Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 12

SETELAH tiba di tepi sungai yang cukup dalam itu, Maya Dewi berdiri diam dan matanya memandang ke air, tak pernah berkedip dan waspada. Akhirnya ia melihat bayangan beberapa ekor ikan berenang di bawah permukaan air. Cepat ia mengerahkan tenaga sakti ke tangan kanannya dan dipukulkannya ke depan. Hawa pukulan yang kuat menyambar ke arah bayangan ikan-ikan dalam air itu. Air pecah dan tiga ekor ikan kena dihantam hawa pukulan itu, mati seketika dan mengambang di atas air.

Maya Dewi cepat mengambilnya sebelum ikan-ikan itu diseret air yang selalu bergerak karena terdorong oleh air yang datang dari luar. Ia lalu berlari-lari menghampiri Bagus Sajiwo sambil membawa tiga ekor ikan dalam kedua tangannya. Ikan-ikan itu cukup besar, sebesar lengannya!

"Lihat ini hasil tangkapanku!" katanya bangga memperlihatkan tiga ekor ikan bader itu.

Bagus Sajiwo memandang dengan senyum lebar dan sinar mata kagum. Dari tempat ia duduk menjaga api yang menanak beras tadi dia dapat melihat apa yang dilakukan Maya Dewi. Wanita itu kalau sampai tersesat lagi, akan menjadi seorang yang amat berbahaya dan dapat menimbulkan banyak bencana di antara manusia, pikirnya.

Mereka lalu masak ikan-ikan itu dan tak lama kemudian, mereka sudah makan nasi dengan lauk sayur dan daging ikan, minum air teh dari cangkir-cangkir yang dibeli oleh Bagus-Sajiwo. Setelah makan, membersihkan prabot masak dan prabot makan, lalu berganti pakaian baru yang dibeli oleh Bagus Sajiwo, mereka duduk di atas batu, berdampingan karena ke-duanya bersama-sama memeriksa isi kitab Aji Sari Bantala.

Bagus Sajiwo membaca bagian pertama kitab itu dan menerangkan kepada Maya Dewi. Ternyata bagian pertama kitab itu adalah latihan pernapasan dan cara mengendalikan hawa sakti dalam tubuh, juga mengatur keseimbangan jalan darah sehingga tubuh akan tetap seimbang dan sehat.

"Untuk apa berlatih seperti itu? Kita sudah sejak dulu berlatih menghimpun tenaga sakti. Lebih baik teruskan baca bagian selanjutnya, Bagus." kata Maya Dewi.

"Bukan begitu caranya belajar sesuatu, Dewi. Orang harus mulai suatu perjalanan dengan langkah awal, langkah pertama. Kalau hendak mempelajari sebuah kitab, kita harus membacanya dari halaman pertama. Ketahuilah, petunjuk pertama dalam kitab ini adalah penting sekali, bukan sekedar pelajaran untuk menghimpun tenaga sakti seperti yang pernah engkau pelajari. Akan tetapi ini merupakan pelajaran yang khusus untuk dapat mengendalikan secara sempurna tenaga sakti dahsyat dan liar yang baru saja kita terima melalui makan Jamur Dwipa Suddhi."

Maya Dewi tersenyum. "Baiklah, baiklah, den bagus! Jangan ngotot dan galak, aku akan mentaatimu."

Bagus Sajiwo tersenyum dan dia melanjutkan dengan membuka dan memberi penjelasan tentang pelajaran tingkat pertama dari kitab yang mereka temukan itu. Demikianlah, mulai hari itu, mereka mempelajari isi kitab dan melatih diri sesuai dengan petunjuk kitab itu. Akan tetapi temyata Aji Sari Bantala itu merupakan aji yang amat aneh dan juga tidak mudah.

Baru permulaannya saja ternyata tidak mudah, apalagi bagi Maya Dewi dan ternyata bagi mereka bahwa untuk menguasai pelajaran permulaan itu saja membutuhkan waktu sampai seratus hari lebih! Dengan tekun mereka mulai berlatih Aji Sari Bantala di ruangan dalam perut bukit karang itu. Untuk keperluan makan mereka, bergantian mereka keluar dari situ memanjat tebing dan pergi berbelanja ke dusun-dusun yang cukup jauh dari situ.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kita tinggalkan dulu Bagus Sajiwo dan Maya Dewi yang sedang tekun mempelajari ilmu yang tinggi dan sukar di dalam ruangan tersembunyi itu untuk melihat para tokoh dan datuk persilatan yang cerai berai meninggalkan pondok milik Pangeran Jaka Bintara dan paman gurunya, yaitu Kyai Gagak Mudra. Mereka semua meninggalkan Pondok, akan tetapi ternyata tidak meninggalkan daerah Muara Sungai Lorog.

Diantara mereka yang muda ada beberapa orang yang sempat melihat ketika Bagus Sajiwo dan Maya Dewi diserang delapan orang dengan tembakan sehingga dua orang yang digdaya dan tadi mengamuk dalam pondok tercebur dalam muara yang dalam. dan agaknya tewas dan tenggelam karena tidak tampak muncul lagi. Mereka tidak berani mengganggu rombongan mata-mata Kumpeni yang dipimpin Tatang dan Wirya itu.

Setelah menunggu sampai lama tidak tampak dua orang itu muncul kembali dari dalam muara, Tatang dan Wirya merasa yakin bahwa mereka tentu tewas dan tenggelam. Maka mereka segera meninggalkan tempat itu dengan hati girang untuk melapor kepada Kumpeni bahwa mereka telah berhasil membunuh Nyi Maya Dewi yang dianggap berkhianat oleh Kumpeni Belanda.

Berita tentang kematian Bagus Sajiwo dan Maya Dewi itu segera tersiar luas dan terdengar oleh para datuk yang sedang berusaha mencari Jamur Dwipa Suddhi di sekitar muara itu. Mereka menjadi besar hati karena menganggap bahwa saingan berat itu telah tewas. Hanya tiga orang pertapa yang tidak ikut mengeroyok Maya Dewi dan Bagus Sajiwo yang menerima berita itu dengan tenang saja, bahkan dalam hati mereka menyayangkan bahwa seorang pemuda remaja yang demikian sakti mandraguna tewas secara menyedihkan, ditembak oleh kaki tangan Kumpeni Belanda.

Mereka bertiga ini adalah Wiku Menak Jelangger, pertapa dari Blambangan, Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi, dan Bhagawan Dewokaton pertapa Gunung Bromo. Mereka bertiga mencari jamur yang diperebutkan itu dengan cara bersamadhi di tepi muara, di tempat terpisah, untuk mohon petunjuk para dewa dimana adanya Jamur Dwipa Suddhi yang dicari-cari itu.

Sementara itu, mereka yang tadi mengeroyok Maya Dewi, Bagus Sajiwo, dan Ki Sumali dan kemudian melarikan diri cerai berai, tentu saja menjadi girang mendengar akan tewasnya Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya, seorang pemuda remaja yang sakti mandraguna itu. Mereka lalu melanjutkan niat mereka untuk mencari Jamur Dwipa Suddhi di sekitar Muara Sungai Lorog secara berpencaran, ada yang sekelompok, ada pula yang sendiri-sendiri. Ki Kebondanu jagoan Surabaya yang tinggi besar itu mencari-cari di tepi muara, terkadang mencongkel-congkel pasir atau menggulirkan batu-batuan yang berada di tepi muara.

Jagalabilawa meneliti tebing karang, mencari-cari dan kalau menemukan celah lalu dirogoh dan diperiksanya, kalau menemukan gua lalu dimasukinya dan diperiksanya dengan teliti. Pangeran Banten, Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra juga tidak kalah sibuknya. Mereka bahkan mendaki tebing dan mencari-cari.

Para pencari muda juga tersebar di daerah itu dan seolah menyusuri pantai Laut Selatan untuk mencari pusaka yang amat diinginkan itu. Kalau sudah bosan mencari ke atas tebing karena tidak menemukan sesuatu, mereka lalu turun dan mencari di tepi muara.

Sampai matahari terbenam semua orang mencari namun belum ada yang menemukan pusaka yang dicari dan terpaksa menghentikan pencarian itu karena cuaca mulai gelap sehingga tidak memungkinkan mereka mencari. Mereka melewatkan malam di dalam pondok milik Pangeran Raden Jaka Bintara yang tadi ditinggalkan, kecuali tiga orang pertapa yang masih melanjutkan samadhi mereka menunggu wangsit (petunjuk gaib).

Tiga orang pertapa itu, Wiku Menak Jelangger dari Blambangan, Resi Sapujagad dari Gunung Merapi, dan Bhagawan Dewokaton dari Gunung Bromo, adalah orang-orang yang gentur tapa (tekun bertapa) dan mereka telah mendapatkan kepekaan batin. Setelah sehari semalam, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga, seolah dikomando, bangkit dari pertapaan mereka. Sang Wiku Menak Jelangger berkata kepada Darun dan Dayun, dua orang cantriknya yang dengan setia menunggunya selama dia bersamadhi, dengan suara tenang namun pasti.

"Darun dan Dayun, mari kita pulang. Pusaka yang dicari itu sudah tidak ada lagi."

Darun dan Dayun saling berpandangan. Mereka tidak merasa ragu lagi. Kalau sang wiku sudah berkata demikian, mereka berduapun percaya bahwa Jamur Dwipa Suddhi pasti benar-benar sudah tidak ada lagi sehingga akan sia-sia dan membuang-buang waktu saja kalau dicari. Mereka bertiga lalu meninggalkan tepi muara itu.

Selagi mereka berjalan, mereka berpapasan dengan Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton yang berjalan berdampingan dan agaknya sedang bercakap-cakap. Melihat Wiku Menak Jelangger, Resi Sapujagad memberi salam. "Selamat pagi, Kakang Wiku." Bhagawan Dewokaton juga memberi salam yang sama.

"Selamat pagi, Adi Resi Sapujagad dan Adi Bhagawan Dewokaton!" Resi Menak Jelangger menjawab sambil tersenyum. "Sepagi ini andika berdua sudah berjalan. Hendak kemanakah?"

"Kami berdua mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat ini, pulang ke padepokan kami masing-masing." kata Resi Sapujagad.

"Tidak ada gunanya lagi melanjutkan pencarian itu, Kakang Wiku Menak Jelangger." sambung Bhagawan Dewokaton.

Sang Wiku dari Blambangan itu tersenyum lebar. "Hemm, kiranya andika berdua juga sudah mengetahui kenyataan itu? Memang benar, Jamur Dwipa Suddhi memang sudah tidak ada lagi di daerah ini."

"Begitulah yang kami berdua menerimanya. Kalau begitu, haruskah kita memberitahukan mereka yang masih sibuk mencarinya?" tanya Resi Sapujagad.

"Akan sia-sia saja, Adi Resi. Mereka tidak akan mau percaya, bahkan mungkin saja mereka mengira kita membohongi mereka agar mereka pergi dan kita bertiga dapat mencari sendiri tanpa gangguan" kata Wiku Menak Jelangger.

"Kakang Wiku benar!" kata Bhagawan Dewokaton. "Mereka berdatangan dari tempat jauh, mana mungkin mau percaya kepada kita? Lebih baik kita pulang saja, Kakang Resi."

Mereka bertiga lalu saling memberi salam dan meninggalkan tempat itu, hendak pulang ke tempat asal mereka masing-masing. Sementara itu, begitu terang tanah, semua orang yang melewatkan malam di pondok milik Pangeran Jaka Bintara, sudah keluar dari pondok dan melanjutkan pencarian mereka dengan lebih bersemangat.

Beberapa jam lamanya mereka mencari-cari dan setelah matahari naik agak tinggi, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan, baik dari mereka yang mencari di tepi pantai Laut Selatan, di tepi muara, maupun di bawah tebing. Terjadi keributan dan agaknya dari tiga tempat itu ada seorang berlarian, dikejar oleh yang lain!

"Ini hakku! Aku yang menemukan Jamur Dwipa Suddhi!" teriak seorang laki-laki muda yang lari dari pantai laut, dikejar-kejar oleh orang-orang lain.

Yang dikejar itu memegang sebuah benda kehitaman, berbentuk jamur. "Ini punyaku, aku yang menemukan! Jangan direbut!" teriak seorang laki-laki muda lain sambil lari dikejar orang-orang lain.

Dia lari dari tepi muara sambil mengacungkan sebuah benda ke atas, benda yang berbentuk jamur pula berwarna kemerahan. "Jangan coba rebut, ini milikku, aku yang menemukan !" teriak orang ke tiga, juga dikejar orang-orang tain dan dia memegang sebuah benda berbentuk jamur yang berwarna putih.

Mereka bertiga bertemu di depan pondok dan tidak dapat lari lagi karena dikepung banyak orang. "Serahkan jamur-jamur itu! Atau kami akan menggunakan kekerasan untuk merampasnya!" bentak Raden Jaka Bintara.

"Berikan saja, nanti kalian akan mendapatkan hadiah besar!" kata pula Kyai Gagak Mudra.

"Berikan padaku saja, nanti kutukar dengan pusakaku yang ampuh ini!" kata Ki Kebondanu sambil mengacungkan pecutnya.

"Sebaiknya berikan padaku, nanti kutukar keris keris pusakaku dan sejumlah uang dinar emas!" teriak Kyai Jagalabilawa.

Melihat diri mereka dikepung, tiga orang yang menemukan jamur itu tahu bahwa mereka tidak mungkin mempertahankan pusaka penemuan mereka. Maka dengan cepat mereka lalu memasukkan jamur itu ke dalam mulut mereka, mengunyah cepat dan menelannya!

Semua orang tercengang melihat ini dan banyak tangan dijulurkan untuk menangkap tiga orang itu dan untuk memaksa mereka memuntahkan kembali jamur yang diperebutkan itu. Pada saat itu terdengar pekik melengking tinggi menusuk telinga dan menggetarkan jantung. Semua orang menengok dan tampaklah seorang wanita cantik jelita berdiri dekat pondok, di atas sebuah batu besar. Tangan kirinya memegang sebuah kebutan berbulu putih dan di pungungnya tergantung sebatang pedang. Wanita cantik itu mengenakan pakaian dari sutera putih yang mengkhilap tertimpa sinar matahari.

"Kalian semua lelaki tolol!" terdengar wanita itu berkata dengan nyaring penuh ejekan, akan tetapi mengandung kedinginan yang merendahkan dan menghina. Dalam suaranya itu saja dapat dirasakan bahwa wanita cantik berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu mempunyai perasaan yang penuh kebencian.

Semua orang yang memandang menjadi terkejut, apalagi ketika mendengar Pangeran Raden Jaka Bintara berseru, "Nyi Candra Dewi...!"

Semua orang pernah mendengar nama ini, sebuah nama yang tersohor dengan julukan Iblis Betina dari Banten! Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan tiga orang yang tadi menemukan Jamur Dwipa Suddhi dan memakannya karena hendak dirampas orang-orang lain itu jatuh bergulingan dan berkelojotan di atas tanah, lalu diam tak bergerak lagi. Mereka bertiga tewas dalam keadaan mengerikan sekali karena wajah ketiganya berubah menghitam, tanda bahwa mereka keracunan hebat!

Kiranya benda-benda yang mereka kira Jamur Dwipa Suddhi itu mengandung racun yang amat ganas, maka begitu tiga orang itu memakannya, mereka lalu tewas.

"Hemm, Pangeran Jaka Bintara! Andika juga ikut-ikutan memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi? Masih baik bahwa bukan andika yang begitu bodoh untuk makan racunku, kalau andika yang menemukan dan memakannya, Kerajaan Banten akan kehilangan salah seorang pangerannya!" kata wanita cantik itu yang bukan lain adalah Candra Dewi.

"Ah, Nyi Candra Dewi, kiranya andika yang sengaja memasang umpan dengan jamur-jamur palsu yang mengandung racun itu?" tanya Jaka Bintara yang pernah tergila-gila kepada Candra Dewi yang merupakan tokoh terkenal dari Banten itu akan tetapi tidak berani memaksakan keinginannya terhadap wanita itu karena maklum betapa saktinya Candra Dewi.

"Benar, akulah yang menyebar jamur-jamur palsu beracun itu!" wanita itu mengaku dengan jujur sambil tersenyum. Baru sekarang tampak Candra Dewi tersenyum. Sebetulnya senyuman itu membuat wajahnya menjadi semakin cantik manis dan menarik, akan tetapi matanya tidak ikut tersenyum, melainkan memandang dengan sinar mata dingin sekali.

"Akan, tetapi kenapa? Kenapa andika melakukan itu, Nyi Candra Dewi?" tanya pangeran Banten itu dengan suara mengandung penasaran karena perbuatan datuk wanita itu sungguh amat berbahaya, bagi dia juga. Andaikata dia yang menemukan Jamur palsu itu dan memakannya, bukankah dia yang akan mati mengerikan seperti tiga orang itu?

"Kenapa? Tentu saja agar andika sekalian pergi dari sini karena hanya aku yang berhak mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi dan hanya aku seorang yang boleh mencarinya di daerah ini. Karena itu, pergilah kalian dari sini kalau tidak ingin mati seperti tiga orang itu!"

Ucapan dan pengakuan Candra Dewi itu tentu saja membuat semua orang menjadi marah sekali. Perbuatan wanita itu sungguh telah membuat mereka tadi terancam bahaya maut! Mereka yang muda biarpun marah, tidak berani menyatakan karena mereka merasa jerih terhadap datuk wanita yang namanya tersohor itu. Akan tetapi para datuk besar seperti Ki Kebondanu, Kyai Jagalabilawa, Kyai Cagak Mudra bersama Jaka Bintara tidak takut. Ki Kebondanu, jagoan Surabaya yang bertubuh tinggi besar dan berwatak brangasan (pemarah) itu segera melangkah maju menghadapi Candra Dewi.

"Nyi Candra Dewi, engkau perempuan sombong! Biarpun namamu terkenal sebagai Iblis Betina dari Banten, Jangan mengira bahwa aku Ki Kebondanu takut padamu! Aku juga berhak mencari Jamur Dwipa Suddhi di daerah ini dan tidak seorangpun, termasuk engkau boleh mengusirku!" Setelah berkata demikian, Ki Kebondanu sudah mengambil pecutnya dari ikat pinggang, memegang gagang dan gulungan pecut itu dengan sikap menantang.

"Hemm, inikah Ki Kebondanu jagoan Surabaya itu? Yang sudah keok (kalah) melawan Mataram? Namamu Kebondanu dan memang engkau goblok seperti kerbau, berani menantangku. Kakek busuk, bersiaplah untuk mampus!" Candra Dewi menggerakkan kebutan di tangan kirinya sambil mengeluarkan pekik melengking.

Suara pekik melengking itu saja sudah hebat bukan main. Mereka yang muda-muda dan kurang tinggi kepandaiannya, cepat menutupi kedua telinga mereka dengan tangan, bahkan ada yang sudah terpelanting diserang getaran suara yang amat hebat itu. Kebutan Candra Dewi menyambar, mengeluarkan suara berdesing nyaring, bagaikan kilat menyerang ke arah kepala Kebondanu. Ki Kebondanu yang sudah marah sekali karena dimaki dan dihina, menyambut serangan kebutan itu dengan pecutnya. Sekali menggerakkan gagang pecut dan melepaskan gulungan, pecut yang panjangnya sekitar dua meter itu melecut dan menyambut sambaran kebutan.

"Tarrr...!" Terdengar ledakan ketika ujung pecut bertemu dengan bulu kebutan berbulu putih. Serangan kebutan itu tertangkis, akan tetapi Ki Kebondanu terkejut bukan main karena ujung pecutnya putus sekitar dua jengkal ketika bertemu bulu kebutan! Pecutnya bukan sembarang pecut, melainkan pecut pusa-ka yang terbuat dari serat pilihan, sudah "diisi" dengan mantra dan merupakan senjata pusaka ampuh.

Batu karang akan hancur disambar ujung pecutnya, akan tetapi sekali ini begitu bertemu kebutan wanita itu, ujung pecutnya putus! Dia menjadi semakin marah akan tetapi diam-diam juga agak gentar karena dia maklum bahwa tenaga dan kepandaian Iblis Betina Banten ini benar-benar amat tinggi dan kuat. Ki Kebondanu lalu menyerang dengan nekat, menggunakan pecutnya yang ujungnya telah putus. Walaupun pecut itu telah putus ujungnya, namun serangannya masih dahsyat dan ujung pecut itu masih meledak-ledak ketika menyambar-nyambar ke arah tubuh Candra Dewi.

Semua orang yang berada di situ merasa marah kepada Candra Dewi. Tiga orang di antara mereka telah tewas secara mengerikan karena makan jamur palsu yang beracun dan jamur beracun itu ditujukan untuk mengusir mereka semua. Tentu saja mereka semua menganggap Candra Dewi sebagai musuh. Biarpun ada sebagian dari mereka yang telah meninggalkan daerah itu seperti Wiku Menak Jelangger, Resi Sapujagad, dan Bhagawan Dewokaton, namun jumlah mereka masih ada belasan orang.

Melihat betapa Ki Kebondanu sudah berani menantang Candra Dewi dan kini keduanya sudah bertanding, Kyai Jagalabilawa juga telah mencabut kerisnya dan melompat ke depan membantu Ki Kebondanu mengeroyok Candra Dewi. Melihat ini, dua belas orang yang lebih muda sudah mencabut senjata masing-masing dan mereka juga membantu kedua orang datuk itu mengeroyok wanita yang mereka anggap seperti iblis yang mengancam keselamatan mereka semua.

Kini Candra Dewi dikeroyok oleh empat belas orang! Wanita itu kembali mengeluarkan pekik melengking dan mengamuk, kini bukan hanya dengan kebutan berbulu putih di tangan kirinya, juga ia telah mencabut pedang dengan tangan kanannya dan memainkan pedang itu dengan hebat. Kalau kebutannya berubah menjadi gulungan sinar putih, maka pedangnya bagaikan kilat menyambar-nyambar dan segera terdengar pekik-pekik kesakitan ketika para pengeroyok yang muda satu demi satu roboh dan tewas seketika disambar pedang atau kebutan!

Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra hanya menonton. Bagaimanapun juga, Candra Dewi adalah seorang tokoh Banten, maka mereka merasa tidak enak kalau harus ikut mengeroyoknya. Maka, hanya menonton saja dari pinggiran dan diam-diam mengagumi sepak terjang Candra Dewi yang demikian ganas dan dahsyatnya.

Perkelahian itu memang hebat sekali, seru dan mengerikan. Perkelahian ini membuktikan betapa dahsyatnya Candra Dewi yang sakti mandraguna dan juga kejam bukan main. Kebenciannya terhadap kaum pria terbukti lagi dengan pembantaian yang dilakukan di tepi Muara Sungai Lorog ini.

Kebenciannya terhadap pria itu agaknya bertambah hebat karena satu-satunya pria di dunia ini yang telah ia putuskan untuk menjadi suaminya karena pria itu telah menjamahnya, yaitu Bagus Sajiwo, telah mati terpendam di perut Bukit Keluwung di Pegunungan Wilis. Karena pemuda itu tewas, ia menjadi begitu kecewa, menyesal dan penasaran sehingga timbul kebenciannya yang lebih hebat kepada kaum pria!

Sinar kebutan berbulu putih dan pedang di kedua tangan Candra Dewi bergulung-gulung dan menyambar-nyambar. Pekik dan jerit saling susul diikuti muncratnya darah dan robohnya para pengeroyok dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, dua belas orang pengeroyok muda sudah roboh semua!

Tinggal Ki Kebondanu dan Kyai Jagalabilawa berdua yang masih bertahan. Tingkat kepandaian jagoan Surabaya dan tokoh Madiun ini memang cukup tinggi sehingga mereka berdua dengan kerja sama mampu mengimbangi sepak terjang Candra Dewi. Pecut di tangan Ki Kebondanu, walau pun ujungnya putus, masih berbahaya sekali dan Kyai Jagalabilawa yang dapat mengubah dirinya menjadi dua itupun merupakan lawan yang tangguh.

Akan tetapi Candra Dewi sama sekali tidak gentar, bahkan ia bukan saja dapat menandingi pengeroyokan dua orang itu, melainkan perlahan-lahan dapat mulai mendesak mereka berdua dengan permainan kebutan dan pedangnya. Lewat lima puluh jurus mereka bertanding dan kini dua orang pengeroyok itu hanya mampu bertahan saja, tidak mendapat banyak kesempatan untuk membalas karena kedua senjata Candra Dewi sudah mendesak mereka.

"Tarrr...!" Ki Kebondanu masih mencoba biarpun terdesak untuk menyerangkan cambuknya ke arah kepala Candra Dewi. Akan tetapi Candra Dewi miringkan tubuhnya ke kanan dan pedangnya menyambar dengan tusukan ke arah dada jagoan Surabaya itu.

"Singgg... cappp!" Pedang itu menembus dada Ki Kebondanu. Jagoan Surabaya ini terbelalak dan dia masih sempat menangkap pedang yang memasuki dadanya itu dengan kedua tangannya dan menarik sekuat tenaga. Tarikan pada saat terakhir itu kuat sekali sehingga Candra Dewi tidak mampu mempertahankan. Pedangnya terlepas dari pegangan dan Ki Kebondanu roboh terjengkang, terbanting ke atas tanah dalam keadaan telentang dan tewas seketika dengan pedang menembus dada dan kedua tangannya masih mencengkeram pedang itu sehingga kedua tangan itupun berdarah karena telapak tangannya robek!

Kyai jagalabilawa menjadi ketakutan melihat semua orang roboh dan tewas, Tinggal dia sendiri yang menghadapi amukan iblis betina itu. Akan tetapi dia tidak dapat melarikan diri dan pada saat itu, kebutan bulu putih di tangan Candra Dewi menyambar ke arah bayangannya sebagai orang ke dua. Kyai Jagalabilawa menggunakan kesempatan ini untuk menyerang dengan kerisnya. Akan tetapi tiba-tiba Candra Dewi sudah memukul dengan dorongan tangan kanannya sambil memekik.

"Aji Bajradenta...!"

Tubuh Kyai Jagalabilawa terlempar bagaikan daun kering tertiup angin ketika pukulan ampuh jarak jauh itu dengan telak menghantam dadanya. Dia terbanting roboh dan tewas dengan mata terbelalak, baju bagian dadanya koyak-koyak sehingga tampak dadanya yang berubah hitam seperti hangus. Itulah akibat serangan Aji Bajradenta yang amat ampuh dan panas seperti api lahar!

Kini Candra Dewi mengambil pedangnya yang menancap di dada Ki Kebondanu, membersihkan pedang itu pada pakaian korbannya lalu menyimpannya kembali di punggungnya. Ia berdiri dengan kebutan di tangan kiri dan tangan kanan bertolak pinggang, memandang ke sekeliling, ke arah mayat-mayat empat betas orang yang bergelimpangan dan ia tersenyum mengejek.

"Huh, laki-laki tolol berani menentangku. Dasar sudah bosan hidup!"

Ketika terdengar orang bertepuk tangan, Candra Dewi memutar tubuh dan ia melihat Pangeran Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra bertepuk tangan. "Hemm, kenapa andika berdua bertepuk tangan?" tanya Candra Dewi dengan pandang mata menyeramkan.

"Tentu saja kami berdua bertepuk tangan karena kagum dan bangga, Nyi Candra Dewi. Kagum melihat kesaktianmu dan bangga karena kita bertiga datang dari Banten!"

"Aku tidak membutuhkan pujian andika berdua!" kata Candra Dewi dengan angkuh. "Apakah andika berdua juga hendak mencari Jamur Dwipa Suddhi dan memperebutkannya dengan aku?"

Pangeran Jaka Bintara tidak dapat menjawab dan menoleh kepada paman gurunya seolah minta bantuan. Kyai Gagak Mudra lalu tertawa. "Ha-ha-ha, Nyi Candra Dewi. Kita sama-sama orang Banten mengapa harus berebut? Aku kira andika sebagai seorang kawula Banten tentu suka mengalah terhadap Pangeran Jaka Bintara dan suka meninggalkan daerah ini dan membiarkan sang pangeran mencari dan menemukan Jamur Dwipa Suddhi."

Candra Dewi menggeleng kepalanya. "Aku sudah tiba disini dan siapapun tidak dapat mengusir aku pergi. Aku hanya akan mati atau pergi dari sini kalau ada yang dapat mengalahkan aku!"

"Ah, diantara kita tidak mungkin harus saling serang. Akan ditertawakan orang seluruh nusantara, terutama oleh Mataram. Sekarang begini saja, Nyi Candra Dewi. Kita saling menguji kesaktian, andika melawan kami berdua. Kalau kami kalah, kami akan meninggalkan tempat ini dan andika boleh seorang diri tanpa saingan mencari Jamur Dwipa Suddhi sampai dapat. Akan tetapi sebaliknya kalau kami menang, kami berhak untuk mencari jamur pusaka itu dan harap andika yang meninggalkan tempat ini. Bagaimana, setujukah andika dengan peraturan ini?"

Candra Dewi. mengerutkan alisnya. Kalau orang lain, yang membuat peraturan seperti itu, ia tentu akan langsung menyerang dan membunuh karena mereka berdua ia anggap menentang kehendaknya. Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat berbuat sesukanya, apalagi membunuh Pangeran Jaka Bintara. Hal ini tentu akan mengakibatkan ia dimusuhi Kerajaan Banten dan tentu saja tak akan aman hidupnya kalau ia menjadi musuh dan orang buruan Kerajaan Banten.

"Baiklah! Sekarang begini saja, agar aku tidak sampai kesalahan tangan membunuh kalian berdua, kalian boleh menahan tenaga seranganku dengan Aji Bajradenta. Kalau kalian dapat menahannya, anggap saja kalian menang dan aku akan pergi dari sini." kata Candra Dewi dan dengan ucapan ini berarti ia yang mengatur pertandingan menguji kesaktian itu dan ia telah meremehkan mereka berdua.

Kyai Gagak Mudra yang biasanya tertawa-tawa, kini tersenyum masam karena dia merasa betul betapa dia dipandang rendah. Akan tetapi dia tidak ingin memancing kemarahan wanita yang diju-luki lblis Betina Banten itu, maka dia tertawa. "Ha-ha-ha, baik sekali, Nyi Candra Dewi. Mari kita mengadu kekuatan tenaga sakti lewat pukulan jarak jauh. Kami berdua akan berusaha untuk menahan dorongan tenaga saktimu yang panas itu." Dia lalu menoleh kepada Jaka Bintara, "Pangeran, mari kita bersiap dan kerahkan Aji Hastanala (Tenaga Api) untuk menyambut Aji Bajradenta dari Nyi Candra Dewi."

Jaka Bintara mengangguk dan ia lalu memasang kuda-kuda. Kedua lutut ditekuk sehingga tubuhnya merendah dan setelah membaca mantra dan menggosok-gosok kedua tangan, maka kedua telapak tangannya mengepulkan asap dan kedua telapak tangan itu memerah seperti bara api!

Kyai Gagak Mudra melakukan hal yang sama dan sudah memasang kuda-kuda, siap menyambut dorongan tangan ampuh Iblis Betina Banten itu. Melihat betapa dua orang lawannya sudah siap dengan Aji Hastanala yang dikenalnya sebagai pengerahan tenaga sakti yang Juga bersifat panas, Candra Dewi tersenyum mengejek. Dia lalu mengerahkan tenaga saktinya, menyalurkannya lewat kedua lengannya setelah ia menyelipkan kebutan di ikat pinggangnya kemudian dia berseru.

"Sambutlah Aji Bajradenta!!" Tenaga sakti yang dahsyat menyambar dari kedua telapak tangan Candra Dewi yang terbuka dan didorongkan ke arah kedua orang itu.

Dua orang itu menyambut sambaran hawa pukulan yang dahsyat itu. "Desss...!!" Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra terkejut bukan main ketika merasakan hawa yang amat dingin menyerang pertahanan mereka!

Hawa dingin itu seolah air yang diguyurkan kepada api sehingga tenaga Hastanala mereka melemah dan tubuh merekapun terdorong ke belakang. Mereka terhuyung dan hampir jatuh. Demikianlah hebatnya Aji Bajradenta (Halilintar Putih) dari Candra Dewi itu. Dapat dikerahkan sesuka hatinya, disesuaikan keadaan lawan. Dapat menjadi tenaga yang berhawa panas dan sebaliknya dapat menjadi tenaga berhawa dingin.

Candra Dewi berdiri tegak dan bertolak pinggang, mulutnya tersenyum mengejek. "Bagaimana, Kyai Gagak Mudra dan Pangeran Jaka Bintara?"

Kyai Gagak Mudra lalu berkata, "Hemm, Nyi Candra Dewi memang sakti mandraguna. Kami berdua mengaku kalah dan kami akan kembali ke Banten. Kami harap saja andika akan dapat menemukan Jamur Dwipa Suddhi."

"Terima kasih." kata Candra Dewi dengan hati lega. Iapun merasa tidak enak kalau harus bermusuhan dengan mereka, terutama dengan Pangeran Jaka Bintara.

Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra lalu meninggalkan tempat itu, adapun Candra Dewi masih berdiri memandang ke sekeliling. Akan tetapi, Pangeran Jaka Bintara teringat akan sesuatu dan dia menahan paman gurunya yang juga berhenti melangkah, Kemudian Jaka Bintara memutar tubuh menghampiri lagi Candra Dewi yang beium jauh dia tinggalkan.

"Nyi Candra Dewi, aku ingin memberi tahukan sesuatu yang amat penting kepadamu!" kata pangeran itu dan dia memandang kepada wajah yang jelita itu dengan kagum dan timbul gairah yang tampak pada pandang matanya.

Melihat gairah membayang di mata pangeran itu, seperti yang sering dilihatnya pada pandang mata setiap pria yang bertemu dengannya, Candra Dewi mengerutkan alisnya. Biasanya, pandang mata seperti itu saja sudah cukup baginya untuk membunuh orang! Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat menyamakan pria ini dengan pria-pria lainnya. Ini adalah seorang pangeran, pangeran Kerajaan Banten lagi!

"Ada apa, pangeran?" tanyanya.

"Nyi Candra Dewi, kemarin adikmu, Nyi Maya Dewi, dibunuh orang di muara ini." kata Jaka Bintara sambil menuding ke arah tengah muara.

Sepasang mata yang indah namun pandangannya dingin membeku itu terbelalak. "Tidak mungkin! Pangeran Jaka Bintara, jangan andika mencoba untuk membohongi aku!" bentaknya.

"Aku tidak berbohong! Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada paman guru Kyai Gagak Mudra ini. Kami berdua menyaksikan sendiri pembunuhan itu."

Nyi Candra Dewi memandang tajam penuh selidik kepada Kyai Gagak Mudra. "Benarkah andika juga melihat Maya Dewi dibunuh orang, Kyai Gagak Mudra?"

Tokoh Banten itu mengangguk. "Benar, kami melihatnya sendiri."

"Ahhh...!" Dua orang itu mengira bahwa seruan ini menunjukkan bahwa Candra Dewi merasa berduka, padahal sebenarnya tidak demikian.

Tadinya ia merasa heran dan tidak percaya karena ia mengira bahwa Maya Dewi sudah mati tertimbun tanah di perut Bukit Keluwung bersama Bagus Sajiwo. Kalau begitu, mereka tidak mati tertimbun!

"Pangeran, bagaimana terjadinya pembunuhan itu? Dan apakah Maya Dewi datang kesini seorang diri? Ceritakanlah yang jelas, pangeran!"

"Kemarin aku dan paman guru mengundang para datuk yang datang untuk mencari Jamur Dwipa Suddhi ke pondok kami. Kami mengadakan pesta untuk mereka semua yang telah datang ke daerah muara ini. Kemudian muncul Maya Dewi dan ia membikin kacau dan keributan di pondok, berkelahi dengan kami berdua dan semua orang."

"Ia datang seorang diri?" Candra Dewi memotong.

"Tidak, ia datang bersama seorang pemuda remaja yang ternyata sakti mandraguna sehingga semua yang mengeroyok mereka terpaksa melarikan diri meninggalkan mereka berdua di pondok."

"Ahhh...!" seruan ini mengandung kegirangan besar. Memang hati Candra Dewi bersorak. Bagus Sajiwo masih hidup Suaminya masih hidup! Ia sudah menganggap pemuda itu sebagai suaminya, karena dialah satu-satunya pria yang pernah menjamah tubuhnya, pernah menggigit dan merasakan darahnya.

"Lalu bagaimana?" ia ingin tahu sekali apa yang terjadi selanjutnya.

"Kemudian kami melihat mereka berdua meninggalkan pondok dan menghampiri muara. Pada saat itu muncul delapan orang dan mereka menghujani Maya Dewi dan pemuda remaja itu dengan tembakan dari senapan mereka."

"Siapa jahanam-jahanam itu?" tanya Candra Dewi.

"Tidak tahu, akan tetapi mungkin sekali mereka itu mata-mata kaki tangan Kumpeni Belanda karena mereka semua membawa senjata api."

"Dan tembakan-tembakan itu mengenai Maya Dewi dan... pemuda itu?"

"Entah, kami tidak melihat dengan jelas. Akan tetapi Maya Dewi dan pemuda itu terjatuh ke dalam muara dan tidak pernah muncul lagi. Mungkin sekali mereka tewas terkena tembakan delapan orang itu."

"Keparat jahanam!" Candra Dewi menjerit dan ia mencabut pedang dengan tangan kanan dan mengambil kebutan dengan tangan kiri. "Akan kubunuh mereka! Dimana delapan orang itu? Mereka harus mampus di tanganku!" Wanita itu tampak marah sekali.

Jaka Bintara dan paman gurunya tentu saja mengira bahwa Candra Dewi marah mendengar adiknya, Maya Dewi, dibunuh orang-orang yang membawa senapan. Akan tetapi sebetulnya Candra Dewi marah karena mendengar Bagus Sajiwo dibunuh orang, bukan karena Maya Dewi yang dibunuh. Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra merasa gentar melihat Candra Dewi marah sekali dan mereka juga terheran-heran melihat betapa kini kedua mata wanita itu mengeluarkan air mata yang menetes-netes di atas kedua pipinya. Betapa besar rasa sayang iblis betina ini kepada adiknya, pikir mereka.

"Kami juga tidak tahu. Tadinya mereka berada di tepi muara, agaknya menjaga kalau-kalau Maya Dewi dan pemuda temannya itu muncul kembali. Akan tetapi setelah menunggu lama kedua orang itu tidak muncul, maka mereka lalu pergi meninggalkan tempat ini, entah kemana perginya." kata Jaka Bintara.

"Siapa nama mereka? Beritahukan kepadaku!" Candra Dewi membentak.

"Kami juga tidak tahu dan tidak mengenal mereka. Mereka berpakaian seperti penduduk biasa, usia mereka antara sekitar dua puluh lima sampai empat puluh tahun. Sudah, Nyi Candra Dewi, kami hendak pergi sekarang." Pangeran dari Banten dan paman gurunya itu lalu pergi meninggalkan Candra Dewi yang masih memegang kebutan dan pedang.

Setelah dua orang tokoh Banten itu tidak tampak lagi, Candra Dewi mengeluarkan pekik melengking berulang-ulang dan ia lalu mengamuk. Ia menggunakan pedangnya dan kebutannya menyerang apa saja yang berada di depannya. Batu-batu karang pecah berantakan, lalu ia berlari dan mendaki bukit sambil tetap membacoki apa saja yang berada di depannya dengan pedang. Kebutannya juga menyambar-nyambar dahsyat dan setiap kali mengenai batu karang, terdengar ledakan dan batu karang itu pecah berhamburan!

Ia marah, penasaran dan kecewa sekali. Bagus Sajiwo yang telah ia tetapkan menjadi suaminya itu ternyata tidak mati tertimbun batu di perut Bukit Keluwung, akan tetapi baru saja mendengar pemuda yang ia anggap sebagai suaminya itu masih tetap hidup, lalu mendengar pula bahwa pemuda itu tewas tertembak dan tenggelam ke dalam muara Sungai Lorog!

Tiba-tiba Candra Dewi melihat bayangan orang di atas bukit karang. Kalau wanita ini sedang marah, maka siapapun yang dijumpainya akan menjadi korban pelampiasan kemarahannya. Apalagi ketika itu begitu melihat bayangan orang, ia mengira bahwa orang itu tentu seorang diantara para pembunuh Bagus Sajiwo.

Maka ia lalu berlari secepat terbang mendaki bukit, mengejar bayangan orang itu. Akan tetapi setelah dekat, ia merasa kecewa sekali melihat dari belakang bahwa orang itu adalah seorang wanita Rambut hitam lebat itu digelung dan ada ronce-ronce kembang melati menghias sanggul wanita itu.

Kekecewaannya mendapat kenyataan bahwa orang itu jelas bukan seorang diantara para pembunuh Bagus Sajiwo membuat kemarahannya semakin berkobar. Ia melompat ke depan, menerjang dan memukul kepala wanita itu dari belakang, yakin bahwa kepala wanita itu akan pecah dan hancur berantakan terkena tamparan tangannya yang dahsyat!

"Wuuuttt... plakkk!" Wanita itu telah membalikkan tubuhnya dan tangan kanannya menangkis dari samping.

Pertemuan kedua tangan yang sama mungil, lembut dan berkulit putih mulus itu hebat bukan main dan keduanya tergetar dan terdorong ke belakang beberapa langkah. Candra Dewi terkejut bukan main. Ia memandang wanita di depannya dengan alis berkerut.

Ternyata wanita itu adalah seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh satu tahun, cantik jelita, terutama mata dan mulutnya amat indah dan memiliki daya tarik yang kuat. Rambutnya yang disanggul rapi itu dihias untai kembang melati sehingga keharumannya dapat tercium oleh Candra Dewi.

"Siapa engkau?" bentak Candra Dewi dengan bermacam perasaan mengaduk hatinya. Terkejut, heran, penasaran dan marah.

Gadis itu bukan lain adalah Sulastri yang kini menggunakan nama Ni Melati Puspa, ketua dari perkumpulan Melati Puspa. Seperti kita ketahui, ia meninggalkan Gunung Liman dimana perkumpulannya berada, dengan niat untuk merantau karena ia sudah mulai merasa bosan berdiam diri di Gunung Liman. Ia ingin mencari Lindu Aji. Akan tetapi dalam perjalanannya, ia mendengar pula tentang Jamur Dwipa Suddhi yang kabarnya berada di Muara Sungai Lorog, maka iapun segera membelokkan perjalanannya dan menuju ke daerah itu untuk ikut mencari jamur ajaib yang kabarnya mempunyai khasiat yang amat luar biasa dapat menguatkan tubuh itu.

Tadi, ketika ia tiba di bukit karang tentu saja ia mengetahui bahwa ada orang mengejarnya. Ia sengaja berpura-pura tidak tahu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba pengejarnya yang sudah berada di belakangnya itu menyerangnya dengan tamparan tangan yang mengandung hawa pukulan amat dahsyat. Ia cepat memutar tubuh dan menangkis yang mengakibatkan ia dan penyerangnya terdorong mundur.

Ketika melihat penyerangnya, seorang wanita berpakaian sutera putih, membawa pedang di punggung dan kebutan di pinggang, tahulah Ni Melati Puspa bahwa wanita inilah yang diceritakan oleh Jayeng, wanita yang mengamuk menghancurkan batu-batu dan menumbangkan pohon-pohon lalu membakar rumah yang tadinya menjadi tempat tinggal Maya Dewi.

"Aha, kiranya. engkau yang dulu mengamuk, memukuli batu dan pohon, membakar rumah, seperti orang sinting itu? Dan ternyata engkau benar-benar sinting, buktinya tiada hujan tiada angin engkau menyerangku dan belakang. Eh, sobat, sayang sekali, engkau cukup cantik kenapa menjadi gendheng (idiot)? Apakah engkau ditinggal pacarmu?" Ni Melati Puspa menggoda.

Setelah meninggalkan perkumpulan Melati Puspa dimana ia menjadi ketuanya, dan melanjutkan perjalanan merantau, muncul kembali watak aseli Sulastri yang jenaka, gagah dan suka berkelakar.

"Keparat! Sebelum mati di tanganku, katakan dulu siapa namamu agar engkau tidak mampus tanpa nama!" bentak Candra Dewi galaK.

"Engkau benar! Tidak baik mati tanpa diketahui namanya, karena itu katakan dulu siapa namamu karena mungkin sekali engkau yang akan mati."

Candra Dewi menjadi semakin marah. Akan tetapi iapun tahu bahwa gadis di depannya ini bukan orang sembarangan dan akan merupakan seorang lawan yang cukup tangguh. "Katakan dulu siapa namamu, baru aku akan memperkenalkan nama!" kembali Candra Dewi membentak dengan ketus.

"Wah, engkau ini sungguh tidak mengenal sopan santun. Engkau yang lebih dulu bertanya, engkau pula yang lebih dulu menyerang. Sudah sepantasnya engkau pula yang lebih dulu memperkenalkan nama!"

Candra Dewi bukan seorang yang pandai bicara. Dikocok dengan kata-kata seperti itu oleh Ni Melati Puspa, wajahnya berubah kemerahan dan matanya seperti berapi. "Keparat, dengarkan baik-baik, aku adalah Nyi Candra Dewi, Iblis Betina dari Banten!" Kata-kata ini diucapkan dengan nada suara nyaring berwibawa karena Candra Dewi yakin bahwa namanya akan membuat gadis di depannya itu menjadi kuncup hatinya dan surut nyalinya.

Akan tetapi ia salah sangka. Ni Melati Puspa sama sekali tidak terkejut karena ia memang belum pernah mendengar nama datuk wanita Banten itu. Ia malah tersenyum manis sekali, lalu membusungkan dadanya yang indah lekuk lengkungnya, menegakkan kepalanya, dan berkata dengan suara dibuat seangker mungkin.

"Sekarang buka telinga dan matamu lebar-lebar, jangan sampai kaget dan mati berdiri mendengar namaku. Aku adalah Ni Melati Puspa dan julukanku... hemm, julukanku Si Pembasmi Iblis Betina!" Tentu saja ia sengaja memakai nama julukan ini hanya untuk membuat wanita galak itu menjadi semakin marah.

Benar saja, mendengar kata-kata yang amat mengejek dan menghinanya itu, Candra Dewi memuncak kemarahannya. Kedua tangannya membentuk cakar dan dari kedua telapak tangannya mengepul asap! Melihat ini, Ni Melati Puspa diam-diam bersiap siaga karena maklum bahwa lawannya amat berbahaya.

"Sambut Aji Bajradenta ini!" Candra Dewi berseru dan ketika kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka didorongkan ke arah Ni Melati Puspa, hawa panas sekali menyambar dengan dahsyatnya.

Ni Melati Puspa mengenal pukulan maut yang ampuh sekali, maka ia tidak berani sembrono menyambut pukulan jarak jauh itu dan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengelak dengan cepat ke samping. Hawa pukulan panas itu lewat di samping tubuhnya dan Ni Melati Puspa segera membalas dengan pukulan jarak jauh pula, yaitu Aji Margopati.

"Wuuuttt... desss!!" Candra Dewi sudah menarik kedua tangannya yang luput memukul, lalu menyambut pukulan Aji Margopati itu dengan tangan kirinya sehingga telapak tangan kirinya bertemu dengan telapak tangan kanan Ni Melati Puspa.

Hebat sekali pertemuan kedua telapak tangan itu. Keduanya terpental ke belakang dan terhuyung. Akan tetapi kalau Ni Melati Puspa terdorong mundur lima langkah, Candra Dewi hanya terdorong mundur tiga langkah. Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa Melati Puspa masih kalah kuat tenaga saktinya!

Diam-djam Ni Melati Puspa terkejut. Ia tahu benar bahwa lawannya memiliki kesaktian yang tidak boleh dipandang ringan, akan tetapi tidak disangkanya bahwa tenaga sakti Candra Dewi sedemikian kuatnya. Maklum bahwa ia tidak akan menang kalau mengandalkan adu tenaga sakti, Ni Melati Puspa segera mencabut pedang dari punggungnya. Tampak sinar hijau berkelebat ketika Kyai Naga Wilis terhunus dari sarungnya yang terukir bunga melati.

"Singgg...!" Sinar hijau yang menyilaukan mata itu membuat Candra Dewi terkejut juga. Ia mengenal pusaka ampuh maka iapun cepat mencabut pedang dengan tangan kanan dan kebutan berbulu putih dengan tangan kiri. Dua orang wanita yang sama cantiknya itu kini saling berhadapan dengan senjata di tangan, mata mereka mencorong dan mudah diduga bahwa mereka akan bertanding mati-matian melawan musuh yang sakti mandraguna!

"Hyaaaattt...!" Ni Melati Puspa menyerang. Sinar hijau meluncur ke arah tenggorokan Candra Dewi, bagaikan bintang jatuh. Candra Dewi tidak berani menyambut langsung dengan pedang atau kebutannya karena ia maklum bahwa pedang bersinar hijau itu amat berbahaya. Maka ia dengan cepat mengelak, tubuhnya bergerak ke kiri dan ketika sinar hijau itu masih menyambarnya, ia memutar tubuh dan menggunakan kebutannya untuk mengebut sinar hijau itu. Walau-pun bukan pedangnya yang langsung menyerang, namun sinar pedang itu masih dapat melukainya, setidaknya dapat merobek bajunya.

"Prat!" Kebutan berhasil menghalau sinar hijau, akan tetapi beberapa helai bulunya rontok! Candra Dewi terkejut dan marah sekali. Dugaannya benar. Pedang lawan yang bersinar hijau itu ampuhnya bukan main. Maka iapun cepat membalas dengan serangan bertubi, menggunakan pedang dan kebutannya.

Terjadilah saling serang yang seru. Keduanya mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaga. Akan tetapi, setelah saling serang selama hampir seratus jurus, dimana Ni Melati Puspa mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melindungi dirinya, akhirnya dia terdesak hebat oleh kebutan dan pedang Candra Dewi yang memang tangguh sekali itu.

Sebetulnya, tingkat ilmu yang mereka kuasai tidak banyak selisihnya, akan tetapi Candra Dewi menang pengalaman dan juga tokoh sesat yang dijuluki Iblis Betina dari Banten ini menguasai banyak jurus-jurus yang licik dan curang di samping keganasannya yang membuat setiap serangannya merupakan ancaman maut bagi lawannya.

Biarpun Ni Melati Puspa didesak hebat, namun gadis ini masih dapat mempertahankan dirinya sehingga belum terkena sepasang senjata lawannya yang sakti mandraguna itu. Diam-diam Ni Melati Puspa penasaran juga. Ia tadi sudah mengeluarkan semua ajinya, termasuk Aji Margopati dan Aji Guruh Bumi yang hebat. Namun semua serangannya dengan ajian yang ampuh itu dapat dipunahkan lawan. Dan kini lawannya mendesak dengan hebat. Ni Melati Puspa hanya mampu melindungi dirinya dengan keampuhan pedang Naga Wilis yang dimainkannya dengan ilmu pedang yang didasari ilmu silat Sunya Hasta.

Nyi Candra Dewi juga amat penasaran. Selama ini, jarang sekali ia menemui tanding, bahkan selama hidupnya baru sekali ia dikalahkan orang, yaitu ketika ia bertemu dengan Resi Tejo Wening yang dulu bertapa di Gunung Sanggabuwana di Banten. Ia merupakan datuk wanita yang sukar ditandingi di Banten. Akan tetapi kini, di daerah Mataram, kalau tadi ia mengamuk membunuh banyak orang dan tidak menemukan lawan yang dianggap berat, kini melawan seorang gadis muda saja sampai seratus jurus ia belum mampu merobohkannya!

Lawannya benar-benar memiliki ilmu silat yang hebat dan pedang yang ampuh sekali sehingga ia hanya mampu mendesak dan sebegitu jauh belum juga mampu merobohkannya. Ia telah mengeluarkan jurus-jurus simpanan yang penuh tipu daya, namun pertahanan lawan sungguh kuat dan rapat. Pedang ditangan lawan itu lenyap, berubah menjadi gulungan sinar hijau yang menyelimuti tubuhnya sehingga sukar sekali bagi kebutan dan pedangnya untuk mengenai tubuh lawan yang dapat bergerak demikian ringan dan lincahnya.

Candra Dewi adalah seorang yang cerdik dan banyak pengalaman. Ia segera teringat betapa lawannya kalah banyak dalam tenaga sakti ketika mereka tadi mengadu kekuatan. Dengan kelebihan tenaga sakti inilah ia akan mampu merobohkan dan membunuh lawan yang ulet ini, pikirnya. Maka ia lalu mengubah serangannya. Kini tidak menyerang ke arah tubuh Ni Melati Puspa, melainkan menyerang ke arah pedangnya yang bersinar hijau! Ia sengaja mengerahkan tenaga sakti untuk mengadu pedangnya dengan pedang lawan. Juga kebutannya mengeroyok dan menyerang pedang lawan!

Terdengar bunyi berdentangan bertubi-tubi. Ni Melati Puspa terkejut sekali. Setiap kali mereka mengadu kekuatan lewat pedang, tangannya tergetar hebat. Lawannya terus saja menyerang ke arah pedangnya. Memang bulu kebutan itu banyak yang rontok dan ujung pedang ditangan Candra Dewi bahkan pa ah. Akan tetapi di lain pihak, Ni Melati Puspa merasa lengan kanannya pegal dan lelah, telapak tangannya yang memegang pedang terasa panas dan perih!

Melihat hasil siasatnya, Candra Dewi merasa girang dan ia lalu mengerahkan seluruh tenaganya, menggerakkan kebutan di tangan kirinya. Kebutan itu menyambar ke depan melibat pedang Naga Wilis, lalu pedangnya menyambar, menghantam pedang Naga Wilis dengan kuatnya.

"Tranggg.鈥�!!" Pedang di tangan Candra Dewi patah tengahnya menjadi dua potong, akan tetapi pedang Naga Wilis terlepas dari tangan Ni Melati Puspa dan terenggut oleh kebutan. Candra Dewi lalu menyambar pedang lawan itu setelah membuang gagang pedangnya sendiri.

Ni Melati Puspa terkejut bukan main. Tadi ia tidak kuat lagi mempertahankan pedangnya karena hantaman pedang lawannya membuat pedangnya terpental dan jari-jari tangannya tidak dapat mempertahankan karena seperti lumpuh tak bertenaga. Ia melompat ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak betapa pedang Naga Wilis telah terampas lawan.

Dengan mengeluarkan pekik melengking Candra Dewi melompat ke depan dan menyerang Ni Melati Puspa dengan sepasang senjatanya. Sinar hijau menyambar ketika pedang Naga Wilis yang telah berpindah tangan itu menyambar dengan tebasan ke arah leher pemiliknya. Ni Melati Puspa yang sudah tidak memegang senjata lagi, cepat mengelak ke belakang. Akan tetapi sinar putih kebutan menyambar, bulu-bulu kebutan itu menjadi kaku karena terisi tenaga sakti, menotok ke arah dada Ni Melati Puspa.

Gadis ini sekali lagi mengelak ke kiri dan kakinya mencuat, menendang ke arah perut Candra Dewi. Akan tetapi ia harus cepat mengurungkan tendangannya karena Candra Dewi mengelebatkan pedangnya sehingga kalau tendangan tadi dilanjutkan, kaki kiri Ni Melati Puspa tentu akan menjadi buntung bertemu dengan Kyai Naga Wilis!

Nyi Candra Dewi kini menyerang lagi dengan ganas dan dahsyatnya Ni Melati Puspa hanya dapat menghindarkan diri dengan gerakan silat Sunya Hasta. Untung ia telah menguasai ilmu silat tangan kosong ini dengan baik. Ilmu silat ini memiliki gerakan lincah dan langkah-langkahnya aneh, namun selalu dapat menghindarkan diri dari serangan lawan. Ni Melati Puspa tidak melihat lubang atau kesempatan untuk melarikan diri lagi, maka ia hanya mengandalkan kelicahannya untuk menyelamatkan diri dari sambaran kedua senjata lawan yang ampuh itu.

Bagaimanapun lincahnya Ni Melati Puspa, namun berkelahi hanya mengandalkan kemampuan mengelak tanpa membalas serangan lawan yang bertubi-tubi tak mungkin dapat dipertahankan terlalu lama. Apalagi yang ia hadapi bukan lawan biasa, melainkan Candra Dewi yang memiliki kesaktian yang tinggi. Akhirnya, dalam suatu kesempatan baik, kebutan Nyi Candra Dewi berkelebat dan bulu-bulu kebutan berhasil membelit betis Ni Melati Puspa dan sekali sendal (tarik kuat-kuat secara mendadak), tak dapat dihindarkan lagi tubuh Ni Melati Puspa terguling roboh telentang!

"Mampuslah!" Nyi Candra Dewi berseru dan ia mengangkat pedang Naga Wilis ke atas untuk dibacokkan ke arah kepala Ni Melati Puspa.

Ni Melati Puspa tidak dapat mengelak lagi. Satu-satunya jalan hanyalah menangkis dengan lengannya. Namun, ia tahu bahwa walaupun ia akan melindungi lengannya dengan tenaga sakti, tidak mungkin kekebalan lengannya dapat menahan keampuhan Pedang Naga Wilis. Daripada lengannya buntung dan akhirnya iapun akan mati, lebih baik langsung mati tanpa mengalami siksaan dulu. Maka, Ni Melati Puspa membuka mata lebar-lebar, siap menerima bacokan pedangnya sendiri yang akan menamatkan riwayatnya. Ia ingin mati dengan mata terbuka menanti datangnya tangan maut, mati sebagai seorang gagah perkasa!

Akan tetapi, pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Ni Melati Puspa itu, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan pedang Naga Wilis yang sudah membacok ke bawah itu tertangkis oleh sesuatu.

"Tranggg...!!" Pedang itu terpental dan Candra Dewi cepat melompat ke belakang dengan hati terkejut bukan main. Pedang itu tertangkis oleh benda keras yang amat kuat, yang membuat lengan kanannya seperti lumpuh dan tergetar hebat!

Ketika ia memandang, ia menjadi semakin kaget dan heran karena yang menangkisnya itu adalah seorang pemuda yang memegang sebatang ranting pohon dan kayu sebesar lengan itu masih basah, bahkan ada beberapa helai daun masih menempel pada ranting itu! Bagaimana mungkin? Hanya sebatang ranting pohon dapat menangkis pedang pusaka itu dan hampir saja membuat ia melepaskan pedang? Ia merasa penasaran dan marah, cepat ia menerjang kedepan, menusukkan pedangnya ke arah dada pemuda itu. Pemuda itu menggerakkan rantingnya menangkis.

"Tranggg...!" Kembali Candra Dewi merasa tangannya tergetar hebat sehingga ia cepat melompat ke belakang.

Sementara itu, Ni Melati Puspa yang tadi sudah menanti datangnya maut, merasa seperti bermimpi ketika ia tidak jadi mati. Apalagi ketika ia melihat pemuda yang telah menolongnya. "Kakangmas Aji...!!" Sulastri berseru sambil melompat berdiri.

Melihat betapa saktinya pemuda itu dan tampaknya Ni Melati Puspa mengenal baik pemuda itu, Candra Dewi menjadi gentar. Ia maklum bahwa melawan pemuda itu saja sudah merupakan lawan yang amat berat, apalagi kalau ia dikeroyok oleh pemuda itu dan Ni Melati Puspa. Akan celakalah dirinya! Maka, ia lalu melompat jauh dan melarikan diri seperti terbang cepatnya meninggalkan tempat itu.

Sambil berlari cepat, Candra Dewi marah sekali kepada dirinya sendiri. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri. Belum pernah selama hidupnya ia melarikan diri ketakutan seperti itu! Akan tetapi ia yakin betul bahwa kalau ia tidak lari, bukan saja ia akan kehilangan pedang pusaka ampuh yang berada di tangannya, bahkan sangat besar kemungkinannya, ia akan kehilangan nyawanya pula.

Ni Melati Puspa yang juga keras hati dan galak itu pasti tidak akan mau memaafkannya. Maka terpaksa ia melarikan diri, walaupun hal itu amat berlawanan dengan keangkuhan dan kesombongannya yang merasa bahwa dirinya merupakan orang yang paling sakti mandraguna dan tidak ada tandingannya!

Sementara itu, pemuda itu yang bukan lain adalah Lindu Aji, berdiri tertegun memandang Sulastri atau Ni Melati Puspa. Gadis itupun memandang kepadanya dan tak tertahankan lagi, kegembiraan bercampur keharuan membuat kedua mata gadis itu basah dan akhirnya air matanya menetes-netes ke atas sepasang pipinya.

"Engkau... engkau... Sulastri...?!?" Lindu Aji berkata seperti dalam mimpi.

"Mas Aji...!" Sulastri menjerit dan menangis. Entah siapa yang lebih dulu bergerak, akan tetapi keduanya maju dan saling tubruk, saling rangkul dan Sulastri menangis di atas dada Lindu Aji. Tangisnya sesenggukan, mengguguk sampai mingsek-mingsek dan suara yang terdengar dari mulutnya hanya lirih, "Mas Aji... Mas Aji...!"

Lindu Aji mendekap kepala itu ke dadanya, seolah ingin membenamkan kepala itu ke dalam dadanya agar tidak berpisah lagi. Dia seolah menemukan kembali mustika yang selama ini hilang. Dia menggunakan jari-jari tangannya yang gemetar untuk mengelus rambut hitam lebat yang berbau harum melati itu, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya agar semua perasaan yang menguasai hatinya tertumpahkan dan mencair. Hanya tangis dan membanjirnya air mata yang dapat menghapus segala maram perasaan yang menghimpit hati. Dada Lindu Aji sampai basah oleh air mata yang menembus bajunya. Air mata itu terasa hangat, menghangatkan hatinya.

Bagus Sajiwo Jilid 12

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 12

SETELAH tiba di tepi sungai yang cukup dalam itu, Maya Dewi berdiri diam dan matanya memandang ke air, tak pernah berkedip dan waspada. Akhirnya ia melihat bayangan beberapa ekor ikan berenang di bawah permukaan air. Cepat ia mengerahkan tenaga sakti ke tangan kanannya dan dipukulkannya ke depan. Hawa pukulan yang kuat menyambar ke arah bayangan ikan-ikan dalam air itu. Air pecah dan tiga ekor ikan kena dihantam hawa pukulan itu, mati seketika dan mengambang di atas air.

Maya Dewi cepat mengambilnya sebelum ikan-ikan itu diseret air yang selalu bergerak karena terdorong oleh air yang datang dari luar. Ia lalu berlari-lari menghampiri Bagus Sajiwo sambil membawa tiga ekor ikan dalam kedua tangannya. Ikan-ikan itu cukup besar, sebesar lengannya!

"Lihat ini hasil tangkapanku!" katanya bangga memperlihatkan tiga ekor ikan bader itu.

Bagus Sajiwo memandang dengan senyum lebar dan sinar mata kagum. Dari tempat ia duduk menjaga api yang menanak beras tadi dia dapat melihat apa yang dilakukan Maya Dewi. Wanita itu kalau sampai tersesat lagi, akan menjadi seorang yang amat berbahaya dan dapat menimbulkan banyak bencana di antara manusia, pikirnya.

Mereka lalu masak ikan-ikan itu dan tak lama kemudian, mereka sudah makan nasi dengan lauk sayur dan daging ikan, minum air teh dari cangkir-cangkir yang dibeli oleh Bagus-Sajiwo. Setelah makan, membersihkan prabot masak dan prabot makan, lalu berganti pakaian baru yang dibeli oleh Bagus Sajiwo, mereka duduk di atas batu, berdampingan karena ke-duanya bersama-sama memeriksa isi kitab Aji Sari Bantala.

Bagus Sajiwo membaca bagian pertama kitab itu dan menerangkan kepada Maya Dewi. Ternyata bagian pertama kitab itu adalah latihan pernapasan dan cara mengendalikan hawa sakti dalam tubuh, juga mengatur keseimbangan jalan darah sehingga tubuh akan tetap seimbang dan sehat.

"Untuk apa berlatih seperti itu? Kita sudah sejak dulu berlatih menghimpun tenaga sakti. Lebih baik teruskan baca bagian selanjutnya, Bagus." kata Maya Dewi.

"Bukan begitu caranya belajar sesuatu, Dewi. Orang harus mulai suatu perjalanan dengan langkah awal, langkah pertama. Kalau hendak mempelajari sebuah kitab, kita harus membacanya dari halaman pertama. Ketahuilah, petunjuk pertama dalam kitab ini adalah penting sekali, bukan sekedar pelajaran untuk menghimpun tenaga sakti seperti yang pernah engkau pelajari. Akan tetapi ini merupakan pelajaran yang khusus untuk dapat mengendalikan secara sempurna tenaga sakti dahsyat dan liar yang baru saja kita terima melalui makan Jamur Dwipa Suddhi."

Maya Dewi tersenyum. "Baiklah, baiklah, den bagus! Jangan ngotot dan galak, aku akan mentaatimu."

Bagus Sajiwo tersenyum dan dia melanjutkan dengan membuka dan memberi penjelasan tentang pelajaran tingkat pertama dari kitab yang mereka temukan itu. Demikianlah, mulai hari itu, mereka mempelajari isi kitab dan melatih diri sesuai dengan petunjuk kitab itu. Akan tetapi temyata Aji Sari Bantala itu merupakan aji yang amat aneh dan juga tidak mudah.

Baru permulaannya saja ternyata tidak mudah, apalagi bagi Maya Dewi dan ternyata bagi mereka bahwa untuk menguasai pelajaran permulaan itu saja membutuhkan waktu sampai seratus hari lebih! Dengan tekun mereka mulai berlatih Aji Sari Bantala di ruangan dalam perut bukit karang itu. Untuk keperluan makan mereka, bergantian mereka keluar dari situ memanjat tebing dan pergi berbelanja ke dusun-dusun yang cukup jauh dari situ.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kita tinggalkan dulu Bagus Sajiwo dan Maya Dewi yang sedang tekun mempelajari ilmu yang tinggi dan sukar di dalam ruangan tersembunyi itu untuk melihat para tokoh dan datuk persilatan yang cerai berai meninggalkan pondok milik Pangeran Jaka Bintara dan paman gurunya, yaitu Kyai Gagak Mudra. Mereka semua meninggalkan Pondok, akan tetapi ternyata tidak meninggalkan daerah Muara Sungai Lorog.

Diantara mereka yang muda ada beberapa orang yang sempat melihat ketika Bagus Sajiwo dan Maya Dewi diserang delapan orang dengan tembakan sehingga dua orang yang digdaya dan tadi mengamuk dalam pondok tercebur dalam muara yang dalam. dan agaknya tewas dan tenggelam karena tidak tampak muncul lagi. Mereka tidak berani mengganggu rombongan mata-mata Kumpeni yang dipimpin Tatang dan Wirya itu.

Setelah menunggu sampai lama tidak tampak dua orang itu muncul kembali dari dalam muara, Tatang dan Wirya merasa yakin bahwa mereka tentu tewas dan tenggelam. Maka mereka segera meninggalkan tempat itu dengan hati girang untuk melapor kepada Kumpeni bahwa mereka telah berhasil membunuh Nyi Maya Dewi yang dianggap berkhianat oleh Kumpeni Belanda.

Berita tentang kematian Bagus Sajiwo dan Maya Dewi itu segera tersiar luas dan terdengar oleh para datuk yang sedang berusaha mencari Jamur Dwipa Suddhi di sekitar muara itu. Mereka menjadi besar hati karena menganggap bahwa saingan berat itu telah tewas. Hanya tiga orang pertapa yang tidak ikut mengeroyok Maya Dewi dan Bagus Sajiwo yang menerima berita itu dengan tenang saja, bahkan dalam hati mereka menyayangkan bahwa seorang pemuda remaja yang demikian sakti mandraguna tewas secara menyedihkan, ditembak oleh kaki tangan Kumpeni Belanda.

Mereka bertiga ini adalah Wiku Menak Jelangger, pertapa dari Blambangan, Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi, dan Bhagawan Dewokaton pertapa Gunung Bromo. Mereka bertiga mencari jamur yang diperebutkan itu dengan cara bersamadhi di tepi muara, di tempat terpisah, untuk mohon petunjuk para dewa dimana adanya Jamur Dwipa Suddhi yang dicari-cari itu.

Sementara itu, mereka yang tadi mengeroyok Maya Dewi, Bagus Sajiwo, dan Ki Sumali dan kemudian melarikan diri cerai berai, tentu saja menjadi girang mendengar akan tewasnya Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya, seorang pemuda remaja yang sakti mandraguna itu. Mereka lalu melanjutkan niat mereka untuk mencari Jamur Dwipa Suddhi di sekitar Muara Sungai Lorog secara berpencaran, ada yang sekelompok, ada pula yang sendiri-sendiri. Ki Kebondanu jagoan Surabaya yang tinggi besar itu mencari-cari di tepi muara, terkadang mencongkel-congkel pasir atau menggulirkan batu-batuan yang berada di tepi muara.

Jagalabilawa meneliti tebing karang, mencari-cari dan kalau menemukan celah lalu dirogoh dan diperiksanya, kalau menemukan gua lalu dimasukinya dan diperiksanya dengan teliti. Pangeran Banten, Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra juga tidak kalah sibuknya. Mereka bahkan mendaki tebing dan mencari-cari.

Para pencari muda juga tersebar di daerah itu dan seolah menyusuri pantai Laut Selatan untuk mencari pusaka yang amat diinginkan itu. Kalau sudah bosan mencari ke atas tebing karena tidak menemukan sesuatu, mereka lalu turun dan mencari di tepi muara.

Sampai matahari terbenam semua orang mencari namun belum ada yang menemukan pusaka yang dicari dan terpaksa menghentikan pencarian itu karena cuaca mulai gelap sehingga tidak memungkinkan mereka mencari. Mereka melewatkan malam di dalam pondok milik Pangeran Raden Jaka Bintara yang tadi ditinggalkan, kecuali tiga orang pertapa yang masih melanjutkan samadhi mereka menunggu wangsit (petunjuk gaib).

Tiga orang pertapa itu, Wiku Menak Jelangger dari Blambangan, Resi Sapujagad dari Gunung Merapi, dan Bhagawan Dewokaton dari Gunung Bromo, adalah orang-orang yang gentur tapa (tekun bertapa) dan mereka telah mendapatkan kepekaan batin. Setelah sehari semalam, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga, seolah dikomando, bangkit dari pertapaan mereka. Sang Wiku Menak Jelangger berkata kepada Darun dan Dayun, dua orang cantriknya yang dengan setia menunggunya selama dia bersamadhi, dengan suara tenang namun pasti.

"Darun dan Dayun, mari kita pulang. Pusaka yang dicari itu sudah tidak ada lagi."

Darun dan Dayun saling berpandangan. Mereka tidak merasa ragu lagi. Kalau sang wiku sudah berkata demikian, mereka berduapun percaya bahwa Jamur Dwipa Suddhi pasti benar-benar sudah tidak ada lagi sehingga akan sia-sia dan membuang-buang waktu saja kalau dicari. Mereka bertiga lalu meninggalkan tepi muara itu.

Selagi mereka berjalan, mereka berpapasan dengan Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton yang berjalan berdampingan dan agaknya sedang bercakap-cakap. Melihat Wiku Menak Jelangger, Resi Sapujagad memberi salam. "Selamat pagi, Kakang Wiku." Bhagawan Dewokaton juga memberi salam yang sama.

"Selamat pagi, Adi Resi Sapujagad dan Adi Bhagawan Dewokaton!" Resi Menak Jelangger menjawab sambil tersenyum. "Sepagi ini andika berdua sudah berjalan. Hendak kemanakah?"

"Kami berdua mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat ini, pulang ke padepokan kami masing-masing." kata Resi Sapujagad.

"Tidak ada gunanya lagi melanjutkan pencarian itu, Kakang Wiku Menak Jelangger." sambung Bhagawan Dewokaton.

Sang Wiku dari Blambangan itu tersenyum lebar. "Hemm, kiranya andika berdua juga sudah mengetahui kenyataan itu? Memang benar, Jamur Dwipa Suddhi memang sudah tidak ada lagi di daerah ini."

"Begitulah yang kami berdua menerimanya. Kalau begitu, haruskah kita memberitahukan mereka yang masih sibuk mencarinya?" tanya Resi Sapujagad.

"Akan sia-sia saja, Adi Resi. Mereka tidak akan mau percaya, bahkan mungkin saja mereka mengira kita membohongi mereka agar mereka pergi dan kita bertiga dapat mencari sendiri tanpa gangguan" kata Wiku Menak Jelangger.

"Kakang Wiku benar!" kata Bhagawan Dewokaton. "Mereka berdatangan dari tempat jauh, mana mungkin mau percaya kepada kita? Lebih baik kita pulang saja, Kakang Resi."

Mereka bertiga lalu saling memberi salam dan meninggalkan tempat itu, hendak pulang ke tempat asal mereka masing-masing. Sementara itu, begitu terang tanah, semua orang yang melewatkan malam di pondok milik Pangeran Jaka Bintara, sudah keluar dari pondok dan melanjutkan pencarian mereka dengan lebih bersemangat.

Beberapa jam lamanya mereka mencari-cari dan setelah matahari naik agak tinggi, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan, baik dari mereka yang mencari di tepi pantai Laut Selatan, di tepi muara, maupun di bawah tebing. Terjadi keributan dan agaknya dari tiga tempat itu ada seorang berlarian, dikejar oleh yang lain!

"Ini hakku! Aku yang menemukan Jamur Dwipa Suddhi!" teriak seorang laki-laki muda yang lari dari pantai laut, dikejar-kejar oleh orang-orang lain.

Yang dikejar itu memegang sebuah benda kehitaman, berbentuk jamur. "Ini punyaku, aku yang menemukan! Jangan direbut!" teriak seorang laki-laki muda lain sambil lari dikejar orang-orang lain.

Dia lari dari tepi muara sambil mengacungkan sebuah benda ke atas, benda yang berbentuk jamur pula berwarna kemerahan. "Jangan coba rebut, ini milikku, aku yang menemukan !" teriak orang ke tiga, juga dikejar orang-orang tain dan dia memegang sebuah benda berbentuk jamur yang berwarna putih.

Mereka bertiga bertemu di depan pondok dan tidak dapat lari lagi karena dikepung banyak orang. "Serahkan jamur-jamur itu! Atau kami akan menggunakan kekerasan untuk merampasnya!" bentak Raden Jaka Bintara.

"Berikan saja, nanti kalian akan mendapatkan hadiah besar!" kata pula Kyai Gagak Mudra.

"Berikan padaku saja, nanti kutukar dengan pusakaku yang ampuh ini!" kata Ki Kebondanu sambil mengacungkan pecutnya.

"Sebaiknya berikan padaku, nanti kutukar keris keris pusakaku dan sejumlah uang dinar emas!" teriak Kyai Jagalabilawa.

Melihat diri mereka dikepung, tiga orang yang menemukan jamur itu tahu bahwa mereka tidak mungkin mempertahankan pusaka penemuan mereka. Maka dengan cepat mereka lalu memasukkan jamur itu ke dalam mulut mereka, mengunyah cepat dan menelannya!

Semua orang tercengang melihat ini dan banyak tangan dijulurkan untuk menangkap tiga orang itu dan untuk memaksa mereka memuntahkan kembali jamur yang diperebutkan itu. Pada saat itu terdengar pekik melengking tinggi menusuk telinga dan menggetarkan jantung. Semua orang menengok dan tampaklah seorang wanita cantik jelita berdiri dekat pondok, di atas sebuah batu besar. Tangan kirinya memegang sebuah kebutan berbulu putih dan di pungungnya tergantung sebatang pedang. Wanita cantik itu mengenakan pakaian dari sutera putih yang mengkhilap tertimpa sinar matahari.

"Kalian semua lelaki tolol!" terdengar wanita itu berkata dengan nyaring penuh ejekan, akan tetapi mengandung kedinginan yang merendahkan dan menghina. Dalam suaranya itu saja dapat dirasakan bahwa wanita cantik berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu mempunyai perasaan yang penuh kebencian.

Semua orang yang memandang menjadi terkejut, apalagi ketika mendengar Pangeran Raden Jaka Bintara berseru, "Nyi Candra Dewi...!"

Semua orang pernah mendengar nama ini, sebuah nama yang tersohor dengan julukan Iblis Betina dari Banten! Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan tiga orang yang tadi menemukan Jamur Dwipa Suddhi dan memakannya karena hendak dirampas orang-orang lain itu jatuh bergulingan dan berkelojotan di atas tanah, lalu diam tak bergerak lagi. Mereka bertiga tewas dalam keadaan mengerikan sekali karena wajah ketiganya berubah menghitam, tanda bahwa mereka keracunan hebat!

Kiranya benda-benda yang mereka kira Jamur Dwipa Suddhi itu mengandung racun yang amat ganas, maka begitu tiga orang itu memakannya, mereka lalu tewas.

"Hemm, Pangeran Jaka Bintara! Andika juga ikut-ikutan memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi? Masih baik bahwa bukan andika yang begitu bodoh untuk makan racunku, kalau andika yang menemukan dan memakannya, Kerajaan Banten akan kehilangan salah seorang pangerannya!" kata wanita cantik itu yang bukan lain adalah Candra Dewi.

"Ah, Nyi Candra Dewi, kiranya andika yang sengaja memasang umpan dengan jamur-jamur palsu yang mengandung racun itu?" tanya Jaka Bintara yang pernah tergila-gila kepada Candra Dewi yang merupakan tokoh terkenal dari Banten itu akan tetapi tidak berani memaksakan keinginannya terhadap wanita itu karena maklum betapa saktinya Candra Dewi.

"Benar, akulah yang menyebar jamur-jamur palsu beracun itu!" wanita itu mengaku dengan jujur sambil tersenyum. Baru sekarang tampak Candra Dewi tersenyum. Sebetulnya senyuman itu membuat wajahnya menjadi semakin cantik manis dan menarik, akan tetapi matanya tidak ikut tersenyum, melainkan memandang dengan sinar mata dingin sekali.

"Akan, tetapi kenapa? Kenapa andika melakukan itu, Nyi Candra Dewi?" tanya pangeran Banten itu dengan suara mengandung penasaran karena perbuatan datuk wanita itu sungguh amat berbahaya, bagi dia juga. Andaikata dia yang menemukan Jamur palsu itu dan memakannya, bukankah dia yang akan mati mengerikan seperti tiga orang itu?

"Kenapa? Tentu saja agar andika sekalian pergi dari sini karena hanya aku yang berhak mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi dan hanya aku seorang yang boleh mencarinya di daerah ini. Karena itu, pergilah kalian dari sini kalau tidak ingin mati seperti tiga orang itu!"

Ucapan dan pengakuan Candra Dewi itu tentu saja membuat semua orang menjadi marah sekali. Perbuatan wanita itu sungguh telah membuat mereka tadi terancam bahaya maut! Mereka yang muda biarpun marah, tidak berani menyatakan karena mereka merasa jerih terhadap datuk wanita yang namanya tersohor itu. Akan tetapi para datuk besar seperti Ki Kebondanu, Kyai Jagalabilawa, Kyai Cagak Mudra bersama Jaka Bintara tidak takut. Ki Kebondanu, jagoan Surabaya yang bertubuh tinggi besar dan berwatak brangasan (pemarah) itu segera melangkah maju menghadapi Candra Dewi.

"Nyi Candra Dewi, engkau perempuan sombong! Biarpun namamu terkenal sebagai Iblis Betina dari Banten, Jangan mengira bahwa aku Ki Kebondanu takut padamu! Aku juga berhak mencari Jamur Dwipa Suddhi di daerah ini dan tidak seorangpun, termasuk engkau boleh mengusirku!" Setelah berkata demikian, Ki Kebondanu sudah mengambil pecutnya dari ikat pinggang, memegang gagang dan gulungan pecut itu dengan sikap menantang.

"Hemm, inikah Ki Kebondanu jagoan Surabaya itu? Yang sudah keok (kalah) melawan Mataram? Namamu Kebondanu dan memang engkau goblok seperti kerbau, berani menantangku. Kakek busuk, bersiaplah untuk mampus!" Candra Dewi menggerakkan kebutan di tangan kirinya sambil mengeluarkan pekik melengking.

Suara pekik melengking itu saja sudah hebat bukan main. Mereka yang muda-muda dan kurang tinggi kepandaiannya, cepat menutupi kedua telinga mereka dengan tangan, bahkan ada yang sudah terpelanting diserang getaran suara yang amat hebat itu. Kebutan Candra Dewi menyambar, mengeluarkan suara berdesing nyaring, bagaikan kilat menyerang ke arah kepala Kebondanu. Ki Kebondanu yang sudah marah sekali karena dimaki dan dihina, menyambut serangan kebutan itu dengan pecutnya. Sekali menggerakkan gagang pecut dan melepaskan gulungan, pecut yang panjangnya sekitar dua meter itu melecut dan menyambut sambaran kebutan.

"Tarrr...!" Terdengar ledakan ketika ujung pecut bertemu dengan bulu kebutan berbulu putih. Serangan kebutan itu tertangkis, akan tetapi Ki Kebondanu terkejut bukan main karena ujung pecutnya putus sekitar dua jengkal ketika bertemu bulu kebutan! Pecutnya bukan sembarang pecut, melainkan pecut pusa-ka yang terbuat dari serat pilihan, sudah "diisi" dengan mantra dan merupakan senjata pusaka ampuh.

Batu karang akan hancur disambar ujung pecutnya, akan tetapi sekali ini begitu bertemu kebutan wanita itu, ujung pecutnya putus! Dia menjadi semakin marah akan tetapi diam-diam juga agak gentar karena dia maklum bahwa tenaga dan kepandaian Iblis Betina Banten ini benar-benar amat tinggi dan kuat. Ki Kebondanu lalu menyerang dengan nekat, menggunakan pecutnya yang ujungnya telah putus. Walaupun pecut itu telah putus ujungnya, namun serangannya masih dahsyat dan ujung pecut itu masih meledak-ledak ketika menyambar-nyambar ke arah tubuh Candra Dewi.

Semua orang yang berada di situ merasa marah kepada Candra Dewi. Tiga orang di antara mereka telah tewas secara mengerikan karena makan jamur palsu yang beracun dan jamur beracun itu ditujukan untuk mengusir mereka semua. Tentu saja mereka semua menganggap Candra Dewi sebagai musuh. Biarpun ada sebagian dari mereka yang telah meninggalkan daerah itu seperti Wiku Menak Jelangger, Resi Sapujagad, dan Bhagawan Dewokaton, namun jumlah mereka masih ada belasan orang.

Melihat betapa Ki Kebondanu sudah berani menantang Candra Dewi dan kini keduanya sudah bertanding, Kyai Jagalabilawa juga telah mencabut kerisnya dan melompat ke depan membantu Ki Kebondanu mengeroyok Candra Dewi. Melihat ini, dua belas orang yang lebih muda sudah mencabut senjata masing-masing dan mereka juga membantu kedua orang datuk itu mengeroyok wanita yang mereka anggap seperti iblis yang mengancam keselamatan mereka semua.

Kini Candra Dewi dikeroyok oleh empat belas orang! Wanita itu kembali mengeluarkan pekik melengking dan mengamuk, kini bukan hanya dengan kebutan berbulu putih di tangan kirinya, juga ia telah mencabut pedang dengan tangan kanannya dan memainkan pedang itu dengan hebat. Kalau kebutannya berubah menjadi gulungan sinar putih, maka pedangnya bagaikan kilat menyambar-nyambar dan segera terdengar pekik-pekik kesakitan ketika para pengeroyok yang muda satu demi satu roboh dan tewas seketika disambar pedang atau kebutan!

Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra hanya menonton. Bagaimanapun juga, Candra Dewi adalah seorang tokoh Banten, maka mereka merasa tidak enak kalau harus ikut mengeroyoknya. Maka, hanya menonton saja dari pinggiran dan diam-diam mengagumi sepak terjang Candra Dewi yang demikian ganas dan dahsyatnya.

Perkelahian itu memang hebat sekali, seru dan mengerikan. Perkelahian ini membuktikan betapa dahsyatnya Candra Dewi yang sakti mandraguna dan juga kejam bukan main. Kebenciannya terhadap kaum pria terbukti lagi dengan pembantaian yang dilakukan di tepi Muara Sungai Lorog ini.

Kebenciannya terhadap pria itu agaknya bertambah hebat karena satu-satunya pria di dunia ini yang telah ia putuskan untuk menjadi suaminya karena pria itu telah menjamahnya, yaitu Bagus Sajiwo, telah mati terpendam di perut Bukit Keluwung di Pegunungan Wilis. Karena pemuda itu tewas, ia menjadi begitu kecewa, menyesal dan penasaran sehingga timbul kebenciannya yang lebih hebat kepada kaum pria!

Sinar kebutan berbulu putih dan pedang di kedua tangan Candra Dewi bergulung-gulung dan menyambar-nyambar. Pekik dan jerit saling susul diikuti muncratnya darah dan robohnya para pengeroyok dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, dua belas orang pengeroyok muda sudah roboh semua!

Tinggal Ki Kebondanu dan Kyai Jagalabilawa berdua yang masih bertahan. Tingkat kepandaian jagoan Surabaya dan tokoh Madiun ini memang cukup tinggi sehingga mereka berdua dengan kerja sama mampu mengimbangi sepak terjang Candra Dewi. Pecut di tangan Ki Kebondanu, walau pun ujungnya putus, masih berbahaya sekali dan Kyai Jagalabilawa yang dapat mengubah dirinya menjadi dua itupun merupakan lawan yang tangguh.

Akan tetapi Candra Dewi sama sekali tidak gentar, bahkan ia bukan saja dapat menandingi pengeroyokan dua orang itu, melainkan perlahan-lahan dapat mulai mendesak mereka berdua dengan permainan kebutan dan pedangnya. Lewat lima puluh jurus mereka bertanding dan kini dua orang pengeroyok itu hanya mampu bertahan saja, tidak mendapat banyak kesempatan untuk membalas karena kedua senjata Candra Dewi sudah mendesak mereka.

"Tarrr...!" Ki Kebondanu masih mencoba biarpun terdesak untuk menyerangkan cambuknya ke arah kepala Candra Dewi. Akan tetapi Candra Dewi miringkan tubuhnya ke kanan dan pedangnya menyambar dengan tusukan ke arah dada jagoan Surabaya itu.

"Singgg... cappp!" Pedang itu menembus dada Ki Kebondanu. Jagoan Surabaya ini terbelalak dan dia masih sempat menangkap pedang yang memasuki dadanya itu dengan kedua tangannya dan menarik sekuat tenaga. Tarikan pada saat terakhir itu kuat sekali sehingga Candra Dewi tidak mampu mempertahankan. Pedangnya terlepas dari pegangan dan Ki Kebondanu roboh terjengkang, terbanting ke atas tanah dalam keadaan telentang dan tewas seketika dengan pedang menembus dada dan kedua tangannya masih mencengkeram pedang itu sehingga kedua tangan itupun berdarah karena telapak tangannya robek!

Kyai jagalabilawa menjadi ketakutan melihat semua orang roboh dan tewas, Tinggal dia sendiri yang menghadapi amukan iblis betina itu. Akan tetapi dia tidak dapat melarikan diri dan pada saat itu, kebutan bulu putih di tangan Candra Dewi menyambar ke arah bayangannya sebagai orang ke dua. Kyai Jagalabilawa menggunakan kesempatan ini untuk menyerang dengan kerisnya. Akan tetapi tiba-tiba Candra Dewi sudah memukul dengan dorongan tangan kanannya sambil memekik.

"Aji Bajradenta...!"

Tubuh Kyai Jagalabilawa terlempar bagaikan daun kering tertiup angin ketika pukulan ampuh jarak jauh itu dengan telak menghantam dadanya. Dia terbanting roboh dan tewas dengan mata terbelalak, baju bagian dadanya koyak-koyak sehingga tampak dadanya yang berubah hitam seperti hangus. Itulah akibat serangan Aji Bajradenta yang amat ampuh dan panas seperti api lahar!

Kini Candra Dewi mengambil pedangnya yang menancap di dada Ki Kebondanu, membersihkan pedang itu pada pakaian korbannya lalu menyimpannya kembali di punggungnya. Ia berdiri dengan kebutan di tangan kiri dan tangan kanan bertolak pinggang, memandang ke sekeliling, ke arah mayat-mayat empat betas orang yang bergelimpangan dan ia tersenyum mengejek.

"Huh, laki-laki tolol berani menentangku. Dasar sudah bosan hidup!"

Ketika terdengar orang bertepuk tangan, Candra Dewi memutar tubuh dan ia melihat Pangeran Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra bertepuk tangan. "Hemm, kenapa andika berdua bertepuk tangan?" tanya Candra Dewi dengan pandang mata menyeramkan.

"Tentu saja kami berdua bertepuk tangan karena kagum dan bangga, Nyi Candra Dewi. Kagum melihat kesaktianmu dan bangga karena kita bertiga datang dari Banten!"

"Aku tidak membutuhkan pujian andika berdua!" kata Candra Dewi dengan angkuh. "Apakah andika berdua juga hendak mencari Jamur Dwipa Suddhi dan memperebutkannya dengan aku?"

Pangeran Jaka Bintara tidak dapat menjawab dan menoleh kepada paman gurunya seolah minta bantuan. Kyai Gagak Mudra lalu tertawa. "Ha-ha-ha, Nyi Candra Dewi. Kita sama-sama orang Banten mengapa harus berebut? Aku kira andika sebagai seorang kawula Banten tentu suka mengalah terhadap Pangeran Jaka Bintara dan suka meninggalkan daerah ini dan membiarkan sang pangeran mencari dan menemukan Jamur Dwipa Suddhi."

Candra Dewi menggeleng kepalanya. "Aku sudah tiba disini dan siapapun tidak dapat mengusir aku pergi. Aku hanya akan mati atau pergi dari sini kalau ada yang dapat mengalahkan aku!"

"Ah, diantara kita tidak mungkin harus saling serang. Akan ditertawakan orang seluruh nusantara, terutama oleh Mataram. Sekarang begini saja, Nyi Candra Dewi. Kita saling menguji kesaktian, andika melawan kami berdua. Kalau kami kalah, kami akan meninggalkan tempat ini dan andika boleh seorang diri tanpa saingan mencari Jamur Dwipa Suddhi sampai dapat. Akan tetapi sebaliknya kalau kami menang, kami berhak untuk mencari jamur pusaka itu dan harap andika yang meninggalkan tempat ini. Bagaimana, setujukah andika dengan peraturan ini?"

Candra Dewi. mengerutkan alisnya. Kalau orang lain, yang membuat peraturan seperti itu, ia tentu akan langsung menyerang dan membunuh karena mereka berdua ia anggap menentang kehendaknya. Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat berbuat sesukanya, apalagi membunuh Pangeran Jaka Bintara. Hal ini tentu akan mengakibatkan ia dimusuhi Kerajaan Banten dan tentu saja tak akan aman hidupnya kalau ia menjadi musuh dan orang buruan Kerajaan Banten.

"Baiklah! Sekarang begini saja, agar aku tidak sampai kesalahan tangan membunuh kalian berdua, kalian boleh menahan tenaga seranganku dengan Aji Bajradenta. Kalau kalian dapat menahannya, anggap saja kalian menang dan aku akan pergi dari sini." kata Candra Dewi dan dengan ucapan ini berarti ia yang mengatur pertandingan menguji kesaktian itu dan ia telah meremehkan mereka berdua.

Kyai Gagak Mudra yang biasanya tertawa-tawa, kini tersenyum masam karena dia merasa betul betapa dia dipandang rendah. Akan tetapi dia tidak ingin memancing kemarahan wanita yang diju-luki lblis Betina Banten itu, maka dia tertawa. "Ha-ha-ha, baik sekali, Nyi Candra Dewi. Mari kita mengadu kekuatan tenaga sakti lewat pukulan jarak jauh. Kami berdua akan berusaha untuk menahan dorongan tenaga saktimu yang panas itu." Dia lalu menoleh kepada Jaka Bintara, "Pangeran, mari kita bersiap dan kerahkan Aji Hastanala (Tenaga Api) untuk menyambut Aji Bajradenta dari Nyi Candra Dewi."

Jaka Bintara mengangguk dan ia lalu memasang kuda-kuda. Kedua lutut ditekuk sehingga tubuhnya merendah dan setelah membaca mantra dan menggosok-gosok kedua tangan, maka kedua telapak tangannya mengepulkan asap dan kedua telapak tangan itu memerah seperti bara api!

Kyai Gagak Mudra melakukan hal yang sama dan sudah memasang kuda-kuda, siap menyambut dorongan tangan ampuh Iblis Betina Banten itu. Melihat betapa dua orang lawannya sudah siap dengan Aji Hastanala yang dikenalnya sebagai pengerahan tenaga sakti yang Juga bersifat panas, Candra Dewi tersenyum mengejek. Dia lalu mengerahkan tenaga saktinya, menyalurkannya lewat kedua lengannya setelah ia menyelipkan kebutan di ikat pinggangnya kemudian dia berseru.

"Sambutlah Aji Bajradenta!!" Tenaga sakti yang dahsyat menyambar dari kedua telapak tangan Candra Dewi yang terbuka dan didorongkan ke arah kedua orang itu.

Dua orang itu menyambut sambaran hawa pukulan yang dahsyat itu. "Desss...!!" Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra terkejut bukan main ketika merasakan hawa yang amat dingin menyerang pertahanan mereka!

Hawa dingin itu seolah air yang diguyurkan kepada api sehingga tenaga Hastanala mereka melemah dan tubuh merekapun terdorong ke belakang. Mereka terhuyung dan hampir jatuh. Demikianlah hebatnya Aji Bajradenta (Halilintar Putih) dari Candra Dewi itu. Dapat dikerahkan sesuka hatinya, disesuaikan keadaan lawan. Dapat menjadi tenaga yang berhawa panas dan sebaliknya dapat menjadi tenaga berhawa dingin.

Candra Dewi berdiri tegak dan bertolak pinggang, mulutnya tersenyum mengejek. "Bagaimana, Kyai Gagak Mudra dan Pangeran Jaka Bintara?"

Kyai Gagak Mudra lalu berkata, "Hemm, Nyi Candra Dewi memang sakti mandraguna. Kami berdua mengaku kalah dan kami akan kembali ke Banten. Kami harap saja andika akan dapat menemukan Jamur Dwipa Suddhi."

"Terima kasih." kata Candra Dewi dengan hati lega. Iapun merasa tidak enak kalau harus bermusuhan dengan mereka, terutama dengan Pangeran Jaka Bintara.

Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra lalu meninggalkan tempat itu, adapun Candra Dewi masih berdiri memandang ke sekeliling. Akan tetapi, Pangeran Jaka Bintara teringat akan sesuatu dan dia menahan paman gurunya yang juga berhenti melangkah, Kemudian Jaka Bintara memutar tubuh menghampiri lagi Candra Dewi yang beium jauh dia tinggalkan.

"Nyi Candra Dewi, aku ingin memberi tahukan sesuatu yang amat penting kepadamu!" kata pangeran itu dan dia memandang kepada wajah yang jelita itu dengan kagum dan timbul gairah yang tampak pada pandang matanya.

Melihat gairah membayang di mata pangeran itu, seperti yang sering dilihatnya pada pandang mata setiap pria yang bertemu dengannya, Candra Dewi mengerutkan alisnya. Biasanya, pandang mata seperti itu saja sudah cukup baginya untuk membunuh orang! Akan tetapi tentu saja ia tidak dapat menyamakan pria ini dengan pria-pria lainnya. Ini adalah seorang pangeran, pangeran Kerajaan Banten lagi!

"Ada apa, pangeran?" tanyanya.

"Nyi Candra Dewi, kemarin adikmu, Nyi Maya Dewi, dibunuh orang di muara ini." kata Jaka Bintara sambil menuding ke arah tengah muara.

Sepasang mata yang indah namun pandangannya dingin membeku itu terbelalak. "Tidak mungkin! Pangeran Jaka Bintara, jangan andika mencoba untuk membohongi aku!" bentaknya.

"Aku tidak berbohong! Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada paman guru Kyai Gagak Mudra ini. Kami berdua menyaksikan sendiri pembunuhan itu."

Nyi Candra Dewi memandang tajam penuh selidik kepada Kyai Gagak Mudra. "Benarkah andika juga melihat Maya Dewi dibunuh orang, Kyai Gagak Mudra?"

Tokoh Banten itu mengangguk. "Benar, kami melihatnya sendiri."

"Ahhh...!" Dua orang itu mengira bahwa seruan ini menunjukkan bahwa Candra Dewi merasa berduka, padahal sebenarnya tidak demikian.

Tadinya ia merasa heran dan tidak percaya karena ia mengira bahwa Maya Dewi sudah mati tertimbun tanah di perut Bukit Keluwung bersama Bagus Sajiwo. Kalau begitu, mereka tidak mati tertimbun!

"Pangeran, bagaimana terjadinya pembunuhan itu? Dan apakah Maya Dewi datang kesini seorang diri? Ceritakanlah yang jelas, pangeran!"

"Kemarin aku dan paman guru mengundang para datuk yang datang untuk mencari Jamur Dwipa Suddhi ke pondok kami. Kami mengadakan pesta untuk mereka semua yang telah datang ke daerah muara ini. Kemudian muncul Maya Dewi dan ia membikin kacau dan keributan di pondok, berkelahi dengan kami berdua dan semua orang."

"Ia datang seorang diri?" Candra Dewi memotong.

"Tidak, ia datang bersama seorang pemuda remaja yang ternyata sakti mandraguna sehingga semua yang mengeroyok mereka terpaksa melarikan diri meninggalkan mereka berdua di pondok."

"Ahhh...!" seruan ini mengandung kegirangan besar. Memang hati Candra Dewi bersorak. Bagus Sajiwo masih hidup Suaminya masih hidup! Ia sudah menganggap pemuda itu sebagai suaminya, karena dialah satu-satunya pria yang pernah menjamah tubuhnya, pernah menggigit dan merasakan darahnya.

"Lalu bagaimana?" ia ingin tahu sekali apa yang terjadi selanjutnya.

"Kemudian kami melihat mereka berdua meninggalkan pondok dan menghampiri muara. Pada saat itu muncul delapan orang dan mereka menghujani Maya Dewi dan pemuda remaja itu dengan tembakan dari senapan mereka."

"Siapa jahanam-jahanam itu?" tanya Candra Dewi.

"Tidak tahu, akan tetapi mungkin sekali mereka itu mata-mata kaki tangan Kumpeni Belanda karena mereka semua membawa senjata api."

"Dan tembakan-tembakan itu mengenai Maya Dewi dan... pemuda itu?"

"Entah, kami tidak melihat dengan jelas. Akan tetapi Maya Dewi dan pemuda itu terjatuh ke dalam muara dan tidak pernah muncul lagi. Mungkin sekali mereka tewas terkena tembakan delapan orang itu."

"Keparat jahanam!" Candra Dewi menjerit dan ia mencabut pedang dengan tangan kanan dan mengambil kebutan dengan tangan kiri. "Akan kubunuh mereka! Dimana delapan orang itu? Mereka harus mampus di tanganku!" Wanita itu tampak marah sekali.

Jaka Bintara dan paman gurunya tentu saja mengira bahwa Candra Dewi marah mendengar adiknya, Maya Dewi, dibunuh orang-orang yang membawa senapan. Akan tetapi sebetulnya Candra Dewi marah karena mendengar Bagus Sajiwo dibunuh orang, bukan karena Maya Dewi yang dibunuh. Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra merasa gentar melihat Candra Dewi marah sekali dan mereka juga terheran-heran melihat betapa kini kedua mata wanita itu mengeluarkan air mata yang menetes-netes di atas kedua pipinya. Betapa besar rasa sayang iblis betina ini kepada adiknya, pikir mereka.

"Kami juga tidak tahu. Tadinya mereka berada di tepi muara, agaknya menjaga kalau-kalau Maya Dewi dan pemuda temannya itu muncul kembali. Akan tetapi setelah menunggu lama kedua orang itu tidak muncul, maka mereka lalu pergi meninggalkan tempat ini, entah kemana perginya." kata Jaka Bintara.

"Siapa nama mereka? Beritahukan kepadaku!" Candra Dewi membentak.

"Kami juga tidak tahu dan tidak mengenal mereka. Mereka berpakaian seperti penduduk biasa, usia mereka antara sekitar dua puluh lima sampai empat puluh tahun. Sudah, Nyi Candra Dewi, kami hendak pergi sekarang." Pangeran dari Banten dan paman gurunya itu lalu pergi meninggalkan Candra Dewi yang masih memegang kebutan dan pedang.

Setelah dua orang tokoh Banten itu tidak tampak lagi, Candra Dewi mengeluarkan pekik melengking berulang-ulang dan ia lalu mengamuk. Ia menggunakan pedangnya dan kebutannya menyerang apa saja yang berada di depannya. Batu-batu karang pecah berantakan, lalu ia berlari dan mendaki bukit sambil tetap membacoki apa saja yang berada di depannya dengan pedang. Kebutannya juga menyambar-nyambar dahsyat dan setiap kali mengenai batu karang, terdengar ledakan dan batu karang itu pecah berhamburan!

Ia marah, penasaran dan kecewa sekali. Bagus Sajiwo yang telah ia tetapkan menjadi suaminya itu ternyata tidak mati tertimbun batu di perut Bukit Keluwung, akan tetapi baru saja mendengar pemuda yang ia anggap sebagai suaminya itu masih tetap hidup, lalu mendengar pula bahwa pemuda itu tewas tertembak dan tenggelam ke dalam muara Sungai Lorog!

Tiba-tiba Candra Dewi melihat bayangan orang di atas bukit karang. Kalau wanita ini sedang marah, maka siapapun yang dijumpainya akan menjadi korban pelampiasan kemarahannya. Apalagi ketika itu begitu melihat bayangan orang, ia mengira bahwa orang itu tentu seorang diantara para pembunuh Bagus Sajiwo.

Maka ia lalu berlari secepat terbang mendaki bukit, mengejar bayangan orang itu. Akan tetapi setelah dekat, ia merasa kecewa sekali melihat dari belakang bahwa orang itu adalah seorang wanita Rambut hitam lebat itu digelung dan ada ronce-ronce kembang melati menghias sanggul wanita itu.

Kekecewaannya mendapat kenyataan bahwa orang itu jelas bukan seorang diantara para pembunuh Bagus Sajiwo membuat kemarahannya semakin berkobar. Ia melompat ke depan, menerjang dan memukul kepala wanita itu dari belakang, yakin bahwa kepala wanita itu akan pecah dan hancur berantakan terkena tamparan tangannya yang dahsyat!

"Wuuuttt... plakkk!" Wanita itu telah membalikkan tubuhnya dan tangan kanannya menangkis dari samping.

Pertemuan kedua tangan yang sama mungil, lembut dan berkulit putih mulus itu hebat bukan main dan keduanya tergetar dan terdorong ke belakang beberapa langkah. Candra Dewi terkejut bukan main. Ia memandang wanita di depannya dengan alis berkerut.

Ternyata wanita itu adalah seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh satu tahun, cantik jelita, terutama mata dan mulutnya amat indah dan memiliki daya tarik yang kuat. Rambutnya yang disanggul rapi itu dihias untai kembang melati sehingga keharumannya dapat tercium oleh Candra Dewi.

"Siapa engkau?" bentak Candra Dewi dengan bermacam perasaan mengaduk hatinya. Terkejut, heran, penasaran dan marah.

Gadis itu bukan lain adalah Sulastri yang kini menggunakan nama Ni Melati Puspa, ketua dari perkumpulan Melati Puspa. Seperti kita ketahui, ia meninggalkan Gunung Liman dimana perkumpulannya berada, dengan niat untuk merantau karena ia sudah mulai merasa bosan berdiam diri di Gunung Liman. Ia ingin mencari Lindu Aji. Akan tetapi dalam perjalanannya, ia mendengar pula tentang Jamur Dwipa Suddhi yang kabarnya berada di Muara Sungai Lorog, maka iapun segera membelokkan perjalanannya dan menuju ke daerah itu untuk ikut mencari jamur ajaib yang kabarnya mempunyai khasiat yang amat luar biasa dapat menguatkan tubuh itu.

Tadi, ketika ia tiba di bukit karang tentu saja ia mengetahui bahwa ada orang mengejarnya. Ia sengaja berpura-pura tidak tahu. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba-tiba pengejarnya yang sudah berada di belakangnya itu menyerangnya dengan tamparan tangan yang mengandung hawa pukulan amat dahsyat. Ia cepat memutar tubuh dan menangkis yang mengakibatkan ia dan penyerangnya terdorong mundur.

Ketika melihat penyerangnya, seorang wanita berpakaian sutera putih, membawa pedang di punggung dan kebutan di pinggang, tahulah Ni Melati Puspa bahwa wanita inilah yang diceritakan oleh Jayeng, wanita yang mengamuk menghancurkan batu-batu dan menumbangkan pohon-pohon lalu membakar rumah yang tadinya menjadi tempat tinggal Maya Dewi.

"Aha, kiranya. engkau yang dulu mengamuk, memukuli batu dan pohon, membakar rumah, seperti orang sinting itu? Dan ternyata engkau benar-benar sinting, buktinya tiada hujan tiada angin engkau menyerangku dan belakang. Eh, sobat, sayang sekali, engkau cukup cantik kenapa menjadi gendheng (idiot)? Apakah engkau ditinggal pacarmu?" Ni Melati Puspa menggoda.

Setelah meninggalkan perkumpulan Melati Puspa dimana ia menjadi ketuanya, dan melanjutkan perjalanan merantau, muncul kembali watak aseli Sulastri yang jenaka, gagah dan suka berkelakar.

"Keparat! Sebelum mati di tanganku, katakan dulu siapa namamu agar engkau tidak mampus tanpa nama!" bentak Candra Dewi galaK.

"Engkau benar! Tidak baik mati tanpa diketahui namanya, karena itu katakan dulu siapa namamu karena mungkin sekali engkau yang akan mati."

Candra Dewi menjadi semakin marah. Akan tetapi iapun tahu bahwa gadis di depannya ini bukan orang sembarangan dan akan merupakan seorang lawan yang cukup tangguh. "Katakan dulu siapa namamu, baru aku akan memperkenalkan nama!" kembali Candra Dewi membentak dengan ketus.

"Wah, engkau ini sungguh tidak mengenal sopan santun. Engkau yang lebih dulu bertanya, engkau pula yang lebih dulu menyerang. Sudah sepantasnya engkau pula yang lebih dulu memperkenalkan nama!"

Candra Dewi bukan seorang yang pandai bicara. Dikocok dengan kata-kata seperti itu oleh Ni Melati Puspa, wajahnya berubah kemerahan dan matanya seperti berapi. "Keparat, dengarkan baik-baik, aku adalah Nyi Candra Dewi, Iblis Betina dari Banten!" Kata-kata ini diucapkan dengan nada suara nyaring berwibawa karena Candra Dewi yakin bahwa namanya akan membuat gadis di depannya itu menjadi kuncup hatinya dan surut nyalinya.

Akan tetapi ia salah sangka. Ni Melati Puspa sama sekali tidak terkejut karena ia memang belum pernah mendengar nama datuk wanita Banten itu. Ia malah tersenyum manis sekali, lalu membusungkan dadanya yang indah lekuk lengkungnya, menegakkan kepalanya, dan berkata dengan suara dibuat seangker mungkin.

"Sekarang buka telinga dan matamu lebar-lebar, jangan sampai kaget dan mati berdiri mendengar namaku. Aku adalah Ni Melati Puspa dan julukanku... hemm, julukanku Si Pembasmi Iblis Betina!" Tentu saja ia sengaja memakai nama julukan ini hanya untuk membuat wanita galak itu menjadi semakin marah.

Benar saja, mendengar kata-kata yang amat mengejek dan menghinanya itu, Candra Dewi memuncak kemarahannya. Kedua tangannya membentuk cakar dan dari kedua telapak tangannya mengepul asap! Melihat ini, Ni Melati Puspa diam-diam bersiap siaga karena maklum bahwa lawannya amat berbahaya.

"Sambut Aji Bajradenta ini!" Candra Dewi berseru dan ketika kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka didorongkan ke arah Ni Melati Puspa, hawa panas sekali menyambar dengan dahsyatnya.

Ni Melati Puspa mengenal pukulan maut yang ampuh sekali, maka ia tidak berani sembrono menyambut pukulan jarak jauh itu dan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengelak dengan cepat ke samping. Hawa pukulan panas itu lewat di samping tubuhnya dan Ni Melati Puspa segera membalas dengan pukulan jarak jauh pula, yaitu Aji Margopati.

"Wuuuttt... desss!!" Candra Dewi sudah menarik kedua tangannya yang luput memukul, lalu menyambut pukulan Aji Margopati itu dengan tangan kirinya sehingga telapak tangan kirinya bertemu dengan telapak tangan kanan Ni Melati Puspa.

Hebat sekali pertemuan kedua telapak tangan itu. Keduanya terpental ke belakang dan terhuyung. Akan tetapi kalau Ni Melati Puspa terdorong mundur lima langkah, Candra Dewi hanya terdorong mundur tiga langkah. Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa Melati Puspa masih kalah kuat tenaga saktinya!

Diam-djam Ni Melati Puspa terkejut. Ia tahu benar bahwa lawannya memiliki kesaktian yang tidak boleh dipandang ringan, akan tetapi tidak disangkanya bahwa tenaga sakti Candra Dewi sedemikian kuatnya. Maklum bahwa ia tidak akan menang kalau mengandalkan adu tenaga sakti, Ni Melati Puspa segera mencabut pedang dari punggungnya. Tampak sinar hijau berkelebat ketika Kyai Naga Wilis terhunus dari sarungnya yang terukir bunga melati.

"Singgg...!" Sinar hijau yang menyilaukan mata itu membuat Candra Dewi terkejut juga. Ia mengenal pusaka ampuh maka iapun cepat mencabut pedang dengan tangan kanan dan kebutan berbulu putih dengan tangan kiri. Dua orang wanita yang sama cantiknya itu kini saling berhadapan dengan senjata di tangan, mata mereka mencorong dan mudah diduga bahwa mereka akan bertanding mati-matian melawan musuh yang sakti mandraguna!

"Hyaaaattt...!" Ni Melati Puspa menyerang. Sinar hijau meluncur ke arah tenggorokan Candra Dewi, bagaikan bintang jatuh. Candra Dewi tidak berani menyambut langsung dengan pedang atau kebutannya karena ia maklum bahwa pedang bersinar hijau itu amat berbahaya. Maka ia dengan cepat mengelak, tubuhnya bergerak ke kiri dan ketika sinar hijau itu masih menyambarnya, ia memutar tubuh dan menggunakan kebutannya untuk mengebut sinar hijau itu. Walau-pun bukan pedangnya yang langsung menyerang, namun sinar pedang itu masih dapat melukainya, setidaknya dapat merobek bajunya.

"Prat!" Kebutan berhasil menghalau sinar hijau, akan tetapi beberapa helai bulunya rontok! Candra Dewi terkejut dan marah sekali. Dugaannya benar. Pedang lawan yang bersinar hijau itu ampuhnya bukan main. Maka iapun cepat membalas dengan serangan bertubi, menggunakan pedang dan kebutannya.

Terjadilah saling serang yang seru. Keduanya mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaga. Akan tetapi, setelah saling serang selama hampir seratus jurus, dimana Ni Melati Puspa mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melindungi dirinya, akhirnya dia terdesak hebat oleh kebutan dan pedang Candra Dewi yang memang tangguh sekali itu.

Sebetulnya, tingkat ilmu yang mereka kuasai tidak banyak selisihnya, akan tetapi Candra Dewi menang pengalaman dan juga tokoh sesat yang dijuluki Iblis Betina dari Banten ini menguasai banyak jurus-jurus yang licik dan curang di samping keganasannya yang membuat setiap serangannya merupakan ancaman maut bagi lawannya.

Biarpun Ni Melati Puspa didesak hebat, namun gadis ini masih dapat mempertahankan dirinya sehingga belum terkena sepasang senjata lawannya yang sakti mandraguna itu. Diam-diam Ni Melati Puspa penasaran juga. Ia tadi sudah mengeluarkan semua ajinya, termasuk Aji Margopati dan Aji Guruh Bumi yang hebat. Namun semua serangannya dengan ajian yang ampuh itu dapat dipunahkan lawan. Dan kini lawannya mendesak dengan hebat. Ni Melati Puspa hanya mampu melindungi dirinya dengan keampuhan pedang Naga Wilis yang dimainkannya dengan ilmu pedang yang didasari ilmu silat Sunya Hasta.

Nyi Candra Dewi juga amat penasaran. Selama ini, jarang sekali ia menemui tanding, bahkan selama hidupnya baru sekali ia dikalahkan orang, yaitu ketika ia bertemu dengan Resi Tejo Wening yang dulu bertapa di Gunung Sanggabuwana di Banten. Ia merupakan datuk wanita yang sukar ditandingi di Banten. Akan tetapi kini, di daerah Mataram, kalau tadi ia mengamuk membunuh banyak orang dan tidak menemukan lawan yang dianggap berat, kini melawan seorang gadis muda saja sampai seratus jurus ia belum mampu merobohkannya!

Lawannya benar-benar memiliki ilmu silat yang hebat dan pedang yang ampuh sekali sehingga ia hanya mampu mendesak dan sebegitu jauh belum juga mampu merobohkannya. Ia telah mengeluarkan jurus-jurus simpanan yang penuh tipu daya, namun pertahanan lawan sungguh kuat dan rapat. Pedang ditangan lawan itu lenyap, berubah menjadi gulungan sinar hijau yang menyelimuti tubuhnya sehingga sukar sekali bagi kebutan dan pedangnya untuk mengenai tubuh lawan yang dapat bergerak demikian ringan dan lincahnya.

Candra Dewi adalah seorang yang cerdik dan banyak pengalaman. Ia segera teringat betapa lawannya kalah banyak dalam tenaga sakti ketika mereka tadi mengadu kekuatan. Dengan kelebihan tenaga sakti inilah ia akan mampu merobohkan dan membunuh lawan yang ulet ini, pikirnya. Maka ia lalu mengubah serangannya. Kini tidak menyerang ke arah tubuh Ni Melati Puspa, melainkan menyerang ke arah pedangnya yang bersinar hijau! Ia sengaja mengerahkan tenaga sakti untuk mengadu pedangnya dengan pedang lawan. Juga kebutannya mengeroyok dan menyerang pedang lawan!

Terdengar bunyi berdentangan bertubi-tubi. Ni Melati Puspa terkejut sekali. Setiap kali mereka mengadu kekuatan lewat pedang, tangannya tergetar hebat. Lawannya terus saja menyerang ke arah pedangnya. Memang bulu kebutan itu banyak yang rontok dan ujung pedang ditangan Candra Dewi bahkan pa ah. Akan tetapi di lain pihak, Ni Melati Puspa merasa lengan kanannya pegal dan lelah, telapak tangannya yang memegang pedang terasa panas dan perih!

Melihat hasil siasatnya, Candra Dewi merasa girang dan ia lalu mengerahkan seluruh tenaganya, menggerakkan kebutan di tangan kirinya. Kebutan itu menyambar ke depan melibat pedang Naga Wilis, lalu pedangnya menyambar, menghantam pedang Naga Wilis dengan kuatnya.

"Tranggg.鈥�!!" Pedang di tangan Candra Dewi patah tengahnya menjadi dua potong, akan tetapi pedang Naga Wilis terlepas dari tangan Ni Melati Puspa dan terenggut oleh kebutan. Candra Dewi lalu menyambar pedang lawan itu setelah membuang gagang pedangnya sendiri.

Ni Melati Puspa terkejut bukan main. Tadi ia tidak kuat lagi mempertahankan pedangnya karena hantaman pedang lawannya membuat pedangnya terpental dan jari-jari tangannya tidak dapat mempertahankan karena seperti lumpuh tak bertenaga. Ia melompat ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak betapa pedang Naga Wilis telah terampas lawan.

Dengan mengeluarkan pekik melengking Candra Dewi melompat ke depan dan menyerang Ni Melati Puspa dengan sepasang senjatanya. Sinar hijau menyambar ketika pedang Naga Wilis yang telah berpindah tangan itu menyambar dengan tebasan ke arah leher pemiliknya. Ni Melati Puspa yang sudah tidak memegang senjata lagi, cepat mengelak ke belakang. Akan tetapi sinar putih kebutan menyambar, bulu-bulu kebutan itu menjadi kaku karena terisi tenaga sakti, menotok ke arah dada Ni Melati Puspa.

Gadis ini sekali lagi mengelak ke kiri dan kakinya mencuat, menendang ke arah perut Candra Dewi. Akan tetapi ia harus cepat mengurungkan tendangannya karena Candra Dewi mengelebatkan pedangnya sehingga kalau tendangan tadi dilanjutkan, kaki kiri Ni Melati Puspa tentu akan menjadi buntung bertemu dengan Kyai Naga Wilis!

Nyi Candra Dewi kini menyerang lagi dengan ganas dan dahsyatnya Ni Melati Puspa hanya dapat menghindarkan diri dengan gerakan silat Sunya Hasta. Untung ia telah menguasai ilmu silat tangan kosong ini dengan baik. Ilmu silat ini memiliki gerakan lincah dan langkah-langkahnya aneh, namun selalu dapat menghindarkan diri dari serangan lawan. Ni Melati Puspa tidak melihat lubang atau kesempatan untuk melarikan diri lagi, maka ia hanya mengandalkan kelicahannya untuk menyelamatkan diri dari sambaran kedua senjata lawan yang ampuh itu.

Bagaimanapun lincahnya Ni Melati Puspa, namun berkelahi hanya mengandalkan kemampuan mengelak tanpa membalas serangan lawan yang bertubi-tubi tak mungkin dapat dipertahankan terlalu lama. Apalagi yang ia hadapi bukan lawan biasa, melainkan Candra Dewi yang memiliki kesaktian yang tinggi. Akhirnya, dalam suatu kesempatan baik, kebutan Nyi Candra Dewi berkelebat dan bulu-bulu kebutan berhasil membelit betis Ni Melati Puspa dan sekali sendal (tarik kuat-kuat secara mendadak), tak dapat dihindarkan lagi tubuh Ni Melati Puspa terguling roboh telentang!

"Mampuslah!" Nyi Candra Dewi berseru dan ia mengangkat pedang Naga Wilis ke atas untuk dibacokkan ke arah kepala Ni Melati Puspa.

Ni Melati Puspa tidak dapat mengelak lagi. Satu-satunya jalan hanyalah menangkis dengan lengannya. Namun, ia tahu bahwa walaupun ia akan melindungi lengannya dengan tenaga sakti, tidak mungkin kekebalan lengannya dapat menahan keampuhan Pedang Naga Wilis. Daripada lengannya buntung dan akhirnya iapun akan mati, lebih baik langsung mati tanpa mengalami siksaan dulu. Maka, Ni Melati Puspa membuka mata lebar-lebar, siap menerima bacokan pedangnya sendiri yang akan menamatkan riwayatnya. Ia ingin mati dengan mata terbuka menanti datangnya tangan maut, mati sebagai seorang gagah perkasa!

Akan tetapi, pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Ni Melati Puspa itu, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan pedang Naga Wilis yang sudah membacok ke bawah itu tertangkis oleh sesuatu.

"Tranggg...!!" Pedang itu terpental dan Candra Dewi cepat melompat ke belakang dengan hati terkejut bukan main. Pedang itu tertangkis oleh benda keras yang amat kuat, yang membuat lengan kanannya seperti lumpuh dan tergetar hebat!

Ketika ia memandang, ia menjadi semakin kaget dan heran karena yang menangkisnya itu adalah seorang pemuda yang memegang sebatang ranting pohon dan kayu sebesar lengan itu masih basah, bahkan ada beberapa helai daun masih menempel pada ranting itu! Bagaimana mungkin? Hanya sebatang ranting pohon dapat menangkis pedang pusaka itu dan hampir saja membuat ia melepaskan pedang? Ia merasa penasaran dan marah, cepat ia menerjang kedepan, menusukkan pedangnya ke arah dada pemuda itu. Pemuda itu menggerakkan rantingnya menangkis.

"Tranggg...!" Kembali Candra Dewi merasa tangannya tergetar hebat sehingga ia cepat melompat ke belakang.

Sementara itu, Ni Melati Puspa yang tadi sudah menanti datangnya maut, merasa seperti bermimpi ketika ia tidak jadi mati. Apalagi ketika ia melihat pemuda yang telah menolongnya. "Kakangmas Aji...!!" Sulastri berseru sambil melompat berdiri.

Melihat betapa saktinya pemuda itu dan tampaknya Ni Melati Puspa mengenal baik pemuda itu, Candra Dewi menjadi gentar. Ia maklum bahwa melawan pemuda itu saja sudah merupakan lawan yang amat berat, apalagi kalau ia dikeroyok oleh pemuda itu dan Ni Melati Puspa. Akan celakalah dirinya! Maka, ia lalu melompat jauh dan melarikan diri seperti terbang cepatnya meninggalkan tempat itu.

Sambil berlari cepat, Candra Dewi marah sekali kepada dirinya sendiri. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri. Belum pernah selama hidupnya ia melarikan diri ketakutan seperti itu! Akan tetapi ia yakin betul bahwa kalau ia tidak lari, bukan saja ia akan kehilangan pedang pusaka ampuh yang berada di tangannya, bahkan sangat besar kemungkinannya, ia akan kehilangan nyawanya pula.

Ni Melati Puspa yang juga keras hati dan galak itu pasti tidak akan mau memaafkannya. Maka terpaksa ia melarikan diri, walaupun hal itu amat berlawanan dengan keangkuhan dan kesombongannya yang merasa bahwa dirinya merupakan orang yang paling sakti mandraguna dan tidak ada tandingannya!

Sementara itu, pemuda itu yang bukan lain adalah Lindu Aji, berdiri tertegun memandang Sulastri atau Ni Melati Puspa. Gadis itupun memandang kepadanya dan tak tertahankan lagi, kegembiraan bercampur keharuan membuat kedua mata gadis itu basah dan akhirnya air matanya menetes-netes ke atas sepasang pipinya.

"Engkau... engkau... Sulastri...?!?" Lindu Aji berkata seperti dalam mimpi.

"Mas Aji...!" Sulastri menjerit dan menangis. Entah siapa yang lebih dulu bergerak, akan tetapi keduanya maju dan saling tubruk, saling rangkul dan Sulastri menangis di atas dada Lindu Aji. Tangisnya sesenggukan, mengguguk sampai mingsek-mingsek dan suara yang terdengar dari mulutnya hanya lirih, "Mas Aji... Mas Aji...!"

Lindu Aji mendekap kepala itu ke dadanya, seolah ingin membenamkan kepala itu ke dalam dadanya agar tidak berpisah lagi. Dia seolah menemukan kembali mustika yang selama ini hilang. Dia menggunakan jari-jari tangannya yang gemetar untuk mengelus rambut hitam lebat yang berbau harum melati itu, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya agar semua perasaan yang menguasai hatinya tertumpahkan dan mencair. Hanya tangis dan membanjirnya air mata yang dapat menghapus segala maram perasaan yang menghimpit hati. Dada Lindu Aji sampai basah oleh air mata yang menembus bajunya. Air mata itu terasa hangat, menghangatkan hatinya.