Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 03

Mendengar tantangan ini. Raden Wisangjiwo bangkit, kepalanya masih terayun-ayun ke kanan kiri, akan tetapi kepeningannya lenyap karena ia tadi memang hanya terbanting biasa saja dan mengalami babak-bundas (lecet-lecet) dan matang biru, la melihat gurunya berdiri dengan dada dibusungkan, kedua tangan bertolak pinggang, cantik dan menantang. Menerima pukulan Tirto Rudiro dengan tubuh tanpa menangkis atau mengelak? Mana mungkin? Raden Wisangjiwo ragu-ragu. Bagaimana kalau gurunya terluka atau mati oleh pukulannya ini?

"Hayo pukul...! Pukul sekuat tenaga dengan Tirto Rudiro. Awas, kalau kau memukul tidak sepenuh tenaga, aku akan membunuhmu karena menganggap kau memandang rendah kepandaian gurumu. Hayo pukul!"

Raden Wisangjiwo melangkah maju, mengerahkan tenaga, namun ia merasa bimbang ragu. Bagaimana ia tega memukul wanita yang begini cantik dengan sepenuh tenaga? Dia ini gurunya, akan tetapi juga kekasihnya. Wanita inilah yang menggemblengnya menjadi seorang jagoan, jago berkelahi dan jago dalam asmara. Ia tahu bahwa gurunya ini amat cinta kepadanya, buktinya ia telah menerima pelajaran Ilmu Asmoro Kingkin, Ilmu Cambuk Sarpokenoko, ilmu pukulan tangan kosong yang hebat-hebat. Akan tetapi, kalau ia tidak memukul sekuat tenaga, tentu gurunya itu akan membunuhnya.

Hal itu mungkin saja karena memang gurunya berwatak aneh sekali. Setelah mengumpulkan tenaganya, Raden Wisangjiwo berseru keras dan memukul dengan Aji Tirto Rudiro. Akan tetapi ia tidak mau memukul tempat berbahaya, padahal kalau ia memukul lambung atau pusar, apalagi ia mau memukul dada tempat paling lemah dari wanita, tentu akan lebih hebat akibatnya. Ia memang menggunakan seluruh tenaganya, akan tetapi ia memilih tempat yang tidak begitu berbahaya, yaitu di pundak, pangkal lengan kiri gurunya.

"Syuuuuutttt....... wesssssss...!"

Alangkah kaget hati Raden Wisangjiwo ketika kepalan tangannya melesak ke dalam kulit daging bahu gurunya, seakan-akan tersedot dan tak dapat ditarik kembalil Dan dari kepalan tangannya itu terdengar bunyi "ssssssssss" seperti api bertemu air, perlahan kepalan tangannya terasa panas terbakar.

"Aduh..... aduhh......, ampun Dewi..... ampun.....!" Ia menjerit-jerit kesakitan.

"Hi-hi-hi-hik! Apa sih hebatnya Tirto Rudiro?" Ni Durgogini memekik keras dan untuk ketiga kalinya tubuh Raden Wisangjiwo terlempar, kini amat keras dan ia roboh menabrak pohon, lalu rebah dengan leher miring dan mata mendelik, lidahnya terjulur keluar, tak dapat berkutik setengah pingsan!

Sambil tertawa cekikikan Ni Durgogini melompat ke depan mendekati Raden Wisangjiwo, dengan jari tangan kirinya ia mengurut pundak dan leher. Pemuda itu mengeluh dan sadar kembali.

"Hemm, Lasmini, kau makin liar dan masih suka mempermainkan orang!"

Ni Durgogini kaget seperti disambar petir mendengar suara ini dan tubuhnya cepat bergerak membalik, cambuk Sarpokenoko digenggam erat. Juga Raden Wisangjiwo sudah bangkit berdiri, memandang laki-laki yang entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berdiri di situ. Laki-laki ini berusia empat puluhan tahun lebih, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan berwibawa. Kepalanya yang berambut nyambel wijen (banyak uban) itu tertutup kain kepala yang ujungnya berdiri meruncing di sebelah belakang. Biarpun ia bertelanjang kaki, namun pakaiannya dan sikapnya membayangkan keagungan seorang bangsawan. Yang amat menarik adalah pancaran pandang matanya yang penuh tenaga batin, tenang lembut dan dalam seperti permukaan air telaga yang dalam.

Raden Wisangjiwo tidak mengenal orang ini, akan tetapi Ni Durgogini kelihatan makin kaget ketika ia melihat siapa orangnya yang mengeluarkan ucapan tadi. Sesaat wajahnya yang cantik itu menjadi pucat, matanya terbelalak memandang laki-laki itu tanpa berkedip dan mulutnya bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara.

"Lasmini, kau kaget melihatku?" laki-laki itu menegur sambil tersenyum, kumisnya yang tipis bergerak menambah ketampanan wajahnya.

"Kau.... rakanda.... Narotama....! Mau.... mau apakah kau datang ke Girilimut (Bukit Halimun) ini....?"

Narotama tersenyum lebar. "Tidak ada urusan denganmu, nimas, sama sekali tidak ada, hanya kebetulan saja. Bahkan aku sama sekali tidak mengira bahwa Ni Durgogini yang tersohor adalah engkau! Kalau begitu, Ni Nogogini adalah si Mandari. Ah, siapa sangka...! Kebetulan saja aku datang ke sini, terus terang hendak mencari Ni Durgogini karena ada sesuatu hendak kutanyakan, tidak tahunya Ni Durgogini adalah engkau dan aku melihat engkau mempermainkan orang muda ini. Apa dosanya?"

Agaknya lega hati Ni Durgogini mendengar ucapan itu. Ia tersenyum manja dan genit, lalu berkata, "Siapa main-main dengan dia? Dia sedang kuberi latihan ilmu, dia ini muridku. Raden Wisangjiwo putera Adipati Joyowiseso."

Narotama mengangguk-angguk. "Hemm, putera adipati di Selopenangkep? Putera adipati seyogyanya menjadi perajurit, dan untuk menjadi seorang ksatria utama bukan di sini tempat perguruannya. Lasmini, apa sih kebisaan mu, maka engkau berani menjadi guru putera seorang adipati?"

Raden Wisangjiwo mendongkol sekali mendengar ini dan ia terheran-heran melihat gurunya yang biasanya galak itu kini seakan-akan mati kutunya berhadapan dengan orang asing ini. Ia tahu dengan pasti bahwa kalau orang lain yang mengucapkan kalimat itu, tentu sekali bergerak gurunya akan membunuh orang itu yang dianggap menghina. Akan tetapi aneh bin ajaib, terhadap orang ini gurunya hanya tersenyum-senyum malu dan tidak dapat menjawab.

Rasa terheran-heran ini membuat Raden Wisangjiwo menjadi penasaran, maka ia melangkah maju ke depan orang itu dan menghardik, "Paman! Siapapun adanya engkau ini, tidak sepatutnya kau mengeluarkan kata-kata memandang rendah guruku. Mungkin kau sahabat baik guruku maka guruku bersabar mendengar penghinaan mu, akan tetapi aku sebagai muridnya tidak dapat membiarkan kekurangajaranmu. Kau hendak melihat pelajaran apa yang diberikan guruku kepadaku? Nah, apakah kau mau bukti dengan mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit melawanku? Kalau tidak berani, kau harus menarik kembali ucapanmu yang menghina tadi!"

"Wah, boleh juga muridmu, nimas! "

"Apa kau kira aku suka mengambil murid orang yang tiada gunanya?"

"Namamu Raden Wisangjiwo, orang muda? Keberanianmu cukup, semangat dan kesetiaanmu lumayan, sayang kau terlalu menghambur tenaga dan hawa murni yang seharusnya dihimpun. Boleh.... boleh.... mari kita main-main sebentar. Dan kau boleh menggunakan cambukmu itu. Mari!"

Sedetik wajah Raden Wisangjiwo menjadi merah sekali. Ucapan ini menusuk jantungnya karena memang tepat. Iapun maklum bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu dan membuang tenaga dan hawa murni yang seharusnya ia himpun dengan perbuatannya yang tak dapat ia cegah, yaitu menjadi barang permainan gurunya sendiri, bahkan akhir-akhir ini bibi gurunya pun mempermainkannya. Ia telah terombang-ambing dalam permainan nafsu berahi yang merupakan pantangan bagi seorang pengejar ilmu kesaktian. Hubungan yang wajar dan bersih daripada nafsu kotor dengan isterinya malah jarang terjadi karena ia lebih senang berada di tempat gurunya dan inilah yang merupakan racun yang memabokkan seperti madat. Karena merasa jengah dan malu, ia menjadi marah.

"Kau sombong, orang tua. Biarlah aku mencoba mu dengan pukulan tangan tanpa senjata. Siap dan sambutlah ini!"

cerita silat online karya kho ping hoo

Raden Wisangjiwo lalu menerjang maju, gerakannya sigap dan pukulannya mendatangkan angin menderu. Pemuda ini tidak hanya hendak mendemonstrasikan kehebatan ilmu gurunya, juga hatinya panas dan ia ingin memberi hajaran kepada orang yang berani bersikap kurang ajar terhadap Ni Durgogini. Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa yang ia hadapi ini adalah Narotama yang kini telah menjadi pepatih dalam di Mataram berjuluk Rakyana Patih Kanuruhan, sahabat baik Sang Prabu Airlangga dan kesaktiannya dalam olah prajurit hanyalah di bawah sang prabu sendiri!

Tentu saja ia tidak tahu karena nama Narotama tidak begitu terkenal, yang terkenal adalah Rakyana Patih Kanuruhan, maka ketika gurunya menyebut nama Narotama, ia sama sekali tidak tahu bahwa yang dilawannya adalah patih yang sakti mandraguna itu. Andaikata ia tahu, sebagai putera Adipati Selopenangkep dan berarti orang sebawahan patih ini, sudah tentu sampai matipun ia tidak akan berani melawan!

"Bagus!" seru Narotama sambil tersenyum.

Ia mengenal gerakan pemuda ini karena ilmu ketangkasan tangan kosong ini adalah pecahan yang dikembangkan dari ilmunya sendiri, yaitu ilmu silat Kukiko Sakti (Burung Sakti) yang pernah dahulu ia ajarkan kepada Lasmini. Ia menanti sampai pukulan itu datang dekat, lalu menggeser kaki ke kiri dan tangan kanannya ia gerakkan menangkis dengan tiba-tiba.

"Dukkkk!!"

Perlahan saja tangkisan itu, namun akibatnya tubuh Raden Wisangjiwo terhuyung-huyung ke belakang. Pemuda Ini kaget dan lenyaplah perasaan hatinya yang tadi memandang rendah lawan tua ini. Ia melompat maju lagi dengan serangan yang lebih hebat, tubuhnya masih dalam lompatan, masih menyambar satu meter di atas tanah, tangan kanannya dibuka mencengkeram mata, tangan kiri disodokkan menghantam ulu hati sedangkan dengan gerakan cepat kaki kanannya menyusul dengan tendangan ke arah bawah pusar! Hebat sekali serangan ini, serangan maut karena berturut-turut kedua tangan dan sebuah kaki telah menyerang hebat dan satu saja di antaranya mengenai sasaran tentu akan membuat lawan terjungkal dengan luka parah atau mati!

"Ganas.... ganas...!" Narotama berseru, diam-diam kagum juga karena ternyata pemuda ini memiliki bakat yang baik, sayangnya terbimbing oleh seorang yang berwatak ganas sehingga ilmu silatnya juga menjadi ganas sifatnya. Kembali ia berdiri diam saja menanti sampai serangan bertubi-tubi itu tiba dekat, tiba-tiba kedua tangannya bergerak Terdengar suara, "Plak-plak-plak!"

Tiga kali dan semua serangan itu dapat ia tangkis, akan tetapi kali ini tubuh Raden Wisangjiwo terlempar sampai tiga meter jauhnya dan roboh berdebuk di atas tanah hingga debu mengepul dari bawah pantatnya. Raden Wisangjiwo meringis kesakitan, akan tetapi ia menjadi amat penasaran. Darah mudanya bergolak. Dia, murid terkasih Ni Durgogini yang ditakuti orang, masa sekarang menghadapi seorang lawan tua yang tidak ternama harus menelan kekalahan demikian mudahnya?

"Jangan tertawa dulu, orang tua. Lihat seranganku!" bentaknya dan kini diam-diam ia telah menggenggam Kerang Merahnya di tangan kanan, lalu menerjang maju dengan dahsyat. Pukulannya mengandung Aji Tirto Rudiro yang ampuhnya menggila. Namun dengan senyum dikulum Narotama menghadapi pukulan ini dengan dada membusung dan mulut berkata, "Eh-eh, Lasmini, pukulan iblis apa yang kau ajarkan kepada muridmu ini? Biar kucoba menerimanya!"

Pukulan tiba, ke arah pusar Narotama. Patih yang sakti ini lalu menekuk lututnya, tidak berani sembrono menerima pukulan sedahsyat itu dengan pusar, maka ia memasang dadanya menjadi sasaran.

"Dessss.......!!!"

Hebat sekali pukulan itu, tubuh Narotama sampai tergoyang-goyang seperti pohon beringin terlanda angin. Akan tetapi tubuh Raden Wisangjiwo mencelat seperti daun kering tertiup angin, jatuh terbanting dan bergulingan. Ia hanya mampu merangkak bangun dan tahu-tahu gurunya sudah berada di sampingnya. Cekatan sekali Ni Durgogini menekan punggung muridnya dan mengurut lengan kanannya di bawah pangkal dekat ketiak. Seketika Raden Wisangjiwo segar kembali.

"Pukulan keji!" kata Narotama. "Orang muda, lebih baik kau mempergunakan cambukmu. Bukankah kau telah menerima pelajaran ilmu Cambuk Sarpokenoko yang hebat itu?"

Raden Wisangjiwo meragu. Kini yakinlah hatinya bahwa lawannya adalah seorang sakti. Akan tetapi Ni Durgogini tertawa genit.

"Rakanda, kau benar-benar tidak mau mengalah terhadap orang muda. Mana dia mampu menandingi tenagamu? Eh, Wisangjiwo, jangan malu-malu menghadapi orang pandai. Saat ini adalah saat baik bagimu, dapat menambah pengalaman. Hayo serang lagi dia, kau gunakan cambukku ini."

Ni Durgogini menyerahkan cambuknya, Sarpokenoko yang ia pergunakan untuk menciptakan Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang sangat dahsyat. Diam-diam wanita ini merasa penasaran bahwa muridnya dapat dikalahkan secara demikian mudah. Biarpun ia cukup maklum bahwa Narotama amat sakti, apa lagi muridnya, dia sendiripun takkan mampu menangkan, akan tetapi sebagai seorang guru ia merasa penasaran tak dapat memamerkan kepandaian muridnya. Ia cukup mengerti bahwa dalam hal ilmu silat tangan kosong tentu saja muridnya tidak akan berhasil seujung rambutpun, karena semua ilmu silat tangan kosong yang ia miliki sebenarnya bersumber dari ajaran Narotama.

Benar bahwa ilmu pukulan Tirto Rudiro yang dimiliki Wisangjiwo tidak dikenal Narotama, akan tetapi muridnya itu belum terlatih betul, tenaganya dalam ilmu itu masih lemah, maka tentu saja tidak akan ada gunanya. Berbeda dengan ilmu cambuknya. Ilmu ini adalah ciptaannya sendiri dan biarpun ia percaya bahwa Narotama tentu akan dapat mengatasinya, namun sedikit banyak Narotama akan berhadapan dengan ilmu yang asing dan tentu tidak akan dapat secara mudah saja mengalahkannya.

Dengan hati geram Raden Wisangjiwo menerima cambuk dari tangan gurunya. Ia cukup percaya akan keampuhan cambuk gurunya. Pernah ia melihat betapa dalam segebrakan saja cambuk di tangan gurunya ini mencabut nyawa lima orang bajak sungai yang berani mati menentang gurunya, padahal lima orang bajak Sungai Progo itu bukanlah lawan yang empuk, melainkan orang-orang digdaya pula. Begitu ia mencekal gagang cambuk, rasanya ia bertambah semangat dan dengan langkah gagah ia menghampiri lawan, cambuk Sarpokenoko diayun-ayun.

"Tar-tar-tar-tar-tar!!" Cambuk itu melecut ke udara dan suara ledakannya nyaring sekali.

"Wah-wah, hebat benar cambuk Sarpokenoko!"

Orang tua itu memuji akan tetapi sikapnya tenang-tenang saja. Ia tahu akan keampuhan cambuk yang terbuat daripada kulit ular itu, maklum bahwa cambuk ini mengandung racun yang berbahaya, jangankan terkena lecutan, baru terkena hawanya saja cukup dapat merobohkan orang. Ditambah lagi dengan permainan Ilmu Cambuk Sarpokenoko, benar-benar amat ampuh dan tepat sekali dengan namanya. Sarpokenoko berarti Kuku Ular, dan adalah nama adik Sang Prabu Dosomuko dalam cerita pewayangan Ramayana, adik perempuan yang mempunyai aji pada kukunya, yang sakti mandraguna dan ganas liar seperti iblis.

"Paman, lihat seranganku!" Raden Wisangjiwo berseru.

Pemuda ini cukup cerdik. Ia maklum bahwa orang tua yang tak dikenalnya ini adalah seorang kenalan gurunya, seorang yang sakti dan karenanya ia mulai bersikap lunak dan hormat, menyebutnya paman dan memberitahukan dulu sebelum menyerang. Hal ini tentu saja ia lakukan karena ia merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat menang, biarpun ia bersenjatakan cambuk Sarpokenoko sedangkan lawannya bertangan kosong.

"Siuuuuttt..... blarrrrr!"

Batu karang sebesar kepala kerbau hancur menjadi tepung ketika cambuk itu menyambar dan tahu-tahu tubuh Narotama lenyap dan sebagai gantinya, batu itu yang tadi berada di bawahnya menjadi korban hantaman cambuk. Raden Wisangjiwo cepat membalikkan tubuh. Entah bagaimana gerakan orang tua itu ia tidak melihat, akan tetapi tadi tahu-tahu lenyap dan kini sudah berada di belakangnya, tenang-tenang saja berdiri menanti datangnya serangan.

Kembali Raden Wisangjiwo menyerang, kini menggunakan gerakan memutar cambuk membentuk lingkaran-lingkaran di sekitar tubuh lawan, menghadang jalan keluar. Dari dalam lingkaran itu, ujung cambuk baru mematuk seperti paruh burung elang, mengarah bagian berbahaya seperti mata, leher, ulu hati, lambung, pusar dan sebagainya.

"Hebat.......!" Narotama kembali memuji dan ia benar-benar kagum. Memang tak boleh dibuat permainan ilmu cambuk ini, terpaksa ia lalu mengeluarkan ajiannya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat seperti terbang atau seperti bayang-bayang saja yang mengikuti gerakan cambuk, menyelinap di antara sinar cambuk dan anehnya, gerakannya ini mengeluarkan bunyi mengaung perlahan tiada hentinya. Inilah ilmu silat tangan kosong Bramoro Seto (Lebah Putih) yang merupakan sebuah di antara raja ilmu silat tangan kosong. Sampai berkunang kedua mata Raden Wisangjiwo mencari-cari lawannya dan mengikuti gerakan bayangan yang berkelebat itu, bayangan putih yang tak tentu ujudnya, tak tentu ke mana pindahnya.

Tubuhnya sudah lelah sekali karena ia telah mainkan semua jurus Ilmu Cambuk Sarpokenoko untuk menghantam bayangan itu, namun sia-sia, semua serangannya hanya mengenai angin belaka, sedangkan suara mengaung-ngaung seperti lebah besar beterbangan di sekitar kepalanya membuat ia menjadi panik dan pening. Apalagi karena lawannya itu bergerak-gerak bukan hanya untuk mengelak, melainkan membalas dengan tamparan-tamparan yang mendatangkan hawa panas, membuat Raden Wisangjiwo bingung mengelak ke sana ke mari, menyambarkan cambuknya ke kanan kiri, dan masih untung baginya bahwa lawannya tidak mau memukulnya, melainkan membikin bingung saja. Kalau memang lawan berniat buruk, sudah tadi-tadi ia kena pukul.

"Cukup, Wisangjiwo, lekas memberi hormat kepada gusti patih!" seru Ni Durgogini dan tahu-tahu cambuk di tangan pemuda itu sudah terampas oleh gurunya.

Narotama berhenti dan berdiri dengan wajah biasa, tenang dan tertawa ramah.

"Gusti.... gusti patih....?" Wisangjiwo kebingungan, memandang gurunya dan orang tua itu berganti-ganti.

Ni Durgogini tertawa genit cekikikan.

"Anak bodoh, apakah kau tidak tahu bahwa rakanda Narotama adalah Gusti Rakyana Patih Kanuruhan, Patih Dalam Mataram yang terkenal sakti mandraguna?"

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Raden Wisangjiwo mendengar ini. Matanya terbelalak, mukanya pucat dan cepat sekali ia menjatuhkan diri berlutut sembah di depan Narotama sambil berkata, "Mohon beribu ampun, gusti patih. Karena hamba tidak tahu maka hamba telah berani bersikap kurang ajar dan tidak sopan di hadapan paduka."

"Tidak mengapa, orang muda. Andaikata engkau tahu sekalipun, tetap aku ingin menyaksikan kemajuan murid Ni Durgogini. Kepandaianmu lumayan, hanya kurang matang, dan.. dan ganas."

"Rakanda Narotama, kebetulan sekali kau datang. Aku minta kepadamu, demi mengingat hubungan antara kita dahulu, berilah bimbingan kepada muridku ini. Dia putera Adipati Selopenangkep, sudah sepatutnya ia menghamba di kerajaan dan kurasa kepandaiannya cukup memenuhi syarat. Kuharap kau suka menerimanya dan memberinya kedudukan di kota raja."

Narotama mengelus-elus jenggotnya. Di dalam hatinya, ia kurang cocok dengan pemuda ini karena ilmu-ilmunya amat ganas, tak pantas menjadi ilmu pegangan ksatria. Akan tetapi untuk menolak, iapun merasa tidak enak kepada Ni Durgogini atau Lasmini. Lasmini yang dahulunya seorang puteri jelita kini telah berubah menjadi wanita iblis yang terkenal dengan nama Ni Durgogini, perubahan ini sebagian adalah dia yang menyebabkannya, maka diam-diam ia menaruh hati iba kepada Lasmini, bekas selirnya ini.

Ya, Lasmini dahulu adalah selirnya, selir yang tercinta, karena di antara para selirnya, Lasmini adalah selir yang paling tangkas dan pandai olah keperajuritan, seperti Srikandi, memiliki bakat yang amat baik sehingga dalam cinta kasihnya, Narotama telah menurunkan banyak ilmu kesaktian kepada selirnya itu. Akan tetapi, sayang sekali, Lasmini selain memiliki dasar ketangkasan, juga memiliki dasar yang tidak baik dan cabul. Terpaksa Narotama mengusirnya ketika selir itu terdapat melakukan hubungan gelap, berzina dengan seorang pangeran melalui perantaraan ki juru taman.

Karena peristiwa memalukan ini menyangkut diri seorang pangeran, dengan bijaksana Narotama tidak menimbulkan heboh, hanya secara diam-diam ia mengusir Lasmini. Tadinya ia mengira bahwa pangeran itu tentu akan menolong Lasmini dan mengambilnya sebagai selir, siapa tahu, Lasmini tersia-sia agaknya dan ternyata telah berubah menjadi wanita iblis berjuluk Ni Durgogini.

Setelah pertemuan ini barulah Narotama dapat menduga bahwa saudara Ni Durgogini yang sama terkenalnya, yaitu Ni Nogogini, tentulah si cantik Mandan pula, adik Lasmini yang pernah diselir Sang Prabu Airlangga sendiri, akan tetapi sudah lebih dahulu diusir karena sang prabu tidak suka akan perangai Mandari yang liar.

"Wisangjiwo, apakah kau setuju dengan usul gurumu itu? Inginkan kau menjadi ksatria di kota raja?"

Sebetulnya tidak pernah gurunya mengajaknya bicara tentang hal ini, akan tetapi siapa orangnya tidak ingin menjadi ksatria? Dan siapa pula tidak ingin memperoleh kesempatan mencari kemuliaan? Selain itu, ia merasa terancam keselamatannya setelah pertempurannya di Gua Siluman dan melukai anak dan mantu Resi Bhargowo, maka kiranya hanya di kota raja sajalah tempat yang aman baginya. Juga, di kota raja ia tahu banyak terdapat orang-orang sakti sehingga mudah pula untuk memperdalam ilmu-ilmunya sehingga ia kelak tidak takut menghadapi ancaman dari manapun juga datangnya. Maka sambil berlutut dan menyembah iapun menjawab tegas, "Hamba setuju dan hanya mengandalkan kemurahan hati dan kebijaksanaan paduka, gusti patih."

Narotama atau Rakyana Patih Kanuruhan mencabut keluar sebatang keris kecil berbentuk lurus yang disebut keris Kolomisani, memberikan keris itu kepada Wisangjiwo dan berkata, "Baiklah, kau boleh berangkat sekarang juga, bawa keris ini ke kepatihan, serahkan kepada kepala pengawal istana yang selanjutnya akan memberi petunjuk kepadamu."

Wisangjiwo menerima keris kecil itu, bersembah menghaturkan terima kasih, kemudian dengan hati girang ia minta diri, berpamit kepada gurunya untuk langsung pergi ke Mataram. Ia tidak peduli akan pandangan kecewa gurunya karena sesungguhnya Ni Durgogini tidak mengira bahwa muridnya yang terkasih itu akan berangkat sekarang juga! Ia tentu akan kehilangan dan kesepian, akan tetapi ia tidak tahu bahwa Wisangjiwo memang sengaja ingin lekas-lekas pergi agar jangan sampai terganggu oleh gurunya sendiri, karena ia harus mentaati pesan bibi gurunya untuk berlatih dengan tekun dan dengan pantangan mendekati wanita dan makan barang berjiwa.

Inilah kesempatan amat baik baginya, karena kalau tidak segera ia pergi, ia tak mungkin dapat mengharapkan kesempurnaan dalam melatih Ilmu Tirto Rudiro apabila ia berdekatan dengan Ni Durgogini!. Setelah pemuda itu pergi jauh, Narotama berkata, "Ni Lasmini, telah kukatakan tadi bahwa kedatanganku ke sini adalah kebetulan, karena aku sedang mencari Durgogini dan sama sekali tidak mengira akan bertemu denganmu di sini."

Durgogini mencibirkan bibirnya yang masih merah semringah, namun sepasang matanya kehilangan gairah cintanya yang dahulu terhadap patih ini. Sepuluh tahun lebih telah lalu dan kini sang patih bukan lagi seorang pria muda perkasa yang tampan gagah, melainkan seorang pria yang sudah setengah tua dengan rambut berwarna dua dan air muka dingin.

"Rakanda patih, setelah tahu bahwa Ni Durgogini adalah Lasmini, lalu bagaimana?" Ia tertawa terkekeh dan terheranlah Narotama betapa setelah lewat hampir tiga belas tahun, bekas selirnya ini masih tetap saja kelihatan muda, mukanya berseri, bibirnya merah membasah, giginya putih berkilau, tidak tampak sedikitpun keriput pada kulitnya yang masih halus.

Patih ini tentu saja tidak tahu bahwa Durgogini dan adiknya, Nogogini telah dapat menemukan Suket Sungsang, yakni semacam rumput laut yang langka, dan yang mengandung khasiat mustajab untuk membuat wanita awet muda. Inilah sebabnya maka Ni Durgogini dan Ni Nogogini, biarpun sudah berusia kurang lebih empat puluh tahun, masih tampak seperti gadis-gadis remaja berusia dua puluh tahun!

"Ni Lasmini, kepadamu aku lebih baik berterus terang, karena sedikit banyak engkau tentu masih memiliki perasaan setia kepada Mataram. Aku sedang memikul tugas berat, tugas yang kuterima langsung dari sang prabu sendiri. Ketahuilah bahwa sebulan yang lalu, secara tiba-tiba dan ghaib, patung emas Sang Batara Wisnu telah lenyap dari dalam istana. Sang prabu merasa prihatin sekali akan kehilangan ini, karena hal itu merupakan perlambang buruk bagi kejayaan Mataram. Oleh karena itulah maka aku sendiri diutus untuk pergi mencari dan mendapatkan kembali patung emas itu."

"Hemm, hanya sebuah patung kecil, mengapa perlu diributkan? Apa sukarnya bagi sang prabu untuk menitah para empu membuatkan kembali patung emas yang lebih indah dan besar?"

Narotama menarik napas panjang. "Engkau tidak tahu, Lasmini. Patung kencana itu sebuah benda keramat dan bertuah, dahulu menjadi ajimat dari Empu Lo Hapala yang kemudian bergelar Rakai Kayuwangi, hampir dua abad yang lalu. Pernah dahulu patung inipun lenyap dari istana Rakai Kayuwangi dan akibatnya, Kerajaan Mataram menyuram. Oleh karena itulah maka sang prabu menjadi prihatin dan akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kembali patung itu."

"Hemm!" Bibir merah itu mencibir; "Kalau begitu, mengapa engkau mencarinya ke sini? Apa kau kira aku yang mencuri patung itu?" Sepasang mata bening yang bersinar genit cabul itu mengeluarkan cahaya berkilat.

Narotama tersenyum lebar. "Engkau masih galak seperti dahulu, Lasmini! Tentu saja aku tidak berani menuduh siapapun juga tanpa bukti. Akan tetapi menurut getaran yang kurasakan, patung itu pasti berada di sekitar pantai Laut Selatan. Aku sengaja mencari Ni Durgogini bukan untuk menuduh, melainkan untuk minta keterangan, barangkali saja Ni Durgogini mengetahui tentang patung ini."

"Hi-hik! Rakanda Narotama mengapa bicara berputar-putar? Aku bukan Lasmini lagi, akulah Ni Durgogini dan aku tidak tahu-menahu tentang patung itu. Agaknya rakanda salah perhitungan, maka sampai datang ke sini. Di antara sang prabu dan aku tidak ada urusan sesuatu, maka mengapa aku bersusah payah mencuri patung? Kalau rakanda pandai! mengapa tidak mencarinya pada orang yang memang ada urusan dan dendam dengan sang prabu?"

Narotama termenung sejenak, tiba-tiba ia menepuk dahinya sendiri.

"Aha! Kau benar, Ni Durgogini! Mengapa aku begini bodoh? Ni Mandari, adikmu! Agaknya ia lebih tahu...."

"Bukan niatku mengkhianati adik kandung! Pula, seperti juga Ni Lasmini, Ni Mandari telah mati, tidak ada lagi,, yang ada adalah Ni Nogogini! "!

"Di mana dia? Di mana aku bisa bertemu dengan Ni Nogogini?"!

Ni Durgogini terkekeh genit dan matanya tajam mengerling. "Sang patih yang arif bijaksana dan sakti mandraguna, apakah tidak malu bertanya-tanya, kepada seorang wanita yang tidak berdaya? Kau carilah sendiri, sepanjang pengetahuanku, Ni Nogogini bertahta di dalam istana yang letaknya di dasar Segoro Kidul (Laut Selatan), hi-hi-hik!"

Narotama tentu tahu bahwa bekas selirnya ini mempermainkannya, karena tidak mungkin seorang manusia biasa bertempat tinggal di dasar laut. Ia mengangguk dan berkata, "Sudahlah, Ni Durgogini, aku mohon diri. Akan kucari sendiri Ni Nogogini!" Ia membalikkan tubuhnya.

Tiba-tiba terdengar suara angin menyambar diiringi ketawa cekikikan yang menyeramkan dari arah belakangnya. Narotama terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya lagi dan tangan kanannya bergerak dengan jari-jari terbuka, menghantam benda hitam yang menyambar dahsyat.

"Blarrrr.......!" Batu karang yang besar itu pecah berantakan sampai mengepulkan debu.

"Ni Durgogini, apa maksudmu main-main seperti ini?" tegurnya, suaranya penuh wibawa.

"Hi-hi-hi-hik,siapa main-main, sang patih yang terhormat? Tiga belas tahun aku menderita dengan hati perih, mengingat betapa kejam seorang pria telah mengusir dan menghinaku! Narotama, apakah kau pura-pura lupa bahwa kaulah yang membunuh Ni Lasmini sehingga menjelma menjadi Ni Durgodini yang hidup terasing di Girilimut ini?"

Narotama menarik napas panjang, penuh sesal, "Nimas, kau salah paham. Semenjak dahulu aku tidak mendendam kepadamu, aku maklum akan kelemahanmu sebagai wanita muda. Aku dahulu sengaja membebaskanmu agar kau dapat melanjutkan langen asmoro (bermain cinta) dengan pangeranmu. Aku mengira bahwa sang pangeran tentu akan mengambilmu sebagai selir dalam, siapa tahu dia menyia-nyiakanmu. Aku selalu bermaksud baik kepadamu, nimas. Buktinya, putera adipati muridmu itupun kuterima dengan segala kerelaan hati."

"Tidak ada sangkut-pautnya denganku! Betapapun juga, setelah kau datang ke sini, tak dapat aku membiarkan kau pergi begitu saja tanpa membuat beres perhitungan lama, Narotama!"

"Hemmmm, kalau begitu wawasanmu, terserah kepadamu, Ni Durgogini."

"Heh-heh-hi-hi-hik, jangan kira Lasmini dahulu sama dengan Durgogini sekarang, Rakyana Patih Kanuruhan. Terimalah pukulanku Aji Ampak-ampak ini!"

Wanita itu memekik dahsyat lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipe tang, jari-jari tangannya terbuka dan mengirim pukulan yang mengandung hawa dingin, sedingin ampak-ampak (halimun) yang dapat membekukan darah dalam tubuh!

Melihat cahaya kebiruan keluar dari telapak tangan Durgogini, Narotama terkejut. Hebat ilmu pukulan ini, dan amatlah kuatnya. Bukannya ia tidak berani menghadapi keras lawan keras, akan tetapi ia tidak bermaksud melukai wanita yang sudah mendatangkan iba di hatinya ini. Kalau ia lawan dengan kekuatan hawa sakti pula, tentu seorang di antara mereka akan terluka hebat dan ia tidak menginginkan hal ini terjadi.

Maka Narotama lalu melesat menghindarkan pukulan-pukulan yang datangnya cepat bertubi, mempergunakan Ilmu Silat Dojro Dahono (Api Halilintar) untuk melawan Aji Ampak-ampak. Aji Bojro Dahono merupakan lawan setimpal Aji Ampak-ampak yang dingin, karena Bojro Dahono menimbulkan hawa panas seperti pusar Kawah Candradimuka.

Dari kedua telapak tangan sang patih keluar hawa bersinar kuning kemerahan dan setelah tangkis-menangkis puluhan jurus, Ni Durgogini tak kuat menahan pula, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat saking panas hawa yang dideritanya.

"Wuuuttt, tar-tar-tar..."

Kini cambuk Sarpokepoko berada di tangannya dan menyambar-nyambar ganas. Biarpun Aji Bojro Dahono hebat, namun gerakan ilmu silat ini kurang tangkas kalau harus dipergunakan menghadapi Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang amat cepat itu. Bagaikan seekor ular sakti, cambuk itu melingkar-lingkar, menyambar-nyambar dan ujungnya mematuk-matuk ke arah jalan darah dan bagian tubuh yang penting dan berbahaya, setiap gerak merupakan margapati (jalan maut).

Kembali Narotama menjadi kagum. Tadi ia sudah menyaksikan dan melawan Ilmu Cambuk Sarpokenoko ini ketika dimainkan Wisangjiwo, dan sudah menjadi kagum. Kini setelah ilmu cambuk ini dimainkan oleh sang pencipta sendiri, hebatnya berlipat ganda! Angin yang diakibatkan oleh pemutaran cambuk itu ikut berpusing, membentuk angin lesus yang berpusing-pusing membawa daun kering dan debu ke atas.

Ini semua masih ditambah lecutan-lecutan di udara yang menimbulkan suara ledakan, sehingga ketika Ni Durgogini mainkan ilmu Cambuk Sarpokenoko, keadaan di puncak Girilimut itu tiada ubahnya seperti ada angin lesus (angina puyuh) mengamuk disertai halilintar menyambar-nyambar!

"Nimas, apakah kau menghendaki nyawaku ? Begitu tega.......?" Narotama berkata penuh sesal.

"Hi-hi-hii...! Kaupun tega lara terhadapku, mengapa aku tidak tega pati terhadapmu?" Dengan kata-kata ini Ni Durgogini hendak mengatakan bahwa dahulu Narotama tega mengusirnya dan membuatnya bersengsara hati, maka sekarang iapun tega hendak membunuh patih itu.

"Hebat ilmu cambukmu, nimas. Sayang kau pergunakan untuk membunuh orang secara ganas!" Narotama masih sibuk mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara bayangan cambuk.

"Babo-babo! Keluarkan semua keahlianmu, Narotama. Hendak kulihat, di samping pandai menghina wanita, apakah kau juga pandai mengalahkan aku Ni Durgogini, hi-hi-hik!"

Cambuk Sarpokenoko makin hebat amukannya dan sekali kain kepala Narotama tercium ujung cambuk. Robeklah ujung kain kepala itu, hancur berhamburan seperti dimakan api!

"Tingkahmu seperti ular saja, Durgogini!" Narotama mulai panas hatinya dan cepat ia mengerahkan Aji Kukilo Sakti (Burung Sakti), semacam ilmu silat yang amat cepat gerakannya, seperti seekor burung sakti beterbangan dan semua gerakannya tentu saja menindih gerakan cambuk Sarpokenoko yang berdasarkan gerakan seekor ular. Memang tidak ada yang lebih ampuh daripada burung untuk menaklukkan ular. Tubuh Narotama kini berkelebat cepat, seperti melayang-layang, sukar sekali diikuti cambuk, bahkan pada saat Ni Durgogini menggoyang kepala mengusir kepeningannya, kesempatan ini tak disia-siakan Narotama dan secepat kilat jari tangannya menjepit ujung cambuk! Gerakan ini sekelebatan tepat seperti seekor burung yang mematuk seekor ular.

Ni Durgogini mengeluarkan pekik menyeramkan dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot cambuknya, namun sia-sia belaka. Biarpun yang menjepit cambuk hanya tiga buah jari, yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah, namun cambuk itu seakan-akan telah berakar pada jari dan tidak mungkin dapat dilepaskan lagi. Ni Durgogini marah, kakinya melangkah maju dan tangan kirinya dengan jari tangan berkuku panjang, mencakar muka dan mencokel mata. Melihat ini, Narotama berseru keras dan tiba-tiba ia mengerahkan tenaga sakti yang ia warisi dari eyang gurunya di Gunung Agung Bali Sang Begawan Setiadarma, lalu sekali ia menggereng, Ni Durgogini tak kuat bertahan lagi, tubuhnya berikut cambuknya terlempar ke udara seperti terbang!

Benar mengagumkan Ni Durgogini. Kalau lain orang yang dilontarkan macam itu, tentu akan terbanting di atas tanah berbatu dan akan hancur luluh tubuhnya. Karena Narotama tidak berniat membunuh, patih yang sakti ini sudah bersiap-siap untuk menyambut tubuh Ni Durgogini agar jangan terbanting, akan tetapi ia tercengang menyaksikan betapa di tengah udara dalam keadaan terlempar itu sampai setinggi pohon waru, tubuh Ni Durgogini dapat terjungkir balik sampai tiga kali dan turun ke atas tanah dalam keadaan berdiri seperti gerakan seekor burung walet saja ringannya! Turunnya agak jauh dari Narotama dan kini mereka berhadapan dalam jarak limabelas meter jauhnya.

Perlahan Ni Durgogini menyimpan cambuknya. Wajahnya tidak membayangkan kemarahan, bahkan ia tersenyum dan berseri-seri, matanya mengerling tajam, kemudian ia melangkah lambat-lambat menghampiri Narotama dengan lenggang seperti seorang penari. Pinggang yang kecil ramping itu meliuk-liuk dan pinggulnya melenggak-lenggok ke kanan-kini, langkahnya kecil-kecil dengan kaki merapat sehingga lututnya bersentuhan, pundaknya bergerak-gerak, juga lehernya, matanya setengah terpejam, ujung hidungnya berkembang-kempis, dadanya yang membusung bergelombang, bibirnya yang merah membasah setengah terbuka.

Narotama berdiri terpesona, jantungnya berdebar-debar aneh, getaran mujijat yang tidak sewajarnya membangkitkan gairah, darahnya berdenyar-denyar dan napasnya menjadi sesak oleh gejolak nafsu berahi. Hampir saja pendekar sakti ini tenggelam, hampir bertekuk lutut kalau saja ia bukan putera angkat Sang Wiku Darmojati dan murid Eyang Begawan Setyadarma, dua orang tokoh sakti di Bali. Batinnya yang sudah kuat itu membuat ia sadar bahwa keadaan ini bukan sewajarnya. Mengapa Ni Durgogini tiba-tiba tampak demikian cantik jelitanya dan bahkan memiliki daya penarik yang jauh lebih ampuh daripada dahulu ketika menjadi selirnya?

Diam-diam Narotama mengerahkan hawa sakti dari dalam pusarnya, dan membaca mantera menolak pengaruh jahat sehingga ia dapat menguasai diri. Setelah lenyap pengaruh itu, kini tampaklah olehnya betapa lucu gerak-gerik Ni Durgogini. Akan tetapi dasar seorang bijaksana, ia tidak mau menghina, bahkan merasa iba hati dan terlontarlah pujian dari mulutnya, "Kau sungguh masih cantik jelita, nimas Lasmini!"

Bukan main girangnya hati Ni Durgogini. Setelah tadi semua ilmu kesaktiannya tidak berhasil mengalahkan Narotama, ia lalu mengerahkan ajiannya yang paling ampuh, yaitu ilmu Guno Asmoro. Biasanya, tidak ada seorangpun pria yang kuat menghadapi ajiannya ini, yang luar biasa ampuhnya, kuat merobohkan pertahanan hati seorang pertapa tua sekalipun. Dengan Ilmu Guno Asmoro inilah ia berusaha mengalahkan Narotama, karena dengan ilmu kesaktian dan ilmu ketangkasan, ia seakan-akan bertemu dengan gurunya.

Hatinya girang mendengar pujian yang keluar dari mulut Narotama, karena ini merupakan pertanda bahwa ajiannya telah berhasil! Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa Narotama yang berhati penuh welas asih itu memujinya untuk tidak mengecewakannya. Ia makin menggeliat-geliatkan tubuhnya, dan berjalan makin mendekat.

Bau yang harum seperti kayu cendana dan kembang keluar dari tubuhnya, dan inilah merupakan sebagian daripada Aji Guno Asmoro. Biasanya, kalau lawan sudah terkena Aji Guno Asmoro, ia akan kehilangan semangatnya, akan menurut saja semua kehendaknya, bahkan andaikata dipukul matipun tentu takkan melawan karena semangat perlawanannya sudah lenyap, semua kemauannya sudah lenyap dan berada di tangan Ni Durgogini. Kini, Narotama yang diam saja itu agaknya pun sudah kehilangan semangatnya!

"Narotama....! " Suara Ni Durgogini berbeda dengan tadi, kini suaranya merdu merayu mengandung daya tarik yang luar biasa, "Kekasihku, kau berlututlah.... dan bersihkan kakiku yang kotor....!" Dengan mata setengah terpejam, Ni Durgogini siap menikmati hasil kemenangannya yang sudah pasti itu.

"Ni Durgogini, apakah kau sudah edan? Aku tidak ada waktu melayani kau main-main, selamat tinggal!" Narotama lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.

Terbelalak kini mata yang tadinya hampir terpejam itu. Pucat wajah yang tadinya merah berseri, kering bibir yang tadinya membasah, kemudian muka itu menjadi beringas. "Kubunuh engkau...!!" Bagaikan seekor singa betina, Ni Durgogini melompat dan menerkam dari belakang. Tanpa menoleh, Narotama menggerakkan lengannya ke belakang.

"Plakkk..."

Tubuh Ni Durgogini tertampar dan terpelanting ke belakang, roboh bergulingan, kepalanya terasa pusing sekali.

"Narotama.... kau.... kau kejam....! Aku benci padamu, benci.... benci.... benci...!!!"

Ni Durgogini lalu menangis melolong-lolong sambil bergulingan di atas tanah seperti anak kecil. Menolehpun tidak Narotama. Ia berjalan terus dengan tenang dan dengan langkah lebar, senyum pahit membayang di bibirnya yang bergerak-gerak perlahan seperti bicara dengan dirinya sendiri.

Biarpun pada lahirnya Narotama seperti tidak mempedulikan Ni Durgogini, namun dalam batinnya ia menaruh hati iba kepada bekas selirnya itu yang ternyata kini telah tersesat ke dunia hitam. Ia menyesal, dan kasihan karena maklum bahwa kesesatan bekas selirnya itu akan menyeretnya ke lembah kesengsaraan batin.

********************


Bayangan itu tak dapat diusirnya, selalu membayangi benaknya ke mana pun juga ia pergi, dan hatinya menjadi panas dan panas lagi. Di dalam telinganya selalu bergema suara kain robek disusul jerit tangis. Kain dan jerit Kartikosari. Gema suara inilah yang menimbulkan bayangan. Bayangan yang direka dan dikira-kirakan sendiri oleh hatinya yang penuh cemburu, dendam, duka dan sesal, yang makin menghebat saja apabila ia kenangkan. Suara kain terobek disusul lengking mengerikan. Suara itu selalu berkumandang di dalam telinganya, membuatnya hampir gila.

Pujo duduk di tepi batu karang, matanya menatap air laut bergulung-gulung di bawah kaki. Gelombang buas yang panjang mengerikan seperti seekor naga siluman yang hendak menelannya, namun mata Pujo seperti tidak melihat semua itu. Suara ombak memecah di batu karang menimbulkan suara menggelegar susul-menyusul, namun telinganya hanya penuh oleh suara kain robek dan lengking mengerikan.

"Cintamu hanya cinta jasmani belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata karena cintamu dangkal dan hanya tubuhku yang kau cinta, maka kau kecewa melihat tubuhku dinodai orang lain, padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama sekali tidak ternoda......" Kata-kata isterinya ini berkumandang dibawa deru ombak dan terbayanglah wajah isterinya yang jelita, yang tercinta, dengan sepasang mata bintang yang tak pernah dapat ia lupakan itu memandangnya penuh sesal dan duka, bibir yang indah bentuknya dan tadinya menjadi sarang madu baginya itu tergetar seperti bibir seekor kijang yang ketakutan.

"Prakkk!! Prakkk!"

Dua kali kedua tangan Pujo dengan jari-jari terbuka menggempur batu karang di depannya sehingga ujung batu karang itu remuk berhamburan. Mulutnya komat-kamit, mulut yang membayangkan hati sakit bukan main, matanya menatap ombak, mata penuh dendam dan duka.

"Tidak perduli! Aku memang mencinta tubuhmu Kartikosari, kau menjadi milikku tunggal, tak boleh orang lain menjamahmu, apalagi menodaimu! Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku, semua bulu di kulitku, setiap tetes darah di badanku, sampai ke tulang sumsumku, aku mencintaimu. Tapi.... tapi kau ternoda orang lain.... mengapa hal itu bisa terjadi ? Mengapa tidak kau lawan sampai mati? Setelah hal terkutuk itu terjadi, mengapa kau masih dapat hidup, masih ada muka untuk hidup dan bicara denganku? Hal itu hanya berarti bahwa kau.... kau senang dengan pengalamanmu itu, kau girang bahwa selain suamimu, ada pria lain, tampan sakti bangsawan dan kaya raya, juga mencintamu!"

Kembali tangannya menghantam batu karang. Tiba-tiba Pujo bangkit berdiri, matanya melotot terbelalak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangannya dikepal menempel pinggang, sikapnya seperti seorang siap bertanding dengan musuh yang dibencinya.

"Wisangjiwo! Dendam ini sedalam Laut Selatan! Takkan dapat tercuci selamanya kecuali dengan darahmu. Kau tunggulah, sekali kau terjatuh ke dalam tanganku, aku akan...."

Akan ia apakan? Dibunuh begitu saja? Terlampau enak! Hati yang begini disakiti haus akan pembalasan yang memuaskan. Tidak, ia tidak akan membunuh Wisangjiwo begitu saja. Ia akan menyiksanya sepuas hati.

Dendam adalah semacam perasaan yang memabokkan seperti racun yang menggerogoti batin sehingga menyelimuti kesadaran dan mematahkan pertimbangan. Dendam timbul dari sakit hati yang dapat muncul karena sesungguhnya terpengaruh oleh rasa sayang diri yang berlebihan. Rasa sayang diri inilah yang menimbulkan sakit hati apabila dirinya dirugikan orang lain, menimbulkan benci dan memupuk dendam untuk membalas!

Rasanya belum akan sudah dan puas hati ini kalau belum membalas dendam dengan perbuatan keji yang setaraf atau bahkan melebihi perbuatan yang dilakukan orang terdendam terhadap dirinya. Dan orang yang mabok dendam ini di luar kesadarannya telah diperhamba nafsu iblis yang haus dan baru dapat dipuaskan oleh perbuatan-perbuatan membalas yang sama kejinya. Perbuatan keji kejam untuk membalas dalam pandangan orang yang mendendam bukanlah perbuatan keji lagi, melainkan perbuatan adil! Mabok semabok-maboknya dan tidak ada yang lebih gila daripada ini.


Dengan batin rapuh digerogoti nafsu iblis ini seperti rapuhnya bilik digerogot rayap, Pujo mereka-reka pembalasan dan siksaan bagaimana yang dianggapnya tepat dan adil bagi musuh besarnya, Raden Wisangjiwo. Akan kutangkap dia, pikirnya geram. Akan kubuat dia tidak berdaya dan kuseret dia di dalam hutan! Teringat akan kebiadabannya terhadap isterinya, ia akan merajang-rajang anggauta kelaminnya, merobek perut dan mengeluarkan usus dan jantungnya!

Ah, tidak! Kalau demikian tentu ia akan mampus, terlalu enak dan terlalu cepat baginya! Ia berpikir-pikir dan mereka-reka lagi pembalasan yang lebih menyiksa. Akan kurobek-robek kulit mukanya yang tampan dengan ujung keris, agar ia menjadi seorang manusia bermuka setan yang sedemikian buruknya sehingga setiap orang wanita yang melihatnya akan meludah dan muntah-muntah.

Tapi sebelumnya akan kuseret dia di muka umum agar semua orang senegara maklum dan mengenal bahwa Wisangjiwo adalah seorang laki-laki binatang yang suka mengganggu bini orang! Kemudian kubuntungi kedua kakinya agar selamanya tak pandai berjalan, hidup dan bergerak mengesot seperti binatang! Akan ku....... akan ku... Pujo tak dapat berpikir lagi saking geram. Tiba-tiba ia terkejut dan menampar kepalanya sendiri.

"Kau telah gila!" serunya keras-keras ketika kesadarannya yang timbul dari dasar pendidikan ksatria mencelanya. "Kau telah menjadi manusia iblis! Tak mungkin Pujo murid terkasih Resi Bhargowo, bahkan menjadi mantunya, dapat memikirkan kekejaman yang dapat timbul dalam benak iblis itu!" Suaranya sendiri terdengar seperti suara gurunya dan Pujo lalu menangis. Ditumbuk-tumbuknya kepala dan dadanya, kemudian ia menjadi beringas.

"Biar! Biarlah aku menjadi iblis penasaran! Dia telah merusak kesucian Kartikosari, telah menghancurkan kebahagiaanku! Aku takkan dapat bertemu muka lagi dengan Kartikosari kekasihku sebelum dendam ini terbalas!"

Bagaikan seorang gila Pujo lalu melompat dan lari dari tepi Laut Selatan, berlari terus mendaki bukit karang dengan tujuan bulat, yaitu, mencari Wisangjiwo dan melampiaskan nafsu dendamnya yang dahsyat menggelora seperti Laut Selatan yang diserang badai.

Sesungguhnya, bukan dendam semata yang membuat Pujo seperti gila. Terutama karena rasa duka kehilangan isterinya itulah. Setelah berada seorang diri, terbayang oleh kesadarannya betapa ia telah menyiksa isterinya, telah berlaku tidak adil terhadap kekasihnya. Betapa ia telah menghina Kartikosari dan membanting hancur mahkota asmara mereka berdua. Sudah terlanjur, dan ia kini benar-benar kehilangan isterinya. Dan semua ini gara-gara Wisangjiwo. Inilah yang meracuni hatinya dan menambah rasa dendam dan sakit hatinya, seperti minyak menambah berkobarnya api.

Beberapa hari kemudian di Kadipaten Selopenangkep, sebuah kadipaten di tepi Sungai Progo. Kadipaten ini tempat tinggal Joyowiseso, ayah Raden Wisangjiwo. Di sini, tinggal adipati yang berusia lima puluh tahun ini, bersama isteri dan enam orang selirnya. Puteranya ada dua orang, yaitu Raden Wisangjiwo yang lahir dari isterinya dan Roro Luhito yang lahir dari seorang selir kinasih (terkasih). Anak ini dinamai Luhito (merah) karena ketika lahir kelihatan kulitnya kemerahan. Akan tetapi setelah kini menjadi seorang gadis remaja berusia lima belas tahun, kulitnya menjadi putih kuning kemerahan dan wajahnya cantik, tubuhnya denok, wataknya manja dan kenes (lincah).

Di samping adipati dan keluarganya, di situ tinggal pula isteri Raden Wisangjiwo yang bernama Listyokumolo dan puteranya yang baru berusia satu tahun bernama Joko Wandiro. Rumah kadipaten itu selalu terjaga oleh para pengawal yang tak pernah terpisah dari tombak dan keris, tiada hentinya bergiliran menjaga di sekitar kadipaten dan setiap saat tertentu, siang malam, jalan meronda untuk menjaga keselamatan dan keamanan sang adipati sekeluarga.

Pada hari itu di dalam kadipaten tampak kesibukan dan kemeriahan. Sang adipati sendiri bersama isteri, para selir dan puterinya, Roro Luhito yang cantik dan berwatak bebas, menyambut datangnya seorang tamu yang dihormati. Tamu ini adalah seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Jokowanengpati! Pemuda yang datang dari kota raja ini dikenal baik oleh Adipati Jayowiseso, karena Jokowanengpati dahulu ikut pula menjadi perwira yang tangguh dan terkenal dalam barisan Kerajaan Mataram ketika barisan ini menyerbu ke barat. Sebagai murid Empu Bharodo, tentu saja pemuda ini menjadi terkenal dan dihormat oleh para taklukan Mataram.

Jokowanengpati bersahabat pula dengan Raden Wisangjiwo dan kedatangannya menggunakan dalih mencari sahabatnya ini, padahal ia dapat menduga bahwa orang yang dicarinya tentu tidak berada di rumah setelah perisitiwa yang ia saksikan di Guna Siluman baru-baru ini. Memang maksud kedatangannya itu mengandung rahasia untuk menyelidiki keadaan Wisangjiwo setelah ia melakukan perbuatan terkutuk di dalam guha yang akan menimpa diri Wisangjiwo itu.

Ketika dalam penyambutan itu muncul Roro Luhito, jantung pemuda mata keranjang ini berdebar keras. Matanya menjadi berminyak dan secara sembunyi ia mencuri pandang menikmati wajah yang manis dan tubuh yang denok itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa Wisangjiwo mempunyai seorang adik perempuan yang begini denok! Ia amat kagum dan tertarik oleh sikap yang wajar, bebas dan kenes. Berbeda dengan lain puteri yang biasanya hanya menyembunyikan diri di dalam taman sari atau keputren.

Memang Roro Luhito sejak kecil bukan seorang anak pemalu. Ia kenes dan pemberani, apalagi oleh ayahnya ia diberi pelajaran olah keprajuritan sehingga wataknya yang memang kenes bebas itu membuat ia merasa seakan-akan ia seorang Srikandi!

Hidangan-hidangan mewah dikeluarkan, bahkan pada malam harinya Adipati Joyowiseso memerintahkan rombongan kesenian kadipaten mengadakan klenengan dan tarian untuk menghormat dan menghibur tamu muda yang dihormati ini. Namun, setelah melihat Roro Luhito, para penari yang berbedak tebal itu dalam pandang mata Jokowanengpati tiada ubahnya seperti boneka-boneka hidup yang sama sekali tidak menarik. Padahal biasanya, dalam setiap kesempatan perayaan tayuban, pemuda yang pandai menari ini selalu menjadi tokoh untuk menari bersama penari-penari, bergaya, bergurau dan bergepit. Kini seolah-olah ia menjadi seorang yang pendiam.

Sampai jauh tengah malam baru pesta dihentikan. Tamu muda ini dipersilakan mengaso dalam kamar khusus yang bersih, lengkap dan mempunyai tempat tidur berbau harum kembang melati. Betapapun nyamannya tidur di kamar ini, namun Jokowanengpati tak dapat tidur pulas. Gelisah ia miring ke kanan kiri memeluk guling yang dikhayalkannya sebagai Roro Luhito! Dipeluk ciumi guling itu, dibisikkan kata-kata halus merayu, kemudian ia kadang-kadang menarik papas panjang dan memanggil nama Roro Luhito dalam bisikan penuh rindu.

Pemuda mata keranjang ini, untuk entah ke berapa kalinya, tergila-gila dan diserang penyakit wuyung (rindu) kepada seorang gadis ayu. Ia tiada melihat jalan untuk mengobati penyakit rindu berahinya. Meminang gadis Puteri adipati itu tidaklah mungkin sekarang, setelah ia diusir gurunya. Masih baik bahwa Empu Bharodo seorang yang dapat menjaga nama sehingga persoalan murtadnya itu tidak diketahui orang lain sehingga ia masih dapat mengecap kenikmatan sebagai murid Empu Bharodo dengan penyambutan penuh penghormatan seperti sekarang ini.

Cuaca lewat tengah malam itu amat gelap Mendung yang tidak mau turun-turun menjadi hujan membuat hawa udara panas sekali. Keadaan di kadipaten dan sekitarnya sunyi melengang karena semua penghuninya telah tidur lejap setelah kelelahan dalam kesibukan siang dan malam hari tadi. Bahkan para penjaga merasai pula kelelahan dan hawa panas ini, membuat mereka agak malas meronda dan hanya berjaga-jaga di sekitar pintu gapura depan.

Sunyi sekali setelah suara gamelan berhenti dan penghuninya sudah tidur, lebih sunyi daripada malam-malam biasa sebelumnya. Sesosok bayangan hitam dengan gerakan yang gesit menyelinap di antara rumpun bambu yang tumbuh di luar tembok belakang kadipaten. Sinar kilat yang kadang-kadang memecah di angkasa dalam sekejap mata menyinari bayangan ini yang ternyata adalah seorang laki-laki muda bertubuh tegap bermata liar. Orang muda ini adalah Pujo, yang dengan nafsu dendam meluap-luap menjelang fajar itu mendatangi kadipaten di Selopenangkep.

Setelah menanti sesaat dan mendapat keyakinan bahwa tidak ada penjaga meronda, dengan tangkas Pujo lari mendekati tembok, mengenjotkan kedua kakinya yang kuat ke atas tanah. Tubuhnya melayang naik, tangannya meraih dan menangkap ujung tembok di atas, kakinya diayun ke belakang terus ke atas dan berjungkir baliklah tubuhnya, langsung melompat ke sebelah dalam tembok! Tiada suara ditimbulkan kedua telapak kakinya yang menyentuh tanah Sebelah dalam dengan gerakan seperti kucing melompat, kemudian mengindap-indap ia menghampiri gedung kadipaten yang sunyi.

Sejenak ia berdiri di bawah pohon sawo yang gelap, agak bingung karena ia tidak mengenal gedung ini, tidak dapat mengira-ngirakan di mana kiranya kamar tidur Raden Wisangjiwo. Ia berpikir sejenak, giginya berkeret-keret gemas ketika ia berbisik. "Tidak peduli siapa dia, asal keluarga si bedebah Wisangjiwo, akan kubunuh!"

Dengan pikiran ini, dengan gerakan secepat kera, ia memanjat pohon sawo kemudian dari cabang yang berdekatan dengan wuwungan rumah, ia meloncat lalu berjalan di atas wuwungan rumah. Ilmu kepandaiannya yang sudah amat tinggi membuat wuwungan dan genteng itu dapat dilaluinya dengan mudah tanpa menimbulkan suara gaduh.

Setelah mencari-cari di atas wuwungan, akhirnya ia dapat meloncat ke sebelah dalam gedung, yaitu di ruangan belakang yang terbuka. Di lain saat ia telah mendekati sebuah jendela dari kamar terbesar yang berada di tengah gedung. Terdengar suara orang bercakap-cakap perlahan di dalam kamar itu. Ia menempelkan telinganya dan mendengar suara ketawa seorang laki-laki, suara ketawa yang dalam dan parau, "Ha-ha-ha, diajeng! Enak saja kau bicara. Mana mungkin kami fihak perempuan mengajukan urusan perjodohan?

Hal itu akan terlalu merendahkan diri. Akupun setuju kalau anak kita Roro Luhito dapat menjadi isteri Jokowanengpati, karena biarpun ia bukan keturunan bangsawan, namun ia mempunyai kedudukan baik dan tentu akan mudah mendapatkan pangkat besar di kemudian hari. Biarlah nanti sepulangnya Wisangjiwo, dia yang akan bicara dengan Jokowanengpati. Kalau yang bicara itu di antara sahabat, itu bukan merendahkan diri namanya."

"Terserah, kakangmas adipati. Pokoknya saya menghendaki agar anak kita bisa mendapatkan jodoh yang baik dan saya lihat pemuda itu cukup tampan dan sopan. Banyak para waranggana dan penari cantik-cantik malam tadi, tapi melirikpun dia tidak mau. Padahal biasanya orang-orang muda kalau melihat waranggana cantik lalu menjadi liar dan tidak mau diam seperti cacing terkena abu!"

"Hah-hah-hah-hah, biasa itu, diajeng. Orang kalau sudah menyukai seseorang, segalanya kelihatan baik saja. Mudah-mudahan begitulah dan mudah-mudahan dia akan suka memperisteri anak kita si Luhito."

"Tentu suka! Pemuda mana yang tidak keedanan bertemu dengan Luhito? Perawan mana yang lebih cantik jelita, denok ayu seperti anakku Luhito?"

"Ha-ha-ha, siapa maido (tak percaya)? Ibunya begini denok, begini montok, begini ayu manis, tentu saja anaknya hebat!"

"Ah, kangmas, sudah malam begini hampir fajar, jangan keras-keras, malu terdengar orang!"

Adipati Joyowiseso dan selirnya tertawa-tawa, bersendau gurau. Kedua orang ini tidak tahu betapa di luar jendela kamar mereka, Pujo menjadi merah mukanya, merah karena marah dan kecewa. Jadi Wisangjiwo belum pulang, pikirnya geram. Akan tetapi ia sudah tiba di situ, terlalu menyesal kalau pulang dengan tangan hampa. Di dalam kamar ini terdapat ayah si bedebah Wisangjiwo dan orang tua ini ikut pula berdosa karena mempunyai putera yang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya. Kedua tangannya mengepal tinju, matanya beringas memandang jendela, seluruh urat di tubuhnya menegang. Pujo melangkah mundur tiga tindak, mengerahkan tenaga lalu meloncat menerjang daun jendela yang tertutup!

"Braaaakkkk!!"

Pecahlah daun jendela itu dan tubuh Pujo terhuyung ke dalam kamar yang diterangi sebuah dian (lampu kecil) di sudut kamar. Selir adipati itu menjerit kaget dan Adipati Joyowiseso melompat dari atas pembaringan, tubuhnya tidak memakai baju hanya berselimut sehelai kain, matanya melotot, kumisnya yang tebal sekepal sebelah itu berdiri, lalu membentak...

BERSAMBUNG KE JILID 04


Badai Laut Selatan Jilid 03

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Badai Laut Selatan Jilid 03

Mendengar tantangan ini. Raden Wisangjiwo bangkit, kepalanya masih terayun-ayun ke kanan kiri, akan tetapi kepeningannya lenyap karena ia tadi memang hanya terbanting biasa saja dan mengalami babak-bundas (lecet-lecet) dan matang biru, la melihat gurunya berdiri dengan dada dibusungkan, kedua tangan bertolak pinggang, cantik dan menantang. Menerima pukulan Tirto Rudiro dengan tubuh tanpa menangkis atau mengelak? Mana mungkin? Raden Wisangjiwo ragu-ragu. Bagaimana kalau gurunya terluka atau mati oleh pukulannya ini?

"Hayo pukul...! Pukul sekuat tenaga dengan Tirto Rudiro. Awas, kalau kau memukul tidak sepenuh tenaga, aku akan membunuhmu karena menganggap kau memandang rendah kepandaian gurumu. Hayo pukul!"

Raden Wisangjiwo melangkah maju, mengerahkan tenaga, namun ia merasa bimbang ragu. Bagaimana ia tega memukul wanita yang begini cantik dengan sepenuh tenaga? Dia ini gurunya, akan tetapi juga kekasihnya. Wanita inilah yang menggemblengnya menjadi seorang jagoan, jago berkelahi dan jago dalam asmara. Ia tahu bahwa gurunya ini amat cinta kepadanya, buktinya ia telah menerima pelajaran Ilmu Asmoro Kingkin, Ilmu Cambuk Sarpokenoko, ilmu pukulan tangan kosong yang hebat-hebat. Akan tetapi, kalau ia tidak memukul sekuat tenaga, tentu gurunya itu akan membunuhnya.

Hal itu mungkin saja karena memang gurunya berwatak aneh sekali. Setelah mengumpulkan tenaganya, Raden Wisangjiwo berseru keras dan memukul dengan Aji Tirto Rudiro. Akan tetapi ia tidak mau memukul tempat berbahaya, padahal kalau ia memukul lambung atau pusar, apalagi ia mau memukul dada tempat paling lemah dari wanita, tentu akan lebih hebat akibatnya. Ia memang menggunakan seluruh tenaganya, akan tetapi ia memilih tempat yang tidak begitu berbahaya, yaitu di pundak, pangkal lengan kiri gurunya.

"Syuuuuutttt....... wesssssss...!"

Alangkah kaget hati Raden Wisangjiwo ketika kepalan tangannya melesak ke dalam kulit daging bahu gurunya, seakan-akan tersedot dan tak dapat ditarik kembalil Dan dari kepalan tangannya itu terdengar bunyi "ssssssssss" seperti api bertemu air, perlahan kepalan tangannya terasa panas terbakar.

"Aduh..... aduhh......, ampun Dewi..... ampun.....!" Ia menjerit-jerit kesakitan.

"Hi-hi-hi-hik! Apa sih hebatnya Tirto Rudiro?" Ni Durgogini memekik keras dan untuk ketiga kalinya tubuh Raden Wisangjiwo terlempar, kini amat keras dan ia roboh menabrak pohon, lalu rebah dengan leher miring dan mata mendelik, lidahnya terjulur keluar, tak dapat berkutik setengah pingsan!

Sambil tertawa cekikikan Ni Durgogini melompat ke depan mendekati Raden Wisangjiwo, dengan jari tangan kirinya ia mengurut pundak dan leher. Pemuda itu mengeluh dan sadar kembali.

"Hemm, Lasmini, kau makin liar dan masih suka mempermainkan orang!"

Ni Durgogini kaget seperti disambar petir mendengar suara ini dan tubuhnya cepat bergerak membalik, cambuk Sarpokenoko digenggam erat. Juga Raden Wisangjiwo sudah bangkit berdiri, memandang laki-laki yang entah dari mana datangnya tahu-tahu sudah berdiri di situ. Laki-laki ini berusia empat puluhan tahun lebih, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan berwibawa. Kepalanya yang berambut nyambel wijen (banyak uban) itu tertutup kain kepala yang ujungnya berdiri meruncing di sebelah belakang. Biarpun ia bertelanjang kaki, namun pakaiannya dan sikapnya membayangkan keagungan seorang bangsawan. Yang amat menarik adalah pancaran pandang matanya yang penuh tenaga batin, tenang lembut dan dalam seperti permukaan air telaga yang dalam.

Raden Wisangjiwo tidak mengenal orang ini, akan tetapi Ni Durgogini kelihatan makin kaget ketika ia melihat siapa orangnya yang mengeluarkan ucapan tadi. Sesaat wajahnya yang cantik itu menjadi pucat, matanya terbelalak memandang laki-laki itu tanpa berkedip dan mulutnya bergerak-gerak tanpa dapat mengeluarkan suara.

"Lasmini, kau kaget melihatku?" laki-laki itu menegur sambil tersenyum, kumisnya yang tipis bergerak menambah ketampanan wajahnya.

"Kau.... rakanda.... Narotama....! Mau.... mau apakah kau datang ke Girilimut (Bukit Halimun) ini....?"

Narotama tersenyum lebar. "Tidak ada urusan denganmu, nimas, sama sekali tidak ada, hanya kebetulan saja. Bahkan aku sama sekali tidak mengira bahwa Ni Durgogini yang tersohor adalah engkau! Kalau begitu, Ni Nogogini adalah si Mandari. Ah, siapa sangka...! Kebetulan saja aku datang ke sini, terus terang hendak mencari Ni Durgogini karena ada sesuatu hendak kutanyakan, tidak tahunya Ni Durgogini adalah engkau dan aku melihat engkau mempermainkan orang muda ini. Apa dosanya?"

Agaknya lega hati Ni Durgogini mendengar ucapan itu. Ia tersenyum manja dan genit, lalu berkata, "Siapa main-main dengan dia? Dia sedang kuberi latihan ilmu, dia ini muridku. Raden Wisangjiwo putera Adipati Joyowiseso."

Narotama mengangguk-angguk. "Hemm, putera adipati di Selopenangkep? Putera adipati seyogyanya menjadi perajurit, dan untuk menjadi seorang ksatria utama bukan di sini tempat perguruannya. Lasmini, apa sih kebisaan mu, maka engkau berani menjadi guru putera seorang adipati?"

Raden Wisangjiwo mendongkol sekali mendengar ini dan ia terheran-heran melihat gurunya yang biasanya galak itu kini seakan-akan mati kutunya berhadapan dengan orang asing ini. Ia tahu dengan pasti bahwa kalau orang lain yang mengucapkan kalimat itu, tentu sekali bergerak gurunya akan membunuh orang itu yang dianggap menghina. Akan tetapi aneh bin ajaib, terhadap orang ini gurunya hanya tersenyum-senyum malu dan tidak dapat menjawab.

Rasa terheran-heran ini membuat Raden Wisangjiwo menjadi penasaran, maka ia melangkah maju ke depan orang itu dan menghardik, "Paman! Siapapun adanya engkau ini, tidak sepatutnya kau mengeluarkan kata-kata memandang rendah guruku. Mungkin kau sahabat baik guruku maka guruku bersabar mendengar penghinaan mu, akan tetapi aku sebagai muridnya tidak dapat membiarkan kekurangajaranmu. Kau hendak melihat pelajaran apa yang diberikan guruku kepadaku? Nah, apakah kau mau bukti dengan mengadu kerasnya tulang tebalnya kulit melawanku? Kalau tidak berani, kau harus menarik kembali ucapanmu yang menghina tadi!"

"Wah, boleh juga muridmu, nimas! "

"Apa kau kira aku suka mengambil murid orang yang tiada gunanya?"

"Namamu Raden Wisangjiwo, orang muda? Keberanianmu cukup, semangat dan kesetiaanmu lumayan, sayang kau terlalu menghambur tenaga dan hawa murni yang seharusnya dihimpun. Boleh.... boleh.... mari kita main-main sebentar. Dan kau boleh menggunakan cambukmu itu. Mari!"

Sedetik wajah Raden Wisangjiwo menjadi merah sekali. Ucapan ini menusuk jantungnya karena memang tepat. Iapun maklum bahwa ia telah menyia-nyiakan waktu dan membuang tenaga dan hawa murni yang seharusnya ia himpun dengan perbuatannya yang tak dapat ia cegah, yaitu menjadi barang permainan gurunya sendiri, bahkan akhir-akhir ini bibi gurunya pun mempermainkannya. Ia telah terombang-ambing dalam permainan nafsu berahi yang merupakan pantangan bagi seorang pengejar ilmu kesaktian. Hubungan yang wajar dan bersih daripada nafsu kotor dengan isterinya malah jarang terjadi karena ia lebih senang berada di tempat gurunya dan inilah yang merupakan racun yang memabokkan seperti madat. Karena merasa jengah dan malu, ia menjadi marah.

"Kau sombong, orang tua. Biarlah aku mencoba mu dengan pukulan tangan tanpa senjata. Siap dan sambutlah ini!"

cerita silat online karya kho ping hoo

Raden Wisangjiwo lalu menerjang maju, gerakannya sigap dan pukulannya mendatangkan angin menderu. Pemuda ini tidak hanya hendak mendemonstrasikan kehebatan ilmu gurunya, juga hatinya panas dan ia ingin memberi hajaran kepada orang yang berani bersikap kurang ajar terhadap Ni Durgogini. Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa yang ia hadapi ini adalah Narotama yang kini telah menjadi pepatih dalam di Mataram berjuluk Rakyana Patih Kanuruhan, sahabat baik Sang Prabu Airlangga dan kesaktiannya dalam olah prajurit hanyalah di bawah sang prabu sendiri!

Tentu saja ia tidak tahu karena nama Narotama tidak begitu terkenal, yang terkenal adalah Rakyana Patih Kanuruhan, maka ketika gurunya menyebut nama Narotama, ia sama sekali tidak tahu bahwa yang dilawannya adalah patih yang sakti mandraguna itu. Andaikata ia tahu, sebagai putera Adipati Selopenangkep dan berarti orang sebawahan patih ini, sudah tentu sampai matipun ia tidak akan berani melawan!

"Bagus!" seru Narotama sambil tersenyum.

Ia mengenal gerakan pemuda ini karena ilmu ketangkasan tangan kosong ini adalah pecahan yang dikembangkan dari ilmunya sendiri, yaitu ilmu silat Kukiko Sakti (Burung Sakti) yang pernah dahulu ia ajarkan kepada Lasmini. Ia menanti sampai pukulan itu datang dekat, lalu menggeser kaki ke kiri dan tangan kanannya ia gerakkan menangkis dengan tiba-tiba.

"Dukkkk!!"

Perlahan saja tangkisan itu, namun akibatnya tubuh Raden Wisangjiwo terhuyung-huyung ke belakang. Pemuda Ini kaget dan lenyaplah perasaan hatinya yang tadi memandang rendah lawan tua ini. Ia melompat maju lagi dengan serangan yang lebih hebat, tubuhnya masih dalam lompatan, masih menyambar satu meter di atas tanah, tangan kanannya dibuka mencengkeram mata, tangan kiri disodokkan menghantam ulu hati sedangkan dengan gerakan cepat kaki kanannya menyusul dengan tendangan ke arah bawah pusar! Hebat sekali serangan ini, serangan maut karena berturut-turut kedua tangan dan sebuah kaki telah menyerang hebat dan satu saja di antaranya mengenai sasaran tentu akan membuat lawan terjungkal dengan luka parah atau mati!

"Ganas.... ganas...!" Narotama berseru, diam-diam kagum juga karena ternyata pemuda ini memiliki bakat yang baik, sayangnya terbimbing oleh seorang yang berwatak ganas sehingga ilmu silatnya juga menjadi ganas sifatnya. Kembali ia berdiri diam saja menanti sampai serangan bertubi-tubi itu tiba dekat, tiba-tiba kedua tangannya bergerak Terdengar suara, "Plak-plak-plak!"

Tiga kali dan semua serangan itu dapat ia tangkis, akan tetapi kali ini tubuh Raden Wisangjiwo terlempar sampai tiga meter jauhnya dan roboh berdebuk di atas tanah hingga debu mengepul dari bawah pantatnya. Raden Wisangjiwo meringis kesakitan, akan tetapi ia menjadi amat penasaran. Darah mudanya bergolak. Dia, murid terkasih Ni Durgogini yang ditakuti orang, masa sekarang menghadapi seorang lawan tua yang tidak ternama harus menelan kekalahan demikian mudahnya?

"Jangan tertawa dulu, orang tua. Lihat seranganku!" bentaknya dan kini diam-diam ia telah menggenggam Kerang Merahnya di tangan kanan, lalu menerjang maju dengan dahsyat. Pukulannya mengandung Aji Tirto Rudiro yang ampuhnya menggila. Namun dengan senyum dikulum Narotama menghadapi pukulan ini dengan dada membusung dan mulut berkata, "Eh-eh, Lasmini, pukulan iblis apa yang kau ajarkan kepada muridmu ini? Biar kucoba menerimanya!"

Pukulan tiba, ke arah pusar Narotama. Patih yang sakti ini lalu menekuk lututnya, tidak berani sembrono menerima pukulan sedahsyat itu dengan pusar, maka ia memasang dadanya menjadi sasaran.

"Dessss.......!!!"

Hebat sekali pukulan itu, tubuh Narotama sampai tergoyang-goyang seperti pohon beringin terlanda angin. Akan tetapi tubuh Raden Wisangjiwo mencelat seperti daun kering tertiup angin, jatuh terbanting dan bergulingan. Ia hanya mampu merangkak bangun dan tahu-tahu gurunya sudah berada di sampingnya. Cekatan sekali Ni Durgogini menekan punggung muridnya dan mengurut lengan kanannya di bawah pangkal dekat ketiak. Seketika Raden Wisangjiwo segar kembali.

"Pukulan keji!" kata Narotama. "Orang muda, lebih baik kau mempergunakan cambukmu. Bukankah kau telah menerima pelajaran ilmu Cambuk Sarpokenoko yang hebat itu?"

Raden Wisangjiwo meragu. Kini yakinlah hatinya bahwa lawannya adalah seorang sakti. Akan tetapi Ni Durgogini tertawa genit.

"Rakanda, kau benar-benar tidak mau mengalah terhadap orang muda. Mana dia mampu menandingi tenagamu? Eh, Wisangjiwo, jangan malu-malu menghadapi orang pandai. Saat ini adalah saat baik bagimu, dapat menambah pengalaman. Hayo serang lagi dia, kau gunakan cambukku ini."

Ni Durgogini menyerahkan cambuknya, Sarpokenoko yang ia pergunakan untuk menciptakan Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang sangat dahsyat. Diam-diam wanita ini merasa penasaran bahwa muridnya dapat dikalahkan secara demikian mudah. Biarpun ia cukup maklum bahwa Narotama amat sakti, apa lagi muridnya, dia sendiripun takkan mampu menangkan, akan tetapi sebagai seorang guru ia merasa penasaran tak dapat memamerkan kepandaian muridnya. Ia cukup mengerti bahwa dalam hal ilmu silat tangan kosong tentu saja muridnya tidak akan berhasil seujung rambutpun, karena semua ilmu silat tangan kosong yang ia miliki sebenarnya bersumber dari ajaran Narotama.

Benar bahwa ilmu pukulan Tirto Rudiro yang dimiliki Wisangjiwo tidak dikenal Narotama, akan tetapi muridnya itu belum terlatih betul, tenaganya dalam ilmu itu masih lemah, maka tentu saja tidak akan ada gunanya. Berbeda dengan ilmu cambuknya. Ilmu ini adalah ciptaannya sendiri dan biarpun ia percaya bahwa Narotama tentu akan dapat mengatasinya, namun sedikit banyak Narotama akan berhadapan dengan ilmu yang asing dan tentu tidak akan dapat secara mudah saja mengalahkannya.

Dengan hati geram Raden Wisangjiwo menerima cambuk dari tangan gurunya. Ia cukup percaya akan keampuhan cambuk gurunya. Pernah ia melihat betapa dalam segebrakan saja cambuk di tangan gurunya ini mencabut nyawa lima orang bajak sungai yang berani mati menentang gurunya, padahal lima orang bajak Sungai Progo itu bukanlah lawan yang empuk, melainkan orang-orang digdaya pula. Begitu ia mencekal gagang cambuk, rasanya ia bertambah semangat dan dengan langkah gagah ia menghampiri lawan, cambuk Sarpokenoko diayun-ayun.

"Tar-tar-tar-tar-tar!!" Cambuk itu melecut ke udara dan suara ledakannya nyaring sekali.

"Wah-wah, hebat benar cambuk Sarpokenoko!"

Orang tua itu memuji akan tetapi sikapnya tenang-tenang saja. Ia tahu akan keampuhan cambuk yang terbuat daripada kulit ular itu, maklum bahwa cambuk ini mengandung racun yang berbahaya, jangankan terkena lecutan, baru terkena hawanya saja cukup dapat merobohkan orang. Ditambah lagi dengan permainan Ilmu Cambuk Sarpokenoko, benar-benar amat ampuh dan tepat sekali dengan namanya. Sarpokenoko berarti Kuku Ular, dan adalah nama adik Sang Prabu Dosomuko dalam cerita pewayangan Ramayana, adik perempuan yang mempunyai aji pada kukunya, yang sakti mandraguna dan ganas liar seperti iblis.

"Paman, lihat seranganku!" Raden Wisangjiwo berseru.

Pemuda ini cukup cerdik. Ia maklum bahwa orang tua yang tak dikenalnya ini adalah seorang kenalan gurunya, seorang yang sakti dan karenanya ia mulai bersikap lunak dan hormat, menyebutnya paman dan memberitahukan dulu sebelum menyerang. Hal ini tentu saja ia lakukan karena ia merasa ragu-ragu apakah ia akan dapat menang, biarpun ia bersenjatakan cambuk Sarpokenoko sedangkan lawannya bertangan kosong.

"Siuuuuttt..... blarrrrr!"

Batu karang sebesar kepala kerbau hancur menjadi tepung ketika cambuk itu menyambar dan tahu-tahu tubuh Narotama lenyap dan sebagai gantinya, batu itu yang tadi berada di bawahnya menjadi korban hantaman cambuk. Raden Wisangjiwo cepat membalikkan tubuh. Entah bagaimana gerakan orang tua itu ia tidak melihat, akan tetapi tadi tahu-tahu lenyap dan kini sudah berada di belakangnya, tenang-tenang saja berdiri menanti datangnya serangan.

Kembali Raden Wisangjiwo menyerang, kini menggunakan gerakan memutar cambuk membentuk lingkaran-lingkaran di sekitar tubuh lawan, menghadang jalan keluar. Dari dalam lingkaran itu, ujung cambuk baru mematuk seperti paruh burung elang, mengarah bagian berbahaya seperti mata, leher, ulu hati, lambung, pusar dan sebagainya.

"Hebat.......!" Narotama kembali memuji dan ia benar-benar kagum. Memang tak boleh dibuat permainan ilmu cambuk ini, terpaksa ia lalu mengeluarkan ajiannya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat seperti terbang atau seperti bayang-bayang saja yang mengikuti gerakan cambuk, menyelinap di antara sinar cambuk dan anehnya, gerakannya ini mengeluarkan bunyi mengaung perlahan tiada hentinya. Inilah ilmu silat tangan kosong Bramoro Seto (Lebah Putih) yang merupakan sebuah di antara raja ilmu silat tangan kosong. Sampai berkunang kedua mata Raden Wisangjiwo mencari-cari lawannya dan mengikuti gerakan bayangan yang berkelebat itu, bayangan putih yang tak tentu ujudnya, tak tentu ke mana pindahnya.

Tubuhnya sudah lelah sekali karena ia telah mainkan semua jurus Ilmu Cambuk Sarpokenoko untuk menghantam bayangan itu, namun sia-sia, semua serangannya hanya mengenai angin belaka, sedangkan suara mengaung-ngaung seperti lebah besar beterbangan di sekitar kepalanya membuat ia menjadi panik dan pening. Apalagi karena lawannya itu bergerak-gerak bukan hanya untuk mengelak, melainkan membalas dengan tamparan-tamparan yang mendatangkan hawa panas, membuat Raden Wisangjiwo bingung mengelak ke sana ke mari, menyambarkan cambuknya ke kanan kiri, dan masih untung baginya bahwa lawannya tidak mau memukulnya, melainkan membikin bingung saja. Kalau memang lawan berniat buruk, sudah tadi-tadi ia kena pukul.

"Cukup, Wisangjiwo, lekas memberi hormat kepada gusti patih!" seru Ni Durgogini dan tahu-tahu cambuk di tangan pemuda itu sudah terampas oleh gurunya.

Narotama berhenti dan berdiri dengan wajah biasa, tenang dan tertawa ramah.

"Gusti.... gusti patih....?" Wisangjiwo kebingungan, memandang gurunya dan orang tua itu berganti-ganti.

Ni Durgogini tertawa genit cekikikan.

"Anak bodoh, apakah kau tidak tahu bahwa rakanda Narotama adalah Gusti Rakyana Patih Kanuruhan, Patih Dalam Mataram yang terkenal sakti mandraguna?"

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Raden Wisangjiwo mendengar ini. Matanya terbelalak, mukanya pucat dan cepat sekali ia menjatuhkan diri berlutut sembah di depan Narotama sambil berkata, "Mohon beribu ampun, gusti patih. Karena hamba tidak tahu maka hamba telah berani bersikap kurang ajar dan tidak sopan di hadapan paduka."

"Tidak mengapa, orang muda. Andaikata engkau tahu sekalipun, tetap aku ingin menyaksikan kemajuan murid Ni Durgogini. Kepandaianmu lumayan, hanya kurang matang, dan.. dan ganas."

"Rakanda Narotama, kebetulan sekali kau datang. Aku minta kepadamu, demi mengingat hubungan antara kita dahulu, berilah bimbingan kepada muridku ini. Dia putera Adipati Selopenangkep, sudah sepatutnya ia menghamba di kerajaan dan kurasa kepandaiannya cukup memenuhi syarat. Kuharap kau suka menerimanya dan memberinya kedudukan di kota raja."

Narotama mengelus-elus jenggotnya. Di dalam hatinya, ia kurang cocok dengan pemuda ini karena ilmu-ilmunya amat ganas, tak pantas menjadi ilmu pegangan ksatria. Akan tetapi untuk menolak, iapun merasa tidak enak kepada Ni Durgogini atau Lasmini. Lasmini yang dahulunya seorang puteri jelita kini telah berubah menjadi wanita iblis yang terkenal dengan nama Ni Durgogini, perubahan ini sebagian adalah dia yang menyebabkannya, maka diam-diam ia menaruh hati iba kepada Lasmini, bekas selirnya ini.

Ya, Lasmini dahulu adalah selirnya, selir yang tercinta, karena di antara para selirnya, Lasmini adalah selir yang paling tangkas dan pandai olah keperajuritan, seperti Srikandi, memiliki bakat yang amat baik sehingga dalam cinta kasihnya, Narotama telah menurunkan banyak ilmu kesaktian kepada selirnya itu. Akan tetapi, sayang sekali, Lasmini selain memiliki dasar ketangkasan, juga memiliki dasar yang tidak baik dan cabul. Terpaksa Narotama mengusirnya ketika selir itu terdapat melakukan hubungan gelap, berzina dengan seorang pangeran melalui perantaraan ki juru taman.

Karena peristiwa memalukan ini menyangkut diri seorang pangeran, dengan bijaksana Narotama tidak menimbulkan heboh, hanya secara diam-diam ia mengusir Lasmini. Tadinya ia mengira bahwa pangeran itu tentu akan menolong Lasmini dan mengambilnya sebagai selir, siapa tahu, Lasmini tersia-sia agaknya dan ternyata telah berubah menjadi wanita iblis berjuluk Ni Durgogini.

Setelah pertemuan ini barulah Narotama dapat menduga bahwa saudara Ni Durgogini yang sama terkenalnya, yaitu Ni Nogogini, tentulah si cantik Mandan pula, adik Lasmini yang pernah diselir Sang Prabu Airlangga sendiri, akan tetapi sudah lebih dahulu diusir karena sang prabu tidak suka akan perangai Mandari yang liar.

"Wisangjiwo, apakah kau setuju dengan usul gurumu itu? Inginkan kau menjadi ksatria di kota raja?"

Sebetulnya tidak pernah gurunya mengajaknya bicara tentang hal ini, akan tetapi siapa orangnya tidak ingin menjadi ksatria? Dan siapa pula tidak ingin memperoleh kesempatan mencari kemuliaan? Selain itu, ia merasa terancam keselamatannya setelah pertempurannya di Gua Siluman dan melukai anak dan mantu Resi Bhargowo, maka kiranya hanya di kota raja sajalah tempat yang aman baginya. Juga, di kota raja ia tahu banyak terdapat orang-orang sakti sehingga mudah pula untuk memperdalam ilmu-ilmunya sehingga ia kelak tidak takut menghadapi ancaman dari manapun juga datangnya. Maka sambil berlutut dan menyembah iapun menjawab tegas, "Hamba setuju dan hanya mengandalkan kemurahan hati dan kebijaksanaan paduka, gusti patih."

Narotama atau Rakyana Patih Kanuruhan mencabut keluar sebatang keris kecil berbentuk lurus yang disebut keris Kolomisani, memberikan keris itu kepada Wisangjiwo dan berkata, "Baiklah, kau boleh berangkat sekarang juga, bawa keris ini ke kepatihan, serahkan kepada kepala pengawal istana yang selanjutnya akan memberi petunjuk kepadamu."

Wisangjiwo menerima keris kecil itu, bersembah menghaturkan terima kasih, kemudian dengan hati girang ia minta diri, berpamit kepada gurunya untuk langsung pergi ke Mataram. Ia tidak peduli akan pandangan kecewa gurunya karena sesungguhnya Ni Durgogini tidak mengira bahwa muridnya yang terkasih itu akan berangkat sekarang juga! Ia tentu akan kehilangan dan kesepian, akan tetapi ia tidak tahu bahwa Wisangjiwo memang sengaja ingin lekas-lekas pergi agar jangan sampai terganggu oleh gurunya sendiri, karena ia harus mentaati pesan bibi gurunya untuk berlatih dengan tekun dan dengan pantangan mendekati wanita dan makan barang berjiwa.

Inilah kesempatan amat baik baginya, karena kalau tidak segera ia pergi, ia tak mungkin dapat mengharapkan kesempurnaan dalam melatih Ilmu Tirto Rudiro apabila ia berdekatan dengan Ni Durgogini!. Setelah pemuda itu pergi jauh, Narotama berkata, "Ni Lasmini, telah kukatakan tadi bahwa kedatanganku ke sini adalah kebetulan, karena aku sedang mencari Durgogini dan sama sekali tidak mengira akan bertemu denganmu di sini."

Durgogini mencibirkan bibirnya yang masih merah semringah, namun sepasang matanya kehilangan gairah cintanya yang dahulu terhadap patih ini. Sepuluh tahun lebih telah lalu dan kini sang patih bukan lagi seorang pria muda perkasa yang tampan gagah, melainkan seorang pria yang sudah setengah tua dengan rambut berwarna dua dan air muka dingin.

"Rakanda patih, setelah tahu bahwa Ni Durgogini adalah Lasmini, lalu bagaimana?" Ia tertawa terkekeh dan terheranlah Narotama betapa setelah lewat hampir tiga belas tahun, bekas selirnya ini masih tetap saja kelihatan muda, mukanya berseri, bibirnya merah membasah, giginya putih berkilau, tidak tampak sedikitpun keriput pada kulitnya yang masih halus.

Patih ini tentu saja tidak tahu bahwa Durgogini dan adiknya, Nogogini telah dapat menemukan Suket Sungsang, yakni semacam rumput laut yang langka, dan yang mengandung khasiat mustajab untuk membuat wanita awet muda. Inilah sebabnya maka Ni Durgogini dan Ni Nogogini, biarpun sudah berusia kurang lebih empat puluh tahun, masih tampak seperti gadis-gadis remaja berusia dua puluh tahun!

"Ni Lasmini, kepadamu aku lebih baik berterus terang, karena sedikit banyak engkau tentu masih memiliki perasaan setia kepada Mataram. Aku sedang memikul tugas berat, tugas yang kuterima langsung dari sang prabu sendiri. Ketahuilah bahwa sebulan yang lalu, secara tiba-tiba dan ghaib, patung emas Sang Batara Wisnu telah lenyap dari dalam istana. Sang prabu merasa prihatin sekali akan kehilangan ini, karena hal itu merupakan perlambang buruk bagi kejayaan Mataram. Oleh karena itulah maka aku sendiri diutus untuk pergi mencari dan mendapatkan kembali patung emas itu."

"Hemm, hanya sebuah patung kecil, mengapa perlu diributkan? Apa sukarnya bagi sang prabu untuk menitah para empu membuatkan kembali patung emas yang lebih indah dan besar?"

Narotama menarik napas panjang. "Engkau tidak tahu, Lasmini. Patung kencana itu sebuah benda keramat dan bertuah, dahulu menjadi ajimat dari Empu Lo Hapala yang kemudian bergelar Rakai Kayuwangi, hampir dua abad yang lalu. Pernah dahulu patung inipun lenyap dari istana Rakai Kayuwangi dan akibatnya, Kerajaan Mataram menyuram. Oleh karena itulah maka sang prabu menjadi prihatin dan akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kembali patung itu."

"Hemm!" Bibir merah itu mencibir; "Kalau begitu, mengapa engkau mencarinya ke sini? Apa kau kira aku yang mencuri patung itu?" Sepasang mata bening yang bersinar genit cabul itu mengeluarkan cahaya berkilat.

Narotama tersenyum lebar. "Engkau masih galak seperti dahulu, Lasmini! Tentu saja aku tidak berani menuduh siapapun juga tanpa bukti. Akan tetapi menurut getaran yang kurasakan, patung itu pasti berada di sekitar pantai Laut Selatan. Aku sengaja mencari Ni Durgogini bukan untuk menuduh, melainkan untuk minta keterangan, barangkali saja Ni Durgogini mengetahui tentang patung ini."

"Hi-hik! Rakanda Narotama mengapa bicara berputar-putar? Aku bukan Lasmini lagi, akulah Ni Durgogini dan aku tidak tahu-menahu tentang patung itu. Agaknya rakanda salah perhitungan, maka sampai datang ke sini. Di antara sang prabu dan aku tidak ada urusan sesuatu, maka mengapa aku bersusah payah mencuri patung? Kalau rakanda pandai! mengapa tidak mencarinya pada orang yang memang ada urusan dan dendam dengan sang prabu?"

Narotama termenung sejenak, tiba-tiba ia menepuk dahinya sendiri.

"Aha! Kau benar, Ni Durgogini! Mengapa aku begini bodoh? Ni Mandari, adikmu! Agaknya ia lebih tahu...."

"Bukan niatku mengkhianati adik kandung! Pula, seperti juga Ni Lasmini, Ni Mandari telah mati, tidak ada lagi,, yang ada adalah Ni Nogogini! "!

"Di mana dia? Di mana aku bisa bertemu dengan Ni Nogogini?"!

Ni Durgogini terkekeh genit dan matanya tajam mengerling. "Sang patih yang arif bijaksana dan sakti mandraguna, apakah tidak malu bertanya-tanya, kepada seorang wanita yang tidak berdaya? Kau carilah sendiri, sepanjang pengetahuanku, Ni Nogogini bertahta di dalam istana yang letaknya di dasar Segoro Kidul (Laut Selatan), hi-hi-hik!"

Narotama tentu tahu bahwa bekas selirnya ini mempermainkannya, karena tidak mungkin seorang manusia biasa bertempat tinggal di dasar laut. Ia mengangguk dan berkata, "Sudahlah, Ni Durgogini, aku mohon diri. Akan kucari sendiri Ni Nogogini!" Ia membalikkan tubuhnya.

Tiba-tiba terdengar suara angin menyambar diiringi ketawa cekikikan yang menyeramkan dari arah belakangnya. Narotama terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya lagi dan tangan kanannya bergerak dengan jari-jari terbuka, menghantam benda hitam yang menyambar dahsyat.

"Blarrrr.......!" Batu karang yang besar itu pecah berantakan sampai mengepulkan debu.

"Ni Durgogini, apa maksudmu main-main seperti ini?" tegurnya, suaranya penuh wibawa.

"Hi-hi-hi-hik,siapa main-main, sang patih yang terhormat? Tiga belas tahun aku menderita dengan hati perih, mengingat betapa kejam seorang pria telah mengusir dan menghinaku! Narotama, apakah kau pura-pura lupa bahwa kaulah yang membunuh Ni Lasmini sehingga menjelma menjadi Ni Durgodini yang hidup terasing di Girilimut ini?"

Narotama menarik napas panjang, penuh sesal, "Nimas, kau salah paham. Semenjak dahulu aku tidak mendendam kepadamu, aku maklum akan kelemahanmu sebagai wanita muda. Aku dahulu sengaja membebaskanmu agar kau dapat melanjutkan langen asmoro (bermain cinta) dengan pangeranmu. Aku mengira bahwa sang pangeran tentu akan mengambilmu sebagai selir dalam, siapa tahu dia menyia-nyiakanmu. Aku selalu bermaksud baik kepadamu, nimas. Buktinya, putera adipati muridmu itupun kuterima dengan segala kerelaan hati."

"Tidak ada sangkut-pautnya denganku! Betapapun juga, setelah kau datang ke sini, tak dapat aku membiarkan kau pergi begitu saja tanpa membuat beres perhitungan lama, Narotama!"

"Hemmmm, kalau begitu wawasanmu, terserah kepadamu, Ni Durgogini."

"Heh-heh-hi-hi-hik, jangan kira Lasmini dahulu sama dengan Durgogini sekarang, Rakyana Patih Kanuruhan. Terimalah pukulanku Aji Ampak-ampak ini!"

Wanita itu memekik dahsyat lalu menerjang maju dengan kedua tangan dipe tang, jari-jari tangannya terbuka dan mengirim pukulan yang mengandung hawa dingin, sedingin ampak-ampak (halimun) yang dapat membekukan darah dalam tubuh!

Melihat cahaya kebiruan keluar dari telapak tangan Durgogini, Narotama terkejut. Hebat ilmu pukulan ini, dan amatlah kuatnya. Bukannya ia tidak berani menghadapi keras lawan keras, akan tetapi ia tidak bermaksud melukai wanita yang sudah mendatangkan iba di hatinya ini. Kalau ia lawan dengan kekuatan hawa sakti pula, tentu seorang di antara mereka akan terluka hebat dan ia tidak menginginkan hal ini terjadi.

Maka Narotama lalu melesat menghindarkan pukulan-pukulan yang datangnya cepat bertubi, mempergunakan Ilmu Silat Dojro Dahono (Api Halilintar) untuk melawan Aji Ampak-ampak. Aji Bojro Dahono merupakan lawan setimpal Aji Ampak-ampak yang dingin, karena Bojro Dahono menimbulkan hawa panas seperti pusar Kawah Candradimuka.

Dari kedua telapak tangan sang patih keluar hawa bersinar kuning kemerahan dan setelah tangkis-menangkis puluhan jurus, Ni Durgogini tak kuat menahan pula, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat saking panas hawa yang dideritanya.

"Wuuuttt, tar-tar-tar..."

Kini cambuk Sarpokepoko berada di tangannya dan menyambar-nyambar ganas. Biarpun Aji Bojro Dahono hebat, namun gerakan ilmu silat ini kurang tangkas kalau harus dipergunakan menghadapi Ilmu Cambuk Sarpokenoko yang amat cepat itu. Bagaikan seekor ular sakti, cambuk itu melingkar-lingkar, menyambar-nyambar dan ujungnya mematuk-matuk ke arah jalan darah dan bagian tubuh yang penting dan berbahaya, setiap gerak merupakan margapati (jalan maut).

Kembali Narotama menjadi kagum. Tadi ia sudah menyaksikan dan melawan Ilmu Cambuk Sarpokenoko ini ketika dimainkan Wisangjiwo, dan sudah menjadi kagum. Kini setelah ilmu cambuk ini dimainkan oleh sang pencipta sendiri, hebatnya berlipat ganda! Angin yang diakibatkan oleh pemutaran cambuk itu ikut berpusing, membentuk angin lesus yang berpusing-pusing membawa daun kering dan debu ke atas.

Ini semua masih ditambah lecutan-lecutan di udara yang menimbulkan suara ledakan, sehingga ketika Ni Durgogini mainkan ilmu Cambuk Sarpokenoko, keadaan di puncak Girilimut itu tiada ubahnya seperti ada angin lesus (angina puyuh) mengamuk disertai halilintar menyambar-nyambar!

"Nimas, apakah kau menghendaki nyawaku ? Begitu tega.......?" Narotama berkata penuh sesal.

"Hi-hi-hii...! Kaupun tega lara terhadapku, mengapa aku tidak tega pati terhadapmu?" Dengan kata-kata ini Ni Durgogini hendak mengatakan bahwa dahulu Narotama tega mengusirnya dan membuatnya bersengsara hati, maka sekarang iapun tega hendak membunuh patih itu.

"Hebat ilmu cambukmu, nimas. Sayang kau pergunakan untuk membunuh orang secara ganas!" Narotama masih sibuk mengelak ke kanan kiri, menyelinap di antara bayangan cambuk.

"Babo-babo! Keluarkan semua keahlianmu, Narotama. Hendak kulihat, di samping pandai menghina wanita, apakah kau juga pandai mengalahkan aku Ni Durgogini, hi-hi-hik!"

Cambuk Sarpokenoko makin hebat amukannya dan sekali kain kepala Narotama tercium ujung cambuk. Robeklah ujung kain kepala itu, hancur berhamburan seperti dimakan api!

"Tingkahmu seperti ular saja, Durgogini!" Narotama mulai panas hatinya dan cepat ia mengerahkan Aji Kukilo Sakti (Burung Sakti), semacam ilmu silat yang amat cepat gerakannya, seperti seekor burung sakti beterbangan dan semua gerakannya tentu saja menindih gerakan cambuk Sarpokenoko yang berdasarkan gerakan seekor ular. Memang tidak ada yang lebih ampuh daripada burung untuk menaklukkan ular. Tubuh Narotama kini berkelebat cepat, seperti melayang-layang, sukar sekali diikuti cambuk, bahkan pada saat Ni Durgogini menggoyang kepala mengusir kepeningannya, kesempatan ini tak disia-siakan Narotama dan secepat kilat jari tangannya menjepit ujung cambuk! Gerakan ini sekelebatan tepat seperti seekor burung yang mematuk seekor ular.

Ni Durgogini mengeluarkan pekik menyeramkan dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk membetot cambuknya, namun sia-sia belaka. Biarpun yang menjepit cambuk hanya tiga buah jari, yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah, namun cambuk itu seakan-akan telah berakar pada jari dan tidak mungkin dapat dilepaskan lagi. Ni Durgogini marah, kakinya melangkah maju dan tangan kirinya dengan jari tangan berkuku panjang, mencakar muka dan mencokel mata. Melihat ini, Narotama berseru keras dan tiba-tiba ia mengerahkan tenaga sakti yang ia warisi dari eyang gurunya di Gunung Agung Bali Sang Begawan Setiadarma, lalu sekali ia menggereng, Ni Durgogini tak kuat bertahan lagi, tubuhnya berikut cambuknya terlempar ke udara seperti terbang!

Benar mengagumkan Ni Durgogini. Kalau lain orang yang dilontarkan macam itu, tentu akan terbanting di atas tanah berbatu dan akan hancur luluh tubuhnya. Karena Narotama tidak berniat membunuh, patih yang sakti ini sudah bersiap-siap untuk menyambut tubuh Ni Durgogini agar jangan terbanting, akan tetapi ia tercengang menyaksikan betapa di tengah udara dalam keadaan terlempar itu sampai setinggi pohon waru, tubuh Ni Durgogini dapat terjungkir balik sampai tiga kali dan turun ke atas tanah dalam keadaan berdiri seperti gerakan seekor burung walet saja ringannya! Turunnya agak jauh dari Narotama dan kini mereka berhadapan dalam jarak limabelas meter jauhnya.

Perlahan Ni Durgogini menyimpan cambuknya. Wajahnya tidak membayangkan kemarahan, bahkan ia tersenyum dan berseri-seri, matanya mengerling tajam, kemudian ia melangkah lambat-lambat menghampiri Narotama dengan lenggang seperti seorang penari. Pinggang yang kecil ramping itu meliuk-liuk dan pinggulnya melenggak-lenggok ke kanan-kini, langkahnya kecil-kecil dengan kaki merapat sehingga lututnya bersentuhan, pundaknya bergerak-gerak, juga lehernya, matanya setengah terpejam, ujung hidungnya berkembang-kempis, dadanya yang membusung bergelombang, bibirnya yang merah membasah setengah terbuka.

Narotama berdiri terpesona, jantungnya berdebar-debar aneh, getaran mujijat yang tidak sewajarnya membangkitkan gairah, darahnya berdenyar-denyar dan napasnya menjadi sesak oleh gejolak nafsu berahi. Hampir saja pendekar sakti ini tenggelam, hampir bertekuk lutut kalau saja ia bukan putera angkat Sang Wiku Darmojati dan murid Eyang Begawan Setyadarma, dua orang tokoh sakti di Bali. Batinnya yang sudah kuat itu membuat ia sadar bahwa keadaan ini bukan sewajarnya. Mengapa Ni Durgogini tiba-tiba tampak demikian cantik jelitanya dan bahkan memiliki daya penarik yang jauh lebih ampuh daripada dahulu ketika menjadi selirnya?

Diam-diam Narotama mengerahkan hawa sakti dari dalam pusarnya, dan membaca mantera menolak pengaruh jahat sehingga ia dapat menguasai diri. Setelah lenyap pengaruh itu, kini tampaklah olehnya betapa lucu gerak-gerik Ni Durgogini. Akan tetapi dasar seorang bijaksana, ia tidak mau menghina, bahkan merasa iba hati dan terlontarlah pujian dari mulutnya, "Kau sungguh masih cantik jelita, nimas Lasmini!"

Bukan main girangnya hati Ni Durgogini. Setelah tadi semua ilmu kesaktiannya tidak berhasil mengalahkan Narotama, ia lalu mengerahkan ajiannya yang paling ampuh, yaitu ilmu Guno Asmoro. Biasanya, tidak ada seorangpun pria yang kuat menghadapi ajiannya ini, yang luar biasa ampuhnya, kuat merobohkan pertahanan hati seorang pertapa tua sekalipun. Dengan Ilmu Guno Asmoro inilah ia berusaha mengalahkan Narotama, karena dengan ilmu kesaktian dan ilmu ketangkasan, ia seakan-akan bertemu dengan gurunya.

Hatinya girang mendengar pujian yang keluar dari mulut Narotama, karena ini merupakan pertanda bahwa ajiannya telah berhasil! Sama sekali ia tidak pernah mimpi bahwa Narotama yang berhati penuh welas asih itu memujinya untuk tidak mengecewakannya. Ia makin menggeliat-geliatkan tubuhnya, dan berjalan makin mendekat.

Bau yang harum seperti kayu cendana dan kembang keluar dari tubuhnya, dan inilah merupakan sebagian daripada Aji Guno Asmoro. Biasanya, kalau lawan sudah terkena Aji Guno Asmoro, ia akan kehilangan semangatnya, akan menurut saja semua kehendaknya, bahkan andaikata dipukul matipun tentu takkan melawan karena semangat perlawanannya sudah lenyap, semua kemauannya sudah lenyap dan berada di tangan Ni Durgogini. Kini, Narotama yang diam saja itu agaknya pun sudah kehilangan semangatnya!

"Narotama....! " Suara Ni Durgogini berbeda dengan tadi, kini suaranya merdu merayu mengandung daya tarik yang luar biasa, "Kekasihku, kau berlututlah.... dan bersihkan kakiku yang kotor....!" Dengan mata setengah terpejam, Ni Durgogini siap menikmati hasil kemenangannya yang sudah pasti itu.

"Ni Durgogini, apakah kau sudah edan? Aku tidak ada waktu melayani kau main-main, selamat tinggal!" Narotama lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.

Terbelalak kini mata yang tadinya hampir terpejam itu. Pucat wajah yang tadinya merah berseri, kering bibir yang tadinya membasah, kemudian muka itu menjadi beringas. "Kubunuh engkau...!!" Bagaikan seekor singa betina, Ni Durgogini melompat dan menerkam dari belakang. Tanpa menoleh, Narotama menggerakkan lengannya ke belakang.

"Plakkk..."

Tubuh Ni Durgogini tertampar dan terpelanting ke belakang, roboh bergulingan, kepalanya terasa pusing sekali.

"Narotama.... kau.... kau kejam....! Aku benci padamu, benci.... benci.... benci...!!!"

Ni Durgogini lalu menangis melolong-lolong sambil bergulingan di atas tanah seperti anak kecil. Menolehpun tidak Narotama. Ia berjalan terus dengan tenang dan dengan langkah lebar, senyum pahit membayang di bibirnya yang bergerak-gerak perlahan seperti bicara dengan dirinya sendiri.

Biarpun pada lahirnya Narotama seperti tidak mempedulikan Ni Durgogini, namun dalam batinnya ia menaruh hati iba kepada bekas selirnya itu yang ternyata kini telah tersesat ke dunia hitam. Ia menyesal, dan kasihan karena maklum bahwa kesesatan bekas selirnya itu akan menyeretnya ke lembah kesengsaraan batin.

********************


Bayangan itu tak dapat diusirnya, selalu membayangi benaknya ke mana pun juga ia pergi, dan hatinya menjadi panas dan panas lagi. Di dalam telinganya selalu bergema suara kain robek disusul jerit tangis. Kain dan jerit Kartikosari. Gema suara inilah yang menimbulkan bayangan. Bayangan yang direka dan dikira-kirakan sendiri oleh hatinya yang penuh cemburu, dendam, duka dan sesal, yang makin menghebat saja apabila ia kenangkan. Suara kain terobek disusul lengking mengerikan. Suara itu selalu berkumandang di dalam telinganya, membuatnya hampir gila.

Pujo duduk di tepi batu karang, matanya menatap air laut bergulung-gulung di bawah kaki. Gelombang buas yang panjang mengerikan seperti seekor naga siluman yang hendak menelannya, namun mata Pujo seperti tidak melihat semua itu. Suara ombak memecah di batu karang menimbulkan suara menggelegar susul-menyusul, namun telinganya hanya penuh oleh suara kain robek dan lengking mengerikan.

"Cintamu hanya cinta jasmani belaka, cinta yang berdasarkan nafsu berahi semata karena cintamu dangkal dan hanya tubuhku yang kau cinta, maka kau kecewa melihat tubuhku dinodai orang lain, padahal kau maklum seyakinnya bahwa batinku sama sekali tidak ternoda......" Kata-kata isterinya ini berkumandang dibawa deru ombak dan terbayanglah wajah isterinya yang jelita, yang tercinta, dengan sepasang mata bintang yang tak pernah dapat ia lupakan itu memandangnya penuh sesal dan duka, bibir yang indah bentuknya dan tadinya menjadi sarang madu baginya itu tergetar seperti bibir seekor kijang yang ketakutan.

"Prakkk!! Prakkk!"

Dua kali kedua tangan Pujo dengan jari-jari terbuka menggempur batu karang di depannya sehingga ujung batu karang itu remuk berhamburan. Mulutnya komat-kamit, mulut yang membayangkan hati sakit bukan main, matanya menatap ombak, mata penuh dendam dan duka.

"Tidak perduli! Aku memang mencinta tubuhmu Kartikosari, kau menjadi milikku tunggal, tak boleh orang lain menjamahmu, apalagi menodaimu! Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku, semua bulu di kulitku, setiap tetes darah di badanku, sampai ke tulang sumsumku, aku mencintaimu. Tapi.... tapi kau ternoda orang lain.... mengapa hal itu bisa terjadi ? Mengapa tidak kau lawan sampai mati? Setelah hal terkutuk itu terjadi, mengapa kau masih dapat hidup, masih ada muka untuk hidup dan bicara denganku? Hal itu hanya berarti bahwa kau.... kau senang dengan pengalamanmu itu, kau girang bahwa selain suamimu, ada pria lain, tampan sakti bangsawan dan kaya raya, juga mencintamu!"

Kembali tangannya menghantam batu karang. Tiba-tiba Pujo bangkit berdiri, matanya melotot terbelalak, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangannya dikepal menempel pinggang, sikapnya seperti seorang siap bertanding dengan musuh yang dibencinya.

"Wisangjiwo! Dendam ini sedalam Laut Selatan! Takkan dapat tercuci selamanya kecuali dengan darahmu. Kau tunggulah, sekali kau terjatuh ke dalam tanganku, aku akan...."

Akan ia apakan? Dibunuh begitu saja? Terlampau enak! Hati yang begini disakiti haus akan pembalasan yang memuaskan. Tidak, ia tidak akan membunuh Wisangjiwo begitu saja. Ia akan menyiksanya sepuas hati.

Dendam adalah semacam perasaan yang memabokkan seperti racun yang menggerogoti batin sehingga menyelimuti kesadaran dan mematahkan pertimbangan. Dendam timbul dari sakit hati yang dapat muncul karena sesungguhnya terpengaruh oleh rasa sayang diri yang berlebihan. Rasa sayang diri inilah yang menimbulkan sakit hati apabila dirinya dirugikan orang lain, menimbulkan benci dan memupuk dendam untuk membalas!

Rasanya belum akan sudah dan puas hati ini kalau belum membalas dendam dengan perbuatan keji yang setaraf atau bahkan melebihi perbuatan yang dilakukan orang terdendam terhadap dirinya. Dan orang yang mabok dendam ini di luar kesadarannya telah diperhamba nafsu iblis yang haus dan baru dapat dipuaskan oleh perbuatan-perbuatan membalas yang sama kejinya. Perbuatan keji kejam untuk membalas dalam pandangan orang yang mendendam bukanlah perbuatan keji lagi, melainkan perbuatan adil! Mabok semabok-maboknya dan tidak ada yang lebih gila daripada ini.


Dengan batin rapuh digerogoti nafsu iblis ini seperti rapuhnya bilik digerogot rayap, Pujo mereka-reka pembalasan dan siksaan bagaimana yang dianggapnya tepat dan adil bagi musuh besarnya, Raden Wisangjiwo. Akan kutangkap dia, pikirnya geram. Akan kubuat dia tidak berdaya dan kuseret dia di dalam hutan! Teringat akan kebiadabannya terhadap isterinya, ia akan merajang-rajang anggauta kelaminnya, merobek perut dan mengeluarkan usus dan jantungnya!

Ah, tidak! Kalau demikian tentu ia akan mampus, terlalu enak dan terlalu cepat baginya! Ia berpikir-pikir dan mereka-reka lagi pembalasan yang lebih menyiksa. Akan kurobek-robek kulit mukanya yang tampan dengan ujung keris, agar ia menjadi seorang manusia bermuka setan yang sedemikian buruknya sehingga setiap orang wanita yang melihatnya akan meludah dan muntah-muntah.

Tapi sebelumnya akan kuseret dia di muka umum agar semua orang senegara maklum dan mengenal bahwa Wisangjiwo adalah seorang laki-laki binatang yang suka mengganggu bini orang! Kemudian kubuntungi kedua kakinya agar selamanya tak pandai berjalan, hidup dan bergerak mengesot seperti binatang! Akan ku....... akan ku... Pujo tak dapat berpikir lagi saking geram. Tiba-tiba ia terkejut dan menampar kepalanya sendiri.

"Kau telah gila!" serunya keras-keras ketika kesadarannya yang timbul dari dasar pendidikan ksatria mencelanya. "Kau telah menjadi manusia iblis! Tak mungkin Pujo murid terkasih Resi Bhargowo, bahkan menjadi mantunya, dapat memikirkan kekejaman yang dapat timbul dalam benak iblis itu!" Suaranya sendiri terdengar seperti suara gurunya dan Pujo lalu menangis. Ditumbuk-tumbuknya kepala dan dadanya, kemudian ia menjadi beringas.

"Biar! Biarlah aku menjadi iblis penasaran! Dia telah merusak kesucian Kartikosari, telah menghancurkan kebahagiaanku! Aku takkan dapat bertemu muka lagi dengan Kartikosari kekasihku sebelum dendam ini terbalas!"

Bagaikan seorang gila Pujo lalu melompat dan lari dari tepi Laut Selatan, berlari terus mendaki bukit karang dengan tujuan bulat, yaitu, mencari Wisangjiwo dan melampiaskan nafsu dendamnya yang dahsyat menggelora seperti Laut Selatan yang diserang badai.

Sesungguhnya, bukan dendam semata yang membuat Pujo seperti gila. Terutama karena rasa duka kehilangan isterinya itulah. Setelah berada seorang diri, terbayang oleh kesadarannya betapa ia telah menyiksa isterinya, telah berlaku tidak adil terhadap kekasihnya. Betapa ia telah menghina Kartikosari dan membanting hancur mahkota asmara mereka berdua. Sudah terlanjur, dan ia kini benar-benar kehilangan isterinya. Dan semua ini gara-gara Wisangjiwo. Inilah yang meracuni hatinya dan menambah rasa dendam dan sakit hatinya, seperti minyak menambah berkobarnya api.

Beberapa hari kemudian di Kadipaten Selopenangkep, sebuah kadipaten di tepi Sungai Progo. Kadipaten ini tempat tinggal Joyowiseso, ayah Raden Wisangjiwo. Di sini, tinggal adipati yang berusia lima puluh tahun ini, bersama isteri dan enam orang selirnya. Puteranya ada dua orang, yaitu Raden Wisangjiwo yang lahir dari isterinya dan Roro Luhito yang lahir dari seorang selir kinasih (terkasih). Anak ini dinamai Luhito (merah) karena ketika lahir kelihatan kulitnya kemerahan. Akan tetapi setelah kini menjadi seorang gadis remaja berusia lima belas tahun, kulitnya menjadi putih kuning kemerahan dan wajahnya cantik, tubuhnya denok, wataknya manja dan kenes (lincah).

Di samping adipati dan keluarganya, di situ tinggal pula isteri Raden Wisangjiwo yang bernama Listyokumolo dan puteranya yang baru berusia satu tahun bernama Joko Wandiro. Rumah kadipaten itu selalu terjaga oleh para pengawal yang tak pernah terpisah dari tombak dan keris, tiada hentinya bergiliran menjaga di sekitar kadipaten dan setiap saat tertentu, siang malam, jalan meronda untuk menjaga keselamatan dan keamanan sang adipati sekeluarga.

Pada hari itu di dalam kadipaten tampak kesibukan dan kemeriahan. Sang adipati sendiri bersama isteri, para selir dan puterinya, Roro Luhito yang cantik dan berwatak bebas, menyambut datangnya seorang tamu yang dihormati. Tamu ini adalah seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Jokowanengpati! Pemuda yang datang dari kota raja ini dikenal baik oleh Adipati Jayowiseso, karena Jokowanengpati dahulu ikut pula menjadi perwira yang tangguh dan terkenal dalam barisan Kerajaan Mataram ketika barisan ini menyerbu ke barat. Sebagai murid Empu Bharodo, tentu saja pemuda ini menjadi terkenal dan dihormat oleh para taklukan Mataram.

Jokowanengpati bersahabat pula dengan Raden Wisangjiwo dan kedatangannya menggunakan dalih mencari sahabatnya ini, padahal ia dapat menduga bahwa orang yang dicarinya tentu tidak berada di rumah setelah perisitiwa yang ia saksikan di Guna Siluman baru-baru ini. Memang maksud kedatangannya itu mengandung rahasia untuk menyelidiki keadaan Wisangjiwo setelah ia melakukan perbuatan terkutuk di dalam guha yang akan menimpa diri Wisangjiwo itu.

Ketika dalam penyambutan itu muncul Roro Luhito, jantung pemuda mata keranjang ini berdebar keras. Matanya menjadi berminyak dan secara sembunyi ia mencuri pandang menikmati wajah yang manis dan tubuh yang denok itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa Wisangjiwo mempunyai seorang adik perempuan yang begini denok! Ia amat kagum dan tertarik oleh sikap yang wajar, bebas dan kenes. Berbeda dengan lain puteri yang biasanya hanya menyembunyikan diri di dalam taman sari atau keputren.

Memang Roro Luhito sejak kecil bukan seorang anak pemalu. Ia kenes dan pemberani, apalagi oleh ayahnya ia diberi pelajaran olah keprajuritan sehingga wataknya yang memang kenes bebas itu membuat ia merasa seakan-akan ia seorang Srikandi!

Hidangan-hidangan mewah dikeluarkan, bahkan pada malam harinya Adipati Joyowiseso memerintahkan rombongan kesenian kadipaten mengadakan klenengan dan tarian untuk menghormat dan menghibur tamu muda yang dihormati ini. Namun, setelah melihat Roro Luhito, para penari yang berbedak tebal itu dalam pandang mata Jokowanengpati tiada ubahnya seperti boneka-boneka hidup yang sama sekali tidak menarik. Padahal biasanya, dalam setiap kesempatan perayaan tayuban, pemuda yang pandai menari ini selalu menjadi tokoh untuk menari bersama penari-penari, bergaya, bergurau dan bergepit. Kini seolah-olah ia menjadi seorang yang pendiam.

Sampai jauh tengah malam baru pesta dihentikan. Tamu muda ini dipersilakan mengaso dalam kamar khusus yang bersih, lengkap dan mempunyai tempat tidur berbau harum kembang melati. Betapapun nyamannya tidur di kamar ini, namun Jokowanengpati tak dapat tidur pulas. Gelisah ia miring ke kanan kiri memeluk guling yang dikhayalkannya sebagai Roro Luhito! Dipeluk ciumi guling itu, dibisikkan kata-kata halus merayu, kemudian ia kadang-kadang menarik papas panjang dan memanggil nama Roro Luhito dalam bisikan penuh rindu.

Pemuda mata keranjang ini, untuk entah ke berapa kalinya, tergila-gila dan diserang penyakit wuyung (rindu) kepada seorang gadis ayu. Ia tiada melihat jalan untuk mengobati penyakit rindu berahinya. Meminang gadis Puteri adipati itu tidaklah mungkin sekarang, setelah ia diusir gurunya. Masih baik bahwa Empu Bharodo seorang yang dapat menjaga nama sehingga persoalan murtadnya itu tidak diketahui orang lain sehingga ia masih dapat mengecap kenikmatan sebagai murid Empu Bharodo dengan penyambutan penuh penghormatan seperti sekarang ini.

Cuaca lewat tengah malam itu amat gelap Mendung yang tidak mau turun-turun menjadi hujan membuat hawa udara panas sekali. Keadaan di kadipaten dan sekitarnya sunyi melengang karena semua penghuninya telah tidur lejap setelah kelelahan dalam kesibukan siang dan malam hari tadi. Bahkan para penjaga merasai pula kelelahan dan hawa panas ini, membuat mereka agak malas meronda dan hanya berjaga-jaga di sekitar pintu gapura depan.

Sunyi sekali setelah suara gamelan berhenti dan penghuninya sudah tidur, lebih sunyi daripada malam-malam biasa sebelumnya. Sesosok bayangan hitam dengan gerakan yang gesit menyelinap di antara rumpun bambu yang tumbuh di luar tembok belakang kadipaten. Sinar kilat yang kadang-kadang memecah di angkasa dalam sekejap mata menyinari bayangan ini yang ternyata adalah seorang laki-laki muda bertubuh tegap bermata liar. Orang muda ini adalah Pujo, yang dengan nafsu dendam meluap-luap menjelang fajar itu mendatangi kadipaten di Selopenangkep.

Setelah menanti sesaat dan mendapat keyakinan bahwa tidak ada penjaga meronda, dengan tangkas Pujo lari mendekati tembok, mengenjotkan kedua kakinya yang kuat ke atas tanah. Tubuhnya melayang naik, tangannya meraih dan menangkap ujung tembok di atas, kakinya diayun ke belakang terus ke atas dan berjungkir baliklah tubuhnya, langsung melompat ke sebelah dalam tembok! Tiada suara ditimbulkan kedua telapak kakinya yang menyentuh tanah Sebelah dalam dengan gerakan seperti kucing melompat, kemudian mengindap-indap ia menghampiri gedung kadipaten yang sunyi.

Sejenak ia berdiri di bawah pohon sawo yang gelap, agak bingung karena ia tidak mengenal gedung ini, tidak dapat mengira-ngirakan di mana kiranya kamar tidur Raden Wisangjiwo. Ia berpikir sejenak, giginya berkeret-keret gemas ketika ia berbisik. "Tidak peduli siapa dia, asal keluarga si bedebah Wisangjiwo, akan kubunuh!"

Dengan pikiran ini, dengan gerakan secepat kera, ia memanjat pohon sawo kemudian dari cabang yang berdekatan dengan wuwungan rumah, ia meloncat lalu berjalan di atas wuwungan rumah. Ilmu kepandaiannya yang sudah amat tinggi membuat wuwungan dan genteng itu dapat dilaluinya dengan mudah tanpa menimbulkan suara gaduh.

Setelah mencari-cari di atas wuwungan, akhirnya ia dapat meloncat ke sebelah dalam gedung, yaitu di ruangan belakang yang terbuka. Di lain saat ia telah mendekati sebuah jendela dari kamar terbesar yang berada di tengah gedung. Terdengar suara orang bercakap-cakap perlahan di dalam kamar itu. Ia menempelkan telinganya dan mendengar suara ketawa seorang laki-laki, suara ketawa yang dalam dan parau, "Ha-ha-ha, diajeng! Enak saja kau bicara. Mana mungkin kami fihak perempuan mengajukan urusan perjodohan?

Hal itu akan terlalu merendahkan diri. Akupun setuju kalau anak kita Roro Luhito dapat menjadi isteri Jokowanengpati, karena biarpun ia bukan keturunan bangsawan, namun ia mempunyai kedudukan baik dan tentu akan mudah mendapatkan pangkat besar di kemudian hari. Biarlah nanti sepulangnya Wisangjiwo, dia yang akan bicara dengan Jokowanengpati. Kalau yang bicara itu di antara sahabat, itu bukan merendahkan diri namanya."

"Terserah, kakangmas adipati. Pokoknya saya menghendaki agar anak kita bisa mendapatkan jodoh yang baik dan saya lihat pemuda itu cukup tampan dan sopan. Banyak para waranggana dan penari cantik-cantik malam tadi, tapi melirikpun dia tidak mau. Padahal biasanya orang-orang muda kalau melihat waranggana cantik lalu menjadi liar dan tidak mau diam seperti cacing terkena abu!"

"Hah-hah-hah-hah, biasa itu, diajeng. Orang kalau sudah menyukai seseorang, segalanya kelihatan baik saja. Mudah-mudahan begitulah dan mudah-mudahan dia akan suka memperisteri anak kita si Luhito."

"Tentu suka! Pemuda mana yang tidak keedanan bertemu dengan Luhito? Perawan mana yang lebih cantik jelita, denok ayu seperti anakku Luhito?"

"Ha-ha-ha, siapa maido (tak percaya)? Ibunya begini denok, begini montok, begini ayu manis, tentu saja anaknya hebat!"

"Ah, kangmas, sudah malam begini hampir fajar, jangan keras-keras, malu terdengar orang!"

Adipati Joyowiseso dan selirnya tertawa-tawa, bersendau gurau. Kedua orang ini tidak tahu betapa di luar jendela kamar mereka, Pujo menjadi merah mukanya, merah karena marah dan kecewa. Jadi Wisangjiwo belum pulang, pikirnya geram. Akan tetapi ia sudah tiba di situ, terlalu menyesal kalau pulang dengan tangan hampa. Di dalam kamar ini terdapat ayah si bedebah Wisangjiwo dan orang tua ini ikut pula berdosa karena mempunyai putera yang telah menghancurkan kebahagiaan hidupnya. Kedua tangannya mengepal tinju, matanya beringas memandang jendela, seluruh urat di tubuhnya menegang. Pujo melangkah mundur tiga tindak, mengerahkan tenaga lalu meloncat menerjang daun jendela yang tertutup!

"Braaaakkkk!!"

Pecahlah daun jendela itu dan tubuh Pujo terhuyung ke dalam kamar yang diterangi sebuah dian (lampu kecil) di sudut kamar. Selir adipati itu menjerit kaget dan Adipati Joyowiseso melompat dari atas pembaringan, tubuhnya tidak memakai baju hanya berselimut sehelai kain, matanya melotot, kumisnya yang tebal sekepal sebelah itu berdiri, lalu membentak...

BERSAMBUNG KE JILID 04