Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 21

"BABO-BABO, bocah lancang! Seruling Gading, kami adalah orang-orang yang membela Kadipaten Surabaya. Pergilah dan jangan mencampuri urusan kami kalau engkau ingin selamat!" bentak Kyai Sidhi Kawasa.

Pasukan Surabaya yang masih siap dengan senjata mereka, yang kini berbesar hati karena muncul kakek sakti yang membantu mereka, kini mulai mengurung Parmadi dan siap menyerang. Mendengar ini, Parmadi merasa heran mengapa kakek sakti ini membantu Surabaya dan siapa pula orang gagah perkasa yang diserang ini dan yang temannya tewas. Maka untuk memperoleh penjelasan, dia lalu bertanya kepada Tumenggung Alap-alap.

"Kisanak, siapakah andika dan mengapa berkelahi di sini?"

Tumenggung Alap-alap merasa bahwa dia telah ditolong pemuda ini, bahkan telah diselamatkan nyawanya, dan melihat penampilan Parmadi yang berjuluk, Seruling Gading itu, dia lalu menjawab, terus terang, "Orang muda, aku adalah Tumenggung Alap-alap, senopati dan utusan Kanjeng Gusti Sultan Agung di Mataram. Baru saja, aku diutus junjunganku menghadap Gusti Pangeran Pekik di Surabaya yang menerimaku dengan baik, menyerahkan surat yang dibalas pula oleh sang pangeran. Akan tetapi tiba-tiba datang pasukan ini yang katanya mendapat perintah sang pangeran untuk menangkap aku. Tentu saja aku yang tidak merasa bersalah melawan dan kakek ini datang membantu pasukan, membunuh seorang pembantuku dan nyaris membunuhku."

Parmadi kini maklum siapa yang harus dibantunya. Tentu saja senopati Mataram itu yang harus dibantunya. Akan tetapi agar persoalannya jelas, dia lalu menghadapi Kyai Sidhi Kawasa dan dua belas orang pasukan itu. "Kenapa Gusti Pangeran Pekik menyuruh kalian membunuh utusan Gusti Sultan Agung?"

"Bocah, jangan ikut campur!" bentak Kyai Sidhi Kawasa. "Madura adalah musuh Mataram, tahukah kamu?"

"Akan tetapi, menurut Ki Tumenggung ini, Pangeran Pekik telah menerimanya dengan baik," bantah Parmadi.

"Kami diperintah Gusti Pangeran untuk menangkap Tumenggung Alap-alap dan membawanya kembali ke Surabaya karena kami mendengar bahwa Mataram sudah sia-siap untuk menyerang Madura yang menjadi sekutu Surabaya. Karena dia menolak, maka kami mendapat tugas untuk membunuhnya!" kata perwira yang memimpin pasukan itu.

"Kalau begitu, kalian yang tidak benar! Aku akan membela Ki Tumenggung!" kata Parmadi dengan sikap tenang.

Kyai Sidhi Kawasa menjadi marah sekali. Dia memutar tasbehnya sehingga terdengar bunyi berkeritikan yang nyaring. Parmadi berkata kepada Tumenggung Alap-alap, "Paman Tumenggung, minggirlah dan tanggulanggi saja kalau para perajurit ini hendak melakukan pengeroyokan. Biar saya yang menghadapi kakek ini." Kemudian dia menghadapi kakek itu dan berkata kepadanya, "Kakek yang baik, andika sudah tua mengapa memusuhi Mataram? Siapakah andika dan dari mana andika datang?"

"Seruling Gading! Memang sebaiknya engkau mengenalku agar tidak mati penasaran dan tahu siapa yang membunuhmu nanti. Aku adalah Kyai Sidhi Kawasa, mantan senopati Kerajaan Banten. Akulah datuk di Banten!"

Parmadi mengangguk-angguk. Dia pernah mendengar dari gurunya, Resi Tejo Wening, bahwa ada tiga datuk besar yang memusuhi Mataram dan bahwa dia harus berhati-hati menghadapi mereka. Mereka adalah Ki Harya Baka Wulung datuk dari Madura, Sang Wiku Menak Koncar datuk dari Blambangan dan ketiga adalah Kya Sidhi Kawasa dari Banten. Kiranya inilah orangnya!

"Ah, kiranya andika yang bernama Kyai Sidhi Kawasa dari Banten! Sudah lama sekali aku mendengar bahwa engkau selalu memusuhi Mataram, bahkan ketika Raja Banten hendak berbaik dengan Gusti Sultan Agung, engkau mengundurkan diri dari kedudukanmu sebagai seorang senopati agung."

"Bagus kalau engkau sudah tahu akan hal itu. Setelah engkau mengetahui bahwa aku musuh Mataram, kenapa engkau musih berani untuk membela Mataram di depanku? Apakah engkau sudah bosan hidup, orang muda?"

"Kyai Sidhi Kawasa, aku adalah seorang kawula Mataram, sudah sepantasnya kalau aku membela Mataram dengan taruhan nyawaku. Kalau engkau membela Banten mati-matian, hal itu masih dapat kumengerti. Akan tetapi kini engkau membela Surabaya dan Madura, apa artinya ini? Apa engkau sudah menjadi tukang pukul yang menerima bayaran dari sana-sini?"

"Bocah sombong lancang mulut! Aku membantu siapa saja yang memusuhi Mataram! Kalau engkau membantu dan membela Mataram, berarti engkau musuhku dan harus mati ditanganku!" Dia masih memandang rendah pemuda yang bernama seperti alat gamelan yang dijadikan senjata di tangannya, yaitu Seruling Gading dan mengalungkan tasbeh di lehernya, kemudian dia sudah menerjang ke depan menggerakkan kedua tangannya. Kedua telapak tangan itu bertepuk tiga kali, terdengar suara nyaring dan kedua telapak tangan itu mengeluarkan bunga api yang berpijar, seolah yang diadu itu bukan telapak tangan, melainkan dua lempengan baja.

Diam-diam Parmadi menjadi waspada. Dia tahu bahwa kakek itu sungguh seorang yang sakti mandragrrna, seperti pernah diceritakan oleh Resi Tejo Wening kepadanya. Dia dapat menduga bahwa kedua tangan kakek itu mengandung hawa sakti yang panas. Gurunya yang amat menyayangnya telah menurunkan dua macam aji yang amat hebat kepadanya, yaitu Aji Sunya Hasta (Tangan Kosong) dan Aji Sunyatmaka (Berjiwa Bebas) yang dapat dia kerahkan melalui tiupan seruling gading pemberian gurunya. Dua ilmu ini sudah lebih dari cukup untuk menghadapi ilmu yang bagaimanapun hebatnya, baik ilmu silat maupun ilmu sihir yang berbahaya.

Kini, menghadapi terjangan kakek itu yang menggunakan Aji Hastanala (Tangan Api), dengan tenang Parmadi mengelak ke samping lalu menggerakkan tangannya menggapai sebagai tangkisan dengan pergelangan tangan diputar. Tampaknya gerakan ini kosong saja, tidak mengandung tenaga apapun, akan tetapi ketika Kyai Sidhi Kawasa hendak menggunakan tangannya yang panas itu untuk menggempur tangan Parmadi, dia merasa terkejut bukan main. Seluruh tubuhnya tergetar dan tangannya yang bertemu dengan tangan Parmadi seperti api yang dimasukkan air dingin, terasa dingin menyusup tulang!

Tentu saja dia terkejut bukan main dan melompat ke belakang. Namun, ternyata Parmadi tidak bermaksud mencelakainya, karena tangan kirinya tidak cidera. Kyai Sidhi Kawasa merasa penasaran dan dia lalu menggosok-gosok lagi tangan kirinya dengan tangan kanan sehingga tangan kiri itu menjadi panas membara kembali! Dia lalu menyerang dengan ganas sekali, mengeluarkan seluruh kecepatannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun, dengan gerakan yang tampaknya lambat saja, Parmadi dapat menghindarkan diri dari semua serangan dan juga dia mampu membalas dengan tamparan-tamparan yang tampaknya perlahan saja, akan tetapi setiap kali ditangkis oleh tangan Kyai Sidhi Kawasa, kakek itu terdorong dan tubuhnya terguncang keras!

Sementara itu, Ki Tumenggung Alap-alap sudah dapat mengambil kerisnya yang tadi terpental dan berdiri tegak menjaga agar dua belas orang perajurit itu tidak ada yang bergerak mengeroyok. Para perajurit itu agaknya juga tidak berani sembarangan turun tangan karena tadi mereka sudah merasakan betapa tangguhnya sang senopati dari Mataram itu. Mereka hanya mengharapkan Kyai Sidhi Kawasa memenangkan pertandingan melawan pemuda yang menyebut dirinya Seruling Gading itu karena kalau kakek itu menang, akan mudah saja menangkap atau membunuh Tumenggung Alap-alap.

Kyai Sidhi Kawasa menjadi semakin penasaran dan akhirnya menjadi marah sekali. Sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa seorang yang masih begitu muda dapat menandingi Aji Hastanala yang jarang bertemu tanding itu, bahkan dia mulai terdesak setelah mereka bertarung selama tiga puluh jurus lebih. Dia tahu bahwa sekali saja dia terkena tamparan tangan yang kelihatan tak bertenaga itu, belum tentu dia akan dapat bertahan.

"Aji Analabanu! Augghhhh...!!" Dia berteriak dengan suara nyaring dan serak seperti auman seekor binatang buas. Kedua tangannya mendorong ke depan dan tampak sinar berapi meluncur dan menyerbu ke arah Parmadi. Ini merupakan aji pukulan jarak jauh yang amat dahsyat. Parmadi maklum akan kehebatan pukulan ini, maka diapun merentangkan kedua kakinya, lutut agak ditekuk dan menggunakan kedua tangan mendorong ke depan untuk menyambut serangan lawan sambil berseru lirih. "Hehhh...!"

"Syuuuuttt... byarrrr...!!" Sinar berapi itu seperti pecah berhamburan menjadi bunga-bunga api dan tubuh Kyai Sidhi Kawasa terhuyung ke belakang, wajahnya pucat dan keringat membasahi dahinya. Dasar orang yang sudah terbiasa mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain, Kyai Sidhi Kawasa tidak merasa kalah, bahkan menjadi semakin marah. Dia mengambil tasbeh dari lehernya dan memutar senjata aneh yang biasa dipakai untuk bersembahyang itu. Terdengar bunyi berkeritikan dan ketika dia menggerakkan tasbeh itu, tampak sinar hitam menyambar-nyambar ke arah Parmadi. Pemuda ini sudah siap siaga.

Seruling gading telah berada di tangannya dan kini dua orang itu bertanding, mempergunakan dua senjata mereka yang aneh. Kalau tasbeh itu berubah menjad sinar hitam bergulung-gulung, seruling gading itupun berubah menjadi sinar kuning putih yang terang. Kalau tasbeh itu mengeluarkan suara berkeritikan, suling itu mengeluarkan suara melengking-lengking seperti ditiup. Suatu pertandingan yang aneh dan para perajurit Surabaya menjadi pening mendengar dua suara yang amat berbeda itu. Bahkan Ki Tumenggung Alap-alap harus mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi telinganya agar dia jangan sampai terserang dan menjadi pening pula.

Kedua senjata itu beberapa kali bertemu dengan kuatnya dan setiap kali beradu, tubuh Kyai Sidhi Kitwasa tergetar hebat. Akhirnya saking marahnya, hampir putus asa karena makin lama tenaganya semakin berkurang, kakek itu melompat ke belakang lalu mengeluarkan suara tawa yang aneh namun yang amat hebat pengaruhnya! Suara itu seperti gelombang melanda telinga dan jantung. Dua belas orang perajurit itu jatuh bergulingan, bahkan Tumenggung Alap-alap kini duduk bersila mengerahkan tenaga sakti untuk menolak pengaruh suara yang dahsyat itu.

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan merdu ditiup oleh Parmadi, mengalunkan lagu yang amat indah menyenangkan, sejuk rasanya di telinga dan hati dan perlahan-lahan pengaruh suara tawa iblis itupun reda dan lenyap. Ketika Tumenggung Alap-alap mengangkat muka, dia melihat bahwa kakek itu telah melarikan diri tunggang-langgang, meninggalkan dua belas orang perajurit yang sudah tak bergulingan lagi, namun dengan wajah pucat mereka masih duduk di atas tanah seperti orang bingung dan ketakutan. Parmadi sudah siap untuk mencegah kalau-kalau senopati Mataram itu hendak membunuh mereka. Akan tetapi ternyata tidak. Tumenggung Alap-alap hanya berkata kepada mereka.

"Cepat kalian gali lubang dan kuburkan jenazah Ki Katawengan ini dengan baik-baik?" Dua belas orang perajurit yang ketakutan itu segera melaksanakan perintah itu. Mereka menggali lubang dengan cepat.

Sementara itu, Tumenggung Alap-alap menghampiri Parmadi dan berkata dengan kagum. "Orang muda, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Bolehkah aku mengetahui siapa nama andika?" Mereka bicara agak jauh dari tempat di mana para perajurit Surabaya itu menggali lubang agar percakapan mereka tidak sampai terdengar oleh mereka.

"Paman tumenggung, nama saya adalah Parmadi dan orang yang tidak mengenal saya menyebut saya Seruling Gading."

"Engkau memang pantas menggunakan sebutan Seruling Gading. Ilmu kepandaianmu tinggi sekali. Kenapa engkau tidak mengabdi kepada Gusti Sultan Agung? Melihat kemampuanmu, tentu Kanjeng Gusti Sultan Agung akan memberi kedudukan yang tinggi kepadamu."

"Saya tidak mencari kedudukan, paman tumenggung. Akan tetapi saya memang siap membantu Mataram menghadapi musuh-musuhnya."

"Bagus kalau begitu. Aku menganjurkan agar andika membantu gerakan Mataram yang sudah bersiap-siap untuk menyerbu Madura, anakmas Parmadi. Kepandaiamu diperlukan sekali karena Madura dibantu banyak orang-orang pandai dan sakti mandraguna, disamping bantuan pihak Kumpeni Belanda yang agaknya tidak tinggal diam melihat Madura dan Surabaya akan ditundukkan Mataram."

"Akan tetapi saya masih merasa heran, paman. Tadi paman mengatakan bahwa sebagai utusan Kanjeng Gusti Sultan Agung, paman telah diterima dengan baik oleh Pangeran Pekik, Adipati Surabaya. Mengapa sekarang paman hendak dibunuh oleh pasukan Surabaya?"

Tumenggung Alap-alap menghela napas panjang. "Itulah yang membuat hatiku merasa penasaran sekali, anak-mas. Agaknya Pangeran Pekik mendapat bujukan orang-orang jahat seperti kakek tadi yang membenci Mataram sehingga dia bertindak plintat-plintut. Hal ini harus kulaporkan segera kepada Gusti Sultan Agung."

Pada saat itu, penggalian lubang kuburan telah selesai dan Tumenggung Alap-alap lalu mengubur jenazah Ki Katawengan secara sederhana sekali. Setelah itu, Tumenggung Alap-alap mengijinkan dua belas orang perajurit Surabaya itu untuk kembali ke Surabaya dan diapun berpisah dari Parmadi. Pemuda itu melanjutkan perjalanannya ke pantai untuk mencari penyeberangan ke Madura. Sementara itu, Tumenggung Alap-alap menggunakan seekor kuda yang dirampasnya dari seorang perajurit karena kudanya sendiri sudah kabur entah ke mana, melakukan perjalanan cepat kembali ke Mataram.

Ketika Ki Kalingga, pembantu Tumenggung Alap-alap tiba di Mataram, dia langsung mohon menghadap Sang Prabu Setelah menghadap dan menyerahkan surat dari Pangeran Pekik, Sultan Agung membaca surat itu dan seketika mukanya berubah kemerahan saking marahnya. Surat itu sungguh mengandung tantangan. Bukan sekedar penolakan kerja sama, akan tetapi juga isinya merendahkan Mataram!

