Darah Pendekar

Cerita Silat Pendekar Rajawali Sakti
Karya Teguh S
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Episode
Darah Pendekar


Pendekar Rajawali Sakti

SATU

DENTING benturan senjata yang memecah kesunyian malam, bercampur menjadi satu dengan pekik pertempuran dan jerit kematian. Malam yang seharusnya tenang dan damai, kini penuh suara gaduh meng-gemparkan. Teriakan-teriakan bernada memerintah ter-dengar mengalahkan kegaduhan itu.

"Yaaat...!"

Sebuah bayangan berkelebat melesat tinggi melewati atap sebuah bangunan besar dan megah. Sesaat kemudian beberapa bayangan juga melesat menyusul. Tampak beberapa orang berpakaian punggawa mengejar seorang laki-laki berwajah tampan dan keras. Mereka berlompatan di atas atap bangunan megah itu.

"Kepung...! Jangan biarkan dia lolos!" terdengar teriakan keras.

Di sekitar bangunan megah berpagar tembok tinggi dan kokoh, ratusan orang berseragam prajurit dengan senjata tombak dan pedang telah berjajar mengepung. Sementara di atas atap, terlihat empat orang berpakaian punggawa tengah bertarung melawan seorang laki-laki muda berbaju kuning gading.

"Hiya..!”

Satu teriakan melengking tinggi, mengawali terjungkalnya salah seorang punggawa itu dari atas atap. Tubuhnya meluncur deras, dan jatuh ke tanah dengan keras. Sebentar dia menggeliat, lalu diam tidak berkutik lagi. Dadanya berlubang besar, sedangkan lehernya hampir putus.

"Pasukan panah! Siap...!" terdengar teriakan memerintah.

Puluhan orang berseragam prajurit langsung me-masang anak panah pada busurnya. Sementara pertarungan di atas atap masih terus berlangsung. Seorang punggawa lagi tampak terpental dan hampir jatuh ke tanah, dan untungnya masih sempat berpegangan. Belum lagi punggawa itu bangkit, terdengar teriakan melengking tinggi. Kembali seorang lagi terjungkal dengan darah muncrat dari tubuhnya.

"Hiyaaa...!"

Orang berpakaian kuning gading itu melesat cepat ke atas tembok tinggi yang membatasi bangunan besar itu dengan jalan desa. Pada saat itu terdengar teriakan keras memerintah, maka dengan serentak puluhan anak panah melesat ke arah laki-laki muda berbaju kuning gading itu.

Namun dengan gesit sekali laki-laki muda itu memutar pedangnya, menghalau hujan panah. Dan dengan satu lompatan manis, tubuhnya meluruk turun ke luar pagar benteng itu. Kembali teriakan keras bernada perintah terdengar saling susul. Saat itu juga, pintu gerbang benteng yang mengelilingi bangunan megah itu terbuka.

Puluhan prajurit dan punggawa ke luar dengan kuda yang dipacu cepat. Seorang laki-laki tua mengenakan baju jubah putih yang panjang dan lebar, memacu kudanya paling depan. Di belakangnya terlihat tiga orang lainnya yang juga sudah berusia lanjut. Puluhan prajurit dan punggawa mengikuti dari belakang.

“Berpencar…!” teriak laki-laki berjubah putih itu keras.

Tanpa ada yang membantah, mereka berpencar mem-bentuk kelompok sendiri-sendiri. Sedangkan laki-laki berjubah putih itu menghentikan laju kudanya, di ikuti seorang laki-laki tua lainnya. Sedangkan dua laki-laki lainnya terus berpacu bersama beberapa orang prajurit.

Seorang pemuda tampan dan gagah terlihat memacu kuda mendekati dua orang tua itu. Di belakangnya menyusul seorang gadis berwajah cantik dengan baju merah menyala. Di balik punggung mereka menyembul gagang pedang. Mereka menghentikan kudanya tepat di depan dua orang tua itu.

"Bagaimana, Paman?" tanya pemuda tampan itu.

"Ampun, Gusti...." laki-laki tua berjubah putih itu membungkukkan badannya memberi hormat. "Sampai saat ini kami belum berhasil”

"Hm..., bagaimana awal kejadiannya?" tanya pemuda itu lagi.

"Kakang Danupaksi, sebaiknya Kakang jangan banyak tanya. Yang penting orang itu harus segera ditangkap kembali," selak gadis berbaju merah di sampingnya.

"Benar, Nini Cempaka. Dia memiliki ilmu yang sangat tinggi dan berbahaya. Gusti Prabu Rangga pasti murka bila mengetahui tawanannya berhasil melarikan diri." sambung laki-laki di samping orang berjubah putih.

Sesaat mereka terdiam membisu saling melemparkan pandangan. Kata-kata laki-laki tua yang memakai pakaian seorang panglima perang itu seolah-olah mengingatkan kalau raja mereka kini tengah tidak ada di istana.

"Paman Bayan Sudira, Eyang Lintuk...," kata Danupaksi.

"Hamba, Gusti," dua orang laki-laki tua itu membungkuk hormat.

“Teruskan pengejaran, sementara aku akan mencari Kanda Prabu," kata Danupaksi.

"Tunggu...!" tiba-tiba terdengar teriakan keras.

Empat orang berkuda itu langsung menoleh ke arah sumber suara tadi. Tampak seorang gadis muda dan cantik sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Gadis yang mengenakan pakaian seorang pendekar wanita berwama hijau muda itu melangkah mendekati.

"Tidak boleh ada yang meninggalkan istana," kata wanita itu tegas.

"Kak Mayang...," Cempaka mau membantah.

"Jangan membantah, Adik Cempaka!" sentak wanita yang ternyata bernama Mayang itu.

"Kanda Prabu tidak mengizinkan seorang pun ke luar istana. Apa kalian sudah lupa?"

“Tapi keadaannya genting, Adik Mayang. Seorang tawanan khusus Kanda Prabu yang sangat berbahaya telah melarikan diri. Tidak sedikit prajurit dan punggawa yang tewas," kata Danupaksi mencoba memberi pengertian.

"Itu bukan alasan yang tepat untuk meninggalkan Istana."

"Nini Mayang! Jika demikian perintah Gusti Prabu, izinkan hamba yang mencari Gusti Prabu," kata Eyang Lintuk menengahi.

Dia tahu kalau tiga orang muda itu adalah orang-orang yang dekat dengan Prabu Rangga Pati Permadi. Danupaksi dan Cempaka adalah adik tiri Prabu Rangga. Sedangkan Mayang murid dari bibi mereka yang tewas tanpa diketahui sebab-sebabnya. (Untuk lebih jelasnya tentang tokoh-tokoh itu baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode Rahasia Kalung Keramat dan Perawan Rimba Tengkorak)

Mereka semua tahu kalau raja telah berpesan agar mereka jangan meninggalkan istana sampai tugasnya mengejar seorang panglima yang hendak memberontak selesai. Mereka sadar betul kalau raja mereka adalah seorang pendekar yang bergelar Pendekar Rajawali Sakti. Tidak ada seorang pun di Kerajaan Karang Setra ini yang mampu menyamai kepandaiannya.

"Kerajaan Karang Setra sangat membutuhkanmu, Eyang Lintuk," kata Mayang pelan suaranya. "Di antara kalian semua, hanya aku yang tidak punya kepentingan khusus di Karang Setra ini.”

Danupaksi, Cempaka, Eyang Lintuk, dan Paman Bayan Sudira bisa mengerti kata-kata Mayang. Cempaka melompat turun dari punggung kudanya, lalu menghampiri wanita cantik yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu.

"Kak Mayang jangan berkata demikian. Kau tahu Kanda Prabu Rangga sangat memperhatikanmu. Kehadiranmu di sini sangat berguna dan kami semua menganggapmu sebagai keluarga istana," kata Cempaka lembut.

"Terima kasih, Adik Cempaka. Hanya saja, dalam suasana seperti ini, orang yang tepat untuk mencari Kanda Prabu adalah aku sendiri." tegas Mayang.

Cempaka memandang Eyang Lintuk dan Paman Bayan Sudira bergantian. Kedua orang itu hanya mengangkat bahunya saja. Cempaka beralih memandang Mayang, dan memeluknya hangat. Sementara Danupaksi juga melompat turun dan menghampiri.

"Kembalilah secepat mungkin," kata Danupaksi.

Mayang hanya tersenyum saja, kemudian berbalik. Tapi Cempaka menarik tangannya. "Pakai kudaku, biar lebih cepat." Cempaka menawari.

"Kau baik sekali, Adik Cempaka." ujar Mayang seperti ingin menolak.

"Ayolah! Kau pasti membutuhkannya."

Mayang tidak bisa menolak lagi. Segera dia melompat ke punggung kuda putih itu, kemudian menggebahnya dengan cepat. Sejenak empat orang itu masih memandangi kepergian Mayang sampai bayangan tubuh-nya tidak terlihat lagi.

"Ayo, Cempaka! Kita kembali saja ke istana." ajak Danupaksi. "Eyang, segera laporkan jika ada sesuatu."

"Baik. Gusti."

Cempaka segera melangkah diikuti Danupaksi yang menuntun kudanya. Sedangkan Eyang Lintuk dan Paman Bayan Sudira kembali memacu kudanya mengelilingi tembok benteng Istana Karang Setra ini. Beberapa prajurit masih terlihat berjaga-jaga, sedangkan puluhan lainnya memeriksa setiap pelosok kota. Mereka terus mencari seorang tawanan yang melarikan diri dan menewaskan banyak prajurit dan punggawa!

Malam sudah berganti pagi. Matahari telah terbit sejak tadi. Cahayanya menghangati mayapada ini. Mayang mengendalikan kudanya yang kelelahan setelah semalaman dipacu cepat meninggalkan Kerajaan Karang Setra.

Laju kuda putih itu berhenti setelah sampai di sebuah sungai yang berair jemih dan mengalir tenang. Sungai itu tidak terlalu besar, dan kelihatannya pun dangkal. Sungai yang bemama Sungai Batang ini begitu jernih, sehingga dasarnya terlihat jelas. Mayang melompat turun dari punggung kuda, dan menuntunnya mendekati tepian sungai itu.

"Kita istirahat dulu di sini, Putih." kata Mayang.

Kuda putih itu mengangguk-angguk seraya mendengus-dengus, lalu menjulurkan kepalanya ke sungai. Beberapa teguk air sungai telah mampir di leher kuda putih itu. Mayang tersenyum memandanginya. Beruntung sekali mendapat kuda yang perkasa ini. Kelihatannya memang berguna sekali. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia tahu kalau dirinya sudah jauh meninggalkan Karang Setra. Dan sekarang ini berada di satu tempat yang...

"Eh! Hup...!"

Mayang tak sempat melanjutkan lamunannya, karena tiba-tiba sebatang tombak panjang meluncur deras ke arahnya. Gadis itu langsung melompat cepat dan berputar di udara, maka tombak itu lewat di bawah kakinya. Dan begitu kakinya mendarat di tanah, dari dalam semak belukar muncul tiga orang laki-laki ber tubuh tinggi besar dan berwajah kasar penuh berewok.

"He he he...!" ketiga laki-laki itu terkekeh melihat seorang gadis cantik di depannya.

Mayang menggeser kakinya sedikit ke samping. Dia sadar kalau sekarang berhadapan dengan manusia-manusia liar yang sangat kejam. Tiga orang itu dikenal dengan julukan Hantu Sungai Batang, yang menguasai sekitar sungai ini. Mereka memang tidak memiliki pekerjaan lain, kecuali membegal siapa saja yang lewat di daerah Sungai Batang ini. Tidak peduli, apakah itu pedagang, atau hanya pelintas saja.

"He he he,.., hari ini kita beruntung sekali, Adik-adik," kata salah seorang yang berada di tengah.

"Benar, Kakang. Hari ini aku tidak peduli, apakah dia punya harta atau tidak, yang penting...," sambut yang berada di kanan.

Mereka tertawa terbahak-bahak. Mayang mendengus jijik melihat sinar mata ketiga laki-laki itu. Sinar mata yang liar dan buas penuh nafsu. Ketiga orang itu melangkah mendekati. Sedangkan Mayang sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Mereka semakin dekat disertai tawa terkekeh tiada henti. Bola mata mereka semakin liar merayapi wajah dan tubuh gadis itu.

"Kenapa kau berada di sini, Manis?" tanya salah seorang yang berdiri di tengah.

"Akan membunuh kalian jika berani kurang ajar!" jawab Mayang ketus.

"Ha ha ha....!" ketiga laki-laki itu tertawa terbahak-bahak.

Jawaban Mayang yang begitu ketus, seolah-olah meng-gelitik tenggorokan mereka. Mayang menyemburkan ludahnya sengit. Matanya melirik ketika orang yang berada di kiri menggeser kakinya menyamping. Sedangkan yang berada di kanan melesat ke belakangnya. Pelahan Mayang memutar kakinya dengan mata tajam tidak berkedip.

"Aku tahu, kau tidak punya harta. Tapi kau sudah cukup membuat kami senang," ujar laki-laki itu lagi.

"Phuih! Ambil saja kesenanganmu di neraka!" dengus Mayang tetap ketus.

"Busyeeet...!" orang itu terlonjak dengan muka merah padam.

"Sudah, jangan banyak omong! Kita ringkus saja bocah manis yang sombong ini!" selak satunya lagi.

"Hiya...!"
"Yaaat..!"

Mayang langsung memutar tubuhnya ketika orang yang berada di kirinya melompat menerjang. Sambil memutar tubuhnya, gadis itu mengirimkan satu sodokan keras bertenaga dalam cukup tinggi. Orang itu tidak menyangka, dan hanya sempat terperangah sesaat. Tapi buru-buru dimiringkan tubuhnya menghindari sodokan tangan Mayang.

"Uts!"

Merah padam wajah orang itu. Meskipun berhasil berkelit menghindari sodokan itu, tapi tubuhnya agak limbung juga. Angin sodokan tangan Mayang begitu keras menyambar tubuhnya. Dan belum lagi sempat memperbaiki posisi, dengan cepat Mayang melayangkan kakinya ke arah kepala orang itu. Dan...

Buk!

"Akh...!" orang itu memekik tertahan ketika tendangan Mayang mendarat telak di kepalanya.

"Kurang ajar!"
"Setan...!"

Dua orang lainnya langsung mencabut golok masing-masing, dan segera menerjang dari dua posisi. Golok mereka berkelebat cepat membabat ke arah bagian-bagian tubuh Mayang yang mematikan. Mayang bukanlah seorang gadis biasa yang lemah. Dengan manis sekali setiap serangan dua orang lawannya itu bisa dihindarinya. Bahkan beberapa kali berhasil mendaratkan pukulan dan tendangannya yang keras bertenaga dalam cukup tinggi.

Namun rupanya dua orang itu memiliki tubuh yang keras bagai batu. Sementara orang-orang yang terkena tendangan pada kepalanya, sudah bisa menguasai keadaannya. Sambil menggeram marah, dia melompat seraya mencabut goloknya. Kini Mayang harus menghadapi tiga orang bersenjata golok yang menyerang tanpa perhitungan. Mereka bagaikan serigala-serigala liar tengah memperebutkan seekor domba cantik, yang gesit dan sukar ditangkap.

"Hm..., kemampuan mereka tidak begitu tinggi. Tapi mereka memiliki kekuatan luar yang luar biasa. Hanya mereka tidak menggunakan otak...!" gumam Mayang dalam hati.

Setelah beberapa jurus terlampaui Mayang sudah bisa mengukur kemampuan lawan-lawannya, dan seketika itu juga dirubah pola jurus-jurusnya. Gerakan tangan dan kaki gadis itu menjadi cepat dan lincah diimbangi gerakan tubuh yang lentur bagai karet. Hal ini membuat ketiga orang laki-laki bertampang kasar itu semakin sukar untuk menyentuhnya. Hingga pada suatu saat...

"Yap! Lepas...!" sentak Mayang tiba-tiba.

Trak! Cepat sekali tangan Mayang berkelebat, sehingga salah seorang memekik dengan golok terpental jauh ke udara. Belum lagi orang itu sempat menyadari satu tendangan keras menghantam dadanya. Akibatnya orang itu terjungkal ambruk ke tanah. Dua orang lainnya pun terperangah. Dan betapa terkejutnya mereka karena tiba-tiba Mayang berputar cepat sambil menyampokkan tangannya ke arah pergelangan tangan mereka.

"Lepas...!" seru Mayang keras.

"Akh!"
"Akh!"

Dua orang itu memekik tertahan. Segera suara erangan menyusul begitu dua pukulan bersamaan menghajar dada mereka. Dua tubuh pun terjungkal keras menghantam bumi. Mereka menggeliat-geliat sambil mengerang kesakitan. Sementara Mayang berdiri tegak bertolak pinggang. Tiga orang laki-laki itu berusaha bangkit.

Setelah mampu berdiri, mereka serentak berlari. Namun Mayang dengan cepat melentingkan tubuhnya, dan menghadang mereka. Ketiga orang yang berjuluk Hantu Sungai Batang itu terkejut melihat Mayang tahu-tahu sudah berdiri menghadang.

"Mau lari ke mana, keparat!" desis Mayang dingin.

Ketiga orang itu kembali berbalik dan berlari. Namun, baru beberapa tombak mereka berlari, kembali Mayang melesat dan menghadang. Beberapa kali hal itu berulang, hingga wajah ketiga laki-laki itu pucat pasi. Mereka menjatuhkan diri berlutut dengan napas terengah-engah.

Mayang tersenyum lebar melihat ketiga orang begal itu berlutut di depannya. Dan ini memang yang diharapkannya. Dengan sikap dibuat angkuh, gadis itu memandangi satu-satu wajah yang pucat dengan sinar mata penuh kepasrahan. Napas mereka masih tersengal, dan keringat menitik deras membasahi wajah.

"Ampunkan kami, Nini... jangan bunuh kami." ratap orang yang ada di tengah.

"Hhh! Kalian takut mati juga rupanya!" dengus Mayang sinis.

"Ampun, Nini. Kami bersedia mengabdi asal jangan dibunuh,” ratapnya lagi.

"Baik aku ampuni kalian," kata Mayang.

"Terima kasih, Nini," sambut mereka gembira, serentak bersujud sampai kening mereka menyentuh tanah.

“Tapi ada satu syarat!"

"Oh….! Katakan, Nini. Apa syaratnya?"

"Kalian harus bertobat. Mulai saat ini, tinggalkan semua pekerjaan kalian!"

"Baik, Nini. Kami berjanji."

"Bangunlah."

Ketiga laki-laki itu bangkit berdiri. Namun kepalanya tertunduk dan tubuh agak membungkuk.

“Dengar! Mulai saat ini kalian menjadi pengikutku! Sekali melanggar kata-kataku, nyawa kalian akan kukirim ke neraka. Paham!"

"Mengerti, Nini," sahut ketiga orang itu serempak.

"Bagus!" Mayang tersenyum. "Siapa nama kalian?"

"Namaku Jalak," sahut orang yang di tengah memperkenaikan diri. "Dan mereka berdua adalah adik-adikku. Yang ini bernama Bawuk." Jalak menunjuk orang di sebelah kanannya. "Dan ini, Rantak."

Mayang mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian melangkah kembali ke tepi sungai. Gadis itu menghampiri kudanya yang tengah merumput tidak jauh dari situ. Mayang segera melompat naik ke punggung kuda putih itu. Sementara tiga orang laki-laki yang ditaklukkannya masih berdiri di tempatnya.

"Kalian punya kuda?" tanya Mayang.

"Oh, ada.... Ada, Nini," sahut Jalak cepat.

"Ambil!" perintah Mayang.

Ketiga orang itu bergegas beranjak pergi.

"Hey! Jangan semuanya! Satu orang saja!"

Jalak terus melangkah pergi, sedangkan Bawuk dan Rantak tetap tinggal. Mayang menggebah kudanya pelahan-lahan menghampiri kedua orang laki-laki itu. Matanya memperhatikan Jalak yang menerobos masuk ke dalam hutan.

Tidak lama kemudian Jalak telah kembali membawa empat ekor kuda. Dua ekor kuda sarat dengan beban. Mayang agak berkerut juga keningnya melihat beban yang begitu banyak pada punggung dua ekor kuda.

"Untuk apa barang-barang itu?" tanya Mayang.

"Ini semua adalah harta kami, Nini. Dan sekarang menjadi milik Nini." sahut Jalak.

"Hm..., kalau dibawa semua, lalu apakah dua di antara kalian bersedia jalan kaki?"

"Tidak, Nini," sahut Jalak, kemudian dia bersiul nyaring.

Tidak lama, terdengar suara ringkik kuda, disusul munculnya seekor kuda berwarna coklat tua. Keempat kakinya begitu tegap, dan berwarna putih. Kuda itu menghampiri Jalak, lalu menyodorkan kepalanya. Jalak ter-senyum dan mengelus-elus kepala kuda itu.

"Hebat...!" puji Mayang tulus.

Jalak segera melompat naik ke punggung kudanya.

"Tinggalkan semua barang-barang itu." perintah Mayang.

"Tapi, Nini..." protes Jalak.

"Ha.., baiklah. Bawa saja seperlunya. Aku tidak ingin terlalu banyak beban mengikuti," Mayang mengalah juga.

Bawuk dan Rantak segera menurunkan barang-barang dari punggung kuda itu tanpa diperintah lagi. Ketika salah satu peti kayu yang tebal dibuka, Mayang agak terperanjat juga begitu melihat isinya. Peti itu berisi hampir penuh uang emas. Belum lagi kantung-kantung yang kelihatan berat. Pasti semuanya berisi barang-barang berharga!

Berpikir demikian, Mayang jadi merasa tidak enak kalau meninggalkan begitu saja barang sebanyak itu di tempat ini. Gadis itu memandang berkeliling, lalu menggebah kudanya pelahan-lahan. Mayang berhenti di bawah sebatang pohon yang cukup besar dan daun-daunnya yang rindang. Kemudian ia melompat turun dari punggung kudanya, dan melangkah sekitar dua puluh tindak ke depan.

"Gali di sini!" perintah Mayang.

Jalak segera melompat turun dari punggung kudanya. Dia paham maksud gadis cantik yang telah menaklukkannya dalam pertarungan. Tanpa banyak komentar lagi, ketiga laki-laki bertubuh tinggi besar itu menggali tanah yang ditunjuk Mayang. Sedangkan gadis itu menghampiri kotak kayu yang terbuka tutupnya. Diambilnya sebuah kantung, diisinya dengan beberapa keping uang emas itu.

"Jalak!” panggil Mayang.

"Ya, Nini...!" Jalak bergegas menghampiri.

"Simpan ini!" Mayang melemparkan kantung yang sudah diisi dengan beberapa keping uang emas.

Jalak menangkap dan menggantungkannya di pinggang, kemudian kembali membantu kedua adiknya menggali lubang yang cukup dalam dan besar. Sementara Mayang kembali naik ke punggung kudanya. Ketiga laki-laki itu menyimpan barang-barang hasil rampokannya ke dalam lubang yang cukup dalam, dan menguruknya hingga rata kembali. Mereka juga menaburinya dengan batu-batu dan pasir. Setelah merasa yakin tidak terlihat bekas galian, mereka segera melompat naik ke punggung kudanya masing-masing.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Mayang segera meng-gebah kudanya. Ketiga orang laki-laki bekas begal itu, segera mengikuti. Mereka memacu cepat kudanya meninggalkan tepian Sungai Batang. Debu mengepul di-terjang kaki-kaki kuda yang berpacu cepat menembus lebatnya hutan. Mereka semakin jauh masuk ke dalam hutan dan lenyap ditelan pepohonan yang rapat.

********************

DUA

Dua ekor kuda berpacu cepat mendaki sebuah bukit ber-batu. Penunggang kuda itu adalah seorang pemuda tampan dengan baju rompi putih melambai-lambai tertiup angin. Sebatang pedang bergagang kepala burung ber-tengger di punggungnya. Agak ke belakang penunggang kuda lainnya seorang gadis berwajah cantik mengenakan baju biru yang ketat.

Semakin tinggi bukit berbatu itu didaki, semakin sukar dilalui. Pemuda berbaju rompi putih itu menghentikan langkah kudanya, dan menoleh agak ke belakang. Kemudian pandangannya beralih menatap ke arah puncak bukit batu itu. Dengan satu gerakan manis, dia melompat turun dari kuda hitam pekat itu.

"Kita harus meninggalkan kuda di sini, Pandan," kata pemuda itu.

Gadis cantik berbaju biru yang dipanggil Pandan, langsung melompat turun. Ringan sekali kakinya menjejak bebatuan di samping pemuda itu. Mereka tidak lain dari Pandan Wangi dan Rangga atau yang berjuluk Pendekar Rajawali Sakti.

"Kau yakin Panglima Parakan ada di sini, Kakang?" tanya Pandan bernada ragu-ragu.

"Begitulah keterangan yang aku dapatkan," sahut Rangga.

"Aku tidak mengerti, mengapa Panglima Parakan memberontak...," gumam Pandan seolah bicara pada dirinya sendiri.

"Dia paman dari Wira Permadi, adik ibu tiriku. Dia tidak suka dengan kekalahan yang diderita keponakannya. Aku sendiri tidak mengerti, mengapa dia punya pikiran picik seperti itu. Padahal aku masih memberinya kedudukan sebagai panglima perang."

"Atau bisa juga dia sakit hati, Kakang," Pandan menduga-duga.

"Maksudmu?"

"lya, soalnya kakaknya bunuh diri karena tidak kuat menanggung malu. Atau mungkin dia juga malu, lalu memilih jalan memberontak, meskipun tahu tidak mungkin berhasil."

"Seribu satu macam alasan bisa saja terjadi, Pandan."

"Ya...."

"Ayo, kita terus mendaki bukit ini," ajak Rangga.

Mereka kemudian berjalan mendaki bukit batu itu. Sedangkan kuda-kuda mereka tinggalkan begitu saja. Jalan yang harus ditempuh memang sangat sukar, dan tidak mungkin dilalui dengan kuda. Banyak batu-batu yang rapuh, dan sewaktu-waktu dapat longsor. Belum lagi harus melalui dinding batu terjal yang hampir tegak. Mereka harus menggunakan ilmu meringankan tubuh agar bisa leluasa mendaki.

"Hati-hati, Pandan. Batu ini rapuh sekali," kata Rangga memperingatkan.

"Iya, aku tahu," sahut Pandan.

Mereka terus mendaki tanpa mengenal telah. Semakin jauh mereka mendaki, semakin sukar jalan yang dilalui. Namun dengan berbekal ilmu meringankan tubuh, hal itu bukanlah halangan berarti. Mereka adalah orang-orang berkepandaian sangat tinggi.

"Awas, Pandan...!" seru Rangga tiba-tiba.

"Hup!"

Pandan cepat melompat ke belakang Rangga ketika sebongkah batu yang cukup besar meluncur deras dari atas bukit. Batu itu menghantam batu-batu lainnya, sehingga membuat bukit ini seperti akan runtuh. Rangga segera mencekal tangan Pandan Wangi, dan menariknya keras. Pendekar Rajawali Sakti itu melentingkan tubuhnya sambil mencabut Pedang Rajawali Sakti.

Secercah cahaya biru kemilau memancar dari pedang pusaka itu. Rangga memutar pcdangnya dengan cepat di atas kepala. Batu batu yang meluruk ke arahnya, langsung hancur berkeping-keping. Tubuh Pendekar Rajawali Sakti itu terus berlompatan ke atas menembus hujan batu. Sedangkan tangan kirinya tidak lepas mencekal per-gelangan tangan Pandan Wangi. Gadis itu mengerahkan ilmu meringankan tubuh sambil mengikuti setiap gerak langkah kaki Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup!"

Rangga melentingkan tubuhnya ketika sampai di puncak bukit. Segera dimasukkan kembali pedangnya ke dalam warangkanya di punggung. Cahaya biru langsung lenyap begitu pedang pusaka itu tersimpan kembali. Suara gemuruh batu batu yang longsor masih terdengar. Bukit batu ini bergetar bagai diguncang gempa.

Belum sempat Rangga menarik napas lega, mendadak beberapa anak panah meluncur deras ke arahnya, Pandan Wangi segera mencabut senjatanya yang berbentuk kipas dari pinggangnya. Dengan kipas itu dihalaunya anak-anak panah itu. Sedangkan Rangga menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat, menyambar setiap anak panah yang mengarah ke tubuhnya. Puluhan anak panah berhasil dirampasnya.

"Yap! Hih...!"

Rangga memutar tubuhnya cepat, dan melontarkan kembali puluhan anak panah yang berhasil ditangkapnya. Seketika itu juga, terdengar suara jeritan melengking. Beberapa sosok tubuh yang tertembus anak panah, mencuat dari balik bebatuan dan gerumbul semak belukar kering. Saat itu juga hujan anak panah langsung berhenti.

Kesunyian kembali menyelimuti sekitar puncak bukit itu. Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seorang pun tak terlihat ada di sekitar situ. Pandangannya tertumpu pada orang-orang berseragam prajurit yang tergeletak tertembus panah. Mereka semua prajurit Karang Setra, yang telah memberontak bersama Panglima Parakan.

"Jangan-jangan buruan kita sudah kabur, Kakang," kata Pandan Wangi menduga-duga.

Belum sempat Rangga menjawab mendadak di sekitar mereka bermunculan orang berseragam prajurit Karang Setra. Mereka muncul dari balik batu besar yang memenuhi puncak bukit batu ini. Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berpakaian panglima perang, melompat dari balik batu besar. Ringan sekali kakinya menjejak sekitar tiga batang tombak di depan Pendekar Rajawali Sakti.

“Panglima Parakan..," desis Rangga getir suaranya.

"Hhh! Rupanya Karang Setra sudah kehilangan jago-jago, sehingga rajanya sendiri harus turun tangan," kata Panglima Parakan sinis.

"Ini urusanku sendiri, Panglima!" tegas Rangga.

"Benar. Dan gundikmu itu tidak perlu ikut campur!"

"Setan!" desis Pandan tersinggung. Mukanya merah padam menahan geram.

"Kotor sekali mulutmu, Panglima!" geram Rangga mendesis.

"Ha ha ha...!" Panglima Parakan tertawa terbahak-bahak.

Pandan tidak bisa lagi menahan amarahnya. Langsung dikebutkan kipasnya, hingga mengembang terbuka. Tapi Rangga merentangkan tangannya mencegah agar Pandan tidak terpancing emosinya. Gadis itu menutup kembali kipasnya, namun matanya tetap tajam menatap laki-laki berpakaian panglima di depannya. Sorot matanya memancarkan kemarahan yang amat sangat.

"Biar kupenggal lehernya, Kakang." kata Pandan Wangi sengit.

"Ayo, Rangga! Majulah! Biar semua orang yang ada di sini tahu, kalau kau hanya gembel busuk yang mengaku putra Kanda Arya Permadi!" keras sekali suara Panglima Parakan.

"Sebaiknya kau menyerah saja, Panglima. Tidak ada gunanya bertahan. Pihak istana akan mengadilimu secara adil," ujar Rangga masih mencoba membujuk.

“Phuih! Gembel-gembelmu tidak pantas mengadiliku! Seharusnya mereka yang kuadili” jawab Panglima Parakan.

"Kau sendiri tidak lebih rendah dari anjing busuk!" dengus Pandan Wangi semakin geram.

"Phuih! Apa kau anggap dirimu suci, gundik rendah!"

"Cukup!" bentak Rangga mulai hilang kesabarannya.

Bentakan yang keras itu membuat Panglima Parakan langsung diam. Hatinya sempat bergetar juga mendengar suara yang keras menggelegar. Sedangkan Pandan Wangi juga mengatupkan mulutnya. Rangga melangkah maju dua tindak. Tatapan matanya tajam menusuk langsung ke bola mata Panglima Parakan.

"Sudah cukup aku menahan kesabaran Panglima," kata Rangga. Suaranya dingin menggetarkan.

"Heh...! Lalu, apa maumu?" tantang Panglima Parakan.

"Kau sendiri yang menentukan jalan hidupmu, Panglima."

"Jangan banyak omong, Rangga! Ayo, hadapi aku!" bentak Panglima Parakan.

Setelah berkata demikian, Panglima Parakan segera melompat menyerang. Secepat kilat dicabut pedangnya, dan langsung dikibaskan ke arah leher. Rangga menarik kepalanya sedikit ke belakang maka tebasan pedang itu lewat sedikit di depan tenggorokannya. Gagal dengan serangan pertama, Panglima Parakan melanjutkan dengan serangan berikutnya.

Pedang di tangan Panglima Parakan berkelebatan cepat mengurung tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Sementara itu, Pandan Wangi juga sudah sibuk menghadapi para prajurit panglima pemberontak itu. Kipas mautnya berkelebatan cepat membongkar keroyokan prajurit Karang Setra yang memberontak itu. Setiap kibasan kipasnya selalu diikuti dengan terjungkalnya seorang prajurit.

Puncak Bukit Batu yang semula sunyi sepi, kini penuh teriakan dan pekik melengking, ditingkahi denting senjata berada. Tubuh-tubuh mulai bergelimpangan bersimbah darah. Sementara Rangga masih melayani Panglima Parakan dengan tangan kosong. Meskipun kesabarannya sudah sampai pada puncaknya, Pendekar Rajawali Sakti itu masih berusaha untuk tidak mencelakakan Panglima Parakan. Dia bermaksud menangkapnya hidup-hidup, dan mengadilinya seadil-adilnya.

Sudah tidak terhitung lagi, berapa prajurit yang tewas dalam pertempuran itu. Pandan Wangi bagaikan seekor singa betina yang mengamuk tanpa kenal ampun lagi. Sementara Rangga masih tetap tidak ingin membalas serangan-serangan Panglima Parakan. Pendekar Rajawali Sakti itu selalu menghindar dan mencoba untuk memasukkan totokan. Tapi rupanya Panglima Parakan mengetahui itu semua, sehingga dimanfaatkan untuk meningkatkan jurus-jurusnya.

"Jangan berlagak pahlawan, Rangga! Kau akan menyesal nanti," Panglima Parakan memberi peringatan.

"Hentikan saja seranganmu. Panglima. Tidak ada gunanya kau melawan," balas Rangga masih tetap menahan sabar.

"Meskipun kau seorang pendekar digdaya tanpa tanding, aku tidak akan mundur menghadapimu"

"Kau terlalu keras kepala, Panglima!"

"Jangan banyak omong! Mampus kau, hiyaaa...!"

Rangga merundukkan kepalanya ketika pedang Panglima Parakan kelebat cepat ke arah kepalanya. Desir kibasan pedang itu sangat kuat, sehingga membuat Rangga agak terkejut juga. Dia sadar betul kalau Panglima Parakan bersungguh-sungguh untuk membunuhnya.

Panglima Parakan kembali melancarkan serangan dengan memutar pedangnya melintang ke arah dada. Saat itu Rangga tidak punya kesempatan untuk menghindar. Dengan cepat diangkatnya tangam ke depan dada, dan langsung dijepit pedang itu dengan telapak tangannya. Panglima Parakan berusaha menarik kembali pedangnya, namun jepitan kedua telapak tangan Rangga itu demikian kuat.

"Huh!" Panglima Parakan mengempos seluruh tenaga dalamnya untuk melepaskan pedangnya dari jepitan itu. Tapi yang terjadi malah membuatnya ternganga. Ujung pedang di tangan Rangga, seketika itu juga buntung. Panglima Parakan terpental ke belakang dengan pedang yang buntung, ketika Rangga menghentakkan jepitannya.

"Hiyaaa...!" Sambil berteriak nyaring. Rangga melompat seraya melayangkan satu tendangan keras ke arah dada. Panglima Parakan terkejut setengah mati. Dia berusaha berkelit. Namun diluar dugaan sama sekali, kaki Rangga dapat berputar ke arah lain.

"Akh!" Panglima Parakan memekik tertahan. Kepalanya terasa akan pecah kena dupakan kaki Pendekar Rajawali Sakti yang menggunakan Jurus ‘Rajawali Menukik Menyambar Mangsa’.

Untung saja Rangga tidak mengerahkan jurus itu secara penuh, sehingga kepala Panglima Parakan tidak pecah! Namun kepalanya tak urung terasa pening juga, dan pandangan-nya mengabur. Sementara Rangga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat tangan kanannya menyodok ke arah dada.

Panglima Parakan tahu kalau Rangga bermaksud melumpuhkannya dengan menotok jalan darahnya. Dan pada saat itu, dia sudah tidak mungkin lagi menghindar. Dengan nekad, panglima perang itu melompat menerjang dengan tangan terbuka ke samping. Rangga terkejut melihat kenekadan orang tua itu. Buru-buru ditarik kembali tangannya yang sudah terjulur ke depan.

Namun gerakan Rangga kalah cepat. Tak ampun lagi, Panglima Parakan membiarkan dadanya tertembus jari tangan Pendekar Rajawali Sakti yang telah menegang kaku.

"Aaakh...!" Panglima Parakan menjerit keras.

Rangga tersentak kaget. Buru-buru ditarik tangannya yang melesak dalam ke dada orang tua itu. Sebentar Panglima Parakan masih mampu berdiri, kemudian tubuhnya ambruk. Darah mengucur deras dari dadanya yang berlubang. Saat itu juga Rangga berlari menubruk tubuh yang menggelepar itu. Dipangkunya dan dipeluk tubuh paman tirinya itu.

"Paman...," agak parau suara Rangga.

"Jangan kau sesali, Rangga. Aku puas, meskipun harus mati di tanganmu," kata Panglima Parakan terputus-putus suaranya.

"Oh...," Rangga mengeluh panjang.

Panglima Parakan tersenyum, lalu tubuhnya mengejang. Sesaat kemudian diam tidak berrgerak gerak lagi. Rangga meletakkan tubuh laki-laki tua itu dan berdiri tegak. Matanya masih memandangi mayat paman tirinya itu.

Sementara pertempuran yang berlangsung antara Pandan Wangi dan para prajurit pemberontak, langsung berhenti seketika. Para prajurit itu melemparkan senjatanya begitu pemimpinnya tewas.

Rangga berpaling dan memandangi para prajurit yang menyerah tanpa syarat kemudian pandangannya beralih pada Pandan Wangi. Gadis itu menghampiri dan menepuk pundak Pendekar Rajawali Sakti. Rangga melangkah mundur beberapa tindak.

"Aku tidak bermaksud membunuhnya. Dia bertindak nekad," kata Rangga mengeluh.

"Sudahlah, Kakang. Itu memang sudah menjadi pilihannya," kata Pandan Wangi mencoba menghibur.

Rangga memalingkan kepalanya dan memandang para prajurit yang kini tinggal berjumlah sekitar dua puluh orang itu. Para prajurit itu menundukkan kepalanya, lalu seperti mendapat komando, mereka serentak menjatuhkan diri berlutut. Dan tanpa diduga sama sekali, masing-masing mengambil senjata yang tergeletak di dekatnya. Rangga tersentak kaget, begitu melihat para prajurit itu membunuh diri secara massal.

"Hey...!"

Rangga berusaha mencegah, tapi terlambat. Para prajurit itu sudah menggeletak dengan dada tertembus senjatanya masing-masing. Pandan Wangi sendiri sampai terpana menyaksikan ulah mereka yang mengambil jalan pintas seperti itu begitu pemimpinnya tewas dalam pertempuran secara ksatria.

Pendekar Rajawali Sakti itu menarik napas panjang dan berat. Hatinya sangat menyesali tindakan para prajurit itu. Akan tetapi Rangga juga kagum karena mereka rela mati demi kesetiaannya pada pemimpin. Hal tersebut memang menjadi satu kebiasaan para prajurit Karang Setra. Tapi dengan membunuh diri secara bersamaan, tindakan itu memang belum pernah terjadi sebelumnya!

"Aku kagum pada mereka..." desah Pandan Wangi tanpa disadarinya.

"Ya, kesetiaannya sungguh mengagumkan," balas Rangga.

"Bagaimana sekarang, Kakang?" tanya Pandan Wangi.

"Aku harus menghormati mereka, dan akan menguburkannya di sini." sahut Rangga.

Pandan Wangi mengangkat pundaknya. Dia memandangi sekitarnya. Tidak kurang dari lima puluh prajurit menggeletak tak bernyawa lagi, dan harus dikuburkan di sini. Gadis itu sedikit mengeluh juga, karena harus menguburkan sekian banyak orang. Tapi begitu melihat Rangga mulai menggali lubang dengan sebatang pedang, Pandan Wangi segera berbuat hal yang sama. Kini mereka bekerja menggali lubang dan menguburkan mayat-mayat itu tanpa banyak bicara lagi.

********************

TIGA

Tepat pada saat matahari hampir tenggelam di ufuk Barat. Rangga dan Pandan Wangi meninggalkan Puncak Bukit Batu. Mereka masih mendapatkan kuda-kudanya tetap berada di tempat semula ketika ditinggalkan. Dengan menunggang kuda, mereka menuruni lereng bukit yang berbatu itu. Sampai tiba di kaki bukit, baru mereka dapat memacu kuda dengan cepat.

Sementara Pandan Wangi yang memacu kuda di samping Pendekar Rajawali Sakti itu, tidak lepas memandangi wajah tampan, namun terlihat murung. Pandan Wangi bisa merasakan kemurungan Rangga yang disebabkan kematian paman tirinya itu. Meskipun Panglima Parakan berusaha memberontak tapi Rangga tetap menganggapnya paman. Itulah sebabnya di putuskan untuk mengejar sendiri tanpa membawa seorang prajurit pun.

Rangga ingin agar Panglima Parakan dapat disadarkan setelah dia menemuinya. Tapi kenyataan yang dihadapinya sungguh lain, dan tidak bisa ditolak Paman tirinya itu tewas di tangannya, akibat kenekadannya sendiri. Memang berat cobaan yang harus dihadapi Rangga. Sejak kembali ke tanah kelahirannya, adik tirinya tewas, dan ibu tirinya bunuh diri. Belum lagi saudara-saudaranya yang tidak mempercayainya sebagai putra tunggal Adipati Arya Permadi.

Mereka lebih suka menyingkir meninggalkan Karang Setra. Bahkan ada yang mengikuti jejak ibu tiri Pendekar Rajawali Sakti itu. Hal itu memang bisa saja terjadi, karena lebih dari dua puluh lima tahun Rangga menghilang. Dan mereka semua menganggapnya sudah tewas di Lembah Bangkai.

"Kakang...," Pandan Wangi mencoba bicara, memecah keheningan.

"Hm...," Rangga hanya bergumam tanpa menoleh.

"Sebaiknya kita istirahat dulu." usul Pandan Wangi.

Rangga tidak menyahut, tapi menghentikan juga lari kudanya. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Pendekar Rajawali Sakti itu turun dari punggung kudanya. Pandan Wangi mengikuti dan mendekatinya. Mereka berdiri berdampingan dengan tatapan mata lurus memandang Puncak Bukit Batu.

"Kau menyesali kematian Panglima Parakan, Kakang?" tegur Pandan Wangi.

"Entahlah," desah Rangga pelan.

"Dia sudah memilih cara kematiannya sendiri, Kakang Tidak perlu disesali lagi." kata Pandan Wangi mencoba menghibur.

"Belum setahun aku berada di Karang Setra, tapi tanganku ini sudah mengambil nyawa banyak orang. Sedihnya mereka adalah saudara-saudaraku sendiri. Terus terang, Pandan. Aku menyesal kembali ke Karang Setra. Kalau saja aku tetap mengembara, tentu mereka semua masih hidup damai dan tenteram," pelan suara Rangga.

"Semua yang terjadi sudah menjadi suratan takdir Tuhan, Kakang. Kita tidak bisa menolaknya, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga. Rasanya tidak patut menyesali semua yang sudah terjadi, meskipun di dalam hati tidak dikehendaki," Pandan Wangi tetap mencoba menghibur.

"Ya..., takdir tetap takdir. Tidak ada seorang pun yang bisa melawan kehendakNya. Tapi...," Rangga tidak melanjutkan.

“Tapi apa, Kakang?" tanya Pandan Wangi.

"Ah, tidak..." desah Rangga berat.

"Katakanlah, Kakang. Mungkin dengan begitu bisa mengurangi beban yang ada pada dirimu," desak Pandan bijaksana.

"Pandan, kita sudah bersama-sama sejak lama. Aku percaya kau sangat mencintaiku, dan aku pun demikian. Tapi tolong, jangan desak aku untuk yang satu ini," kata Rangga.

"Justru karena aku mencintaimu, maka aku ingin tahu dan bisa membantumu, Kakang," desak Pandan lagi.

Rangga memutar tubuhnya, dan langsung menghadap pada Pandan Wangi. Sejenak ditatapnya lurus bola mata gadis itu. Tangannya terangkat dan menjepit dagu Pandan Wangi. Pelahan-lahan, Rangga mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Bibir Pandan Wangi sedikit terbuka dengan mata tidak berkedip. Semakin dekat wajah mereka, dengus napas semakin terasa hangat menerpa kulit.

Menggeletar seluruh tubuh Pandan Wangi ketika bibir Rangga menyentuh lembut ke bibirnya. Saat itu juga Pandan Wangi merasakan aliran darahnya seperti terbalik. Dia tidak menolak saat tangan Rangga melingkar di pinggangnya, dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Dengan tangan gemetaran, gadis itu melingkarkan tangannya ke leher Rangga. Bibir mereka semakin rapat menyatu.

"Ah...," Pandan Wangi mendesah saat Rangga melepaskan bibirnya.

Entah perasaan apa yang menyeruak ke dalam dirinya. Gadis itu langsung merebahkan kepalanya di dada yang bidang terbuka. Kalau saja Rangga bisa melihat, pasti akan terkejut karena wajah Pandan Wangi menyemburat merah dengan bibir bergetar. Gadis itu selalu merasa malu bila Rangga menciumnya. Padahal bukan sekali ini mereka melakukannya.

Rangga kembali menggamit dagu gadis itu, dan mengangkatnya ke atas. Agak terkejut juga dia melihat wajah Pandan Wangi merah menahan malu, dan bibirnya bergetar agak terbuka. Pandan Wangi ingin menunduk, tapi Rangga menahannya. Terpaksa gadis itu menatap wajah tampan di depannya.

"Kenapa, Pandan?" tanya Rangga lembut.

"Ah, tid..., tidak," sahut Pandan agak tergagap.

"Kau selalu begitu bila...."

Buru-buru Pandan Wangi menutup bibir Rangga dengan jarinya. Dia tidak ingin rasanya mendengar kata-kata yang membuat perasaannya semakin tidak menentu. Pandan sendiri selalu mengutuki dirinya yang tidak bisa menahan gejolak dan perasaan malunya bila dicium. Mungkin itu merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terulang pada laki-laki lain. Baru Rangga seorang yang berhasil menjamah bibirnya. Pandan tidak pernah bisa menutupi kekurangan-nya ini!

"Ehm ehm...!"

Rangga dan Pandan terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara orang mendehem dua kali. Mereka langsung menoleh. Buru-buru Pandan melepaskan dirinya dari pelukan Rangga, sedangkan wajahnya langsung menyemburat merah. Rangga sendiri hanya terbengong dengan mulut menganga agak lebar, hampir dia tidak percaya dengan penglihatannya.

"Mayang.... Ada apa kau ke sini?" tanya Rangga setelah dapat menguasai dirinya kembali.

Orang yang telah membuat dua pendekar itu terkejut memang Mayang Telasih. Gadis itu menatap Rangga tajam, dan kembali mengalihkan pandangannya pada Pandan Wangi. Bibirnya menyunggingkan senyuman sinis. Matanya memancarkan perasaan ketidaksenangan. Ada tersirat perasaan cemburu pada sinar matanya.

Mayang tidak menjawab, tapi hanya mendekati. Sementara Pandan memandang Mayang dan Rangga secara bergantian. Dia kenal Mayang di dalam Istana Karang Setra. Sebenarnya ada perasaan cemburu di hati Pandan Wangi. Tapi setelah dia yakin kalau cinta Rangga hanya untuknya Pandan tidak memperdulikan kehadiran gadis itu.

"Karang Setra sangat membutuhkanmu, Kakang," kata Mayang datar. Matanya sempat melirik Pandan.

"Masih banyak orang yang lebih pandai daripada diriku di Karang Setra. Lagi pula aku sudah menyerahkan semuanya pada Danupaksi dan Cempaka. Mereka bisa mewakiliku memimpin seluruh rakyat Karang Setra," jawab Rangga tegas.

"Bagaimanapun juga, kau seorang raja. Rakyat Karang Setra lebih membutuhkan kau daripada yang lainnya. Mereka membutuhkan seorang pemimpin yang akan membawa pada kedamaian dan kemakmuran hidup, serta perasaan aman dan terlindungi," kata Mayang lagi.

"Mayang, apa sebenarnya maksudmu?" tanya Rangga, bisa menangkap ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-kata gadis itu.

"Kakang akan tahu sendiri kalau sudah berada di Karang Setra," sahut Mayang, dan lagi-lagi melirik Pandan Wangi.

Rangga mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi, ketika tiba-tiba dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar muncul menuntun kuda. Mayang juga menoleh ke arah dua orang yang ditaklukkannya itu. Sesaat Rangga mem-perhatikan, kemudian menatap Mayang, karena kedua orang itu membungkukkan tubuhnya pada Mayang Telasih. Mereka adalah Jalak dan Rantak, sedangkan seorang lagi yang bernama Bawuk, ditugaskan untuk mencari perahu.

"Siapa mereka?" tanya Rangga.

“Teman perjalananku," sahut Mayang.

"Sejak kapan kau punya teman seperti itu?"

"Kenapa? Mereka orang yang setia, dan patuh pada perintahku. Tidak ada yang melarang setiap orang untuk mempunyai teman dalam perjalanan," lagi-lagi Mayang melirik Pandan Wangi.

Sikap Mayang memang sejak tadi selalu diperhatikan Pendekar Rajawali Sakti. Dan dia mengerti kalau Mayang tidak suka terhadap Pandan, karena merasa tersaingi dalam memperoleh cintanya. Kini Mayang membawa tiga orang laki-laki bertampang kasar. Dan Rangga bisa menebak maksudnya.

Keadaan seperti ini memang tidak bisa dihindarkan. Rangga bertemu Pandan, jauh sebelum dia kenal Mayang. Dan pada saat mengenal Mayang, pikirannya sedang diliputi kekacauan karena hilangnya Pandan Wangi. Saat itu Rangga memang sudah menganggap Pandan tewas di dalam jurang. Namun hati kecilnya tetap tidak percaya karena mayat Pandan tidak ditemukan di dasar jurang itu.

Kehadiran Mayang memang sempat membuat hatinya terhibur. Meskipun Rangga tidak pernah bisa melupakan Pandan Wangi. Memang sulit untuk menyatukan dua gadis yang sama-sama mencintainya. Dan Rangga sendiri tidak ingin menyakiti salah satu di antara mereka. Dia berusaha untuk berlaku adil, walau pun diakuinya cintanya lebih besar terhadap Pandan Wangi daripada Mayang Telasih.

"Mayang, kau telah meninggalkan Istana Karang Setra, dan aku yakin itu karena sengaja hanya untuk mencariku," kata Rangga mengalihkan persoalan pada pokok sebenarnya. Dia tidak ingin berlarut-larut dan memperuncing suasana kaku ini. "Ada apa sebenarnya, Mayang?"

"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Sebaiknya Kakang segera saja kembali ke Karang Setra," sahut Mayang.

"Begitu pentingkah, sehingga aku harus segera kembali?" Rangga ingin meyakinkan.

"Ya," sahut Mayang.

Rangga menatap Pandan Wangi. Gadis yang selalu mengenakan baju berwarna biru itu mengangkat bahunya. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu menarik napas panjang, kemudian melangkah menghampiri kudanya. Sementara Rangga menghampiri kudanya. Mayang mendekati Pandan Wangi.

"Ayam hutan tidak bisa bersanding dengan merak dalam taman, bukan?" sindir Mayang halus.

Pandan menggigit bibirnya. Bisa dimengerti maksud sindiran itu. Dia sadar kalau dirinya tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan Mayang. Apalagi terhadap Rangga. Belum sempat Pandan mengucapkan sesuatu, Mayang sudah berbalik dan melangkah meninggalkannya. Pada saat itu Rangga sudah berada di atas punggung kudanya, dan Mayang Telasih juga telah melompat ringan naik ke punggung kudanya yang dipegangi Jalak.

"Ayo, Pandan...!" seru Rangga.

Sebentar Pandan Wangi menatap Mayang yang tersenyum sinis padanya, kemudian memandang pada Rangga. Kata-kata Mayang tadi membuat hatinya perih, dan sadar akan dirinya yang sebenarnya. Dia memang tidak mungkin dapat memiliki Rangga. Seorang pendekar digdaya tanpa tanding dan seorang raja besar dengan daerah kekuasaan yang semakin bertambah lebar. Sedangkan dia sendiri.... Hanya seorang anak biasa yang hidup mengembara dari satu tempat ke tempat lain.

Dan Mayang Telasih adalah seorang putri pembesar Kadipaten Karang Setra, yang kini menjadi sebuah kerajaan besar. Mayang diasuh dan dididik oleh bibinya Rangga sendiri, setelah kedua orang tuanya tewas terbunuh pada saat terjadi kerusuhan di Kadipaten Karang Setra dulu. Mayang memang gadis berdarah biru, dan tidak ada masalah jika bersanding dengan Rangga. Sedangkan Pandan sendiri.... Hati Pandan semakin perih bila menyadari hal itu.

"Pandan...!" tegur Rangga.

Pandan Wangi tersentak dari lamunannya, sehingga tidak menyadari kalau Rangga sudah di dekatnya. Pendekar Rajawali Sakti itu tetap duduk di punggung Kuda Dewa Bayu. Tangan kirinya memegang tali kekang kuda Pandan Wangi. Dengan perasaan ragu-ragu, Pandan Wangi menerima tali kekang kudanya dan melompat naik. Sementara Mayang dan kedua orang anak buahnya sudah berada di atas punggung kudanya.

Belum lagi mereka berangkat meninggalkan kaki bukit itu, seorang laki-laki datang menunggang kuda dengan cepat. Dia menghentikan kudanya tepat di depan Mayang, lalu membungkuk di depan gadis itu, memberi hormat. Saat itu, kening Rangga berkerut memperhatikan tingkah orang itu.

"Bagaimana?" tanya Mayang.

"Sudah siap. Den Ayu. Aku mendapatkan sebuah perahu yang sangat besar dengan sepuluh orang awaknya," sahut orang itu yang ternyala adalah Bawuk.

"Bagus," sambut Mayang tersenyum.

"Mayang..!" suara Rangga agak ditahan.

Mayang menoleh.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Rangga.

"Aku menyuruh Bawuk menyewa perahu, biar cepat sampai ke Karang Setra. Kita dapat menghemat perjalanan tiga hari," sahut Mayang menjelaskan.

Sebenarnya Rangga ingin menolak tapi tidak ingin membuat gadis itu kecewa. Tanpa berkata-kata lagi, Pendekar Rajawali Sakti itu menggebah kudanya pelahan-lahan. Pandan Wangi mengikutinya dari samping kiri. Sementara Mayang mensejajarkan langkah kudanya di samping kanan pemuda berbaju rompi putih itu. Tiga orang laki-laki bertampang kasar, mengikuti dari belakang. Mereka meninggalkan kaki bukit tanpa bicara sedikit pun.

********************

Meskipun tidak begitu bagus, perahu yang disewa Mayang sangat besar, sehingga mampu menampung mereka berenam dan kuda-kuda sekaligus. Mayang puas melihat hasil kerja anak buahnya. Sementara Rangga tidak mengerti dengan perbuatan Mayang. Nalurinya mengatakan kalau tiga laki-laki pengikut Mayang bukanlah orang baik-baik. Meskipun sikapnya hormat tapi kata-katanya tidak teratur dan sedikit kasar.

Perahu besar berawak sepuluh orang dan penumpang enam orang itu melaju membelah sungai besar yang langsung menuju Karang Setra. Tidak sedikit perahu besar dan kecil melewati sungai ini, yang memang menjadi jalur penting bagi sebagian besar rakyat Karang Setra. Kebanyakan orang lebih senang melalui jalan sungai, karena terasa lebih aman dan cepat dibandingkan lewat jalan darat. Rangga berdiri tegak memandang ke depan di haluan perahu itu. Kepalanya sedikit menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekati. Mayang tersenyum manis dan berdiri di samping kanan Pendekar Rajawali Sakti itu. Pandangannya lantas tertuju ke depan, mengikuti arah jalannya perahu ini.

"Ada yang kau pikirkan, Kakang?" tanya Mayang lembut suaranya.

"Banyak," sahut Rangga singkat tanpa menoleh sedikit pun.

"Kau tidak suka dengan penalanan ini?" tebak Mayang.

"Suka," sahut Rangga mendesah

“Tapi, kenapa murung?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang menduga-duga saja."

"Apa yang kau duga?" desak Mayang mau tahu.

"Maksudmu menemuiku."

"Apa menurut pendapatmu, Kakang?"

Rangga menarik napas panjang. Ditolehkan kepalanya ke arah gadis di sebelahnya. Saat itu Mayang juga menolehkan kepalanya ke arah pemuda tampan itu. Sesaat mereka saling pandang, kemudian sama-sama memalingkan mukanya kembali ke depan.

"Apa sebenarnya yang terjadi, Mayang?" tanya Rangga agak datar suaranya.

"Purbaya melarikan diri," sahut Mayang pelahan-lahan.

"Purbaya...?!" Rangga tersentak kaget.

Pendekar Rajawali Sakti itu langsung menatap Mayang dalam-dalam. Betapa terkejutnya dia mendengar penuturan itu. Purbaya adalah putra Tengkorak Putih, ketua Partai Tengkorak yang bersarang di Rimba Tengkorak. Masih lekat dalam ingatannya ketika menghancurkan Partai Tengkorak dan menewaskan pemimpinnya

Rangga bisa membayangkan kalau Purbaya akan menjadi ancaman besar bagi kelangsungan kejayaan Kerajaan Karang Setra. Tengkorak Putih, ayah Purbaya, menyimpan dendam pada Pendekar Rajawali Sakti. Jelas dendam itu pasti telah diturunkan pada anaknya. Partai Tengkorak memang didirikan untuk menghancurkan Karang Setra. Tapi, sebelum semua terlaksana, Rangga lebih dulu menghancurkannya dan menangkap hidup-hidup putra ketua Partai Tengkorak itu.

"Hampir seluruh prajurit sudah dikerahkan untuk menangkapnya kembali, tapi Purbaya memang terlalu tangguh. Dan dia berhasil melarikan diri meskipun sudah terkepung dengan rapat. Tidak sedikit prajurit dan punggawa yang tewas," Mayang menceritakan.

"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Rangga.

"Paman Bayan Sudira bermaksud memindahkannya ke dalam tahanan khusus. Itu bukan semata-mata kesalahannya, karena memang mendapat perintah dari Kakang Danupaksi," jelas Mayang.

"Gegabah!" dengus Rangga.

"Aku kira tidak Kakang. Purbaya memang sudah dua kali berusaha melarikan diri, dan selalu gagal. Kakang Danupaksi mengambil keputusan dengan memindahkannya ke dalam kamar tahanan khusus di bawah tanah. Tapi sebelum sampai, Purbaya mengambil kesempatan untuk melarikan diri," bantah Mayang.

"Anak itu memang cerdik dan berbahaya sekali. Sifat-sifat ayahnya menurun padanya. Seharusnya Danupaksi tidak berbuat ceroboh seperti itu. Lebih baik menambah jumlah prajurit penjaga sampai aku kembali. Huh! Menambah beban persoalan saja!" gerutu Rangga.

"Hal itu sudah dilakukan, Kakang. Yaaah..., mungkin memang Purbaya lebih cerdik dan tingkat kepandaiannya juga tinggi sekali," kembali Mayang membela tindakan Danupaksi, adik tiri Rangga.

"Purbaya tidak akan puas kalau hanya dapat ke luar dari tahanan saja. Dia harus segera bisa ditangkap kembali sebelum berhasil menyusun kekuatan. Karang Setra akan menghadapi malapetaka besar kalau sampai anak itu dapat menyusun kekuatan"

"Makanya aku cepat-cepat menyusulmu, Kakang."

"Hm..., bagaimana kau tahu kalau aku ada di Bukit Batu?" tanya Rangga.

"Mudah saja. Kau sangat dikenal banyak orang. Tidak sulit untuk mengikuti jejakmu. Apalagi Bukit Batu tidak Jauh dari Karang Setra. Hanya tujuh hari perjalanan berkuda," Jawab Mayang enteng.

“Tujuh hari..., sedangkan aku sudah meninggalkan istana selama lebih dari satu purnama. Hhh! Panglima Parakan memang pintar menyembunyikan diri."

"Kau berhasil menemuinya, Kakang?"

"Ya. Dia memilih jalan hidupnya sendiri. Sebenarnya aku tidak bermaksud membunuh, tapi dia nekad," ada sedikit rasa penyesalan di hati Pendekar Rajawab Sakti.

Mayang Telasih diam. Sejenak dia memandang wajah pemuda di sampingnya. Sementara Rangga tetap mengarahkan pandangannya ke depan, kemudian berbalik dan melangkah ke tepi perahu.

"Kau teruskan saja perjalanan ini, Mayang!" kata Rangga dengan sedikit menoleh. "Aku berangkat dulu, Pandan!"

"Heh...!"

Mayang dan Pandan terkejut ketika tiba-tiba Rangga melenting cepat. Beberapa kali Pendekar Rajawali Sakti itu berputaran di udara, kemudian dengan manis mendarat di tepi sungai. Mayang berlari ke tepi perahu dan memandang Rangga yang sudah berada di tepi sungai jarak dari perahu ke daratan cukup jauh, dan tidak mungkin Mayang bisa melompatinya. Pada saat itu, Pandan Wangi juga berlari ke tepi.

"Kakang...!" teriak Pandan memanggil.

"Kutunggu kau di istana, Pandan!" balas Rangga.

Pandan akan melompat tapi dia ragu-ragu. Jarak dari perahu ke daratan sangat jauh. Ilmu meringankan tubuhnya belum mencapai taraf sempuma, sehingga dapat dipastikan tidak akan mampu sampai ke seberang. Sementara perahu yang ditumpangrnya terus melaju cepat. Jarak mereka dengan Rangga semakin Jauh. Pandan Wangi semakin gelisah saja, sedangkan Mayang hanya memandangi Rangga tidak berkedip. Dia seperti melupakan Pandan Wangi yang masih berada di atas perahu ini. Mayang menyesal juga telah menceritakan tentang pelarian Purbaya dari penjara.

********************

EMPAT

Rangga memandang sekitarnya. Sementara perahu besar yang ditumpangi Mayang dan Pandan Wangi semakin jauh menyusuri sungai menuju ke Karang Setra. Pendekar Rajawali Sakti itu berbalik dan berlari cepat menuju hutan yang tidak jauh dari tepian sungai ini. Ilmu meringankan tubuhnya sempurna sekali. Dalam waktu sekejap saja, dia sudah lenyap masuk ke dalam hutan.

Tanpa mengurangi kecepatan larinya, Pendekar Rajawali Sakti itu terus menerobos semakin jauh me-masuki hutan. Larinya berhenti setelah tiba pada sebuah padang rumput yang luas. Sebentar Rangga memandang berkeliling. Tak ada seorang pun yang terlihat. Telinganya dipasang tajam-tajam. Terdengar suara gumamannya yang halus.

"Suit...!" Tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti itu bersiul nyaring melengking tinggi. Kepalanya menengadah ke atas. Agak lama juga matanya memandang ke langit lepas yang berawan tipis berarak. Kembali dia bersiul nyaring melengking tinggi. Siulan yang disertai pengerahan tenaga dalam sempuena itu menggaung lepas membelah angkasa. Nada siulan itu sangat aneh terdengar di telinga. Panjang dan tanpa irama sedikit pun. Terdengar kecil, namun nyaring melengking.

Kepala Pendekar Rajawali Sakti itu tetap menengadah ke atas. Matanya tertuju langsung ke arah Utara. Bibirnya menyunggingkan senyum ketika melihat sebuah titik kecil di angkasa. Semakin lama titik kecil itu semakin membesar, dan terus membesar. Hingga pada akhirnya terlihat jelas bentuknya. Seekor Burung Rajawali Raksasa me-layang cepat menuju ke arah Rangga.

"Khraaaghk...!"

Suara Burung Rajawali Raksasa itu keras dan serak. Burung itu menukik tajam dan mendarat lunak tepat di depan Rangga. Kepalanya terangguk-angguk, kemudian merunduk mendekati wajah Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu merentangkan tangannya dan memeluk kepala burung itu, seperti seorang ayah yang rindu terhadap anak-nya yang baru kembali.

"Kau baik-baik saja, Rajawali" tanya Rangga lembut.

"Khraghk!"

"Aku rindu sekali padamu."

Rajawali Raksasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya dalam pelukan Rangga. Kemudian dia menekuk kakinya, lalu berbaring dengan sayap merentang lebar ke bawah. Rangga menepuk-nepuk lembut leher burung raksasa itu.

"Aku perlu pertolonganmu, Rajawali," kata Rangga.

"Grrrhhk...." Rajawali Raksasa menggerung pelan.

"Ya, persoalan yang aku hadapi cukup berat," Rangga seperti bisa mengerti.

Rajawali Raksasa menggoyang-goyangkan kepalanya, kemudian mengangguk beberapa kali.

"Aku tahu, kau pasti sudah tahu persoalan yang kuhadapi..."

"Khraghk!"

“Iya..., iya. Tentu saja aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi aku ingin tahu tempatnya dengan cepat. Kau bisa membantu, bukan?"

Rajawali Raksasa menganggukkan kepalanya. Burung itu sepertinya mengerti setiap kata yang diucapkan Pendekar Rajawali Sakti. Demikian juga sebaliknya Rangga seolah-olah bisa memahami setiap gerak dan suara burung raksasa itu. Mulut mereka memang berbicara dalam bahasa masing-masing, tapi batin mereka berbicara dalam satu bahasa. Satu keistimewaan yang tidak dimiliki tokoh-tokoh rimba persilatan lainnya.

"Hup!"

Rangga melompat naik ke punggung Rajawali Raksasa. Dengan kokoh, burung itu berdiri pada kedua kakinya. Sayapnya mengepak, menimbulkan suara angin menderu. Kemudian bagaikan kilat, tubuhnya melesat cepat membumbung tinggi ke angkasa.

"Jangan terlalu tinggi, Rajawali. Aku sulit melihat ke bawah." kata Rangga agak keras, berusaha mengalahkan suara angin yang menderu bagai badai.

"Khraghk...!"

"Aku harus menghemat Rajawali. Masih siang, tidak perlu menggunakan ilmu ‘Tatar Netra'," kata Rangga lagi.

Kepala Rajawali Raksasa menggeleng beberapa kali.

"Kenapa?" tanya Rangga bisa mengerti maksud Rajawali Raksasa.

Rajawali Raksasa menjulurkan kepalanya ke bawah, tapi tetap menjaga ketinggian terbangnya Rangga melongokkan kepalanya memandang ke bawah. Dia tidak bisa melihat apa-apa di sana. Rajawali Raksasa terbang terlalu tinggi, sehingga yang nampak di bawah hanya kehijauan tersaput awan tipis.

"Uh! Ada apa sih? Aneh sekali. Rajawali tidak mau terbang lebih rendah lagi," gumam Rangga dalam hati.

Rangga segera mengerahkan aji 'Tatar Netra' yang digabungkan dengan aji 'Mata Dewa'. Dengan penggabungan dua ilmu itu, dia bisa melihat dari jarak yang sangat jauh dan terang. Rangga terkejut juga begitu melihat ke bawah. Di sana ternyata terdapat sebuah per-kampungan yang penduduknya tengah mengadakan pesta. Rangga tahu, kalau itu Desa Galumpit. Hari ini mereka tengah mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan dalam mengolah lahan pertanian.

Rangga tersenyum. Bisa dimaklumi kalau Rajawali Raksasa tidak ingin mengejutkan orang-orang itu. Rangga pun tetap menggunakan gabungan dua ilmu agar dapat melihat terang dan jelas dari jarak jauh. Kepalanya sempat tergeleng-geleng karena sepanjang yang dilalui selalu orang yang terlihat Pendekar Rajawali Sakti menyadari kalau kini tengah terbang menuju Karang Setra, sehingga semakin banyak orang yang terlihat di bawah sana.

"Kau yakin kalau Purbaya masih ada di Karang Setra, Rajawali?" tebak Rangga.

"Khraghk!"

Rangga sedikit kebingungan juga, setelah diturunkan di luar perbatasan Karang Setra yang sepi penduduk. Sementara Rajawali Raksasa sudah membumbung tinggi kembali ke tempatnya di Lembah Bangkai. Kebingungan Rangga memang beralasan. Seluruh rakyat Karang Setra sudah mengenalnya, baik sebagai raja maupun Pendekar Rajawali Sakti. Lebih- lebih dalam pakaian pendekar seperti ini. Sangat sulit untuk menyembunyikan diri dari mata orang banyak.

Sedangkan untuk saat ini, Rangga tidak ingin dikenali. Dia ingin segala gerak dan tindakannya bebas. Memang sulit jika berada di tanah kelahirannya. Jelas semua orang sudah mengenal baik dirinya. Rangga melayangkan pandangannya berkeliling. Dan tiba tiba...

"Tolong.., tolong!" terdengar jeritan wanita dari sebelah Barat.

Rangga memastikan pendengarannya sekali lagi. Benar, dari sebelah Barat! Tanpa berpikir dua kali, Pendekar Rajawali Sakti itu melesat cepat dengan mengerahkan ilmu ‘Sayap Rajawali Membelah Mega'. Kedua tangannya terentang ke samping, dan dengan cepat dikebut-kebutkannya. Kaki Rangga bagai tidak menapak tanah saja, melesat cepat ke arah sumber suara tadi.

Sementara, di depan sebuah pondok kecil, terlihat seorang wanita muda tengah ketakutan yang teramat sangat dikelilingi oleh empat orang bertubuh kekar dan seram. Wanita itu gemetar hebat. Keringat dingin telah sejak tadi membasahi badannya. Sebagian pakaiannya koyak, memperlihatkan bahunya yang putih mulus. Empat orang berwajah seram itu makin liar menatap tubuh yang sedikit terbuka itu.

"Ayolah, Manis. Tak usah takut," salah seorang yang berambut gondrong dan berpakaian hitam berusaha mendekat.

"Ja.... jangan! Tolong kasihanilah saya," ratap wanita itu.

"Kau tidak akan kami bunuh, asalkan…. He... he... he," kata salah seorang lagi yang berbadan paling besar, namun wajahnya penuh ditumbuhi rambut. Pakaiannya coklat tua. Matanya liar merayapi bahu wanita itu.

"Benar! Kami bukan orang Jahat! Tidak tega rasanya membunuh kelinci secantik ini, ha... ha... ha...," kata yang lainnya. Orang satu ini berbadan agak kekar namun memiliki kepandaian memanah. Pakaiannya berwarna biru tua. Usianya sekitar empat puluh lima tahun.

"Rasanya tidak sulit hanya untuk melayani empat orang saja, ha ha ha...," tambah salah seorang yang memakai baju hijau.

Serentak mereka tertawa terbahak-bahak, sambil kakinya pelahan-lahan mendekati, seperti hendak menangkap seekor ayam. Sedangkan wanita muda itu hanya mengkeret sambil terus meratap. Tiba-tiba saja salah seorang yang berpakaian biru tua memanfaatkan kesempatan ketika wanita itu agak meleng sedikit. Dia melompat cepat, dan tahu-tahu telah menubruk wanita itu. Keruan saja wanita itu ikut ambruk, tertubruk orang yang telah dipenuhi hawa nafsu itu.

"Ouw! Jangan! Lepaskan, oh! Tolong, jangan!"

"Tidak apa-apa, he he he...," orang itu terus menindih wanita malang itu.

Sementara itu, tiga orang lainnya tak kuat lagi menahan gejolak hawa nafsu, dan segera menghampiri dua tubuh yang bergumul itu. Tanpa banyak bicara, mereka segera memegangi kaki dan tangan wanita itu. Dengan leluasa, orang yang berbaju biru tua itu mulai mempereteli pakaian wanita yang tampaknya hanya mampu meronta-ronta. Dan ketika orang yang berbaju biru tua itu hendak melolosi pakaiannya sendiri, tiba-tiba...

"Ugh!" terdengar suara mengeluh dari orang yang berbaju biru tua itu.

Ternyata sebuah tendangan keras, telak mendarat di pinggangnya. Orang itu terhempas dan bergulingan beberapa kali. Tidak jauh dari situ, seorang pemuda memakai baju rompi putih telah berdiri memandangi satu persatu orang yang kaget bukan kepalang itu. Rambutnya yang sebahu tertiup angin sehingga mengelus-elus gagang pedangnya yang berbentuk kepala burung rajawali. Jelas, dia adalah Pendekar Rajawali Sakti.

Empat orang yang masih kaget itu, segera menyadari sosok yang berdiri tidak jauh dari situ.

"Oh, Gusti! Ampun..., ampunilah kami, Gusti!" serentak empat orang bertubuh kekar itu menjatuhkan diri di depan kaki Rangga. Diciuminya kaki Pendekar Rajawali Sakti itu beberapa kali.

"Cepat pergi dari sini, sebelum pikiranku berubah!" bentak Pendekar Rajawali Sakti itu. Sebenarnya, Rangga agak terkejut juga karena empat orang itu telah mengenalnya. Mungkin mereka memang penduduk Karang Setra juga, atau mungkin juga bukan. Tidak mungkin bagi Rangga untuk mengenali rakyatnya satu persatu. Tapi bagi Rangga tidak jadi masalah jika ada orang lain mengetahui kehadirannya di situ. Masalahnya, mereka tidak mungkin cerita pengalaman mereka yang memalukan ini.

Sementara itu, keempat orang itu telah berhamburan meninggalkan tempat itu. Mereka sebenarnya memang penduduk Kerajaan Karang Setra juga, yang tengah berburu. Mungkin karena dorongan iblis, maka ketika melihat seorang wanita di sebuah pondok kecil yang jauh dari keramaian, mereka sepakat untuk memperkosanya. Sebenarnya tempat ini dengan Karang Setra berada di sebelah Timurnya dan terletak agak Jauh. Jika dengan kuda, bisa sekitar tiga sampai lima hari perjalanan. Dan lagi tempat ini juga masih wilayah Karang Setra. Tapi yang namanya pemburu, maka tempat di manapun, asal di situ banyak binatang buruan bukanlah persoalan.

"Oh, terima kasih, Tuan.... Terima kasih!" ucap wanita muda itu. Rupanya dia kurang paham dengan sosok yang dihadapinya kini. Dan itulah yang diharapkan Rangga.

"Sudahlah! Siapa namamu?" tanya Rangga lembut, tapi matanya melengos dari arah wanita itu.

"Oh.... Namaku Anjani! Oh! Maaf, Tuan! Saya masuk dulu." ujar wanita itu setelah sadar bahwa keadaan dirinya hampir tanpa benang sehelai pun. Cepat-cepat diraihnya kain yang koyak di dekatnya untuk menutupi auratnya. Bergegas dia beranjak berlari ke dalam pondok itu.

Rangga hanya tersenyum sendiri, dan menunggu di depan pondok itu. Tak lama berselang, wanita muda yang bernama Anjani itu telah keluar dengan pakaiannya yang lain. Kelihatannya semakin cantik, tapi wama merah padam masih menyelimuti wajahnya. Rangga sendiri hampir terkesiap melihatnya.

"Mari, silakan masuk ke gubukku ini, Tuan," ajak Anjani.

“Terima kasih. Oh, ya siapa namamu tadi?" tanya Rangga.

"Anjani."

"Nama yang cantik, secantik orangnya."

"Ah! Bisa saja Tuan ini," Anjani semakin merah padam.

Gadis yang mengaku bernama Anjani itu tersipu malu. Wajahnya yang cantik, semakin terlihat mempesona setelah rona merah menyemburat di wajahnya. Wanita itu memang masih muda, usianya sekitar delapan belas tahun. Di balik pakaiannya tersembunyi kulit yang putih bersih. Rangga sendiri hampir tidak percaya bahwa ternyata ada seorang gadis cantik tinggal di dalam pondok kecil dan reot, menyendiri dari keramaian penduduk.

"Oh ya, mana orang tuamu?" tanya Rangga setelah duduk di dipan bambu dan beralaskan tikar daun pandan.

"Aku hidup sendiri," sahut Anjani.

"Oh....!”

"Kedua orang tuaku sudah lama meninggal. Aku hidup dari menjual kayu bakar ini ke kota, dan berladang sedikit di belakang pondok."

“Tentu sangat berat kehidupanmu," Rangga bisa merasakan.

"Hidup ini memang berat..," Anjani berhenti sebentar. “Tuan, apakah Tuan pembesar Kerajaan Karang Setra?" tanya Anjani ketika ingat bahwa para pemerkosanya memanggil pemuda tampan di depannya ini dengan sebutan Gusti. Sepertinya dia memang berusaha melupakan pendritaannya.

"Oh, bukan! Aku hanya pengembara saja. Kebetulan empat orang tadi pernah kutolong dan sergapan perampok. Untuk menghormatiku, mereka memanggilku Gusti," jelas Rangga berbohong.

"Oooh." Hanya itu yang keluar dari mulut Anjani.

"Sebaiknya, jangan memanggilku Tuan!" kata Rangga.

"Hm, boleh aku memanggilmu, Kakang...?"

"Dengan senang hati," sambut Rangga. "Oh, ya. Namaku Rangga. Kau boleh memanggilku Kakang Rangga."

Tentu saja Rangga senang, karena dari caranya memandang dan berkata, gadis itu tidak tahu siapa Rangga sebenarnya. Mungkin Anjani belum pernah mendengar nama Rangga, atau juga pernah tapi belum pernah melihatnya. Dan Rangga merasa tidak perlu khawatir lagi, dan ini berarti dengan leluasa ia dapat menyembunyikan diri agar pekerjaannya tidak terganggu.

"Sudah lama kau tinggal di sini, Anjani?" tanya Rangga setengah menyelidik.

"Cukup lama juga, kira-kira lima tahun," sahut Anjani.

"Sebelumnya, kau tinggal di mana?"

"Semula aku dan seluruh keluargaku selalu berpindah-pindah. Kami hidup dari membuka ladang dari satu tempat ke tempat lainnya. Atau berdagang bila kebetulan menjumpai desa atau kota. Apa saja yang didapatkan dalam perjalanan kami jual."

"Lalu, kenapa kau bisa sampai menetap di sini?"

"Ketika aku dan keluargaku sampai di perbatasan Karang Setra, bencana terjadi. Saat itu Karang Setra masih merupakan sebuah kadipaten yang tidak seberapa besar. Para prajurit kadipaten merampas semua harta benda kami, dan membunuh seluruh keluargaku. Saat itu aku berhasil menyelamatkan diri dan lari ke dalam hutan, hingga sampai ke sini. Aku tidak tahu lagi, harus berbuat apa. Aku memutuskan untuk hidup di sini, ya.... sampai sekarang ini," Anjani menyelesaikan kisah hidupnya.

Rangga agak bergemuruh juga dadanya mendengar kisah tragis itu. Lebih-lebih menyangkut nama Karang Setra. Memang, pada masa itu Karang Setra dikuasai adik tirinya yang selalu mementingkan diri sendiri. Sehingga tidak heran kalau para prajurit kadipaten bertindak seperti perampok. Merampas harta benda rakyat dan membunuh siapa saja yang berani menentangnya. Rangga selalu merasa terpukul bila mendengar kisah seperti itu.

"Kakang sendiri, bagaimana kisah hidupnya?" tanya Anjani.

"Ah! Kehidupanku tidak ada yang menarik. Aku tidak tahu siapa diriku. Sejak kecil aku hidup sendiri, berkelana mencari dan mempelajari berbagai macam ilmu olah kanuragan dan kesaktian," Rangga menghindar.

"Kakang seorang pendekar?"

"Tidak juga. Aku mempelajari ilmu hanya untuk menjaga diri saja," Rangga merendah.

Anjani tersenyum-senyum.

"Kenapa tersenyum?" tegur Rangga.

"Aku sedikit tahu tentang ciri-ciri seorang pendekar. Mereka memang begitu, selalu merendahkan diri. Kecuali orang jahat yang mengandalkan kekuatan untuk kepentingan pribadi yang selalu menyombongkan diri dan memamerkan kepandaiannya"

Rangga agak heran juga bercampur kagum. Ternyata gadis ini memiliki pengetahuan juga tentang dunia persilatan. Bisa menilai watak-watak kaum rimba persilatan, meskipun dari garis besarnya saja. Semakin mengenal dekat gadis itu, rasa kagum Rangga semakin menebal. Dan mereka juga semakin cepat akrab, meskipun baru kenal beberapa saat lalu. Mereka seperti sudah mengenal lama. Anjani juga kelihatan ceria, dan sesekali terdengar suara tawanya yang merdu kalau Rangga membuat kelucuan. Mereka terus berbicara dan bergurau sampai tidak terasa, hari sudah menjelang sore.

Memang sangat diharapkan, ketika Anjani menawarkannya bermalam di pondoknya. Rangga menempati sebuah kamar di belakang, sedangkan Anjani di kamar lainnya. Pondok ini hanya terdiri dari dua kamar tidur dan sebuah ruangan depan yang menjadi satu dengan ruangan tengah.

Tiba saat malam telah larut, Anjani pun telah benar-benar lelap dalam buaiannya. Kesempatan inilah yang ditunggu Rangga agar bisa keluar untuk mencari buronannya. Pelahan-Iahan dibuka jendela kamarnya. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun Rangga melompat ke luar, hati-hati sekali dia menutup kembali jendela itu.

"Hup!"

Hanya dengan satu kali lompatan saja, Pendekar Rajawali Sakti itu telah lenyap ditelan kegelapan malam. Tubuhnya berkelebatan cepat menuju ke Karang Setra. Rangga mengerahkan ilmu lari cepat, sehingga dalam waktu singkat saja, sudah berada di dalam kota Kerajaan Karang Setra. Pendekar Rajawali Sakti itu berkelebat menyelinap dari satu rumah ke rumah lainnya.

Pendekar Rajawali Sakti itu selalu berhenti sebentar dan bertengger di setiap atap rumah penginapan atau kedai yang masih buka sampai jauh malam. Dia kenal suara Purbaya, dan pasti dapat mengetahui kalau buruannya mungkin ada pada salah satu rumah penginapan atau di dalam kedai. Hanya saja sudah semua penginapan dan kedai di seluruh kota ini disinggahi tapi tidak satu pun di antara tempat itu yang terdengar suara Purbaya.

"Hm dia pasti bersembunyi di suatu tempat. Atau... ah! Rasanya tidak mungkin kalau kembali ke Rimba Tengkorak," Rangga bergumam sendiri di dalam hati.

Rangga terus berpikir dan menduga-duga ke mana Purbaya pergi bersembunyi. Malam itu Pendekar Rajawali Sakti tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Dan pencariannya itu dilanjutkan pada malam berikutnya. Rangga mulai ragu ketika sudah mencari ke seluruh pelosok kerajaan dalam beberapa malam ini, namun hasilnya tetap nihil.

Rangga ragu kalau Purbaya masih berada di Karang Setra. Empat malam sudah dia mencari, tapi tiada hasil. Bahkan Rangga sempat mampir di Kerajaan Karang Setra sehingga tahu kalau Mayang dan Pandan Wangi sudah sampai di istana. Dia juga tahu kalau Danupaksi selalu mengerahkan para prajuritnya dan menyebar telik sandi untuk mencari buronan itu. Sementara selama ini Rangga selalu tinggal di pondok Anjani.

Sepertinya Rangga memang telah terlalu lama tinggal di pondok Anjani. Mengingat selama ini kerjanya tidak membuahkan hasil, Rangga memutuskan untuk pergi dari situ. Hanya saja yang jadi beban pikiran Rangga, gadis itu sepertinya begitu dekat dengannya. Tidak tega rasanya meninggalkan Anjani sendirian di tempat itu.

Apalagi belum lama ini Anjani hampir diperkosa. Tapi, tugas adalah tugas. Rangga tidak mungkin mengabaikan buronan itu. Masalahnya ini menyangkut keselamatan Kerajaan Karang Setra. Pendekar Rajawali Sakti memutuskan akan meninggalkan tempat ini secara diam-diam. Namun demikian, dia berniat akan terus melindungi Anjani. Kelihatannya, gadis itu memang perlu dijaga keselamatannya.

Pagi-pagi sekali Anjani sudah bangun dari pem-baringannya. Dia memang tidak tidur semalaman. Gadis itu bergegas ke luar dari kamarnya dan langsung menuju kamar sebelah. Hatinya terkesiap begitu melihat pintu kamar itu terbuka lebar. Anjani terpaku di depan pintu. Kamar itu sudah kosong, tidak ada lagi Rangga di sana.

"Kakang...," desis Anjani lirih. "Mengapa kau pergi begitu saja?"

Perlahan-lahan gadis itu melangkah masuk. Sesaat dirayapi seluruh sudut kamar ini. Pandangannya langsung terpaku dan tertuju ke atas pembaringan. Anjani mendekati pembaringan itu, dan sesaat tertegun melihat di atas pembaringan tergeletak sekotak kecil uang emas yang tutupnya terbuka. Di bawahnya terdapat selembar daun lontar. Di samping kotak kecil itu menggeletak sebuah cincin bertuliskan beberapa huruf dengan lambang Kerajaan Karang Setra.

Anjani mengambil daun lontar itu. Matanya tidak berkedip membaca tulisan yang tertera rapi. Kini matanya mulai merembang berkaca-kaca setelah membaca beberapa baris kalimat yang tertera pada daun lontar itu. Terdengar tarikan napasnya yang panjang Anjani mendekap daun lontar itu ke dadanya.

"Oh, Kakang.... Aku tidak mengerti, kenapa kau lakukan semua ini padaku? Kenapa kau tidak berterus terang saja?" gumam Anjani lirih.

Kembali dibaca beberapa kalimat yang tertulis pada daun lontar, kemudian duduk di pembaringan dan mengambil barang-barang yang ditinggalkan Rangga. Sekotak uang emas, sungguh sangat berharga sekali. Dia bisa membangun sebuah rumah besar, dan tanah yang luas dengan beberapa pekerja. Anjani tidak bisa lagi berkata-kata. Dipandanginya cincin bermata berlian dengan bentuk lambang Kerajaan Karang Setra, kemudian dikenakannya di jari manis. Sejenak dia memandangi dan mencium lembut cincin di jari manisnya.

"Meskipun kau seorang raja, tapi budi pekertimu begitu mulia. Aku... oh..., aku jadi mengagumimu, Kakang!" desah Anjani mengungkapkan isi hatinya.

Lama juga Anjani berada di kamar itu. Semua kenangannya selama beberapa hari bersama Pendekar Rajawali Sakti itu, kembali terbayang di pelupuk matanya Anjani baru beranjak ke luar dari kamar itu setelah merasakan hangatnya sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela.

Ayunan kakinya pelahan, dan kepalanya tertunduk. Anjani ke luar dari pondoknya dengan membawa barang-barang dari Rangga. Dia baru berhenti setelah sampai di luar pondok. Pelahan kepalanya terangkat naik begitu mendengar derap langkah kaki kuda dari arah depan. Matanya sedikit menyipit melihat beberapa ekor kuda menuju ke arahnya.

Dari pakaian para penunggang kuda, dapat diketahui kalau mereka adalah para prajurit Karang Setra Tampak paling depan seorang laki-laki tua berjubah putih didampingi seorang gadis cantik mengenakan baju wama merah menyala. Mereka tidak lain dari Ki Lintuk dan Mayang Telasih. Di belakang mereka ada sekitar dua puluh prajurit bersenjata tombak dan pedang. Ada apa dengan kedatangan mereka ke pondok Anjani?

********************

LIMA

Ki Lintuk, Mayang, serta dua puluh prajurit Kerajaan Karang Setra itu menghentikan kudanya tepat di hadapan Anjani yang berdiri di depan pintu pondoknya. Dua pembesar Kerajaan Karang Setra itu melompat turun dari kudanya, lalu melangkah mendekati Anjani. Sementara dua orang prajurit juga turun dari punggung kudanya. Mereka memegangi tali kekang kuda tokoh dari Karang Setra itu.

"Ada apakah gerangan Tuan dan Nini datang ke tempat hamba yang hina ini'" tanya Anjani seraya memberi hormat.

"Kami sedang mengadakan pemeriksaan, dan kebetulan melihat pondok di sini," sahut Ki Lintuk ramah.

"Ini pondok hamba, Tuan. Jika Tuan dan Nini berkenan, silakan singgah."

Ki Lintuk memandang pada Mayang, sedangkan yang dipandang malah menatap pada jari tangan Anjani. Tatapan mata Ki Lintuk juga terarah ke sana. Dia agak terkejut juga melihat cincin yang melingkar di jari manis gadis itu. Laki-laki tua itu juga mengenali kotak penyimpanan uang yang berada di tangan Anjani.

"Nisanak! Boleh aku tahu, dari mana kau dapatkan cincin dan kotak itu?" tanya Ki Lintuk langsung.

"Oh...!" Anjani terperanjat. Buru-buru disembunyikan cincin dan kotak ditangannya. Dia tidak sadar kalau membawa cincin dan kotak pemberian Rangga.

"Kami mengenali benda-benda itu, dan sebaiknya kau berterus terang saja," kata Mayang tegas.

"Hamba..., hamba mendapatkannya dari seorang pengembara," sahut Anjani agak tergagap.

etahuilah, Nisanak. Benda-benda itu milik raja kami, Gusti Prabu Rangga. Dan mana kau dapatkan semua itu?" lembut suara Ki Lintuk.

"Dia memang bernama Rangga, tapi hanya seorang pengembara. Dia menginap di sini selama tujuh hari, dan memberikan benda-benda ini padaku," sahut Anjani tidak berterus terang.

"Kau kenal orangnya?" tanya Mayang curiga.

a! Dia mengenakan baju rompi putih dan membawa pedang berkepala burung. Sedangkan di lehernya ada kalung segitiga dengan beberapa lingkaran di dalamnya. Dia juga mengaku bernama Rangga." sahut Anjani berkata apa adanya. Tapi tetap tidak berterus terang kalau dia sudah tahu bahwa Rangga itu Raja Karang Setra.

"Dia benar, Mayang. Gusti Prabu selalu memakai pakaian rompi putih jika mengembara. Pedang yang disandangnya adalah Pedang Rajawali Sakti." kata Ki Lintuk membenarkan kata-kata Anjani.

api.... Tidak mungkin, Eyang. Aku baru saja sampai sehari yang lalu. Mana mungkin Kanda Rangga berada di sini selama tujuh hari?" bantah Mayang.

"Bagi Gusti Prabu tidak ada masalah. Nini Mayang sendiri bilang mendapat hambatan dalam perjalanan, sehingga terlambat tiba di Karang Setra."

"Aku hanya terlambat tiga hari."

"Dan itu berarti tepat tujuh hari."

Mayang tidak menyahut. Masih belum bisa dipercayai kalau Rangga bisa tiba di sini dalam waktu kurang dari satu hari. Sedangkan untuk mencapai tempat ini dari arah sungai tempat mereka berpisah, paling tidak membutuhkan waktu lima hari perjalanan. Apa lagi Pendekar Rajawali Sakti itu tidak membawa kudanya. Meskipun Rangga menggunakan Kuda Dewa Bayu paling tidak harus menempuh perjalanan selama tiga hari. Memang sulit dipercaya kalau Rangga bisa mencapai jarak sejauh itu dalam waktu singkat. Kurang dari satu hari!

Namun bagi Ki Lintuk, hal itu tidak menjadi masalah. Dia tahu kalau Rangga mempunyai seekor Burung Rajawali Raksasa yang bisa ditunggangi. Kecepatan terbang burung itu melebihi kilat. Jadi, tidak heran kalau dalam waktu singkat bisa menempuh perjalanan jauh, yang dirasakan mustahil bagi orang lain.

Ki Lintuk juga segera dapat memahami maksud Rangga memberikan cincin berlambang kejayaan kerajaan pada Anjani. Laki-laki tua itu mendekati dan menepuk pundak gadis itu. Sementara Mayang memandangnya dengan sinar mata tidak suka. Dia juga bisa mengerti maksud Rangga dengan memberikan cincin itu pada Anjani, meskipun masih belum percaya penuh kalau Rangga berada di tempat ini selama tujuh hari.

"Aku percaya dengan kata-katamu Nisanak. Dengan adanya cincin itu, berarti kau diterima langsung Gusti Prabu untuk tinggal di istana." kata Ki Lintuk seraya memberikan senyuman manis.

"Aku...?" Anjani tidak bisa berkata kata lagi.

"Berkemaslah, sekarang juga kau tinggal diistana," kata Ki Lintuk tidak memberikan kesempatan pada Anjani untuk berpikir lagi.

api..., Kakang Rangga tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya mengatakan agar aku di sini saja," Anjani berkeras.

"Kakang...?" Mayang tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.

"Ada apa, Mayang?" Ki Lintuk menatap Mayang.

"Oh, tidak...! Aku hanya sedikit terkejut saja," sahut Mayang agak tergagap.

Dia memang terkejut saat mendengar Anjani menyebut kakang terhadap Rangga. Mendadak saja rasa cemburu dan tidak sukanya pada gadis itu timbul. Kecemburuan memang sudah menyeruak saat melihat cincin berlian berlambangkan kejayaan Karang Setra melingkar di jari manis gadis itu.

"Ayolah, Nisanak. Aku tidak ingin Gusti Prabu murka kalau dia tahu kau masih berada di sini," bujuk Ki Lintuk.

erima kasih! Aku tidak bisa meninggalkan pondok ini. Kakang Rangga sudah mengatakan demikian sehari sebelum dia pergi dari sini," kata Anjani tetap menolak dengan sedikit berdusta.

Ki Lintuk menarik napas panjang Dia sadar kalau gadis itu tidak akan mungkin bisa dibujuk. Kata-katanya tegas, dan sepertinya memang Anjani tidak ingin menyalahi pesan yang diberikan Pendekar Rajawali Sakti. Padahal sama sekali Rangga tidak memberikan pesan apa-apa. Hanya Anjani saja yang berkata demikian untuk menolak diboyong ke istana.

Dari kilatan cahaya mata Mayang, Anjani sudah bisa mengetahui kalau gadis cantik berpakaian indah itu tidak menyukainya. Bahkan sikapnya jelas-jelas membencinya. Dalam hatinya Anjani menduga-duga tentang diri Mayang.

"Baiklah. Kalau begitu kau tidak boleh menolak yang satu ini. Selama Gusti Prabu belum kembali ke Istana, kau tidak sendirian lagi. Gusti Prabu mengkhawatirkan keselamatanmu. Oleh sebab itu, beliau memerintahkan kami ke sini. Juga pondok ini akan dirubah agar lebih nyaman untuk ditempati," kata Ki Lintuk menegaskan.

"Tapi..," Anjani tetap tidak bisa menerima.

"Kau memegang cincin berlian lambang kejayaan Karang Setra, Nisanak. Cincin itu milik pribadi Gusti Prabu. Itu berarti kau adalah keluarga besar Istana Karang Setra. Suka atau tidak suka, itu sudah keputusan Gusti Prabu sendiri," tegas kata-kata Ki Lintuk.

Anjani tidak bisa berkata apa apa lagi. Mungkin kalau Rangga tidak memberikan surat dalam daun lontar yang mengatakan dirinya sebenarnya, saat itu Anjani pasti sudah jatuh pingsan. Namun gadis itu masih juga ter-bengong dengan berbagai perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau bakal menjadi keluarga besar Istana Karang Setra. Anjani serasa mendapatkan satu anugerah yang sukar diukur besarnya.

Gadis itu masih berdiri termangu meskipun Ki Lintuk, Mayang dan setengah dari prajuritnya meninggalkan tempat itu. Sedangkan separuh sisanya dari prajurit Karang Setra itu tetap tinggal menjaga keselamatan Anjani. Anjani sukar mempercayainya, meskipun itu benar-benar terjadi pada dirinya.

********************

Anjani masih seperti bermimpi, ketika pada keesokan harinya, beberapa prajurit serta lima orang dayang dan ahli-ahli kayu Karang Setra berdatangan. Mereka dipimpin seorang punggawa yang gagah. Bahan-bahan untuk membuat rumah pun berdatangan. Anjani benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Segala keperluannya sudah terpenuhi. Lima orang gadis cantik selalu siap melayaninya. Hari itu juga Anjani merasakan perubahan yang sangat menyolok pada dirinya.

Gadis itu masih merasa dirinya bermimpi, meskipun sudah lebih dari tujuh hari menempati rumahnya yang baru. Lima orang dayang siap melayaninya, dan sepuluh orang prajurit siap menjaganya secara bergantian. Pondok kecil yang reot, kini sudah berganti dengan sebuah bangunan yang cukup besar dan kokoh. Tidak ada lagi baju-baju kumalnya. Semua pakaiannya berganti dari bahan sutra halus.

Sampai saat ini, Anjani belum bisa menghadapi kenyataan hidup yang dialaminya. Dia sering duduk menyendiri memikirkan kehidupannya yang langsung berubah dalam waktu sekejap saja. Seperti halnya hari ini, Anjani duduk melamun dengan pikiran mengambang tidak menentu di dalam taman belakang rumahnya. Halaman belakang yang dulu hanya sebuah hutan dan kebun kecil, kini sudah berubah jadi sebuah taman yang indah penuh bunga.

"Gusti Ayu...."

Anjani menoleh ketika mendengar suara dari arah samping kanannya. Seorang dayang berwajah cukup manis sudah berdiri di dekatnya. Sikapnya begitu hormat, dengan tubuhnya agak sedikit membungkuk.

"Ada apa?" tanya Anjani pelan.

"Gusti Ayu Mayang Telasih ingin bertemu," sahut dayang itu.

"Ada yang ingin aku katakan padamu, Anjani," ujar Mayang datar.

"Oh!" Anjani tersentak kaget.

Dayang itu segera menyembah hormat, dan segera berbalik meninggalkan taman itu. Anjani berdiri dan membalikkan tubuhnya. Mayang tahu-tahu sudah berada didekatnya. Gadis cantik yang selalu mengenakan baju wama merah menyala itu melangkah mendekati, kemudian duduk di kursi yang tadi diduduki Anjani. Sedangkan Anjani sendiri hanya berdiri saja.

"Enak juga berada di sini..," kata Mayang seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Ya," hanya itu yang bisa diucapkan Anjani.

"Kau senang?"

"Ya," lagi-lagi Anjani menjawab singkat.

api kau harus ingat. Kesenangan yang kau peroleh sekarang ini bukan berarti bisa berbuat seenaknya saja di Karang Setra. Kau harus sadar, siapa dirimu. Jangan berharap lebih, apalagi mengharapkan bisa mendampingi Kanda Prabu Rangga." agak sinis kata-kata Mayang.

Anjani hanya diam saja. Hatinya terasa sakit. Tapi memang disadari kalau dirinya bukanlah apa-apa bila dibandingkan Mayang. Hanya diam dan diam saja yang bisa dilakukan Anjani, seraya menelan kepahitan yang amat sangat

"Kanda Prabu memberikan semua kesenangan ini karena kasihan padamu. Beliau seorang raja besar yang arif dan bijaksana. Imbalan yang diberikannya padamu tidak sebanding dengan kebaikan yang kau berikan padanya. Kau harus bersyukur, Anjani. Dan tentu saja jangan sampai membuatmu jadi besar kepala, lantas ingin yang lebih dari ini semua," kembali Mayang berkata lembut. Namun nada suaranya sangat menyakitkan hati.

Dan Anjani hanya bisa diam tanpa bisa berkata sedikit pun. Bukan sekali ini Mayang mengunjungi, dan selalu berkata yang menusuk perasaannya. Segala-galanya memang tercukupi, bahkan berlebih. Tapi hati Anjani jadi tidak tenteram. Rasanya lebih tenang dan damai hidup sederhana daripada bergelimang harta tapi hati selalu menahan perasaan.

"Satu hal lagi yang perlu kau ingat Anjani. Kanda Prabu tidak akan mengambil pendamping seorang gadis kebanyakan sepertimu!" sambung Mayang tegas tanpa tedeng aling-aling lagi.

Anjani mendongakkan kepalanya. Pandangannya tajam menusuk ke bola mata Mayang. Kata-kata Mayang terakhir ini membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.

"Mayang..."

Belum lagi Anjani membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras. Kedua gadis itu terkejut dan menoleh. Hampir copot jantung Mayang Telasih begitu matanya melihat orang yang membentak keras tadi. Rasa terkejutnya hitang seketika, dan langsung berubah jadi ketidakpercayaan dengan pendengarannya.

"Mau apa kau ke sini?" bentak Mayang sengit. Gadis cantik berbaju biru dengan kipas terbuka di tengan kanan, melangkah ringan. Kipas dari baja putih itu terkembang bergerak-gerak di depan dada. Langkahnya berhenti tepat di samping Anjani yang main terpana tidak mengerti dengan kemunculan Pandan Wangi secara tiba-tiba itu!

********************

ENAM

"Sikapmu sungguh memalukan, Mayang. Sama sekali tidak mencerminkan seorang putri istana calon permaisuri," tajam dan sangat menusuk kata-kata Pandan Wangi.

"Lancang sekali mulutmu, Pandan!" sentak Mayang gusar.

"Kau boleh saja membenciku, Mayang. Tapi kau tidak bisa meluapkan rasa cemburumu pada setiap wanita..!"

"Tutup mulutmu!" bentak Mayang keras.

"Aku tidak bisa menutup mulut melihat kecemburuan yang membabi buta tanpa alasan. Kau belum mengenal jauh Kakang Rangga, sedangkan aku selalu bersama-samanya dalam setiap pengembaraan. Apa kau pikir Kakang Rangga suka akan sikapmu? Jangan mimpi, Mayang! Selama ini aku sudah berusaha mengalah padamu, tapi kali ini...," Pandan Wangi menggeleng-gelengkan kepala. Bibirnya menyunggingkan senyuman sinis.

"Huh! Dasar perempuan rendah!" dengus Mayang menggeram sengit.

"Aku tahu siapa kau sebenarnya, Mayang. Dalam garis keturunan, kau memang lebih pantas mendampingi Kakang Rangga. Tapi itu bukan berarti bisa berbuat semau mu sendiri! Bukan menghina setiap wanita yang dekat dengan Kakang Rangga...!"

"Diam...!" Jerit Mayang keras. Wajahnya merah padam menahan geram.

"Aku akan diam jika kau tinggalkan tempat ini. Dan, jangan kembali lagi ke sini!" balas Pandan Wangi tidak kalah tegasnya.

"He...! Kau pikir kau ini siapa? Berani benar kau mengusirku! Seharusnya kau yang angkat kaki dari sini!" bentak Mayang semakin gusar.

"Kau sendiri tidak punya hak di sini, Mayang. Rumah ini bukan milikmu, tapi milik Adik Anjani! Anjani! Kau bisa mengusirnya seperti anjing buduk!" Pandan menoleh pada Anjani yang sejak tadi diam saja.

"Aku..., aku...," Anjani tergagap, tidak bisa berkata-kata

"Kau sudah ketertaluan, Pandan! Kau akan merasakan akibatnya!" bentak Mayang Setelah berkata demikian, Mayang langsung berbalik dan melangkah pergi. Pandan Wangi tersenyum sinis melihat kepergian Mayang. Sedangkan Anjani hanya diam saja, tapi matanya berkaca-kaca. Tidak disangkanya kalau hal seperti ini akan terjadi pada dirinya.

Belum pernah didapatkan penghinaan yang seperti ini pedasnya. Anjani tidak bisa lagi menahan perasaan hatinya. Dia jatuh duduk di kursi taman. Tangisnya meledak sesenggukan. Wajahnya tertutup kedua langannya. Pandan Wangi memandang scsaat, lalu duduk di samping gadis itu. Dengan lembut, dipeluk pundak Anjani dan direngkuhnya ke dalam pelukan. Anjani semakin keras menangis dalam pelukan Pandan Wangi yang bergelar si Kipas Maut.

********************

Pandan Wangi terpaksa bermalam di rumah Anjani. Dia tahu kalau ancaman Mayang tidak dapat dianggap main-main. Bukan hanya ditujukan pada dirinya saja, tapi juga terhadap Anjani. Oleh sebab itu Pandan Wangi merasa bertanggung jawab akan keselamatan gadis itu.

Sejak matahari terbenam tadi, hingga sampa jauh malam begini. Pandan Wangi masih tetap duduk di beranda depan rumah itu. Meskipun ada sekitar sepuluh prajurit yang menjaga rumah ini, tapi Pandan Wangi tidak dapat meninggalkan Anjani seorang diri. Sepuluh prajurit tak ada artinya bagi Mayang jika ingin melaksanakan ancamannya. Rasa cemburu yang amat sangat telah membutakan mata hati Mayang. Dan ini disadari betul oleh Pandan Wangi.

Mendadak, Pandan Wangi tersentak ketika mendengar suara jeritan melengking tinggi. Baru saja Pandan Wangi bangkit berdiri, terdengar lagi pekikan saling susul di-tingkahi dentingan senjata beradu. Seketika itu juga Pandan Wangi melesat cepat saat matanya menangkap para prajurit bertarung melawan tiga orang berpakaian serba hitam.

"Mundur kalian semua...!" seru Pandan Wangi keras.

Para prajurit itu segera berlompatan mundur. Saat itu Pandan Wangi melenting ccpat, dan langsung mendarat di depan tiga orang berpakaian hitam itu. Gadis itu berkernyit keningnya saat melihat seluruh kepala tiga orang itu terselubung kain wama merah darah. Darahnya langsung mendidih melihat empat orang prajurit sudah tergeletak tak bernyawa lagi. Darah bersimbah di tubuh mereka.

"Keparat! Siapa kalian?" bentak Pandan Wangi menahan kemarahannya.

"Kau pasti yang bernama Pandan Wangi," kata salah seorang tanpa mempedulikan bentakan dari pertanyaan Pandan Wangi.

Pandan Wangi mengerutkan keningnya sesaat. Dia seperti mengenal suara itu. Atau paling tidak, pernah mendengarnya. Tapi belum sempat gadis itu berpikir lebih jauh, mendadak orang yang berada di tengah mengibaskan tangannya Pandan Wangi sempat terperangah sesaat ketika beberapa cahaya keperakan melesat dari tangan orang itu.

"Hup!" Pandan Wangi langsung melentingkan tubuhnya ke belakang menghindari senjata rahasia yang dilepaskan orang itu. Dan belum juga kakinya menjejak tanah, salah seorang dari ketiga orang berpakaian serba hitam itu melompat sambil mengibaskan goloknya cepat.

Pandan Wangi tidak sempat berkelit lagi, dengan cepat dicabut senjata kipasnya dari pinggang. Dengan senjata kipas mengembang, gadis itu mengebut, dan menangkis tebasan golok orang berbaju hitam itu.

Tring!

"Ikh!" orang itu memekik tertahan, dan buru-buru ditarik kembali goloknya saat berbenturan dengan kipas baja putih Pandan Wangi.

Secepat kilat dia melompat mundur beberapa langkah ke belakang. Pada saat itu, Pandan Wangi cepat melesat begitu ujung jari kakinya menyentuh tanah. Kipasnya ber-kelebatan ke depan di saat tubuhnya meluruk cepat ke arah penyerangnya. Orang berbaju serba hitam itu tidak mungkin lagi berkelit, karena masih merasakan tangannya nyeri ketika beradu senjata tadi.

Trang!

Pandan Wangi terkejut ketika tiba-tiba kipasnya ter-babat sebuah senjata. Segera ditarik kembali serangannya, dan berdiri tegak menatap seorang lagi yang melindungi temannya dari maut.

"Curang!" dengus Pandan Wangi menggeram.

Tiga orang berbaju serba hitam dengan seluruh kepala terselubung kain merah itu berlompatan mengepung dari tiga posisi. Pandan Wangi membuka kipasnya di depan dada. Matanya tajam meneliti setiap orang yang mengepungnya. Kembali keningnya agak berkerut, karena seperti pernah melihat gerakan-gerakan ketiga orang ini.

Dan belum lagi Pandan Wangi sempat berpikir lebih jauh lagi, ketiga orang itu sudah menyerang secara serentak. Pandan Wangi memutar tubuhnya cepat dengan kipas terkembang di tangan. Si Kipas Maut itu berlompatan menghindari setiap serangan yang datang. Beberapa kali sempat diberikan serangan balasan, namun setiap kali serangannya hampir mengenai sasaran pada salah satu lawan, salah seorang lagi selalu menyerang dengan cara membokong.

Pandan Wangi jadi geram dengan cara bertarung ketiga orang itu. Mereka benar-benar tidak mengindahkan per-tarungan secara ksatria. Gadis itu berpikir keras mencoba mencari kelemahan ketiga orang itu.

"Yaaat..!" tiba-tiba Pandan Wangi berteriak keras melengking.

Seketika itu juga tubuh si Kipas Maut melesat tinggi ke udara. Dua kali ia berputar, kemudian dengan cepat tubuhnya menukik ke bawah sambil mencabut Pedang Naga Geni. Pedang yang memancarkan cahaya merah itu, berkelebat cepat membuat putaran. Ketiga orang itu terperanjat, dan mereka segera berlompatan membuka kepungan yang rapat.

"Hup!" Pandan Wangi mendarat manis di tanah, kemudian dengan cepat melompat ke arah salah seorang berbaju hitam yang berada tepat di depannya. Ujung pedangnya tertuju lurus ke arah dada. Orang berbaju hitam itu segera mengebutkan goloknya beberapa kali, tapi begitu goloknya berbenturan dengan Pedang Naga Geni, kontan terpotong menjadi dua bagian.

Belum sempat orang berbaju hitam itu hilang kagetnya. tiba-tiba saja Pandan Wangi memutar tubuhnya sambil mengibaskan pedangnya. Seleret cahaya merah mendesir cepat bagal kilat. Orang berbaju hitam itu tidak sempat berkelit lagi. Dan pada saat yang amat kritis itu, seorang lagi melompat sambil membabatkan goloknya ke Pedang Naga Geni. Tapi yang terjadi sungguh mengejutkan.

Trak! Golok itu patah jadi dua bagian, dan laju Pedang Naga Geni tidak goyah sedikit pun. Hanya dalam sekejap mata saja, ujung pedang berwarna merah itu merobek dada orang berbaju hitam.

"Aaa...!" Jeritan menyayat terdengar, bersamaan dengan muncratnya darah segar dari dada yang sobek sangat lebar dan dalam. Belum sempat orang itu menyadari apa yang terjadi, bagaikan kilat kaki Pandan Wangi melayang tepat menghantam kepalanya. Kembali orang itu meraung keras.

Sebentar tubuhnya limbung, kemudian ambruk menggelepar di tanah. Darah mengucur deras dari dada dan kepalanya. Pandan Wangi segera memutar tubuhnya, ber-balik menghadapi dua orang lainnya yang terperangah melihat seorang temannya tewas. Mereka saling memandang, lalu serentak cepat melompat.

"Hyaaa...!"
"Hup!"

Pandan Wangi mengegoskan tubuhnya sedikit ke kanan sambil mengibaskan pedangnya. Salah seorang sengaja membenturkan goloknya untuk menghadang laju Pedang Naga Geni. Namun seorang lagi dengan cepat menyambar mayat temannya. Begitu berhasil menyambar mayat temannya dia melesat kabur sedangkan seorang lagi melemparkan patahan goloknya ke arah Pandan Wangi sambil melesat cepat.

"Hey...!" seru Pandan Wangi. Gadis yang berjuluk Kipas Maut itu tidak sempat lagi mengejar, karena harus menghindari lemparan patahan golok lebih dahulu. Dan begitu berhasil mengelakkan lemparan patahan golok itu, kedua lawannya sudah menghilang di dalam kegelapan malam. Mereka kabur dengan membawa mayat temannya.

"Sial...!" dengus Pandan Wangi kesal. Tatapan mata gadis itu lurus ke arah orang-orang berbaju hitam itu melarikan diri. Sesaat kemudian, keningnya berkerut begitu menyadari mereka lari menuju ke arah kota Kerajaan Karang Setra.

"Hm..., siapa mereka...?" gumam Pandan Wangi pelan.

********************

Pagi-pagi sekali, di saat matahari belum lagi menampakkan dirinya, Pandan Wangi sudah cepat memacu kudanya meninggalkan rumah Anjani, menuju kota Kerajaan Karang Setra. Pagi yang gelap terselimut kabut itu semakin pekat karena ditambah oleh debu yang mengepul akibat tersepak kaki kuda yang dipacu dengan kecepatan penuh.

"Hooop...!" Pandan Wangi menghentikan lari kudanya begitu tiba di gerbang perbatasan kota. Agak heran juga dia karena tidak tertihat seorang penjaga pun di pintu gerbang perbatasan itu. Tatapan mata Pandan Wangi langsung tertumpu pada sesosok tubuh yang tergeletak hampir tenggelam di balik semak belukar.

"Hup!" Si Kipas Maut itu bergegas melompat turun dan punggung kudanya. Sepasang kakinya menjejak tanah dengan ringan. Namun belum lagi mendekat dengan sosok tubuh yang hanya terlihat sebagian saja itu, mendadak telinganya mendengar suara bergemeresik dari arah kanan Pandan Wangi menoleh, dan terkejut begitu melihat seseorang muncul dari gerumbul semak lainnya.

Gadis itu semakin terkejut karena orang itu adalah prajurit penjaga pintu gerbang perbatasan kota. Keadaannya sangat mengenaskan sekali. Seluruh tubuhnya ber-lumuran darah dengan beberapa luka menganga lebar. Prajurit itu ambruk jatuh dekat kaki Pandan Wangi.

"Apa yang terjadi?" tanya Pandan Wangi cepat

"Mereka..., mereka mengamuk. Gusti Ayu," prajurit itu tersendat-sendat.

"Siapa mereka?"

"Purbaya dan... akh!"

Pandan Wangi tersentak mendengar nama Purbaya. Dia ingin bertanya lagi, tapi prajurit itu sudah lebih dulu menghembuskan napasnya yang terakhir. Pandan Wangi menarik napas panjang. Tanpa membuang-buang waktu lagi, si Kipas Maut itu cepat melompat ke punggung kudanya.

"Hiya...! Hiya...!"

Pandan Wangi menggebah kudanya cepat. Kuda putih itu segera melesat bagai sebatang anak panah lepas dari busurnya. Gadis itu terus memacu kudanya semakin cepat. Namun tiba- tiba saja kuda itu meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi. Kalau saja Pandan Wangi tidak segera melompat, pasti sudah ter-lempar dari punggung kudanya.

Dua kali berputar di udara, kemudian dengan indah kakinya mendarat di tanah. Mata gadis itu membeliak lebar begitu melihat kudanya menggelepar di tanah. Pada leher kuda itu tertembus dua batang anak panah berwama merah. Si Kipas Maut itu tahu betul kalau anak panah itu milik prajurit Karang Setra. Seluruh prajurit Karang Setra memang dibekali anak panah yang semuanya berwama merah. Ada lingkaran kuning emas pada tengah-tengahnya.

"Hhh! Sudah kuduga sejak semula, pasti ada orang dalam yang berkhianat," gumam Pandan Wangi pelan.

Belum lagi sempat gadis itu berpikir lebih jauh, tiba-tiba melesat sebatang anak panah ke arahnya. Dengan satu gerakan manis, Pandan Wangi berhasil mengelakkan serangan anak panah itu dengan memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan. Dan belum lagi sempat menarik kembali tubuhnya, kembali melesat sebatang anak panah ke arahnya.

Cepat sekali gadis itu mencabut kipasnya dan langsung mengebutkannya ke depan, hingga kipas itu terbuka lebar. Maka anak panah itu rontok terbelah jadi dua bagian terkena sabetan kipas baja puth itu.

"Pengecut! Keluar kau...!" bentak Pandan Wangi.

Namun jawaban yang diberikan adalah serbuan puluhan anak panah. Pandan Wangi segera berlompatan sambil mengibaskan kipas mautnya dengan cepat. Kadang-kadang kipas itu terbuka lebar, dan sekejap kemudian menutup rapat, kemudian terbuka lagi. Puluhan batang anak panah yang menyerbu ke arahnya lantas rontok terbabat kipas baja putih itu

"Ha... ha... ha...!" Bersamaan dengan berhentinya hujan panah, terdengar suara tawa keras. Pandan Wangi mengetahui kalau suara itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam. Suara tawa itu bagaikan datang dari segala penjuru.

"Hhh! Kau pikir aku bisa terkecoh pengecut!" bentak Pandan Wangi seraya menyalurkan tenaga dalam pada suaranya.

"Aku bukan pengecut, perempuan rendah!" Belum hilang bentakan itu, melesat sebuah bayangan merah. Pandan Wangi cepat-cepat membanting dirinya ke tanah dan bergulingan beberapa kali sebelum bangkit dengan segera. Belum lagi sempat memantapkan posisi tubuhnya, bayangan merah itu kembali melesat menerjangnya.

"Hup! Hiyaaa...!" teriak Pandan Wangi sambil mendorong kedua tangannya memapak terjangan bayangan merah itu.

"Akh!" "Hugh!" Terdengar suara pekikan tertahan bersamaan dengan suara keluhan pendek. Tubuh Pandan Wangi terjengkang ke belakang beberapa tombak, sedangkan bayangan merah itu bergulingan di tanah beberapa kali. Namun dia segera bangkit berdiri, tapi tubuhnya agak limbung. Sementara Pandan Wangi yang masih dapat bertahan berdiri, agak terbeliak matanya begitu mengenali bayangan merah itu.

********************

TUJUH

"Mayang...!" desis Pandan Wangi setengah tidak percaya dengan penglihatannya.

"Kau terkejut, Pandan?" sinis nada suara Mayang.

"Sulit dipercaya ternyata kau berkhianat pada Kakang Rangga." kata Pandan Wangi.

"Jangan ngomong sembarangan, Pandan!" geram Mayang.

Pandan melirik ke kiri ketika telinganya yang setajam elang, mendengar suara mendesir. Gadis itu tersentak kaget ketika tiba-tiba sebatang anak panah melesat ke arahnya. Dengan cepat, ditarik tubuhnya ke belakang, lalu tangannya terangkat naik.

Tap! Anak panah berwarna merah itu berhasil dengan mudah ditangkap, lalu disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi, Pandan melemparkan kembali panah itu ke arah datangnya tadi. Lemparannya sangat cepat melebihi kecepatan saat datang tadi. Sesosok tubuh berbaju hitam melesat ke luar begitu panah merah itu menembus semak belukar.

"Sudah kuduga, kau berdiri di belakang semua ini, Mayang!" desis Pandan Wangi dingin suaranya.

Orang berbaju hitam itulah yang semalam menyerang dan membunuh hampir sebagian prajurit yang ditugaskan mengawal rumah Anjani. Dan Pandan memang sudah menduga kalau mereka adalah tiga orang anak buah Mayang yang diperintah untuk membunuhnya. Pandan Wangi menggerak-gerakkan kipasnya di depan dada. Matanya tajam tidak berkedip memandang pada Mayang Telasih.

"Sayang sekali, orang-orangmu terlalu bodoh untuk menghadapiku." lanjut Pandan Wangi semakin dingin suara nya.

"Huh!" Mayang mendengus kesal.

"Aku menduga, larinya Purbaya juga karena bantuanmu," kata Pandan lagi.

"Tidak mungkin bajingan itu lolos jika tidak ada orang dalam yang berkhianat"

"Tutup mulutmu, keparat!" bentak Mayang gusar.

"Sayang sekali, rencanamu kurang rapi. Dan kau tidak mungkin sembunyi dari mataku, Mayang. Sangat mudah untuk mencium keterlibatanmu pada pelarian Purbaya." kata Pandan tidak menggubris bentakan Mayang.

"Keparat...! Kubunuh kau!" Mayang semakin geram.

Plok, plok, plok!

Mayang menepuk tangannya tiga kali. Seketika itu dari balik semak dan pepohonan, berlompatan beberapa orang mengenakan seragam prajurit Kerajaan Karang Setra. Jumlah mereka tidak kurang dari tiga puluh orang, dan sudah meloloskan senjatanya masing-masing. Pandan Wangi agak terperanjat juga, menyadari dirinya sudah terkepung.

"Impianmu sudah berakhir, Pandan. Kau lihat, siapa di antara kita yang lebih berkuasa di Karang Setra!" kata Mayang pongah.

"Pengecut...!" desis Pandan Wangi menggeram.

Pandan Wangi bukannya gentar menghadapi tiga puluh orang prajurit, tapi merasa tidak tega jika harus bertarung dengan para prajurit yang tidak memahami urusannya. Lebih-lebih mereka prajurit Karang Setra. Tidak mungkin membunuh mereka, meskipun yakin kemampuannya berada jauh di atas mereka semua.

Saat ini Pandan Wangi benar-benar gusar dengan tindakan Mayang. Memanfaatkan pengaruh dan kekuasan untuk kepentingan pribadi. Urusan mereka adalah urusan pribadi, yang tidak sepatutnya melibatkan para prajurit. Pandan Wangi benar-benar muak melihat tingkah Mayang Telasih. Tidak berani menghadapi sendri kemudian menggunakan pengaruh dan kekuasaannya.

"Bersiaplah untuk mati, Pandan!" seru Mayang keras. "Serang...!"

"Tunggu...!" bentak Pandan menggelegar.

Para prajurit yang akan melompat menyerang, segera mengurungkan niatnya. Mereka seperti ragu-ragu untuk menyerang. Masalahnya, yang dihadapi adalan Pandan Wangi! Wanita ini seorang tokoh rimba persilatan yang sangat tangguh, dan menjadi pendamping raja mereka setiap melaksanakan tugasnya. Baik tugas dalam pemerintahan maupun tugas pengembaraan sebagai pendekar.

"Tunggu apa lagi...?! Bunuh perempuan keparat itu!" bentak Mayang gusar melihat para prajuritnya ragu-ragu.

"Mayang! Kalau kau ingin kematianku, majulah! Jangan libatkan mereka yang tidak tahu apa-apa," seru Pandan Wangi keras.

"Kau memang harus mampus, perempuan keparat!" geram Mayang.

Setelah berkata demikian, Mayang langsung melompat menerjang sambil berteriak nyaring. Pandan Wangi meng-geser kakinya sedikit ke samping, dan tangannya cepat mengibas seraya membuka kipas baja putihnya.

Wut!
"Uts!"

Mayang Telasih memutar tubuhnya kebelakang, lalu segera mencabut pedangnya. Begitu kakinya menjejak tanah, pedangnya meluruk deras ke arah perut. Kembali Pandan menarik tubuhnya ke samping sambil mengebutkan kipasnya. Rupanya Mayang enggan membenturkan pedangnya pada kipas baja putih itu. Buru-buru ditarik kembali senjatanya dan dengan cepat diputarnya ke atas.

"Hap!"

Pandan Wangi tidak bergeser sedikit pun. Bahkan kini dia mengangkat tangan kirinya. Ujung pedang Mayang begitu deras terarah ke dada. Tapi, tanpa diduga sama sekali, Pandan Wangi menjepit ujung pedang itu dengan kedua jari tangan kirinya.

"Uh!" Mayang berusaha menarik kembali pedangnya, tapi jepitan jari tangan Pandan Wangi begitu kuat.

Mayang kembali membetot pedangnya seraya mengerahkan tenaga dalam. Namun pada saat yang sama, Pandan mendorong tangannya sambil melepaskan jepitannya. Tidak pelak lagi, tubuh Mayang tersentak ke belakang, dan meluncur beberapa langkah. Dan sebelum Mayang sempat menguasai keseimbangan tubuhnya, Pandan Wangi telah melompat seraya mengirimkan satu tendangan keras.

"Akh!" Mayang memekik tertahan.

Tendangan Pandan Wangi tidak bisa dielakkan lagi, dan tepat menghantam dadanya. Kembali Mayang terpental ke belakang. Sehingga punggungnya menghantam keras sebatang pohon. Maka pohon yang cukup besar itu pun tumbang Mayang bergegas melompat bangun. Digerak-gerakkan pedangnya dengan cepat di depan dada. Wajahnya merah padam, dan bibirnya mengeluarkan suara mendesis.

"Hiya...!" Mayang berteriak keras sambil melompat.

"Tahan...!" Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar.

Mayang menghentikan serangannya di tengah jalan begitu mendengar bentakan keras menggelegar. Saat itu, sebuah bayangan putih berkelebat, dan tahu-tahu seorang pemuda tampan berambut panjang terikat sudah berdiri di tengah-tengah antara dua gadis itu. Baju rompi putihnya berkibar- kibar tertiup angin pagi.

"Kakang...!"

"Kakang Rangga...!"

Pandan Wangi dan Mayang Telasih terkejut saat melihat Rangga tahu-tahu sudah berdiri di situ. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu memandangi kedua gadis yang tengah bentrok itu, kemudian pandangannya beredar berkeliling. Para prajurit serentak membungkuk dan berlutut. Sedangkan dua orang berpakaian hitam masih berdiri tegak tidak jauh dari Mayang.

"Ada apa ini? Kenapa kalian saling berhadapan seperti dua orang musuh?" tanya Rangga, meminta penjelasan.

Tidak ada yang menyahut. Tapi kedua gadis itu saling menatap tajam. Rangga kembali memandangi kedua gadis itu satu persatu.

"Mayang...!" Rangga menatap Mayang.

Mayang diam saja tidak membuka mulut, namun tatapannya tetap tajam pada Pandan Wangi.

"Pandan...!" Rangga mengalihkan pandangannya ke arah Pandan Wangi.

"Tanyakan saja padanya, Kakang!" sahut Pandan Wangi agak ketus nada suaranya. Kembali Rangga menatap Mayang.

Sedangkan yang ditatap tetap membisu. Rangga jadi kesal juga melihat kedua gadis itu keras kepala, dengan mata tajam saling tatap.

"Mayang, kembali ke istana. Sore nanti temui aku di bangsal keprajuritan!" perintah Rangga tegas.

Tanpa berkata sedikit pun, Mayang segera membalikkan tubuhnya, dan segera melesat cepat. Rangga juga memerintahkan prajurit-prajurit itu untuk segera kembali ke istana. Sedangkan dua orang berpakaian serba hitam, sudah lebih dulu menghilang begitu Mayang melesat pergi.

Rangga menghampiri Pandan Wangi setelah semua orang di tempat itu pergi. Pendekar Rajawali Sakti itu menurunkan tangan Pandan yang menggenggam kipas baja putih. Pandan memasukkan kembali senjata mautnya ke dalam sabuknya.

"Kau bisa jelaskan padaku, Pandan?" lembut nada suara Rangga.

"Tidak ada gunanya," sahut Pandan setengah mendesah, lalu melangkah menghampiri sebatang pohon tumbang dan duduk di sana.

"Dengar, Pandan. Aku tidak ingin di antara kau dan Mayang saling bermusuhan," tegas Rangga.

"Jangan paksa aku untuk menjelaskannya, Kakang.

Tanyakan saja pada Mayang. Dia yang cari gara-gara!" agak ketus nada suara Pandan Wangi.

"Nanti juga akan kutanyakan pada Mayang. Aku tidak ingin mendengar hanya dari satu phak saja."

"Percuma!" dengus Pandan.

idak ada yang percuma! Semua persoalan pasti bisa diselesaikan"

"Sudahlah, Kakang. Tidak ada gunanya kau mendesakku. Aku tidak punya persoalan apa-apa dengan Mayang. Dia sendiri yang membuat persoalan. Tanyakan saja padanya! Kau akan lebih jelas dan bisa memutuskannya sendiri. Kau seorang raja, segala keputusanmu patut dituruti," kata Pandan merasa malas untuk bicara.

"Baiklah, aku akan menanyakannya pada Mayang. Dan sementara kau tinggal dulu bersama Anjani. Kau sudah mengenalnya, bukan?" Rangga mengalah.

"Sudah." desah Pandan pelan.

Pandan bangkit berdiri dan menatap Rangga sesaat. "Asal kau tahu saja, Kakang. Keselamatan Anjani juga terancam!" kata Pandan lagi.

"He...!" Rangga terkejut. Belum sempat Rangga berkata lagi. Pandan Wangi sudah melesat cepat meninggalkan tempat itu. Rangga ingin mengejar, tapi segera mengurungkan niatnya. Hanya pandangan matanya saja menatap bayangan tubuh Pandan Wangi yang cepat menghilang di balik tikungan jalan.

"Heran... Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka?" gumam Rangga seorang diri. "Hhh...! Satu persoalan belum selesai, muncul lagi persoalan baru!"

Rangga bergegas melangkah pergi menuju istana. Langkah kakinya cepat, dan seketika melesat bagai kilat. Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejapan mata saja bayangan tubuhnya sudah tidak tertihat lagi. Pada saat itu, sepasang mata memperhatikan dari tempat yang tersembunyi.

Pemilik sepasang mata itu keluar dari persembunyiannya. Ternyata dia seorang pemuda yang cukup tampan. Tubuhnya tegap terbalut kulit kuning langsat. Bibirnya yang tipis menyunggingkan senyum, dan kepalanya terangguk-angguk. Kemudian kakinya terayun melangkah menuju ke arah Pandan Wangi pergi. Siapa pemuda itu...?

********************

Sementara itu, Rangga yang sudah kembali ke istana, langsung masuk ke dalam bangsal keprajuritan tanpa mengganti pakaiannya dulu. Meskipun demikian, seluruh prajurit dan pembesar istana sudah mengenalnya Pendekar Rajawali Sakti itu duduk di sebuah kursi kayu jati berukir yang sangat indah.

Belum lama Rangga duduk, Mayang muncul memasuki bangsal keprajuritan itu. Ruangan besar yang dihiasi berbagai macam senjata. Tidak ada seorang pun prajurit di sana. Dan Rangga memang memerintahkan seluruh prajurit untuk mengosongkan ruangan ini. Mayang melangkah mendekati, dan tetap berdiri setelah sampai di depan Rangga.

"Duduk," Rangga mempersilakan.

Tanpa mengucap satu patah kata pun, Mayang duduk di kursi. Letaknya tidak jauh di depan Rangga, namun agak menyamping. Sebentar Pendekar Rajawali Sakti itu mengamati wajah gadis di depannya. Sedangkan Mayang kelihatan tenang, meskipun sorot matanya memancarkan ketegangan.

"Kau tahu, kenapa aku memanggilmu ke sini?" tanya Rangga membuka percakapan.

"Ya." sahut Mayang singkat. "Tapi tidak ada gunanya, sebaiknya Kakang putuskan saja sekarang."

"Tidak ada yang dapat kuputuskan sebelum mengetahui persis persoalannya," kata Rangga dengan bijaksana.

"Kakang sudah tahu dari Pandan."

"Kau tahu siapa aku, Mayang?"

Mayang diam, pelahan kepalanya tertunduk. Pertanyaan Rangga barusan telah menyudutkannya. Dia tahu kalau Rangga tidak akan pernah memutuskan sebuah perkara hanya dari satu pihak. Dan Mayang sadar kalau tidak mungkin bungkam terus menerus. Bagaimanapun juga, diakui kalau dirinyalah yang membuat perkara. Tapi dia tidak menyangka kalau Rangga datang pada saat yang tidak diharapkan sama sekali, dan itu sudah terlanjur.

"Kau cemburu pada Pandan, Mayang?" tebak Rangga langsung.

Mayang tersentak seraya mengangkat kepalanya. Sungguh diluar dugaan kalau Rangga menebak begitu tepat. Seketika itu juga kegelisahan melanda dirinya. Mayang tidak tahu lagi harus berbuat dan berkata apa. Berpikir pun rasanya tidak mampu lagi saat ini. Seperti ada yang menggerakkan, kepala Mayang terangguk tanpa disadarinya.

"Benar-benar mengecewakan...," desis Rangga seraya mendesah panjang. Sinar matanya memancarkan ketidak percayaan.

Mayang hanya diam saja membisu. Entah apa yang ada di dalam benaknya saat ini. Kepalanya tertunduk dalam, sedangkan Rangga terus memandanginya dengan kepala menggeleng beberapa kali. Tidak pernah terbayangkan kalau Mayang sampai bersikap begitu hanya karena merasa tersaingi.

Rangga merasa terkecoh terhadap sikap Mayang selama ini. Perbuatan Mayang yang hanya karena terdorong rasa cemburu, membuat hati Pendekar Rajawali Sakti itu merasa kecewa, marah, dan bermacam lagi perasaan bergayut di hatinya.

"Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa padamu, Mayang. Tentukanlah sendiri sikap dan jalan hidupmu," kata Rangga pelan.

"Kakang...!" Mayang tersentak kaget. Kata-kata Rangga yang pelan bernada penuh penyesalan itu mengandung arti yang sangat dalam.

Mayang mengangkat kepalanya, dan menatap langsung ke bola mata pemuda itu. Ingin dicarinya kepastian dari sinar mata yang bersorot tajam, namun terlihat redup dan mengandung bermacam-macam arti yang sulit dipahami.

Rangga bangkit berdiri, dan melangkah tanpa meng-ucapkan kata-kata lagi. Tapi baru saja melangkah tiga tindak, seorang prajurit datang tergopoh-gopoh. Prajurit itu segera berlutut dan memberi hormat. Rangga memandanginya tidak berkedip. Keningnya sedikit berkerut.

"Ada apa?" tanya Rangga.

"Ampun, Gusti. Hamba hendak melaporkan," sahut prajurit itu.

"Cepat katakan!"

"Ada kerusuhan di luar perbatasan kota sebelah Timur, Gusti."

"Apa...?!"

Rangga kontan melompat cepat. Langsung bisa dipahami maksud laporan prajurit itu. Hatinya mendadak diliputi kekhawatiran. Sebelah Timur perbatasan kota adalah tempat tinggal Anjani, dan saat ini Pandan Wangi berada di sana!

Secepat Rangga melesat keluar dari ruangan bangsal keprajuritan itu, Mayang pun segera melangkah ke luar dengan cepat. Sedangkan prajurit yang membawa berita itu hanya bisa bengong, tapi juga bergegas meninggalkan ruangan itu.

Rangga langsung melompat ke punggung kudanya. Sementara itu Mayang juga sudah sampai di luar. Gadis itu segera melompat ke punggung kudanya pula. Begitu Rangga menggebah kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu, Mayang juga segera menggebah kudanya cepat.

"Kakang, tunggu!" teriak Mayang keras.

Rangga menoleh, dan langsung menghentikan lari kudanya yang baru saja melewati pintu gerbang benteng istana. Mayang menghentikan lari kudanya tepat di samping kuda Pendekar Rajawali Sakti itu. Sejenak Rangga menatap lurus pada gadis berbaju merah menyala itu.

"Aku ikut" kata Mayang.

"Untuk apa? Aku tidak ingin melihatmu tersenyum memandang sainganmu tercengkeram maut!" dingin kata-kata Rangga.

"Kakang...!" agak tercekat suara Mayang.

"Aku tidak ingin melihatmu lagi, jika kau keluar dari istana!"

"Tapi..." Mayang ingin membantah.

"Ini perintah!" selak Rangga cepat.

Mayang menelan ludahnya dalam-dalam. Pada saat gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi. Rangga segera meng-gebah cepat kuda hitam itu. Kuda Dewa Bayu melesat cepat bagaikan kilat, meninggalkan Mayang yang terpaku di atas punggung kudanya. Debu mengepul membumbung tinggi di udara, mengiringi kepergian Pendekar Rajawali Sakti.

Mayang masih berdiri terpaku memandang debu yang mengepul semakin menjauh. Matanya terasa panas, dan sedikit merembang berkaca-kaca. Gadis itu tetap memandang ke arah perginya Pendekar Rajawali Sakti dengan Kuda Dewa Bayu.

"Huh! Ini semua gara-gara Pandan! Aku harus membunuh perempuan keparat itu!" dengus Mayang geram.

Tanpa menghiraukan peringatan Rangga, Mayang segera menggebah kudanya cepat. Namun baru beberapa depa kuda itu berpacu, terlihat dari arah depan, dua orang laki-laki berwajah kasar dan bertubuh tinggi tegap memacu cepat kudanya. Mayang mengenali mereka, dan segera menghentikan kudanya. Dua orang laki-laki itu juga meng-hentikan kudanya tepat di depan Mayang Telasih.

"Celaka, Gusti Ayu...! Celaka...!" kata salah seorang yang berada di kiri.

"Apa maksudmu, Jalak?" tanya Mayang tidak sabar.

"Ada orang mengamuk di rumah Anjani. Sepuluh orang prajurit tewas, dan sepuluh orang lagi tidak ketahuan nasibnya. Pandan Wangi tengah bertarung melawan orang itu, Gusti Ayu," lapor Jalak.

"Benar, Gusti Ayu. Orang itu sangat tangguh," sambung Bawuk.

"Pasti Purbaya...!" desis Mayang. "Ikut aku...!"

Mayang segera menggebah kudanya dengan cepat. Dua orang laki-laki yang ternyata Jalak dan Bawuk, segera mengikuti dan menggebah kudanya di belakang Mayang Telasih. Mereka sebenarnya bertiga, tapi yang seorang telah tewas oleh Pandan ketika mencoba mengacau dan menewaskan Anjani. Dan semua itu dijalankan atas perintah Mayang.

Tiga ekor kuda berpacu cepat menuju ke arah Timur. Beberapa orang yang berada di sepanjang jalan, cepat menyingkir dan membungkukkan tubuh begitu mengetahui siapa yang berkuda dengan cepat itu. Bahkan dua orang pengawal gerbang perbatasan kota juga terbengong-bengong melihat tiga ekor kuda itu berpacu cepat.

"Ada apa, ya...?" salah seorang pengawal pintu gerbang perbatasan bergumam bertanya-tanya sendiri.

"Iya, ada apa ya...? Belum lama Gusti Prabu lewat seperti mengejar buronan, dan sekarang Gusti Ayu Mayang," sambung satunya lagi.

"Sejak tawanan Gusti Prabu melarikan diri, semua orang jadi kelihatan aneh. Selalu terburu-buru!"

"Ah, biarkan sajalah. Yang penting tugas kita menjaga gerbang ini!"

"Tapi juga tidak tenang jadinya."

"Jangan berpikir yang tidak tidak. Aku yakin Gusti Prabu mampu mengatasi semuanya."

Kedua pengawal perbatasan gerbang kota itu tidak bicara lagi. Mereka percaya akan kemampuan rajanya yang digdaya. Saat ini tidak ada orang yang mampu menandingi kepandaiannya. Namun demikian, hati mereka was-was juga. Masalahnya sudah banyak prajurit yang tewas! Belum lama ini, dua penjaga pintu gerbang tewas tanpa diketahui sebab-sebabnya yang pasti.

********************

DELAPAN

Sementara itu di bagian Timur luar kota Kerajaan Karang Setra, Pandan Wangi tengah bertarung melawan Purbaya, anak Tengkorak Putih yang tewas di tangan Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi. Purbaya sempat tertawan dan mendekam dalam tahanan Kerajaan Karang Setra. Pertarungan kedua orang itu sudah mencapai tingkat yang tinggi Pandan Wangi sendiri sudah mengeluarkan Pedang Naga Geni dan menggunakan jurus-jurus Naga Sewu

Dan gadis itu sempat terkejut melihat Purbaya telah menggenggam senjata pusakanya kembali yang berbentuk tongkat pendek dengan ujungnya berbentuk kepala tengkorak manusia. Sedangkan ujung satunya lagi berbentuk bulan sabit. Tapi pada saat itu, Pandan Wangi tidak sempat lagi berpikir, dari mana Purbaya memperoleh kembali senjata ampuhnya itu. Sebab serangan-serangan Purbaya tidak bisa diangap remeh. Lebih-lebih senjata mautnya kini telah berada di tangan.

Sementara di sekitar pertempuran itu, beberapa prajurit berdiri mengepung. Sikap mereka siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Tampak di depan pintu rumah besar, Anjani berdiri lemas memandangi pertarungan itu. Air bening tidak henti-hentinya mengucur dari matanya.

"Lepas!" tiba-tiba terdengar suara bentakan keras menggelegar.

"Akh...!" terdengar pekikan tertahan.

Terlihat Pandan Wangi terhuyung. Kipas di tangan kiri gadis itu terpental jauh ke udara. Darah kental mengalir dari sudut bibirnya. Dan pada saat tubuhnya masih limbung dengan tangan memegangi dada. Purbaya melenting cepat sambil mengibaskan senjatanya Pandan Wangi terkesiap sesaat, buru-buru diputar pedangnya dengan kekuatan terakhirnya.

Trang!

"Akh!" kembali Pandan Wangi memekik tertahan. Seluruh tangan kanannya tergetar hebat. Dan belum lagi sempat menyadari apa yang terjadi, satu tendangan keras bertenaga dalam cukup tinggi menghantam dadanya. Lagi-lagi gadis itu memekik keras, dan tubuhnya terjajar ke belakang beberapa batang tombak.

Belum sempat Pandan Wangi menguasai dirinya, Purbaya sudah melompat cepat bagai kilat. Bahkan kini, ujung senjata berbentuk bulan sabit terarah ke depan. Pandan Wangi tidak mungkin lagi menangkis. Tangan kanannya yang memegang Pedang Naga Geni terasa lumpuh ketika mengadu tenaga dalam tadi. Dan begitu ujung senjata Purbaya sudah demikian dekat. Pandan Wangi cepat menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Namun demikian, dia tidak bisa menghindari senjata yang merobek bahunya.

"Akh!" lagi-Iagi Pandan Wangi memekik. Darah kontan menyembur keluar dari bahu kiri yang sobek cukup lebar. Selagi tubuh gadis itu masih berada di tanah, satu tendangan keras membuat tubuhnya menggelimpang beberapa kali. Pandan Wangi segera melompat bangkit. Dan pada saat itu, Purbaya kembali melompat sambil mengirimkan satu pukulan menggeledek dibarengi satu tendangan keras.

Pandan Wangi benar-benar tidak berdaya lagi. Tubuhnya terpental deras dan menghantam dinding rumah hingga jebol. Secepat kilat Purbaya memburu masuk ke dalam rumah itu seraya mengangkat senjatanya tinggi-tinggi. Pandan Wangi hanya bisa memejamkan mata dengan tubuh menggeletak tak berdaya lagi.

"Mampus kau! Hiyaaa...!" teriak Purbaya keras.

"Aaa...!" Pandan Wangi menjerit keras.

Ujung senjata yang berbentuk bulan sabit itu amblas di dada Pandan Wangi. Darah kembali muncrat begitu Purbaya mencabut senjatanya. Pemuda yang hatinya dibalut dendam itu, mendupak tubuh Pandan Wangi sehingga terpental ke luar rumah itu.

Semua prajurit yang berada di sekitar rumah itu ternganga melihat Pandan Wangi terlempar ke luar dengan tubuh berlumuran darah. Gadis itu terguling beberapa kali, dan diam tidak bergerak gerak lagi. Purbaya melesat keluar. Pandangan matanya tajam mengedar ke sekelilingnya. Dan langsung tertumpu pada Anjani.

"Kau harus mampus, perempuan keparat!" geram Purbaya.

Setelah berkata demikian, Purbaya langsung melompat cepat ke arah Anjani. Gadis itu hanya bisa terperangah tak mampu berbuat apa-apa. Tubuhnya lemas dan seluruh tulang tulangnya seperti copot berantakan. Dan sebelum tongkat pendek dengan ujung berbentuk bulan sabit dan kepala tengkorak itu menyentuh tubuh Anjani, gadis itu sudah ambruk ke tanah.

"Huh! Belum apa-apa sudah pingsan! Bangsat...!" geram Purbiya gusar.

Kakinya terayun dan mendupak keras tubuh Anjani. Anjani yang memang langsung jatuh pingsan, tidak bisa lagi mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Tubuhnya terguling beberapa kali, dan membentur sebuah pohon dengan keras. Purbaya yang seluruh hatinya terbalut dendam, segera melompat sambil mengangkat senjatanya tinggi-tinggi.

"Hiyaaa...!"

Tapi begitu ujung senjatanya hampir menyentuh tubuh Anjani, mendadak sebuah bayangan putih berkelebat cepat memapaknya.

"Akh!" Purbaya memekik tertahan.

Seketika itu juga tubuhnya terpental ke belakang beberapa tombak jauhnya. Tapi dengan cepat pemuda itu melenting dan berputar dua kali di udara dan manis.

"Pendekar Rajawab Sakti!" kata Purbaya pongah.

Rangga diam saja. Disadari kalau serangan-serangannya tadi terlalu dilandasi hawa amarah. Apalagi melihat tubuh Pandan Wangi yang telah kaku bersimbah darah. Akibatnya serangan yang dilakukannya memang gampang ditebak lawan. Bahkan tadi, belum apa-apa sudah mengeluarkan Pedang Pusaka Rajawali Sakti. Suatu kebiasaan yang jarang dilakukan, jika tidak terpaksa sekali. Jelas, ini tandanya emosi Rangga terlalu cepat memuncak. Segera dimasukkan pedangnya itu ke dalam warangkanya. Seketika sinar biru pun lenyap.

Kini Rangga mulai dengan rangkaian Jurus 'Rajawali Sakti. Sedangkan Purbaya tetap dengan senjatanya. Pertarungan terjadi kembali. Serangan-serangan silih berganti dilakukan. Sampai Rangga mengeluarkan gabungan dari empat jurus Rajawali Sakti, musuhnya masih tetap alot. Tapi yang lebih penting, Rangga telah menggunakan pikirannya. Dan ini terbukti. Memasuki jurus yang ke lima puluh, Purbaya mulai kelihatan terdesak. Kesempatan ini dimanfaatkan Rangga untuk menggunakan pedangnya kembali, agar pertarungan cepat berakhir.

Seketika sinar biru kembali memancar dari Pedang Rajawali Sakti. Rangga menerjang sambil mengelebatkan pedangnya ke leher Purbaya kembali. Buru-buru Purbaya melompat mundur sambil menangkis serangan itu.

Trak!

Purbaya terperanjat bukan main. Senjatanya kontan buntung terbabat pedang yang memancarkan cahaya biru berkilau itu. Dan belum lagi hilang rasa terkejutnya, mendadak satu tendangan keras bertenaga dalam sempurna, menggedor dadanya. Seketika tubuh Purbaya terpental kebelakang.

Keras sekali tendangan Rangga, sehingga tubuh Purbaya menghantam sebatang pohon hingga hancur berantakan. Pemuda itu mengerang sambil berusaha bangkit. Tapi belum juga sempat berdiri, secercah cahaya biru berkelebat bagai kilat. Tak ada kesempatan lagi bagi Purbaya untuk menghindar. Dan...

"Aaa...!" Purbaya menjerit melengking tinggi. Pedang Pusaka Rajawali Sakti memenggal buntung leher Purbaya hanya sekali tebas saja. Kepala pemuda itu menggelinding ke tanah, dan tubuhnya ambruk menggelepar-gelepar. Darah segar mengucur deras dari lehernya yang buntung, membasahi tanah.

Rangga memandangi tubuh yang tanpa kepala lagi, kemudian berbalik. Kakinya terayun menghampiri Pandan Wangi yang masih menggeletak tidak bergerak-gerak lagi. Rangga berlutut dan mengangkat tubuh gadis itu. Pada saat dia berdiri, Mayang Telasih datang bersama dua orang anak buahnya. Mayang segera melompat turun dari punggung kudanya. Rangga menatap tajam ke arah Mayang. Tubuh Pandan Wangi masih berada dalam pondongannya.

"Kau puas sekarang, Mayang!" dingin suara Rangga.

"Kakang..," suara Mayang tercekat ditenggorokan.

"Seharusnya kau saja yang tewas, bukan Pandan!"

"Kakang, aku...." suara Mayang semakin tersendat.

"Apa lagi yang akan kau katakan? Kau menginginkan kematian Pandan, bukan? Nah! Lihatlah ini, akibat kecerobohanmu! Sungguh keji hatimu, Mayang! Aku muak melihatmu lagi!" keras suara Rangga.

Mayang tidak mampu membendung air matanya.

"Tidak ada gunanya air mata buayamu, perempuan...! Rangga tidak meneruskan kata-katanya.

"Makilah aku, Kakang. Makilah sepuasmu...!" rintih Mayang di sela isak tangisnya.

"Pergilah, Mayang!"

"Kakang...!"

"Pergi kataku!" bentak Rangga kasar.

Semakin deras air mata Mayang mengucur. Memang belum pernah Rangga berkata sekasar itu sebelumnya. Mayang agak bergetar juga mendengar bentakan kasar itu. Langsung dia jatuh berlutut memeluk kaki Pendekar Rajawali Sakti. Rangga hanya diam saja dengan pandangan lurus ke depan.

"Maafkan aku, Kakang. Aku menyesal! Aku tidak bermaksud membunuh Pandan Wangi. Aku hanya mencintaimu, Kakang. Maafkan aku..." rintih Mayang.

"Dengar, Mayang. Seharusnya kau dihukum gantung! Kau telah membebaskan tawananku, membantu pelariannya. Kemudian kau mencoba memisahkan aku dari Pandan Wangi. Kau benar-benar iblis, Mayang! Pergilah sebelum keputusanku berubah!" dingin nada suara Rangga.

"Aku... aku tidak bermaksud begitu, Kakang. Aku mencintaimu. Aku tidak mau ada gadis lain di sampingmu. Bukan aku yang membebaskan Purbaya, Kakang. Sungguh...! Aku tidak tahu...," rintih Mayang memelas.

Rangga menghentakkan kakinya sehingga pelukan Mayang terlepas Pendekar Rajawali Sakti itu melangkah mundur dua tindak. Pandangannya tajam menusuk langsung ke bola mata Mayang yang bersimbah air mata.

Pada saat itu terdengar derap langkah kaki kuda mendekati. Kemudian muncul Danupaksi, Cempaka, Ki Lintuk, dan beberapa punggawa Karang Setra. Mereka juga masih dikawal sekitar lima puluh orang prajurit. Danupaksi, Cempaka, dan Ki Lintuk terkejut begitu melihat Pandan Wangi berada dalam pondongan Rangga dengan tubuh berlumuran darah. Sedangkan di depan Pendekar Rajawali Sakti itu Mayang berlutut dengan air mata berlinangan.

"Kanda...," Danupaksi segera menghampiri setelah melompat turun dari kudanya.

Cempaka juga bergegas menghampiri. "Kanda, apa yang terjadi?" tanya Cempaka.

anya saja pada pengkhianat busuk itu!" dengus Rangga sambil menatap tajam pada Mayang.

Cempaka dan Danupaksi menatap Mayang. Sedangkan yang ditatap hanya menunduk saja, dan tetap berlutut sambil menangis sesenggukan. Cempaka menghampiri gadis itu, dan membangunkannya.

"Ada apa, Kak Mayang?" tanya Cempaka lembut.

"Aku tidak berkhianat! Aku tidak membantu Purbaya melarikan diri. Sungguh.! Aku memang ingin mencelakakan Pandan, tapi tidak bermaksud membunuhnya...." suara Mayang tersendat-sendat.

"Kanda, kenapa menuduh Mayang berkhianat?" Danupaksi meminta penjelasan.

"Kau lihat itu! Purbaya memegang senjatanya, dan telah membunuh Pandan! Semua ini gara-gara perempuan keparat itu!" geram Rangga tidak bisa menahan emosinya lagi.

"Kak Mayang! Benar kau lakukan semua itu?"

"Tidak...!" rintih Mayang setengah menjerit.

"Kau urus dia! Aku muak melihatnya!"

Setelah berkata demikian, Rangga langsung melesat cepat bagaikan kilat. Dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

"Kakang..!" jerit Mayang histeris.

Danupaksi dan Cempaka saling berpandangan. Sementara Ki Lintuk turun dari punggung kudanya, kemudian melangkah menghampiri Mayang. Gadis itu sudah kembali jatuh berlutut dan menangis sambil merintih mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Ki Lintuk membangunkan gadis itu dan mengajaknya pergi.

"Aku tidak bersalah, aku tidak berkhianat! Sungguh, Eyang! Aku tidak membantu Purbaya melarikan diri...," rintih Mayang di sela isak tangisnya.

"Aku percaya padamu, Mayang. Tenanglah! Aku dan semuanya akan menyelesaikannya dengan baik dan adil," kata Ki Lintuk lembut.

Ki Lintuk membantu Mayang naik kepunggung kudanya. Kemudian dia sendiri segera melompat naik ke kudanya, lalu memandang pada Danupaksi yang menganggukkan kepalanya sedikit. Ki Lintuk menjalankan kudanya sambil menuntun kuda yang membawa Mayang. Lima puluh prajurit yang datang bersamanya, segera mengikuti. Sementara Cempaka memeriksa Anjani yang masih tergolek pingsan.

"Bagaimana?" tanya Danupaksi pada Cempaka.

"Hanya pingsan," sahut Cempaka.

Danupaksi mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Sebentar Cempaka memberi beberapa perintah kepada para prajurit yang masih tersisa, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Para prajurit yang tersisa sekitar enam orang itu segera mengurus mayat teman-temannya, dan mayat Purbaya.

Sementara itu, jauh di sebuah bukit yang masih termasuk dalam wilayah Kerajaan Karang Setra, Rangga berdiri mematung memandangi gundukan tanah merah yang masih baru. Gundukan tanah itu adalah makam Pandan Wangi yang tewas di tangan Purbaya, putra tunggal Tengkorak Putih (Jika ingin mengetahui kisah Purbaya dan Tengkorak Putih, silakan baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode Perawan Rimba Tengkorak).

Rangga tidak tahu, sudah berapa lama berada di tempat itu. Dia tidak mengenal lagi pergantian hari. Hatinya teramat sedih akan kematian Pandan Wangi, gadis yang sangat dicintainya dan selalu bersama-samanya dalam menumpas keangkara murkaan.

"Kanda...."

Rangga tersentak dari lamunannya, dan menoleh. Tampak Cempaka tahu-tahu sudah berada di samping kanannya. Sama sekali Rangga tidak mengetahui kehadiran adik tirinya ini. Rangga kembali memalingkan mukanya, memandang pusara di depannya.

"Sudah tiga hari kau berada di sini." kata Cempaka pelan.

"Hhh...!" Rangga menarik napas panjang. Sungguh tidak disadarinya kalau sudah tiga hari berdiri di samping pusara Pandan Wangi. Kematian Pandan Wangi membuatnya seperti kehilangan semangat hidup. Pelahan Rangga memalingkan mukanya kembali pada Cempaka.

"Aku juga sedih, Kakang. Dan sangat kehilangan sekali. Kak Pandan begitu baik dan... Yaaah... aku tidak bisa melupakannya, meskipun dia telah tiada," kata Cempaka. Pelan suaranya.

"Terima kasih," hanya itu yang dapat diucapkan Rangga.

Rangga berbalik dan melangkah gontai. Cempaka mengikutinya dan mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Mereka berjalan tanpa berkata-kata lagi. Sebenarnya Cempaka ingin berbicara banyak. Tapi, setelah melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah kakak tirinya itu, rasanya tidak sampai hati untuk berkata.

Mereka terus melangkah pelan-pelan semakin jauh meninggalkan pusara Pandan Wangi. Sampai jauh mereka berjalan belum ada yang membuka suara sedikitpun. Sementara Cempaka berpikir keras untuk memulai membuka suara.

"Kakang...." terdengar ragu-ragu suara Cempaka.

Rangga menarik napas panjang dan menghentikan langkahnya. Dia berbalik menghadap langsung pada Cempaka. Tatapan matanya kosong, tanpa cahaya semangat memancar di matanya. Dua kali Cempaka menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang mendadak saja jadi kering.

"Ada yang ingin kukatakan padamu, Kakang. Tapi kalau kau tidak ingin bicara saat ini, aku bisa menunggu," kata Cempaka pelan dan terdengar ragu-ragu.

"Katakan saja," sahut Rangga seraya menghampiri sebatang pohon tumbang, kemudian duduk di situ.

Cempaka juga ikut duduk di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Kelihatannya dia tengah berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat.

"Seluruh pembesar istana mengharapkan Kakang cepat kembali. Mereka menunggu keputusanmu tentang..." Cempaka tidak melanjutkan kata-katanya.

eruskan, Cempaka," pinta Rangga tenang.

entang Mayang, Kakang," pelan suara Cempaka.

"Hhh...!" Rangga menarik napas panjang.

"Maaf, Kakang Aku tidak bermaksud untuk..."

"Tidak apa," selak Rangga cepat sebelum Cempaka menyelesaikan kalimatnya.

Cempaka diam. Matanya menatap dalam pada wajah kakak tirinya ini. Hatinya diliputi harapan dan kecemasan. Agak lama juga Rangga terdiam dengan pandangan kosong ke depan, kemudian berpaling menghadap Cempaka seraya menghembuskan napas panjang.

"Apa saja yang telah kau dapatkan selama ini?" tanya Rangga.

"Maksud Kakang?" Cempaka balik bertanya.

"Semuanya! Selama aku berada di sini."

"Kalau tentang Kak Mayang, tidak ada bukti kesalahannya. Apalagi berkhianat membantu Purbaya melarikan diri. Tapi Kak Mayang mengakui kalau dia telah cemburu pada Kak Pandan dan Anjani. Dia hanya berusaha menjauhkan mereka darimu, Kakang. Sedangkan tentang Anjani, dia memutuskan untuk meninggalkan Karang Setra. Dan sebenarnya yang membantu Purbaya melarikan diri adalah kepala pasukan pengawal penjara. Dialah yang memberi Purbaya senjatanya, lalu berpura-pura membuat keonaran dengan Purbaya. Kami semua tinggal menunggu keputusan hukuman saja darimu, Kakang," jelas Cempaka.

"Hm..., kenapa dia melakukan itu..?" gumam Rangga.

"Maksud Kakang, kepala pasukan pengawal penjara itu?"

"Ya"

"Kakang ingat Tengkorak Putih?"

Rangga menatap tidak mengerti pada Cempaka.

"Kakang tahu, Tengkorak Putih bermaksud menghancurkan Karang Setra. Dan itu sudah dipersiapkannya dengan matang. Kepala pasukan pengawal penjara itu ternyata salah satu anak buahnya. Bahkan bukan itu saja! Banyak lagi orang Tengkorak Putih yang sudah menyusup dan menjadi orang dalam istana. Tapi semuanya sudah terungkap, Kakang. Kepala pasukan pengawal penjara itu sudah mengakui semuanya dan memberitahu orang-orang yang terlibat dan berada di belakang Tengkorak Putih," Cempaka menjelaskan dengan terang.

Rangga diam membisu. Dalam hatinya dia kagumi para pembesar istana yang cepat tanggap dan bergerak cepat, sehingga bencana besar bisa terelakkan. Kemudian Pendekar Rajawali Sakti itu bangkit berdiri.

"Cempaka! Kuserahkan Karang Setra padamu dan Danupaksi. Berlakulah sebijaksana mungkin dan seadil-adilnya. Kejayaan Karang Setra ada di pundak kalian berdua," kata Rangga pelan.

"Maksud Kakang?" Cempaka tidak mengerti, tapi dadanya mendadak saja bergemuruh.

"Darahku darah pendekar. Aku tidak bisa memimpin sebuah kerajaan besar seperti Karang Setra. Sudah menjadi takdirku untuk berkelana menumpas keangkara-murkaan. Aku bukan orang yang tepat untuk menjadi raja," kata Rangga mengeluarkan seluruh isi hatinya.

"Kakang...," suara Cempaka tercekat di tenggorokan.

"Kembaliah ke istana, Cempaka. Besok akan kuserahkan seluruh tampuk kekuasaan padamu, dan juga pada Danupaksi," kata Rangga mantap.

"Tidak mungkin, Kakang. Aku ataupun Kakang Danupaksi tidak berhak menerima anugerah itu. Hanya kau dan keturunanmu yang berhak. Karang Setra membutuhkan seorang pemimpin sepertimu, Kakang," Cempaka benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kakak tirinya ini.

Rangga hanya tersenyum saja, kemudian mengayunkan langkahnya tanpa berkata-kata lagi. Cempaka bergegas mengikuti dan mensejajarkan langkahnya di samping Pendekar Rajawali Sakti itu. Dia terus berusaha untuk membatalkan keputusan Rangga, tapi Pendekar Rajawali Sakti itu hanya menjawabnya dengan senyum. Hatinya sudah bulat, akan kembali ke dalam dunianya semula. Dunia kependekaran. Darah pendekar di dalam tubuhnya begitu kuat mengalir. Meskipun tetap menjadi raja, tidak mungkin menghilangkan darah dan watak kependekarannya.

"Kakang! Pikirkanlah dulu masak-masak," bujuk Cempaka.

"Tidak ada yang harus dipikirkan lagi." sahut Rangga tegas.

"Tapi..."

"Sudahlah! Aku percaya kau dan Danupaksi mampu membangun Karang Setra lebih baik lagi daripada sekarang. Hanya pesanku, jangan sia-siakan kepercayaanku ini."

Cempaka tidak bisa lagi membujuk. Keputusan yang diambil Pendekar Rajawab Sakti itu sudah bulat, tidak mungkin lagi dihalangi. Cempaka hanya bisa menyayangkan keputusan yang tidak diduganya sama sekali itu.

"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi Kakang harus membicarakannya dengan seluruh pembesar Kerajaan Karang Setra," kata Cempaka menyerah.

"Itu sudah kusiapkan, Cempaka. Besok semuanya terlaksana."

"Lalu, bagaimana dengan Kak Mayang?" tanya Cempaka.

"Biarkan dia pergi sesuka hatinya! Karang Setra tidak membutuhkan orang berpikiran picik!" sahut Rangga tegas.

Cempaka hanya mengangkat bahunya saja. Gadis itu tidak bicara lagi, dan terus melangkah mengikuti ayunan kaki Pendekar Rajawali Sakti di sampingnya.


SELESAI

EPISODE SELANJUTNYA PUTRI KERUDUNG HIJAU

Thanks for reading Darah Pendekar I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »