Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 43

Ki Patih Tejolaksono baru saja kembali dari Jenggala bersama kedua orang isterinya dan dengan Bagus Seta. Setelah kekacauan di Jenggala dapat ditundukkan, Pangeran Panji Sigit diangkat menjadi raja di Jenggala dan pesta perayaan untuk menobatkan raja baru ini dimeriahkan dengan pesta pernikahan antara Joko Pramono dengan Pusporini. Joko Pramono diangkat menjadi patih di Jenggala!

Setelah pesta selesai, Joko Pramono yang menjadi patih tinggal di Jenggala, di kepatihan. Permaisuri Jenggala yang tadinya diasingkan, kini kembali ke keraton sebagai ibu suri yang dihormati. Berbahagialah penghidupan Pangeran Panji Sigit yang kini menjadi Prabu Jenggala bersama Setyaningsih yang menjadi permaisurinya dan Joko Pramono yang menjadi patih di samping Pusporini.

"Nah, sekarang barulah lega hatiku," kata Tejolaksono ketika ia bersama Endang Patibroto, Ayu Candra, dan Bagus Seta duduk di ruangan belakang kepatihan Panjalu. Tejolaksono menghela napas panjang dan kelihatan gembira sekali. "Setelah urusan di Jenggala beres, lapang dadaku dan kehidupan keluarga kita akan aman dan tenteram. Hanya sayang, anakku Retna Wilis belum juga dapat diketahui di mana adanya."

Endang Patibroto mengerutkan keningnya. "Setelah keadaan beres, aku sendiri akan pergi mencarinya."

Ayu Candra memegang lengan madunya dan berkata membujuk, "Adinda Endang Patibroto, baru saja kita dapat berkumpul dalam keadaan damai dan tenteram, mengapa engkau hendak pergi lagi? Janganlah, Adinda. Biar nanti kita menyebar orang untuk mencari Retna Wilis. Setelah keadaan aman kembali, kiraku tidak akan begitu sukar lagi mencarinya. Hendaknya Adinda dapat memenuhi permintaanku ini agar keluarga kita dapat berkumpul dan kebahagiaan yang baru sekarang dapat kita kenyam ini tidak akan menjadi hambar."

Endang Patibroto memandang madunya, memandang suaminya dan memang hatinya merasa berat kalau dia disuruh berpisah lagi. Melihat keadaan orang-orang tua itu, Bagus Seta berkata,

"Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu berdua. Bagi mereka yang belum dapat membebaskan diri daripada belenggu dunia ini penuh dengan suka duka. Penuh dengan kedukaan bagi mereka yang mau berduka, dan penuh dengan kesukaan bagi mereka yang mau bersuka. Suka dan duka timbul dari hati pribadi. Suka duka merupakan mata rantai yang sambung-menyambung dan tidak kunjung putus. Kalau kita sudah mau bersuka, kita harus siap untuk menerima duka. Segala peristiwa di dunia ini sudah diatur oleh hukum karma yang menjadi belenggu. Hanya mereka yang sudah sadar dan bebas barulah dapat melenyapkan pengaruh hukum karma atas dirinya. Saya harap Rama dan Ibu berdua suka selalu waspada, di samping ikhtiar, kita harus selalu menyandarkan segalanya kepada kekuasaan Maha Tinggi yang sudah mengatur semuanya. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan, sebaliknya tidak ada pula perpisahan tanpa pertemuan. Karena ada persatuan maka timbul perpisahan, juga persatuan timbul dari perpisahan. Saya percaya akan datang saatnya kita semua bertemu dengan adinda Retna Wilis. Marilah kita sama berprihatin dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa semoga segala kekeliruan-kekeliruan kita diampuni dan semoga kita selalu diperingatkan agar tidak menyeleweng daripada Darma."

Tejolaksono memegang tangan puteranya dan memandang penuh keharuan.
"Ucapanmu memang benar, Puteraku. Akan tetapi, duh puteraku Bagus Seta, engkau masih begini muda akan tetapi seolah-olah sudah menjauhkan duniawi, Bagus Seta, apakah engkau tidak ingin menikmati kesenangan hidup di dunia ini?"

Ayu Candra juga memandang wajah puteranya dengan penuh iba. Ia mengerti akan maksud kata-kata suaminya, juga Endang Patibroto mengerti. Mereka bertiga memandang Bagus Seta yang masih begitu muda akan tetapi yang sudah mencapai taraf hidup seperti pendeta linuwih. Bagus Seta tersenyum menyaksikan pandang mata penuh keprihatinan dan iba dari ketiga orang tua itu.

"Wahai, Kanjeng Rama dan kedua Ibunda yang tercinta! Tentu saja saya dapat menikmati kebahagiaan hidup. Akan tetapi saya tidak ingin karena keinginan menimbulkan kekecewaan dan siapa mengejar kesenangan akan bertemu dengan kesusahan. Betapapun indahnya api, kalau kita sudah tahu bahwa api itu panas membakar, mengapa kita hendak menjangkau dengan tangan? Saya tidak menjauhkan diri dari duniawi, Kanjeng Rama, karena saya sendiri adalah isi duniawi. Kalau sudah menjadi satu, mengapa dicari lagi? Mengapa mengejar bayangan yang menjadi satu dengan badan?"

Tiga orang itu mendengarkan dengan takjub, tak tahu harus berkata apa karena terpesona oleh ucapan-ucapan yang begitu dalam maknanya, yang sukar dimengerti oleh pikiran namun yang dapat menyentuh rasa.

"Duhai Puteraku Bagus Seta. Jawablah dengan sesungguhnya pertanyaanku ini dan aku akan puas sudah. Adakah engkau berbahagia, Anakku?"

Bagus Seta tersenyum lebar, lalu menjawab, "Kanjeng Rama, apakah bahagia itu? Aku tidak butuh akan bahagia itu, Kanjeng Rama."

Mendengar jawaban ini, Tejolaksono seperti diingatkan dan bangkit berdiri dari tempat duduknya, merangkul puteranya dan berkata dengan suara menggetar, "Aduh, Puteraku... jawabanmu mengingatkan aku akan jawaban petani sederhana dahulu itu...! Ah, tentu engkau sudah lupa. Ketika engkau masih kecil, kuajak berburu binatang, di tengah jalan aku bertemu dengan seorang petani di tepi sawah. Ketika kutanya apakah dia berbahagia, dia juga menjawab sepertimu tadi. Tidak membutuhkan bahagia!"

Bagus Seta memimpin tangan ayahnya agar duduk kembali, kemudian ia berkata dengan wajah sungguh sungguh,

"Dan dia itu benar, Kanjeng Rama! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan bahagia! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan apa-apa! Mengapa butuh? Mengapa mengharapkan sesuatu? Mengapa menginginkan sesuatu? Barang apa yang diinginkan memang indah, akan tetapi sekali terdapat akan lenyap keindahannya. Yang tidak membutuhkan sesuatu berarti sudah mendapatkan semuanya, Kanjeng Rama! Adakah manusia yang lebih suci dan lebih bahagia daripada seorang bayi? Karena bayi tidak menginginkan sesuatu, tidak membutuhkan sesuatu, dialah manusia paling bahagia. WAJAR itulah BAHAGIA! HIDUP itulah BAHAGIA! Kalau saya ditanya apakah saya senang atau susah, dengan segala kesungguhan hati saya akan menjawab bahwa saya tidak senang juga tidak susah, tidak duka juga tidak suka. Segala peristiwa yang terjadi adalah wajar dan sudah semestinya. Untuk menghadapi setiap peristiwa, kita dianugerahi akal budi dan pikiran yang boleh kita pergunakan sebagai hak kita: Menghadapi urusan yang tidak benar boleh kita benarkan dengan alat dan panca indera kita, dan ini menjadi kewajiban kita. Kalau ada orang yang suka menikmati kesenangan, boleh saja karena kesenangan yang dapat dinikmatinya itu pun merupakan anugerah, hanya dia pun harus siap pula merasakan kesusahan yang menjadi saudara kembar kesenangannya. Ah, kiranya Kanjeng Rama dan Kanjeng lbu berdua sudah cukup maklum akan pengertian ini, karena saya sendiri pun hanya mengulang saja."

Tejolaksono dan kedua orang isterinya adalah orang-orang yang selain sakti mandraguna, juga sudah banyak mempelajari soal-soal kebatinan, maka tentu saja mereka dapat mengerti ucapan putera mereka itu dan dapat menyelami isinya. Mereka menjadi kagum sekali dan sedikitpun tidak dapat menyalahkan pendirian putera mereka. Dan ternyata kemudian bahwa ucapan putera mereka itu selain mengandung filsafat yang mempunyai makna amat dalam, juga mengandung ramalan atau peringatan yang tepat. Hal ini ternyata ketika tiba utusan dari Ponorogo yang minta bantuan Panjalu karena kadipaten itu terancam oleh Kerajaan Wilis.

"Kerajaan Wilis?" Endang Patibroto berseru kaget ketika mendengar berita itu. "Apa artinya ini? Wilis adalah wilayah Padepokan Wilis, tidak ada kerajaan di sana!"

"Sudah terlalu lama Adinda meninggalkan Wilis, siapa tahu akan perubahan yang terjadi di sana? Akan tetapi kurasa surat dari Adipati Diroprakosa yang ditujukan secara pribadi kepadaku ini akan membuka rahasia itu."

Tejolaksono membaca surat itu, dipandang oleh Bagus seta yang bersikap tenang sekali dan oleh kedua orang isterinya yang memandang dengan rasa ingin tahu benar. Kedua orang wanita itu kaget sekali ketika melihat betapa wajah suami mereka berubah, sebentar pucat dan sebentar merah. Setelah selesai membaca surat itu, terdengar ki patih mengerang perlahan dan kemudian seolah-olah menekan hatinya ia menarik napas panjang dan memandang kedua orang isterinya dengan mata seperti orang bingung.

"Apakah yang terjadi?" Endang Patibroto bertanya.

"Apakah isi surat itu?" Ayu Candra juga bertanya.

"Kalian bacalah sendiri, hanya kuminta agar engkau bersikap tenang dan kuatkan hatimu, Adinda Endang Patibroto."

Endang Patibroto adalah seorang yang berwatak keras dan penuh semangat yang menyala-nyala. Mendengar ucapan suaminya itu, secepat kilat ia menerima surat itu dan membacanya bersama Ayu Candra. Ketika ia membaca penuturan Adipati Diroprakosa yang minta bantuan Tejolaksono karena Ponorogo terancam bahaya hebat dari Wilis yang kini merupakan kerajaan yang dikepalai oleh Ratu Wilis yang bernama Puteri Retna Wilis, wajah Endang Patibroto menjadi merah sekali, sedangkan Ayu Candra membaca dengan wajah pucat, kemudian memandang suaminya dengan mata terbelalak.

"Bedebah nenek siluman itu!" Endang Patibroto mengepal tangannya dengan wajah mangar-mangar (kemerahan). "Dia telah merusak anakku, menyeretnya ke dalam kesesatan!"

"Hemm, harap jangan marah dulu, Diajeng. Kita belum menyaksikannya dengan mata sendiri. Andaikata benar terjadi seperti laporan itu, yaitu bahwa Retna Wilis membentuk kerajaan di Wilis dan hendak menaklukkan seluruh kadipaten dan kerajaan yang ada, tentu ada sebab-sebabnya. Sebaiknya mari kita semua berangkat ke Wilis dan menemuinya. Kurasa setelah bertemu dengan engkau dan aku, setelah mendengar nasehat-nasehat kita, dia akan mengubah kemauannya yang aneh itu."

"Tidak, Kakanda. Biarlah sekarang juga saya berangkat sendiri ke Wilis. Wilis adalah tempatku, dan anak buah di sana semua tunduk kepadaku. Biar kudatangi Retna Wilis dan kubawa dia ke sini!"

Tejolaksono yang belum pernah melihat puterinya, mengangguk-angguk karena dia belum tahu akan watak puterinya itu, akan tetapi melihat watak ibunya, agaknya watak Retna Wilis tidak akan jauh bedanya, tentu keras hati dan keras kepala. Kalau mereka semua datang, mungkin akan menimbulkan rasa malu sehingga bangkit wataknya yang keras dan nekat! Watak Endang Patibroto dahulu juga begitu, kalau dilarang dengan kekerasan, siapapun akan ditantang!

"Bagaimana pendapatmu, puteraku Bagus Seta?"

Biarpun pemuda itu puteranya, namun Tejolaksono maklum bahwa di antara mereka semua, Bagus Seta inilah merupakan orang yang paling boleh diandalkan pendapatnya.

"Ibunda Endang Patibroto benar sekali kalau Ibunda saja yang pergi membujuk adinda Retna Wilis. Ada akibat tentu ada sebabnya, dan perbuatan adinda Retna Wilis membangun kerajaan dan membangkitkan perang tentu ada sebab-sebabnya pula."

Dengan hati tidak karuan rasanya, kemarahan yang ditahan-tahan dan juga kegirangan tersembunyi karena akan bertemu dengan puterinya yang hilang, Endang Patibroto berangkat ke Wilis. Dia melakukan perjalanan cepat dengan menunggang seekor kuda yang besar dan baik. Tidak ada seorang pun pengikut dibawanya karena dalam keadaan seperti itu, Endang Patibroto kembali menjadi seorang pendekar wanita yang perkasa. Biarpun usianya sudah makin tua, sudah empat puluh lima tahun, namun ketika wanita ini menunggang kuda dan membalapkan kudanya ini, wajahnya masih halus tanpa keriput dan kemerah-merahan, rambutnya berkibar panjang dan masih hitam mulus, dari jauh ia tampak seperti seorang wanita muda yang selain cantik jelita, juga gagah perkasa!

Saking hebatnya gelora dalam hatinya mendengar bahwa puterinya yang hilang, yang selama ini membuat hidupnya merana, kini telah kembali ke Wilis dan menjadi ratu yang hendak menaklukkan semua kerajaan, Endang Patibroto tidak lagi mau berhenti untuk mencari berita. Terus saja ia membalapkan kudanya menuju ke gunung Wilis. Hatinya penuh dengan rasa rindu, kegirangan yang bercampur dengan kemarahan sehingga ia lupa pula bahwa kudanya, betapapun baiknya, tidak memiliki daya tahan seperti tubuhnya yang terlatih.

Setelah kudanya itu roboh terguling barulah Endang Patibroto teringat bahwa ia telah membalapkan kudanya selama sehari semalam tanpa henti. ia meloncat ketika kudanya terguling dan melihat bahwa kuda itu tak dapat tertolong lagi. Akan tetapi gairah hatinya membuat ia enggan menghentikan perjalanannya karena kuda ini. Ia menyambar buntalan bekal pakaiannya lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan aji kesaktian herlari secepat kijang.

Dua hari kemudian tibalah Endang Patibroto di kaki gunung Wilis. Hari masih pagi sekali dan dia merasa tubuhnya amat lelah, akan tetapi karena keinginan hatinya untuk segera berhadapan dengan puterinya, ia tidak berhenti dan terus mendaki gunung itu. Ketika ia berlari sampai ke lereng bukit, ia bertemu dengan sepasukan perajurit Wilis. Sungguh sial bagi nasib pasukan yang jumlahnya sepuluh orang ini karena mereka adalah perajurit-perajurit baru yang tidak mengenal Endang Patibroto. Ketika mereka melihat seorang wanita cantik berjalan cepat mendaki lereng, mereka lalu menghadang dan seorang di antara mereka berseru, "Heh, engkau ini wanita dari mana dan siapa berani mendaki lereng Wilis?"

Endang Patibroto memandang penuh perhatian. Ia melihat sepuluh orang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hijau yang gagah, akan tetapi sikap mereka jauh sekali bedanya dengan anak buahnya dahulu. Dahulu ia menanamkan watak satria, melarang keras anak buahnya dengan ancaman hukuman mati bagi anak buahnya yang berani mengganggu wanita. Akan tetapi sepuluh orang ini memandangnya dengan sinar mata penuh nafsu dan gairah. Bahkan yang memimpin pasukan itu menyeringai kepadanya.

"Aku hendak bertemu dengan Ratu Wilis. Kalian ini siapakah?" Endang Patibroto balas tanya tanpa menyebutkan namanya, sikapnya angkuh dan galak.

Mendengar ada orang wanita yang begitu saja hendak bertemu dengan ratu mereka, tanpa menyebut gusti dan sama sekali tidak memperlihatkan sikap menghormat, sepuluh orang itu menjadi marah dan pemimpin mereka tertawa bergelak.

"Wah-wah, dari mana datangnya wanita yang miring otaknya ini? Eman-eman (sayang) sekali, begini cantik jelita kok miring otaknya. Marilah manis, mari kuobati penyakitmu, mari sini, engkau akan terobati dalam pelukanku. Apakah sudah terlalu lama engkau menjanda sehingga kekeringan dan kesepian membuatmu menjadi gila?" Laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak meraih tubuh Endang Patibroto.

Endang Patibroto hanya mengeluarkan suara mendengus "hemmm....!!" kakinya bergerak seperti kilat menyambar dan terdengar suara "krekkk!" disusul menjeritnya laki-laki itu karena tulang lengannya patah-patah dan remuk di bagian yang dicium kaki Endang Patibroto!

"Aduh tanganku.... lenganku!" Laki-Iaki itu mengeluh dan memegangi lengan kanannya dengan tangan kiri.

"Keparat, mampuslah!" Endang Patibroto membentak dan kembali tubuhnya bergerak, kini jari tangannya yang menyambar dengan tempilingan keras ke arah kepala orang itu.

"Prokk!" Kepala itu remuk dan otaknya muncrat bersama darah, tubuhnya terkulai tak bernyawa lagi!

Melihat ini, sembilan orang anak buah pasukan itu menjadi marah bukan main. Mereka membentak, "Perempuan gila!" Dan mereka telah menerjang maju dengan senjata golok mereka.

Endang Patibroto menjadi makin marah. Sebenarnya wanita ini sudah banyak berubah semenjak ia berdekatan dengan suaminya, Ki Patih Tejolaksono. Wataknya yang keras sudah agak jinak, dan kalau saja ia tidak berada dalam keadaan begitu marah terhadap puterinya, kiranya ia akan dapat mengampuni orang-orang ini. Akan tetapi ia sedang marah dan kecewa mendengar tentang puterinya, apalagi ketika melihat kenyataan betapa anak buah puterinya begini buruk wataknya, kemarahannya terhadap puterinya memuncak dan ia timpakan semua kepada orang-orang sial itu. Melihat mereka maju dengan golok terhunus, ia mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya berkelebat menyambar-nyambar dan terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika tubuh Sembilan orang itu berturut-turut roboh dengan kepala pecah semua dan tewas di saat itu juga.

Betapa mereka dapat bertahan menghadapi tamparan-tamparan yang mengandung Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila itu? Tubuh orang itu mati dalam keadaan utuh, akan tetapi kepalanya hancur semua sehingga sukar untuk mengenal mereka lagi. Darah dan otak mengotori rumput-rumput hijau dan keadaan di situ sungguh amat mengerikan.

Munculnya pasukan lain yang lebih besar, ada tiga puluh orang jumlahnya, membuat Endang Patibroto menjadi lebih beringas lagi. Kalau perlu, akan dibasminya semua orang-orang yang mencemarkan nama Wilis ini! Dia sudah meloncat ke depan dan berseru, "Manusia-manusia biadab, majulah kalian semua! Saat ini adalah saat kematian kalian semua!"

Tiba-tiba seorang di antara mereka berseru, "Gusti Puteri Endang Patibroto....!!" orang itu segera menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh teman-temannya yang segera mengenal wanita sakti itu. Mereka yang tidak pernah melihat Endang Patibroto karena mereka adalah orang-orang baru, begitu mendengar disebutnya nama ini dan melihat teman-temannya berlutut, segera membuang golok dan berlutut pula. Mereka sudah mendengar bahwa Endang Patibroto adalah pendiri Padepokan Wilis, dan bahkan menjadi ibu dari ratu mereka!

Dengan napas terengah-engah saking marahnya, Endang Patibroto memandang beberapa wajah yang dikenalnya dan ia membentak, "Bedebah kalian semua! Di mana Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis? Hayo suruh mereka cepat menghadap aku di sini!"

Sementara itu dari jarak yang jauh, ada orang yang menonton peristiwa ini dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Kemudian orang ini diam-diam menyelinap di antara gerombolan pohon dan melarikan diri dari tempat itu. Orang ini bukan lain adalah Ki Patih Adiwijaya atau Warutama atau Sindupati! Dari jauh ia mendengar suara ribut-ribut dan dia sudah lari menghampiri. Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, ia merasa seolah-olah jantungnya menjadi beku dan hampir ia terkencing-kencing saking takutnya.

Kebetulan sekali ketiga orang tokoh Wilis yang dulu menjadi pembantu Endang Patibroto, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, berada tidak jauh dari lereng itu. Mendengar suara ribut-ribut mereka cepat berlari menghampiri dan ketika melihat Endang Patibroto berdiri tegak dan didekatnya ada mayat sepuluh orang perajurit Wilis yang kepalanya remuk semua, mereka menjadi pucat dan cepat lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Endang Patibroto.

"Gusti Puteri....!!"

Melihat ketiga orang bekas pembantunya yang ia pasrahi Padepokan Wilis Endang Patibroto menggigit giginya menahan marah.

"Hemm, apakah yang kalian bertiga telah lakukan? Apakah yang merubah keadaan Wilis? Beginikah kalian menjalankan kewajiban kalian membawa para satria Wilis, menjadi gerombolan-gerombolan manusia biadab?"

Sambil berkata demikian, kaki Endang Patibroto bergerak dan cepat sekali kaki itu sudah menendangi tubuh ketiga orang tokoh Wilis itu sehingga mereka bertiga jatuh bergulingan. Tentu saja Endang Patibroto tidak mempergunakan seluruh tenaga, karena kalau hal ini ia lakukan, tentu ketiga orang itu telah tewas dengan sekali tendang saja. Namun tendangan yang bagi Endang Patibroto perlahan saja itu, bagi ketiga orang saudara Wilis ini merupakan sambaran halilintar yang membuat mereka mengaduh-aduh sambil memegangi kepala mereka.

"Aduh, Gusti Puteri....!" Mereka bersambat.

"Plak-plak-plak!" Kembali Endang Patibroto menendang disusul makian-makiannya, "Kalian semestinya dibunuh! Kalian tidak patut dibiarkan hidup. Keparat kalian, Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis!"

"Aduh tobat....!" Limanwilis mengeluh dan roboh terlentang.

"Ampun, Gusti... ampunkan hamba !" Lembuwilis juga roboh terlentang dan menutupi mukanya seperti orang menangis.

"Aduhhh.... Gusti Puteri.... aduh, bunuh saja hamba" Nogowilis meraung-raung karena hampir tidak kuat menahan rasa nyeri terkena tendangan kedua kalinya ini.

"Memang aku akan bunuh kalian! Aku akan bunuh kalian dengan tendangan ke tiga kalau kalian tidak lekas menceritakan apa yang telah kalian perbuat di sini!"

Tiga orang itu masih mengaduh-aduh karena belum mampu bercerita ketika pada saat itu terdengar bentakan nyaring, "Eh-eh, iblis dari mana berani datang mengacau di sini?"

Endang Patibroto memandang dengan mata beringas. Yang muncul ini adalah ki patih muda dari Wilis, yaitu Ki Walangkoro sendiri. Ketika laki-laki tinggi besar ini melihat seorang wanita menghajar ketiga orang pembantunya dan melihat sepuluh orang anak buahnya menggeletak dengan kepala pecah, melihat puluhan orang perajurit Wilis lainnya berlutut dengan mata terbelalak dan muka pucat ketakutan, ia menjadi marah sekali.

"Setan alas! Engkaulah yang menjadi biang keladi di sini? Engkau kepala di sini, keparat jahanam?" Endang Patibroto memaki dengan suara mendesis-desis saking marahnya.

"Eh-eh, babo-babo si wanita keparat! Berani engkau menghina Ki Walangkoro, patih muda Kerajaan Wilis?" Ki Walangkoro marah sekali dan menerjang maju. Akan tetapi Endang Patibroto tidak menanti dia diserang, karena dia pun sudah menerjang maju memapaki dengan pukulan tangannya, sedangkan tangan yang kiri menangkis lengan lawan.

"Plak-desss...!!"

"Aduhhhh.... !" Ki Walangkoro terjengkang dan menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas.

Memang panas rasa dadanya yang terkena pukulan tangan Endang Patibroto karena wanita sakti ini menggunakan Aji Wisangnolo yang panasnya melebihi kawah Candradimuka!

Kalau saja Ki Walangkoro tidak memandang rendah, tentu dia lebih berhati-hati menghadapi wanita sakti itu. Betapapun hebatnya, terkena pukulan Wisangnolo ia seperti cacing terkena abu panas, menggeliat-geliat dan mengaduh-aduh, sukar untuk bangun kembali sungguhpun kekebalannya telah melindunginya. Kalau ia tidak kebal sekali, tentu telah gosong dadanya dan melayang nyawanya terkena pukulan ampuh itu.

"Aduh, Gusti Puteri, ampunkan hamba.... sesungguhnya, hamba bertiga hanyalah terpaksa. Mula-mula, setelah paduka pergi, kami melakukan tugas seperti yang paduka perintahkan...." Lembuwilis mulai bercerita setelah ia berhasil bangkit dan duduk bersila sambil menyembah-nyembah. "Akan tetapi kemudian muncul Ki Walangkoro ini, kami tidak sanggup melawannya. Kami dikalahkan dan kedudukan di Wilis dia rampas. Padepokan Wilis diganti menjadi Gerombolan Wilis. Kami tidak berdaya...."

Melihat betapa raksasa tinggi besar ini tidak tewas oleh pukulannya. Endang Patibroto percaya bahwa ketiga orang Wilis ini tidak akan mampu menandingi si tinggi besar itu.

"Kemudian bagaimana....?" bentaknya.

"Lalu, aduhhh.... dada hamba...." Limanwilis tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Melihat ini Lembuwilis yang sudah bangkit lalu melanjutkan, "Hamba bertiga dipaksa menjadi anak buahnya. Kemudian, beberapa bulan yang lalu muncullah Gusti Puteri Retna Wilis.... ya.... puteri paduka yang lenyap dulu...."

"Lanjutkan!" bentak Endang Patibroto seolah-olah mendengar pernyataan bahwa Retna Wilis adalah puterinya membuat hatinya tertusuk.

"Beliau telah menjadi seorang yang amat sakti, Gusti. Dengan mudah Ki Walangkoro ditaklukkan, kemudian malah dijadikan patih muda dan sekarang gusti Retna Wilis membangun sebuah kerajaan Wilis...."

cerita silat online karya kho ping hoo

"Hemmm.... keparat ini pun bertanggung jawab!" Endang Patibroto berseru marah, sekali meloncat ia telah berada dekat tubuh Ki Walangkoro yang kini sudah merangkak bangun. Akan tetapi sebelum Ki Walangkoro sempat berdiri, Endang Patibroto mengayun tangannya. Sebuah pukulan dengan Aji Pethit Nogo menyambar kepala bekas pemimpin Gerombolan Wilis.

"Dukkk!" Berkat aji kekabalan yang amat kuat, kepala itu tidak remuk, akan tetapi tubuh itu terpelanting dalam keadaan tidak bernyawa karena pukulan sakti itu menggocang otaknya yang menjadi awut-awutan di dalam kepala. Pada saat itu terdengar seruan-seruan, "Gusti Puteri datang....!"

Endang Patibroto mengangkat mukanya, memandang sesosok tubuh ramping yang datang bagaikan terbang cepatnya. Seorang gadis yang amat cantik, berpakaian serba hijau, gilang-gemilang perhiasan yang terpasang di telinga dan ikat pinggangnya, seorang dara remaja yang luar biasa cantiknya, membuat Endang Patibroto ternganga. Sejenak hatinya penuh kebanggaan, namun segera terganti kepahitan dan kekecewaan.

Yang datang adalah Retna Wilis. ia mendapat laporan seorang anak buahnya bahwa ada orang mengamuk membunuhi perajuritnya. Dengan kemarahan meluap dara ini meninggalkan istana dan berlari cepat menuju ke lereng itu.

"Siapa berani...." Tiba-tiba kata-katanya terhenti dan bagaikan kena pesona ia memandang Endang Patibroto yang berdiri tegak di depannya, kemudian kakinya melangkah maju menghampiri Endang Patibroto.

"Ibu....! Ibu....??" Panggilan pertama amat mesra, penuh kerinduan, panggilan ke dua bernada ragu-ragu dan agak dingin.

"Retna Wilis....!!!" Bentakan Endang Patibroto amat janggal didengar. Mengandung pencetusan rasa rindu, dicampur kemarahan, teguran dan kedukaan.

Retna Wilis memandang ibunya, kemudian pandang matanya bergerak, memandang ke arah tubuh sepuluh orang perajurit yang kepalanya hancur, memandang mayat Ki Walangkoro yang tidak terluka, kemudian melihat kepada tiga orang kakak beradik Wilis yang mukanya bengkak-bengkak dan masih merintih-rintih, kepada para perajurit yang berlutut di depan ibunya, akhirnya ia kembali memandang ibunya.

"Ah, kiranya Kanjeng Ibu yang datang mengamuk. Hemmm, orang-orang sial itu memang patut dibunuh, berani menentang Ibu...."

"Retna Wilis! Apa yang telah kau lakukan disini??"

Retna Wilis yang sudah menghampiri ibunya untuk memeluk, menghentikan langkahnya dan dengan sikap dingin menggerakkan pundaknya. Ibunya datang-datang marah kepadanya dan tidak ada sikap mesra, maka kerinduannya pun menipis dan kegirangannya lenyap.

"Apa yang kulakukan, Ibu? Tidak ada hal yang menyusahkan hatimu telah kulakukan. Bahkan sebaliknya. Anakmu datang sebagai seorang ratu besar yang berhasil menghimpun tenaga dan berhasil menundukkan banyak kadipaten..."

"Retna Wilis! Mengapa engkau menyeleweng seperti ini?"

"Eh, Ibu. Menyeleweng bagaimanakah yang Ibu maksudkan? Aku membentuk kerajaan dan akan kutaklukkan seluruh kerajaan, termasuk Panjalu dan Jenggala! Kelak akulah yang akan menjadi ratu dari seluruh Jawa-dwipa! Dan ibu akan menjadi ibu suri yang disembah-sembah manusia sejagat!"

"Gila! Apakah engkau sudah gila, Retna Wilis? Tidak boleh engkau melakukan hal ini! Ibumu adalah kawula Panjalu dan ayahmu adalah Patih Panjalu. Bagaimana engkau berani memberontak terhadap Panjalu? Engkau tidak boleh melakukan hal ini!"

"Hemm! Siapa yang hendak melarangku, Ibu? Tidak ada orang yang dapat melarangku!"

"Aku yang melarangmu! !"

"Ibu, engkau sungguh tidak adil. Ingatlah semenjak kecil aku Ibu bawa lari dalam kandungan sampai besar di Wilis ini, jauh dari ayah yang tidak memperdulikan nasib kita. Ibu terlunta-lunta, dan bukan itu saja. Aku mendengar riwayat Ibu sebagai mantu Jenggala yang disia-siakan, dimusuhi oleh Kerajaan Jenggala dan Panjalu, difitnah, bahkan pangeran yang menjadi suami ibu dibunuh! Ibu telah dihina dan dibikin sengsara hidup Ibu, dan Ibu masih mau menjadi kawula Panjalu? Apakah kita ini kalah oleh keluarga Kerajaan Panjalu dan Jenggala? Apakah kita harus merangkak-rangkak di depan ayah yang telah menyia-nyiakan Ibu? Tidak, seribu kali tidak! Aku berhasil mendapatkan ilmu, dan ilmu ini akan kupergunakan untuk membalas dendam penderitaan Ibu. Akan kutaklukkan Panjalu dan Jenggala. Akan kupaksa ayah bertekuk lutut di depan ibu. Akan kuangkat Ibu menjadi ibu suri yang dimuliakan orang sejagat! Akan..."

"Cukup omongan gila itu! Retna Wilis, anak siapakah engkau?"

"Anak Ibu, tentu saja kalau Ibu mau mengakuinya."

"Hemm, kalau engkau masih ingat bahwa engkau adalah anakku, engkau harus mentaati perintahku! Mulai hari ini juga, bubarkan Gerombolan Wilis ini, bubarkan kerajaanmu dan engkau ikutlah bersamaku ke Panjalu, bertemu dengan ayahmu, berkumpul dengan semua keluarga. Tahukah engkau bahwa bibimu Setyaningsih kini telah menjadi ratu di Jenggala? Dia telah menjadi permaisuri raja di Jenggala! Dan kita semua sekeluarga akan menjadi satu, betapa bahagianya, Nak..." Leher Endang Patibroto serasa tercekik oleh keharuan ketika ia mengeluarkan ucapan ini. Akan tetapi Retna Wilis tersenyum pahit dan menggeleng kepalanya.

"Tidak, Ibu. Aku tidak sudi mengemis-ngemis anugerah orang lain. Aku tidak sudi membonceng kemuliaan orang lain. Sebaiknya kalau Ibu merestui cita-citaku dan ikut membantuku. Ingat, Ibu. Dahulu Endang Patibroto merupakan tokoh wanita tanpa tanding. Kalau kini Endang Patibroto bergerak di samping puterinya, Retna Wilis, kutanggung dunia ini akan berada di telapak tangan kita!"

"Dan engkau hendak melawan dan menentang ayahmu yang menjadi patih di Panjalu? Menentang bibimu yang menjadi permaisuri di Jenggala?"

"Kalau perlu, apa boleh buat. Aku akan terpaksa melawan dan menundukkan siapa saja yang menentangku, yang menghalangi cita-citaku."

"Anak durhaka, kalau begitu, apakah engkaupun hendak menentang aku?" Endang Patibroto sudah mulai marah lagi.

"Ibu, aku tidak akan menentang siapa saja, apalagi Ibu. Aku hanya melawan siapa pun juga yang menentangku."

"Bagus! Kalau aku melarangmu melanjutkan cita-cita gila ini? Kalau aku, ibumu sendiri, menentangmu? Apakah engkau juga hendak melawan aku?"

Retna Wilis tersenyum dingin sehingga Endang Patibroto sendiri yang biasanya amat digentari orang, kini merasa mengkirik. Senyum puterinya itu amat manis, akan tetapi seperti senyum iblis yang mengandung ancaman maut!

"Tidak ada seorang pun di dunia ini, juga lbu sendiri tidak, yang akan dapat menghalangi cita-citaku, yang akan menghentikkan usahaku menundukkan dunia, kecuali kematian."

"Anak durhaka, kalau begitu aku lebih suka melihat anakku mati daripada melihatnya hidup tersesat!"

"Ibu hendak membunuhku? Tidak akan bisa, Ibu. Ibu takkan dapat menangkan aku. Lebih baik Ibu hidup mulia dan bahagia di sini, kusembah-sembah menjadi junjunganku. Atau kalau Ibu lebih suka menjauhiku, kembalilah saja Ibu kepada suami Ibu, dan harap jangan mencampuri urusanku."

"Bocah iblis! Aku sudah melahirkan engkau, aku pula yang membunuh engkau!" Endang Patibroto membentak dan meloncat maju mengirim serangan maut.

Wanita perkasa ini dengan hati hancur melihat kenyataan betapa anaknya benar-benar telah terpengaruh watak yang aneh dan seperti iblis, dan kalau dibiarkan, tentu akan menimbulkan malapetaka dan terutama sekali akan merusak dan mencemarkan nama baik orang tuanya. Dia mengenal puterinya dan tahu bahwa bujukan-bujukan takkan berhasil lagi kalau Retna Wilis sudah mengambil keputusan seperti itu. Daripada melihat puterinya yang tercinta menyeleweng, menjadi pemberontak, mengacaukan kerajaan-kerajaan, menimbulkan malapetaka dan pembunuhan-pembunuhan akibat perang yang ditimbulkan, mendatangkan kedukaan kepada semua keluarga, lebih baik ia melihat puterinya itu mati di depan kakinya sendiri.

Karena ia dapat menduga bahwa sebagai murid Nini Bumigarba, puterinya ini tentu memiliki kesaktian yang luar biasa, maka sekali menyerang Endang Patibroto sudah meloncat dengan gerakan Bayutantra dan tangan kanannya yang terbuka telah menampar muka Retna Wilis dengan Aji Gelap Musti.

"Plakkk!"

Pipi kiri Retna Wilis yang berkulit halus itu kena ditampar karena memang dara perkasa ini sama sekali tidak mengelak, hanya mengerahkan kekuatan saktinya melindungi kepalanya. Akan tetapi ia tidak roboh, hanya bergoyang sedikit. ia telah menerima tamparan sakti ibunya itu dengan mata terbuka, berkedip pun tidak. Bibirnya sedikit pecah ujungnya sehingga meneteslah darah dari ujung mulut.

"Retna Wilis.... Anakku....!" Endang Patibroto menjerit dan menubruk puterinya, merangkul, menciumi muka anaknya, mencium beberapa tetes darah yang menitik di pipi itu. "Retna Wilis.... ah, betapa engkau menyiksa hati ibumu! Anakku, mengapa engkau tidak mentaati permintaan ibumu? Marilah, Angger, anakku bocah ayu, marilah engkau ikut bersama ibumu....!"

Dua titik air mata menetes dari sepasang mata Retna Wilis. Akan tetapi mulutnya tersenyum dingin dan biarpun ia dipeluk dan dibelai, diciumi ibunya, ia tetap tenang, hanya mengelus pundak ibunya.

"Ibu, mengapa pula ibuku sendiri yang hendak menghalangi cita-citaku? Mengapa Ibu hendak merusak kebahagiaanku?"

"Engkau keliru, Retna. Cita-cita itu tidak akan membawamu kepada kebahagiaan, melainkan kesengsaraan karena pelaksanaannya akan menimbulkan bencana hebat. Kebahagiaanmu adalah bersama ibumu, bersama ayah dan keluargamu. Marilah Retna, percayalah bahwa ibu menentang kehendakmu ini demi cintanya kepadamu. Marilah, Anakku, sebelum terlambat..."

"Tidak Ibu. Terserah penilaian Ibu, akan tetapi aku tetap akan melanjutkan cita-citaku ini."

Perlahan-lahan Endang Patibroto melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. ia terisak menahan tangis, memandang tajam lalu berkata lirih,

"Kalau begitu, sebelum engkau menyebar kematian di antara manusia-manusia yang tidak berdosa, lebih dulu kau bunuhlah ibumu ini!"

Endang Patibroto kini sudah marah kembali, kemarahan yang bercampur dengan putus asa. Hatinya sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk keris. Anaknya yang begini cantik jelita, begini gagah perkasa, begini sakti sehingga tamparan Gelap Musti diterimanya tanpa berkedip dan hanya membuat ujung bibirnya berdarah sedikit. Betapa akan bangga hatinya, betapa akan bahagia hatinya kalau dapat menuntun anaknya ini dan memperkenalkannya kepada ayah anak ini, Ki Patih Tejolaksono. Akan tetapi kenyataannya adalah sebaliknya, amat pahit dan menyakitkan hatinya.

"Ibu, lebih baik Ibu pulang kembali saja ke Panjalu." Retna Wilis berkata dan sikapnya dingin sekali.

"Engkau atau aku harus mati di sini!" Endang Patibroto membentak dan kini ia maju menyerang sambil mengeluarkan pekik dahsyat.

Wanita ini telah mengeluarkan Aji Sardulo Bairowo dan pekiknya melengking tinggi menggetarkan permukaan lembah gunung Wilis. Semua anak buah Wilis yang berdatangan di tempat itu, terkejut mendengar pekik ini, jantung mereka tergetar dan mereka yang tidak kuat sudah jatuh berlutut dengan tubuh menggigil, yang agak kuat masih berdiri dengan muka pucat dan mata terbelakak memandang ibu dan puterinya yang hebat itu.

Pekik Sakti Sardulo Bairowo sama sekali tidak mempengaruhi Retna Wilis, dan melihat pukulan ibunya yang amat hebat dan ampuh menghantam kepalanya, Retna Wilis menggerakkan lengan menangkis. Dua lengan yang sama halusnya bertemu dahsyat dan akibatnya tubuh Endang Patibroto terpelanting! Wanita perkasa itu mendengus marah dan penasaran, meloncat bangun dan menerjang kembali. Retna Wilis yang maklum akan kesaktian ibunya, sudah mengerahkan aji kesaktiannya ke dalam kedua lengannya, lalu menangkis kembali. Dan sekali lagi tubuh ibunya terpelanting. Namun Endang Patibroto sudah bangkit dan menyerang lagi. Wanita yang hancur hatinya ini sudah mengambil keputusan nekat untuk mengadu nyawa dengan anaknya. Ia menyerang secara bertubi-tubi.

Retna Wilis hanya mengelak dan setiap kali ia menangkis ibunya tentu terguling, akan tetapi tidak pernah ia balas memukul ibunya. Pertandingan ini berjalan seru dan lama sekali, akan tetapi setiap kali bertemu lengan, selalu Endang Patibroto yang terguling roboh. Makin lama Endang Patibroto menjadi makin penasaran dan marah, akhirnya ia menjadi mata gelap. Sambil menyerang, ia melepaskan banyak panah tangan yang menyambar seperti kilat cepatnya menuju tubuh anaknya. Retna Wilis mengeluarkan suara pekik melengking dan semua anak panah yang mengenai tubuhnya runtuh, tidak sebatang pun dapat melukai kulitnya!

"Ibu takkan menang melawanku, lebih baik ibu pergi."

"Anak durhaka!" Endang Patibroto menyerang lagi, kini pukulan Wisangnolo yang ia pergunakan amat dahsyatnya karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya.

Retna Wilis mendorongkan tangannya memapaki telapak tangan ibunya.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Desss!!" Dua tenaga mujijat bertemu dan terdengar Endang Patibroto mengeluarkan rintihan lirih dan tubuhnya yang terguling lagi tak dapat bangun kembali karena ia telah roboh pingsan, tergetar oleh hawa pukulannya sendiri yang membalik ketika terbentur hawa sakti dari tangan Retna Wilis.

Sejenak Retna Wilis berdiri termangu memandang tubuh ibunya. Ia menggunakan ujung baju menghapus keringat di dahinya. Ibunya adalah seorang lawan yang tangguh dan andaikata dia tidak memiliki tenaga sakti yang hebat, tentu dia sendiri sudah terluka parah di sebelah dalam tubuhnya. Perlahan-lahan dihampirinya tubuh ibunya, dipondong dan diangkatnya, dipeluk dan diciumnya dahi ibunya dengan kemesraan seorang anak kepada ibunya. Akan tetapi ia segera menekan perasaan dan pandang matanya berubah dingin kembali ketika ia berkata memerintah.

"Keluarkan kereta, dan antarkan ibu ini turun gunung. Tinggalkan kereta di bawah kaki gunung."

Perintah ini ia tujukan kepada Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis. Biarpun tiga orang ini masih sakit-sakit tubuhnya akibat tendangan-tendangan Endang Patibroto tadi, mendengar perintah itu cepat mereka bertiga mengambil kereta. Retna Wilis memondong tubuh ibunya, membawanya ke dalam kereta, membaringkan tubuh ibunya di dalam kereta, sekali lagi mencium dahi ibunya dan berbisik lirih, "Ibu !" kemudian ia turun dari kereta memberi isyarat kepada ketiga orang tokoh Wilis itu untuk berangkat.

Lembuwilis dan Nogowilis duduk mengendarai kuda penarik kereta, sedangkan Limanwilis yang tertua duduk menjaga Endang Patibroto di dalam kereta, kemudian kereta pun berangkat menuruni gunung Wilis. Retna Wilis berdiri tegak memandang, dua titik air mata menetes turun. Akan tetapi setelah menghela napas ia lalu menghapus air matanya, memutar tubuhnya memandang anak buahnya yang berlutut dan berkata, "Mulai hari ini, siapkan semua pasukan. Hei...!! di mana Paman Patih??"

Tak seorang pun di antara para anak buah Wilis tahu kemana perginya Patih Adiwijaya.

"Mungkin gusti patih sedang melakukan pemeriksaan di perbatasan, Gusti Puteri!" akhirnya terdengar jawaban seorang perwira.

"Biarlah, kalau sudah datang suruh ia menghadap. Beritahukan kepada semua pasukan agar berkumpul, juga kerahkan seluruh rakyat yang sudah takluk untuk siap membantu gerakan kita. Secepatnya kita akan menyerbu Ponorogo!"

Para anak buah Wilis bersorak gembira. Penyerbuan ke suatu tempat berarti perang, dan perang berarti pula kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan-kesempatan bagi mereka untuk menikmati kesenangan, selain membunuh musuh di bawah pimpinan orang-orang sakti, juga kesempatan itu dapat mereka pergunakan untuk memperoleh barang-barang berharga dan wanita-wanita cantik.

Di bawah sorak-sorai anak buahnya, Retna Wilis lalu lari naik ke puncak, memasuki taman sari yang baru saja dibangun, kemudian menjatuhkan diri ke atas bangku di tengah-tengah taman sari. Air matanya deras mengucur. Setelah berada seorang diri, tak dapat ia menahan kekecewaan dan kedukaan hatinya mengenangkan sikap ibunya. Ia menangis dan akhirnya karena tekanan batin dan kelelahan, ia tertidur pulas di atas bangku taman sari, kedua pipinya masih basah air mata.

Sehari semalam Retna Wilis tertidur di taman itu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia terbangun dengan isak tertahan. Ia melihat Patih Adiwijaya duduk bersila tak jauh dari bangku sambil menundukkan muka.. Wajah orang tua ini kelihatan berduka. Retna Wilis bangkit duduk dan baru tahu ia bahwa tubuhnya telah diselimuti jubah luar patihnya.

"Paman Adiwijaya, ah, aku tertidur di sini...." suaranya masih mengandung isak, "berapa lama aku tertidur?" ia menyerahkan kembali jubah luar patihnya.

"Duh Gusti Puteri yang malang. Paduka tertidur semenjak kemarin siang."

"Kenapa engkau tidak membangunkan aku, Paman?"

Patih itu memandang wajah Retna Wilis dengan pandang mata penuh iba hati dan prihatin. "Hamba baru pulang siang kemarin dari memeriksa keadaan penjagaan di tapal batas timur, untuk mendengarkan gerak-gerik Ponorogo. Baru hamba mendengar akan kunjungan Ibunda Paduka dan....ah, sungguh kasihan sekali Paduka, Gusti. Hamba.... ikut berduka dengan peristiwa yang menyedihkan itu...."

Retna Wilis tersenyum, memandang pembantunya itu dengan sinar mata berterima kaksih.

"Dan semenjak kemarin siang, engkau menungguku di sini?"

"Hamba tak berani membangunkan Paduka yang tidur pulas sambil kadang-kadang terisak. Ampunkan hamba yang berani menyelimuti Paduka dan hamba menjaga di sini, menanti Paduka terbangun."

Retna Wilis mengulurkan tangan dan menyentuh pundak patihnya.
"Paman, engkau baik sekali. Agaknya engkaulah orang yang paling baik terhadap diriku. Adapun ibuku.... ah, benar-benar aku bingung, Paman."

"Mengapa Paduka bingung? Hendaknya Paduka tenang karena setelah hamba mendengar akan semua peristiwa, hamba merasa yakin akan kebenaran paduka. Setiap manusia di dunia ini berhak untuk mencari kemuliaan, apalagi seorang sakti mandraguna seperti paduka. Hanya si manusia sendiri yang akan dapat menentukan nasib hidupnya. Paduka benar, dan hamba bersumpah untuk bersetia, untuk membela dan membantu paduka dengan taruhan nyawa hamba." Ucapan ini keluar dari hati nurani Adiwijaya karena entah bagaimana, baru sekali ini selama hidupnya ia mencinta seseorang, mencinta yang sungguh-sungguh murni, bukan cinta nafsu, melainkan cinta seorang ayah terhadap puterinya. ia merasa kagum akan kesaktian dara ini, merasa kagum akan kecantikannya, dan timbullah rasa sayang dan setia yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.

"Terma kasih, Paman. Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu."

"Aduh Gusti Puteri Retna Wilis yang bijaksana dan sakti mandraguna. Hamba hanyalah seorang yang rendah, hamba seorang yang penuh dosa, hamba seorang yang banyak dimusihi orang lain, seorang yang jahat dalam pandangan orang lain."

"Bagiku, engkau seorang yang baik, dan itu bagiku sudah cukup. Aku tidak perduli pendapat orang lain."

"Mungkin ibunda paduka pun menganggap hamba seorang jahat, Gusti."

"Hemm, mengapa, Paman?"

"Mungkin.... hamba disangka sebagai orang yang membujuk-bujuk paduka..."

"Ah, biarlah. Biar andaikata ibuku sendiri membencimu dan menganggapmu orang jahat, aku tetap menganggapmu seorang baik. Sekarang, Paman. Siapkan bala tentara kita. Kita serbu Ponorogo, terus ke timur."

"Terus menyerbu Jenggala, Gusti?" tanya Adiwijaya penuh gairah.

"Benar, Paman. Ke Jenggala! Kita tundukkan Jenggala secara baik-baik, mengingat bahwa yang menjadi raja di sana adalah Paman Pangeran Panji Sigit, dan permaisurinya adalah Bibi Setyaningsih, adik ibu sendiri. Kalau mereka menghadapi kita dengan kekerasan, terpaksa akan kutundukkan Jenggala dengan kekerasan pula. Setelah itu, baru kita menengok ke Panjalu!"

"Balk sekali, Gusti. Hamba siap dan sekarang juga hamba akan mengumpulkan seluruh barisan Wilis!" kata Adiwijaya penuh kegembiraan.

Sementara itu, jauh dari puncak Wilis, di sebelah timur kaki gunung Wilis, sebuah kereta berhenti di dalam sebuah hutan. Limanwilis, Lembuwilis, dan NogoWilis duduk di atas tanah bersila dan tak bergerak seperti arca. Tadi mereka menghentikan kereta, melepaskan kuda yang mereka biarkan makan rumput, kemudian mereka duduk menanti di bawah kereta.

Retna Wilis, dan juga Ki Walangkoro sendiri, ternyata hanya dapat mempengaruhi Lembuwilis, Limanwilis dan Nogowilis untuk sementara saja. Mereka bertiga ini tunduk karena terpaksa dan tidak berani melawan. Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, hati ketiga orang ini tergetar dan watak baik mereka yang sudah lama dipupuk oleh Endang Patibroto selama wanita itu memimpin Padepokan Wilis, bangkit kembali. Mereka merasa terharu sekali, apalagi menyaksikan nasib bekas junjungan mereka yang amat menyedihkan. Memang harus diakui bahwa sebelum menjadi anak buah Endang Patibroto, tiga orang ini adalah tokoh-tokoh Wilis yang bekerja sebagai perampok. Namun, kekejaman hati mereka sudah menipis oleh gemblengan-gemblengan Endang Patibroto dan kini menyaksikan kekejaman hati Retna Wilis yang tega melawan ibunya sendiri, mereka menjadi penasaran dan di dalam hati, mereka berpihak kepada Endang Patibroto.

Begitu siuman dari pingsannya, Endang Patibroto teringat akan puterinya dan ia mengerang, lalu menangis tersedu-sedu. Sampai lama ia menangis, kemudian baru ia mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah kereta yang berhenti. Cepat ia meloncat keluar dari dalam kereta dan melihat Limanwilis dan kedua orang adiknya duduk bersila dengan kepala tunduk.

"Eh, kalian bertiga mengapa berada di sini?"

Limanwilis menyembah dan berkata, "Hamba bertiga diutus oleh Gusti Puteri Retna Wilis untuk mengantar Paduka dengan kereta sampai di kaki Wilis, kemudian hamba bertiga disuruh meninggalkan kereta. Akan tetapi, hamba tidak tega meninggalkan Paduka di sini, Gusti. Dan, jika kiranya Paduka sudi mengampuni hamba bertiga kakak beradik, hamba ingin bersuwita (menghamba) kepada Paduka, ingin mengiringkan Paduka kembali ke Panjalu. Hamba tidak sanggup lagi menjadi kawula Wilis yang ternyata menyeleweng daripada kebenaran, Gusti."

Endang Patibroto menarik napas panjang dan menghapus air matanya. "Kehendak Hyang Widdhi Wisesa tak dapat diubah dan dibantah. Retna Wilis telah menyeleweng jauh sekali setelah dia menjadi murid Nini Bumigarba dan memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia. Kalian bertiga telah mengalami dan melihat perkembangan semenjak dia lahir di puncak Wilis sampai dia diculik Nini Bumigarba. Aduh, Kakang Limanwilis.... apakah yang harus kulakukan....?" Endang Patibroto menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangannya.

Tiga orang tokoh Wilis itu memandang bekas junjungan mereka dengan muka keruh, penuh keharuan. Belum pernah selama mereka menghamba kepada wanita sakti ini yang terkenal keras hati, mereka melihat wanita ini menangis seperti itu.

"Duh, Gusti Puteri Endang Patibroto. Memang sesungguhnyalah Sang Hyang Widdhi tak dapat diubah dan dibantah, karena itu manusia hanya dapat menyerahkan kepada kekuasaanNya. Akan tetapi, manusia berwenang untuk berusaha dan berikhtiar. Kalau Paduka suka menurut anjuran hamba, lebih baik Paduka hamba antar kembali ke Panjalu dan melaporkan hal ini kepada Kerajaan Panjalu."

Endang Patibroto mengangguk, lalu memasuki kereta kembali. Tiga orang kakek itu pun naik ke atas kereta seperti tadi dan kuda-kuda yang telah dipasang di depan kereta sebelum mereka naik, dijalankan melaju ke timur.

"Andika bertiga belum tahu, Kakang Wilis. Suamiku, ayah Retna Wilis adalah Ki Patih Tejolaksono di Panjalu."

"Ahhh.....!!" Tiga orang itu mengangguk-angguk.

Tentu saja mereka sudah mendengar akan nama Tejolaksono, seorang tokoh yang memiliki kesaktian lebih tinggi daripada Endang Patibroto sendiri. Ibunya seorang wanita yang tiada bandingnya, ayahnya seorang tokoh sakti di kedua Kerajaan Panjalu dan Jenggala, gurunya seorang nenek sesakti iblis sendiri, pantas saja Retna Wilis menjadi seorang dara yang hebatnya sampai mengerikan hati para jagoan Wilis ini!

********************

Dengan sikap yang amat gagah, Retna Wilis berdiri di tempat yang menonjol tinggi. Di bagian bawah, memenuhi lereng sekitar puncak, berkumpullah ribuan orang perajurit Wilis yang sudah bergabung dengan sebagian rakyat dari daerah-daerah yang sudah ditaklukkan.

"Para perajuritku yang setia!" Suara dara itu melengking tinggi dan dapat terdengar sampai jauh sehingga perajurit yang berdiri paling belakang dapat mendengar dengan jelas. "Karena Ponorogo menentang kekuasaan kerajaan kita, kini tiba saatnya bagi kita untuk menggempur Ponorogo! Kita harus dapat membuktikan bahwa Kerajaan Wilis adalah kerajaan terbesar di seluruh jagat!"

Sorak-sorai gegap-gempita, menyambut ucapan Retna Wilis ini. Setelah semua persiapan dilakukan, berangkatlah barisan besar ini turun dari lereng Wilis, dipimpin oleh Retna Wilis yang didampingi oleh Patih Adiwijaya. Biarpun kehilangan pembantu-pembantu yang pandai, yaitu Ki Walangkoro yang tewas di tangan Endang Patibroto, juga Lembuwilis dan kedua orang adiknya yang tidak kembali ke Wilis ketika mengantar Endang Patibroto turun dari puncak, namun sedikit pun Retna Wilis tidak menjadi gentar.

Melihat sikap dara ini, Adiwijaya yang tadinya merasa ragu-ragu apakah mereka akan dapat menundukkan Ponorogo yang terkenal memiliki barisan kuat dan banyak orang sakti, menjadi besar hati dan yakin bahwa di bawah pimpinan seorang seperti Retna Wilis, mereka akan dapat mengalahkan Ponorogo.

Mula-mula Retna Wilis tidak mau menunggang kuda. Semenjak kecil ia belum pernah naik kuda dan ketika menjadi murid Nini Bumigarba di pantai Taut, yang biasa dijadikan binatang tunggangan hanyalah seekor kura-kura raksasa! Akan tetapi Adiwijaya menasehatinya,

"Paduka pada saat seperti ini merupakan panglima besar barisan Wilis. Bagaimanakah seorang panglima memimpin bala tentaranya dengan berjalan kaki. Hal ini akan merendahkan nama Paduka, Gusti." Karena nasehat ini, terpaksalah Retna Wilis menunggang seekor kuda putih dan biarpun ia tampak makin gagah mengagumkan, namun sesungguhnya ia merasa kurang leluasa harus menunggang kuda. Akan tetapi setelah menunggang sehari lamanya, ia mulai terbiasa dan merasa lebih enak, sungguhpun ia akan seribu kali memilih jalan kaki dalam menghadapi lawan daripada di punggung seekor kuda.

Sementara itu, Kadipaten Ponorogo yang tentu saja tidak sudi tunduk terhadap perintah Retna Wilis yang amat hina, sudah pula melakukan persiapan untuk berperang. Barisan-barisan telah disiapkan, bala bantuan sudah datang, hanya bantuan dari Panjalu yang belum datang karena Ki Patih Tejolaksono menahan pengiriman bantuan pasukan ke Ponorogo, menanti kembalinya Endang Patibroto yang hendak mencegah puterinya melakukan penyerbuan-penyerbuan yang merupakan pemberontakan itu.

Di Ponorogo telah berkumpul orang-orang sakti untuk membantu perjuangan kadipaten ini menghadapi ancaman Kerajaan Wilis yang baru sekali itu mereka dengar. Akan tetapi para orang sakti ini tidak lagi berani memandang rendah dara remaja yang kabarnya menjadi ratu di Wilis ketika mereka mendengar sendiri dari mulut Panembahan Ki Ageng Kelud betapa saktinya dara itu di waktu masih kecil dahulu. Apalagi ketika mendengar bahwa dara itu adalah murid Nini Bumigarba, tengkuk mereka meremang dan tahulah mereka bahwa bukan hanya Ponorogo yang terancam, juga nyawa mereka sendiri. Akan tetapi, sebagai orang-orang berilmu yang membela kebenaran, mereka tidak merasa gentar dan siap menghadapi lawan.

Bentrokan pertama antara kedua pasukan Ponorogo dan Wilis terjadi di tapal batas. Ternyata oleh barisan Wilis bahwa ketenaran nama barisan Ponorogo memang tidak kosong belaka. Semenjak bentrokan pertama, pasukan-pasukan Ponorogo mengadakan perlawanan sengit dan mereka itu selain memiliki anak buah yang kuat-kuat dan pantang mundur, juga dipimpin oleh perwira-perwira yang berpengalaman dan pandai mengatur barisan.

Untung bagi bala tentara Wilis bahwa di pihak mereka ada Ki Patih Adiwijaya. Seperti telah diketahui, patih ini adalah seorang perajurit kawakan yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam perang. Pernah menjadi perwira Jenggala, menjadi panglima Blambangan, kemudian menjadi patih di Jenggala pula. Maka Patih Adiwijaya dapat mengimbangi siasat perang pihak lawan. Adapun untuk pertandingan perang campuh itu sendiri, semua perajurit Wilis menjadi besar hatinya menyaksikan sepak terjang ratu mereka, Retna Wilis...

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 44

Perawan Lembah Wilis Jilid 43

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 43

Ki Patih Tejolaksono baru saja kembali dari Jenggala bersama kedua orang isterinya dan dengan Bagus Seta. Setelah kekacauan di Jenggala dapat ditundukkan, Pangeran Panji Sigit diangkat menjadi raja di Jenggala dan pesta perayaan untuk menobatkan raja baru ini dimeriahkan dengan pesta pernikahan antara Joko Pramono dengan Pusporini. Joko Pramono diangkat menjadi patih di Jenggala!

Setelah pesta selesai, Joko Pramono yang menjadi patih tinggal di Jenggala, di kepatihan. Permaisuri Jenggala yang tadinya diasingkan, kini kembali ke keraton sebagai ibu suri yang dihormati. Berbahagialah penghidupan Pangeran Panji Sigit yang kini menjadi Prabu Jenggala bersama Setyaningsih yang menjadi permaisurinya dan Joko Pramono yang menjadi patih di samping Pusporini.

"Nah, sekarang barulah lega hatiku," kata Tejolaksono ketika ia bersama Endang Patibroto, Ayu Candra, dan Bagus Seta duduk di ruangan belakang kepatihan Panjalu. Tejolaksono menghela napas panjang dan kelihatan gembira sekali. "Setelah urusan di Jenggala beres, lapang dadaku dan kehidupan keluarga kita akan aman dan tenteram. Hanya sayang, anakku Retna Wilis belum juga dapat diketahui di mana adanya."

Endang Patibroto mengerutkan keningnya. "Setelah keadaan beres, aku sendiri akan pergi mencarinya."

Ayu Candra memegang lengan madunya dan berkata membujuk, "Adinda Endang Patibroto, baru saja kita dapat berkumpul dalam keadaan damai dan tenteram, mengapa engkau hendak pergi lagi? Janganlah, Adinda. Biar nanti kita menyebar orang untuk mencari Retna Wilis. Setelah keadaan aman kembali, kiraku tidak akan begitu sukar lagi mencarinya. Hendaknya Adinda dapat memenuhi permintaanku ini agar keluarga kita dapat berkumpul dan kebahagiaan yang baru sekarang dapat kita kenyam ini tidak akan menjadi hambar."

Endang Patibroto memandang madunya, memandang suaminya dan memang hatinya merasa berat kalau dia disuruh berpisah lagi. Melihat keadaan orang-orang tua itu, Bagus Seta berkata,

"Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu berdua. Bagi mereka yang belum dapat membebaskan diri daripada belenggu dunia ini penuh dengan suka duka. Penuh dengan kedukaan bagi mereka yang mau berduka, dan penuh dengan kesukaan bagi mereka yang mau bersuka. Suka dan duka timbul dari hati pribadi. Suka duka merupakan mata rantai yang sambung-menyambung dan tidak kunjung putus. Kalau kita sudah mau bersuka, kita harus siap untuk menerima duka. Segala peristiwa di dunia ini sudah diatur oleh hukum karma yang menjadi belenggu. Hanya mereka yang sudah sadar dan bebas barulah dapat melenyapkan pengaruh hukum karma atas dirinya. Saya harap Rama dan Ibu berdua suka selalu waspada, di samping ikhtiar, kita harus selalu menyandarkan segalanya kepada kekuasaan Maha Tinggi yang sudah mengatur semuanya. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan, sebaliknya tidak ada pula perpisahan tanpa pertemuan. Karena ada persatuan maka timbul perpisahan, juga persatuan timbul dari perpisahan. Saya percaya akan datang saatnya kita semua bertemu dengan adinda Retna Wilis. Marilah kita sama berprihatin dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa semoga segala kekeliruan-kekeliruan kita diampuni dan semoga kita selalu diperingatkan agar tidak menyeleweng daripada Darma."

Tejolaksono memegang tangan puteranya dan memandang penuh keharuan.
"Ucapanmu memang benar, Puteraku. Akan tetapi, duh puteraku Bagus Seta, engkau masih begini muda akan tetapi seolah-olah sudah menjauhkan duniawi, Bagus Seta, apakah engkau tidak ingin menikmati kesenangan hidup di dunia ini?"

Ayu Candra juga memandang wajah puteranya dengan penuh iba. Ia mengerti akan maksud kata-kata suaminya, juga Endang Patibroto mengerti. Mereka bertiga memandang Bagus Seta yang masih begitu muda akan tetapi yang sudah mencapai taraf hidup seperti pendeta linuwih. Bagus Seta tersenyum menyaksikan pandang mata penuh keprihatinan dan iba dari ketiga orang tua itu.

"Wahai, Kanjeng Rama dan kedua Ibunda yang tercinta! Tentu saja saya dapat menikmati kebahagiaan hidup. Akan tetapi saya tidak ingin karena keinginan menimbulkan kekecewaan dan siapa mengejar kesenangan akan bertemu dengan kesusahan. Betapapun indahnya api, kalau kita sudah tahu bahwa api itu panas membakar, mengapa kita hendak menjangkau dengan tangan? Saya tidak menjauhkan diri dari duniawi, Kanjeng Rama, karena saya sendiri adalah isi duniawi. Kalau sudah menjadi satu, mengapa dicari lagi? Mengapa mengejar bayangan yang menjadi satu dengan badan?"

Tiga orang itu mendengarkan dengan takjub, tak tahu harus berkata apa karena terpesona oleh ucapan-ucapan yang begitu dalam maknanya, yang sukar dimengerti oleh pikiran namun yang dapat menyentuh rasa.

"Duhai Puteraku Bagus Seta. Jawablah dengan sesungguhnya pertanyaanku ini dan aku akan puas sudah. Adakah engkau berbahagia, Anakku?"

Bagus Seta tersenyum lebar, lalu menjawab, "Kanjeng Rama, apakah bahagia itu? Aku tidak butuh akan bahagia itu, Kanjeng Rama."

Mendengar jawaban ini, Tejolaksono seperti diingatkan dan bangkit berdiri dari tempat duduknya, merangkul puteranya dan berkata dengan suara menggetar, "Aduh, Puteraku... jawabanmu mengingatkan aku akan jawaban petani sederhana dahulu itu...! Ah, tentu engkau sudah lupa. Ketika engkau masih kecil, kuajak berburu binatang, di tengah jalan aku bertemu dengan seorang petani di tepi sawah. Ketika kutanya apakah dia berbahagia, dia juga menjawab sepertimu tadi. Tidak membutuhkan bahagia!"

Bagus Seta memimpin tangan ayahnya agar duduk kembali, kemudian ia berkata dengan wajah sungguh sungguh,

"Dan dia itu benar, Kanjeng Rama! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan bahagia! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan apa-apa! Mengapa butuh? Mengapa mengharapkan sesuatu? Mengapa menginginkan sesuatu? Barang apa yang diinginkan memang indah, akan tetapi sekali terdapat akan lenyap keindahannya. Yang tidak membutuhkan sesuatu berarti sudah mendapatkan semuanya, Kanjeng Rama! Adakah manusia yang lebih suci dan lebih bahagia daripada seorang bayi? Karena bayi tidak menginginkan sesuatu, tidak membutuhkan sesuatu, dialah manusia paling bahagia. WAJAR itulah BAHAGIA! HIDUP itulah BAHAGIA! Kalau saya ditanya apakah saya senang atau susah, dengan segala kesungguhan hati saya akan menjawab bahwa saya tidak senang juga tidak susah, tidak duka juga tidak suka. Segala peristiwa yang terjadi adalah wajar dan sudah semestinya. Untuk menghadapi setiap peristiwa, kita dianugerahi akal budi dan pikiran yang boleh kita pergunakan sebagai hak kita: Menghadapi urusan yang tidak benar boleh kita benarkan dengan alat dan panca indera kita, dan ini menjadi kewajiban kita. Kalau ada orang yang suka menikmati kesenangan, boleh saja karena kesenangan yang dapat dinikmatinya itu pun merupakan anugerah, hanya dia pun harus siap pula merasakan kesusahan yang menjadi saudara kembar kesenangannya. Ah, kiranya Kanjeng Rama dan Kanjeng lbu berdua sudah cukup maklum akan pengertian ini, karena saya sendiri pun hanya mengulang saja."

Tejolaksono dan kedua orang isterinya adalah orang-orang yang selain sakti mandraguna, juga sudah banyak mempelajari soal-soal kebatinan, maka tentu saja mereka dapat mengerti ucapan putera mereka itu dan dapat menyelami isinya. Mereka menjadi kagum sekali dan sedikitpun tidak dapat menyalahkan pendirian putera mereka. Dan ternyata kemudian bahwa ucapan putera mereka itu selain mengandung filsafat yang mempunyai makna amat dalam, juga mengandung ramalan atau peringatan yang tepat. Hal ini ternyata ketika tiba utusan dari Ponorogo yang minta bantuan Panjalu karena kadipaten itu terancam oleh Kerajaan Wilis.

"Kerajaan Wilis?" Endang Patibroto berseru kaget ketika mendengar berita itu. "Apa artinya ini? Wilis adalah wilayah Padepokan Wilis, tidak ada kerajaan di sana!"

"Sudah terlalu lama Adinda meninggalkan Wilis, siapa tahu akan perubahan yang terjadi di sana? Akan tetapi kurasa surat dari Adipati Diroprakosa yang ditujukan secara pribadi kepadaku ini akan membuka rahasia itu."

Tejolaksono membaca surat itu, dipandang oleh Bagus seta yang bersikap tenang sekali dan oleh kedua orang isterinya yang memandang dengan rasa ingin tahu benar. Kedua orang wanita itu kaget sekali ketika melihat betapa wajah suami mereka berubah, sebentar pucat dan sebentar merah. Setelah selesai membaca surat itu, terdengar ki patih mengerang perlahan dan kemudian seolah-olah menekan hatinya ia menarik napas panjang dan memandang kedua orang isterinya dengan mata seperti orang bingung.

"Apakah yang terjadi?" Endang Patibroto bertanya.

"Apakah isi surat itu?" Ayu Candra juga bertanya.

"Kalian bacalah sendiri, hanya kuminta agar engkau bersikap tenang dan kuatkan hatimu, Adinda Endang Patibroto."

Endang Patibroto adalah seorang yang berwatak keras dan penuh semangat yang menyala-nyala. Mendengar ucapan suaminya itu, secepat kilat ia menerima surat itu dan membacanya bersama Ayu Candra. Ketika ia membaca penuturan Adipati Diroprakosa yang minta bantuan Tejolaksono karena Ponorogo terancam bahaya hebat dari Wilis yang kini merupakan kerajaan yang dikepalai oleh Ratu Wilis yang bernama Puteri Retna Wilis, wajah Endang Patibroto menjadi merah sekali, sedangkan Ayu Candra membaca dengan wajah pucat, kemudian memandang suaminya dengan mata terbelalak.

"Bedebah nenek siluman itu!" Endang Patibroto mengepal tangannya dengan wajah mangar-mangar (kemerahan). "Dia telah merusak anakku, menyeretnya ke dalam kesesatan!"

"Hemm, harap jangan marah dulu, Diajeng. Kita belum menyaksikannya dengan mata sendiri. Andaikata benar terjadi seperti laporan itu, yaitu bahwa Retna Wilis membentuk kerajaan di Wilis dan hendak menaklukkan seluruh kadipaten dan kerajaan yang ada, tentu ada sebab-sebabnya. Sebaiknya mari kita semua berangkat ke Wilis dan menemuinya. Kurasa setelah bertemu dengan engkau dan aku, setelah mendengar nasehat-nasehat kita, dia akan mengubah kemauannya yang aneh itu."

"Tidak, Kakanda. Biarlah sekarang juga saya berangkat sendiri ke Wilis. Wilis adalah tempatku, dan anak buah di sana semua tunduk kepadaku. Biar kudatangi Retna Wilis dan kubawa dia ke sini!"

Tejolaksono yang belum pernah melihat puterinya, mengangguk-angguk karena dia belum tahu akan watak puterinya itu, akan tetapi melihat watak ibunya, agaknya watak Retna Wilis tidak akan jauh bedanya, tentu keras hati dan keras kepala. Kalau mereka semua datang, mungkin akan menimbulkan rasa malu sehingga bangkit wataknya yang keras dan nekat! Watak Endang Patibroto dahulu juga begitu, kalau dilarang dengan kekerasan, siapapun akan ditantang!

"Bagaimana pendapatmu, puteraku Bagus Seta?"

Biarpun pemuda itu puteranya, namun Tejolaksono maklum bahwa di antara mereka semua, Bagus Seta inilah merupakan orang yang paling boleh diandalkan pendapatnya.

"Ibunda Endang Patibroto benar sekali kalau Ibunda saja yang pergi membujuk adinda Retna Wilis. Ada akibat tentu ada sebabnya, dan perbuatan adinda Retna Wilis membangun kerajaan dan membangkitkan perang tentu ada sebab-sebabnya pula."

Dengan hati tidak karuan rasanya, kemarahan yang ditahan-tahan dan juga kegirangan tersembunyi karena akan bertemu dengan puterinya yang hilang, Endang Patibroto berangkat ke Wilis. Dia melakukan perjalanan cepat dengan menunggang seekor kuda yang besar dan baik. Tidak ada seorang pun pengikut dibawanya karena dalam keadaan seperti itu, Endang Patibroto kembali menjadi seorang pendekar wanita yang perkasa. Biarpun usianya sudah makin tua, sudah empat puluh lima tahun, namun ketika wanita ini menunggang kuda dan membalapkan kudanya ini, wajahnya masih halus tanpa keriput dan kemerah-merahan, rambutnya berkibar panjang dan masih hitam mulus, dari jauh ia tampak seperti seorang wanita muda yang selain cantik jelita, juga gagah perkasa!

Saking hebatnya gelora dalam hatinya mendengar bahwa puterinya yang hilang, yang selama ini membuat hidupnya merana, kini telah kembali ke Wilis dan menjadi ratu yang hendak menaklukkan semua kerajaan, Endang Patibroto tidak lagi mau berhenti untuk mencari berita. Terus saja ia membalapkan kudanya menuju ke gunung Wilis. Hatinya penuh dengan rasa rindu, kegirangan yang bercampur dengan kemarahan sehingga ia lupa pula bahwa kudanya, betapapun baiknya, tidak memiliki daya tahan seperti tubuhnya yang terlatih.

Setelah kudanya itu roboh terguling barulah Endang Patibroto teringat bahwa ia telah membalapkan kudanya selama sehari semalam tanpa henti. ia meloncat ketika kudanya terguling dan melihat bahwa kuda itu tak dapat tertolong lagi. Akan tetapi gairah hatinya membuat ia enggan menghentikan perjalanannya karena kuda ini. Ia menyambar buntalan bekal pakaiannya lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan aji kesaktian herlari secepat kijang.

Dua hari kemudian tibalah Endang Patibroto di kaki gunung Wilis. Hari masih pagi sekali dan dia merasa tubuhnya amat lelah, akan tetapi karena keinginan hatinya untuk segera berhadapan dengan puterinya, ia tidak berhenti dan terus mendaki gunung itu. Ketika ia berlari sampai ke lereng bukit, ia bertemu dengan sepasukan perajurit Wilis. Sungguh sial bagi nasib pasukan yang jumlahnya sepuluh orang ini karena mereka adalah perajurit-perajurit baru yang tidak mengenal Endang Patibroto. Ketika mereka melihat seorang wanita cantik berjalan cepat mendaki lereng, mereka lalu menghadang dan seorang di antara mereka berseru, "Heh, engkau ini wanita dari mana dan siapa berani mendaki lereng Wilis?"

Endang Patibroto memandang penuh perhatian. Ia melihat sepuluh orang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hijau yang gagah, akan tetapi sikap mereka jauh sekali bedanya dengan anak buahnya dahulu. Dahulu ia menanamkan watak satria, melarang keras anak buahnya dengan ancaman hukuman mati bagi anak buahnya yang berani mengganggu wanita. Akan tetapi sepuluh orang ini memandangnya dengan sinar mata penuh nafsu dan gairah. Bahkan yang memimpin pasukan itu menyeringai kepadanya.

"Aku hendak bertemu dengan Ratu Wilis. Kalian ini siapakah?" Endang Patibroto balas tanya tanpa menyebutkan namanya, sikapnya angkuh dan galak.

Mendengar ada orang wanita yang begitu saja hendak bertemu dengan ratu mereka, tanpa menyebut gusti dan sama sekali tidak memperlihatkan sikap menghormat, sepuluh orang itu menjadi marah dan pemimpin mereka tertawa bergelak.

"Wah-wah, dari mana datangnya wanita yang miring otaknya ini? Eman-eman (sayang) sekali, begini cantik jelita kok miring otaknya. Marilah manis, mari kuobati penyakitmu, mari sini, engkau akan terobati dalam pelukanku. Apakah sudah terlalu lama engkau menjanda sehingga kekeringan dan kesepian membuatmu menjadi gila?" Laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak meraih tubuh Endang Patibroto.

Endang Patibroto hanya mengeluarkan suara mendengus "hemmm....!!" kakinya bergerak seperti kilat menyambar dan terdengar suara "krekkk!" disusul menjeritnya laki-laki itu karena tulang lengannya patah-patah dan remuk di bagian yang dicium kaki Endang Patibroto!

"Aduh tanganku.... lenganku!" Laki-Iaki itu mengeluh dan memegangi lengan kanannya dengan tangan kiri.

"Keparat, mampuslah!" Endang Patibroto membentak dan kembali tubuhnya bergerak, kini jari tangannya yang menyambar dengan tempilingan keras ke arah kepala orang itu.

"Prokk!" Kepala itu remuk dan otaknya muncrat bersama darah, tubuhnya terkulai tak bernyawa lagi!

Melihat ini, sembilan orang anak buah pasukan itu menjadi marah bukan main. Mereka membentak, "Perempuan gila!" Dan mereka telah menerjang maju dengan senjata golok mereka.

Endang Patibroto menjadi makin marah. Sebenarnya wanita ini sudah banyak berubah semenjak ia berdekatan dengan suaminya, Ki Patih Tejolaksono. Wataknya yang keras sudah agak jinak, dan kalau saja ia tidak berada dalam keadaan begitu marah terhadap puterinya, kiranya ia akan dapat mengampuni orang-orang ini. Akan tetapi ia sedang marah dan kecewa mendengar tentang puterinya, apalagi ketika melihat kenyataan betapa anak buah puterinya begini buruk wataknya, kemarahannya terhadap puterinya memuncak dan ia timpakan semua kepada orang-orang sial itu. Melihat mereka maju dengan golok terhunus, ia mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya berkelebat menyambar-nyambar dan terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika tubuh Sembilan orang itu berturut-turut roboh dengan kepala pecah semua dan tewas di saat itu juga.

Betapa mereka dapat bertahan menghadapi tamparan-tamparan yang mengandung Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila itu? Tubuh orang itu mati dalam keadaan utuh, akan tetapi kepalanya hancur semua sehingga sukar untuk mengenal mereka lagi. Darah dan otak mengotori rumput-rumput hijau dan keadaan di situ sungguh amat mengerikan.

Munculnya pasukan lain yang lebih besar, ada tiga puluh orang jumlahnya, membuat Endang Patibroto menjadi lebih beringas lagi. Kalau perlu, akan dibasminya semua orang-orang yang mencemarkan nama Wilis ini! Dia sudah meloncat ke depan dan berseru, "Manusia-manusia biadab, majulah kalian semua! Saat ini adalah saat kematian kalian semua!"

Tiba-tiba seorang di antara mereka berseru, "Gusti Puteri Endang Patibroto....!!" orang itu segera menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh teman-temannya yang segera mengenal wanita sakti itu. Mereka yang tidak pernah melihat Endang Patibroto karena mereka adalah orang-orang baru, begitu mendengar disebutnya nama ini dan melihat teman-temannya berlutut, segera membuang golok dan berlutut pula. Mereka sudah mendengar bahwa Endang Patibroto adalah pendiri Padepokan Wilis, dan bahkan menjadi ibu dari ratu mereka!

Dengan napas terengah-engah saking marahnya, Endang Patibroto memandang beberapa wajah yang dikenalnya dan ia membentak, "Bedebah kalian semua! Di mana Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis? Hayo suruh mereka cepat menghadap aku di sini!"

Sementara itu dari jarak yang jauh, ada orang yang menonton peristiwa ini dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Kemudian orang ini diam-diam menyelinap di antara gerombolan pohon dan melarikan diri dari tempat itu. Orang ini bukan lain adalah Ki Patih Adiwijaya atau Warutama atau Sindupati! Dari jauh ia mendengar suara ribut-ribut dan dia sudah lari menghampiri. Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, ia merasa seolah-olah jantungnya menjadi beku dan hampir ia terkencing-kencing saking takutnya.

Kebetulan sekali ketiga orang tokoh Wilis yang dulu menjadi pembantu Endang Patibroto, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, berada tidak jauh dari lereng itu. Mendengar suara ribut-ribut mereka cepat berlari menghampiri dan ketika melihat Endang Patibroto berdiri tegak dan didekatnya ada mayat sepuluh orang perajurit Wilis yang kepalanya remuk semua, mereka menjadi pucat dan cepat lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan Endang Patibroto.

"Gusti Puteri....!!"

Melihat ketiga orang bekas pembantunya yang ia pasrahi Padepokan Wilis Endang Patibroto menggigit giginya menahan marah.

"Hemm, apakah yang kalian bertiga telah lakukan? Apakah yang merubah keadaan Wilis? Beginikah kalian menjalankan kewajiban kalian membawa para satria Wilis, menjadi gerombolan-gerombolan manusia biadab?"

Sambil berkata demikian, kaki Endang Patibroto bergerak dan cepat sekali kaki itu sudah menendangi tubuh ketiga orang tokoh Wilis itu sehingga mereka bertiga jatuh bergulingan. Tentu saja Endang Patibroto tidak mempergunakan seluruh tenaga, karena kalau hal ini ia lakukan, tentu ketiga orang itu telah tewas dengan sekali tendang saja. Namun tendangan yang bagi Endang Patibroto perlahan saja itu, bagi ketiga orang saudara Wilis ini merupakan sambaran halilintar yang membuat mereka mengaduh-aduh sambil memegangi kepala mereka.

"Aduh, Gusti Puteri....!" Mereka bersambat.

"Plak-plak-plak!" Kembali Endang Patibroto menendang disusul makian-makiannya, "Kalian semestinya dibunuh! Kalian tidak patut dibiarkan hidup. Keparat kalian, Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis!"

"Aduh tobat....!" Limanwilis mengeluh dan roboh terlentang.

"Ampun, Gusti... ampunkan hamba !" Lembuwilis juga roboh terlentang dan menutupi mukanya seperti orang menangis.

"Aduhhh.... Gusti Puteri.... aduh, bunuh saja hamba" Nogowilis meraung-raung karena hampir tidak kuat menahan rasa nyeri terkena tendangan kedua kalinya ini.

"Memang aku akan bunuh kalian! Aku akan bunuh kalian dengan tendangan ke tiga kalau kalian tidak lekas menceritakan apa yang telah kalian perbuat di sini!"

Tiga orang itu masih mengaduh-aduh karena belum mampu bercerita ketika pada saat itu terdengar bentakan nyaring, "Eh-eh, iblis dari mana berani datang mengacau di sini?"

Endang Patibroto memandang dengan mata beringas. Yang muncul ini adalah ki patih muda dari Wilis, yaitu Ki Walangkoro sendiri. Ketika laki-laki tinggi besar ini melihat seorang wanita menghajar ketiga orang pembantunya dan melihat sepuluh orang anak buahnya menggeletak dengan kepala pecah, melihat puluhan orang perajurit Wilis lainnya berlutut dengan mata terbelalak dan muka pucat ketakutan, ia menjadi marah sekali.

"Setan alas! Engkaulah yang menjadi biang keladi di sini? Engkau kepala di sini, keparat jahanam?" Endang Patibroto memaki dengan suara mendesis-desis saking marahnya.

"Eh-eh, babo-babo si wanita keparat! Berani engkau menghina Ki Walangkoro, patih muda Kerajaan Wilis?" Ki Walangkoro marah sekali dan menerjang maju. Akan tetapi Endang Patibroto tidak menanti dia diserang, karena dia pun sudah menerjang maju memapaki dengan pukulan tangannya, sedangkan tangan yang kiri menangkis lengan lawan.

"Plak-desss...!!"

"Aduhhhh.... !" Ki Walangkoro terjengkang dan menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas.

Memang panas rasa dadanya yang terkena pukulan tangan Endang Patibroto karena wanita sakti ini menggunakan Aji Wisangnolo yang panasnya melebihi kawah Candradimuka!

Kalau saja Ki Walangkoro tidak memandang rendah, tentu dia lebih berhati-hati menghadapi wanita sakti itu. Betapapun hebatnya, terkena pukulan Wisangnolo ia seperti cacing terkena abu panas, menggeliat-geliat dan mengaduh-aduh, sukar untuk bangun kembali sungguhpun kekebalannya telah melindunginya. Kalau ia tidak kebal sekali, tentu telah gosong dadanya dan melayang nyawanya terkena pukulan ampuh itu.

"Aduh, Gusti Puteri, ampunkan hamba.... sesungguhnya, hamba bertiga hanyalah terpaksa. Mula-mula, setelah paduka pergi, kami melakukan tugas seperti yang paduka perintahkan...." Lembuwilis mulai bercerita setelah ia berhasil bangkit dan duduk bersila sambil menyembah-nyembah. "Akan tetapi kemudian muncul Ki Walangkoro ini, kami tidak sanggup melawannya. Kami dikalahkan dan kedudukan di Wilis dia rampas. Padepokan Wilis diganti menjadi Gerombolan Wilis. Kami tidak berdaya...."

Melihat betapa raksasa tinggi besar ini tidak tewas oleh pukulannya. Endang Patibroto percaya bahwa ketiga orang Wilis ini tidak akan mampu menandingi si tinggi besar itu.

"Kemudian bagaimana....?" bentaknya.

"Lalu, aduhhh.... dada hamba...." Limanwilis tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Melihat ini Lembuwilis yang sudah bangkit lalu melanjutkan, "Hamba bertiga dipaksa menjadi anak buahnya. Kemudian, beberapa bulan yang lalu muncullah Gusti Puteri Retna Wilis.... ya.... puteri paduka yang lenyap dulu...."

"Lanjutkan!" bentak Endang Patibroto seolah-olah mendengar pernyataan bahwa Retna Wilis adalah puterinya membuat hatinya tertusuk.

"Beliau telah menjadi seorang yang amat sakti, Gusti. Dengan mudah Ki Walangkoro ditaklukkan, kemudian malah dijadikan patih muda dan sekarang gusti Retna Wilis membangun sebuah kerajaan Wilis...."

cerita silat online karya kho ping hoo

"Hemmm.... keparat ini pun bertanggung jawab!" Endang Patibroto berseru marah, sekali meloncat ia telah berada dekat tubuh Ki Walangkoro yang kini sudah merangkak bangun. Akan tetapi sebelum Ki Walangkoro sempat berdiri, Endang Patibroto mengayun tangannya. Sebuah pukulan dengan Aji Pethit Nogo menyambar kepala bekas pemimpin Gerombolan Wilis.

"Dukkk!" Berkat aji kekabalan yang amat kuat, kepala itu tidak remuk, akan tetapi tubuh itu terpelanting dalam keadaan tidak bernyawa karena pukulan sakti itu menggocang otaknya yang menjadi awut-awutan di dalam kepala. Pada saat itu terdengar seruan-seruan, "Gusti Puteri datang....!"

Endang Patibroto mengangkat mukanya, memandang sesosok tubuh ramping yang datang bagaikan terbang cepatnya. Seorang gadis yang amat cantik, berpakaian serba hijau, gilang-gemilang perhiasan yang terpasang di telinga dan ikat pinggangnya, seorang dara remaja yang luar biasa cantiknya, membuat Endang Patibroto ternganga. Sejenak hatinya penuh kebanggaan, namun segera terganti kepahitan dan kekecewaan.

Yang datang adalah Retna Wilis. ia mendapat laporan seorang anak buahnya bahwa ada orang mengamuk membunuhi perajuritnya. Dengan kemarahan meluap dara ini meninggalkan istana dan berlari cepat menuju ke lereng itu.

"Siapa berani...." Tiba-tiba kata-katanya terhenti dan bagaikan kena pesona ia memandang Endang Patibroto yang berdiri tegak di depannya, kemudian kakinya melangkah maju menghampiri Endang Patibroto.

"Ibu....! Ibu....??" Panggilan pertama amat mesra, penuh kerinduan, panggilan ke dua bernada ragu-ragu dan agak dingin.

"Retna Wilis....!!!" Bentakan Endang Patibroto amat janggal didengar. Mengandung pencetusan rasa rindu, dicampur kemarahan, teguran dan kedukaan.

Retna Wilis memandang ibunya, kemudian pandang matanya bergerak, memandang ke arah tubuh sepuluh orang perajurit yang kepalanya hancur, memandang mayat Ki Walangkoro yang tidak terluka, kemudian melihat kepada tiga orang kakak beradik Wilis yang mukanya bengkak-bengkak dan masih merintih-rintih, kepada para perajurit yang berlutut di depan ibunya, akhirnya ia kembali memandang ibunya.

"Ah, kiranya Kanjeng Ibu yang datang mengamuk. Hemmm, orang-orang sial itu memang patut dibunuh, berani menentang Ibu...."

"Retna Wilis! Apa yang telah kau lakukan disini??"

Retna Wilis yang sudah menghampiri ibunya untuk memeluk, menghentikan langkahnya dan dengan sikap dingin menggerakkan pundaknya. Ibunya datang-datang marah kepadanya dan tidak ada sikap mesra, maka kerinduannya pun menipis dan kegirangannya lenyap.

"Apa yang kulakukan, Ibu? Tidak ada hal yang menyusahkan hatimu telah kulakukan. Bahkan sebaliknya. Anakmu datang sebagai seorang ratu besar yang berhasil menghimpun tenaga dan berhasil menundukkan banyak kadipaten..."

"Retna Wilis! Mengapa engkau menyeleweng seperti ini?"

"Eh, Ibu. Menyeleweng bagaimanakah yang Ibu maksudkan? Aku membentuk kerajaan dan akan kutaklukkan seluruh kerajaan, termasuk Panjalu dan Jenggala! Kelak akulah yang akan menjadi ratu dari seluruh Jawa-dwipa! Dan ibu akan menjadi ibu suri yang disembah-sembah manusia sejagat!"

"Gila! Apakah engkau sudah gila, Retna Wilis? Tidak boleh engkau melakukan hal ini! Ibumu adalah kawula Panjalu dan ayahmu adalah Patih Panjalu. Bagaimana engkau berani memberontak terhadap Panjalu? Engkau tidak boleh melakukan hal ini!"

"Hemm! Siapa yang hendak melarangku, Ibu? Tidak ada orang yang dapat melarangku!"

"Aku yang melarangmu! !"

"Ibu, engkau sungguh tidak adil. Ingatlah semenjak kecil aku Ibu bawa lari dalam kandungan sampai besar di Wilis ini, jauh dari ayah yang tidak memperdulikan nasib kita. Ibu terlunta-lunta, dan bukan itu saja. Aku mendengar riwayat Ibu sebagai mantu Jenggala yang disia-siakan, dimusuhi oleh Kerajaan Jenggala dan Panjalu, difitnah, bahkan pangeran yang menjadi suami ibu dibunuh! Ibu telah dihina dan dibikin sengsara hidup Ibu, dan Ibu masih mau menjadi kawula Panjalu? Apakah kita ini kalah oleh keluarga Kerajaan Panjalu dan Jenggala? Apakah kita harus merangkak-rangkak di depan ayah yang telah menyia-nyiakan Ibu? Tidak, seribu kali tidak! Aku berhasil mendapatkan ilmu, dan ilmu ini akan kupergunakan untuk membalas dendam penderitaan Ibu. Akan kutaklukkan Panjalu dan Jenggala. Akan kupaksa ayah bertekuk lutut di depan ibu. Akan kuangkat Ibu menjadi ibu suri yang dimuliakan orang sejagat! Akan..."

"Cukup omongan gila itu! Retna Wilis, anak siapakah engkau?"

"Anak Ibu, tentu saja kalau Ibu mau mengakuinya."

"Hemm, kalau engkau masih ingat bahwa engkau adalah anakku, engkau harus mentaati perintahku! Mulai hari ini juga, bubarkan Gerombolan Wilis ini, bubarkan kerajaanmu dan engkau ikutlah bersamaku ke Panjalu, bertemu dengan ayahmu, berkumpul dengan semua keluarga. Tahukah engkau bahwa bibimu Setyaningsih kini telah menjadi ratu di Jenggala? Dia telah menjadi permaisuri raja di Jenggala! Dan kita semua sekeluarga akan menjadi satu, betapa bahagianya, Nak..." Leher Endang Patibroto serasa tercekik oleh keharuan ketika ia mengeluarkan ucapan ini. Akan tetapi Retna Wilis tersenyum pahit dan menggeleng kepalanya.

"Tidak, Ibu. Aku tidak sudi mengemis-ngemis anugerah orang lain. Aku tidak sudi membonceng kemuliaan orang lain. Sebaiknya kalau Ibu merestui cita-citaku dan ikut membantuku. Ingat, Ibu. Dahulu Endang Patibroto merupakan tokoh wanita tanpa tanding. Kalau kini Endang Patibroto bergerak di samping puterinya, Retna Wilis, kutanggung dunia ini akan berada di telapak tangan kita!"

"Dan engkau hendak melawan dan menentang ayahmu yang menjadi patih di Panjalu? Menentang bibimu yang menjadi permaisuri di Jenggala?"

"Kalau perlu, apa boleh buat. Aku akan terpaksa melawan dan menundukkan siapa saja yang menentangku, yang menghalangi cita-citaku."

"Anak durhaka, kalau begitu, apakah engkaupun hendak menentang aku?" Endang Patibroto sudah mulai marah lagi.

"Ibu, aku tidak akan menentang siapa saja, apalagi Ibu. Aku hanya melawan siapa pun juga yang menentangku."

"Bagus! Kalau aku melarangmu melanjutkan cita-cita gila ini? Kalau aku, ibumu sendiri, menentangmu? Apakah engkau juga hendak melawan aku?"

Retna Wilis tersenyum dingin sehingga Endang Patibroto sendiri yang biasanya amat digentari orang, kini merasa mengkirik. Senyum puterinya itu amat manis, akan tetapi seperti senyum iblis yang mengandung ancaman maut!

"Tidak ada seorang pun di dunia ini, juga lbu sendiri tidak, yang akan dapat menghalangi cita-citaku, yang akan menghentikkan usahaku menundukkan dunia, kecuali kematian."

"Anak durhaka, kalau begitu aku lebih suka melihat anakku mati daripada melihatnya hidup tersesat!"

"Ibu hendak membunuhku? Tidak akan bisa, Ibu. Ibu takkan dapat menangkan aku. Lebih baik Ibu hidup mulia dan bahagia di sini, kusembah-sembah menjadi junjunganku. Atau kalau Ibu lebih suka menjauhiku, kembalilah saja Ibu kepada suami Ibu, dan harap jangan mencampuri urusanku."

"Bocah iblis! Aku sudah melahirkan engkau, aku pula yang membunuh engkau!" Endang Patibroto membentak dan meloncat maju mengirim serangan maut.

Wanita perkasa ini dengan hati hancur melihat kenyataan betapa anaknya benar-benar telah terpengaruh watak yang aneh dan seperti iblis, dan kalau dibiarkan, tentu akan menimbulkan malapetaka dan terutama sekali akan merusak dan mencemarkan nama baik orang tuanya. Dia mengenal puterinya dan tahu bahwa bujukan-bujukan takkan berhasil lagi kalau Retna Wilis sudah mengambil keputusan seperti itu. Daripada melihat puterinya yang tercinta menyeleweng, menjadi pemberontak, mengacaukan kerajaan-kerajaan, menimbulkan malapetaka dan pembunuhan-pembunuhan akibat perang yang ditimbulkan, mendatangkan kedukaan kepada semua keluarga, lebih baik ia melihat puterinya itu mati di depan kakinya sendiri.

Karena ia dapat menduga bahwa sebagai murid Nini Bumigarba, puterinya ini tentu memiliki kesaktian yang luar biasa, maka sekali menyerang Endang Patibroto sudah meloncat dengan gerakan Bayutantra dan tangan kanannya yang terbuka telah menampar muka Retna Wilis dengan Aji Gelap Musti.

"Plakkk!"

Pipi kiri Retna Wilis yang berkulit halus itu kena ditampar karena memang dara perkasa ini sama sekali tidak mengelak, hanya mengerahkan kekuatan saktinya melindungi kepalanya. Akan tetapi ia tidak roboh, hanya bergoyang sedikit. ia telah menerima tamparan sakti ibunya itu dengan mata terbuka, berkedip pun tidak. Bibirnya sedikit pecah ujungnya sehingga meneteslah darah dari ujung mulut.

"Retna Wilis.... Anakku....!" Endang Patibroto menjerit dan menubruk puterinya, merangkul, menciumi muka anaknya, mencium beberapa tetes darah yang menitik di pipi itu. "Retna Wilis.... ah, betapa engkau menyiksa hati ibumu! Anakku, mengapa engkau tidak mentaati permintaan ibumu? Marilah, Angger, anakku bocah ayu, marilah engkau ikut bersama ibumu....!"

Dua titik air mata menetes dari sepasang mata Retna Wilis. Akan tetapi mulutnya tersenyum dingin dan biarpun ia dipeluk dan dibelai, diciumi ibunya, ia tetap tenang, hanya mengelus pundak ibunya.

"Ibu, mengapa pula ibuku sendiri yang hendak menghalangi cita-citaku? Mengapa Ibu hendak merusak kebahagiaanku?"

"Engkau keliru, Retna. Cita-cita itu tidak akan membawamu kepada kebahagiaan, melainkan kesengsaraan karena pelaksanaannya akan menimbulkan bencana hebat. Kebahagiaanmu adalah bersama ibumu, bersama ayah dan keluargamu. Marilah Retna, percayalah bahwa ibu menentang kehendakmu ini demi cintanya kepadamu. Marilah, Anakku, sebelum terlambat..."

"Tidak Ibu. Terserah penilaian Ibu, akan tetapi aku tetap akan melanjutkan cita-citaku ini."

Perlahan-lahan Endang Patibroto melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. ia terisak menahan tangis, memandang tajam lalu berkata lirih,

"Kalau begitu, sebelum engkau menyebar kematian di antara manusia-manusia yang tidak berdosa, lebih dulu kau bunuhlah ibumu ini!"

Endang Patibroto kini sudah marah kembali, kemarahan yang bercampur dengan putus asa. Hatinya sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk keris. Anaknya yang begini cantik jelita, begini gagah perkasa, begini sakti sehingga tamparan Gelap Musti diterimanya tanpa berkedip dan hanya membuat ujung bibirnya berdarah sedikit. Betapa akan bangga hatinya, betapa akan bahagia hatinya kalau dapat menuntun anaknya ini dan memperkenalkannya kepada ayah anak ini, Ki Patih Tejolaksono. Akan tetapi kenyataannya adalah sebaliknya, amat pahit dan menyakitkan hatinya.

"Ibu, lebih baik Ibu pulang kembali saja ke Panjalu." Retna Wilis berkata dan sikapnya dingin sekali.

"Engkau atau aku harus mati di sini!" Endang Patibroto membentak dan kini ia maju menyerang sambil mengeluarkan pekik dahsyat.

Wanita ini telah mengeluarkan Aji Sardulo Bairowo dan pekiknya melengking tinggi menggetarkan permukaan lembah gunung Wilis. Semua anak buah Wilis yang berdatangan di tempat itu, terkejut mendengar pekik ini, jantung mereka tergetar dan mereka yang tidak kuat sudah jatuh berlutut dengan tubuh menggigil, yang agak kuat masih berdiri dengan muka pucat dan mata terbelakak memandang ibu dan puterinya yang hebat itu.

Pekik Sakti Sardulo Bairowo sama sekali tidak mempengaruhi Retna Wilis, dan melihat pukulan ibunya yang amat hebat dan ampuh menghantam kepalanya, Retna Wilis menggerakkan lengan menangkis. Dua lengan yang sama halusnya bertemu dahsyat dan akibatnya tubuh Endang Patibroto terpelanting! Wanita perkasa itu mendengus marah dan penasaran, meloncat bangun dan menerjang kembali. Retna Wilis yang maklum akan kesaktian ibunya, sudah mengerahkan aji kesaktiannya ke dalam kedua lengannya, lalu menangkis kembali. Dan sekali lagi tubuh ibunya terpelanting. Namun Endang Patibroto sudah bangkit dan menyerang lagi. Wanita yang hancur hatinya ini sudah mengambil keputusan nekat untuk mengadu nyawa dengan anaknya. Ia menyerang secara bertubi-tubi.

Retna Wilis hanya mengelak dan setiap kali ia menangkis ibunya tentu terguling, akan tetapi tidak pernah ia balas memukul ibunya. Pertandingan ini berjalan seru dan lama sekali, akan tetapi setiap kali bertemu lengan, selalu Endang Patibroto yang terguling roboh. Makin lama Endang Patibroto menjadi makin penasaran dan marah, akhirnya ia menjadi mata gelap. Sambil menyerang, ia melepaskan banyak panah tangan yang menyambar seperti kilat cepatnya menuju tubuh anaknya. Retna Wilis mengeluarkan suara pekik melengking dan semua anak panah yang mengenai tubuhnya runtuh, tidak sebatang pun dapat melukai kulitnya!

"Ibu takkan menang melawanku, lebih baik ibu pergi."

"Anak durhaka!" Endang Patibroto menyerang lagi, kini pukulan Wisangnolo yang ia pergunakan amat dahsyatnya karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya.

Retna Wilis mendorongkan tangannya memapaki telapak tangan ibunya.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Desss!!" Dua tenaga mujijat bertemu dan terdengar Endang Patibroto mengeluarkan rintihan lirih dan tubuhnya yang terguling lagi tak dapat bangun kembali karena ia telah roboh pingsan, tergetar oleh hawa pukulannya sendiri yang membalik ketika terbentur hawa sakti dari tangan Retna Wilis.

Sejenak Retna Wilis berdiri termangu memandang tubuh ibunya. Ia menggunakan ujung baju menghapus keringat di dahinya. Ibunya adalah seorang lawan yang tangguh dan andaikata dia tidak memiliki tenaga sakti yang hebat, tentu dia sendiri sudah terluka parah di sebelah dalam tubuhnya. Perlahan-lahan dihampirinya tubuh ibunya, dipondong dan diangkatnya, dipeluk dan diciumnya dahi ibunya dengan kemesraan seorang anak kepada ibunya. Akan tetapi ia segera menekan perasaan dan pandang matanya berubah dingin kembali ketika ia berkata memerintah.

"Keluarkan kereta, dan antarkan ibu ini turun gunung. Tinggalkan kereta di bawah kaki gunung."

Perintah ini ia tujukan kepada Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis. Biarpun tiga orang ini masih sakit-sakit tubuhnya akibat tendangan-tendangan Endang Patibroto tadi, mendengar perintah itu cepat mereka bertiga mengambil kereta. Retna Wilis memondong tubuh ibunya, membawanya ke dalam kereta, membaringkan tubuh ibunya di dalam kereta, sekali lagi mencium dahi ibunya dan berbisik lirih, "Ibu !" kemudian ia turun dari kereta memberi isyarat kepada ketiga orang tokoh Wilis itu untuk berangkat.

Lembuwilis dan Nogowilis duduk mengendarai kuda penarik kereta, sedangkan Limanwilis yang tertua duduk menjaga Endang Patibroto di dalam kereta, kemudian kereta pun berangkat menuruni gunung Wilis. Retna Wilis berdiri tegak memandang, dua titik air mata menetes turun. Akan tetapi setelah menghela napas ia lalu menghapus air matanya, memutar tubuhnya memandang anak buahnya yang berlutut dan berkata, "Mulai hari ini, siapkan semua pasukan. Hei...!! di mana Paman Patih??"

Tak seorang pun di antara para anak buah Wilis tahu kemana perginya Patih Adiwijaya.

"Mungkin gusti patih sedang melakukan pemeriksaan di perbatasan, Gusti Puteri!" akhirnya terdengar jawaban seorang perwira.

"Biarlah, kalau sudah datang suruh ia menghadap. Beritahukan kepada semua pasukan agar berkumpul, juga kerahkan seluruh rakyat yang sudah takluk untuk siap membantu gerakan kita. Secepatnya kita akan menyerbu Ponorogo!"

Para anak buah Wilis bersorak gembira. Penyerbuan ke suatu tempat berarti perang, dan perang berarti pula kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan-kesempatan bagi mereka untuk menikmati kesenangan, selain membunuh musuh di bawah pimpinan orang-orang sakti, juga kesempatan itu dapat mereka pergunakan untuk memperoleh barang-barang berharga dan wanita-wanita cantik.

Di bawah sorak-sorai anak buahnya, Retna Wilis lalu lari naik ke puncak, memasuki taman sari yang baru saja dibangun, kemudian menjatuhkan diri ke atas bangku di tengah-tengah taman sari. Air matanya deras mengucur. Setelah berada seorang diri, tak dapat ia menahan kekecewaan dan kedukaan hatinya mengenangkan sikap ibunya. Ia menangis dan akhirnya karena tekanan batin dan kelelahan, ia tertidur pulas di atas bangku taman sari, kedua pipinya masih basah air mata.

Sehari semalam Retna Wilis tertidur di taman itu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia terbangun dengan isak tertahan. Ia melihat Patih Adiwijaya duduk bersila tak jauh dari bangku sambil menundukkan muka.. Wajah orang tua ini kelihatan berduka. Retna Wilis bangkit duduk dan baru tahu ia bahwa tubuhnya telah diselimuti jubah luar patihnya.

"Paman Adiwijaya, ah, aku tertidur di sini...." suaranya masih mengandung isak, "berapa lama aku tertidur?" ia menyerahkan kembali jubah luar patihnya.

"Duh Gusti Puteri yang malang. Paduka tertidur semenjak kemarin siang."

"Kenapa engkau tidak membangunkan aku, Paman?"

Patih itu memandang wajah Retna Wilis dengan pandang mata penuh iba hati dan prihatin. "Hamba baru pulang siang kemarin dari memeriksa keadaan penjagaan di tapal batas timur, untuk mendengarkan gerak-gerik Ponorogo. Baru hamba mendengar akan kunjungan Ibunda Paduka dan....ah, sungguh kasihan sekali Paduka, Gusti. Hamba.... ikut berduka dengan peristiwa yang menyedihkan itu...."

Retna Wilis tersenyum, memandang pembantunya itu dengan sinar mata berterima kaksih.

"Dan semenjak kemarin siang, engkau menungguku di sini?"

"Hamba tak berani membangunkan Paduka yang tidur pulas sambil kadang-kadang terisak. Ampunkan hamba yang berani menyelimuti Paduka dan hamba menjaga di sini, menanti Paduka terbangun."

Retna Wilis mengulurkan tangan dan menyentuh pundak patihnya.
"Paman, engkau baik sekali. Agaknya engkaulah orang yang paling baik terhadap diriku. Adapun ibuku.... ah, benar-benar aku bingung, Paman."

"Mengapa Paduka bingung? Hendaknya Paduka tenang karena setelah hamba mendengar akan semua peristiwa, hamba merasa yakin akan kebenaran paduka. Setiap manusia di dunia ini berhak untuk mencari kemuliaan, apalagi seorang sakti mandraguna seperti paduka. Hanya si manusia sendiri yang akan dapat menentukan nasib hidupnya. Paduka benar, dan hamba bersumpah untuk bersetia, untuk membela dan membantu paduka dengan taruhan nyawa hamba." Ucapan ini keluar dari hati nurani Adiwijaya karena entah bagaimana, baru sekali ini selama hidupnya ia mencinta seseorang, mencinta yang sungguh-sungguh murni, bukan cinta nafsu, melainkan cinta seorang ayah terhadap puterinya. ia merasa kagum akan kesaktian dara ini, merasa kagum akan kecantikannya, dan timbullah rasa sayang dan setia yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.

"Terma kasih, Paman. Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu."

"Aduh Gusti Puteri Retna Wilis yang bijaksana dan sakti mandraguna. Hamba hanyalah seorang yang rendah, hamba seorang yang penuh dosa, hamba seorang yang banyak dimusihi orang lain, seorang yang jahat dalam pandangan orang lain."

"Bagiku, engkau seorang yang baik, dan itu bagiku sudah cukup. Aku tidak perduli pendapat orang lain."

"Mungkin ibunda paduka pun menganggap hamba seorang jahat, Gusti."

"Hemm, mengapa, Paman?"

"Mungkin.... hamba disangka sebagai orang yang membujuk-bujuk paduka..."

"Ah, biarlah. Biar andaikata ibuku sendiri membencimu dan menganggapmu orang jahat, aku tetap menganggapmu seorang baik. Sekarang, Paman. Siapkan bala tentara kita. Kita serbu Ponorogo, terus ke timur."

"Terus menyerbu Jenggala, Gusti?" tanya Adiwijaya penuh gairah.

"Benar, Paman. Ke Jenggala! Kita tundukkan Jenggala secara baik-baik, mengingat bahwa yang menjadi raja di sana adalah Paman Pangeran Panji Sigit, dan permaisurinya adalah Bibi Setyaningsih, adik ibu sendiri. Kalau mereka menghadapi kita dengan kekerasan, terpaksa akan kutundukkan Jenggala dengan kekerasan pula. Setelah itu, baru kita menengok ke Panjalu!"

"Balk sekali, Gusti. Hamba siap dan sekarang juga hamba akan mengumpulkan seluruh barisan Wilis!" kata Adiwijaya penuh kegembiraan.

Sementara itu, jauh dari puncak Wilis, di sebelah timur kaki gunung Wilis, sebuah kereta berhenti di dalam sebuah hutan. Limanwilis, Lembuwilis, dan NogoWilis duduk di atas tanah bersila dan tak bergerak seperti arca. Tadi mereka menghentikan kereta, melepaskan kuda yang mereka biarkan makan rumput, kemudian mereka duduk menanti di bawah kereta.

Retna Wilis, dan juga Ki Walangkoro sendiri, ternyata hanya dapat mempengaruhi Lembuwilis, Limanwilis dan Nogowilis untuk sementara saja. Mereka bertiga ini tunduk karena terpaksa dan tidak berani melawan. Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, hati ketiga orang ini tergetar dan watak baik mereka yang sudah lama dipupuk oleh Endang Patibroto selama wanita itu memimpin Padepokan Wilis, bangkit kembali. Mereka merasa terharu sekali, apalagi menyaksikan nasib bekas junjungan mereka yang amat menyedihkan. Memang harus diakui bahwa sebelum menjadi anak buah Endang Patibroto, tiga orang ini adalah tokoh-tokoh Wilis yang bekerja sebagai perampok. Namun, kekejaman hati mereka sudah menipis oleh gemblengan-gemblengan Endang Patibroto dan kini menyaksikan kekejaman hati Retna Wilis yang tega melawan ibunya sendiri, mereka menjadi penasaran dan di dalam hati, mereka berpihak kepada Endang Patibroto.

Begitu siuman dari pingsannya, Endang Patibroto teringat akan puterinya dan ia mengerang, lalu menangis tersedu-sedu. Sampai lama ia menangis, kemudian baru ia mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah kereta yang berhenti. Cepat ia meloncat keluar dari dalam kereta dan melihat Limanwilis dan kedua orang adiknya duduk bersila dengan kepala tunduk.

"Eh, kalian bertiga mengapa berada di sini?"

Limanwilis menyembah dan berkata, "Hamba bertiga diutus oleh Gusti Puteri Retna Wilis untuk mengantar Paduka dengan kereta sampai di kaki Wilis, kemudian hamba bertiga disuruh meninggalkan kereta. Akan tetapi, hamba tidak tega meninggalkan Paduka di sini, Gusti. Dan, jika kiranya Paduka sudi mengampuni hamba bertiga kakak beradik, hamba ingin bersuwita (menghamba) kepada Paduka, ingin mengiringkan Paduka kembali ke Panjalu. Hamba tidak sanggup lagi menjadi kawula Wilis yang ternyata menyeleweng daripada kebenaran, Gusti."

Endang Patibroto menarik napas panjang dan menghapus air matanya. "Kehendak Hyang Widdhi Wisesa tak dapat diubah dan dibantah. Retna Wilis telah menyeleweng jauh sekali setelah dia menjadi murid Nini Bumigarba dan memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia. Kalian bertiga telah mengalami dan melihat perkembangan semenjak dia lahir di puncak Wilis sampai dia diculik Nini Bumigarba. Aduh, Kakang Limanwilis.... apakah yang harus kulakukan....?" Endang Patibroto menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangannya.

Tiga orang tokoh Wilis itu memandang bekas junjungan mereka dengan muka keruh, penuh keharuan. Belum pernah selama mereka menghamba kepada wanita sakti ini yang terkenal keras hati, mereka melihat wanita ini menangis seperti itu.

"Duh, Gusti Puteri Endang Patibroto. Memang sesungguhnyalah Sang Hyang Widdhi tak dapat diubah dan dibantah, karena itu manusia hanya dapat menyerahkan kepada kekuasaanNya. Akan tetapi, manusia berwenang untuk berusaha dan berikhtiar. Kalau Paduka suka menurut anjuran hamba, lebih baik Paduka hamba antar kembali ke Panjalu dan melaporkan hal ini kepada Kerajaan Panjalu."

Endang Patibroto mengangguk, lalu memasuki kereta kembali. Tiga orang kakek itu pun naik ke atas kereta seperti tadi dan kuda-kuda yang telah dipasang di depan kereta sebelum mereka naik, dijalankan melaju ke timur.

"Andika bertiga belum tahu, Kakang Wilis. Suamiku, ayah Retna Wilis adalah Ki Patih Tejolaksono di Panjalu."

"Ahhh.....!!" Tiga orang itu mengangguk-angguk.

Tentu saja mereka sudah mendengar akan nama Tejolaksono, seorang tokoh yang memiliki kesaktian lebih tinggi daripada Endang Patibroto sendiri. Ibunya seorang wanita yang tiada bandingnya, ayahnya seorang tokoh sakti di kedua Kerajaan Panjalu dan Jenggala, gurunya seorang nenek sesakti iblis sendiri, pantas saja Retna Wilis menjadi seorang dara yang hebatnya sampai mengerikan hati para jagoan Wilis ini!

********************

Dengan sikap yang amat gagah, Retna Wilis berdiri di tempat yang menonjol tinggi. Di bagian bawah, memenuhi lereng sekitar puncak, berkumpullah ribuan orang perajurit Wilis yang sudah bergabung dengan sebagian rakyat dari daerah-daerah yang sudah ditaklukkan.

"Para perajuritku yang setia!" Suara dara itu melengking tinggi dan dapat terdengar sampai jauh sehingga perajurit yang berdiri paling belakang dapat mendengar dengan jelas. "Karena Ponorogo menentang kekuasaan kerajaan kita, kini tiba saatnya bagi kita untuk menggempur Ponorogo! Kita harus dapat membuktikan bahwa Kerajaan Wilis adalah kerajaan terbesar di seluruh jagat!"

Sorak-sorai gegap-gempita, menyambut ucapan Retna Wilis ini. Setelah semua persiapan dilakukan, berangkatlah barisan besar ini turun dari lereng Wilis, dipimpin oleh Retna Wilis yang didampingi oleh Patih Adiwijaya. Biarpun kehilangan pembantu-pembantu yang pandai, yaitu Ki Walangkoro yang tewas di tangan Endang Patibroto, juga Lembuwilis dan kedua orang adiknya yang tidak kembali ke Wilis ketika mengantar Endang Patibroto turun dari puncak, namun sedikit pun Retna Wilis tidak menjadi gentar.

Melihat sikap dara ini, Adiwijaya yang tadinya merasa ragu-ragu apakah mereka akan dapat menundukkan Ponorogo yang terkenal memiliki barisan kuat dan banyak orang sakti, menjadi besar hati dan yakin bahwa di bawah pimpinan seorang seperti Retna Wilis, mereka akan dapat mengalahkan Ponorogo.

Mula-mula Retna Wilis tidak mau menunggang kuda. Semenjak kecil ia belum pernah naik kuda dan ketika menjadi murid Nini Bumigarba di pantai Taut, yang biasa dijadikan binatang tunggangan hanyalah seekor kura-kura raksasa! Akan tetapi Adiwijaya menasehatinya,

"Paduka pada saat seperti ini merupakan panglima besar barisan Wilis. Bagaimanakah seorang panglima memimpin bala tentaranya dengan berjalan kaki. Hal ini akan merendahkan nama Paduka, Gusti." Karena nasehat ini, terpaksalah Retna Wilis menunggang seekor kuda putih dan biarpun ia tampak makin gagah mengagumkan, namun sesungguhnya ia merasa kurang leluasa harus menunggang kuda. Akan tetapi setelah menunggang sehari lamanya, ia mulai terbiasa dan merasa lebih enak, sungguhpun ia akan seribu kali memilih jalan kaki dalam menghadapi lawan daripada di punggung seekor kuda.

Sementara itu, Kadipaten Ponorogo yang tentu saja tidak sudi tunduk terhadap perintah Retna Wilis yang amat hina, sudah pula melakukan persiapan untuk berperang. Barisan-barisan telah disiapkan, bala bantuan sudah datang, hanya bantuan dari Panjalu yang belum datang karena Ki Patih Tejolaksono menahan pengiriman bantuan pasukan ke Ponorogo, menanti kembalinya Endang Patibroto yang hendak mencegah puterinya melakukan penyerbuan-penyerbuan yang merupakan pemberontakan itu.

Di Ponorogo telah berkumpul orang-orang sakti untuk membantu perjuangan kadipaten ini menghadapi ancaman Kerajaan Wilis yang baru sekali itu mereka dengar. Akan tetapi para orang sakti ini tidak lagi berani memandang rendah dara remaja yang kabarnya menjadi ratu di Wilis ketika mereka mendengar sendiri dari mulut Panembahan Ki Ageng Kelud betapa saktinya dara itu di waktu masih kecil dahulu. Apalagi ketika mendengar bahwa dara itu adalah murid Nini Bumigarba, tengkuk mereka meremang dan tahulah mereka bahwa bukan hanya Ponorogo yang terancam, juga nyawa mereka sendiri. Akan tetapi, sebagai orang-orang berilmu yang membela kebenaran, mereka tidak merasa gentar dan siap menghadapi lawan.

Bentrokan pertama antara kedua pasukan Ponorogo dan Wilis terjadi di tapal batas. Ternyata oleh barisan Wilis bahwa ketenaran nama barisan Ponorogo memang tidak kosong belaka. Semenjak bentrokan pertama, pasukan-pasukan Ponorogo mengadakan perlawanan sengit dan mereka itu selain memiliki anak buah yang kuat-kuat dan pantang mundur, juga dipimpin oleh perwira-perwira yang berpengalaman dan pandai mengatur barisan.

Untung bagi bala tentara Wilis bahwa di pihak mereka ada Ki Patih Adiwijaya. Seperti telah diketahui, patih ini adalah seorang perajurit kawakan yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam perang. Pernah menjadi perwira Jenggala, menjadi panglima Blambangan, kemudian menjadi patih di Jenggala pula. Maka Patih Adiwijaya dapat mengimbangi siasat perang pihak lawan. Adapun untuk pertandingan perang campuh itu sendiri, semua perajurit Wilis menjadi besar hatinya menyaksikan sepak terjang ratu mereka, Retna Wilis...

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 44