Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 16

"Bunuh? Kau membunuh aku? Heh-heh-heh! Suamimu inilah yang akan kubunuh. Lihat!" Jokowanengpati kembali menghantam, kali ini ke arah dada Pujo. Kartikosari menjerit, Pujo mengerahkan tenaga dan.....

"Bukkk!" pukulan jatuh dengan hebatnya, rnembuat Pujo sesak bernapas dan mukanya pucat. Akan tetapi ia tidak mati, pingsanpun tidak, hanya menderita nyeri bukan main.

"Ha-ha-ha, akan kubunuh dia perlahan- lahan, kusiksa dia perlahan-lahan, di depan matamu, Kartikosari. Ya, di sini, di depanmu! Akan tetapi, dia harus melihat dulu betapa kau adalah milikkul Heh, Pujo. Katakanlah, ada yang akan kau lakukan kalau aku menggagahi Kartikosari di sini, di depan matamu ?"

"Jokowanengpati, kau bunuhlah aku! Bunuhlah Aku dan kalau perlu, kau bunuh pula isteriku, jangan kau lakukan penghihaan biadab ini!"

Pujo akhirnya mengeluh. Sementara itu, Kartikosari menangis karena wanita inipun maklum betapa kehormatannya terancam penghinaan yang lebih hebat daripada kematian. Betapa ia dan suaminya sama sekaii tidak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa.

"Heh-heh-heh, salah siapa? Kenapa Isterimu begini cantik, begini molek, begini menggairah kan! Dan mengapa kau kebetulan berdiri di tengah jalan menghalangi kesenangan hidupku? Ha-ha, kau akan menyaksikan betapa senangnya aku memiliki tubuh isterimu, kemudian dia akan melihat kau mampus. Aduh, alangkah manis dan nikmatnya pembalasan!"

Jokowanengpati tertawa-tawa berkakakan , Suami isteri itu memandang penuh kengerian dan diam-diam mereka menganggap betapa musuh besar ini telah menjadi gila. Mereka berdua memendam sakit hati bertahun-tahun, mengharapkan pembalasan. Sekarang setelah bertemu dengan musuh besar, mereka tertahan dan si musuh besar ini malah bicara tentang nikmatnya membalas dendam! Siapa sebetulnya yang mendendam?

Kartikosari diam-diam mengambil keputusan untuk tidak melawan, membiarkan dirinya diperhina, bahkan akan diusahakan agar Jokowanengpati mengira dia membalas cumbu rayu dan cintanya, agar orang ini menjadi lengah, kemudian ia akan mencari kesempatan baik untuk mengirim serangan maut! Pujo sendiri sudah putus harapan, tidak tahu bagaimana ia akan dapat menolong isterinya. Kematiannya sendiri yang sudah diambang mata tidak dihiraukan, hanya keadaan isterinya yang membuat ia putus harapan dan risau.

Sepasang suami isteri ini benar-benar sudah merasa putus asa, tidak melihat jalan keluar, hanya dapat menyerahkan nasib di tangan Hyang Widi . Hanya penyerahan bulat inllah yang membuat mereka masih bertahan, dengan hiburan batin bahwa akhirnya toh kematian akan menamatkan segala derita.

Jokowanengpati sudah kelihatan buas. Sambii menyeringai seperti iblis ia sudah menanggalkan bajunya, menanggalkan destarnya. Dibentangnya kainnya di atas lantai, di depan Pujo yang memandang dengan mata terbelalak tanpa cahaya. Semua ini dilakukan oleh Jokowanengpati lambat-lambat, sengaja untuk menyiksa perasaan hati Pujo. Kemudian ia bangkit berdiri, melangkah mendekati Kartikosari sambil berkata, manis-manis buatan, "Marilah, wong ayu...."

Akan tetapi pada saat itu, terdengar orang batuk-batuk dan di depan pintu ruangan itu muncul dua orang pengawal yang memandang ke arah Jokowanengpati dengan wajah serius.

"Setan! Mau apa kalian?" bentak Jokowanengpati, menarik kembali kedua tangannya yang tadi sudah hampir menyentuh tubuh Kartikosari. Wanita itu meramkan kedua matanya dengan tubuh lemas dan isak tertahan.

"Maafkanlah hamba, raden mas, hamba tidak berani mengganggu.... akan tetapi.... perlu melaporkan bahwa menurut penjaga, dua orang tawanan ini tadi datang bersama seorang wanita lagi yang kini entah menghilang kemana."

Seperti disengat kelabang Jokowanengpati memutar tubuhnya serentak memandang Pujo dan Kartikosari. Pujo masih membelalakkan kedua mata penuh kebencian, sedangkan Kartikosari membuang muka ke samping, matanya masih dipejamkan, dadanya yang membusung padat itu bergerak naik turun. Dengan langkah lebar Jokowanengpati mengbadapi Pujo dan membentak,

"Hayo katakan, siapa wanita itu? Dan di mana dia sekarang?"

Pujo tersenyum mengejek. "Hemm, manusia yang diperhamba nafsu macam engkau ini, jokowanengpati, selalu dibayangi rasa cemas akan datangnya hukuman atas perbuatan-perbuatanmu yang terkutuk. Memang takkan meleset lagi, manusia rendah dan hina, hukuman itu akan datang, bagaikan pedang yang selalu tergantung di atas tengkukmu. Tentang wanita itu, kau carilah sendiri!"

"Plak-plak-plak!"

Dalam amarahnya Jokowanengpati menampar dan menghantam muka Pujo sehingga mengucurlah darah dari hidung dan mulut Pujo. Namun sedikitpun Pujo tidak mengeluh, masih tersenyum mengejek dan baru dia mengusap darah itu dari pundak kanan kiri ketika dengan muka keruh, Jokowanengpati melompat keluar ruangan itu.

"Kalian jaga baik-baik mereka, awas, jangan sampai terlepas!" Demikian Jokowanengpati berpesan kepada empat orang penjaga di depan kamar tahanan, kemudian pergi bersama dua orang pelapor tadi untuk mencari wanita yang dikabarkan datang bersama Pujo dan Kartikosari, dan yang katanya hilang tak meninggalkan jejak. Perlu diperiksa seluruh isi kadipaten, pikirnya.

Belum lama Jokowanengpat pergi, sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya menyelinap di tempat gelap mendekati pintu ruangan, kemudian bagaikan halilintar menyambar, tubuhnya bergerak menerjang empat orang penjaga itu, tangannya bergerak dan mata pisau berkilat. Empat orang pengawal yang sama sekali tidak menyangka akan datangnya serangan hebat ini, terkena tusukan di bagian tubuh yang mematikan. Mereka roboh dan berkelojotan, hanya mampu mengeluarkan sedikit suara. Bayangan itu lalu melompat ke dalam kamar dan ternyata dia adalah Roro Luhito yang membawa sebuah pisau belati!

"Oh.... diajeng, syukur kau datang....!"

Kartikosari berseru girang sekali. Memang tadi dia dan suaminya juga mengharapkan pertolongan Roro Luhito, akan tetapi mengingat akan saktinya Jokowanengpati ditambah bantuan para pengawal, rnereka sudah putus harapan karena mereka bersangsi apakah Roro Luhito akan mampu menghadapi Jokowanengpati dan kaki tangannya. Kini puteri ayu itu muncul setelah Jokowanengpati keluar, sungguh amat membesarkan hati.

Pujo juga rnemandang girang, akan tetapi tidak kuasa mengeluarkan kata-kata. Ia hanya terheran-heran melihat bekas air mata di kedua pipi wanita itu, dan tampak betapa kedua tangan Roro Luhito gemetar ketika ia menggunakan pisau belati untuk mengiris putus belenggu yang mengikat kedua lengan dan kaki Pujo dengan isterinya.

Bagaimanakah Roro Luhito tahu-tahu muncul di tempat tahanan rahasia itu? Seperti kita ketahui, puteri adipati ini memasuki kadipaten melalui pintu rahasia yang berada di taman sari. Agaknya Jokowanengpati dan kaki tangannya belum menemukan pintu rahasia ini sehingga ia dapat masuk dengan leluasa tanpa ada gangguan. Biarpun rumah besar itu adalah rumahnya dan sejak lahir sampai enam belas tahun lamanya ia tidak pernah meninggalkan rumah ini, namun Roro Luhito merasa asing. Sudah sepuluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Kini usianya sudah dua puluh enam tahun. Betapa besar rindunya kepada ayah bundanya.

Akan tetapi sekarang ia merasa asing, seakan-akan memasuki rumah orang lain. Hal ini adalah karena ia tidak melihat seorangpun manusia yang dikenalnya dalam rumah itu. Dengan amat hati-hati ia memasuki rumah dan bersembunyi, melihat wajah-wajah pengawal yang asing, melihat wajah pelayan-pelayan wanita muda cantik-cantik yang asing pula.

Celaka, pikirnya. Benar-benar Kadipaten Selopenangkep telah diambil alih dan ke manakah perginya keluarganya? Ke manakah ibunya, ayahnya, isteri-isteri lain dari ayahnya? Kemana perginya kakaknya, Wisangjiwo dan mbakyu iparnya, Listyokumolo?. Dengan hati penuh kegelisahan Roro Luhito lalu menyelinap ke belakang. Ia melihat empat orang wanita muda, dandanannya seperti pelayan, akan tetapi pakaiannya itu baru dan rapi, orangnya masih muda-muda dan cantik, sedang bercakap-cakap sambil terkekeh genit. Roro Luhito mengenal seorang di antara mereka, seorang penari yang seringkali dahulu bermain di pendopo kadipaten. Ia tidak tahu siapa namanya, akan tetapi wajah itu masih diingatnya. Ia menyelinap, mendekat akan tetapi tetap bersembunyi.

"Wah, Lasmini tentu menerima Hadiah hebat dari Raden Mas Joko!" kata seorang di antara mereka yang berkutang kuning.

"Dengan menyuguhkan keponakanmu yang remaja dan cantik itu, tentu hadiahnya besar, kalau tidak engkau sendiri menerima kehormatan melayani radenmas.... hi-hi-hik!"

"Hisshh!" desis yang berkutang biru, yaitu wanita yang dikenal Roro Luhito. "Jangan bicara sembarangan, kau ! Keponakanku itu bocah tak tahu diuntung tidak menurut, menyepak-nyepak meronta-ronta ketika dibawa masuk, sungguh memalukan hatiku dan juga menguatirkan. Jangan-jangan Raden Mas Joko akan marah....."

"Mana bisa marah?" sambung orang ke tiga. "Dik Lasmini agaknya tidak tahu akan kesukaan Raden Mas Joko. Menurut kakangmas Banu..."

"Hi-hik ! Pacarmu yang baru itu, pengawal yang bertugas di luar pintu gerbang, yang kumisnya tebal hidungnya panjang?" orang ke empat memotong.

"Hushh, jangan buka rahasia orang, dong !" seru yang digoda.

"Bagaimana kesukaan Raden Mas Joko?" desak Lasmini.

"Menurut.... eh, kakangmas Banu, justeru bocah yang seperti keponakanmu itulah yang disukai Raden Mas Jokowanengpati, lebih suka yang demikian daripada yang jinak dan penurut. Katanya....... eh, katanya beliau lebih menyukai kuda liar daripada kuda jinak. Entah apa maksudnya, hi-hi-hik!"

Empat orang itu tertawa cekikikan. Muak rasa hati Roro Luhito mendengar percakapan ini, dan kebenciannya terhadap Jokowanengpati makin mendalam. Cepat ia mengambil empat buah batu kerikil, tangannya lalu diayun dan empat orang wanita itu roboh pingsan karena pelipis mereka disambar batu kerikil yang meluncur cepat dan kuat. Di Iain saat, tubuh Roro Luhito sudah berkelebat masuk dan melompat keluar lagi sambil memanggul Lasmini yang masih pingsan. Dengan gerakan laksana burung srikatan, cepat dan trampil, Roro Luhito berlompatan ke dalam taman sari, lalu keluar lagi dari taman sari melalui pintu rahasia, membawa tawanannya ketempat gelap di luar tembok kadipaten.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan bingungnya hati Lasmini ketika ia siuman kembali, tahu-tahu ia telah berada di bawah pohon, di udara terbuka, hanya diterangi bintang dan bulan sepotong. Serasa mimpi ia bangun duduk, dan memandang bengong kepada wanita cantik yang berdiri di depannya. Kini Roro Luhito tahu nama wanita ini, maka segera ia menegur, "Lasmini, masih kenalkah engkau kepadaku?"

Lasmini bangkit berdiri. Rasa nyeri dan takutnya lenyap ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang berdiri di situ adalah seorang wanita pula, seorang manusia, bukan setan.

"Bagaimanakah saya bisa berada di sini? Kepalaku pening tadi dan...."

Ia meraba pelipisnya dan kagetlah ia karena di pelipis kanannya kini tumbuh bisul! .

"Aduhhh.... kenapa pelipisku ini....?"

"Jangan banyak cerewet! Akulah yang merobohkan kau dan tiga orang temanmu tadi. Lihat baik-baik, siapa aku?"

Lasmini kaget, mulai gelisah hati, lalu memandang dan mengingat-ingat.
"Serasa kenal... eh, bukankah andika ini...... Raden Ajeng Roro Luhito... ?"

"Hemm, ternyata engkau masih mengenalku..." kata Roro Luhito, agak terharu.

"Aduh, den ajeng....!" Lasmini lalu menjatuhkan diri, memeluk lutut wanita perkasa itu sambil menangis.

"Diam, tak usah menangis. Mari duduk yang baik dan ceritakan semuanya. 脌p脿 yang terjadi di kadipaten? Dan kemana ayah bunda dan keluargaku semua?"

Lasmini masih menangis terisak-isak, kemudian setelah agak reda ia bercerita. Cerita yang membuat Roro Luhito terkejut bukan main, membuat wajahnya sebentar pucat sebentar merah dan giginya yang putih berkerot saking marahnya. Untung bagi Roro Luhito bahwa ia menculik Lasmini sehingga ia dapat mendengar semua urusan yang terjadi di situ. Lasmini adalah penari muda cantik yang dulu pernah diganggu oleh Cekel Aksomolo, bahkan dikorbankan kepada cekel tua yang mata keranjang itu.

Karena sejak peristiwa itu wataknya lalu berubah genit dan jalang, mudah saja bagi Lasmini untuk menarik perhatian dan ia berhasil menarik hati seorang perwira pasukan kota raja sehingga mendapat kepercayaan dari Jokowanengpati dan dijadikan pelayan. Dari perwira yang menjadi pacarnya itulah Lasmini mendengar akan semua peristiwa yang kini ia ceritakan sambil menangis di depan Roro Luhito. Betapapun juga, karena semenjak kecilnya ia ngenger (mengabdi) Adipati Joyowiseso, ada juga kesetiaan dan keharuan menyelinap di hatinya ketika bersua dengan puteri bekas gustinya itu.

Memang terjadi perubahan besar dalam persekutuan antara Adipati Joyowiseso dan tokoh-tokoh sakti termasuk Jokowanengpati, setelah terjadi perpecahan di kota raja antara Pangeran Sepuh (Tua) dan Pangeran Anom (Muda). Jokowanengpati dan tokoh-tokoh sakti yang tadinya membantu niat berontak adipati ini, melihat kesempatan yang lebih besar untuk kemuliaan di kemudian hari. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan lagi Adipati Joyowiseso setelah mereka diberi kesempatan oleh Pangeran Anom yang pandai mengumpulkan tenaga orang-orang sakti untuk mencapai cita-citanya, yaitu menguasai kerajaan yang diperebutkan dengan kakak tirinya, Pangeran Sepuh.

Melihat ini, Adipati Joyowiseso tentu saja juga menyerahkan diri menghamba kepada Pangeran Anom, akan tetapi dalam perebutan kekuasaan secara diam-diam itu, tenaga sang adipati belum sangat dibutuhkan sehingga adipati ini terdesak oleh Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan yang lain.

Perubahan besar terjadi ketika secara tiba-tiba Wisangjiwo yang tadinya juga menjadi kepercayaan Pangeran Anom membalik dan menghamba kepada Pangeran Sepuh! Hal ini benar-benar mengejutkan dan tidak dimengerti oleh orang lain, juga tidak dimengerti pula oleh Adipati Joyowiseso sendiri. Kejadian aneh ini ada sebabnya, yaitu sejak Wisangjiwo ditangkap oleh Pujo di pantai selatan! Ketika mendapat kesempatan melarikan diri setelah ikatannya dilepaskan oleh Kartikosari, Wisangjiwo diam-diam bersembunyi dan mendengarkan percakapan suami isterl itu.

Alangkah kaget hatinya mendengar akan perbuatan Jokowanengpati yang luar biasa kejinya. Dia sendiripun seorang laki-laki rnata keranjang, akan tetapi tak pernah ia melakukan perbuatan keji seperti yang dilakukan Jokowanengpati. Tahulah ia bahwa Jokowanengpati orang yang telah memperkosa Kartikosari di dalam guha, mempergunakan namanya! Sungguhpun Kartikosari ketika bercerita kepada Pujo tidak menyebut-nyebut nama karena suami isteri itu sendiri masih menduga-duga, ia yakin bahwa Jokowanengpatilah orangnya. Kelingking kiri Jokowanengpati juga buntung! Pantas saja pengakuan Jokowanengpati tentang kelingking itu berubah-ubah Dan perbuatan Jokowanengpati itulah yang mendatangkan dendam di hati Pujo dan Kartikosari, sehingga terjadi penyerbuan ke Kadipaten Selopenangkep dan puteranya terculik! Semua gara-gara Jokowanengpati.

Mulai menyesallah hati W isangjiwo. Mulai terbuka matanya betapa Pujo dan Kartikosari adalah korban-korban keganasan orang jahat. Mulai insyaf ia betapa semua itu juga merupakan akibat daripada kesesatannya sendiri. Ia menyesal dan insyaf bahwa dengan menghamba kepada Pangeran Anom, ia bersekongkol dengan orang-orang jahat macam Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan lain-lain. Inilah yang menyebabkan Wisangjiwo mengambil keputusan bulat, menyeberang kepada Pangeran Sepuh. Karena ia dahulu masuk dan mengabdi kerajaan atas perantaraan Ki Patih Narotama, tentu saja Pangeran Sepuh suka menerimanya dengan girang.

Wisangjiwo yang kebingungan, kehilangan pegangan dan merasakan pahitnya bibit yang ia tanam sendiri dahulu itu, sama sekali tidak menyangka bahwa Pangeran Anom menjadi marah sekali kepadanya. Tentu saja Pangeran Anom tidak berani berterang menyuruh orang menyerangnya di depan mata Pangeran Sepuh, akan tetapi atas hasutan Jokowanengpati, Pangeran Anom lalu mengutus pasukan pengawalnya, dikepalai Jokowanengpati dan kedua wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini, mendatangi Selopenangkep dan memberi hukuman kepada keluarga Wisangjiwo, yaitu semua penghuni kadipaten dengan tuduhan memberontak yang diperkuat oleh Jokowanengpati!

Pasukan kota raja amat terlatih dan kuat, apalagi dikepalai oleh seorang sakti seperti Jokowanengpati dibantu Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Tanpa perlawanan berarti, Kadipaten Selopenangkep dapat diserbu, banyak di antara keluarga kadipaten dibunuh, dan kadipaten diambil alih. Peristiwa itu sudah terjadi beberapa pekan lamanya. Kemudian, Lasmini menceritakan pula betapa Jokowanengpati dibantu oleh Ni Durgogini dan Ni Nogogini, pergi ke Sungapan, katanya hendak mencari pusaka Mataram, demikian cerita pacarnya.

"Baru tadi mereka bertiga kembali dari Sungapan, den ajeng. Malah dua orang wanita yang menakutkan itu siang tadi terus pergi, kabarnya hendak pergi ke kota raja. Ah, banyak kejadian mengerikan, den ajeng. Malah belum lama tadi, menurut pengawal dalam, ada dua orang musuh tertawan, kini dikurung dalam kamar tahanan bawah tanah yang menyeramkan itu....."

"Begitukah.....??"

Roro Luhito terkejut karena dapat menduga bahwa dua orang musuh yang dimaksudkan itu tentulah Pujo dan Kartikosari.

"Dan ayah di mana sekarang...? Masih... masih hidupkah.....?"

Lasmini menangis tersedu-sedu. Roro Luhito berdebar hatinya dan ia mengguncang-guncang pundak wanita itu, kehilangan sabar.

"Hayo cepat jawab, di mana ayah dan ibu?"

"Hamba.... hamba tidak tahu jelas.... kabarnya.... gusti adipati ditahan dalam kamar tahanan di belakang... dijaga ketat..."

Roro Luhito meloncat berdiri tegak. "Keparat kau Jokowanengpati!" serunya marah. Kemudian sekali renggut, ia melepaskan kemben yang melibat pinggang ramping Lasmini. Wanita itu kaget sekali, tubuhnya gemetar wajahnya pucat.

"Raden ajeng.... hamba.... hamba...."

"Diam! Kau juga bukan manusia baik-baik, Lasmini. Kau mengorbankan keponakanmu yang masih kecil untuk memuaskan nafsu jahat Jokowanengpati, agar kau disuka dan mendapat kedudukan baik. Kau perempuan rendah dan keji, sudah sepatutnya kalau kubunuh engkau. Akan tetapi karena kau telah menceritakan semua dengan jujur, kuampunkan nyawamu!"

Sambil bicara, Roro Luhito menelikung (mengikat kaki tangan) Lasmini seperti kambing akan disembelih.

"Katakan, selain Jokowanengpati dan para pengawal, ada siapa lagi di sana? Para pinisepuh (orang tua) sakti maksudku."

Dengan tubuh menggigil ketakutan Lasmini pienjawab, "Ti.... tidak ada lagi, setelah dua orang wanita iblis itu pergi..."

Roro Luhito menggunakan tangannya merenggut putus ujung kemben, menyumpal mulut Lasmini, tubuh Lasmini terguling ke dalam gerombola alang- alang. Cepat Roro Luhito kembali memasuki pintu rahasia di taman sari, masuk dengan hati-hati, langsung ia menuruni jalan rahasia dari kamar belakang yang kosong, yang membawanya ke bagian bawah tanah di mana terdapat beberapa ruangan untuk menahan tawanan-tawanan penting.

Tentu saja ia hafal akan keadaan di kadipaten ini. Menurutkan kata hatinya memang ia ingin segera pergi menjenguk ke belakang gedung, ke tempat tahanan di mana mungkin ia dapat bertemu dengan ayah bundanya, akan tetapi pikirannya mengingatkan bahwa untuk bergerak selanjutnya, tak mungkin dapat ia lakukan tanpa bantuan Pujo dan Kartikosari.

Ia tahu bahwa Jokowanengpati adalah seorang sakti. Biarpun sekarang ia tidak takut, dan belum tentu kalah setelah ia menerima gemblengan gurunya, Resi Telomoyo, namun ia harus berlaku hati-hati, apalagi kalau diingat bahwa Jokowanengpati dibantu oleh banyak pengawal. Baru saja menuruni ruangan di bawah tanah, yang agak gelap, tiba-tiba seorang penjaga. sudah menegurnya.

"Hordah ! Siapa ini...??"

Dan sebelum ia sempat menjawab, penjaga itu sudah mencabut pisau belatinya dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak sambil berbisik, "Ah, kau dayang dalam jangan berteriak!"

Penjaga itu dengan dengus penuh nafsu menyeringai dan hendak menciumnya, pisau belati dipakai mengancam, tangan kiri hendak berkurang ajar. Bagaikan kilat cepatnya, sekali menggerakkan tangan, Roro Luhito sudah membuat dua gerakan. Pertama merampas pisau dan kedua membenamkan mata pisau ke dalam dada penjaga sambil rnelompat mundur sehingga ketika tubuh penjaga yang jantungnya sudah ditembus pisau itu roboh, darah yang muncrat tidak mengenai bajunya. Kemudian, setelah membersihkan pisau pada baju korbannya, Roro Luhito melanjutkan perjalanan, berindap-indap di ruangan bawah, pisau tajam di tangannya.

Demikianlah, secara kebetulan sekali Jokowanengpati pergi meninggalkan ruangan tahanan, menyerahkan penjagaan kepada empat orang penjaga itu, menunda niatnya yang amat keji, niat yang kiranya hanya dapat dilakukan oleh iblis. Karena empat orang penjaga tidak menyangka-nyangka, secara mudah sekali mereka menjadi korban pisau belati di tangan Roro Luhito. Dengan menahan kemarahan dan tergesa-gesa, Roro Luhito membebaskan suami isteri itu, lalu berbisik,

"Lekas, mari keluar dari sini! Kalian bantu aku menyelidiki orang tuaku...ini"

Suaranya gemetar dan tangannya menarik lengan Kartikosari diajak keluar tahanan. Pujo mengikuti dari belakang setelah mengambil kerisnya Banuwilis dan cundrik isterinya yang tadi terlepas di lantai ketika mereka berjuang melawan asap belerang. Tanpa bicara ia menyerahkan cundrik isterinya dan mereka bertiga kini keluar dari kamar, senjata masing-masing di tangan.

Roro Luhito sudah membuang pisau rampasannya, kini juga menghunus kerisnya dan memegang di tangan kanan. Berkat ketrampilan Roro Luhito yang hafal benar akan keadaan di dalam kadipaten, mereka bertiga dapat keluar dari ruangan di bawah tanah, lalu langsung ke bagian belakang gedung kadipaten yang luas itu. Sunyi saja keadaannya. Tidak tampak seorangpun penjaga maupun pelayan, seakan-akan semua orang telah meninggalkan gedung. Di depan pintu kamar tahanan yang letaknya di belakang gedung, Roro Luhito berhenti, ragu-ragu.

"Tidak baik ini...." bisiknya.

"Ada apakah, diajeng?" Pujo berbisik pula.

"Begini sunyi, tiada rintangan...."

Kartikosari melangkah maju. "Terjang saja ke dalam. Takut apa?"

Penuh semangat tiga orang itu mendorong daun pintu kamar tahanan, Daun pintu terbuka dan.... Roro Luhito menahan pekik, lalu menerjang masuk diikuti Pujo dan Kartikosari.

"Ha-ha-ha-ha! Sudah kuduga tentu engkau yang datang, adinda yang manis Roro Luhito! Berhenti! Maju setindak lagi, keris ini akan memasuki tubuh ayahmu!"

Dengan muka pucat Roro Luhito terpaksa tidak berani bergerak, juga Pujo dan Kartikosari karena pada saat itu, Jokowanengpati sedang mengancamkan kerisnya pada dada Adipati Joyowiseso yang kelihatan lemah dan lemas. Jelas bahwa orang tua itu banyak menanggung penderitaan, bajunya compang-camping, membayangkan kulit tubuh yamg luka-luka, wajahnya pucat sekali dan ia tampak lemas kehabisan tenaga.

"Ayahh ...... !"

Roro Luhito terisak, akan tetapi tidak berani mendekati. Adipati Joyowiseso menggerakkan kepalanya dengan lemah, menoleh dan memandang puterinya. Kedua matanya menjadi basah dan dua butir air mata membasahi pipinya yang cekung.

"Jahanam Jokowanengpati!" Puteri adipati itu kini mendamprat dengan mata mendelik, berapi-api sinarnya ditujukan ke arah Jokowanengpati, musuh besarnya yang tidak saja telah menodai dirinya, akan tetapi yang kini malah mendatangkan malapetaka kepada keluarga ayahnya.

"Lepaskan ayahku!!"

"Jokowanengpati iblis keparat, binatang terkutuk..... !" Kartikosari juga memaki saking bencinya.

"Dosamu bertumpuk-tumpuk, Jokowanengpati. Kini tiba saatnya engkau membayar, tiba saatnya engkau menerima hukumanmu!" Pujo berkata, kerisnya digenggam erat-erat.

Menghadapi ancaman tiga orang lawan tangguh ini, Jokowanengpati tertawa.

"Ha-ha-ha-ha! Kalian sudah masuk perangkap, masih banyak berlagak? Lihat, kalian sudah terkurung!"

Ketiga orang itu melirik ke belakang dan benar saja. Kalau tadinya tak tampak seorangpun penjaga, kini pintu kamar itu penuh dengan pasukan yang berjejal di luar. Jalan keluar sudah tertutup! Namun mereka tidak takut sama sekali. Satu-satunya hasrat hati yang ada hanyalah menerjang dan merobohkan Jokowanengpati, melampiaskan dendam kesumat. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang berani bergerak maju karena lawan yang licik itu telah menodong Adipati Joyowiseso.

"Lepaskan ayahku! Pengecut, tak tahu malu!" Kembali Roro Luhito membentak.

"Kalian bertiga yang harus melepaskan senjata. Hayo buang senjata! Lihat! Haruskah aku menyiksa lebih dulu kakek ini?"

Jokowanengpati menekan ujung keris di dada Joyowiseso, tepat di ulu hatinya. Jelas tampak betapa ujung keris yang runcing itu merobek kulit dan beberapa titik darah menetes keluar.

"Uuhhhggghh !" Joyowiseso mengeluh, menahan rasa perih.

"Tidak lekas membuang senjata?" Jokowanengpati inengancam.

"Uuuuuhhhggh....!" Kembali Joyowiseso mengeluh.

Anak mana yang tidak akan hancur luluh hatinya menyaksikan ayahnya diancam maut ? Roro Luhito tak dapat lagi menahan hatinya. Dilemparkannya keris di tangan itu ke lantai, lalu ia lari menubruk ayahnya.

"Ayahhhh...... !

"Luhito.... uhphh, Luhito anakku.... "

Ayah dan anak itu bertangis-tangisan. Pujo dan Kartikosari tidak dapat menyalahkan Roro Luhito. Dengan kemarahan meluap mereka hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba dari belakang mereka menyambar angin yang aneh. Mereka cepat membalikkan tubuh dan.... selembar jala telah melayang dan mengembang, langsung menubruk mereka. Suami isteri ini tak mungkin dapat mengelak lagi karena jala itu amat lebar. Namun mereka tidak gentar karena apakah hebatnya selembar jala? Tentu mudah diputuskan!

Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika jala itu menyelimuti tubuh dan mereka berusaha meronta dan membabat dengan keris, jala itu tidak dapat dibabat putus! Kiranya itu bukanlah jala ikan biasa, melainkan jala yang terbuat daripada bahan yang tidak dapat diputus senjata tajam Mereka hanya dapat meronta-ronta dan bergerak-gerak seperti dua ekor ikan terkena jaring!

"Ha-ha-ha, Pujo manusia goblok! Sekarang kau hendak lari ke mana? Ha-ha-ha! Hayo rampok (keroyok) keparat ini sampai hancur tubuhnya, akan tetapi awas, jangan bunuh yang betina. Ha- ha-ha!"

Para penjaga itu berlomba maju untuk mengeroyok Pujo yang sudah berselimut jala. Pedang, golok dan tombak menghujam ke arah tubuh Pujo. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar jeritan yang merupakan lengking tinggi dan tahu-tahu dua orang penjaga yang terdepan, terpelanting seperti disambar petir.

"Hayo siapa berani maju mengantar nyawa! Majulah, keparat kalian semua! Siapa berani menyentuh kakangmas Pujo, hendak kulihat orangnya!"

Roro Luhito berdiri dengan sikap seperti Srikandi, kedua tangannya terkepal kedua kakinya terpentang, tubuhnya agak merendah, matanya mengeluarkan sinar berapi-api, berdiri membelakangi Pujo dan Kartikosari, bagaikan seekor singa betina melindungi anak-anaknya ! .

Melihat dua orang penjaga tadi roboh terpelanting dan tak dapat bangun lagi karena tulang dada dan tengkorak kepalanya remuk oleh terjangan gadis ini, para penjaga yang lain menjadi kesima dan jerih. Jokowanengpati juga terperanjat sekali. Sepak terjang Roro Luhito tadi benar-benar hebat luar biasa. Tidak disangka-sangkanya kalau gadis itu memiliki kepandaian sedemikian hebatnya , Iapun terheran-heran mengapa gadis ini menolong Pujo dan Kartikosari dari dalam kamar tahanan di bawah tanah, dan sekarang begitu nekat membela Pujo. Bukankah gadis itu seharusnya membenci dan sakit hati kepada Pujo?

"Diajeng Luhito........ dia ....... Pujo itu musuh kita, dialah jahanam yang dahulu memperkosa..."

"Tutup mulutmu yang busuk!!" Roro Luhito membentak, kemarahannya meluap-luap. "Jahanam terkutuk, siapa tidak ketahui perbuatanmu yang keji dan hina?"

Makin kagetlah Jokowanengpati. Celaka, pikirnya. Semua rahasianya agaknya telah terbuka. Tidak saja Pujo dan Kartikosari yang tahu bahwa dialah yang dahulu menggagahi Kartikosari mempergunakan nama Wisangjiwo, bahkan kini agaknya Roro Luhito juga sudah tahu bahwa dialah yang dahulu memperkosa puteri adipati itu mempergunakan nama Pujo! Akan tetapi dasar seorang cerdik, ia segera dapat menekan kegelisahannya dan sekali lagi ujung kerisnya ditekankan di dada Joyowiseso membuat adipati ini yang sudah lemah itu mengeluh kesakitan.

"Diajeng Luhito, lekas tinggalkan mereka, kalau tidak, ayahmu tentu akan kubunuh lebih dulu!"

Roro Luhito bimbang hatinya. Tidak ingin ia melihat Pujo Laki-laki yang dipujanya di dalam hati itu, mati dikeroyok. Akan tetapi bagaimana pula ia dapat melihat ayahnya dibunuh begitu saja? Cinta kasih dan bakti, sama berat! Selagi ia bimbang, ia mendengar suara bisikan Pujo di belakangnya, bisikan yang menggetar penuh perasaan haru.

"Diajeng, minggirlah. Belum tentu mereka dapat membunuh kami "

Ketika melirik dan melihat betapa suami isteri itu masih berdiri dengan keris di tangan, ia dapat mengerti bahwa biarpun sudah berselimut jala, agaknya tidak akan mudah membunuh mereka. Terpaksa ia lari menubruk ayahnya yang kelihatan amat pucat itu.

"Roro ....... anakku........ Pujo tidak berdosa ....... ??*'

Dengan air mata membasahi pipi, Roro Luhito menggeleng kepala. Ia tidak ada waktu untuk melayani percakapan ayahnya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya yang membanjir keluar dari bibir yang pucat itu, karena pada saat itu seluruh perhatiannya ia curahkan ke depan, ke arah Pujo dan Kartikosari yang berada di dalam jala. Kembali para penjaga menyerbu dengan senjata-senjata mereka. Akan tetapi, tepat seperti yang diduga dan diharapkan Roro Luhito, begitu suami isteri itu bergerak, keris mereka menyambar di antara lubang-lubang jala dan empat
orang penjaga yang mengeroyok itu roboh dengan darah muncrat-muncrat dari perut mereka!

Jokowanengpati memaki-maki anak buahnya sehingga mereka terpaksa maju terus. Tombak-tombak panjang dating bagaikan hujan. Karena Kartikosari dengan gigih membantu suaminya, kini para penjaga yang panik dan agak gentar itu menjadi ngawur dan asal menyerang saja, tidak perduli Pujo ataupun Kartikosari mereka tusuk dengan tombak. Ribut keadaan di situ dan suami isteri yan gagah perkasa itu dengan gerakan teratur meloncat ke sana ke mari di dalam jala, merobohkan belasan orang perajurit anak buah Jokowanengpati, Para perajurit mengeroyok terus, korban-korban yang roboh diseret keluar.

Tidak mudah bagi para pengeroyok yang hanya memiliki kepandaian biasa itu untuk merobohkan dua orang suami isteri yang sakti. Hujan tombak dan golok itu hanya mampu membuat pakaian suami isteri itu compang-camping dan memang Pujo dan isterinya menderita luka-luka, namun hanyalah luka pada kulit belaka, bekas goresan-goresan senjata tajam dan tusukan-tusukan tombak runcing yang mengakibatkan darah membasahi baju dan jala.

Melihat betapa anak buahnya masih juga belum berhasil merobohkan Pujo malah sebaliknya banyak anak buahnya menjadi korban, Jokowanengpati marah sekali. Ia tahu bahwa Pujo sudah mulai letih, karena Pujo belum pulih dari akibat penyiksaan di dalam kamar tahanan di bawah tanah. Begitu melihat kesempatan baik, Jokowanengpati melompat ke depan dan sekali kaki tangannya bergerak, ia berhasil merampas keris di tangan Kartikosari dan menendang terlepas keris dari tangan Pujo. Suami isteri itu memang mengeluarkan tangan yang memegang keris dari dalam jala.

"Ha-ha-ha-ha, kalian masih hendak memperlihatkan kegagahan?" Jokowanengpati membentak anak buahnya yang sudah hendak menerjang lagi. Ia ingin melampiaskan kemarahannya dengan menyiksa Pujo.

Di tangannya telah tampak sebatang cambuk besar dan panjang. Begitu ia menggerakkan tangannya, terdengar suara berdetak-detak dan cambuk itu melecut ke depan, menghantam tubuh Pujo di dalam jala. Bertubi-tubi cambuk itu bergerak dan melecut dan selalu tepat mengenai tubuh Pujo. Kartikosari memaki-maki dan berusaha menangkis ujung cambuk yang begitu keji menghujani tubuh suaminya yang makin lemah.

Sementara itu, dengan pertanyaan-pertanyaan mendesak, Adipati Joyowiseso sudah mendengar hal-hal yang terpenting dari mulut puterinya. Mendadak ia memegang tangan puterinya, berbisik, "Bagaimana kau bisa mendiamkannya saja? Lawan dia! Bantu mereka. Jangan hiraukan aku lagi!"

Memang di dalam hatinya, Roro Luhito yang menonton dengan muka pucat itu sudah ingin sekali turun tangan, hanya ia mengingat akan keselamatan ayahnya maka ia tidak berani meninggalkan ayahnya. Kini mendengar bisikan ayahnya, timbul semangatnya dan tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mencelat ke depan. Gerakannya ini hebat sekali, pekiknya seperti bukan suara manusia dan ia menerjang Jokowanengpati benar-benar amat aneh sehingga Jokowanengpati terkejut bukan main, cepat membuang diri ke belakang. Sungguhpun ia berhasil mengelak, namun secara aneh dan tiba-tiba pecutnya sudah terampas oleh Roro Luhito.

Jokowanengpati yang cerdik maklum bahwa gadis itu sudah nekat dan agaknya percuma mengancamnya melalui ayahnya, maka ia segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok. Ia sendiri juga menerjang maju hendak meringkus Roro Luhito yang cantik manis akan tetapi kini memiliki ilmu kepandaian hebat itu.

Kembali ramai di dalam ruangan tahanan yang luas itu. Roro Luhito yang telah kehilangan kerisnya, kini mengamuk dengan cambuk rampasannya, Ia tidak pandai bermain cambuk, akan tetapi karena ilmunya tinggi, hantaman cambuknya amat hebat dan sekali terpukul cambuk, seorang pengeroyok tentu akan roboh dan tak dapat bangun kembali, Betapapun juga, karena di situ ada Jokowanengpati yang menerjangnya dengan pukulan-pukulan ampuh, Roro Luhito mulai terdesak mundur dan untuk mencari ruangan yang luas, gadis perkasa ini membuka jalan darah, keluar dari ruangan itu dikejar Jokowanengpati yang merasa penasaran.

Adapun suami isteri yang berada di dalam jala, masih dikeroyok banyak perajurit. Baiknya Kartikosari tadi berhasil menyambar sebuah golok yang terletak di lantai sehingga kini dengan golok ini ia dapat melindungi diri dan suaminya yang sudah lemas.

Pujo tak dapat melawan lagi, sudah rebah di lantai. Biarpun Kartikosari juga memiliki kesaktian, namun wanita ini sudah luka-luka pula sehingga hanya untuk sementara saja ia mampu melindungi hujan tombak dan golok dari luar jala. Ia mulai lelah, pandang matanya berkunang, namun ia bertekat bulat untuk mempertahankan diri dan suaminya sampai saat terakhir.

Roro Luhito setelah tiba di luar kamar dikeroyok oleh banyak sekali perajurit. Ia dikepung dan Jokowanengpati yang merasa tidak leluasa gerakannya, meloncat mundur membiarkan orang-orangnya melakukan pengeroyokan sambil menanti saat dan kesempatan terbaik untuk turun tangan menangkap gadis yang seperti Srikandi itu.

Dari luar kepungan ia berseru, "Diajeng Luhito, menyerahlah! Ayahmu telah memberikan engkau menjadi calon isteriku. Menyerahlah!"

"Jokowanengpati manusia hina-dina! Hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati mencuci penghinaan!"

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan menyeramkan dari luar. Kemudian tampak oleh Jokowanengpati betapa pasukan yang berada di luar menjadi geger. Tampak pula para pepjaga bergelimpangan diterjang oleh sesosok bayangan putih yang mengeluarkan suara seperti seekor monyet.

"Roro Luhito Di mana kau...??" Bayangan yang mengamuk itu berseru.

"Bapa guru....! Bapa resi.....! Ke sinilah... !!" Roro Luhito berseru girang sekali. Kembali bayangan yang kini tampak jelas adalah seorang kakek yang bermuka seperti kera itu bergerak dan para penjaga berpelantingan ke kanan kiri.

Jokowanengpati terkejut ketika mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Resi Telomoyo yang sakti mandraguna. Tanpa menanti lebih lama lagi atau memperdulikan nasib anak buahnya, Jokowanengpati yang cerdik dan curang itu sudah menyelinap dalam gelap, terus menyusup-nyusup ke belakang kadipaten, meloncat ke atas punggung kudanya dan selagi pertempuran keroyokan di dalam kadipaten masih ramai dan ribut, ia sudah membalapkan kudanya keluar dari Kadipaten Selopenangkep menuju ke timur! .

Amukan Roro Luhito dan Resi Telomoyo membuat pasukan kota raja yang menguasai Kadipaten Selopenangkep itu kocar-kacir. Sebelum lewat tengah malam, sisa pasukan yang belum menjadi korban amukan guru dan murid ini sudah lari cerai-berai. Para penduduk kota Kadipaten Selopenangkep yang mendengar bahwa puteri adipati yang dahulu lenyap itu kini pulang dan membasmi pasukan musuh yang menguasai kadipaten, berbondong-bondong keluar.

Mereka inilah, dan para pelayan lama, yang membantu Roro Luhito membersihkan kadipaten dari mayat-mayat pihak musuh yang tak sempat dilarikan kawan-kawan yang melarikan diri malam itu. Pada keesokan harinya, kadipaten sudah bersih dari mayat-mayat dan darah.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Jari-jari kecil panjang dengan kulit halus dan telapak tangan jambon (kemerahan) itu seperti mengeluarkan getaran yang menyentuh jantung ketika meraba-raba punggungnya, membersihkan luka-luka dan membasahinya dengan air obat. Enak rasanya air obat menyentuh punggung, dingin dan mengusir rasa panas dan perih. Namun yang paling terasa sampai menembus jantung adalah getaran hangat jari-jari tangan itu.

Pujo seperti dalam mimpi. Ketika ia membalikkan tubuh, ia melihat secara samar bayangan wanita. Siapa lagi kalau bukan isterinya, Kartikosari. Rindu dendam yang sejak lama ditahan-tahannya, dibendungnya dengan kekuatan hati penuh pengertian bahwa isterinya belum mau berbaik kembali kepadanya, belum mau memenuhi kewajiban sebagai isteri yang melayani kasih sayang suami, sebelum musuh besar mereka terbalas, kini seakan-akan bergolak, membadai dan hendak menggempur dan menjebol bendungan!

"Nimas Sari......!" bisiknya dengan suara gemetar ketika kedua lengan Pujo bergerak memeluk pinggang yang ramping, membenamkan muka di dada yang berdebar-debar, penuh rasa kasih sayang. Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti ini.

Pujo merasa bahagia, tenang tenteram penuh aman dan damai seperti seorang anak kecil mendekap susu ibunya. Ia merasa puas bahagia karena isterinya tidak menolak bukti kasihnya, pinggang ramping yang dirangkulnya tidak menjauh, dan jantung di dalam dada yang penuh itu terguncang.

"Kakangmas Pujo...... jangan khawatir mbokayu Kartikosari selamat kau...... berbaringlah yang baik agar aku dapat mengobati punggungmu, kakangmas."

Pujo mengejap-ngejapkan matanya, menengadah dan bagaikan disambar petir kagetnya ketika ia melihat bahwa Yang dipeluknya adalah pinggang Roro Luhito. Gadis itu meramkan kedua mata dan dua butir air mata membasahi pipinya yang menjadi merah sekali. Cepat Pujo melepaskan rangkulannya pada pinggang, menatap wajah itu dari atas pembaringan sambil berkata gagap,

"Diajeng Roro....... ah, maafkan aku..... maafkan..... "

Bibir yang merah membasah itu merekah dalam senyum, membayangkan kilauan gigi putih di baliknya.

"Tidak mengapa, kakangmas. Kau ngelindur agaknya. Bertelungkuplah, punggungmu perlu diobati. Jangan khawatir, itu mbokayu Sari di situ, tidak apa-apa, agaknya tidur pulas saking lelahnya."

Karena malu dan jengah, Pujo segera bertelungkup. Akan tetapi kepalanya dimiringkan untuk memandang ke arah kiri yang ditunjuk Roro Luhito. Berdegup jantungnya melihat bahwa isterinya, Kartikosari, benar saja berbaring di atas sebuah dipan kayu lain dalam kamar itu. Isterinya rebah terlentang, kedua matanya meram, dadanya turun naik perlahan tanda bahwa isterinya sedang tidur. Benar sedang tidur pulaskah isterinya itu? Bulu matanya bergerak-gerak! Pujo merasa gelisah. Bagaimana kalau isterinya melihat perbuatannya terhadap Roro Luhito tadi?

"Sudah, cukuplah, diajeng. Luka-lukaku hanya luka di kulit, tidak apa-apa. Bagaimana dengan ayahmu, paman adipati?" Pujo berkata dan ia bangkit duduk.

"Ayah amat lemah usianya yang sudah tua membuat ia tidak dapat menahan pukulan batin dan siksaan, sekarang sedang dirawat bapa resi."

Sejenak wajah yang manis itu muram, kemudian tangannya menyerahkan sepasang pakaian baru kepada Pujo sambil berkata, "Kau pakailah ini, kakangmas. Ini pakaian kangmas Wisangjiwo. Pakaianmu sudah hancur."

Pujo melihat ke tubuhnya. Bajunya sudah tidak merupakan baju lagi, compang-camping, demikian pula celana dan kainnya. Ia menerima sepasang pakaian itu dan pada saat itu Kartikosari bangun.

"Diajeng, bagaimana dengan keluarga ayahmu? Mana ibumu?"

Ditanya demikian, Roro Luhito terisak, lalu menubruk Kartikosari dan menangis di atas pangkuan nya, Dengan suara tersendat-sendat Roro Luhito menceritakan betapa sebagian besar keluarganya terbasmi ketika terjadi penyerbuan pasukan kota raja yang dipimpin Jokowanengpati dan kedua orang wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Juga ibu kandungnya telah tewas dalam penyerbuan itu.

"Jokowanengpati manusia iblis! Dosamu bertumpuk-tumpuk....!" kata Pujo dengan marah sambil mengepal tinjunya.

"Sayang sekali iblis itu dapat meloloskan diri ketika paman resi Telomoyo datang membantu," kata Kartikosari penuh penyesalan.

"Kali ini ia lolos, akan tetapi lain kali pasti tidak. Kejahatan takkan dilindungi oleh Hyang Widi!" kata pula Pujo penuh harapan .

Roro Luhito sudah dapat menguasai kesedihannya. Ia bangkit dengan muka basah air mata dan mata agak merah.

"Harap kalian maafkan, aku harus pergi menengok ayah."

"Tidak apa, pergilah, diajeng. Kami tidak apa-apa, yang perlu mendapat perawatan adalah ayahmu" kata Kartikosari.

Puteri adipati itu melangkah keluar dari dalam kamar sambil menundukkan mukanya.

"Sudah sepatutnya dikasihan....." terdengar Kartikosari menyambung lirih.

"Dan dia begitu baik, telah menolong kita."

"Ya, dua kali dia telah menolong kita. Di dalam kamar bawah tanah dan ketika kita terkurung jala....."

Pujo lalu membaringkan tubuhnya lagi sambii menghela napas panjang. Hening Sejenak di dalam kamar itu. Kemudian terdengar lagi suara Kartikosari, "Kita berhutang budi kepada diajeng Roro Luhito, kakangmas."

"Engkau benar, nimas. Kita berhutang nyawa."

Hening lagi sejenak. Kini Kartikosari yang menghela napas panjang, jelas terdengar hembusan nafas halus panjang di kamar sunyi, "Sesungguhnya, kita, terutama engkau, berhutang nyawa kepadanya. Dia malam itu bukan hanya menolong, kakangmas, dia malah rela hendak mengorbankan diri, berkorban nyawa, untukmu...."

Sesuatu dalam suara Kartikosari membuat Pujo menengok dan memandangnya. Ia melihat Kartikosari sudah duduk dipembaringan, makin cantik dengan kain dan kutang yang serba baru, agaknya diberi pinjam Roro Luhito karena pakaiannya sendiri compang-camping, dengan muka agak pucat sehingga alis yang indah bentuknya itu makin hitam seperti dicat.

"Dan dia cinta kepadamu, kakangmas, cinta yang tulus ikhlas, suci murni, cinta yang membutuhkan balasan dan sudah sepatutnya pula mendapat balasan cinta kasih darimu...."

Pujo kini melompat bangun, berlutut di depan pembaringan isterinya, memeluk pinggang isterinya dan menelungkupkan muka di atas pangkuannya, seperti yang dilakukan pada Roro Luhito tadi.

"Nimas..... nimas Sari..... apa..... yang kauucapkan itu? Kau..... kau..... cemburu?"

Ia menengadah, memandang wajah ayu penuh selidik, mencari-cari dengan pandang matanya. Kartikosari menunduk dan jari-jari kedua tangannya membelai rambut kepala suaminya yang kusut, bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan suara lirih,

"Wanita mana di dunia ini yang bebas akan cemburu, kakangmas? Di mana ada cinta, di situ ada cemburu, Wanita mana di dunia ini suka melihat cinta kasih suaminya dibagi dengan wanita lain? Dan akupun hanya wanita biasa, kakangmas. Akan tetapi, aku ingin diajeng Roro Luhito menjadi maduku, aku ingin melihat dia bahagia di sampingku, berkumpul dengan kita selamanya."

"Hishhh! Apakah kau mengigau, nimas Sari? Sadarlah dan buang jauh-jauh rasa cemburu dari hatimu!", Pujo mempererat pelukannya pada pinggang yang ramping itu.

"Dia cinta padamu, kakangmas. Aku percaya dan yakin bahwa cinta kasihmu hanya untukku seorang dan karena ini aku merasa amat bahagia, suamiku. Akan tetapi.... dia amat cinta kepadamu, dia menderita karenamu, bahkan dia rela menderita karena cintanya kepadamu....."

"Bagaimapa.... bagaimana kau tahu.....?"

"Setiap orang yang tidak buta hati dan matanya akan dapat melihat, akan dapat mengetahuinya. Dahulu dia mencarimu, ingin menghambakan diri kepadamu, sungguhpun dahulu ia mengira bahwa engkaulah yang memperkosanya. Dan setelah tahu bahwa Jokowanengpati yang melakukannya, ia amat membenci Jokowanengpati, akan tetapi masih tetap cinta kepadamu, bahkan menolongmu, dan malam tadi rela hendak mengorbankan nyawa untukmu. Aku tahu bahwa engkau akan bahagia jika membalas cinta kasihnya, kakangmas, dan aku.... aku hanya ingin membuktikan bahwa cinta kasihku kepadamu sedalam Laut Selatan. Aku rela dan bahagia melihat kau bahagia, Bahwa.... aku tetap mencintamu, tetap bersetia kepadamu apapun yang akan terjadi"

"Nimas Sari..... kau dewiku.... !"

Pujo bangkit berdiri, merangkul leher dan hendak mencium bibir Isterinya yang sudah amat lama ia rindukan itu, Akan tetapi Kartikosari merenggutkan dirinya, mengelak sambil berkata, tersenyum, "Stop, kakangmas! Ingat, belum tiba saatnya. Lupakah engkau akan syaratku?"

Tubuh Pujo yang tadinya mengejang penuh semangat dan kegembiraan itu, seketika menjadi lemah dan lesu. Ia kembali menjatuhkan diri berlutut dan mengeluh, "Nimas Sari, isteriku, tidak kasihankah engkau kepadaku? Aku rindu padamu, nimas."

Bibir itu tetap tersenyum manis, akan tetapi matanya berkejap-kejap menahan air mata, memancarkan pandang penuh kasih mesra, kedua tangannya diulur menyentuh tangan suaminya. Jari- jari tangan mereka saling genggam, penuh getaran yang memancar keluar dari hati masingmasing.

"Kakangmas Pujo, suamiku jiwa dan raga ini milikmu, sudah kuberikan kepadamu dengan rela sejak dahulu. Akan tetapi ksatria harus menepati janji. Satria harus tahan tapa tahan derita, dan pandai menguasai nafsu diri. Kakangmas, biarlah mulai saat ini kuajukan syarat baru kepadamu Setelah segala yang kita alami aku hanya mau melayanimu dengan segala kerendahan hati, dengan cinta kasih, apabila diajeng Roro Luhito menjadi maduku!"

"Nimas! Apakah engkau sudah gila....?" Pujo bangkit berdiri, memandang wajah isterinya dengan mata terbelalak.

Kartikosari tersenyum. "Sudahlah, bukan waktunya kita berbantahan Kau pakai pakaianmu pemberian diajeng Luhito dan mari kita menengok keadaan paman adipati. Tidak baik rasanya kalau kita berdua hanya mengeram diri di dalam kamar saja, padahal luka-luka kita hanyalah luka pada kulit."

Pujo hendak membantah, akan tetapi didiamkan oleh senyum Kartikosari yang dengan cekatan menanggalkan baju Pujo yang compang-camping itu. Terharu hatinya melihat betapa isterinya ini membantunya bertukar pakaian, membantunya seolah-olah dia seorang an脿k kecil yang belum pandai bertukar pakaian sendiri. Sementara itu, diam-diarn Kartikosari terharu dan hampir ia tak dapat menahan isak haru dan gelora hatinya ketika ia menyaksikan kembali bentuk tubuh suaminya yang kokoh kuat dan padat.

Baru saja suami isteri ini keluar dari kamar, datang Roro Luhito berlari-lari. Mereka terkejut dan cemas, akan tetapi lega hati mereka ketika melihat wajah manis itu berseri gembira.

"Kakangmas Pujo, mbokayu Sari! Lekas, mari ke ruangan dalam. Kakangmas Wisangjiwo datang!" teriaknya girang.

Pujo dan Kartikosari tersenyum dan saling pandang. Betapapun juga, ada rasa kikuk dan tidak enak untuk bertemu muka dengan Wisangjiwo, orang yang tadinya mereka benci dan mereka jadikan musuh besar yang didendam di dalam hati. Tanpa mengeluarkan kata-kata mereka berdua menyertai Roro Luhito yang berjalan sambil menceritakan kedatangan kakaknya.

"Kakangmas Wisangjiwo telah menentang sekutunya yang jahat dan kini menghamba kepada Pangeran Tua. Itulah sebabnya maka Jokowanengpati dan sekutunya yang jahat, atas perintah Pangeran Anom (Muda) menyerbu dan mengambil alih Selopenangkep. Ketika kakangmas Wisangjiwo mendengar akan serbuan ini, segera ia mohon perkenan Gusti Pangeran Sepuh (Tua) membawa pasukan yang kuat dan baru saja tiba di sini. Marilah, dia sedang bicara dengan ayah. Bapa resi juga berada di sana."

Dari ruangan pinggir, tampak kini melalui pintu yang terbuka, banyak pasukan di depan pendopo. Terdengar pula ringkik dan derap kaki kuda. Agaknya pasukan yang dibawa Wisangjiwo dari kota raja mulai melakukan tugasnya memulihkan Kadipaten Selopenangkep, Roro Luhito mengajak dua orang itu menyeberang dan memasuki ruangan dalam dari pintu samping. Ruangan yang cukup luas dimana sang adipati duduk setengah rebah di atas dipan terukir, dengan punggung diganjal bantal.

Tidak jauh dari situ, di atas sebuah bangku, dengan tangan sibuk menggaruki tubuh seperti biasanya, duduk Resi Telomoyo. Di pinggir dipan tampak Raden Wisangjiwo yang berpakaian indah dan gagah, duduk dan bicara serius dengan ayahnya. Ketika mendengar masuknya tiga orang Raden Wisangjiwo menoleh dan mendadak mukanya menjadi merah sekali ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari. Ia cepat bangkit berdiri dan menyambut suami isteri itu dengan kata-kata terharu,

"Adimas Pujo, aku merasa amat berterima kasih atas pertolonganmu sehingga ayah terbebas dari pada ancaman maut di tangan si keparat Jokowanengpati. lebih besar pula rasa sesalku apabila kuingat betapa kalian berdua telah banyak menderita akibat perbuatanku yang sesat di masa lalu..."

Suaranya tersendat oleh keharuan. Kartikosari hanya menundukkan mukanya, akan tetapi Pujo mengangkat tangan memprotes.

"Bukan hanya engkau yang keliru, raden. Akupun telah melakukan perbuatan sesat dan jahat, menyerbu kadipaten ini, bersikap kurang patut terhadap gusti adipati, bahkan telah melakukan penculikan terhadap isteri dan puteramu Biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk mohon maaf sebesarnya, baik kepadamu terutama sekali kepada gusti adipati!"

"Aahhh.... jangan menyebut gusti, anakmas Pujo. Sebut saja paman kepadaku, dan jangan minta maaf. Uggh-huhhuh....!"

Orang tua itu terbatuk-batuk, terengah-engah sehingga Roro Luhito cepat menghampiri ayahnya dan mengurut-urut punggungnya.

"Uuh-uh.... anakmas Pujo, sesungguhnya semua peristiwa ini adalah akibat daripada kesalahan ku sendiri! Aku telah mendengar semua, mendengar penuturan Wisangjiwo yang telah insyaf dan sadar, telah melempangkan jalan hidup yang bengkok yang kutempuh. Aku telah mendengar semua penuturan Roro Luhito dan penjelasan Sang Resi Telomoyo. maka jelaslah bahwa semua adalah akibat penyelewenganku dahulu.... ugghh-uh. Aku.... terlalu mabok akan kesenangan dunia seperti terbalik pandang mataku, seperti buta mata hatiku, gila kedudukan mabok kemuliaan sehingga aku bersekutu dengan manusia-manusia lblis..... percaya mulut manis si keparat jokowanengpati...."

Tiba-tiba Resi Telomoyo tertawa dan terdengarlah suaranya yang parau dan dalam, "Ha-ha-ha-ha, semua yang bersalah mengakui kesalahannya! Alangkah baiknya hal ini Adalah lebih baik bersalah tapi mengakui kesalahannya dan bertobat penuh penyesalan, daripada tidak bersalah merasa bangga dan mengagungkan serta menyombongkan kebersihannya."

Mendengar ucapan ini, Wisangjiwo menoleh ke arah adik tirinya, berkata sambil menarik napas panjang, "Roro, adikku yang baik, engkau sungguh bahagia mendapatkan seorang guru sebijak paman resi ini, tidak seperti aku...."

Kemudian ia menghampiri Pujo dan berkata, "Adimas Pujo, setelah segala yang terjadi, dapatkah engkau benar-benar mengampuni aku? Bolehkah aku kini bertemu dengan puteraku ?"

Suaranya tersendat oleh keharuan. Pujo mengerutkan keningnya.

"Tidak ada yang harus minta dan memberi ampun, raden...."

"Ah, adimas, mengapa. menyebut raden? Bukankah ayahku minta kau menyebut paman kepadanya? Kita bukan orang lain, ah, bagaimana dengan puteraku, Joko Wandiro yang menjadi, muridmu? Mana dia?"

"Maaf.... kangmas Wisangjiwo Tanpa kusengaja aku mengecewakan semua keluargamu. Kami sendiri sebetulnya sedang mencari-cari Joko Wandiro dan Endang Patibroto, puteriku..."

Kemudian secara singkat Pujo menceritakan kehilangan dua orang anak itu Wisangjiwo merasa gelisah sekali dan ketika ia memanggil kepala pasukan, memberinya perintah untuk mengerahkan pasukan dari kota raja mencari dua orang anak yang hilang itu.

Keadaan Adipati Joyowiseso amat payah. Bangsawan ini sudah tua dan lemah. Serbuan yang menghancurkan keluarganya, kemudian siksaan yang dideritanya, terlalu berat baginya. Biarpun Resi Telomoyo sudah berusaha sedapatnya untuk memberikan jamu-jamu yang berkhasiat, namun hasilnya sia-sia. Tiga hari kemudian, dalam keadaan payah, berbaring di atas pembaringan dalam kamarnya, Adipati Joyowiseso memanggil kedua anaknya mendekat, dan minta supaya dipanggilkan Pujo, Kartikosari, dan juga Resi Telomoyo.

Ketika Pujo dan isterinya memasuki kamar, mereka melihat Resi Telomoyo sudah berada di situ, duduk di bangku menggaruk-garuk tubuhnya. Wisangjiwo juga duduk di dekat pembaringan dengan wajah yang pucat dan muram, sedangkan Roro Luhito berlutut di dekat pembaringan sambil menangisi ayahnya. Adipati itu tampak kurus dan pucat sekali, akan tetapi matanya bersinar ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari memasuki kamar. Pujo dan Kartikosari segera duduk menghadapi si sakit.

"Nakmas Pujo.... ahhh....." Si sakit berkata dengan napas terengah-engah dan agaknya ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat bicara. Telunjuknya menuding ke arah Wisangjiwo ketika . Ia menyambung, "..... aku..... aku tidak khawatirkan dia ini.... dia menghamba Pangeran Tua.... akan tetapi...." Ia terengah-engah, menoleh dan menyentuh kepala Roro Luhito yang berlutut di dekatnya, "akan tetapi dia ini dia akan terlantar.... aku.... aku.... menyerahkan dia kepadamu..... anakmas...... kauterimalah anakku.... ini...."

Sang adipati tidak kuat melanjutkan lagi, merebahkan lagi kepalanya di atas bantal, napasnya terengah-engah, matanya dipejamkan setalah ia memandang ke arah Pujo dengan pandang mata penuh permohonan. Sunyi sejenak di kamar itu, kecuali isak tertahan Roro Luhito. Pujo bangkit dari bangku, bingung memandang ke sekeliling, memandang kepada wajah semua orang. Kartikosari hanya menundukkan muka.

"Ini.... ini.... bagaimana ini.... ?" Ia menggagap, mukanya menjadi merah sekali. Ia memandang Wisangjiwo untuk minta bantuan. Wisangjiwo menggigit bibir dan mengangguk.

"Aku telah menyetujui, dan aku hanya mengharap kau akan suka memenuhi permintaan terakhir ayahku, adimas Pujo."

BADAI LAUT SELATAN JILID 17


Badai Laut Selatan Jilid 16

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 16

"Bunuh? Kau membunuh aku? Heh-heh-heh! Suamimu inilah yang akan kubunuh. Lihat!" Jokowanengpati kembali menghantam, kali ini ke arah dada Pujo. Kartikosari menjerit, Pujo mengerahkan tenaga dan.....

"Bukkk!" pukulan jatuh dengan hebatnya, rnembuat Pujo sesak bernapas dan mukanya pucat. Akan tetapi ia tidak mati, pingsanpun tidak, hanya menderita nyeri bukan main.

"Ha-ha-ha, akan kubunuh dia perlahan- lahan, kusiksa dia perlahan-lahan, di depan matamu, Kartikosari. Ya, di sini, di depanmu! Akan tetapi, dia harus melihat dulu betapa kau adalah milikkul Heh, Pujo. Katakanlah, ada yang akan kau lakukan kalau aku menggagahi Kartikosari di sini, di depan matamu ?"

"Jokowanengpati, kau bunuhlah aku! Bunuhlah Aku dan kalau perlu, kau bunuh pula isteriku, jangan kau lakukan penghihaan biadab ini!"

Pujo akhirnya mengeluh. Sementara itu, Kartikosari menangis karena wanita inipun maklum betapa kehormatannya terancam penghinaan yang lebih hebat daripada kematian. Betapa ia dan suaminya sama sekaii tidak berdaya, tak mampu berbuat apa-apa.

"Heh-heh-heh, salah siapa? Kenapa Isterimu begini cantik, begini molek, begini menggairah kan! Dan mengapa kau kebetulan berdiri di tengah jalan menghalangi kesenangan hidupku? Ha-ha, kau akan menyaksikan betapa senangnya aku memiliki tubuh isterimu, kemudian dia akan melihat kau mampus. Aduh, alangkah manis dan nikmatnya pembalasan!"

Jokowanengpati tertawa-tawa berkakakan , Suami isteri itu memandang penuh kengerian dan diam-diam mereka menganggap betapa musuh besar ini telah menjadi gila. Mereka berdua memendam sakit hati bertahun-tahun, mengharapkan pembalasan. Sekarang setelah bertemu dengan musuh besar, mereka tertahan dan si musuh besar ini malah bicara tentang nikmatnya membalas dendam! Siapa sebetulnya yang mendendam?

Kartikosari diam-diam mengambil keputusan untuk tidak melawan, membiarkan dirinya diperhina, bahkan akan diusahakan agar Jokowanengpati mengira dia membalas cumbu rayu dan cintanya, agar orang ini menjadi lengah, kemudian ia akan mencari kesempatan baik untuk mengirim serangan maut! Pujo sendiri sudah putus harapan, tidak tahu bagaimana ia akan dapat menolong isterinya. Kematiannya sendiri yang sudah diambang mata tidak dihiraukan, hanya keadaan isterinya yang membuat ia putus harapan dan risau.

Sepasang suami isteri ini benar-benar sudah merasa putus asa, tidak melihat jalan keluar, hanya dapat menyerahkan nasib di tangan Hyang Widi . Hanya penyerahan bulat inllah yang membuat mereka masih bertahan, dengan hiburan batin bahwa akhirnya toh kematian akan menamatkan segala derita.

Jokowanengpati sudah kelihatan buas. Sambii menyeringai seperti iblis ia sudah menanggalkan bajunya, menanggalkan destarnya. Dibentangnya kainnya di atas lantai, di depan Pujo yang memandang dengan mata terbelalak tanpa cahaya. Semua ini dilakukan oleh Jokowanengpati lambat-lambat, sengaja untuk menyiksa perasaan hati Pujo. Kemudian ia bangkit berdiri, melangkah mendekati Kartikosari sambil berkata, manis-manis buatan, "Marilah, wong ayu...."

Akan tetapi pada saat itu, terdengar orang batuk-batuk dan di depan pintu ruangan itu muncul dua orang pengawal yang memandang ke arah Jokowanengpati dengan wajah serius.

"Setan! Mau apa kalian?" bentak Jokowanengpati, menarik kembali kedua tangannya yang tadi sudah hampir menyentuh tubuh Kartikosari. Wanita itu meramkan kedua matanya dengan tubuh lemas dan isak tertahan.

"Maafkanlah hamba, raden mas, hamba tidak berani mengganggu.... akan tetapi.... perlu melaporkan bahwa menurut penjaga, dua orang tawanan ini tadi datang bersama seorang wanita lagi yang kini entah menghilang kemana."

Seperti disengat kelabang Jokowanengpati memutar tubuhnya serentak memandang Pujo dan Kartikosari. Pujo masih membelalakkan kedua mata penuh kebencian, sedangkan Kartikosari membuang muka ke samping, matanya masih dipejamkan, dadanya yang membusung padat itu bergerak naik turun. Dengan langkah lebar Jokowanengpati mengbadapi Pujo dan membentak,

"Hayo katakan, siapa wanita itu? Dan di mana dia sekarang?"

Pujo tersenyum mengejek. "Hemm, manusia yang diperhamba nafsu macam engkau ini, jokowanengpati, selalu dibayangi rasa cemas akan datangnya hukuman atas perbuatan-perbuatanmu yang terkutuk. Memang takkan meleset lagi, manusia rendah dan hina, hukuman itu akan datang, bagaikan pedang yang selalu tergantung di atas tengkukmu. Tentang wanita itu, kau carilah sendiri!"

"Plak-plak-plak!"

Dalam amarahnya Jokowanengpati menampar dan menghantam muka Pujo sehingga mengucurlah darah dari hidung dan mulut Pujo. Namun sedikitpun Pujo tidak mengeluh, masih tersenyum mengejek dan baru dia mengusap darah itu dari pundak kanan kiri ketika dengan muka keruh, Jokowanengpati melompat keluar ruangan itu.

"Kalian jaga baik-baik mereka, awas, jangan sampai terlepas!" Demikian Jokowanengpati berpesan kepada empat orang penjaga di depan kamar tahanan, kemudian pergi bersama dua orang pelapor tadi untuk mencari wanita yang dikabarkan datang bersama Pujo dan Kartikosari, dan yang katanya hilang tak meninggalkan jejak. Perlu diperiksa seluruh isi kadipaten, pikirnya.

Belum lama Jokowanengpat pergi, sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya menyelinap di tempat gelap mendekati pintu ruangan, kemudian bagaikan halilintar menyambar, tubuhnya bergerak menerjang empat orang penjaga itu, tangannya bergerak dan mata pisau berkilat. Empat orang pengawal yang sama sekali tidak menyangka akan datangnya serangan hebat ini, terkena tusukan di bagian tubuh yang mematikan. Mereka roboh dan berkelojotan, hanya mampu mengeluarkan sedikit suara. Bayangan itu lalu melompat ke dalam kamar dan ternyata dia adalah Roro Luhito yang membawa sebuah pisau belati!

"Oh.... diajeng, syukur kau datang....!"

Kartikosari berseru girang sekali. Memang tadi dia dan suaminya juga mengharapkan pertolongan Roro Luhito, akan tetapi mengingat akan saktinya Jokowanengpati ditambah bantuan para pengawal, rnereka sudah putus harapan karena mereka bersangsi apakah Roro Luhito akan mampu menghadapi Jokowanengpati dan kaki tangannya. Kini puteri ayu itu muncul setelah Jokowanengpati keluar, sungguh amat membesarkan hati.

Pujo juga rnemandang girang, akan tetapi tidak kuasa mengeluarkan kata-kata. Ia hanya terheran-heran melihat bekas air mata di kedua pipi wanita itu, dan tampak betapa kedua tangan Roro Luhito gemetar ketika ia menggunakan pisau belati untuk mengiris putus belenggu yang mengikat kedua lengan dan kaki Pujo dengan isterinya.

Bagaimanakah Roro Luhito tahu-tahu muncul di tempat tahanan rahasia itu? Seperti kita ketahui, puteri adipati ini memasuki kadipaten melalui pintu rahasia yang berada di taman sari. Agaknya Jokowanengpati dan kaki tangannya belum menemukan pintu rahasia ini sehingga ia dapat masuk dengan leluasa tanpa ada gangguan. Biarpun rumah besar itu adalah rumahnya dan sejak lahir sampai enam belas tahun lamanya ia tidak pernah meninggalkan rumah ini, namun Roro Luhito merasa asing. Sudah sepuluh tahun ia meninggalkan rumah ini. Kini usianya sudah dua puluh enam tahun. Betapa besar rindunya kepada ayah bundanya.

Akan tetapi sekarang ia merasa asing, seakan-akan memasuki rumah orang lain. Hal ini adalah karena ia tidak melihat seorangpun manusia yang dikenalnya dalam rumah itu. Dengan amat hati-hati ia memasuki rumah dan bersembunyi, melihat wajah-wajah pengawal yang asing, melihat wajah pelayan-pelayan wanita muda cantik-cantik yang asing pula.

Celaka, pikirnya. Benar-benar Kadipaten Selopenangkep telah diambil alih dan ke manakah perginya keluarganya? Ke manakah ibunya, ayahnya, isteri-isteri lain dari ayahnya? Kemana perginya kakaknya, Wisangjiwo dan mbakyu iparnya, Listyokumolo?. Dengan hati penuh kegelisahan Roro Luhito lalu menyelinap ke belakang. Ia melihat empat orang wanita muda, dandanannya seperti pelayan, akan tetapi pakaiannya itu baru dan rapi, orangnya masih muda-muda dan cantik, sedang bercakap-cakap sambil terkekeh genit. Roro Luhito mengenal seorang di antara mereka, seorang penari yang seringkali dahulu bermain di pendopo kadipaten. Ia tidak tahu siapa namanya, akan tetapi wajah itu masih diingatnya. Ia menyelinap, mendekat akan tetapi tetap bersembunyi.

"Wah, Lasmini tentu menerima Hadiah hebat dari Raden Mas Joko!" kata seorang di antara mereka yang berkutang kuning.

"Dengan menyuguhkan keponakanmu yang remaja dan cantik itu, tentu hadiahnya besar, kalau tidak engkau sendiri menerima kehormatan melayani radenmas.... hi-hi-hik!"

"Hisshh!" desis yang berkutang biru, yaitu wanita yang dikenal Roro Luhito. "Jangan bicara sembarangan, kau ! Keponakanku itu bocah tak tahu diuntung tidak menurut, menyepak-nyepak meronta-ronta ketika dibawa masuk, sungguh memalukan hatiku dan juga menguatirkan. Jangan-jangan Raden Mas Joko akan marah....."

"Mana bisa marah?" sambung orang ke tiga. "Dik Lasmini agaknya tidak tahu akan kesukaan Raden Mas Joko. Menurut kakangmas Banu..."

"Hi-hik ! Pacarmu yang baru itu, pengawal yang bertugas di luar pintu gerbang, yang kumisnya tebal hidungnya panjang?" orang ke empat memotong.

"Hushh, jangan buka rahasia orang, dong !" seru yang digoda.

"Bagaimana kesukaan Raden Mas Joko?" desak Lasmini.

"Menurut.... eh, kakangmas Banu, justeru bocah yang seperti keponakanmu itulah yang disukai Raden Mas Jokowanengpati, lebih suka yang demikian daripada yang jinak dan penurut. Katanya....... eh, katanya beliau lebih menyukai kuda liar daripada kuda jinak. Entah apa maksudnya, hi-hi-hik!"

Empat orang itu tertawa cekikikan. Muak rasa hati Roro Luhito mendengar percakapan ini, dan kebenciannya terhadap Jokowanengpati makin mendalam. Cepat ia mengambil empat buah batu kerikil, tangannya lalu diayun dan empat orang wanita itu roboh pingsan karena pelipis mereka disambar batu kerikil yang meluncur cepat dan kuat. Di Iain saat, tubuh Roro Luhito sudah berkelebat masuk dan melompat keluar lagi sambil memanggul Lasmini yang masih pingsan. Dengan gerakan laksana burung srikatan, cepat dan trampil, Roro Luhito berlompatan ke dalam taman sari, lalu keluar lagi dari taman sari melalui pintu rahasia, membawa tawanannya ketempat gelap di luar tembok kadipaten.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan bingungnya hati Lasmini ketika ia siuman kembali, tahu-tahu ia telah berada di bawah pohon, di udara terbuka, hanya diterangi bintang dan bulan sepotong. Serasa mimpi ia bangun duduk, dan memandang bengong kepada wanita cantik yang berdiri di depannya. Kini Roro Luhito tahu nama wanita ini, maka segera ia menegur, "Lasmini, masih kenalkah engkau kepadaku?"

Lasmini bangkit berdiri. Rasa nyeri dan takutnya lenyap ketika ia mendapat kenyataan bahwa yang berdiri di situ adalah seorang wanita pula, seorang manusia, bukan setan.

"Bagaimanakah saya bisa berada di sini? Kepalaku pening tadi dan...."

Ia meraba pelipisnya dan kagetlah ia karena di pelipis kanannya kini tumbuh bisul! .

"Aduhhh.... kenapa pelipisku ini....?"

"Jangan banyak cerewet! Akulah yang merobohkan kau dan tiga orang temanmu tadi. Lihat baik-baik, siapa aku?"

Lasmini kaget, mulai gelisah hati, lalu memandang dan mengingat-ingat.
"Serasa kenal... eh, bukankah andika ini...... Raden Ajeng Roro Luhito... ?"

"Hemm, ternyata engkau masih mengenalku..." kata Roro Luhito, agak terharu.

"Aduh, den ajeng....!" Lasmini lalu menjatuhkan diri, memeluk lutut wanita perkasa itu sambil menangis.

"Diam, tak usah menangis. Mari duduk yang baik dan ceritakan semuanya. 脌p脿 yang terjadi di kadipaten? Dan kemana ayah bunda dan keluargaku semua?"

Lasmini masih menangis terisak-isak, kemudian setelah agak reda ia bercerita. Cerita yang membuat Roro Luhito terkejut bukan main, membuat wajahnya sebentar pucat sebentar merah dan giginya yang putih berkerot saking marahnya. Untung bagi Roro Luhito bahwa ia menculik Lasmini sehingga ia dapat mendengar semua urusan yang terjadi di situ. Lasmini adalah penari muda cantik yang dulu pernah diganggu oleh Cekel Aksomolo, bahkan dikorbankan kepada cekel tua yang mata keranjang itu.

Karena sejak peristiwa itu wataknya lalu berubah genit dan jalang, mudah saja bagi Lasmini untuk menarik perhatian dan ia berhasil menarik hati seorang perwira pasukan kota raja sehingga mendapat kepercayaan dari Jokowanengpati dan dijadikan pelayan. Dari perwira yang menjadi pacarnya itulah Lasmini mendengar akan semua peristiwa yang kini ia ceritakan sambil menangis di depan Roro Luhito. Betapapun juga, karena semenjak kecilnya ia ngenger (mengabdi) Adipati Joyowiseso, ada juga kesetiaan dan keharuan menyelinap di hatinya ketika bersua dengan puteri bekas gustinya itu.

Memang terjadi perubahan besar dalam persekutuan antara Adipati Joyowiseso dan tokoh-tokoh sakti termasuk Jokowanengpati, setelah terjadi perpecahan di kota raja antara Pangeran Sepuh (Tua) dan Pangeran Anom (Muda). Jokowanengpati dan tokoh-tokoh sakti yang tadinya membantu niat berontak adipati ini, melihat kesempatan yang lebih besar untuk kemuliaan di kemudian hari. Mereka seakan-akan tidak menghiraukan lagi Adipati Joyowiseso setelah mereka diberi kesempatan oleh Pangeran Anom yang pandai mengumpulkan tenaga orang-orang sakti untuk mencapai cita-citanya, yaitu menguasai kerajaan yang diperebutkan dengan kakak tirinya, Pangeran Sepuh.

Melihat ini, Adipati Joyowiseso tentu saja juga menyerahkan diri menghamba kepada Pangeran Anom, akan tetapi dalam perebutan kekuasaan secara diam-diam itu, tenaga sang adipati belum sangat dibutuhkan sehingga adipati ini terdesak oleh Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan yang lain.

Perubahan besar terjadi ketika secara tiba-tiba Wisangjiwo yang tadinya juga menjadi kepercayaan Pangeran Anom membalik dan menghamba kepada Pangeran Sepuh! Hal ini benar-benar mengejutkan dan tidak dimengerti oleh orang lain, juga tidak dimengerti pula oleh Adipati Joyowiseso sendiri. Kejadian aneh ini ada sebabnya, yaitu sejak Wisangjiwo ditangkap oleh Pujo di pantai selatan! Ketika mendapat kesempatan melarikan diri setelah ikatannya dilepaskan oleh Kartikosari, Wisangjiwo diam-diam bersembunyi dan mendengarkan percakapan suami isterl itu.

Alangkah kaget hatinya mendengar akan perbuatan Jokowanengpati yang luar biasa kejinya. Dia sendiripun seorang laki-laki rnata keranjang, akan tetapi tak pernah ia melakukan perbuatan keji seperti yang dilakukan Jokowanengpati. Tahulah ia bahwa Jokowanengpati orang yang telah memperkosa Kartikosari di dalam guha, mempergunakan namanya! Sungguhpun Kartikosari ketika bercerita kepada Pujo tidak menyebut-nyebut nama karena suami isteri itu sendiri masih menduga-duga, ia yakin bahwa Jokowanengpatilah orangnya. Kelingking kiri Jokowanengpati juga buntung! Pantas saja pengakuan Jokowanengpati tentang kelingking itu berubah-ubah Dan perbuatan Jokowanengpati itulah yang mendatangkan dendam di hati Pujo dan Kartikosari, sehingga terjadi penyerbuan ke Kadipaten Selopenangkep dan puteranya terculik! Semua gara-gara Jokowanengpati.

Mulai menyesallah hati W isangjiwo. Mulai terbuka matanya betapa Pujo dan Kartikosari adalah korban-korban keganasan orang jahat. Mulai insyaf ia betapa semua itu juga merupakan akibat daripada kesesatannya sendiri. Ia menyesal dan insyaf bahwa dengan menghamba kepada Pangeran Anom, ia bersekongkol dengan orang-orang jahat macam Jokowanengpati, Cekel Aksomolo, dan lain-lain. Inilah yang menyebabkan Wisangjiwo mengambil keputusan bulat, menyeberang kepada Pangeran Sepuh. Karena ia dahulu masuk dan mengabdi kerajaan atas perantaraan Ki Patih Narotama, tentu saja Pangeran Sepuh suka menerimanya dengan girang.

Wisangjiwo yang kebingungan, kehilangan pegangan dan merasakan pahitnya bibit yang ia tanam sendiri dahulu itu, sama sekali tidak menyangka bahwa Pangeran Anom menjadi marah sekali kepadanya. Tentu saja Pangeran Anom tidak berani berterang menyuruh orang menyerangnya di depan mata Pangeran Sepuh, akan tetapi atas hasutan Jokowanengpati, Pangeran Anom lalu mengutus pasukan pengawalnya, dikepalai Jokowanengpati dan kedua wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini, mendatangi Selopenangkep dan memberi hukuman kepada keluarga Wisangjiwo, yaitu semua penghuni kadipaten dengan tuduhan memberontak yang diperkuat oleh Jokowanengpati!

Pasukan kota raja amat terlatih dan kuat, apalagi dikepalai oleh seorang sakti seperti Jokowanengpati dibantu Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Tanpa perlawanan berarti, Kadipaten Selopenangkep dapat diserbu, banyak di antara keluarga kadipaten dibunuh, dan kadipaten diambil alih. Peristiwa itu sudah terjadi beberapa pekan lamanya. Kemudian, Lasmini menceritakan pula betapa Jokowanengpati dibantu oleh Ni Durgogini dan Ni Nogogini, pergi ke Sungapan, katanya hendak mencari pusaka Mataram, demikian cerita pacarnya.

"Baru tadi mereka bertiga kembali dari Sungapan, den ajeng. Malah dua orang wanita yang menakutkan itu siang tadi terus pergi, kabarnya hendak pergi ke kota raja. Ah, banyak kejadian mengerikan, den ajeng. Malah belum lama tadi, menurut pengawal dalam, ada dua orang musuh tertawan, kini dikurung dalam kamar tahanan bawah tanah yang menyeramkan itu....."

"Begitukah.....??"

Roro Luhito terkejut karena dapat menduga bahwa dua orang musuh yang dimaksudkan itu tentulah Pujo dan Kartikosari.

"Dan ayah di mana sekarang...? Masih... masih hidupkah.....?"

Lasmini menangis tersedu-sedu. Roro Luhito berdebar hatinya dan ia mengguncang-guncang pundak wanita itu, kehilangan sabar.

"Hayo cepat jawab, di mana ayah dan ibu?"

"Hamba.... hamba tidak tahu jelas.... kabarnya.... gusti adipati ditahan dalam kamar tahanan di belakang... dijaga ketat..."

Roro Luhito meloncat berdiri tegak. "Keparat kau Jokowanengpati!" serunya marah. Kemudian sekali renggut, ia melepaskan kemben yang melibat pinggang ramping Lasmini. Wanita itu kaget sekali, tubuhnya gemetar wajahnya pucat.

"Raden ajeng.... hamba.... hamba...."

"Diam! Kau juga bukan manusia baik-baik, Lasmini. Kau mengorbankan keponakanmu yang masih kecil untuk memuaskan nafsu jahat Jokowanengpati, agar kau disuka dan mendapat kedudukan baik. Kau perempuan rendah dan keji, sudah sepatutnya kalau kubunuh engkau. Akan tetapi karena kau telah menceritakan semua dengan jujur, kuampunkan nyawamu!"

Sambil bicara, Roro Luhito menelikung (mengikat kaki tangan) Lasmini seperti kambing akan disembelih.

"Katakan, selain Jokowanengpati dan para pengawal, ada siapa lagi di sana? Para pinisepuh (orang tua) sakti maksudku."

Dengan tubuh menggigil ketakutan Lasmini pienjawab, "Ti.... tidak ada lagi, setelah dua orang wanita iblis itu pergi..."

Roro Luhito menggunakan tangannya merenggut putus ujung kemben, menyumpal mulut Lasmini, tubuh Lasmini terguling ke dalam gerombola alang- alang. Cepat Roro Luhito kembali memasuki pintu rahasia di taman sari, masuk dengan hati-hati, langsung ia menuruni jalan rahasia dari kamar belakang yang kosong, yang membawanya ke bagian bawah tanah di mana terdapat beberapa ruangan untuk menahan tawanan-tawanan penting.

Tentu saja ia hafal akan keadaan di kadipaten ini. Menurutkan kata hatinya memang ia ingin segera pergi menjenguk ke belakang gedung, ke tempat tahanan di mana mungkin ia dapat bertemu dengan ayah bundanya, akan tetapi pikirannya mengingatkan bahwa untuk bergerak selanjutnya, tak mungkin dapat ia lakukan tanpa bantuan Pujo dan Kartikosari.

Ia tahu bahwa Jokowanengpati adalah seorang sakti. Biarpun sekarang ia tidak takut, dan belum tentu kalah setelah ia menerima gemblengan gurunya, Resi Telomoyo, namun ia harus berlaku hati-hati, apalagi kalau diingat bahwa Jokowanengpati dibantu oleh banyak pengawal. Baru saja menuruni ruangan di bawah tanah, yang agak gelap, tiba-tiba seorang penjaga. sudah menegurnya.

"Hordah ! Siapa ini...??"

Dan sebelum ia sempat menjawab, penjaga itu sudah mencabut pisau belatinya dengan tangan kanan, lalu tangan kirinya mencengkeram ke arah pundak sambil berbisik, "Ah, kau dayang dalam jangan berteriak!"

Penjaga itu dengan dengus penuh nafsu menyeringai dan hendak menciumnya, pisau belati dipakai mengancam, tangan kiri hendak berkurang ajar. Bagaikan kilat cepatnya, sekali menggerakkan tangan, Roro Luhito sudah membuat dua gerakan. Pertama merampas pisau dan kedua membenamkan mata pisau ke dalam dada penjaga sambil rnelompat mundur sehingga ketika tubuh penjaga yang jantungnya sudah ditembus pisau itu roboh, darah yang muncrat tidak mengenai bajunya. Kemudian, setelah membersihkan pisau pada baju korbannya, Roro Luhito melanjutkan perjalanan, berindap-indap di ruangan bawah, pisau tajam di tangannya.

Demikianlah, secara kebetulan sekali Jokowanengpati pergi meninggalkan ruangan tahanan, menyerahkan penjagaan kepada empat orang penjaga itu, menunda niatnya yang amat keji, niat yang kiranya hanya dapat dilakukan oleh iblis. Karena empat orang penjaga tidak menyangka-nyangka, secara mudah sekali mereka menjadi korban pisau belati di tangan Roro Luhito. Dengan menahan kemarahan dan tergesa-gesa, Roro Luhito membebaskan suami isteri itu, lalu berbisik,

"Lekas, mari keluar dari sini! Kalian bantu aku menyelidiki orang tuaku...ini"

Suaranya gemetar dan tangannya menarik lengan Kartikosari diajak keluar tahanan. Pujo mengikuti dari belakang setelah mengambil kerisnya Banuwilis dan cundrik isterinya yang tadi terlepas di lantai ketika mereka berjuang melawan asap belerang. Tanpa bicara ia menyerahkan cundrik isterinya dan mereka bertiga kini keluar dari kamar, senjata masing-masing di tangan.

Roro Luhito sudah membuang pisau rampasannya, kini juga menghunus kerisnya dan memegang di tangan kanan. Berkat ketrampilan Roro Luhito yang hafal benar akan keadaan di dalam kadipaten, mereka bertiga dapat keluar dari ruangan di bawah tanah, lalu langsung ke bagian belakang gedung kadipaten yang luas itu. Sunyi saja keadaannya. Tidak tampak seorangpun penjaga maupun pelayan, seakan-akan semua orang telah meninggalkan gedung. Di depan pintu kamar tahanan yang letaknya di belakang gedung, Roro Luhito berhenti, ragu-ragu.

"Tidak baik ini...." bisiknya.

"Ada apakah, diajeng?" Pujo berbisik pula.

"Begini sunyi, tiada rintangan...."

Kartikosari melangkah maju. "Terjang saja ke dalam. Takut apa?"

Penuh semangat tiga orang itu mendorong daun pintu kamar tahanan, Daun pintu terbuka dan.... Roro Luhito menahan pekik, lalu menerjang masuk diikuti Pujo dan Kartikosari.

"Ha-ha-ha-ha! Sudah kuduga tentu engkau yang datang, adinda yang manis Roro Luhito! Berhenti! Maju setindak lagi, keris ini akan memasuki tubuh ayahmu!"

Dengan muka pucat Roro Luhito terpaksa tidak berani bergerak, juga Pujo dan Kartikosari karena pada saat itu, Jokowanengpati sedang mengancamkan kerisnya pada dada Adipati Joyowiseso yang kelihatan lemah dan lemas. Jelas bahwa orang tua itu banyak menanggung penderitaan, bajunya compang-camping, membayangkan kulit tubuh yamg luka-luka, wajahnya pucat sekali dan ia tampak lemas kehabisan tenaga.

"Ayahh ...... !"

Roro Luhito terisak, akan tetapi tidak berani mendekati. Adipati Joyowiseso menggerakkan kepalanya dengan lemah, menoleh dan memandang puterinya. Kedua matanya menjadi basah dan dua butir air mata membasahi pipinya yang cekung.

"Jahanam Jokowanengpati!" Puteri adipati itu kini mendamprat dengan mata mendelik, berapi-api sinarnya ditujukan ke arah Jokowanengpati, musuh besarnya yang tidak saja telah menodai dirinya, akan tetapi yang kini malah mendatangkan malapetaka kepada keluarga ayahnya.

"Lepaskan ayahku!!"

"Jokowanengpati iblis keparat, binatang terkutuk..... !" Kartikosari juga memaki saking bencinya.

"Dosamu bertumpuk-tumpuk, Jokowanengpati. Kini tiba saatnya engkau membayar, tiba saatnya engkau menerima hukumanmu!" Pujo berkata, kerisnya digenggam erat-erat.

Menghadapi ancaman tiga orang lawan tangguh ini, Jokowanengpati tertawa.

"Ha-ha-ha-ha! Kalian sudah masuk perangkap, masih banyak berlagak? Lihat, kalian sudah terkurung!"

Ketiga orang itu melirik ke belakang dan benar saja. Kalau tadinya tak tampak seorangpun penjaga, kini pintu kamar itu penuh dengan pasukan yang berjejal di luar. Jalan keluar sudah tertutup! Namun mereka tidak takut sama sekali. Satu-satunya hasrat hati yang ada hanyalah menerjang dan merobohkan Jokowanengpati, melampiaskan dendam kesumat. Akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang berani bergerak maju karena lawan yang licik itu telah menodong Adipati Joyowiseso.

"Lepaskan ayahku! Pengecut, tak tahu malu!" Kembali Roro Luhito membentak.

"Kalian bertiga yang harus melepaskan senjata. Hayo buang senjata! Lihat! Haruskah aku menyiksa lebih dulu kakek ini?"

Jokowanengpati menekan ujung keris di dada Joyowiseso, tepat di ulu hatinya. Jelas tampak betapa ujung keris yang runcing itu merobek kulit dan beberapa titik darah menetes keluar.

"Uuhhhggghh !" Joyowiseso mengeluh, menahan rasa perih.

"Tidak lekas membuang senjata?" Jokowanengpati inengancam.

"Uuuuuhhhggh....!" Kembali Joyowiseso mengeluh.

Anak mana yang tidak akan hancur luluh hatinya menyaksikan ayahnya diancam maut ? Roro Luhito tak dapat lagi menahan hatinya. Dilemparkannya keris di tangan itu ke lantai, lalu ia lari menubruk ayahnya.

"Ayahhhh...... !

"Luhito.... uhphh, Luhito anakku.... "

Ayah dan anak itu bertangis-tangisan. Pujo dan Kartikosari tidak dapat menyalahkan Roro Luhito. Dengan kemarahan meluap mereka hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba dari belakang mereka menyambar angin yang aneh. Mereka cepat membalikkan tubuh dan.... selembar jala telah melayang dan mengembang, langsung menubruk mereka. Suami isteri ini tak mungkin dapat mengelak lagi karena jala itu amat lebar. Namun mereka tidak gentar karena apakah hebatnya selembar jala? Tentu mudah diputuskan!

Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika jala itu menyelimuti tubuh dan mereka berusaha meronta dan membabat dengan keris, jala itu tidak dapat dibabat putus! Kiranya itu bukanlah jala ikan biasa, melainkan jala yang terbuat daripada bahan yang tidak dapat diputus senjata tajam Mereka hanya dapat meronta-ronta dan bergerak-gerak seperti dua ekor ikan terkena jaring!

"Ha-ha-ha, Pujo manusia goblok! Sekarang kau hendak lari ke mana? Ha-ha-ha! Hayo rampok (keroyok) keparat ini sampai hancur tubuhnya, akan tetapi awas, jangan bunuh yang betina. Ha- ha-ha!"

Para penjaga itu berlomba maju untuk mengeroyok Pujo yang sudah berselimut jala. Pedang, golok dan tombak menghujam ke arah tubuh Pujo. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar jeritan yang merupakan lengking tinggi dan tahu-tahu dua orang penjaga yang terdepan, terpelanting seperti disambar petir.

"Hayo siapa berani maju mengantar nyawa! Majulah, keparat kalian semua! Siapa berani menyentuh kakangmas Pujo, hendak kulihat orangnya!"

Roro Luhito berdiri dengan sikap seperti Srikandi, kedua tangannya terkepal kedua kakinya terpentang, tubuhnya agak merendah, matanya mengeluarkan sinar berapi-api, berdiri membelakangi Pujo dan Kartikosari, bagaikan seekor singa betina melindungi anak-anaknya ! .

Melihat dua orang penjaga tadi roboh terpelanting dan tak dapat bangun lagi karena tulang dada dan tengkorak kepalanya remuk oleh terjangan gadis ini, para penjaga yang lain menjadi kesima dan jerih. Jokowanengpati juga terperanjat sekali. Sepak terjang Roro Luhito tadi benar-benar hebat luar biasa. Tidak disangka-sangkanya kalau gadis itu memiliki kepandaian sedemikian hebatnya , Iapun terheran-heran mengapa gadis ini menolong Pujo dan Kartikosari dari dalam kamar tahanan di bawah tanah, dan sekarang begitu nekat membela Pujo. Bukankah gadis itu seharusnya membenci dan sakit hati kepada Pujo?

"Diajeng Luhito........ dia ....... Pujo itu musuh kita, dialah jahanam yang dahulu memperkosa..."

"Tutup mulutmu yang busuk!!" Roro Luhito membentak, kemarahannya meluap-luap. "Jahanam terkutuk, siapa tidak ketahui perbuatanmu yang keji dan hina?"

Makin kagetlah Jokowanengpati. Celaka, pikirnya. Semua rahasianya agaknya telah terbuka. Tidak saja Pujo dan Kartikosari yang tahu bahwa dialah yang dahulu menggagahi Kartikosari mempergunakan nama Wisangjiwo, bahkan kini agaknya Roro Luhito juga sudah tahu bahwa dialah yang dahulu memperkosa puteri adipati itu mempergunakan nama Pujo! Akan tetapi dasar seorang cerdik, ia segera dapat menekan kegelisahannya dan sekali lagi ujung kerisnya ditekankan di dada Joyowiseso membuat adipati ini yang sudah lemah itu mengeluh kesakitan.

"Diajeng Luhito, lekas tinggalkan mereka, kalau tidak, ayahmu tentu akan kubunuh lebih dulu!"

Roro Luhito bimbang hatinya. Tidak ingin ia melihat Pujo Laki-laki yang dipujanya di dalam hati itu, mati dikeroyok. Akan tetapi bagaimana pula ia dapat melihat ayahnya dibunuh begitu saja? Cinta kasih dan bakti, sama berat! Selagi ia bimbang, ia mendengar suara bisikan Pujo di belakangnya, bisikan yang menggetar penuh perasaan haru.

"Diajeng, minggirlah. Belum tentu mereka dapat membunuh kami "

Ketika melirik dan melihat betapa suami isteri itu masih berdiri dengan keris di tangan, ia dapat mengerti bahwa biarpun sudah berselimut jala, agaknya tidak akan mudah membunuh mereka. Terpaksa ia lari menubruk ayahnya yang kelihatan amat pucat itu.

"Roro ....... anakku........ Pujo tidak berdosa ....... ??*'

Dengan air mata membasahi pipi, Roro Luhito menggeleng kepala. Ia tidak ada waktu untuk melayani percakapan ayahnya, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya yang membanjir keluar dari bibir yang pucat itu, karena pada saat itu seluruh perhatiannya ia curahkan ke depan, ke arah Pujo dan Kartikosari yang berada di dalam jala. Kembali para penjaga menyerbu dengan senjata-senjata mereka. Akan tetapi, tepat seperti yang diduga dan diharapkan Roro Luhito, begitu suami isteri itu bergerak, keris mereka menyambar di antara lubang-lubang jala dan empat
orang penjaga yang mengeroyok itu roboh dengan darah muncrat-muncrat dari perut mereka!

Jokowanengpati memaki-maki anak buahnya sehingga mereka terpaksa maju terus. Tombak-tombak panjang dating bagaikan hujan. Karena Kartikosari dengan gigih membantu suaminya, kini para penjaga yang panik dan agak gentar itu menjadi ngawur dan asal menyerang saja, tidak perduli Pujo ataupun Kartikosari mereka tusuk dengan tombak. Ribut keadaan di situ dan suami isteri yan gagah perkasa itu dengan gerakan teratur meloncat ke sana ke mari di dalam jala, merobohkan belasan orang perajurit anak buah Jokowanengpati, Para perajurit mengeroyok terus, korban-korban yang roboh diseret keluar.

Tidak mudah bagi para pengeroyok yang hanya memiliki kepandaian biasa itu untuk merobohkan dua orang suami isteri yang sakti. Hujan tombak dan golok itu hanya mampu membuat pakaian suami isteri itu compang-camping dan memang Pujo dan isterinya menderita luka-luka, namun hanyalah luka pada kulit belaka, bekas goresan-goresan senjata tajam dan tusukan-tusukan tombak runcing yang mengakibatkan darah membasahi baju dan jala.

Melihat betapa anak buahnya masih juga belum berhasil merobohkan Pujo malah sebaliknya banyak anak buahnya menjadi korban, Jokowanengpati marah sekali. Ia tahu bahwa Pujo sudah mulai letih, karena Pujo belum pulih dari akibat penyiksaan di dalam kamar tahanan di bawah tanah. Begitu melihat kesempatan baik, Jokowanengpati melompat ke depan dan sekali kaki tangannya bergerak, ia berhasil merampas keris di tangan Kartikosari dan menendang terlepas keris dari tangan Pujo. Suami isteri itu memang mengeluarkan tangan yang memegang keris dari dalam jala.

"Ha-ha-ha-ha, kalian masih hendak memperlihatkan kegagahan?" Jokowanengpati membentak anak buahnya yang sudah hendak menerjang lagi. Ia ingin melampiaskan kemarahannya dengan menyiksa Pujo.

Di tangannya telah tampak sebatang cambuk besar dan panjang. Begitu ia menggerakkan tangannya, terdengar suara berdetak-detak dan cambuk itu melecut ke depan, menghantam tubuh Pujo di dalam jala. Bertubi-tubi cambuk itu bergerak dan melecut dan selalu tepat mengenai tubuh Pujo. Kartikosari memaki-maki dan berusaha menangkis ujung cambuk yang begitu keji menghujani tubuh suaminya yang makin lemah.

Sementara itu, dengan pertanyaan-pertanyaan mendesak, Adipati Joyowiseso sudah mendengar hal-hal yang terpenting dari mulut puterinya. Mendadak ia memegang tangan puterinya, berbisik, "Bagaimana kau bisa mendiamkannya saja? Lawan dia! Bantu mereka. Jangan hiraukan aku lagi!"

Memang di dalam hatinya, Roro Luhito yang menonton dengan muka pucat itu sudah ingin sekali turun tangan, hanya ia mengingat akan keselamatan ayahnya maka ia tidak berani meninggalkan ayahnya. Kini mendengar bisikan ayahnya, timbul semangatnya dan tiba-tiba ia mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mencelat ke depan. Gerakannya ini hebat sekali, pekiknya seperti bukan suara manusia dan ia menerjang Jokowanengpati benar-benar amat aneh sehingga Jokowanengpati terkejut bukan main, cepat membuang diri ke belakang. Sungguhpun ia berhasil mengelak, namun secara aneh dan tiba-tiba pecutnya sudah terampas oleh Roro Luhito.

Jokowanengpati yang cerdik maklum bahwa gadis itu sudah nekat dan agaknya percuma mengancamnya melalui ayahnya, maka ia segera memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk maju mengeroyok. Ia sendiri juga menerjang maju hendak meringkus Roro Luhito yang cantik manis akan tetapi kini memiliki ilmu kepandaian hebat itu.

Kembali ramai di dalam ruangan tahanan yang luas itu. Roro Luhito yang telah kehilangan kerisnya, kini mengamuk dengan cambuk rampasannya, Ia tidak pandai bermain cambuk, akan tetapi karena ilmunya tinggi, hantaman cambuknya amat hebat dan sekali terpukul cambuk, seorang pengeroyok tentu akan roboh dan tak dapat bangun kembali, Betapapun juga, karena di situ ada Jokowanengpati yang menerjangnya dengan pukulan-pukulan ampuh, Roro Luhito mulai terdesak mundur dan untuk mencari ruangan yang luas, gadis perkasa ini membuka jalan darah, keluar dari ruangan itu dikejar Jokowanengpati yang merasa penasaran.

Adapun suami isteri yang berada di dalam jala, masih dikeroyok banyak perajurit. Baiknya Kartikosari tadi berhasil menyambar sebuah golok yang terletak di lantai sehingga kini dengan golok ini ia dapat melindungi diri dan suaminya yang sudah lemas.

Pujo tak dapat melawan lagi, sudah rebah di lantai. Biarpun Kartikosari juga memiliki kesaktian, namun wanita ini sudah luka-luka pula sehingga hanya untuk sementara saja ia mampu melindungi hujan tombak dan golok dari luar jala. Ia mulai lelah, pandang matanya berkunang, namun ia bertekat bulat untuk mempertahankan diri dan suaminya sampai saat terakhir.

Roro Luhito setelah tiba di luar kamar dikeroyok oleh banyak sekali perajurit. Ia dikepung dan Jokowanengpati yang merasa tidak leluasa gerakannya, meloncat mundur membiarkan orang-orangnya melakukan pengeroyokan sambil menanti saat dan kesempatan terbaik untuk turun tangan menangkap gadis yang seperti Srikandi itu.

Dari luar kepungan ia berseru, "Diajeng Luhito, menyerahlah! Ayahmu telah memberikan engkau menjadi calon isteriku. Menyerahlah!"

"Jokowanengpati manusia hina-dina! Hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati mencuci penghinaan!"

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan menyeramkan dari luar. Kemudian tampak oleh Jokowanengpati betapa pasukan yang berada di luar menjadi geger. Tampak pula para pepjaga bergelimpangan diterjang oleh sesosok bayangan putih yang mengeluarkan suara seperti seekor monyet.

"Roro Luhito Di mana kau...??" Bayangan yang mengamuk itu berseru.

"Bapa guru....! Bapa resi.....! Ke sinilah... !!" Roro Luhito berseru girang sekali. Kembali bayangan yang kini tampak jelas adalah seorang kakek yang bermuka seperti kera itu bergerak dan para penjaga berpelantingan ke kanan kiri.

Jokowanengpati terkejut ketika mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Resi Telomoyo yang sakti mandraguna. Tanpa menanti lebih lama lagi atau memperdulikan nasib anak buahnya, Jokowanengpati yang cerdik dan curang itu sudah menyelinap dalam gelap, terus menyusup-nyusup ke belakang kadipaten, meloncat ke atas punggung kudanya dan selagi pertempuran keroyokan di dalam kadipaten masih ramai dan ribut, ia sudah membalapkan kudanya keluar dari Kadipaten Selopenangkep menuju ke timur! .

Amukan Roro Luhito dan Resi Telomoyo membuat pasukan kota raja yang menguasai Kadipaten Selopenangkep itu kocar-kacir. Sebelum lewat tengah malam, sisa pasukan yang belum menjadi korban amukan guru dan murid ini sudah lari cerai-berai. Para penduduk kota Kadipaten Selopenangkep yang mendengar bahwa puteri adipati yang dahulu lenyap itu kini pulang dan membasmi pasukan musuh yang menguasai kadipaten, berbondong-bondong keluar.

Mereka inilah, dan para pelayan lama, yang membantu Roro Luhito membersihkan kadipaten dari mayat-mayat pihak musuh yang tak sempat dilarikan kawan-kawan yang melarikan diri malam itu. Pada keesokan harinya, kadipaten sudah bersih dari mayat-mayat dan darah.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Jari-jari kecil panjang dengan kulit halus dan telapak tangan jambon (kemerahan) itu seperti mengeluarkan getaran yang menyentuh jantung ketika meraba-raba punggungnya, membersihkan luka-luka dan membasahinya dengan air obat. Enak rasanya air obat menyentuh punggung, dingin dan mengusir rasa panas dan perih. Namun yang paling terasa sampai menembus jantung adalah getaran hangat jari-jari tangan itu.

Pujo seperti dalam mimpi. Ketika ia membalikkan tubuh, ia melihat secara samar bayangan wanita. Siapa lagi kalau bukan isterinya, Kartikosari. Rindu dendam yang sejak lama ditahan-tahannya, dibendungnya dengan kekuatan hati penuh pengertian bahwa isterinya belum mau berbaik kembali kepadanya, belum mau memenuhi kewajiban sebagai isteri yang melayani kasih sayang suami, sebelum musuh besar mereka terbalas, kini seakan-akan bergolak, membadai dan hendak menggempur dan menjebol bendungan!

"Nimas Sari......!" bisiknya dengan suara gemetar ketika kedua lengan Pujo bergerak memeluk pinggang yang ramping, membenamkan muka di dada yang berdebar-debar, penuh rasa kasih sayang. Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti ini.

Pujo merasa bahagia, tenang tenteram penuh aman dan damai seperti seorang anak kecil mendekap susu ibunya. Ia merasa puas bahagia karena isterinya tidak menolak bukti kasihnya, pinggang ramping yang dirangkulnya tidak menjauh, dan jantung di dalam dada yang penuh itu terguncang.

"Kakangmas Pujo...... jangan khawatir mbokayu Kartikosari selamat kau...... berbaringlah yang baik agar aku dapat mengobati punggungmu, kakangmas."

Pujo mengejap-ngejapkan matanya, menengadah dan bagaikan disambar petir kagetnya ketika ia melihat bahwa Yang dipeluknya adalah pinggang Roro Luhito. Gadis itu meramkan kedua mata dan dua butir air mata membasahi pipinya yang menjadi merah sekali. Cepat Pujo melepaskan rangkulannya pada pinggang, menatap wajah itu dari atas pembaringan sambil berkata gagap,

"Diajeng Roro....... ah, maafkan aku..... maafkan..... "

Bibir yang merah membasah itu merekah dalam senyum, membayangkan kilauan gigi putih di baliknya.

"Tidak mengapa, kakangmas. Kau ngelindur agaknya. Bertelungkuplah, punggungmu perlu diobati. Jangan khawatir, itu mbokayu Sari di situ, tidak apa-apa, agaknya tidur pulas saking lelahnya."

Karena malu dan jengah, Pujo segera bertelungkup. Akan tetapi kepalanya dimiringkan untuk memandang ke arah kiri yang ditunjuk Roro Luhito. Berdegup jantungnya melihat bahwa isterinya, Kartikosari, benar saja berbaring di atas sebuah dipan kayu lain dalam kamar itu. Isterinya rebah terlentang, kedua matanya meram, dadanya turun naik perlahan tanda bahwa isterinya sedang tidur. Benar sedang tidur pulaskah isterinya itu? Bulu matanya bergerak-gerak! Pujo merasa gelisah. Bagaimana kalau isterinya melihat perbuatannya terhadap Roro Luhito tadi?

"Sudah, cukuplah, diajeng. Luka-lukaku hanya luka di kulit, tidak apa-apa. Bagaimana dengan ayahmu, paman adipati?" Pujo berkata dan ia bangkit duduk.

"Ayah amat lemah usianya yang sudah tua membuat ia tidak dapat menahan pukulan batin dan siksaan, sekarang sedang dirawat bapa resi."

Sejenak wajah yang manis itu muram, kemudian tangannya menyerahkan sepasang pakaian baru kepada Pujo sambil berkata, "Kau pakailah ini, kakangmas. Ini pakaian kangmas Wisangjiwo. Pakaianmu sudah hancur."

Pujo melihat ke tubuhnya. Bajunya sudah tidak merupakan baju lagi, compang-camping, demikian pula celana dan kainnya. Ia menerima sepasang pakaian itu dan pada saat itu Kartikosari bangun.

"Diajeng, bagaimana dengan keluarga ayahmu? Mana ibumu?"

Ditanya demikian, Roro Luhito terisak, lalu menubruk Kartikosari dan menangis di atas pangkuan nya, Dengan suara tersendat-sendat Roro Luhito menceritakan betapa sebagian besar keluarganya terbasmi ketika terjadi penyerbuan pasukan kota raja yang dipimpin Jokowanengpati dan kedua orang wanita iblis Ni Durgogini dan Ni Nogogini. Juga ibu kandungnya telah tewas dalam penyerbuan itu.

"Jokowanengpati manusia iblis! Dosamu bertumpuk-tumpuk....!" kata Pujo dengan marah sambil mengepal tinjunya.

"Sayang sekali iblis itu dapat meloloskan diri ketika paman resi Telomoyo datang membantu," kata Kartikosari penuh penyesalan.

"Kali ini ia lolos, akan tetapi lain kali pasti tidak. Kejahatan takkan dilindungi oleh Hyang Widi!" kata pula Pujo penuh harapan .

Roro Luhito sudah dapat menguasai kesedihannya. Ia bangkit dengan muka basah air mata dan mata agak merah.

"Harap kalian maafkan, aku harus pergi menengok ayah."

"Tidak apa, pergilah, diajeng. Kami tidak apa-apa, yang perlu mendapat perawatan adalah ayahmu" kata Kartikosari.

Puteri adipati itu melangkah keluar dari dalam kamar sambil menundukkan mukanya.

"Sudah sepatutnya dikasihan....." terdengar Kartikosari menyambung lirih.

"Dan dia begitu baik, telah menolong kita."

"Ya, dua kali dia telah menolong kita. Di dalam kamar bawah tanah dan ketika kita terkurung jala....."

Pujo lalu membaringkan tubuhnya lagi sambii menghela napas panjang. Hening Sejenak di dalam kamar itu. Kemudian terdengar lagi suara Kartikosari, "Kita berhutang budi kepada diajeng Roro Luhito, kakangmas."

"Engkau benar, nimas. Kita berhutang nyawa."

Hening lagi sejenak. Kini Kartikosari yang menghela napas panjang, jelas terdengar hembusan nafas halus panjang di kamar sunyi, "Sesungguhnya, kita, terutama engkau, berhutang nyawa kepadanya. Dia malam itu bukan hanya menolong, kakangmas, dia malah rela hendak mengorbankan diri, berkorban nyawa, untukmu...."

Sesuatu dalam suara Kartikosari membuat Pujo menengok dan memandangnya. Ia melihat Kartikosari sudah duduk dipembaringan, makin cantik dengan kain dan kutang yang serba baru, agaknya diberi pinjam Roro Luhito karena pakaiannya sendiri compang-camping, dengan muka agak pucat sehingga alis yang indah bentuknya itu makin hitam seperti dicat.

"Dan dia cinta kepadamu, kakangmas, cinta yang tulus ikhlas, suci murni, cinta yang membutuhkan balasan dan sudah sepatutnya pula mendapat balasan cinta kasih darimu...."

Pujo kini melompat bangun, berlutut di depan pembaringan isterinya, memeluk pinggang isterinya dan menelungkupkan muka di atas pangkuannya, seperti yang dilakukan pada Roro Luhito tadi.

"Nimas..... nimas Sari..... apa..... yang kauucapkan itu? Kau..... kau..... cemburu?"

Ia menengadah, memandang wajah ayu penuh selidik, mencari-cari dengan pandang matanya. Kartikosari menunduk dan jari-jari kedua tangannya membelai rambut kepala suaminya yang kusut, bibirnya bergerak-gerak mengeluarkan suara lirih,

"Wanita mana di dunia ini yang bebas akan cemburu, kakangmas? Di mana ada cinta, di situ ada cemburu, Wanita mana di dunia ini suka melihat cinta kasih suaminya dibagi dengan wanita lain? Dan akupun hanya wanita biasa, kakangmas. Akan tetapi, aku ingin diajeng Roro Luhito menjadi maduku, aku ingin melihat dia bahagia di sampingku, berkumpul dengan kita selamanya."

"Hishhh! Apakah kau mengigau, nimas Sari? Sadarlah dan buang jauh-jauh rasa cemburu dari hatimu!", Pujo mempererat pelukannya pada pinggang yang ramping itu.

"Dia cinta padamu, kakangmas. Aku percaya dan yakin bahwa cinta kasihmu hanya untukku seorang dan karena ini aku merasa amat bahagia, suamiku. Akan tetapi.... dia amat cinta kepadamu, dia menderita karenamu, bahkan dia rela menderita karena cintanya kepadamu....."

"Bagaimapa.... bagaimana kau tahu.....?"

"Setiap orang yang tidak buta hati dan matanya akan dapat melihat, akan dapat mengetahuinya. Dahulu dia mencarimu, ingin menghambakan diri kepadamu, sungguhpun dahulu ia mengira bahwa engkaulah yang memperkosanya. Dan setelah tahu bahwa Jokowanengpati yang melakukannya, ia amat membenci Jokowanengpati, akan tetapi masih tetap cinta kepadamu, bahkan menolongmu, dan malam tadi rela hendak mengorbankan nyawa untukmu. Aku tahu bahwa engkau akan bahagia jika membalas cinta kasihnya, kakangmas, dan aku.... aku hanya ingin membuktikan bahwa cinta kasihku kepadamu sedalam Laut Selatan. Aku rela dan bahagia melihat kau bahagia, Bahwa.... aku tetap mencintamu, tetap bersetia kepadamu apapun yang akan terjadi"

"Nimas Sari..... kau dewiku.... !"

Pujo bangkit berdiri, merangkul leher dan hendak mencium bibir Isterinya yang sudah amat lama ia rindukan itu, Akan tetapi Kartikosari merenggutkan dirinya, mengelak sambil berkata, tersenyum, "Stop, kakangmas! Ingat, belum tiba saatnya. Lupakah engkau akan syaratku?"

Tubuh Pujo yang tadinya mengejang penuh semangat dan kegembiraan itu, seketika menjadi lemah dan lesu. Ia kembali menjatuhkan diri berlutut dan mengeluh, "Nimas Sari, isteriku, tidak kasihankah engkau kepadaku? Aku rindu padamu, nimas."

Bibir itu tetap tersenyum manis, akan tetapi matanya berkejap-kejap menahan air mata, memancarkan pandang penuh kasih mesra, kedua tangannya diulur menyentuh tangan suaminya. Jari- jari tangan mereka saling genggam, penuh getaran yang memancar keluar dari hati masingmasing.

"Kakangmas Pujo, suamiku jiwa dan raga ini milikmu, sudah kuberikan kepadamu dengan rela sejak dahulu. Akan tetapi ksatria harus menepati janji. Satria harus tahan tapa tahan derita, dan pandai menguasai nafsu diri. Kakangmas, biarlah mulai saat ini kuajukan syarat baru kepadamu Setelah segala yang kita alami aku hanya mau melayanimu dengan segala kerendahan hati, dengan cinta kasih, apabila diajeng Roro Luhito menjadi maduku!"

"Nimas! Apakah engkau sudah gila....?" Pujo bangkit berdiri, memandang wajah isterinya dengan mata terbelalak.

Kartikosari tersenyum. "Sudahlah, bukan waktunya kita berbantahan Kau pakai pakaianmu pemberian diajeng Luhito dan mari kita menengok keadaan paman adipati. Tidak baik rasanya kalau kita berdua hanya mengeram diri di dalam kamar saja, padahal luka-luka kita hanyalah luka pada kulit."

Pujo hendak membantah, akan tetapi didiamkan oleh senyum Kartikosari yang dengan cekatan menanggalkan baju Pujo yang compang-camping itu. Terharu hatinya melihat betapa isterinya ini membantunya bertukar pakaian, membantunya seolah-olah dia seorang an脿k kecil yang belum pandai bertukar pakaian sendiri. Sementara itu, diam-diarn Kartikosari terharu dan hampir ia tak dapat menahan isak haru dan gelora hatinya ketika ia menyaksikan kembali bentuk tubuh suaminya yang kokoh kuat dan padat.

Baru saja suami isteri ini keluar dari kamar, datang Roro Luhito berlari-lari. Mereka terkejut dan cemas, akan tetapi lega hati mereka ketika melihat wajah manis itu berseri gembira.

"Kakangmas Pujo, mbokayu Sari! Lekas, mari ke ruangan dalam. Kakangmas Wisangjiwo datang!" teriaknya girang.

Pujo dan Kartikosari tersenyum dan saling pandang. Betapapun juga, ada rasa kikuk dan tidak enak untuk bertemu muka dengan Wisangjiwo, orang yang tadinya mereka benci dan mereka jadikan musuh besar yang didendam di dalam hati. Tanpa mengeluarkan kata-kata mereka berdua menyertai Roro Luhito yang berjalan sambil menceritakan kedatangan kakaknya.

"Kakangmas Wisangjiwo telah menentang sekutunya yang jahat dan kini menghamba kepada Pangeran Tua. Itulah sebabnya maka Jokowanengpati dan sekutunya yang jahat, atas perintah Pangeran Anom (Muda) menyerbu dan mengambil alih Selopenangkep. Ketika kakangmas Wisangjiwo mendengar akan serbuan ini, segera ia mohon perkenan Gusti Pangeran Sepuh (Tua) membawa pasukan yang kuat dan baru saja tiba di sini. Marilah, dia sedang bicara dengan ayah. Bapa resi juga berada di sana."

Dari ruangan pinggir, tampak kini melalui pintu yang terbuka, banyak pasukan di depan pendopo. Terdengar pula ringkik dan derap kaki kuda. Agaknya pasukan yang dibawa Wisangjiwo dari kota raja mulai melakukan tugasnya memulihkan Kadipaten Selopenangkep, Roro Luhito mengajak dua orang itu menyeberang dan memasuki ruangan dalam dari pintu samping. Ruangan yang cukup luas dimana sang adipati duduk setengah rebah di atas dipan terukir, dengan punggung diganjal bantal.

Tidak jauh dari situ, di atas sebuah bangku, dengan tangan sibuk menggaruki tubuh seperti biasanya, duduk Resi Telomoyo. Di pinggir dipan tampak Raden Wisangjiwo yang berpakaian indah dan gagah, duduk dan bicara serius dengan ayahnya. Ketika mendengar masuknya tiga orang Raden Wisangjiwo menoleh dan mendadak mukanya menjadi merah sekali ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari. Ia cepat bangkit berdiri dan menyambut suami isteri itu dengan kata-kata terharu,

"Adimas Pujo, aku merasa amat berterima kasih atas pertolonganmu sehingga ayah terbebas dari pada ancaman maut di tangan si keparat Jokowanengpati. lebih besar pula rasa sesalku apabila kuingat betapa kalian berdua telah banyak menderita akibat perbuatanku yang sesat di masa lalu..."

Suaranya tersendat oleh keharuan. Kartikosari hanya menundukkan mukanya, akan tetapi Pujo mengangkat tangan memprotes.

"Bukan hanya engkau yang keliru, raden. Akupun telah melakukan perbuatan sesat dan jahat, menyerbu kadipaten ini, bersikap kurang patut terhadap gusti adipati, bahkan telah melakukan penculikan terhadap isteri dan puteramu Biarlah kesempatan ini kupergunakan untuk mohon maaf sebesarnya, baik kepadamu terutama sekali kepada gusti adipati!"

"Aahhh.... jangan menyebut gusti, anakmas Pujo. Sebut saja paman kepadaku, dan jangan minta maaf. Uggh-huhhuh....!"

Orang tua itu terbatuk-batuk, terengah-engah sehingga Roro Luhito cepat menghampiri ayahnya dan mengurut-urut punggungnya.

"Uuh-uh.... anakmas Pujo, sesungguhnya semua peristiwa ini adalah akibat daripada kesalahan ku sendiri! Aku telah mendengar semua, mendengar penuturan Wisangjiwo yang telah insyaf dan sadar, telah melempangkan jalan hidup yang bengkok yang kutempuh. Aku telah mendengar semua penuturan Roro Luhito dan penjelasan Sang Resi Telomoyo. maka jelaslah bahwa semua adalah akibat penyelewenganku dahulu.... ugghh-uh. Aku.... terlalu mabok akan kesenangan dunia seperti terbalik pandang mataku, seperti buta mata hatiku, gila kedudukan mabok kemuliaan sehingga aku bersekutu dengan manusia-manusia lblis..... percaya mulut manis si keparat jokowanengpati...."

Tiba-tiba Resi Telomoyo tertawa dan terdengarlah suaranya yang parau dan dalam, "Ha-ha-ha-ha, semua yang bersalah mengakui kesalahannya! Alangkah baiknya hal ini Adalah lebih baik bersalah tapi mengakui kesalahannya dan bertobat penuh penyesalan, daripada tidak bersalah merasa bangga dan mengagungkan serta menyombongkan kebersihannya."

Mendengar ucapan ini, Wisangjiwo menoleh ke arah adik tirinya, berkata sambil menarik napas panjang, "Roro, adikku yang baik, engkau sungguh bahagia mendapatkan seorang guru sebijak paman resi ini, tidak seperti aku...."

Kemudian ia menghampiri Pujo dan berkata, "Adimas Pujo, setelah segala yang terjadi, dapatkah engkau benar-benar mengampuni aku? Bolehkah aku kini bertemu dengan puteraku ?"

Suaranya tersendat oleh keharuan. Pujo mengerutkan keningnya.

"Tidak ada yang harus minta dan memberi ampun, raden...."

"Ah, adimas, mengapa. menyebut raden? Bukankah ayahku minta kau menyebut paman kepadanya? Kita bukan orang lain, ah, bagaimana dengan puteraku, Joko Wandiro yang menjadi, muridmu? Mana dia?"

"Maaf.... kangmas Wisangjiwo Tanpa kusengaja aku mengecewakan semua keluargamu. Kami sendiri sebetulnya sedang mencari-cari Joko Wandiro dan Endang Patibroto, puteriku..."

Kemudian secara singkat Pujo menceritakan kehilangan dua orang anak itu Wisangjiwo merasa gelisah sekali dan ketika ia memanggil kepala pasukan, memberinya perintah untuk mengerahkan pasukan dari kota raja mencari dua orang anak yang hilang itu.

Keadaan Adipati Joyowiseso amat payah. Bangsawan ini sudah tua dan lemah. Serbuan yang menghancurkan keluarganya, kemudian siksaan yang dideritanya, terlalu berat baginya. Biarpun Resi Telomoyo sudah berusaha sedapatnya untuk memberikan jamu-jamu yang berkhasiat, namun hasilnya sia-sia. Tiga hari kemudian, dalam keadaan payah, berbaring di atas pembaringan dalam kamarnya, Adipati Joyowiseso memanggil kedua anaknya mendekat, dan minta supaya dipanggilkan Pujo, Kartikosari, dan juga Resi Telomoyo.

Ketika Pujo dan isterinya memasuki kamar, mereka melihat Resi Telomoyo sudah berada di situ, duduk di bangku menggaruk-garuk tubuhnya. Wisangjiwo juga duduk di dekat pembaringan dengan wajah yang pucat dan muram, sedangkan Roro Luhito berlutut di dekat pembaringan sambil menangisi ayahnya. Adipati itu tampak kurus dan pucat sekali, akan tetapi matanya bersinar ketika ia melihat Pujo dan Kartikosari memasuki kamar. Pujo dan Kartikosari segera duduk menghadapi si sakit.

"Nakmas Pujo.... ahhh....." Si sakit berkata dengan napas terengah-engah dan agaknya ia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat bicara. Telunjuknya menuding ke arah Wisangjiwo ketika . Ia menyambung, "..... aku..... aku tidak khawatirkan dia ini.... dia menghamba Pangeran Tua.... akan tetapi...." Ia terengah-engah, menoleh dan menyentuh kepala Roro Luhito yang berlutut di dekatnya, "akan tetapi dia ini dia akan terlantar.... aku.... aku.... menyerahkan dia kepadamu..... anakmas...... kauterimalah anakku.... ini...."

Sang adipati tidak kuat melanjutkan lagi, merebahkan lagi kepalanya di atas bantal, napasnya terengah-engah, matanya dipejamkan setalah ia memandang ke arah Pujo dengan pandang mata penuh permohonan. Sunyi sejenak di kamar itu, kecuali isak tertahan Roro Luhito. Pujo bangkit dari bangku, bingung memandang ke sekeliling, memandang kepada wajah semua orang. Kartikosari hanya menundukkan muka.

"Ini.... ini.... bagaimana ini.... ?" Ia menggagap, mukanya menjadi merah sekali. Ia memandang Wisangjiwo untuk minta bantuan. Wisangjiwo menggigit bibir dan mengangguk.

"Aku telah menyetujui, dan aku hanya mengharap kau akan suka memenuhi permintaan terakhir ayahku, adimas Pujo."

BADAI LAUT SELATAN JILID 17