Jaka Lola Jilid 02

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

JAKA LOLA JILID 02

Seperti telah diketahui akibatnya, Sin-eng-cu terluka oleh cambuk, sebaliknya Bhewakala juga terkena pukulan yang mendatangkan luka dalam hebat sekali. Keduanya rebah, tapi tidak putus asa karena mereka yakin bahwa Kun Hong akan dapat mengobati mereka. Di samping penasaran mereka merasa lega, bahwa keadaan mereka tetap seimbang, tiada yang kalah tiada yang menang!

Siapa sangka, Kun Hong tidak berada di situ! Hal ini berarti bahwa mereka akan mati, karena masing-masing cukup maklum bahwa luka yang diakibatkan oleh masing-masing pukulan itu tak mungkin dapat diobati jika tidak oleh Kun Hong yang memiliki kepandaian luar biasa dalam hal pengobatan. Maka, seperti telah diberi komando, keduanya lalu cepat-cepat mengerahkan sinkang di tubuhnya untuk menjaga supaya luka itu tidak menjalar lebih hebat. Setidaknya mereka dapat memperpanjang nyawa untuk tinggal lebih lama di dalam tubuh yang sudah terluka berat di sebelah dalam.

Kesabaran Yo Wan mendapat ujian pada saat itu. Sudah tiga jam lebih dia bersila di situ menanti. Tiba-tiba awan tebal menyelimuti tempat itu, menjadi halimun yang amat dingin. Pakaian Yo Wan basah semua, juga pakaian dan tubuh dua orang aneh itu.

Namun, Bhewakala dan Sin-eng-cu tetap duduk bersila bagaikan patung, tidak bergerak-gerak. Berkali-kali Yo Wan merasa khawatir, jangan-jangan dua orang itu sudah menjadi mayat, pikirnya. Akan tetapi tiap kali dia menjamah tubuh mereka masih hangat, malah sekarang wajah mereka tidak segelap tadi. Setelah lewat enam jam, matahari sudah naik tinggi dan halimun telah terusir habis. Dua orang itu membuka mata dan menarik nafas panjang. Malah keduanya saling pandang.

"Bagaimana, Sin-eng-cu?" Bhewakala bertanya sambil tertawa lebar.

"Hebat pukulan cambukmu, Bhewakala. Racun dapat kuhalau atau setidaknya kucegah untuk menjalar, akan tetapi pukulanmu merusak pusat. Karena Kun Hong tidak berada di sini, maka tamatlah sudah riwayatku sebagai seorang ahli silat. Setiap kali aku mencoba mengerahkan Iweekang untuk mengeluarkan tenaga, pusarku malah terpukul dan kalau terus kupaksa, tentu aku akan mampus. Kau hebat! Dan bagaimana denganmu?"

Bhewakala menggeleng kepala. "Kau pun luar biasa. Pukulanmu meremukkan tulang iga. Hal ini masih tidak mengapa, tetapi menggetarkan pusat pengendalian tenaga Kundalini. Karena itu, tenagaku musnah dan mungkin akan dapat kembali sesudah minum obat dan berlatih sedikitnya sepuluh tahun! Hemmm, apa artinya bagi seorang seperti aku?"

Kini keduanya merasa amat menyesal, namun sudah terlambat. Ketika mereka menoleh dan melihat bahwa Yo Wan masih bersila tak jauh dari situ, mereka tercengang.

"Kau masih berada di sini?" Sin-eng-cu bertanya kaget.

Yo Wan mengangguk dan menghampiri kakek itu.

"Ha-ha-ha, Sin-eng-cu, bocah ini hebat! Sayang bakat dan sifat begini baik tidak dipupuk oleh Pendekar Buta. Ha-ha-ha, Pendekar Buta, kali ini benar-benar kau telah buta, sudah menyia-nyiakan anak orang begini rupa. Sin-eng-cu, kau menjadi saksi, selama hidup ini aku tidak suka menerima murid, akan tetapi kali ini aku ingin sekali meninggalkan inti sari kepandaianku kepada anak ini sebelum aku mampus."

Sin-eng-cu mengangguk-anggukkan kepala. "Yo Wan, lekas kau berlutut menghaturkan terima kasih kepada Bhewakala Locianpwe, untungmu baik sekali."

Yo Wan cepat berlutut di depan Bhewakala sambil berkata, suaranya nyaring dan tetap, "Saya menghaturkan banyak terima kasih atas maksud hati yang mulia dan kasih sayang Locianpwe terhadap saya, tetapi saya tidak berani menerima menjadi murid Locianpwe karena saya adalah muridnya suhu. Bagaimana saya berani mengangkat guru lain tanpa perkenan suhu?"

"Yo Wan, hal itu tidak apa-apa, ada aku di sini yang menjadi saksi!" kata Sin-eng-cu Lui Bok.

"Ha-ha-ha, anak baik, anak baik. Ini namanya ingat budi dan setia, teguh seperti gunung karang, tidak murka dan tamak! Ehh, Yo Wan, siapakah orang tuamu?"

Yo Wan menggigit bibir, matanya dimeramkan untuk menahan keluarnya dua butir air mata. Pertanyaan yang tiba-tiba itu merupakan ujung pedang yang menusuk ulu hatinya. Sampai lama dia tidak menjawab, kemudian dia membuka mata dan berkata perlahan, "Saya yatim piatu, Locianpwe..."

Kedua orang tua itu saling pandang, diam tak bersuara. Mereka itu sudah kenyang akan pengalaman pahit getir, perasaan mereka sudah kebal. Namun, membayangkan seorang bocah yang tinggal seorang diri di tempat sunyi itu bergulung dengan mega, tak ber-ayah ibu pula, benar-benar mereka merasa kasihan.

"Yo Wan, aku pun tidak bermaksud mengambil murid kepadamu, melainkan hanya ingin meninggalkan atau mewariskan kepandaianku saja. Gurumu tentu tak akan marah."

"Mohon maaf sebesarnya, Locianpwe. Saya cukup maklum bahwa Locianpwe memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali dan hanya Tuhan yang tahu betapa ingin hati saya memilikinya. Akan tetapi, tanpa perkenan suhu, bagaimana saya berani menerimanya? Suhu adalah tuan penolong saya dan mendiang ibu saya, suhu adalah pengganti orang tua saya, harap Locianpwe maklum..."

Suara Yo Wan tergetar saking terharu, dan kini tak dapat tertahan lagi olehnya, dua butir air matanya tergantung pada bulu matanya. Namun cepat dia menggunakan punggung kepalan tangannya mengusap air mata itu.

Tiba-tiba Sin-eng-cu tertawa bergelak dan suaranya terdengar gembira sekali ketika dia berkata, "Hee! Bhewakala pendeta koplok (goblok)! Dia seorang bocah yang tahu akan setia dan bakti, mana dapat dibandingkan dengan kau yang meski pun bertapa puluhan tahun dan belajar segala macam filsafat, kekenyangan pengetahuan lahirnya saja tanpa berhasil menyelami dan melaksanakan isinya sedikit pun juga? Lebih baik kita lanjutkan adu ilmu. Ingat, aku tua bangka belum kalah!"

"Huh, tua bangka tak tahu diri. Apa kau kira aku pun sudah kalah? Hayo kita pergunakan tenaga terakhir untuk mencari penentuan!"

Bhewakala bangkit berdiri dengan susah payah, tapi berdirinya tidak tegak, punggungnya tiba-tiba menjadi bongkok dan dia meringis, menahan sakit. Juga Sin-eng-cu tertatih-tatih bangkit berdiri, akan tetapi dia juga tidak sanggup berdiri tegak, kedua kakinya menggigil seakan-akan tubuh atasnya terlalu berat bagi tubuh bawahnya.

Yo Wan bingung dan gugup bukan main. "Susiok-couw... Locianpwe... ji-wi (Kalian) telah terluka hebat, bagaimana mau bertempur lagi? Harap suka saling mengalah, harap ji-wi sudahi saja pertempuran ini...!" Yo Wan berdiri di antara mereka berdua dengan sikap melerai.

"Ha-ha-ha, cucuku. Orang-orang macam kami berdua ini hanya nafsunya saja besar tapi tenaganya kurang, malah sudah habis tenaganya! Jangan khawatir, kami tidak mungkin dapat bertempur lagi, akan tetapi kami belum dapat menentukan siapa lebih unggul. He, Bhewakala, apa kau siap melanjutkan adu ilmu?"

"Boleh!" jawab Bhewakala dengan suara digagah-gagahkan. "Bila belum ada yang kalah menang, tentu penasaran dan kelak kalau sama-sama ke alam baka, tak mungkin dapat melanjutkan pertandingan."

"Bagus, kau laki-laki sejati, seperti juga aku! Sekarang kita lanjutkan!"

"Majulah kalau kau masih kuat melangkah!" tantang Bhewakala.

"Ho-ho-ho, sombongnya si pendeta koplok! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa kau pun tidak sanggup maju selangkah pun? Ha-ha-ha-ha, tertiup angin pun kau akan roboh. Kita melanjutkan ilmu, bukan kepalan. Ada Yo Wan di sini, apa gunanya?"

Bhewakala tersenyum lebar, matanya yang besar itu berkedip-kedip. "Ha-ha-ha, engkau benar, tua bangkotan. Di sini ada Yo Wan, biarlah anak ini yang menjadi alat pengukur tingginya ilmu."

"Yo Wan, cucuku! Kau benar sekali, jangan sudi menjadi murid pendeta koplok ini! Kalau kau tadi mau menerimanya, aku yang tidak sudi, tidak memperbolehkan. Tapi kau tentu mau menjadi alat kami untuk mengukur kepandaian, bukan? Kau harus menolong kami, kalau tidak, kami berdua tak akan dapat mati meram."

Yo Wan cepat berlutut di depan kakek itu. "Susiok-couw, tak usah diperintah, teecu tentu bersedia menolong Ji-wi. Katakanlah, apa yang harus teecu lakukan?"

Selagi Yo Wan berlutut itu, Sin-eng-cu bertukar pandang dengan Bhewakala dan saling memberi isyarat dengan kedipan mata.

"Yo Wan, lebih dulu bawa kami ke puncak. Sanggupkah kau?"

"Teecu akan mencobanya." Ia menghampiri Sin-eng-cu dan berkata, "Maaf, teecu akan menggendong Susiok-couw."

Anak ini membungkuk di depan Sin-eng-cu, jongkok membelakanginya. Sin-eng-cu tidak sungkan-sungkan pula lalu menggemblok di punggung Yo Wan yang menggendongnya. Anak ini sendiri merasa sangat heran, karena tadinya dia meragu apakah dia akan kuat menggendong kakek itu.

la terkejut dan diam-diam merasa girang sekali serta memuji kehebatan Susiok-couw ini, karena dia merasa yakin bahwa kakeknya ini tentu menggunakan ginkang tingkat tinggi sehingga dapat membuat tubuhnya menjadi demikian ringannya! Dengan langkah lebar serta gerakan cepat dia lalu menyeberangi jurang melalui dua tambang, kemudian dia memanjat tangga tali itu ke atas puncak.

"Harap Susiok-couw beristirahat di sini lebih dulu, teecu akan menggendong Bhewakala Locianpwe ke sini."

"Yo Wan, apakah suhu-mu sudah mengajarkan Kim-tiauw-kun (Ilmu Silat Rajawali Emas) kepadamu?" tiba-tiba saja kakek itu bertanya kepada anak yang sudah akan lari keluar kembali dari dalam pondok itu.

Yo Wan berhenti, membalikkan tubuh dan menjawab dengan sinar mata tidak mengerti dan kepala digelengkan. Pertanyaan itu tak ada artinya bagi dirinya, tetapi mengingatkan dia akan burung rajawali emas yang dahulu pergi bersama kakek ini, maka dia cepat bertanya,

"Susiok-couw, kenapa kim-tiauw (rajawali emas) tak ikut pulang bersama Susiok-couw?"

"la sudah terlalu tua dan tidak kuat menghadapi hujan salju di utara, dia sudah mati dan kukubur dalam tumpukan salju."

Yo Wan merasa menyesal sekali sehingga untuk semenit dia diam saja termenung. Dia kemudian teringat kembali akan tugasnya. "Teecu pergi dulu, hendak menjemput Bhewakala Locianpwe."

"Pergilah, akan tetapi kau harus waspada, siapa tahu pendeta Nepal itu di tengah jalan mencekik dan membunuhmu, ha-ha-ha!"

Yo Wan terkejut, akan tetapi hanya sejenak saja dia terpaku dan ragu-ragu, kemudian kakinya melangkah lebar dan dia sudah berlari ke luar, terus menuruni puncak itu dan menyeberangi jurang pertama. Bhewakala masih berada di situ, duduk bersila. Pendeta hitam ini tersenyum lebar ketika dia melihat Yo Wan.

"Kau sudah kembali?"

Yo Wan mengangguk, lalu membelakangi pendeta itu sambil berjongkok. "Harap Locianpwe suka membonceng di punggung saya, tapi saya harap Locianpwe sudi menggunakan kepandaian ginkang seperti Susiok-couw tadi, kalau tidak, saya khawatir tidak akan kuat menggendong Locianpwe."

Pendeta asing itu hanya mendengus, lalu merangkul pundak bocah ini dan menggemblok di punggungnya. Yo Wan bangkit berdiri dan diam-diam dia menjadi girang dan kagum. Ternyata pendeta ini pun amat sakti, ginkang-nya hebat sehingga tubuhnya yang jauh lebih besar dan tinggi dari pada susiok-couw-nya juga terasa ringan, hanya sedikit lebih berat dari pada tubuh kakek tadi. Ia mulai melangkah maju setengah berlari ke depan.

"Yo Wan, kenapa kau mau menolong aku, seorang asing yang tidak kau kenal?" tiba-tiba pendeta Nepal itu bertanya.

"Suhu berpesan kepada saya bahwa menolong orang tak boleh melihat siapa dia, hanya harus dilihat apakah dia benar-benar membutuhkan pertolongan dan apakah kita dapat menolongnya. Locianpwe sedang terluka, perlu beristirahat, dan saya mampu membawa Locianpwe ke puncak untuk beristirahat di pondok kediaman suhu, mengapa saya tidak mau menolong Locianpwe?"

Diam-diam Bhewakala kagum, bukan saja oleh jawaban ini, juga melihat betapa bocah ini dapat menggendongnya sambil berjalan cepat dan ketika menjawab pertanyaannya, nafasnya tidak memburu, kelihatan enak saja. Ketika ia memandang ke arah kedua kaki bocah itu, dia terkejut. Bocah itu menggunakan langkah-langkah yang luar biasa, kadang-kadang berlarian di atas tumit, kadang-kadang dengan kaki miring!

"He, kau menggunakan langkah apa ini?" tak tertahan lagi Bhewakala bertanya nyaring.

Yo Wan menjadi merah mukanya. Karena selama lima tahun itu siang malam dia berlatih langkah-langkah Si-cap-it Sin-po, maka setiap kali berlari tanpa disengaja kedua kakinya melakukan gerak langkah-langkah itu secara otomatis!

"Bukan apa-apa, Locianpwe, saya berlari biasa," jawabnya dan kedua kakinya kini berlari biasa.

Seperti juga dengan susiok-couw-nya tadi, dia hendak membawa Bhewakala ke dalam pondok, akan tetapi pendeta Nepal ini tidak mau.

"Turunkan saja aku di luar sini. Aku lebih senang duduk di luar menikmati pemandangan alam yang amat hebat dan indah ini."

Yo Wan menurunkan pendeta itu di atas bangku di depan rumah dan Bhewakala duduk bersila di situ dengan wajah berseri gembira.

"Yo Wan! Pendeta koplok itu sudah datang? Hayo, bawa aku ke luar!" terdengar teriakan Sin-eng-cu dari dalam pondok.

Yo Wan berlari masuk dan tak lama kemudian kakek tua itu sudah digendongnya keluar. Sin-eng-cu minta diturunkan di atas sebuah batu halus yang memang dahulu menjadi tempat duduknya. Dia pun bersila di atas batu ini, kurang lebih lima meter jauhnya dari bangku yang diduduki Bhewakala.

"Sin-eng-cu, cucu muridmu ini benar-benar hebat, membuat aku gembira sekali!" berkata Bhewakala.

"Betapa tidak? Kalau tidak hebat berarti dia bukan cucu muridku!" Sin-eng-cu menjawab dengan nada suara bangga.

Yo Wan menjadi heran dan merasa malu. Yang hebat adalah mereka, pikirnya, biar pun sudah terluka hebat masih mampu mengerahkan ginkang sehingga tubuh mereka begitu ringannya ketika dia membawa mereka mendaki tangga tali tadi. Kalau tidak demikian, mana mungkin dia akan kuat?

Anak ini sama sekali tidak tahu bahwa kedua orang itu sama sekali tidak menggunakan ilmu untuk membuat tubuh mereka ringan. Hal ini tidak mungkin, apa lagi mereka terluka hebat sehingga tidak mampu menggunakan ilmu-ilmu mereka yang berhubungan dengan kekuatan di dalam tubuh. Yang membuat dia merasa ringan pada waktu menggendong mereka bukan lain adalah karena kekuatan yang terkandung di dalam tubuhnya sendiri. la telah melatih diri tujuh tahun dengan pekerjaan yang membutuhkan tenaga serta kegesitan, di samping itu dia pun dengan amat tekun berlatih semedhi dan pernafasan. Hawa murni dalam tubuhnya sudah terkumpul, maka dia dapat mengerahkan tenaga besar luar biasa yang membuat dia dapat menggendong kakek-kakek itu secara mudah!

"Yo Wan, kau tadi sudah berjanji hendak menolong kami dua orang-orang tua. Apakah kau betul-betul suka menolong?" tanya Bhewakala dengan pandang mata penuh gairah.

"Betul, Yo Wan, kau harus menolong kami melanjutkan adu ilmu sampai ada keputusan siapa yang lebih unggul."

Yo Wan membungkuk, "Susiok-couw, teecu siap menolong dan membantu, akan tetapi teecu hanya seorang anak yang bodoh, mana bisa menjadi perantara dalam adu ilmu? Bagaimana caranya?"

"Mudah saja asal kau mau menolong. He, Bhewakala pendeta hitam! Di dalam pondok ini terdapat empat buah kamar, cukup untuk kita seorang sekamar. Kita lanjutkan adu ilmu. Kau tinggallah di kamar kiri, aku di kamar kanan, biar Yo Wan di kamar lain. Kau kuberi kesempatan untuk menyerang lebih dulu. Beritahukan jurus penyeranganmu kepada Yo Wan, dan kalau dia sudah memperlihatkan jurus itu, aku akan menghadapi dengan jurus pertahananku, lalu balas menyerang dengan jurus istimewa. Dua jurus itu kuberitahukan kepada Yo Wan yang akan menyampaikannya padamu. Kau harus dapat memecahkan jurusku dan boleh balas menyerang. Siapa yang tidak dapat memecahkan sebuah jurus serangan, dia itu harus mengakui keunggulan lawan. Bagaimana?"

"Setuju! Itulah yang kukehendaki. Hayo mulai sekarang juga!"

"Yo Wan, kau mendengar perjanjian kami untuk mengadu ilmu? Maukah kau menolong, hanya menjadi perantara begitu?"

Yo Wan adalah seorang anak yang baru berusia tiga belas tahun. Apa lagi dia kurang pengalaman, semenjak kecil selalu berada di tempat sunyi mengejar ilmu dan bekerja, mana dia mampu menandingi kelihaian otak dua orang sakti ini?

Secara tidak langsung, selain dua orang itu dapat memuaskan hati mencari keunggulan dalam ilmu silat, juga mereka ingin sekali menurunkan ilmu kepandaian masing-masing kepada bocah yang sudah menaklukkan hati dan cinta kasih mereka itu. Yo Wan malah menganggap mereka berdua adalah kakek-kakek yang lucu dan aneh. Masak ada orang melanjutkan adu ilmu seperti itu? Seperti main-main saja. Keduanya sudah terluka tetapi masih tidak mau terima, masih ingin melanjutkan terus, benar-benar gila, pikirnya.

"Kalau kau keberatan pun tidak apa," sambung Sin-eng-cu, "kami bisa merangkak turun saling menghampiri, lalu saling cekik sampai mampus di sini!" sambil berkata demikian, Sin-eng-cu mengedipkan mata kepada Bhewakala.

"Jangan kira kau akan dapat mencekik leherku, Sin-eng-cu tua bangka bangkotan. Lebih dulu jari-jariku akan menusuk dadamu sampai bolong-bolong?” Bhewakala mengancam, juga tersenyum dan mengedipkan mata pula.

"Jangan...! Harap ji-wi jangan berkelahi lagi. Baiklah, saya bersedia mentaati permintaan ji-wi, menjadi perantara. Akan tetapi saya harap ji-wi betul-betul menghentikan adu ilmu ini apa bila seorang di antara ji-wi ada yang tidak sanggup memecahkan sebuah jurus. Sekarang harap ji-wi sudi menanti sebentar, saya hendak menyediakan makanan."

Tanpa menanti jawaban mereka, Yo Wan lalu menuju ke ladang, memetik sayur-mayur, kemudian membawanya ke dapur dan memasak sayur-mayur serta ubi kentang. Pandai dia memasak setelah berlatih selama lima tahun ini, dan di situ pun tersedia lengkap pula bumbu-bumbu yang dia tukar dari penduduk dusun dengan hasil ladangnya. Di luar, tanpa sepengetahuan Yo Wan, dua orang kakek itu berunding. Karena mereka amat suka kepada Yo Wan dan maklum pula bahwa keadaan tubuh mereka sudah cacad akibat pertandingan semalam, agaknya tak mungkin dapat tertolong lagi karena Kwa Kun Hong tidak berada di situ, maka mereka mengambil keputusan untuk menurunkan semua ilmu-ilmu mereka yang paling lihai kepada Yo Wan.

"Jangan kau terlalu bernafsu merobohkan aku," kata Sin-eng-cu, "Kita turunkan dahulu jurus-jurus yang pernah kita mainkan malam tadi sehingga masing-masing tentu sudah mengenalnya dan mampu memecahkannya. Setelah itu, barulah kita bertanding secara sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus-jurus baru yang harus dapat dipecahkan."

Bhewakala menyetujui usul kakek bekas lawannya ini. Sesudah masakan sayur-mayur matang dan dihidangkan oleh Yo Wan, mereka bertiga makan dengan tenang dan lahap. Kemudian dua orang sakti itu minta diantar ke kamar masing-masing dan mulai hari itu juga, Yo Wan menjadi perantara pertandingan yang aneh ini. Mula-mula dia harus menghafal dan menggerakkan sebuah jurus yang diturunkan oleh Bhewakala. Oleh karena jurus ini harus digunakan untuk menyerang, tentu saja Yo Wan diharuskan dapat memainkannya dengan baik.

Pada hari-hari pertama, amat sukar bagi anak ini untuk dapat menghafal dan memainkan jurus-jurus itu, karena jurus yang diturunkan itu adalah jurus ilmu silat tingkat tinggi yang sukarnya bukan main. Andai kata dia belum pernah diberi dasar Ilmu Si-cap-it Sin-po, yaitu langkah-langkah ajaib yang sudah mengandung inti sari dari semua jenis langkah dalam persilatan, agaknya anak ini tak mungkin sanggup melakukan gerakan jurus yang diturunkan oleh dua orang sakti ini.

Jurus pertama yang diturunkan Bhewakala baru dapat dia lakukan setelah latihan selama dua minggu! Memang amat mengherankan bagi yang tidak tahu, akan tetapi jika diingat syarat-syaratnya, memang berat. Dalam setiap gerakan pada jurus ini, imbangan tubuh harus tepat bahkan keluar masuknya nafas juga harus disesuaikan dengan setiap gerak!

Biar pun Yo Wan belum dapat menikmati dan membuktikan sendiri kegunaan ilmu silat karena selama belajar di situ belum pernah dia menggunakan ilmu silat untuk bertempur, namun mengingat sukarnya jurus ini, dia mengira bahwa Sin-eng-cu tentu akan menjadi bingung dan tidak mudah memecahkannya.

Jari tengah dan telunjuk kanan menusuk mata, kemudian diteruskan dengan siku kanan menghantam jalan darah di bawah telinga, dibarengi pukulan tangan kiri pada pusar yang disusul lutut kaki kanan menyodok arah kemaluan, akhirnya dilanjutkan tendangan kaki kanan sebagai gerak terakhir. Sebuah jurus yang ‘berisi’ lima gerak serangan berbahaya! Bhewakala menamakan jurus ini Ngo-houw Lauw-yo (Lima Harimau Mencari Kambing), sebuah jurus dari ilmu silat ciptaannya yang paling lihai pada saat dia bertapa di Gunung Himalaya, yaitu ilmu silat yang dinamainya Ngo-sin Hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti).

Akan tetapi alangkah herannya ketika Sin-eng-cu menyambut jurus yang dia mainkan di depan kakek ini dengan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Pendeta koplok! Jurus cakar bebek beginian dipamerkan di depanku? Wah, terlalu gampang untuk memecahkannya!"

Yo Wan hanya memandang dengan kagum. Diam-diam dia pun girang karena ternyata susiok-couw-nya ini tak kalah lihainya oleh Bhewakala. Sudah tentu saja dalam adu ilmu yang luar biasa ini sedikit banyak dia berpihak kepada Sin-eng-cu dan mengharapkan kemenangan bagi kakek ini, karena betapa pun juga kakek ini adalah paman guru dari suhu-nya.

"Awas, dengarkan dan lihat baik-baik gerak tanganku. Sekaligus aku akan patahkan daya serang jurus cakar bebek ini." Dengan gerak tangan dan keterangan yang lambat serta jelas Sin-eng-cu mengajarkan jurusnya.

"Menghadapi serangan seorang berilmu seperti Bhewakala, kita harus bersikap waspada dan jangan mudah terpancing oleh gerak pertama, karena semua jurus ilmu silat tinggi selalu menggunakan pancingan dan semakin tersembunyi gerak pancingan ini akan lebih baik. Gerak pertama menyerang anggota tubuh bagian atas tidak perlu dihadapi dengan perhatian sepenuhnya, akan tetapi harus dielakkan sambil menunggu munculnya gerak susulan yang merupakan gerak inti. Serangan tangan kanan ke arah mata dan leher, kita hadapi dengan merendahkan tubuh sehingga tusukan mata beserta serangan siku kanan akan lewat di atas kepala. Serangan pukulan tangan kiri pada pusar kita tangkis dengan tangan kanan dan apa bila dia berani menggunakan lututnya, kita mendahului dengan pukulan sebagai tangkisan ke arah sambungan lutut. Inilah jurusku yang menghancurkan jurus Bhewakala itu, kunamai jurus Lo-han Pai-hud (Kakek Menyembah Buddha)."

Jurus ini dilatih oleh Yo Wan dengan susah payah, apa lagi karena segera disusul jurus kedua yang merupakan serangan balasan dari Sin-eng-cu, yaitu jurus yang dinamakan Liong-thouw Coan-po (Kepala Naga Terjang Ombak). Kedua buah jurus ini merupakan jurus-jurus dari ilmu silat ciptaan kakek ini yang dia beri nama Liong-thouw-kun (ilmu Silat Kepala Naga) atau ilmu silat dari Liong-thouw-san tempat dia bertapa di bekas kediaman mendiang kakak seperguruannya, Bu Beng Cu.

Untuk dua buah jurus ini Yo Wan menggunakan waktu dua puluh hari. Ia bangga sekali terhadap kakek itu dan mengira bahwa Bhewakala tentu akan repot menghadapi ketika Liong-thouw Coan-po. Eh, kembali dia tercengang dan kecewa karena pendeta Nepal ini terkekeh-kekeh, memandang rendah sekali jurus serangan balasan Sin-eng-cu ini.

"Uwa-ha-ha-ha…! Tua bangka bangkotan itu sudah gila kalau mengira bahwa jurusnya monyet menari ini bisa menggertak aku. Lihat baik-baik jurusku yang akan memecahkan rahasianya dan sekali ini dengan jurus seranganku yang kedua, dia pasti akan mati kutu!" Kakek pendeta Nepal ini lalu mengajarkan dua buah jurus lain yang lebih sulit dan aneh lagi.

Demikianlah, setiap hari, siang malam hanya berhenti kalau mengurus keperluan mereka bertiga, makan dan tidur, Yo Wan melayani mereka berdua silih-berganti. Pada mulanya memang setiap jurus harus dia pelajari sampai hafal dan baru dapat dia mainkan setelah tekun mempelajarinya sampai beberapa hari, apa lagi jurus-jurus yang dikeluarkan kedua orang sakti itu makin lama makin sukar. Akan tetapi setelah lewat tiga bulan, dia mulai dapat melatihnya dengan lancar, dan dapat menyelesaikan setiap jurus dalam waktu satu hari saja!

Yo Wan tidak hanya harus menghafal dan dapat mainkan jurus-jurus ini untuk dimainkan di depan kedua orang sakti itu, namun karena tingkat itu makin tinggi, terpaksa dia harus menerima latihan siulian (semedhi), pernafasan serta cara menghimpun tenaga dalam tubuh.

"Tanpa mempelajari Iweekang dahulu, tak mungkin kau mainkan jurus ini," demikian kata Bhewakala.

Karena dia sudah berjanji untuk membantu kedua orang itu menjadi perantara dalam adu ilmu, terpaksa Yo Wan tak membantah dan mempelajari Iweekang yang aneh dari kakek Nepal ini. Begitu pula, dengan alasan yang sama, Sin-eng-cu juga menurunkan latihan Iweekang yang lain. Untuk latihan ini Yo Wan mengalami kelancaran karena Iweekang dari kakek ini sejalan dengan apa yang dia pelajari dari suhu-nya.

Tanpa terasa lagi, tiga tahun sudah lewat! Ngo-sin Hoan-kun (Ilmu Silat Lima Lingkaran Sakti) dari Bhewakala yang berjumlah lima puluh jurus itu sudah dia mainkan semua. Demikian pula Liong-thouw-kun dari Sin-eng-cu Lui Bok yang jumlahnya empat puluh delapan jurus.

Bukan ini saja. Dengan alasan bahwa ilmu pukulan tangan kosong tak dapat menentukan kemenangan, Bhewakala lalu menurunkan ilmu cambuk yang dapat dimainkan dengan pedang. Karena ilmu pedang ini pun berdasar pada Ngo-sin Hoan-kun, maka tidak sukar bagi Yo Wan untuk menghafal dan memainkannya. Sebagai imbangannya, Sin-eng-cu juga menurunkan ilmu pedangnya.

Pada bulan kedua dari tahun ketiga, Sin-eng-cu yang keadaannya sudah sangat payah saking tuanya dan juga karena kelemahan tubuhnya akibat pertempuran tiga tahun yang lalu, menurunkan jurus yang tadinya amat dirahasiakan.

"Yo Wan... Bhewakala memang hebat. Tapi coba kau perlihatkan jurus ini dan dia pasti akan kalah. Jurus ini dinamakan Pek-hong Ci-tiam (Bianglala Putih Keluarkan Kilat), jurus simpananku yang belum pernah kupergunakan dalam pertandingan karena amat ganas. Coba... bantu aku berdiri, jurus ini harus kumainkan sendiri, baru kau dapat menirunya. Ke sinikan pedangmu..."

Yo Wan yang tadinya berlutut menyerahkan pedangnya, pedang dari kayu cendana yang sengaja dibuat untuk perang adu ilmu itu, sambil membantu kakek yang sudah tua renta itu bangkit berdiri. Diam-diam Yo Wan menyesal sekali mengapa kakek yang tua ini begini gemar mengadu ilmu. Selama tiga tahun ini sudah sering kali dia membujuk-bujuk kedua orang kakek itu untuk menghentikan adu ilmu, namun sia-sia belaka. Namun sebenarnya, di balik semua itu, dia pun mulai merasa senang sekali dengan pelajaran jurus-jurus itu.

"Nah, kau lihat baik-baik..."

Kakek itu menggerakkan pedang kayu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram dari atas. Memang gerakan yang amat hebat dan dahsyat. Bahkan kakek yang sudah kehabisan tenaga itu, ketika mainkan jurus tersebut kelihatan menyeramkan. Terdengar suara bercuitan dari pedang kayu dan tangan kirinya, kemudian... kakek itu roboh terguling.

"Susiok-couw...!" Yo Wan cepat menyambar tubuh kakek itu dan membantunya duduk sambil menempelkan dua telapak tangannya pada punggung kakek itu dan menyalurkan hawa murni sesuai dengan ajaran Sin-eng-cu.

"Sudah... eh, sudah baik... uh-uh-uh... tua bangka tak becus aku ini... Yo Wan, sudahkah kau dapat mengerti jurus tadi?"

Yo Wan mengangguk, dan maklum akan watak kakek ini. Seperti biasa setelah kakek itu duduk bersila, dia mengambil pedang kayu dan mainkan jurus tadi. Suara bercuitan lebih nyaring terdengar, dan kakek itu berseru gembira, tapi nafasnya terengah-engah.

"Bagus, bagus…! Nah, kalau sekali ini pendeta koplok itu sanggup memecahkan jurusku Pek-hong Ci-tiam, dia benar-benar patut kau puja sebagai gurumu!"

Dengan nafas terengah-engah kakek itu lalu melambaikan tangannya, mengusir Yo Wan keluar dari kamar itu untuk segera mendemonstrasikan jurus itu kepada lawannya. Dengan hati sedih karena ketika meraba punggung tadi dia tahu bahwa keadaan kakek itu sangat payah, Yo Wan meninggalkan kamar, langsung memasuki kamar Bhewakala. Keadaan pendeta Nepal ini tidak lebih baik dari pada Sin-eng-cu Lui Bok. Dia pun amat payah karena selain kekuatan tubuhnya makin mundur akibat luka dalam, juga dia harus mengerahkan tenaga dan pikiran setiap hari untuk mengajar Yo Wan.

Ketika Yo Wan memasuki kamarnya dan mainkan jurus Pek-hong Ci-tiam, dia terkejut sekali. Sampai lama dia bengong saja, menggeleng-geleng kepalanya, lalu mengeluh. "Hebat... Sin-eng-cu Lui Bok hendak mengadu nyawa..."

Akan tetapi selanjutnya dia termenung. Dua tangannya bergerak-gerak menirukan gerak jurus itu, bicara perlahan seorang diri, mengerutkan kening dan akhirnya menggelengkan kepala seakan-akan pemecahannya tidak tepat. la memberi isyarat dengan tangan agar Yo Wan keluar dari kamarnya. Pemuda ini lalu mengundurkan diri dan masuk ke kamar sendiri karena waktu itu malam sudah agak larut.

Menjelang fajar, Yo Wan kaget mendengar suara Bhewakala memanggil namanya. la bangun dan cepat menuju ke kamar pendeta itu. Pintu kamarnya terbuka dan pendeta itu duduk di atas pembaringan. Cepat dia maju menghampiri.

"Yo Wan, jurus Sin-eng-cu ini hebat! Aku tidak dapat menangkis atau mengelaknya...," katanya dengan suara lesu.

Diam-diam Yo Wan menjadi girang. Akhirnya Sin-eng-cu yang menang, seperti yang dia harapkan. "Kalau begitu, Locianpwe menyerah...," katanya perlahan.

Mata yang lebar itu melotot. "Siapa yang menyerah? Karena Sin-eng-cu ingin mengadu nyawa, apa kau kira aku tidak berani? Jurus itu memang tidak dapat kutangkis atau pun kuhindarkan, akan tetapi dapat kuhadapi dengan jurusku yang istimewa pula. Mungkin aku akan mati oleh jurusnya, tapi dia pun pasti mampus bila melanjutkan serangannya. Kau lihat baik-baik!"

Bhewakala kemudian mengajar Yo Wan sebuah jurus sebagai imbangan dari Pek-hong Ci-tiam. Kemudian pendeta itu menyuruh Yo Wan memainkan cambuk dengan jurus itu. Hebat bukan main jurus ini. Cambuk itu melingkar-lingkar di udara kemudian melejit ke empat penjuru dengan suara nyaring sekali.

"Tar-tar-tar-tar!" Terjangan cambuk ini diiringi gempuran tangan kiri yang penuh dengan tenaga dalam ke arah pusar lawan.

"Cukup! Lekas kau perlihatkan kepada Sin-eng-cu," kata Bhewakala setelah dia merasa puas dengan gerakan Yo Wan.

Pemuda ini keluar dari kamar Bhewakala dan memasuki kamar Sin-eng-cu. Waktu itu matahari telah naik agak tinggi, akan tetapi lampu di dalam kamar kakek ini masih saja menyala.

"Susiok-couw, Locianpwe Bhewakala tidak dapat memecahkan Pek-hong Ci-tiam, akan tetapi menghadapi jurus itu dengan jurus serangan pula, seperti ini," kata Yo Wan sambil memainkan cambuk yang memang sengaja dibawanya ke dalam kamar itu. Cambuknya melejit-lejit dan tangan kirinya mengeluarkan angin yang mematikan lampu di atas meja ketika dia mainkan jurus itu.

Akan tetapi setelah dia berhenti mainkan jurus ini, Sin-eng-cu tidak memberi komentar apa-apa. Kakek itu tetap duduk bersila dengan tangan kanan terkepal di atas pangkuan, telentang, serta tangan kiri diangkat ke depan dada, jari-jari tengah terbuka dan telapak tangan menghadap keluar.

"Susiok-couw, bagaimana sekarang...?" Yo Wan menegur lagi sambil maju mendekat dan berlutut.

"Susiok-couw...!" la berseru agak keras sambil berdongak memandang.

Kakek itu masih duduk bersila dengan mata meram. Ketika Yo Wan melihat sikap yang tidak wajar ini, berubah air mukanya. Dirabanya kepalan tangan kanan di atas pangkuan itu dan dia menarik kembali tangannya. Kepalan itu dingin sekali. Dirabanya lagi nadi, tidak ada denyutan. Kakeknya itu seperti orang tidur tanpa bernafas. "Susiok-couw...!"

Tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya. "Dia sudah mati. Ahhh, Sin-eng-cu, kau benar-benar hebat. Dengan jurus terakhir itu kau telah mengalahkan aku. Aku mengaku kalah!"

Yo Wan menoleh dengan sangat heran. Bhewakala sudah berdiri di situ dan walau pun kelihatannya masih amat lemah, kiranya pendeta ini sudah dapat berjalan dengan ringan sehingga dia tidak mendengar kedatangannya.

Akan tetapi Yo Wan segera menghadapi Sin-eng-cu lagi, berlutut sambil memberi hormat sebagaimana layaknya dan berkata, "Harap Susiok-couw sudi mengampuni teecu yang tidak bisa menolong Susiok-couw yang terluka sehingga hari ini Susiok-couw meninggal dunia." la tidak dapat menangis karena memang dia tidak ingin menangis.

"Yo Wan, orang selihai dia mana bisa mati hanya karena luka pukulanku? Seperti juga pukulannya, mana bisa membikin mati aku? Kami berdua hanya terluka yang akibatnya melenyapkan tenaga dalam karena pusat pengerahan sinkang di tubuh kami rusak akibat pukulan. Tanpa pukulanku, hari ini dia akan mati juga, kematian wajar dari usia tua."

Bhewakala maju menghampiri kakek yang masih duduk bersila itu, lalu tiba-tiba pendeta Nepal ini memeluknya.

"Sin-eng-cu, tua bangka... terima kasih. Belum pernah selama hidup aku merasa begitu senang dan gembira seperti selama tiga tahun kita mengadu ilmu ini. Kau sangat hebat, sahabatku, kau hebat. Jurusmu terakhir tak dapat kupecahkan, biarlah sisa hidupku akan dapat kupergunakan untuk memecahkan jurus itu agar kelak kalau kita bertemu kembali, dapat kumainkan di depanmu..."

Pendeta ini lalu membaringkan tubuh Sin-eng-cu. Tangan dan kaki kakek itu sudah kaku, namun begitu disentuh Bhewakala pada jalan darah dan sambungan-sambungan tulang yang membeku itu, bagian-bagian tubuh kakek itu segera lemas kembali sehingga dapat ditelentangkan. Kemudian pendeta hitam ini berpaling kepada Yo Wan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak heran. Memang pendeta hitam ini seorang yang aneh dan luar biasa, pikirnya.

“Yo Wan, kau adalah murid Pendekar Buta, akan tetapi tidak pernah menerima warisan ilmu silatnya kecuali pelajaran langkah-langkah yang tak ada artinya dalam menghadapi lawan. Kau bukan murid kami, namun kau sudah mewarisi inti sari dari ilmu silat kami berdua. Memang lucu. Akan tetapi ketahuilah bahwa di dalam hatiku, aku menganggap kau sebagai murid tunggalku dan selalu menanti kunjunganmu ke Anapurna di Himalaya. Selamat tinggal, muridku."

Setelah berkata demikian, Bhewakala berjalan ke luar dari pondok itu. Wajahnya muram seakan-akan kegembiraannya lenyap bersama nyawa Sin-eng-cu. Yo Wan tiba-tiba merasa dirinya sangat kesunyian. Yang seorang menjadi mayat, yang seorang lagi sudah pergi. Kembali dia hidup seorang diri di tempat sunyi itu. Namun dia segera dapat menguasai perasaannya. la bukan kanak-kanak lagi.

Ketika suhu dan subo-nya pergi, delapan tahun yang lalu, dia baru berusia delapan tahun lebih. Sekarang dia sudah menjadi seorang pemuda, enam belas tahun usianya seperti dikatakan oleh Sin-eng-cu beberapa hari yang lalu. Tadinya dia sendiri tidak tahu berapa usianya kalau saja bukan Sin-eng-cu yang menghitungnya. Seorang jejaka, Jaka Lola. Tidak hanya yatim piatu, akan tetapi juga tiada sanak-kadang. Di dunia ini hanya ada suhu serta subo-nya, akan tetapi kedua orang itu sudah pergi meninggalkannya sampai delapan tahun tanpa berita.

Dengan hati berat Yo Wan mengubur jenazah Sin-eng-cu di belakang pondok. la tidak tahu bagaimana harus menghias kuburan ini, maka dia lalu mengangkuti batu-batu besar yang dia taruh berjajar di sekeliling kuburan. la masih belum sadar bahwa kini dia dapat mengangkat batu-batu yang demikian besarnya, tidak tahu pula bahwa setiap batu yang diangkatnya dengan ringan itu sedikitnya ada seribu kati beratnya!

"Aku harus pergi menyusul suhu dan subo ke Hoa-san." Inilah pikiran yang pertama-tama memasuki kepalanya. Teringat akan niatnya pergi menyusul ke Hoa-san tiga tahun yang lalu, dia kini merasa menyesal sekali. Mengapa dia dahulu tidak jadi menyusul? Kalau tiga tahun yang lalu dia sudah pergi ke Hoa-san, tentu saat ini dia sudah berada bersama suhu dan subo-nya.

Akan tetapi, dia teringat lagi betapa dua orang kakek yang mengadu ilmu itu membuat dia betah, malah selama tiga tahun ini dia tidak merasa rindu kepada suhu dan subo-nya. Juga membuat dia tak pernah meninggalkan puncak karena dua orang itu melarangnya. Biar pun bumbu-bumbu habis, mereka tidak membolehkan dia turun puncak, dan sebagai pengganti bumbu-bumbu itu, Bhewakala menyuruh dia mengambil bermacam-macam daun di puncak yang ternyata dapat mengganti bumbu dapur.

Dengan pakaian penuh tambalan Yo Wan turun dari puncak. Cambuk Bhewakala yang ditinggalkan oleh pendeta itu digulungnya melingkari pinggangnya, tersembunyi di balik bajunya yang penuh tambalan dan tidak karuan potongannya. Juga pedang kayu buatan Sin-eng-cu yang dipakainya untuk bermain jurus di depan Bhewakala, dia bawa pula, dia selipkan di balik ikat pinggang.

Berangkatlah Yo Wan si Jaka Lola meninggalkan puncak Liong-thouw-san, berangkat dengan hati lapang dan penuh harapan untuk segera bertemu kembali dengan dua orang yang amat dikasihi, yaitu suhu dan subo-nya. la tidak sadar sama sekali, betapa dirinya telah mengalami perubahan hebat berkat latihan Iweekang menurut ajaran Sin-eng-cu dan Bhewakala, betapa dirinya selain mempunyai tenaga sinkang yang hebat juga sudah memiliki berbagai ilmu silat tingkat tinggi yang tidak mudah didapat orang!

Ketika penduduk sekitar kaki gunung yang sudah mengenalnya melihat Yo Wan, mereka segera menegur dan mempersilakan dia singgah. Mereka menyatakan rasa penyesalan mengapa pemuda itu selama tiga tahun ini bersembunyi saja. Malah yang mempunyai kelebihan pakaian segera memberi beberapa buah celana dan baju kepada Yo Wan ketika dilihatnya betapa pakaian pemuda ini penuh tambalan.

Yo Wan, menerima dengan penuh syukur dan terima kasih. Ia sendiri tak ingin suhu dan subo-nya marah dan malu melihat dia berpakaian seperti jembel. Segera dia menukar pakaiannya dan kini biar pun pakaiannya sederhana dan terbuat dari kain kasar, tetapi cukup rapi dan tidak robek, juga tidak ada tambalan menghiasnya….
cerita silat karya kho ping hoo

Yo Wan melakukan perjalanan seperti seorang yang linglung. Dia laksana seekor anak burung yang baru saja belajar terbang meninggalkan sarangnya. Semenjak usia delapan tahun, dunianya hanya puncak Bukit Liong-thouw-san dan perkampungan sekitar kaki gunung. Meski pun di waktu kecilnya dia pernah melihat kota dan tempat-tempat ramai, akan tetapi selama delapan tahun dia seakan mengasingkan diri di puncak gunung.

Dan sekarang, melakukan perjalanan melalui kota-kota dan dusun-dusun yang ramai, dia bagai orang dusun yang amat bodoh. Bangunan-bangunan besar mengagumkan hatinya. Melihat banyak orang membuat dia bingung. Apa lagi ilmu membaca dan menulis. Dia adalah seorang buta huruf yang melakukan perjalanan melalui tempat-tempat yang asing baginya, tanpa kawan tiada sanak kadang, tanpa bekal uang di saku!

Tetapi kekurangan-kekurangan ini sama sekali tidak membuat Yo Wan menjadi khawatir atau susah. Semenjak kecil dia sudah tergembleng oleh segala macam kesulitan hidup. Meski masih muda, jiwanya sudah matang oleh asam garam dan pahit getir kehidupan, membuatnya tenang dan dapat menghadapi segala macam keadaan dengan tabah.

Tidak sukar baginya untuk mengatasi kekurangannya dalam perjalanan. Kadang-kadang dia hanya makan buah-buahan dan daun-daun muda di dalam hutan untuk berhari-hari. Ada kalanya dia makan dalam sebuah kelenteng bersama hwesio-hwesio yang baik hati dan yang tetap membagi hidangan sayur-mayur sekedarnya tanpa daging itu kepada Yo Wan. Tentu saja Yo Wan belum mau pergi meninggalkan kelenteng sebelum melakukan sesuatu, mencari air, menyapu lantai, membersihkan meja sembahyang dan pekerjaan lain untuk membalas budi. Kadang kala ada orang dusun atau kota yang mau menerima bantuan tenaganya untuk ditukar dengan makan sehari itu.

Dengan cara begitu Yo Wan melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya jalan menuju ke Hoa-san. Dia berlaku hati-hati sekali, selalu menjauhkan diri dari keributan, dan tidak pernah dia memperlihatkan kepada siapa pun juga bahwa dia memiliki tenaga luar biasa dan kepandaian yang tinggi. Yo Wan sendiri sebenarnya belum mengerti betul bahwa dia telah mewarisi inti sari dari kepandaian dua orang kakek berilmu, sungguh pun dia mengetahui bahwa dia memiliki tenaga dan keringanan tubuh yang melebihi orang lain. Oleh karena ini maka dia sama sekali tidak mempunyai keinginan mencari dan membalas musuhnya, The Sun, sebelum dia bertemu dengan suhu-nya dan menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari gurunya itu.

Setelah melakukan perjalanan berbulan-bulan, akhirnya pada suatu pagi sampai juga dia di kaki Gunung Hoa-san. Dengan hati berdebar tegang dia berdiri memandang ke arah puncak gunung itu, sebuah gunung tinggi yang hijau, tidak liar seperti Liong-thouw-san. Membayangkan pertemuan dengan suhu dan subo-nya setelah berpisah selama delapan tahun, mendatangkan rasa haru dan membuatnya agak lama termenung di situ dengan jantung berdebar-debar.

Betapa pun juga, dalam kegembiraan ini, ada rasa tidak enak di hatinya, rasa bahwa dia merupakan seorang tamu di Hoa-san. Suhu dan subo-nya sendiri terhitung tamu di situ, bagaimana dia akan dapat merasa di rumah sendiri? Berpikir begitu, timbullah kegetiran. Mengapa suhu-nya membiarkan dia bersunyi sampai delapan tahun di Liong-thouw-san? Mengapa gurunya itu tidak kembali?

Ya, mengapakah? Mengapa Kun Hong dan Hui Kauw tidak kembali ke Liong-thouw-san sampai delapan tahun lamanya, dan membiarkan murid mereka itu seorang diri saja di puncak gunung yang sunyi. Apakah terjadi sesuatu yang hebat atas diri mereka?

Sebetulnya tidak terjadi sesuatu yang buruk. Tidak lama setelah Kun Hong dan Hui Kauw sampai di Hoa-san, Hui Kauw melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Tentu saja peristiwa ini mendatangkan kegembiraan luar biasa di Hoa-san. Oleh kakeknya, anak itu diberi nama Kwa Swan Bu.

Ketua Hoa-san-pai sekarang adalah Kui Lok yang berjulukan Kui Sanjin, seorang tokoh Hoa-san-pai yang paling lihai karena dia dan isterinya (Thio Bwee) merupakan sepasang suami isteri yang mewarisi ilmu silat Hoa-san-pai yang paling tinggi. Kedua suami isteri ini memimpin Hoa-san-pai, dibantu oleh suheng-nya bernama Thian Beng Tosu (Thio Ki) dan Lee Giok, dan diawasi oleh kakek Kwa Tin Siong dan isterinya. Kwa Tin Siong sudah amat tua dan sudah bosan mengurus Hoa-san-pai, maka dia dan isterinya menyerahkan tugas ini kepada Kui Sanjin dan mereka sendiri tekun bertapa.

Kedatangan putera tunggal mereka, Kwa Kun Hong bersama isterinya, tentu saja sangat menggirangkan hati kedua orang tua ini, apa lagi sesudah isteri Kun Hong melahirkan seorang putera, kebahagiaan suami isteri tua ini pun menjadi sempurna. Perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Hoa-san-pai tidak ada yang memiliki keturunan laki-laki, kecuali Kwa Kun Hong seorang.

Thian Beng Tosu hanya mempunyai seorang anak perempuan bernama Thio Hui Cu dan sudah menikah dengan Tan Sin Lee, putera Raja Pedang Tan Beng San yang menjadi ketua Thai-san-pai. Juga Kui Sanjin hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Kui Li Eng yang sudah menikah pula dengan Tan Kong Bu, yaitu putera lain lagi dari Raja Pedang Tan Beng San.

Semua ini dapat dibaca dalam cerita Rajawali Emas dan Pendekar Buta.

Karena tidak ada keturunan laki-laki di Hoa-san, tentu saja lahirnya Kwa Swan Bu amat menggirangkan hati Kakek Kwa. Thian Beng Tosu dan Kui Sanjin ketua Hoa-san-pai juga amat girang. Orang-orang tua inilah yang minta dengan sangat kepada Kun Hong dan istrinya agar suami isteri itu tidak kembali ke Liong-thouw-san, setidaknya menanti kalau Swan Bu sudah besar. Sangatlah tidak baik membiarkan seorang anak laki-laki bersunyi di puncak bukit dengan kedua orang tuanya saja, kata Kwa Tin Siong kepada putera dan mantunya.

“Dia akan tumbuh besar dalam kesunyian, kurang bergaul dengan sesama manusia. Di Hoa-san-pai ini adalah tempat tinggalmu sendiri sejak kau kecil, Kun Hong. Oleh karena itu sebaiknya kau membiarkan puteramu tinggal di sini pula. Di sini merupakan keluarga Hoa-san-pai yang besar, dan puteramu tentu akan menerima kasih sayang dari semua orang. Juga aku dan ibumu sudah tua, biarkanlah kami menikmati hari-hari akhir kami dengan cucu kami Swan Bu."

Hal inilah yang membuat Kun Hong dan isterinya tak dapat meninggalkan Hoa-san. Kun Hong kemudian berunding dengan isterinya tentang Yo Wan. Hui Kauw yang tentu saja menimpakan kasih sayang seluruhnya kepada puteranya, menyatakan bahwa tentu Yo Wan akan menyusul ke Hoa-san.

"Bukankah dulu kau sudah meninggalkan pesan bahwa dia harus menyusul ke Hoa-san kalau dalam waktu dua tahun kita belum pulang? Dia sudah besar, tentu dapat mencari jalan ke sini. Pula, hal ini amat perlu bagi dia. Murid kita harus menjadi seorang yang tabah dan tidak gentar menghadapi kesukaran."

Kun Hong setuju dengan pendapat isterinya ini. Akan tetapi hatinya gelisah juga setelah lewat dua tahun, bahkan sampai lima tahun, murid itu tidak datang menyusul ke Hoa-san. "Jangan-jangan ada sesuatu terjadi di sana?" Kun Hong menyatakan kekhawatirannya.

"Atau dia memang tak ingin ikut dengan kita di sini," Hui Kauw berkata, keningnya agak berkerut.

Diam-diam ia merasa tidak senang mengapa Yo Wan tidak mentaati perintah suaminya. Seorang murid harus mentaati perintah guru, kalau tidak, dia bukanlah murid yang baik. "Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan Yo Wan. Kalau dia datang menyusul, berarti dia suka menjadi murid kita, kalau tidak, terserah kepadanya. Lebih baik kita melatih anak kita sendiri."

Demikianlah, setelah lewat delapan tahun, suami isteri ini telah melupakan murid mereka yang mereka kira tentu sudah pergi dari Liong-thouw-san dan tidak mau ikut mereka di Hoa-san. Sama sekali mereka tidak menyangka bahwa murid mereka itu selama ini tak pernah meninggalkan puncak Liong-thouw-san. Dan sama sekali mereka tidak pernah menduga bahwa pada pagi hari itu, orang muda tampan sederhana yang sedang berdiri termenung di kaki Gunung Hoa-san adalah Yo Wan.

Yo Wan amat kagum melihat keadaan Gunung Hoa-san. Alangkah jauh bedanya dengan Liong-thouw-san. Gunung ini benar-benar terawat. Tak ada bagian yang liar. Hutan-hutan bersih dan penuh pohon buah dan kembang. Sawah ladang terpelihara, ditanami dengan sayur-mayur dan pohon obat. Malah dibangun pula jalan yang cukup lebar, memudahkan orang naik mendaki gunung.

Terdengar derap kaki kuda dari sebelah kanan, diiringi suara ketawa yang amat nyaring, ketawa kanak-kanak. Yo Wan mengangkat kepala memandang ke sebelah kanan dan dia menjadi kagum sekali. Ada tiga orang penunggang kuda. Kuda mereka adalah kuda-kuda pilihan, tinggi besar dan nampak kuat. Akan tetapi bukan binatang-binatang itu yang mengagumkan hati Yo Wan, tapi penunggang yang berada di tengah-tengah, di antara dua orang penunggang kuda lainnya.

Penunggang kuda ini adalah seorang anak laki-laki yang usianya kelihatannya belum ada sepuluh tahun. Seorang anak laki-laki yang amat tampan, yang pakaiannya serba indah, kepalanya ditutupi topi sutera yang bersulam kembang dan terhias burung hong dari mutiara. Anak laki-laki itu pandai sekali menunggang kuda dan pada saat itu dia menunggang kuda tanpa memegang kendali, karena kedua tangannya memegangi sebuah gendewa dan beberapa batang anak panah. Dua orang yang mengiringi anak ini adalah dua orang laki-laki berusia empat puluhan, dandanannya seperti tosu dan terlihat sangat mencinta anak itu.

"Ji-wi Susiok (Dua Paman Guru), lihat, burung yang paling gesit akan kupanah jatuh!"

"Swan Bu... jangan...! Itu bukan burung walet...!" Salah seorang di antara kedua tosu itu mencegah.

Akan tetapi anak itu sudah mengeprak kuda dengan kedua kakinya yang kecil. Kudanya lari congklang dengan cepat ke depan. Dengan gerakan yang tenang namun cepat anak itu sudah memasang dua batang anak panah pada gendewanya, kemudian menarik tali gendewa. Terdengar suara menjepret dan Yo Wan melihat seekor burung kecil melayang jatuh di dekat kakinya. Ia merasa kasihan sekali melihat burung itu, sebatang anak panah sudah menembus dadanya. Burung kecil berbulu kuning amat cantik.

Yo Wan menekuk lutut, membungkuk untuk mengambil bangkai burung itu. Tiba-tiba saja berkelebat bayangan dan tahu-tahu sebuah tangan yang kecil sudah mendahului dirinya, menyambar bangkai burung itu. Yo Wan berdiri dan melihat anak kecil yang pandai main anak panah tadi telah berdiri di depannya, bangkai burung di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.

"Ehh, kau mau mencuri burungku? Burung ini aku yang panah jatuh, enak saja kau mau mengambilnya. Hemmm, kau orang dari mana? Mau apa berkeliaran di sini?"

Yo Wan tertegun. Anak ini masih kecil, akan tetapi sikapnya amat gagah dan berwibawa. Kedua matanya tajam penuh curiga, akan tetapi juga membayangkan watak tinggi hati. la tahu bahwa dirinya berada di tempat orang, karena Gunung Hoa-san tentu saja menjadi wilayah orang-orang Hoa-san-pai. Dengan senyum sabar dia menjura dan berkata.

“Aku tidak bermaksud mencuri, hanya kasihan melihat burung ini..."

Sementara itu, dua orang tosu juga sudah melompat turun dan kuda dan menghampiri. “Swan Bu, kau terlalu. Ilmu memanah yang kau pelajari bukan untuk membunuh burung yang tidak berdosa. Kalau ayah bundamu tahu, kau tentu akan mendapat marah," tegur seorang tosu.

“Susiok, apakah urusan begini saja Susiok hendak mengadu kepada ayah dan ibu? Jika tidak berlatih memanah burung kecil terbang, mana bisa mahir? Anggap saja burung ini seorang penjahat. Susiok, orang ini mencurigakan sekali, aku belum pernah melihatnya. Jangan-jangan dia pencuri.”

Dua orang tosu itu memandang Yo Wan. Tosu kedua segera menegur, "Orang muda, kau siapakah? Agaknya kau bukan orang sini .. ehhh, apakah kau pemuda yang hendak bekerja sebagai tukang mengurus kuda di Hoa-san? Dua hari yang lalu kepala kampung Lung-ti-bun menawarkan tenaga seorang pemuda tukang kuda..."

Yo Wan menggeleng kepala. Dia sejak kecil tinggal di gunung, tentu saja tidak tahu akan tata susila umum, dan gerak-geriknya agak kaku dan kasar. "Aku bukan tukang kuda, akan tetapi kalau Lo-pek (Paman Tua) suka memberi pekerjaan, aku pun mau mengurus kuda, asal mendapat makan setiap hari."

Entah bagaimana, melihat anak laki-laki yang sombong dan yang dia tahu tentu anak Hoa-san-pai ini, mendadak hati Yo Wan menjadi tawar untuk bertemu dengan suhu-nya. Bukankah suhu-nya itu putera Hoa-san-pai dan sekarang sedang mondok di situ? Bagai mana seandainya orang-orang Hoa-san-pai memandang rendah padanya dan tidak suka mengangkatnya sebagai murid Pendekar Buta?

Lebih baik dia menjadi tukang kuda dan tidak usah ‘mengaku’ sebagai murid gurunya agar tidak merendahkan nama gurunya. Dengan pekerjaan ini, dia ingin melihat gelagat, melihat dulu suasana di Hoa-san-pai sebelum mengambil keputusan untuk menghadap suhu-nya.

"Baik, kau boleh bekerja menjadi pengurus kuda. Setiap hari kau harus mencari rumput yang segar dan gemuk untuk dua belas ekor kuda, memberi makan dan menyikat bulu kuda. Tidak hanya makan, kau juga akan diberi pakaian dan upah. Ehh, siapa namamu? Di mana rumahmu?"

"Namaku A Wan, Lopek, dan aku tidak punya rumah. Terima kasih atas kebaikanmu, aku akan merawat kuda dengan baik-baik.”

“Bekerjalah dengan baik, dan ketua kami tentu akan menaruh kasihan padamu. Jangan sekali-kali suka mencuri, apa lagi melarikan kuda," kata tosu kedua.

"Susiok, mengapa takut dia mencuri dan lari? Kalau dia jahat, anak panahku pasti akan merobohkannya!"

"Hushh, Swan Bu, jangan bicara begitu...”

"Aku paling benci penjahat, Susiok, setiap kali aku melihat penjahat, pasti akan kupanah mampus. Kelak kalau aku sudah besar, aku akan basmi semua penjahat di permukaan bumi ini."

Hemmm, bocah manja dan amat besar mulut, pikir Yo Wan. Heran sekali dia mendengar omongan seorang anak kecil seperti itu. Anak siapa gerangan bocah ini? Apakah anak ketua Hoa-san-pai? Akan tetapi dia tidak berani banyak bertanya, karena nanti pun dia akan tahu sendiri.

"Swan Bu kita pulang berlari sambil melatih ilmu lari cepat," kata tosu pertama kepada anak itu. "Biar tiga ekor kuda ini dituntun naik oleh A Wan. A Wan, kau tuntun tiga ekor kuda ini ke puncak, sampai di sana bawa ke kandang, gosok badannya sampai kering dari keringat dan beri makan." Setelah berkata demikian, tosu itu memberikan kendali tiga ekor kuda itu kepada A Wan, kemudian mengajak tosu kedua dan Swan Bu untuk berlari cepat.

Mereka berkelebat dan seperti terbang mereka lari mendaki gunung. Memang tosu itu sengaja tidak memberi penjelasan karena hendak menguji kecerdikan kacung kuda itu, apakah mampu dan dengan baik mengantar binatang-binatang itu ke kandang ataukah tidak. la masih ragu-ragu melihat pemuda yang bodoh itu. Ada pun Yo Wan melihat mereka berlari-lari cepat sambil memegangi kendali tiga ekor kuda itu. Biasa saja kepandaian mereka itu, pikirnya, lalu dituntunnya tiga ekor kuda itu mendaki gunung.

Sambil berjalan perlahan dia bertanya-tanya di dalam hati, siapa gerangan bocah yang bernama Swan Bu itu. Bocah tampan dan bersemangat, mempunyai dasar watak yang gagah dan pembenci penjahat, akan tetapi rusak oleh kemanjaan dan kesombongan. Pertemuannya dengan anak laki-laki tadi membuat hati Yo Wan makin terasa tidak enak lagi. Dia merasa bahwa orang-orang Hoa-san-pai kurang bijaksana, terbukti dari watak bocah tadi yang agaknya terlalu manja.

Heran dia mengapa suhu-nya yang jujur dan budiman, subo-nya yang berwatak halus dan penuh pribudi itu bisa tinggal di situ sampai bertahun-tahun. Akan tetapi dia teringat lagi bahwa suhu-nya adalah putera ketua Hoa-san-pai, tentu saja harus berbakti kepada orang tua, dan orang dengan watak sehalus subo-nya, tentu dapat menghadapi segala macam watak dengan penuh kesabaran. Yo Wan menarik nafas. Dasar kau sendiri yang iri agaknya melihat bocah tadi demikian manja, pakaiannya demikian indah, dia mencela diri sendiri.

Betapa pun juga, Yo Wan adalah seorang pemuda yang masih remaja dan kurang sekali pengalaman, kurang pula pendidikan, maka rasa iri itu adalah wajar. Iri karena dia tidak pernah merasakan bagaimana dicinta orang tua, dimanja orang tua. la pun teringat akan keadaan sendiri, seorang jaka lola yang tidak punya apa-apa di dunia ini. Alangkah jauh bedanya dengan Swan Bu tadi, bagai bumi dan langit.

Selagi dia melamun sambil menuntun kudanya di jalan yang cukup lebar tapi menanjak itu, tiba-tiba terdengar derap kaki-kaki kuda dari belakang dan disusul bentakan nyaring, "Minggir...! Minggir...!!" Lalu terdengar bunyi cambuk di udara.

Kalau saja A Wan tidak sedang melamun, agaknya dia tidak begitu terkejut dan dapat menuntun ketiga ekor kuda itu ke pinggir. Akan tetapi bentakan nyaring ini seakan-akan menyeretnya secara tiba-tiba dari dunia lamunan, membuat dia kaget dan tidak sempat menguasai seekor di antara kudanya yang kaget dan melonjak ke tengah jalan.

Karena dua ekor kuda yang lain juga melonjak-lonjak ketakutan, terpaksa Yo Wan hanya menenangkan dua ekor yang masih dia pegang kendalinya, sedangkan yang seekor lagi telah terlepas kendalinya dan kini berloncatan di tengah jalan. Pada saat itu, dua orang penunggang kuda sudah datang membalap dekat sekali. Yo Wan berteriak kaget, karena kudanya yang mengamuk itu tidak menghindar, malah meloncat dan menubruk ke arah seorang di antara penunggang-penunggang kuda itu.

"Setan...!" Penunggang kuda yang ditubruk itu memaki.

Dia adalah seorang laki-laki yang berkumis panjang, berusia kurang lebih empat puluh tahun. Pakaiannya penuh tambalan, akan tetapi sepatunya baru dan mengkilap. Sambil memaki, dia menggerakkah kakinya, menendang ke arah perut kuda yang menubruknya.

"Krakkk!"

Tendangan itu keras sekali dan mendengar bunyinya, agaknya tulang-tulang rusuk kuda yang menubruknya itu telah ditendang hingga patah. Kuda itu meringkik, terjengkang ke belakang lalu roboh dan berkelojotan, tak mampu bangun lagi.

"Wah-wah, Sute (Adik seperguruan), kau sudah membunuh seekor kuda Hoa-san-pai!" tegur orang kedua, usianya hampir lima puluh, rambutnya putih semua digelung ke atas, mukanya licin tanpa kumis, pakaiannya juga penuh tambalan seperti orang pertama.

"Habis, apakah aku harus membiarkan kuda itu menubrukku, Suheng? Salahnya bocah ini, menuntun kuda kurang hati-hati!"

Mereka berdua melompat turun dari kuda dan memandang kepada Yo Wan. Bukan main kagetnya hati Yo Wan melihat betapa seekor di antara tiga kuda yang dia tuntun itu sekarang telah berkelojotan hampir mati di tengah jalan. Baru saja dia diterima menjadi kacung kuda, tetapi sudah terjadi hal seperti ini. Karena kaget dan bingung, dia segera berkata,

"Kau membunuh kudaku. Hayo ganti kudaku!”

Si kumis tersenyum. "Bocah, ketahuilah. Aku dan suheng-ku ini adalah dua orang utusan dari Sin-tung Kaipang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti). Urusan kuda merupakan urusan kecil, tak perlu kau ribut-ribut."

"Urusan kecil bagaimana?" Yo Wan berteriak. "Mungkin kecil untuk kau, akan tetapi amat besar bagiku. Kau harus mengganti kuda ini!"

Muka si kumis menjadi merah. la heran sekali. Biasanya, orang-orang Hoa-san-pai tentu akan bersikap hormat bila mana mendengar bahwa mereka adalah utusan dari Sin-tung Kaipang. Akan tetapi bocah ini, tentunya hanya seorang anak murid yang masih rendah, sama sekali tidak menghormat, malah agak kasar sikap dan bicaranya.

"Kau siapa? Apakah kuda ini bukan milik Hoa-san-pai?" tanya si kumis.

"Memang kuda Hoa-san-pai, dan aku adalah kacung kuda yang baru. Bagaimana aku harus pulang kalau kuda yang kutuntun berkurang seekor? Lopek, kau harus mengganti kudaku!" Sambil berkata demikian, Yo Wan menuntun dua ekor kudanya di tengah jalan, menghadang perjalanan karena dia khawatir kalau dua orang itu akan melarikan diri.

Si kumis menjadi makin merah mukanya karena marah ketika mendengar bahwa bocah ini hanya seorang kacung kuda saja. Seorang kacung kuda bagaimana berani bersikap sekasar itu terhadap dia, anak murid Sin-tung Kaipang yang sudah bersepatu baru?

Di perkumpulan pengemis ini terdapat peraturan yang aneh. Tingkat seseorang ditandai dengan sepatu. Yang terendah tidak memakai apa-apa, yang lebih tinggi memakai alas kaki, makin tinggi semakin baik, mulai sandal kayu sampai sepatu kulit yang mengkilap seperti yang dipakai oleh kedua orang penunggang kuda ini. Maklumlah, mereka berdua adalah murid-murid dari ketua Sin-tung Kaipang, karena itu kepandaiannya sudah sangat tinggi, demikian juga ‘pangkatnya’ karena memakai sepatu baru.

"Hemmm, bujang rendah! Kau hanya tukang kuda, banyak cerewet. Urusan seekor kuda saja kau ribut-ribut! Minggir! Biarlah nanti kubicarakan dengan orang-orang Hoa-san-pai tentang kuda ini, kau boleh pulang ke kandangmu!"

"Betul kata-kata Sute-ku, bocah tukang kuda, jangan kau takut. Urusan kuda ini biar nanti kami bicarakan dengan majikanmu," sambung orang kedua yang rambut putih.

"Tidak!" Yo Wan membantah karena dia takut dua orang ini akan mengadu kepada ketua Hoa-san-pai dan membalikkan duduk perkaranya sehingga dia yang akan dipersalahkan. "Kau harus ganti sekarang juga!"

"Bujang rendah, kau buka matamu baik-baik dan lihat dengan siapa kau bicara!" bentak si kumis, marah sekali.

"Aku sudah melihat, kalian adalah dua orang pengemis aneh."

Kedua orang itu tertawa. Memang aneh orang-orang dari Sin-tung Kaipang. Kalau orang lain menyebut mereka pengemis, hal itu berarti suatu penghormatan bagi mereka! Inilah sebabnya mereka menjadi senang mendengar Yo Wan menyebut mereka pengemis aneh dan hal ini mereka anggap bahwa Yo Wan menyadari siapa mereka dan takut.

"Bocah! Kau lihat sepatu kami!"

Yo Wan mendongkol sekali. Orang ini terlalu menghinanya, akan tetapi dia memandang juga ke arah sepatu mereka. "Ada apa dengan sepatu kalian? Sepatu baru, akan tetapi penuh debu!" jawabnya.

"Ha-ha-ha, anak baik, kau mengenal sepatu baru kami!" Si kumis tertawa senang. "Hayo kau bersihkan debu sepatu kami, dan nanti kami akan minta kepada majikanmu agar kau jangan dihukum karena kelalaianmu menuntun kuda."

Yo Wan menegakkan kepalanya, memandang tajam. "Harap kalian tidak main-main. Aku pun tidak ingin main-main dengan kalian. Lebih baik sekarang kalian tinggalkan seekor di antara kudamu untuk mengganti kudaku yang mati, baru kalian melanjutkan perjalanan."

“Apa...?!" Dua orang itu berteriak kaget, heran dan juga marah. "Kau ini kacung kuda tapi berani bicara begitu kepada kami? Kami adalah dua orang utusan yang terhormat dari Sin-tung Kaipang, tahu? Minggir dan jangan banyak cerewet kalau kau tak ingin mampus seperti kuda itu!"

Yo Wan adalah seorang yang mempunyai watak suka merendah, hal ini terbentuk oleh keadaan hidupnya semenjak kecil. Dia suka mengalah dan mempunyai rasa diri rendah dan bodoh, akan tetapi betapa pun juga, dia adalah seorang muda yang berdarah panas. Melihat sikap dan mendengar ucapan menghina itu, kesabarannya patah.

"Biar kalian utusan dari Giam-lo-ong (Malaikat Maut) sekali pun, karena kau membunuh kudaku, kau harus menggantinya!"

Dua orang itu mencak-mencak saking marahnya. Kalau saja mereka tidak ingat bahwa kacung itu adalah seorang bujang Hoa-san-pai dan bahwa mereka berada di wilayah Hoa-san-pai, tentu sekali pukul mereka akan membikin mampus bocah ini.

"Sute, jangan layani dia. Dorong minggir!"

Si kumis tertawa sambil melangkah maju mendekati Yo Wan, tangan kirinya mendorong pundak pemuda itu sambil membentak, "Tidurlah dekat bangkai kudamu!"

la menggunakan tenaga setengahnya karena tidak ingin membunuh Yo Wan, hanya ingin membuat kacung itu terjengkang dekat bangkai kuda tadi. Akan tetapi dia salah besar kalau mengira bahwa dengan hanya sebuah dorongan seperti itu saja dia akan mampu merobohkan Yo Wan.

Tangannya mendorong pundak Yo Wan yang sengaja tidak mau mengelak, akan tetapi tenaga dorongannya bertemu dengan pundak yang kokoh dan kuat seperti batu karang. Jangankan membuat kacung itu roboh, membuat pundak itu bergoyang sedikit saja tidak mampu!

"Kau ganti kudaku yang mati!” kata Yo Wan tanpa bergerak.

Si kumis terheran, penasaran, lalu timbul kemarahannya. "Kau kepala batu!" bentaknya dan kini dia menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong dada Yo Wan.

Yo Wan tidak mau mengalah sampai dua kali, apa lagi sekarang yang didorong adalah dadanya. Tak mungkin dia mau membiarkan dadanya didorong orang karena hal ini amat berbahaya. Selama tiga tahun, terus-menerus siang malam dia bermain silat menurut petunjuk dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, ilmu silat tingkat tinggi yang membuat ilmu itu mendarah daging di tubuhnya dan di pikirannya. Seluruh panca inderanya sudah matang sehingga segalanya bergerak secara otomatis, karena memang demikianlah kehendak dua orang sakti itu.

Sekarang, menghadapi dorongan dua tangan si kumis ke arah dadanya, secara otomatis kaki Yo Wan melangkah dengan gerak tipu Ilmu Langkah Si-cap-it Sin-po, yang dia warisi dari Pendekar Buta. Ketika tubuh si kumis yang mendorongnya itu lewat dekat tubuhnya, otomatis pula tangannya bergerak ke punggung dan pantat. Seperti sehelai layang-layang putus talinya, tubuh si kumis itu ‘melayang’ ke depan dan memeluk bangkai kuda yang tadi ditendangnya!

"Bukkk! Uh-uhhh..."

Si kumis terbanting pada bangkai kuda. Oleh karena dia tadi mencium hidung kuda yang mancung dan keras, hidungnya mengeluarkan darah dan kepalanya menjadi pening. Temannya yang berambut putih sejenak berdiri melongo. Hampir saja dia tidak dapat percaya bahwa sute-nya begitu mudah dirobohkan oleh seorang kacung kuda! Padahal dia maklum bahwa ilmu kepandaian sute-nya itu sudah tinggi, patutnya kalau dikeroyok oleh dua puluh orang kacung seperti ini saja tidak mungkin kalah. Tapi mengapa sampai hidungnya mengeluarkan kecap?

"Kau berani melawan kami?" bentaknya marah setelah sadar kembali dari keheranannya.

Sambil membentak begitu pengemis rambut putih ini menerjang maju. la memukul ke arah muka Yo Wan dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya diam-diam melakukan gerakan susulan, yaitu serangan yang sesungguhnya dan tersembunyi di balik serangan pertama yang merupakan pancingan. Maksudnya hanyalah ingin membanting roboh Yo Wan sebagai pembalasan atas kekalahan temannya tadi karena dia masih belum berani membunuh seorang bujang Hoa-san-pai.

Yo Wan tersenyum. Sesudah melatih dirinya dengan tipu-tipu yang luar biasa hebatnya secara berganti-ganti dari Sin-eng-cu dan Bhewakala, di mana kedua orang sakti itu menggunakan gerakan-gerakan yang penuh tipu muslihat, penuh pancingan dan amat tinggi tingkatnya, jurus yang dipergunakan oleh si rambut putih ini baginya merupakan gerakan main-main yang tidak ada artinya sama sekali.

Agaknya boleh dikatakan bahwa Yo Wan telah mengetahui lebih dulu sebelum pengemis itu bergerak! Dengan tenang dia miringkan kepala dan tangannya mendahului digerakkan ke depan menyambut tangan kanan kakek pengemis yang hendak membantingnya, lalu dipegangnya pergelangan tangan itu dan sekali tekan tangan itu seakan-akan menjadi lumpuh.

Pada lain saat, tubuh pengemis berambut putih ini pun sudah melayang ke depan dan... menimpa tubuh pengemis berkumis yang baru krengkang-krengkang hendak merangkak bangun. Tentu saja dia roboh lagi dan keduanya bergulingan di dekat bangkai kuda!

"Lebih baik kalian pergi dan tinggalkan seekor kuda untuk mengganti yang mati," kata Yo Wan menyesal.

Dia sama sekali tidak ingin berkelahi. Dia takut kalau-kalau hal ini akan membikin marah suhu-nya. "Bila mana kau merasa rugi, boleh kau bawa bangkai kuda itu. Aku tidak mau mencari perkara.”

Akan tetapi kedua orang pengemis itu sudah memuncak kemarahannya. Mereka adalah murid-murid yang terkenal dari ketua Sin-tung Kaipang, maka apa yang baru terjadi tadi merupakan penghinaan besar yang hanya bisa dicuci dengan darah dan nyawa! Seorang kacung kuda membuat mereka jatuh bangun macam itu. Mana mereka ada muka untuk memakai sepatu baru lagi?

"Keparat, lihat golok kami merenggut nyawamu!" bentak si kumis.

Sinar golok berkelebat ke arah leher Yo Wan, disusul bacokan golok si rambut putih ke arah pinggangnya. Memang keistimewaan para anak murid Sin-tung Kaipang ialah pada permainan golok. Ketuanya terkenal dengan ilmu tongkatnya, maka perkumpulan pengemis itu dinamakan Sin-tung (Tongkat Sakti). Akan tetapi agaknya si ketua ini tidak mau menurunkan ilmu tongkatnya kepada para murid dan anggotanya. Malah sebaliknya dia lalu menciptakan ilmu golok dari ilmu tongkat itu dan ilmu golok inilah yang dipelajari oleh semua murid dan anggota Sin-tung Kaipang.

Yo Wan menggerakkan kedua kakinya, dia memainkan langkah ajaib dan... dua orang pengemis itu seketika menjadi bingung karena pemuda itu lenyap di belakang. Pada saat mereka membalik dan menerjang kembali, pemuda itu menggerakkan kedua kaki secara aneh, lenyap lagi dan tiba-tiba belakang siku kanan mereka terkena sentilan jari tangan Yo Wan.

Seketika kaku rasanya lengan itu dan golok mereka terlepas tanpa dapat dipertahankan lagi. Sebelum mereka tahu apa yang barusan terjadi, untuk kedua kalinya tubuh mereka melayang karena kaki Yo Wan otomatis telah mengirim dua buah tendangan.

"Aku tidak mau berkelahi, lebih baik kalian pergi. Ganti saja kudaku dan perkara ini habis sampai di sini saja,” kembali Yo Wan berkata.

Akan tetapi dua orang pengemis itu menjadi begitu kaget, heran dan ketakutan sehingga tanpa berkata apa-apa lagi mereka berdua kemudian merangkak bangun dan... lari turun gunung!

Yo Wan berdiri tertegun, mengikuti mereka dengan pandang mata heran. Kemudian dia mengangkat pundak, lalu memegang kendali dua ekor kuda mereka itu. Kini ada empat ekor kuda di tangannya. Kuda-kuda itu dia cancang pada sebatang pohon dan dia segera menggali lubang di pinggir jalan untuk mengubur bangkai kuda tadi. Setelah selesai, Yo Wan menuntun empat ekor kuda, melanjutkan perjalanannya mendaki puncak. Kiranya jalan yang sengaja dibangun menuju puncak itu berliku-liku mengelilingi puncak. Memang, satu-satunya cara untuk membuat jalan yang dapat dilalui kuda dan manusia biasa, hanya membuatnya berliku-liku seperti itu sehingga jalan tanjakannya tidak terlalu sukar dilalui.

Dengan mempergunakan ilmu lari cepat, tentu saja dapat mendaki dengan melalui jalan yang lurus dan dapat cepat sampai di puncak. Akan tetapi melalui jalan buatan ini, apa lagi sambil menuntun empat ekor kuda yang kadang-kadang rewel dan mogok di jalan, benar-benar memakan waktu setengah hari lebih. Menjelang senja barulah Yo Wan tiba di pintu gerbang tembok yang mengelilingi Hoa-san-pai yang berupa kelompok bangunan besar di puncak.

Seorang tosu yang menjaga pintu gerbang menyambut Yo Wan dengan pertanyaan, "Apakah kau tukang kuda baru?"

Yo Wan mengangguk. "Aku harus membawa kuda-kuda ini ke kandang. Dapatkah kau menunjukkan di mana adanya kandang kuda?"

Tosu itu kelihatan kurang senang mendengar kata-kata Yo Wan yang sederhana tanpa penghormatan sama sekali itu. Betul-betul seorang anak muda dusun yang amat bodoh, pikirnya.

"Kandang kuda berada di luar tembok sebelah barat. Kau kelilingi saja tembok ini terus ke barat, nanti akan sampai di sana," jawabnya lalu duduk kembali, sama sekali tidak mengacuhkan Yo Wan yang berpeluh dan amat lapar itu.

Yo Wan memandang ke arah barat. Benar saja, di dekat tembok sebelah sana kelihatan kandang kuda, terbuat dari papan dan kayu sederhana. Tanpa mengucap terima kasih karena dianggapnya tanya jawab itu sudah semestinya, dia pun pergi dari situ, menuntun empat ekor kudanya. Tosu yang menyambutnya di kandang kuda lebih peramah. Tosu ini bertubuh gemuk pendek, mukanya bundar dan matanya seperti dua buah kelereng.

"Ha-ha-ha, ada tukang kuda baru!” serunya. "Orang muda, mana kuda tunggangan Swan Bu yang berbulu hitam? Dan ini ada empat ekor, ehh, bagaimana ini, Bong-suheng tadi bilang bahwa kau membawa kuda mereka bertiga, kenapa sekarang ada empat ekor?" Kuda siapa yang dua ekor ini dan mana kuda Swan Bu?"

"Lopek, kuda yang hitam itu sudah kukubur di pinggir jalan sana," berkata Yo Wan sambil menyusut peluh dengan ujung lengan baju.

la merasa lelah dan lapar sekali, juga amat haus. Semenjak kemarin ia tidak makan, dan tadi ia tidak berani berhenti untuk mencari buah atau air. Kini ia pun masih menghadapi urusan kuda dan tentu akan mendapat marah lagi.

Tosu gendut itu melongo, sepasang matanya semakin bundar, memandangnya dengan bingung dan heran. "Kau kubur? Bagaimana ini? Maksudmu, kau pendam kuda itu?"

Yo Wan mengangguk, "Benar, karena dia mati." la berhenti sebentar kemudian berkata, "Lopek, aku lapar dan haus, apa kau bisa menolong aku?"

Tosu itu mengangguk-angguk, masih kebingungan. "Ah, tentu... tentu... tunggu sebentar. Aneh, bagaimana kuda bisa mati dan dikubur? Aneh..." Namun dia berjalan memasuki kandang kuda sambil mengomel panjang pendek, dan pada waktu keluar lagi membawa bungkusan makanan dan sekaleng air minum.

Tanpa banyak sungkan lagi Yo Wan menerima kaleng air dan minum dengan lahapnya. Tosu itu memandangnya penuh kasihan dan tidak mengganggunya ketika Yo Wan mulai makan. Berbeda dengan ketika minum tadi, kini Yo Wan makan dengan lambat-lambat dan tenang. Melihat tosu itu memandangnya, Yo Wan bercerita sambil makan.

"Kuda hitam dibunuh orang, Lopek. Untungnya mereka berdua itu lari meninggalkan dua ekor kuda mereka ini, lalu kubawa ke sini dan bangkai kuda hitam itu kukubur di pinggir jalan."

Tosu itu mendengarkan dengan melongo. "Kuda itu dibunuh orang? Siapa mereka yang begitu berani main gila di Hoa san?

"Mereka mengaku utusan-utusan dari Sin-tung Kaipang. Tadinya mereka tidak mau ganti, aku tetap tidak mau terima. Akhirnya mereka mengalah dan lari pergi, meninggalkan dua ekor kuda ini."

Tosu itu melebarkan matanya. "Sin-tung Kaipang? Dan mereka mengalah? Hemmm, kau masih untung, orang muda. Mereka itu jahat. Kalau mereka tidak memandang kebesaran Hoa-san-pai, kiranya bukan hanya kuda itu yang mereka bunuh dan saat ini kau takkan dapat makan minum lagi."

Yo Wan diam saja, pikirannya melayang ke arah Swan Bu. Jangan-jangan anak itu akan menjadi marah sekali karena kuda kesayangannya dibunuh orang dan akan membuat gara-gara dengan pembunuh kuda.

"Lopek, tadi aku sudah melihat anak yang bernama Swan Bu itu. Dia tampan dan pandai main panah. Siapakah dia? Apakah putera Ketua Hoa-san-pai?"

Tosu itu menggeleng kepala. "Kau orang baru, agaknya bukan orang sekitar Hoa-san. Memang Swan Bu tampan dan gagah. Ahhh, kasihan dia, tentu akan sedih dan marah kalau mendengar kudanya dibunuh orang... hemmm, aku tidak akan tega menyampaikan berita ini kepadanya, …anak malang..."

Hemmm, benar-benar orang Hoa-san-pai amat memanjakan anak itu.

“Lopek, kalau dia bukan putera Ketua Hoa-san-pai, apakah dia itu anak raja yang sedang bermain-main di sini?"

Tosu itu memandangnya dengan mata terbelalak. "Putera raja? Ha-ha-ha, sama sekali bukan, akan tetapi memang dia patut menjadi putera raja! Dia itu adalah cucu tunggal dari Kwa-lo-sukong, jadi masih terhitung keponakan dari ketua kami yang sekarang.”

Berdebar jantung Yo Wan. Cucu guru besar she Kwa? Suhu-nya juga she Kwa!

“Lopek, dia itu anak siapakah? Aku belum mengenal orang-orang di sini, keteranganmu tadi sama sekali tidak jelas.”

Tosu itu kini tertawa dan mengangkat jempol tangan kanannya ke atas.

"Dia keturunan orang-orang gagah, karena itu dia harus menjadi seorang calon tokoh Hoa-san-pai yang nomor satu. Ayahnya adalah tokoh sakti yang terkenal dengan julukan Pendekar Buta, ibunya juga mempunyai kepandaian setinggi langlt. Ada pun kakeknya adalah Hoa-san It-kiam Kwa Tin Siong, bekas ketua Hoa-san-pai, pamannya adalah Kui Sanjin (Orang Gunung she Kui) yang sekarang menjadi ketua kami. Paman-paman gurunya adalah orang-orang sakti yang bersama-sama menggemblengnya, bukankah dia kelak akan menjadi jago nomor satu di dunia persilatan?"

Tosu gendut itu nampak bangga sekali sehingga tidak tahu betapa wajah kacung kuda ini menjadi pucat. Kiranya Swan Bu yang pagi tadi memakinya dan hendak memanahnya kalau dia lari, adalah putera suhunya! Pantas saja demikian gagah dan tampan. Ahhh, aku kurang hati-hati, pikirnya. Dia anak suhu, dan diam-diam dia merasa bangga juga. Akan tetapi dia kecewa sekali teringat bahwa kuda anak itu telah terbunuh.

"Malam sudah tiba... ehh, siapa namamu tadi?"

"A Wan, Lopek."

"A Wan, kau jaga baik-baik kuda di kandang ini. Rumput masih cukup di sudut kandang sana, kau beri makan mereka dulu, lalu kau boleh tidur. Kau bikin sendiri tempat tidurmu, banyak rumput kering di kandang kosong sebelah kiri. Beberapa malam ini pinto (aku) juga tidur di sana, lebih enak dari pada tidur di ranjang. Kalau perlu mandi, tuh di bawah pohon besar itu ada sumber air. Besok saja pinto ajak kau ke dalam, bertemu dengan para pemimpin. Malam ini kau mengaso saja."

"Baik, terima kasih, Lopek." Yo Wan berterima kasih sekali sekarang karena memang dia membutuhkan istirahat untuk memutar otak.

Bermacam perasaan teraduk di dalam hatinya. Jadi suhu-nya sudah mempunyai putera yang demikian tampan dan gagahnya. Putera itu dididik di Hoa-san-pai. Mungkin saking senangnya mendapatkan putera ini, suhu dan subo-nya sampai lupa kepadanya. Besok dia harus menghadap suhu dan subo-nya.

Tentu saja dia bisa bekerja di situ, menjadi tukang kuda atau apa saja. Akan tetapi... dia ragu-ragu apakah dia akan suka tinggal di sini selamanya. Apakah suhu-nya masih mau menurunkan ilmu silat sesudah mempunyai putera yang amat disayang? Bukankah tosu gendut tadi menyatakan bahwa cita-cita mereka semua adalah membuat Swan Bu agar menjadi jago nomor satu di dunia?

Mungkin suhu dan subo-nya mau mengajarnya, dia cukup mengenal watak mereka yang budiman. Akan tetapi apakah para orang tua di Hoa-san-pai akan suka menerimanya?

Pusing pikiran Yo Wan. Betapa pun juga, besok aku akan menghadap suhu dan lihat saja bagaimana perkembangannya. Kalau tidak mungkin tinggal di situ, pikirnya, dia akan bertanya pada suhu-nya tentang musuh besarnya, The Sun. Akan dicari dan dilawannya dengan apa yang dia miliki sekarang. Berpikir sampai di sini dia teringat akan pertempuran tadi dan diam-diam dia menjadi girang. Tadinya dia menganggap bahwa dua orang itu hanyalah dua manusia sombong yang tidak becus apa-apa, orang-orang lemah yang hanya bisa mengandalkan aksi dan mungkin kedudukan, yang sama sekali tidak mempunyai kepandaian silat yang berarti. Apakah tosu gendut tadi yang melebih-lebihkan?

Tidak mungkin dua orang yang begitu lemah bisa merajalela berbuat kejahatan. Orang dengan kepandaian serendah itu mana bisa mengganggu orang lain? Sampai dia tertidur pulas di atas rumput kering yang nyaman ditiduri, Yo Wan masih belum dapat menjawab pertanyaannya sendiri itu.

Memang, pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa bukan dua orang itu yang terlalu lemah, melainkan dia sendirilah yang terlalu tinggi tingkat ilmunya bagi dua orang tadi. la sama sekali tak menyadari bahwa dalam dirinya telah terkandung ilmu silat tingkat tinggi yang sudah mendarah daging dengan dirinya. la menganggap dirinya belum pandai silat, sama sekali tidak sadar bahwa setiap gerakannya mengandung inti sari ilmu silat tinggi yang diwariskan oleh Sin-eng-cu dan Bhewakala!

Tentu saja Yo Wan yang sederhana jalan pikirannya ini tidak merasa pandai ilmu silat. Baginya, ketika selama tiga tahun dia memainkan jurus-jurus sakti, sama sekali bukanlah ‘belajar’, melainkan hanya menjadi perantara kedua orang sakti mengadu ilmu.

Tiba-tiba Yo Wan bangkit dari rumput kering. Telinganya mendengar kuda meringkik dan menyepak-nyepak. Jika saja dia tidak ingat bahwa dia sedang menjadi tukang kuda dan kewajibannya menjaga kuda, tentu dia akan tidur lagi. la terlalu lelah. Dengan malas dia bangun dan keluar dari kandang kosong yang menjadi kamar tidurnya, menghampiri kandang kuda. Tidak ada sesuatu. Malam gelap dan kuda-kuda itu masih berada di kandang.

"Ahh, kiranya benar hanya tukang kuda...," terdengar suara lirih, dari atas.

Yo Wan terkejut. Kiranya ada orang di atas kandang kuda. Mendadak dia mendengar sambaran halus dari belakang. Cepat dia miringkan tubuhnya dan…

"Takkk!"

Sebuah benda kecil menyambar lewat, menghantam tiang kandang dan mengeluarkan sinar. Di lain saat, tiang itu dan rumput kering di bawah yang terkena pecahan benda itu sudah terbakar. Yo Wan kaget bukan main. Cepat dia menggunakan rumput basah untuk memadamkan api. Dengan penuh amarah dia menggerakkan tubuh melompat ke atas kandang. Akan tetapi sunyi di situ, tidak ada bayangan orang.

Dia menduga bahwa orang yang menyambitnya tadi tentu sudah melarikan diri. Kembaii dia memasuki kandang kosong, akan tetapi kali ini dia tidak dapat tidur pulas. Agaknya yang datang itu adalah dua orang Sin-tung Kaipang tadi, atau bisa jadi teman-temannya. Mereka datang menyerangnya dengan benda yang dapat membakar tiang dan rumput, ataukah memang sengaja hendak membakar kandang? Namun mendengar ucapan lirih tadi, agaknya mereka ingin pula melihat apakah dia benar-benar seorang tukang kuda. Benar-benar aneh. Apa artinya ini semua?

Pada keesokannya, pagi-pagi sekali serombongan orang yang semua berpakaian penuh tambalan mendaki puncak Hoa-san. Yang berjalan paling depan adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya kurus kering seperti tinggal tulang terbungkus kulit saja tanpa daging sedikit pun, namun tubuh itu masih tegak berdiri kaku seperti prajurit bersikap di depan komandannya.

la memegang sebatang tongkat yang aneh. Tongkat ini entah terbuat dari bahan apa, tidak dapat dikenal begitu saja, tapi warnanya aneka macam, belang-bonteng ada warna hijau, merah, kuning, hitam dan putih. Lebih hebat lagi sepatunya, karena sepatu ini pun terbuat dari kulit mengkilap yang warnanya juga macam-macam. Dilihat begitu saja dia lebih pantas menjadi seorang pemain lawak di atas panggung wayang.

Akan tetapi, jangan dikira bahwa dia itu orang gila atau seorang biasa saja, karena kakek ini adalah Sin-tung Kaipangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Tongkat Sakti) yang amat terkenal sebagai raja pengemis. Permainan tongkatnya hebat dan ditakuti orang. Memang ketua pengemis ini pandai sekali main tongkat. Dia menerima kepandaian ini dari dua orang hwesio pelarian dari Siauw-lim-si yang terkenal dengan julukan Hek-tung Hwesio dan Pek-tung Hwesio, Si Hwesio Tongkat Hitam dan Hwesio Tongkat Putih.

Di kanan kirinya berjalan dua orang pengemis tua yang berusia lima puluh lebih. Salah seorang membawa sebatang pedang tergantung pada pinggang, yang kedua memegang sebatang toya panjang. Kedua orang pengemis ini memakai sepatu yang berwarna, akan tetapi warnanya tak sebanyak pada sepatu pangcu itu. Ini menjadi tanda bahwa mereka itu masih setingkat lebih rendah dari pada pangcu mereka. Mereka adalah kedua orang pembantu ketua itu, dan merupakan orang kedua dan ketiga dalam Sin-tung Kaipang.

Di belakang tiga orang tokoh Sin-tung Kaipang ini, nampak berbaris murid-murid mereka bertiga yang jumlahnya lima belas orang, di antara mereka ini tampak dua orang yang kemarin ribut-ribut dengan Yo Wan. Melihat mereka mendaki puncak dengan kecepatan luar biasa dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi. Memang sesungguhnya, delapan belas orang pengemis yang mendaki puncak Hoa-san dengan muka marah ini merupakan orang-orang terpenting dalam Sin-tung Kaipang!

Para tosu yang bekerja di luar dan menjaga pintu segera mengenal mereka. Dengan tergesa-gesa para tosu yang melihat datangnya rombongan ini menyampaikan laporan ke dalam. Kaget dan heran juga Kui Sanjin, ketua Hoa-san-pai ketika mendengar laporan ini. Cepat dia keluar menyambut dan berturut-turut keluar pula isterinya, suheng-nya yaitu Thian Beng Tosu. Bahkan Kwa Kun Hong bersama isterinya, Kwee Hui Kauw, dan puteranya, Kwa Swan Bu, juga keluar untuk melihat apa kehendak rombongan pengemis itu.

Ketua Hoa-san-pai, Kui Sanjin, diam-diam merasa tidak enak perasaannya. Memang ada sesuatu di antara Hoa-san-pai dan Sin-tung Kaipang yang menjadi ganjalan hati. Dimulai dengan bentrokan kecil antara salah seorang anak murid Hoa-san-pai yang pergi ke kota dengan seorang anggota Sin-tung Kaipang. Seorang pengemis yang sombong dan memandang rendah Hoa-san-pai sudah bentrok dengan seorang anggota Hoa-san-pai yang berwatak keras. Si pengemis dipukul roboh, datang banyak pengemis yang mengeroyok sehingga anak murid Hoa-san-pai itu terluka dan lari.

Akan tetapi urusan ini sudah diselesaikan oleh suheng-nya, Thian Beng Tosu sehingga tidak menjalar lagi menjadi permusuhan antara kedua pihak. Betapa pun juga, diam-diam kedua pihak menaruh ganjalan hati. Kini ketua Sin-tung Kaipang beserta rombongannya pagi-pagi mendaki puncak Hoa-san, ada keperluan apakah? Karena mendengar bahwa yang memimpin rombongan adalah ketuanya sendiri, maka Kui Sanjin sendiri menyambut ke luar, khawatir kalau anak murid yang menyambut, akan terjadi bentrokan yang lebih besar. Sengaja dia menyambut di luar tembok, sesuai dengan keadaan tamu yang bukan merupakan sahabat.

Ketika melihat rombongan tuan rumah ke luar dari pintu gerbang, Sin-tung Kaipangcu memberi tanda kepada rombongannya untuk berhenti. la melihat dua orang kakek yang berpakaian pendeta, seorang wanita tua yang masih cantik, seorang laki-laki muda yang buta di samping seorang wanita jelita, dan juga seorang anak laki-laki yang tampan dan membawa gendewa. Di belakang rombongan ini tampak pula beberapa orang tosu yang mengikuti dari jauh, agaknya bukan anggota-anggota rombongan penyambut.

Ketua pengemis yang sebutannya Sin-tung Lo-kai (Pengemis Tua Tongkat Sakti) berdiri memandang dengan sikap galak dan angkuh. la sama sekali tak gentar biar pun dengan sudut matanya dia lihat betapa puluhan orang tosu kelihatan keluar pula seperti rayap. Malah dia hanya berdiri tegak saja, sama sekali tidak menghormat tuan rumah sebagai mana layaknya seorang tamu...


BERSAMBUNG KE JAKA LOLA JILID 03


Thanks for reading Jaka Lola Jilid 02 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »