. Dewi Mawar Merah menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.

"Jangan...! Jangan kalian paksa aku untuk melakukan itu!" seru Dewi Mawar Merah buru-buru.

"Dewi, titik keberhasilan semua ada di tanganmu.? bujuk Kamandaka lembut

"Tidak mungkin, Kakang Kamandaka. Siang tadi kau bilang Pendekar Rajawali Sakti sekarang ada di Desa Jati Ireng, mustahil aku bisa ke sana. Mereka semua sudah tahu siapa aku!" bantah Dewi Mawar Merah.

"Kau tidak perlu muncul terang-terangan, Dewi,? kata Kamandaka lagi. "Dia masih muda dan tampan. Kalau dia manusia normal, tentu akan tertarik dengan kecantikanmu. Aku percaya kau punya cara sendiri untuk melakukannya. Sekaligus merebut pedang pusakanya."

"Jangan kau kira semua akan berpangku tangan menunggu, Cah Ayu. He he he...," sambung Datu Arak.

"Aku sangsi...," gumam Dewi Mawar Merah.

"Kenapa harus sangsi? Kau punya kelebihan yang tidak kami miliki!" Iblis Muka Hitam memberi dorongan.

"Nini Klenting Kuning saja tidak mampu memperdayainya, apa lagi aku. ?!"

"Kau bukan Klenting Kuning, kan? Kau punya gaya sendiri yang tidak dipunyai wanita lain. Kau punya daya tarik yang dahsyat Kalau aku masih muda, aku pun pasti tertarik mengajakmu bercanda di ranjang, he he he...," lagi-lagi Datuk Arak terkekeh menggoda.

"Ini bukan waktunya bercanda. Datuk Arak!" dengus Iblis Muka Hitam.

"Ah, kau pun berminat juga, kan?"

"Jaga mulutmu, Datuk Arak!"

"Sudah, sudah...! Tidak ada gunanya kalian bertengkar!" seru Dewi Mawar Merah menengahi. "Akan kupikirkan dulu!"

"Bagus! Tapi jangan lama-lama!" sambut Cakar Racun gembira.

"Lihat saja besok!"

********************

Malam terus merayap semakin larut. Udara dingin kian menusuk tulang. Sementara mereka yang ada di Bukit Jati Ireng telah mengambil tempat istirahat masing-masing. Sedangkan Dewi Mawar Merah masih duduk sendirian dekat api unggun. Kamandaka sudah sejak tadi masuk ke pondoknya bersama Datuk Arak. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam pondok itu.

Dewi Mawar Merah mengarahkan pandangannya pada Iblis Muka Hitam. Dia terbaring melingkar di antara dua buah batu yang di atasnya diberi tumpukan daun lebar dan kering untuk atap. Perlahan-lahan wanita cantik itu bangkit, lalu melangkah mendekati Muka Hitam. Dia berdiri saja setelah dekat dengan ujung kaki laki-laki yang berwajah kasar dan bengis itu.

"Mau apa kau ke sini?" tanya Iblis Muka Hitam tidak merubah posisi tubuhnya.

"Aku kira kau sudah tidur, Kakang," sahut Dewi Mawar Merah lembut.

"Mau membokongku selagi tidur?"

"Ah! Rasa curigamu tidak pernah hilang," Desis Dewi Mawar Merah tetap berdiri di tempatnya.

"Itu yang membuatku masih hidup sampai sekarang!"

"Kakang...," lembut suara Dewi Mawar Merah.

Wanita cantik itu semakin mendekati, dan duduk di samping Iblis Muka Hilam. Tangannya menguusap dada yang terbuka dan berbulu lebat. Iblis Muka Hitam menggeser tubuhnya sedikit, seperti sengaja memberi tempat bagi Dewi Mawar Merah untuk berbaring di sampingnya.

Bagaimanapun juga, kata-kata Datuk Arak ada benarnya. Iblis Muka Hitam memang tertarik pada wanita cantik ini, tapi tidak akan mengatakannya lebih dulu. Dia tahu kalau Dewi Mawar Merah adalah kekasih Kamandaka, tapi dia tidak ingin merusak hubungan mereka. Kecuali, Dewi Mawar Merah sendiri yang menginginkannya.

"Aku tahu kau ingin sekali tidur bersamaku," kata Dewi Mawar Merah seraya membaringkan tubuhnya.

"Aku tidak ingin merebut kekasih orang," sahut Iblis Muka Hitam.

"Kamandaka sering melakukan itu. Dan aku pun harus demikian. Aku dan dia tidak pernah melarang ksenangan masing-masing."

"Aku bukan Kamandaka, Dewi. Aku Iblis Muka Hitam!"

"Aku tahu, kau memang tidak pernah mengganggu wanita. Kecuali terpaksa!"

"Setan kau!"

"Tapi, kau lebih sering terpaksa!"

"Ah, sudahlah! Apa maumu sekarang?"

"Kau tidak senang aku tidur di sini?"

"Bagaimana dengan Kamandaka?"

"Dia sudah pergi. Katanya ingin cari daun muda."

"Bukankah dia bersama Datuk Arak di dalam pondok?"

"Tadi! Tapi sekarang Datuk Arak mendengkur sendirian. Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri!"

Iblis Muka Hitam tersenyum lebar. Meskipun dia tadi memejamkan mata sedikit, namun sempat melihat sebuah bayangan berkelebat cepat keluar dari dalam pondok kecil itu. Dan rupanya Dewi Mawar Merah melihat juga.

"Aku percaya padamu, Manis." kata Iblis Muka

Hitam berusaha melembutkan suaranya.

"Auh!"

Dewi Mawar Merah memekik tertahan ketika tiba-tiba saja Iblis Muka Hitam menubruk dan memeluknya. Wanita itu menggeliat kegelian karena dengan liarnya Iblis Muka Hitam menciumi seluruh wajah dan lehernya. Wajah yang dipenuhi cambang dan berewok kasar itu membuat Dewi Mawar Merah terkikik kegelian.

"Akh!" Dewi Mawar Merah memekik tertahan.

Pekikan manja itu terdengar ketika tangan Iblis Muka Hitam merenggut kasar bajunya.

Sementara malam semakin larut, dua manusia itu kini semakin hanyut dalam gelombang gairah yang memabukkan. Tubuh mereka tampak polos tersiram cahaya bulan yang mengintip malu di balik awan tebal menghitam. Tidak ada lagi kata-kata yang terdengar semua berganti dengan desah dan rintihan tertahan yang membangkitkan gairah kedua manusia itu.

********************

Sementara itu, malam yang dingin berselimut kabut membuat para penduduk Desa Jati Ireng lebih senang meringkuk di dalam selimut. Suasana begitu sunyi, tidak terlihat seorang pun berada di luar rumah. Tapi, tampak sebuah bayangan berkelebatan sangat cepat dan ringan. Tak terdengar suara sedikit pun setiap kali bayangan itu hinggap di atas rumah.

Bayangan itu berhenti setelah mencapai atap salah satu rumah. Tampak wajah tampan terbungkus putih halus bagai wanita, terlihat jelas begitu sang dewi malam keluar dari balik awan. Benar! Dia adalah Kamandaka atau si Durjana Pemetik Bunga.

"Aku yakin, inilah kamar Rara Inten," gumam Kamandaka dalam hati.

Begitu ringan lompatannya sehingga tidak menimbulkan suara sedikit pun. Saat menjejak tanah, tepat di depan jendela yang tertutup rapat. Dari celah-celah jendela itu membias seberkas cahaya dari dalam. Kamandaka tersenyum selelah mengintip dari lubang-lubang jendela itu.

"Ah..., cantik dan menggairahkan sekali," desahnya pelan.

Kamandaka berdiri tegak di depan jendela. Matanya sedikit terpejam, sedangkan tangannya merapat di depan dada. Perlahan-lahan kepalanya tertunduk, kemudian kedua tangannya bergerak pelan-pelan saling menjauh. Lalu kedua telapak tangan yang terbuka itu dijulurkan ke depan. Tiga tindak kakinya melangkah, dan kedua telapak tangan itu menempel erat pada daun jendela.

"Bangunlah, Rara. Sambut kedatanganku dengan hangat penuh gairah," desis Kamandaka pelan.

Setelah berkata demikian, Kamandaka menurunkan tangannya kembali. Dia berdiri tegak sambil menatap lurus ke arah jendela. Bibirnya terus-menerus menyunggingkan senyum. Dan senyum itu semakin melebar ketika daun jendela di depannya terbuka, tampak Rara Inten berdiri di balik jendela dengan bibir menyunggingkan senyum manis

"Kau cantik sekali. Manis," desah Kamandaka

Rara Inten hanya tersenyum saja Pandangan matanya lurus ke depan dan tampak kosong. Gadis itu bergerak menjauhi jendela yang sudah terbuka lebar. Dengan sekali genjot saja, tubuh Kamanda meluruk masuk ke dalam. Gerakannya ringan dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Cepat sekali, tahu-tahu kamandaka sudah berada di dalam kamar itu.

"Kemarilah, Manis. Mendekatlah padaku," kata kamandaka seraya merentangkan tangannya ke depan.

Rara Inten melangkah mendekati. Dan begitu tubuh ramping yang hanya terlilit selembar kain dekat dalam jangkauannya, Kamandaka langsung memeluknya erat-erat. Sedikit pun Rara Inten tidak memberontak. Wajahnya kosong tanpa ekspresi. Meskipun matanya terbuka, tapi pandangannya kosong seperti tanpa kehidupan sama sekali. Rara Inten telah terbius oleh aji 'Penghilang Jiwa' yang dilepaskan Kamandaka tadi.

Gadis itu tidak lagi menyadari, siapa dirinya, dan apa yang dilakukannya. Seluruh jiwanya sudah dipegang Kamandaka, sehingga si Durjana Pemetik Bunga itu dengan leluasa sekali menggiring Rara Inten ke atas ranjang. Dengan sesuka hati Kamandaka menciumi seluruh tubuh Rara inten. Bahkan ketika tangannya melepaskan kain yang melilit tubuh gadis itu. Rara Inten juga tidak melakukan perlawanan.

"Ahhh...," Kamandaka mendesah panjang.

Kedua bola mata pemuda itu berputar putar merayapi tubuh polos yang tergolek di pembaringan. Tubuh yang ramping indah menggiurkan dengan kulit putih mulus tanpa cacat sedikit pun. Tangan Kamandaka mulai merayapi tubuh Rara Inten yang tanpa penutup lagi. Saat Kamandaka sudah naik ke atas ranjang, mendadak....

Brak!

"Heh!" Kamandaka kaget bukan main.

"Bangsat! Binatang...!"

Kamandaka langsung melompat turun dari atas ranjang. Sementara itu Rara Inten tetap tergolek tanpa peduli dengan tubuhnya. Pintu kamar itu jebol berantakan. Dan di ambang pintu itu telah berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi putih dengan gagang pedang berbentuk kepala burung menyembul dari balik punggungnya.

"Kurang ajar! Aku balas kelancanganmu, Pendekar Rajawali Sakti!" geram Kamandaka mengenali pemuda yang berdiri dengan wajah merah padam di ambang pintu.

Setelah berkata demikian, Kamandaka cepat melompat ke luar melalui jendela yang masih terbuka lebar.

"Hey...!"

Tanpa membuang-buang waktu lagi. Rangga langsung melesat mengejar dengan menerobos jendela. Bersamaan dengan itu, Ki Masahar menerobos masuk bersama istrinya. Nyi Masahar buru-buru menutupi tubuh putrinya dengan kain. Rara Inten sudah kembali tertidur dengan lelap, sepertinya tidak pernah mengalami apa-apa malam ini.

Ki Masahar langsung menuju ke jendela tanpa melihat putrinya yang sudah ditunggui ibunya. Sebentar diamati keadaan di luar. Tidak tampak apa-apa, hanya kegelapan saja yang dilihatnya Saat tangannya hendak menutup jendela, mendadak Rangga muncul depannya.

"Oh!" Ki Masahar terperanjat.

Laki-laki tua itu langsung mundur, dan Ranga melompat masuk. Pendekar Rajawali Sakti itu segera menutup jendela setelah berada di dalam kamar. Matanya sempat melirik Rata Inten yang sudah tertidur lelap. Tubuhnya sudah terbungkus kain kembali. Hanya bagian pundak dan sebagian dada saja yang masih terbuka. Rangga segera mengalihkan perhatiannya pada Ki Masahar yang berdiri saja di samping tempat tidur putrinya. Sedangkan Nyi Masahar duduk di tepi pembaringan.

"Bagaimana keadaan putrimu, Ki?" tanya Rangga

"Syukurlah, belum terjadi apa-apa," jawab Ki Masahar.

"Sayang, aku tidak bisa mengejar. Cepat sekali dia menghilang," keluh Rangga.

"Aku tahu siapa dia," kata Ki Masahar.

"Oh!" Rangga kaget juga

"Dia si Durjana Pemetik Bunga. Akibat ulahnya Sari bunuh diri. Hm..., rupanya dia juga ingin menghancurkan putriku." Ada nada kejengkelan pada suara Ki Masahar.

Tanpa diminta, Ki Masahar menceritakan keadaaan Desa Jati Ireng ini sejak Sari ditemukan mati gantung diri di kamarnya. Semua itu karena ulah si Durjana Pemetik Bunga yang menodai Sari dan mencampakkannya begitu saja. Rangga mendengarkan tanpa banyak tanya. Bahkan sambil mendengarkan Ki Masahar bercerita, diperiksanya keadaan Rara Inten. Untunglah, aji 'Penghilang Sukma' tidak begitu berbahaya. Ajian Ini hanya bertahan beberapa saat saja pada tubuh korbannya. Tapi Rangga memberikan aliran hawa murni juga untuk mencegah dampak lain yang tidak diinginkan.

"Sudah berapa gadis yang menjadi korbannya?" Tanya Rangga setelah Ki Masahar selesai bercerita.

"Sampai saat ini baru Sari. Untunglah Aden cepat datang, sehingga Rara Inten terlepas dari korban kedua si Durjana Pemetik Bunga."

"Hm...," Rangga bergumam tidak jelas.

"Oh, ya. Siapa Aden ini sebenarnya?" tanya Ki Masahar baru menyadari.

"Aku Rangga. Aku hanya seorang pengembara yang hanya singgah sebentar. Kebetulan tadi aku melihat seseorang masuk melalui jendela kamar ini. Maaf kalau terpaksa mengganggu tidur Aki dan Nyai," kata Rangga memperkenalkan diri dengan sopan.

"Ah, justru kami yang harus berterima kasih, Den," celetuk Nyi Masahar yang sejak tadi diam saja mendengarkan.

"Sudah selayaknya sesama manusia saling tolong-menolong," Rangga mendesah.

Setelah berbasa-basi sebentar, Rangga berpamitan. Sebenarnya Ki Masahar ingin agar Rangga menginap saja malam ini, tapi dengan halus Pendek Rajawali Sakti itu menolaknya. Ki Masahar tidak bisa menahan lagi. Dilepasnya kepergian Pendekar Rajawali Sakti itu sampai di depan pintu.

********************

LIMA

"Semalaman Bayan Sangkuni menunggumu di sini. Den Rangga," kata Ki Sarman sambil membereskan meja bekas makan Rangga pagi ini.

"Siapa dia," tanya Rangga.

"Dia seorang Bayan, yang artinya sesepuh desa mi," Ki Sarman menjelaskan.

"Ada apa dia menungguku?"

"Katanya, ingin berkenalan denganmu. Aku tidak tahu kalau Aden akan pulang pagi. Tapi kalau tidak salah, Bayan Sangkuni akan datang lagi hari ini"

Rangga tidak bertanya lagi. Ditenggak minumannya yang tinggal setengah lagi. Hari masih terlalu pagi, sehingga kedai Ki Samian masih kelihatan sunyi. Belum ada seorang pun yang datang. Bahkan di jalan pun tampak sunyi, hanya satu dua orang saja yang lewat. Itu juga sesekali. Tampaknya penduduk desa ini lebih senang berdiam di dalam rumah daripada ke luar. Kalau tidak perlu penting, berat rasanya ke luar rumah.

Saat mata Pendekar Rajawali Sakti itu melayangkan pandangannya ke ujung jalan, tampak seorang wanita cantik mengenakan pakaian hijau menunggang kuda coklat belang putih menuju ke kedai ini. Ki Sarman segera menyambut ketika dia turun dari kuda tunggangannya. Wanita itu sempat memberi senyum pada Rangga saat kakinya melangkah masuk ke dalam kedai. Rangga membalasnya dengan sedikit anggukan kepala. Dan kini Rangga tidak lagi mempedulikan, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalan.

"Boleh aku duduk di sini?"

"Oh!" Rangga terkejut ketika mendengar suara halus di dekatnya, kemudian menoleh.

Wanita cantik itu sudah berdiri di depan Pendekar Rajawali Sakti. Bibirnya yang merah merekah menyunggingkan senyum manis menawan. Cepat-cepat Rangga mempersilakan wanita cantik itu duduk.

"Namaku Rakawuni," kata wanita itu sambil tersenyum.

"Rangga," balas Pendekar Rajawali Sakti, menyebutkan namanya pula.

"Senang sekali dapat teman mengisi perut," kata wanita itu yang mengaku bernama Rakawuni.

"Maaf, aku baru saja makan," sahut Rangga.

"Sayang sekali. Tapi, tidak keberatan kan menemaniku makan?" pinta Rakawuni lembut.

"Sama sekali tidak," sahut Rangga.

Percakapan terhenti sejenak karena Ki Sarman menghidangkan makanan. Ada seguci arak manis dan buah-buahan yang segar. Rupanya wanita ini mempunyai selera makan yang cukup tinggi juga. Makanan yang dipesannya kelihatan mahal-mahal harganya dan tentu saja nikmat rasanya. Ki Sarman kembali ke belakang setelah menghidangkan macam-macam makanan dan minuman di atas meja.

"Sepi sekali di sini," kata Rakawuni sambil menikmati makan paginya.

"Yah, memang demikian keadaannya," sahut Rangga.

"Kau penduduk sini...? Ah, boleh aku memanggilmu dengan Rangga saja?"

"Tentu saja boleh. Aku bukan penduduk sini. Aku pendatang yang kebetulan singgah. Mungkin sama denganmu juga."

"Kau seorang pengembara?" tebak Rakawuni langsung.

"Bisa dikatakan begitu," jawab Rangga kalem. Dikagumi juga akan Rakawuni yang memberi penilaian tepat. Rupanya wanita ini memiliki pandangan yang cukup luas.

Mereka terus ngobrol masalah yang ringan-ringan sampai Rakawuni selesai makannya. Ki Sarman datang lagi, membereskan meja bekas makan Rakawuni tanpa banyak bicara. Hanya seguci arak dan dua gelas perunggu yang ditinggalkan. Laki-laki tua pemilik kedai itu kembali lagi ke belakang membawa bekasbekas makan Rakawuni.

Rangga dan Rakawuni terus saja ngobrol. Gadis itu tampak periang dan cepat sekali akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Kelihatannya mereka seperti sudah saling mengenal begitu lama. Tidak ada lagi kecanggungan, bahkan kadang-kadang mereka tertawa kalau ada perkataan yang menggelitik hati. Ini dimungkinkan karena Rakawuni memiliki banyak bahan pembicaraan. Lagi sikapnya begitu periang, lincah, dan cepat akrab.

"Sebentar..." kata Rangga tiba-tiba ketika melihat Ki Sarman memberi tanda memanggilnya.

Rangga segera bangkit dan berjalan ke belakang. KI Sarman sudah menghilang di balik pintu belakang kedai ini. Rangga menjumpai laki-laki tua itu sedikit berlindung pada dinding dengan benak dipenuhi tanda tanya.

"Ada apa?" tanya Rangga.

"Ssst...!" Ki Sarman menempelkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri.

"Ada apa?" tanya Rangga lagi. Kali ini suaranya terdengar berbisik.

"Hati-hati! Perempuan itu Dewi Mawar Merah kata Ki Sarman berbisik.

"Dewi Mawar Merah? Siapa dia?" tanya Rangga

"Kekasih si Durjana Pemetik Bunga."

Rangga terperanjat mendengarnya. Tidak disangka kalau wanita cantik yang kelihatannya ramah dan mudah bergaul itu ternyata kekasih si Durjana Pemetik Bunga yang menyebabkan penduduk desa ini jadi dicekam rasa takut.

"Biar menyamar, tapi aku bisa mengenalinya. Aku pernah melihatnya bersama si Durjana Pemetik Bunga di Bukit Jati Ireng. Lihat saja cincinnya yang berbentuk bunga mawar. Itulah tanda kalau dirinya, Dewi Mawar Merah!" Ki Sarman menjelaskan.

"Apa maksudnya datang ke sini?" tanya Rangga mulai menduga-duga dalam hati.

"Entahlah. Tapi kau harus hati-hati. Perempuan iblis itu sangat licik!" Ki Sarman memperingatkan.

"Terima kasih, Ki," ucap Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti itu kembali menemui wanita yang dikatakan Ki Sarman, Dewi Mawar Merah, tampak dia masih duduk menunggu, dan tersenyum manis melihat Rangga menghampirinya. Rangga segera duduk di depan wanita berhati iblis yang berjuluk Dewi Mawar Merah. Pendekar Rajawali Sakti melirik jari manis perempuan itu. Memang benar, ada cincin yang melingkar berbentuk bunga mawar di jari manisnya.

"Ada apa orang tua itu memanggilmu?" tanya Rakawuni atau si Dewi Mawar Merah. Nada suaranya mengandung kecurigaan.

"Tidak apa-apa. Dia hanya menanyakan, berapa lama lagi aku menginap di sini," jawab Rangga kalem.

"Kukira dia tidak suka aku datang kesini."

Rangga hanya tersenyum saja.

"Oh, ya. Ada penginapan lain di sekitar sini?" tanya Rakawuni.

"Di ujung tikungan jalan sana," sahut Rangga menunjuk ke ujung jalan yang bercabang.

"Terima kasih, aku akan ke sana dulu."

"Kenapa tidak menginap di sini saja?" Rangga menawarkan.

Rakawuni hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Dia bangkit berdiri dan meletakkan beberapa keping uang untuk membayar makanannya. Tanpa banyak bicara lagi, wanita yang berjuluk Dewi Mawar Merah itu melangkah ke luar. Rangga hanya mengikuti dengan pandangan mata, sampai wanita itu pergi dengan kudanya menuju arah yang ditunjuk Rangga tadi. Pendekar Rajawali Sakti itu menoleh dan tersenyum melihat Ki Sarman sudah berdiri di ambang pintu yang berhubungan langsung dengan belakang kedai ini.

ENAM

Bayan Sangkuni tetap yakin kalau yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Raja Karang Setra yang baru dinobatkan beberapa waktu lalu. Meskipun dia bukan undangan khusus waktu itu, tapi sempat melihat jelas wajah Rangga ketika dinobatkan sebagai raja di Karang Setra.

Keyakinan Bayan Sangkuni ini membuat Rangga sedikit kikuk mulanya. Meskipun sudah diyakinkan dan disanggah semua keyakinan Sangkuni, tapi tetap saja sesepuh Desa Jati Ireng itu menganggap Rangga adalah Raja Karang Setra. Dengan demikian berarti seluruh rakyat Desa Jati Ireng berada di bawah kekuasaannya karena Desa Jati Ireng di bawah kekuasaan Kerajaan Karang Setra.

"Maafkan atas penyambutan kami yang kurang berkenan di hati Gusti Prabu," kata Bayan Sangkuni seraya membungkukkan badannya.

Rangga mengangkat bahunya melihat Ki Sarman, Somad, Mirad dan Ki Parungkit serentak duduk bersimpuh di lantai kedai ini, mengikuti sikap Bayan Sangkuni. Pendekar Rajawali Sakti itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah Bayan Sangkuni mengatakan kalau dia melihatnya ketika hari penobatan berlangsung.

"Seharusnya kalian tidak perlu bersikap begitu. Marilah, duduk di sini bersamaku," kata Rangga.

Dengan sikap ragu-ragu, akhirnya mereka semua duduk bersama-sama Rangga pada satu meja. Tanpa diperintah lagi, Ki Sarman menyediakan hidangan istimewa dengan menu khusus pula. Ada rasa haru di dalam hati Rangga melihat orang-orang itu menunjukkan kesetiaannya.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi di sini?" tanya Rangga.

"Semua ini akibat perbuatan si Durjana Pemetik Bunga, Gusti," Ki Parungkit mencoba menjelaskan.

"Kami sudah berusaha untuk mengadakan perlawanan, tapi si Durjana Pemetik Bunga sangat tangguh. Kami tidak berdaya menghadapinya, Gusti," sambung Bayan Sangkuni.

"Ya, aku tahu siapa yang kalian maksud. Aku pernah memergokinya ketika hendak berbuat cabul dengan seorang gadis di desa ini." kata Rangga tidak menyebutkan dengan jelas.

"Ah! Jadi Gusti yang menolong keluarga Ki Masahar! Syukurlah, Rara Inten telah selamat dari nafsu setannya Kamandaka!" Ki Parungkit terlonjak.

"Aku hanya kebetulan lewat," Rangga merendah.

"Hamba akan menegur Ki Masahar karena berlaku tidak layak kepada Gusti Prabu," sambung Parungkit.

"Sudahlah, lupakan saja! Yang kita bicarakan sekarang adalah si Durjana Pemetik Bunga," sergah Rangga.

"Maaf, Gusti," sembah Ki Parungkit.

"Kalau begitu perintahkan seluruh warga Desa Jati Ireng untuk mengadakan perondaan setiap malam karena Dewi Mawar Merah sudah berada di desa ini, kata Rangga.

Semua yang hadir di situ ternganga mendengarnya. Hanya Ki Sarman saja yang kelihatan tenang, sebab dialah yang mengenali pertama kali meskipun perempuan iblis itu sedang menyamar.

"Kalian juga jangan melakukan tindakan apa-apa karena orang yang akan dihadapi bukanlah tandingan kalian," kata Rangga melanjutkan lagi. "Dan kalau terjadi sesuatu, cepat kalian hub...." Rangga tidak melanjutkan kata-katanya ketika matanya yang tajam menangkap sebuah bayangan berkelebat cepat. Dengan satu genjotan saja, tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu telah melesat ke udara, menjebol atap kedai itu.

"Siapa kau?!" bentak Rangga begitu kakinya menjejak atap kedai.

"Hm, hebat! Tidak percuma kau memiliki nama besar sebagai pendekar pilih tanding, Pendekar Rajawali Sakti!" dingin dan datar suara orang yang kini berdiri sekitar satu batang tombak di depan Rangga. Orang itu mengenakan pakaian ketat, dengan kuku-kuku panjang berwarna hitam. Siapa lagi kalau bukan Cakar Racun.

"Kau datang menyelinap seperti maling. Apa maksudmu menguping pembicaraanku?!" bentak Rangga tidak kalah dinginnya.

"He he he..., hiya!!" orang yang berjuluk Cakar Racun itu tertawa sejenak, tapi tiba-tiba saja tangan kanannya menghentak ke samping.

"Awas...!" teriak Rangga terkejut.

Dari jari-jari tangan Cakar Racun meluncur beberapa butir benda kecil berwarna hitam, dan meluruk cepat ke arah orang-orang yang ada di depan kedai. Secepat kilat Rangga mengibaskan tangannya, dan...

Glarrr...!

Ledakan keras terjadi saat cahaya merah yang meluncur dari telapak tangan Rangga menghantam butir-butir kecil berwarna hitam itu.

"Kalian menyingkir semua!" teriak Rangga.

Ki Parungkit dan Bayan Sangkuni segera memerintahkan beberapa orang yang ada di sekitar halaman depan kedai itu untuk segera menyingkir. Rangga kembali memusatkan perhatiannya pada Cakar Racun yang terkekeh-kekeh.

"Hebat.., hebat! Kau mampu merontokkan aji Racun Hitamku," puji Cakar Racun seraya terkekeh.

"Gusti...! Dia si Cakar Racun, dan pasti ada hubungannya dengan si Durjana Pemetik Bunga!" teriak Bayan Sangkuni keras.

"Huh, si besar mulut itu! Biar kubesarkan lagi mulutnya!" dengus Cakar Racun menatap tajam pada Bayan Sangkuni.

Mendadak saja tubuh Cakar Racun meluruk cepat ke bawah, dan langsung mengarah pada Bayan Sangkuni. Bersamaan dengan itu, Rangga juga meluncur sambil mengirimkan satu tendangan menggeledek. Cakar Racun melentingkan tubuhnya, menghindari tendangan dahsyat bertenaga dalam sempurna itu.

"Phuih!" Cakar Racun menyemburkan ludahnya sengit.

Mata Cakar Racun sempat melirik Bayan Sangkuni setelah kakinya menjejak tanah dengan manis. Hampir bersamaan waktunya, Rangga pun telah hinggap dengan lincah di depan Cakar Racun.

"Biar kami yang hadapi. Gusti!" teriak dua orang yang serentak melompat ke depan.

Dua orang yang ternyata Somad dan Mirad itu memberi hormat pada Rangga, kemudian segera menghadapi Cakar Racun. Sebenarnya Rangga tidak ingin kedua orang pemuda itu menghadapi lawan yang bukan tandingannya. Tapi melihat Somad dan Mirad sudah mencabut goloknya masing-masing, Ran pun beringsut mundur memberi kesempatan. Ki Parungkit dan Bayan Sangkuni mendekati Pendekar Rajawali Sakti.

********************

"Ah! Kenapa cacing tanah yang harus maju! Minggir! Aku tidak perlu nyawamu! Biar dia yang jadi lawanku!" geram Cakar Racun menuding Rangga. Dia merasa terhina sekali karena harus melayani lawan yang bukan tandingannya.

"Setan! Kupenggal kepalamu!" bentak Somad.

"Huh! Rupanya tikus-tikus di sini besar mulut semua," dengus Cakar Racun.

"Lihat kepala, Bangsat Hiyaaa!" Somad cepat meluruk sambil mengibaskan goloknya ke arah leher.

Cakar Racun hanya menarik sedikit kepalanya ke belakang, maka kibasan golok Somad hanya lewat di depan lehernya. Bersamaan dengan itu, Mirad juga memberikan serangan ke arah perut Cakar Racun segera menggerakkan tangannya dengan cepat, dan menangkap golok Mirad. Dengan kecepatan tinggi dan sulit diikuti mata biasa, kaki si Cakar Racun melayang deras, dan....

"Hughk!" Mirad mengeluh tertahan. Tubuhnya langsung terjungkal begitu perutnya kena sodok kaki Cakar Racun.

Bersamaan dengan itu tangan kiri Cakar Racun berkelebat cepat, lalu menghantam dada Somad yang belum menarik goloknya. Tubuh Somad terpental ke belakang. Sebentar dia menggeliat di tanah, lalu diam tak bergerak lagi. Dadanya hangus berlubang besar. Begitu pula yang dialami Mirad Perutnya terburai hitam bagai terbakar.

Dalam satu gebrakan saja dua orang pemuda Desa Jati Ireng itu tewas mengenaskan sekali. Rupanya Cakar Racun langsung mengerahkan aji 'Racun Hitam hanya untuk menghadapi dua orang lawan yang tingkat kepandaiannya belum ada seujung kuku jari. Hal ini membuat Rangga menggeram marah.

"Iblis!" geram Rangga marah.

"Sudah kuperingatkan, jangan salahkan aku kalau semua penduduk di sini mati karena mereka memang tolol semua!" kata Cakar Racun pongah.

"Perbuatanmu sudah melewati batas, Cakar Racun. Sudah sepantasnya aku menjatuhkan hukuman buatmu!" kata Rangga dingin dan datar suaranya.

"He he he..., hukuman apa yang akan kau berikan! padaku? Atau kau sendiri yang akan kukirim ke neraka!" tantang Cakar Racun makin pongah.

"Bersiaplah untuk menerima hukumanku, Cakar Racun!" Rangga menggeram.

"He he he...," Cakar Racun terkekeh saja.

"Hih, yeaaah...!" Rangga langsung membuka jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'.

Seketika itu juga kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti berubah merah membara bagai terbakar. Cakar Racun pun segera mengerahkan jurus andalannya yang diberi nama 'Sepuluh Jari Maut'. Dua tokoh sakti itu kini sudah saling berhadapan dengan mempersiapkan jurus andalannya masing-masing. Beberapa saat satu sama lain hanya saling tatap, seperti sedang mengukur tingkat jurus yang akan digunakan.

"Tahan seranganku, hiyaaa...!" bentak Cakar Racun berteriak nyaring.

Bagaikan kilat tubuh Cakar Racun meluruk dengan kesepuluh jari-jari tangannya yang mengembang kaku. Rangga melentingkan tubuhnya ke atas, dan dengan cepat meluruk seraya melontarkan pukulan mautnya. Untung saja Cakar Racun buruburu membanting diri ke tanah, sehingga pukulan maut itu hanya menghantam tanah di sampingnya.

Tanah yang terkena pukulan Pendekar Rajawali Sakti itu langsung berlubang mengepulkan debu. Cakar Racun tersentak sejenak, lalu dengan cepat kembali melancarkan serangannya dengan cepat dan beruntun. Kedua tokoh sakti itu bertarung dengan jurus-jurus tingkat tinggi. Gerakan-gerakannya sangat cepat, sulit diikuti mata biasa, sehingga yang terlihat hanya bayangan saja berkelebatan saling sambar.

Dalam waktu singkat mereka sudah beberapa kali mengganti jurus. Semakin lama pertarungan itu berjalan, jurus-jurus yang digunakan semakin dahsyat dan berbahaya. Tempat di sekitar pertarungan sudah porak-poranda. Debu mengepul ke angkasa menghalangi pandangan mata. Tiba-tiba saja tubuh Cakar Racun melenting ke luar dari pertarungan.

"Hm...," Rangga bergumam tidak jelas melihat lawannya kini mengerahkan ilmu kesaktiannya.

Tanpa menunggu waktu lagi, Pendekar Rajawali Sakti segera mengerahkan aji Cakra Buana Sukma. Satu ilmu kesaktian yang sangat dahsyat dan jarang dikeluarkan kalau tidak perlu sekali. Cahaya biru langsung bergulung-gulung pada kedua tangan Rangga begitu dikerahkan aji Cakra Buana Sukma.

"Hiyaaa...!" mendadak Cakar Racun berteriak keras melengking.

Bersamaan dengan itu tubuhnya melayang deras ke arah Rangga dengan kedua tangan terpentang depan. Jari-jari tangannya yang memiliki kuku-kuku panjang hitam menegang kaku. Seluruh tangan Cakar Racun berubah warnanya menjadi hitam pekat bagai arang.

"Hih!"

Rangga segera mengangkat tangannya menerima serangan itu. Ledakan keras terdengar ketika dua pasang tangan beradu. Cakar Racun tersentak, kaki Rangga tidak sedikit pun bergeser posisinya, bahkan masih tetap berdiri tegak. Tubuh Cakar Racun mengambang di udara dengan kedua telapak tangan menempel pada telapak tangan Rangga.

"Heh! Apa yang terjadi!" sentak Cakar Racun kaget.

Buru-buru disentakkan kedua tangannya hendak melepaskan diri. Tapi dia semakin kaget karena kedua tangannya bagai terpatri erat, sulit untuk dilepas lagi. Wajah Cakar Racun langsung berubah merah. Dia merasa ada aliran deras mengalir keluar dari dari tubuhnya.

"Kekuatanku...!" Cakar Racun segera menyadari kalau kekuatannya tersedot tanpa diinginkan.

Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman aji Cakra Buana Sukma. Tapi semakin dikerahkan tenaganya dengan keras, semakin kuat tangannya tersedot. Bahkan kini tubuh Rangga terangkat naik perlahan-lahan ke udara.

"Hiyaaa...!" bentak Rangga tiba-tiba dengan keras.

Bersamaan dengan itu, kedua tangannya disentakkan dengan kuat sambil membanting tubuh Cakar Racun ke bawah. Tak ampun lagi, tubuh Cakar Racun terbanting keras ke tanah. Dan sebelum sempat melakukan sesuatu, Rangga sudah melepaskan dua buah bola cahaya biru yang dengan cepat menggulung tubuh Cakar Racun

"Aaaakh...!" si Cakar Racun berteriak melengking.

Dalam gulungan cahaya biru, tubuh Cakar Racun menggeliat-geliat di tanah. Rangga mendarat lunak dekat tubuh yang menggelepar-gelepar tergulung cahaya biru. Pendekar Rajawali Sakti itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sambil berteriak keras, dihantamnya tubuh Cakar Racun dengan kedua tangan yang terkepal.

Suara ledakan keras terdengar bersamaan dengan hancurnya tubuh Cakar Racun. Asap mengepul dari tanah yang berlubang besar dan dalam di depan Rangga. Sambil menarik napas panjang, Pendekar Rajawali Sakti itu bangkit berdiri.

"Kuburkan tubuhnya di dalam lubang ini," kata Rangga begitu Bayan Sangkuni menghampiri.

"Baik, Gusti. Hamba laksanakan," jawab Bayan Sangkuni sambil membungkuk hormat.

Bayan Sangkuni segera memerintahkan beberapa orang pemuda yang entah kapan datangnya, untuk mengurusi mayat Cakar Racun. Rangga melangkahkan kakinya menuju kedai Ki Sarman yang bagian depannya porak-poranda akibat pertarungan tadi. Ki Sarman segera menyongsonya dengan menyediakan minuman setelah Rangga duduk di kursi dekat jendela. Ki Parungkit mendampinginya di kiri Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga memperhatikan beberapa orang pemuda di bawah komando Bayan Sangkuni, menguburkan tiga mayat.

********************

"Keparat!" geram Kamandaka.

"Aku khawatir penyamaran Dewi Mawar Merah telah terbongkar," kata Iblis Muka Hitam yang melaporkan kematian Cakar Racun pada Kamandaka sore itu.

"Seharusnya dia tidak bertindak setolol itu!" celetuk Datuk Arak menyesali tindakan Cakar Racun yang ceroboh. "Tugasnya hanya mengawasi Dewi Mawar Merah! Bukannya menantang Pendekar Rajawali Sakti seorang diri! Benar-benar bodoh!"

"Aku sudah memperingatkannya, tapi dia nekat ingin lebih jelas mengetahui pembicaraan mereka" sambung Iblis Muka Hitam lagi.

"Pembicaraan apa? Siapa mereka itu?" tanya Kamandaka.

"Pendekar Rajawali Sakti dan beberapa sesepuh desa, berikut Kepala Desa Jati Ireng sendiri. Aku tidak tahu persis apa yang mereka bicarakan. Terlalu jauh jaraknya. Lagi pula aku tidak bisa meninggalkan Dewi Mawar Merah seorang diri. Dia lebih penting dari mereka," jawab Iblis Muka Hitam memberi alasan.

"Lalu, di mana Dewi Mawar Merah sekarang?" Tanya Kamandaka.

"Ada di kamar penginapannya. Sudah kupesan agar tidak keluar sampai aku kembali," sahut Iblis Muka Hitam lagi.

"Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan orang orang kampung. Tapi kelihatannya terpaksa harus kulakukan juga," kata Kamandaka pelan.

"Belum saatnya, Kamandaka!" celetuk Datuk Arak cepat.

"Aku punya cara tersendiri, Datuk Arak. Akan kubuat si keparat itu kehilangan kontrol dirinya? Kamandaka bersikeras.

"Aku khawatir, jangan-jangan kau sendiri yang terjebak arus emosi," gumam Datuk Arak pelan.

"Kekhawatiranmu tidak beralasan, Datuk Arak Aku tahu apa yang harus kukerjakan. Aku hanya minta kalian berdua mendukung semua rencanaku untuk melenyapkan Pendekar Rajawali Sakti itu!" tegas suara Kamandaka

Datuk Arak mengangkat bahunya seraya memandang Iblis Muka Hitam, yang dipandang pun ikut mengangkat bahunya tinggi-tinggi. Mereka tahu betul watak Kamandaka. Kalau sudah membuat keputusan sulit untuk dirubah kembali. Dalam hati, mereka sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Kamandaka untuk membuat Pendekar Rajawali Sakti kewalahan. Tapi mereka juga ragu akan keberhasilan rencana itu.

"Aku akan kembali ke Desa Jati Ireng! Rasanya sudah terlalu lama meninggalkan Dewi Mawar Merah. Aku khawatir dia tidak sabar menunggu," kata Iblis Muka Hitam berpamitan.

"Bawa dia ke sini sekalian! Hentikan saja penyamarannya!" perintah Kamandaka.

''Kamandaka...!" sentak Datuk Arak terkejut.

"Tidak ada gunanya lagi dia menyamar, Datuk Arak! Aku tidak Ingin dia celaka. Semua orang pasti mencurigainya, bahkan bukannya tidak mungkin ada yang mengenali penyamarannya!" Kamandaka beralasan.

"Iblis Muka Hitam, cepatlah pergi. Bawa Dewi Mawar Merah ke sini," kata Datuk Arak bisa mengerti alasan Kamandaka.

"Baik, aku pergi dulu," pamit Iblis Muka Hitam.

"Hati-hati! Jangan sampai ada yang melihatmu," pesan Datuk Arak.

Iblis Muka Hitam hanya tersenyum saja, kemudian melesat cepat. Dalam sekejap saja bayangannya sudah hilang dari pandangan mata Kamandaka masih duduk merenung di atas batu hitam. Pikirannya jadi kacau dengan kematian Cakar Racun di tangan Pendekar Rajawali Sakti. Sementara Datuk Arak sudah asyik dengan guci-guci araknya.

********************

Sementara itu di Desa Jati Ireng, Dewi Mawar Merah yang menyamar sebagai Rakawuni tengah mereguk kenikmatan dengan seorang pemuda di kamar penginapannya. Pemuda tampan yang diperoleh di desa ini tidak menyadari bahwa yang tengah menggeliat-geliat dalam pelukannya adalah seorang wanita iblis.

Kecantikan dan kemolekan tubuh Dewi Mawar Merah telah membuatnya lupa oleh desakan gairah yang menggebu-gebu. Seluruh tubuh pemuda itu telah basah oleh keringat, dan nafasnya memburu tak teratur. Sementara Dewi Mawar Merah mengerang dan merintih menikmati permainan cinta pemuda itu. Mereka terus mendaki mencapai puncak, hingga lemas lunglai dengan tubuh bersimbah keringat.

"Uh, kuat sekali dia. Hampir aku tidak sanggup mengimbanginya," keluh Dewi Mawar Merah dalam hati.

"Kenapa buru-buru...?" pemuda itu menarik tangan Dewi Mawar Merah.

"Istirahat dulu, Gandis!" Dewi Mawar Merah menolak cekalan tangan pemuda itu dengan halus.

"Kau cantik sekali! Aku suka padamu," rayu Gandis lembut

"Ahhh...!" Dewi Mawar Merah mengeluh panjang.

Gandis beringsut bangkit. Tangannya melingkar di pinggang ramping Dewi Mawar Merah. Bibirnya cepat menciumi wajah dan leher wanita cantik itu. Dewi Mawar Merah menggeliat berusaha melepaskan diri tapi ciuman-ciuman hangat Gandis membuatnya terangsang kembali gairahnya.

Dewi Mawar Merah tidak lagi menolak dan meronta, tapi kini malah membalas tidak kalah hangatnya. Rintihan lirih kembali terdengar dari bibirnya. Jari-jari tangan Gandis bergerilya menyusup masuk ke dalam pakaian yang belum terbuka sempurna itu. Sedikit demi sedikit tangan Gandis menggusur pakaian Dewi Mawar Merah.

"Gandis...!" rintih Dewi Mawar Merah seraya menggelinjang.

Dewi Mawar Merah tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang semakin terbuka. Kulit putih mulus terpampang jelas, membuat Gandis semakin liar dan ganas. Jari-jari tangannya semakin aktif menjelajah ke bagian-bagian tubuh Dewi Mawar Merah yang paling peka. Tentu saja hal ini membuat wanita itu semakin menggelinjang tak mampu menahan gejolak gairahnya.

Untuk kedua kalinya mereka terkulai setelah menempuh perjalanan pendek yang melelahkan, namun membuat bibir tersenyum. Mendadak Dewi Mawar Merah tersentak setelah tubuh Gandis bergulir ke samping. Telinganya yang peka menangkap suara halus di atas atap kamarnya ini. Bergegas wanita cantik itu meloncat turun dari ranjang. Dengan gerakan cepat, dikenakan kembali pakaiannya. Baju merah menyala dengan ikat pinggang berkepala lempengan logam merah berbentuk bunga mawar telah melekat di tubuhnya.

"Ada apa?" tanya Gandis sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

"Diam di situ!" sentak Dewi Mawar Merah.

"Hey...! Kau...?!" Gandis nampak terkejut saat melihat bunga mawar merah tersunting di telinga wanita yang ditidurinya tadi.

"Kau tahu siapa aku?" Dewi Mawar Merah tersenyum sinis.

"Kau..., kau..., Dewi Mawar Mer...," Gandis tidak dapat lagi meneruskan kata katanya.

"Kau memang hebat, Gandis. Tapi aku tidak membutuhkanmu lagi!" dingin suara Dewi Mawar Merah.

"Ja.,.. Akh!"

Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, mendadak saja Dewi Mawar Merah melemparkan sekuntum bunga mawar merah yang terbuat dari logam keras, dan kini menancap di dada pemuda itu. Dewi Mawar Merah tersenyum melihat tubuh laki-laki yang telah memuaskan nafsunya tadi telah tergeletak tak bernyawa dengan dada berlubang berlumuran darah.

"Hm..., apa yang dilakukannya di atas...?" bisik Dewi Mawar Merah bergumam lirih.

Hanya dengan satu genjotan saja, tubuh ramping itu melesat ke atas, dan menjebol atap kamar penginapan ini. Dewi Mawar Merah tahu-tahu sudah berada di luar, dan dengan manis hinggap di atas atap. Wajahnya langsung berubah ketika melihat di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan dengan rambut panjang terikat.

"Rangga...," desis Dewi Mawar Merah mengenali pemuda tampan di depannya. "Mau apa kau ke sini seperti maling?!"

"Menangkapmu!" sahut Rangga dingin dan datar.

"Menangkapku...? Heh! Apa aku tidak salah dengar?!"

"Tidak! Aku yakin kau tidak tuli mendadak, Dewi Mawar Merah!"

"Oh.... Rupanya kau sudah tahu siapa aku. Baik! lakukanlah kalau kau mampu!" tantang Dewi Mawar Merah.

"Bersiaplah menerima hukumanku. Perempuan Iblis!" dengus Rangga menggeram.

"Hait...! Hup!"

Dewi Mawar Merah melompat turun. Rangga dengan cepat mengikutinya. Namun ketika Rangga hampir mencapai tanah, tiba-tiba beberapa benda berwarna merah berkelebat ke arahnya. Cepat sekali Pendekar Rajawali Sakti itu melentingkan tubuhnya dan berputaran di udara, lalu dengan manis menjejak tanah.

"Licik!" geram Rangga.

"Hebat! Kau bisa menghindari mawar-mawar beracunku," Dewi Mawar Merah salut.

"Bunga-bunga busukmu tidak berarti bagiku! Lihat..!"

Dewi Mawar Merah tersentak kaget melihat bunga-bunga mawar beracunnya berada dalam genggaman tangan Pendekar Rajawali Sakti itu. Belum hilang rasa terkejutnya, mendadak bunga-bunga mawar di tangan tangga mendesing cepat ke arahnya.

"Kurang ajar! Hup...!"

Dewi Mawar Merah jumpalitan menghindari senjata rahasianya sendiri yang berbalik menyerangnya. Merah padam wajah wanita cantik itu. Begitu terlewat dari bahaya, secepat kilat dikerahkan jurus andalannya 'Seribu Mawar Berbisa'. Bagaikan hujan saja bunyi mawar dari logam keras berwarna merah itu meluncur deras mengincar Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga berlompatan menghindari serbuan bunga mawar yang begitu banyak jumlahnya bagaikan hujan Serangan jurus 'Seribu Mawar Berbisa' ini membuat Rangga sedikit kewalahan juga. Bunga-bunga mawar itu bagai tidak habis-habisnya mengincar tubuhnya.

"Kalau begini terus, aku bisa kehabisan tenaga! dengus Rangga dalam hati.

Secepat kilat direntangkan tangannya, kemudian tubuhnya berputar cepat bagai baling-baling. Begitu cepatnya putaran tubuh Rangga, sehingga yang terlihat hanya bayangan putih yang bergulung-gulung merontokkan bunga-bunga mawar yang dilontarkan Dewi Mawar Merah.

Gulungan bayangan putih tubuh Rangga yang berputar cepat bagai gasing itu, bergerak mendekati Dewi Mawar Merah. Semakin lama jarak mereka semakin dekat saja, sedangkan bunga-bunga mawar yang dilontarkan perempuan itu berguguran sebelum sampai ke tubuh Rangga.

"Hiyaaa...!"

Tiba-tiba Rangga berteriak keras. Tubuhnya melenting cepat ke udara, lalu meluruk deras ke arah kepala Dewi Mawar Merah. Pendekar Rajawali Sakti itu cepat sekali meluruk dengan menggunakan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'.

"Akh...!" Dewi Mawar Merah memekik kaget.

Tepat ketika kedua kaki Rangga yang bergerak cepat mengarah kepalanya, perempuan iblis itu menjatuhkan diri dan bergulingan beberapa kali di tanah. Cepat sekali dilentingkan tubuhnya, dan kembali bangkit berdiri. Namun belum juga melanjutkan jurus 'Seribu Mawar Berbisa'nya, Rangga telah kembali menyerang dengan jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali. "Setan!" Dewi Mawar Merah mengumpat geram.

********************

Pertarungan Rangga melawan Dewi Mawar Merah terus berlangsung sengit. Masing-masing sudah menggunakan jurus-jurus andalannya. Bahkan Dewi Mawar Merah sudah menggunakan senjata yang paling diandalkannya, berupa tongkat pendek dengan kepala berbentuk bunga mawar yang sangat besar ukurannya. Dari kepala tongkat pendek itu mengepul uap tipis berwarna kemerahan. Uap itu menyebar mengikuti gerakan-gerakan tangan Dewi Mawar Merah yang menggenggam tongkat itu.

"Senjata itu berbahaya sekali. Hawanya mengandung racun yang sangat mematikan," gumam Rangga dalam hati. "Aku harus segera meredamnya!"

Sret! Begitu Rangga mencabut pedang pusaka Rajawali Sakti, seketika itu juga sekeliling tempat pertarungan menjadi terang benderang oleh cahaya biru yang memancar dari mata pedangnya. Sejenak Dewi Mawar Merah terperanjat melihat pamor pedang itu, tapi tidak bisa berbuat banyak, karena dengan cepat Rangga sudah menyerangnya.

Cahaya biru berkelebatan cepat mengurung tubuh Dewi Mawar Merah Rangga benar-benar tidak memberi kesempatan lagi pada wanita cantik itu untuk membalas serangannya. Sengaja dikerahkan pedangnya ke senjata Dewi Mawar Merah untuk meredam racun yang memancar dari senjata aneh itu.

Tring! Rangga berhasil memapak senjata lawan, sehingga Dewi Mawar Merah melompat mundur. Mulutnya ternganga melihat senjatanya buntung menjadi dua bagian. Belum lagi hilang rasa kagetnya, mendadak sebuah tendangan keras dengan pengerahan tenaga dalam sempurna, menghantam dada Dewi Mawar Merah yang membusung.

"Akh!" Dewi Mawar Merah memekik tertahan.

Tendangan Pendekar Rajawali Sakti itu keras sekali, sehingga tubuh Dewi Mawar Merah terpental jatuh ke belakang, lalu menabrak sebuah pohon besar hingga hancur berantakan. Pada saat perempuan iblis hendak bangkit. Rangga sudah menekan lehernya dengan ujung pedang.

Dewi Mawar Merah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dadanya terasa sesak. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Kedua matanya membeliak lebar, menatap tajam wajah tampan tanpa ekspresi di depannya.

"Ki Parungkit...!" panggil Rangga keras.

Begitu mendengar panggilan. Ki Parungkit segera muncul dari tempat persembunyiannya diikuti Bayan Sangkuni dan beberapa anak muda dengan senjata golok di tangan.

"Ikat perempuan ini, jaga jangan sampai lolos!" perintah Rangga tegas.

Trek! Rangga memasukkan lagi pedang pusakanya ke dalam warangkanya di punggung. Dua anak muda mengikat tangan dan tubuh Dewi Mawar Merah dengan rantai besar dan kuat. Perempuan iblis itu menatap Rangga dengan sinar mata penuh kebencian dan dendam membara. Gerahamnya bergemeletuk menahan marah yang menggelegak di dalam dada.

"Bawa dia!" perintah Rangga lagi.

"Baik, Gusti Prabu," sahut Ki Parungkit.

"Ayo'"

"Urusan kita belum selesai, Rangga! Aku belum kalah!" kata Dewi Mawar Merah menggeram.

"Ayo, jalan!" bentak Bayan Sangkuni mendorong tubuh perempuan iblis itu.

"Aku akan membunuhmu, Rangga! Semua keturunanmu!" teriak Dewi Mawar Merah.

Bayan Sangkuni terus menggiring Dewi Mawar Merah yang berteriak-teriak mengancam Rangga. Sedangkan Ki Parungkit menemani Pendekar Rajawali Sakti itu. Dewi Mawar Merah terus berteriak teriak digiring sekitar dua puluh orang termasuk Bayan Sangkuni.

"Kenapa tidak dibunuh saja perempuan iblis itu, Gusti? tanya ki parungkit.

"Tidak! Aku masih perlu keterangannya. Aku yakin, masih ada lainnya, jawab Rangga seraya melangka.

"Memang ada, Gusti. Si Durjana Pemetik Bunga, sambung Ki Parungkit.

Rangga tak lagi bicara, tapi terus saja melangkah mengikuti orang-orang yang mengiring Dewi Mawar Marah. Ki Parungkit juga tidak mau banyak bicara lagi. Disejajarkan langkahnya di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Sementara malam semakin larut. Kesunyian kembali menyelimuti tempat itu. Tidak ada lagi yang tampak, kecuali bekas-bekas pertarungan yang malang melintang tidak beraturan di sekitar rumah penginapan itu. Sesekali masih terdengar teriakan-teriakan dan sumpah serapah Dewi Mawar Merah.

********************

Seorang wanita tua dengan dandanan tebal, muncul di depan pintu ketika Iblis Muka Hitam menggedor pintu rumah penginapan di ujung jalan Desa Jati Ireng itu. Iblis Muka Hitam langsung menerobos masuk dan menutup kembali pintunya. Perempuan setengah baya yang tubuhnya masih kelihatan padat itu memandangi dengan paras wajah pucat pasi.

"Apa yang terjadi di sini? tanya Iblis Muka Hitam.

"Mereka menangkap Nini Dewi, Tuan, sahut perempuan setengah baya itu.

"Mereka siapa? Bicara yang jelas, Nyi Pingkan! bentak Iblis Muka Hitam.

"Kepala desa dan orang-orangnya. Nini Dewi kalah bertarung melawan seorang pemuda gagah. Aku tak kenal pemuda itu, sepertinya bukan penduduk desa ini.

"Kurang ajar! Pasti ini perbuatan Pendekar Rajawali Sakti! Iblis Muka Hitam mengeram.

"Jangan bawa-bawa saya, Tuan, rengek Nyi Pingkan ketakutan.

"Aku memang tidak akan menyangkut pautkanmu, Nyi Pingkan! Tapi kau sudah tak berguna lagi bagiku! dingin sekali suara Iblis Muka Hitam berkata.

"Apa yang akan Tuan lakukan? Nyi Pingkan gemetaran melihat tatapan Tajam Iblis Muka Hitam yang menegang.

Iblis Muka Hitam tidak menyahut. Pelan-pelan kakinya terayun mendekati perempuan tua itu. Lalu dengan kecepatan kilat tangannya melayang, dan...

"Akh! Nyi Pingkan tak mampu lagi bersuara banyak. Tubuhnya melorot kena gampar Iblis Muka Hitam. Kepala perempuan setengah baya itu pecah. Darah muncrat menyembur tembok. Iblis Muka Hitam menatap tajam pada tubuh perempuan malang yang sudah tak bernyawa lagi dengan kepala hancur.

"Kau terlalu banyak ikut campur, Perempuan Setan! Pergilah ke neraka dengan tenang! gumam Iblis Muka Hitam dingin. Iblis Muka Hitam segera melangkah menuju ke lorong yang di kanan kirinya terdapat pintu-pintu kamar. Langkahnya terhenti setelah mencapai depan pintu kamar paling ujung. Dengan kasar dibukanya pintu kamar Itu. Matanya langsung membeliak lebar melihat sesosok tubuh pemuda tampan dengan dada berlubang berlumuran darah tergolek di atas ranjang. Hanya lembar kain yang menutupi bagian bawah tubuh muda Itu.

"Dewi Mawar Merah..., masih sempat juga bermain cinta dalam keadaan begini!" desis Iblis Muka Hitam.

Laki-laki berwajah hitam itu segera meninggalkan kamar yang ditempati Dewi Mawar Merah. Iblis Muka Hitam melangkah cepat dan terburu-buru keluar dari rumah penginapan itu Wajahnya semakin hitam saja terlihat.

"Aku tidak tahu lagi, apa yang harus aku lakukan. Kamandaka pasti marah mendengar berita ini! Huh. Aku tidak peduli! Kalau pun dia marah, aku sanggup meladeninya!" Iblis Muka Hitam bergumam dalam hati.

Begitu kakinya sampai di depan pintu rumah penginapan di ujung jalan Desa Jati Ireng itu, Iblis Muka Hitam segera melompat cepat. Dalam sekejap saja, tubuhnya sudah hilang ditelan kegelapan malam.

Sebentar dia hinggap di atas atap rumah, sebentar kemudian berlindung di balik pohon. Berpindah-pindah tempat dengan cepat sekali bagaikan setan saja. Tujuan Iblis Muka Hitam sudah dapat dipastikan. Dia menuju ke rumah Kepala Desa Jati Ireng.

"Sepi...," desah Iblis Muka Hitam begitu sampai dekat tembok pagar rumah kepala desa.

Sekeliling tembok yang terbuat dari tumpukan batu tanah merah itu kelihatan sepi. Tidak ada seorang penjaga pun yang tampak. Beberapa obor terpasang pada setiap sudut. Mata Iblis Muka Hitam terbelalak lebar ketika melihat ke tengah- tengah halaman depan yang luas. Tampak di sana terdapat sebuah tonggak kayu besar berpalang. Di tonggak kayu itu terikat Dewi Mawar Merah dengan posisi terbalik.

Kaki perempuan cantik itu berada di atas, sedangkan kepalanya berada di bawah dengan tangan terentang lebar ke samping. Tampak sekali keadaan tubuh Dewi Mawar Merah sangat lemah. Kepalanya terkulai lemas. Dari sudut bibirnya menetes darah segar.

"Setan alas! Mereka harus membayar mahal perbuatan ini!" geram Iblis Muka Hitam.

Bergemeletuk geraham Iblis Muka Hitam menahan amarah. Kedua tangannya terkepal memperdengarkan suara gemeretak keras. Wajahnya semakin hitam dengan bola mata terbuka lebar menatap nyalang penuh kemurkaan.

"Pendekar Rajawali Sakti...! Ini pasti perbuatan setan keparat itu! Dia harus membayar mahal.... Harus!" Iblis Muka Hitam menggeram lagi.

"Aku memang akan membayarnya, Iblis Muka Hitam...!"

Betapa terkejutnya Iblis Muka Hitam mendengar suara itu, sehingga melompat dan bersiap-siap. Kedua matanya membeliak lebar, nyalang memandang ke sekelilingnya. Tidak seorang pun yang terlihat di sekitarnya. Keadaan masih tetap sepi seperti semula.

"Bangsat! Keluar kau!" bentak Iblis Muka Hitam.

"Aku di sini, Iblis Muka Hitam"

"Heh...!"

********************

TUJUH

Rangga berdiri tegak pada sebatang cabang pohon dekat pagar tembok, rumah Kepala Desa Jati Ireng. Kemudian dengan satu gerakan manis, dia meluncur ke bawah. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya menjejak tanah sejauh dua batang tombak di hadapan Iblis Muka Hitam.

"Sudah kuduga, pasti ada yang datang ke sini," kata Rangga kalem. Sorot matanya begitu tajam, lurus kepada Iblis Muka Hitam.

"Pengecut! Bisanya hanya menyiksa perempuan lemah!" geram Iblis Muka Hitam.

"Wanita memang ditakdirkan sebagai makhluk lemah. Tapi temanmu itu bukan makhluk lemah! Kekejamannya melebihi iblis!" dingin suara Rangga terdengar. Raut wajahnya juga tidak memancarkan ekspresi apa-apa, kaku dan datar.

"Kau memang pandai bersilat lidah, Pendekar Rajawali Sakti! Orang lain boleh gentar mendengar namamu. Tapi aku... Tidak sulit bagiku membungkam mulutmu!"

Iblis Muka Hitam menggeser kakinya sedikit ke samping. Mendadak telinganya mendengar sesuatu yang mencurigakan. Dan, sekelebatan matanya menangkap bayangan seseorang berlindung di balik pohon. Bukan..., bukan hanya satu orang, tapi.... Iblis Muka Hitam menggeram setelah menyadari dirinya telah terkepung. Jelas, dia telah masuk perangkap dengan umpan Dewi Mawar Merah.

"Phuih! Cerdik juga kau, Pendekar Rajawali Sakti! Rupanya bukan hanya golongan kami yang menggunakan akal bulus! Tapi, kau pun bisa memanfaatkan cara yang sama!" dengus Iblis Muka Hitam, sedikit mengakui kecerdikan Rangga.

"Memang tidak enak masuk perangkap. Seperti tikus menjelang ajal!" sindir Rangga sinis

"Bedebah! Kau pikir aku gentar, heh!? Majulah kalian semua! Majulah! Jangan bisanya hanya main sembunyi begitu!" bentak Iblis Muka Hitam keras.

"Tidak perlu sesumbar begitu, Iblis Muka Hitam. Sebaiknya kau berdoa saja agar dosa-dosamu diampuni Yang. Maha Kuasa," kata Rangga memanasi.

"Kurang ajar! Aku tidak butuh khotbahmu!"

"Sebutlah nama Tuhanmu, sebelum kugiring kau ke neraka," kata Rangga lagi. Suaranya masih terdengar tenang dan datar.

"Setan alas! Kuplintir batang lehermu! Hiyaaa..!'

Iblis Muka Hitam tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Bagaikan harimau lapar, dia menggeram keras seraya meluruk menyerang Rangga. Begitu cepat serangan Iblis Muka Hitam, sehingga membuat Rangga harus melentingkan tubuhnya menghindari terjangan itu.

"Cabut senjatamu. Pendekar Rajawali Sakti!" bentak Iblis Muka Hitam menggelegar.

"Menghadapimu tidak perlu pakai senjata, Iblis Muka Hitam!" sambut Rangga mengejek.

"Setan! Jangan menyesal kalau kau pulang tinggal nama!"

Setelah berkata demikian, Iblis Muka Hitam kembali melompat dan menyerang dengan jurus-jurus tangan kosong yang cepat dan mengandung tenaga dalam cukup tinggi. Namun serangan-serangan itu hanya dilayani Rangga dengan bibir tersenyum. Dengan jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' yang dipelajarinya dari Satria Naga Emas, Rangga berhasil mengelakkan semua serangan ttu dengan mudah.

Jurus itu pada kenyataannya sangat berguna sekali bagi Rangga dalam menghadapi pertarungan tangan kosong dengan jurus-jurus pendek, walau lawan cukup cepat dan tinggi tingkatannya. Sepasang kaki Pendekar Rajawali Sakti itu begitu lincah dan cepat gerakannya. Diimbangi dengan gerakan tubuh yang lentur bagai karet, tubuh Rangga meliuk liuk bagai seekor ular

Sebentar saja Iblis Muka Hitam telah menghabiskan sepuluh jurus tangan kosong. Tapi sampai saat ini, dia belum bisa menandingi jurus 'Sembilan Langkah Ajaib' yang dimainkan Rangga. Sungguh sulit dijangkau tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu. Padahal, jarak mereka begitu dekat, dan bahkan kadang-kadang hampir merapat. Sungguh tidak mudah bagi Iblis Muka Hitam untuk menyentuh tubuh lawannya.

Ketika Rangga mendapat kesempatan yang tepat, setepat keadaan Iblis Muka Hitam yang tengah putus asa, dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya menjadi 'Pukulan Maut Paruh Rajawali. Begitu cepatnya perubahan itu, sehingga Iblis Muka hitam tidak sempat lagi menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba saja satu pukulan telah menghantam dadanya.

"Hugh!" Iblis Muka Hitam mengeluh pendek. Seketika itu juga tubuhnya terjajar beberapa langkah ke belakang. Belum sempat berpikir dua kali tiba-tiba satu tendangan menggeledek mendarat , kepala laki-laki berwajah hitam itu. Kali ini Iblis Muk Hitam terjungkal mencium tanah.

"Satu lagi, htyaaa...!" teriak Rangga keras.

Seketika itu juga tubuh Rangga melenting ke udara. Dengan kecepatan yang cukup tinggi, tubuh Pendekar Rajawali Sakti menukik lurus dengan kedua tangan terpentang ke depan. Kedua tangan itu memancarkan sinar merah bagai terbakar.

"Aaakh...!" Iblis Muka Hitam menjerit keras.

Kedua tangan Pendekar Rajawali Sakti amblas ke dalam dada Iblis Muka Hitam. Darah langsung muncrat begitu pendekar muda dan tampan itu menarik tangannya. Dengan satu teriakan keras, Pendekar Rajawali Sakti itu melompat seraya melayangkan kakinya menghantam tubuh Iblis Muka Hitam.

Tubuh Iblis Muka Hitam berputar beberapa kali kemudian ambruk tak bangun-bangun lagi. Rangga berdiri memandangi tubuh lawannya yang kini membujur kaku tidak bernyawa lagi.

Ki Parungkit, Bayan Sangkuri, dan beberapa orang anak muda serentak keluar dari persembunyiannya setelah melihat Iblis Muka Hitam telah tewas mandi darah. Rangga memerintahkan Bayan Sangkuni untuk menguburkan mayat Iblis Muka Hitam. Tanpa banyak membantah lagi. Bayan Sangkubi memimpin anak-anak muda itu membawa mayat Iblis Muka Hitam.

"Mereka pasti akan datang ke sini, Gusti Prabu. Bisa-bisa Desa Jati Ireng menjadi lautan api...," Ki Parungkit mengungkapkan kekhawatirannya dengan takut-takut.

"Hal itu tidak akan terjadi, Ki Parungkit. Percayalah!" Rangga coba meyakinkan laki-laki tua itu.

"Hamba percaya, Gusti," sahut Ki Parungkit.

Rangga menoleh, dan matanya tertumbuk pada Dewi Mawar Merah yang masih terikat dengan posisi tubuh terbalik. Pendekar Rajawali Sakti itu menghampiri, dan berdiri tepat di depan perempuan cantik itu. Dipandanginya tubuh ramping dan indah menggiurkan itu.