"Hemm, keparat. Berani benar dia membuat surat seperti ini kepadaku?" geram Sultan Agung sambil mengepal surat itu. Surat itu seketika hancur terkena cengkeraman tangan yang sakti, menjadi debu berhamburan. Tak lama kemudian datang laporan bahwa Tumenggung Alap-alap datang dan mohon menghadap. Sultan Agung cepat menerima utusannya itu dan makin memuncak kemarahannya mendengar betapa Pangeran Pekik tidak hanya mengirim surat yang isinya kurang ajar, bahkan mengirim pasukan untuk mengejar dan membunuh utusannya itu.

"Hamba nyaris binasa, gusti. Untung bahwa berkat pangestu paduka hamba masih dilindungi oleh Gusti Allah. Pasukan itu dibantu oleh Kyai Sidhi Kawasa, datuk dari Banten yang sakti mandraguna dan hamba sudah kalah dan roboh, nyaris terbunuh oleh datuk itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang pemuda perkasa bernama Parmadi yang berjuluk Seruling Gading dan dia telah menyelamatkan hamba dan mengusir Kyai Sidhi Kawasa. Hamba sudah menganjurkan dia untuk mengabdi kepada paduka, akan tetapi dia mengatakan bahwa dia tidak menginginkan kedudukan, hanya ingin membantu Mataram menghadapi musuh-musuh sebagai sukarelawan."

Sultan Agung mengangguk-angguk. "Sejak dulu Kyai Sidhi Kawasa memang memusuhi Mataram, terutama memusuhi kami karena dia pernah kami halangi dan kami kalahkan ketika hendak melakukan perbuatan yang jahat dahulu puluhan tahun lalu ketika kami masih muda."

Kemudian Sang Prabu berpaling kepada senopati kepercayaannya, yaitu Ki Suroantani dan memberi perintah, "Suroantani, catat nama Parmadi atau Seruling Gading itu. Kelak jangan lupa ingatkan kami untuk memberi anugerah kepadanya!"

"Sendika, gusti," jawab Suroantani.

"Sekarang, balatentara harus dipersiapkan untuk menyerbu Madura! Panggil para menteri dan panglima untuk semua menghadap pada kami hari ini untuk persiapan itu!"

Suroantani lalu memerintahkan para pembantunya mengundang semua panglima dan menteri dan pada hari itu juga rnereka semua menghadap Sultan Agung. Setelah semua ponggawa menghadap, Sultan Agung lalu mengatur siasat dan membagi-bagi perintah. Di antara mereka terdapat pula Jayasupanta yang telah memimpin pasukan menaklukkan Kadipaten Tuban dan Sultan Agung memberi anugerah kepadanya dengan mengangkatnya menjadi Tumenggung Sujanapura.

"Tumenggung Sujanapura, andika kami serahi tugas memimpin pasukan menyerbu dan menaklukkan seluruh Pulau Madura, dengan dibantu oleh Senopati Bragola dan Senopati Sumedang. Para Panglima yang menjadi bawahanmu harus memimpin pasukan masing-masing. Mereka adalah Tumenggung Jagabaya, Panji Nirabumi, Ngabei Patrabangsa, Demang Suradaksa, Rangga Awu-awu, dan Ki Panji Singajaya. Berangkatkanlah pasukan kalian melalui Majaranu, menyeberang ke Madura."

"Sendika dhawuh paduka, gusti!" kata Tumenggung Sujanapura yang diikuti para panglima yang namanya disebut tadi.

"Dan andika, Senopati Bragola. Dalam membantu pasukan yang dipimpin Tumenggung Sujanapura, andika bawalah balatentara dua laksa banyaknya dan andika serbu Madura lewat laut, berangkatlah dari Juwana dibantu para panglima dari Pati, yaitu Patih Harya Mangunjaya dan Patih Harya Sindureja. Adapun para panglima yang membantu andika memimpin pasukan masing-masing adalah Harya Sawunggaling, Ki Demnng Prawiratan, Ngabei Wirasraya, Rangga Penantang Yuda, Rajamenggala dan masih ada beberapa orang perwira yang dapat andika pilih sendiri di antara kalian. Dari Juwana andika bawa pasukan melalui lautan dan menuju ke Sedayu. Di sana baru pasukan andika bergabung dengan pasukan Sujanapura dan melanjutkan penyerbuan ke Madura dengan naik perahu. Nah, sudah mengertikah kalian semua?"

Para senopati dan perwira itu menyanggupi dan menyatakan sudah mengerti. Setelah mengadakan persiapan selama sehari penuh, pada keesokan harinya pagi-pagi berangkatlah balatentara Mataram yang dibagi menjadi dua barisan besar terdiri dari pasukan-pasukan yang dipimpin para panglima dengan nama sandi masing-masing. Ada pasukan anak panah, pasukan tombak, pasukan golok, pasukan pedang dan pasukan keris yang terdiri dari ahli-ahli dalam mempergunakan senjata masing-masing.

Di samping pasukan-pasukan berbagai senjata ini, juga terdapat pasukan perawat yang bertugas menolong dan merawat mereka yang terluka dalam perang, pasukan ahli masak, perawat kuda dan sebagainya lagi. Balatentara Mataram mulai bergerak dengan segala perlengkapannya. Mereka tidak membawa ransum, karena didaerah-daerah yang telah mereka kuasai telah didirikan pusat pengumpulan ransum untuk gerakan ini.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sepasang orang muda itu memasuki Kadipaten Surabaya. Mereka menarik perhatian semua orang karena memang Satybrata dan Maya Dewi merupakan seorang pemuda dan seorang dara yang serasi sekali. Pemuda itu tampan dan gagah bukan main, tubuhnya yang tinggi tegap, kulitnya yang putih bersih dan matanya agak kebiruan, rambutnya hitam berombak, membuat mata setiap orang wanita yang bertemu dengannya memadangnya dengan kagum dan penuh perhatian.

Dara yang berjalan di sampingnya itupun cantik jelita, ayu manis merak ati. Rambutnya hitam panjang berombak pula, terurai lepas, wajahnya bulat, kulit putih mulus dan matanya lebar seperti sepasang bintang, hidung mancung dan bibirnya menggairahkan, tubuhnya denok ramping padat. Satyabrata dan Maya Dewi memasuki kota Surabaya dan menjadi perhatian banyak orang.

Namun kedua orang muda itu tidak perduli karena mereka berdua sudah terbiasa menghadapi pandangan kagum seperti itu. Bahkan dengan penuh kesadaran akan keelokan wajah mereka yang membuat banyak orang tergila-gila, mereka tampil dengan anggun, membayangkan senyum semanis-manisnya dan setiap gerak bibir, kerling mata, dan gerak-gerik mereka lakukan dengan daya tarik yang amat kuat.

Seperti diceritakan di bagian depan, dua orang muda yang memiliki watak dasar yang tak jauh berbeda ini saling jumpa secara kebetulan sekali dan mereka saling tertarik. Kecantikan dan kemulusan tubuh Maya Dewi seketika membuat Satyabrata yang memang mata keranjang itu tergila-gila, apalagi melihat bahwa Maya Dewi memiliki ilmu kepandaian yang cukup tangguh. Sebaliknya, Maya Dewi sebetulnya tidak mudah tertarik kepada seorang pria dan selama ini ia belum pernah bergaul dengan pria. Akan tetapi, setelah mendapat kenyataan betapa Satyabrata dapat mengalahkannya, bahkan dapat mengalahkan sabuk cindenya dengan mudah, ia merasa bahwa pemuda ini memiliki segala-galanya yang membuatnya amat berharga untuk menjadi sahabatnya, bahkan menjadi pasangannya.

Pemuda itu tampan dan gagah, juga sakti madraguna. Lebih-lebih lagi setelah ia mendapat kenyataan bahwa pemuda itu seorang telik sandi Kumpeni Belanda yang memiliki kedudukan tinggi, terbukti dari dinar emas berukir singa itu, hatinya menjadi semakin tertarik dan sebentar saja hubungan mereka menjadi akrab, seperti dua orang sahabat yang sudah lama saling berkenalan.

"Akang Satyabrata, kenapa sih kita harus singgah dulu diKadipaten Surabaya? Bukankah kita akan membantu Madura yang akan diserang pasukan Mataram?" tanya Maya Dewi dengan suara manja sehingga hati pemuda itu menjadi gemas. Sudah seringkali dia merasa gemas dan ingin merangkul dan menciumi gadis yang manja dan amat menggairahkan hatinya ini, namun dia menyabarkan hatinya. Untuk mendapatkan gadis sembarangan saja, dia tidak segan melakukan kekerasan karena dia hanya ingin menikmati untuk sekali atau sementara saja. Akan tetapi, tidak mudah mendapatkan seorang dara seperti Maya Dewi yang bukan saja dapat menjadi pasangan yang amat menggairahkan dan mengasyikkan, akan tetapi juga dapat menjadi sekutu dan pembantu yang dapat diandalkan.

Karena itu, dia harus berhati-hati dan tidak merusak keadaan. Dia harus mendapatkan diri gadis ini dengan perlahan-lahan, dan baru akan memiliki gadis ini kalau benar-benar Maya Dewi sudah memperlihatkan tanda-tanda menyerah kepadanya. Akan tetapi sekarang Maya Dewi hanya kadang-kadang bersikap manja dan pandang mata maupun senyum dan suaranya yang manja seperti minta dibelai dan dirayu, masih jinak-jinak merpati dan belum meyakinkan. Kalau sampai dia tergesa-gesa dan gadis yang masih hijau dalam pergaulan antara pria dan wanita ini menjadi terkejut dan takut, lalu menjauhkan diri terlepas darinya, dialah yang akan rugi. Dia ingin mendapatkan Maya Dewi sebagai kekasihnya bukan untuk sementara, melainkan selama mungkin.

"Ini penting sekali, Dewi," kata Satyabrata yang kadang memanggil Dewi, terkadang memanggil Maya, kedua panggilan itu terasa sama enak dan sedapnya didengar. "Engkau perlu mengetahui bahwa Madura merupakan pintu belakang atau perisai bagi Surabaya. Kalau Madura takluk kepada Mataram, berarti Surabaya mudah diserang dari laut, seolah dikepung. Karena itu, mau tidak mau Surabaya akan membantu Madura. Juga Kumpeni Belanda tidak tinggal diam karena kalau kekuasaan Mataram dibiarkan meluas, amat berbahaya bagi Belanda untuk meluaskan perdagangannya. Belanda dan Surabaya mempunyai kepentingan bersama, maka harus bekerja sama untuk membantu Madura. Maka, aku ingin bertemu dengan Adipati Surabaya untuk mewakili atasanku membicarakan urusan pertahanan Madura dan Surabaya dari ancaman Mataram."

Maya Dewi mengangguk-angguk dan tiba-tiba ia berhenti melangkah, lalu mengangkat muka memandang wajah Satyabrata yang lebih tinggi sekepala daripadanya, "Akang Satya, engkau masih begini muda, bagaimana bisa mendapatkan kedudukan tinggi sehingga dipercaya oleh Kumpeni Belanda?"

Satyabrata tertawa sehingga tampak deretan giginya yang rapi dan putih. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk mengaku kepada gadis itu, karena jelas bahwa Maya Dewi juga seorang yang memusuhi Mataram. "Aku mau bicara terus terang kepadamu, Maya, karena aku yakin bahwa engkau adalah seorang sahabat yang dapat kupercaya sepenuhnya. Aku telah dianggap sebagai anak sendiri oleh seorang perwira tinggi Kumpeni Belanda yang bernama Willem Van Huisen yang dulu tinggal disebuah kapal kumpeni yang beroperasi di Cirebon. Nah, dari dialah aku menerima kedudukan sebagai telik sandi kumpeni ini dan tentu saja dia percaya sepenuhnya kepadaku yang dia anggap sebagai anak sendiri."

"Ah, begitukah? Akan tetapi apakah warna kulit dan mata orang Belanda dapat menular, akang Satya?"

"Eh, kenapa engkau bertanya begitu, Maya?"

Maya Dewi tersenyum. Giginya yang rapi dan seputih mutiara berkilat ketika bibirnya terbuka. "Habis, kulihat matamu kebiruan, tidak seperti mata orang Nusa Jawa, seperti mata orang Belanda yang pernah kulihat, walaupun warnanya tidak sebiru mata mereka."

Sudah terlanjur berterus terang, Satyabrata mulai membuka rahasia dirinya agar tidak menimbulkan kecurigaan gadis yang membuatnya bergairah dan tergila-gila itu. "Terus terang saja, Maya, ayah kandungku adalah seorang bangsa barat akan tetapi bukan Belanda, melainkan seorang berbangsa Portugis yang bernama Henrik. Ibuku adalah seorang keturunan menak (priyayi), masih keturunan Kerajaan Banten yang langsung dari Raja Ari Ranamanggala."


Masih ada satu syarat lagi! Jangan-jangan pemuda ini sudah ada yang punya! "Eh, akang Satya, apakah engkau sudah ada yang punya?" Pikiran ini terlontar begitu saja dalam pertanyaannya.

Satyabrata memandang gadis itu, agak heran dan bingung karena memang dia belum dapat menangkap apa yang dimaksudkan gadis itu. "Sudah ada yang punya? Apa maksudmu, Dewi?"

"Itu... apa engkau sudah punya isteri?"

Satyabrata tersenyum dan hatinya merasa senang. Pertanyaan itu setidaknya mengungkapkan sedikit hati gadis itu yang agaknya mulai "ada rasa" kepadanya. "Belum," jawabnya sambil tersenyum dan menatap wajah gadis itu penuh selidik.

"Calon isteri, tunangan?"
"Juga belum."
"Pacar, gadis pilihan hatimu?"

Segera terbayang wajah Elsye Van Huisen yang manis, puteri Willem Van Huisen yang menjadi pacarnya ketika lima tahun yang lalu dia dan gadis Belanda itu masih remaja, dia berusia dua puluh satu tahun dan Elsye berusia tujuh belas tahun. Timbul kerinduannya terhadap gadis yang denok dan jelita itu. Kini tentu sudah dua puluh dua tahun usianya, sudah dewasa. Dia teringat ketika dia berciuman dengan gadis itu, ketika hendak meninggalkannya.

Kemudian bayangan wajah Elsye berubah menjadi wajah manis ayi merak ati dari Muryani. Dia harus mengaku dalam hatinya bahwa dia juga mencinta murid mendiang Nyi Rukmo Petak ini. Gadis yang sakti mandraguna, bahkan lebih sakti daripada Maya Dewi, dan tidak kalah cantik, walaupun dalam hal pesona yang menggairahkan, Maya Desi memiliki daya pesona yang lebih kuat. Jarang terdapat wanita yang demikian menggairahkan seperti Maya Dewi, seolah setiap bagian tubuhnya, sampai rambut-rambutnya, memiliki daya pesona tersendiri yang membangkitkan gairah setiap orang laki-laki.

"Hei, kenapa engkau diam saja dan termenung? Terlalu banyak pacarmu, ya, sehingga tidak dapat menjawab dan menjadi bingung sendiri?" Maya Dewi mendesak dengan kerling mata tajam, senyum mengejek dengan bibir merah dicibirkan manja. Ih, bibir itu! Ingin Satyabrata menggigitnya saking gemas. Akan tetapi dia menahan diri, bersikap seorang ksatria tulen!

"Memang banyak gadis yang tampaknya menaruh hati kepadaku, Maya, akan tetapi terus terang saja, belum ada seorangpun yang membuat hatiku tertarik. Kalau tadi aku termenung, karena aku mencari-cari untuk menjawabmu, akan tetapi ternyata memang belum ada."

Sepasang bibir yang merah basah itu terbuka lebih lebar dan sekilas ujung lidah yang meruncing merah muda berputar menjilati sepasang bibir sehingga menjadi semakin basah. Melihat ini, Satyabrata menelan air ludah karena melihat keindahan di depannya, mulutnya kemecer (berliur) seperti orang melihat makanan rujak yang segar, manis, masam dan pedas!

"Hemm, benarkah sampai saat ini engkau belum pernah tertarik kepada seorang gadis? Aku melihat sepasang matamu itu memandangku seperti hendak menelanku.Hi-hi-hik!" Maya Dewi tertawa, tanpa menutupi mulutnya, tertawa bebas lepas dan sambil tertawa ia mengerling dan ia tampak genit dan manja sekali. Hampir tidak kuat lagi Satyabrata bertahan.

"Aku memang mulai tertarik, Maya Dewi, mulai tertarik begitu aku bertemu dengan engkau dan melihatmu." Dia mulai berani merayu, namun tetap berhati-hati sehingga membatasi kata-katanya bukan langsung pengakuan cinta, melainkan menggunakan kata tertarik.

"Hemm, benarkah itu?"

"Benar, Maya Dewi, dan aku mengira bahwa engkaupun suka kepadaku, benarkah itu?"

"Hemm, memang aku suka padamu akang Satya, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku tergila-gila kepadamu!' kata Maya Dewi manja dan jual mahal.

"Akan tetapi aku tergila-gila padamu Maya!"

"Hemm, tidak berarti bahwa aku jatuh cinta padamu."

"Akan tetapi aku jatuh cinta padamu!" Kini Satyabrata berani mengaku terang-terangan karena dia sudah melihat titik terang dan lampu hijau!

"Huh, aku mendengar dari bapa bahwa lidah laki-laki tidak bertulang. Rayuan laki-laki kebanyakan gombal. Entah sudah berapa puluh laki-laki yang kubunuh karena berani merayu gombal padaku. Cintamu harus dibuktikan dulu, baru aku mau percaya!"

Satyabrata menghela napas panjang. "Aih, Maya. Belum percayakah engkau kepadaku? Baik, akan kubuktikan nanti kalau ada kesempatan. Dan kalau engkau sudah percaya akan cintaku yang benar-benar suci kepadamu, baru engkau mau mengaku cinta padaku?"

"Kita lihat saja nanti! Aku tidak semurah dan semudah itu menjatuhkan cintaku. Sekali mencinta, akan kupertaruhkan dengan nyawaku!" Ucapan ini terdengar manis, akan tetapi mengandung ancaman yang amat mengerikan sehingga Satyabrata sendiri yang berhati kejam itu diam-diam bergidik. Dia harus berhati-hati terhadap perempuan ini.

"Mari kita lanjutkan perjalanan kita, Maya. Surabaya sudah dekat dan aku tidak ingin terlambat sehingga tidak dapat menghadap Pangeran Pekik hari ini juga."

Demikianlah, pada siang hari itu mereka berdua memasuki kota Surabaya dan menjadi pusat perhatian orang, terutama orang-orang muda yang kagum kepada Maya Dewi dan gadis-gadis yang kagum kepada Satyabrata.

"Anakmas Satyabrata...!"

Satyabrata dan Maya Dewi cepat memutar tubuh untuk melihat siapa yang memanggil itu. Setelah melihat bahwa yang memanggil itu adalah seorang di antara empat orang perajurit yang menjadi anak buah Senopati Poncosakti yang pernah dibantunya ketika senopati Surabaya itu bertanding melawan Ki Kalingga, utusan Mataram yang membawa surat Pangeran Pekik untuk Sultan Agung.

"Ah, andika kiranya!" kata Satyabrata dengan sikap sedikit angkuh karena yang menegurnya itu hanyalah seorang perajurit biasa. Akan tetapi dia segera mendapat pikiran yang amat baik. "Eh, paman perajurit! Tolong tunjukkan kepada kami di mana istana Sang Adipati Surabaya, kemudian laporkan kepada beliau bahwa kami mohon untuk menghadap!"

Perajurit itu yang sedang bebas tugas sudah mengenal bahwa pemuda yang gagah perkasa ini adalah seorang telik sandi Belanda, dan merupakan orang penting sekali, bahkan pernah membantu Senopati Poncosakti, maka dia menyatakan kesediaannya sambil membungkuk-bungkuk hormat kepada Satyabrata dan Maya Dewi. Sepasang orang muda ini lalu mengikuti perajurit itu menuju ke istana Pangeran Pekik.

Pada saat itu, Pangeran Pekik sedang mengadakan perundingan dengan para menteri dan panglima. Adipati Surabaya itu selalu mengerutkan keningnya, pertanda bahwa hatinya sedang tidak senang. Tentu saja dia merasa tidak senang mendengar pelaporan Senopati Poncosakti bahwa Sultan Agung telah bertindak curang. Di satu pihak membujuknya dengan kata-kata manis agar dia suka berdamai dan bersekutu dengan Mataram untuk memperkuat persatuan guna menghadapi Kumpeni Belanda. Akan tetapi di lain pihak, dia mendengar bahwa dilain pihak Mataram kini sedang mempersiapkan pasukan besar-besaran untuk menyerang dan menaklukkan Madura.

"Mengapa Kanjeng Paman Sultan Agung bertindak demikian?" Dia berseru setelah mendengarkan pelaporan Ki Poncosakti yang menjadi pemimpin para penyelidik. "Baru saja beliau mengirim surat yang manis bunyinya, akan tetapi sekarang hendak menyerbu Madura tanpa memberi tahu kami? Padahal beliau juga mengetanhui bahwa para adipati di Pulau Madura adalah sekutu kami!"

"Sama sekali tidak mengherankan, gusti," kata Ki Poncosakti yang sengaja membakar hati Adipati Surabaya itu. "Mataram melihat betapa Surabaya dan Madura bersatu dan persatuan ini tentu saja menjadi penghalang yang kokoh kuat dan Mataram yang hendak mengumbar nafsu keangkara-murkaannya. Karena itu di samping membujuk paduka untuk bekerja sama, diam-diam dia mengerahkan pasukan untuk menyerbu Madura sehingga dia bermaksud memecah belah kekuatan persatuan Surabaya dan Madura."

Pangeran Pekik mengangguk-angguk dan menghela napas panjang. "Sayang sekali mengapa Kanjeng Paman Sultan Agung berpendirian seperti itu. Padahal kalau dia hendak benar-benar berdamai dan bersekutu, kami dapat pula membujuk para adipati di Madura untuk menyudahi permusuhan dan bekerja sama." Bagaimanapun juga, Pangeran Pekik masih mengingat akan hubungan darah kekeluargaan antara Kerajaan Mataram dan Kadipaten Surabaya.

"Hamba kira hal itu tidak perlu disesalkan, Gusti Pangeran. Pemikiran seperti itu hanya melemahkan kedudukan kita. Hamba yakin bahwa kalau Mataram belum menyerang Surabaya, adalah karena Mataram melihat kokohnya persatuan antara Surabaya dan Madura. Kalau Sultan Agung langsung menyerang Surabaya, sudah pasti semua adipati di Madura akan bangkit dan membantu Surabaya menghadapi Mataram. Oleh karena itu, setelah kini ternyata Mataram hendak menyerbu Madura, sudah sepantasnya kalau kita mengirim pasukan untuk membela Madura, kanjeng gusti," kata pula Senopati Poncosakti.

"Kami kira pendapat andika itu benar, Poncosakti." Pangeran Pekik lalu menitahkan panglimanya untuk membentuk pasukan untuk membantu Madura yang menghadapi serangan Mataram.

"Selain itu, kanjeng gusti. Hamba bertemu seorang pemuda yang sakti mandraguna, namanya Satyabrata dan seorang temannya, gadis cantik dan sakti pula bernama Maya Dewi. Satyabrata itu teryata adalah seorang kepercayaan Kumpeni Belanda yang berkedudukan tinggi. Seorang seperti dia itu amat kita butuhkan, bukan saja untuk berhubungan dengan kumpeni, juga kesaktiannya dapat kita pergunakan untuk melawan para senopati Mataram yang tangguh dan sakti."

"Hemm, kita harus yakin lebih dulu, Poncosakti. Sekarang ini banyak orang yang pandai dan licik. Siapa tahu dia itu malah seorang ponggawa Mataram yang menyamar sebagai telik sandi kumpeni. Kebetulan sekali kami sedang kedatangan tamu agung, seorang perwira tinggi Kumpeni Belanda yang kini berada di Loji tamu bersama seorang puterinya. Kalau bicara dengan dia, akan kami ceritakan tentang Satyabrata dan Maya Dewi itu, untuk mendapatkan kepastian apakah benar mereka itu kepercayaan kumpeni."

Tiba-tiba seorang perajurit pengawa datang menghadap. Dia segera merangkak maju dan memberi hormat dengan sembah. "Ampuni hamba yang berani mengganggu kesibukan paduka, gusti. Akan tetapi di luar ada seorang perajurit yang mengantarkan tamu yang mohon menghadap dan bertemu dengan paduka."

Pangeran Pekik mengerutkan alisnya. Dia sedang mengadakan perundingan yang penting sekali dengan para pembantunya dan sekarang ada tamu yang datang mengganggu. "Siapakah tamu itu, perajurit?" tanyanya kepada perajurit pengawal.

"Tamu itu ada dua orang, kanjeng gusti. Seorang pemuda bernama Satyabrata dan seorang gadis bernama Maya Dewi."

"Ah, itulah mereka yang hamba maksudkan tadi, gusti!" seru Poncosakti.

Pangeran Pekik mengangguk kepada perajurit pengawal. "Pengawal, suruh para tamu itu masuk menghadap kami!" Setelah perajurit itu keluar, Pangeran Pekik berkata kepada para senopati. "Kalian bersiap-siap dan waspadalah. Kalau dua orang itu membuat gerakan dan bersikap mencurigakan, kalian boleh turun tangan menangkap mereka."

Para senopati mengangguk dan mereka semua merasa tegang, kecuali tentu saja Poncosakti karena dia sudah percaya sepenuhnya kepada Satyabrata. Ketika Satyabrata dan Maya Dewi memasuki ruangan persidangan yang luas itu, semua mata memandang kepada mereka dan suasana menjadi semakin tegang. Satyabrata yang cerdik memasuki ruangan itu bersama Maya Dewi dan dia lalu duduk bersila sedangkan Maya Dewi duduk bersimpuh sambil memberi hormat dengan sembah kepada Pangeran Pekik.

Pangeran itu memandang dengan mata terbelalak dan dalam hatinya dia merasa heran dan juga kagum. Sepasang orang muda yang elok. Terutama pemuda itu. Sepintas saja dia dapat melihat bahwa pemuda itu pasti memiliki darah orang Barat dalam tubuhnya. Matanya yang kebiruan itu, kulitnya yang putih dan wajahnya yang tampan dengan hidung mancung berbentuk indah.

"Teja-teja sulaksana tejanya dua orang belia yang baru datang! Siapaka andika berdua dan ada keperluan apakah andika berdua minta menghadap kami?' kata Pangeran Pekik dengan suara penuh wibawa.

"Hamba bernama Satyabrata, berasal dari Cirebon. Adapun keperluan hamba menghadap paduka adalah untuk membicarakan tentang gerakan pasukan Mataram yang hendak menaklukkan Madura dan juga Surabaya. Hamba adalah seorang kepercayaan Kumpeni Belanda dan tugas hamba membantu mereka yang dimusuhi Mataram."

"Hamba bernama Maya Dewi dan ayah hamba, Resi Koloyitmo, menyuruh hamba untuk membantu Madura dan Surabaya menentang Mataram. Dalam perjalanan hamba berkenalan dengan akang Satyabrata dan karena tugas kami sama, maka hamba ikut dengan dia menghadap paduka," kata Maya Dewi dengan suaranya yang merdu.

Biarpun Pangeran Pekik tidak seganteng Satyabrata, namun mengingat bahwa pria itu adalah seorang yang berkedudukan tinggi, maka tergerak juga hati Maya Dewi untuk bergaya agar dirinya lebih menarik. Namun, dalam tubuh Pangeran Pekik masih mengalir darah biru (bangsawan) yang berwibawa, maka dia dapat melihat bahwa kecantikan wanita itu hanyalah kecantikan jasmani belaka, sehingga diapun tidak begitu terpikat. Pangeran Pekik mengangguk-angguk dan sepasang matanya yang berpandangan tajam itu dapat melihat bahwa dua orang muda yang berwajah elok itu tidak memiliki sinar yang biasa dimiliki seorang ksatria dan wanita utama.

"Kami mengetahui siapa Resi Koloyitmo yang berasal dari Parahyangan itu. Akan tetapi, Satyabrata, bagaimana andika dapat membuktikan bahwa andika adalah seorang kepercayaan kumpeni?"

Satyabrata meraba pinggangnya. Semua senopati siap dan meraba gagang keris masing-masing, berjaga-jaga. Akan tetapi ternyata pemuda itu mengeluarkan sekeping uang dinar emas dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Pangeran Pekik. "Inilah bukti dari hamba, gusti."

Seorang senopati menerima uang dinar itu dan menghaturkannya kepada Pangeran Pekik. Setelah memeriksa uang dinar itu, Adipati Surabaya itu mengangguk-angguk, baru percaya bahwa pemuda itu mernang benar menyimpan sebuah dinar emas bergambar singa, sebagai tanda kekuasaan yang diberikan oleh kumpeni. Dia sendiri pernah menerima dinar seperti itu, bukan sebagai tanda seorang penguasa kumpeni, melainkan sebagai tanda persahabatan.

Hadiah itu diterimanya karena dia memperbolehkan kumpeni membeli beras dan rempa-rempah dari daerah Kadipaten Surabaya. Dia segera mengembalikan dinar itu dan mulai percaya, walaupun rasa tidak sukanya terhadap kepribadian pemuda itu masih ada. "Satyabrata dan Maya Dewi, kami menerima kalian sebagai tamu-tamu sahabat. Kalian tadi mengatakan bahwa kalian siap membantu Surabaya dan Madura dalam menghadapi ancaman Mataram. Lalu apa saja yang dapat kalian lakukan untuk membantu kami?"

"Gusti, dalam hal ini hamba yang tidak tahu akan siasat perang hanya ikut dan menurut saja apa yang hendak dilakukan akang Satyabrata dan akan membantunya," Maya Dewi mendahului.

"Sesungguhnyalah, Gusti Pangeran. Kalau hanya kami berdua saja, paling banyak kami dapat membantu pasukan Madura dan Surabaya dalam pertempuran melawan Mataram menghadapi para senopati Mataram yang sakti mandraguna. Akan tetapi hamba dapat berbuat lebih dari itu,.gusti. Hamba dapat menghubungi kapal kumpeni yang berada di lautan sekitar Madura dan Surabaya. Kapal-kapal itu dapat menghadang pasukan Mataram yang datang melalui lautan, dan hamba dapat mengajukan permohonan kepada atasan hamba agar dapat membantu Surabaya dan Madura dengan sejumlah senapan atau sepasukan serdadu, bahkan kalau perlu meriam-meriam."

Dalam lubuk hati Pangeran Pekik, memang adipati ini tidak begitu bersemangat untuk berperang melawan Mataram dan apa yang ditawarkan pemuda itu adalah urusan besar. Kalau dia membuka tangan menerima bantuan Kumpeni Belanda, selain hal itu membuat permusuhan dengan Mataram semakin menghebat, juga membuat dia berhutang budi kepada kumpeni dan kelak pihak kumpeni dapat memaksakan kehendak mereka dengan bersenjatakan budi itu.

"Satyabrata, urusan besar ini harus kami rundingkan masak-masak dengan para pembantu kami sebelum kami mengambil keputusan. Sementara itu, biarlah andika berdua menjadi tamu kami dan ingin kami perkenalkan kepada tamu-tamu asing kami yang kini sudah berada di Loji Tamu. Senopati Poncosakti, andika yang sudah mengenal dua orang tamu kita ini, biarkan mereka ke Loji Tamu dan perkenalkan kepada tamu-tamu kita yang sudah berada disana."

"Sendiko, gusti!" kata Poncosakti dengan gembira. "Marilah, anakmas Satyabrata dan nini Maya Dewi."

Dua orang muda itu menyembah kepada Pangeran Pekik lalu keduanya meninggalkan ruangan itu mengikuti Poncosakti menuju ke Loji Tamu yang berada di ujung barat kompleks istana kadipaten itu.

********************

Loji Tamu itu merupakan sebuah gedung yang istimewa dibuat untuk menerima tamu yang dihormati. Tentu saja tidak sembarang tamu diterima dan disediakan kamar di gedung itu untuk tempat mereka menginap. Hanya tamu yang dihormati dan dianggap tamu agung saja yang dapat menikmati keramahan Adipati Surabaya itu. Mereka ini bukan saja mendapatkan kamar-kamar yang indah dan lengkap, akan tetapi juga dijamu makanan yang serba mewah dan masih dihibur pula dengan pertunjukan joget dan tembang yang dilakukan para seniwati yang cantik dan ahli.

Ketika Poncosakti yang diikuti Satyabrata dan Maya Dewi tiba di Loji Tamu itu, perasaan Satyabrata tidak enak. Dia belum tahu siapa yang menjadi tamu di situ dan hendak diperkenalkan kepadanya, Kalau tamu itu merupakan perwira tinggi Belanda yang pernah singgah di rumah Willem Van Huisen, mungkin dia mengenalnya. Akan tetapi kalau tamu itu merupakan perwira tinggi dari Batavia, mungkin dia belum pernah bertemu dengannya dan berhadapan dengan perwira tinggi yang belum dikenalnya, selalu mendatangkan perasaan tidak sedap di hati Satyabrata.

Hal ini adalah karena dia tahu benar bahwa bangsa Belanda itu amat congkak, terutama kalau berhadapan denga orang pribumi. Bahkan Willem Van Huisen pernah mengatakan bahwa bangsa Belanda datang ke Nusa Jawa membawa kemakmuran dan akan mengajarkan peradaban kepada orang pribumi, mengajarkan hidup yang benar, bersih, beradab dan sebagainya. Karena ibunya adalah seorang pribumi, maka tentu saja Satyabrata merasa tidak enak kalau Willem Van Huisen bicara tentang itu.

Apalagi setelah dia melihat kenyataan betapa hampir semua perwira tinggi yang baru saja dijumpainya memandang rendah kepadanya. Dia tahu apa sebabnya, yaitu karena jelas dia bukan orang Belanda totok. Karena rambutnya hitam dan hanya matanya saja yang menunjukkan bahwa ada darah bule di tubuhnya. Bahkan kulitnya juga tidak bule seperti mereka, walaupun lebih putih dibandingkan orang pribumi. Biarpun ragu-ragu, dia tidak dapat mencegah ketika Poncosakti memberi tahu penjaga Loji Tamu itu untuk melaporkan kepada tamunya bahwa dia datang untuk memperkenalkan tamu-tamu lain.

"Silakan duduk menunggu di ruangan depan, akan saya laporkan kepada tuan," kata penjaga itu dan dia lalu masuk dalam gedung itu. Poncosakti mengajak Satyabrata dan Maya Dewi untuk duduk di atas kursi-kursi yang tersedia di ruangan depan itu. Tak lama kemudian terdengar detak sepatu datang dari dalam. Poncosakti segera bangkit berdiri dan menghadap arah pintu yang menembus ruangan dalam. Daun pintu terbuka dari dalam dan muncullah seorang laki-laki Belanda, berusia sekitar lima puluh lima tahun dengan pakaian sebagai seorang perwira tinggi yang indah dan gagah, ditemani seorang gadis Belanda yang cantik, berusia kurang lebih dua puluh satu tahun.

"Permisi, tuan, saya Senopati Poncosakti hendak memperkenalkan anakmas.." Poncosakti tak melanjutkan kata-katanya karena dia melihat perwira tinggi Belanda dan gadis itu memandang kepada Satyabrata dengan mata terbelalak dan wajah gembira sekali.

"Jan...?" teriak orang Belanda itu yang bukan lain adalah Willem Van Huisen perwira tinggi kumpeni itu. Kiranya dia yang bertamu pada Adipati Surabaya! Dua orang itu saling berjabat tangan dan berangkulan. Kemudian Satyabrata melepaskan rangkulan dan memutar tubuhnya menghadapi gadis Belanda itu.

"Jan, ben jij dat (engkaukah itu), Jan?" gadis itu berseru dan mengembangkan kedua lengannya.

"Elsye, schat (sayang)....!" kata Satyahrata dan entah siapa mendahului, keduanya saling berangkulan dan saling berciuman pipi sampai berulang kali. Melihat ini, api cemburu membakar hati Maya Dewi dan hampir saja ia turun tangan membunuh gadis Belanda itu!

Sambil menekan perasaannyan yang bergejolak marah, Maya Dewi berkata kepada Satyabrata dengan suara ketus. "Akang Satya, siapakah mereka ini?" Teguran yang ketus ini menghentikan tiga orang yang bercakap-cakap cas-cis-cus berbahasa Belanda yang tidak dimengerti oleh Maya Dewi.

Satyabrata terkejut karena dia baru teringat akan kehadiran Maya Dewi. Tadi dia bergembira sekali bertemu dengan Willem Van Huisen, ayah angkatnya dan dengan Elsye Van Huisen, adik angkat yang juga menjalin hubungan mesra dengannya seperti seorang kekasih itu. Sudah lima tahun dia berpisah dari mereka dan sama sekali tidak mengira bahwa tamu Pangeran Pekik adalah dua orang yang memiliki hubungan dekat sekali dengannya. Oleh karena itu tidak anehlah kalau Satyabrata begitu bergembira sehingga sejenak dia melupakan kehadiran Maya Dewi. Apalagi sekarang dia melihat betapa Elsye telah menjadi seorang gadis dewasa yang bertubuh denok montok menggairahkan.

Mendengar pertanyaan ketus dari Maya Dewi, barulah Satyabrata terkejut dan sadar. "Oh, ya. Aku sampai lupa memperkenalkan mereka kepadamu, Maya. Ayah dan Elsye, ini adalah seorang sahabat baikku bernama Maya Dewi. Maya, ini adalah ayah angkatku seperti yang pernah kuceritakan padamu. Dia adalah Perwira Tinggi Willem Van Huisen, cukup kau sebut sebagai Tuan Willem saja dan yang ini..." Satyabrata menggandeng tangan Elsye yang tersenyum manja, "ini adalah puterinya, adik angkatku bernama Elsye Van Huisen, cukup kau sebut Nona Elsye saja."

Willem Van Huisen menyodorkan tangannya mengajak Maya Dewi bersalaman. Gadis ini menyambutnya dan ketika berjabat tangan, orang Belanda itu berkata-kata dalam bahasa Sunda yang lancar sambil menggenggam tangan mungil gadis itu. "Maya Dewi, sungguh nama yang amat indah, seindah orangnya!"

Senang juga Maya mendengar ucapan itu karena ia melihat dari pandang mata orang Belanda itu bahwa dia bicara jujur, tidak bermaksud merayu. Juga Elsye mengajaknya bersalaman dan biarpun ia tidak merasa rendah diri, namun Maya Dewi merasa tidak enak melihat gadis belanda itu lebih jangkung daripada ia. Elsye hampir sejangkung Satyabrata. Akan tetapi karena sikap Elsye ramah, iapun merasa senang berkenalan dengan mereka. Padahal penyebab rasa senang itu adalah karena kini ia mengetahui bahwa gadis itu adalah adik angkat Satysabrata, walaupun mereka memperlihatkan kemesraan yang baginya keterlaluan dan melanggar batas kesopanan.

Masa dengan adik sendiri berciuman seperti dua orang kekasih atau dua orang suami isteri saja Mereka dipersilakan duduk kembali. Juga Senopati Poncosakti dipersilakan duduk. Akan tetapi Poncosakti menolak, dan berkata, "Saya masih mempunyai banyak tugas yang harus diselesaikan dan menghadiri persidangan yang akan dibuka oleh Gusti Pangeran. Silakan anakmas berdua bercakap-cakap dan tinggal di Loji Tamu ini, akan tetapi saya amat mengharapkan agar andika berdua besok pagi suka menjadi tamu keluarga kami. Kami ingin mengadakan pesta untuk andika berdua, sebagai penyambutan selamat datang dan ucapan terima kasih kami atas pertolongan andika berdua."

Setelah Satyabrata menyanggupinya, dia lalu mengundurkan diri. Setelah Poncosakti pergi, empat orang itu duduk melingkari meja dan kedua ayah dan anak itu seperti berlomba hendak menghujankan pertanyaan kepada Satyabrata. Akan tetapi sebelum mereka mulai, Satyabrata menoleh kepada Maya Dewi lalu berkata kepada ayah angkatnya.

"Ayah dan Elsye, karena di sini ada Maya Dewi dan ia bukan orang lain, melainkan segolongan sendiri, maka kuharap ayah dan Elsye bicara menggunakan bahasa daerah sehingga ia dapat mengerti dan ikut dalam percakapan."

Melihat sikap Satyabrata yang serius ketika mengucapkan kata-kata ini, Willem Van Huisen mengangguk-dan berkata, "Baiklah, akan tetapi katakan dulu mengapa engkau menganggap Maya Dewi ini sebagai orang segolongan dengan kita."

"Begini, ayah. Maya Dewi ini adalah puteri Resi Koloyitmo dari Parahyangan dan ia adalah seorang yang menerima tugas dari ayahnya untuk memusuhi Mataram dan membantu siapa saja yang menjadi musuh Mataram. Ia sakti mandraguna dan pandai, ayah, maka akan sangat menguntungkan kita kalau ia diberi kepercayaan sebagai seorang telik-sandi kumpeni."

Willem Van Huisen mengangguk-angguk ,dan tersenyum senang. "Baiklah, akan kuusulkan kepada Gubernur Jenderal agar ia diangkat menjadi seorang pimpinan telik-sandi kumpeni. Bagaimana, Maya Dewi, maukah engkau menjadi seorang mata-mata kumpeni?"

Maya Dewi tersenyum manis. Ia mengangguk dan berkata, "Tentu saja saya mau."

"Nah, anakku Jan, sekarang ceritakanlah apa saja yang kau alami dan ke mana saja engkau pergi selama lima tahun ini," kata Willem.

"Ya, ceritakanlah, Jan. Sampai setengah mati aku menunggu dan merindukanmu. Engkau menghilang selama lima tahun, tanpa kabar sama sekali walaupun ayah telah mendengar bahwa engkau telah menghubungi beberapa orang teliksandi. Kami hanya tahu bahwa engkau masih hidup. Ceritakanlah," kata Elsye.

Satyabrata lalu bercerita. Akan tetapi dia tidak ingin menceritakan yang sebenarnya tentang ilmu yang ditemukannya dalam sumur tua di belakang perguruan Jatikusumo di tepi laut Pacitan. "Ketika mendengar bahwa perguruan Jatikusumo adalah pusat para jagoan yang setia kepada Mataram, aku lalu pergi ke sana untuk melakukan penyelidikan. Aku berhasil menyusup menjadi seorang murid Jatikusumo. Pada suatu hari kebetulan sekali aku menemukan kitab-kitab kuno di gua tepi lautan. Kitab-kitab itu ternyata adalah peninggalan milik Sunan Gunung Jati yang entah bagaimana dapat berada di sana. Selama bertahun-tahun, tanpa diketahui orang lain, aku mempelajari semua ilmu itu."

"Dia menjadi sakti mandraguna karena mempelajari ilmu-ilmu itu!" tambah Maya Dewi.

"Bagus sekali!" puji Willem Van Huisen.

"Kemudian dalam perantauanku menyelidiki keadaan Mataram dan memusuhi mereka yang setia kepada Mataram, aku bertemu dengan Maya Dewi ini dan kami nenjadi sahabat."

"Ya, kulihat kalian menjadi sahabat yang baik sekali, dan serasi, dan kalian dapat menjadi jodoh yang tepat sekali!" kata Elsye.

Maya Dewi terkejut pula mendenga ucapan yang blak-blakan itu, seperti juga Satyabrata.

"Elsye, jangan goda mereka!" kata Willem dan dia berkata kepada putera angkatnya. "Jan, lanjutkan ceritamu. Bagaimana engkau dan Maya Dewi dapat tiba-tiba berada diKadipaten Surabaya ini."

"Kami berdua mengambil keputusan untuk pergi ke Madura setelah mendengar bahwa Mataram sudah siap menggempur Madura. Kami ingin membantu Madura. Akan, tetapi dalam perjalanan kami bertemu dengan Senopati Poncosakati tadi yang sedang berusaha mengadu domba antara Surabaya dan Mataram."

"Eh, menarik sekali itu! Bagairnana caranya?" tanya Willem.

Satyabrata lalu menceritakan tentang pengubahan pada surat Pangeran Pekik yang ditujukan kepada Sultan Agung dan mendengar ini, Willem van Huisen menjadi senang sekali dan tertawa bergelak "Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang berbahaya kalau Mataram bersatu dengan Surabaya."

"Demikianlah, pertemuan dengan Poncosakti itu menimbulkan keinginan dalam hatiku untuk berkunjung kepada Pangeran Pekik dan menawarkan kerja sama. Sama sekali tidak pernah kusangka bahwa di sini aku dapat bertemu dengan ayah dan Elsye," Satyabrata mengakhiri ceritanya.

Sehari itu mereka bercakap-cakap dan Willem Van Huisen menceritakan keadaan kumpeni kepada Satyabrata dan bahwa kunjungannya ke Surabaya juga dalam rangka memantau keadaan Surabaya dan pergolakan sehubungan dengan niat Mataram untuk menyerbu Madura dan Surabaya. Malam itu Satyabrata dan Maya Dewi bermalam di Loji Tamu, mereka berdua masing-masing mendapatkan sebuah kamar. Ketika hendak berpisah, Elsye berkata dalam bahasa Belanda kepada Satyabrata,

"Kunanti engkau malam ini dalam taman." Maya Dewi yang selalu curiga segera bertanya setelah mereka berpisah dari gadis Belanda itu. "Apa yang ia katakana tadi, akang Satya?"

"Ah, ia hanya mengatakan selamat malam dan sampai jumpa pula besok pagi," jawab pemuda itu.

Biarpun Maya Dewi tidak membantah lagi, namun ia tetap curiga dan setelah memasuki kamar tidurnya dan merebahkan diri, ia tidak segera dapat pulas. Pendengarannya dicurahkan untuk memperhatikan suara dari kamar di sebelah, kamar Satyabrata. Tak lama kemudian ia mendengar suara gerakan orang. Biarpun langkah itu perlahan, namun pendengarannya yang tajam terlatih dapat menangkapnya.

Suara itu datangnya dari samping kamarnya, dari arah taman. Cepat ia menghampiri jendela kamarnya dan dengan hati-hati membuka sedikit daun jendela kamar setelah meniup padam lampu dalam kamarnya. Dan di bawah sinar lampu gantung yang berada dalam taman, ia melihat bayangan orang berjalan memasuki taman. Bayangan Elsye! Maya Dewi mengerutkan alisnya. Mau apa gadis Belanda itu malam-malam memasuki taman?

Ia cepat membuka daun jendela dan seperti seekor burung ia melompat keluar jendela tanpa menimbulkan sedikitpun suara. Dari luar ia menutupkan lagi jendela kamarnya kemudian ia menyelinap di dalam bayang-bayang pohon dan bergerak membayangi Elsye yang bergegas memasuki taman. Taman itu agaknya memang dibangun sebagai pelengkap Loji Tamu, sebuah taman yang cukup indah dan penuh dengan tanaman bunga dan pohon cemara.

Di tengah taman terdapat sebuah bangku panjang dan Maya Dewi melihat dua orang duduk di bangku itu. Ia menyelinap mendekati dan mengintai dari balik semak. Alisnya berkerut, hatinya panas melihat bahwa yang duduk di situ adalah Satyabrata dan Elsye. Agaknya Elsye baru datang dan langsung mereka berangkulan, berciuman sambil duduk di atas bangku itu.

"Marilah, Elsye, mari ke kamarku...!" Satyaabrata membujuk.

Maya Dewi semakin panas hatinya karena Satyabrata bicara dalam bahasa Belanda yang tidak dimengertinya. Ia hanya melihat Satyabrata bangkit dan mencoba untuk menyeret tangan Elsye, mengajaknya pergi. Elsye juga menjawab dalam bahasa Belanda.

"Jangan, Jan, jangan begitu... kita tidak boleh melakukan itu..."

"Akan tetapi, kita saling mencinta Elsye. Aku cinta padamu."

"Akupun cinta padamu, Jan. Akan tetapi, seperti sudah kuceritakan tadi, aku sudah bertunangan dengan seorang lain sudah menjadi calon isteri Piet..."


Seruling Gading Jilid 21

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 21

"BABO-BABO, bocah lancang! Seruling Gading, kami adalah orang-orang yang membela Kadipaten Surabaya. Pergilah dan jangan mencampuri urusan kami kalau engkau ingin selamat!" bentak Kyai Sidhi Kawasa.

Pasukan Surabaya yang masih siap dengan senjata mereka, yang kini berbesar hati karena muncul kakek sakti yang membantu mereka, kini mulai mengurung Parmadi dan siap menyerang. Mendengar ini, Parmadi merasa heran mengapa kakek sakti ini membantu Surabaya dan siapa pula orang gagah perkasa yang diserang ini dan yang temannya tewas. Maka untuk memperoleh penjelasan, dia lalu bertanya kepada Tumenggung Alap-alap.

"Kisanak, siapakah andika dan mengapa berkelahi di sini?"

Tumenggung Alap-alap merasa bahwa dia telah ditolong pemuda ini, bahkan telah diselamatkan nyawanya, dan melihat penampilan Parmadi yang berjuluk, Seruling Gading itu, dia lalu menjawab, terus terang, "Orang muda, aku adalah Tumenggung Alap-alap, senopati dan utusan Kanjeng Gusti Sultan Agung di Mataram. Baru saja, aku diutus junjunganku menghadap Gusti Pangeran Pekik di Surabaya yang menerimaku dengan baik, menyerahkan surat yang dibalas pula oleh sang pangeran. Akan tetapi tiba-tiba datang pasukan ini yang katanya mendapat perintah sang pangeran untuk menangkap aku. Tentu saja aku yang tidak merasa bersalah melawan dan kakek ini datang membantu pasukan, membunuh seorang pembantuku dan nyaris membunuhku."

Parmadi kini maklum siapa yang harus dibantunya. Tentu saja senopati Mataram itu yang harus dibantunya. Akan tetapi agar persoalannya jelas, dia lalu menghadapi Kyai Sidhi Kawasa dan dua belas orang pasukan itu. "Kenapa Gusti Pangeran Pekik menyuruh kalian membunuh utusan Gusti Sultan Agung?"

"Bocah, jangan ikut campur!" bentak Kyai Sidhi Kawasa. "Madura adalah musuh Mataram, tahukah kamu?"

"Akan tetapi, menurut Ki Tumenggung ini, Pangeran Pekik telah menerimanya dengan baik," bantah Parmadi.

"Kami diperintah Gusti Pangeran untuk menangkap Tumenggung Alap-alap dan membawanya kembali ke Surabaya karena kami mendengar bahwa Mataram sudah sia-siap untuk menyerang Madura yang menjadi sekutu Surabaya. Karena dia menolak, maka kami mendapat tugas untuk membunuhnya!" kata perwira yang memimpin pasukan itu.

"Kalau begitu, kalian yang tidak benar! Aku akan membela Ki Tumenggung!" kata Parmadi dengan sikap tenang.

Kyai Sidhi Kawasa menjadi marah sekali. Dia memutar tasbehnya sehingga terdengar bunyi berkeritikan yang nyaring. Parmadi berkata kepada Tumenggung Alap-alap, "Paman Tumenggung, minggirlah dan tanggulanggi saja kalau para perajurit ini hendak melakukan pengeroyokan. Biar saya yang menghadapi kakek ini." Kemudian dia menghadapi kakek itu dan berkata kepadanya, "Kakek yang baik, andika sudah tua mengapa memusuhi Mataram? Siapakah andika dan dari mana andika datang?"

"Seruling Gading! Memang sebaiknya engkau mengenalku agar tidak mati penasaran dan tahu siapa yang membunuhmu nanti. Aku adalah Kyai Sidhi Kawasa, mantan senopati Kerajaan Banten. Akulah datuk di Banten!"

Parmadi mengangguk-angguk. Dia pernah mendengar dari gurunya, Resi Tejo Wening, bahwa ada tiga datuk besar yang memusuhi Mataram dan bahwa dia harus berhati-hati menghadapi mereka. Mereka adalah Ki Harya Baka Wulung datuk dari Madura, Sang Wiku Menak Koncar datuk dari Blambangan dan ketiga adalah Kya Sidhi Kawasa dari Banten. Kiranya inilah orangnya!

"Ah, kiranya andika yang bernama Kyai Sidhi Kawasa dari Banten! Sudah lama sekali aku mendengar bahwa engkau selalu memusuhi Mataram, bahkan ketika Raja Banten hendak berbaik dengan Gusti Sultan Agung, engkau mengundurkan diri dari kedudukanmu sebagai seorang senopati agung."

"Bagus kalau engkau sudah tahu akan hal itu. Setelah engkau mengetahui bahwa aku musuh Mataram, kenapa engkau musih berani untuk membela Mataram di depanku? Apakah engkau sudah bosan hidup, orang muda?"

"Kyai Sidhi Kawasa, aku adalah seorang kawula Mataram, sudah sepantasnya kalau aku membela Mataram dengan taruhan nyawaku. Kalau engkau membela Banten mati-matian, hal itu masih dapat kumengerti. Akan tetapi kini engkau membela Surabaya dan Madura, apa artinya ini? Apa engkau sudah menjadi tukang pukul yang menerima bayaran dari sana-sini?"

"Bocah sombong lancang mulut! Aku membantu siapa saja yang memusuhi Mataram! Kalau engkau membantu dan membela Mataram, berarti engkau musuhku dan harus mati ditanganku!" Dia masih memandang rendah pemuda yang bernama seperti alat gamelan yang dijadikan senjata di tangannya, yaitu Seruling Gading dan mengalungkan tasbeh di lehernya, kemudian dia sudah menerjang ke depan menggerakkan kedua tangannya. Kedua telapak tangan itu bertepuk tiga kali, terdengar suara nyaring dan kedua telapak tangan itu mengeluarkan bunga api yang berpijar, seolah yang diadu itu bukan telapak tangan, melainkan dua lempengan baja.

Diam-diam Parmadi menjadi waspada. Dia tahu bahwa kakek itu sungguh seorang yang sakti mandragrrna, seperti pernah diceritakan oleh Resi Tejo Wening kepadanya. Dia dapat menduga bahwa kedua tangan kakek itu mengandung hawa sakti yang panas. Gurunya yang amat menyayangnya telah menurunkan dua macam aji yang amat hebat kepadanya, yaitu Aji Sunya Hasta (Tangan Kosong) dan Aji Sunyatmaka (Berjiwa Bebas) yang dapat dia kerahkan melalui tiupan seruling gading pemberian gurunya. Dua ilmu ini sudah lebih dari cukup untuk menghadapi ilmu yang bagaimanapun hebatnya, baik ilmu silat maupun ilmu sihir yang berbahaya.

Kini, menghadapi terjangan kakek itu yang menggunakan Aji Hastanala (Tangan Api), dengan tenang Parmadi mengelak ke samping lalu menggerakkan tangannya menggapai sebagai tangkisan dengan pergelangan tangan diputar. Tampaknya gerakan ini kosong saja, tidak mengandung tenaga apapun, akan tetapi ketika Kyai Sidhi Kawasa hendak menggunakan tangannya yang panas itu untuk menggempur tangan Parmadi, dia merasa terkejut bukan main. Seluruh tubuhnya tergetar dan tangannya yang bertemu dengan tangan Parmadi seperti api yang dimasukkan air dingin, terasa dingin menyusup tulang!

Tentu saja dia terkejut bukan main dan melompat ke belakang. Namun, ternyata Parmadi tidak bermaksud mencelakainya, karena tangan kirinya tidak cidera. Kyai Sidhi Kawasa merasa penasaran dan dia lalu menggosok-gosok lagi tangan kirinya dengan tangan kanan sehingga tangan kiri itu menjadi panas membara kembali! Dia lalu menyerang dengan ganas sekali, mengeluarkan seluruh kecepatannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun, dengan gerakan yang tampaknya lambat saja, Parmadi dapat menghindarkan diri dari semua serangan dan juga dia mampu membalas dengan tamparan-tamparan yang tampaknya perlahan saja, akan tetapi setiap kali ditangkis oleh tangan Kyai Sidhi Kawasa, kakek itu terdorong dan tubuhnya terguncang keras!

Sementara itu, Ki Tumenggung Alap-alap sudah dapat mengambil kerisnya yang tadi terpental dan berdiri tegak menjaga agar dua belas orang perajurit itu tidak ada yang bergerak mengeroyok. Para perajurit itu agaknya juga tidak berani sembarangan turun tangan karena tadi mereka sudah merasakan betapa tangguhnya sang senopati dari Mataram itu. Mereka hanya mengharapkan Kyai Sidhi Kawasa memenangkan pertandingan melawan pemuda yang menyebut dirinya Seruling Gading itu karena kalau kakek itu menang, akan mudah saja menangkap atau membunuh Tumenggung Alap-alap.

Kyai Sidhi Kawasa menjadi semakin penasaran dan akhirnya menjadi marah sekali. Sungguh tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa seorang yang masih begitu muda dapat menandingi Aji Hastanala yang jarang bertemu tanding itu, bahkan dia mulai terdesak setelah mereka bertarung selama tiga puluh jurus lebih. Dia tahu bahwa sekali saja dia terkena tamparan tangan yang kelihatan tak bertenaga itu, belum tentu dia akan dapat bertahan.

"Aji Analabanu! Augghhhh...!!" Dia berteriak dengan suara nyaring dan serak seperti auman seekor binatang buas. Kedua tangannya mendorong ke depan dan tampak sinar berapi meluncur dan menyerbu ke arah Parmadi. Ini merupakan aji pukulan jarak jauh yang amat dahsyat. Parmadi maklum akan kehebatan pukulan ini, maka diapun merentangkan kedua kakinya, lutut agak ditekuk dan menggunakan kedua tangan mendorong ke depan untuk menyambut serangan lawan sambil berseru lirih. "Hehhh...!"

"Syuuuuttt... byarrrr...!!" Sinar berapi itu seperti pecah berhamburan menjadi bunga-bunga api dan tubuh Kyai Sidhi Kawasa terhuyung ke belakang, wajahnya pucat dan keringat membasahi dahinya. Dasar orang yang sudah terbiasa mengagulkan diri sendiri dan memandang rendah orang lain, Kyai Sidhi Kawasa tidak merasa kalah, bahkan menjadi semakin marah. Dia mengambil tasbeh dari lehernya dan memutar senjata aneh yang biasa dipakai untuk bersembahyang itu. Terdengar bunyi berkeritikan dan ketika dia menggerakkan tasbeh itu, tampak sinar hitam menyambar-nyambar ke arah Parmadi. Pemuda ini sudah siap siaga.

Seruling gading telah berada di tangannya dan kini dua orang itu bertanding, mempergunakan dua senjata mereka yang aneh. Kalau tasbeh itu berubah menjad sinar hitam bergulung-gulung, seruling gading itupun berubah menjadi sinar kuning putih yang terang. Kalau tasbeh itu mengeluarkan suara berkeritikan, suling itu mengeluarkan suara melengking-lengking seperti ditiup. Suatu pertandingan yang aneh dan para perajurit Surabaya menjadi pening mendengar dua suara yang amat berbeda itu. Bahkan Ki Tumenggung Alap-alap harus mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi telinganya agar dia jangan sampai terserang dan menjadi pening pula.

Kedua senjata itu beberapa kali bertemu dengan kuatnya dan setiap kali beradu, tubuh Kyai Sidhi Kitwasa tergetar hebat. Akhirnya saking marahnya, hampir putus asa karena makin lama tenaganya semakin berkurang, kakek itu melompat ke belakang lalu mengeluarkan suara tawa yang aneh namun yang amat hebat pengaruhnya! Suara itu seperti gelombang melanda telinga dan jantung. Dua belas orang perajurit itu jatuh bergulingan, bahkan Tumenggung Alap-alap kini duduk bersila mengerahkan tenaga sakti untuk menolak pengaruh suara yang dahsyat itu.

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan merdu ditiup oleh Parmadi, mengalunkan lagu yang amat indah menyenangkan, sejuk rasanya di telinga dan hati dan perlahan-lahan pengaruh suara tawa iblis itupun reda dan lenyap. Ketika Tumenggung Alap-alap mengangkat muka, dia melihat bahwa kakek itu telah melarikan diri tunggang-langgang, meninggalkan dua belas orang perajurit yang sudah tak bergulingan lagi, namun dengan wajah pucat mereka masih duduk di atas tanah seperti orang bingung dan ketakutan. Parmadi sudah siap untuk mencegah kalau-kalau senopati Mataram itu hendak membunuh mereka. Akan tetapi ternyata tidak. Tumenggung Alap-alap hanya berkata kepada mereka.

"Cepat kalian gali lubang dan kuburkan jenazah Ki Katawengan ini dengan baik-baik?" Dua belas orang perajurit yang ketakutan itu segera melaksanakan perintah itu. Mereka menggali lubang dengan cepat.

Sementara itu, Tumenggung Alap-alap menghampiri Parmadi dan berkata dengan kagum. "Orang muda, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Bolehkah aku mengetahui siapa nama andika?" Mereka bicara agak jauh dari tempat di mana para perajurit Surabaya itu menggali lubang agar percakapan mereka tidak sampai terdengar oleh mereka.

"Paman tumenggung, nama saya adalah Parmadi dan orang yang tidak mengenal saya menyebut saya Seruling Gading."

"Engkau memang pantas menggunakan sebutan Seruling Gading. Ilmu kepandaianmu tinggi sekali. Kenapa engkau tidak mengabdi kepada Gusti Sultan Agung? Melihat kemampuanmu, tentu Kanjeng Gusti Sultan Agung akan memberi kedudukan yang tinggi kepadamu."

"Saya tidak mencari kedudukan, paman tumenggung. Akan tetapi saya memang siap membantu Mataram menghadapi musuh-musuhnya."

"Bagus kalau begitu. Aku menganjurkan agar andika membantu gerakan Mataram yang sudah bersiap-siap untuk menyerbu Madura, anakmas Parmadi. Kepandaiamu diperlukan sekali karena Madura dibantu banyak orang-orang pandai dan sakti mandraguna, disamping bantuan pihak Kumpeni Belanda yang agaknya tidak tinggal diam melihat Madura dan Surabaya akan ditundukkan Mataram."

"Akan tetapi saya masih merasa heran, paman. Tadi paman mengatakan bahwa sebagai utusan Kanjeng Gusti Sultan Agung, paman telah diterima dengan baik oleh Pangeran Pekik, Adipati Surabaya. Mengapa sekarang paman hendak dibunuh oleh pasukan Surabaya?"

Tumenggung Alap-alap menghela napas panjang. "Itulah yang membuat hatiku merasa penasaran sekali, anak-mas. Agaknya Pangeran Pekik mendapat bujukan orang-orang jahat seperti kakek tadi yang membenci Mataram sehingga dia bertindak plintat-plintut. Hal ini harus kulaporkan segera kepada Gusti Sultan Agung."

Pada saat itu, penggalian lubang kuburan telah selesai dan Tumenggung Alap-alap lalu mengubur jenazah Ki Katawengan secara sederhana sekali. Setelah itu, Tumenggung Alap-alap mengijinkan dua belas orang perajurit Surabaya itu untuk kembali ke Surabaya dan diapun berpisah dari Parmadi. Pemuda itu melanjutkan perjalanannya ke pantai untuk mencari penyeberangan ke Madura. Sementara itu, Tumenggung Alap-alap menggunakan seekor kuda yang dirampasnya dari seorang perajurit karena kudanya sendiri sudah kabur entah ke mana, melakukan perjalanan cepat kembali ke Mataram.

Ketika Ki Kalingga, pembantu Tumenggung Alap-alap tiba di Mataram, dia langsung mohon menghadap Sang Prabu Setelah menghadap dan menyerahkan surat dari Pangeran Pekik, Sultan Agung membaca surat itu dan seketika mukanya berubah kemerahan saking marahnya. Surat itu sungguh mengandung tantangan. Bukan sekedar penolakan kerja sama, akan tetapi juga isinya merendahkan Mataram!

"Hemm, keparat. Berani benar dia membuat surat seperti ini kepadaku?" geram Sultan Agung sambil mengepal surat itu. Surat itu seketika hancur terkena cengkeraman tangan yang sakti, menjadi debu berhamburan. Tak lama kemudian datang laporan bahwa Tumenggung Alap-alap datang dan mohon menghadap. Sultan Agung cepat menerima utusannya itu dan makin memuncak kemarahannya mendengar betapa Pangeran Pekik tidak hanya mengirim surat yang isinya kurang ajar, bahkan mengirim pasukan untuk mengejar dan membunuh utusannya itu.

"Hamba nyaris binasa, gusti. Untung bahwa berkat pangestu paduka hamba masih dilindungi oleh Gusti Allah. Pasukan itu dibantu oleh Kyai Sidhi Kawasa, datuk dari Banten yang sakti mandraguna dan hamba sudah kalah dan roboh, nyaris terbunuh oleh datuk itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang pemuda perkasa bernama Parmadi yang berjuluk Seruling Gading dan dia telah menyelamatkan hamba dan mengusir Kyai Sidhi Kawasa. Hamba sudah menganjurkan dia untuk mengabdi kepada paduka, akan tetapi dia mengatakan bahwa dia tidak menginginkan kedudukan, hanya ingin membantu Mataram menghadapi musuh-musuh sebagai sukarelawan."

Sultan Agung mengangguk-angguk. "Sejak dulu Kyai Sidhi Kawasa memang memusuhi Mataram, terutama memusuhi kami karena dia pernah kami halangi dan kami kalahkan ketika hendak melakukan perbuatan yang jahat dahulu puluhan tahun lalu ketika kami masih muda."

Kemudian Sang Prabu berpaling kepada senopati kepercayaannya, yaitu Ki Suroantani dan memberi perintah, "Suroantani, catat nama Parmadi atau Seruling Gading itu. Kelak jangan lupa ingatkan kami untuk memberi anugerah kepadanya!"

"Sendika, gusti," jawab Suroantani.

"Sekarang, balatentara harus dipersiapkan untuk menyerbu Madura! Panggil para menteri dan panglima untuk semua menghadap pada kami hari ini untuk persiapan itu!"

Suroantani lalu memerintahkan para pembantunya mengundang semua panglima dan menteri dan pada hari itu juga rnereka semua menghadap Sultan Agung. Setelah semua ponggawa menghadap, Sultan Agung lalu mengatur siasat dan membagi-bagi perintah. Di antara mereka terdapat pula Jayasupanta yang telah memimpin pasukan menaklukkan Kadipaten Tuban dan Sultan Agung memberi anugerah kepadanya dengan mengangkatnya menjadi Tumenggung Sujanapura.

"Tumenggung Sujanapura, andika kami serahi tugas memimpin pasukan menyerbu dan menaklukkan seluruh Pulau Madura, dengan dibantu oleh Senopati Bragola dan Senopati Sumedang. Para Panglima yang menjadi bawahanmu harus memimpin pasukan masing-masing. Mereka adalah Tumenggung Jagabaya, Panji Nirabumi, Ngabei Patrabangsa, Demang Suradaksa, Rangga Awu-awu, dan Ki Panji Singajaya. Berangkatkanlah pasukan kalian melalui Majaranu, menyeberang ke Madura."

"Sendika dhawuh paduka, gusti!" kata Tumenggung Sujanapura yang diikuti para panglima yang namanya disebut tadi.

"Dan andika, Senopati Bragola. Dalam membantu pasukan yang dipimpin Tumenggung Sujanapura, andika bawalah balatentara dua laksa banyaknya dan andika serbu Madura lewat laut, berangkatlah dari Juwana dibantu para panglima dari Pati, yaitu Patih Harya Mangunjaya dan Patih Harya Sindureja. Adapun para panglima yang membantu andika memimpin pasukan masing-masing adalah Harya Sawunggaling, Ki Demnng Prawiratan, Ngabei Wirasraya, Rangga Penantang Yuda, Rajamenggala dan masih ada beberapa orang perwira yang dapat andika pilih sendiri di antara kalian. Dari Juwana andika bawa pasukan melalui lautan dan menuju ke Sedayu. Di sana baru pasukan andika bergabung dengan pasukan Sujanapura dan melanjutkan penyerbuan ke Madura dengan naik perahu. Nah, sudah mengertikah kalian semua?"

Para senopati dan perwira itu menyanggupi dan menyatakan sudah mengerti. Setelah mengadakan persiapan selama sehari penuh, pada keesokan harinya pagi-pagi berangkatlah balatentara Mataram yang dibagi menjadi dua barisan besar terdiri dari pasukan-pasukan yang dipimpin para panglima dengan nama sandi masing-masing. Ada pasukan anak panah, pasukan tombak, pasukan golok, pasukan pedang dan pasukan keris yang terdiri dari ahli-ahli dalam mempergunakan senjata masing-masing.

Di samping pasukan-pasukan berbagai senjata ini, juga terdapat pasukan perawat yang bertugas menolong dan merawat mereka yang terluka dalam perang, pasukan ahli masak, perawat kuda dan sebagainya lagi. Balatentara Mataram mulai bergerak dengan segala perlengkapannya. Mereka tidak membawa ransum, karena didaerah-daerah yang telah mereka kuasai telah didirikan pusat pengumpulan ransum untuk gerakan ini.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sepasang orang muda itu memasuki Kadipaten Surabaya. Mereka menarik perhatian semua orang karena memang Satybrata dan Maya Dewi merupakan seorang pemuda dan seorang dara yang serasi sekali. Pemuda itu tampan dan gagah bukan main, tubuhnya yang tinggi tegap, kulitnya yang putih bersih dan matanya agak kebiruan, rambutnya hitam berombak, membuat mata setiap orang wanita yang bertemu dengannya memadangnya dengan kagum dan penuh perhatian.

Dara yang berjalan di sampingnya itupun cantik jelita, ayu manis merak ati. Rambutnya hitam panjang berombak pula, terurai lepas, wajahnya bulat, kulit putih mulus dan matanya lebar seperti sepasang bintang, hidung mancung dan bibirnya menggairahkan, tubuhnya denok ramping padat. Satyabrata dan Maya Dewi memasuki kota Surabaya dan menjadi perhatian banyak orang.

Namun kedua orang muda itu tidak perduli karena mereka berdua sudah terbiasa menghadapi pandangan kagum seperti itu. Bahkan dengan penuh kesadaran akan keelokan wajah mereka yang membuat banyak orang tergila-gila, mereka tampil dengan anggun, membayangkan senyum semanis-manisnya dan setiap gerak bibir, kerling mata, dan gerak-gerik mereka lakukan dengan daya tarik yang amat kuat.

Seperti diceritakan di bagian depan, dua orang muda yang memiliki watak dasar yang tak jauh berbeda ini saling jumpa secara kebetulan sekali dan mereka saling tertarik. Kecantikan dan kemulusan tubuh Maya Dewi seketika membuat Satyabrata yang memang mata keranjang itu tergila-gila, apalagi melihat bahwa Maya Dewi memiliki ilmu kepandaian yang cukup tangguh. Sebaliknya, Maya Dewi sebetulnya tidak mudah tertarik kepada seorang pria dan selama ini ia belum pernah bergaul dengan pria. Akan tetapi, setelah mendapat kenyataan betapa Satyabrata dapat mengalahkannya, bahkan dapat mengalahkan sabuk cindenya dengan mudah, ia merasa bahwa pemuda ini memiliki segala-galanya yang membuatnya amat berharga untuk menjadi sahabatnya, bahkan menjadi pasangannya.

Pemuda itu tampan dan gagah, juga sakti madraguna. Lebih-lebih lagi setelah ia mendapat kenyataan bahwa pemuda itu seorang telik sandi Kumpeni Belanda yang memiliki kedudukan tinggi, terbukti dari dinar emas berukir singa itu, hatinya menjadi semakin tertarik dan sebentar saja hubungan mereka menjadi akrab, seperti dua orang sahabat yang sudah lama saling berkenalan.

"Akang Satyabrata, kenapa sih kita harus singgah dulu diKadipaten Surabaya? Bukankah kita akan membantu Madura yang akan diserang pasukan Mataram?" tanya Maya Dewi dengan suara manja sehingga hati pemuda itu menjadi gemas. Sudah seringkali dia merasa gemas dan ingin merangkul dan menciumi gadis yang manja dan amat menggairahkan hatinya ini, namun dia menyabarkan hatinya. Untuk mendapatkan gadis sembarangan saja, dia tidak segan melakukan kekerasan karena dia hanya ingin menikmati untuk sekali atau sementara saja. Akan tetapi, tidak mudah mendapatkan seorang dara seperti Maya Dewi yang bukan saja dapat menjadi pasangan yang amat menggairahkan dan mengasyikkan, akan tetapi juga dapat menjadi sekutu dan pembantu yang dapat diandalkan.

Karena itu, dia harus berhati-hati dan tidak merusak keadaan. Dia harus mendapatkan diri gadis ini dengan perlahan-lahan, dan baru akan memiliki gadis ini kalau benar-benar Maya Dewi sudah memperlihatkan tanda-tanda menyerah kepadanya. Akan tetapi sekarang Maya Dewi hanya kadang-kadang bersikap manja dan pandang mata maupun senyum dan suaranya yang manja seperti minta dibelai dan dirayu, masih jinak-jinak merpati dan belum meyakinkan. Kalau sampai dia tergesa-gesa dan gadis yang masih hijau dalam pergaulan antara pria dan wanita ini menjadi terkejut dan takut, lalu menjauhkan diri terlepas darinya, dialah yang akan rugi. Dia ingin mendapatkan Maya Dewi sebagai kekasihnya bukan untuk sementara, melainkan selama mungkin.

"Ini penting sekali, Dewi," kata Satyabrata yang kadang memanggil Dewi, terkadang memanggil Maya, kedua panggilan itu terasa sama enak dan sedapnya didengar. "Engkau perlu mengetahui bahwa Madura merupakan pintu belakang atau perisai bagi Surabaya. Kalau Madura takluk kepada Mataram, berarti Surabaya mudah diserang dari laut, seolah dikepung. Karena itu, mau tidak mau Surabaya akan membantu Madura. Juga Kumpeni Belanda tidak tinggal diam karena kalau kekuasaan Mataram dibiarkan meluas, amat berbahaya bagi Belanda untuk meluaskan perdagangannya. Belanda dan Surabaya mempunyai kepentingan bersama, maka harus bekerja sama untuk membantu Madura. Maka, aku ingin bertemu dengan Adipati Surabaya untuk mewakili atasanku membicarakan urusan pertahanan Madura dan Surabaya dari ancaman Mataram."

Maya Dewi mengangguk-angguk dan tiba-tiba ia berhenti melangkah, lalu mengangkat muka memandang wajah Satyabrata yang lebih tinggi sekepala daripadanya, "Akang Satya, engkau masih begini muda, bagaimana bisa mendapatkan kedudukan tinggi sehingga dipercaya oleh Kumpeni Belanda?"

Satyabrata tertawa sehingga tampak deretan giginya yang rapi dan putih. Dia tidak ragu-ragu lagi untuk mengaku kepada gadis itu, karena jelas bahwa Maya Dewi juga seorang yang memusuhi Mataram. "Aku mau bicara terus terang kepadamu, Maya, karena aku yakin bahwa engkau adalah seorang sahabat yang dapat kupercaya sepenuhnya. Aku telah dianggap sebagai anak sendiri oleh seorang perwira tinggi Kumpeni Belanda yang bernama Willem Van Huisen yang dulu tinggal disebuah kapal kumpeni yang beroperasi di Cirebon. Nah, dari dialah aku menerima kedudukan sebagai telik sandi kumpeni ini dan tentu saja dia percaya sepenuhnya kepadaku yang dia anggap sebagai anak sendiri."

"Ah, begitukah? Akan tetapi apakah warna kulit dan mata orang Belanda dapat menular, akang Satya?"

"Eh, kenapa engkau bertanya begitu, Maya?"

Maya Dewi tersenyum. Giginya yang rapi dan seputih mutiara berkilat ketika bibirnya terbuka. "Habis, kulihat matamu kebiruan, tidak seperti mata orang Nusa Jawa, seperti mata orang Belanda yang pernah kulihat, walaupun warnanya tidak sebiru mata mereka."

Sudah terlanjur berterus terang, Satyabrata mulai membuka rahasia dirinya agar tidak menimbulkan kecurigaan gadis yang membuatnya bergairah dan tergila-gila itu. "Terus terang saja, Maya, ayah kandungku adalah seorang bangsa barat akan tetapi bukan Belanda, melainkan seorang berbangsa Portugis yang bernama Henrik. Ibuku adalah seorang keturunan menak (priyayi), masih keturunan Kerajaan Banten yang langsung dari Raja Ari Ranamanggala."


Masih ada satu syarat lagi! Jangan-jangan pemuda ini sudah ada yang punya! "Eh, akang Satya, apakah engkau sudah ada yang punya?" Pikiran ini terlontar begitu saja dalam pertanyaannya.

Satyabrata memandang gadis itu, agak heran dan bingung karena memang dia belum dapat menangkap apa yang dimaksudkan gadis itu. "Sudah ada yang punya? Apa maksudmu, Dewi?"

"Itu... apa engkau sudah punya isteri?"

Satyabrata tersenyum dan hatinya merasa senang. Pertanyaan itu setidaknya mengungkapkan sedikit hati gadis itu yang agaknya mulai "ada rasa" kepadanya. "Belum," jawabnya sambil tersenyum dan menatap wajah gadis itu penuh selidik.

"Calon isteri, tunangan?"
"Juga belum."
"Pacar, gadis pilihan hatimu?"

Segera terbayang wajah Elsye Van Huisen yang manis, puteri Willem Van Huisen yang menjadi pacarnya ketika lima tahun yang lalu dia dan gadis Belanda itu masih remaja, dia berusia dua puluh satu tahun dan Elsye berusia tujuh belas tahun. Timbul kerinduannya terhadap gadis yang denok dan jelita itu. Kini tentu sudah dua puluh dua tahun usianya, sudah dewasa. Dia teringat ketika dia berciuman dengan gadis itu, ketika hendak meninggalkannya.

Kemudian bayangan wajah Elsye berubah menjadi wajah manis ayi merak ati dari Muryani. Dia harus mengaku dalam hatinya bahwa dia juga mencinta murid mendiang Nyi Rukmo Petak ini. Gadis yang sakti mandraguna, bahkan lebih sakti daripada Maya Dewi, dan tidak kalah cantik, walaupun dalam hal pesona yang menggairahkan, Maya Desi memiliki daya pesona yang lebih kuat. Jarang terdapat wanita yang demikian menggairahkan seperti Maya Dewi, seolah setiap bagian tubuhnya, sampai rambut-rambutnya, memiliki daya pesona tersendiri yang membangkitkan gairah setiap orang laki-laki.

"Hei, kenapa engkau diam saja dan termenung? Terlalu banyak pacarmu, ya, sehingga tidak dapat menjawab dan menjadi bingung sendiri?" Maya Dewi mendesak dengan kerling mata tajam, senyum mengejek dengan bibir merah dicibirkan manja. Ih, bibir itu! Ingin Satyabrata menggigitnya saking gemas. Akan tetapi dia menahan diri, bersikap seorang ksatria tulen!

"Memang banyak gadis yang tampaknya menaruh hati kepadaku, Maya, akan tetapi terus terang saja, belum ada seorangpun yang membuat hatiku tertarik. Kalau tadi aku termenung, karena aku mencari-cari untuk menjawabmu, akan tetapi ternyata memang belum ada."

Sepasang bibir yang merah basah itu terbuka lebih lebar dan sekilas ujung lidah yang meruncing merah muda berputar menjilati sepasang bibir sehingga menjadi semakin basah. Melihat ini, Satyabrata menelan air ludah karena melihat keindahan di depannya, mulutnya kemecer (berliur) seperti orang melihat makanan rujak yang segar, manis, masam dan pedas!

"Hemm, benarkah sampai saat ini engkau belum pernah tertarik kepada seorang gadis? Aku melihat sepasang matamu itu memandangku seperti hendak menelanku.Hi-hi-hik!" Maya Dewi tertawa, tanpa menutupi mulutnya, tertawa bebas lepas dan sambil tertawa ia mengerling dan ia tampak genit dan manja sekali. Hampir tidak kuat lagi Satyabrata bertahan.

"Aku memang mulai tertarik, Maya Dewi, mulai tertarik begitu aku bertemu dengan engkau dan melihatmu." Dia mulai berani merayu, namun tetap berhati-hati sehingga membatasi kata-katanya bukan langsung pengakuan cinta, melainkan menggunakan kata tertarik.

"Hemm, benarkah itu?"

"Benar, Maya Dewi, dan aku mengira bahwa engkaupun suka kepadaku, benarkah itu?"

"Hemm, memang aku suka padamu akang Satya, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku tergila-gila kepadamu!' kata Maya Dewi manja dan jual mahal.

"Akan tetapi aku tergila-gila padamu Maya!"

"Hemm, tidak berarti bahwa aku jatuh cinta padamu."

"Akan tetapi aku jatuh cinta padamu!" Kini Satyabrata berani mengaku terang-terangan karena dia sudah melihat titik terang dan lampu hijau!

"Huh, aku mendengar dari bapa bahwa lidah laki-laki tidak bertulang. Rayuan laki-laki kebanyakan gombal. Entah sudah berapa puluh laki-laki yang kubunuh karena berani merayu gombal padaku. Cintamu harus dibuktikan dulu, baru aku mau percaya!"

Satyabrata menghela napas panjang. "Aih, Maya. Belum percayakah engkau kepadaku? Baik, akan kubuktikan nanti kalau ada kesempatan. Dan kalau engkau sudah percaya akan cintaku yang benar-benar suci kepadamu, baru engkau mau mengaku cinta padaku?"

"Kita lihat saja nanti! Aku tidak semurah dan semudah itu menjatuhkan cintaku. Sekali mencinta, akan kupertaruhkan dengan nyawaku!" Ucapan ini terdengar manis, akan tetapi mengandung ancaman yang amat mengerikan sehingga Satyabrata sendiri yang berhati kejam itu diam-diam bergidik. Dia harus berhati-hati terhadap perempuan ini.

"Mari kita lanjutkan perjalanan kita, Maya. Surabaya sudah dekat dan aku tidak ingin terlambat sehingga tidak dapat menghadap Pangeran Pekik hari ini juga."

Demikianlah, pada siang hari itu mereka berdua memasuki kota Surabaya dan menjadi pusat perhatian orang, terutama orang-orang muda yang kagum kepada Maya Dewi dan gadis-gadis yang kagum kepada Satyabrata.

"Anakmas Satyabrata...!"

Satyabrata dan Maya Dewi cepat memutar tubuh untuk melihat siapa yang memanggil itu. Setelah melihat bahwa yang memanggil itu adalah seorang di antara empat orang perajurit yang menjadi anak buah Senopati Poncosakti yang pernah dibantunya ketika senopati Surabaya itu bertanding melawan Ki Kalingga, utusan Mataram yang membawa surat Pangeran Pekik untuk Sultan Agung.

"Ah, andika kiranya!" kata Satyabrata dengan sikap sedikit angkuh karena yang menegurnya itu hanyalah seorang perajurit biasa. Akan tetapi dia segera mendapat pikiran yang amat baik. "Eh, paman perajurit! Tolong tunjukkan kepada kami di mana istana Sang Adipati Surabaya, kemudian laporkan kepada beliau bahwa kami mohon untuk menghadap!"

Perajurit itu yang sedang bebas tugas sudah mengenal bahwa pemuda yang gagah perkasa ini adalah seorang telik sandi Belanda, dan merupakan orang penting sekali, bahkan pernah membantu Senopati Poncosakti, maka dia menyatakan kesediaannya sambil membungkuk-bungkuk hormat kepada Satyabrata dan Maya Dewi. Sepasang orang muda ini lalu mengikuti perajurit itu menuju ke istana Pangeran Pekik.

Pada saat itu, Pangeran Pekik sedang mengadakan perundingan dengan para menteri dan panglima. Adipati Surabaya itu selalu mengerutkan keningnya, pertanda bahwa hatinya sedang tidak senang. Tentu saja dia merasa tidak senang mendengar pelaporan Senopati Poncosakti bahwa Sultan Agung telah bertindak curang. Di satu pihak membujuknya dengan kata-kata manis agar dia suka berdamai dan bersekutu dengan Mataram untuk memperkuat persatuan guna menghadapi Kumpeni Belanda. Akan tetapi di lain pihak, dia mendengar bahwa dilain pihak Mataram kini sedang mempersiapkan pasukan besar-besaran untuk menyerang dan menaklukkan Madura.

"Mengapa Kanjeng Paman Sultan Agung bertindak demikian?" Dia berseru setelah mendengarkan pelaporan Ki Poncosakti yang menjadi pemimpin para penyelidik. "Baru saja beliau mengirim surat yang manis bunyinya, akan tetapi sekarang hendak menyerbu Madura tanpa memberi tahu kami? Padahal beliau juga mengetanhui bahwa para adipati di Pulau Madura adalah sekutu kami!"

"Sama sekali tidak mengherankan, gusti," kata Ki Poncosakti yang sengaja membakar hati Adipati Surabaya itu. "Mataram melihat betapa Surabaya dan Madura bersatu dan persatuan ini tentu saja menjadi penghalang yang kokoh kuat dan Mataram yang hendak mengumbar nafsu keangkara-murkaannya. Karena itu di samping membujuk paduka untuk bekerja sama, diam-diam dia mengerahkan pasukan untuk menyerbu Madura sehingga dia bermaksud memecah belah kekuatan persatuan Surabaya dan Madura."

Pangeran Pekik mengangguk-angguk dan menghela napas panjang. "Sayang sekali mengapa Kanjeng Paman Sultan Agung berpendirian seperti itu. Padahal kalau dia hendak benar-benar berdamai dan bersekutu, kami dapat pula membujuk para adipati di Madura untuk menyudahi permusuhan dan bekerja sama." Bagaimanapun juga, Pangeran Pekik masih mengingat akan hubungan darah kekeluargaan antara Kerajaan Mataram dan Kadipaten Surabaya.

"Hamba kira hal itu tidak perlu disesalkan, Gusti Pangeran. Pemikiran seperti itu hanya melemahkan kedudukan kita. Hamba yakin bahwa kalau Mataram belum menyerang Surabaya, adalah karena Mataram melihat kokohnya persatuan antara Surabaya dan Madura. Kalau Sultan Agung langsung menyerang Surabaya, sudah pasti semua adipati di Madura akan bangkit dan membantu Surabaya menghadapi Mataram. Oleh karena itu, setelah kini ternyata Mataram hendak menyerbu Madura, sudah sepantasnya kalau kita mengirim pasukan untuk membela Madura, kanjeng gusti," kata pula Senopati Poncosakti.

"Kami kira pendapat andika itu benar, Poncosakti." Pangeran Pekik lalu menitahkan panglimanya untuk membentuk pasukan untuk membantu Madura yang menghadapi serangan Mataram.

"Selain itu, kanjeng gusti. Hamba bertemu seorang pemuda yang sakti mandraguna, namanya Satyabrata dan seorang temannya, gadis cantik dan sakti pula bernama Maya Dewi. Satyabrata itu teryata adalah seorang kepercayaan Kumpeni Belanda yang berkedudukan tinggi. Seorang seperti dia itu amat kita butuhkan, bukan saja untuk berhubungan dengan kumpeni, juga kesaktiannya dapat kita pergunakan untuk melawan para senopati Mataram yang tangguh dan sakti."

"Hemm, kita harus yakin lebih dulu, Poncosakti. Sekarang ini banyak orang yang pandai dan licik. Siapa tahu dia itu malah seorang ponggawa Mataram yang menyamar sebagai telik sandi kumpeni. Kebetulan sekali kami sedang kedatangan tamu agung, seorang perwira tinggi Kumpeni Belanda yang kini berada di Loji tamu bersama seorang puterinya. Kalau bicara dengan dia, akan kami ceritakan tentang Satyabrata dan Maya Dewi itu, untuk mendapatkan kepastian apakah benar mereka itu kepercayaan kumpeni."

Tiba-tiba seorang perajurit pengawa datang menghadap. Dia segera merangkak maju dan memberi hormat dengan sembah. "Ampuni hamba yang berani mengganggu kesibukan paduka, gusti. Akan tetapi di luar ada seorang perajurit yang mengantarkan tamu yang mohon menghadap dan bertemu dengan paduka."

Pangeran Pekik mengerutkan alisnya. Dia sedang mengadakan perundingan yang penting sekali dengan para pembantunya dan sekarang ada tamu yang datang mengganggu. "Siapakah tamu itu, perajurit?" tanyanya kepada perajurit pengawal.

"Tamu itu ada dua orang, kanjeng gusti. Seorang pemuda bernama Satyabrata dan seorang gadis bernama Maya Dewi."

"Ah, itulah mereka yang hamba maksudkan tadi, gusti!" seru Poncosakti.

Pangeran Pekik mengangguk kepada perajurit pengawal. "Pengawal, suruh para tamu itu masuk menghadap kami!" Setelah perajurit itu keluar, Pangeran Pekik berkata kepada para senopati. "Kalian bersiap-siap dan waspadalah. Kalau dua orang itu membuat gerakan dan bersikap mencurigakan, kalian boleh turun tangan menangkap mereka."

Para senopati mengangguk dan mereka semua merasa tegang, kecuali tentu saja Poncosakti karena dia sudah percaya sepenuhnya kepada Satyabrata. Ketika Satyabrata dan Maya Dewi memasuki ruangan persidangan yang luas itu, semua mata memandang kepada mereka dan suasana menjadi semakin tegang. Satyabrata yang cerdik memasuki ruangan itu bersama Maya Dewi dan dia lalu duduk bersila sedangkan Maya Dewi duduk bersimpuh sambil memberi hormat dengan sembah kepada Pangeran Pekik.

Pangeran itu memandang dengan mata terbelalak dan dalam hatinya dia merasa heran dan juga kagum. Sepasang orang muda yang elok. Terutama pemuda itu. Sepintas saja dia dapat melihat bahwa pemuda itu pasti memiliki darah orang Barat dalam tubuhnya. Matanya yang kebiruan itu, kulitnya yang putih dan wajahnya yang tampan dengan hidung mancung berbentuk indah.

"Teja-teja sulaksana tejanya dua orang belia yang baru datang! Siapaka andika berdua dan ada keperluan apakah andika berdua minta menghadap kami?' kata Pangeran Pekik dengan suara penuh wibawa.

"Hamba bernama Satyabrata, berasal dari Cirebon. Adapun keperluan hamba menghadap paduka adalah untuk membicarakan tentang gerakan pasukan Mataram yang hendak menaklukkan Madura dan juga Surabaya. Hamba adalah seorang kepercayaan Kumpeni Belanda dan tugas hamba membantu mereka yang dimusuhi Mataram."

"Hamba bernama Maya Dewi dan ayah hamba, Resi Koloyitmo, menyuruh hamba untuk membantu Madura dan Surabaya menentang Mataram. Dalam perjalanan hamba berkenalan dengan akang Satyabrata dan karena tugas kami sama, maka hamba ikut dengan dia menghadap paduka," kata Maya Dewi dengan suaranya yang merdu.

Biarpun Pangeran Pekik tidak seganteng Satyabrata, namun mengingat bahwa pria itu adalah seorang yang berkedudukan tinggi, maka tergerak juga hati Maya Dewi untuk bergaya agar dirinya lebih menarik. Namun, dalam tubuh Pangeran Pekik masih mengalir darah biru (bangsawan) yang berwibawa, maka dia dapat melihat bahwa kecantikan wanita itu hanyalah kecantikan jasmani belaka, sehingga diapun tidak begitu terpikat. Pangeran Pekik mengangguk-angguk dan sepasang matanya yang berpandangan tajam itu dapat melihat bahwa dua orang muda yang berwajah elok itu tidak memiliki sinar yang biasa dimiliki seorang ksatria dan wanita utama.

"Kami mengetahui siapa Resi Koloyitmo yang berasal dari Parahyangan itu. Akan tetapi, Satyabrata, bagaimana andika dapat membuktikan bahwa andika adalah seorang kepercayaan kumpeni?"

Satyabrata meraba pinggangnya. Semua senopati siap dan meraba gagang keris masing-masing, berjaga-jaga. Akan tetapi ternyata pemuda itu mengeluarkan sekeping uang dinar emas dari saku bajunya dan menyerahkannya kepada Pangeran Pekik. "Inilah bukti dari hamba, gusti."

Seorang senopati menerima uang dinar itu dan menghaturkannya kepada Pangeran Pekik. Setelah memeriksa uang dinar itu, Adipati Surabaya itu mengangguk-angguk, baru percaya bahwa pemuda itu mernang benar menyimpan sebuah dinar emas bergambar singa, sebagai tanda kekuasaan yang diberikan oleh kumpeni. Dia sendiri pernah menerima dinar seperti itu, bukan sebagai tanda seorang penguasa kumpeni, melainkan sebagai tanda persahabatan.

Hadiah itu diterimanya karena dia memperbolehkan kumpeni membeli beras dan rempa-rempah dari daerah Kadipaten Surabaya. Dia segera mengembalikan dinar itu dan mulai percaya, walaupun rasa tidak sukanya terhadap kepribadian pemuda itu masih ada. "Satyabrata dan Maya Dewi, kami menerima kalian sebagai tamu-tamu sahabat. Kalian tadi mengatakan bahwa kalian siap membantu Surabaya dan Madura dalam menghadapi ancaman Mataram. Lalu apa saja yang dapat kalian lakukan untuk membantu kami?"

"Gusti, dalam hal ini hamba yang tidak tahu akan siasat perang hanya ikut dan menurut saja apa yang hendak dilakukan akang Satyabrata dan akan membantunya," Maya Dewi mendahului.

"Sesungguhnyalah, Gusti Pangeran. Kalau hanya kami berdua saja, paling banyak kami dapat membantu pasukan Madura dan Surabaya dalam pertempuran melawan Mataram menghadapi para senopati Mataram yang sakti mandraguna. Akan tetapi hamba dapat berbuat lebih dari itu,.gusti. Hamba dapat menghubungi kapal kumpeni yang berada di lautan sekitar Madura dan Surabaya. Kapal-kapal itu dapat menghadang pasukan Mataram yang datang melalui lautan, dan hamba dapat mengajukan permohonan kepada atasan hamba agar dapat membantu Surabaya dan Madura dengan sejumlah senapan atau sepasukan serdadu, bahkan kalau perlu meriam-meriam."

Dalam lubuk hati Pangeran Pekik, memang adipati ini tidak begitu bersemangat untuk berperang melawan Mataram dan apa yang ditawarkan pemuda itu adalah urusan besar. Kalau dia membuka tangan menerima bantuan Kumpeni Belanda, selain hal itu membuat permusuhan dengan Mataram semakin menghebat, juga membuat dia berhutang budi kepada kumpeni dan kelak pihak kumpeni dapat memaksakan kehendak mereka dengan bersenjatakan budi itu.

"Satyabrata, urusan besar ini harus kami rundingkan masak-masak dengan para pembantu kami sebelum kami mengambil keputusan. Sementara itu, biarlah andika berdua menjadi tamu kami dan ingin kami perkenalkan kepada tamu-tamu asing kami yang kini sudah berada di Loji Tamu. Senopati Poncosakti, andika yang sudah mengenal dua orang tamu kita ini, biarkan mereka ke Loji Tamu dan perkenalkan kepada tamu-tamu kita yang sudah berada disana."

"Sendiko, gusti!" kata Poncosakti dengan gembira. "Marilah, anakmas Satyabrata dan nini Maya Dewi."

Dua orang muda itu menyembah kepada Pangeran Pekik lalu keduanya meninggalkan ruangan itu mengikuti Poncosakti menuju ke Loji Tamu yang berada di ujung barat kompleks istana kadipaten itu.

********************

Loji Tamu itu merupakan sebuah gedung yang istimewa dibuat untuk menerima tamu yang dihormati. Tentu saja tidak sembarang tamu diterima dan disediakan kamar di gedung itu untuk tempat mereka menginap. Hanya tamu yang dihormati dan dianggap tamu agung saja yang dapat menikmati keramahan Adipati Surabaya itu. Mereka ini bukan saja mendapatkan kamar-kamar yang indah dan lengkap, akan tetapi juga dijamu makanan yang serba mewah dan masih dihibur pula dengan pertunjukan joget dan tembang yang dilakukan para seniwati yang cantik dan ahli.

Ketika Poncosakti yang diikuti Satyabrata dan Maya Dewi tiba di Loji Tamu itu, perasaan Satyabrata tidak enak. Dia belum tahu siapa yang menjadi tamu di situ dan hendak diperkenalkan kepadanya, Kalau tamu itu merupakan perwira tinggi Belanda yang pernah singgah di rumah Willem Van Huisen, mungkin dia mengenalnya. Akan tetapi kalau tamu itu merupakan perwira tinggi dari Batavia, mungkin dia belum pernah bertemu dengannya dan berhadapan dengan perwira tinggi yang belum dikenalnya, selalu mendatangkan perasaan tidak sedap di hati Satyabrata.

Hal ini adalah karena dia tahu benar bahwa bangsa Belanda itu amat congkak, terutama kalau berhadapan denga orang pribumi. Bahkan Willem Van Huisen pernah mengatakan bahwa bangsa Belanda datang ke Nusa Jawa membawa kemakmuran dan akan mengajarkan peradaban kepada orang pribumi, mengajarkan hidup yang benar, bersih, beradab dan sebagainya. Karena ibunya adalah seorang pribumi, maka tentu saja Satyabrata merasa tidak enak kalau Willem Van Huisen bicara tentang itu.

Apalagi setelah dia melihat kenyataan betapa hampir semua perwira tinggi yang baru saja dijumpainya memandang rendah kepadanya. Dia tahu apa sebabnya, yaitu karena jelas dia bukan orang Belanda totok. Karena rambutnya hitam dan hanya matanya saja yang menunjukkan bahwa ada darah bule di tubuhnya. Bahkan kulitnya juga tidak bule seperti mereka, walaupun lebih putih dibandingkan orang pribumi. Biarpun ragu-ragu, dia tidak dapat mencegah ketika Poncosakti memberi tahu penjaga Loji Tamu itu untuk melaporkan kepada tamunya bahwa dia datang untuk memperkenalkan tamu-tamu lain.

"Silakan duduk menunggu di ruangan depan, akan saya laporkan kepada tuan," kata penjaga itu dan dia lalu masuk dalam gedung itu. Poncosakti mengajak Satyabrata dan Maya Dewi untuk duduk di atas kursi-kursi yang tersedia di ruangan depan itu. Tak lama kemudian terdengar detak sepatu datang dari dalam. Poncosakti segera bangkit berdiri dan menghadap arah pintu yang menembus ruangan dalam. Daun pintu terbuka dari dalam dan muncullah seorang laki-laki Belanda, berusia sekitar lima puluh lima tahun dengan pakaian sebagai seorang perwira tinggi yang indah dan gagah, ditemani seorang gadis Belanda yang cantik, berusia kurang lebih dua puluh satu tahun.

"Permisi, tuan, saya Senopati Poncosakti hendak memperkenalkan anakmas.." Poncosakti tak melanjutkan kata-katanya karena dia melihat perwira tinggi Belanda dan gadis itu memandang kepada Satyabrata dengan mata terbelalak dan wajah gembira sekali.

"Jan...?" teriak orang Belanda itu yang bukan lain adalah Willem Van Huisen perwira tinggi kumpeni itu. Kiranya dia yang bertamu pada Adipati Surabaya! Dua orang itu saling berjabat tangan dan berangkulan. Kemudian Satyabrata melepaskan rangkulan dan memutar tubuhnya menghadapi gadis Belanda itu.

"Jan, ben jij dat (engkaukah itu), Jan?" gadis itu berseru dan mengembangkan kedua lengannya.

"Elsye, schat (sayang)....!" kata Satyahrata dan entah siapa mendahului, keduanya saling berangkulan dan saling berciuman pipi sampai berulang kali. Melihat ini, api cemburu membakar hati Maya Dewi dan hampir saja ia turun tangan membunuh gadis Belanda itu!

Sambil menekan perasaannyan yang bergejolak marah, Maya Dewi berkata kepada Satyabrata dengan suara ketus. "Akang Satya, siapakah mereka ini?" Teguran yang ketus ini menghentikan tiga orang yang bercakap-cakap cas-cis-cus berbahasa Belanda yang tidak dimengerti oleh Maya Dewi.

Satyabrata terkejut karena dia baru teringat akan kehadiran Maya Dewi. Tadi dia bergembira sekali bertemu dengan Willem Van Huisen, ayah angkatnya dan dengan Elsye Van Huisen, adik angkat yang juga menjalin hubungan mesra dengannya seperti seorang kekasih itu. Sudah lima tahun dia berpisah dari mereka dan sama sekali tidak mengira bahwa tamu Pangeran Pekik adalah dua orang yang memiliki hubungan dekat sekali dengannya. Oleh karena itu tidak anehlah kalau Satyabrata begitu bergembira sehingga sejenak dia melupakan kehadiran Maya Dewi. Apalagi sekarang dia melihat betapa Elsye telah menjadi seorang gadis dewasa yang bertubuh denok montok menggairahkan.

Mendengar pertanyaan ketus dari Maya Dewi, barulah Satyabrata terkejut dan sadar. "Oh, ya. Aku sampai lupa memperkenalkan mereka kepadamu, Maya. Ayah dan Elsye, ini adalah seorang sahabat baikku bernama Maya Dewi. Maya, ini adalah ayah angkatku seperti yang pernah kuceritakan padamu. Dia adalah Perwira Tinggi Willem Van Huisen, cukup kau sebut sebagai Tuan Willem saja dan yang ini..." Satyabrata menggandeng tangan Elsye yang tersenyum manja, "ini adalah puterinya, adik angkatku bernama Elsye Van Huisen, cukup kau sebut Nona Elsye saja."

Willem Van Huisen menyodorkan tangannya mengajak Maya Dewi bersalaman. Gadis ini menyambutnya dan ketika berjabat tangan, orang Belanda itu berkata-kata dalam bahasa Sunda yang lancar sambil menggenggam tangan mungil gadis itu. "Maya Dewi, sungguh nama yang amat indah, seindah orangnya!"

Senang juga Maya mendengar ucapan itu karena ia melihat dari pandang mata orang Belanda itu bahwa dia bicara jujur, tidak bermaksud merayu. Juga Elsye mengajaknya bersalaman dan biarpun ia tidak merasa rendah diri, namun Maya Dewi merasa tidak enak melihat gadis belanda itu lebih jangkung daripada ia. Elsye hampir sejangkung Satyabrata. Akan tetapi karena sikap Elsye ramah, iapun merasa senang berkenalan dengan mereka. Padahal penyebab rasa senang itu adalah karena kini ia mengetahui bahwa gadis itu adalah adik angkat Satysabrata, walaupun mereka memperlihatkan kemesraan yang baginya keterlaluan dan melanggar batas kesopanan.

Masa dengan adik sendiri berciuman seperti dua orang kekasih atau dua orang suami isteri saja Mereka dipersilakan duduk kembali. Juga Senopati Poncosakti dipersilakan duduk. Akan tetapi Poncosakti menolak, dan berkata, "Saya masih mempunyai banyak tugas yang harus diselesaikan dan menghadiri persidangan yang akan dibuka oleh Gusti Pangeran. Silakan anakmas berdua bercakap-cakap dan tinggal di Loji Tamu ini, akan tetapi saya amat mengharapkan agar andika berdua besok pagi suka menjadi tamu keluarga kami. Kami ingin mengadakan pesta untuk andika berdua, sebagai penyambutan selamat datang dan ucapan terima kasih kami atas pertolongan andika berdua."

Setelah Satyabrata menyanggupinya, dia lalu mengundurkan diri. Setelah Poncosakti pergi, empat orang itu duduk melingkari meja dan kedua ayah dan anak itu seperti berlomba hendak menghujankan pertanyaan kepada Satyabrata. Akan tetapi sebelum mereka mulai, Satyabrata menoleh kepada Maya Dewi lalu berkata kepada ayah angkatnya.

"Ayah dan Elsye, karena di sini ada Maya Dewi dan ia bukan orang lain, melainkan segolongan sendiri, maka kuharap ayah dan Elsye bicara menggunakan bahasa daerah sehingga ia dapat mengerti dan ikut dalam percakapan."

Melihat sikap Satyabrata yang serius ketika mengucapkan kata-kata ini, Willem Van Huisen mengangguk-dan berkata, "Baiklah, akan tetapi katakan dulu mengapa engkau menganggap Maya Dewi ini sebagai orang segolongan dengan kita."

"Begini, ayah. Maya Dewi ini adalah puteri Resi Koloyitmo dari Parahyangan dan ia adalah seorang yang menerima tugas dari ayahnya untuk memusuhi Mataram dan membantu siapa saja yang menjadi musuh Mataram. Ia sakti mandraguna dan pandai, ayah, maka akan sangat menguntungkan kita kalau ia diberi kepercayaan sebagai seorang telik-sandi kumpeni."

Willem Van Huisen mengangguk-angguk ,dan tersenyum senang. "Baiklah, akan kuusulkan kepada Gubernur Jenderal agar ia diangkat menjadi seorang pimpinan telik-sandi kumpeni. Bagaimana, Maya Dewi, maukah engkau menjadi seorang mata-mata kumpeni?"

Maya Dewi tersenyum manis. Ia mengangguk dan berkata, "Tentu saja saya mau."

"Nah, anakku Jan, sekarang ceritakanlah apa saja yang kau alami dan ke mana saja engkau pergi selama lima tahun ini," kata Willem.

"Ya, ceritakanlah, Jan. Sampai setengah mati aku menunggu dan merindukanmu. Engkau menghilang selama lima tahun, tanpa kabar sama sekali walaupun ayah telah mendengar bahwa engkau telah menghubungi beberapa orang teliksandi. Kami hanya tahu bahwa engkau masih hidup. Ceritakanlah," kata Elsye.

Satyabrata lalu bercerita. Akan tetapi dia tidak ingin menceritakan yang sebenarnya tentang ilmu yang ditemukannya dalam sumur tua di belakang perguruan Jatikusumo di tepi laut Pacitan. "Ketika mendengar bahwa perguruan Jatikusumo adalah pusat para jagoan yang setia kepada Mataram, aku lalu pergi ke sana untuk melakukan penyelidikan. Aku berhasil menyusup menjadi seorang murid Jatikusumo. Pada suatu hari kebetulan sekali aku menemukan kitab-kitab kuno di gua tepi lautan. Kitab-kitab itu ternyata adalah peninggalan milik Sunan Gunung Jati yang entah bagaimana dapat berada di sana. Selama bertahun-tahun, tanpa diketahui orang lain, aku mempelajari semua ilmu itu."

"Dia menjadi sakti mandraguna karena mempelajari ilmu-ilmu itu!" tambah Maya Dewi.

"Bagus sekali!" puji Willem Van Huisen.

"Kemudian dalam perantauanku menyelidiki keadaan Mataram dan memusuhi mereka yang setia kepada Mataram, aku bertemu dengan Maya Dewi ini dan kami nenjadi sahabat."

"Ya, kulihat kalian menjadi sahabat yang baik sekali, dan serasi, dan kalian dapat menjadi jodoh yang tepat sekali!" kata Elsye.

Maya Dewi terkejut pula mendenga ucapan yang blak-blakan itu, seperti juga Satyabrata.

"Elsye, jangan goda mereka!" kata Willem dan dia berkata kepada putera angkatnya. "Jan, lanjutkan ceritamu. Bagaimana engkau dan Maya Dewi dapat tiba-tiba berada diKadipaten Surabaya ini."

"Kami berdua mengambil keputusan untuk pergi ke Madura setelah mendengar bahwa Mataram sudah siap menggempur Madura. Kami ingin membantu Madura. Akan, tetapi dalam perjalanan kami bertemu dengan Senopati Poncosakati tadi yang sedang berusaha mengadu domba antara Surabaya dan Mataram."

"Eh, menarik sekali itu! Bagairnana caranya?" tanya Willem.

Satyabrata lalu menceritakan tentang pengubahan pada surat Pangeran Pekik yang ditujukan kepada Sultan Agung dan mendengar ini, Willem van Huisen menjadi senang sekali dan tertawa bergelak "Ha-ha-ha, bagus sekali! Memang berbahaya kalau Mataram bersatu dengan Surabaya."

"Demikianlah, pertemuan dengan Poncosakti itu menimbulkan keinginan dalam hatiku untuk berkunjung kepada Pangeran Pekik dan menawarkan kerja sama. Sama sekali tidak pernah kusangka bahwa di sini aku dapat bertemu dengan ayah dan Elsye," Satyabrata mengakhiri ceritanya.

Sehari itu mereka bercakap-cakap dan Willem Van Huisen menceritakan keadaan kumpeni kepada Satyabrata dan bahwa kunjungannya ke Surabaya juga dalam rangka memantau keadaan Surabaya dan pergolakan sehubungan dengan niat Mataram untuk menyerbu Madura dan Surabaya. Malam itu Satyabrata dan Maya Dewi bermalam di Loji Tamu, mereka berdua masing-masing mendapatkan sebuah kamar. Ketika hendak berpisah, Elsye berkata dalam bahasa Belanda kepada Satyabrata,

"Kunanti engkau malam ini dalam taman." Maya Dewi yang selalu curiga segera bertanya setelah mereka berpisah dari gadis Belanda itu. "Apa yang ia katakana tadi, akang Satya?"

"Ah, ia hanya mengatakan selamat malam dan sampai jumpa pula besok pagi," jawab pemuda itu.

Biarpun Maya Dewi tidak membantah lagi, namun ia tetap curiga dan setelah memasuki kamar tidurnya dan merebahkan diri, ia tidak segera dapat pulas. Pendengarannya dicurahkan untuk memperhatikan suara dari kamar di sebelah, kamar Satyabrata. Tak lama kemudian ia mendengar suara gerakan orang. Biarpun langkah itu perlahan, namun pendengarannya yang tajam terlatih dapat menangkapnya.

Suara itu datangnya dari samping kamarnya, dari arah taman. Cepat ia menghampiri jendela kamarnya dan dengan hati-hati membuka sedikit daun jendela kamar setelah meniup padam lampu dalam kamarnya. Dan di bawah sinar lampu gantung yang berada dalam taman, ia melihat bayangan orang berjalan memasuki taman. Bayangan Elsye! Maya Dewi mengerutkan alisnya. Mau apa gadis Belanda itu malam-malam memasuki taman?

Ia cepat membuka daun jendela dan seperti seekor burung ia melompat keluar jendela tanpa menimbulkan sedikitpun suara. Dari luar ia menutupkan lagi jendela kamarnya kemudian ia menyelinap di dalam bayang-bayang pohon dan bergerak membayangi Elsye yang bergegas memasuki taman. Taman itu agaknya memang dibangun sebagai pelengkap Loji Tamu, sebuah taman yang cukup indah dan penuh dengan tanaman bunga dan pohon cemara.

Di tengah taman terdapat sebuah bangku panjang dan Maya Dewi melihat dua orang duduk di bangku itu. Ia menyelinap mendekati dan mengintai dari balik semak. Alisnya berkerut, hatinya panas melihat bahwa yang duduk di situ adalah Satyabrata dan Elsye. Agaknya Elsye baru datang dan langsung mereka berangkulan, berciuman sambil duduk di atas bangku itu.

"Marilah, Elsye, mari ke kamarku...!" Satyaabrata membujuk.

Maya Dewi semakin panas hatinya karena Satyabrata bicara dalam bahasa Belanda yang tidak dimengertinya. Ia hanya melihat Satyabrata bangkit dan mencoba untuk menyeret tangan Elsye, mengajaknya pergi. Elsye juga menjawab dalam bahasa Belanda.

"Jangan, Jan, jangan begitu... kita tidak boleh melakukan itu..."

"Akan tetapi, kita saling mencinta Elsye. Aku cinta padamu."

"Akupun cinta padamu, Jan. Akan tetapi, seperti sudah kuceritakan tadi, aku sudah bertunangan dengan seorang lain sudah menjadi calon isteri Piet..."