Istana Pulau Es Jilid 34

CERITA SILAT KARYA KHO PING HOO

SERIAL BU KEK SIANSU

EPISODE ISTANA PULAU ES JILID 34

Suma Hoat tersenyum dan tetap duduk di atas pembaringan menghadapi gadis itu. “Tenanglah, Nona dan duduklah. Mungkin sekali aku sudah gila, dan tidak kusangkal bahwa aku adalah seorang yang mata keranjang. Hati siapakah yang takkan terpesona oleh kecantikan seperti yang kau miliki? Akan tetapi, penukaran yang kuajukan cukup adil, dan engkau harus percaya kepadaku karena banyak hal yang mengharuskan aku membebaskan engkau dan suheng-mu.”

“Hemm, hal-hal apakah yang menjadi alasanmu?”

“Pertama, engkau dan suheng-mu bukanlah musuh-musuhku, bahkan tidak kukenal. Untuk apa aku mencelakakan kalian? Kedua, kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi, bermusuhan dengan kalian sungguh bukan perbuatan yang cerdik. Ketiga, kalian mengganggu Kerajaan Sung yang bukan menjadi negara yang kami bela. Nah, kalau di antara kita terikat persahabatan baik, bukankah hal itu sangat menguntungkan? Begitu melihatmu, hatiku tertarik dan timbul gairah di hatiku, Nona. Aku tidak akan memaksamu, akan tetapi kiranya engkau tidak akan menganggap aku seorang laki-laki biasa apa lagi buruk rupa. Tidak kurang banyaknya gadis yang suka kepadaku, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang menarik hatiku. Nah, bagaimana jawabanmu, Nona?”

Muka gadis itu tidak semerah tadi, namun jantungnya masih berdebar keras. Pemuda ini memang tampan sekali, akan tetapi usul dan permintaan pemuda itu benar-benar merupakan hal yang selama hidupnya belum pernah ia dengar, maka tentu saja dia merasa tegang dan malu.

“Coba ulangi lagi usulmu, agar aku tidak salah tangkap,” katanya menekan hatinya agar suaranya tidak gemetar.

Suma Hoat tersenyum, diam-diam merasa geli karena dia sudah tahu betapa hati nona itu berdebar penuh ketegangan. Hal ini menyenangkan hatinya karena berarti bahwa dara kang-ouw ini tidak biasa melakukan perbuatan seperti dimintanya. Tidak jarang terdapat wanita-wanita kang-ouw yang mengumbar nafsu mengandalkan kepandaian, bersenang-senang dan memuaskan nafsu birahi dengan pria-pria tampan. Namun gadis ini agaknya bukan semacam wanita pengejar nafsu.

“Begini, Nona. Aku akan membebaskan engkau dan suheng-mu keluar dari kota ini asal engkau mau melayani aku sebagai kekasih sampai besok pagi, jadi sehari semalam.”

Kembali wajah Yan Hwa menjadi merah sekali. “Usul gila!” Kembali ia mengulang karena hampir dia tidak percaya akan ada orang yang berani mengajukan usul segila ini kepadanya. “Kalau sekarang aku menyerangmu, apakah engkau kira akan dapat hidup lebih lama lagi? Betapa berani engkau!”

Suma Hoat tersenyum. “Aku sama sekali tidak berani memandang rendah kepadamu, Nona. Aku sudah cukup menyaksikan kelihaianmu dan belum tentu aku akan dapat bertahan kalau engkau menyerangku sekarang. Akan tetapi, hal itu sudah aku perhitungkan masak-masak. Aku boleh saja kau bunuh, akan tetapi apakah engkau dan suheng-mu akan dapat meloloskan diri dari sini? Dan sepasang pedang kalian yang ampuh itu, tidak sayangkah engkau?”

“Sepasang Pedang Iblis milik kami itu kau kembalikan pula kalau kami kau bebaskan?”

”Tentu saja! Aku bukan seorang pencuri pedang yang hina! Aku hanyalah seorang pencuri hati, pencuri wanita-wanita cantik seperti Nona...”

“Engkau laki-laki cabul!”

“Aku hanyalah seorang laki-laki cabul yang berterus terang, tidak seperti semua laki-laki cabul yang menyembunyikan kecabulannya di balik kemunafikan mereka. Nona, aku tergila-gila kepadamu, akan tetapi aku tidak memaksamu. Aku seperti seekor kumbang yang tertarik akan madu manis yang terkandung dalam setangkai kembang. Engkaulah kembang itu dan aku hanya mengharapkan engkau membukakan kelopak bungamu kepadaku. Aku mengharapkan sari madu cintamu, kubeli dengan kebebasan engkau dan suheng-mu. Bukankah ini sudah adil namanya?”

“Kalau engkau melanggar janji?”

Suma Hoat mengangkat muka, alisnya berkerut dan matanya bersinar. “Aku adalah seorang laki-laki, seorang jantan! Melanggar janji, apa lagi terhadap seorang wanita cantik seperti Nona, merupakan pantangan besar bagiku!”

Yan Hwa merasa terjepit, tidak ada jalan ke luar yang lebih baik. Kalau dia marah-marah dan menyerang orang ini, bahkan andai kata dia berhasil membunuhnya, hal yang masih harus diragukan karena Suma Hoat ini memiliki kepandaian yang tinggi pula, apakah untungnya bagi dia dan suheng-nya? Dia tentu akan dikepung, dan tanpa Li-mo-kiam di tangan, apa lagi suheng-nya masih ditawan, akhirnya mereka berdua hanya akan membuang nyawa sia-sia. Kalau dia menurut... ah, pemuda itu tampan dan gagah sekali, tidak kalah oleh Ji Kun.



Teringat akan Ji Kun, dia membayangkan watak Ji Kun yang kadang-kadang juga mata keranjang. Ketika mereka menawan seorang di antara gadis-gadis cantik dari kereta para siuli, bukanlah Ji Kun juga memperlihatkan kenakalannya? Apa kata suheng-nya itu? Hanya kulit yang bersentuhan, namun hati dan cintanya adalah miliknya! Hemm, kalau dia melayani permainan Suma Hoat, bukankah dia pun hanya mengorbankan kulit dan daging belaka, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hatinya yang mencinta Ji Kun seorang? Apa lagi kalau diingat bahwa ‘pengorbanannya’ itu untuk menyelamatkan nyawa Ji Kun pula!

“Bagaimana, Nona?” Suma Hoat mendesak.

“Kalau aku menolak?”

“Tidak ada lain jalan kecuali memanggil para pengawal agar engkau ditawan pula dan bersama suheng-mu diseret ke depan pengadilan. Engkau tentu tahu bahwa aku tidak menakut-nakutimu kalau kuberi tahu bahwa hukuman bagi mata-mata adalah penggal kepala.”

“Kalau sekarang aku membunuhmu?”

“Sama saja, engkau dan suheng-mu juga akan mati konyol. Bagiku mati di tanganmu yang halus itu merupakan mati yang terhormat dan menyenangkan. Silakan pilih, aku siap mendengar pilihanmu.”

Yan Hwa merasa betapa jantungnya makin berdebar. Kamar ini begini indah, perabot-perabotnya serba mewah dan mahal, tempat tidur itu kelihatan amat menyenangkan dan tentu enak dipakai tidur, dan bau harum dari pembaringan itu menyentuh hidungnya. Seperti kamar seorang puteri istana saja! Dan pemuda di depannya yang memandang dengan mata bersinar-sinar, dengan bibir tersenyum, merupakan calon teman yang menyenangkan.

Dengan jantung berdebar dan suara lirih hampir tidak terdengar, Yan Hwa mengangguk dan berkata, “Baiklah, aku menerima usulmu. Akan tetapi, kalau sampai engkau melanggar janji, aku bersumpah untuk menghancurkan kepalamu dan menyayat-nyayat tubuhmu!”

”Terima kasih, engkau sungguh seorang dara yang cerdik dan menyenangkan sekali! Ahh, Nona, betapa keputusanmu itu mendatangkan rasa gembira yang hebat di hatiku. Terima kasih!” Suma Hoat melompat turun, merangkul Yan Hwa dan mencium dara itu dengan kemesraan yang membuat Yan Hwa menjadi nanar. Belum pernah dia dicium orang seperti itu. Ji Kun pun belum pernah menciumnya semesra itu! Dia tidak tahu bahwa yang mendekap dan menciuminya adalah Jai-hwa-sian, seorang yang tentu saja amat ahli dalam permainan cinta!

“Kebaikanmu harus dirayakan, Nona!” Suma Hoat menghampiri pintu, membuka daun pintu dan memanggil pelayan, menyuruh pelayan menyediakan air hangat untuk mandi, dan hidangan yang mewah, masakan-masakan termahal dan terlezat bersama arak yang paling baik!

Kalau tadinya Yan Hwa masih merasa berat, malu-malu, dan merasa bahwa dia telah melakukan suatu perbuatan maksiat yang hina dan kotor, lambat laun perasaan itu lenyap sama sekali terganti perasaan girang dan senang yang luar biasa berkat kepandaian Suma Hoat merayunya. Kalau masih ada awan tipis menyelubunginya, segera awan itu tertiup pergi oleh hiburan paksaan berupa pendapat bahwa dia melakukan hal itu demi menyelamatkan nyawa suheng-nya!

Manusia adalah makhluk yang amat lemah terhadap nafsunya sendiri. Kelemahan ini ditambah lagi dengan bermacam perasaan bersalah karena larangan-larangan yang mereka ciptakan sendiri sehingga setiap perbuatan mereka adalah tidak wajar dalam usaha mereka menghindarkan diri dari pelanggaran larangan itu.

Demikian pula dengan Yan Hwa. Kalau memang dia tidak bersikap palsu, maka baginya hanya tinggal memilih apa yang akan dilakukannya sesuai dengan kehendak hatinya, tanpa penyesalan tanpa pura-pura dan tanpa mencari kambing hitam sebagai alasan pendorong perbuatannya. Dia seorang wanita yang lemah, mudah jatuh di bawah rayuan pria tampan seperti Suma Hoat. Akan tetapi, dia hendak menutupi kelemahannya ini dengan alasan yang dicari-cari sehingga semua perbuatannya adalah tidak wajar dan karenanya menjadi kotor.

Sehari semalam kedua orang itu mandi dalam telaga asmara, tiada bosan-bosannya. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebelum sinar matahari mengusir kegelapan malam, keduanya mengakhiri permainan cinta mereka karena sudah tiba saatnya dalam perjanjian mereka untuk membebaskan Yan Hwa dan Ji Kun.

Dengan hati penuh kagum dan puas, Suma Hoat mencium Yan Hwa sambil berkata, ”Ah, engkau dan aku cocok sekali, Yan Hwa.”

Sejenak Yan Hwa membalas ciuman itu, kemudian didorongnya dada Suma Hoat sambil berkata, “Cukup, Suma Hoat. Kau tahu bahwa aku melakukan semua itu untuk menebus keselamatan aku dan suheng.”

“Ha-ha-ha, tak usah kau berpura-pura, manis. Beranikah engkau menyangkal bahwa engkau pun seperti aku, menikmati hubungan kita yang pendek ini?”

“Tak perlu kusangkal. Engkau memang seorang laki-laki yang hebat. Akan tetapi aku tidak cinta kepadamu seperti juga engkau tidak mencintaku. Aku telah mencinta orang lain.”

“Suheng-mu sendiri?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ha-ha, apa sukarnya menduga? Engkau telah rela mengorbankan diri untuk menyelamatkannya. Aku tidak menyalahkan engkau. Suheng-mu seorang laki-laki yang tampan dan gagah perkasa. Kalian berdua memiliki ilmu kepandaian yang amat dahsyat, memiliki Sepasang Pedang Iblis yang mukjizat. Yan Hwa, sebelum kita berpisah dan mungkin kita tidak akan saling berjumpa kembali, mengingat akan kemesraan yang sudah sama-sama kita nikmati, maukah engkau sekarang mengaku, sebetulnya engkau dan suheng-mu itu dari perguruan mana?”

“Sudah kukatakan bahwa keadaan kami adalah rahasia kami. Harap kembalikan dulu pedang kami.”

Suma Hoat menarik napas panjang, lalu mengambil Sepasang Pedang Iblis dari balik jubahnya yang digantung di sudut. “Kau lihat, hanya kutaruh di sini, tidak kusembunyikan, untuk membuktikan betapa aku telah percaya penuh kepadamu.”

Yan Hwa menerima sepasang pedang itu, mengikat sarung Li-mo-kiam di pinggang sedangkan Lam-mo-kiam ia gantungkan di punggung. Ia memandang Suma Hoat dan berkata dengan senyum, “Baiklah, Suma Hoat. Di antara kita sebetulnya masih ada hubungan, biar pun hubungan di antara kita penuh dendam permusuhan. Kulihat engkau, biar pun mata keranjang dan tukang perayu wanita, tidak jahat seperti ayahmu. Aku dan suheng adalah murid mendiang subo kami, Mutiara Hitam.”

Wajah Suma Kiat menjadi pucat. “Apa...? Murid Bibi Kam Kwi Lan Si Mutiara Hitam dan engkau sudah tahu bahwa aku masih keponakannya?”

Yan Hwa mengangguk. “Ayahmu, Jenderal Suma Kiat amat jahat dan curang. Dia mengakibatkan kematian Supek Kam Liong dan muridnya. Agaknya semenjak dahulu antara keturunan Suma dan keturunan Kam selalu timbul permusuhan karena kejahatan keluarga Suma. Akan tetapi, kulihat engkau tidak jahat hanya mata keranjang!”

Suma Hoat tersenyum kecut. “Tidak perlu kau ulangi lagi, Yan Hwa. Aku tidak akan menyangkal akan sifatku yang suka merayu dan bermain cinta dengan wanita cantik. Untuk itulah maka aku dijuluki Jai-hwa-sian.”

“Engkau Jai-hwa-sian? Hemm, pantas! Sudahlah, mari antar aku kepada Suheng dan biarkan kami pergi. Mudah-mudahan saja jalan hidup antara kita akan bersimpangan karena aku tidak ingin merusak kenangan manis kemarin dan malam tadi dengan bentrokan karena sekali kita saling bentrok, aku takkan suka mengampunimu, Suma Hoat.”

Suma Hoat mengangguk lalu mengajak Yan Hwa mengambil jalan rahasia menuju ke tempat tahanan di bawah tanah. “Kau tunggu di sini. Kalau terjadi keributan dan teriakan kebakaran sehingga semua penjaga lari meninggalkan pintu di sana itu, barulah kau masuk, bebaskan suheng-mu dan lari melalui jalan ini.” Suma Hoat menerangkan jalan rahasia ke luar dari tempat itu.

Setelah Yan Hwa mengerti betul, dia lalu merangkul Yan Hwa, mencium bibirnya dan berbisik, “Selamat berpisah, Yan Hwa, aku tidak cinta padamu akan tetapi aku takkan pernah dapat melupakanmu. Kau bersembunyi di sini dan tunggu sampai ada teriakan kebakaran.”

Yan Hwa mengangguk dan melihat bayangan pemuda itu berkelebat lenyap. Tak lama kemudian, benar saja seperti yang dipesankan Suma Hoat, tampak sinar api dan asap membubung tinggi dan terdengar teriakan-teriakan,

“Kebakaran...! Kebakaran...! Tolong... padamkan api...!”

Ributlah keadaan di situ. Setelah Yan Hwa melihat para penjaga yang tadinya berkumpul di pintu berlari-lari membawa ember dan lain-lain alat pemadam kebakaran, dia cepat menyelinap memasuki pintu dan menuruni anak tangga ke bawah. Dilihatnya Ji Kun meringkuk rebah miring di atas bangku di dalam sebuah kamar tahanan yang terbuat dari besi. Pintu dan jendelanya kuat sekali, akan tetapi beberapa kali bacokan dengan pedang Li-mo-kiam, Yan Hwa sudah berhasil membuka pintu.

“Sumoi...” Bagaimana kau bisa bebas...?”

“Sstt, bukan waktunya bicara.” Yan Hwa menggunakan pedangnya mematahkan belenggu kaki tangan Ji Kun, kemudian ia menyerahkan Lam-mo-kiam kepada suheng-nya dan menarik tangannya, mengajak keluar dari tempat itu.

“Bagus, agaknya engkau telah memancing mereka dengan kebakaran, Sumoi! Mari kita amuk dan binasakan mereka sebelum pergi dari sini!” Ji Kun berkata setelah mereka keluar dari tempat tahanan di bawah tanah dan dia menyaksikan api yang berkobar tinggi dan orang-orang yang sibuk memadamkan api.

“Hushhh, jangan, Suheng. Setelah susah payah aku berhasil membebaskan kita berdua, apakah akan kau rusak dengan memasuki bahaya tertawan lagi? Hayo kita pergi, ikut dengan aku!”

Dengan mengikuti petunjuk yang diterimanya dari Suma Hoat, akhirnya Yan Hwa berhasil membawa suheng-nya keluar dari istana dan tembok kota Siang-tan, kemudian melarikan diri secepatnya di dalam cuaca remang-remang karena pagi telah tiba.

Setelah lewat tengah hari dan mereka sudah jauh sekali di sebelah utara kota Siang-tan, dan napas mereka mulai memburu, tubuh penuh keringat, barulah kedua orang ini berhenti mengaso di sebuah hutan kecil. Bahkan Yan Hwa yang amat lelah dan semalam suntuk berenang dalam lautan cinta bersama Suma Hoat sehingga tubuhnya terasa lemas, segera tertidur pulas di bawah pohon, dihembus angin semilir sejuk. Ji Kun memandang sumoi-nya yang tidur nyenyak dan diam-diam ia merasa terheran-heran melihat wajah sumoi-nya mangar-mangar, bibirnya tersenyum dalam tidurnya.

Sumoi-nya kelihatan seperti orang yang bergembira, penuh kepuasan, sama sekali bukan seperti orang yang habis tertawan. Dan bagaimanakah sumoi-nya dapat menolongnya sedang pihak musuh demikian banyak dan lihai? Bagaimana pula dapat merampas kembali Lam-mo-kiam? Apa yang terjadi dengan Maya dan kedua orang perwira pembantunya? Dia tadi tidak sempat bicara karena mereka harus melarikan diri secepatnya dan begitu mereka berhenti mengaso, Yang Hwa sudah merebahkan diri dan tidur nyenyak!

******************


Kita meninggalkan dulu Yan Hwa yang tidur pulas dan suheng-nya yang memandang dengan heran dan menduga-duga, karena pada hari itu juga, Siauw Bwee dan Coa Leng Bu berhasil menyelundup ke kota Siang-tan. Karena sudah lama kita meninggalkan Siauw Bwee, sebaiknya kita mengikuti perjalanannya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, pendekar wanita yang sakti ini berhasil keluar dari kota Sian-yang berkat bantuan Suma Hoat dan kemudian setelah keluar dari kota itu, dia bertemu kembali dengan pemuda ini yang ternyata adalah sute dari Coa Leng Bu. Diceritakan pula betapa Suma Hoat tergila-gila kepadanya dan secara terus terang menyatakan cintanya yang tentu saja ditolak oleh Siauw Bwee. Betapa pun juga Siauw Bwee tidak mengganggu pemuda itu biar pun kenyataan bahwa pemuda itu putera tunggal musuh besarnya, Suma Kiat, membuat dia semestinya membenci Suma Hoat. Namun sikap pemuda itu malah menimbulkan perasaan iba di hatinya.

Setelah Suma Hoat pergi yang membuat heran hati Coa Leng Bu karena kakek ini tidak mengetahui sebab-sebabnya, juga tidak berani bertanya kepada Siauw Bwee, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota Siang-tan. Siauw Bwee ingin sekali bertemu dengan suheng-nya, ingin menyelidiki sikap suheng-nya yang aneh, yang menurut dugaan supek-nya itu tentu menjadi korban racun perampas semangat.

Sebagai orang-orang Han, tentu saja lebih mudah bagi mereka memasuki kota Siang-tan yang masih diduduki oleh pasukan Sung dari pada memasuki kota Sian-yang yang telah dikuasai bala tentara Mancu. Bersama rombongan pengungsi, Siauw Bwee dan Coa Leng Bu memasuki pintu gerbang kota.

Akan tetapi, pada pagi hari itu penjagaan di pintu gerbang kota Siang-tan tidaklah seperti biasa. Biar pun para pengungsi itu adalah suku bangsa sendiri, namun setiap orang pengungsi harus digeledah dan setiap buah senjata yang ada pada mereka dirampas. Hal ini adalah akibat kekacauan yang terjadi kemarin, di mana para pengungsi mengamuk dan lima orang mata-mata ketahuan dan dikejar-kejar.

Ketika tiba giliran Siauw Bwee digeledah, hampir saja terjadi keributan. Melihat dua orang penjaga yang menyeringai dan memandangnya dengan muka kurang ajar, hati Siauw Bwee menjadi panas sekali. Para pengungsi lain cukup digeledah barang-barang bawaan mereka dan diharuskan menyerahkan senjata yang menempel di tubuh, akan tetapi melihat Siauw Bwee yang cantik jelita, dua orang petugas itu timbul gairahnya dan keceriwisannya.

“Aha, Nona harus digeledah. Silakan masuk ke pondok penjaga, harus kami geledah kalau-kalau Nona menyembunyikan senjata atau surat-surat penting di dalam pakaian Nona. Kami takkan bersikap kasar terhadap Nona yang cantik jelita.”

Hampir saja Siauw Bwee melayangkan tangannya menampar petugas itu, akan tetapi Coa Leng Bu cepat menyentuh lengannya. Kakek ini menjura kepada dua orang petugas itu. “Harap Ji-wi suka memaafkan kami. Keponakanku ini tidak membawa senjata lain kecuali pedangnya. Pedang sudah kami berikan, mengapa harus digeledah pakaiannya lagi sedangkan para pengungsi lainnya tidak?”

“Hemm, engkau tak tahu, orang tua! Di antara mata-mata yang dikejar semalam, terdapat beberapa orang gadis muda yang cantik. Dalam keadaan perang seperti ini, gadis-gadis cantik, pengemis-pengemis tua, orang-orang yang kelihatan lemah dan biasa malah mencurigakan, karena para mata-mata selalu menyamar sebagai orang-orang lemah.”

“Alasan dicari-cari! Kalau aku mata-mata, masa akan masuk kota begini saja? Katakan saja kalian kurang ajar agar aku mendapat alasan untuk menghajar kalian!” Siauw Bwee membentak dan telapak tangannya sudah terasa hendak ‘mencium’ muka dua orang penjaga yang menyebalkan hatinya itu.

“Ssstt, sabarlah, Lihiap,” kata Coa Leng Bu yang segera berkata kepada dua orang yang kelihatan marah oleh kata-kata Siauw Bwee tadi. “Harap Ji-wi tidak mengganggu. Ketahuilah bahwa aku adalah suheng dari Suma Hoat, putera Jenderal Suma Kiat. Kalau sampai terjadi keributan antara kita dan terdengar oleh Suma-goanswe, akan membuat hati tidak enak saja.”

Mendengar ini, pucatlah wajah kedua orang penjaga itu. Mereka membungkuk-bungkuk, meminta maaf dan mempersilakan mereka memasuki kota tanpa banyak cakap lagi.

”Huh, menyebalkan sekali anjing-anjing penjilat itu!” Siauw Bwee mengomel.

“Kita harus dapat memaafkan mereka, Lihiap. Mereka hanyalah petugas-petugas yang menjalankan kewajibannya.”

“Supek, perlu apa membela orang-orang macam itu? Kalau memang para petugas menjalankan kewajibannya dengan baik dan teliti, siapa yang akan membantah dan mencela? Aku malah akan menghargainya dan kagum. Ayah pernah bilang bahwa seorang petugas harus memiliki kesetiaan kepada tugasnya. Akan tetapi mereka itu? Hemm..., mereka hanya melakukan tugas dengan keras penuh tekanan kepada mereka yang lemah dan miskin. Mereka yang mampu memberi uang sogokan tidak digeledah, dan wanita-wanita muda yang sudi bersikap manis kepada mereka tentu akan terbebas pula dari penggeledahan. Engkau tadi baru menggunakan nama besar Jenderal Suma saja sudah membuat mereka mundur dan melipat buntut seperti anjing-anjing penjilat ketakutan. Menyebalkan.” Siauw Bwee memang marah sekali karena nama musuh besarnya, Suma Kiat, terpaksa dipergunakan oleh supek-nya untuk menghindarkan keributan.

“Lihiap, engkau adalah seorang yang biar pun masih amat muda, telah berhasil memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat. Namun, tetap saja engkau masih muda dan perlu mempelajari soal hidup dan lebih mengenal diri sendiri agar kesadaran menuntunmu dan membuat pandang matamu waspada terhadap segala yang terjadi di sekelilingmu. Belajarlah untuk berani menghadapi kenyataan yang bagaimana pun juga, Lihiap. Menghadapi kenyataan tanpa penilaian dan tanpa perbandingan. Tanpa ingatan akan masa lalu dan renungan akan masa depan, maka engkau akan dapat melihat kenyataan itu seperti apa adanya, membuat engkau akan tetap tenang biar pun menghadapi apa pun juga. Dalam keadaan tenang sewajarnya inilah maka segala tindakanmu akan dapat kau pergunakan dengan tepat, dan engkau tidak akan terseret oleh kemarahan dan penasaran, penyesalan mau pun harapan, karena ketenangan yang timbul dari kewaspadaan ini akan dapat membuat engkau bisa menyesuaikan diri dengan segala keadaan.”

Siauw Bwee menjadi termenung. Pantas supek-nya ini selalu tenang, kiranya memiliki dasar kesadaran yang amat mendalam. Dia menjadi malu kepada diri sendiri yang mudah dibangkitkan rasa penasaran dan kemarahannya yang sesungguhnya hanya berdasarkan untung rugi bagi diri pribadinya saja.

“Maafkan kemarahanku tadi, Supek. Pikiranku sedang gelisah memikirkan Suheng, sehingga aku mudah tersinggung. Aku akan langsung mencari di mana gedung tempat tinggal Bu-koksu, karena Suheng tentu berada di sana pula.”

“Berbahaya sekali kalau langsung pergi ke sana, Lihiap.”

“Supek, aku tidak takut. Kurasa, aku akan sanggup menghadapi semua pengawal Bu-koksu...”

“Apakah engkau akan mampu pula menandingi Kam-taihiap, suheng-mu itu?”

”Ahhh... kalau dia... tentu saja aku takkan mampu, dia adalah suheng-ku dan juga guruku, karena dialah yang membimbingku dahulu.”

“Nah, kalau begitu, harap jangan tergesa-gesa dan sembrono. Bukankah suheng-mu itu telah hilang ingatan dan tidak mengenalmu lagi? Kalau kau menyerbu ke sana, tentu dia akan membela Bu-koksu dan mau tidak mau engkau akan berhadapan dengan dia.”

Siauw Bwee terkejut dan menjadi bingung, lalu menghela napas. “Aihhh, benar juga, habis bagaimana baiknya, Supek?”

“Kita harus bersabar. Sebaiknya kita mencari rumah penginapan lebih dulu, kemudian baru kita menyelidiki dengan diam-diam. Jalan terbaik adalah mencari kesempatan untuk dapat berjumpa berdua dengan suheng-mu itu dan membujuknya untuk suka kuobati. Atau, kalau sekiranya sukar mencari kesempatan ini, aku dapat meminta bantuan Sute. Kurasa Suma-sute juga berada di kota ini.”

Siauw Bwee mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak enak kalau dia harus minta bantuan Suma Hoat, pemuda putera musuh besarnya, juga pemuda yang ia tolak cintanya itu.

“Coa-supek, terima kasih atas nasehatmu yang amat berharga. Memang sebaiknya begitulah dan kuminta bantuan Supek agar Supek mempersiapkan obat-obat untuk menyembuhkan suheng-ku. Sebaiknya Supek mempersiapkan tempat dan obat lebih dulu, aku akan menyusul setelah aku berhasil membujuk Suheng.”

“Soal tempat, aku sudah memilih untuk keperluan itu. Hutan yang kita lewati kemarin, hutan yang penuh pohon pek itu merupakan tempat yang amat baik, apa lagi aku melihat banyak tetumbuhan obat di sekitarnya. Kalau kita berhasil membujuk suheng-mu, sebaiknya kita ajak dia ke sana, kita bersembunyi di bagian yang sunyi dalam hutan itu dan aku akan berusaha mengobatinya.”

“Bukan kita, Supek, melainkan aku sendiri. Aku sendiri yang akan mencari dan membujuknya. Harap Supek mempersiapkan tempat dan mencari obat-obatnya. Pekerjaan ini amat berat, dan kalau Supek ikut, aku khawatir kalau dia akan curiga dan tidak mau memenuhi permintaanku.”

Coa Leng Bu mengangguk-angguk. “Engkau benar, Lihiap. Di sini banyak terdapat orang lihai, dan dengan kepandaianku yang masih rendah, aku hanya akan menjadi penghalang saja. Baiklah, kita berpisah di sini, aku akan menuju ke hutan itu dan mempersiapkan obat-obatnya yang harus kucari lebih dulu. Kau berhati-hatilah dan semoga kau berhasil membujuknya pergi ke sana.”

“Aku sama sekali bukan bermaksud merendahkan kepandaianmu, Supek...”

“Tidak, memang kenyataannya demikian. Aku tidak menyesal, dan selamat tinggal, Lihiap, semoga semua berjalan baik.” Setelah berkata demikian, kakek itu meninggalkan Siauw Bwee kembali ke pintu gerbang dan keluar dari kota Siang-tan.

Siauw Bwee menarik napas panjang. Ia merasa menyesal terpaksa harus mengeluarkan kata-kata menyinggung hati supek-nya yang baik itu, sungguh pun ia yakin bahwa supek-nya yang bijaksana tidak merasa tersinggung dan dapat melihat kenyataan bahwa kalau supek-nya ikut bersama dia mencari suheng-nya, keadaan tidak akan menguntungkan mereka. Maka dia pun melanjutkan perjalanannya memasuki kota besar Siang-tan, mencari-cari rumah penginapan.

Rumah penginapan Sin-lok adalah sebuah rumah penginapan yang cukup besar, bahkan mempunyai rumah makan sendiri di sampingnya. Melihat rumah penginapan ini, Siauw Bwee menghampiri pintu dan bermaksud hendak menyewa kamar di situ. Akan tetapi, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika ada suara orang berseru,

“Heii, Nona! Tunggu dulu!”

Ia menoleh dan kiranya yang menegurnya adalah seorang perwira pengawal yang memimpin pasukan pengawal sebanyak dua belas orang. Agaknya mereka ini bertugas meronda di kota yang sudah bersiap-siap menghadapi penyerbuan musuh dan yang kini melakukan penjagaan dan perondaan ketat setelah kemarin terjadi keributan yang ditimbulkan oleh Maya dan para pembantunya, terutama sekali pemberontakan beberapa orang pengemis yang berhasil dihasut oleh Kwa-huciang.

“Mau apa engkau menahan aku?” Siauw Bwee sudah bangkit lagi kemarahannya melihat perwira itu dan semua anak buahnya memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum.

Perwira itu meraba gagang pedangnya dan berkata, “Harap Nona tidak melawan. Aku menangkap Nona dan harap suka ikut ke kantor untuk diperiksa.”

“Apa salahku? Mengapa aku ditangkap dan diperiksa, untuk apa?” Siauw Bwee membentak, tidak mempedulikan wajah beberapa orang yang sudah datang untuk menonton dan kini mereka memandang kepada Siauw Bwee dengan muka khawatir menyaksikan sikap gadis itu yang galak dan berani melawan pasukan pengawal.

“Kalau aku tidak salah lihat, aku pernah melihat Nona di Sian-yang. Kalau benar dugaanku, Nona adalah seorang mata-mata. Kalau aku salah lihat, setelah diperiksa oleh komandan kami, Nona tentu akan dibebaskan, disertai maaf kami.”

“Gila! Aku tidak mau ditangkap, tidak mau diperiksa. Aku seorang pengungsi, apakah kalian ini bisanya hanya mengganggu wanita saja, sedangkan kalau musuh datang kalian lari terbirit-birit? Memalukan sekali!”

Muka Si Perwira menjadi merah. “Nona, kalau engkau melawan, hal itu hanya menunjukkan bahwa Nona adalah seorang musuh. Kami hanya melakukan tugas, mengapa Nona hendak menggunakan kekerasan?”

“Siapa yang menggunakan kekerasan? Siapa yang memulai dengan pertentangan ini? Aku tidak ada urusan dengan kalian, sudahlah, jangan mengganggu!” Siauw Bwee melangkah hendak pergi, memasuki pintu rumah penginapan.

Akan tetapi perwira itu sudah menghadang dan kini sudah menghunus pedangnya. “Berhenti! Sikap Nona makin mencurigakan dan kami terpaksa menangkap Nona. Kalau Nona menyerah dengan baik-baik, kami akan mengiringkan Nona ke kantor. Kalau Nona melawan, terpaksa kami menggunakan kekerasan!”

Siauw Bwee makin naik darah. Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan di pinggang dan ia menghardik, “Aku tidak mau ditangkap, hendak kulihat kalian akan bisa berbuat apa?”

“Tangkap dia!” Perwira itu mengeluarkan aba-aba.

Bagaikan kucing-kucing kelaparan memperebutkan seekor tikus, empat orang prajurit pengawal sudah menubruk maju, penuh gairah untuk meringkus tubuh yang padat menggairahkan itu.

“Plak-plak-plak-plak!” Empat kali tangan Siauw Bwee menampar dan empat tubuh terlempar dan roboh terjengkang seperti disambar petir!

“Ahh, ternyata dugaanku benar! Engkau bukan perempuan sembarangan, engkau adalah mata-mata yang mengacau di Sian-yang itu!” Perwira muda itu mencabut pedangnya dan menerjang maju.

Akan tetapi, dengan gerakan kaki yang luar biasa, kaki kiri Siauw Bwee menendang, tepat mengenai tangan yang memegang pedang sehingga pedang terlempar ke atas, kemudian disusul kaki kanan menendang lutut, membuat perwira itu roboh terguling. Pedang yang meluncur turun itu disambut oleh tangan Siauw Bwee yang membentak marah.

“Kau main pedang, ya? Nah, makan pedangmu sendiri!”

Gadis yang marah itu sudah menggerakkan pedang, bukan untuk membunuh hanya untuk sekedar melukai memberi hajaran. Akan tetapi tiba-tiba sebutir kacang goreng melayang dan tepat menotok pergelangan tangannya yang memegang pedang. Siauw Bwee terkejut bukan main karena totokan sebutir kacang goreng itu membuat seluruh lengan kanannya tergetar dan lumpuh sehingga pedang rampasannya terlepas dari pegangan! Betapa lihainya pelempar ‘senjata rahasia’ itu!

Dia dapat mengerahkan sinkang-nya sehingga lengannya pulih kembali dan cepat memandang ke atas dari mana serangan tadi datang. Ia melihat seorang laki-laki duduk dengan tenang di atas loteng depan rumah makan sambil minum arak dan makan kacang goreng, sama sekali tidak memandang ke bawah seolah-olah tidak mengacuhkannya. Akan tetapi begitu melihat laki-laki itu jantung Siauw Bwee berdebar keras. Kiranya orang yang melemparnya dengan kacang goreng adalah orang yang dicari-carinya, Kam Han Ki. Pantas saja lemparannya demikian tepat menotok jalan darah di pergelangan tangannya dan membuat pedangnya terlepas!

“Suheng...!” Ia menjerit penuh kegirangan dan tubuhnya sudah melompat ke atas loteng itu, dipandang oleh para pengawal dan penduduk yang menonton dengan mata terbelalak kagum.

Gerakan Siauw Bwee memang amat mengejutkan. Lompatannya itu seperti seekor burung terbang ke atas, demikian indah dan cepatnya sehingga sukar diikuti pandangan mata, hanya merupakan bayangan berkelebat saja.

“Suheng...!” Kembali Siauw Bwee berkata setelah dia berdiri di depan pemuda itu yang memandangnya dengan mata tak acuh dan masih melanjutkan minum araknya.

Melihat sinar mata suheng-nya ini, Siauw Bwee merasa seolah-olah jantungnya ditusuk ujung pedang. Sinar mata suheng-nya membayangkan bahwa dia tidak mengenalnya sama sekali, seperti pandang mata seorang asing, namun pandang mata itu mengandung teguran dan penyesalan.

“Suheng, ini aku, Siauw Bwee sumoi-mu!” Suara Siauw Bwee mengandung isak, hampir saja dia menangis karena tidak kuat menahan kedukaan hatinya.

Kam Han Ki, pemuda itu, menurunkan guci araknya, memandang Siauw Bwee penuh perhatian dan sepasang alisnya berkerut, penuh teguran. Suaranya halus namun penuh dengan penyesalan ketika ia berkata, “Nona, aku sama sekali tidak mengerti akan sikapmu yang aneh, dan mengapa engkau selalu menyebut suheng kepadaku. Aku tidak dapat menduga apakah sebabnya engkau bersandiwara seperti itu, ataukah memang engkau salah mengenal orang. Kalau hendak mengatakan engkau gila, tidak mungkin. Akan tetapi, yang amat kusayangkan adalah bahwa berkali-kali engkau mengacau. Dahulu di Sian-yang, dan sekarang kembali engkau mengacau di sini. Kepandaianmu amat tinggi, jarang aku bertemu dengan orang yang setinggi tingkat kepandaianmu. Akan tetapi sungguh sayang andai kata engkau pergunakan kepandaianmu untuk mengkhianati negara.”

“Kam-suheng! Aku tidak mengkhianati siapa-siapa, aku... aku...” Siauw Bwee tak dapat melanjutkan kata-katanya saking sedih hatinya melihat keadaan suheng-nya yang benar-benar sama sekali tidak mengenalnya.

“Hemm, engkau selalu membikin kacau dan kalau tadi tidak kucegah, bukankah engkau sudah melukai seorang perwira pengawal?”

“Kam-suheng, aku sengaja mencarimu! Engkau... engkau telah kehilangan ingatan sehingga engkau tidak ingat lagi kepadaku, sumoi-mu yang... yang setengah mati mencarimu. Aihh, Suheng... ingatlah, aku Siauw Bwee... Suheng, benar-benarkah engkau lupa kepadaku?”

Han Ki memandang dan menggeleng-geleng kepalanya, lalu menghela napas. “Sayang... sungguh sayang... Engkau seorang dara remaja yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi. Sayang kalau sampai pikiranmu tidak normal. Aku belum pernah bertemu denganmu, kecuali ketika engkau mengacau dan menyerang Koksu di Sian-yang. Sungguh pun suaramu... ahh, tentu hanya dalam mimpi saja aku pernah mendengar suaramu. Nona, kau pergilah dari kota ini, jangan mengacau lagi.”

Siauw Bwee maklum bahwa akan percuma saja dia mengingatkan suheng-nya ini yang sudah hilang ingatannya. Dia seorang gadis cerdik, maka dia segera bertanya, “Kalau kau anggap aku sebagai seorang pengkhianat dan pengacau, mengapa engkau tidak menangkap saja aku agar aku dihukum mati, atau tidak kau bunuh saja aku? Betapa pun lihaiku, aku tidak akan dapat menang melawanmu. Mengapa?” Bertanya demikian, sepasang matanya menatap tajam seolah-olah hendak menjenguk isi hati Han Ki.

”Aku tidak akan tega mencelakakan engkau, Nona. Aku tidak suka membikin susah orang lain, apa lagi engkau!”

“Mengapa aku diistimewakan?”

Han Ki bukanlah seorang yang pandai bicara, maka dia merasa terdesak di sudut. Setelah memandang gadis itu dengan pandang mata bingung, dia menarik napas panjang dan menjawab, “Entah mengapa... aku... aku kasihan kepadamu. Engkau seorang gadis yang amat baik, amat lihai, sungguh aku tidak mengerti mengapa engkau pura-pura mengenalku sebagai suheng-mu. Sudahlah, mari kau kuantar keluar dari kota agar engkau dapat pergi dengan aman.”

Ia menjenguk ke bawah dan melihat pasukan-pasukan pengawal datang mengurung tempat itu, ia menggerakkan tangan berkata, “Pergilah kalian semua! Biarkan aku sendiri yang mengurus Nona ini!”

Siauw Bwee juga menjenguk ke bawah dan ia melihat betapa para perwira komandan pasukan memandang Han Ki dengan heran, akan tetapi mereka tidak berani membantah dan pergilah para pasukan pengawal itu.

Harus membujuknya di tempat sunyi, pikir Siauw Bwee, agar tidak terganggu orang lain. “Baiklah, mari kau antar aku keluar kota,” akhirnya dia berkata.

“Baik, aku akan mengantarmu ke luar kota dan setelah itu engkau harus pergi dan berjanji padaku tidak akan mengacau di kota lagi karena aku akan merasa menyesal sekali kalau aku terpaksa harus melawanmu sebagai musuh.” Pemuda itu lalu memanggil pelayan, membayar makan minumnya lalu meloncat turun dari loteng diikuti oleh Siauw Bwee yang menjadi girang sekali.

Dengan diantar oleh Kam Han Ki, pengawal kepercayaan Bu-koksu, tidak ada seorang pun berani mengganggu Siauw Bwee dan dengan tenang Siauw Bwee berjalan di samping suheng-nya keluar dari pintu gerbang utara. Bukan main girangnya hati Siauw Bwee dapat berjalan bersama suheng-nya yang diam saja. Melihat betapa para penjaga memberi hormat kepada Han Ki, hatinya terasa perih dan berduka. Biar pun dia berjalan di samping suheng-nya, namun Kam Han Ki pada saat itu bukanlah suheng-nya, melainkan pengawal nomor satu dari koksu negara.

Akan tetapi baru saja mereka keluar dari pintu gerbang, terdengar suara kaki kuda berderap dan sepasukan pengawal melakukan pengejaran dari belakang. Dari jauh terdengar suara yang amat berpengaruh dan melengking nyaring tanda bahwa yang mengeluarkan suara menggunakan khikang yang amat kuat.

“Kam-siauwte, berhenti dulu!”

Han Ki menghentikan langkahnya, lalu berkata kepada Siauw Bwee. “Nona, itu Koksu bersama para pengawalnya datang. Lebih baik kau lekas lari pergi, biarlah aku yang akan membujuknya agar melepaskan engkau dan tidak melakukan pengejaran sehingga tidak terjadi bentrokan antara engkau dan pihak kami.”

Siauw Bwee maklum bahwa dalam keadaan kehilangan ingatan ini, Han Ki telah menjadi pengawal yang setia dari Bu-koksu, dan apa bila dia menggunakan kepandaiannya melawan Koksu, kesetiaan di hati Han Ki tentu akan memaksa pemuda itu memihak Koksu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa betapa pun suheng-nya kehilangan ingatan, namun sifatnya sebagai pendekar masih tidak lenyap sehingga suheng-nya itu tentu tidak akan membiarkan dia yang dianggapnya sebagai seorang gadis yang tidak dikenalnya, celaka di tangan Koksu. Kalau dia lari pergi begitu saja, lenyaplah kesempatan baik untuk mernbujuk suheng-nya supaya ikut bersamanya.

“Tidak, Suheng. Aku tidak mau pergi. Aku hanya pergi kalau engkau suka ikut pergi bersamaku.”

“Ehhh? Pergi bersamamu?” Han Ki mengerutkan alisnya, memandang heran. “Ke mana?”

”Menemui supek-ku, seorang yang ahli dalam hal pengobatan. Aku akan membawamu ke sana agar engkau diobati karena engkau menderita sakit hebat, Suheng.”

“Ihhh, gila! Siapa yang sakit? Andai kata aku sakit, mengapa engkau hendak bersusah payah benar mengobati aku yang belum kau kenal? Mengapa, Nona?”

Pasukan itu sudah makin dekat dan cepat Siauw Bwee memegang lengan Han Ki sambil berkata, “Karena aku cinta kepadamu!”

Berubah wajah Han Ki dan mukanya menjadi merah sekali. Sejenak dia memandang wajah Siauw Bwee seperti orang bingung, akan tetapi sinar matanya berseri seolah-olah dia merasa girang sekali, akan tetapi kembali wajahnya berubah dan alisnya berkerut. ”Engkau main-main, Nona. Ataukah jalan pikiranmu tidak beres? Pergilah dan hindarkan keributan.”

Siauw Bwee menggeleng kepala. “Biar sampai mati terbunuh di sini sekali pun, aku tidak akan mau pergi kalau tidak bersamamu!”

“Engkau gadis yang aneh sekali!”

Pada saat itu pasukan berkuda yang dipimpin oleh Bu Kok Tai sendiri telah tiba di situ. Pasukan itu terdiri dari dua puluh empat orang pengawal pilihan, dan di samping Bu Kok Tai terdapat pula perwira-perwira pembantu Koksu yang berkepandaian tinggi, di antaranya Ang Hok Ci atau Ang-siucai, Pat-jiu Sin-kauw yang lihai, Thian Ek Cinjin dan beberapa orang perwira tinggi yang lihai lagi.

“Kam-siauwte, apa yang telah terjadi? Aku mendengar bahwa engkau membantu wanita pengacau ini maka aku cepat menyusul. Apa yang telah kau lakukan ini, Siauwte?”

“Aku hanya tidak ingin melihat dia mengacau lagi, Bu-loheng. Maka aku membujuknya untuk keluar kota dan jangan menimbulkan keributan lagi. Dia bukan orang jahat, harap kau suka memaafkannya dan membiarkan dia pergi. Nona, harap kau suka pergi, aku percaya bahwa Koksu cukup bijaksana untuk memaafkan engkau seorang gadis muda. Pergilah!” Han Ki membujuk.

“Tidak!” Siauw Bwee membantah. “Suheng, tidak tahukah engkau bahwa engkau telah terkena racun perampas pikiran? Mereka ini adalah musuh-musuhmu, musuh-musuh kita! Suheng, mari kita gempur mereka!”

Mendengar ini, Bu-koksu tertawa bergelak untuk menutupi kekagetannya mendengar tuduhan yang tepat itu. “Gadis sombong engkau! Ha-ha-ha, yang kau bela ini adalah seorang gadis gila, atau seorang mata-mata musuh yang sengaja hendak main gila dan mempengaruhimu.” Ia lalu memberi isyarat kepada para pembantunya dan memerintahkan, “Bekuk dia, kalau dia melawan, bunuh saja!”

Thian Ek Cinjin, Pat-jiu Sin-kauw, Ang-siucai dan yang lain-lain telah maklum akan kelihaian Siauw Bwee, maka serentak mereka turun tangan menerjang gadis yang bertangan kosong itu. Juga dua puluh empat orang pengawal sudah menerjang dan mengurung dengan senjata di tangan.

Menghadapi serbuan ini, Siauw Bwee cepat menggerakkan kaki tangannya. Dalam beberapa gebrakan saja ilmu gerak kilat kaki tangannya berhasil membuat empat orang pengawal terjungkal, sedangkan para perwira yang berkepandaian tinggi cepat melompat mundur memutar senjata. Mereka gentar menghadapi Siauw Bwee yang amat cepat gerakan kaki tangannya itu sehingga tidak tampak oleh mereka bagaimana caranya gadis itu merobohkan empat orang tadi.

“Nona, jangan...! Pergilah...!” Han Ki berseru bingung. Dia masih berdebar mendengar pengakuan gadis itu yang mengaku cinta kepadanya, dan kini dia menjadi serba salah.

“Ha-ha-ha, Kam-siauwte. Dia adalah mata-mata musuh yang mengaku sebagai sumoi-mu. Sengaja dia mengacau dan coba kau perhatikan, betapa dia telah berhasil mencuri ilmu silatmu!”

Sambil berkata demikian, kini Bu-koksu sendiri meloncat turun dari kudanya dan ikut menerjang Siauw Bwee dengan senjatanya yang menyeramkan. Senjata Koksu ini sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar, yaitu sebatang golok besar yang berat sekali dan punggung golok itu dipasangi gelang-gelang perak yang mengeluarkan bunyi nyaring kalau senjata itu dimainkan.

“Cring-cring... sing...!” Golok itu berubah menjadi segulung sinar menyilaukan mata yang menyambar-nyambar ke arah Siauw Bwee.

Gadis ini terkejut. Lawannya bukanlah orang sembarangan, dan jika dia mengeluarkan ilmu dari Pulau Es, tentu akan menambah kecurigaan Han Ki. Maka dia menahan diri dan cepat menggeser kaki, mainkan gerak kaki kilat yang memungkinkan dia untuk mengelak ke sana-sini dengan cekatan sekali. Untuk membalas, dia mengerahkan tenaga Jit-goat-sinkang yang setingkat lebih rendah kekuatannya kalau dibandingkan dengan Im-kang dan Yang-kang yang ia latih di Pulau Es, namun yang mengandung kemukjizatan karena tenaga itu dikumpul dari sari hawa bulan dan matahari.

Han Ki berdiri bengong dan kagum. Hawa udara di sekitar tempat pertandingan itu tiba-tiba berubah panas sekali, kemudian menjadi dingin, berganti-ganti. Kembali ada tiga orang pengawal roboh, bahkan Thian Ek Cinjin yang lihai itu terhuyung ke belakang, terpental oleh dorongan hawa dingin sejuk dari tangan kiri gadis itu.

“Kam-siauwte, bantu aku menangkap gadis ini!” Bu-koksu berteriak dan dia cepat menerjang makin hebat.

Tingkat kepandaian Bu-koksu sudah amat tinggi, dan kalau saja Siauw Bwee tidak mendapatkan tambahan pengalaman dan ilmu kepandaian semenjak dia meninggalkan Pulau Es, agaknya Koksu itu merupakan tandingan yang terlalu berat baginya. Namun Siauw Bwee kini bukanlah seperti Siauw Bwee dahulu sebelum melakukan perantauan dan mengalami banyak hal yang hebat.

Dengan gerak kaki tangan kilat, dia masih mampu mempertahankan diri, meloncat ke sana ke mari. Ketika golok besar Bu-koksu menyambar lehernya, tubuhnya merendah dan menyelinap ke kiri, kakinya menendang ke depan mengenai lutut Ang-siucai sehingga murid dan orang kepercayaan Bu-koksu itu roboh dengan tulang kaki terlepas dari sambungannya. Dalam detik berikutnya, tangan kiri Siauw Bwee sudah mendorong ke kiri, membuat Pat-jiu Sin-kauw hampir terguling kalau tidak cepat memasang kuda-kudanya yang hebat sambil mengerahkan Thai-lek-kang. Dengan marah Pat-jiu Sin-kauw lalu melancarkan pukulan Thai-lek-kang dan mainkan Soan-hong Sin-ciang mendesak Siauw Bwee.

Kini Siauw Bwee terkurung oleh Bu-koksu, Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin yang ketiganya berusaha merobohkannya dengan serangan-serangan maut, sedangkan di belakangnya, para perwira tinggi lainnya siap untuk menghujankan senjatanya.

“Kalau aku mengamuk, mungkin dapat merobohkan mereka, akan tetapi tentu aku akan kehilangan Suheng. Sebaiknya aku menggunakan akal untuk menarik bantuannya,” pikir Siauw Bwee yang cerdik.

Ketika itu golok Bu-koksu yang merupakan serangan paling berbahaya bagi Siauw Bwee membabat ke arah pinggangnya. Siauw Bwee meloncat ke atas, menangkis hantaman Thian Ek Cinjin dengan tendangan kakinya. Dia sengaja turun dengan tubuh miring di depan Pat-jiu Sin-kauw yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, memukul dengan tenaga Thai-lek-kang sekuatnya. Tubuhnya berjongkok dan angin keras menyambar dari kedua tangannya yang mendorong ke arah dada Siauw Bwee. Gadis ini maklum bahwa pukulan itu amat berbahaya, namun kalau dia mengerahkan sinkang, dia masih mampu menerimanya, maka dia mengerahkan sinkang-nya, sengaja terhuyung sehingga pukulan itu ia terima dengan bahunya.

“Aduuuhhh...!” Siauw Bwee mengeluh dan jatuh, terus bergulingan sambil memegangi bahu kanannya yang terkena pukulan Thai-lek-kang.

Pada saat itu Bu-koksu mengejar dengan golok diputar merupakan gulungan yang mengancam jiwa Siauw Bwee. Gadis ini benar-benar amat tabah. Dia maklum bahwa kalau suheng-nya masih belum mau turun tangan, nyawanya terancam bahaya maut karena dalam bergulingan seperti itu, akan sukarlah baginya untuk dapat meloloskan diri dari ancaman golok yang terus mengikutinya. Dia sudah siap. Kalau suheng-nya tidak juga turun tangan, dari pada mati konyol, dia akan mengadu nyawa, berlomba duluan dengan Bu-koksu dan mengirim pukulan maut dengan Im-kang dari Pulau Es!

“Tringgg...!” Golok itu terpental ke samping dan Bu-koksu meloncat mundur dengan kaget. “Heiii, Kam-sute... apa yang kau lakukan ini?!” bentaknya.

Akan tetapi Kam Han Ki telah meloncat dan menyambar tangan Siauw Bwee, ditariknya tubuh gadis itu berdiri dan dia mengomel, “Kau keras kepala! Masih juga tidak mau pergi?”

“Tidak! Biar mereka membunuhku, kalau dapat! Engkau pun tidak mempedulikan aku, untuk apa hidup lebih lama lagi?” Siauw Bwee berkata, kini tidak bersandiwara lagi karena memang dia bicara dari lubuk hatinya. Kalau sekali ini dia gagal mengajak pergi Han Ki dan tidak berhasil mengobati suheng-nya itu, berarti dia akan kehilangan Han Ki untuk selamanya dan kalau sudah begitu, apa artinya hidup ini baginya lagi?

“Kam-siauwte, biarkan aku membunuhnya. Apakah engkau akan mengkhianati aku?”

”Bu-loheng, maafkan aku. Gadis ini tidak waras, biarlah aku membawanya pergi dulu, kelak aku mohon maaf kepadamu!” Setelah berkata demikian, Han Ki memegang lengan Siauw Bwee dan membawanya meloncat jauh dari tempat itu.

“Siauwte, tahan...!” Bu-koksu berseru marah dan mengejar bersama pasukannya, namun Han Ki sudah pergi jauh.

Setelah pemuda ini mengerahkan ginkang-nya, mana ada yang mampu mengejarnya? Apa lagi Siauw Bwee yang sama sekali tidak terluka itu pun sudah mengerahkan ginkang-nya sehingga dia tidak menghalangi gerakan suheng-nya.

Setelah mereka pergi jauh, Han Ki berhenti dan menoleh kepada Siauw Bwee, mengomel, “Engkau sungguh membikin aku kehilangan muka dan menjadi serba salah. Apa sih maksudmu bersikap seperti ini? Apakah engkau ingin merusak nama baikku? Dan mengapa pula segala sandiwara ini? Aku tahu bahwa kalau kau hendaki, Bu-koksu sendiri tidak akan mampu membunuhmu!”

Siauw Bwee kagum bukan main. Biar pun ingatannya hilang, suheng-nya ternyata amat lihai dan pandang matanya masih amat tajam sehingga dapat melihat permainan sandiwaranya tadi. Dia harus berhati-hati, kalau tidak, suheng-nya tentu tidak akan mau ikut bersama dia.

“Sudah kukatakan kepadamu, aku cinta padamu dan melihat engkau sakit hebat, aku berusaha mengajakmu kepada supek-ku untuk diobati.”

“Kau gila! Aku tidak sakit, aku sehat!” Han Ki menggerak-gerakkan kaki tangannya memperlihatkan bahwa dia benar-benar sehat.

“Bukan badanmu yang sakit, melainkan ingatanmu. Tahukah engkau, siapa sebenarnya engkau ini?”

”Tentu saja aku tahu! Aku Kam Han Ki, aku pengawal pertama dari Bu-koksu yang telah melepas budi besar kepadaku dan mengangkat aku sebagai adiknya.”

“Hemm, Kam-suheng. Dia itu adalah musuh besar yang hendak mencelakakanmu!”

”Gadis muda, jangan kau bicara sembarangan. Bu-loheng adalah Bu Kok Tai, Koksu negara yang berjiwa pahlawan, seorang gagah perkasa yang amat baik, dan aku berhutang budi kepadanya.”

“Baiklah... baiklah..., akan tetapi ingatkah engkau siapa ayah bundamu? Ingatkah engkau siapa gurumu? Di mana kau belajar ilmu silat? Ingatkah engkau semua itu?”

Kam Han Ki mengerutkan alisnya, mengingat-ingat dan akhirnya dia menghela napas. ”Aku tidak ingat lagi, akan tetapi apa hubungannya hal itu dengan Bu-loheng dan engkau? Kenyataannya, dia amat baik kepadaku sedangkan engkau... aku sama sekali tidak mengenalmu, hanya tahu bahwa engkau seorang gadis muda yang amat lihai dan yang selalu mendatangkan kekacauan dan...”

“...dan yang amat mencintaimu, Kam-suheng! Cobalah kau ingat-ingat, apakah engkau lupa akan Istana Pulau Es? Lupakah engkau bahwa engkau bertahun-tahun menggembleng diri di Pulau Es dan membimbing dua orang sumoi-mu yang bernama Maya dan Khu Siauw Bwee? Lupakah engkau kepada mendiang Menteri Kam Liong, kepada Mutiara Hitam, kepada Panglima Khu Tek San?”

Mendengar disebutnya Istana Pulau Es dan nama-nama itu, Kam Han Ki kelihatan terkejut dan bingung. “Istana Pulau Es...? Serasa sering aku mendengarnya, tidak asing bagiku, dan nama-nama itu... seperti pernah kukenalnya... ah, tidak mungkin, aku tidak ingat lagi.”

“Nah, itu tandanya engkau telah kehilangan ingatanmu, Suheng. Mana ada orang lupa akan orang tuanya? Lupa akan gurunya.”

Kam Han Ki menjatuhkan diri duduk di atas batu di hutan itu. Alisnya berkerut, mukanya pucat dan tubuhnya berpeluh karena ia memeras ingatannya. Namun sia-sia belaka, dia tidak ingat apa-apa lagi. “Orang tuaku? Guruku? Pulau Es? Aihh, Nona, aku benar-benar menjadi bingung. Seperti pernah kukenal baik, dan tak mungkin aku lupa akan orang tua dan guruku, akan tetapi sungguh mati, aku tidak ingat lagi...”

“Dan aku adalah seorang di antara kedua sumoi-mu, aku bernama Khu Siauw Bwee. Ah, Suheng... bertahun-tahun kita tinggal bertiga di Pulau Es. Engkau menjadi guruku, juga sahabatku, tapi benar-benar engkau tidak ingat kepadaku lagi...” Siauw Bwee tak dapat menahan lagi kesedihan hatinya dan ia menangis tersedu-sedu.

Han Ki menjadi makin bingung. “Nona... jangan menangis, engkau membikin aku makin bingung. Biarlah aku tanyakan semua itu kepada Bu-loheng... dia tentu tahu...”

“Jangan...! Dia itu adalah musuh kita, dialah yang membuat kau kehilangan ingatan, Suheng. Kalau engkau kembali kepadanya, setelah melihat bahwa aku tahu rahasianya, tentu mereka itu akan mencelakaimu!”

“Ha-ha, jangan menyangka yang bukan-bukan, Nona. Dia adalah kakak angkatku, satu-satunya orang yang amat baik kepadaku. Dia telah menolongku, merawatku, memberiku kedudukan tinggi dan kepercayaan.”

“Kam-suheng, kau kasihanilah aku. Kau turutlah bersamaku untuk diobati oleh supek-ku. Supek Coa Leng Bu adalah seorang ahli pengobatan yang lihai, dia tentu akan memulihkan ingatanmu dan engkau akan dapat mengingat segala hal yang telah lalu, yang telah kau lakukan. Marilah, Suheng, dia menanti di hutan pohon pek, marilah...” Siauw Bwee memegang tangan Han Ki dan ditarik-tariknya.

Akan tetapi Han Ki mempertahankan diri dan akhirnya berkata, “Bukan aku tidak percaya kepadamu, Nona. Akan tetapi, amat tidak enak kalau aku meninggalkan Bu-loheng begitu saja. Pula, aku akan menanyakan riwayatku yang telah kulupakan itu kepadanya. Kalau dia tidak dapat menjawab, baru aku akan datang mencarimu dan menerima pengobatan supek-mu.”

Tiba-tiba Siauw Bwee melepaskan tangan Han Ki. “Kalau engkau berkeras, baiklah, aku akan pergi pula ke sana menemui Bu-koksu.”

”Heh? Susah payah kau kularikan, sekarang hendak kembali? Apa kau mencari mati?”

”Biarlah. Aku akan mengamuk dan membunuh Koksu, kalau aku gagal, biar aku mati. Lebih baik mati dari pada hidup melihat engkau menjadi boneka hidup, lupa akan segala hal yang lalu. Sekarang kau pilih saja mau ikut bersamaku untuk pengobatan atau aku akan mengamuk dan mengadu nyawa di gedung Bu-koksu!”

“Wah, kau mengancam?”

“Benar, soalnya hanya mati atau hidup bagiku!”

“Tsk-tsk-tsk, kau benar-benar seorang gadis luar biasa sekali. Mengapa kau begini nekat hanya untuk diriku seorang?”

Pandang mata Siauw Bwee menjadi lembut, kekerasaannya luntur dan dengan air mata berlinang dia memegang tangan Han Ki, berkata lirih, “Karena aku mencintaimu, tak tahukah kau? Keadaanmu yang lupa ingatan memberanikan hatiku untuk mengaku terus terang, Suheng. Aku cinta padamu dengan seluruh badan dan nyawaku!”

Han Ki menggeleng-geleng kepala, bingung. “Engkau seorang dara jelita yang gagah perkasa, mencinta seorang seperti aku? Bahkan menurut pendapatmu, aku seorang yang hilang ingatan, berarti orang yang otaknya miring, tidak waras lagi!”

“Apa pun yang terjadi denganmu, aku tetap mencintamu, Suheng.”

“Aihhh..., apa yang dapat kulakukan sekarang? Menghadapi engkau lebih sukar dari pada menghadapi ribuan orang lawan bersenjata, Nona. Baiklah, mari kita coba apakah benar aku kehilangan ingatan dan dapat disembuhkan oleh supek-mu. Akan tetapi, ingatlah engkau, jangan main-main denganku. Kalau engkau menipuku, aku... aku akan...”

Siauw Bwee mendekatkan tubuhnya, mukanya ditengadahkan penuh tantangan, matanya bersinar-sinar. “Engkau akan apakan aku, Suheng...? Membunuhku?”

Han Ki gelagapan. Biar pun dia tidak ingat siapa adanya gadis ini, namun ada sesuatu yang amat menarik dari diri gadis ini yang membuat dia diam-diam mengherankan hatinya sendiri. Apakah dia telah menjadi benar-benar gila dan jatuh cinta kepada gadis yang nekat ini?

“Tidak! Aku hanya akan... akan... membencimu!” akhirnya dia menjawab juga.

Siauw Bwee menggandeng lengan suheng-nya dan merapatkan tubuhnya dengan sikap manja. “Itu tandanya bahwa engkau cinta kepadaku, Suheng. Marilah, dan kalau aku menipumu, tidak usah engkau membenciku, aku sendiri akan membenciku bahkan kalau Supek gagal, aku akan membenciku sampai aku mati dikeroyok orang-orangnya Bu-koksu yang pasti akan kuamuk sampai titik darahku terakhir!”

Han Ki bergidik. Tekad gadis ini luar biasa sekali dan tentu ada apa-apanya di balik sikapnya itu. Andai kata benar peringatan Bu-koksu bahwa gadis ini hendak menipunya, andai kata dia dibawa ke dalam perangkap, dia tidak takut dan percaya bahwa dia akan mampu mempertahankan dirinya. Hanya ia menjadi takut sendiri kalau-kalau gadis ini benar seorang penipu, karena kalau ternyata demikian, dia akan merasa amat berduka dan kecewa dan... kehilangan.

Seorang kakek yang bertelanjang kaki menyambut mereka di dalam hutan pek. Melihat gadis itu berhasil membawa Han Ki yang kelihatannya curiga dan ragu-ragu, Coa Leng Bu girang bukan main.

“Ah, sungguh girang hatiku melihat engkau berhasil mengajaknya ke sini, Lihiap. Kam-taihiap, selamat datang!”

Biar pun ingatannya lenyap, Han Ki masih belum kehilangan kesopanannya. Kalau di tempat Bu-koksu dia bersikap tidak acuh adalah karena dia tidak suka melihat sikap anak buah Bu-koksu, hanya karena sayang dan berhutang budi kepada Bu-koksu saja yang mengikat dia di samping pembesar itu. Kini melihat wajah kakek yang tenang dan penuh pengertian, sikap yang sederhana dengan pakaian sekedarnya, dia cepat menjura dengan hormat dan berkata, “Tidak tahu, siapakah Locianpwe yang telah mengenal namaku?”

“Ha-ha-ha, Kam-taihiap terlalu menghormat seorang bodoh seperti aku dengan menyebut Locianpwe. Aku bernama Coa Leng Bu dan karena sumoi-mu, Khu-lihiap ini diangkat anak oleh sute-ku, maka aku menjadi supek-nya, supek dalam sebutan saja yang membuat aku malu, karena dalam hal kepandaian, aku boleh berguru kepadanya. Kam-taihiap, aku mengenalmu karena keterangan sumoi-mu dan kulihat bahwa engkau terkena racun yang membuat ingatanmu hilang. Aku mengerti sedikit ilmu pengobatan, maka kalau engkau percaya, biarlah aku berusaha mengobatimu, Kam-taihiap.”

Han Ki mengerutkan alisnya. “Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku menjadi lupa sama sekali akan hal-hal yang lalu, akan tetapi aku sungguh tidak mengenal Nona ini yang menganggap aku sebagai suheng-nya. Yang kukenal hanyalah kakak angkatku, Bu-loheng...”

Dengan wajah penuh ketenangan Coa Leng Bu berkata, “Aku mengerti Taihiap. Kau anggap sajalah bahwa engkau belum mengenal aku dan Khu-lihiap, dan bahwa engkau memang adik angkat Koksu. Akan tetapi kuharap engkau percaya kepada kami bahwa kami berniat baik, karena aku melihat engkau menderita lupa ingatan karena racun perampas ingatan, maka anggap saja bahwa engkau berada di antara teman-teman yang hendak berusaha mengobatimu.”

“Heran sekali, aku merasa sehat, akan tetapi kalian menganggap aku sakit. Akan tetapi rasanya tidak mungkin kalau engkau, terutama Nona ini hendak menipuku. Baiklah aku akan menurut dan suka kau obati, harap lekas memberi obatnya dan hendak kulihat apakah aku akan dapat mengingat riwayatku yang telah kulupakan sarna sekali.”

Coa Leng Bu menggeleng-geleng kepalanya. “Kam-taihiap, racun itu memasuki kepalamu melalui makanan atau minuman, sedikit demi sedikit dan untuk mengobatinya pun harus sedikit demi sedikit dan memakan waktu lama. Engkau pun tentu pernah mendengar bahwa penyakit datang menunggang kuda akan tetapi pergi menunggang kura-kura, kalau datang cepat sekali akan tetapi perginya memakan waktu lama!”

“Berapa lama engkau akan dapat menyembuhkan aku, Locianpwe?”

“Pertama-tama, kuharap Taihiap jangan menyebutku Locianpwe. Namaku Coa Leng Bu, cukup kalau kau sebut lopek saja. Untuk menentukan berapa lama aku akan dapat menyembuhkanmu, bukanlah hal mudah dan aku tidak berani bilang sebelum memeriksamu. Bolehkah aku memeriksamu, Taihiap?”

“Silakan,” Han Ki menjawab dan biar pun suaranya masih meragu, namun di dalam hatinya ia mulai khawatir dan percaya bahwa memang dia sedang sakit. Buktinya adalah bahwa, seperti yang dikatakan gadis jelita itu, dia lupa sama sekali akan riwayat hidupnya, lupa akan ayah bundanya dan lupa akan gurunya. Hal ini memang tidak mungkin terjadi kalau dia tidak menderita sakit kehilangan ingatan!

Coa Leng Bu mempersilakan Han Ki rebah telentang di atas rumput, kemudian ia mulai memeriksa denyut nadi, mendengarkan detak jantung, memeriksa mata dengan membuka kelopaknya. “Taihiap, kalau boleh, aku hendak mengambil sedikit darahmu untuk diperiksa.”

“Silakan!” Han Ki menjawab.

Dengan sebatang jarum emas, kakek itu menusuk ujung jari tangan kiri Han Ki, sehingga ada beberapa tetes darah keluar dari luka kecil itu. Darah itu ditampungnya di atas sehelai daun yang berwarna putih, kemudian dibawanya ke tempat terang sehingga dia dapat memeriksa dengan jelas di bawah sinar matahari. Darah itu diperiksa, diamat-amati, dicium, bahkan dijilat dengan lidahnya.

Semua perbuatannya itu diikuti penuh perhatian oleh Han Ki yang sudah membereskan pakaian dan duduk kembali di atas rumput, sedangkan Siauw Bwee tak pernah melepaskan pandang matanya dari suhengnya dengan hati penuh keharuan. Menyaksikan sikap pemuda ini yang berubah sama sekali seolah-olah dia menghadapi seorang asing, akan tetapi wajah, bentuk badan dan setiap gerak-gerik pemuda itu dari matanya mengerutkan alis, sinar matanya yang tajam itu, mulut yang membayangkan kedukaan, dia tidak meragukan lagi bahwa pemuda ini adalah suhengnya. Di antara sejuta orang pemuda, tak mungkin ada satu yang menyamai suhengnya itu.

“Bagaimana, Coa-lopek?” Han Ki bertanya setelah kakek itu kembali menghampiri mereka.

“Tidak berat, bukan?” Siauw Bwee juga bertanya...


BERSAMBUNG KE JILID 35


Thanks for reading Istana Pulau Es Jilid 34 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »