Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 02

PAGI itu udara cerah sekali. Sinar matahari telah menerobos celah-celah daun pohon. Seorang cantrik berusia empat belas tahun sedang menyapu pelataran setelah lebih dahulu menyirami tanah pelataran agar tidak menimbulkan debu. Daun-daun kering disapu, dikumpulkan menjadi setumpuk lalu dibakar. Seorang cantrik lain sedang bekerja di belakang mencucu pakaian.

Pendeta itu tidak merasa terganggu oleh pekerjaan cantrik dipekarangan itu. Dia tetap duduk bersila di atas batu seperti sedang termenung dan sesekali dia menghela napas panjang. Bukan tarikan napas karena duka, melainkan tarikan napas untuk menyedot hawa murni sebanyaknya sehingga seluruh dada dan perut terisi hawa murni yang dapat menentramkan gejolak hati yang merasakan apa yang belum tampak oleh kedua matanya.

“Penggik.” Akhirnya dia membuka matanya yang bersinar lembut itu dan memandang kepada cantrik yang sedang membakar daun-daun kering. “Pergilah ke belakang dan beritahu Pungguk agar mempersiapkan minuman dan jagung bakar untuk seorang tamu.”

“Sendhiko, Bapa Resi.” Kata cantrik bernama Penggik itu. Dia tidak merasa heran mendengar bahwa pendeta itu sudah mengetahui bahwa akan ada tamu yang datang. Baginya, biasa saja melihat sang pendeta melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti dia tidak tahu bahwa pendeta itu duduk di atas batu, tidak melihat datangnya dan tahu-tahu orang tua itu sudah duduk di situ. Maka dengan taat diapun pergi ke belakang untuk memberitahu rekannya. Hanya Penggik dan Pungguk, dua orang kakak beradik ini yang bekerja di situ membantu sang resi sebagai cantrik-cantrik. Mereka ini tidak diberi ilmu kanuragan, melainkan diajar tentang kehidupan dan bagaimana untuk menjadi manusia yang baik dan benar.

Baru saja air yang dimasak mendidih untuk dijadikan minuman air teh, dan baru saja jagung-jagung muda itu selesai dibakar sampai kekuning-kuningan dan menyiarkan bau harum, tibalah “tamu” yang dimaksudkan oleh Sang Resi Limut Manik. Wajah sang resi yang biarpun sudah tua masih memperlihatkan bekas ketampanan itu berseri dan mulutnya yang masih bergigi utuh itu tersenyum ketika dia melihat seorang pemuda tampan dan gagah datang menghampiri rumah dan memasuki pelataran.

“Kulonuwun….!” Kata pemuda itu yang bukan lain adalah Sutejo.

“Hemm, orang muda, silakan maju mendekat.”

Sutejo lalu melangkah maju menghampiri kakek itu. Sambil membungkuk sopan dia bertanya, “Apakah saya berhadapan dengan Eyang Guru Resi Limut Manik?”

“Heh heh, benar akulah yang disebut Resi Limut Manik, orang muda.”

Mendengar ini, tanpa ragu lagi Sutejo lalu maju dan menjatuhkan diri berlutut di bawah batu besar yang diduduki pendeta itu lalu menyembah dengan sikap hormat dan khidmat. “Eyang Guru, saya Sutejo murid Bapa Guru Bhagawan Sidik Paningal datang menghadap dan memberi hormat kepada Eyang Guru.”

Mulut itu tersenyum lebar, wajah itu berseri-seri dan matanya bersinar-sinar. “Duh Jagat Dewa Bathara! Sungguh pandai Sidik Paningal memilih murid. Selamat datang di Semeru, Sutejo. Angin dari mana yang meniupmu sampai ke tempat ini? Berita apa yang kau bawa dari gurumu?”

“Bapa Guru berada dalam keadaan baik-baik saja dan beliau menitipkan sembah sujud untuk dipersembahkan kepada Eyang Guru. Dan Bapa Guru juga mendoakan semoga keadaaan Eyang Guru baik-baik dan sehat-sehat saja.”

Pendeta itu mengangguk-angguk. “Gurumu itu muridku yang baik sekali, dan kebaikanlah yang membuat dia hidup bahagia. Selain salam yang telah kuterima dengan senang hati, ada urusan apa lagi yang harus kau sampaikan kepadaku, Sutejo?”

“Eyang Guru, ada peristiwa terjadi beberapa hari yang lalu menimpa diri Bapa Guru. Pada hari itu, kami kedatangan paman guru Bhagawan Jaladara yang datang bersama dua orang kawannya yang bernama Ki Warok Petak dan Ki Bara Kroda. Setelah berhadapan dengan Bapa Guru, Paman Guru Jaladara lalu memaksa Bapa Guru untuk tidak mempelajari agama baru dan juga agar Bapa Guru membantu Kabupaten Wirosobo yang hendak memberontak terhadap Mataram. Akan tetapi Bapa Guru menolak, terutama sekali menolak untuk membantu kabupaten Wirosobo dalam pemberontakannya. Paman Guru Jaladara marah dan terjadi pertandingan adu kesaktian. Paman Guru Jaladara kalah lalu dia mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana. Bapa Guru tidak berani melawan lalu beliau dihajar oleh cambukan-cambukan pecut sakti itu sampai babak belur. Setelah menghajar saya juga mereka bertiga pergi dengan pesan akan kembali dalam waktu sebulan. Kalau dalam waktu itu Bapa Guru belum juga mau membantu Kabupaten Wirosobo, Paman Guru Jaladara akan membunuhnya dengan pecut sakti bajrakirana. Demikianlah Eyang Resi, Pesan Bapa Guru agar disampaikan kepada paduka.”

Wajah itu tetap tersenyum dan dia mengangguk-angguk. “Mengeruhkan batin saja kalau mengingat Jaladara. Ketahuilah, Sutejo. Beberapa pekan yang lalu Jaladara datang ke sini, bermalam dan pada keesokan harinya dia pergi pamit dan ternyata pecut sakti bajrakirana telah dicurinya dari kamarku.”

“Ahh! Tepat seperti yang diduga oleh Bapa Guru!”

Resi itu mengangguk-angguk. “Tidak kusangka Jaladara akan menggunakan pecut itu untuk memaksakan kehendaknya atas gurumu. Gurumu sudah benar menolak permintaanya.”

“Atas perintah Bapa Guru, saya disuruh merampas kembali pecut sakti itu dan mengembalikannya kepada Eyang Guru.”

Resi Limut Manik mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang putih bersih. “Dia telah mencurinya, maka sudah sewajarnya kalau engkau sebagai cucu muridku merampasnya kembali. Akan tetapi, apakah engaku akan sanggup menandingi Jaladara?”

“Bapa Guru telah mengajarkan Aji Gelap Musti kepada saya untuk menandingi Paman Guru Jaladara.”

“Bagus! Akan tetapi Jaladara itu pandai dan licik. Mendekatlah dan julurkan kedua telapak tanganmu menghadap aku.” Perintah sang resi.

Sutejo menurut. Dia meluruskan lengannya dengan telapak tangan menghadap sang resi. Kakek itupun menyodorkan kedua lengannya dan kedua telapak tangan mereka bertemu. “Jangan kerahkan tenagamu. Terima saja apa yang masuk!” kata kakek itu.

Mula-mula Sutejo merasa betapa telapak tangannya hangat lalu panas sekali dan dia merasa ada hawa yang amat dahsyat memasuki lengannya, terus berputar ditubuhnya dan akhirnya menerobos masuk ke pusat hawa di pusarnya! Dia mencoba bertahan akan tetapi demikian kuatnya hawa itu sehingga dia pun pingsan dengan masih duduk bersila dan beradu telapak tangan dengan kakek itu. Ketika siuman, Sutejo masih mendapatkan dirinya duduk bersila di depan batu, akan tetapi tangannya sudah tidak disodorkan ke depan lagi dan dia merasa betapa seluruh tubuhnya hangat dan nyaman sekali.

“Bagus! Engkau kini telah memiliki tenaga sakti yang kiranya tidak akan kalah dibandingkan tenaga Jaladara. Nah, sekarang marilah kita sarapan dulu, Sutejo.”

Ternyata bakar jagung dan air teh sudah disediakan oleh pungguk di depan mereka. Sutejo tidak malu-malu lagi, lalu bersama Eyang Gurunya dia makan Jagung Bakar dan minum air teh sehingga terasa kenyang perutnya. Setelah santapan, Resi Limut Manik bertanya kepada Sutejo sambil menatap wajah pemuda itu. “Sekarang kemana engkau akan mencari Jaladara dan apa yang akan kau lakukan terhadap dirinya kalau engkau sudah berjumpa dengannya, Suetejo?”

“Karena agaknya Paman Guru Jaladara menjadi utusan kabupaten Wirosobo, saya akan mencarinya kesana , Eyang Guru. Dan kalau sudah berjumpa dengan dia, saya akan secara baik-baik minta pecut pusaka itu darinya untuk dikembalikan kepada Eyang Resi. Kalau dia tidak memperbolehkan, baru saya akan mencoba merampasnya dengan kekerasan.”

“Engkau akan membunuhnya?”

“Dijauhkan Sang Hyang Widhi saya dari keinginan itu, Eyang Resi. Saya tidak akan bertindak sekejam itu. Saya hanya akan merampas Pecut Sakti Bajrakirana, tidak ingin membunuhnya.”

“Kemudian, Pecut pusaka itu akan kau bawa kemana?”

“Setelah berhasil, saya akan langsung kembali ke sini dan menyerahkan kembali pusaka itu kepada Eyang Resi.”

Kakek itu tertawa dan mengelus jenggotnya. “Jagad Dewa Bathara! Senang hatiku mempunyai cucu murid seperti engkau, Sutejo. Dengar baik-baik. Mataram sekarang terancam bahaya, terkepung oleh banyak musuh yang tadinya menjadi bawahan yang memberontak. Oleh karena itu, kalau engkau sudah berhasil merampas Pecut sakti Bajrakirana, jangan kembalikan kepadaku. Pecut itu kuserahkan kepadamu dan boleh engkau pergunakan untuk membela Mataram. Akan tetapi hati-hati ada pantangannya, yaitu bahwa pecut sakti bajrakirana sama sekali tidak boleh untuk membunuh orang. Mengertikah engaku, Sutejo?”

Di dalam hatinya, pemuda ini merasa girang bukan main. “Tentu saja saya mengerti Eyang Guru, dan saya akan menaati semua perintah Eyang. Sekarang bolehkah saya mengundurkan diri untuk melanjutkan perjalanan mencari Paman Guru Jaladara?”

“Baiklah. Engkau pergilah ke Wirosobo, mengambil jalan dari barat memasuki kota kabupaten itu. Jangan mengambil jalan lain karena di sanalah engkau akan bertemu dengan paman gurumu yang sesat itu.”

“Sendika dawuh, eyang Guru.” Sutejo menyembah dengan hormat lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dia merasa betapa kedua kakinya amat ringan, dan ketika dia mempercepat langkahnya berlari, tubuhnya seperti terbang saja saking lajunya. Tentu saja Sutejo menjadi kaget dan juga girang. Dia memang sudah mempelajari ilmu berlari cepat dari Bhagawan Sidik Paningal, yaitu aji harina Legawa (Kecepatan Kijang) sehingga dia dapat berlari secepat kijang. Namun dibandingkan dengan sekarang ini, dia telah memperoleh kemajuan pesat karena sekarang dia merasa tidak lagi berlari, melainkan seperti terbang! Tahulah bahwa semua ini tentu akibat dari tenaga sakti yang didapatnya dari Eyang gurunya.

“Terima kasih, Eyang Resi!” teriaknya gembira dan diapun berlari semakin cepat sehingga kedua telinganya mendengar suara angin menderu di kanan kirinya.

********************

Sutejo berjalan cepat dan pada suatu sore tibalah dia di luar kabupaten wirosobo (Mojoagung). Jalanan itu sunyi sekali, tidak tampak seorangpun manusia lain. Sutejo melangkah cepat dengan niat untuk memasuki kabupaten Wirosobo sebelum gelap. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat dua orang menunggag kuda. Kuda mereka berjalan perlahan menuju ke selatan dan seorang di antara mereka memboncengkan seorang wanita yang dipangkunya di punggung kuda. Sebetulnya hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia dan merupakan hal yang lumrah saja. Akan tetapi dia mendengar isak tangis wanita itu! Tentu saja ini menarik perhatiannya dan diapun memandang lebih seksama.

Dua orang penunggang kuda itu bertubuh tinggi besar, yang seorang brewokan dan matanya sebesar telor ayam, tampak bengis dan kejam sekali, usianya sekitar empat puluh tahun. Orang kedua juga tinggi besar wajahnya tidak berkumis atau berjenggot, akan tetapi mukanya kehitaman bekas cacar sehingga muka itu tampak tidak kalah bengis dan menyeramkan dibandingkan dengan sibrewok. Juga orang kedua ini berusia kurang lebih empat puluh tahun. Orang kedua inilah yang memangku wanita itu. Sutejo memperhatikan wanita itu, usianya kurang lebih dua puluh lima tahun, wajahnya cantik manis dan tubuhnya denok menggairahkan. Wanita ini meronta-ronta dalam pangkuan itu, menangis terisak-isak dan mengeluarkan kata-kata yang mengandung ketakutan.

“Lepaskan aku…. Jangan bawa aku pergi…. Ah, kasihanilah aku, lepaskan aku…!”

Sedikit ucapan ini cukup bagi Sutejo untuk bertindak. Jelas bahwa laki-laki itu hendak memaksakan kehendaknya atas diri wanita yang dipangkunya! Mungkin wanita itu di culik dan dipaksa diajak pergi olehnya. Maka sekali melompat dia sudah tiba di depan dua ekor kuda itu dan memegang kendali kuda yang ditunggangi oleh pria dan wanita itu.

“Tahan dulu…!” Bentak Sutejo. Kuda itu terkejut dan mengangkat kedua kaki depannya. Karena gerakan ini, wanita yang tadinya dipangku pria bermuka hitam itu terlepas dari rangkulan dan terbanting jatuh. Akan tetapi dengan sigapnya, Sutejo menyambar tubuh wanita itu dengan kedua tangannya sehingga tubuh wanita itu tidak sempat terbanting.

Melihat ada orang yang mau menolongnya, wanita itu segera merangkul pinggang Sutejo dan berkata penuh permohonan, “Ki sanak, tolonglah aku…. Aku diculik oleh mereka….”

“Mundurlah mbakyu, biar aku yang menghadapi mereka.” Kata Sutejo sambil mendorong perlahan wanita itu agar jangan merangkul pinggangnya.

Dua orang laki-laki tinggi besar itu menjadi marah sekali, terutama yang tadi memangku wanita itu. Mereka berlompatan turun dari atas kuda dan laki-laki yang bermuka hitam itu memandang kepada wanita itu lalu menghardik, “Kesinilah engkau, Sarminten!”

Akan teteapi wanita yang bernama Sarminten itu menggeleng kepalanya dan sambil menangis ia berkata, “Tidak…. Aku tidak mau….”

“Kisanak sungguh memalukan kalau dua orang laki-laki gagah seperti andika berdua ini hendak memaksa seorang wanita. Bersikaplah gagah dan bebaskan wanita yang tidak mau ikut dengan kalian ini.”

“Bocah Setan! Apa engaku sudah bosan hidup? Perempuan itu adalah isteriku! Engkau berani menghalangi aku membawa isteriku sendiri?”

Sutejo tertegun juga mendengar ini. Isterinya? Dia menoleh kepada wanita itu, yang menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata tegas. “Bukan, Aku bukan isterinya. Mereka memaksa aku pergi setelah merobohkan suamiku!”

Sutejo lebih percaya kepada wanita itu dan diapun kembali memandang kepada si muka hitam. “Sobat, sudahlah. Jangan memaksakan kehendakmu yang tidak waras itu kepada seorang wanita. Tinggalkan ia pergi dengan aman.”

Si brewok sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi, “Heh, siapa engkau berani mencampuri urusan kami? Apakah engkau belum pernah mendengar nama besar Klabang Lorek dan Klabang Belang? Kamilah Sepasang Kelabang itu dan kalau engkau tidak cepat pergi dari sini, kami akan mencabik-cabik tubuhmu dan membiarkan mayatmu dimakan burung gagak di sini!!”

Sutejo tersenyum. “Apa lagi kalau andika berdua sudah memiliki nama sebagai orang-orang gagah, tidak semestinya menculik seorang wanita dari suaminya. Aku peringatkan kalian, lebih baik kalian yang cepat pergi dari sini sebelum terlambat.”

“Apa?” seru si muka hitam. “Terlambat bagaimana?”

“Sebelum aku menghajar kalian berdua!” kata Sutejo.

Terdengar gerengan yang keluar dari mulut si brewok dan dia sudah menerjang seperti seekor harimau kelaparan menubruk seekor domba. Kedua tangannya dipentang dan hendak mencekik leher Sutejo. Jari-jari tangn itu mengeluarkan bunyi berkerotokan dan otot-otot seperti kawat menonjol pada kedua tangannya. Dengan tenang Sutejo menghadapi serangan ini. Serangan tubrukan dengan kedua tangan hendak mencekik lehernya. Dia membuat gerakan mengelak ke kiri sambil miringkan tubuhnya dan ketika tangan kanan lawan menyambar, dia mengetuk ke arah siku kanan lawan itu.

“Dukk! Aduhh….!” Klabang Lorek, si brewok itu mengaduh dan memegangi lengan kanan yang seketika terasa lumpuh. Akan tetapi hanya sebentar karena lengan itu dapat bergerak kembali dan sekali dia meraba ke belakang tubuhnya, dia sudah mengeluarkan sebatang klewang (golok) yang tampak berkilauan terkena sinar matahari senja. Dia memutar goloknya dan berseru, “Sekarang engkau mampus!”

“Suuttt… Singgg…! Golok lewat dekat leher Sutejo yang mengelak dan sambil memutar tubuh, kakinya mencuat mengenai pergelangan tangan yang memegang golok.

“Adduuhh….!” Untuk kedua kalinya si brewok mengaduh dan sekali ini goloknya terlepas dari tangan dan terlempar jauh. Pada saat itu si muka hitam maju mengayun goloknya untuk membantu temannya mengeroyok Sutejo. Akan tetapi, kedua orang kasar ini sama sekali bukan lawan Sutejo. Dengan mudah dia menghindar dari serangan si muka hitam dan kembali kakinya mencuat dalam sebuah tendangan memutar, tepat mengenai perut si muka hitam sehingga tubuhnya yang tinggi besar terjengkang.

Dua orang jagoan itu hampir tidak percaya akan apa yang mereka alami. Mereka, dua jagoan yang ditakuti di daerah Wirosobo, sekarang roboh dalam beberapa gebrakan saja melawan seorang pemuda bertangan kosong! Mereka tidak percaya dan dengan kemarahan meluap-luap keduanya bangkit lagi dan menyerang dengan membabi buta, membacokkan golok mereka dengan kalap. Sutejo tetap tenang. Dia mempergunakan keringanan tubuhnya yang sudah maju pesat itu untuk menyelinap di antara sinar golok dan pada suatu saat yang baik dia mendapat kesempatan mengayun kedua tangannya dengan berbareng, tepat mengenai kedua orang penggeroyoknya.

“Plak! Plak!” Dua orang tinggi besar itu terjungkal roboh dan sekali ini sampai agak lama tidak mampu berdiri karena ketika mereka membuka mata, bumi seakan berputar dan membuat mereka pusing. Setelah pusingnya mereda, mereka kini harus mengakui bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki ilmu kesaktian. Mereka merangkak bangun dan cepat meninggalkan tempat itu, menghampiri kuda mereka. Akan tetapi setelah mereka melompat ke atas punggung kuda. Klabang Belang yang bermuka hitam itu berseru, “Hem, orang muda. Kalau engkau memang ksatria, tinggalkan namamu!”

“Aku bukan ksatria, hanya orang biasa dan namaku Sutejo.”

Dua orang itu lalu membalikan kuda mereka dan cepat meninggalkan tempat itu. Sutejo berdiri dan melihat ke arah mereka sambil menghela napas panjang. Tiba-tiba dua buah lengan yang lunak dan lembut seperti dua ekor ular mengelungi lehernya dari samping. Sutejo terkejut dan ketika dia menengok dia melihat wajah yang cantik dan manis itu sudah begitu dekat dengan wajahnya. Dia sudah dapat mencium bau sedap dari rambut wanita itu yang memandang kepadanya dengan sepasang mata yang sayu.

“Kakangmas…… beribu terima kasih kuhaturkan kepadamu yang telah menyelamatkan aku dari dua orang jahat tadi.” Wajahnya itu disusupkan ke atas dadanya.

Bagaikan dipagut ular berbisa, Sutejo melangkah mundur dan melepaskan rangkulan kedua lengan pada lehernya itu, “Apa… apa yang kau lakukan ini?” tanyanya gagap dan memandang kepada wanita itu dengan sepasang mata terbelalak, heran, kaget dan juga ngeri. Selamanya belum pernah dia berdekatan dengan wanita dan wanita ini merangkulnya, membelainya dan hampir menciumnya!

Sarminten melangkah maju hendak merangkul lagi. “Kakangmas, setelah andika menyelamatkan aku, maka aku akan memasrahkan jiwa ragaku kepadamu.”

Sutejo kembali melangkah mundur. “Mbakyu, jangan begitu. Aku tidak menghendaki itu. Bukankah engkau sudah bersuami? Bukankah katanya suamimu dipukul roboh oleh kedua orang itu kemudian engkau diculik?”

“Huh, suami macam apa itu! Tidak dapat melindungi isterinya. Tidak, mulai saat ini aku ikut denganmu kakangmas Sutejo! Indah dan gagah namamu, Sutejo. Aku akan ikut denganmu, biar aku yang mencarikan nafkah. Ketahuilah, aku adalah ledek (pesinden/penari) yang kenamaan di Wirosobo. Kalau engaku mau menerimaku, engkau boleh tinggal enak-enak di rumah dan aku yang mencarikan uang. Terimalah, wong bagus dan engkau akan hidup senang bersamaku.” Kembali wanita itu mendekati.

Sutejo habis kesabarannya. “Diam!” bentaknya. “Tidak pantas engkau berkata dan bersikap seperti ini, mbakyu Sarminten. Seorang isteri, harus setia kepada suaminya. Bukan salah suamimu kalau dia tidak dapat melindungimu dari dua orang jagoan tadi. Sekarang, kembalilah kepada suamimu. Aku tidak…..sudi berdekatan denganmu!” Kalimat terakhir itu diucapkan dengan muak dan marah.

Pada saat itu, dalam keremangan senja muncul seorang laki-laki. Usianya tentu hampir empat puluh tahun, mukanya bengkak bekas pukulan, pakaiannya awut-awutan.

“Sarminten…..! Sarminten isteriku, engkau di sini? Engkau selamat dari dua orang jagoan itu?” Ternyata dia adalah Karyo, suami Sarminten. Karyo adalah seorang penabuh gamelan dan dia menjadi suami Sarminten yang ledek terkenal dari Wirosono itu.

Tiba-tiba Sarminten mengubah sikapnya. Ia lari menghampiri suaminya dan jatuh dalam rangkulan Karyo. Ia menangis terisak-isak. “Aku dilarikan dua orang jahat itu dan… dan diperebutkan dengan orang ini. Dua orang jahat itu melarikan diri, akan tetapi orang ini tidak kalah jahatnya. Dia hendak memperkosa aku, kakang…!”

Karyo memandang marah dan merasa heran bahwa yang akan memperkosa isterinya itu seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah!

“Hei, kisanak. Andika seorang yang masih muda dan gagah perkasa, mengapa hendak melakukan perbuatan yang tidak tahu malu itu, hendak memperkosa isteriku?”

Dapat dibayangkan betapa jengkelnya hati Sutejo. Wanita itu seperti ular berkepala dua, menggigitsana sini dengan bisanya yang berbahaya.

“Sudahlah urus binimu yang liar ini. Aku tidak sudi berurusan dengan kalian berdua!” katanya dan diapun melompat pergi, tidak jadi masuk ke dalam kabupaten Wirosobo. Untuk apa malam-malam memasuki kabupaten itu? Ke mana dia hendak mencari Bhagawan Jaladara? Dia lalu ke selatan dan setelah menemukan sebuah gubuk di tengah sawah yang kosong, dia lalu masuk ke gubuk dan merebahkan dirinya terlentang. Langit mulai gelap dan ribuan bintang gemerlapan. Dia termenung. Mengapa ada wanita yang demikian jahat dan palsunya? Apakah semua wanita itu demikian? Dia bergidik ngeri.

Mempunyai seorang isteri seperti itu sama dengan hidup bersama dengan iblis betina yang berbahaya. Dia menenangkan batinnya yang bergelora penuh kemarahan. Kalau tahu akan menemukan wanita seperti itu, lebih baik dia tidak menolong dan biar wanita itu dibawa Klabang Lorek dan Klabang Belang. Dua orang laki-laki itu lebih pantas berteman wanita seperti Sarminten itu. Dan suaminya yang lemah itu tentu hanya menjadi boneka bagi Sarminten. Diam-diam dia merasa iba juga kepada suami wanita itu.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, mendengar bunyi kokok ayam jantan yang datangnya dari kabupaten Wirosobo, Sutejo terbangun dari tidurnya. Dia mencari air jernih dan mendapatkan sebuah anak sungai tak jauh dari situ. Airnya jernih sekali dan karena tempat itu masih pagi dan sunyi sekali, Sutejo meninggalkan semua pakaiannya karena dia ingin sekali mandi di sungai kecil yang airnya jernih dan banyak batu-batunya itu. Dia meletakan pakaiannya menumpuk di atas sebuah batu dan segera masuk ke dalam air. Airnya sejuk bukan main, ketika dia menyelam dan kepalanya tenggelam di air, rasa sejuk seakan-akan masuk ke dalam kepalanya dan ke dalam seluruh tubuhnya. Segar dan sejuk!

Akan tetapi ketika dia muncul kembali ke permukaan air, di dekat pakaiannya itu diatas batu besar sudah duduk seorang pemuda remaja. Tampaknya seperti pemuda dusun dilihat dari pakaiannya yang sederhana dan longgar. Pakaian itu terlalu besar untuk pemuda itu sehingga tampak lucu dan kedodoran. Rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan kain hitam. Biarpun pakaian pemuda remaja itu kedodoran dan sederhana sekali, namun Sutejo harus mengakui bahwa belum pernah dia melihat seorang pemuda setampan itu!

Sebagian mukanya memang kotor terkena debu, namun demikian halus. Rambutnya panjang hitam sekali sehingga biarpun digelung ke atas masih ada sisa ujung rambut yang terjuntai ke bawah. Dahinya halus dan alisnya hitam kecil. Sepasang matanya! Seperti bintang kejora kembar, bersinar-sinar penuh gairah hidup. Hidungnya kecil mancung dan lucu, Ujungnya agak terangkat ke atas, dan mulutnya, mulut yang manis sekali dan senyum mengejek tersungging di bibirnya. Dari mata dan bibir ini saja sudah diketahui bahwa dia seorang pemuda remaja yang nakal, lincah dan jenaka.

“Hei, adik yang baik. Mari temani aku mandi di sini! Airnya sejuk dan segar sekali. Mari turun!” Ajak Sutejo yang merasa suka melihat pemuda remaja itu.

Akan tetapi pemuda remaja itu menggeleng kepalanya. “Mandi bersamamu? Tak tahu malu! Sungguh engkau seorang yang tidak tahu malu, mandi telanjang di tempat umum!”

“Ini bukan tempat umumj dan tempat ini sepi, tidak ada orang lain!”

“Kau pikir aku ini bukan orang?!”

“Akan tetapi engkau juga seorang pria dan apa salahnya dua orang pria mandi telanjang bersama?”

“Tidak, aku tidak sudi. Aku sudah mandi tadi, lihat rambutku masih basah.” Dia memperlihatkan ujung rambutnya yang memang masih basah.

“Wah agaknya engkau kalau mandi tidak membersihkan mukamu. Itu masih ada debu menempel. Hayo mandi lagi yang bersih bersamaku.”

“Aku tidak sudi!” Pemuda remaja itu lalu melompat dari atas batu besar dan melarikan diri.

“Heii…! Jangan bawa pakaianku! Tunggu, jangan bawa pakaianku. Bagaimana aku dapat keluar dari sini kalau engkau membawa pergi pakaianku!”

Akan tetapi biarpun Sutejo berteriak-teriak, pemuda remaja yang nakal itu tidak mau berhenti berlari. “Celaka! Sialan anak itu!” Sutejo menjadi bingung dan marah. Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan? Pakaiannya sudah dibawa anak itu, juga buntalan bekal pakaian!

Dia melihat ada beberapa batang pohon pisang tumbuh di dekat sungai. Wajahnya gembira dan cepat dia keluar dari air dalam keadaan telanjang bulat. Dia mengambil beberapa helai daun pisang yang lebar, menutupkan ke bawah perut dan diikat dengan tali dari kulit batang pisang. Setelah rapat benar, barulah dia berlari mengejar. Dia melihat bayangan pemuda itu berlari di sebelah depan. Sutejo mengerahkan tenaganya untuk berlari lebih cepat lagi, akan tetapi tiba-tiba pemuda itu lenyap dan buntalan pakaiannya tersangkut di dahan sebatang pohon!

Sutejo berhenti mengejar dan mengambil buntalannya. Anak sialan, pikirnya. Dia merasa seolah ada mata yang mengintainya, maka dia cepat membawa buntalan pakaiannya ke balik semak belukar dan disana , tertutup oleh semak-semak dia mengenakan pakaiannya. Setelah selesai berpakaian dan menggendong buntalan pakaiannya, Sutejo keluar dari balik semak belukar dan memandang ke kanan kiri. Dia hendak mencari bocah itu untuk diberi hajaran. Bocah kurang ajar itu memerlukan penanganan yang keras. Usianya paling banyaklima belas tahun akan tetapi dia sudah nakal sekali, suka menggoda orang. Bayangkan saja kalau banyak orang melihat dia berpakaian daun pisang tadi! Akan tetapi sekelilingnya sunyi saja. Agaknya pemuda remaja tadi sudah ketakutan dan melarikan diri.

Sutejo lalu melanjutkan langkah kakinya menuju Kabupaten Wirosobo. Baru beberapa langkah dia berjalan, dia melihat seorang laki-laki datang dari depan. Jantungnya berdegup penuh ketegangan ketika dia mengenal laki-laki itu yang bukan lain adalah Bhagawan Jaladara sendiri! Ah, betapa kebetulan sekali. Kalau saja dia tidak bertemu dengan Sarminten dan berkelahi dengan Klabang Lorek dan Klabang Belang, juga andaikata pakaiannya tidak dilarikan pemuda remaja tadi, tentu dia tidak akan bertemu dengan Bhagawan Jaladara! Sepatutnya dia berterima kasih kepada pemuda remaja itu!

Melihat paman gurunya itu, dia teringat bahwa waktu yang sebulan itu sudah tinggal beberapa hari lagi dan agaknya paman gurunya itu akan pergi ke puncak Kawi untuk mencari gurunya dan menekannya dengan ancaman akan membunuhnya kalau sampai hari itu gurunya tetap tidak mau membantu kabupaten Wirosobo. Teringat akan hal ini, panas hatinya dan dia segera melompat dan menghadang di jalan yang masih sunyi itu.

Sang Bhagawan Jaladara berjalan sambil termenung agaknya, maka ketika tiba-tiba muincul Sutejo di depannya, dia agak terkejut. Akan tetapi ketika dia mengenal siapa orangnya yang menghadang perjalanannya, dia tersenyum mengejek. “Bukankah andika ini Sutejo, murid Kakang Sidik Paningal?” tanyanya sambil mengamati pemuda itu dari kepala sampai ke kakinya.

“Benar paman Guru Jaladara. Saya adalah Sutejo dan saya mengucapkan salam kepada Paman Guru.”

“Ha-ha-ha, baik juga sikapmu. Sekarang katakan apa maksudmu menghadang perjalananku? Apakah engkau diutus gurumu untuk memberitahu kepadaku bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk menaati pesanku?”

“Sama sekali tidak, paman. Bagaiamanpun juga, Bapa Guru adalah murid Eyang Resi Limut Manik yang taat, karena itu Bapa Guru tidak sudi membantu Kabupaten Wirosobo yang memberontak kepada Mataram.”

“Babo-babo! Kalau begitu gurumu itu pasti akan mati ditanganku!”

“Nanti dulu, paman. Aku yang akan menghalangi paman datang ke kawi. Ketahuilah bahwa aku Sutejo, diutus oleh Eyang Limut Manik untuk mengambil kembali Pecut Sakti Bajrakirana yang telah paman curi dari kamar Eyang Guru Resi. Karena itu paman, sebelum terpaksa aku melawan paman, serahkanlah Pecut Sakti Bajrakirana itu kepadaku.”

“Apa? Engkau hendak mengambil pecut sakti dari tanganku? Sutejo, engkau anak kecil jangan ikut campur. Pecut ini akan kukembalikan sendiri kepada Bapa Guru resi Limut Manik setelah tugasku selesai membujuk Kakang Sidik Paningal. Pergilah dan jangan ganggu aku, Sutejo!”

“Tidak Paman. Sebelum Pecut Sakti Bajrakirana paman serahkan kepadaku aku tidak akan pergi dari depan paman.”

“Apa? Engkau ini anak kemarin sore yang masih bau kencur ubun-ubunmu berani menantangku?”

“Apa boleh buat, paman. Berat mengemban dawuh Eyang Resi kalau paman tidak mau mengembalikan Pecut pusaka itu, tentu aku akan menantang paman dan merampasnya dengan kekerasan!”

“Babo-babo! Apa yang kau andalkan maka berani melawan paman gurumu sendiri?”

“Andalanku adalah kebenaran dan restu eyang resi limut manik!”

“Kalau begitu, akan kuhabisi nyawamu di sini juga!” kata Bhagawan Jaladara sambil memutar tongkat hitamnya.

Sutejo sudah maklum akan kedahsyatan senjata tongkat hitam itu, maka diapun meloloskan ikat kepalanya yang berwarna biru, lalu memasng kuda-kuda ilmu silat sinung nila. Tangan kanan memegang ujung ikat kepala, tangan yang lain memegang ujung yang lain, tubuhnya merendah dengan kedua lutut ditekuk kedepan dan belakang, matanya tajam memandang gerakan lawan.

“Makanlah senjataku ini!” Bhagawan Jaladara sudah menyerang dengan tongkatnya. Serangannya dahsyat bukan main, mendatangkan angin pukulan yang menyambar kuat. Namun Sutejo sudah siap siaga. Dia menggunakan kecepatan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak dan dari bawah, ujung ikat kepalanya menyambar ke arah dada lawan. Biarpun hanya ikat kepala, akan tetapi karena sudah dialiri tenaga sakti, kain itu menjadi kaku dan kuat seperti sebatang tombak!

Bhagawan Jaladara juga maklum bahwa Sutejo adalah murid kakak seperguruannya yang berbakat dan tangguh, maka diapun mengelak sambil memutar tongkatnya yang kini menyambar dari atas ke arah ubun-ubun kepala Sutejo! Serangan ini juga dahsyat sekali dan kalau ubun-ubun kepala itu terkena hantaman tongkat, tentu kepala itu akan pecah berserakan. Batu karang saja tidak akan kuat menerima hantaman tongkat ini apa lagi kepala manusia.

Sutejo kembali mengelak. Dia melihat suatu keuntungan, yaitu bahwa dia dapat bergerak lebih cepat dan gesit dibandingkan paman gurunya. Maka, dia mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana sini, menyelinap di antara sinar tongkat dan kalau ada lowongan terbuka dia balas menyerang dengan ujung ikat kepalanya!

Pertandingan itu berjalan seru sekali tanpa ada yang menyaksikan. Akan tetapi tanpa setahu kedua orang itu, sebetulnya ada sepasang mata tajam yang menonton pertandingan antara mereka. Seorang yang bersembunyi di balik semak belukar menonton pertandingan itu dan matanya bersinar-sinar penuh perhatian dan ketegangan. Memang pertandingan antara Bhagawan jaladara melawan murid keponakannya itu berlangsung dengan sengit dan seru.

Bhagawan Jaladara merasa penasaran sekali karena sampai puluhan bahkan hampir seratus jurus belum juga dia mampu mengalahkan murid keponakannya. Dia sudah mengerahkan seluruh tenaga pada tongkatnya, namun Sutejo lebih banyak mengelak dan kalau sekali waktu dia menangkis dengan ikat kepalanya, maka ikat kepala itu mampu menandingi tenaga yang tersalur lewat tongkat! Dan Bhagawan Jaladara juga diam-diam mengakui bahwa dalam hal kegesitan, dia telah kalah banyak! Dia tidak tahu bahwa pemuda itu telah memperoleh tenaga sakti dari eyang gurunya! Dan dia juga tidak mengira bahwa pemuda itu telah melatih diri dengan Aji Gelap Musti dan juga Patala Bajra!

Bagaimanapun juha, kalau dua orang jagoan bertemu, maka faktor usia memegang peran penting dan cukup menentukan. Bhagawan Jaladara yang sudah berusia enam puluh tahun itu mana dapat dibandingkan dengan Sutejo yang baru berusia dua puluh dua tahun! Tentu saja dia kalah dalam hal tenaga, kecepatan dan terutama pengaturan pernapasan. Setelah lewat seratus jurus, tubuhnya sudah mandi keringat dan dari kepalanya sudah mengepul uap putih, napasnya mulai memburu sedangkan Sutejo masih segar bugar!

Sang Bhagawan Jaladar merasa penasaran dan marah sekali. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya dan menghatamkan tongkatnya ke arah kepala Sutejo. Melihat serangan yang nekat ini, Sutejo melompat ke samping dan ketika tongkat itu lewat, dia cepat menggerakan ikat kepalanya menjadi lemas dan ujung ikat kepala itu melibat tongkat, dibarengi dengan pukulan tangan kirinya ke arah lengan kanan lawan.

“Dukkk……!” Ketika dia menarik, tongkatnya itu telah terlempar jauh sekali!

Bhagawan Jaladara yang sudah kehilangan tongkatnya, menggereng marah seperti seekor harimau terluka, lalu tangan kanannya bergerak ke pinggang dan dia sudah melolos Pecut Sakti Bajrakirana dari pinggangnya.

“Tar-tar-tar……!” Dia memutar pecut itu diatas kepalanya sehingga pecut itu meledak-ledak dengan nyaring. Sutejo terkejut karena jantungnya tergetar oleh suara pecut yang meledak-ledak. Akan tetapi ketika ujung pecut menyambar, dengan gesitnya dia mengelak. Cepat sekali gerakannya, seperti seekor burung walet keluar dari guha. Sia-sia Bhagawan Jaladara menghujamkan pecutnya ke arah bayangan yang berkelebatan itu. Sampai tiga puluh jurus Bhagawan Jaladara mengejar Sutejo dengan ayunan cambuknya, dan sekali-kali pemuda itu dapat membalas dengan sambaran ikat kepalanya yang tidak kalah dahsyatnya.

Karena merasa penasaran Bhagawan Jaladara lalu mengeluarkan Aji Gelap Musti! Ketika pecutnya menyambar dan dapat di elakkan oleh Sutejo ke kanan, tangan kirinya yang sudah siap dengan saluran tenaga Gelap Musti, tiba-tiba menampar dengan sambaran dahsyat! Sutejo mengenal Aji pukulan ini maka diapun menggerakan tangan kirinya dengan aji yang sama dan menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya ke lengan kiri.

“Wuuutttt…. Desssss……!” dua tenaga raksasa bertemu di udara, seolah kilat menyambar dan akibatnya tubuh Sang Bhagawan Jaladara terpelanting keras. Mendapatkan kesempatan ini, Sutejo menggerakan ikat kepalanya, menjadi kaku dan menotok ke arah pergelangan tangan kanan lawannya.

“Tukk…..!” Tangan itu tergetar dan pecut yang dipegangnya terlepas. Bagaikan seekor burung sikatan Sutejo menyambar dan di lain saat pecut itu telah berada di tangan kirinya!

Bhagawan Jaladara berdiri dengan muka pucat memandang pemuda itu. Mulutnya menyeringai seperti orang menangis dan dia membentak, “Kembalikan pecut itu!”

“Tidak, Paman Guru. Pecut ini harus kembali ke tangan Eyang Guru!” kata Sutejo dengan suara tegas.

“Keparat kau….!” Dengan nekat Bhagawan Jaladara lalu menyerang Sutejo dengan tangan kosong. Tubrukannya adalah tubrukan seorang yang sudah nekat untuk mengadu nyawa dan dia berhasil menyambar tubuh pecut yang berada di tangan Sutejo. Sutejo mempertahankan, kalau dia mau menyerang lawan tentu dengan mudah dia akan dapat membunuh Bhagawan Jaladara yang sudah bertangan kosong. Akan tetapi dia tidak menghendaki hal ini terjadi, maka dia ragu dan lengah sehingga pecut itu dapat terpegang oleh tangan Bhagawan Jaladara. Mereka berkutetan, saling dorong dan saling betot. Ketika keduanya mengerahkan tenaga, dalam waktu yang berbarengan keduanya mengayunkan kaki kana menendang.

“Desss!!” Keduanya terlempar ke belakang dan pecut yang dijadikan rebutan itu terlepas dari tangan mereka dan melayang jauh. Mendadak muncuk seorang pemuda remaja dari balik rumpun semak belukar dan tubuhnya menyambar ke arah pecut dengan kecepatan kilat, tahu-tahu pecut telah berada di tangannya dan dia melarikan diri sipat kuping dengan cepat sekali!

Sutejo mengenal bocah nakal yang pernah menggodanya pagi tadi. Dia meloncat dan berseru, “Heii… berhenti kau…!”

Melihat bahwa pecut itu telah diambil oleh seorang pemuda remaja, Bhagawan Jaladara juga melakukan pengejaran. Akan tetapi bocah itu bergerak amat cepat, bahkan Sutejo sendiri yang mempergunakan Aji Harina Legawa tidak mampu menyusulnya. Tak lama kemudian pemuda itu sudah menghilang di dalam hutan!

Melihat ini, Bhagawan Jaladara marah sekali kepada Sutejo. Dia menerjang Sutejo dengan pukulan sambil memaki, “Bocah setan, engkau yang membikin pecut itu hilang!”

Serangannya ganas, akan tetapi sekali ini Sutejo juga sudah marah. Bahkan bukan dia yang membuat pecut itu hilang, melainkan kakek ini. Maka ketika melihat kakek itu memukul, dia mengerahkan Aji Gelap Musti menyambut.

“Desss...!” Kembali dua tenaga sakti bertemu di udara dan untuk kedua kalinya tubuh Bhagawan Jaladara terpelanting dan muntah darah. Dia telah terluka dalam dan merangkak bangun, tidak berani lagi menyerang. Sutejo tidak memperdulikannya dan dia lalu melompat ke dalam hutan untuk mencari pemuda remaja yang telah membawa pergi pecut sakti bajrakirana.

Sutejo berlari cepat sekali memasuki hutan, akan tetapi dia segera menjadi bingung karena hutan itu liar dan lebat sekali. Tidak tampak jalan setapak dan juga dia tidak dapat menemukan tapak kaki pemuda remaja yang melarikan Cemeti Sakti Bajrakirana. Kemana dia harus mencarinya. Beberapa kali dia berteriak.

“Heii, anak nakal! Keluarlah dan mari kita bicara!” Kalau bocah itu keluar, dia akan bicara baik-baik, membujuknya untuk mengembalikan pecut yang amat penting itu. Akan tetapi sampai suaranya serak memanggil-manggil jangankan anak itu keluar, jawabannya pun tidak ada. Akhirnya Sutejo lari ke sebuat dataran tinggi yang di mana terdapat sebatang pohon randu alas raksasa. Dia meloncat dan memanjat pohon itu sampai puncaknya dan dari tempat tinggi itu dia memandang ke sekeliling.

Akhirnya dia melihat pemuda remaja itu. Jauh di sebelah timur, berjalan perlahan sambil mengayun-ayun pecut itu di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak sedang bermain-main. “Anak sialan!” Sutejo cepat turun dan berlari cepat menuju ke timur untuk mengejar. Akhirnya dia keluar dari hutan itu dan tiba di tanah pegunungan yang sunyi. Tadi dia melihat anak itu berada di sisi dan akhirnya dia berhenti di tepi sebatang sungai yang cukup lebar. Kiranya tidak mungkin melompati sungai itu dan dia melihat bayangan anak itu di seberang sana !

“Hei…. Kamu….! Berhenti dan kembalikan pecut itu!” Sutejo berteriak nyaring.

Anak muda itu memutar tubuhnya memandang Sutejo, lalu membunyikan pecut di atas kepalanya. “Tar-tar-tar!” Setelah itu dia tertawa dan lari lagi ke depan dengan amat cepatnya!

“Bocah mendem (mabok)!” Sutejo memaki dan dia menjadi bingung bagaimana untuk melewati sungai itu. Karena di situ tidak ada perahu atau alat lain untuk menyebrang, sedangkan untuk berenang pakaiannya tentu akan basah semua, akhirnya tidak ada lain pilihan baginya kecuali menyebrang dengan berenang. Dia menanggalkan pakaiannya, hanya memakai sebuah celana dalam, menaruh buntalan pakaiannya di atas kepala dan terpaksa dia lalu berenang sedapatnya dengan satu tangan untuk menyebrang. Dalam hatinya dia merasa gemas sekali dan kini dia berjanji kepada diri sendiri kalau sampai dapat mengejar pemuda remaja itu, dia akan menangkapnya, menelungkupkannya ke atas kedua pahanya dan memukuli pantatnya sampai puas!

Biarpun dengan susah payah, dapat juga Sutejo menyebrang! Dia mengenakan kembali pakaiannya dan cepat berlari lagi mengejar ke depan. Dari dataran tinggi itu dia dapat melihat sawah dan ladang yang luas dan tergarap rapi, tanda bahwa di tempat itu ada dusunnya. Dan benar saja, dari jauh dia melihat segerombolan pohon-pohon dan tampak genteng-genteng rumah orang. Tentu pemuda remaja itu tinggal di dusun itu, pikirnya.

Matahari telah naik tinggi dan tanpa memperdulikan tubuhnya yang lelah karena tadi bertempur hebat melawan Bhagawan Jaladara, diapun berlari lagi menuju ke dusun yang tampak dari dataran tinggi itu. Akhirnya dia tiba di luar dusun yang di kelilingi pagar bambu yang ketat itu. Dia tidak melihat jalan masuk kecuali sebuah gapura yang lebar dan juga tertutup. Heran juga dia melihat sebuah danau yang serba tertutup ini, seolah menyimpan rahasia besar. Dia tidak berani lancang masuk, melainkan berdiri di luar gapura dan dia mengetuk pintu gapura yang terbuat dari kayu itu, menggunakan sepotong batu.

“Tok-tok-tok! Kulonuwun…!” teriaknya berulang kali.

Tiba-tiba dia mendengar gerakan di belakangnya. Cepat dia menengok dan ternyata dia telah dikepung oleh belasan orang! Dan orang-orang itu amat aneh. Pakaian mereka serba hitam, akan tetapi muka mereka dicoreng moreng dengan warna hitam dan putih, lereng-lereng bergaris panjang diseluruh muka sampai ke leher mereka sehingga sukarlah mengenal wajah yang semua dicoreng moreng itu. Dan di tangan mereka tergenggam bermacam-macam senjata. Ada yang membawa keris, ada yang bersenjatakan tombak trisula, dan ada pula yang membawa perisai dan golok. Biarpun muka mereka coreng moreng namun cara mereka mengepung Sutejo amat teratur, tidak kacau seolah mereka merupakan barisan yang terlatih baik.

Biarpun terkejut dan heran, Sutejo tidak merasa gentar dan bersikap waspada. Dia melangkah maju menghadapai seorang tinggi besar di antara mereka yang memegang keris panjang, lalu berkata dengan sikap hormat.

“Maafkan saya. Saya adalah seorang pengembara yang tanpa disengaja tiba di dusun ini. Kalau boleh saya memasuki dusun ini….”

“Dia mata-mata musuh. Serang!” orang tinggi besar itu mendadak berseru dengan suara parau dan belasan orang itu, tidak kurang darilima belas orang banyaknya, sudah menerjang dengan senjata mereka kepada Sutejo.

Sutejo merasa penasaran juga. Orang-orang ini menuduhnya mata-mata! Akan tetapi karena mereka semua sudah menggerakan senjata untuk menyerangnya, dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bicara. Sambil mengerahkan tenaga, dia menggerakan kedua lengannya, diputar menangkis semua senjata itu dan para pengeroyoknya berpelantingan. Dia segera melompat keluar dari kepungan dan kini, orang tinggi besar yang memegang keris panjang sudah menyerangnya. Serangannya cukup hebat. Keris itu meluncur cepat ke arah perutnya.

Suetjo miringkan tubuhnya dan sekali tangan kirinya memukul dengan tangan miring ke arah pergelangan tangan yang memegang keris, senjata itupun terpukul lepas dan jatuh. Sutejo mendorong dengan tangan kanannya dan si tinggi besar itu terjengkang dan terbanting jatuh dengan kerasnya. Semua orang terkejut melihat ini dan menahan serangan, hanya mengurung saja dengan pandangan mata ragu karena mereka sudah melihat kehebatan gerakan pemuda itu yang membuat mereka merasa jerih.


Tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka dan muncullah belasan orang lain sehingga jumlah mereka lebih dari tiga puluh orang yang mengepung Sutejo! Akan tetapi pemuda ini tidak gentar dan kembali dia berkata dengan lantang.

“Aku bernama Sutejo dan kedatanganku ini bukan membawa maksud buruk. Aku hanya ingin bertemu dan bicara dengan pemimpin kalian karena ada urusan penting sekali. Aku bukan mata-mata manapun juga, bukan pula musuh, maka harap kalian jangan menyerangku!”

Si tinggi besar itu memandang dengan matanya yang lebar, kemudian mengangguk dan berkata kepada teman-temannya. “Kita bawa dia masuk menghadap pimpinan!”

“Mari masuk akan tetapi awas, kalau engkau membuat ulah, kamu akan mengeroyokmu!” kata pula si tinggi besar kepada Sutejo. Pemuda itu merasa lega. Dia memang tidak ingin mencari permusuhan. Dia belum tahu siapa mereka yang mencoreng moreng muka mereka ini, dan dari perkumpulan macam apa. Karena sukar mengajak orang ini bicara baik-baik, maka dia minta dipertemukan dengan pemimpin mereka agar dia dapat bicara dengan baik, terutama menanyakan pemuda remaja yang telah membawa pergi pecut sakti bajrakirana.

Ternyata perkampungan itu besar juga. Agaknya tidak kurang dari seratus orang laki-laki dan wanita serta anak-anak mereka tinggal di perkampungan ini. Yang berada di dalam perkampungan tidak memakai coreng moreng mukanya dan hidup sebagai penduduk dusun biasa. Tiga puluh lebih orang yang mukanya di coreng moreng itu membawa dan mengawal dia ke sebuah rumah besar di tengah perkampungan yang dikelilingi oleh rumah-rumah yang lebih kecil. Rumah besar itu memiliki pendopo yang luas dan ke sanalah Sutejo di bawa mereka.

Setelah berada di pendopo. Sutejo melihat dua orang laki-laki tinggi besar duduk berjajar di sebuah bangku dan di belakang mereka berdiri si bocah nakal yang melarikan pecutnya! Akan tetapi, kini dia tidak membawa pecut itu dan pemuda remaja itu memandang kepadanya sambil tersenyum mengejek, bahkan mengedipkan mata kirinya seperti memberi isyarat atau memang sengaja menggodanya. Kalau saja dia tidak berada di situ sebagai tamu atau bahkan orang tangkapan, tentu sudah dikejar dan ditangkapnya pemuda remaja nakal itu dan dia pukuli pantatnya sampai bertaubat!

“Hayo berlutut dan menyembah!” Kata orang tinggi besar yang berdiri di belakang Sutejo.

Pemuda itu menoleh dan memandang kepada si tinggi besar sambil tersenyum. Dia melihat betapa tiga puluh lebih orang itu kini sudah menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh dengan sikap hormat terhadap dua orang pria tinggi besar itu.

“Ki sanak, aku bukan kawula di sini, maka tidak semestinya aku berlutut. Aku adalah seorang tamu dan datang dengan suka rela.” Katanya dengan sikap ramah.

“Orang muda, kalau andika tidak mau duduk di bawah. Nah, ini duduklah di bangku ini!” kata seorang di antara kedua orang tinggi besar yang mukanya hitam dan matanya lebar. Dia menyambar sebuah bangku dan melemparkannya ke arah Sutejo. Bangku itu cukup besar dan berat karena terbuat dari kayu jati, akan tetapi kini benda itu melayang dengan kecepatan luar biasa ke arah Sutejo. Namun, dengan tenang saja Sutejo menjulurkan tangan kirinya dan menyambar bangku itu dengan seenaknya, lalu menaruh bangku itu dan duduk di atasnya.

“Terima kasih atas sambutan ini” kata Sutejo sambil mengangguk kepada kedua orang itu sebagai tanda penghormatan, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata pemuda remaja itu, matanya seperti mengeluarkan sinar berapi saking penasaran dan dongkolnya. Awas kau, pantatmu akan menjadi matang biru kutampar biar kapok! Demikian kata hatinya, apa lagi melihat pemuda remaja itu tersenyum-senyum menggodanya dan mengejeknya.

“Orang muda, siapakah andika dan ada urusan apakah andika datang ke perkumpulan Sardula Comeng (Macan Hitam) ini?”

Tahulah kini Sutejo bahwa dia berada di sarang perkumpulan yang menamakan dirinya Sardula Comeng. Pantas saja semua anak buahnya berpakaian hitam dan mencorengi mukanya loreng-loreng meniru bentuk macan loreng.

“Maafkan kalau kedatang saya ini menganggu, Paman. Saya bernama Sutejo dan sedang melakukan perjalanan merantau untuk menambah pengalaman hidup. Akan tetapi di dalam perjalanan, saya kehilangan sebuah pusaka berupa sebatang pecut. Pecut itu diambil orang dan saya melakukan pengejaran. Kemudian ternyata bahwa pengambil pecut itu melarikan diri ke sini, maka terpaksa saya mengejar sampai ke sini dan mengganggu paman.”

Orang tinggi besar yang bermuka merah dan berkumis tebal menepuk lengan kirinya. “Apa? Kau berani menuduh bahwa orang kamu ada yang mencuri pecut? Ketahuilah hei orang muda bahwa perkumpulan Sardula Comeng adalah perkumpulan orang gagah yang pantang merampok atau mencuri! Aku Ki Mundingsosro dan adikku ini Ki Mundingjoyo tidak akan menerima begitu saja kalau kau katakan bahwa ada anak buah kami yang mencuri pecut! Apa lagi hanya sebatang pecut, apa artinya?” Ki Mundingsosro agaknya tersinggung oleh kata-kata Sutejo.

“Maafkan saya paman, Akan tetapi saya bukan sekedar melempar fitnah, bahkan pencuri pecut itu sekarangpun berada di sini!”

“Hah? Dia berada di sini?” tanya Ki Mundingsosro dan matanya terbelalak, kumisnya bergerak-gerak dan dia memandang ke kanan kiri. “Orang muda, yakin benarkah andika bahwa pencuri pecut itu berada di sini?”

Sutejo kini memandang kepada pemuda remaja yang nakal itu, akan tetapi sebelum dia menundingnya, pemuda remaja itu telah lebih dulu memegang pundak Ki Mundingsosro dari belakang dan berkata dengan suara manja, “Ayah, yang mengambil pecut itu adalah aku!”

Semua orang memandang pemuda remaja itu dan Ki Mundingsosro menoleh ke belakang. “Susilo, kau mencuri pecut?” Tanyanya dengan suara keras dan tidak percaya. Anaknya mencuri pecut? Anaknya tidak pernah kekurangan sesuatu, mengapa mencuri? Dan pecut pula yang dicurinya! “Apakah sudah tidak waras lagi pikiranmu!”

“Ayah, sebetulnya aku sama sekali tidak mencuri atau merampas. Aku melihat pemuda ini berkelahi melawan seorang kakek sakti dan mereka memperebutkan sebatang pecut. Dalam perebutan itu pecut itu terlempas ke arahku dan aku lalu menyambarnya dan melarikan diri. Aku tidak mencuri, pecut itu sendiri yang ingin ikut aku!”

Panas rasa perut Sutejo. Mana ada pecut ingin mengikuti seseorang? “Paman, pecut itu adalah milikku, milik Eyang Guruku yang dicuri oleh kakek itu dan aku merampas darinya. Kalau pecut itu tidak diambil oleh pemuda ini, tentu sudah berada di tanganku.”

“Susilo, hayo kembalikan pecut itu! Bikin malu saja. Aku dapat memberi seribu batang pecut kepadamu kalau engkau membutuhkannya!”

“Tidak begitu mudah, ayah. Aku sudah bersusah payah melarikan pecut itu dan dikejar-kejarnya, sekarang suruh mengembalikan begitu saja? Tidak. Ada dua syarat yang harus dipenuhi sebelum pecut itu dapat kembali kepadanya.”

Sutejo hilang kesabarannya. “Apa syarat-syarat itu? Pasti akan kupenuhi! Bertanding denganmu akupun tidak takut!”

Pemuda remaja yang bernama Susilo ini tersenyum. “bertanding ya bertanding, akan tetapi menurut aturanku. Besok aku akan menggembala domba di lapangan rumput lereng sana. Engkau boleh mencoba untuk merampas pecut itu dari tanganku. Adapun syarat ke dua…”

“Baik, syarat pertama dengan senang hati akan kupenuhi!.Apa syarat yang kedua?” tanya Sutejo dengan suara membentak.

“Syarat kedua, engaku harus membantu kami mengalahkan Mahesa Meta, musuh besar kami.”

“Akan tetapi aktu tidak mengenal siapa itu Mahesa Meta, tidak mempunyai urusan dengannya!” bantah Sutejo yang tidak mau diadu domba dengan orang yang tidak dikenalnya dan tidak diketahui kesalahannya. “Aku tidak mau membunuh atau mencelakakan orang yang sama sekali tidak kukenal dan tidak kuketahui kesalahannya!”

Kini Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo mengerti mengapa Susilo melarikan pecut dari pemuda itu. Kiranya Susilo hendak minta bantuan pemuda itu untuk menandingi Mahesa Meta. Tentu saja timbul harapan di dalam hati mereka dan Ki Mundingsosro berkata. “Anak mas Sutejo. Ketahuilah bahwa Mahesa Meta adalah seorang perampok tunggal yang keji dan sakti. Kami pernah bentrok dengan dia ketika dia mengancam akan membinasakan Sardula Cemeng. Dia amat digdaya dan kiranya kami semua bukan lawan dia!”

Sutejo mengerutkan alisnya, masih merasa sangsi, “Baiklah, akan kupenuhi syarat kedua, akan tetapi dengan janji bahwa kalau ternyata Mahesa Meta bukan orang jahat, aku tidak mau menandinginya.”

“Bagus!” Pemuda remaja itu bertepuk tangan dengan girang. “Engkau sudah berjanji dan janji seorang gagah tidak akan diingkari. Besok pagi-pagi engkau boleh mencoba untuk merampas pecut itu, akan tetapi aku akan dibantu oleh ayah dan pamanku!”

“Hei, akal apa pula ini?” Sutejo membantah.

“Kami akan maju bertiga untuk menguji sampai dimana tingkat kesaktianmu. Kalau engkau tidak dapat mengalahkan kami bertiga dan tidak dapat merampas pecut, mana mungkin engakau becus menandingi Mahesa Meta?” Pemuda remaja itu menekan pundak ayahnya.

“Betul tidak, Ayah dan Paman?” dan dua orang pria itu terpaksa mengangguk angguk karena memang ujian itu penting sekali. Apa artinya mereka minta bantuan pemuda ini kalau dia tidak memiliki kemampuan yang besar? Kalau dia dapat mengalahkan pengeroyokan mereka bertiga, barulah ada kemungkinan dia akan mampu menandingi Mahesa Meta yang sakti...


Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 02

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 02

PAGI itu udara cerah sekali. Sinar matahari telah menerobos celah-celah daun pohon. Seorang cantrik berusia empat belas tahun sedang menyapu pelataran setelah lebih dahulu menyirami tanah pelataran agar tidak menimbulkan debu. Daun-daun kering disapu, dikumpulkan menjadi setumpuk lalu dibakar. Seorang cantrik lain sedang bekerja di belakang mencucu pakaian.

Pendeta itu tidak merasa terganggu oleh pekerjaan cantrik dipekarangan itu. Dia tetap duduk bersila di atas batu seperti sedang termenung dan sesekali dia menghela napas panjang. Bukan tarikan napas karena duka, melainkan tarikan napas untuk menyedot hawa murni sebanyaknya sehingga seluruh dada dan perut terisi hawa murni yang dapat menentramkan gejolak hati yang merasakan apa yang belum tampak oleh kedua matanya.

“Penggik.” Akhirnya dia membuka matanya yang bersinar lembut itu dan memandang kepada cantrik yang sedang membakar daun-daun kering. “Pergilah ke belakang dan beritahu Pungguk agar mempersiapkan minuman dan jagung bakar untuk seorang tamu.”

“Sendhiko, Bapa Resi.” Kata cantrik bernama Penggik itu. Dia tidak merasa heran mendengar bahwa pendeta itu sudah mengetahui bahwa akan ada tamu yang datang. Baginya, biasa saja melihat sang pendeta melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti dia tidak tahu bahwa pendeta itu duduk di atas batu, tidak melihat datangnya dan tahu-tahu orang tua itu sudah duduk di situ. Maka dengan taat diapun pergi ke belakang untuk memberitahu rekannya. Hanya Penggik dan Pungguk, dua orang kakak beradik ini yang bekerja di situ membantu sang resi sebagai cantrik-cantrik. Mereka ini tidak diberi ilmu kanuragan, melainkan diajar tentang kehidupan dan bagaimana untuk menjadi manusia yang baik dan benar.

Baru saja air yang dimasak mendidih untuk dijadikan minuman air teh, dan baru saja jagung-jagung muda itu selesai dibakar sampai kekuning-kuningan dan menyiarkan bau harum, tibalah “tamu” yang dimaksudkan oleh Sang Resi Limut Manik. Wajah sang resi yang biarpun sudah tua masih memperlihatkan bekas ketampanan itu berseri dan mulutnya yang masih bergigi utuh itu tersenyum ketika dia melihat seorang pemuda tampan dan gagah datang menghampiri rumah dan memasuki pelataran.

“Kulonuwun….!” Kata pemuda itu yang bukan lain adalah Sutejo.

“Hemm, orang muda, silakan maju mendekat.”

Sutejo lalu melangkah maju menghampiri kakek itu. Sambil membungkuk sopan dia bertanya, “Apakah saya berhadapan dengan Eyang Guru Resi Limut Manik?”

“Heh heh, benar akulah yang disebut Resi Limut Manik, orang muda.”

Mendengar ini, tanpa ragu lagi Sutejo lalu maju dan menjatuhkan diri berlutut di bawah batu besar yang diduduki pendeta itu lalu menyembah dengan sikap hormat dan khidmat. “Eyang Guru, saya Sutejo murid Bapa Guru Bhagawan Sidik Paningal datang menghadap dan memberi hormat kepada Eyang Guru.”

Mulut itu tersenyum lebar, wajah itu berseri-seri dan matanya bersinar-sinar. “Duh Jagat Dewa Bathara! Sungguh pandai Sidik Paningal memilih murid. Selamat datang di Semeru, Sutejo. Angin dari mana yang meniupmu sampai ke tempat ini? Berita apa yang kau bawa dari gurumu?”

“Bapa Guru berada dalam keadaan baik-baik saja dan beliau menitipkan sembah sujud untuk dipersembahkan kepada Eyang Guru. Dan Bapa Guru juga mendoakan semoga keadaaan Eyang Guru baik-baik dan sehat-sehat saja.”

Pendeta itu mengangguk-angguk. “Gurumu itu muridku yang baik sekali, dan kebaikanlah yang membuat dia hidup bahagia. Selain salam yang telah kuterima dengan senang hati, ada urusan apa lagi yang harus kau sampaikan kepadaku, Sutejo?”

“Eyang Guru, ada peristiwa terjadi beberapa hari yang lalu menimpa diri Bapa Guru. Pada hari itu, kami kedatangan paman guru Bhagawan Jaladara yang datang bersama dua orang kawannya yang bernama Ki Warok Petak dan Ki Bara Kroda. Setelah berhadapan dengan Bapa Guru, Paman Guru Jaladara lalu memaksa Bapa Guru untuk tidak mempelajari agama baru dan juga agar Bapa Guru membantu Kabupaten Wirosobo yang hendak memberontak terhadap Mataram. Akan tetapi Bapa Guru menolak, terutama sekali menolak untuk membantu kabupaten Wirosobo dalam pemberontakannya. Paman Guru Jaladara marah dan terjadi pertandingan adu kesaktian. Paman Guru Jaladara kalah lalu dia mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana. Bapa Guru tidak berani melawan lalu beliau dihajar oleh cambukan-cambukan pecut sakti itu sampai babak belur. Setelah menghajar saya juga mereka bertiga pergi dengan pesan akan kembali dalam waktu sebulan. Kalau dalam waktu itu Bapa Guru belum juga mau membantu Kabupaten Wirosobo, Paman Guru Jaladara akan membunuhnya dengan pecut sakti bajrakirana. Demikianlah Eyang Resi, Pesan Bapa Guru agar disampaikan kepada paduka.”

Wajah itu tetap tersenyum dan dia mengangguk-angguk. “Mengeruhkan batin saja kalau mengingat Jaladara. Ketahuilah, Sutejo. Beberapa pekan yang lalu Jaladara datang ke sini, bermalam dan pada keesokan harinya dia pergi pamit dan ternyata pecut sakti bajrakirana telah dicurinya dari kamarku.”

“Ahh! Tepat seperti yang diduga oleh Bapa Guru!”

Resi itu mengangguk-angguk. “Tidak kusangka Jaladara akan menggunakan pecut itu untuk memaksakan kehendaknya atas gurumu. Gurumu sudah benar menolak permintaanya.”

“Atas perintah Bapa Guru, saya disuruh merampas kembali pecut sakti itu dan mengembalikannya kepada Eyang Guru.”

Resi Limut Manik mengangguk-angguk dan mengelus jenggotnya yang putih bersih. “Dia telah mencurinya, maka sudah sewajarnya kalau engkau sebagai cucu muridku merampasnya kembali. Akan tetapi, apakah engaku akan sanggup menandingi Jaladara?”

“Bapa Guru telah mengajarkan Aji Gelap Musti kepada saya untuk menandingi Paman Guru Jaladara.”

“Bagus! Akan tetapi Jaladara itu pandai dan licik. Mendekatlah dan julurkan kedua telapak tanganmu menghadap aku.” Perintah sang resi.

Sutejo menurut. Dia meluruskan lengannya dengan telapak tangan menghadap sang resi. Kakek itupun menyodorkan kedua lengannya dan kedua telapak tangan mereka bertemu. “Jangan kerahkan tenagamu. Terima saja apa yang masuk!” kata kakek itu.

Mula-mula Sutejo merasa betapa telapak tangannya hangat lalu panas sekali dan dia merasa ada hawa yang amat dahsyat memasuki lengannya, terus berputar ditubuhnya dan akhirnya menerobos masuk ke pusat hawa di pusarnya! Dia mencoba bertahan akan tetapi demikian kuatnya hawa itu sehingga dia pun pingsan dengan masih duduk bersila dan beradu telapak tangan dengan kakek itu. Ketika siuman, Sutejo masih mendapatkan dirinya duduk bersila di depan batu, akan tetapi tangannya sudah tidak disodorkan ke depan lagi dan dia merasa betapa seluruh tubuhnya hangat dan nyaman sekali.

“Bagus! Engkau kini telah memiliki tenaga sakti yang kiranya tidak akan kalah dibandingkan tenaga Jaladara. Nah, sekarang marilah kita sarapan dulu, Sutejo.”

Ternyata bakar jagung dan air teh sudah disediakan oleh pungguk di depan mereka. Sutejo tidak malu-malu lagi, lalu bersama Eyang Gurunya dia makan Jagung Bakar dan minum air teh sehingga terasa kenyang perutnya. Setelah santapan, Resi Limut Manik bertanya kepada Sutejo sambil menatap wajah pemuda itu. “Sekarang kemana engkau akan mencari Jaladara dan apa yang akan kau lakukan terhadap dirinya kalau engkau sudah berjumpa dengannya, Suetejo?”

“Karena agaknya Paman Guru Jaladara menjadi utusan kabupaten Wirosobo, saya akan mencarinya kesana , Eyang Guru. Dan kalau sudah berjumpa dengan dia, saya akan secara baik-baik minta pecut pusaka itu darinya untuk dikembalikan kepada Eyang Resi. Kalau dia tidak memperbolehkan, baru saya akan mencoba merampasnya dengan kekerasan.”

“Engkau akan membunuhnya?”

“Dijauhkan Sang Hyang Widhi saya dari keinginan itu, Eyang Resi. Saya tidak akan bertindak sekejam itu. Saya hanya akan merampas Pecut Sakti Bajrakirana, tidak ingin membunuhnya.”

“Kemudian, Pecut pusaka itu akan kau bawa kemana?”

“Setelah berhasil, saya akan langsung kembali ke sini dan menyerahkan kembali pusaka itu kepada Eyang Resi.”

Kakek itu tertawa dan mengelus jenggotnya. “Jagad Dewa Bathara! Senang hatiku mempunyai cucu murid seperti engkau, Sutejo. Dengar baik-baik. Mataram sekarang terancam bahaya, terkepung oleh banyak musuh yang tadinya menjadi bawahan yang memberontak. Oleh karena itu, kalau engkau sudah berhasil merampas Pecut sakti Bajrakirana, jangan kembalikan kepadaku. Pecut itu kuserahkan kepadamu dan boleh engkau pergunakan untuk membela Mataram. Akan tetapi hati-hati ada pantangannya, yaitu bahwa pecut sakti bajrakirana sama sekali tidak boleh untuk membunuh orang. Mengertikah engaku, Sutejo?”

Di dalam hatinya, pemuda ini merasa girang bukan main. “Tentu saja saya mengerti Eyang Guru, dan saya akan menaati semua perintah Eyang. Sekarang bolehkah saya mengundurkan diri untuk melanjutkan perjalanan mencari Paman Guru Jaladara?”

“Baiklah. Engkau pergilah ke Wirosobo, mengambil jalan dari barat memasuki kota kabupaten itu. Jangan mengambil jalan lain karena di sanalah engkau akan bertemu dengan paman gurumu yang sesat itu.”

“Sendika dawuh, eyang Guru.” Sutejo menyembah dengan hormat lalu pergi meninggalkan tempat itu. Dia merasa betapa kedua kakinya amat ringan, dan ketika dia mempercepat langkahnya berlari, tubuhnya seperti terbang saja saking lajunya. Tentu saja Sutejo menjadi kaget dan juga girang. Dia memang sudah mempelajari ilmu berlari cepat dari Bhagawan Sidik Paningal, yaitu aji harina Legawa (Kecepatan Kijang) sehingga dia dapat berlari secepat kijang. Namun dibandingkan dengan sekarang ini, dia telah memperoleh kemajuan pesat karena sekarang dia merasa tidak lagi berlari, melainkan seperti terbang! Tahulah bahwa semua ini tentu akibat dari tenaga sakti yang didapatnya dari Eyang gurunya.

“Terima kasih, Eyang Resi!” teriaknya gembira dan diapun berlari semakin cepat sehingga kedua telinganya mendengar suara angin menderu di kanan kirinya.

********************

Sutejo berjalan cepat dan pada suatu sore tibalah dia di luar kabupaten wirosobo (Mojoagung). Jalanan itu sunyi sekali, tidak tampak seorangpun manusia lain. Sutejo melangkah cepat dengan niat untuk memasuki kabupaten Wirosobo sebelum gelap. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat dua orang menunggag kuda. Kuda mereka berjalan perlahan menuju ke selatan dan seorang di antara mereka memboncengkan seorang wanita yang dipangkunya di punggung kuda. Sebetulnya hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia dan merupakan hal yang lumrah saja. Akan tetapi dia mendengar isak tangis wanita itu! Tentu saja ini menarik perhatiannya dan diapun memandang lebih seksama.

Dua orang penunggang kuda itu bertubuh tinggi besar, yang seorang brewokan dan matanya sebesar telor ayam, tampak bengis dan kejam sekali, usianya sekitar empat puluh tahun. Orang kedua juga tinggi besar wajahnya tidak berkumis atau berjenggot, akan tetapi mukanya kehitaman bekas cacar sehingga muka itu tampak tidak kalah bengis dan menyeramkan dibandingkan dengan sibrewok. Juga orang kedua ini berusia kurang lebih empat puluh tahun. Orang kedua inilah yang memangku wanita itu. Sutejo memperhatikan wanita itu, usianya kurang lebih dua puluh lima tahun, wajahnya cantik manis dan tubuhnya denok menggairahkan. Wanita ini meronta-ronta dalam pangkuan itu, menangis terisak-isak dan mengeluarkan kata-kata yang mengandung ketakutan.

“Lepaskan aku…. Jangan bawa aku pergi…. Ah, kasihanilah aku, lepaskan aku…!”

Sedikit ucapan ini cukup bagi Sutejo untuk bertindak. Jelas bahwa laki-laki itu hendak memaksakan kehendaknya atas diri wanita yang dipangkunya! Mungkin wanita itu di culik dan dipaksa diajak pergi olehnya. Maka sekali melompat dia sudah tiba di depan dua ekor kuda itu dan memegang kendali kuda yang ditunggangi oleh pria dan wanita itu.

“Tahan dulu…!” Bentak Sutejo. Kuda itu terkejut dan mengangkat kedua kaki depannya. Karena gerakan ini, wanita yang tadinya dipangku pria bermuka hitam itu terlepas dari rangkulan dan terbanting jatuh. Akan tetapi dengan sigapnya, Sutejo menyambar tubuh wanita itu dengan kedua tangannya sehingga tubuh wanita itu tidak sempat terbanting.

Melihat ada orang yang mau menolongnya, wanita itu segera merangkul pinggang Sutejo dan berkata penuh permohonan, “Ki sanak, tolonglah aku…. Aku diculik oleh mereka….”

“Mundurlah mbakyu, biar aku yang menghadapi mereka.” Kata Sutejo sambil mendorong perlahan wanita itu agar jangan merangkul pinggangnya.

Dua orang laki-laki tinggi besar itu menjadi marah sekali, terutama yang tadi memangku wanita itu. Mereka berlompatan turun dari atas kuda dan laki-laki yang bermuka hitam itu memandang kepada wanita itu lalu menghardik, “Kesinilah engkau, Sarminten!”

Akan teteapi wanita yang bernama Sarminten itu menggeleng kepalanya dan sambil menangis ia berkata, “Tidak…. Aku tidak mau….”

“Kisanak sungguh memalukan kalau dua orang laki-laki gagah seperti andika berdua ini hendak memaksa seorang wanita. Bersikaplah gagah dan bebaskan wanita yang tidak mau ikut dengan kalian ini.”

“Bocah Setan! Apa engaku sudah bosan hidup? Perempuan itu adalah isteriku! Engkau berani menghalangi aku membawa isteriku sendiri?”

Sutejo tertegun juga mendengar ini. Isterinya? Dia menoleh kepada wanita itu, yang menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata tegas. “Bukan, Aku bukan isterinya. Mereka memaksa aku pergi setelah merobohkan suamiku!”

Sutejo lebih percaya kepada wanita itu dan diapun kembali memandang kepada si muka hitam. “Sobat, sudahlah. Jangan memaksakan kehendakmu yang tidak waras itu kepada seorang wanita. Tinggalkan ia pergi dengan aman.”

Si brewok sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi, “Heh, siapa engkau berani mencampuri urusan kami? Apakah engkau belum pernah mendengar nama besar Klabang Lorek dan Klabang Belang? Kamilah Sepasang Kelabang itu dan kalau engkau tidak cepat pergi dari sini, kami akan mencabik-cabik tubuhmu dan membiarkan mayatmu dimakan burung gagak di sini!!”

Sutejo tersenyum. “Apa lagi kalau andika berdua sudah memiliki nama sebagai orang-orang gagah, tidak semestinya menculik seorang wanita dari suaminya. Aku peringatkan kalian, lebih baik kalian yang cepat pergi dari sini sebelum terlambat.”

“Apa?” seru si muka hitam. “Terlambat bagaimana?”

“Sebelum aku menghajar kalian berdua!” kata Sutejo.

Terdengar gerengan yang keluar dari mulut si brewok dan dia sudah menerjang seperti seekor harimau kelaparan menubruk seekor domba. Kedua tangannya dipentang dan hendak mencekik leher Sutejo. Jari-jari tangn itu mengeluarkan bunyi berkerotokan dan otot-otot seperti kawat menonjol pada kedua tangannya. Dengan tenang Sutejo menghadapi serangan ini. Serangan tubrukan dengan kedua tangan hendak mencekik lehernya. Dia membuat gerakan mengelak ke kiri sambil miringkan tubuhnya dan ketika tangan kanan lawan menyambar, dia mengetuk ke arah siku kanan lawan itu.

“Dukk! Aduhh….!” Klabang Lorek, si brewok itu mengaduh dan memegangi lengan kanan yang seketika terasa lumpuh. Akan tetapi hanya sebentar karena lengan itu dapat bergerak kembali dan sekali dia meraba ke belakang tubuhnya, dia sudah mengeluarkan sebatang klewang (golok) yang tampak berkilauan terkena sinar matahari senja. Dia memutar goloknya dan berseru, “Sekarang engkau mampus!”

“Suuttt… Singgg…! Golok lewat dekat leher Sutejo yang mengelak dan sambil memutar tubuh, kakinya mencuat mengenai pergelangan tangan yang memegang golok.

“Adduuhh….!” Untuk kedua kalinya si brewok mengaduh dan sekali ini goloknya terlepas dari tangan dan terlempar jauh. Pada saat itu si muka hitam maju mengayun goloknya untuk membantu temannya mengeroyok Sutejo. Akan tetapi, kedua orang kasar ini sama sekali bukan lawan Sutejo. Dengan mudah dia menghindar dari serangan si muka hitam dan kembali kakinya mencuat dalam sebuah tendangan memutar, tepat mengenai perut si muka hitam sehingga tubuhnya yang tinggi besar terjengkang.

Dua orang jagoan itu hampir tidak percaya akan apa yang mereka alami. Mereka, dua jagoan yang ditakuti di daerah Wirosobo, sekarang roboh dalam beberapa gebrakan saja melawan seorang pemuda bertangan kosong! Mereka tidak percaya dan dengan kemarahan meluap-luap keduanya bangkit lagi dan menyerang dengan membabi buta, membacokkan golok mereka dengan kalap. Sutejo tetap tenang. Dia mempergunakan keringanan tubuhnya yang sudah maju pesat itu untuk menyelinap di antara sinar golok dan pada suatu saat yang baik dia mendapat kesempatan mengayun kedua tangannya dengan berbareng, tepat mengenai kedua orang penggeroyoknya.

“Plak! Plak!” Dua orang tinggi besar itu terjungkal roboh dan sekali ini sampai agak lama tidak mampu berdiri karena ketika mereka membuka mata, bumi seakan berputar dan membuat mereka pusing. Setelah pusingnya mereda, mereka kini harus mengakui bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki ilmu kesaktian. Mereka merangkak bangun dan cepat meninggalkan tempat itu, menghampiri kuda mereka. Akan tetapi setelah mereka melompat ke atas punggung kuda. Klabang Belang yang bermuka hitam itu berseru, “Hem, orang muda. Kalau engkau memang ksatria, tinggalkan namamu!”

“Aku bukan ksatria, hanya orang biasa dan namaku Sutejo.”

Dua orang itu lalu membalikan kuda mereka dan cepat meninggalkan tempat itu. Sutejo berdiri dan melihat ke arah mereka sambil menghela napas panjang. Tiba-tiba dua buah lengan yang lunak dan lembut seperti dua ekor ular mengelungi lehernya dari samping. Sutejo terkejut dan ketika dia menengok dia melihat wajah yang cantik dan manis itu sudah begitu dekat dengan wajahnya. Dia sudah dapat mencium bau sedap dari rambut wanita itu yang memandang kepadanya dengan sepasang mata yang sayu.

“Kakangmas…… beribu terima kasih kuhaturkan kepadamu yang telah menyelamatkan aku dari dua orang jahat tadi.” Wajahnya itu disusupkan ke atas dadanya.

Bagaikan dipagut ular berbisa, Sutejo melangkah mundur dan melepaskan rangkulan kedua lengan pada lehernya itu, “Apa… apa yang kau lakukan ini?” tanyanya gagap dan memandang kepada wanita itu dengan sepasang mata terbelalak, heran, kaget dan juga ngeri. Selamanya belum pernah dia berdekatan dengan wanita dan wanita ini merangkulnya, membelainya dan hampir menciumnya!

Sarminten melangkah maju hendak merangkul lagi. “Kakangmas, setelah andika menyelamatkan aku, maka aku akan memasrahkan jiwa ragaku kepadamu.”

Sutejo kembali melangkah mundur. “Mbakyu, jangan begitu. Aku tidak menghendaki itu. Bukankah engkau sudah bersuami? Bukankah katanya suamimu dipukul roboh oleh kedua orang itu kemudian engkau diculik?”

“Huh, suami macam apa itu! Tidak dapat melindungi isterinya. Tidak, mulai saat ini aku ikut denganmu kakangmas Sutejo! Indah dan gagah namamu, Sutejo. Aku akan ikut denganmu, biar aku yang mencarikan nafkah. Ketahuilah, aku adalah ledek (pesinden/penari) yang kenamaan di Wirosobo. Kalau engaku mau menerimaku, engkau boleh tinggal enak-enak di rumah dan aku yang mencarikan uang. Terimalah, wong bagus dan engkau akan hidup senang bersamaku.” Kembali wanita itu mendekati.

Sutejo habis kesabarannya. “Diam!” bentaknya. “Tidak pantas engkau berkata dan bersikap seperti ini, mbakyu Sarminten. Seorang isteri, harus setia kepada suaminya. Bukan salah suamimu kalau dia tidak dapat melindungimu dari dua orang jagoan tadi. Sekarang, kembalilah kepada suamimu. Aku tidak…..sudi berdekatan denganmu!” Kalimat terakhir itu diucapkan dengan muak dan marah.

Pada saat itu, dalam keremangan senja muncul seorang laki-laki. Usianya tentu hampir empat puluh tahun, mukanya bengkak bekas pukulan, pakaiannya awut-awutan.

“Sarminten…..! Sarminten isteriku, engkau di sini? Engkau selamat dari dua orang jagoan itu?” Ternyata dia adalah Karyo, suami Sarminten. Karyo adalah seorang penabuh gamelan dan dia menjadi suami Sarminten yang ledek terkenal dari Wirosono itu.

Tiba-tiba Sarminten mengubah sikapnya. Ia lari menghampiri suaminya dan jatuh dalam rangkulan Karyo. Ia menangis terisak-isak. “Aku dilarikan dua orang jahat itu dan… dan diperebutkan dengan orang ini. Dua orang jahat itu melarikan diri, akan tetapi orang ini tidak kalah jahatnya. Dia hendak memperkosa aku, kakang…!”

Karyo memandang marah dan merasa heran bahwa yang akan memperkosa isterinya itu seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah!

“Hei, kisanak. Andika seorang yang masih muda dan gagah perkasa, mengapa hendak melakukan perbuatan yang tidak tahu malu itu, hendak memperkosa isteriku?”

Dapat dibayangkan betapa jengkelnya hati Sutejo. Wanita itu seperti ular berkepala dua, menggigitsana sini dengan bisanya yang berbahaya.

“Sudahlah urus binimu yang liar ini. Aku tidak sudi berurusan dengan kalian berdua!” katanya dan diapun melompat pergi, tidak jadi masuk ke dalam kabupaten Wirosobo. Untuk apa malam-malam memasuki kabupaten itu? Ke mana dia hendak mencari Bhagawan Jaladara? Dia lalu ke selatan dan setelah menemukan sebuah gubuk di tengah sawah yang kosong, dia lalu masuk ke gubuk dan merebahkan dirinya terlentang. Langit mulai gelap dan ribuan bintang gemerlapan. Dia termenung. Mengapa ada wanita yang demikian jahat dan palsunya? Apakah semua wanita itu demikian? Dia bergidik ngeri.

Mempunyai seorang isteri seperti itu sama dengan hidup bersama dengan iblis betina yang berbahaya. Dia menenangkan batinnya yang bergelora penuh kemarahan. Kalau tahu akan menemukan wanita seperti itu, lebih baik dia tidak menolong dan biar wanita itu dibawa Klabang Lorek dan Klabang Belang. Dua orang laki-laki itu lebih pantas berteman wanita seperti Sarminten itu. Dan suaminya yang lemah itu tentu hanya menjadi boneka bagi Sarminten. Diam-diam dia merasa iba juga kepada suami wanita itu.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pada keesokan harinya, mendengar bunyi kokok ayam jantan yang datangnya dari kabupaten Wirosobo, Sutejo terbangun dari tidurnya. Dia mencari air jernih dan mendapatkan sebuah anak sungai tak jauh dari situ. Airnya jernih sekali dan karena tempat itu masih pagi dan sunyi sekali, Sutejo meninggalkan semua pakaiannya karena dia ingin sekali mandi di sungai kecil yang airnya jernih dan banyak batu-batunya itu. Dia meletakan pakaiannya menumpuk di atas sebuah batu dan segera masuk ke dalam air. Airnya sejuk bukan main, ketika dia menyelam dan kepalanya tenggelam di air, rasa sejuk seakan-akan masuk ke dalam kepalanya dan ke dalam seluruh tubuhnya. Segar dan sejuk!

Akan tetapi ketika dia muncul kembali ke permukaan air, di dekat pakaiannya itu diatas batu besar sudah duduk seorang pemuda remaja. Tampaknya seperti pemuda dusun dilihat dari pakaiannya yang sederhana dan longgar. Pakaian itu terlalu besar untuk pemuda itu sehingga tampak lucu dan kedodoran. Rambutnya digelung ke atas dan diikat dengan kain hitam. Biarpun pakaian pemuda remaja itu kedodoran dan sederhana sekali, namun Sutejo harus mengakui bahwa belum pernah dia melihat seorang pemuda setampan itu!

Sebagian mukanya memang kotor terkena debu, namun demikian halus. Rambutnya panjang hitam sekali sehingga biarpun digelung ke atas masih ada sisa ujung rambut yang terjuntai ke bawah. Dahinya halus dan alisnya hitam kecil. Sepasang matanya! Seperti bintang kejora kembar, bersinar-sinar penuh gairah hidup. Hidungnya kecil mancung dan lucu, Ujungnya agak terangkat ke atas, dan mulutnya, mulut yang manis sekali dan senyum mengejek tersungging di bibirnya. Dari mata dan bibir ini saja sudah diketahui bahwa dia seorang pemuda remaja yang nakal, lincah dan jenaka.

“Hei, adik yang baik. Mari temani aku mandi di sini! Airnya sejuk dan segar sekali. Mari turun!” Ajak Sutejo yang merasa suka melihat pemuda remaja itu.

Akan tetapi pemuda remaja itu menggeleng kepalanya. “Mandi bersamamu? Tak tahu malu! Sungguh engkau seorang yang tidak tahu malu, mandi telanjang di tempat umum!”

“Ini bukan tempat umumj dan tempat ini sepi, tidak ada orang lain!”

“Kau pikir aku ini bukan orang?!”

“Akan tetapi engkau juga seorang pria dan apa salahnya dua orang pria mandi telanjang bersama?”

“Tidak, aku tidak sudi. Aku sudah mandi tadi, lihat rambutku masih basah.” Dia memperlihatkan ujung rambutnya yang memang masih basah.

“Wah agaknya engkau kalau mandi tidak membersihkan mukamu. Itu masih ada debu menempel. Hayo mandi lagi yang bersih bersamaku.”

“Aku tidak sudi!” Pemuda remaja itu lalu melompat dari atas batu besar dan melarikan diri.

“Heii…! Jangan bawa pakaianku! Tunggu, jangan bawa pakaianku. Bagaimana aku dapat keluar dari sini kalau engkau membawa pergi pakaianku!”

Akan tetapi biarpun Sutejo berteriak-teriak, pemuda remaja yang nakal itu tidak mau berhenti berlari. “Celaka! Sialan anak itu!” Sutejo menjadi bingung dan marah. Akan tetapi apa yang dapat dia lakukan? Pakaiannya sudah dibawa anak itu, juga buntalan bekal pakaian!

Dia melihat ada beberapa batang pohon pisang tumbuh di dekat sungai. Wajahnya gembira dan cepat dia keluar dari air dalam keadaan telanjang bulat. Dia mengambil beberapa helai daun pisang yang lebar, menutupkan ke bawah perut dan diikat dengan tali dari kulit batang pisang. Setelah rapat benar, barulah dia berlari mengejar. Dia melihat bayangan pemuda itu berlari di sebelah depan. Sutejo mengerahkan tenaganya untuk berlari lebih cepat lagi, akan tetapi tiba-tiba pemuda itu lenyap dan buntalan pakaiannya tersangkut di dahan sebatang pohon!

Sutejo berhenti mengejar dan mengambil buntalannya. Anak sialan, pikirnya. Dia merasa seolah ada mata yang mengintainya, maka dia cepat membawa buntalan pakaiannya ke balik semak belukar dan disana , tertutup oleh semak-semak dia mengenakan pakaiannya. Setelah selesai berpakaian dan menggendong buntalan pakaiannya, Sutejo keluar dari balik semak belukar dan memandang ke kanan kiri. Dia hendak mencari bocah itu untuk diberi hajaran. Bocah kurang ajar itu memerlukan penanganan yang keras. Usianya paling banyaklima belas tahun akan tetapi dia sudah nakal sekali, suka menggoda orang. Bayangkan saja kalau banyak orang melihat dia berpakaian daun pisang tadi! Akan tetapi sekelilingnya sunyi saja. Agaknya pemuda remaja tadi sudah ketakutan dan melarikan diri.

Sutejo lalu melanjutkan langkah kakinya menuju Kabupaten Wirosobo. Baru beberapa langkah dia berjalan, dia melihat seorang laki-laki datang dari depan. Jantungnya berdegup penuh ketegangan ketika dia mengenal laki-laki itu yang bukan lain adalah Bhagawan Jaladara sendiri! Ah, betapa kebetulan sekali. Kalau saja dia tidak bertemu dengan Sarminten dan berkelahi dengan Klabang Lorek dan Klabang Belang, juga andaikata pakaiannya tidak dilarikan pemuda remaja tadi, tentu dia tidak akan bertemu dengan Bhagawan Jaladara! Sepatutnya dia berterima kasih kepada pemuda remaja itu!

Melihat paman gurunya itu, dia teringat bahwa waktu yang sebulan itu sudah tinggal beberapa hari lagi dan agaknya paman gurunya itu akan pergi ke puncak Kawi untuk mencari gurunya dan menekannya dengan ancaman akan membunuhnya kalau sampai hari itu gurunya tetap tidak mau membantu kabupaten Wirosobo. Teringat akan hal ini, panas hatinya dan dia segera melompat dan menghadang di jalan yang masih sunyi itu.

Sang Bhagawan Jaladara berjalan sambil termenung agaknya, maka ketika tiba-tiba muincul Sutejo di depannya, dia agak terkejut. Akan tetapi ketika dia mengenal siapa orangnya yang menghadang perjalanannya, dia tersenyum mengejek. “Bukankah andika ini Sutejo, murid Kakang Sidik Paningal?” tanyanya sambil mengamati pemuda itu dari kepala sampai ke kakinya.

“Benar paman Guru Jaladara. Saya adalah Sutejo dan saya mengucapkan salam kepada Paman Guru.”

“Ha-ha-ha, baik juga sikapmu. Sekarang katakan apa maksudmu menghadang perjalananku? Apakah engkau diutus gurumu untuk memberitahu kepadaku bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk menaati pesanku?”

“Sama sekali tidak, paman. Bagaiamanpun juga, Bapa Guru adalah murid Eyang Resi Limut Manik yang taat, karena itu Bapa Guru tidak sudi membantu Kabupaten Wirosobo yang memberontak kepada Mataram.”

“Babo-babo! Kalau begitu gurumu itu pasti akan mati ditanganku!”

“Nanti dulu, paman. Aku yang akan menghalangi paman datang ke kawi. Ketahuilah bahwa aku Sutejo, diutus oleh Eyang Limut Manik untuk mengambil kembali Pecut Sakti Bajrakirana yang telah paman curi dari kamar Eyang Guru Resi. Karena itu paman, sebelum terpaksa aku melawan paman, serahkanlah Pecut Sakti Bajrakirana itu kepadaku.”

“Apa? Engkau hendak mengambil pecut sakti dari tanganku? Sutejo, engkau anak kecil jangan ikut campur. Pecut ini akan kukembalikan sendiri kepada Bapa Guru resi Limut Manik setelah tugasku selesai membujuk Kakang Sidik Paningal. Pergilah dan jangan ganggu aku, Sutejo!”

“Tidak Paman. Sebelum Pecut Sakti Bajrakirana paman serahkan kepadaku aku tidak akan pergi dari depan paman.”

“Apa? Engkau ini anak kemarin sore yang masih bau kencur ubun-ubunmu berani menantangku?”

“Apa boleh buat, paman. Berat mengemban dawuh Eyang Resi kalau paman tidak mau mengembalikan Pecut pusaka itu, tentu aku akan menantang paman dan merampasnya dengan kekerasan!”

“Babo-babo! Apa yang kau andalkan maka berani melawan paman gurumu sendiri?”

“Andalanku adalah kebenaran dan restu eyang resi limut manik!”

“Kalau begitu, akan kuhabisi nyawamu di sini juga!” kata Bhagawan Jaladara sambil memutar tongkat hitamnya.

Sutejo sudah maklum akan kedahsyatan senjata tongkat hitam itu, maka diapun meloloskan ikat kepalanya yang berwarna biru, lalu memasng kuda-kuda ilmu silat sinung nila. Tangan kanan memegang ujung ikat kepala, tangan yang lain memegang ujung yang lain, tubuhnya merendah dengan kedua lutut ditekuk kedepan dan belakang, matanya tajam memandang gerakan lawan.

“Makanlah senjataku ini!” Bhagawan Jaladara sudah menyerang dengan tongkatnya. Serangannya dahsyat bukan main, mendatangkan angin pukulan yang menyambar kuat. Namun Sutejo sudah siap siaga. Dia menggunakan kecepatan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak dan dari bawah, ujung ikat kepalanya menyambar ke arah dada lawan. Biarpun hanya ikat kepala, akan tetapi karena sudah dialiri tenaga sakti, kain itu menjadi kaku dan kuat seperti sebatang tombak!

Bhagawan Jaladara juga maklum bahwa Sutejo adalah murid kakak seperguruannya yang berbakat dan tangguh, maka diapun mengelak sambil memutar tongkatnya yang kini menyambar dari atas ke arah ubun-ubun kepala Sutejo! Serangan ini juga dahsyat sekali dan kalau ubun-ubun kepala itu terkena hantaman tongkat, tentu kepala itu akan pecah berserakan. Batu karang saja tidak akan kuat menerima hantaman tongkat ini apa lagi kepala manusia.

Sutejo kembali mengelak. Dia melihat suatu keuntungan, yaitu bahwa dia dapat bergerak lebih cepat dan gesit dibandingkan paman gurunya. Maka, dia mengandalkan kegesitan tubuhnya untuk mengelak dan berloncatan ke sana sini, menyelinap di antara sinar tongkat dan kalau ada lowongan terbuka dia balas menyerang dengan ujung ikat kepalanya!

Pertandingan itu berjalan seru sekali tanpa ada yang menyaksikan. Akan tetapi tanpa setahu kedua orang itu, sebetulnya ada sepasang mata tajam yang menonton pertandingan antara mereka. Seorang yang bersembunyi di balik semak belukar menonton pertandingan itu dan matanya bersinar-sinar penuh perhatian dan ketegangan. Memang pertandingan antara Bhagawan jaladara melawan murid keponakannya itu berlangsung dengan sengit dan seru.

Bhagawan Jaladara merasa penasaran sekali karena sampai puluhan bahkan hampir seratus jurus belum juga dia mampu mengalahkan murid keponakannya. Dia sudah mengerahkan seluruh tenaga pada tongkatnya, namun Sutejo lebih banyak mengelak dan kalau sekali waktu dia menangkis dengan ikat kepalanya, maka ikat kepala itu mampu menandingi tenaga yang tersalur lewat tongkat! Dan Bhagawan Jaladara juga diam-diam mengakui bahwa dalam hal kegesitan, dia telah kalah banyak! Dia tidak tahu bahwa pemuda itu telah memperoleh tenaga sakti dari eyang gurunya! Dan dia juga tidak mengira bahwa pemuda itu telah melatih diri dengan Aji Gelap Musti dan juga Patala Bajra!

Bagaimanapun juha, kalau dua orang jagoan bertemu, maka faktor usia memegang peran penting dan cukup menentukan. Bhagawan Jaladara yang sudah berusia enam puluh tahun itu mana dapat dibandingkan dengan Sutejo yang baru berusia dua puluh dua tahun! Tentu saja dia kalah dalam hal tenaga, kecepatan dan terutama pengaturan pernapasan. Setelah lewat seratus jurus, tubuhnya sudah mandi keringat dan dari kepalanya sudah mengepul uap putih, napasnya mulai memburu sedangkan Sutejo masih segar bugar!

Sang Bhagawan Jaladar merasa penasaran dan marah sekali. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya dan menghatamkan tongkatnya ke arah kepala Sutejo. Melihat serangan yang nekat ini, Sutejo melompat ke samping dan ketika tongkat itu lewat, dia cepat menggerakan ikat kepalanya menjadi lemas dan ujung ikat kepala itu melibat tongkat, dibarengi dengan pukulan tangan kirinya ke arah lengan kanan lawan.

“Dukkk……!” Ketika dia menarik, tongkatnya itu telah terlempar jauh sekali!

Bhagawan Jaladara yang sudah kehilangan tongkatnya, menggereng marah seperti seekor harimau terluka, lalu tangan kanannya bergerak ke pinggang dan dia sudah melolos Pecut Sakti Bajrakirana dari pinggangnya.

“Tar-tar-tar……!” Dia memutar pecut itu diatas kepalanya sehingga pecut itu meledak-ledak dengan nyaring. Sutejo terkejut karena jantungnya tergetar oleh suara pecut yang meledak-ledak. Akan tetapi ketika ujung pecut menyambar, dengan gesitnya dia mengelak. Cepat sekali gerakannya, seperti seekor burung walet keluar dari guha. Sia-sia Bhagawan Jaladara menghujamkan pecutnya ke arah bayangan yang berkelebatan itu. Sampai tiga puluh jurus Bhagawan Jaladara mengejar Sutejo dengan ayunan cambuknya, dan sekali-kali pemuda itu dapat membalas dengan sambaran ikat kepalanya yang tidak kalah dahsyatnya.

Karena merasa penasaran Bhagawan Jaladara lalu mengeluarkan Aji Gelap Musti! Ketika pecutnya menyambar dan dapat di elakkan oleh Sutejo ke kanan, tangan kirinya yang sudah siap dengan saluran tenaga Gelap Musti, tiba-tiba menampar dengan sambaran dahsyat! Sutejo mengenal Aji pukulan ini maka diapun menggerakan tangan kirinya dengan aji yang sama dan menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya ke lengan kiri.

“Wuuutttt…. Desssss……!” dua tenaga raksasa bertemu di udara, seolah kilat menyambar dan akibatnya tubuh Sang Bhagawan Jaladara terpelanting keras. Mendapatkan kesempatan ini, Sutejo menggerakan ikat kepalanya, menjadi kaku dan menotok ke arah pergelangan tangan kanan lawannya.

“Tukk…..!” Tangan itu tergetar dan pecut yang dipegangnya terlepas. Bagaikan seekor burung sikatan Sutejo menyambar dan di lain saat pecut itu telah berada di tangan kirinya!

Bhagawan Jaladara berdiri dengan muka pucat memandang pemuda itu. Mulutnya menyeringai seperti orang menangis dan dia membentak, “Kembalikan pecut itu!”

“Tidak, Paman Guru. Pecut ini harus kembali ke tangan Eyang Guru!” kata Sutejo dengan suara tegas.

“Keparat kau….!” Dengan nekat Bhagawan Jaladara lalu menyerang Sutejo dengan tangan kosong. Tubrukannya adalah tubrukan seorang yang sudah nekat untuk mengadu nyawa dan dia berhasil menyambar tubuh pecut yang berada di tangan Sutejo. Sutejo mempertahankan, kalau dia mau menyerang lawan tentu dengan mudah dia akan dapat membunuh Bhagawan Jaladara yang sudah bertangan kosong. Akan tetapi dia tidak menghendaki hal ini terjadi, maka dia ragu dan lengah sehingga pecut itu dapat terpegang oleh tangan Bhagawan Jaladara. Mereka berkutetan, saling dorong dan saling betot. Ketika keduanya mengerahkan tenaga, dalam waktu yang berbarengan keduanya mengayunkan kaki kana menendang.

“Desss!!” Keduanya terlempar ke belakang dan pecut yang dijadikan rebutan itu terlepas dari tangan mereka dan melayang jauh. Mendadak muncuk seorang pemuda remaja dari balik rumpun semak belukar dan tubuhnya menyambar ke arah pecut dengan kecepatan kilat, tahu-tahu pecut telah berada di tangannya dan dia melarikan diri sipat kuping dengan cepat sekali!

Sutejo mengenal bocah nakal yang pernah menggodanya pagi tadi. Dia meloncat dan berseru, “Heii… berhenti kau…!”

Melihat bahwa pecut itu telah diambil oleh seorang pemuda remaja, Bhagawan Jaladara juga melakukan pengejaran. Akan tetapi bocah itu bergerak amat cepat, bahkan Sutejo sendiri yang mempergunakan Aji Harina Legawa tidak mampu menyusulnya. Tak lama kemudian pemuda itu sudah menghilang di dalam hutan!

Melihat ini, Bhagawan Jaladara marah sekali kepada Sutejo. Dia menerjang Sutejo dengan pukulan sambil memaki, “Bocah setan, engkau yang membikin pecut itu hilang!”

Serangannya ganas, akan tetapi sekali ini Sutejo juga sudah marah. Bahkan bukan dia yang membuat pecut itu hilang, melainkan kakek ini. Maka ketika melihat kakek itu memukul, dia mengerahkan Aji Gelap Musti menyambut.

“Desss...!” Kembali dua tenaga sakti bertemu di udara dan untuk kedua kalinya tubuh Bhagawan Jaladara terpelanting dan muntah darah. Dia telah terluka dalam dan merangkak bangun, tidak berani lagi menyerang. Sutejo tidak memperdulikannya dan dia lalu melompat ke dalam hutan untuk mencari pemuda remaja yang telah membawa pergi pecut sakti bajrakirana.

Sutejo berlari cepat sekali memasuki hutan, akan tetapi dia segera menjadi bingung karena hutan itu liar dan lebat sekali. Tidak tampak jalan setapak dan juga dia tidak dapat menemukan tapak kaki pemuda remaja yang melarikan Cemeti Sakti Bajrakirana. Kemana dia harus mencarinya. Beberapa kali dia berteriak.

“Heii, anak nakal! Keluarlah dan mari kita bicara!” Kalau bocah itu keluar, dia akan bicara baik-baik, membujuknya untuk mengembalikan pecut yang amat penting itu. Akan tetapi sampai suaranya serak memanggil-manggil jangankan anak itu keluar, jawabannya pun tidak ada. Akhirnya Sutejo lari ke sebuat dataran tinggi yang di mana terdapat sebatang pohon randu alas raksasa. Dia meloncat dan memanjat pohon itu sampai puncaknya dan dari tempat tinggi itu dia memandang ke sekeliling.

Akhirnya dia melihat pemuda remaja itu. Jauh di sebelah timur, berjalan perlahan sambil mengayun-ayun pecut itu di atas kepalanya, seperti seorang kanak-kanak sedang bermain-main. “Anak sialan!” Sutejo cepat turun dan berlari cepat menuju ke timur untuk mengejar. Akhirnya dia keluar dari hutan itu dan tiba di tanah pegunungan yang sunyi. Tadi dia melihat anak itu berada di sisi dan akhirnya dia berhenti di tepi sebatang sungai yang cukup lebar. Kiranya tidak mungkin melompati sungai itu dan dia melihat bayangan anak itu di seberang sana !

“Hei…. Kamu….! Berhenti dan kembalikan pecut itu!” Sutejo berteriak nyaring.

Anak muda itu memutar tubuhnya memandang Sutejo, lalu membunyikan pecut di atas kepalanya. “Tar-tar-tar!” Setelah itu dia tertawa dan lari lagi ke depan dengan amat cepatnya!

“Bocah mendem (mabok)!” Sutejo memaki dan dia menjadi bingung bagaimana untuk melewati sungai itu. Karena di situ tidak ada perahu atau alat lain untuk menyebrang, sedangkan untuk berenang pakaiannya tentu akan basah semua, akhirnya tidak ada lain pilihan baginya kecuali menyebrang dengan berenang. Dia menanggalkan pakaiannya, hanya memakai sebuah celana dalam, menaruh buntalan pakaiannya di atas kepala dan terpaksa dia lalu berenang sedapatnya dengan satu tangan untuk menyebrang. Dalam hatinya dia merasa gemas sekali dan kini dia berjanji kepada diri sendiri kalau sampai dapat mengejar pemuda remaja itu, dia akan menangkapnya, menelungkupkannya ke atas kedua pahanya dan memukuli pantatnya sampai puas!

Biarpun dengan susah payah, dapat juga Sutejo menyebrang! Dia mengenakan kembali pakaiannya dan cepat berlari lagi mengejar ke depan. Dari dataran tinggi itu dia dapat melihat sawah dan ladang yang luas dan tergarap rapi, tanda bahwa di tempat itu ada dusunnya. Dan benar saja, dari jauh dia melihat segerombolan pohon-pohon dan tampak genteng-genteng rumah orang. Tentu pemuda remaja itu tinggal di dusun itu, pikirnya.

Matahari telah naik tinggi dan tanpa memperdulikan tubuhnya yang lelah karena tadi bertempur hebat melawan Bhagawan Jaladara, diapun berlari lagi menuju ke dusun yang tampak dari dataran tinggi itu. Akhirnya dia tiba di luar dusun yang di kelilingi pagar bambu yang ketat itu. Dia tidak melihat jalan masuk kecuali sebuah gapura yang lebar dan juga tertutup. Heran juga dia melihat sebuah danau yang serba tertutup ini, seolah menyimpan rahasia besar. Dia tidak berani lancang masuk, melainkan berdiri di luar gapura dan dia mengetuk pintu gapura yang terbuat dari kayu itu, menggunakan sepotong batu.

“Tok-tok-tok! Kulonuwun…!” teriaknya berulang kali.

Tiba-tiba dia mendengar gerakan di belakangnya. Cepat dia menengok dan ternyata dia telah dikepung oleh belasan orang! Dan orang-orang itu amat aneh. Pakaian mereka serba hitam, akan tetapi muka mereka dicoreng moreng dengan warna hitam dan putih, lereng-lereng bergaris panjang diseluruh muka sampai ke leher mereka sehingga sukarlah mengenal wajah yang semua dicoreng moreng itu. Dan di tangan mereka tergenggam bermacam-macam senjata. Ada yang membawa keris, ada yang bersenjatakan tombak trisula, dan ada pula yang membawa perisai dan golok. Biarpun muka mereka coreng moreng namun cara mereka mengepung Sutejo amat teratur, tidak kacau seolah mereka merupakan barisan yang terlatih baik.

Biarpun terkejut dan heran, Sutejo tidak merasa gentar dan bersikap waspada. Dia melangkah maju menghadapai seorang tinggi besar di antara mereka yang memegang keris panjang, lalu berkata dengan sikap hormat.

“Maafkan saya. Saya adalah seorang pengembara yang tanpa disengaja tiba di dusun ini. Kalau boleh saya memasuki dusun ini….”

“Dia mata-mata musuh. Serang!” orang tinggi besar itu mendadak berseru dengan suara parau dan belasan orang itu, tidak kurang darilima belas orang banyaknya, sudah menerjang dengan senjata mereka kepada Sutejo.

Sutejo merasa penasaran juga. Orang-orang ini menuduhnya mata-mata! Akan tetapi karena mereka semua sudah menggerakan senjata untuk menyerangnya, dia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bicara. Sambil mengerahkan tenaga, dia menggerakan kedua lengannya, diputar menangkis semua senjata itu dan para pengeroyoknya berpelantingan. Dia segera melompat keluar dari kepungan dan kini, orang tinggi besar yang memegang keris panjang sudah menyerangnya. Serangannya cukup hebat. Keris itu meluncur cepat ke arah perutnya.

Suetjo miringkan tubuhnya dan sekali tangan kirinya memukul dengan tangan miring ke arah pergelangan tangan yang memegang keris, senjata itupun terpukul lepas dan jatuh. Sutejo mendorong dengan tangan kanannya dan si tinggi besar itu terjengkang dan terbanting jatuh dengan kerasnya. Semua orang terkejut melihat ini dan menahan serangan, hanya mengurung saja dengan pandangan mata ragu karena mereka sudah melihat kehebatan gerakan pemuda itu yang membuat mereka merasa jerih.


Tiba-tiba pintu gerbang itu terbuka dan muncullah belasan orang lain sehingga jumlah mereka lebih dari tiga puluh orang yang mengepung Sutejo! Akan tetapi pemuda ini tidak gentar dan kembali dia berkata dengan lantang.

“Aku bernama Sutejo dan kedatanganku ini bukan membawa maksud buruk. Aku hanya ingin bertemu dan bicara dengan pemimpin kalian karena ada urusan penting sekali. Aku bukan mata-mata manapun juga, bukan pula musuh, maka harap kalian jangan menyerangku!”

Si tinggi besar itu memandang dengan matanya yang lebar, kemudian mengangguk dan berkata kepada teman-temannya. “Kita bawa dia masuk menghadap pimpinan!”

“Mari masuk akan tetapi awas, kalau engkau membuat ulah, kamu akan mengeroyokmu!” kata pula si tinggi besar kepada Sutejo. Pemuda itu merasa lega. Dia memang tidak ingin mencari permusuhan. Dia belum tahu siapa mereka yang mencoreng moreng muka mereka ini, dan dari perkumpulan macam apa. Karena sukar mengajak orang ini bicara baik-baik, maka dia minta dipertemukan dengan pemimpin mereka agar dia dapat bicara dengan baik, terutama menanyakan pemuda remaja yang telah membawa pergi pecut sakti bajrakirana.

Ternyata perkampungan itu besar juga. Agaknya tidak kurang dari seratus orang laki-laki dan wanita serta anak-anak mereka tinggal di perkampungan ini. Yang berada di dalam perkampungan tidak memakai coreng moreng mukanya dan hidup sebagai penduduk dusun biasa. Tiga puluh lebih orang yang mukanya di coreng moreng itu membawa dan mengawal dia ke sebuah rumah besar di tengah perkampungan yang dikelilingi oleh rumah-rumah yang lebih kecil. Rumah besar itu memiliki pendopo yang luas dan ke sanalah Sutejo di bawa mereka.

Setelah berada di pendopo. Sutejo melihat dua orang laki-laki tinggi besar duduk berjajar di sebuah bangku dan di belakang mereka berdiri si bocah nakal yang melarikan pecutnya! Akan tetapi, kini dia tidak membawa pecut itu dan pemuda remaja itu memandang kepadanya sambil tersenyum mengejek, bahkan mengedipkan mata kirinya seperti memberi isyarat atau memang sengaja menggodanya. Kalau saja dia tidak berada di situ sebagai tamu atau bahkan orang tangkapan, tentu sudah dikejar dan ditangkapnya pemuda remaja nakal itu dan dia pukuli pantatnya sampai bertaubat!

“Hayo berlutut dan menyembah!” Kata orang tinggi besar yang berdiri di belakang Sutejo.

Pemuda itu menoleh dan memandang kepada si tinggi besar sambil tersenyum. Dia melihat betapa tiga puluh lebih orang itu kini sudah menjatuhkan diri dan duduk bersimpuh dengan sikap hormat terhadap dua orang pria tinggi besar itu.

“Ki sanak, aku bukan kawula di sini, maka tidak semestinya aku berlutut. Aku adalah seorang tamu dan datang dengan suka rela.” Katanya dengan sikap ramah.

“Orang muda, kalau andika tidak mau duduk di bawah. Nah, ini duduklah di bangku ini!” kata seorang di antara kedua orang tinggi besar yang mukanya hitam dan matanya lebar. Dia menyambar sebuah bangku dan melemparkannya ke arah Sutejo. Bangku itu cukup besar dan berat karena terbuat dari kayu jati, akan tetapi kini benda itu melayang dengan kecepatan luar biasa ke arah Sutejo. Namun, dengan tenang saja Sutejo menjulurkan tangan kirinya dan menyambar bangku itu dengan seenaknya, lalu menaruh bangku itu dan duduk di atasnya.

“Terima kasih atas sambutan ini” kata Sutejo sambil mengangguk kepada kedua orang itu sebagai tanda penghormatan, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata pemuda remaja itu, matanya seperti mengeluarkan sinar berapi saking penasaran dan dongkolnya. Awas kau, pantatmu akan menjadi matang biru kutampar biar kapok! Demikian kata hatinya, apa lagi melihat pemuda remaja itu tersenyum-senyum menggodanya dan mengejeknya.

“Orang muda, siapakah andika dan ada urusan apakah andika datang ke perkumpulan Sardula Comeng (Macan Hitam) ini?”

Tahulah kini Sutejo bahwa dia berada di sarang perkumpulan yang menamakan dirinya Sardula Comeng. Pantas saja semua anak buahnya berpakaian hitam dan mencorengi mukanya loreng-loreng meniru bentuk macan loreng.

“Maafkan kalau kedatang saya ini menganggu, Paman. Saya bernama Sutejo dan sedang melakukan perjalanan merantau untuk menambah pengalaman hidup. Akan tetapi di dalam perjalanan, saya kehilangan sebuah pusaka berupa sebatang pecut. Pecut itu diambil orang dan saya melakukan pengejaran. Kemudian ternyata bahwa pengambil pecut itu melarikan diri ke sini, maka terpaksa saya mengejar sampai ke sini dan mengganggu paman.”

Orang tinggi besar yang bermuka merah dan berkumis tebal menepuk lengan kirinya. “Apa? Kau berani menuduh bahwa orang kamu ada yang mencuri pecut? Ketahuilah hei orang muda bahwa perkumpulan Sardula Comeng adalah perkumpulan orang gagah yang pantang merampok atau mencuri! Aku Ki Mundingsosro dan adikku ini Ki Mundingjoyo tidak akan menerima begitu saja kalau kau katakan bahwa ada anak buah kami yang mencuri pecut! Apa lagi hanya sebatang pecut, apa artinya?” Ki Mundingsosro agaknya tersinggung oleh kata-kata Sutejo.

“Maafkan saya paman, Akan tetapi saya bukan sekedar melempar fitnah, bahkan pencuri pecut itu sekarangpun berada di sini!”

“Hah? Dia berada di sini?” tanya Ki Mundingsosro dan matanya terbelalak, kumisnya bergerak-gerak dan dia memandang ke kanan kiri. “Orang muda, yakin benarkah andika bahwa pencuri pecut itu berada di sini?”

Sutejo kini memandang kepada pemuda remaja yang nakal itu, akan tetapi sebelum dia menundingnya, pemuda remaja itu telah lebih dulu memegang pundak Ki Mundingsosro dari belakang dan berkata dengan suara manja, “Ayah, yang mengambil pecut itu adalah aku!”

Semua orang memandang pemuda remaja itu dan Ki Mundingsosro menoleh ke belakang. “Susilo, kau mencuri pecut?” Tanyanya dengan suara keras dan tidak percaya. Anaknya mencuri pecut? Anaknya tidak pernah kekurangan sesuatu, mengapa mencuri? Dan pecut pula yang dicurinya! “Apakah sudah tidak waras lagi pikiranmu!”

“Ayah, sebetulnya aku sama sekali tidak mencuri atau merampas. Aku melihat pemuda ini berkelahi melawan seorang kakek sakti dan mereka memperebutkan sebatang pecut. Dalam perebutan itu pecut itu terlempas ke arahku dan aku lalu menyambarnya dan melarikan diri. Aku tidak mencuri, pecut itu sendiri yang ingin ikut aku!”

Panas rasa perut Sutejo. Mana ada pecut ingin mengikuti seseorang? “Paman, pecut itu adalah milikku, milik Eyang Guruku yang dicuri oleh kakek itu dan aku merampas darinya. Kalau pecut itu tidak diambil oleh pemuda ini, tentu sudah berada di tanganku.”

“Susilo, hayo kembalikan pecut itu! Bikin malu saja. Aku dapat memberi seribu batang pecut kepadamu kalau engkau membutuhkannya!”

“Tidak begitu mudah, ayah. Aku sudah bersusah payah melarikan pecut itu dan dikejar-kejarnya, sekarang suruh mengembalikan begitu saja? Tidak. Ada dua syarat yang harus dipenuhi sebelum pecut itu dapat kembali kepadanya.”

Sutejo hilang kesabarannya. “Apa syarat-syarat itu? Pasti akan kupenuhi! Bertanding denganmu akupun tidak takut!”

Pemuda remaja yang bernama Susilo ini tersenyum. “bertanding ya bertanding, akan tetapi menurut aturanku. Besok aku akan menggembala domba di lapangan rumput lereng sana. Engkau boleh mencoba untuk merampas pecut itu dari tanganku. Adapun syarat ke dua…”

“Baik, syarat pertama dengan senang hati akan kupenuhi!.Apa syarat yang kedua?” tanya Sutejo dengan suara membentak.

“Syarat kedua, engaku harus membantu kami mengalahkan Mahesa Meta, musuh besar kami.”

“Akan tetapi aktu tidak mengenal siapa itu Mahesa Meta, tidak mempunyai urusan dengannya!” bantah Sutejo yang tidak mau diadu domba dengan orang yang tidak dikenalnya dan tidak diketahui kesalahannya. “Aku tidak mau membunuh atau mencelakakan orang yang sama sekali tidak kukenal dan tidak kuketahui kesalahannya!”

Kini Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo mengerti mengapa Susilo melarikan pecut dari pemuda itu. Kiranya Susilo hendak minta bantuan pemuda itu untuk menandingi Mahesa Meta. Tentu saja timbul harapan di dalam hati mereka dan Ki Mundingsosro berkata. “Anak mas Sutejo. Ketahuilah bahwa Mahesa Meta adalah seorang perampok tunggal yang keji dan sakti. Kami pernah bentrok dengan dia ketika dia mengancam akan membinasakan Sardula Cemeng. Dia amat digdaya dan kiranya kami semua bukan lawan dia!”

Sutejo mengerutkan alisnya, masih merasa sangsi, “Baiklah, akan kupenuhi syarat kedua, akan tetapi dengan janji bahwa kalau ternyata Mahesa Meta bukan orang jahat, aku tidak mau menandinginya.”

“Bagus!” Pemuda remaja itu bertepuk tangan dengan girang. “Engkau sudah berjanji dan janji seorang gagah tidak akan diingkari. Besok pagi-pagi engkau boleh mencoba untuk merampas pecut itu, akan tetapi aku akan dibantu oleh ayah dan pamanku!”

“Hei, akal apa pula ini?” Sutejo membantah.

“Kami akan maju bertiga untuk menguji sampai dimana tingkat kesaktianmu. Kalau engkau tidak dapat mengalahkan kami bertiga dan tidak dapat merampas pecut, mana mungkin engakau becus menandingi Mahesa Meta?” Pemuda remaja itu menekan pundak ayahnya.

“Betul tidak, Ayah dan Paman?” dan dua orang pria itu terpaksa mengangguk angguk karena memang ujian itu penting sekali. Apa artinya mereka minta bantuan pemuda ini kalau dia tidak memiliki kemampuan yang besar? Kalau dia dapat mengalahkan pengeroyokan mereka bertiga, barulah ada kemungkinan dia akan mampu menandingi Mahesa Meta yang sakti...