"Kau akan terus begini sampai kekasihmu datang," kata Rangga sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Kau tidak akan mampu menandinginya, Rangga! Aku akan bebas, dan akan membantai seluruh keluarga dan keturunanmu!" desis Dewi Mawar Merah menggeram.

"Aku khawatir kata-katamu hanyalah angan-angan kosong belaka," ejek Rangga.

"Kalaupun aku mati, masih ada yang akan memenuhi janjiku! Camkan itu, Rangga!" ancam Dewi Mawar Merah.

"Sayang sekali..., selama aku masih hidup, orang-orang sepertimu tidak akan bisa bebas bergerak, Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sombong! Dengar sumpahku, Rangga! Suatu saat kelak, aku akan menghirup darahmu dan mengunyah jantungmu!" dingin dan datar suara Dewi Mawar Merah bersumpah.

"Siapa yang akan mendengarkan sumpah macam itu!" ejek Rangga lagi.

"Aku...!"

********************

Rangga terkejut, langsung menoleh ke arah datangnya suara. Ki Parungkit juga tersentak kaget. Buru-buru dia berlindung di belakang Pendekar Rajawali Sakti. Di atas tembok dekat pintu gerbang, tampak seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk berdiri dengan tongkat berkeluk-keluk menyangga tubuhnya. Pakaiannya berwarna biru tua dan sedikit longgar.

Laki-laki tua itu bertubuh kurus dengan rambut seluruhnya memutih, tergelung ke atas. Matanya yang cekung, menatap tajam kemerahan. Ketika tubuhnya meluncur ke bawah, terdengar suara mendesir disusul hawa busuk yang amat menyengat hidung. Ringan sekali kakinya menjejak tanah di depan Rangga, berjarak kira-kira dua batang tombak.

"Siapa Kisanak? Apa maksudnya malam-malam begini datang ke sini?" tanya Rangga sopan.

"Hik...! Orang-orang memanggilku si Mayat Hidup dari Lembah Gundil," laki-laki tua dan aneh itu memperkenalkan diri. Suaranya sangat kering, tanpa tekanan sedikit pun. Wajahnya juga terlihat pucat bagai tidak teraliri darah.

"Apa maksudmu datang ke sini?" Ki Parungkit mengulangi pertanyaan Rangga.

"Siapa perempuan itu? Hik...!" Mayat Hidup tidak mempedulikan pertanyaan Ki Parungkit

"Dia pengacau dan pembunuh!" jawab Ki Parungkit keras.

"Ah..., hik! Benar begitu, Anak Manis?"

"Benar!" sahut Dewi Mawar Merah lantang.

"Hebat..., hik! Hebat..! Baru kali ini aku mendengar seorang pembunuh mengakui perbuatannya! Aku senang, kau jujur sekali meskipun keadaanmu sangat kritis, hik..!"

"Kalau kau suka, mengapa aku tidak kau bebaskan?"

"Mengapa kau ingin bebas?"

"Aku ingin memenggal kepalanya!" Dewi Mawar Merah menunjuk Rangga dengan sorot matanya.

"Nada bicara dan sorot matamu mengandung dendam membara Hik... Aku suka dengan hati yang penuh dendam!" kata Mayat Hidup kalem.

"Kisanak, apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Rangga sedikit kaget.

"Tidakkah kau dengar permintaan Cah Ayu itu? Meminta dibebaskan karena ingin membunuhmu!"

Rangga memberi isyarat kepada Ki Parungklt untuk segera menyingkir. Tanpa diucapkan lagi, Ki Parungkit menggeser kakinya menjauh. Pada saat itu juga, Bayan Sangkuni bersama sekitar dua puluh orang pemuda mulai berdatangan. Mereka segera menjaga tawanan wanita berhati iblis itu. Rangga menggeser kakinya ke kiri, menjauhi orang-orang yang telah siap melindungi tawanan dari serobotan orang tua yang mengaku bernama Mayat Hidup ini.

"Sayang sekali, kalian belum cukup mampu menawan Cah Ayu itu," kata Mayat Hidup datar.

"Kisanak! Kalau kau tidak ada keperluan lain di sini, kuminta jangan campuri urusan kami!" kata Rangga tegas.

"Hik...! Kau mengusirku. Pendekar Rajawali Sakti?"

"Kau tahu namaku?" kaget juga Rangga dibuatnya.

"Namamu begitu dahsyat. Tokoh-tokoh sakti rimba persilatan harus berpikir dua kali menghadapimu, Pendekar Rajawali Sakti. Namun demikian, kau jangan pongah dulu! Setinggi-tingginya langit masih ada yang lebih tinggi lagi!"

Rangga tercenung sesaat. Orang tua ini aneh sekali! Kata-katanya kadang-kadang bijak, tapi kadang-kadang bisa kasar seperti tokoh golongan hitam.

Melihat sikap dan tutur katanya, Rangga sudah bisa mengukur kalau tokoh tua ini bukanlah orang sembarangan. Tidak bisa dianggap remeh orang tua aneh semacam itu

"Aku tidak suka jalan kekerasan. Dengan baik-baik, kuminta Cah Ayu itu. Aku suka dengan kejujurannya meski aku tahu hatinya kotor. Aku suka dengan orang yang memiliki dendam di hatinya," ujar Mayat Hidup.

Tidak semudah itu, Kisanak!" dengus Rangga.

"Sungguh tidak kusangka, aku akan berhadapan dengan seorang pendekar kondang," gumam Mayat Hidup.

"Aku tidak peduli siapa engkau! Tapi yang jelas, aku tidak akan membiarkan perempuan iblis itu kau bawa!" tegas kata-kata Rangga.

"Hik...! Sudah kuduga, kau pasti akan mempertahankannya. Baiklah! Aku terpaksa menggunakan caraku sendiri!"

Setelah berkata demikian. Mayat Hidup bergerak cepat dan tak terduga. Begitu cepatnya, sehingga Rangga sedikit terperangah. Namun dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti itu bangkit kesadarannya. Seketika itu juga, dihentakkan tangannya. Secercah sinar merah meluncur deras ke arah tubuh Mayat Hidup yang tengah melesat ke arah Dewi Mawar Merah.

"Hup...!"

Mayat Hidup memutar tubuhnya beberapa kali di udara menghindari terjangan sinar merah yang memancar dari telapak tangan Rangga. Dan sebelum orang tua aneh itu berhasil mendekati Dewi Mawar Merah yang masih dijaga sekitar dua puluh orang dengan cepat sekali Rangga memapaknya

Desss...!

Dua telapak tangan beradu keras di udara. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti bersalto di udara sebelum mendarat di tanah. Pada saat yang bersaman, Mayat Hidup juga telah mendarat setelah tiga kali berputar di udara. Rangga segera mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' Seketika itu pula kedua tangannya menjadi merah membara bagai terbakar.

"Hik..., hebat..., hik, hik!" puji Mayat Hidup.

"Sudah kukatakan, tidak mudah membebas perempuan iblis itu!" kata Rangga coba memperingatkan.

"Jangan besar kepala dulu, Bocah! Aku belum mengeluarkan apa-apa," tenang dan kering suara Mayat Hidup.

"Hm...," Rangga menggumam pelan.

Sebenarnya Rangga juga merasakan tangannya seperti tersengat ribuan lebah ketika beradu tangan dengan Mayat Hidup tadi. Tapi anehnya, orang itu mengatakan belum mengeluarkan apa-apa. Dan lagi, kelihatannya dia tidak terpengaruh sama sekali. Padahal, Rangga tadi telah mengeluarkan tenaga dalam yang sempurna sekali.

"Mari, Pendekar Rajawali Sakti. Ingin ku lihat jurus-jurus 'Rajawali Sakti'mu!" ajak Mayat Hidup.

"Baik! Bersiaplah! Jangan katakan aku tidak tahu adat bila kau terluka, Mayat Hidup!" sambut Rangga.

"Jangan terlalu sungkan. Aku puas bila mati di tangan seorang pendekar tangguh sepertimu!"

Rangga segera bersiap-siap menerima serangan. Sedangkan Mayat Hidup kelihatan belum akan melancarkan serangan. Sepertinya dia juga menunggu Rangga melakukan serangan.

"Silakan kau mulai menyerang, Mayat Hidup," tantang Rangga

"Hik...! Ternyata nama besarmu bukan nama kosong belaka, Pendekar Rajawali Sakti! Baiklah, tahan seranganku!"

Setelah berkata demikian, Mayat Hidup langsung menyerang dengan jurus-jurus tongkatnya yang maut dan sangat dahsyat. Pertarungan sengit antara dua tokoh sakti tidak dapat dihindari lagi. Sebuah pertarungan tingkat tinggi yang benar-benar menakjubkan. Tubuh mereka lenyap terselimuti gerakan-gerakan mereka sendiri yang sangat cepat dan sulit diikuti pandangan mata biasa. Yang terlihat hanyalah bayangan-bayangan mereka yang berkelebat saling sambar.

Dalam waktu singkat, Mayat Hidup telah menghabiskan tidak kurang dari dua puluh jurus. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti masih menggunakan rangkaian lima jurus 'Rajawali Sakti' yang dikombinasikan dari beberapa jurus. Sesekali, diselingi dengan jurus-jurus yang didapatkannya dari Satria Naga emas.

"Cukup...!" bentak Mayat Hidup ketika menyelesaikan jurus yang kelima puluh.

Rangga cepat melompat mundur ketika Mayat Hidup menggenjot tubuhnya ke luar arena pertarungan. Kembali mereka saling tatap. Kini bibir Mayat Hidup tersungging senyuman tipis yang hampir tidak terlihat. Matanya pun bersinar lebih merah daripada sebelumnya.

"Aku tidak kecewa berhadapan denganmu, Pendekar Rajawali Sakti. Kau sanggup menandingiku dalam lima puluh jurus tanpa celaka sedikit pun," kata Mayat Hidup sedikit mengakui kehebatan Rangga.

"Kau ingin menyudahi pertarungan tidak berguna ini, Mayat Hidup?" ajak Rangga memberi penawaran.

"Hik...! Kita baru bertarung menggunakan ilmu silat. Kini aku ingin menjajal ilmu kesaktian andalanmu!"

"Aku tidak memiliki ilmu kesaktian yang tangguh," Rangga coba merendah.

"Jangan terlalu sungkan, Anak Muda! Ayo, keluarkan ilmu kesaktianmu!" rungut Mayat Hidup.

Rangga tidak punya pilihan lain melihat Mayat Hidup telah bersiap-siap mengerahkan ilmu kesaktiannya. Pendekar Rajawali Sakti itu sebenarnya enggan melayani kemauan orang tua aneh itu, tapi keadaan yang memaksanya.

"Hm..., akan kucoba dulu dengan aji 'Guntur Geni' yang kudapat dari Satria Naga Emas," gumam Rangga dalam hati.

"Hiyaaa...!" tiba-tiba Mayat Hidup berteriak nyaring sambil mengangkat tangannya ke depan.

"Aji 'Guntur Geni'...!" teriak Rangga hampir bersamaan.

Rangga menepuk kedua telapak tangannya, maka terdengarlah suara bergemuruh yang memekakkan telinga. Pada saat itu pula, dari tangan Mayat hidup mengepul asap hitam yang meluruk ke arah Rangga. Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti itu menghentakkan tangannya ke depan.

Suara ledakan keras terjadi begitu seleret sinar yang meluncur dari kedua telapak tangan Rangga menyambar asap hitam yang keluar dari tangan Mayat Hidup. Dua tokoh sakti itu masih berdiri tegak, tak bergeming sedikit pun.

"He he he..., hik! Hebat...!" puji Mayat Hidup. Wajahnya semakin cerah meskipun sedikit kelihatan pucat.

Satu per satu ajian dikerahkan, tapi belum ada tanda-tanda yang mulai terdesak. Tingkat kepandaian dua tokoh sakti itu tampaknya seimbang. Keringat telah mengucur deras membasahi tubuh mereka. Napas pun mulai memburu tersengal-sengal.

Dalam hati Rangga mengakui kehebatan orang tua aneh itu. Telah dikerahkan hampir seluruh kemampuannya. Dan yang belum dikeluarkan hanya tinggal aji pamungkasnya. Aji 'Cakra Buana Sukma' Rangga tahu betul kehebatan dan kedahsyatan ajian, makanya masih ditangguhkannya. Tapi kini, hampir semua ajian yang dimiliki telah dikeluarkannya semua, dengan demikian tidak ada pilihan lain lagi Rangga. Dan tentu saja Rangga tidak akan menggunakannya bersama pedang pusaka Rajawali Sakti. Terlalu berbahaya akibatnya jika aji Cakra Buana Sukma dikerahkan bersama dengan pedang pusaka.

"Ini aji pamungkasku, Pendekar Rajawali Sakti. Kalau kali ini kita masih berimbang, kau harus melayaniku dengan senjata!" kata Mayat Hidup sedikit tersengal suaranya.

"Aku menghormatimu, Mayat Hidup. Tapi karena kau memaksa, ya, apa boleh buat. Aku akan melayanimu!" sahut Rangga terpaksa.

"Ayo, keluarkan aji pamungkasmu!" bentak Mayat Hidup.

Rangga melangkah maju beberapa tindak. Sengaja didekati lawannya agar dapat mengontrol bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aji 'Cakra Buana Sukma' terlalu dahsyat. Belum ada seorang pun yang sanggup menandinginya. Terus terang, dia khawatir kalau-kalau orang tua aneh ini akan mendapat celaka.

"Apa nama aji pamungkasmu, Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Mayat Hidup.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'," jawab Rangga.

"Hik...! Akhirnya kau mau juga mengeluarkannya. Ayo, kita mulai!" seru Mayat Hidup tidak sabar, tawa diwarnai kegembiraan.

Rangga heran juga dengan sikap orang tua aneh ini. Kelihatannya dia begitu gembira sekali mendengar aji 'Cakra Buana Sukma'. Apa sebenarnya maksud orang tua aneh ini? Rangga tidak sempat lagi berpikir lebih banyak. Mayat Hidup telah mengerahkan aji pamungkasnya. Segera saja Pendekar Rajawali Sakti itu mengerahkan aji 'Cakra Buana Sukma'.

"Hih! Yeaaah...!" teriak Mayat Hidup. Keras suaranya.

"Aji 'Cakra Buana Sukma'...!" suara Rangga menggelegar.

Pada saat seluruh tubuh Mayat Hidup tergulung cahaya berwarna-warni, di saat itu pula kedua tangan Rangga memancarkan cahaya biru berkilauan. Begitu tangan Rangga ditarik ke bawah dan dihentakkan ke depan, Mayat Hidup juga melompat ke depan.

Rangga kaget bukan main karena Mayat Hidup langsung memeluknya erat. Seluruh tubuh Rangga masuk ke dalam cahaya berwarna-warni yang bergulung-gulung dan berputar-putar pada seluruh tubuh Mayat Hidup. Seketika itu juga Rangga merasakan seluruh aliran darahnya bagai terbalik, dan jantungnya berdebar keras bagai hendak pecah.

"Yeaaah...!" Rangga segera mengerahkan seluruh kekuatannya.

Cahaya biru di tangan Rangga yang semula redup, kini mulai memancar kembali dan menggumpal membentuk bola. Tanpa ragu-ragu lagi. Rangga juga memeluk pinggang Mayat Hidup dengan kuat. Cahaya biru kini berbaur menjadi satu dengan putaran cahaya warna-warni bagai pelangi. Kini seluruh cahaya telah menyelimuti mereka berdua.

Lama juga dua tokoh sakti itu saling berpelukan.

"Aaakh.!" tiba-tiba terdengar jeritan melengking panjang.

Dengan mengerahkan seluruh kekuatan mereka yang terakhir. Semua orang yang ada di halaman rumah kepala desa menjadi berdebar-debar menyaksikan pertarungan adu kesaktian yang sangat aneh dan dahsyat.

Bersamaan dengan itu, satu sosok tubuh terjengkang ke luar arena pertarungan. Dan ketika sinar warna-warni di tubuhnya lenyap, tampaklah Pendekar Rajawali Sakti berdiri tegak memandangi Mayat Hidup yang kini menggelepar-gelepar di tanah dengan seluruh tubuh tergulung cahaya biru menyilaukan mata.

"Kembali...!" bentak Rangga seraya menghentikan tangannya ke depan.

Begitu tangan Rangga mendorong ke depan, cahaya biru yang menggulung tubuh Mayat Hidup meluruk ke arah Rangga, lalu lenyap setelah menyentuh kedua telapak tangannya yang terbuka. Tampak Mayat Hidup tergeletak di tanah dengan napas tersengal-sengal. Rangga segera memburu, lalu membantu Mayat Hidup untuk bangkit berdiri.

"Hik...! Biarkan aku," kata Mayat Hidup menolak bantuan Rangga.

"Kau terluka dalam," kata Rangga bernada cemas.

"Jangan khawatir, aku bisa mengatasi," sahut Mayat Hidup. Lemah suaranya.

"Tidak! Jangan kau kerahkan tenaga dalam dan hawa murni! Kau akan mati karena tenaga dalammu dapat berbalik menyerang dirimu sendiri!" Rangga memperingatkan.

Mayat Hidup kaget mendengarnya. Tidak disangka kalau aji 'Cakra Buana Sukma' akan sedemikian dahsyat akibatnya. Laki-laki tua itu tidak lagi menolak ketika Rangga memintanya untuk bersila.

"Kendorkan seluruh urat syarafmu. Kosongkan pikiran dan jiwamu. Lemaskan seluruh tubuhmu, dan jangan sekali-kali mengerahkan tenaga. Jika itu kau lakukan, kau akan mati dengan tenagamu sendiri!" kata Rangga, panjang lebar menjelaskan

Mayat Hidup tidak membantah. Diturutinya saja apa yang dikatakan Pendekar Rajawali Sakti itu. Rangga kemudian duduk bersila di belakang Mayat Hidup. Sebentar dipejamkan matanya, lalu kedua telapak tangannya ditempelkan ke punggung Mayat Hidup. Perlahan-lahan matanya kembali terbuka bersamaan dengan mengepulnya asap tipis dari sela-sela jari tangan yang menempel di punggung.

"Kosongkan jiwamu, Mayat Hidup," kata Rangga.

Tubuh Rangga mulai bergetar sedikit. Tak lama kemudian, dari ubun-ubun Mayat Hidup mengepul asap berwarna kebiru-biruan. Semakin lama asap itu semakin menggumpal, dan akhirnya masuk ke dalam dada Pendekar Rajawali Sakti.

"Hhh...!" Rangga menarik napas dalam-dalam ketika seluruh asap kebiru-biruan yang mengepul dari ubun-ubun Mayat Hidup tuntas, dan masuk ke dalam dadanya.

Rangga melepaskan tangannya dari punggung Mayat Hidup, kemudian bangkit berdiri dan kembali duduk bersila di depan bekas lawannya itu. Tampak mata Mayat Hidup masih terpejam. Tapi ketika Rangga bersila, mata itu terbuka perlahan-lahan.

"Mengapa kau menolongku, Pendekar Rajawali Sakti?" tanya Mayat Hidup lemah.

"Aku tidak pernah memusuhimu, dan kau juga tidak pernah memusuhiku," jawab Rangga kalem, namun suaranya penuh kewibawaan.

"Terima kasih! Aku berhutang nyawa padamu, ucap Mayat Hidup.

"Tidak ada yang berhutang dan tidak ada yang mengutangi."

"Aku kagum padamu, Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga hanya tersenyum saja, lalu bangkit berdiri ketika Mayat Hidup berdiri. Pendekar Rajawali Sakti itu memandangi Mayat Hidup yang melangkah menghampiri Dewi Mawar Merah. Rangga memberi isyarat agar orang-orang yang menjaga Dewi Mawar Merah segera menyingkir untuk memberi jalan pada Mayat Hidup.

"Kau harus berusaha sendiri, Cah Ayu. Aku sarankan padamu, sebaiknya kau mohon ampun dan hilangkan rasa dendam di hatimu," kata Mayat Hidup.

"Aku tidak memerlukan khotbahmu Kakek Tua!" dengus Dewi Mawar Merah kesal.

"Rupanya Pendekar Rajawali Sakti benar. Kau memang tidak patut dikasihani. Terimalah nasib burukmu dengan senyum, Cah Ayu," kata Mayat Hidup lagi.

Setelah berkata demikian, Mayat Hidup berbalik dan kembali menghampiri Rangga. Dia berdiri di depan Pendekar Rajawali Sakti itu Sinar matanya redup memandang wajah Rangga.

"Datanglah ke Lembah Gundul, saudaraku," pinta Mayat Hidup sambil menepuk pundak Rangga.

"Aku janji," sambut Rangga dengan senyum tak lepas dari bibirnya.

"Terima kasih."

Mayat Hidup segera melompat pergi dengan cepat. Dalam sekejap mata saja, bayangan tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam yang menjelang pagi ini.

"Orang yang kau tunggu ada di Bukit Jati Ireng! Dia bersama Datuk Arak!" terdengar suara menggema yang berasal dari Mayat Hidup.

"Mayat Hidup...! Aku tidak akan melupakanmu. Kubunuh kau...!!" teriak Dewi Mawar Merah.

"Besok kau akan mati, Perempuan Iblis!" rungut Bayan Sangkuni.

"Phuih!"

Hari masih pagi sekali Matahari belum sepenuhnya menampakkan diri. Rangga masih duduk melongo di tangga beranda depan rumah kepala desa. Di sampingnya duduk Ki Parungkit dan Bayan Sangku Tampak di tengah-tengah halaman, Dewi Mawar Merah masih terikat dengan tubuh terbalik, dijaga sekitar enam orang bersenjata golok.

Rangga masih memikirkan si Mayat Hidup yang menurutnya aneh sekali. Dia tidak tahu, berada dari golongan mana si Mayat Hidup itu. Sikapnya be aneh dan membingungkan. Selama malang-melintang dalam rimba persilatan, baru kali ini Rangga menemukan orang seperti itu. Tidak jelas maksud kedatangannya. Rangga sedikit menyesal karena belum sempat menanyakannya, sebelum dia pergi.

"Adakah yang Gusti Prabu pikirkan?" tiba-tiba Bayan Sangkuni menegur sopan.

"Oh!" Rangga tersentak dari lamunannya.

"Maaf. Nampaknya Gusti Prabu tengah memikirkan sesuatu. Boleh hamba tahu?" pinta Bayan Sangkuni lebih sopan lagi.

"Kau tahu, siapa Mayat Hidup itu?" tanya Rangga.

"Setahu hamba, dia seorang tokoh rimba persilatan yang berperangai aneh dan berilmu tinggi. Tidak ada yang tahu dia berada dalam golongan mana. Kadang-kadang ia membantu yang lemah dan memerangi kezaliman, tapi kadang-kadang pula membantu kejahatan," ujar Bayan Sangkuni menjelaskan.

"Tampaknya kau memiliki pandangan luas tentang dunia persilatan," puji Rangga.

"Hamba selalu mengikuti perkembangan dunia persilatan, Gusti Prabu," Bayan Sangkuni mengakui.

"Kalau begitu, apa pendapatmu tentang tujuan Mayat Hidup datang ke sini semalam?"

"Mungkin hanya ingin mencoba kesaktian Gusti Prabu," jawab Bayan Sangkuni ragu-ragu.

"Aku rasa tidak, Bayan Sangkuni," bantah Rangga.

"Gusti Prabu punya pemikiran lain?"

"Kulihat ada sesuatu yang tersembunyi di balik maksud kedatangannya semalam."

"Sebaiknya Gusti Prabu tidak perlu memikirkan hal itu. Kita harus terpusat untuk menghadapi si Durjana Pemetik Bunga," celetuk Ki Parungkit.

"Kau benar, Ki Parungkit," sambut Rangga setuju "Persoalan yang kita hadapi belum lagi selesai. Apa pendapatmu, Ki Parungkit?"

"Sebaiknya kita mendahului iblis itu, sebelum ia datang menghancurkan desa ini," saran Ki Parungkit.

"Aku kenal Datuk Arak. Tingkat kepandaiannya sulit diukur. Terlalu berbahaya kalau orang-orangmu menghadapi mereka," Rangga tidak setuju.

"Kami memang tidak berdaya menghadapi mereka, Gusti Prabu. Tapi kami punya semangat! Apalagi Gusti Prabu ada bersama kami!" kata Bayan Sangkuni.

"Lalu, siapa yang akan menjaga Dewi Mawar Huh?"

"Rasanya sulit baginya untuk meloloskan diri, gumam Bayan Sangkuni.

Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian bangkit berdiri. Satu siulan keras terdengar dari mulutnya. Tidak lama kemudian terdengar suara ringkik kuda, disusul munculnya seekor kuda hitam menghampiri Rangga. Begitu kuda itu berhenti di depannya Rangga langsung melompat ke punggung kuda hitam itu.

"Kalian jaga perempuan itu! Aku akan ke Bukit Jati Ireng," kata Rangga.

"Gusti Prabu...!" Bayan Sangkuni mencegah.

Rangga tidak mempedulikan cegahan Bayan Sangkuni. Dia langsung menggebah kudanya. Kala hitam itu segera melesat cepat bagaikan anak panah lepas dari busurnya. Sangkuni memandang Ki Parungkit begitu kuda hitam yang ditunggangi Rangga hilang di balik tembok pagar rumah ini.

"Kau tetap di sini, Sangkuni. Aku akan mengikutinya. Begitu ada perkembangan, aku akan segera pulang, kata Ki Parungkit.

"Sebaiknya Ki Parungkit mengikutsertakan beberapa orang pilihan," usul Bayan Sangkuni.

"Tidak perlu! Aku bisa menjaga diri!" tolak Ki Parungkit.

Laki-laki tua kepala desa itu menghampiri seekor kuda coklat yang tertambat di bawah pohon. Tanpa bicara lagi, dia segera naik dan menggebah kuda itu. Sangkuni tidak bisa mencegah lagi. Dia segera mengatur orang-orangnya untuk menjaga. Sedangkan lainnya yang bertugas malam, diperbolehkan beristirahat.

********************

Sepeninggal Pendekar Rajawali Sakti, tepatnya begitu matahari menampakkan diri sepenuhnya, terjadi kegemparan di halaman depan rumah Kepala Desa Jati Ireng itu. Kamandaka bersama Datuk Arak datang mengacau dan membantai para penjaga yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang itu.

Bayan Sangkuni yang akan beristirahat, langsung melompat ke luar begitu mendengar suara ribut-ribut. Dia terkejut sekali melihat beberapa orangnya sudah tergeletak jadi mayat kena amukan dua tokoh sakti yang sangat mereka takutkan saat ini.

"Jangan gentar! Hadapi terus...!" teriak Sangkuni cepat melompat ke dalam kancah pertempuran.

"Bagus! Ayo maju semua! Biar kupatahkan batang leher kalian!" sambut Kamandaka gembira melihat Bayan Sangkuni ikut terjun ke kancah pertempuran.

"Setan laknat! Hadapi aku!" bentak Bayan Sangkuni segera menghadapi si Durjana Pemetik Bunga itu.

"Datuk Arak! Bebaskan Dewi Mawar Merah!" seru Kamandaka.

"Jangan khawatir, Kamandaka!" sahut Datuk Arak.

Bayan Sangkuni tidak bisa lagi mempertahankan tawanannya. Dia telah sibuk menghadapi gempuran-gempuran dahsyat Kamandaka. Sangkuni sadar kalau dirinya bukan tandingan Durjana Pemetik Bunga ini, tapi tidak ambil peduli. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, dia terus berusaha membendung gempuran Durjana Pemetik Bunga itu.

"Akh!" Bayan Sangkuni memekik tertahan ketika dadanya kena tendangan keras Kamandaka.

Belum lagi Sangkuni mampu bangkit, satu jejakan kuat bersarang di perutnya. Laki-laki setengah baya itu bergulingan ke samping. Dengan menahan rasa sakit pada dada dan perutnya, dia segera bangkit. Tanpa menghiraukan keadaan dirinya lagi, Sangkuni kembali bergerak dengan senjata golok di tangan.

Sementara itu Datuk Arak terus mengamuk sambil berusaha mendekati Dewi Mawar Merah. Dalam waktu yang tidak berapa lama, telah lebih dari separuh penjaga tewas berlumuran darah. Dan begitu dia melompat, tahu-tahu telah berada di dekat Dewi Mawar Merah yang masih terikat rantai. Bahkan tangannya yang menggenggam guci arak berhasil merobohkan tiga orang sekaligus.

"Edan! Guciku pecah!" rungut Datuk Arak.

"Datuk Arak, cepat bebaskan aku!" seru Dewi Mawar Merah.

"Huh! Guciku pecah, arakku habis!" rungut Datuk Arak.

"Akan kubelikan yang terbaik nanti! Cepat bebaskan aku!" seru Dewi Mawar Merah.

Datuk Arak mengelebatkan tangannya menyambar rantai yang membelenggu tangan Dewi Mawar Merah. Dengan satu sentakan saja rantai itu putus. Begitu tangannya terbebas dari belenggu, Dewi Mawar Merah segera membuka ikatan rantai di kakinya yang menggantung di atas.

"Bagus! Ayo kita habisi mereka!" seru Dewi Mawar Merah setelah bebas.

"Kau berhutang padaku, Dewi!" kata Datuk Arak.

"Aku punya beberapa guci arak pilihan! Jangan khawatir!"

"He he he..., bagus..., bagus!" sambut Datuk Arak gembira.

Mereka serentak mengamuk membunuhi penjaga yang sudah kendor nyalinya. Dalam waktu yang tidak lama, mayat-mayat telah bergelimpangan. Para penjaga itu kini hanya tinggal lima orang lagi. Sedangkan Bayan Sangkuni sudah tidak mampu lagi melayani Kamandaka. Dia jadi bulan bulanan, dihantam, dan ditendang bagaikan patung kayu.

"Berhenti...!" tiba-tiba terdengar bentakan meng gelegar.

"Gusti Prabu...." desis Bayan Sangkuni gembira.

Rangga melompat dari punggung kudanya. Sebentar dipandanginya sekeliling. Tidak kurang dari enam puluh lima orang telah bergelimpangan menjadi mayat. Hanya lima orang saja yang masih hidup termasuk Bayan Sangkuni. Pendekar Rajawali Sakti itu menggeretak geram melihat pembantaian kejam ini. Pandangannya tajam kepada Kamandaka, Datuk Arak, dan Dewi Mawar Merah, yang berdiri berdampingan.

"Aku tidak tahu lagi, hukuman apa yang pantas untuk kalian bertiga!" kata Rangga datar.

"Hati-hati Gusti. Mereka sangat tangguh," kata Bayan Sangkuni memperingatkan.

"Menyingkirlah, Paman. Biar mereka kuhadapi sendiri," kata Rangga.

Bayan Sangkuni segera melangkah mundur diikuti lima orang lainnya. Rangga mengayunkan kakinya mendekati ketiga orang itu. Tatapan matanya tetap tajam tidak berkedip sedikit pun. Bibirnya terkatup rapat menahan kemarahan yang kian memuncak sampai ke ubun-ubun.

"Sudah kuduga, kalian pasti datang ke sini," kata Rangga tetap datar suaranya.

"Sudah lama kutunggu kesempatan ini. Pendekar Rajawali Sakti!" kata Kamandaka tersenyum sinis.

"Kau yang bernama Kamandaka, si Durjana Pemetik Bunga?"

"Tidak salah! Aku sengaja menunggumu di sini, karena kita punya perhitungan!" sahut Kamandaka.

"Aku belum pernah bertemu denganmu! Aku tidak punya persoalan denganmu!" ketus suara Rangga.

"Jangan berlagak bodoh, Pendekar Rajawali Sakti! Kau berhutang nyawa padaku! Kau telah membunuh saudara perempuanku, Klenting Kuning si Iblis Wajah Seribu!"

"O.h.., pantas watakmu tidak jauh berbeda. Satu saudara, satu selera!"

"Sudah saatnya kau bayar hutangmu, Pendekar Rajawali Sakti!"

"Hm....!"

Kamandaka mengeluarkan sebatang tongkat kecil yang berlubang-lubang kecil. Rupanya suling yang sering ditiupnya merupakan sebuah senjata. Begitu disentil salah satu lubangnya, dari ujung tongkat kecil itu muncul sebuah mata pisau tipis keperakan. Kamandaka segera membuka jurus dengan senjata anehnya itu.

"Hm...," Rangga hanya bergumam kecil. Matanya sedikit menyipit melihat gerakan-gerakan Kamandaka.

Jurus pembuka yang dimainkan Kamandaka mengingatkan Rangga pada seorang wanita cantik yang pandai merubah wajah dan penampilannya. Wanita yang menjuluki dirinya Iblis Wajah Seribu! Rupanya jurus-jurus silat Kamandaka tidak jauh berbeda dengan kakak perempuannya. Tentu saja Rangga sudah paham sekali dengan jurus-jurus lawannya itu, tapi tidak ingin menganggap enteng.

"Tahan seranganku, hiyaaa.. !" bentak Kamandaka keras.

"Uts!"

Cepat sekali serangan yang dilakukan Kaman daka. Namun dengan manis. sekali Rangga berhasil menghindari setiap serangan berbahaya itu. Apa yang dilihat Rangga memang benar, jurus-jurus yang di mainkan Kamandaka tidak jauh berbeda dengan Iblis Wajah Seribu. Tidak heran kalau Rangga mampu melayaninya dengan mudah. Bahkan beberapa kali Kamandaka harus jungkir baik menerima serangan-serangan balasan Pendekar Rajawali Sakti itu.

"Jurus-jurusnya lebih cepat dan lebih berbahaya. Aku harus hati-hati menghadapinya," gumam Rangga dalam hati.

Seketika itu juga, Rangga mengerahkan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Dengan jurus itu Rangga kini benar-benar berada di atas angin. Lain halnya dengan Kamandaka yang kini malah terdesak hebat. Bahkan beberapa kali harus menelan pil pahit, terkena sepakan kaki dan pukulan maut Pendekar Rajawali Sakti.

Kalau bukan Kamandaka, pasti telah sejak tadi tubuhnya jebol terkena pukulan dan sepakan itu. Tapi keadaan Kamandaka memang telah benar-benar payah. Dari mulut dan hidungnya telah mengucurkan darah. Bahkan bajunya robek-robek ditambah beberapa bagian tubuhnya yang memar.

"Aku bantu kau, Kakang...!" seru Dewi Mawar Merah.

Perempuan cantik itu langsung melompat ke dalam kancah pertempuran. Kini Rangga dikerubuti dua orang. Tapi bantuan itu kelihatannya sia-sia saja.

Pendekar Rajawali Sakti sama sekali tidak terpengaruh. Dia tahu benar kalau keadaan tubuh perempuan itu telah luka parah akibat siksaan berat yang harus dilakoninya. Gerakan-gerakan Dewi Mawar Merah tidak lagi efektif. Bahkan Rangga dengan mudah dapat membaca dan mematahkannya di tengah jalan.

"Akh!" Dewi Mawar Merah memekik tertahan ketika satu sodokan keras bersarang di dadanya.

Belum lagi perempuan cantik itu mampu menguasai dirinya yang limbung, satu tendangan geledek mengandung pengerahan tenaga dalam sempurna menghantam kepalanya. Dewi Mawar Merah menjerit melengking sambil memegangi kepalanya. Tubuhnya berputar beberapa kali, lalu ambruk ke tanah. Sebentar menggelepar-gelepar, lalu tubuhnya diam tidak berkutik. Kepalanya retak dan mengucurkan darah membasahi tanah.

"Dewi...!" teriak Kamandaka. "Setan! Kubunuh kau!"

Kamandaka benar-benar kalap melihat kekasihnya tewas mengenaskan. Segera dia menyerang dengan cepat dan membabi buta. Rangga sedikit kerepotan juga menghadapinya. Untungnya hal itu tidak berlangsung lama, ketika satu tendangan keras berhasil disarangkan Rangga di punggung si Durjana Pemetik Bunga itu.

Kamandaka limbung beberapa saat, kemudian berusaha menguasai dirinya. Namun belum juga keadaan dirinya dapat dikuasai benar, tiba tiba satu tendangan lurus kembali menghunjam pundaknya. Bersamaan dengan itu, Rangga mencekal tangan Kamandaka yang memegang senjata seruling.

Krek..!
"Akhh"

Kamandaka memekik tertahan. Dengan satu kali puntiran saja, tulang tangan kanan Kamandaka patah. Dan seperti tidak ada lagi, senjata andalannya pun jatuh lunglai ke tanah. Dengan ujung jarinya, Rangga menggamit senja seruling berujung mata pisau itu, lalu menangkap sambil melompat ke udara.

Begitu Rangga berhasil menjangkau senjata itu, dengan cepat sekali tubuhnya meluruk turun. Dan kini, senjata seruling itu mengarah, mengancam dada Kamandaka.

"Aaakh...!" Kamandaka menjerit keras. Senjata andalannya sendiri kini telah menghunjam tepat pada jantungnya. Rangga tidak berhenti sampai di situ. Dengan satu tendangan kerasnya, tubuh Kamandaka terdorong sejauh dua batang tombak ke belakang. Sebentar terhuyung-huyung, lalu tubuh Kamandaka ambruk tidak bangun-bangun lagi. Sebatang seruling berujung mata pisau menancap di dada. Tembus sampai ke punggung. Darah mengucur deras dari lubang di dada itu. Tamat sudah riwayat Kamandaka.

"Sekarang giliranmu, Datuk Arak!" dengus Rangga menggeram.

"He he he..." Datuk Arak hanya terkekeh.

********************

Pelan-pelan Rangga mengayunkan kakinya mendekati Datuk Arak yang tidak memiliki guci arak lagi. Pendekar Rajawali Sakti itu berdiri tegak dengan sikap menantang sejauh satu batang tombak di hadapan Datuk Arak. Laki-laki tua kurus dengan perut buncit itu terus terkekeh. Sepertinya ingin meremehkan Pendekar Rajawali Sakti.

"Aku tahu kau seorang pendekar sejati, Pendekar Rajawali Sakti," kata Datuk Arak setelah berhenti tertawanya.

"Hm...," Rangga hanya bergumam saja.

"Kau lihat, apakah aku bersenjata? Aku tidak akan mampu menandingimu tanpa seguci arak pun di tanganku," kata Datuk Arak.

"Cepat pergi dari sini, sebelum pikiranku berubah!" sentak Rangga.

"Sudah kuduga. Kau memang pantas dijuluki Pendekar Rajawali Sakti, pendekar nomor satu tanpa tertandingi," puji Datuk Arak.

"Aku tidak butuh pujianmu. Datuk Arak! Enyahlah dari hadapanku!"

"Baik... baik! Aku pergi, tapi di lain waktu kita akan bertarung sampai mati."

Setelah berkata demikian, Datuk Arak langsung mencelat pergi. Begitu cepatnya ia bergerak, tahu-tahu tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata. Rangga menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan tubuhnya. Bayan Sangkuni dan Ki Parungkit berjalan cepat, tergopoh-gopoh menghampiri Rangga.

"Mengapa Gusti Prabu melepaskan orang itu?" Tanya Ki Parungkit menyesali.

"Pantang bagiku bertarung melawan orang yang tidak bersenjata lagi. Dia kehilangan guci yang menjadi senjata andalannya," jelas Rangga.

"Tapi, bukankah dia bisa menggunakan tangan kosong, atau senjata lain?" Ki Parungkit seperti belum bisa menerima.

"Lupakan saja. Dia tidak akan kembali lagi kesini," desah Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti itu berjalan menghampiri kudanya. Tanpa banyak bicara lagi, segera dia melompat ke punggung kuda hitamnya itu. Saat itu matahari telah kian tinggi. Sementara beberapa penduduk yang mendengar suara-suara pertarungan mulai berdatangan. Mereka berdiri saja di sekitar pagar tembok rumah kepala desa.

"Kuharap desa ini kembali tenang. Kalau terjadi apa-apa, hubungi saja Kerajaan Karang Setra. Aku yakin Mahapatih Jaladara pasti akan membantu kalian semua," ujar Rangga berpesan.

"Terima kasih, Gusti Prabu," ucap Ki Parungkit membungkukkan badannya.

Rangga menggebah kudanya. Seketika itu juga kuda hitam itu melesat pergi bagai anak panah lepas dari busurnya. Pendekar Rajawali Sakti kembali melanjutkan perjalanannya untuk membela kebenaran dan keadilan.


SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA RAHASIA KALUNG KERAMAT
Thanks for reading Durjana Pemetik Bunga I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »