Social Items

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 05

SEETELAH merencanakan siasat yang hendak mereka lakukan terhadap Narotama, dua orang perawan Bukit JungKringslaka yang cantik jelita itu lalu masuk kamar dan tidur. Ki Nagakumala sendiri duduk bersila di dalam pondok, memusatkan tenaganya agar besok dapat siap menghadapi segala kemungkinan.

Pada keesokan harinya, Narotama mendaki Bukit Junggringslaka. Seperti biasa, orang muda perkasa ini selalu dalam keadaan waspada. Sikap "eling lan waspada" (sadar dan waspada) ini merupakan sikap yang tidak pernah meninggalkan dirinya lahir batin setiap saat.

Sadar dan waspada saat demi saat. Sadar akan keberadaan dirinya, sadar akan Kekuasaan Maha Tinggi yang menguasai dan mengatur segala sesuatu yang tampak dan tidak tampak, termasuk diri pribadinya lahir batin, sadar dan ingat selalu bahwa dirinya merupakan ciptaan dan alat Sang Hyang Widhi Wasa (Gusti Allah), bahwa Kekuasaan Maha Tinggi itu merupakan awal akhir, merupakan sangkan paraning dumadi (awal dan akhir semua keberadaan).

Di samping kesadaran rohani ini, juga selalu ada kewaspadaan dalam dirinya melalui panca-inderanya, pengamatan yang selalu baru akan segala yang berada di dalam dan di luar dirinya. Dengan demikian, maka segala gerak hati akal pikiran dan kelakuan dibimbing oleh Sang Dewa Ruci (Roh Suci) sehingga yang berada dalam hati sanubari hanyalah upaya untuk "memayu hayuning bawana" (menjaga keindahan alam).

Dalam bimbingan Sang Dewa Ruci, si aku, yang bukan lain hanya nafsu-nafsu daya rendah yang saling berlumba untuk menguasai diri manusia lalu mengaku-aku sebagai "aku", menjadi lenyap atau setidaknya melemah sehingga hati menjadi sabar dan tenang, tidak mudah terbakar emosi yang bukan lain hanyalah gejolak nafsu daya rendah.


Narotama melangkah perlahan-lahan dan santai mendaki bukit. Matahari pagi mulai mengusir halimun yang semalam memeluk bumi, meninggalkan butir-butir mutiara embun bergantung di ujung-ujung daun dan merupakan butir-butir air mata kelopak-kelopak bunga. Air mata tangis bahagia, sama sekali tidak tersentuh duka walau pada bunga yang sudah layu sekalipun.

Semua itu seperti digelar di depan Narotama, tampak semuanya, dan yang ada hanya satu kesan, yaitu indah dan bahagia! Terasa benar oleh Narotama semua itu merupakan hasil karya Seniman Maha Besar, merupakan ciptaan agung yang tiada taranya. Namun, biarpun semua itu merupakan berkah Sang Hyang Widhi Wasa, berkah yang paling besar berada dalam dirinya sendiri. Apa yang membuat kesemuanya itu tampak indah?

Karena ada penglihatan di matanya! Kalau Sang Hyang Widhi Wasa tidak memberi berkah penglihatan pada kedua matanya, semua keindahan yang terbentang di jagad raya ini takkan ada arti baginya. Juga semua keindahan bunyi, kemerduan kicau burung, kokok ayam, dengus kerbau dan embik kambing nun jauh di bawah bukit, takkan ada artinya kalau dia tidak diberkahi dengan pendengaran pada telinganya!

Mata Narotama yang memandang tanpa ditunggangi nafsu daya rendah, dapat melihat dengan hati akal pikiran yang jernih tanpa penilaian, tanpa pendapat, tanpa keinginan sehingga tidak ada pertentangan dengan keadaan seperti apa adanya. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi bagus atau jelek, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Yang ada hanya indah sempurna, wajar dan pas, karena yang ada hanyalah terjadinya Kehendak Sang Hyang Widhi. Kehendak si aku, yaitu nafsu daya rendah, sama sekali tidak bekerja.

Sedikit gerakan di antara rumput hijau gemuk itu cukup membuat Narotama yang selalu waspada menyadari bahwa ada sesuatu terjadi di situ. Dia cepat menoleh dan mengamati. Kiranya seekor ular dumung sedang bergerak perlahan sekali, menyusup di antara rumput menghampiri seekor kelinci putih yang sedang makan daun. Narotama melihat betapa indahnya kulit ular itu tertimpa matahari pagi yang bersinar lembut. Tidak akan ada tangan seorang seniman lukis dapat membuat coretan garis-garis seperti yang tergambar pada kulit ular itu!

Setelah jarak antara ular dan kelinci itu tinggal kurang lebih dua kaki lagi,ular itu mengangkat kepalanya ke atas, gerakannya perlahan sekali sehingga kelinci itupun tidak mendengar atau melihatnya. Kemudian, bagaikan kilat menyambar, kepala ular itu meluncur ke depan, moncong yang terbuka lebar itu,menyambar dan tengkuk kelinci putih itu sudah digigitnya. Darah merah menodai bulu kelinci yang putih. Kelinci itu menjerit lirih dan meronta, namun suara jeritan dan tubuhnya segera tak terdengar dan tak tampak lagi dibelit tubuh ular. Belitan kuat yang meremukkan tulang-tulang kelinci itu.

Narotama tersenyum. Teringat dia ketika baru saja berguru di Pulau Bali dan melihat peristiwa seperti ini, seekor ular yang menggigit lalu mencaplok seekor katak, hatinya dipenuhi perasaan marah dan kengerian. Timbul keinginan hatinya untuk membela katak dan memusuhi ular yang dianggapnya kejam dari ganas. Masih terngiang dalam ingatannya apa yang dikatakan gurunya ketika itu. Gurunya tertawa melihat dia marah dan penasaran.

"Narotama, yang baru saja engkau saksikan itu sama sekali bukan merupakan keganasan dan kekejaman seekor ular, melainkan terjadinya hukum atas segala mahluk seperti yang sudah dikodratkan oleh Sang Hyang Widhi yang menciptakan segala alam maya pada berikut seluruh isinya. Binatang itu hidup menurutkan naluri dan pembawaannya. Ular makan binatang kecil lain, hal itu adalah merupakan hukum yang berlaku atas dirinya, tak mungkin diubah lagi oleh siapapun juga kecuali kalau Sang Hyang Widhi menghendaki. Ular itu sudah menjadi kodratnya tidak bisa makan daun atau akar. Makannya ya binatang kecil itulah. Kalau engkau menghalangi dia makan katak dan sebagainya, yaitu binatang kecil, dia akan mati kelaparan. Demikian pula engkau tidak dapat memaksa seekor kerbau makan ular atau binatang lain. Makannya, menurut kodratnya, adalah daun-daun atau rerumputan. Apakah engkau hendak menentang kodrat yang ditentukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa?"

Kini, melihat seekor ular mencaplok seekor kelinci, tidak ada lagi perasaan penasaran dalam hati Narotama, bahkan dia melihat betapa tertib, sempurna, dan indahnya semua hokum alam sesuai dengan Kehendak Hyang Widhi berlangsung dan berjalan tanpa diikat dan dikuasai ruang dan waktu. Semua Kehendak Hyang Widhi Wasa sudah baik, benar, adil dan suci. Terjadilah segala kehendakNya. Salahnya, manusia menilai atas dasar kehendak masing-masing yang bukan lagi adalah ulah nafsu daya rendah. Oleh karena itu muncullah konflik-konflik dalam diri sendiri yang mencuat menjadi konflik antar manusia, bahkan konflik antara kehendak manusia yang dibandingkan dengan Kehendak Hyang Widhi.

Jadilah kehendakmu, demikian seharusnya seorang bijaksana berserah diri kepadaNya. Jangan sekali-sekali menambah kalimat suci dari dua kata itu menjadi Jadilah kehendakMu sesuai dengan keinginanku! karena kalau demikian kita akan bertemu dengan konflik batin yang berkepanjangan.

Ketika Narotama tiba di depan pondok tempat tinggal Ki Nagakumala, dia melihat Ki Nagakumala sudah menanti diatas dipan depan pondok bersama dua orang wanita muda yang dia duga pasti dua orang gadis yang dipinang oleh Sang Prabu Erlangga.

"Selamat pagi, Paman Nagakumala dan nimas berdua!" kata Narotama dengan ramahnya.

Di dalam hatinya Narotama terpesona juga melihat dua orang dara itu. Memang sukarlah mencari dua orang dara yang demikian cantik jelita, ayu manis, luwes kuwes merak ati seperti mereka yang duduk di atas bangku sebelah kiri Ki Nagakumala dengan pandang mata mereka yang demikian indah sambil tersenyum simpul.

Bibir manis merah basah itu merekah seperti bunga mawar sedang mekar di pagi hari bermandi embun pagi yang segar. Akan tetapi, dasar seorang ksatria yang kokoh kuat batinnya, pada pandang matanya, Narotama tidak menunjukkan kekagumannya dan hanya memandang biasa dengan tenang dan penuh sopan santun.

"Selamat pagi, Kipatih Narotama dan silakan duduk." Ki Nagakumala menunjuk ke arah sebuah bangku yang sudah disediakan untuk tamunya, berhadapan dengan mereka bertiga.

Narotama memandang ke arah bangku yang ditawarkan. Sekilas pandang saja tahulah dia bahwa bangku kayu itu sudah dirajah (diisi dengan aji). Agaknya kembali Ki Nagakumala hendak mengujinya. Dia pura-pura tidak tahu dan duduk di atas bangku yang ditawarkan. Tentu saja diam-diam dia mengerahkan aji kesaktiannya untuk melindungi diri terhadap serangan rajah yang sudah dipasang pada bangku itu.

Tiga orang itu, terutama Lasmini dan Mandari, memandang dengan hati tegang. Mereka tahu bahwa barang siapa menduduki bangku yang sudah dirajah dengan Rajah Banaspati itu tentu akan terbakar Narotama duduk dan...."cesssssss ....." tampak asap mengepul tebal dari bangku yang diduduki Narotama. Narotama bangkit berdiri dengan tenang dan bangku itupun hancur menjadi arang setelah baru saja dibakar api yang besar, padahal pakaian Narotama sedikitpun tidak ada yang terbakar, apalagi kulit tubuhnya.

"Maaf, Paman Nagakumala. Bangku ini rusak." Kata Narotama dan dia mengambil sebuah bangku lain dan duduk berhadapan dengan tiga orang itu.

"Ha-ha-ha-ha! Bagus, Anakmas Narotama! Tidak percuma andika menjadi maha patih di Kahuripan. Kami menerima andika sebagai utusan Sang Prabu Erlangga dengan penuh penghormatan."

"Terima kasih, Paman Nagakumala, atas kebijaksanaan andika."

"Perkenalkan, anakmas. Ini adalah keponakanku, juga murid-muridku. Ini adalah Nini Lasmini dan yang lebih muda Nini Mandari. Mereka adalah kakak beradik, puteri-puteri adikku Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman. Nini berdua, inilah Rakyana Patih Narotama dari Mataram."

Dua orang gadis itu memberi hormat dengan sembah di depan hidung mereka. Narotama membalas dengan sembah di depan dada.

"Paman Nagakumala, bagaimana jawaban paman atas pinangan yang saya ajukan kemarin? Apakah sudah ada keputusan jawabannya?"

"Ha-ha-ha! Sudah kami rundingkan dengan dua orang anak yang bersangkutan, anakmas. Sebaiknya kalau anakmas mendengar sendiri apa yang menjadi jawaban mereka. Nini Lasmini, engkau sudah mendengar sendiri pertanyaan Ki patih Narotama dan aku sudah menceritakan kepada kalian berdua tentang pinangan yang diajukan Kipatih atas nama Sang Prabu Erlangga. Nah, sekarang, engkau jawablah sendiri saja pertanyaan itu dan terserah kepadamu sendiri apakah engkau dapat menerima pinangan itu ataukah tidak."

Lasmini menatap tajam wajah Narotama dan pada sinar matanya terbayang kekaguman kepada pria perkasa itu. Pria yang masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap dan jelas berisi tenaga yang amat kokoh kuat walaupun sikapnya sederhana. Wajahnya tampan dan penuh wibawa. Tidak mengenakan pakaian kebesaran seperti seorang bangsawan tinggi, melainkan seperti seorang muda dari pulau Bali. Kepalanya terbungkus kain pala yang ujungnya meruncing di bagian belakang. Mata yang tajam seperti mata elang itu memandang dengan lurus dan wajar, sama sekali tidak membayangkan perasaan hatinya, namun bibir yang tersenyum itu membayangkan kesabaran dan penuh pengertian. Wajah seorang laki-laki, seorang jantan dan begitu bertemu pandang, Lasmini segera jatuh hati. la merasa tertarik sekali dan ada kemesraan menyentuh hati sanubarinya. Kalau laki-laki ini benar memiliki kedigdayaan seperti yang pernah didengarnya, maka inilah calon suami yang di nanti-nantinya dan ia segera merasa cocok dan setuju dengan siasat yang telah direncanakan semalam bersama Mandari dan Ki Nagakumala.

Mendengar ucapan uwanya itu, Lasmini tersenyum, menjaga agar senyum itu keluar dengan wajar tidak dibuat-buat dan tampak semanis-manisnya. Memang manis bukan main ketika ia tersenyum itu. Bahkan tahi lalat hitam kecil di sudut mulut bagian kiri itu seolah menari.

"Karena andika ternyata masih amat muda, Kipatih, bolehkah saya menyebut andika Kakangmas Narotama saja?" katanya dengan lembut dan sikap sopan, agak malu-malu.

Narotama tersenyum. Wajah Lasmini begitu menarik dan mempesona hatinya, namun dia ingat bahwa dia dalam tugas dan wanita ini bersama adiknya dipinang oleh Sang Prabu Erlangga, hendak dijadikan selir dan dia hanyalah seorang utusan sehingga sama sekali tidak boleh perasaannya ikut berulah.

"Tentu saja, Nimas Lasmini. Tentu andika boleh menyebutku Kakangmas Narotama saja. Sesungguhnya saya pun tidak ingin membanggakan kedudukanku sebagai patih dan saya sekarang ini hanya bertindak sebagai seorang utusan."

"Baiklah kalau begitu, kakangmas. Sekarang, apakah kakangmas menghendaki jawaban atas pinangan itu langsung dari mulut saya?"

"Sebaiknya begitulah. Saya hanya utusan dan apapun yang menjadi jawaban andika sekalian atas pinangan itu, saya hanya akan melaporkannya kepada Gusti Sinuwun."

"Terus terang saja aku dan adikku mandari sudah saling berembuk dalam hal ini dan sudah mengambil keputusan. Andika tadi sudah mendengar bahwa kami adalah puteri-puteri Kanjeng Ibu Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman, dan ayah kami adalah Sang Bhagawan Kundolomuko yang kini menjadi pertapa di pantai Blambangan. Nah, setelah mengetahui akan hal itu, bahwa ayah ibu kami adalah musuh-musuh Mataram, apakah andika masih hendak melanjutkan pinangan itu, kakangmas?"

"Kanjeng Gusti Sinuwun tahu benar akan hal itu, nimas. justru karena selama ini Kerajaan Parang Siluman memusuhi Mataram, maka beliau mempunyai keinginan untuk mengulurkan tangan persahabatan, bahkan kekeluargaan dengan Kerajaan Parang Siluman. Maka, mendengar bahwa Kerajaan Parang Siluman mempunyai dua orang puteri yang bijaksana, sakti dan cantik jelita, lalu timbul keinginan Gusti Sinuwun untuk meminang andika berdua."

Lasmini tersenyum lagi dan mengangguk-angguk. "Hal itupun sudah kami dengar dari keterangan Uwa Nagakumala. Akan tetapi semenjak kami remaja, kami berdua sudah menentukan syarat bagi pria yang hendak mempersunting kami sebagai isteri. Pertama... dia harus seorang ksatria yang berkedudukan tinggi."

"Gusti Sinuwun Erlangga adalah seorang ksatria besar dengan kedudukan sebagai raja!" kata Narotama.

"Syarat yang ke dua, dia harus seorang pria muda yang tampan dan bijaksana."

"Itu syarat yang sudah terpenuhi, nimas. Siapa yang tidak mengenal bahwa Sang Prabu Erlangga adalah seorang pria muda yang tampan dan gagah, berbudi bawa laksana, sugih bandha bandhu lagi bijaksana?"

"Dan syarat ke tiga yang penting kali bagi kami, pria itu harus sakti mandraguna dan dapat mengalahkan kami dalam pertandingan adu kesaktian!"

"Sang Prabu Erlangga adalah seorang raja yang sakti mandraguna pilih tanding, lebih digdaya dibandingkan aku. Akan tetapi beliau tidak berada di sini untuk membuktikan kesaktiannya. Aku adalah utusannya yang berkuasa penuh, bertanggung jawab dan berhak mewakili beliau menghadapi segala rintangan dan tantangan. Oleh karena itu, syarat ketiga itu dapat dipenuhi dan aku yang menjadi wakilnya."

"Kalau begitu, andika yang akan mewakili Sang Prabu Erlangga menandingiku, kakangmas?" tanya Lasmini dan matanya memandang begitu indahnya, setengah tertutup sehingga bulu mata yang lentik panjang itu hampir saling merapat.

"Kalau memang itu merupakan sayembara bagimu, akan kuhadapi, nimas!"

Lasmini tersenyum menoleh kepada Ki Nagakumala. "Uwa, aku akan menerimanya di mana lagi kalau tidak di sini? Pelataran pondok kami ini cukup luas untuk dijadikan tempat bertanding kesaktian. Mari, Kakangmas Narotama, mari saling menguji kesaktian masing-masing. Sudah lama aku mendengar akan kehebatan Kipatih Narotama dan ingin sekali aku merasakan sendiri sampai berapa hebat dan ampuh kepandaiannya!”

Setelah berkata demikian, Lasmini melompat ke depan. Sekali lompat ia sudah melayang ke pelataran yang terbuka, tidak kurang dari lima tombak jauhnya, bagaikan seekor burung srikatan saja gesitnya, la berdiri tegak seperti srikandi, pendekar wanita digdaya dalam cerita Mahabharata itu.

Narotama bangkit berdiri, membungkuk kepada Ki Nagakumala seolah minta perkenan tuan rumah itu. Kakek itu tersenyum dan mempersilakan dengan gerakan tangannya. Narotama lalu melangkah menghampiri Lasmini yang telah berdiri menanti sambil bertolak pinggang.

Mereka saling berhadapan, saling mengamati seperti lagak dua ekor ayam yang hendak bertarung. Lasmini mengamati wajah dan tubuh Narotama penuh perhatian. Pria itu memang tampan dan gagah sekali walaupun sikapnya lembut bersahaja. Tubuhnya yang tinggi tegap Itu menunduk seolah memperlihatkan kerendahan hatinya, namun kepalanya tegak penuh wibawa dan keagungan. Pancaran pandang matanya penuh pengertian dan penuh kekuatan batin, pandang mata yang begitu dalam dan tenang seperti permukaan air telaga yang dalam.

Namun di balik semua kekuatan tersembunyi Itu, terbayang kelembutan seorang ksatria yang selalu merasa rendah dan tunduk akan kekuasan Yang Maha Tinggi. Biarpun pakaiannya juga tidak terlalu mewah, namun dalam kesederhanaan itu terbayang keagungan seorang priyayi yang berkedudukan tinggi. Sebatang keris berwarangka kayu terukir terselip di ikat pinggangnya. Itulah keris pusaka Kolomisani, sebatang keris kecil berbentuk lurus.

Di lain pihak, Narotama juga mengamati calon lawannya dan kembali hatinya tergetar dan terguncang oleh daya tarik yang luar biasa dari dara ayu itu. Tubuh Lasmini ramping dan padat, denok dan kewes. Dadanya yang membusung itu tampak membayang di balik kemben sutera halus, seolah-olah bukit dadanya hendak memberontak karena ditutup dan ditekan kemben, seperti sepasang gunung berapi siap meletus. Rambutnya yang hitam panjang berombak itu digelung lebar berhias emas bermata intan yang amat indah.

Gelung rambut itu ujungnya terurai di leher sebelah kanan, terhias untaian bunga melati. Wajahnya gemilang seperti bulan purnama, dihalus-putihkan dengan bedak tipis-tipis. Kulitnya yang putih mulus itu demikian halus sehingga ketika tertimpa sinar matahari pagi, seperti berkilau laksana emas. Sebilah keris kecil terselip di pinggangnya. Sungguh merupakan seorang dara yang luar biasa cantik jelitanya, bagaikan Dyah Srikandi, cantik dan juga gagah perkasa.

Lasmini melepas lagi senyumnya. Senyum yang lebih tajam dan lebih berbahaya daripada anak panah yang dilepas dari gendewa di tangan Srikandi. Senyum itu bagaikan anak panah mujijat yang langsung menyambar ke arah jantung Narotama! Namun, kipatih ini cepat menangkis dengan tekanan batinnya, mengingat bahwa wanita itu adalah calon garwa selir junjungannya sehingga tidak pantaslah kalau dia jatuh cinta!

"Kakangmas Narotama, sudah siapkah andika?" Tanya Lasmini, suaranya merdu sekali, bukan seperti orang menantang bertanding, begitu mesra dan bersahabat.

"Sudah, nimas. Aku sudah siap. Mulailah." kata Narotama tenang.

Lasmini sudah merencanakan siasat bersama adik dan uwaknya. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan mungkin dapat menandingi kipatih yang sudah amat terkenal kedigdayaannya itu. Sudah diatur bahwa ia harus berhasil menjadi garwa atau selir Kipatih Narotama yang nama jabatannya adalah Rakryan Patih Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narotama Danasura itu.

Karena itu, setelah kini berhadapan dengan Narotama dan mulai bertanding, iapun memasang gaya yang amat menarik, la membuka gerakan silatnya dengan indah sekali. Ia berdiri memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di belakang dan kaki kiri di depan, kedua lutut ditekuk dan kaki kiri berdiri pada ujung kakinya, sikapnya "ndegeg", yaitu dada dibusungkan kedepan dan pinggul ditonjolkan ke belakang, tangan kiri dengan siku ditekuk dan jari-jari terpentang berada di depan dahi dengan telunnjuk menuding ke atas, tangan kanan berkembang ke belakang dengan jari jari terbuka pula.

Gerakan pembukaan ini indah sekali, seperti seorang penari Bali beraksi, dadanya dan pinggulnya makin tampak membusung dan pinggangnya tampak begitu ramping seperti akan patah, pasangan pembukaan yang indah dan juga mengandung daya tarik yang menggairahkan. Narotama terpesona akan semua keindahan gerak tubuh wanita ini, akan tetapi dia bersikap tenang, menanti dara itu melakukan penyerangan.

"Sambut seranganku!" Tiba-tiba Lasmini berseru dan tubuhnya mulai bergerak menyerang. Tangan kirinya menyabar dari atas mencengkeram ke arah kepala Narotama disusul tangan kanan yang meluncur ke arah dada dengan tusukan dua jari tangan.

"Hyaaaaattt .....!"

Narotama kagum. Serangan itu sungguh dahsyat. Namun baginya tidak merupakan ancaman bahaya. Dia lalu mengelak dan ketika Lasmini menyusulkan serangan bertubi-tubi sambil dibarengi dengan bentakan-bentakan nyaring, Narotama hanya membela diri dengan elakan dan tangkisan. Kalaupun menangkis, dia membatasi tenaganya, tidak mempergunakan tenaga yang mengandung kekerasan, melainkan menggunakan tenaga lemas sehingga Lasmini merasa seolah lengannya ditangkis sebatang lengan yang hanya terdiri dari kulit dan daging tanpa tulang, begitu empuk walaupun amat kuat sehingga tidak membuat lengannya nyeri.

Diam-diam Lasmini merasa girang sekali. Kenyataan ini saja menunjukkan bahwa kipatih ini "ada rasa" kepadanya, menyayangnya dan tidak ingin menyakitinya. Bahkan sampai tiga puluh jurus ia menyerang terus secara bertubi-tubi, tidak satu kalipun patih itu membalas!

Bagaimanapun juga, Lasmini merasa penasaran sekali. Ia memang sudah diberi tahu uwanya bahwa Narotama amat sakti mandraguna dan ia tidak mampu menandingnya, namun kini ia merasa begitu tidak berdaya seperti seorang anak kecil saja. la merasa penasaran juga karena selama ini belum pernah ia dikalahkan orang.

Setelah kembali sebuah tangkisan lengan yang lunak seperti karet itu membuatnya terpental ke belakang, Lasmini diam-diam membaca mantra dan mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Segera terasa hawa dingin menyelubungi sekitar dara itu, terutama sekali Narotama merasa ada hawa dingin menyergapnya. Dia maklum bahwa gadis itu mempergunakan aji kesaktian yang mengandung hawa dingin dan tentu merupakan pukulan yang memiliki daya serang berbahaya. Maka, diapun sudah siap siaga untuk menyambut serangan aji yang mengandung kekuatan sihir itu. Lasmini mengumpulkan tenaga dan setelah merasa tenaganya mencapai titik puncak, ia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Narotama sambil berseru melengking.

"Aji Ampak-ampak.... hiyaaaaahh....!!"

Tampak cahaya kebiruan menyambar dari kedua telapak tangan itu meluncur ke arah tubuh Narotama. Ampak-ampak adalah semacam halimun atau kabut dingin yang biasanya terdapat di puncak-puncak gunung yang wingit, yang mengandung hawa dingin menyusup tulang dan juga mengandung bisa yang dapat mematikan manusia maupun tumbuh tumbuhan.

Narotama yang sudah siap siaga, lalu mengerahkan tenaga saktinya, menyambut dengan dorongan kedua tangannya sambil berseru nyaring.

"Aji Bojrodahono (Api Halilintar) .....!"

Tidak ada lawan yang lebih ampuh untuk melawan Aji Ampak-ampak yang dingin seperti salju itu kecuali Aji Bojrodahono yang panas bagaikan api.

"Blarrrrr .....!"

Masih untung bagi Lasmini bahwa Narotama tidak mempergunakan seluruh tenaga saktinya, hanya membatasi dan cukup untuk menolak serangan dara itu saja. Namun, pertemuan dua tenaga sakti itu tetap saja membuat tubuh denok Lasmini terdorong ke belakang dan nyaris ia jatuh terjengkang kalau saja ia tidak cepat berjungkir balik ke belakang sampai tiga kali.

Perbuatan ini tentu saja membuat kain yang menutupi tubuhnya tersingkap sedikit sehingga tampak oleh Narotama kulit paha yang putih mulus dan betis kaki yang indah memadi bunting. Kembali darahnya berdesir kencang.

Lasmini merasa kagum sekali. Akan tetapi dasar ia berwatak liar dan biasaya suka menyombongkan kepandaian sendiri, kekalahan demi kekalahannya itu membuat ia semakin penasaran. Ia lalu mencabut keris kecil yang terselip di pinggangnya. Sambil mengacungkan senjata itu, ia berkata, suaranya menantang.

"Kakangmas Narotama, beranikah andika menyambut keris pusakaku ini? Kalau engkau berani dan mampu mengalahkan aku sekali ini, barulah aku menerima kekalahanku!"

Narotama tersenyum. Dia harus menjaga kebesaran nama junjungannya. Pertandingan ini memang dilakukan olehnya namun sebagai wakil Sang Prabu Erlangga sehingga kemenangannya atau kekalahannya, juga merupakan kemenangan atau kekalahan Sang Prabu Erlangga. Dia memandang keris kecil itu dan melihat betapa ujung keris itu mengeluarkan sinar hitam. Dia dapat menduga bahwa keris itu pasti telah direndam racun yang amat berbahaya dan sedikit tergores saja, kalau sampai kulit terobek dan berdarah, cukup untuk membunuh orang. Dia maklum bahwa betapa pun cantik jelitanya, dara ini adalah keturunan keluarga kerajaan sesat.

Kerajaan Parang Siluman memang terkenal memiliki tokoh-tokoh ahli sihir dan racun. Akan tetapi dia tidak menjadi gentar, mengingat bahwa tingkat kesaktian Lasmini sudah diukurnya dalam pertandingan tadi dan tenaga dara itu tidak terlalu kuat baginya. Dia lalu menanggalkan baju atasnya agar jangan sampai terobek, lalu dengan dada terbuka dia melangkah maju.

"Marilah, Nimas Lasmini, akan ku tadahi keris pusakamu dengan dadaku. Hendak kulihat bagaimana ampuhnya keris pusakamu itu!"

Lasmini terbelalak. Benarkah pemuda ini hendak menerima tusukan kerisnya yang ampuh beracun dengan bertelanjang dada? Bagaimana kalau Narotama tewas oleh kerisnya? Jadi berantakan siasat yang telah direncanakan dan diatur sebelumnya. Akan tetapi, timbul pula keinginan dalam hatinya untuk menguji kesaktian pria ini. Untuk menyerahkan dirinya yang masih perawan itu kepada seorang laki-laki, ia harus yakin bahwa laki-laki itu memang patut memiliki dirinya, menerima cinta kasihnya, patut untuk dilayaninya sebagai seorang suami.

"Baik, sambutlah ini, kakangmas!" la melangkah maju dan tangan kanannya yang memegang gagang keris itu bergerak menusukkan kerisnya ke arah ulu hati Narotama.

"Syuuuttt ..... tukk!"

Keris itu membalik, seperti menusuk benda yang kenyal lunak namun kuat seperti karet! Dan kulit dada yang putih bersih itu sama sekali tidak terluka, lecet sedikitpun tidak! Lasmini terkejut dan kagum sekali. Ia sendiri juga memiliki aji kekebalan, akan tetapi kalau harus menerima tusukan keris pusakanya ini, tentu saja ia tidak berani. Keris pusakanya ini sudah dirajai dan ditapai, dapat menembus kekebalan lawan. Akan tetapi kekebalan yang dimiliki Narotama ternyata sama sekali tidak dapat ditembus.

Setelah bertubi-tubi menusuk dada dan perut sampai tujuh kali dan selalu kerisnya membalik, Lasmini mengertakan gigi dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya, lalu menusuk lagi ke arah lambung Narotama.

"Hyaattt..... ahhh!"

Tadi Lasmini sudah merasakan betapa semakin kuat ia menusuk, semakin kuat pula kerisnya terpental. Akan tetapi ia tidak kapok, kini malah menusuk dengan seluruh tenaganya. Begitu kerisnya mengenai lambung keris itu terpental dan membawa tubuhnya terjengkang. Ia tentu terbantai roboh kalau saja Narotama tidak cepat menyambar dan merangkul pinggangnya untuk mencegah tubuh gadis itu terbanting.

Dalam rangkulan sejenak ini, Narotama mencium bau kembang melati dan rambut gadis itu dan bau harum seperi cendana keluar dari tubuh Lasmini. Kedua tangannya juga merasakan tubuh yang kenyal dan lunak lembut hangat Kembali jantungnya berdebar, akan tetapi segera dia teringat akan tugasnya dan dengan lembut dia melepaskan rangkulanya.

"Maaf, nimas....." katanya sambil melangkah mundur.

Lasmini tersenyum dan kedua pipinya menjadi kemerahan, terutama di bagian tulang pipi yang menonjol di bawah kedua matanya. Ia seperti tersipu malu padahal kemerahan wajahnya bukan hanya karena tersipu, melainkan terutama karena ia tadi telah mengerahkan banyak tenaga sehingga jantungnya berdetak kencang.

"Uwa, aku telah dikalahkan oleh Kangmas Narotama, maka aku menerima pinangan itu."

"Ha-ha-ha, sudah kuduga bahwa engkau tentu tidak akan mampu menandingi Kipatih Narotama. Dan engkau bagaimana Mandari?" kata Ki Nagakumala sambil memandang Mandari.

Dara ini tersenyum. "Kalau Mbakayu ini sudah mengaku kalah, tentu saja akupun mengaku kalah, uwa, dan aku juga menerima pinangan Gusti Sinuwun Sang Prabu Erlangga."

"Anakmas Patih Narotama, andika sudah mendengar sendiri kesanggupan kedua orang keponakanku. Nah, sekarang bagaimana? Kapan anakmas akan mengajak mereka ke istana Sang Prabu Erlangga?"

"Karena urusannya telah beres, maka sedapat mungkin saya akan memboyong mereka ke istana Gusti Sinuwun secepatnya, paman." kata Narotama sambil memandang kepada dua orang gadis cantik jelita itu.

Kini Mandari yang bicara dengan sikap manja. "Kami masih mempunyai sebuah permintaan sebagai syarat, Kakang Patih Narotama"

Narotama terkejut dan diam-diam mencatat dalam hatinya bahwa sikap gadis yang lebih muda ini sungguh penuh arti. Karena merasa telah menjadi calon garwa Sang Prabu Erlangga, maka gadis ini sudah menganggap dirinya sebagai isteri raja dan memanggilnya Kakang Patih, tidak seperti Lasmini yang memanggilnya kakangmas!

"Syarat apakah itu, nimas?" tanya Narotama sambil menatap wajah gadis yang memiliki rambut lebih gemuk dan lebih panjang ketimbang rambut mbakayunya.

"Begini, kakang patih. Mbakayu Lasmini dan aku adalah keturunan bangsawan tinggi, ibu kami adalah seorang ratu. Biarpun dalam urusan perjodohan ini telah diputuskan oleh Uwa Nagakumala dan kami sendiri, namun kami merasa sudah sepatutnya kalau Sang Prabu Erlangga menghargai kami sebagai puteri-puteri yang diboyong karena pinangan, bukan diboyong karena kalah perang. Oleh karena itu, kami minta agar andika jemput kami dengan menggunakan buah kereta kebesaran dan ditarik oleh empat ekor kuda."

"Ah, permintaanmu itu pantas sekali, adikku. Kakangmas Narotama, aku memperkuat permintaan Mandari. Kalau andika akan memboyong kami, harus menggunakan kereta kebesaran, dengan demikian kami merasa dihormati dan tidak dipandang rendah orang." kata Lasmini.

Narotama tersenyum dan mengangguk. "Jangan khawatir, nimas berdua. Sesungguhnya, kereta untuk memboyong andika berdua itu sudah siap menanti di kaki bukit ini."

Narotama tidak berbohong. Memang ketika dia pergi ke Bukit Junggringslaka, dia sudah mempersiapkan sebuah kereta untuk menjemput dua orang puteri itu kalau pinangannya diterima. Kereta itu dia titipkan pada seorang lurah di dusun yang berada di kaki bukit dan seorang kusirnya yang berpakaian dinas juga menanti di sana. Mendengar ucapan Narotama itu, Ki Nagakumala lalu tertawa.

"Sekarang berkemaslah, Lasmini dan Mandari. Bawa segala barang kebutuhanmu. Nanti kita bersama-sama turun bukit Kalian ikut Kipatih Narotama ke Kahuripan dan aku akan pergi melaporkan kepada ibu kalian di Parang Siluman."

Kedua orang gadis itu lalu berkemas Narotama menanti di ruangan pendapa. Setelah selesai berkemas, dua orang gadis itu bersama Ki Nagakumala mengikuti Narotama turun bukit menuju ke dusun di mana dia menitipkan kereta, kuda dan kusirnya di rumah kepala dusun.

Siang hari itu juga berangkatlah Narotama mengawal kereta menuju ke Kahuripan, sedangkan Ki Nagakumala pergi ke selatan, ke arah Kerajaan Parang Siluman di mana adiknya Ratu Durgamala memerintah, untuk melaporkan bahwa kedua orang puterinya pergi ke Kahuripan untuk menjadi garwa selir Sang Prabu Erlangga.

div style="text-align: center;">********************

Ketika Ratu Durgamala mendengar pelaporan kakaknya bahwa kedua orang puterinya menerima pinangan untuk menjadii selir Sang Prabu Erlangga, wanita berusia empat puluh tahun yang masih cantik seperti seorang gadis itu menjadi marah sekali. Ia menggebrak meja dan memandang kakaknya dengan mata melotot.

"Gilakah andika, Kakang Nagakumala? dan sudah gila pulakah Nini Lasmini dan Nini Mandari maka mereka sudi menjadi garwa selir Raja Erlangga? Dia itu musuh bebuyutan kita, kakang! Mataram sejak dulu adalah musuh Parang Siluman! bagaimana sekarang dua orang puteri Parang Siluman, anak-anakku sendiri, menjadi selir Raja Mataram yang menjadi musuh besar kita?"

"Tenang dan bersabarlah, yayi Ratu. Penerimaan pinangan Prabu Erlangga ini disetujui oleh Nini Lasmini dan Nini Mandari sendiri. Pertama karena memang keinginan dua orang puterimu itulah yang menghendaki agar mereka yang sudah dewasa mendapatkan suami seorang bangsawan tinggi yang muda tampan, dan sakti mandraguna. Dan siapakah orang muda yang dapat melebih Prabu Erlangga dalam tiga hal itu? Hanya Kipatih Narotama yang dapat mengimbanginya. Karena itu, Nini Lasmini memilih agar diperisteri Kipatih Narotama dan Nini Mandari memilih untuk diperisteri Prabu Erlangga. Dan hal kedua yang tidak kalah pentingnya, justeru perjodohan ini telah kami rencanakan untuk menjadi sarana penghancuran Mataram."

"Ehh?? Penghancuran Mataram melalui perjodohan anak-anakku dengan Erlangga dan Narotama? Apa maksudmu kakang?"

"Begini, yayi ratu. Kedua orang puterimu itu, murid-muridku yang pintar-pintar, telah menyetujui rencana kami itu. Dengan penuh keyakinan mereka percaya bahwa mereka akan mampu membuat raja dan patihnya mabok kepayang dan selanjutnya mengadakan bujukan-bujukan agar raja dan patih yang sakti mandraguna itu saling bertikai dan bertentangan sehingga Mataram menjadi lemah. Bahkan kalau usaha itu gagal, mereka akan meningkatkan usaha mereka, yaitu membunuh Erlangga dan Narotama."

"Ahh! Mereka..... para puteriku yang ayu manis, mau melakukan itu?" Ratu Durgamala membelalakan matanya dan wajahnya menjadi cerah gembira.

"Ya, itulah yang kami rencanakan. Maka mereka tidak merasa ragu lagi untuk menerima pinangan dan mengikuti Kipatih Narotama menuju Kahuripan."

"Dan mereka mengorbankan diri untuk itu! Aih, anak-anakku yang manis, anak-anakku yang hebat, kalian tidak mengecewakan, kalian pantas menjadi anak-anakku, kalian persis watak ibu kalian! he-he-he-hi-hik!"

Ratu Durgamala tertawa senang, agaknya sudah lupa betapa beberapa tahun yang lalu ia selalu merasa bersaing dengan dua orang puterinya yang makin dewasa menjadi semakin cantik sehingga ia merasa terancam. Dialah yang menjadi ratu. Ia yang menjadi wanita nomor satu paling cantik, di Parang Siluman, la tidak mau disaingi atau dikalahkan dalam hal kecantikannya oleh wanita manapun juga, bahkan kecantikan dua orang puterinya yang menonjol itu membuatnya iri dan khawatir kalau kedudukannya sebagai wanita tercantik akan tergeser oleh dua orang puterinya.

Karena itulah maka ia mengharuskan dua orang puterinya itu ikut kakaknya, Ki Nagakumala di Bukit Junggringslaka untuk memperdalam ilmu mereka. Di lain pihak, dua orang puterinya juga merasakan ketidak-senangan bahkan mendekati kebencian ibu kandung mereka sendiri terhadap mereka. Karena itulah mereka lebih senang ikut uwa mereka mempelajari ilmu, dan ketika mereka menerima pinangan Raja Erlangga, mereka sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk minta ijin atau pamit kepada ibu kandung mereka!

Memang Ratu Durgamala ini memiliki watak yang seperti iblis, gila akan kecantikannya sendiri Bahkan ia mempelajari segala macam ilmu untuk dapat membuat dirinya awet muda, dan akhirnya ia menemukan Suket sungsang, semacam rumput yang langka dunia ini dan rumput ajaib inilah yang membuat ia awet muda dan tampak seperti berusia dua puluh tahun saja walaupun usianya sudah empat puluh tahun lebih. la juga memberi jamu Suket Sungsang kepada dua orang puterinya sehingga dua orang gadis itupun menjadi awet muda. Iapun seorang petualang nafsu berahi dan inilah yang membuat suaminya, ayah dari Lasmini dan Mandari, meninggalkannya dan lebih suka menjadi seorang pertapa di pantai Blambangan.

Tadinya, mendengar dua orang puteri kandungnya hendak menjadi garwa Raja Erlangga dan Patih Narotama tanpa seijinnya, tanpa pamit, kasih sayang seorang ibu dalam hatinya tersentuh. Akan tetapi setelah mendengar bahwa kedua orang puterinya itu sengaja mengorbankan diri untuk kepentingan Parang Siluman, yaitu menghancurkan Mataram, ia menjadi bangga dan gembira sekali.

Demikianlah, kasih sayang manusia antara berhubungan apapun juga, suami isteri, sahabat, bahkan ibu dan anaknya, kalau sudah dikuasai nafsu pementingan diri sendiri, maka kasih sayang itu menjadi kotor. Kasih sayang seperti itu hanya merupakan sarana untuk menyenangkan diri sendiri. Kalau kasih sayang murni yang sejati ada, maka si-aku yang mementingkan kesenangan hati dan perasaan sendiri, tidak akan muncul. Kalau si-aku yang berupa nafsu hati akal pikiran muncul, apa yang dinamakan cinta kasih itu hanyalah ulah nafsu yang pamrihnya tidak lain untuk mencari keenakan dan kesenangan diri sendiri, untuk pemuasan jasmani.

Maklum bahwa kakaknya adalah seorang yang sakti mandraguna, Ratu Durgamala lalu menahan kakaknya dan membujuk agar kakaknya itu suka tinggal di Parang Siluman membantunya. Ki Nagakumala yang merasa kesepian setelah ditinggalkan dua orang keponakannya, menerima ajakan itu dan sejak hari itu, diapun tinggal di Parang Siluman dan menjadi penasihat dari Ratu Durgamala.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Kereta itu meluncur dengan cepatnya menuju ke kota raja Kahuripan. Sang kusir yang berpakaian indah itu mengendalikan empat ekor kuda penarik kereta dan dua orang puteri Parang Siluman pun duduk di dalam kereta, berbisik-bisik sehingga suara percakapan mereka Tidak terdengar oleh sang kusir. Di belakang kereta itu, dalam jarak kurang lebih sepuluh meter, Narotama menunggangi kudanya, mengawal dari belakang. Hatinya merasa gembira bukan main karena dia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Beruntung sekali bahwa pinangan itu dapat diterima oleh Ki Nagakumala dan dua orang puteri itu, tanpa ada syarat yang terlalu berat.

Andaikata Ki Nagakumala sendiri yang menguji kepandaiannya, dia dapat menduga bahwanya tidak akan begitu mudah baginya untuk mengalahkannya. Dan andaikata mereka menolak, tentu akan terjadi perkelahian. Akan tetapi semua itu tidak jadi dan dia hanya harus mengalahkan Lasmini. Dia telah berhasil dan Sang Prabu Erlangga tentu akan merasa senang sekali.

Akan tetapi tiba-tiba wajah Lasmini terbayang di pelupuk matanya. Sayang sekali Lasmini akan menjadi garwa selir sang prabu! Ah, mengapa Sang Prabu Erlangga begitu tamak? Bukankah garwa selirnya sudah ada sedikitnya tujuh orang muda-muda dan cantik-cantik pula. Kenapa sekarang hendak mengambil Lasmini dan Mandari pula? Kedua-duanya? Sedangkan dia sendiri hanya hidup berdua dengan Listyarini, isterinya. Dia tidak mempunyai selir seorangpun! Sudah pantasnyalah kalau sang prabu menyerahkan Lasmini kepadanya, untuk menjadi selirnya, sebagai hadiah atas keberhasilannya. Sudah tepat dan pantas sekali. Bukankah dia yang bersusah payah mengajukan pinangan sehingga berhasil membawa dua orang puteri itu ke Kahuripan.

Tanpa terdengar oleh kusir dan oleh Narotama, dua orang gadis dalam kereta itu merencanakan sesuatu. Mereka bicara bisik-bisik. "Akalmu itu baik sekali, Mbakayu Lasmini. Sebaiknya kita lakukan sekarang juga."

“Lakukanlah, Mandari, akan tetapi hati-hati, batasi dan kendalikan tenaga. Jangan terlalu kuat sehingga nyawaku terancam, juga jangan terlalu lemah hingga akan mencurigakan. Tunggu sebentar kalau kereta sudah memasuki hutan di depan."

Kereta meluncur masuk ke dalam hutan di perbatasan kerajaan Kahuripan. Tiba-tiba terdengar suara wanita mengeluh dan disusul teriakan Mandari.

"Ki kusir, hentikan dulu keretanya! Mbakayuku sakit!"

Mendengar teriakan ini, kusir menghentikan empat ekor kudanya. Melihat kereta berhenti tiba-tiba di dalam hutan itu, Narotama lalu melompat turun dari kudanya dan menghampiri kereta. Dia juga mendengar keluhan tadi dan mendengar teriakan Mandari. Ketika dia mendekati kereta, dia masih mendengar keluh kesah itu. Tirai kereta dibuka dari dalam dan Mandari meloncat keluar Mukanya pucat dan ia cepat berkata ketika melihat Narotama mendekat.

"Cepat, Kipatih Narotama, cepat tolonglah Mbakayu Lasmini. Sakit perutnya kambuh lagi, aku khawatir sekali."

Narotama dengan khawatir lalu menjenguk ke dalam kereta dan dia mengerutkan alisnya, terkejut bukan main. Di melihat Lasmini duduk setengah rebah di atas bangku kereta, wajahnya pucat sekali, bahkan agak membiru tanda bahwa gadis itu menderita keracunan! Gadis itu menekan perutnya dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri.

Cepat dia meraba dahi gadis itu dan dia semakin terkejut Dari wajah yang pucat kebiruan dan dahi yang terasa panas seperti terbakar api itu, segera Narotama tahu bahwa Lasmini benar-benar menderita luka dalam yang keracunan dan berbahaya sekali. Kalau hawa beracun dalam tubuh gadis itu tidak segera dikeluarkan, besar kemungkinan gadis itu akan tewas!

Karena tidak mungkin mengobati gadis itu dalam kereta karena tempat itu sempit dan gadis itu tidak dapat direbahkan telentang, tanpa ragu lagi Narotama lalu memondong tubuh Lasmini yang udah lemas itu keluar dari kereta.

Tiba-tiba terdengar suara Mandari, "Kipatih, bawalah ia ke sini. Di sini ada tempat bersih!"

Narotama menengok dan melihat Mandari menunjuk ke kiri. Dia memondong tubuh Lasmini dan menghampiri dan benar saja, Mandari telah menemukan sebuah tempat di mana terdapat rumput tebal dan tempat itu bersih, agak jauh dari kereta. Narotama lalu merebahkan tubuh Lasmini, telentang di atas rumput tebal.

"Agaknya kambuh kembali penyakit perutnya," kata Mandari sambil berlutut dan memandang kepada Narotama.

"Ki patih, dapatkah andika mengobatinya. Menurut uwa kami kalau ia sedang begini, nyawanya terancam kalau tidak segera diobati dengan pengerahan hawa sakti."

"Dia terluka sebelah dalam, luka yang beracun dan cukup berbahaya. Hanya aku belum tahu di bagian mana ia terpukul dan sampai berapa parahnya akibat pukulan itu. Tahukah andika mengapa ia menderita luka dalam seperti ini?"

"Ini akibat latihan Aji Ampak-ampak yang salah menurut keterangan Uwa Nagakumala. Karena keliru ketika latihan dan terlalu ingin cepat menguasai, Mbakayu Lasmini membuat tenaga pukulan aji itu membalik dan menurut uwa kami, ia terluka di bagian pusarnya. Berbahaya sekali. Tolonglah, kipatih, andika yang berkepandaian tinggi pasti dapat menolongnya." kata Mandari khawatir.

"Aduhhh..... ah, mati aku..... Kakangmas Narotama..... tolonglah aku, kakangmas....." Lasmini merintih-rintih sambil menekan-nekan perutnya.

"Di bagian mana yang nyeri, nimas?" tanya Narotama, merasa iba sekali.

"Di sini..... ah, perut..... pusar ini..... dingin sekali, seperti ditusuk-tusuk rasanya....." Lasmini menggigit bibirnya dengan giginya yang putih dan berderet rapi seperti mutiara.

"Jangan khawatir, nimas. Aku akan mengobatimu dan mudah-mudahan aku akan dapat menyembuhkanmu. Akan tetapi..... maafkan aku, nimas. Terpaksa aku harus memeriksa dan melihat keadaan bagian tubuhmu yang terkena pukulan itu."

"Aih, kipatih. Dalam keadaan seperti ini, nyawa Mbakayu Lasmini terancam bahaya maut, mengapa andika masih bersikap sungkan-sungkan segala? Lakukanlah pemeriksaan dan pengobatan itu, aku hendak memberi tahu ki kusir agar melepaskan kuda-kuda biar mengaso dan makan rumput."

Setelah berkata demikian Mandari lalu cepat meninggalkan mereka berdua.

"Aduhh..... cepat periksalah..... kakangmas..... ah, aku tidak kuat lagi ....." Lasmini lalu menurunkan kain yang membungkus perutnya sehingga perutnya sampai ke pusar tampak telanjang. "ini ..... di sini..... yang nyeri..... aduh....." Lasmini menekan perutnya di bagian samping pusar.

Narotama terpaksa memejamkan kedua matanya. Pemandangan itu terlalu indah merangsang sehingga jantungnya berdebar keras sekali. Kulit itu demikian putih mulus kemerahan, perut itu begitu halus dan rata, bentuk pusar yang kecil mungil itu. Dia membuka matanya, akan tetapi mata itu kini seperti tidak lagi melihat keindahan tadi karena dia sudah menyatukan hati akal pikirannya, dipusatkan menjadi satu saja perhatian tujuan, yaitu perhatian terhadap penyakit yang diderita Lasmini dan tujuannya hanyalah mengobati penyakit itu.

Di julurkan tangan kirinya, meraba sipusar yang tampak kemerahan. Terasa jari-jarinya menyentuh kulit yang dingin luar biasa dan tahulah dia bahwa di situlah letak luka dalam, di bawah kulit itulah hawa dingin beracun agaknya mengeram di bagian itu, sedangkan bagian tubuh lain, terasa panas membakar. Narotama mengerutkan alisnya. Pantasnya gadis ini terkena pukulan yang ampuh, kirnya. Atau, seperti diceritakan Mandari tadi, mungkin juga terkena hawa pukulan sendiri yang membalik sehingga luka dalam. Dan dia tahu bagaimana harus mengusir hawa dingin beracun itu.

"Maaf, Nimas Lasmini. Mudah-mudahan aku dapat mengobati penyakitmu ini. Andika terluka di sebelah dalam, di dekat pusar ini, seperti terkena pukulan beracun dingin... akan tetapi mungkin juga terluka oleh pukulanmu sendiri yang membalik. Pengobatannya sederhana saja, yaitu hawa dingin beracun itu harus diusir keluar dan untuk itu..... sekali lagi maaf, aku harus menempelkan telapak tanganku untuk beberapa lamanya di bagian yang terluka ini."

"Aduh... kakangmas... kenapa andika masih malu dan sungkan segala? Aku... aku percaya padamu... kuserahkan jiwa ragaku kepadamu. Cepat lakukan pengobatan itu, kakangmas... aku tidak kuat lagi menahan rasa nyerinya... aduhhh...."

Melihat penderitaan Lasmini, Narotama tidak membuang waktu lagi. Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya lalu menempelkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pusar perut Lasmini. Tangan kiri menempel tepat pada bagian yang terluka dan berwarna merah lalu dia mengerahkan tenaga saktinya untuk menyedot. Adapun telapak tangan kanan yang menempel di sisi yang lain menyalurkan hawa panas dari Aji Bojrodahono untuk menyerang dan mendesak hawa dingin beracun yang berasal dari Aji Ampak-ampak itu.

Sementara itu, Mandari menghampiri kereta dan memerintahkan kusir kereta untuk melepaskan empat ekor kuda agar dapat mengaso dan makan rumput, sedangkan ia sendiri duduk di bawah pohon yang rindang sambil tersenyum-senyum, membayangkan hasil akal yang dipergunakan Lasmini. Tentu saja tadi ia yang sengaja memukul sisi pusar perut mbakayunya dengan Aji Ampak ampak, cukup kuat untuk mendatangkan luka sehingga tidak mencurigakan Narotama akan tetapi tidak cukup kuat untuk membahayakan nyawa mbakayunya.

Ternyata siasat yang dipergunakan dua orang puteri itu berhasil baik. Narotama terkecoh dan mengira bahwa Lasmini benar-benar terluka oleh pukulannya sendiri yang membalik karena salah latihan. Akan tetapi akibatnya cukup hebat baginya. Dia telah melihat perut bahkan pusar gadis itu, bukan hanya melihat, bahkan telah meraba dan menempelkan kedua telapak tangannya dalam waktu yang cukup lama!

Aji Bojrodahono (Api Halilintar) yang dikerahkan Narotama memang hebat bukan main. Panasnya hawa dari aji itu dapat diatur dan perlahan-lahan hawa panas dari Bojrodahono dapat membakar hawa dingin Aji Ampak-ampak sehingga mencair dan hawa beracun itu tersedot oleh telapak tangan kiri Narotama.

Kalau tadi bagian sisi pusar yang terluka itu terasa dingin seperti embun di puncak Mahameru, kini mulai terasa hangat dan kehangatan ini menimbulkan getaran aneh yang mengusik hati akal pikiran Narotama yang tadi dia pusatkan. Merasakan ini, jantung Narotama berdebar dan dia lalu mengangkat kedua tangannya. Lasmini tidak mengeluh dan merintih lagi, bahkan kini kedua matanya tengah terpejam memandang kepada Narotama dan bibirnya tersenyum manis melebihi madu.

"Nimas, hawa dingin beracun itu telah pergi, andika telah sembuh."

Narotama melihat tangan kirinya yang berubah agak menghitam karena menyedot hawa beracun itu. Dia mengerahkan hawa Bojrodahono ke dalam telapak tangan kirinya dan tampak telapak tangannya mengepul dan perlahan-lahan warna hitam telapak tangannya itupun lenyap.

Tiba-tiba Lasmini bangkit dan tanpa membereskan kainnya yang tadi terbuka di bawah ia merangkul leher Narotama dengan kedua lengannya. Bagaikan dua ekor ular, lengan itu merangkul dan ia merapatkan mukanya di dada Narotama.

"Duh Kakangmas Narotama.... andika telah menolongku, menyelamatkan nyawaku.... ahh, bagaimanakah aku dapat membalas budimu yang setinggi gunung sedalam lautan ini, kakangmas...!

Semula Narotama menganggap bahwa perbuatan Lasmini ini hanya dorongan rasa syukur dan terima kasihnya saja yang mendatangkan keharuan. Namun ketika merasa betapa jantungnya tergetar hebat, dia menyadari akan bahaya gejolak berahinya. Cepat dengan lembut mendorong kedua pundak gadis itu dan melepaskan rangkulan sambil berkata dengan suara agak gemetar.

"Jangan begini, nimas. Ini tidak benar. Bersukurlah kepada para dewa yang telah menyembuhkanmu dan mari kita melanjutkan perjalanan kita." Dia memegang tangan Lasmini, ditariknya bangkit berdiri dan diajaknya kembali ke kereta.

Lasmini tidak membantah, akan tetapi ia tidak mau melepaskan tangan Narotama yang memegangnya sehingga mereka bergandengan tangan sambil berjalan menuju ke kereta. Mandari menyambut mereka dengan senyum gembira.

"Ah, Mbakayu Lasmini, sungguh beruntung engkau' Dari wajahmu saja aku sudah dapat melihat bahwa Engkau tentu telah sembuh, diobati oleh Kipatih Narotama. Engkau berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepadanya, mbakayu!"

"Aku tahu, Mandari. Mudah-mudahan saja kelak aku dapat membalas budinya itu."

Narotama tidak ingin mendengarkan lagi tentang budi itu dan dia segera memerintahkan kusir untuk memasang kembali empat ekor kuda di depan kereta dan setelah dua orang gadis itu memasuki kereta, kusir lalu menjalankan keretanya kembali dengan laju.

Karena dikawal oleh Narotama yang selain sakti mandraguna juga dikenal semua pejabat-pejabat di daerah, maka perjalanan itu lancar dan tidak ada halangan. Di sepanjang jalan mereka mendapat sambutan para demang dan lurah dan mendapat bantuan seperlunya. Akhirnya kereta memasuki kota raja Kahuripan dan Narotama langsung mengajak Lasmini dan Mandari menghadap Sang Prabu Erlangga setelah menyuruh pengawal melaporkan kedatangannya kepada Sang Prabu Erlangga.

Sang Prabu Erlangga sudah menanti duduk di singgasana, tempat duduk terbuat dari gading berlapis emas, hanya seorang diri karena dia ingin menyambut kedatangan Kipatih Narotama bersama dua gadis itu tanpa disaksikan para ponggawa. Bahkan para pengawal istanapun tidak diperkenankan hadir dalam ruangan itu.

Memang Sang Prabu Erlangga berbeda dengan para raja yang lain, yang selalu ingin dikawal ke manapun dia berada untuk menjaga keselamatannya. Sang Prabu Erlangga merasa tidak enak dan tidak leluasa kalau ke manapun pergi dijaga pengawal.

Hal ini adalah karena raja yakin akan kesaktian sendiri yang jauh lebih dapat diandalkan daripada penjagaan ratusan orang pengwal pribadi! Apalagi di dalam istana. bahkan kalau Sang Prabu melakukan perjalanan keluar istana, hanya dalam perjalanan resmi saja Sang Prabu Erlangga diiringkan sepasukan pengawal. Akan tetapi kalau melakukan perjalanan seorang diri, untuk urusan pribadi atau sengaja hendak memeriksa keadaan rakyat jelata, Sang Prabu Erlangga tidak pernah didampingi seorang pengawal pun.

Kipatih Narotama berlutut dan menyembah sebagai penghormatan ketika dia menghadap Sang Prabu Erlangga. "Sembah hormat hamba haturkan kepada paduka gusti sinuwun junjungan hamba."

"Aih, Kakang Patih Narotama, andika baru kembali? Bagaimana dengan perjalananmu? Semoga selamat dan berhasil baik." kata Sang Prabu Erlangga sambil memandang ke arah dua orang puteri yang sudah duduk bersimpuh dengan sikap hormat.

"Dengan bekal doa restu paduka, hamba telah selesai melaksanakan tugas dan berhasil baik, gusti. Mereka inilah Nini Lasmini dan Nini Mandari, dua orang puteri Kanjeng Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman, keponakan dan murid Ki Nagakumala di Bukit Junggringslaka. Pinangan paduka telah diterima dengan baik dan kini kedua orang puteri sudah menghadap paduka menanti perintah."

Prabu Erlangga tersenyum dan mengangguk-angguk, memandang dua orang gadis yang masih duduk bersimpuh sambil menundukkan muka mereka itu. Walaupun mereka menunduk dan Sribaginda tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas namun diam-diam Sang Prabu Erlangga kagum dan harus mengakui bahwa dua orang dara itu memiliki bentuk tubuh yang amat indah menggairahkan.

"Siapa di antara andika berdua yang bernama Lasmini?" tanya Sang Prabu dengan suara ramah dan lembut.

Lasmini menggerakkan kedua tangannya menyembah, gerakannya luwes seperti sedang menari. "Hamba yang bernama Lasmini, gusti."

"Lasmini, coba angkat mukamu dan pandang kami." perintah sang prabu dengan suara ramah dan lembut.

Lasmini mengangkat mukanya. Sejenak mereka berdua saling pandang. Sepasang mata Sang Prabu Erlangga mengamati wajah gadis itu penuh selidik. Cantik jelita nian gadis ini, pikirnya, sungguh pun dia hanya melihat kecantikan kulit saja. Namun harus diakuinya bahwa jarang dia melihat wanita secantik itu. Di lain pihak, Lasmini juga mendapat kenyataan bahwa raja itu selain masih muda, juga tampan luar biasa. Hanya sinar mata Sang Prabu Erlangga membuat ia merasa gentar dan tidak berani ia menatap sepasang mata itu berlama-lama dan menunduk kembali.

Sang Prabu Erlangga mengalihkan pandang matanya kepada gadis ke dua yang lebih muda. Kalau Lasmini tampak berusia delapan belas tahun, Mandari ini tampak lebih muda seperti dara remaja berusia tujuh belas tahun saja.

"Andika yang bernama Mandari? Angkat mukamu dan pandang kami, Mandari." perintahnya.

Mandari mengangkat muka dan gadis ini memandang wajah Sang Prabu Erlangga dengan senyum manis, pandang mata kagum sekali. Ia merasa berbahagia telah memilih raja ini untuk menjadi suaminya. Ternyata Sang Prabu Erlangga amat ganteng, melebihi semua harapan dan dugaannya.

Sang Prabu juga kagum. Dara ini tidak kalah elok dibandingkan Lasmini sehingga sukarlah untuk menilai siapa antara mereka yang lebih menarik. Bahkan yang lebih muda ini memiliki kelebihan, yaitu pada rambutnya yang panjang dan indah sekali. Dia menduga kalau rambut itu diurai, tentu akan mencapai kaki!

"Mandari, berapakah usiamu?" tanya sang prabu dan Mandari tidak menundukan muka seperti mbakayunya yang tadi menundukkan muka bukan semata karena jerih, melainkan memang sesuai dengan siasat yang direncanakan.

"Usia hamba dua puluh satu tahun gusti."

"Ahh? Andika masih tampak seperti seorang gadis remaja! Dan berapa usia mbakayu mu, Lasmini ini?"

"Usianya dua puluh tiga tahun, gusti." jawab Mandari lancar.

Mendengar itu, sang Prabu Erlangga menjadi semakin heran dan kagum. Akan tetapi dia sudah maklum bahwa Kerajaan Parang Siluman merupakan pusat para ahli sihir. Tentu dua orang gadis ini mempergunakan ilmu atau jamu tertentu yang membuat mereka tampak begitu awet muda! Kembali sang prabu memandang kepada Lasmini yang masih menundukkan mukanya. Sungguh berbeda dengan sikap Mandari yang selalu berani memandangnya sambil tersenyum.

"Lasmini," kata sang prabu. "Benarkah seperti yang dilaporkan Kakang Patih Narotama bahwa engkau menerima pinanganku, suka menjadi garwa selirku?"

Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Lasmini menangis. Tidak menangis keras, hanya terisak dan beberapa butir air mata menetes diatas kedua pipinya. Melihat ini, Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya.

"Lasmini, kenapa andika menangis? Ceritakanlah, apa yang menyusahkan hatimu? Kalau andika tidak suka menjadi garwa selir kami, mengapa tidak andika tolak saja pinangan yang diajukan Kakang Patih Narotama? Setelah tiba di sini kenapa andika menangis!" Tentu saja sang prabu merasa tidak senang hatinya melihat gadis itu menangis di depannya seolah akan dipaksa menjadi garwa selir di luar kemauannya. Dia tidak akan pernah sudi melakukan paksaan terhadap wanita manapun!

Lasmini menahan isaknya dan menyembah. "Mohon beribu ampun, gusti. Hamba sudah lama mendengar akan kebijaksanaan paduka yang berlimpah budi, Mohon pertimbangkan paduka, gusti, Bagaimana seorang gadis seperti hamba dapat berserah diri kepada seorang prabu agung seperti paduka setelah ada pria lain yang tidak saja telah melihat pusar hamba, bahkan telah menyentuh dan merabanya? Hamba tidak mungkin dapat melayani pria lain....."

Bukan main kagetnya Sang Prabu Erlangga mendengar ini. Alisnya berkerut dan kulit wajahnya berubah merah. "Lasmini, siapa yang telah berani melakukan hal itu kepadamu?"

Lasmini menoleh ke arah Kipatih Narotama. "Harap paduka tanyakan kepada Kakangmas Narotama, gusti."

Sang Prabu Erlangga terbelalak heran dan terkejut sekali mendengar jawaban gadis itu. Dia segera memandang Narotama dan bertanya.

"Kakang Patih Narotama, apa artinya semua ini? Benarkah andika melakukan hal yang tidak patut itu terhadap diri Lasmini?"

Narotama menyembah dan menjawab dengan sikap tenang. "Sesungguhnya benarlah apa yang dikatakan Nimas Lasmini itu, gusti. Dalam perjalanan, di tengah hutan mendadak Nimas Lasmini mengeluh kesakitan. Setelah hamba periksa, ternyata ia terkena pukulan yang mengandung hawa dingin beracun. Menurut keterangan Nimas Lasmini, ia terluka dalam karena hawa pukulannya sendiri membalik ketika ia berlatih Aji Ampak-ampak secara keliru. Ia terluka dalam di bagian sisi pusarnya. Melihat keadaannya yang amat berbahaya, maka terpaksa hamba lalu mengobatinya dengan menggunakan Aji Bojrodahono untuk mengusir hawa dingin beracun itu dan menempelkan telapak tangan hamba pada bagian perut yang terluka dalam."

Mendengar keterangan ini, Sang Prabu Erlangga tersenyum lega. "Lasmini, Kakang Patih Narotama melakukan hal itu adalah dalam rangka pengobatan hendak menyelamatkan nyawamu, bukan karena dia sengaja hendak bertindak melanggar susila!"

"Hamba mengakui akan hal itu, gusti. Akan tetapi, sejak remaja dahulu hamba dan Mandari sudah bersumpah bahwa hamba berdua hanya mau menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan hamba dalam adu kesaktian. Hamba telah bertanding melawan Kakangmas Narotama dan hamba sudah dia kalahkan. Itu merupakan kenyataan pertama. Kenyataan kedua adalah bahwa Kakangmas Narotama sudah menyelamatkan nyawa hamba dengan mengobati penyakit hamba sehingga hamba berhutang budi, berhutang nyawa kepadanya. Kenyataan ketiga adalah hal itu tadi, gusti, bahwa ialah satu-satunya pria yang pernah melihat dan meraba pusar dan perut hamba. Karena itu, bagaimana mungkin hamba dapat melayani pria lain?"

Mendengar ini, tiba-tiba Sang Prabu Erlangga tertawa geli karena tahulah dia bahwa gadis ini telah jatuh hati kepada Narotama!

"Ha-ha-ha! Lasmini, jawab saja terus terang. Andika ingin menjadi garwa selir Kakang Patih Narotama, bukan?"

Bagaimanapun juga, karena ia masih seorang perawan, Lasmini tersipu dan dengan muka berubah merah yang ditunjukkan, ia menjawab lirih. "Duh gusti sinuwun, keputusannya tentu hanya paduka dan Kakangmas Narotama yang dapat menentukan. Kalau kakangmas Narotama sudi menerima hamba, hamba.... hamba.... menurut saja...."

"Ha-ha-ha, bagus! Aku suka kejujuran itu. Kakang Patih Narotama, bagaimana pendapatmu setelah mendengar ucapan Lasmini? Maukah andika menerimanya sebagai garwa selirmu?"

Narotama menyembah dan mukanya juga berubah kemerahan. "Hamba hanya sendika dhawuh (menaati perintah) paduka, gusti."

"Kalau begitu, mulai detik ini juga kami menyerahkan Lasmini kepadamu agar ia menjadi garwa selirmu. Kalian mendapatkan restuku dan semoga kalian hidup berbahagia."

Narotama dan Lasmini menyembaah dan hampir berbareng mereka mengucapkan terima kasih. Sang Prabu Erlangga lalu memandang kepada Mandari yang masih mengangkat muka memandang semua itu dengan wajah berseri. Dia diam... Ia merasa gembira sekali karena siasat yang sudah mereka berdua rencanakan bersama Ki Nagakumala ternyata berhasil baik. Lasmini menjadi selir Narotama seperti yang mereka rencanakan.

"Sekarang, bagaimana dengan andika Mandari? Apakah andika juga berpendapat seperti Lasmini, ingin menjadi selir Kakang Patih Narotama?"

"Mohon beribu ampun, gusti." kata Mandari sambil menyembah. "Hamba sama sekali tidak mempunyai keinginan seperti itu! Hamba memang pernah bersumpah untuk menikah dengan pria yang mampu mengalahkan hamba, akan tetapi hamba tidak pernah bertanding dan tidak pernah dikalahkan Kipatih Narotama. Hamba tidak berhutang budi apapun kepadanya. Selain itu, yang hamba terima adalah pinangan paduka."

Jawaban ini jelas sudah dan hati Sang Pabu Erlangga merasa lega. Bagaimana pun juga tadinya ada kekhawatiran dalam hatinya bahwa Mandari juga telah jatuh hati kepada patihnya yang ganteng dan gagah seperti halnya Lasmini.

"Akan tetapi andika belum pernah menguji kesaktianku, Mandari! Agar andika tidak melanggar sumpah sendiri, mari andika boleh menguji kedigdayaanku." Sang Prabu Erlangga berkata sambil tersenyum lebar.

"Wah, hamba ..... hamba tidak berani, gusti ....."

"Mandari, jawablah sejujurnya. Ilmu apakah yang merupakan aji pamungkasmu, yang paling andika andalkan?"

"Ya hanya Aji Ampak-ampak itulah gusti, seperti yang dikuasai oleh Mbakayu Lasmini."

"Nah, sekarang kuperintahkan andika untuk bangkit dan seranglah aku dengan Aji Ampak-ampak mu itu. Akan tetapi kuperintahkan andika, pukullah dengan seluruh kekuatanmu. Bukan andika saja yang ingin menguji kemampuanku, sebaliknya akupun ingin sekali melihat sampai di mana kedigdayaan calon selirku yang dapat kujadikan pengawal pribadi. Lakukanlah dan taati perintah!"

Mandari adalah seorang gadis yang cerdik. Dari sikap dan ucapan sang prabu itu, mengertilah ia bahwa raja itu tidak main-main dan bahwa ia harus menaatinya karena raja itu agaknya bukan hanya hendak menguji kedigdayaannya, melainkan juga ketaatannya akan perintah raja. Tanpa ragu-ragu lagi Mandari bangkit berdiri, menyembah dan berkata, "Mohon beribu ampun, gusti."

Lalu ia menggosok kedua tangannya, memasang kuda-kuda dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya, ia menggunakan Aji Ampak-ampak mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Sang Prabu Erlangga yang masih duduk dengan tenang di atas kursi gading.

"Aji Ampak-ampak ..... hyaaaaaahhh....."

Seluruh ruangan itu terasa dingin ketika cahaya kebiruan menyambar keluar dari telapak tangan gadis itu, menyerang ke arah Sang Prabu Erlangga! Sang Prabu Erlangga tidak beranjak dari kursinya dan tiba-tiba ketika hawa pukulan dingin itu menerpa dengan dahsyat ke arahnya, raja yang sakti mandraguna itu menggerakkan tangan kirinya seperti menepis. Akan tetapi dari gerakan tangan kiri ini menyambar angin yang dahsyat sekali.

"Wuuuttt ..... blarrrrr .....!"

Tubuh Mandari yang tadinya berdiri itu terpelanting dan gadis itu roboh dengan tubuh terkulai lemas, seolah-olah seluruh urat syarafnya dilolosi dari tubuhnya!

"Aduhhh ..... gusti sinuwun ..... hamba tobat ..... mohon ampun gusti ....." Gadis itu merintih. Tubuhnya tidak terasa nyeri, akan tetapi ia merasa begitu lemah sehingga untuk bangkit dudukpun sukar sekali!

Sang Prabu Erlangga tertawa senang. "Bagus, tenaga pukulanmu cukup hebat Mandari!" Lalu Sang Prabu Erlangga turun dari kursinya, menghampiri Mandari dan dua kali dia menepuk pundak dan punggung gadis itu. Mandari dapat bergerak kembali dan dia dituntun sang prabu dan diajak duduk di sebelahnya.

Demikianlah, mulai hari itu, Lasmini menjadi selir Kipatih Narotama dan Mandari menjadi selir Sang Prabu Erlangga. Dalam waktu singkat saja dua orang gadis ini mampu memikat hati raja dan patihnya itu sehingga dua orang yang sakti mandraguna itu amat mengasihi dua orang puteri dari Parang Siluman itu.

Tidak ada manusia yang sempurna dunia ini. Bahkan tidak ada mahluk yang sempurna di dunia ini. Yang Maha Sempurna hanyalah Sang Hyang Widhi Wasa, Pencipta alam maya pada dengan seluruh isinya. Sebersih-bersih manusia, pasti ada nodanya walau pun setitik. Sekuat-kuatnya manusia pasti ada kelemahannya. Bahkan menurut dongeng, para dewata yang hidup di khayangan sekalipun tidak luput dari pada dosa dan kelemahan. Biasanya, ada tiga hal yang mampu melemahkan manusia, yaitu harta, kedudukan, dan wanita. Banyak sekali para ksatria yang batinnya kuat menahan godaan harta maupun kedudukan, namun jarang yang kuat menghadapi keindahan yang terdapat pada diri wanita.

Memang harus diakui bahwa adanya Mandari sebagai selir Sang Prabu Erlangga dan Lasmini sebagai selir Kipatih Narotama tidak mengurangi kebijaksanaan raja dan patihnya ini dalam pemerintahan. Juga tidak mengurangi kewaspadaan mereka dalam mengatur para menteri dan hulubalang menjaga ketentraman negara.

Akan tetapi kalau dalam pandangan manusia biasa seolah tidak ada perubahan apapun yang merugikan kerajaan dan kawulanya, namun ada seseorang yang terkadang mengerutkan alisnya kalau dia melihat adanya pengaruh buruk seperti mendung meliputi kecerahan matahari di atas Kahuripan. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan itu, namun dia merasa perlu untuk memberi peringatan kepada Sang Prabu Erlangga...

BERSAMBUNG KE JILID 06


Cerita Silat Keris Pusaka Sang Megatantra Jilid 05

CERITA SILAT ONLINE KARYA KHO PING HOO

KERIS PUSAKA SANG MEGATANTRA JILID 05

SEETELAH merencanakan siasat yang hendak mereka lakukan terhadap Narotama, dua orang perawan Bukit JungKringslaka yang cantik jelita itu lalu masuk kamar dan tidur. Ki Nagakumala sendiri duduk bersila di dalam pondok, memusatkan tenaganya agar besok dapat siap menghadapi segala kemungkinan.

Pada keesokan harinya, Narotama mendaki Bukit Junggringslaka. Seperti biasa, orang muda perkasa ini selalu dalam keadaan waspada. Sikap "eling lan waspada" (sadar dan waspada) ini merupakan sikap yang tidak pernah meninggalkan dirinya lahir batin setiap saat.

Sadar dan waspada saat demi saat. Sadar akan keberadaan dirinya, sadar akan Kekuasaan Maha Tinggi yang menguasai dan mengatur segala sesuatu yang tampak dan tidak tampak, termasuk diri pribadinya lahir batin, sadar dan ingat selalu bahwa dirinya merupakan ciptaan dan alat Sang Hyang Widhi Wasa (Gusti Allah), bahwa Kekuasaan Maha Tinggi itu merupakan awal akhir, merupakan sangkan paraning dumadi (awal dan akhir semua keberadaan).

Di samping kesadaran rohani ini, juga selalu ada kewaspadaan dalam dirinya melalui panca-inderanya, pengamatan yang selalu baru akan segala yang berada di dalam dan di luar dirinya. Dengan demikian, maka segala gerak hati akal pikiran dan kelakuan dibimbing oleh Sang Dewa Ruci (Roh Suci) sehingga yang berada dalam hati sanubari hanyalah upaya untuk "memayu hayuning bawana" (menjaga keindahan alam).

Dalam bimbingan Sang Dewa Ruci, si aku, yang bukan lain hanya nafsu-nafsu daya rendah yang saling berlumba untuk menguasai diri manusia lalu mengaku-aku sebagai "aku", menjadi lenyap atau setidaknya melemah sehingga hati menjadi sabar dan tenang, tidak mudah terbakar emosi yang bukan lain hanyalah gejolak nafsu daya rendah.


Narotama melangkah perlahan-lahan dan santai mendaki bukit. Matahari pagi mulai mengusir halimun yang semalam memeluk bumi, meninggalkan butir-butir mutiara embun bergantung di ujung-ujung daun dan merupakan butir-butir air mata kelopak-kelopak bunga. Air mata tangis bahagia, sama sekali tidak tersentuh duka walau pada bunga yang sudah layu sekalipun.

Semua itu seperti digelar di depan Narotama, tampak semuanya, dan yang ada hanya satu kesan, yaitu indah dan bahagia! Terasa benar oleh Narotama semua itu merupakan hasil karya Seniman Maha Besar, merupakan ciptaan agung yang tiada taranya. Namun, biarpun semua itu merupakan berkah Sang Hyang Widhi Wasa, berkah yang paling besar berada dalam dirinya sendiri. Apa yang membuat kesemuanya itu tampak indah?

Karena ada penglihatan di matanya! Kalau Sang Hyang Widhi Wasa tidak memberi berkah penglihatan pada kedua matanya, semua keindahan yang terbentang di jagad raya ini takkan ada arti baginya. Juga semua keindahan bunyi, kemerduan kicau burung, kokok ayam, dengus kerbau dan embik kambing nun jauh di bawah bukit, takkan ada artinya kalau dia tidak diberkahi dengan pendengaran pada telinganya!

Mata Narotama yang memandang tanpa ditunggangi nafsu daya rendah, dapat melihat dengan hati akal pikiran yang jernih tanpa penilaian, tanpa pendapat, tanpa keinginan sehingga tidak ada pertentangan dengan keadaan seperti apa adanya. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi bagus atau jelek, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Yang ada hanya indah sempurna, wajar dan pas, karena yang ada hanyalah terjadinya Kehendak Sang Hyang Widhi. Kehendak si aku, yaitu nafsu daya rendah, sama sekali tidak bekerja.

Sedikit gerakan di antara rumput hijau gemuk itu cukup membuat Narotama yang selalu waspada menyadari bahwa ada sesuatu terjadi di situ. Dia cepat menoleh dan mengamati. Kiranya seekor ular dumung sedang bergerak perlahan sekali, menyusup di antara rumput menghampiri seekor kelinci putih yang sedang makan daun. Narotama melihat betapa indahnya kulit ular itu tertimpa matahari pagi yang bersinar lembut. Tidak akan ada tangan seorang seniman lukis dapat membuat coretan garis-garis seperti yang tergambar pada kulit ular itu!

Setelah jarak antara ular dan kelinci itu tinggal kurang lebih dua kaki lagi,ular itu mengangkat kepalanya ke atas, gerakannya perlahan sekali sehingga kelinci itupun tidak mendengar atau melihatnya. Kemudian, bagaikan kilat menyambar, kepala ular itu meluncur ke depan, moncong yang terbuka lebar itu,menyambar dan tengkuk kelinci putih itu sudah digigitnya. Darah merah menodai bulu kelinci yang putih. Kelinci itu menjerit lirih dan meronta, namun suara jeritan dan tubuhnya segera tak terdengar dan tak tampak lagi dibelit tubuh ular. Belitan kuat yang meremukkan tulang-tulang kelinci itu.

Narotama tersenyum. Teringat dia ketika baru saja berguru di Pulau Bali dan melihat peristiwa seperti ini, seekor ular yang menggigit lalu mencaplok seekor katak, hatinya dipenuhi perasaan marah dan kengerian. Timbul keinginan hatinya untuk membela katak dan memusuhi ular yang dianggapnya kejam dari ganas. Masih terngiang dalam ingatannya apa yang dikatakan gurunya ketika itu. Gurunya tertawa melihat dia marah dan penasaran.

"Narotama, yang baru saja engkau saksikan itu sama sekali bukan merupakan keganasan dan kekejaman seekor ular, melainkan terjadinya hukum atas segala mahluk seperti yang sudah dikodratkan oleh Sang Hyang Widhi yang menciptakan segala alam maya pada berikut seluruh isinya. Binatang itu hidup menurutkan naluri dan pembawaannya. Ular makan binatang kecil lain, hal itu adalah merupakan hukum yang berlaku atas dirinya, tak mungkin diubah lagi oleh siapapun juga kecuali kalau Sang Hyang Widhi menghendaki. Ular itu sudah menjadi kodratnya tidak bisa makan daun atau akar. Makannya ya binatang kecil itulah. Kalau engkau menghalangi dia makan katak dan sebagainya, yaitu binatang kecil, dia akan mati kelaparan. Demikian pula engkau tidak dapat memaksa seekor kerbau makan ular atau binatang lain. Makannya, menurut kodratnya, adalah daun-daun atau rerumputan. Apakah engkau hendak menentang kodrat yang ditentukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa?"

Kini, melihat seekor ular mencaplok seekor kelinci, tidak ada lagi perasaan penasaran dalam hati Narotama, bahkan dia melihat betapa tertib, sempurna, dan indahnya semua hokum alam sesuai dengan Kehendak Hyang Widhi berlangsung dan berjalan tanpa diikat dan dikuasai ruang dan waktu. Semua Kehendak Hyang Widhi Wasa sudah baik, benar, adil dan suci. Terjadilah segala kehendakNya. Salahnya, manusia menilai atas dasar kehendak masing-masing yang bukan lagi adalah ulah nafsu daya rendah. Oleh karena itu muncullah konflik-konflik dalam diri sendiri yang mencuat menjadi konflik antar manusia, bahkan konflik antara kehendak manusia yang dibandingkan dengan Kehendak Hyang Widhi.

Jadilah kehendakmu, demikian seharusnya seorang bijaksana berserah diri kepadaNya. Jangan sekali-sekali menambah kalimat suci dari dua kata itu menjadi Jadilah kehendakMu sesuai dengan keinginanku! karena kalau demikian kita akan bertemu dengan konflik batin yang berkepanjangan.

Ketika Narotama tiba di depan pondok tempat tinggal Ki Nagakumala, dia melihat Ki Nagakumala sudah menanti diatas dipan depan pondok bersama dua orang wanita muda yang dia duga pasti dua orang gadis yang dipinang oleh Sang Prabu Erlangga.

"Selamat pagi, Paman Nagakumala dan nimas berdua!" kata Narotama dengan ramahnya.

Di dalam hatinya Narotama terpesona juga melihat dua orang dara itu. Memang sukarlah mencari dua orang dara yang demikian cantik jelita, ayu manis, luwes kuwes merak ati seperti mereka yang duduk di atas bangku sebelah kiri Ki Nagakumala dengan pandang mata mereka yang demikian indah sambil tersenyum simpul.

Bibir manis merah basah itu merekah seperti bunga mawar sedang mekar di pagi hari bermandi embun pagi yang segar. Akan tetapi, dasar seorang ksatria yang kokoh kuat batinnya, pada pandang matanya, Narotama tidak menunjukkan kekagumannya dan hanya memandang biasa dengan tenang dan penuh sopan santun.

"Selamat pagi, Kipatih Narotama dan silakan duduk." Ki Nagakumala menunjuk ke arah sebuah bangku yang sudah disediakan untuk tamunya, berhadapan dengan mereka bertiga.

Narotama memandang ke arah bangku yang ditawarkan. Sekilas pandang saja tahulah dia bahwa bangku kayu itu sudah dirajah (diisi dengan aji). Agaknya kembali Ki Nagakumala hendak mengujinya. Dia pura-pura tidak tahu dan duduk di atas bangku yang ditawarkan. Tentu saja diam-diam dia mengerahkan aji kesaktiannya untuk melindungi diri terhadap serangan rajah yang sudah dipasang pada bangku itu.

Tiga orang itu, terutama Lasmini dan Mandari, memandang dengan hati tegang. Mereka tahu bahwa barang siapa menduduki bangku yang sudah dirajah dengan Rajah Banaspati itu tentu akan terbakar Narotama duduk dan...."cesssssss ....." tampak asap mengepul tebal dari bangku yang diduduki Narotama. Narotama bangkit berdiri dengan tenang dan bangku itupun hancur menjadi arang setelah baru saja dibakar api yang besar, padahal pakaian Narotama sedikitpun tidak ada yang terbakar, apalagi kulit tubuhnya.

"Maaf, Paman Nagakumala. Bangku ini rusak." Kata Narotama dan dia mengambil sebuah bangku lain dan duduk berhadapan dengan tiga orang itu.

"Ha-ha-ha-ha! Bagus, Anakmas Narotama! Tidak percuma andika menjadi maha patih di Kahuripan. Kami menerima andika sebagai utusan Sang Prabu Erlangga dengan penuh penghormatan."

"Terima kasih, Paman Nagakumala, atas kebijaksanaan andika."

"Perkenalkan, anakmas. Ini adalah keponakanku, juga murid-muridku. Ini adalah Nini Lasmini dan yang lebih muda Nini Mandari. Mereka adalah kakak beradik, puteri-puteri adikku Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman. Nini berdua, inilah Rakyana Patih Narotama dari Mataram."

Dua orang gadis itu memberi hormat dengan sembah di depan hidung mereka. Narotama membalas dengan sembah di depan dada.

"Paman Nagakumala, bagaimana jawaban paman atas pinangan yang saya ajukan kemarin? Apakah sudah ada keputusan jawabannya?"

"Ha-ha-ha! Sudah kami rundingkan dengan dua orang anak yang bersangkutan, anakmas. Sebaiknya kalau anakmas mendengar sendiri apa yang menjadi jawaban mereka. Nini Lasmini, engkau sudah mendengar sendiri pertanyaan Ki patih Narotama dan aku sudah menceritakan kepada kalian berdua tentang pinangan yang diajukan Kipatih atas nama Sang Prabu Erlangga. Nah, sekarang, engkau jawablah sendiri saja pertanyaan itu dan terserah kepadamu sendiri apakah engkau dapat menerima pinangan itu ataukah tidak."

Lasmini menatap tajam wajah Narotama dan pada sinar matanya terbayang kekaguman kepada pria perkasa itu. Pria yang masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap dan jelas berisi tenaga yang amat kokoh kuat walaupun sikapnya sederhana. Wajahnya tampan dan penuh wibawa. Tidak mengenakan pakaian kebesaran seperti seorang bangsawan tinggi, melainkan seperti seorang muda dari pulau Bali. Kepalanya terbungkus kain pala yang ujungnya meruncing di bagian belakang. Mata yang tajam seperti mata elang itu memandang dengan lurus dan wajar, sama sekali tidak membayangkan perasaan hatinya, namun bibir yang tersenyum itu membayangkan kesabaran dan penuh pengertian. Wajah seorang laki-laki, seorang jantan dan begitu bertemu pandang, Lasmini segera jatuh hati. la merasa tertarik sekali dan ada kemesraan menyentuh hati sanubarinya. Kalau laki-laki ini benar memiliki kedigdayaan seperti yang pernah didengarnya, maka inilah calon suami yang di nanti-nantinya dan ia segera merasa cocok dan setuju dengan siasat yang telah direncanakan semalam bersama Mandari dan Ki Nagakumala.

Mendengar ucapan uwanya itu, Lasmini tersenyum, menjaga agar senyum itu keluar dengan wajar tidak dibuat-buat dan tampak semanis-manisnya. Memang manis bukan main ketika ia tersenyum itu. Bahkan tahi lalat hitam kecil di sudut mulut bagian kiri itu seolah menari.

"Karena andika ternyata masih amat muda, Kipatih, bolehkah saya menyebut andika Kakangmas Narotama saja?" katanya dengan lembut dan sikap sopan, agak malu-malu.

Narotama tersenyum. Wajah Lasmini begitu menarik dan mempesona hatinya, namun dia ingat bahwa dia dalam tugas dan wanita ini bersama adiknya dipinang oleh Sang Prabu Erlangga, hendak dijadikan selir dan dia hanyalah seorang utusan sehingga sama sekali tidak boleh perasaannya ikut berulah.

"Tentu saja, Nimas Lasmini. Tentu andika boleh menyebutku Kakangmas Narotama saja. Sesungguhnya saya pun tidak ingin membanggakan kedudukanku sebagai patih dan saya sekarang ini hanya bertindak sebagai seorang utusan."

"Baiklah kalau begitu, kakangmas. Sekarang, apakah kakangmas menghendaki jawaban atas pinangan itu langsung dari mulut saya?"

"Sebaiknya begitulah. Saya hanya utusan dan apapun yang menjadi jawaban andika sekalian atas pinangan itu, saya hanya akan melaporkannya kepada Gusti Sinuwun."

"Terus terang saja aku dan adikku mandari sudah saling berembuk dalam hal ini dan sudah mengambil keputusan. Andika tadi sudah mendengar bahwa kami adalah puteri-puteri Kanjeng Ibu Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman, dan ayah kami adalah Sang Bhagawan Kundolomuko yang kini menjadi pertapa di pantai Blambangan. Nah, setelah mengetahui akan hal itu, bahwa ayah ibu kami adalah musuh-musuh Mataram, apakah andika masih hendak melanjutkan pinangan itu, kakangmas?"

"Kanjeng Gusti Sinuwun tahu benar akan hal itu, nimas. justru karena selama ini Kerajaan Parang Siluman memusuhi Mataram, maka beliau mempunyai keinginan untuk mengulurkan tangan persahabatan, bahkan kekeluargaan dengan Kerajaan Parang Siluman. Maka, mendengar bahwa Kerajaan Parang Siluman mempunyai dua orang puteri yang bijaksana, sakti dan cantik jelita, lalu timbul keinginan Gusti Sinuwun untuk meminang andika berdua."

Lasmini tersenyum lagi dan mengangguk-angguk. "Hal itupun sudah kami dengar dari keterangan Uwa Nagakumala. Akan tetapi semenjak kami remaja, kami berdua sudah menentukan syarat bagi pria yang hendak mempersunting kami sebagai isteri. Pertama... dia harus seorang ksatria yang berkedudukan tinggi."

"Gusti Sinuwun Erlangga adalah seorang ksatria besar dengan kedudukan sebagai raja!" kata Narotama.

"Syarat yang ke dua, dia harus seorang pria muda yang tampan dan bijaksana."

"Itu syarat yang sudah terpenuhi, nimas. Siapa yang tidak mengenal bahwa Sang Prabu Erlangga adalah seorang pria muda yang tampan dan gagah, berbudi bawa laksana, sugih bandha bandhu lagi bijaksana?"

"Dan syarat ke tiga yang penting kali bagi kami, pria itu harus sakti mandraguna dan dapat mengalahkan kami dalam pertandingan adu kesaktian!"

"Sang Prabu Erlangga adalah seorang raja yang sakti mandraguna pilih tanding, lebih digdaya dibandingkan aku. Akan tetapi beliau tidak berada di sini untuk membuktikan kesaktiannya. Aku adalah utusannya yang berkuasa penuh, bertanggung jawab dan berhak mewakili beliau menghadapi segala rintangan dan tantangan. Oleh karena itu, syarat ketiga itu dapat dipenuhi dan aku yang menjadi wakilnya."

"Kalau begitu, andika yang akan mewakili Sang Prabu Erlangga menandingiku, kakangmas?" tanya Lasmini dan matanya memandang begitu indahnya, setengah tertutup sehingga bulu mata yang lentik panjang itu hampir saling merapat.

"Kalau memang itu merupakan sayembara bagimu, akan kuhadapi, nimas!"

Lasmini tersenyum menoleh kepada Ki Nagakumala. "Uwa, aku akan menerimanya di mana lagi kalau tidak di sini? Pelataran pondok kami ini cukup luas untuk dijadikan tempat bertanding kesaktian. Mari, Kakangmas Narotama, mari saling menguji kesaktian masing-masing. Sudah lama aku mendengar akan kehebatan Kipatih Narotama dan ingin sekali aku merasakan sendiri sampai berapa hebat dan ampuh kepandaiannya!”

Setelah berkata demikian, Lasmini melompat ke depan. Sekali lompat ia sudah melayang ke pelataran yang terbuka, tidak kurang dari lima tombak jauhnya, bagaikan seekor burung srikatan saja gesitnya, la berdiri tegak seperti srikandi, pendekar wanita digdaya dalam cerita Mahabharata itu.

Narotama bangkit berdiri, membungkuk kepada Ki Nagakumala seolah minta perkenan tuan rumah itu. Kakek itu tersenyum dan mempersilakan dengan gerakan tangannya. Narotama lalu melangkah menghampiri Lasmini yang telah berdiri menanti sambil bertolak pinggang.

Mereka saling berhadapan, saling mengamati seperti lagak dua ekor ayam yang hendak bertarung. Lasmini mengamati wajah dan tubuh Narotama penuh perhatian. Pria itu memang tampan dan gagah sekali walaupun sikapnya lembut bersahaja. Tubuhnya yang tinggi tegap Itu menunduk seolah memperlihatkan kerendahan hatinya, namun kepalanya tegak penuh wibawa dan keagungan. Pancaran pandang matanya penuh pengertian dan penuh kekuatan batin, pandang mata yang begitu dalam dan tenang seperti permukaan air telaga yang dalam.

Namun di balik semua kekuatan tersembunyi Itu, terbayang kelembutan seorang ksatria yang selalu merasa rendah dan tunduk akan kekuasan Yang Maha Tinggi. Biarpun pakaiannya juga tidak terlalu mewah, namun dalam kesederhanaan itu terbayang keagungan seorang priyayi yang berkedudukan tinggi. Sebatang keris berwarangka kayu terukir terselip di ikat pinggangnya. Itulah keris pusaka Kolomisani, sebatang keris kecil berbentuk lurus.

Di lain pihak, Narotama juga mengamati calon lawannya dan kembali hatinya tergetar dan terguncang oleh daya tarik yang luar biasa dari dara ayu itu. Tubuh Lasmini ramping dan padat, denok dan kewes. Dadanya yang membusung itu tampak membayang di balik kemben sutera halus, seolah-olah bukit dadanya hendak memberontak karena ditutup dan ditekan kemben, seperti sepasang gunung berapi siap meletus. Rambutnya yang hitam panjang berombak itu digelung lebar berhias emas bermata intan yang amat indah.

Gelung rambut itu ujungnya terurai di leher sebelah kanan, terhias untaian bunga melati. Wajahnya gemilang seperti bulan purnama, dihalus-putihkan dengan bedak tipis-tipis. Kulitnya yang putih mulus itu demikian halus sehingga ketika tertimpa sinar matahari pagi, seperti berkilau laksana emas. Sebilah keris kecil terselip di pinggangnya. Sungguh merupakan seorang dara yang luar biasa cantik jelitanya, bagaikan Dyah Srikandi, cantik dan juga gagah perkasa.

Lasmini melepas lagi senyumnya. Senyum yang lebih tajam dan lebih berbahaya daripada anak panah yang dilepas dari gendewa di tangan Srikandi. Senyum itu bagaikan anak panah mujijat yang langsung menyambar ke arah jantung Narotama! Namun, kipatih ini cepat menangkis dengan tekanan batinnya, mengingat bahwa wanita itu adalah calon garwa selir junjungannya sehingga tidak pantaslah kalau dia jatuh cinta!

"Kakangmas Narotama, sudah siapkah andika?" Tanya Lasmini, suaranya merdu sekali, bukan seperti orang menantang bertanding, begitu mesra dan bersahabat.

"Sudah, nimas. Aku sudah siap. Mulailah." kata Narotama tenang.

Lasmini sudah merencanakan siasat bersama adik dan uwaknya. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan mungkin dapat menandingi kipatih yang sudah amat terkenal kedigdayaannya itu. Sudah diatur bahwa ia harus berhasil menjadi garwa atau selir Kipatih Narotama yang nama jabatannya adalah Rakryan Patih Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narotama Danasura itu.

Karena itu, setelah kini berhadapan dengan Narotama dan mulai bertanding, iapun memasang gaya yang amat menarik, la membuka gerakan silatnya dengan indah sekali. Ia berdiri memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di belakang dan kaki kiri di depan, kedua lutut ditekuk dan kaki kiri berdiri pada ujung kakinya, sikapnya "ndegeg", yaitu dada dibusungkan kedepan dan pinggul ditonjolkan ke belakang, tangan kiri dengan siku ditekuk dan jari-jari terpentang berada di depan dahi dengan telunnjuk menuding ke atas, tangan kanan berkembang ke belakang dengan jari jari terbuka pula.

Gerakan pembukaan ini indah sekali, seperti seorang penari Bali beraksi, dadanya dan pinggulnya makin tampak membusung dan pinggangnya tampak begitu ramping seperti akan patah, pasangan pembukaan yang indah dan juga mengandung daya tarik yang menggairahkan. Narotama terpesona akan semua keindahan gerak tubuh wanita ini, akan tetapi dia bersikap tenang, menanti dara itu melakukan penyerangan.

"Sambut seranganku!" Tiba-tiba Lasmini berseru dan tubuhnya mulai bergerak menyerang. Tangan kirinya menyabar dari atas mencengkeram ke arah kepala Narotama disusul tangan kanan yang meluncur ke arah dada dengan tusukan dua jari tangan.

"Hyaaaaattt .....!"

Narotama kagum. Serangan itu sungguh dahsyat. Namun baginya tidak merupakan ancaman bahaya. Dia lalu mengelak dan ketika Lasmini menyusulkan serangan bertubi-tubi sambil dibarengi dengan bentakan-bentakan nyaring, Narotama hanya membela diri dengan elakan dan tangkisan. Kalaupun menangkis, dia membatasi tenaganya, tidak mempergunakan tenaga yang mengandung kekerasan, melainkan menggunakan tenaga lemas sehingga Lasmini merasa seolah lengannya ditangkis sebatang lengan yang hanya terdiri dari kulit dan daging tanpa tulang, begitu empuk walaupun amat kuat sehingga tidak membuat lengannya nyeri.

Diam-diam Lasmini merasa girang sekali. Kenyataan ini saja menunjukkan bahwa kipatih ini "ada rasa" kepadanya, menyayangnya dan tidak ingin menyakitinya. Bahkan sampai tiga puluh jurus ia menyerang terus secara bertubi-tubi, tidak satu kalipun patih itu membalas!

Bagaimanapun juga, Lasmini merasa penasaran sekali. Ia memang sudah diberi tahu uwanya bahwa Narotama amat sakti mandraguna dan ia tidak mampu menandingnya, namun kini ia merasa begitu tidak berdaya seperti seorang anak kecil saja. la merasa penasaran juga karena selama ini belum pernah ia dikalahkan orang.

Setelah kembali sebuah tangkisan lengan yang lunak seperti karet itu membuatnya terpental ke belakang, Lasmini diam-diam membaca mantra dan mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Segera terasa hawa dingin menyelubungi sekitar dara itu, terutama sekali Narotama merasa ada hawa dingin menyergapnya. Dia maklum bahwa gadis itu mempergunakan aji kesaktian yang mengandung hawa dingin dan tentu merupakan pukulan yang memiliki daya serang berbahaya. Maka, diapun sudah siap siaga untuk menyambut serangan aji yang mengandung kekuatan sihir itu. Lasmini mengumpulkan tenaga dan setelah merasa tenaganya mencapai titik puncak, ia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Narotama sambil berseru melengking.

"Aji Ampak-ampak.... hiyaaaaahh....!!"

Tampak cahaya kebiruan menyambar dari kedua telapak tangan itu meluncur ke arah tubuh Narotama. Ampak-ampak adalah semacam halimun atau kabut dingin yang biasanya terdapat di puncak-puncak gunung yang wingit, yang mengandung hawa dingin menyusup tulang dan juga mengandung bisa yang dapat mematikan manusia maupun tumbuh tumbuhan.

Narotama yang sudah siap siaga, lalu mengerahkan tenaga saktinya, menyambut dengan dorongan kedua tangannya sambil berseru nyaring.

"Aji Bojrodahono (Api Halilintar) .....!"

Tidak ada lawan yang lebih ampuh untuk melawan Aji Ampak-ampak yang dingin seperti salju itu kecuali Aji Bojrodahono yang panas bagaikan api.

"Blarrrrr .....!"

Masih untung bagi Lasmini bahwa Narotama tidak mempergunakan seluruh tenaga saktinya, hanya membatasi dan cukup untuk menolak serangan dara itu saja. Namun, pertemuan dua tenaga sakti itu tetap saja membuat tubuh denok Lasmini terdorong ke belakang dan nyaris ia jatuh terjengkang kalau saja ia tidak cepat berjungkir balik ke belakang sampai tiga kali.

Perbuatan ini tentu saja membuat kain yang menutupi tubuhnya tersingkap sedikit sehingga tampak oleh Narotama kulit paha yang putih mulus dan betis kaki yang indah memadi bunting. Kembali darahnya berdesir kencang.

Lasmini merasa kagum sekali. Akan tetapi dasar ia berwatak liar dan biasaya suka menyombongkan kepandaian sendiri, kekalahan demi kekalahannya itu membuat ia semakin penasaran. Ia lalu mencabut keris kecil yang terselip di pinggangnya. Sambil mengacungkan senjata itu, ia berkata, suaranya menantang.

"Kakangmas Narotama, beranikah andika menyambut keris pusakaku ini? Kalau engkau berani dan mampu mengalahkan aku sekali ini, barulah aku menerima kekalahanku!"

Narotama tersenyum. Dia harus menjaga kebesaran nama junjungannya. Pertandingan ini memang dilakukan olehnya namun sebagai wakil Sang Prabu Erlangga sehingga kemenangannya atau kekalahannya, juga merupakan kemenangan atau kekalahan Sang Prabu Erlangga. Dia memandang keris kecil itu dan melihat betapa ujung keris itu mengeluarkan sinar hitam. Dia dapat menduga bahwa keris itu pasti telah direndam racun yang amat berbahaya dan sedikit tergores saja, kalau sampai kulit terobek dan berdarah, cukup untuk membunuh orang. Dia maklum bahwa betapa pun cantik jelitanya, dara ini adalah keturunan keluarga kerajaan sesat.

Kerajaan Parang Siluman memang terkenal memiliki tokoh-tokoh ahli sihir dan racun. Akan tetapi dia tidak menjadi gentar, mengingat bahwa tingkat kesaktian Lasmini sudah diukurnya dalam pertandingan tadi dan tenaga dara itu tidak terlalu kuat baginya. Dia lalu menanggalkan baju atasnya agar jangan sampai terobek, lalu dengan dada terbuka dia melangkah maju.

"Marilah, Nimas Lasmini, akan ku tadahi keris pusakamu dengan dadaku. Hendak kulihat bagaimana ampuhnya keris pusakamu itu!"

Lasmini terbelalak. Benarkah pemuda ini hendak menerima tusukan kerisnya yang ampuh beracun dengan bertelanjang dada? Bagaimana kalau Narotama tewas oleh kerisnya? Jadi berantakan siasat yang telah direncanakan dan diatur sebelumnya. Akan tetapi, timbul pula keinginan dalam hatinya untuk menguji kesaktian pria ini. Untuk menyerahkan dirinya yang masih perawan itu kepada seorang laki-laki, ia harus yakin bahwa laki-laki itu memang patut memiliki dirinya, menerima cinta kasihnya, patut untuk dilayaninya sebagai seorang suami.

"Baik, sambutlah ini, kakangmas!" la melangkah maju dan tangan kanannya yang memegang gagang keris itu bergerak menusukkan kerisnya ke arah ulu hati Narotama.

"Syuuuttt ..... tukk!"

Keris itu membalik, seperti menusuk benda yang kenyal lunak namun kuat seperti karet! Dan kulit dada yang putih bersih itu sama sekali tidak terluka, lecet sedikitpun tidak! Lasmini terkejut dan kagum sekali. Ia sendiri juga memiliki aji kekebalan, akan tetapi kalau harus menerima tusukan keris pusakanya ini, tentu saja ia tidak berani. Keris pusakanya ini sudah dirajai dan ditapai, dapat menembus kekebalan lawan. Akan tetapi kekebalan yang dimiliki Narotama ternyata sama sekali tidak dapat ditembus.

Setelah bertubi-tubi menusuk dada dan perut sampai tujuh kali dan selalu kerisnya membalik, Lasmini mengertakan gigi dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya, lalu menusuk lagi ke arah lambung Narotama.

"Hyaattt..... ahhh!"

Tadi Lasmini sudah merasakan betapa semakin kuat ia menusuk, semakin kuat pula kerisnya terpental. Akan tetapi ia tidak kapok, kini malah menusuk dengan seluruh tenaganya. Begitu kerisnya mengenai lambung keris itu terpental dan membawa tubuhnya terjengkang. Ia tentu terbantai roboh kalau saja Narotama tidak cepat menyambar dan merangkul pinggangnya untuk mencegah tubuh gadis itu terbanting.

Dalam rangkulan sejenak ini, Narotama mencium bau kembang melati dan rambut gadis itu dan bau harum seperi cendana keluar dari tubuh Lasmini. Kedua tangannya juga merasakan tubuh yang kenyal dan lunak lembut hangat Kembali jantungnya berdebar, akan tetapi segera dia teringat akan tugasnya dan dengan lembut dia melepaskan rangkulanya.

"Maaf, nimas....." katanya sambil melangkah mundur.

Lasmini tersenyum dan kedua pipinya menjadi kemerahan, terutama di bagian tulang pipi yang menonjol di bawah kedua matanya. Ia seperti tersipu malu padahal kemerahan wajahnya bukan hanya karena tersipu, melainkan terutama karena ia tadi telah mengerahkan banyak tenaga sehingga jantungnya berdetak kencang.

"Uwa, aku telah dikalahkan oleh Kangmas Narotama, maka aku menerima pinangan itu."

"Ha-ha-ha, sudah kuduga bahwa engkau tentu tidak akan mampu menandingi Kipatih Narotama. Dan engkau bagaimana Mandari?" kata Ki Nagakumala sambil memandang Mandari.

Dara ini tersenyum. "Kalau Mbakayu ini sudah mengaku kalah, tentu saja akupun mengaku kalah, uwa, dan aku juga menerima pinangan Gusti Sinuwun Sang Prabu Erlangga."

"Anakmas Patih Narotama, andika sudah mendengar sendiri kesanggupan kedua orang keponakanku. Nah, sekarang bagaimana? Kapan anakmas akan mengajak mereka ke istana Sang Prabu Erlangga?"

"Karena urusannya telah beres, maka sedapat mungkin saya akan memboyong mereka ke istana Gusti Sinuwun secepatnya, paman." kata Narotama sambil memandang kepada dua orang gadis cantik jelita itu.

Kini Mandari yang bicara dengan sikap manja. "Kami masih mempunyai sebuah permintaan sebagai syarat, Kakang Patih Narotama"

Narotama terkejut dan diam-diam mencatat dalam hatinya bahwa sikap gadis yang lebih muda ini sungguh penuh arti. Karena merasa telah menjadi calon garwa Sang Prabu Erlangga, maka gadis ini sudah menganggap dirinya sebagai isteri raja dan memanggilnya Kakang Patih, tidak seperti Lasmini yang memanggilnya kakangmas!

"Syarat apakah itu, nimas?" tanya Narotama sambil menatap wajah gadis yang memiliki rambut lebih gemuk dan lebih panjang ketimbang rambut mbakayunya.

"Begini, kakang patih. Mbakayu Lasmini dan aku adalah keturunan bangsawan tinggi, ibu kami adalah seorang ratu. Biarpun dalam urusan perjodohan ini telah diputuskan oleh Uwa Nagakumala dan kami sendiri, namun kami merasa sudah sepatutnya kalau Sang Prabu Erlangga menghargai kami sebagai puteri-puteri yang diboyong karena pinangan, bukan diboyong karena kalah perang. Oleh karena itu, kami minta agar andika jemput kami dengan menggunakan buah kereta kebesaran dan ditarik oleh empat ekor kuda."

"Ah, permintaanmu itu pantas sekali, adikku. Kakangmas Narotama, aku memperkuat permintaan Mandari. Kalau andika akan memboyong kami, harus menggunakan kereta kebesaran, dengan demikian kami merasa dihormati dan tidak dipandang rendah orang." kata Lasmini.

Narotama tersenyum dan mengangguk. "Jangan khawatir, nimas berdua. Sesungguhnya, kereta untuk memboyong andika berdua itu sudah siap menanti di kaki bukit ini."

Narotama tidak berbohong. Memang ketika dia pergi ke Bukit Junggringslaka, dia sudah mempersiapkan sebuah kereta untuk menjemput dua orang puteri itu kalau pinangannya diterima. Kereta itu dia titipkan pada seorang lurah di dusun yang berada di kaki bukit dan seorang kusirnya yang berpakaian dinas juga menanti di sana. Mendengar ucapan Narotama itu, Ki Nagakumala lalu tertawa.

"Sekarang berkemaslah, Lasmini dan Mandari. Bawa segala barang kebutuhanmu. Nanti kita bersama-sama turun bukit Kalian ikut Kipatih Narotama ke Kahuripan dan aku akan pergi melaporkan kepada ibu kalian di Parang Siluman."

Kedua orang gadis itu lalu berkemas Narotama menanti di ruangan pendapa. Setelah selesai berkemas, dua orang gadis itu bersama Ki Nagakumala mengikuti Narotama turun bukit menuju ke dusun di mana dia menitipkan kereta, kuda dan kusirnya di rumah kepala dusun.

Siang hari itu juga berangkatlah Narotama mengawal kereta menuju ke Kahuripan, sedangkan Ki Nagakumala pergi ke selatan, ke arah Kerajaan Parang Siluman di mana adiknya Ratu Durgamala memerintah, untuk melaporkan bahwa kedua orang puterinya pergi ke Kahuripan untuk menjadi garwa selir Sang Prabu Erlangga.

div style="text-align: center;">********************

Ketika Ratu Durgamala mendengar pelaporan kakaknya bahwa kedua orang puterinya menerima pinangan untuk menjadii selir Sang Prabu Erlangga, wanita berusia empat puluh tahun yang masih cantik seperti seorang gadis itu menjadi marah sekali. Ia menggebrak meja dan memandang kakaknya dengan mata melotot.

"Gilakah andika, Kakang Nagakumala? dan sudah gila pulakah Nini Lasmini dan Nini Mandari maka mereka sudi menjadi garwa selir Raja Erlangga? Dia itu musuh bebuyutan kita, kakang! Mataram sejak dulu adalah musuh Parang Siluman! bagaimana sekarang dua orang puteri Parang Siluman, anak-anakku sendiri, menjadi selir Raja Mataram yang menjadi musuh besar kita?"

"Tenang dan bersabarlah, yayi Ratu. Penerimaan pinangan Prabu Erlangga ini disetujui oleh Nini Lasmini dan Nini Mandari sendiri. Pertama karena memang keinginan dua orang puterimu itulah yang menghendaki agar mereka yang sudah dewasa mendapatkan suami seorang bangsawan tinggi yang muda tampan, dan sakti mandraguna. Dan siapakah orang muda yang dapat melebih Prabu Erlangga dalam tiga hal itu? Hanya Kipatih Narotama yang dapat mengimbanginya. Karena itu, Nini Lasmini memilih agar diperisteri Kipatih Narotama dan Nini Mandari memilih untuk diperisteri Prabu Erlangga. Dan hal kedua yang tidak kalah pentingnya, justeru perjodohan ini telah kami rencanakan untuk menjadi sarana penghancuran Mataram."

"Ehh?? Penghancuran Mataram melalui perjodohan anak-anakku dengan Erlangga dan Narotama? Apa maksudmu kakang?"

"Begini, yayi ratu. Kedua orang puterimu itu, murid-muridku yang pintar-pintar, telah menyetujui rencana kami itu. Dengan penuh keyakinan mereka percaya bahwa mereka akan mampu membuat raja dan patihnya mabok kepayang dan selanjutnya mengadakan bujukan-bujukan agar raja dan patih yang sakti mandraguna itu saling bertikai dan bertentangan sehingga Mataram menjadi lemah. Bahkan kalau usaha itu gagal, mereka akan meningkatkan usaha mereka, yaitu membunuh Erlangga dan Narotama."

"Ahh! Mereka..... para puteriku yang ayu manis, mau melakukan itu?" Ratu Durgamala membelalakan matanya dan wajahnya menjadi cerah gembira.

"Ya, itulah yang kami rencanakan. Maka mereka tidak merasa ragu lagi untuk menerima pinangan dan mengikuti Kipatih Narotama menuju Kahuripan."

"Dan mereka mengorbankan diri untuk itu! Aih, anak-anakku yang manis, anak-anakku yang hebat, kalian tidak mengecewakan, kalian pantas menjadi anak-anakku, kalian persis watak ibu kalian! he-he-he-hi-hik!"

Ratu Durgamala tertawa senang, agaknya sudah lupa betapa beberapa tahun yang lalu ia selalu merasa bersaing dengan dua orang puterinya yang makin dewasa menjadi semakin cantik sehingga ia merasa terancam. Dialah yang menjadi ratu. Ia yang menjadi wanita nomor satu paling cantik, di Parang Siluman, la tidak mau disaingi atau dikalahkan dalam hal kecantikannya oleh wanita manapun juga, bahkan kecantikan dua orang puterinya yang menonjol itu membuatnya iri dan khawatir kalau kedudukannya sebagai wanita tercantik akan tergeser oleh dua orang puterinya.

Karena itulah maka ia mengharuskan dua orang puterinya itu ikut kakaknya, Ki Nagakumala di Bukit Junggringslaka untuk memperdalam ilmu mereka. Di lain pihak, dua orang puterinya juga merasakan ketidak-senangan bahkan mendekati kebencian ibu kandung mereka sendiri terhadap mereka. Karena itulah mereka lebih senang ikut uwa mereka mempelajari ilmu, dan ketika mereka menerima pinangan Raja Erlangga, mereka sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk minta ijin atau pamit kepada ibu kandung mereka!

Memang Ratu Durgamala ini memiliki watak yang seperti iblis, gila akan kecantikannya sendiri Bahkan ia mempelajari segala macam ilmu untuk dapat membuat dirinya awet muda, dan akhirnya ia menemukan Suket sungsang, semacam rumput yang langka dunia ini dan rumput ajaib inilah yang membuat ia awet muda dan tampak seperti berusia dua puluh tahun saja walaupun usianya sudah empat puluh tahun lebih. la juga memberi jamu Suket Sungsang kepada dua orang puterinya sehingga dua orang gadis itupun menjadi awet muda. Iapun seorang petualang nafsu berahi dan inilah yang membuat suaminya, ayah dari Lasmini dan Mandari, meninggalkannya dan lebih suka menjadi seorang pertapa di pantai Blambangan.

Tadinya, mendengar dua orang puteri kandungnya hendak menjadi garwa Raja Erlangga dan Patih Narotama tanpa seijinnya, tanpa pamit, kasih sayang seorang ibu dalam hatinya tersentuh. Akan tetapi setelah mendengar bahwa kedua orang puterinya itu sengaja mengorbankan diri untuk kepentingan Parang Siluman, yaitu menghancurkan Mataram, ia menjadi bangga dan gembira sekali.

Demikianlah, kasih sayang manusia antara berhubungan apapun juga, suami isteri, sahabat, bahkan ibu dan anaknya, kalau sudah dikuasai nafsu pementingan diri sendiri, maka kasih sayang itu menjadi kotor. Kasih sayang seperti itu hanya merupakan sarana untuk menyenangkan diri sendiri. Kalau kasih sayang murni yang sejati ada, maka si-aku yang mementingkan kesenangan hati dan perasaan sendiri, tidak akan muncul. Kalau si-aku yang berupa nafsu hati akal pikiran muncul, apa yang dinamakan cinta kasih itu hanyalah ulah nafsu yang pamrihnya tidak lain untuk mencari keenakan dan kesenangan diri sendiri, untuk pemuasan jasmani.

Maklum bahwa kakaknya adalah seorang yang sakti mandraguna, Ratu Durgamala lalu menahan kakaknya dan membujuk agar kakaknya itu suka tinggal di Parang Siluman membantunya. Ki Nagakumala yang merasa kesepian setelah ditinggalkan dua orang keponakannya, menerima ajakan itu dan sejak hari itu, diapun tinggal di Parang Siluman dan menjadi penasihat dari Ratu Durgamala.

********************


cerita silat online karya kho ping hoo

Kereta itu meluncur dengan cepatnya menuju ke kota raja Kahuripan. Sang kusir yang berpakaian indah itu mengendalikan empat ekor kuda penarik kereta dan dua orang puteri Parang Siluman pun duduk di dalam kereta, berbisik-bisik sehingga suara percakapan mereka Tidak terdengar oleh sang kusir. Di belakang kereta itu, dalam jarak kurang lebih sepuluh meter, Narotama menunggangi kudanya, mengawal dari belakang. Hatinya merasa gembira bukan main karena dia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Beruntung sekali bahwa pinangan itu dapat diterima oleh Ki Nagakumala dan dua orang puteri itu, tanpa ada syarat yang terlalu berat.

Andaikata Ki Nagakumala sendiri yang menguji kepandaiannya, dia dapat menduga bahwanya tidak akan begitu mudah baginya untuk mengalahkannya. Dan andaikata mereka menolak, tentu akan terjadi perkelahian. Akan tetapi semua itu tidak jadi dan dia hanya harus mengalahkan Lasmini. Dia telah berhasil dan Sang Prabu Erlangga tentu akan merasa senang sekali.

Akan tetapi tiba-tiba wajah Lasmini terbayang di pelupuk matanya. Sayang sekali Lasmini akan menjadi garwa selir sang prabu! Ah, mengapa Sang Prabu Erlangga begitu tamak? Bukankah garwa selirnya sudah ada sedikitnya tujuh orang muda-muda dan cantik-cantik pula. Kenapa sekarang hendak mengambil Lasmini dan Mandari pula? Kedua-duanya? Sedangkan dia sendiri hanya hidup berdua dengan Listyarini, isterinya. Dia tidak mempunyai selir seorangpun! Sudah pantasnyalah kalau sang prabu menyerahkan Lasmini kepadanya, untuk menjadi selirnya, sebagai hadiah atas keberhasilannya. Sudah tepat dan pantas sekali. Bukankah dia yang bersusah payah mengajukan pinangan sehingga berhasil membawa dua orang puteri itu ke Kahuripan.

Tanpa terdengar oleh kusir dan oleh Narotama, dua orang gadis dalam kereta itu merencanakan sesuatu. Mereka bicara bisik-bisik. "Akalmu itu baik sekali, Mbakayu Lasmini. Sebaiknya kita lakukan sekarang juga."

“Lakukanlah, Mandari, akan tetapi hati-hati, batasi dan kendalikan tenaga. Jangan terlalu kuat sehingga nyawaku terancam, juga jangan terlalu lemah hingga akan mencurigakan. Tunggu sebentar kalau kereta sudah memasuki hutan di depan."

Kereta meluncur masuk ke dalam hutan di perbatasan kerajaan Kahuripan. Tiba-tiba terdengar suara wanita mengeluh dan disusul teriakan Mandari.

"Ki kusir, hentikan dulu keretanya! Mbakayuku sakit!"

Mendengar teriakan ini, kusir menghentikan empat ekor kudanya. Melihat kereta berhenti tiba-tiba di dalam hutan itu, Narotama lalu melompat turun dari kudanya dan menghampiri kereta. Dia juga mendengar keluhan tadi dan mendengar teriakan Mandari. Ketika dia mendekati kereta, dia masih mendengar keluh kesah itu. Tirai kereta dibuka dari dalam dan Mandari meloncat keluar Mukanya pucat dan ia cepat berkata ketika melihat Narotama mendekat.

"Cepat, Kipatih Narotama, cepat tolonglah Mbakayu Lasmini. Sakit perutnya kambuh lagi, aku khawatir sekali."

Narotama dengan khawatir lalu menjenguk ke dalam kereta dan dia mengerutkan alisnya, terkejut bukan main. Di melihat Lasmini duduk setengah rebah di atas bangku kereta, wajahnya pucat sekali, bahkan agak membiru tanda bahwa gadis itu menderita keracunan! Gadis itu menekan perutnya dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri.

Cepat dia meraba dahi gadis itu dan dia semakin terkejut Dari wajah yang pucat kebiruan dan dahi yang terasa panas seperti terbakar api itu, segera Narotama tahu bahwa Lasmini benar-benar menderita luka dalam yang keracunan dan berbahaya sekali. Kalau hawa beracun dalam tubuh gadis itu tidak segera dikeluarkan, besar kemungkinan gadis itu akan tewas!

Karena tidak mungkin mengobati gadis itu dalam kereta karena tempat itu sempit dan gadis itu tidak dapat direbahkan telentang, tanpa ragu lagi Narotama lalu memondong tubuh Lasmini yang udah lemas itu keluar dari kereta.

Tiba-tiba terdengar suara Mandari, "Kipatih, bawalah ia ke sini. Di sini ada tempat bersih!"

Narotama menengok dan melihat Mandari menunjuk ke kiri. Dia memondong tubuh Lasmini dan menghampiri dan benar saja, Mandari telah menemukan sebuah tempat di mana terdapat rumput tebal dan tempat itu bersih, agak jauh dari kereta. Narotama lalu merebahkan tubuh Lasmini, telentang di atas rumput tebal.

"Agaknya kambuh kembali penyakit perutnya," kata Mandari sambil berlutut dan memandang kepada Narotama.

"Ki patih, dapatkah andika mengobatinya. Menurut uwa kami kalau ia sedang begini, nyawanya terancam kalau tidak segera diobati dengan pengerahan hawa sakti."

"Dia terluka sebelah dalam, luka yang beracun dan cukup berbahaya. Hanya aku belum tahu di bagian mana ia terpukul dan sampai berapa parahnya akibat pukulan itu. Tahukah andika mengapa ia menderita luka dalam seperti ini?"

"Ini akibat latihan Aji Ampak-ampak yang salah menurut keterangan Uwa Nagakumala. Karena keliru ketika latihan dan terlalu ingin cepat menguasai, Mbakayu Lasmini membuat tenaga pukulan aji itu membalik dan menurut uwa kami, ia terluka di bagian pusarnya. Berbahaya sekali. Tolonglah, kipatih, andika yang berkepandaian tinggi pasti dapat menolongnya." kata Mandari khawatir.

"Aduhhh..... ah, mati aku..... Kakangmas Narotama..... tolonglah aku, kakangmas....." Lasmini merintih-rintih sambil menekan-nekan perutnya.

"Di bagian mana yang nyeri, nimas?" tanya Narotama, merasa iba sekali.

"Di sini..... ah, perut..... pusar ini..... dingin sekali, seperti ditusuk-tusuk rasanya....." Lasmini menggigit bibirnya dengan giginya yang putih dan berderet rapi seperti mutiara.

"Jangan khawatir, nimas. Aku akan mengobatimu dan mudah-mudahan aku akan dapat menyembuhkanmu. Akan tetapi..... maafkan aku, nimas. Terpaksa aku harus memeriksa dan melihat keadaan bagian tubuhmu yang terkena pukulan itu."

"Aih, kipatih. Dalam keadaan seperti ini, nyawa Mbakayu Lasmini terancam bahaya maut, mengapa andika masih bersikap sungkan-sungkan segala? Lakukanlah pemeriksaan dan pengobatan itu, aku hendak memberi tahu ki kusir agar melepaskan kuda-kuda biar mengaso dan makan rumput."

Setelah berkata demikian Mandari lalu cepat meninggalkan mereka berdua.

"Aduhh..... cepat periksalah..... kakangmas..... ah, aku tidak kuat lagi ....." Lasmini lalu menurunkan kain yang membungkus perutnya sehingga perutnya sampai ke pusar tampak telanjang. "ini ..... di sini..... yang nyeri..... aduh....." Lasmini menekan perutnya di bagian samping pusar.

Narotama terpaksa memejamkan kedua matanya. Pemandangan itu terlalu indah merangsang sehingga jantungnya berdebar keras sekali. Kulit itu demikian putih mulus kemerahan, perut itu begitu halus dan rata, bentuk pusar yang kecil mungil itu. Dia membuka matanya, akan tetapi mata itu kini seperti tidak lagi melihat keindahan tadi karena dia sudah menyatukan hati akal pikirannya, dipusatkan menjadi satu saja perhatian tujuan, yaitu perhatian terhadap penyakit yang diderita Lasmini dan tujuannya hanyalah mengobati penyakit itu.

Di julurkan tangan kirinya, meraba sipusar yang tampak kemerahan. Terasa jari-jarinya menyentuh kulit yang dingin luar biasa dan tahulah dia bahwa di situlah letak luka dalam, di bawah kulit itulah hawa dingin beracun agaknya mengeram di bagian itu, sedangkan bagian tubuh lain, terasa panas membakar. Narotama mengerutkan alisnya. Pantasnya gadis ini terkena pukulan yang ampuh, kirnya. Atau, seperti diceritakan Mandari tadi, mungkin juga terkena hawa pukulan sendiri yang membalik sehingga luka dalam. Dan dia tahu bagaimana harus mengusir hawa dingin beracun itu.

"Maaf, Nimas Lasmini. Mudah-mudahan aku dapat mengobati penyakitmu ini. Andika terluka di sebelah dalam, di dekat pusar ini, seperti terkena pukulan beracun dingin... akan tetapi mungkin juga terluka oleh pukulanmu sendiri yang membalik. Pengobatannya sederhana saja, yaitu hawa dingin beracun itu harus diusir keluar dan untuk itu..... sekali lagi maaf, aku harus menempelkan telapak tanganku untuk beberapa lamanya di bagian yang terluka ini."

"Aduh... kakangmas... kenapa andika masih malu dan sungkan segala? Aku... aku percaya padamu... kuserahkan jiwa ragaku kepadamu. Cepat lakukan pengobatan itu, kakangmas... aku tidak kuat lagi menahan rasa nyerinya... aduhhh...."

Melihat penderitaan Lasmini, Narotama tidak membuang waktu lagi. Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya lalu menempelkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pusar perut Lasmini. Tangan kiri menempel tepat pada bagian yang terluka dan berwarna merah lalu dia mengerahkan tenaga saktinya untuk menyedot. Adapun telapak tangan kanan yang menempel di sisi yang lain menyalurkan hawa panas dari Aji Bojrodahono untuk menyerang dan mendesak hawa dingin beracun yang berasal dari Aji Ampak-ampak itu.

Sementara itu, Mandari menghampiri kereta dan memerintahkan kusir kereta untuk melepaskan empat ekor kuda agar dapat mengaso dan makan rumput, sedangkan ia sendiri duduk di bawah pohon yang rindang sambil tersenyum-senyum, membayangkan hasil akal yang dipergunakan Lasmini. Tentu saja tadi ia yang sengaja memukul sisi pusar perut mbakayunya dengan Aji Ampak ampak, cukup kuat untuk mendatangkan luka sehingga tidak mencurigakan Narotama akan tetapi tidak cukup kuat untuk membahayakan nyawa mbakayunya.

Ternyata siasat yang dipergunakan dua orang puteri itu berhasil baik. Narotama terkecoh dan mengira bahwa Lasmini benar-benar terluka oleh pukulannya sendiri yang membalik karena salah latihan. Akan tetapi akibatnya cukup hebat baginya. Dia telah melihat perut bahkan pusar gadis itu, bukan hanya melihat, bahkan telah meraba dan menempelkan kedua telapak tangannya dalam waktu yang cukup lama!

Aji Bojrodahono (Api Halilintar) yang dikerahkan Narotama memang hebat bukan main. Panasnya hawa dari aji itu dapat diatur dan perlahan-lahan hawa panas dari Bojrodahono dapat membakar hawa dingin Aji Ampak-ampak sehingga mencair dan hawa beracun itu tersedot oleh telapak tangan kiri Narotama.

Kalau tadi bagian sisi pusar yang terluka itu terasa dingin seperti embun di puncak Mahameru, kini mulai terasa hangat dan kehangatan ini menimbulkan getaran aneh yang mengusik hati akal pikiran Narotama yang tadi dia pusatkan. Merasakan ini, jantung Narotama berdebar dan dia lalu mengangkat kedua tangannya. Lasmini tidak mengeluh dan merintih lagi, bahkan kini kedua matanya tengah terpejam memandang kepada Narotama dan bibirnya tersenyum manis melebihi madu.

"Nimas, hawa dingin beracun itu telah pergi, andika telah sembuh."

Narotama melihat tangan kirinya yang berubah agak menghitam karena menyedot hawa beracun itu. Dia mengerahkan hawa Bojrodahono ke dalam telapak tangan kirinya dan tampak telapak tangannya mengepul dan perlahan-lahan warna hitam telapak tangannya itupun lenyap.

Tiba-tiba Lasmini bangkit dan tanpa membereskan kainnya yang tadi terbuka di bawah ia merangkul leher Narotama dengan kedua lengannya. Bagaikan dua ekor ular, lengan itu merangkul dan ia merapatkan mukanya di dada Narotama.

"Duh Kakangmas Narotama.... andika telah menolongku, menyelamatkan nyawaku.... ahh, bagaimanakah aku dapat membalas budimu yang setinggi gunung sedalam lautan ini, kakangmas...!

Semula Narotama menganggap bahwa perbuatan Lasmini ini hanya dorongan rasa syukur dan terima kasihnya saja yang mendatangkan keharuan. Namun ketika merasa betapa jantungnya tergetar hebat, dia menyadari akan bahaya gejolak berahinya. Cepat dengan lembut mendorong kedua pundak gadis itu dan melepaskan rangkulan sambil berkata dengan suara agak gemetar.

"Jangan begini, nimas. Ini tidak benar. Bersukurlah kepada para dewa yang telah menyembuhkanmu dan mari kita melanjutkan perjalanan kita." Dia memegang tangan Lasmini, ditariknya bangkit berdiri dan diajaknya kembali ke kereta.

Lasmini tidak membantah, akan tetapi ia tidak mau melepaskan tangan Narotama yang memegangnya sehingga mereka bergandengan tangan sambil berjalan menuju ke kereta. Mandari menyambut mereka dengan senyum gembira.

"Ah, Mbakayu Lasmini, sungguh beruntung engkau' Dari wajahmu saja aku sudah dapat melihat bahwa Engkau tentu telah sembuh, diobati oleh Kipatih Narotama. Engkau berhutang budi, bahkan berhutang nyawa kepadanya, mbakayu!"

"Aku tahu, Mandari. Mudah-mudahan saja kelak aku dapat membalas budinya itu."

Narotama tidak ingin mendengarkan lagi tentang budi itu dan dia segera memerintahkan kusir untuk memasang kembali empat ekor kuda di depan kereta dan setelah dua orang gadis itu memasuki kereta, kusir lalu menjalankan keretanya kembali dengan laju.

Karena dikawal oleh Narotama yang selain sakti mandraguna juga dikenal semua pejabat-pejabat di daerah, maka perjalanan itu lancar dan tidak ada halangan. Di sepanjang jalan mereka mendapat sambutan para demang dan lurah dan mendapat bantuan seperlunya. Akhirnya kereta memasuki kota raja Kahuripan dan Narotama langsung mengajak Lasmini dan Mandari menghadap Sang Prabu Erlangga setelah menyuruh pengawal melaporkan kedatangannya kepada Sang Prabu Erlangga.

Sang Prabu Erlangga sudah menanti duduk di singgasana, tempat duduk terbuat dari gading berlapis emas, hanya seorang diri karena dia ingin menyambut kedatangan Kipatih Narotama bersama dua gadis itu tanpa disaksikan para ponggawa. Bahkan para pengawal istanapun tidak diperkenankan hadir dalam ruangan itu.

Memang Sang Prabu Erlangga berbeda dengan para raja yang lain, yang selalu ingin dikawal ke manapun dia berada untuk menjaga keselamatannya. Sang Prabu Erlangga merasa tidak enak dan tidak leluasa kalau ke manapun pergi dijaga pengawal.

Hal ini adalah karena raja yakin akan kesaktian sendiri yang jauh lebih dapat diandalkan daripada penjagaan ratusan orang pengwal pribadi! Apalagi di dalam istana. bahkan kalau Sang Prabu melakukan perjalanan keluar istana, hanya dalam perjalanan resmi saja Sang Prabu Erlangga diiringkan sepasukan pengawal. Akan tetapi kalau melakukan perjalanan seorang diri, untuk urusan pribadi atau sengaja hendak memeriksa keadaan rakyat jelata, Sang Prabu Erlangga tidak pernah didampingi seorang pengawal pun.

Kipatih Narotama berlutut dan menyembah sebagai penghormatan ketika dia menghadap Sang Prabu Erlangga. "Sembah hormat hamba haturkan kepada paduka gusti sinuwun junjungan hamba."

"Aih, Kakang Patih Narotama, andika baru kembali? Bagaimana dengan perjalananmu? Semoga selamat dan berhasil baik." kata Sang Prabu Erlangga sambil memandang ke arah dua orang puteri yang sudah duduk bersimpuh dengan sikap hormat.

"Dengan bekal doa restu paduka, hamba telah selesai melaksanakan tugas dan berhasil baik, gusti. Mereka inilah Nini Lasmini dan Nini Mandari, dua orang puteri Kanjeng Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman, keponakan dan murid Ki Nagakumala di Bukit Junggringslaka. Pinangan paduka telah diterima dengan baik dan kini kedua orang puteri sudah menghadap paduka menanti perintah."

Prabu Erlangga tersenyum dan mengangguk-angguk, memandang dua orang gadis yang masih duduk bersimpuh sambil menundukkan muka mereka itu. Walaupun mereka menunduk dan Sribaginda tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas namun diam-diam Sang Prabu Erlangga kagum dan harus mengakui bahwa dua orang dara itu memiliki bentuk tubuh yang amat indah menggairahkan.

"Siapa di antara andika berdua yang bernama Lasmini?" tanya Sang Prabu dengan suara ramah dan lembut.

Lasmini menggerakkan kedua tangannya menyembah, gerakannya luwes seperti sedang menari. "Hamba yang bernama Lasmini, gusti."

"Lasmini, coba angkat mukamu dan pandang kami." perintah sang prabu dengan suara ramah dan lembut.

Lasmini mengangkat mukanya. Sejenak mereka berdua saling pandang. Sepasang mata Sang Prabu Erlangga mengamati wajah gadis itu penuh selidik. Cantik jelita nian gadis ini, pikirnya, sungguh pun dia hanya melihat kecantikan kulit saja. Namun harus diakuinya bahwa jarang dia melihat wanita secantik itu. Di lain pihak, Lasmini juga mendapat kenyataan bahwa raja itu selain masih muda, juga tampan luar biasa. Hanya sinar mata Sang Prabu Erlangga membuat ia merasa gentar dan tidak berani ia menatap sepasang mata itu berlama-lama dan menunduk kembali.

Sang Prabu Erlangga mengalihkan pandang matanya kepada gadis ke dua yang lebih muda. Kalau Lasmini tampak berusia delapan belas tahun, Mandari ini tampak lebih muda seperti dara remaja berusia tujuh belas tahun saja.

"Andika yang bernama Mandari? Angkat mukamu dan pandang kami, Mandari." perintahnya.

Mandari mengangkat muka dan gadis ini memandang wajah Sang Prabu Erlangga dengan senyum manis, pandang mata kagum sekali. Ia merasa berbahagia telah memilih raja ini untuk menjadi suaminya. Ternyata Sang Prabu Erlangga amat ganteng, melebihi semua harapan dan dugaannya.

Sang Prabu juga kagum. Dara ini tidak kalah elok dibandingkan Lasmini sehingga sukarlah untuk menilai siapa antara mereka yang lebih menarik. Bahkan yang lebih muda ini memiliki kelebihan, yaitu pada rambutnya yang panjang dan indah sekali. Dia menduga kalau rambut itu diurai, tentu akan mencapai kaki!

"Mandari, berapakah usiamu?" tanya sang prabu dan Mandari tidak menundukan muka seperti mbakayunya yang tadi menundukkan muka bukan semata karena jerih, melainkan memang sesuai dengan siasat yang direncanakan.

"Usia hamba dua puluh satu tahun gusti."

"Ahh? Andika masih tampak seperti seorang gadis remaja! Dan berapa usia mbakayu mu, Lasmini ini?"

"Usianya dua puluh tiga tahun, gusti." jawab Mandari lancar.

Mendengar itu, sang Prabu Erlangga menjadi semakin heran dan kagum. Akan tetapi dia sudah maklum bahwa Kerajaan Parang Siluman merupakan pusat para ahli sihir. Tentu dua orang gadis ini mempergunakan ilmu atau jamu tertentu yang membuat mereka tampak begitu awet muda! Kembali sang prabu memandang kepada Lasmini yang masih menundukkan mukanya. Sungguh berbeda dengan sikap Mandari yang selalu berani memandangnya sambil tersenyum.

"Lasmini," kata sang prabu. "Benarkah seperti yang dilaporkan Kakang Patih Narotama bahwa engkau menerima pinanganku, suka menjadi garwa selirku?"

Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Lasmini menangis. Tidak menangis keras, hanya terisak dan beberapa butir air mata menetes diatas kedua pipinya. Melihat ini, Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya.

"Lasmini, kenapa andika menangis? Ceritakanlah, apa yang menyusahkan hatimu? Kalau andika tidak suka menjadi garwa selir kami, mengapa tidak andika tolak saja pinangan yang diajukan Kakang Patih Narotama? Setelah tiba di sini kenapa andika menangis!" Tentu saja sang prabu merasa tidak senang hatinya melihat gadis itu menangis di depannya seolah akan dipaksa menjadi garwa selir di luar kemauannya. Dia tidak akan pernah sudi melakukan paksaan terhadap wanita manapun!

Lasmini menahan isaknya dan menyembah. "Mohon beribu ampun, gusti. Hamba sudah lama mendengar akan kebijaksanaan paduka yang berlimpah budi, Mohon pertimbangkan paduka, gusti, Bagaimana seorang gadis seperti hamba dapat berserah diri kepada seorang prabu agung seperti paduka setelah ada pria lain yang tidak saja telah melihat pusar hamba, bahkan telah menyentuh dan merabanya? Hamba tidak mungkin dapat melayani pria lain....."

Bukan main kagetnya Sang Prabu Erlangga mendengar ini. Alisnya berkerut dan kulit wajahnya berubah merah. "Lasmini, siapa yang telah berani melakukan hal itu kepadamu?"

Lasmini menoleh ke arah Kipatih Narotama. "Harap paduka tanyakan kepada Kakangmas Narotama, gusti."

Sang Prabu Erlangga terbelalak heran dan terkejut sekali mendengar jawaban gadis itu. Dia segera memandang Narotama dan bertanya.

"Kakang Patih Narotama, apa artinya semua ini? Benarkah andika melakukan hal yang tidak patut itu terhadap diri Lasmini?"

Narotama menyembah dan menjawab dengan sikap tenang. "Sesungguhnya benarlah apa yang dikatakan Nimas Lasmini itu, gusti. Dalam perjalanan, di tengah hutan mendadak Nimas Lasmini mengeluh kesakitan. Setelah hamba periksa, ternyata ia terkena pukulan yang mengandung hawa dingin beracun. Menurut keterangan Nimas Lasmini, ia terluka dalam karena hawa pukulannya sendiri membalik ketika ia berlatih Aji Ampak-ampak secara keliru. Ia terluka dalam di bagian sisi pusarnya. Melihat keadaannya yang amat berbahaya, maka terpaksa hamba lalu mengobatinya dengan menggunakan Aji Bojrodahono untuk mengusir hawa dingin beracun itu dan menempelkan telapak tangan hamba pada bagian perut yang terluka dalam."

Mendengar keterangan ini, Sang Prabu Erlangga tersenyum lega. "Lasmini, Kakang Patih Narotama melakukan hal itu adalah dalam rangka pengobatan hendak menyelamatkan nyawamu, bukan karena dia sengaja hendak bertindak melanggar susila!"

"Hamba mengakui akan hal itu, gusti. Akan tetapi, sejak remaja dahulu hamba dan Mandari sudah bersumpah bahwa hamba berdua hanya mau menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan hamba dalam adu kesaktian. Hamba telah bertanding melawan Kakangmas Narotama dan hamba sudah dia kalahkan. Itu merupakan kenyataan pertama. Kenyataan kedua adalah bahwa Kakangmas Narotama sudah menyelamatkan nyawa hamba dengan mengobati penyakit hamba sehingga hamba berhutang budi, berhutang nyawa kepadanya. Kenyataan ketiga adalah hal itu tadi, gusti, bahwa ialah satu-satunya pria yang pernah melihat dan meraba pusar dan perut hamba. Karena itu, bagaimana mungkin hamba dapat melayani pria lain?"

Mendengar ini, tiba-tiba Sang Prabu Erlangga tertawa geli karena tahulah dia bahwa gadis ini telah jatuh hati kepada Narotama!

"Ha-ha-ha! Lasmini, jawab saja terus terang. Andika ingin menjadi garwa selir Kakang Patih Narotama, bukan?"

Bagaimanapun juga, karena ia masih seorang perawan, Lasmini tersipu dan dengan muka berubah merah yang ditunjukkan, ia menjawab lirih. "Duh gusti sinuwun, keputusannya tentu hanya paduka dan Kakangmas Narotama yang dapat menentukan. Kalau kakangmas Narotama sudi menerima hamba, hamba.... hamba.... menurut saja...."

"Ha-ha-ha, bagus! Aku suka kejujuran itu. Kakang Patih Narotama, bagaimana pendapatmu setelah mendengar ucapan Lasmini? Maukah andika menerimanya sebagai garwa selirmu?"

Narotama menyembah dan mukanya juga berubah kemerahan. "Hamba hanya sendika dhawuh (menaati perintah) paduka, gusti."

"Kalau begitu, mulai detik ini juga kami menyerahkan Lasmini kepadamu agar ia menjadi garwa selirmu. Kalian mendapatkan restuku dan semoga kalian hidup berbahagia."

Narotama dan Lasmini menyembaah dan hampir berbareng mereka mengucapkan terima kasih. Sang Prabu Erlangga lalu memandang kepada Mandari yang masih mengangkat muka memandang semua itu dengan wajah berseri. Dia diam... Ia merasa gembira sekali karena siasat yang sudah mereka berdua rencanakan bersama Ki Nagakumala ternyata berhasil baik. Lasmini menjadi selir Narotama seperti yang mereka rencanakan.

"Sekarang, bagaimana dengan andika Mandari? Apakah andika juga berpendapat seperti Lasmini, ingin menjadi selir Kakang Patih Narotama?"

"Mohon beribu ampun, gusti." kata Mandari sambil menyembah. "Hamba sama sekali tidak mempunyai keinginan seperti itu! Hamba memang pernah bersumpah untuk menikah dengan pria yang mampu mengalahkan hamba, akan tetapi hamba tidak pernah bertanding dan tidak pernah dikalahkan Kipatih Narotama. Hamba tidak berhutang budi apapun kepadanya. Selain itu, yang hamba terima adalah pinangan paduka."

Jawaban ini jelas sudah dan hati Sang Pabu Erlangga merasa lega. Bagaimana pun juga tadinya ada kekhawatiran dalam hatinya bahwa Mandari juga telah jatuh hati kepada patihnya yang ganteng dan gagah seperti halnya Lasmini.

"Akan tetapi andika belum pernah menguji kesaktianku, Mandari! Agar andika tidak melanggar sumpah sendiri, mari andika boleh menguji kedigdayaanku." Sang Prabu Erlangga berkata sambil tersenyum lebar.

"Wah, hamba ..... hamba tidak berani, gusti ....."

"Mandari, jawablah sejujurnya. Ilmu apakah yang merupakan aji pamungkasmu, yang paling andika andalkan?"

"Ya hanya Aji Ampak-ampak itulah gusti, seperti yang dikuasai oleh Mbakayu Lasmini."

"Nah, sekarang kuperintahkan andika untuk bangkit dan seranglah aku dengan Aji Ampak-ampak mu itu. Akan tetapi kuperintahkan andika, pukullah dengan seluruh kekuatanmu. Bukan andika saja yang ingin menguji kemampuanku, sebaliknya akupun ingin sekali melihat sampai di mana kedigdayaan calon selirku yang dapat kujadikan pengawal pribadi. Lakukanlah dan taati perintah!"

Mandari adalah seorang gadis yang cerdik. Dari sikap dan ucapan sang prabu itu, mengertilah ia bahwa raja itu tidak main-main dan bahwa ia harus menaatinya karena raja itu agaknya bukan hanya hendak menguji kedigdayaannya, melainkan juga ketaatannya akan perintah raja. Tanpa ragu-ragu lagi Mandari bangkit berdiri, menyembah dan berkata, "Mohon beribu ampun, gusti."

Lalu ia menggosok kedua tangannya, memasang kuda-kuda dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya, ia menggunakan Aji Ampak-ampak mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Sang Prabu Erlangga yang masih duduk dengan tenang di atas kursi gading.

"Aji Ampak-ampak ..... hyaaaaaahhh....."

Seluruh ruangan itu terasa dingin ketika cahaya kebiruan menyambar keluar dari telapak tangan gadis itu, menyerang ke arah Sang Prabu Erlangga! Sang Prabu Erlangga tidak beranjak dari kursinya dan tiba-tiba ketika hawa pukulan dingin itu menerpa dengan dahsyat ke arahnya, raja yang sakti mandraguna itu menggerakkan tangan kirinya seperti menepis. Akan tetapi dari gerakan tangan kiri ini menyambar angin yang dahsyat sekali.

"Wuuuttt ..... blarrrrr .....!"

Tubuh Mandari yang tadinya berdiri itu terpelanting dan gadis itu roboh dengan tubuh terkulai lemas, seolah-olah seluruh urat syarafnya dilolosi dari tubuhnya!

"Aduhhh ..... gusti sinuwun ..... hamba tobat ..... mohon ampun gusti ....." Gadis itu merintih. Tubuhnya tidak terasa nyeri, akan tetapi ia merasa begitu lemah sehingga untuk bangkit dudukpun sukar sekali!

Sang Prabu Erlangga tertawa senang. "Bagus, tenaga pukulanmu cukup hebat Mandari!" Lalu Sang Prabu Erlangga turun dari kursinya, menghampiri Mandari dan dua kali dia menepuk pundak dan punggung gadis itu. Mandari dapat bergerak kembali dan dia dituntun sang prabu dan diajak duduk di sebelahnya.

Demikianlah, mulai hari itu, Lasmini menjadi selir Kipatih Narotama dan Mandari menjadi selir Sang Prabu Erlangga. Dalam waktu singkat saja dua orang gadis ini mampu memikat hati raja dan patihnya itu sehingga dua orang yang sakti mandraguna itu amat mengasihi dua orang puteri dari Parang Siluman itu.

Tidak ada manusia yang sempurna dunia ini. Bahkan tidak ada mahluk yang sempurna di dunia ini. Yang Maha Sempurna hanyalah Sang Hyang Widhi Wasa, Pencipta alam maya pada dengan seluruh isinya. Sebersih-bersih manusia, pasti ada nodanya walau pun setitik. Sekuat-kuatnya manusia pasti ada kelemahannya. Bahkan menurut dongeng, para dewata yang hidup di khayangan sekalipun tidak luput dari pada dosa dan kelemahan. Biasanya, ada tiga hal yang mampu melemahkan manusia, yaitu harta, kedudukan, dan wanita. Banyak sekali para ksatria yang batinnya kuat menahan godaan harta maupun kedudukan, namun jarang yang kuat menghadapi keindahan yang terdapat pada diri wanita.

Memang harus diakui bahwa adanya Mandari sebagai selir Sang Prabu Erlangga dan Lasmini sebagai selir Kipatih Narotama tidak mengurangi kebijaksanaan raja dan patihnya ini dalam pemerintahan. Juga tidak mengurangi kewaspadaan mereka dalam mengatur para menteri dan hulubalang menjaga ketentraman negara.

Akan tetapi kalau dalam pandangan manusia biasa seolah tidak ada perubahan apapun yang merugikan kerajaan dan kawulanya, namun ada seseorang yang terkadang mengerutkan alisnya kalau dia melihat adanya pengaruh buruk seperti mendung meliputi kecerahan matahari di atas Kahuripan. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan itu, namun dia merasa perlu untuk memberi peringatan kepada Sang Prabu Erlangga...

BERSAMBUNG KE JILID 06